-->

Tombak Pusaka

Pengarang : Rahadi
BAB I

Kota Demak atau yang terkenal dengan nama “Kota Wali”, dahulu adalah sebuah kerajaan Islam yang terbesar di seluruh pulau Jawa dan termasuk kota yang tertua di Jawa Tengah. Mengapa disebut kota Wali karena dari kota Demak itulah, mula pertama para Wali menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.

Menurut riwayatnya nama Kota Demak itu berasal dari kata-kata “mukadimmah” yang artinya “permulaan”. Permulaan perkembangan Agama Islam.

Syahdan, sebelum Kota Demak itu menjadi sebuah kerajaan Islam adalah merupakan sebuah hutan belantara yang bernama hutan “Bintaro”. Dalam hutan itu, terdapat semacam tumbuh-tumbuhan yang dinamakan glagah baunya sangat harum maka orang menamakan “glagah wangi”. Di situlah Raden Patah yang kemudian bergelar Sultan Jimbun mendirikan kerajaan Islam di pulau Jawa dengan dibantu oleh para wali, yang terkenal antara lain: Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Ngampel, dan Sunan Bonang.

Alkisah, maka ketika Sultan Trenggono (raja Demak yang ke III) wafat, karena difitnah oleh salah seorang hambanya yang mendapat upah dari pihak musuh, maka keadaan pemerintahan menjadi goncang. Perselisihan dan persengketaan paham segera timbul di antara para keluarga raja. Persengketaan mana berkisar soal siapa yang patut dan berhak menggantikan almarhum Sultan Trenggono menjadi raja. Baginda mempunyai beberapa orang putera-puteri yang kesemuanya memegang peranan dalam sejarah Demak. Adapun putera-puteri beliau itu ialah:

1. Pangeran Mukmin, adalah putera sulung. la oleh Sunan Giri diangkat menjadi wali dan bertempat tinggal di Gunung Prawata, oleh karena itu ia disebut Sunan Prawata.

2. Seorang puteri, kawin dengan Pangeran Langgar, yaitu putera Kyai Gede Sampang Madura.

3. Seorang puteri lagi, kawin dengan Pangeran Hadiri Bupati Kalinyamat, selanjutnya ia terkenal dengan nama Nyai Ratu Kalinyamat.

4. Seorang puteri kawin dengan Pangeran Hadiwijaya, bupati Pajang. Pangeran Hadiwijaya ini semasa mudanya bernama Karebet atau Jaka Tingkir, dan sering pula disebut Panji Mas.

5. Seorang puteri, kawin dengan Pangeran Pasarean putera Fatahillah yang menggantikan kedudukan ayahnya menjadi bupati Cirebon.

6. Pangeran Timur, adalah putera yang bungsu.

Para wali sendiri tidak ada persamaan pendapat dalam memilih calon raja. Masing-masing mempunyai pandangan tersendiri, sehingga persengketaan itu semakin meruncing.

Sunan Giri memilih Sunan Prawata atau Pangeran Mukmin menjadi raja, karena ia adalah putera Sultan Trenggono yang tertua. Sedang Sunan Kudus mencalonkan Arya Penangsang, bupati Jipang Panolan, Cepu, karena Arya Penangsang adalah prajurit yang tangguh. la adalah putera Pangeran Sekar (Sedo Lepen), kakak Sultan Trenggono. Jadi ia lebih berhak atas tahta kerajaan Demak daripada Pangeran Mukmin.

Lain dengan pendapat Sunan Kalijaga yang mencalonkan Pangeran Hadiwijaya, bupati Pajang (daerah Surakarta) sebagai calon raja, karena ia sangat sakti ambeg-parama-arta. Sejak muda ia telah menjadi panglima perang kerajaan Demak, sehingga Sultan Trenggono berkenan mengambilnya sebagai menantu.

Perselisihan paham ini kian hari semakin bertambah meruncing, dan Arya Penangsang dalam hatinya menganggap dirinya lebih berkuasa (berhak) daripada yang lain. Dan oleh karena hatinya tak sabar lagi, ia akan menempuh jalan dengan kekerasan.

Oleh Sunan Kudus ia sudah banyak diberi nasihat supaya     jangan     terlalu     gegabah     melaksanakan maksudnya itu, lebih baik harus diadakan secara musyawarah untuk menentukan siapa yang seharusnya berhak memegang tahta kerajaan itu. Tetapi nasihat- nasihat yang baik itu tak dihiraukan lagi oleh Raden Arya Penangsang. Nyatnya ini sudah tak dapat dicegah lagi oleh Sunan Kudus. Maka dengan perasaan berat Sunan Kudus terpaksa meluluskan permintaan seorang murid yang sangat dicintainya itu. Maka pulanglah Arya Penangsang ke Jipang dengan perasaan lega.

Sesampainya di kadipaten Jipang, Arya Penangsang segera memanggil kyai patih Matahun untuk diajak berunding. Oleh kyai patih dianjurkan agar Arya Penangsang mengutus seorang prajurit pilihan untuk membunuh sunan Prawata, serta kaum kerabatnya yang terdekat, antara lain Pangeran Hadiwijaya. Usul patih Matahun ini diterima dengan senang hati oleh Arya Penangsang.

Pada suatu malam yang sunyi, prajurit Jipang (utusan Arya Penangsang) itu telah berhasil masuk ke dalam pesanggrahan Gunung Prawata, di mana Pangeran Mukmin beserta permaisurinya sedang nyenyaknya dialun oleh buaian mimpi, kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh utusan tersebut, maka dengan dua tikaman keris yang tepat mengenai dada kedua orang bangsawan tersebut, akhirnya tamatlah riwayat Sunan Prawata dan isterinya di atas tempat peraduannya. Esok paginya keadaan di pesanggrahan Prawata menjadi gempar, karena terbunuhnya Pangeran Mukmin suami-isteri ini.

Pangeran Hadiri beserta isterinya segera berangkat ke pesanggrahan Gunung Prawata, setelah mendengar kematian kakaknya. Tetapi sial bagi mereka di tengah jalan telah dibegal oleh utusan Arya Penangsang itu. Pangeran Hadiri tewas seketika itu juga, sedang isterinya, yaitu Ratu Kalinyamat sempat meloloskan diri dan sampailah ia di gunung Danaraja.

Selanjutnya Ratu Kalinyamat berniat hendak bertapa di gunung Danaraja, dan bersumpah tak akan melekatkan pakaian selembar pun sebelum orang yang membunuh suami dan saudaranya itu mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan. sebagai penutup tubuhnya ia membiarkan rambutnya terurai.

Kini tinggal seorang lagi musuh Arya Penangsang yang belum dimusnahkan oleh utusan tersebut, yaitu Pangeran Hadiwijaya bupati Pajang. Maka pada suatu malam, utusan Arya Penangsang itu telah berhasil masuk ke kadipaten Pajang, dilihatnya waktu itu Pangeran Hadiwijaya sedang enak-enak tidur, maka tanpa membuang waktu lebih lama lagi ia segera menusukkan senjatanya ke dada Pangeran Hadiwijaya. Tetapi   apa   yang   terjadi?   Berkat   kesaktian   sang Pangeran, keris yang ditusukkan itu patah menjadi dua keping. Sedang kulit Sang Pangeran sedikit pun tak ada yang terluka. Tetapi meskipun begitu sang Pergeran terperanjat pula ketika keris itu jatuh di atas dadanya sehingga terbangun mendadak dari tidurnya dan selimut terpental menimpa si pembunuh. Karena selimut itu adalah selimut pusaka maka si pembunuh jatuh menggeletak di lantai dengan mengerang-erang tak dapat bergerak.

Sang Pangeran merasa sangat kasihan melihat orang itu, diambilnya selimut tersebut dan disuruhnya ia duduk. Dengan tersenyum Pangeran Hadiwijaya bertanya:

“Wahai ki sanak, kulihat rupanya engkau bukan orang dari kadipaten Pajang, lagi pula ada keperluan apa engkau tengah malam begini masuk ke mari?”

Dengan wajah yang takut bercampur cemas, utusan tersebut mengaku bahwa ia adalah pesuruh Pangeran Arya Penangsang yang ditugaskan untuk membinasakan (menamatkan riwayat) Pangeran Hadiwijaya. Mendengar jawaban utusan tersebut sang Pangeran tersenyum pula dan dengan sabar bertanya:

“Jadi, kalau begitu engkaukah yang membinasakan Pangeran Mukmin dan Pangeran Hadiri beberapa hari yang lalu?”

“Betul Gusti,” jawab utusan itu dengan menundukkan kepalanya.

“Sebenarnya orang seperti engkau ini harus mendapat hukuman setimpal. Tetapi aku bukanlah seorang yang kejam. Lagi pula engkau berbuat begitu karena disuruh dan mendapat upah dari Arya Penangsang, oleh karena itu engkau kuberi ampun. Pulanglah engkau ke Jipang, katakanlah kepada ratu gustimu Arya Penangsang tentang segala kejadian yang engkau alami ini. Hanya itulah pesanku”, demikian kata Pangeran Hadiwijaya.

Setelah mengucapkan banyak-banyak terima kasih, maka pulanglah utusan Arya Penangsang itu dengan hasil nihil, karena ternyata Pangeran Hadiwijaya adalah orang yang kebal.

Setibanya di kadipaten Jipang, maka utusan tersebut segera menghadap kepada Arya Penangsang. la dengan hati yang takut dan cemas menuturkan segala kejadian-kejadian yang ia alami selama menjalankan tugas untuk membinasakan Pangeran Mukmin, Pangeran Hadiri, dan Pangeran Hadiwijaya. Tetapi ketika Pangeran Arya Penangsang mendengar bahwa musuhnya   yaitu   Pangeran   Hadiwijaya   belum dapat dibinasakan, menjadi sangat murka hatinya.

“Jadi kangmas Hadiwijaya belum dapat engkau binasakan?”

“Betul Gusti, karena Pangeran Hadiwijaya ternyata seorang yang kebal dan sakti”.

“Engkau   prajurit   pengecut,   ini   hadiahmu   ”,

dengan berkata begitu Arya Penangsang segera menusukkan keris pusaka kadipaten Jipang ke dada utusan yang malang tersebut. Dan seketika itu pula utusan tadi menggeletak di atas lantai dengan berlumuran darah, dan tak bernyawa lagi.

Konon, ketika jenazahnya akan diangkut keluar oleh Kyai Patih Matahun, maka mendadak hilang musnah tak tentu rimbanya. Tetapi sebentar kemudian terdengarlah suara gaib:

“Hei.... Arya Penangsang, ketahuilah aku adalah roh dari orang yang baru saja engkau bunuh dengan tangan bengismu. Aku menyesal telah membunuh mereka yang tak berdosa kepadaku, karena atas perintahmu. Kini aku sendiri yang engkau buat korban

keris celaka itu. Ingat Arya Penangsang, besok kalau terjadi perang antara Pajang dengan Jipang, di situlah ajalmu akan sampai. “Engkau prajurit pengecut! Ini hadiahmu!” Seru Arya Penangsang. Mendengar suara gaib itu, Arya Penangsang menjadi tertegun sejenak. Pada wajahnya terbayang rasa penyesalan atas tindakannya yang kurang bijaksana itu. Tetapi oleh Kyai Patih Matahun, kegundahan hati Arya Penangsang itu dapat dihiburnya dengan kata-kata yang lemah lembut, dan dinasihatkan agar tindakan- tindakan selanjutnya supaya dipertimbangkan sebaik- baiknya, janganlah terburu oleh nafsu amarah. Demikianlah maka untuk menenangkan fikiran dan melupakan segala peristiwa yang baru dialami itu, masuklah Arya Penangsang ke dalam sanggar pamujan. Sedangkan kepada Patih Matahun diperintahkan untuk menjaga tata tertib pemerintahan, serta merahasiakan kejadian-kejadian tersebut.

Pada suatu hari.....

Ketika Pangeran Hadiwijaya sedang duduk termenung seorang diri, tiba-tiba datanglah seorang ponggawa Kadipaten yang menyampaikan sepucuk surat dari Sunan Kudus. Adapun isi surat itu ialah minta agar Pangeran Hadiwijaya datang ke Kudus untuk “bawa rasa” dengan beliau.

Permintaan Sunan Kudus yang demikian itupun dipenuhinya oleh Pangeran Hadiwijaya. Keberangkatan- nya ke Kudus, diiringkan oleh penasihat-penasihatnya, yaitu Ki Penjawi dan Ki Pemanahan. Tak ketinggalan pula Sutawijaya, yaitu anak Ki Pemanahan yang telah dipungut dan diakui sebagai putera Pangeran Hadiwijaya.

Kedatangan Pangeran Hadiwijaya disambut dengan ramah tamah oleh Arya Penangsang, seolah- olah mereka adalah bersahabat karib. Pada wajah mereka tak terbayang sifat-sifat permusuhan, karena masing-masing dapat menyimpan perasaan hatinya.

“Selamat datang wahai kakangmas Hadiwijaya” sambut Pangeran Arya Penangsang dengan ramahnya.

“Doa restu dimas Pangeran Arya Jipang, selamat,” jawab Hadiwijaya dengan senyumnya yang mengulum.

Setelah mereka saling menanyakan tentang keadaan rakyat dan negaranya masing-masing, maka bertanyalah Pargeran Arya Penangsang kepada Pangeran Hadiwijaya:

“Maafkan kakanda, bolehkah dinda mengetahui pusaka keris mana yang kakanda pakai. Rupanya dinda belum pernah mengetahuinya”.

Oleh Hadiwijaya permintaan Arya Penangsang itu diluluskan. Tetapi ia tetap waspada, keris pusaka Kadipaten Pajang tetap disembunyikan. Ia menanti reaksi apa yang dilakukan oleh Arya Penangsang dengan keris tiruannya itu.

Dengan tersenyum lega Adipati Jipang itu seolah- olah memeriksa keris tersebut, dan akhirnya ditariklah keris itu sambil berkata dengan nada mengejek:

“Hem    apakah ampuh juga pusaka ini?” Ia maju

selangkah mendekati Hadiwijaya, yang ketika itu berdiri sambil mengawaskan gerak-gerik Arya Penangsang, seolah-olah ia tak menaruh kecurigaan apa-apa.

Melihat gelagat yang demikian itu, Ki Penjawi dan Ki Pemanahan tak sabar lagi. la memberikan isyarat kepada Pangeran Hadiwijaya agar selekas mungkin mengeluarkan senjatanya yang satu lagi. Maka dengan secepat kilat ditariklah keris pusaka Pajang pemberian Sunan Kalijaga yang diberi nama Kyai Crubuk, diacungkan kepada Pangeran Arya Penangsang sambil berkata:

“Keris yang engkau pegang itu tidak seberapa ampuhnya dimas, lain dengan pusakaku Kiai Crubuk ini. Jangankan manusia, sedangkan gunung yang besar dan megah akan rontok rata dengan tanah”.

Terbeliak mata Pangeran Arya Penangsang melihat keris pusaka yang dipegang oleh lawannya itu mengeluarkan pengaruh (hawa) yang sangat panas. la tidak menduga sama sekali kalau Hadiwijaya masih menyimpan senjata yang lebih ampuh lagi. Kini ia percaya akan kata-kata gurunya, yaitu Sunan Kudus, bahwa Hadiwijaya adalah orang yang lihai dalam menebak maksud seseorang.

Untunglah waktu itu datang Sunan Kudus untuk memisah mereka yang sedang hendak bertempur.

Oleh Sunan Kudus mereka diberi nasihat-nasihat agar sesama saudara hendaknya jangan saling bermusuhan, sebab itu melemahkan kekuatan. Setelah selesai keperluan antara Sunan Kudus dengan Pangeran Hadiwijaya, maka rombongan Pangeran Hadiwijaya minta diri pulang ke Panjang.

Perjalanan Pangeran Hadiwijaya beserta para pengikutnya sampailah di dekat pesanggrahan Gunung Danaraja, di mana ratu Kalinyamat (isteri Pangeran Hadiri) sedang bertapa. Teringatlah oleh Ki Pemanahan bahwa Ratu Kalinyamat itu meskipun puteri tetapi mempunyai hak waris atas kerajaan Demak, apalagi sesudah Sunan Prawata alias Pangeran Mukmin meninggal. Oleh karena itu ia berhasrat ingin mempertemukan Hadiwijaya dengan Ratu Kalinyamat. Kalau kedua orang itu dapat bersatu, sudah tentu soal tahta kerajaan Demak segera ada penyelesaian. Hal ini diutarakan kepada Hadiwijaya, yang akhirnya dapat menyetujui pula usul Ki Pemanahan itu. Sebab Pangeran Hadiwijaya merasa terharu melihat iparnya bertapa dengan melepas pakaiannya di bukit Danaraja yang sepi dan menyeramkan itu. Soal tuntutan Ratu Kalinyamat atas matinya Arya Penangsang, akan disanggupinya asalkan iparnya itu mau pulang ke negeri Demak. Maka oleh Hadiwijaya diutuslah Ki Pemanahan untuk menemui Ratu Kalinyamat di pertapaan. Sedangkan Pangeran Hadiwijaya serta para pengikutnya yang lain menunggu di tempat yang agak jauh, dan membuat pesanggrahan darurat.

* * *

BAB II

Suasana di sekitar pertapaan Gunung Danaraja waktu itu kelihatan sepi, pagi yang bening dengan angin gunung yang bertiup lemah, serta kicau burung-burung kecil yang nyaring memperdengarkan lagunya yang merdu, semuanya mengandung firasat yang baik. Maka dengan langkah yang tetap Ki Pemanahan terus mendekati Gunung Danaraja itu sampai ke puncak yang pertama. Di situlah letak pertapaan Ratu Kalinyamat.

Kedatangan Ki Pemanahan itu disambut oleh Ratu Kalinyamat dengan perasaan gembira. Pertemuan mereka ini sangat mengharukan. Karena meskipun pertapaan itu sudah hampir menyerupai sebuah keraton kecil yang lengkap dengan bangsal paseban, bangsal panganti, dan prabasuyasa dan sebagainya, namun Ratu Kalinyamat sendiri berada di sebuah kobong di mana ia sedang bertapa dengan dibiarkan rambutnya yang panjang itu terurai. Oleh karena itu kedatangan Ki Pemanahan ini hanya ditemui di luar kobong yang dibatasi dengan kain yang berwarna-warni dan sangat tebal.

“Rupanya Dimas Pamanahan yang datang menghadap?” kata Ratu Kalinyamat menyambut kedatangan tamunya itu.

“Betul Gusti.... hamba Pemanahan abdi Paduka!” jawab yang ditanya.

“Selamat datang dimas, apa kabar di keraton Pajang?”

“Berkat do'a restu Gusti Ratu, selamat semua. Hanya sembah sungkem Gusti Pangeran Hadiwijaya serta seluruh rakyat Pajang untuk Gusti Ratu”.

“Oh dimas.... sangat terharu hatiku mendengar kata-katamu itu. Syukurlah kalau gustimu Pangeran Hadiwijaya masih ingat kepadaku. Kelak kalau engkau kembali, sampaikan do'a restuku kepadanya dan katakan kepada seluruh rakyat Pajang”.

“Terima kasih Gusti” jawab Ki Pemanahan.

“Ada keperluan apa dimas, rupanya kedatanganmu membawa kabar penting untukku. Sebab selama aku mengasingkan diri di tempat ini, belum pernah engkau datang ke mari. Baru kali inilah dimas Pemanahan sudi melangkahkan kaki ke tempat yang sepi dan menjemukan ini...!”

“Oh... Gusti Ratu!” demikian kata Ki Pemanahan. “Sebenarnya bukan karena hamba lupa terhadap paduka Gusti Ratu, tetapi hamba takut dan khawatir disangka orang yang bukan-bukan. Lagi pula hamba merasa bingung karena Gusti Ratu pada detik ini masih menjalankan bertapa. Padahal rakyat selalu menanti- nanti karena paduka Gusti Ratulah yang kini mempunyai hak waris kerajaan Demak, sebab Gusti Pangeran Mukmin sudah gugur. Oleh karena itu kasihanilah rakyat Demak yang kini sedang kacau karena tidak ada yang memegang kendali pemerintahan. Sedangkan tokoh- tokoh lainnya, seperti gusti Fatahillah dan Pangeran Langgar rupanya sudah “cuci tangan” semua. Maka hamba dengan susah payah datang ke tempat ini tidak lain untuk menjemput Gusti Ratu”. “Terima kasih dimas Pemanahan atas nasihat- nasihatmu itu, tetapi sudah menjadi sumpahku bahwa aku tak akan berhenti bertapa jikalau belum ada seseorang yang dapat membalaskan dendam hatiku atas kematian gustimu Sunan Prawata, serta Pangeran Hadiri. Oleh karena itu aku bersumpah pula, siapa saja yang dapat menundukkan Arya Penangsang, kerajaan Demak dan seluruh isinya kuserahkan kepadanya!”

“Betulkah apa yang menjadi sabda Gusti Ratu itu?”, tanya Ki Pemanahan.

“Sabda pandito ratu dimas!” jawab ratu Kalinyamat dengan tegas.

“Oleh karena itu sanggupkah dimas manyelesaikan tugas dan sumpahku itu, dan adakah orang lain yang lebih sakti yang engkau ajukan?” tanya Ratu Kalinyamat selanjutnya.

“Gusti Ratu!” kata Pemanahan kemudian. “Kalau memang betul apa yang menjadi sabda paduka tadi, hamba mempunyai orang yang mungkin sanggup menjalankan tugas itu!”

“Siapa dimas orang yang engkau maksudkan itu?” tanya Kalinyamat. “Tidak lain ialah gusti Pangeran Hadiwijaya!” jawab Ki Pemanahan dengan tegas.

“Oh syukur alhamdulillah dimas, kalau gustimu Pangeran Hadiwijaya yang sanggup menerima tugas ini. Karena dengan demikian waris kerajaan Demak tidak jatuh di tangan orang lain”.

“Betul Gusti, tetapi meskipun demikian gusti Pangeran Hadiwijaya tidaklah begitu mengharapkan hadiah kerajaan Demak, sebab gusti Pangeran Hadiwijaya sebelumnya sudah ada niat untuk menolong penderitaan Gusti Ratu. Beliau merasa kasihan melihat paduka siang dan malam selalu tafakur mengheningkan cipta di tempat yang sunyi ini.”

“Terima kasih dimas, atas perhatian gustimu Pangeran Hadiwijaya itu. Dan, kini kuminta pertolonganmu pula, panggillah dimas Pangeran Hadiwijaya untuk datang ke mari sebab ada sesuatu hal yang harus kubicarakan lebih lanjut!”

“Kalau demikian, ijinkanlah, hamba menemui Gusti Pangeran”.

“Ya dimas, selamat jalan dan lekas kembali, dengan gústimu dimas Pangeran Hadiwijaya”. “Daulat gustiku!” jawab Ki Pemenahan sambil menyembah dan terus pergi meninggalkan pesanggrahan Danaraja.

* * *

Tersebutlah di pesanggrahan yang terletak tidak jauh dari tempat di mana Ratu Kalinyamat sedang bertapa, Pangeran Hadiwijaya sedang dihadap oleh Ki Pemanahan yang baru saja datang dari pesanggrahan Danaraja. Oleh Ki Pemanahan diceritakan segala apa yang terjadi pembicaraan dengan Ratu Kalinyamat, dari awal sampai akhir. Pangeran Hadiwijaya mendengarkan cerita Ki Pemanahan itu dengan penuh perhatian.

“Baiklah dimas Pemanahan!” demikian kata Pangeran Hadiwijaya, setelah Ki Pemanahan itu berakhir.

“Aku segera menghadap Gusti Ratu Kalinyamat di pesanggrahan Danaraja, sebab mengenai sasrahan waris kerajaan Demak itu akupun mempunyai syarat- syarat tertentu yang akan kuajukan kepada Gusti Ratu”.

“Itu memang perlu pula gusti, sebab untuk menjaga kesulitan-kesulitan di kemudian hari”. Pangeran Hadiwijaya mendengarkan cerita Ki Pemanahan itu dengan penuh perhatian. “Oleh karena itu dimas Pemanahan, siapkan saja prajurit pilihan akan mengawal perjalananku ke Gunung Danaraja esok pagi, dan jangan ketinggalan pula ananda Sutawijaya dan dimas Penjawi supaya ikut serta. Sedang dimas Pramanca, Wila dan Wuragil supaya memimpin barisan prajurit-prajurit lainnya pulang ke Pajang!”

“Daulat gusti” sembah Ki Pemanahan.

Esok paginya maka berangkatlah Pangeran Hadiwijaya serta pengikutnya menuju ke gunung Danaraja.

Sesampainya di bangsal paseban, Ki Pemanahan memerintahkan agar para prajurit pengawal menunggu di tempat itu. Pangeran Hadiwijaya meneruskan perjalanan naik ke pesanggrahan dan hanya diiringkan oleh Sutawijaya, Penjawi dan Pemanahan.

Kedatangan mereka ini disambut dengan gembira oleh Ratu Kalinyamat. Untuk menghormati kedatangan Pangeran Hadiwijaya ini, Ratu Kalinyamat bersedia mengenakan pakaian ala kadarnya. Oleh karena itu pertemuan mereka lebih mengharukan lagi dan tidak perlu Ratu Kalinyamat menyembunyikan diri dalam di dalam kobong sebagai mana halnya ketika Ki Pemanahan dulu menghadap. “Oh dimas, Pangeran Hadiwijaya.” demikian kata Ratu Kalinyamat.

“Sebenarnya telah lama aku menantikan kehadiranmu di tempat yang sunyi ini, rupanya baru detik inilah keinginanku itu terkabul. Oh... dimas, tegakah engkau melihat keadaanku ini, sebab itu bersediakah engkau menolong penderitaanku?”

“Duh... Gusti Ratu, sesembahan seluruh rakyat wilayah Demak. Telah lama pula sebenarnya, hamba merasa rindu kepada Gusti Ratu. Namun perasaan itu selalu hamba simpan di dalam kalbu, karena hamba takut akan persangkaan orang bilamana hamba berani menginjakkan kaki di Gunung Danaraja ini. Adapun pertolongan apa yang patut hamba persembahkan kepada Gusti Ratu, hamba selalu siap sedia menjalankan!!”

“Syukur Alhamdulillah dimas, kesanggupanmu yang tulus dan ikhlas itu bagaikan kelopak bunga yang sedang merekah, yang dapat memberikan pengharapan besar bagi terlaksanana cita-citaku. Oh... dimas, hanya engkaulah satu-satunya saudaraku yang dapat menolong penderitaanku. Aku percaya dimas, bahwa engkau lebih unggul daripada Adipati Jipang. Biar dia orang yang sakti, tidak mempan oleh senjata, tetapi dengan keperwiraanmu dimas... dia akan dapat hancur, sebab engkau adalah seorang perwiratama yang kinasih oleh ayahanda almarhum Sultan Trenggono”.

“Duh... Gusti Ratu, sesembahan rakyat Demak!” kata Pangeran Hadiwijaya, dengan perasaan sangat terharu. “Hamba tidaklah sombong kalau mengatakan bahwa hidup matinya Arya Penangsang ada di tangan hamba. Senopati Pajang tidak kurang yang sanggup menandingi kesaktian Arya Jipang. Maka oleh karena itu janganlah Gusti Ratu bersedih hati, hamba sanggup dalam waktu yang singkat menundukkan Arya Penangsang!”

“Terima kasih dimas atas kesediaanmu itu, aku semulanya telah berniat dan berjanji, yakni: Siapa saja yang dapat menundukkan Arya Penangsang, waris kerajaan Demak dan seluruh isinya kuserahkan kepadanya. Oleh karena dimas Hadiwijaya yang sanggup menjalankannya, maka waris kerajaan Demak akan aku berikan kepadamu dimas!”

“Ampun gusti.... hamba tidak berkeberatan menerima anugerah paduka yang sekian besarnya itu, tetapi... tetapi...!” jawab Pangeran Hadiwijaya ragu-ragu.

“Tetapi apa dimas, coba teruskan kata-katamu itu”, sabda Ratu Kalinyamat. “Tetapi hamba tidak berani menyimpang dari kaidah-kaidah yang berlaku. Sebab seharusnya waris keraton Demak adalah anakmas Arya Pangiri putera kanda Sunan Prawata yang berhak memiliki”.

“Betul katamu itu dimas, engkau memang orang yang jujur”, jawab Ratu Kalinyamat.

“Tetapi maksudku dimas Hadiwijaya kami serahi tugas untuk menjadi wakil raja. Sebab engkau tahu sendiri dimas, Arya Pengiri masih terlalu muda untuk memegang kendali pemerintahan. Oleh karena itu sementara Arya Pangiri belum cukup dewasa, dimas Hadiwijaya yang menggantikan naik tahta menjadi raja di Demak”.

“Kalau demikian.....” jawab Hadiwidijaya, “Ijinkanlah hamba mengajukan suatu permohonan!”

“Permohonan apa dimas?”

“Ampun Gusti, permohonan hamba itu yang pertama: perkenankanlah hamba memakai sebutan Sultan, Kedua: untuk menjadi wakil-raja itu untuk seumur hidup.

Kalau permohonan hamba ini diijinkan, hamba akan menetap di Pajang saja. Jadi pusat pemerintahan hamba pindahkan dari Demak ke Pajang. Adapun keraton Demak terserah kebijaksanaan Gusti Ratu, apakah diberikan kepada anak mas Arya Pangiri ataukah dimas Pangeran Timur”.

“Oh ya dimas, akupun mengerti akan maksudmu itu. Tetapi dalam hal ini yang berwewenang memberikan ijin adalah Sunan Giri. Bagiku permohonan itu sangat bijaksana, sebab dengan demikian kedudukan dimas sebagai raja Demak tak dapat diganggu gugat oleh siapapun juga. Oleh karena itu aku kini mempunyai akal, untuk menanam rasa kepercayaan Sunan Giri terhadap dimas Hadiwijaya, kuminta kerelaan dan keikhlasan dimas untuk mengawinkan puterimu yang sulung dengan Arya Pangiri. Dengan demikian, Suran Giri tentu akan mengijinkan permohonan itu”.

Mendengar sabda ratu Kalinyamat yang demikian itu, Hadiwijaya menoleh kepada Ki Pemanahan yang maksudnya minta pertimbangan. Maka kata Ki Pemanahan:

“Hamba setuju dengan rencana Gusti Ratu itu!” Oleh jawaban Ki Pemanahan ini, Hadiwijaya menjadi lega hatinya. Maka katanya kepada Ratu Kalinyamat:

“Gusti.... kehendak paduka untuk mengawinkan puteri hamba dengan anakmas Arya Pangiri, hamba setuju. Dengan demikian semakin eratlah perhubungan darah antara keturunan Sultan Trenggono dengan Pajang”, demikian jawab Pangeran Hadiwijaya.

“Kalau dimas menyetujuinya, kelak di mana perkawinan itu akan diadakan?” tanya ratu Kalinyamat.

“Itupun terserah kebijaksanaan Gusti Ratu”.

“Kalau demikian kelak pada hari perkawinan akulah yang akan mempunyai hajat. Oleh karena itu maksudku temanten akan kita rayakan di Keraton Demak saja dengan demikian di mata para wali lebih mengesankan bahwa dimas Hadiwijaya adalah orang yang jujur dan perwira, bukankah demikian dimas Pemanahan?”

“Pendapat Gusti Ratu itu cocok sekali dengan pendapat hamba” jawab Pemanahan sambil mengacungkan ibu jarinya. Melihat tingkah Ki Pemanahan itu.

“Hamba mempunyai pikiran baru gusti!” kata Ki Pemanahan sambil maju duduknya mendekati Ratu Kalinyamat.

“Begini... untuk menundukkan Arya Penangsang itu jangan sampai gusti Pangeran Hadiwijaya sendiri yang berangkat, cukup para senapati Pajang saja. Sebab hamba khawatir akan kemurkaan Sunan Kudus. Kalau sampai mengetahui bahwa yang menundukkan Arya Penangsang adalah gusti Pangeran Hadiwijaya. Mungkin akan menimbulkan persoalan-persoalan baru. Karena Arya Penangsang adalah murid kinasih Sunan Kudus”.

“Ya ini semua terserah kebijaksanaan dimas.”

Pangeran Hadiwijaya dan dimas Pemanahan, pokoknya Arya Penangsang sedapat mungkin ditundukkan oleh ksatria-ksatria Pajang. Entah siapa.....

aku terserah! Tetapi pesanku dimas, hati-hatilah sebab Arya Penangsang adalah prajurit yang sakti dan gagah berani, teguh badannya dan kuat urat-uratnya. Kalau pendapatku hanyalah dimas Hadiwijaya yang patut menghadapinya.

“Pendapat dimas Pemanahan itu memang ada benarnya Gusti. Sebab dimas Arya Penangsang itu adalah putera kinasih Sunan Kudus. Maka alangkah baiknya, dilakukan bersamaan dengan berlangsungnya hari perkawinan ananda Arya Pangiri, di mana para wali, termasuk Sunan Kudus sendiri tahu bahwa waktu itu hamba berada di tengah-tengah pesta perkawinan”, kata Hadiwijaya membenarkan pendapat Ki Pemanahan.

“Ya dimas..... aku percaya akan kepandaianmu dalam mengatur siasat ini!” demikian jawab Ratu Kalinyamat dengan wajah yang gembira. Oleh karena itu atas anjuran Ki Pemanahan dan Pangeran Hadiwijaya, Ratu Kalinyamat hari itu pula berangkat pulang ke Demak, sehingga dengan demikian suasana rakyat dan para ponggawa lainnya dapat tentram kembali. Sinar matahari pagi yang kemilau memancarkan cahaya yang jernih, menerangi keraton Demak yang selama itu kelihatan suram oleh karena disebabkan kekacauan yang timbul, akibat perebutan singgasana kerajaan.

* * *

BAB III

Tersebutlah kini di Kadipaten Pajang. Pada suatu hari Sang Adipati Hadiwijaya dihadap oleh Ki Pemanahan, Penjawi, dan Kimas Pramanca. Adapun yang menjadi buah pembicaraan mereka itu ialah siapa yang sanggup diutus untuk menundukkan Arya Penangsang. Sebab rupa-rupanya tak seorang senopati pun di Pajang yang sanggup menerima tugas itu, meskipun sang Adipati sudah menyediakan sebagai hadiahnya yaitu bumi daerah Pati atau Mataram.

Maka sembah Kimas Pramanca: “Duh gusti, sesembahan rakyat Pajang, hamba telah mengumumkan apa yang menjadi sabda paduka itu, tetapi rupanya tak seorang pun senopati di Pajang yang sanggup menundukkan Pangeran Arya Penangsang. Oleh karena itu ijinkanlah hamba untuk berangkat ke Jipang melaksanakan tugas itu. Hamba tidaklah menginginkan hadiah bumi Pati atau Mataram, melainkan terdorong oleh rasa tanggung jawab hamba sebagai pepatih kadipaten Pajang!”

“Terima kasih dimas, atas kesanggupan yang ikhlas dan jujur itu. Tetapi jikalau engkau yang berangkat menjalankan tugas ini, tidak bedanya kalau Adipati Pajang sendiri yang datang ke Jipang”.

“Kalau demikian, bagaimana kehendak paduka gusti sang Adipati?” tanya Kimas Pramanca.

“Kini kuserahkan dimas Panjawi dan Pemanahan, adakah ia mempunyai orang, yang sanggup menerima tugas itu?”

“Duh gusti, rupanya tak seorang pun yang sanggup melakukan hal itu. Oleh karenanya kalau paduka mengijinkan hamba dengan dimas Penjawi-lah yang akan sanggup menundukkan Arya Penangsang”.

Mendengar jawaban Ki Pemanahan itu, alangkah gembira hati sang Adipati, maka sambil tersenyum lega ia berkata:

“Syukurlah dimas, kalau engkau sendiri dan dimas Penjawi yang sanggup menerima tugas ini. Hanya pesanku berhati-hatilah engkau menghadapi Arya Penangsang. Tetapi aku percaya kepadamu dimas, sebab sudah cukup lama engkau berdua mengenyam pahit-getirnya orang memainkan senjata. Maka tak lain do'a restuku mengiringi perjalananmu, semoga Tuhan selalu melindungimu dari segala bencana!”

Suasana seketika menjadi hening, tampak Ki Pemanahan dan Penjawi duduk termenung. la sangat terharu hatinya menerima pesan Sang Adipati itu. Tiba- tiba keadaan pasewakan menjadi ramai, karena dengan tak diduga-duga Sutawijaya datang menghadap. Sambil duduk bersimpuh di muka ayahanda Adipati, ia berkata:

“Duh ayahanda yang tercinta, ijinkanlah hamba ikut ke Jipang. Perasaan hamba belum puas kalau Arya Penangsang belum menjadi mayat, hamba masih ingat akan peristiwa yang terjadi di Kudus pada beberapa bulan yang lalu, di mana ayahanda akan dibunuh secara diam-diam oleh paman Arya Penangsang. Hamba tidak rela melihat ayahanda difitnah. Jasa apa yang akan dapat hamba persembahkan kepada paduka ayahanda, yang sejak hamba masih kecil selalu disanjung dengan kasih mesra. Oh.... ayahanda, ijinkanlah ikut ke Jipang.... hamba tidak takut berhadapan dengan paman Arya Penangsang.... hamba rela mengorbankan jiwa raga demi untuk membela kehormatan ayahanda!”

Mendengarkan kata-kata Sutawijaya ini sangat terharulah sang Adipati, ia sangat memuji akan kemurnian jiwa puteranya ini, meskipun hanya putera angkat. Tetapi sebenarnya ia tak rela melepaskan Sutawijaya ikut berangkat ke Jipang, namun setelah ditimbang-timbang akhirnya diperbolehkan pula. Sebab Sang Adipati ingat bahwa tekat Sutawijaya yang sedemikian itu adalah suatu sifat kepahlawanan. Apalagi setelah sang Adipati mendapat pertimbangan dari Ki Juru Mretani yaitu pamannya. Sutawijaya yang menurut silsilahnya masih keluarga dekat dengan Ki Pemanahan, maka keinginan Sutawijaya untuk ikut ke Jipang terpaksa diijinkan.

“Ananda Sutawijaya, keinginanmu untuk pergi ikut dengan pamanmu Pemanahan ke Jipang, kuijinkan. Tetapi engkau harus selalu waspada dan hati-hati sebab engkau belum berpengalaman perang, maka dari itu engkau harus menurut segala perintah dan nasihat dari pamanmu Pemanahan, serta wakmu Ki Juru Mrentani”

Betapa gembira hati Sutawijaya serta mendengar sabda sang Adipati itu, namun demikian bagi sang Adipati masih merasa khawatir. Maka pesannya kepada Ki Pemanahan dan Ki Juru Mrentani:

“Untuk menjaga keselamatan ananda Sutawijaya dimas Pemanahan dan kakang Juru Mrentani kami minta agar mempersiapkan bala tentara yang kuat untuk membentengi ananda Sutawijaya dari serangan musuh. Tetapi dari keberangkatan kalian ke Jipang, jangan sampai terlihat oleh siapapun juga. Jadi secara diam- diam agar tidak terdengar oleh Sunan Kudus, dan untuk menjaga diri Sutawijaya akan kuberi senjata pusaka. Tunggulah sebentar...!”

Pangeran Hadiwijaya kemudian masuk ke dalam bangsal pusaka, diambilnya sebuah tombak yang panjang dan sambil memberikan tombak itu kepada Sutawijaya, Sang Adipati berkata:

“Terimalah ini, senjata tombak pusaka Kadipaten Pajang. Tombak ini adalah peninggalan daripada nenek moyang, maka mulai detik ini pula kuberikan kepadamu. Adapun nama tombak ini ialah Kyai Pleret, oleh karena itu hati-hatilah anakku semoga ia memberkahi hidupmu!”.

Tombak pusaka segera diterima oleh Sutawijaya dengan perasaan gembira, karena keinginannya dikabulkan. Maka setelah ia mohon do'a restu kepada ayahanda Sang Adipati, segera Ki Juru Mrentani mohon diri pula, yang diikuti oleh Ki Pemanahan dan Penjawi. Perjalanan mereka dipercepat agar lekas sampai di rumah, mereka merasa puas karena keinginannya dikabulkan oleh sang Adipati.

* * *

BAB IV

Keesokan harinya, setelah matahari menampakkan sinarnya yang cemerlang, para utusan dari Kadipaten Pajang yang dipimpin oleh Pemanahan dan Penjawi telah sampai di tepi Bengawan Sore, yaitu sebuah sungai yang membatasi daerah Pajang dan Jipang. Di situ mereka kemudian membuat pesanggrahan untuk beristirahat, sambil mengatur siasat untuk memikat Arya Penangsang agar nanti ia mau menyeberangi sungai atau Bengawan Sore itu. Sebab menurut kepercayaan, siapa yang berani menyeberanginya ia akan menemui ajalnya dalam peperangan. Oleh karena itu para prajurit Pajang dilarang untuk masuk daerah Jipang, yang mana harus menyeberangi sungai tersebut.

Pada waktu itu ada orang sedang mencari rumput di pinggir bengawan, oleh Ki Pemanahan ia dipanggil dan ditanya, ia mengakui kalau hambanya Arya Penangsang. Oleh Ki Juru Mrentani orang tersebut diberinya uang, dan dikalungi sehelai surat tantangan kepada Arya Penangsang. Kemudian ia disuruh pulang dan menyampaikan surat tersebut kepada ratu gustinya. Tetapi ketika ia akan menyeberangi sungai oleh para prajurit Pajang dicegat dan dikeroyok sehingga sebuah telinganya hilang terpotong. Setelah itu ia dilepaskan kembali, dan terus lari menuju ke Kadipaten Jipang. Di sepanjang jalan ia menangis dan berteriak-teriak minta tolong, seluruh badannya berlumuran darah yang mengucur dari lukanya. Oleh karena tak tahan lagi menahan sakitnya ia terus menuju ke kepatihan, oleh Patih MataHun ia terus diantarkan masuk ke Kadipaten.

Kebetulan pada waktu itu Adipati Jipang Arya Penangsang baru bersantap, tahu akan datangnya Kyai Patih segera mengutus salah seorang hambanya yang dekat untuk memanggilnya. Maka masuklah Kyai Patih Matahun dengan diiringkan oleh tukang rumput itu, dan setelah dekat oleh Kyiai Patih diceriterakan asal mulanya tukang rumput itu dianiaya oleh orang Pajang, dan surat tantangan itu segera diberikan pula kepada Sang Adipati, maka dengan tangan gemetar karena menahan marah dibacanya surat itu, yang isinya sebagai berikut:

“Wahai      Adipati Jipang Arya Penangsang! Surat

ini adalah sebagai pemberitahuan untukmu, bahwa aku Adipati Pajang Hadiwijaya menanti kedatanganmu di pinggir sungai Bengawan Sore. Kalau engkau ternyata seorang perwira tandingilah kesaktianku. Tunjukkan kejantananmu!”

Betapa marah hati Pangeran Arya Penangsang membaca surat tantangan itu, seketika dihantamnya tempat tersebut dengan sekuat tenaga, sehingga segala apa yang tersedia di atas meja itu menjadi berantakan semua. Para abdi lari terbirit-birit karena takut menjadi sasaran kemurkaannya. Dengan suara yang lantang diperintahkannya agar kuda kesayangan yang bernama Gagak Rimang disediakan. Setelah Sang Adipati berganti pakaian keprajuritan segera dipacunya kuda tersebut menuju ke Bengawan Sore. Nasihat Kyai Patih Matahun agar sang Adipati sabar menunggu siapnya para prajurit sudah tak diindahkan lagi, hatinya telah terbakar oleh surat tantangan tersebut.

Waktu itu para prajurit Pajang telah siap-siap menunggu kedatangan Arya Penangsang di sebelah barat Bengawan. Tidak lama kemudian Arya Penangsang sampai pula di sebelah timur sungai dengan membawa tombak. Maka dengan suara yang serak ia berteriak-teriak dari atas kudanya:

“Hei... para prajurit Pajang, mana Gustimu Hadiwijaya, suruh ia keluar menandingi Arya Penangsang...” “Hei... kamu Arya Penangsang, tunjukkan kejantananmu. Tidak perlu gustiku Pangeran Hadiwijaya, cukup kami saja yang menandingi kesaktianmu”, jawab salah seorang prajurit.

“Hei... Arya Penangsang engkau orang licik....

pengecut... tak tahu malu... ciss... marilah kupotong lehermu!” kata yang lain dengan mengejek.

Mendengar ejekan-ejekan itu, timbullah kemarahan yang sangat memuncak di hati Pangeran Arya Penangsang. Tanpa banyak bicara lagi ia terus menggertak kudanya untuk menyeberangi bengawan itu. Sesampai di pinggir sebelah barat, tanpa diberi kesempatan lagi beratus-ratus prajurit Pajang menyerbunya. Namun Arya Penangsang adalah senopati perang yang kebal akan senjata, sehingga serangan para prajurit Pajang itu tanpa membawa hasil apa-apa. Arya Penangsang terus memacu kudanya ke tengah barisan sambil berteriak-teriak minta tanding dengan Hadiwijaya. Namun lama ditunggu-tunggu musuhnya tak nampak pula, kini insyaflah bahwa dirinya dibuat permainan oleh para prajurit Pajang. la merasa ditipu dan dipancing, oleh karena semakin meluaplah kemarahannya.

Maka diseranglah barisan yang mengepungnya itu, sehingga tidak sedikit pula korban para prajurit

Pajang yang jatuh karena pusaka Arya Penangsang. Barisan yang ada di bawah pimpinan Ki Pemanahan dan Penjawi sudah bobol pula diterjang oleh mengamuknya Adipati Jipang itu, demikian pula barisan yang dipimpin oleh Ki Juru Mrentani.

Kini tinggal barisan dalam yang dipimpin oleh senopati muda Sutawijaya, oleh karena itu dengan keberaniannya yang luar biasa diseranglah pertahanan terakhir ini, sehingga barisan itupun pecah berderai. Para prajurit Pajang lari tunggang-langgang mencari perlindungan, karena takut menjadi sasaran tombak Arya Penangsang. Melihat ini senopati muda Sutawijaya merasa malu, tanpa banyak pikir lagi ia terus maju ke tengah dengan membawa pusaka tombak Kyai Plered yang terkenal ampuh. Kebetulan waktu itu Arya Penangsang lewat di dekatnya, dengan tak sabar lagi Kyai Plered segera diayunkan sehingga mengenai perut Sang Adipati Jipang, yang seketika itu pula keluarlah jaringan ususnya. Tetapi berkat kesaktiannya ia masih hidup, maka dengan melilitnya jaringan usus tersebut ke tangkai kerisnya, diburunya senopati Pajang Sutawijaya. Setelah dekat maka dilontarkan tombaknya ke arah perut lawannya, namun serangan itu oleh Sutawijaya dapat dielakkan sehingga hanya mengenai kepala kudanya yang seketika itu pula jatuh tersungkur. Dengan cekatan pula Sutawijaya melompat dan terus lari menghindarkan diri dari serangan Arya Penangsang. Tombak Kiai Plered diayunkan sehingga mengenai Adipati Jipang. Melihat ini Adipati Jipang segera mengejar dan dipacunya Gagak Rimang dengan sekuat tenaga, sehingga oleh loncatan lari kuda tersebut keris yang dipakai oleh Arya Penangsang menjadi keluar sedikit dari rangkanya sehingga jaringan usus yang dililitkan pada tangkai keris itu tersayat olehnya sehingga putus, maka jatuhlah Arya Penangsang dari punggung kudanya dengan disertai jeritan yang sangat mengerikan. Dengan demikian gugurlah Arya Penangsang Adipati Jipang yang terkenal sakti dan gagah berani itu.

Sejak itu Pangeran Hadiwijaya diangkat menjadi Raja Demak, dengan bantuan dari Ratu Kalinyamat.

Dan atas kehendaknya pusat kerajaan atau pemerintahan dipindahkan ke Pajang. Setelah beberap tahun Pangeran Hadiwijaya memerintah kerajaan, dan terbukti dapat mengatur serta memimpin negara sehingga keadaan rakyat aman tenteram-damai, maka oleh Sunan Giri ia dipanggil untuk disahkan menjadi raja yang hak atas bumi kerajaan Demak dan wilayahnya. Pengesahan atau pelantikan tersebut dihadiri oleh segenap Adipati-adipati antara lain: Adipati Madiun, Malang, Pesuruhan, Kediri, Madura, Sedayu, Tuban, Pati, Gresik, dll. Juga para wali dan priagung-priagung lainnya dari kerajaan Demak. Setelah para tamu lengkap semuanya, maka Sunan Giri segera melakukan pelantikan atas diri Pangeran Hadiwijaya dengan segala upacara kebesaran.

* * *

BAB V

Tersebutlah kerajaan Pajang, setelah Sultan Hadiwijaya diangkat menjadi raja maka persengketaan yang terjadi di keraton Demak menjadi padam dengan sendirinya. Apalagi dengan jatuhnya Kadipaten Jipang yang dipimpin oleh Arya Penangsang, membawa ketenteraman bagi seluruh wilayah kekuasaan kerajaan Pajang yang meliputi daerah Kadipaten Sedayu, Gresik, Pasuruhan, Surabaya, Tuban, Pati, Demak, Madiun, Kediri, Banyumas, Bagelen, dan Mataram.

Adapun daerah Mataram dan Pati ini oleh Sultan Hadiwijaya dihadiahkan kepada Ki Ageng Pemanahan dan Penjawi, yaitu kepala prajurit Kadipaten Pajang yang diutus untuk menundukkan Arya Penangsang Adipati Jipang. Maka sejak kerajaan Pajang berdiri Ki Ageng Pemanahan selanjutnya tinggal di Mataram, oleh karena itu Ki Ageng Pemanahan disebut pula ki Gede Mataram.

Pada waktu daerah Mataram ini dihadiahkan kepada Ki Ageng Pemanahan, belumlah merupakan sebuah kota yang ramai. la masih merupakan hutan belukar yang penuh dengan onak dan duri. Namun demikian berkat kerajinan dan kemauan yang keras dari Ki Ageng Pemanahan, maka hutan belukar yang sangat lebat itu, sedikit demi sedikit merupakan sebuah tempat atau daerah yang sangat baik untuk tempat tinggal. Maka lama-kelamaan banyaklah orang-orang yang datang dari pedukuhan Sela, Taji dan Karanglo, yang kemudian ikut pindah dan menetap di daerah itu. Semakin lama daerah itu menjadi suatu perkampungan yang ramai, dan akhirnya menjelma menjadi sebuah kota.

Oleh karena itu atas kehendak Ki Ageng Pemanahan kota tersebut diberinya nama “Kota Gede” (dekat Yogyakarta), di situ pulalah Ki Ageng Pemanahan menetap. Oleh jasa-jasa dan kebijaksanaannya maka ki Ageng Pemanahan sangat disayangi oleh segenap penduduk di daerah itu, dan atas kehendak mereka Ki Ageng Pemanahan diberi gelar “Ki Gede Mataram”, sebab dialah yang mula pertama membuka hutan Wiyoro itu menjadi sebuah kota yang ramai yang diberi nama Kota Gede atau Mataram. Sejak itu oleh Sultan Hadiwijaya, Ki Ageng Pemanahan diangkat menjadi bupati di daerah itu dan diberinya wewenang untuk memegang pemerintahan serta mengatur rakyatnya dengan adil dan parama-arta.

Karena itu tidak lupa pula Ki Ageng Pemanahan setiap tahun sekali (tiap-tiap bulan Maulud)   datang menghadap ke keraton Pajang bersama-sama dengan para bupati lainnya untuk merayakan hari yang keramat itu, di samping itu pula untuk memperlihatkan kesaktiannya kepada raja.

Adapun Sutawijaya yaitu anak Ki Ageng Pemanahan yang telah diangkat menjadi putera oleh Sultan Hadiwijaya, atas keberaniannya menundukkan Arya Penangsang, diangkat menjadi kepala prajurit raja menggantikan kedudukan ayahnya dan diberinya gelar “Senopati ing Ngalaga” yang artinya “Panglima perang”. la sangat disayangi oleh Sultan Hadiwijaya, bahkan lebih dari puteranya sendiri (putera mahkota) yang bernama Pangeran Banawa.

Kedua orang ksatria ini (Sutawijaya dan Pangeran Banawa) adalah sama-sama muda dan juga sama tampan. Sepintas lalu sukarlah orang membedakan manakah Pangeran Banawa, seolah-olah mereka ini adalah ksatria kembar.

Persahabatan antara Sutawijaya dengan putera mahkota Pangeran Banawa, kelihatan sangat akrab sekali. Ke manapun mereka pergi tentu bersama-sama. Sebab anggapan Pangeran Banawa bahwa Sutawijaya adalah kakaknya sendiri, demikian pula sebaliknya Sutawijaya terhadap Pangeran Banawa. Apalagi mengingat     bahwa     Pangeran     Banawa     tidaklah mempunyai saudara lelaki saudaranya semua perempuan. Kakaknya yang sulung telah dikawin oleh Arya Pangiri, putera Sultan Trenggono.

Pada suatu hari, Senopati Sutawijaya diutus oleh Sultan Hadiwijaya untuk menyerang daerah-daerah atau kerajaan-kerajaan pasisiran yang memberontak kepada Pajang.

Maka berangkatlah Senopati Sutawijaya dengan mengerahkan para prajuritnya yang terpilih untuk menyerang dan menaklukkan raja-raja pasisiran tersebut. Dalam pertempuran itu Senopati Sutawijaya mendapat banyak kemenangan yang gemilang.

Tetapi sial bagi Sutawijaya, setelah dapat merebut daerah Penalukan sesampainya di Pajang ia mendapat kabar bahwa ayahnya, yaitu Ki Ageng Pemanahan meninggal dunia. Oleh karena itu Sutawijaya mohon ijin kepada Sultan Hadiwijaya untuk pergi ke Mataram, sebab tinggal sekali itu ia dapat melihat wajah ayahnya. Maka berangkatlah Sutawijaya ke Mataram, sampai di sana ia disambut oleh pamannya yaitu Ki Juru Mrentani yang terkenal pula dengan sebutan Dipati Mandarika.

Atas kehendak Sutawijaya maka jenasah ayahnya itu dimakamkan di dekat Pasar Gede, karena itu makam tersebut    sampai    sekarang    terkenal    pula    dengan namanya “Makam Pasar Gede”.

Sehabis memakamkan jenasah ayahnya itu, maka kembalilah Sutawijaya ke Pajang. Sejak Mataram ditinggalkan Ki Ageng Pemanahan, pemerintahan sangat kacau. Oleh karena itu atas kehendak Sultan Hadiwidiaya, sebagai Pengganti Pemanahan diangkatlah Senopati Sutawijaya dengan gelar “Senopati ing Ngalaga Sayidin Panatagama”.

Sejak itulah Sutawijaya tinggal di Mataram, dan berdiam di rumah ayahnya dulu yaitu di dekat Pasar Gede (sebelah utara). Karena itu Sutawijaya oleh rakyat Mataram diberinya gelar yang bagus, yaitu: Raden Bagus Pangeran Ngabei Loring Pasar (sebelah utara pasar). Dengan demikian pemerintahan yang kacau dapat diatur kembali dengan sebaik-baiknya.

* * *

BAB VI

Tiga tahun kemudian..... pada suatu hari di kerajaan Pajang terjadi suatu peristiwa. Peristiwa mana ditimbulkan atas perbuatan Raden Pabelan yang telah berani masuk ke dalam karang keputren dan berhasil membikin cemar nama baik serta kehormatan salah seorang puteri Sultan Hadiwijaya.

Raden Pabelan ini adalah putera dari Tumenggung Mayang, yaitu ipar Senopati Sutawijaya. Atas perbuatan itu Raden Pabelan oleh Sultan Hadiwijaya dijatuhi hukuman mati, dan Tumenggung Mayang karena perbuatan puteranya dibuang ke daerah Semarang.

Tindakan Sultan Hadiwijaya ini menimbulkan haru hati Senopati Sutawijaya. Sebab Tumenggung Mayang tidak tahu-menahu tentang perbuatan puteranya ikut mendapat hukuman. Hal ini menurut pendapat Senopati Sutawijaya tidaklah adil, seharusnya yang mendapat hukuman hanyalah Raden Pabelan saja.

Pendapat Senopati Sutawijaya ini dibenarkan pula oleh pamannya, yaitu Ki Ageng Juru Mrentani alias Dipati Mandarika. Maka atas nasihatnya Sutawijaya disuruh menghadap ke Pajang untuk mohon keadilan, sebab tindakan Sultan Hadiwijaya menghukum Tumenggung Mayang itu bukanlah tindakan yang bijaksana.

Maka berangkatlah Senopati Sutawijaya dengan diiringkan oleh beberapa orang pengawal menuju ke Pajang. Sampai di sana ia disambut oleh Kyai Patih Pramantia, dan terus diajak masuk ke bangsal Paseban. Di situ Sutawijaya disuruhnya menunggu, sedangkan Kyai patih terus masuk ke prabayasa. Sebentar kemudian keluarlah ia memanggil Sutawijaya diajak masuk menghadap Sultan Hadiwijaya.

Kedatangan Senopati Sutawijaya ini diterima dengan rasa gembira oleh baginda, sebab sudah sekian lama mereka tak dapat bertemu muka. Maka ditanyalah apa keperluannya maka Sutawijaya memerlukan datang menghadap ke Pajang.

Pertanyaan Sultan Hadiwiyaya ini dijawab oleh Sutawijaya bahwa kedatangannya ke Pajang itu adalah karena mendengar kalau bupati Tumenggung Mayang mendapat hukuman dari Baginda diasingkan ke daerah Semarang. Hal ini menimbulkan kasak-kusuk di kalangan para Bupati lainnya, karena menurut pendapat mereka Tumenggung Mayang, tidaklah selayaknya kalau mendapat hukuman. Karena ia tidak tahu-menahu tentang perbuatan puteranya. Maka kedatangan itu atas nama para Bupati serta kaum keluarga Tumenggung Mayang, mohon agar Baginda suka membebaskan hukuman atas diri Tumenggung Mayang yang kini sedang menjalani pengasingannya di daerah Semarang.

Mendengar atur sembah Senopati Sutawijaya ini, maka bersabdalah Sultan Hadiwijaya dengan tersenyum:

“Wahai ananda   Sutawijaya,   ketahuilah   bahwa kesalahan Tumenggung Mayang ialah mengapa ia sebagai orang tua tak dapat mendidik anaknya yaitu si Pabelan ke arah jalan yang benar. Jikalau ia memberikan petuah-petuah yang baik kepada anaknya, tak mungkinlah Pabelan mempunyai tindakan semacam itu. Mungkin juga Pabelan ini mendapat dorongan dari orang tuanya untuk berbuat meremehkan kehormatan keluarga raja, karena ingin kewibawaan ataupun ada maksud- maksud lain. Oleh karena itu, kami sebagai Sultan Pajang berhak untuk menghukum kepada siapapun juga yang dapat dianggap bersalah, apalagi terhadap keluarga raja. Oleh karena itu wahai anakku Sutawijaya, katakan kepada mereka bahwa aku tak dapat menarik kembali apa yang telah menjadi keputusanku. Sebab menurut naluri “sabda pandita ratu sekali jadi”.

Tertegun sejenak Senopati mendengar sabda ayahandanya Sultan Hadiwijaya yang sedemikian itu. Di dalam hari kecilnya tak dapat ia menerima segala apa yang dititahkan oleh Baginda, sebab Raden Pabelan bukan lagi anak kecil. la sudah besar dan dewasa, ia dapat memikir dan mempertimbangkan mana jalan yang benar dan jalan yang salah. Jadi segala tindakannya adalah menjadi tanggung jawab sendiri. Oleh karena itu Senopati merasa tidak rela kalau kesalahan Raden Pabelan ini ditimpakan kepada orangtuanya.

Maka dengan berbagai macam alasan ia berusaha membela kehormatan Tumenggung Mayang. Tetapi usahanya itu tak berhasil karena ayahandanya Sultan Hadiwijaya tetap berpegang teguh pada pendiriannya bahwa kewibawaan dan kekuasaan raja dalam hal ini, tak dapat diganggu gugat.

Dengan hati yang sangat kacewa, pulanglah Senopati Sutawijaya ke Mataram. Sepanjang jalan kudanya dipacu sacepat-cepatnya, hatinya sangat menyesal karena ayahandanya Sultan Hadiwijaya tak dapat menerima usulnya. Sampai di batas kota ia disambut oleh pamannya Dipati Mandarika, yang sengaja menjemput kedatangannya. Setelah tanya menanya tentang keselamatan masing-masing kemudian mereka bersama-sama menuju ke Kadipaten.

Sebagaimana sudah menjadi kebiasaan bahwa setiap bulan Maulud semua para bupati yang ada di bawah kekuasaan Pajang harus datang menghadap ke keraton. Selain untuk merayakan hari yang keramat bagi setiap Umat Islam itu.

Waktu itu sengaja Senopati Sutawijaya tak datang menghadap. Bahkan beberapa orang menteri dan bupati dari daerah Kedu dan Bagelen, dapat dipengaruhi pula sehingga mereka turut tidak hadir dalam pisowanan itu. Oleh senopati Sutawijaya mereka ini dijamu dengan secukupnya. Dengan sangat kecewa, pulanglah Sutawijaya sambil memacu kuda secepat-cepatnya. Dalam perjamuan itu Senopati mengutarakan maksud-maksudnya, yaitu ingin mengadakan pemberontakan, sebab Sultan Hadiwijaya telah menunjukkan sikap acuh tak acuh terhadap nasihat- nasihat atau usul-usul dari pembantu-pembantunya. Oleh karena itu diminta kepada mereka ini untuk membantu memperkuat barisan Mataram.

Permintaan Senopati ini disanggupi oleh para Menteri dan Bupati dari kedua daerah itu. Tersiarlah desas-desus yang mengabarkan bahwa Mataram akan mengadakan pemberontakan terhadap Pajang.

Semula Senopati sendiri khawatir kalau-kalau persiapannya itu diketahui atau didengar oleh Sultan Hadiwijaya. la bukan takut menghadapi serangan Pajang, tetapi ia sangat segan terhadap Sultan Hadiwijaya. Sebab sejak kecil mula ia di bawah asuhan beliau, bahkan ia sangat disayangi.

Terbayang di dalam alam kenangannya ketika ia masih belum dewasa, waktu itu ia masih turut ayahnya sendiri, yaitu Ki Ageng Pemanahan. Oleh Pangeran Hadiwijaya ia diangkat sebagai putera dan dipersaudarakan dengan putera mahkota Pangeran Banawa. la diajak hidup mukti wibawa (rukun dan bahagia) di Kadipaten, dan atas kehendak Pangeran Hadiwijaya   diharapkan   agar   Senopati   menganggap putera dan puteri beliau itu sebagai anak kandungnya sendiri.

Kasih sayang Sang Adipati yang dilimpahkan atas dirinya, tak ubahnya sebagaimana terhadap putera- puterinya, sedikitpun tanpa perbedaan. Bahkan kalau diteliti, ia lebih dicintai daripada yang lain-lainnya. Ke mana pun Sang Adipati pergi ia selalu diperkenankan ikut-serta apalagi kalau sedang pesowanan ke keraton Demak ia tak pernah ketinggalan. Kini ia belum dapat membalas kebaikan yang telah dilimpahkan oleh Sang Adipati atas dirinya, namun justeru sebaliknya.

Kini ia berhadapan dengan Pangeran Hadiwijaya ini sebagai musuh, bagaimanakah kata orang terhadap dirinya? Apakah lebih baik niatnya itu diurungkan saja? Sebab ia tidak tega memusuhi orang yang pernah memeliharanya dengan penuh kasih sayang sangat mesra. Tetapi, ia telah terlanjur minta bantuan kepada para menteri dan bupati dari daerah Kedu dan Bagelen, Heem... apa daya, sungguh suatu percobaan batin yang sangat berat bagi Senopati Sutawijaya. la sangat menyesal mengapa ia justeru membela Tumenggung Mayang yang belum pernah memberikan jasa kepadanya?

Kegundahan hati Senopati Sutawijaya ini diketahui pula oleh pamannya yaitu Dipati Mandariko alias Ki Juru Mrentani. Maka dipanggilnya Sutawijaya untuk kemudian dinasihati.

“Sutawijaya!” demikian kata Ki Juru Mrentani sambil duduk di samping Sutawijaya. “Aku tahu apa yang engkau risaukan dalam hatimu. Bukankah engkau ingat akan masa-masa yang telah silam? Itu betul, sebagai seorang ksatria haruslah selalu dapat menghargai jasa seseorang terhadap dirinya. Apalagi jasa Sultan Hadiwijaya terhadap dirimu, tak mungkinlah engkau dapat membalasnya. Tetapi ingat, kewajiban seorang ksatria tidaklah hanya sampai di situ saja, sebab kalau hanya demikian belumlah lengkap dharma baktimu sebagai seorang ksatria. Karena engkau baru memikirkan kepentinganmu sendiri, kesenanganmu sediri, belum mengingat kepentingan orang lain. Dengan engkau memperjuangkan dan membela bupati Tumenggung Mayang sehingga dapat bebas dari penderitaannya, lengkaplah sudah engkau disebut ksatria. Karena engkau membela keadilan, dengan menyampingkan kepentinganmu, sendiri. Nah marilah

tegakkan kepalamu, jadilah engkau seorang ksatria sejati”.

Mendengar kata-kata dan nasihat dari pamannya ini, maka insyaflah Sutawijaya akan kewajibannya. la sebagai seorang pemimpin, haruslah dapat menegakkan dan   membela   prinsip-prinsip   kemanusiaan.   Namun demikian dalam hatinya masih terselip pula perasaan khawatir, kalau-kalau dalam pertempuran kelak ia bertemu muka dengan Sultan Hadiwijaya. Apakah yang akan diperbuat? Selain Sultan Hadiwijaya itu ayah angkatnya, beliau adalah orang yang sakti. Tak mungkinlah ia dapat menandinginya.

Maka bertanyalah Senopati Sutawijaya kepada pamannya, katanya:

“Oh.... paman Dipati, bagaimanakah sikap kita kelak kalau dalam pertempuran itu bertemu dengan Sultan Hadiwijaya sebab mungkin tak seorang pun senopati yang dapat menandingi kesaktian beliau?”

Oleh Juru Mrentani pertanyaan Sutawijaya ini dijawab dengan tersenyum, maka mengertilah Sutawijaya bahwa apa yang menjadi kekhawatiran hatinya itu penyelesaiannya ada di tangan pamannya. Sebab Juru Mrentani itu selain ahli dalam ilmu siasat perang, juga banyak sekali akalnya.

* * * BAB VII

Kabar tentang akan memberontaknya Mataram, terdengar pula oleh Sultan Hadiwijaya. Maka diutusnya Pangeran Banawa ke kota Gede untuk menyelidiki keadaan di sana.

Keberangkatan Pangeran Banawa diiringkan oleh dua orang Senopati dan beberapa orang menteri.

Kedatangan mereka di Mataram disambut oleh Ki Juru Mrentani dengan wajah yang sangat gembira. Diajaknya Pangeran Banawa masuk ke bangsal pasamuan, untuk dipertemukan dengan Senopati. Melihat bahwa yang datang adalah Pangeran Banawa, maka dengan tak sabar lagi Senopati terus menubruk dan memeluknya. Demikian pula Pangeran Banawa.

Lama mereka saling berpelukan dengan rasa kasih mesra yang sangat mendalam, mereka terharu mengenangkan masa-masa yang telah silam.

Mereka teringat akan persahabatan yang akrab, kini ia dapat bertemu kembali setelah sekian lama berpisah.

Setelah puas mereka melepaskan rindunya masing-masing, maka oleh Senopati dipersilahkan Pangeran Banawa duduk. Dengan kata-kata yang lemah lembut bertanyalah Sanopati kepada Pangeran Banawa, apakah keperluannya maka ia datang ke Mataram tanpa memberikan kabar dulu. Apakah ia hanya meninjau keselamatan Senopati sekeluarga, ataukah diutus oleh ayahandanya Sultan Hadiwijaya?

Pangeran Banawa menjawab kedatangannya itu sebenarnya diutus oleh ayahandannya Sultan Hadiwijaya.

Adapun yang menjadi kepentingannya, yaitu selain untuk menyampaikan doa restu Baginda kepada Senopati, juga untuk meneliti betul tidaknya kabar yang telah tersiar, bahwa Mataram akan mengadakan pemberontakan terhadap Pajang.

Mendengar jawaban Pangeran Banawa ini, maka tersenyumlah Senopati Sutawijaya. Dipandangnya wajah putera mahkota Pajang itu dengan sinar matanya yang tajam. la yakin bahwa rencananya itu akan menimbulkan perang besar antara Pajang dengan Mataram. Namun demikian untuk menjawab pertanyaan Pangeran Banawa ini, Senopati masih merasa perlu merahasiakan rencananya itu, meskipun suara di luar telah berkumandang bahwa Mataram akan memberontak. Satu-satunya jalan ialah, diajaknya Pangeran Banawa memeriksa keadaan di dalam keraton, bahkan diajaknya pula ia oleh Senopati berkeliling kota.

Di sana-sini tak terlihatlah tanda-tanda sedikitpun, bahwa Mataram akan mengadakan pemberontakan. Kebetulan pula sebelumnya itu Ki Juru Mrentani telah siap sedia dengan tipu muslihatnya yaitu semua senjata alat-alat perang sepertinya tombak, pedang, keris, dan sebagainya diikat jadi satu dan ditaruh di bangsal pusaka. Jadi seolah-olah tak ada persiapan apa-apa. Hal ini dipakai sebagai bukti bahwa Mataram tak ada niat untuk mengadakan pemberontakan.

Melihat kenyataan-kenyataan ini, Pangeran Banawa mengambil kesimpulan bahwa kabar yang telah tersiar itu tidaklah benar. Oleh karena itu setelah dua hari dua malam ia berada di Mataram, dan di samping itu dirasa bahwa sudah cukup keperluannya maka Pangeran Banawa kembali pulang ke Pajang.

Sesampainya di keraton Pajang ia langsung menghadap kepada ayahandanya Sultan Hadiwijaya. Oleh Pangaran Banawa diceritakanlah hasil pemeriksaan dan penyelidikannya ke Mataram selama itu.

Keesokan harinya, maka bersidanglah Sultan Hadiwijaya dengan para panglima-panglimanya. Tetapi rupanya para panglima itu tidak dapat menerima pendapat Pangeran Banawa, yang menyatakan bahwa Mataram tak ada tanda-tanda akan memberontak. Sebab mereka mendengar bahwa kadipaten Kedu dan Bagelen, kini telah bersiap-siap untuk membantu Mataram sewaktu-waktu bilamana diperlukan.

Berita ini semakin santer datangnya setelah Bupati Surabaya mendesak kepada mereka agar selekas mungkin mengusulkan kepada Baginda untuk segera mengirimkan pasukannya ke Mataram.

Namun segala usul ataupun pendapat dari panglima itu tak dihiraukan oleh Baginda. Beliau lebih mempercayai laporan Pangeran Banawa, sebab putera mahkota ini telah menyelidiki langsung akan kejadian- kejadian di sana. Apalagi mengingat bahwa Senopati Sutawijaya adalah putera angkatnya yang sangat disayanginya.

Maka atas dasar inilah timbul dugaan di hati Sultan Hadiwijaya, bahwa kabar tentang akan memberontaknya Mataram itu dimaksudkan untuk memfitnah atau mengadu domba antara Pajang dan Mataram.

Pada suatu hari keraton Pajang gempar, karena Senopati Sutawijaya dengan dibantu oleh bupati dan prajurit-prajurit Kadipaten Kedu dan Bagelen melepaskan Tumenggung Mayang yang sedang menjalani hukuman pengasingannya.

Dalam peristiwa ini beberapa orang prajurit dan ponggawa keraton Pajang yang ditugaskan menjaga di sana ada yang menjadi korban.

Kini insaflah Sultan Hadiwijaya akan nasihat- nasihat para panglima dulu. Maka tak ada jalan lain lagi yang ditempuh kecuali harus menyusun kekuatan untuk menghancurkan Mataram. Beliau memanggil para panglima dan senopati-senopati perang lainnya untuk segera mengatur barisannya masing-masing. Sebab Baginda berniat akan memimpin sendiri pertempuran ini.

Sebentar kemudian gemuruhlah suara genderang dan terompet para prajurit Pajang yang mulai berkumpul mengatur barisan. Sebentar-sebentar terdengarlah aba- aba dari komando mereka. Setelah siap semuanya, maka bergeraklah barisan prajurit Pajang itu menuju Mataram. Sultan Hadiwijaya dengan menunggang gajah diiringkan oleh segenap barisan pengawal yang lengkap bersenjatakan tombak, pedang, perisai, yang berkilauan ditimpa oleh sinar matahari pagi.

Di pihak Mataram sudah dapat menduga bahwa Sultan Pajang tentu tidak akan membiarkan peristiwa itu, maka     mereka     bersiap     pula     dengan     barisan pertahanannya yang kuat. Oleh karena itu datangnya pasukan Pajang, disambut oleh para prajurit Mataram dengan tajamnya ujung senjata pula.

Maka timbullah peperangan yang maha dahsyat, sehingga dalam waktu singkat tempat itu telah berubah menjadi lautan darah yang membanjir dari tubuh para prajurit yang telah gugur sebagai korban pertempuran.

Rupanya prajurit Mataram lebih kuat sehingga banyak prajurit Pajang yang jatuh. Senopati Pajang hampir semua gugur di medan pertempuran menghadapi mengamuknya Senopati Sutawijaya yang dibantu oleh pamannya Ki Juru Mrentani.

Melihat barisan Pajang banyak yang bobol sehingga para prajurit kocar-kacir, Sultan Hadiwijaya mulai maju ke tengah pertempuran. Saat inilah yang ditunggu-tunggu oleh kedua orang panglima perang Mataram itu.

Maka prajurit-prajurit Mataram itu oleh Senopati diperintahkan mundur. Kini Ki Juru Mrentani mulai mengarahkan anak panahnya ke arah gajah yang dinaiki oleh Sultan Hadiwijaya. Lepasnya anak panah dari busurnya tepat mengenai leher binatang raksasa itu, dan karena terperanjatnya ia melonjok ke atas sehingga Sultan Hadiwijaya jatuh terpental dan pingsan. Gajah raksasa itu melonjak sehingga Sultan hadiwijaya terpental Oleh karena itu pertempuran menjadi reda, tentara Pajang segera kembali ke daerahnya dengan membawa pulang Sultan Hadiwijaya yang dalam keadaan sakit. Melihat peristiwa yang sangat mengharukan itu, Senopati merasa tak sampai hati.

Maka setelah suasana agak tenteram kembali, Senopati memerlukan datang ke keraton Pajang. Di sana ia disambut oleh Pangeran Banawa, dan terus diajaknya Senopati menghadap kepada Sultan Hadiwijaya ke tempat peraduannya.

Melihat Senopati Sutawijaya, maka Sultan Pajang minta agar satu-satunya anak kesayangannya itu mendekat. Senopati semula agak takut dan curiga, tetapi Sultan Hadiwijaya berkata bahwa beliau sedikit pun tak menaruh dendam kepadanya. Maka barulah Senopati berani mendekat, meskipun dalam hatinya masih terselip rasa khawatir.

Dengan suara yang sangat lemah, maka bersabdalah Sultan Hadiwijaya kepada Senopati. Beliau berpesan kepadanya berhubung sakitnya semakin hari bertambah parah sehingga hampir tak tertahankan lagi, maka apabila beliau telah tiba masanya untuk kembali kerahmatullah, beliau titip keraton Pajang dengan seluruh isi serta wilayahnya, agar Senopati sudi menerimanya. Sebab tak ada orang lain lagi yang beliau percayai untuk diserahi warisan itu, demikian pula tahta kerajaan terserah kebijaksanaan Senopati siapa yang patut diangkat sebagai penggantinya.

Terharu hati Senopati mendengar pesan Sultan Hadiwijaya itu. Sesaat ia tak dapat berkata-kata. Dalam hatinya ia merasa berdosa telah membuat kesengsaraan dan penderitaan orang yang pernah mengasuhnya sejak kecil, maka dengan mencucurkan air mata ia mohon maaf atas segala tindakannya itu. la rela menyerahkan jiwa raganya, untuk menebus segala perbuatannya itu. Namun oleh Sultan Hadiwijaya mengatakan bahwa sebenarnya bukanlah Senopati yang bersalah, tetapi memang haruslah demikian takdir Tuhan.

Tidak lama kemudian, maka tibalah saatnya Sultan Hadiwijaya kembali kerahmatullah, beliau mangkat pada tahun 1582 dan dimakamkan di desa Butuh, bawah Pajang, yaitu tempat di mana beliau dahulu pernah belajar ilmu dari seorang wiku yang bernama Kyai Ageng Butuh.

Setelah Sultan Hadiwijaya mangkat, maka Senopati terpaksa harus melaksanakan tugasnya sebagaimana yang dipesankan oleh almarhum ayahandanya yaitu Sultan Hadiwijaya, waktu masih menderita sakit. * * *

BAB VIII

Pagi itu matahari telah mulai bersinar, kabut yang melembab sejak dini hari semakin tipis, sehingga cahaya di timur semakin cerah pemandangannya. Embun pagi yang melekat di atas dedaunan, sedikit demi sedikit menjadi kering oleh panasnya sinar yang matahari semakin tinggi.

Hari itu adalah hari yang penting bagi kerajaan Pajang, sebab Senopati akan mengangkat Pangeran Banawa menjadi raja yang akan berkuasa atas kerajaan Pajang beserta seluruh wilayah kekuasaannya. Maksud Senopati ini disetujui oleh para bupati-bupati lainnya, sebab Pangeran Barawa adalah putera mahkota dari Sultan Hadiwijaya. Jadi menurut naluri hal ini tidaklah menyimpang dari hukum atau undang-undang kerajaan.

Tetapi oleh pinisepuh keraton Demak, maksud Senopati ini ditolak. Sebab mereka mencalonkan Arya Pangiri untuk menjadi raja. Sebab selain Arya Pangiri adalah masih keturunan Sultan Trenggono raja Demak, isterinya adalah puteri Sultan Hadiwijaya yang sulung, oleh karena dialah yang lebih berhak menggantikan tahta sebagai raja. Apalagi menurut perjanjian dahulu, Sultan Hadiwijaya hanyalah berhak menjadi raja seumur hidup. Jadi sehabis itu waris keraton harus diserahkan kembali kepada keturunan Trenggono, yaitu Arya Pangiri.

Sunan Giri sebagai ulama yang berhak mengangkat dan memberikan gelar kepada seorang raja, menunjuk pula Arya Pungiri yang harus diangkat menjadi raja. Dalam perebutan tahta kerajaan ini, Pangeran Banawa harus mengalah, sebagai gantinya ia diangkat menjadi Adipati di Jipang yaitu daerah bekas milik Arya Penangsang.

Atas keputusan ini Senopati Sutawijaya merasa kecewa hatinya. Ia tidak rela kerajaan Pajang jatuh ke tangan Arya Pangiri, sebab ia menganggap Arya Pangiri kurang cakap untuk memerintah. Karena sejak kecil mula putera mahkota Sultan Trenggono ini, sangat dimanjakan oleh keluarga Demak. Oleh karena kekecewaannya itu, maka pulanglah Senopati ke Mataram sebelum penobatan Arya Pangiri selesai.

Selain Senopati Sutawijaya, banyak pula para bupati lainnya yang tidak setuju kalau Arya Pangiri yang diangkat menjadi raja. Mereka menghendaki agar Pangeran Banawa yang naik tahta, tetapi apa hendak dikata justru Sunan Giri sendiri telah memilih Arya Pangiri. Maka meskipun tanpa persetujuan dari para bupati. Arya Pangiri tetap disyahkan menjadi raja, dan Pangeran Banawa diangkat menjadi Adipati Jipang.

Oleh karena itu Senopati Sutawijaya tetap membangkang pula, jangankan saban tahun datang menghadap, sedang mengabarkan tentang keadaan Pajang pun tidak. la kini menghadapi musuh baru, yaitu Arya Pangiri. Tetapi kali ini ia tidaklah gentar menghadapinya, meskipun Sultan Pajang yang baru ini dibantu oleh leluhurnya kerajaan Demak yang dipimpin oleh Sunan Giri. la tetap memberontak secara terang- terangan kepada Pajang, kecuali kalau Pangeran Banawa yang diserahi tahta kerajaan.

Sikap Senopati yang sedemikian ini sangat menggelisahkan Arya Pangiri, apalagi dilihatnya bahwa Senopati mendapat bantuan dari para bupati-bupati lainnya. Maka kedudukannya itu seolah-olah tak berarti, sebab setiap pisowanan ia hanya dihadap oleh para pengikutnya dari Demak, tanpa seorang bupati pun yang datang menghadap, termasuk pula Adipati Jipang Pangeran Banawa.

* * * BAB IX (Tamat)

Menginjak tahun ketiga Arya Pangiri memegang kekuasaan di keraton Pajang, telah menimbulkan huru- hara dan kegelisahan di kalangan rakyat, karena sepertiga dari sawah mereka harus diserahkan kepada para menteri-menteri dan bupati yang ditunjuk oleh raja. Di samping itu rakyat dikenakan peraturan pajak yang terlalu tinggi, hingga sangat menekan penghidupan mereka sehari-hari.

Oleh karena penderitaan yang maha berat itu, maka rakyat banyak yang mengadukan halnya pada Senopati, namun Senopati hanya diam seolah-olah tak memperhatikan soal itu. Sebab Senopati ingin melihat dari jauh, apa yang akan terjadi dengan tindakan Arya Pangiri itu.

Lagi pula ia tidak mau mencampuri urusan keraton Pajang, sebab Mataram telah menarik diri dari kekuasaan Pajang. Mataram berdiri sendiri. Oleh karena itu penderitaan dan tekanan hidup yang dirasakan oleh rakyat Pajang, bukanlah menjadi tanggung jawabnya.

Namun demikian, ia merasa wajib pula memikirkan hal itu karena terdorong oleh rasa perikemanusiaan. Tetapi   untuk sementara   waktu,   sengaja   ia   biarkan keadaan itu sehingga di kalangan rakyat timbul suatu gerakan yang memusuhi golongan keraton. Dengan demikian kedudukan Arya Pangiri semakin lemah.

Tidak lama kemudian, tersiarlah kabar bahwa Pajang akan mengadakan serangan terhadap Mataram, karena Mataram tidak mau tunduk di bawah kekuasaan Pajang.

Hal ini sangat menusuk hati Senopati Sutawijaya, apalagi Pangeran Banawa mendesak agar Senopati bersedia membantu merebut keraton Pajang. Maka tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, digerakkannya lasykar Mataram yang dipimpin oleh Senopati Sutawijaya sendiri, dengan dibantu oleh Pangeran Banawa.

Di pihak Pajang, tidak mengetahui akan datangnya bencana yang hebat itu. Maka masuknya lasykar Mataram ke ibukota Kerajaan tanpa perlawanan sedikitpun, prajurit Pajang yang bertugas menjaga keselamatan keraton lari bercerai-berai. Sebagian dari mereka menghadap kepada Arya Pangiri, melaporkan bahwa kerajaan Pajang telah dikepung oleh prajurit Mataram.

Maka oleh Arya Pangiri diperintahkan agar prajurit- prajurit Pajang siap sedia untuk mengadakan perlawanan. Tetapi rupanya mereka bahkan membalik membantu musuh, demikian pula rakyat Pajang berdiri di belakang Senopati Sutawijaya.

Kedudukan Arya Pangiri menjadi lemah, dalam tempo yang sangat singkat, kerajaan Pajang dapat direbut oleh Senopati, dan Arya Pangiri beserta seluruh pengikutnya dari Demak dapat ditangkap. Kemudian oleh Senopati mereka ini diserahkan kepada Pangeran Banawa untuk memutuskan persoalannya.

Atas permintaan permaisurinya, maka Arya Pangiri diberi kebebasan untuk pulang ke Demak. Sebab Pangeran Banawa mengingat pula, bahwa permaisuri Arya Pangiri adalah masih saudaranya sendiri (saudara sekandung). Keputusan ini disetujui pula oleh Senopati, dengan syarat Demak menjadi daerah kekuasaan Mataram. Hal ini oleh Arya Pangiri disanggupi.

Adapun tahta kerajaan Pajang atas kemauan Senopati diserahkan kepada Pangeran Banawa, sebab dialah yang sebenarnya yang berhak mewarisi kerajaan itu. Namun Pangeran Banawa menolak dan menyerahkan tahta kerajaan Pajang kepada kakaknya, Senopati Sutawijaya.

Penyerahan tersebut adalah atas dasar kerelaannya, karena ia merasa tidak cakap memerintah daerah yang seluas itu. la puas dengan kedudukannya yang sekarang, apalagi mengingat bahwa yang merebut keraton Pajang dari tangan Arya Pangiri adalah Senopati pula.

Maka oleh karena itu, Senopati berniat akan memindahkan pusat pemerintahannya ke Mataram. Segala tanda-tanda kebesaran negara serta lambang- lambang kekuasaan raja dipindahkan pula dari Pajang ke Mataram.

Sedang Pangeran Banawa, oleh Senopati diserahi tugas untuk menjadi bupati daerah Jipang dan Pajang. Sejak itu rakyat hidup dalam ketenteraman. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1586.

Dengan jatuhnya kerajaan Pajang, maka pada tahun 1587 berdirilah kerajaan Mataram, dan Sutawijaya sebagai rajanya dengan gelar: “Panembahan Senopati ing Ngalaga Sayidin Panatagama Kalifatullah”.

Meskipun demikian, banyak pula pengorbanan serta perjuangan dalam menegakkan kedaulatan serta pengakuan-pengakuan resmi dari para bupati, termasuk pula Sunan Giri, atas kedudukkannya sebagai raja Mataram.

ΤΑΜΑΤ