Tikam Samurai Si Bungsu Episode 5.5

Si Bungsu ingin memeluk gadis itu. Tapi rasa panas seperti menjalari tubuhnya, tatkala merasakan perut Michiko yang berisi terdekap ke tubuhnya. Ingin dia menolakkan gadis itu, namun tak sampai hatinya. Tiba- tiba Si Bungsu kembali di kagetkan dari lamunannya oleh ucapan Michiko. “Bicaralah Bungsu-san…. kenapa kau diam saja…” Dia tatap perempuan Jepang yang dikasihinya itu. Ingin dia bicara. Tapi apa yang akan dia katakan? Perempuan dalam pelukannya ini tengah hamil. Di dalam perutnya ada janin Thomas MacKenzie. Dalam situasi seperti itu dia teringat Angela. Letnan polisi Dallas yang kini ada di rumah Yoshua. “Jika dia tidak bahagia, artinya perkawinannya dengan MacKenzie hanya karena terpaksa, maka jangan ragu-ragu. Bawalah tunanganmu itu pergi. Kembali ke Indonesia atau kemana saja. Tetapi jika ternyata dia bahagia, maka janganlah egois. Relakan dia bersama lelaki itu….” Lalu, dia teringat pada pembicaraan mereka di Padang, beberapa hari sebelum berangkat ke Bukittinggi. “Di negeri kami ini yang melamar perempuan adalah pihak ibu dan keluarga pihak lelaki. Tapi saya tak lagi punya keluarga. Kita sama-sama sebatang kara. Kalau nanti kita di Bukittinggi, saya akan meminta Salma dan Nurdin melamar kamu. Engkau tempat aku mengabar sakit dan senang, aku tempat mengabarkan sakit dan senang pula. Maukah kau menjadi Istriku, Michiko-san?” Michiko menatapnya dan berdiri. Lalu menghambur kedalam pelukannya. Gadis itu menangis terisak-isak, tenggelam oleh rasa haru dan bahagia yang tak bertepi. Lalu berkata di antara tangisnya. “Hati dan jiwaku milikmu, kekasihku. Milikmu selama-lamanya…!”

Tapi ketika dalam perjalanan ke Bukittinggi, konvoi yang mereka tumpangi dicegat PRRI di lembah Anai. Sehingga terjadi malapetaka tak bertepi ini. Si Bungsu tak tahu apa yang diperbuat. Dia sudah mendengar kisah Michiko. Kenapa dia menikah dengan lelaki Amerika itu. Dari cerita itu dia menarik kesimpulan, bahwa michiko juga mencintai MacKenzie. Itu pasti! Dan akhirnya michiko arif, bahwa Si Bungsu bukannya tak mau bicara. Namun sebenarnya tak bisa bersuara. Begitu menyadari hal itu, dia lantas memeluk Si Bungsu. Menangis di dada anak muda yang dicintai sepenuh hatinya itu. “Aku mencintaimu Bungsu-san. Aku mencintaimu. Kau ingat kata-kataku di padang dahulu?“Hati dan jiwaku milikmu, kekasihku. Milikmu selama-lamanya…!“ kini dan seterusnya pun kasihku, hal itu tak berobah, kendati tubuh milik orang lain. Namun, bagaimana aku datang padamu, setelah kehormatanku kuberikan pada orang lain? Aku tak pantas menjadi istrimu. Engkau seorang lelaki mulia. Aku tahu, banyak tempat telah kau datangi, untuk membela orang yang tertindas. Semuanya kau lakukan tanpa memikirkan dirimu. Ada seorang gadis yang mengharapkanmu dan kau juga harapkan, tapi… gadis itu ternyata lemah imannya… maukah engkau memaafkanku, kekasihku…?”

Si Bungsu ingin mengangguk. Namun kalau pun dia mengangguk Michiko tak dapat melihatnya. Sebab gadis itu tengah membenamkan kepalanya kedadanya. Ketika akhirnya Michiko menengadahkan kepala, menatapnya, Si Bungsu mencoba untuk tersenyum. Lalu mengangguk. Michiko memegang wajah Si Bungsu dengan kedua tangannya, kemudian mendekatkan kewajahnya. Lalu mengecup bibir Si Bungsu. Si Bungsu menggigil.

“Ciumlah aku, Bungsu-san. Ciumlah… betapun bencinya kau padaku…” ujar gadis itu bermohon diantara tangisnya. Si Bungsu memegang pipi Michiko, kemudian mencium perempuan Jepang itu dengan lembut. Dia bersumpah, inilah ciuman terakhir. Gadis ini telah bersuami, dia tengah hamil. Alangkah tak layaknya perbuatannya ini. Berciuman dengan istri orang lain! Barangkali karena pukulan batin yang amat mendera, karena mencintai lelaki lain. Tapi menikah dengan lelaki lain pula, Michiko terkulai di pelukan Si Bungsu. Si Bungsu memahami betapa beratnya tekanan perasaan yang dialami Michiko yang membuat perempuan itu tak sadar diri.

Dia bopong perempuan itu. Kemudian membawanya kearah dari mana dia datang tadi. Tak jauh dari air terjun buatan itu dia melihat sebuah pintu dan di balik pintu terdapat sebuah kamar yang alangkah besarnya dan mewahnya. Semua lantainya dialas dengan beludru putih. Di tengah kamar tidur yang luas itu terdapat sebuah pembaringan yang antik. Di letakkannya tubuh michiko disana. Diselimutinya dengan selimut berwarna merah jambu. Ditatapnya wajah perempuan itu beberapa saat, barangkali untuk kali terakhir.

“Dari negeri yang jauh kucari engkau, kini kita telah berjumpa. Apa yang telah dan akan kau peroleh dari suamimu, terutama hidup dalam kemewahan, takkan pernah kau peroleh dari diriku michiko-san. Takkan pernah. Aku anak gunung yang tak bersekolah. Betapun juga, kau dan anak-anakmu membutuhkan semuanya ini. Kini aku harus pergi tanpa dirimu, Michiko-san. Kudoakan kau bahagia..” ujarnya dalam hati! Dia melangkah meninggalkan kamar itu. Tapi dipintu berdiri seseorang. Thomas MacKenzie!

Lelaki itu sudah tegak di sana sejak Si Bungsu membaringkan Michiko di tempat tidur. Mereka bertatapan. “Terima kasih Bungsu. Jika kau butuh bantuanku, sekarang atau bila saja, kau sampaikanlah padaku, apapun jenisnya bantuan itu, saya akan melakukannya..” “Sebagai tukaran dari Michiko?” tanya Si Bungsu dingin. “Sebagai persahabatan..” katanya pelan. Mereka bertatapan. Akhirnya Si Bungsu menyadari, kalau tidak karena lelaki didepannya ini. Dia takkan pernah bertemu lagi dengan Michiko. Betapun pahitnya pertemuan ini, namun MacKenzie telah menyelamatkan nyawa gadis yang dicintainya. “MacKenzie, terimakasih engkau telah menyelamatkan perempuan yang aku cintai. Itu dulu, kini dia istrimu. Jaga dia baik- baik, aku yakin dia bahagia dengan mu…” ujar Si Bungsu perlahan sambil mengulurkan tangan. MacKenzie tidak hanya menerima salam Si Bungsu tapi memeluknya dengan penuh haru, orang yang kemaren di sebutnya stranger, yang datang dari “negeri tak beradab” itu. “Maafkan aku atas segala-galanya sahabat..” ujarnya dengan suara bergetar. “Maafkan juga atas segala-galanya sahabat..” balas Si Bungsu. Di luar dia menolak naik mobil yang menjemputnya di rumah Yoshua. Dia berjalan kaki meninggalkan rumah besar di tengah lapangan yang amat luas itu. Dia berjalan terus menyongsong matahari. Seorang lelaki dari Situjuh Ladang Laweh, dari kaki Gunung sago di Minangkabau sana, terdampar sendiri di Dallas, salah satu kota texas yang ganas.

Dia tak menyadari sebuah mobil masih mengikuti kemana pun dia pergi sejak meninggalkan rumah itu tadi. Di dalamnya duduk Elang Merah dan Pipa Panjang, ponakan dan adik Yoshua. Mereka mengikuti sejak tadi. Sejak Si Bungsu dijemput dari rumah mereka di tengah rimba di pinggir kota Dallas. Dan begitu Si Bungsu masuk kerumah itu, mereka juga masuk tanpa diketahui oleh para penjaga, mereka sudah terlatih untuk hal itu.

Mereka adalah turunan Indian yang amat disegani mencari jejak dan menyamar serta menyelinap jika terjadi pertempuran. Begitu Si Bungsu keluar rumah itu, mereka segera pula menghindar dengan cepat. Menyusup pergi menuju mobil yang mereka parkir jauh dari areal pekarangan rumah tersebut.

“Kita dekati dia.?” tanya Pipa Panjang yang pegang stir. Elang Merah yang memegang bedil menggeleng. “Saat ini dia tak ingin didekati siapapun…” jawabnya pelan. Mereka mengikuti saja Si Bungsu dari kejauhan. Berjalan dengan kepala tertunduk di trotoar. Seperti menyongsong matahari terbenam. Lalu, dia terduduk diam di sebuah taman yang sunyi, entah dimana. Dia menatap kearah kolam yang di penuhi oleh bunga teratai. “Kita pulang?” kata pipa panjang. “Kita tinggalkan dia..?” “Ya…” “Sendiri?” “Ya..” “Tidak. Paman menyuruh mengawalnya. Bagaimana terjadi apa-apa padanya. Kalau ada seseorang yang berniat membunuhnya. Dalam keadaan sekarang dia takkan tahu kalau ada orang yang berniat jahat padanya. Seluruh inderanya seperti mati…” “Kalau begitu kita jemput Angela. Hanya dia yang bisa mengajak lelaki ini pulang….” “Kalau begitu

engkau pulang sendirian menjemput Angela. Aku menjaga disini..” “Ya, begitu yang baik…”

Elang Merah segera turun. Bedil panjang yang tadi dia pegang dia letakan di kursi depan. Di bajunya ada sebuah pistol dan kampak kecil. Pipa panjang segera menyetir mobilnya pulang. Angela berlari keluar rumah saat mobil pipa panjang memasuki pekarangan. Dengan cemas dilihatnya di mobil itu hanya pipa Panjang sendirian.

“Dimana dia?”tanya gadis itu cemas. Pipa Panjang tak segera menjawab. Dia membuka pintu mobil dan segera turun. Yoshua serta istrinya Elizabeth muncul pula. “Dimana dia..” ujar Angela. “Di Taman Cemara…” “Di Taman cemara?” “Ya, dia duduk disana sejak beberapa waktu yang lalu…” “Sendirian…” “Bersama Elang Merah, tapi dengan jarak berjauhan…” “Dia tak apa-apa…?” “Tak kurang satu apapun, kecuali pikiran warasnya…” Angela menatap Pipa Panjang, dan Indian itu sadar bahwa bukan saatnya bergurau.

“Maaf Mam, Dia memang bukan seperti orang waras sejak keluar dari rumah itu. Kami melihat dia bicara, atau katakanlah melihat dia mendengar perempuan Jepang yang cantik itu berbicara, lama sekali. Dia hanya duduk membisu seperti patung batu. Kemudian perempuan itu tertidur di pelukannya, dia letakkan di pembaringan, lalu keluar….” “Lalu kenapa engkau tinggalkan dia di Taman itu?” sela Yoshua. “Karena aku yakin dia takkan mau di ajak pulang. Dia menolak ketika pengawal didepan rumah itu ingin mengantarkannya dengan mobil begitu dia keluar. Dia lebih suka jalan kaki. Aku pulang ingin menjemput senorita Angela. Karena hanya dia yang bisa mengajak lelaki itu pulang…” Yoshua menarik napas, kemudian menatap Angela. Sementara Angela sudah bergerak memasuki mobil itu. Pipa panjang menyusul dan segera melarikan mobilnya ke arah Taman Cemara, dimana Si Bungsu tadi dia tinggalkan di bawah pengawasan Elang Merah.

Matahari hampir terbenam di Taman cemara. Tadi masih banyak anak-anak yang bermain disana. Kini sudah pada pulang, di bimbing oleh para orang tua mereka. Taman itu kembali sepi. Lampu-lampu taman yang aneka warna sudah kembali menyala. Membiaskan cahayanya yang Indah kededaunan dan padang rumput sekitarnya. Selebihnya sepi.

Hanya ada dua manusia disana, yang satu duduk di sebuah kursi batu. Menyandarkan tubuhnya kepohon cemara yang tumbuh dekat kursi batu itu. Sejak tadi dia diam mematung. Tak tahu apakah dia tidur atau melamun.

Yang seorang lagi duduk sekitar dua puluh meter dari yang pertama. Terkadang tegak, menatap kearah yang pertama yang tak lain dari pada Si Bungsu. Lalu berjalan mondar-mandir. Mengitari Si Bungsu dalam radius dua puluh atau tiga puluh meter. Melihat kalau-kalau ada orang lain atau hal-hal yang mencurigakan disekitar taman itu. Terkadang dia duduk di rumput disebelah utara Si Bungsu. Bosan duduk disana, dia pindah keselatan dengan memutari Si Bungsu dalam jarak tiga puluh meter. Lalu di sebelah selatan. Dia adalah si Elang Merah, ponakan yoshua. Yang ditugaskan untuk menjaga Si Bungsu, kesetian orang- orang keturunan Indian itu dalam persahabatan amatlah kentalnya. Dan disaat sepi itulah Angela sampai di taman itu. Dia turun dari mobil yang dihentikan sejauh lima puluh meter dari tempat Si Bungsu. Dia tatap lelaki dari Indonesia itu, yang dari tempatnya seperti bayang-bayang samar di bawah cahaya lampu yang teram- temaram. Lelaki itu menatap ke atas langit sembari menyandarkan kepalanya ke pohon.

Samar-samar, Si Bungsu mendengar seseorang memanggilnya. Kepalanya masih menengadah, namun matanya terpejam. Dia buka matanya, kemudian kembali mendengar suara memanggil namanya. Dia segera kenal suara itu. Suara Angela Letnan polisi Kota Dallas. Gadis Amerika yang cantik, yang sangat mengasihinya. “Engkau itu Angela?” tanyanya pelan sekali seperti berbisik. Namun Angela mendengarnya. Dan menjawab ”Ya…”.

Si Bungsu tak bereaksi. Kepalanya tetap tengadah dengan tubuh separoh bersandar kepohon cemara di belakangnya. “Aku ingin sendiri, Angela…” Sepi. Angela tegak disana. “Kami khawatir tentang dirimu, Bungsu…” “Aku ingin sendiri….” Sepi. Angela menarik nafas. “Baik, aku akan pulang. Kau akan disini sepanjang malam…?” “Aku akan menunggumu di rumah, Bungsu…” “Sebaiknya kau jangan pergi Angela..” “Tapi…” “Maaf aku tak bermaksud menyuruhmu pergi….”Si Bungsu berkata perlahan, menyesali ucapannya tadi.

Perlahan Angela mendekat. Angela duduk dan menggenggam tangan Si Bungsu. Mencium dengan lembut jari-jari tangan lelaki itu. Si Bungsu memeluk bahu Angela. “Angela…” “Ya..?” “Aku ingin pergi dari sini.. “Kemanapun engkau akan pergi, maukah kau membawa aku?” Sepi. Si Bungsu seperti tak mendengar ucapan Si Bungsu Angela terakhir. Namun gadis itu tidak merasa tersinggung. “Kita pulang?” ujar Angela perlahan. “Pulang..?” “Ya…” “Aku tak punya rumah dimanapun. Kemana aku harus menyebutkan diriku pulang, Angela?” Angela merasakan kegetiran dalam ucapan anak Indonesia ini. “Kita ke rumah Yoshua..” “Yoshua…?” “Ya, kau tak lupakan padanya bukan?” “Ya. Indian itu..?” “Ya. Indian itu!” “Aku ingat. Indian yang baik hati itu…” “Kita pulang kerumahnya?” “Tidak. Bawalah aku dari sini, ke suatu tempat dimana aku tidak mengingat masa laluku..”

Angela jadi luluh. Di raihnya wajah Si Bungsu dengan kedua tangannya. Diciumnya wajah anak muda itu dengan lembut. Seorang lelaki, betapa kukuh dan teguhnya, namun dia tetap saja seorang manusia. Ada saat dimana seseorang manusia tegar terhadap hempasan badai cobaan hidup yang dahsyat.

Namun ada pula saat-saat dimana dia akhirnya kembali ke fitrahnya yang hakiki, yaitu sebagai manusia! Tak ada manusia yang hati maupun jantungnya terbuat dari baja. Kini Si Bungsu mengalami saat-saat yang manusiawi itu. Dia sangat terguncang. Jika dia mau, banyak perempuan yang bisa dia jadikan istri.

Namun khusus tentang Michiko, kekasih yang ternyata kawin dengan lelaki dari Texas itu, benar-benar meluluhkan hatinya. Mereka berkenalan dengan jalan yang amat pelik, jatuh cinta juga dengan cara yang ruwet. Masing-masing pada mulanya memendam dendam turunan yang berlumuran darah.

Angela membawa Si Bungsu pergi dari taman itu. Dengan mobil yang dikendarai oleh Pipa Panjang, mereka menuju ke kota. Di depan sederet flat Angela menyuruh Pipa Panjang menghentikan mobil. Lewat kaca dia memperhatikan keadaan jalan raya di depannya. Memperhatikan situasi disekitar tempat mereka berhenti. Mereka harus hati-hati. Permusuhan mereka dengan Klu Klux Klan pasti belum dianggap selesai oleh organisasi tersebut. Dia turun sendirian, meninggalkan Si Bungsu di mobil. Pipa Panjang yang menyimpan pistol di balik bajunya, tak mau membiarkan gadis itu sendiri.

Dia ikut turun, dalam jarak yang tak mencurigakan dia tetap mengikuti dan mengawasi gadis itu masuk kebagian bawah flat tersebut. Sebuah gedung tua namun terawat dengan baik. Bicara beberapa saat dengan petugas di bawah. Kemudian dia kembali kemobil. “Kita turun dan menginp disini..” katanya pada Si Bungsu. Si Bungsu turun dan mengikuti Angela. Dipintu dia bertemu Pipa Panjang yang tetap mengawasi mereka. “Pulanglah, sampaikan pada yoshua dan Elizabeth, bahwa kami menginap disini. Sampaikan terimakasih kami…” kata Angela. Pipa panjang mengangguk. Dia menyuruh Elang Merah untuk kembali kerumah, memberi tahu Yoshua. “Saya akan tetap disini, menjaga mereka..” ujar pipa Panjang.

Elang Merah mengangguk dan menjalankan mobilnya. Angela Si Bungsu ke tingkat empat. Memasuki sebuah kamar yang bersih menghadap kejalan raya yang tadi mereka lewati. Angela membuka kain-kain jendela, dan dari bangunan bertingkat di seberang kanan apartemen itu membias cahaya lampu. Kemudian Angela membuka buku telepon. Lalu memesan makan malam. Dari restoran yang terletak dua blok dari apartemen mereka. Tapi pemilik restoran itu ternyata tak punya petugas mengantarkan pesanan tersebut. Angela terpaksa harus menjemputnya sendiri. Dilihatnya Si Bungsu tegak dekat jendela menatap keluar. “Saya akan pergi mengambil makanan, kerestoran yang hanya dua blok dari sini..” katanya. Si Bungsu menoleh. Kemudian mengangguk. Angela keluar dari kamar tersebut. Dan terkejut mendapatkan pipa Panjang berdiri sekitar dua bilik dari kamar mereka. “Pipa Panjang?” “Ya, Mam…” “Anda tak pulang?” “Elang Merah yang pulang mam..”

Angela jadi terharu atas kesetiaan orang-orang Indian ini. Setia kawan yang luar biasa. Padahal mereka, dia dan Si Bungsu serta orang-orang Indian ini, merupakan tiga puak suku yang berbeda dan tak punya kaitan apa-apa. Tapi lihatlah rasa setia kawan yang mereka tunjukkan. Sesuatu yang mungkin tak tersua dari orang- orang kulit putih. “Saya akan menggambil makan malam dari restoran yang berada dua blok dari sini, dapatkah anda menggantikan saya kesana?” “Tentu, mam. Tentu! dengan senang hati saya akan membantu apa saja yang anda atau Bungsu kehendaki…” “Terimakasih. Anda bisa memesan sekalian makan malam untuk anda…”

Angela menyerahkan uang kepada Pipa Panjang. Indian itu segera turun, namun separoh jalan dia berhenti, menoleh pada Angela. “Mam, saya yakin anda tahu mengapa saya ada disini. Orang-orang dari Klu Klux Klan itu takkan berdiam diri..” “Saya tahu, Pipa Panjang..” “Saya yakin anda akan waspada, mam..” “Tentu, Pipa Panjang..” Dan Pipa Panjang pun segera turun. Berjalan ke blok dimana restoran seperti disebutkan Angela berada. Angela sendiri segera memesan sebuah kamar yang terdapat diseberang kamar mereka untuk Pipa Panjang. Tak lama kemudian Pipa Panjang datang membawa makanan. Lalu mereka makan bersama di kamar itu. Ketika Indian itu akan keluar, Angela mengatakan kalau dia telah memesan kamar diseberang untuknya.

Pipa Panjang pertama keberatan, namun setelah didesak akhirnya dia menerima. Dia lalu pergi kekamar sebelah. Si Bungsu kembali dilihat Angela menghadap jendela. Menatap keluar, kemalam yang gelap. Didekatnya lelaki itu, memeluknya dari belakang. Dan menyandarkan kepalanya kebahu Si Bungsu yang bidang. “Rasanya aku kenal dengan gedung didepan sana..” kata Si Bungsu perlahan. Lewat bahu Si Bungsu, Angela melihat gedung yang berada di depan gedung yang mereka tempati. “itu adalah gedung tua, yang lantai dua dan tiganya dipakai untuk pustaka..” “Ya, saya ingat sekarang, pustaka. Saya sudah pernah kesana, membaca beberapa buku tentang organisasi Klu Klux Klan…” kata Si Bungsu. “Ya, itu adalah satu dari beberapa pustaka yang ada dikota ini, pustaka itu sudah akan ditutup. Akan dipindahkan ketempat yang baru…” “Angela..” “Ya…” “Saya ingin kesuatu tempat, misalnya menonton film, atau ke teater, atau apa saja…” “Malam ini?” “Ya, apakah ada?” “Dallas menyediakan segalanya waktu malam. Siang kota ini adalah kota pegawai dan pedagang. Tapi malam adalah kota seluruh penduduk. Baik, saya akan bersiap…” ujar Angela melepaskan pelukannya dari tubuh Si Bungsu.

Kemudian ke kamar mandi. Ketika dia selesai bersisir dan sekedar berbedak tipis serta melekatkan gincu bibir. Dia lihat Si Bungsu masih tegak didepan jendela. Dia berjalan mendekati lelaki itu dan memeluknya kembali dari belakang sambil berbisik. “Oke, kita pergi kini…?” “Kemana?” “Bukankah kau ingin menonton, film, teater atau hiburan lainnya?” Si Bungsu tak menjawab. Sepi. “Kita pergi?” tanya Angela. “Tidak..” “Tidak?” “Tidak saya mengantuk..” Angela tersenyum. Dia memahami perubahan-perubahan sikap lelaki itu. Dia membalikkan tubuh Si Bungsu. Mereka saling tatap. “Baiklah, kalau mengantuk. Ayo kita tukar pakaianmu. Di lemari ada kain dan kimono disediakan pengelola flat bagi orang-orang yang tak sempat membelinya…”

Saat malam berangkat larut, mereka berbaring di satu tempat tidur, dibawah satu selimut. Si Bungsu menelantang, menatap loteng. Angela yang ada dikanannya memeluknya. Dalam situasi begitulah pintu diketuk. Sekali, dua kali. Ketukan itu tak begitu keras. Sebelum mereka sempat bangkit di luar terdengar orang bicara. Mereka sudah bangkit dan saling pandang. “Seperti suara pipa panjang..” kata Angela. Ketukan di pintu kembali terdengar. “Angela, buka..” terdengar suara Pipa Pinjang. “Ada sesuatu?” tanya Angela yang khawatir kalau-kalau Indian itu bicara di bawah ancaman. “Tidak, bukalah…!” Angela mengintip lewat kristal pengintai sebesar kepala korek api yang menempel dipintu. Di luar lewat kaca kristal yang berfungsi sebagai pembesar disebelah luar itu dilihatnya dua lelaki. Dan mereka kelihatan tidak mencurigakan.

Angela membuka pintu. Kedua lelaki itu mengangguk hormat. Satu diantaranya mengeluarkan kartu dari kantongnya. “Kami mohon maaf karena menganggu. Kami dari FBI boleh kami masuk?” “Silahkan..!” ujar Angela. Kedua lelaki itu masuk dan Pipa Panjang juga ikut masuk. Kedua lelaki itu menatap Si Bungsu dengan cermat. “Maaf, kami diperintahkan memeriksa seluruh rumah, toko, kantor, penginapan atau segala tempat yang terletak di pinggir jalan yang akan di lewati Presiden Kennedy dalam kunjungannya dua hari lagi kekota ini…”

Angela mengambil rokok dari tas. Salah satu dari anggota FBI yaitu polisi federal Amerika itu, dengan sopan menyalakan geretan. “Boleh kami melihat kartu identitas anda berdua, dan juga anda, Tuan?” katanya pada Angela, Pipa Panjang dan Si Bungsu. Sementara ketiga orang itu memperlihatkan kartu identitas mereka, petugas yang seorang lagi memeriksa setiap sudut kamar itu. Jendela, kamar mandi, bawah kolong, loteng, semua diamati dengan cermat dan teliti. Yang memeriksa identitas itu menatap Angela, ketika diketahuinya gadis itu adalah seorang perwira kepolisian Dallas.

“Anda, pastilah dalam masa cuti, letnan..” katanya. “Ya, cuti tahunan, sebulan. Masih tersisa sepekan lagi…” “Anda tidak mendapat panggilan?” “Panggilan? Dari mana…” “Jika anda tidak keberatan, anda bisa menelpon kemarkas Anda, Letnan. Anggota kepolisian yang cuti, sementara. Presiden Kennedy akan berkunjung kesini..” Angela segera menuju ketelepon. Memutar nomor markasnya. “Hallo..” “Yes, Mam. Markas Polisi Dallas Utara disini, dengan Sersan..” “Hofner..” potong Angela. “Yes Mam.. Anda..hei! Anda pastilah Letnan Angela! Dimana Anda Letnan? Markas telah menelpon apartemen anda puluhan kali, tapi tak ada sahutan. Kata petugas disana, anda nampaknya mendapatkan kesulitan. Kami sudah menyebar anggota, namun jejak anda tak kami temukan. Cuti anda, termasuk semua cuti polisi Dallas di batalkan. Anda tahu Presiden akan kemari bukan? Dan..” “Ya, ya..Saya tahu Hofner. Kini berhentilah bicara. Sekarang jelaskan, kemana saya harus melapor dan apakah ada nomor kode buat saya…” “Ya, sebentar Letnan. Saya bisa hubungkan anda dengan Inspektur Noris, Anda ingat bukan? Dia baru dipindahkan lagi kekota ini setelah dua tahun di New york. Dia..” Angela merasa detak jantungnya mengencang mendengar nama Noris disebutkan.

“Halo.. halo..Angela.. Anda masih disana?” Terdengar suara memanggilnya dari telepon, bukan Sersan tadi. Lama Angela terdiam. “Ya, saya masih disini Inspektur…!” “Angela, senang mendengar suaramu kembali. Hei, ada kesulitan?” “Tidak, Inpsektur..” “Angela, kemana saja kamu hampir sebulan ini? Jejakmu lenyap sama sekali. Kami sangat mengkhawatirkanmu….” Angela tidak berusaha menjelaskan. Dia diam. “Angela, kamu masih disana?” Ya. Inspektur…” “Baiklah, barangkali suasananya kurang memungkinkan untuk bicara panjang lebar lewat telepon. Saya akan jemput engkau sekarang. Dimana Engkau kini?” “Tidak, saya tak perlu dijemput. Saya ingin tahu kemana saya harus melaporkan diri, wilayah tugas dan nomor kode saya…” “Baiklah…” Inspektur itu segera memberikan arahan dan rincian yang diminta Angela. Setelah rincian itu dia terima kemudian meletakkan telepon. “Anda membawa senjata api?” anggota FBI itu bertanya pada Angela. Angela mengangguk dan menyerahkan pistolnya pada mereka. Kedua anggota FBI itu mencatat nomor dan suratnya. Kemudian menyerahkannya kembali.

“Anda Tuan, apakah anda mempunyai senjata api?” pertanyaan yang diajukan pada Si Bungsu itu, dijawab gelengan oleh Si Bungsu. “Anda masih berada disini dalam dua hari ini?” “Saya tak bisa memastikannya….” “Baiklah, tapi kalau kami boleh menyarankan, tetaplah disini dalam dua hari ini, agar memudahkan checking…” Si Bungsu tak menjawab. Anggota FBI itu menoleh pada Angela. “Letnan, jalur jalan ini akan dilewati oleh Presiden dua hari lagi. Anda mengerti apa yang kami maksud, bukan?” Angela mengangguk. Kemudian kedua petugas itu memeriksa senjata milik Pipa Panjang. Dia jelas tak memiliki izin memegang senjata itu. Namun Angela memberikan jaminan. Petugas FBI itu hanya tinggal mencatat nomor dan jenis senjata genggam itu.

Kemudian mereka pamit. Sepanjang malam itu, secara maraton sejak sepekan yang lalu, para petugas FBI ini, dalam jumlah yang sulit diperkirakan, telah mengetuk ribuan pintu rumah. Telah memeriksa ratusan ribu orang, mendatangi banyak sekali gedung-gedung. Setelah petugas itu pergi, Angela tak segera berbaring. Demikian juga Si Bungsu. Angela duduk dikursi, mengisap rokok dan dia tampak gelisah. Si Bungsu melihat hal itu. “Nampaknya kota ini tengah dipersiapkan benar untuk menyambut Presidenmu, Angela….” kata Si Bungsu perlahan. Angela menolehkan kepala, kemudian mengisap rokoknya. “Maksudmu, Presidenmu itu?” “Ya, Dahulu dia sudah berniat datang, dan setelah dibicarakan, disarankan untuk membatalkan kedatangannya waktu itu. Kota ini adalah kota yang paling keras, kota para bandit di seluruh Amerika. Kota ini adalah kota yang kalah dalam perang saudara dahulu. Texas adalah daerah selatan yang dikalahkan. Disini berdiam para tuan dan budak-budak yang masih merasakan pedihnya kalah dan penghapusan perbudakan….”

“Apakah kedatangannya dibatalkan…?” “Dahulu ya. Ternyata kini dia datang lagi. Dan seluruh aparat keamanan harus memeras keringat mengawasi para pembunuh di sepanjang jalan, di persimpangan, di pohon,di kamar-kamar gedung yang tersembunyi. Siapa yang bisa mengawasi jutaan manusia di kota ini? Tak ada cara yang efektif. Bahkan kalau pun dia datang dengan berbaju besi sekalipun. Kemungkinan untuk terbunuh tetap saja ada. Jika itu terjadi, polisi Dallas akan dicatat dalam lembaran hitam sejarah…” “Kenapa tak suruh batalkan lagi?” “Seingat saya, Kepala polisi Dallas telah menyarankan untuk membatalkan atau menunda kedatangan itu…” “Lalu kenapa kini dia datang juga?” “Ini barangkali soal prestise...” “prestise?”

“Ya, Walikota Dallas dan Gubernur Negara Bagian Texas pastilah tak mau malu muka, menolak kunjungan presiden sampai dua kali. Mereka pastilah menjamin bahwa mereka bisa mengamankan kunjungan ini…” “Kalau aparat keamanan tak menyanggupi keamanan, apakah walikota dan gubernur masih ngotot…?” Kemungkinan FBI atau CIA juga menyatakan aman, hingga kunjungan ini dilanjutkan..” “FBI, CIA, apa itu?” “Kalau kau mau membacanya dalam buku-buku, kau akan menemukan dua kata itu banyak sekali di pustaka di seberang sana. Seperti dulu kau membaca tentang Klu Klux Klan. Namun sebagai garis besarnya dapatku jelaskan, bahwa FBI adalah satuan intelijen dalam negeri Amerika. Sementara CIA adalah pasukan atau badan intelijen Amerika untuk masalah-masalah luar negeri..” “Kalau begitu, dimana kedudukan polisi Dallas seperti kamu? Apakah di bawah FBI?”

“Tidak, di Amerika. Ditiap negara bagian ada polisi tersendiri yang menangani kasus-kasus lokal. Pakaian seragamnya juga berbeda di tiap negara bagian yang lain. Tapi polisi Dallas atau Texas. Tak bisa memburu penjahat sampai ke New York atau negara bagian lainnya. Jika terjadi kejahatan sampai antar negara bagian, maka wewenangnya jatuh ke FBI untuk menanganinya. Jika kejahatannya antar negara, maka CIA lah yang menanganinya. Itulah secara garis besar tugas dan wewenang Polisi, FBI dan CIA…”

Si Bungsu membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Matanya menatap loteng, namun sesekali mencuri pandang pada Angela yang masih saja duduk dengan gelisah. Dia punya firasat, kegelisan gadis itu erat kaitannya dengan Inspektur yang tadi berbicara dengannya di telpon. Kalau dia tak salah dengar,inspektur itu bernama Noris. Seperti ada benang yang mengikat kedua orang ini dahulunya, kemudian benang itu putus dan kini.. Si Bungsu memejamkan mata. Berusaha untuk melupakan dan tidur.

Namun matanya tak mau di pejamkan. Pikirannya menerawang dan pidah dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Kennedy atau siapapun presiden akan datang ke Dallas ini bukanlah urusannya. Lalu dia teringat Michiko. Sedang mengapa dia kini? Perempuan itu tengah hamil. Dia teringat kemewahan yang di berikan MacKenzie kepada Michiko, yang mungkin tak didapat gadis itu darinya. Sekolahnya hanya tamat sekolah rakyat. Kini dia berada di Dallas. Alangkah banyaknya keajaban yang terjadi di permukaan bumi ini. Kalau dulu Jepang tak menjajah, negerinya akan terus menerus dijajah Belanda. Kalau Jepang tak datang, Ayah, Ibu dan kakaknya pasti masih hidup. Mereka tentu hidup tentram di kampung. Bersawah, berladang atau manggaleh.

Kakaknya tentu menikah dengan Syarif yang pedagang itu, atau dengan Muslim, guru mengaji di kampung mereka dulu. Kalau Jepang tak datang, tidak terjadi huru-hara yang membunuh seluruh keluarganya, telah jadi apakah dia? Dengan hanya ijazah Sekolah Rakyat dan kemahiran berjudi, apakah dia jadi orang kaya atau meringkuk dalam penjara? Lamunannya terputus, ketika dia rasakan seseorang berbaring disisinya. Dia pura-pura memejamkan mata. Bau harum dari tubuh Angela yang kini tengah membentang selimut menyelusup kehidungnya. Gadis itu menutupkan selimut ke tubuh mereka berdua, kemudian rasakan gadis itu memeluknya dengan lembut.

“Engkau belum tidur bukan?” bisik gadis itu. Si Bungsu membuka mata, kembali menatap ke loteng. Angela melihatnya, kemudian memejamkan mata. Mengangkat kepala dan merebahkannya didada Si Bungsu. Tangannya memain-mainkan ujung kimono di bahagian leher Si Bungsu. “Engkau gelisah Angela?” gadis itu tak menyahut. “Engkau gelisah bukan karena kedatangan presidenmu itu bukan?” Angela masih diam. “Engkau gelisah karena Noris..” Si Bungsu dapat merasakan betapa degup jantung gadis itu mengencang. Angela mengangkat kepala.menatap wajah Si Bungsu. Si Bungsu juga menatapnya. Kemudian meletakkan lagi wajahnya didada lelaki dari Indonesia itu. “Bungsu…” “Ya…” “Jauhkah Indonesia itu?” “Jauh…” “Disana, tentu engkau punya sanak famili bukan?” “Tak seorangpun..” “Masa..?” “Ya, semua sudah punah..” “Kalau begitu, engkau masih kenal orang-orang sekampung..” “Juga tidak. Aku adalah lelaki yang terbuang dari kampungku..” “Masa?”

“Ya. Dulu aku adalah seorang anak lelaki yang senang berjudi. Kau sudah lihat bagaimana aku main rolet beberapa waktu yang lalu bukan? Kemahiran itu aku bawa dari kecil. Dikampungku, anak sebaya masa waktu itu, haruslah pandai mengaji, bersilat dan patuh pada orang tua. Kesemua keharusan itu tak satupun yang aku miliki. Aku tak pandai mengaji, karena malas kesurau untuk belajar. Aku bisa sembahyang tapi malas melakukannya, karena saat itu tak melihat manfaatnya. Aku juga tak patuh pada orang tuaku. Karena aku memang di lahirkan sebagai anak pendurhaka. Dan sebab itulah aku dibenci orang kampungku…” “Tak ada niatmu untuk pulang?” “Ah, soal pulang, siapapun tentu suatu saat ingin kembali ketanah tumpahnya. Setinggi- tinggi bangau terbang, suratnya kekubang jua….” “Apa artinya itu?” “Sejauh-jauh orang merantau, pastilah suatu saat pulang ke asalnya..” “Bagaimana, kalau dia mati di rantau?”

“Dimana pun dia mati, dia pasti kekampung asalnya. Bukankah kampung semua kita ada dua. Di dunia adalah kampung dimana ayah dan ibu kita berasal. Kampung asal kita sendiri adalah akhirat. Tempat itu adalah kampung semua umat. Semua umat yang ada di dunia ini adalah perantau, yang suatu saat harus kembali ke kampung asal. Tentang kampungku, tentu aku ingin pulang. Kalaupun aku tak bisa pulang ke Situjuh Ladang Laweh, karena disana tak seorangpun mau menerimaku. Maka aku bisa tinggal di Payakumbuh, atau bisa di Bukittinggi, di Jakarta, bisa dimana saja karena Indonesia itu sangat luas dan negara itu adalah kampungku..” Sepi sesaat.

Angela masih meletakkan kepalanya. Di dada Si Bungsu. “Indonesia, apakah jauh dari Jepang?” “Apakah kalian tak pernah menemukan negeriku itu di pelajaran sekolah?” “Tidak, maaf. Mungkin negerimu terlalu kecil Bungsu. Kecil dan mungkin tak terlalu penting, sehingga guru-guru kami merasa tak perlu untuk memberikan pelajaran di sekolah. Kami hanya mengenal Jepang dan Philipina di kawasan laut pasifik. Jepang, karena telah membom pearl Harbor..” “Negeriku tak jauh dari Jepang, hanya berbatas dengan laut kecil dengan Philipina. Juga dijajah Jepang selama Tiga tahunan, bersama-sama Philipina..” Sepi.

Malam makin larut. Dan dalam keadaan demikian, kepala Angela di dada Si Bungsu dan tangan Si Bungsu memeluk Angela, kedua mereka tertidur karena lelah. Dikamar yang terletak di depan kamar mereka, Pipa Panjang berbaring di tempat tidurnya, Matanya terpejam, namun pendengarannya dia pasang baik-baik. Setiap yang bergerak diluar kamarnya dia ikuti dengan seksama. Pagi harinya Angela tengah bersiap untuk pergi melapor ke markas, telepon terdengar berdering. Dia sesaat jadi heran, siapa yang menelpon? Si Bungsu yang kebetulan masih berbaring ditempat tidur, dan telepon justru berada di tempat di dekatnya, perlahan meraih telpon tersebut.

“Halo..?” Di seberang sana terdengar suara lelaki ragu-ragu. “Maaf apakah ini flat..” Lelaki yang menelpon itu menyebutkan nama dan alamat tempat mereka kini menginap. Kini Si Bungsu yang ragu. Apakah yang menelpon ini orang-orang Klu Klux Klan yang tengah mencari mereka? Keraguan nya di putus oleh suara lelaki diseberang sana.

“Saya Norris, Jhon Norris. Perwira Intelijen Polisi Dallas. Maafkan kalau saya salah sambung. Saya ingin menelpon…” “Angela…?” ujar Si Bungsu perlahan. “Ya, ya.. Letnan Angela. Apakah dia memang menginap di kamar ini?” “Ya, Saya panggilkan sebentar…” Si Bungsu menoleh pada Angela yang memang sejak tadi tengah menatap padanya. “Norris, yang menelponmu tadi malam…” ujar Si Bungsu perlahan.

Angela menatap Si Bungsu yang masih saja berbaring dan mengulurkan telpon padanya. Perlahan gadis itu bangkit dari tempat duduknya, mengambil telpon tersebut, dan duduk disisi pembaringan. Si Bungsu bangkit menuju kamar mandi. Tak lama kemudian dia sudah berpakaian dan menuangkan kopi yang diantarkan Pipa Panjang ke gelas. Angela tengah menyelesaikan riasannya. Si Bungsu menuangkan kopi untuknya. Memasukan dua bungkah gula batu bersegi empat kedalam masing-masing gelas. Kemudian mengaduknya perlahan. Yang satu diantarkan pada Angela. Gadis itu menerimanya setelah memasukkan lipstik kedalam tas tangannya.

“Terimakasih..” kata Angela pelan. Si Bungsu menghirup kopinya, Angela juga. “Sejak malam tadi, sejak menerima telepon itu, Kau kulihat gelisah Angel. Maaf, bukan maksudku mencampuri urusanmu. Tapi…saya gembira kalau engkau juga menemukan kebahagiaan. Cukup satu saja diantara kita yang tak bahagia, bukan?” Angela tak bersuara. Mereka bertatapan. Dan akhirnya, gadis itu memeluk Si Bungsu. Airmatanya mengalir, meski diusahakannya untuk menahan sekuat daya. “Hei, kenapa kau menangis..?” Angela tak menjawab. “Nah, jangan menangis. Kau harusnya gembira ketemu dia lagi…” “Tidak. Dia meninggalkan saya begitu saja. Saya akhirnya memutuskan untuk bertunangan dengan pemuda lain, yang akhirnya mati dalam suatu kecelakaan..” Sepi.

“Kurasa kau harus pergi melapor ke markasmu, Angela…” “Engkau akan tetap disini bukan? Saya hanya sebentar, saya akan kembali..” ujar Angela sambil menatap Si Bungsu. “Ya, ya.. Saya akan tetap disini. Saya akan menantimu. Kemana lagi saya akan pergi di Kota yang asing ini…” Angela memperbaiki rambutnya. Kemudian mencium Si Bungsu. Ketika dia akan keluar, dia membalik lagi, menatap pada Si Bungsu. “Engkau akan menantiku, Bukan?”

Si Bungsu mengangguk. Angela berjalan keluar dan menutup pintu di belakang nya. Si Bungsu masih tegak disana, menatap pintu yang sudah ditutup itu. Kemudian perlahan berjalan kearah jendela. Lewat jendela dia menatap kearah jalan di bawah sana. Tak lama dia melihat Angela tegak di trotoar. Tegak sejenak, menatap kearah pustaka tua itu, kemudian tangannya teracung. Sebuah taksi tua kelihatan berhenti dekatnya. Dia masuk, duduk di belakang, dan taksi itu meluncur maju. Lalu lintas didepan flat yang mereka tempati itu cukup ramai. Jalan itu kelihatannya jalan satu arah. Kendaraan datang dari arah kanan, yaitu dari arah pustaka itu, menuju kekiri.

Dia kembali menatap gedung tua dikanan itu, ke pustaka dimana dia pernah membaca majalah dan buku tentang Klu Klux Klan. Dia ingin kesana. Malam tadi Angela bicara tentang FBI dan CIA, dia ingin tahu tentang kedua organisasi itu. Soalnya akan mengapa dia seharian ini? Daripada duduk bermenung, menjelang Angela kembali, lebih baik dia membaca di pustaka itu. Dan setelah itu, barang kali dia bisa memikir-mikir bagaimana rencana selanjutnya. Apakah dia akan ke Indonesia? Pulang! Ingatan itu tiba-tiba melintas dikepalanya. Pulang sendirian. Ya, ketika dia datang kemari berdua dengan Tongky. Kini dia harus pulang sendirian. Kepalanya berdenyut mengingat kepulangan sendirian itu. Dia memutuskan akan ke pustaka.

Dia segera turun dari flat berlantai lima itu. Dia tak mau naik lift, untuk kesehatan dia lebih senang menggunakan tangga naik turun. Di belakang dia mendengar pintu ditutup dan langkah mengikutinya. Dia menoleh, dan segera melihat Elang Merah di belakangnya. Nampaknya dia telah bergantian dengan pipa Panjang yang berjaga tadi malam. Indian yang setia itu melangkah dengan perlahan. Timbul niatnya untuk berjalan bersama anak muda itu. Dia tegak menanti, namun Indian itu berhenti juga empat atau lima depa darinya.

“Hei, Elang Merah mari kita bersama-sama..” ujarnya. Elang Merah menggeleng. “Saya ditugaskan mengawal anda, Tuan. Kalau saya berjalan bersama tuan, saling bicara, bagaimana saya bisa mengetahui ada orang berniat jahat di depan atau belakang, tuan?” Si Bungsu ingin membantah. Tapi dia melihat tak ada gunanya berbantahan dengan lelaki Indian yang teguh pendiriannya itu. Dia memutuskan untuk terus berjalan.

Sesampai dibawah, dia berbelok kekanan. Melangkah kaki disepanjang lima apartemen tersebut. Tak lama kemudian dia sudah berada di pustaka di gedung gaya lama itu. Dia masuk kedalam. Dilantai satu ada portir tua yang bertugas untuk sebagian gedung tua itu. Barangkali gedung itu tidak hanya untuk pustaka. Ada kegunaan lain, karena gedung itu lumayan besarnya. Ketika akan masuk, dia sempat iseng menghitung jendela disebelah kiri gedung itu ada tujuh jendela untuk masing-masing tingkat. Jendela pertama dan ketujuh, masing- masing dipinggir yang paling berlainan di tingkat enam modelnya persegi. Sementara jendela yang lima buah lainnya, yang diapit dua jendela itu masing-masing sisi itu, modelnya melengkung di bahagian atas, seperti model jendela atau pintu banguanan timur tengah.

Dia melewati lelaki tua yang menjaga di bawah itu. Dan saat itu seorang lelaki agak bergegas mendahuluinya. Lelaki itu memakai jas hitam gelap menenteng sebuah tas persegi ukuran sedang. Dia persis di belakang lelaki itu ketika menaiki tangga. Nampak lelaki itu menuju tingkat atas seperti dia. Ada tiga atau empat kali lelaki itu menoleh kebelakang, kearahnya. Lelaki itu betubuh atletis dengan rambut agak lebat dan rapi. Si Bungsu akhirnya berbelok kegang di lantai empat. Setelah sekali lagi melirik, lelaki itu meneruskan naik kelantai atas. Si Bungsu masuk keruang pustaka yang sepi itu. Menyapa lelaki tua gemuk yang menjadi petugas disana.

“Hei, anda yang mencari buku dan penerbitan tentang Klu Klux Klan itu bukan?” lelaki tua itu bertanya sambil menuangkan minuman dari sebuah botol segi empat pipih kemulutnya. Bau minuman keras menusuk hidung. “Ya,pak..” “Anda tahu? Sejak Anda membaca buku tentang ku itu, di kota ini telah terjadi semacam pembantaian terhadap orang-orang dari kelompok rasis itu. Ada lebih selusin yang mati secara misterius. Bagi saya ada baiknya mereka mati semua…” Si Bungsu masih tegak mendengar. Lelaki gemuk dengan pipi kemerah- merahan itu kembali menengak minuman dari botol pipih kecil ditangannya.

“Saya ingin membaca tentang FBI atau CIA, pak tua..” katanya pelan. Lelaki tua itu menatapnya. “Kesukaan bacaanmu aneh-aneh saja, anak muda. Klu Klux Klan, FBI, CIA, semuanya organisasi penjahat…” “Bukan, FBI dan CIA adalah organisasi kepolisian Amerika…” Si Bungsu mencoba menjelaskan. Lelaki tua penjaga pustaka itu tertawa terkekeh. “Saya tahu, saya tahu anak muda. Cuma dalam prakteknya, FBI atau CIA itu terkadang tak beda jauh dengan gerombolan bandit..” dan lelaki tua itu berjalan sempoyongan. Tangannya memberi isyarat kepada Si Bungsu untuk mengikutinya. Mereka berjalan ke bahagian dalam, kemudian menaiki sebuah tangga, sampai dilantai lima. Berjalan di gang deretan buku-buku tua, kemudian berbelok kesebuah sudut.

“Nah, disana ada buku-buku, majalah atau koran tentang CIA dan FBI..” ujar lelaki itu sambil menunjuk dengan telunjuknya yang gemetar kesebuah tempat. “Hmm...bukankah itu juga tempat saya membaca buku tentang Klu Klux Klan itu?” ujar Si Bungsu ketika dia mengenali tempat yang di tunjukan itu. “Persis, Bukankah sudah saya bilang, bahwa FBI, CIA, Klu Klux Klan dan mafia adalah organisasi bandit? Itulah buku-buku tentang mereka diletakan berdekatan. Mereka bersaudara he..he..he..” Ujar lelaki tua itu sambil tertawa terkekeh-kekeh meninggalkan Si Bungsu. Si Bungsu melangkah kederetan buku-buku tersebut. Dia melewati deretan rak-rak buku tentang Klu Klux Klan yang pernah dia baca. Kemudian agak disudut dia lihat buku tentan CIA dan FBI yang dia cari. Di susun menurut alfabet, mulai dari A, B, kemudian tentang C didapat, CIA, Cuba, Cina, Chicago dan lain-lain. Tak jauh dari sana pada deretan ke enam, pada abjad F dia jumpai tentang Formosa, Francis, FBI serta yang lain-lain.

Dia tegak beberapa saat, buku mana yang akan dia baca lebih dulu? Tentang FBI atau CIA atau mafia? Dia teringat akan kata-kata pak tua tadi kalau FBI, CIA, Klu Klux Klan sama saja dengan mafia! Mafia, dia ingin mencari tentang mafia. Dia ikuti terus abjad yang ada di rak-rak buku itu, sampai di abjad M, dia melihat tentang Mauratania, Mamouth, Malaya, Mafia dan seterusnya. Ketika dia akan meraih salah satu buku tentang mafia itu, perasaannya mengatakan kalau ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Seseorang tengah mengintainya! Naluri yang tajam kembali bekerja. Dia masih tegak melanjutkan mengambil buku tentang mafia itu, namun dengan waspada dia mencoba meneliti,ndimana orang yang sedang memperhatikannya itu.

Apakah orang itu, pak tua tadi? Rasanya bukan. Dia meraih sebuah buku tebal, bersamaan dengan itu dia menoleh kekanan pada sebuah pintu yang terkunci sejak dia datang pertama kali kemari. Sekarang pintu- pintu itu masih terkunci, namun lewat lobang kunci, samar-samar dia melihat bayangan yang bergerak dibelakang pintu tersebut. Dan bayangan itu lenyap waktu dia dengan tiba-tiba menoleh kesana tadi. Ada orang yang mengintip? Dia membolak-balikkan buku tentang mafia itu. Namun hatinya tak tertuju kesana. Hati dan pikirannya tertuju pada orang yang mengintip tadi, siapa dia? Elang Merah ? Ya, mengapa dia melupakan Indian itu? Dia baru saja berfikir kearah itu ketika tiba-tiba terdengar kegaduhan dibalik pintu tersebut. Seperti suara perkelahian! Suara gedebuk-gedebak. Khawatir tentang keselamatan Elang Merah, Si Bungsu segera bertindak cepat. Meletakkan buku tersebut, kemudian mencari jalan keluar dan mencari jalan menuju pintu yang tertutup itu. Tak berapa lama dia berhasil mencapai tempat tersebut, dan mendapatkan Elang Merah sedang meringkus seorang lelaki dilantai. “Apa yang engkau intai disana, he?” tanya Elang Merah. Lelaki yang diringkus itu melenguh-lenguh kesakitan. Ketika Elang Merah melihat Si Bungsu muncul, dia menceritakan kalau lelaki itu dia pergoki tengah mengintai lewat lubang kunci. “Baik, lepaskan dia..” kata Si Bungsu.

Elang Merah melepaskan orang tersebut, yang kelihatannya memang tak berdaya menghadapi Indian berotot itu. Ketika lelaki itu tegak, Si Bungsu segera mengenalinya sebagai lelaki yang mendahuluinya masuk, dan berjalan didepannya ketika menaiki tangga. Lelaki ini, dua atau tiga kali menoleh padanya, ketika menaiki tangga tersebut. Dia masih ingat, lelaki itu tadi membawa sebuah tas kecil. Kini tas itu tak ada padanya. Mereka bertatapan. “Nah, sekarang katakan, apa maksudmu mengikuti saya?” tanya Si Bungsu pelan. Lelaki itu membetulkan bajunya yang awut-awutan bekas dicengkram si Elang Merah. Dia tak segera menjawab pertanyaan Si Bungsu, Si Bungsu menatap pada Elang Merah. “Apakah dia dari kelompok Ku?” tanyanya pada Indian itu.

Elang Merah menatap sesaat pada lelaki itu, kemudian menggeleng. Tanpa bicara sepatah katapun, lelaki itu berlalu dari sana. Si Bungsu dan Elang Merah menatapnya sampai keluar gang. “Saya telah memperhatikannya ketika dia naik ketingkat atas tadi. Saya menduga dia akan turun mencari tuan. Saya sengaja sembunyi di balik tiang itu, sampai dia muncul dan mengintip di lubang kunci itu..” “Kau yakin, dia bukan dari kelompok Klu Klux Klan.?” “Nampaknya tidak…” “Apakah ada semacam tanda, atau ciri tentang mereka?” “Tidak, tapi saya punya firasat kalau dia bukan anggota ku itu…” Sepi sesaat.

Si Bungsu menarik nafas panjang. “Oke, saya lapar. Kamu mau membeli makanan untuk kita makan disini?” Elang Merah mengangguk. Si Bungsu memberi dia uang dan menyebutkan apa yang dia inginkan. Elang Merah turun dan Si Bungsu kembali membalik-balikan buku tentang mafia itu. Tapi setelah Elang Merah datang membawa makanan, dan setelah mereka makan bersama, Si Bungsu merasa kantuk menyerangnya.

Dia turun dan pulang ke flatnya. Dia berniat untuk tidur. Dimanakah Angela kini ? Sambil berfikir begitu dikamarnya, dia menatap kebawah jalan yang sangat sibuk. Tanpa sengaja, matanya terpandang pada gedung tua pustaka itu. Secara selintas, dia melihat bayangan di jendela paling pinggir dilantai enam.

Bayangan itu hanya samar-samar. Tapi karena cahaya matahari, dia segera tahu kalau orang itu tegak di sana dan menatap kesuatu arah yang dia sendiri tak tahu. Si Bungsu teringat pada lelaki yang tadi diringkus Elang Merah. Lelaki itukah, disana? Mengapa? Apakah secara kebetulan atau memang ada niat tertentu? Kalau benar dia, berarti memang bukan anggota Klu Klux Klan yang memburunya. Tapi buat apa dia disana? Rasa ingin tahunya membuatnya turun kembali, sebenarnya dia ingin sendiri tapi Elang Merah seperti bayang- bayangnya. Mengikut terus, walau dalam jarak yang tak mengganggu. Si Bungsu terpaksa menunggu Elang Merah, Menceritakan tentang orang yang ada dilantai enam gedung pustaka itu.

“Mari kita kesana, saya ingin tahu apa yang akan dia perbuat..” ujar Si Bungsu. Elang Merah mengangguk. Mereka mencari jalan memutar agar tak dilihat oleh lelaki itu. Cukup lama baru mereka sampai disana, mereka hanya bisa mencapai lantai enam dekat Elang Merah meringkus orang itu. Jalan kelantai dimana Si Bungsu melihat orang itu dari jendela, nampaknya tertutup sama sekali. Mereka tak mau menanyakan ke penjaga tua itu, dan Elang Merah memberi isyarat, pintu itu bisa di buka dengan sedikit dipaksakan.

Mereka masuk dengan perlahan dan naik anak tangga menuju keatas dan mencari-cari dimana posisi lelaki itu. Dan setelah memperkirakan pintu ruangan paling pinggir dimana lelaki itu terlihat samar. Pintu itu tertutup, lewat lubang kunci dia bisa melihat kalau lelaki itu memang ada disana. Masih berdiri disana, malah sekarang lagi meneropong kearah luar. Dilantai dia melihat sebuah peti kecil, dan peti itu terbuka.

Diatasnya dia melihat sebuah bedil dan teleskop. Kemudian beberapa peluru terletak diatas beludru diatas sebuah tas empat segi yang di pakai lelaki itu. Dan disampingnya lagi terdapat sebuah kantong kertas, yang biasanya buat makanan, dan disekitarnya terlihat sepotong ayam dan sekaleng bir.

Orang ini nampaknya akan berada di tempat ini dalam waktu yang cukup lama. Mungkin sehari atau dua hari, itu tampak dari persiapan makanan yang ada disitu. Mengapa dia disana? Dengan bedil dan teropong pula. Dan orang itu nampaknya memang bukan anggota Klu Klux Klan. Sebab tak ada gunanya dia disana, kalau dia anggota ku, dan tugasnya membunuh Si Bungsu, Elang Merah atau Angela, maka dia tak perlu sembunyi diatas gedung tua ini. Dari tempatnya dia berada tak kan bisa menembak kearah apartemen tempat mereka tinggal. Tapi, mengapa dia mengintip lewat lubang kunci tadi pagi? Kenapa dia harus memata-matai Si Bungsu? Pertanyaan itu tak bisa dijawab dengan segera. Elang Merah memberi isyarat, apakah pintu di dobrak saja, kemudian lelaki itu dibekuk? Namun Si Bungsu menggeleng.

Malah memberi isyarat untuk menghindar dari sana. Perlahan mereka kembali turun, lalu pulang keapartemennya. Dari jendela apartemennya Si Bungsu kembali mengintip dengan hati-hati, lelaki itu sudah tak terlihat lagi bayangannya. Kemana dia? Pergi dari sana? Tak mungkin. Si Bungsu berfirasat bahwa lelaki itu masih disana dengan bedilnya. Lama dia mencari tahu, dan tiba-tiba, secara samar-samar dia kembali melihat bayangan si lelaki. Nampaknya dia tidak meneropong tetapi justru membidik dengan bedilnya.

Meski tak terlihat jelas, namun Si Bungsu yakin, lelaki itu tengah membidikkan bedilnya. Kemana lelaki itu membidikkan bedilnya? Si Bungsu melayangkan pandangan kearah jalan raya, ketempat dimana kira-kira bedil itu di arahkan. Di jalan, ratusan mobil sedang berseliweran. Dia menanti bunyi letusan. Lama tapi tak satupun letusan terdengar. Atau bedil orang itu pakai peredam? Ya, barangkali pakai peredam suara. Dia menoleh lagi kejendela itu. Apakah kacanya sudah pecah akibat peluru? Tidak. Kaca jendela ditingkat enam itu kelihatan masih utuh. Namun lelaki itu sudah tak kelihatan lelaki itu bayangannya.

Tapi Si Bungsu yakin, lelaki itu masih disana. Masih dalam ruangan kosong itu. Berjaga-jaga, apa yang dia nanti? Dia melayangkan lagi pandangannya kebawah. Saat itu semacam iringan-iringan kendaraan yang agak teratur kelihatan lewat di bawah sana. Di depan didahului kendaran polisi beberapa buah, sepeda motor dan kendaraan bak terbuka. Dan waktu itu pintu di ketuk. Si Bungsu bergegas ketika pintu di buka, Angela tegak disana dengan pakaian dinasnya. Begitu melihat Si Bungsu dia segera memeluk lelaki itu.

“Hei, ada apa?” Angela tak segera menjawab. Dia mencium Si Bungsu. “Saya khawatir, kamu sudah pergi….” katanya sambil menatap dalam-dalam ke mata Si Bungsu. Si Bungsu hanya tersenyum. “Saya memang sudah pergi, tapi karena tidak tahu jalan, kembali lagi kemari..” Angela tersenyum. Dan masuk mengganti pakaian. Si Bungsu kembali kejendela. Menatap kejalan raya. Iringan kendaraan bermotor yang di dahului mobil polisi itu sudah lewat. Lenyap di ujung sana. “Ada apa disana?” tanya Angela yang sedang berganti baju. “Tadi ada iring-iringan yang didahului mobil polisi…” “Itu ujicoba rute yang akan di lewati Presiden Kennedy besok..” Si Bungsu tiba-tiba tertegun. “Presiden Kennedy?” “Ya, ada apa?” “Dia akan lewat disini besok?” “Ya, bukankah malam tadi orang-orang FBI yang memeriksa kamar kita sudah memberi tahu..?” “Ya, Tuhan..” “Ada apa?” “Kemarilah.. cepat..!” Dengan hanya melilitkan handuk ditubuhnya, Angela mendekat ke jendela, dan memeluk Si Bungsu dari belakang.Langsung mengecup tengkuk lelaki itu.

“Hei nanti dulu, lihatlah kegedung tua itu..” “Ya, sejak kemaren saya sudah melihatnya…” “Lihat jendela tingkat tujuh yang paling pinggir…” “Ya, saya melihatnya. Jendela persegi empat, berbeda dengan yang lainnya. Berbentuk loncong mirip bangunan timur tengah…” “Kau lihat sesuatu di balik jendela kaca itu?” “Tidak..” “Ya, sekarang memang tidak. Tapi untuk kau ketahui, di balik jendela itu ada seorang lelaki bertubuh atletis, rapi dan berbedil pakai peredam suara…” “Mana..?” “Sekarang tak kelihatan. Barangkali dia sedang makan. Dia membawa bekal makanan dalam kardus..” “Lalu..?” “Hei, apakah kau tidak menangkap sesuatu yang mencurigakan dari keterangan ku tadi tentang orang itu? Besok Presidenmu akan lewat dibawah sana. Sementara malam tadi FBI menggeledah tempat ini. Kau sendiri mengatakan bahwa ribuan polisi dan aparat keamanan dikerahkan untuk menjaga keamanan kunjungan Presiden itu. Kau juga bilang kota ini adalah kota para pembunuh, kota bandit. Presiden itu datang kemari untuk menemui kematiannya. Kini di gedung itu ada seorang berbedil, sejak tadi asyik membidik ke bawah dengan bedil panjangnya. Apakah itu tak…”

Si Bungsu berhenti bicara. Sebab Angela sudah memutar nomor telepon. Wajahnya kelihatan serius. Dia menanti sambungan dengan sedikit tegang. “Hallo, markas…” dia menyebut sebuah nomor kode, kemudian memperkenalkan kodenya. Dia menceritakan apa yang tadi diceritakan Si Bungsu. Nampaknya lawan bicaranya meminta penjelasan identitasnya, juga identitas Si Bungsu. Angela menyebutkan keterangan yang diminta itu, kemudian meletakkan gagang telepon. “Anda benar, sayang. Nah, saya sudah melapor kemarkas darurat FBI dikota ini. Kini itu bukan urusan kita lagi..” Si Bungsu menatap Angela. “Apakah kau tidak menyukai presidenmu itu?” “Kenapa?” “Saya melihat sikap tak acuhmu terhadapnya..” “Saya tak dapat mengatakan apakah suka atau tidak. Terlalu banyak hal lain yang saya pikirkan. Sehingga saya tak sempat memikirkan apakah akan menyukai orang lain atau untuk membencinya..” “Angela, dengarkan. Kau tak bisa percaya begitu saja atas orang yang menerima laporanmu tadi. Ini menyangkut nyawa presidenmu. Apakah kau tak merasa perlu melapor kesatuanmu sendiri?” Angela menatap lelaki itu. Matanya menyinarkan kekaguman. “Well, engkau benar, darling. Saya akan telepon untuk melaporkannya..” Berkata begitu dia lalu bergerak ke telepon. Namun saat itu telepon berdering. “Nah, ini pasti telepon dari markas saya…” Kata Angela. Dia mengangkat telepon. Telepon itu memang dari markasnya.

“Angela, disini Norris. Sebaiknya kau dan teman lelaki asing mu itu menghindar secepatnya dari apartemenmu itu..” Angela kaget. “Norris..?” “Ini perintah, Angela…!” “Tapi…” “Saya baru ditelepon oleh CIA…” Dan telepon terputus. Angela termenung. Menatap Si Bungsu yang juga tengah memandangnya dengan diam. Angela penasaran, dia memutar telepon kemarkasnya. “Norris..?” “Ya…” “Ada apa sebenarnya..?” “Yang tadi aku sebutkan itulah semuanya, Angela…” “Tapi..orang digedung tua itu…?” “Menurut CIA itu adalah petugasnya yang tengah menjalani tugasnya..” Telepon diputus kembali. Angela meletakkan telepon dengan jengkel. Di luar terdengar suara ribut-ribut. Suara Elang Merah. Suara perkelahian. Si Bungsu cepat membuka pintu. Elang Merah terlihat tengah bergumul dengan seorang lelaki, yang seorang lagi tegak dipintu.

Begitu melihat Si Bungsu dipintu, lelaki itu meraih kantong jasnya, Si Bungsu cepat menendangnya. Tangan yang kena tendang terdengar berderak, dia terpekik. “Kami dari FBI…!!” teriak orang itu. Si Bungsu mengurungkan niatnya untuk menyerang. Elang Merah melepaskan cekikannya pada lelaki yang seorang lagi. “Kami ditugaskan untuk menyuruh anda meninggalkan kamar ini..” ujar lelaki yang kena tendang Si Bungsu tadi. Mereka saling bertatapan. Angela, Si Bungsu dan Elang Merah. “Anda datang seperti merampok, mengintip-intip..” ujar Elang Merah. Kedua orang itu tak berkata. “Ada apa, sebenarnya..?” ujar Angela. “Kami tak tahu, kami hanya diperintahkan untuk menyampaikan pada anda agar mencari tempat lain…” Si Bungsu bertukar pandang dengan Angela. “Baik, kami akan pergi…” Kedua lelaki itu ngeloyor pergi. Mereka bertiga segera masuk kekamar. “Mulai ada yang aneh..” ujar Si Bungsu sambil matanya menatap kejalan lewat jendela. Kemudian menatap kekanan, kearah gedung tua pustaka itu.

“Saya tak yakin orang tadi anggota FBI…” kata Angela. Si Bungsu menatapnya. “Kita lupa menanyakan identitasnya…”ujar Si Bungsu. “Bagaimana, kita pergi dari sini?’ tanya Angela. “Saya rasa harus, saya mencium sesuatu yang tak beres…” ujar Si Bungsu. Matanya kembali menatap kegedung dikanan itu. Tapi bayangan lelaki itu tidak kelihatan bayangannya. “Mungkin orang yang diatas sana FBI atau CIA..” katanya pelan. “Maksudmu?” “Saya,.. Entahlah! Tapi saya rasa orang itu bukan mengawasi terjadinya huru-hara.. Saya tak tahu bagaimana persisnya. Namun..sebaiknya kita pergi…” Mereka berkemas seadanya. Namun ketika akan pergi Si Bungsu berhenti, menatap Angela.

“Apakah tidak sebaiknya sekali lagi engkau melaporkan orang yang diseberang sana kepada pihak yang berwajib..?” Angela menggeleng. “Saya sudah melaporkan hal itu, dan laporan kemarkas tadi di sahuti Norris, di rekam dengan pita khusus..” “Apakah semua telepon yang masuk kesana direkam seperti itu..? “Ya, Seluruh percakapan di markas itu direkam…” mereka segera turun dari Flat itu. “Kemana kita?” tanya Si Bungsu sesampai dibawah. Namun pertanyaannya belum usai, ketika Angela tiba-tiba menarik tangannya memasuki sebuah gang diikuti oleh Elang Merah. “Ada apa?” “Ssst..!” Di luar gang terdengar derap sepatu memasuki lift. Mereka bergegas menghindar, sesampai diluar menyetop sebuah taksi.

“Ada apa..?” kembali Si Bungsu bertanya setelah berada di dalam taksi. “Lelaki yang datang tadi, seorang diantara mereka adalah polisi Dallas yang setahun lalu direkrut CIA. Mereka pasti ketempat kita…” Sepi sesaat. “Kemana kita..?” Si Bungsu bertanya. “Bagaimana kalau kita ketempat Yoshua..?” Si Bungsu mengangguk. Ya, kesanalah kerumah Indian yang baik hati itu tempat mereka menghindar yang baik. Rumah itu terletak dala hutan yang jarang diketahui orang.

Di sebuah persimpangan, Angela menyuruh taksi itu berhenti, mereka turun dan membayar. Kemudian berjalan dua blok. Lalu menyetop sebuah taksi, naik setelah menyebutkan suatu arah. “Kita harus menghilangkan jejak…” bisik Angela pelan. Setelah tiga kali bertukar taksi, mereka baru meneruskan perjalanan ke rumah Yoshua. India itu tegak didepan rumahnya ketika mereka sampai. Dia tersenyum, istrinya tegak disampingnya. Angela memeluk Elizabeth. Tanpa bicara mereka masuk kerumah.

Esok paginya Angela pamitan untuk bertugas. Hari itu seluruh anggota polisi Dallas siaga penuh atas kedatangan Presiden Kennedy. Tapi siangnya seisi rumah itu tersentak kaget, tatkala radio Amerika yang menyiarkan kunjungan Presiden itu tiba-tiba menghentikan acaranya. Dalam nada yang duka, menyiarkan bahwa Presiden Kennedy telah meninggal dunia. Mati terbunuh!

Pengumuman itu singkat saja, dilanjutkan dengan lagu kebangsaan Amerika dan nyanyian duka. Sore harinya, seisi rumah yang memang menantikan pengumuman lebih lanjut, melihat dalam acara televisi peristiwa pembunuhan itu bermula. Kelihatan mobil iringan yang paling depan adalah mobil polisi yang didahului oleh dua belas polisi bersepeda motor. Menyusul Jep, kemudian dua lagi sedan berwarna hitam. Di belakangnya terlihat Kennedy dalam sebuah mobil sedan terbuka. Dia duduk di bahagian kanan. Di kirinya duduk istrinya Jaqqueline. Kedua mereka memakai pakaian warna gelap. Di belakang mobil Presiden ada mobil lainnya. Presiden melambaikan tangan sambil tersenyum. Televisi mengalihkan kameranya kederetan manusia yang memenuhi jalan raya, yang juga melambaikan tangannya pada Presiden.

Kemudian kamera beralih lagi pada presiden. Lalu pada istrinya yang melambaikan tangan kiri dengan senyumannya yang khas. Di bangku kanan depan, di sebelah sopir duduk ajudan Presiden, berkaca mata hitam yang nampaknya sebagai pelindung matanya yang plarak-plirik kesegala arah dengan waspada. Mobil itu kemudian berbelok kekanan, dan di latar dilatar belakang Si Bungsu melihat perpustakaan tua itu!

Hatinya berdebar melihat gedung itu, kemudian kamera kembali mengarahkan lensanya pada Presiden. Dan..persis saat itu, ya persis saat itu terjadilah peristiwa itu. Mulanya seperti tak terjadi apa-apa. Presiden Kennedy yang tengah melambai, kelihatan turun tangannya. Kepalanya seperti akan menunduk. Istrinya yang juga melambai, dengan bibir masih tersenyum menoleh kepada Presiden. Kepala Presiden tiba-tiba terkulai pada pangkuan istrinya. Kepalanya kelihatan berdarah! Jaqqueline Kennedy berobah wajahnya. Tangannya terangkat, menutup mulutnya, wajahnya panik. Kemudian tangannya yang menutup mulut, merangkul kepala suaminya. Dia memekik. Bajunya yang putih dilumuri darah presiden.

Sampai detik itu, belum seorang pun pengawal presiden yang tahu apa yang telah terjadi. Baik yang di mobil belakang, maupun ajudannya. Disaat Jaqqueline terpekik itulah ajudan yang duduk di bangku depan menoleh kebelakang. Dia segera bangkit. Dan saat itu Jaqqueline yang panik menolakkan kepala suaminya. Kepala presiden terkulai kekanan. Dan..sesuatu yang tak lumrah pun terjadi.

Dalam paniknya, isteri presiden kelihatan berdiri di bangku mobil. Kemudian lewat kap yang terbuka, dia merangkak naik kekap belakang, dan terjun kejalan! Wajahnya amat panik dan takut. Istri presiden itu lari meningggalkan mobil. Dan saat itulah salah seorang pengawal presiden kelihatan menyeret Jaqqueline naik kembali ke mobil. Mendudukkannya disisi presiden dan mungkin sadar akan peristiwa itu, Jaqqueline kemudian memeluk presiden.

Dan setelah itu, adalah huru-hara! Orang berkumpul. Kamera televisi kelihatan goyang. Barangkali kameranya terdesak-desak oleh kerumunan petugas. Namun peristiwa tertembaknya Kennedy itu kelihatan jelas. Mobil presiden kelihatan dijalankan dan keluar dari iringan semula. Dengan pengawalan yang amat ketat, yang sebenarnya sudah terlambat, mobil itu dilarikan ke rumah sakit.

Demikian jelasnya peristiwa tersebut. Dan Si Bungsu amat yakin, tembakan itu ada sangkut pautnya dengan gedung tua pustaka dan lelaki dengan berbedil di lantai enam itu! Kemudian televisi kembali memperdengarkan lagu kebangsaan Amerika, disambung dengan lagu-lagu gereja serta doa-doa yang menghanyutkan rakyat Amerika dalam duka yang amat dalam.

“Dia akhirnya meninggal, terbunuh…” terdengar suara Yoshua getir disudut ruangan. Si Bungsu menoleh. Melihat lelaki Indian itu menunduk dalam. Tapi tetap saja kelihatan pipi tuanya basah! Lama sunyi. Si Bungsu memikirkan dimana Angela kini. Dia tentu sibuk sekali. Presiden itu akhirnya terbunuh. Persis seperti ramalan Angela. Suara Yoshua sementara itu terdengar lagi, getir dan bergetar. “Sesudah Abe Lincoln, dialah satu-satunya presiden yang menaruh simpati pada Negro dan Indian, yang memperhatikan nasib suku bangsa yang hampir punah ini. Akhirnya dia mati… akankah mati pula harapan kami, orang-orang Indian pemilik sah benua ini….?” Sepi.

Pertanyaan itu memang tak untuk dijawab. Si Bungsu menunduk. Pikirannya tertuju pada Angela tak pulang. Berita tentang kematian Kennedy tetap merupakan berita utama siaran televisi dan radio. Siang itu, mayat presiden itu dibawa dengan pesawat American One, pesawat kepresidenan. Dan di pesawat itu pula, ketika masih diudara menuju Washington, Wakil Presiden Lyndon B. Jhonson diambil sumpahnya sebagai Presiden, menggantikan kennedy yang meninggal.

Yang mengambil sumpahnya adalah jaksa Agung Amerika, Robert Kenndey, adik Presiden yang meninggal. Jaqqueline Kennedy, istri mendiang presiden itu menjadi saksi dalam sumpah tersebut. Janda itu memakai pakaian serba hitam, wajahnya dibasahi air mata. Televisi Amerika menyiarkan berita itu kesegenap penjuru tanah air.

Itulah peristiwa paling tragis dipermukaan bumi pada tanggal 22 november 1963. Seorang Presiden dari negara terbesar dan terkuat didunia, negara yang paling depan dalam demokrasi dan hak asasi manusia, dibunuh oleh orang yang saat dia di angkut ke Washington belum diketahui identitasnya.

Malam itu Si Bungsu tersentak ketika mendengar siaran radio, kemudian siaran televisi, bahwa telah ditemukan tempat darimana pembunuh itu berada. Kamera kemudian memperlihatkan beberapa petugas FBI, CIA dan Polisi dallas menuju... gedung pustaka! Si Bungsu tahu gedung itu! Petugas-petugas itu masuk kelantai pertama. Diterima oleh petugas pustaka tua dan gemuk! Kemudian mereka masuk, naik lewat tangga kelantai enam. Masuk keruang kosong yang kemaren ditempati oleh “petugas” berbedil panjang itu. Di dalam ruangan itu terlihat dua petugas menjaga. Di lantai ada sebuah senapan. Si Bungsu telah melihat senapan itu kemaren ketika dia mengintip kesana bersama Elang Merah. Di lantai berserakan beberapa selongsong peluru.

Si Bungsu merasa tegang. Jahanam, firasatnya benar, tapi.. Bukankah Angela telah melaporkan apa yang mereka lihat dan mereka curigai itu pada Polisi Dallas, pada CIA dan FBI? Bukankah Instansi-instansi itu mengatakan bahwa orang berbedil dilantai enam, yang selalu mengintip dari belakang Jendela ke jalan raya yang akan dilewati presiden itu adalah anggota keamanan? Para petugas itu malah sempat datang keapartemen mereka. Nampaknya untuk menangkap mereka! Bulu tengkuk Si Bungsu merinding. Nampaknya ini semacam persengkokolan! Ah, mustahil petugas-petugas keamanan itu bersekongkol membunuh presiden mereka. Tiba- tiba Elang Merah kaget dan tertegak. Si Bungsu pun jadi kaget, menatap padanya. “Lihat! Lihat itu Angela..!”pekiknya.

Si Bungsu menoleh dan melihat seorang polisi wanita di borgol dan digiring diantara petugas keamanan. Si Bungsu gemetar. Angela kelihatan beberapa kali menoleh ke kamera televisi. Dan suatu saat, dia memekik sambil menolehkan wajahnya ke kamera yang agak mendekat. “Darling, jangan perlihatkan dirimu! Menghindarlah, please..!” suara gadis itu penuh permohonan. Jutaan pemirsa televisi tidak mengerti pada siapa ucapan itu ditujukan, mereka hanya tahu, bahwa beberapa orang yang dicurigai ditahan. Di antaranya adalah polisi wanita berpangkat Letnan itu. “Nampaknya, ini suatu persekongkolan..” ujar reporter televisi tersebut melanjutkan,” barangkali perwira polisi itu ingin menyampaikan pesan pada pembunuh Kennedy, yang mungkin kekasihnya, agar jangan menampakkan diri…” Si Bungsu berpeluh.

Wajahnya pucat, dia tahu. Ucapan Angela itu ditujukan padanya. Gadis itu menyampaikan pesan padanya. Ketika dia melihat kamera televisi, dia mempergunakan kesempatan itu dengan harapan siaran televisi itu akan dilihat Yoshua atau Si Bungsu! Pesan itu memang sampai! Si Bungsu melihat dan mendengar suara nya yang memohon. Si Bungsu tahu pesan itu khususnya untuknya! Ya Tuhan! Ya Tuhan!Angela ternyata terseret sebagai kambing hitam. Di tuduh sebagai salah seorang komplotan pembunuhan kennedy!

Si Bungsu ingin bangkit. Namun seluruh tubuhnya terasa lemas. Fikirannya tak bisa bekerja dengan normal. Dia menoleh pada Yoshua, yang matanya nanap menatap televisi. Seperti tak percaya apa yang dia lihat sebentar ini. “Yoshua..” ujar Si Bungsu seperti mohon pertolongan. Masih ditempat duduknya, Indian itu lantas berkata. “Kita akan bebaskan dia, Nak. Demi arwah nenek moyangku, dia akan kita bebaskan. Betapun caranya. Saya yakin dia korban dia korban dari suatu komplotan yang ingin mencari dalih untuk mengalihkan perhatian orang pada yang lain…”

Si Bungsu semalaman tak bisa tidur. Tolehan kepala Angela beberapa kali mencari kamera televisi, kemudian ucapannya yang terdengar memohon, yang terekam oleh pesawat televisi itu mengiang berulang- ulang di telinganya. “Kekasih jangan perlihatkan dirimu. Menghindarlah, kumohon…” Siapa yang berkomplot membunuh presiden itu? Si Bungsu membalik di pembaringan. Gelisah. Keringat membasahi pakaian tidurnya. Siang esoknya, televisi tiba-tiba menyiarkan tertangkapnya pembunuh itu! Si pembunuh bernama Oswald! Dia adalah lelaki yang dicekik Elang Merah karena kedapatan mengintip Si Bungsu di pustaka.

Dan kini Si Bungsu jadi tahu kenapa lelaki itu mengintip dia. Barangkali dia curiga kalau Si Bungsu adalah petugas FBI atau CIA. Yang di tugaskan pula untuk mengamankan gedung itu. Lelaki bernama Oswald itu di tangkap disebuah gedung teater. Kemudian dipenjarakan disebuah penjara bawah tanah kota Dallas. Reporter televisi Amerika mengulas bahwa dalam kasus pembunuhan Kennedy seperti ada reinkarnasi peristiwa Presiden Abraham Lincoln.

Kedua presiden ini mempunyai banyak persamaan. Lincoln adalah pembenci perbudakan. Dialah pembebas Amerika dari perbudakan yang telah ratusan tahun lamanya. Sebaliknya Kennedy juga benci pada perbudakan serta sikap rasisme lainnya. Termasuk sikap kulit putih pada orang Indian.

Sikap begini amat jarang tersua pada Presiden Amerika. Kalaupun mereka tak menyukai Rasialisme, mereka tak berani menyatakan terus terang. Sebab takut akan dibenci kulit putih. Lain halnya dengan Kennedy. Salah seorang perwira senior yang dinaikkan pangkatnya menjadi Jendral berbintang empat adalah Negro. Negro pertama dengan pangkat setinggi itu.

Kemudian juga memproklamirkan pembebasan fasilitas sekolah dan hak kehidupan yang lebih layak bagi orang-orang Negro dan Indian. Tindakannya itu dapat kecaman yang pedas dari senat Amerika. Namun dia tak peduli. Untuk menindak pelanggaran yang terjadi, terutama dalam menjalankan politik anti rasis dalam negeri itu, dia mengangkat adiknya Robert Kennedy jadi Jaksa Agung. Kemudian, menurut reporter televisi, dalam peristiwa pembunuhannya sendiri kedua presiden yang dicintai rakyatnya itu terdapat kesamaan- kesamaan “aneh”. Lincoln dan Kennedy sama-sama dibunuh dengan senjata api. Peluru menembus tengkuk keduanya dari belakang. Lincoln di bunuh digedung teater, kemudian pembunuhnya melarikan diri ke pustaka. Kennedy di bunuh dari pustaka, pembunuhnya melarikan diri ke teater.

Siang itu Elang Merah pulang dengan wajah lesu. Pagi tadi, tanpa setahu Si Bungsu dia ditugaskan pamannya Yoshua untuk menyelidiki dimana Angela di tahan. “Saya sudah mendatangi empat kantor polisi wilayah. Namun orang-orang yang diduga terlibat dalam peristiwa pembunuhan Kennedy itu, amat di rahasiakan tahanannya. Tak ada yang bisa memberi petunjuk…” “Tak ada yang bisa disogok? Bukankah banyak saja polisi di Dallas ini yang bisa buka mulut untuk seratus Dollar..?” “Untuk hal lain mungkin mau, tapi peristiwa ini tampaknya terlalu hebat. Mereka benar-benar tidak tahu…” Yoshua menarik nafas panjang.

“Jika tak dapat dengan cara itu, pasti ada cara lain, pasti! Kita akan dapatkan cara itu…” kata Indian tua itu pelan. Malam itu dia mengajak Si Bungsu untuk pergi berdua. Mereka tak mengatakan kemana tujuannya. Yoshua menyetir mobil. Sepanjang perjalanan menuju kota, mereka hampir tidak bicara sepatah katapun. Ketika memasuki kota Yoshua menghentikan mobil dekat sebuah telepon umum. Dia masuk ketempat telpon itu. Bicara dengan seseorang diujung sana. Si Bungsu hanya menatap dengan diam dimobil.

Kemudian Yoshua masuk lagi kemobil dan menjalankannya dengan cepat kearah selatan. Mereka segera melewati gedung pustaka tua dimana pembunuh Kennedy itu sembunyi sebelum melakukan aksinya. Melewati flat yang dulu ditempati Si Bungsu dan Angela. Kemudian menikung diantara dua bangunan. Mobilnya dihentikan mendadak. Yoshua memberikan sebuah kantong kertas kepada Si Bungsu, yang nampaknya telah dia siapkan dari rumah kepada Si Bungsu.

“Sarungkan itu di kepala mu nak, kita harus hati-hati…” Dia sendiri lalu menyarungkan kantong itu di kepalanya. Sarung kertas itu menutup kepala sampai keleher. “Cepatlah…” ujar Yoshua sambil menatap kedepan, pada sebuah mobil yang mendekat. Si Bungsu menyarungkan kantong kertas itu kekepalanya. Mobil dari depan itu makin dekat, dan tiba-tiba, Indian itu menjalankan mobilnya. Membelintangkannya di tengah jalan. Mobil yang lewat itu tak dapat menghindari tabrakan dan berhenti mendadak. “Hei, sialan…” sumpah orang yang membawa mobil itu sambil keluar. Yoshua masih duduk di belakang kemudi. Kemudian dengan cepat sekali keluar dan mendekati orang itu. Tangannya bergerak, dan lelaki yang menyumpah itu tiba-tiba terkulai.

Si Bungsu masih duduk dimobil. Tak tahu apa yang diperbuat Yoshua yang telah meletakkan lelaki itu di jok belakang. Dia segera memundurkan mobil dan melepaskannya dari mobil yang menabrak tadi. Kemudian dengan cepat keluar dari areal tersebut. Setelah beberapa kali menikung tajam, mobil itu berhenti di suatu tempat yang gelap. Yoshua keluar, dengan mudah dia menenteng lelaki yang dibelakang itu keluar. “Cepat ikuti aku..” katanya pada Si Bungsu yang masih duduk bengong dalam mobil tersebut. Si Bungsu keluar. Mengikuti Yoshua melangkah kesuatu tempat. Indian itu kenal benar tempat yang mereka tuju ini. Itu terbukti meski dalam gelap, dimana Si Bungsu harus meraba-raba, dia berjalan dengan cepat dan segera memasuki sebuah gedung tua. Tubuh yang dia pangku itu, yang masih saja belum diketahui Si Bungsu orangnya diletakkan diatas sebuah meja tua penuh debu dalam ruangan tersebut. “Tutupkan pintunya…” kata Yoshua begitu Si Bungsu berada dalam ruangan.

Suara menggema terdengar ketika pintu itu ditutup agak keras. Yoshua mengeluarkan senter dari kantongnya. Memeriksa kantong baju orang yang dia pukul hingga pingsan itu. Mengeluarkan sebuah pistol dan sebuah medali perak simbol kepolisian Dallas. Kartu pengenalnya ditemukan dalam jas bahagian dalam. Yoshua membaca keterangan orang itu. “Norris, Kapten Norris…” katanya pelan. Si Bungsu segera mengingat nama itu sebagai polisi yang beberapa kali menelpon Angela. Inikah rupanya bekas pacar gadis itu. Dari cahaya senter yang menerangi wajah sang Kapten, Bungsu melihat Kapten itu berwajah gagah. Mirip orang inggris. Barangkali moyangnya dari Scotlandia. Satu keturunan dengan moyang Kennedy.

Yoshua mengambil sehelai saputangan dan botol kecil dari kantongnya. Nampaknya dia telah menyiapkan segala sesuatu atas ”operasi” malam itu. Botol itu berisi sejenis Amoniak. Dia tuangkan kesapu tangannya, kemudian meletakkannya diatas hidung Kapten itu. Norris segera sadar. Dia menyumpah dan berontak duduk, merogoh kantong dan segera sadar kalau dia sudah dilucuti. “Anda bisa dihukum lima belas tahun atas perbuatan ini, Bung…” perwira itu berkata dan menyumpah. Dia tak dapat melihat wajah orang yang menyekapnya dan menahannya dalam kegelapan ini. Sebab selain gelap, wajahnya disoroti terus dengan senter. Matanya jadi silau. “Oke, Kapten. Kini kau hanya punya kesempatan untuk menjawab. Dan menjawab dengan benar. Kita mulai, dimana Angela dipenjarakan?” “Jahanam, kau..Hukk..!” Sumpah Kapten itu terhenti. Dihentikan oleh pukulan yang hebat di ulu hatinya. Si Bungsu yang dari tadi hanya diam, merinding juga melihat kerja Indian ini memaksa si perwira. “Di mana dia ditahan?” Sepi. Dan sebuah pukulan lagi menerpa! Kali ini pukulan itu menghantam mulut si Kapten. Darah meleleh. “Bicaralah, Kapten. Selagi kau bisa…” “Dia ditahan di Indiana Bronx…” “Kau pasti?” “Jahann…Aduh…!” Pukulan Indian itu mendarat lagi diwajah si Kapten.

“Jangan menyumpah, jangan memaki, Kapten. Saya bertanya dan kau menjawab. Bukankah praktek begini juga dilakukan dikantor kalian bila ada tahanan yang kalian periksa? Baik, Anda katakan dia ditahan di Indiana Bronx. Tempat itu dengan mudah dicapai. Kami akan mencek kesana. Tapi bila ternyata kau bohong, kau akan rasakan akibatnya. Oke, cek omongan orang ini…” Sambil berkata begitu,Yoshua memberi isyarat pada Si Bungsu. Dan Si Bungsu melangkah kearah pintu. “Saya tak tahu apakah dia dipindahkan atau tidak. Kemaren dia ditahan disana…” “Kami tak mau tahu Kapten. Jika dia tak disana berarti kau membohongi kami. Dan kau akan menyesali tindakanmu itu…” “Jahanam! Dia ditahan di distrik selatan. Kalian akan menyesal dengan perlakuan ini..!”Akhirnya Norris memberitahukan tempat tahanan itu sambil menyumpah-nyumpah.

“Nah, begitu lebih baik. Tapi kau belum boleh meninggalkan tempat ini kawan..” Yoshua melanjutkan ”mengerjain“ Kapten polisi Dallas itu. Dia memborgol tangannya dengan gari yang dibawa si Kapten. Kemudian mengambil lagi sebuah botol dari kantongnya. Menumpahkan isi botol kesaputangan. Kemudian mendekapkannya kehidung si Kapten. “Ini ramuan tradisional yang bisa membuat anda tidur dengan nyenyak kawan..” katanya. Hanya dua detik setelah itu, si Kapten terkulai, tidur! “Dia akan tidur, paling tidak empat puluh delapan jam karena obat bius keras yang baru dia sedot barusan…” ujar Yoshua sambil menyenter wajah Si Bungsu. “Kini mari kita pergi. Sampai detik ini dia tak mengetahui siapa kita. Dia pasti tak bohong tentang tempat tahanan Angela…” Sehabis berkata begitu mereka segera bergegas meninggalkan tempat tersebut.

Si Bungsu hanya mengikuti dari belakang. Dia tak menyangka bekas buruh perkebunan turunan Indian ini begitu mahir dengan tiap pekerjaan yang dia lakukan. Kelihatan demikian profesional. Mereka sudah berada kembali di mobil dan meluncur kejalan raya lewat jalur yang berlainan dari arah mereka datang tadi. Yoshua menyetir menyetir mobil itu dengan diam. Ada beberapa tempat yang di kenali Si Bungsu.

Diantaranya toko tekstil dimana dulu dia menghajar orang-orang Klu Klux Klan yang membunuh tongky. Kemudian pos polisi dimana dia bertemu dengan Angela buat pertama kalinya. Setengah jam setelah mereka meninggalkan Norris, mobil dihentikan Yoshua. Di depan ada sebuah gedung yang kelihatan kukuh dan angker. “Itu markas polisi yang disebut sebagai distrik selatan itu. Sebuah markas polisi yang amat rahasia. Kita harus berusaha masuk kedalamnya…”

Si Bungsu menoleh pada Yoshua. Dia memang ingin sekali bertemu dengan Angela, namun ini pekerjaan yang alangkah berbahaya. Mereka tengah melawan suatu sistem yang amat kukuh. Kepolisian Dallas! “Kenapa ragu?” Yoshua bertanya sambil tetap menatap kedepan. “Sedangkan Klu Klux Klan yang demikian di takuti, kita hantam. Kepolisian Dallas hanya sepersepuluh dari organisasi tersebut….” tambah yoshua. Ucapan itu membuat semangat Yoshua berkobar. “Mari kita masuk…” kata Si Bungsu sambil kembali memakai topeng kertas itu. Yoshua berbuat hal yang sama. Kemudian mereka meninggalkan mobil di tempat yang gelap. Tapi bukanlah hal yang mudah bagi kedua orang itu untuk masuk kepenjara tersebut. Penjara itu dijaga dengan ketat sekali.

Mereka sampai di bahagian belakang. Di sana terang benderang. Tiap sudut penjara itu disorot dengan lampu besar. Apapun yang bergerak di sekitarnya dapat dilihat dengan jelas oleh penjaga diatas dinding penjara tersebut. Di rumah jaga di atas dinding penjara itu, pejaga bersiaga dengan senapan siap dimuntahkan. “Mustahil untuk masuk…” kata Si Bungsu. Yoshua yang jongkok disisinya, menatap dengan diam. Nampaknya dia sedang mempelajari sesuatu. “Kita harus mematikan aliran listrik….” terdengar suara Yoshua. “Bagaimana mematikannya?” “Itulah yang harus kita. Ayo…”

Yoshua mengendap-ngendap kebahagian lain. Mereka memutar lagi kejalan raya. Kembali ke tempat mereka meninggalkan mobil. Kemudian berjalan kearah yang berlawanan dari arah semula. Yoshua memperhatikan bangunan-bangunan disekitar penjara. “Mencari apa?” tanya Si Bungsu. “Gardu listrik…” Mereka mengendap-ngendap terus, sampai akhirnya diutara penjara itu kelihatan sebuah bangunan beton empat segi berpintu besi dan luarnya dipagar kawat berduri. “Nah, itu gardu listrik untuk penjara tersebut…” kata yoshua. Mereka mempelajari situasi gardu itu. Disana ada seorang petugas, bukan polisi. Nampaknya petugas listrik biasa.

“Dengarkan. Kita harus menyelesaikan petugas itu. Kunci pasti ada dalam kantong celananya. Kurasa kau bisa menyudahi orang itu, jangan dibunuh. Setelah dia dilumpuhkan, kita akan masuk dan merusak peralatan di dalamnya. Memutuskan aliran listrik kepenjara tersebut, kita harus masuk dari dinding utara tadi. Disana ada anjing pemburu. Barangkali ada dua atau tiga ekor. Tugas mu lagi yang menyudahi anjing itu.Dalam kegelapan, barangkali petugas menara takkan melihat kita. Kita tak tahu di ruangan mana Angela ditahan. Tapi rasanya kita akan mudah mencari. Kita hanya punya waktu sekitar sepuluh menit untuk menemukan dan membawa Angela keluar. Setelah lewat waktu itu, saya rasa lampu akan dihidupkan melalui mesin cadangan di penjara itu. Kita harus keluar sebelum lampu dihidupkan. Faham?” Si Bungsu masih belum menjawab.

“Kita mulai?” tanya Yoshua. “Sepuluh menit, saya rasa terlalu pendek waktunya…” “Kita tidak liburan, nak. Kita menyongsong maut. Sepuluh menit itu kalau tak terjadi apa-apa. Mana tahu, kita hanya butuh satu menit, kemudian didor!mati..!”

“Bagaimana kalau salah seorang dari diantara kita mencari sentral cadangan dalam penjara itu, melumpuhkan alirannya. Yang seorang lagi mencari Angela?” “Hmm, Idemu bagus juga. Baik, kau mencari Angela, saya mencari sentral itu. Namun tetap saja bertindak cepat. Mana tahu saya tak menemukan central cadangan itu. Ayo kita mulai…” “Saya hanya punya samurai kecil, saya khawatir, lemparan saya akan membunuh penjaga gardu itu…” “Kalau begitu saya yang menyudahinya..” kata Yoshua

Dia mengambil kapak dari kakinya. Kampak itu terbuat dari kuningan selebar dua jari dengan tangkai sebesar telunjuk. Dia ikatkan dengan karet dibalik pipi celananya. Dia membidik dan melemparkan kapak itu. Si penjaga gardu kena hantam tengkuknya, petugas itu kontan melosoh jatuh. Yoshua dan Si Bungsu berlari kesana. Kemudian Yoshua memeriksa kantongnya. Menemukan serangkai kunci. Si Bungsu menyeret penjaga yang pingsan karena punggung kapak itu ketempat yang gelap. Begitu dia selesai, terlihat pijar-pijar api. Listrik dipenjara itu tiba-tiba padam. Gelap total. “Cepat…!” ujar Yoshua.

Mereka berlari kearah utara. Dari sana, lewat tiang listrik yang tadi mereka tandai, mereka memanjat keatas. Lalu terjun dibalik pagar. Disana dua ekor anjing melompat dengan mengeram ganas. Dan itu tugas Si Bungsu. Tangannya bergerak, dan dua bilah samurai kecil melayang menyongsong anjing yang menerkam itu. Anjing itu melambung terus, dan menghantam dinding batu. Mati! Si Bungsu kembali lagi, mengambil dua samurai itu. Dia berlari kearah pintu utama. Sementara Yoshua sudah tak ada lagi disana.

Si Bungsu menyelinap, cahaya senter kelihatan simpang siur dan derap sepatu berseliweran. Dia bersembunyi dibalik sebuah mobil dipekarangan penjara itu. Ketika seorang polisi lewat dengan senter, dia menghantam tengkuk orang itu. Polisi itu melenguh, Si Bungsu menyangga tubuhnya yang akan jatuh, lalu menyeretnya ketempat gelap.Terdengar sumpah serapah kerana lampu mati dan polisi yang lalu lalang. Si Bungsu akhirnya menemukan jalan tempat terbaik untuk masuk. Beberapa menit kemudian dalam pakaian dinas polisi yang dia buat tak berkutik itu, dia sudah berjalan mondar-mandir dalam penjara tersebut.

Ada dua orang polisi yang mengontrol kamar tahanan. Seorang diantaranya adalah Si Bungsu. Ada enam belas kamar tahanan yang sudah dia lihat, namun tak ada Angela disana. Dia sudah hampir putus asa, apakah Norris berdusta? Barangkali sudah lewat waktu lima belas menit. Lampu belum menyala. Kalau begitu Yoshua berhasil menemukan diesel cadangan untuk penjara dan merusak instalasinya. Tapi dimana Angela?

Dia masih berusaha mencarinya. Ada dua gang lagi. Dipintu gang itu seorang polisi berdiri dengan diam. Bedil tetap ditangannya. Dia ikut mondar mandir dalam gelap tersebut. Si Bungsu mendekat kesana sambil menyenter kiri kanan. “Mati semua…” terdengar polisi itu bicara. “Yap..” jawab Si Bungsu berusaha untuk tidak bicara agar aksennya tidak diketahui. Sambil berjalan, dia menyenter wajah polisi itu. “Mesin brengsekk.. hei.. sial..! aduh…” Polisi itu sempat juga menyumpah, tapi hanya sekian. Sebab sesaat setelah wajahnya disenter, dan matanya jadi silau, Si Bungsu menghantam tengkuknya dengan senter. Polisi itu tumbang. Si Bungsu merogoh kantongnya, mengambil sebuah kunci dan membuka pintu yang tadi dijaga polisi itu. Dia cepat masuk, menyenter kedepan, dan hanya melihat sebuah pintu disana. Pintu itu dikunci, dan tak ada kuncinya. Dia menyenter kedalam. Angela!

“Angela…” panggilnya. Letnan Polisi wanita itu sedang tidur, namun suara yang memanggilnya amat dia kenal. Amat dikenalnya! Bahkan suara itu tak bisa membuat dia tidur selama di penjara ini. Dia terlompat bangun. “Bungsu…” sebelum dia bangun dan lari kepintu. Lewat jerajak besi dia mengeluarkan tangan, dan mereka saling peluk. “Oh Tuhan. Bagaimana kau masuk… sayang, Bagaimana?” “Jangan dipikirkan kita harus keluar..” “Tapi…” “Dimana kunci pintu ini?” “Ada pada polisi yang menjaga pintu masuk kemari. Tapi…” 

Si Bungsu tak mendengar ucapan Angela. Dia berbalik kepintu masuk dimana dia barusan menghatam penjaganya sampai pingsan. Kemudian mencabut kunci yang masih terletak dilobang kunci tersebut. Bergegas dia kembali ketahanan Angela, membuka pintu tahanan gadis itu. “Cepat, waktu kita hanya sedikit…” Angela segera memeluk Si Bungsu begitu dia bebas. Memeluk dan menciumnya. “Lekaslah. Masih ada waktu lain. Kau harus keluar dari tahanan jahanam ini..” “Tapi my dear, aku tak ditahan…” “Tidak ditahan?” Si Bungsu tertegun. “Lalu apa namanya ini? Kau dijadikan kambing hitam..” sambungnya. Angela menutup mulut Si Bungsu dengan tangannya, kemudian dengan bibirnya.

“Dengarlah sayang, dengarlah.. Saya disini dititipkan Norris. Dia khawatir akan keselamatan saya. Semua orang mencari saya. Kau tahu, pembunuhan ini adalah permainan tingkat tinggi. Baramgkali didalamnya terlibat mafia, atau yang lebih menakutkan lagi, didalamnya terdapat tangan CIA! Badan Intelijen Amerika yang tersohor itu. Dengarkan, laporan kita pada polisi dallas itu direkam. Dan banyak pihak ingin mendapatkan rekaman tersebut. Mereka ingin memusnahkan bukti bahwa kita pernah melaporkan itu. Lelaki di pustaka itu, kau ingat? Kau benar sayang, lelaki itulah pembunuhnya. Namanya Oswald. Saya memang memilih untuk tetap disini, disini tempat yang aman. Kau mengerti maksudku?” Si Bungsu pusing.

Tak tahu dia harus memikirkan apa. Gadis ini ditangkap karena tuduhan ikut berkomplot, dan dia segera ingat tuduhan yang disiarkan telivisi Amerika itu. “Kau tak dititipkan Angela, kau ditangkap dengan tuduhan terlibat pembunuhan itu. Kau..Kau bicara padaku ditelivisi itu bukan? Atau kalimat itu kau tujukan pada orang lain, Angela..?” Angela kembali memeluk Si Bungsu. “Dengarkan, sayang…” “Kini kau yang harus mendengarkan aku, upik! Aku dan Yoshua harus menyabung nyawa untuk bisa masuk kesini. Kami ingin membawamu keluar dari sini. Kini kau ingin keluar atau tidak?” “Oh..” Angela tak menjawab, malah kembali menncium Si Bungsu. Si Bungsu jadi jengkel.

“Hei, upik. Bibirmu bisa tipis, hidungmu bisa pesek berciuman terus begini. Aku harus pergi. Kau dengar derap sepatu itu?” “Saya harus disini Bungsu. Saya tak bisa berada diluar. Saya tak sangsi pada kemampuanmu melindungi diriku, tapi kemana saya harus pergi dinegeri ini? Ini negeri saya. Saya tak mau jadi buronan. Kau mengerti maksudku bukan?” Si Bungsu merasa menelan sesuatu yang pahit. “Baiklah, baiklah…” “Terimakasih kau melihatku disini, aku merindukan mu… Saya amat kehilanganmu…oh..” Gadis itu menangis terisak. Tapi Si Bungsu harus bertindak cepat. Suara sepatu berderap berlarian. “Jika itu pilihanmu, saya harus pergi Angela..” Dan saat itu cahaya senter berseliweran di gang utama. “Bungsu..saya berharap kau masih menantikanku keluar dari sini..” ujar Angela.

Si Bungsu melepaskan pelukan gadis itu dari tubuhnya. “Ku harap apa yang kau katakan tentang dirimu hanya ”dititipkan” disini benar adanya, Angela. Hingga kita bisa bertemu lagi… Nah, saya harus segera pergi dari sini…” Dia mulai melangkah, Angela memburunya, kemudian memeluknya dan menciumnya dengan erat. Lalu melepaskan anak muda itu, pergi dalam pakaian seragam polisi Dallas, menuju keluar.

Dia sudah masuk ke mobil, namun Yoshua belum ada disana. Dia jadi gelisah. Sejak pertama dari gedung gardu yang dimatikan lampunya itu, telah berlalu waktu setengah jam lebih. Tiba-tiba lampu penjara itu menyala! Suara sirene. Suara tembakan. Salak anjing. Si Bungsu menanti dengan tegang.

Untung tempat mereka menaruh mobil ditempat yang gelap. Dan tiba-tiba di ujung digang, kelihatan seseorang lari terseok-seok. Si Bungsu segera mengenalnya. Yoshua! Dia segera turun dari mobil. Menyongsong Indian itu. Memapahnya kemobil. “Cepat..! Sebentar lagi tempat ini..”

Ucapan selanjutnya tak perlu lagi, karena di ujung gang darimana tadi dia datang kelihatan cahaya senter. Kemudian gonggongan anjing, suara sempritan pluit! Si Bungsu dan Yoshua segera menutupkan pintu mobil dan Yoshua segera menghidupkan mobil. Menanti sedetik, seekor anjing telah melompati mobil. Hanya terbentur dipintu. Yoshua melarikan mobil dengan sebuah sentakan. Terdengar tembakan. Kaca belakang hancur. Yoshua membelokkan mobil kesebuah gang. Melaju, berbelok lagi, Melaju lagi. Malam sudah larut.

Namun Yoshua tahu, segala jalan pasti sudah dikepung. Mobil-mobil unit patroli polisi Dallas pasti sudah dihubungi. Dan kini mereka tengah memblokade jalan-jalan utama. Luka dipahanya terasa amat sakit. “Bisakah anda menghidupkan lampu mobil..?” tanya Si Bungsu. Tanpa menjawab Yoshua menghidupkan lampu kabin. Lewat cahaya lampu Si Bungsu melihat paha kiri Yoshua bergelimang darah. “Tembus kebelakang?” tanyanya. Yoshua menggeleng. Si Bungsu tahu, peluru yang bersarang dipaha itu pastilah amat sakit. “Kenapa kau tak membawa Angela. Kau tak berhasil menemukannya?” tanya Yoshua sambil membelokkan mobil kekanan hampir sembilan puluh derajat.

Jalan yang mereka lalui sepi. Nampaknya Yoshua memilih jalan diantara gedung-gedung tua yang kalau siang hari fungsinya hanya sebagai gudang. “Saya bertemu dengannya. Malah pintu penjara sudah saya buka. Tapi dia menolak untuk dibawa. Katanya dia ditahan disana hanya untuk keamanannya. Pembunuhan kennedy adalah pembunuhan tingkat tinggi. Dia diamankan karena mengetahui dimana pembunuh itu berada…” “Lalu kenapa dia berteriak menyampaikan pesan itu padamu ketika dia berada didepan kamera televisi ketika ditangkap itu?” Si Bungsu terdiam. Ternyata Yoshua juga menangkap dan mengerti kepada siapa isyarat Angela itu di sampaikan. “Saya tak tahu kenapa, Yoshua..” di mulut gang, sebuah sedan patroli polisi tiba-tiba menghadang. “Tekankan kakimu kedepan kuat-kuat Bunngsu…” kata Yoshua. Dia memperlambat mobil didepan sana baru akan turun, Yoshua tiba-tiba menekan gas. Membelok kekiri, menghantam bagian belakang, mobil polisi itu.

Mobil yang mereka tumpangi terguncang hebat ketika tubrukan dengan mobil polisi itu terjadi. Mobil polisi itu berputar. Pantatnya menghadap kearah yang kini mereka tuju. Sementara kepalanya menghadap kearah mereka datang tadi. Dua polisi yang sudah mencabut pistol, terbelalak matanya melihat mobil yang mereka cegat itu menambahkan kecepatan. Dan kedua polisi itu menyuruk kemobil ketika melihat mobil yang mereka cegat itu akan menabrak buntut mobil mereka. Dan ketika benturan keras itu terjadi, mereka mencoba mencari pegangan. Tubuh mereka saling bertubrukan, pistol yang mereka pegang terlempar entah kemana. “Setan! Babi! Jahanam..!” rutuk polisi yang berpangkat Sersan sambil meraba kepalanya yang bengkak.

Teman yang satunya lagi tak bicara, hanya mengeluh mengaduh-ngaduh. Tangannya menghapus darah yang mengalir dari hidungnya akibat dihantam kepala temannya sendiri. Ada beberapa saat berlalu barulah goncangan mobil itu berhenti. Mereka merangkak keluar dan melihat pistol mereka tergeletak di parit kecil. Dan mobil yang mereka hadang tadi sudah tak kelihatan lagi bayangannya. Yang hidungnya berdarah itu, segera menghidupkan mesin mobil. Kemudian mengadakan kontak dengan mobil patroli lainnya, melaporkan buronan yang mereka cegat lolos.!

Si Bungsu juga terlambung-lambung tatkala mobil yang disopiri Yoshua itu menghantam belakang mobil polisi tersebut. Namun Yoshua nampaknya telah memperhitungkan tubrukan besar itu. Sebab dia masih mengemudi dengan tenang. Dia membawa mobilnya berbelok-belok diantara bangunan-bangunan tua dibahagian selatan kota Dallas itu. Nampaknya dia tetap menghindari muncul dijalan raya agar tak berpapasan dengan patroli polisi.

Suatu saat mobil dia hentikan dengan mendadak ditempat yang gelap. Kemudian bergegas turun. Si Bungsu mengikuti Indian itu. Turun dari mobil dan bergegas mengikuti Yoshua yang terpincang-pincang dari belakang. Indian itu nampaknya tahu benar apa yang dia lakukan. Dia menuruni sebuah anak tangga. Nampaknya jalan menuju kesebuah ruangan bawah tanah. Senter ditangan Yoshua menerangi jalan itu.

Setelah menuruni lima anak tangga, mereka menemui sebuah pintu kecil. Pintu dihantam dengan kuat oleh Yoshua dengan kakinya. Pintu itu terpental, mereka masuk. Dibalik pintu itu ada ruangan besar yang lantainya penuh debu. Bahagian selatan dimana mereka kini berada, merupakan gedung-gedung tua yang telah ditinggalkan pemiliknya. Yoshua melangkah melintas ruangan besar berdebu itu. Di Ujung dia membuka lagi sebuah pintu, bergegas masuk dengan Si Bungsu di belakangnya.

Yoshua nampaknya kenal betul ruangan yang mereka masuki ini. Dia sangaat mengenal setiap ruang dan gang yang mereka masuki. Setelah melewati dua ruangan lagi, Yoshua membawa Si Bungsu menaiki sebuah anak tangga. Di atas mereka membuka sebuah pintu, lalu sampai disebuah ruangan yang tak terlalu besar. Ketika senter diarahkan kearah suatu tempat, Si Bungsu segera tahu, ruangan itu adalah ruangan dimana terakhir mereka meninggalkan tubuh Norris, Kapten polisi kota dallas itu terikat dan terbius!

Kapten itu masih terlihat tergeletak diatas meja berdebu dengan tangan terborgol. Yoshua melangkah kesana. Memeriksa mata Kapten itu. Memastikan apakah dia masih hidup atau sudah mati. “Dia masih hidup.. sebentar lagi sadar..” katanya. Sambil menarik nafas panjang dia duduk disebuah kursi reot. Menyenter luka dipahanya. Si Bungsu mendekat. “Pelurunya bisa aku keluarkan..” katanya pelan. “Ya, saya yakin itu. Kini kau lakukanlah, Bungsu…” “Anda harus menggigit sesuatu…” “Jangan kuatir, kau keluarkan saja peluru jahanam itu dari kakiku…”

Si Bungsu masih ragu. Namun yoshua terus mendesak, maka tak ada jalan lain bagi dia, Si Bungsu segera mencongkel peluru itu dari paha si Indian itu. Dia menggoyangkan tangan kanannya. Dan secara otomatis, sebuah samurai kecil yang tersembunyi dilengannya meluncur turun ketelapak tangannya. Dia menyingsingkan lengan bajunya. Untuk pertama kalinya Yoshua melihat dikedua lengan anak muda itu, diikat dengan sebuah tali dari kulit terselip enam buah samurai kecil yang besarnya hanya sejari telunjuk. Tiga dilengan kiri dan tiga dilengan kanan. “Maaaf…”kata Si Bungsu.

Lalu tanpa menunggu jawaban, dia mulai bekerja. Pertama yang dilakukannya adalah mengiris paha yoshua. Diiris untuk memperbesar lobang yang kecil bekas peluru tersebut. Sementara Yoshua sudah selesai mengikat pangkal pahanya dengan ikat pinggang. Si Bungsu mengiris paha Yoshua cukup dalam. Ternyata peluru didekat tulang paha. Sedalam itu pula Si Bungsu terpaksa mengiris daging paha Yoshua. Namun Indian itu sedikitpun tak terdengar mengerang atau mengaduh. Sayatan samurai kecil yang tajam itu didaging pahanya seperti tak dia rasakan. Meskipun peluh telah membasahi wajah dan tubuhnya. Si Bungsu merinding juga melihat ketahanan tubuh si Indian tua ini. Dia cepat mencongkel peluru tersebut. Kemudian menghapus darah yang menggenang disekitar luka.

“Nah, saya rasa selesai sudah…” katanya. Yoshua menyenter luka yang menganga dipahanya. Dan merogoh kantongnya, mengeluarkan sebuah botol pipih persegi. “Tolong terangi dengan senter…” katanya. Si Bungsu mengambil senter itu, kemudian menerangi luka tersebut dengan cahaya senter yang makin redup karena kelamaan dipakai. Yoshua menuangkan isi botol yang tak lain adalah alkohol keluka tersebut. Hal itu diperlukan mencegah infeksi. Si Bungsu tahu betapa pedihnya luka yang disiram alkohol.

Namun Indian itu tetap diam bertahan. Mereka disadarkan dari kebisuan yang mencekam itu ketika dari samping mereka terdengar suara mengerang pelan. Si Bungsu menyenter kearah suara itu. Mereka melihat Norris mulai bergerak. Mula-mula dia menggerakkan kepala, lalu matanya menatap kearah senter, memicing karena silau. Lalu menyumpah-nyumpah. “Laknat, kalian akan mendapat hukuman setimpal atas hal ini..” rutuknya.

Dia berusaha dan bersusah payah untuk duduk. Yoshua memegang bahunya dan menariknya hingga perwira polisi dallas itu terduduk. “Kini dengarkan Kapten, apa penyebab ditahannya Angela dipenjara itu.?” “Kalian tak kan pernah bisa masuk kesana. Penjara itu..” “Tak perlu kau komentari. Kami baru saja dari sana. Kini kau jawab saja apa maksudmu menahannya. Bukankah kau tahu dia tidak ada sangkut pautnya dengan pembunuhan Kennedy? Bukankah kau sendiri yang menerima teleponnya tentang adanya seorang bersenjata yang mencurigakan di pustaka tua itu, yang menurut kalian adalah anggota FBI dan ternyata orang itu yang membunuh Kennedy?”

Norris tak segera menjawab. Barangkali sulit baginya untuk mencari cara untuk menjelaskan persoalan ini pada kedua orang yang memborgolnya itu. Satu hal tiba-tiba membuat Si Bungsu agak terkejut, yaitu subuh. Ya, subuh telah datang lewat cahaya teram temaram yang membias lewat kisi-kisi tinggi di gedung tua itu. Dia melihat keatas. Yoshua juga. Norris juga. Subuh telah datang, berarti kesempatan mereka untuk meloloskan diri dari kepungan polisi makin tipis. “Hari telah siang..” tanpa sengaja Si Bungsu berkata pelan.

Dan ucapannya memang tak perlu dikomentari yang lain. Yoshua mematikan lampu senternya yang telah redup. Kini cahaya diruangan itu remang-remang. “Boleh saya merokok?” ujar Norris perlahan. Yoshua merogoh kantong Norris. Di kantong kirinya hanya ada lambang kepolisiannya. Di kantong kanannya baru ditemukan sebungkus rokok. Rokok itu diambilnya sebatang, meletakkannya di bibir norris, lalu memasukkan kembali sisa rokok yang hanya tinggal setengah bungkus itu kekantong perwira polisi itu. Dari kantong celana sebelah kanan Norris Yoshua menemukan Lighter. Menghidupkannya dan menyulut rokok yang ada di mulut polisi dallas itu. Norris menghisapnya dalam-dalam dan memejamkan matanya. “Terima kasih..” katanya sambil kembali menghisap rokoknya dengan nikmat. Kemudian menghembuskan asapnya lewat hidung dan mulut.

“Kalian akan tertangkap disini..” Norris berkata pelan. “Mereka hanya bisa menangkap kami, setelah engkau kubunuh…” ujar Yoshua dengan datar. “Jika itu kau lakukan, regu tembak akan membunuhmu…” “Heee.. hee.. Sejak kapan di Dallas ini tak berniat menggantung orang Indian?” Norris tak menjawab sindiran Yoshua yang tajam itu. “Kini jelaskan, kenapa gadis itu kalian sekap dipenjara itu..” ujar Yoshua lagi. “Jalan itu satu- satunya untuk menyelamatkannya dari pembunuhan…” “Tapi penangkapannya disiarkan televisi secara langung bahwa dia salah satu dari komplotan dari pembunuh itu..” “Itu hanya taktik…” “Tapi taktik itu akan menghancurkan hidupnya. Orang mengenalnya dikota ini. Dan orang selalu akan mengganggapnya sebagai pembunuh..” “Bukankah tempat untuk hidup tidak hanya dikota ini? Masih banyak kota lain didunia. Dengan uang yang cukup orang bisa hidup di Hawaii, Florida, Eropa…” Yoshua meludah.

“Kalian para penegak hidup haram jadah. Saya punya keyakinan, engkau ikut dalam mata rantai pembunuhan Kennedy, Kapten…” Norris tak bereaksi. “Kalau aku tak salah, menurut Angela kau dulu bertugas di kota ini Kapten. Kemudian dipindahkan ke New York. Dua pekan sebelum kunjungan Kennedy ini, kau dipindahkan pula kemari sebagai seorang perwira Intelijen. Dibawah pengawasanmu, presiden terbunuh….”

Norris masih tak bereaksi apa-apa. Dia menghisap rokok. Memicingkan mata ketika menghembuskan asap rokok tersebut. Di luar pagi telah datang. Di kejauhan terdengar sirene mobil polisi mondar-mandir. Namun nampaknya mereka belum menemukan mobil yang tadi ditinggalkan Yoshua dan Si Bungsu diluar sana. Mereka juga tak tahu tak jauh dari tempat mereka mondar-mandir orang yang tengah mereka cari tengah berbincang-bincang justru dengan salah seorang perwira mereka. Yoshua menatap pada perwira polisi Kota Dallas itu dan berkata. “Jika penangkapan gadis itu merupakan taktik yang datang darimu, Kapten, maka taktikmu itu akan menghancurkan hidupnya. Taktikmu itu jelas menyembunyikan komplotan yang barangkali kalian atur dengan rapi. Kau tak layak hidup atas perbuatanmu itu, Kapten. Membiarkan seorang pembunuh bersembunyi ditempat yang akan dilalui Presiden, dan setelah Presiden terbunuh, kau justru menangkap orang lain. Seorang gadis yang justru pernah mencintaimu, dan yang telah melaporkan tentang pembunuh itu jauh sebelum presiden lewat di sasaran tembak bedilnya….”

Yoshua berhenti bicara menanti reaksi perwira itu. Dan Norris memang kali ini bereaksi. Reaksi pertamanya ketika Yoshua berkata bahwa Angela pernah mencintainya. Norris sesaat menatap pada Si Bungsu. Dan kemudian menoleh pada Yoshua dan mulutnya menyumpah panjang pendek. Dan Yoshua, entah mengapa, tiba-tiba menghantam mulut perwira itu dengan keras. Tubuh Norris sampai terpental, saking kuatnya pukulan itu. Si Bungsu jadi kaget kenapa yoshua benar-benar berang pada Norris. Karena tangannya masih diborgol, Norris berusaha bangkit dengan susah payah. Namun Yoshua seperti kesetanan, kakinya melayang menghantam rusuk norris.

“Jahanam, Injun biadab. Kalian memang suku biadab..!” Ucapannya terhenti lagi ketika tendangan Yoshua menghajar kepalanya! Si Bungsu kaget bukan main. Namun dia tak berniat mencampurinya. Tubuh Norris tertelentang dengan bibir dan hidung berdarah. Dia terjajar pingsan. Yoshua bergerak mendekatinya. Membuka pakaian perwira itu, melucutinya hingga tinggal kolornya saja. Dia memakai, pakaian sipil perwira itu. Kelihatan agak pas, meskipun ada bagian yang kelihatan kekecilan. Sebab tubuh Yoshua memang berotot karena bekerja di perkebunan. “Kita tinggalkan dia…” katanya sambil membuka borgol Norris.

Mereka kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu. Namun Norris rupanya berpura-pura pingsan. Ketika dia mengetahui kedua orang itu meninggalkannya, dia segera beraksi. Dia membuka mata, dan melihat pistol yang malam tadi diambil oleh Indian itu, kini terletak sejangkauan tangan darinya. Pistol itu dilemparkan oleh Indian yang dia sebut “injun” itu. Injun adalah sebutan penghinaan buat suku Indian. Mungkin sama kalau orang menyebut “niger”pada orang negro.

Dia bangkit dan meraih pistolnya cepat. Lalu menembak kearah injun yang kini telah berada sekita sepuluh depa darinya. Tapi, yoshua memang memasang perangkap. Dia tahu Norris tidak pingsan. Dia tahu kalau perwira itu pura-pura tak sadar. Makanya dia memancing dengan melemparkan pistol itu kedekat polisi itu ketika akan pergi. Yoshua bukannya tak tahu, ketika norris membuka mata, begitu mereka membelakangi dan ketika Norris membidik, Si Bungsu terkejut. nalurinya mengatakan bahaya mengancam. Dia membalik dan tangannya berayun. Dua bilah samurai kecil melesat dengan cepat. Dan saat itu pistol Norris bergema.

Namun pelurunya menghantam kaca. Sementara tubuhnya sendiri melosoh jatuh. Yang bergerak tidak hanya Si Bungsu, Yoshua yang telah dari tadi memasang perangkap juga berbuat sama. Norris tertelentang mati. Tangan kananya tertancap dua bilah samurai kecil milik Si Bungsu. Yang membunuhnya bukan dua samurai, itu hanya melumpuhkan nadi dan bukan untuk membunuhnya. Yang membunuhnya justru kapak kecil yang dilemparkan sambil berbalik oleh Yoshua dalam jarak sepuluh depa itu. Kapak kecil yang terbuat dari kuningan itu menancap diantara alis norris!

Si Bungsu menoleh pada Yoshua. Yoshua berjalan cepat kearah norris. Mengambil kapak kecilnya, kemudian mencabut samurai kecil milik Si Bungsu dari tangan Norris. Lalu berjalan lagi kearah Si Bungsu yang masih saja tertegun ditempatnya. Dia tak mengerti ada dendam apa diantara yoshua dan Norris, hingga dia menghabisi nyawa perwira polisi tersebut. “Cepat, kita harus keluar dari tempat ini…”ujar Yoshua sambil bergegas menuju jalan lain dari mereka tempuh untuk masuk malam tadi.

Si Bungsu juga bertindak cepat, karena sayup-sayup terdengar sirene polisi mendekat. Mereka menuruni sebuah tangga berdebu, nampaknya jalan ini menuju ruang bawah tanah yang berfungsi sebagai gudang. Suara langkah mereka terdengar bergema dalam ruang pengap dingin dan remang-remang.

Mereka turun lagi kesebuah ruangan yang berisi air sehingga mata kaki. Tikus kelihatan berkeliaran dengan mata merah menatap terheran-heran pada manusia yang barangkali sudah beberapa tahun tak mereka lihat. Mereka kini berada diruangan bawah tanah. Tak lama kemudian, mereka menaiki tangga.

Setelah naik cukup tinggi, dan akhirnya keluar disebuah ruangan kecil. Diluar ada kendaraan simpang siur. Yoshua kenal betul tempat ini. Mereka mengintip lewat jendela yang kabur oleh debu. Memperhatikan kalau-kalau diluar ada patroli polisi. Namun keadaan aman.

“Nampaknya engkau mengenal tiap sudut kota ini…”kata Si Bungsu pelan sebelum mereka keluar. “Dahulu gedung ini adalah tempat membuat sepatu. Saya bekerja disini. Hampir sepuluh tahun jadi buruh gedung ini. Akhirnya perusahaan bangkrut, sahamnya dijual pada orang lain. Saya berhenti dan bekerja di perkebunan. Itulah sebabnya saya sangat mengenal setiap lobang dan lorong disini. Kini kita keluar…”

Sesaat mereka tegak dibawah bayang-bayang teras yang buram. Beberapa buah taksi lewat di depan mereka. Mereka masih berdiam diri diam, meneliti gang kiri sampai keujung sana. Gang kanan juga demikian. Nampaknya gang ini tak banyak dilewati orang. Agak sepi. Tak jauh dari mereka, di gang sebelah kanan, kedua orang anak-anak Negro tengah duduk dikaki lima. Pakaian mereka compang-camping. Tak jauh dari mereka kelihatan dua ekor anjing kejar-kejaran. Kedua anjing itu kurus. Di gang sebelah kiri kertas-kertas beterbangan ditiup angin. Debu terangkat naik keatas. Seorang perempuan setengah baya, yang datang entah darimana, menutup hidungnya dengan tangan. “Kita pergi…” kata Yoshua ketika disebelah kiri dia lihat sebuah taksi.

Mereka meninggalkan tempat dibawah bayang-bayang gedung tua itu. Tegak dipinggir jalan, dan Yoshua memberi isyarat pada taksi itu. Taksi berhenti. Yoshua membuka pintu, dan masuk lebih dulu, kemudian menyusul Si Bungsu. Yoshua menyebutkan sebuah alamat. Dan taksi itu meluncur. Lima blok dari tempat mereka naik tadi taksi itu berhenti. Yoshua menyetop taksi lain. Kemudian menyebutkan lagi sebuah tempat. Dengan cara beranting demikian, akhirnya mereka sampai dirumah. Malam harinya, mereka mendengar berita yang mengejutkan. Pembunuh Kennedy yang bernama Oswald yang ditangkap dipustaka bekas gedung teater itu, yang kemudian ditahan disebuah penjara bawah tanah di salah satu bahagian kota Dallas yang amat dirahasiakan, telah ditembak mati!

Penembaknya tertangkap saat itu juga. Menurut televisi Amerika, penembakan terjadi tatkala serombongan polisi datang kepenjara itu untuk menjemput Oswald. Dia dibawa dari ruang tahanannya dengan pengawalan yang sangat ketat. Tapi ketika berada dijalan menuju keluar, masih dalam gedung penjara itu juga, seorang lelaki dalam jarak hanya dua meter, mencabut pistol dan menembak Oswald tiga kali hingga mati disana.!

Kejadian itu persis berada didepan mata polisi dan FBI yang selusin banyaknya itu! Dan tak ada yang tahu persis, kenapa orang yang menembak Oswald itu, yang bernama Jack Ruby, bisa lolos dan berada dalam bangunan penjara bawah tanah itu! Anggota komplotan ”tingkat atas” itu, kata siaran televisi tersebut, khawatir kalau Oswald sampai diadili lelaki itu akan bicara membuka rahasia mereka. Karena itu, Oswald harus dibunuh. Untuk itu disewa seorang lelaki yang memang tak ada sangkut pautnya dengan pembunuhan itu. Lelaki itu adalah Jack Ruby. Untuk bisa masuk kepenjara bawah tanah itu, komplotan tingkat atas itu mengatur permaianan dengan pihak FBI dan kepolisian Dallas. Jika tak demikian mustahil pembunuh itu bisa berada diantara lusinan aparat di tempat yang amat dirahasiakan itu. Dan berhasil pula menembak Oswald dari jarak dekat.

Dua hari kemudian, sebuah berita televisi membuat Si Bungsu terhenyak lemah. Pada acara lewat tengah hari, masih dalam rangkaian pembunuhan Kennedy, televisi menyiarkan bahwa seorang polisi wanita kota Dallas berpangkat letnan bernama Angela, dan seorang perwira bernama Norris juga terbunuh dalam rangkaian yang sama dengan pembunuhan Kennedy.

Si Bungsu tak mampu bicara. Dia teringat pada pertemuan terakhirnya dengan Angela di penjara itu. Gadis itu menolak untuk ikut dengannya. Alasannya dia merasa aman dipenjara itu, dia ditahan disana karena untuk menghindar dari jangkauan pembunuhan. Siapa nyana, dia ditahan disana justru memudahkan orang untuk membunuhnya! Si Bungsu mendengar isak tertahan dibelakangnya. Ketika dia menoleh, dia lihat Elizabeth, istri Yoshua yang masih cantik itu mengusap air matanya. Perempuan itu merasa sangat kehilangan atas kematian Angela!

Persabatan mereka yang cukup singkat itu, ternyata meninggalkan bekas yang dalam dihatinya. Si Bungsu untuk beberapa hari tak bisa bicara. Dia benar-benar merasa terpukul atas kematian Angela. Dia tahu, gadis itu mencintainya. Kenapa dia tak memaksanya untuk keluar dan melarikan diri dari kamar tahanannya malam itu?

Tapi gadis itu yang bersikeras tak mau keluar. Dia amat merasa aman dalam penjara itu. Dan kini, lihatlah. “Kau ingat betapa aku bertindak amat keras terhadap Kapten Norris saat itu?” yoshua bertanya pada Si Bungsu yang tengah duduk termenung diberanda belakang. Si Bungsu menoleh pada Indian itu. Dan tanpa menjawab, dia kembali mengingat betapa yoshua sengaja memancing agar Norris mempergunakan pistol, kemudian disudahi nyawanya dengan kampak Apachenya.

“Kapten itu adalah seorang yang amat licik. Saya mengenal manusia dengan melihat matanya. Saya yakin, Kapten itu membuat suatu perangkap untuk Angela. Dan saya juga yakin Kapten itu terlibat dalam komplotan pembunuhan Kennedy. Itulah sebabnya saya tak membiarkan dia hidup…” ujar Yoshua perlahan. Si Bungsu hanya mendengarkan dengan diam. Ingatannya terhadap hari-hari ketika bersama Angela membuncah pikirannya. Dia ingat pertemuannya dengan Angela ketika dia berhasil menerobos malam itu kepenjara dimana gadis itu ditahan. Dan mengajaknya lari. Saat itu Angela berkata.

“Saya harus disini, Bungsu. Saya tak bisa berada diluar. Saya tak sangsi pada kemampuanmu. Tapi kemana saya harus pergi dinegeri ini? Ini negeri saya. Saya tak mau jadi buronan. kau mengerti maksudku bukan?“ Lalu, Angela dalam isaknya berujar ”Terimakasih kau melihatku disini, saya amat meridukanmu… saya amat kehilanganmu.. oh…” Saat itu terdengar derap suara sepatu berlarian. “Jika itu pilihanmu, saya harus pergi Angela…” ujarnya. “Bungsu, aku masih berharap engkau masih akan menantikanku keluar dari tempat ini..” ujar Angela. Lamunan Si Bungsu diputus oleh suara Elizabeth. “Dia amat mencintaimu, Bungsu.. amat mencintaimu…” Dia seperti tertelan sesuatu yang amat pahit. Namun dia jawab juga ucapan perempuan itu. “Terimakasih, mam. Terimakasih. Tapi… Kini dia telah tiada…” ujarnya perlahan dengan fikiran masih menerawang.

Untuk apalagi dia berada di Amerika ini? Dia datang kebenua asing ini untuk mencari Michiko. Tongky, sahabatnya, terbunuh dalam upaya mencari kekasihnya. Perempuan yang dia cari itu telah ditemukan. Dia telah menikah. Untuk mencari Michiko dia kemudian dibantu oleh Angela. Kini gadis itu terbunuh pula. Kenapa kehadirannya dimana-mana selalu dikelilingi bencana dan gelimang darah? Adakah yang salah dengan suratan nasibnya? Sejak ayah, ibu dan kakaknya terbunuh di Situjuh Ladang Laweh di tangan Saburo Matsuyama, sampai hari ini, hidupnya berkisar antara letusan senjata dan sabetan samurai!

Berapa orangkah yang telah mati ditangannya atau yang mati dengan kehadirannya? Sebelas, tiga puluh, seratus? Ah, dia tak bisa lagi menghitung. Tak bisa lagi dihitung! Kematian sudah sesuatu yang amat lumrah dalam kehidupannya. Apakah dia lahir dengan sebuah kutukan, sehingga demikian banyak mayat bergelimpangan disekitar kehidupannya.?

Hari-hari setelah itu menjadi hari-hari yang murung bagi Si Bungsu. Tiap hari kerjanya hanya mendengar siaran radio dan televisi. Berita kedua media itu, termasuk surat kabar, didominasi oleh siaran seluk beluk kematian Kennedy. Presiden yang dianggap sebagai reinkarnasi dari Abraham Lincoln. Presiden yang dianggap (dan memang demikian adanya) amat dekat orang-orang Negro dan Indian. Dua suku bangsa yang saat itu amat dikucilkan masyarakat kulit putih, yang merasa dirinya amat superior.

Tentang pembunuhan Kennedy, pemerintah membentuk suatu komisi penyelidik yang di ketua oleh Warren. Hasil penelitian komisi ini amatlah kontroversial. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa presiden dibunuh oleh seorang pembunuh, yaitu Lee Harvey Oswald. Dan orang itu disampaikan oleh komisi sebagai orang yang tidak waras.

Artinya, pembunuhan ini berdiri sendiri. Dia membunuh presiden karena tidak waras. Dus, tak tahu siapa yang dibunuhnya. Dan tak seorangpun yang berdiri dibelakang pembunuhan ini. Artinya, kalau pun Oswald tidak dibunuh oleh Jack Ruby, dan diseret kepengadilan, karena tidak waras. Maka orang ini tak bisa dihukum!

Sebab menurut hukum, seorang yang tak waras tak bisa di mintakan pertanggungjawaban atas apa yang diperbuatnya! Paling-paling pengadilan hanya akan memutuskan bahwa pembunuh itu harus dirawat di rumah sakit jiwa, dibawah pengawasan dokter!

Si Bungsu menjadi saksi sejarah, tatkala hasil penyelidikan komisi Warren ini menimbulkan gelombang protes hebat dari segenap lapisan masyarakat Amerika, termasuk Dallas. Namun gelombang itu seperti menerpa dinding karang yang amat terjal dan kukuh. Tragedi berikutnya justru kembali menimpa keluarga Kennedy.

Yaitu dalam pemilihan Presiden berikutnya. Adik Jhon F Kennedy, yaitu Robert kennedy, yang menjabat sebagai Jaksa Agung Amerika Serikat ketika kakaknya jadi Presiden, maju sebagai calon presiden berikutnya Lyndon B Jhonson. Tapi apa yang terjadi? Kennedy yang satu ini tertembak mati! Saat dia nyaris sudah mencapai kursi kepresidenan di Gedung Putih.

Apakah yang terjadi dengan keluarga Kennedy yang legendaris itu? Cukup lama waktu berlalu saat kongres Amerika serikat memutuskan membentuk komisi sendiri untuk menyelidiki kebenaran laporan komisi Warren yang menghebohkan itu.

Setelah bekerja berbilang tahun juga, komisi kongres itu sampai pada kesimpulan bahwa laporan komisi warren yang terdahulu, yang menyatakan pembunuh Kennedy yang bernama oswald itu seorang yang tak waras dan pembunuhan itu berdiri sendiri tanpa ada otak dibelakangnya adalah bohong besar!. Komisi kongres Amerika Serikat sampai pada kesimpulan yaitu setelah menemukan bukti-bukti, Presiden Kennedy dan saudaranya Robert Kennedy dibunuh oleh persekongkolan maut kelompok MAFIA! “Tentu saja kami tidak menemukan revolver yang masih berasap.” kata salah seorang dari anggota komisi itu. Jejak-jejak pada waktu sebelum dan sesudah pembunuhan itu telah dihapus dengan cermat sekali.

Namun setelah dua setengah tahun mengadakan penyelidikan, menginterview ribuan orang, mulai dari pejabat, polisi, pedagang, orang yang lewat, penonton televisi, dan menelan biaya jutaan dollar. Komisi itu berhasil menemukan suatu komplotan yang memusuhi Kennedy bersaudara itu. Menurut penyelidikan komisi, semula sasaran utama untuk dibunuh komplotan mafia itu adalah Robert Kennedy, yang waktu itu menjabat Jaksa Agung Amerika Serikat.

Laporan tersebut menyebutkan kalau Robert Kennedy sebagai jaksa agung mencurahkan segala upaya dan kemampuannya untuk menumpas kejahatan yang ada di Amerika. Kejahatan yang dia maksud, yang akan dia tumpas adalah kelompok mafia. Ya, apalagi induk kejahatan di Amerika kalau bukan Mafia! Memang ada komplotan lain yang juga sadis, yaitu Klu Klux Klan. Namun ada perbedaan yang menyolok antara kedua kelompok penjahat ini. Klu Klux Klan hanya menujukan terornya pada penduduk Indian dan terutama Negro. Sementara mafia menujukan kejahatan pada semua bangsa. Tak peduli orang manapun.

Klu Klux Klan tidak menentukan dalam hal perekonomian. Mafia amat memegang peranan dalam hal yang satu ini. Mengatur segala sesuatu di Amerika. Mereka adalah perantau-perantau dari pulau Sicilia di Eropa sana. Mereka bisa mengatur siapa yang akan menjadi gubernur di suatu negara Bagian. Mengatur siapa anggota senat yang akan diangkat. Mereka juga mengatur pembunuhan-pembunuhan politik. Dan inilah tugas utama Jaksa Agung Amerika itu, menumpas Mafia. Motonya adalah Amerika menumpas Mafia atau Mafia yang akan menumpas Amerika.!

Lebih lanjut Komisi Kongres Amerika itu melaporkan : Dengan membunuh Bob (panggilan dari Robert Kennedy) para anggota Mafia harus pula menghadapi kemarahan Abang Jaksa ini, yaitu Presiden Amerika Kennedy. Mungkin Presiden akan mengerahkan angkatan bersenjata untuk memberikan pukulan yang mematikan Mafia. Mengingat akibat yang besar ini, maka sasaran utama segera ditukar. Yang dibunuh terdahulu haruslah si Presiden! Jika akan membunuh ular, pukul kepalanya. Bukan ekornya! Jika presiden sudah mati, adiknya dengan mudah dihabisi.

Dengan demikian, bertukarlah sasaran utama pembunuhan yang direncanakan mafia tersebut, kedua rencana itu ternyata berhasil. Kennedy dibunuh tahun 1963, adiknya terbunuh dalam masa pemilihan di tahun 1968! Komisi Kongres Amerika dalam penyelidikannya membuktikan pula hubungan yang jelas antara kedua pembunuhan kakak beradik itu. Yang selama ini disiarkan atau diduga dilakukan oleh berbagai pembunuh yang bertindak sendiri-sendiri.

Sebagai tokoh-tokoh inti dalam komplotan membunuh kedua Kennedy bersaudara itu, komisi menyebut dua orang pimpinan penting Mafia, yaitu Garlos Marcello alias ”Kaisar Louisiana” yang menguasai dunia Gangster di belahan tenggara Amerika Serikat, dan Santos Trafficante, raja perdagangan gelap heroin di Florida.

Komisi berpendapat, dalam mempersiapkan pembunuhan Presiden di Dallas itu, Marcello dan Trafficanto membatasi hanya mengeluarkan perintah- perintah saja. Kontak-kontak antara mereka dengan Oswald serta beberapa orang Cuba anti Castro, yang ingin menggagalkan suatu pendekatan antara Kennedy dengan pimpinan Cuba tersebut. Di selenggarakan oleh beberapa orang ”Letnan” Mafia, Sam Giancana dari Chicago dan Jhon Roselli dari Miami.

Pada tahap persiapan itu, Jim Hoffa pun memainkan peranan penting. Hoffa adalah seorang tokoh menonjol dalam dunia kejahatan dan menjadi presiden suatu sindikat yang paling berkuasa di Amerika Serikat. Yaitu sindikat ”supir pengangkut barang”. Hoffa memang tengah terlibat dalam suatu” peperangan” yang sia- sia melawan Jaksa Agung Amerika Serikat, Robert Kennedy, yang sudah hampir berhasil melemparkannya kepenjara. Agen-agen penghubung Hoffa ini mempunyai seorang pembantu di Dallas, namanya…Jack ruby!

Komisi menganggap Ruby sebagai salah satu tokoh sentral dalam komplotan tersebut. Pembunuh ini telah menerima perintah untuk menembak mati Oswald! Oswald harus ditembak mati ketika dibawa dari penjara bawah tanah Dallas. Tugas ini berhasil dengan baik, berkat kerja sama dengan beberapa anggota polisi Dallas!

Jauh sebelum peristiwa itu, tepatnya pada 4 April 1961, seorang lelaki berperawakan kecil, dengan rambut agak beruban sedikit di pelipis kiri dan kanan, sedang melangkah menuju kantornya di New Orleans.

Pada jarak tertentu berjalan para tukang pukulnya, mengawasi Boss ini dengan seksama. Menjaganya dari berbagai kemungkinan yang tak diingini. Mereka bukan hanya ahli karate dan judo yang tangguh, tetapi juga ahli tembak yang jitu. Di balik bajunya mereka menyelipkan sepucuk pistol berpeluru penuh! Orang beruban di pelipis itu, yang bertubuh kecil dan berjalan dengan tenang itu tak lain tak bukan daripada Carlos Marcello. Tak ada yang tak mengenalnya. Dialah orang yang paling kaya dan paling berkuasa di Louisiana. Dia pemilik puluhan Casino, hotel, motel, pabrik-pabrik juke box, bar tempat-tempat striptease, pemimpin perdagangan gelap narkotika, rumah-rumah lacur, dan segala bentuk judi lainnya. Tak seorangpun berani menyentuhnya. Dia seperti berada di luar jangkauan hukum Amerika. Dia bisa dengan mudah mengibaskan tangan kirinya ketika ada Jaksa atau Polisi yang mencoba menangkap atau mengusutnya.

Kekuasaannya diperoleh berkat uangnya. Dia menyogok dan “membeli” para penguasa dan polisi dengan uang dan perempuan. Ini menyebabkan penguasa tak berani dan tak kuasa menghadapinya. Tetapi pada 4 April 1961 itu, saat dia berada di puncak kekuasaannya itu, ketika sang raja ini tengah melenggang didepan selusinan anak buahnya. Tiba-tiba beberapa mobil berhenti, dan beberapa lelaki berlompatan keluar dan meringkus raja tak bermahkota itu.

Tangannya langsung di borgol, ketika dia mencoba meronta dan berkata bahwa dia seorang terhormat, bahwa para penguasa akan membebaskannya, orang yang meringkusnya itu, yang tak lain dari anggota FBI, meninju mulutnya hingga pecah. Dan ketika para pengawalnya yang sejak tadi hanya melongo kaget akan membantu, anggota FBI itu, menodong mereka dengan senapan mesin.

Para tukang pukul itu tak berdaya. Dan orang yang mereka lindungi itu dilemparkan FBI kedalam mobil yang segera dipacu meninggalkan tempat itu. Mobil itu segera menuju lapangan udara. Disana telah disiapkan pesawat terbang khusus. Hanya beberapa menit setelah itu dia telah berada di Guatemala! Diusir dari Amerika Serikat! Suatu penghinaan yang tak ada duanya. Yang membuat para bandit lainnya mengigil ketakutan.

Siapakah yang telah demikian beraninya melemparkan sang raja ini dari tahtanya? Siapakah dia yang tak mau peduli dan tak takut pada beking raja penjahat ini? Orang itu, yang memerintahkan FBI itu, tak lain dan tak bukan adalah Jaksa Agung Robert Kennedy!

Tindakan Kennedy itulah yang membangkitkan amarah para tokoh-tokoh Mafia! Namun Marcello hanya berada di pembuangan selama dua bulan. Mafia menunjukan kalau mereka memang berkuasa di Amerika Serikat. Dua bulan, Marcello sudah kembali ke Louisiana serta menunjuk ke foto Jaksa Agung Amerika tersebut sambil mengeluarkan perintah ”Cabut paku ini dari sepatu ku!”

Perintah mencabut ”paku dari sepatu” itu dikeluarkan dihadapan pertemuan Mafia. Pertemuan para pemimpin Mafia itu diadakan bulan September 1962. Ketika itu Bob Kennedy baru saja melancarkan suatu pukulan baru pada organisasi penjahat itu. Seorang tokoh mafia yang sudah tobat, Joseph Falachi, mengungkapan rahasia-rahasia kejahatan Mafia yang penuh sensasi. Untuk pertama kalinya, cara kerja organisasi yang ditakuti ini diketahui orang. Hubungan antara sindikat Hoffa dengan Mafia di kemukakan didepan hakim.

Mafia menggelepar-gelepar dihadapan dan cengkraman Robert Kennedy. Mereka bertekad untuk membela anggota pilihan mereka seperti Hoffa itu. Orang ini baru saja meminjamkan uang sejumlah satu setengah juta dollar pada Trafficante. Dia juga sering memberi pinjaman pada pimpinan Mafia, dan tak pernah menagihnya kembali. Dengan demikian Mafia tak bisa berdiam diri ketika Hoffa diterkam kejaksaan agung Amerika. Namun tindakan pembalasan nampaknya belum dapat dilakukan segera. Kennedy bersaudara juga tahu, bahwa tindakan Bob yang Jaksa Agung itu merupakan tindakan membangunkan singa yang tidur. Oleh karena itu, Presiden kennedy menyuruh melindungi adiknya secermat mungkin oleh pihak keamanan. Siapa nyana, adiknya, terlindung dengan baik sementara dirinya terbuka terhadap rencana pembunuhan. Bulan September 1963, Bob Kennedy kembali melakukan aksi.

Kali ini gerakannya merupakan aksi menentukan terhadap Mafia. Bulan September itu ratusan Anggoata FBI serta petugas Kas Negara menyerbu semua casino-casino di Las Vegas. Di tempat mana Trafficante menanam saham yang besar, Bob tengah mengarahkan bidikannya ke jantung Mafia! Presiden Kennedy juga tak tinggal diam. Dalam rangka menekan Komisi dia mengirimkan Inspektur-inspektur FBI ke Cuba. Dia menyuruh kontak orang-orang yang anti Castro di Florida dan Louisiana.

Orang-orang anti Castro itu diminta untuk menghentikan serangan terhadap Cuba. Kennedy tak ingin Komisi mendapat angin dengan tekanan-tekanan kekerasan. Tekanan itu justru memperkuat komisi. Sistemnya harus dirubah. Castro harus dirangkul, bukan dimusuhi. Peristiwa itu terjadi setelah skandal Teluk Babi yang tersohor dan sempat akan memantik Perang Dunia III. Yaitu hancurnya pasukan Amerika yang mencoba mendarat di Cuba untuk menggulingkan Castro. Kini Kennedy ingin merangkul Castro, mengikat hubungan baik. Langkah ini ternyata amat di tentang amat dan tak disukai oleh orang-orang tertentu di Amerika. Dan orang-orang tertentu itu ternyata punya jalur kuat dalam Mafia. Orang-orang tertentu itu adalah juga penguasa Amerika yang naik ketangga kekuasaan lewat jenjang yang di buat Mafia.

Mereka lantas mempercepat proses penyingkiran kedua adik beradik Kennedy ini. Komisi Kongres untuk sementara tak menyebutkan keterlibatan CIA, badan intelijen luar negeri Amerika, terlibat dalam pembunuhan presiden itu.

Namun siapa lagi yang harus bertanggung jawab terhadap keselamatan dan keamanan Kepala Negara Amerika, jika bukan badan ini? Dan komisi punya bukti, bahwa CIA punya hubungan dengan semua anggota Mafia yang disebut Mafiosi, yang terlibat dalam pembunuhan Kennedy bersaudara.

Tatkala fidel Castro tahun 1969 berpaling pada Uni Sovyiet dan menasionalisir seluruh perusahaan Amerika di Cuba, maka pemarintahan Presiden Esinhower menjadi gelisah dan kalang kabut. Usaha untuk menyingkirkan Castro dibuat. Pembunuh-pembunuh bayaran direkrut.

Namun prilaku pembunuh bayaran terkadang menggelikan. Salah seorang diantaranya harus menghidangkan secangkir minuman coklat yang sudah dibubuhi racun kepada Castro. Apa lacur, saat menghidangkan itu dia ketakutan dan menggigil sedemikian rupa sehingga dia tertangkap basah. Yang lainnya menyembunyikan sebutir pil beracun dalam krim untuk rias muka Castro saat akan tampil di depan televisi. Namun karena suatu hal, pil itu ternyata sudah meleleh. Dan tugasnya pun gagal.

Komisi penyelidikan Senator Chruch, yang tidak menaruh perhatian terhadap makar di Dallas, tetapi cuma pada rencana-rencana pembunuhan terhadap Castro, menganggap telah mendapatkan seorang saksi yang penting pada diri Jhony Roselly. Dia ini diancam dengan ancaman dengan pengusiran dari Amerika Serikat apabila tak bersedia jadi saksi.

Roselly berumur tujuh puluh tahun dan tak ingin sampai diusir dari Amerika. Namun diapun sudah tahu, memberikan kesaksian sama artinya dengan bunuh diri. Komisi menjanjikan identitas baru, tempat persembunyian yang baik dan uang 100 ribu dollar padanya. Roselly setuju, namun dia hanya mengungkapkan sebagian saja dari masalah yang amat rahasia itu. Yaitu bagaimana dia dihubungi CIA untuk menyingkirkan Castro.

Pada tanggal 8 Agustus mayat Roselly terdampar di pantai di teluk Miami. Delapan hari sebelum itu, pada tanggal 30 Juli, tokoh penghubung lainnya antara Mafia dan CIA, Jimmy Hofman, telah hilang dari rumahnya di Detroit. Mayatnya tak pernah diketemukan. Senator Cruch mengira masih ada cara lain, yakni melalui Ciancana. Setelah terjadi makar di Dallas terhadap Presiden Kennedy, Ciancana lari ke Meksiko. Di sana dia memakai nama palsu dan tinggal di sebuah rumah mewah yang mirip sebuah Puri dekat Cuernavaca. Senator Churc yang mengepalai komisi kongres itu menyuruh menculik orang ini untuk mencari jejak pembunuh Kennedy. Dengan perintah kongres dengan wewenang yang luar biasa itu, suatu hari FBI di bantu polisi-polisi Meksiko mengepung Puri Ciancana di Meksiko city.

Bandit kelas satu ini tak menyadari, bahwa jejak pelariannya telah dicium hamba hukum. Dia tengah tidur telanjang bulat berpelukan dengan gadis meksiko yang panas, yang berusia belasan tahun,ketika FBI dan polisi Meksiko mendobrak pintu kamarnya.

Dia diseret kemobil, dan masih dalam memprotes keras, dibawa kepesawat, diterbangkan langsung ke Amerika Serikat! Dia langsung dihadapkan kedepan sebuah juri yang mengintimadasi dirinya. Pria berumur 67 tahun ini diancam akan dijebloskan kepenjara sampai akhir hayatnya.

Kemudian Senator Chruch menawarkan pembebasan padanya dengan identitas baru dan uang 100 ribu dollar. Orang berharap akan banyak diperoleh keterangan tentang pembunuhan Kennedy dari mulut penjahat ini. Namun keadaan ternyata sama saja, dengan Hoffa dan roselly. Dia tak punya kesempatan banyak untuk bicara. Lima hari sebelum dia tampil bercerita didepan juri, lima lelaki yang mengaku dan diakuinya sebagai sahabat dekatnya datang berkunjung. Mereka minum anggur dan bicara hangat dan akrab dalam bahasa Italia, yaitu bahasa asal para bandit itu.

Menjelang tengah malam, sahabat-sahabatnya itu pamitan. Hanya seorang yang masih tinggal bersamanya, yaitu sahabatnya yang paling akrab. Untuk sahabatnya ini Ciancana memerlukan membuat makanan khas italia di dapur. Saat dia berdiri dekat Oven ”sahabat” karibnya itu menembaknya di kepala! Sahabatnya itu merasa belum cukup menembaknya dikepala saja. Dia masih belum merasa belum puas sebelum menembaki tubuh Ciancana yang tak bernyawa itu hingga pistolnya kosong dari peluru!

Kini, semua tokoh penghubung antara CIA dan Mafia telah mati! Jejak telah dihapus dengan sempurna. Meski mereka yang bersalah dapat ditunjuk, namun sudah terlambat. Hukum di Amerika mengatakan, tanpa saksi, tak seorangpun bisa diseret kemeja peradilan. Alangkah tragisnya, kematian seorang Presiden Amerika, negara terkuat dan pelopor demokrasi, pelopor dari negara-negara hukum, tak mampu menyeret pembunuh Presidennya kedepan hakim! Itulah keterangan yang dalam laporan dapat dibocorkan. Publikasinya menimbulkan kehebohan di Amerika Serikat. Tapi seperti diketahui, hampir dua puluh tahun setelah itu, tak ada seorangpun yang diadili sehubungan dengan pembunuhan Presiden Kennedy dan adiknya!

Kepada Yoshua, Indian berbudi itu, telah di sampaikan Si Bungsu bahwa dia tak mungkin berada di Dallas berlama-lama. Lambat atau cepat, dia pasti bertemu lagi dengan Michiko. Hal itu akan melukai hatinya kembali. Lagi pula, di kota ini ingatannya akan kematian Angela selalu menyiksa dirinya. Dia menyesali kenapa dia tak memaksa Angela untuk melarikan diri dari penjara itu. “Saya harus disini Bungsu, saya tak bisa berada di luar. Saya tak sanksi pada kemampuanmu untuk melindungi ku. Tapi kemana saya harus pergi dari negeri ini? Ini negeri saya. Saya tak mau jadi buronan. Kau mengerti maksudku kan?”

Begitu kata gadis itu dahulu, saat diajak untuk lari dan memberitahu, dia akan dijadikan kambing hitam dalam pembunuhan kennedy. Dia ingin menghapus kenangannya tentang Michiko. Ingin melupakan kenangannya dengan Angela. Dia ingin pergi, entah kemana. Ada terlintas di fikirannya untuk kembali ke Minangkabau, pulang kekampungnya. Tapi, tanpa pendidikan, apa yang akan dikerjakannya disana? Dia punya Uang, lalu berniaga? Ah, tak ada bakatnya sedikitpun untuk berniaga. Nampaknya dia dilahirkan bukan untuk itu. Ditengah niatnya meninggalkan Dallas tak terbendung, suatu hari Yoshua mengajaknya kesebuah ranch. Bertemu dengan temannya yang bertempat tinggal disisi yang lain kota Dallas.

Mereka sampai di sebuah rumah ditengah peternakan dan perkebunan jauh diluar kota, lebih megah dari rumah Thomas MacKenzie, suami Michiko. “Dia teman saya. Tidak hanya dermawan yang menjadi donatur bagi kami orang Indian, tapi tanah dimana rumah kami sekarang berada, adalah hutan perburuan miliknya. Saya lama menjadi sopir dan Ajudannya. Dan suatu hari, hutan seluas sepuluh hektar itu dia berikan begitu saja pada saya. Dia ingin minta bantuanmu..” ujar Yoshua. “Minta bantuan?” “Ya, kalau kau bersedia..” “Bantuan apa?” “Nanti kita dengar bersama. Kendati dia teman saya dan amat dermawan. Namun kalau engkau tak bisa menolongnya, jangan segan untuk menolak…” ujar Yoshua.

Itu dialog mereka saat akan ke rumah teman Yoshua tersebut. Di rumah yang mewah itu, sebelum diperkenalkan, dia melihat betapa akrabnya Yoshua dengan lelaki berusia enam puluhan bernama Alfonso Rogers, warga Amerika blasteran Inggeris-Spanyol itu. Mereka saling sapa dan saling dekap erat sekali. Ketika giliran dia berjabatan tangan, jabatan lelaki bermata biru itu terasa hangat dan kukuh.

“Senang bertemu dengan Anda, Bungsu. Teman Yoshua adalah teman saya. Saya sudah lama mendengar cerita tentang diri Anda dari Yoshua. Saya memang meminta agar Yoshua mempertemukan Anda dengan saya…” ujar lelaki itu. “Terimakasih, saya juga senang bertemu dengan Tuan…” “Kenalkan, ini sahabat saya, McKinlay. Kolonel Jhon McKinlay, pensiunan perang Vietnam…”

Si Bungsu menjabat uluran tangan mantan Kolonel itu. Mereka lalu bicara hilir mudik tentang Dallas, kemudian makan siang, kemudian pindah duduk di ruang tamu yang amat luas. Alfonso menceritakan masalah yang merundungnya selama ini. Anak gadisnya yang bernama Roxy Rogers, yang bertugas sebagai perawat di kesatuan Angkatan Darat, pada tahun 1971 ditugaskan ke Vietnam. Saat kesatuannya sedang bertugas merawat tentara dan penduduk yang terluka di sebuah desa pantai, di Teluk Tonkin, tak jauh dari Kota Ha Tinh, desa itu diserang Vietkong.

Sejak itu tak ada kabar beritanya. Berbagai pasukan telah berupaya melacak jejak para perawat dan tentara yang hilang di desa itu saat diserang Vietkong. Namun usaha itu sia-sia, sampai akhirnya dimasukkan ke daftar MIA, Missing In Action, hilang saat bertugas. Dia sudah mengeluarkan uang jutaan dolar, membayar tiga tim pencari jejak untuk mencari anaknya. Namun gadis itu tetap hilang tak berbekas. “Saya ingin meminta tolong pada Anda mencari anak saya di belantara Vietnam itu. Saya yakin, dia masih hidup di suatu tempat…” ujar Alfonso dengan suara bergetar.

Si Bungsu menatap lelaki itu. “Mengapa harus saya? Saya tak pernah ke Vietnam. Tak mengenal negeri itu sama sekali…” “Maaf, tapi kami telah mempelajari berkas Tuan yang ada di dokumen rahasia yang dimiliki Amerika. Bermula dari kasus pembunuhan tentara Amerika tak bermoral di Tokyo yang akan memperkosa seorang gadis di Hotel Asakusa. Dokumen itu menceritakan telaah mengapa Tuan sangat mahir mempergunakan samurai. Di usia yang sangat remaja bertahan hidup di dalam belantara Gunung Sago yang amat ganas, sekaligus mempermahir cara mempergunakan samurai. Kendati hutan liar memiliki ciri khas tertentu, namun secara garis besar hutan di manapun memiliki persamaan. Itulah apa sebab saya ingin meminta bantuan Tuan. Kami juga membaca arsip yang menceritakan betapa Tuan mengalahkan pendeta- pendeta dan Saburo Matsuyama, pimpinan Kuil Shimogamo. Lalu pertemuan Tuan dengan Zato Ichi…”

Si Bungsu tertegun. Begitu detilnya arsip tentang dirinya yang dimiliki Amerika. Namun di sisi lain dia juga merasa heran, kalau benar Kolonel McKinlay yang beberapa kali terjun ke perang Vietnam, kenapa tidak dia saja yang menolong? “Mengapa tidak…?” “Meminta bantuan saya…?” potong McKinlay yang sejak tadi hanya mendengarkan dengan diam. “Ya. Karena pernah berperang di sana Tuan tentu amat mengenal belantara Vietnam…” MacKinlay tak bicara, dia mendadak meraih ujung pipa celana kanannya. Mengangkatnya ke atas sampai ke batas lutut. Dan Si Bungsu melihat bahwa kaki kanan mantan Kolonel itu adalah kaki palsu. Dia jadi faham kini apa sebab bukan McKinlay yang dimintai bantuan mencari gadis itu ke Vietnam.

Hari itu mereka belum memutuskan apapun. Si Bungsu tidak menerima, tidak pula menolak. Namun pertemuan antara mereka setelah itu tetap berlanjut di berbagai tempat. Mereka jadi empat sekawan yang “aneh”. Alfonso blasteran Inggeris-Spanyol, McKinlay seorang Amerika yang berasal dari Wales, Inggeris. Yoshua seorang Indian suku Sioux. Terakhir Si Bungsu, anak Indonesia dari Minangkabau.

Sesekali mereka menyinggung juga soal hutan dan perang Vietnam. Cerita itu terutama dituturkan oleh McKinlay. Dia ternyata kehilangan kaki dalam pertempuran amat mencekam di sebuah bukit yang, karena saking banyaknya tubuh tentara Amerika hancur berkeping oleh tembakan artileri, mortir dan ranjau Vietkong, diberi julukan “Hamburger Hill”. Bukit daging cencang! Soal hilangnya Rocky Rogers dan kawan-kawannya, Pemerintah Amerika sudah berupaya dengan segala cara untuk mencari tahu dan membebaskannya. Segala cara! Diplomatik, sogok, sampai menyelusup diam-diam. Alfonso Rogers sendiri sudah tiga kali membayar dan mengirim tim menyelusup ke belantara itu. Bahkan menyuap perwira Vietkong, untuk mencari informasi tentang keberadaan anaknya. Namun semua usaha itu sia-sia.

Diam-diam Si Bungsu membeli buku tentang Vietnam dan mempelajarinya. Dia menjadi tahu, nama asli negeri itu adalah Cong Hoa Xa Hoi Chu Nghia Viet Nam. Paling tidak ada empat bahasa yang dipakai sebahagian besar penduduk. Yaitu bahasa Vietnam sebagai bahasa resmi, kemudian bahasa Cina, Perancis dan Inggeris. Ada macam-macam agama di sana, tapi yang terbesar agama Budha, jauh di bawahnya agama Katolik Roma, lalu Islam dan menyusul kumpulan agama-agama lokal lainnya.

Secara geografis, dua sungai paling besar yang mengalir di sana adalah Sungai Songka yang disebut juga sebagai Sungai Merah di utara, dan Sungai Mekong di selatan. Kedua sungai itu, dan sungai-sungai kecil lainnya, selain memuntahkan airnya ke Laut Cina Selatan, lembahnya menciptakan hutan rawa yang amat luas dan.. amat berbahaya! Di utara, tanahnya juga bergunung-gunung. Dataran tinggi Tonkin sebagian besar adalah gunung batu yang ketinggiannya dari permukaan laut lebih dari 1.000 m dengan puncak tertinggi berupa gunung bernama Fan-Si-Pan, dengan ketinggian 3.143 m. Inilah pegunungan paling tinggi dan paling besar di negeri ini.

Domisili penduduk di utara terpusat di kawasan delta Sungai Songka, di selatan delta Sungai Mekong. Dari sisi kelompok etnik, penduduk Vietnam amat beragam. Yang terbesar adalah orang Vietnam. Kelompok minoritas ada etnik asli, ada pula pendatang. Kelompok pendatang terbesar Cina, Thai dan Khmer. Sedangkan dari puluhan etnik penduduk asli yang terbesar adalah Champa dan Montagnard (orang gunung) di selatan, sementara di utara etnik Muong, Nung dan Tay. Entah kenapa, Si Bungsu akhirnya tertarik untuk “jalan-jalan” ke Vietnam. Dia sama sekali tidak berpretensi akan mampu menaklukkan keganasan belantara negeri itu, atau akan mampu melawan Vietkong dan membebaskan Roxy Rogers. Dia hanya ingin tahu, seganas apa perang dan rimba di negeri itu, dan ingin membantu Alfonsdo Rogers mencari informasi tentang putrinya.

Hal itu pun dia lakukan karena tak tahu akan kemana dia setelah pergi meninggalkan Dallas. Hidupnya kini seperti layang-layang putus! Kalaupun dia hilang atau mati di belantara ganas itu, atau di manapun, tak seorang pun yang akan merasa kehilangan. Tak seorang pun! “Hmm… Vietnam dengan Sungai Mekong dan Sungai Songka, dengan pegunungan paling kasar berpuncak Gunung Fan-Si-Pan, dengan kelompok etnik Cina, Thai, Khmer, Champa, Montagnard Muong, Nung, dan Tay, Vietnam dengan neraka Hamburger Hill, aku akan datang mengunjungimu…!” bisik hati Si Bungsu.