Tikam Samurai Si Bungsu Episode 5.4

Si Bungsu sebenarnya tidak peduli siapa yang membawa pakaian itu, apakah Elang Merah, elang hijau, maupun elang tak berwarna. Yang terpikir olehnya adalah bagaimana pakaian ini bisa melekat ke tubuhnya, bagaimana pakaiannya bisa bertukar dengan piyama ini. Seperti mengerti kebingungan Si Bungsu, Angela kembali berbisik.

“Aku yang menukarkan pakaianmu dengan piyama. Kulihat kau tertidur lelap sekali, peluhmu membasahi baju. Ku tukar pakaianmu dengan piyama ini…” bisik Angela sambil menatap mata Si Bungsu. “Terima kasih, kau baik sekali….” bisik Si Bungsu. Ya, apalagi yang bisa dikatakan saat itu? Gadis itu telah terlalu banyak berkorban untuknya. Menemaninya mencari jejak pembunuh Tongky.

Dan hal itu justru mencelakan dirinya, di perkosa dalam tahanan! Si Bungsu tak sampai hati melukai hati Angela dengan pengorbanannya yang sangat besar itu. Namun dia juga tidak ingin membohongi gadis ini. Dia cium bibir gadis itu dengan lembut. Dan Angela membalas sambil membelai rambut Si Bungsu. “Maaf atas yang terjadi atas diri mu angel. Saya amat merasa bersa..” Ucapannya terhenti karena dua jari gadis itu menempel di bibirnya sebagai isyarat agar dia tidak meneruskan ucapannya. Namun perlahan dia melanjut kan ucapannya. “Kalau aku tidak meminta bantuanmu. Tentu diri mu tidak..” “Kalau aku tidak datang ke hotel mu tentu peristiwa itu tak akan terjadi..” potong Angela. Mereka kembali bertatapan. Masih dalam berpelukan.

“Angel…” “Ya?” “Ada yang ingin kusampaikan…” Gadis itu mengangguk dengan masih menatap Si Bungsu. “Ku harap kau tak terkejut….”Angela menggeleng. “Aku tidak hanya mencari pembunuh temanku, tetapi juga mencari seorang gadis…” Si Bungsu berhenti. Dia ingin melihat reaksi gadis itu. Tapi gadis itu tak bereaksi sedikitpun. Tangannya tetap membelai rambut Si Bungsu, matanya tetap menatap mata Si Bungsu, tak berkedip!

“Gadis itu adalah kekasihku..” Si Bungsu menanti dengan berdebar. Namun Angela biasa-biasa saja. “Dia datang ke kota ini. Dibawa lelaki yang bernama Thomas, bekas Kapten Angkatan udara Amerika. Keturunan Ingris-Spanyol. Gadis itu adalah tunangan ku bernama Michiko, gadis keturunan Jepang…”

Si Bungsu berhenti lagi, dan menanti reaksi dari Angela. Dan Angela memang memberikan reaksi, dia merapatkan wajahnya ke wajah Si Bungsu. Kemudian mencium bibir Si Bungsu lama sekali. Kemudian dia menyurukkan wajahnya ke dada Si Bungsu, lalu berkata pelan. “Aku tak peduli siapa yang kamu cari. Juga siapa dirimu. Dan bahkan aku juga tak peduli kalau kau tinggalkan setelah kau temukan kekasihmu itu. Itu hakmu, mungkin aku akan turut gembira atau malah sedih. Aku tak memikirkannya kini.

Yang aku pikirkan kini adalah. Betapa aku akan tetap bersamamu, apalagi kau belum bertemu dengan kekasihmu itu. Atau bertemu dengan gadis lain yang lebih memikat hatimu…”ujar gadis itu dengan mata basah. Sepi.

Si Bunggsu memejamkan mata, merasa jantungnya ada yang menikam pilu. Merasa ada relung hatinya terenyuh, melihat sikap Angela, Perwira polisi Dallas itu. Betapa teguh dia menerima kenyataan ini. Si Bungsu merasakan matanya panas. Berair. Dia tidak menangis. Namun ada sesuatu yang amat menggundahkannya, sesuatu yang tidak dia ketahui.

Berapa panjang lagi jalan hidup berliku seperti ini harus dia tempuh? Dia dekap tubuh Angela dan belai rambutnya. Dia cium rambutnya yang harum. Tuhan, dimana terminal tempatku berhenti. Tempat dimana aku tak lagi diburu rasa bersalah seperti malam ini, bisik hatinya. Ketika subuh besoknya Si Bungsu terbangun. Saat akan kekamar mandi, dia memalingkan wajah kepembaringan. Menatap Angela yang tidur nyenyak.

Wajahnya yang cantik seperti berbinar bahagia. Dia mandi dan mencuci seluruh tubuhnya dan berendam dalam bak dengan air panas. Lalu dia berwudhu dan sembahyang subuh. Ketika dia mengucap salam, dia lihat Angela duduk di pembaringan. Dia melilitkan selimut sebatas pangkal dada.

Memperlihatkan bahagian atas tubuhnya yang bersih. Gadis itu menatap nya dengan mata berbinar. “Engkau   sembahyang?”    Si    Bungsu    mengangguk.    “Engkau    muslim?”    Si    Bungsu    mengangguk “Umat Mohammed?” Si Bungsu mengangguk. Sepi.

Mereka saling pandang. Si Bungsu masih berlutut di lantai yang dialas karpet hijau. Sedangkan Angela di pembaringan yang malam tadi mereka tempati berdua. “Apapun yang telah terjadi bersamamu Bungsu, aku sudah sangat bahagia. Merasa amat bahagia. Dulu aku pernah punya seorang calon suami, kami sama-sama di perguruan tinggi. Suatu hari dia terbunuh dijalan raya. Nampaknya seperti kecelakaan biasa. Tapi aku ragu, aku curiga dia dibunuh.

Sebab dia bintang basket. Saat itu, sepekan akan bergulirnya liga basket di kota Texas ini. Ada yang meminta dia di transfer dengan bayaran yang mahal. Dia menolak, malah dia datang ke pimpinan liganya dan memberitahukan semua nya dan malah dia minta di gaji dengan wajar. Pimpinan liga nya menolak. Dia masih main dua putaran. Ketika didesakkan kenaikan honor yang layak tetap tidak diterima.

Maka dia memutuskan pindah dengan mengambil tawaran bayaran mahal itu dengan fasilitas rumah dan mobil. Dia mengatakan akan menikahiku setelah pindah klub. Tapi,terjadilah musibah itu. Dia mati, seperti mendapat kecelakaan. Setamat dari universitas, saya memutuskan untuk masuk kepolisian. Setahun berdinas, saya ceritakan kecurigaan saya itu ke atasan.

Dia berjanji akan membantu saya menyelidiki, ternyata dugaan saya benar. Kekasih saya itu dibunuh oleh orang dari bekas klub nya itu. Mereka diseret kemeja hijau. Dan saya tetap berdinas dalam kepolisian…”Angela diam sejenak. Memandangkan kedepan seperti menatap masa lalunya yang amat pedih. Si Bungsu bangkit menghampirinya, memeluk dan membelai rambutnya. “Mandilah, mungkin hari ini banyak yang akan kita kerjakan…”bisiknya.

Angela bangkit, tegak rapat di depan Si Bungsu. Menatap anak muda itu dengan matanya yang basah. Kemudian mencium pipinya dan berjalan kekamar mandi. Selesai sarapan, mereka berkumpul diruang tengah. Jumlah mereka berlima yaitu, Bungsu, Angela, Yoshua, adik yoshua Pipa Panjang dan keponakan mereka Elang Merah.

Atas pertimbangan, bahwa Elizabeth tak mungkin tinggal sendirian dirumah, khawatir ada apa-apa, maka salah satu dari mereka harus tinggal menemani. Yang tinggal adalah pipa panjang. Mereka merencanakan akan bergerak dalam dua kelompok, yang pertama Angela dan Si Bungsu, yang akan mendatangi alamat pembunuh Tongky, yang disebutkan oleh Yahudi pemilik rumah judi itu. Sedangkan yoshua dan keponakannya akan pergi ke tempat upacara dimana anaknya di korbankan.

Dia harus mengambil mayat anaknya itu dan menguburkannya di suatu tempat. Sebab jika tidak begitu, arwah gadis itu tidak akan tentram menurut ke percayaan mereka. Dengan dua kelompok ini tujuan yang akan mereka capai tentu akan lebih cepat terlaksananya, makanya kemaren Si Bungsu menyuruh membeli dua buah mobil. Angela menjalankan mobil. Gadis itu memakai baju berwarna merah darah dan sebuah saputangan melilit di lehernya. Mereka sama-sama berangkat dari rumah di sebuah hutan yang terpencil itu. Ketika akan berangkat Yoshua memeluk istrinya Elizabeth. Perempuan kulit putih itu menangis dan memeluk suaminya. Baik Si Bungsu maupun Angela melihat ada semacam kabut misteri dalam kehidupan orang itu. Mereka pasangan ganjil, seorang Indian dengan perempuan kulit putih. Walau saat itu hal ini sudah lumrah, tapi seperti ada hal lain yang melingkupi kehidupan mereka. Apa lagi kalo diingat, Elizabeth adalah perempuan kulit putih yang cantik. Sementara Yoshua, berwajah keras dan kaku. Masih kental Indiannya dan apalagi latar belakangnya sebagai buruh perkebunan.

Namun betapun jua, orang-orang pasti bisa menduga kalau mereka adalah pasangan yang amat mengasihi. Di perjalanan mereka tak banyak bicara. Sebelum berangkat mereka sudah sepakat untuk mendatangi tempat-tempat yang akan mereka tuju. Dan mereka berjanji pada Yoshua. Kalau urusan mereka dan masih hidup akan kembali mendatangi rumahnya.

“Kau melihat sesuatu yang ganjil dalam hubungan Yoshua dan istrinya?” Si Bungsu bertanya tatkala mobil itu memasuki kota. “Seperti ada sesuatu yang terpendam..” sambung Si Bungsu. Angela mengangguk sambil memperhatikan jalan di depannya. Arus lalu lintas kini amat ramai setelah mereka memasuki kota. “Bungsu…” “Ya..?” “Aku takut…” Si Bungsu mencoba menentramkan hati gadis itu. “Kau bisa turun dan menunggu di suatu tempat, Angela. Biarkan saya yang masuk sendiri…” “Tidak. Saya bukan takut pada pertarungan yang akan terjadi. Tapi aku takut akan kehilangan mu…”

Si Bungsu menarik nafas panjang. Dan mereka pun sampai. Di depan mereka ada sebuah bangunan yang tengah dikerjakan. Nampaknya sebuah supermarket. Mesin derek terdengar berdengung mengangkat plat-plat nikel untuk di jadikan dinding. Buruh terlihat mondar-mandir dengan helm plastik warna merah di kepala. Pakaian mereka dari kepar berwarna jingga. Angela memarkirkan mobilnya di deretan mobil para pekerja bangunan tersebut.

Dia membawa tas tangannya. Di dalamnya ada sepucuk senjata pistol magnum. Si Bungsu turun lebih dulu. Angela melihat dan heran, sama seperti kemaren tatkala melihat Si Bungsu, kemana-mana membawa tongkat kayu. Sampai saat ini keingin tahuannya tentang tongkat kayu itu belum terpecahkan apa perlunya tongkat itu dibawa-bawa. Apakah tongkat itu semacam bedil? Melihat model nya yang lurus dan kurus, tongkat itu mustahil sebuah bedil. Dia turun menyusul langkah Si Bungsu.

Mereka memasuki kantor. Bertanya pada seorang security, petugas itu menunjuk sebuah tempat di sudut. Di bahagiaan itu terlihat sekelompok laki-laki tengah istirahat. Mereka juga berpakaian seperti pekerja lainnya. Namun topinya berbeda, sekuriti mengatakan kalau kelompok itu adalah para mandor yang lagi istirahat.

Si Bungsu dan Angela melangkah kesana, setelah menerima badges untuk tamu yang disematkan didada sebelah kiri. Kelompok itu berhenti bicara atau minum tatkala mereka sampai disitu. Seorang lelaki maju sambil menyentuh ujung helmnya sebagai penghormatan kepada Angela.

“Nampaknya Anda mencari seseorang?” katanya ramah. Pertanyaan itu pasti untuk Si Bungsu. “Benar, saya mencari Tuan Macmillan…” “Macmillan?” “Ya.Macmillan…”Seorang lelaki maju. “Tuan mencari saya?” “Anda bernama Macmillan?” “Benar. Ada yang bisa saya bantu?” Angela maju dan memutus. “Macmillan dari Bloomington, apakah Tuan orangnya?” “Oo, kalau begitu bukan saya…” lelaki itu menoleh kiri kanan, lalu berseru pada seseorang di balik tiang sekitar sepuluh depa dari mereka. “Hei, Macmillan! Ada seseorang mencarimu…” Lelaki yang dipanggil itu menoleh dan menghampiri mereka. Di tangannya ada sebuah gelas yang berisi kopi panas. Sementara dua lelaki yang pertama kali bicara dengan Si Bungsu mengundurkan diri setelah mengangguk sopan dan setelah Si Bungsu mengucapkan terima kasih.

Lelaki yang datang itu seorang yang bertubuh besar, berotot kokoh dengan cambang lebat. Si Bungsu merasa jantungnya berdenyut. Inderanya mengatakan, inilah orang itu. Angela mundur beberapa langkah. Kelompok staf yang enam atau tujuh orang itu melanjutkan obrolan mereka. “Halo, Anda mencari saya?” tanya orang itu.

Si Bungsu mengangguk sambil menatap tajam. Samar-samar mengingat kembali orang yang duduk dalam taksi, yang membaca koran tatkala mereka menunggu taksi itu mendekat di depan Hotel Dallas bersama Tongky. Orang itu bertopi, namun samar-samar wajahnya dapat dia ingat. Samar sekali, tapi pasti. “Rasanya kita belum pernah bertemu…” ujar lelaki bernama Macmillan itu. “Anda salah. Kita pernah bertemu….” kata Si Bungsu datar.

Dan lelaki itu menangkap nada yang lain dalam ucapan lelaki asing yang ada didepannya itu. Dia menatapnya juga dengan tajam. “Well, Saya sudah katakan kita belum pernah bertemu, dan saya tak suka gaya anda stranger…!” “Saya tahu, anda tidak menyukai saya seperti saya tidak suka anda..” jawab Si Bungsu. Pertengkaran itu terdengar oleh kelompok pekerja yang ada di belakang mereka. Orang-orang itu tentu saja tertarik dan menghentikan pekerjaan mereka. Lalu menatap pada dua orang itu. “Nah, nampaknya kalian ada urusan penting. Kini saya telah anda temui. Lalu anda mau apa…?

Sebagai jawabannya, Si Bungsu mengembang koran ditangannya. Memperlihatkan pada orang itu. Halaman pertama koran itu memuat gambar Tongky yang tertawa ketika di lapangan Udara Mexico, namun diatasnya di bawah judul besar, tertulis : ’VETERAN PERANG VIETNAM BEKAS PASUKAN BARET HIJAU INGGRIS, MATI TERBUNUH DI DALLAS HOTEL’

Para mandor di belakang mereka juga melihat kekoran itu. Mereka diam tak mengerti. Macmillan juga menatap koran itu. Wajahnya sesaat jadi tegang. Namun cepat dia kuasai dirinya. “Apa yang ingin kau sampaikan tentang itu, stranger?” “Saya ada disana, ketika dia terbunuh. Dan juga anda disana Tuan Mac Millan..” “Anda keliru, stranger. Saya tak pernah pelesiran di hotel mana pun..” “Anda memang tidak pelesiran. Anda kesana untuk membunuh veteran perang Vietnam tersebut…” sepi. Semua terdiam. Sepi yang mencekam. “Anda salah menuduh orang, stranger..” “Tidak, saya punya saksi. Yahudi pemilik rumah judi yang sekarang sudah mati..” Lelaki itu tiba-tiba berbalik dan berjalan menuju kearah temannya. Namun Si Bungsu terdengar berkata. “Jangan meninggalkan tempatmu, Macmillan…” “Stranger, Anda mencari gara-gara…”

“Tidak, saya menuntut kematian teman saya..”

Nah, kini jelas sudah. Lelaki itu tertegun. Lelaki-lelaki yang lain, yang enam atau tujuh orang itu juga terdiam. Seseorang berbicara dari kelompok mandor itu. “Well, Tuan. Saya juga membaca koran itu beberapa hari yang lalu. Menurut koran itu dia terbunuh oleh orang Klu Klux Klan, begitu bukan?” “Anda benar tuan,…” jawab Si Bungsu tenang. Lelaki itu batuk beberapa kali, kemudian terdengar dia bertanya.

“Nah, kalau yang membunuhnya adalah orang Klu Klux Klan, apa hubungannya dengan Macmillan?” “Dia bahagian dari kelompok itu, Tuan…” Para pekerja itu kaget. Mereka menatap pada Macmillan dari Bloomington itu, kemudian menatap pada Si Bungsu. ‘Saya tak berniat melayani anda, stranger. Anda ngawur…” “Saya punya saksi, seorang perwira polisi..” Si Bungsu menunjuk pada Angela. Angela mengeluarkan Badge polisi identitasnya yang terbuat dari kuningan sebesar kartu dari dompetnya. Memperlihatkan pada orang itu. “Saya mendengar pengakuan seseorang tentang pembunuhan itu. Dan Tuan adalah orang yang melakukannya..” Angela berkata tegas.

Macmillan tiba-tiba bersuit. Isyaratnya terdengar oleh hampir semua orang. Tak lama, empat laki-laki berpakaian buruh muncul ditempat itu.muncul dengan berbagai macam alat pemukul. Ada yang membawa linggis, ada yang membawa kayu sedepa. Si Bungsu masih tegak ditempatnya. Sementara kelompok mandor itu mundur. Mereka jadi takut berurusan, ini masalah Klu Klux Klan.

Mereka benar-benar tak menduga kalau dalam kelompok mereka ada seorang pembunuh dan beberapa orang buruh berada dalam kelompok Klu Klux Klan yang di takuti sekaligus dibenci. Keempat lelaki itu mengurung Si Bungsu. Macmillan nampaknya sudah bersiap-siap sejak jauh hari. Mereka tahu lambat atau cepat, identitas mereka akan diketahui. Karena itulah sebagai mandor dia menyusupkan beberapa orang anggotanya untuk melindungi dirinya dari berbagai kemungkinan.

“Selesaikan dia, ..kecuali perempuan itu..” ujarnya sambil bergerak untuk pergi. “Anda jangan pergi, Macmillan…”ujar Si Bungsu. Macmillan berhenti tersenyum. “Saya takkan pergi jauh stranger, saya akan menyaksikanmu di buat mainan..” Dan dia bergerak lagi, namun Si Bungsu kembali mengingatkannya. “Selangkah lagi anda menjauh, Macmillan. Anda tak akan sempat lagi menyesal” Tiba-tiba Macmillan berbalik, dan gelas ditangannya dilemparkan kemuka Si Bungsu. Jarak mereka hanya sekitar lima depa. Lemparan itu demikian terarahnya, menuju lurus kemuka Si Bungsu. Namun sekali sabet dengan tongkat kayunya, gelas itu hancur bertaburan. Angela kagum juga melihat ketangkasan Si Bungsu dengan tongkatnya itu. “Selesaikan bajingan itu..!” perintah Macmillan sambil berbalik melangkah pergi.

Namun tiba-tiba langkahnya terhenti seiring dengan teriakan sakit dan kaget oleh lemparan Si Bungsu. Tongkat itu jatuh kelantai setelah menggetok kepalanya. Dengan marah yang tak terkendali dia mencabut pistol dari bajunya. Angela sadar bahaya akan mengancam. Dia merogoh pistol dalam tasnya. Celaka tasnya tertutup. Dia harus membuka resleting penutupnya. Sebelum tasnya terbuka, moncong pistol Macmillan sudah terarah ke arah Si Bungsu. Namun hanya sampai di disitu, saat terdengar ucapan Si Bungsu. “Sudah kukatakan, selangkah lagi anda menjauh, Anda takkan sempat lagi merasa menyesal…” ucapan itu diiringi kibasan tangan kanannya ke arah macmillan.

Sedetik setelah itu, kepala Macmillan tersentak. Tubuhnya tertegak. Di antara dua matanya tertancap sebilah samurai kecil. Tegaknya kembali tertegak lurus, sesaat kemudian tubuhnya rubuh kearah depan. Wajah dan keningnya terhempas ke lantai beton. Samurai kecil di antara alisnya tertekan amblas kedalam! “Itu pembalasan atas kawanku.Negro yang kau bunuh di depan Hotel Dallas..” ujar Si Bungsu perlahan.

Sampai disitu, orang-orang yang menyaksikan itu hanya terlongo-longo. Macmillan terkenal jagoan yang jarang menemukan lawan seimbang. Kini mereka melihat betapa orang yang mereka takuti itu mati dalam waktu yang singkat tanpa sempat berbuat apapun! Dia sudah mencabut dan menodongkan pistolnya pada orang asing itu, namun kibasan samuarai kecil orang asing itu jauh lebih cepat!

Tapi empat orang anak buah Macmillan itu belum paham apa yang terjadi. Mereka dengan kayu dan linggis ditangan, serentak maju dari empat posisi mengerubuti Si Bungsu. Dan terjadilah apa yang harus terjadi! Ke empat orang Klu Klux Klan yang sangat di takuti itu terjengkang malang melintang. Yang datang dari depan dengan linggis, di hantam hidungnya oleh Si Bungsu dengan pukulan yang amat telak.

Linggisnya masih dalam posisi diatas kepala untuk dihantamkan kekepala Si Bungsu saat orang asing itu menghantam hidungnya. Dan mematahkan empat giginya, dia jatuh dengan berlutut menahan sakit. Yang dikanan dan belakang kena sepakan yang membuat dada mereka seakan pecah. Dengan mata melotot dan memuntahkan darah mereka terpelanting dan roboh kebelakang. Yang dikiri yang menyerang dengan sepotong kayu, kena sapu kakinya. Jatuh berdebum dan sebuah hentakan tumit didada membuat dia berhenti bernafas.

Hanya hitungan detik, perkelahian itu selesai. Dan lima orang anggota Klu Klux Klan itu pada terbelintang, termasuk Macmillan. Mandor yang lain, yang tadi mengobrol dengannya, hanya menatap dengan diam. Di hati mereka tersimpan rasa jijik dan takut. Jijik dan takut pada kelompok Klu Klux Klan yang terkenal tidak berperikemanusiaan itu. Mereka benar-benar tak menduga, bahwa diantara mereka, ada orang dari kelompok pembunuh itu. Dan mereka benar-benar tak pernah menduga, ada lelaki asing yang demikian tangguhnya.

Si Bungsu perlahan melangkah kearah mayat Macmillan yang tertelungkup. Darah menggenang di lantai beton di bawah wajahnya. Di balikkannya badan Macmillan, kemudian mencabut samurai kecil yang menancap di kening Macmillan. Perlahan di sengsengkan lengan bajunya sebelah kanan. Di lengannya itu terlilit ban karet tipis, dan disana masih ada dua samurai kecil yang terselip. Si Bungsu menyisipkan samurai kecil yang tadi menempel di jidat Macmillan.

Kemudian menutup lengan bajunya. Semua gerakan itu seperti sengaja dia perlihatkan kepada semua orang yang ada disitu, termasuk pada Angela yang masih mengenggam Magnum yang tak sempat dia gunakan. Kemudian mengambil samurai yang tadi dia gunakan menjitak kepala Macmillan.

“Maafkan aku Angel, kau menyangsikan kekerasan yang aku lakukan pada orang sebangsa mu..” ujar Si Bungsu saat sudah berada di mobil yang di sopiri Angela. Gadis itu meminggirkan mobil di bawah bayang- bayang sebatang pohon oak yang rimbun. Dia menatap Si Bungsu yang menunduk diam. “Peluk aku..please”ujarnya.

Perlahan Si Bungsu menoleh dan mereka bertatapan, Si Bungsu merangkul gadis itu, yang kemudian merebahkan kepalanya didada Si Bungsu. Lama mereka terdiam sambil berpelukan. Perlahan Angela meraih tangan Si Bungsu, menyingkap lengannya dan memperhatikan tiga samurai kecil yang tersisip disana. “Kini engkau percaya kalau aku sudah membunuh puluhan orang,bukan…” Angela tidak menjawab, dia masih memperhatikan samurai-samurai kecil itu. Banyak yang ingin dia katakan. Terutama pada kekagumannya pada lelaki tangguh ini dalam mempertahankan hidupnya yang amat keras. Namun dia tak tahu harus memulainya dari mana. Sepi! 

Yoshua, Indian yang menolong Si Bungsu itu, menjalankan mobilnya dengan pelan ketika memasuki tempat dimana malam sebelumnya dia masih ditahan. Dia menghentikan mobilnya jauh diluar pekarangan. Dibawah bayangan pohon. Lalu mereka berdiam sejenak di dalam mobil memperhatikan situasi pada ketiga bangunan yang ada di bahagian depan sana. Sepi.

Kemudian Yoshua dan keponakannya, Elang Merah turun dari mobil. Kedua mereka berbekal bedil dan kampak di pinggang. Mereka berpencar, Yoshua masuk dari arah depan kiri, ponakannya dari samping kanan. Bangunan itu kelihatan sunyi. Namun kedua Indian itu dapat membau bahaya dari gedung-gedung yang kelihatan sepi itu. Indera mereka yang terkenal tajam, yang mereka warisi dari nenek moyangnya, meski telah puluhan tahun hidup dikota, tetap saja masih mereka miliki.

Yoshua segera menelungkup ditanah, sebelum serentetetan tembakan membongkar tanah sejengkal dari tempatnya. Dia berguling kekanan. Masuk keparit kecil tatkala tempat sekitarnya di hujani tembakan yang gencar. Sepi. Lapangan di sekitar bangunan itu di tumbuhi rumput setinggi lutut. Sebenarnya tidak ada yang bisa sembunyi dari sana selain tikus dan marmut. Namun kedua Indian itu lenyap dari pandangan, tak ada benda lain yang bergerak.

Lambat-lambat ada bunyi burung. Elang Merah tahu itu isyarat dari pamannya si yoshua tua. Isyarat itu menyuruhnya untuk melindungi Yoshua dengan membidik arah jendela dimana tadi terdengar tembakan gencar. Yoshua menanti beberapa saat, kemudian terdengar suara burung yang sangat sulit membedakannya dengan suari burung asli. Suara burung itu belum lenyap, ketika tiba-tiba Yoshua bangkit dan memekik dengan suara khas suku Indian Apache yang berperang.

Dia melintasi padang rumput itu kearah rumah. Empat langkah dia maju, dua buah laras bedil mencuat dari jendela. Saat itu pula Elang Merah yang sejak tadi mengawasi jendela itu bangkit dan menembak. Rentetan tembakannya itu mengakibatkan ujung bedil di jendela itu lenyap bersamaan suara raungan. Tapi pada saat yang bersamaan si Elang Merah juga dihujani tembakan dari gedung yang dibelakang. Dia terpelanting. Sepi. Yoshua lenyap dari pandangan. Elang Merah lenyap dari pandangan.

“Setan..” rutuk seseorang dari rumah depan. “Mereka tetap saja Indian yang buas…” bisik orang yang satunya, yang tadi menembak Elang Merah. Mereka tak dapat melihat dimana kedua Indian itu bersembunyi. Padahal didepan mereka hanya rerumputan setinggi betis. Ada gonggong anjing perlahan. Sepi.

Gonggong anjing lagi, juga perlahan. Orang-orang Klu Klux Klan di kedua gedung itu menatap ketengah padang rumput di sekitar rumah, yang mereka tempati. Mencari suara gonggong anjing yang lemah itu. Namun tak di ketahui dimana. Yoshua tahu, lewat isyaratnya menirukan gonggong anjing itu, bahwa ponakannya luka. Dia juga tahu lewat suara anjing, yang mereka tirukan dengan sempurna itu.Yang hanya suku mereka saja yang mengetahui artinya, bahwa luka ponakannya itu tidak parah. Hanya luka dibahu kanan.

Dia membuka bajunya dengan tetap telentang ditanah, kemudian dengan menghimpun tenaga dia melemparkan bajunya itu jauh-jauh, lalu dia sendiri bergulingan menjauh dari tempatnya. Hanya beberapa detik, kedua tempat itu, yaitu tempat bajunya jatuh dan tempat dia melemparkan baju itu tadi, segera dihujani tembakan. Namun Elang Merah sudah tak disana.

Dan yang lebih penting, Yoshua berhasil memanfaatkan kejadiaan yang dia rencanakan itu untuk merangkak dengan keahlian yang amat lihai, hingga dia berada rapat didinding tak jauh dari jendela dari mana tembakan itu berasal.

Dia menanti dengan beberapa saat kemudia dengan isyarat lagi dengan siulan mirip suitan angin. Dan saat itu Elang Merah yang sejak tadi tiarap ditanah, Bangkit berdiri.Menatap kejendela dengan berkacak pinggang. Dua anggota Klu Klux Klan sesaat heran, kemudian bergerak cepat menembak. Mereka mengangkat bedil hampir serentak, sebab sasaran yang begitu empuk belum tentu datang sekali setahun. Nyaris tanpa membidik mereka menembak.

Namun hanya sepersekian detik, tiba-tiba mereka dibuat kaku. Di depan mereka tiba-tiba berdiri seorang Indian bertubuh besar kukuh, seperti munculnya hantu. Dengan wajah di gambari merah hitam, seperti suku-suku Indian yang tengah berperang di tahun 1800-an dulu. Kedua anggota Klu Klux Klan itu jantungnya seperti berhenti berdetak melihat kehadiran yang tiba-tiba itu. Kehadiran sosok yang jaraknya hanya sejengkal didepan batang hidung mereka. Dan yang muncul itu tak lain tak bukan adalah Yoshua. Ketika kedua anggota Klu Klux Klan ini masih tertegun, saat itu pula kampak besar ditangan Yoshua beraksi. Yang seorang belah kepalanya. Yang seorang lagi saking kagetnya mencampakkan bedilnya, kemudian balik kanan, lari! Namun belum sampai di pintu, dia tersentak, punggungnya terasa amat sakit. Sakitnya sampai kehulu hati.

Dia mencoba menggapai, namun tubuhnya rubuh. Kampak besar itu menancap persis di tulang punggungnya. Kampak besar Indian itu “telah digali”. Perang telah dimulai. Dalam waktu singkat Elang Merah telah berlari menghambur masuk kekamar dimana Yoshua telah menanti. Dia melihat kedua tubuh anggota Klu Klux Klan itu. Tanpa bicara mereka mengambil bedil kedua anggota Klu Klux Klan itu berikut pelurunya. Membuang bedil mereka sendiri. Lalu tegak seperti mendengar sesuatu.

“Joe..!” “Joe.., Moran! Kalian dengar aku memanggil?” Sepi. Kedua Indian itu saling pandang, dan merapatkan badan kedinding. Orang yang memanggil itu semakin dekat. Detak sepatu nya dilantai semakin jelas. “Joe..Moran..!”

Pintu terbuka. Dan orang yang memanggil itu tertegak ketika didepanya tiba-tiba melihat dua orang Indian dengan telanjang dada tegak menatapnya. Dia adalah anggota Klu Klux Klan, yang barangkali sudah banyak membunuh orang. Namun kini berhadapan dengan dua orang makhluk yang dua orang itu, Indian yang laksana dewa ngamuk itu, lengkap dengan bedil dan kampak yang lebar yang berlumur darah, anggota Klu Klux Klan itu menggigil. Sialnya senapannya menghadap kebawah, jadi kalau dia menembakannya akan mengenai lantai.

Untuk mengangkat bedil itu dan mengarahkannya kepada Indian tersebut, dibutuhkan waktu. Sedangkan jarak mereka tak sampai sedepa. Dan yang lebih penting, dia tak punya tenaga untuk mengangkat bedilnya untuk di bidikkan ke Indian itu. Tak ada daya. Dia tetap saja tegak dengan badan menggigil dan berpeluh. Indian itu mengambil senapannya, dia lepaskan saja bedilnya tanpa perlawanan sedikitpun.

Malah dihatinya berharap kalau Indian itu akan melepaskannya setelah mengambil senapan itu. Tapi rintihan sukmanya tak makbul. Indian itu kini memegang tangannya, kemudian perlahan membawanya masuk kekamar dimana temannya telah bergelimpangan jadi mayat, dia nyaris rubuh ketakutan.

Namun dia keraskan hatinya untuk tetap tegak. Indian itu, Yoshua, membawanya terus ke jendela. Menunjuk keluar ke padang rumput setinggi rumput dimana tadi dia datang. Kemudian Yoshua memberi isyarat. Anggota klu itu mengerti, dia mengikuti isyarat itu. Menanggalkan seluruh pakaiannya sehingga tinggal kolor saja. Lalu dia memanjat bendul jendela. Melompat keluar dan tegak diatas rerumputan. Menoleh kedalam, kearah Yoshua Indian itu memberikan sebuah bedil yang berisi penuh, kemudian mengangguk dan berkata pelan seperti berbisik.

“Kuberi kau kesempatan sepuluh hitungan, larilah lurus kedepan, kemudian merangkak tiarap di rerumputan itu. Jika kau lolos dari tembakan kami, kau bebas. Sekarang..satu….!”Indian itu mulai menghitung, anggota Klu Klux Klan tak berpikir panjang, dia lari sekuat tenaga. Lari….! dia seperti mendengar suara Indian itu berisik di pangkal telinganya : Dua..Tiga…Empat…Lima…Enam…Tujuh! Ketika sampai ditempat dia rasa aman, pada hitungan kedelapan dia menjatuhkan diri. Tiarap di dalam lekuk yang dia rasa cukup aman. SEPI.

Di kejauhan dia dengar Indian itu berhenti di hitungan kesepuluh. Dia menanti Sepi. Angin berhembus pelan. Dia telungkup dan berpikir, bagaimana keluar dari sini? Mereka hanya berlima, dua orang sudah mati duluan. Dua orang lagi baru saja dia tinggalkan bangkainya dikamar dimana Indian itu. Kini hanya tinggal dia sendiri.

Dia harus selamat. Dia punya seorang Istri dan seorang’piaraan’yang masuh beusia belia. Dia sudah empat puluh tahun dan anaknya ada tiga orang. Yang besar sudah diperguruan tinggi. Tapi ‘piaraan’nya masih berusia lima belas. Bertubuh montok dan masih sekolah di tingkat SLTP! Masih amat muda, tapi amat mahir bercinta. Mahir benar. Mahir luar biasa!

Tidak, dia tak mau mati ditangan Indian celaka itu. Dan dia harus hidup, Dan… Dia mulai merayap rendah ditanah dirumput setinggi betis. Dia tak pernah melakukan ini. Tapi kini dia harus coba, kepala tetap serendah mungkin, agar tak kena tembak. Ada semut menggigit tangan dan punggungnya. Dia berhenti dan memaki, berbaring diam. Dia tak berani mengangkat tangan mengusir semut itu takut tangan nya melewati lalang dan tangannya kelihatan oleh si Indian itu.

Dia bergerak lagi, dan tiba-tiba sebuah tembakan bergema. Sebuah lagi. Dia mengkerut ditanah. Namun tembakan itu diarahkan tiga depa dari tangannya. Kalau begitu, Indian itu tidak tahu dimana dia berada. Mereka hanya menembak semak yang bergoyang di tiup angin, yang disangka dirinya. Dia gembira,dan merangkak lagi. Didepan dia ada sebuah parit kecil. Bergegas dia merayap kesana, sesaat sebelum dia menjatuhkan diri keparit itu, dia lihat jejak tubuh bekas merayap. Dia segera tahu. Kalau bekas itu adalah rayapan si India ketika mendekati rumah itu.

Dia gembira, kalau begitu dia menemukan jalan yang tepat. Parit ini pasti menuju parit yang lebih besar di ujung sana. Dia bersyukur. Dan tanpa meghiraukan rasa penat, dia mulai merayap keparit itu. Merayap disepanjang jalur parit. Indian sialan itu pasti tidak melihat gerakannya. Dia tak menyentuh ilalang sedikit pun! Dia hampir sampai diujung parit sana, sedikit lagi… kini dia sampai. Dia tak peduli bedil tadi dia tinggalkan. Persetan dengan bedil. Bedil itu hanya memperlambat dia bergerak dan merayap. Yang penting

bagaimana keluar secepatnya dari semak itu. Dan lari dari kedua Indian Jahanam itu.

Tubuhnya sudah penuh lumpur parit itu ketika dia sampai diujungnya. Dia masih merangkak sesaat lagi. Setelah merasa aman, baru dia bangkit dengan perlahan. Namun tiba-tiba, jantungnya nyaris copot. Didepannya, hanya berjarak sehasta dari tempat dia, Indian itu telah berada disana menghadangnya.!

Dia tegak dengan mata melotot, melihat Indian yang tak lain adalah Elang Merah. Indian itu menatapnya tanpa berkedip. Melihat si Indian hanya sendiri dan tak bersenjata, timbul sedikit keberaniaan dari hati anggota Klu Klux Klan yang kini hanya bercawat itu.

Dia tiba-tiba menubrukkan kepalanya keperut Indian itu. Namun Elang Merah sudah siap, tubrukan itu dia sonsong dengan pukulan tangannya. Pukulan itu tentu saja mendarat di ubun-ubun si anggota Klu Klux Klan itu. Demikian telaknya, demikian kuatnya hingga anggota Klu Klux Klan itu terjengkang dua depa dan meraung kesakitan sambil memegangi ubun-ubunnya.

Dia merasa seakan kepalanya bolong tentang ubun-ubunnya. Dia menggelepar dan menyesal meninggalkan bedilnya entah dimana. Kemudian bangkit tapi buru-buru merangkak lagi. Kali ini habislah sudah keganasannya sebagai anggota Klu Klux Klan.

Punahlah sudah kehebatannya yang tersohor itu. Jika bersama-sama mereka seperti harimau kelaparan. Bunuh sana, bunuh sini, tembak sana, tembak sini, pukul sana pukul sini. Tapi kini didepan Indian itu dia seperti cacing. Dia merangkak dan dia mencium tanah.

“Ampunkan aku, aku akan berikan kau uang yang banyak sekali. Jangan bunuh aku, aku punya anak dan istri.    Jangan    ambil    nyawaku…”     katanya     sambil     menangis     dan     menyembah-nyembah. “Berdirilah dan larilah kepadang rumput itu. Dan carilah bedilmu…” kata Elang Merah dingin.

Kali ini lelaki itu bangkit, dengan menangis dia menyeruak ilalang, mencari bedil yang tadi dia tinggalkan. Jejaknya dengan murah di ikuti. Dan dengan mudah juga bedil itu dia peroleh. Dia menoleh ke si Indian itu sebelum memungut bedil itu. Indian itu masih tegak di tempatnya.

Tak bersenjata sebuah pun.! Tapi kalau pun dia bersenjata, kapak misalnya. Maka lemparannya tak akan sampai walau sekuat tenaga! Indian itu jelas tak bersenjata. Kedua tangannya menggantung disisi tubuhnya, wajahnya coreng-coreng seperti Indian jaman dulu.

Mungkin Indian babi itu menyangka, aku tak akan menemukan bedil ini. Dengan cepat dia menunduk dan mengokang senjatanya. “Babi, merangkak kau. Kalau tidak merangkak kemari. Kau akan kubunuh babi..!” Elang Merah tetap tegak dengan dada di busung.

“Ayo merangkak babi, aku hitung sampai tiga, kalau tidak akan ku bunuh kau. Satu, Dua..” Dan karena Indian itu tak bergerak maka dia benar-benar menembak. Dan dalam seperdetik, dua letusan bergema. Elang Merah masih tegak ditempatnya, dan anggota Klu Klux Klan itu tersentak. Dan seperti ada yang menembus punggungnya.

Bedil memang meledak tapi beberapa detik setelah ledakan pertama, dari punggungnya terdengar tembakan. Dia jatuh terlutut dan bedil masih ditangannya. Dia menoleh dan dari jendela rumah itu terlihat Yoshua si Indian tua itu, terlihat memegang bedil yang masih berasap. Anggota Klu Klux Klan jatuh tertelungkup diatas semak setinggi betis.

Yoshua segera menemukan mayat Choncitta, dia tutupi tubuh anaknya itu kemudian membawanya ke mobil. Sedangkan Elang Merah menyiram bensin yang terdapat digudang, keseluruh gedung. Mereka pergi dari sana setelah api berkobar marak dan ganas di musim panas hari itu.

Mereka berkumpul lagi dirumah Yoshua. Si Bungsu dan Angela tiba lebih duluan. Mereka di sambut oleh Elizabeth, isteri Yoshua, tegak dengan bedil ditangan dengan sikap waspada. Bedil dia letakkan kedalam setelah mengetahui siapa yang datang. Elizabeth segera meletakkan makan siang untuk para tamunya. Angela datang membantu. “Yoshua dimana?” tanya Elizabeth. Jelas nadanya sangat mencemaskan suaminya. “Dia akan pulang dengan selamat, tenanglah…” bujuk Angela menggenggam tangan separoh baya itu. Elizabeth tak dapat menahan kecemasannya. Dia menangis meski nampak untuk tak meneteskan airmata. “Dia segala-galanya untukku. Dia tak hanya suami tapi juga ayah dan sahabat bagi kami…” bisiknya lirih.

Saat menanti kedatangan Yoshua itulah, Elizabeth yang masih kelihatan cantik itu bercerita tentang dirinya. Cerita yang mengungkapkan misteri yang sejak kemaren sudah ”tercium” oleh Si Bungsu dan Angela. Gadis yang meninggal itu benar anak kandungnya, tapi bukan anak Yoshua.

Anak itu hasil hubungannya dengan seorang laki-laki yang bekerja di perusahaan. Namun setelah dia hamil, lelaki itu meninggalkannya begitu saja. Ketika dia menuntut untuk bertanggung jawab, justru lelaki itu mengirim tukang pukul dan penjahat yang nyaris membunuhnya.

Elizabeth dilemparkan ke sungai setelah dianiaya. Nampaknya seolah-olah seperti kecelakaan. Elizabeth tak kuasa untuk mengadu. Uang nampaknya berkuasa. Dia luntang lantung dalam keadaan hamil dan melarat sekali. Saat demikianlah dia bertemu dengan Yoshua. Indian itu membawanya kerumahnya, memberinya makan dan pakaian.

Merawatnya hingga sembuh. Elizabeth bersumpah dalam hati, apapun yang terjadi setelah itu dia akan tetap mengabdi pada Indian itu. Betapa tidak, lelaki yang menghamilinya ternyata hanya menginginkan tubuh dan kecantikannya saja. Dan lelaki Amerika manapun tak seorangpun mengulurkan tangan untuk membantu. Justru seorang Indianlah yang membantunya.

Anak itu lahir dirumah Yoshua. Lahir tampa pertolongan seorang dokter. Waktu itu kehidupan Yoshua sangat sulit. Tapi dia pernah menolong kelahiran secara Tradisional. Dialah yang membantu kelahiran dengan selamat dan anak itu mereka beri nama Conchita.

Elizabeth sangat terharu, betapa penuh perhatiannya Yoshua pada anaknya, pada dirinya. Diam-diam tanpa dapat dihindari rasa cinta yang tulus tumbuh dihatinya pada Indian yang berusia lebih tua darinya. Tapi suatu hari ketika Conchita berusia tiga tahun, ketika dia sudah sehat benar, Yoshua menawarkan agar dia meninggalkan rumah itu. Tentu saja Elizabeth amat terkejut.

“Apa..apakah kami sangat memberatkan mu, Yoshua?” Indian itu menggeleng. “Engkau masih muda dan cantik, Nona. Masa depanmu pasti cerah kalau menggalkan rumah reotku ini..” “Apakah kau tidak menyayangi kami?” Yoshua diam. Seperti merenungi hidupnya yang sunyi. “Aku mencintai anakmu Nona, tapi…” “Kau tak mencintaiku?” “Tidak…”

Elizabeth seperti ditikam jantungnya. Dia ingin mendengar Indian itu berterus terang. Dia bukannya tak tahu, banyak lelaki Amerika yang akan tergiur pada kecantikan dan kemontokan dirinya. Tapi Indian ini seperti teluk yang sangat dalam dan amat tenang, tak beriak sedikitpun permukaanya.

Tak dapat diduga apa yang terjadi didalam sana. Elizabeth ingin tahu apa pendapat Indian yang sangat di hormati itu tentang dirinya. Dan ketika Indian itu berterus terang, bahwa tidak mencintainya, dia benar- benar merasa tertikam untuk sesaat dia tak dapat bicara.

“Apakah..apakah karena diriku yang sudah ternoda itu sehingga engkau tak mencintaiku…” “Bagiku kau tak bersalah Nona. Kau adalah wanita cantik dan lembut. Yang pantas dicintai lelaki terhormat…” “Lalu kenapa….” “Sudah kukatakan, kau layak dicintai lelaki terhormat. Bukan seorang Indian sepertiku. Aku tak mencintaimu karena kau berkulit putih. Adalah aib bagi kalian, kalau mencintai seorang Indian, bukan?” ujar Yoshua perlahan.

Apa yang dikatakannya adalah kebenaran mutlak. Kebenaran tentang perbedaan kelas yang hidup subur ditengah masyarakat kulit putih Amerika. Elizabeth merasa ditikam jantungnya. Ternyata karna itulah, kenapa selama ini dia bersikap dingin terhadapnya.

Namun Elizabeth tak mau meninggalkan rumah itu. Dia tetap tinggal disana, hingga akhirnya telah tiga tahun sejak itu, Yoshua berhasil dia yakinkan kalau dia memang benar-benar mencintainya. Mereka akhirnya menikah dan membesarkan conchita dengan penuh kasih sayang.

Yoshua adalah suami yang penuh kasih sayang dan bertanggung jawab, dia juga punya toleransi yang besar. Baik sesama orang Indian maupun terhadap orang Amerika lainnya. Apakah kulit putih atau negro. Pernah suatu kali elizabeth meminta mencari lelaki yang pernah menghamili dan mengirmkan orang untuk membunuhnya. Agar yoshua membalaskan dendamnya. Namun Yoshua memeluk Elizabeth dengan penuh kasih sayang dan berkata :

“Aku tak mungkin memenuhi permintaan mu itu, justru aku malah berterima kasih padanya. Jika dia tak berbuat begitu padamu, misalnya saja dia mau bertanggung jawab dan menikahimu, maka aku tak akan pernah menikahi wanita kulit putih yang cantik dan baik hati sepertimu…” Elizabeth merasa terharu. Dia peluk lelaki itu dan menangis didadanya yang kukuh dan perkasa. Demikianlah hidup yang mereka jalani hari demi hari. Yoshua bekerja di sebuah perkebunan dan Elizabeth tetap dirumah. Secara materil memang hidup mereka amat bersahaja, namun elizabeth benar-benar amat berbahagia.

Si Bungsu dan Angela terdiam mendengar kisah Elizabeth. Tak lama kemudian, orang yang mereka tunggu, Yoshua dan Elang Merah, muncul dengan sedan mereka. Elizabeth memburu keluar. Demikian juga Pipa panjang, Yoshua membopong jenazah Conchita. Anak gadisnya yang terbunuh dalam upacara ritual di markas Klu Klux Klan.

Elizabeth tegak melihat tubuh anaknya yang sudah tak bernyawa itu. Yoshua terus membawanya ke belakang, rumahnya terletak dalam palunan rimba yang tak diketahui orang. Dan halamannya di penuhi pohon- pohon besar. Sebuah altar dari balok-balok kayu telah disiapkan pipa panjang. Di altar itu tubuh conchita di rebahkan ayahnya.

Malam itu Yoshua, Elang Merah dan Pipa Panjang mengadakan ritual untuk jenasah itu menurut adat atau upacara suku mereka. Yoshua duduk sedepa dari mayat anaknya. Bersila diam dengan mata terpejam, pipa panjang duduk tentang kepala mayat dengan hanya memakai cawat dan tubuh dipenuhi gambar-gambar perang suku Indian sioux dan tombak ditangan. Di bahagian kaki duduk Elang Merah dengan sebuah gendang kuno yang secara perlahan, dan tetap dengan nada yang ritmenya penuh daya magis, membunyikannya terus menerus.

Dum-Dum…Dum!Dum-Dum…Dum!Dum-Plak…Dum-Dum…Dum! Bunyi gendang yang perlahan itu bergema dalam hutan sunyi itu. Lewat tengah malam, Yoshua menyanyi, atau seperti nyanyianlah yang terdengar ditelinga Si Bungsu dan Angela. ”Ooooo. Trixno o polino sinumux Tre O ohano ferima enrima senrima pilano Oooo. Trixno o polino-polino..”

Ucapan-acapan yang tak dimengerti Si Bungsu dan Angela. Bahasa yang dipakai pasti bahasa Indian Suku Sioux yang hanya mereka mengerti. Namun nyanyian seperti meratapi kepergian Conchita, sayu dan lembut. Atau barangkali ucapan selamat jalan dan doa-doa untuk para Dewa.

Upacara tersebut berlangsung sampai subuh. Si Bungsu dan Angela yang masuk kamar tidur pada jam dua tengah malam, ketika terbangun suara itu masih terdengar dan mendayu bertalu-talu dan berdentam pelan. Dan nyanyian Yoshua masih bergetar menyelusup di antara sejuknya udara pagi.

Angela mengintip lewat jendela, posisi ketiga Indian tersebut masih seperti kemaren. Pipa Panjang masih tegak tentang kepala dengan tombak ditangan yang ujungnya ditancapkan ketanah. Elang Merah masih bersimbuh dekat kaki sambil membunyikan gendang itu. Yoshua masih bernyanyi, nyanyian mirip gumaman.

Ketiga mereka bertelanjang dada. Dada dan muka mereka masih dipenuhi cat berwarna hitam, merah dan putih. Barangkali semacam gambar-gambar Indian yang akan berperang melawan musuh dan yang mengaharukan, Elizabeth juga tetap duduk bersimpuh tak jauh di belakang suaminya.

Dia duduk diam mengikuti acara upacara ritual yang pasti tak dimengerti itu. Namun kecintaan pada anak dan suaminya, membuat segala beban dan penderitaan jadi ringan bagi perempuan itu. Paginya, upacara yang nampaknya belum akan selesai. Angela segera kedapur, menyiapkan makanan untuk mereka semua. Dia ragu untuk memberikan kopi atau makanan kepada ketiga Indian itu. Namun untuk elizabeth dia mengantarkan segelas susu berikut roti bakar dan daging.

Perlahan dia sentuh pundak Elizabeth. Perempuan itu membuka matanya yang terpejam, menoleh pada Angela. Angela menyodorkan sarapan pagi itu, Elizabeth tersenyum dan menggeleng pelan. Angela tertegun, betapa keras hati dan setianya perempuan Amerika ini demi membalas budi Indian yang menyelamatkan nyawa dan hidupnya itu. Dia tak bersedia mengecap makanan apapun, sebelum ketiga Indian itu makan dan minum terlebih dahulu.

“Dia perempuan yang sangat mencintai Yoshua…” bisik Angela pada Si Bungsu yang di teras belakang menatap upacara ritual yang amat lama itu. Elizabeth kembali memejamkan mata. Kemudian dengan tetap bersimpuh diatas kedua lututnya, dia menunduk dan mendengarkan nyanyian ritual tersebut. “Kita tunggu sampai mereka selesai baru kita pergi?” tanya Angela.

Si Bungsu menghirup kopi yang di buat Angela itu, lalu mengangguk. Dia harus menunggu upacara tersebut selesai. Sebab kalau gadis itu dikuburkan, maka mereka harus ikut menguburkannya bersama. Upacara itu ternyata baru selesai setelah menjelang jam sepuluh siang. Saat itu Elizabeth sudah terbaring ditanah, dia amat letih, mengantuk dan amat lapar, namun dia tak pernah mau menyerah.

Yoshua segera bangkit melihat tubuh istrinya yang terbaring di belakangnya. Padahal perempuan itu tadi malam sudah dia bilang tak diperkenankan lkut upacara yang melahkan itu. Perlahan dia angkat tubuh istrinya itu. Kemudian mencium keningnya dengan lembut. Elizabeth terbangun, membuka mata dan mereka bertatapan. “Tidurlah nona, kau amat lelah..” kata yoshua, yang tak mau menukar panggilan nona terhadap Elizabeth.

Perempuan itu menggeleng, dengan berpegang ke tengkuk suaminya, dia bangkit dan turun ke kamar mandi. Elang Merah dan Pipa Panjang segera menyiapkan peti mati. Sementara Yoshua dengan di bantu Si Bungsu membuat lobang lahat. Mereka menguburkan conchita di halaman belakang tersebut. Sementara ketiga Indian itu segera berpakain tanpa membasuh coretan di muka dan tubuh mereka.

“Mengapa mereka tidak mencuci tubuh mereka?” Tanya Angela pelan ketika dia berada dihalaman depan bersama Si Bungsu. “Barangkali mereka menganggap perang dengan Klu Klux Klan belum selesai..” “Apakah mereka akan mencari anggota Klu yang lain?” “Bisa saja begitu, atau malah anggota Klu Klux Klan yang akan mencari mereka.”

Angela menatap Si Bungsu dan lelaki yang berasal dar Indonesia itu memang berkata benar. Bagi Klu Klux Klan perang itu belum selesai. Mereka memang tengah berusaha melacak jejak Indian dan lelaki asing yang lolos dari tahanan di gedung tempat upacara ritual itu. Kematian anggota mereka di rumah tempat upacara tersebut, kemudian di tempat proyek pembangunan, merupakan tamparan yang membuat mereka murka.

Ketiga lelaki keturunan Indian itu sepertinya punya firasat kalau perang melawan Klu Klux Klan belum selesai, nampaknya mereka tak harus menunggu lama. Nampaknya anggota Klu Klux Klan itu berhasil menemukan jejak mereka.

Orang-orang itu tengah minum ketika tiba-tiba Yoshua mengangkat kepala. Dia menatap pada Elang Merah dan Pipa panjang. Memberi isyarat yang tak kentara. Kemudian berdiri dan diikuti kedua lelaki Indian itu.

Si Bungsu sebenarnya sudah dari tadi punya firasat tak enak. Tapi dalam halnya firasat, Yoshua nampaknya lebih tajam. Ketiga Indian itu menyambar senjata mereka, dan Si Bungsu segera tahu, bahaya telah datang. Yoshua berjalan kekamar Istrinya. Menatap perempuan Amerika yang tertidur pulas tersebut. Dan keluar menemui Si Bungsu dan Angela.

“Ada orang yang mendekat kesini, mungkin empat atau lima orang…”Si Bungsu menatap ke halaman rumah ditengah hutan itu yang sepi. Tapi memang firasatnya berkata, ada sesuatu yang bergerak mendekat. Firasatnya yang tajam, yang waktu dulu, bertahun-tahun yang lalu pernah diasah dan dilatih di Gunung sago, kini bekerja lagi. “Kita akan menyambut mereka sebelum mereka sampai di rumah ini…” katanya sambil tersenyum. Lalu dia mengambil samurainya dan memegang bahu Angela dan berkata. “Kali ini, Anda harus tetap dirumah. Menjaga Nyonya Elizabeth..”

Seorang anggota Klu Klux Klan yang ada di sayap kiri melihat samar-samar seorang Indian tengah duduk mengintai kejalan di halaman rumah mereka. Indian itu duduk tak bergerak dengan bedil siap ditangan.

“Ku pecahkan kepalamu, Indian busuk…” rutuk anggota Klu itu sambil berjalan mengendap mencari tempat yang lebih baik untuk menembak. Dia tahu, Indian-Indian ini amat berbahaya. Karenanya dia harus hati-hati. Melangkah sepelan mungkin agar tak menimbulkan suara. Kekanan sedikit lagi, agar bisa membidik pelipisnya. Nah, kini dia mendapatkan tempat untuk itu. Dari tempat dia tegak dia bisa menembak pelipis kanan Indian jahanam itu dengan cepat. Indian itu kelihatannya masih muda. Mungkin baru sekitar tiga puluhan usianya.

Kalau begitu yang satu ini bukanlah Indian yang ditahan di rumah peribadatan dan yang meloloskan diri dengan orang asia itu, tapi betapun jua, sesuai perintah yang diterima, setiap orang berada dirumah ini, yang terdiri dari dua Indian atau barangkali lebih, kemudian seorang lelaki Asia, lalu dua orang perempuan, seorang diantaranya adalah Letnan Polisi Dallas, semuanya harus di bunuh. Tak ada kecuali.

Nah, kini dia membidik. Tadi dia sudah mendengar beberapa tembakan. Sebagai komandan dari penyergapan ini, seharusnya kawan-kawannya menunggu perintah dari dia. Tapi keadaan mungkin mendesak mereka untuk segera menembak, tak apalah. Jadi kini dia juga harus menembak. Dia membidik. Tapi…ujung bedilnya itu, yang entah dari mana datangnya, yang tak diketahui kapan munculnya itu. Ya Tuhan! Makhluk itu tak lain dari si Indian tuan, Yoshua!

Indian itu bertelanjang dada dan tubuhnya sebatas pusat keatas, termasuk wajahnya, penuh gambar corang-coreng. Mirip Indian di filem-filem jaman dahulu! Tapi pimpinan regu Klu Klux Klan ini tak langsung takut seperti anak buahnya dulu, dia melepaskan bedilnya. Kemudian menghujamkan pukulannya ke wajah Indian itu! Yoshua sudah siap. Tangan yang memukulnya itu dia tangkis dengan… kampak! croot! Pukulan yang keras itu menerpa mata kampak besar yang amat tajam itu! Dan anggota Klu yang hebat itu meraung! Raungnya juga hebat.

Betapa dia takkan meraung, tinjunya terbelah dua sampai pergelangan. Di ujung sana, Indian yang tadi dia membidik yang tak lain dari pada si Pipa Panjang, menoleh dan tersenyum. Dia memang sengaja duduk disana sebagai perangkap untuk pimpinan regu anggota Ku itu. Yoshua menyambar topeng yang dipakai anggota Klu Klux Klan itu. Merenggutkannya, orang itu merunduk begitu topengnya terbuka. Namun yoshua menjambak rambutnya, menyentakkan hingga orang itu menengadah.! “Itzak..!”desis Yoshua begitu melihat wajah orang itu.

Dan orang yang dia kenal itu, yang tak lain dari pada mandornya di perkebunan dimana dia bekerja dahulu. Mandor turunan Yahudi yang tak pernah ramah padanya, pada orang turunan Indian, Mexico atau Negro. Mandor yang amat berkuasa. Dari namanya yang “Itzak” itu saja sudah tercium Yahudinya. Yahudi yang amat merasa super dan berkuasa di Amerika. “Tanganmu sebaiknya dipotong hingga pergelangan, tuan mandor. Kalau tidak bisa infeksi…” Yoshua berkata datar.

Tanpa menunggu persetujuan si mandor, dia seret orang itu. Kemudian menekankan tangan kanannya yang belah itu kesebuah kayu besar. Si mandor meraung-raung. Namun Yoshua menetakan kampaknya. Dan…trass! tangan itu putus sampai pergelangan! “Nah, keadaanmu kini jauh lebih baik dari pada tadi, mandor…” ujar Yoshua.

Si mandor sudah basah celananya menahan sakit dan melihat darah yang menyembur dari bekas lukanya. “Kedua tanganmua ini sering membikin celaka dan meaniaya kami para buruh perkebunan. Kini keduanya harus dipotong, mandor…” ujar Yoshua dengan nada datar.

Dan selagi orang Yahudi yang sadis itu menghiba-hiba memohon ampun, giliran tangan kirinya pula yang dapat giliran kena tebas putus! Kini kedua tangannya putus hingga pergelangan! “Kakimu sering menendang kami para buruh, kau masih ingat nasib Miguel. Orang mexico yang tendang kemaluannya itu mandor? Kemudian setelah kemaluannya tak berfungsi kau setubuhi istrinya berkali-kali… Kau ingat?”

Si Yahudi telah tertunduk lemah. Lemah karena takut dan lemah karena kehabisan darah. Wajahnya amat pucat. Celananya telah basah karena kencingnya. Namun Yoshua masih bercerita sambil ikut-ikutan duduk dekatnya. “Setelah kau puas dengan isteri miguel yang malang itu, kau nodai pula anak gadisnya yang bernama Tertila. Gadis cantik berumur lima belas tahun, kau perkosa berkali-kali hingga gadis itu mati bunuh diri. Kau ingat itu itzak…?” Itzak menggeleng dan mengangguk berkali-kali. Dia memohon ampun. “Ah, kau pasti bergurau mandor. Mana ada orang Yahudi, Mandor dan Anggota Klu Klux Klan pula yang mengenal rasa takut, apalagi minta ampun. Kau pasti bergurau mandorr…..”

Itzak menangis tersedu-sedu ingat anak dan istrinya. Ingat harta dan gundiknya. Ingat dunia kenikmatan yang akan ditinggalkannya. Kalau saja dia bisa tetap hidup meski kedua tangannya buntung, dia tetap bisa menikmati hidup ini. Soal tangannya adalah soal gampang, dengan uang sekian ratus dollar, kedua tangannya bisa utuh dengan tangan palsu. Tapi yoshua tidak memberikan jalan sedikitpun. Sambil duduk itu dia pegang kepala Itzak.

“Dalam kepalamu ini, bersarang otak yang cemerlang untuk menyebar aniaya di tengah orang-orang berkulit berwarna. Saya ingin melihat otakmu, Itzak. Kau pernah dengar betapa orang Indian menguliti kepala musuhnya..? ujar Yoshua dengan nada suara dingin dan dengan tangan yang ramah mengusap-usap rambut Itzak.

“Rambutmu ini amat indah, Itzak. Bagi suku kami adalah merupakan kebanggaan jika dapat membawa kulit kepala musuh kami pulang ke rumah. Untuk ditaruh sebagai hiasan..” “Tapi..tapi kita tak pernah bermusuhan Yoshua.. saya bukan musuhmu…” “Oh, tidak. Kita tak pernah bermusuhan. Kau menganiaya kami dulu di perkebunan semata-mata karena kasih sayangmu pada kami. Hari ini kau juga datang kerumahku, dengan topeng mainanmu ini, dengan bedil ditanganmu, dengan membawa anak buah setengah lusin, juga bukan karena kita bermusuhan. Kau pastilah datang mencariku untuk memberikan sebuah ciuman dan memelukku serta membawaku minum sebagai rasa persahabatan, bukan? Begitu, bukan….bukan…?”

Dan sambil berkata tangannya menjambak rambut Yahudi itu kuat-kuat. Itzak sudah tak ada daya lagi. “Mandor, tanganku sudah sangat tua. Tanganku sudah tak lagi begitu ahli mengulitti kulit manusia, sudah tak begitu mantap. Tapi ponakanku itu, yang tadi yang akan kau tembak pelipisnya, amat mahir. Dia punya pisau yang amat tajam. Yang tak begitu menyakitimu bila dia mengelupas kulit kepalamu. Hei Pipa Panjang….Mari sini….!”

Indian muda itu bangkit. Ditangannya ada pisau besar lagi mengkilat tajam. Si Yahudi bernama Itzak yang terkenal sadis di perkebunan itu, dan terkenal sadis sebagai algojo Klu Klux Klan, kini hanya menatap dengan diam dengan mata basah pada Indian yang mendatanginya. Kemudian terdengar pekik menggema. Pekik itu terdengar oleh dua orang anggota Klu Klux Klan di tempat mereka. Kebetulan keduanya bertemu dibahagian selatan, seratus meter dari rumah. “Kita terus saja. Kita bakar dinamit dan kita ledakan rumah itu…”bisik yang satu.

Kemudian mereka mendekat setapak demi setapak. Kemudian berputar kebahagian samping kanan. Tapi tiba-tiba mereka terhenti. Di bahagian depan rumah itu, dibawah cucuran atap, mereka melihat sesosok tubuh menggantung-gantung. Di gantung pas lehernya, kepala orang yang digantung itu mengkilap.

Jubah putihnya berlumuran darah. Kedua tangannya putus hingga pergelangan tangan. Jelas itu adalah pimpinan regu mereka, Itzak!. Dan jelas bahwa kulit kepalanya telah di kelupas dengan cara yang amat mahir. Kedua orang itu menggigil saking takutnya melihat mayat di gantung itu, mereka tertegak lemah ditempat mereka. “Cepat, hutan ini penuh iblis. Bakar dinamit itu dan ledakan rumah jahanam itu. Kita harus segera hambus dari sini…” bisik yang seorang.

Mereka lalu mengeluarkan dua bongkah dinamit dengan ukuran besar dari jubah mereka. mereka menyalakan geretan. Beberapa geretan itu berkali-kali mati karena apinya tak pernah dekat sumbu dinamit tersebut. Tangan mereka menggigil. Ada beberapa menit, barulah sumbunya terbakar, tapi mereka tidak segera melemparkannya, soalnya api di sumbunya bisa mati.

Dan saat itulah mereka mendengar suara desiran dibelakang. Mereka melihat kebelakang, lalu keduanya tak dapat menahan pekik. Di belakang mereka berdiri tiga orang Indian yang badannya penuh dengan gambar- gambar dan kampak ditangan. Mereka tak bisa berbuat apa-apa, sebab bedil mereka sudah ada ditanah.

Dengan amat cepat mereka kena ringkus. Mereka diikat kepohon kayu besar tak jauh dari tempat mereka diringkus. Lalu dinamit yang masih menyala sumbunya dimasukan kedalam jubah mereka. “Kalian berusahalah untuk bebas. Kalau kalian bisa melepaskan diri sebelum dinamit itu meledak, maka kalian tak akan kami ganggu. Kami akan pulang kerumah itu. Berusahalah.

Kata Yoshua sambil berjalan dengan diikuti Pipa Panjang dan Elang Merah. Kali ini kedua anggota Ku itu tak bisa lagi tahan tangis dan lolongan. Dinamit yang dimasukan dan diselipkan didalam jubah mereka, sumbunya tinggal sedikit, kalau Dinamit itu meletus, Ya Tuhan!

Mereka menangis minta ampun, minta tolong dan minta dikasihani. Namun tak ada yang menyahuti Kemudian ketiga Indian itu benar-benar pergi. Dan…hutan itu tiba-tiba bergemuruh oleh gelegar dinamit. Si Bungsu tertegun mendengar ledakan tersebut. Ada apa? Di sebelah utara, diarah bunyi ledakan dinamit tersebut. Di lihatnya sebuah pohon sebesar dua kali dekapan manusia dewasa, terpental beberapa meter ke udara. Dan pucuknya naik meninggi, kemudian jatuh melosoh kebawah turun dan tumbang! Sipongang ledakannnya bersahutan. Segala isi hutan itu kaget. Elizabeth sendiri kaget terbangun, Angela berusaha menenangkannya walau juga berdebar. “Dimana Yoshua?” tanyanya begitu bangun.

Angela yang juga sangat mengkhawatirkan Si Bungsu, coba jelaskan akan kedatangan beberapa orang itu. Elizabeth bangun dan terdorong oleh rasa ingin tahu, Angela juga berlari keluar. Yoshua sudah bertindak cepat. Mayat di gantung itu sudah diturunkan dan di letakkan ke dalam hutan. Kini ketiga Indian itu tegak di halaman seperti tak terjadi apa-apa. Angela pucat wajahnya begitu tak adanya Si Bungsu di antara mereka, Indian itu diam menatap kesekitar rumah itu. Mereka juga merasa cemas pada orang yang mereka hormati itu. Kini dimana dia? “Bersebar! Kita cari dia…” ujar Yoshua setelah mencari beberapa saat. Angela berlari masuk, mengambil bedil. Kemudian mengisinya dengan peluru. Lalu berlari keluar. Begitu tiba di luar dia terpekik, melihat Si Bungsu berlumuran darah.

Dia memekik gembira karena lelaki dari Indonesia itu masih hidup. Memekik terharu dan kaget melihat darah di tubuhnya. Dia berlari dan memeluk lelaki yang bertongkat itu. Mencium wajah dan bibirnya, Si Bungsu hanya diam tak berkutik.

“Hei, kau masih hidup. Masih ada yang lain disana?” ujar Yoshua sambil menepuk bahu Si Bungsu. Si Bungsu tersenyum dan menggeleng. “Anda masuklah, dan obati lukanya. Kami akan mengatur semua sisa yang tertinggal. Sebentar lagi tempat ini akan di penuhi polisi. Tentu kita tak ingin di buat sibuk dengan segala macam pertanyaan. Apalagi kalau harus di tahan di kantor polisi…”

Angela dan Elizabeth membawa Si Bungsu masuk kedalam. Si Bungsu dibaringkan di sebuah balai-balai. Angela membuka bajunya. Mencuci darah yang mengalir di dada Si Bungsu. Sementara Elizabeth mengambil kotak obat-obatan. Si Bungsu sedikit beruntung, sebab peluru yang mengenai bahunya tidak tertinggal didalam, melainkan tembus kebelakang. Untung saja jarak tembaknya tak begitu jauh, sehingga peluru tak merobek daging bagian belakangnya dengan hebat. Lobang yang ditinggalkan peluru di punggungnya hanya sebesar benggol, tiga kali lobang yang ada didepan.

Tak lama kemudian Si Bungsu dan kedua perempuan yang ada dirumah terkejut oleh beberapa ledakan dinamit. Kemudian bunyi sirene mobil polisi. Empat buah mobil polisi. Empat mobil patroli polisi merengsek masuk ke halaman rumah di tengah hutan itu. Sesuai dengan petunjuk yang tadi yang disampaikan Yoshua, Si Bungsu dan Angela tak menampakkan diri keluar. Mereka hanya mengintip lewat jendela yang tak terlihat dari luar.

Si Bungsu melihat polisi-polisi di sambut oleh Yoshua dihalaman. Tubuhnya kini sudah bersih dari coret- coret berwarna perang itu. Di tangannya terpegang sebuah kampak. Kemudian dari dalam hutan terdengar lagi sebuah ledakan. Di susul dengan rubuhnya sebuah pohon kayu.

“Well..Kami kemari ingin tahu apa yang kalian perbuat dengan ledakan-ledakan itu…”ujar salah satu perwira polisi patroli jalan raya itu sambil menatap kearah bunyi ledakan didalam hutan. “Seperti perang Vietnam….”ujar polisi yang lain.

Tiga polisi yang lain menuju hutan kiri, tiga lagi kehutan-hutan kanan. Si Bungsu dan Angela menatap dengan tegang, polisi pasti menemukan mayat-mayat anggota Klu Klux Klan tersebut. Meskipun mayat bandit, namun tetap saja menimbulkan masalah ruwet. Namun Yoshua kelihatan tenang-tenang saja. Lewat kisi jendela mereka mendengar Indian itu berkata.

“Kami tak punya izin memiliki dinamit itu. Kami menemukannya enam bulan yang lalu dekat belukar sana. Kami sudah melaporkannya pada polisi. Namun pihak polisi tidak menanggapi. Maka hari ini kami mencoba, apakah dinamit itu masih berfungsi atau tidak…” “Anda punya surat polisi yang tidak di gubris tersebut?” Yoshua mengeluarkan sebuah kertas yang sudah usang dari kantongnya. Si polisi mengamati kemudian mengangguk. “Well. Kenapa kepohon itu anda ledakan..?” “Sekalian memudahkan pekerjaan. Mencoba dinamit dan kalau meletus berguna untuk menebang pohon. Dari pada membuang tenaga…” “Kami terpaksa menyita sisa dinamit yang ada…” “Silahkan. Itu di bawah kotak dekat tong itu..”

Polisi itu melangkah kearah dinamit yang memang terletak dibawah kotak di luar rumah Yoshua. Kemudian si polisi meniup pluit. Ke enam polisi yang lain bermunculan dari rimba tersebut. Tidak hanya polisi saja yang muncul juga Pipa Panjang dan Elang Merah. Semua dalam keadaan berpakaian rapi.

Padahal baru saja Si Bungsu melihat mereka bercoreng-moreng, ketika akan menyergap keenam polisi anggota Klu Klux Klan tersebut. Polisi-polisi itu membawa sisa dinamit yang ada di luar rumah Yoshua, kemudian membawa semacam surat tanda terima. “Kalian menemukan sesuatu?” tanya polisi itu pada enam anak buahnya yang tadi masuk ke rimba itu. Yang di tanya hanya menggeleng.

“Baik, kita tinggalkan rumah ini. Yoshua, suatu hari nanti kami akan memanggil anda untuk minta penjelasan tentang dinamit ini..” “Dengan segala senang hati, Letnan…” Mobil-mobil polisi itupun bergerak pergi. “Anda memang menemukan dinamit itu disini?” tanya Si Bungsu ketika mereka makan malam. Yoshua mengangguk. “Dinamit itu kutemukan ketika menggali pondasi, barangkali sisa latihan tentara saat perang utara-selatan. Pernah kulaporkan tapi tak digubris…” “Lalu kenapa mereka tidak menemukan mayat atau serpisan daging akibat ledakan tadi?” “Cara mudah melenyapkan mayat adalah dengan meledakkannya..” “Ya, tapi serpihan dagingnya pasti ditemukan…” “Benar, kalau dinamitnya sedikit. Kau tahu berapa banyak dinamit yang kami pergunakan? Untuk meledakkan mayat dan pohon itu kami pergunakan cukup banyak, cukup untuk menghancurkan kota Dallas. Tak kau dengar gelegarnya. Tubuh mereka tak bersepihan karena diikat kedinamit itu. Tidak ada serpihan malah menjadi lumat seperti tepung…”

Ketika mengobati punggung Si Bungsu yang luka, Angela merasa kaget dan ngeri. Punggung lelaki dari Indonesia itu penuh dengan barut-barut luka. Memanjang dari bahu kiri ke pinggang kanan. Atau sebaliknya. Belum lagi sayatan-sayatan melintang yang banyak jumlahnya. “Ya Tuhan, apakah ini bekas dicencang?” tanyanya sambil meraba punggung Si Bungsu dengan jari-jarinya yang halus dan lentik. “Ya, memang bekas di cencang…” jawab Si Bungsu datar. “Nampaknya bekas disayat senjata yang amat tajam…” “Namanya Samurai..” kata Si Bungsu pula. “Samuarai? Itu senjata khas Jepang..” “Ya, senjata yang saya bawa itu, yang mirip dengan tongkat kayu..” Dan Angela tiba-tiba teringat pada tongkat yang dipergunakan oleh lelaki asia ini untuk membabat Macmillan di perusahaan bangunan beberapa hari yang lalu.

“Nampaknya senjata itu punya cerita dan kisah yang amat mendalam dalam hidupmu Bungsu….” “Panjang, dalam dan takkan pernah hilang seumur hidup. Seperti bekas luka yang ditimbulkannya di tubuhku…” “Maukah kau ceritakan padaku?” ujar Angela yang berbaring menghadap Si Bungsu. Si Bungsu yang juga berbaring miring menghadap gadis itu tak segera menjawab. Dia menatap pada gadis itu. “Kau mau mendengarkan?” Angela mengangguk sambil memegang pipi Si Bungsu. “Ketika masih berusia enam belas tahun. Aku adalah seorang penjudi kawakan. Kedengarannya aneh, tapi itulah faktanya. Tak ada pejudi yang tak betekuk lutut kubuat. Tapi hampir selalu saja uang kemenangan itu disikat lagi oleh orang yang aku kalahkan itu. Di kampungku yang bernama Minangkabau, judi merupakan penyakit lelaki yang tak pernah bisa di obati. Meskipun agama kami melarangnya dengan keras. Para pejudi itu umumnya adalah jago berkelahi. Sebab mereka harus mempertahankan kemenangan nya agar tak dirampas orang lain. Kepandaian berkelahi itu dinamakan silat…” Dia berhenti sebentar.

“Aku selalu menang, tapi selalu juga diakhiri lenyapnya uang dan remuknya tubuhku disikat lawan- lawanku yang kalah. Sampai suatu hari Jepang yang menjajah negeri kami membunuh ayah dan ibu dan kakakku didepan mataku. Kau tahu apa yang kuperbuat? Aku lari karena takut,namun perwira yang memimpin penyerangan pagi itu menyabet punggungku dengan samurainya. Aku jatuh dengan punggung belah, Jepang itu menduga aku sudah mati.

Tapi aku masih hidup dan bertekad untuk terus hidup untuk menuntut balas ke matian keluargaku. Kuambil samurai yang tertinggal dan tertancap diperut ayahku, kemudian hidup hutan disebuah gunung. Belajar secara alami bagaimana mempergunakan samurai. Ternyata penderitaanku tidak hanya sampai disana, dalam proses kemerdekaan aku banyak terlibat dalam perkelahian dengan tentara Jepang, suatu hari aku tertangkap dan dikurung dalam terowongan dalam kota, dan disana kembali tubuhku disayat-sayat. Jari dipatahkan dan kuku dicabut…” Si Bungsu berhenti bercerita karena melihat mata Angela basah.

“Hei, kenapa?” “Alangkah menyakitkan masa lalumu dear….” “Itu sudah lama berlalu…” “Ya, tapi aku tak tahan membayangkan betapa menderita nya dirimu…” “Nah, kita akhiri cerita itu?” Angela menggeleng. “Jangan hentikan. Saya akan dengar…” “Kau takkan menangis lagi?” Angela menggeleng sambil mencium pipi Si Bungsu. “Akhirnya aku dilepaskan oleh pejuang-pejuang Indonesia. Ku tinggalkan negeri itu menuju Jepang.

Bertemu dengan pembunuh ayahku yang ternyata masih berusaha bersembunyi dari dosa-dosanya dengan mengabdikan diri disebuah kuil jadi biarawan. Kami bertarung, dia kukalahkan. Tapi tidak kubunuh. Kehadiran anak gadisnya yang aku kenal sebelum pertarungan itu, telah menyelamatkan nyawanya. Dia ku tinggalkan, tetapi itu melakukan seppuku, harakiri. Bunuh diri cara Jepang. Kusangka aku akan mengakhiri petualangan disana, sebagaimana pernah kurencanakan.

Tapi banyak hal, banyak peristiwa dan kejadian yang memaksaku untuk tak berpisah dengan samurai itu. Tiap saat orang yang mati karena samurai itu bertambah jua, kata orang samurai itu haus darah. Dan aku adalah pembunuh berdarah dingin. Itulah semuanya…” SEPI.

Angela mencium Si Bungsu, kemudian menyembunyikan wajahnya didada lelaki itu. Sementara Si Bungsu sudah tertidur lelap dan lelah. Seorang lelaki yang berasal dari desa yang tak tercatat dalam peta, dari dusun kaki Gunung Sago bernama Situjuh ladang Laweh, tertidur di suatu belahan dunia entah dimana, jauh dari negerinya.

Berkat pertolongan Angela yang juga minta tolong pada teman-temannya di kepolisian, akhirnya Si Bungsu mendapatkan alamat orang yang dia cari-cari. Yaitu alamat Kapten Thomas MacKenzie. Veteran pasukan Udara Amerika. Lelaki yang membawa lari Michiko dari belantara di pinggang Gunung Singgalang tatkala terjadi pergolakan PRRI.

“Namanya Thomas MacKenzie. Terakhir dikenal sebagai suplayer senjata gelap ke berbagai negeri yang sedang bergejolak. Kini sudah meletakan pekerjaan terlarangnya itu. Dia menanamkan uangnya di berbagai industri. Namun diduga masih menjadi otak penyelundupan senjata ke Afrika..” Angela menjelaskan informasi yang dia dapat pada Si Bungsu.

Si Bungsu merasa hidup kembali. Harapan untuk mendapat melacak jejak Michiko tumbuh lagi. Begitulah, malam itu mereka pergi ke sebuah klub malam mewah yang berada di jantung kota Dallas. Duduk disuatu pojok dimana mereka dapat mengawasi semua orang yang masuk dan keluar ruangan itu. Memesan minuman dan makanan. Si Bungsu tak banyak bicara, Angela melihat betapa lelaki didepannya ini berpeluh dan tegang.

“Tenanglah, sebentar lagi kita akan melihat orangnya. Engkau akan bertemu dengan gadismu itu…” bisik Angela sambil menggenggam tangan Si Bungsu. Si Bungsu yang memang tak bisa menyembunyikan resahnya itu mencoba untuk tersenyum. “Terimakasih Angela, kau baik sekali. saya tak tahu harus berbuat apa sebelum bertemu dengan kamu, saya…” “Sssst, barangkali itu orangnya…” ujar Angela sambil memberi isyarat ke pintu. Jantung Si Bungsu seperti berhenti berdenyut. Empat orang, tiga orang lelaki dan seorang perempuan kelihatan mereka sedang berjalan kearah meja VIP di kanan mereka. Dua orang lelaki yang berjalan di belakang mereka pastilah para pengawal. Lelaki bekas Anggota Angkatan Udara itu terlihat gagah dan berbadan kekar, wajahnya tersenyum selalu. Dialah Thomas MacKenzie! Tapi yang membuat jantung Si Bungsu berhenti berdetak adalah perempuan yang berjalan disisi MacKenzie. Perempuan itu amat dia kenal. Michiko! Ya, Mcihiko!

Dia hampir saja berdiri kalau tangannya tidak di genggam erat Angela. “Duduklah dengan tenang dear, masih banyak waktu. Tunggu sampai mereka juga duduk…” Si Bungsu menahan hatinya. Dia lihat lelaki yang berjalan di belakang bergegas menarik kursi untuk kedua orang itu. Thomas tegak didepan kursinya, menunggu sampai Michiko duduk. Kedua pengawalnya tetap tegak tak jauh dari mereka. Begitu mereka duduk muncul pasangan dua perempuan dua lelaki.

Pertemuan ini nampaknya pertemuan orang-orang tingkat atas yang lazim di sebut kaum atau kalangan jetset. Mereka saling bersalaman. Seorang perempuan berbisik pada Michiko, kemudian dua perempuan itu berdiri, berbicara pada lelaki disana dan berjalan keruangan lain. Kini waktunya pikir Si Bungsu. Dia berjalan dengan tenang tapi dengan hati yang berdebar, kemeja yang di penuhi gelak tawa itu.Tiba-tiba langkahnya dihentikan oleh pengawal Thomas.

“Maaf, Tuan tidak bisa mendekat…” ujar Bodyguard itu perlahan. Tubuhnya terasa mendingin. Dari jarak lima depa, dimana langkahnya tertahan oleh bodyguard Thomas, dia memanggil. “Tuan Thomas…” Lelaki yang dipanggil itu masih tertawa dengan perempuan di seberangnya, seperti tak mendengar panggilan Si Bungsu. “Tuan Thomas..” ulang Si Bungsu.

Thomas mendengar, namun menatap tajam pada bodyguardnya, itu sudah isyarat bagi si pengawal. Dia mencekal baju Bungsu dan berusaha menariknya. Namun sekali sentak, cekalan pengawal itu lepas. “Tuan Thomas, ijinkan saya bicara baik-baik…” ujarnya masih berusaha dengan suara pelan, karena dia maklum berhadapan dengan siapa. Lelaki itu menatapnya, diantara suara senyap di ruangan yang kelihatan terhormat itu, lelaki itu berkata diantara senyumnya.

“Anda memanggil saya, stranger?” “Ya, Anda yang bernama Thomas MacKenzie, bukan?” “Benar, Anda hafal nama saya, ada yang bisa saya perbuat untuk anda?” “Ada..” “Apa itu…” Si Bungsu berusaha menghindarkan keributan. “Maaf, bisa kita bicara empat mata?” ujarnya sopan. Thomas menatap Si Bungsu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapanya jelas pandangan yang memandang rendah. “Anda siapa, dan dari mana?”

Si Bungsu paham sudah, dia tak dipandang sebelah mata. Permintaannya untuk bicara baik-baik secara empat mata tidak dianggap sama sekali. Dia menarik nafas. Namun dengan berusaha menyabarkan hati dia berusaha sekali lagi. “Saya bukan siapa-siapa dalam strata kehidupan tuan. Namun saya datang dari negeri yang amat…” “Antarkan tuan ini keluar…!” putus thomas pada pengawalnya.

Dua bodyguardnya itu tak perlu menanti, mereka segera mendekat dan mencekal tengkuk Si Bungsu dan menariknya dengan kasar. Dan..cukuplah sudah! Entah bagaimana, kedua orang pengawal itu malang melintang setelah kena pukulan dan tendangan Si Bungsu. Heboh pun pecah! Dua pengawal itu segera mencabut pistol. Dan Si Bungsu berkata. “Saya datang dengan baik-baik. Jika tuan mencabut pistol berarti menghendaki nyawa saya. Kita tidak bermusuhan, saya hanya ingin bicara. Karena itu…”

Namun Bodyguard itu sama dengan Thomas, tidak menganggap Si Bungsu dan harus di singkirkan segera. Ketika tangan mereka keluar dari jas dipinggang, mereka sudah menggenggam pistol. Tapi hanya sampai disitu, tak satupun letusan terdengar. Kedua mereka tetap tegak dengan muka meringis dan menatap heran.

Di leher mereka tertancap sebilah samurai kecil memutus urat nadi di leher itu! Kemudian tanpa sempat mengetahui apa yang terjadi, mereka rubuh dan mati! Orang pada menatap diam. Benar-benar diam dan tegang. Kini Si Bungsu mendekati meja Thomas. “Anda tampaknya masih liar, stranger. Masih belum beradab. Saya dapat menebak, Anda pastilah datang dari negeri yang juga belum beradab. Nafsu anda untuk membunuh sama dengan orang-orang zaman purba..” ujar nya masih dengan kesombongan luar biasa sambil tegak dan langsung menyerang!

Harusnya dia maklum, lelaki yang dia serang ini datang dengan maksud damai. Tapi kesombongan menutup mata hatinya. Apa boleh buat serangan sudah dia lancarkan dalam bentuk sebuah tendangan. Dengan mudah Si Bungsu mengelak kesamping. Tendangan kedua dan ketiga juga tak ada artinya bagi anak muda dari Gunung Sago itu. Dia hanya mengelak kekiri dan kekanan. Persoalan baru datang ketika seorang lelaki bertubuh besar kekar, yang entah datang dari mana, tiba-tiba menyekapnya dari belakang. Dia nyaris tak bisa berbuat apa-apa. Dan saat itu pukulan MacKenzie menghajar wajah dan perutnya, berkali-kali! Buah kesabarannya ternyata mencelakai dirinya. Thomas menyerang dan masih melanjutkan pukulannya. Tapi lawannya kini adalah lelaki yang sudah kenyang dengan perkelahian. Dengan leher masih dipiting dari belakang, Si Bungsu menghantam lelaki itu dengan sebuah tendangan kearah sudu hatinya. Thomas mengelak namun tendangan berikutnya datang amat cepat. Yang pertama menghantam selangkangannya yang kedua menghantam pelipisnya, yang ketiga menghantam perutnya.

Thomas terdongak-dongak. Terhuyung-huyung. Saat itu Si Bungsu berhasil melepaskan pitingan lehernya dari lelaki bertubuh tinggi besar itu. Kemudian dengan sebuah bantingan yang telak tubuh lelaki itu mencium lantai! Pukulan berikutnya menghajar MacKenzie membuat bekas perwira itu terjerambab di lantai Si Bungsu kini berada di atasnya, mencekiknya dengan ganas.

“Saya datang baik-baik dan minta bicara baik-baik, Tuan. Tapi kesombongan Tuan menganggap semua orang bisa tuan celakai…” desis Si Bungsu. Di bawah banyak tatapan orang, Thomas tidak bisa bicara sepatahpun. Saat itu Michiko muncul. Melihat Thomas tergeletak dengan wajah berdarah-darah dan seorang lelaki mendudukinya, mencekiknya. “Thomas, my dear...!” pekik gadis Jepang itu sambil berlari menghampiri.

Si Bungsu tertegak, Kepalanya masih menunduk menatap lelaki dibawahnya. Michiko sedikitpun tak menoleh kelelaki yang mencekik suaminya. Dia memeluk Thomas dan menangis. Betapa melihat mulut dan hidung Thomas berdarah, Michiko jadi kalap. Dia bangkit dan tegak memukul lelaki yang tadi menghantam suaminya. Tangannya terayun. Secara naluriah dia mengerahkan tenaga dan memukul dengan pukulan karate yang pernah dikuasainya amat mahir.

Selintas sepertinya dia seperti mengenal lelaki yang tegak didepannya, yang tadi menyerang suaminya. Pukulan itu mendarat telak di bibir Si Bungsu. Darah mengucur. Dan.. Michiko tertegak dengan mata terbelalak begitu mengenali lelaki yang dia hantam. Bibirnya bergerak. Ingin sekali bicara, matanya tiba-tiba basah. Si Bungsu menatapnya, hampir tak percaya. Bahwa perempuan yang tegak didepannya ini perempuan cantik dari Jepang itu. Adalah Michiko kekasihnya.

Perempuan yang tak dapat dia lupakan. Perempuan yang di cari menyebrangi lautan luas. Melintasi jarak puluhan ribu kilometer. Perempuan yang menurut sangkanya adalah perempuan yang memerlukan bantuannya. Tapi.. Mereka masih bertatapan. Bibir Michiko bergerak. Ada niat untuk menghapus darah di bibir Si Bungsu. Namun tangannya tak kuasa dia angkat. Ada niat untuk memeluk dengan segenap rasa rindu.

Namun kakinya tak kuasa dia langkahkan. Akhirnya, hanya terdengar sebuah keluhan. Dan perempuan Jepang cantik itu. Yang dandanannya sudah jauh berubah, yang kini kelihatan seperti perempuan-perempuan kelas atas Amerika, rubuh tak sadarkan diri. Si Bungsu nyaris memeluknya, menyambut tubuhnya yang terkulai. Namun tangan lain lebih cepat. Tangan Thomas MacKenzie! Semua yang melihat tertegak diam.

“Kau telah membuat shock istriku, stranger. Kau akan menyesali perbuatanmu ini..” ujar bekas Kapten angkatan udara Amerika itu kepada Si Bungsu. Kemudian perempuan itu dipangkunya. Ketika akan beranjak, dia berkata lagi.

“Jika istriku keguguran karena hal ini, stranger, kau takkan selamat..” Dan orang itupun pergi. Si Bungsu nyaris tak percaya atas apa yang terjadi dan apa yang dia dengar serta apa yang dia lihat. Benarkah semua peristiwa ini?

“Kau telah membuat shock istriku, stranger. Kau akan menyesali perbuatanmu ini. Jika istriku keguguran karena hal ini, stranger, kau takkan selamat..”

Ucapan MacKenzie seperti mengiang lagi di telinganya. Perempuan itu, Michiko, ternyata telah menjadi istri orang itu. Mungkinkah itu, Mungkinkah? Dia teringat ucapan Michiko saat di padang akan berangkat ke bukittinggi. “Hati dan jiwaku milikmu kekasihku, milikmu selama-lamanya….!” Itu kata michiko dahulu, Dahulu!

Apakah benar perempuan itu memang Michiko bisik hatinya seperti kepada diri sendiri. Namun dia tak sendiri. Dia kini ada dikamarnya, di rumah Yoshua. Berbaring bersama Angela.

“Dia benar Michiko. Dia memang gadis Jepang yang kau cari itu, Bungsu…” ujar Angela pelan seperti menjawab pertanyaan hati Si Bungsu. “Kenapa kau begitu pasti, Angela? Sedangkan aku yang mengenalnya tak merasa pasti…” Angela tak menjawab. Dia tahu kalau pertanyaan itu tak mungkin dia jawab. Dan memang tidak untuk dijawab. Si Bungsu menarik napas. “Maafkan saya Angela. Saya tak bermaksud melukai hatimu. Kau terlalu banyak berbuat baik pada ku..” Angela memeluk Si Bungsu.

“Dia sudah menikah. Menikah dengan lelaki yang melarikannya. Dan dia…telah memukulku dengan tangan yang pernah memelukku…” “Jangan cepat berprasangka dear.. Barangkali ada alasan yang amat kuat untuk akhirnya memutuskan menikah dengan lelaki itu..” “Alasan yang kuat?” “Ya, Barangkali…” “Saya tahu. Kini dia jadi orang yang terhormat. Bukankah tadi siang kau jelaskan lelaki itu pemilik Industri yang kaya raya? Itu alasannya Angel…” “Tak semua wanita menikah karena alasan harta, my dear..” “Ya, tak semua. Namun ada bukan?” “Jangan berprasangka, sayang. Sebaiknya kau temui dia dan dengar ceritanya..” “Saya sudah menemuinya dan itu cukup..” Angela terdiam. Dia mengerti betapa terpukulnya lelaki yang disampingnya ini atas peristiwa tadi.

“Kau ingat ceritaku kemaren malam tentang perwira Jepang yang membunuh keluargaku, Angel?” “Yang bernama Saburo Matsuyama?” “Ya,ingat…” “Ingat. Dia bunuh diri, bukan engkau yang membunuhnya bukan?” “Benar, Dia bunuh diri. Dan adakah aku ceritakan padamu, dia di selamatkan oleh kemunculan anak gadisnya yang telah kukenal sebelumnya?” “Ada, tapi kau tidak ceritakan apa-apa tentang gadis itu..”

Si Bungsu menarik nafas, matanya menatap langit-langit rumah, dan terdengar suara pelan. “Gadis yang tak kuceritakan itu, yang ayahnya telah membunuh ayah-ibuku, telah memperkosa kakakku dan membunuhnya pula, kemudian membabat punggung ku dengan samurainya, adalah gadis yang tadi telah memukulku…” Ada beberapa saat Angela tertegun, kini dia pula yang nyaris tidak percaya akan apa yang dia dengar. “Oh, my dear! Ya Tuhan, ya Tuhan…!” desisnya beberapa kali. Si Bungsu tertawa getir namun matanya basah.

“Dengarkan, sayang. Kau tak berhak berprasangka buruk, selalu padanya. Kau belum mendengar kisahnya. Berilah dia kesempatan untuk menyampaikan kenapa sampai begini jadinya. Saya yakin ada sesuatu…” “Kau tahu dari mana, Angel?” “Saya juga seorang perempuan, Bungsu. Saya juga pernah jatuh hati, kecewa dan ditinggal lelaki atau meninggalkan lelaki. Tapi pasti ada penyebabnya dear..” Sepi sesaat.

“Baik, Baik.. Saya akan menemuinya. Akan bertanya, tapi bagaimana kalau dia tak mau…” “Dia pasti akan bercerita…” “Bagaimana kalau suaminya tak mengizinkan..” “Saya rasa suaminya seorang lelaki yang jentelmen. Saya melihat itu dari sikapnya…” “Dari sikapnya merampas kekasih orang?” “Penyebab yang sebenarnya akan kita ketahui dear..” “Baik, dan bagaimana kalau dia tak mau atau suaminya tak mengizinkan?” “Itu terserah padamu selanjutnya. Tapi sebelum itu jangan rusak hatimu dengan perasaan yang tidak-tidak..” “Saya tak menduga Angel. Dia telah menikah dan jadi istri orang…” “Kalau itu benar. Apakah hanya dia perempuan yang ada di permukaan bumi ini…” “Ada kau bukan, Angel?” tiba-tiba Angela bangkit dan matanya menatap tajam.

“Dengar baik-baik orang asing. Sebelumnya saya tak tahu siapa engkau. Saya akui terus terang, saya mencintaimu. Itu tak saya sembunyikan. Tapi saya bukanlah perempuan yang suka merebut laki-laki dengan menjelekkan perempuan lain. Saya ingin mengatakan padamu, bahwa kalau perempuan itu sudah menikah, dan engkau sudah tahu dengan pasti alasannya, maka kau harus berani menerima kenyataan…!”

Si Bungsu terperangah. Dan gadis itu tetap melanjutkan tetap dengan nada tinggi. “Jika hanya sekian mentalmu, seperti bubur, menangis ditinggalkan perempuan, lebih baik kau jadi banci saja…!” Si Bungsu menatap wajah Angela yang merah padam. Kemudian tersenyum.

“Apa yang kau senyumkan. Kau sangka aku tertarik dengan senyummu itu?” Si Bungsu masih tersenyum. “Aku tak menyesal bertemu denganmu Angel..” “Barangkali aku yang menyesal bertemu denganmu lelaki kelas bebek…” Si Bungsu tersenyum dan meraih tangan gadis itu. Dia tak tahu harus bagaimana tanpa Angela. Kematian Tongky mula datang di kota Dallas nyaris membuat dia kehilangan akal.

Pagi-pagi sekali mereka dikejutkan oleh ketukan pintu dikamar. Kemudian terdengar panggilan suara Yoshua bertanya. “Apakah anda mempunyai musuh sehingga mereka perlu mencari anda kemari, Bungsu?” Si Bungsu membuka pintu dan melihat Indian itu siap dengan bedil ditangannya.

“Ada apa?” Yoshua menunjuk kehalaman. Dari jendela mereka melihat sebuah mobil mercy nongkrong tak jauh dari rumah. Dua orang lelaki kelihatan berdiri di luar. Yang seorang tengah menelpon. Barangkali bicara dengan seseorang di suatu tempat. “Kau kenal mereka?” Si Bungsu menggeleng. Angela yang sudah bangun muncul diruang tengah ikut mengintip. Dia tak kenal siapa orang itu. Yoshua segera keluar dengan bedil tetap ditangan. “Hei guy! Ada sesuatu yang tak beres?” sapanya dengan keras.

Salah seorang diantara keduanya mengangkat tangan keatas, seperti memberitahu kalau mereka datang bukan untuk mencari masalah. Kemudian menurunkan tangannya kembali sambil mendekati rumah. “Kami memerlukan teman anda..” “Temanku yang mana guy?” “Orang Indonesia itu…” Si Bungsu heran.

“Anda siapa, dan untuk apa menemui orang Indonesia itu..?” “Kami disuruh Tuan Thomas MacKenzie. Katakan itu padanya, dia pasti kenal dengan nama itu….” tiba-tiba Si Bungsu muncul dipintu. “Anda mencari saya?” “Tuan Thomas MacKenzie. Menyuruh anda datang kerumahnya…” Si Bungsu bertukar pandang dengan Yoshua. “Dia ingin mengundang saya makan siang…?” tanya Si Bungsu menyindir. “Tidak,stranger. Dia perlu bertemu dengan anda karena desakan istrinya…” Si Bungsu tertegun.

Kini di luar telah berada pula Angela yang dalam pakaian kimono tidur yang belum dia ganti. Dia berdiri di sisi Si Bungsu. “Istrinya mendesak?” tanya Si Bungsu pelan. “Ya. Istrinya sakit. Dia ingin bertemu dengan anda…” “Pergilah. Kau harus mendengarkan apa yang sesungguhnya terjadi..” bisik Angela pelan. Si Bungsu menatapnya. “Barangkali dia menikah karena cinta, bagimu itu sudah resiko mencintai seorang perempuan. Tak semua percintaan harus di akhiri dengan pernikahan, atau sebaliknya dia membutuhkan pertolonganmu, maka meskipun dia telah menikah, kau bisa saja membawa dia lari….” lanjut Angela.

“Terima kasih Angel, aku akan pergi atas petunjukmu…” kemudian menoleh pada lelaki yang menjadi utusan itu dan berujar. “Baik, saya akan bersiap….” Kemudian dia masuk. Demikian juga Angela. Tetapi Yoshua tetap disana, dan bedilnya tetap dikepit diketiak, sembari mengisap pipa tembakau. Ketika akan pergi Si Bungsu melihat Angela tengah memperhatikannya, Gadis itu tersenyum. Namun ada rahasia yang tak terpecahkan di balik senyumnya.

Gadis itu mendekat dan membetulkan krah baju Si Bungsu, serta mematut baju dibagian pinggangnya. “Kau pergi dengan ku Angel?” Gadis itu menggeleng. “Ada saatnya kau kutemani dear. Tapi ada saatnya aku tak boleh pergi, kali ini aku tak boleh pergi.. Jika ternyata dia menderita bersama suaminya,maka kau jangan ragu membawa dia pulang ke negerimu. Tapi jika dia bahagia maka biarlah dia bersama suaminya…”

Si Bungsu merasa sangat terharu atas sikap Angela padanya. Dia tak hanya seorang perempuan yang patut di jadikan kekasih, juga seorang sahabat yang penuh pengertian. Dipegangnya kedua pipi gadis itu dengan tangannya. Kemudian dikecupnya bibirnya dengan lembut. “Apapun yang terjadi aku takkan lupa budimu angel….” bisik Si Bungsu.

Kemudian diapun pergi. Yoshua menatap kepergiannya dengan diam sambil mengepit bedil. Si Bungsu masuk mobil dan duduk dibelakang dan mobil itu berjalan meninggalkan halaman rumah itu. Angela mengintip dari jendela, entah mengapa dia merasa akan kehilangan sesuatu, air mata membasahi pipinya. Tanpa dia sadari, Elizabeth dari tadi memperhatikannya. Perlahan dia dekati Gadis itu, yang masih saja menatap keluar meski mobil yang di tumpangi Si Bungsu telah hilang dari pandangan. Dipegangnya bahu Angela.

“Dia memang lelaki yang patut dicintai,..” kata Elizabeth perlahan. Angela kaget dan begitu dia dengar perkataan itu, tangisnya pun tak dapat dia bendung lagi. “Tenanglah, Angel. Dia akan kembali…” “Tidak. Dia tak pernah mencintaiku….” “Dia mencintaimu, aku tahu lewat tatapan matanya..” “No, Mam! Dia mencintai gadis Jepang itu. Aku tahu itu… Aku tahu. Aku merasakannya, walau dia berada dalam pelukanku. Barangkali dia menyangiku tapi tak mencintai…” “Itu tandanya dia lelaki setia. Yang tidak begitu saja mengobral cintanya pada setiap perempuan..” ujar elizabeth perlahan. “Ya, dia lelaki yang amat setia. Kalau saja…”Angela tak melanjutkan. Dia menangis dalam pelukan Nyonya separuh baya itu.

Ketika mobil yang membawa dia sampai di jalan raya, Si Bungsu melihat sebuah mobil mengikutinya. Dia mengenali mobil itu adalah mobil Elang Merah. Dia yakin, didalamnya tidak hanya Elang Merah, tetapi juga Pipa Panjang. Diam-diam dia amat berterimakasih pada Yoshua. Indian itu amat memperhatikan keselamatannya. Ketika diputuskan Si Bungsu akan pergi sendirian ke rumah MacKenzie, dia memberi isyarat pada keponakan dan adiknya yang ada dalam rumah.

Kedua orang tua itu segera arif isyarat itu. Mereka harus mengikuti dan mengawasi Si Bungsu. Diam- diam mereka menaiki mobil yang di parkir di belakang dirumah. Kemudian mengambil jalan pintas di belakang yang amat sulit karena memamng tidak ada jalan. Yang ada hanya dataran diantara hutan belukar. Namun mereka telah sering kesana, mereka menanti dijalan raya. Begitu melihat mobil yang ditumpangi Si Bungsu lewat, lalu mereka mengikuti dalam jarak yang tidak mencurigakan.

Dalam mobil itu Si Bungsu memikirkan apa yang akan diucapkan nanti pada Michiko. Tapi dia juga teringat pertemuan dan perkelahiannya dengan Thomas MacKenzie. Kapten Penerbang yang membawa lari Michiko itu. Teringat pada kata-kata pedas tentang negerinya yang dikatakan ”tidak beradab”. Ucapan itulah yang membuat dia menghantam lelaki itu.

Berani-beraninya dia menghina tumpah darahnya sebagai negeri tak beradab, negeri biadab, Padahal berapa banyak darah para pahlawan telah dikorbankan untuk membebaskan negeri itu dari penjajah? Kehormatannya sebagai anak bangsa benar-benar tersinggung atas ucapan itu. Apakah dia pikir sikapnya menjual atau memberi senjata pada PRRI, atau barangkali pada para pemberontak di Afrika cukup terhormat? Kalau dalam pertemuan nanti, lelaki itu masih saja menghina negerinya, bangsanya, maka dia sudah bertekad menghajar habis-habisan. Apa yang harus dia takuti? Dia sendiri dinegeri orang, lebih baik mati terhormat daripada hidup dihina orang.

Rumah itu ternyata cukup jauh letaknya dari pusat kota. Terletak didaerah paling selatan dari wilayah country. Perkarangannya amat luas, demikian luasnya sehingga dari jalan, rumah itu kelihatan hanya sebagai titik putih. Rumah itu sendiri alangkah besarnya dan mewah. Ketika turun dari mobil dia merasa sunyi yang mencekam. Namun firasatnya mengatakan bahwa Elang Merah dan Pipa panjang pasti berada di sekitarnya.

Kedua Indian itu, entah dengan cara bagaimana, namun pasti, bisa menyelusup kerumah itu. Dia menoleh kejalan raya. Tak ada sebuah mobilpun kelihatan. Rumah ini punya jalan sendiri yang terpisah dengan jalan raya. Namun Si Bungsu dapat merasakan kehadiran kedua Indian itu disekitarnya. Sebuah suara mirip suara burung dipepohonan terdengar lembut.

Sekitar rumah itu memang dipenuhi pepohonan. Salah satu dari tanda itu dapat diketahui Si Bungsu isyarat dari Elang Merah atau Pipa Panjang. Hatinya jadi tentram. Dia mengikuti salah seorang dari penjemputnya masuk keruang depan. Disitu, diruang tengah, yang dicat serba putih itu, dia tertegun. Rumah depan itu jelas ditata secara ruangan rumah-rumah Jepang.!

Dia segera teringat Michiko. Ya, ini pastilah yang menata ruangan itu adalah Michiko. ”Ya, Michiko menghendaki ruangan itu diatur begini…” tiba-tiba saja sebuah suara terdengar. Si Bungsu menoleh darimana suara itu terdengar. Disana berdiri Thomas MacKenzie! Lelaki itu masih memar mukanya bekas dihantam Si Bungsu kemarin mereka bertatapan.

SUNYI.

Tiba-tiba lelaki yang bekas penerbang yang gagah itu melangkah panjang kearah Si Bungsu. Setiba dekat Si Bungsu dia mengulurkan tangan! Si Bungsu tertegun sejenak, namun amat tak sopan untuk tidak menyambut uluran tangan itu. Mereka berjabatan tangan, erat sekali. Seperti dua sahabat yang lama tak bertemu.

“Maafkan atas peristiwa kemaren malam. Saya benar-benar tak menduga, bahwa anda memang kekasih michiko. Saya menduga anda hanya salah seorang yang berasal dari Vietnam atau philipina, yang selalu membuat perkara…” ujar MacKenzie ramah. Si Bungsu hanya diam. Belum dapat mencari kalimat apa yang harus dia ucapkan.

“Mari, saya bawa anda keliling…” MacKenzie membawa Si Bungsu berkeliling rumah dua tingkat itu. Tak layak rasanya menyebut rumah itu sebagai “rumah” lebih layak disebut sebagai istana. Ruang tengah juga dihias dengan gaya Jepang yang indah. Disana cahaya matahari masuk lewat dinding kaca sebelah atas. “Anda akan saya bawa kesebuah ruangan dimana anda pasti mengenalnya dengan baik…” ujar MacKenzie pada tamunya yang masih saja berdiam diri.

Tak lama kemudian mereka sampai diruangan yang dimaksud oleh orang itu. Si Bungsu merasa dirinya dipaku kelantai. Ditengah ruangan itu ada kolam ikan yang indah dan bukit-bukit kecil. Dilereng perbukitan, terletak beberapa buah miniatur rumah adat Minangkabau! Lengkap dengan lumbung padi dengan ukuran mini, dan disudut lumbung, lewat sebuah sungai buatan yang selalu mengalirkan air, terdapat sebuah kincir yang senantiasa berputar!

“Ya, ini adalah tiruan tanah Minangkabau. Michiko memintanya. Saya telah mencari kemana-kemana. Lewat seorang teman yang pernah bertugas di Indonesia, saya memperoleh foto dokumentasi tentang negeri anda. Selanjutnya adalah urusan para tukang untuk mewujudkan foto itu kedalam bentuk miniatur ini. Saya mengabulkan hampir semua permintaannya. Saya mencintainya. Saya sangat mencintainya, itu harus anda ingat baik-baik. Saya menunggu bertahun-tahun baru akhirnya dia menerima lamaran saya…” Si Bungsu menatap lelaki didepannya. Thomas MacKenzie juga menatapnya.

“Saya tahu, kalian saling mengasihi dan akan menikah di Bukittinggi. Namun sesuatu terjadi di Lembah Anai. Hal itu dia ceritakan sendiri. Dia tetap mencintai anda. Hanya keadaanlah yang menyatukan kami sebagai suami istri. Saya beritahukan ini pada anda, hanya semata-mata untuk menghindarkan salah mengerti antara anda dengan dia. Dia gadis yang baik, Tulus dan Ikhlas. Dan amat setia pada anda. Namun ada jarak yang amat jauh memisahkan kalian. Saya tidak melarikan dia kesini seperti sangkaan anda. Tidak! Saya bukan tipe lelaki yang demikian.

Dalam puluhan peperangan di puluhan negara di dunia ini. Saya bisa memperoleh wanita yang bagaimanapun cantiknya. Itu hanyalah masalah biologis. Ketika seseorang menitipkan Michiko kepesawat saya, Gadis itu telah luka dalam penyerangan oleh pasukan yang saya tidak ingat lagi. Semula saya menolak. Tapi keadaan sangat kritis, kami akan celaka kalau tidak segera berangkat. Tak ada kesempatan lagi menurunkan Michiko yang sudah diikatkan di sabuk heli saya. Kami mendarat disebuah lapangan udara rahasia di singgapura. Gadis itu diobati secara darurat disana. Karena kesulitan berbagai keimigrasian.

Saya akhirnya memutuskan membawa dia menyebrangi laut menuju Amerika ini. Itu semua tanpa jalur resmi. Seperti anda ketahui saya bisa dengan mudah mengaturnya. Maka dengan pesawat Jet khusus, yang biasa kami muati dengan senjata, Michiko saya bawa kemari. Saya obati, dalam proses itu saya jatuh cinta padanya. Cukup lama, tetapi saya menemukan perempuan yang saya impikan selama ini….” Sepi.

Tak seorangpun bicara setelah itu. Si Bungsu yang duduk didepan MacKenzie, menatap kesamping. Ke kolam buatan yang diatasnya berputar kincir angin mini. Tiba-tiba MacKenzie berdiri. Kembali mengulurkan tangan pada Si Bungsu. Si Bungsu bangkit. Nampaknya inilah wujud dari pertemuan itu. Dia tak diminta bertemu dengan Michiko. Yang disembunyikan entah dimana. Tapi dia di minta datang hanya sekedar penjelasan bagaimana mereka bisa menikah. Dia sambut uluran tangan MacKenzie. Dan berniat untuk tak pernah lagi bertemu dengan Michiko. Tidak, pertemuan yang sekali itu cukuplah sudah. Namun MacKenzie berkata lain.

“Saya hanya memberi penjelasan pengantar. Cerita lengkapnya anda bisa dengar dari Michiko. Tuan, saya tahu Tuan amat mencintainya dan saya juga tahu dia amat mencintai Anda. Jika dia mau kembali pada tuan, saya dengan senang hati melepaskannya. Demi Tuhan, Saya takkan memaksanya. Dan saya takkan sakit hati. Kini terserah padanya. Saya telah pikirkan itu masak-masak. Dan saya telah sampaikan itu padanya. Pertemuan ini dia yang meminta. Saya akan pergi sampai sore atau malam. Saya berharap kalau kembali nanti, persoalan antara anda dengan dia telah selesai dalam artian yang sesungguhnya……”

Kemudian lelaki itu melangkah pergi. Sampai detik itu sejak dia datang dirumah itu setengah jam lalu. Tak sebuah bunyi pun yang keluar dari mulutnya. Usahkan kata, apalagi kalimat. Bunyi saja tak sempat atau tak sanggup dia keluarkan.

MacKenzie lenyap diruang depan. Lalu terdengar suara mobilnya menjauh. Dia masih tegak disana, sepi.! Ada suara gericik air terjun dari sungai buatan, menerpa daun-daun kincir. Memutar rodanya dan jatuh kekolam buatan yang dipenuhi ikan berwarna-warni. Kesana dia kembali melabuhkan pandangannya. Mentap airnya kehilir, tak bisa berbalik kehulu. Seperti suratan nasib manusia. Apa yang telah terjadi, tak mungkin di hela untuk diperbaiki atau di rubah.

Yang telah terjadi, terjadilah. Yang akan terjadi di masa depan, barangkali bisa direncanakan. Dia masih tegak mematung, ketika firasatnya mengatakan ada orang lain diruangan yang membangkitkan kenangan akan kampung halamannya itu.

Secara naluriah dia menoleh, dan… tubuhnya seperti tak tahan menahan gigilan. Di dekat arah perbukitan di dalam taman itu, di jalan setapak dekat dinding,berdiri seorang perempuan dengan pakaian serba putih. Agak pucat, namun secara keseluruhannya, dia adalah perempuan yang amat cantik. Michiko!

Perempuan itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Kemudian melangkah seperti melayang. “Bungsu-san…” “Michiko-san…” ujar Si Bungsu, namun suaranya tak terdengar, hanya bergema didalam hati. “Bungsu-san…” himbau michiko yang kini telah berlari kearahnya. “Michiko.. kekasihku..” himbau Si Bungsu. Namun sedesahpun suaranya tak keluar.

Himbauan itu hanya bergema dalam hatinya yang luka, hatinya yang hiba. Lalu tiba-tiba michiko telah memeluknya. Perlahan, antara ragu-ragu dan rindu yang alangkah tak tertahankannya, tangannya hampir memeluk tubuh michiko. Namun itu tak dia lakukan. Gadis itu menangis, terisak-isak.

“Bungsu-san.. Oh, Tuhan kenapa semua ini bisa terjadi…” dan gadis itu menangis. Si Bungsu merasa jantungnya tertikam. Merasa hatinya disayat-sayat sembilu. Dia lelaki yang telah membunuh tak sedikit manusia. Yang telah banyak mengalami siksa dan cobaan. Namun airmatanya jadi kering, tapi kali ini, matanya basah. Sebasah hatinya yang seakan terluka berlumur darah. “Bungsu-san, bicaralah. Mengapa kau membisu begini. Engkau menghukumku. Jangan menghukum begitu. Bicaralah.. Bunggsu-san…” Michiko memohon diantara tangisnya.

Gadis itu menengadahkan kepala, meraba dengan jarinya yang lentik wajah Si Bungsu, dan ketika melihat mata Si Bungsu basah, dan air mata lelaki itu tiba-tiba jatuh menimpa pipinya, Michiko benar-benar luluh. Si Bungsu tak sepatahpun mampu bicara. Tak sepatahpun. Padahal banyak sekali yang ingin dia katakan, yang ingin dia tanyakan, sampaikan. Namun sepatahpun terucapkan. “Jika Istriku sampai keguguran karena peristiwa ini, kau akan menangung akibatnya…”

Ucapan MacKenzie di restoran beberapa hari yang lalu tiba-tiba seperti terngiang di telinganya. Perempuan yang memeluknya ini, bukan lagi kekasihnya. Kini dia istri orang lain dan dia lagi hamil! perlahan dia papah perempuan itu duduk dikursi. “Kau bahagia bersama suamimu, Michiko?“ itulah pertanyaan pertamanya. Pertanyaan yang tumbuh tatkala dia mengingat pesan Angela ketika akan berangkat tadi. “Bila dia tak bahagia, maka jangan ragu-ragu, bawalah dia pulang ke Indonesia atau kemana saja.Tapi kalau memang dia bahagia bersama lelaki itu, biarkanlah dia menempuh hidup bersama suaminya...”

Ucapan Angela terngiang ditelinganya. Namun Michiko tak menjawab pertanyaan itu. Dia kembali memeluk Si Bungsu. Perlahan dan hati-hati sekali, agar gadis itu tak merasa tersinggung, dia lepaskan pelukan itu. Mendudukkannya kembali kekursi. Menggenggam tangannya, dan menatap matanya. Lalu tiba-tiba dia dapat jalan untuk mengalihkan pembicaraan.

“Rumah Gadang yang kau buat berikut kincir dan Gunung-gunung itu, Indah dan mengingatkan aku pada kampungku..” katanya mencoba tersenyum. Namun Michiko tak peduli. Dia masih menatap Si Bungsu. “Di ruang depan, kuil dan rumah-rumah mini seperti diJepang, mengingatkan aku ketika naik kereta api menuju Nagoya…” Michiko masih menatapnya. Dia kehabisan bahan untuk bicara. Akibatnya sepi. “Bila kau sampai di Dallas Bungsu-san..?”

Si Bungsu menarik Nafas. Lega karena akhirnya Michiko mau bicara. Tidak hanya menangis dan memeluknya. “Sudah cukup lama. Aku datang dengan seorang teman…” “Dari siapa kau ketahui bahwa aku ada dikota ini?” Ku sangka kita tak akan pernah bertemu lagi Bungsu-san.. Tak akan pernah lagi. Tempat ini alangkah jauhnya memisahkan kita…” “Itu sebabnya kau memilih menikah saja dengan MacKenzie, bukan?” tanya Si Bungsu, tapi didalam hati. Untung saja kalimat itu tak pernah keluar. Yang keluar adalah.

“Saya juga menyangka takkan pernah bersua lagi, Michiko-san…” “Saat pencegatan di lembah Anai itu aku diselamatkan perwira PRRI yang mengenalmu. Atau paling tidak mengenalmu dari cerita kawan- kawannya. Mereka tahu, ada Gadis Jepang mencarimu, dan aku diselamatkan karena itu Bungsu-san….” Michiko lalu menceritakan perjalanannya sejak dia terluka dirumah darurat di pinggang Gunung singgalang. Ceritanya persis seperti cerita MacKenzie.

Dia luka parah. Komandan pasukan PRRI itu, yang kenal nama Si Bungsu lewat teman-temannya, segera mengambil alternatif cepat dan darurat. Pada saat penyergapan APRI atas pasukannya itu terjadi, sebuah helikopter baru saja mendarat. Helikopter itu barangkali sewaan dari sebuah perusahaan swasta yang banyak terdapat di Singapura dan Vietnam.

Namun yang jelas,senjata yang diturunkan dari heli itu adalah buatan Amerika Serikat. Pilotnya juga berkebangsaan Amerika yaitu Thomas MacKenzie. Bekas pasukan udara Amerika. Perwira PRRI itu meminta MacKenzie membawa Michiko. Tak peduli kemana, pokoknya dibawa. Barangkali bisa ke Singapura atau Hongkong. Kalau sudah disana, Gadis Jepang itu tentu akan mudah pulang ke negerinya.

Kalau tinggal bersama mereka, dalam perang yang berkecamuk begitu, maka bahaya besar mengancam. Barangkali akan mati kehabisan darah. Sebab luka di bahunya amat parah dan mereka tak mempunyai alat atau dokter. Letaklah dia selamat, maka gadis secantik dan menggiurkan seperti dia, pasti akan memancing selera buruk pasukan yang menemuinya.

Barangkali dia diperkosa oleh pasukan PRRI sendiri, atau barangkali juga oleh pasukan APRI. Ah, dalam negeri yang diamuk perang, tak ada yang mustahil untuk terjadi. Dalam perang, sebahagian orang berobah jadi serigala. Di Minangkabau sendiri contoh itu sudah terlalu banyak untuk disebut satu demi satu.

Begitulah, Michiko kemudian tidak hanya dibawa ke Singapura, tetapi karena lukanya yang parah, ditambah MacKenzie memang bergegas pulang ke Dallas untuk transaksi pembelian senjata gelap yang akan dikirim kesalah satu negara bergolak di Afrika, maka gadis yang luka itupun dia bawa terus ke Amerika. Dia bawa gadis itu di samping akan mengobatinya, juga karena tiba-tiba dia jatuh hati pada gadis Jepang yang dalam keadaan koma itu. Di Dallas, Michiko dia masukkan ke rumah sakit paling mewah.

“Sembuhkan dia dengan segenap keahlianmu! Jika perlu, kumpulkan dokter yang pandai di Amerika ini, obati dia sampai sembuh. Jangan pikirkan soal biaya…” begitu instruksi MacKenzie pada dokter kepala, yang juga sahabatnya, di rumah sakit itu. Uang bagi MacKenzie tak jadi soal. Dia merupakan seorang ”baron” penyelundupan senjata gelap yang dikehendaki oleh siapa saja dan dimana saja. Dia telah mengirim senjata dalam jumlah jutaan pucuk, berikut bom, dinamit, dan pesawat terbang keberbagai negara.

Tak peduli negara itu tengah bergolak atau tidak. Untuk membeli bedil, orang tak harus menunggu pergolakan. Irlandia misalnya, sepuluh tahun sebelum memulai pemberontakan terhadap Inggris, mereka telah membeli bedil. Demikian juga Mauratania, Aljazair, Angola, Namibia dan Chad. Negeri-negeri yang pernah jadi neraka di Afrika. Sebagian besar dari senjata yang digunakan mereka beli dari MacKenzie.

Begitu juga negara-negara kepulauan kecil seperti Cape verdex yang dijajah Portugis, Kepulauan Mauritius, termasuk Indonesia. Semua kebagian bedil dan peralatan perang lainnya dari senjata gelap ini. Michiko akhirnya sembuh. Dia tahu bahwa keadaannya amat kritis. Dan dia juga tahu bahwa ongkos untuk penyembuhannya amatlah besar. Dia merasa berhutang budi pada orang yang membiayai pengobatannya. MacKenzie saat itu amat jarang di Dallas, dia lebih banyak di atas pesawat terbang. Memuat senjata dan menerbangkannya kesegenap penjuru dunia.

Dia amat ulet dan licin bagai belut. Kendati pengiriman senjata ke negeri-negeri bergolak itu didanai Amerika, namun bila terjadi sesuatu, Pemerintah Amerika akan cuci tangan. Karena itu dia harus hati-hati menghadapi pasukan resmi dari negeri-negeri yang membeli senjatanya untuk memberontak.

Dia bekerja diantara dua kekuasaan yang saling bertentangan, sementara dia juga harus pandai-pandai, jangan sampai bedil sudah didrop tapi duitnya tidak dibayar Pemerintah Amerika. Namun setiap dia ada di Dallas, dia terus kerumah sakit dimana Michiko dirawat. Dia menunggui dan menghiburnya. Mula-mula mereka menjadi sahabat. Keinginan Michiko satu-satunya adalah dikirim kembali ke Indonesia jika telah sembuh dan Thomas MacKenzie berjanji untuk mengirimkannya pulang.

Namun, MacKenzie diam-diam jatuh hati pada Michiko. Dia benar-benar mencintai gadis itu sepenuh hati. Dia berusaha membujuknya. Dia cukup sportif, tidak mau memaksa. Sebaliknya, Michiko menceritakan terus terang padanya, bahwa dia sudah bertunangan dengan seorang pemuda Indonesia. Dikatakannya juga, kehadirannya dihutan ketika terluka dalam penyergapan APRI itu, adalah karena mereka akan ke Bukittinggi, dimana dia akan dilamar oleh sahabat Si Bungsu sebagai mewakili kerabatnya.

MacKenzie bukannya menyerah mendengar itu. Sebagai lelaki yang selama ini tak pernah tidak memperoleh apa yang dia ingini, kini pun ingin agar perempuan yang diidami itu didapatnya. Tapi kali ini dia tak ingin mendapatkan dengan kekerasan atau dengan tipuan. Jika mau, dia bisa saja membius gadis itu, atau memberinya obat perangsang. Gadis itu pasti diperolehnya. Namun MacKenzie sudah jera dengan hal-hal yang serupa itu, yang sudah ratusan kali dia lakukan pada perempuan dari berbagai negeri.

Terhadap Michiko dia tak ingin melakukannya. Dia tak ingin meminum air yang telah dikotorinya. Karena itu dia berusaha meningkatkan persahabatan mereka menjadi lebih baik. Bukan rahasia lagi, perempuan adalah makhluk lemah, yang butuh kasih sayang. Butuh perhatian, dan biasanya yang dekat api jua yang akan panas. Michiko memang gadis yang teguh.

Dia mencintai Si Bungsu dengan sepenuh jiwanya. Tentang hal itu tak usah pula disangsikan, bahwa dia sepenuhnya perempuan. Yang terdiri dari tulang belulang dan daging sebagai manusia biasa. Selagi namanya manusia,pasti punya kelemahan dan kekurangan. Michiko tidak lemah dalam menghadapi godaan. Namun godaan yang datang terus menerus, berhari-hari, berbulan-bulan dan bahkan berganti tahun, hatinya yang kukuh mulai goyah.

Lagipula MacKenzie adalah lelaki yang memang amat patut digilai oleh perempuan. Berwajah gagah, jantan, kaya, simpatik, dan terhormat serta penuh saayang pada Michiko. Semuanya lebih dari pada cukup untuk menaklukan hati perempuan manapun jua. Michiko terkadang memenuhi ajakan MacKenzie, untuk pergi ke resepsi kenalan, atau tamasya. Yaitu menjelang kesehatannya benar-benar pulih. Dia memenuhi ajakan MacKenzie sebagai penghormatan dan tak mau orang yang telah berbudi padanya itu kecewa bila berkali-kali ajakannya di tolak.

Namun, harus diakuinya terus terang bahwa beberapa kali bergetar atas sikap dan rayuan MacKenzie. Suatu malam ketika mereka berlibur untuk terakhir kalinya di air terjun Niagara, terjadilah hal yang tak diiingini. Disebut ”terakhir kali” karena Michiko telah bertekad, bahwa setelah itu dia ingin pulang keIndonesia. Mereka berlibur selama sepekan. Berkeliling dengan mobil dari wilayah paling utara dan paling atas Mount Pas, sampai ke daerah paling selatan tiga puluh kilometer di bawah sana yang disebut sebagai base water.

Puas berkeliling dengan mobil, mereka mencarter helikopter. Thomas MacKenzie menerbangkan heli itu rendah diatas permukaan air, kemudian perlahan-lahan turun mengikuti curahan air terjun dalam jarak sepuluh meter. Tak bisa dekat dari itu. Air itu berkabut saking besarnya. Bianglala kelihatan seperti menjembatani antara air terjun yang besar dengan beberapa anaknya, air-air terjun yang lebih kecil.

Di hari keempat mereka menaiki kapal pesiar yang membawa mereka dekat sekali kejeram dimana air terjun itu menghujam. Michiko benar-benar terkesima dengan keindahannya. Malamnya mereka menonton teater, lalu pulang menjelang subuh. Michiko yang lelah dan mengantuk, diantarkan MacKenzie kekamarnya. Tubuhnya di bopong oleh MacKenzie. Dibaringkan perlahan di pembaringan. Ketika membaringkan di pembaringan itu, MacKenzie mengecup dengan lembut bibir Michiko. Secara naluriah, gadis itu membalasnya, antara sadar dan tidak. Ciuman yang makin lama makin memanas.

Lalu, terjadilah segalanya. Michiko sendiri tertidur pulas setelah peristiwa itu. Dia baru terkejut dan seperti di sambar petir, tatkala bangun kesiangan esoknya. Dia dapati dirinya tengah memeluk tubuh MacKenzie. Di bawah selimut kedua tubuh mereka tak memakai apa-apa.! Dia menjerit. Jeritannya menyentakkan MacKenzie dari tidur. Gadis itu jadi histeris. MacKenzie jadi kalang kabut. Sesungguhnyalah, lelaki itu menyesal. Dia benar-benar tak akan melakukannya kalau malam tadi michiko tidak bersedia. Padahal segalanya terjadi tanpa ada paksaan, tanpa ada penipuan.segalanya terjadi secara wajar dan alamiah sekali.

Berhari-hari setelah itu, MacKenzie berusaha membujuk, mengatakan bahwa Michiko bisa meminum obat pemunah, kemudian akan diantarkan ke Indonesia. Namun Michiko sudah amat menyesal. Dia telah merasa menghianati cintanya pada Si Bungsu. Dia akan merasa berdosa seumur hidup pada anak muda dari Gunung sago itu kalau kelak mereka menikah.

“Apakah anda benar-benar mencintaiku, MacKenzie?” tanya Michiko setelah sepuluh hari dari peristiwa di Niagara itu. Tentu saja MacKenzie kaget mendengarkan pertanyaan itu. Buat sesaat bekas penerbang dan maharaja penyelundup itu terpana. “Katakanlah, apakah kau benar-benar mencintaiku MacKenzie?” “Ya Tuhan, tentang hal itu tak perlu kau tanyakan Michiko…” “Jawablah dengan pasti bahwa kau mencintaiku…” “Demi Yesus kristus tak ada seorang perempuan selama ini yang kucintai seperti aku mencintaimu, Michiko…” “Apakah kau mau mengambil aku sebagai satu-satunya istrimu dan berjanji akan setia padaku?” Bibir MacKenzie jadi pucat. “Ya Tuhan Jangan tanya begitu. Michiko, saya amat mencintaimu, tapi…saya tak mau engkau menikah dengan ku hanya karena penyesalan. Apa yang telah terjadi diantara kita, barangkali sesuatu yang amat luar biasa, tapi bisa juga sesuatu yang sangat sepele. Kau bisa meminum obat, maaf aku tak bermaksud menghinamu. Saya tau kau amat mencintai pemuda itu…” Michiko menangis. Namun dia telah teguh pada pendiriannya. Dengan menggigit bibir dia bertanya lagi.

“MacKenzie, aku tak bisa datang padanya dengan tubuh yang sudah kuberikan padamu. Aku mencintainya, tapi yang telah kita lakukan..oh.. Kau harus berusaha agar aku juga mencintaimu…” MacKenzie memeluk gadis itu. Dan terjadilah apa yang harus terjadi. Nasib manusia memang bisa dirobah menurut usaha manusia itu. Namun tak seorangpun yang mampu merubah jalannya takdir. Si Bungsu dan Michiko, dua anak manusia yang berlain bangsa, di pertemukan oleh permusuhan antara keluarga, dan ditautkan hati mereka oleh darah dan pembunuhan-pembunuhan yang tak kenal perikemanusiaan.

Mereka telah menjalani hidup ini dengan segala pahit getirnya. Berjanji untuk sehidup semati. Siapa sangka, yang terjadi justru yang diluar rencana dan usaha mereka. Mereka telah berkelana di bawah kolong langit ini, mencari nilai-nilai keadilan dan mencari diri mereka sendiri. Berjuang untuk tetap bisa hidup, namun Tuhan jua yang menentukan segalanya.

Di bawah langit, Hidup adalah laut. Sejuta rahasia terpendam didalamnya. Di bawah langit. Takdir adalah gunung karang. Tak seorang kuasa mengungkitnya di bawah langit. Hidup adalah perang tanpa akhir.

Michiko menceritakan semuanya. Ya semua yang telah terjadi itu pada Si Bungsu. Dia ceritakan di antara air matanya yang mengalir turun. Di antara isaknya yang pecah, di antara desah air terjun buatan yang menimpa daun-daun miniatur kincir diruang tengah rumahnya.

Ada dua hal mengapa dia menikah dengan MacKenzie, pertama karena peristiwa di air terjun Niagara itu, kedua karena hutang budi. MacKenzie, menurut Michiko, telah begitu banyak berbuat untuknya dalam usaha penyembuhannya akibat tertembak saat konvoi APRI disergap di Lembah Anai. Setelah dia bercerita suasana sepi diruangan itu. Michiko menatapnya. Si Bungsu juga menatap Michiko.

“Kau mengerti perasaanku Bungsu-san?” Si Bungsu mengangguk. “Kau dapat mengerti betapa situasi yang menyebabkan aku menikah dengan MacKenzie?” Si Bungsu mengangguk. “Kau tidak marah padaku, bukan?” Si Bungsu menggeleng. Michiko tiba-tiba memeluknya, menangis di dadanya. “Jangan siksa aku dengan sikapmu yang hanya mengaangguk dan menggeleng, Bungsu-san. Jangan siksa aku dengan berbuat begitu. Bicaralah agak sepatah, betapa bencinya kau padaku, namun bicara jualah. Aku masih tetap Michikomu yang dahulu. Michiko yang kau tolong di Asakusa, tatkala akan di perkosa tentara Amerika. Michiko yang kau tolong dalam kereta api tatkala menuju Kyoto. Michiko yang masih tetap mencintaimu. Bicaralah agak sepatah, lelaki yang aku cintai…”