Tikam Samurai Si Bungsu Episode 5.3

Tangannya memetik beberapa kuntum bunga plastik yang mirip benar bunga sungguhan yang dipakai sebagai karangan bunga di makam itu. Dia menyimpan kuntum bunga berwarna violet itu dalam kantong jas hujannya. Dan ketika dari kejauhan terdengar bunyi genta lonceng gereja, dia melangkah meninggalkan areal pusara tersebut. Senjapun turun memeluk pemakaman itu.

Esoknya, dia duduk termenung sendirian di hotel. Memikirkan langkah yang akan dia ambil. Dia akan mencari Michiko, tapi terlebih dahulu dia akan mencari jejak pembunuh Tongky. Pembunuh sahabatnya itu harus dia temukan. Dia akan membuat perhitungan. Tapi kemana dia harus mencari mereka? Di negeri asing dan seluas ini? Apa yang dia ketahui tentang negeri ini?

Ah, ketika mula pertama dia datang di Jepang dahulu dia juga tak tahu apa-apa tentang negeri itu. Malah hanya bisa ngomong bahasa Jepang sepatah-sepatah, belajar dari Kenji selama pelayaran dari Singapura menuju Jepang. Kini dia fasih berbahasa Inggeris. Dia dengan mudah berkomunikasi dengan setiap orang. Dia duduk termenung, dan tiba-tiba ada suara di aiphone.

‘’Tuan, jika tuan melihat keluar dari jendela kamar tuan, tuan akan melihat demonstrasi kelompok Klu Klux Klan yang pagi kemarin membunuh teman tuan…’’

Si Bungsu tersentak. Suara di aiphone itu pastilah suara petugas di resepsionis. Dia segera bangkit, menuju ke jendela. Jauh di bawah sana, dalam terik matahari pukul sepuluh, dia lihat orang-orang berpawai. Ada yang berkuda, ada yang berjalan kaki. Dari tempatnya di tingkat tujuh ini, kelompok di bawah sana tak begitu jelas.

Orang-orang di atas punggung kuda itu, maupun yang berbaris, hampir semua memakai semacam topi yang bahagian atasnya runcing. Wajah mereka tertutup habis, hanya ada dua lobang kecil tentang mata untuk sekedar tempat melihat. Sebahagian besar pula diantara orang-orang itu kelihatan memakai jubah putih. Banyak sekali spanduk yang mereka bawa.

Merasa tak puas melihat dari jauh, dalam waktu singkat Si Bungsu sudah turun ke bawah. Para penghuni hotel yang lain nampaknya tak acuh. Mereka lebih suka berada di hotel saja ketimbang melihat demonstrasi itu. Si Bungsu mendekat ke jalan raya. Melewati teras dimana pagi kemarin Tongky tertembak mati. Lalu berjalan sekitar lima puluh meter untuk mencapai jalan besar dimana para demonstran itu lewat.

Ternyata semua mereka memakai jubah putih mirip jubah pendeta. Di dada sebelah kiri mereka ada gambar salib terbakar dan gambar bercak-bercak merah darah. Mereka umumnya membawa bedil. Senapan mesin, pistol dan sejenisnya. Mereka membawa poster-poster yang mencaci maki pemerintah yang memberi hati terhadap kulit hitam. Mereka juga menulis dalam poster tentang niat mereka melenyapkan kulit hitam dari seluruh daratan Amerika.

Beberapa kali demonstran ini menembakkan senapan mereka ke udara. Mereka berteriak-teriak. Si Bungsu membayangkan, bahwa salah seorang diantara wajah-wajah yang bersembunyi di balik topeng itu adalah wajah yang kemarin menembak mati Tongky di hotel ini. Dia tak mengerti kenapa demonstran begini dibiarkan pemerintah. Kenapa tak seorangpun kelihatan polisi atau tentara yang dikerahkan untuk membubarkan demonstrasi yang jelas-jelas menginjak injak deklarasi Amerika tentang penghapusan perbudakan yang dipelopori oleh Abraham Lincoln itu.

Bukankah dahulu perang saudara yang dipicu oleh deklarasi penghapusan budak telah membelah Amerika bahagian Utara yang anti perbudakan dengan wilayah di Selatan yang ingin tetap mempertahankan perbudakan? Bukankah akhirnya Selatan kalah dan menerima tanpa syarat penghapusan perbudakan? Kenapa kini ditahun 1963 ini, demonstrasi yang menghasut tumbuhnya kembali semangat perbudakan itu dibiarkan berbuat leluasa?

Pertanyaan itu terjawab ketika suatu hari dia berada di sebuah perpustakaan kota. Pustaka itu terletak di sebuah gedung tua bertingkat enam. Pustakanya sendiri berada di lantai lima. Seorang tua terkantuk-kantuk karena sepinya pengunjung.

‘’Polisi bukannya takut menghadapi Klu Klux Klan itu, Tuan. Tapi mereka hanya menghindarkan bentrok berdarah. Kaum anti-kulit hitam itu berdemonstrasi akibat disahkannya tiga Undang-Undang dalam setahun ini, yang memberi hak sama dan keleluasaan lebih luas bagi kulit hitam. Itu berarti kalahnya loby mereka di Senat…’’ penjaga pustaka itu menjelaskan pertanyaan Si Bungsu sambil berjalan ke sebuah rak.

‘’Anda butuhkan segala sesuatu keterangan tentang organisasi iblis itu?’’ ‘’Benar, Pak …’’

‘’Tak banyak keterangan tentang mereka. Yang ada hanyalah kliping koran, majalah dan sedikit buku- buku. Organisasi itu sendiri berdiri pada tahun 1865. Nah…. Ini dia. Di rak yang sedikit ini adalah segala tulisan tentang Klu Klux Klan. Anda bisa membacanya. Saya akan meninggalkan Anda di sini. Kalau Anda akan meminjam buku, Anda bisa membawa sebanyak yang Anda suka dengan meninggalkan uang jaminan karena Anda bukan anggota. Kalau Anda ingin membaca di sini, Anda dapat membacanya sampai besok pagi…’’

‘’Terima kasih, Pak tua. Saya akan membacanya di sini, barangkali hanya sedikit yang ingin saya baca’’

Orang tua itu meninggalkan Si Bungsu yang lalu meneliti buku-buku yang ada di rak yang tadi ditunjukkan lelaki tua itu. Semua kelihatan masih baru. Hanya sedikit berdebu. Majalah, koran dan beberapa buku cetakan khusus yang tak begitu tebal. Dia memilih sebuah majalah, The New York Times. Dia mengetahui dari Kapten Fabian bahwa koran yang satu ini dapat dipercaya keterangannya.

Penjelasan itu di berikan Fabian ketika mereka mendiskusikan berita-berita tentang Indonesia yang dimuat oleh koran-koran asing. Edisi itu memuat tulisan khusus tentang gerakan Klu Klux Klan. Ditulis oleh Wayne King. Koran yang bermarkas di San Fransisco itu menulis :

Lahirnya Klu Klux Klan di mulai dari pertemanan veteran perang saudara. Mereka yang berenam berasal dari pasukan selatan yang di kalahkan pasukan utara dalam perang anti-perbudakan di zaman Abraham Lincoln. Nampaknya mereka yang tampak lahirnya saja menerima kalah, namun dalam diri mereka masih berkobar semangat anti-kulit hitam yang amat menyala-nyala. Pertemuan itu di lakukan di sebuah kantor pengacara Pulaski, Tennessee, sehari menjelang natal tahun 1865.

Mereka bersepakat untuk mendirikan sebuah organisasi anti kulit hitam yang bernama Klu Klux Klan. Nama itu di ilhami dari bahasa Yunani KUKLOS, yang artinya lebih kurang kelompok. Kuklos adalah untuk kata Klu Klux, masih agak kurang serasi kalau hanya terdiri dari dua suku kata, mereka mencari satu kata lagi yang akan ditambahkan. Rapat hari itu tidak berhasil memutuskannya. Barulah sebulan kemudian mereka mendapatkannya.

Salah satu dari perwira yang berenam itu secara tidak sengaja meneliti asal usul orang-orang yang mendirikankan kelompok itu, ternyata keenam mereka berasal dari Scotlandia, Eropa Barat. Maka dari negeri asal mereka itu diambil kata Klan, yang artinya kurang lebih sama dari Kuklos itu. Maka arti Klu Klux Klan itu adalah kelompok-kelompok, yang sebenarnya ditafsirkan sebagai kelompok semu atau kelompok bayangan.

Mereka juga memberi nama gerakan mereka dengan KERAJAAN BAYANGAN PARA KSATRIA KLU KLUX KLAN. Lambang yang mereka pakai untuk organisasi mereka adalah gambar salib yang dijilat api menyala dengan bercak-bercak merah berwarna darah! Mereka menetapkan Hierarki kekuasaan dalam organisasi itu. Menyebut secara rahasia nama hari dan bulan. Pemimpin besar klan yang pertama adalah Jendral (yang kalah perang) Nathan Bedford Forrest.

Mereka mulai menghimpun senjata yang banyak di sembunyikan waktu perang saudara berakhir. Namun saat itu senjata itu sudah dianggap ketinggalan Zaman. Lalu mereka menggalang dana secara terang-terangan berkampanye mencari anggota. Rasa permusuhan terhadap kaum kulit hitam saat awal kekalahan perang saudara itu masih sangat membara. Dan rasa pahit dikalahkan utara seperti luka yang masih menganga lebar.

Maka tak heran, hanya dalam waktu empat tahun saja, Klu Klux Klan telah menghimpun anggota tak kurang dari empat juta orang! Dari anggota yang umumnya orang kaya dan tuan tanah di selatan, yang memang membutuhkan budak-budak negro untuk bekerrja di perkebunan mereka, Klu Klux Klan mendapatkan dana yang tidak sedikit, dari dana yang mereka peroleh itu, mereka belikan senjata modern dan mendirikan markas besar di hutan atau di pegunungan, bahkan membelikan pesawat terbang!

Saat itu mesin rasialisme yang berbentuk Iblis, benar-benar telah lahir di Amerika. Dan mesin iblis ini kelak akan terus hidup dan melindas Amerika dalam bentuk teror berdarah terhadap warga kulit hitam.

Demikian ditulis oleh Wayne King dalam The New york Times. Si Bungsu mendapat gambaran tentang organisasi yang disebutkan wayne King, sebagai ‘mesin Iblis’ itu. Mesin Iblis! Orang-orang itu membunuh tanpa perasaan sama sekali. Mereka bergerak secara mekanis dan berdarah dingin.! Besoknya dia datang lagi ke perpustakaan itu dan membaca buku lainnya yang memuat orang-orang dan pimpinan organisasi tersebut. Dalam sebuah buku yang berjudul ’Niger’ ditulis oleh A.B.R.Rosevelt, diungkap kan bahwa :

Sekitar tahun 1875 atau dibawah tahun itu, organisasi teror ini membubarkan diri. Namun tahun 1915 Klu Klux Klan muncul kembali. Kali ini muncul secara mencolok di stone Mountain, Georgia. Waktu itu ada imigrasi besar-besaran penduduk Yahudi, katolik dan sosialis dari eropa timur dan eropa selatan ke Amerika serikat. Namun kemunculan awal tahun 1900-an itu tersendat-sendat karena depresi yang melanda Amerika. Tahun 1961, klan membuat perserikatan klan Amerika. Sebagai pimpinan tertinggi terpilih seorang buruh pabrik karet dengan wajah mirip burung elang bernama Robert M.Shelton. Begitu terpilih segera dia merekrut pasukan keamanan dan ribuan pengikut di alabama.

Dan awal 1961-an ini, kaum kulit putih merasa ditampar oleh kemenangan kulit hitam dilapangan hak- hak sipil yang disahkan senat, maka berbondong-bondonglah kaum rasialis kulit putih memasuki Klu Klux Klan, menjadi pengikut shelton. Mereka, karena bencinya pada kaum kulit hitam, menyumbangkan pada shelton mulai dari uang, senjata, mobil dan.. pesawat terbang! Dan pimpinan Klu Klux Klan ini tak membuang waktu. Dia memulai aksi terornya. Mula-mula di california, seorang pejuang hak-hak sipil orang negro di berondong peluru ketika berada di mobilnya. Lalu di Dallas dua orang pejabat berkulit hitam di tebas batang lehernya. Bahkan di Birmingham, mereka membom gereja karena pendetanya mengutuk penindasan terhadap kaum kulit hitam. Dan sampai kini aksi organisasi masih berjalan terus. Melanda kota-kota besar Amerika terutama kota-kota bahagian selatan yang dulu memang dikenal mendukung perbudakan! Alat-alat negara bukannya tidak mau ikut campur, mereka bahkan berkali-kali bentrok dengan kelompok itu. bentrok dalam bentuk perang terbuka. Beberapa gembong Klu Klux Klan telah ditangkap dan dihukum penjara, namun beberapa di bebaskan karena di jamin.

Si Bungsu termenung dihotelnya. Dia kini tahu sudah tentang organisasi itu, dia tahu kenapa Tongky dibunuh. Dia tahu kenapa organisasi itu berdiri, dari mana sumber dananya, dan siapa pemimpin tertingginya. Namun hanya itu, penjelasan yang garis besar, tidak dijelaskan siapa-siapa tokohnya di Dallas ini. Dan tentu tidak ada alamat rumah atau kantor. Kini akan kemana dia? sendirian dikota asing yang tak beralamat ini? Mencari pembunuh tongky dimana? Semua jejak lenyap tak berbekas. Tak ada petunjuk, tak ada yang dikenal. Tongky menyebut nama sebagai penunjuk di kota ke Dallas ini yang bernama Alex.

Namun Alex dimana ? Mungkin ada ribuan orang bernama Alex dikota ini. Dimana dia bekerja? Tongky menyebutkan dia bekerja di wilayah utara, di Civilation City. Di salah satu kantor pemerintahan, kantor yang mana ? Dan lagi Alex tanpa nama keluarga dibelakangnya, adalah sulit mencarinya, alex apa? Alex yr, Alex sr, Alex kincaid, Alex ferguson? Tak pernah disebut Tongky, tak pernah.

Tiba-tiba dia teringat pada polisi yang menyamar tersebut! Ya, polisi yang dia lumpuhkan itu sebenarnya adalah anggota Klu Klux Klan, bukahkah polisi gadungan itu di tahan oleh polisi asli yang datang kemudian di rumah sakit? Dia harus kesana, ke kantor polisi untuk mencari jejak, walaupun sedikit!

“Anda tahu dimana kantor polisi nona?”dia bertanya pada gadis di front office hotel.

“Tahu beberapa buah, kantor polisi yang mana tuan inginkan tuan..”gadis berpakaian jaman napoleon itu berkata. Si Bungsu tertegun, ya kantor polisi yang mana? “Kantor polisi di wilayah ini..”akhirnya Si Bungsu menjawab. “Hmm, kalau diwilayah ini berada di jalan st.petersbug, tiga blok dari sini sebelah kiri anda, akan ketemu sebuah sinagoge. Didepanya ada sebuah jalan kekanan, diujung jalan itulah kantor polisi tersebut…” “Terima kasih Nona..” Beberapa saat dia telah sampai dikantor polisi tersebut, nampaknya hanya seperti kantor polisi distrik atau polsek tidak begitu besar. Di depannya terparkir empat buah mobil polisi berwarna putih, coklat, warna khusus polisi dallas, dengan lampu merah panjang diatapnya. Kantor polisi itu sendiri terdiri dari dua lantai.

Tak ada yang mengacuhkannya ketika masuk. Banyak orang berlalu lalang dikantor tersebut. Di bahagian depan agak kekiri duduk seorang perempuan yang lagi menangis di depan seorang polisi yang sedang sibuk menulis sesuatu dibukunya. Kemudian dua orang pemuda berpakaian semrawut setengah berbaring di kursi panjang tak jauh dari perempuan tersebut.

Mereka santai saja sambil mengunyah-ngunyah permen karet, di meja lain terdengar dua orang polisi berbantah tentang perempuan lacur yang barangkali mereka tangkap tadi malam. Dia menuju ketempat seorang polisi yang duduk dekat meja, polisi itu seperti mengisi teka-teki silang yang ada di majalah didepannya.

“Maaf, dapat tuan membantu saya?” polisi itu, usahkan menjawab, menoleh pun tidak. Dia hanya memberikan isyarat dengan ibu jari kirinya kearah kanan. Sementara matanya asik memandang gambar porno dimejanya. Si Bungsu mengikuti arah ibu jari polisi itu, dan dikanannya ada seorang polisi wanita yang cantik yang tengah sibuk menerima telpon. Ketika berjalan kearahnya, polwan itu tengah menerima dua buah telpon sekaligus, sementara telepon ketiga yang ada dimejanya berdering-dering dengan keras.

Dia tak tahu apakah polwan ini operator telpon atau bahagian informasi. Dia tegak cukup lama didepannya. Ketika polwan itu melihatnya langsung memberikan pencil dan kertas pada Si Bungsu, kemudian dengan isarat untuk menulis. Si Bungsu melihat kertas itu adalah kertas tentang pengaduan di kantor polisi.

Di situ di suruh jelaskan nama pengadu, umur, alamat, pekerjaan, kemudian isi pengaduan, kapan terjadinya, dan disitu juga tertulis pasal-pasal dan hukumannya kalau isi pengaduan nya bohong. Si pengadu bisa di penjara beberapa tahun sesuai dengan kualitas kebohongannya. Si Bungsu tidak mengisi apapun. Dan polwan itupun kembali menunjuk surat pengaduan itu, Si Bungsu menjawabnya dengan menggeleng.

“Kalau tidak mengadukan apa-apa sebaiknya anda pergi, saya tak punya waktu..” kata polwan itu sengit. Tak lama kemudian dia membanting kedua telpon yang ada ditangannya. Lalu mengangkat telepon yang satunya, yang sejak tadi berering-dering terus.

“Ya! tidak! Lebih baik nyonya menelpon pemadam kebakaran. Tidak! saya katakan tidak. Kami tidak punya tangga untuk menurunkannya, telepon saja pemadam kebakaran. Mereka punya tangga sampai ke langit, anda cari saja nomornya di buku telepon…” kembali dia membanting telepon itu. Namun telepon itu berdering lagi. “Nyonya, saya lapar. Belum makan tau..!”kembali dia membanting telepon itu. Kembali memandang Si Bungsu sambil menghenyakan pantatnya yang besar itu di kursi.

“Well, Tuan. Saya tidak punya waktu untuk anda. Jika anda tidak ada pengaduan apa-apa, saya harap anda menghindar dihadapan saya. Anda menghalangi orang lain yang ingin mengadu. Menghindarlah sebelum saya lempar dengan telepon ini…” Muka Si Bungsu jadi merah, polisi taik apa ini pikirnya. Kasar dan kurang ajar. Kertas yang sudah dia isi dengan beberapa kata dia coret dengan kasar. Lalu dengan penuh kekesalan dia tulis beberapa kalimat. “LU benar-benar polisi judes dan jelek. Lapar kok menjadi kasar, datang ke hotelku nanti ku beri makan sampai buncit...”

Lalu menghempaskan kertas pengaduan itu didepan meja polwan itu, kemudian balik kanan. Pergi dengan hati bengkak dan muak. Lalu menyetop taksi diluar. Naik dan menyuruh jalan. “Kemana tuan..?” “Kemana saja…” Sopir taksi itu tidak bertanya lagi, dia sudah teramat sering mendengar kalimat tersebut dari penumpangnya. Dia tahu harus membawa kemana penumpang yang berkata demikian. Dia bawa penumpang tersebut ke segala penjuru, kemudian berhenti didepan sebuah restoran.

“Disini ada makanan laut yang enak sekali, ada udang, kepiting, ikan. Semuanya masih segar, anda tinggal pilih dan tinggal menunggu sebentar dan disini juga ada nasi. Anda dari salah satu negara di asia bukan?” “Benar saya berasal dari asia, anda bermata tajam…” “Terima kasih, saya pernah bertugas di Vietnam selama sepuluh tahun. Saya mengenal beberapa orang asia. Anda dari malaysia atau Indonesia?”

“Ah, Anda menebak benar sekali. Saya dari Indonesia..” “Indonesia, Hmm..Negeri yang indah. Saya pernah cuti sepekan di negeri anda, saya turun di Jakarta sehari dan di Bali sepekan. Negeri yang indah meski penduduknya miskin, Maaf..” “Anda benar, Apakah anda ingin menemani saya makan?” “Terimakasih, saya membawa makananan sendiri…” Si Bungsu senang dengan sopir taksi ini, Dia ingin dapat kawan dikota ini. Siapa tahu dari dia dapat informasi tentang Michiko atau jejak pembunuh Tongky.

“Marilah kita makan, saya traktir anda..” Sopir itu tertawa, kemudian mereka turun. Masuk keretoran itu dan naik ke lantai dua. Si Bungsu memesan sepiring udang goreng, sopir itu memesan sejenis ikan kerapu berukuran besar. “Anda berasal dar negeri ini.?” “Ah, maafkan kita belum berkenalan. Nama saya Malcolm. Henry malcolm..” sopir separuh baya itu mengulurkan tangannya pada Si Bungsu yang duduk didepannya. Si Bungsuu menjabat tangannya sambil menyebutkan namanya.

“Ya, saya berasal dari negeri ini. Tapi dari wilayah agak selatan. Sebuah kampung miskin bernama Palm Knock. Penduduk dari sana kebanyakan jadi buruh disini. Tentang negeri anda itu Indonesia, adalah negeri yang indah. Komunis cukup berkuasa disana ya?’ “Ya,komunis cukup banyak. Bukan berkuasa…” “Sama saja. Maksud saya disini pun ada partai komunis. Dan itu legal, hanya disini mereka tidak punya posisi. Hanya partai minoritas. Tak masuk hitungan. Anda sudah berapa lama disini?” “Baru sebulan lebih…” “Wow..Baru benar, Selamat datang….”

Namun selesai makan dan Si Bungsu menceritakan tentang kematian tongky, Negro yang mati disebuah hotel di Dallas itu adalah temannya, sopir itu terlihat jadi berubah sikap. Dia nampak agak takut. “Maaf saya tak bisa membantu anda, walau ingin benar. Anda berhadapan bukan dengan manusia. Anda berhadapan dengan sindikat Iblis. Mereka tidak segan-segan menembak pastor atau kanak-kanak sekalipun.!” Si Bungsu akhirnya kembali kehotel. Tidur karena lelah berpikir, apa daya dia untuk memulai pencarian?

Beberapa hari kemudian. Dia sedang menoton televisi tentang keterlibatan Amerika dalam perang Vietnam, ketika didengarnya pintu kamar diketuk. Dia bangkit membuka pintu. Seorang wanita cantik berdiri didepan pintu, Hmm.. Paling-paling menawarkan untuk menemani tidur, pikirnya. “Maaf,saya tidak memesan..” katanya sambil menutup pintu.

Namun pintu itu ditendang wanita tersebut, Si Bungsu kaget kerana tendangan itu cukup kuat dan muka wanita itu merah mendengar ‘penolakan’ Si Bungsu.! “Kalau anda tidak memesan saya, saya tidak akan muncul disini. Anda yang menulis di kertas ini bukan?” ujarnya sambil melempar secarik kertas ke muka Si Bungsu, lalu melangkah masuk.

Si Bungsu ngeri melihat nekatnya wanita ini. Ini pasti semacam rencana pemerasan, pikirnya. “Kapan saya memesan anda, nona?” katanya dengan suara agak ditahan, masih mencoba bersopan-sopan karena yang dia hadapi adalah wanita. “Baca kertas itu, itu tulisan tangan anda bukan?”ujar wanita cantik berbau harum itu setelah berada dikamar dan tumitnya menghantam pintu hingga tertutup.

Si Bungsu masih menatap perempuan itu. Ini perangkap pikirnya, pasti! Dia menatap perempuan yang menyelonong masuk kekamarnya dan duduk di sofa tanpa disilakan. Perempuan cantik itu juga menatapnya. Si Bungsu mau tak mau menatap kertas yang dilempar ke dia tadi. Ya, tulisan di kertas itu memang tulisannya. Asli! Dia heran, inikan kertas laporan yang tak jadi dibuatnya beberapa hari lalu di kantor polisi dan dia banting di meja seorang polwan yang judesnya selangit itu. Kok bisa jatuh ketangan wanita ini.?

“Y..ya ini tulisan saya. Tapi ini kan..” bicaranya terputus saat dia menatap tepat-tepat ke wanita itu. Samar-samar ingatanya kembali membayangkan wajah polwan yang ada di polsek tersebut. Samar-samar wajah polwan itu terbayang lagi. “Ya tuhan, inikan polwan yang ada di polsek tersebut?” Wanita itu yang penampilannya jauh berbeda di banding saat dia bertugas di polsek dimana dia bertugas, hanya menatap dia dengan diam. Tentu saja polwan itu dengan mudah menemukan hotel dan kamarnya, karena memang dia yang menuliskannya di form pengaduan. Walau telah dia coret tentu tulisan itu tidak hilang. Tulisan yang di coret dan ditambah dengan tulisan “Lu benar-benar polisi judes dan jelek, lapar jadi alasan buat marah-marah. Datang saja ke hotelku akan ku kasih makan sampai buncit..!”

Si Bungsu gelagapan, sungguh mati, dia menulis begitu di formulir karena dia kesal. Karena niat untuk menemukan pembunuh tongky tidak tercapai. Namun bagaimana pun tulisan itu memang salah. “Maaf, saya benar-benar menyesal tentang apa saya tulis itu..” ujar Si Bungsu perlahan. “Saya datang mau makan sampai buncit..” ujar polwan itu datar.

“Maafkan tulisan saya yang tidak senonoh itu..” “Well, Anda datang kekantor polisi dengan maksud tertentu. Anda teman lelaki yang bernama Tongky yang terbunuh didepan hotel ini. Kepolisian menugaskan saya untuk membantu anda secara diam-diam, karena anda baru dikota ini. Bantuan diam-diam ini diberikan karena organisasi Klu Klux Klan itu amat kuat dan brutal. Sebelum kita bahas tentang kematian teman anda, kita ke restoran dulu, saya ingin makan sampai buncit..”

Muka Si Bungsu merah karena kembali disindir dengan apa yang dia tulis di kertas itu. Kendati demikian dia tatap Polwan itu. Dia benar-benar tak membayangkan kalau wanita yang menendang pintunya adalah polwan “Judes dan Jelek” hari itu. Dia terkejut ketika polwan itu bicara.

“Kenapa anda melongo, ada yang salah?” “Waktu di kantor polsek itu kok cantik..” “Sekarang lebih cantik lagi bukan …”kata si polwan. Si Bungsu mati kutu, jalan pikirannya ditebak wanita itu. Tapi Si Bungsu mana mau kalah. “Siapa bilang lebih cantik?” “Lalu?” “Anda amat pas kalau jadi bintang film..” polwan itu tersenyum. “Bintang film Drakula..” sambung Si Bungsu cepat. Kini mau tak mau, polwan itu yang mati kutu.

“Saya, benar-benar minta maaf. Karena tadi tidak mengenal anda. Penampilan anda sangat berbeda dari saat berdinas..” ujar Si Bungsu sambil mengulurkan tangan. Mereka berkenalan dan naik kerestoran hotel di lantai 12. Polisi wanita itu bernama Angela. Mereka mengambil tempat di dekat kaca lebar dari mana mereka bisa memandang sebagian kota Dallas.

“Maaf kekasaran saya dikantor beberapa hari yang lalu…” Gadis itu membuka pembicaraan. “Soalnya, saya benar-benar lelah dan jengkel. Semua persoalan ditimpakan kesaya. Maksud saya penugasan penerima telepon itu merupakan hukuman buat saya. Saya menolak menangani kasus perkosaan, soalnya terlalu sadis. Tapi siang tadi merupakan penugasan terakhir saya…”

“Apakah mengakhiri hukuman..?” “Ya dan sekaligus dapat cuti sebulan. Sudah tiga tahun saya menantikan cuti besar ini. Dan itulah mengapa saya ingin tugas saya hari selesai dengan cepat. Dan saya mujur dihari pertama saya cuti anda mengundang saya….” Mereka bertatapan, Si Bungsu tersenyum, polwan itu juga tersenyum. Polisi berpangkat letnan itu paling-paling baru berumur dua puluh tiga tahun.

“Kenapa menatap saya terus…” “Soalnya anda amat cantik, nona. Saya tak dapat membayangkan betapa anda menghadapi tugas berat sebagi polisi ditempat anda bekerja. Gadis seusia anda, harusnya menempuh satu dari dua jalan. Pertama jadi istri seorang jutawan, kedua pacaran dengan anak-anak orang kaya. Bertamasya dari satu pantai kepantai lain..” wajah Angela bersemu merah. “Anda merayu saya…” ujarnya dengan senyum. “Adalah bodoh, ada lelaki yang ada didepan anda tidak berusaha merayu anda…” “Anda membuat saya kikuk.. Mmm, apakah anda tahu penyebab kematian anda itu?” Si Bungsu menarik napas panjang kemudian menjawab. “Karena dia seorang Negro..” “Karena dia Negro dan koran memberitakan dia sebagai pahlawan setelah

dia dia berhasil memberi isyarat kepada pasukan Amerika. Yang meyebabkan sepasukan tentara bisa membebaskan pesawat dari pembajakan..” Angela menyambung. “Untuk itu anda datang kekantor polisi, untuk mengetahui alamat pembunuh itu..?” Si Bungsu menatap gadis itu, kemudian mengangguk dan Angela juga menatapnya.

“Apa yang anda perbuat kalau sudah mengetahui alamat pembunuhnya?” “Saya akan membunuh dia pula..” suara Si Bungsu terdengar pelan namun pasti. Gadis itu yakin kalau lelaki didepannya ini bukan lelaki sembarangan. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik sikapnya yang tenang ini. Di balik matanya yang bersinar lembut. Namun apalah arti sesuatu ”Yang luar biasa” itu jika dibanding dengan sebuah organisasi maut bernama Klu Klux Klan? Dia jadi kasihan terhadap lelaki ini. Namun dia tidak ingin menyakitinya dengan mengatakan bahwa mustahil untuk menyentuh pembunuh temanya itu.

“Barangkali membutuhkan kerja keras untuk menemukan pembunuh teman anda itu..” “Saya tahu, untuk itulah saya datang kekantor polisi waktu itu…” “Anda berharap disana ada alamat mereka?” “Ya, bukankah polisi mencatat identitas mereka?” “Benar, tapi perlu anda ketahui bahwa alamat yang dia berikan adalah palsu…” “Kalau begitu, saya ingin menemui kedua polisi gadungan itu, menyakan sendiri pada mereka…” “Mereka sudah dibebaskan…” “Di bebaskan?” “Ya, mereka dibebaskan karena ada yang menjaminnya dengan membayar lima ribu dolar…” “Dibebaskan, padahal dengan tuduhan pembunuhan?”

“Di sini berlaku azas hukum Praduga tidak bersalah, artinya sebelum putusan perkara di putuskan pengadilan, maka pelakunya dianggap tidak bersalah. Dan lagi pula yang membunuh teman anda itu bukan mereka…” “Tapi mereka mengetahui siapa pembunhnya..” “Di negeri ini banyak yang bisa diatur….”Mereka terdiam. Lalu Angela berkata lagi.

“Saya tahu anda ingin mencari mereka. Barangkali saya bisa membantu anda menemukannya. Karena saya tahu dimana orang seperti mereka berkumpul….” “Terima kasih Nona….” “Panggil saja nama saya Angel….” “Terima kasih angel…” “Kapan anda ingin mencari mereka?” “Begitu anda beritahu saya, dimana bisa menemukan mereka…” “Kita akan pergi berdua…” Si Bungsu tertegun.

“Maaf, saya tidak bermaksud mengganggu waktu libur anda, sebutkan saja alamatnya. Saya akan mencari sendiri..” Angela tersenyum. “Saya di beri cuti panjang untuk membantu anda. Alamat mereka tidak disebuah tempat. Akan sulit menemukamya kalau anda tidak mempunyai penunjuk jalan…

Begitulah, kedua mereka menjadi sahabat dengan cara yang aneh. Si Bungsu tak dapat menolak jasa baiknya Angela. Di pikir-pikir gadis itu ada benarnya. Kemana dia akan mencari jejak pembunuhan itu dalam kota sebesar dan seganas ini? Malam itu mereka menghabiskan hari direstoran sambil bercerita. Besoknya, pagi-pagi Angela telah hadir dikamar Si Bungsu. Sarapan bersama, kemudian Angela menceritakan secara ringkas tentang Klu Klux Klan. Namun ketika Si Bungsu mencoba membetulkan beberapa bahagian dari cerita itu berdasarkan yang dia baca di Perpustakaan, gadis itu menatapnya dengan heran.

“Anda mengetahui tentang organisasi itu dengan terperinci dari pada saya…” “Tidak, hanya mengetahuinya dari buku dan majalah yang saya baca di perpustakaan…” “Anda sudah membacanya?” “Ya…”Gadis itu menatapnya dengan kagum. Terpikir olehnya, dia dan teman- temannya dari kepolisian belum pernah keperpustakaan itu untuk membaca apapun. Selesai sarapan, Angela membawa Si Bungsu ke suatu tempat dimana berpusat perdagangan tekstil.

“Disini berpusat agen-agen penjualan tekstil. Saya pernah melihat kedua orang polisi gadungan itu diwilayah ini. Untuk anda ketahui, di balik ramainya jalan ini, tersenyum berbagai jenis bandit. Tapi ini adalah wilayah bandit kelas menengah keatas..” tutur Angela, sambil memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Dari dalam mobil Cadilac berpintu dua model sport berwarna biru laut, mereka menatap jalan george washington yang membelah jantung kota itu.

“Anda kenal orang itu…?” tiba-tiba Angela menunjuk seseorang yang berjalan melintasi jalan ramai tersebut, sekitar dua puluh meter didepan mereka. Sekali pandang Si Bungsu segera tahu, orang itulah polisi gadungan yang dia lumpuhkan beberapa yang lalu, yang satu lagi mungkin tengah dirawat karena luka akibat samurai kecil Si Bungsu didada dan lehernya. Si Bungsu mengangguk, dia bersiap untuk turun menyusul orang itu. Tapi Angela memegang tangannya.

“Tunggu sebentar. Kita tunggu kemana dia masuk, barangkali itu adalah sarang Klu Klux Klan…” Si Bungsu diam mendengarkan. Lelaki yang mereka perhatikan itu masuk kesebuah tempat yang didepannya tertulis King Tekstil Corp. Tempat itu sebuah bangunan tua bertingkat tiga. “oke, mari kita menyusul…” ujar Angela sambil mengepit tas tangan nya dan keluar mobil. Mereka bergegas melangkah sepanjang trotoar. Lalu mendorong pintu berkaca tebal dimana lelaki tadi masuk. Kini mereka berada di sebuah ruangan luas dipenuhi kain bergulung-gulung di atur merupakan gang, banyak sekali. Mereka melihat sekilas punggung lelaki tadi menuju kearah mana.

Mereka mengikuti. Beberapa kali berbelok di antara susunan kain yang tinggi, tiba-tiba saja mereka berhadapan dengan tiga orang lelaki. Ketiga lelaki itu terkejut ketika tiba-tiba muncul dua orang didepan mereka. Yang paling kaget adalah lelaki yang tadi baru masuk. Dia adalah polisi gadungan yang dihantam Si Bungsu di ruang mayat di sebuah rumah sakit Dallas itu. Dia mengeram dan bermaksud menghambur menyerang kearah Si Bungsu, namun teman disisinya memegang tangannya.

“Tenang, tenang..sobat…”katanya. “Jahanam ini yang menyerang kami..”rutuk lelaki itu. “Ya.. tenang dulu…” Mereka terdiam. “Well, sobat anda datang tepat waktunya. Apa yang bisa kami bantu untuk anda?” kata lelaki yang memegang tangan polisi gadungan itu. “Saya hanya ingin tahu alamat orang yang membunh teman saya…”jawab Si Bungsu dengan tenang dan langsung pada pokok persoalan. Angela yang tegak di belakang Si Bungsu, terkejut juga akan keterus terangan sahabatnya ini.

“Hmm, yang anda maksud anda adalah niger itu bukan?” tanya lelaki itu pula dengan nada menghina. “Ya, dialah..”kata Si Bungsu. “Kami tidak tahu siapa si pembunhnya sobat.. Kami membaca pembunuhannya dari koran. Sebagai mana jutaan orang lainnya juga mengetahui dengan cara yang sama…”Si Bungsu menatap ketiga orang itu dengan pandangan yang dingin. “Kalau begitu kawan, kawan anda yang pernah jadi polisi itu barangkali tahu dimana alamat pembunuh itu…” kata Si Bungsu. Suaranya pelan, namun siapapun yang ada diruangan itu tahu, bahwa dalam nadanya yang pelan itu tersirat ancaman! Dan nada ancaman itu diterima dengan cara yang berbeda. Angela mendengarnya dengan hati yang benar- benar khawatir. Kawannya ini terlalu berani. Apa kekuatannya hingga dia berani mengancam orang dalam sarang harimau ini.

Dia mungkin bisa memberi bantuan, tapi dia yakin, ketiga orang itu memakai bedil didalam jasnya itu. Jika terjadi pertarungan, maka keajaiban sajalah yang bisa menyelamatkan nyawa mereka berdua. Akan halnya ketiga lelaki itu benar-benar berang dan agak lucu mendengar nada ancaman itu. Dengan nada menghina lalu dia menjawab. “Kalau saya tahu, kamu bikin bisa apa bung?” “Mau bikin kau mengatakannya….” “He..he..he..Barangkali aku mau bicara kalau kawan perempuanmu itu mau tidur bergantian dengan kami…”

Muka Angela merah padam. Ketiga lelaki di depan mereka tertawa cengar-cengir . Angela ingin menembak mereka, namun dia tahu perbuatanya berarti bunuh diri. Dia ingin membawa Si Bungsu keluar dari ruangan ini. Keluar untuk mengatur siasat. Dia maju dan memegang lengan Si Bungsu. “Kita keluar, Bungsu..” katanya pelan.

Namun terlambat. Ketika lelaki itu sudah menyebar, mereka terkurung di ujung jalan yang satu oleh dua lelaki, diujung yang satu lagi oleh seorang lelaki. Di kiri kanan mereka adalah gumpalan kain yang tinggi. “Jangan cepat-cepat nona…” kata lelaki yang seorang. Angela tahu, ini bahaya, dia dengan cepat mengambil pistol dalam tas tangannya. Pistol kecil tetapi cukup ampuh. Dia menodongkannya kelelaki seorang itu. Namun lelaki itu tersenyum. “Lihat kebelakangmu Nona. Dan sebaiknya pistolmu itu kau letakan baik-baik dilantai….” Angela menoleh kebelakang. Dan di belakangnya kelihatan dua lelaki lainnya ditengah menodongkan pistolnya kearah mereka. Angela benar-benar mati kutu. Dia tak meletakkan pistolnya kelantai tapi

memasukannya kedalam tas tangannya, dia kini masuk jebakan.

Kalau saja dia bisa menelpon teman-temannya di kepolisian, mungkin masih bisa tertolong. Dia merasa menyesal kenapa tidak menghubungi teman-temannya dulu sebelum masuk kesini. Kini sudah terlambat, dia merapatkan tubuhnya pada Si Bungsu. Menatap kedepan, menatap kearah yang dipandang Si Bungsu. Dia kini memang tak punya pilihan.

“Nah kawan, apa yang kau inginkan sekarang?” kembali salah seorang bertanya. Anehnya kembali Si Bungsu menjawab pelan dan masih dengan nada pelan dan masih dengan nada mengancam. “Saya ingin anda bicara, dimana alamat orang yang membunuh teman Tongky..” “He.. ehe.. Hu.. hu..! Bagaimana kalau saya tak mau bicara, Tuan?” “Anda akan menyesali keputusan itu.. ”Tentu saja ketiga lelaki itu tertawa ngakak. Si Bungsu tetap tegak dengan tenang. Kepada Angela yang tegak rapat di sisinya dia berbisik. “Tegaklah di tepi gulungan itu. Tegak dengan tenang…”

Angela menghindar tegak ketempat yang ditunjuk Si Bungsu. Jarak ketiga lelaki itu dengan mereka sekitar enam atau tujuh depa. Angela tidak melihat kawannya itu memakai atau membawa sebuah senjata apapun. Lalu dengan apa dia akan membuktikan ancaman itu, sementara mereka berada di bawah todongan pistol? “Kawan, kalian akan kami bawa kemarkas kami untuk acara pengorbanan bulan ini…”yang satu bicara. “Tidak, kamu harus bicara dimana alamat temanmu yang membunuh temanku itu…” “Hei bajinngan! kau sangka berhadapan dengan siapa makanya berani mengancam begitu..” “Saya beri waktu tiga detik lagi untuk mengatakannya tuan polisi..” ujar Si Bungsu.

Ketiga lelaki itu saling pandang dan merapatkan kepungannya. Si Bungsu membuktikan ancamannya. Dia memutar badan seperti menghadap ke Angela. Saat berputar itu tangannya bergerak cepat. Dari balik lengan bajunya, dua samurai kecil melesat dengan tak terikutkan mata. Dan kedua samurai kecil itu menancap dilipatan siku kedua lelaki yang mengancam itu.

Kedua orang itu merasakan sakit yang amat sangat. Dan ketika mereka mencoba menggerakan tangannya, tak ayal lagi jari-jari mereka jadi lumpuh. Samurai kecil Si Bungsu menancap di urat nadi besar mereka! Kedua pistol mereka terjatuh dan mereka menatap dengan perasaan kecut dan terkejut.

Si Bungsu sudah berdiri disamping Angela. Lelaki yang tadi sendirian dihadapan Angela terkejut melihat temannya. Dia bergerak cepat dan memasukan tangannya ke Jas dimana tersisip pistol otomatisnya. Namun tangan nya tertahan disana, di balik jasnya itu. Ketika Si Bungsu terdengar berkata pelan.

“Kalau mau mengeluarkan tanganmu, jangan ada benda lain. Jika engkau ingin nyawamu masih utuh…” Lelaki itu tertegun, menatap Si Bungsu. Namun dia tidak melihat senjata apapun di tangan lelaki asing itu yang memungkinkan dia melaksanakan ancamannya. Angela menatap dengan berdebar. Tangan lelaki itu pasti sudah menggenggam pistolnya. Dan kini hanya tinggal menarik dan menembak! Lelaki itu ingin mengeluarkan tangannya keluar. Si Bungsu berkata lain. “Kuingatkan, jangan mengeluarkankan pistol kalau tuan ingin tetap hidup….”

Tetapi anggota Klu Klux Klan mana takut diancam. Dia sudah kenyang dengan ancaman-ancaman dan pembunuhan. Makanya dia tahu ini hanyalah ancaman, apalagi yang mengancamnya adalah lelaki yang berasal dari negeri entah berantah, tangannya bergerak dengan cepat dan pistol ditangannya.

Angela juga meraih pistol dari dalam tasnya, namun sebelum pistol itu keluar, dengan kecut dia melihat pistol lelaki itu sudah terarah pada mereka. Jari lelaki itu sudah bergerak menarik pelatuknya, sementara Si Bungsu masih terlihat tegak dengan diam. Tidak ada tindakan apapun untuk membuktikan ancamannya.

Tapi begitu pelatuk itu bergerak, tangan kanan Si Bungsu terayun. Ledakan pistol bergema, pelurunya mendesing tidak jauh dari mereka. Namun lelaki itu tertegak kaku, diantara dua alisnya tertancap benda kecil menancap, dan darah mengalir perlahan. “God, setan…!” keluhnya.

Tubuhnya rubuh dengan samurai kecil tertancap diantara dua alisnya. Angela ternganga. Perlahan Si Bungsu memutar tegak. Menghadap pada polisi gadungan yang kini tak berdaya itu, menghampirinya dan bertanya pelan. “Kini bicaralah, kalau engkau tak ingin nyawamu kuhabisi…” “Jahanam, kau tidak akan hidup lama…” Namun ucapanya terhenti ketika sebuah pukulan mendarat di hidungnya. Lelaki itu terdongak dan hidungnya remuk. “Bicaralah…” “Jahanam…”

Suaranya terhenti lagi, sebuah tendangan mendarat di kepalanya, tulang lehernya berderak patah! Lelaki itu mati. Angela merasa ngeri, Si Bungsu mendatangi anggota Klu Klux Klan yang masih hidup seorang lagi. “Kau yang terakhir sobat. Ucapan pertama yang harus keluar adalah dimana alamat si pembunuh, atau kau yang akan ku bunuh…” “Kau, anak jadah. Nyawa…”

Hanya itu ucapannya, dan sebuah pukulan dengan sisi tangan menetak di lehernya, lelaki itu mendelik. Tetakan tangan disertai tenaga penuh dan kemahiran yang tak bisa dianggap enteng itu telah mematahkan tulang lehernya. Dia mati!

Perlahan Si Bungsu bangkit, mengumpulkan samurai-samurai kecilnya yang bertancapan di tubuh anggota-anggota Klu Klux Klan itu. Membersihkannya dengan kain woll yang ada disana, kemudian menyisipkannya kembali kesarung kulit yang ada di balik lengan bajunya.

Kemudian menatap berkeliling. Menatap tumbukan kain yang memenuhi ruangan tersebut. Lalu berjalan pada salah satu mayat, merogoh kantong celananya. Mengambil korek api, dan berjalan keonggokan kain woll england, yang terletak di sebelah kanannya.

Dia menyulut api, dan membakar kain woll itu. Angela masih menatap dengan diam. Si Bungsu membakar di beberapa tempat. Lalu membuang korek api yang tadi diambil dari mayat anggota Klu Klux Klan tersebut. Semua perbuatannya di lihat dengan diam dan penuh perhatian oleh Angela.

“Mari, kita pergi….” katanya sambil memegang tangan Angela. Gadis itu menurut, mereka keluar dari gudang kain yang besar itu. Mereka menaiki mobil Angela yang terletak satu blok dari gudang kain itu. Angela menghidupkan mesin mobil, kemudian menjalankan kearah Houston Road di sebelah kanan wilayah Centrum City itu.

Di belakang mereka keributan mulai terlihat. Asap mengepul ke udara, api ternyata melahap dengan rakus kain-kain di dalam toko tersebut. Angela menghentikan mobilnya didepan sebuah restoran. “Saya haus….”ujar gadis itu.

Si Bungsu mengikutinya turun. Mereka mengambil tempat duduk di lantai tiga di sebelah depan. Dari tempat itu mereka melihat di ujung sana mobil pemadam kebakaran menuju jalan yang diutara. Ke toko tekstil yang terbakar itu, Angela menatap Si Bungsu dengan tajam. Lelaki di depannya ternyata lahar yang apa bila meledak amatlah berbahaya.

Dia semula menilai lelaki ini adalah lelaki yang ulet dan punya hati yang keras. Namun melihat apa yang dia perbuat, bagaimana cepatnya dia menyudahi nyawa ke tiga anggota Klu Klux Klan, maka nilainya yang semula itu jauh tercecer. Lelaki itu jauh dari sekedar apa yang dia duga. Belum pernah dia menemui dengan lelaki yang sependiam ini, tapi begitu tangguh dan berbahaya. Dia baru melihat kulitnya saja. Dia yakin masih banyak hal lain yang tersembunyi di balik wajahnya yang murung, di balik tatapannya yang sayu.

“Kenapa mereka anda bunuh?” tanyanya setelah lama berdiam diri. Si Bungsu tak segera menjawab. Dia yakin pasti perwira polisi ini akan bertanya hal itu. “Kau akan menangkapku, karena tuduhan pembunuhan?” Si Bungsu balik bertanya, Angela menggeleng. “Kenapa kau bunuh mereka?” “Jika tidak mereka, maka aku yang mereka bunuh…” kata Si Bungsu datar.

“Tapi mereka sudah tidak berdaya” “Mereka memang harus ditumpas, sebelum mereka merenggut lebih banyak nyawa orang-orang kulit hitam..” “Mengapa toko kain itu anda bakar?” “Karena penghasilannya mereka pergunakan untuk membiayai kegiatan anti kulit hitam, membeli senjata…” Angela kembali menatap Si Bungsu, mencoba menyelami isi hatinya. Namun lelaki dari timur ini adalah lelaki yang penuh rahasia. “Apakah engkau masih mau menjadi penunjuk jalanku dalam mencari pembunuh Tongky, Angel?”

Gadis itu menatapnya sesaat, lalu mengangguk sambil meminum jeruk manis di gelasnya, sementara matanya tetap menatap dalam-dalam pada Si Bungsu. Si Bungsu tahu kalau dia di perhatikan oleh gadis itu. Namun dia berpura-pura tidak tahu, dia menghirup pula jeruk manis dingin di gelasnya. “Apakah engkau biasa membunuh?” tiba-tiba gadis itu berkata lagi. Si Bungsu menatapnya, lalu mengangguk pelan tapi pasti. “Sempat kau menghitung berapa jumlahnya? Lima, enam atau tujuh orang yang sudah kau bunuh?” “Kau akan terkejut mendengar jumlahnya, Angel…” “Lebih dari sepuluh?” “Lebih dari enam puluh….! ujarnya dengan pelan dan datar.

Angela merasa tulang belulang nya menjadi dingin. Manusia macam apa yang dia hadapi ini? Lebih dari enam puluh nyawa telah dihabisinya, namun dia menyebut angka tersebut seperti menyebutkan angka-angka biasa. “Kau dibayar untuk pekerjaan mu itu?”

Angela menyesal telah mengucapkan pertanyaan itu. Namun sudah terlanjur, dia siap menanti reaksi marah dari anak muda yang entah kenapa sejak dia melihatnya amat dia sukai itu. Namun anak muda didepannya itu tenang-tenang saja. Tak marah dan tak bereaksi sedikit pun, anak muda itu dengan tenang menghirup sisa minumannya. Menatap pada Angela dengan tenang. Angela memegang tangan Si Bungsu yang terletak di meja.

“Maaf…” “Tak perlu minta maaf,saya memang dibayar untuk setiap pembunuhan yang saya lakukan..” Angela merasa sesuatu menikam hatinya mendengar jawaban tersebut. “Yang membayarnya saya sendiri. Membayar dengan keselamatan saya. Banyak orang yang menginginkan keselamatan saya. Banyak orang menginginkan nyawa saya, sejak dulu. Jika tak ada jalan yang bisa saya tempuh lagi, maka saya akan membunuh mereka, sebelum mereka membunuh saya..”

Angela menarik nafas panjang, lega. Kalau begitu orang ini bukan pembunuh bayaran, pikirnya. Selain tak ada tampang pembunh bayaran dan dia juga berharap begitu adanya. “Engkau tidak main-main dengan angka diatas enam puluh tadi bukan?” gadis itu seperti ingin memastikan pendengarannya tadi. Berharap anak muda ini berseloroh. Si Bungsu menarik napas panjang.

“Saya tidak tahu buat pembicaraan ini, Angela. Tapi engkau telah berbaik hati dengan menemaniku di kota yang ganas ini. Saya tidak pernah berbohong, apa lagi pada wanita yang saya hormati. Tidak, jumlah enam puluh itu bukanlah guyonan. Barangkali jumlahnya mendekati seratus. Saya telah benyak membunuh orang dari berbagai bangsa. Sebutlah Jepang, Belanda, India, Melayu, Australia, Cina bahkan bangsa saya sendiri…”

Angela mendengar dengan diam. Cerita lelaki ini, tentang pembunuhan yang dia lakukan adalah cerita yang luar biasa, yang rasanya mustahil terjadi. Namun perwira kota Dallas itu sedikitpun tak ragu, bahwa yang diceritakan lelaki ini tidaklah bohong sedikitpun.! “Masih berminat menemani saya mencari jejak pembunuh Tongky…” “Kita berangkat sekarang..” ujar Angela atas pertanyaan tersebut.

Namun, sesaat setelah Angela berkata demikian, Si Bungsu memegang tangannya yang terletak diatas meja. Sentuhan itu membuat Angela mengurungkan niatnya untuk berdiri. Dia menatap Si Bungsu. “Jangan menoleh kemana-mana. Saya merasa ada orang memperhatikan kita, saya tidak tahu dimana. Namun perasaan saya mengatakan hal itu. Barangkali dia akan mengikuti kita. Berbuat sajalah seolah-olah tidak mengetahui apa-apa…”Angela menarik nafas, mengangguk. Kemudian mereka sama-sama berdiri lalu membayar minuman, lalu berjalan keluar. Angela menjalankan mobilnya, lewat spion dia melihat sebuah mobil Jaguar merah di belakangnya membututi “Mereka memakai mobil merah…” katanya. Si Bungsu tidak menoleh, dia sudah tahu. Angela melarikan mobilnya perlahan saja ditengah lalu lintas yang ramai dijalan 5 st.Venus itu.

“Berapa orang di mobil itu?” Angela kembali melihat spion dan menghitung. “Empat orang, Dua didepan dua dibelakang..” Angela melarikan mobilnya ke Country City. Kendaraan dibelakang tetap mengikuti. Ketika mereka mulai memasuki daerah yang jarang pemukimannya, sebuah tembakan terdengar. Kaca belakang mobil Angela hancur di tembus peluru, tembus sampai kekaca depan. Hanya seinci dari samping telinga Si Bungsu.

“Mereka mulai…” kata Si Bungsu tanpa menoleh kebelakang. Angela segera menekan pedal gas. Si Bungsu tetap berdiam diri, sebuah letusan kembali bergema. Namun pelurunya tidak mengenai mereka maupun mobil yang mereka naiki. “Di dalam tas itu ada pistol, kalau kau berniat menghalangi mereka, ambil dan pergunakanlah sebelum mereka mendahului kita..” ujar Angela sambil mendahului sebuah truk didepannya.

Namun Si Bungsu tetap berdiam diri. Mobil merah itu kelihatan lagi lewat kaca spion. Angela membelok tajam kekiri kesebuah gereja Anglikan. Hanya selang berapa lama, mobil merah itu kembali menyusul. Jalanan yang mereka tempuh sekarang kini sepi sekali. Karena tempat ini adalah pemukiman daerah selatan kota ini. Kembali terdengar dua kali letusan dari belakang. Angela membelokkan mobilnya kekanan. Masuk kesebuah jalan kecil yang kiri kanannya di penuhi rumpun bunga yang rimbun.

“Anda tidak berminat menghalangi mereka?” tanya Angela dengan jengkel melihat Si Bungsu diam-diam saja ditempat duduknya. “Tidak. Saya ingin melihat bagaimana polisi Dallas menghindar dari orang yang berniat membunuh mereka, tanpa balas membunuh orang yang akan membunuhnya…”

Angela tahu dia disindir. Dia menggertakkan gigi, membelok dengan tajam kekiri menimbulkan bunyi ban yang berdenyit yang tajam ketika roda-roda mobilnya mencekam miring diaspal. “Yang akan dibunuhnya anda, bukan saya” seru Angela matanya mempehatikan spion, melihat mobil merah itu yang terus memburu diluar jarak tembakan. Untung saja mereka berdua memakai sabuk pengaman, hingga tubuh mereka tidak tersentak kebelakang atau terdorong kedepan mengikuti laju mobil itu.

‘”Kau sangka, kau tidak akan di bunuh? Kau akan jadi saksi jika mereka jika aku dibunuh, maka mereka akan membunuh saksinya. Mereka tidak pernah meninggalkan jejak” kata Si Bungsu. Angela tidak sempat menjawab, karena didepannya melintas seorang tua berjalan kaki menyebrangi jalan ke padang rumput dikanannya. Mau tak mau dia terpaksa membanting stir. Mobil melompati parit kecil kemudian melaju diatas lapangan rumput tersebut. Mobil merah itu turut memburu mereka dengan ikut pula melompati parit kecil itu. Beberapa orang tua yang berjalan di padang rumput menatap dengan heran dan menggerutu dengan peristiwa tak lazim itu. Angela kembali menyetir mobilnya kejalan raya, kemudian berbelok-belok tak menentu dalam jalan-jalan di daerah pemukiman tersebut.

“Berapa harga mobilmu ini?” tanya si Bunggsu sambil matanya untuk pertama kali melirik kebelakang, kemobil merah itu. “Dua ribu lima ratus Dollar, kenapa?” “Mobil yang di belakangmu?” “Lima ribu dollar…” Si Bungsu diam. Dia memutuskan untuk memakai pistol Angela saja. Dia ambil tas tangan gadis itu, membukanya dan mengambil pistol didalamnya.

“Kau bisa mencari tempat yang tepat untuk menjebak mereka?” “Saya usahakan..” jawab Angela sambil berbelok tiba-tiba kekanan. Kemudian memutar dua kali. Angela menekan gas kuat-kuat. Dengan terkejut Si Bungsu melihat betapa mobil sedan yang mereka tumpangi tiba-tiba berbalik menuju kemobil sedan merah yang memburu mereka. “Tembak! Tembak mereka!” teriak yang menyetir.

Namun mobil Angela melaju dengan berzigzag dengan kecepatan tinggi. Sopir mobil merah itu kaget dan pucat. Dia membanting stir kekiri untuk menghindari tabrakan. Namun justru dia menabrak pohon pinus! Sebuah ledakan yang kuat terdengar cukup kuat, sesaat kemudian api menjilat. Angela tidak membuang waktu untuk melarikan kendaraannya pulang.

“Kau berhasil menembak mereka..” ujar Angela. Si Bungsu menarik napas panjang. Ketika Angela melirik kepadanya. Si Bungsu melirik kebawah kedekat kakinya. “Kau melarikan mobil seperti setan mabuk. Pistol itu tercampak ketika mobil berzigzag. Saya tak sempat menembak sekalipun, jangankan menembak menggenggam pistol itu saja aku tidak sempat..” Angela mengerutkan kening, karena dia mendengar suara letusan saat mobil mereka berendengan. “Suara letusan tadi?”

“Letusan orang itu sendiri. Barangkali tembakannya meleset dan sopirnya karena takut atau terkejut justru menabrak pohon itu…” Angela tersenyum dan mengebutkan mobilnya kearah kota. Menjelang masuk kota mereka memasuki pemukiman rumah bertingkat dan mereka masuk kesana. “Kita mampir dan istirahat dan memperbaiki kaca mobil ini..” kata gadis itu.

Si Bungsu memang tidak mempunyai pilihan. Mobil dihentikan disebuah garase dibawah bagian gedung. Angela turun dan langsung menuju ketelpon yang ada disana. Menelepon sesaat, kemudian mengajak Si Bungsu naik lewat tangga berputar. Mereka memasuki sebuah ruang tamu yang karpetnya berwarna biru muda.

“Ini flatku, aku tinggal sendiri. Kamar itu bisa kau pakai, memang kamar khusus untuk tamu. Saya akan mandi dan setelah itu akan membuatkan minum. Di kamar itu ada handuk, kau bisa mandi dan istirahat disana. Kalau minumannya sudah siap nanti akan ku panggil…..” Sambil berkata begitu, Angela membuka pakaiannya, sekaligus masuk kekamarnya. Si Bungsu hanya termangu-mangu menatap punggung gadis itu yang putih bersih.

Tak lama kemudian Si Bungsu mendengar dari pintu yang terbuka nyanyian Angela di sela-sela suara desiran air mandi. Dia memutuskan untuk masuk ke kamar yang tadi ditunjukkan Angela. Membaringkan tubuhnya istirahat, ditempat tidur yang empuk dan menerawang, dan tanpa dapat dia cegah matanya terpejam, tidur!

Dalam tidurnya bayangan Angela mendekatinya dan menciumnya, dan menekannya dan dia membalas memeluk, balas mencium. Terasa gadis itu tidak memakai apa-apa di balik kimononya. Terasa hasrat kelelakiannya amat mendesak. Dan tiba-tiba dia tersentak dari khayalan yang memabukan itu. Dan begitu membuka mata, dia melihat Angela diatas tubuhnya. Wajahnya dekat sekali dan terasa lembut. Gadis itu mendaratkan sebuah ciuman yang memabukkan dibibirnya. Ciuman itu lama sekali, makin lama makin panas. “Aku akan mandi…” ujar Si Bungsu, ketika dia merasa ciuman itu akan berakibat jauh. Angela tersenyum

dan turun dari tubuh Si Bungsu sambil menutup kimono tipis yang dia pakai. Si Bungsu turun dari pembaringan, membuka baju dan mengambil handuk dan masuk kekamar mandi. Di sana dia membuka celana. Angela menyiapkan minuman di ruang tamu, ketika dia muncul diruang tamu itu, Angela sudah berpakaian rapi. Menyiapkan makan sore dan mereka makan dengan diam.

“Jika engkau tidak keberatan, dari pada membuang ongkos di hotel, lebih baik pindah saja kekamar itu saja. Saya tak susah-susah menjemput dan mengantarmu kehotel…” Angela berkata setelah mereka selesai makan. Si Bungsu tidak langsung menjawab. Tawaran itu bukannya tidak menarik, di flat Angela ini pasti dirinya terurus, makan tak susah-susah. Tapi tidakkah ini akan berakibat lain? Berada serumah dengan seorang gadis, betapapun juga punya ‘resiko’. Misalnya seperti yang terjadi tadi.

Bagi orang Dallas tentu hidup serumah tanpa ikatan resmi, tentu hal yang lumrah sekali. Dan bagi dirinya sendiri pun tidak ada masalah. Namun persoalan akan timbul kemudian. Apakah dia sudah siap menerima akibatnya itu? Dia menghirup minumannya dengan tenang, memakan sepotong roti. Wajahnya tak bereaksi apa-apa. Namun pikiran nya mempertimbangkan segala kemungkinan. “Apakah malam ini kita akan pergi mencari jejak pembunuh temanmu itu?” “Jika engkau tidak keberatan….” “Baik, kita harus masuk kesarangnya, sebuah tempat perjudian…”

Si Bungsu menatap Angela. Tempat perjudian! Si Bungsu teringat buku tentang Klu Klux Klan yang dia baca di perpustakaan. Bagaimana orang-orang Klu Klux Klan ini mendapatkan dana. Yaitu dari beberapa donatur yang mengusahakan rumah perjudian. Dan dia pun teringat akan kemahirannya berjudi. “Saya ingin sekali melihat tempat perjudian itu..” ujarnya pelan. Angela tentu tidak dapat menebak dibalik ucapan Si Bungsu yang pelan itu.

“Nampaknya untuk masuk kesana, kau harus berpakaian yang pantas..” Angela bangkit menuju telpon. Dia memutar nomor, kemudian berbicara. Nampaknya dia berbicara pada toko yang terletak satu blok dari sana. Toko yang memang melayani keperluan orang-orang di flat itu. Tak lama kemudian pintu diketuk, seorang wanita pelayan toko itu datang mengantarkan satu set pakaian dan Angela membayarnya. “Kau boleh coba, semoga sesuai….”

Si Bungsu memang merasa sudah harus berganti pakaian. Pakainnya sudah di basahi keringat ketika mereka di kejar-kejar tadi. Dia berdiri dan mengambil pakaian yang dipesan tadi. Masuk ke kamar dan pas! Terdiri dari celana berbahan woll dan kemeja panjang dan sepatunya masih baru tak perlu diganti.

“Terikasih, anda bisa menebak ukuran tubuhku..” katanya setelah berada diluar kembali. Kemudian mereka turun, dan sampai di garase kaca mobil yang kena terjang peluru tadi telah di ganti. Angela mengarahkan mobilnya kearah Centrum city. Saat itu hari sudah jam delapan malam. Kota sudah dari tadi bermandikan cahaya gemerlap lampu. “Untuk menhilangkan kecurigaan, kita harus ikut berjudi untuk beberapa saat. Nanti saya akan menunjukkan mana orang-orang Klu Klux Klan…” ujar Angela. “Tidak apa-apa polisi berjudi..” tanya Si Bungsu. “Ini bahagian dari tugas…”jawab Angela.

Di jalan 7 Rd. Stenson, di depan gedung delapan lantai bertuliskan TEXAS ADIOS. Angela memarkirkan mobilnya. Dari gedung bertingkat itu kelihatan sepi dari manusia yang terlihat hanya gemerlap cahaya lampu reklame menggambarkan koboi menunggang kuda dan seorang gadis dengan pakaian merangsang tengah berdiri berkacak pinggang. Di depan gedung itu berderet mobil dalam jumlah yang cukup banyak.

Mereka masuk setelah membayar semacam uang jaminan di kasir. Lalu menuju keruang atas dimana terdapat beberapa buah meja rollet. Angela menukarkan sejumlah uang dengan koin untuk taruhan. Nilai koin itu paling rendah lima dollar dan paling tinggi seratus dollar.

Ada sepuluh buah koin bernilai lima ribu dollar, sepuluh buah koin sepuluh dollar, sepuluh buah dua puluh lima dollar dan sepuluh buah koin berharga lima puluh dollar. Jumlah koin itu kalau di tukarkan menjadi sembilan ratus dollar, jumlah yang cukup banyak. Mereka tegak beberapa saat diantara orang-orang yang memasang taruhan. Angela menarik tangan Si Bungsu kemeja yang berada ditengah. Seorang petugas mempersilakan mereka.

Ada sebuah meja penuh dengan angka-angka. Di ujung meja itu terletak rollet yang diputar oleh seorang lelaki bertopi plastik hanya ada pet depannya saja, kebahagian belakang nya di lilit pita karet. Sementara bagian atas topi pet itu terbuka. Sistem permainannya adalah rollet diputar lebih dahulu, sebelum bola menggelinding di piring rollet itu berhenti disalah satu nomor, petaruh memasang taruhan di angka yang dia ingini.

Biasanya taruhan sudah terletak dimeja sebelum rollet berhenti. Dan jika rollet nya sudah berhenti disalah satu angka, maka petaruh yang memasang diangka tersebut menang taruhan. Si Bungsu dan Angela berdiri didepan meja taruhan, rollet diputar orang-orang mulai memasang taruhan dimeja. “Anda ingin memasang?” kata Angela sambil menyerahkan beberapa koin pada Si Bungsu.

Si Bungsu menggeleng. Angela memasang taruhan di angka delapan, ada empat orang memasang diangka tersebut. Beberapa saat kemudian bola kecil seperti krital timah berkilat itu berhenti di angka enam! Angela kalah! Semua yang taruhannya kalah, koinnya ditarik dengan semacam pengait berbentuk cangkul kecil dari plastik. Yang memenangkan taruhan itu hanya seorang, dia memasang sepuluh dollar dan dapat koin kemenangan seratus dollar.

Pada putaran kedua, Angela memasang seluruh koin lima dollarnya di angka enam belas, kemudian memasang diangka lima seluruh koin sepuluh dollar nya. Dan dia kalah lagi, mereka sial dimeja tersebut kemudian pindah kemeja yang satu lagi. Dua kali pindah, akhirnya di meja ketiga Angela berbisik pada Si Bungsu. “Yang jadi pemutar rollet itu adalah salah satu agen Klu Klux Klan yang cukup penting…” Si Bungsu memperhatikan orang itu. Nampaknya dia adalah seorang Amerika keturunan Yahudi, berhidung bengkok berotot besar. Angela memasang taruhan seratus dollar pada angka sepuluh dua buah. Dan kalah. Selama memasang taruhan dia hanya menang dua kali.

Akhirnya di meja itu, dia hanya punya satu koin, senilai seratus dollar! Angela berpeluh. Sembilan ratus dollar uangnya ludes. Si Bungsu menjadi kasihan. “Boleh saya pasangkan yang terakhir ini?” katanya.

Angela separuh putus asa mengangguk. Si Bungsu maju kedepan, waktu itu yang memasang di meja itu hanya tiga orang. Berempat dengan mereka. Petugas berotot itu mulai memutar rolletnya. Beberapa saat Si Bungsu memperhatikan putaran rollet itu. Orang yang tiga itu memasang taruhan diangka enam dan dua belas dua orang.

Si Bungsu masih melihat. Perlahan, indera judinya yang pernah merajai perjudian di jaman Jepang itu dulu menyelinap perlahan. Dia mendengar putaran rollet itu, memperhitungkan berapa kali lagi putaran rollet itu. Berapa berat bola rollet itu. Dan dia letakkan taruhan terakhir itu di angka satu!

Bola berhenti. Menang! Angela berteriak dan memeluk Si Bungsu. Angka satu, berarti mereka mendapatkan bayaran dua puluh kali lipat. Mereka mendapat kan koin dengan nilai dua ribu dollar! Petugas Yahudi itu tersenyum, meraih taruhan yang kalah dan membayar taruhan Si Bungsu. Lalu memutar lagi dan Si Bungsu kembali mendengarkan beberapa saat. Petaruh yang tiga orang itu memasang di angka enam, tiga dan sebelas.

Si Bungsu mendorong koin yang bernilai dua ribu dolar itu. Meletakkanya di angka tiga belas! Petaruh yang lain melotot matanya melihat taruhan yang besar tersebut, mereka menanti dengan dada berdegup. Bola berhenti, tiga belas! Angela memekik, memeluk dan mencium Si Bungsu. Petugas rollet itu masih tersenyum, meraih taruhan yang kalah dan membayar taruhan Si Bungsu.

Jumlahnya menjadi dua puluh ribu dollar! Pekik Angela dan seruan kagum tiga petaruh lainnya, membuat orang-orang memalingkan kepala. Dan melihat koin menumpuk diangka tiga belas, mau tak mau mereka melangkah kemeja tersebut. Dan sekeliling meja itu jadi penuh sesak.

Dan seperti ada kesepakatan saja, ketika rollet diputar lagi tak seorang pun yang ikut memasang. Mereka menanti dan melihat Si Bungsu. Si Bungsu membiarkan rollet itu berputar beberapa saat. Kemudian berbisik pada Angela yang bergelantungan di bahunya. “Biarkan saja di angka tiga belas itu…..” dan Angela memberi isyarat kalau taruhan mereka tetap di angka tiga belas tersebut. Orang menanti dengan tegang! Dua puluh ribu dollar ditaruhkan sekaligus. Apa yang akan terjadi? Perlahan putaran rollet itu berputar perlahan dan.. KLIK!…bola kecil itu masuk dikotak dimana tertera angka TIGA BELAS!

Orang berseru dan bertepuk tangan, riuh.. Angela nyaris pingsan. Dia tak berani bersorak, dia hanya menggelantung dibahu Si Bungsu. Sambil bibirnya berkali-kali menyebut nama Tuhan. “Oh my god! my God….!” desisnya. Di depannya teronggok uang dua ratus ribu dollar! Untuk membayar jumlah itu, si petugas Yahudi terpaksa menyuruh orang mengambilnya di kasir. Petugas rumah judi itu hampir semuanya berkumpul disana. Berpeluh dan memandang tidak percaya pada orang yang memenangkan taruhan tersebut.

“Anda masih ingin memasang?” kata petugas Yahudi tersebut. “Tergantung anda, jika kalian masih punya uang, saya akan memasangnya..” yang lain bertepuk tangan mendengar ucapan itu. “Anda akan memasang kembali semua uang taruhan itu seperti tadi?” “Benar…”mereka berbisik sesamanya. “Baik, Anda boleh memasang, tapi petugas rolet akan diganti. Ini hanya soal teknis…” “Boleh, asal kalian membayar saja…” “Kami akan membayar berapun nilai kemenangan anda…”

Si Bungsu hanya tegak menunggu dengan tenang. Kali ini pengunjung diminta menghindari tepi meja. Petugas yang dikatakan pengganti itu pun tiba. Seorang lelaki gemuk dengan hidung merah dan berkepala botak. Di sekitar meja itu penuh dengan petugas rollet, Angela berdebar, tegang dan berpeluh. Tapi tidak hanya dia yang demikian. Hampir semua yang disana tegang, berdebar dan berpeluh, kecuali Si Bungsu!

Tak peduli apakah mereka petugas rolet ataupun pengunjung. Meja-meja lain sudah ditutup. Tak ada orang yang berminat memasang taruhan. Semua mereka pindah untuk menyaksikan ’keajaiban’ di meja tengah dimana seorang lelaki berkulit coklat dan gadis Amerika sedang menguras uang bandar. Kejadian itu amat jarang terjadi. Judi adalah bahagian dari penipuan dan pemerasan.

Artinya, setiap orang yang datang kemeja judi yang sudah dipersiapkan seperti itu, maka sebenarnya dia telah menyiapkan dirinya unutk dikuras habis-habisan oleh pemilik rumah judi. Siapa yang menang dan siapa yang kalah seperti sudah diatur. Kalau ada yang menang itu biasanya hal itu ’diberi’. Artinya dalam judi harus ada yang dibiarkan menang dan tepat menebak secara tepat. Kalau tidak rumah judi itu sudah tidak punya daya tarik lagi. Biasanya kemenangan yang sudah di beri itu pada satu, empat lima orang itu telah diperhitungkan. Kemenangan itu diberi dari seratus kekalahan penjudi yang lainnya. Jadi rumah judi tak pernah mengalami kekalahan.

Jika ada penjudi yang lihai, yang biasanya sekali setahun ada penjudi yang mampu ‘menguras’ rumah judi, maka itupun bisa “diatur”. Meja rollet yang peralatannya berputar itu bisa diatur sedemikian rupa. Punya alat yang rumit yang bisa dikendalikan dari tempat tegak petugasnya. Jika orang memasang diangka 5,7,9,11,23 dan seterusnya. Maka bandar judi tinggal memilh kepada siapa kemenangan akan diberikannya.

Biasanya dia memiilih dari angka yang paling sedikit nilai taruhannya. Jadi bandar membayar sedikit pula. Atau dia tidak memenangkan siapun. Itu bisa dilakukan karena alat mesin rolet itu ada alat yang bisa untuk memberhentikan putaran rolet itu dengan menginjak tombol alat yang ada di lantai kaki petugas. Alat itu terpasang dengan rapi dan tak terlihat, walau di periksa bersama-sama sangat susah menemukannya.

Namun tak jarang terjadi, ada saja penjudi yang tak bisa ‘dikerjai’ begitu, ada saja penjudi-pejudi otodidak, yang berhasil menguras bandar. Dan jika ini pun terjadi, biasanya sudah ada orang yang ‘tidak dikenal’ yang merampok atau jika perlu membunuh si pemenang. Dan uang yang telah dimenangkan itu lenyap! Rumah judi adalah tempat dimana pemerasan atau penipuan dan bahkan pembunuhan dilakukan orang.

Dan kini, rumah judi di pusat kota Dallas tersebut tiba-tiba jadi geger karena kemenangan berturut-turut dalam waktu yang singkat yang dialami seorang lelaki berkulit sawo matang yang ditemani gadis Amerika.

Kegegeran tersebut sampai pada pimpinan rumah judi tersebut. Dalam waktu dekat dia sudah tiba disana. Dia melihat orang tengah mengelilinggi sebuah meja dan petugas yang lain berbisik tatkala bos mereka datang, namun si bos memberi isyarat halus dan mereka berbuat seolah-olah sibos tidak ada disana, namun Si Bungsu dapat menagkap isyarat tersebut.

Dia tahu si bos bertubuh atletis dan berpakaian mentereng. Dua orang polisi juga di panggil untuk menyaksikan putaran rolet ini. Si Bungsu tahu, bos judi ini berniat main curang, sebenarnya hal itu sudah terjadi dari tadi, namun dia masih dapat mengatasinya. Dia bukannya tidak tahu kalau rolet ini ada pesawat yang dapat diatur sedemikian rupa. Namun dia dapat mengatasi karena ketajaman indera dan perhitungan yang matang. Angela memeluk Si Bungsu. “Kita berhenti saja..” bisik gadis itu cemas.

Betapun dia seorang polisi namun tetaplah seorang wanita, dia tahu keadaan sangat berbahaya bagi Si Bungsu dan dirinya. “Tak mungkin kita berhenti dalam waktu begini..” ujar Si Bungsu sambil menggenggam tangan Angela menenangkan gadis itu. “Anda siap..” kata petugas botak itu dengan tiba-tiba sambil menggosok- gosokan telapak tangannya.

Si Bungsu mengangguk. Petugas itu memberi isyarat dengan mengangkat telapak tangannya tinggi- tinggi. Orang-orang mengikuti gerakannya dengan seksama. Kemudian tangannya menyentuh pinggir piring rollet. Lalu dengan sebuah gerakan memutar seperti sentakan halus, piringan roolet itu dia putar.

Berbeda dengan petugas yang tadi, mereka memutar dengan kencang. Maka petugas yang ini hanya memutar dengan pelan saja. Kemudian bola mirip kelereng kecil itupun dimasukkan. Dan berputaran diatas angka-angka di piringan rolet itu . Si Bungsu menanti beberapa saat. Piring rolet masih berputar, bola kecil itu juga. Dan tiba-tiba dia bergerak, dia segera memindahkan seluruh uang taruhannya di angka delapan! Angela dan semua orang yang menyaksikan, yang jumlahnya nyaris seratus orang, menarik napas. Kalau orang ini menang, maka dia akan punya uang sebanyak dua juta dolar! Dua juta! Jumlah yang membuat tulang belulang jadi gemertak!

Dan..bola kecil itu tiba-tiba menyelonong ke angka enam! Masih berputar dan bola kecil itu tak cukup kuat bertahan disana, dia bergulir dan menggelinding perlahan kekotak bernomor delapan, dan saat itu piringan rolet itu berhenti! Dan suasana jadi riuh rendah, dari tepuk tangan yang luar biasa!

Angela memejamkan mata dan badannya jadi lemas. Dia menyandarkan tubuhnya ke tubuh Si Bungsu. Para petugas rollet saling pandang tidak percaya. Polisi yang menyaksikan, mendatangi Si Bungsu dan mengucapkan selamat. “Anda luar biasa ..”kata polisi itu. “Terimakasih…”

Petugas yang tadi memutar rollet itu terhenyak di kursinya. Tubuhnya penuh dengan peluh dan wajahnya pucat. Belum pernah seumur hidupnya dia mengalami hal tersebut. Belum pernah! Apakah dia tak salah? Pada hal dia telah menginjak alat kecil yang dia dibawah karpet itu. Dan yakin alat itu bekerja sempurna.

Bukankah bolanya tadi masuk kekotak angka enam? Tapi kenapa bolanya bisa keluar dan pindah ke angka delapan? Kenapa? Apakah orang itu memiliki ilmu sihir? Tapi dia tak sempat memikirkan banyak. Sebuah isyarat dari atasannya bikin dia tertegak. Kemudian masuk kekamar pimpinan, dia berdiri dengan tubuh lemas. “Jahanam…!” Sumpah pimpinannya yang duduk dibelakang meja. “Tapi sudah saya tekan..” “Jahanam kau..!” “Saya…” “Ambil perlengkapanmu dan kau tak usah kembali lagi kesini…”

Dan selesai sudah. Itulah yang dikhawatirkan petugas itu, dipecat! Di depan meja rollet, si bos yang mendatangi meja Si Bungsu, mengulurkan tangan dan bersalaman dengan ramah. “Anda amat beruntung. Selamat... silahkan kekantor saya untuk mengambil cek anda karena kami tidak mempunyai uang kontan sebanyak itu..”

Si Bungsu memegang tangan Angela. Kemudian membawa gadis itu mengikuti si bos kekantornya yang terletak di bahagian tengah pada dinding utara ruangan judi tersebut. Ruangan yang dijadikan kantor itu, adalah ruangan yang mewah. Seluruh lantainya beralaskan beludru berwarna merah darah. Dindingnya di lapisi wallpaper yang menggambarkan air terjun Niagara. Dan disudut ruangan terdapat patung wanita telanjang. Demikian pula gambar wanita berukuran besar yang memperlihatkan bahagian yang seharusnya tertutup.

“Silahkan duduk, anda mau minum apa? scot, martini..” “Terimakasih saya minum limun…” “Anda Nona?” “Saya gin saja, terimakasih…” “Pakai es?” Angela mengangguk. Si bos mengambil sendiri minuman buat tamunya di sebuah bar mini di dalam ruangan mewah itu. Kemudian menyerahkannya.

“Untuk kemenangan Anda berdua, selamat…? kata si bos sambil mengangkat gelas tinggi, kemudian mereguk minumannya. Si Bungsu mereguk limunnya dengan tenang. Angela juga. “Dua juta Dollar. Jumlah yang tak sedikit. Apakah anda bersedia menanamkan saham anda pada perusahaan kami?’ si bos mulai mengajukan tawaran.

Si Bungsu bertukar pandang dengan Angela. Angela meminum gin dingin di gelasnya sambil memejamkan mata, “Saya bukan pengusaha….”jawab Si Bungsu. “Saya tahu. Anda tinggal…” “Terimakasih, saya tak berminat dengan tawaran Anda…” Bos rumah judi itu tersenyum. Dan mendekati Angela.

“Saya kira, Anda tentu berminat menanamkan uang anda dalam usaha kami, Nona…” “Ah, saya bukan pemilik uang itu…” “Jangan merendah. Kami tahu pasti, uang itu adalah uang anda. Tuan ini hanya memasangkan saja. Secara hukum andalah pemilik uang itu…” Muka Angela jadi merah karena marah. “Uang itu milik kami berdua…”desisnya. “Tidak. Hanya milik anda…” “Kalaupun milik saya, tak seujung kuku pun saya berminat untuk menanamkan saham ditempat anda…” Si Bos hanya tersenyum. Dia makin mendekatkan wajahnya kewajah Angela. “Anda akan mendapatkan kesusahan nona, atasan anda tentu tidak ingin perwiranya ikut berjudi…”

Angela tertegun. Ucapan orang ini diluar dugaannya. Ternyata mereka mengetahui siapa dirinya. Angela menatap Si Bungsu. Lelaki itu tenang-tenang saja. “Lebih baik anda buatkan cek kemenangan yang kami peroleh itu…” Kata Si Bungsu pelan. “Saya sedang bicara dengan pemilik uang itu…”ujar si bos memotong ucapan Si Bungsu. Sehabis berkata begitu lelaki jangkung keturunan Yahudi itu menatap lagi pada Angela.

“Anda tentu tak ingin kehadiran dan ikutnya Anda berjudi diketahui oleh atasan…” Ucapannya terhenti oleh tamparan Angela. Demikian kerasnya tamparan itu. Hingga bibir si bos berdarah. Tapi lelaki itu masih tenang. Dengan tenang pula dia menghapus bibirnya yang berdarah dengan sapu tangan yang dia ambil dari kantong jasnya. “Anda akan menyesali hal ini, Nona. Akan menyesal sangat…”

Sehabis berkata begitu dia bertepuk. Si Bungsu tahu adalah semacam isyarat. Tapi yang di luar dugaan adalah kelanjutan dari isyarat itu. Tiba-tiba saja, dinding yang membatasi ruang kerja pemilik rumah judi itu seperti terangkat keatas. Dan dikeliling mereka, berdiri tak kurang dari dua puluh lelaki dalam pakaian tradisional Klu Klux Klan! Berjubah putih dengan bertopeng dan tutup kepala putih yang hanya kelihatan matanya saja. Mereka semua memakai senjata otomatis.!

“Sudah kukatakan Nona. Anda akan menyesali tingkah anda itu. Anda telah banyak sekali membuat kesalahan pada kami. Pertama menyediakan diri anda menjadi penunjuk jalan bagi lelaki asing mencari markas kami. Dan kalian telah membunh tiga anggota kami kemaren dan membakar toko tekstilnya. Hari inipun engkau datang kemari sebenarnya untuk mencari jejak pembunuh Niger itu, bukan..?”

Angela masih duduk di kursinya. Demikian pula Si Bungsu. Si Bungsu benar-benar tak dapat berbuat apa-apa. Apa yang dia perbuat dalam keadaan seperti ini? Di kelilingnya berdiri kurang sedikit dua lusin orang yang di lengkapi senjata otomatis. Dan dia ingin tahu siapa sebenarnya pemimpin dari orang-orang ini dan orang yang membunuh Tongky.

Dia memandang keliling. Dan tiba-tiba menyadari bahwa rumah judi ini adalah salah satu markas Klu Klux Klan yang terkenal itu. Dia segera ingat buku yang dia baca di pustaka tua itu.Yang mengungkapkan bahwa organisasi iblis ini mendapat suplai biaya, peralatan dan persenjataan berkat beberapa anggotanya yang memiliki rumah judi, rumah lacur dan industri. Seharusnya dia sudah bisa menduga kalau rumah lacur ini adalah salah satu tulang punggung dari organisasi tersebut. Namun hanya kalau sekedar untuk menduga, sudah cukup terlambat. Kini mereka hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi. Bos judi yang tinggi jangkung itu memberi isyarat, dibawah todongan senjata tangan Si Bungsu diborgol. “Kebetulan kami akan mengadakan upacara di kuil. Dan kami memerlukan korban. Anda berdua datang pada saat yang tepat…”ujar Yahudi itu.

Mata Si Bungsu kemudian ditutup dengan kain hitam. Mereka berdua di masukan kedalam mobil lewat pintu belakang. Si Bungsu mendengar lebih dari empat atau lima mobil yang berjalan mengiringi mobil yang mereka naiki. Mereka berada dalam perjalanan cukup lama. Barangkali sekitar dua jam barulah kendaraan itu berhenti. Tutup matanyya masih belum dibuka.

Dia didorong turun dan jatuh bergulingan diatas tanah berpasir. Dia segera merasakan angin yang bertiup dan merasa di udara terbuka, sepi. Tutup matanya di buka. Didepannya dia lihat ada api unggun. Dia berada disebuah lapangan yang tak begitu besar. Tapi jelas lapangan ini tempat suatu upacara.

Di samping api unggun ada sebuah pentas yang mirip dengan altar sembahyang suatu agama. Di tengah pentas itu ada sebuah pembaringan batu. Dan sekitar lapangan yang tak lebih dari lapangan bola basket itu, kelihatan tegak sosok-sosok lelaki dan perempuan.

Mereka menatap ketengah, kepada orang yang baru datang itu dengan diam. Si Bungsu dan Angela segera diseret ketengah. Menghadap altar yang terang benderang itu. Mereka ditekan sampai terduduk. Kemudian terdengar bunyi gendang,mirip seperti genderang yang dibunyikan suku Indian.

Seiring bunyi genderang tersebut, muncul dua orang berjubah sambil meliuk-liukkan tubuhnya. Dari gerakannya segera diketahui. Kedua mereka berdua adalah perempuan. Hal itu terbukti ketika mereka membuka tutup kepalanya dan melemparkannya ke altar.

Mereka meliuk terus mengikuti irama genderang yang dipukul dari balik api unggun. Berputar dalam sebuah tarian ritual yang lebih banyak daya rangsangnya dari pada daya magisnya. Beberapa saat kemudian mereka membuka jubahnya. Dan dibalik jubah itu mereka hanya memakai kutang dan cawat. Tubuh mereka luar biasa menggairahkannya. Dengan buah dada yang sintal dan pinggang yang padat, mereka meliuk seperti orang ketagihan atau tengah mengharap sesuatu yang merangsang.

Semua yang hadir dengan diam dari balik jubah dan topeng mereka. Kedua orang itu meliuk terus. Tangan mereka menyentuh tempat-tempat terlarang di tubuh mereka sendiri dengan gerakan yang merangsang. Mulutnya mendesah-desah da merintih. Kemudian salah seorang naik kealtar.

Di sana membuka kutang dan cawatnya. Kemudian berbaring diatas pembaringan batu pualam itu. Kemudian meliukkan tubuhnya dengan naik turun, kekiri, kekanan. Kemudian terdengar seperti suara lengkingan. Lelaki bertubuh besar tinggi muncul dan melemparkan jubahnya. Kini dia tak berpakaian!

Ditangannya ada sebuah kapak mirip milik bajak laut zaman dahulu kala. Dia melangkah satu-satu dengan tubuh agak membungkuk kemuka kearah altar dimana perempuan tadi masih mengeluh, menggeliat. Setiba dekat altar lelaki itu mengangkat kampaknya tinggi-tinggi, kemudian meletakkannya kedada perempuan yang telentang itu.

Namun gerakan itu bukan untuk membunuh. Sejari sebelum mata kapak itu mencapai tubuh wanita tersebut, kampak itu berhenti. Dan lelaki itu melompat keatas pembaringan batu tersebut. Kedua kakinya mengangkang diatas tubuh perempuan itu. Dia tegak sambil menatap pada bulan penuh yang bersinar dilangit. Mengangkat tangannya keudara. Dan memekik seperti pekik orang purba.

Di bawahnya, di antara kedua kakinya, perempuan itu tetap menggeliat dan merintih. Kini kedua tangannya justru teracung keatas, seperti menanti turunnya tubuh lelaki itu. Perempuan yang seorang lagi, masih tetap menari-nari disekitar altar. Dari orang-orang yang hadir disitu, tak terdengar suara apapun. Mereka diam menatap dari balik topeng seperti dibius.

Lelaki besar itu duduk berlutut. Menatap pada perempuan yang terlentang diantara jepitan kakinya. Menatap seluruh tubuh nya, dan sekali lagi dia mengangkat kampak tinggi-tinggi, dan dengan mengangkat kampak itu dia menghimpitkan tubuhnya pada tubuh si perempuan.

Angela merasa jijik dan menundukan kepalanya dalam-dalam. Perempuan dialtar itu merintih dan menggelinjang. Meronta, mendengus. Di langit bulan yang bulat besar itu tiba-tiba menyelusup diantara awan- awan yang lembut. Lenyap beberapa saat di dalam palunan awan. Keluar sejenak dan kembali masuk ke awan berikutnya.

Bulan yang besar bulat itu beberapa kali masuk kedalam awan yang seperti menelannya bulat-bulat. Si Bungsu tetap memandang ke altar yang sedang melakukan adegan yang menjijikan itu. Dan tiba-tiba,ketika perempuan yang terbaring dibawah himpitan lelaki besar itu tengah berada dipuncak ganasnya yang hebat, kampak ditangan si lelaki bergerak cepat. Crep!! tak ada suara lain. Tak ada pekik, tak ada keluhan, tak ada jeritan. Perempuan yang tengah diatas puncak kenikmatan itu mati dengan kepala terbelah dua! sepi! Perempuan yang satu lagi, yang dari tadi menari meliuk-liukkan tubuhnya, kini juga terhenti. Menatap temannya yang mampus dialtar. Dan seperti tersadar dari bius yang hebat, dia memekik histeris, berbalik dan berlari tak tentu arah.

Namun dia hanya jadi tontonan. Dan lelaki yang masih mengangkangi perempuan bugil di altar itu mengangkat kapaknya, dan dalam sebuah lemparan yang penuh perhitungan, kampaknya melayang crepp! Kapak itu melekat persis di belahan dada perempuan yang tengah berlari berputar itu.

Dia seperti ditendang tenaga raksasa, tubuhnya tersurut kebelakang, masih tegak beberapa saat dan rubuh dengan tubuh bermandi darah! Kemudian suara gendang ditabuh perlahan, seperti suara magis yang menakutkan! Dum…Dum dum..dumm! Angela sempat melihat perempuan itu rubuh dengan kapak membelah dadanya. Dia pingsan disebelah Si Bungsu yang tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab tangan nya masih diborgol.

Sungguh mati, sebagai perwira disebuah kota yang ganas seperti Dallas, dia telah banyak menyaksikan peristiwa-peristiwa yang tak berperikemanusiaan. Namun tetap saja yang dia lihat malam ini, merupakan puncak dari kebiadaban yang pernah dia saksikan. Perempuan dikorbankan begitu saja terhadap nafsu setan kemudian di bunuh dengan kapak, semua dilakukan diacara ritual. Acara keagamaan dan kejayaan organisasi Klu Klux Klan!

Bayangkan betapa banyak sudah perempuan yang sudah dikorbankan dan binasa dalam acara seks dan pembunuhan seperti ini sejak berdirinya organisasi ini tahun 1800-an. Si Bungsu tidak bisa berpikir banyak. Mereka segera digiring kesatu tempat, yang kemudian dia ketahui sebagai penjara. Sekurang-kurangnya tempat itu digunakan sebagai tempat menahan para terhukum menurut Klu Klux Klan.

Rumah yang dijadikan penjara itu terdiri dari beberapa kamar. Pintu-pintu hanya berjerajak besi, tak punya daun penutup. Si Bungsu ditempatkan disebuah kamar berukuran 3x3m, bersama seorang lelaki yang nampaknya keturunan Indian. Angela dimasukan ke sel yang terletak persis di depan sel tahanannya.

Dia hanya sendiri dalam kamar tahanan itu. Mereka dimasukan kesana sekitar pukul dua tengah malam. Orang Amerika keturunan Indian dikamar itu segera mengingatkan Si Bungsu pada bintang film Jhon Wyne yang tersohor itu. Tinggi besar dengan mata sipit. Hanya bedanya orang ini berkulit seperti warna tembaga.

“Anda lihat Choncita?” Tiba-tiba saja Indian itu bertanya kepada Si Bungsu, Si Bungsu tak segera menjawab. “Anda bisa berbahasa inggris?” tanya Indian itu pula. Si Bungsu mengangguk. “Choncita, anak gadisku. Berambut panjang hitam dengan anting-anting besar. Dia dibawa tadi keluar bersama gadis yang lain. Mereka juga membawa kampak besarku. Kau lihat dia?”

Si Bungsu tidak menjawab. Dia teringat gadis yang terlentang diatas altar itu, berambut hitam lebat dan beranting-anting besar dan tubuh menggairahkan. Yang mati dipuncak nikmat dengan kepala di belah kapak, ternyata kapak ayahnya! “Kau melihat mereka diluar sana?” Kembali Indian itu bertanya. “Maaf, dia sudah mati…”

Indian itu termenung. Matanya menatap keluar sana seperti mata elang. Rahangnya kelihatan mengeras. Dia bicara sendiri dalam bahasa Indian Comanche yang tidak diketahui Si Bungsu. Si Bungsu teringat lelaki besar yang menggagahi anak Indian ini, juga bertampang Indian.

Sayup-sayup diluar terdengar suara lolong anjing. Tempat ini pastilah diluar kota. Kemana saja orang- orang anggota Klu Klux Klan yang tadi berkumpul di acara persembahan di luar tadi? Si Bungsu tersandar dengan tangannya terikat dengan borgol ke belakang, ketika sesosok tubuh muncul. Dia segera ingat kalau dia si bos rumah judi yang dia sikat uangnya itu.

Nafas lelaki itu menyebarkan bau minuman keras.Tanpa menoleh kekiri atau kekanan dia langsung menuju kekamar tahanan Angela berada. Dia membuka kunci kamar tahanan tersebut. Lalu masuk, tanpa menutupkan pintu dia segera membukai pakaiannya. Angela saat itu tertidur pulas.

Si Bungsu tahu apa yang akan dilakukan lelaki jahanam tersebut. Namun dia tak berdaya, kedua tangan nya masih terborgol kebelakang. “Angela bangun…!” serunya berusaha memberitahukan gadis itu akan bahaya yang dia hadapi. Angela tersentak bangun. Dan memekik melihat lelaki telanjang di dalam kamarnya yang diterangi listrik 100 watt itu. Namun gadis itu yang tangannya juga terikat tidak bisa berbuat apa-apa.

“Sudah ku katakan, kau akan menyesal karena memukul wajahku, Nona..”ujar pemilik rumah judi yang berkebangsaan Yahudi itu. Lalu sekali sergap, Angela sudah berada di dalam pelukannya, bibirnya menjalar kemana-kemana. Angela meronta. Tangan Yahudi itu menyentakan pakaiannya. Terbuka bagian atas. Si Bungsu mengatupkan bibir. Dia tak berdaya. Belenggu jahanam itu mencekam kedua tangannya kebelakang. Tangan Yahudi itu merenggut lagi, lagi dan lagi!

Angela kian terengah. Tak berkain secabik pun. Indian sekamar dengan Si Bungsu hanya menatap sesaat kekamar didepannya. Dimana tengah terjadi pertarungan yang tak berimbang itu. Kemudian dia menunuduk. Diam seperti patung.

Di seberang sana tubuh si Yahudi itu telah menimpa tubuh Angela yang menggiurkan. Gadis itu berusaha menyelamatkan dirinya. Namun dia hanya seorang perempuan. Dia memang belajar bela diri, karate dan yudo. Dua kali seminggu selama dinas di kepolisian. Namun dengan tangan terikat kebelakang apa yang dapat dia perbuat.

Tangan Yahudi itu meremas-remas dengan penuh nafsu. Angela merasa sakit seluruh tubuhnya. Yahudi itu menghimpit dirinya, Angela menerjangkan kakinya Yahudi itu tercampak kesamping. Kemudian Yahudi itu bangkit, dan menghimpit lagi, menghantamkan tinjunya kepelipis Angela. Angela pingsan!

Dengan leluasa Yahudi itu melaksanakan niatnya. Si Bungsu menggigil, betapa laknatnya. Gadis itu datang kemari karena ingin menolongnya mencari jejak pembunuh Tongky. Kini gadis itu dicemarkan kehormatannya di hadapan mata kepalanya, tanpa dia dapat berbuat secuilpun!

Yahudi itu leluasa sekali karena Angela pingsan. Nafasnya mendengus, bibirnya menjalar keseluruh tubuh Angela yang tidak tertutup. Indian yang anaknya telah binasa setelah dibius, diberi perangsang dan dinodai itu, tertunduk. Lalu suatu saat dia menoleh pada Si Bungsu. Lelaki asing itu dia lihat tertunduk dan matanya basah menahan berang. Dan tubuhnya yang basah bermandi peluh. Dia melihat di bawah cahaya terang 100 watt dalam kamar itu, betapa lelaki itu berdarah tentang pergelangan tangan nya yang di borgol.

Dia tahu lelaki ini ingin melepaskan borgolnya. Usaha nya justru membuat borgol itu memakan daging tangannya. Tapi dia melihat sesuatu ditangan Si Bungsu, seperti pisau kecil. Rupanya dalam usaha membuka borgol itu, membuat samurai kecilnya yang terselip dilengan itu meluncur turun.

Sebuah samurai kecil tergeletak dilantai. Perlahan Indian itu mendekati Si Bungsu. Mengambil samurai itu dan menelitinya. ”Milikmu?” Si Bungsu mengangguk. Dan Indian itu tiba-tiba bergerak cepat. Dia meraih tangan Si Bungsu, meneliti borgolnya. Kemudian ujung borgol yang tipis itu dia masukkan ke lubang borgol. Waktu itu Yahudi di seberang sana selesai. Dia melekatkan pakaian. Kemudian melangkah meninggalkan kamar tahanan.

Lelaki itu menoleh pada Si Bungsu yang tersandar, pada Indian yang terbaring diam, sambil melambaikan tangan. Kemudian dengan wajah berpeluh berjalan keluar. Begitu dia lenyap, Indian itu bangkit. Melanjutkan pekerjaannya. Dan hanya selang dua menit, borgol itu terbuka. Meski terbuka hanya sebelah, Namun bagi Si Bungsu hal itu sudah lebih dari cukup.

Dia bangkit, tapi satu hal dia hadapi lagi. Pintu kamar mereka terkunci dari luar. Tengah dia tegak bingung, lelaki Indian itu memberi isyarat. Dan dia berjalan ke pinggir kamar yang berdinding batu. Si Bungsu masih tetap ditempatnya. Tiba-tiba Indian itu menghantam dinding itu dengan kepalan tangannya. Dinding itu jebol! Dia hantam beberapa kali dan dinding itu rubuh.

“Keluar lewat sini, imbaunya…” Si Bungsu yang ternganga akan tenaga Indian itu buat sesaat masih termangu. Indian itu sudah keluar. Si Bungsu ikut menyelinap di lobang yang pas-pasan badan itu. Dia menyelinap dimana kamar Angela terbaring dalam keadaan tak berkain secabik pun.

Cepat dia menutup tubuh gadis itu dengan kainnya yang terserak-serak. Dan ketika dia memangku tubuh gadis itu dipintu, dia melihat Indian besar itu telah tegak disana, sebuah senapan otomatis tergenggam ditangan nya. “kemana jalan keluar bisiknya?”.

Tanpa banyak bicara Indian itu berjalan duluan, menyelinap keluar dan mendapatkan tubuh anaknya di altar. Hanya kini tubuhnya sudah ditutupi kain putih bersih dengan lambang salib terbakar ditengahnya. Lambang Klu Klux Klan! Indian itu menatap anaknya. Kemudian bergegas mencari jalan keluar. Markas ini nampaknya terdiri dari tiga bangunan. Di tengah ketiga bangunan itu altar tersebut berada. Dekat pintu Si Bungsu mendapati tubuh terkulai. Barangkali lehernya patah. Dan Si Bungsu menduga, orang ini adalah pengawal yang dibunuh oleh tangan si Indian untuk mendapatkan bedilnya.

Mereka berlari cepat dengan Si Bungsu masih memanggul tubuh Angela. Si Indian membawa Si Bungsu kegedung kedua. Disana mereka menyelinap, masuk. Mendapatkan beberapa kamar tertutup namun tidak terkunci. Di sebuah kamar si Indian menyelinap masuk. Kemudian keluar lagi. Dia meyerahkan bedilnya pada Si Bungsu.

“Anda jaga jangan ada yang masuk…” kata Indian itu singkat. Sekilas Si Bungsu melihat kampak besar yang dipakai untuk membunuh kedua gadis di upacara itu berada ditangan si Indian. Indian itu sudah menyelinap lagi kedalam kamar. Si Bungsu menduduk Angela di sebuah kursi di ruang tengah. Dan dari dalam tiba-tiba dia dengar erangan panjang. Dia menghambur kedalam. Dan Indian itu dilihat tegak dengan kampak berlumur darah.

Di tepi kamar dilihat Si Bungsu sesosok tubuh, yang segera dikenal Si Bungsu sebagai lelaki besar tinggi yang membunuh kedua gadis malam tadi, yang salah satunya adalah anak dari Indian itu. Kepala lelaki yang berwajah Indian itu terbelah dua, persis seperti kepala gadis yang dia bunuh setelah dia gagahi diatas altar tersebut.

“Cepat kita tinggalkan tempat ini….” kata Indian tersebut. Saat mereka berjalan keluar Angela terbangun dari pingsan yang hebat. Dan mulutnya terbuka untuk memekik. Namun Indian itu bergerak cepat. Sebuah pukulan menghantam tengkuk gadis itu. Dia pingsan lagi. Indian itu menunggu lama, dia membopong gadis itu keluar. Si Bungsu mengikuti dari belakang sambil mengawasi dengan bedilnya. “Jalan ini…”ujar si india sambil berbelok kekanan.

Nampaknya dia hapal daerah ini. Jalan yang dia tempuh menuju mobil pick-up putih. Indian itu bertindak cepat. Mereka masuk, dan dengan merenggutkan kabel kontak, mengadu kabel positif dan negatifnya mobil itu hidup. Kemudian seperti dilonjakkan menghambur kearah jalan. Memasuki padang rumput, kemudian beberapa kali tembakan terdengar dari rumah tersebut. Kaca belakang dan dinding mobil berkeping dihantam peluru. Namun Indian itu mahir sekali.

Dia melarikan mobil itu, berbelok-belok. Beberapa menit kemudian mereka sampai dijalan raya. Mobil itu melunjur dalam udara pagi yang dingin. Angela siuman. Dan memekik kuat-kuat. Gadis itu amat terguncang atas perlakuan yang dia terima tadi malam. Dinodai oleh si Yahudi pemilik rumah judi tersebut. Dan dia kembali memekik.

“Kuasai diri mu nak…” kata si Indian itu sambil tetap melarikan mobil dengan kencang. Angela menangis terisak. Kemudian merebahkan dirinya ke bahu Si Bungsu yang duduk dikanannya. Si Bungsu hanya diam. Tangan nya memeluk bahu gadis itu dan membelai kepalanya. Mobil itu dilarikan kencang membelah udara subuh. Di arahkan ke jantung kota Dallas. Si Indian terus memacu mobilnya, dan tiba-tiba saja mereka sudah berada dihalaman sebuah rumah bagus. Bangunan rumah itu cukup besar dan berpekarangan luas, namun tidak berpagar.

Seekor anjing besar muncul dan menggonggong. Si Indian membuka pintu, anjing yang luar biasa besarnya itu menerkam. Indian tetap duduk dengan diam. Dan begitu anjing itu sampai kedekat dia, tangannya terulur. Entah dengan cara bagaimana, tiba-tiba saja leher anjing itu berhasil dia cekik dengan tangan kirinya yang berada di sebelah pintu yang terbuka.

Anjing itu meronta, menggelepar. Namun jepitan tangan si Indian itu kuat seperti jepitan besi. Lalu tubuh anjing itu diam tak berkutik. Dengan sekali ayun tubuh anjing yang besarnya tak kurang dari manusia dewasa itu tercampak hingga dua depa. Indian itu meraih senapan yang tersandar dekat Si Bungsu. Meletakkanya di pangkuan Angela.

“Turunlah. Masuk kerumah itu. Lelaki yang menodaimu itu berada dalam rumah ini. Jangan khawatir, dirumah ini dia tinggal sendirian. Paling-paling yang ada hanya seorang pengawal atau ajudannya. Dia bisa kau bereskan dengan senapan ini…” Si Bungsu terheran-heran. Nampaknya si Indian kenal betul dengan sindikat Klu Klux Klan ini. Atau sekurang-kurangnya dia kenal betul dengan si Yahudi pemilik rumah judi itu.

Angela turun, setelah Si Bungsu turun duluan. Gadis itu bergegas masuk dari pintu depan yang nampaknya tak terkunci. Begitu masuk, seorang lelaki yang di kenali Angela sebagai petugas di rumah judi malam tadi, datang menghadang. Namun matanya terbelalak melihat tubuh si Indian yang berdiri di belakang Angela.

Tangannya bergerak kebalik jas, meraih pistol. Angela mengangkat bedil. Namun sebelum bedilnya, meletus. Lelaki yang didepannya sudah terjungkal. Dikepalanya persis tentang dahi, tertancap kampak besar! Indian tersebut bergerak lebih cepat.

“Kamarnya di sebelah kanan, yang pintunya bercat hijau…” Indian itu berkata seperti memberi petunjuk pada Angela. Gadis itu segera menuju kesana. Memasuki ruangan tengah yang seluruh lantainya beralas beludru berwarna putih. Di sebelah kanan ada pintu berwarna hijau, ditengah ruangan itu ada sebuah taman dengan air mancur dan ikan-ikan dari tropis yang berwarna-warni. Angela membuka kamar dengan bedil yang siap dimuntahkan. Kamar itu seluruh lantainya berwarna beludru biru. Di Pembaringan yang besar lagi antik, tertelentang sesosok tubuh. Si Yahudi! Angela menarik picu bedilnya. Namun sesaat sebelum itu, dia teringat sesuatu. Dia memindahkan sasaran tembaknya dari kepala kebahagiaan lain. Tembakannya menggema. Menghantam paha si Yahudi. Yahudi tersebut terbangun dan meraung. Di pintu dilihatnya gadis yang baru dua atau tiga jam berselang dia tiduri di tahanan, kini tegak dengan bedil yang masih mengepulkan asap. Bibirnya bergerak-gerak pucat dan ketakutan. Demikian takutnya Yahudi besar itu, hingga tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Dia pulang hanya dengan seorang pengawal. Siapa nyana, sebelum matahari terbit, orang baru saja dia nistai, dan siap untuk dijadikan korban dalam acara Klu Klux Klan, kini muncul seperti malaikat maut.

Angela tak segera menyudahi nyawanya. Dia memberi isyarat pada Si Bungsu. Dan Si Bungsu tahu maksud isyarat itu. Dia mendekati pembaringan. Tapi saat itu pula Yahudi itu meraih sesuatu dari bawah bantalnya. Sepucuk pistol! Pistol itu dengan cepat diarahkan pada Si Bungsu, dan sebelum Si Bungsu bereaksi, sebuah ledakan bergema, lelaki itu terpekik. Pergelangannya hancur, pistol tercampak. Angela ternyata bertindak lebih duluan!

“Katakan siapa yang telah membunuh temanku itu…”katanya Si Bungsu “Jahanam, kau takkan mendapatkan apa-apa…”

Si Bungsu menggerakkan tangan. Samurai kecilnya berpindah dari sisipan di lengan ke tangannya. Tanpa banyak bicara, samurai kecil itu disayatkan ketelinga Yahudi itu, Yahudi itu melolong. Telinganya yang kanan putus! Situasi perumahan di mana Yahudi ini tinggal membuat dia tak tertolong. Rumahnya dibangun di tanah yang luas dengan pekarangan padang rumput dan pohon mahoni. Rumah terdekat ada ratusan meter dari sana, jadi tak bakal terdengar oleh mereka suara-suara letusan itu di rumah mereka.

“Sebutkan siapa yang membunuh kawan ku itu dan siapa yang menyuruhnya..” “Kau laknat..” makinya terputus karena Si Bungsu menyayat hidungnya, dia kembali meraung kesakitan. Yahudi itu akhirnya menyerah. Dia menyebutkan nama dan alamat yang diperlukan Si Bungsu.

“Kau harus melepaskan saya. Kau telah memperoleh apa yang kau inginkan, kau harus sportif..” kata Yahudi bertubuh besar yang malam tadi memuaskan nafsunya dengan memperkosa Angela secara brutal. “Ya. Saya membebaskanmu. Saya takkan menyakitimu seujung kaki pun..” kata Si Bungsu. “Benar?” “Benar!”

Si Bungsu meninggalkan pembaringan itu. Kini yang maju adalah Angela. Gadis itu menatapnya dengan tatapan seperti akan merobek tubuhnya. Yahudi yang malam tadi alangkah ganasnya itu menjadi menggigil. Dia menghimbau Si Bungsu yang baru menyatakan takkan menyakitinya itu. “Tt..tolong saya. Anda mengatakan tadi akan membebaskan saya…” “Ya, saya berjanji dan saya tepati….” ujar Si Bungsu dari pintu dengan tenang. “Tapi…tapi kawan anda ini…” “Itu bukan urusan saya. Antara kau dan aku tak ada urusan lagi. Tentang

gadis itu mungkin kau ada urusan, maka kalian harus menyelesaikan nya sendiri..” Si Bungsu berkata dengan tenang. Wajah Yahudi itu,yang malam tadi begitu ganasnya kini menjadi pucat.

“Ya, kita ada persoalan, bukan? Kita akan menyelesaikannya menurut cara kita..”kata Angela penuh dendam. Sebelum lekaki itu sempat bereaksi, popor bedil di hentakkan Angela ke wajahnya. Yahudi itu kembali meraung. Hampir seluruh giginya rontok. Mulut dan hidungnya hancur. Namun Angela menatapnya dengan dingin.

“Berdiri…” desis gadis itu. Yahudi itu menyumpah. “Berdiri..” ulang gadis itu dengan mulut bedil mengarah kekepala si Yahudi. “Bagaimana aku akan berdiri…” “Ku hitung sampai lima, jika tidak kepalamu kuhancurkan...satu..dua…” Dengan menahan sakit yang luar biasa, dari kakinya yang hancur di tembak Angela tadi, Yahudi itu berdiri dengan menopangkan berat badannya di kaki kirinya yang masih normal.

“Ku beri kalian semua kekayaanku, uang, permata, emas. Saya bersumpah takkan mengganggu…” ucapannya terhenti. Sebuah letusan bergema. Bedil di tangan Angela menyalak. Pelurunya menghantam lengan kanan Yahudi itu hingga putus antara siku dan bahu. Sebelum raungnya habis, sebuah tembakan lagi kembali memutus lengan kirinya. Dia terhenyak duduk di pembaringan dengan kaki remuk dan kedua tangannya putus. Matanya melotot ketakutan menatap Angela. “Yahudi iblis, Klu Klux Klan setan, kau rasakan pembalasanku…” desis Angela.

Sebuah tembakan menggema lagi. Dalam jarak hanya tiga depa itu peluru menghantam selangkangan si Yahudi, peralatan di selangkangannya itu hancur, matanya mendelik, tubuhnya terhempas kebelakang, tertelentang, mampus! Angela sudah membalaskan dendamnya. Meski kehormatannya tak pernah bakal kembali setelah dinodai malam tadi. Namun dia puas telah menjagal Yahudi jahanam itu.

Dia berbalik dan menatap pada Indian yang membawanya kesini. Indian itu, yang anak gadisnya di perkosa dan dibunuh di altar upacara Klu Klux Klan itu, tetap tegak dipintu. Menatap keluar, menjaga kemungkinan yang tak di ingini. Angela menatap Indian tersebut. “Terima kasih pak, anda telah menunjukan sarang serigala ini…” Indian itu hanya menatap sesaat. “Mari kita pergi, sebentar lagi tempat ini akan ramai..” katanya bergegas menuju kemobil yang mereka curi di markas Klu Klux Klan itu. Mereka segera masuk ke mobil. Kemudian Indian itu menjalankannya. Dia membawa mobil terus keselatan, kearah jalan raya One South. Memasuki hutan lindung, dan berhenti disana.

“Kita memintas hutan ini. Dua ratus meter kita sampai di jalan Two South. Disana kita mencegat taksi…” Dan dia berjalan duluan, memasuki hutan lindung yang terawat bersih itu. Tak lama mereka sampai di jalan Two South yang tadi dikatakan Indian itu. Dalam beberapa menit, mereka sudah berada dalam taksi.

“Kita ke flatku..” kata Angela. “Tidak nona, rumahmu, rumahku atau kalau teman asingmu ini juga punya rumah, kini sudah tidak aman lagi. Setiap saat sudah akan terbakar. Klu Klux Klan tidak akan bertindak tanggung-tanggung. Kita harus mencari persembunyian lain…” ujar si Indian.

Angela dan Si Bungsu bertukar pandangan. Indian itu berkata ‘kita’ artinya mereka kini jadi suatu kesatuan yang terdiri dari tiga orang. Siapa sebenarnya Indian ini? Dan kenapa dia sampai berurusan dengan Klu Klux Klan? Pertanyaan itu tak sampai terjawab. Sebab mereka harus cepat-cepat mencari tempat untuk menyusun langkah.

Angela meminta taksi itu berhenti disebuah telepon umum yang terletak di pinggir taman. Dia menelpon ke kantornya. Menceritakan sesuatu yang terjadi dengan ringkas. Memberi tahu pula tempat dimana dilangsungkan upacara ritual kelompok Klu Klux Klan yang menjadikan gadis Indian itu sebagai korban ritual. Dengan menodai dua orang gadis itu. Menceritakan pula Yahudi yang terbunuh itu.

“Kalau aku mati, sekurang-kurangnya mereka tahu harus mengusut siapa…” katanya setelah kembali duduk didalam mobil di samping Si Bungsu. “Kita harus kehotelku, ada yang ingin aku ambil. Sebentar saja…”ujar Si Bungsu. Indian itu menatapnya. “Dimana, hotelmu…” “Dallas hotel…”

Indian itu tidak bertanya lagi. Mobil diarahkan kesana. Setiba dihotel, setelah meneliti keadaan cukup aman, Si Bungsu bergegas masuk mengambil pakaiannya. Kemudian menitipkan diresepsionis. Dia sendiri dengan berbekal uang dikantong, kemudian berjalan ke mobil dimana Indian dan Angela menunggu dengan diam. Mereka melihat lelaki dari Indonesia itu muncul dengan tongkat kayu ditangannya. Meski heran, namun mereka tak berminat bertanya.

Ketika taksi berjalan, si Indian menyebutkan sebuah tempat. Nampaknya kesebuah tempat di pinggir kota bahagian utara. Melewati daerah perkantoran, kemudian melewati padang rumput yang luas. Ada sebuah hutan yang tak terawat. Taksi berhenti dipinggir hutan tersebut. “Kalau ada yang bertanya, kita tak pernah bertemu. Ingat itu..” ujar si Indian itu pada sopir taksi. Dan menerima bayaran dari Angela. “Yes,sir…”jawab sisopir taksi sambil melambaikan tangan.

Mereka melanjutkan berjalan kaki sambil tetap berdiam diri mengikuti si Indian yang berjalan didepan. Setelah berjalan beberapa saat. Mereka melihat sebuah rumah bertingkat dua dari kayu. Ada asap mengepul. Di halaman ada dua orang lelaki Indian yang tengah bekerja. Ada anjing yang melolong dan menyongsong mereka.

Kedua orang lelaki Indian itu serta merta berhenti bekerja dan tangan mereka dengan kukuh memegang bedil dan menatap yang datang. Anjing itu mendengus dan menjilat kaki si Indian yang terus saja berjalan. Tiba didekat dua Indian yang berhenti bekerja itu dia berhenti sejenak, saling pandang dan masih tanpa berkata sepatah katapun, dia menuju rumah.

Pintu terbuka dan dari dalam muncul seorang perempuan berkulit putih! Perempuan itu belum tua benar. Raut wajahnya masih memperlihatkan paras yang cantik. Baik Si Bungsu maupun Angela segera melihat kemiripan antara perempuan separuh baya di pintu itu dengan gadis yang mati setelah dinodai di altar persembahan Klu Klux Klan malam kemaren!

Perempuan itu menatap si Indian yang baru datang, Indian itu berjalan kearahnya. Tegak beberapa saat didepan si perempuan kulit putih itu. Dari jarak sepuluh meter,Si Bungsu dan Angela melihat si Indian itu seperti berbicara. Kemudian perempuan itu menangis, lalu memeluk lelaki Indian itu. Lalu mereka tegak berpelukan di depan pintu di bawah tatapan mata Angela dan Si Bungsu. Ditatap pula oleh dua orang lelaki Indian yang bertubuh besar yang masing-masing tangannya memegang kampak. Kemudian lelaki Indian itu menoleh kepada mereka. Memberi isyarat untuk datang, Angela dan Si Bungsu mendekat.

Perempuan Amerika itu duluan masuk. “Mari masuk…” ujar Indian itu. Di dalam rumah, keadaannya kelihatan bersih,meski amat sederhana. Kedua Indian yang semula bekerja membelah kayu kini berkumpul dengan mereka.

“Ini, Elizabeth, istriku..” ujar Indian itu memperkenalkan perempuan berkulit putih itu. Perempuan itu mengulurkan tangan pada Angela sambil mencoba tersenyum. Kemudian pada Si Bungsu. Keduanya mereka menyebutkan nama masing-masing. “Mereka teman-temanku, kami sama-sama melarikan diri dari Klu Klux Klan..” ujar Indian itu menambahkan. “Ini keponakanku Elang Merah, ini adikku Pipa Panjang…” Indian itu memperkenalkan kedua orang Indian yang tadi di luar rumah.

Kedua Indian itu hanya mengangguk. Tidak mengulurkan tangan untuk bersalaman. Indian itu kemudian memperkenalkan siapa dirinya pada Angela dan Si Bungsu. Dia berbicara, bahwa namanya Yoshua. Nama Indiannya adalah Beruang hitam. Mereka berasal dari nenek moyang suku Indian Apache. Yoshua bekerja diperkebunan di utara Dallas, di luar kota Admore. Di perkebunan itu banyak bekerja orang-orang Negro.

Sekali seminggu, setiap sabtu, dia pulang kemari, kerumahnya ini. Namun sebulan yang lalu, di perkebunan teh milik orang Amerika asal scotlandia di Admore itu terjadi kerusuhan. Buruh-buruh menuntut kenaikan upah. Seorang negro mati dibunuh oleh mandor berkulit putih dengan menembaknya dikepala. Peristiwa itu terjadi didekat yoshua. Dia tak dapat melihat orang itu berlaku sewenang -wenang.

Dengan pisau yang ada ditangan nya. Dia serang orang kulit putih itu. Tentu saja Mandor itu bukan lawannya. Si Mandor berusaha menggertak dengan senapan. Namun Yoshua adalah Indian yang berdarah kental. Dia menyerang dan kepala orang kulit putih itu putus! Itu memang kesalahannya. Salah karena membela orang negro, dia melarikan diri. Seminggu bersembunyi.

Tak berani pulang kerumahnya yang terletak didaerah selatan. Takut di tangkap. Tapi ternyata orang- orang perkebunan itu meminta bantuan Klu Klux Klan. Dua orang Klu Klux Klan menangkap Choncita, anak Yoshua dengan Elizabeth. Penangkapan itu disertai pesan. Conchita akan di bebaskan kalau Yoshua menyerahkan diri. Karena cinta pada anak, dia memutuskan untuk menyerah.

Tapi terlebih dulu dia membawa keluarganya secara sembunyi-sembunyi pindah kedaerah ini. Rumah yang tak diketahui siapapun. Untuk menjaga Istrinya, dia memanggil adik dan keponakannya. Dia lalu menyerahkan diri, namun siapa sangka. Ternyata Klu Klux Klan berlaku biadab dengan mengorbankan Conchita setelah terlebih dulu di perkosa.

Hari itu mereka istirahat di rumah Indian itu. Si Bungsu tahu, Indian itu ingin membalas dendam atas perlakuan terhadap anaknya. Mereka tidak bisa bergerak tanpa kendaraan dan tanpa senjata. Si Bungsu punya uang. Dengan uang yang ada dia suruh Yoshua membeli dua mobil bekas yang masih baik.

Kemudian membeli bedil dan Amunisi. Sekaligus membeli daging dan keperluan dapur lainnya. Siapa tahu mereka akan terus menjadikan rumah ini sebagai markas besar. Yoshua semula menolak, namun setelah dipaksa berkali-kali akhirnya menerima bantuan itu. Dia menyuruh adik dan keponakannya kekota. Membeli mobil dan senjata secara terpisah. Senjata dan amunisi bisa dibeli dengan bebas di kota ini.

Malam itu entah bagaimana, mungkin Yoshua menganggap Si Bungsu dan Angela sebagai suami istri. Atau dua orang kekasih, mereka ditempatkan di sebuah kamar berdua. Tentu saja yang kikuk adalah Si Bungsu. Namun, tak tidur semalaman membuat dia tak punya daya untuk menolak rasa letih dan mengantuk yang amat sangat. Ketika Angela mandi dia sudah terbaring dan tidur…! Dia terbangun mungkin lewat tengah malam. Didapatinya dirinya berada dalam pelukan Angela. Gadis itu membuka mata begitu merasakan Si Bungsu bergerak. Mereka bertatapan dalam jarak tak lebih dengan sejengkal. Angela tersenyum. “Tidurmu nyenyak sekali…” bisik Angela sambil mendaratkan sebuah ciuman di mata Si Bungsu yang hanya terlongo-longo.

Dan tiba-tiba dia menyadari kalau dirinya ada yang berubah. Artinya pakaiannya terasa ganjil. Senja tadi ketika dia akan tidur, dia masih berpakaian lengkap yang dia tukar dihotel, tapi kini pakaiannya itu tidak melekat lagi ditubuhnya. Kini Yang ada di tubuhnya adalah sebuah piyama yang bukan miliknya, dia tatap tubuhnya dengan merenggangkan pelukan Angela. “Piyama itu dibawa Elang Merah dari kota…”kata Angela