Tikam Samurai Si Bungsu Episode 5.2

Kemudian hubungan radio itu diputuskan. Menteri Luar Negeri itu betukar pandang dengan teman- temannya. Sepi. ‘’Bahan makanan yang ada di pesawat itu untuk berapa lama?’’ tanyanya pelan. Direktur CIA yang tegak di sisinya, yang telah menghubungi lapangan udara Singapura, Hongkong dan Honolulu, yaitu pelabuhan-pelabuhan yang telah dilalui pesawat JAL itu, segera melaporkan:

‘’Mereka punya bahan makanan untuk dua hari. Yaitu terdiri dari snack dan steak, juga ada minuman ringan, kopi dan teh. Makanan itu diperkirakan telah mereka makan ketika menembus perbatasan siang dan malam menjelang Honolulu, dan kemudian memakannya lagi antara penerbangan Honolulu dan Mexico. Jika semua penumpang makan dan minum jatah mereka, maka makanan dan minuman itu masih tersisa untuk sekali makan lagi. Tetapi menurut dugaan, sebahagian besar diantara penumpang tak menghabiskan jatahnya, atau tak mengambilnya sama sekali. Barangkali selera makan mereka lenyap karena takut. Itu berarti mereka memiliki cadangan makanan yang lebih banyak…’’

Menteri Luar Negeri itu terdiam. Laporan itu berarti menghilangkan harapan mereka untuk mendekati pesawat itu dengan alasan mengantarkan bahan makanan. Mereka di pesawat mempunyai cukup makanan! Menteri Luar Negeri itu menyuruh hubungi mereka yang di pesawat. Petugas menara menghidupkan kontak. Sekali. Dua kali. Sepi. Dicoba lagi. Sekali. Dua kali. Lalu… ‘’Ya..!’’ ‘’Nona Yuanita, saya ingin bicara’’ ‘’Apakah sudah ada kepastian tentang teman-teman kami yang di Alcatras?’’ ‘’Ya. Kami ingin bicara soal itu, Nona’’ ‘’Saya dengarkan’’ ‘’Kami mengalami kesulitan untuk merengumpulkan mereka. Mereka terpencar di berbagai penja…’’ ‘’Tuan menteri, kami sebenarnya bisa dengan mudah membunuh Tuan dan seluruh orang yang ada di dekat Tuan, sekarang. Kami tak suka omong kosong Tuan sebentar ini. Kami sudah mengatakan bahwa tahanan yang kami maksudkan ada di Alcatras. Kami telah memberi pemerintah Tuan waktu yang cukup untuk membawa mereka kemari. Masih ada waktu dua jam lagi. Kami akan menanti…’’’

“Nona…” “Kami ingin buktikan,bahwa kami tidak omong kosong,dengan ucapan saya tadi bahwa kami bisa membunuh Tuan dan semua yang ada di sekitar Tuan…” Sebelum menteri itu sadar apa yang dimaksud gadis yang di pesawat itu, tiba-tiba saja kaca tower itu hancur berderai! Dan sebuah peluru menghantam jam di bahagian belakang, dekat kepala menteri itu!

Menteri itu kaget bukan main. Begitu juga semua yang hadir disana. Mereka segera menyadari dari jendela pesawat di mana tadi pembajak itu menembak mobil tangki, bisa di tarik lurus ke menara ini.

Jarak menara dari pesawat itu ada sekitar 700 meter. Dan jarak itu merupakan jarak tembak sebuah senapan otomatis mutakhir buatan Rusia, Amerika atau Inggris. Penembak di pesawat itu nampaknya hanya memutar tegaknya saja untuk menembak kearah menara kontrol.

Kalau tadi ketika menembak mobil tangki itu dia menghadap kearah belakang pesawat. Kini untuk menembak kearah menara dia menghadap kedepan. Untuk mengetahui isi menara, mereka cukup memakai teropong. Nampaknya mereka memang dilengkapi peralatan yang komplit.

Panglima Angkatan darat Mexico geleng-geleng kepala. Dia memang sudah memarintahkan mempersiapkan angkatan darat di sekitar bandara. Di sekitar lapangan itu kini, terlindung dengan berbagai kamusflase, berjaga lebih dari sepuluh tank dan sepuluh panser. Namun apa yang harus diperbuat pasukan itu kalau yang ada di pesawat adalah terosis gila? Barangkali memang mereka tidak bisa meledakan tank atau panser disaat kendaraan itu mendekati pesawat. Namun sesuai dengan ancamannya, mereka bisa meledakan pesawat itu berikut dengan isinya.

“Sudah berlalu setengah jam.. ”Kata menteri Luar Negeri Amerika pelan. Semua seperti dikomando melihat kearah jam tangan masing masing Kemudian saling bertukar pandangan. Kemudian kembali memandang ke pesawat Japan Air Lines di kejauhan sana.

“Coba hubungi lagi kembali pesawat itu…” ujar Menteri Luar Negeri tersebut. Petugas tower itu segera membuka hubungan radionya. Kemudian memanggil-manggil tetapi tidak ada sahutan dari seberang sana. “Mereka tidak menjawab Tuan menteri…” “Apakah anda bissa membuka saluran satu arah. Sehingga pembicaraan saya bisa di dengar mereka, meski tanpa mereka membuka saluran Radionya?” Petugas itu memandang atasan nya dan atasan nya menjawab.

“Bisa, kita bisa memakai jalur darurat. Yaitu mengadakan hubungan dengan radio kabin. Hanya seluruh pembicaraan anda akan didengar oleh semua penumpang. Jalur ini dilarang dipakai tetapi dalam situasi begini, kalau tuan ingin memanfaatkanya akan kami hubungkan…” Menteri Luar Negeri Amerika itu menatap Panglima Angkatan Darat Mexico yang tegak disisinya. Dia seorang lelaki berkulit tembaga, agak pendek dan gemuk dengan cerutu yang tak lepas dari sela bibirnya. Panglima Angkatan darat ini menatap ke lapangan. Dia terkejut ketika menteri luar negeri itu bicara di sampingnya.

“Jika tuan mengizinkan saya memakai jalur itu, Panglima…” “Oh..Boleh,boleh ! Segala jalur boleh anda pakai tuan Menteri…” Panglima itu mengangguk kearah Komandan Tower yang juga seorang tentara berpangkat Kolonel. Dan Komandan tower itu juga mengangguk kearah anak buahnya, yang kemudian menekan sebuah tombol merah. Terdengar suara berdengung lemah. “Anda bisa bicara kini,Tuan menteri…”Menteri Luar Negeri itu meraih mik yang disodorkan petugas tower itu.

“Nona Yuanita, dan anda yang mengatas namakan perjuangan Komunisme Internasional di pesawat Japan Air Lines, saya menteri luar negeri Amerika Serikat, yang diberi kuasa penuh berunding dengan anda. Kami tahu, Anda menguasai keadaan secara total. Tuntutan Anda akan kami penuhi, Presiden Kennedy tengah memerintahkan tawanan politik yang ada di Al Catras itu menuju kemari dengan pesawat khusus, sesuai dengan permintaan anda. Cuma waktunya barangkali tak bisa persis dua jam sejak Anda menuntut tadi, kiranya Anda bisa mengerti, kami harapkan perpanjangan waktu. Dan.. kami harapkan Anda membolehkan petugas lapangan Mexico untuk menjemput tiga mayat penumpang yang ada dalam pesawat, demi perikemanusiaan..’’ Sepi. Tak ada jawaban. Mereka yang ada di tower itu, yang umumnya pejabat tinggi Amerika dan Mexico, pada bertukar pandangan.

Menteri Luar Negeri Amerika itu sudah berniat untuk bicara lagi, ketika tiba-tiba terdengar suara perempuan : ‘’Saya harap Anda tak omong kosong, Tuan Menteri. Untuk membuktikannya, mulai detik ini, kami akan memonitor pesawat yang bertolak menuju Mexico. Kami akan hubungi pesawat itu langsung dari pesawat ini. Dan tak seorangpun yang boleh kemari mengambil mayat atau urusan apapun, sebelum kami meninggalkan pesawat ini..’’ Kembali sepi. Kali ini Menteri Luar Negeri Amerika itu benar-benar berpeluh dingin. Itulah sesuatu yang tak terpikirkan olehnya.

Bahwa setiap pesawat yang terbang di udara bisa saling mengadakan kontak dengan pesawat manapun jua, baik yang di udara maupun yang di darat, dalam radius ratusan kilometer.

Artinya, mereka yang di pesawat JAL itu akan segera mengetahui, apakah Menteri Luar Negeri itu berbohong atau tidak! Mereka jadi tegang. Perlahan rasa putus asa untuk menyelamatkan isi pesawat itu mulai muncul. Memang takkan ada sebuah pesawatpun yang akan menerbangkan tahanan dari Alcatras! Tak ada sama sekali!

Dan sebentar lagi, jika tak sebuahpun pesawat yang … pikiran mereka tentang itu segera terputus, ketika dari pesawat JAL itu terdengar suara pilot, suara dalam aksen Jepang, memanggil seluruh pesawat yang melintasi daratan Amerika Serikat yang tengah terbang menuju Mexico, meminta konfirmasi nomor penerbangan, jenis pesawat, muatan dan identitas lainnya.

Sepi! Tak ada yang menjawab panggilan pesawat yang dibajak itu. Tapi akhirnya pesawat JAL itu mendapat kontak dengan tiga buah pesawat yang menuju Mexico. Mereka melihatnya lewat layar radar, dan ketiga pesawat itu muncul di layar radar yang ada di tower dimana para pembesar itu berada. Dua di antaranya adalah pesawat Mexico sendiri. Yang satu lagi pesawat penumpang biasa. Kemudian yang satu lagi adalah pesawat Angkatan Udara Uruguay yang mengadakan patroli. Sepi!

Ternyata gadis yang memimpin pembajakan ini memang seorang yang telah terlatih benar. Dipilih dari deretan pramugari senior. Yang mengetahui tidak hanya soal menggunakan senjata, tetapi juga soal navigasi. Masalah penerbangan lengkap dengan hubungan radionya. Para pembajak ini bukan pembajak kelas teri!

Kali ini ketegangan benar-benar mencekam dalam tower itu. Dari radio yang terbuka salurannya mereka tahu bahwa pembajak di pesawat JAL itu mengadakan kontak terus menerus dengan tiap pesawat yang terlihat dalam radar mereka. Menteri Luar Negeri Amerika itu benar-benar mati kutu. Para pembajak pasti segera mengetahui bahwa tak sebuahpun pesawat yang diterbangkan dari New York, atau dari manapun di Amerika sana ke arah Mexico ini membawa tahanan yang minta dibebaskan itu. Ketegangan itu terganggu seketika, saat ada sahutan di radio. Ada percakapan.

‘’Jelaskan kembali identitas Anda dan muatan yang Anda bawa. Ganti!’’ suara itu adalah suara si gadis pramugari, pimpinan pembajak! Semua mata memandang ke radar di tower itu. Sebuah radar besar buatan Jerman Barat. Dari arah utara, diantara beberapa titik, kelihatan sebuah titik menuju ke selatan. Nampaknya dengan pesawat itulah pembajak tadi mengadakan kontak. Pesawat yang dalam penerbangan itu menjawab dengan menjelaskan identitasnya, kemudian menyambung : ‘’Kami dari New York. Membawa sejumlah tahanan politik Cuba ke Mexico. Harap bersiap menanti kami, ganti!’’

Penjelasan itu diulangi sampai dua kali. Sepi. Duta Besar Amerika di Tower itu saling bertukar pandang dengan Direktur CIA. Mereka sama-sama bingung, benarkah pesawat itu membawa para tawanan? Dia memberi isyarat pada operator untuk memastikan hubungan. Operator menekan sebuah tombol. Dan memberi isyarat bahwa hubungan telah putus dengan pesawat itu. ‘’Ada perubahan?’’ tanya Menteri Luar Negeri itu kepada Direktur CIA. Orang yang ditanya menggeleng kepala.

‘’Tak ada perubahan, Tuan Menteri. Semua masih tetap seperti yang digariskan Presiden. Saya kira ini suatu kesalahan..’’ ‘’Apakah saat kita berada di sini Presiden merubah keputusan untuk memenuhi tuntutan para pembajak?’’ ‘’Tidak, Tuan Menteri. Telpon itu..’’ dia menunjuk ke sebuah telepon hitam di sudut ruangan, “Adalah telepon yang telah diblokir hanya untuk pembicaraan antara tempat ini dengan Gedung Putih di Washington. Artinya, kalau ada perubahan, Presiden tentu akan memberi tahu kemari lewat pembantunya. Begitu aturan permainan yang telah sama-sama kita sepakati.”

Menteri Luar Negeri itu mengangguk. Ya, semua yang dijelaskan oleh Direktur CIA barusan memang seperti apa yang dia ketahui. Lalu pesawat mana yang mengaku membawa para tahanan itu? ‘’Coba hubungi Washington. Cek penerbangan dengan pesawat yang mengaku membawa tawanan itu..’’ Dan seperti diingatkan pada sesuatu, direktur CIA itu menyokong pendapat menteri tersebut. Ya, kenapa mereka tak ingat untuk mencek identitas pesawat itu? Direktur CIA itu segera mengangkat telepon dan segera pula mendapat hubungan dengan Presiden Kennedy. ‘’Ya, kami juga mengikuti percakapan dari pesawat itu..’’ jawab Presiden.

Panglima Angkatan Darat Mexico bertubuh gemuk dan masih tetap menggigit-gigit ujung cerutunya itu mau tak mau mengakui betapa cepatnya orang Amerika ini bertindak. Dari telepon seberang sana kembali terdengar suara Presiden Kennedy : ‘’Untuk Anda ketahui, pesawat yang mengaku sebagai pembawa tahanan itu adalah pesawat penumpang biasa. Segala identitas yang dia sebutkan kepada para pembajak, adalah benar. Penerbangnya adalah bekas pilot angkatan laut di Pacific. Bernama Maxmillan, terakhir berpangkal Kolonel. Nampaknya dia mendengar panggilan yang dilakukan para pembajak. Dan memutuskan sendiri untuk mengikuti panggilan itu. Mengakui dirinya sebagai pesawat yang membawa para pembajak. Pesawat yang dia bawa adalah Boeing dan mengangkut enam puluh wisatawan menuju Tahiti. Dia tiba-tiba merubah arah, menuju ke Mexico dan membawa serta para penumpangnya. Kami belum mengetahui rencananya lebih lanjut..’’

Direktur CIA itu memberitahu isi percakapan teleponnya dengan Presiden itu kepada Menteri Luar Negerinya. Mereka membuka lagi saluran pembicaraan dengan pesawat pembajak itu. Dan saat itu, si pembajak tengah mengadakan hubungan dengan pesawat yang mengaku sebagai pembawa para sandera tersebut. ‘’Berapa jam lagi Anda akan sampai..’’ ‘’Anda bisa mengikuti penerbangan kami terus menerus. Dalam waktu kurang dari satu setengah jam Anda sudah bisa bertemu dengan teman-teman Anda…’’

‘’Kami ingin bicara dengan salah seorang dari tawanan yang Anda bawa itu..’’ ucapan gadis pimpinan pembajak itu membuat denyut jantung semua orang yang berada di tower itu seperti terhenti seketika. Tidak hanya mereka, Presiden Kennedy sendiri bersama para menterinya yang mengikuti pembicaraan itu lewat radio yang dipasang di Gedung Putih oleh NASA, pada tertegun kaget. Habislah usaha itu semua! Kebohongan Maxmillan, pilot pesawat Boeing itu, segera akan ketahuan. Di dalam pesawatnya tak seorangpun yang berasal dari Cuba. Pihak FBI yang membawahi penyidikan dalam negeri telah memeriksa manifes penumpang di PAN American. Dari nama-nama penumpang diketahui tak seorangpun berasal dari Cuba. Mereka yang di Gedung Putih, serta mereka yang ada di tower di lapangan udara Mexico, menanti detik-detik berlalu dengan jantung seakan meledak. Apa jalan keluar bagi pilot itu?

‘’Kami akan usahakan salah seorang diantara mereka untuk bicara kemari..’’ jawab si pilot. Sepi. Presiden Kennedy bertatapan dengan para menterinya. Gila! Pilot itu sudah gila. Siapa yang akan dia suruh bicara dengan para pembajak? Tiba-tiba terdengar suara di radio, suara pilot yang bernama Maxmillan itu : ‘’Nona, apakah Anda meminta seseorang yang ditentukan namanya?’’ Sepi. Kemudian gadis itu menjawab:

‘’Tidak, pokoknya salah seorang perwira. Ingat, kami ingin salah seorang perwira..’’ ‘’Baik, saya akan perintahkan co pilot saya untuk memanggilnya..’’ Sepi! Sepi yang menegangkan. Apa yang akan dibuat pilot yang tengah membawa wisatawan yang rata-rata berusia tua menuju Tahiti itu? Siapa yang akan dia panggil? Dan tiba-tiba suara di radio :

‘’Nona, ini orang yang Anda kehendaki..’’ Sepi. Kemudian terdengar suara gadis itu dalam bahasa Cuba yang sulit dimengerti orang lain. Selama gadis itu bicara di radio, semua pembesar Amerika yang mendengarkan, baik yang di Washington maupun yang di lapangan udara Mexico, terpaksa menahan nafas saking tegangnya.

Gadis itu meminta identitas ‘perwira’ Cuba tersebut. Dan tiba-tiba suara lelaki di radio menjawab pertanyaan gadis itu, ucapannya dalam bahasa Cuba terdengar berat, sendat dan tertahan-tahan : ‘’Maaf, saya tak tahu siapa Anda. Untuk apa Anda ingin bicara dengan saya..’’ Semua orang di tower dan di Gedung Putih saling pandang. Ternyata ada orang Cuba di pesawat itu! Tapi, apakah sebenarnya yang terjadi di pesawat PAN American itu? Kenapa tiba-tiba saja dia mengaku bahwa pesawatnya itu membawa para tahanan dari Alcatras? Dan siapa pula tahanan yang bicara dalam bahasa Cuba spesifik itu yang mengaku sebagai salah seorang perwira Cuba yang ditahan di Alcatras?

Maxmillan adalah pilot senior dari Angkatan Laut. Dia berhenti dari angkatan laut untuk menjadi penerbang di PAN American. Dia, sebagaimana umumnya orang Amerika, telah mengetahui pembajakan yang berlangsung itu lewat siaran televisi. Mereka juga mengetahui bahwa pesawat yang dibajak itu tengah menuju Mexico. Maxmillan semula tak tertarik sama sekali. Dia menaiki pesawatnya menuju Tahiti, untuk kemudian besok kembali lagi lewat San Fransisco. Dia tengah menuju San Fransisco ketika dia dengar panggilan pembajak itu di radionya. Seluruh pesawat yang terbang dengan ketinggian tertentu memang bisa saling berhubungan dalam jarak tertentu pula. Tergantung tinggi rendahnya frekuensi radio yang dipergunakan.

Ketika pertama kali dia mendengar panggilan itu, dia tak peduli sama sekali. Copilotnya tetap memonitor percakapan di radio. Copilot itu sudah mematikan radio, setelah beberapa saat mendengarkan, ketika tiba-tiba sesuatu menyelinap dalam hati pilot veteran angkatan laut tersebut. ‘’Hidupkan kembali radio..’’ ujarnya. Copilot membuka hubungan kembali. Kembali ada panggilan, dan pilot itu menjawab. Copilot yang kaget dia isyaratkan untuk diam, dan agar segera menutup pintu dari cokpit ke kabin yang terbuka. Dia juga memberi isyarat pada copilotnya untuk memberi brifing singkat di ruang rapat kecil yang terletak persis di belakang ruang kemudi.

Copilot PAN American itu juga seorang veteran perang. Hanya bedanya, kalau Maxmillan adalah veteran dari Perang Dunia II, maka copilotnya veteran perang Vietnam. Kini dia tahu, Maxmillan yang bekas Kolonel itu akan melakukan semacam avonturir. Dia lalu memberi brifing kepada para pramugari. Kemudian kembali duduk di sebelah pilot. Sementara ketiga pramugari yang bertugas di pesawat itu kembali ke ruang penumpang dengan sikap yang tenang dan senyum seperti biasa menghias bibir mereka.

Tiba-tiba panggilan pembajak itu kembali bergema di radio. Kapten Pilot tersebut segera meraih alat kecil dekat mulutnya, dan bicara menyahuti panggilan. Pembicaraan mereka yang pertama itu, pengakuan si pilot dapat didengar di tower dan di Washington. Ketegangan di Washington ataupun di tower lapangan udara Mexico tatkala pembajak meminta bicara dengan salah seorang perwira yang diakui tengah dibawa oleh pesawat itu, ternyata tak terjadi di pesawat Maxmillan.

Captain Pilot Maxmillan ternyata telah memperhitungkan kemungkinan itu secermat mungkin. Dia ternyata menyanggupi dan akan memanggilkan perwira itu. Dan baik Washington, maupun di tower lapangan udara Mexico, yang sejak semula memang telah disediakan penterjemah bahasa Cuba, segera dapat mendengar pembicaraan antara ‘perwira Cuba’ yang di pesawat dengan pembajak di Mexico.

Di Gedung Putih, Kennedy maupun Menteri Luar Negerinya yang ada di Mexico kaget karena ternyata di dalam pesawat itu ada orang Cuba. Sehingga si pilot dapat memenuhi tuntutan si pembajak. Lalu, ketegangan tentu saja belum berakhir, letaklah si Cuba yang dalam pesawat itu dapat bicara Cuba, namun bagaimana dengan identitas pasukan yang diminta oleh si pembajak? Dan mereka mendengar terus.

Siapa sebenarnya yang menjawab di radio? Apakah benar orang Cuba dan perwira yang ditahan di Alcatras? Jelas tidak, orang Cuba yang menjawab itu tak lain daripada Maxmillan sendiri! Ya, dia adalah Kapten pilot pesawat terbang itu sendiri. Baik Kennedy maupun semua orang yang ada di sekitarnya di Gedung Putih itu, ataupun para pejabat di tower lapangan udara, tak tahu bahwa yang bicara itu adalah pilot mereka sendiri.

Bahkan copilot yang ada dekat bekas Kolonel itu jadi kaget mendengar pimpinannya ngomong cas cis cus mirip orang Cuba. Bagi Maxmillan, bahasa itu bukan bahasa asing baginya. Sebab bahasa itu adalah bahasanya sendiri. Ya, dia punya darah Cuba lewat garis keturunan ibunya. Empat jenjang di atas ibunya adalah orang Cuba. Nah, neneknya yang Cuba itu kawin dengan orang Amerika, yang akhirnya melahirkan ibunya, kemudian dirinya.

Dimasa kecilnya dia hidup di Pulau Samun, sebuah pulau kecil di teluk Babi, di perairan Cuba. Saat itu rezim Batista baru saja berkuasa. Ayahnya membawa dia dan seluruh keluarganya pindah tatkala Batista dari seorang Presiden yang demokrat berubah menjadi diktator. Mereka menetap di negara bagian Utah. Sampai akhirnya Maxmillan muda melamar jadi penerbang angkatan laut.

Karirnya merangkak dari pangkat paling bawah, untuk kemudian lewat beberapa kali peperangan, lewat beberapa kali tugas belajar, keluar sebagai salah seorang pahlawan perang dari Lautan Pacifik, dia memperoleh pangkat Kolonel. Dan minta pensiun meski angkatan laut tengah mengusulkan kenaikan pangkatnya menjadi Jendral.

Namun masa kecilnya dan garis keturunan ibunya yang Cuba, tak pernah dia ceritakan pada siapapun. Di rumah, semasa ibunya masih hidup mereka sering bicara dalam bahasa Cuba. Adalah agak aneh, betapa CIA maupun FBI, badan intelijen luar negeri dan dalam negeri Amerika, yang tersohor teliti itu, tak mengetahui dan tak punya fail sama sekali tentang perwira menengah senior ini. Yaitu dokumen tentang masa lalunya di Cuba.

Kecerobohan begitu bukannya hal yang aneh terjadi di FBI ataupun CIA. Pada dasarnya mereka memang mengaku badan intelijen yang rapi dan berkuasa. Namun dibanding dengan KGB, badan intelijen Rusia, maka kerapian dan ketelitian CIA atau FBI jauh tercecer. Apalagi jika ingin dibandingkan dengan GRU, badan intelijen Angkatan Darat Rusia, yang lebih berkuasa daripada KGB, maka FBI dan CIA terbirit-birit di belakang.

Kini Maxmillan tiba-tiba mengingat lagi masa kecilnya. Masa kecil yang pahit. Teringat saat-saat kakaknya diperkosa oleh pasukan Batista yang baru bangkit. Teringat betapa ayahnya, Maxmillan Sr dikenakan wajib militer, dan dijebloskan ke penjara tatkala menolak wajib militer itu. Teringat Pulau Samun yang subur tapi miskin. Dialah yang bicara, memakai bahasa Cuba, yang sudah berbilang tahun tak dia ucapkan.

Tiba-tiba di radio kembali terdengar suara pramugari yang memimpin pembajakan itu, di Washington serta di tower Bandara Mexico, pembicaraan itu segera diterjemahkan, sehingga semua orang di dua tempat itu segera mengerti. ‘’Saya ingin penjelasan tentang diri Anda..’’ kata gadis itu di radio, ‘’Pangkat, kesatuan, nomor register di pasukan dan kedudukan terakhir Anda sebelum dikirim ke Alcatras’’ Kennedy menelan ludah yang tiba-tiba serasa menyumbat tenggorokannya. Demikian pula Direktur CIA yang ada di tower Bandara Mexico. Apa yang akan dijawab orang di pesawat itu?

‘’Sekali lagi, Nona, saya tak tahu siapa Anda. Saya tak tahu maksud Anda, dan saya tak tahu latar belakang politik Anda..’’ pilot itu menjawab dalam bahasa Cuba. Pramugari yang memimpin pembajakan itu jadi kesal. Dengan menahan marah, dia coba juga menjelaskan situasi saat itu. Bahwa mereka tengah membajak sebuah pesawat JAL yang berisi Menteri Muda bidang Pertahanan Amerika untuk membebaskan si perwira, berikut teman-temannya di Alcatras!

Dijelaskan pula, bahwa waktu tersedia satu setengah jam lagi untuk saling tukar menukar tawanan. Dijelaskannya bahwa di pesawat JAL itu ada tujuh anggotanya, dan kini berada di lapangan udara Mexico. ‘’Nah, Kamerad, jelaskan identitasmu..’’ perintah gadis itu. Namun dari pesawat kembali terdengar jawaban yang menjengkelkan : ‘’Saya berpangkat Kolonel. Dan saya tak suka diperintah oleh perempuan ingusan seperti Kau, Nona! Jangan panggil saya kamerad, saya tak tahu bagaimana kesetiaanmu pada partai, pada Komunis!’’ Gadis itu terdengar memaki dan menyumpah.

‘’Kamerad, saya tak peduli pangkatmu Kolonel atau jenderal sekalipun. Nyawamu berada di tangan kami. Soalnya engkau ingin bebas atau tidak. Jika kau tak mau menuruti instruksi saya, kau boleh kembali ke Alcatras atau ke neraka sekalipun. Nah, kini jangan banyak cincong, kau turuti apa yang kukatakan. Jawab apa yang kutanya. Atau kami memutuskan hubungan denganmu! Mulailah dengan menjelaskan asal pasukan dan nomor registermu!’’ Sepi.

Kennedy saling pandang dengan para menterinya. Menteri Luar Negeri Amerika yang ada di Mexico bertukar pandang dengan Direktur CIA. ‘’Baiklah kalau itu yang kau kehendaki Nona. Hanya harap ingat, jika nanti saya bertemu denganmu, maka kau akan saya tuntut. Kau menghina seorang Kolonel lapangan! Kau dengar atau kau catat baik-baik, agar otak udangmu itu tidak lupa. Nama saya Yoseph Maxmillan. Saya ulangi Yoseph Maxmillan. Pakai PH di akhir Yoseph, bukan pakai F sebagaimana kebanyakan orang Cuba yang kebarat-baratan. Kesatuan saya adalah pasukan keempat dari Batalyon Amphibi di Pulau Samun. Tujuh derajat lintas utara Havana. Register saya, jika yang kau maksud nomor partai saya, maka jangan kaget kalau nomor saya adalah C82, artinya pimpinanmu sendiripun belum tentu punya jabatan dan kode setinggi itu dalam partai komunis’’.

Sepi sesaat.Kemudian ”orang Cuba” itu berkata lagi. “Dan jika engkau bertemu dengan pimpinanmu, Nona. Sampaikan ucapakan ku ini : Pisang merah ternyata terlalu kuning ditimpa panas! Nah, saya tak suka mendengar segala omong kosongmu lagi!” lalu sepi. Yang bicara justru Kennedy.

“Ya Tuhan, apakah benar yang dipesawat Maxmillan ada perwira Cuba sebagaimana yang kita dengar?” pertanyaan ini secara langsung ditujukan kepada Wakil Kepala CIA dan Direktur FBI yang ada dalam ruangan oval Gedung Putih itu. Kedua orang ini seperti berlomba untuk mendapatkan informasi tentang orang yang bernama Yoseph Maxmillan yang berpangkat Kolonel dalam pasukan Amfibi Cuba itu. ”Yoseph Maxmillan memang pernah ada..” jawab direktur FBI mendahului Wakil CIA itu.

“Dia adalah Komandan Pasukan Amphibi di Pulau Samun sepuluh tahun lalu. Kemudian namanya lenyap tiba-tiba, ada yang bilang dia mati bersama tank amphibinya yang tenggelam dalam latihan perang di Teluk Babi, ada juga yang bilang dia sengaja dilenyapkan, untuk dialih tugaskan ke Eropa untuk menjadi mata-mata Komunis, kemudian pindah lagi ke kota lain. Ne York, Dallas, Washington, atau siapa tahu di California dengan wajah yang sudah di operasi…”

Kennedy mengangguk-angguk, namun wakil direktur CIA yang ada di sisi lain menyambut cepat : ‘’Menurut penelitian kami, Yoseph Maxmillan tak pernah ditugaskan di Eropa. Namanya memang ada dalam pasukan amphibi. Namun pangkat terakhir bukan Kolonel. Melainkan Mayor. Dia diselundupkan ke dalam organisasi buruh alat-alat berat dari pabrik caterpilar.

Di sana tempat yang cocok baginya. Sebab dia mengetahui tentang alat-alat berat sejenis tank atau traktor. Dia diduga ditangkap di New Jersey secara tak sengaja oleh polisi, tatkala buruh pabrik yang sejak semula diduga diselusupi komunis itu mengadakan aksi menolak nuklir empat tahun yang lalu..’’ Kennedy kembali mendehem.

Tapi apakah benar informasi tentang Yoseph Maxmillan seperti yang dilaporkan oleh kedua pimpinan dinas rahasia Amerika itu? Mereka memang bertindak cepat. Berhasil mengumpulkan informasi demikian cepat, padahal Maxmillan baru saja habis bercerita di radio. Siapakah sebenarnya Yoseph Maxmillan sebagaimana yang dikatakan oleh pilot itu?

Dia memang tak berbohong tentang Yoseph Maxmillan. Nama itu memang pernah ada di pulau Samun. Pasukan seperti yang disebutkannya juga benar ada. Pangkat orang yang bernama Yoseph Maxmillan itu terakhir adalah Kapten. Komandan pasukan amphibi di pulau itu. Nama itu sangat populer ketika Maxmillan kecil, yang kini jadi pilot, tinggal di Pulau Samun.

Dia populer karena sikapnya yang ramah. Berbeda dengan teman-temannya yang lain. Suatu malam, Maxmillan, tentara Nasional Cuba itu membunuh seekor ular besar sekali di rawa pulau Samun. Ular itu sangat ditakuti penduduk, karena sudah sering menelan lelaki yang datang ke rawa itu untuk berburu belibis. Maxmillan membunuhnya dengan karaben, dan membawa ular sebesar pohon pisang itu ke kampung. Kini nama ayahnya itulah yang akhirnya diberi orangtuanya kepadanya, Maxmillan. Artinya, Yoseph Maxmillan adalah ayah Maxmillan yang kini sedang menerbangkan pesawat dan baru berdialog dengan Yuanita!

Kini, Maxmillan yang pilot itu menerbangkan pesawatnya terus menuju Mexico. Ke tempat dimana para pembajak menunggunya. Dia berharap agar orang-orang Amerika yang menyelesaikan masalah ini akan segera mendapat jalan keluar menjelang dia tiba di lapangan Mexico. Dia hanya ingin memberi kesempatan sampai waktu satu setengah jam yang diberikan pembajak itu terpenuhi. Sebab jika tak satupun pesawat yang mengaku membawa para tahanan politik dari Alcatras, maka para pembajak akan meledakan pesawat yang mereka bajak berikut isinya. Kini dia tolong memperpanjang waktu itu sampai terpenuhi.

Di dalam pesawat. Suasana tak begitu tegang lagi. Para penumpang malah ada yang tertidur karena lelah dan panas. Yang tidak tidur adalah Si Bungsu dan Tongky. Mereka duduk saja diam-diam. Penumpang mendapat jatah makanan dan minuman. Yang membagikannya tetap saja para pramugari pesawat JAL itu. Mereka ditugaskan oleh pramugari Italia yang jadi pimpinan pembajak. Kesunyian di pesawat dipecahkan oleh suara Tongky, negro teman Si Bungsu yang bekas pasukan Green Berret itu.

‘’Hey Yuanita, apakah Nona keberatan kalau makan bersama kami? Hitung-hitung sebagai makan perpisahan. Mana tahu, kita tak berjumpa lagi, bukan?’’ Penumpang lain yang pada terbangun karena mendapat jatah makanan, pada melotot mendengar selorohan negro gagah itu, Namun Yuanita, gadis cantik itu menerima ucapan tersebut dengan tersenyum dan menjawab : ‘’Kita masih belum akan berpisah, kawan. Kalaupun datang pesawat yang membawa teman-teman kami dari Alcatras, kau dan temanmu orang Indonesia yang pendiam itu akan tetap bersama kami. Kami akan memilih beberapa orang diantara kalian, termasuk

Menteri ini, untuk teman sepesawat sampai di lapangan tujuan kami..’’ ‘’Hm, kalau bergitu saya amat bahagia. Dapat bersama Anda lebih lama. Apakah lapangan Havana di Cuba menjadi tujuan akhir Anda?’’ ‘’Nanti akan saya beritahu, jika tiba saatnya’’ ujar gadis itu sambil masuk keruang pilot. Tongky mengangkat bahu dan mulai menyuap makanannya. Matanya beberapa kali menatap ke lobang jendela yang pecah, yang tadi tempat seorang pembajak menembak mobil tangki. Jauh di sudut kanan dia lihat kerangka tangki itu masih mengepulkan asap tipis. Nun di sana kelihatan tower pengawas.

Dia meletakkan sendoknya, mengangkat kedua tangannya menirukan sedang memegang bedil panjang. Membidik lewat jendela kaca yang pecah di depannya, kemudian : ‘’Door!’’ Penumpang di depannya kaget. Menoleh ke belakang. Tongky senyum dan mengerdipkan mata, sementara tangannya masih seperti memegang bedil. Kemudian Tongky menyendok makananya lagi. Menoleh ke jendela yang pecah, pandangannya lurus ke menara pengawas. Di sana, di tower itu, pasti ada pejabat-pejabat penting yang berunding dengan para pembajak, pikirnya.

Sebab salah seorang pembajak tadi menembak dari jendela tersebut ke tower itu. Dia menyendok makanannya kembali. Mengunyah dan menoleh pada dua orang pembajak di kanan sana. Kedua pembajak orang Cuba itu tetap tegak seperti patung. Di tangan kananya pistol, di tangan kirinya granat siap meledak. Tongky menoleh lagi ke jendela, meneruskan pandangan ke tower pengawas yang barangkali menurut taksirannya sekitar 700-an meter dari pesawat ini. Orang di tower tentu bisa menembak kemari. Dengan alat bidik yang baik, peluru bisa masuk lewat kaca yang pecah, dan kalau peluru itu masuk…Tongky menoleh ke kanan, dan peluru itu akan mengantam persis kepala salah seorang pembajak. Ya, peluru dari tower tinggi itu akan membuat sudut rendah ke pesawat. Kalau saja orang di tower itu punya otak, mereka bisa menembak. Namun untung saja otaknya itu tak dipergunakan, pikir Tongky pula.

Sebab kalau mereka pergunakan otaknya, dan mereka menembak, dan pembajak yang satu itu tersungkur mati, maka pembajak yang lain tentu dengan serentak akan meledakan granatnya. Lalu..isi pesawat ini jadi abu! Untung orang di tower tak pakai otak, pikir Tongky lagi sambil melahap sisa terakhir dari makanannya di piring plastik.

Matanya kembali menatap kaca jendela yang pecah. Dan, tiba-tiba, ya, tiba-tiba sebuah pikiran menyelinap ke otaknya. Jika dari menara bisa menembak, dan dengan memakai alat peredam, peluru pasti bisa masuk ke mari dengan diam. Bahkan tanpa alat peredampun, tembakan dalam jarak seribu meter itu takkan terdengar dari dalam pesawat. Mereka di tower harus berbuat sesuatu, pikir Tongky. Dia mencoba membayangkan perang Vietnam yang dia lalui bersama teman-temannya dulu. Betapa mereka mempergunakan bedil yang pakai peredam. Pesawat udara menjatuhkan bom-bom kimiawi. Bom yang menyebarkan kuman, bom yang menyebabkan penduduk atau para pemberontak komunis jadi tertidur. Bom berisi obat tidur! Ya, itu dia!

Orang di tower itu harus mencari peluru yang ujungnya berisi zat kimia. Peluru itu ditembakkan ke dalam pesawat. Tanpa suara, tanpa warna, peluru yang ujungnya berisi zat kimia itu akan melumpuhkan seluruh isi pesawat dalam waktu sekejap. Para pembajak bisa tak mengetahui sama sekali.

Tongky mengambil pena dari kantong bajunya. Kedua ujung pena itu punya tiga fungsi. Ujung yang satu, yang mirip pena adalah untuk menulis, sekaligus merupakan senjata yang bisa merubuhkan lawan dalam jarak sepuluh meter. Senjata yang hanya dipergunakan dalam saat yang amat mendesak.

Ujung yang satu lagi, yaitu bahagian pangkalnya, berfungsi sebagai senter. Tongky melipat kedua tangannya di dada. Pangkal penanya dia tekan ke jendela kaca di kanannya. Dan dalam sikap seperti itu dia mempergunakan senter tersebut sambil matanya memperhatikan para pembajak. Perbuatannya pasti tak kelihatan, karena tubuhnya terhalang oleh tubuh di Bungsu ke arah pembajak yang tetap menatap seisi pesawat dengan pandangan dingin di balik kacamata hitamnya.

Di Tower Bandara. tiba-tiba salah seorang petugas menunjuk ke pesawat. ‘’Lihat…ada cahaya..!’’ Semua memperhatikan ke pesawat itu dengan seksama. ‘’Ya… cahaya! Lemah sekali…’’ ujar yang lain. ‘’Ambilkan teropong…’’ kata Direktur CIA kepada bawahannya.

Bawahannya, seorang tentara berpangkat Kolonel, segera mengerti apa yang dikehendaki atasannya. Sebuah benda mirip teropong, namun punya daya pembesar sangat hebat, segera diberikan. Dan saat itu juga, ada sekitar empat atau lima orang yang di tower segera berusaha membaca isyarat lemah dari pesawat itu. Yang cepat bisa membaca adalah si Kolonel ajudan Direktur CIA itu. Tanpa mempergunakan alat teropong, dia mengeja isyarat tersebut : ‘’Jangan dibalas. Ulangi… jangan dibalas…’’ dan cahaya itu mati sebentar. Mereka di tower saling pandang. ‘’Orang mengirim isyarat itu meminta jangan membalas isyarat itu, dia khawatir kalau isyarat balasan kelihatan oleh pembajak di pesawat..’’ Kolonel itu menterjemahkan isyarat tersebut.

Kepala Staf Angkatan Perang Mexico segera maklum apa yang harus dia perbuat. Dia meraih sebuah corong, dan memerintahkan pada seluruh anak buahnya di sekitar lapangan itu, untuk tidak membalas isyarat apapun yang datangnya dari pesawat. ‘’Cahaya itu lagi…’’ seru penjaga tower. Benar, cahaya halus itu kembali berkelip-kelip, hanya berjarak sebuah jendela dari jendela kaca yang pecah bekas pembajak itu tadi menembak. ‘’Tembakkan peluru bius lewat jendela yang pecah. Ulangi… tembakan peluru bius… Pasukan elit Amerika… memiliki… peluru jenis..itu. Jika … isyarat saya ini dimengerti, beri isyarat dengan sesuatu… apa saja..’’

Mereka berpandangan lagi. ‘’Seseorang di dalam pesawat itu bisa kita jadikan perantara untuk menolong kita keluar dari kemelut ini. Dia memakai sandi yang hanya biasa dipakai Tentara Sekutu. Barangkali yang mengirim sandi ini adalah seorang ajudan Menteri Muda kita..’’ kata salah seorang staf Menteri Luar Negeri Amerika. ‘’Kita harus cepat memberi isyarat seperti yang dikehendakinya..’’ ujar Kolonel yang menterjemahkan isyarat tadi dengan cepat. ‘’Ada senter atau sejenis itu di sini?’’ tanyanya. Namun pertanyaan itu mendapat sanggahan dari beberapa orang. Termasuk Menteri Luar Negerinya. ‘’Orang itu sudah mengatakan agar kita tak membalas isyaratnya. Kita tak bisa memakai senter’’. ‘’Tapi Tuan Menteri, kita tak membalas isyarat apa-apa. Kita hanya akan menghidupkan senter itu sekali saja. Dan habis. Itu sebagai isyarat bahwa kita menerima pesannya..’’

Terjadi perdebatan, akhirnya pendapat Kolonel yang memang telah kenyang dengan perang di berbagai tempat itu diterima. Kepadanya diberikan sebuah lentera segi empat yang dihidupkan dengan listrik. Lentera itu dihadapkan ke pesawat. Tombol ditekan, hidup hanya sedetik. Mereka menanti dengan tegang. Di pesawat, Tongky melihat cahaya yang hanya sedetik itu. Namun dia tahu, itu adalah jawaban atas isyaratnya. Dia lega, namun sekaligus juga waspada. Dia memperhatikan para pembajak itu, apakah ada diantara mereka yang melihat cahaya tersebut? Sepi. Tak ada seorangpun yang tahu. ‘’Isyarat itu lagi..!’’ seseorang berkata di tower.

Kolonel CIA itu kembali menterjemahkan: ‘’Tembakan peluru jika saya memberi isyarat dengan sinar panjang. Namun jika peluru itu siap, harap beri isyarat kembali dengan hanya sebuah cahaya seperti tadi!’’ Sepi. ‘’Apakah pasukan khusus yang didatangkan dari El Paso membawa serta peluru yang dimaksud orang itu?’’ tanya Menteri Luar Negeri. Direktur CIA menggeleng. ‘’Kemana peluru itu harus kita cari?’’

Tiba-tiba Direktur CIA itu berseri wajahnya.‘’Terima kasih, Tuan mengingatkan kami. Benar dalam paket bantuan untuk pasukan tuan ada peluru itu. Tapi paket khusus yang didatangkan setahun lalu’’ Yang hadir di tower itu seperti mendapat nafas baru. ‘’Anda sebutkan saja kode peti senjata dan peluru yang dimaksudkan..’’ ujar Kepala Staf Angkatan Perang itu.

Direktur CIA itu segera menyebutkan kodenya. Kepala Staf Angkatan Perang Mexico mencatat dan memberi instruksi lewat telepon pada anak buahnya. ‘’Apakah tempat penyimpanan amunisi Anda jauh dari sini?’’ tanya Menteri Luar Negeri Amerika. ‘’Itu rahasia, tapi kami akan mendatangkannya dalam waktu singkat..’’

Mexico memang dikenal sebagai negeri yang punya hubungan dekat dengan Amerika. Amerika memerlukan negara di selatan ini untuk membendung komunis. Dalam waktu singkat dari gudang amunisi yang letaknya memang di sekitar lapangan udara, peluru yang diminta datang, berikut bedilnya sekalian.

Senapan mirip M16 yang belum banyak beredar saat itu. Namun loopnya agak khusus, agak besar. Loop yang agak besar ini adalah untuk tempat peluru kimia tersebut. Pelurunya berbentuk cerutu sebesar kelingking. Pangkalnya agak besar untuk tempat bertumpu pada bedil. Jika ditembakkan, cerutu sebesar kelingking itulah yang terbang. Menancap di tempat yang dikehendaki. Kemudian peluru itu akan pecah dan menyebarkan kimianya secara diam-diam. Tanpa suara, tanpa bunyi dan tanpa warna.

‘’Berapa kekuatan peluru ini dan berapa lama dia mulai bereaksi?’’ tanya Menteri Luar Negeri AS. ‘’Peluru ini segera bereaksi begitu dia mencapai sasaran. Untuk pesawat sebesar yang di lapangan sana, dengan penumpang sekitar enam puluh orang, kita hanya membutuhkan waktu satu menit dengan jenis peluru yang ini..’’ ujar Kepala CIA itu sambil memilih peluru berkepala hijau. ’Kini beri isyarat ke sana, kita siap untuk melaksanakannya. Siapa yang akan menembak hingga persis masuk ke jendela yang pecah itu?’’

‘’Ada empat atau lima orang yang yang bisa menembak ke sana, termasuk Kolonel ini..’’ ujar Kepala CIA itu. Mereka segera bersiap. Kolonel itu mempersiapkan bedilnya. Membidik lewat teleskop dengan sinar infra merah ke lobang jendela yang pecah itu. Kemudian memberi isyarat bahwa dia sudah siap. ‘’Beri isyarat ke pesawat itu…’’ ujar Menteri Luar Negeri.

Kepala CIA itu segera memencet tombol lentera listrik sekali. Lalu menanti. Tongky yang memang telah menanti isyarat itu segera memencet senternya. Orang-orang di menara membaca pesannya kembali : ‘’Tunggu isyarat berikutnya untuk menembak..’’

Mereka yang di Tower menanti. Si Bungsu yang dibisiki oleh Tongky tentang rencananya, diberi tahu pula bahwa orang di tower telah siap. Dan Si Bungsu harus memulai rencana yang mereka rancang. Dia harus berpura-pura pergi ke WC di belakang. Kemudian dengan segala usaha harus bisa membuat pembajak yang di sebelah kananya beranjak dari sana. Sebab tempat di belakang pembajak itu tegak adalah tempat dimana peluru bius itu akan bersarang, jika ditembakan dari tower. Jika pembajak itu masih tegak di sana, maka peluru bius itu akan menghantam kepala atau lehernya. Jika itu terjadi, maka kawan-kawannya yang lain pasti akan meledakkan granat mereka, karena menyangka bahwa pihak keamanan mulai menyerang. Jika pembajak itu berhasil tegak, maka peluru itu akan menghantam bahagian yang lembut di belakang tempat tegaknya, ditambah dengan suara batuk yang diatur Tongky, maka terkaman peluru itu tak bakal diketahui. Selanjutnya mereka boleh tidur bersama. Si Bungsu mulai angkat bicara : ‘’Boleh saya ke WC di belakang?’’

Pembajak yang harus menghindar itu tak menyahut, hanya memberi isyarat dengan mengayun ujung pistolnya ke arah belakang. Artinya dia mengizinkan Si Bungsu ke belakang. Si Bungsu menanti beberapa saat, kemudian tegak. Ketika lewat dekat orang itu dia tersenyum. Namun pembajak itu seperti patung yang beku. Tak bereaksi sedikitpun. Si Bungsu terus ke belakang. Di dalam toilet dia hanya mencuci muka, dan bersisir.

Ketika dia keluar, Tongky sudah menanti dengan tegang. Namun pembajak itu masih di tempatnya, tak bergeser sedikitpun. Si Bungsu lewat lagi ke depan. Ketika akan melewati tempat pembajak yang harus dia pindahkan itu, Yuanita muncul di depan sana. ‘’Nona, saya ingin ke tempatmu..’’ katanya sambil bergegas ke depan.

Gadis cantik itu tentu saja terganga heran. Tapi pembajak yang lain jadi berang. Yang tegak di sisi kanan tempatnya lewat berusaha menjangkaunya, namun tak berhasil. Karena itu pembajak tersebut memburu pula ke depan. Dan saat itu Tongky yang sudah siap dengan senter mininya memberi isyarat. ‘’Itu isyaratnya…!’’ seru Direktur CIA yang ada di tower.

Seruan itu sekaligus berupa perintah pada Kolonel yang sejak tadi tetap membidik. Pelatuk dia tarik. Peluru bius itu meluncur dan masuk persis di lobang kaca jendela yang pecah itu. Menghujam di sandaran tempat duduk dimana pembajak tadi berada. ‘’Hei, bajingan, kau kembali atau kutembak..’’ seru pembajak itu pada Si Bungsu.

Si Bungsu terhenti. Lalu menatap pada Yuanita di depan sana. Gadis itu tersenyum manis. ‘’Jangan nervus, Love. Duduklah di tempatmu kembali. Atau kalau kau ingin duduk di depan ini agar lebih dekat denganku, mari.. silahkan…’’ Si Bungsu tersenyum dan melangkah. Namun dia terhuyung. Pembajak itu, pramugari itu juga terhuyung. Semuanya rubuh pada waktu hampir bersamaan!

Peluru kimia buatan Amerika itu bekerja amat cepat dan amat tepat waktunya. Peluru yang ditembakan itu ternyata ada tiga buah, beruntun dalam waktu setengah detik. Dan begitu menghantam sasarannya di sandaran tempat duduk, bius yang amat tinggi dosisnya itu segera bekerja.

Mesin pendingin udara yang ada dalam pesawat itu justru mempercepat menyebarnya pengaruh bius itu ke segala pelosok pesawat. Dalam waktu hanya setengah menit, tak seorangpun dalam kabin penumpang yang sadar, kecuali Tongky yang memang telah waspada benar. 

Dia veteran perang Vietnam. Karenanya dia mengenal dengan baik cara kerja senjata buatan Amerika itu. Karena itu, begitu dia menekan senter kecilnya untuk memberi isyarat, dia telah menyiapkan diri. Sehelai sapu tangan dia pergunakan menutup mulut dan hidungnya.

Kini ketika semua orang sudah terkulai, dan Si Bungsu sendiri terkapar di gang kecil di tengah pesawat itu menindih seorang pembajak. Tongky segera menghidupkan senternya. Beberapa isyarat, kemudian panglima angkatan perang Mexico dan wakil Panglima Angkatan Darat Amerika yang ada di tower segera bergerak.

Di kokpit, pilot dan pembantunya kaget melihat tentara begitu banyak berlarian ke pesawatnya. Celaka, orang ini ingin meledakkan pesawat dengan ke cerobohan mendekati pesawat, pikir pilot Jepang itu.Sebab sampai detik itu dia belum mengetahui apa yang terjadi di pesawatnya. Dia tidak tahu kalau seluruh pembajak, termasuk ketiga pramugarinya.telah tertidur malang melintang, tertidur pulas!

Dia tak tahu karena pintu kearah mereka dikunci oleh pembajak dari luar. Kini yang tertinggal di kokpit hanya dia dan co-pilotnya. Dan mereka berdua pula lah yang selamat dari pembiusan, sebab udara dalam ruangan penumpang tak dapat menembus masuk ke kokpit bila pintu di tutup.

Tongky sendiri hanya bisa bertahan beberapa saat, setelah dia lihat orang berlarian kepesawat, kepalanya mulai goyang. Saputangan nya tak cukup kuat untuk menahan serangan bius yang hebat itu. Dan saat ketika dia akan pulas, dia masih sempat melihat samar-samar pintu pesawat di buka dari luar! kemudian gelap! Pintu pesawat itu memang dibuka oleh pasukan khusus Amerika dari luar. Mereka telah mahir benar bagaimana caranya membuka pintu pesawat itu dari luar. Begitu masuk, mereka yang sudah memakai masker pelindung itu segera melihat-lihat tubuh-tubuh yang malang melintang.

Dengan cepat mereka menyebar,menurut perhitungan yang telah dibuat di perkirakan para pembajak telah menempati posisi-posisi penting di pesawat. yaitu di bagian depan dekat kokpit pilot, kemudian bagian tengah dekat pintu darurat,kemudian dibahagian belakang. Estimasi tentara anti teror itu memang benar, di bagian yang disangka itu, pasukan Amerika itu mendapati para pembajak terkapar. Pistol ditangan, granat di pangkuan.

Yang pertama diamankan adalah granat buatan rusia itu, lalu pistol. Kedua benda itu dimasukan ke dalam kantong plastik yang berbeda. Dan tangan para pembajak itu di belenggu. ketika kokpit dibuka, pilot dan co-pilotnya ternganga kaget. Mereka benar-benar tak menyangka bahwa pesawat mereka selamat berikut seluruh penumpangnya. Para penumpang dibiarkan duduk di kursi masing-masing.

Tubuh Si Bungsu yang menindih seorang pembajak segera didudukan, dan pembajak yang terkapar dengan senjata ditangannya segera diamankan. Para pembajak yang berjumlah tujuh orang itu termasuk Yuanita, Pramugari Al Italian yang cantik itu segera di masukan kemobil anti peluru yang telah siaga di bawah pesawat. Untuk mengembalikan kesadaran penumpang pasukan khusus itu juga telah memiliki persiapan.

Setelah pasukan pertama yang bertugas mengamankan pesawat dari pembajak dan meneliti kalau-kalau ada bom waktu.dan menyingkir setelah merasa pesawat aman, pasukan berikutnya masuk. Mereka memakai pakaian seperti bahan dari asbes yang tahan api dan memakai masker. Jumlah mereka empat orang,masing- masing membawa tabung, mirip tabung pemadam kebakaran ukuran sedang.

Begitu pilot dan pasukan Amerika yang bertugas pertama meninggalkan pesawat, pintu-pintu pesawat segera ditutup.Kemudian ‘Tabung yang mirip tabung pemadam kebakaran’ yang ada ditangan mereka segera di semprotkan dan menyemburkan sejenis asap kemerah-merahan. Yang tak lain dari jenis Zat kimia pemusnah bius berdosis tinggi yang tadi terhirup oleh para penumpang. Keempat petugas itu,satu di belakang, dua ditengah dan satu didepan, menyemprot pesawat sampai isi tabung mereka habis, kemudian mereka sendiri mengambil tempat duduk di kursi yang masih kosong. Lalu menanti! asap kemerah-merahan itu jika berbaur dengan udara luar akan berubah menjadi racun yang mematikan. Itulah mengapa sebelum menyemprot tadi, jendela yang pecah ditembak pembajak tadi, ditutup dengan rapat oleh seorang ahli solder kaca.

Satu jam berlalu, komandan pasukan kecil penyemprot tadi melihat jam tangan nya yang ada alat detektornya. Jarum jam itu mirip dengan jarum amper mobil, bergerak kekiri atau kekanan. Kini jarumnya berada di posisi nol sebalah kiri artinya keadaan telah aman. Dia memberi isyarat pada ketiga anggotanya dengan mengacungkan jempol keatas. Ketiga anggotanya mengangguk dan berdiri. Masing-masing menuju kepintu darurat yang ada didepan dan dikanan kiri pesawat itu, serentak mereka membuka pintu itu. Segera udara dari luar masuk kepesawat itu! Yang duduk didekat pintu itu segera sadar lebih awal. Begitulah proses penyadaran dari senjata kimia dalam bentuk bius yang tak banyak negara mengenalnya di dunia.

Pasukan yang memakai masker tadi sudah tidak ada lagi disana, mereka telah digantikan pasukan ketiga yang berpakaian sipil. Kelihatan ramah dan rapi. Begitu penumpang terheran-heran melihat pesawat terbuka, melihat teman-temannya seperti bangun dari tidur. Di depan sana pilot dan pembantunya yang tadi segera diamankan, kelihatan dengan senyum yang lebar. Pilot itu bicara, di dampingi seorang Amerika yang tak lain adalah menteri Luar negeri.

“Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, kami mohon maaf. Tadi telah terjadi sedikit gangguan dalam penerbangan ini, tapi kini semuanya telah berlalu. Kita, seperti yang anda lihat, tak kurang satu apapun jua, kita akan melanjutkan penerbangan kita ketempat tujuan…” 

Si Bungsu, para penumpang masih terheran-heran. Menteri Luar Negeri Amerika dan si Duta Besar maju, menyalami Menteri Muda Amerika yang baru siuman. Mengguncang tangannya erat-erat, lalu bicara kepada penompang: ‘’Atas nama Pemerintah Amerika, atas nama Presiden Kennedy, kami menyampaikan maaf yang besar atas peristiwa ini. Tuan-tuan mendapat gangguan dalam perjalanan karena adanya Menteri Muda kami di pesawat ini, yang ingin mereka jadikan sandera. Kini, sebagaimana disampaikan pilot ini, semuanya telah berlalu. Sebagai tanda terima kasih atas ketabahan Anda semua, kami akan mengantarkan Anda ke kota tujuan masing-masing. Kami akan antarkan dengan pesawat terbang khusus ke kota terkecil yang jadi tujuan Anda.. Dan pada tuan yang duduk di belakang sana.. kami ingin bicara secara khusus..’’ Menteri Luar Negeri Amerika itu menatap pada Tongky yang sudah sadar sejak tadi dan tetap duduk diam di tempatnya.

Demikianlah berakhirnya drama pembajakan itu. Tongky yang diminta untuk bicara khusus dengan menteri itu menolak dengan halus. Dia hanya minta antarkan bersama Si Bungsu untuk diterbangkan ke Dallas, kota tujuan mereka dan dengan satu syarat, kehadiran mereka tidak dipublisir oleh koran yang saat ini jelas saja mendapatkan berita yang luar biasa hebat dan heroiknya.

Menteri Luar Negeri Amerika itu terpaksa menerima penolakan Tongky. Dan hanya dalam waktu setengah jam sejak mereka mengetahui nama Tongky lewat daftar penumpang, mereka telah tahu sejarah hidup veteran perang Vietnam itu. Mereka tahu, Negro warganegara Inggeris itu adalah seorang Sersan Mayor dalam pasukan Baret Hijau Inggeris yang terkenal. Yang beberapa kali menyelamatkan regu pasukan Amerika yang terjebak oleh tentara Viet Cong dalam perang Vietnam.

Mereka juga mengetahui, Sersan itu kini berdomisili di Singapura. Bersama mantan Kapten Fabian sebagai komandannya, juga dari pasukan Green Barret. Diketahui, bahwa mereka di kota Singa itu menghimpun semacam kelompok yang terdiri dari bekas pasukan Baret Hijau Inggeris terkenal itu.

Dalam waktu yang juga tak sampai setengah jam, lewat Washington DC, mereka mengetahui latar belakang kehidupan kawan Tongky yang bernama Si Bungsu. Mereka punya fail tentang anak muda itu, dimulai dari zaman Jepang di Sumatera Barat. Tentara Amerika yang merupakan bahagian dari tentara Sekutu telah menyebar mata-mata jauh sebelum sekutu masuk ke Indonesia. Dari mata-mata inilah diserap informasi, bahwa ada seorang anak muda bernama Si Bungsu, yang dengan samurainya membabat tentara Jepang.

Kemudian fail, data tentang diri anak muda itu kini lengkap tatkala masuk berita dari Tokyo dan Nagasaki, Jepang. Saat itu yang jadi Presiden Amerika adalah Eisinhower. Dan di Jepang tentara Amerika suatu malam bahagian utara Tokyo, disebuah daerah bernama Asakusa disebuah penginapan mesum, mereka kehilangan dua orang tentara yang mati dibacok samurai.

Kemudian, berbulan-bulan setelah itu, diketahui bahwa yang membabat perwira dan bintara Amerika itu adalah seorang anak muda berkebangsaan Indonesia, bernama Si Bungsu! Data tentang dirinya telah dikirim ke Washington lewat mata-mata yang warga Indonesia atau Jepang.

Ketika anak muda ini diadili di Tokyo, penduduk kota itu jadi heboh dan memprotes. Soalnya anak muda itu membunuh kedua tentara Amerika karena akan memperkosa gadis Jepang yang bernama Michiko! Rasa harga diri dan rasa terima kasih Bangsa Jepang jadi meledak begitu mengetahui pemuda yang membela gadis Jepang itu diadili dan bisa diancam hukuman tembak! Akhirnya pihak Departemen Keamanan Amerika yang terkenal dengan sebutan Pentagon itu, mengirim surat perintah kepada

Panglima Pendudukan Amerika di Jepang, agar perkara anak muda itu dideponir saja. Di petieskan. Anak muda itu diusahakan bebas tetapi harus meninggalkan kota Tokyo tanpa publisitas. Sebab betapapun jua, Amerika tak mau kehilangan muka, membebaskan begitu saja orang yang membunuh dua orang tentaranya!

Dan anak muda itu dibebaskan. Kemudian ternyata dia menuju ke Kyoto, ke kota tua dimana dia mencari musuh besarnya, Saburo Matsuytama! Semua data itu dikirim ke Washington oleh CIA. Dan kini, baik orang CIA maupun Menteri Luar Negeri Amerika itu bertemu langsung dengan kedua orang tersebut.

Tentang pesawat Pan American yang di’sopiri’ oleh Kolonel Maxmillan begitu mendapat kabar bahwa pembajakan telah berakhir, segera membelokan pesawatnya kembali menuju Tahiti di Laut Teduh. Tak kurang dari Presiden Kennedy mengucapkan terima kasihnya kepada Kolonel Maxmillan itu lewat radio. Mula-mula radio itu dari tower di lapangan udara Mexico. Maxmillan membuat hubungan.

“Yap, Pan American di sini…”katanya. “Mister, Anda telah menolong kami semua di lapangan udara ini keluar dari kemelut yang amat besar. Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya… ”Maxmillan tak menjawab. “Ada seseorang yang ingin bicara dengan anda di radio…” “Yap, silahkan masuk…”katanya membalas dengan datar. Dan suara yang dipersilahkan masuk itu terdengar di radio pesawatnya yang tengah terbang ke Tahiti. “Kolonel Maxmillan…” “Yap…” “Ini Washington DC…” “Yap…Ada yang bisa saya bantu untuk Tuan?” “Anda justru baru saja telah membantu kami. Saya atas nama seluruh rakyat Amerika, dan atas nama pribadi, Jhon F Kennedy, menyampaikan penghargaan yang besar atas bantuan anda tadi…”

Kali ini Maxmillan memang terkejut, tatkala mengetahui bahwa yang tengah berbicara langsung dengannya dari Washington DC adalah Presiden Jhon F.Kennedy, presidennya sendiri.

“Oh maaf Tuan presiden, saya tak menyangka anda akan menghubungi saya langsung…” “Saya bangga dapat berbicara langsung dengan anda Kolonel. Bantuan anda telah menyelamatkan lebih seratus nyawa…” “Ah, saya tak membantu apa-apa, Tuan Presiden. Saya hanya menipu pembajak itu dari pesawat saya..” “Tak semua orang bisa melakukan apa yang anda lakukan Kolonel. Tipuan yang anda lakukan adalah tipuan yang penuh perikemanusiaan dan akan di ingat bangsa Amerika dalam jangka waktu yang lama. Kalau saya boleh tahu, apakah anda yang tadi bicara bahasa kuba, yang mengaku sebagai Kolonel Yoseph Maxmillan itu..?” “Benar,Tuan Presiden…” “Ah,anda telah berhasil menipu tidak hanya para pembajak itu, Kolonel. Anda juga berhasil memperbodoh pembantu-pembantu saya, orang FBI dan CIA yang mengaku terkenal hebat itu…” “Maafkan, saya tidak bermaksud demikian, presiden…” “Tidak usah minta maaf, saya amat bahagia hari ini. Saya mengundang anda datang ke Gedung Putih begitu anda kembali dari tugas anda…”

Maxmillan tak segera dapat mendapat menjawab undangan itu. Undangan seorang presiden merupakan hal yang tak lazim. Hanya orang-orang tertentu yang mendapat undangan demikian. Dan kini, Maxmillan, veteran perang dunia II itu mendapat kehormatan tersebut.

Namun Maxmillan seperti halnya banyak orang Amerika lainnya, yang tak suka popularitas dan berhati jujur, menganggap bahwa kehormatan itu belum pantas untuknya. Dengan rendah hati dia menjawab. “Terima kasih atas undangan anda, Presiden. Saya yakin, saya merupakan sedikit dari puluhan juta rakyat Amerika, yang amat bangga atas undangan anda. Namun, saya mohon maaf, dari tahiti saya harus menjenguk ibu saya yang kini dirawat di sebuah rumah sakit…” “Sampaikan salam saya pada ibu anda tuan…” “Akan saya sampaikan, Tuan Presiden. Dan saya yakin adalah sesuatu yang amat membanggakannya mendapat kiriman salam dari Tuan…” “Baiklah, kelak kalau anda punya waktu, anda bisa menelpon saya langsung di Gedung Putih. Dan saya yakin merupakan hari yang membanggakan bagi saya kelak bila bertemu dengan anda…” “Terimakasih tuan Presiden…”

Dan hubungan radio itupun berakhir, pesawat yang dia kemudikan membelah udara Amerika memasuki wilayah lautan Pasifik. Sementara itu di Mexico City, seluruh aparat yang terlibat dalam penyelesaian pembajakan itu bergerak dengan cepat. Ketujuh pembajak segera di bawa oleh Angkatan Udara Amerika, kesuatu tempat di Amerika Serikat, yang seorang pun tidak tahu tujuannya, selain pimpinan tertinggi negara itu saja.

Para Sandera yang dibebaskan itu, sesuai dengan janji Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, segera di terbangkan dengan pesawat carteran ketempat mereka masing-masing. Dikota di mana mereka turun, pengawalan di lakukan dengan ketat, tetapi tidak menyolok. Dalam perjalanan menuju kota masing-masing, beberapa petugas yang menyertai para sandera itu meminta pada mereka untuk tidak memberikan keterangan pers kepada para wartawan. Himbauan itu disampaikan demi keselamatan para sandera itu sendiri.

“Kita tidak bisa mengawasi semua orang di negeri kita ini untuk melindungi anda…”ujar petugas FBI itu di dalam pesawat, ”Letaklah kita bisa mengawasi orang-orang asing yang dicurigai, tapi bagaimana kalau misalnya yang akan mencelakai anda adalah orang Amerika yang tak kita curigai sedikitpun? Harap anda ketahui, sungguh sukar bagi kita untuk mengawasi yang mana orang Amerika yang pro-Komunis dan mana yang tidak…”

Para bekas sandera itu memang lebih suka berdiam diri dari pada harus di ancam marabahaya. Itulah sebabnya kenapa masing-masing, mereka umumnya berdiam diri saja ketika dikerubuti para wartawan untuk mendapatkan cerita dari drama pembajakan yang amat menegangkan itu. Saat para pembajak akan di naikan kepesawat, gadis Pramugari yang jadi pimpinannya tiba-tiba mengajukan permintaan.

“Saya ingin mengajukan sebuah permintaan…”katanya ketika dia akan dipindahkan dari mobil tahan peluru kepesawat khusus Angkatan Udara Amerika yang telah menanti. Direktur CIA yang menyertai mereka mengangguk menyetujui permintaan untuk mendengarkan permintaan gadis itu. “Saya ingin bertemu dengan salah seorang dari penumpang pesawat itu tadi..” “Salah satu dari yang anda sandera itu?” “Benar…”

Direktur CIA itu saling pandang dengan petugas keamanan. ‘’Jangan khawatir. Dia bukan bahagian dari kami. Dia benar-benar seorang penumpang biasa. Seorang lelaki. Saya harap Anda bisa mengerti..’’ Dan tiba- tiba saja Direktur CIA itu menjadi maklum. Dia punya seorang anak gadis yang sebaya dengan pramugari cantik ini. Gadisnya itu seorang yang manja.

‘’Baik, Anda bisa sebutkan namanya. Tapi kami hanya bisa memberi waktu lima menit. Tak lebih’’ ‘’Terimakasih. Saya justru hanya butuh waktu setengah menit..’’ ‘’Nona, bisa sebutkan namanya, agar kami bawa dia kemari..’’ ‘’Saya tak tahu namanya..’’ Direktur CIA itu tertegun heran. ‘’Ya saya tak tahu namanya. Namun saya bisa sebutkan ciri-cirinya’’. ‘’Baiklah. Anda sebutkan ciri-cirinya..’’

Yuanita menyebutkan ciri lelaki yang ingin dia temui itu. Di ruang khusus di salah satu tempat dekat lapangan itu, para bekas sandera masih ada yang menunggu pesawat. Sebahagian besar diantara mereka telah diterbangkan ke kota masing-masing. Seorang petugas bergegas ke sana. Menyeruak diantara petugas keamanan yang menjaga dengan ketat. Berbisik dan mencari-cari. Kemudian mendekati seorang lelaki. ‘’Tuan, Anda diminta datang ke ruang itu..’’ petugas tersebut bicara pada si lelaki. Lelaki itu, yang tak lain daripada Si Bungsu, jadi kaget. ‘’Saya..?’’ ‘’Ya, Tuan..!’’

Si Bungsu memandang pada Tongky yang tengah duduk bersandar di kursi sambil menaikkan kaki ke meja. Di meja ada dua botol bir yang telah kosong. Sebuah piring yang penuh tulang ayam. ‘’Saya dengan teman saya ini?’’ ‘’Tidak, Anda sendirian..’’ Tongky mengedipkan mata. Dan Si Bungsu mengikuti petugas itu. Dia segera dibawa ke luar ruangan. Ke sebuah jalan di depan ruang tunggu. Naik ke sebuah jip, kemudian jip itu dipacu ke sudut lapangan yang lain. Lalu berhenti di dekat sebuah pesawat jet kecil yang dijaga dengan ketat. Di dekat tangga, ada tiga orang tegak. Satu diantaranya adalah perempuan. Yang segera dikenali oleh Si Bungsu sebagai Yuanita. ‘’Dia yang Anda maksud..?’’ tanya Direktur CIA itu begitu jip tersebut berhenti.

Gadis itu mengangguk. Matanya tak lepas menatap Si Bungsu yang termangu-mangu di atas jip. Si Bungsu benar-benar tak tahu akan mengapa. Dia turun dari jip itu. Kemudian melangkah mendekati gadis yang tetap saja memandangnya tak berkedip. Petugas-petugas, termasuk Direktur CIA, menatap setiap gerak kedua orang itu dengan diam. Sebenarnya adalah tak sopan berlaku demikian. Menatap sepasang anak muda yang barangkali entah akan mengapa. Tapi yang mereka hadapi ini bukan sembarang anak muda. Yang perempuan adalah gembong pembajak komunis yang amat militan.

Siapa tahu, kesempatan seperti ini dia pergunakan untuk bunuh diri, atau melakukan penyanderaan lagi, misalnya. Jika gerakan mencurigakan seperti itu mereka lihat, mereka sudah siap sedia. Gadis ini merupakan salah satu tertuduh utama, dan merupakan mata rantai amat penting dalam menggulung sindikat terorisme internasional. Makanya dia tak boleh diabaikan.

Itu pula sebabnya, meski dalam keadaan bagaimanapun, dia harus diawasi dengan ketat, walaupun terasa agak kurang sopan. Namun Si Bungsu sama sekali tak tahu untuk apa dia datang ke sana. Kalaupun benar seperti yang diucapkan Direktur CIA, maka dia juga tak tahu kenapa gadis itu memintanya untuk datang. Dia mendekati gadis itu. Yang rambutnya tergerai ditiup angin di lapangan udara

Mexico City itu. Kemudian tegak tiga langkah di depanya. Dia masih menatap sejenak. Menatap gadis yang sejak tadi memang telah menantinya. ‘’Anda meminta saya untuk kemari, Nona?’’ tanya Si Bungsu pelan. Gadis itu tak menjawab, melainkan mendekat padanya. Menglurkan tangan untuk bersalaman. Si Bungsu ragu- ragu, namun akhirnya menyambut uluran tangan itu. Gadis itu menjabatnya dengan erat, dan tanpa diduga — dan tak dapat dielakkan Si Bungsu— Yuanita menarik tangannya mendekat. Menyebabkan tubuh mereka saling merapat dan tubuhnya langsung dipeluk gadis itu. Tidak berhenti sampai di sana, gadis itu mencium bibirnya

Si Bungsu gelagapan. Namun entah mengapa, dia tidak mau berlaku kurang sopan dan dianggap tidak gentelmen. Perlahan tangan nya membalas memeluk pinggang Yuanita, dan membalas ciumannya. Ketika peristiwa itu selesai, dengan masih memegang tangan Si Bungsu, gadis itu merenggangkan diri.

“Terima kasih Love, peluk ciummu kabawa mati. Sebentar lagi…”ujarnya dengan mata berkaca. Kemudian gadis itu berbalik, menuju kepesawat yang menunggu dari tadi. Setelah pesawat itu berangkat, Si Bungsu kembali naik ke mobil jip yang tadi membawanya. Direktur CIA itu juga ikut naik, duduk disampingnya di kursi depan.Jip itu kembali keruang tunggu khusus. Direktur CIA berkata pelan pada Si Bungsu ketika jip meluncur di avron menuju ruang tunggu. “Kalian pasti belum saling kenal…” “Belum…”jawab Si Bungsu pelan. “Perempuan memang laut yang amat dalam. Yang amat sukar menduga isinya. Saya yakin dia mencintai anda, dengan amat sangat…”

Si Bungsu menoleh kesampingnya, pada lelaki yang tidak diketahuinya bahwa orang itu adalah Direktur CIA. Sebuah lembaga Intelijen yang amat berpengaruh didunia. Dia diam tidak membari komentar atas ucapan itu, sungguh mati dia amat terguncang atas peristiwa sebentar ini. Dia bukan lelaki yang lemah iman, tapi tidak pula lelaki yang berpura-pura berlagak suci.

Dia datang dan sampai ke negeri ini justru dalam usaha mencari gadis yang amat di kasihinya. Dalam sejarah hidupnya yang amat panjang dan berbelit ini, tak berapa yang pernah singgah di hatinya. Namun peristiwa dengan Yuanita yang barusan tadi, gadis yang tidak dia kenal itu, benar-benar membuncah perasaannya. Jip itu baru saja akan mencapai tempat dimana para penumpang yang pernah menjadi sandera itu menanti, ketika mereka mendengar suara seperti letupan bedil di udara.

Letupan itu tak begitu menarik perhatian mereka yang ada di jip tersebut. Mereka baru tertarik tatkala beberapa petugas lapangan menunjuk kesuatu titik jauh dibelakang sana. Makin lama makin banyak yang melihat, dan mereka juga melihat, kearah pesawat jet angkatan udara Amerika yang tadi membawa para pembajak komunis asal cuba itu.Jauh disana kelihatan sisa asap yang mengepul, kemudian.. lenyap!

“Jet itu meledak…”kata seseorang. Kepastian tentang itu baru didapat ketika dua orang petugas tower berlarian mendekati Direktur CIA yang ada didekat Si Bungsu. “Pesawat itu meledak…” katanya. Semua terdiam. Tak seorang pun yang tahu penyebabnya. Namun sudah bisa diduga, pesawat itu hancur berkeping karena Bom waktu yang berasal dari salah seorang teroris tesebut. Mereka memang telah di periksa dengan amat teliti. Namun dengan meledaknya pesawat itu di udara, bisa dipastikan ketelitian pihak Amerika ternyata masih terkecoh oleh kelihaian teroris itu. Ledakan itu mustahil disebabkan pihak Amerika, sebab jet itu milik Angkatan Udara Amerika. Yang menerbangkanya tentu Pilot Amerika, seorang AU Amerika berpangkat Mayor yang terpercaya. Si Bungsu termangu. Membayangkan betapa gadis yang baru sebentar ini memeluk dan menciumnya, kini hancur berkeping.

“Ya tuhan,..” terdengar kepala CIA di samping nya berucap. Tongky yang juga berlarian keluar dari ruang tunggu menatap langit, di langit tidak terlihat apa-apa,kosong. “Pesawat itu meledak?” tanya Tongky. Si Bungsu hanya tegak mematung. Mereka tegak dengan diam disisi jip itu sampai akhirnya panggilan untuk berangkat terdengar. Di pesawat yang membawa mereka ke Dallas, Si Bungsu masih memikirkan ledakan pesawat jet itu. Para pembajak tersebut ternyata masih memilih mati dari pada harus diinterogasi dan diadili di Amerika. Apakah tak mungkin yang meledakan pesawat itu adalah Yuanita?

Gadis itu tadi air matanya berlinang ketika mereka berpelukan. Apakah peluk dan ciuman gadis itu adalah peluk dan cium perpisahan? Tiba-tiba dia teringat bisikan gadis itu dengan mata berkaca sesaat setelah mereka berciuman. “Terima kasih Love, peluk ciummu kubawa mati. Sebentar lagi…”

Ya tuhan, gadis itu memang merencanakan kematiannya. Dan sesaat sebelum kematiannya, dia mengucapkan selamat tinggal dalam bentuk lain pada lelaki yang barangkali dia cintai. Lelaki yang belum dia kenal, anak Indonesia yang berasal dari Situjuh Ladang Laweh. Ya tuhan, mengapa aku tidak arif kemana ujung ucapannya tadi, bisik hati Si Bungsu.

DALLAS!. Kota ini berada di Texas. Salah satu negara bahagian Amerika Serikat. Ada dua hal yang segera terbayang di kepala setiap orang bila mendengar nama Texas. Pertama adalah ladang-ladang Minyak yang tersohor. Disinalah pusat minyak yang terkenal dengan sebutan CALTEX itu bermarkas besar. Sebuah perusahaan minyak patungan dua raksasa dari california dan Texas.

Operasi minyaknya hampir menjangkau nyaris seluruh wilayah di permukaan bumi. Mulai dari wilayah bersalju di Amerika utara sampai ke wilayah tak berpenghuni di daerah Selatan Australia. Mulai dari Houston di timur sampai Ke Inggris ke belahan bumi paling barat dan mencengkam di padang-padang pasir negara Arab di wilayah timur tengah.

Texas juga mengingatkan orang pada zaman paling keras dan paling hitam dalam sejarah Amerika Serikat. Yaitu zaman Wild west, saat berkuasanya para bandit dan cowboy. Yang memerintah dari punggung kuda. Melintasi punggung- punggung bukit berbatu terjal, membelah padang-padang prairi yang di penuhi kaktus-kaktus berduri.

Kota ini merupakan pusat kegiatan para bandit yang tak kenal ampun. Bicara tentang Dallas adalah bicara tentang dunia bandit. Tak ada kota-kota di dunia yang bisa menandingi kehebatan bandit-bandit Dallas. Tak ada kota manapun di dunia, yang pernah menjadi pusat kegiatan bandit sehebat Dallas. Dunia cukup banyak mengenal kelompok-kelompok bandit yang termasyhur. Sebutlah misalnya Yakuza di Jepang, POLT di rusia. KLU KLUX KLAN dari Amerika. Mira dari Israel. Tapi dunia hanya mengenal satu komplotan bandit yang pernah ada di permukaan bumi. Komplotan itu adalah MAFIA yang berasal dari Sicilia di Italia sana. Dan dunia juga mengenal bahwa jantung Mafia yang tersohor itu adalah di DALLAS!

Kini dikota itulah Si Bungsu, lelaki bersamurai yang berasal dari Gunung Sago itu datang! Ke kota pusat para bandit. Ke kota pusat perjudian yang senantiasa mengundang maut. Ke kota yang kata orang-orang yang tak punya rasa belas kasihan kepada siapapun.! Ke kota yang telah menjadi belantara kejahatan.

Dallas ditahun kedatangan Si Bungsu itu berpenduduk kurang lebih sekitar tujuh juta jiwa. Kotanya yang luas terbagi dalam tiga bahagian utama. Bahagian utara disebut sebagai Civilation City, di bahagian ini terletak kantor-kantor pemerintah. Di bahagian selatan disebut sebagai Country city, daerah pemukiman pegawai, pedagang, bankir dan..siapapun tahu, di antara mereka juga merangkap profesi sebagai…bandit!

Di bahagian tengah, disebut sebagai Centrum City. Pusat kota tidak hanya disebut Centrum karena berada di tengah. Pengertian Centrum diartikan sebagai ‘pusat’nya segala kegiatan. Kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang mengatur dunia! Sekali lagi, “yang mengatur dunia”! Di bahagian inilah para bandit Mafia mengatur cabang dan kegiatannya hampir di seluruh penjuru dunia.

Di bahagian ini pula terdapat sebuah kantor Caltex, yang kelihatannya tak begitu besar, namun dari situlah seluruh kebijaksanaan perusahaan minya raksasa itu dikomandokan. Dan.. di bahagian ini pula pusat perjudian, pelacuran serta kegiatan politik disutradarai! Jadi bedanya amat menyolok antara kota bahagian utara dimana Gubernur berkantor dengan bahagian Centrum dimana para bandit bermarkas. Bahagian Utara dengan gubernurnya dianggap tidak sebagai pusat kekuasan. Tidak sebagai pusat pengambil keputusan. Keputusan dan kekuasaan justru ditentukan oleh orang-orang yang bukan duduk di pemerintahan, tak berpangkat dan tak jelas identitasnya. Mereka bermarkas di Centrum City! Itulah selintas gambaran tentang Dallas. Dan ke sanalah Si Bungsu menuju. Ke belantara yang tak berbelas kasihan itu. Dia dan Tongky menginap di Dallas Hotel. Hotelnya terbilang sederhana. Bertingkat dua belas dengan gedung model Abad ke 19. Begitu masuk loby hotel, seorang gadis cantik berpakaian seperti perwira Spanyol zaman Napoleon membukakan pintu mobil. Membawanya masuk dan mengantarkan ke bahagian front office. Di sana, dua orang gadis yang hanya mengenakan kutang, memperlihatkan sebahagian besar dari dadanya yang ranum, menerima mereka. Mulai dari mencatatkan nama, menentukan kamar, lalu mengantarkan mereka ke kamar. Yang mengantarkan seorang gadis dengan pakaian Ceong Sam yang lazim dipakai di negeri Cina. Belahan samping baju itu seperti dirobek. Mulai dari mata kaki, sampai ke atas pinggul. Belahan itu menampakan betis, paha, pinggul yang tak bertutup. Mereka menaiki lif yang modelnya kuno sekali. Sebuah kotak empat segi dengan tutup seperti jerajak besi di penjara. Ketika tombol bernomor dipencet, yaitu tingkat dimana mereka akan ditempatkan, lif itu memperdengarkan bunyi berdenyit. Persis seperti membuka pintu di rumah-rumah kuno. Gadis yang memakai baju “robek lebar” di paha, dan model dada terkelayak separuhnya itu tersenyum manis. Tongky mengerdipkan mata pada gadis itu. Mereka menempati kamar 707. Gadis itu mengantarkan mereka sampai ke dalam kamar. Menunjukan letak kamar mandi, tempat sabun, lemari pakaian, handuk dan lain-lain. ‘’Jika Anda butuh apa saja, tekan bel itu… dan ngomong lah, mintalah. Apa saja, akan kami layani…’’ ujar gadis itu. ‘’Kalau kami minta Anda, Nona..?’’ ujar Tongky memulai kedegilannya. ‘’Tuan hanya tinggal menekan aiphone itu, dan katakan pada bos saya, bahwa saya demam dan harus berada di kamar ini untuk jangka waktu yang ditentukan..’’ gadis itu menjawab penuh sikap profesional. Tongky bersiul. ‘’Terimakasih, kami akan pikir tombol mana yang akan kami tekan setelah kami mandi nanti..’’ ujar bekas pasukan Baret Hijau itu sambil meletakan uang sepuluh dollar ke belahan dada gadis itu, yang terbuka dua pertiga bahagiannya. Gadis itu tersenyum dan meninggalkan kamar. ‘’Wow, inilah Dallas Bungsu. Sambutan untuk kita di hotel ini ternyata cukup lumayan’’. Si Bungsu yang sejak tadi sudah merebahkan diri di pembaringan menatap isi kamar itu. Kamar itu luar biasa mewahnya. Seluruh lantainya di alas permadani biru. Dindingnya juga berwarna biru. Alas kasur dan selimut tebalnya juga berwarna biru dan mewah. Tiba-tiba ada suara di aiphone dalam kamar itu. ‘’Tuan, jika tuan ingin dipijat, kami akan mengirimkan dua orang pemijat ke sana..’’ ‘’Apakah tukang pijatnya lelaki atau perempuan?’’ tanya Tongky dari pembaringannya. ‘’Tuan boleh pilih..’’ jawab aiphone itu. Tongkay tertawa bergumam dan mengucapkan terimakasih. Buat sementara mereka hanya memesan minuman. Tongky memesan gin yang tak ada dalam kulkas kecil di kamar dan Si Bungsu memesan teh panas. Hari sudah malam ketika mereka sampai di hotel itu. Karenanya tak seorangpun diantara keduanya yang berminat untuk meninggalkan hotel. Mereka memilih untuk tidur dan istirahat. Sehabis memesan minuman mereka memesan makan malam. Berupa ayam goreng dan nasi putih. ‘’Apakah tuan…

“Apakah Tuan ingin makan malam di kamar?”tanya gadis pengantar minuman. “Ya,kami makan di kamar saja…” “Perlu ditemani?”Cara orang-orang hotel ini menjajakan seks, menjejalkannya pada tamu, tanpa rasa malu dan tanpa pandang bulu, benar-benar mendatangkan risih, khususnya pada Si Bungsu. Tongky nampaknya mengerti jalan pikiran temannya itu. “Begitulah keadaannya di sini, kawan. Mereka juga cari makan. Disini persaingan luar biasa kerasnya. Jika mereka tidak menawarkan dengan gencar, maka ada harapan langganan membeli barang lain. Begitu hukum dagang, bukan?”

Si Bungsu tidak mengomentari. Tidak lama pesanan makan malam itu di antarkan oleh dua orang gadis yang pakaiannya juga merangsang. Malam itu mereka tertidur karena letih yang amat sangat. Esoknya ketika bangun pagi, Si Bungsu melihat Tongky sudah lebih dulu bangun. Negro yang baik hati itu tengah latihan Push- up. Menelungkup di lantai dengan bertelekan telapak tangannya, kemudian mengangkat dan menurunkan badannya yang penuh otot

Si Bungsu kekamar mandi dan mengambil wudhu. Ketika berwudhu itulah entah mengapa tiba-tiba saja, sebuah perasaan tak sedap menyelinap dihatinya. Bayangan Tongky melintas amat cepat dalam pikirannya. Dia berhenti berwudhu ketika baru sampai membasuh telinga. Cepat dia keluar kamar mandi dan melihat Tongky. Negro itu masih melakukan push-up berkali-kali, dalam kamar itu tidak ada orang lain!

Si Bungsu menarik napas panjang, lega. Dia kembali kekamar mandi dan melanjutkan berwudhu. Kemudian sembahyang tak jauh dari tongky yang merubah gerakan push-up dengan gerakan lari-lari dalam posisi jongkok dalam kamar itu. Negro bekas pasukan Green barret itu tetap menjaga tubuhnya dengan latihan ringan setiap hari.

Biasanya Si Bungsu juga melakukan hal yang sama setelah sembahyang subuh. Namun kali ini setelah sembahyang sekitar jam setengah enam pagi waktu setempat itu, dia tidak melakukan olah ringan itu. Dia duduk di sisi pembaringan, menatap Tongky yang meloncat-loncat sambil jongkok di seputar kamar.

“Hei, kau tidak sport kawan?”seru Tongky sambil masih loncat-loncat jongkok. “Saya kurang enak badan….”katanya. Padahal yang tak enak adalah perasaannya.Si Bungsu kini tak ingin lagi terkecoh oleh perasaannya, dia sudah hafal dengan firasatnya. Firasatnya selalu tak berdusta. Entah mengapa, ternyata berada di kota Dallas ini, dikota belantara yang tak mengenal belas kasihan ini, firasatnya yang tajam, yang selama ini ‘macet’kini berangsur bekerja lagi dengan sempurna.

Barangkali itu disebabkan atas kesadarannya pada bahaya mengancam. Dia datang kemari mencari Michiko. Dan Michiko sampai ke kota ini bukan kemauannya. Dia dibawa oleh seorang bekas pilot perang dunia

II. Sejak semula dia sudah punya firasat, akan ada darah yang tumpah atas kedatangannya kekota ini.

Dan kini perasaan tak sedapnya timbul tiba-tiba. Dia tahu, firasatnya memberikan isyarat bahwa sesuatu yang tak dingini akan terjadi. Sesuatu yang tak diingini itu barangkali akan menimpa Tongky. Dia tahu itu, sebab ketika berwudhu itu tadi wajah Tongky melintas dalam ingatannya.itu suatu isyarat pasti!

Tapi bagaimana dia akan mengatakannya pada Tongky? Tongky menyelesaikan senam paginya. Kemudian memakai kimono yang terbuat dari bahan handuk. Kemudian minum kopi dan makan hamburger. Lalu membaca koran pagi yang di letakkan orang didepan pintu. Dimasukkan di bawah pintu lewat lubang antara daun pintu dengan lantai.

“Hei, lihat! Ada gambarku…!” seru Tongky begitu membuka koran lokal. Dia memperlihatkannya pada Si Bungsu. Koran itu terbitan Dallas, bernama PIONEER. Dalam gambar kelihatan Tongky tengah duduk dengan kaki dimeja. “Busyet, foto ini diambil ketika kita berada diruang tunggu lapangan terbang Mexico kemaren. Sialan, kenapa ada wartawan disana?” Tongky menggerutu.

Koran itu memberitakan tentang pembajakan pesawat Japan Airlines di bandara Mexico. Pembajakan itu digagalkan oleh seseorang dan pioneer berhasil mendapatkan foto ”Pahlawan penyelamat” itu dengan membelinya dari New York Times. Tongky tertawa membaca bualan koran tersebut. Hari sudah pukul sembilan ketika mereka menyusun rencana untuk mulai bergerak, mencari jejak Michiko.

“Di kota ini kita akan menghubungi seorang teman bernama Alex. Dia banyak tahu tentang kota ini. Dan telah mencium jejak Michiko..” kata Tongky. Mereka lalu membuat rencana, pagi itu mereka akan menuju ke wilayah utara, ke Civilation City, ke wilayah perkantoran pemerintah. Di sana Alex bekerja. Meraka lalu turun menuju Lobi. Dalam Lift menuju kebawah Si Bungsu akhirnya berkata. “Tongky, pagi ini perasaanku sangat tak sedap..”Tongky tersenyum. “Lumrah, kawan. Engkau akan bertemu dengan kekasihmu, perasaan itu yang membuat kau gundah…” “Bukan, ada sesuatu yang akan terjadi. Barangkali atas diri kita berdua atau atas diri mu Tongky..” akhirnya Si Bungsu berterus terang. Tongky menepuk bahu Si Bungsu. “Terima kasih kawan, kita akan berhati-hati…”

Si Bungsu lega, dia sudah memberi ingat. Mereka sampai di lobi. Bersamaan dengan mereka keluar lift, lift di sebelah kanan mereka juga berhenti dan dari dalamnya keluar empat orang, dua lelaki dan dua perempuan. Tongky menuju ke Front Office dan menyerahkan kunci, Si Bungsu tegak disisinya.

“Apakah kami bisa memakai taksi?”tanya Tongky kepada gadis di front office. “Tentu…”dan gadis itu memberi isyarat kepada seorang gadis lainya yang tegak dekat pintu masuk. Isyaratnya dengan membunyikan dua jari dengan menyentikkannya, gadis itu mendekat. “Taksi…”ujar recepsionis. “Mari, silahkan…”sahut gadis petugas hotel itu.

Kedua mereka mengikuti gadis yang pahanya tersimbah-simbah itu. Dekat pintu dia melambaikan tangannya ke deretan taksi di sayap kanan hotel. Dan sebuah taksi segera mendekat. Kaca taksi itu sesaat berkilat ketika memasuki teras hotel, berkilat oleh terpaan sinar matahari yang langsung menerkam mata mereka yang tegak menantinya.

Si Bungsu memejamkan mata, demikian Tongky dan gadis hotel itu. Dan taksi itu sampai di dekat mereka. Tapi taksi itu tidak berhenti, hanya melambatkan jalannya. Dan..dhas..dhas..dhas…!! Tiga tembakan dengan pistol yang berperedam. Suara dhas hanya berupa suara yang agak lemah. Dan taksi itu tiba-tiba menekan gas kuat-kuat. Seperti melejit terbang kejalan raya, meninggalkan suara ban berdenyit-denyit.

Saat itu tubuh Tongky tersentak-sentak. Si Bungsu terlompat memburu temannya itu, merangkul tubuhnya yang hampir terbanting ke lantai. Dan gadis petugas bertubuh montok dengan pakaian merangsang itu terpekik. Dan heboh pun terjadi! Darah membasahi dada dan kepala tongky. Tiga peluru bersarang di tempat yang Fatal! Si Bungsu seperti hilang semangatnya, Tongky terkulai. Menggelepar dan terdengar suaranya berbisik-bisik. “Firasatmu benar kawan. Maaf…Saya…” Dan sepi! Sepi yang benar-benar sunyi!

Si Bungsu tertegun disana memeluk kepala dan tubuh kawannya itu. Orang berkerumun diam. Kemudian sebuah Ambulance yang datang entah dari mana, sampai didepan hotel dengan suara meraung- raung. Orang bersibak, empat petugas melompat turun. Dua orang membawa tandu dan dua lagi memeriksa. “Jantungnya masih berdenyut lemah…” salah seorang berteriak.

Teriakan itu seperti mendatangkan harapan baru bagi Si Bungsu. Dia mengangkat tubuh kawannya itu ketandu, kemudian ikut masuk kebahagian belakang ambulance tersebut, menunggui tubuh Tongky. Dua petugas memasukan slang karet ke mulut tongky, kemudian menekan dada tentang jantung tongky. Menekan pelan, menolong membuat nafas buatan. Tak ada hasil. “Peluru tentang jantungnya ini harus dikeluarkan. Kita operasi, siapkan darah tambahan…”ujar dokter itu. Ambulan itu meraung terus dan berlari kencang menuju rumah sakit. Membelah kota kota Dallas yang riuh rendah itu. Si Bungsu teringat sesuatu. Dia harus bertindak, kerja dokter ini pasti lamban.

“Apakah peluru yang dua itu dijantungnya?”tanyanya. “Kita harap saja tidak, barangkali hanya melukai jantungnya sedikit.Tapi kita tidak bisa menanti sampai rumah sakit. Dia kini sudah berada dalam keadaan mati suri. Sudah empat perlima mati. Tindakan darurat harus diambil..” “Kalau begitu biar saya mengeluarkan peluru itu…”ujar Si Bungsu mendekat. “Apakah anda dokter?” “Ya…” “Apakah anda punya sertifikat untuk Dallas?”

Si Bungsu tidak peduli. Dia mendekati temannya yang terbaring itu. Dari balik lengannya dia ambil dua buah samurai kecil. Dua dokter di ambulan itu termasuk dua perawat wanita, ternganga. Si Bungsu merobek baju didada Tongky. Kemudian setelah sejenak memejamkan mata, mengingat pelajaran tentang menghentikan peredaran darah yang dulu dia pelajari di Jepang, dia pelajari dari Zato ichi, lalu dia menekan beberapa tempat peredaran darah di leher dan dada Tongky.

Kemudian…Samurai kecil yang luar biasa tajamnya itu bekerja. Sebentar saja dada Tongky terbelah tanpa setetes pun meneteskan darah! Dokter dan perawat ternganga. Si Bungsu dengan hati-hati mencungkil dua peluru yang bertahan ditulang dekat jantung Tongky. Rongga dada temannya itu penuh darah. Dia menyerahkan dua peluru itu pada si Dokter. “Kini tugas anda dokter…”katanya.

Dokter yang masih setengah ternganga itu mendekatkan kepalanya. Melongok ke rongga dada Tongky, kemudian menatap kedua peluru yang barusan di serahkan Si Bungsu. Dia mengambil sejenis kapas dan mulai mengeringkan darah di dada Tongky yang di sebabkan luka tembakan itu. Kemudian menekan Jantung Tongky perlahan. Menekan dengan ibu jarinya, hati-hati sekali. Salah-salah jantung yang lunak itu bisa jebol! dan Tongky mulai bernapas! Air mata mengalir dimata Si Bungsu. Temannya itu hidup! “Jahit…”dan luka dijahit oleh dokter yang seorang lagi. Ambulan itu sampai dirumah sakit dan mereka bergegas turun. Dan hampir berlarian, mereka menuju ruang operasi. “Peluru di kepalanya harus di keluarkan. Mudah-mudahan tidak mengenai otak..”kata dokter pada Si Bungsu sambil berlarian kecil mengikuti brankar yang di dorong cepat itu.

Di ruang operasi segalanya telah disiapkan. Dokter yang ahli yang lain sudah ada disana, dan operasi siap di mulai. Namun alat perekam seperti televisi yang ada disebelah kanan tiba-tiba hanya memperlihatkan garis lurus. Sebentar ini masih memperlihatkan naik turun seperti grafik. Kini.. “Pompa jantungnya..” Dokter segera menekan jantungnya, tak ada hasilnya. “Buka jahitannya…”

Dokter yang satunya segera membuka jahitan didada Tongky. Kemudian kembali menekan jantung dengan ibu jari. Sekali, dua kali. Si Bungsu menanti. Menanti. Berdoa dan menanti. Menanti dan berdoa. Lama sekali. Lama sekali! “Dia sudah meninggal…”entah dari mana suara itu datangnya.

Barangkali diucapkan dokter yang sudah senior itu. Perlahan semua membuka kain menutup mulut dan hidung mereka. Semua kegiatan seperti terhenti, alat deteksi jantung hanya memperlihatkan garis lurus di layar, dan televisi itu dimatikan. Wajah Tongky kelihatan tenang. Jantungnya hanya sempat bekerja sesaat setelah peluru dikeluarkan Si Bungsu tadi. “Peluru yang di kepalanya, yang menyebabkan kematiannya…” kata dokter itu lagi.

Si Bungsu melihat kepala Tongky. Bahagian samping keningnya kelihatan berdarah. Peluru menghunjam disana. Dia termangu. “Anda kerabatnya…?” ada suara bertanya, Si Bungsu mengangguk. “Harap anda tanda tangani sertifikat kematian ini…”Si Bungsu menandatanganinya. Dia tak tahu berapa waktu telah berlalu, seorang dokter wanita mendekatinya di ruang tunggu.

“Jika tak ada kaum kerabatnya di kota ini, kami akan memakamkannya di pemakaman umum. Biayanya akan di tanggung….” “Saya kerabatnya,Dokter…”putus Si Bungsu. dokter itu menatapnya agak heran. “Anda juga seorang negro?” “Ya,malah dari kelas yang paling bawah!” Dokter itu kaget dan merasa bersalah atas pernyataannya tadi.

“Maaf, bukan maksud saya menghina negro. Saya hanya tak melihat anda salah seorang dari mereka..” “Berapa saya harus bayar?” “Untuk sebuah kematian anda tak usah bayar apa-apa. Negara menanggungnya. Tapi jika anda ingin kerabat anda ini di makamkan dengan upacara, Anda harus membayar seratus dolar. Kami akan menyiapkan peti mati yang baik, karangan bunga, pendeta untuk khutbah dipemakaman dan sekitar dua puluh orang pengantar dalam pakaian berkabung. Untuk itulah uang yang seratus dolar itu…”

Si Bungsu merogoh kantongnya, mengeluarkan uang yang diminta. Dia duduk bersandar dan terasa letih sekali. Tongky meninggal! Di tembak sehasta darinya! Mati dalam pelukannya! Ya tuhan, mungkinkah? Si Bungsu menunduk, letih dan terpukul sekali. Inilah wujud firasat tak sedap yang menyelinap tatkala dia berwudhu subuh tadi. Firasatnya yang merupakan indera keenam itu memang memberikan isyarat yang kuat. Kenapa dia tidak bisa mencegahnya? Bukankah ketika berada dalam lift menuju lantai satu dari kamar mereka tadi dia telah bicara soal firasatnya itu pada Tongky? Kenapa dia tak waspada? “Tentang takdir, Buyung, di permukaan bumi ini, tak seorang pun kuasa mengungkitnya. ”Suara ayahnya yang telah almarhum seperti

mengiang kembali.

Si Bungsu bersandar di kursi, di gang rumah sakit Dallas yang sangat besar itu. Puluhan orang lalu lalang didepannya. Perawat, Dokter, Pasien yang didorong di atas kursi roda maupun brankar, pasien yang melangkah tertatih-tatih dengan tongkat kayu kruk diketiaknya. Hampir semua berseragam putih. Namun orang yang lalu lalang itu, seperti tak hadir didepannya. Dia seperti tak ada di sana. Tubuhnya memang bersandar disalah satu di rumah sakit itu tapi pikiranya entah dimana. Baru dua hari di kota rimba ini, sudah disambut dengan sangat tak ramah. Hari-hari pertamanya dikota ini adalah hari yang luar biasa kerasnya.

“Tuan saya ingin minta sedikit keterangan….” lamunan Si Bungsu terputus. Sebenarnya orang yang menegurnya itu sudah dari tadi disana, dan sudah dua kali dia ngomong tapi tak terdengar oleh Si Bungsu. Dengan       lesu       dia       menoleh       dan       melihat       dua        orang        polisi        tegak        didepannya. “Oh, maaf…” katanya sambil memperbaiki duduk. Polisi itu menarik nafas, memperlihatkan sebuah koran. “Ini negro yang bersama anda itu?” Si Bungsu tak menjawab pertanyaan itu, justru dia menatap polisi yang bertanya tersebut.

Ada sesuatu yang ganjil dalam pertanyaan polisi itu yaitu saat dia menyebut kata’negro’ ada semacam nada ketidaksukaan dalam ucapanya. Semacam kebencian rasis! “Tuan saya bertanya, apakah negro yang mati tadi adalah yang ada dalam foto ini?” Si Bungsu tak menjawab, matanya masih menatap polisi itu. Si polisi yang pertanyaannya tak dijawab, menoleh kepada polisi yang satunya lagi. “Barangkali dia pekak, atau tak mengerti bahasa ingris..”katanya.

Yang satu lagi maju, dan tanpa ba atau bu dia segera menggeledah kantong. Si Bungsu. Nampaknya mencari sesuatu, Si Bungsu tidak sedikitpun memberikan reaksi. Polisi itu merenjeng tangan Si Bungsu hingga tertegak. Kemudian merogoh kantong celananya. Di kantong celana belakang, dia mendapatkan apa yang dia cari, paspor! Membalik-balikan halamannya, lalu menatap pada Si Bungsu ”Indonesian..” desisnya. Si Bungsu hanya diam. Polisi kembali memperlihatkan wajah Tongky yang terpampang di koran.

“Temanmu?’ tanyanya dalam bahasa Ingris yang kasar. Si Bungsu mengangguk dan polisi itu menggerutu dan mengomel panjang pendek. Dan mencatat sesuatu dalam notesnya. “Nah bung, kalau kau mengerti bahasa kami, dengarkanlah baik-baik. Begitu temanmu dikubur, maka sebaiknya segera kau tinggalkan kota ini. Kota ini dan kami semua tak suka pada bau orang-orang kulit berwarna seperti kalian. Sebaiknya anda angkat kaki sebelum teman mu dikuburkan, yang mati tak perlu direnungi…”dan polisi Dallas bertubuh besar itu masih mengomel panjang pendek sambil mencatat-catat dalam notesnya.

Kemudian menyerahkan paspor Si Bungsu yang tadi dia ambil. Perlahan Si Bungsu duduk kembali kekursinya. Kedua polisi itu pergi. Namun Si Bungsu segera melihat polisi itu justru menuju ruang mayat. Ke tempat dimana tadi jenazah Tongky didorong. Dia segera bangkit dan mengikuti kedua polisi itu. Di ujung sana,si polisi berbicara dengan seorang dokter wanita.

Dokter itu membawa kedua polisi itu keruang mayat. Si Bungsu mengikuti dari belakang, begitu masuk ruangan itu, udara terasa sangat dingin, dingin sekali. Ada beberapa ruangan lagi, mereka melewatinya, kemudian masuk ke pintu yang mirip pintu gudang yang dikunci dan tertutup rapat sekali. Begitu masuk Si Bungsu merasa bergidik, tertegak dan ternganga. Ruangan itu sebuah ruangan yang besar, ada empat tidur yang bertingkat-tingkat yang bisa di turun naikan dengan listrik.

Dan ditiap tingkat itu terbaring mayat-mayat! Di bahagian tengah ada gantungan yang mirip gantungan baju. Terbungkus dalam plastik, dan di dalamnya terdapat mayat, bukan baju! Ya, mayat-mayat yang di gantung berderet puluhan jumlahnya. Utuh dalam keadaan telanjang dan kaku. Di gantungkan dengan menjepit kepalanya dengan semacam jepitan besi. “Di bahagian kanan..” kata dokter yang tadi mengantar kedua polisi itu.

Suara dokter itu menyadarkan Si Bungsu, dia segera melangkah mengikuti ketiga orang itu. Di bahagian yang lain, ruang yang di penuhi peti-peti mati, udaranya tak sedingin ruangan yang tadi mereka lewati. Ruangan ini nampaknya bahagian ruang mayat yang akan di kebumikan. Mayat-mayat yang dibuatkan peti mati oleh sanak saudaranya. Sedangkan mayat-mayat sebelumnya adalah mayat-mayat tak di kenal. Yang barangkali di perlukan untuk penelitian ilmiah.

Jumlahnya yang mungkin lebih dari seratusan menunjukan angka kematian yang tinggi dikota berpenduduk sekitar tujuh juta jiwa itu. Tiap hari ada saja yang mati, baik oleh kecelakaan lalu lintas, bunuh diri, perkelahian, sampai korban pembunuhan, perampokan, dan sejenisnya. Mayat yang tak dikenal yang rusak, bahagian-bahagian penting tubuhnya yang penting. Seperti ginjal, jantung, hati atau mata diambil, sisanya di kuburkan. Sementara yang utuh yang tidak ada keluarga mengambil atau mayat-mayat yang tak dikenal sanak kerabatnya, di simpan seperti yang dilihat si Bungsu tadi. “Mana mayatnya?”polisi tadi bertanya. Seorang petugas yang tengah menyiapkan peti mati dengan alas kain satin yang indah berwarna merah jambu, menunjuk kesebuah altar. Di sana mayat Tongky terlihat tergeletak.Di meja-meja yang lain ada sekitar delapan atau sembilan mayat yang masuk lebih belakangan dari mayat tongky menunggu peti dalam ruangan

itu ada delapan orang pekerja, mereka memasukan mayat-mayat kepeti yang sudah tersedia.

Mereka menyiapkan mayat dengan pakaian yang sudah di pesan sesuai permintaan keluarga. Ada yang memakai jas, dasi dan sepatu. Kedua polisi itu berjalan kearah mayat Tongky.Yang seorang mengambil fotonya, kemudian yang seorang lagi memeriksa kantong Tongky. Membalikan mayat itu dengan kasar, memeriksa kantong celananya, mengambil paspor dan mencatat nomornya, dan mengambil jam tangan dan dompet.

“Apakah jam tangan dan dompet itu anda perlukan untuk Bukti?” tiba-tiba ada suara. Mereka menoleh dan dengan heran menampak si’Indonesian’ tadi tegak tidak jauh dari mereka dan amat fasih berbahasa inggris. Polisi itu tak mengacuhkan, memasukan jam Rolex itu ke kantongnya berikut dompet berisi uang yang cukup banyak. “Tuan saya bertanya, apakah kedua benda itu anda perlukan untuk bukti?” “Jahanam menyingkir dari sini atau kuremukan mulutmu…” polisi bertubuh besar yang tadi menenteng tubuh Si Bungsu hingga tertegak dikursinya menyumpah.

Namun si Indonesia itu ternyata tak menyingkir. Dia malah mendekat dengan pandangan mata yang menusuk dingin. “Jika tuan memerlukan benda-benda itu, tuan harus membuat tanda terimanya…” “Jahanam kami tak perlu membuat tanda terima apapun dengan hewan hitam seperti kalian…” Sepi tiba-tiba, anak muda itu melangkah makin mendekat pada polisi itu. “Berikan pada saya tenda terima atas kedua benda yang anda kantongi itu..” katanya perlahan. Habis sudah kesabaran polisi bertubuh besar itu. Dia mencekal leher leher Si Bungsu. Kemudian tangan kirinya menempelang. Namun si Indonesian itu juga sudah habis sabarnya, dia muak perlakuan polisi rasis itu.

Begitu tangan polisi besar itu terayun, dia mengangkat lututnya, menghantam dengan keras selangkangan polisi itu, mata polisi itu mendelik, mulutnya mengatup dengan kuat, tubuhnya menggigil, dia tidak lagi mencengkram baju Si Bungsu, meski tangannya masih disana, lebih tepatnya bergantung kebaju si Indonesian tersebut. Dia bergantung disana agar tak terjatuh kelantai, hantaman lutut itu benar-benar menghancurkan benda diselangkangannya.Temannya yang satu lagi masih sibuk memotret-motret dengan kamera kunonya. Si Bungsu merogoh kantong polisi itu, mengambil barang tongky tadi dan memasukannya kekantong dia sendiri. Dan waktu itulah baru disadari polisi yang memotret itu kalau ada sesuatu yang tak beres dengan temanya yang dahinya berkerinyut itu.

“Hei George, ada apa…?” Polisi itu menggeleng, matanya berair, dia ingin meraih pistolnya. Namun setiap anggota tubuhnya digerakan terasa ngilu, kawannya mendekat. Polisi yang dipanggil George itu mendesis. “Jahanam itu menghantam selangkang ku…” Polisi yang bertustel itu sadar apa yang terjadi. Tustel dia letakan dan segera dia merenggut tangan Si Bungsu. Namun tangan yang bermaksud merenggut itu di cekal Si Bungsu. Dan…Ketika renggutan itu membuat tubuh polisi itu doyong sedikit, kakinya dia sapukan dengan sebuah sapuan silat yang telak. Tak pelak polisi itu terjatuh dengan hidung menghantam ubin! prakkk! Beberapa detik dia tertelungkup.

Ketika mencoba bangkit, kepalanya pusing tujuh keliling, darah mengucur dengan deras dari hidungnya yang remuk! Si Bungsu tegak dengan diam dua depa dari mereka, menatap petugas itu dengan tenang. Kedua polisi itu bangkit. Para petugas yang menyiapkan mayat dan dokter yang ada disana menyingkir ketepi dengan wajah tegang. “Jahanam, kubunuh kau bersama dengan Negrro busuk…” Ucapan polisi itu terhenti oleh tendangan Si Bungsu yang tepat di dagunya, polisi itu tercampak. Menggelepar dan pingsan! yang seorang lagi meraih pistol. Si Bungsu menoleh kepada petugas rumah sakit itu, juga pada dokter cantik yang tegak melongo. “Anda menjadi saksi, mereka yang mulai menyerang saya..”katanya dengan tenang.

Dokter cantik itu menjerit melihat pistol ditangan polisi itu terarah pada Si Bungsu yang masih saja tak mengacuhkannya. Dan Si Bungsu, yang telah pulih kembali naluri rimbanya, mendengar dengan jelas pelatuk pistol yang ditarik. Dan hanya berbeda dua detik dari letusan pistol itu, dia lebih duluan membalik dan mengayun tangan kanannya! Dua bilah samurai kecil lepas dari tangannya. Menghantam leher dan dada polisi yang tengah menembak itu! Pistolnya meledak, pelurunya menghantam loteng, kemudian polisi itu rubuh! Si Bungsu kembali menoleh pada para petugas Dallas Central Hospital itu, dan dengan tenang berkata :

‘’Anda jadi saksi, saya hanya membela diri’’

Lalu dia memberi isyarat agar mengerjakan segera mayat Tongky. Dengan gugup petugas itu melaksanakan perintahnya. Saat itu terdengar ada yang berkata ;

‘’Anda mencari bencana, Tuan. Anda melawan Polisi Dallas. Anda melawan kawah gunung merapi..’’

Si Bungsu menoleh pada yang bicara itu. Dan yang bicara itu adalah dokter wanita cantik yang tadi mengantar kedua polisi ke ruangan ini.

‘’Anda membunuh mereka…’’ kata dokter itu lagi.

Si Bungsu masih tak menjawab. Namun tak lama kemudian, salah seorang dari polisi itu, yaitu yang bertubuh besar, yang kena hantam hingga pingsan, mulai bergerak.

‘’Dia dan temannya itu takkan mati. Yang kena tikam pisau itu hanya pingsan untuk jangka waktu dua atau tiga jam. Dia akan segera sadar..’’ ujar Si Bungsu pelan sambil mendekati polisi yang tak bergerak itu.

Mencabut samurai kecil di leher dan di dada di polisi itu. Dia memang tak berniat membunuh polisi tersebut. Kalau mau, dengan mudah dia bisa melakukan. Dia hanya merasa muak atas perlakuan mereka. Yang merasa super menjadi orang putih. Yang amat menghina orang kulit berwarna. Kebenciannya pada orang kulit berwarna tergambar dalam ucapan dan perlakuannya ketika memeriksa mayat Tongky.

Mereka tidak hanya memperlakukan mayat itu secara tak sopan, tetapi juga berniat merampok dompetnya yang berisi uang dan jam tangan rolexnya! Itulah yang membuat mual Si Bungsu, dan yang membuat amarahnya tak terkendalikan. Ketika polisi yang satu akhirnya sadar, dia mendapatkan dirinya telah terborgol bersama temannya yang masih pingsan dengan leher dan dada berdarah. Si polisi menyumpah- nyumpah mendapatkan dirinya dilumpuhkan begitu. ‘’Jahanam, kau akan mendapat pembalasan..’’ sumpahnya pada Si Bungsu.

Si Bungsu tak mengacuhkan. Namun suasana segera berubah, tatkala tiba-tiba dari arah mereka masuk tadi terdengar derap sepatu. Seorang dokter lelaki kelihatan masuk, dan di belakangnya ada dua orang polisi yang seragamnya persis seperti dua polisi yang dilumpuhkan Si Bungsu. Si Bungsu tahu, dia harus melawan atau masuk bui. Daerah ini kelihatannya amat keras dan tak menyukai orang-orang kulit berwarna, terutama orang negro.

Makanya dia bersandar ke dinding, menatap dengan diam pada polisi yang datang itu. Dia akan melihat situasi, kalau kedua polisi itu cukup sopan, dia akan melayaninya baik-baik. Tapi kalau mereka kasar seperti kedua polisi yang terdahulu itu, maka dia juga akan melayaninya menurut selera mereka. Ah, jauh-jauh datang dari Minangkabau, alangkah memalukannya kalau hanya takut melawan polisi yang zalim. Apalagi jumlahnya hanya dua orang. Bukankah dulu ketika di Tokyo dia juga pernah menghadapi tentara Amerika? Tentara Amerika yang hendak memperkosa Michiko. Dua tentara yang sombong, dan keduanya dia sudahi nyawanya!

Dia sudah datang di kota belantara ini. Dalam tiap belantara, berkeliaran mahluk-mahluk buas. Dia sudah diberi ingat ketika masih di Singapura akan hal itu oleh teman-temannya. Kedua polisi itu menatap Si Bungsu. Menatap pada dua polisi yang tergeletak berlumur darah dan tangannya diborgol di lantai. Si Bungsu menatap dengan diam. Polisi itu menatap mayat Tongky. Kemudian menatap Si Bungsu.

‘’Maaf, Tuan, kami dari Kepolisian Dallas, apakah Tuan yang meninggal tertembak ini teman Tuan?’’

Si Bungsu buat sesaat tak bisa menjawab oleh sikap yang sopan itu. Tak ada nada permusuhan. Tak ada nada kebencian terhadap kulit berwarna. Kedua polisi itu justru menyebut ‘Tuan’ pada mayat Tongky.

‘’Ya, saya temannya…’’ ujar Si Bungsu akhirnya.

Namun dia masih tetap waspada. Kedua polisi itu mendekati temannya yang tergeletak. Si Bungsu jadi kaget tatkala mendengar dialog polisi yang baru datang itu :

‘’Jahanam! Kau merusak nama korps kami. Kini kau rasakan akibatnya. Kalian para bandit haus darah!

Kalian akan dihukum tanpa proses verbal!’’

‘’Kawan-kawan kami akan membebaskan kami’’ ujar polisi yang tergeletak itu sambil nyengir.

Dua orang polisi lainnnya segera hadir dalam kamar mayat itu. Dan kedua polisi yang baru datang itu segera diperintahkan untuk menyeret dua polisi yang dilumpuhkan Si Bungsu. Si Bungsu tak mengerti apa sebenarnya yang terjadi. Apakah ada komplotan dalam tubuh kepolisian Dallas? Kedua polisi itu kembali melakukan hal yang tadi dilakukan oleh polisi terdahulu. Mencatat nama dan identitas Tongky dan Si Bungsu. ‘’Maaf, kami datang terlambat ke hotel dimana kejadian ini berlangsung. Soalnya mereka telah

merencanakan pembunuhan ini dengan baik..’’ ‘’Merencanakan?’’ kata Si Bungsu heran. ‘’Ya, mereka. Anda tak tahu?’’

Si Bungsu menggeleng.

‘’Mereka dari kelompok gerombolan Klu Klux Klan, Anda tak tahu?’’ Si Bungsu kembali menggeleng.

‘’Anda tak tahu bahwa ini direncanakan atau Anda tak tahu apa-apa tentang Klu Klux Klan?’’

‘’Kedua-duanya. Saya tak tahu untuk apa organisasi itu merencanakan pembunuhan teman saya..’’ Kedua polisi itu saling pandang. Kemudian menarik nafas panjang.

‘’Kawanmu ini, Tuan, dibunuh oleh suatu kelompok orang-orang yang haus akan darah negro. Mereka adalah kelompok iblis yang sebenarnya. Negeri ini, dan hampir semua negeri di selatan ini, kini tengah dilanda oleh kerusuhan rasial yang paling buruk. Kau akan melihatnya nanti… Kawanmu ini mati karena koran ini…’’ ujar polisi itu memperlihatkan sebuah koran.

Koran itu sama dengan koran yang mereka baca tadi pagi di hotel: Pioneer! Di halaman satu ada foto Tongky. Sedang duduk diruang tunggu lapangan di Mexico City. Kakinya ke atas meja, di depannya ada piring bekas goreng ayam. Tongky tersenyum. Foto itu jelas diambil fotografer kawakan dengan memakai telelens. Pioneer menceritakan tentang betapa Tongky menyelamatkan pesawat itu.

‘’Kenapa dengan koran itu?’’ tanya Si Bungsu tak mengerti. ‘’Koran ini menjadikan kawanmu pahlawanan, Tuan’’ ‘’Lantas?’’

‘’Cerita itulah yang menyebabkan kematiannya’’ ‘’Saya tak mengerti…’’

‘’Tuan, seperti yang saya katakan, kedua polisi tadi adalah polisi gadungan. Mereka merencanakan pembunuhan temanmu ini. Mula-mula mereka membaca koran pagi, bahwa ada seorang negro yang jadi pahlawan. Menyelamatkan puluhan penumpang. Pemerintah Amerika dan rakyatnya tentu saja bangga dan menganggap temanmu itu pahlawan. Hal itu menyakitkan hati anggota Klu Klux Klan, orang kulit putih yang anti negro! Karenanya mereka lalu memutuskan untuk membunuh negro yang dianggap pahlawan ini. Mereka memiliki hampir semuanya, senjata, uang, dan koneksi. Mereka memiliki uniform polisi, tentara atau bahkan pakaian kerajaan…’’

Hujan turun rintik-rintik tatkala seorang pendeta berjubah hitam membacakan doanya. Karangan bunga kelihatan menumpuk di pusara itu. Ada sekitar dua puluh orang lelaki perempuan yang hadir dalam upacara penguburan Tongky. Kesemuanya orang-orang yang dibayar. Inilah kehidupan di kota belantara. Untuk hadir di pemakaman, orang bisa diupah. Semuanya hadir dengan pakaian berkabung.

Wajahnya sendu, kepala menunduk menatap bumi. Dan mereka tak beranjak, tidak pula berucap sepatahpun meski hujan turun gerimis.

Setelah pendeta membaca doa, satu persatu mereka melangkah meninggalkan komplek pemakaman. Berlalu dengan langkah yang tak tergesa-gesa. Betapapun, Si Bungsu merasa agak terhibur atas pelaksanaan pemakaman temannya itu. Dia tinggal sendiri di pemakaman itu. Dengan mantel hujan tebal menutupi tubuhnya. Sebuah topi stetson merek Morris di kepala.

Dia mirip detektif yang tengah menatap pusara dengan lima atau enam karangan bunga.Karangan bunga yang dipesan atas uang yang dia serahkan pada dokter di rumah sakit tadi pagi. Senjapun turun ketika dia jongkok dekat pusara temannya itu. Dia ingin bicara, tapi tak ada suaranya yang keluar. Bersama mereka dari Singapura, kini ketika hari pertamanya di sini, kawannya ini pergi mendahuluinya. Kawannya itu datang kemari untuk menemaninya mencari Michiko. Dan ternyata dia mengorbankan nyawanya. Akan dia beritahukah Fabian dan kawan-kawan eks pasukan baret hijau di Singapura? Belum ada simpulan yang dia ambil. ‘’Aku akan balaskan kematianmu, kawan… Aku bersumpah untuk membalaskan kematianmu…’’ akhirnya terdengar juga ucapan separuh berbisik dari mulut Si Bungsu.