Tikam Samurai Si Bungsu Episode 4.5

Michiko menyilangkan samurai di depan dadanya. Tangan Cina itu tiba-tiba bergerak dan seperti menyambar ke arah Michiko. Michiko dengan tetap tegak memegang samurai melangkah surut. Dia yakin dalam jarak demikian, cakaran Cina itu tak bakal mengenai tubuhnya. Namun dia merasa mendengar suara kain robek. Dia melihat ke dadanya. Wajahnya jadi pucat. Bajunya robek tentang dada! Kutangnya kelihatan ketat menahan dadanya yang membusung! Si babah gemuk tertegak. Matanya melotot menatap dada Michiko. Michiko menggertakkan gigi. Seharusnya tangannya menutup dadanya. Tapi itu tak dia lakukan.

Dia tak mau kehilangan konsentrasi atas samurainya dengan melepaskan salah satu tangannya dari gagang samurai itu. Tangan Cina itu gentanyangan lagi. Seperti memukul bolak balik. Kini rok Michiko robek! Tergantung-gantung. Menampakkan pahanya yang putih dan celana dalamnya yang berwarna merah jambu! Michiko masih tegak dengan diam dan bersandar ke dinding. Dia tak perduli berpakaian atau tidak. Pokoknya dia tak mau melepaskan samurainya. Dia akan mempertahankan kehormatannya dengan itu. Si babah melangkah ke depan. Ingin melihat lebih jelas tubuh Michiko. Michiko tegak dengan kukuh.

Cina itu menggerakkan tangannya lagi. Waktu itulah Michiko menggulingkan tubuhnya ke lantai. Bergulingan cepat ke depan sambil menebaskan samurainya seperti kitiran angin ke arah kaki Cina kurus itu. Namun Cina itu seperti sudah sangat arif.

Tubuhnya melenting ke atas namun samurai michiko lebih dulu membelah tubuh nya menjadi dua, dan ketika michiko memandang ke babah gemuk itu dia sudah berada di pintu siap melarikan diri. Namun tiba-tiba dari belakang tubuhnya dia merasakan sesuatu menikam tubuhnya hingga tembus ke dadanya. Babah cina itu mati di karenakan tidak bisa menahan napsu bejat nya terhadap perempuan..!

Michiko memandang ke arah yang ditunjukkan Sersan itu. Dia melihat rumah hijau yang ditunjukkan tersebut. Di depannya dia melihat sepeleton tentara tengah bersiap-siap untuk berangkat. Ada yang memakai topi baja. Ada yang memakai baret kuning tua. Harapannya untuk segera tiba di Minangkabau timbul lagi.

”Terimakasih. Bapak baik sekali. Saya takkan melupakannya…” katanya pada Sersan Mayor itu. ”Ah, saya tak membantu apa-apa Nona. Saya hanya menunjukkan jalan. Barangkali saja Nona bisa ikut. Saya doakan….”

”Terimakasih….” ujar Michiko sambil mengulurkan tangan.

Sersan itu tersenyum dan menyambut salam Michiko. Gadis itu menenteng buntalan pakaiannya menuju ke rumah hijau itu. Kehadirannya di sana jelas saja menarik perhatian. Tentara yang ada di depan rumah itu terdiri dari pasukan-pasukan PGT dan tentara Infantri. ”Bisa kami membantu Nona?” seorang letnan bertanya. ”Terimakasih. Saya ingin ikut ke Sumatera Barat. Ke Padang. Dapatkah saya bertemu dengan pimpinan

Tuan?”

”Akan ke Padang?” ”Ya, kalau bisa…”

”Silahkan masuk. Komandan ada di kamar nomor dua itu…”

Si Letnan menunjukkan kepada Michiko tempat yang di maksud. Gadis itu masuk, diantar oleh si Letnan. Letnan itu mengetuk pintu. Ketika ada suara menyuruh masuk, Letnan itu masuk duluan. Menutupkan pintu di belakangnya. Michiko menanti di luar. Tak lama kemudian Letnan itu keluar lagi.

”Silahkan….” Michiko masuk. Di dalam kamar itu ada beberapa orang tentara. Seorang Mayor duduk di balik sebuah meja. ”Selamat siang…” kata Michiko.

Mayor itu menanggalkan kacamatanya.

”Oh, ya. Silahkan duduk. Silahkan…” suaranya terdengar ramah. Michiko mengambil tempat duduk.

”Ada yang bisa kami bantu untuk Nona?”

”Saya ingin ke Padang. Dua hari yang lalu saya telah mendaftarkan diri di penerbangan sipil. Ternyata penerbangan hari ini dibatalkan.

Dari bahagian penerbangan sipil itu saya mendapat informasi bahwa ada pesawat militer yang akan berangkat siang ini ke sana. Saya berharap bisa ikut dengan pesawat itu…”

”Ya. Memang ada pesawat militer yang akan ke sana. Maaf, apakah Nona ada membawa surat keterangan?”

”Ada…” Michiko lalu membuka sebuah tas kecil. Mengeluarkan pasport, visa dan beberapa surat keterangan lainnya. Lalu menyerahkan pada Mayor itu.

”Anda seorang turis?”

”Ya” ”Aneh. Maaf, maksud saya, adalah sesuatu yang agak luar biasa kalau memilih Sumatera Barat sebagai tempat melancong dalam situasi yang begini. Negeri itu sebenarnya memang negeri yang indah, Nona. Gunung berjejer. Sawah berjenjang. Ada ngarai dan air terjun. Bunga mekar sepanjang tahun. Tapi saat ini masih bergolak. Kalau saya boleh menyarankan, barangkali bisa memilih Bali atau Danau Toba. Yaitu kalau ingin sekedar jalan-jalan….” Michiko menunduk.

”Ada seseorang yang saya cari di sana, Mayor….” akhirnya dia membuka kartu.

”Nah. Saya sebenarnya telah menduga hal itu. Kalau demikian lain persoalan. Apakah dia seorang yang telah lama di Sumatera Barat?”

”Dahulu dia dilahirkan di sana. Tapi saya mengenalnya di Jepang. Dia baru datang dari Australia.

Barangkali baru sepekan dua ini….” ”Dari Jepang dan Australia?”

”Ya” Mayor itu mengerutkan kening. Menatap pada Michiko seperti menyelidik. ”Apakah dia bekas seorang sahabat?” tanyanya.

Michiko ragu, tapi kemudian mengangguk. ”Seorang pemuda?”

Michiko tak menjawab.

”Maaf. Saya hanya ingin memudahkan urusan Nona” ujar Mayor itu ramah. ”Ya. Dia seorang pemuda…”

Mayor itu mengangguk maklum. Kemudian menoleh pada seorang staf yang duduk di meja di kanannya. Mengatakan sesuatu. Stafnya itu, seorang letnan, lalu berdiri. Membuka sebuah lemari yang dipenuhi laci-laci. Melihat sederatan map yang diberi kode bernomor-nomor. Mengambil sebuah di antaranya. Map berwarna biru. Menyerahkannya pada Mayor tersebut yang lalu membuka map tersebut. Menatap sebuah halaman berfoto. Kemudian menatap kembali pada Michiko.

”Pemuda itu bernama Bungsu?”

Ujar Mayor itu perlahan. Michiko kaget. Jantungnya seperti berhenti berdegup. ”Apakah memang benar dia orang yang Nona cari?”

Michiko masih belum bisa bersuara. Namun akhirnya dia mengangguk dan balik bertanya. ”Apakah dia memang berada di Sumatera Barat?”

”Ya, dia memang kembali ke sana. Dulu dia juga menompang pesawat khusus yang mengangkut militer. Pesawat Hercules yang sebentar lagi akan berangkat. Maaf, ini fotonya, bukan?” Mayor itu memperlihatkan map tersebut.

Michiko melihat foto Si Bungsu di sana.

”Ya…” katanya antara terdengar dan tidak, sementara jantungnya berdegub kencang melihat foto itu. Mayor itu menarik nafas panjang. Menutup map di tangannya.

”Saya tidak tahu apa maksud Nona mencarinya, mudah-mudahan untuk kebaikan kalian berdua. Kalau benar dia yang ingin Nona temui di daerah bergolak itu, Nona bisa ikut dengan pesawat militer yang akan berangkat sebentar lagi…” ujar Mayor itu akhirnya.

Michiko menarik nafas lega. Dan siang itu dia memang berangkat dengan pesawat Hercules menuju Padang. Ikut bersama prajurit-prajurit PGT dan Infantri yang akan betugas di sana. Bahkan sesampai di Padang dia mendapat tompangan dengan jip militer yang kebetulan langsung ke Bukittinggi dari lapangan Tabing. Jip militer itu mengantarkannya sampai ke Hotel Indonesia, di daerah Stasiun Kota Bukittinggi. Disanalah dia menginap, sambil mencari informasi di mana Si Bungsu, musuh besarnya!

---0000---

Pagi itu, ketika Si Bungsu keluar hotel, setelah subuh tadi didatangi mimpi yang amat menakutkan, di hotel yang sama Michiko memang telah lebih dahulu keluar. Gadis itu menikmati udara pagi yang amat sejuk. Hari itu hari Sabtu. Hari dimana pasar besar di kota tersebut. Dari hotel Michiko berjalan perlahan ke arah pasar. Hari masih pagi benar. Embun masih menebarkan dirinya seperti awan tipis. Menggantung rendah di permukaan bumi. Tapi orang sudah ramai. Berjalan bergegas. Ada yang menjunjung bakul di kepala. Ada yang menolak gerobak beroda satu yang sarat oleh sayur-sayuran. Semua bergegas seperti memburu sesuatu. Beberapa orang di antara mereka menoleh pada Michiko. Barangkali merasa sedikit heran melihat seorang gadis berjalan sendirian di pagi buta begitu. Sesuatu yang kurang lazim di kota tersebut.

Pagi itu Si Bungsu mengurungkan niatnya untuk pulang ke Situjuh. Kedatangan Michiko merobah niatnya itu. Apapun maksud kedatangan gadis itu, satu hal adalah pasti. Yaitu mencari dirinya. Dan dia tahu, bahwa gadis itu akan menuntut balas kematian ayahnya. Dia tak boleh pergi. Betapapun hebatnya kepandaian gadis itu, seperti halnya dalam mimpi malam tadi, misalnya, namun dia tak boleh meninggalkannya. Itu bisa dianggap melarikan diri. Melarikan diri? Hm, apakah dia sudah demikian penakutnya, sehingga harus melarikan diri dari seorang perempuan? Namun satu hal pasti pula, dahulu dialah yang memburu lawannya. Kini kejadiannya jadi terbalik. Dialah yang diburu. Dia tak boleh melarikan diri. Dia tak mencek lagi pada petugas hotel tentang kebenaran menginapnya Michiko di hotel itu.

Hal itu tak perlu dicek lagi. Petugas hotel itu telah mengatakan dengan tepat tentang nama dan ciri-ciri gadis itu. Petugas itu tak mungkin berkhayal atau mengada-ada. Sebab dia tak pernah berjumpa dengan Michiko. Lagipula, firasat Si Bungsu mengatakan dengan pasti, bahwa gadis itu memang ada di kota ini. Dia pergi ke rumah makan di seberang Hotel Indonesia itu. Rumah makan yang letaknya persis di depan stasiun dan di persimpangan Jalan Melati. Memesan secangkir kopi dan sepiring ketan dan goreng pisang. Mengambil tempat duduk yang menghadap langsung ke jalan raya. Perlahan dia menghirup kopi. Mengunyah pisang dan ketan gorengnya. Matanya yang setajam mata burung rajawali sesekali menyapu jalan di depan restoran itu. Memandang ke arah kanan, ke jalan yang melintang menuju Simpang Kangkung. Memandang ke stasiun yang ramai oleh manusia.

Dia tak perlu menanyakan apa warna pakaian yang dipakai Michiko pagi ini. Itu tak diperlukan. Informasi tentang ciri-ciri itu hanya diperlukan bagi orang yang tak pernah dia kenali. Tentang Michiko, hmm, meskipun dia berdiri antara sejuta perempuan, dia segera akan mengenalinya. Namun sampai habis kopi, ketan dan goreng pisang di piringnya, gadis itu tak pernah dia lihat. Dari rumah makan itu dia juga bisa mengawasi jalan yang ada di depan hotel yang menuju ke selatan. Ke Tangsi Militer di Birugo. Gadis itu tak juga muncul. Akhirnya dia membayar minumannya. Kemudian perlahan melangkah keluar.

Di luar, dia menghirup udara pagi yang segar. Kemudian dia melangkah ke jalan raya. Semula dia berniat untuk ke stasiun. Sekedar melihat orang-orang yang akan berangkat. Tapi aneh, mimpinya malam tadi, perkelahian dengan Michiko di stasiun itu, tiba-tiba saja membuat langkahnya terhenti. Kemudian dia memutar langkah menuju pasar. Takutkah dia ke stasiun?

Apa yang harus di takutkan. Tapi seperti ada perasaan yang mendorongnya untuk tak datang kestasiun itu. Semacam was-was,untuk pertama kalinya sejak keluar dari hotel tadi dia menyadari, bahwa dia tak membawa samurainya! secara reflek pula, tangannya meraba lengannya. Disana selalu terselip enam buah samurai kecil, tiga di tangan kanan tiga di tangan kiri yang di sisipkan pada sebuah sabuk yang terbuat dari kulit tipis.

Samurai yang bisa diturunkan dengan sedikit gerakan khusus, siap dilemparkan secepat anak panah, Namun kini ternyata semua tak dia bawa. Dia mencoba mengingat kenapa tak satupun senjata-senjata itu dia bawa, apakah dia terlalu terburu-buru? tak ada jawaban yang di peroleh. Akhirnya dia kembali berjalan menuju ke arah Panorama. Sementara pikirannya menerawang, bagai mana kalau keadaan seperti ini artinya ketika dia tanpa senjata sama sekali lalu bertemu dengan Michiko. Kemudian gadis itu menyerangnya untuk membalas dendam.

Dia memang menguasai judo dan karate yang pernah diajarkan Kenji, tapi judo dan karate melawan samurai! Ah, suatu pekerjaan yang sia-sia betapapun hebatnya seseorang menguasai ilmu judo dan karate namun menghadapi senjata tajam seperti samurai, apalagi bila samurai itu di pegang orang yang sangat mahir, sama saja dengan bunuh diri. Ah, pikirannya di penuhi terus dengan pertarungan melawan Michiko. Apakah dia memang benar-benar takut menghadapi gadis itu.? Apakah gadis itu benar-benar telah demikian hebatnya kini, sehingga dia merasa begitu takut? bukankah dia tak pernah lagi dengan gadis itu sejak peristiwa pamakaman Saburo Matsuyama di kuil shimogamo dahulu?

Namun perasaannya mengatakan, bahwa gadis itu kini memang memilki kepandaian yang jauh lebih tinggi. Sudah bertahun masa berlalu, Michiko terus mempersiapkan diri dengan matang. Kalau tidak, takkan berani dia datang sejauh ini. Gadis itu sudah paham siapa lawan yang akan dihadapinya.

Di Panorama, ketika dia tegak memandang ke ngarai yang masih berkabut, ketika matanya memandang jauh ke Gunung Singgalang yang tegak seperti seorang tua menjaga negeri ini dengan perkasanya, sebuah pikiran menyelinap ke hati Si Bungsu. Dia harus pulang ke Situjuh Ladang Laweh untuk Ziarah ke makam Ayah dan ibunya. Dia ingin mengatakan, bahwa dendam mereka telah dibalaskan. Dia ingin membakar kemenyan dipusara mereka. Memanjatkan Doa itu niat utama nya. Kini kenapa dia harus menanti Michiko? Dan kalau saja Gadis itu tidak mau berdamai dan memang benar-benar ingin menuntut balas, dan kalau benar kepandaianya sudah demikian tingginya, hingga tak mampu dia melawannya, itu berarti maut akan menjemputnya sebelum dia sempat Ziarah ke makam ayah, Ibu dan kakaknya, perjalanan jauh selama ini alangkah sia-sia.

Tidak, hal itu tidak boleh terjadi. Dia harus cepat-cepat pulang ke kampungnya. Tak peduli apakah dia akan dicap penakut karena melarikan diri dari Michiko, setelah ziarah dia tak perduli, soal dilayani atau tidak tantangan Michiko itu soal lain. Pokoknya dia harus ziarah, dengan pikiran demikian lalu dia melangkah lagi kearah hotelnya. Dia akan pulang dengan kereta api pagi ini. Namun ketika kakinya menjejak halaman hotel hatinya berdebar kencang sudah tibakah gadis itu dihotel? Di ruang tamu, pelayan yang tadi mengatakan padanya tentang kehadiran Michiko kelihatan tengah menulis di buku tamu.

“Hai, ini dia bapak itu..!”pelayan itu berseru, Si Bungsu hampir terlonjak. Darahnya hampir berhenti berdenyut, jantungnya hampir berhenti berdetak. Ternyata gadis itu telah ada dihotel pikirnya, bibirnya tiba- tiba kering.

“Ada apa?” tanyanya setelah sejenak berdiam diri

“Tidak, saya gembira Bapak sehat-sehat saja….”jawab pelayan itu.

Srrr! Darah Si Bungsu berdesir kaget, ucapan pelayan itu seperti menyindirnya. ‘sehat-sehat saja‘ bukankah itu suatu sindiran langsung, bahwa pelayan itu mengatakan kalau dia takkan ‘sehat-sehat saja’ kalau telah berhadapan dengan Michiko? apakah pelayan ini telah tahu maksud kedatangan Michiko untuk membalas dendam padanya?

“Dia belum pulang pak, tunggu saja sebentar lagi….”pelayan itu berkata seperti orang berbisik. Si Bungsu menyumpah-nyumpah dalam hatinya. Jelas yang dimaksud pelayan itu adalah Michiko. Ternyata gadis itu belum pulang kehotel, hatinya sedikit lega, dia melangkah kedalam kamarnya.

“Saya berangkat hari ini…”katanya sambil menerima kunci. “Siang atau sore pak?..”

“Pagi ini..” “Pagi ini?”

“Ya…” “Ah, jangan terburu-buru pak….”Tapi Si Bungsu mengacuhkannya.

Dia membuka pintu kamar dan melirik ke kamar sebelah, kekamar yang dihuni oleh Michiko. Kamar itu masih tertutup dan terkunci, dia mengemasi barang-barangnya lalu membayar sewa hotel.

“Bapak akan kemari lagi, bukan?” tanya pelayan itu. Si Bungsu tidak menjawab, dia menjinjing tas kecil yang berisi pakaian, kemudian berangkat ke stasiun. Di stasiun gebalau orang-orang ramai terdengar seperti lebah. Dia membali karcis.

“Masuklah Pak, sebentar lagi kereta berangkat” kata penjual karcis.

Si Bungsu belum sempat mengangguk ketika peluit panjang berbunyi. Tanda kereta akan berangkat. Dia melangkah ke peron. Menyeruak di antara orang-orang ramai. Masuk ke kereta. Ketika dia terduduk di bangkunya, hatinya terasa agak lega. Kereta itupun mulai bergerak. Suaranya mendesis, gemuruh. Angin dari sawah dari kampung Tengah Sawah yang berada di seberang stasiun menampar-nampar wajahnya.

Perasaan tenteram menyelusup ke hatinya. Dia menarik nafas panjang. Rasanya lega benar meninggalkan kota ini. Makin cepat makin baik. Ah, demikian takutnya kah anak muda ini pada Michiko? Apakah mimpinya malam tadi membuat hatinya jadi goyah? Tak ada yang tahu dengan pasti. Namun memang benar, bahwa hatinya amat lega dapat cepat-cepat meninggalkan kota itu. Entah mengapa, hatinya amat lega bisa cepat-cepat naik kereta api menuju Payakumbuh, untuk ziarah ke makam keluarganya. Kereta berlari terus. Saat itu telah melewati sawah-sawah yang membentang di Tanjung Alam. Saat itu pula, di bahagian Belakang, di antara para penompang yang duduk bersesak di gerbong tiga, empat orang lelaki saling berbisik. Kemudian mereka mulai berdiri. Dua orang berjalan ke depan. Dua orang lagi melihat-lihat situasi. Sepuluh menit kemudian mereka berkumpul lagi di gerbong tiga. Kembali berbisik-bisik.

”Ada dua orang polisi di gerbong dua dan seorang di gerbong satu,” bisik yang seorang. ”Mereka membawa bedil?” tanya yang seorang dengan tetap berbisik.

”Seorang pakai pistol, dua lainnya berbedil panjang….” bisik yang seorang lagi.

Keempat lelaki itu berunding lagi dengan saling berbisik. Penompang-penompang melihat dengan diam. Tak seorangpun tahu apa yang diperbisikkan mereka di antara deru roda kereta api itu. Namun ada salah seorang di antara polisi menjadi curiga. Dia melihat dua orang lelaki bertampang kasar mondar-mandir dari gerbong dua ke gerbong satu. Dengan tidak menimbulkan kecurigaan, dia memperhatikan perangai kedua lelaki itu. Mereka nampaknya seperti memperhatikan penompang satu demi satu. Memang tak begitu kentara. Tapi sebagai seorang polisi, dia dapat menangkap maksud tak baik dari gerak gerik kedua lelaki itu.

Ketika kedua lelaki itu bergabung dengan temannya di gerbong tiga, diam-diam polisi itu membuntutinya, lalu melihat dari kejauhan. Tiba-tiba dia seperti teringat pada seseorang. Dia seperti mengenal lelaki bertubuh besar yang tengah berbisik-bisik dengan tiga orang temannya itu. Dia coba mengingat-ingat. Ketika dia teringat siapa lelaki itu, polisi tersebut segera menemui temannya yang duduk di sebelahnya tadi, lalu berbisik. Polisi yang seorang itu tertegun.

”Tak ada teman-teman alat negara lainnya di dalam kereta ini?” bisiknya.

”Di gerbong dua ini hanya kita berdua. Di gerbong tiga tak ada seorangpun. Saya tak tahu apakah ada alat negara lainnya di gerbong satu.”

”Biasanya ada pengawalan tentara. Biar saya lihat, engkau tunggu di sini….” ujar polisi itu seraya tegak. Dia segera menuju gerbong satu. Benar, di sana tak ada tentara seorangpun. Dia hanya bertemu dengan seorang polisi lagi berpangkat Komandan Muda. Setelah memberi hormat dia berbisik pada polisi yang memakai tanda pangkat dari aluminium dengan dua setengah garis di kelepak bajunya itu. Polisi itu tegak, lalu sama-sama menuju ke gerbong dua. Bergabung dengan polisi yang tadi mengintai ke empat lelaki di gerbong

tiga itu.

”Apakah pasti dia Datuk Hitam?” tanya komandan muda itu.

”Benar pak. Saya yakin itu pasti dia. Ada akar bahar melilit di lengan kanannya. Ada codet tanda luka di pipi kirinya. Nampaknya dia mengatur sesuatu bersama tiga temannya di Gerbong tiga.”

”Dia berbahaya. Apakah kita akan bisa menangkapnya?” ”Kita pasti bisa, Pak…”

”Barangkali bisa. Tapi akan banyak jatuh korban di antara penumpang”

Kemungkinan terjadinya hal terburuk itu, yaitu jatuhnya korban di antara penumpang menyebabkan para polisi itu berunding mencari jalan terbaik. Bagaimana penumpang tidak menjadi korban, tapi datuk kalera itu bisa diringkus. Kalau melawan dibunuh saja sekalian. Kereta api meluncur terus. Saat itu sudah hampir sampai di Stasiun Baso. Ketiga polisi itu duduk kembali. Mereka tak ingin rencana mereka diketahui oleh kawanan Datuk Hitam itu. Ya, lelaki yang sedang berencana dengan ketiga temannya itu memang benar Datuk Hitam. Lelaki yang dulu akan merampas uang yang diberikan oleh Si Bungsu pada Reno dan suaminya yang tukang saluang di Los Galuang. Datuk itu adalah seorang penjahat yang baru pulang dari Betawi.

Di ibukota sana dia juga dikenal sebagai pemakan masak matah. Sebenarnya dia tidak bergelar datuk. Dia bukan pula ninik mamak. Tapi karena tubuhnya hitam dan dia kepala begal, maka orang memanggilnya sebagai Datuak Hitam. Semacam sindiran, datuk dari dunia hitam. Kini dialah yang berada di kereta api itu. Kereta memasuki Desa Baso. Polisi itu menyebar ke pintu. Namun mereka terkejut. Penompang-penompang juga heran. Kereta tak dilambatkan oleh masinis, tapi meluncur terus melewati Baso.

”Celaka, ada yang tak beres pada masinis…”

Bisik polisi yang berpangkat komandan muda, dia bergegas menemui temannya. ”Ayo ke depan, temui masinis…” katanya.

”Masinis di belakang…” kata polisi yang seorang. ”Di belakang..?”

”Ya, lokomotifnya berada di belakang, nampaknya kereta ini datang dari Padang Panjang. Biasanya di Bukittinggi kepalanya ditukar, diletakkan di depan. Tapi yang satu ini nampaknya tidak….”

”Kalau begitu mereka telah mengancam masinis….” kata komandan muda itu. Ucapan polisi itu ternyata benar. Kawanan Datuk Hitam itu rupanya mengetahui bahwa rencana mereka dicium oleh beberapa polisi yang ada dalam kereta api tersebut. Maka salah seorang di antara mereka segera disuruh Datuk Hitam untuk menyergap masinis.

”Jalankan kereta terus…” seorang lelaki bertubuh besar mengancam si masinis.

Masinis itu menyangka orang ini bagarah. Dia sudah memperlahan kereta ketika akan memasuki Baso.

Tapi sebuah tikaman di lengannya membuat dia terpekik.

”Saya akan tikam jantungmu, kalau kau tak mengikuti perintah saya….” lelaki itu mengancam. Si masinis yakin bahwa orang ini memang tak main-main. Dia jadi kecut, lalu kembali mempercepat keretanya. Orang- orang yang sudah berkumpul di Stasiun Baso merasa heran ketika melihat kereta itu tiba-tiba menambah kecepatan. Lalu semua pada berseru, ketika kereta itu lewat di depan mereka dengan kecepatan yang dipertinggi.

”Tarik rem bahaya….” komandan muda itu berseru.

Dua orang di antara polisi segera menjangkau ke atas mencari tempat rem bahaya. Namun saat itu pula terdengar sebuah letusan. Salah seorang di antara polisi itu terpekik. Tangannya disambar peluru. Lalu terdengar suara mengancam dari arah belakang.

”Jangan main-main. Kalau tak ingin kutembak…”

Mereka menoleh. Di sana berdiri Datuk Hitam dengan pistol di tangan. Orang jadi panik dan mulai berdiri. Kembali terdengar tembakan. Seseorang memekik, lalu rubuh.

”Semua diam di tempat kalau ingin selamat! Diammm…!” terdengar bentakan si Datuk mengguntur.

Semua penompang terdiam. Polisi yang dua lagi menghunus senjata.

”Lemparkan senjatamu, Datuk! Kalian tak mungkin membalas. Kami memiliki senjata lebih banyak dari kalian…” komandan muda itu berseru.

Sebagai jawabannya, terdengar tawa cemooh.

”Kau polisi kentut! Jangan banyak bicara. Kau lemparkan senjatamu ke mari. Kalau tidak, kami akan mulai membantai penumpang!”

Polisi yang bertiga itu saling pandang di tempat perlindungan mereka, di antara kursi. ”Jangan main gila, Datuk. Kalian akan digantung kalau kalian berani mengganggu penumpang. Di Stanplat Padang Tarok ada satu kompi tentara. Kalian pasti mereka tembak!” Kembali terdengar tawa penuh cemooh.

”Jangan banyak kecek waang, polisi tumbuang. Kalau kau tak percaya, bahwa kami akan membantai penompang ini, ini buktinya!”

Terdengar sebuah tembakan. Seseorang meraung dan jatuh! Terdengar pekik panik. Lalu bentakan menyuruh diam. Semuanya kembali terdiam.

”Nah, polisi cirik, dengarlah! Kami telah peringatkan kalian. Kalau ada di antara penumpang ini yang mati, maka itu salah kalian. Bukan salah kami, kalian dengar!? Kalian yang tak mau menuruti perintah kami. Apakah perlu saya tambah jumlah yang mati?” ”Benar-benar anjing yang tak berperikemanusiaan…!” bisik komandan muda itu.

Mereka memang tak berdaya. Disatu pihak mereka ingin menangkap bajingan-bajingan itu. Ingin menyelamatkan penumpang. Tapi ternyata bandit-bandit itu mempunyai pertahanan yang ampuh. Menjadikan penumpang sebagai sandera.

”Saya hitung sampai empat. Kalau kalian tak melemparkan senjata kalian, maka ada empat orang yang akan mati! Satu…!” Datuk Hitam itu segera saja menghitung.

”Baik, kami akan melemparkan senjata kami. Tapi apa kehendakmu, Datuk?”

”Jangan ikut campur urusan kami. Apapun kehendak kami bukan urusanmu. Dua…!” dia melanjutkan hitungannya.

Namun tiba-tiba saja sebuah suara memecah dari arah gerbong yang berada di belakang Datuk Hitam. ”Kau takkan pernah menghitung sampai tiga, Datuk!”

Datuk Hitam menoleh, ke belakangnya. Di sana sebenarnya ada dua anak buahnya yang tegak menodongkan bedil kepada penumpang. Demi malaikat!, kedua anak buahnya itu kini tergeletak dengan kening mengalirkan darah dan mata mendelik. Keduanya tergeletak mati! Diantara bangkai kedua anak buahnya itu tegak dengan tenang seorang lelaki yang dia kenal betul. Yaitu lelaki yang menghantam kerampangnya di suatu sore di Los Galuang, tatkala dia akan merampas uang yang diberikan lelaki itu kepada tukang salung. Kini lelaki yang menghajarnya itu tegak di sana, dan dialah yang barusan bicara!

Belum habis kagetnya, ketika di ujung gerbong yang satu lagi, yang berada di hadapannya, seorang anak buahnya yang juga tengah menodongkan bedil kena hantam popor senjata polisi yang muncul secara tiba-tiba. Anak buahnya itu jatuh melosoh dan bedilnya diambil anggota polsi tersebut. Sadar dirinya dalam bahaya, Datuk itu menarik pelatuk pistol yang sejak tadi larasnya dia arahkan ke kepala seorang perempuan. Namun telunjuknya yang sudah menempel di pelatuk pistol itu tak kunjung bisa dia gerakkan. Bersamaan dengan itu dia merasakan belikatnya linu luar biasa.

Dia tak tahu bahwa sebuah samurai kecil telah tertancap di salah satu bagian belikatnya, yang menyebabkan tangannya lumpuh! Datuk itu kembali menarik pelatuk pistolnya, tapi jangan menariknya, menggerakkan telunjuknya saja dia tak mempunyai kemampuan. Sementara sakit di belikatnya terasa semakin menusuk jantung. Mengetahui bahwa Datuk Hitam itu tak bisa menggerakkan tangannya, suami perempuan yang sejak tadi menggigil karena ditodong Datuk keparat itu, menyentak parang yang memang dia bawa untuk menjaga diri, tapi sejak tadi takut dia mempergunakannya karena isterinya berada di bawah ancaman moncong pistol.

Parang tajam itu dia tebaskan, dan..tangan Datuk Hitam yang memegang pistol itu putus. Tercampak ke lantai gerbong dengan pistol masih dalam genggaman tangannya yang putus itu! Datuk celaka itu sebenarnya tadi sudah berusaha menjauhkan tangannya dari tebasan itu. Namun entah sihir apa yang mengenai dirinya, tangannya tak mampu dia gerakkan sedikitpun! Lalu, begitu tangannya putus dia meraung-raung kesakitan!

Namun tetap berdiri tak bisa bergerak sedikitpun! Melihat kesempatan itu lelaki dan perempuan yang ada di gerbong tersebut, yang tadi berada di bawah ancaman Datuk itu dan anak buahnya, bangkit serentak merangsek ke arah Datuk yang amat ditakuti dan dibenci itu. Dengan segala apa yang bisa diraih mereka menghantam Datuk tersebut yang tetap saja tegak tak bisa bergerak sedikitpun!

Dia meraung dipelasah para penompang yang sudah muak melihat kekejamannya. Akhirnya, massa baru kembali ke tempatnya setelah Datuk itu tergelimpang mereka hakimi sampai kepalanya pecah dan leher hampir putus, mata mendelik dan lidah terjulur! Itulah akhir riwayat orang Minang yang menjadi penjahat amat sadis dalam kecamuk perang saudara. Datuk pemakan masak mentah, orang kampungnya sendiri dia jahanami. Berakhir sudah sebuah kelompok penjahat yang amat kejam, ditakuti sekaligus dibenci masyarakat di tanah Minang selama pergolakan itu.

Saat itu pula kereta berhenti di stasiun Payakumbuh. Polisi yang bertiga itu mencari anak muda yang tadi melumpuhkan kedua begal di gerbong tersebut. Mereka ingin mengucapkan terimakasih. Namun Si Bungsu sudah berbaur di dalam orang ramai yang turun di stasiun. Dia ke pasar dan lenyap dalam palunan orang ramai. Kemudian segera menuju ke perhentian bendi. Dia ingin segera sampai ke kampungnya, Situjuh Ladang Laweh. Niatnya pulang ke kampung hanya satu, ziarah ke makam ibu, ayah dan kakaknya!

Hari sudah malam. Di dalam sebuah kedai kecil kelihatan berkumpul walinagari dan lelaki tua pemilik kedai serta anak gadisnya. Selain itu ada tiga orang lelaki berbedil. Mereka nampaknya dari pasukan PRRI. Hal itu jelas kelihatan dari pakaian yang dikenakan ketiganya. Yang satu pimpinan di antara mereka, di pinggangnya tersisip dua pistol. Satu di kiri dan satu di kanan. Yang dua lagi memakai senapan laras panjang. Mereka tidak memakai pakaian seragam. Ketiganya menatap kepada pemilik kedai itu dengan muka tak bersahabat. Sementara lelaki tua pemilik kedai dan anak gadisnya duduk dengan wajah kecut. Ketiga anggota PRRI itu nampaknya sedang mengorek keterangan dari si pemilik kedai.

Soalnya seminggu yang lalu seregu pasukan APRI datang ke kampung ini dan ke dua kampung lagi yang berdekatan. Beberapa dari mereka singgah di kedai ini, cukup lama. Sehari kemudian dua buah rumah di kampung ini disergap sepeleton tentara APRI. Mereka menangkap tiga anggota PRRI dari rumah itu, berikut lima bedil yang ada di sana. Setelah penggerebekan, sebagian pasukan kembali ke Payakumbuh. Sebagian lagi berjaga-jaga di kampung itu. Empat orang di antaranya kembali masuk ke kedai tersebut. Cukup lama. Mereka baru keluar setelah berada di dalam kedai itu sekitar dua jam.

Kedua anak beranak itu dikumpulkan di kedai mereka, dijaga oleh seorang anggota PRRI. Sementara yang dua lagi naik mengobrak-abrik dua kamar di rumah. Mereka menemukan kaleng tempat menyimpan uang, kemudian gelang, subang dan kalung emas. Semuanya dibungkus dengan saputangan dan dibawa ke kedai lalu diserahkan kepada si komandan. Kedua anak beranak itu hanya menatap dengan diam dan ketakutan. Melawan bisa mendatangkan celaka. Dalam negeri bergolak ini hukum ada di ujung bedil.

Mereka tak berani menyanggah apapun, sebab kemaren ketiga orang ini pula yang menembak mati Amir dan isterinya di dalam rumah mereka tak jauh dari kedai mereka ini. Amir dan isterinya adalah pedagang yang menggelar dagangannya di kampung-kampung pada hari balai. Jika misalnya hari Kamis balai di Gaduik, mereka berjualan di Gaduik. Tapi hari Rabu dan Sabtu mereka berjualan di Bukittinggi, karena hari itu adalah hari pasar di kota tersebut. Kedua suami isteri itu dituduh sebagai ”mata-mata tentara Pusat”. Tapi semua orang dikampung itu tahu, kedua mereka sudah lama dijadikan ketiga orang ini sebagai sapi perahan. Dimintai beras, uang, lauk- pauk, pakaian dan lain-lain. Bisik-bisik yang beredar mengatakan mereka dibunuh karena menolak dijadikan sapi perah. Dikabarkan mereka akan melapor kepada komandan pasukan PRRI atas sikap ketiga orang itu. Sebelum sempat melapor, mereka dibunuh dengan tuduhan mata-mata pusat! Pemilik kedai itu tak mau nasib yang sama menimpanya, karena itu dia pasrah saja ketika rumahnya digeledah dan uang serta perhiasan anaknya diambil.

”Nah jelaskan apa tujuan tentara kapir itu singgah ke kedai ini..!” ujar si komandan memulai interogasi. ”Mereka singgah di sini meminta ditanakkan nasi..” ujar lelaki tua pemilik kedai.

”Kedai ini kan bukan rumah makan..”

”Saya sudah jelaskan hal itu, Ngku. Tapi mereka tetap menyuruh Siti bertanak, bagaimana kami harus menolak?”

”Apa saja yang mereka tanyakan?” ”Tidak ada…”

Jawaban lelaki itu terputus, sebuah tinju mendarat di bibirnya. Lelaki itu terhuyung, darah mengalir dari bibirnya yang pecah, anak gadisnya terpekik dan memeluk ayahnya. ”Jika tidak ada yang berkhianat, takkan terjadi penangkapan tiga orang anggota kami di kampung ini. Sehari setelah mereka makan di kedai ini terjadi penangkapan di dua rumah. Jelas tentara-tentara kapir itu telah mendapat informasi. Dan informasi itu datang dari kalian di kedai ini..”

”Demi Tuhan, sa…”

Ucapan lelaki tua itu terputus lagi oleh sebuah tendangan yang mendarat telak di dadanya. Menyebabkan dia terjatuh dan muntah darah. Anak gadisya memekik. Namun tubuhnya disentakkan oleh salah seorang anggota PRRI tersebut.

”PRRI juga sering minta ditanakkan nasi di sini. Dan selalu saya tanakkan, kendati malam telah amat larut. Kami tak pernah menolak orang minta tolong. Tapi hanya itu, kami tidak memberikan informasi apapun, karena kami tidak tahu apapun. Pak Wali, tolong ayah saya..” mohon gadis itu dalam tangisnya kepada walinagari yang duduk terdiam dengan wajah kecut.

Walinagari itu ingin membela, dia tahu lelaki tua pemilik kedai ini takkan berkhianat pada siapapun. Ke kedai ini tidak hanya anggota APRI yang singgah, tapi juga anggota PRRI. Itu disebabkan di desa kecil ini hanya inilah satu-satunya kedai yang ada. Kedai kecil menjual pisang dan ubi goreng, kerupuk jangek dan kerupuk palembang, kemudian kopi dan teh.

Pagi sekali penduduk kampung ini selalu singgah minum kopi dan makan pisang goreng sebelum mereka berangkat ke sawah atau ke Payakumbuh. Sore, terkadang malam hari, mereka juga sering ngumpul di kedai ini untuk main domino sebagai satu-satunya hiburan. Biasanya ada hiburan mendengarkan siaran radio, tapi yang punya radio transistor di kampung ini hanya seorang, Amir. Dan dia sudah mati ditembak. Radio transistornya dibawa PRRI entah kemana.

Walinagari berpikir, bagaimana dia akan menjelaskan bahwa pemilik kedai ini tidak berkhianat pada siapa pun? Salah-salah dia pula yang akan dituduh berkomplot sebagai mata-mata pusat. Apalagi mereka masih punya hubungan saudara.

”Ikut kami ke markas di gunung..” ujar si komandan yang di pinggangnya tergantung dua pistol.

Lelaki tua itu jadi pucat, anaknya meratap-ratap. Suara ratapnya terdengar ke rumah-rumah berdekatan. Namun dalam malam gelap seperti sekarang, tak seorangpun yang berani keluar dari rumahnya untuk melihat apa yang terjadi. Apalagi mereka tahu, setelah isa tadi tiga anggota PRRI masuk ke kedai itu bersama walinagari. Mereka sudah maklum akan apa yang telah dan akan terjadi, bila ada anggota PRRI yang datang ke salah satu rumah di malam hari.

Siti masih meratap dan meronta dari pegangan salah seorang anggota PRRI itu saat terdengar pintu kedai dibuka dari luar, dan suara mengucap salam. Semua menoleh ke pintu yang baru terbuka, semua melihat seorang lelaki masuk tanpa menunggu salamnya dijawab. Orang yang baru masuk itu menyapu semua yang hadir dengan tatapan matanya. Hanya sesaat, kemudian perlahan dia menuju ke kursi kayu panjang di dalam kedai itu.

”Sudah larut sekali, untung Bapak belum tidur. Boleh saya memesan kopi panas?” ujar orang itu sambil meletakkan tongkatnya di meja.

Semua yang ada dalam kedai kecil itu menatap terheran-heran kepada orang yang baru masuk itu, yang nyelonong saja masuk dan duduk tanpa permisi. ”He Sanak, kedai sudah tutup. Tak tahu sudah larut malam?!” sergah si komandan ”Sudah larut dan sudah tutup, tapi Sanak masih di sini. Itu tanda kedai masih buka kan?”

Si komandan memberi isyarat pada salah seorang anak buahnya, untuk mengusir orang itu keluar. Anak buahnya mendatangi meja lelaki yang baru masuk itu. Dengan geram yang ditahan-tahan dia lalu berkata dari seberang meja,

”Jangan mencari persoalan, Sanak keluarlah selagi masih sempat..”

Lelaki itu menatap anggota PRRI itu dengan pandangan biasa-biasa saja. Lalu dia menoleh dan bicara anak si pemilik kedai.

”Bisa saya memesan secangkir kopi Siti..? ”

Gadis yang ditanya tertegun. Suara dan pertanyaan yang hampir sama rasanya pernah dia dengar. Suara yang nyaris tak pernah dia lupakan. Tapi alangkah sudah lamanya zaman berlalu. ”Baiklah, nampaknya kehadiran saya di sini memang tidak diingini. Maafkan saya…” ujarnya sambil berdiri dan meraih tongkatnya yang terletak di meja.

”Tunggu, ss…saya buatkan kopi. Masih ada air panas di termos..” ujar Siti tergagap sambil bergegas ke dekat meja tempat dia biasa membuatkan kopi untuk tamu.

”Keluarlah, sebelum sanak celaka!” desis anggota PRRI yang tadi menyuruhnya keluar. Tamu itu menatapnya sesaat. Kemudian sambil tersenyum dia kembali duduk.

”Izinkan saya minum kopi dulu, sudah lama sekali saya tidak singgah di kedai ini. Hei, mulut Bapak berdarah..kenapa? Masih ingat pada saya Pak?”

”Bungsu….” ujar lelaki tua pemilik kedai itu seperti tak mempercayai pandangannya. Mendengar nama itu Siti terhenti, dia menatap tamu yang duduk itu dengan dada berdebar. ”He! Waang mata-mata Pusat ya?!” hardik si komandan sambil mencabut pistolnya. Tindakannya diikuti oleh kedua anak buahnya dengan mengokang bedil. Seperti tidak mengacuhkan hardikan itu, Si Bungsu berkata pada Siti yang tegak di seberang meja di depannya. ”Apapun yang akan terjadi, Siti, lihat saja dan tetaplah diam…”

Siti seperti mendengar kembali kata-kata yang sama, yang diucapkan oleh orang yang sama dari masa lalu yang amat jauh. Kala itu empat serdadu Jepang akan melaknatinya, lelaki ini tiba-tiba saja muncul menyelamatkannya. Keempat serdadu Jepang itu mati dimakan samurainya! Siti nanap menatap lelaki yang bertahun lamanya berada dalam hatinya, dalam mimpinya. Seperti dahulu, dia mengangguk perlahan. Si Bungsu lalu berkata pada komandan yang menghardiknya.

”Sanak, Bapak ini sudah menyebutkan siapa nama saya. Kampung saya sedikit di atas kampung ini. Di Situjuh Ladang Laweh. Saya tidak..!”

”Diam! Tembak mata-mata jahanam ini..!” hardik si komandan memutus perkataan Si Bungsu.

Kedua anak buahnya serentak mengangkat bedil dan mengacungkannya ke arah Si Bungsu, kemudian bersamaan menarik pelatuk bedil mereka. Siti tertegak kaku, cangkir kopi masih di tangannya, belum sempat dia taruh di meja di depan Si Bungsu. Tapi, seperti berhadapan dengan empat tentara Jepang dahulu, terjadilah apa yang harus terjadi. Si Bungsu mengibaskan tangan kirinya. Dua detik berlalu, lima… enam..sepuluh detik! Tak sebuah letusanpun yang terdengar. Yang terdengar hanya suara seperti jatuhnya sebuah kerikil kecil ke lantai. Hanya itu! Ketujuh orang di dalam kedai kecil itu terdiam di tempatnya masing-masing.

Orang pertama, lelaki tua pemilik kedai, terduduk di kursi kayu dua depa dari tempat Si Bungsu. Duduk diam dengan sisai-sisa darah masih mengalir dari mulutnya. Orang kedua si walinagari, duduk tak jauh dari tempat duduk pemilik kedai itu. Di sampingnya, antara walinagari dengan pemilik kedai, tegak orang ketiga yaitu si komandan, dalam posisi masih mengacungkan pistol ke arah Si Bungsu. Di depan agak ke kanan Si Bungsu, serta di belakangnya tegak orang keempat dan kelima, yaitu anggota PRRI dengan telunjuk di pelatuk bedil yang bedilnya diarahkan ke kepala Si Bungsu.

Orang ke enam adalah Siti, yang masih tertegak diam di seberang meja di depan Si Bungsu. Di tangannya masih terpegang secangkir kopi panas yang mengepulkan asap dalam udara dingin di pinggang Gunung Sago itu. Orang ketujuh adalah Si Bungsu. Setelah mengibaskan tangannnya dia lalu mendekati pemilik kedai yang mulutnya masih berdarah itu. Dari kantongnya dia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil. Dari sana dia mengambil semacam daun dan kulit kayu yang sudah dikemas sebesar anak korek api.

”Telanlah ini, Pak…” ujarnya.

Lelaki itu, dengan masih berdiam diri menelan obat yang disodorkan Si Bungsu ke tangannya. Beberapa kali, dengan perasaan amat ketakutan, dia melihat bergantian kepada ketiga anggota PRRI yang ada di dalam kedainya. Namun ketiga orang itu masih tegak dengan diam, mata melotot, namun tak bergerak seperti kena sihir. Saat kembali ke kursinya Si Bungsu memungut sesuatu di lantai di dekat ketiga anggota PRRI itu. Nampaknya benda yang tadi terdengar seperti kerikil jatuh ke lantai. Benda itu tak lain dari samurai kecil yang selalu tersisip di sebuah sarung kulit di lengannya. Samurai itu tadi yang dia gunakan saat mengibaskan tangan kanannya kepada ketiga orang itu. Hanya biasanya yang dia pergunakan untuk membunuh orang adalah ujung samurai kecil itu, yang luar biasa runcing. Kibasan tangannya dengan tehnik khusus menyebabkan samurai kecil itu, tiga dikiri dan tiga di kanan, meluncur amat cepat bisa membunuh orang jika diarahkan ke antara dua mata, ke dada tentang jantung, atau ke urat nadi utama di leher.

Tapi kepada ketiga anggota PRRI itu dia tidak mau menurunkan tangan kejam. Hanya hulu samurai kecil itu yang dia pergunakan menghantam urat nadi di bahu ketiga lelaki itu. Lemparan itu membuat mereka tertotok lumpuh. Setelah menyisipkan ketiga samurai kecil itu di lengannya, kemudian ditutup dengan lengan baju panjang yang dia pakai, Si Bungsu kembali ke kursinya semula. Duduk dengan tenang menunggu kopi panas yang dia pesan. Karena kopinya belum juga diletakkan, dia lalu bertanya.

”Menunggu kopi itu dingin, baru diberikan pada saya, Siti?”

Siti yang sejak tadi hanya memperhatikan apa yang dilakukan Si Bungsu, seperti terbangun dari mimpi. Dia bergerak, dan meletakkan cangkir kopi di meja di depan Si Bungsu. ”Terimakasih, Siti. Apa tak lebih baik Siti buatkan juga kopi untuk ayah Siti dan Bapak yang satu itu?”

”Ya..ya, akan saya buatkan..” ujar Siti, tapi tiba-tiba dia terhenti. Seperti ingat sesuatu, dengan gugup dan takut dia menoleh pada komandan PRRI itu, kemudian pada kedua anak buahnya. Ketiga mereka tetap tegak tak bergerak sedikitpun, kecuali matanya yang plarak-plirik ke kiri dan ke kanan dengan wajah pucat.

”Oh ya, penat juga memegang bedil sambil berdiri terus menerus…” ujar Si Bungsu sambil melangkah dan mengambili bedil serta pistol dari tangan ketiga orang itu. Lalu mendudukkan mereka di kursi kayu terdekat.

Sama sekali tak ada perlawanan dari mereka. Usahkan melawan, mempertahankan bedil itu saja untuk tak diambil Si Bungsu mereka tak bisa. Kini mereka tetap duduk dengan tangan seolah-olah masih memegang bedil dan pistol. Ketika senjata api itu diletakkan Si Bungsu di atas meja di depan si komandan.

”Buatkanlah, bapak-bapak ini takkan mengganggu kita sama sekali. Sebelum totokannya pulih, mereka tak bisa mendengar apapun yang kita bicarakan. Selain menotok saraf untuk bergerak, totokan itu juga mengenai saraf pendengaran yang menyebabkan mereka tak bisa mendengar sekaligus tak bisa bicara,” ujar Si Bungsu seperti menjawab ketakutan Siti, walinagari maupun ayahnya.

Setelah menatap kepada tiga anggota PRRI yang terduduk seperti orang linglung itu, Siti lalu membuatkan kopi panas untuk ayahnya dan walinagari. Kedua orang itu pindah ke meja panjang di depan Si Bungsu duduk.

”Lama kita tak bertemu, Pak..” ujar Si Bungsu tatkala ketiga orang itu, walinagari, pemilik kedai dan Siti, duduk di depannya. Dia menyalami ketiga orang itu.

”Masih ingat engkau rupanya pada kami, Bungsu…”

”Bukankah ketika akan pergi dulu, saya berjanji jika pulang ke Situjuh saya akan singgah kemari? Sekarang saya tepati janji saya. Saya pulang ingin ziarah ke makam keluarga. Tak ada bendi yang mau mengantar saya ke Ladang Laweh karena ada peperangan, saya terpaksa jalan kaki. Hari sudah larut, ketika lewat tadi saya dengar masih ada suara di kedai ini. Itu sebab saya singgah..” ujar Si Bungsu sambil menghirup kopi. ”Hmm..enak kopimu, Siti. Sekarang sudah pakai gula..”

Siti tak tersenyum, kendati ucapan Si Bungsu mengingatkan dia tatkala dahulu ketika ada empat tentara Jepang di kedai ini. Saat itu, saking ketakutannya dia memberi Si Bungsu kopi tanpa gula. Dia tidak tersenyum karena matanya nanap menatap anak muda itu. Dia serasa bermimpi bisa bertemu lagi.

”Kata orang.., maaf..kata orang Uda sudah meninggal…” ujar Siti lirih.

Si Bungsu menatapnya. Ucapan yang sama pernah dia dengar dari mulut Reno Bulan, tunangannya di masa yang sangat remaja, yang kini bersuamikan tukang saluang di Bukittinggi. Rupanya kabar yang tersebar itu benar adanya. Kabar yang disebarkan oleh pedagang yang bolak balik dari Payakumbuh ke Pekanbaru dan ke Tanjungpinang. Dia teringat saat bersama pejuang-pejuang dari Desa Buluhcina menyergap tentara Belanda di pendakian Pasirputih. Sebuah tempat antara Dusun Marpoyan dan Desa Buluhcina.

Saat itu dia memang ditembak oleh dua orang tentara Belanda. Dalam situasi amat kritis dia di bawa pejuang-pejuang Buluhcina ke desa mereka. Di sana dia mereka rawat sampai sembuh, lalu baru melanjutkan perjalanannya ke Jepang melalui Singapura. Kabar dia tertembak itulah yang ditafsirkan dia meninggal, yang ternyata menyebar di Pekanbaru, kemudian didengar dan menyebar dari mulut ke mulut diantara pedagang asal Payakumbuh, Bukittinggi dan sekitarnya. Kabar itu ternyata menyebar pula sampai ke kampungnya.

”Ya, banyak orang mendengar kabar seperti itu, Siti. Dan saya memang tertembak dan menduga akan dijeput maut. Tapi Alhamdulillah Tuhan masih memperpanjang umur saya…” ujarnya perlahan. Setelah lama sepi, Si Bungsu tiba-tiba bertanya.

”Pak Wali, mengapa kampung-kampung yang saya lalui banyak rumah yang lapuk seperti tak berpenghuni..?”

”Bukan seperti tidak berpenghuni, Bungsu. Memang tidak lagi ada penghuninya” ”Kemana penghuninya?”

”Ada yang ikut bergerilya ke hutan. Bagi kaum lelaki yang ikut ke hutan, keluarganya diungsikan ke Jawa atau Tanjung Pinang dan Pekanbaru. Pokoknya ke tempat yang tidak dilanda perang. Tapi sebagian besar dari penduduk pergi merantau. Mereka meninggalkan negeri yang diamuk perang ini. Itu terjadi di belasan kampung dalam Luhak Limapuluh ini. Ada yang membawa semua anggota keluarga, ada yang lelaki saja duluan. Kemudian setelah mendapat tompangan di rantau mereka menjemput anak bininya. Soal ada atau tidak ada pekerjaan di rantau itu soal kedua. Yang jelas menghindar dulu dari keadaan yang tak menentu di kampung. Ada yang ke Pekanbaru, ke Tanjungpinang, banyak yang ke Jawa. Tapi ada pula beberapa orang mencoba peruntungan di Negeri Sembilan, Malaya, sebagaimana halnya Sutan Sinaro suami Siti..”

Si Bungsu menatap Siti, yang ternyata sudah bersuami. ”Sudah lama Sutan Sinaro ke Malaya, Siti?”

Gadis itu tak segera menjawab. Sesaat dia menatap Si Bungsu, lelaki yang entah mengapa selalu dia tunggu sebelum akhirnya memutuskan menikah, setelah dia mendengar orang yang dia harapkan ini terbunuh di Pekanbaru. Kendati telah menikah, namun dia tak pernah bisa melupakan anak muda itu. Masih dia ingat ketika tangannya digenggam Si Bungsu di larut malam ketika akan meninggalkan kedainya ini, setelah membantai empat orang serdadu Jepang.

”Sudah tiga bulan, sudah ada kabar akhir bulan ini dia akan kemari menjemput kami. Uda Sutan mendapat pekerjaan sebagai mandor kecil di perkebunan karet di sana..” ujar Siti perlahan sambil menunduk. ”Syukurlah kalau begitu. Menjadi mandor perkebunan itu suatu pekerjaan terpandang. Di Singapura

saya dengar memang sudah mulai banyak orang awak yang mengadu nasib di Malaya. Lagipula, memang sebaiknya merantau dulu selagi kampung kita ini dilanda perang. Di sini nyawa manusia kadangkala tak lebih berhaga dari nyawa seekor ternak…” Lama mereka sama-sama terdiam. Lalu Si Bungsu menoleh kepada tiga anggota PRRI yang masih duduk tak bergerak-gerak itu. Dia berdiri, menghampiri mereka satu persatu, menotok urat di lehernya. Terdengar ada yang batuk, ada yang melenguh. Namun tetap tak bisa bergerak. Mereka hanya sekedar bisa mengerakkan kepala, mendengar dan bicara.

”Nah Sanak bertiga, dengarlah. Sanak pasti sengaja memisahkan diri dari induk pasukan, menyelusup ke kampung-kampung di kaki Gunung Sago ini untuk merampok, bahkan membunuh orang yang melawan kejahatan yang Sanak lakukan. Sanak benar-benar menangguk di air keruh. Dari logat bicara, amat jelas Sanak bukan orang Luhak Limapuluh ini. Saya minta Sanak menyadari bahwa yang kalian lakukan menambah sengsara penduduk yang memang sudah sengsara. Dulu sengsara di bawah penjajahan Belanda, lalu datang Jepang menambah kesengsaran itu. Kini penduduk sengsara oleh perangai yang Sanak lakukan tanpa setahu induk pasukan Sanak. Kalau mau terus berperang melawan tentara pusat, silahkan. Tapi jangan ganggu penduduk yang tidak berdosa. Sanak ingatlah itu baik-baik…”

Sehabis berkata si Bugsu berdiri, mengambil ketiga bedil di meja. Meletakkannya di pangkuan masing- masing anggota PRRI itu. Kemudian menjentik urat di leher mereka, yang menyebabkan ketiga orang itu terbebas dari totokan. Namun kendati telah bebas dari totokan, dan mereka sudah memegang bedil masing- masing, ketiga orang itu masih duduk termangu-mangu. Sampai akhirnya si komandan yang di pinggangnya tergantung dua pistol itu bicara perlahan.

”Terimakasih, Sanak. Terimakasih. Kemurahan hati dan budi Sanak tidak hanya membuat kami sadar pada kekeliruan kami selama ini, tapi sekaligus juga memperpanjang nyawa kami. Kami yakin, jika Sanak mau sejak tadi dengan mudah kami Sanak bunuh. Semudah membalik telapak tangan. Terimakasih atas nasehat Sanak. Sekali lagi terimakasih, Sanak telah memberi kesempatan bagi kami untuk tetap bisa bertemu dengan anak dan isteri yang menunggu di kampung. Apapun kebaikan yang kami buat kelak, takkan mampu membayar kebaikan sanak kepada kami. Kepada Bapak dan Siti, juga kepada Pak Wali, kami mohon maaf.,” berkata begitu si komandan lalu mengambil bungkusan saputangan berisi uang dan perhiasan yang tadi diambil anak buahnya dari rumah, kemudian meletakkannya di atas meja di depan pemilik kedai tersebut.

”Sebelum subuh datang, sebaiknya kami pergi…” Sehabis berkata, dengan berlinang air mata karena dibiarkan tetap hidup, si komandan menyalami Si Bungsu, pemilik kedai dan walinagari, diikuti kedua anak buahnya. Lalu dengan sekali lagi mengucapkan terimakasih pada Si Bungsu, mereka menyelusup keluar dari kedai itu. Lalu lenyap dalam gelap dan embun subuh yang sejak tadi sudah menyelimuti kampung-kampung di kaki Gunug Sago itu. Kesunyian di kedai kecil itu dipecahkan oleh suara lelaki tua pemilik kedai tersebut.

”Dua kali kau menyelamatkan kami, Nak. Engkau seperti malaikat yang dikirimkan Tuhan ke kedai ini, persis di saat-saat yang sangat genting. Kami dua beranak tidak tahu bagaimana membalas budimu…”

Si Bungsu hanya menatap dengan tenang.

”Saya sangat lapar, apakah mungkin saya minta bantuan Siti menanakkan nasi? Saya rasa kita makan dengan Pak Wali bersama-sama. Saya rasa besok belum tentu ada orang yang mau menanakkan nasi buat saya di Situjuh Ladang Laweh. Di sana tak ada lagi sanak famili saya. Mamak saya suami isteri, sudah meninggal. Anaknya Reno Bulan kini berjualan kain di Bukittinggi bersama suaminya.”

Siti hiba hatinya saat Si Bungsu berkata ”besok belum tentu ada orang yang mau menanakkan nasi buat

saya”.

”Saya akan tanakkan nasi untuk Uda. Tapi … bila Uda bertemu dengan kak Reno? Kabarnya hidupnya

susah, dia ikut suaminya yang tukang salung..”

”Saya bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu. Sebelum peperangan besar melanda Bukittinggi. Dulu suaminya memang tukang salung. Tapi berkat yakin, dari uang yang mereka kumpulkan sedikit demi sedikit, kini mereka sudah berjualan kain di Los Galuang.” Siti menatap lelaki yang tak pernah lenyap dari hatinya itu nanap-nanap. Kemudian mulai menjerang nasi, menyiangi ikan limbat dan gurami yang dibeli sore tadi dari orang yang memancing di sungai kecil tak jauh dari kampung itu. Kemudian menggorengnya dengan cabe hijau yang dia giling. Sambil menanti Siti bertanak, ketiga lelaki itu terlibat pembicaraan tentang pertempuran PRRI dan APRI di Bukittinggi. Tentang ratusan korban yang bergelimpangan yang dikumpulkan di bawah Jam Gadang, yang tidak jelas apakah penduduk atau tentara PRRI.

Ketika azan subuh terdengar, walinagari minta diri seraya juga mengucapkan terimakasih kepada Si Bungsu atas perannya menyelamatkan Siti dan ayahnya, sekaligus menyadarkan ketiga orang PRRI yang sering jadi momok di kampung-kampung di kaki Gunung Sago itu. Si Bungsu menompang sembahyang subuh di rumah itu. Mereka sembahyang berjamah, dengan ayah Siti sebagai Imam. Usai sembahyang Siti meletakkan kopi dan ketan serta pisang goreng yang dia siapkan dengan cepat.

Tapi akhirnya tiba juga saat yang sangat dia takuti, sangat tidak dia ingini. Yaitu saat Si Bungsu minta diri. Entah mengapa, dia ingin anak muda itu berada lebih lama lagi di rumahnya. Namun Si Bungsu sudah minta diri.

”Saya harus pergi, terimakasih masakanmu Siti. Selamat jalan kalau kelak Bapak dan Siti berangkat ke Negeri Sembilan. Salam saya kepada suamimu, Sutan Sinaro, Siti…” ujar Si Bungsu. Siti menatap Si Bungsu, kemudian tertunduk. Ada manik-manik air mengalir perlahan di pipinya.

”Akan lama Uda di Situjuh?”

”Saya tidak tahu, Siti. Seperti saya katakan tadi, di sana tidak ada lagi sanak famili saya..” ”Kalau sebelum kami pergi Uda lewat di sini, singgahlah. Saya akan menanakkan nasi untuk Uda..”

Rumah Gadang tempat dia lahir dan menjalani masa remaja, rumah dimana ayah, ibu dan kakaknya mati ditangan Saburo dan pasukannya, masih terurus dengan baik. Dia dapat cerita dari Reno Bulan sewaktu di Bukittinggi bahwa rumah itu kini dihuni kemenakan ayahnya. Waktu mereka bertunangan dulu kemenakan ayahnya itu berada di Jambi, menikah dan berdagang di sana. Si Bungsu tak pernah mengenal kemenakan ayahnya itu. Karenanya dia sengaja tak singgah di rumah tersebut. Kendati hatinya direjam rindu, namun dia hanya melihat dari kejauhan saat akan menuju ke pekuburan. Sudah tiga hari dia di kampungnya ini. Pandam pekuburan kaum dimana keluarganya dimakamkan sudah tak terurus dan ditumbuhi lalang padat.

Dia baru menemukan ketiga kuburan keluarganya itu setelah mencari dengan susah payah. Selama di kampung dia tidur di masjid dimana dulu terjadi keributan karena tentara Jepang akan menangkap Sawal dan Malano, dua pejuang yang sebeumnya mencuri senjata di gudang tentara Jepang di Kubu Gadang. Peristiwa itu terjadi setelah dia ikut sembahyang berjamah di masjid itu. Sawal adalah anak haji yang menjadi imam di masjid tersebut. Itu adalah hari pertama dia turun dari puncak Gunung Sago. Dan hari itu, untuk membela Saleha, anak kedua Imam masjid dan sekaligus menolong Sawal dan Malano agar tak tertangkap, dia membunuh ketiga Jepang yang datang itu. Itulah kali pertama dia membunuh tentara Jepang.

Kini tak ada lagi orang sembahyang berjamaah di masjid itu. Pergolakan merobah kampung itu, dan juga kampung-kampung lain di pedalaman Minangkabau. Sebagaimana dijelaskan walinagari di kedai Siti, para lelaki sebagian ada yang ikut masuk hutan bergerilya melawan tentara pusat dengan sukarela. Sebagaian lagi ikut dengan terpaksa. Sebagian yang lain lagi pada meninggalkan kampung. Merantau ke Jawa, Tanjung Pinang atau Pekanbaru. Sebagian besar yang tinggal di kampung adalah orang-orang tua, lelaki maupun perempuan.

Jika di kota seperti di Payakumbuh, Bukittinggi dan Batusangkar saja orang jarang sembahyang berjamah ke masjid, apa lagi di kampung-kampung kecil di kaki Gunung Sago itu. Tapi keadaan itu membuat Si Bungsu agak tenteram. Karena hampir tak ada orang yang tahu dia berada di kampung itu. Situjuh Ladang Laweh, karena letaknya di pinggang Gunung Sago, situasinya sangat rawan. Letaknya itu menyebabkan desa tersebut setiap sat dengan mudah didatangi pasukan PRRI. Sebaliknya, pada waktu tertentu tentara pusat yang disebut sebagai APRI itu datang ”membersihkan” desa-desa dari PRRI yang mereka sebut sebagai ”gerombolan”.

Penduduk benar-benar seperti memakan buah simalakama. Mereka tak mungkin menolak bila ada dua atau tiga anggota PRRI yang singgah dan meminta nasi. Namun bagi orang tertentu hal itu digunakan untuk mencari keuntungan bila tentara APRI datang. Bisa saja untuk balas dendam bila orang yang rumahnya didatangi PRRI itu adalah orang yang berseteru dengannya. Sebaliknya, bila yang naik ke sebuah rumah adalah anggota TNI dari APRI, maka itu juga bisa dijadikan sumber fitnah oleh seterunya. Lapor melapor antar-sesama penduduk seperti itu bukan hal yang jarang terjadi. Itulah yang menyebabkan orang merasa lebih baik angkat kaki dari kampung halaman mereka. Pergi merantau ke Jawa, ke Riau atau ke daerah lain.

Si Bungsu tengah menuju ke pemakaman untuk kembali membersihkan kuburan keluarganya itu. Saat lewat di depan rumah milik kedua orang tuanya, dimana dahulu dia hidup di sana, dia lihat seorang lelaki separoh baya tengah membelah-belah kayu di bawah rumah gadang tersebut. Lelaki itu menoleh ke arahnya. Dia cepat-cepat mengalihkan pandangan dan terus berjalan. Dia tahu, lelaki itu adalah kemenakan ayahnya yang menunggu rumah gadang tersebut.

Lewat tengah hari dia selesai membuat ketiga makam keluarganya menjadi amat bersih. Selain ketiga makam itu, dia juga membersihkan tiga atau empat makam di sekeliling makam keluarganya tersebut. Pergolakan tidak hanya membuat kampung menjadi lengang, juga menyebabkan kuburan, kebun, sawah dan ladang menjadi terlantar. Rumah-rumah yang tidak berpenghuni atap ijuknya pada ditumbuhi lumut atau sakek.

Saat akan mengakhiri pekerjaannya membersihkan kuburan itu tiba-tiba jantungnya berdebar. Dia tegak, menatap keliling. Hanya ada belukar yang semakin lebat. Debar jantungnya makin menguat. Biasanya debar seperti itu adalah isyarat datangnya bahaya. Jauh di atas sana dua ekor elang terbang berputar seperti sedang mengintai mangsa. Dia memejamkan mata, memusatkan konsentrasi. Mencoba mengetahui apakah bahaya yang mengancam nya, yang membuat debar jantungnya berdenyut tidak normal itu, datang dari dalam belukar yang mengelilingi kuburan tersebut.

Dalam konsentrasinya dia mencoba menangkap suara sehalus apapun yang datang dari dalam belukar itu. Mungkin desah nafas, mungkin dengus, mungkin suara dedaunan yang tergeser oleh tubuh mahluk apapun. Harimau, beruang atau ular sekalipun. Dari pengalaman hidup di puncak Gunung Sago dahulu, dia memiliki kemampuan untuk mendengarkan perbedaan sekecil apapun suara yang ditimbulkan. Antara suara daun yang ditiup angin dengan daun yang terkuak oleh lewatnya mahluk hidup. Namun meski beberapa kali dia coba memusatkan kosentrasi tetap saja tak satupun sumber suara yang bisa disimpulkan sebagai ancaman. Dia hanya mendengar suara beberapa ekor ayam hutan mengais makanan. Kemudian suara desiran seekor ular, mungkin ular tedung yang besarnya tak melebihi lengannya. Suara bergeraknya ular itu, menurut perkiraannya, ada sekitar dua puluh depa dari tempatnya berdiri. Lagipula arah bergerak ular itu menjauhi tempatnya berdiri, bukan ke arahnya. Jadi samasekali bukan ancaman bagi dirinya.

Dengan pikiran demikian bahwa tak ada sesuatu yang mengancam nya dari dalam belukar lebat disekitar pekuburan kaum itu,dia menatap ke tiga kuburan yang terletak berdampingan itu.

“Ayah,ibu…, ampun kan anakmu yang tidak berguna ini, yang tidak mempunyai keberanian sedikitpun membela kalian, saat kalian diancam maut. Uni..ampunkan adikmu. Doaku semoga berbahagia di akhirat…” bisik nya dengan airmata yang tak mampu di bendung.

Ada beberapa saat dia berlutut di samping ketiga makam itu. Menunduk dengan mata basah, pipi basah dan diri yang amat sepi karena hidup sebatang kara. Masa kecilnya seperti datang berlarian, saat ayah, ibu dan kakaknya masih hidup. Meski bersikap keras, namun ayahnya selalu membawa dia bepergian, naik bendi ke Payakumbuh, atau naik kereta api ke Bukittinggi. Ayahnya ingin dia bersekolah agar dia nanti menjadi ”orang”. Tidak seperti dia yang hanya petani. Ibunya adalah wanita berhati lembut yang selalu melindungi dia dari amarah ayahnya. Kakaknya adalah yang membela dia di segala situasi. Kini semua tidak akan dia perdapat lagi, tak ada lagi ayah, ibu dan kakak tempat dia mengadu. “Tinggalah ayah, ibu, uni.. aku pergi menjalani nasibku…” ujarnya perlahan sambil berdiri dan melangkah meninggalkan pemakaman itu.

Guruh terdengar menderam resah tatkala dia keluar dari areal pendam kuburan kaum itu. Dia melangkah penurunan di areal pemakaman. Hanya beberapa selang menurun, dia menempuh jalan mendaki. Diatas pendakian dia melihat seseorang melangkah kearahnya. Nampaknya orang itu akan ke kuburan. Karena jalan yang dia tempuh ini hanya menuju pekuburan tersebut.

Tapi ternyata orang itu tidak melangkah kearahnya, orang itu hanya tegak disana, di puncak pendakian yang akan dia lewati.

Dia terus melangkah dengan pikiran ke masa kecilnya. Selintas dia lihat orang tadi masih tegak disana. Lalu entah kenapa debar aneh itu menyerangnya lagi. Langkah nya pun sampai kedekat orang yang masih tegak di pendakian. Tegak persis di jalan yang akan dia lalui, karena orang itu tidak menggeser tegak, lima langkah dari orang itu dia mengalihkan langkahnya agak kekanan.

Orang itu masih tegak disana, tak bergerak sejengkal pun. Tegak dengan kaki terpentang dan rasanya seperti menatap terus kepadanya! Hatinya menjadi tak sedap. Kenangan masa kecilnya seperti kembali berlarian di kepalanya. Saat itu dia disentakan oleh sebuah suara.

“Bungsu…!” Dia benar-benar seperti disambar petir mendengar suara itu. Bukan terkejut karena mengenal atau tau namanya tapi tersentak karena suara orang itu. Suara yang amat dia kenal. Yang tak pernah di mimpikan akan mendengar suaranya disini, di kampung halamannya Situjuh Ladang Laweh!

Suara itu seperti orang yang mengucapkannya, datang dari tempat jauh. Puluhan ribu kilometer dari sini. Dia sampai kemari setelah melintasi samudra, lembah dan gunung. Suatu hal yang sangat mustahil, tapi kembali dia dikejutkan oleh suara orang itu. “Bungsu-san…” “Ya Allah, M..michiko…??”

“Ya, akulah ini. Michiko anak saburo Matsuyama…!”

Mereka hanya terpisah dalam jarak tiga depa. Guruh mengeram beberapa kali di sertai angin kencang. Dia ingin mengucapkan selamat datang di kampung ini dan menanyakan apa kabar, namun sebelum dia sempat bicara suara gadis terdengar lagi.

“Sejak tadi aku tunggu engkau disini Bungsu, aku tak inginmengganggu suasana ziarahmu ke makam Ayah, ibu, dan kakakmu…”

Gerimis tiba-tiba turun menyiram bumi, makin lama makin rapat. Guruh kembali mengeram di langit yang berubah menjadi kelam. Dia kembali ingin mengucap kan selamat datang, kendati dia tak keberatan sama sekali kalau gadis itu datang menemuinya di areal pemakaman. Namun sebelum dia bicara suara gadis itu kembali memintas mendahului.

“Seperti saat engkau datang mencari ayahku, tujuh samudra dan berpuluh gunung serta lembah kutempuh untuk bisa bertemu dengan mu disini Bungsu. Kau cari ayahku ke Jepang sana dan kau temui dia di kampungku. Di kuil Simogamo, dimana dia mengabdikan diri disisa usianya. Disana kau bunuh dia. Apapun alasanmu, kendati dia melakukan sepupuku, harakiri, namun kematiannya tak lain tak bukan karena engkaulah penyebabnya!Engkau datang ke Jepang untuk membalas kematian keluargamu di tangan ayahku. Kini aku datang kemari menuntut kematian ayahku ditangan mu, adil bukan…?”

Dia ingin bicara,tapi…

“Cabut samuraimu,Bungsu….!”

Si Bungsu merasa samurai di tangan kirinya seolah-olah menjadi panas. Dia menyesal kenapa membawa samurai itu. Kendati kemana pun dia pergi samurai ini tak pernah berpisah dengannya, namun kali benar-benar menyesal telah membawanya. Dia mengangkat tangan kirinya itu jauh-jauh, sambil mengatakan bahwa dia takkan menumpahkan darah lagi. Bukan karena dia dekat makam keluarganya. Namun gerakan tangan kirinya yang ingin membuang samurai itu salah ditafsirkan oleh Michiko.

Setiap orang yang memegang samurai apakah ditangan kiri maupun ditangan kanan, bila akan mencabut samurainya harus mendekatkan hulu samurai ke tangan yang satunya lagi. Gerakan itu, mendekatkan hulu samurai dengan tangan yang akan mencabut samurai, di lakukan saat bersamaan. Hanya dalam hitungan detik, entah mana yang duluan, entah samurai yang akan di lemparkan Si Bungsu lebih dahulu lepas dari tangan nya, atau mata samurai Michiko yang lebih dahulu memakan dirinya, atau samurainya lepas bersamaan dengan tiba nya sabetan samurai Michiko!

Yang pasti adalah, saat samurainya yang masih berada di dalam sarungnya itu jatuh menimpa jalan berkerikil, dadanya terasa amat pedih. Baju gunting cina yang dipakainya, persis tentang jantungnya mulai basah oleh darah. Dengan menahan rasa sakit dia menatap Michiko, kemudian perlahan tatapannya beralih kedadanya yang mengalirkan darah, kemudian kembali menatap Michiko.

Michiko sudah akan melancarkan serangan kedua, sejak tadi, namun tangannya terhenti dengan ujung samurai menghadap keatas dan tangan siap menetak kan samurainya keleher Si Bungsu. Gerakannya terhenti ketika mendengar suara benda yang jatuh menimpa kerikil jalanan, dan sekilas saat yang kritis, dia melihat ditangan Si Bungsu tidak ada senjata apa pun, sedangkan baju tentang dadanya dilumuri darah, yang makin lama makin banyak!.

Dia segera sadar kalau Si Bungsu, sama sekali tidak berniat untuk mencabut samurainya, sama sekali tidak berniat melawannya. Dia masih tertegak dalam posisi menahan serangan terakhir, wajahnya pucat.

“Oh, tidak…” ujarnya seperti keluhan.

Di depannya Si Bungsu jatuh dengan kedua lututnya. Tangan kanannya memegang dadanya yang luka, seperti ingin menahan darahnya keluar yang mengalir deras. Matanya menatap Michiko, di wajah dan tatapannya tak ada rasa marah, tak ada rasa dendam, apalagi rasa benci. “Terima kasih, Michiko-san. Engkau telah menolong aku..bebas dari rasa berdosa karena menyebabkan kematian ayahmu. Alangkah lamanya aku menanti saat pembebasan dari rasa berdosa ini, alangkah jauhnya jalan yang akan kau tempuh untuk pulang. Maafkan aku…Michiko-san….”

Si Bungsu tidak sadar sepenuhnya, bahwa sebagian dari kata-kata yang diucapkan terucap setelah dirinya berada dalam pelukan Michiko. Gadis itu memekik, memeluk tubuh Si Bungsu erat-erat. Memekik dengan meneriakan kata-kata “Tidak” berkali-kali, memekikkan kata ”Tolong” berkali-kali!

“Tidaaaak, jangan tinggalkan aku Bungsu-san. Jangan tinggalkan aku. Oh budha, tolong hambamu ini, jangan biarkan dia meninggalkan aku..” Ratap Gadis itu.

Dalam gerimis yang semakin rapat, dalam deram gemuruh yang sahut bersahut Si Bungsu membuka mata, menatap kepada Michiko. Gadis itu terdiam, dia menggigit bibirnya di antara tubuhnya yang terguncang- guncang menahan tangis. Perlahan tangan Si Bungsu yang tadi menahan darah mengucur dari dadanya terangkat. Dengan tangan berlumur darah dipegangnya pipi Michiko. Di antara senyum Ikhlasnya dia berbisik.

“Michiko-san…jaga..dirimu baik-baik….”

“Maafkan aku, Bungsu-san. Maafkan aku…”ratapnya antara terdengar dan tidak.

Sama sekali tak ada niatnya untuk melukai apalagi membunuh Si Bungsu, lelaki yang siang malam memenuhi relung hatinya. Satu-satunya lelaki yang pernah merebut hatinya, yang siang malam dia rindukan. Lelaki yang dia cari sampai ke ujung dunia, tanpa mempedulikan apapun rintangannya. Kalau tadi dia menghunus samurai, itu dengan keyakinan yang amat sangat bahwa serangannya dengan amat mudah dapat dielakkan atau ditangkis oleh Si Bungsu. Dia sebenarnya sangat berharap dialah yang dilukai dan dilumpuhkan. Kalau Si Bungsu tidak mencintainya, dia rela mati di tangan lelaki yang dia cari ke segenap penjuru ini.

Dia memang mencari lelaki itu dengan dendam di hati. Tapi jika ditimbang mana yang berat antara dendam dengan rasa cintanya kepada lelaki itu, perbandingannya bisa satu untuk dendam, sepuluh untuk cinta. Dia benar-benar tidak menduga sedikitpun, bahwa gerakan Si Bungsu di awal tadi adalah gerakan untuk membuang samurai nya. Dalam pikiran nya, serangannya yang tak berbahaya dalam bentuk memancung dari atas kiri ke dada lelaki itu akan mudah digagalkan. Dia tahu, serangannya itu dapat di tangkis siapapun dengan gerakan sederhana sekali, apalagi oleh Si Bungsu.

Tapi Si Bungsu ternyata sama sekali tidak mencabut samurai nya. Dia merasa hiba melihat gadis itu memburunya ke mana-mana untuk membalas dendam. Dia amat menyesal telah menyebabkan Michiko sebagai anak tunggal kehilangan ayah. Kini tak ada lagi tempat gadis itu menggantungkan hidup. Ibunya sudah lama meninggal. Dia dapat merasakan betapa sepi dan terguncang nya jiwa Michiko setelah kematian ayahnya, dia dapat merasakan karena hal yang sama juga menimpa dirinya. Itulah sebab dia ingin segera mengakhiri dendam turunan itu. Itulah pula sebabnya kenapa dia sama sekali tidak mencabut samurai untuk melawan Michiko. Yang dia lakukan justru melemparkan samurai nya ke tanah. Dan saat itu serangan ke dadanya tak lagi sempat ditarik Michiko. Lalu…terjadilah tragedi dan malapetaka itu!

Dalam ketakutan ditinggalkan lelaki yang amat dicintainya itu, Michiko teringat ucapan pendeta Kuil Shimogamo yang menjadi senseinya berlatih samurai, sepeninggal ayahnya. Saat sensei itu tahu Michiko berlatih untuk mencari dan membalas dendam kepada Si Bungsu, pendeta itu mengingatkannya dengan lembut

: ”Saya tahu anak muda bagaimana musuhmu itu Michiko-san. Dia akan membunuh lawan-lawannya. Tapi percayalah, jika engkau bertemu kelak dengannya, dia takkan melawanmu. Dia adalah anak muda yang berbudi. Dia tak akan melawanmu, dia akan merelakan nyawanya di tanganmu. Percayalah, Nak . .”

Dia juga teringat penggalan dialognya suatu hari dengan Zato Ichi, pendekar legendaris Jepang yang ternyata juga sudah sangat mengenal  Si Bungsu setelah peristiwa  wafatnya Obosan Saburo Matsuyama. ”Michiko, muridku. Saya dapat menerka, bahwa antara kalian ada salah pengertian . .” ”Maksud bapak?” ”Salah fahaman itu datangnya bukan dari dia. Tapi dari engkau Michiko-san . .” ”Maksud bapak?” ”Maksud saya, kalian sebenarnya saling cinta . .. ” ”Tidak. Dia tak mencintai saya . . ” ”Bagaimana dengan engkau. Apakah engkau mencintainya?” Saat itu Michiko tak bisa menjawab pertanyaan Zato Ichi.

”Jawablah. Apakah engkau mencintainya?” ”Saya orang Jepang. Dia telah menyebabkan kematian ayah saya. Bagaimana mungkin dengan kedua perbedaan yang amat besar ini saya bisa mencintainya?” Zato Ichi tertawa bergumam, lalu menarik nafas panjang.

”Kalau engkau orang Jepang, apakah itu menjadi halangan untuk mencintai bangsa lain? Ah, sedangkan diriku yang tua tak berfikir sekolot engkau Nak. Yang penting bukan bangsa apa dia. Bukan pula bangsawan atau tidaknya dia. Tapi yang penting apakah engkau mencintainya dan dia mencintaimu. Jika hal ini terjadi timbal balik, maka persetan dengan segala perbedaan yang ada. Apakah tak pernah kau dengar betapa banyaknya orang yang kawin hanya karena mementingkan derajat, kekayaan, martabat, akhirnya perkawinan mereka jadi puing. Perkawinan mereka jadi neraka bagi diri mereka. Ah, saya sudah banyak mendengar perkawinan yang demikian Nak . . . ”

Terakhir, dia teringat dialognya dengan Salma, orang yang dicintai Si Bungsu sebelum bertemu dengannya, yang ternyata menjadi isteri sahabatnya, Overste Nurdin, Atase Militer Malaya yang berkedudukan di Kota Singapura. Saat itu dia akan naik pesawat ke Padang melalui Jakarta. Saat itu suami Salma berkata :

”Saya berharap akan dapat bertemu dengan kalian berdua, Michiko. Maksud saya engkau dan Si Bungsu. Saya tahu, engkau menaruh dendam padanya. Namun, saya benar-benar menginginkan tak satupun di antara kalian yang cedera…” Kala itu Michiko hanya tersenyum. Senyumnya kelihatan getir. Sebelumnya Salma juga sempat bicara empat mata dengannya.

”Sebagai sesama perempuan, Michiko, saya ingin mengatakan padamu. Engkau punya kesempatan untuk bertemu dengan lelaki yang sama-sama kita cintai. Engkau yang memiliki kesempatan paling besar untuk mendapatkan dirinya. Jangan engkau sampai dikuasai oleh dendam keparat itu. Itu nonsens sama sekali. Berfikirlah dengan akal sehat. Dia takkan mau melawanmu, aku tahu itu bukan sifatnya. Bila dia engkau bunuh Michiko, sama artinya engkau membunuh harapanmu sendiri. Kau akan menyesal seumur hidupmu.

Kalian kini sama-sama sebatangkara. Yang kalian butuhkan adalah kasih sayang. Bukan perkelahian dan saling bunuh. Sebagai seorang yang lebih tua darimu, Michiko san, saya ingin engkau bahagia. Saya ingin Si Bungsu bahagia. Dan saya yakin, kebahagiaan itu takkan kalian peroleh kalau kalian tidak bersama. Saya ingin mendengar kabar bahwa kalian menikah. Saya akan menanti kalian di sini. Datanglah sebagai suami isteri. Saya selalu berdoa untuk itu, Michiko, Adikku!”

Michiko tak bisa menahan air matanya. Dia memeluk Salma. Salma juga basah matanya. Kini, lelaki yang dia cintai dan dia cari ke ujung langit itu, bersimbah darah dan sekarat dalam pelukannya karena dimakan mata samurainya! Apa yang pernah diucapkan sesnseinya di Kuil Shimogamo dan Salma, bahwa anak muda itu takkan pernah mau melawannya, akan merelakan nyawanya di tangan Michiko, kini semua terbukti. Semua!

Di antara ratap sesalnya Michiko sayup-sayup seperti mendengar suara ledakan dan tembakan sahut menyahut. Disusul suara gemuruh. Semua suara berdesakan ke dalam kepalanya, susul menyusul dan kacau balau. Hiruk pikuk tak menentu. Bathinnya yang terpukul amat dahsyat akhirnya membuat pertahanan jiwanya berada di titik paling nadir. Mula-mula semuanya menjadi samar-samar, lalu akhirnya tubuhnya rebah ke jalan berkerikil tak sadarkan diri, dengan tetap memeluk tubuh Si Bungsu!

”Dia sadar..” ujar seseorang, disusul suara langkah beberapa orang pada mendekat. Lalu terdengar suara memanggil. ”Bungsu-san…” Si Bungsu membuka mata. ”Bungsu-san. Oh.. sukurlah.. sukurlah..” ujar Michiko sambil memegang tangan Si Bungsu dan menciumnya di bawah tatapan mata beberapa perawat dan dua orang dokter. ”Michiko…” ”Bungsu-san..” ”Dimana ini?” ”Ini Rumah Sakit Tentara, di Padang…” jawab seorang dokter yang juga tentara. ”Di Padang..?” ”Ya, di Padang..” ”Kapan saya dibawa kemari?” ”Sepuluh hari yang lalu..” ”Sepuluh hari..?” ”Ya..” ”Selama itu saya tidak pernah sadar?” ”Tapi sekarang sudah. Keadan Anda semakin amat membaik..” ujar dokter itu sambil memeriksa mata dan denyut nadi Si Bungsu.

Para dokter dan para perawat akhirnya meninggalkan ruang itu. Kini hanya tinggal dia dan Michiko. Ditatapnya gadis itu sambil mencoba mengingat kejadian terakhir. Sat itu dia baru keluar dari pemakaman kaum, setelah membersihkan kuburan ayah, ibu dan kakaknya. Di jalan menanjak dia melihat seseorang berjalan menuju ke pemakaman. Tapi saat hampir sampai di puncak tanjakan dia baru tahu, orang itu tetap tegak menunggunya di puncak tanjakan tersebut.

Setelah jarak mereka hanya sekitar tiga depa, dia baru menyadari bahwa orang yang tegak dipuncak tanjakan itu, yang nampaknya sengaja menunggu dia tiba, tak lain dari Michiko. Dan…dia ditantang untuk bertarung. Dia melemparkan samurainya ke jalan, tapi saat itu dadanya terasa amat pedih. Kemudian dia jatuh diatas kedua lututnya. Tangannya menekan dadanya yang pedih, tapi darah mengalir keluar. Makin lama makin banyak. Teringat hal itu Si Bungsu meraba dadanya. Michiko memahami apa yang ada dalam fikiran Si Bungsu. ”Maafkan aku, Bungsu-san. Maafkan aku…” ujarnya terisak sambil meraih tangan Si Bungsu dan kembali menciumnya. ”Jangan menangis, Michiko san…jangan menangis… Kemarilah, peluk aku..” ujar Si Bungsu sambil menarik tangan Michiko dengan lembut. Michiko merebahkan kepalanya ke dada Si Bungsu. Si Bungsu membelai rambut gadis itu dengan lembut. ”Ingat malam itu di kereta api dari Gamagori menuju Nagoya?..?”

ujar Si Bungsu perlahan. Michiko mengangkat kepalanya, menatap Si Bungsu, kemudian berbisik.

”Takkan pernah kulupakan saat itu, Bungsu-san. Itulah sat paling bahagia dalam hidupku. Kau peluk bahuku, dan aku tertidur di bahumu dari senja hingga tengah malam,” ujar Michiko sambil kembali merebahkan kepalanya di dada Si Bungsu. ”Engkau mau mendengarkan nyanyianku…?” Michiko mengangguk di dada Si Bungsu, pertanyan itu sama persis dengan pertanyaan yang diucapkan anak muda itu di kereta api bertahun yang lalu. “Ya, saya suka. Menyanyilah Bungsu-san…”

Bisiknya, menirukan kata-kata yang juga persis sama dengan yang dia ucapkan saat menjawab pertanyan anak muda itu, berbilang tahun yang lalu, dalam kereta api yang meluncur dari Gamagori menuju Nagoya. Dengan masih memeluk bahu gadis itu Si Bungsu mulai batuk-batuk kecil mengatur suara, lalu dengan suara yang berat dan lembut terdengar nyanyiannya:

“Ame ga fuuttemo watashi wa ikimasu nakanaide kudasai watashi o wasurenaide kudasai sayonara….” (Meskipun turun hujan, saya akan pergi jangan menangis jangan lupakan saya selamat tinggal…)

Di kereta dahulu, Michiko mengangkat kepalanya begitu lagu itu berakhir. Menatap mata anak muda itu tepat-tepat. Tapi kini, dia tidak mengangkat kepalanya, dia mengulangi lagi kata-katanya kala itu : “Anata wa Nippon no uta o shitte imasu…Anda mengetahui lagu Jepang” “Hai, sukoshi dekimasu…Ya, saya mengetahui sedikit..” jawab Si Bungsu, juga mengulang secara amat persis ucapannya di kereta menuju Nagoya dahulu. Michiko mengangkat wajahnya begitu ucapan Si Bungsu selesai. Dia menatap anak muda itu tepat-tepat. Si Bungsu melihat air mata mengalir perlahan di pipi gadis itu.

Michiko

”Nakanaide kudasi, Michiko-san. Jangan menangis, Michiko..” ujar Si Bungsu sambil menghapus air mata di pipi Michiko dengan jemarinya dengan lembut. Michiko meraih tangan Si Bungsu menciumnya, lalu berkata di antara isaknya yang tertahan. ”Berjanjilah tidak lagi meninggalkan aku, Bungsu san. Berjanjilah..”

Si Bungsu meraih wajah Michiko, menariknya mendekati wajahnya. Kemudian dengan lembut dia cium keningnya, matanya dan..bibirnya. Michiko menggigil dalam pelukan anak muda itu. Menggigil karena haru dan bahagia. ”Itu janjiku, Michiko-san…Itu janjiku..” bisik Si Bungsu sambil memeluk gadis itu dengan lembut. Dalam posisi seperti itu kedua anak manusia yang berasal dari negeri yang amat berjauhan itu tertidur. Besoknya Si Bungsu kedatangan dua orang tamu. Keduanya berbaret merah. Si Bungsu sudah bisa duduk, namun belum dibolehkan berjalan. Tunggu sehari dua lagi, sampai luka di dada benar-benar pulih, begitu kata dokter. Dia merasa surprise saat mengetahui tamu yang datang adalah Letnan Fauzi dan Letnan Azhar dari RPKAD. Mereka bersalaman dan berpelukan dengan akrab. Si Bungsu mengenalkan kedua perwira itu dengan Michiko. Keduanya membungkuk dengan hormat sebelum menyalami gadis cantik itu. Si Bungsu mencegah Michiko yang akan keluar, maksud gadis itu agar dia bisa berbicara bebas dengan kedua temannya itu.

“Tak ada rahasia antara kami, kedua beliau sahabat saya. Karena itu juga sahabatmu Michiko-san..” ujar Si Bungsu. Dan merekapun ngobrol berempat. Dari obrolan itu menjadi jelas bagi Si Bungsu maupun Michiko, apa sebab mereka sampai ke Rumah Sakit Tentara di Padang ini. Padahal sebelumnya mereka berada di Situjuh Ladang Laweh. Ternyata saat mereka berhadap-hadapan di puncak pendakian dekat makam kaum di Situjuh Ladang Laweh itu dua minggu yang lalu, APRI sedang melakukan operasi pembersihan ke beberapa kantong PRRI di pinggang Gunung Sago itu. Yang memimpin operasi itu adalah peleton yang dipimpin Letnan Fauzi dan peleton Letnan Azhar.

Pasukan mereka sampai ke pemakaman itu karena akan mengambil jalan pintas memotong jalur pelarian empat orang anggota PRRI yang melarikan diri dari penyergapan di salah satu rumah di Situjuh Ladang Laweh. Semula dua anggota pasukannya menyangka lelaki dan perempuan yang mereka temukan di puncak pendakian itu sudah tewas terkena peluru nyasar. Soalnya keduanya berlumur darah. Tapi begitu didekati, saat kedua tubuh itu disorot lampu senter, dua orang anak buahnya terkejut.

Dia sangat mengenal wajah orang yang terluka dalam pelukan perempuan Jepang yang juga pingsan itu. Dia mengenalnya karena dia adalah salah seorang anggota RPKAD yang melihat orang itu bertarung dengan komandannya. “Bungsu, ini Si Bungsu..!” serunya sambil berseru dan beberapa kali memberi isyarat kepada Letnan Fauzi lewat cahaya lampu senter. Saat Letnan Fauzi sampai di sana, dengan terkejut dikenalinya orang yang pernah bertarung dengannya itu. “Berikan bantuan darurat, periksa wanita ini. Panggil tandu …” perintah Letnan Fauzi.

Tak lama kemudian Letnan Azhar sampai di sana. Mereka tak heran kenapa Si Bungsu dan gadis Jepang itu ada di sana. Mereka telah membaca laporan intelijen tentang kedua orang ini. Riwayat Si Bungsu hampir lengkap dimuat di laporan intelijen itu. Mulai saat pembantaian keluarganya sebelum kemerdekaan, sampai saat dia “gentanyangan” membunuhi Jepang dan Belanda di Payakumbuh, Bukittinggi dan Pekanbaru.

Termasuk di dalam laporan itu bahan yang dikirimkan oleh Overste Nurdin, Atase Militer Indonesia di Malaya yang berkedudukan di Singapura. Mereka juga mendapat data intelijen dari Konsul RI di Australia. Tentang Michiko, selain informasi dari Overste Nurdin, juga didapat informasi dari Jakarta. Dalam pergolakan ini dia dinilai militer sebagai orang yang sangat netral.

Dalam kasus tertentu dia melabrak anggota APRI yang tidak benar. Dalam kasus lain dia menghantam orang PRRI yang berbuat aniaya kepada rakyat. Kenetralan yang sangat terjaga dan karenanya sangat dihormati. Tentang apa sebab dan apa tujuan Michiko mencari Si Bungsu, informasinya mereka peroleh juga dari laporan Overste Nurdin. Laporan itu tidak begitu lengkap, hanya dituliskan bahwa selain membawa-bawa dendam, Michiko sebenarnya mencintai Si Bungsu. Laporan dari Overste Nurdin dikirim ke Jakarta via telegram. Diteruskan ke perwira tertentu yang berada di Sumatera Barat.

“Kau boleh tangguh dan menang bertarung dengan selusin lelaki, Bungsu. Termasuk dengan aku. Tapi kami sudah menduga, kau takkan berdaya menghadapi Michiko…” ujar Letnan Fauzi bergurau. “Dan itu sudah kami buktikan ketika menemukan engkau sekarat di Situjuh..” sambung Letnan Azhar. Si Bungsu tersenyum dan memandang pada Michiko. Gadis itu, yang sudah amat fasih berbahasa Indonesia, karena belajar dari Salma dan Nurdin saat di Singapura, tunduk tersipu-sipu. “Lain kali, kalau kita harus melawan Bungsu lagi, kita minta tolong saja pada Michiko..” ujar Letnan Azhar, disambut tawa berderai Letnan Fauzi.

Si Bungsu yang ikut tertawa tiba-tiba terpekik, karena lengannya dicubit Michiko. Cubit dan pekik itu menyebabkan tawa mereka makin berderai di dalam kamar rawat inap itu. Lepas dari pertemuan dan senda gurau yang membahagiakan itu, menjadi jelas pula bagi Bungsu dan Michiko, pada malam terjadinya peristiwa terlukanya Si Bungsu itu mereka berdua dilarikan dengan memakai truk pengangkut tentara ke Payakumbuh. Kemudian atas perintah kedua letnan RPKAD itu dia dilarikan ke Rumah Sakit Tentara di Padang.

Dengan truk yang dilengkapi kasur malam itu juga melarikan mereka ke Padang, dikawal oleh selusin anggota RPKAD. Hal itu dilakukan kedua perwira RPKAD itu setelah terjadi “uji tanding” antara Si Bungsu dengan Letnan Fauzi. Jika sebelumnya mereka hanya menerima laporan intelijen tentang apa dan mengapa Si Bungsu dan Michiko, tiga hari setelah uji tanding itu datang sebuah daftar dari Markas APRI berisi nama dua tiga orang di Sumatera Barat yang diberi kode HD, “Harus Dilindungi”. Di antara sedikit nama yang diberi kode HD itu terdapat nama Kari Basa dan Bungsu! Untuk melaksanakan perintah berlabel HD itu tentu saja mereka tak boleh kehilangan jejak orang-orang tersebut. Namun letnan itu kelabakan mencari dimana keberadan Si Bungsu. Ketika Michiko muncul di Bukittinggi, akhirnya diputuskan untuk mengawasi gadis itu dari jauh. Mereka yakin, kedua orang itu pasti akan bertemu. Karenanya diam-diam Michiko dijadikan sebagai “penunjuk jalan” dalam mencari Si Bungsu.

Namun adanya perintah berkode HD itu, berikut menjadikan Michiko sebagai penunjuk jalan, tak pernah diungkapkan kedua letnan itu kepada siapapun, tentu saja termasuk kepada Si Bungsu dan Michiko. Dari pertemuan hari itu pula Si Bungsu mengetahui, bahwa ke Sumatera Barat ini RPKAD yang dikirim hanya dua peleton yang dipimpin Fauzi dan Azhar. Sementara ke Riau dikirim satu batalyon, berkekuatan lebih kurang seribu orang.

Hal itu disebabkan pemerintah Pusat mengamankan PT Caltex yang berkantor di pinggiran kota Pekanbaru, serta ladang-ladang minyaknya yang bertebaran di dalam belantara Riau tersebut. Letnan Fauzi dan Letnan Azhar memerlukan datang menemui Si Bungsu, karena dua peleton RPKAD yang mereka pimpin akan kembali ke Jakarta. Masa tugas mereka selama tiga bulan di daerah ini sudah berakhir.

“Terimakasih, Letnan. Aku berhutang nyawa pada kalian…” ujar Si Bungsu dengan nada bergetar. “Kalau kalian nikah nanti jangan lupa mengundang kami, awas kalau lupa..” ujar Fauzi saat akan meninggalkan ruangan itu. Dan para sahabat itupun berpisah dalam suasana penuh haru.

Beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit Si Bungsu sangat terkejut ketika mendengar kabar bahwa ayah Salma yang bernama Kari Basa mati tertembak di Bukttinggi. Dia ditembak malam hari, saat akan masuk ke rumahnya. Sampai sekarang tidak diketahui pihak mana yang menembaknya. Overste Nurdin dan Salma isterinya telah sampai di Bukittinggi dua hari yang lalu. Mereka terbang langsung dari New Delhi dimana Nurdin bertugas ke Jakarta, kemudian ke Padang dan diantar pakai jip yang dikawal dua truk tentara ke Bukittinggi. Si Bungsu, termasuk Michiko, memutuskan untuk datang ke Bukittinggi menemui kedua sahabatnya itu.

Sementara Michiko kembali teringat ucapan Salma di Airport Changi, saat akan berangkat ke Jakarta, untuk seterusnya mencari Si Bungsu ke kampungnya. Saat itu Salma berkata: “Sebagai sesama perempuan, Michiko, saya ingin mengatakan padamu. Engkau punya kesempatan untuk bertemu dengan lelaki yang sama- sama kita cintai. Engkau yang memiliki kesempatan paling besar untuk mendapatkan dirinya. Jangan engkau sampai dikuasai oleh dendam keparat itu. Itu nonsens sama sekali. Berfikirlah dengan akal sehat.

Dia takkan mau melawanmu, aku tahu itu bukan sifatnya. Bila dia engkau bunuh Michiko, sama artinya engkau membunuh harapanmu sendiri. Kau akan menyesal seumur hidupmu. Kalian kini sama-sama sebatangkara. Yang kalian butuhkan adalah kasih sayang. Bukan perkelahian dan saling bunuh. Sebagai seorang yang lebih tua darimu, Michiko san, saya ingin engkau bahagia. Saya ingin Si Bungsu bahagia. Dan saya yakin, kebahagiaan itu takkan kalian peroleh kalau kalian tidak bersama. Saya ingin mendengar kabar bahwa kalian menikah. Saya akan menanti kalian di sini. Datanglah sebagai suami isteri. Saya selalu berdoa untuk itu, Michiko, Adikku!”

Michiko termenung mengingat kata-kata: “Datanglah sebagai suami isteri. Saya selalu berdoa untuk itu, Michiko, Adikku!” Oo, alangkah inginnya dia hal itu terwujud. Alangkah inginnya. Tengah dia menghayalkan hal tersebut tiba-tiba dia dikejutkan suara Si Bungsu : “Michiko-san…” “Ya…?” “Kita akan ke Bukittinggi, kan? “Ya..” “Secepatnya, kan?” “Ya..” “Michiko-san..” “Ya..?”

Si Bungsu menatapnya. Sepi, Michiko menunggu apa yang akan disampaikan Si Bungsu lebih lanjut. “Di negeri kami ini, yang melamar seorang gadis adalah pihak ibu dan keluarga perempuan pihak lelaki. Tapi saya tidak lagi punya keluarga. Kita sama-sama sebatang kara. Kalau nanti kita sudah di Bukittinggi, saya akan meminta Salma dan Nurdin melamarmu.

Engkau akan menjadi tempat aku mengabarkan sakit dan senang, aku tempat engkau mengabarkan sakit dan senang pula. Maukah engkau menjadi isteriku, Michiko-san? “ Michiko menatap Si Bungsu, kemudian berdiri. Lalu menghambur ke dalam memeluk lelaki itu. Dia menangis terisak-isak, tenggelam oleh rasa haru dan bahagia yang tak bertepi. “Hati dan jiwaku milikmu, kekasihku. Milikmu, selamanya-lamanya….!”

Mereka menompang konvoi tentara pusat yang akan berangkat ke Bukittinggi. Di dalam konvoi yang berjumlah belasan truk dan bus itu, selain penompang kalangan sipil terdapat puluhan anak-anak SGKP. Semula ada kekhawatiran diantara penompang akan adanya pencegatan. Tetapi untuk menghilangkan rasa takut dan ketegangan, tentara yang ada di setiap truk menyuruh anak-anak sekolah itu bernyanyi. Namun lewat Nagari Sicincin mereka pada lelah. Malah ada yang mengantuk. Konvoi itu melaju terus, dengan di depan sekali sebuah jip tentara kemudian dua truk berisi pasukan, ketiganya dibekali dengan senapan mesin, diselang seling bus dan truk berisi anak sekolah dan sipil dan di belakang sekali tiga truk penuh tentara. Sebahagian besar penompang dan tentara masih saling berbicara perlahan tanpa melupakan kewaspadaan.

Lepas dari Kayu Tanam konvoi memperlambat perjalanan karena mulai memasuki areal hutan berbukit di Bukit Tambun Tulang. Tak lama kemudian mereka memasuki kawasan Lembah Anai dengan air terjun yang indah. Sebenarnya saat masih berada di kawasan Bukit Tambun Tulang tiba-tiba saja ada perasaan tak sedap menyelusup ke hati Si Bungsu. Matanya menatap ke bukit-bukit batu terjal tatakala memasuki Lembah Anai.

Lalu…tiba-tiba terjadilah tragedi berdarah itu! Dari hutan di bukit-bukit batu curam di kiri kanan lembah itu tiba-tiba saja konvoi disiram tembakan mitraliur. Tidak itu saja, tembakan bazoka melemparkan sebuah truk dan sebuah bus penuh penompang dan tentara ke dalam sungai berbatu. Si Bungsu dan beberapa penompang sipil dan belasan tentara berada di truk yang terlempar itu! Sebagian dari konvoi itu berhenti mendadak. Jip yang berada di depan sekali, yang berada di tempat terbuka mempercepat larinya mencoba berlindung di tikungan.

Namun serentetan tembakan mitraliur membunuh seluruh isi jip itu, sementara jip itu sendiri baru berhenti tatkala menabrak tebing batu di kirinya. Beberapa bus dan truk tersandar ke tebing batu dalam usaha mengelak dari tembakan membabi buta. Tak ayal lagi, konvoi APRI itu masuk perangkap PRRI! Para penumpang berhamburan turun dan menjauhi bus dan truk. Menghindar dari daerah terbuka agar tidak menjadi sasaran peluru. Untuk itu jalan satu-satunya adalah masuk ke hutan terdekat. Hutan di wilayah itu hanya tumbuh di dinding tebing batu yang curam.

Apa boleh buat mereka terpaksa, dan harus, mendaki hutan di tebing terjal itu. Selain menghindari celaka dari sasaran peluru, sekaligus menghindar dari celaka bila truk atau bus meledak. Michiko berada di dalam bus yang tersandar ke dinding batu dan penompangnya terdiri rombongan anak SGKP yang bertemperasan turun menyelamatkan diri itu! Namun malang memang tengah mengikuti mereka. Peluru yang ditembakkan oleh PRRI dari puncak-puncak tebing, yang sebenarnya ditujukan kepada tentara pusat benar- benar “tak bermata”.

Tidak bisa membedakan mana yang tentara mana yang sipil. Mana yang lelaki mana perempuan. Akibatnya belasan anak-anak SGKP dan penompang sipil lainnya tersungkur dihantam peluru begitu mereka berhamburan turun dari bus astau truk. Belasan lainnya bernasib sama, meski mereka sudah berada di dalam hutan di tebing terjal dalam upaya menyelamatkan diri. Salah seorang di antara korban yang kena tembak itu adalah Michiko!

Hutan di bukit cadas Lembah Anai itu sudah ditelan malam yang kental ketika seorang anggota PRRI berpangkat letnan dan lima anggotanya “membersihkan” hutan itu. Dengan dua buah senter mereka memeriksa lekuk dan tonjolan batu yang mereka lewati. Mereka lewat di sana karena daerah itu memang sudah dipersiapkan sebagai jebakan yang mematikan bagi konvoi tentara pusat yang akan lewat di sana.

PRRI memerlukan waktu sekitar beberapa minggu untuk mempersiapkan jebakan tersebut. Setiap bukit, tebing dan pohon dengan seksama mereka pelajari situasinya. Termasuk mempelajari kemana saja jalan mengundurkan diri atau jalan lari bila terjadi hal-hal yang di luar perhitungan. Termasuk bila terjadi serangan balik dari pihak APRI.

Letnan dan empat anggotanya itu sedang berada di pinggang salah satu tebing terjal di Lembah Anai, tatkala mereka mendengar suara rintihan. Setelah lelah mencari dengan cahaya senter dalam kegelapan itu, mereka menemukan di puncak sebuah tonjolan batu sesosok tubuh wanita. Nampaknya dia dengan susah payah memanjat batu tersebut agar tidak dimangsa binatang buas. “Ini orang asing, Let…” ujar salah seorang yang berpangkat Sersan. Mereka menatap wajah perempuan yang tersandar separoh sadar itu.

“Jepang! Ini…Astaghfirullah,…ini pasti gadis Jepang yang mencari Si Bungsu..” ujar yang berpangkat letnan. Ketiga mereka memperhatikan Michiko dengan perasaan tak percaya. Cerita tentang Si Bungsu dan gadis Jepang yang mencarinya itu, sampai Si Bungsu mengalami luka di Situjuh Ladang Laweh dan dirawat di Rumah Sakit Tentara di Padang atas pertolongan dua perwira RPKAD, sudah bersebar dari mulut ke mulut.

“Kita tidak mungkin meninggalkannya di sini, dia memerlukan pertolongan..” ujar si Sersan. Kelima mereka menyepakati ucapan si Sersan. Mereka lalu membuat tandu darurat dan menandu Michiko makin masuk ke belantara, naik turun bukit arah ke Gunung Singgalang. Jalan itu sudah mereka pelajari dua bulan yang lalu, merupakan jalan terdekat untuk tembus ke kampung Balingka. Selain menandu Michiko mereka juga membawa tiga pucuk senjata yang tertinggal oleh pasukan APRI.

Menjelang subuh mereka sampai di barak darurat yang dibuat di pinggang Gunung Singgalang. Barak itu sengaja dibuat di sana, agar tak terjangkau oleh APRI, dan memudahkan droping senjata oleh helikopter Amerika yang terbang menyelusup dari Laut Cina Selatan. Namun celaka menghadang, pada saat bersamaan dengan kedatangan mereka kebetulan sebuah helikopter Amerika sedang menurunkan senjata. Tapi saat itu pula tiba-tiba pasukan APRI menyerang.

Pasukan APRI ternyata tidak hanya melakukan serangan balik atas peristiwa Lembah Anai yang terjadi kemarin pagi, tapi juga melakukan serangan mendadak ke salah satu tempat rahasia PRRI menerima droping senjata dari Amerika melalui udara. Apri menjadi curiga saat tengah malam ada deru helikopter. Setelah beberapa kali hal itu terjadi, mata-mata yang disebar akhirnya mengetahui maksud kedatangan heli itu, serta di mana lokasi droping senjata dilakukan.

Keadaan benar-benar kacau balau. Di barak darurat di tengah hutan di pinggang Singgalang itu hanya ada satu peleton PRRI. Mereka disiagakan di sana untuk menunggu dan membawa senjata yang didrop secara rahasia itu. Itu sebabnya, ketika APRI belum mengenal bazoka, PRRI sudah menggunakannya. Senjata itu merupakan senjata anti-tank.

Tempat itu dipilih karena letaknya yang tersembunyi, tapi strategis. Ketika serangan datang dengan mudah mereka menyelusup dan lenyap berlindung ke jurang-jurang di sekitarnya. Dalam peristiwa serangan mendadak menjelang subuh itu, si letnan masih sempat meminta pertolongan kepada pilot helikopter untuk menyelamatkan Michiko yang terluka, dan saat itu tidak sadar diri.

“Tomas, keadaan gadis ini kritis, kalau dibiarkan di sini nyawanya bisa tidak tertolong..” ujar letnan itu. “Tapi saya harus ke Singapura..” jawab pilot bernama Tomas dalam gebalau yang mencekam itu. “Justru itu, bawalah dia. Dari sana lebih dekat ke negerinya di Jepang sana..” ujar si letnan. Pembicaraan mereka terputus oleh ledakan peluru mortir. Saat pilot dan copilot heli itu selesai menurunkan peti-peti berisi senjata, dibantu beberapa orang anggota PRRI, si letnan menyuruh anggotanya menaikkan Michiko yang masih belum sadar ke helikopter. Kemudian mengikatkan tubuhnya dengan kuat. Tembakan pasukan APRI terdengar makin dekat. Dengan berkali-kali mengucapkan “shit…shit..shit” pilot Amerika itu melompat ke helikopternya yang mesinnya tidak pernah dimatikan.

“Di peti itu ada lima pucuk 12,7 dan 10 buah Bazoka serta dua lusin gren…”teriak si pilot sambil menaikan helikopternya mengudara dan segera menjauh dari pinggang gunung itu,dan lenyap di kegelapan malam. Kembali menuju Laut China Selatan. Si Letnan dan anggotanya yang masih bertahan segera mengamankan peti-peti senjata itu. Mendorongnya ke sebuah goa batu cadas, kemudian mereka ikut masuk kedalamnya. Goa itu pintunya kecil saja, namun makin ke dalam makin besar dan jalannya menurun.

Sekitar lima puluh meter goa itu berkelok ke kanan jalanya kembali mendaki. Ujungnya muncul di seberang pintu yang tadi mereka masuki. Pintu masuk dan pintu keluar itu dipisahkan oleh sebuah jurang yang sangat dalam, goa itu seperti membentuk huruf “U”. Artinya dari mulut goa dimana kini mereka berada dapat mengawasi mulut goa tersembunyi yang tadi mereka masuki, yang jaraknya hanya sekitar 50atau 60 meter, tapi dipisahkan oleh jurang yang amat dalam.

Mereka tak perlu mengawasi apa-apa, sebab pintu masuk itu amat terlindung dan mustahil ditemukan pihak APRI. Yang akan mereka temukan paling-paling barak darurat yang berada sekitar seratus meter dari mulut goa. Mereka lalu tidur kelelahan, bukan pekerjaan yang ringan naik turun tebing terjal dari siang sampai malam, apalagi harus memikul tandu bermuatan orang yang sedang sekarat.

Si Bungsu membuka mata dan dia mendapati dirinya di bangsal sebuah rumah sakit. Itu terlihat dari tempat tidur berderet-deret dan belasan pasien sedang dirawat. Dia rasakan kepalanya berdenyut-denyut. Saat dia raba ternyata kepala nya terbungkus perban. Dia coba menggerakan kedua kakinya, kemudian kedua tangannya. Alhamdulillah,tak ada yang patah atau putus. Jadi hanya kepalanya yang cedera, itupun dirasanya tidak terlalu parah. Buktinya dia bisa menolehkan kepalanya perlahan kekiri maupun kekanan, hatinya jadi agak lega.

Dari penjelasan perawat diketahuinya bahwa penumpang konvoi, termasuk para pelajar SGKP, meninggal dan pencegatan itu. Konvoi itu baru bisa lepas dari jebakan setelah sore, yaitu ketika datang sekompi tentara dari Padang, di antaranya sepeleton RPKAD yang baru sehari datang dari Jakarta. Selama terjadinya pergolakan sudah dua kali peristiwa yang merenggut begitu banyak korban. Pertama penyerangan ke kota Bukittinggi, kedua pencegatan di Lembah Anai. Dua tragedi itu meninggalkan bekas yang sangat dalam dan tak mudah dilupakan. Apalagi Mayoritas yang tewas dalam serangan ke bukittinggi adalah penduduk sipil. Sementara Mayoritas korban di Lembah Anai adalah anak-anak sekolah dan juga sipil! Peluru tidak pernah bisa membedakan mana orang yang terlibat pertempuran mana yang tidak.

Si Bungsu mencari informasi keberadaan Michiko. Namun tak seorang pun perawat itu yang mengetahui ada seorang gadis Jepang yang dikirim kerumah sakit itu. Dua anak SGKP yang kebetulan menaiki bus yang sama dengan Michiko juga tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis itu.

“Kami mengetahui keberadaannya di dalam bus, soalnya selain orang asing, dia amat cantik, ramah dan rendah hati pula. Di Bus dia menjadi sahabat semua orang, tapi ketika sopir tertembak dan bus bersandar ke dinding batu, semua kami pada berhamburan keluar menyelamatkan diri. Beberapa teman termasuk saya terkena tembakan setelah berada di luar. Saat keluar dari bus itu kami tak mengingat apapun, kecuali mencari perlindungan kedalam hutan terdekat….” tutur gadis yang perutnya terkena tembakan itu.

Tapi baik gadis anak SGKP itu maupun dua perempuan lainnya yang berada satu bus dengan michiko, mengatakan bahwa mereka semua mereka mendaki tebing terjal. Mencari pohon atau bebatuan yang bisa dijadikan perlindungan dari terjangan peluru. Malangnya mereka tidak tahu peluru datangnya dari mana, sehingga mereka harus kemana. Rasanya tembakan dari depan, belakang, kiri, kanan, bahkan dari atas! Nyaris tidak ada tempat berlindung sama sekali.

Siang itu Si Bungsu di beritahu kalau ada dua tamu yang ingin menemuinyai. Ketika tamu datang, dua orang tentara berbaret merah disangkanya Letnan Fauzi dan Letnan Azhar.Ternyata meleset. “Assalamualaikum …” ujar anggota RPKAD berpangkat Kapten yang baru datang itu sambil mengulurkan tangan. “Waalaikumsalam…”Jawab Si Bungsu sambil menerima salam tentara itu. “Saya Syafrizal, sanak yang bernama Bungsu,kan?”

“Ya…” “Yang pernah ke Jepang dan berasal dari Situjuh Ladang Laweh?” Si Bungsu heran dan menatap tentara itu. Darimana orang ini tahu siapa dirinya? “Bapak tahu nama saya dari mana?” “Panggil saya Syafrizal saja. Saya tahu banyak tentang Sanak. Saya dengar dari Fauzi, ponakan saya..” “Fauzi, anggota RPKAD itu..?” “Ya, dia keponakan saya. Kami semua di Jakarta. Saat baru pulang dari bertugas di daerah ini, dia bercerita banyak tentang situasi di sini. Termasuk tentang Sanak. Apalagi kemudian saya ditugaskan menggantikan peleton yang dia pimpin di daerah ini. Kenalkan, ini Arif, teman saya..” ujar Kapten itu memperkenalkan temannya yang sama-sama datang dengan dia, yang berpangkat Sersan Mayor.

Mereka lalu duduk di ruang tamu rumah sakit itu. Tiba-tiba Si Bungsu dikejutkan oleh pertanyaan Kapten Syafrizal. “Sudah dapat kabar tentang Michiko? “Beb…belum” jawabnya gugup dan berdebar. Kapten Syafrizal menceritakan bahwa setelah penyergapan di Lembah Anai itu Michiko ditemukan malam hari di atas sebuah batu besar, dalam keadaan terluka dan tak sadar diri. Karena ceita tentang Si Bungsu yang “sahabat” PRRI maupun “sahabat” APRI sudah tersebar luas, maka kisah dia dicari gadis Jepang cantik bernama Michiko juga ikut tersebar luas. Itu sebab anggota PRRI yang menemukannya segera mengenali gadis Jepang yang luka itu adalah kekasih Si Bungsu, dan mereka merasa berkewajiban menolongnya.

Atas perintah seorang perwira pasukan PRRI Michiko lalu dibawa dengan tandu ke barak rahasia PRRI di pinggang Gunung Singgalang, untuk diselamatkan. Barak rahasia itu dibuat untuk menerima suplay senjata dari Amerika, yang sering mengirim persenjataan dengan helikopter dari salah satu tempat di Laut Cina Selatan, atau mungkin dari Singapura. Bersamaan dengan sampainya mereka di barak tersembunyi tersebut, APRI yang telah mencium keberadaan barak rahasia PRRI itu sebagai salah satu tempat menunggu suplay senjata dari Amerika, menyerang tempat tersebut. Perwira PRRI itu meminta tolong kepada pilot helikopter Amerika bernama Tomas untuk membawa Michiko yang terluka ke Singapura. Pilot itu semula menolak, tapi karena Michiko sudah dinaikkan ke heli, dan serangan APRI makin menjepit, heli itu berangkat dengan membawa Michiko. Si Bungsu termenung mendengar penuturan Komisaris Polisi Syafrizal tersebut. “Dari siapa cerita ini Sanak peroleh?” tanya Si Bungsu perlahan. “Kendati PRRI dan tentara Pusat berperang, namun sejak awal APRI memiliki kontak-kontak khusus dengan beberapa perwira PRRI.

Perang saudara ini sama-sama tidak dikehendaki. Baik oleh PRRI maupun tentara Pusat. Cuma sudah kadung terlanjur, kami dengar kabarnya sudah ada usulan kepada Presiden Soekarno untuk secepatnya mengeluarkan amnesti bagi anggota PRRI yang meletakkan senjata. Nah, informasi ini saya peroleh dari sumber-sumber itu. Dari orang-orang yang merasa Sanak adalah sahabat mereka, disampaikan kepada tentara APRI yang juga merasa Sanak adalah sahabat mereka pula..” “Terimakasih atas informasi yang sanak sampaikan..” ujar Si Bungsu perlahan. “Sanak sahabat kami dan semua pihak, karenanya kami senang bisa membantu..” “Terimakasih..” ujar Si Bungsu, masih dalam nada perlahan dengan tatapan mata menerawang ke hamparan sawah di depan rumah sakit tersebut. “Saya juga mendapat informasi bahwa Sanak akan ke Bukittinggi, menemui Overste Nurdin yang mertuanya mati tertembak di Bukittinggi..”

Si Bungsu menatap Kapten itu. Tak cukup banyak orang yang tahu maksud kepergiannya bersama Michiko ke Bukittinggi, kini Kapten ini ternyata telah mengetahuinya. “Selain sahabat semua orang, Sanak juga orang penting bagi kami maupun PRRI. Karena itu jangan kaget kalau kemanapun Sanak akan ada yang secara diam-diam mengikuti. Mungkin diikuti secara beranting. Samasekali tidak bermaksud mencampuri urusan Sanak, tapi semata-mata menjaga keselamatan Sanak. Baik tentara Pusat maupun orang-orang PRRI amat rugi kalau terjadi malapetaka terhadap Sanak. Kembali ke pokok persoalan, jika akan ke Bukittinggi saya juga akan ke sana. Kami membawa jip. Kabarnya Overste Nurdin dan isterinya sudah akan berangkat kemaren ke Padang untuk kembali ke India melalui Jakarta. Tapi karena pencegatan di Lembah Anai itu mereka mengundurkan keberangkatannya, mungkin dalam sehari dua ini. Saya mendapat tugas mengamankan perjalanan suami isteri Atase Militer Indonesia di India itu sampai ke Jakarta..”

Tidak ada pilihan terbaik bagi Si Bungsu, selain menuruti ajakan Kapten RPKAD itu ke Bukittinggi bersamanya. Namun tengah dia bersiap-siap, orang yang akan dikunjunginya tersebut justru tiba di rumah sakit itu. Overste Nurdin lalu membawa Si Bungsu pindah ke rumah dimana dia menginap, yaitu di Mes Perwira di kota itu. Nurdin juga mengajak Kapten Syafrizal dan Sersan Arif ke mes tersebut. Mereka lalu terlibat pembicaraan penuh keakraban. “Baru kemarin sore saya mendapat kabar bahwa engkau berada dalam konvoi yang dicegat di Lembah Anai itu. Saya juga mendapat informasi tentang Michiko seperti yang dituturkan Kapten Syafrizal..” ujar Overste Nurdin.

“Kami doakan Uda segera bertemu dengan Michiko..” ujar Salma yang sejak tadi hanya berdiam diri, menyela pembicaraan perlahan. “Melalui telegram saya sudah kontak teman di Konsulat Singapura, termasuk teman-temanmu bekas pasukan Green Baret di sana untuk mencari informasi. Mereka mengatakan bahwa helikopter pembawa senjata gelap itu memang dari salah satu tempat di Singapura. Tapi, maaf, pilot yang bernama Thomas veteran Angkatan Udara Amerika itu kembali ke kota tempat tinggalnya, di Dallas Amerika. Dan, sekali lagi maaf, dia membawa Michiko yang sakit untuk diobat di sana..” Salma memperhatikan lelaki yang pernah amat dia cintai itu. Si Bungsu terdiam. Dia teringat pembicaraannya dengan Michiko di Padang, beberapa hari sebelum berangkat ke Bukittinggi. Di negeri kami ini, yang melamar seorang gadis adalah pihak ibu dan keluarga perempuan pihak lelaki. Tapi saya tak lagi punya keluarga. Kita sama-sama sebatang kara. Kalau nanti kita di Bukittinggi, saya akan meminta Salma dan Nurdin melamarmu. Engkau tempat aku mengabarkan sakit dan senang, aku tempat engkau mengabarkan sakit dan senang pula. Maukah engkau menjadi isteriku, Michiko-san? “ Michiko menatapnya, kemudian berdiri. Lalu menghambur ke dalam pelukkannya. Gadis itu menangis terisak-isak, tenggelam oleh rasa haru dan bahagia yang tak bertepi. Lalu berkata di antara tangisnya. “Hati dan jiwaku milikmu, kekasihku. Milikmu, selamanya-lamanya….!”

Kini, bagaimana dia akan meminta Nurdin dan Salma melamar gadis itu untuknya? Dia seperti menelan sesuatu yang teramat pahit di hatinya. Namun dia berharap gadis itu sembuh dari luka yang dia derita, diselamatkan Tuhan nyawanya. Paling tidak itulah harapannya yang tersisa. Untuk bertemu, masih adakah harapannya? Dallas, Amerika, entah di ujung dunia mana letak negeri itu. Namun, diam-diam jauh di lubuk hatinya dia menanam niat untuk datang ke negeri di ujung dunia itu. Diam-diam niat itu dia tanam jauh di lubuk hatinya. Dallas, aku akan datang, bisiknya!

Pesawat yang ditompangi Si Bungsu baru saja mendarat di lapangan Paya Lebar, Singapura. Dia berjalan kaki ke bagian Douane. Tak banyak yang dia bawa. Hanya sebuah tas berisi empat atau lima stel pakaian, kemudian sebuah tongkat kayu. Tas tangan itu dia jinjing, jadi dia tak usah menunggu lama untuk bisa keluar. Dalam perjalanan menuju tempat keluar, sebuah pesawat LKM milik Belanda dia lihat mendarat pula di ujung landasan.

Melihat pesawat dari Belanda itu dia segera teringat pada situasi Indonesia yang baru saja dia tinggalkan. Presiden Soekarno sedang gencar-gencarnya atas nama rakyat Indonesia menuntut dikembalikannya Irian Barat ke tangan Indonesia. Beberapa benturan kecil telah terjadi di sekitar Irian antara pasukan Indonesia dengan pasukan Belanda. Belanda tetap bersikeras mempertahankan Irian di bawah kekuasaannya.

Tak lama setelah pesawat itu berhenti, kelihatan turis-turis Belanda turun. Pakaian mereka beraneka warna. Lelaki perempuan. Ada firasat aneh yang tiba-tiba saja menyelusup di hati Si Bungsu, melihat turis-turis tersebut turun dari pesawat KLM. Dia tak segera keluar dari tempat pemeriksaan. Ada beberapa saat dia menanti. Sampai akhirnya turis-turis itu juga masuk ke ruangan nya. Ketika itulah seorang lelaki menepuk bahunya. Dia menoleh, dan…….

“Fabian…!” serunya sambil bangkit dan segera saja kedua lelaki itu berangkulan. “Hai, kau kelihatan kurus, Letnan..” ujar mantan Kapten Baret Hijau itu sambil mengucek-ngucek rambut di kepala Si Bungsu. “Masih kau ingat dia…?” berkata begitu si Kapten menunjuk seorang Negro bertubuh atletis. “Tongky…!!” seru Si Bungsu begitu mengenali lelaki itu. “Letnan Bungsu..!” seru tongky si negro. Mereka segera saling peluk. Si Bungsu terharu, mendengar kedua bekas pasukan Baret Hijau dari Inggris ini masih memanggilnya dengan sebutan letnan. Pangkat itu memang pernah “diberikan” padanya, ketika mereka akan berperang melawan sindikat penjualan wanita di Singapura ini beberapa tahun yang lalu. Semacam pangkat tituler, sebab kemahirannya ternyata melebihi kemahiran rata-rata anggota baret hijau itu dalam hal bela diri. “ Mana teman- teman yang lain?” “ Mereka mempersiapkan perjalan kita. “Nanti kita akan berkumpul di rumahku. Hei… Sejak tadi engkau memperhatikan turis-turis itu..” bisik Kapten Fabian ketika menyebut kalimat terakhir ini.

Si Bungsu kagum juga, ternyata kawannya ini mengetahui apa yang dia perhatikan. “Saya ingin tahu dimana mereka menginap, Kapten…” Katanya pelan “Itu mudah diatur…” “Juga hal-hal lain yang dirasa perlu tentang identitas mereka..” “Mudah diatur, Tongki akan menyelesaikannya…”

Si Bungsu segera ingat pada teman negronya yang bernama Tongki itu. Seorang ahli menyamar dan menyusup yang nyaris tak ada duanya. Tongki mengerdipkan mata. Kemudian Si Bungsu meninggalkan lapangan udara Paya Lebar itu bersama Fabian. Meninggalkan Tongki disana. Mencari informasi tentang turis- turis tersebut. Mereka nenuju sebuah mobil Cadilac besar berwarna hitam metalik. “Mobilmu Kapten?” “Yap.” “Kau kaya sekarang” “Bukan aku, tapi ayahku. Dua tahun yang lalu ayahku meninggal di Inggris. Dia tak punya ahliwaris selain aku dan ibuku. Kini ibuku ada disini. Kau bisa bertemu nanti. Ayahku meninggalkan harta tak tanggung-tanggung. Barang kali dia dulu korupsi…” Si Bungsu menatap heran.

“Ah tidak, ayahku seorang bangsawan”. Kapten itu tersenyum, menjalankan mobilnya keluar areal pelabuhan. Mereka meluncur di jalan raya. “Turis yang kau curigai tadi, apakah mereka dari Belanda?” Fabian bertanya sambil menyetir mobil. “Ya. Nampaknya mereka dari Belanda. Saya mendengar bahasa yang mereka gunakan..” “Kau hawatir bahwa mereka sebenarnya akan menuju Irian Barat?”

Si Bungsu menoleh pada kawannya itu. Dia hanya menduga semulanya. Apakah Kapten ini mengetahui lebih jauh? “Saya mengikuti berita-berita yang terjadi di negerimu, Bungsu. Saya punya bisnis di Singapura ini. Dan salah satu negeri terdekat, salah satu negeri dimana ekonomi Singapura terkait, adalah negerimu. Saya mengikuti setiap yang terjadi di sana. Dan kami bukannya tak tahu, saat ini banyak sukarelawan Indonesia yang telah diterjunkan di daratan Irian. Sukarelawan yang tak lain daripada pasukan-pasukan komando. Saya tak bersimpati dengan pemimpin negaramu, Bungsu. Terlalu dekat dengan komunis. Saya hanya simpati denganmu. Saya juga pernah mendengar bahwa ada pasukan-pasukan organik Belanda yang telah diselusupkan ke Irian. Dan.. mana tahu, karena tak dapat mengirim pasukan secara terang-terangan, mereka justru memakai jalur turis, bukan?