-->

Tikam Samurai Si Bungsu Episode 4.2

Sersan itu seperti menelan sesuatu yang pahit mendengar ucapan lelaki yang sama sekali tak dikenal itu. Lelaki itu menyeret OPR yang sedang disandera dengan samurai itu mundur. “Kalian tetaplah tegak disana. Kalau tidak leher orang ini akan saya potong…”ancam lelaki itu. Sersan itu memang tak bisa berbuat apa-apa. Soalnya OPR yang disandera itu, bukan sembarang OPR. Dia sebenarnya, adalah mata-mata yang lihai. Dia lah yang dua hari lalu mencium ada serangan kekota. Kalau kini mereka bertindak gegabah, maka jelas OPR itu akan mati. Sementara dia berpikir begitu, orang yang menyeret mata-mata andalan itu telah jauh. Mereka hanya bisa menatap dengan diam, kalau saja OPR itu, hanya OPR biasa maka mereka akan menembak biar kedua-duanya mati! Tapi dalam kasus yang satu ini tidak mungkin. Kalau OPR itu mati, maka mereka akan kehilangan mata-mata alias tukang tunjuk yang lihai. Yang mampu menyamar dan menyusup kedesa-desa, untuk mencium gerak-gerik PRRI.

“Kita kejar..” ujar seorang kopral. “Tidak..” bisik si Sersan.

“Tapi, Nuad akan dibunuh…”

“Tidak, nampaknya orang itu tidak sembarangan membunuh…”

Benar, lelaki itu yang tak lain dari Si Bungsu. Memang tak mau sembarangan main bunuh. Dia menyeret OPR itu kedalam belukar di penurunan Tambuo. Sebuah tempat angker antara Bukittinggi dan Tigo-Baleh. Jauh dibawah sana, mengalir sebuah sungai yang berbatu dengan arus yang deras dan berbelukar lebat. Di tempat ini, puluhan orang mati sejak pergolakan ini. Sedangkan pada jaman Belanda dan Jepang dulu, tempat ini juga dikenal tempat penyembelihan manusia yang amat ditakuti.

“Ampun pak….Ampunkan saya…Saya jangan dibunuh, saya punya anak dan istri…Saya orang Bukittinggi ini, kita sekampung…”

OPR itu menghiba-hiba, ketika diseret Si Bungsu kebelukar dengan kasar. Dia jadi ngeri, ketika tahu kini dia berada di Tambuo! Tiba-tiba Si Bungsu menghentikan langkah. Melepaskan si OPR. OPR itu berlutut tiba- tiba. Menangis terisak-isak minta ampun. “Diamlah! nanti kupotong lehermu…” bentak Si Bungsu dengan suara dingin. OPR itu terdiam. “Berdiri..!” OPR itu berdiri.

“Kau mengaku orang Bukittinggi, mengaku punya anak dan istri, meminta-minta ampun untuk tak dibunuh. Apakah kau tak pernah berpikir begitu pula orang yang kau bunuh?”tanya Si Bungsu geram.

OPR itu terdiam. Si Bungsu menatapnya dengan jijik. Kalau saja dia tahu, bahwa OPR ini tukang tunjuk yang tersohor, yang bernama Nuad Sutan Kalek, dia pasti akan membunuhnya. Nuad adalah tukang tunjuk yang tak kenal belas kasihan. Tapi Si Bungsu, seperti yang diucapkannya tadi, memang tak ikut campur Dalam Perang Saudara ini. Dia hanya tak suka orang berbuat sewenang-wenang. Kinipun setelah menatap dengan matanya yang tajam, yang membuat bulu kuduk Nuad merinding, anak muda itu lantas beranjak.

Dia menyelusup diantara belukar lebat dan rimbun bambu yang memenuhi Tambuo. Buat sesaat Nuad Sutan Kalek, seperti bermimpi. Benarkah dia lepas begitu saja.? Kalau begitu orang ini bukan PRRI. Sebab kalau PRRI, maka nyawanya pasti sudah melayang. Ketika dia yakin orang yang tak dikenal itu tak ada lagi, dia lalu bergerak. Dan begitu sampai dijalan, dia lari pontang-panting ke induk pasukannya di Simpang Aurkuning.

Tak seorang pun yang tahu dengan pasti. Baik PRRI atau pasukan APRI, yang kini menguasai kota-kota di Minangkabau, bahwa sebagian OPR yang mereka bina, sebenarnya orang-orang yang sudah lama dibina Komunis. Minangkabau di masa pergolakan itu adalah basis partai-partai Islam. Sejak lama, orang minangkabau yang menjadi anggota partai Islam sangat memusuhi orang-orang PKI. Tapi justru PKI sekarang dapat angin segar, dengan timbulnya pergolakan. Mereka lalu menyusup kedalam tubuh OPR. Gerakan mereka begitu rahasianya, sangat terkoordinir seperti jaringan laba-laba.

Tak terlihat secara langsung, namun kehadirannya terasa dimana-mana. Ada sebab jaringan PKI sangat rapi. Kenapa mereka begitu berhasil menyusup ke instansi pemerintah dan militer. Organisasi mereka ditata dengan konsep yang sangat moderen. Kader-kader mereka dapat didikan khusus dari uni sovyet atau RRT.

Sesuatu yang di Sovyet dan RRT tak pernah dikecap rakyatnya.Namun di Indonesia mendapat pasaran.

Sebab sebahagian pemimpin Indonesia berlomba mendapatkan harta dan kedudukan bagi pribadinya.

Partai Islam sendiri saat itu tercecer, selain karena tak pernah menjanjikan kebahagian duniawi seperti komunis, juga karena kader-kadernya hanya mendapat pendidikan lokal. Selain itu, dan ini masuk penting, pimpinan-pimpinan partai Islam yang jumlahnya banyak itu, saling bercakaran untuk mendapatkan kedudukan.

Kemana Si Bungsu setelah peristiwa di Simpang Aurkuning itu? Tak seorangpun yang tahu. Yang jelas, sesaat setelah Nuad si OPR itu melaporkan peristiwa itu ke komandan pasukannya, APRI lalu memburunya. Namun jejaknya lenyap dalam belukar Tambuo itu. ”Kau tahu siapa dia?” tanya Sersan yang memimpin pencarian itu.

Nuad yang baru dibebaskan Si Bungsu menggeleng. ”Bukan orang Tigobaleh, misalnya?”

”Tidak. Saya kenal setiap batang hidung orang Tigobaleh. Tak satupun yang mahir mempergunakan samurai. Saya tak pernah melihat orang itu sebelum ini di Bukittinggi. Saya benar-benar tak mengenalnya, Pak.”

”Kau bisa usahakan mencari informasi tentangnya?”

”Saya akan usahakan. Tapi orang ini nampaknya amat berbahaya…”

”Ya. Itu sudah dia buktikan tadi ketika menghantam dan membunuh Sutan Kudun…”.

Pasukan itu lalu meninggalkan Tambuo. Padahal Si Bungsu tak pergi jauh, hanya dua ratus depa dari mereka, di tebing yang terlindung oleh hutan bambu, dia tengah duduk dan menatap pada mereka dengan diam. Sejak tadi dia memperhatikan gerakan pasukan APRI yang mencarinya itu. Pasukan itu memang hanya tegak di jalan. Menatap keliling. Tidak menyeruak semak belukar.

Malam itu, saat tentara PRRI menyerang kota Bukittinggi, Si Bungsu bermalam di rumah kawannya yang terletak di Tigobaleh. Mereka mendengar suara tembakan. Bahkan sampai pagi. Sebenarnya pagi itu dia sudah akan menuju ke kota, tapi temannya melarang. Berbahaya ke kota dalam situasi begitu. Esoknya setelah hari agak tinggi, dia berkeras juga untuk pergi dan dilepas dengan was-was. Akhirnya hanya sekitar setengah jam keluar dari rumah temannya di Tigobaleh, dia terjerat dalam peristiwa berdarah di Simpang Aurkuning itu.

Anggota OPR yang mencegatnya, demikian pula yang bernama Nuad, yaitu mata-mata lihai yang dia ancam dengan samurai itu, rata-rata merupakan orang baru di Bukittinggi. Baru sekitar sepuluh tahun. Makanya mereka tak penah mengenal bahwa dahulu di kota itu ada seorang anak muda yang kemahirannya bersamurai amat luar biasa.

Si Bungsu mengunyah beberapa macam dedaunan yang dia pungut dari belukar di Tambuo itu. Lalu menempelkannya ke luka di keningnya. Dalam waktu singkat, darah itu berhenti mengalir. Pening kepalanya lenyap.

Bagi anak muda ini, soal obat-obatan bukan hal yang aneh. Dia belajar meramu obat-obatan dari daun, getah, kulit kayu dan rumput saat mengasingkan diri di Gunung Sago dahulu. Pasukan APRI yang memburunya sudah dari tadi lenyap. Beberapa saat dia masih duduk di belukar itu. Baru kemudian bangkit perlahan. Menuruni tebing yang air mengalir dibawah. Dia buka baju gunting cina nya yang berlumuran darah, begitu juga dengan celana pantolan hitamnya. Dia cuci di sungai yang dingin dan alangkah sejuknya itu. Kemudian dia jemur dibatu. Sinar matahari yang terik akan mengeringkannya. Hanya dengan menggunakan celana pendek dia membaringkan dirinya di rerimbunan hutan bambu. Kemudian menjelang sore, anak muda ini kembali kedalam kota, alangkah nekatnya!

Dalam situasi begitu orang lain pasti sudah menyingkir jauh-jauh. Tapi bagi Si Bungsu tak ada alasan untuk menyingkir. Dia benar-benar buta politik. Menurut anggapannya, peristiwa di Tambuo itu bisa selesai dengan sendirinya. Tak diketahuinya, peristiwa tersebut menjalar dengan cepat ditubuh pasukan APRI yang berada di kota. Banyak mata OPR dan tentara yang menyaksikan betapa dia membantai OPR yang bernama Kudun itu dengan samurainya.

Cerita itu menjalar seperti api dalam sekam. Mata-mata pun disebar untuk mengetahui serta mencari dimana lelaki itu berada. Dalam saat yang demikianlah dia memasuki kota. Menjelang sore kota memang sudah agak ramai. Artinya meski dalam keadaan takut-takut, namun penduduk sudah berani keluar rumah. Ada yang belanja ke pasar. Toko dua tiga sudah ada yang buka sejak siang tadi.

APRI yang menjaga disetiap sudut kota mengawasi setiap orang yang lalu lalang dengan teliti. Namun tak ada tindakan kekerasan yang dilakukan. Bagi penduduk kota sebenarnya kehadiran APRI membuat mereka merasa aman. Mereka bisa keluar rumah, kepasar, kanak-kanak sekolah atau melakukan kegiatan sehari-hari dengan tentram. Ketakutan justru muncul ketika terjadi pertempuran, sebagaimana yang baru saja terjadi tadi malam. Biasa nya dalam keadaan seperti itu kedua pihak, PRRI maupun APRI tidak akan pandang bulu. 

Si Bungsu menuju Pasar Atas. Dekat pendakian Jam Gadang tiba-tiba dia dicegat tentara berpakaian loreng. Si Bungsu tertegun, namun dia berusaha untuk kelihatan tenang, tentara itu berpangkat Sersan Mayor.

“Maaf, ada korek api, pak?”tanya tentara itu setelah dekat.

Si Bungsu menarik nafas, dia merogoh kantong, namun segera sadar bahwa dia tak pernah membawanya karena dia tak merokok.

“Ah, maaf. Saya tak membawanya…”ujarnya.

“Bapak akan kepasar?”tanya tentara itu dengan ramah. “Ya…” “Ada membawa kartu penduduk?”

“Ada..”si Bungu merogoh kantongnya berniat mengambil KTP yang memang telah dia siapkan, tapi Sersan itu menggoyangkan tangannya.

“Tidak. tak perlu bapak lihatkan. Yang penting bapak hati-hati saja. Kalau ada tanda bahaya cepat sembunyi cari perlindungan…”

“Akan ada serangan lagi?”

“Saya rasa tidak. Tapi siapa tahu bukan ? Rasanya gegabah kalau PRRI masih akan menyerang kota lagi. Peperangan seharusnya tak dilakukan dikota. Karena yang paling kena getahnya adalah penduduk. Bapak lihat banyak yang mati tadi?”

“Tak semua. Apakah semua yang mati adalah penduduk?”

“Tidak. Banyak anggota PRRI. Tapi, saya rasa peluru tak bisa membedakan mana yang penduduk atau bukan. Malam tadi PRRI menyerang secara besar-besaran. Kabarnya penyerangan itu dipimpin langsung oleh Kolonel Dahlan Djambek..”

Pembicaraan mereka terputus ada suara peluit panjang. Tentara itu tak sempat pamitan, dia berlari kearah suara peluit itu. Si Bungsu meneruskan langkahnya, tapi firasatnya mengatakan akan ada terjadi sesuatu pada dirinya. Cara Sersan tadi memandangnya agak ganjil. Memang tak begitu mencurigakan. Tapi ada dua kali dia mencuri pandang melihat luka dikepalanya. Apakah cerita tentang dirinya di Simpang Aurkuning pagi tadi sudah disebarluaskan? cepat-cepat dia menyelinap ke dalam pasar.

Benar saja, dalam waktu singkat tiba-tiba pasar segera digeledah. Sersan tadi memang memperhatikan luka dikeningnya. Tapi tak ada membawa tongkat. Sersan tadi memang pura-pura menanyakan korek api. Padahal dia ingin memastikan apakah orang ini yang sedang dicari, yang telah membunuh seorang OPR tadi pagi.

Dia masih ragu, walau ada luka yang sudah dikasih perban di keningnya. Dia ingin memastikan apakah lelaki itu menyimpan samurai dibalik bajunya. Namun dia tak lihat. Suara peluit memutus penyelidikannya. Dia datang kepada komandannya yang berdiri tak jauh dari Jam Gadang. Ketika dia menjelaskan ciri lelaki yang baru ditemui dia barusan tadi, maka Nuad sutan Kalek,si OPR mata-mata yang kebetulan ada disana, meyakinkan bahwa itulah orang yang mereka cari.

Ada sekitar tiga puluh tentara yang berlari menyusul Si Bungsu. Untunglah firasat anak muda itu memberitahu akan bahaya yang bakal menimpanya. Dia lebih dulu menghindar. Dalam pasar yang bangunanya begitu rapat, dengan mudah dia menyelinap menghilangkan jejak. Dalam langkah cepat dia sampai di Mesjid Pasar Atas. Kemudian turun lewat samping menuju kampung Cina. Dari sana dia bergegas kearah Benteng dan turun di Atas Ngarai. Di atas ngarai dia masuk kesebuah kedai kopi. Ada dua atau tiga lelaki yang sedang mengopi dikedai tersebut. Dia duduk dan mengambil tempat disudut. “Teh manis ..”katanya.

Tak ada yang mengacuhkannya. Diluar terdengar derap kaki tentara menuju Panorama. Dua lelaki nampaknya selesai minum, lalu membayar dan pergi. Tinggal dikedai itu dia dan seorang lelaki lain. Lelaki itu juga selesai minumnya dan membayarnya. Ketika menunggu kembalian uangnya tanpa sengaja dia menoleh kearah Si Bungsu. Kebetulan Si Bungsu juga tengah memperhatikan lelaki itu. Mata lelaki itu terbelalak dan mulutnya ternganga.

“Ya Tuhan, apakah saya tak salah lihat? Si Bungsu bukan?” tanya lelaki itu hampir tak percaya. Kini Si Bungsu pula yang kaget setelah mengenal lelaki itu setelah dia bicara.

“Ya Tuhan, Pak Kari….!” katanya sambil bangkit.

Kedua lelaki itu berpelukan didalam kedai kecil itu. Pemilik kedai hanya menatap dengan diam. “Hei, Rabain. Kau ingat orang ini? Si Bungsu yang menghajar Jepang dahulu…?”

Kari Basa memperkenalkan Si Bungsu pada pemilik kedai tersebut. Pemilik kedai yang bernama Rabain itu hanya melongo. Kemudian menyalami Si Bungsu. ”Namamu sejak dahulu kudengar, anak muda. Sebentar ini juga. Apakah benar dia yang membuat peristiwa di Tarok itu?”

Kari Basa menatap pada Si Bungsu setelah pemilik kedai itu bertanya. Setelah menatap sejenak keluar, memastikan tak ada tentara atau orang lain, Kari Basa ikut bertanya. ”Kami mendapat kabar, pagi tadi di Aur Kuning ada OPR yang dibantai orang dengan samurai. Menurut sebagian orang, OPR itu dicido dari belakang. Tapi ada yang berkata, bahwa OPR itu akan menembak dan lelaki itu tiba-tiba menggerakkan tangan. Dan tiba- tiba saja dada OPR itu belah oleh samurai. Saya mendengar cerita itu, dan setahu saya hanya seorang yang mampu melakukan hal itu, yaitu engkau. Sebentar ini, dua lelaki yang keluar tadi, adalah orang-orang PRRI. Mereka juga mendengar cerita itu. Kini engkau muncul tiba-tiba. Jangan mungkiri bahwa memang engkaulah yang telah membantai OPR itu. Benar bukan?”

Si Bungsu hanya menatap pada orang tua itu. Kari Basa, ayah Salma. Alangkah lamanya mereka tak berjumpa.

”Benar cerita itukan, Bungsu?” ”Ya….” jawabnya perlahan.

”Hei, kita ke rumah. Tentara kini berkeliaran mencarimu. Tapi tak apa, itu hanya sebentar. Banyak tugas mereka yang lebih penting daripada hanya mencari engkau. Sepuluh dua puluh OPR mati, biasa. Mari, kita ke rumah. Rabain, kami pergi….”

Si Bungsu mereguk minumannya. Kemudian akan membayar. Tetapi pemilik kedai itu menolak. Mereka berjalan kaki menuju arah Panorama. Ada dua tiga truk penuh tentara melewati mereka menuju ke rumah sakit. Tapi karena Kari Basa demikian tenang, Si Bungsu juga menjadi tenang. Dan tiba-tiba saja, mereka tegak di depan sebuah rumah. ”Kau masih ingat rumah ini?”

Kari Basa bertanya perlahan sambil merogoh kantong. Mengeluarkan sebuah kunci dan menaiki tangga batu. Si Bungsu masih tertegak beberapa saat. Betapa dia takkan ingat? Di rumah inilah dahulu dia di rawat oleh Salma selama beberapa puluh hari, setelah tubuhnya dicencang oleh Kempetai dalam terowongan di bawah kota ini. Di rumah inilah dia berlatih kembali mempergunakan samurainya, setelah sekian lama tak menyentuh senjata itu. Akhirnya dia melangkah naik.

”Ini kamarmu, ingat?” Si Bungsu tersenyum.

”Saya beberapa kali menerima surat dari Salma, yang mengatakan bahwa kalian bertemu di Singapura.

Dia menceritakan semua yang terjadi di sana.”

Si Bungsu tak menjawab. Tapi sambil mendengarkan dia memperhatikan kuku kaki dan kuku jari tangan Kari Basa. Ternyata semuanya utuh. Tahu bahwa anak muda itu memperhatikan tangan dan kakinya, yang dahulu semasa sama-sama ditahan di lobang Jepang, kukunya dicabuti semua oleh Jepang, Kari Basa berkata :

”Sudah tumbuh semuanya…”

”Bapak berada dalam kota, apakah berpihak pada APRI?” ujar Si Bungsu. Lelaki tua itu tertegun. Kemudian menoleh keluar.

”Panjang ceritanya, Bungsu. Tapi saya akan solat Asyar dulu. Nanti kita cerita…” ”Ya, saya juga akan sholat…”

Malam harinya, Kari Basa bercerita. Dia tak ikut berperang. Memang teman-temannya membawanya

serta. ”Saya memang tak setuju dengan kebijaksanaan pusat. Tapi memberontak menurut saya taktik yang salah. Sekurang-kurangnya saya tak sepaham. Maka saya tetap tinggal di kota.”

”Bapak berpihak pada APRI?”

”Terserah bagaimana penilaian oranglah. Tapi yang jelas saya tak ikut ke hutan…” ”Bapak menjadi informan PRRI?”

Kembali Kari Basa menggelengkan kepala. ”Kalau begitu bapak informan APRI?”

”Juga tidak Bungsu. Teman-teman memang membawa saya untuk aktif lagi dalam APRI. Namun betapupun jua, Minangkabau ini adalah kampung saya. Barangkali sikap saya adalah sikap yang buruk. Tak bisa berpihak. Tapi saya memang berada dalam posisi yang serba sulit.

Di satu pihak, saya memang tak suka akan kekacauan politik yang terjadi dalam kabinet sekarang. Saya juga tak suka pada cara Presiden Soekarno yang amat berpihak pada komunis. Tapi saya juga tak mau memberontak. Saya lebih-lebih tak suka lagi, kalau saya harus memanggul senapan dan memburu PRRI. Mereka adalah orang kampung saya semua, teman, anak dan kemenakan. Teman-teman dari PRRI dan juga dari APRI meminta saya untuk menjadi informan mereka. Tapi saya menolak. Nah, sejak tadi kau menanyai saya, Bungsu. Seolah-olah engkau seorang intelijen. Apakah engkau salah seorang dari PRRI itu?”

Si Bungsu tak segera menjawab. Dia melemparkan pandangannya ke luar jendela. Di luar sana, beberapa anggota APRI kelihatan mondar mandir di jalan raya.

”Saya baru datang, Pak. Saya bertanya pada Bapak, karena saya tak tahu tentang apa yang telah terjadi di kampung kita ini. Kenapa negeri yang dahulu Bapak dan teman-teman Bapak pertahankan dengan mengorbankan nyawa ini tiba-tiba diamuk perang saudara. Saya dengar Pak Dakhlan Jambek kini berada di Tilatang Kamang. Apa sebenarnya yang telah terjadi, Pak Kari? Apa sebabnya kita memberontak. Apa sebabnya APRI yang juga orang Indonesia itu, malah di antaranya juga terdapat orang-orang Minang, hari ini justru datang kemari untuk saling berbunuhan dengan saudara-saudara sebangsanya? Tolong Bapak ceritakan, saya ingin mendengarkannya.

Tadi pagi saya memang membunuh seorang OPR. Tapi sungguh mati, saya bukan PRRI. Saya juga tidak simpatisan mereka. Itu bukan pula berarti saya berada di pihak APRI, tidak. Saya hanya membunuh OPR itu karena dia tak memberi kesempatan hidup pada seorang lelaki cacat yang minta tolong pada saya. Dia mengatakan bahwa lelaki cacat itu PRRI. Kalaupun benar, tetapi lelaki itu luka. Kenapa dia tak ditolong? Saya benci pada OPR yang tak berperikemanusiaan itu. Demi Tuhan, kalaupun yang melakukan aniaya itu adalah orang PRRI, maka saya juga akan membunuhnya. Itulah yang terjadi, Pak. Kini harap Bapak ceritakan, kenapa negeri kita ini sampai berkuah darah?”.

Kari Basa termenung. Ucapan anak muda itu, menghujam jauh ke lubuk hatinya. Setelah lama termenung dan merekat kembali segala yang diketahuinya tentang mula pergolakkan ini, Kari Basa lalu bercerita…..

Pada mulanya adalah rasa tak puas pihak Angkatan Darat Republik Indonesia atas kekalutan politik di tingkat Pusat. Kekalutan politik itu menyebabkan jurang pemisah antara Daerah dan Pusat dalam hal mencari jalan keluarnya. Di Sumatera, dua tiga tahun sebelum PRRI dideklarasikan, diadakan reuni para pejuang Perang Kemerdekaan di Sumatera Tengah. Reuni itu bertujuan membina kesatuan dan kekompakan, terutama di kalangan pejuang kemerdekaan yang dipelopori oleh perwira-perwira Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Dari reuni itu, pada 20 Desember 1956 lahirlah Dewan Banteng yang dipimpin oleh Kolonel Ahmad Husein. Tindakan reuni untuk kekompakan para Pejuang Kemerdekaan ini diikuti oleh daerah-daerah lain. Dalam hal ini para perwira Sumatera Tengah menjadi ikutan. Dua hari setelah dewan Banteng terbentuk, tepatnya 22 Desember 1956, di Medan dibentuk pula ”Dewan Gajah” yang dipimpin oleh Kolonel Maludin Simbolon. Lalu pada tanggal 18 Maret 1957 di Manado dibentuk pula ”Dewan Manguni” yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Vence Sumual. Sumatera Selatan segera pula bersiap-siap menuruti Sumatera Tengah untuk

membentuk ”Dewan Garuda” dibawah pimpinan Letnan Kolonel Barlian.

Tindakan yang dianggap Pusat melanggar konstitusi dimulai dengan adanya cetusan tuntutan daerah kepada Pusat. Tuntutan itu berupa desakan agar Pusat membangun daerah. Lalu disusul dengan diambil alihnya kekuasaan dari Gubernur Sumatera Tengah Ruslan Mulyoharjo oleh Dewan Banteng dengan Ahmad Husein sebagai ”Ketua Daerah” menggantikan jabatan Gubernur. Tindakan ini diikuti oleh Dewan Gajah di Sumatera Selatan dan Dewan Manguni di Sulawesi Utara.

Akibat munculnya kekalutan ini yang paling menarik manfaatnya adalah pihak PKI. Mereka mendapat bukti bagi agitasi politiknya untuk mengkambing-hitamkan Angkatan Darat sebagai ”War Lords” dan diktator- diktator militer. Kaki-tangan imperialis, kolonialis, musuh rakyat dan musuh demokrasi. Situasi ini memberi peluang mematangkan kondisi revolusioner bagi PKI menurut konsepsinya. Dalam keadaan seperti itu, situasi semakin tidak menguntungkan bagi pihak yang ingin mempertahankan jalan konstitusi dan tertib hukum serta demokrasi.

Karena perkembangan yang terjadi, Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante hasil Pemilihan Umum pertama Tahun 1955 menjadi arena pertempuran politik yang tak mampu menemukan jalan keluar sebagai lembaga yang diharapkan untuk meletakkan landasan bagi peredaan rasa ketidakpuasan yang semakin meluap. Pergolakkan di daerah-daerah bukannya mendorong lembaga-lembaga itu mempercepat tercapainya hasil-hasil guna meredakan pergolakan di daerah itu, tetapi malahan sebaliknya. Pergolakan di daerah mereka pergunakan sebagai senjata untuk lebih memperhebat pertempuran politik dalam lembaga tersebut.

Kalau kesatuan Angkatan Bersenjata sudah mencari jalan sendiri-sendiri, maka perang saudara pasti takkan bisa dihindarkan. Untuk mengatasi situasi yang tak baik ini, terutama di lingkungan Angkatan Darat, tanggal 9 Desember 1956 KSAD Mayor Jenderal A. H. Nasution mengeluarkan perintah yang melarang seluruh anggota TNI/AD aktif dalam partai politik. Kemudian 15 Februari 1957, Jenderal Nasution selaku KSAD kembali mengeluarkan larangan reuni bagi Dewan-dewan yang lahir di daerah itu. Karena kekuatan politik itu juga, maka Kabinet Ali Sastroamijoyo ke II, yang dibentuk atas dasar hasil Pemilihan Umum tahun 1955, pada Maret 57 menyerahkan mandatnya kepada Presiden Soekarno. Untuk mengatasi situasi kritis, maka Presiden menyatakan negara dalam keadaan Darurat Perang (S.O.B) dan dengan demikian membebankan tugas pengamanan negara sepenuhnya kepada Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Sampai di sini Kari Basa berhenti bercerita. Dia meneguk kopinya. Si Bungsu juga meneguk kopinya. Kari Basa semasa revolusi pisik tahun 45 bertugas sebagai perwira intelijen. Dia memang punya ingatan dan pengetahuan yang amat dalam tentang situasi negara waktu itu. Sehabis minum kopi, mereka sembahyang Isya. Setelah itu makan malam. Atas desakan Si Bungsu, orang tua itu kembali merekat kepingan ingatannya tentang masa-masa prolog pergolakan tersebut. Kemudian dia meneruskan ceritanya…

Demi menghindarkan perpecahan persatuan Nasional, setelah dinyatakannya keadaan SOB, dan mengusahakan menyelesaikan masalah pertentangan antara daerah-daerah yang bergolak dengan pusat secara damai, maka pada tanggal 9 sampai 14 September 1957 di Jakarta diadakan Musyawarah Nasional (Munas). Dihadiri oleh seluruh pimpinan pemerintah dan tokoh-tokoh politik dan militer dari seluruh Indonesia. Tujuan Munas ini adalah untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul secara musyawarah dengan hati terbuka dan dalam suasana kerukunan dan persaudaraan.

Musyawarah Nasional diikuti dengan Musyawarah Nasional Pembangunan (Munap) yang dilangsungkan akhir November 1957.

Tapi ternyata Munas dan Munap itu tak menghasilkan apa-apa. Kekecewaan daerah semakin meningkat. Tanggal 9 Januari 1958 di Sungai Dareh dilangsungkan rapat yang dihadiri Simbolon, Ahmad Husein, Dahlan Jambek, Sumual, Zulkifli Lubis serta beberapa tokoh politik dan militer lainnya. Rapat Sungai Dareh ini membicarakan kekecewaan mereka atas ketidak berhasilan pimpinan Pusat mengatasi keresahan. Rapat itu juga telah membicarakan rencana meningkatkan tuntutan kepada Pusat. Malah tidak hanya berupa tuntutan, tetapi ultimatum. Jika ultimatum tidak dijawab, maka akan dicari jalan lain. Rapat ini tercium oleh Pemerintah Pusat di Jakarta. Maka tanggal 23 sampai 26 Januari 1958 KSAD Jenderal Nasution mengadakan perjalanan ”mengukur barometer” situasi. Perjalanan itu dilakukan ke Tapanuli, Sumatera Timur, Aceh dan Tanjung Pinang. Tanggal 10 Februari 1958, Ahmad Husein selaku Ketua Dewan Banteng mengeluarkan Ultimatum yang sudah disepakati di Sungai Dareh itu kepada Presiden Soekarno dan Kabinet Juanda di Jakarta. Isi Ultimatum itu adalah :

Agar Presiden membubarkan Kabinet Juanda dalam tempo 5 x 24 jam.

Agar Presiden menunjuk Mohammad Hatta dan Sultan Hamengku Buwono IX sebagai pembentuk kabinet baru.

Apabila tuntutan ini tidak dipenuhi, maka Dewan Banteng akan memutuskan hubungan dengan Pemerintah dan bebas dari ketaatan terhadap Kepala Negara.

Ultimatum ini seperti membakar sumbu dinamit. Pemerintah pusat menjawab ultimatum itu dengan perintah pemecatan dengan tidak hormat atas Kolonel Simbolon, Kolonel Dahlan Jambek, Kolonel Zulkifli Lubis dan Letnan Kolonel Ahmad Husein. Perintah pemecatan itu diikuti dengan perintah penangkapan. Tanggal 12 Februari 1958 KSAD mengeluarkan keputusan membekukan Komando Daerah Militer Sumatera Tengah (KDMST) yang selanjutnya menempatkannya langsung di bawah perintah KSAD Jenderal Nasution. Namun pemecatan, perintah penangkapan dan pembekuan KDMST itu dijawab oleh Dewan Banteng dengan sebuah Proklamasi. Proklamasi itu adalah proklamasi berdirinya ”Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia” (PRRI) pada tanggal 15 Februari 1958, dengan Syafruddin Perwira Negara sebagai Perdana Menteri. Proklamasi ini dilanjutkan dengan membentuk Kabinet yang berpusat di Padang. Maklumat pembentukan PRRI itu didukung oleh Simbolon di Sumatera Utara. Tanggal 17 Februari 1958, D. J. Somba yang menjabat sebagai Panglima Musyawarah Nasional Pembangunan (MUNAP), yang dilangsungkan akhir November 1957. Komando Daerah Militer Sulawesi Utara (KDMSU) di Manado menyatakan pula bahwa Sulawesi Utara memutuskan hubungan dengan Pemerintah Pusat di Jakarta dan menyokong berdirinya PRRI di Sulawesi Utara, di bawah pimpinan Perjuangan Rakyat Semesta (PERMESTA). Pengumuman menyokong PRRI ini dijawab Pemerintah dengan memecat dengan tidak hormat Letnan Kolonel HNV Sumual, Letnan Kolonel D. J.

Somba dan Mayor D. Runturambi.

Mereka dicap memberontak dengan nama Permesta. PRRI/PERMESTA oleh Pemerintah Pusat dianggap lebih berbahaya dibandingkan dengan pemberontakan bersenjata yang pernah timbul sebelumnya di tanah air, oleh karena :

a. Dengan memproklamirkan ”Pemerintah Revolusioner” dan tidak mengakui kekuasaan Pemerintah yang sah akan mengakibatkan Negara Republik Indonesia akan terpecah belah.

b. Pemberontakan ini telah melaksanakan penyelewengan di bidang politik, ekonomi dan militer dengan mengadakan hubungan serta mendapat bantuan kerjasama langsung dari luar negeri. Yang berarti membuka pintu bagi kegiatan subversi.

Untuk menumpas PRRI/PERMESTA, pemerintah Pusat memerintahkan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia untuk melancarkan operasi gabungan. Untuk itu disusun operasi-operasi sebagai berikut :

• Operasi TEGAS di daerah Riau Daratan dan Pekanbaru dipimpin oleh Letkol Kaharuddin Nasution dari RPKAD.

• Operasi SAPTA MARGA di daerah Medan/Sumatera Utara.

• Operasi 17 Agustus untuk mengamankan Sumatera Barat di bawah pimpinan Kolonel Inf. Ahmad Yani.

• Operasi SADAR untuk mengamankan Sumatera Selatan dengan Komandan Operasinya Kolonel Dr. Ibnu Sutowo.

• Operasi MERDEKA di Sulawesi Utara dengan Komandan Operasi Letkol Infantri Rukminto Hendraningrat.

Malam telah hampir tersambut dengan subuh, ketika Kari Basa, bekas perwira intelijen di zaman perang kemerdekaan itu, menyelesaikan ceritanya. Setelah itu mereka ke kamar tidur masing.

Si Bungsu tak dapat memejamkan matanya sampai datang waktu subuh. Ketika dia mendengar Kari Basa mengambil uduk, diapun bangkit. Kemudian ke kamar mandi dan mengambil uduk pula. Mereka sama-sama sembahyang subuh dengan Kari Basa sebagai Imam. ”Kau ingat Sutan Baheramsyah?” tanya Kari Basa tatkala mereka selesai sholat.

”Yang menembak Jepang di Birugo dahulu?” ”Ya” ”Ya, saya ingat beliau. Beliau masih hidup?” ”Sampai malam kemaren masih hidup…” ”Maksud Bapak?”

”Dia meninggal malam kemaren.”

”Dimana?” ”Di kota ini. Di dekat Simpang Tembok..” ”Dalam penyerbuan malam kemaren?”

”Ya” ”Dia ikut PRRI?”

”Ya” ”Ikut menyerbu masuk kota?”

”Ya. Dia ikut menyerbu bersama pasukan Dahlan Jambek, pasukan Sadel Bereh, pasukan Mantari Celek, Beruang Agam. Jumlah mereka diperkirakan mendekati atau lebih dari seribu orang.”

”Ya Tuhan, apakah mereka akan merebut kota?”

”Saya tak tahu, buyung. Tetapi yang jelas, malam tadi pasukan APRI tetap bertahan di kantong-kantong pertahanan. Tapi begitu pagi tiba, mereka mulai mengejar pasukan PRRI. Pasukan PRRI mundur karena kebanyakan mereka telah kehabisan peluru menembak-nembak sepanjang malam. Mereka diburu ke arah Gadut, Tilatang Kamang dan Padang Luar Kota. Diburu dengan panser, tank dan mustang yang datang dari Padang. Kau tahu, Kolonel Dahlan Jambek kabarnya malam kemaren berada di sekitar Villa Tanjung di Gurun Panjang memberikan komando.”

Si Bungsu tak berkomentar. Kari Basa menceritakan jalannya penyerangan malam tadi. ”Bapak berada di luar malam tadi?” ”Tidak. Tapi saya mendengar cerita di kedai kopi di mana kita bertemu kemaren”. ”Pak Baheramsyah, meninggal karena apa?”

”Ditembak APRI. Dia sudah diperintahkan untuk menyerah. Tapi dia ingin bertemu dengan keluarganya yang ada di daerah Tembok. Dia menyelusup dari Lambau.

Jika sudah bertemu dengan keluarganya, dengan anak-anaknya yang kecil-kecil, dia berniat mundur bersama pasukan Sadel Bereh yang memang masuk dari arah Gadut lewat Tembok. Tapi ternyata ketika dia sampai, pasukan Mobrig di bawah pimpinan Sadel Bereh telah mundur. Dia terkepung oleh pasukan APRI. Ingin melawan. Disuruh menyerah, tapi dia menembak. Sampai akhirnya dia tertembak mati. Begitu cerita yang saya dengar…”

”Bapak melihat mayatnya?”

”Tidak, tapi dua lelaki yang kemaren di kedai itu melihatnya. Mereka PRRI. Saya sudah mencoba melihat mayatnya di rumah sakit. Tapi tak bertemu. Terlalu banyak mayat. Bertimbun, bergelimpangan”.

Sepi sesaat.

”Nah Bungsu. Engkau telah mendengar bagaimana duduk perkaranya. Terserah padamu untuk menentukan langkah selanjutnya…”

Sepi lagi. Kari Basa bangkit. Karena di rumah itu tak ada orang lain, dia lalu pergi ke dapur, memasak air dan membuat kopi. Sambil minum kopi mereka bercerita tentang pengalaman masa lalu. Kari Basa menanyakan pengalaman Si Bungsu di Jepang. Menanyai perkelahiannya dengan Saburo Matsuyama. Si Bungsu menceritakan seadanya. Pagi itu, atas saran Kari Basa, Si Bungsu menukar pakaiannya. Pakaian gunting cina itu sudah dikenal oleh OPR sebagai yang membunuh teman mereka di Simpang Aur. Kari Basa membelikan dua stel pakaian di pasar atas. Membelikan perban untuk luka di kepalanya. Ketika Kari Basa pulang dari pasar dia membawa cerita tentang korban-korban yang berjatuhan malam tadi.

”Mereka dikuburkan di suatu tempat secara massal…” ”Satu kuburan bersama?”

”Ada dua atau tiga kuburan panjang. Di dalamnya berisi empat atau lima puluh mayat…”. ”Tak ada mayat yang disembahyangkan, dikafani atau dimandikan?”

”Dalam perang hal-hal begitu tak sempat difikirkan orang, Bungsu. Masih untung mayat itu dikebumikan.

Kalau dilempar saja di Ngarai misalnya, siapa yang akan menuntut?”

Si Bungsu menarik nafas. Ada sesuatu yang terasa runtuh di relung hatinya. Alangkah ganasnya peperangan.

”Ya, perang ini memang ganas, Nak”

Ujar Kari Basa seperti bisa menerka jalan fikiran Si Bungsu, dan tak ada seorangpun diantara kita yang mampu meramalkan, bila perang ini akan berakhir…”

”Tapi, saya dengar di Pekanbaru tak ada lagi peperangan…”

”Di kota itu memang tidak. Operasi di sana dilaksanakan pada tanggal 12 Maret yang lalu. Dipimpin oleh Letkol Kaharuddin Nasution dan Letkol Udara Wiriadinata dengan mengerahkan pasukan RPKAD. Pekanbaru perlu mereka rebut dahulu, sebab di sana ada kilang minyak Caltex. Pemerintah tak mau kilang minyak itu menjadi sebab ikut campur tangannya pemerintah asing dalam urusan Indonesia. Lagipula dari seluruh daerah yang memberontak, maka di Sumatera Barat inilah yang berat. Pemerintah Pusat mengakui hal itu. Sebab di daerah ini berhimpun tokoh-tokoh militer dan tokoh politik yang tak dapat dianggap enteng. Baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional. Perang ini lambat laun memang akan berakhir, tapi korban akan jatuh sangat banyak sebelum tiba saatnya peluru terakhir ditembakkan…”

”Menurut   bapak,   adakah   kemungkinan   bagi   PRRI   untuk   memenangkan   peperangan    ini?” ”Saya tak berani meramalkan. Tapi ada beberapa indikasi yang barangkali bisa diungkapkan. Pertama, dua daerah yang diharapkan menjadi daerah pendukung utama, yaitu Riau dan Tapanuli, kini telah dikuasai sepenuhnya oleh APRI. Artinya, Sumatera Barat kini berdiri sendiri, terkepung di tengah. Barangkali saja ada harapan untuk mendapatkan bantuan senjata dari Armada VII Amerika Serikat lewat Lautan Hindia. Tapi Lautan Hindia dan seluruh pantai barat kini sudah dikuasai APRI di bawah komando Ahmad Yani. Memang ada droping senjata, peralatan dan lain-lain dari Amerika lewat udara. Tapi banyak yang jatuh ke rimba belantara atau jatuh ke tangan APRI. Maka andalan utama PRRI kini adalah rakyat di desa-desa. Rakyat sebahagian besar memang simpati pada mereka.

Membantu mereka membelikan obat-obatan di kota. Membantu mereka dengan makanan. Rakyatlah tulang punggung mereka. Hanya sayangnya, di beberapa kampung sudah terdengar mereka menganiaya rakyat. Merampok, memperkosa, membakar rumah. Saya yakin perbuatan itu dilakukan bukan oleh tentara PRRI. Melainkan oleh segolongan orang yang katanya menggabung pada PRRI, tetapi justru mempergunakan kesempatan untuk melampiaskan dendam dan nafsunya saja. Banyak di antara mereka ini yang berasal bukan dari tentara. Misalnya dari preman, tukang angkat, tentara pelajar dan lain-lain. Memang tak semua mereka yang melakukan. Hanya beberapa pasukan kecil yang tak terkontrol. Namun bukankah orang-orang tua telah menyediakan pepatah ”karena nila setitik, rusak susu sebelanga”? Jika hal ini tak cepat disadari pimpinan- pimpinan PRRI, maka pelindung utama mereka, yaitu rakyat, justru akan marah pada mereka…”

Sepi lagi sesaat.

”Hari ini, kau pergilah kemana saja dalam kota ini, Bungsu. Maka kau akan mendengar isak tangis yang menyayat. Tangis dari isteri yang kehilangan suami. Tangis dari kanak-kanak yang kehilangan ayah. Tangis dari ibu-ibu yang kematian anak lelakinya dalam usia remaja. Yang mati dalam peperangan kemaren…”

”Tidak. Saya takkan kemana-mana…”

”Ya, sebaiknya engkau tak usah kemana-mana, anak muda. Saya khawatir pada keselamatanmu. Bukannya karena mencemaskan engkau ditangkap APRI, tapi saya cemas engkau tak tahan mendengar isak tangis orang-orang yang kehilangan itu…”

Dan sehari itu, Si Bungsu memang tak keluar rumah. Dia duduk diam-diam di ruang tamu. Mendengarkan siaran radio PRRI yang menyiarkan bahwa malam kemaren mereka mendapat kemenangan besar ketika menyerang Bukittinggi. Banyak tentara APRI yang berhasil ditembak mati. Banyak senjata yang direbut. Pasukan PRRI baru meninggalkan kota setelah mereka berhasil mengumpulkan banyak bedil dan perlengkapan lainnya. Mereka meninggalkan kota tanpa ada perlawanan yang berarti. Sebaliknya, radio Pemerintah Pusat juga menyiarkan berita penyerangan malam tersebut. Disiarkan bahwa PRRI berusaha menyerang kota. Tapi berhasil dipukul. Malah ratusan anggotanya mati tertembak. Puluhan dapat ditangkap dan ditawan. Banyak senjata PRRI yang ditinggalkan begitu saja tergeletak bersama ratusan mayat pemberontak. Si Bungsu hanya menarik nafas panjang mendengar siaran radio yang saling bertolak belakang itu. Padahal di kota, yang tersisa adalah isak tangis dan luka yang amat dalam di jantung sejarah.

Hari ke tiga Si Bungsu di rumah Kari Basa tiba-tiba pintu diketuk. Ketika dibuka, tak ada kesempatan berbuat apa-apa. Empat orang tentara kelihatan tegak dalam pakaian loreng-loreng. ”Maaf, kami hanya melakukan pemeriksaan. Pagi tadi ada tentara terbunuh di pasar. Ditikam oleh seorang lelaki tak dikenal dengan pisau. Berapa orang yang tinggal di rumah ini?” ”Dua orang…”, jawab Kari Basa.

Tentara itu menatap tajam. Pangkatnya Sersan Kepala. ”Ini rumah pak Kari Basa bukan?”

”Ya. Sayalah Kari Basa…”

Tentara itu memberi hormat dengan sikap sempurna. ”Kami sudah diberi tahu tentang siapa bapak. Tapi maafkan, kami harus memeriksa kartu penduduk…”

Kari Basa mengeluarkan kartu penduduknya, kemudian memberikannya pada Sersan itu. Si Sersan mengamatinya. Kemudian mengembalikan kartu itu. Lalu matanya menatap pada Si Bungsu yang tegak tak jauh dari ruangan tamu itu juga.

”Dia keluarga bapak?”… ”Ya, ponakan saya…”

Kari Basa sebenarnya ingin melindungi Si Bungsu. Tapi jawabannya sebentar ini justru membuat perangkap pada anak muda itu. Sesuatu yang memang tak bisa diduga sebelumnya. Bahkan oleh Kari Basa sendiripun, meski dia adalah bekas perwira intelijen lan di zaman penjajahan Belanda dan zaman Jepang. Perangkap itu segera kelihatan ketika Sersan itu minta izin melihat kartu penduduk Si Bungsu. Si Bungsu memberikannya. Sersan itu meneliti. Kemudian tatapan matanya bergantian memandang Si Bungsu dan Kari Basa. Kari Basa segera menyadari kekeliruannya.

”Maafkan saya, Pak Kari. Menurut data yang ada pada kami, Bapak tak punya ponakan. Bapak punya seorang anak gadis. Bernama Salma dan kini jadi isteri Overste Nurdin. Atase militer Malaya di Kota Singapura. Begitu bukan?”

Kari Basa tak bisa menjawab.

”Maaf, kami ingin membawa Saudara ini…” ”Tapi, bukankah dia punya kartu?”

”Ya, kartu Padang. Dia tak pernah melapor bila dia datang dan berapa lama ingin tinggal di kota ini…”. ”Tapi tak ada kewajiban begitu…”, ujar Kari Basa memprotes.

”Dalam suasana begini, kewajiban apapun bisa saja diadakan, Pak Kari…”

”Baiklah. Tapi saya akan ikut serta. Saya ingin bertemu dengan komandan saudara..” ”Siap, silakan Pak…” Si Bungsu memang tak bisa berbuat lain di bawah ancaman ujung bedil itu. Dia mengikut saja ketika dibawa ke markas tentara. Kari Basa dibawa bertemu dengan Komandan RTP yang berkedudukan di kota itu. Tapi sang komandan sedang operasi keluar kota. Itulah malangnya bagi Bungsu. Dia harus tinggal di sel tahanan. ”Besok saya akan kemari. Saya harap engkau menjaga diri baik-baik…” ujar Kari Basa saat pamitan, ketika segala usaha tak bisa dia lakukan untuk membawa Si Bungsu pulang.

”Engkau memerlukan senjata?” bisik Kari Basa cepat ketika pengawal lengah.Si Bungsu menggeleng. ”Tapi…” ”Saya benar-benar merasa aman di sini, Pak. Saya harap Bapak tak usah khawatir…”

”Tapi samuraimu tinggal di rumah….”

”Itulah justru yang menyebabkan perasaan saya benar-benar aman…”

Sudah agak malam barulah Kari Basa pulang ke rumahnya. Si Bungsu dimasukkan ke sebuah sel. Sel itu sebuah ruangan cukup lebar. Di dalamnya ada tiga lelaki. Yang seorang masih bisa dikenal. Rapi tapi pucat. Yang dua lagi sudah tak menentu. Darah kental kelihatan mengalir di sela bibirnya yang bengkak. Pipinya benjol-benjol. Rambutnya kusut masai. Yang seorang berpakaian kuning seperti polisi. Yang satu lagi berbaju hijau seperti tentara. Ketiga lelaki itu menatap padanya begitu dia masuk. Tak ada balai-balai. Yang ada hanya lantai yang dingin. Si Bungsu tertegun melihat ketiga orang itu.

”Assalamualaikum…” katanya perlahan.

Tak ada yang menjawab. Yang berpakaian masih agak rapi itu mencoba tersenyum. Namun senyumnya cepat berobah jadi mimik agak takut. Lalu menoleh ke arah lain. Sedangkan yang seorang lagi, yang bibirnya berdarah dan berbaju seperti polisi, tetap diam membisu. Yang berbaju tentara dan bibirnya juga berdarah, bengkak di sana-sini, hanya sekejap memandang. Lalu menoleh ke tempat lain. Ketiga mereka duduk di lantai, bersandar ke dinding. Yang berdarah dan bengkak-bengkak itu duduk di dinding yang menghadap ke pintu. Yang rapi di dinding sebelah kanan. Tempat yang masih kosong adalah dinding sebelah kiri pintu. Si Bungsu menuju dinding itu. Lalu duduk di lantai dan bersandar.

Kini dalam sel itu ada empat orang. Tiga orang bersandar di tiga sisi dinding. Sebuah dinding disandari oleh dua orang, yaitu yang bibirnya berdarah dan mukanya bengkak-bengkak. Yang memakai baju kuning seperti polisi dan baju hijau seperti tentara. Sisi lain disandari oleh yang rapi tapi berwajah pucat. Sisi satu lagi disandari Si Bungsu. Dinding yang tidak disandari adalah sisi dimana terletak pintu masuk. Mereka yang ada dalam sel tahanan itu semua pada terdiam. Sama-sama membisu. Hari belum terlalu larut, tapi udara dingin sudah menusuk-nusuk. Tiba-tiba pintu terbuka. Seorang CPM berpangkat kopral masuk. Tegak di sisi pintu, memberi hormat dan kemudian masuk seorang Kapten CPM beserta seorang stafnya berpangkat Sersan Mayor. Keempat orang yang ada dalam tahanan menatap pada mereka.

”Berdiri!” perintah kopral itu.

Keempatnya berdiri. Si Sersan membuka map di tangannya. Lalu menjelaskan pada si Kapten. ”Yang berbaju kuning bernama M. Bintara, penghubung pada pasukan Dahlan Jambek. Yang berbaju hijau bernama D, Inspektur polisi pada Batalyon Sadel Bereh. Ini yang berbaju lengan panjang adalah pedagang yang diduga mata-mata PRRI. Yang satu ini baru saja ditangkap siang tadi di rumah pak Kari Basa, di daerah Panorama. Punya kartu penduduk Padang, tapi mata-mata kita tak pernah melihat orang ini sebelumnya di kota….” ”Besok pagi suruh semuanya menghadap saya sebelum bertemu dengan komandan RTP.” ”Siap!”

Kemudian Kapten itu pergi. Kopral CPM tadi menutup pintu. Suasana di ruangan itu kembali sepi. Namun kini sekurang-kurangnya mereka sudah saling mengetahui orang-orang yang ada dalam ruangan tersebut. Kedua orang yang bengkak-bengkak itu sejenak menatap pada Si Bungsu. Si Bungsu diam saja. Lelaki yang disebut sebagai pedagang merangkap mata-mata, yang masih rapi itu, tiba-tiba merogoh kantong. Mengeluarkan sebungkus rokok Double As. Dia bangkit, menuju pada dua orang yang bengkak-bengkak itu. ”Silahkan…,” katanya menawarkan rokok.

Kedua orang itu saling pandang.Kemudian menatap orang yang menawarkan rokok itu. “Silahkan merokok …”kata lelaki itu lagi.

Kedua lelaki itu mengambil satu batang seorang.Ketika mereka meletakkan ke bibir, lelaki rapi itu menghidupkan korek api dan membakarkan rokok kedua lelaki itu.

“Terima kasih…”ujar mereka perlahan sambil menghirup asap rokoknya dalam-dalam.

Lelaki itu tegak,berjalan mendekati Si Bungsu seperti tadi, dia menawarkan pula rokok itu pada Si Bungsu. Si Bungsu menolak dengan mengatakan bahwa dia tak merokok. Saat itu kembali terdengar pintu terbuka. Tiba-tiba Si Bungsu merasa jadi dirinya tegang. Di pintu kelihatan tegak seorang OPR, Nuad Sutan Kalek! Ya dialah itu, Nuad mata-mata yang lihai itu. Beberapa hari hari lalu lehernya pernah diancam Si Bungsu dengan samurai. Menyeretnya sampai ke Tambuo untuk melindungi diri dari tembakan tentara. Nuad, si OPR itu bersama seorang temannya yang juga OPR, segera mengenali Si Bungsu. “Benar, Benar dialah orangnya…!”seru Nuad.

Suara langkah ramai-ramai terdengar mendekati kamar tahanan itu. Dalam waktu singkat, ruangan itu penuh sesak oleh tentara. Semua melihat ke Si Bungsu yang masih duduk sambil bersandar ke dinding dengan diam kedinding.

“He, kau berdiri!” seorang tentara memberi perintah. Si Bungsu berdiri. Tentara itu menggeledah tubuhnya. “Tak ada apa-apa…”katanya.

“He, mana samurai yang kau buat mengancam tempo hari..!”ujar Nuad sambil maju mendekat. “Sudah saya buang…”jawab Si Bungsu.

Sebuah tamparan mendarat dipipi Si Bungsu.

“Babi! Dulu berani-beraninya kau mengancamku, he! Ini! ini!..inii!”bentaknya.

Setiap ucapan “ini”nya itu, sebuah pukulan atau tendangan dia hantamkan ke tubuh Si Bungsu. Si Bungsu terhuyung-huyung ke dinding. Tapi begitu OPR itu berhenti menanganinya, dia menatap dengan mata yang berkilat dingin.

“Ooo, melawan kau ya!”bentak Nuad.

Tapi ketika akan menampar lagi, tangannya ditangkap seseorang. Ketika dia menoleh, ternyata tangannya di pegang oleh seorang Sersan. Sersan yang tadi menangkap Si Bungsu di rumah Kari Basa.

“Kabarnya kau menangis waktu diancam dengan samurai itu, benar Nuad?”tanya Sersan itu. Ucapan ini di sambut tertawa bergumam oleh beberapa tentara lain yang memadati ruangan itu. “Menangis? Puih! menghadapi anak ingusan ini aku menangis? Taiklah!”

Sehabis ucapan, kakinya melayang. Menghantam perut Si Bungsu. Kembali anak muda itu tersandar dan tersurut ke dinding. Tapi matanya yang berkilat seperti memancarkan api.

“Kau berani menghadapinya, satu lawan satu?”Sersan itu bertanya lagi.

“Saya? Heh, saya khawatir anak ini akan mati sekali saya pukul!”jawab si Nuad. “Kau berani melawan orang ini, Bung?”

Sersan itu mengajukan ”tawaran” pada Si Bungsu. Tapi yang ditanya hanya diam. Masih bersandar kedinding. Si Sersan kembali bertanya lagi, akhirnya Si Bungsu mengangguk perlahan. Anggukannya di sambut tepuk tangan tentara yang ada dikamar itu. Segera mereka keruangan yang lebih besar. Tentu saja ketiga teman Si Bungsu tak bisa ikut. Mereka di kunci di kamar itu. Si Bungsu kini berada dikamar yang cukup luas. Lebih dari sekitar dua puluh tentara sudah tegak disekitar ruangan. Nuad sudah tegak pula ditengah. Si Bungsu dibawa tegak tiga depa dari Nuad. Dia ditinggalkan disana. Tegak sendiri!

“Nah, segera mulai…”kata Sersan itu.

Pertarungan ini adalah seperti adu ayam. Tapi siapa dengan negeri yang sedang SOB, bila seseorang lelaki yang punya sangkut paut dengan peperangan hilang, tak usah terlalu banyak berharap dia akan kembali. Dalam negeri yang SOB, yang berkuasa bukan orang-orang. Yang berkuasa bedil. Bedil tak punya otak untuk menimbang patut atau tidak patut. Si Bungsu tegak diam didepan OPR yang mata-mata itu. Dikelilingi oleh tentara APRI. Masih syukur Sersan yang menangkapnya itu mau mengadu mereka berkelahi. Bagaimana kalau dibiarkan saja. Artinya OPR itu dibiarkan menghajarnya sampai lumat. Dia pasti tak dapat membalas. Kini kesempatan untuk membalas itu ada.

Dia tahu, kalaupun menang, maka kemenangannya hanya akan mendatangkan bencana pada dirinya. Artinya, kalah atau menang dalam perkelahian seperti adu ayam ini, akibat bagi dirinya hanya satu, Penderitaan! Oleh karena akibatnya tetap sama, makanya dia harus memenangkan perkelahian itu. Pikirannya terputus ketika tiba-tiba Nuad yang bertubuh tinggi besar itu menerjangnya. Si Bungsu mengelak. Tapi terlambat. Ujung tendangan OPR itu menyerempet rusuknya.

Dia terjajar kepinggir. Dari pinggir ada yang menendang punggungnya. Dia terjajar lagi ketengah. Rasa sakit menyelusup. Nuad menyerang lagi, tapi dengan cepat Si Bungsu mengelak. Pukulan Nuad meluncur diatas kepalanya. Ada suara bergalau dari beberapa tentara yang berjajar di sekitar ruangan.

Kini mereka berhadapan. Tendangan dari salah seorang dari tentara tadi memberikan kesadaran pada Si Bungsu, bahwa dia kini berada disarang harimau! Tendangan sepatu berduri dipunggung terasa mendatang rasa ngilu. Dia tak hanya tak boleh kalah, tapi tak boleh juga tersandar pada kerumunan tentara di sekilingnya. Kalau dia sampai tersandar lagi pasti punggungnya akan kena hajar lagi. Nuad menghayun tinju,Si Bungsu mengelak dan membalas dengan sebuah pukulan cepat. tapi tangannya ditangkap Nuad, dengan cepat Si Bungsu mengirimkan pukulan dengan tangan kiri, tapi tangannya kirinya ditangkap lagi!

OPR ini memang luar biasa, pesilat yang tak boleh dianggap enteng. Tangannya yang memegang kedua tangan Si Bungsu diputar. Si Bungsu berusaha bertahan, tapi dibawah gemuruh suara tentara yang menonton, tubuhnya terseret berputar mengelilingi tubuh Nuad. Makin lama makin kencang. Kakinya terangkat beberapa kali karena kehilangan keseimbangan. Kedua tangannya terkunci pada genggaman Nuad.

Ruangan ini dirasakannya mulai berputar. Suatu saat OPR itu melemparkan tubuh Si Bungsu. Tanpa bisa bertahan sedikitpun, tubuhnya meluncur menabrak palunan tentara. Dirinya ditangkap ramai-ramai, setelah di pukul dan ditendang beberapa kali, kembali tubuhnya di lemparkan ketengah.

Suara hiruk pikuk itu nyaris tak terdengar ketika tubuhnya jatuh ditengah ruangan, Lalu sebuah injakan sepatu berduri Nuad membuat dia ingin muntah.

Terdengar tepuk tangan. Suara tertawa. Si Bungsu merangkak bangkit. Lalu Nuad mendekat dan mengayunkan sebuah tendangan yang mendarat didagu Si Bungsu, sampai tubuhnya terangkat keatas karena tendangan berkekuatan penuh itu. Lalu terlempar, dan terhempas lagi kelantai. Dia hampir tamat. Darah meleleh dibibirnya yang pecah dan hidungnya yang remuk.

Seseorang menyiram wajahnya dengan air yang berasal dari penples, tempat air militer. Bibirnya yang pecah terasa pedih. Namun air itu membuat kesadarannya agak lebih baik. Kenapa secepat itu dia ditaklukkan Nuad? Padahal dia mahir Karate dan Yudo yang dilatih oleh temannya yang bernama Kenji ketika di Jepang?.

’Hei, ayo berdiri!” dia dengar seruan orang-orang.

Dia masih menelungkup beberapa saat. Mengembalikan kesadarannya lebih penuh. Memulihkan tenaganya perlahan-lahan. Ketika ada yang menendang kakinya, dia lalu bangkit. Kini orang yang berdiri di depannya sudah bertukar. Bukan lagi Nuad. Tapi OPR lain. Nuad kelihatan tegak di sudut seperti seorang hero. Seolah-olah Si Bungsu bukan tandingannya. Seolah-olah perkelahian sebentar ini menurunkan martabatnya saja. Dengan tatapan yang amat merendahkan, nampaknya dia ”mewakilkan” perkelahian itu pada temannya sesama OPR. Si Bungsu tegak dengan kesadaran lebih baik dari tadi. Dia sempat melirik betapa Nuad yang sedang menghisap rokok dengan sikap petentengan. ”Kau coba saja dengan Siswoyo…!” ujar Nuad padanya.

Ucapannya disambut dengan tawa oleh tentara yang memenuhi ruangan itu. OPR yang bernama Siswoyo itu maju. Perlahan Si Bungsu menyusun konsentrasi. Berapa lamakah dia tak lagi berkelahi? Dan yang lebih penting sudah berapa lamakah umur sumpahnya, bahwa dia takkan mempergunakan kekerasan kepada bangsanya sendiri? Tidak, sumpah itu sudah batal sejak peristiwa dengan Nuad, si OPR, beberapa hari yang lalu di Simpang Aur kuning. Bukankah dia sudah berniat untuk tak kalah? Siswoyo, OPR yang kampungnya entah di mana di Jawa sana, bergerak maju dengan mengirimkan sebuah pukulan. Namun yang dia hadapi kini adalah seorang lelaki yang telah pulih ingatannya. Lelaki yang telah masak oleh seribu pertarungan.

Mulai dari zaman Jepang dan agresi Belanda ketika dia masih berusia dua puluhan, sampai ke Jepang. Singapura dan Australia. Kini, ketika Siswoyo mengirimkan sebuah pukulan, pukulan Si Bungsu justru menyongsong amat cepat dan amat telak. Yang kena adalah kening Siswoyo. Lelaki itu pada mulanya hanya tersurut dua langkah. Tapi setelah itu beruntun terjadi hal yang aneh. Mula-mula matanya jadi juling. Kemudian tegaknya sempoyongan. Lau tubuhnya berputar. Lalu jatuh di atas kedua lututnya. Si Bungsu masih tegak di depannya, dalam jarak tiga depa dengan tenang.

”Hayo Sis! Bangkit. Hajar pemberontak itu!” terdengar seruan-seruan.

Namun tubuh Siswoyo tiba-tiba jatuh tertelentang. Mulutnya berbuih. Matanya yang juling pada putih semua. Dua tentara maju serentak, memegang nadi dan meraba dada Siswoyo. ”Semaput…”, ujar tentara itu.

Suasana jadi sepi. Sekali pukul Siswoyo yang berdegap itu bisa keblinger pingsan? Ah, apakah ini suatu kebetulan atau Siswoyo salah mengatur pernafasannya? Tak mungkin anak muda itu tiba-tiba menjadi begitu tangguh. Padahal sebentar tadi dia jadi mainan oleh Nuad. Tiba-tiba terdengar suara.

”Awas, saya hajar orang Minang yang jadi mata-mata gerombolan ini….!”

Orang berkuak. Yang ngomong adalah Nuad, OPR yangg tadi menghajar Si Bungsu. OPR yang beberapa hari lalu mengaku orang Bukittinggi, orang Kurai. Yang memohon-mohon sambil menangis agar nyawanya diampuni. Ngeri melihat mata samurai Si Bungsu ketika dia diancam di Tambuo. Kini, dengan pongah dia bilang akan menghajar ”orang Minang” yang jadi mata-mata gerombolan!

Si Bungsu menatap dengan tajam. Sinar kebencian yang hebat membersit dari matanya. Beberapa tentara yang kebetulan tegak di depannya, merasa bulu tengkuk mereka merinding melihat tatapan mata anak muda itu.

”Saya akan layani Saudara, dengan syarat Saudara menyebutkan dimana kampung Saudara…” ujar Si Bungsu dengan nada datar. Suaranya terdengar jelas. Tak urung pertanyaan itu membuat Nuad tertegun.

”Jangan banyak bicara, buyung. Atau kau ingin mengulur-ulur waktu, agar lebih lambat saat datangnya kematianmu?”

”Saya orang Situjuh Ladang Laweh. Orang Minangkabau. Saya tak malu mengaku sebagai orang Minangkabau, meski negeri saya memberontak. Dan meski saya tak ikut memberontak, tapi saya tak pernah menghina orang-orang Minang lainnya yang lari ke rimba. Saya ingin dengar di mana kampung Saudara”.

Nuad kaget mendengar ucapan anak muda ini. Dia tertegak menghentikan langkahnya. ”Katakan, Nuad. Dimana kampungmu. Atau karena di ruangan ini banyak orang dari Jawa, lantas kau malu mengaku sebagai orang Minang?” ujar Si Bungsu tajam.

”Jahanam kau. Aku orang Bukittinggi. Tapi aku tak masuk kelompok pemberontak busuk seperti kalian!” ”Nah, dengarkan baik-baik, Nuad. Jika hari ini seluruh gigimu kurontokkan, maka itu bukan karena kau

jadi OPR. Bukan karena kau orang Pusat. Tapi karena mulut dan ucapanmu yang beracun itu”.

Ucapan Si Bungsu terputus, karena tiba-tiba dengan penuh keyakinan, Nuad menyerang dengan dua kali tendangan silat yang tangguh. Tapi anak muda yang dia hadapi kini adalah anak muda yang telah siap. Si Bungsu mengelak ke samping, lalu kakinya menyapu kaki Nuad yang sebelah, yang tegak di lantai. Gerakan itu demikian cepat dan demikian telak. Kaki Nuad yang sebelah itu tersapu dan tubuhnya terputar di udara. Lalu jatuh berdembum ke lantai!

Jika mau, Si Bungsu bisa menyusul sapuan kaki itu dengan sebuah hentakan tumitnya ke dada Nuad yang jatuh tertelentang. Tapi itu tak dia lakukan. Dia tetap tegak menanti. Suasana yang tadi riuh rendah tiba-tiba berobah jadi sepi. Nuad merangkak bangkit dengan sakit di punggung dan rasa heran di hati. Apakah dia jatuh karena serangan anak muda itu atau karena lantai yang licin hingga dia tergelincir? Dia lihat anak muda itu masih tegak dua depa di kirinya.

Hm, aku pasti tergelincir karena lantai licin. Bukan karena serangan. Mana bisa anak itu menyerang dan merubuhkanku, pikir Nuad menentramkan hatinya. Dia bangkit. Kalau mau, saat itu Si Bungsu bisa membalas dengan menendang dagu Nuad. Persis seperti yang dilakukan OPR itu tadi pada dirinya. Tapi dia telah belajar berkelahi secara sportif. Dia tak mau mengambil keuntungan ketika lawan dalam posisi sulit begitu. Dia nanti OPR bertubuh besar itu tegak.

OPR itu tegak dan menggelengkan kepala dua tiga kali untuk menghilangkan rasa puyeng. Lalu menggeram dan membuat ancang-ancang silat. Kemudian setelah melirik-lirik dua tiga kali, dia menyerang dengan pukulan dahsyat dan cakaran-cakaran berbahaya. Namun kali ini, ganti tangannya yang akan mencakar itu kena tangkap. Dan sebelum dia sadar sepenuhnya, Si Bungsu membalik sambil menyentakkan tangan Nuad. Tubuh Nuad tertarik rapat ke punggung Si Bungsu.

Dengan sebuah gerak membungkuk yang cepat dan kuat, tubuhnya terangkat melayang lewat kepala Si Bungsu, dan dirinya kembali jatuh dengan suara berdembam yang pedih ke lantai batu! Dia kena bantingan soinage, sebuah banting Judo yang telak. Terdengar seruan kagum, kaget dan heran dari mulut tentara-tentara itu. Si Bungsu membiarkan tubuh Nuad tergeletak nanar. Dia merasakan kepalanya berdenyut. Tapi yang paling sakit adalah pinggulnya yang serasa remuk menerkam lantai.

”Kau takkan jadi terhormat hanya dengan menghina orang kampungmu, Nuad!” ujar Si Bungsu perlahan. Nuad menyeringai, bukan karena ucapan Si Bungsu. Tapi karena kenyataan pahit yang dia dapati. Ternyata anak muda itu tak mudah dia taklukkan. Tapi, betapapun, dia harus menghajarnya. Bukankah tubuhnya lebih besar dan dia lebih ditakuti? Perlahan dia bangkit. Tegak dengan pinggul agak dimajukan ke

depan karena sakit. Sebenarnya dia sudah ingin menyudahi saja perkelahian ini. Tapi dia malu.