Tikam Samurai Si Bungsu Episode 3.4

Kotak korek api itu rupanya terlalu kuat dilemparkan. Dia membentur loteng. Dan benturannya menyebabkan korek itu cepat pula terpukul ke bawah. Ketiga mereka tak melihat kotak itu. Hanya mempertajam pendengaran. Menanti suara jatuhnya korek api itu menyentuh lantai kamar.

Kedua bekas serdadu sekutu itu memang cepat luar biasa dengan lemparannya. Dan lemparannya juga tepat. Buktinya, kedua pisau komando mereka menancap saling dempet di dinding!

Ya, kedua pisau komando itu menerkam dinding di belakang kaleng bekas minuman tadi. Sementara kaleng minuman itu sendiri sudah terpental dan terpaku ke dinding sedikit ke bawah dari kedua pisau komando itu.

Kedua bekas tentara sekutu itu menatap dengan mata tak berkedip pada kaleng bekas minuman itu. Selain takjub pada kecepatan anak muda itu, mereka dengan kaget juga melihat bahwa pada huruf O yang menjadi sasaran lemparan tersebut, tertancap tidak hanya sebilah samurai kecil melainkan dua bilah! Dua bilah samurai kecil pada sasaran yang amat kecil dan dalam kecepatan yang sama dengan ketepatan yang fantastis! heran. Lalu mereka menoleh pada Si Bungsu.

“Ada dua samurai. Anda hanya memiliki sebuah tadinya…” kata salah seorang diantara mereka dengan

Si Bungsu tak menjawab. Dia membuka lengan baju kirinya dan disana kelihatan kulit pengikat samurai seperti yang berada di tangan kanannya.

Kedua bekas tentara sekutu itu benar-benar takjub. Dengan demikian berarti anak muda ini tadi melempar dua bilah samurai dengan tangan kiri dan kanannya.

Dan kedua lemparan itu sama cepatnya, sama tepatnya.

“Anda memang seorang Master anak muda. Anda tak berbohong ketika mengatakan bahwa anda dengan mudah bisa membunuh kami bila saja anda kehendaki. Ternyata anda tak melakukan hal itu meski telah kami tantang dan telah kami pukul. Terima kasih atas kebaikan anda. Kami takkan melupakan pertemuan ini…”

Berkata begitu kedua bekas serdadu itu mengulurkan tangan pada Si Bungsu. Si Bungsu turun dari tempat tidur dimana dia tegak sejak tadi. Kemudian menerima jabatan tangan dari kedua orang Australia itu.

Kedua orang itu menyalaminya dengan sikap penuh persahabatan yang akrab dan penuh kekaguman. Kemudian mereka mengambil pisau komandonya yang tertancap di dinding. Lalu mengambil samurai Si Bungsu yang memakukan kaleng bekas itu di bawah pisau komando mereka.

Mereka mengamati model samurai kecil itu.

“Benar-benar senjata yang ampuh. Tapi jika dibanding dengan pisau komando kami, rasanya pisau kami lebih baik buatan dan mutunya. Hanya saja senjata ini berada ditangan seorang ahli…” mereka lalu mengembalikan samurai itu pada Si Bungsu.

“Diluar sana ada sebuah restoran. Kami ingin mengundang anda untuk minum dan merayakan perkenalan ini…” yang berbaju kaos oblong merah berkata.

“Mari kita minum, anda tidak keberatan bukan?” yang bercelanan jean menguatkan ajakan temannya. “Terimakasih atas undangan anda. Saya tak suka minuman keras…”

“Restoran itu tak hanya menjual minuman keras. Disana juga dijual teh atau susu es. Ayolah..”

Akhirnya Si Bungsu tak dapat mengelak ajakan kedua bekas serdadu itu. Dia ikuti kedua orang itu. Pelayan yang tadi kena tendang pantatnya dan diancam untuk tak menelpon polisi menjadi ketakutan melihat kedua orang Australia itu muncul.

Dan rasa takutnya segera berobah jadi rasa heran takkala melihat diantara kedua orang itu ada Si Bungsu. Dan ketiga orang itu berjalan dengan wajah berseri. Pelayan itu menganga mulutnya.

Ketiga orang tersebut melangkah keluar. Menyebrangi jalan raya. Dua buah taksi lewat. Mereka berhenti membiarkan taksi itu lalu dengan kencang.

Restoran itu terletak di dermaga, yaitu ditempat dimana Si Bungsu dan Nurdin minum-minum dahulu.

Jalan itu kosong kini. Ada sebuah taksi, tapi masih agak jauh dan jalannya perlahan. Mereka lalu menyebrang. Mereka tetap beriringan, yang pakai kaos oblong merah di kanan, yang pakai jeans, yaitu yang agak muda dikiri dan Si Bungsu di tengah.

Ketika mereka berada persis di tengah jalan, sedan merah yang tadi berjalan perlahan tiba-tiba menekan gas. Sedan itu seperti disentakkan meluncur maju. Ketiga orang itu kaget. Mereka tengah berada ditengah jalan. Dengan cepat mereka berlari keseberang sana. Namun sedan itu seperti sengaja dihadapkan pada mereka. Jaraknya sudah demikian dekat, dan saat itulah bekas tentara yang memakai jeans menolakkan tubuh Si Bungsu.

Dalam keadaan berlari demikian, tentu saja Si Bungsu kehilangan keseimbangan. Tanpa dapat ditahan, dia jatuh bergulingan ke pinggir parit. Dan begitu dia jatuh, serentetan tembakan terdengar. Dan sedan itu meninggalkan asap putih di tentang mereka.

Si Bungsu kaget ketika dia dengar keluhan. Demikian juga orang Australia yang memakai kaos oblong itu. Mereka menoleh, dan dengan terkejut mereka melihat betapa si celana jeans itu tertelungkup mandi darah.

Yang memakai kaos oblong, yang nampaknya berusia sedikit lebih tua segera memburu. Dia memangku tubuh temannya itu dan membawanya ke pinggir jalan.

Orang-orang segera berkerumun.

“Robert…! Robert…!” yang pakai oblong itu mengguncang tubuh temannya itu. Lelaki bercelana jeans itu perlahan membuka matanya. Perlahan darah mengalir dari sela bibirnya. Si kaos oblong menoleh pada orang yang berkerumun.

“Saya bekas Kapten tentara Inggris. Tolong telponkan Rumah sakit Militer untuk mengirimkan mobil dan dokter kemari…” seorang yang tegak menonton segera berlari ke toko di pinggir dermaga.

“Kapten…” yang tertembak itu berkata perlahan. “Robert…”

“Ingat….ketika kita memasuki Bombay…? Ketika kita menghadapi tentara Ghurka yang memberontak… ingat..?” si celana jeans bertanya. Bibirnya tersenyum tipis. Nampaknya ada kisah nostalgia dalam pertanyaan itu.

“Saya ingat Robert. Saya ingat….engkau terjebak di jalan raya. Dikepung oleh enam Ghurka. Tapi engkau berhasil membunuh mereka semua. Tiga orang engkau sudahi dengan pisau komandomu. Tiga orang lagi dengan pistol Lucer. Engkau harusnya sudah berpangkat Kapten sepertiku. Tidak letnan seperti sekarang…”

Yang muda yang bercelana jeans itu tersenyum. “Mana anak muda tangguh itu…?” tanyanya. Si Bungsu tahu, dialah yang ditanyakan bekas tentara itu. “Saya disini, terimakasih tuan menyelamatkan nyawa saya…”

“Nampaknya ada orang yang menginginkan nyawamu di kota ini…samurai…”

Si Bungsu tak menjawab. Dia ingat betapa tadi dia ditolakkan dengan kuat oleh bekas tentara ini. Ketika dia menduga orang ini akan mencelakakannya.

“Ketika deru mobil itu melaju, saya sempat memandang sekilas. Saya lihat ada moncong bedil…sebagai bekas tentara yang telah kenyang dalam pertempuran, saya tahu, bedil itu diarahkan padamu, makanya engkau saya dorong hingga jatuh…”

“Terimakasih. Saya berhutang nyawa pada tuan, saya takkan melupakan budi tuan…”

Bekas tentara itu tersenyum. Kemudian menatap temannya. Letnan itu muntah darah. Dari kejauhan terdengar sirene. Polisi Militer yang ditelepon segera datang bersama ambulance.

“Dokter datang….Robert…” si kaos oblong yang berpangkat Kapten itu berkata. Namun si celana jeans telah terkulai. Tubuhnya dingin. Matanya layu. Meninggal.

Ketika orang berkuat, ketika Polisi Militer turun, ketika tandu diletakkan, ketika petugas rumah sakit militer itu akan mengambil mayat si Letnan, bekas Kapten yang masih memangkunya itu masih terduduk menatap bekas Letnan itu dengan diam. Tak percaya dia akan yang telah terjadi.

Seorang Polisi Militer berpangkat letnan mendekat dan memberi hormat pada bekas Kapten itu ketika mayat telah diambil dan dimasukkan ke Ambulance.

“Apakah kami dapat tahu apa penyebab pembunuhan ini?” Tanya letnan polisi militer itu. “Perang…” desis bekas Kapten berkaos oblong itu.

“Perang…” Polisi Militer itu mengerutkan kening. Tak faham dia apa yang dimaksud.

“Ya. Perang! Akan ada perang di kota ini antara bekas Baret Hijau dengan bajingan yang telah membunuh Robert…” suara Kapten itu mendesis perlahan. Kemudian dia bangkit. Menoleh pada Si Bungsu yang tegak disisinya dengan diam.

“Maafkan, saya terpaksa tak jadi mengundang anda untuk minum..”

Si Bungsu yang perasaannya tak menentu, tegak mematung. Menatap pada mayat Robert yang telah menyelamatkan nyawanya. Orang-orang Australia bekas serdadu perang dunia ke II itu, benar-benar membuktikan ucapannya tentang nilai sportifitas.

“Jangan khawatir anak muda. Kami takkan berlaku curang. Yang suka berbuat curang biasanya adalah kalian. Orang-orang Melayu. Kami menjunjung tinggi nilai-nilai sportifitas” ucapan Robert ketika menantang dia di kamar tadi masih terngiang ditelinganya.

Sementara itu di Ambulance, pihak perawat dan dokter mencatat segala sesuatu.

“Kapten…ini barang-barang miliknya…” dokter tentara itu menyerahkan rantai dan plat nama yang terbuat dari perak, yang senantiasa tergantung dilehernya. Rantai dan plat nama begitu dimiliki oleh setiap prajurit yang terjun ke kencah peperangan.

Bekas Kapten itu menerima barang-barang tersebut. Dompet, uang dan sapu tangan.

Polisi Militer sibuk pula mencatat keterangan-keterangan para saksi. Kemudian mereka menuju rumah sakit. Ketika segala urusan di rumah sakit selesai, mereka menuju ke markas tentara.

Di kota itu masih ada suatu badan perwakilan tentara sekutu. Yaitu badan yang mengurusi segala sesuatu kepentingan bekas tentara sekutu di Asia Tenggara ini.

Dan Kapten itu nampaknya selain cukup dikenal, juga disegani di sana. Hal itu jelas terlihat oleh Si Bungsu pada sikap para tentara yang menerima mereka.

Kapten itu memang sorang komandan Kompi dari pasukan Baret Hijau Inggris yang terkenal itu.

“Jenazah Robert bisa dikuburkan setiap saat tuan kehendaki…” seorang Mayor yang mengurus kejadian itu berkata.

“Dia takkan dikubur disini Mayor. Saya minta kalian menerbangkan mayatnya ke Australia. Disana ada anak dan isterinya. Disana jenazahnya harus dimakamkan…”

“Kami akan melaksanakan permintaan tuan. Ini ada telegram dari induk pasukan tuan di Inggris.

Menyampaikan duka cita yang dalam atas meninggalnya Letnan Robert..”

Mayor itu memberikan telegram tersebut. Kapten tersebut menerimanya. Tapi tak membacanya.

Telegram itu dia simpan dalam kantongnya.

“Kapan tuan kehendaki kami menerbangkan jenazah Robert ke Australia..?”

“Saya akan beritahu dalam waktu dekat…” sambil berkata begitu Kapten tersebut berdiri. Dia memberi isyarat pada Si Bungsu untuk ikut.

Mereka menuju sebuah restoran di jantung kota Singapura. “Saya sangat menyesal atas kematian Robert, Kapten…kalau saya tidak ikut dengan anda, saya rasa dia masih hidup…” Si Bungsu berkata ketika mereka duduk dan memesan minuman.

“Jangan menyesali diri Bungsu. Kita percaya pada takdir Tuhan bukan? Nah, memang takdirnya sudah harus mati di kota ini. Hanya saja, saya akan membuat perhitungan dengan orang yang membunuhnya. Saya akan mencari jejaknya, dan saya akan menemukan mereka. Dan saya akan membunuh mereka. Saya yakin, mereka berada dalam satu komplot. Dan jika perlu, saya akan berperang dengan mereka. Saya masih punya pasukan di kota ini. Bekas pasukan Baret Hijau yang telah mengundurkan diri seusai perang dunia yang laknat itu…”

“Ini bukan peperangan anda Kapten…ini peperangan saya. Mereka sebenarnya menghendaki nyawa saya. Mereka adalah anggota sebuah sindikat perdagangan wanita…”

Dan Si Bungsu menceritakan segala kejadian yang dia alami sehubungan dengan sindikat itu. Mulai dari dia bertemu dengan Nurdin sampai pada detik terakhir mereka ditembak dijalan yang menyebabkan kematian Robert.

“Dan Overste Nurdin ditembak persis ditempat Robert kena tembak. Dia ditembak juga dari sebuah taksi yang dilarikan dengan kencang….” Si Bungsu mengakhiri ceritanya.

Bekas Kapten berbaju kaos oblong itu meneguk wiskinya. Kemudian menatap pada Si Bungsu.

“Kini persoalan ini bukan hanya persoalan dirimu Bungsu. juga jadi persoalan saya. Selain disebabkan orang itu telah membunuh Robert, kita telah mengikat persahabatan. Kami memang orang kasar. Umumnya bekas tentara yang keluar dari kencah perang dunia seperti kami memang berperangai kasar. Tapi kami adalah orang-orang yang memuliakan persahabatan. Ah, kalau saja Robert masih hidup, kita bertiga akan bersama- sama menyikat sindikat itu. Jangan khawatir Bungsu, saya masih punya pasukan. Saya akan sebar mereka untuk mencari dimana markas sindikat itu. Selain membalas perlakuan mereka pada dirimu dan pada temanmu yang bernama Nurdin itu, sindikat perdagangan wanita itu memang harus dibinasakan…kita akan bahu membahu…nah habiskan minumanmu. Kita akan segera mulai…”

Si Bungsu tercengang dan merasa haru yang amat dalam mendengar ucapan Kapten itu. Banyak hal-hal yang tak dia duga yang pernah dia temui dalam hidupnya. Antara lain, dia tak pernah menduga bahwa Michiko, gadis yang ditolongnya di Asakusa dan yang sekereta dengannya menuju Kyoto itu, dan yang dia cintai itu, adalah anak Saburo Matsuyama. Anak musuh besarnya!

Dan kini, orang yang akan membunuhnya karena persoalan Mei-Mei di hotel Sam Kok itu. Bekas serdadu perang dunia ke II, tiba-tiba saja beralih menjadi sahabat yang bersedia mati untuk membantunya.

“Terimakasih, Kapten…” katanya perlahan.

Mereka segera saja menyelesaikan minum disana. Kemudian Kapten itu menuju telepon. Kelihatan dia bicara dengan seseorang. Lalu menuju kembali pada Si Bungsu.

“Apakah dokumen sindikat itu ada padamu..?” “Ada. Di hotel..”

“Mari kita lihat..”

Dengan sebuah taksi mereka menuju hotel didepan pelabuhan dimana mereka hampir bertarung dengan pisau kemaren.

Si Bungsu memperlihatkan dokumen itu. Bekas Kapten itu mempelajari sejenak. Dokumen itu mempunyai sebuah peta darurat. Sebagai seorang bekas perwira dari pasukan Komando, tak begitu sulit bagi Kapten itu untuk membaca peta rahasia itu.

Dia kemudian bicara lagi pada seseorang lewat telpon di hotel itu.

“Nah, sahabat. Tinggallah dahulu. Anda istirahatlah. Malam ini kita akan bergerak. Anda akan saya jemput sekitar jam delapan nanti malam..”

Mereka bersalaman. Kemudian bekas perwira baret hijau itu berlalu. Si Bungsu seperti bermimpi saja.

Alangkah banyaknya pengalaman yang dia timba dari kehidupan yang dua hari ini.

Dia tengah duduk termenung di kamarnya ketika pintu kamar diketuk. Ketika pintu dia buka, seorang lelaki Barat, mungkin dari Amerika masuk dengan sebuah tas.

“Saya Donald. Mac Donald dari pasukan Green Barets. Saya disuruh Kapten Fabian untuk menemui anda disini…” orang yang baru masuk itu langsung saja bicara dan menyalami Si Bungsu.

“Saya Si Bungsu. Apa yang bisa saya perbuat?”. Serdadu yang bernama Donald itu tak bicara. Dia membuka ritsleting tas kulitnya. Dari dalamnya dia mengeluarkan sepucuk thompson. Sejenis senjata otomatis bermagazine bundar.

“Anda bisa mempergunakan besi tua ini?”

Si Bungsu menggeleng. Dia memang tak pernah melihat bedil seperti itu.

“Nah, caranya mudah saja…begini” dan anak buah Kapten Fabian itu memberikan petunjuk selama beberapa saat pada Si Bungsu tentang penggunaan senjata otomat itu.

Lalu setelah dia merasa Si Bungsu bisa, diapun berlalu. Senjata itu dia bawa kembali dengan tas kulitnya yang usang. Dan kembali Si Bungsu tinggal dalam biliknya sendirian.

Dan tanpa terasa haripun malamlah. Di luar terdengar mobil berhenti. Si Bungsu bersiap.

Tak lama setelah mobil itu berhenti, terdengar suara langkah masuk. Makin lama makin dekat ke kamarnya. Dia sudah bermaksud membukakan pintu, ketika firasatnya yang amat tajam, firasat yang terlatih di rimba Gunung Sago mengirimkan denyut peringatan.

Hanya beberapa detik, dia segera merasa ada sesuatu yang tak beres. Tangannya cepat memadamkan lampu. Lalu dalam dua loncatan dia sampai dekat jendela.

Ketika tubuhnya melambung dalam loncatan ketiga, pintu ditendang dengan sangat kuat. Pintu itu tanggal dengan engsel-engselnya.

Ketika daun pintu tercampak menerpa tempat tidur, tubuh Si Bungsu menerpa kaca jendela. Kaca itu hancur berderai. Tubuhnya jatuh bergulingan di halaman hotel. Dan saat itu terdengar enam deram tembakan di dalam kamar. Sepi. Suara langkah kaki memburu ke jendela yang pecah.

Seseorang mengintai lewat jendela itu dengan bedil otomatis di tangannya. Dia melihat bayangan. Dekat sekali. Orang itu mengulurkan senapannya, dan menarik kepalanya masuk. Tapi terlambat. Bayangan sekilas yang dia lihat itu tak lain dari berkelabatnya pedang samurai.

Si Bungsu memang menanti diluar jendela. Dan dia tak peduli lagi, siapapun orangnya yang menembak- nembak dalam kamarnya pastilah menghendaki nyawanya. Dan orang itu harus mendapat ganjaran yang setimal. Dalam sekali ayun, samurai panjang yang dia bawa dari Situjuh Ladang Laweh, yang telah membunuh banyak manusia, termasuk ayah, ibu dan kakaknya, memakan leher orang berbedil di jendela itu.

Leher orang itu putus. Seperti membabat batang pisang saja. Kepalanya jatuh keluar jendela. Tubuhnya terkulai di jendela itu. Senepannya masih tergenggam di tangan. Tak ada suara pekikan. Tak ada keluhan.

“Ada dia disana?” terdengar pertanyaan dari dalam kamar. Suaranya jelas beraksen asing. Seperti suara orang eropah. Mirip suara Kapten Fabian siang tadi!

“Ada, dia lari keseberang jalan…” Si Bungsu berkata sambil mendekatkan dirinya ke mayat di jendela.

Dadanya berdebar kencang. Dia ingin tahu siapa orangnya yang di dalam itu.

Langkah mendekat ke jendela. Nampaknya orang itu tertegun kaget melihat temannya tak berkepala. Dan waktu itulah Si Bungsu berdiri. Tegak persis di depan jendela. Menatap dalam ke arah orang yang kaget itu.

Orang itu, teman sipenembak yang telah putus kepalanya itu tersurut begitu melihat ada orang yang tegak tiba-tiba di depannya. Dia memang orang barat. Tapi bukan Kapten Fabian seperti dugaan Si Bungsu.

Orang itu nampaknya seperti orang Teksas. Tinggi besar dan bermata coklat. Mereka bertatapan sejenak sebelum keduanya sama-sama bergerak untuk saling membunuh. Orang teksas itu, sebagaimana lazimnya orang-orang dari Amerika, amat mengandalkan kecepatannya menggunakan pistol.

Si Teksas mengangkat pistol yang memang telah dia genggam sejak tadi. Si Bungsu masih tetap tegak menatapnya. Ketika pelatuk pistol ditarik, Si Bungsu menghayunkan samurai. Ujung samurainya memang tidak ditujukan pada tubuh si Teksas. Melainkan memukul ujung pistolnya ke bawah.

Pistol itu menekur. Dan meledak. Pelurunya menghujam ke punggung mayat temannya yang tergantung di jendela. Sementara orang ramai mulai berkerumun. Namun semuanya melihat saja dari kejauhan.

Ketika si Teksas itu akan mengangkat pistolnya lagi, Si Bungsu menghujamkan samurainya lurus ke depan. Samurai itu masuk ke leher si Teksas. Si Teksas kaget dan kesakitan luar biasa, dia berusaha terus mengangkat pistolnya. Namun Si Bungsu menekankan lagi samurainya yang luar biasa runcing dan luar biasa tajamnnya itu.

Bilah samurai itu masuk mengenai tulang leher. Mecong sedikit kekiri. Kemudian tembus ke tengkuk. Teksas itu masih berdiri. Matanya mendelik. Darah tak setetespun keluar dari lehernya yang luka. Darah justru menyembur lewat tengkuknya.

Si Teksas menarik pelatuk pistol. Sebuah ledakan bergema. Tapi pelurunya sudah kelantai arahnya. Si Bungsu menarik samurainya dengan cepat. Si Teksas menggelepar. Jatuh ke tempat tidur. Kemudian kejang. Mati! Si Bungsu melompat lagi ke dalam lewat jendela. Menyambar dokumen yang terletak diatas meja.

Kemudian ketika orang-orang mulai heboh, dia menyelinap keluar.

Begitu dia tiba diluar, mobil polisi datang.

“Tuan saya tahan…” kata seorang polisi berpangkat letnan ketika seseorang berkata bahwa anak muda itulah yang telah membantai kedua orang dikamar tersebut.

Si Bungsu berniat melawan, tapi tahu-tahu saja tiga orang polisi Singapura telah memegangnya. Dan borgol segera pula dilekatkan ketangannya.

Dia masih ingin memberikan penjelasan. Tapi dia telah dinaikkan ke sebuah jeep berpengawal dan berdinding baja. Jeep spesial membawa tawanan berbahaya. Dan jeep itu segera dilarikan ke markas polisi.

Si Bungsu heran kenapa Kapten Fabian yang berjanji akan datang jam delapan itu tak kunjung tiba.

Perjalanan didalam jeep Polisi itu terasa amat lama.

Ketika akhirnya Jeep itu berhenti, dengan terkejut Si Bungsu menyadari bahwa dia tak dibawa ke markas Polisi Singapura. Tidak. Gedung dimana mereka berhenti ini adalah sebuah gedung tua di luar kota. Keadaannya sepi saja.

Suatu perasaan tak enak menyelusup kehatinya.

Apakah polisi yang membawanya adalah anggota komplotan sindikat itu? Dia segera di suruh turun. Kemudian dengan tangan terborgol, dibawa masuk. Dia dibawa masuk lewat sebuah lorong yang panjang. Dan sebuah ruangan terbuka.

Dia tertegak dengan tubuh kaku menatap siapa didepannya. Seorang lelaki tinggi besar duduk di sebuah kursi. Di depannya sebuah meja yang penuh oleh bedil. Dan selain lelaki tinggi itu ada tiga orang lagi lelaki yang lain.

Yang membuat tubuhnya terasa kaku adalah lelaki tinggi besar itu. Dia tak lain daripada Kapten Fabian! Orang Australia yang mengatakan menjunjung tinggi nilai-nilai sportifitas itu. Yang berjanji akan membantunya menumpas sindikat perdagangan wanita itu. Kini apa kerjanya disini? Dan ternyata dia pula yang menyuruh keempat polisi Singapura itu menangkap dirinya!

Begitu dia masuk, Kapten itu menoleh.

“Hai. Sangat tidak enak diangkut dengan tangan terbogrol bukan..?” suara Kapten itu terdengar ramah dengan senyum di bibirnya. Si Bungsu tak menjawab. Hanya menatap dengan diam.

Kapten itu memberi isyarat pada anak buahnya. Dan Polisi yang tadi memborgolnya segera membuka borgol itu.

Kapten itu berdiri.

“Nah, Bungsu, ini teman-teman saya ketika di Komando dulu. Itu Sony, Sersan spesialis alat peledak. Itu Tongky, negro yang ahli menyelusup kemana saja. Itu Fred, ahli karate. Dan keempat Polisi yang menyergapmu ini adalah empat anggota Green Barets yang ahli dalam pertempuran… tuan-tuan, inilah saudara Bungsu yang saya katakan itu. Seorang anak Indonesia yang ahli dengan samurai. Tidak hanya sekedar ahli, tapi dia memiliki predikat Grand Master dalam hal itu. Selama beberapa pekan di Singapura ini dia sendirian memerangi sindikat perdagangan wanita. Silahkan tuan-tuan berkenalan..”

Si Bungsu jadi malu pada persangkaannya tadi. Dia sangka Kapten inilah komandan sindikat itu. Dia punya alasan untuk berprasangka demikian. Sebab dia dibawa kemari dengan tangan terborgol. Ke tujuh bekas anggota baret hijau itu tegak dan menyalami Si Bungsu. Tubuh mereka rata-rata kekar. Ada yang berwajah sadis, ada yang berwajah murung, ada yang biasa-biasa saja. Namun satu hal yang dirasakan Si Bungsu tentang orang-orang ini. Mereka semua adalah individu-individu yang tangguh dan kelompok kecil yang sanggup menaklukan satu bataliyon tentara.

Selesai mereka berkenalan, Kapten itu membawa mereka ke ruang sebelah. Di sana ada sebuah kertas besar dengan peta yang dibuat darurat sekali. Mereka segara duduk di kursi yang tersedia.

“Sebelum saya mulai menerangkan detail penyerangan malam ini, kepada saudara Bungsu ingin saya sampaikan sesuatu. Kami telah mengetahui bahwa ada yang akan menyerang saudara ke hotel jam delapan tadi. Ada maksud kami untuk memberitahukan saudara. Tapi ternyata kami harus berpacu dengan waktu.

Akhirnya diambil keputusan bahwa saudara akan kami jemput setelah pertarungan itu selesai. Kami yakin saudara yang akan keluar sebagai pemenang. Untuk mengelabui, maka keempat anggota yang menjemput saudara saya suruh berpakaian polisi.

Dan kalau ternyata saudara yang kalah dalam pertarungan tadi maka keempat polisi ini bertugas menyudahi kedua penyerang itu. Mereka berempat sebenarnya saya beri dua alternatif. Pertama membantu saudara dalam perkelahian itu, atau “menangkap” saudara setelah perkelahian usai. Ternyata mereka memilih alternatif kedua. Mereka ingin membuktikan apakah engkau memang seorang master dengan samurai seperti yang kukatakan sebelum mereka berangkat menjemputmu”

Kapten itu menoleh pada keempat “polisi” Singapura yang tadi menangkap Si Bungsu. Keempat mereka tersenyum.

“Ya, kami menonton saja kejadian itu tadi. Kami datang setelah kedua orang itu turun dari kendaraannya. Kami sudah diberi tahu, bahwa akan ada serangan pada anda. Kami lalu memarkir kendaraan sejauh sepuluh meter. Dan kami melihat anda melompat dengan memecah jendela kaca. Kemudian membunuh kedua orang itu. Nah, ketika orang ramai itulah kami datang menangkap anda…” Polisi gadungan berpangkat letnan yang tadi menyarungkan borgol pada Si Bungsu bercerita.

Si Bungsu hanya menarik nafas. Bagi orang-orang sisa perang dunia ini, pertarungan hidup dan mati seseorang rupanya merupakan tontonan yang mengasyikan.

“Nah. Saya rasa perkelanan itu sudah cukup sekian. Kini silahkan lihat detail pada peta ini. Peta ini merupakan gabungan dengan dokumen yang dibuat Overste Nurdin dari Konsulat Indonesia yang saya peroleh dari saudara Bungsu dengan hasil penyelidikan selama 12 jam terakhir.

Malam ini mereka menanti pengiriman dua belas wanita dari Indonesia. Dan delapan orang dari Siam, enam orang dari Hongkong. Semua wanita ini akan dibawa ke Eropah dan Afrika. Di kedua negeri itu, wanita- wanita Asia berharga tinggi.

Menurut rencana mereka, yang sempat diselidiki oleh Tongky, wanita itu akan didaratkan serentak” Kapten Fabian berhenti.

Dia menatap anggotanya. Juga menatap pada Si Bungsu. Tak seorangpun yang bicara. Dan Kapten itu melanjutkan lagi :

“Sekarang perhatikan ini. Ini peta bahagian Selatan dari pulau Singapura. Ini gugusan pulau di selatan yang masih belum berpenghuni. Pulau yang terletak paling barat ini bernama pulau Pesek.

Barangkali mereka telah mengetahui bahwa gerakkan mereka telah tercium oleh Overste Nurdin. Itulah kenapa sebabnya sejak sebulan terakhir ini, perempuan-perempuan itu tak lagi diturunkan lewat pelabuhan resmi sebagai turis atau sebagai pencari kerja sebagaimana biasanya.

Mereka diturunkan dimalam hari di pulau Pesek ini. Nah, sekarang markas dimana kita berada ini terletak di daerah Bukit Timah. Dari sini kita akan naik jeep sekitar sepuluh menit ke tepi sungai Jurong. Dari muara sungai itu kita akan naik sampan layar sekitar dua jam menuju pulau itu.

Jika angin berhembus kencang, dan malam ini menurut Minguel yang ahli meteorologi dalam pasukan kami dahulu, malam ini memang akan bertiup angin utara. Berarti kita akan dibantu sangat banyak.

Sengaja tidak kita gunakan mesin boat, karena kita tak ingin kedatangan ini diketahui mereka. Nah, sampai disini ada pertanyaan?”

Tak ada yang bertanya. Bekas anak buahnya semua pada menatap diam. Mereka seperti mesin-mesin yang siap bergerak bila kenopnya ditekan.

“Jika tak ada yang bertanya, kita bersiap…”

Dan segera saja ruangan itu berisik. Semua anak buah Kapten Fabian kelihatan menukar pakaian, termasuk juga Kapten itu sendiri.

“Bungsu, hari ini engkau kami terima menjadi pasukan Baret Hijau. Hanya orang-orang dengan kemahiran istimewa dapat menjadi anggota pasukan kami. Kami memang telah berhenti dari pasukan itu. Tapi kebanggaan korp tetap kami pegang. Nah, pakailah pakaian dan baret ini. Engkau layak memakainya, karena kemahiranmu bersamurai dan melempar pisau melebihi anggota Baret Hijau manapun jua!”

Kapten itu memberikan sebuah ransel berisi pakaian pasukan komando pada Si Bungsu.

Si Bungsu kaget. Dia menatap pada Kapten itu. Kemudian pada tujuh anggotanya. Dan semua bekas anggota Green Barets dari Inggris Raya itu dengan pakaian lengkap mereka yang loreng-loreng, tegak dengan diam. Menatap padanya. Bulu tengkuk Si Bungsu merinding menerima penghargaan ini.

Perlahan dia terima ransel itu.

“Saya, saya tak tahu harus mengatakan apa atas penghargaan tuan-tuan. Saya harap kemampuan saya yang seujung kuku itu, takkan menjatuhkan nama besar pasukan Baret Hijau yang kesohor itu…’ dia berkata perlahan. Semua anggota pasukan Kapten Fabian masih tetap tegak dengan diam.

Si Bungsu membuka bajunya. Memakai pakaian tersebut. Ternyata pakaian itu adalah pakaian bekas.

Meski masih baru, tapi dia tahu, pakaian yang dia pakai ini adalah milik seseorang. Kapten Fabian mengulurkan tangan. Menjabat tangannya dengan hangat.

“Bungsu. pakaian yang engkau pakai adalah pakaian Letnan Robert yang terbunuh di jalan raya ketika kita bersama tiga hari yang lalu. Ternyata ukuran tubuh kalian sama besar. Pakaian ini sengaja kami berikan padamu, demikian juga pangkatnya. Engkau sekarang adalah seorang Letnan Baret Hijau Kerajaan Inggris, Bungsu. Atau tepatnya, engkau adalah anggota Komandan Baret Hijau. Oleh karena kami sudah tak lagi dalam pasukan itu, maka kami sama-sama pencinta pasukan itu. Nah, selamatlah…’

Dan ketujuh anggota bekas Pasukan Baret Hijau di perang dunia ke dua itu memberi salam pada Si Bungsu. Demi Muhammad dan Malaikat, Si Bungsu tak tahu bagaimana perasaannya saat itu. Dia menjadi anggota dari suatu pasukan yang kesohor dalam perang dunia ke II. Ah, alangkah mustahilnya. Namun begitulah sejarah berkehendak.

Mereka segera mempersiapkan senjata. Dan Sersan Donald yang tadi siang mengajarinya mempergunakan Tomygun, segera memberikan senjata otomatis itu padanya. Si Bungsu memegang bedil itu. Menatapnya beberapa menit.

“Maaf, saya tak pernah mempergunakan mainan ini. Apakah dalam pasukan Green Barets ada kekecualian. Maksud saya apakah boleh memakai samurai saja?”

Kedelapan anggota bekas pasukan baret hijau itu saling pandang mendengar ucapan Si Bungsu. dan akhirnya mereka sama-sama tertawa. Si Bungsu juga ikut-ikut tertawa.

“Boleh” jawab Kapten Fabian. “Pasukan ini pasukan istimewa. Karenaya angggotanya juga mendapat perlakuan istimewa. Anda boleh memakai samurai…” Si Bungsu merasa lega.

Dia memberikan kembali senjata otomatis itu pada Donald. Nah, kini semuanya siap berpakaian dan memiliki perlengkapan yang utuh.

Aba-aba bersiap terdengar dari mulut Kapten Fabian. Semua anggota pasukan itu, termasuk Si Bungsu, tegak dengan tegap ditempat masing-masing. Menatap pada Kapten tersebut.

Sebuah pasukan komando di tepi Kota Singapura. Lengkap dengan peralatan perangnya. Sejarah seperti ditarik kembali menikam jejak yang telah dia lalui. Ada yang aneh terasa oleh Si Bungsu. kenapa pasukan ini masih menyimpan perlengkapan mereka. Padahal mereka telah berhenti dari pasukan itu setelah perang dunia ke II usai. Mereka telah bertempur di daratan eropah melawan pasukan Hitler. Terakhir mereka berada di Vietnam dan Indocina melawan pasukan Jepang. Kenapa kini mereka seperti membentuk suatu regu tersendiri?

Pertanyaan itu menyelusup dipikiran Si Bungsu. Namun dia merasa kurang tepat waktunya sekarang untuk bertanya. Sementara itu Kapten Fabian memberikan komando terakhir.

“Saudara. Ada dua hal kenapa kita menghadang perang malam ini. Pertama karena membalas kematian Letnan Robert. Kedua karena membantu saudara Bungsu untuk menumpas perdagangan wanita. Kedua tugas ini sama pentingnya.

Perdagangan wanita sama artinya dengan menghidupkan kembali perbudakan. Wanita-wanita yang dijual itu malah jauh lebih hina ketimbang seorang budak. Dan hal ini harus kita cegah.

Amerika telah mengorbankan ratusan ribu nyawa putra-putranya dalam perang saudara demi menghapus perbudakan.

Pasukan baret hijau ini, dan pasukan sekutu lainnya, termasuk bangsa Indonesia telah mengorbankan jutaan nyawa untuk menghapus penjajahan dipermukaan bumi. Penjajahan adalah bentuk lain yang lebih kejam daripada perbudakan. Itulah sebabnya hari ini kita kembali berpakaian Baret Hijau ini.

Kepada anda, Bungsu, karena anda telah menjadi anggota kami, dapat saya sampaikan, bahwa bekas pasukan baret hijau ini, yang kini berkumpul disini adalah juga sebuah sindikat!”

Kapten itu berhenti sejenak.

“Maksud saya” sambungnya, “kami berhenti dari pasukan baret hijau karena memang tak mau lagi berperang. Banyak perwira-perwira dan orang-orang sipil yang mempergunakan kesempatan perang untuk memperkaya diri mereka.

Bayangkan, ketika kami bertempur di garis depan, meninggalkan anak isteri menghadang maut, saat itu pula orang-orang sipil mengeruk kekayaan. Mereka menjerit minta tolong pada tentara dikala musuh datang. Tapi begitu negeri aman, mereka menjadi orang-orang sombong dan pongah.

Kami punya daftar perwira-perwira yang korup. Yang mempergunakan pangkatnya untuk memerintah anak buahnya guna kepentingan diri mereka. Merampas harta rakyat. Kami juga punya daftar pejabat-pejabat sipil atau orang swasta yang bekerja sama dengan pihak musuh sekutu, yang juga menghimpun kekayaan untuk pribadi mereka. Karena kami tergabung dalam tentara Sekutu, maka kami punya daftar lengkap tentang penghianat dan koruptor ini diberbagai negara anggota Sekutu. Mulai dari Amerika sampai ke Inggris dan negara-negara eropah.

Nah, kami akan menumpasnya. Kami juga bertekad menumpas bandit-bandit di negeri Sekutu itu. Kami tidak lagi orang pemerintah. Kami sekarang menjadi semacam pasukan gelap. Kami akan muncul disaat perlu. Dan bila tidak beroperasi, kami akan kembali menjadi orang-orang sipil biasa.

Engkau boleh memilih Bungsu. Apakah ingin ikut dengan kami untuk seterusnya, atau akan mengundurkan diri setelah ini. Nah, saya rasa cukup sekian. Barangkali engkau heran kenapa kami memakai seragam ini. Padahal kami sudah pensiun dari pasukan Baret Hijau. Kiranya penjelasan saya tadi dapat menjawab keherananmu itu..”

Si Bungsu menarik nafas. Semua anggota pasukan itu kemudian memberi hormat pada Kapten Fabian. Lalu mereka keluar rumah. Jumlah mereka kini sembilan orang. Sembilan orang yang memilki ketangguhan luar biasa. Sembilan manusia yang barangkali sanggup melumpuhkan sebuah kota yang dipertahankan pasukan lengkap.

Jeep yang dipakai untuk “menangkap” Si Bungsu tadi sudah menanti. Mereka berlompatan ke atas. Sersan Donald yang mengajar Si Bungsu mempergunakan Tomygun siang tadi bertindak sebagai sopir. Disampingnya duduk Kapten Fabian. Dibelakang duduk Si Bungsu dan enam orang temannya yang lain.

Mobil itu bergerak. Si Bungsu seperti berangkat menuju medan perang dunia. Dalam cahaya lampu jalan yang mereka lintasi tiap sebentar, Si Bungsu menatapi temannya dalam Jeep itu satu persatu.

Miguel yang orang Spanyol, ahli meteorolgi. Sony, orang Inggris yang ahli alat peledak, Tongky, Negro Amerika ahli menyamar dan menyelusup ke daerah musuh. Licin bagai belut. Fred Williamson, orang Scotlandia yang ahli karate, Jhonson, berpangkat kopral berasal dari Inggris selatan, ahli renang dan berkelahi dalam air.

Di depan duduk Sersan Donald yang ahli dalam soal-soal bedil dan mesiu. Kini dia pegang kemudi Jeep.

Kemudian Kapten Fabian, orang Australia yang tak dia ketahui apa keahlian spesifiknya.

Tapi melihat keseganan anak buahnya, melihat wibawanya jelas dia punya banyak kelebihan. Jeep bekas perang dunia ke II itu meluncur dalam gelapnya malam. Barangkali memang persis sepuluh menit seperti perkiraan Kapten Fabian tadi. Mobil itu berhenti mendadak.

Tanpa menimbulkan suara mereka berlompatan turun. Jeep itu kemudian dibelokkan ke dalam semak- semak sepuluh meter dari jalan.

Didahului oleh Tongky yang negro itu, mereka mulai berjalan. Selang lima menit, mereka sampai di pinggir sebuah sungai. Nampaknya mereka berada di daerah muara. Sebab sungai itu kelihatan amat lebar. Dan di Selatan sana kelihatan muara samar-samar menganga memuntahkan air sungai ke laut lepas.

Mereka berada di sungai Jurong. Sungai yang tadi dikatakan oleh Kapten Fabian dalam penjelasannya.

Sebuah perahu karet yang cukup besar segera ditarik bersama ke air. Mereka lalu naik. Dan masih belum sepatahpun ucapan yang keluar sejak mereka berangkat dari markas tadi. Enam orang kecuali Katen Fabian, Si Bungsu dan Tongky, segera mendayung sampan karet tersebut ke Muara.

Ketika tiba di mulut muara, Tongky dan Donald mengangkat sebatang aluminium sebesar lengan. Aluminium itu terlipat-lipat. Ketika dibuka dan disambungkan lagi dengan beberapa baut, aluminium yang semula hanya sepanjang dua meter itu berobah menjadi tiang layar setinggi empat meter.

Dengan kerjasama yang cepat dan masih tanpa suara, layar yang nampaknya dibuat dari kain parasut pasukan komando itu dipasang. Miguel si Spanyol yang ahli meteorologi itu memang tak omong kosong ketika mengatakan bahwa malam ini angin akan berhembus dari utara.

Tak lama setelah layar terkembang, angin bagaikan dipanggil saja. Layar yang terbuat dari kain parasut tipis berwarna merah darah itu segera saja menggelembung. Dan sampan karet itu tiba-tiba seperti disentakkan. Meluncur dengan kecepatan tinggi menuju pulau Pesek yang kelihatan sayup sayup dalam cahaya laut.

“Jam berapa sekarang..?”

Itu kalimat pertama. Dan diucapkan oleh Miguel. Kapten Fabian membuka tutup jam tanganya yang terbuat dari kulit hitam. Dalam gelap kelihatan angka-angkanya bersinar kebiru-biruan seperti kunang- kunang.

“Jam sebelas…” katanya.

Miguel mengangkat tangannya tinggi keatas. Lalu hidungnya diarahkan ke utara. Ke arah datangnya angin. Dia seperti mencium sesuatu.

“Angin akan berobah. Kita akan dibawa ke Timur. Kepulau Marlimau. Dan hujan segera turun..” “Hujan..?” tanya Kapten Fabian.

“Ya. Tapi yang berbahaya adalah perputaran angin. Daerah ini adalah selat dangkal. Terletak antara dua pulau. Angin tak begitu bebas. Pukulan angin bisa berobah karena terbentur hutan dan pulau-pulau di depan sana. Lebih baik layar diturunkan sebelum terlambat…”

Tak ada yang membantah. Layar segera diturunkan. Si Bungsu jadi heran. Padahal angin masih bertiup dari arah buritan dengan kencang. Tak ada tanda-tanda akan berobah. Tak pula dia lihat akan datangnya hujan. Langit memang gelap. Tapi tak ada guruh, tak ada kilat. Hujan lebat darimana yang akan datang?

Namun dia tak usah menanti lama. Ketika layar baru saja selesai dilipat, ada suara seperti bertepuk. Dan angin tiba-tiba menampar dari rusuk kiri. Lalu berpiuh. Menampar dari rusuk kanan.

“Rapatkan tubuh ke perahu…!” terdengar perintah Kapten Fabian. Semua mereka menunduk dalam- dalam. Si Bungsu dalam tunduknya itu melayangkan pandangan pada Miguel yang duduk di kanannya.

“Kau memang hebat sobat. Ramalanmu tentang angin yang berkisar dapat ponten sembilan. Tapi tentang hujan? Saya berani bertaruh. Kalau hujan tak….” Kalimat itu tak pernah ia ucapkan.

Dia hanya bicara dalam hatinya saja. Tapi pembicaraan dalam hati itupun tak sampai keujungnya. Sebab ketika otaknya selesai mengucapkan kata “Bertaruh”, hujan tiba-tiba saja seperti dicurahkan dari langit. Seperti ada gergasi di atas kepala mereka yang menunggangkan air ratusan drom sekedar untuk membuktikan ucapan Miguel yang orang Spanyol itu.

Si Bungsu tak berani menatap pada Miguel. Hanya diam-diam hatinya bicara : memang hebatlah waang, kawan…!

Begitu hujan turun dengan lebatnya, Kapten Fabian memerintahkan untuk mendayung. Meski angin bersiut kencang, tapi tak berpiuh seperti tadi.

Dan kini mereka berkayuh melawan ombak dan hujan yang rasanya sebesar-besar tinju menerpa wajah. Diam-diam Si Bungsu melirik lagi pada Miguel si Spanyol yang katanya ahli meteorologi itu lain daripada intuisinya tentang alam yang amat peka. Ahli meteorologi membutuhkan peralatan untuk mengetahui

perobahan cuaca. Tapi si Spanyol ini mengetahuinya lewat inderanya.

Si Bungsu teringat lagi peristiwa sebentar ini. Yaitu saat angin utara berhembus meluncurkan sampan layar itu dengan kencang ke arah pulau Pesek. Saat itu Miguel berkata bahwa angin segera akan merobah arah. Dan dia meminta layar agar digulung. Begitu layar digulung, angin memang berobah. Berpiuh-piuh dengan kencang dan tak menentu. Kalau saja layar masih terkembang, tak pelak lagi, sampan karet ini akan terbalik oleh piuhan angin selat pulau Pesek itu.

Kini si Miguel itu tengah berdayung, tanpa mengetahui bahwa Si Bungsu sejak tadi mencuri pandang menatapnya.

Dan sampan itu melaju terus. Membelah gelombang. Membelah malam berhujan lebat.

Hampir tiga jam mereka berkayuh ketika akhirnya mereka mendekati pulau Pesek di selatan Singapura itu. Hutan-hutan bakau yang basah menyambut mereka. Mereka harus menunduk dalam-dalam ketika lewat dibawah dahan-dahan bakau tersebut.

Seorang terdengar turun. Kemudian berjalan bergegas mengarungi air setinggi pinggang dan kaki yang terbenam dalam lumpur setinggi lutut. Orang itu tak dikenal oleh Si Bungsu karena gelapnya malam. Makin lama suara langkahnya dalam air makin menjauh. Akhirnya lenyap. Tak ada yang bersuara.

Si Bungsu masih terheran-heran. Kemana orang itu? Dan kenapa tak seorangpun yang peduli? Dia tak sempat berpikir jauh. Orang-orang disekitarnya terdengar turun. Sampan karet itu kini tak dapat lagi dikayuh. Mereka harus mengarungi air setinggi betis untuk mencapai daratan.

Tak ada senter. Tak ada korek api yang dinyalakan. Segala sesuatu dilakukan menurut firasat dan petunjuk alam yang amat samar-samar. Untung saja hujan tak lagi lebat.

Si Bungsu juga turun dan ikut menyeret sampan itu hingga mencapai bibir pulau.

Tiba-tiba ada getar aneh ditengkuknya. Hmm, Si Bungsu kini berada dirimba belantara sebuah pulau. Dan dalam rimba dia seperti berada dalam rumah orang tuanya. Ah, sejak meninggalkan gunung Sago di Payakumbuh dahulu, baru kali ini dia berada dalam hutan liar. Dia seperti kembali kerumahnya. Betapa tidak, bukankah bertahun dia hidup di belantara kaki Gunung Sago yang tak kenal persahabatan itu?

Dan setiap dia berada dibelantara itu. Dan dia kenal setiap gerak gerik dan setiap perangai ini rimba tersebut. Mereka menyeret sampan itu makin dekat ke bibir pulau dibawah batang bakau. Firasat aneh itu makin mengencangkan pembuluh darah Si Bungsu.

Hutan bakau berakhir. Kini mereka mengarungi semak yang terendam di air setinggi satu kaki. Saat itulah Si Bungsu yang tadi berjalan di belakang segera berjalan ke depan. Dia melintasi Donald si ahli senapan. Melintasi Miguel yang ahli metrologi. Melintasi Kapten Fabian. Karena hutan bakau telah diganti oleh belukar yang tak begitu tinggi, cuaca agak terang ketimbang dibawah pohon bakau yang gelap itu.

Mereka akan melewati sebuah pohon. Dan sedepa dari pohon itu sebuah dahan sebesar betis kaki seperti melenting kearah mereka.

“Awas…!” Kapten Fabian sempat menangkap bayangan itu. Semua anak buahnya merunduk dalam.

Namun yang paling depan, ya itu Si Bungsu tetap tegak.

Inilah firasat tak sedapnya itu. Batang kayu sebesar betis yang melenting kearah mereka itu. Di ujung cabang kayu itu ada dua titik cahaya merah. Dan sebelum batang itu mencapai mereka, terlebih dahulu tercium bau anyir disertai desis melinukan hati.

Seekor ular rawa berwarna merah berbelang kuning yang amat berbisa! Dan yang dituju kepala ular itu adalah manusia yang tegak di depan sekali. Dia adalah Si Bungsu!

Si Bungsu menunduk cepat begitu kepala ular itu meluncur seperti anak panah ke arah lehernya.

Begitu sasarannya luput, kepala ular itu berputar kearah pohon dimana lima meter tubuhnya melilit sebagai pegangan.

Ketujuh anggota Baret Hijau itu terkesiap. Kaget dan merasa ngeri. Mereka memang manusia-manusia yang tak takut pada maut. Tapi keberanian mereka adalah bila bertempur melawan manusia.

Mereka memang bukan pengecut. Namun diserang ular mendadak begini, nyali mereka jadi ciut juga. Mereka segera ingat pengalaman dua tahun lalu di India. Di Negeri ular itu, tak kurang dari sebelas anggota baret hijau yang kesohor itu mati dipatuk ular berbisa. Tragis memang. Pasukan yang berani mati, yang ditakuti lawan dan kawan, ternyata banyak yang mati digigit ular!

Dan kini mereka berjongkok tanpa sempat berbuat apa-apa melihat ular itu kembali melesat ke arah orang yang paling depan. Mereka tak tahu siapa orang itu. Namun demi malaikat mereka menggigil melihat orang itu tetap tegak seperti menanti datangnya serangan ular raksasa itu.

Dan ular itu nampaknya memang berang benar. Kalau tadi yang meluncur kedepan hanyalah kepalanya dengan mulut menganga, diiringi mencuatnya taring yang hampir sejengkal panjangnya itu, dia juga melepaskan lilitan tubuhnya di pohon.

Dengan demikian, dia bermaksud menyerang lawannya habis-habisan dengan mematuk dan meremukkan tubuhnya dengan lilitan.

Tapi malangnya orang itu justru adalah Si Bungsu! Dia memang bukan Tarzan. Raja Rimba yang jadi legenda di hutan belantara Amerika serikat. Namun, hewan buas dan binatang melata mana yang tak “kenal” pada Si Bungsu ketika dia bertarak di Gunung Sago?

Di rimba gunung sago yang belum pernah dijamah kaki manusia itu, binatang-binatang buas lebih senang menghindar jauh-jauh atau berdiam diri saja dipersembunyiannya bila manusia yang satu ini lewat.

Hal itu terjadi setelah setahun Si Bungsu dirimba itu. Dan selama setahun itu memang banyak coba-coba.

Maklumlah “orang baru”.

Namun anak muda ini telah bertekad untuk tetap hidup. Hidupnya adalah pembalasan dendam. Dan selama setahun itu tak terhitung ular, harimau yang ingin “mencobanya”. Namun dia menghadapi dengan samurai. Anak muda itu tak mau mengganggu kalau dia tak diganggu. Akhirnya seperti ada persepakatan antara mereka. Antara hewan buas itu dengan Si Bungsu. Bahwa mereka akan hidup sebagai tetangga yang rukun.

Dan hal itu memang jalan terbaik bagi hewan-hewan buas itu. Sebab setelah setahun, anak muda itu telah berobah menjadi manusia yang amat cepat mempergunakan samurai.

Nah, kini dia berhadapan dengan ular itu. Dia menunggu kepala ular itu dekat. Kemudian mengelak ke kiri. Dan samurainya berkelabat. Sekali. Dua kali! Empat!

Pada gerakkan pertama, kepala ular itu putus tentang lehernya. Kepalanya masih terus melayang ke belakang. Kepalanya masih terus melayang ke belakang. Mengenai tubuh Miguel. Miguel terpekik kaget.

Pada gerakkan kedua, ketiga dan keempat, tubuh ular yang tengah meluncur dengan maksud melilit badannya itu berpotong-potong sama panjang! Semuanya jatuh dengan darah bersemuran! Lalu sepi!

Ke tujuh anggota Baret Hijau itu, termasuk Kapten Fabian, menatap dengan mulut ternganga dan bulu tengkuk merinding. Dalam cahaya samar-samar mereka melihat anak muda itu tegak dengan tenang. Kemudian dengan tenang pula secara perlahan dia menyarungkan samurainya! Suasana tegang itu terpecahkan oleh suara langkah menguak semak-semak di depan mereka. Secara reflek mereka menyiapkan bedil. Suara burung malam menggema perlahan. Mereka menarik nafas. Seorang dari anggota rombongan itu menyahuti suara burung itu dengan nada yang sama.

Selang beberapa saat muncul sesosok tubuh. Dan Si Bungsu segera mengenalinya sebagai si Negro. “Kapal mereka nampak tengah menuju kemari. Hanya ada sebuah kapal….” Tongky si Negro itu melapor

perlahan pada Kapten Fabian.

“Ya. Mereka mengumpulkan wanita-wanita itu ke kapal yang satu itu ditengah laut. Dan kini mereka menuju ke markas mereka di pantai sana. Mari kita bersiap…” Kapten Fabian memberi perintah-perintah.

“Kita takkan kembali lagi kemari. Kita akan merebut kapal dan menyelamatkan wanita-wanita itu.

Jangan menembak sebelum ada komando dari saya dengan tembakan peluru sinar hijau”

Selesai perintah singkat itu merekapun bergerak. Tongky di depan sekali. Berturut-turut dalam jarak dua depa adalah Kapten Fabian, Donald, Miguel dan yang lain-lain.

Di belakang sekali Si Bungsu.

Sebenarnya dia ingin berjalan di depan sekali. Dia ingin menjadi penunjuk jalan. Sebab meskipun belum pernah kepulau ini, tapi dia hapal setiap lorong dan setiap jengkal tanah rimba.

Dia tahu dari bau yang dipancarkan hutan itu apakah tanah yang mereka pijak keras atau lunak. Dalam jarak sepuluh depa, dia sudah tahu apapun di depan rawa, atau ada bahaya dalam bentuk binatang buas atau manusia.

Dia hapal segalanya itu. Ah, dia mengenali rimba raya seperti dia mengenali dirinya sendiri. Namun dia tak jadi berjalan ke depan karena perintah Kapten Fabian. Karena dalam pasukan komando itu Tongki lah yang ahli dalam mengenal lapangan.

Kini mereka berjalan dengan diam tanpa menyalakan lampu. Tanpa cahaya setitikpun. Rimba rendah di pinggir laut segera saja disambut oleh belantara yang lebat dibahagian darat pulau itu.

Dan dibawah pohon raksasa di pulau Pesek itu segalanya jadi gelap gulita. Hujan lebat yang menerpa mereka di tengah laut tadi, kini hanya tinggal titik-titik berupa hujan rintik. Namun saking rapatnya dedaunan, rintik-rintik itu tak sampai ke bawah.

Dan Tonky nempaknya memang ahli dalam menyelusup dirimba raya. Itu diakui oleh Si Bungsu yang berjalan di belakang sekali. Negro pendiam itu dalam gelapnya malam dengan lincah menyelinap ke sana kemari. Menghindarkan dirinya dan rombongan dibelakangnya dari perangkap hutan belantara yang mereka lalui.

Mereka berpedoman dari bayangan di depan mereka agar tak kehilangan teman. Dan Si Bungsu mengakui bahwa pasukan ini memang pasukan yang ahli dalam rimba. Dari cerita-cerita yang pernah dia dengar tentang pasukan Green Barets diketahuinya bahwa pasukan ini tak hanya tangguh bertempur merebut kota dari tangan musuh. Tapi juga tangguh dan sangat ditakuti di rimba dan di lautan.

Sebagai suatu pasukan Komando dibawah bendera pasukan sekutu yang bertempur melawan Jerman dan Jepang, pasukan ini memang diakui musuh. Mereka biasanya didrop ke daerah musuh yang paling tangguh. Dimana pasukan-pasukan infantri atau pasukan artileri tak kuasa menerobos pertahanan musuh., maka sudah bisa dipastikan bahwa Jenderal Eisinhower yang menjadi panglima pasukan sekutu akan mengirim telegram pada komando pasukan Green Barets.

“Kami kandas dalam menerobos sasaran “X” telah dicoba dengan infantri yang ribuan jumlahnya. Dan dibantu oleh pasukan artileri serta pasukan-pasukan payung. Namun pertahanan mereka sangat tangguh. Kami berharap dan bangga sekali kalau pasukan Green Barets dapat membantu kami. Terimakasih, Eisinhower”

Selalu demikian bunyi “perintah” jenderal berbintang empat itu. Dia tak pernah memakai kalimat “dengan ini saya perintahkan”. Dia selalu memakai kalimat “Kami bangga sekali kalau pasukan Green Barets dapat membantu kami..’

Itu sebabnya kenapa Eisinhower jadi akrab dengan setiap prajurit yang dipimpinya. Meskipun “perintah” dan “kepatuhan” merupakan dogma yang mutlak bagi setiap prajurit, namun Eisinhower selalu berusaha menghindar dari sistim itu. Dia seorang jenderal yang keras, tegas dan berwibawa. Namun disamping itu dia juga seorang jenderal yang dicintai.

Dia adalah perpaduan antara Panglima dalam arti militer, dan Pemimpin dalam arti sipil. Dan kini, Green Barets, pasukan kebanggan tentara sekutu itu, juga kebanggan Eisinhower, sebagian anggotanya berada di depan Si Bungsu. Berada dalam rimba pulau Pesek di selatan Singapura.

Pasukan kecil beranggotan sembilan orang itu suatu saat berkumpul di sebuah tempat gelap. “Kita akan menyeberang rawa ini…” Tongky berkata perlahan.

“Tak ada buaya…?” terdengar pertanyaan dari mulut Donald. “Tidak. Tadi saya menyeberang disini juga. Ini jalan pintas terdekat. Disebelah sana, setelah menerobos sedikit belukar, kita akan sampai antara rumah papan yang mereka jadikan sebagai markas dengan pelabuhan kapal dimana mereka menurunkan perempuan-perempuan itu…”

“Engkau menyeberang disini pulang pergi tadi?” kali ini yang bertanya adalah Kapten Fabian.

“Ya. Inilah jalan saya tadi. Buktinya saya masih hidup, toh?” Tongky meyakinkan. Dan dia memang masih hidup. Dan dia memang lewat di rawa itu tadi. Dia tak berbohong akan hal itu. Namun Si Bungsu tak sependapat dengan Negro itu.

Barangkali saja Tongky benar, bahwa rawa ini tak berbuaya. Namun firasat Si Bungsu mencium bahaya yang jauh lebih dahsyat daripada seekor atau lima ekor buaya. Inderanya yang amat tajam tentang perilaku rimba belantara membisikkan bahaya itu pada hatinya. 

“Baik, engkau duluan. Yang lain mengikuti dalam jarak empat depa….” Kapten Fabian berkata. Mereka berkata-kata tetap berupa bisik-bisik perlahan.

Tongky mulai masuk ke air.

Tapi langkahnya terhenti ketika terdengar ucapan “tunggu” dari belakangnya.

Dia berhenti, dan dia termasuk juga seluruh rombongan menoleh pada Si Bungsu yang mengatakan “tunggu” itu.

“Saya rasa jalan ini berbahaya…” katanya perlahan.

Anggota bekas pasukan baret hijau itu menatap padanya tepat-tepat. Mereka tak bersuara. Menanti penjelasan dari anak muda itu.

“Saya tak dapat mengatakan apa bahayanya. Tapi firasat saya mengatakan hal itu. Barangkali bukan buaya atau ular. Tapi kesunyian di seberang sana membuat saya curiga….” Si Bungsu berkata separoh berbisik.

Tongky mendekat lagi mendengar penjelasan itu.

“Ya diseberang sana memang sepi. Saya tadi menyelusup sampai ke dekat rumah yang mereka jadikan markas. Disana enam lelaki. Semuanya berbedil otomatis. Dan mereka semua asik main kartu. Di pelabuhan ada dua orang yang memberi isyarat pada kapal yang kelihatannya masih sangat jauh. Mereka memberi isyarat dengan pelita kecil. Nah, jumlah mereka hanya delapan. Barangkali dari kapal yang akan merapat itu ada sekitar sepuluh orang lagi. Jadi semuanya hanya delapan belas. Betapapun juga, dengan kekuatan sedemikian kita sanggup menyikat mereka…”

Kemudian dia menatap kembali pada Kapten Fabian. Lalu tatapan matanya berpendar pada ketujuh anggota Baret Hijau yang lain. Lalu terdengar suaranya perlahan :

“Tak dapat saya mengatakan bagaimana saya menarik kesimpulan bahwa diseberang sana ada perangkap. Tapi saya dapat merasakannya. Jika ingin diperjelas lagi, maka diri saya adalah bahagian dari belantara yang berbahaya tetapi sepi…”

Kapten fabian tahu, orang ini tak berbohong. Jauh dilubuk hati Kapten itu juga mengakui, bahwa dia merasa firasat anak muda ini adalah benar.

Namun bagaimana jalan keluar?

“Kini, bagaimana kita menyebrenag ke sana jika kita dari arah ini? Jika diambil jalan memutar, rasanya terlalu jauh”

Semua terdiam mendengar ucapan Kapten tersebut.

“Bagaimana kalau saya dengan satu atau dua orang sukarelawan lainnya menyeberang terus pada jalan ini?” yang berkata ini adalah si Tongky Negro yang ahli menyelusup itu. Dan siapa pun diantara yang hadir itu dapat mengetahui bahwa Tongky kurang yakin pada firasat Si Bungsu. sebenarnya tidak hanya Tongky, hampir seluruh mereka, kecuali Kapten Fabian kurang yakin akan firasat Si Bungsu itu.

Namun mereka tak berani melanggar perintah Kapten Fabian. Dalam soal-soal begini, sebuah pasukan Komando memang ditentukan nasibnya oleh Komandan. Kecuali jika mereka telah berpencar, maka nasib mereka berada ditangan mereka sendiri. Pada saat begitulah kemampuan pribadi sangat diandalkan. Kini, betapapun juga kesatuan pasukan harus dipertahankan.

Dan itu pulalah sebabnya Tongky tak secara langsung mengajukan protes atas ramalan Si Bungsu. dia hanya menawarkan suatu alternatif lain dengan mengatakan : Bagaimana kalau saya tetap menyeberang dengan satu atau dua sukarelawan..

Artinya, dia ingin membuktikan bahwa ramalan Si Bungsu itu tak benar. Mendengar tawaran itu, beberapa orang segera saja menyatakan akan ikut. Jumlah mereka justru enam orang.

“Saya rasa jumlahnya cukup tiga orang yang diusulkan Tongky. Dan saya masuk satu diantaranya…” yang berkata ini adalah Si Bungsu. Dan semua mereka jadi kaget. Sebentar ini anak muda tersebut mengatakan bahwa diseberang sana ada perangkap. Tapi dia malah menyatakan akan ikut dalam penyeberangan itu. Apakah dia hanya sekedar ingin membuat sensasi?

“Oke. Jika demikian anda ikut dengan Tongky. Dan sebagai seorang Letnan, regu yang tiga orang ini berada dibawah pimpinan anda. Kami akan menanti disini…”

Kapten Fabian akhirnya memutuskan.

Dan semua orang memang tak membantah. Soalnya waktu sudah semakin sempit. Untuk mempersoalkan apakah diseberang sana ada perangkap atau tidak ini saja, mereka telah terhenti selama lima menit.

Sukarelawan yang satu lagi adalah Donald. Si Bungsu menuju ke samping. Dan dia mengambil sebatang bambu sebesar ibu jari yang beruas panjang-panjang. Memotongnya sepanjang sehasta. Memberikannya pada Tongky dan Donald masing-masing sepotong. Untuknya sendiri sepotong.

“Barangkali ini kita perlukan. Saya lebih percaya bahwa kita akan aman jika menyelam dan mempergunakan bambu kecil ini sebagai slang pernafasan. Dengan demikian kita tak usah muncul di permukaan air seperti sekarang”

Si Bungsu kemudian masuk ke air rawa yang dalam malam pekat ini kelihatan seperti aspal, hitam pekat. Dia menoleh pada Kapten Fabian dan berkata :

“Untuk menyeberang, kami butuh waktu sepuluh menit paling lama. Kami akan memberi isyarat kalau keadaan aman, maka musuhlah yang akan memberi isyarat dengan tembakan ke arah kami..” sehabis berkata dia memberi hormat. Kemudian mulai melangkah ke tempat dalam.

Lima meter dari pinggir dia berheti. Menoleh ke belakang ke arah Tongky dan Donald. Dia berkata separoh berbisik.

“Ini batas kita berjalan. Dari sini kita harus menyelam. Nah, kita mulai…”

Dia meletakkan bambu bengkok itu ke mulutnya. Kemudian menyelam. Dengan memakai bambu bengkok tersebut di mulut, dia dapat menyelam telungkup.

Tubuhnya segera lenyap ke dalam air. Dan di permukaan air rawa hanya terlihat sepotong ranting kecil bergerak perlahan ke arah seberang sana.

Donald dan Tongky berpandangan. Mereka sebenarnya tak mau menyeberang dengan cara itu. Mereka memang tak usah khawatir dengan senjata mereka, senjata adalah senjata-senjata yang dirancang oleh para ahli. Yang bisa ditembakkan meski senjata itu telah terendam air.

Magazine tempat pelurunya serta loop senjata otomat tersebut diluar sistim yang pelik. Sehingga air tak bisa masuk kedalamnya meski terendam air agak dua hari.

Yang membuat mereka tak sedap adalah harus berendam lagi.

Tapi anak muda itu telah ditetapkan sebagai Komandan Regu mereka.

Dan mereka adalah orang-orang yang telah dididik dengan disiplin keras, bahwa komandan harus dipatuhi.

Maka merekapun meletakkan bambu bengkok yang dipilih oleh Si Bungsu itu ke mulut. Lalu dengan perasaan separoh enggan mulai menelungkup dalam air.

Lalu mereka mulai berenang keseberang. Kapten Fabian dan kelima anggotanya tiba-tiba melihat ketiga orang itu lenyap dalam rawa. Dari tempat mereka tegak, tak ada yang kelihatan. Bambu kecil yang mencuat sejengkal lebih ke atas permukaan air itu juga tak bisa dikenali lagi diantara semak dan ranting kayu yang berserakkan di permukaan.

Kalau benar di seberang sana ada perangkap seperti dikatakan Si Bungsu, maka Kapten Fabian harus mengakui bahwa cara peyebrangan yang kini dilakukan anak muda itu adalah cara yang sempurna.

Dan kalaupun tak ada musuh seperti yang diduga itu, cara penyebrangan sebentar ini tetap saja merupkan tindakan hati-hati yang memang harus dilakukan.

Mereka menanti dengan hati berdebar peyebrangan itu.

Sementara itu dalam air, Si Bungsu menyeruak diantara rumpun-rumpun rumput. Dia harus bergerak perlahan sekali. Dan dia berharap agar hal yang sama juga dilakukan oleh kedua anggotanya di belakang. Kalu rumput-rumput itu bergerak dengan kuat, dan geraknya menuju ke pinggir, maka penjebak tentu akan segera curiga. Dan siapapun yang melihat pasti akan segera tahu bahwa didalam air ada penyelam yang sedang mendekat. Sebab mustahil ada kapal selam dalam rawa sedengkal begini. Dan Si Bungsu memang beruntung. Sebab baik Tongky maupun Donald yang berada di belakangnya memang bertindak hati-hati pula. Mereka nampaknya memang berasal dari pasukan yang disiplin. Ketiga mereka berenang dengan lambat.

Si Bungsu merasakan air makin dangkal. Tapi dia tetap tak mau muncul. Bahkan dia telah merayap ditanah, namun dia masih belum mau mengangkat kepalanya dari permukaan air.

Barulah ketika air telah menimbulkan rambut dikepalanya dia mendongak perlahan. Sepi. Dia masih tiarap di air. Perlahan dia menoleh ke belakang. Dua meter dibelakangnya, dia lihat dua sosok bayangan mendekat. Persis seperti yang dia lakukan tadi, kedua orang itu juga tetap tak mau bangkit seski air telah amat dangkal.

Mereka merayap dalam sikap hati-hati sekali. Akhirnya ketiga orang itu berada sejajar berdekatan.

Dingin menusuk kulit.

“Nah, Letnan, apa lagi kini?” Donald berbisik.

“Jalan menuju ke markas mereka ada dibelah kananmu Letnan…” Tongky menyambung bisik Donald.

Si Bungsu mengangkat tangan. Memberi isyarat untuk tak berbisik. Dan tangannya masih bergoyang memberi isyarat ketika perlahan terdengar suara dari sebelah kiri, yaitu tak jauh dari tempat Tongky menelungkup.

“Nampaknya kita disuruh menunggu nyamuk disini…” suara itu jelas dalam aksen Tionghoa. “Tenanglah. Tadi saya melihat sesuatu bergerak di seberang sana…” suara lain menyahut perlahan.

Aksennya dalam nada Melayu.

“Ya, saya juga melihat ada yang bergerak. Barangkali ada orang menari striptis disana. Heheh… hihi… huhu….” orang lain yang nampaknya juga sudah jengkel menanti ikut menyambung.

“Cibai! Kalian tak bisa diam?!” Cina yang lain bercarut dalam bahasanya. Dan tiga orang yang tadi menyumpah-nyumpah kesal itu pada terdiam. Nampaknya yang bercarut terakhir ini cukup berpengaruh diantara mereka.

Suasana kembali sepi. Si Bungsu, Tongky dan Donald masih tetap tiarap. Diam. Tongky dan Donald yang berbaring dilumpur berdekatan saling pandang.

Dan seperti bersepakat, mereka menoleh pada Si Bungsu. Namun anak muda itu tengah menatap ke arah Cina yang bercarut terakhir. Cina itu nampak bersembunyi diatas dahan yang tingginya sekitar sedepa dari tanah. Terlindung oleh dedaunan yang lebat.

Tongky dan Donald diam-diam mengakui ketajaman firasat anak muda itu. Coba kalau tadi mereka menyeberang saja bersama. Tentu kini mereka telah jadi tapisan di drel oleh senapan orang-orang yang menanti mereka ini.

Si Bungsu masih menatap ke arah suara di atas dahan yang jaraknya sekitar dua puluh depa dari tempatnya. Dia lalu menoleh pada Tongky dan Donald. Memberi isyarat. Dengan gerakkan sehalus ular, kedua bekas anggota Baret Hijau ini merayap kearahnya.

Dan ketika jarak mereka tinggal sejengkal kedua orang itu berhenti. Si Bungsu berbisik perlahan :

“Kita tak tahu dengan pasti berapa orang yang menanti kita disini. Yang kita dengar berbicara hanya empat. Tapi saya merasa yakin jumlahnya lebih dari itu. Barangkali sekitar sepuluh orang. Nah, tugas kita sekarang membuat jalan aman bagi teman-teman di seberang. Caranya hanya satu. Yaitu melenyapkan segala perangkap yang ada. Saya akan menyelesaikan Cina yang di pohon itu. Kalian pilih yang berdua yang bicara pertama tadi…” dan Si Bungsu memberi beberapa penjelasan. Lalu dalam posisi tengkurap di lumpur itu, ketiga mereka saling bersalaman.

Lalu Tongky dan Donald bergerak. Tongky nampaknya menuju ke arah Cina yang mula-mula bicara.

Sementara Donald ke arah Melayu yang menyahut kedua.

Si Bungsu mengagumi cara mereka merayap. Dalam lumpur dan timbunan dedaunan tebal begitu, kedua orang itu merayap benar-benar seperti ular.

Tak bersuara. Artinya, suara desir yang mereka timbulkan hanya bisa ditangkap oleh telinga yang amat tajam. Berarti masih ada seorang lagi di bawah yang harus diselesaikan. Yaitu yang bicara penghabisan sebelum Cina yang diatas cabang itu bercarut menyuruh mereka diam.