Tikam Samurai Si Bungsu Episode 2.5

 “Zamanmu sudah lewat Zato Ichi. Lebih baik hari-hari tuamu ini kau lewatkan dengan berdoa dalam kuil.

Menghindarlah dari sana. Kami ada urusan dengan anak muda jahanam itu…”

Zato Ichi terdiam. Mukanya terangkat. Matanya yang buta seperti menatap langit yang gelap. Kemudian menunduk. Dan terdengar suaranya perlahan :

“Ya, saya harusnya berdoa…selesaikanlah urusan kalian…”

Dan sehabis berkata begitu, perlahan mengetuk-ngetuk lantai semen, mencari jalan ke arah kanan rumah. Tak jauh dari sana, ada sebuah bangku-bangku dari semen. Dan dengan tenang Zato Ichi duduk di bangku tersebut.

Kini di depan rumah itu tegak Si Bungsu sendiri menghadapi keenam lelaki anggota Kumagaigumi itu. “Nah, anak muda. Kami datang untuk membawamu pergi. Engkau harus mempertanggung jawabkan

perbuatanmu. Membunuh anggota kami di kota Gamagori dan di hotel tiga hari yang lalu..” “Yang, di hotel itu, saya ikut membunuhnya tiga orang…” suara Zato Ichi memutus.

Pimpinan Kumagaigumi itu menoleh. Tapi jelas dia tak ingin pahlawan Samurai itu ikut campur. Kalau dia campur tangan, jelas keadaan akan gawat. Karena itu dia lalu berkata :

“Urusan dengan engkau akan kami bereskan kemudian. Kami berurusan dengan orang asing ini…”

Zato Ichi tertawa berguman. Jelas bahwa dia mengetahui akal licik anggota Kumagaigumi ini. Namun demikian, dia tetap duduk dengan tenang.

“Nah, kau ikutlah kami…” suara lelaki berkumis tebal itu berdengung. Si Bungsu hanya tersenyum tipis. “Bukan salah saya kalau teman-temanmu yang di hotel itu mati. Telah saya katakan saya tak mau persoalan diperlarut-larut. Buata apa kita saling bunuh? Saya sudah bosan dengan pekerjaan membunuhi

orang….”

Ucapan Si Bungsu ini sebenarnya keluar dari hati yang ikhlas. Dia memang tak lagi berniat jadi tukang jagal. Dan itu sudah dia buktikan di hotel ketika anggota Kumagaigumi itu datang tiga hari yang lalu.

Dia tak mau melawan mereka. Dan hal itu hampir saja menyebabkan nyawanya melayang. Keempat lelaki yang memasuki kamar hotelnya itu benar-benar tak berperikemanusiaan. Untunglah di saat yang sangat gawat Zato Ichi datang membantu.

Dan kali inipun, seperti halnya keempat anggota Kumagaigumi di hotel tiga yang lalu, keenam lelaki ini salah duga akan ucapan Si Bungsu. Kalau yang datang ke hotelnya dulu menganggap bahwa anak muda ini takut, maka keenam lelaki ini justru menganggap dengan ucapannya itu Si Bungsu tengah menggertak mereka.

Dengan ucapan “Saya sudah bosan jadi tukang bunuh”, mereka menganggap bahwa anak muda ini seakan-akan berkata : “ dengan mudah saya bisa membunuh kalian. Tapi saya sudah bosan…”

Nah, salah duga biasanya mendatangkan malapetaka. Dan itulah yang akan terjadi di kuil ini.

“Jangan menyombong buyung. Apakah kau sangka dengan kemenanganmu melawan anggota Jakuza di Tokyo, kemudian menang lagi melawan anggota kami di Gamagori, lalu terakhir menang lagi melawan pendeta di kuil Shimogamo, engkau menyangka bahwa dirimu sudah hebat?”

“Tidak. Saya tidak bermaksud menyombong. Saya memang tak berniat untuk berkelahi” “Baik. Kalau begitu engkau harus ikut kami ke markas..”

“Itu juga tak saya inginkan…”

“Heh, berkelahi tak mau. Ikut kami juga tak mau. Lalu apa maumu?” “Saya tak ingin apa-apa. Lupakan saja peristiwa yang lalu…”

“Itu bukan menginginkan apa-apa buyung. Meminta kami melupakan perbuatanmu di masa lalu sudah merupakan suatu keinginan yang laknat. Lebih baik kau cabut samuraimu, dan lawan kami…”

Zato Ichi terdengar bersiul kecil. Siulnya menyanyikan lagu Musim Dingin. Suara siulnya lembut dan bergetar.

Si Bungsu tersenyum. Tersenyum mendengar tantangan itu dan tersenyum mendengar siul Zato Ichi.

Dan senyumannya membuat hati pimpinan Kumagaigumi ini jadi berang. Dia memberi isyarat pada tiga anak buahnya. Ketiga orang itu segera maju dengan menghunus samurai mereka.

Mereka mengatur posisi.

Siul Zato Ichi makin jelas terdengar dalam suitan angin musim dingin di luar Kyoto itu. Dan tiba-tiba salah seorang menggebrak maju membabat perut Si Bungsu. Yang dua lagi dengan cepat menghantam kepala dan kakinya.

Serangan itu demikian cepatnya. Namun Si Bungsu tak mencabut samurainya. Dia mengelakkan ketiga serangan itu dengan memiringkan tubuh, membungkuk dan mengangkat kaki kanan yang dibabat samurai!

Lalu melangkah ke depan dua langkah. Ketiga serangan itu lewat tanpa mengenai sasaran. Siul Zato Ichi masih terdengar. Mendayu dan kadang-kadang terhenti pada puncak nada yang tinggi. Tiga serangan lagi menggebu ke arahnya.

Si Bungsu mempergunakan sarung samurainya untuk menangkis serangan itu. Dia sengaja tak mencabut samurai dari sarungnya. Dan sarung samurai yang terbuat dari kayu keras itu dia pergunakan sedemikian rupa hingga ketika membentur samurai lawan jadi mencong arah serangannya.

Dua kali serangan seorang. Berarti Si Bungsu sudah menggagalkan enam jurus serangan ketiga lawannya tanpa menjatuhkan korban.

Ketiga orang itu saling pandang. Demikian juga tiga temannya yang belum turun tangan ikut kaget melihat kehebatan anak muda ini.

Kemudian seperti dikomandokan, mungkin karena ingin cepat menyelesaikan perhitungan ini, keenam mereka tiba-tiba maju serentak.

Enam samurai dari penjahat-penjahat Kumagaigumi yang terkenal, menggebu-gebu ke tubuh Si Bungsu. keenam mata samurai itu menyerang enam tempat yang berbahaya ditubuhnya.

Sebenarnya, bagi mata samurai, bahagian manapun di tubuh manusia tetap saja merupakan bahagian yang berbahaya. Karena meskipun mengenai tempat yang tak mematikan, mengenai kaki atau tangan misalnya, tapi serangan itu bisa membuat orang lumpuh seketika. Bayangkan saja kalau tangan atau kaki putus.

Maka kini, nasib itulah yang sedang di hadapi Si Bungsu. Namun kali ini dia tak mau anggap enteng. Bermain samurai baginya kahir-akhir ini memang bukan merupakan suatu “kerja” yang mendatangan rasa susah.

Gerak tangannya mempergunakan samurai itu hampir-hampir merupakan gerak yang tak diperhitungkan. Merupakan sesuatu kewajaran yang mutlak dan sangat berperhitungan.

Begitu gebrakan keenam samurai itu menderu mengurung dirinya, tangan kanannya bergerak pula. Samurai tercabut tak sampai sekerdipan mata. Dan saat berikutnya, suara beradunya baja terdengar mengoyak suitan angin dingin. Beberapa bunga api memercik dari pertemuan samurai itu. Kemudian terdengar seruan-seruan tertahan dan rasa kaget. Keenam anggota Kumagaigumi itu tersurut setindak begitu samurai mereka dihantam samurai anak muda itu.

Tangan mereka terasa sakit dan tergetar hebat takkala samurai mereka beradu tadi. Hampir saja samurai di tangan mereka berpentalan ke udara kalau mereka tak cepat-cepat mundur.

Dan kini Si Bungsu tegak dengan diam dan dengan samurai tersisip kembali dalam sarangnya!

“Sudahlah, kita akhiri saja pertikaian ini….” Dia ingin berkata demikian. Namun ucapannya belum sempat keluar takkala keenam lelaki itu dengan didahului sebuah pekik Banzai menggebrak lagi maju!

Enam samurai kembali bersuitan dengan kecepatan luar biasa. Namun saat berikutnya hanya pekik kaget dan sakit yang terdengar. Keenam samurai di tangan anggota Kumagaigumi itu mental ke udara. Tercampak jauh dan menimbulkan bunyi yang berisik ketika menimpa lantai batu di halaman belakang kuil tua itu.

Dan keenam lelaki itu merasakan betapa tangan atau rusuk mereka jadi pedih dan mengalirkan darah!

Siul Zato Ichi terhenti seketika. Kepalanya tertegak.

Si Bungsu masih tetap tegak. Dan kali ini perlahan dia menyarungkan kembali samurainya. Dan keenam lelaki itu, termasuk Zato Ichi, segera sadar sepenuhnya, bahwa anak muda ini benar-benar telah bermurah hati mengampuni nyawa mereka. Kalau saja dia mau, maka dengan mudah dia bisa menghabisi mereka semua.

Tapi buktinya tak seorangpun di antara mereka berenam yang luka parah. Luka di tangan dan rusuk mereka saat ini hanyalah semacam “pemberitahuan”.

“Saya tak suka kekerasan. Saya berharap pertikaian kita selesai disini. Dan saya maafkan kalian. Namun saya peringatkan, setelah kejadian ini jika masih ada anggota Kumagaigumi yang menghadang jalan yang saya tempuh, maka saya akan membunuhnya disaat pertama”

Suara anak muda ini terdengar amat dingin. Mengatasi udara dingin di musim dingin saat itu. Dan tak seorangpun di antara mereka yang hadir disana, termasuk Zato Ichi yang menganggap bahwa anak muda ini hanya tukang bual dengan ucapannya barusan.

Semua mereka yakin, bahwa anak muda itu akan mampu membuktikan ucapannya itu. Bukan hanya sekedar gertak sambal!

Dengan didahului oleh pimpinannya yang bertubuh kekar berkumis lebat, keenam anggota Beruang Gunung itu segera angkat kaki tanpa memungut samurai mereka yang bertebaran di halaman kuil itu.

“Ck…ck…ck! Benar-benar ilmu samurai yang luar biasa…”

Si Bungsu menoleh dan melihat Zato Ichi masih duduk di kursi batu enam depa dari tempatnya tegak.

Zato Ichi bukan hanya sekedar memuji. Dia sengaja tak ikut membantu anak muda itu karena ingin “melihat” bagaimana caranya orang asing ini mempergunakan samurai.

Dia “melihat” dengan indera pendengarannya yang tajam luar biasa itu. Ya, meski matanya buta, Zato Ichi bisa “melihat” dengan jelas melalui indera pendengaran, penciuman dan tangannya.

Dari bau yang tercium oleh hidungnya dia segera mengetahui ada manusia, hewan atau benda lain yang tak bergerak disekitarnya. Kegelapan merupakan kawan utamanya sepanjang hidup. Bayangkan hidup tanpa mata. Itulah yang selalu dilawan oleh Zato Ichi.

Dan perkelahian Si Bungsu dengan keenam anggota Kumagaigumi itu dengan jelas bisa dia “saksikan”. Dia tahu dengan pasti, betapa samurai anak muda itu menghantam samurai-samurai anggota Kumagaigumi itu. Dia tahu pula dengan pasti, bahwa anak muda itu menghantam samurai keenam lelaki itu dengan punggung samurainya. Pukulan dengan punggung samurai itu sangat keras. Dan itulah sebabnya keenamnya

terpental. Kekuatan yang dikombinasikan dengan perhitungan dan tekhnik yang hampir-hampir sempurna. “Nampaknya engkau memiliki banyak musuh anak muda. Setiap orang di negeri ini menghendaki

nyawamu…” suara Zato Ichi kembali bergema.

Si Bungsu menarik nafas panjang. Seperti sebuah keluhan yang dalam. Ya, setiap orang seperti menghendaki nyawanya. Termasuk Michiko!!

“Apakah mereka akan datang lagi?” Si Bungsu bertanya perlahan.

“Barangkali. Tapi meskipun mereka tak datang kemari, mereka akan tetap menghadang jalanmu..” “Bila itu terjadi, maka aku akan membuktikan kata-kataku tadi..”

“Ya. Engkau harus. Sebab mereka memang menghendaki nyawamu. Barangkali engkau ingin tetap mengalah. Tapi sampai bila engkau mampu bertahan? Suatu saat, engkau akan sampai pada titik, dimana engkau harus memilih antara membunuh atau dibunuh”

Si Bungsu termenung.

“Apa yang kau alami hari ini dan hari-hari mendatang, persis seperti yang kualami di zaman yang lalu Bungsu-san. Engkau memiliki sesuatu yang tak dimiliki orang lain. Engkau mempunyai kelebihan, dan orang jadi iri. Orang berusaha menjatuhkanmu. Engkau seorang yang tangguh, dan orang jadi ingin menguji sampai dimana ketangguhanmu.

Menjatuhkan dirimu merupakan kebanggan bagi orang yang iri atau musuhmu. Sebab dengan bangga mereka bisa berkata : aku telah menjatuhkan dan menghancurkan jagoan itu. Maka jalan yang akan kau tempuh, akan selalu berkuah darah”

Si Bungsu termenung.

“Negeri ini memang jauh berbeda kini Bungsu-san. Kini banyak mobil. Banyak listrik dan modernisasi. Tapi satu hal yang tak berobah. Yaitu kekerasan watak penduduknya. Di zaman saya dahulu, saya harus menjaga leher saya untuk tidak ditebas orang. Padahal yang saya perbuat tak lebih dari sekedar membela orang yang teraniaya. Menolong orang yang tertindas dari kesewenang-wenangan penguasa dan orang kaya. Saya memang tak mengharapkan balasan. Tapi musuh saya jadi terlalu banyak. Orang-orang miskinpun ikut memburu dan menghendaki nyawa saya…’

Si Bungsu jadi kaget.

“Ya. Merekapun ikut memburu saya. Karena penguasa dan orang kaya yang pernah saya gagalkan niat jahatnya, membayar mereka untuk itu. Maka uang segera saja mengalahkan hati nurani manusia. Namun mustahil saya bisa mengalah terus menerus. Ada kalanya saya terpaksa menurunkan tangan kejam.

Beberapa orang, atau tepatnya sekian ratus orang, ya Tuhan saya tak ingat lagi berapa jumlah yang pasti, telah saya bunuh. Ya, itulah yang terpaksa saya lakukan. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk membuang samurai saya.

Tapi itu berarti bunuh diri. Saya menghindar ke hutan. Dapat kau bayangkan Bungsu-san? Kita harus menghindarkan diri ke rimba hanya untuk tidak membunuh manusia.

Peradaban ternyata lebih tinggi di rimba raya daripada di kota yang dihuni manusia. Di sana, dibelantara itu saya menemukan kedamaian. Tak ada dengki dan khianat. Tak ada penindasan. Dan sejak itulah saya dianggap lenyap dari bumi Jepang…”

Keadaan jadi sunyi. Hanya suitan angin dingin yang terdengar. Si Bungsu terdiam, karena dalam ucapannya tadi dia menangkap nada yang luka dihati Zato Ichi.

Dia tak menyangka, bahwa seorang pahlawan rakyat Jepang, yang namanya menjadi legenda yang amat dicintai orang, ternyata memendam duka hidup yang alangkah pedihnya.

“Lalu, kenapa kini Ichi-san muncul ke kota?” “Ada suatu tugas yang harus saya lakukan…”

“Kenapa hari itu justru muncul di kamar saya dan persis ketika nyawa saya terancam?” Zato Ichi tak menyahut. Dia menunduk.

“Saya sangat bersyukur dan berhutang budi pada Ichi-san. Kalau Ichi-san tak datang saat itu, saya pasti sudah mati…”

Zato Ichi menarik nafas panjang dan berat.

“Kehadiran saya itu, termasuk bahagian dari tugas saya…” suaranya terdengar perlahan. “Tentulah tugas besar. Dan saya akan sangat gembira kalau bisa membantu Ichi-san…” “Tak seorangpun yang dapat membantu saya Bungsu-san…”

“Tugas apa itu yang tak mungkin dibantu?”

“Saya sendiri tak yakin, apakah saya bisa melaksanakannya…” suara Zato Ichi terdengar getir. “Kalau boleh saya tahu, apakah tugas itu?”

“Membunuh seseorang..” “Membunuh seseorang?” “Ya…”

Si Bungsu menatap tak mengerti pada Zato Ichi. Padahal baru sebentar ini pahlawan itu berkata, bahwa dia terpaksa harus lari menyembunyikan diri ke rimba untuk menghindar dari orang-orang bayaran yang diupah untuk membunuhnya.

Tapi justru hanya beberapa detik setelah itu Zato Ichi sendiri mengakui bahwa dia “disuruh” seseorang untuk membunuh seseorang. Atau tugasnya, disuruh untuk membunuh orang lain. Sesuatu yang menurut ceritanya sangat dia benci.

Dan Zato Ichi nampaknya mengerti apa yang tengah dipikirkan Si Bungsu.

“Saya tidak dibayar Bungsu-san. Tak ada yang bisa membayar samurai saya. Samurai saya tak pernah berlumur darah orang-orang yang tak berdosa…”

“Tapi, kenapa kali ini Ichi-san mau disuruh membunuh? Siapa yang menyuruh, dan siapa yang harus Ichi-san bunuh…” “Saya diminta membunuh seseorang. Dan saya tak mungkin menolak. Sebab jika saya menolak, maka saya akan dianggap tidak membalas budi. Saya tak mau dianggap tak berbudi. Karena saya menjunjung budi pekerti ….”

“Saya tak mengerti apa yang Ichi-san maksudkan..’

“Ya, saya sendiri juga sulit memikirkannya Bungsu-san….hampir dua puluh tahun yang lalu, saya dalam perjalanan melarikan diri dari kejaran penjahat-penjahat di daerah Tanjung Noto.

Saya menyangka nyawa saya takkan tertolong lagi. Saya dalam keadaan sekarat karena luka yang saya perdapat dari tembakan bedil dua orang penjahat. Waktu itulah seseorang menyelamatkan saya…. Dapat Bungsu-san mengerti betapa saya berhutang budi padanya?”

Si Bungsu mengangguk. Betapa tidak, cerita itu mirip dirinya, dia telah diselamatkan dalam keadaan luka parah, diambang maut, oleh Zato Ichi.

Kalau kelak Zato Ichi meminta dia melakukan sesuatu, maka dia pasti tak pula bisa menolak.

“Ya, saya dapat mengerti sekarang…” kata Si Bungsu. Zato Ichi tetap diam. Masih tetap duduk di bangku batunya. Sementara Si Bungsu juga duduk di kursi batu dua depa dihadapannya.

“Dia yang menugaskan Ichi-san membunuh seseorang itu?”

“Tidak. Dia sudah mati. Yang menugaskan saya adalah adiknya….adiknya mencari saya dan menceritakan kematian abangnya. Dan meminta saya mencari pembunuh abangnya itu untuk membalaskan dendam. Yaitu membunuh pembunuh abangnya yang telah membantu saya dahulu…”

Ya. Saya mengerti sekarang. Ichi-san harus melakukannya. Dan kenapa pula saya tak bisa membantu Ichi-san? Bukankah kita bisa pergi bersama mencari orang itu, dan bersama pula membunuhnya?”

Zato Ichi manarik nafas panjang.

Dan Si Bungsu dapat melihat, betapa dalam diri pahlawan Jepang itu berperang rasa yang sulit untuk diduga.

Si Bungsu mengerti. Dalam hidupnya, seperti yang dikatakannya tadi. Zato Ichi tak pernah melumuri samurainya dengan nyawa orang yang tak bersalah. Kalau Zato Ichi tentu merasa berat untuk melakukan pembunuhan itu.

Dan Si Bungsu merasa kinilah saatnya dia membantu Zato Ichi. Yang penting bagi Zato Ichi tentulah orang yang dia cari itu mati. Tak perduli melalui tangan siapapun. Kalau Zato Ichi keberatan bukankah dia dapat menggantikan tugas ini?

Dia akan kembali ke Indonesia tak lama lagi. Apa salahnya sebelum pergi, sebagai tanda terimakasih, dia menolong Zato Ichi membunuh lawannya?

“Saya dapat membantumu Ichi-san. Tunjukkan siapa orangnya, dan Ichi-san tak perlu melumuri tangan Ichi-san dengan dosa, biar saya yang melakukannya…”

Si Bungsu terhenti takkala dia melihat airmata Zato Ichi mengalir dipipi.

“Tak apa-apa Ichi-san. Saya dengan rela menggantikan tugas Ichi-san. Saya dapat mengerti perasaan Ichi-san. Ini adalah negeri Ichi-san. Ichi-san sudah lama meninggalkan dunia bunuh membunuh ini. Dan Ichi- san akan tetap disini. Sementara saya, setelah tugas itu selesai, akan kembali ke negeri saya. Dan orang akan melupakan peristiwa itu…”

Zato Ichi tak menyahut. Dia tetap tenang dan duduk memegang samurainya.

“Kalau Ichi-san tak keberatan, tunjukkan saja pada saya siapa orang yang harus dibunuh itu…” “Dia orang asing…”

Si Bungsu tertegun. Orang asing! Pastilah tentara Amerika. Ya, siapa lagi yang membuat kekacauan di negeri ini selama lima-enam tahun ini kalau tidak tentara pendudukan.

Tentara Amerika itu pastilah telah membunuh orang yang pernah menolong Zato Ichi. Dan kini Zato Ichi harus membunuhnya. Patutlah Zato Ichi merasa tak enak hati untuk melakukan tugas itu.

“Tentara Amerika?” tanya Si Bungsu. Zato Ichi menggeleng.

“Siapa?”

“Engkau Bungsu-san…!”

Suara Zato Ichi terdengar getir tapi pasti! Si Bungsu tertegun. Dia hampir tak percaya pada pendengarannya. Zato Ichi menarik nafas panjang. Dan suaranya terdengar perlahan :

“Ya, engkaulah orangnya yang harus saya cari dan harus saya bunuh Bungsu-san…” Si Bungsu masih tetap tak berbicara. Tak kuasa bicara. Kalau benar dia yang harus dibunuh lelaki ini, kenapa dia menolongnya dari ancaman maut di hotel dulu? Kenapa dia juga mengobati lukanya?

Ada hal-hal yang tak masuk akal!

“Saya tak berdusta Bungsu-san. Lelaki yang menolong saya dua puluh tahun yang lalu itu adalah Saburo Matsuyama…”

Kalau ada petir yang menyambar, mungkin Si Bungsu takkan seterkejut ini.

“Ya. Dialah yang menolong nyawa saya Bungsu-san. Waktu itu dia belum memasuki dinas ketentaraan.

Setahun setelah peristiwa itu dia baru jadi tentara kekaisaran Tenno Heika.

Dan beberapa hari yang lalu, saya dengar dia meninggal di kuilnya Shimaogamo. Saya ada disana ketika upacara penguburan itu. Dan saya mendengarkan apa yang terjadi antara puterinya Michiko-san dengan Bungsu-san. Saya mengetahui semuanya. Itulah kenapa saya datang ke hotel Bungsu-san…”

“Kalau begitu….yang menyuruh Ichi-san membunuh saya pastilah…pastilah puterinya, Michiko!” Zato Ichi menggeleng beberapa kali.

“Tidak Bungsu-san. Gadis itu sangat mencintai dirimu. Dia melukai dirimu pagi itu di Shimogamo hanya karena pukulan bathin yang dahsyat. Kini dia sakit. Yang menyuruhku untuk membunuhmu adalah adik Saburo. Doku Matsuyama. Dia seorang pegawai pemerintah di kota Kyoto….”

Dan mereka sama-sama terdiam. Angin bersuit perlahan. Bagi Si Bungsu, ini adalah sesuatu yang teramat dahsyat. Bagaimana dia bisa mempercayai bahwa orang yang akan membunuhnya adalah orang yang menyelamatkan nyawanya?

“Kalau begitu….kenapa Ichi-san menolong saya dari kematian di hotel itu? Bukankah hari itu saya harusnya sudah mati dan Ichi-san tak usah susah-susah turun tangan sendiri…?”

Zato Ichi menarik nafas lega.

“Itulah malangnya Bungsu-san. Saya paling tak bisa melihat ketidakadilan terjadi. Kelurgamu dibunuhnya semua. Dan saya juga akhirnya tahu, bahwa Saburo-san bukan engkau yang membunuhnya. Meskipun engkau sanggup melakukan itu padanya. Saya tahu, Saburo-san harakiri. Dan sebelumnya dia telah meminta kepada para pendeta di kuil itu untuk tidak memperpanjang soal ini.

Sebenarnya soal itu sudah selesai sampai disana. Tapi, adik Saburo meminta saya untuk melakukan pembalasan padamu. Engkau barangkali akan bertanya, kenapa aku harus mematuhi permintaan adiknya, padahal saya tidak berhutang apa-apa pada adiknya bukan?

Seharusnya demikian. Tapi adiknya ternyata ikut membantu saya. Meskipun secara tidak langsung.

Doku Matsuyamalah yang setiap hari membawa obat dan makanan bagi saya di kebun persembunyian itu.

Karenanya, saya ikut berhutang budi padanya. Dan kini dia meminta saya untuk membayar hutang budi

itu…”

Si Bungsu duduk terdiam. Zato Ichi juga. Dia tatap lelaki itu. Tokoh legenda yang dicintai rakyat Jepang

itu. Kelihatan tua dan lelah. Alangkah kasihannya, pikir Si Bungsu, sudah setua ini masih harus dibebani oleh hutang budi yang alangkah mahalnya.

Dia tiba-tiba membayangkan bahwa Zato Ichi itu adalah dirinya yang sudah tua. Bagaimana kalau dia mengalami hal yang dialami Zato Ichi saat ini?

“Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan Ichi-san…” akhirnya Si Bungsu berkata perlahan.

Zato Ichi mengangkat kepala. Dia menoleh pada Si Bungsu. meski matanya buta, tapi dia seperti menatap wajah anak muda itu tepat-tepat.

Dan tiba-tiba Zato Ichi berdiri. Berjalan ke arahnya. Dia menanti dengan tegang. Sedepa di depannya, lelaki buta perkasa itu berhenti.

Si Bungsu tak bisa menatap matanya. Kalau orang biasa dengan menatap matanya bisa menebak apa gerakan yang akan dia lakukan, maka terhadap Zato Ichi yang buta ini tak bisa dipakai teori demikian.

Si Bungsu justru menatap ke bahu lelaki itu. Dia akan perhatikan gerakannya melalui bahunya. Dan tiba- tiba Zato Ichi bergerak. Melangkah maju. Dan memegang bahu Si Bungsu.

“Barangkali kita akan bertarung Bungsu-san. Bukan sebagai orang yang bermusuhan, tapi sebagai dua lelaki yang menjunjung tinggi harkat kemanusiaan. Sebagai dua lelaki yang berjiwa samurai sejati. Tapi itu tidak sekarang. Kita perlu istirahat…”

Dan terompa kayunya terdengar berdetak-detak masuk kembali ke rumah kecil di halaman belakang kuil tua itu. Si Bungsu menarik nafas panjang.

Dia tahu, istirahat yang dimaksud oleh Zato Ichi itu adalah khusus untuk dirinya. Sebab dia baru saja sembuh sakit. Baru saja memeras tenaga melawan enam anggota Kumagaigumi tadi. Jadi, dialah yang dimaksudkan istirahat tadi. Zato Ichi ingin memberi kesempatan padanya untuk memulihkan kesehatan. Baru nanti menantangnya berkelahi.

Si Bungsu jadi terharu. Lelaki itu benar-benar seorang satria sejati. Dia patut menjadi pujaan seluruh rakyat Jepang.

Dia menatap keliling. Melihat enam samurai yang berserakan malang melintang. Yang tadi dia pukul terpental dari tangan anggota Kumagaigumi itu.

Kemudian dia melangkah masuk ke rumah kecil itu mengikuti langkah Zato Ichi. Di dalam dia disambut oleh bau panggang ikan yang harum.

“Hm, Bungsu-san, mari makan. Ini saya punya ikan kering, dan sudah saya bakar…ini ada sedikit roti…” Si Bungsu tegak di pintu. Menatap betapa lelaki buta itu mengulurkan ikan bakar padanya.

“Ambilah. Bungsu-san. Kita masih tetap sahabat. Kini dan sampai kapanpun…” suara lelaki buta itu terdengar jujur dan mengharukan.

Si Bungsu melangkah. Memegang ikan bakar itu. Kemudian duduk di sisi Zato Ichi. Menyenduk bubur di panci. Memasukkannya ke dalam mangkuk. Memberikannya ke tangan si Zato Ichi.

“Arigato…” kata si buta itu perlahan.

Si Bungsu menyenduk semangkuk lagi untuknya. Kemudian mereka makan dengan berdiam diri. Selesai makan siang itu, Zato Ichi kembali meramu obat-obatan. Cukup lama dia meramu obat itu. Si

Bungsu menatapnya dengan diam dari pembaringan. Betapapun jua, dia belum pulih seratus persen.

Entah berapa lama Zato Ichi meramu obat tersebut. Si Bungsu tak begitu pasti. Tapi yang jelas dia jatuh tidur setelah makan siang itu.

Barangkali hari sudah sangat sore ketika dia terbangun. Rumah kecil itu kosong. Tapi dari luar terdengar bunyi suling yang merawankan hati.

Dia segera tahu bahwa yang meniup suling itu adalah Zato Ichi. Dia pernah mendengarkannya ketika dia dirawat dua hari yang lalu.

Suling dimanapun nampaknya sama. Dia juga punya sebuah suling yang bernama bansi. Dan dia membawanya. Bansinya sering dia tiup kalau hatinya sedang gundah. Kalau dia sedang sepi sendiri.

Dan kini dia dengar Zato Ichi meniup sulingnya. Lelaki buta itu adalah lelaki yang menjalani lorong sepi yang tak berujung. Yang hidup dari magma sepi yang satu ke pusat sepi yang lain.

Perlahan dia bangkit. Dipan kayu dimana dia berbaring berdenyit halus ketika dia turun. Suara suling di luar berhenti. Kemudian terdengar suara Zato Ichi :

“Minumlah obat di dalam mangkuk itu Bungsu-san. Itu adalah obat terakhir untukmu. Kalau obat selama tiga hari ini merawat lukamu dari luar, maka di mangkuk obat itu akan memulihkan peredaran darahmu dari dalam. Minumlah….”

Si Bungsu menarik nafas. Zato Ichi rupanya mendengar bunyi denyit tempat tidurnya ketika dia turun. Dan dari sana, dapat diterka, betapa tajamnya pendengaran pendekar buta itu. Si Bungsu jadi terharu.

Ternyata Zato Ichi masih meramu obat untuknya.

Si Bungsu yakin, bahwa obat ini memang obat. Takkan mungkin seorang berhati mulia seperti Zato Ichi akan memperdayakan dirinya dengan obat tersebut.

Dia mengangkat mangkuk itu. Memang ada kelaianan bau. Tapi dengan keyakinan penuh dia meminum obatnya. Tapi pada teguk pertama saja, celaka sudah menjemput pemuda dari Gunung Sago ini.

Seharusnya dia sudah bisa menebak dari bau obat yang amat keras itu. Bahwa ada sesuatu yang luar biasa dalam obat tersebut. Dan mangkuk obat itu segera saja jatuh ke lantai. Pecah dan isinya tumpah.

Tubuh Si Bungsu menggetar. Rasa panas yang amat luar biasa menyerang jantungnya! “Racun…!” bisiknya.

Di luar, suara suling Zato Ichi terdengar berbunyi kembali. Lembut dan menimbulkan perasaan haru.

Namun Si Bungsu mendengarkannya dengan penuh penderitaan. Dia tengah berjuang dengan maut.

Dia merangkak ke pembaringan, menggapai ke atas. Mengambil samurainya. Kemudian tangannya menyentuh gelas. Jatuh pecah! Suara dentingnya membuat suling Zato Ichi terhenti.

Si Bungsu muntah darah. Tapi dia menahannya sekuat mungkin. Jahanam itu pasti menanti bunyi muntah atau tubuh yang jatuh. Dan dia akan masuk menyudahi nyawaku, pikir Si Bungsu.

Tak dia duga sedikitpun. Lelaki yang jadi legenda Jepang itu berhati pengecut seperti ini. Dia tak berani menghadapinya dengan samurai secara terang-terangan. Dan dia memakai racun!

Jahanam yang benar-benar pengecut, sumpah Si Bungsu. dia tahan muntahnya sedapat mungkin agar tak terdengar keluar. Namun suara suling itu terhenti lagi. Si Bungsu menahan nafas. Dia tak ingin telinga si buta yang tajam itu mendengar bahwa nafasnya memburu.

“Sudah engkau minum obat itu Bungsu-san?” terdengar suara Zato Ichi perlahan. Si Bungsu kembali menyumpah.

Benar-benar seorang pemain watak yang jahanam sumpahnya. Kalau dia jawab “sudah” si buta itu tentu akan masuk dan menonton betapa dia menyudahi lawannya.

“Belum….!” Jawabnya berusaha bersuara dengan wajar. Dan sehabis mengucapkan itu, kembali darah segar muncrat dari bibirnya.

“Minumlah agar engkau pulih kembali seperti biasa….” Suara Zato Ichi terdengar lagi. Si Bungsu menggertakkan gigi.

Dan dia mulai melangkah menuju pintu. Betapapun jua, sebelum mati, dia harus menghajar si buta itu.

Dia tak mau mati terkapar seperti anjing yang terminum racun.

Tiba di pintu tubuhnya menggigil. Panasnya sudah tak tertahankan lagi. Dia meminum obat itu hanya setengah teguk. Tapi akibatnya sangat fatal. Seluruh wajahnya berobah jadi hitam. Tangannya juga!

Dia sudah banyak mengenal jenis racun ketika berada di Gunung Sago. Tapi dia tak mengetahui racun apa yang dipakai Zato Ichi kali ini. Dan dia pasti takkan sempat membuat obat untuk memunahkan serangan racun ini. Sudah terlambat!

Dia tegak di pintu. Dia ingin bersandiwara. Ingin pura-pura jatuh. Zato Ichi tentu masuk. Dan saat dia muncul dipintu, akan dia hantam dengan samurai!

Namun dia bukan seorang pengecut. Hatinya memprotes sikap demikian. Tidak, dia harus menghadapi lelaki itu secara jantan. Namun engkau telah dianiaya. Dia tak jujur. Bikin apa dihadapi secara jujur pula, bantah pikiran panasnya.

Biar dia tak jujur. Tapi ketidakjujuran buat apa dibalas dengan ketidak jujuran pula? Hanya kaum pengecut yang membalas ketidakjujuran dengan ketidakjujuran, bisik hati jernihnya. Dan dengan sikap demikian, dia melangkah ke luar.

Angin dingin menyambutnya. Dan di luar enam depa di depan rumah itu, di atas kursi batu tadi, Zato Ichi duduk meniup sulingnya! Amat tenang!

Dia muntah darah lagi!

“Zato Ichi!” bentaknya dengan keras mengatasi rasa panas dan denyut jantungnya yang alangkah pedihnya! Zato Ichi terhenti. Ada sesuatu yang tak beres dalam nada suara Si Bungsu itu.

Dia tak menoleh, tapi mengarahkan telinga kanannya ke arah pintu rumah dimana Si Bungsu tegak. “Bungsu-san…!” katanya heran.

“Ya, saya disini Ichi-san! Saya telah minum obatmu. Tapi saya belum mampus. Saya bukan seorang pengecut seperti engkau! Kini cabut samuraimu!”

Berkata begini Si Bungsu melangkah. Dia hampir rubuh. Namun dia yakin bisa melawan Zato Ichi. Dan itu harus dia lakukan demi kejahanaman yang dilakukan Zato Ichi padanya.

Zato Ichi wajahnya tiba-tiba jadi mengeras. Kelihatan dia jadi tegang. Dia menyisipkan sulingnya kepinggang. Kemudian mengambil samurai yang dia letakkan disisinya.

Lalu dengan wajah keras sekali, dia melangkah dengan pasti ke arah Si Bungsu! Si Bungsu memperhatikan bahu dan tangan si buta itu.

“Jahanam! Benar-benar jahanam busuk!” Zato Ichi menyumpah dengan wajah yang tiba-tiba berobah bengis!

“Kau lah yang jahanam busuk Zato Ichi! Tak kusangka engkau pahlawan rakyat Jepang memiliki hati sebusuk engkau! Kenapa tak kau tantang saja aku berkelahi secara jantan. Kenapa kau pilih memasukkan racun keminuman yang kau katakan obat itu? Begitukah sikap satria dan samurai sejati yang tadi kau katakan?”

Si Bungsu terhenti bicara. Dia sudah demikian lemah. Zato Ichi tegak sedepa didepannya. Tegak dengan kaki terpentang dan sikap yang kaku serta wajah yang amat membiaskan amarah!

Dan kalau biasanya Si Bungsu menanti orang lain yang menyerang, kali ini tidak. Kini dialah yang membuka serangan! Dia mencabut samurainya secepat yang bisa dia lakukan. Dan dengan sisa tenaganya dia menghayunkan samurai panjang itu kearah Zato Ichi!

Namun gerakannya hanya sampai separoh jalan. Tenaganya lenyap. Dan dia rubuh ke lantai batu dengan mulut kembali menyemburkan darah segar! Dia rubuh dengan tangan tetap menggenggam samurai! Setengan depa dari kepalanya, Zato Ichi pendekar samurai Jepang yang tersohor itu tegak dengan kaku! Wajahnya tetap saja menggambarkan kemarahan yang luar biasa.

“Benar-benar jahanam yang tak tahu budi, telah diampuni nyawanya, masih saja berlaku kotor!” suara pahlawan samurai itu terdengar penuh kebencian.

“Heh…he..heh…!!” suara tawa terdengar menyahuti ucapan Zato Ichi. Dan seiring dengan tawa itu, tiga orang lelaki segera saja muncul dari balik pohon sepuluh depa dari pondok itu.

Dan mereka adalah anggota Kumagaigumi. Di antara yang bertiga itu, seorang diantaranya ternyata yang memimpin serangan terhadap Si Bungsu pagi tadi!

Kini dia muncul lagi dengan dua temannya yang lain. Yang nampaknya jauh lebih andal dari dirinya.

Kalau tidak, mana berani dia datang kemari.

“Heh-heh….Ichi-san. Antara kita sebenarnya ada persoalan hutang nyawa. Kau telah membunuh tiga anggota kami di hotel empat hari yang lalu. Tapi biarlah, yang mati tak mungkin hidup lagi. Kini kami hanya ingin membunuh orang Indonesia ini. Dia sudah terlalu banyak membuat susah kita. Orang asing yang sok jago dengan senjata tradisionil kita. Nah, kami datang selain untuk melihat kematiannya, juga mengambil samurai yang kami tinggalkan tadi pagi….”

Wajah Zato Ichi jadi merah padam.

“Kalian yang memasukkan racun ke dalam obat yang diminum Bungsu-san…” suaranya terdengar bergetar menahan marah yang dahsyat.

“Ah, tak usah dipikirkan benar Ichi-san. Kami hanya sekedar memberi bubuk penyedap ke dalam obatmu yang kurang sedap itu. Sebetulnya kami ingin meminta persetujuanmu. Membawamu ikut serta dalam membunuh lelaki jahanam itu. Bukankah engkau juga menghendaki kematiannya? Bukankah engkau harus menuntut balas atas kematian Saburo Matsuyama, orang yang telah menolongmu 20 tahun yang lalu?

Kami yakin engkau pasti mau kerjasama untuk melenyapkan jahanam ini. Tapi siang tadi Ichi-san sembahyang terlalu lama dalam kuil. Makanya kami masuk saja. Kami lihat orang itu tidur terlalu nyenyak. Kami ingin menyudahinya dengan samurai, tapi kabarnya lelaki ini firasatnya amat tajam. Dan samurainya amat cepat. Makanya kami mencari jalan aman yang tak mengandung resiko. Kami hanya memasukkan racun pembunuh ikan paus kedalam obatmu itu.

Dan buktinya, kerja kami selesai, tugasmu untuk melenyapkan orang itu juga selesai. Ichi-san hanya tinggal melapor pada Doku Matsuyama bahwa orang itu telah mati oleh samuraimu. Beres bukan? Hehe..”

Zato Ichi tak bergerak. Tubuhnya tetap tegak diam. Setelah meramu obat tadi, dia pergi sembahyang ke kuil di depan rumah itu. Cukup lama dia sembahyang. Dan di saat itulah kiranya jahanam ini masuk.

Dan dia benar-benar menyesal meninggalkan Si Bungsu sendirian di dalam rumah itu.

“Jangan khawatir Ichi-san. Kami tidak akan menganiaya mayatnya. Kami hanya menginginkan samurainya sebagai bukti, bahwa dia sudah mati. Sekaligus juga sebagai kenang-kenangan bukan? Nah, mundurlah agar kami bisa mengambil samurainya….’

Wajah Zato Ichi membersitkan amarah yang amat hebat.

“Datanglah kemari, ambil samurainya setelah kalian melangkahi mayatku….” Suaranya terdengar mendesis. Pahlawan samurai Jepang ini benar-benar merasa muak melihat tingkah laku anggota Kumagaigumi itu.

Dia jadi sangat marah, karena Si Bungsu menyangka bahwa dialah yang meletakkan bubuk racun itu ke dalam obat tersebut.

Dia sangat membenci sikap licik begitu. Kini meski Si Bungsu adalah orang yang harus dia bunuh demi membalas hutang budi pada Saburo, namun dia tak mau mempergunakan sikap licik. Kalaupun dia harus membunuh Si Bungsu, maka itu akan dia lakukan dengan sikap satria. Menantangnya bertarung dengan samurai.

“Heh….he. Zamanmu telah berlalu Zato Ichi, kini minggirlah….” Suara pimpinan Kumagaigumi itu terdengar memerintah. Dan mereka lalu mengurung tubuh Zato Ichi.

Mereka kini mengurung Zato Ichi dalam jarak yang sangat ketat. Meski pahlawan samurai itu sudah kelihatan tua, namun ketiga mereka yakin bahwa Zato Ichi masih tetap Zato Ichi yang dahulu.

Cepat dan sangat mahir dengan samurai. Itulah kenapa sebabnya kini mereka agak ragu untuk membuka serangan.

Lelaki buta itu menunduk. Tangan kanannya tergantung lemas di sisi tubuh. Tangan kirinya memegang samurai yang diangkat agak tinggi. Setinggi pinggang. Yang mula membuka serangan adalah yang tegak di belakang Zato Ichi. Lelaki itu mempergunakan gerak tipu. Dia melempar Zato Ichi dengan sarung samurainya. Telinga Zato Ichi yang sangat tajam mendengar desiran angin. Dan samurainya membabat sangat cepat. Saring samurai itu putus tiga! Namun saat itu pula lelaki yang tegak di sisi kanan dan di belakangnya bergerak tak kalah cepatnya.

Samurai mereka berkelabat! Namun suatu hal yang di luar dugaan terjadi pula. Tubuh Si Bungsu yang tadi rubuh muntah darah, pada saat yang sangat tak terduga bergerak.

Tangannya yang masih menggenggam samurai terhayun. Dan lelaki yang tegak disisi Zato Ichi, yang menyerang lelaki buta itu, tak sempat berbuat apa-apa.

Bahkan untuk kagetpun dia tak sempat. Sebab gerakan dari orang yang sudah diduga “mati” itu tak pernah dia bayangkan.

Dari bawah samurai anak muda itu membelah ke atas. Kerampang Jepang itu belah. Ikut pula terbelah beberapa alat peraga di kerampangnya itu.

Matanya mendelik, dan dia mengejang-ngejang. Lalu rubuh mati! Si Bungsu duduk bertelekan di kedua lututnya.

Namun saat itu pula Zato Ichi yang tadi ditipu dengan lemparan sarung samurai itu kena babat perutnya.

Terdengar dia mengeluh. Tubuhnya terhuyung, yang dibelakangnya memburu.

Namun dia masih tetap Zato Ichi yang mampu bergerak cepat. Begitu anggota Kumagaigumi melangkah dua langkah memburunya, dia menjatuhkan diri di lutut kanan. Kemudian samurai di tanggannya memancung ke belakang.

Anggota Kumagaigumi   itu   seperti   pisang   kena   tebang.   Perutnya   dimakan samurai   Zato Ichi.

Berkelonjotan sebentar. Kemudian mati!

Dan kini yang tinggal hanya seorang. Dengan terkejut dia memandang pada Zato Ichi dan Si Bungsu bergantian.

Dan yang masih hidup ini adalah lelaki yang memimpin penyergapan pagi tadi.

“Telah kukatakan pagi tadi, bahwa siapa saja yang menghalangi jalanku, akan kubunuh pada kesempatan pertama….” Suara Si Bungsu terdengar bergema dingin.

Dia masih duduk di atas kedua lututnya. Samurainya tergenggam di tangan kanan. Nampaknya dia sudah lemah sekali. Dia bertelakan untuk tetap seperti itu pada sarung samurainya yang dia tekankan kuat-kuat ke lantai batu.

Pimpinan Kumagaigumi ini berfikir. Kedua lawannya ini amat berbahaya. Tapi kini keduanya tidak dalam keadaan normal. Zato Ichi terluka perutnya. Si Bungsu terminum racun. Tapi kenapa lelaki asing itu tak segera mampus? Apakah racun yang mereka taruh dalam obatnya tadi kurang keras? Padahal seingatnya, jumlah racun yang dimasukkan ke obat anak muda itu sanggup untuk membunuh sepuluh ekor anjing sekaligus?

Kini akan dia serangkah kedua orang yang tak berdaya ini? Atau lebih baik kabur? Kedua pilihan ini dipertimbangkannnya. Dia memang mencintai organisasinya. Tapi sudah tentu dia lebih mencintai nyawanya.

Kalau dia mati, bagaimana dengan dua orang isterinya yang muda-muda dan cantik itu? Tentu akan diambil alih oleh teman-temannya yang lain. Ih, mengingat ini, dia benar-benar tak mau mati.

Dan satu-satunya jalan untuk menghindar dari kematian adalah minggat dari tempat ini! Kedua lawannya ini takkan tertandingi olehnya dalam berkelahi. Meskipun mereka dalam keadaan sekarat. Hal itu sudah dia buktikan dengan anak muda asing ini.

Makanya, setelah ucapan Si Bungsu tadi dia nyengir. Kemudian berkata:

“Bikin apa   aku   susah-susah   melawan   kalian.   Cepat   atau   lambat,   kalian   akan   mati   disini.

He….he…tinggallah…he..he..” Dan dia berbalik.

Namun Si Bungsu sudah berkata, bahwa dia akan membunuh lelaki itu. Dan itu dia buktikan.

Dengan mengerahkan sisa tenaganya, anak muda ini bergulingan dua kali. Pimpinan Kumagaigumi wilayah Kyoto itu terkejut dan berpaling ke belakang. Saat itulah sambil bangkit dari duduk, Si Bungsu melemparkan samurainya.

Dan dalam saat yang bersamaan, tangan Zato Ichi bergerak pula. Semula pimpinan Kumagaigumi ini hanya merasa heran melihat anak muda itu bergulingan.

Tapi melihat dia menghayunkan tangan, dia segera menyadari bahaya. Sebagai salah seorang pimpinan Kumagaigumi, komplotan bandit yang ditakuti, dia tentu punya kepandaian yang tak dapat dianggap enteng.

Dia segera mencabut samurai untuk memukul jatuh lemparan Si Bungsu. Namun saat itu pula dia melihat tangan Zato Ichi yang terduduk tiga depa disampingnya bergerak. Untuk sesaat, dia menoleh. Tapi waktu yang hanya sesaat itu adalah kesalahannya yang paling fatal.

Paling fatal dan paling akhir. Sebab setelah itu, tak ada lagi kesalahan-kesalahan yang bisa dia perbuat.

Samurai kecil yang dilemparkan Zato Ichi meleset karena dia berputar. Meleset dari sasaran yang mematikan. Zato Ichi membidik dadanya, tapi yang kena hanyalah bahunya.

Namun lemparan samurai Si Bungsu justru menancap di lehernya yang berpaling ke arah Zato Ichi itu! Demikian kuatnya lemparan dalam jarak dua depa itu. Samurai tersebut menancap hampir separoh.

Tembus ke samping lehernya yang kiri.

Urat nadi besar di lehernya putus keduanya. Dan lelaki ini mati sebelum tubuhnya jatuh ke lantai batu! Si Bungsu menoleh pada Zato Ichi. Zato Ichi menunduk.

“Lemparanmu sangat cepat dan mahir sekali Bungsu-san…” katanya pelan. “Engkau tak apa-apa Ichi-san?”

Zato Ichi menggeleng lemah.

Namun begitu geleng kepalanya selesai, tubuhnya rubuh. Perutnya yang luka terlalu banyak mengeluarkan darah.

Si Bungsu tak segera dapat membantu. Buat sesaat dia masih bertelekan ke sarung samurainya. Dia masih jongkok di atas kedua lututnya. Memejamkan mata. Mengatur konsentrasi. Kemudian mengatur pernafasan menurut methode Silek Tuo Pariangan!

Dan sebenarnya, sistim pernafasan inilah kembali yang menyelamatkan nyawanya. Begitu tadi dia terminum racun, dia memang segera menyangka bahwa Zato Ichilah yang berbuat laknat itu.

Dia benar-benar tak menyangka bahwa pahlawan rakyat Jepang itu mau berbuat serendah itu. Meracuni orang yang sedang sakit.

Karena itu, dia segera mengatur pernafasan. Pernafasan secara silat Tuo Pagaruyung itu menghentikan denyut darah merah ke arah jantungnya.

Dia tak menghirup nafas dengan hidung, melainkan dengan mulut. Demikian juga ketika menghembuskannya keluar. Dengan menahan nafas sebisanya, dia berhasil mencegah masuknya racun itu ke jantung.

Dengan tetap mempertahankan sistim pernafasan begitu, dia berjalan keluar. Dan menantang Zato Ichi. Ketika dia bicara, sistim pernafasan itu sudah tentu tak bisa dia pertahankan, dan saat itulah dia muntah darah. Namun segera setelah muntah darah hitam itu, dia mendapatkan dirinya agak lebih segar sedikit. Ketika

Zato Ichi mendekatinya tadi, dan di saat dia bersiap untuk mencabut samurai melawannya, saat itu pulalah telinganya yang tajam itu mendengar nafas beberapa orang di belakangnya.

Firasatnya bekerja cepat sekali. Suara nafas itu pastilah berasal dari beberapa orang yang sedang bersembunyi. Kalau ada orang yang bersembunyi, tentulah ada hal yang tak beres.

Dia mencabut samurainya, dan berpura-pura rubuh! Dan kejadia selanjutnya, yaitu munculnya ketiga anggota Kumagaigumi itu, kemudian dialok Zato Ichi dengan mereka, membuat persoalan jadi jelas bagi Si Bungsu.

Sambil tetap telungkup, pura-pura mati, dia mendengarkan pembicaraan mereka. Tapi sekaligus dia juga mengatur pernafasannnya. Dia memang dibuat seperti akan lumpuh oleh pengaruh racun yang terminum dalam obat itu.

Untung saja racun itu hanya sedikit yang dia minum. Obat itu tak dia teguk semua karena firasatnya berkata bahwa ada yang tak beres dengan obat tersebut.

Lalu dia bangkit menebaskan samurainya pada saat yang tepat sekali. Yaitu ketika ketiga orang itu akan mengeroyok Zato Ichi.

Kini dia mengatur pernafasannya. Memang tak pulih seperti sediakala. Racun itu masih menggerogoti tubuh dan darahnya. Namun keadaan sudah jauh lebih baik. Dia membuka mata, dan melihat tubuh Zato Ichi terbaring diam.

Dengan mengumpulkan tenaganya Si Bungsu melangkah mendekati Zato Ichi. Dari gelombang didadanya, dia tahu lelaki itu masih hidup.

Dia tak mungkin mengangkat tubuh Zato Ichi ke dalam. Satu-satunya jalan adalah menyeret tubuhnya ke rumah kayu itu.

Namun perkelahian di depan rumah di belakang kuil itu bukan merupakan perkelahian yang terakhir bagi Si Bungsu.

Empat hari setelah itu, sekawanan anggota Kumagaigumi mengepung tempat itu kembali. Jumlah mereka tak kurang dari sepuluh orang. Si Bungsu yang memang telah waspada, mendengar kedatangan mereka sebelum mereka sampai ke rumah tersebut. Dia tengah meramu obat sesuai dengan petunjuk Zato Ichi ketika langkah kaki kesepuluh orang itu tertangkap oleh telinganya.

Dia menatap pada Zato Ichi, pendekar Jepang itu, yang terbaring lemah, yang juga mendengar suara kaki mengitari rumah dimana mereka tinggal itu, berusaha untuk bangkit.

Tapi dia segera terbaring lagi dengan meringis. Luka di perutnya tak segera bisa sembuh. Meskipun obat yang diramu Si Bungsu sama dengan yang dia ramu untuk mengobati luka Si Bungsu dahulu.

Meski kemujaraban obatnya sama, tapi perbedaan usia mereka membuat daya kerja obat itu berbeda pula kemanjurannya.

Pada tubuh Si Bungsu, lukanya cepat sekali jadi sembuh oleh obat itu, sebab usianya masih muda. Karena itu rekasi jaringan darahnya bekerja cepat begitu dibubuhi obat.

Lain halnya pada tubuh Zato Ichi. Usianya yang telah amat tua menyebabkan reaksi jaringan darah ditubuhnya bekerja lebih lambat. Makanya lukanya jadi lambat pula untuk sembuh.

Zato Ichi ingin menghadapi orang yang mengepung rumah ini bersama dengan Si Bungsu. namun lukanya tak mengizinkan.

“Tidak usah khawatir Ichi-san. Berbaringlah dengan diam. Saya akan membereskan mereka…” suara Si Bungsu terdengar perlahan.

Zato Ichi menatap padanya dengan perasaan menyesal.

“Pergilah Bungsu-san. Tinggalkan tempat ini. Engkau masih bisa menyelamatkan dirimu…” Si Bungsu tersenyum.

“Kenapa harus lari dari mereka? Tidak, mereka menginginkan saya, dan itu akan mereka peroleh…” “Saya terlalu lemah Bungsu-san. Saya tak bisa membantumu…”

“Tetaplah disini Ichi-san. Saya akan menghadapi mereka…”

Dan Si Bungsu meraih samurainya. Tubuhnya kini memang sudah sembuh benar.

Angin menerpa wajahnya ketika dia tegak di pintu rumah kayu di belakang kuil tua itu. Dan kesepuluh orang Kumagaigumi itu tegak membentuk setengah lingkaran dihadapannya.

Mereka semua diam.

Si Bungsu juga diam.

Mereka saling tatap dan saling mengukur.

Si Bungsu dapat menduga, bahwa yang datang ini tentulah bukan sembarangan orang. “Engkau yang bernama Si Bungsu dari Indonesia?”

Seorang lelaki berkepala botak, yang mirip pendeta di kuil Shimogamo, bertanya dengan suara datar dan dingin.

Si Bungsu tak segera menjawab. Dia menyapu kesepuluh orang itu dengan tatapan mata menyelidik.

Bagaimana dia harus menghadapi orang sebanyak ini?

Tapi akhirnya dia mengangguk ketika orang gemuk itu kembali bertanya tentang namanya. “Dimana Zato Ichi…?” kembali si kepala botak itu bertanya setelah Si Bungsu mengangguk. “Dia ada di dalam…” jawabnya.

“Suruh keluar dia…”

“Dia tak bisa keluar. Dia sakit…”

“Dia harus keluar. Katakan bahwa pimpinan Kuil Kofukuji dari Nara datang menuntut balas…” “Tidak. Apapun urusan kalian dengannya kini harus melalui tanganku…”

“Hmm, anak muda asing. Sejak kapan kau mencampuri urusan orang lain di negri ini?” “Sejak kalian mencampuri urusanku…”

Lelaki gemuk itu tertawa berguman.

“Sejak kapan saya mencampuri urusanmu anak muda?” “Bukankah kalian datang untuk mencabut nyawaku?”

Lelaki gemuk itu tertawa lagi perlahan. Suaranya seperti berguman rendah. Nampak bahwa dia sangat tenang sekali. Dan itu membuat Si Bungsu jadi waspada. Orang gemuk ini tentulah orang yang sangat berisi.

“Siapa bilang bahwa kami menghendaki nyawamu? Tak ada urusan kami denganmu anak muda. Engkau boleh pergi kemanapun engkau suka. Kami hanya berurusan dengan Zato Ichi” Si Bungsu tertegun. Benarkah lelaki ini bukan dari Kumagaigumi? Dan benarkah mereka bukan menghendaki nyawanya? Ketika dia tengah berfikir itu, dia mendengar suara dengus nafas perlahan di belakangnya. Dia menoleh. Dan Zato Ichi berdiri di sana sambil menahan sakitnya.

“Ichi-san….!” Katanya kaget.

Zato Ichi menatap pada lelaki botak itu.

Dia coba mengenalinya. Namun dia benar-benar tak mengenal lelaki itu.

“Saya dengar anda mencari saya…” katanya. Lelaki botak yang mengaku dari Kuil Kofukuji di kota Nara itu menatap tajam pada Zato Ichi. Pendekar buta itu seperti menatap padanya dengan matanya yang buta. Aneh dan agak menyedihkan memang.

“Ya. Saya mencari anda….masih ingat kuil Kofukuji di Nara?”

Zato Ichi menarik nafas panjang. Menghembuskannya seperti menghembuskan masa lalu yang pahit. “Ya. Saya masih ingat. Siapa anda?” tanyanya perlahan.

“Saya dahulu pernah mengepalai pendeta di kuil itu. Nama saya Zendo…” “Zendo…” Zato Ichi mengulang menyebut nama itu seperti berfikir. “Zendo….maafkan saya tak bisa mengingat”

“Ya, engkau takkan pernah mengingat nama itu Zato Ichi. Karena ketika pemimpin Kuil Kofukuji yang bernama Akira engkau bunuh, empat puluh tahun yang lalu, aku masih kecil. Masih berusia sepuluh tahun…”

Zato Ichi kembali menarik nafas panjang. “Akira…..” katanya perlahan.

“Ya. Akira dari Kofukuji adalah abangku yang paling tua…” Zato Ichi jadi sangat terkejut.

“Engkau adik Akira?”

“Ya. Dan kini aku datang untuk menuntut pembantaian yang sudah empat puluh tahun itu…”

“Ah, sudah lama sekali…” suara Zato Ichi terdengar perlahan. Sementara dia mengangsurkan dirinya ke samping. Kemudian perlahan duduk di kursi batu. Tiga depa dari Si Bungsu.

“Ya. Sudah lama sekali. Sudah empat puluh tahun. Dan selama itu pula saya menanti kesempatan ini Zato Ichi. Kesempatan untuk membalaskan dendam kematian abang saya…”

“Apakah engkau mengerti apa yang sebenarnya terjadi antara saya dengan abangmu itu Zendo? Maksud saya, apakah engkau mengerti sepenuhnya kenapa kami bertarung, dan menyebabkan kematiannya?”

“Kenapa tidak. Suatu malam seorang buta datang ke kuil, kelak saya ketahui bahwa orang buta itu adalah engkau, abang saya nampaknya bersahabat dengan anda. Dia menerima anda dengan baik. Tapi esok paginya, dia telah terbujur jadi mayat dengan seorang imam kuil, sementara engkau tak ada lagi disana.

Menurut penuturan imam yang lain, kalian bertengkar perkara sumbangan keluarga Kendo pada kuil. Dan sumbangan yang merupakan wakaf itu adalah milik kuil. Kenapa engkau ikut campur urusan abangku yang menjadi pemimpin Kuil itu? Tapi kini persoalannya adalah hutang nyawa di bayar nyawa. Kami datang untuk menuntut balas”

Sehabis berkata begini, tanpa menunggu reaksi dari Zato Ichi, kesepuluh orang itu segera saja mendekat. “Tunggu….” Pendekar buta itu masih coba menghindarkan pertumpahan darah.

Zendo memberi isyarat. Dan kesembilan temannya yang bergerak maju menghentikan langkah. “Harapkan dengarkan dahulu Zendo-san. Saya tak ingin kesalahpahaman itu terulang lagi…” “Apakah engkau akan berkata bahwa yang bersalah dalam hal itu adalah abangku?”

“Dengarlah dulu…”

Tapi Zendo tak mendengarkan. Nampaknya dendam selama 40 tahun itu merupakan dendam yang harus dibalaskan hari ini.

Namun mereka terhenti lagi ketika anak muda yang bernama Bungsu itu maju tegak antara mereka dan Zato Ichi.

“Anak muda, sudah kukatakan, kami tak ikut campur urusanmu, maka jangan ikut campur urusanku…” Suara Zendo terdengar perlahan mengingatkan.

“Maafkan. Saya berhutang nyawa pada Zato Ichi. Maka kalau ada orang lain yang menghendaki nyawanya, maka saya harus membantunya….”

“Apakah negerimu tak beradat anak muda. Sehingga engkau bisa demikian saja ikut campur urusan orang lain?”

Muka Si Bungsu jadi merah padam. Negerinya dikatakan tak beradat. Amboi! Dia teringat pada Minangkabau. Negeri yang adatnya tak lapuk dek hujan. Tak lekang dek panas. Negeri leluhur dimana darahnya tumpah ketika dilahirkan. Negeri bergunung megah berlembah indah yang melantunkan rasa rindu. Negeri yang telah mengorbankan ribuan nyawa untuk mempertahankan adat istiadatnya dari jajahan Jepang, kini dikatakan oleh Jepang Gemuk Botak dihadapannya sebagai negeri yang tak beradat!

Dia tersenyum. Tapi jelas senyumnya bukanlah senyum tanda suka hati. Senyumnya jelas membayangkan luka dan amarah yang besar. Barangkali dia takkan semarah itu benar, kalau si gemuk itu memaki dirinya yang tak beradat. Tidak, dia takkan seberang itu benar.

Tapi kini negerinya yang dikatakan tak beradat. Meskipun dia seperti telah dibuang oleh orang kampungnya, oleh anak negeri, namun rasa cinta kampung, cinta negeri di lubuk hatinya tak dapat dipupus hanya karena kebencian orang kampung padanya.

Tidak. Kebencian pada orang kampung, yaitu kalaupun ada kebencian dihatinya, merupakan hal yang terpisah dari rasa cintanya pada negerinya.

“Jangan diulang lagi ucapan yang mengatakan negeri tak beradat….” Suaranya terdengar perlahan. Pendeta yang bernama Zendo itu masih akan melanjutkan seringainya. Namun seringai ejekannya itu dia telan cepat-cepat begitu mendengar suara anak muda itu. Dia jadi tertegun melihat ekspresi muka anak muda itu.

Dan dia tahu suara anak muda yang mirip bisikan itu merupakan suatu peringatan yang berbahaya. Dia menatap wajah anak muda itu. Anak muda itu juga menatapnya dengan wajah yang dingin.

Si Bungsu teringat lagi pada negerinya yang baru sebentar ini dikatakan tak beradat oleh pendeta itu. Meskipun di negerinya itu kini banyak kaum cerdik pandai dan ninik mamak yang mempergunakan adat untuk kepentingan pribadi mereka, namun dia tetap tak bisa menerima negerinya dicerca.

Kesepuluh orang yang ternyata bukan anggota Kumagaigumi itu menatap anak muda tersebut dengan diam. Mereka sudah mendengar tentang kehebatan anak muda ini. Mereka dengar dari cerita di kuil Shimogamo. Mereka dengar dari anggota bandit Kumagaigumi. Mereka menatap dengan perasaan takjub dan ingin tahu. Apakah anak muda ini memang hebat seperti yang diceritakan itu?

Dan ketika mereka tengah berfikir begitu, anak muda itu berkata lagi:

“Di Negeri saya, untuk mau didengarkan orang, maka kita harus mau mendengarkan kata-kata orang.

Apa salahnya tuan mendengarkan penjelasan Ichi-san tentang peristiwa itu…”

Zendo tertawa. Untuk pertama kalinya sejak kehadiran mereka di sekitar kuil itu, lelaki ini tertawa.

Tawanya merupakan guman perlahan saja. Dan dia sebenarnya adalah lelaki yang berwibawa.

“Apa artinya mendengarkan atau tidak. Sebab apapun yang dia ceritakan saya tak pernah merobah niat untuk membunuhnya. Menuntut balas kematian abang saya…”

“Apakah itu suatu penyelesaian?”

“Ya. Itulah satu-satunya penyelesaian…”

“Tak perduli apakah abang tuan bersalah atau tidak”

“Anak muda, tak perlu segala omong kosongmu itu. Saya tahu dengan pasti apa yang akan saya perbuat. Kini menghindarlah dari sana…!” dan tanpa menunggu reaksi Si Bungsu dia memberi isyarat kepada sembilan orang temannya.

Kesembilan orang itu serentak mencabut samurainya dan berjalan menghampiri Zato Ichi. Yang terakhir ini masih tetap duduk dengan tenang dan kepala tunduk di kursi batu tiga depa dari Si Bungsu.

Namun Si Bungsu melangkah menghampiri Zato Ichi. Dan tatapan matanya serta ekspresi wajahnya kembali membuat kesembilan lelaki itu terhenti.

Anak muda ini nampaknya tak main-main.

“Kalian dengar dulu apa sebabnya perkelahian itu terjadi…” desisnya tajam. “Kalau saya tak mau?” Zendo balas mengancam dengan muka merah.

“Kalau tuan tak mau, maka tuan harus menyabung nyawa dengan saya…” suara Si Bungsu tegas. Dia tak mau Zato Ichi dikeroyok secara tak adil begini. Dia tahu kesehatan pahlawan samurai Jepang itu belum pulih. Barangkalai dia masih akan mampu menewaskan empat atau lima orang. Tapi tak lebih dari itu, setelah itu nyawa tokoh legenda Jepang itu sudah bisa diramalkan. Dibantai oleh bangsanya sendiri.

Nampaknya pertumpahan darah memang tak terhindarkan. Salah seorang bawahan Zendo yang tegak di belakang Si Bungsu menjadi berang melihat anak muda ini berlancang mulut menghalangi pimpinannya.

Lelaki itu tinggi kurus. Memegang samurai yang berhulu pendek terbungkus oleh sutera merah.

Nampaknya dia seorang pesolek juga.

Tanpa menunggu isyarat, tanpa mengacuhkan Si Bungsu yang tenagh bicara, dia menghayunkan samurainya yang sejak tadi telah terhunus. Hayunan samurai ini mengarah ke leher. Memancung dari atas kanan ke bawah kiri. Zato Ichi yang duduk mengangkat kepala. Dia mendengar suitan samurai itu. Dan dia tahu, bahwa suara itu bukan berasal dari suara samurai Si Bungsu. Dan firasatnya mengatakan bahwa anak muda itu dibokong dari belakang.

Dia berteriak memperingatkan Si Bungsu.

“Bungsu-san di belakangmu…!” teriakannya belum berakhir ketika dia dengar suara mengeluh. Lalu diam. Zato Ichi tertegak! Suitan angin yang kencang di musim dingin ini membuat pendengarannya sebentar ini kurang jelas. Siapakah yang mengeluh?

Tak ada gerakan sedikitpun yang tertangkap oleh telinganya. Dia tegak diam. Aneh, kemana lelaki yang sepuluh orang itu? Kenapa tak terdengar mereka menghela nafas?

“Bungsu-san….!” Dia menghimbau dengan nada khawatir. Dia tak berani bergerak. Sebab dia tak mau terperangkap oleh kesalahan yang kecil sekalipun. Kalaupun Si Bungsu cedera, maka itu berarti dia harus mempertahankan dirinya sendirian!

“Saya disini, Ichi-san…tetaplah duduk di sana. Biar saya menyelesaikan soal ini…” terdengar suara Si Bungsu perlahan.

Zato Ichi menarik nafas lega. Perlahan degup jantungnya yang tak teratur tadi jadi tenang kembali. Ah, dia memang telah tua. Ketuaan telah membuat dirinya terlalu cepat khawatir.

“Syukurlah….” Katanya perlahan sambil melangkah dan mencari-cari bangku kayu itu dengan tongkatnya. Ketika ujung tongkatnya kembali menyentuh bangku kayu itu, dia lalu duduk perlahan.

Seluruh gerakannya diperhatikan oleh ke sembilan lelaki yang mengurung mereka. Ya, mereka kini hanya tinggal sembilan orang.

Orang kesepuluh, yaitu si kurus bersamurai dengan hulu sutera merah itu, yang tadi membokong Si Bungsu dari belakang, kini tertelungkup di lantai batu!

Dari bawah tubuhnya yang tertelungkup itu, merembes darah merah. Membasahi kimono musim dinginnya yang berwarna gelap.

Tatkala tadi si kurus itu menyerang dengan sabetan samurai sambil melangkah maju, tak seorangpun diantara kesembilan temannya yang melihat anak muda itu bergerak.

Mereka melihat betapa samurai si kurus membabat maju. Bahkan sejengkal lagi samurai itu akan mencapai lehernya, anak muda asing itu tak tahu sedikitpun akan bahaya yang mengancam di belakangnya.

Namun entah kapan saatnya bergerak, tiba-tiba saja anak muda itu melangkah surut selangkah. Dan disaat yang hampir-hampir fantastis ketepatannya, dia menjatuhkan diri di lutut kanannya. Lalu samurainya tercabut. Dan ditikamkan kebelakang tanpa menoleh sedikitpun!

Akibatnya bukan main. Tidak saja sabetan samurai si kurus itu luput dari batang lehernya, bahkan si kurus itu sendiri tertikam oleh samurainya hingga separoh lebih!

Si Kurus itu tertahan seperti disentakkan tenaga raksasa. Tangannya masih memegang samurai. Dan tiba-tiba sambil bergerak bangkit, Si Bungsu menarik samurainya. Dan saat itulah si kurus ini mengeluh. Lalu terputar setengah lingkaran. Jatuh tertelungkup.

Diam. Mati!

Dan kesembilan temannya, termasuk Zendo dari kuil Kofukuji di kota Nara itu, pada tertegak diam. Zato Ichi tak mendengar dengus nafas mereka sebab tak seorangpun diantara mereka yang tak menahan nafas melihat adegan yang alangkah fantastisnya itu.

Dan kini anak muda itu tegak dengan tenang. Dengan tenang dia menghapus darah yang membasahi samurainya dengan telapak tangan. Kemudian dengan tenang pula dia menyarungkan samurai itu kembali.

Lalu menatap pada Zendo.

“Sungguh suatu demonstrasi yang mengagumkan….” Suara Zendo bergema perlahan. Dan dari nada suaranya, dia tak hanya sekedar memuji. Tapi ucapannya memang jujur. Tapi dalam nada ucapannya itu juga dapat segera diketahui, bahwa dia tak merasa gentar sedikitpun akan kecepatan dan kehebatan anak muda itu!

Zendo justru memberi isyarat pada dua orang anggotanya. Kedua anggota yang diberi isyarat itu bergerak!

Mereka bergerak amat cepat. Menyerang ke arah Zato Ichi! Namun Si Bungsu sudah menanti disana! Dua buah serangan beruntun berhasil dia gagalkan dengan samurainya.

“Tahan!!” hampir berbarengan terdengar suara Zato Ichi dan Zendo. Kedua anak buah Zendo segera bergerak mundur. Zendo maju dua langkah. Di saat yang bersamaan, Zato Ichi tegak dari duduknya. “Anak muda” Zendo berkata, “ sudah saya katakan bahwa saya tak pernah ikut campur urusanmu. Kini engkau nyata-nyata mencampuri urusan saya. Maka apa boleh buat, saya akan menghadapimu…”

Sebelum Si Bungsu dapat menjawab tantangan itu, suara Zato Ichi terdengar pula :

“Kenapa harus melibatkan orang lain dalam urusan kita? Engkau berurusan denganku Zendo-san. Dan aku akan menghadapimu”

Bukan main terkejutnya Si Bungsu mendengar ucapan Zato Ichi ini. Dia tahu benar, bahwa tubuh pahlawan samurai ini masih sangat lemah. Tak mungkin dia mampu berhadapan dengan Zendo dan anak buahnya. Dia berniat memprotes putusan itu. Tapi Zato Ichi nampak mengangkat tangan. Memberi isyarat padanya untu menepi.

“Ini urusanku anak muda. Menyingkirlah….” Suara tuanya terdengar perlahan. Dan Si Bungsu tahu, bahwa ini soal harga diri bagi Zato Ichi. Makanya dia tak berani menyanggah.

Namun meski tak bisa ikut campur dalam urusan Zendo dan Zato Ichi, anak muda ini masih punya cara lain untuk menolong Zato Ichi.

Dia tak ingin perkelahian berlaku curang. Menghadapi Zendo saja Zato Ichi pasti kewalahan. Bukan karena kepandaiannya, tapi karena tubuhnya yang lemah. Karena itu anak muda dari gunung Sago ini lalu bicara :

“Baik, saya takkan ikut campur urusan kalian. Tapi tak seorangpun selain tuan Zendo yang boleh ikut campur. Jika ada, maka saya akan ikut serta pula…”

Zato Ichi menarik nafas panjang. Dia sangat terharu atas sikap anak muda ini. Dia tahu anak muda itu berusaha menolong nyawanya. Dia memang harus mengakui, bahwa pertarungannya kali ini merupakan perjudian melawan elmaut.

Tapi kini dia agak lega, sebab dia tak usah khawatir menghadapi keroyokan. Lawannya hanya satu orang.

Dan Si Bungsu mengawasi hal itu!

Si Bungsu melangkah menghindar dari hadapan kedua orang itu. Matanya menyapu pada delapan orang anak buah Zendo yang masih tetap tegak mengurung Zato Ichi.

Si Bungsu hanya menghindar dua langkah. Yaitu sekdar tak menghalangi kedua musuh bebuyutan itu berhadapan muka. Namun jarak yang dia buat, memustahilkan kedua orang itu untuk bertarung.

“Menyingkirlah dari sana….” Zendo berkata. Si Bungsu menatapnya. Tersenyum tipis.

“Sudah saya katakan, perkelahian ini hanya untuk tuan berdua. Yang lain tak boleh ikut campur…..” suara Si Bungsu mengingatkan.

“Ya. Tak ada orang lain yang ikut campur” suara Zendo terdengar gusar. Dia gusar karena telah dijebak anak muda ini. Dijebak dengan kata-kata bahwa pertarungan ini hanya untuk mereka berdua. Berarti tak satu pun diantara anak buahnya yang bisa ikut campur.

Padahal dia membawa anak buahnya kemari mencari Zato Ichi dalam rangka memudahkan penuntutan dendam kematian abangnya.

Tapi apa boleh buat. Meskipun dia tak gentar pada anak muda ini, namun dia harus jaga gengsi.

“Saya akan menyingkir dari sini kalau anak buah tuan juga menyingkir. Kami akan membuat lingkaran sepuluh depa….” Si Bungsu kembali berkata.

Dan kali ini tak ada jalan lain bagi Zendo selain harus menuruti kehendak anak muda itu. Dia memberi isyarat pada anak buahnya. Dan dengan perasaan yang benar-benar kurang senang, kedelapan orang itu lantas mundur.

Mereka berkutat, dan tegak sedemikian rupa hingga membentuk suatu lingkaran berjari-jari sepuluh depa seperti diminta oleh Si Bungsu. Si Bungsu tegak di salah satu sisinya.

Kini kedua lelaki itu berhadapan. Zato Ichi yang lemah, tegak menunduk. Dia seperti tak ingin memperlihatkan bahwa dirinya sedang sakit. Hanya Si Bungsu merasa sangat khawatir. Dia tahu benar tenaga dan kesehatan Zato Ichi sangat tak mengizinkan untuk berkelahi. Usahkan untuk berkelahi, untuk tegak agak lama saja dalam cuaca dingin begini sudah sangat sulit.

Namun bagaimana dia harus membantunya. Bukankah ini sudah permintaan Zato Ichi sendiri?

Dan untungnya, Zendo tak mengetahui bahwa Zato Ichi demikian parah keadaannya. Ada beberapa saat kedua musuh ini berhadapan. Tegak dengan diam.

Zendo lah yang pertama kali menghunus samurainya. Suara samurainya ketika keluar dari sarungnya, terdengar berdesir perlahan. Zato Ichi masih diam. Kepalanya masih menunduk. Samurainya masih ditangan kanan di dalam sarungnya. Samurai itu masih dia pegang seperti memegang tongkat. Ujungnya mencecah lantai batu. Tak sedikitpun kelihatan bahwa dia siap untuk berkelahi. Zendo melemparkan sarung samurainya ke samping. Dan disambut oleh salah seorang anak bauhnya. Kemudian perlahan dia melangkah maju. Bergeser di lantai batu. Satu setengah depa dihadapan Zato Ichi dia berhenti.

Zato Ichi masih menunduk diam. Samurainya masih dia pegang seperti tadi. Perlahan Zendo mengangkat samurainya. Mengarahkan ujungnya ke atas sebelah kanan dirinya.

Dan dengan perlahan pula tangan kirinya memegang hulu samurai di bawah pegangan tangan kanannya. Dan dia menahan nafsu. Kini dia benar-benar siap tempur! Namun Zto Ichi masih tetap diam seperti patung.

Zendo menghela nafas. Dan saat itulah terdengar suara Zato Ichi :

“Saya dengan abangmu Akira memang berkelahi malam itu di kuil Kofukuji…” suaranya perlahan. Namun Zendo tak ambil peduli. Dia konsentrasi penuh. Zato Ichi menyambung ucapannya. Seperti tak perduli dengan maut yang mengintai lewat samurai Zendo :

“Kami memang bertengkar karena uang yang disumbangkan oleh keluarga Kendo….!”

Lalu saat itulah Zendo memekik dan samurainya memancung. Tapi lelaki buta itu sungguh perkasa. Dia tak mencabut samurainya. Melainkan membungkuk dan melangkah dua langkah ke belakang! Serangan maut itu menerpa tempat kosong. Dan begitu dia berhenti melangkah suaranya terdengar lagi :

“Kami bertengkar soal penggunaan uang itu…” suaranya terputus oleh serangan beruntun dari Zendo. Kali ini dia mencabut samurainya dan menangkis. Lalu melangkah menghindar dan suaranya terdengar lagi :

“Keluarga Kendo mewariskan uangnya dalam bentuk uang emas. Hal ini dia lakukan karena seluruh keluarganya punah. Dia tak punya turunan lagi. Kendo Sansui adalah keturunan terakhir. Dan sebelum mati dia menyerahkannya ke kuil Kofukuji dengan maksud digunakan untuk mengembangkan agama serta untuk amal sosial lainnya”

Kali ini Zendo tak menyerang. Meski dengan samurai tetap teracung tinggi di atas kepala, dia menjawab omongan Zato Ichi :

“Ya itu jelas. Tapi kenapa engkau datang mencampuri urusan kuil?” “Karena saya adalah salah seorang dari pendiri kuil itu…”

Zendo tertegun. Si Bungsu juga.

Zendo berputar ke belakang Zato Ichi dengan samurai tetap siap menyerang. Namun dia belum menyerang. Suaranya terdengar lagi :

“Meski engkau pendiri, tapi yang memimpin kuil saat itu adalah abangku. Dan engkau datang minta bahagian dari harta wakaf itu bukan?”

“Barangkali begitulah yang disiarkan orang. Namun saya tidak sejahat dan sehina itu. Buat apa uang bagi saya? Tak ada perempuan yang mau jadi isteri saya untuk saya berikan uang. Bahkan pelacur-pelacur pun menghindar dari saya. Untuk menghidupi tubuh buruk dengan mata buta ini, saya masih punya tangan untuk bisa mencari nafkah. Tak usah mengambil harta dan hak kuil…”

Kali ini samurai Zendo perlahan turun ke bawah. Dia menatap dengan tatapan yang sulit diartikan pada Zato Ichi.

Lama. Kemudian suaranya bertanya :

“Lalu kenapa terjadi pertumpahan darah malam itu?” Zato Ichi tak segera menjawab. Dia menarik nafas.

Panjang dan berat. Akhirnya dengan kepala menunduk dalam dia bicara perlahan : “Abangmu menginginkan uang itu untuk keperluan lain….”

Zendo mengerutkan kening. “Saya tak mengerti….” Katanya.

“Maafkan saya. Bukankah ayahmu berasal dari daerah Tionggoan di daratan Tiongkok?” “Ya…”

“Nah, itulah soalnya…”

“Saya tak mengerti…” desak Zendo.

“Maafkan saya kalau harus menceritakan hal ini dihadapan orang banyak. Saat itu perang berkecamuk antara Jepang dengan Tiongkok. Tiongkok ingin memerdekakan negerinya dari jajahan Jepang. Abangmu ingin mengirimkan uang itu ke Tiongkok untuk membantu pemberontakan melawan Jepang…”

“Bohong!!” bentakan Zendo memecah dan dia mebuka serangan. Kali ini serangannya bertubi-tubi. Tadi Zato Ichi memang sengaja tak melawannya. Sebab dia menghemat tenaga. Tapi kini dia harus mengerahkan tenaganya itu.

Dua kali serangan berhasil dia elakkan. Namun pancungan keempat terlambat dia tangkis. Tak ampun lagi, pahanya seperti akan belah dimakan samurai Zendo. Tapi setelah itu Zendo menghentikan serangannya. Si Bungsu menatap dengan cemas darah yang mengalir dari paha Zato Ichi.

“Kalau kau tak hentikan omong kosongmu tentang abangku, kucencang tubuhmu saat ini…” suara Zendo terdengar terengah-engah. Dia nampaknya benar-benar tak ingin keluarganya dicap menghianati Jepang.

Sambil menahan sakit dan sambil tetap bertahan tegak, Zato Ichi yang luka parah itu berkata :

“Itulah kisah sebenarnya Zendo-san. Malam itu, hadir utusan yang akan dia kirim ke Tionggoan. Yaitu pendeta yang sama-sama mati dengannya. Ketika saya menghalangi niatnya, dia jadi berang. Takut rahasianya akan terbongkar, dia lalu menyerang saya bersama pendeta itu. Namun saya mengalahkan mereka. Semata- mata untuk membela negeri ini dari penghianatan. Meski untuk itu saya terpaksa membunuh seorang sahabat…”

Zendo kembali menyerang. Kali ini nyawa Zato Ichi memang diujung tanduk. Dia tak menangkis. Melainkan mengelak dengan mundur. Suatu saat tubuhnya membentur tubuh anak buah Zendo yang tegak melingkar.

Dan anak buah Zendo ini menolakkan tubuh Zato Ichi yang lemah itu ke depan. Ke arah Zendo! Namun Si Bungsu tak membiarkan kesempatan itu.

Dia segera menghunus samurai dan meloncat ke tengah gelanggang. Zendo yang akan segera memancungkan samurainya dia hantam. Dan samurai mereka beradu. Zendo kaget dan mundur. Kedelapan anak buahnya kaget dan merapatkan kepungan. Si Bungsu segera tegak dihadapan Zato Ichi yang telah jatuh berlutut.

“Anak muda, jangan ikut campur urusan kami…” Zendo berkata dengan marah. Dia sudah bermaksud akan menghabisi nyawa Zato Ichi. Menyudahi dendam selama 40 tahun ini. Kini saatnya hanya tinggal melaksanakan.

Zato Ichi yang kesohor itu sudah berhasil dia lukai. Bukankah itu suatu prestasi yang bukan main yang akan memasyhurkan namanya ke segenap penjuru Jepang?

Halangannya kini hanya tinggal sediki. Yaitu anak muda dari Indonesia ini. Wajar saja kalau dia merasa berang takkala babatan samurainya dihalangi oleh samurai Si Bungsu.

Namun Si Bungsu tetap tegak di depannya. Menghalangi jarak antara dia dengan Zato Ichi.

“Saya sudah katakan, bahwa saya akan ikut campur bila anak buahmu ikut campur dalam perkelahian ini….” Suara Si Bungsu terdengar dingin.

“Ya. Kau boleh ikut campur kalau anak buahku ikut. Tapi kau lihat sendiri, tak seorangpun diantara mereka yang ikut membantuku…”

Si Bungsu tertawa berguman.

“Tak seorangpun! Tapi bukankah sebentar ini yang berjambang seperti monyet itu menolakkan tubuh Ichi-san ke arahmu?”

“Apa salahnya, bukankah dia tak ikut secara langsung?”

“Dia telah ikut menolongmu Zendo! Dan saya akan menolong Zato Ichi. Adil bukan?” “Apakah menolakkan ke dalam itu bisa dianggap sebagai pertolongan?” tanya Zendo. “Kenapa tidak. Maka sekarang, majulah…!!”

“Hmm. Anak muda sombong. Kau sangka kami takut padamu? Jangan menyesal kalau hari ini nyawamu kusudahi..”

Dan sehabis kalimatnya dia menyerang Si Bungsu, dan anak buahnya juga ikut menyerang. Kali ini Zato Ichi benar-benar tak bisa membantu. Tenaganya yang sangat lemah, ditambah darah banyak mengalir dari pahanya yang menganga, membuat dia terduduk tak bisa bergerak.

Namun Si Bungsu sudah bertekad untuk membela Zato Ichi. Dia bertekad untuk membelanya sampai tetes darah yang terakhir.

Karenanya, begitu Zendo menyerang, dia tak mau kasih hati. Dia melangkah dua langkah. Dan samurainya bekerja. Yang kena justru tiga orang anak buah Zendo yang tadi mengetatkan kepungannya.

Mereka tak menduga kalau anak muda ini melangkah surut dan memutar samurai sehingga memakan diri mereka.

Kemudian Si Bungsu melangkah lagi kedepan. Tegak kembali di depan Zato Ichi. Zendo kembali kaget dengan kecepatan anak muda asing ini. Namun dia terlalu bernafsu untuk menyudahi perkelahian ini. Bukankah dalam jumlah mereka lebih banyak? Meski tiga orang sudah tumbang, kini mereka masih tinggal lima orang.

Dengan tenaga lima orang mustahil mereka tak bisa menyudahi anak bawang ini.

Dengan pikiran begini, dia berteriak memberi isyarat pada anak buahnya yang empat orang lagi untuk menyerbu bersama.

Keempat orang anak buahnya segera mendesak maju. Sementara Zendo sendiri sambil menyerang Si Bungsu tetap saja mencari kesempatan untuk membabatkan samurainya kearah kepala Zato Ichi yang tertunduk lemah.

Bukan main tersiksanya Zato Ichi saat itu. Belum pernah seumur hidupnya merasa tertekan bathin seperti saat ini. Bayangkan, musuhnya datang dalam jumlah banyak. Tapi saat itu pula dia tak berdaya. Usianya yang tua membuat dirinya lekas lelah. Dan di depan matanya, anak muda yang harus dia bunuh untuk membalas budi orang lain, kini berjuang membela nyawanya.

Dia menunduk. Dia bukannya tak tahu bahwa Zendo berusaha mencelakainya. Tapi kalaupun itu terjadi dia takkan coba buat melawan. Hatinya sangat terpukul.

Namun di pihak yang berkelahi, meski dikeroyok lima orang, Si Bungsu bukannya tak tahu bahwa Zendo mencari kesempatan untuk menyudahi nyawa Zato Ichi. Karena itulah pertarungan ini agak seret.

Dia tak bisa segera menyudahinya karena dia harus membagi perhatiannya antara menyerang dengan mempertahankan Zato Ichi.

Dan akibatnya segera terlihat, yaitu suatu saat samurai Zendo memakan rusuk Si Bungsu. darah mengalir. Telinga Zato Ichi yang tajam mendengar suara kain dimakan mata samurai.

Darah membasahi kimono Si Bungsu. Namun hal itu menyebabkan dia seperti singa yang luka. Dengan menggertakkan gigi, dia menggeram, dan terdengar dia membentak.

Bentakkannya demikian keras. Begitu suara bentakkannya terdengar tubuhnya berputar amat cepat. Mula-mula berputar dua kali. Lalu bergulingan di lantai batu, sebelum kelima orang itu sadar apa yang akan diperbuat anak muda ini, dia sudah bangkit persis di dekat dua orang penyerangnya.

Dia bangkit dengan bertumpu di lutut kanan. Dan samurainya terhayun setengah putaran ke atas. Itulah loncat tupai yang tersohor itu. Kelima orang itu masih melongo ketika samurainya bekerja.

Kedua anak buah Zendo yang ada dijangkauan ujung samurainya terpekik. Meraba dada dan rubuh. Si Bungsu tak hanya sampai disana, dia menggebrak lagi. Tapi ketiga lawannya termasuk Zendo sudah melompat mundur empat langkah.

Mereka bertatapan.

Zendo seperti tak yakin akan yang dia lihat. Perlahan dia menyarungkan samurainya kembali.

Tindakannya ini diikuti oleh kedua temannya yang masih hidup.

“Benar-benar luar biasa. Cerita orang tentang dirimu ternyata bukan semata bualan, Indonesia-jin. Engkau memang hebat. Baik, kali ini kami mengaku kalah. Dan kami akan pergi. Tapi urusan saya dengan Zato Ichi tak hanya sampai disini. Suatu saat kita akan bertemu lagi. Percayalah…”

“Tunggu….!” Si Bungsu memcoba menahannya. Tapi Zendo sudah membungkuk memberi hormat.

Kemudian memberi isyarat pada kedua temannya. Mereka lalu cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

Angin masih bersuit kencang. Rambut Si Bungsu yang gondrong berkibar diterpa angin. Samurainya masih terhunus. Menghadap ke bawah dengan darah menetes diujungnya.

Tujuh mayat bergelimpangan lagi.

Dan tiba-tiba Si Bungsu sadar pada keadaan Zato Ichi.

“Ichi-san…’ katanya sambil membantu Zato Ichi bangkit. Pendekar tua itu tak bicara. Dan Si Bungsu tak sempat melihat, betapa pipi pahlawan Samurai Tua itu basah oleh air mata.

Lelaki buta itu menangis. Dia dibawa Si Bungsu kembali ke rumah papan di belakang kuil tua itu.

Dan semalam itu Si Bungsu meramu kembali obat-obatan untuk Zato Ichi. Dia juga memasak bubur dan memanggang kembali dendeng kering untuk makan.

Dua hari dia merawat Zato Ichi dengan tekun. Dan selama dua hari itu pula Zato Ichi tak pernah bicara sepatahpun. Si Bungsu tahu, lelaki itu amat terpukul perasaannya. Tapi dia tak tahu dengan pasti apa benar yang memukul perasaan lelaki tua itu.

Dan hari ketiga dia agak terlambat bangun. Ketika dia bangkit, ternyata Zato Ichi sudah bangun lebih dulu. Tempat tidurnya sudah kosong. Si Bungsu bangkit.

Menggeliat.

Membuka jendela. Kemudian berjalan ke pintu. Dan saat itulah dia merasa keanehan menyelusup.

Rumah ini terlalu sepi terasa. Dia coba menperhatikan dengan seksama. Apakah yang ganjil? Dia tatap ruangan itu dengan cermat. Tak ada sesuatu yang harus dicurigai. Tapi kenapa perasaannya tak sedap?

Sekali dia mengamati kamar itu. Selain ketidak hadiran Zato Ichi, tak ada yang harus dia curigai. Tapi… Zato Ichi!

Kemana dia?

Suatu firasat tak sedap menjalari pembuluh darahnya. Merayap ke sudut jantungnya. Dia segera ke pintu. Namun sudut matanya menangkap sesuatu di meja. Dia berbalik lagi.

Melangkah perlahan ke meja dan di sana ada sepucuk surat. Sebenarnya tak dapat dikatakan surat. Sebab yang terlihat adalah secarik kain putih dengan coretan merah. Dan dia segera mengetahui bahwa tulisan itu ditulis dengan darah manusia.

Bulu tengkunya merinding.

Tulisan itu jelas ditujukan untuknya. Perlahan dia mendekat tanpa meraihnya dia dapat mebaca dengan jelas: Bungsu-san,

Sebagai orang Jepang saya merasa hina berdiri di sisimu. Sebagai Zato Ichi saya tak pantas berhadapan muka dengan engkau.

Engkau korbankan segalanya dalam membela orang Jepang. Kau lupakan dendammu. Kau lupakan dendam terhadap bangsa yang telah menjahanamkan negeri dan keluargamu.

Engkau pertaruhkan nyawamu untuk membela anak-anak Jepang yang teraniaya.

Engkau bela orang yang engkau ketahui dengan pasti akan membunuhmu. Ah, saya tak ada harga untuk terus bersamamu anak muda.

Engkau membalas kejahatan dengan kebaikan yang ikhlas. Seharusnya saya harakiri. Tapi usia saya yang renta ternyata membuat saya jadi pengecut. Barangkali masih ada gunanya saya hidup. Yaitu untuk mengetahui lebih banyak tentang perobahan zaman.

Hari-hari terakhir saya bersamamu membuat saya sadar, bahwa dunia telah jauh berbeda. Saya pergi tanpa mengucapkan Sayonara padamu. Itu bukan berarti saya tak menyukaimu. Tidak. Soalnya saya, tak kuasa bicara dihadapanmu.

Saya pergi. Biarlah saya dikatakan orang tak membalas budi karena tak membunuhmu. Membunuhmu?

Apakah Zato ichi, perantau samurai Jepang yang kini telah tua renta harus berhadapan dengan seorang pemuda Indonesia bernama Si Bungsu?

Ah, dunia akan mentertawakan diriku.

Saya bangga, engkau memiliki kemahiran bersamurai. Memiliki kepandaian leluhurku. Meskipun kepandaian itu kau peroleh melalui darah keluarga dan dendam yang membara.

Tapi saya banggsa. Percayalah, untuk saat ini tak ada seorangpun manusia di Jepang ini yang mampu menandingi kecepatan dan kehebatan samuraimu anak muda. Tidak juga sepuluh Zato Ichi!

Saya pergi. Barangkali saya harus mengembara lagi dari hutan ke hutan mencari kedamaian seperti puluhan tahun terakhir ini. Di kota manusia telah berobah menjadi buas. Kota telah menjadi rimba raya yang tak bersahabat dengan manusia seperti saya. Rimba justru tetap bertahan dalam damai.

Bungsu-san.

Ada seorang gadis yang saat ini mencarimu. Dia sangat mencintaimu. Saya yakin itu. Dan saya juga yakin engkau mencintainya. Saya berdoa kalian dijodohkan Tuhan. Gadis itu adalah Michiko. Anak Saburo Matsuyama. Dia sangat menderita karena kematian ayahnya. Tapi penderitaannya yang paling uatama adalah karena dia engkau tinggalkan.

Ah, saya akan puas untuk mati kalau kelak mendengar kalian menikah. Sayonara.

Zato Ichi.

Si Bungsu tertegak diam. Tanpa dapat dia tahan, matanya jadi basah. Dia teringat pada Zato ichi selama dua hari ini. Betapa pahlawan samurai itu tak sepatahpun mau bicara sejak dia menyelamatkan nyawanya dalam pertarungan melawan Zendo.

Kini dia telah pergi.

Perlahan Si Bungsu membuka pintu. Angin musim dingin menerpa masuk. Meniup rambutnya yang gondrong. Menerpa mukanya yang urung.

Seorang sahabat telah pergi. Dia merasa sepi. Tak pernah dia mimpikan akan bisa bertemu muka dengan pahlawan samurai yang kesohor itu. Dan tak pula terbayangkan olehnya, bahwa dia seorang anak dusun dari gunung Sago, suatu saat akan ditakdirkan membela nyawa pahlawan samurai dari negeri yang tentaranya pernah merobek-robek kampung halamannya.

Dia menarik nafas panjang. Kini dia sendiri lagi. Perlahan dia berbalik, masuk lagi ke kamar. Mengambil buntalan kainnya. Mengambil samurainya. Menatap kamar itu sekali lagi. Lalu melangkah keluar. Di luar dia menutupkan pintu.

Lalu melangkah menjauh. Di halaman dia menoleh sekali lagi kerumah tua dibelakang kuil itu. Seperti menatap untuk terakhir kalinya. Kemudian berbalik. Melangkah di jalan berkerikil. Terus ke jalan raya.

Sore itu udara sangat indah. Musim bunga. Tak jauh dari Budokan berhenti sebuah mobil. Seorang lelaki turun. Memandang ke gedung Budokan. Kemudian memandang ke arah rumah Hanako.

Rumah itu kelihatan banyak berobah. Sudah semakin mentereng dan terawat indah. Perlahan lelaki yang turun dari mobil itu berjalan ke arah rumah tersebut.

Dia kelihatan ragu-ragu. Sudah lama sekali dia tak datang kemari. Betulkah masih orang yang dahulu penghuni rumah ini? Pikirnya.

Dia berhenti di persimpangan jalan besar dengan jalan setapak menuju ke rumah. Ada seorang lelaki tengah membersihkan beberapa rumpun bunga. Dia coba memperhatikannya. Tak dia kenal lelaki itu.

Dia melangkah masuk. Lelaki itu masih asik bekerja. Dia batuk kecil. Lelaki itu menoleh. Mereka bertatapan. Lelaki yang bekerja itu mengerutkan kening. Dia tak pernah mengenal lelaki ini.

“Maafkan saya…” kata lelaki yang baru datang itu. “Ya. Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya mencari rumah seorang sahabat. Kalau tak salah dahulu dia tinggal di rumah ini….” “Siapa namanya?”

“Barangkali dia sudah pindah….namanya Kenji…”

Lelaki itu tegak. Menatap pada yang baru datang itu. Dan tiba-tiba dia seperti menemukan sesuatu. “Anda…anda pastilah Si Bungsu dari Indonesia…” katanya hampir hampir berbisik. Tapi lelaki yang baru

datang itu mendengarnya. Dia heran dari mana orang itu mengetahui namanya.

“Benar….saya Si Bungsu….” ucapannya belum berakhir ketika lelaki itu berseru ke arah rumah. “Hanako-san…..Hanako-san….” Himbaunya. Dari dalam rumah muncul seorang perempuan cantik

dengan tergesa. Dia kaget mendengar seruan lelaki yang lain dari Waseda itu. “Ada apa….?” Tanyanya.

“Lihatlah siapa yang datang ini…” Waseda berkata pada isterinya. Hanako baru menyadari bahwa dihadapan suaminya ada seorang lelaki. Dia menatap pada lelaki itu. Lelaki itu, yang memang Si Bungsu menatap pula padanya.

Tiba-tiba sebuah gigilan menyerang tubuh Hanako. Dia tegak seperti patung. Mulutnya bergerak memanggil nama Si Bungsu. namun tak ada suara yang keluar. Yang keluar justru air matanya.

“Hanako-san…” suara Si Bungsu terdengar bergetar.

Dan tiba-tiba gadis Jepang itu menghambur ke pelukan Si Bungsu.

“Bungsu-san…..Bungsu-san…” desahnya diantara tangis yang tak terbendung. Dia memeluk anak muda itu. Membenamkan wajahnya di dada Si Bungsu yang bidang. Dan Waseda, suami Hanako, menatap pertemuan itu dengan terharu.

“Hanako, engkau sehat-sehat…..?” suara Si Bungsu kembali terdengar perlahan. Hanako merenggangkan pelukannya. Menghapus air matanya. Menatap wajah Si Bungsu. dan tiba-tiba dia menangis lagi.

Pemuda itu kelihatan kurus. Rambutnya tak terurus. Demikian pula pakaiannya. Dan hal itu membuat hati Hanako jadi luluh.

“Mana Kenji-san…?” tanya Si Bungsu. “Kenji-san pergi ke tempat kawannya.

Dan yang menjawab ini adalah Waseda. Dan Hanako segera sadar bahwa disana ada suaminya. Dia kembali merenggangkan dekapannya dari Si Bungsu. Menoleh pada suaminya.

“Inilah….inilah Bungsu-sa yang telah menyelamatkan kami Waseda-san…” katanya pada suaminya. Dan kemudian dia menoleh pada Si Bungsu, lalu berkata :

“Bungsu-san…ini Waseda Tokugawa, suamiku…” Si Bungsu tak merasa kaget. Dia sudah bisa menebak. Namun tetap saja ada segores luka dan kecewa di lubuk jantungnya yang amat dalam. Dia membungkuk memberi hormat pada lelaku itu. Dan Waseda membalas hormatnya dengan membungkuk dalam-dalam pula. “Saya doakan kalian bahagia….” Kata Si Bungsu.

“Saya banyak mendengar tentang diri saudara. Saya ikut berutang budi atas pertolongan saudara Bungsu pada Hanako dan seluruh saudaranya…”

Suara Waseda terdengar jujur.

“Marilah kita ke rumah, sementara menunggu Kenji-san pulang…” suara Waseda terdengar lagi. Dan Si Bungsu mengikuti langkah Waseda. Sementara Hanako masih memegang tangannya.

Di pintu Si Bungsu tertegak. Memandang kearah kamar Kenji. Di sana dahulu Hanako diperkosa ketika dia dan Kenji tak dirumah. Dan di ruang tengah ini dia berkelahi dengan anggota Jakuza, menolong nyawa Kenji.

Hanako mengerti apa yang dipikirkan Si Bungsu. Gadis itu menangis lagi terisak. Rumah itu sudah jauh sekali berobah. Peralatannya sangat indah. Dan rumah itu sendiri tersusun dengan rapi.

Waseda ternyata lelaki yang benar benar berjiwa luhur. Dia sama sekali tak merasa cemburu atau sakit hati melihat Hanako tak mau lepas-lepasnya dari sisi Si Bungsu. Gadis itu nampaknya memang sangat merindukan Si Bungsu. Hanya Si Bungsu yang merasa kikuk karenanya.

Dan ketika Kenji pulang, pertemuan itu benar-benar mengharukan. “Engkau kurus sekarang Bungsu-san. Darimana saja engkau selama ini?” “Ah, saya telah berkelana. Dimana engkau bekerja kini Kenji-san?”

“Saya di pelabuhan. Sebenarnya saya ingin bekerja di kapal kembali. Tapi saya tak ingin berpisah dengan adik-adik. Dengan modal yang engkau tinggalkan, ditambah oleh Waseda-san, saya mendirikan perusahaan perkapalan. Berkantor di pelabuhan. Saya senang engkau kembali Bungsu-san. Engkau tak usah kemana-mana lagi. Disini saja…”

Si Bungsu menarik nafas panjang.

“Saya senang dan berterimakasih atas tawaranmu Kenji-san. Tapi saya akan pulang ke Indonesia….” Si Bungsu menjawab perlahan.

Sudah tentu jawabannya ini mengagetkan mereka yang ada disana. Hanako mulai lagi menangis. Saat itu Waseda tak dirumah. Dia pergi ke kantornya.

Dan tak lama setelah itu, terdengar suara mobil berhenti di depan. Lalu ketika Hanako membuka pintu, Waseda muncul bersama ayahnya, Tokugawa.

Si Bungsu tertegak melihat kehadiran orang tua itu. Demikian pula Tokugawa. Dia diberi tahu anaknya atas kedatangaaan Si Bungsu. Dan malam ini dia memerlukan datang menemuinya.

Si Bungsulah yang pertama membungkuk memberi hormat. Tokugawa membalasnya dengan membungkuk pula dalam-dalam.

Waseda maklum bahwa anak muda ini sangat disegani ayahnya.

Sebab ayahnya tak pernah berlaku demikian hormatnya pada orang lain. Keluarga Tokugawa memang memiliki kesombongan tersendiri. Bukan karena angkuh atas kekayaan atau garis keturunan yang melahirkan para pahlawan, tapi karena demikianlah sikap para samurai.

Kini dia melihat betapa ayahnya berlaku pada anak muda ini. Dan dari sana dia dapat mengetahui semakin banyak, bahwa anak muda ini pastilah telah banyak sekali berbuat dalam kehidupan ayahnya. Dia tak mengetahui dengan pasti apa yang telah diperbuat anak muda itu dalam kehidupan ayahnya. Tapi meski tak mengetahui, dia dapat merasakannya.

“Saya dengar engkau kembali nak…” suara Tokugawa terdengar perlahan sambil bersalaman. “Ya, saya kembali…”

Tokugawa kemudian melangkah masuk. Mengambil tempat duduk di atas tikar. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja kecil. Duduk bersimpuh di lantai. Hanako menuangkan sake ke cawan kecil.

“Saya dengar engkau telah bertemu dengan orang yang engkau cari selama ini….’ Suara Tokugawa terdengar kembali setelah berdiam diri beberapa saat selesai meneguk sakenya.

“Ya, saya telah bertemu…’ jawab Si Bungsu perlahan. Dia khawatir kalau soal itu ditanyakan lebih lanjut oleh Tokugawa. Tapi orang tua yang arif itu ternyata hanya bertanya sampai disitu.

“Waseda anak saya, dia menikah dengan Hanako enam bulan yang lalu…”

Si Bungsu jadi gugup. Dia dapat menangkap bahwa dalam kalimat Tokugawa itu, orang tua tersebut arif akan perasaan Hanako terhadap dirinya.

Tokugawa mengetahui bahwa gadis itu mencintai Si Bungsu, dan demikian pula sebaliknya. Dan kalimatnya sebentar ini semacama permintaan maaf. Namun Si Bungsu harus mengakui secara jujur, bahwa dia sangat terharu atas tindakan Tokugawa.

Orang tua itu jelas ingin melindungi Hanako dan saudara-saudaranya sepanjang hidup. Tindakannya menyetujui pernikahan anaknya dengan Hanako ini semacam tindakan menebus hutangnya. “Saya sangat berterimakasih dan bahagia sekali tuan mau menikahkan anak tuan dengan adik saya…” katanya perlahan.

“Terimakasih…Bungsu-san…” suara Waseda terdengar sambil membungkukkan badan.

Dan malam itu mereka berbincang tentang hal-hal lain. Tentang kota Tokyo. Tentang tentara Amerika yang makin banyak di Jepang. Tentang berbagai hal.

Tapi tiga hari kemudian mereka harus berpisah. Si Bungsu sudah bertekad untuk pulang ke Indonesia.

Dan ketika niatnya tak bisa ditawar lagi, Tokugawa lalu membelikannya tiket pesawat udara.

Dia akan pulang ke Indonesia lewat Singapura dengan kapal terbang.

Di pelabuhan udara Haneda, ketika panggilan untuk penompang sudah terdengar melalui pengeras suara, Hanako kembali menangis.

Yang lain tegak agak jauh. Hanako memeluk Si Bungsu.

“Bungsu-san, aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Jawablah untuk kali yang terakhir….apakah engkau mencintaiku…? Hanako berbisik diantara isak tangisnya.

Si Bungsu jadi kaget. Apa yang harus dia jawab? Kalau dia katakan TIDAK, apakah itu takkan melukai hati gadis ini? Kalau dikatakan YA, apakah itu masih ada artinya?

Namun bagaimana dia akan mendustai suara hatinya? Dan dia tahu Hanako akan terluka kalau dia berkata tidak.

Akhirnya dia berkata perlahan.

“Ya…aku mencintaimu Hanako-san. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu..” Hanako berhenti menangis. Dia menatap wajah Si Bungsu. Dan dari bibirnya bergetar suaranya perlahan :

“Terimakasih Bungsu-san. Akan kubawa mati cintamu itu…”

“Hiduplah dan mengabdilah pada suamimu Hanako. Dia lelaki yang berbudi….”

“Terimakasih Bungsu-san. Setelah engkau pergi memang tak ada lelaki lain yang mengisi hatiku selain dia…” Perlahan Si Bungsu mencium kening Hanako.

“Bungsu-san…” suara Waseda terdengar. Si Bungsu menoleh.

“Kelak kalau anak kami lahir lelaki, kami akan memberinya nama Si Bungsu. Engkau izinkan bukan?” Si Bungsu benar-benar terharu.

Lama baru dia menjawab.

“Terimakasih Waseda-san. Saya akan bangga sekali, kalau ada anak Jepang yang memakai nama saya, nama dari Minangkabau…”

Dan Si Bungsu tak dapat menahan air matanya tatkala dia harus bersalaman dengan Kenji. Dia teringat akan perkenalannya di kapal ketika bersama Kenji dahulu.

Kenji memeluknya dengan linangan air mata.

“Suatu saat, aku akan datang ke kampungmu Bungsu-san. Engkau adalah saudaraku. Saudara kami…” Tak ada yang mampu diucapkan Si Bungsu. Semua kalimat tersekat dikerongkongannya.

Akhirnya dia melangkah menaiki tangga pesawat. Dan ketika dia menoleh, dia lihat Waseda, Hanako, Kenji dan Tokugawa melambai. Dia balas melambai. Dan ketika pesawat udara menggebu lepas landas. Hanako rubuh pingsan. Untung suaminya menyambut tubuhnya. Dan Si Bungsu yang duduk ditengah, tak melihat kejadian itu.

Hari itu dia bertolak meninggalkan negeri Sakura. Meninggalkan negeri dendamnya. Meninggalkan negeri dimana hatinya juga seperti ikut tertinggal bersama Hanako dan Michiko!