Tikam Samurai Si Bungsu Episode 1.5

Tubuh Si Bungsu menggigil. Dan mata pisau itu menyayat kulit lehernya. Darah mengalir turun. Si Bungsu benar-benar tak berdaya. Dia ingin mengatakan pada kedua lelaki itu., bahwa mereka salah terka. Dia ingin mengatakan bahwa dia tidak mata-mata Belanda. Tapi bagaimana dia akan menerangkan dalam keadaan gawat begini?

Dan dia teringat, situasinya kini persis seperti yang dihadapi oleh Akiyama di Birugo. Atau seperti situasi Sersan Jepang yang dia sergap ketika patroli dekat jenjang gantung Bukittinggi. Dan dia segera saja menyadari, betapa disergap dan diancam dengan senjata tajam dileher memang sangat tak menyedapkan. Dia rasakan itu kini. Dia memang mempunyai samurai ditangan kiri.

Tapi bagaimana dia akan menggerakkan tangannya, kalau siatuasinya begini?

Sedikit saja dia bergerak, dia yakin lelaki yang mengancam ini tak segan-segan memotong lehernya dengan pisau yang amat tajam itu! Dia yakin hal itu!

Lelaki yang mengancamnya membawanya menuju pintu. Mereka maju langkah demi langkah. Sementara dipintu kedai yang terbuka lebar, keenam serdadu KL itu tetap saja tegak dengan menodongkan senjata mereka.

“Apakah orang ini memang mata-mata kita? Leutenant yang memimpin penyergapan itu bertanya pada sergeant (Sersan) disampingnya dalam bahasa Belanda.

“Saya tak pernah melihat orang ini…” sergeant itu menjawab pula dalam bahasa Belanda.

“Kalau begitu dia bukan anggota Nevis….” Kata Leutenant (Letnan) itu. Nevis adalah sebutan untuk badan mata-mata Belanda. Seperti halnya badan mata-mata Gestapo Jerman terkenal dengan nama SS, mata- mata Amerika FBI untuk dalam negeri, dan CIA untuk urusan Internasional, Inggris terkenal dengan Scotland Yardnya, maka Belanda terkenal dengan Nevisnya!

Anggota-anggota Nevis, sebagaimana jamaknya anggota mata-mata diseluruh dunia, tidak hanya terdiri dari bangsa asli Belanda. Tetapi terdiri dari berbagai bangsa. Umumnya mereka memakai tenaga pribumi untuk menjadi mata-mata dimana mereka mempunyai kepentingan.

Di Indonesia, tidak sedikit pengkhianat-pengkhianat yang mau dibayar sebagai anggota Nevis. Menjadi mata-mata untuk kepentingan penjajah! Dan sebagai anggota mata-mata inilah Si Bungsu kini diduga.

Dan nasibnya memang benar-benar seperti telur diujung tanduk.

“Bagaimana… kita tembak saja mereka?” Sergeant itu bertanya. Namun Leutenant tersebut tampak ragu- ragu. Namun akhirnya dia melihat dengan kaca mata penjajahannya. Dia tidak mau melepaskan kedua lelaki yang mereka sergap ini. Kedua lelaki itu nampaknya pejuang Indonesia yang amat ditakuti Belanda. Apa salahnya membunuh seorang anggota Nevis bangsa Indonesia? Tak ada ruginya.

Kalau ada pertanyaan dari atasan, katakan saja bahwa mereka terpaksa membunuh ketiga orang itu secara “tak sengaja”. Dan ketiga orang yang mati itu adalah Inlander.

“Biarkan mereka lewat sampai ke jalan raya. Dan begitu mereka melangkahi parit kecil itu, tembak mereka….” Leutenant itu berkata perlahan dalam bahasa Belanda. Pura-pura seperti tak berdaya karena lelaki itu mengancam mata-mata mereka!

Bedil mereka yang terkokang tetap diarahkan pada ketiga lelaki tersebut. Maut benar-benar mengiringi langkah ketiga lelaki ini. Dan Si Bungsu anak muda yang ditempa dirimba raya gunung Sago itu, adalah orang pertama yang mencium bahaya maut ini!

Inderanya yang amat tajam terhadap bahaya yang akan menimpa dirinya membuat seluruh tubuhnya menegang. Dia tak mengetahui pembicaraan serdadu KL yang berbahasa Belanda itu.

Namun nalurinya yang tajam, matanya yang terlatih, dapat membaca niat serdadu-serdadu Belanda tersebut. Dia membaca niat dari cahaya mata mereka.

Dia yakin, keenam serdadu itu akan membunuh kedua lelaki ini. Dan membunuh kedua mereka berarti membunuh dirinya yang tercekik dan terancam oleh pisau yang alangkah tajamnya!

Soalnya kini, bagaimana harus mengatakannya pada lelaki yang mengancamnya dan menduga bahwa dia adalah mata-mata Nevis?

Tak ada waktu. Benar-benar tak ada waktu ! Dia kini harus mendahului Belanda-Belanda itu. Harus. Kalau tidak, mereka bertiga akan mati. Dia segera tahu bahwa kedua lelaki yang mengancamnya ini adalah pejuang-pejuang Indonesia.

Dan kini langkah demi langkah mereka mendekati keenam serdadu KL itu untuk menuju keluar. Lelaki yang mengancam Si Bungsu, segera pula membuat rencana. Dia akan mengancam mata-mata ini untuk naik ke Jeep yang sedang ditunggui sopir.

Dia akan memaksa untuk membawa Jeep itu keluar kota. Dengan demikian pelarian mereka bisa lebih cepat. Dan kini, mereka berada dua langkah dari pintu dimana serdadu itu tegak dengan diam. Selangkah lagi. Dan kini mereka persis berada sejajar dengan serdadu itu.

Dan saat itulah, dengan mempergunakan kesempatan yang amat kecil, Si Bungsu mencoba lewat dari lobang jarum!

Dia berteriak :

“Mereka akan membunuh kita!” seiring pekiknya ini, sikunya dia hantam kerusuk kanan lelaki yang mengancamnya dengan pisau itu. Hantaman itu membuat kaget lelaki tersebut. Namun dengan cepat pula Si Bungsu mencekal tangannya yang berpisau, melemparkannya jauh-jauh. Dan dalam jarak waktu yang hanya dua detik, tangan kananya menghunus Samurai!

Pada gebrakan pertama, samurainya memakan leher Leutenant yang tegak didepannya. Sabetan kedua memakan perut si Sersan!! Kedua pejuang itu merasa kaget. Serdadu-serdadu itu kaget! Mereka menembak! Namun kedua orang Indonesia itu sudah waspada. Mereka membungkuk dan pisau mereka bekerja.

Si Bungsu menyabetkan lagi samurainya. Seorang serdadu lagi mati! Yang mengancamnya tadi menghujamkan pisaunya kepada seorang kopral. Dan empat orang mati. Sebuah letusan bergema lagi. Dan teman yang mengancam itu kena kepalanya pecah dan mati.

Namun Si Bungsu berguling di tanah. Samurainya bekerja! Snapp! Snapp! Kedua serdadu KL yang masih hidup mampus dimakan samurainya!

Ada sekitar belasan manusia didekat kedai itu, semua mereka tertegak diam! Kejadian itu amat cepat.

Hanya dalam sepuluh hitungan! Alangkah cepatnya!

Tiba-tiba mereka mendengar mesin Jeep dihidupkan. Lelaki yang mengancam Si Bungsu itu menoleh, Si Bungsu juga. Sopir Jeep yang berpangkat Soldat (Prajurit) itu rupanya merasa tak ada gunanya melawan. Dia memilih melarikan diri.

Dia memasukkan perseneling mobilnya, dan tancap gas! Lari!

Namun lelaki yang tadi mengancam Si Bungsu dengan pisaunya, bergerak dengan cepat. Seperti tadi, yaitu seperti dia menyerang Si Bungsu dengan dua pisaunya, kali ini tangannya juga bergerak.

Pisau yang berada ditangan kanannya meluncur memburu Jeep yang rodanya mulai berputar. Dan tiba- tiba jeep itu meluncur seperti disentakkan ke depan. Lepas! Tapi tak jauh dari mereka lari. Jeep itu seperti meliuk.

Kekiri, kekanan. Dan tiba-tiba berhenti menabrak sebuah kedai! Mereka berlarian kesana. Dan soldat yang menyopiri Jeep itu mati tertelungkup di stirnya dengan tengkuk tertancap pisau! Lemparan lelaki itu tepat menghantam sasarannya.

Diam-diam Si Bungsu memuji keahlian lelaki ini memainkan pisaunya.

Lelaki yang tadi melemparkan pisau itu menatap pada Si Bungsu. Si Bungsu juga menatap padanya.

“Maaf, saya salah duga. Terimakasih atas bantuan saudara. Kita akan berjumpa lagi dalam waktu dekat.

Selamat berjuang. Merdeka!” Ucapan lelaki itu mengalir cepat dan tegas.

Sehabis ucapannya, sebelum Si Bungsu cepat menyahut, lelaki itu menyelinap kederetan rumah penduduk. Kemudian menghilang. Si Bungsu tahu bahwa setiap detik bahaya bisa mengancam jiwanya kalau dia tetap juga tegak disini.

Karenanya, dia juga mengambil arah lain dari yang ditempuh oleh lelaki tadi. Dia juga menyelinap ke balik rumah-rumah penduduk. Dan bergegas pergi ke arah pelabuhan! Jauh dibelakangnya dia dengar suara deruman kendaraan militer mendekati tempat tadi. Balatentara Belanda pasti telah menuju tempat tersebut.

Dia percepat langkahnya. Dia tak khawatir pada serdadu Belanda. Sebab mereka segera bisa dikenali. Tubuh dan kulit mereka berbeda dengan kulitnya. Yang dia takutkan adalah anggota-anggota Nevis dari bangsanya sendiri.

Mereka sulit diketahui. Sebab mata-mata ini berpakaian seperti umumnya orang Indonesia dan karena mereka juga bangsa Indonesia, maka mereka sulit diketahui. Si Bungsu mempercepat langkah. Berusaha bergegas, tapi jangan sampai mencurigakan!

Peluh telah meleleh ditubuhnya ketika dengan hati-hati dia menghampiri penginapan kecil dimana dia tinggal.

Dia berhenti. Memperhatikan dari kejauahan. Apakah ada hal-hal yang mencurigakan. Sepi. Apakah sepi karena tak terjadi apa-apa atau sepi karena Belanda telah memasang perangkap?

Tiba-tiba dia lihat pemilik penginapan itu keluar bersama orang Amerika yang menyelidiki Istana Siak Sri Indrapura. Mereka bicara sebentar, kemudian orang Amerika itu pergi. Pemilik penginapan masuk kembali. Dan orang Amerika itu pergi sendiri tanpa istrinya yang bertubuh montok, menggiurkan. Dan dari suasana itu, Si Bungsu mengetahui bahwa Belanda belum mencium jejaknya. Dia berjalan ke penginapan.

Naik ke tingkat dua dengan melewati tangga papan. Ketika dia baru saja di atas, dia berpapasan dengan perempuan Amerika. Perempuan cantik itu terkejut, dia tertegun menatap Si Bungsu. Namun Si Bungsu bergegas kebiliknya. Di biliknya dia mengambil bubuk obat yang dia bawa dari Bukittinggi. Kemudian menebarkannya disepotong kain bersih. Kemudian mengambil saputangannya. Membasahkannya dengan air dalam ceret kecil di atas meja. Dengan saputangan basah itu dia bersihkan lukanya. Dan ia terhenti sebentar. Ingatannya melayang pada Salma. Tanpa sengaja dia melihat cincin bermata berlian dijari manisnya. Cincin yang diberikan Salma ketika dia akan berangkat meninggalkan Bukittinggi.

Ah, terasa benar betapa sepinya tanpa gadis itu.

Di Bukittinggi, dia tak usah susah-susah mengurus dirinya yang luka. Berkali-kali dia kembali dari perkelahian mengalami luka-luka. Dan Salma selalu merawatnya sampai sembuh. Merawat dirinya dengan kasih sayang.

Dia menarik nafas. Kemudian mengambil kain yang telah ditaburi bubuk obat itu. Kemudian menempelkannya ke lehernya yang luka oleh pisau pejuang itu tadi.

Tapi ketika akan melekatkannya, bubuk obat itu jatuh. Terserak dilantai. Tubuhnya terasa lemah. Dia raba lehernya yang luka itu. Dan tiba-tiba dia merasa sesuatu yang ganjil. Dia lihat telapak tangannya. Dia perhatikan kuku jari-jari tangannya. Pucak agak kebiru-biruan. Ya Tuhan, racun, dia berbisik sendiri. Celaka, dirinya bisa celaka. Dan kini panas mulai terasa menjalar. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Tapi belum begitu dia rasakan karena dia bergegas saja menuju penginapan. Dan karena bergegas itu racun ternyata bekerja lebih cepat.

Jahanam! Pejuang itu benar-benar jahanam. Mengapa dia tak memperingatkan ketika akan berpisah tadi bahwa pisaunya beracun? Dia angkat cepat-cepat bubuk yang telah dia serakkan lagi di kain itu. Dia berbaring, dan dia coba lekatkan kain berbubuk itu ke lehernya. Namun lagi-lagi usahanya gagal.

Dan waktu itulah pintu biliknya terbuka. Kepalanya sudah mulai pusing. Racun pisau pejuang itu mulai menghilangkan kesadarannya.

Tangannya meraih samurai dimeja. Bersiap terhadap kemungkinan masuknya Belanda.

Dan yang berdiri dipintu memang orang yang berkulit putih. Berhidung mancung dan bermata biru, berambut pirang. Tapi dia bukan Belanda. Yang berdiri dipintu adalah wanita Amerika itu. Di tangannya terjinjing sebuah ransel kecil, diluar ransel kecil itu ada tanda palang merah. Itulah yang sempat diingat Si Bungsu. Setelah itu dia tak sadar diri.

Yang masih diingatnya dalam ketidaksadarannya itu adalah tentang diri Salma. Rasanya, gadis itu datang merawat lukanya.

Rasanya dia mencium bau harum yang biasanya dia cium dari tubuh gadis itu ketika dirawat dulu. “Diamlah agar saya rawat luka abang…” suara gadis itu berbisik perlahan ditelinganya.

Si Bungsu tak mejawab. Dia rasakan gadis itu membalut luka dilehernya. Gadis itu membersihkan pakaiannya. Matanya menatap loteng. Di loteng, seekor cecak tengah mengintai lelatu yang merayap tak jauh dari mulutnya.

Cecak itu menatap pada belatu itu dengan diam. Lelatu itu nampaknya tak sadar bahwa dirinya diancam bahaya. Si Bungsu ingin berteriak mengusir cecak itu. Atau ingin berteriak memperingatkan lelatu itu.

Tapi dia tak bersuara. Cecak itu makin dekat. Dan Si Bungsu yakin, bahwa mulut cecak itu akan menerkam lelatu itu. Makin dekat-makin dekat. Nafas Si Bungsu memburu. Dia ingin mencegah. Tapi…snap!! Cecak itu berhasil menangkap lelatu itu persis tentang kepalanya!

Cecak itu menutupkan mulutnya. Lelatu yang tubuhnya sudah masuk separoh itu meronta. Menggelinjang berusaha mengeluarkan kepalanya yang tertelan. Kakinya menerjang-nerjang. Tapi cecak itu melulurnya terus. Cecak itu sendiri menggoyang kepalanya melawan gerakan lelatu itu. Dan akhirnya lelatu itu memang tak berdaya untuk keluar dengan selamat dari mulut cecak.

Tubuh Si Bungsu sampai berpeluh melihat betapa lelatu itu teraniaya. Beberapa kali dia menggeliat. Dan akhirnya dia tertidur pulas.

Entah berapa lama dia tak sadar diri. Udara yang panas di kota itu membuat dia gelisah dan perlahan membuka mata. Lambat-lambat matanya terbuka. Menatap ke loteng penginapan.

Cecak yang menatap lelatu tadi tak ada lagi di loteng. Dia merasa lehernya yang luka dan agak dingin. Tangan kanannya terangkat meraba leher yang luka itu. Namun tangannya tak pernah sampai kesana. Ada sesuatu yang ganjil yang menghalangi dirinya.

Selimut tebal menutupi tubuhnya. Tapi ada sesuatu disamping. Tangannya meraba, ada orang. Meski dengan kepala agak berdenyut dia menoleh ke kanan. Dengan mengucap istighfar dia berusaha untuk bangkit takkala dilihatnya siapa yang berbaring disisinya dibawah satu selimut itu. Orangnya tak lain dari perempuan Amerika yang cantik itu. Tapi begitu dia berusaha untuk bangkit, perempuan itu terbangun pula dari tidurnya yang letih. Dan sambil miring kekanan menghadap Si Bungsu, perempuan itu tersenyum.

“Sudah merasa agak baik?” perempuan itu bertanya dalam bahasa Indonesia yang fasih. Si Bungsu tak segera bisa menemukan jawaban. Dia segera ingin duduk. Tapi kembali maksudnya tertahan. Bukan karena dia keenakan berbaring disisi perempuan cantik bertubuh ranum itu. Tidak.

Yang menyebabkan dia tak bisa bergerak untuk bangkit adalah kesadaran bahwa dibawah selimut yang menutupi tubuhnya, rasanya dia tak memakai apa-apa.

“Tetaplah berbaring. Racun pada luka itu amat berbisa. Untung saya cepat tahu dan punya obat pemunahnya”. Perempuan Amerika itu berkata sambil keluar dari bawah selimut. Kemudian melekatkan kembali pakaiannya. Tapi tiba-tiba terdengar suara derap sepatu ditangga menuju ke atas.

Lalu terdengar suara-suara tentara dalam bahasa Belanda diiringi bentakan dan gedoran pada pintu kamar diempat kamar yang ada ditingkat dua penginapan tersebut.

Si Bungsu menyambar samurainya yang terletak di atas meja. Tapi dia masih tetap berbaring. Perempuan Amerika yang tengah berpakaian itu juga tertegun. Lalu cepat-cepat membuka baju kembali. Dan masuk kebawah selimut disebelah Si Bungsu. Saat persis ketika pintu yang lupa mereka kunci dibuka oleh seorang tentara Belanda.

Pintu itu terbuka hanya sedetik setelah perempuan itu menutup kepala Si Bungsu dengan selimut. “Tetaplah berbaring diam…” bisik perempuan itu begitu pintu terbuka.

Dan dia sendiri pura-pura kaget terpekik kecil sambil menutup dadanya yang telanjang dengan tangan. “Oh, sory! Sory…!” tentara Belanda tersebut kaget dan buru-buru mundur. Tapi pintu tetap terbuka. “Maaf, kami sedang mencari seorang lelaki Inlander yang memakai samurai atau sejenis pedang yang

amat tajam. Dia telah membunuh tujuh orang tentara Belanda siang tadi di pasar. Apakah nona melihatnya disekitar daerah ini….?” Kapten yang membuka pintu tadi berkata dari luar.

Perempuan Amerika itu tanpa memakai baju berjalan menuju pintu. Kemudian dia tegak dengan menyembunyikan sekerat tubuhnya dibalik pintu dan menjulurkan bahagian leher ke atas dicelah pintu yang terbuka.

“Saya tidak melihat apa-apa. Suami saya sedang demam. Apakah lelaki itu amat berbahaya?” Perempuan itu bicara dalam bahasa Inggris. Kapten itu, dan tiga orang bawahannnya menelan ludah melihat tubuh perempuan Amerika yang montok itu. Yang tersebeng-sebeng dari celah pintu yang terbuka sedikit. Perempuan itu hanya memakai celana Jean panjang tanpa baju.

“Ya. Ya madam, dia berbahaya. Hati-hatilah, kata orang dia sangat cepat dengan pedang samurainya. Seperti setan saja. Nah, maaf, kami harus pergi. Semoga suami madam cepat sembuh…..” Dan dengan memberi salut, Kapten itu itu turun kembali ke bawah. Sementara perempuan itu masih tegak dipintu.

Di bawah, masih terdengar pembicaraan tentara Belanda itu dengan beberapa lelaki. Kemudian terdengar deru modil menjauh.

Dan sepi!

Mereka pasti berusaha menangkapnya. Kalau Belanda sudah mengetahui, bahwa orang yang membunuh serdadunya mempergunakan samurai tentu mereka sudah mendapat informasi pula, bahwa pembunuh itu melarikan diri ke arah pelabuhan.

Dan Si Bungsu memang terpaksa berdiam saja dalam kamarnya seperti yang diucapkan perempuan berat bernama Emylia itu. Dia tak habis pikir terhadap perempuan yang satu ini. Kecantikan yang luar biasa, dengan titel Profesor pula, benar-benar mengagumkan.

Dan pikirannya melayang lagi pada Salma yang dia tinggalkan di Bukittinggi. Dia menatap jari manisnya.

Cincin itu terpasang disana. Cincin bermata berlian. Sedang mengapa gadis itu? Apakah sudah kawin?

“Hmm, cincin yang bagus…..” Si Bungsu kaget mendengar ucapan itu. Dan yang berkata tak lain daripada Emylia. Perempuan ini muncul dengan dua bungkus nasi ditangannya. Dan kehadirannya yang perlahan itu ternyata tak diketahui oleh Si Bungsu.

“Jangan kaget kalau saya bisa menebak, bahwa cincin itu pastilah tanda mata dari seorang gadis yang cantik. Hanya saya tak tahu, apakah gadis itu di Payakumbuh atau Bukittinggi….” Emylia berkata sambil meletakkan nasi diatas sebuah piring. Kemudian mengambil dua buah gelas. Mengisinya dengan air teh dari ceret kecil diatas meja disudut kamar.

“Engkau lebih mirip tukang tenung….” Si Bungsu berkata jengkel tapi mau tak mau dia mengagumi ketepatan terkaan perempuan asing ini. Emylia tertawa renyai. “Tukang tenung sama dengan tukang sihir bukan? Hmm, saya juga termasuk yang mempercayai ilmu itu. Karena dia bersangkut paut dengan alam bawah sadar kita. Tenung atau sihir bukan semacam pekerjaan ajaib. Dia hanya pekerjaan pemusatan konsentrasi yang menyerang sendi-sendi bawah sadar orang lain. Tapi saya bukan tukang tenung. Tidak pula tukang sihir, saya hanya menduga-duga. Kalau bukan pemberian seorang yang amat berkesan secara mendalam, tentu engkau takkan melihat cincin itu demikian terharunya”.

Si Bungsu jadi merah mukanya karena malu.

“Dan kalau seorang lelaki merenung sebuah cincin, pastilah yang memberinya seorang perempuan. Dan kalau saya boleh menerka lebih lanjut maka gadis yang memberi cincin itu pastilah bernama Salma…”

Sampai disini Si Bungsu benar-benar tak dapat menahan rasa kagetnya. Bahkan kagetnya bercampur dengan perasaan ngeri. Perempuan ini benar-benar Jihin pikirnya.

“Jangan menatap saya dengan mata membelalak begitu Bungsu. Kenapa harus heran kalau saya mengetahui nama gadismu itu? Saya tak menenungnya. Saya ketahui nama itu dari mulutmu sendiri. Nah kini mari kita makan dulu….”

Tapi mana bisa Si Bungsu makan. Kapan dia mengatakan nama Salma pada perempuan ini. Tak pernah. Bahkan berhadapan muka baru hari ini. Emylia tak mempedulikan sikap Si Bungsu yang terlongo seperti anak- anak melihat sirkus.

Dia membuka nasi bungkusnya. Nasi putih dengan sambal lado dan gulai ikan Patin. Sejenis ikan yang amat enak dikawasan sungai Siak. Dan dia mulai menyuap.

“Makanlah. Oh ya, ingin tahu bila engaku mengatakan nama Salma padaku? Nama itu berulang-ulang kau sebut dalam tidurmu.”

Muka Si Bungsu benar-benar merah padam. Bicara perempuan ini ceplas-ceplos saja. Tak berpematang dan tak berbandrol mulutnya, mana bisa dia menghadapi wanita demikian.

Dia beranjak dari tempat duduknya. Pergi ke jendela. Mengintai dari balik gordyn ke bawah.

“Dekat pohon beringin, ada dua orang lelaki pura-pura memancing. Tapi mereka adalah anggota Nevis. Mata-mata Belanda. Mana ada orang memancing didekat akar beringin bukan? Di sana banyak orang mandi. Mereka mata-mata yang konyol….” Emylia bicara sambil tetap menyuap nasinya. Si Bungsu menatap ke arah beringin yang disebutkannya. Dan di bawah pohon itu memang dia lihat kedua pemancing itu.

Sebenarnya bisa saja orang memancing dimanapun. Tapi selain tempat itu ramai oleh orang mandi, hingga mustahil ada ikan yang kesana, sikap kedua orang itu juga membuat Si Bungsu hampir ketawa.

Kedua orang itu secara bergantian setiap sebentar menoleh ke pintu penginapan. Sama sekali mereka tak menyadari, bahwa mereka dimata-matai pula dari atas!

Si Bungsu meninggalkan jendela itu. Kembali ke meja makan. Mata Emylia sudah berair, mukanya merah padam. Hidungnya juga berair.

“Pedasy. Pedasy betul…” katanya menghapus air mata. Namun dia melanjutkan juga menghabiskan nasinya. Selera makan Si Bungsu timbul melihat cara makan perempuan ini. Apalagi melihat gulai ikan patin yang kini tinggal tulang belulangnya saja. Dia membuka bungkus nasinya yang masih panas. Mencuci tangan. Dan mulai menyuap. Di depannya Emylia menghembus-hembuskan nafasnya tiap sebentar karena kepedasan. “He Salemo meleleh…nanti masuk mulut..” Si Bungsu berkata. Emylia tak mengerti apa yang dikatakan salemo, tapi karena mata Si Bungsu menatap pada hidungnya, dia segera bisa menebak bahwa salemo itu pastilah air yang mengalir dari hidungnya. Mau tak mau Si Bungsu juga ikut tertawa, sikap perempuan cantik

ini terasa lawak dihatinya.

Dalam waktu tak begitu lama, Si Bungsu selesai makan. Sementara Emylia menyuap gula pasir untuk menghilangkan pedas yang menyengat mulutnya. Si Bungsu kini berfikir, bagaimana cara sebaiknya agar perempuan ini mau beranjak dari biliknya. Dan Emylia memang membuktikan bahwa dia adalah seorang ahli ilmu jiwa yang tangguh. Dengan senyum tetap dibibirnya perempuan Amerika yang cantik ini lalu berkata:

“Sebelum anda usir saya keluar, lebih baik saya permisi dulu bukan? Tapi ingat setiap saat tentara Belanda akan datang kemari. Jika itu terjadi jangan malu-malu untuk meminta bantuan. Betapapun di dunia ini kita tak bisa hidup sendiri. Kita saling membutuhkan bantuan orang lain. Itu namanya hidup bermasyarakat. Nah, istirahatlah….”

Berkata begini perempuan itu mengambil bungkus nasi yang telah kosong itu. Kemudian keluar dari kamar, Si Bungsu menarik nafas lega. Lalu mempelajari kamar itu baik-baik. Kalau sergapan Belanda datang dia harus bisa menyelamatkan diri sendiri. Tak menggantungkannya pada perempuan asing itu. Dia meneliti jendela. Kalau dia keluar dari jendela ini maka dia akan tiba di jalan didepan penginapan.

Dari sana rasanya tak mungkin menyelamatkan diri.

Belanda tentu meninggalkan pengawal di depan penginapan untuk menjaga setiap kemungkinan. Dia kemudian menoleh ke loteng. Tak ada bahagian yang bisa dibuka. Loteng penginapan itu terbuat dari papan yang dipakukan memanjang.

Maka tak ada jalan lain. Kalau datang lagi tentara Belanda menyergapnya jalan satu-satunya hanyalah melawan sampai mati. Tapi kemungkinan lain tetap ada. Yaitu pindah dari penginapan ini. Dengan adanya dua orang mata-mata Belanda di luar sana, yang pura-pura memancing itu, berarti Belanda telah menduga bahwa dia menginap disini. Kini bagaimana keluar dari sini tanpa tak diketahui kedua orang mata-mata jahanam itu? Dia raba lehernya. Berbalut dengan perban. Si Bungsu akhirnya memutuskan untuk istirahat sebentar.

Dia harus mengumpulkan kekuatan dulu, Dia sudah bertekad untuk keluar dari penginapan ini. Dengan kesimpulan begitu dia lalu kembali membaringkan diri di atas tempat tidur dan meletakkan samurainya disampingnya. Dan matanya mulai memberat. Dia mendengar suara kaki melangkah dijenjang penginapan. Ada orang naik ke atas. Suara langkah itu sangat perlahan, tapi bagi telinganya yang sangat terlatih, suara itu amat jelas. Dia lihat pintunya didorong perlahan. Dia memegang samurai. Pintunya terbuka sedikit. Dia pura-pura tidur. Tapi bukan pura-pura, matanya memang sangat berat. Dia berusaha bangkit, tak bisa!

Kenapa tidak bisa? Dia buka matanya. Terbuka sedikit. Tapi tubuhnya terasa letih sekali. Di pintu sebuah kepala muncul. Dan dia segera mengenali wajah itu. Wajah salah seorang dari mata-mata yang tadi memancing di bawah sana.

Lelaki itu menatapnya. Kemudian masuk ke bilik. Ditangannya sebuah pisau. Si Bungsu berusaha mencabut samurai tapi tak bisa. Benar-benar tak bisa! Lelaki itu mengangkat pisaunya. Dan Si Bungsu merasa betapa tangan kirinya disayat oleh pisau itu. Darah mengucur keluar.

Tapi lelaki itu tak meneruskan niatnya. Dia kemudian keluar dari kamar itu. Si Bungsu diantara rasa rasa kantuk dan lelahnya amat sangat, hanya bisa menatap. Kenapa mata-mata Belanda itu tak mau membunuh?

Tapi dia segera ingat sesuatu, Racun! Bukankah dia telah terluka dilehernya dengan pisau beracun. Dan meski dia tak ditikam langsung di jantungnya dia juga akan segera mati karena racun itu. Jahanam, benar-benar jahanam.

Atau barangkali dia memang tak dibunuh dengan sesuatu kesengajaan. Yaitu agar dia tetap hidup sampai Belanda datang menangkapnya? Racun itu hanya sekadar untuk melumpuhkannya saja. Dia melihat tangan kirinya yang luka. Darah mengalir membasahi alas kasur. Rasa lelahnya dia tekan. Kantuknya lenyap melihat luka dan karena berang dihatinya.

Dia bangkit. Meski dengan perasaan tak stabil dia berjalan ke pintu. Dan saat itu dia lihat lelaki tadi memasuki kamar Emylia.

Perempuan itu tengah berbaring tak berbaju ketika kedua lelaki yang pura-pura memancing itu masuk.

Perempuan itu kaget.

“Mau apa kalian masuk…..?” bentaknya sambil bangkit tanpa mempedulikan dadanya yang telanjang.

Namun kedua lelaki pribumi itu menatapnya dengan jijik.

“Mata-mata jahanam!” kedua lelaki itu mendesis. Dan sebelum Emylia sempat berbuat apa-apa yang seorang menghujamkan pisau ditangannya ke dada perempuan tersebut.

Perempuan itu tersentak. Terhenyak ke kasur. Lelaki itu mencabut pisaunya. Darah menyembur. Dan kedua lelaki itu cepat mengindar ketika diluar sana terdengar suara deru mobil berhenti di depan hotel. Ketika mereka keluar dari bilik, mereka berpapasan dengan Si Bungsu. Si Bungsu masih sempat melihat Emylia terbaring dengan darah membasahi dada.

“Jahanam. Mata-mata jahanam!” Si Bungsu berteriak sambil mencabut samurainya. Tapi kedua lelaki itu telah jauh di gang penginapan tersebut. Di bawah suara derap sepatu terdengar memasuki penginapan.

“Ikut kami kalau kau mau selamat!” salah seorang diantara lelaki itu berkata pada Si Bungsu. Anak muda itu mendengar suara derap sepatu di bawah jadi sadar bahwa Belanda datang untuk menangkapnya. Sesaat dia menoleh pada Emylia. Perempuan itu juga kebetulan tengah menatap padanya. Dia tak sampai hati membiarkan begitu saja perempuan yang telah membantunya itu.

Dan melangkah masuk. Membungkuk dekat tubuh Emylia.

“Larilah… Bungsu…. Belanda datang untuk menangkapmu. Aku…. Aku mencintaimu… Bungsu!” dan matanya terpejam. Dan dia mati…!

“Jahanam! Kubunuh mereka!” Si Bungsu memaki. Dan dia mendengar suara langkah sepatu mulai menaiki jenjang menuju ke tingkat atas dimana dia berada. Dengan cepat dia lari keluar. Di ujung gang, mata- mata tadi masih tegak, nampaknya dia menghalangi jalan Si Bungsu untuk keluar. Si Bungsu bergegas menoleh ke jendela depan. Di bawah ada selusin Belanda siap menanti dengan bedil terhunus. Akhirnya dia berlari ke arah mata-mata itu. Betapapun jua, mata-mata itu lebih mudah membunuhnya. Dan dengan membunuh mata-mata Belanda keparat itu dia bisa meloloskan diri lewat gang kecil ke belakang!.

Ketika lewat didekat tangga bawah, seorang serdadu Belanda telah muncul kepalanya. Tangga naik itu hanya untuk ukuran seorang. Sambil berlari Si Bungsu menghunus samurai, dan membacokkannya ke leher serdadu itu.

Tengkuk serdadu itu hampir putus. Dan tubuhnya melosoh turun. Menimpa dan membawa jatuh empat teman-temanya yang berada dihadapannya.

Setelah itu Si Bungsu meneruskan larinya ke arah mata-mata itu.

“Ikut kami…!” mata-mata itu berkata sambil bergegas turun lewat pintu kecil itu. Si Bungsu memang tak mempunyai pilihan lain. Jalan kecil ini memang satu-satunya jalan untuk keluar. Dia menuruni anak tangga dan tiba disebuah gang kecil yang terletak di belakang beberapa buah bangunan.

Kedua mata-mata tadi lari menyelinap-nyelinap. Dan Si Bungsu memburunya terus. Tapi dia merasa heran juga. Kenapa kedua mata-mata Belanda ini justru menjauh dari para Belanda yang mengepung penginapan itu?

Beberapa kali lagi mereka membelok diantara gang. Masuk ke kebun, lari terus. Masuk ke bawah kolong rumah. Lari terus. Masuk lagi. Berbelok lagi. Dan tiba-tiba kedua mata-mata itu lenyap. Si Bungsu tertegak kehilangan arah.

Azan magrib terdengar sayup-sayup. Dia melangkah ke depan. Dan tiba-tiba dia dengar seseorang memanggil perlahan. Dia menoleh. Mata-mata tadi! Mata-mata itu memberi isyarat untuk masuk ke sebuah rumah. Si Bungsu ragu sejenak.

Tapi ada sesuatu yang mendorongnya untuk ikut. Dia melangkah memasuki sebuah rumah tua. Di dalamnya tak ada apa-apa. Di ujung sana mata-mata tadi kelihatan menuju keluar. Dia mengikuti terus. Ada beberapa buah gang lagi.

Dan tiba-tiba saja berada dalam sebuah rungan yang diterangi oleh lampu-lampu lilin yang antik. Dan didalam ruangan itu ada sekitar sembilan lelaki.

Mereka semua tegak begitu Si Bungsu masuk. Dan Si Bungsu segera saja mengenali lelaki yang tegak paling depan.

Dia adalah pejuang yang melukai lehernya di pasar Tengah siang tadi! Lelaki itu menyongsongnya.

Mengulurkan tangan dan mereka bersalaman.

“Selamat datang di kota kami Bungsu. Maafkan kekhilafan saya siang tadi. Hmm, lukanya sudah diperban…” lelaki itu berkata dengan hangat.

“Kenalkan ini teman-teman saya. Ini Letnan Badu. Pemimpin front Simpang Tiga. Ini Sersan Yunus….” Lelaki itu memperkenalkan semua yang hadir.

“Dan ini kopral Aman dan prajurit Asir. Mereka yang mengawasi engkau di penginapan ditepi sungai Siak itu….” Si Bungsu tertegun mendengar penjelasan ini. Kedua lelaki itu adalah mata-mata yang dia duga dan juga diduga Emylia sebagai mata-mata Nevis.

Kedua lelaki itu tersenyum ketika menyambut uluran tangan Si Bungsu.

“Oh ya, tentang diri saya. Nama saya Nurdin. Saya pemimpin front Pekanbaru ini…” lelaki itu memperkenalkan dirinya. Si Bungsu segara terlibat dalam pembicaraan dengan pejuang-pejuang di Kota Pekanbaru itu.

Pejuang-pejuang itu ternyata juga sudah mendengar cerita tentang diri Si Bungsu jauh sebelum Si Bungsu sampai di Pekanbaru.

“Siang tadi, waktu dikedai kopi itu saya memang curiga pada saudara. Soalnya saya pernah kecolongan sebulan yang lalu. Yaitu ketika Jepang masih berkuasa. Saya mengenal hampir tiap orang di kota ini.

Saudara tak saya kenal, dan saya selalu curiga terhadap semua orang baru. Sebab Belanda biasanya mengirim orang-orang baru untuk jadi mata-matanya. Sebab semua mata-mata Nevis di kota ini kami kenali dengan baik…..” Nurdin yang berpangkat Kapten itu menjelaskan tentang pertemuan mereka di kedai kopi siang tadi.

“Ya, tapi saya hampir saja mati kena pisau beracun Saudara…” Si Bungsu menyela. Dan semua mereka tertawa. Kapten itu menceritakan kembali pada semua teman-temannya tentang peristiwa mula pertama dia didekati Si Bungsu. Kemudian dia bentak untuk tak meletakkan tongkatnya di atas meja. Sampai pada dia melempar Si Bungsu dengan dua buah pisau. Kemudian dia menyergap Si Bungsu dan mengancam lehernya dengan pisau. Lalu pada peristiwa bagaimana Si Bungsu melepaskan dirinya dari sergapan itu dan menghabisi Belanda-Belanda itu.

Mereka bercerita dengan asik.

“Tapi ada yang saya ingin tahu. Yaitu perempuan Amerika yang di penginapan itu….” Si Bungsu akhirnya tak dapat untuk tak menanyakan hal itu pada Kapten Nurdin.

“Oh ya. Saya yang memerintahkan untuk membunuhnya….”

“Kenapa harus dibunuh? Bukankah dia orang Amerika? Dan bukankah dia ahli sejarah yang akan menyelidiki kerajaan Siak Sri Indrapura?”

Kapten itu menarik nafas dalam.

“Demikian yang tertulis di paspornya. Tapi kami sudah mendapatkan informasi jelas. Kedua orang itu sebenarnya orang Kanada dan mempergunakan paspor palsu.

Mereka adalah bangsa Belanda yang kebetulan lahir di Kanada. Mereka memang profesor pubakala. Tapi mereka telah melakukan kegiatan mata-mata mulai dari Jakarta, Bandung, Medan dan kini di Kota ini. Perempuan cantik itu memang mata-mata yang sempurna. Di kota ini saja tak kurang dari sepuluh perwira Jepang yang masuk perangkapnya.

Dia menjebak para perwira itu ketempat tidur. Kalau cara itu tak dapat menaklukan perwira itu untuk membukakan rahasia militer Jepang di kota ini, mereka mempergunakan sistim racun. Rahasia yang diperoleh lalu dikirim dengan radio ke Singapura.

Dan sepuluh hari yang lalu, dua orang letnan kita juga masuk kedalam perangkapnya. Kedua letnan itu akhirnya dibunuh di Tanjung Rhu. Kami sudah berbulan-bulan dibuat pusing oleh bocornya rahasia-rahasia militer. Tak taunya, dia lah biangnya.

Telah tiga kali kami mengikuti dia dan berhasil memergoki dia memasuki markas rahasia Belanda yang dari luar seperti rumah biasa. Setiap dia masuk ke rumah itu, sehari kemudian pasti ada pengebrekan dan korban pihak kita berjatuhan.

Akhirnya kami berhasil mencuri paspornya dan dikirim salinannya ke Jakarta. Dari sana didapat jawaban, bahwa perempuan ini adalah seorang mata-mata yang berbahaya. Demikian juga suaminya”.

Si Bungsu hampir-hampir tak percaya akan pendengarannya. Tapi ketika Kapten itu menunjukkan bukti-bukti berupa radiogram dari markas pejuang, maka dia jadi yakin. Hanya yang jadi tanda tanya baginya adalah, kenapa Emylia menyelamatkan nyawanya dari luka beracun itu? Dan kenapa perempuan itu juga menyelamatkan dirinya dari tangkapan Belanda ketika Belanda menggedor kamar hotel?

Bukankah perempuan itu tegak ke pintu tanpa baju, mengatakan bahwa yang berbaring itu adalah suaminya yang sakit?

“Saya melihat saudara ragu dengan penjelasan saya…” Kapten Nurdin berkata.

“Tidak. Saya tak meragukannya. Tapi yang saya ragukan adalah beberapa soal…” dan Si Bungsu menceritakan soal bagaimana perempuan Kanada itu mengobati lukanya. Kemudian menyelamatkan dari tangkapan Belanda.

Kapten Nurdin tak menjawab segera. Tapi dia baru menjelaskan hal itu ketika mereka hanya tinggal berdua saja.

Ada beberapa hal yang saya ketahui tentang perempuan itu Bungsu. Pertama, dia memang perempuan yang “lapar”. Dia memang membutuhkan lelaki dalam hidupnya. Tak cukup suaminya saja. Mana tahu, dia barangkali membutuhkan dirimu dan ada hal lain, yang saya rasa amat penting. Perempuan betapapun mata- matanya dia, tapi bisa saja jatuh hati bukan? Nah, bukanlah hal yang mustahil kalau dia jatuh hati padamu…”

Kapten itu bukannya sekadar bergurau dengan berkata demikian. Dia yakin bahwa wanita dimanapun instingnya sama. Dan bukan hal yang mustahil pula kalau banyak wanita yang jatuh hati pada pemuda ini.

Si Bungsu menunduk. Dia sebenarnya tak menyenangi wanita itu. Artinya ada beberapa masalah yang tak dia sukai. Namun wanita itu telah menolong nyawanya. Apapun alasan pertolongan itu, dia tetap merasa berhutang budi.

Dan tiba-tiba dia teringat saat terakhir pertemuannya dengan cantik itu. Betapa dari pembaringannya, disaat maut hampir menjemput, dengan suara perlahan sekali, dia masih bicara! “Larilah Bungsu…. Belanda datang untuk menangkapmu… Aku mencintaimu…” Itulah kata-katanya yang terakhir.

Dia termenung. Disaat terakhirnya, perempuan itu memberitahu bahwa Belanda datang untuk menangkapnya. Kalau dia mata-mata, maka dia telah mengkhianati tugasnya. Memberitahukan kepada musuh yang akan ditangkap, bahwa tentara datang untuk menangkapnya. Ya, cinta dimanapun sama. Bisa berbuat hal- hal yang tak mungkin bisa terfikirkan oleh manusia lain. Tak terjangkau oleh akal.

--000--

Si Bungsu sudah seminggu bersama-sama para pejuang di Pekanbaru itu ketika suatu hari mereka mendapat kabar bahwa penginapan dimana Si Bungsu tinggal dahulu dibakar oleh Belanda. Pemilik penginapan itu, seorang pejuang bawah tanah bernama Tuang dari kampung Buluh Cina. Yaitu sebuah kampung ditepi sungai Kampar dua puluh kilometer dari Kota Pekanbaru, ditangkap oleh Belanda.

“Dia seorang pejuang?” Si Bungsu kaget.

“Ya. Dia termasuk salah seorang mata-mata dan dermawan yang menyumbangkan hartanya untuk pejuang-pejuang kemerdekaan…” Kapten Nurdin menjawab dengan nada sedih.

“Dimana dia tahan….?” Kapten itu bertanya pada mata-mata yang menyampaikan laporan pembakaran tersebut.

“Tak diketahui dengan pasti. Yang jelas, mereka dibawa ke kantor polisi militer di Batu Satu….” Kapten Nurdin yang membawahi front Pekanbaru itu lalu membuka peta lusuh yang ada dalam lemari. Dan malam itu diadakan rapat staf lengkap. Mereka mempelajari kemungkinan untuk membebaskan Tuang.

Ada dua markas Belanda yang dianggap mungkin tempat menawan pemilik penginapan itu. Dan diputuskan untuk menyerang secara serentak kedua markas itu untuk membebaskannya.

Tuang mempunyai arti yang amat penting dalam perjuangan bawah tanah di Kota ini. Seperti dikatakan Kapten Nurdin, dia tak hanya seorang mata-mata andalan, tapi juga seorang donatur perjuangan.

“Saya boleh ikut?” Si Bungsu menawarkan diri. Kapten Nurdin menatapnya.

“Itu akan merupakan kehormatan bagi kami Bungsu. Kami memang ingin mengajakmu. Tapi kami segan mengatakannya…..”

Si Bungsu tersenyum. Dan malam itu mereka menyusun rencana matang-matang.

“Kalau dapat membebaskannya, apa kendaraan yang akan kita pergunakan untuk melarikan diri?” Si Bungsu yang ikut dalam perencanaan itu bertanya.

“Ada sebuah truk tua…” “Kecepatannya bagaimana?” “Bisa dikejar oleh orang berlari”

“Hanya itu kendaraan yang ada pada kita” “Siapa yang bisa menjalankan kendaraan?” Dua orang Sersan mengacungkan tangannya.

“Menurut hemat saya, lebih baik kita ambil kendaraan Belanda saja. Di depan markas mereka pasti ada ada kendaraan…”

“Tapi bagaimana dengan kunci kontaknya? Kita tentu tak mungkin menggeledah kantong Belanda itu satu-persatu untuk mencari kunci. Waktu sangat pendek”.

“Itulah gunanya orang yang biasa mempergunakan kendaraan. Saya tak tahu bagaimana caranya tapi ketika pak Tuang itu sudah keluar, kendaraan hendaknya sudah siap untuk melarikan”.

Keterangan Si Bungsu membuat Kapten Nurdin menatap pada kedua Sersan yang mengaku bisa menjalankan mobil tadi.

“Ya, saya bisa mengusahakannya…” yang seorang berkata.

“Tapi saya terpaksa tak ikut penyergapan. Sementara teman-teman menyerang, saya akan menyiapkan kendaraan. Satu-satunya jalan adalah dengan mencabut kabel dikunci kontak. Kemudian menyambungkannya lagi diluar” katanya lagi.

“Baik, kau kutugaskan untuk itu. Nah, ada yang lain? Kapten Nurdin berkata lagi.

“Ada” Jawab Si Bungsu. “kalau ada lebih dari satu kendaraan disana, yang lain harus dikempeskan bannya..’ dan malam itu diputuskan pula bahwa penyergapan hanya akan dilakukan pada satu markas saja. Yaitu markas yang diketahui dengan pasti dimana Tuang ditawan. Untuk itu, siang esoknya, mata-mata disebar lagi untuk mengetahuinya.

Dan malamnya mereka segera mendekati markas di Batu Satu, yaitu markas yang diketahui tempat menawan Tuang. Malangnya tak ada situasi yang memudahkan mereka untuk menyerang.

Mereka hanya berkekuatan tujuh orang. Personil memang dibatasi demi gerak cepat. Sementara Belanda yang menjaga dimarkas itu jumlahnya sepuluh orang.

Bulan kelihatan terang. Inilah yang menyulitkan mereka. Seorang tentara kelihatan memetik gitar sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Di Depan markas itu terdapat jalan raya menuju Bangkinang. Kemudian sebuah parit. Dan diseberangnya hutan lalang setinggi tegak.

Disebelah kiri markas ada kebun ubi. Di sebelah kanannya rawa-rawa dan sungai kecil. Kamar tahanan berada di Gedung dimana piket sedang duduk. Bukan kamar tahanan khusus. Hanya sebuah kantor yang dipakai sebagai tahanan sementara.

Si Bungsu bersama Kapten Nurdin yang memimpin peyerangan itu berada di kebun ubi yang disebelah kanan markas.

“Psst. Lihat yang tengah menunjuk keluar itu…” Kapten Nurdin berbisik pada Si Bungsu. Anak muda itu mempertajam penglihatannya. Dia melihat seorang tentara KL sedang menunjuk ke jalan raya. Seorang Belanda bertubuh tinggi perpakaian loreng.

“Kau lihat?” Kapten Nurdin berbisik lagi. “Ya, ada apa?”

“Tak kau kenali dia?” Si Bungsu mencoba memperhatikan tentara Belanda yang jarak antara kebun ubi dengan markas itu ada kira-kira lima puluh meter. Dia coba mengingat-ingat. Namun tak bisa dia ketahui siapa tentara itu.

“Dia sahabatmu….” Kapten Nurdin berbisik lagi. “Sahabatku?”

“Ya. Kalian pernah satu penginapan….” Si Bungsu mengerutkan kening. Tiba-tiba dia mengucap istigfhar. “Ya Tuhan, bukankah dia lelaki Amerika yang isterinya kalian bunuh itu?” Si Bungsu bertanya dengan

kaget.

“Persis. Ternyata dia bukan ahli sejarah seperti yang diduga orang bukan? Ternyata dia seorang

Leutenant Belanda!”

“Benar-benar jahanam…” desis Si Bungsu.

“Lalu kemana kamera yang selalu dia pergunakan untuk memotret-motret orang-orang bersalung itu?” “Itu hanya pura-pura saja. Kamera itu sebenarnya dia pergunakan untuk memotert pertahanan dan

kubu-kubu kita…” Kapten Nurdin terhenti bicara. Sebab dari arah jalan sana kedengaran orang berjualan kacang goreng mendekati markas.

“Itu kopral Aman…” bisik Kapten itu. Kopral Aman itu dia suruh menyamar sebagai tukang jual kacang goreng yang diletakkan dalam goni dan dijunjung di kepala.

“Bagaimana kalau mereka tak membeli kacangnya?”

“Mata-mata kita sudah menyelidiki. Tentara Belanda di markas ini sangat suka akan kacang goreng. Setiap malam pasti dia membeli kacang goreng yang lewat. Dan siang tadi penjual kacang goreng yang asli telah disilakan sakit malam ini. Dan kopral itu penggantinya. Hai, dengar, mereka sudah memanggilnya masuk…”

Penjual kacang itu memang tengah memasuki halaman markas.

“Di dalam karung kacangnya ada granat…’ Kapten itu berbisik. Si Bungsu memperhatikan situasi markas itu. Di depannya ada tiga buah jeep. Suara gitar dan nyanyian terntara Belanda itu masih terus mengalun. Meski bahasanya tak dimengerti namun suaranya cukup merdu.

“Kenapa lambat ledakannya?” Kapten Nurdin bertanya dengan tegang. Ya, seharusnya begitu Kopral Aman masuk ke markas itu, kopral yang berada di dekat rawa dikiri markas harus meledakkan granat kebelakang markas. Huru-hara dan kekagetan yang ditimbulkan itulah yang akan mereka pergunakan untuk menyerbu masuk.

Beberapa detik berlalu. Tak ada ledakan. Kopral Aman sudah menerima uang pembelian kacangnya. Dan sekarang dia harus pergi dari halaman markas itu. Tak mungkin dia berhenti disana terus menerus.

“Jahanam si Imran! Kenapa granatnya tak meledak? Ada berapa granat yang dia bawa?” dia bertanya pada Sersan di sampingnya.

“Ada tiga pak…” Sersan itu menjawab dengan kecut.

“Gagal! Jahanam! Gagal kita!” Kapten itu mendesis melihat Kopral Aman sudah mengangkat goni kacangnya gorengnya ke kepala.

“Kacang goreeenggg” suaranya terdengar sayu sambil melangkah menjauhi serdadu-serdadu itu. Ledakkan yang dinanti untuk menimbulkan kekagetan dan mengalihkan perhatian itu tak juga ada. Tiba-tiba penjual kacang itu berhenti tiga depa dari para serdadu yang membeli kacang tadi. Dia meletakkan goninya di tanah.

Kemudian berjalan kembali mendekati para serdadu itu.

“Maaf, kacang goreng saya tertinggal…” katanya agak keras. Dua orang serdadu tertawa sambil memberikan tekong kaleng susu kepunyaan tukang kacang itu. Kapten Nurdin dan Si Bungsu menyadari bahwa adegan ini terpaksa dilakukan si Kopral untuk menambah waktu lagi bagi Kopral Imran yang granatnya tetap saja tak meletus.

Kopral Aman, membungkuk lagi, memasukkan tekong kacangnya ke goni. Granat Imran tetap tak terdengar. Sementara teman-temannya dikebun ubi, dipadang lalang yang di depan markas diseberang jalan menanti dengan tegang.

Dan saat itulah tiba-tiba Kopral Aman yang membungkuk memasukkan kaleng tekong kacangnya berdiri lagi dan berbalik.

“Merdekaaa!” dia berteriak dan melemparkan sesuatu dari tangannya kearah serdadu Belanda yang tengah makan-makan kacang itu! Pekikan itu mula-mula tentu saja membuat bingung serdadu Belanda itu.

Tapi hanya sebentar, granat yang dilemparkan Kopral itu meledak persis ditengah mereka. Terdengar pekikan dan ledakan yang dahsyat.

“Serbuuuuu!” Kapten Nurdin berteriak sambil melompat dengan pistol ditangan. Sementara itu korban pertama dari ledakan granat yang dilemparkan Kopral Aman adalah prajurit Belanda yang main gitar itu. Gitar dan sebelah tangannya terlambung keudara. Dadanya hancur. Dia mati.

Orang kedua yang jadi korban adalah seorang prajurit yang lagi menunduk makan kacang. Kepalanya hancur. Tapi yang lain hanya mengalami luka berat.

Letnan orang Kanada yang menyamar menjadi ahli purbakala itu cepat meraih pistolnya. Meski pahanya luka, tapi tembakannya yang pertama tepat menghantam dada Kopral Aman. Kopral ini setelah melemparkan granat menerjang maju dengan pisau ditangan. Dan dia terpelanting dan terlentang ditanah begitu dihantam peluru!

Saat itulah ke enam pasukan khusus Kapten Nurdin membuat pertahanan mereka kucar kacir. Dalam waktu yang relatif singkat, tembak-menembak jarak dekat ini terjadi.

Si Bungsu melompat masuk. Dia melihat tubuh yang bergelimpangan. Kapten Nurdin mendobrak masuk terus. Tembakan pistolnya menghancurkan kunci pintu dimana Tuang tertahan. Dia membawa Tuang keluar. Orang tua itu kelihatan parah sekali dalam tahanan yang hanya 2 x 24 jam itu.

“Jeep ini siap!” suara Sersan yang menyiapkan Jeep itu terdengar. Mereka berlompatan ke sana. Si Bungsu tak sempat mempergunakan samurainya. Apa yang harus diperbuat? Pertempuran selesai sebelum dia sempat mencabut samurainya.

Namun dia berhenti ketika mendengar keluhan kecil. Dia menoleh dan melihat tubuh Kopral Aman mengeliat. Cepat dia pangku tubuh itu. Dan saat itu tembakan dari Jeep terdengar. Si Bungsu kaget. Menoleh kearah penjagaan. Dan dia lihat Letnan suami Emylia itu tertelungkup. Pistolnya jatuh.

Kapten Nurdin telah menembaknya sesaat sebelum Letnan itu menembakkan pistolnya pada Si Bungsu yang memangku Kopral Aman. Dia bergegas. Dan mereka melompat ke atas Jeep. Jumlah mereka lengkap tujuh orang. Dan kini delapan dengan Tuang. Jeep itu batuk-batuk sebentar.

Dia starter lagi dengan mempertemukan kawatnya. Dan Hidup! Jeep itu seperti melompat. Keluar dari halaman markas. Dari jauh terdengar suara deru mobil datang.

“Ke kanan!” Kapten Nurdin berteriak. Mobil itu berbelok ke kanan. Lampu truk militer kelihatan datang dari arah kiri. Jeep mereka rasanya ada yang tak beres. Berjalan lambat.

Sersan Kadir melompat turun.

“Kadir! Naik cepat!” Kapten Nurdin berteriak.

“Saya akan menghalangi mereka pak. Teruslah bapak!” Dia berkata sambil berlari lagi ke halaman markas. Tak ada kesempatan bagi Kapten Nurdin untuk berlalai-lalai. Dia menyuruh Jeep itu terus.

Sementara Sersan Kadir segera menaiki Jeep yang telah dikempeskan itu. Dia merenggutkan kabel kontak. Melekatkannya diluar dengan ketenangan yang mengagumkan. Lalu menghidupkan mesin dan meletakkan Jeep itu persis di tengah jalan yang akan dilewati truk Belanda yang baru datang itu. Tapi ketika akan lurus Belanda menembakknya. Kadir mati di Jeep itu.

Jeep mereka melaju menuju ke arah Sail. Yaitu suatu daerah di luar kota yang masih berada dibawah kekuasaan tentara Belanda.

Pak Tuang pemilik penginapan itu dirawat di Kampung Sail tersebut. Tubuhnya cukup parah dipermak Belanda. “Tolong kabarkan pada keluarga saya dikampung, bahwa saya masih hidup….” Pemilik penginapan itu berkata esoknya. Sebab berita dia tertangkap oleh Belanda sudah sampai ke kampungnya. Yaitu ke Buluh Cina melalui penjual-penjual ikan yang datang ke Pekanbaru setiap pagi dengan sepeda.

“Ya. Saya akan menugaskan seorang untuk menyampaikan hal itu ke kampung bapak..” Kapten Nurdin berkata perlahan.

“Hati-hati. Di Simpang Tiga Belanda memperketat penjagaannya. Mereka tahu bahwa pejuang-pejuang kini banyak yang menyelusup ke kota. Dan pejuang-pejuang itu umumnya datang dari arah Taratak Buluh….” Tuang memberi penjelasan yang berhasil dia monitor dari markas Belanda ketika jadi tahanan itu.

“Terimakasih….” Jawab Kapten Nurdin.

Dan sore itu, tiga orang pejuang yang berasal dari barisan Fisabilillah berangkat ke Buluh Cina dengan sepeda. Sebenarnya hanya ada dua orang anggota Fisabilillah. Yang satu lagi adalah Si Bungsu.

Dia ikut ke Buluh Cina karena kapal yang dia nanti-nantikan untuk berangkat ke Singapura atau Jepang itu tak kunjung datang. Beberapa orang malah mengatakan, untuk ke Singapura mungkin lebih baik lewat sungai Kampar. Dari sana banyak penyelundup-penyelundup membawa getah ke Singapura.

Mereka memakai tongkang atau sampan-sampan besar menghiliri sungai Kampar. Kemudian lewat di pulau-pulau yang ada di Laut Cina Selatan, terus menyelundup ke Singapura atau Malaya. Si Bungsu sebenarnya kurang tertarik untuk ikut dengan para penyelundup itu. Sebab, tujuan utamanya bukan ke Singapura. Melainkan Jepang.

Namun karena di Pekanbaru tak ada pekerjaan yang akan dia lakukan, dia memutuskan untuk ikut ke Buluh Cina. Apa lagi kampung itu adalah kampungnya Kapten Nurdin. Hanya saja Kapten itu tak ikut bersama- sama mereka.

“Pergilah, disana ada sungai atau danau dimana engkau dapat menenangkan dirimu. Memancing atau berenang…..” Kapten itu membujuk Si Bungsu untuk ikut serta bersama kedua anak buahnya. Dan Si Bungsu memang memilih untuk ikut serta. Mereka berangkat pukul dua. Kalau tak ada aral melintang, mereka akan sampai di kampung itu sekitar jam enam. Sepanjang jalan dalam kota, kelihatan pasukan Belanda berjaga dengan ketat.

Mereka mengayuh sepeda keluar kota dengan tenang. Di Kampung Simpang Tiga, dimana terletak sebuah lapangan udara kecil, penjagaan Belanda nampak makin banyak.

Belanda nampaknya mempergunakan kampung kecil ini sebagai basis perbatasan antara kota yang mereka kuasai dengan kantong-kantong perjuangan yang dikuasai tentara Indonesia.

Mereka disuruh berhenti di persimpangan menuju ke Taratak Buluh. Satu-satu disuruh masuk ke sebuah kamar kecil dimana dua orang tentara KNIL mengadakan pemeriksaan dengan ketat.

Mula-mula yang masuk adalah Si Bungsu. Dia berniat membawa samurainya. Namun Korip temannya menggeleng perlahan. Si Bungsu menangkap isarat itu. Dia segera ingat, kalau Belanda mengetahui bahwa dia membawa samurai, maka itu akan membahayakannya. Bukankah Belanda sudah mengetahui, bahwa teman- teman mereka dibunuh oleh seorang anak muda yang membawa samurai kemana-mana?

Dengan pikiran demikian, Si Bungsu masuk ke kamar penjagaan itu tanpa membawa apa-apa. Samurainya tetap dia tinggalkan dengan mengikatkannya ke batang sepeda yang dia bawa. Sepeda itu dia sandarkan di pohon kelapa didepan rumah penjagaan itu.

Dengan tenang dia masuk kedalam.

“Buka pakaian….” Seorang Sersan KNIL memerintah. Si Bungsu agak tertegun. Orang yang memerintahkannya ini kulitnya sama dengan dirinya. Meski kulit KNIL itu lebih hitam, tapi dia yakin bahwa tentara Belanda itu pastilah orang Indonesia juga.

Perlahan dia membuka bajunya. Sersan itu memberi isyarat pada prajurit yang satu lagi. Prajurit itu memeriksan isi kantong baju Si Bungsu. Mengeluarkan sebuah kartu keterangan diri. Kemudian sehelai saputangan.

“Mau kemana?” sergeant itu bertanya dalam aksen Melayu tinggi yang fasih. “Ke Buluh Cina tuan…”

“Mengapa ke sana..?”

“Pulang ke kampung tuan…” dia menjawab mngikuti petunjuk Kapten Nurdin pagi tadi. “Apa kerjamu di kampung?”

“Memotong getah tuan…”

Sergeant KNIL itu memegang tangan Si Bungsu. Si Bungsu tetap tenang. KNIL itu melihat betapa pada pangkal jari-jari tangan anak muda itu kelihatan benjolan yang mengeras. Dan dia jadi yakin bahwa anak muda ini memang seorang penakik getah. Sebab benjolan yang mengeras ditelapak tangannya itu membuktikan bahwa dia memang selalu memegang benda keras.

Tanda demikian itu tak terdapat pada pedagang ikan yang tiap pagi mengayuh sepeda atau pada pejuang yang hanya memegang bedil.

“Dimana tinggal di Buluh Cina….” KNIL itu menatap wajah Si Bungsu. Seperti mencari sesuatu diwajahnya itu. Si Bungsu hanya diam. Dan akhirnya Sersan KNIL itu menyuruhnya kembali berpakaian. Dan menyuruhnya keluar.

Si Bungsu mengambil sepedanya. Berdiri dengan memegang sepeda itu di jalan raya. Menanti kedua temannya yang masuk ke dalam. Dia menarik nafas-nafas lega. Telapak tangannya ada benjolan mengeras adalah karena tiap hari dia melatih dirinya dengan samurai. Tapi siapa nyana, bekas tangannya itu justru bisa menyelamatkan dirinya saat ini.

Tiba-tiba dia kaget mendengar bentakan dari dalam kamar pemeriksaan. Dan tak lama kemudian disusul dengan suara tamparan. Dia mulai mempelajari situasi. Kalau terjadi apa-apa, andainya kedua temannya itu diketahui bahwa mereka adalah pejuang maka dia akan susah untuk melarikan diri.

Sebab sekitarnya ada kira-kira dua belas tentara Belanda yang menjaga dengan bedil terhunus. Mereka memang seperti tak acuh saja. Tapi kalau kedua temannya itu tertangkap, maka dia tentu akan ditangkap pula. Dan kalau dia berusaha melarikan diri, maka tentara Belanda yang diluar ini pasti siap untuk merajamnya dengan semburan peluru.

Dia menanti dengan tegang.

Tak lama kemudian, kelihatan kedua temannya itu keluar dengan mulut dan hidung berdarah. Mereka mengambil sepedanya. Lalu mengangguk pada Si Bungsu. Dan ketiga orang ini, di bawah tertawaan tentara Belanda yang ada di luar mengayuh sepeda mereka ke arah Teratak Buluh.

“Jahanam. Belanda hitam yang benar-benar jahanam” Bilal yang kena tampar itu menyumpah-nyumpah sambil menghapus darah dari hidungnya.

“Nanti suatu saat, dia akan menerima balasan. Akan kuhancurkan kepala mereka dengan bedilku…” Suman yang mulutnya berdarah juga menyumpah.

“Kenapa kalian sampai kena tampar…?” Si Bungsu bertanya sambil mengayuh sepedanya. “Kami tak menyanggupi untuk mencarikan mereka perempuan” Suman menjawab.

“Belanda jahanam. Awaslah kau….!” Sambung Suman. Dan mereka terus mengayuh sepeda melewati jalan berpasir dan berkerikil kecil dari Simpang Tiga itu menuju perhentian Marpuyan. Di perhentian Marpuyan yang merupakan sebuah kampung kecil dimana jalan bersimpang ke Buluh Cina, mereka minum disebuah kedai kecil.

“Masih jauh dari sini Buluh Cina itu?” Si Bungsu bertanya begitu selesai meminum air kelapanya yang terasa sejuk dan nikmat.

“Dari sini delapan belas kilometer. Kita akan sampai di desa Kutik. Dari sana menurun, kalau air Batang Kampar banjir, dari sana kita bisa naik sampan ke Buluh Cina. Kalau tidak, kita bisa naik sepeda atau jalan kaki….”

“Apakah patroli Belanda tak sampai kemari?”

“Terkadang juga sampai. Meski ini daerah Republik, tapi mereka selalu datang kemari memburu pejuang…”

“Tiap hari mereka lewat?”

“Tidak menentu…” pemilik kedai yang sejak tadi hanya mendengarkan, kini ikut bicara.

“Sudah tiga hari ini mereka selalu datang. Mereka mensinyalir didekat Bancah Litubat disana, disebuah rumah, bersembunyi dua orang pejuang yang telah membakar pos penjagaan mereka di Simpang Tiga dua minggu yang lalu…”

“Ada yang mereka tangkap dari kampung ini?” “Lelaki tidak”

“Apa maksud bapak dengan ucapan lelaki tidak?”

“Mereka memang tak menangkap seorang lelakipun. Tetapi sebagai gantinya, mereka menangkap seorang gadis dan ibunya. Alasannya sederhana saja. Mereka ingin meminta keterangan. Dan keterangan itu menurut mereka diketahui oleh kedua anak beranak itu. Sebab mereka tinggal dekat rumah yang dicurigai itu..”

“Apa latar belakang yang sebenarnya?” Si Bungsu bertanya meskipun dia sudah bisa menduga.

“Latar belakangnya hanya satu. Gadis itu cantik. Itu alasan penangkapannya. Dan ketika dia ditangkap bersama ibunya, tak seorang pun yang bisa membela. Dia tak punya ayah. Sementara kaum lelaki dikampung ini tak berdaya. Daripada ditangkap dan disiksa Nevis lebih baik diam saja…” “Bila mereka menangkapnya?” “Sudah dua hari”

“Tak ada yang mengetahui dimana mereka ditahan?”

Pertanyaan Si Bungsu belum terjawab, ketika dari kejauhan terdengar bunyi mobil. Semua mereka menoleh. Dari arah Simpang Tiga kelihatan debu mengepul. Dan dari derunya diketahui bahwa kendaraan yang mendekat itu adalah sebuah Jeep.

Mata Si Bungsu yang amat tajam mengetahui diatas Jeep itu ada enam manusia. Dua perempuan, empat tentara. Rasa bencinya pada penjajah yang melaknati kaum wanita Indonesia itu tiba-tiba berkobar didadanya.

Sebenarnya seperti yang pernah dikatakan di Bukittinggi dahulu, yaitu ketika meolak penghargaan dari para pejuang itu, dia tak punya sangkut paut dengan perjuangan kemerdekaan.

Kinipun sebenarnya dia tak berniat untuk jadi pejuang. Atau tak pula bertindak sok pejuang. Yang muncul dalam hatinya adalah kebencian pada orang yang menjajah negerinya. Yang menyakiti kaum lelaki, kanak-kanak. Dan menodai kaum wanitanya.

Rasa benci inilah yang membakar dadanya. Bukan niat untuk jadi pahlawan atau pejuang. Dan saat ini, setelah menyaksikan betapa tadi kedua temannya ditampari hingga mulut dan hidung mereka berdarah, kemudian mendengar cerita pemilik kedai ini tentang anak gadis yang tertangkap tanpa sebab itu, kebenciannya jadi menyala.

Dan segara saja sebuah rencana muncul dikepalanya. Dan dia berniat melaksanakan rencana itu, empat orang. Hmmm, jumlah mereka hanya empat orang, pikirnya.

Jeep itu makin mendekat. Dan seperti sudah diatur ketika tiba di dekat kedai dimana mereka minum air kelapa muda itu, jeep tersebut berhenti.

Si Bungsu dan kedua temannya segera mengenali dua diantara tentara KNIL itu adalah yang memeriksa mereka tadi. Dua orang lagi adalah serdadu KL. Belanda Asli. Jeep ini nampaknya memang jeep patroli.

Sebab dibahagian belakangnya, tegak sebuah mitraliyur ukuran 12,7 dengan moncong menghadap ke depan. Kedua serdadu KNIL itu melompat turun. Dengan sikap seperti ada peperangan dia mengacungkan bedilnya kearah pondok. Dengan matanya yang merah kedua mereka menatap isi pondok. Kemudian menyapu keadaan disekitarnya dengan tatapan menyelidik.

Dua orang tentara Belanda asli yang tadi masih duduk dibahagian depan lalu menyusul turun. Salah seorang tentara KNIL memerintahkan kedua perempuan yang ada diatas jeep itu untuk turun.

Dengan kepala menunduk karena malu, yang gadis lalu turun. Si Bungsu melihat betaoa mata gadis itu basah. Demikian pula ibunya yang tua. Dan setiap lelaki yang ada di pondok itu dapat menduga bahwa gadis itu telah dinodai Belanda.

“Turun disini, dan awas kalau lain kali tidak memberikan keterangan yang benar…..” KNIL itu berkata dengan suara yang dibesar-besarkan. Semua yang ada dipondok hanya menatap dengan diam. Tak seorang pun yang bicara.

Tentara Belanda yang tadi memegang stir, dan berpangkat Sergeant melangkah mendekati kedai. Masuk dan berdiri dekat Si Bungsu.

“Apakah kalian ada mendengar para ekstremis lewat disini?” dia bertanya dengan suara yang dibuat agak ramah.

“Ada….!” Salah seorang diantara yang hadir dalam kedai itu menjawab pasti. Isi kedai itu hanya tujuh orang. Tiga diantaranya adalah Si Bungsu dan teman-temannya. Yang satu pemilik kedai. Dua lagi adalah penduduk. Dan kedua penduduk ini memang benar-benar pejuang bawah tanah. Hanya saja tak seorangpun mengetahui bahwa mereka pejuang. Termasuk pemilik kedai itu!

Kini terdengar bahwa ada orang yang menjawab bahwa ada ekstremis atau pemberontak Indonesia lewat dekat situ, kedua pejuang ini jadi tegang. Semua mereka menatap pada orang yang menjawab pertanyaan serdadu KL itu.

Dan orang yang menjawab itu adalah Si Bungsu!

Semua mereka jadi heran, sebab anak muda ini tak pernah mereka kenal sebelumnya. Dan kedua teman Si Bungsu, anggota-anggota fisabilillah itu juga merasa kaget mendengar jawaban Si Bungsu.

“Bila mereka lewat, dan apakah anda kenal dimana markasnya?” tentara Belanda itu mendesak. “Ya saya kenal semuanya. Mereka ini justru tengah menyusun suatu rencana penyerangan ke Simpang Tiga. Mereka..” Si Bungsu berhenti bicara. Matanya memandang kepada para lelaki yang ada dalam lepau itu. Yang juga tengah menatapnya dengan mata tak berkedip. 

Si Bungsu tegak.

“Ikut saya, saya akan sampaikan dimana mereka…” katanya sambil melangkah keluar. Sergeant itu segera jadi maklum, bahwa lelaki ini pastilah tak mau laporannya didengar oleh orang dalam kedai tersebut. Karenanya dia lalu menurut.

Si Bungsu berhenti, kemudian menoleh pada kedua temannya tadi. Memberi isyarat dengan mata, lalu berkata :

“Hei, mari kita tunjukkan saja tempat pejuang-pejuang itu!” Kedua temannya anggota fisabilillah itu jadi maklum. Dan kedua mereka memberi isyarat pula pada dua orang pejuang dari Marpuyan itu dengan isyarat mata.

Sergeant itu menuruti langkah Si Bungsu dari belakang. Namun gerakan Si Bungsu berikutnya tak terikutkan oleh tentara Belanda itu. Sambil tetap berjalan perlahan, Si Bungsu menghunus samurainya. Dan begitu ia berbalik, samurainya membabat perut tentara KL itu. Tentara itu mengeluh. Perutnya belah dua.

Keluhannya terdengar oleh ketiga temannya yang lain. Mereka menoleh, dan melihat temannya rubuh dengan perut berlumuran darah. Ketiganya mengangkat bedil. Namun saat itu pula ketiga pejuang yang lain menghambur. Ketiga bedil tentara Belanda itu tak dapat meletus. Sebab tiba-tiba saja tiga pisau telah menancap dipunggung mereka.

Bedil mereka terlepas dan berusaha untuk memegang punggung yang tertikam dan sakitnya bukan main

itu.

Namun beberapa tikaman lagi, ketiga Belanda itu matilah sudah. Keajadian itu teramat cepatnya. Sejak

jeep berloreng-loreng itu berhenti, sampai dengan matinya keempat Belanda itu, tak sampai dua menit!

Bahkan kedua perempuan yang mereka turunkan itu, masih belum meninggalkan jeep tersebut. Dan kini kini mereka tertegun. Belanda itu sudah mati. Tapi apa yang akan diperbuat selanjutnya?

Mereka jadi pucat sendiri. Pemilik kedai wajahnya pucat bukan main. Mereka memang benci pada Belanda. Tapi ketakutan setelah pembunuhan ini juga besar. Mereka takut pada pembalasan Belanda!

“Naikkan mereka ke atas jeep……” Si Bungsu berkata sambil memandang ke arah Simpang Tiga. Dari jauh kelihatan debu mengepul. Yang datang itu pastilah sebuah mobil. Hanya tak diketahui apakah kendaraan itu kendaraan militer atau kendaraan sipil.

Namun kendaraan apapun yang datang itu, apakah militer atau sipil keduanya sama-sama berbahaya bagi mereka. Bila kejadian ini diketahui Belanda maka pembalasan yang mengerikan akan menimpa penduduk Marpuyan.

“Itu power tentara Belanda!” Suman yang anggota fisabilillah, yang datang bersama Si Bungsu dari Pekanbaru berkata. Mereka bergegas menaikkan mayat-mayat itu ke atas jeep. Menggulingkan di bak belakang.

Suara power yang merupakan sejenis truk perang itu makin menakutkan.

“Siapa yang menyetir mobil?” tanya Si Bungsu. Kedua temannya yang dari Pekanbaru menggeleng. “Maarif…kau saja…!” Pemilik kedai bicara pada salah seorang pejuang dari perhentian Marpuyan yang

tadi ikut menikam Belanda.

“Dia biasa membawa truk!” pemilik kedai itu berkata cepat. Pejuang bawah tanah yang bernama Maarif itu tak banyak cakap. Dia melompat ke balik stir. Kemudian menghidupkan mesin. Si Bungsu dan kedua temannya melompat pula ke bak belakang. Demikian pula pejuang yang satu lagi, yaitu temannya si Maarif.

“Kemana kita?” Maarif berkata sambil menjalankan jeep.

“Arahkan ke Buluh Cina…” tanpa sadar sepenuhnya Si Bungsu berkata.

Jeep itu segera membelok ke kiri. Meninggalkan pemilik kedai dan kedua perempuan itu tegak di pinggir

jalan.

“Katakan kepada mereka, teman mereka mengejar pejuang….!” Si Bungsu berteriak pada pemilik kedai

tersebut. Pemilik kedai hanya sempat mengangguk.

Hanya selang tiga menit, power wagon yang berisi selusin KNIL dan KL sampai pula disana.

“Hmm, sudah sampai kalian dikampung he..?” seorang Leutenant bertanya pada gadis yang baru turun itu. Yang masih saja tegak dipinggir jalan.

Gadis cantik itu hanya menunduk. Matanya membersitkan kebencian. Dan Leutenant itu nyengir. Pemilik kedai tegak dengan tegang. Sebab semakin lama tentara Belanda ini berhenti didepan kedainya, bisa bocor pembunuhan yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu. Kalau saja ada diantar mereka yang bermata tajam, maka mereka akan melihat bercak-bercak darah pada kerikil di jalanan. Tapi untunglah hal itu tak kejadian. Sehabis nyengir pada gadis cantik yang telah mereka nodai itu, si Leutenant bertanya pada pemilik lepau dengan berteriak:

“He pak tua, mau kema Sergeant Rudolf dengan jeepnya itu?” “Mengejar pejuang yang baru saja lewat disini…”

“Pejuang yang lewat” “Ya. Ada tiga orang…!”

Para tentara Belanda di atas power itu saling pandang.

“Godverdome! Ayo kejar…!!”perintah leutenant itu mengguntur. Dan power wagon itu segera meraung- raung ke kiri dan melaju ke arah Buluh Cina.

“Semoga kalian mampus semua…!”gadis cantik yang dinodai Belanda itu menyumpah.

Di atas jeep yang dikemudikan oleh pejuang dari perhentian Marpuyan itu tengah terjadi perundingan. “Kita cegat mereka di pendakian Pasir Putih…!” kata anggota fisabilillah yang berasal dari Buluh Cina

dan bernama Bilal. Pejuang ini adalah teman Si Bungsu dari Pekanbaru yang kena tampar KNIL di Simpang Tiga tadi.

“Kita tembak mereka dengan senapan mereka sendiri?” temannya yang bernama Suman bertanya. “Ya, agar mereka rasakan betapa senjata makan tuan…” jawab Bilal.

“Bagaimana, kita cegat mereka dimana?” Bilal bertanya pada Si Bungsu.

Si Bungsu menatap pada mitraliyur 12,7 yang tegak di bak belakang jeep. Melihat pelurunya yang berantai panjang.

“Apakah kalian mempunyai cukup peluru untuk berperang?” Si Bungsu balik bertanya. Para pejuang itu saling bertukar pandang.

“Tak begitu banyak…” Bilal menjawab jujur.

“Kalau begitu kita hajar mereka tanpa buang peluru…..” Si Bungsu berkata pasti. “Bagaimana caranya?”

Dan cara mencegat tanpa menghamburkan peluru itu diatur oleh Si Bungsu.

Sementara itu, power wagon yang memuat selusin serdadu Belanda itu meraung-raung membelah jalan kecil menuju ke Buluh Cina itu. Tiba-tiba di depan mereka, ditengah pendakian, mereka melihat dua orang sosok tubuh tentara Belanda. Sebab pakaian loreng yang mereka pakai menununjukkan hal itu.

Tubuh itu makin didekati makin nyata berlumuran darah.

“Jahanam! Berhenti. Mereka ternyata telah membunuh serdadu kita….” Leutenant yang memimpin patroli itu menyumpah. Dia segera mengenali bawahannya itu sebagai serdadu KNIL yang ikut dengan Sersan di Jeep tersebut. Kulit mereka yang hitam membuktikan bahwa mereka adalah tentara KNIL.

Power itu segera dihentikan persis ditengah-tengah pendakian didekat tubuh kedua serdadu KNIL tersebut. Leutenant itu kemudian melompat turun.

“Ayo. Tolong angkat!” serunya.

Empat orang tentara Belanda lainnya berlompatan turun. Kemudian mengangkat tubuh teman mereka itu. Namun begitu mereka menyentuh tubuh yang tertelungkup itu, tiba-tiba saja kedua “mayat” tersebut melonjak.

Yang pertama menjadi korban adalah seorang Kopral. Tubuh yang akan diangkat membalik. Dan sebilah samurai menghajar dadanya. Kontan dadanya belah. Temannya seorang soldaat tertegun, dan saat itulah dadanya juga ditembus samurai.

Dalam waktu hanya beberapa detik, keduanya rubuh dimakan samurai “mayat” yang akan mereka angkat.

“Mayat” yang satu lagi, yang ternyata adalah si Bilal, anggota fisabilillah yang berasal dari Buluh Cina itu juga beraksi.

Dia adalah seorang pesilat aliran Pangian yang tangguh. Begitu dia merasakan tangan menjamah tubuhnya, dia segera menelentang. Dan kakinya menghujam keatas. Tumitnya mendarat persis di kerampang sergeant yang tadi akan mengangkatnya.

Demikian kuatnya tendangan itu. Hingga tubuh sergaent itu terangkat sehasta dari tempatnya berpijak. Kemudian terguling. Sergeant ini tak sempat menjerit. Hanya wajahnya yang menjadi kelabu tiba-tiba. Gelandutnya pecah dan nyawanya melayang saat itu.

Saat berikutnya, tubuh Bilal ini melentik dengan manis lalu berdiri. Dan tendangannya kemudian menghajar seorang soldaat teman si sergeant yang berniat mengangkat tubuhnya tadi.

Tendangan itu agak meleset. Sebab si soldaat sempat mundur selangkah. Bilal memburu. Dan kali ini dua buah jari tangan kanannya meluncur kedepan seperti kecepatan seekor ular yang marah.

Dan soldaat itu tak sempat mengelak lagi. Jurus tusukan dari silat Pangian itu menghujam kedua matanya. Dan seiring dengan pekik kesakitan, kedua matanya terlompat keluar dimakan jari-jari Bilal.

Perkelahian dibahagian si Bilal ini berakhir beberapa detik setelah perkelahian dipihak Si Bungsu berakhir. Sebenarnya tak dapat disebut perkelahian. Sebab dalam suatu perkelahian senantiasa ada lawan ada yang melawan.

Sedangkan dalam peristiwa di pendakian Pasir Putih ini keempat Belanda itu tak ada yang melawan. Katakanlah, mereka sebenarnya tak punya kesempatan untuk melawan sedikitpun. Kejadian ini tak pernah mereka duga. Terlalu cepat kejadiannya bagi mereka.

Mereka semua menyangka yang mati tergolek di pendakian itu adalah serdadu KNIL yang tadi ikut dengan jeep itu mengantarkan dua perempuan yang telah mereka kerjakan di Perhentian Marpuyan. Tak tahunya dibalik pakaian loreng itu ternyata tubuh para ekstremis. Tubuh kaum perusuh dan pemberontak, menurut istilah mereka.

Dan inilah jebakan yang diatur oleh Si Bungsu itu. Yaitu jebakan yang tak mempergunakan peluru sebagai pengganti jebakan yang direncanakan oleh Bilal yang akan mencegat Belanda di pendakian ini dengan menghajar mereka memakai senjata 12,7.

Si Bungsu menerangkan rencananya itu sambil membukai pakaian KNIL yang tergolek di bak belakang jeep. Kemudian memakainya. Pejuang-pejuang Indonesia lainnya jadi mengerti. Dan yang berminat ikut bersama Si Bungsu untuk pura-pura jadi mayat adalah Bilal.

Dia disebut dengan panggilan Bilal adalah karena sehari-harinya di Buluh Cina tugasnya adalah memang jadi Muazin dan imam di Mesjid.

Nama aslinya jarang orang yang tahu. Sebab sejak kecil, sejak pandai mengaji, dia telah jadi muazin dikampungnya. Dan nama Bilal melekat pada dirinya.

Dia memang pesilat yang tangguh. Di Buluh Cina ada puluhan muridnya yang menjadi pendekar yang disegani orang. Dan Si Bungsu menyetujui pendakian Pasir Putih itu sebagai tempat memasang jebakan.

Pendakian itu cukup tinggi. Di bawahnya mereka melalui sebuah sungai dangkal yang melintang di jalan. Dasar sungai itu berpasir sangat putih dan airnya sangat jernih. Dikiri kanannya terdapat tebing yang berhutan dan bersemak lebat.

“Kita turun disini, dan antarkan jeep ini kebalik pendakian” Si Bungsu berkata sambil melompat turun. Bilal dan kedua pejuang lainnya juga menghambur turun. Jeep itu terus ke puncak pendakian. Kemudian lenyap dari pandangan.

Tak lama kemudian sopirnya muncul. Si Bungsu dengan cepat menyuruh pejuang itu bersembunyi ditebing kiri dan kanan tebing tersebut.

“Engkau menunggu di jeep….” Dia berkata pada Suman. Suman jadi kaget. “Kenapa harus disana?”

“Rencana ini belum tentu berhasil seluruhnya. Kalau kami gagal, maka engkau menjadi harapan terakhir untuk menyudahi mereka dengan mitraliyur itu..”

“Tapi,,,”

“Mereka bukan orang bodoh Suman. Mungkin saja kami segera mereka kenali. Nah, kalau hal itu terjadi, maka kami akan jadi korban sia-sia. Kalau mereka mengenali kami dan mereka justru tak berhenti, mereka tentu akan melindas tubuh kami dengan truk itu.

Yang bersembunyi di tebing itu takkan ada artinya. Nah, bila hal ini terjadi. Maka komado kami serahkan padamu. Bila truk itu ternyata sampai ke puncak pendakian itu berarti aku dan Bilal sudah jadi mayat dilindasnya. Engkau sambut mereka dengan mitraliyurmu….”

Suman dan yang lainnya segera jadi mengerti. Tanpa banyak tanya lagi Suman yang sama-sama datang dari Pekanbaru itu segera berlari ke jeep dibalik pendakian itu.

Namun ternyata Belanda-Belanda itu memakan umpan yang dipasang Si Bungsu. Mereka berhenti dan berniat mengangkat “mayat” teman-temannya. Dan disitulah kesahalan mereka.

Begitu keempat serdadu Belanda itu selesai dalam waktu yang tak sampai sepuluh hitungan, dari tebing yang berhutan dipinggir truk melompat kedua pejuang lainnya ke atas truk. Dan sebelum para Belanda itu menyadari apa yang terjadi, mereka telah dimakan oleh tikaman pejuang- pejuang itu. Bilal sendiri segera melompat ke atas truk tersebut dan kaki serta tangannya bekerja pula.

Akan halnya Si Bungsu segera berhadapan dengan Leutenant yang memimpin patroli itu. Leutenant itu bukan main marahnya mendapatkan kenyataan tersebut.

Dia mencabut pistolnya. Si Bungsu masih membiarkan. Samurainya yang berdarah sudah disisipkan kedalam sarungnya. Dan kini samurai itu dia pegang dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya tergantung lemas.

Pistol Leutenat itu keluar dari sarungnya. Kemudian terangkat tinggi. Si Bungsu masih membiarkan.

Jarak tegak mereka hanya dua depa.

Leutenat itu berteriak:

“Godverdoom! Kubunuh kowe monyeeeet!!” dan telunjuknya menarik pelatuk pistol tersebut. Dan saat itulah Si Bungsu bergerak. Tangan kanannya yang tergantung lemas bergerak seperti kilat. Mencabut samurai dan melangkah selangkah ke depan.

Kemudian samurainya menyilang dari kiri atas ke kanan bawah. Yang dia babat pertama adalah tangan kanan leutenat yang memegang pistol itu. Sedetik sebelum pistol meledak, tangan leutenant itu putus hingga sikunya.

Leutenant itu belum sempat memekik, sabetan samurai yang kedua menyusul pula. Membabat dadanya dari kiri mendatar ke kanan. Dadanya belah persis dipertengahan kantong. Ada beberapa lembar uang dan beberapa lembar foto cabul dalam kedua kantong baju leutenant itu dan semuanya terpotong dua bersama dadanya.

Dan leutenant itu memang tak pernah sempat menjerit diakhir hayatnya ini. Demikian cepatnya samurai Si Bungsu.

Akan halnya di atas truk itu, perkelahian lebih banyak menguntungkan pihak pejuang.

Mereka memang pesilat-pesilat yang telah masak seperti halnya Bilal. Maka perkelahian dalam truk dengan jarak dekat itu memang merupakan makanan empuk bagi mereka. Sementara dipihak Belanda yang umumnya hanya mahir mempergunakan bedil panjang, dihadapkan pada situasi yang hampir-hampir bergumul ini jadi kalang kabut.

Maka tak heran beberapa orang lalu berusaha untuk terjun ke bawah agar bisa memanfaatkan bedil di tangan mereka.

Dan yang punya kesempatan untuk berbuat itu hanya Kopral yang jadi sopir.

Semula dia ingin terjun ke bawah dan naik ke bak belakang ikut dalam perkelahian itu. Tetapi otaknya memang cerdas. Dari pada susah-susah turun, bukankah lebih baik menembak dari sini, pikirnya.

Power wagon yang dipergunakan itu adalah truk perang yang terbuka. Di bahagian belakang ada kursi kayu yang dipakukan pada dinding kiri kanannya. Pada kursi kayu yang dicat hitam inilah Belanda itu duduk berbaris.

Sopir itu mengambil stengunnya. Kemudian tegak ditempat duduk. Dan suatu saat stengunnya menyalak. Yang jadi korban adalah pejuang dari Marpuyan yang menyopiri jeep Belanda tersebut. Tengkuk dan kepalanya dimakan empat peluru.

Kontan tubuhnya tercampak ke bawah. Kemudian suara stennya berhenti. Dia menanti kesempatan lain untuk bisa menembak. Sebab dalam truk itu tengah terjadi pergumulan. Salah-salah dia bisa membunuh teman sendiri.

Kini Bilal tegak membelakanginya tanpa ada penghalang. Stengunnya terangkat.

Saat itu pula perkelahian antara Si Bungsu dengan Leutenant itu berakhir. Dia mendengar suara stengun yang tadi menyudahi nyawa pejuang dari Marpuyan yang jadi sopir tadi.

Si Bungsu berbalik. Dan melihat sopir berpangkat itu membidikkan stennya. Dalam waktu yang sangat singkat, perkelahian dengan serdadu Jepang membayang dikepalanya.

Betapa suatu subuh dia dan Datuk Penghulu mencegat truk berisi tentara Jepang setelah kematian istri dan anak Datuk Penghulu. Keadaannya persis seperti sekarang.

Saat itu seorang perwira tengah membidikkan pistolnya dari tempat duduk depan ke arah tengkuk Datuk Penghulu yang berada di depan truk berkelahi dengan tentara Jepang.

Si Bungsu waktu itu berada dibelakang truk. Dan untuk menolong Datuk Penghulu, samurainya dia lemparkan dengan perhitungan yang cermat.

Samurai itu meluncur, menembus kaca pemisah antara ruang belakang dengan ruang depan truk.

Kemudian menancap ditengkuk perwira Jepang itu. Dan kini, di pendakian Pasir Putih menjelang Buluh Cina ini, tindakan itu pula lah yang diambil Si Bungsu.

Bedanya yang dulu dan yang sekarang adalah dalam soal letak. Dulu lawannya Jepang. Kini Belanda!

Dahulu dia berada di belakang. Kini di depan. Dahulu dia harus melemparkan samurainya dengan tenaga ganda. Sebab harus menembus kaca tebal pemisah ruang belakang dengan ruang depan. Kini hal itu tak perlu.

Sebab Kopral yang memakai sten ini berdiri. Dan sebahagian badannya ke atas terbuka pula melewati batas kaca power yang terbuka itu. Samurai Si Bungsu meluncur seperti anak panah. Dan menancap dibawah belikat kiri Kopral itu!

Namun stennya meledak juga. Hanya yang kena bukanlah Bilal, tapi nyasar entah kemana. Tubuh kopral itu terjungkal dan mati.

Di bahagian belakang truk itu, ketiga pejuang tersebut telah membunuh dua serdadu Belanda. Berarti dengan yang dibunuh Si Bungsu dan Bilal, ditambah dengan sopir power itu, mereka telah berhasil membunuh tujuh orang belanda tanpa sebutir pelurupun.

Dua orang lagi berhasil turun melompat dari truk. Mereka memburu ke depan. Dan didepan truk mereka menemui Si Bungsu tanpa senjata.

“Anjing! Mati kowe!” bentak mereka sambil serentak menembak. Nyawa Si Bungsu diujung tanduk. Dia tak bersamurai. Dan itu sama dengan bertelanjang. Satu-satunya harapan baginya adalah gerak “lompat tupai”!!

Dia bergulingan. Namun terlambat! Serentetaan tembakan sten menghajar tubuhnya. Dia jatuh bergulingan ke tanah. Tapi bukan dengan jurus lompat tupai itu. Dia bergulingan karena dihantam peluru!

“Mati kowe!” kedua Belanda itu serentak berseru dan menembak lagi. Namun tembakannya terdengar kalah keras dengan tembakan yang tiba-tiba datang dari puncak pendakian!

Serentetan tembakan mitraliyur terdengar merobek rimba di Pasir Putih itu. Dan kedua tentara Belanda itu seperti dilanda Badai. Terdongak-dongak. Terpental-pental!

Di puncak pendakian berdiri Suman dengan 12,7 ditangannya! Dengan demikian sepuluh orang Belanda telah mati. Sisanya yang tiga orang tiba-tiba mengangkat tangan.

“Maaf, eh ampun tuan. Kami menyerah” seorang KNIL berkata dalam bahasa Indonesia. Sementara dua tentara Belanda aslinya lainnya tegak dengan menggigil.

Namun dari puncak pendakian 12,7 si Suman tak memberi keampunan. Mitraliyur menyalak lagi. Dan ketiga Belanda yang menyerah itu terpental-pental. Menjerit dan rubuh.

“Suman!!” Bilal berteriak.

Namun teriakannya percuma. Mitraliyur ditangan Suman menyalak lagi. Menyikat ketiga tubuh tentara Belanda itu. Dia baru berhenti ketika merasa puas.

Kemudian mencampakkan 12,7 nya lalu berlari bersama yang lain ke tubuh Si Bungsu.

Tiga peluru menghajar bahu, lengan dan perutnya. Nafasnya memburu. Darah membasahi tubuhnya. “Bungsu…” teriak Suman tertahan.

Anak muda itu membuka mata. Merasakan linu dan sakit yang bukan main ditiga bahagian tubuhnya. “Bagaimana yang lain?” tanyanya perlahan sekali.

“Kami selamat semua Bungsu….” Bilal menjawab.

Si Bungsu menelan ludah. Bibirnya pucat dan retak-retak.

“Kulihat Maarif kena tembak…” Si Bungsu menyanggah keterangan Bilal. Mereka jadi tertunduk. “Bagaimana dia…?”

“Ya, dia meninggal…” Bilal berkata perlahan.

Si Bungsu menatap keliling. Menatap teman-temanya itu. Dia melihat wajah pejuang-pejuang yang tangguh. Yang rela berkorban untuk Negaranya. Dan tiba-tiba dia jadi terharu. Terharu karena tak bisa membantu mereka lebih banyak.

“Saya bangga, kalian pejuang yang militan. Sayang saya harus pergi jauh….sampai disini janjian saya…” katanya. Dan air mata meleleh disudut matanya.

Suman, Bilal dan seorang pejuang dari Marpuyan lainnya, yang bernama Liyas terdiam.

“Mari kita terus ke Buluh Cina….” Bilal berkata sambil mengangkat tubuh Si Bungsu. Namun anak muda ini menggeleng.

“Pak…barangkali nyawa saya tak bisa bertahan ke kampung bapak. Jangan potong dulu pembicaraan saya. Kalau saya mati, ambil cincin ini, kirimkanlah ke Bukittinggi. Pada seorang gadis bernama Salma, katakan saya telah mati….hanya dia tempat saya berkabar berita. Tak ada yang lain. Semua keluarga saya telah punah. Dialah yang telah mengobati saya dari sakit, dari resah dan rindu..” Dia terhenti. Nafasnya memburu. Dan dari mulutnya darah mengalir. Nampaknya dia memang tak lagi bisa tertolong. Ada bahagian dalam dari tubuhnya yang terkena parah. Hingga darah tak saja keluar lewat luka, tapi juga keluar lewat mulut.

“Saya sedih…karena dendam keluarga saya belum saya balaskan….sebelum saya mati!

“Saya rasa Liyas harus pulang ke Marpuyan. Pulang segera dengan jalan kaki. Sampaikan pada penduduk untuk siang ini juga menghilangkan jejak kedua mobil ini. Jangan ada Belanda yang tahu bahwa kedua kendaraan ini telah kemari. Kalau mereka tahu, maka penduduk Marpuyan dan Buluh Cina akan mereka bunuh semua.

Pulanglah, dan hilangkan jejak mobil ini. Mungkin dihapus dengan menyapu pakai daun kelapa, atau dengan cangkul. Pokonya tak ada jejak dari Marpuyan sampai kemari.

Kalau Belanda datang bertanya ke Marpuyan katakan saja bahwa setelah mereka menurunkan gadis dan ibunya itu, mereka meneruskan perjalanan ke Taratak Buluh. Mungkin terus ke Teluk Kuantan. Katakan saja begitu….dan mayat-mayat yang ada ini, termasuk kendaraannya, menjadi tanggungjawab Suman dan Bilal untuk menghilangkannya..”

Dia terhenti lagi. Ketika akan bicara, dia muntah darah. Dan jatuh terkulai. Dengan terkejut Bilal mendengarkan detak dadanya. Kemudian membuka matanya yang terpejam. Teman-teman menanti dengan tegang.

“Dia masih bernyawa. Kita harus menyelamatkan nyawanya. Sekarang tugas kita bagi. Liyas pulanglah ke Marpuyan. Turutkan petunjuk Si Bungsu tadi. Saya akan memakai jeep itu, semua senjata akan saya bawa ke Buluh Cina bersama Si Bungsu. Jeep ini akan saya benamkan dalam batang Kampar.

Tugas Suman adalah menghilangkan mayat dan truk ini. Kemudian menyusul saya dengan berjalan kaki ke Buluh Cina. Semua senjata akan kita bagi di Buluh Cina nanti….” Dan tanpa menunggu jawab, Bilal segera saja memangku tubuh anak muda itu ke atas jeep di puncak pendakian.

Kemudian dibantu kedua temannya mereka menaikkan semua bedil yang dibawa Belanda itu ke atas jeep. Maya Bidin maarif juga, sebab mayat itu harus dikubur baik-baik.

Jeep itu segera saja dilarikan oleh Bilal. Jalannya tak menentu. Dia memang pernah membawa truk dahulu, tapi sekarang karena sudah terlalu lama, maka jalannya melompat-lompat.

Mereka menatap jeep itu menghilang ditikungan diantara belantara di jalan kecil itu. “Kau pulanglah ke Marpuyan Liyas…” Suman berkata.

“Ya, saya akan pergi. Merdekaa!!” “Merdekaa!!”

Liyas kemudian bergegas kembali ke arah darimana mereka tadi datang. Suman yang tinggal sendirian lalu menaikkan mayat-mayat Belanda itu ke atas power wagon itu.

Kemudian membersihkan bekas-bekas perkelahian disana. Setelah itu dia menarik nafas panjang. Nah, kini tugasnya adalah membawa power itu sejauh mungkin dari jalan raya. Dia memandang sekeliling. Dia kenal sangat dengan daerah ini. Sebab dia juga adalah penduduk kampung Buluh Cina.

Dahulu sebelum masuknya tentara Jepang, dia setiap pagi mengayuh sepeda dengan keranjang penuh ikan diboncengan belakang. Dia mengenal daerah ini seperti dia mengenal bahagian dari rumahnya.

Ketika Jepang masuk, dia bergabung dengan Kapten Nurdin di Pekanbaru. Masuk anggota fisabilillah dan berjuang melawan fasis Jepang. Kemudian kini berganti lawan dengan Belanda.

Dia adalah bekas sopir ketika mula-mula Jepang masuk. Karena itu dengan mudah dia membawa power wagon itu. Dia mendaki terus. Membawa truk loreng-loreng dari Perang Dunia ke II di Pasifik itu ke daerah yang bernama Kelok Petai.

Disini dia membelokkan truk itu kedalam semak belukar. Dia tahu daerah ini tanahnya datar. Sebab hanya ditumbuhi oleh Padang Lalang. Truknya dijalankan terus. Tak ada jalan sama sekali. Dia masuk menyeruak semak belukar hutan ilalang setinggi rumah.

Dengan terseok-seok dia meneruskan perjalanannya. Dan setelah setengah jam, akhirnya dia sampai ke sebuah sungai. Sungai ini tak begitu besar. Hanya selebar tiga meter dan dalamnya sekitar dua atau tiga meter pula.

Sungai ini merupakan bahagian hilir dari sungai kecil yang melintasi jalan di pendakian Pasir Putih tadi.

Dan kedalam sungai kecil ditengah belantara ilalang inilah dia membuangkan mayat-mayat Belanda itu. Dia tahu dengan persis, bahwa dari sini sungai tersebut tak lagi akan melintasi jalan raya atau jalan kecil. Sungai ini menuju tengah hutan belantara yang belum pernah dijejak kaki manusia. Dan puluhan kilometer dari tempatnya sekarang sungai ini akan bermuara di Batang Kampar. Yaitu jauh dihilir kampung yang bernama Langgam. Dan dengan demikian, bangkai Belanda ini takkan pernah bertemu dengan manusia.

Sebab sebelum mencapai sungai Kampar, mayat ini mungkin telah hancur. Dimakan ikan dan cacing disepanjang sungai dalam rimba tersebut. Atau kalaupun dia mencapai muara, maka mayat ini akan menjadi santapan buaya-buaya besar yang sarangnya memang dimuara sungai ini di Batang Kampar sana.

Nah, dengan mengusap peluh, akhirnya mayat-mayat dari jeep dan dua belas mayat dari power itu masuk ke sungai! Kemudian dia meninggalkan truk itu tegak begitu saja ditepi sungai dibawah pohon yang sangat rimbun.

Sepanjang jalan menuju keluar, dia membetulkan kembali letak rumput dan ilalang yang tadi dilindas truk itu. Setibanya di jalan, tugas itu juga dia laksanakan. Nah, kini selesailah bahagian tugasnya.

Dia yakin, Belanda takkan pernah menemukan jejak lenyapnya keenam belas serdadunya ini. Dan dalam sejarah perjuangan menegakkan Kemerdekaan di Riau, Belanda memang dibuat kalang kabut oleh lenyapnya secara misterius serdadu dengan persenjataan mereka itu. 

Dan sampai penyerahan kedaulatan secara penuh, misteri itu tetap lenyap tak berbekas.

-000-

Suman kini menuju ke arah Buluh Cina. Menjelang menuruni hutan ditepi Batang Kampar, dia tiba di kampung Kutik. Kampung kecil ini adalah persimpangan ke Pangkalan dan ke Buluh Cina. Ke Pangkalan jalan ke kiri dan Buluh Cina ke kanan.

Penghulu kampung itu segera menemuinya ketika melihat dia datang. Dan suman lalu menceritakan apa yang telah mereka alami.

“Ya. Baru sebentar ini kami melihat Bilal lewat. Nampaknya sangat terburu. Hingga kami tak sempat bertanya…”

“Kini tugas kita menghilangkan jejak jeep itu…” Suman berkata.

“Kau teruslah ke Buluh Cina, tentang jejak jeep ini serahkan pada kami disini. Jangan khawatir”

Suman jadi lega. Dia lalu melanjutkan perjalanan ke Buluh Cina. Dari desa Kutik itu dia harus meliwati hutan belantara sejauh dua kilometer. Baru kemudian tiba dikampung Bontu yang terletak ditepi Batang Kampar.

Dari kampung ini dia dapat kabar bahwa Bilal sudah diantar menyebrang ke Buluh Cina bersama anak muda yang luka itu. Senjata ditinggalkan disebuah rumah pejuang anggota fisabilillah di Bontu tersebut.

Dan dengan sampan, Suman diantar pula ke kampungnya. Ke Buluh Cina. Tugas utama mereka semua, yaitu menyampaikan berita pada keluarga Pak Rajab, bahwa dia selamat, kini bertambah tugas lain. Yaitu lari dari kejaran Belanda dan menyelamatkan nyawa Si Bungsu.

Dan sepeninggalnya, penghulu kampung segera mengumpulkan penduduk yang jumlahnya hanya puluhan orang. Kepada mereka dia ceritakan perjuangan yang telah dilakukan pejuang-pejuang dari Buluh Cina dan Perhentian Marpuyan itu.

Dan dengan semangat perjuangan yang tebal, penduduk ini segera turun tangan. Menghilangkan jejak jeep yang tadi dibawa oleh Bilal. Mereka bekerja sepanjang siang, sore dan malam. Dan menjelang Isya pekerjaan itu selesai. Mereka pulang dengan perasaan tenteram.

Kesibukan tentara Belanda segera saja meningkat karena kehilangan sebuah power wagon dengan enam belas tentaranya itu.

Malam itu juga sepasukan tentara yang terdiri sebuah truk penuh dan dua buah jeep bermitraliyur mendatangi Perhentian Marpuyan. Penduduk segera saja diinterogasi. Ditanya apakah mereka melihat jeep dan power wagon itu.

Penduduk Marpuyan yang jumlahnya tak sampai seratus orang itu telah “diatur” oleh pemilik kedai yang juga adalah Imam di kampung itu.

Dan semua penduduk dengan suara pasti menjawab bahwa mereka memang melihat jeep dan power wagon itu. Jeep yang pertama setelah menurunkan gadis dan ibunya itu terus ke arah Taratak Buluh. Tak lama kemudian datang power wagon dengan selusin tentara diatasnya.

Power wagon itu juga terus ke arah Teratak Buluh. Tentara Belanda itu meneruskan jalannya ke Teratak Buluh dalam usaha mencari jejak patroli yang tak kembali itu. Namun mereka dibuat kaget. Sebab di Teratak Buluh, tak satupun orang yang pernah melihat kedua kendaraan itu muncul!. Mereka lalu kembali lagi ke Simpang Tiga. Yaitu ke Pos penjagaan terjauh dari kota Pekanbaru. Mereka hanya berani bergerak malam dengan kekuatan besar. Dan malam itu hanya sampai disana penyelidikan mereka. Mereka tak berani bergerak dimalam hari lebih lanjut. Takut akan serangan para pejuang.

Mereka menanti hari siang untuk melanjutkan pencaharian.

Dan begitu hari siang, pasukan segera ditambah dari Pekanbaru. Kini dengan enam buah kendaraan yang terdiri dari dua buah jeep bermitraliyur, dua buah kendaraan lapis baja, dan dua buah power wagon yang semuanya berkekuatan empat puluh pasukan berpakaian loreng mulai bergerak meninggalkan Simpang Tiga. Tujuan mereka hanya satu, Perhentian Marpuyan.

Hari masih subuh, ketika kampung kecil itu sudah dikepung oleh tentara Belanda tersebut.

Semua penduduk dikumpulkan dilapangan dekat sebuah sekolah. Anak-anak, lelaki perempuan, tua muda, tak ada yang tersisa satupun. Termasuk didalamnya Liyas yang kemaren bersama Si Bungsu menyikat Belanda di pendakian Pasir Putih itu.

Mereka dikumpulkan dilapangan dengan dikurung oleh panser dan jeep bermitraliyur yang dihadapkan pada mereka. Seorang KNIL segera maju. Kemudian mengajukan pertanyaan.

“Kalau kalian tak menjawab, maka kalian akan ditembak…” KNIL itu menggertak. Tak ada yang menjawab. Karena kanak-kanak malah mendekat panser dan jeep bersenjata berat. Mereka terheran-heran melihat kendaraan itu.

“He, kowe lihat jeep dan truk lewat disini?” seorang KNIL bertanya pada seorang anak yang mendekati pansernya. Anak itu melihat dengan heran.

“Kowe lihat jeep lewat sini? Nanti kowe saya kasi bon-bon..” KNIL itu bertanya lagi dengan bujukan sambil mengambil gula-gula dari kantongnya.

Liyas yang pejuang itu hanya melihat dengan tenang dari kejauahn. Dia tak usah khawatir bahwa rahasia akan terbongkar dari mulut anak-anak itu.

Soalnya bukan karena anak-anak itu seorang patriot. Tidak. Tapi sebabnya adalah karena hal lain. Dan hal lain itu segera terbukti, takkala anak yang ditanya dan disodorkan gula-gula itu menghadap pada teman sebayanya disampingnya tegak dan bertanya.

“Apo nyie bowuok go ang..?”Apa kata monyet ini? Temannya segera menjawab : “Inyo maagie ang gulo-gulo”(Dia memberi engkau gula-gula)

Anak itu tertawa. Mengambil gula-gula itu. “Mokasi yo wuok” (makasih nyet)

Kemudian membuka bungkusnya dan memakannya. Lalu pergi dari sana ke arah kumpulan orang banyak, tanpa mengacuhkan pertanyaan KNIL itu. Soalnya anak-anak dikampung itu seperti umumnya anak- anak dikampung lain diseluruh Indonesia, tak pandai berbahasa Indonesia.

Bahasa mereka adalah bahasa kampung mereka sendiri. Saat itu belum berapa orang jumlah yang mengecap bangku sekolah. Dan yang tak berapa orang itu, semuanya adalah anak-anak yang berdiam di kota. Bukan di kampung.

KNIL yang gula-gula diambil itu hanya bisa garuk-garuk kepala. Dan dari mereka, serta dari penduduk, tak ada keterangan yang diperdapat. Jawaban tetap seperti kemaren. Yaitu kedua kendaraan itu menuju ke Teratak Buluh.

Tak lama kemudian, dua belas pencari jejak yang disebar kembali melapor pada Mayor yang memimpin operasi pencaharian itu. Kedua belas orangnya melaporkan tak menemukan jejak apapun! Rupanya Liyas dan penduduk Marpuyan telah bekerja dengan sempurna. Jejak kedua kendaraan itu memang berhasil dihapus seperti yang dikatakan Si Bungsu. Demikian sempurnanya, sehingga tentara Belanda yang dalam perang Dunia ke II yang baru lalu tugas khususnya adalah mencari jejak kini tak menemukan apa-apa.

Liyas yang menanti kembalinya pencari jejak itu dengan perasaan tegang jadi merasa lega takkala dia lihat kedua belas pencari jejak itu melapor dengan perasaan kecewa.

Akhirnya penduduk dibubarkan dengan ancaman-ancaman. Mayor yang memimpin itu adalah Mayor Antonius. Dalam perang Dunia ke II melawan Jepang di Pasifik dia memimpin Kompi Gerak Cepat bersama sepasukan tentara Amerika di Pulau Guam.

Dan kali ini, firasat Mayor itu mengatakan bahwa jeep dan power yang lenyap misterius itu pastilah melewati jalan kecil menuju Buluh Cina ini kemaren.

Tapi dia merasa heran, kenapa pencari jejak yang tangguh itu tak menemukan apa-apa?

Dia memerintahkan untuk menyelusuri jalan kecil itu terus ke pedalaman. Enam kendaraan yang siap perang itu segera merayap mengikuti jalan yang kemaren memang ditempuh Si Bungsu dan teman-temannya. Liyas dan pejuang-pejuang lainnya menjadi tegang tatkala melihat bahwa Belanda itu meneruskan jalan ke Buluh cina.

“Bagaimana sekarang?” seorang pejuang bertanya pada Liyas. “Kita hanya bisa berserah diri pada Tuhan…” jawab Liyas.

“Kita bisa ke Buluh Cina lewat Teratak Buluh”

“Tak mungkin lagi. Untuk kesana dibutuhkan satu jam pakai sepeda. Kemudian dengan sampan enam jam ke buluh Cina. Sedangkan mereka dalam waktu satu jam sudah akan sampai…” Suman berkata perlahan sambil menatap kendaraan itu lenyap di tikungan.

“Bagaimana kalau ketahuan?”

“Ada dua kemungkina. Pertama semua kita mereka tembak dan Buluh Cina mereka gempur. Kedua mereka kita cegat ketika kembali”.

“Itu berarti bunuh diri. Kita tak punya kekuatan apa-apa. Disini kita hanya ada sebelas orang dengan empat pucuk senjata api, selebihnya hanya memakai kelewang, parang, pisau dan bambu runcing!”

“Bagaimana putusan kita?”

“Saya berharap mereka tak menemukan apa-apa. Semoga lewat Bancah Limbat hujan turun malam tadi.

Dan jejak terhapus sama sekali…..”

Dan memang itulah yang terjadi. Malam tadi hujan meski tak lebat, tapi turun dibahagian hutan lewat rawa yang bernama Bancah Limbat sampai Kutik. Dan semuanya melenyapkan jejak kemaren.

Belanda meneliti tiap jengkal yang mereka lewati dalam usahanya mencari jejak patroli yang lenyap itu.

Tak lama kemudian mereka berhenti disebuah sungai kecil yang melintasi jalan.

Sungai itu jernih sekali airnya. Jernih dan sejuk dengan pasir putih didasarnya. Mayor Antonius menyuruh berhenti jeep komandonya. Dia tegak dibangku. Memandang dengan teropong kependakian diseberang sungai dangkal itu. Tak ada apa-apa yang mencurigakan.

Dia turun. Mencuci muka disungai kecil yang sejuk itu. Meminum airnya yang juga terasa sejuk.

Sementara dia mencuci muka dan minum itu, pasukannya siap dikedua sisi jalan dengan senjata siaga.

“Kita kembali!” perintahnya. Dan semua kendaraan itu, satu persatu berputar disungai kecil tersebut. Daerah dibawah pendakian itu memang cukup lebar untuk berputar. Kendaraan berputar disana sambil menambah air untuk kendaraan mereka.

Dan putusan Mayor itu termasuk hal yang menyelamatkan penduduk kampung Kutik, Buluh Cina dan Perhentian Marpuyan!.

Sebab, kalau saja Mayor itu meneruskan langkahnya agak dua puluh meter lagi kepertengahan pendakian dari sungai kecil dimana dia mencuci muka dan minum, maka dia pasti akan menemukan jejak pertempuran kemaren yang terkikis oleh hujan, dan tak terlenyapkan oleh penduduk Kutik.

Jejak itu berupa lobang-lobang bekas terkaman peluru 12,7 yang dimuntahkan oleh Suman! Di pertengahan pendakian itu ada lebih dari selusin jejak peluru. Kemaren memang ditimbun baik oleh Suman maupun penduduk Kutik. Tapi hujan yang turun malam tadi membuat timbunan itu melorot ke dalam. Dan jejak itu justru muncul lagi. Tapi untunglah, Tuhan masih melindungi mereka semua!

Dan sebelum petang datang, pasukan Belanda itu cepat-cepat menuju ke markas kembali. Mereka memang tak berani berada didaerah Republik itu dimalam hari meski dengan kekuatan persenjataan yang tak tanggung-tanggung.

Mereka hanya berani berpatroli disiang hari. Dan begitu malam akan turun mereka cepat-cepat menarik diri ke markas.

Besoknya pencarian dilanjutkan lagi. Namun jejak yang mereka cari semakin lenyap. Dan akhirnya pencaharian itu dihentikan sama sekali. Sebab setelah itu, Belanda disibukkan oleh peperangan-peperangan dengan tentara Indonesia.

--0000--

Di Buluh Cina.

Rumah-rumah kampung itu semuanya adalah rumah panggung dengan tiang-tiang tinggi. Kampung itu terletak di seberang sungai Kampar, kalau datang dari arah Pekanbaru. Sungai itu senantiasa menghanyutkan airnya yang berwarna jernih ke hilir. Hanya ada sekitar seratus rumah di kampung itu. Memanjang ditepian sungai Kampar dari Barat ke Timur. Di bagian tengah kampung ada sebuah mesjid. Di bagian agak ke hulu ada pandam pekuburan kampung. Kampung dipenuhi oleh rumpun kelapa. Di bawah bayang-bayang dau kelapa ini rumah-rumah penduduk didirikan. Rumah dibuat tinggi dari tanah dengan dua maksud. Pertama menghindarkan banjir dari sungai Kampar yang selalu datang melanda. Kedua menghindarkan diri dari serangan harimau yang sering

mengganas di kampung itu.

Mata pencaharian penduduk tak ada yang tetap. Itu bukan berarti disana banyak sekali mata pencahariannya. Tidak. Sumber kehidupan mereka hanya tigal hal. Satu karet, kedua ikan dan ketiga berladang.

Karet dan ikan merupakan mata pencaharian yang agak tetap. Sementara hasil ladang hanya cukup untuk keperluan anak beranak. Mereka masih menerapkan sistim berladang kaum Nomaden. Hari ini berladang disuatu tempat yang subur. Kalau akan membuka ladang, terlebih dahulu harus menebas hutan belantara. Kemudian dibiarkan kering. Lalu dibakar. Dan setelah itu bekas bakar dibersihkan ala kadarnya.

Kemudian langsung ditanami jagung dan padi. Selama proses ini tak kenal penggunaan cangkul atau alat-alat pertanian lainnya. Untuk menanam padi atau jagung lobang dibuat dengan menghujamkan tuga, yaitu sepotong kayu sebesar lengan yang diruncingkan ujungnya kebawah dan dihentakkan ke tanah. Ke lobang itu benih jagung atau padi dimasukkan.

Dan hanya proses waktu dan alam saja yang mereka tunggu selanjutnya untuk menumbuhkan, membesarkan dan membuat padi dan jagung itu panen. Tapi begitu panen sudah dipetik, maka ladang itu mereka tinggalkan. Tahun depan mereka merambah hutan yang lain pula untuk berladang. Begitu terus.

Ini menyebabkan mereka tak pernah mempunyai ladang yang tetap. Tak pernah berladang dimana tumbuh tanaman keras. Mereka pindah terus dari satu hutan ke hutan lain untuk berladang meski ladang terdahulu tanahnya masih tetap subur untuk beberapa tahun lagi. 

Kebun karet mereka umunya tak terurus. Ditumbuhi semak belukar dan dijalari rotan. Bahagian yang baik hanyalah sedikit disekitar pohon yang akan ditakik saja. Tak heran kalau kebun karet yang mereka sebut dengan kebun para itu menjadi sarang harimau. Dan tak heran pula banyak penakik-penakik getah itu menjadi mangsa raja hutan tersebut.

Mata pencaharian yang ketiga adalah ikan. Mereka menangkapi ikan di sepanjang batang Kampar atau didua danau kecil yang terdapat dibalik kampung itu.

Karet dan ikan inilah mata pencaharian mereka yang agak memadai. Memadai dalam arti sekedar cukup untuk menyambung hidup dari hari ke hari. Sebab baik memotong karet maupun menangkap ikan mereka lakukan secara tradisionil. Bila hujan turun karet tak dapat ditakik, mereka menangkap ikan. Bila air besar dan hujan turun pula, dimana getah dan ikan tak dapat ditangkap, mereka hanya berdiam dirumah.

Demikian kehidupan penduduk dikampung itu musim ke musim. Kampung itu merupakan salah satu dari sekian kampung disekitarnya yang mempunyai struktur ganda. Maksudnya, dalam hal adat istiadat mereka berkiblat ke Minangkabau. Sebab dari sanalah nenek moyang mereka berasal.

Karenanya dikampung itu dikenal juga dengan sistim Suku dan gelar seperti jamaknya dikenal di Minangkabau. Dan sistim keluarga yang dianut juga sistim ibu sebagaimana jamaknya di Minangkabau.Namun dalam segi pemerintahan, mereka tunduk ke Riau.

Sebagaimana jamaknya di Minangkabau, dikampung ini pemuda-pemudanya juga belajar silat. Silat yang berkembang disini adalah silat aliran Pangian. Yaitu silat yang berasal dari negeri Pangian di Kabupaten 50 Kota dekat Lintau.

Silat merupakan kebanggaan tua dan muda.

--000--

Hari itu adalah hari jumat. Yaitu setiap Jumat dimana pedagang-pedagang bersampan dan berkapal kecil-kecil singgah dalam perjalanan mereka menuju Teratak Buluh dihulu dari Langgam di hilir.

Penduduk kampung berdekatan seperti Bontu diseberang agak ke hilir, dan penduduk dari kampung Kutik diseberang agak ke darat sudah berdatangan. Hari sekitar jam sepuluh pagi ketika tiba-tiba dari hulu terlihat orang berlarian.

“Belanda! Tentara Belanda datang!” pekiknya. Suasana ditengah pasar itu mula-mula terbengong- benging saja. Tapi begitu tembakan pertama terdengar, suasana panik segara menjalar. Penduduk berlarian bertemperasan. Pedagang-pedagang berusaha menyelamatkan jualannya.

Mereka berteriak meminta uang pada pembeli yang begitu panik menjalar segera saja angkat kaki. Lupa membayar barang yang telah dia ambil. Namun penduduk yang berlarian itu tak lama kemudian kembali lagi ke pasar darurat tersebut. Mereka dihalau kesana oleh tentara Belanda yang rupanya telah mengepung kampung itu dari hulu dan dari hilir.

Tentara yang datang tak berapa orang. Hanya enam orang. Tapi enam orang tentara Belanda dengan senjata lengkap memang sudah cukup membuat penduduk jadi terkencing-kencing.

“Ayo kumpul semua!” bentakan terdengar dari mulut seorang Leutenant. Dan kembali serentetan tembakan dari sten menyalak.

Anak-anak pada bertangisan. Perempuan pada terpekik dan mereka digiring ke lapangan kecil dimana tadi seorang pedagang berjual obat.

Kaum lelaki dan perempuan segera saja dipisahkan. Ada sekitar tiga puluh orang lelaki yang terjaring.

Mereka semua disuruh duduk berjongkok di tanah.

“Periksa!” Leutenant itu memberi perintah. Dan tiga orang serdadu yang terdiri dari seorang Sersan, seorang kopral dan seorang soldaat segera menghampiri para lelaki yang duduk mencangkung itu.

“Bagaimana, kita lawan mereka?” Si Bungsu yang terdapat diantara para lelaki itu berbisik pada Bilal yang duduk disebelahnya.

“Tunggu dulu. Nampaknya mereka bukan mencari kita” Bilal menjawab. Dan karenanya Si Bungsu hanya diam menanti. Hari itu adalah bulan ketiga dia berada di kampung Buluh Cina ini semenjak peristiwa penyergapan di pendakian Pasir putih itu.

Tiga peluru yang menghajar tubuhnya, ternyata tak cukup kuat untuk merenggut nyawanya. Atau katakanlah, bahwa Bilal telah menolong nyawanya dari renggutan maut. Lelaki itu melarikan tubuh Si Bungsu yang luka parah di Buluh Cina. Kemudian di kampung itu Si Bungsu ditolong dengan obat-obatan kampung.

Lukanya diobat dengan berbagai ramuan. Diantaranya dengan bubuk yang dibuat dari kikisan tempurung kelapa. Pedih dan sakitnya bukan main.

Namun Tuhan masih memanjangkan umurnya. Buktinya dia berangsur sembuh. Sementara itu senjata yang berhasil mereka rampas dari Belanda-Belanda di pendakian Pasir Putih telah dikirim ke Pekanbaru. Kepada anggota-anggota fisabilillah dan tentara Indonesia.

Dan di kampung ini hanya ada dua pucuk bedil. Satu pada Bilal, yaitu sebuah sten, kemudian sebuah lagi pada Badu. Yaitu sebuah jungle. Namun kini kedua bedil itu berada dirumah mereka. Dan kini Bilal, Badu dan Si Bungsu terperangkap di Pasar Jumat tersebut.

Dengan perasaan tegang mereka menanti ketiga serdadu Belanda itu menggeledah mereka. Satu demi satu mereka diperiksa. Diraba pinggang celana dan kantong-kantong mereka.

“Apa yang mereka cari?” Si Bungsu berbisik. “Entahlah…!” jawab Bilal perlahan.

Dan akhirnya penggeledahan itu selesai. Tak seorangpun nampaknya yang dicari oleh tentara Belanda tersebut. Si Bungsu menarik nafas panjang.

Ketiga serdadu yang memeriksa itu berjalan ketempat Leutenat yang memimpin mereka. Melaporkan hasil pemeriksaan. Namun mata Leutenat itu menatap tepat-tepat pada Bilal. Bilal yang tahu bahwa dia sedang diperhatikan mencoba untuk tak acuh. Mencoba menatap ke bawah.

Si Bungsu juga melihat kelainan tatapan mata Leutenant tersebut. Dan tiba-tiba saja Leutenant itu melangkah mendekati mereka.

“Dia kemari…!” Si Bungsu berbisik.

“Ya, mau apa dia?” balas Bilal sambil menoleh ke tempat lain acuh tak acuh. Padahal hatinya berdebar keras. “Apakah bapak dia kenali?” Bungsu bertanya. “Saya tak tahu….” Jawab Bilal.

Pembicaraan itu terhenti takkala tiba-tiba saja tangan Leutenant itu menjambak rambut Bilal. Menyentakkan ke atas sehingga kepalanya tertengadah.

Hampir saja Bilal menghantam kerampang Leutenant itu dengan lutut karena berangnya. Tapi untung dia dapat menahan emosi. Dia sadar, kalau berbuat yang tidak-tidak, banyak penduduk yang akan jadi korban sia-sia. Dia menahan amarahnya sambil mengikuti sentakan pada rambutnya hingga dia berdiri.

Mata Leutenant itu menatap wajahnya dengan teliti.

“Hei, bukankah ini orang yang lewat di Simpang Tiga beberapa bulan yang lalu?” Leutenant itu berseru pada anak buahnya.

Anak buahnya menatap pada si Bilal. Dan si Bilal segera ingat pada saat mereka diperiksa di penjagaan Simpang Tiga. Yaitu ketika dia dengan Si Bungsu dan Suman. Disaat dimana dia diludahi oleh seorang tentara KNIL. Lelaki yang lain pada berkuak.

Tentara Belanda ini sebenarnya datang ke Buluh Cina bukannya mencari Bilal atau Si Bungsu. Peristiwa lenyapnya tentara Belanda dengan sebuah Jeep dan sebuah Power Wagon tiga bulan yang lalu tak ada sangkut pautnya dengan kedatangan mereka kini.

Mereka datang kemari dalam rangka memburu seorang pembunuh. Seorang lelaki pribumi telah membunuh seorang pedagang di teratak Buluh. Pedagang itu orang asli Teratak Buluh yang terletak tiga jam bermotor tempel di hulu Teratak Buluh.

Dan Belanda memburunya sampai kemari bukan tanpa alasan. Ada dua alasan kenapa tentara Belanda memburu pembunuh yang menghiliri sungai Kampar itu. Pertama, pedagang yang dibunuh itu adalah mata- mata Belanda. Kedua memang menegakkan hukum dengan baik meski ditanah jajahannya.

Mereka menyangka bahwa pembunuh itu berada di Pasar Jumat ini. Makanya mereka menghentikan motor tempel mereka dihulu. Kemudian dengan jalan kaki mengepung Pasar jumat ini. Tapi Leutenant yang memimpin pemburuan itu ternyata mengenali Bilal.

Dan karena dia mengenal Bilal, dia segera ingat kembali akan lenyapnya teman-temannya tiga bulan yang lalu. Yaitu persis setelah lewatnya Bilal dengan kedua temannya di Simpang Tiga!

“Benar, dialah yang kita periksa dulu. Saya ingat benar, dia saya ludahi waktu dalam pos pemeriksaan…” “Kalau begitu dia punya hubungan dengan lenyapnya teman-teman kita tiga bulan yang lalu. Cari temannya yang lain!” perintah leutenant itu menggelegar. Si Bungsu kaget mendengar perintah itu. Dia ingin

bertindak, namun tindakannya tinggal beberapa detik dari tindakan yang diambil oleh Bilal.

Bilal yang pesilat itu, merupakan salah seorang pejuang dari pasukan Fisabilillah, segera menyadari bahwa bahaya yang hebat mengancam mereka bila dia tertangkap. Makanya begitu leutenant itu memerintahkan untuk mencari temannya yang lain, yang tak lain dari Si Bungsu dan Suman, Bilal segera bertindak.

Saat leutenant tersebut masih mencekal rambut dikepalanya. Dengan sebuah tendangan yang penuh kebencian, lututnya menghantam perut leutenant itu. Leutenant itu mendelik matanya menahan sakit. Cekalannya pada rambut Bilal lepas. Kedua tangannya segera saja memegang perut yang dimakan lutu pejuang itu.

Dan Bilal tak berhenti sampai disana, dia segera mencekik leher leutenant itu dari belakang. Kemudian sebilah pisau yang dia simpan dibalik pinggang celananya segera saja keluar dan ditekankannya kuat-kuat ke dada sebelah kiri si Belanda .

“Kubunuh anjing ini kalau kalian bergerak!!” dia berteriak mengancam tentara Belanda yang lain. Yang semuanya masih tertegun kaget.

Seorang Sersan Mayor coba mengokang bedil. Namun saat berikutnya dia terhenti bersamaan dengan pekik si leutenant. Bilal rupanya memang tak sekedar menggertak.

Begitu dia lihat Sersan itu mengokang bedil, pisau beracunnya dia tekankan. Demikian kuatnya, hingga menembus baju loreng si Letnan dan menembus dadanya. Meski pisau itu hanya menembus kira-kira sejari, tapi sakit dan kagetnya leutenant itu bukan alang kepalang.

Kejadian tiba-tiba jadi tegang. Semua pada terdiam. Bilal sendiri tak tahu apa lagi yang akan dia perbuat. Dan Si Bungsu segera menangkap keraguan ini. Dia bangkit dan melangkah. Namun gerakannya justru melindungi seorang kopral dari tatapan mata Bilal.

Kopral itu menyambar seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun. Dan persis seperti yang diperbuat Bilal, Kopral KNIL ini menodongkan bedilnya persis ke pelipis gadis kecil itu.

“Lepaskan leutenant itu, atau anak ini saya hancurkan benaknya!” kopral itu ganti menggertak. Bilal membalik dan baru saja akan balas bicara ketika tiba-tiba ibu anak tersebut memekik dan menghambur ke arah anaknya.

“Biarkan dia, jangan dekati…..!” Bilal coba mengingatkan perempuan itu. Namun perempuan itu mana mau anaknya terancam bahaya. Sambil memekik dia terus memburu kopral itu.

“Jangan dekati kesanaaa!!” Bilal berteriak lagi sementara tangannya tetap mengunci leher leutenant itu. Tapi perempuan itu tak peduli. Dia memegang tangan anaknya. Dan kini dia saling tarik dengan kopral KNIL itu.

“Lepaskan anakku! Lepaskan anakkuuu!!” pekiknya sambil menolong-nolong. “Anjing pigi kowe! Pigi kowe sana!!” kopral itu membentak. Dan suatu saat, kakinya terangkat. Sepatu larasnya yang berpaku menerjang perempuan tersebut.

Perempuan itu tercampak. Dadanya kena hantam. Dia muntah darah. Dan tergolek diam ditanah!

Keadaan kembali tegang. Empat serdadu Belanda yang lain tetap saja tak bisa berbuat apa-apa. Sebab mereka melihat betapa ujung pisau Bilal tetap saja menancap di dada komandan mereka.

“Ayo lepaskan Leutenant!!” kopral KNIL itu membentak lagi. Namun Bilal segera dapat menguasai kekagetannya.

“Kau perintahkan semuanya melemparkan bedil letnant!” Dia mendesis dipangkal telinga leutenant itu.

Dan ketika letnan itu masih berdiam diri, dia menekankan lagi ujung pisaunya. “Perintahkan mereka melemparkan senjatanya!!”.

Namun tiba-tiba saja tanpa disengaja sedikitpun, mungkin karena gugup, senjata ditangan kopral yang mengancam gadis kecil itu meledak.

Dan bencana tak dapat dihindarkan. Kepala gadis itu rengkah dan dia mati tanpa memekik sedikitpun.

Semua jadi kaget. Semua seperti dipakukan ke tanah. Bilal lah yang pertama mengadakan reaksi.

“Anjiiing! Kubunuh kalian!! Kubunuuuuuuh!” dan dia memang membuktikan ucapannya. Dia memang tak main-main. Dia memang siap dengan segala kemungkinan. Dia memang kental hatinya. Kental darah pejuangnya.

Dia menekankan pisaunya hingga membenam seluruh ke dada leutenant itu. Seluruhnya terbenam. Leutenant itu memekik dan meronta-ronta mengelak dari renggutan maut. Namun pisau beracun itu sebenarnya sudah sejak tadi beraksi ditubuhnya.

Pisau itu begitu ditekankan begitu menghujam ke jantungnya. Dan dengan mata mendelik, dia tercampak di tanah. Kembali semua orang jadi tertegun. Kaget dan ngeri. Tentara-tentara Belanda yang lima orang itu juga ternganga. Tertegak kaget. Tertegak ngeri.

Namun hanya sebentar. Dan setelah itu mautpun menyeringai serta merenggut nyawa disekitar pasar itu. Yang pertama berakasi adalah sergeant. Bedil ditangannya menyalak. Yang dia tuju adalah Bilal. Tapi pesilat itu sudah lebih dahulu arif. Dia cepat bergulingan di tanah. Dia terhindar dari terkaman maut.

Tapi orang yang berada dibelakangnya, yaitu seorang lelaki petani justru jadi korban. Lelaki itu terpekik dan terpental lalu roboh dan mati.

Dan setelah itu tak lagi diketahui siapa-siapa yang terkena tembak. Sebab letusan telah membahana. Si Bungsu hanya bisa bergerak menurut firasatnya saja.

Tubuhnya bergulingan, dan begitu tegak, samurainya bekerja. Kopral yang menembak mati gadis kecil itu jadi korban pertama mata samurainya. Tangan kopral yang memegang bedil itu putus hingga lengan dekat bahu.

Kemudian samurai Si Bungsu berkelabat lagi. Dan kaki Belanda itu putus. Cukup sekian. Si Bungsu membiarkan Belanda itu memekik-mekik tanpa tangan kanan dan tanpa kaki kiri!

Sebuah desingan dan rasa panas menyambar pelipisnya. Dia menjatuhkan diri. Bergulingan kekanan menurut arah peluru tadi datang. Kemudian sambil bangkit, samurainya bekerja.

Sergeant yang tadi menembak, terkena makan mata samurainya. Perut sergeant itu belah. Dan tubuhnya menggelepar-gelepar lalu diam. Lalu mati! Dan suasana tiba-tiba juga diam! Si Bungsu menyisipkan samurainya. Memandang keliling.

Keenam serdadu Belanda itu telah tergeletak. Lima diantaranya mati! Dua orang mati ditangan Si Bungsu. Yang lain disudahi oleh Bilal dan enam orang lelaki yang menyerang memakai pisau, parang dan golok! Tiba-tiba semua mata memandang pada tubuh kopral KNIL yang masih tergolek dan meraung-raung itu.

Mereka beranjak dari tempat masing-masing. Mendekati tubuh kopral itu. Membuat lingkaran mengitarinya.

Dan tiba-tiba seorang lelaki menyeruak. Dia masuk ke tengah memangku mayat gadis kecil yang tadi ditembak si Kopral. Dia adalah ayah gadis itu.

Semua pada diam menatapnya. Dia tidak anggota fisabilillah. Dia hanya seorang petani biasa. Tapi tadi dia telah ikut menghujamkan pisaunya ke dada dua orang Belanda.

Dan kini dia tegak dengan kaki terkangkang memangku mayat anaknya. Menatap pada tentara Belanda yang telah membunuh putrinya itu.

KNIL itu tiba-tiba terdiam pula dari raung kesakitannya. Dia menatap dengan mata terbuka lebar pada lelaki yang memangku gadis kecil itu. Dia segera mengenali gadis berambut hitam lebat itu. Gadis yang dia bunuh tadi.

“Mengapa kau bunuh dia?” lelaki itu bertanya. Suaranya perlahan. Aneh. Pertanyaan yang jujur dari seorang lelaki jujur dan bodoh. Lelaki kampung yang tak tahu menahu dengan peperangan atau politik.

“Mengapa kau bunuh anakku, padahal dia tak pernah menyakitimu? Kami tak pernah menyakiti kalian.

Kenapa kau bunuh anakku, kau sakiti istriku?”

Suara lelaki itu terdengar serak. Dia tatap tentara KNIL itu tepat-tepat. Dan KNIL itu tiba-tiba seperti kehilangan seluruh rasa sakit dilengan dan dikakinya yang putus.

Dia merasa heran, merasa takjub dan sekaligus juga merasa luluh atas pertanyaan yang lugu dan polos itu. Dan isteri lelaki itu, yang tadi kena tendang berdiri disamping suaminya. Menangis melihat mayat anaknya.

Dan tiba-tiba lelaki itu melangkah lewat disisi KNIL itu, melangkah terus memangku anaknya. “Ampunkan saya…amupunkan saya pak…” KNIL itu bermohon. Sementara air mata penyesalan mengalir

dipipinya. Namun lelaki itu seperti tak mendengar ucapannya. Dia melangkah terus bersama istrinya. Membawa mayat anaknya.

“Ampunkan saya…” KNIL itu bermohon. Dia benar-benar merasa amat berdosa. Dan dia merasa tersiksa atas perlakuan lelaki pribumi yang tak mau membalas sakit hatinya. Kenapa lelaki itu hanya bertanya, kemudian pergi? Kenapa dia tak menikamnya saja?

Dan akhirnya KNIL itu menangis terisak-isak.

“Bunuhlah saya… bunuhlah saya. Saya tak layak untuk diampuni. Bunuhlah saya…bunuhlah saya….!” Dia bermohon pada penduduk yang mengitarinya. Namun semua penduduk hanya menatapnya dengan tatapan kosong.

Kemudian satu demi satu mengurusi maya teman-temannya yang mati kena tembakan tadi. Yang perempuan menangisi suaminya yang mati. Demikian pula kanak-kanak menangisi mayat ayahnya atau ibunya.

Dalam perkelahian yang singkat itu, selain kelima tentara Belanda yang mati itu, ternyata ada enam penduduk yang meninggal. Empat orang lelaki dewasa, seorang perempuan dan seorang anak-anak.

Kemudian satu demi satu mayat-mayat itu mereka angkut ke rumah masing-masing. Dan kini dilapangan bekas Pasar Jumat itu hanya ada enam tubuh tentara Belanda.

Lima diantaranya sudah jadi mayat, yang satu lagi menatap kesekitarnya dengan perasaan tak menentu.

Dia adalah tentara KNIL yang menembak anak ibu yang tangan dan kakinya dibabat Si Bungsu.

Dia menoleh keliling. Dan matanya berpapasan dengan tatapan mata Si Bungsu. Dia menatap pada samurai di tangan anak muda itu.

“Tolonglah saya. Bunuhlah saya. Jangan biarkan saya menderita seperti ini…” mohonya.

Si Bungsu menatapnya dengan tenang. Dia teringat pada nasib seorang Datuk penyamun yang nasibnya juga sama dengan KNIL ini.

Yaitu ketika Datuk itu bersama temannya datang ke Penginapan kecil di Aur Tajungkang untuk membalas dendam padanya. Kemudian menista Mei-mei. Datuk itu dia babat kedua tangan dan kedua kakinya. Kemudian dia tinggalkan berguling mengerang dan memohon-mohon untuk dibunuh di lantai penginapan dan demikian pulalah yang dialami KNIL ini. Dia lebih suka mati daripada menanggung malu tak

bertangan dan tak berkaki.

Si Bungsu sebenarnya memang ingin membunuh KNIL jahanam ini. Tapi dia ingin memberi pelajaran atas pembunuhan yang telah berkali-kali dilakukan si KNIL tersebut.

“Tolong bunuhlah saya…” KNIL itu memohon lagi.

“Bukan urusan saya. Orang kampung ini akan menentukan nasibmu. Engkau datang ke kampung ini membawa bedil, membunuh kanak-kanak. Menembaki perempuan dan lelaki yang tak berdosa. Bukankah penduduk di kampung ini tak pernah menyakiti kalian? Kenapa hari ini kalian datang membunuhi mereka”

KNIL itu tak bisa bicara.

Sementara itu, pedagang-pedagang selesai mengumpulkan jualan yang tertambat ditepian batang Kampar itu. Lalu tanpa bicara ba atau bu, mereka segera membuka tambatan sampan.

“Harap jangan terdengar oleh Belanda di Teratak Buluh atas peristiwa yang terjadi disini. Katakan saja bahwa kalian tak pernah bertemu dengan Belanda di kampung ini…”

Bilal berseru dari tebing kepada pedagang-pedagang itu. Sebab kalau sempat saja peristiwa ini bocor, maka dia sudah bisa meramalkan bahwa akan ke kampung ini seluruh pasukan Belanda untuk membunuhi mereka. Para pedagang itu tak ada yang menyahut.

“Kalau ternyata peristiwa ini bocor, maka ingatlah, kami akan mencegat kalian bila hilir ke Langgam.

Dan kita akan bermusuhan sepanjang zaman….!” Bilal berseru lagi. Sumpahnya ini membuat bulu tengkuk pedagang-pedagang yang akan berkayuh itu pada merinding. Kalau penduduk kampung ini memang bermusuhan dengan mereka sepanjang zaman itu berarti sepanjang zaman pula mereka tak dapat melayari sungai ini!

Dan itu berarti mereka kehabisan mata pencaharian pula. Sebab satu-satunya tempat berjualan yang menghasilkan uang adalah ke Teratak Buluh. Dan bila dagangan disana habis, mereka bisa jalan darat membeli dagangan baru ke Pekanbaru.

“Percayalah Bilal, dari kami takkan pernah terbuka rahasia ini. Kami bangga pada kalian, yang telah berani melawan dan membunuhi penjajah…” Pimpinan dari pedagang-pedagang itu berseru pula.

Dan mereka lalu berkayuh ke hulu satu demi satu. Ada dua belas sampan dan tongkang pedagang itu.

Bergerak seperti siput merangkak pada arus sungai Kampar ke arah hulu.

Bilal menatap sampan itu bergerak. Setelah jauh, dia membalik. Menghadap pada kopral KNIL yang masih terbaring itu. Sementara penduduk kampung yang lain, atas petunjuk Suman mengangkati mayat-mayat Belanda yang lain ke arah perkampungan.

Bilal melangkah mendekati KNIL itu.

“Kami takkan membunuhmu. Kematian merupakan hal yang terlalu enak bagimu. Tapi engkau akan tetap mati kehabisan darah”

Bilal mencabut pisau yang tadi dia tikamkan ke dada leutenant. Melemparkan hingga tertancap disisi tubuh KNIL itu.

“Engkau boleh pilih, mati secara perlahan disini atau bunuh diri dengan pisau itu…” Dan Bilal memberi isyarat pada Si Bungsu untuk meninggalkan tempat tersebut!

Bungsu melangkah mengikuti Bilal ke arah mayat-mayat Belanda tadi diangkuti. Namun beberapa langkah mereka berjalan, KNIL tadi terdengar mengeluh. Mereka menoleh, dan melihat betapa pisau yang diberikan Bilal tadi telah menancap didadanya. KNIL itu ternyata lebih suka bunuh diri daripada tetap dibiarkan terguling tak berdaya disana. Dia lebih suka mempercepat kematiannya daripada harus menunggu maut merangkak secara perlahan menyakiti nyawa dan jasadnya.

“Dia memilih jalan singkat….” Bilal berkata.

Bungsu hanya diam menatap. Bilal menyuruh dua orang penduduk untuk mengangkat mayat KNIL itu. “Bersihkan bekas-bekas darah di tanah! Dan Asir…kau biasa membawa motor tempel. Bawa motor

tempel Belanda itu ke Danau Baru. Tenggelamkan disana…”

Orang-orang yang disuruh itu melaksanakan tugas mereka.

Dan Bilal membawa Si Bungsu ke arah mayat-mayat Belanda itu diangkuti. Mayat-mayat itu teranyata diangkuti ke belakang kampung. Ke hutan belantara yang masih perawan. Kaum lelaki berkumpul disana. Menanti Bilal dan Si Bungsu.

Semua mereka menoleh pada Bilal dan Si Bungsu yang baru muncul. Menatap dengan diam. Guruh tiba- tiba menderam di angkasa. Bilal berhenti, demikian pula Si Bungsu. Para lelaki melirik ke samurai yang terpegang ditangan kanan Si Bungsu.

Dari cerita yang pernah mereka dengar, anak muda ini mahir dan amat cepat dengan samurai Jepang itu. Tapi dipasar Jumat tadi, beberapa orang sempat melihatnya. Itupun secara tak pasti. Sebab hampir semua mereka terlibat dalam perkelahian yang hanya sebentar.

Hanya saja, dari mayat-mayat yang mereka bawa ini, ada dua orang tentara Belanda yang belah perut dan dadanya. Dan itu pasti termakan samurai. Jadi dengan kopral yang putus kaki dan tangan kanannya itu, ada tiga serdadu Belanda yang dibabat samurai tersebut.

Hanya itu sebagai bukti bagi penduduk bahwa anak muda ini memang cepat dengan samurainya. Hanya sayangnya tak seorangpun yang sempat melihat dengan pasti bagaimana caranya dia memainkan senjata maut itu.

Kini mereka tegak membisu. Bilal yang merupakan seorang pemuka dikampung itu akhirnya bersuara. “Asir saya suruh membawa motor tempel Belanda itu ke Danau Baru. Menenggelamkan di sana. Saya

rasa kalaupun ada pencaharian oleh pihak Belanda kemari mereka takkan menemukan jejak sedikitpun” Dia berhenti. Para lelaki itu tak ada yang bersuara. Bilal menyambung :

“Kini kita kuburkan mayat-mayat Belanda ini. Kuburkan bersama pakaian mereka. Senjata simpan di rumah Suman. Kita kuburkan mereka lebih ke hutan sana. Lewati paya-paya tersebut agar jejak kita tak mudah ditemukan. Kubur yang dalam, agar mayat mereka tak digali harimau…!” Masih tanpa suara, kaum lelaki itu mulai mengangkati mayat keenam serdadu Belanda tersebut. Guruh kembali menderam rusuh dikaki langit. Mengirimkan suasana seram ke hati mereka.

Satu demi satu mulai menyeruak rimba menuju paya-paya.

“Biar saya didepan membuka jalan….” Si Bungsu berkata sambil mendahului rombongan pemangku mayat tersebut. Di depan dia menghunus samurainya.

Ketika dia akan menebas semak untuk membuka jalan, dia terhenti mendengar seruan Bilal. “Jangan ditebas!”

“Tapi ini menyulitkan perjalan yang memangku mayat..”

“Ya, tapi tebasan itu juga akan memudahkan Belanda masuk untuk mencari jejak mayat teman- temannya”

Si Bungsu menjadi mengerti duduk soalnya. Dia mengagumi ketajaman firasat Bilal. Oleh karena itu dia memasukkan kembali samurainya. Kemudian dengan mempergunakan samurai bersarung itu dia menguakkan semak-semak untuk membuat jalan bagi temannya yang di belakang.

Mereka berjalan dengan diam.

Yang terdengar hanyalah geseran tubuh dengan dedaunan. Mereka memalui rimaba yang lebat. Tak lama kemudian, mereka tiba ketepi rawa dan bancah yang tadi disebutkan Bilal.

Si Bungsu menekankan samurainya ke dalam air. Menduga dalam bancah ini. Ujung samurainya menekan tanah dasar air. Cukup keras. Kemudian dia mulai melangkah masuk air. Yang lain menuruti.

“Kita ke seberang sana…?” tanyanya sambil menoleh pada Bilal yang berada ditengah barisan itu. Bilal mengangguk. Bungsu menepi memberi jalan kepada orang yang dibelakangnya. Lelaki itu lewat dengan mayat leutenant Belanda dibahunya. Berturut-turut lewat lelaki yang lain.

Namun tiba-tiba Si Bungsu merasa dirinya jadi tegang.

Matanya menyipit. Inderanya yang sudah terlatih di rimba Gunung Sago tiba-tiba mengisyaratkan bahwa ada bahaya mengancam. Samurainya dengan cepat berpindah ke tangan kiri. Sementara tangan kanannya menggantung melemas.

Beberapa lelaki lagi lewat dihadapannya. Dia menatap dengan tegang. Bahaya yang tercium oleh firasatnya itu makin mendekat. Lelaki yang paling depan telah naik kembali ke tanah di seberang bancah sana. Jaraknya dengan Si Bungsu ada sekitar dua depa.

Si Bungsu kenal benar dengan isyarat yang dia tangkap ini. Amat kenal. Hanya kini dia memastikan dimana sumber bahaya itu. Sedetik dia memejamkan mata, inderanya yang terlatih, yang melebihi ketajaman indera binatang buas manapun, segera mengetahui bahaya itu.

Tiba-tiba dia memekik seperti pekikan raja hutan. Pekikannya yang dahsyat itu diikuti oleh terangkatnya tubuhnya dari tempatnya tegak. Dirinya yang tadi tegak dalam rendaman air sebatas paha, tiba-tiba melambung dalam suatu lompa tupai yang terkenal itu.

Tubuhnya mengapung segera dari permukaan air bancah. Melambung ke arah depan dimana lelaki yang memangku mayat leutenant itu tegak.

Tidak hanya lelaki dengan mayat leutenant itu saja yang tertegak diam. Semua anggota rombongan pengubur mayat itu, termasuk Bilal yang berjumlah empat belas orang pada tertegak kaget, dan seperti dipakukan ke tanah begitu mendengar pekik Si Bungsu tadi.

Dan kini dengan pandangan tak berkedip, mereka melihat tubuh Si Bungsu turun di depan sekali. Persis disisi Soli yang memangku mayat Leutenant itu.

Tangan kanan Si Bungsu dengan kuat mendorong tubuh Soli. Karena dibahunya ada beban, Soli tak bisa menguasai keseimbangan, tubuhnya segera saja terdorong ke samping. Tak hanya sekedar terdorong, tapi terjatuh duduk.

Belum habis kaget Soli dan semua teman-temannya melihat tindakan Si Bungsu, tiba-tiba saja dari hadapan tempat Soli tegak tadi, melesat suatu bayangan dengan suara menggeram hebat.

Bayangan itu justru menerpa tempat Soli tegak tadi bersama mayat leutenant tersebut dibahunya. Kini di tempat itu yang tegak bukan lagi Soli, tapi Si Bungsu. Si Bungsu tak berani menerima terkaman itu. Yang menerkamannya tak lain daripada seekor harimau besar!

Dia melambung dengan lompat tupai ke kanan! Dan harimau itu menerpa tempat kosong! Semua lelaki yang segera melihat harimau itu pada tegak melongo. Hanya Bilal yang mengucap istigfar. Yang lain tanpa dapat dicegah pada menggigil. Mereka rata-rata memang pesilat. Tapi tak semua pesilat berani menghadapi harimau. Apa lagi di siang bolong dan di dalam rimba raya!

Mayat-mayat yang tadi mereka panggul. Pada berjatuhan tanpa mereka sadari. Dan mereka pada tegak menggigil! “Tetaplah diam ditempat kalian!” Si Bungsu berteriak memperingati ketika dia lihat ada seorang dua yang ingin ambil langkah seribu.

Semua pada tertegak. Si Bungsu memperingatkan hal itu untuk menghindarkan korban. Sebab dia telah hidup dalam belantara Gunung sago. Telah berkelahi dengan harimau-harimau di gunung Sago tersebut untuk mempertahankan hidupnya.

Dan dia jadi sangat kenal pada sifat harimau-harimau. Mereka akan memburu orang yang membelakanginya. Yang lari terbirit-birit! Harimau justru jadi segan dan agak gentar pada orang yang tegak diam dan menatapnya!

Dan kini harimau yang besarnya bukan main itu mengeram. Beberapa lelaki ada yang terkencing. Si Bungsu dengan langkah ringan memutar tegak.

Dan kini dia persis dihadapan harimau itu.

Harimau itu mengais-ngaiskan kakinya ke tanah. Meninggalkan jejak kuku yang dalam pada tanah keras tersebut. Dan tiba-tiba tubuhnya merendah. Matanya nyalang menatap Si Bungsu tak berkedip.

Si Bungsu tegak dengan tenang. Dan kedua kakinya terpentang lebar.

Dia balas menatap harimau itu dengan pandangan tak berkedip. Mereka sama-sama mengukur. Dan tiba- tiba tanpa memberitahu, tanpa bersuara sedesahpun, tubuh harimau itu melesat dengan kecepatan yang tak terikutkan oleh mata. Menghambur kearah Si Bungsu.

Demikian cepatnya sergapan itu, sehingga hampir-hampir tak terikutkan oleh mata lelaki-lelaki yang ada disana. Yang dapat melihat dengan jelas gerakan itu hanyalah Bilal yang telah masak ilmu silatnya.

Dia melihat betapa harimau itu tidak menerkam, tapi dalam lompatannya dia menampar ke arah Si Bungsu. Dan hanya Bilal pulalah yang dapat sedikit melihat betapa dengan kecepatan yang sulit dimengerti, tangan kanan Si Bungsu tiba-tiba telah memegang samurainya. Dan samurainya itu membabat ke arah harimau yang menerkamnya itu.

Hanya itu yang terlihat. Bilal tak tahu apakah antara kedua lawan itu ada yang kena atau tidak. Tapi dia dan semua lelaki yang tertegak diam itu melihat betapa kini kedua mereka saling berhadapan kembali!

Harimau itu tegak mencekam tanah empat depa di belakang Si Bungsu. Tegak tanpa cedera apapun. Sebaliknya Si Bungsu juga tegak dengan posisi seperti tadi. Dengan tubuh tegak lurus dan dengan kaki yang terpentang lebar. Bedanya kini samurainya kembali telah tersisip dalam sarangnya ditangan kiri. Sementara tangan kananya tergantung lemas!

Dia juga tegak tanpa luka segorespun! Semua mereka menghela nafas. Ini adalah pertarungan yang belum pernah mereka saksikan seumur hidup. Belum pernah dan mungkin tak pernah terjadi untuk kedua kalinya!

Mereka memang banyak mendengar, bahwa pesilat-pesilat tangguh biasanya memutus kaji dengan bertarung melawan harimau. Dan mereka juga tahu, bahwa diantara pesilat-pesilat yang tangguh itu, Bilal konon adalah salah seorang yang telah lulus dari perkelahian seperti ini.

Entah benar entah tidak, tapi sudah menjadi rahasia umum, sudah menjadi buah bibir, bahwa Bilal telah lulus dari ujian dengan “Niniek” belang. Mereka tak mengetahui dengan pasti karena tak melihatnya. Dan sebaliknya Bilal pun tak pernah membantah atau mengiyakan desas-desus itu. Yang jelas dia memang seorang pesilat tangguh yang telah masak!

Dan kini. Manusia melawan harimau! Bila ada kesempatan seperti itu? Maka meski dengan celana basah karena kencing, mereka berusaha juga untuk tetap tegak. Berusaha agar mata mereka terbuka lebar menyaksikan perkelahian itu. Menyaksikan dengan tubuh terguncang-guncang karena menggigil ngeri!

Tiba-tiba mereka menyaksikan sesuatu yang aneh. Di belakang sana, harimau itu kembali mencengkamkan kaki depannya ke tanah. Matanya menatap marah pada Si Bungsu yang membelakanginya. Membelakang! Bayangkan, ada manusia yang berani membelakanginya! Bukankah itu suatu penghinaan! Harimau itu benar-benar berang!

Dia tak mau dihina demikain. Apalagi dihadapan tatapan sekian banyak manusia. Dan dia berniat kali ini untuk mengoyak tubuh manusia sombong yang membelakanginya ini!

Akan halnya Si Bungsu, kelihatan memejamkan matanya. Kemudian perlahan merendahkan tubuh. Lalu duduk bersila di tanah! Duduk dengan mata tetap terpejam! Inilah yang membuat heran dan terkejut lelaki- lelaki dari Buluh Cina itu. Termasuk Bilal!

Tak seorangpun yang tahu, bahwa jika dia telah berbuat demikian itu berarti disekitarnya ada maut yang siap merengut nyawa setiap makhluk yang mendekati tubuhnya yang diam terpejam itu! Tak seorangpun yang mengetahui itu. Bahkan Bilal yang pesilat tangguh itu tak pula bisa menangkap secara penuh. Dia hanya bisa menerka- nerka. Bahwa anak muda itu sebenarnya barangkali sedang memusatkan inderanya. Sedang menghimpun segala makrifat. Tapi itu hanya dugaannya saja. Dia tetap saja cemas melihat hal itu.

Dan tiba-tiba, tanpa suara sedesahpun seperti tadi, bahkan kini seperti tak ada angin terkuat sedikitpun oleh tubuhnya yang besar dan dahsyat itu, harimau tersebut melesat dengan kecepatan hampir-hampir tiga kali kecepatan loncatannya yang pertama tadi. Meloncat dengan mulut yang diarahkan untuk menerkam tepat- tepat ke tengkuk Si Bungsu!

Bilal tak melihat gerakkan sedikitpun dari pihak Si Bungsu. Dan saat berikutnya, terlalu cepat buat diikuti mata siapapun. Terlalu cepat! Hanya bayangan yang tak jelas!

Mereka hanya melihat betapa kelebatan bayangan yang cepat itu akhirnya berhenti dalam bancah dari mana Si Bungsu tadi melambung ke luar.

Harimau itu tertegak dengan keempat kakinya di bancah itu. Separuh tubuhnya bahagian bawah terendam dalam bancah. Dan dibawahnya terhimpit Si Bungsu. Yang kelihatan keluar mencuat dari bawah perut harimau itu hanyalah tangannya!

Tangan anak muda itu menggelepar dan buih air menggelembung ke atas! Gelembung air merah! Merah darah! Tangan Si Bungsu sekali lagi kelihatan menggelepar. Harimau itu meraung panjang.

Mengejutkan dan membuat isi rimba didarat kampung Buluh Cina itu berteperasan lari. Menyurukkan diri ketempat yang paling jauh. Raungan raja hutan itu benar-benar dahsyat. Bilal sendiri seperti dicopoti tulang belulangnya.

“Ya Allah, Bungsu….” ucapan perlahan terdengar keluar dari bibirnya yang pucat. Demikian hebatnya terjangan harimau itu tadi. Sehingga mementalkan tubuh Si Bungsu dan dirinya ke bancah ini. Lontaran yang jauhnya enam depa dari tempat Si Bungsu duduk bersila memejamkan mata tadi!

Semua lelaki dari kampung kecil itu tegak dengan wajah pucat dan mulut ternganga. Harimau besar itu menoleh keliling. Dan tiba-tiba tubuhnya miring. Dan rubuh ke dalam air bancah yang telah menjadi merah disekitarnya!

Tangan Si Bungsu yang dirinya berada dalam air di bawah perut harimau itu sekali lagi seperti akan memegang sesuatu di udara. Meregang-regang. Kemudian tenggelam ke dalam air. Terlihat gelembung- gelembung air. Dan tiba-tiba kepalanya muncul! Dia menarik nafas terbatuk-batuk.

“Bungsuuu!!” Bilal berteriak dan memburu, Si Bungsu terbatuk-batuk lagi. Kemudian memuntahkan air bancah yang terminum olehnya. Dia dibantu tegak oleh Bilal. Sementara lelaki-lelaki yang lain masih tertegak diam. Takjub dan terpana. Untuk menegakkan Si Bungsu, Bilal terpaksa mendorong harimau itu ke pinggir.

Harimau itu ternyata mati! Samurai Si Bungsu menancap persis dijantungnya! Tembus hingga ke punggung. Dan tiba-tiba belantara itu seperti akan robek oleh pekik dan sorak gembira lelaki-lelaki dari Buluh Cina tersebut.

Mereka melupakan celananya yang basah karena kencing. Bahkan dua orang diantaranya melupakan kentut dan berak yang memenuhi celana mereka takkala harimau itu meraung dengan menghimpit tubuh Si Bungsu!

Mereka berlarian mengelilingi anak muda itu.

Si Bungsu membuka bajunya yang basah. Dan tiba-tiba semua lelaki dari Buluh Cina itu tertegun. Mereka menatap punggung, dada dan perut Si Bungsu.

Tubuh anak muda itu seperti habis sembuh dari suatu penjagalan. Bekas luka lebih dari selusin simpang siur pada tubuhnya itu. Mereka saling pandang sesamanya. Kemudian menatap pada Si Bungsu. Dan Si Bungsu segera mengetahui bahwa perut bekas luka yang malang melintang di tubuhnya menarik perhatian lelaki-lelaki itu. Dia memeras bajunya yang basah kuat-kuat untuk mengeringkan air bancah tadi.

“Kita kuburkan Belanda-Belanda ini? Katanya sambil menoleh pada Bilal. Bilal yang tegak didekatnya tersenyum dan mengangguk.

Mereka lalu kembali mengangkati mayat-mayat Belanda yang tadi berjatuhan di dalam bancah. Kemudian kembali naik ke daratan menerobos hutan diseberang bancah itu. Menggali lobang besar di tanah. Kemudian memasukkan keenam mayat Belanda itu sekaligus ke satu lobang. Lalu menimbunnya.

“Nah, kini kita kembali ke kampung. Kita bawa bangkai harimau ini. Saya rasa ini adalah harimau yang menangkapi kambing kita. Dan mungkin juga yang menangkap dan memakan Tuar, Karim dan Bodu dahulu….” Bilal berkata. Dan para lelaki itu lalu mengikat kaki-kaki harimau tersebut. Dan sebuah kayu besar betis ditebang. Lalu dimasukkan diantara keempat kaki raja hutan itu. Dan dengan kayu itu, bangkai harimau besar tersebut dipikul oleh enam orang lelaki menuju ke kampung. 

Di kampung mereka berpapasan dengan penduduk yang tadi disuruh Bilal menguburkan jenazah orang- orang yang meninggal dalam pertempuran di Pasar Jumat itu.

Dan penduduk segera saja jadi gempar takkala melihat mereka membawa bangkai raja hutan itu. Raja hutan itu segera diletakkan di pekarangan mesjid di tengah kampung.

Berita bahwa ada harimau mati dan bangkainya dihalaman mesjid, segera saja menjalar ke seluruh rumah penduduk. Penduduk yang tadinya setelah penguburan pada naik ke rumah masing-masing, takut keluar disebabkan peristiwa dengan tentara Belanda itu, kini segera berdatangan.

Dalam waktu tak sampai lima belas menit, semua penduduk kampung yang sekitar seribu orang itu telah berkumpul dihalaman mesjid. Mereka ternganga melihat bangkai harimau yang hampir sebesar kerbau itu.

Kemudian lelaki-lelaki yang tadi pergi bersama Si Bungsu dan Bilal, menyaksikan perkelahian itu pada bercerita pada orang di sebelahnya. Mereka menceritakan jalan perkelahian yang belum pernah terjadi itu.

Dan bahkan ada yang menyatakan bahwa merekalah yang pertama melihat harimau itu.

“Saya lihat kepalanya diantara semak” kata lelaki yang ketika perkelahian itu terjadi, terpancar kencingnya dalam celananya.

Empat lima orang penduduk merapatkan tegaknya. “Lalu bagaimana? Waang lari?”

“Jangan menghina ya! Buruk-buruk begini saya pesilat. Begitu kepalanya saya lihat, saya berkata: Maaf Inyiak, kami akan liwat” Lelaki itu berhenti dan menatap pada penduduk yang mendengakan ceritanya. Penduduk itu pada ternganga. Sementara Bilal dan Si Bungsu dan beberapa pemuka kampung lainnya kelihatan bicara serius di teras mesjid.

“Kemudian “ lelaki itu myambung lagi

”Saya lihat harimau itu ragu. Saya menyuruh teman-teman semuanya berhenti. Saya letakkan mayat Belanda ditanah. Saya maju dua langkah…” lelaki itu membuat gerakan seperti meletakkan sesuatu di tanah, kemudian maju dua langkah. Penduduk mengikuti dengan tak berkedip.

“Kemudian saya baca ayat Kursi. Dan saya berkata: menghindarlah Inyiak, cucumu akan lewat..” “Waang maju mendekati harimau ini Pudin?” seorang lelaki tua yang tahu benar Pudin ini penakut

bertanya memutuskan cerita lelaki itu. Lelaki itu mendelik, membusungkan dada.

“Ya. Tentu saja saya mendekati dan minta lewat. Bukankah begitu tata tertib dalam rimba? Saya tahu bagaimana caranya bersikap dalam rimba…”

“Lalu apa kata harimau itu?”

“Katanya, eh, mana pula dia bisa berkata. Tapi dia mendengus. Saya membuka langkah empat. Kalau dia menyerang saya sudah siap. Eh tahu-tahu harimau itu menyerang Si Bungsu. Mungkin dia melihat tak ada “pintu” masuk dari pertahanan yang saya buat seperti ini…” dia menirukan langkah empat yang pernah dia pelajari sambil lalu dahulu.

Tiba-tiba dia terhenti. Karena ketika dia menoleh ternyata tak seorang pun diantara penduduk yang tegak mengelilinginya. Semua penduduk kini telah berkumpul dikeliling Bilal di depan teras mesjid. Pudin si pembual itu tak jadi berakting. Dia juga membuat langkah empat menuju kerumunan orang ramai itu.

Di teras mesjid Bilal angkat bicara.

Saudara-saudara, pertama kami minta maaf atas jatuhnya korban kanak-kanak, perempuan dan beberapa orang penduduk kampung kita ini dalam perkelahian dengan Belanda tadi. Ada sembilan orang yang meninggal, suatu jumlah yang banyak.

Tapi itulah resiko perjuangan. Kami berterimakasih atas kerelaan saudara-saudara terhadap korban yang jatuh itu.

Semoga Tuhan memberikan iman yang teguh bagi keluarga yang kematian familinya hari ini.

Belanda barangkali akan mencari teman-teman mereka tadi kemari. Mungkin akan ada lagi korban yang jatuh. Meskipun kedatangannya kemari sangat tipis, mengingat jaraknya kampung ini yang terpencil dan jauh dari Pekanbaru, namun tak ada salahnya kita waspada.

Kita akan menempatkan setiap hari dua orang pengintai. Yang satu dibahagian hulu sana. Yaitu untuk menjaga kalau-kalau Belanda datang lewat sungai dari Teratak Buluh seperti pagi tadi.

Yang seorang lagi akan menjaga di kampung Kutik. Yaitu untuk mengawasi kalau-kalau patroli Belanda datang lewat darat. Hanya dua jalur itu yang akan ditempuh Belanda untuk datang ke Kampung ini. Penjagaan akan bergilir tiap hari. Kalau kelihatan mereka datang, yang bertugas harus memukul tontong sebagai isyarat, penduduk harus segera meninggalkan kampung. Ada kesempatan satu jam untuk menyelamatkan diri. Bersembunyilah ke hutan. Jangan takut dengan harimau. Sebab mereka juga akan lari begitu melihat kita datang ramai-ramai.

Bersembunyilah yang jauh, agar tak tertangkap. Tentang keselamatan kampung ini, rumah dan harta benda, jangan khawatir. Kami para anggota fisabilillah akan menjaganya. Kalau Belanda masuk kemari, mereka akan kami sambut dengan peperangan.

Kaum lelaki akan membantu kami. Untuk sampai ke kampung ini mereka harus naik sampan atau motor boat. Kami akan berusaha menenggelamkan mereka sebelum turun dari sampannya.

Untuk mengatur penyergapan itu nanti semua lelaki yang mau menyumbangkan bhaktinya untuk kampung ini, silakan masuk mesjid. Yang bersedia silahkan menunjuk”

Bilal tak usah menanti terlalu lama. Sebab begitu dia selesai ngomong, semua lelaki pada mengacungkan tangannya ke atas.

Si Bungsu melihat betapa tidak hanya pemuda-pemuda yang mengacungkan tangannya ke atas. Tetapi juga kanak-kanak dan lelaki-lelaki tua. Bahkan ada enam orang perempuan!

“Maaf kami bukan menolak yang tua-tua dan kanak-kanak. Tidak pula menganggap enteng akan kemampuan perempuan, tapi buat sementara kita belum lagi akan berperang”

Bilal berkata atas berusaha ikut berpartisipasinya yang tua, kanak-kanak dan kaum perempuan. Dia mencari cara yang baik untuk menolak mereka.

“Pada akhirnya bila pertempuran terjadi, tidak hanya kami, melainkan seluruh kita, seluruh yang bernafas akan mempertahankan negeri ini dengan darah dan nyawa.

Tapi itu belum sekarang. Sekarang hanya dibutuhkan beberapa belas orang lelaki yang dewasa saja.

Kaum perempuan kami harapkan bersama anak-anak dan adik-adiknya di persembunyian.

Bapak yang tua-tua kami harapkan tak tersinggung. Berikanlah kesempatan pada kami yang muda-muda untuk melindungi bapak”

Cara Bilal ini amat kena. Tak seorangpun yang membantah. Bilal segera saja menghimbau pada lelaki dewasa yang jumlahnya sekitar seratus orang. Memberi beberapa petunjuk. Kemudian dia sadar, bahwa ada sesuatu yang terlupa. Untuk itu dia lalu bicara lagi pada penduduk yang kini perhatiannya beralih pada bangkai harimau itu.

“Oh ya, Kami baru saja kembali dari rimba sana. Dan kami dicegat harimau besar ini. Kami telah menyaksikan suatu perkelahian yang dahsyat antara harimau itu dengan saudara Bungsu”

Bilal tahu menceritakan secara lengkap bagaimana perkelahian terjadi. Semua penduduk pada mendecah-decah. Kemudian beberapa orang lelaki pada mengguliti harimau tersebut. Perutnya dengan hati- hati dibelah dengan pisau tajam.

Pekerjaan itu memakan waktu cukup lama. Hari telah senja. Mereka berhenti untuk sembahyang magrib. Selesai sembahyang mereka melanjutkan pekerjaannya. Beberapa lelaki telah berangkat ke pos pengintaian seperti yang dikatakan si Bilal. Tapi dalam mesjid itu seperti pasar malam. Mereka datang ke sana dengan memakai suluh.

Dua buah lampu petromaks milik mesjid dibawa keluar. Cahayanya menerangi halaman mesjid tersebut. Tiba-tiba terdengar seruan. Orang berbondong-bondong mendekati harimau tengah dibelah itu.

Para perempuan berteriak kaget. Demikian pula lelaki. Dari dalam perut harimau itu, mereka mengeluarkan beberapa buah gelang dan cincin emas. Ada cincin berbatu akik besar.

“Gelang Sumi! Ya, ini gelang Sumi!!” terdengar teriakan-teriakan. Orang makin banyak berkerumun. “Nudin!Nudin! ini gelang istrimu!!” suara teriakan yang kacau balau timpa betimpa. Seorang lelaki

dengan kumis jarang menyeruak.

Dan dia tertegun tegak takkala melihat gelang emas yang baru diambil dari perut harimau besar itu. Kemudian terdengar dia memekik. Ditangannya terpegang pisau. Dan sebelum orang sempat mencegahnya pisau itu sudah merajah bangkai harimau tersebut. Dan ketika orang-orang sadar bahwa kulit harimau itu harus diselamatkan, maka kesadaran itu sudah terlambat.

Nudin sudah merajah harimau itu dengan caci maki sambil menikamkan pisaunya berulang kali. Dan akhirnya dia tertegak terperangah. Orang-orang yang melihatnya juga pada terperangah.

Bangkai harimau itu seperti dicencang.

“Kenapa dia? Si Bungsu berbisik perlahan pada Bilal yang tegak disisinya. “Lima bulan yang lalu, dia kehilangan istri. Waktu itu dia pergi menjual ikan ke Pekanbaru. Sepeninggalnya istrinya pergi menakik getah. Ketika dia kembali sore hari, istrinya tak dirumah. Mereka baru saja tiga bulan menikah.

Ketika magrib datang, istrinya belum juga muncul, dia mulai mencari ke tetangga. Tapi para tetangga mengatakan bahwa tak melihat istrinya sejak pagi. Dia jadi curiga. Bukankah pagi tadi istrinya berkata akan pergi menakik getah?

Bersama penduduk dia menyusul istrinya ke kebun getah mereka di hilir kampung sana. Dengan membawa suluh daun kelapa, mereka meneliti kebun tersebut.

Dan dekat sepohon karet yang dikelilingi semak rimbun, mereka menemukan jejak-jejak. Ada terompa, ada kantong tempat getah segrap. Ada darah dan tanah yang meninggalkan jejak harimau.

Mereka mengikuti jejak tersebut. Sebab bekas tubuh perempuan itu diseret nampak jelas di tanah. Tiga puluh depa dari tempat semula, mereka menemukan pisau penakik getah perempuan itu.

Nampaknya ketika ditangkap harimau, dia belum mati. Bahkan nampaknya berusaha melawan ketika tengkuknya dicengkram taring harimau itu dan menyeretnya pergi. Namun ditempat pisau pemotong karet itu jatuh, disanalah mungkin ajalnya tiba.

Dan malam itu mereka tidak menemukan apa-apa. Besok dan besoknya lagi mereka mencari terus. Sepekan lamanya pencarian itu berlangsung. Namun mayat istrinya tak pernah dijumpai. Dan ternyata hari ini dia temui gelangnya dalam perut harimau itu…”

Si Bungsu sudah terbiasa hidup dalam kekerasan. Sudah tak lagi mempan akan kesedihan-kesedihan.

Sebab hidupnya sendiri adalah rangkaian dari pada kesedihan yang sambung menyambung.

Namun mendengar kisah tragis yang menimpa diri lelaki dari Buluh Cina ini, hatinya jadi terharu. Dan ketika dia melihat betapa lelaki itu duduk terhenyak di tanah, memandang dengan wajah pucat dan air mata berlinang. Si Bungsu jadi tak tahan.

Dia beranjak dari sana. Berjalan masuk ke mesjid. Di dalam rumah Allah itu dia sembahyang sunat.

Kemudian duduk membaca zikir.

Itu adalah hari terakhir Si Bungsu di Buluh Cina. Sebab malamnya datang kurir Kapten nurdin dari Pekanbaru memberitahukan bahwa besok ada kapal menuju Singapura. Dan di Singapura kelak ada orang Indonesia yang mengurus keberangkatan Si Bungsu ke Jepang.

Malam itu juga Si Bungsu kembali ke Pekanbaru. Meninggalkan Buluh Cina. Dia diantar oleh Bilal dan Badu sampai ke Marpuyan. Disana sudah ditunggu oleh anak buah Kapten Nurdin.

Esoknya sesuai dengan pesan Kapten Nurdin dia berangkat ke Singapura. Kapal yang ditompanginya adalah sebuah kapal kecil yang selalu hilir mudik di sungai Siak membawa para pedagang dan penyelundup.

Di Singapura beberapa pejuang bawah tanah Indonesia yang berada disana sebagai pencahari senjata telah menunggu dan memberangkatkan Si Bungsu ke Jepang. Dia ditompangkan di sebuah kapal Jepang yang dicarter Inggeris. Kapal itu bernama Ichi Maru.

Dalam perjalanan menuju Jepang, debar jantungnya terasa mengencang. Dia kini tengah menuju sebuah negeri darimana pernah dikirim pasukan fasis yang amat kejam menjajah negerinya. Dia menuju sebuah negeri, darimana pernah dikirim tentara yang telah merobek-robek negeri dan kaum perempuan Indonesia. Membunuh banyak sekali kaum lelaki, kanak-kanak dan orang dewasa, lewat pembantaian dan…kerja paksa sebagai Romusha!

Dia kini menuju sebuah negeri dimana berdiam musuh besarnya. Orang yang pernah membunuh ayah, ibu dan kakanya. Dia kini menuju negeri Saburo Matsuyama!!

Ke Jepang dia datang, disana maut menghadang!