Tikam Samurai Si Bungsu Episode 1.4

Dan ketiganya spesialis penyiksaan ini sambil tertawa gembira, sambil menyeringai buruk, mempermak tubuh Si Bungsu. Tahap pertama, si Kopral mempergunakan tubuh Si Bungsu yang terikat itu sebagai sebuah karung latihan. Yaitu karung yang diikatkan dan diisi dengan pasir. Bagi siswa-siswa beladiri, karung seperti ini dinamakan sansak dalam dunia tinju atau makiwara dalam dunia karate, dipergunakan untuk melatih tendangan dan pukulan.

Nah, itulah kini fungsi tubuh Si Bungsu. Kopral itu beberapa kali melambung yang diakhiri dengan mendaratnya tendangannya di perut dan didada Si Bungsu. Letnan itu mepergunakan buku tangannya untuk menghajar wajah anak muda tersebut. Si Bungsu berusaha untuk tak memekik. Kendati terpaksa mengeluh beberapa kali saking amat sakitnya. Kemudian muntah. Isi perutnya keluar bersama darah kental. Tubuhnya kemudian diguyur dengan air. Ketika sadar, dia lihat Letnan itu sudah memegang samurai.

“He .. he kau kabarnya mahir dengan samurai. Kini kau lihat pula permainan samuraiku”.

Sehabis ucapannya, samurai itu berkelebat cepat. Si Bungsu menggigit bibir agar tak memekik kesakitan. Pakaiannya segera saja cabik-cabik disambar ujung samurai si letnan. Dan bersamaan dengan itu, dadanya. Wajahnya, perutnya robek-robek. Darah mengalir dengan deras dari bekas lukanya.

“Siram..!” perintah si Letnan.

Kopral yang sama-sama sadisnya dengan si letnan itu mengambil air bekas pengacau semen. Kemudian menyiramkannya pada tubuh Si Bungsu yang penuh luka itu. Ya, Tuhan, benar-benar Tuhan saja yang mengetahui betapa menderitanya anak muda tersebut.

Bayangkan, tubuh yang penuh luka di siram dengan air pengacau semen. Pedih dan sakit sekali. Sakitnya mencucuk-cucuk ke hulu jantung yang paling dalam. Menyelusup ke seluruh pembuluh darah. Ke seluruh sumsum.

Namun siksaan itu berlanjut terus, menyebabkan Si Bungsu harus menggigit bibir sampai berdarah. Dia tak ingin menjerit. Tak ingin. Ada dua hal yang dia jaga. Pertama dia tak mau Kari Basa sampai terbangun dari pingsannya mendengar jeritannya. Dia ingin memberi istirahat pada orang tua yang dia hormati itu.

Dan sebab kedua kenapa dia tak mau menjerit adalah karena malu pada Kari Basa. Kalau orang tua itu sendiri tak menyerah, kenapa dia harus menunjukkan kelemahannya dengan menjerit? Meskipun dengan siksa yang dia terima sebenarnya dia ingin menjerit setinggi langit, namun dia paksa untuk menahannya. Padahal setiap orang tahu, jika kesakitan, maka tangis pekik merupakan salah satu faktor yang dapat mengurangi sakit dan derita yang ditanggung.

Rasa sakit dan derita itu berkurang bukan dari segi fisiknya. Melainkan dari segi psikologisnya. Rasa sakit tetap sama. Menjerit atau tak menjerit. Tetapi secara ilmu kejiwaan, menjerit atau menangis bagi seorang penderita merupakan penyaluran. Dan sebuah penyaluran merupakan pengurangan bagi penderitaan. Itu teorinya. Tetapi Si Bungsu tak mau memakai teori ini. Baginya lebih baik dan lebih terhormat untuk tetap diam. Meskipun bibirnya berdarah dia gigit dalam usahanya menahan sakit yang tak tertanggungkan itu.

Selesai upacara penyayatan dengan samurai itu, maka letnan tersebut istirahat sejenak. Namun itu bukan berarti istirahat pula bagi penderitaan Si Bungsu. Sebab begitu si Letnan duduk. si prajurit tegak. Dengan tang di tangan, dia maju melangkah mendekati Si Bungsu.

“Katakan siapa-siapa yang ikut dalam gerakkan kalian Siapa pula diantara Gyugun yang terlibat . .?” Ujar si Letnan dari tempat duduknya.

Si Bungsu tetap diam. Dia tengah membayangkan kesakitan yang akan dia derita. Dia tahu, tang ditangan prajurit sadis itu akan dipakai untuk mencabut kuku-kukunya seperti yang telah dilakukan pada Kari Basa. Karena dia diam, Letnan itu memberi isyarat.

Si Prajurit meraih sebuah tong. Meletakkan disisi kiri Si Bungsu. Kemudian dia naik ke atas. Sebelum Si Bungsu sadar apa yang akan terjadi Jepang itu menjepit telunjuk Si Bungsu dengan tangnya. Letnan itu mengangguk. Dan Si Bungsu kali ini tak bisa menahan pekik kesakitannya. Tak bisa! Betapa dia akan mampu menahan rasa sakit, kalau tulang telunjuknya itu dipatahkan dengan jepitan tang?

“ Mengakulah . .!”

Si Bungsu hanya mengerang kecil. Dan kali ini jari tengahnya dapat giliran dipatahkan. Dan kembali dia memekik.

“Mengakulah . .!”

Si Bungsu hanya mengeluh dan mengerang. Air matanya membasahi pipinya. Dan jari manisnya mendapat giliran. Dia kembali memekik. Pada pekik yang ketiga ini. Kari Basa mengangkat kepala. Dan dia melihat betapa tubuh anak muda itu berlumur darah. Pakaian dan sebahagian dagingnya robek-robek. Persis kerbau yang selesai dikerjakan di rumah jagal.

“Mengakulah..!”

Si Bungsu tetap bungkam. Dan kembali kelingkingnya dipatahkan. Si Bungsu memekik. Namun dia tetap diam, tak mau membuka rahasia.

“Tahan . .” tiba-tiba ada suara. Dan yang bersuara tak lain daripada Kari Basa. Letnan itu menoleh padanya.

“Kau mau mengaku?”

“Baik saya mengaku, tapi lepaskan anak muda itu. Dia tak bersalah . . .” “Ooo. Kau kenal padanya ya … ?”

“Justru karena saya tak kenallah makanya dia harus dibebaskan. Dia tak ada sangkut pautnya dengan perjuangan kami. Kami tak mengenalnya.” Si Bungsu menatap Kari Basa. Apakah ini semacam penyingkirannya dari kalangan pejuang-pejuang ini? Apakah Kari Basa berkata begitu karena Si Bungsu juga pernah berkata begitu ketika rapat di Birugo dahulu?

Ketika pertanyaan begitu berkecamuk dalam fikiran Si Bungsu, Kari Basa sekilas menatap padanya. Dan dari cahaya mata lelaki tua itu, dia dapat menangkap. Bahwa Kari Basa hanya membuat siasat.

Namun kelegaan hatinya segera lenyap ketika letnan itu berkata :

“He..he tak ada sangkut paut kalian? Kalian saling tak mengenal? He. .he Bukankah kalian sama-sama hadir ketika rapat di Birugo dahulu? Bukankah kau punya hubungan dengan Datuk Penghulu? Nah, dari situ dapat ditarik kesimpulan bahwa kalian punya hubungan. Jangan kami pula hendak kalian bohongi.” Dan kali ini penyiksaan dilakukan berbarengan.

Si prajurit mengerjakan tubuh Si Bungsu, si Sersan mengerjakan Kari Basa. Kedua serdadu sadis ini lihai dalam pekerjaannya. Meskipun korbannya sudah remuk redam, sudah cabik-cabik tapi mereka jaga agar si korban tak segera mati.

Mereka amat ahli dalam hal ini. Bagaimana menyiksa tawanan sampai separoh mampus, bahkan terkadang sampai tiga perempat mampus, tapi tetap saja tak sampai mampus. Dan itulah penderitaan yang ditanggung oleh kedua orang itu.

Si Bungsu sudah hampir mampus ketika dia dengar suara letusan. Letusan sekali. Dua kali. Tiga kali!

Dia merasa dirinya amat luluh. Dirinyakah yang kena tembak? Kari Basa kah? Dia tak merasakan sakit karena seluruh tubuhnya adalah sakit itu sendiri. Dia tak merasa menderita karena tembakan itu karena dirinya adalah puncak dari penderitaan itu sendiri.

Dan diapun terkulai. Sampai disini ajalku…..bisiknya. Dan dia juga yakin, bahwa bersama ajalnya, orang tua yang bernama Kari Basa itupun tamat pulalah riwayat hidupnya.

Namun tak demikian terjadi.

Teman-teman Datuk Penghulu dan Kari Basa mengetahui penangkapan terhadap kedua orang itu. Perintah langsung dari Engku Syafei menyuruh membebaskan mereka. Sebuah “pasukan khusus” yang beruniform beranggotakan sebelas orang segera diberangkatkan. Mereka mempergunakan beberapa bedil dan pistol yang selama ini secara diam-diam dicuri atau dibeli dengan sangat rahasia. Bahkan ada beberapa bedil peninggalan Belanda.

Tugas untuk mengetahui dimana kedua orang ini ditahan dierahkan pada Tai-I (Kapten) Dakhlan Djambek. Namun untuk menemui Kapten ini bukan main sulitnya. Jepang memang telah mencium adanya gerakan pribumi yang akan menentang penjajahan.

Karena itu setiap Anggota Gyugun, mulai dari prajurit sampai para perwira diawasi dengan ketat. Hanya dengan sangat susah payahlah Tai-I Dakhlan Djambek bisa berhubungan dengan teman-temannya. Namun setelah dua hari berusaha, Dakhlan Djambek masih belum berhasil mengetahui dimana kedua orang itu ditawan.

Para pimpinan tentara Jepang nampaknya memang telah waspada sejak semula pertama menjejakkan kakinya di Indonesia. Mereka sudah menduga bahwa lambat laun perlawanan dari penduduk-penduduk setempat kepada para penjajah pastilah akan timbul.

Karena itu para Gyugun yang berasal dari pemuda-pemudi Indonesia tak pernah ditugaskan di proyek- proyek militer yang vital. Dan di Bukittinggi mereka tak pernah ditugaskan di bawah kota yang sedang digali itu.

Yang bertugas mengawasi pekerjaan atau mengawasi pemasukan amunisi hanyalah balatentara Jepang asli. Karena itu Dakhlan Djambek dan kawan-kawannya para Gyugun yang lain tak pernah mengetahui secara mendetail tentang situasi terowongan itu.

Dia berusaha keras untuk mengetahui ruangan-ruangannya, tapi akhirnya dia menyerah. Tak mungkin untuk mengetahui secara terperinci, apalagi dengan pengawasan yang ketat dari Kempetai terhadap Gyugun. Pada hari kedua, yaitu pada batas waktu yang diberikan, Kapten ini memberikan laporan akhir tentang penyelidikannya.

Isi laporan itu :

“Tak mungkin untuk menyelediki terowongan itu dengan cara intelijen. Tapi saya yakin, kedua mereka ditawan dalam salah satu kamar di dalam terowongan tersebut. Sebab beberapa tawanan sekutu juga dibawa kesana. Untuk mengetahui dimana mereka ditahan, satu-satunya jalan adalah menangkap dan memaksa salah seorang Kempetai yang pernah membawa tawanan kesana. Saya akan mengatur jebakan. Sediakan orang yang akan menanyainya.” Dan surat yang disampaikan melalui kurir beranting itu akhirnya dilaksanakan. Seorang Sersan Kempetai dengan cara yang sangat halus berhasil dijebak di Kampung Cina ketika sedang minum- minum sake dan memeluk seorang perempuan.

Perempuan itu dia bawa ke hotel. Di tangga hotel yang teram-temaram keduanya dipukul hingga pingsan. Si perempuan yang berkulit hitam manis dibiarkan tergolek di sana. Si Sersan dibawa dengan sebuah truk ke sebuah tempat.

Dari mulut Sersan inilah diketahui detail kamar tawanan tersebut. Semula si Sersan tak mau mengaku, tapi ketika sebuah jari tangannya dipatahkan meniru kekejaman Kempetai, Sersan itu menyerah. Lalu membuka rahasia kamar tawanan itu.

Dan ketika pengakuannya selesai, dia terkejut takkala melihat seorang perwira Gyugun masuk rumah itu. Dia segera tegak dan memberi hormat dengan sikap sempurna. Dia jadi gembira, karena denga kehadiran perwiranya itu berarti kebebasan baginya dari tangkapan ekstrimis ini.

Namun dia segera terkejut takkala melihat perwira itu menatapnya. Orang yang mematahkan jarinya itu mengambil sebilah samurai. Memberikan kepada Sersan itu. Sersan itu terheran-heran. Rasa herannya berobah jadi rasa terkejut ketika perwira Gyugun itu berkata dengan nada memerintah :

“Harakiri….!”

Sersan Kempetai itu melongo.

“Harakiri..!!” lagi-lagi perintah perwira itu bergema. Dan kini sama-sama jadi jelas soalnya oleh si Sersan. Dia diperintahkan harakiri (bunuh diri) pastilah salah satu sari dua sebab. Pertama karena dia telah membocorkan rahasia militer. Kedua karena perwiranya ini berada dipihak orang yang menangkap dan mematahkan jari tangannya. Dan dia menduga , bahwa sebab kedualah yang paling besar kemungkinannya.

“Tai-i…    ?” katanya lagi.

“Saya orang Indonesia. Jepang sudah terlalu banyak membunuh bangsa saya. Kini kau harakiri atau gunakan samurai itu untuk melawan…membebaskan diri….,” Perintah Tai-I yang tak lain daripada Dakhlan Djambek itu membuat tubuh si Sersan menggigil.

Dia sudah tentu memilih yang kedua. Yaitu mempergunakan samurai itu untuk melawan. Sebab baginya tak ada harapan untuk hidup. Demikian putusan Dakhlan Djambek. Kalau Jepang ini tak dibunuh, maka rahasia penangkapannya akan bocor. Dan kebocoran itu membahayakan perjuangan.

Sersan itu menebaskan samurainya. Orang pertama yang dia serang dengan samurainya adalah orang yang paling dekat dengannya. Orang itu adalah Tai-I Dakhlan Djambek. Tebasan samurainya amat cepat mengarah pada leher Kapten itu.

Namun Dakhlan Djambek adalah seorang perwira yang dididik dengan kekerasan disiplin militer Jepang. Karena dia perwira, maka kepadanya juga diajarkan cara menggunakan samurai. Dan kemana-mana, perwira Jepang umumnya membawa samurai. Demikian juga dengan Kapten ini. Begitu sabetan samurai si Sersan terayun, sesuai dengan latihan dasar yang diterima, dia mundur dengan cepat dua langkah ke belakang. Kemudian ketika serangan berikutnya datang, dia menggeser tegak dua langkah. Dan si Sersan lewat disampingnya.

Dengan cepat Sersan itu memutar tegak dan kembali mengayunkan samurainya. Namun saat itu pula samurai di pinggang Tai-I Dakhlan Djambek keluar dari sarungnya. Putaran tubuh si Sersan di silang oleh tebasan samurai Dakhlan Djambek. Bahu kanan Sersan itu hampir putus. Sabetan kedua membuat kepalanya hampir putus. Dia jatuh. Tapi kematian datang sebelum tubuhnya mencapai lantai rumah. Perlahan-lahan Kapten itu memasukkan samurainya kesarangnya setelah melapnya ke baju Sersan yang rubuh itu

“Kuburkan dia malam ini. Dan malam ini juga kedua kawan-kawan itu harus dibebaskan. Mulai hari ini kontak antara teman-teman dengan kami para Gyugun harus diputuskan buat sementara waktu. Situasi tambah panas. Kabarnya di Jakarta telah terjadi sesuatu. Saya yakin saatnya untuk kemerdekaan sudah dekat. Karena itu, tunggu perkembangan selanjutnya. Salam saya untuk para pimpinan yang lain. Juga buat kedua teman-teman yang ditawan itu….” Dan Kapten ini lenyap ke dalam gelapnya malam.

Kejadian pembunuhan terhadap Sersan Kempetai itu tepatnya berlangsung pada tanggal 5 Agustus 1945. Dua belas hari setelah itu, Kemerdekaan Indonesia di proklamirkan di Jakarta.

Kembali pada saat-saat letusan bergema dalam gua sesaat sebelum Si Bungsu jatuh pingsan. Letusan itu ternyata bukan ditujukan pada dirinya atau pada diri Kari Basa. Letusan itu adalah letusan bedil dan pistol “pasukan khusus” yang membebaskannya.

Pejuang-pejuang bawah tanah itu berhasil bergerak cepat dan menemukan tempatnya sebelum terlambat sangat. Letusan pertama adalah letusan yang ditujukan ke kepala penjaga di luar pintu kamar tahanan.

Begitu penjaga itu mati, pintu diterjang. Dan letusan-letusan berikutnya ditujukan pada si Letnan, si Sersan dan prajurit yang ada dalam ruangan itu.

Ketiga Kempetai sadis ini mati saat itu juga. Mereka tak sedikitpun menyangka akan ada perlawanan begitu dahsyat. Ketiga mereka mati dengan kepala rengkah kena tembak.

Dan enam orang “pasukan khusus” yang masuk keruangan itu pada mengucap istigfar takkala melihat keadaan tubuh kedua teman mereka yang tergantung itu. Yang tergantung itu bukan lagi tubuh manusia. Tapi lebih tepat untuk dikatakan sebagai manusia yang telah dijagal.

Namun harapan kembali timbul ketika mereka melihat bahwa kedua orang itu masih bernafas. Dengan gerakkan cepat, kedua mereka dilepaskan dari belenggunya. Kunci belenggu berada dalam kantong si letnan.

Dan tengah malam itu juga, kedua mereka dibawa ke rumah orang yang telah menyiapkan penampungan dan pengobatan. Pengobatan disediakan sesuai dengan pesan Kapten Dakhlan Djambek. Bahwa setiap tawanan Jepang yang dibawa ke terowongan di bawah kota itu, bila sempat keluar hanya akan mengalami dua hal.

Pertama mati. Dan kedua tubuh mereka lumat. Maka yang kedua hampir-hampir menemui kenyataan.

Makanya obat-obatan telah disediakan. Kedua mereka dirawat di rumah yang berlainan.

Setelah tubuh kedua orang itu sampai di rumah yang dimaksud, pasukan khusus itu lenyap. Dan jejaknya tak pernah tercium sedikitpun!.

Pihak militer Jepang bukan main kagetnya atas serbuan dan penculikan tersebut. Mereka memeriksa setiap rumah penduduk untuk mencari jejak para penculik dan kedua tawanan itu.

Ada delapan orang yang jadi korban dipihak mereka dalam peristiwa itu. Yang pertama Sersan pengawas bahagian peta penggalian terowongan. Sersan ini yang mati di tebas Tai-I Dakhlan Djambek tak pernah ditemukan mayatnya. Tiga orang lagi adalah penyiksa sadis yang mati dalam kamar tahanan. Yang satu mati di pintu bahagian luar kamar tahanan tersebut. Sedangkan tiga orang lainnya mati di sepanjang terowongan menuju ke kamar tahanan.

Pihak Jepang segara dapat menduga, bahwa kamar tahanan itu diketahui melalui mulut si Sersan pengawas bahagian peta penggalian terowongan. Mereka menyangka bahwa seluruh jaringan dan penyimpanan amunisi vital dalam terowongan itu telah diketahui oleh pejuang-pejuang pribumi. Makanya mereka memasang perangkap untuk menjebak kalau-kalau pejuang-pejuang itu muncul lagi.

Namun pejuang-pejuang itu tak pernah mengorek keterangan tentang hal-hal lain mengenai terowongan tersebut. Tugas mereka hanya mengetahui dimana Si Bungsu dan Kari Basa ditahan. Kemudian membebaskan kedua orang itu. Dari segi ini, para pejuang itu memang alpa. Kalau saja mereka bisa sedikit sabar dalam menghadapi si Sersan, kemudian merencanakan masak-masak akan banyak sekali rahasia tentang terowongan itu yang akan terungkapkan.

Itulah sebabnya kenapa sampai puluhan tahun kelak, yaitu sampai turunan demi turunan, terowongan di bawah kota itu tetap saja merupakan suatu misteri yang tak kunjung terungkapkan. Tak seorangpun di kota itu yang tahu dengan pasti, berapa panjang terowongan di bawah kota mereka.

Misteri itu tetap tak terungkapkan, karena selama puluhan tahun tak ada yang berminat untuk menyelidikinya. Baik menyelidiki dengan mencari peta rencana pembuatan terowongan tersebut. Peta itu pasti ada pada pihak militer Jepang.

Akibat dari peristiwa itu, pihak Kempetai makin curiga pada anggota Gyugun. Namun mereka tak pernah mendapatkan bukti akan keterlibatan para Gyugun itu. Seluruh anggota Gyugun yang ada di Bukittinggi diinterogasi. Dimana dan kemana mereka dimalam lenyapnya si Sersan yang memegang rahasia terowongan itu.

Semua anggota Gyugun mempunyai alibi. Punya bukti-bukti bahwa mereka berada disuatu tempat, dimana banyak orang jadi saksi. Tai-I Dakhlan Djambek sendiri yang ikut diinterogasi pihak Kempetai, mempunyai alibi (alasan) yang kuat. Bahwa dia tak ikut dalam gerakan itu.

Malam itu dia justru bertugas disalah satu markas Kempetai bersama enam orang tentara Jepang asli lainnya. Dan keenam tentara Jepang yang sama-sama bertugas malam itu dengannya menerangkan bahwa Tai- I itu tak pernah meninggalkan markas malam itu.

Lalu bagaimana Dakhlan Djambek sampai bisa hadir dan justru membunuh Sersan itu dihadapan para pejuang malam itu? Ceritanya sangat sederhana. Peristiwa dia membunuh Sersan itu dengan samurai hanya berjarak sejangkau tangan dari markas Kempetai itu. Tepatnya, rumah tempat si Sersan dibunuh terletak persis di belakang markas Kempetai itu. Dan antara markas dengan rumah itu hanya dibatasi dengan sebuah pagar batu setinggi pinggang.

Rumah itu sebuah rumah batu yang sudah lam ditinggal penghuninya. Pemiliknya merantau ke Jawa. Tapi kuncinya ada pada seorang adiknya di Mandiangin. Nah rumah inilah yang dipilih Dakhlan Djambek untuk menanyai Sersan.

Keputusan itu memang berbahaya. Tapi tak ada jalan lain, justru jalan itu pula paling aman. Kempetai pasti takkan pernah mencurigai kalau rumah di belakang markas mereka itu justru dipergunakan oleh pihak pejuang. Disamping tak mencurigai, Dakhlan Djambek bisa hadir disana tanpa menimbulkan kecurigaan.

Tinggal kini waktu diperhitungkan dengan cermat. Harus pas waktunya antara dibekuknya si Sersan di hotel dengan tibanya di di rumah tersebut. Setelah si Sersan dibekuk lalu dibawa ke rumah itu dengan truk. Dakhlan Djambek yang tegak di depan melihat mereka lewat.

Dia masih tegak di depan beberapa saat. Lalu masuk ke markas. Memerintahkan pada tiga orang Gyugun asal Indonesia untuk mengadakan patroli sekeliling markas. Ketiga Gyugun itu keluar setelah memberi hormat. Kemudian Dakhlan Djambek duduk di depan Komandan Piket malam itu. Yaitu seorang Jepang berpangkat Mayor.

Tiba-tiba dia bangkit.

“Sakit perut….” Katanya menyeringai.

“Ha…banyak makan duren sore tadi. Bisa mencret Tai-i…” Si Mayor berkata sambil tertawa.

Dakhlan Djambek juga ikut tertawa. Empat orang Kempetai yang ada dalam ruangan itu juga tertawa. Sebab mereka giliran piket setiap 24 jam. Dan mereka telah mulai piket sejak tadi pagi. Dan sore tadi ada yang mentraktir makan durian. Mereka membeli durian lima belas buah. Lalu mereka makan bersama di kantin disebelah kantor.

Dakhlan Djambek dengan memegang perut lalu berlari ke belakang. Menutup pintu kakus. Menguncinya.

Dan kakus ini juga sudah dia perhitungkan. Kakus ini mempunyai jendela besar di belakangnya.

Sekali hayun dia sudah membuka jendela. Kemudian terjun ke belakang. Berlari empat langkah, tiba di pagar. Meloncati pagar itu. Duduk dibaliknya. Dia bersiul menirukan bunyi burung malam. Terdengar sahutan. Dia bergegas tegak dan melangkah memasuki rumah itu dari belakang.

Tiga orang Gyugun yang tadi dia perintahkan untuk patroli menantinya di pintu. Dan mereka masuk. Kisah bagaimana si Sersan mati, sudah diuraikan terdahulu. Dakhlan Djambek memberi kesempatan kepada Sersan itu untuk membela diri. Sebenarnya dia bisa saja membunuih Sersan itu tanpa perlawanan. Tapi sebagai seorang pejuang, seperti umumnya pejuang-pejuang Indonesia, dia tak mau membunuh lawan yang tak berdaya. Apalagi dia seorang perwira.

Makanya dia memberi kesempatan kepada Sersan itu untuk membela diri. Sebenarnya bisa saja keadaan berbalik jadi berbahaya. Yaitu kalau si Sersan justru yang menang dalam perkelahian itu. Mungkin si Sersan bisa juga dibunuh oleh pejuang-pejuang yang ada dalam ruangan itu. Namun kalau sudah jatuh korban, apalagi korban itu seorang Dakhlan Djambek, perwira Gyugun yang diandalkan untuk memimpin anggotanya kelak dalam revolusi, bukankah akan sia-sia jadinya?

Namun Dakhlan Djambek tetap pada sikap satrianya. Disamping juga dia punya keyakinan pada dirinya, dan terutama pada Tuhannya. Setelah Sersan itu mati, jejak perkelahian di ruangan belakang rumah itu dilenyapkan. Dan Dakhlan Djambek kembali melompati jendela kakus. Kemudian pura-pura batuk dalam kakus. Pura-pura menyiramkan air. Lalu keluar dari kakus setelah yakin jejaknya tak ada di dinding. Dengan pura-pura melekatkan celana dan merapikan baju, dia membuka pintu.

Masuk kembali keruangan dimana si Mayor tengah mendengarkan siaran radio yang dipancarkan oleh Markas Besar tentara Jepang. Dengan menarik nafas lega, dia duduk. Seperti orang yang baru saja lepas dari siksaan.

“Hmmm, keluar semua?” Mayor itu bertanya sambil tersenyum.

“Tidak. Ususku masih tinggal di dalam…     ’” Jawab Dakhlan Djambek. Mayor itu dan keempat Kempetai

tertawa terkekeh. Waktu yang terpakai baginya untuk “buang air” itu tidak lebih dari sepuluh menit. Benar- benar perhitungan seorang militer yang teliti.

Dan ketika interogasi, seluruh prajurit dan sang Mayor yang piket malam itu jadi saksi, bahwa dia tidak pernah keluar sesaatpun pada malam lenyapnya si Sersan. Dan Kempetai tak pula pernah menyelidiki rumah kosong yang telah lama tak dihuni yang terletak persis dibelakang markas mereka. Kekhilafan-kekhilafan kecil begini biasanya memang terjadi satu dalam seribu peristiwa penting dipihak kemiliteran.

Dan kekhilafan kecil itulah yang menyelamatkan Dakhlan Djambek serta para Gyugun yang tugas di Bukittinggi malam itu dari pembantaian Kempetai.

-000-

Si Bungsu membuka mata. Silau sekali. Tapi selain silau yang amat sangat, yang paling dia rasakan adalah lapar yang menusuk-nusuk perut. Lapar sekali. Dia Kembali membuka mata. Sedikit demi sedikit. Dari balik bulu-bulu matanya dia mencoba melihat dan membiasakan dengan sinar terang.

Dia tak tahu dimana dia. Tak tahu apa yang terjadi. Rasanya kini dia tengah berbaring. Tapi dimana? Berbaring? Kenapa bisa berbaring? Dia coba merekat kembali sisa-sisa ingatannya. Yaitu tentang situasi terakhir yang pernah dia alami.

Terowongan Rantai di kaki Rantai di tangan

Rantai yang dicorkan dengan semen Dicor ke lantai

Dicor ke langit-langit terowongan Penyiksaan!

Ah, bukankah dia disiksa oleh tiga orang serdadu Jepang yang sadisnya melebihi hewan? Kari Basa!

Tiba-tiba dia ingat pada orang tua itu. Bukankah orang tua itu terbelenggu pula empat depa di depannya dalam terowongan itu?

Dimana dia kini?

Ingatan pada orang tua itu membuat dia membuka matanya lebar-lebar. Menoleh ke kiri. Tak ada.

Menoleh kekanan. Tak ada!

“Pak Kari    !” dia memanggil perlahan.

Tak ada sahutan. Di luar ada suara ayam betina berkotek. Dia memperhatikan tempatnya. Benar, dia memang tengah berbaring di tempat tidur. Tempat tidur berkelambu. Berseprai kain setirimin merah jambu. Berkelambu juga dengan kain seterimin merah jambu. Seperti tempat tidur penganten baru.

Bau harum kembang melati merembes kehidungnya dengan lembut. Benarkah dia masih hidup? Atau ini hanya sebuah mimpi?

Mimpi dari sebuah siksa yang tak tertangguhkan ditangan ketiga Kempetai sadis itu? Ya, dia ingat lagi kini.

Tubuhnya dijadikan tempat pelampiasan kekejaman ketiga serdadu itu. Lalu suara tembakkan. Apakah tembakkan itu bukan untuk dirinya? Kalau dia kini masih hidup, pastilah tembakkan itu ditujukan pada Kari Basa. Kari Basa meninggal! Ya Tuhan. “Pak Kari….” Dia memanggil lagi dan berusaha untuk duduk.

“Tetaplah berbaring..!” tiba-tiba suara mencegahnya. Lembut sekali. Rasa sakit dikepalanya karena berusaha bangkit itu lenyap ketika mendengar suara lembut itu.

“Mana Pak Kari?” tanya nya pada orang yang masih belum kelihatan wajahnya itu. “Pak Kari..?” suara itu menjawab.

“Ya pak Kari, dimana dia dikuburkan?”

Tak ada jawaban. Tapi orang yang menjawab ucapannya itu kini kelihatan. Seorang gadis! Berwajah bundar. Bermata hitam. Berkulit kuning. Berambut hitam dengan mata yang bersinar lembut. Cantik adalah kata-kata yang tepat untuknya.

Si Bungsu mengerutkan kening. Siapakah gadis ini? “Dimana saya…?’ tanyanya gugup.

Gadis itu tersenyum. Senyumnya amat teduh. Matanya yang bersinar lembut menatap Si Bungsu dengan tatapan gemerlap.

“Abang berada disini…” jawabnya dengan masih tersenyum. “Di sini? Di sini dimana…?’

“Di rumah kamii….”

“Siapa kalian….maaf, saya maksudkan, saya rasa saya tak mengenal rumah ini. Juga orangnya. Kenapa saya bisa berada di sini. Sejak bila dan…”

Gadis itu lagi-lagi tersenyum mendengar pertanyaan yang tak hentinya itu. Dia tak segera menjawab pertanyaan Si Bungsu. Melainkan berjalan ke arah kepala pembaringan. Mengambil sebuah gelas. Kemudian duduk dekat Si Bungsu.

“Minumlah. Ini obat dari akar kayu. Nanti saya jawab pertanyaan abang itu satu persatu…”

Dia ingin bangkit. Tapi uluran tangan gadis itu untuk membantunya duduk tak bisa dia elakkan. Gadis itu membantunya meminum obat yang terasa pahit. Kemudia membantunya berbaring lagi dengan perlahan.

Dalam keadaan demikian, wajah gadis itu berada dekat sekali dengan wajahnya. Gadis itu bersemu merah mukanya. Mukanya sendiri juga terasa panas. Kemudia gadis itu mengambil sebuah kursi di tepi dinding. Duduk dekat pembaringan.

“Ini rumah pak Kari…” gadis itu mulai bicara. Si Bungsu tertegun. “Rumah pak Kari?’

“Ya”

“Pak Kari Basa?” “Ya, pak Kari Basa”

“Yang tertangkap dan disiksa dalam terowongan Jepang itu?’ “Ya. Yang disiksa bersama abang juga bukan?”

“Mana beliau…?”

“Di kamar sebelah…” “Masih hidup?”

“Insya Allah sampai saat ini masih…” “Alhamdulillah…”

“Saya adalah anaknya..”

Si Bungsu hampir terduduk. Tapi gadis itu menggeleng dengan senyum lembut dibibirnya. “Kenapa harus kaget…tetaplah berbaring…”

“sejak kapan saya berada di rumah ini?”

“Sejak sebulan yang lalu” Si Bungsu kali ini benar-benar tertunduk. Matanya berkunang-kunang. Namun dia tatap gadis di depannya itu. Gadis itu menunduk. Malu, Mukanya merah.

“Sebulan?”

“Ya. Sudah sebulan Uda di rumah ini…”

“Dan selama itu saya tak pernah sadar?” Gadis itu mengangkat wajahnya. Menatap Si Bungsu. Lalu menggeleng. Si Bungsu menjilat bibirnya yang terasa kering.

“Pernah. Tapi barangkali abang tak pernah bisa berfikir dengan baik. Sebab ketika mula pertama dibawa kemari, tubuh abang seperti baru keluar dari rumah jagal. Tersayat-sayat berlumur darah… saya tak tahu bahwa ayah juga sama keadaan dengan abang. Hanya ayah dibawa ketempat lain untuk dirawat. Ayah baru dibawa kemari sejak lima belas hari yang lalu….”

Si Bungsu kembali berbaring. Sudah sebulan di rumah ini. Pakaiannya bersih. Siapa yang memakaikan pakaiannya? Selama itu dia pasti buang air. Nah, kalau dia tak sadar, siapa yang membereskan semua ini?

“Ada adik lelakiku, saya menukarkan pakaian abang sekali tiga hari. Saya hanya menyuapkan bubur untuk abang…” suara gadis itu seperti menjawab kata hatinya. Dia melihat padanya. Dan gadis itu lagi-lagi menunduk.

“Terimakasih atas kebaikan kalian….” Katanya perlahan. “Abang akan makan?”

Si Bungsu tak segara menjawab. Dia merasakan perutnya kenyang. Aneh, tadi mula-mula sadar laparnya serasa tak tertahankan. Tapi kini perutnya terasa kenyang. Apakah itu karena obat yang barusan dia minum.

“Tidak, saya kenyang….” Jawabnya.

“Tapi sejak kemaren abang belum makan…”

“Terimakasih. Sebentar lagilah….apakah Jepang tak pernah memeriksa rumah ini untuk mencari saya?

Oh ya, siapa yang membawa saya kemari?”

“ Yang membawa abang kemari adalah pejuang-pejuang teman ayah, teman Datuk Penghulu. Dan teman abang juga bukan?”

Si Bungsu menggelang.

“Saya tak punya teman di kota ini Upik. Oh maaf, saya harus memanggilmu dengan sebutan apa?” Gadis itu menunduk. Si Bungsu menatapnya.

“Nama saya Salma….” Katanya perlahan. “Salma?”

“Ya, Salma..”

“Terimakasih atas bantuanmu pada saya selama di rumah ini…nah, apakah Jepang tak pernah menggeledah di rumah ini?”

“Tidak, adik ayah bekerja dibahagian penerangan pemerintahan Jepang. Rumah ini rumah tua kami. Sebelumnya saya, ayah dan yang lain-lain tak tinggal di sini…… Rumah kami di Mandiangin. Tapi sejak malam itu, kami disuruh pindah kemari. Dan Jepang tak pernah mencurigai rumah ini, karena abang ditempatkan dibilik ini. Dibilik saya…”

“Bilikmu?”

“Ya. Ini bilik saya. Dan Jepang itu sering main kartu disini. Kamar tamu disebelah kamar ini. Dan mereka tentu saja tak pernah menduga dalam bilik ini ada abang sebab selama mereka di ruang tamu, saya selalu dikamar ini. Dan saya… saya juga tidur dikamar ini…”

Si Bungsu terbelalak. Gadis itu menunduk, mukanya merah. Malu dia.

“Ya. Saya tidur disini. Di bawah dengan sebuah kasur cadangan, ayah yang menyuruh. Untungnya setiap mereka kemari abang tak pernah mengigau. Dan ayah dibawa kemari dua hari setelah proklamasi kemerdekaan….”

Si Bungsu terlonjak duduk… “Proklamasi kemerdekaan…?!”

“Ya. Oh ya. Saya lupa bahwa abang tak mengetahui hal ini. Kita telah merdeka sejak tanggal 17 Agustus.

Dan sekarang sudah tanggal dua puluh lima…” Muka Si Bungsu berseri.

“Merdeka. Alhamdulillah… Tuhan Maha Besar….” bisiknya perlahan.

Dan Salma melihat betapa di sudut mata anak muda itu kelihatan air menggenang. Kemudian dia berbaring lagi perlahan.

“Akhirnya kita merdeka juga…..” bisiknya. Dan pikirannya berlari kemasa yang lalu. Kekampung halamannya. Pada ayahnya. Ayahnya yang dulu mengorganisir sebuah organisasi melawan penjajahan. Dan ayahnya mati ditangan penjajah. Pikirannya melayang kepada ibunya. Pada kakaknya. Pada peristiwa berdarah dan pembakaran kampungnya oleh Jepang. Dan dia kembali tak sadar diri.

Diperlukan waktu yang cukup panjang bagi Si Bungsu untuk sembuh secara sempurna di rumah itu. Dan dalam waktu yang panjang itu, Salma selalu merawatnya.

Kari Basa lah yang menyuruh antarkan anak muda itu kerumahnya. Agar dirawat disana. Dia sangat merasa kasihan pada anak muda tersebut. Salma, anak gadisnya kebetulan adalah murid Diniyah Putri Padang Panjang. Dia dipanggil untuk pulang sejak Jepang setahun menjajah. Dirumah rasanya lebih aman bagi gadis- gadis daripada jauh dari orang tua. Dan tentu saja Salma bisa merawat ayahnya dan Si Bungsu dengan baik. Sebab di Diniyah pelajaran P3K diajarkan secara intensif. Dan ketika Jepang masuk, Diniyah mengorganisir sebuah peleton P3K disekolahnya. Membantu pejuang-pejuang yang terluka. Kini jari-jari tangan Si Bungsu yang patah telah sembuh kembali.

Demikian juga seluruh tubuhnya yang cabik-cabik dimakan samurai. Kari Basa juga telah sembuh. Meski telah dikalahkan Sekutu, namun Jepang belum angkat kaki dati tanah Indonesia. Dan Si Bungsu suatu malam menyatakan niatnya untuk pergi.

“Kemana engkau akan pergi Bungsu? tanya Kari Basa.

“Ke Jepang…” Si Bungsu berkata perlahan. Namun nada suaranya sangat pasti. Kari Basa dan Salma terbelalak mendengar ucapan itu.

“Ke Jepang….?’ suara Kari Basa mengandung ketidak yakinan. “Ya. Saya berniat akan ke Jepang…”

“Sejauh itu. Mengapa engkau kesana?”

“Mencari seorang serdadu bernama Saburo Matsuyama..”

Kari Basa menarik nafas panjang. Dia segera mengetahui untuk apa anak muda itu pergi. Menuntut balas. Pastilah itu niatnya. Dia sudah mendengar dari Datuk Penghulu, bahwa anak muda ini berdendam pada pembunuh keluarganya. Seorang bernama Saburo Matsuyama. 

Salma perlahan kembali melanjutkan sulamannya. Meski berkali-kali penjahitnya menyasar entah kemana. Namun dia menyulam juga. Hingga suatu saat telunjuknya tertusuk jarum.

Pikiranmu sedang tidak tenang Salma. Lebih baik tak usah menyulam” Kari Basa memperingatkan anaknya. Dan muka Salma segera saja jadi bersemu merah. Dan saat itu seorang lelaki masuk. Salma segera beranjak ke belakang begitu lelaki itu masuk. Lelaki itu seorang kurir.

“Alhamdulillah, pak Kari ada dirumah. Saya sudah kemana-mana….” katanya sambil menyalami Kari Basa dan Si Bungsu.

“Saya disini selalu…” jawab Kari Basa sambil memperhatikan lelaki itu. Dia dapat membaca ada sesuatu yang penting dibawa lelaki tersebut. Si Bungsu juga melihat hal itu. Barangkali sesuatu yang rahasia. Makanya, dia juga berniat untuk menghindar, agar kedua orang itu bebas bicara. Namun Kari Basa mencegahnya.

“Tak ada yang tak boleh kau ketahui Bungsu. Duduklah. Nah, Husin sampaikan apa yang terjadi” “Malam tadi terjadi lagi bentrokan antara pejuang-pejuang kita dengan tentara Jepang di Sungai Buluh..” “Lalu…?”

“Seharusnya kita berhasil mendapatkan belasan pucuk bedil. Tapi keburu datang pasukan Akiyama. Pejuang-pejuang kita mereka pukul mundur. Dipihak kita dua orang luka-luka. Tak parah. Tapi lenyapnya harapan untuk memiliki bedil itu membuat pimpinan merasa tak sedap hati…”

“Lagi-lagi Akiyama…” Kari Basa berguman.

“Ya. Dengan itu sudah empat kali dia menggagalkan sergapan kita….” “Bagaimana dengan perundingan-perundingan resmi?”

“Saya tak tahu dengan pasti. Itu permainan tingkat atas…”

Mereka sama-sama terdiam. Saat itu saat-saat setelah hari Proklamasi adalah saat-saat transisi diseluruh Indonesia.

Jepang telah bertekuk lutut pada Sekutu. Bom Atom telah dijatuhkan di Nagasaki dan Hirosima. Meski Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya, namun tak berarti segala sesuatu berjalan lancar dan mudah.

Jepang ternyata tak mau begitu saja menyerahkan pemerintahan pada bangsa Indonesia. Mereka juga tak mau begitu saja menyerahkan persenjataan mereka pada pejuang-pejuang Indonesia.

Ada dua hal yang menyebabkan mereka tak mau segera menyerahkan kekuasaan ataupun persenjataannya pada Bangsa Indonesia. Pertama mereka menyerah pada Sekutu. Bukan pada bangsa Indonesia. Karena itu, menurut peraturan maka pada tentara Sekutu lah persenjataan mereka harus diserahkan. Jika hal ini tidak mereka lakukan maka mereka bisa mendapat kesulitan.

Sebab kedua adalah, mereka takut akan pembalasan pejuang-pejuang Indonesia. Sebab pembalasan yang paling menakutkan pastilah datang dari penduduk yang terjajah. Dan Jepang maklum sangat, bahwa selama tiga setengah tahun di Minangkabau ini, merekla sudah membuat kekejaman yang tak tanggung- tanggung. Karenanya mereka takut pada pembalasan penduduk kalau senjata mereka serahkan.

Ada lagi sebab lain. Yaitu sedikit harapan untuk tetap bertahan. Mereka berharap agar pimpinan tinggi angkatan bersenjata memerintahkan untuk tetap berjuang sampai tetes darah terakhir.

Dan seluruh balatentara Jepang siap untuk berjibaku kalau perintah itu datang. Dan di Minangkabau, serta seluruh Sumatera umumnya, mereka menumpahkan harapan pertahanan di kota Bukittinggi. Bukankah mereka sudah menggali ribuan meter terowongan yang simpang siur. Yang bisa dijadikan pertahanan. Bukankah mereka telah mengisi terowongan itu dengan bahan makanan dan amunisi yang cukup untuk bertahan bagi satu resimen pasukan selama dua tahun.

Kini hanya soal perintah tetap bertempur. Itu lah yang mereka tunggu. Dan karena itu, mereka tetap mempertahankan senjata mereka. Mereka tetap memegang kendali Pemerintahan. Meski mereka tak lagi menjalankan aksi-aksi kekerasan seperti sebelum ditundukkan Sekutu, namun mereka tetap membalas serangan yang datang dari pejuang-pejuang.

Alasan mereka adalah menjaga ketertiban menjelang datangnya Tentara Sekutu. Dan bila Sekutu datang mereka akan menyerah dengan baik-baik. Itu yang mereka permaklumkan pada pemuka-pemuka Indonesia.

Namun pihak Indonesia sendiri bukannya tak berusaha secara baik-baik untuk mendapatkan persenjataan dari Jepang. Engku Syafei yang di Sumatera Tengah menjadi salah seorang tokoh Indonesia yang punya kontak langsung dengan Soekarno, Hatta dan Panglima Sudirman di Jawa, berusaha mengajak pihak Jepang berunding.

Beberapa kali pertemuan dengan Mayor Jenderal Fujiyama telah dilakukan. Namun usahanya nampaknya belum menunjukkan hasil. Sementara itu, pejuang-pejuang yang lebih radikal banyak yang tidak peduli dengan perundingan itu. Bagi mereka perang jauh lebih efektif untuk merebut senjata daripada berunding.

Beberapa pengalaman berunding dengan Belanda dahulu sudah memberikan pengalaman pahit pada mereka. Itulah sebabnya kenapa telah terjadi beberapa kali bentrokan senjata antara pejuang-pejuang itu dengan tentara Jepang.

Kontak-kontak senjata yang sering menjatuhkan korban itu, semata-mata dimaksudkan oleh pejuang- pejuang Indonesia untuk mendapatkan persenjataan dari Jepang. Mereka bukannya tak berhasil. Dari pertempuran di Biaro, pejuang-pejuang itu berhasil merampas sebelas bedil. Dua senapan mesin. Satu pistol dan beberapa ratus butir peluru.

Dan dari penghadangan di Gadut, Kabupaten Agam, mereka juga mendapat setengah lusin bedil. Selebihnya, beberapa kali penyergapan gagal karena Jepang mendatangkan bala bantuannya. Dan kini berita itulah yang dibawa kurir tersebut kerumah Kari Basa.

“Lalu apa kabar lagi dari Sutan Baheramsyah?” Kari Basa bertanya.

“Dia menyampaikan akan ada rapat malam ini, ditempat biasa” “Baiklah saya akan kesana….”

Kurir itu pergi. Kini kembali mereka tinggal berdua. Kari Basa dan Si Bungsu. “Akiyama lagi…” Kari Basa mendesis perlahan.

“Siapa dia?: Si Bungsu bertanya. Kari Basa menatapnya. “Engkau tak tahu siapa dia?”

Si Bungsu menggelang. Kari Basa menarik nafas panjang.

“Dalam tentara Jepang ada beberapa serdadu yang kejamnya bukan main. Masih ingat perlakuan yang kita terima dalam tawanan di terowongan itu?”

Si Bungsu mengangguk. Bagaimana dia akan melupakannya? Masih dia ingat betapa kuku jari Kari Basa dicabuti satu demi satu. Dan saat ini dia lirik jari-jari kaki Kari Basa tak berkuku sebuahpun. Dan dia juga masih ingat betapa tubuhnya disayat-sayat dengan samurai. Kemudian jarinya dipatahkan.

“Nah, cukup banyak tentara Jepang yang sadis begitu. Dan tukang ciptanya hanya seorang. Yaitu Akiyama!”

“Lalu Akiyama itu siapa?” Si Bungsu kembali bertanya.

“Pangkatnya kini Letnan Kolonel. Dulu Mayor. Masih ingat Mayor yang engkau ancam dengan Samurai ketika mereka menyergap rapat di Birugo?”

Tubuh Si Bungsu tiba-tiba menegang mengingat Mayor itu.

“Masih ingat bukan?” Kari Basa bertanya lagi. Dengan perasaan sumbang Si Bungsu mengangguk. “Nah, dialah Akiyama!”

“Akiyama…!” Si Bungsu berkata perlahan. “Ya. Dialah orangnya…”

Pikiran Si Bungsu segera merekam kembali saat penangkapannya di Koto Baru. Betapa Mayor itu memerintahkan mereka untuk keluar dari rumah Tabib tempat dia berobat. Kemudian ketika dia keluar bersama Kari Basa, Mayor itu menyuruh melemparkan samurainya ketanah. Ketika samurainya telah dia lemparkan, dan telah dipungut oleh seorang Kempetai. Mayor itu maju. Kemudian dengan tusukan jari-jari tangannya dia menghantam luka dibahunya. Dua kali. Dan dia jatuh ketanah dalam sakit yang tak terkira. Dan saat itu dia lihat Datuk Penghulu melayang. Menendang Mayor itu… dan Datuk Penghulu mati dicabik samurai Mayor tersebut. Dia ingat lagi semuanya itu. Ingat benar.

Kiranya Mayor itu masih hidup.

“Hei, kami ada oleh-oleh untukmu….” Kari Basa tiba-tiba ingat sesuatu.

“Salma, bawa kemari yang ayah suruh simpan kemarin….” Kari Basa berseru tanpa memberi kesempatan pada Si Bungsu untuk bicara. Tak lama kemudian anak gadis Kari Basa itu muncul dengan sebuah kayu ditangannya. Si Bungsu segera saja tertegak melihat oleh-oleh yang berada di tangan gadis itu.

“Samurai….” Katanya begitu dia mengenali benda itu sebagai samurai miliknya. “Ya. Itu samurai milikmu…” kata Kari Basa.

“Ya. Ini milikku, dimana bapat dapat?”

“Bukan saya yang mendapatkannya. Dua malam yang lalu ada pejuang yang mencoba memasuki rumah Akiyama. Maksudnya ingin membunuhnya. Sebab sudah banyak kekejaman yang dilakukan Akiyama di negeri ini. Namun Akiyama tak dirumah. Yang ditemuinya hanya seorang Kopral. Kopral itu dibunuh. Dan di dinding, dia melihat samurai ini. Dia segera mengenalinya sebagai samuari milikmu. Karena dia ikut dalam penjagaan rapat di Birugo yang digerebek Jepang itu. Dia melihat engkau yang memakai samurai ini. Dia ambil, dan dia berikan kepada kami…”

“Ah, terima kasih. Terima kasih…” Si Bungsu menerima dan mencabut samurainya. Melihat matanya. Menjamahnya dengan ibu jari. Kemudian tanpa dia sadari matanya terpejam. Dan tiba-tiba tangannya berkelabat. Amat cepat, dan samurai itu masuk kembali kesarangnya. Dan di meja, seekor lalat mati dengan tubuh terbelah dua.

Kari Basa menatap pada anaknya. Salma tegak terpaku melihat kecepatan anak muda itu.

“Ah…sudah lama sekali rasanya tak mempergunakan samurai. Saya harus berlatih lagi dari awal. Sudah kaku sekali,,,,” dia berkata sambil menimbang-nimbang samurainya.

“Lambat? Lihatlah, engkau berhasil membelah seekor lalat yang sedang terbang. Persis belah dua…” Kari Basa menunjuk pada lalat yang terhantar di meja itu.

Si Bungsu tersenyum tipis.

“Hanya seekor… Bapak tahu berapa ekor yang ingin saya bunuh tadi? Ada empat ekor mereka terbang. Dan ternyata hanya seekor yang kena. Dahulu keempatnya pasti mati. Tapi kini, lihatlah, saya sudah terlalu lambat….” Dia berkata.

Kari Basa menggeleng-geleng. Takjub. Kagum.

Dan siang itu Si Bungsu memang mulai berlatih mempergunakan samurainya. Dia berlatih dihalaman belakang. Mula-mula dia berlatih mencabut samurai itu. Sekali-dua, tiga kali, empat kali, sebelas….tiga puluh, delapan puluh, seratus dua puluh. Dan peluh membasahi tubuhnya.

Tangan kananya yang mencabut samuari itu rasa kesemutan. Sebab kecepatannya mencabut samurai sudah agak lumayan. Dia sadar sepenuhnya, dalam pertarungan dengan samurai kecepatan mencabut samurai sangat menentukan. Apalagi kalau perkelahian dilakukan dalam jarak sejangkauan tangan.

Dan perkelahian antara pesilat-pesilat yang tangguh dan perkelahian satria, memang dilakukan dalam jarak jangkau samurai.

Namun tak kalah pentingnya dari kecepatan adalah faktor kecepatan. Cepat dalam mencabut samurai, dan tepat dalam tekhnik menyerang. Itulah yang sempurna. Kecepatan saja tanpa ketepatan serangan, percuma saja. Setelah samurai dicabut, lalu diapakan? Maka ketepatan yang menentukan.

“Makanlah, nasi telah saya letakkan…” tiba-tiba dia mendengar suara Salma. Dia mengambil handuk kecil di jemuran. Kemudian melangkah ke bawah pohon jambu perawas.

“Apakah bapak sudah kembali?” tanyanya.

“Tidak. Bapak sudah berpesan, bahwa dia akan ke Tigo Baleh. Ada urusan di sana. Dan mungkin sampai malam nanti dia tak kembali…”

Si Bungsu segera ingat bahwa malam nanti akan ada rapat di “tempat biasa” seperti yang dikatakan kurir tadi pagi.

Dia menatap pada Salma. Sebuah rencana muncul dikepalanya. Sebuah rencana lagi. Tapi harus dia laksanakan. Yaitu sebelum dia pergi meninggalkan negeri ini menuju Jepang. Namun sebelum rencana itu dilaksanakan, dia harus latihan dulu dengan baik.

“Salma, mau membantu saya ?” Salma menatapnya. Kemudian tersenyum. Dan turun kehalaman belakang. “Apa yang dapat saya perbuat ?”

“Tunggu sebentar…” dan Si Bungsu memanjat batang jambu perawas didekatnya. Mengambil putiknya. Ketika dia tengah memetik putik buah perawas itu dia teringat belum minta izin. Dia menoleh lagi pada Salam.

“Boleh kuambil putiknya ini bukan ?” tanyanya. Salma hanya tersenyum.

“Boleh ndak?” tanyanya ragu melihat senyum gadis itu. Dia ragu dan berdebar melihat senyum Salma yang memikat. Masih tetap tersenyum, gadis itu menjawab :

“Ambillah. Abang tinggal memilih mana yang abang suka untuk memetiknya…” Si Bungsu merasa disindir. Tapi dia memetik terus.

“Tolong tampung di bawah…” katanya. Salam mengambil sebuah panci. Kemudian menampung putik- putik perawas itu. Umumnya yang dipetik Si Bungsu adalah yang sebesar ibu jari. Cukup lama dia memetik. Ketika sudah terkumpul sekitar seratus buah, dia baru turun. Salma jadi heran, untuk apa putik perawas sebanyak ini oleh anak muda itu? Tapi keherannya dia simpan saja dihati.

“Nah, kini tetaplah tegak di sini, ambil dua buah kemudian lemparkan kearahku kuat-kuat. Mengerti…?” Salma mengangguk. Kini dia mengerti bahwa putik jambu itu akan dipergunakan sebagai alat untuk latihan. Si Bungsu mengambil jarak sepuluh depa di depan Salma. Kemudian memandang pada gadis itu. Samurainya dia pegang dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya tergantung lemas disisi tubuh. Dia memusatkan konsentrasi. Menatap diam-diam pada Salma. Salma jadi gugup ditatap begitu. Kemudian

menunduk.

“Hei, jangan menunduk!” Si Bungsu berseru. Salma jadi merah mukanya.

“Habis Uda tatap begitu terus-terusan. Saya jadi gugup…” katanya tersipu-sipu. Dan tiba-tiba Si Bungsu pula yang jadi jengah. Namun dia kuat-kuatkan hatinya. Dengan muka yang juga bersemu merah, dia kembali menatap Salma. Gadis itu juga menatapnya.

“Nah…siaplah. Engkau boleh melemparkan dua buah putik jambu itu bila saja engkau sukai. Dan jangan berhenti. Lemparkan terus sekali dua buah. Mengerti ?”

Salma mengangguk. Dia ingin membantu anak muda ini. Membantu mengembalikan semangat dan kepercayaan terhadap dirinya.

Dialah yang paling mengetahui, betapa anak muda ini kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sejak disiksa dalam terowongan itu. Dia mengetahui hal itu ketika merawatnya dibiliknya lebih dari sebulan. Dia mendengar betapa anak muda ini merintih. Memekik. Mengeluh dan bahkan menggigil melihat jari-jari tangan kirinya yang dipatahkan Jepang.

Dan ketika telah sembuh, dia melihat betapa setiap kali anak muda itu merenung. Menatap pada tangannya. Mengepal-ngepalkan tangannya itu. Kemudian menggerak-gerakkannya. Kini nampaknya dia ingin berlatih. Dan Salma berniat membantunya sekuat tenaga.

“Awas…!” gadis itu berteriak tiba-tiba sambil melemparkan dua buah putik perawas. Lemparannya cukup cepat dan kuat. Si Bungsu terkejut, dan tangannya menggapai kehulu samurai. Tapi kedua putik perawas itu telah mengenai tubuhnya sementara samurainya belum keluar sedikitpun!

Salma jadi kaget. Kenapa terlalu lamban anak muda itu?

“Uda, kenapa?” tanyanya sambil mendekat pada Si Bungsu. Si Bungsu menggeleng. Salma tegak disisinya. “Kenapa. Tanganmu sakit lagi…?” tanyanya sambil memegang tangan Si Bungsu. Si Bungsu tambah

menunduk. Menarik nafas. Panjang, kemudian menatap pada Salma.

“Ya. Tidak hanya tangan, tapi tubuh saya juga terasa lumpuh…” katanya perlahan. Salma jadi pucat. “Kenapa…?” bisiknya.

“Karena matamu..” jawab Si Bungsu. Salma membelalak. “ Ya. Saya seperti lumpuh engkau tatap begitu Salma”.

Dan tiba-tiba gadis itu menunduk. Hatinya berdebar kencang. Kakinya menggaris-garis tanah. Dan Si Bungsu terkejut, ketika dilihatnya pipi gadis itu basah.

“Salma..? saya menyakitimu…?’ Salma masih menggaris-garis tanah dengan ibu jari kakinya. Kemudian menggeleng.

“Lalu kenapa?”

“Uda mempermainkan saya….” Jawabnya perlahan. Dia sebenarnya bahagia. Tapi sekaligus juga sedih. Bukankah dalam mimpinya, dalam igaunya ketika sakit, dia dengar Si Bungsu puluhan kali menyebut nama Mei-Mei?

“Mempermainkan…? Sungguh mati, saya jadi gugup seperti lumpuh kau tatap seperti itu…. Tapi maafkan kalau ucapan saya itu menyinggung perasaanmu…” Salma mengangkat kepala. Kemudian tersenyum. Betapapun dia harus membantu anak muda itu mengembalikan kepercayaan dirinya.

“Tidak marah…? Tanya Si Bungsu. Salma menggeleng. Salma tersenyum. Si Bungsu menarik nafas. Si Bungsu balas tersenyum. Kemudian Salma kembali ketempatnya, kesisi baskom yang berisi putik jambu di atas meja kecil di bawah batang perawas.

“Kita mulai lagi…?” tanyanya.

“Ya, tapi jangan kau sihir dengan matamu. Tangan saya bisa tak bergerak…” jawab Si Bungsu bergurau.

Salma tertawa kecil. Tangannya mengambil dua buah putik perawas disampingnya. Kemudian tegak lurus. “Siap..?” tanyanya.

Si Bungsu menarik nafas. Memusatkan perhatian kemudian mengangguk. Salma tak segera melemparkan putik jambu itu. Ada beberapa saat dia berdiam, kemudia baru melemparkannya sekuat tenaga.

Samurai Si Bungsu berkelabat. Memancung kekiri dan kekanan. Kemudian samurainya masuk kembali kesarangnya. Namun kedua putik jambu itu mengenai tubuhnya. Gagal! Salma menatapnya.

“Saya gagal…” kata Si Bungsu perlahan. Namun saat ini Salma sudah mengambil dua buah lagi putik jambu dari dalam baskom. Dan ketika kata-kata “gagal” itu diucapkan Si Bungsu, Salma melemparkan putik jambu tersebut. Jambu itu melayang cepat sekali. Si Bungsu tak sempat berfikir, dengan cepat mengandalkan instingnya, tangannya bergerak. Mencabut samurai dan membabat ke depan.

Kena! Ya, sebuah dari putik-putik jambu itu kena. Meski tak tepat, tapi putik jambu itu sempat sumbing.

Mereka bertatapan lagi.

“Sudah mulai sedikit…!” Salma berkata sambil mengambil lagi putik jambu tersebut. Dan tiba-tiba melemparkannya kembali, Si Bungsu mencabut samurainya. Membabatkannya. Gagal! Dia gagal lagi.

Samurainya memang tercabut dengan cepat. Bahkan hampir-hampir tak terkejutkan oleh mata Salma. Namun babatannya meleset. Demikian mereka ulangi berkali-kali. Sampai akhirnya Si Bungsu mulai biasa lagi. Tangannya mulai melemas tidak kaku seperti awalnya. Beberapa kali, samurainya sempat membelah sebuah putik jambu itu persis di tengah. Kemudian gagal lagi. Kemudian tepat lagi. Begitu silih berganti.

Tapi menjelang putik jambu itu habis dua pertiga, dia sudah bisa membelah dua putik jambu yang dilemparkan Salma. Mereka hanya istirahat kalau tangan Salma atau tangan Si Bungsu sendiri sudah penat dan pegal. Lalu mereka mengulangi lagi latihan itu.

Suatu saat, Salma berkata:

“Nah, itu ayah pulang…” Si Bungsu menoleh kebelakang, dan saat itulah Salma melemparkan kedua putik jambu di tangannya ke arah Si Bungsu. Telinga Si Bungsu tajam mendengar sesuatu menuju ke arahnya. Dia berpaling, dan saat itulah kedua putik jambu yang dilemparkan Salma menghantam dada dan kepalanya! Si Bungsu tertegun. Dia kaget bukan main. Salma menarik nafas panjang.

“Uda tertipu, dan kurang waspada…” katanya perlahan. Si Bungsu mengangguk. Dia jadi kagum akan kecerdasan gadis ini.

“Terimakasih Salma. Engkau mengingatkan aku sesuatu…kini kita lanjutkan latihan dengan caramu itu, engkau lelah…?”

Salma menghapus peluh di wajahnya yang memerah seperti tomat. Kemudian menggeleng. Si Bungsu membelakang kemudian berkata:

“Nah, untuk tahap pertama, engkau harus bersuara bila melemparkan putik jambu itu. Nanti kalau sudah tebiasa, baru engkau lemparkan tanpa peringatan…”

“Awas…!!” Salma melemparkan putik jambu ditangannya tanpa memberi kesempatan jarak pada Si Bungsu. Si Bungsu menajamkan pendengaran. Kemudian mencabut samurai dan berputar sambil menghayun samurai ditangannya.

“Tras! Tras! Tapi samurainya menerpa angin kosong! Salah satu diantara putik jambu itu mengenai dadanya yang satu lagi terus ke belakang jatuh ke tanah.

“Gagal, kita teruskan…” katanya sambil berputar. Salma kali ini memberi kesempatan pada anak muda itu untuk bernafas. Perlahan mengambil buah jambu di baskom. Kemudian dengan teriakkan “Awas” sekali lagi, dia melemparkan putik jambu itu.

Si Bungsu mencabut samurai menanti sesaat kemudian berputar sambil menghayun samurainya. Kena!

Ya, kini satu diantara putik jambu itu kena persis pada pertengahannya.

Dan latihan itu mereka ulangi terus. Terus dan terus hingga Si Bungsu dengan tepat mengenai kedua putik jambu yang dilemparkan disaat dia membelakangi itu. Hari-hari berikutnya Si Bungsu mencoba methode yang dulu pernah dia lakukan di Gunung Sago. Yaitu mengendalikan pendengarannya sambil memicingkan mata. Dia duduk bersila di tanah kemudian memejamkan mata. Dan Salma kembali melemparkan putik-putik jambu itu.

Seperti halnya setiap permulaan, pada awal-awalnya dia selalu gagal. Tetapi makin lama, tangannya makin mahir. Dan pendengarannya makin terlatih. Dan kini kedua putik jambu itu senantiasa terbabat belah dua!.

Suatu saat Si Bungsu merasa ada lebih dari dua putik jambu yang menyerangnya. Dia membabat tiga kali. Kena. Suatu saat empat, lima, enam. Dan dengan kecepat yang luar biasa, sambil tetap memicing dia membabat terus. Dan kena!

Dan akhirnya dia mendengar tarikan nafas di kejauhan. Tak ada lagi putik jambu yang dilemparkan. Lambat-lambat dia membuka mata. Dan dibawah pohon perawas sana, dia lihat Salma dengan tubuh berpeluh. Gadis itu menatap padanya dengan tersenyum.

“Lelah…?” tanyanya sambil bangkit mendekati Salma.

“Penat dan kehabisan peluru….” Jawab Salma. Dan Si Bungsu melihat betapa panci di depan gadis itu sudah kosong. Dia tersenyum.

“Bukan main, yang terakhir delapan buah sekali saya lemparkan. Lihatlah…semua kena” kata Salma. “Lapan buah?” Si Bungsu kini balik bertanya dengan heran.

“Ya, delapan buah. Masa tak tahu..”. “Saya hanya merasa ada enam buah..”

“Ya, saya lihat hanya enam kali tebas. Tapi dengan enam kali tebas itu kedelapannya kena. Barangkali ada yang sekali tebas dua buah…” Salma berkata perlahan. Matanya menatap ketempat Si Bungsu sejak tadi. Dan disana, terdapat belahan-belahan putik jambu. Berserakan memenuhi halaman belakang rumah itu.

“Sudah merasa lega kini?” tanya Salma. Si Bungsu menatap dalam-dalam kemata gadis itu. Aneh, ada suatu perasaan yang membuat hatinya jadi buncah dan tak tenteram. Perasaan yang membuat hatinya berdebar.

“Terimakasih Salma. Engkau telah bersusah payah. Merawat diriku, membantu mengembalikan kepercayaan pada diriku. Membantu melatihku…. Terimakasih, aku takkan melupakan budimu…” katanya perlahan. Salma tersenyum, mukanya bersemu merah.

“Hari sudah sore. Tidak lapar?” tanyanya pda Si Bungsu. Si Bungsu sudah akan mengangguk, ketika gelang-gelangnya berbunyi. Dia tersenyum malu, Salma juga tersenyum. Dan sore itu dia makan dengan lahap. Makannya bertambuh-tambuh.

Hubungan antara keduanya berjalan makin akrab. Salma tak banyak bicara, namun tatapan matanya yang gemerlap lebih banyak berucap. Dan suatu hari, dia menanyakan sesuatu yang sudah lama ingin dia tanyakan pada Si Bungsu. Sesuatu yang membuat hatunya sebagai gadis yang pertama kalinya jatuh cinta jadi luluh. Yaitu tentang perempuan lain, yang namanya selalu disebut Si Bungsu dalam igauannya ketika sakit dulu. “Abang berkali-kali memanggil namanya…Mei-Mei!…tentulah dia seorang gadis yang cantik…” kata

Salma hari itu, sambil tangannya meneruskan sulamannya.

Si Bungsu tak segera menjawab. Salma menanti dengan berdebar. Sebagai perempuan, dia tak mau ada perempuan lain dalam lelaki yang dia cintai. Tapi sebaliknya, dia tak pula mau merebut lelaki yang telah jadi milik orang lain.

“Ya… dia seorang yang cantik dan amat berbudi..” akhirnya Si Bungsu menjawab pelan. Salma merasa jantungnya ditikam. Penjahit ditangannya terguncang, ibu jarinya tertusuk. Sakitnya bukan main, namun lebih sakit lagi jantungnya.

“Dia ada dikota ini…?’ tanyanya dengan suara nyaris gemetar. “Ada…” jawab Si Bungsu pelan.

Salma ingin meletakkan sulamannya. Ingin berlari ke kamar dan menangis disana. Tapi dia kuatkan hatinya.’

“Kenapa tak uda bawa dia jalan-jalan kemari…” tambahnya. Dan dia jadi heran, kenapa mulutnya bisa bicara begitu. Padahal hatinya menjerit luka.

“Dia tak mungkin datang kemari. Tapi saya ingin ketempatnya sore ini, kalau engkau mau aku ingin membawamu kesana. Kau mau bukan…?” Dan Salma mengangguk. Meskipun setelah itu dia ingin memotong kepalanya yang sudi saja mengangguk. Padahal dia ingin menggeleng dengan keras agak sepuluh atau dua puluh kali.

Dan sore itu, mereka memang pergi ke sana. Ke “tempat” perempuan bernama Mei-Mei itu. Salam jadi heran ketika Si Bungsu membawanya ke sebuah pemakaman kaum di Tarok. Pekuburan itu terletak dalam palunan hutan bambu.

Dan… disebuah pusara, Si Bungsu berhenti. Salma tegak disisinya.

“Mengapa kita kemari….?” Tanyanya pelan sambil menutupi kepalanya dengan kerudung.

“Engkau ingin mengenal Mei-mei bukan? Disinilah dia. Dalam pusara ini. Dia meninggal setelah diperkosa bergantian oleh selusin tentara Jepang…”

Salma merasa tubuhnya menggigil. Dia berpegang ke tangan Si Bungsu. Dan Si Bungsu menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Mei-mei. Bagaimana penderitaan gadis itu semasa hidupnya. Dan dengan jujur juga menceritakan bahwa mereka telah berniat menikah, namun maut lebih duluan menjangkaukan tangannya. Salma menangis terisak-isak. Si Bungsu menunjukan pula tiga pusara lainnya. Masing-masing pusara

Datuk Penghulu, kusir bendi yang ternyata intel Republik itu. Kemudian pusara isteri Datuk itu dan pusara si Upik, anak gadisnya yang meninggal malam itu ditangan kebiadaban tentara Jepang.

Lama mereka terdiam. Kemudian Salma membersihkan ke empat pusara itu bersama Si Bungsu. Gadis itu mencari sepohon bunga kemboja. Mematahkan dahannya yang berbunga lebat, menancapkannya dipusara Mei-mei.

“Terimakasih Salma. Kau baik sekali…” kata Si Bungsu.

Salma menghapus air matanya. Si Bungsu memeluknya dalam tiupan angin sore yang semilir. Tak ada ucapan yang keluar. Namun Salma merasakan pelukan itu alangkah membahagiakan. Kukuh dan tenteram. Dia ingin berada disana, dalam pelukan yang membuat hatinya berbunga itu untuk selama hidupnya.

-000-

Suatu hari, ketika dia kembali duduk di beranda depan, dia melihat dan mendengar derap sepatu tentara. “Salma…” katanya memanggil ketika melihat enam orang serdadu Jepang lewat di depan rumah dengan

bedil ditangan. Salma datang ke beranda depan.

“Mereka selalu lewat di jalan-jalan kota sejak kemerdekaan?”

“Ya, mereka mengadakan patroli. Setiap hari mereka patroli tiga kali. Mengitari kota. Memasuki jalan- jalan kecil. Dan setiap regu patroli terdiri dari enam orang. Begitu terus tiap hari…”

Si Bungsu mengangguk-ngangguk. Dan dia berpikir lagi tentang rencananya beberapa hari yang lalu. Rencana yang disusun untuk membuat sebuah pembalasan. Rencana gila, tapi dia berniat untuk melaksanakannya.

“Kalau bapak pulang, katakan saya pergi jalan-jalan…” Si Bungsu berkata sambil mengambil samurainya. Salma jadi tertegun. Ada firasat tak enak menyelusup dihatinya. Katakanlah semacam rasa cemas. Dia ingin mencegah anak muda itu untuk tak pergi. Tapi dia yakin, anak muda itu tak tercegah.

“Uda…” hanya itu yang mampu diucapkan ketika Si Bungsu sudah sampai di jenjang. Si Bungsu berhenti, menoleh kebelakang. Gadis itu menatapnya dengan sinar mata yang sulit untuk diartikan. Lembut dan dalam. Seperti teluk yang damai dimana kapal-kapal berlabuh.

“Hati-hatilah…’ Akhirnya ucapan itulah yang terlontar dari bibirnya. Namun dari matanya banyak sekali ucapan yang tersirat. Si Bungsu menaiki lagi anak tangga yang dia turuni sebanyak dua buah. Dia pegang tangan Salma, menggenggamnya.

“Terima kasih Salma…” kemudian dia berbalik, buru-buru menyusul serdadu Jepang tadi. Salma menatapnya hingga lenyap dibalik tikungan.

Keenam serdadu Jepang itu sudah memutari separo kota Bukittinggi. Regu patroli jalan kaki itu dipimpin oleh seorang Syo Cho (Sersan Mayor). Keenam mereka tak seorangpun yang memakai samurai. Syo Cho memakai pistol dipinggangnya. Sementara lima orang lagi, yang terdiri serdadu-serdadu berpangkat Itto Hei (Prajurit Satu) tiga orang dan berpangkat Djo to Hei (Prajurit Kepala) satu orang. Satu orang lagi adalah wakil komandan dengan pangkat Hei Cho (Kopral). Kelima mereka memakai bedil panjang lengkap dengan sangkur terhunus diujung bedilnya.

Mereka tengah lewat di dekat penghentian bendi tak jauh dari jenjang gantung yang melintasi jalan, yang menghubungkan pasar teleng dengan pasar bawah, ketika tiba-tiba saja seorang anak muda menghadang mereka. Syo Cho yang memimpin regu itu jadi gusar melihat anak muda yang tegak bertolak pinggang di depannya. Dengan tangan kananya ia dorong anak muda itu. Sebenarnya, kalau saja mereka tidak kalah perang dengan Sekutu, anak muda ini barangkali telah dia tampar. Atau dia tangkap dan diseret ke markas.

Tapi kini situasi sudah berbeda jauh. Mereka adalah tentara yang kalah. Makanya mereka cukup hati-

hati.

“Minggir..” katanya sambil mendorong. Namun saat itulah yang ditunggu anak muda yang tak lain dari

pada Si Bungsu, samurainya bekerja dan tangan yang mendorongnya tiba-tiba dibabat putus hingga kebatas siku!

Syo Cho itu memekik. Kelima anggota regunya terkejut dan siap untuk mengadakan pembalasan. Namun keadaan sudah diperhitungkan Si Bungsu. Dia sudah mengira, bahwa rencananya itu rencana gila. Tapi dia merasa kasihan pada pejuang-pejuang yang selalu kalah dalam tiap penyergapan di luar kota.

Begitu tangan Sersan Mayor itu putus, dia menyergap tubuhnya dari belakang. Kemudian seperti dia mengancam Mayor Akiyama di Birugo dahulu, begitu pulalah yang dia perbuat kini. Sersan itu dia ancam dengan melekatkan mata samurainya kelehernya.

“Letakkan seluruh bedil kalian di tanah, kalau tidak saya sembelih komandan kalian ini. Lekas!” Si Bungsu menghardik. Kelima serdadu itu tersurut. Mereka jadi ngeri melihat darah yang menyembur dari tangan Sersan yang putus itu. Sersan itu memekik dalam bahasa Jepang agar anak buahnya meletakkan bedil.

Dan keenam serdadu itu segera menyadari, bahwa yang menghadang mereka itu adalah Si Bungsu. Anak muda yang ditakuti itu. Yang telah lolos dari tahanan di dalam terowongan dahulu. Menyadari bahwa yang mencegatnya adalah Si Bungsu, keenam mereka benar-benar tak mampu berkutik.

Dan kelima serdadu itu mencampakkan bedil mereka ke tanah. Meski hari itu bukan hari balai, bukan Sabtu dan Rabu, namun orang tetap ramai kepasar. Dan dalam waktu sebentar saja, tempat itu telah dikerumuni orang. Penduduk melihat makin lama makain ramai dari kejauhan.

“Kalian tanggalkan pakaian kalian semua. Cepaaat!!” Si Bungsu berteriak lagi. Dan tanpa menunggu perintah kedua, mereka berlomba menanggalkan baju dan celana dinasnya.

“Nah, kini dengarkan baik-baik. Katakanlah pada Letnan Kolonel Akiyama bahwa Si Bungsu mencarinya.

Pergilah cepat!”

Berkata begini, dia mendorong tubuh Sersan Mayor yang dia ringkus tadi. Sersan Mayor itu terjajar.

Kemudian melangkah menjauh.

“Pergilah sebelum saya berobah niat…” kata Si Bungsu. Yang lima mundur menjauh, Sersan itu juga. Namun si Sersan kini mempunyai niat lain. Si Bungsu ternyata lupa melucuti senjata pistol dipinggangnya. Kini jarak mereka ada sepuluh depa. Bukankah samurai Si Bungsu tak berdaya dalam jarak begitu? Dia pasti bisa menghajar anak muda itu.

Maka dengan perhitungan begini, tiba-tiba tangan kirinya mencabut pistol dipinggang.

“Bagero! Bungsu jahanam, kubunuh kau!” teriaknya begitu pistolnya keluar dari sarangnya. Dan kelima serdadu Jepang yang lain pada berhenti.

Mata Si Bungsu tiba-tibamenyipit.

Sepuluh depa! Dia perhitungkan jarak itu. Berapa kalikah dia harus bergulingan maka sampai ke Jepang yang pontong tangannya itu? Atau dia lemparkan sajakah samurainya dari sini? Peluru pistol itu pasti lebih cepat.

Perhitungan ini diambil dalam waktu yang hanya dua detik. Sebab pistol itu sudah akan diangkat untuk ditembakkan. Penduduk pada terpekik dan mundur. Dan saat itulah tubuh Si Bungsu bergulingan di tanah. Lompat tupai!

Tiga kali, empat kali bergulingan tiba-tiba dia dengar letusan. Kakinya terasa panas, luka! Saat itulah dia bangkit. Sebuah letusan lagi, dan rusuknya terasa pedih. Luka! Jaraknya masih empat depa. Samurainya tiba- tiba keluar dan melayang! Creep!!

Lemparannya tepat mengenai jantung Sersan Mayor itu. Tertancap hingga kehulunya dan tembus terjulur panjang dibahagian punggung. Sersan itu berusaha menarik pelatuk pistolnya. Namun tubuhnya terkulai tiba-tiba. Jatuh, dan mati!

Si Bungsu cepat memburu, menyentakkan samurai itu dan menatap lima Jepang yang hanya bercelana kolor di depannya. Kelima Jepang itu tiba-tiba balik kanan dan ambil langkah seribu! Lari.

“Jangan lupa sampaikan pada Akiyama, saya mencarinya!! Si Bungsu berteriak.

Dua orang tentara Jepang saking takutnya sambil berlari itu lalu mengiyakan. Angguk ketakutan.

Si Bungsu melihat kaki dan rusuknya yang pedih tadi. Hanya luka tergores. Tak Parah. Meski darah mengalir cukup banyak. “Jika ada diantara kalian pejuang bawah tanah, ambillah bedil ini dan pergi cepat sebelum Jepang tiba….” Dia berkata. Sunyi sejenak.

Dan tiba-tiba saja empat lelaki berkain sarung dibahunya muncul ketengah. Mengambil senjata-senjata dan pakaian yang ditinggalkan Jepang itu. Mereka menatap sejenak pada Si Bungsu.

“Kami sudah banyak mendengar tentang nama besarmu anak muda. Dan hari ini kami lihat betapa nama besarmu itu tidak kosong semata. Terimakasih atas bantuanmu. Tuhan akan selalu melindungimu…..” salah seorang dari yang barkain dan bersebo yang berkumis dan bertubuh kekar berkata. Dan sehabis berkata begini, keempat mereka hilang diantara palunan manusia. Menyelinap dibalik-balik rumah. Dan lenyap entah kemana. “Kalian menghindarlah dari sini, jangan sampai didapati Kempetai nanti….” Si Bungsu memberi ingat

pada penduduk sambil berjalan cepat-cepat.

Pendudukpun pada bertebaran menghindarkan diri. Namun beberapa orang masih tegak disana menatap pada Sersan yang mati itu. Dan saat itulah selusin lebih Kempetai telah mengepung tempat tersebut. Ada enam orang lelaki, dan tiga orang perempuan yang tak sempat menghindarkan diri. Yang masih terlongo-longo menatap mayat Sersan itu ketika Kempetai datang. Semua mereka ditangkap untuk

pemeriksaan dan menanyakan kemana Si Bungsu dan siapa yang mengambil bedil yang ditinggalkan tadi.

Kalau saja mereka mengikuti petunjuk Si Bungsu agar menghindar cepat dari sana, maka mereka tentulah tak usah dapat kesusahan ditangkap Kempetai. Tapi mereka tak dapat pula disalahkan sepenuhnya. “Pertunjukkan” seperti yang baru saja mereka lihat, dimana seorang pemuda Indonesia melawan dan menelanjangi tentara Jepang, seorang lawan enam orang, dan pemuda Indonesia yang seorang itu menang pula, benar-benar belum pernah bersua dalam hidup mereka.

Bahkan mungkin takkan pernah lagi mereka menemuinya. Mereka sudah banyak mendengar dari mulut ke mulut, bahwa ada seorang anak muda yang bernama Si Bungsu, yang berasal dari Payakumbuh, dari kakai gunung Sago, yang selalu berhasil membunuhi Jepang.

Diam-diam, nama anak muda itu menjadi macam tokoh dongeng dan legenda kehidupan mereka. Kaum lelaki dan perempuan, tua dan muda, menganggap anak muda itu sebagai suatu tokoh pahlawan yang hanya hidup dalam zaman dongeng.

Namun tiba-tiba saja, hari ini pahlawan dongeng mereka itu muncul. Dan kemunculannya tidak hanya sambil lenggang kangkung. Dia muncul lengkap dengan kemahirannya melucuti dan membunuh Jepang dengan samurainya. Dia muncul lengkap dengan kehebatannya memainkan samurai. Suatu kemunculan yang komplit seperti didalam dongeng yang mereka dengan selama ini.

Memang tak dapat disalahkan penduduk yang masih tetap tinggal ditempat kejadian itu. Barangkali mereka tak merasa rugi telah ditangkap Kempetai. Malah bila telah bebas, meski kena tampar sebelas dua belas kali, kepada teman dan kenalan, kepada sanak famili, kepada anak cucu, mereka bisa menepuk dada. Bercerita tentang kehebatan Si Bungsu. Bercerita bahwa mereka ikut dalam “aksi” membunuh dan menelanjangi enam orang Jepang di dekat jembatan gantung itu bersama Si Bungsu. Bersama Si Bungsu!

Hm, bayangkan kebanggan yang akan mereka perdapat.

Demikian selalu rakyat kecil. Harapannya tak pula besar. Kecil saja, sekecil kehidupan mereka. Bagi mereka, kebanggaan-kebanggan bertegur sapa atau berdekatan dengan tokoh yang dikagumi, sudah meruapakan suatu kebahagian. Dan itu mereka perdapat hari ini. 

Peristiwa di dekat jembatan gantung itu segera menyebar seperti menelan lalang. Bersambung dari satu mulut ke mulut yang lain. Makin lama, kehebatan peritiwa itu makin menjadi-jadi. Ada yang bercerita bahwa pakaian kelima serdadu Jepang itu tanggal hanya karena bentakkan Si Bungsu.

Artinya, bentakkan Si Bungsu mengandung tenaga dalam yang tangguh. Ada pula yang menceritakan bahwa dia melihat benar dengan mata kepala sendiri, betapa Si Bungsu tetap saja tegak ketika ditembak belasan kali oleh Kempetai-Kempetai itu. Setelah peluru pistol Kempetai itu habis barulah Si Bungsu beraksi dengan samurainya. Bukan main hebatnya cerita itu bertebar dan bersambung dari mulut ke mulut. Yang sejengkal jadi sedepa.

Namun begitulah selalu rakyat kecil. Jika mereka tidak mampu memperoleh yang besar-besar, bahkan memperoleh yang kecil sekalipun susah, maka mereka cukup merasa puas dengan hanya menceritakan sesuatu yang besar.

Atau sekurang-kurangnya membesar-besarkan peritiwa kecil. Bukankah itu termasuk juga suatu”pekerjaan” yang besar?

Letnan Kolonel Akiyama mencak-mencak saking berangnya mendengar laporan kelima serdadu yang ditelanjangi itu. Mukanya merah padam. Persis udang yang dibakar hidup-hidup. Kelima serdadu yang hanya bercelana kotok itu dia biarkan terus bercelana kotok. Tak dia biarkan memakai pakaian. “Goblok! Pandir! Kalian tak punya otak. Tak mampu melawan seorang anak ingusan yang hanya pakai samurai. Sialan” dan tangannya bekerja menampari kelima orang serdadunya itu. Puak…puak-puak…pak! Berkatintam tangannya mendarat datar di pipi, kepala dan tengkuk kelima serdadu itu.

Kelima serdadu itu hanya dapat tegak dengan diam dan sikap sempurna. Masih untung mereka ditampar disana dan dibiarkan berserawa kotok. Bagaimana kalau mereka diseret ketahanan kemudian disiksa? Cukup banyak serdadu Jepang yang mengalami siksaan dibawah perintah Letnan Kolonel ini. Dia memang arsitek bidang siksa menyiksa.

Tapi tiba-tiba Letnan Kolonel itu jadi terdiam pula. Dia ingat kembali kata-katanya barusan. “Goblok, pandir, beruk. Kalian tak punya otak, tak mampu melawan anak ingusan yang hanya pakai samurai. Sialan” begitu ucapan makiannya sebentar ini. Dan dia jadi terdiam tertegak seperti patung justru mengingat kejadian di Birugo dahulu. Bukankah dia juga dibuat tak berkutik oleh ancaman samurai anak muda itu?

Bahkan waktu itu dia justru punya kekuatan jauh lebih besar. Dia membawa hampir tiga puluh orang serdadu. Tapi dengan kekuatan begitu, dia justru berhasil direndam anak muda itu dalam tebat. Bahkan Letnan Atto, ajudannya mati dibabat anak muda itu di depan matanya! Dia terdiam karena merasa malu. Dia baru saja memaki anak buahnya. Bukankah itu juga berarti memaki dirinya sendiri?

“Jahanam. Pergi kalian dari hadapanku! Bagero, beruk semuaa!” dia membentak sambil menendangi pantat anak buahnya yang lima orang itu. Ada yang terpancar kentutnya kena tendangan itu. Selagi ada kesempatan, ketika diusir itu lebih cepat menghindar lebih baik pikir mereka.

Dan kini tinggallah Overste itu sendiri. Terengah-engah dengan muka sebentar pucat sebentar merah. Si Bungsu sudah keterlaluan. Sudah melumuri kepala botakku dengan cirit, pikirnya. Dengan menelanjangi tentara Jepang dimuka orang ramai, membunuh komandan regunya, kemudian berpesan pula agar menyampaikan ancaman pada Akiyama, bukankah itu sebuah tantangan yang tak alang kepalang.

Oh Budha, kalau saja bom atom tak meledak di Nagasaki dan Hirosyima, kalau saja Jepang tak bertekuk lutut pada Sekutu, dia pasti sudah menyuruh menangangkapi semua orang di Bukittinggi ini. Menangkapi mereka sambil memaksa buka mulut untuk menunjukkan dimana Si Bungsu sembunyi. Anak setan itu pasti dalam kota ini. Pasti, tapi dimana?

Malangnya Jepang telah menyerah. Jadi kekuatan mereka tak begitu berarti lagi. Mereka harus banyak menekan perasaan. Tapi Akiyama bersumpah, dia harus menangkap dan membunuh Si Bungsu jahanam itu. Harus!

Sebaliknya Si Bungsu juga bersumpah pada dirinya untuk menuntut balas pada Akiyama. Masih ingat dia betapa Letnan Kolonel itu, semasa dia masih berpangkat Mayor, menghantam luka dibahunya. Lukanya dia tusuk dengan keempat jarinya sehingga jebol ke dalam. Bukan main sakitnya.

Tapi yang paling sakit perasaannya adalah ketika dia ketahui bahwa Datuk Penghulu mati dihantam samurai Akiyama. Inilah dendam yang harus dia balaskan. Membalas kematian Datuk Penghulu.

Dan akhirnya kedua musuh bebuyutan yang saling membenci ini bertemu muka. Mereka bertemu dalam saat-saat yang menguntungkan bagi posisi Si Bungsu. Waktu itu ada suatu upacara dimana selain bala tentara Jepang, juga hadir anggota-anggota pejuang Indonesia dan anggota Gyugun.

Tentara Jepang yang hadir sekitar satu kompi (seratus orang). Pihak pejuang-pejuang Indonesia agak kurang, namun sudah mempunyai senjata agak komplit.

Upacara itu berlangsung di depan asrama militer Birugo. Ada lapangan luas di depan markas itu. Upacara dipimpin langsung oleh Mayor Jenderal Fujiyama.

Ketika upacara itu selesai, pasukan Indonesia sudah siap-siap untuk meninggalkan lapangan upacara. Demikian pula pasukan Jepang siap untuk kembali ke markas mereka yang terletak di belakang lapangan upcara itu. Saat itulah Akiyama tiba-tiba melihat seorang anak muda di antara puluhan penduduk sipil yang tegak di tepi lapangan melihat jalannya upacara itu.

“Bungsu!!!” dia berseru dari tempat tegaknya. Semua orang terkejut. Termasuk Jenderal Fujiyama. Akiyama saat itu tengah bertindak sebagai Komandan Upacara. Dia masih tegak dititik putih tengah lapangan ketika dia menyebut nama Si Bungsu.

Setiap tentara Jepang, setiap anggota Gyugun mengenal nama itu dengan baik. Makanya tentara yang sudah siap-siap untuk meninggalkan lapangan itu, segera tegak kembali ditempatnya. Jenderal Fujiyama sendiri juga tertegak di atas podium kehormatan. Demikian pula perwira-perwira Jepang lainnya. Penduduk yang tegak diarah mana Akiyama menoleh pada surut dengan takut. Dan kini tinggalah disana seorang anak muda. Memakai pantalon biasa. Memakai baju gunting cina dan sebuah tongkat di tangannya.

“Ya, sayalah ini, Akiyama….” Anak muda itu berkata perlahan. Seruan-seruan tertahan terdengar dari mulut para serdadu Jepang. Sementara anggota-anggoat Heiho, Gyugun, para pejuang lainnya dan penduduk pada berbisik.

“Akhirnya kau kudapatkan Bungsu…” Akiyama berseru lagi.

“Ya, saya memang datang untuk mencarimu….” Si Bungsu tak kalah gertak. Dan sebelum Akiyama mempergunakan kekuasaannya untuk memerintahkan menangkap dirinya, Si Bungsu cepat-cepat berkata dengan lantang.

“Sebagai seorang Samurai, saya tantang anda untuk bertarung sampai mati. Bertarung secara kesatria dihadapan semua yang hadir sebagai saksi. Itu kalau anda memang benar-benar seorang Samurai Sejati!” suaranya lantang. Bergema diudara yang begitu panas. Muka Akiyama jadi merah.

“Seluruh tentara Jepang jadi saksi untuk tuan. Seluruh tentara Indonesia menjadi saksi untuk saya…” Si Bungsu berkata lagi. Suasana sepi.

Tiba-tiba Letnan Kolonel itu menghadap pada Jenderal Fujiyama kemudian melangkah mendekatinya. Pada jarak empat depa dia berhenti. Kemudian memberi hormat dengan sikap gagah. Lalu bicara dalam bahasa Jepang, Fujiyama kelihatan mengangguk-ngangguk. Kemudian Akiyama memberi hormat lagi. Kali ini Jenderal Fujiyama memutar tegak menghadap Si Bungsu. Lalu terdengar suaranya bergema :

“Saya sudah lama mendengar namamu anak muda. Hari ini engkau menantang saya. Bagi samurai Jepang adalah suatu kehormatan tertinggi untuk menerima tantangan berkelahi dengan Samurai melawan musuh. Namun untuk engkau ketahui, baru kali ini terjadi dalam sejarah kemiliteran Jepang, ada seorang asing yang menantang seorang Jepang untuk bertarung dengan pedang Samurai. Saya telah mendengar permintaanmu, kemudian mendengar penjelasan Akiyama. Dia bersedia melayanimu. Dan saya merestuinya. Akiyama adalah seorang perwira kami yang sangat mahir dengan samurainya. Saya sangat menyesalkan kalau engkau sampai mati ditangannya. Baik, saya jadi saksi, berikut seluruh tentara Jepang. Dan segenap pejuang-pejuang Indonesia serta masyarakat umum yang ada saat ini jadi saksi untukmu. Saya menjamin kebebasan bagimu, andainya engkau menang. Engkau boleh pergi kemana engkau suka, jika engkau keluar dengan selamat dalam pertarungan ini. Bagi kami, tantanganmu adalah suatu kehormatan, dan bila engkau menang adalah menjadi kehormatan pula bagi kami untuk membiarkan engkau bebas, Bersiaplah!”

Pasukan Jepang dan Heiho serta pejuang-pejuang Indonesia itu segara saja membentuk sebuah lingkaran yang besar. Perlahan-lahan Si Bungsu memasuki lingkaran besar itu dan lingkaran itu menutup di belakangnya.

Akiyama membuka pistolnya memberikannya pada ajudannya. Membuka penpels air dipinggang, topi waja dikepala, dan ransel di punggung. Semua yang memberatkannya untuk bergerak leluasa ini dia lucuti dan dia serahkan pada ajudan yang meletakkannya ke pinggir. 

Akhirnya dipinggangnya hanya ada samurai yang tergantung di pinggang kanan, seperti telah diceritakan terdahulu, ketika dia menyergap rapat di Birugo, dia adalah seorang yang kidal dalam mempergunakan pedang samurainya.

Tapi Akiyama belum merasa cukup dengan menanggalkan benda-benda yang bergayut ditubuhnya itu. Dia membuka bajunya dan kini dengan dada telanjang, yang meperlihatkan tubuh yang kekar, dia tegak menghadap Si Bungsu.

Jenderal Fujiyama diambilkan tempat duduknya. Dia duduk dengan perwira-perwira di belakangnya. Kini kedua orang itu tegak berhadapan dalam jarak lima depa. Rambut Si Bungsu yang agak gondrong,

berkibar-kibar ditiup angin yang berhembus dari kaki gunung Merapi. Sementara kepala Akiyama yang botak licin, berkilat ditimpa cahaya matahari pagi.

Akiyama berlutu ditanah. Menghadap pada Jenderal Fujiyama. Menghormati dengan membungkuk dalam kebumi sampai tiga kali. Lalu berputar menghadap Si Bungsu. Masih dalam keadaan berlutut, dia membungkuk memberi hormat. Si Bungsu kaget dan buru-buru membalas penghormatan itu dengan merangkapkan kedua telapak tangannya dan meletakkan di depan wajah. Penghormatan silat seperti yang pernah ia lihat almarhum ayahnya lakukan.

Akiyama nampaknya menjalankan semacam sembahyang dan doa akhir. Mulutnya berkomat-kamit. Ketika tegak, seorang serdadu masuk ketengah membawa selembar kain hitam. Memberikannya kepada Akiyama. Dan Akiyama menerimanya, lalu mengebatkannya di kepala. “Banzaaaaii!” tiba-tiba terdengar pekik gemuruh para serdadu Jepang. Demikian gemuruhnya, hingga seluruh yang hadir, anggota-anggota Heiho, pejuang-pejuang, penduduk pada terkejut. Tak terkecuali Si Bungsu.

“Dia siap bertarung sampai mati. Pekikan Banzaaii itu adalah pekikan akhir seorang tentara Jepang yang siap menghadapi maut…” seorang perwira Heiho berbisik pada temannya.

Dan memang demikian keadaannya. Akiyama memang bernita bertarung habis-habisan. Sebab kalau sampai dia sampai kalah, maka jalan yang akan dia tempuh kalau tidak mati yaitu harakiri. Bunuh diri! Dia tak mau menanggung malu. Tapi jauh lebih terhormat lagi kalau dia berhasil memenangkan perkelahian ini.

Dia memang seorang pendekar samurai kidal yang jarang tandingannya. Kalau ada tandingannya diantara perwira Jepang, maka orangnya adalah Saburo Matsuyama. Saburo termasuk pelatihnya mempergunakan samurai ketika diketentaraan. Kini Saburo sudah pulang ke Jepang.

Namun demikian, meski dia seorang yang amat andal dalam mempergunakan samurai, kali ini dia tak berani main-main. Yang dia hadapi adalah Si Bungsu. Dan dia telah merasakan sendiri kehebatan anak muda ini di Birugo dahulu. Masih dia ingat dengan jelas betapa anak muda ini bergulingan di tanah kemudian ketika dia mencabut samurai, samurai anak muda ini menghantam samurainya, dan tangannya kesemutan. Dan samurainya terlempar ke tanah. Dan anak muda ini meringkus dirinya dan mengancam lehernya dengan samurai!

Tindakan itu masih dia ingat. Masih dia ingat dengan jelas kehebatan Si Bungsu itu. Makanya kini dia tak sedikitpun berani pandang enteng. Berlainan sekali halnya dengan Si Bungsu. Kalau Akiyama mengetahui dengan pasti keadaan dirinya, maka Si Bungsu tak mengetahui keadaan diri Akiyama. Dia tidak tahu dimana letak kemahiran Akiyama.

Yang dia tahu, seperti dikatakan Jenderal Fujiyama, Akiyama ini seorang yang mahir. Itulah semua yang diketahui.

Akiyama tiba-tiba menghunus samurainya. Memegang hulu samurai itu erat-erat. Tangan yang kanan pada bahagian bawah yaitu pada bahagian keujung gagang samurai, dan tangan kiri pada bahagian atas. Yaitu pada bahagian yang dekat ke mata samurai.

Kaki Akiyama terpentang selebar bahu. Dia mengambil kuda-kuda Haisoku Dachi. Yaitu kaki mengangkang selebar bahu. Lau lambat-lambat lututnya ditekik. Dan tubuhnya turun sedikit. Kuda-kudanya kini bertukar jadi Kiba Dachi yaitu sebuah kuda-kuda tangguh dalam sikap menanti serangan.

Si Bungsu mencabut samurainya pula. Dia tegak sebagaimana adanya. Kini semua mata menatap pada anak muda yang dianggap luar biasa ini. Para perwira Jepang pada berbisik ketika dia mencabut samurainya dan mereka menatap dengan dia ketika melihat betapa kaki anak muda itu tegak seenaknya saja. Tak ada dasar- dasar seorang samurai pada sikap awalnya.

Akiyama memindahkan kaki kirinya kedepan dengan ketat menekukkan kedua lututnya. Kuda-kudanya kini beralih menjadi kuda-kuda Neko Ashi Dashi. Kuda-kuda yang siap menerima serangan dan siap untuk menyerang dengan cepat. Kakinya bergeser perlahan di atas rumput lapangan.

Si Bungsu masih tegak dengan diam. Namun hatinya tidak diam. Dia bicara dalam hatinya berdoa pada Tuhan. Bicara pada almarhum ayahnya.

“Kuserahkan diriku padaMu Tuhan. Dan kuharapkan doamu dari alam barzah…ayah dan ibu. Kalau dingin perutmu mengandungku dulu ibu, maka Tuhan akan menyelamatkan diriku dari maut ini. Kalau tidak, maka disinilah ajalku. Aku masih ingin menuntutkan balas dendam kalian. Mencari Saburo Matsuyama jika aku keluar dari pertarungan ini dengan selamat. Membalaskan nista yang telah dia buat untuk keluarga kita…”

Pada saat itulah Akiyama menyerangnya. Babatan pertama didengar Si Bungsu suitan anginnya. Dia menangkis! Tapi inilah kesalahannya. Tangkisannya justru mendatangkan bencana. Akiyama benar-benar seorang yang tangguh. Kini dia menyerang dengan segenap konsentrasi dengan dukungan moril yang tak tanggung-tanggung dari komandan dan teman-temannya.

Begitu samurai mereka beradu, begitu tangan Si Bungsu terasa pedih pada telapaknya yang memegang hulu samurai itu. Namun dia masih menangkis serangan kedua. Dan kali ini tak tertahankan lagi, samurainya terpental ke udara!

Dan babatan berikutnya datang! Si Bungsu terkejut, namun dia segera ingat lompat tupai! Tapi tak urung bahunya dirobek samurai begitu dia akan membungkuk. Dia bergulingan empat kali ke belakang. Dan saat itu telinganya menangkap bunyi sesuatu yang meluncur turun. Dan crepp! Samurainya menancap sehasta disampingnya. Dia sambar dengan cepat, dan kini dia tegak!

Semua orang, tak terkecuali satupun, termasuk Fujiyama pada menarik nafas. Lalu tepuk tangan pecah dengan gemuruh. Mereka melihat sesuatu pertarungan yang bukan main. Namun beberapa pejuang Indonesia, yang pernah melihat makan tangan anak muda ini jadi kaget. Kenapa Si Bungsu begitu lamban dan sempat terluka?

Darah merah memang mengalir membasahi baju gunting cina Si Bungsu dipunggungnya. Namun luka itu tak begitu menyakitinya. Hanya luka sayatan yang agak dalam.

Akiyama menarik nafas panjang. Menahannya pada rongga dada. Mengeluarkannya sedikit sekali dengan bunyi yang ganjil. Kemudian menarik nafas lagi panjang-panjang lalu menahannya. Mukanya merah. Dan dia maju lagi dalam kuda-kuda yang mantap.

Si Bungsu memutar tegak. Dia melangkah dengan langkah biasa saja. Dan tentara-tentara Jepang takjub dan heran atas langkah yang tak menurut semestinya itu.

Tak ada yang berani bersuara. Semua pada terdiam. Si Bungsu masih melangkah melingkar. Dan Akiyama seperti memburunya. Dan tiba-tiba kembali Akiyama menyerang. Kali ini Si Bungsu tak berani menangkis dengan samurainya. Dia juga balas menyerang sambil mengelak.

Tapi lagi-lagi dia terlambat! Sebuah sabetan melukai dadanya. Kali ini tidak hanya sekedar luka goresan. Tapi benar-benar luka yang dalam. Baju dan kulitnya menganga. Darah mengucur. Beberapa penduduk pada terpekik.

Para anggota Heiho, Gyugun dan pejuang pejuang-lainnya diam-diam pada berdoa untuk keselamatan anak muda ini. Beberapa orang diantara mereka justru ada yang menitikkan air mata.

Tapi Si Bungsu masih tegak. Dua jurus berlalu sejak serangan pertama. Rasa sakit dan pedih terasa mencucuk. Dan tiba-tiba Si Bungsu ingat lagi betapa Akiyama menghantam luka dibahunya ketika dia tertangkap di Koto Baru dahulu. Dan dia teringat betapa sambil duduk Akiyama menghantam perut Datuk Penghulu sampai belah dan putus ususnya.

Dia teringat latihannya beberapa hari yang lalu dibelakang rumah Salma. Betapa gadis itu melemparnya dengan delapan putik jambu sementara matanya terpejam. Konsentrasi! Bukankah itu yang tak dia lakukan? Bukankah selama ini dia mengandalkan kecepatan dan pendengarannya yang amat terlatih? Bukankah Salma telah menunjukkan hal itu padanya beberapa hari yang lalu?

Dan tiba-tiba Si Bungsu mengatur pernafasan. Menggertakkan gigi. Dan tiba-tiba dia duduk bersila di tanah. Duduk membelakangi Akiyama. Dan duduk memejamkan mata! Memusatkan konsentrasi dengan samurai yang berada dalam sarungnya dan terpegang ditangan kiri!

Akiyama tak mau tertipu. Meski orang yang melihat jadi kaget dengan sikap anak muda ini. Apakah anak muda ini telah menyerah? Tak mungkin. Sebab sudah ada dalam peraturan, bahwa seorang samurai yang menyerah haruslah melemparkan samurainya kehadapan lawannya dan harus menghormat dengan menunduk ke tanah seperti orang sujud. Dan hal ini tidak dilakukan oleh Si Bungsu, berarti dia masih melawan! Akiyama mulai melangkah mendekat. Dia tak mau menyerang dari belakang. Sebagai seorang satria,

pantang baginya menyerang dari belakang. Kini dia menapak tegak kehadapan Si Bungsu.

Sementara itu Si Bungsu benar-benar telah memusatkan inderanya. Dia kini tidak hanya mendengar langkah Akiyama yang mengitarinya. Kini dia harus memisahkan suara-suara yang masuk ke inderanya itu. Memisahkannya dan memusatkan pendengaran pada langkah dan angin yang ditimbulkan oleh perpindahan samurai Akiyama.

Lambat-lambat Akiyama menghayun samurai. Kemudian menggeser tegak. Lalu tiba-tiba dengan pekik Banzaaii yang mengguntur, ia melakukan serangan penutup. Dua kali bacokan membelah kepala. Dua kali bacokan menebas leher dari kiri kekanan. Dan dua kali tusukan ke dada!

Namun gerakan itu terbaca oleh Si Bungsu yang memejamkan mata. Tangannya bergerak mencabut samurai. Serangan pertama dia tangkis dengan melintangkan sarung samurainya dikepala. Serangan kedua dengan mengayunkan samurai itu. Dan serangan berikutnya dia elakkan dengan berputar, kemudian lebih cepat beberapa detik dari kelajuan samurai Akiyama!

“Crasss!” Samurainya membabat perut Akiyama. Dan dia berputar, lalu menikamkan samurainya ke belakang. Snapp! Hampir seluruh samurai itu masuk ke dada Akiyama! Tikam Samurai!

Akiyama tertegak. Samurai masih ditangannya. Terangkat ke atas. Siap dibacokkan ke bawah. Ketengkuk Si Bungsu yang menunduk dan membelakanginya. Yang jaraknya hanya sehasta dari tubuhnya. Namun dia seperti tak ada tenaga. Dia seperti dipakukan di samurai anak muda itu. Tiba-tiba samurainya jatuh. Matanya layu. Tangannya memegangi samurai yang menikam tentang jantungnya. Si Bungsu tegak, masih memegang samurainya agar tubuh Akiyama tak jatuh. Mereka bertatapan. Tubuh mereka sama-sama berlumur darah.

“Tuan seorang samurai yang tangguh. Saya mendapat pelajaran yang banyak dari gerakan kaki tuan…’ Si Bungsu berkata perlahan. Mata Akiyama yang layu membuka sejenak.

“Anak muda. Demi Tuhan, engkaulah samurai yang paling cepat yang pernah kutemui…. Saburo pun akan susah mengalahkanmu..”

Akiyama memandang keliling. Terutama pada komandannya, pada teman-temannya yang saat itu sudah tertegak ditempat mereka. Dan tiba-tiba kepalanya terkulai. Mati!

Jenderal Fujiyama dan para perwira itu pada berlompatan maju. Mereka berniat menyambut tubuh Akiyama. Namun Si Bungsu telah memeluk tubuh lawannya itu. Dia membopongnya. Kemudian meletakkannya di atas podium dimana Fujiyama tadi tegak.

Kemudian perlahan dia mencabut samurainya. Dalam ketentaraan Jepang tak dikenal rasa haru. Emosi mereka telah terlatih demikian rupa. Kematian merupakan suatu kehormatan. Mati untuk Tenno Haika.

“Selamat atas kemenanganmu Bungsu. Engkau memang berhak atas kebebasanmu. Sesuatu yang kau perdapat dengan ketangguhan…” Jenderal Fujiyama berkata. Namun Si Bungsu memasukkan samurai kesarungnya. Kemudian di bawah tatapan ratusan pasangan mata, dia melangkah gontai meninggalkan lapangan itu.

Ketika tiba di jalan raya yang lebih tinggi dari lapangan dimana dia baru saja bertarung, dia menoleh ke belakang dan di sana, di atas podium itu, dia lihat tubuh Akiyama masih terbaring di kelilingi teman-temannya. Dia memanggil sebuah bendi kemudian menyebutkan alamat yang di tuju. Dan bendi itu berjalan terguncang-guncang. Dia telah membalaskan dendam Datuk Penghulu, membalaskan kematiannya. Kematian yang dibalas dengan kematian pula. Utang nyawa dibalas nyawa. Tapi sampai kapankah dia akan mencabut

nyawa manusia?

“Badan anak muda luka, apakah kita tidak ke rumah sakit?” kusir bendi yang ikut menonton bertanya. Si Bungsu menggeleng.

“Tidak. Bawa saya pulang. Ada adik saya yang akan merawat…” katanya perlahan.

Dan di rumah Kari Basa, Salma terpekik melihat luka didada dan punggung Si Bungsu. Dengan terhuyung Si Bungsu dipapah oleh Salma kepembaringan di bilik depan.

Salma membuka baju Si Bungsu. Kemudian mengambil baskom. Mengambil kain bersih dan membersihkan luka Si Bungsu dengan air panas-panas kuku.

“Mana pak Kari….” Tanyanya perlahan. “Kata Ayah dia ke Padang….”

“Masih lama akan kembali…?”

“Saya tidak tahu uda. Tapi diamlah, jangan banyak membuang tenaga….”

Dan anak muda itu memang terdiam. Bukan karena tak mau bicara. Tapi karena tak bisa bicara. Dia pingsan! Hal itu meleluasakan Salma untuk bekerja merawat luka Si Bungsu.

Untuk kali ketiga, kembali gadis ini merawatnya dengan penuh ketekunan. Si Bungsu sadar bahwa berkali-kali dia datang pada gadis ini dalam keadaan luka. Dan Salma merawatnya hingga sembuh. Dia tidak hanya merawat luka di tubuh Si Bungsu tapi juga juga luka dihatinya.

Ketika dia telah sembuh, suatu hari didapatinya rumah itu penuh oleh beberapa perwira bekas Gyugun, Heiho dan pejuang-pejuang Indonesia.

“Kami datang untuk menyampaikan rasa terimakasih kami. Saudara telah banyak membantu perjuangan mencapai kemerdekaan. Telah banyak jasa saudara. Untuk itu kami ingin menyampaikan tanda penghargaan…’ salah seorang diantara pimpinan yang dia ketahui merupakan pimpinan pejuang-pejuang bawah tanah ketika penjajahan dahulu berkata. Semua orang yang hadir dalam rumah itu menatap padanya dengan kagum.

Dia juga menatap pada pejuang-pejuang itu dengan tenang. Lalu berkata:

“Terimakasih atas perhatian bapak-bapak. Tapi mohon dimaafkan saya tak berani menerima penghargaan dari bapak-bapak. Penghormatan untuk tanah air, perjuangan demi kemerdekaan Nusa dan Bangsa? Ah, saya bertanya pada diri saya, apakah hal itu memang pernah saya lakukan? Tidak, seingat saya tak pernah, jangan jadikan saya bahan lelucon”.

“Maafkan kami Bungsu. Tak sedikitpun kami berniat menjadikan saudara bahan lelucon. Penghargaan ini semata-mata karena ikhlas. Karena memang sudah menjadi hak saudara. Saudara telah berjuang jauh sebelum beberapa diantara kami berbuat apa-apa. “Telah banyak korban saudara. Ayah, ibu, kakak, tunangan. Dan telah banyak yang saudara bela. Saudara telah membantu kami dan para pejuang ketika akan ditangkap Jepang di Birugo. Saudara telah membantu Datuk Penghulu, salah seorang perwira kami. Saudara telah memperlihatkan pengorbanan yang tak ada duanya…”

Si Bungsu menarik nafas.

“Baiklah, saya juga tak bermaksud untuk mengatakan bahwa bapak-bapak akan menjadikan saya lelucon. Namun sayalah justru yang merasa jadi badut kalau sampai menerima penghormatan itu. Secara riil saya ingin menyampaikan bahwa kematian ayah, ibu dan kakak saya bukan karena saya seorang pejuang. Tidak, mereka meninggal justru karena kebodohan saya. Kalau saja bukan karena ibu ingin membawa saya lari, tentu mereka sudah pergi jauh. Dan selamat dari pembantaian Jepang. Tapi malam itu saya tak dirumah. Ayah pulang menjemput kami untuk lari. Ibu bertahan agar menunggu saya pulang kemudian bersama lari dari kejaran Jepang.

Ayah akhirnya mengalah… tapi setelah hari subuh, bukan saya yang datang melainkan Jepang. Mereka tertangkap. Dan ayah, ibu serta kakak saya mati dihadapan mata saya. Tanpa sedikitpun saya dapat berbuat apa-apa. Malah saya lari ketakutan. Itukah kepahlawanan yang tuan-tuan katakan gagah perkasa, yang akan tuan-tuan beri penghargaan?”

Si Bungsu berhenti. Suaranya terdengar getir. Dia tersenyum pahit. Menatap pada pejuang-pejuang itu dengan diam. Karena tak ada yang bersuara, dia melanjutkan:

“Kemudian pembunuhan-pembunuhan kepada Jepang itu,… kalau itu yang tuan-tuan katakan perjuangan saya buat Nusa dan Bangsa, itu juga suatu kebohongan. Saya membunuhi mereka karena saya ingin membalas dendam atas kematian keluarga saya. Ingin menutupi kepengecutan saya dimasa lalu. Itulah yang saya lakukan mula-mula turun dari tempat mengasingkan diri di Gunung Sago. Dan hari-hari setelah itu adalah ahari-hari dimana maut selalu mengancam saya. Saya dicari Jepang, bukan karena saya seorang pejuang yang akan memerdekakan negeri ini. Tidak. Saya tidak mau jadi orang munafik. Saya dicari Jepang karena saya membunuh perwira dan prajurit-prajurit mereka.

Maka kalau kemudian banyak Jepang yang saya bunuhi, itu juga bukan karena demi kemerdekaan, demi tanah air. Tapi semata-mata karena saya membela diri. Saya takut dibunuh, maka saya membunuh. Daripada dibunuh lebih baik membunuh. Terakhir, saya melawan Letnan Kolonel Akiyama, itupun karena saya membalaskan sakit hati saya. Dia telah menghantam luka saya ketika tertangkap di Koto Baru. Demikian kuatnya, hingga saya pingsan. Kemudian dia juga telah membunuh Datuk Penghulu. Lelaki yang saya anggap sebagai pengganti orang tua saya. Semuanya saya lakukan demi membalas dendam.

Apakah tindakan begini yang akan bapak-bapak beri penghargaan? Tidak, saya bukan seorang pejuang.

Sebenarnya saya seorang pembunuh. Hanya kebetulan saja membunuh orang yang menjajah negeri ini”

Tapi anak muda, yang, yang engkau lakukan telah mengobarkan semangat juang didada pemuda kita. Telah mengobarkan semangat dan rasa percaya bahwa kita juga mampu mengadakan perlawanan, Dihati para Gyugun pun semangat itu berkobar. Tak ada seorangpun diantara kami ataupun penduduk yang memungkiri, bahwa engkau adalah seorang pahlawan.”

Si Bungsu tertawa letih. Ada kepahitan dalam ketawanya.

“Pahlawan. Jangan buat saya menjadi tersiksa seumur hidup. Kalau penghargaan itu saya terima, saya akan senantiasa teringat, bahwa sayalah seorang pahlawan yang telah membiarkan dengan pengecut keluarganya punah. Carilah orang lain, yang pantas untuk diberi penghargaan itu. Cari pejuang lain yang pantas untuk diberikan gelar pahlawan. Orang yang benar-benar berjuang demi Nusa dan Bangsa. Gelar mulia itu tak pantas orang seperti saya menyandangnya. Saya bukan pejuang, bukan pahlawan. Maafkan saya. Saya terpaksa menolak anugerah itu…apapun bentuknya…”

Beberapa orang diantaranya jadi tertunduk. Diam dan merasa kecil dihadapan anak muda ini. Mereka malu dan kecil karena sikapnya yang jujur. Mereka teringat, betapa banyak diantara mereka yang saling rebut tempat dan kekuasaan. Saling rebut pangkat dan jabatan, padahal kemerdekaan baru dalam bentuk “orok”. Ada diantara mereka yang hadir hari ini, yang kerjanya hanya ongkang-ongkang, tapi mengaku telah banyak berjuang.

Kini anak muda yang tubuhnya pernah dicabik-cabik samurai musuh ini, yang darahnya banyak sudah tersiram kebumi pertiwi dalam memerangi penjajahan, ternyata menolak sebutan pahlawan bagi dirinya. Usahkan sebutan pahlawan, sebutan sebagai pejuang saja dia tak mau. Dia merasa tidak pernah berjuang. Bayangkan, kemana muka mereka disurukkan dihadapan anak muda itu. Dan hari itu mereka pulang dengan perasaan campur aduk.

Ada yang bangga terhadap sikap anak muda tersebut. Bangga karena ada seorang pemuda Indonesia yang berpendirian mulia dan teguh seperti itu. Ada pula yang merasa malu. Malu karena dirinya bertolak belakang dengan anak muda itu.

Dan hari itu, dihari dia tidak mau menerima penghargaan itu, Si Bungsu mohon diri. Dia kembali menyampaikan niatnya untuk pergi ke Jepang. Salma termenung. Demikian pula Kari Basa.

“Saya dengar ada kapal yang akan berangkat sepekan lagi dari Pekan Baru ke Singapura. Kemudian langsung ke Jepang. Kapal pembawa minyak, mungkin saya dapat menumpang…”

“Bila engkau berniat untuk pergi….?” “Kalau bisa besok pagi-pagi pak…”

“Tak ada yang dapat kami perbuat, selain mendoakan engkau selamat pulang pergi….” “Terimakasih pak…”

“Teman-teman….para pejuang yang tadi kemari, sebenarnya memang sangat menghormatimu. Mereka tak berniat untuk menyakiti hatimu. Mereka memang ikhlas memberikan penghargaan itu….”

“Saya tahu. Dan saya juga tidak tersinggung. Saya khawatir merekalah yang tersinggung. Karena saya menolak. Saya benar-benar merasa tidak pantas untuk menerima penghargaan itu pak. Bagaimana saya menerima pemberian sehelai baju misalnya, kalau saya menjadi demam dan tersiksa memakainya. Atau kalau baju itu terlalu longgar bagi tubuh saya yang kecil. Itulah yang saya rasakan. Dan itu saya kemukakan dengan segenap kejujuran pula”.

Dan percakapan itu terhenti sampai disana. Si Bungsu bersiap-siap malam itu. Dia masih memiliki uang dari penjualan perhiasan yang mereka ambil dengan Mei-mei dirumah Cina di Payakumbuh dahulu.

Sebenarnya tak banyak yang dia persiapkan. Hanya ada sepasalinan pakaian. Kemudian uangnya dia simpan dalam kantong kain. Lalu sebuah samurai. Itulah bekalnya.

Salma tengah menyulam diruangan tengah ketika Si Bungsu muncul. Mereka bertatapan, dan Si Bungsu dapat melihat betapa mata gadis itu basah sejak sore tadi.

“Salma….” Katanya. Gadis itu tidak mau mengangkat wajah. Dia menunduk. Tidak menyulam karena tubuhnya terguncang-guncang menahan tangis.

“Saya banyak berutang budi padamu. Tak tahu bagaimana saya membalasnya. Hanya pada Tuhan saya berdoa agar kebaikanmu dan kebaikan ayahmu dibalasNya setimpal”

Dia lalu meletakkan sebuah bungkusan dimeja di depan Salma.

“Ini bukan sebagai tanda terimakasih saya. Tidak. Ini sebagai kenang-kenangan. Saya tidak tahu apakah warnanya engkau senangi atau tidak. Guntinglah kain ini, saya beli kemarin. Gunting dan buatlah kebaya panjang, kemudian ini ada sebuah untuk kebaya pendek. Ini kain baik. Dan…ada sepasang subang dan gelang serta peniti….saya tak tahu apakah benda-benda ini berguna bagimu. Tapi… inilah tanda mata dari saya. Dan… ini sebuah cincin. Saya senang kalau kelak engkau memakainya ketika hari pernikahanmu….”

Salma tak lagi dapat menahan tangisnya. Dia menangis terisak-isak mendengar ucapan Si Bungsu. Banyak yang ingin dibicarakan gadis ini. Tapi dia seorang wanita. Orang yang lebih banyak berbicara dengan hatinya. Berbicara dan menyimpan apa yang tersasa dibatinnya jauh-jauh tanpa seorangpun yang tahu. Begitulah kaum wanita selalu. Dan sebagai ganti ucapan, dia hanya mampu menangis.

Karena sebagai perempuan, apakah lagi yang bisa dia perbuat? Dia tatap kain dan perhiasan yang ditinggalkan Si Bungsu untuknya. Kainnya dari bahan yang halus. Berwarna biru dengan kain batik buatan jawa yang halus.

Dan malam itu adalah malam yang tak terpicingkan oleh mata Salma. Demikian pula dengan Si Bungsu. Dia ingin tinggal di kota ini. Dia jatuh hati pada gadis yang telah merawatnya itu. Namun apakah itu mungkin?

Bukankah dia telah bersumpah akan menuntut balas kematian ayah, ibu dan kakaknya? Dan satu hal yang amat penting, apakah gadis itu juga mencintainya? Ah, dia tak berani memikirkan itu. Gadis itu baik padanya pastilah hanya karena dia dianggap sebagai abangnya.

Dia bolak-balik ditempat tidurnya. Menelungkup. Menelentang.

Dan akhirnya kedua mereka sama-sama tertidur takkala subuh hampir datang. Dan pagi harinya Si Bungsu bersiap-siap untuk berangkat. Salma hanya sebentar tertidur. Kemudian bangkit sembahyang subuh. Lalu bertanak dan memasak kopi.

Ketika ayahnya dan Si Bungsu selesai sembahyang, dia telah selesai pula dengan masakannya. Di tikar di ruang tengah telah terhidang nasi padi baru. Gulai ayam yang telah disembelih sore kemarin. Kopi panas.

Tanpa banyak yang bisa dipercakapkan mereka makan bertiga. Akhirnya sampai juga saatnya bagi anak muda itu mohon diri. Mereka bersalaman. Lalu Si Bungsu pun mengambil buntalan pakaiannya. Berjalan ke pintu. Dia terhenti ketika didengarnya Salma memanggil.

Gadis itu mendekat dengan kepala tunduk.

“Terimakasih atas pemberian uda kemarin. Tak ada yang bisa saya berikan sebagai tanda terimakasih. Tapi….saya berharap uda mau menerima ini….sebagai kenang-kenangan dari saya. Dimanapun uda berada, lihatlah cincin ini, dan ingatlah bahwa pemiliknya selalu mendoakan semoga selamat dan bahagia selalu…” Salma menanggalkan cincin bermata intan dijari manisnya. Kemudian dengan masih menunduk, dia meraih tangan Si Bungsu. Memasukkan cincin itu kejari manis Si Bungsu.

Persis ukurannya. Cincin itu ternyata pas. Tubuh Si Bungsu yang tak begitu besar ternyata memungkinkan cincin itu pas dijari manisnya. Dan sehabis memakaikan cincin itu, Salma berlari kekamarnya. Dia menangis disana.

Si Bungsu hanya tertegak diam. Sekilas tadi dia melihat dijari manis itu terpasang cincin yang kemaren dia berikan. Dia menoleh pada Kari Basa. Orang tua itu hanya menatapnya dengan tenang. Sekali lagi Si Bungsu menyalami orang tua itu. Kemudian cepat berbalik dan melangkah ke jalan raya.

Pagi itu dia meninggalkan Bukittinggi. Kota itu, seperti halnya seluruh kota-kota lainnya di Sumatera, masih dikuasai Jepang secara de facto. Kekuasaan menjelang datangnya tentara sekutu yang akan mengambil alih kekuasaan tersebut.

Dengan sebuah truk mengangkut sayur-sayuran dia meninggalkan kota itu. Jalan yang ditempuh bukan main buruknya. Berlobang-lobang dan hanya dibeberapa bahagian saja yang beraspal.

Tiga jam kemudian dia memasuki kota Payakumbuh. Truk itu berhenti dekat stasiun kereta api. Penumpang di atasnya yang berjumlah empat orang, umumnya pedagang sayur dan beras, turun untuk mengisi perut.

Dengan perasaan berdebar, Si Bungsu turun pula. Ada perasaan lain menyelinap dihatinya ketika kakinya menjejak kembali kota Payakumbuh. Kota itu sudah seperti kampung halamannya. Ketika ayahnya masih hidup dahulu, dia sering dibawa kemari. Itu waktu kecil. Ketika dia telah dewasa, dia sering pula ke kota ini. Pergi berjudi.

Dan kini dia datang lagi. Kenangan masa lalunya berlarian sepanjang jalan raya. Kereta api kelihatan mengepul asapnya dari kejauhan. Peluitnya terdengar memekik sayu. Dibelakang lokomotifnya yang tua terlihat enam buah gerbong. Merangkak lambat-lambat memasuki kota.

Si Bungsu telah matang oleh penderitaan. Telah masak oleh pengalaman hidup. Emosinya sudah tertempa. Dia kini seperti karang di samudera. Namun, dia tetap saja manusia. Melihat kereta api itu merangkak perlahan, mendengar pekik peluitnya yang sayu, dia segera teringat masa kecilnya.

Ketika bersama ayahnya pergi ke Baso, ke Biaro, ke Bukittinggi. Mereka naik kereta api. Tanpa dapat diatahan, air matanya mengalir dipipinya. Dia memandang keselatan. Jauh disana kelihatan Gunung Sago tegak dengan gagah disapu awan.

Dan dikaki gunung itu adalah kampung halamannya. Tempat darahnya tertumpah. Disanalah ayah ibu dan kakaknya berkubur. Kampung kecil bernama Situjuh Ladang Laweh.

Dan tak berapa ratus meter dari stasiun itu adalah rumah dimana dahulu dia bertemu dengan Mei-mei. Dahulu dia naik bus tua ke Bukittinggi dari kota ini berdua dengan Mei-mei. Dan kini dia datang lagi.

Sendirian. Dan di Bukittinggi pagi tadi dia meninggalkan seorang gadis, gadis yang dia-diam telah mencuri sebahagian hatinya. Salma!

Dia menarik nafas. Menghapus air mata. Dan perlahan-lahan berjalan masuk kedai. Kedai nasi itu cukup besar. Ruangan dalamnya lebar. Pada sudut kiri dia lihat beberapa lelaki duduk. Dan selintas saja dia mengetahui bahwa lelaki-lelaki disudut itu sedang berjudi.

Dia teringat masa lalunya. Dia melihat seperti dirinya yang duduk ditikar itu. Bersila dan membagi kartu. Dibalik kain dipinggang para lelaki itu dia yakin tersisip sebilah pisau. Hal itu dia ketahui sebab disitulah dahulu dunianya.

Pada bahagian depan kelihatan orang sedang makan. Si Bungsu menuju ke meja dekat seorang perempuan muda. Duduk dihadapnnya karena tak ada lagi tempat lain yang kosong.

“Nasi satu….” Katanya. “Apa sambalnya?”

Dia memalingkan kepala ketempat ikan-ikan yang telah dimasak. Memperhatikannya. “Dendeng bakar dan sambal lado serta petai muda”

Orang kedai mengambilkan pesanannya. Meletakkan diatas meja. Si Bungsu mengangguk pada perempuan muda didepannya. Kemudian pada lelaki disampingnya. Lalu mulai menyuap. “Nampaknya kita berhenti disini agak lama. Ada per yang patah. Dan ban bocor. Harus ditambal dulu. Jalan yang akan kita tempuh bukan main parahnya. Jauh lebih parah dari jalan yang telah kita lalui” sopir truk berkata sambil mengempaskan diri di balai-balai.

Dan sopir itu meminta nasi.

Seorang lelaki tiba-tiba mendekati mereka. Dia mendekati perempuan muda yang duduk dihadapan Si Bungsu. Berbicara perlahan. Perempuan itu menolak. Tapi lelaki itu nampaknya memaksa. Perempuan itu menolak kembali.

Dan akhirnya perempuan muda yang cukup cantik itu menyerah pada paksaan lelaki tersebut. Dia membuka gelang ditangannya. Memberikannya pada si lelaki. Dan lelaki itu kembali ke balai-balai disudut ruangan. Kembali berjudi!

Si Bungsu mengangkat kepala. Menatap perempuan itu. Perempuan itu menunduk. Dan Si Bungsu dapat melihat betapa wajah perempuan muda itu kelihatan murung. Sebentar-sebentar dia melirik pada lelaki yang tadi mengambil gelangnya.

Si Bungsu meneruskan makan. Demikian pula sopir di meja yang satu lagi. Ketenangan rumah makan itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara pertengkaran. Pertengkaran itu berasal dari sudut dimana sedang berlangsung perjudian.

“Kalian main curang. Saya tak mau. Saya sudah banyak kalah!”

Terdengar suara seorang lelaki. Dan sebagai jawaban suaranya itu terdengar tertawa terkekeh.

“Ini Judi Sutan. Tak ada kata-kata curang. Mulut Sutan berbisa kami dengar. Apakah Sutan muak hidup…” suara lain mengancam.

Dan pemilik kedai serta orang-orang lain nampaknya tak mau ikut campur. Mungkin disebabkan dua hal kenapa mereka lebih baik diam saja. Pertama memang sudah biasa dalam setiap perjudian disudahi dengan pertengkaran. Atau sebab kedua adalah karena penjudi-penjudi itu orang bagak.

Kemungkinan ini bisa saja terjadi. Dan sebentar saja setelah suara tadi, kini terdengar orang main hantam. Perempuan didepan Si Bungsu terpekik. Tegak berlari kearah perjudian itu. Dan saat itu pula lelaki yang meminjam gelangnya terpental. Jatuh melabrak meja.

Meja terjungkir. Dua buah stoples yang berisi panyaram jatuh pecah. Perempuan itu menangis memeluk lelaki tersebut. Nampaknya mereka adalah suami isteri yang baru menikah. Tak diketahui apa sebabnya sampai terseret ke meja judi ini. Mungkin suaminya ini pencandu judi pula. Hingga tak segan-segan meminta gelang isterinya seleha kalah dalam tahap pertama. Pada tahap kedua, gelang istrinya ludes dan dia kena terjang pula. “Kalau akan berkelahi diluarlah Datuk. Jangan dalam lapau saya!” pemilik kedai berkata perlahan. Aneh,

dia berkata perlahan saja. Padahal meja dan stoples serta kuenya berserakkan. Dari nada pembicaraan ini setiap orang bisa tahu, betapa para penjdui itu amat ditakuti.

Dan benar saja, orang yang dipanggil Datuk itu tertawa menggerendeng.

“Berani waang melarang saya kini ya Murad? Apakah ingin saya panggang lapau waang ini?”

Pemilik kedai tak menjawab. Dengan menunduk habis-habisan dia membenahi meja dan toplesnya yang berserakan.

Dan lelaki yang dipanggil dengan sebutan Datuk itu maju. Melihat ke arah gulai dan sambal yang terletak dalam panci. Matanya menatap liar. Kemudian tangannya beraksi. Dengan tangan telanjang, dia mengacau panci yang dipenuhi gulai ayam.

Kemudian mengambilnya sepotong. Lalu duduk di kursi dimana perempuan muda tadi duduk. Persis berhadapan dengan Si Bungsu. Dia mengunyah gulai ayam itu dengan rakus. Sementara tangannya hingga ke pergelangan dipenuhi kuah.

Dan sambil mengunyah gulai ayam itu, matanya tiba-tiba terpandang pada jari manis Si Bungsu.

Kunyahnya terhenti.

“Hmm, cincin berlian…” desisnya menatap lurus-lurus pada cincin itu. Lalu tiba-tiba saja tangannya yang berkuah-kuah itu menyambar tangan kiri Si Bungsu. Memegangnya kuat-kuat lalu menatap cincin itu.

Kemudian dia tertawa menyeringai sambil menatap Si Bungsu. “Hei, waang mau menjual cincin ini pada saya buyung…?” katanya. Si Bungsu menggeleng.

“Saya beli dengan harga tinggi. Berapa waang mau menjual?”

“Ini tanda mata dari adik saya. Saya tak berniat menjualnya…” Si Bungsu menjawab perlahan.

“Ahh. Pasti tanda mata dari gendak waang. Bikin apa dia waang pikirkan. Cukup banyak betina lain yang bisa waang bawa tidur. Ayo jual saja pada saya..” Datuk itu masih berkata sambil mengguncang tangan Si Bungsu. Dia menarik nafas panjang. Lalu menggeleng. Dia berusaha menahan marahnya. “Saya tak berniat menukarnya atau menjualnya pak…” jawabnya.

“Hei, akan saya buktikan pada waang, bahwa cukup banyak perempuan yang bisa ditiduri. Saya lihat waang dari tadi berminat pada perempuan itu..” Datuk ini menunjuk dengan mulutnya ke arah perempuan yang tadi duduk di depan Si Bungsu. Yang kini duduk dikursi lain bersama suaminya.

Datuk itu bangkit. Tiga temannya tertawa menyeringai dari sudut memperhatikan.

“Jangan mengganggu bini orang di lapau ini Datuk…” pemilik kedai tadi coba memperingatkan. Sebab kedainya bisa jadi lengang kalau terjadi hal-hal yang tak baik pada orang yang singgah makan.

Namun ucapannya baru saja habis ketika tangan Datuk itu mendarat dipipinya. Suara tamparannya keras. Dan bibir pemilik kedai itu pecah!

“Sekali lagi waang mencampuri urusan saya Murad, saya jemur waang seperti dendeng di labuah sana…” ancamnya.

Dan dia meneruskan langkah ke dekat perempuan muda itu.

“Hei, upik manis. Laki upik baru saja kalah berjudi. Kenapa kau mau berlaki dengan penjudi tanggung seperti dia? Lebih baik kau menikah dengan anak muda itu. Lihat, dia punya cincin berlian. Hayo kuantar kau padanya…!”

Berkata begitu. Datuk itu menyentakkan tangan perempuan muda tersebut.

Perempuan itu terpekik. Suaminya bangkit. Namun sebuah terjangan membuat tubuhnya tercampak ke luar. Melihat kejadian ini, enam orang lelaki lain yang ada dalam kedai itu cepat-cepat membayar makanan mereka dan pergi meninggalkan kedai itu. Menghindar dari bencana yang akan timbul.

Nampaknya Datuk dan ketiga koleganya adalah “orang bagak” di kota ini. Sebab kalau tak demikian, mustahil dia akan mau berbuat seperti itu. Stasiun kereta api ini terletak persis ditengah kota. Dan ditengah kota ini dia mau berbuat demikian, sungguh suatu perbuatan yang bagak benar.

Tangan perempuan itu derenggutkannya. Dan sekali dorong, perempuan itu terlempar ke pangkuan Si Bungsu. Perempuan itu bangkit kemudian menampar wajah Si Bungsu beberapa kali.

Si Bungsu tetap duduk dan tetap diam. Datuk penjudi itu tertawa terkekeh-kekeh.

“Hei buyung, kalau dia menampar lelaki, itu tandanya dia mengajak ke tempat tidur, bawalah dia!”

“Saya mau menjual cincin ini..” tiba-tiba suara Si Bungsu bergema. Datuk itu terhenti tertawa. Dia mendekat. Orang-orang lain pada terdiam.

“Naah, itu bagus. Berapa waang jual?”

“Tidak dengan uang. Saya ingin bertukar…” Si Bungsu berkata dengan kepala masih menunduk. “Bagus! Bagus! Dengan apa? Dengan perempuan muda ini? Boleh!”

“Tidak!”

“Lalu dengan apa?” “Dengan kepalamu, Datuk!”

Masih ada enam lelaki dan tiga perempuan lagi dalam kedai itu. Dan mereka semua mendengar suara anak muda itu dengan jelas. Datuk itu terdiam.

“Rasanya saya salah dengar. Dengan apa waang berniat menukar cincin berlian waang itu buyung….?” Masih dengan kepala menunduk, dan dengan ketenangan yang luar biasa, Si Bungsu menjawab. “Dengan kepalamu, Datuk!” Dan suara anak muda ini lagi-lagi membuat isi kedai itu seperti mengkerut

karena takut. Takut akan akibatnya. Yaitu pada amarah yang bakal menyembur dari diri Datuk itu.

Tapi anehnya Datuk itu tak berang. Dia justru tertawa terkekeh-kekeh. Sampai berair matanya karena tertawa. Orang-orang jadi heran. Namun tetap terdiam ditempatnya. Tak seorangpun yang berani beranjak.

“Kalian dengar Kudun? Muncak? Si buyung ini berniat menukar kepala saya dengan cincinnya. Haa…haa…haa. Hu…hu..hu. Baik. Saya tukar kepala saya dengan cincin waang. Tapi bagaimana caranya waang akan mengambil kepala saya?”

Dengan masih menunduk, anak muda itu berkata lagi dengan seluruh ketenangan yang ada padanya. “Saya mampu mengambilnya Datuk. Saya bisa mengambil kepala Datuk dengan tangan saya…!” “Bagaimana kalau waang tak bisa?”

“Cincin dan kepala saya jadi tukarannya…!”

Lelaki itu tiba-tiba berteriak mengejutkan semua orang ada di kedai itu. “Hei, kalian dengar : anak muda ini berkata akan mampu mengambil kepala saya dengan tangannya. Kalau dia tidak bisa, maka kepalanya dan cincin berlian ditangannya dia berikan kepada saya. Kalian jadi saksi semua. Dengar?!. Dengar?! He?”

Semua yang ada dalam kedai itu mengangguk seperti balam. Mengangguk karena takut.

“Nah anak muda, sudah banyak saksinya. Sekarang cobalah ambil kepala saya. Usahkan mengambilnya, bisa saja waang menjamah rambut saya, maka saya akan meminum kencing waang!”

Dan lelaki itu tegak berkacak pinggang dihadapan Si Bungsu. Jarak mereka hanya dipisahkan oleh meja makan. Si Bungsu jadi muak. Dia tahu benar tipe lelaki ini. Pejudi, pemerkosa anak bini orang. Dan terakhir kerjanya pastilah mengkhianati bangsanya.

Mustahil dia akan berani berbuat onar seperti ini dijantung kota yang dikuasai Jepang kalau dia tak punya tulang punggung. Dan Si Bungsu yakin, bahwa orang bagak ini adalah cecunguk Jepang.

“Berapa orang anakmu yang akan yatim piatu kalau engkau mati?” Si Bungsu bertanya dengan suara dingin. Tanya ini sebenarnya bukan untuk menyakiti hati lelaki itu. Tapi pertanyaan yang jujur. Kalau saja lelaki itu menjawab dengan jujur mengatakan bahwa anaknya banyak, maka mungkin Si Bungsu takkan menurunkan tangan jahat.

Tetapi lelaki yang dasarnya pongah, jadi amat tersinggung.

“Jangan banyak cakap waang buyung. Kalau dalam lima hitungan waang tak berhasil memegang rambut saya, waang akan saya jadikan “anak jawi” pemuas selera saya…..hee…hee…!”

“Baiklah, engkau yang menghendaki…” Si Bungsu berkata perlahan.

“Satu…dua…!” lelaki itu mulai menghitung. Ketika mulutnya akan menganga menyebut tiga, saat itulah Si Bungsu menyambar samurai didepannya. Samurai itu berkelabat sangat cepat. Dan tak seorangpun yang tahu bagaimana terjadinya. Apa penyebabnya.

Yang terlihat setelah itu adalah, kepala lelaki itu putus dan tercampak keluar kedai. Tubuhnya jatuh dan menggelinjang-gelinjang seperti ayam disembelih. Darah menyembur-nyembur kemana-mana. Sudah itu diam!

Suara pekik dan gaduh terdengar. Isi kedai tercekam diam tak bisa keluar karena merasa lumpuh melihat kejadian yang mengerikan itu.

Dan kegemparan itu sampai ke telinga Kempetai yang posnya hanya berjarak dua ratus meter dari stasiun itu.

“Anak muda. Lihatlah. Kempetai datang. Datuk itu kaki tangan Kempetai. Sudah banyak pejuang-pejuang dan penduduk yang jadi korban Datuk itu. Datuk itu tukang tunjuk. Mata-mata Jepang. Pergilah sebelum engkau ditangkap…”

Pemilik kedai itu berkata dengan gugup. Sementara ketiga teman Datuk itu terhenyak di tikar ditempat mereka berjudi tadi. Usahkan untuk bangkit, untuk bernafaspun mereka takut. Mereka benar-benar seperti melihat hantu pada anak muda itu.

Dalam sekali tebas, kepala Datuk Hitam putus. Siapa bisa menyangka? Siapa tak kenal Datuk Hitam? Juara silat dan orang yang sangat ditakuti di Luhak Lima Puluh ini. Tapi kini anak muda itu telah menebas kepalanya dengan penuh ketenangan.

Ketiga teman Datuk itu tak berani bergerak. Malah yang bernama Sarip, celananya telah basah sendiri. Si Bungsu melihat pada pemilik kedai itu. Kemudian menghela nafas. Dia menghirup kopinya dengan tenang. Dan tetap pula duduk dengan tenang.

Di luar terdengar orang berbisik-bisk. Kempetai datang! Empat orang Kempetai muncul dihadapan kedai itu. Keempatnya tertegak kaget melihat kepala Datuk Hitam yang tergolek dengan mata mendelik. Dan serentak keempat Kempetai itu memandang ke dalam kedai. Belum begitu jelas. Sebab diluar cahaya sangat terang. Di dalam kedai itu agak samar-samar.

“Tangkap semua yang ada dalam lapau itu…!” terdengar perintah salah seorang dari ke empat Kempetai tersebut. Tiga diantaranya menyerbu masuk. Namun sebuah suara yang dingin menghentikan gerakan mereka.

“Saya yang membunuh Datuk itu. Kalau akan ditangkap, cukup saya sendiri…”

Ketiga Kempetai itu menoleh. Dan mereka tersurut takkala melihat siapa yang bicara sambil menghirup kopi itu.

“Bungsu…!!” tanpa dapat ditahan, mulut mereka bicara serentak. Si Bungsu hanya diam. Tapi semua orang yang ada dalam kedai itu pada menatap padanya. Si Bungsu! Siapa yang tak pernah mendengar nama itu? Dan kini ternyata anak muda itu muncul dihadapan mereka.

Sopir truk yang membawa Si Bungsu pun menoleh padanya. Dia jadi ternganga. Benar-benar tak dia sangka, penumpangnya yang pendiam itu ternyata Si Bungsu. Si Bungsu yang namanya jadi buah bibir itu. Dia jadi malu kenapa tak melayani anak muda ini dengan hormat. Ketiga Jepang itu berlari keluar. Berkata kepada komandan yang memerintahkan untuk menangkapi semua isi kedai itu. Komandannya ini tertegun mendengar laporan ketiga bawahannya, ia bergegas masuk. Dan tertegak dipintu begitu melihat Si Bungsu.

“Bungsu…! mulutnya juga berkata tertahan.

Lambat-lambat Si Bungsu menatap padanya. Kemudian berkata perlahan. “Ya. Sayalah Si Bungsu. Ingin menangkap saya sekarang?”

Kempetai yang berpangkat Go Cho (Sersan dua) itu cepat-cepat menggeleng.

“Tidak! Tak seorangpun diantara balatentara Jepang yang boleh menangkap Si Bungsu. Panglima Pasukan Balatentara Dai Nippon di Sumatera telah menjamin kebebasanmu sejak pertarungan dengan Overste Akiyama di Bukittinggi. Tentara Jepang tak pernah memungkiri janjinya…”

“Tapi saya telah membunuh kaki tangan kalian. Mata-mata kalian”

“Oh itu… itu resiko dirinya sendiri. Hai” berkata begitu Go Cho ini membungkuk memberi hormat, kemudian memerintahkan beberapa penduduk mengangkat mayat Datuk Hitam itu. Lalu cepat-cepat meninggalkan kedai itu.

Si Bungsu menarik nafas. Dia menoleh pada ketiga teman Datuk Hitam yang masih terduduk di sudut ruangan. Dengan tubuh menggigil dan muka pucat.

“”Lelaki itu….” Kata Si Bungsu sambil menunjuk pada suami perempuan muda yang menamparnya tadi. “tadi kalah main dengan kalian. Dan kali kedua dia menggadaikan gelang isterinya. Kini kembalikan semua padanya…”

“Teta…tetapi…semuanya ada pada Datuk….” Ucapannya terputus ketika melihat Si Bungsu meraih samurainya.

“Yiy…ya..yay… Ya! Pada kami ada, kami kembalikan…” dengan pucat dan menggigil dia merogoh kantong. Mengambil segenggam uang. Lalu mengode temannya. Temannya merogoh kantong pula. Kemudian mengeluarkan sebuah gelang.

Si Bungsu menoleh pada suami perempuan muda itu.

“Ambillah….” Katanya perlahan. Lelaki itu bergerak ke arah ketiga pejudi tersebut. Menerima uang dan gelang isterinya kembali.

“Nah, kalian yang bertiga, dengarlah. Kalian harus meninggalkan Luhak Lima Puluh ini segera. Kalau sore nanti kalian masih saya lihat di Luhak ini, atau lain kali saya dengar kalian masih membuat huru hara, saya akan cari kalian. Dan saya akan menebas kepala kalian seperti menebas kepala Datuk itu. Kini pergilah!”

Ucapan Si Bungsu baru saja habis, ketika ketiganya lari berhamburan. Yang satu lari terbirit-birit lewat pintu, yang dua lagi mengambil jalan singkat, yaitu meloncat dari jendela di dekat mereka. Ketiganya lenyap. Ya, bagi mereka itulah saat yang paling berbahagia. Berbahagia terlepas dari elmaut.

Saat itu juga mereka tak kembali ke rumah. Tapi terus cigin meninggalkan Luhak Lima Puluh itu seperti yang diperintahkan Si Bungsu. Tak seorangpun yang tahu kemana mereka lenyap.

Kini keadaan dalam kedai sepi. Si Bungsu kembali menoleh pada suami perempuan muda itu. Ia berkata perlahan-lahan.

“Hei sanak. Saya dulu juga pejudi. Tapi saya tidak hanya sekedar pejudi kelas murahan. Saya raja judi dinegri ini.Tak pernah saya kalah dalam tiap permainan. Tapi ketahuilah, hidup saya tak pernah tenang. Sedangkan saya yang selalu menang hidup tak tenang, apalagi kalau selalu kalah. Nah, saya pesankan pada sanak, lebih baik mencangkul daripada harus berjudi. Istrimu seorang perempuan lembut dan cantik. Bagaimana kalau tadi dia sempat dilaknati oleh Datuk itu?”

Lelaki itu menunduk.

“Terimakasih sanak. Terimakasih. Saya berhutang budi pada sanak…”

Lelaki itu berkata perlahan. Matanya basah. Istrinya bangkit. Berjalan mendekati Si Bungsu. Pada wajahnya kelihatan penyesalan. Dia teringat betapa tadi dia menampar anak muda ini. Dia menyangka anak muda ini temannya Datuk jahanam itu. Itulah sebabnya dia menampar Si Bungsu begitu dirinya didorong kepangkuan anak muda ini.

“Maafkan saya bang…saya telah salah sangka tadi…” katanya perlahan. Si Bungsu menatapnya.

Kemudian tersenyum.

“Tidak apa. Saya lihat engkau mencintai suamimu. Tapi mencintai suami bukan berarti harus menuruti segela kehendaknya. Kalau engkau merasa pekerjaan yang dia lakukan adalah pekerjaan tercela, engkau berkewajiban melarangnya. Seperti tadi ketika dia meminta gelangmu untuk berjudi. Walaupun engkau dia tampar, tapi jangan berikan. Soalnya bukan berapa nilai gelangmu, tapi yang penting adalah akibat judi itu sangat buruk. Paham bukan…?” Perempuan itu menghapus air matanya. Dan lambat-lambat duduk dihadapan Si Bungsu. “Kalian dari mana?”

“Kami dari Pekan Baru” “Hmm, merantau ke sana?”

“Ya. Kami merantau sejak lama di Tanjung Pinang. Disana kami bertemu dan kawin…” “Kini akan kemana?”

“Pulang ke kampung…” “Dimana, masih jauh?”

“Tidak, kampung kami di Situjuh…” “Situjuh?” tanya Si Bungsu kaget. “Ya. Situjuh Ladang Laweh…” “Disana kampung kalian keduanya?”

“Tidak. Disana kampung saya. Kampung uda Rasid di Kubang…” “Siapa ayahmu di Situjuh..?”

Perempuan itu menatap padanya.

“Abang pernah kesana?” Si Bungsu menunduk. Menarik nafas panjang.

“Tidak hanya sekadar “pernah” upik. Disana lah darah saya tertumpah. Situjuh Ladang Laweh adalah kampung saya pula…” gadis itu terbelalak.

“Abang orang Situjuh Ladang Laweh?”

“Ya. Kita Sekampung…. Siapa nama ayahmu?” “Datuk Maruhun…..” Si Bungsu kaget.

“Ya. Datuk Maruhun. Abang kenal padanya?”

Si Bungsu menatap gadis itu tepat-tepat. Seingatnya tak ada anak Datuk Maruhun seperti perempuan ini. Datuk itu hanya punya dua orang anak. Yang satu lelaki. Kini jadi Gyugun di Padang. Yang satu lagi perempuan, namanya Renobulan.

Dan betapa dia tak kenal pada Datuk Maruhun?

Renobulan anak Datuk itu adalah bekas tunangannya dahulu. Pertunangan mereka putus karena Datuk itu tidak suka calon menantunya seorang pejudi. Dan sejak putus tunangannya itu, dia tidak lagi pernah mengetahui kemana perginya Renobulan. Gadis tercantik dikampungnya itu.

“Maaf, saya rasa anaknya hanya dua orang. Satu lelaki bernama Mukhtar, kedua perempuan bernama Renobulan…”

“Ya. Datuk Maruhun itulah ayah saya…” “Tapi…”

“Ayah berbini dua. Ibu Kak Reno adalah istrinya yang tua. Ibu saya istrinya yang kedua. Ayah menikah dengan ibu ketika berdagang ke Tanjung Pinang. Sejak Jepang masuk ayah tak pernah lagi datang ke Pinang. Kini kami datang untuk mencarinya. Apakah beliau ada sehat-sehat…?

Si Bungsu terdiam. Dikepalanya terbayang lagi masa lalunya di kampung Situjuh Ladang Lawehh itu. Terbayang betapa suatu malam dia tertangkap ketika mengintai orang sedang latihan silat. Yang sedang latihan adalah Datuk Maruhun dan anak buahnya. Datuk Maruhun adalah wakil ayahnya. Wakil ayahnya sebagai guru silat. Dia sedang mengintai ketika Jepang datang menangkapnya.

Dan beberapa murid Datuk Maruhun terbunuh malam itu oleh Jepang. Dan Datuk Maruhun menyangka dia yang memberitahu Jepang tempat latihan itu. Dia dituduh membocorkan tempat latihan itu demi mendapatkan uang untuk berjudi.

“Apakah ayah masih hidup?” tiba-tiba Si Bungsu kembali dikagetkan oleh pertanyaan perempuan muda didepannya.

“Saya tak tahu dengan pasti upik. Suatu malam dia ditangkap oleh Jepang. Rencananya akan dikirim ke Logas untuk kerja paksa. Tapi sebulan kemudian dia lolos bersama tiga orang temannya setelah membunuh dua orang tentara Jepang yang menjaganya.

Mereka pulang ke kampung dimalam buta. Kemudian membawa istri dan anak-anaknya pergi melarikan diri. Sejak saat itu saya tak lagi mendengar dimana beliau. Tapi kini mungkin sudah dikampung. Kalau tidak ada disana, carilah anaknya. Anaknya yang tua, yang bernama Mukhtar kini menjadi anggota Gyugun di Padang. Pangkatnya kalau tidak salah Gun Syo (Sersan satu). Dari dia barangkali engkau dapat tahu dimana beliau..”

“Abang juga tak tahu dimana Kak Renobulan?” Si Bungsu menggeleng. Perempuan itu menarik nafas.

Wajahnya murung. Kemudian berkata perlahan…: “Dahulu, dari seorang pedagang yang datang dari kampung, kami dengar Kak Reno akan menikah. Tunangannya seorang anak muda gagah tapi pejudi. Kabarnya ayah tak menyukai pertunangan itu. Tapi Kak Reno sendiri kabarnya mencintai anak muda itu sepenuh hatinya… hanya itu yang sempat saya dengar di Pinang. Apakah tak mungkin dia telah menikah dengan tunangannya itu…?”

Perempuan muda itu menatap pada Si Bungsu. Si Bungsu jadi pucat.

Tapi dia yakin perempuan itu memang bertanya dengan jujur. Tidak mempunyai prasangka apa-apa.

Makanya dia mencoba menguasai diri.

“Tidak. Saya rasa mereka tak jadi menikah…” jawab Si Bungsu cepat. Perempuan itu kembali menarik

nafas.

Darimana Abang tahu bahwa mereka tak menikah. Apakah Abang mengenali tunangan Kak Reno?” Si

Bungsu kembali jadi pucat. Namun sebisa-bisanya dia menjawab juga.

“Ya. Ya. Saya kenal padanya. Kami sama-sama pejudi. Dan teman saya itu seingat saya belum pernah menikah…”

“Dimana tunangannya itu kini, apa kerjanya…?”

“Ah, tunangannya itu memang seorang lelaki pejudi. Mujur Renobulan tak jadi menikah dengannya. Kini dia kabarnya jadi luntang-lantung diburu-buru karena pernah membunuh orang….”

Si Bungsu menjawab pasti dengan mimik muka ikut membenci “tunangan” Renobulan itu.

“Kasihan kak Reno. Kabarnya mereka sama-sama mencintai. Dan yang pasti, kabarnya ka Renolah yang sangat mencintai tunangannya itu.” Si Bungsu menghirup kopinya. Kopi manis itu tiba-tiba terasa pahit ditenggorokkannya.

Diluar stokar truk itu memperbaiki terus per yang patah dan membuka ban yang bocor. Memberikannya ke tukang tambal. Jalan Payakumbuh ke Pakan Baru adalah jalan parah. Jalan menembus hutan rimba. Mendaki gunung dan menuruni lembah. Itulah jalan yang akan mereka tempuh sebentar lagi.

--00000--

Kota Pekan Baru yang disebut-sebut sebagai dagang baru yang ramai disinggahi pedagang dari Minangkabau itu ternyata hanya sebuah kampung yang tak lebih besar dari Payakumbuh.

Malah dalam beberapa hal Payakumbuh lebih bagus. Jalannya sudah diaspal. Sementara Pekanbaru umumnya jalannya masih tanah. Di Payakumbuh sudah banyak rumah-rumah gedung yang bagus. Sementara di Pekan Baru hanya rumah papan.

Yang ramai hanyalah sekitar Pasar Bawah dan dekat Sungai Siak dimana terdapat sebuah pelabuhan kecil. Karena pelabuhan inilah rupanya kota kecil itu jadi ramai.

Orang banyak berdagang ke Kepulauan Riau yang mata uangnya sama dengan mata uang Malaya dan Singapura. Yaitu mata uang dolar. Sebahagian besar dari kampung yang disebut kota itu terdiri dari kebun getah dan rawa-rawa. Dibahagian kehulu pelabuhan ada sebuah mesjid yang indah. Mesjid Raya yang dibangun Sultan Siak Sri Indrapura. Di sekitar mesjid ini kampungnya bolehlah sedikit. Bersih dan teratur.

Tapi jauh dari situ, didalam hutan-hutan karet yang terurus itu, masih sering orang diterkam harimau. Jauh arah ke barat, ada sebuah lapangan terbang darurat yang dulu dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda. Lapangan itu tak bernama. Terletak di kampung kecil yang berpenduduk sekitar seratus orang. Kampung itu bernama Simpang Tiga.

Tak ada yang baru di kota itu nampaknya. Tak ada yang bisa dibanggakan. Tapi anehnya, orang-orang dari Luhak nan Tigo, yaitu Luhak Agam, Tanah Datar dan Lima Puluh banyak yang pindah kemari.

Mereka membuat rumah-rumah papan disepanjang pinggir jalan di Pasar Bawah. Pasar itu makin lama makin lebar ke barat. Akhirnya berdiri pula sederetan toko darurat di bahagian atas dari Pasar Bawah di dekat pelabuhan itu.

Orang-orang menyebutnya dengan Pasar Tengah. Disinilah pedagang-pedagang itu membuka toko.

Menjual beras, sayur-sayuran dan menukarnya dengan karet.

Karet mereka jual pada kapal-kapal yang berlayar ke Kepulauan Riau untuk kemudian dijual ke Malaya dan Singapura. Kota ini udaranya terasa panas. Apalagi Si Bungsu yang baru saja datang dari Bukittinggi.

Perbedaan udara terasa sekali. Namun dia merasa tenteram di kota ini. Disini tak ada orang yang mengenalnya. Dia bebas kemana-mana. Perjalanannya dengan truk dari Payakumbuh dahulu ternyata tak semudah dan secepatnya yang dia bayangkan. Disangkanya bisa dalam dua hari. Ternyata dia baru sampai setelah menelan waktu sepekan!.

Bayangkan, untuk menempuh jarak yang lebih kurang 200 km dari Payakumbuh itu dibutuhkan waktu sepekan! Berkali-kali truk gaek itu patah per. Berkali-kali bannya pecah. Berkali-kali truk itu terpuruk kedalam lobang jalan yang dalamnya sedalam Ngarai Sianok! Bah! Benar-benar perjalanan kalera!.

Dan ketika sampai ke Pekan Baru, semua sayur yang dibawa pedagang sudah jadi bubur. Yang selamat hanyalah beras dan bawang. Lain daripada itu luluh lantak semua.

Dan karena terlambat itu, Si Bungsu telah ketinggalan kapal.

“Sudah lama berangkat kapal itu?” tanyanya pada seorang tua di pelabuhan. “Maksudmu Kapal Suto Maru ke Singapura?” orang tua itu balik bertanya. “Ya. Suto Maru itu..”

“Baru kemaren. Seharusnya lima hari yang lalu. Tapi karena kerusakan mesin, baru kemaren sore dia berangkat…’ Si Bungsu terperangah.

“Kemaren sore…” “Ya. Kemaren..” “Jam berapa?”

“Kalau tidak salah jam lima…”

Si Bungsu mengucap-ngucap kecil dalam hatinya. Kemaren sore jam tiga dia sudah sampai di Simpang Tiga. Celakanya truk tua itu rusak lagi disana. Tali kipasnya putus. Kaburatornya bocor. Dan mereka menanti sampai malam. Baru malam tadi dia masuk kota. Padahal jaraknya antara Simpang Tiga dengan kota ini hanya sembilan kilometer! Memang belum nasibnya untuk bisa berangkat.

Tapi kalaupun dia datang sore kemaren, dia akan susah jua. Sebab dia tak punya paspor. Nah, hari-hari tak ada kapal ini dia pergunakan untuk mengurus paspor. Dengan memberikan uang lebih banyak, paspornya cepat saja keluar.

Dalam keterangan dalam paspor itu disebutkan bahwa dia anak kapal. Dan pemberian paspor saat itu tak bertele-tele. Tak banyak berbelit-belit.

Untuk memudahkan mengetahui bila ada kapal ke Singapura atau ke Jepang yang datang, dia lalu menginap di sebuah penginapan kecil dekat pelabuhan itu.

Penginapan itu dua tingkat. Bangunannya terbuat dari papan. Bahagian atas untuk penginapan. Bahagian bawah rumah makan. Kalau akan mandi cukup menyebrangi jalan kecil di depan penginapan itu maka akan sampailah di Sungai Siak. Mandi mencebur saja di sungai itu.

Sungai itu airnya berwarna merah, airnya bagus untuk memasak atau diminum. Dan mencuci kain tak ada pengaruhnya. Artinya kain tak ikut menjadi merah karena warna air tersebut.

Sebagaimana jamaknya sebuah pelabuhan, kota itu menjadi persinggahan banyak orang. Tempat pertemuan banyak suku bangsa. Di penginapan kecil tempat Si Bungsu menginap itu juga menginap berbagai suku.

Di kamar sebelahnya menginap dua orang Tapanuli. Di kamar depannya menginap orang Jawa. Dan bahkan di kamar depan sekali, yaitu kamar besar yang menghadap ke Sungai Siak, menginap dua orang asing. Mungkin orang Amerika. Yang satu lelaki, yang satu perempuan. Mereka kabarnya akan terus ke Kerajaan Siak Sri Indrapura jauh di hilir kota Pekanbaru ini. Mereka akan mengadakan penelitian sejarah.

Keduanya belum begitu berumur. Mungkin sekitar tiga puluh lima umurnya. Tapi yang perempuan bertubuh menggiurkan dan berwajah cantik. Kemana-mana mereka membawa alat pemotret.

Yang orang Tapanuli kabarnya beberapa kali kerja di kapal. Kini mereka tengah menunggu kapal lain untuk melamar pekerjaan. Mereka sudah bosan bekerja di kapal kecil yang ke Kepulauan Riau. Mereka ingin bekerja di Kapal Besar yang trayeknya ke luar negeri. 

Sementara yang orang Jawa kabarnya adalah mantri kebun kelapa sawit. Mereka datang kemari untuk mengadakan penelitian terhadap peremajaan kebun-kebun kelapa sawit. Hanya malangnya tak diketahui kenapa mereka sampai ke Pekanbaru.

Di kota ini yang mereka jumpai hanya kebun karet. Tak sepohonpun kelapa sawit. Kabarnya mereka menanti kapal untuk membawa mereka kehilir. Menurut kabarnya pula di hilir kota ini, yaitu di Okura ada perkebunan kelapa sawit. Kesanalah mereka akan pergi.

Yang tak habis dimengerti oleh Si Bungsu adalah, kenapa mereka bisa berangkat dengan meraba-raba begitu. Kalau mereka pegawai negeri, kenapa tak ada petunjuk yang pasti?

Tapi itu urusan mereka, pikirnya. Sementara penginap-penginap lainnya umumnya orang Minang, pekerjaan mereka berbagai ragam. Siang hari dia lihat ada yang berjalan hilir mudik. Mencari barang yang patut dibeli dengan harga murah. Kemudian dijual dengan harga mahal. Tak peduli apa barangnya.

Ada juga pedagang-pedagang yang menanti kapal untuk berlayar ke Kepulauan Riau. Pedagang- pedagang ini sudah mempunyai bekal yang cukup. Ada yang membawa tembaga, aluminium, ada pula yang membawa kain batik. Kabarnya barang-barang seperti itu amat laris di Kepulauan Riau atau di Malaya.

Sementara ada pula yang malam-malam hari menggelar tikar dihalaman penginapan. Memasang lampu, kemudian meniup salung. Yang satu lagi berdendang. Nah, kegiatan mereka inilah yang banyak menarik peminat. Hampir tiap malam halaman penginapan itu penuh oleh pengunjung yang ingin mendengarkan Saluang tersebut. Sudah tentu semuanya orang Minang.

Mereka pada melemparkan uang keatas tikar meinta lagu-lagu yang mereka sukai. Malam itu terang bulan. Di bawah kelihatan ramai sekali. Si Bungsu tak ikut turun. Dia hanya melihat dari jendela kamarnya yang kebetulan menghadap ke jalan.

Pada akhir bait-bait pantun selalu terdengar pekik sorak orang. Dan dari jendela Si Bungsu melihat orang Amerika itu asik memotret-motret dengan tustelnya. Lampu pijarnya menyala-nyala. Setiap kali habis memotret, dia menukar lampunya yang telah hangus itu dengan yang baru.

Tapi Si Bungsu hanya melihat yang lelaki. Sementara perempuannya yang bertubuh menggiurkan dan berwajah cantik itu tak kelihatan.

---000---

Anak muda ini sudah berniat untuk takkan menjatuhkan tangan kejam kepada orang. Sejak dia meninggalkan rumah Kari Basa di Bukittinggi, dia telah berniat demikian.

Ketika terjadi peristiwa dengan Datuk Hitam di Kedai dekat stasiun kereta api Payakumbuh itupun sebenarnya dia tak berniat untuk mencari huru hara.

Apalagi saat itu dia merasa berada di kampung halamannya. Dia tak sampai hati mencelakakan orang kampungnya sendiri.

Namun ada pendapat orang-orang tua, bahwa bagi seorang pemelihara “orang halus” meskipun dia telah berniat untuk tak lagi berhubungan, akan tetap ada kekuatan lain yang suatu saat memaksanya untuk berhubungan lagi dengan peliharaannya.

Hal yang sama juga terjadi pada orang-orang yang mempunyai “harimau” untuk menjaga dirinya. Hal- hal seperti ini banyak terjadi di Minangkabau. Demikian pula halnya dengan Si Bungsu. Meskipun dia telah berniat untuk tidak terlibat dalam perkelahian, tapi “himbauan” samurai itu mempunyai kekuatan sendiri.

Kekuatan itu terkadang datangnya tanpa dapat dicegah. Jika tidak dikehendaki oleh pemiliknya maka orang lainlah yang menghendaki.

Dalam hal peristiwa Datuk Hitam di Payakumbuh, yang memaksa dia untuk mepergunakan samurai itu justru Datuk itu sendiri. Betapapun susahnya Si Bungsu untuk menahan diri agar tak tersinggung, namun Datuk itu seperti “memaksa” agar dia mempergunakan samurainya.

Si Bungsu barangkali takkan marah kalau yang dihina Datuk itu dirinya saja. Tapi begitu Datuk itu memaksa perempuan muda itu untuk melakukan hal-hal yang tidak-tidak, amarahnya segera bangkit. Dan terjadilah peristiwa itu.

Di Pekanbaru ini, sejak mula untuk menghindarkan dirinya terlibat dalam perkelahian, dia sengaja meninggalkan samurainya di penginapan.

Berhari-hari dia berjalan di pelosok kota tanpa samurainya. Namun suatu hari, yaitu di hari ke enam dia berada di kota itu, entah apa sebabnya, tahu-tahu dia mendapatkan dirinya berada ditengah kota dengan samurai itu ditangannya.

Dia benar-benar jadi sadar ketika duduk minum kopi di sebuah lepau cina. Ketika akan duduk, dia meletakkan samurai itu di atas meja.

“Jangan disini tongkatmu diletakkan sanak, sandarkan saja dibawah….’ Kata orang yang duduk diseberang tempatnya. Ditatapnya “tongkat” yang melintang diatas meja itu.

“Samurai…” bisik hatinya. Kenapa sampai kubawa hari ini? Pikirnya lagi. Dia coba mengingat apa sebabnya ketika akan meninggalkan bilik penginapan tadi pagi dia membawa samurai ini.

Tak ada sebab yang luar biasa. Rasanya setelah berpakaian, dia lalu bersisir. Kemudian membetulkan kasur. Dan di bawah bantal dia terpegang pada samurainya. Tanpa sadar sepenuhnya, dia meletakkan samurai yang biasanya dia simpan di bawah bantal itu ke atas meja. Selesai membetulkan kasur dan bantal, dia memakai sandal. Lalu sambil melangkah keluar, tangannya mengambil samurai di atas meja itu. Dan lupa untuk menyimpannya lagi ke bawah bantal. Lalu kini samurai itu terletak diatas meja.

“Ambil tongkatmu itu bung!!” dia dikagetkan oleh suara lelaki itu kembali. Dengan gugup dia mengambil tongkatnya.

“Ya. Maaf, maaf….” Katanya sambil berjalan. Lebih baik dia mencari meja lain saja daripada duduk semeja dengan lelaki itu. Perasaannya mulai tak sedap. Kalu dia duduk saja disana, mungkin bisa terjadi perkelahian yang tak diingini.

Makanya diambil tempat di sudut ruangan. Memesan segelas kopi es dan sepiring sate Pariaman. Ketika akan memakan sate, matanya melirik lagi kepada lelaki yang tadi menghardiknya. Lelaki itu kelihatan gelisah. Sebentar-sebentar matanya memandang ke jalan raya.

Si Bungsu menjadi maklum, lelaki itu jadi pemberang karena ada sesuatu yang menyebabkan dirinya gelisah. Ketidak seimbangan pikiran membuat dia mudah tersinggung. Si Bungsu lalu makan satenya. Ketika dia akan meminum kopi esnya, seorang lelaki lain datang ke dekat lelaki yang menghardiknya tadi.

Mereka berbisik. Dan lelaki yang membentak Si Bungsu tadi bergegas tegak. Nampaknya dia ingin melangkah ke arah Si Bungsu. Namun deru kendaraan bermotor di luar membuat dia menghentikan langkahnya. Tapi tak urung dia menoleh dan berkata tajam:

“Mata-mata jahanam! Kau jual negerimu pada Belanda. Mampuslah kau!” dan seiring dengan ucapan ini, tangannya bergerak sangat cepat kepinggang. Lalu tersenyum. Hanya naluri Si Bungsu yang amat tajam itu sajalah yang menyelamatkan dirinya dari celaka.

Firasatnya merasa bahwa ada bahaya yang meluncur ke arahnya bersamaan gerak tangan lelaki itu. Dengan gerak reflek, dia menyambar dan mencabut samurai di atas meja. Dan dua kali samurainya berkelabat dengan amat cepat. Dan dengan sangat tepat sekali samurainya menghantam dua buah pisau kecil yang mengarah pada leher dan jantungnya.

Kedua pisau itu terpental dan menancap di loteng. Si Bungsu kaget. Kaget bukan atas serangan pisaunya, tapi kaget dengan tuduhan bahwa dia mata-mata Belanda. Dia ingin bicara, tapi kedua lelaki itu telah keluar dengan cepat. Namun diluar sudah berhenti mobil tadi. Dan dari atas sebuah Jeep Militer yang dicat loreng- loreng, berhamburan serdadu-serdadu Belanda!

Saat itu adalah hari-hari dimana Jepang telah menyerahkan kekuasaannya di Asia Raya pada bala tentara Sekutu. Niat mereka semula untuk melanjutkan terus perjuangan menjadi batal karena perintah dari Tenno Haika, adalah penyerahan total.

Dengan demikian, tidak hanya balatentara Jepang, tetapi juga seluruh Kerajaan Jepang, termasuk Maharaja Tenno Heika, berada di bawah kekuasaan balatentara Sekutu yang di Asia dan Pasifik dipimpin oleh Jenderal Mack Arthur!.

Seluruh balatentara Jepang dilucuti. Para jenderal ditahan dan disiapkan untuk menghadapi Mahkamah Perang. Tenno Heika sendiri, meski tetap berada di istananya, namun secara de jure berada dibawah tawanan sekutu.

Bom atom yang dijatuhkan Amerika di kota Hiroshima dan Nagasaki telah menyebar sebuah bencana dan tragedi Nasional di negara Sakura itu. Ratusan ribu penduduk sipil dan militer mati seketika. Dan ratusan ribu lainnya menderita di rumah sakit. Mati secara perlahan atau menderita cacat seumur hidup. Perang telah meluluh lantakkan penduduk sipil yang tak tahu apa-apa. Perempuan, lelaki, kanak-kanak dan bayi mati jadi korban keganasan mesiu.

Dan Bom Atom yang meluluhkan itu, membuat rasa superior bangsa Jepang jadi merosot ketitik nol. Rasa bangga yang didengungkan selama ini oleh kalangan militer, bahwa Jepang penakluk dunia, tiba-tiba berlutut kehabisan daya dibawah sepatu Sekutu. Dan dengan demikian, dengan terhentinya peperangan Jepang Sekutu itu, terselamatkan pula ratusan ribu nyawa lainnya. Nyawa dan harta benda yang terselamatkan itu terutama dipihak Jepang dan dipihak Sekutu.

Sebab, tiga puluh tahun kemudian, menurut analisa para ilmuan, kalau saja bom atom tak dijatuhkan dan memaksa Jepang bertekuk lutut, maka perang masih diperkirakan akan berlangsung selama setahun lagi.

Dan selama setahun itu, menurut perhitungan dipihak Sekutu akan jatuh korban nyawa sebanyak 200 ribu tentara. Dipihak Jepang akan jatuh korban sebanyak 900 ribu tentara. Tapi karena peperangan akan berlangsung di Negara Jepang sendiri, maka penduduk sipil yang akan mati oleh keganasan peluru itu, diperkirakan mencapai 2 juta!

Itu baru tentara dan penduduk Jepang. Karena Jepang menguasai negara-negara di Asia Tenggara maka mau tak mau, penduduk di negara-negara itu, termasuk Indonesia juga akan terkena getah peperangan.

Tapi untunglah bom atom menyelesaikannya. Dan korban yang demikian banyak tak perlu berjatuhan lagi. Baik dipihak Jepang maupun dipihak Sekutu. Namun tak berarti penderitaan bangsa Indonesia sudah berakhir. Berhentinya peperangan antara Sekutu dengan Jepang, justru merupakan titik sambung peperangan antara Belanda dengan tentara Indonesia.

Peperangan antara Belanda dan Indonesia itu sudah bermulai ratusan tahun yang lalu. Telah banyak pejuang-pejuang yang gugur. Sebutlah Iman Bonjol, Diponegoro, Pattimura, Teuku Umar, Hasanuddin dan ratusan ribu pejuang yang sempat dituliskan dalam sejarah. 

Perang Belanda dan Indonesia terputus dengan kedatangan Jepang yang mengusir Belanda dari Indonesia. Namun Belanda tak pergi jauh-jauh. Karena negara mereka berada dalam Pakta Sekutu, maka mereka lalu mencari kesempatan untuk membonceng kembali ke Indonesia.

Kalah dari Jepang, Belanda mengundurkan diri ke Australia yang merupakan Sekutu bersama Inggris. Begitu Jepang kalah, maka Sekutu membagi-bagi tentara mana yang akan memasuki negara-negara yang pernah dikuasai Jepang.

Tentara Inggris memilih negara Jepang.

Namun Amerika Serikat juga berminat menduduki negara itu. Alasan Amerika negara mereka lebih dekat dengan Jepang daripada Inggris. Dengan demikian mereka bisa mengawasi secara langsung.

Inggris dapat menerima. Karenanya, Amerika lalu menduduki Jepang dan Indonesia diduduki oleh Inggris. Tetapi sesama tentara Sekutu sendiri mempunyai Gentlement Agrement pula. Perjanjian antara mereka menyebutkan bahwa negara-negara yang pernah diduduki oleh salah satu negara Sekutu sebelum kedatangan Jepang, dikembalikan kepada negara tersebut.

Dalam hal ini, sebelum kedatangan Jepang, Indonesia berada dibawah Belanda. Maka tentara Inggris yang datang mengambil alih kekuasaan dari tentara Jepang, diboncengi pula oleh tentara Belanda!.

Inggris punya alasan yang kuat kenapa mengikut sertakan tentara Belanda dalam kedatangan mereka ke Indonesia. Untuk masuk ke Indonesia, mereka tak punya pengetahuan sedikitpun. Yang tahu seluk beluk Indonesia, mulai dari A sampai Z adalah Belanda. Sebab mereka telah menguasai negara ini selama ratusan tahun! Jadi sebagai “penunjuk jalan” mereka membawa serta serdadu Belanda tersebut.

Dan dengan sebuah “perjanjian bawah tangan” Inggris kemudian menyerahkan kekuasaan pada Belanda atas seluruh wilayah Indonesia.

Dan Inggris sendiri, kembali ke negara yang pernah mereka kuasai sebelum kedatangan Jepang. Yaitu negara-negara Singapura, Malaya, Kalimantan Utara dan pulau Hongkong.

Saat peristiwa ini, yaitu disaat Si Bungsu berada di Pekan Baru, Belanda telah menerima kembali kekuasaan terhadap wilayah-wilayah Indonesia dari Inggris.

Belanda mengirimkan pasukannya yang berasal dari Koningkelyke Leger (KL). Yaitu balatentara Belanda yang berasal langsung dari Kerajaan Belanda. Pasukan-pasukan KL ini kejamnya bukan main.

Dan saat itu, pasukan KL inilah yang mengepung kedai kopi dimana Si Bungsu berada.

Lelaki yang tadi melemparnya dengan pisau, dan yang berhasil dia tangkis dengan kecepatan samurainya, tiba-tiba mendapati diri mereka sudah terkepung oleh enam serdadu KL.

Kedua lelaki itu berbalik cepat memasuki kedai. Dan sebelum Si Bungsu atau isi kedai itu sadar apa yang terjadi, dengan keyakinan bahwa Si Bungsu adalah mata-mata Belanda, lelaki itu menyergap Si Bungsu.

Dia memiting anak muda yang memegang “tongkat” itu dengan tangan kiri dari belakang. Sementara tangan kanannya yang memegang pisau ditekankan pada leher Si Bungsu.

Keenam serdadu Belanda yang berpakaian loreng itu terhenti dipintu kedai. Mereka siap dengan bedil dan sangkur terhunus. Mereka terhenti karena mendengar suara lelaki berpisau itu berteriak :

“Kalau kalian tidak mundur, saya akan membunuh mata-mata Nevis ini sampai lehernya potong…!” seiring dengan ucapannya itu, dia menekan mata pisaunya makin kuat.