Seruling Sakti Jilid 09

Jilid 09

40 - Upaya Penyembuhan Rubah Api

"Menurut perhitungan saya, tiap kali mengalami cedera akibat mengerahkan Tenaga Semu, dengan sendirinya, tenaga murni saya akan mengembang setengah kali lipat."

"Oh, seandainya kau punya tenaga empat puluh tahun hasil latihan, maka setelah sembuh kau akan memiliki tenaga sebesar enam puluh tahun?!"

"Benar, tapi semua itu hanya dalam perhitungan saja, belum tentu benar. Lagi pula kalau memang benar, saya bahkan tidak ingin mencobanya, terlalu besar resikonya hanya demi menambah Hawa Murni. Lagi pula hidup toh tidak tergantung dari Hawa Murni?" Para sesepuh setuju dengan ucapan Jaka.

"Jika bertambah setengah kali lipat, apakah saat mengerahkan… paling tidak seperlima Tenaga Semu?" tanya Ayunda.

"Benar!"

"Jadi, andai seluruh Tenaga Semu dikerahkan—maksudku sampai setara seribu tahun hasil latihan, bagaimana pula kemajuannya?"

"Aku tak tahu, tepatnya tak ingin tahu." Jawab Jaka bergumam. "Makin besar Tenaga Semu dikeluarkan—andai sembuh—peningkatan Hawa Murni mungkin makin besar. Dan aku tidak ingin memperkirakannya, aku takut tergoda. Sekarang aku masih teguh memegang prinsip, besok siapa tahu? Aku mengawatirkan perubahan pendirianku. Mungkin saja pendirianku berubah karena alasan tertentu. Kemungkinan ini kupikir bisa saja terjadi, tapi aku berharap semoga tak terjadi."

Ayunda paham, "Kalau begitu Tenaga Semu itu membawa efek baik dan buruk, ya?"

"Mungkin, tapi kukira lebih banyak efek buruk. Apa sih kebaikannya? Hanya menambah hawa murni, itu tidak sepadan dengan pengorbanan yang kau lakukan." Ujar Jaka.

Mereka heran mendengar ucapan Jaka, bagi pemuda ini Hawa Murni tidak membuatnya tertarik. Namun bagi orang lain Hawa Murni atau Tenaga Sakti adalah harta tak ternilai.

Justru lantaran Jaka tak memperdulikannya, tidak ngoyo, maka Hawa Murninya entah berbobot berapa lipat lebih hebat dari latihan sebenarnya. Para tetua baru saja tersadar akan dalil itu, ‘Jika seseorang terlalu memaksakan kehendak untuk mengejar sesuatu, maka hanya kehampaan yang ia dapatkan, tapi Jika ia bersikap biasa dan menerima apa adanya, maka dia akan mendapatkan lebih dari yang dibayangkan.’ Bukankah itu sama dengan firman Tuhan yang mengatakan;

…jika engkau bersyukur akan nikmat-Ku, niscaya Aku akan menambahnya. Ternyata dalil ilmu pun ada korelasi dengan ungkapan ilahiyah-Nya.

Diam-diam mereka menghembuskan nafas getun, benar- benar bocah aneh, entah apa yang dia pikirkan? Apa pula tujuannya untuk hidup?

"Bahkan terciptanya Tenaga Semu itu sendiripun merupakan efek buruk…" sambung pemuda ini. "Buruk?" kembali mereka terkejut. Jika ada orang yang mencela hasil karya yang diakui orang lain kehebatannya, maka cuma Jaka-lah orangnya. Sejak dulu, walau dia seorang tokoh dari golongan putih, jika dia dapat menciptakan sesuatu yang hebat, kebanggaan akan menyelimuti hatinya. Tapi Jaka? Apakah sikapnya itu hanya pura-pura saja?

"Tenaga Semu merupakan tenaga merusak, sejak menguasai tenaga itu, hati saya lebih sering khawatir, rasanya ada sesuatu yang mengganjal. Kata beberapa teman, apa yang kudapatkan adalah berkah, jangan disesali, mereka mengatakan ‘ibarat gunung emas yang sewaktu-waktu bisa digunakan’. Terdengar bagus, sangat menggoda. Terkadang saya ingin menggunakan tenaga itu sekedar mencoba—tapi saya sadari itu hanya sekedar nafsu belaka. Jika memang harus digunakan, mungkin akan datang saat yang tepat.”

“Ya… saat yang tepat itu, bilamana hatimu tak lagi merasa terbebani memilikinya, kau tak merasa khawatir atas tenaga itu.”

Jaka mengiyakan takzim atas nasehat Ki Glagah. “Tapi perasaan itu saya tak yakin kapan datangnya. Tahukah tetua, apa yang pernah terlintas di pikiran saya karena tenaga ini?”

Mereka diam saja, rupanya para tetua itu, sadar dengan ‘curhatnya’ Jaka, jadi tak menanggapi.

“Kadang saya ingin mencoba tenaga ini pada sebuah perguruan. Keinginan itu terlintas jika saya berjumpa dengan anak murid sebuah perguruan yang bertingkah seenaknya. Saya ingin menegur pada sang guru, apa sih yang diajarkan… sampai-sampai anak muridnya bertindak begitu? Perasaan semacam itu kadang terasa menyiksa. Membuat hati tidak tenang. Untung saja, sejauh ini keinginan itu dapat saya tekan. Ya, dengan kehidupan tentram dan menerima hidup apa adanya.”

“Semudah itu?” Tanya Pertiwi.

“Tentu tidak. Kata orang tua; menjadi kewajaran jika pemuda memiliki darah panas, bahkan terkadang tak pernah berpikir panjang. Aku juga pernah begitu… tapi pengalaman mengajarkan, setiap kejadian harus membuat kita bertindak makin arif dan bijak.”

“Aku tak mengira kalau kau adalah pemuda yang meledak- ledak…” ujar Ki Lukita.

Jaka tersenyum. “Ya, dulu...” Jawabnya dengan girang, karakter yang diperlihatkan tadi, sudah melekat sempurna dalam alam pikiran mereka.

Mereka tercengang dengan jawaban Jaka, dulu? Bukankah usia Jaka masih 20-an? Jika saat ini dia mengatakan dulu, begitu cepatkan masa pancaroba—cobaan terberat, seorang pemuda bernama Jaka? Diusia berapa? 15, 16, atau 17? Pemikiran itu benar-benar mengelitik, dan ingin segera ditanyakan. Tapi tak satupun yang mau mengawalinya, kecuali Pertiwi.

“Dulu? Yang benar saja! Apa kau ini orang yang berangasan waktu masih 10-an tahun?”

Jaka tertawa geli. “Di usia semuda itu, tiap anak pasti mengalami masa-masa terbengal—paling bandel. Waktu seusia itu, aku ibarat anak tak punya telinga.”

Gurunya tersenyum. “Kau tak bisa dinasehati?” Jaka tersipu. “Ya, saya pikir masih wajar.”

Mereka tertawa mendengar jawaban Jaka. Ya, mereka sudah 'membuktikannya', bahwa sifat Jaka memang eksplosif—meledak-ledak.

“Sekarang, apa kau masih merasa selalu ingin menang?” Tanya Ki Alit Sangkir.

“Terkadang keinginan itu timbul.”

“Itu wajar saja.” Komenter Ki Gunadarma.

“Dan seperti yang saya katakan, hidup dengan ambisi seperlunya, dan selalu bersyukur, adalah obat mujarab penangkal keresahan hati. Tuhan memang Maha Pengasih, keinginan aneh-aneh lenyap dari benak saya. Yah, paling tidak saya bisa menganggap jerih payah mendapatkan Tenaga Semu, hanya untuk mengisi waktu luang saja.”

Sampai ucapan Jaka yang tadi, Delapan Tetua kembali menghela nafas tertahan. Mengisi waktu luang? Lalu bagaimana jika dia serius mengerjakan sesuatu?

“Jadi dengan anggapan demikian, saya tidak pernah merasa bahwa Tenaga Semu sudah saya kuasai. Mungkin karena saya selalu menginginkan ‘sesuatu’ yang lebih baik, bukan hanya tenaga murni, tapi akan lebih baik lagi jika ‘sesuatu’ itu dapat lebih berguna, lebih membangun, jika dibanding dengan kemampuan hawa murni.”

Tentu saja yang dimaksudkan Jaka, bukanlah sebuah ilmu sakti atau semacamnya, tapi lebih kepada kemampuan mencipta ‘iklim’ yang menentramkan. Para sesepuh menghela nafas getun, Tenaga Semu yang begitu hebatnya dia cela, padahal tenaga itu belum lagi sempurna. Ai, entah kemajuan seperti apa yang bakal dimiliki anak ini, sesuatu yang dipandang sangat berharga bagi orang lain, justru bagai sampah bagi dirinya. Benar-benar pemuda aneh...

Tak ada lagi yang bertanya, berbagai penuturan Jaka, membuat mereka berpikir, menimbang sesuatu yang sebelumnya tak pernah diacuhkan. Mereka memutuskan untuk mengakhiri bincang-bincang tadi.

Semuanya berdiri, Jaka cs memberi hormat pada para sesepuh, dan mereka melangkah keluar, namun sesaat sebelum pintu terbuka, Jaka berseru.

"Tunggu Ki…" Semua menoleh.

"Ada apa?" tanya Ki Glagah yang baru saja hendak membuka pintu.

"Ehm.. ada yang ingin saya sampaikan.." kata Jaka dengan ragu-ragu.

”Katakan saja,"

"Sebelum berlatih, tidakkah sebaiknya menyembuhkan Rubah Api? Tidak mustahil banyak rahasia yang dapat kita peroleh."

"Oh, kau ingin menyembuhkannya?" tanya Ki Glagah heran.

"Kalau diperkenankan." "Oh, tentu boleh..." tanya kakek itu agak ragu.

"Setidaknya saya coba, rasanya sia-sia saya mempelajari pertabiban, jika tak mencobanya."

"Perlu kau ketahui, kondisi Rubah Api parah sekali, diluarnya dia seperti orang tidur. Hh, keadaan sesungguhnya dia sekarat. Mungkin, gerakan yang mengagetkan, atau salah pengobatan, bisa mencabut nyawanya."

Jaka termenung sesaat.

”Ucapan Aki benar, tapi kalau tidak dicoba, toh akhirnya Rubah Api juga akan meninggal. Lebih baik ia meninggal lebih cepat, untuk mengakhiri deritanya—andai saya gagal. Dari pada dia harus menunggu mati untuk satu-dua tahun tanpa manfaat…" Ucapan Jaka memang beralasan, para tetua bimbang sesaat.

"Baiklah," Ki Lukita yang membuka suara setelah sekian lamanya mereka terdiam. "Mudah-mudahan apa yang kau pelajari dapat membuatnya sembuh, setidaknya ia dapat membuka mata dan berbicara."

Jaka setuju, namun masih ada yang mengganjal dalam batinnya. "Maaf kalau pertanyaan saya keterlaluan…”

“Silahkan.”

“Bukankah di perkumpulan ini memiliki mustika yang katanya, bisa menyembuhkan orang, sekalipun sedang sekarat?" Tanya Jaka sedikit menyindir. Para tetua saling pandang dan kemudian tersenyum, mereka paham, rupanya kedongkolan Jaka, belum semuanya keluar.

"Kau jangan salah paham Jaka," kali ini Ki Alit Sangkir yang menjelaskan. "Kami bukannya tidak berusaha, bahkan sudah dua sekaligus yang di minumkan, tapi tidak bereaksi sama sekali! Tak bisa dipungkiri, kami sangat menghemat pemakaian mustika Akar Bunga Gurun, tapi untuk masalah hidup mati, kami juga belum kehilangan hati nurani..."

Penjelasan Ki Alit Sangkir membuat dada Jaka lega. “Maaf...” ucapanya tertunduk.

“Tidak apa.” Ujar Ki Alit Sangkir tersenyum.

"Apapun namanya, tiap mustika memang memiliki batasan sendiri." Gumam pemuda ini.

"Benar katamu," sahut Ki Alit Sangkir. "Biarpun Akar Bunga Gurun dikatakan dapat menyembuhkan orang sekarat, mungkin itu terjadi pada satu keadaan tertentu saja. Dari sini terlihat betapa semua benda yang dipandang berhargapun ada batasnya!" Jaka setuju dengan pendapat Ki Alit Sangkir.

Kali ini mereka keluar tanpa terhambat percakapan yang tertunda lagi. Di luar, delapan belas orang yang tadi keluar ruangan lebih dulu, sedang duduk dengan sikap serius. Kelihatannya mereka memandang urusan Jaka termasuk urusan penting.

"Bagaimana guru?" tanya orang yang menjadi murid kedua Ki Lukita. Aki Lukita menggoyangkan tangan kirinya, "Semuanya sudah beres, tidak ada lagi yang perlu diributkan."

"Syukurlah…" ucap orang itu dengan nada lega. Karena sesungguhnya sejak ia melihat Jaka, orang itu sudah merasa simpatik. Dia tidak ingin mereka bermusuhan, dengan jawaban gurunya tadi ia dapat mengambil kesimpulan, Jaka sudah resmi menjadi adik seperguruannya.

"Adik, maafkan kelancanganku tadi," kata orang itu pada Jaka sambil menjura. Pemuda ini tersenyum, alangkah jujur dan terbukanya orang ini, pikir Jaka.

"Tidak apa-apa kakang, saya bahkan kagum dengan keteguhan kakang yang menjunjung tinggi kesetiaan perkumpulan." Kata Jaka buru-buru sambil balas menjura.

Kemudian, mereka melangkah masuk keruang belakang. Sebelumnya Jaka pernah memasuki ruangan itu, tapi karena malam, Jaka tidak leluasa memperhatikan tiap sudut.

Kini Jaka bisa mengamati dengan jelas, ternyata ruang belakang tidak kalah luasnya dengan ruang tengah. Lebar dan lapang.

Tapi dalam pandangan Jaka ada sedikit keanehan, Entah disingkirkan kemana meja dan kursinya... pikir pemuda ini.

Mula-mula Jaka agak bingung melihat semuanya berkumpul di ruangan itu. "Apakah Rubah Api mau diangkat kesini?" pikir pemuda ini lagi.

Tapi kebingungannya terjawab saat itu juga, karena gurunya tiba-tiba saja membungkuk dan menyentuh lantai. Pantas… puji pemuda ini dalam hati. Kiranya ada ruangan bawah tanah. Sungguh tak terpikir olehku. Dilihat cara guru membuka, sepertinya gampang. Tapi, mungkin saja sebelumnya beliau menyentuh alat rahasia lain.

Satu persatu masuk kedalam ruangan bawah tanah, dan Jaka adalah orang kedua terakhir yang memasuki ruangan itu—Ki Benggala yang paling akhir, karena ia harus menutup pintu ke ruangan itu.

Pemuda ini melangkah dengan memperhatikan tiap bagian ruangan. Ternyata lebar dan luas ruangan bawah tanah itu, lebih luas dari ruangan diatas. Entah berapa lama membangun ruangan rahasia itu. Menurut Jaka, pembangunan ruang seperti itu setidaknya ada satu-dua orang awam yang melihatnya, karena letak rumah Ki Lukita ada dipusat kota. Tapi, tak tertutup kemungkinan, tiada satu orangpun yang tahu.

Mungkin saja mereka yang tahu, bisa jadi esok harinya ‘lupa’… Jaka tak ingin menduga lebih lanjut. Biarlah urusan itu menjadi rahasia pribadi kelompok itu.

Semula Jaka pikir akan merasakan pengap dan gerah, karena tanah selalu menyimpan panas matahari. Tapi Jaka harus mengakui kepiawaian arsitek yang mendesign ruangan bawah tanah itu. Karena ia tidak merasakan hawa panas secuilpun, bahkan sebaliknya di ruangan bawah tanah itu kesejukan merebak dimana-mana.

Bahkan samar-samar seperti ada angin yang melintasi lorong bawah tanah itu. Sebagai jalan udara, ruangan ini pasti berhubungan dengan bagian luar, yang jelas tempat itu dipastikan sejuk, tidak terkena cahaya matahari secara langsung, mungkin dekat sungai. Pikir Jaka menduga.

Lorong yang dilewatinya cukup panjang, akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan lebar, tiap sudutnya terdapat pintu- pintu dan lorong-lorong masuk.

Wah, kalau ada maling masuk pasti tak bisa mengambil apa-apa. Pintu yang tertutup dan lorong yang terbuka disekeliling dinding ruangan ini pasti memiliki rahasia lagi.

Tak menunggu lama, Ki Lukita yang memimpin mereka, masuk kedalam pintu—pintu ke tujuh. Jaka sempat menghitungnya begitu ia keluar dari lorong pertama.

Memasuki pintu itu juga harus melewati selasar cukup panjang, dan akhirnya sampai disebuah ruangan yang bersih dan nyaman.

Semua orang berbaris merapat tembok ruangan, sehingga Jaka dapat melihat dengan jelas kalau ruangan kamar itu terdapat pembaringan besar, dan disampingnya ada rak-rak besar yang mungkin saja berisi bahan-bahan obat.

Masa Rubah Api ditinggal sendirian disini? pikir Jaka heran. Namun belum lagi keheranannya terjawab, tiba-tiba saja dari balik dinding dekat dengan pembaringan, terbuka pintu lain.

Dari pintu rahasia itu keluar dua orang berpakaian kuning- kuning, usia mereka paling tidak empat puluhan. Kepala keduanya gundul licin, mungkin jika lalat mampir di kepala bisa terpeleset. Dua orang itu membungkuk kearah para tetua.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Ki Lukita. "Tidak ada perubahan semenjak hari pertama." Salah seorang dari mereka menjawab.

Mulanya Jaka tidak begitu tertarik melihat kemunculan kedua orang gundul itu, tapi begitu keduanya mendongkakkan kepala, Jaka terkejut. Sebab mata mereka berkilat tajam, ternyata mereka ahli tenaga murni.

Gila, kekuatan perkumpulan ini melebihi enam belas perguruan terkemuka! Kelihatannya, mereka yang terlemah setara dengan pendekar kelana. Hh… benar-benar pilih tanding! Pikir Jaka dengan hati kagum.

Sebagai perbandingan, para pendekar kelana memiliki kelihayan setara dengan murid tingkat 3—dari 16 perguruan terkemuka. Dan murid tingkat 3, paling tidak memiliki tenaga dalam hasil latihan sebanyak 30 sampai 40 puluh tahun. Adalah pantas, jika Jaka merasa kagum. Jika orang yang paling lemah saja setara dengan pendekar kelana, maka dipastikan kelihayan Perkumpulan Garis Tujuh ini diatas semua perguruan.

Delapan tetua berdiri disamping pembaringan Rubah Api. Sebenarnya Jaka ingin sekali melihat bagaimana rupa Rubah Api, yang membuat orang perkumpulan rahasia ini membelanya.

Pasti bukan hanya peta rahasia itu saja, mungkin Rubah Api banyak menyimpan rahasia. Pikir Jaka menduga.

"Kemari," kata Ki Lukita sambil melambaikan tangannya pada Jaka.

Pemuda ini bergegas datang, ia berdiri di kanan pembaringan—disamping gurunya. "Kau periksalah keadaannya."

Jaka mengangguk tanpa menjawab. Pemuda ini memperhatikan orang yang disebut Rubah Api. Orang ini memang cocok disebut dengan julukan Rubah Api. Seluruh rambut, kumis, dan alisnya merah mencorong, wajahnya lonjong dengan raut muka gagah, usianya mungkin sekitar akhir lima puluhan—sebaya dengan Ki Banggala.

Kebanyakan wajah seperti ini dimiliki orang baik, batin Jaka. Mudah-mudahan saja dia benar-benar orang baik.

"Guru, apa tidak terlalu panas begitu banyak orang diruangan ini?" tanya Jaka.

"Maksudmu, mereka mengganggumu?" ujar sang guru heran. Jaka tersipu, karena maksud hatinya tertebak.

"Jangan kuatir," kata sang guru. "Ruangan ini cukup lebar, tidak akan membuatmu gerah, apalagi sampai mengganggu proses pengobatan. Lagi pula semua orang juga ingin menyaksikan metoda pengobatanmu."

Jaka mengangkat bahunya, apa boleh buat, pikirnya. Tak menghiraukan puluhan tatapan ingin tahu, Jaka segara memeriksa nadi tangan dan nadi leher Rubah Api. Cara memeriksanya unik. Jaka tak menyentuhnya, dia meniupnya. Tapak tangannya diletakkan diatas nadi tangan dan leher.

Wajah pemuda ini berubah setelah memeriksa nadi Rubah Api. Gawat, seharusnya luka yang dideritanya tidak terlalu parah. Aih, terlalu lama didiamkan, ditambah luka beracun, kemungkinan untuk hidup kecil. Jaka melepas menyobek pakaian Rubah Api dengan hati- hati, hanya bagian auratnya saja yang ditutupi sehelai kain. Terlihat olehnya samar-samar jalur berwarna biru dan hitam yang muncul dari simpul perut kecil sampai kedada. Jaka menekan dada Rubah Api untuk beberapa lama.

Astaga, apa mereka tak tahu cara merawat orang sakit? Gerutu Jaka begitu menyadari kondisi Rubah Api. Memangnya setiap orang sekarat bisa sembuh hanya mengandalkan Akar Bunga Gurun? Dasar pengobatan itu adalah mengunakan obat yang sesuai dengan luka. Tapi ini, wah… ini menyulitkanku mengobati Rubah Api. Rupanya dia dipaksa menelan mustika. Hh, tambah susah.

Untuk sesaat Jaka termenung. Kejap berikutnya dia mengetuk tiap ruas tulang Rubah Api, bahkan batok kepala dan dahi juga diketuk. Telinganya didekatkan pada tiap ruas yang diketuk, Jaka mendengarkan reaksi ketukan dengan seksama. Secercah senyum menyembul, Jaka menghela nafas lega.

Tidak sesulit yang kuduga. Pikirnya girang. Ya, bagi dia memang tidak sulit, tapi bagi orang lain? Ki Lukita dan Ki Glagah bukannya orang yang buta pengobatan, bahkan dalam dunia persilatan dulu mereka termasuk orang tenar, karena pandai mengobati. Toh, mereka tetap tak sanggup mengobati Rubah Api.

Karena tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan, mereka bersepakat memberikan dua buah mustika akar Bunga Gurun, dengan harapan dapat menyembuhkan Rubah Api, tapi harapan tinggal harapan. Perlahan, Jaka mengurut tiap ruas sambungan tulang, seperti lutut, bahu, dan lengan. Jaka berdebar! Dia merasa tegang, sebab baru kali ini pengobatannya ditonton banyak orang, seperti tukang pijat keliling saja! Selesai mengurut, Jaka menotok lambung dan iga dua kali.

Ruangan itu memang sejuk, tapi Jaka merasa gerah. Dengan hati-hati ia mengelap keringat yang membasahi dahinya. Untuk beberapa saat, Jaka mendiamkan Rubah Api, pemuda ini menyeret bangku kecil yang ada di ujung pembaringan. Ia duduk sambil berkipas-kipas dengan tangannya.

Mereka yang menyaksikan cara pengobatan Jaka merasa tegang juga, sebelumnya mereka pernah menyaksikan pengobatan yang dilakukan oleh Ki Glagah dan Ki Lukita. Tiap disentuh, saat itu Rubah Api melonjak-lonjak seperti orang kesurupan. Dan kali ini mereka merasa aneh saat Jaka menyentuh—bahkan mengurut, sebab orang itu tidak bereaksi.

Jaka meraba pinggangnya, ia melepas sabuk yang melilit pinggangnya. Beberapa orang saling lirik, mereka tak dapat menduga apa yang akan dilakukannya. Mereka dapat melihat, di pinggang Jaka masih terdapat sabuk lain berwarna kuning gading dengan lurik-lurik hijau. Itulah tongkat bambu lentur!

Jaka juga melepas tongkat bambu lentur yang dibuatnya menjadi ikat pinggang. Setelah melepas yang mengikat pinggangnya, celana Jaka agak kedodoran, cepat-cepat Jaka mengikat kembali ikat pinggang yang pertama.

Pemandangan yang sekejap itu membuat banyak orang merasa geli. Pemuda yang mereka pandangan sebagai orang berbakat aneh itu, untuk beberapa saat keripuhan karena celananya hampir melorot.

41 - Menuntaskan Pengobatan Rubah Api

Diah, si gadis berwajah beku, tampak tersenyum kecil. Beberapa orang yang melihatnya, merasa heran melihat perubahan Si Gadis Salju. Dalam satu bulan, orang terdekat si gadis, bisa menghitung perubahan roman wajahnya yang beku—paling banyak dua atau tiga kali, dan anehnya untuk hari ini Diah Prawesti sudah tertawa, cemberut, bahkan berbicara, biasa ia hanya bicara satu-dua patah kata. Sebagai gudangnya orang cerdik, tentu saja mereka sudah menduga kalau perubahan diri gadis ini karena kedatangan Jaka—ini yang membuat mereka tak habis pikir.

Banyak pemuda gagah tampan yang berusaha membuatnya lebih ceria, tetapi usahanya selalu nihil. Tapi kedatangan Jaka merubah segalanya, pemuda itu bahkan tidak perlu mengajak bicara atau merayu segala. Dengan demikian, beberapa pemuda yang naksir berat, harus mundur teratur, agaknya mereka tahu diri kalau si gadis sudah menjatuhkan pilihan hatinya, tapi Jaka mana tahu?!

Kalau Diah, hanya tersenyum tipis, lain lagi dengan Pertiwi dan Ayunda, mereka berdua lebih bebas, tawa geli keduanya, membuat wajah Jaka serasa terbakar.

Sial! Umpatnya dalam hati merasa gemas. Tak memikirkan kejadian tadi, Jaka meluruskan tongkat bambunya, lalu mengguncangnya, seolah mengeluarkan isinya—dan memang bermaksud begitu.

Dua benda jatuh di tepi pembaringan, semua orang dapat melihat salah satu benda itu adalah seruling bambu. Mereka baru sadar, yang melilit dipinggang Jaka adalah bambu lentur.

Delapan tetua dan beberapa lelaki paruh baya terkesip kaget. Mereka menegaskan pandangan, ternyata memang benar sebatang bambu, bambu lentur!

Dua benda yang tadi, segera diambil. Jaka menyelipkan seruling kesayangannya dipinggang, lalu benda yang kedua adalah bungkusan kain—yang juga berwarna seperti bambu lentur itu, kuning—sepanjang dua jengkal. Besar gulungan kain itu lebih kecil dari rongga bambu, karena itu dapat dimasukan kedalam.

Namun ada satu pertanyaan melintas di tiap benak orang, dengan cara bagaimana tiap benda yang terdapat didalam bambu lentur itu tidak terlihat menonjol dari luar?

Mereka sempat melihat bambu lentur yang dijadikan ikat pinggang Jaka, sangat tipis, seperti layaknya sebuah ikat pinggang. Dalam kasus seperti itu hanya ada satu penjelasan, yakni apapun benda yang terdapat di dalam tongkat bambu lentur, pastilah memiliki sifat yang sama dengan bambu tersebut. Jika tidak? Mereka berniat menanyakan pada Jaka seusai pengobatan.

Jaka membuka gulungan kain itu, tiap hadirin merasa heran melihat apa yang terdapat didalam bungkusan itu. Tadinya mereka mengira isinya paling tidak ramuan obat-obatan, mungkin juga pil. Tapi tak disangka dalam bungkusan itu hanya berisi puluhan jarum besar dan kecil, kemudian empat buah pisau kecil yang berkilauan saking tajamnya, pisau itu sepanjang kelingking. Lalu ada beberapa tabung kecil, juga terbuat dari bambu.

Jaka mengambil pisau pertama. Dengan tindak yang halus dan berhati-hati, Jaka menyayat tiap sambungan tulang Rubah Api yang sebelumnya sudah ditotok. Darah keluar begitu pisau kecilnya menggores. Setelah selesai, Jaka mengambil bambu kecil seperti bambu tulup, ukurannya sejari kelingking bayi, kecil sekali. Bambu itu ditusukkan pada tiap sayatan di ruas tulang, para wanita berkerenyit ngeri melihat cara Jaka mengobati. Bahkan Rubah Api yang tadinya seperti orang mati, jari tangan dan kakinya memberikan reaksi dengan gerakan kecil. Tak berapa lama selesailah pekerjaan itu. Jaka duduk dan mendiamkan untuk sesaat. pemuda ini nampak sedang memikirkan sesuatu.

Iseng-iseng, Ki Benggala menghitung bambu yang menancap di tubuh Rubah Api. Tujuh belas buah! Pikirnya, wah... andai aku yang mengalami kejadian seperti ini, lebih baik kuurungkan saja. Siapa tahu ada cara pengobatan yang lebih baik.

Setelah satu menit di diamkan, bambu-bambu kecil yang menancap itu terlihat bergetar sedikit.

Jaka tahu apa artinya, pemuda ini segera bangkit, lalu ia mengambil jarum besar dan kecil. Belum sempat orang menduga apa yang akan dilakukan dengan jarum-jarum itu, tangan Jaka bergerak cepat kesekujur tubuh Rubah Api, dalam lima hitungan, puluhan jarum sudah menancap dari kepala sampai ujung kaki. Orang awam mungkin hanya melihat gerakan tangan mengulap sepintas diatas tubuh Rubah Api.

"Ih.." beberapa wanita terdengar ngeri. Kondisi Rubah Api kali ini mengingatkan orang dengan seekor landak. Para wanita memang patut merasa ngeri, sebab puluhan jarum itu ada yang menancap miring, tegak lurus, bahkan menancap dalam. Tapi ada bagian yang tidak ditancapi jarum-jarum. Bagian ulu hati tempatnya, jarum yang menancap hanya ada disekitar dada.

"Tahap pertama selesai…" gumam Jaka kembali duduk. "Bagaimana kondisinya?" tanya Ki Benggala bertanya, ia

tidak tahan untuk menanyakan keheranan hatinya.

"Tidak apa-apa, besok juga sudah sembuh…" sahut Jaka ringan. Mau tak mau orang yang mendengar jawaban Jaka yang begitu entengnya, jadi heran.

"Besok sembuh?" ulang Ki Benggala tak percaya.

"Ya, saya tadi mengira kondisi Rubah Api sudah sangat parah, ternyata tidak begitu mengkawatirkan. Memang harus diakui jika dia tidak mendapatkan pengobatan tepat, sampai waktu ajalnya nanti, dia akan tetap seperti mayat hidup..."

"Sebenarnya apa yang membuat Rubah Api seperti itu?" tanya Ki Benggala memotong penjelasan Jaka.

"Begini," Jaka memulai penjelasannya dengan mimik serius. "Kondisinya bisa dijelaskan dalam empat hal. Pertama; sebelumnya dia sudah terluka parah saat melarikan diri. Untuk perbandingan, luka yang dia derita, baru sembuh jika sudah beristirihat dan melakukan pengobatan rutin selama satu bulan. Nah, bisa kita bayangkan luka seperti apa yang dideritanya." Hadirin mengangguk paham.

“Kedua; saat terluka parah, dia memaksakan diri untuk melakukan serangan mendadak, akibatnya otot saraf pada tangan-kakinya, menggembung secara mendadak dan tiba- tiba menciut, sehingga darah bersih tak bisa mengalir sebagaimana mestinya. Sebenarnya luka seperti itu belum dapat dikategorikan parah, walau bisa membahayakan nyawa.

“Alasan ketiga, membuatnya jadi kategori luka parah, yakni serangan racun Panah Bunga Batu,"

"Wah, kalau tidak salah racun seperti itu hanya dipunyai ketua cabang atau wakil, dari perkumpulan…" tukas Ki Benggala.

"Paman benar," tukas Jaka.

"Tapi, dari mana kau tahu itu racun Panah Bunga Batu?" "Mudah saja mengetahuinya," kata Jaka sambil tersenyum

simpul.

"Apakah dari pemeriksaanmu tadi?" tanya Ki Benggala tak sabaran.

"Sebagian. Tapi pemeriksaan tidak bisa secepat itu jika kondisi korban begini parahnya. Memang dengan pemeriksaan, bisa diketahui racun apa yang mengendap didalam tubuh, namun harus dilihat berapa lama racun itu mengendap, makin lama racun itu mengendap, makin lama pula kita mengetahui racun jenis apa yang menyerang si korban. Saya tahu yang ada di tubuh Rubah Api adalah racun Panah Bunga Batu, karena sebelumnya saya pernah mendengarnya dari mulut Bergola."

"Oo, begitu…" ujar Ki Benggala sembari tertawa.

"Hal keempat;" Jaka melanjutkan penjelasannya yang terputus. "Rubah Api memasuki kategori sangat parah karena dua mustika yang sempat ditelan oleh Rubah Api."

Jaka tidak membahaskan ‘dipaksakan masuk’, namun ia mengatakannya ‘sempat ditelan’, karena ia tidak ingin menyinggung perasaan para tetua.

"Jadi mustika itu yang membuatnya makin parah?" tanya Ki Glagah heran.

"Sebenarnya tidak, tapi dalam kasus ini… dalam kondisi Rubah Api saat ini, adalah pengecualian. Seandainya Aki bisa menormalkan saraf kaki dan tangan Rubah Api, kasiat mustika itu pasti sangat berguna untuk pemulihan. Tapi berhubung saraf kaki dan tangan tertutup, kasiat mustika itu malah menjadi pemicu darah pada seluruh tubuh.”

“Pemicu?” Tanya Ki Benggala.

“Maksud saya, karena darah yang seharusnya mengalir pada kaki dan tangan tidak bisa masuk, maka dengan adanya dua musika, peredaran darah diseluruh tubuh makin cepat dan makin cepat. Akhirnya pada batas tertentu darah itu tidak bisa lagi mengambil udara yang terdistribusi oleh paru-paru, karena hawa dua mustika itu menghalanginya. Ohya, perlu diketahui sifat hawa mustika ini adalah nyaris hampa, em.. sebenarnya bukan hampa, tapi terlalu padat... jadinya hampir serupa hampa. Makanya aliran udara dalam darah sulit melewatinya." "Jadi sekarang bagaimana?"

"Kita tunggu saja, syukurlah Rubah Api belum sampai dua puluh hari dalam kondisi seperti ini,"

"Memangnya kenapa kalau sampai lewat dua puluh hari?" "Darah dalam tubuhnya membusuk, karena tak sanggup

mendapat udara, dalam keadaan seperti itu, pengobatannya akan memakan waktu sangat lama, bisa dua tahun, sampai sepuluh tahun. Tergantung… ehm, tergantung bagaimana kondisi tubuh Rubah Api."

Ki Glagah tersenyum mendengar uraian Jaka. Mengenai kalimat terakhir tadi, hanya sebagai pembanding, bukan bermaksud menyombongkan diri, dan itu diketahui para tetua.

"Kau tahu semua kondisi Rubah Api seolah kau sendiri yang mengalaminya?!" komentar Ki Sugita. Dan kalimat itu, merupakan ‘pertanyaan’ yang ingin diketahui tiap orang. Ketika mereka mendengar uraian Jaka, mereka menyimpulkan, bahwa Jaka mengetahui semuanya semudah melihat telapak tangannya sendiri.

"Bagi yang mempelajari ilmu pengobatan, tentu saja akan tahu kondisi apa yang sedang dialami oleh pasiennya." Jelas Jaka apa adanya, ia tak ingin mengatakan panjang lebar.

"Aku dan Adi Lukita juga mempunyai ilmu pengobatan, dalam dunia persilatan, kami juga dikenal dengan nama Tabib Manjur segala. Tapi kenapa kami tidak tahu kondisi Rubah Api?"

Jaka melegak mendengar uraian juga pertanyaan Ki Glagah. "Wah ini, ini…" Pemuda ini gelagapan, untuk sesaat ia tak bisa mengatakan sesuatu. "saya rasa Aki berdua hanya terlupa sesuatu. Biasanya kondisi kritis seseorang bisa membuat kita tegang dan melupakan hal penting..." kata pemuda ini sambil tersenyum serba salah.

"Terlupa?" ujar Ki Glagah tersenyum penuh arti. Dia sengaja bertanya seperti itu untuk memancing Jaka berterus terang dengan kemahirannya, agar dia bisa mengangkat harga dirinya dimata orang-orang perkumpulan. Sebab menurut pandangan Ki Glagah, mungkin ada anggota lain yang tetap memandang rendah dirinya, biarpun sudah berulang kali terpampang bukti. Tapi rupanya Jaka lebih suka dipandang rendah oleh orang lain.

Ki Glagah sudah kembali hendak mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba tubuh Rubah Api bergetar.

Selamat… pikir Jaka. Ya, kondisi Rubah Api menyelamatkan dirinya untuk tidak menjawab pertanyaan Ki Glagah yang sanggup membuatnya serba salah.

Kaki dan tangan Rubah Api bergetar lebih keras dari reaksi yang pertama.

"Maaf, mohon Aki sekalian menjauh…" pinta Jaka.

Delapan tetua segera mundur sampai enam tindak, sebelumnya mereka berdiri hanya satu tindak dari samping pembaringan.

Setelah semua orang mundur, Jaka tempelkan telapak tangannya kirinya kebagian dada—bagian yang tidak ditancapi jarum. Pemuda ini mengambil nafas dalam-dalam, semua orang yang ada didalam ruangan mendengar tarikan nafas pemuda itu. Mereka merasa tegang. "Hih!" dengan seruan tertahan, Jaka menyalurkan tenaga dalamnya ke dada Rubah Api.

Crat-crat-crat..!

Begitu tenaga dalam Jaka masuk, dari bambu-bambu kecil yang menancap diseluruh sendi, tiba-tiba menyemburkan darah berwarna hitam kental. Darah itu jatuh berhamburan dilantai, ada yang membasahi pembaringan.

Semua hadirin terkesip, mereka terkesip karena darah yang keluar bukan lagi berwarna merah, tapi hitam! Hitam seperti tinta! Dapat dibayangkan betapa parahnya luka yang diderita Rubah Api.

"Gila…" seru Ki Gunadarma terkejut begitu melihat lantai yang terpercik darah.

Jaka tidak menanggapi seruan itu, pemuda ini kembali menghentakkan hawa murni lebih besar lagi. Dan darah kembali menyebur deras seperti keluar dari pancuran.

Bulu kuduk semua orang makin berdiri menyadari bahwa dalam darah hitam itu ada sesuatu yang hidup, yang bergerak mengeliat seperti cacing, tapi ukurannya lebih kecil. Ternyata darah hitam itu terdapat semacam belatung. Kaum wanita memalingkan wajah agar tidak melihat pemandangan menjijikan itu.

Semburan darah itu berlangsung sampai delapan kali. Orang-orang baru sadar, Jaka yang berdiri dekat sekali dengan semburan darah itu, seharusnya terkena cipratannya. Tapi tak setitik warna hitam-pun terdapat pada baju. Saat semburan yang keenam sampai kedelapan, barulah orang melihat dengan jelas mengapa Jaka tidak tersembur darah hitam. Karena tiap darah yang menyembur ketubuhnya, dalam jarak satu jengkal, langsung menguap tanpa bekas.

Hawa Pelindung yang luar biasa! Puji tiap orang dalam hati. Mereka makin tak bisa menjajaki seberapa lihay pemuda bernama Jaka Bayu itu.

Hawa Pelindung adalah tenaga murni yang terpencar dengan sendirinya jika ada bahaya atau sesuatu yang mengincarnya dari luar tubuh. Para Pemilik Hawa Pelindung, biasanya adalah tokoh berusia lebih dari enam puluhan, itupun belum tentu sehandal yang diperlihatkan Jaka. Dengan kejadian tadi mereka dapat mengira-ira, seberapa tangguh tenaga dalam Jaka. Mungkin lebih dari seratus tahun hasil latihan.

"Apakah itu Tenaga Semu?" pikir mereka yang sudah mendengar penjelasan Jaka.

Jaka melepas telapak yang menempel di dada, orang- orang melihat Jaka dengan kening berkerut. Saat itu, Jaka sedang mengamati darah hitam yang berceceran di pembaringan.

Dengan tangannya Jaka menjumput segumpal darah. Lalu melumatnya dengan jarinya, pemuda ini dapat merasakan darah itu kental, rasanya seperti memegang daging cair.

Sejauh ini cukup baik, pikirnya dengan lega.

Lalu ia melepas semua jarum dan bambu yang menancap disekujur tubuh Rubah Api. Jaka segera menelungkupkan Rubah Api. Seperti tadi, pemuda ini juga menancapkan puluhan jarum dan juga tujuh belas bambu, ke tubuh belakang Rubah Api.

Kalau sebelumnya, begitu ia selesai menancapkan jarumnya, Jaka harus menunggu lama, kali ini ia tidak menunggu lama lagi. Sebab begitu semuanya selesai menancap, tubuh Rubah Api langsung bereakasi. Tanpa banyak pikir lagi, Jaka menampar pelan ubun-ubun lelaki itu.

Pemandangan menakjubkan segera terpampang di depan semua orang. Kecuali tujuh belas bambu, jarum-jarum yang menancap di tubuh Rubah Api mencelat dan jatuh—bagai sudah diatur—disisi pembaringan, tidak satupun yang jatuh kelantai.

Secercah senyum tipis tersungging di bibir Jaka, dengan gerakan cepat, Jaka menotok beberapa urat nadi dan syaraf di punggung dan leher Rubah Api. Selang sepuluh hitungan kemudian, tujuh belas bambu kecil juga turut mencelat dan jatuh tergulir di samping pembaringan. Dari lubang yang dibuat oleh tujuh belas bambu kecil itu, menyemburlah darah hitam. Tapi hanya sekali saja, pada semburan kedua, darah sudah merah, normal! Lagi pula tidak sekental darah pertama!

Pemuda ini menyeka keringat dikeningnya, ia kembali membalikkan Rubah Api agar terlentang. Dari gulungan kain, ia mengambil empat bilah pisau kecil. Dengan hati-hati, Jaka menancapkan pisau itu di kedua lengan dan kedua telapak kaki. Lalu puluhan jarum yang jatuh tadi, segera ia tancapkan di bagian kaki dan tangan.

Racun sudah sirna, luka sudah sembuh. Sayang, tenaga dalamnya punah. Semoga dua mustika yang sudah dia telan sanggup memulihkannya. Batin Jaka sambil meraba leher dan bawah telinga Rubah Api, tapi begitu meraba dada dan simpul kecil perutnya, kening Jaka berkerut. Rupanya aku keliru.

Satu menit Jaka menunggu reaksi Rubah Api, namun orang itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Enam menit kemudian, Rubah Api menunjukkan getaran tubuh, walau tak jelas.

Untung, pikir Jaka. Andai lima menit kemudian kau belum juga menunjukan reaksi, maka seumur hidupmu kau hanya bisa berbaring saja.

Jaka segera bertindak, kedua tangannya serentak menghentak dada dan perut Rubah Api. Dalam tujuh hitungan saja, bagian lengan dan kaki Rubah Api, tiba-tiba membengkak dua kali lipat. Hadirin terkejut sekali melihat kejadian itu.

Jaka tidak terpengaruh dengan perubahan itu, ia tetap menyalurkan hawa murni untuk mencairkan dua mustika yang masih menggumpal di lambung dan usus halus. Dari seluruh pori-pori tubuh Rubah Api, mengeluarkan banyak keringat. Lengan dan kaki—sebatas betis, masih tetap menggembung—bahkan makin besar, seakan sebuah aliran air yang terbendung dan sedang mencari jalan untuk menjebol bendungan.

Jaka menarik tangannya, dia menyedot nafas dalam-dalam hingga bunyi mendesis terdengar. Untuk sesaat, Jaka menahan nafasnya dan memperhatikan lengan dan kaki Rubah Api. Ternyata begitu aliran tenaga murninya berhenti, tangan dan kaki Rubah Api hanya kempes sedikit.

Banyak juga pembuluh darah yang tersumbat, pikir pemuda ini. Dengan lengkingan tertahan, Jaka menghentakkan tangannya lagi ke dada dan perut. Kali ini hentakkan tanganya tidak selembut tadi, bahkan keras sekali. Orang-orang sampai mendengar suara 'buk-krak', seolah-olah pukulan Jaka menghancurkan tulang dan melukai isi perut Rubah Api.

Begitu arus tenaga yang lebih besar lagi masuk, tangan dan kaki Rubah Api tiba-tiba mengejang sampai terangkat, dan membengkak lima kali lebih besar! Pada saat itu juga jarum dan pisau yang menancap juga jatuh tergulir kesamping pembaringan.

"Iih..!" beberapa orang tampak terpekik kaget, sebab bukan tangan dan kaki saja yang mengejang sampai terangkat keatas, bahkan leher Rubah Api juga menggembung, sampai- sampai kepala Rubah Api juga ikut terangkat.

Melihat kejadian itu Jaka tersenyum tipis, ia mencuci tangannya lalu segera bergerak menjauhi pembaringan dan berdiri dekat dengan para sesepuh.

"Ada apa ini?" tanya Ki Benggala cemas juga bingung. "Tidak apa-apa paman, itu hanya tahap akhir pengobatan,

setelah ini, Rubah Api sembuh seperti sedia kala. Bahkan kemungkinan besar tenaga dalamnya bertambah kuat, dari tenaga semula."

"Oh…" Bukan hanya Ki Benggala saja yang terperanjat, tapi hampir semua orang juga terkejut.

"Kenapa bisa begitu?" tanya Ki Banaran.

"Itu berkat dua mustika yang sempat ia telan." Jelas Jaka. "Saya meleburkan mustika itu dalam darahnya sehingga tenaga dalam yang seharusnya punah, terhimpun kembali dan juga bertambah kuat. Kalau saya tidak salah hitung, sekarang, paling tidak Rubah Api memiliki tenaga setara seratus tahun hasil latihan.”

“Wah, beruntung benar dia…” gumam orang tua itu.

“Di tambah lagi ia tidak ada masalah dengan darahnya." Sambung Jaka.

“Maksudnya?”

“Harus diketahui, mustika akar bunga gurun bisa membuat siapa yang memakannya tidak akan kekurangan darah lagi, misalnya saja dengan pengobatan tadi. Darah dalam tubuh Rubah Api sudah keluar hampir sepertiganya. Dalam kondisi normal, dia sudah sangat kritis, sebuah keajaiban jika masih hidup. Tapi berkat mustika tadi, jumlah darah dalam tubuhnya akan pulih seperti sedia kala—dalam tempo singkat.”

“Oh, begitu rupanya…” gumam Ayunda yang dari tadi memperhatikan Jaka dengan serius.

“Sayang…” “Kenapa?”

“Tenaga besar yang dimiliki Rubah Api, hanya bisa dikeluarkan tujuh atau delapan bagian saja.”

“Sebab apa?” kali ini Ki Lukita yang bertanya.

“Karena Rubah Api memiliki kekuatan dalam kondisi kritis seperti saat ini, jadi hanya pada saat seperti inilah seluruh bagian tenaganya baru bisa dia keluarkan.” “Maksudmu jika dia hampir mati, baru bisa mengeluarkan tenaga besarnya itu?”

“Benar. Itu juga tergantung dirinya. Pada saat terdesak bisa saja dia mengeluarkan tenaga itu asal dalam pikirannya ia beranggapan sudah tidak bisa lolos, maka tenaganya bisa terbebas seluruhnya.”

Semuanya mengangguk-angguk paham. “Apakah kondisi seperti ini hanya untuk Rubah Api?” tanya Pertiwi.

“Tidak juga, orang lain juga bisa... tapi kita juga harus melihat kondisinya dulu… tapi apapun itu, yang jelas kemalangan ini memang keberuntungan buat Rubah Api, andai dia tidak dalam kondisi luka parah, biarpun menelan sekarung mustika Akar Bunga Gurun, tenaganya paling hanya maju sampai dua puluh tahun hasil latihan."

"Eh, kenapa begitu?" ujar Ki Lukita terkejut.

Jaka tersenyum sambil meraba pinggangnya—itu gerakan kebiasaan jika seruling ada dipinggangnya.

"Memang harus diakui, bahwa Akar Bunga Gurun merupakan mustika yang memiliki kasiat banyak, dan dapat menambah tenaga dalam setara dengan lima-enam puluh tahun hasil latihan. Namun ada kenyataan yang harus diketahui, bahwa kasiat mustika itu akan benar-benar tercerna seluruhnya tergantung pada kondisi susunan tulang, otot, dan saraf, masing-masing orang."

"Jadi..."

"Ya," Jaka menukas ucapan gurunya. "Lima atau enam puluh tahun hasil latihan menurut saya, itu adalah hasil maksimal mustika itu. Kemungkinan besar, orang yang pernah menelan mustika itu—atau semua mustika yang bersifat membangkitkan tenaga tersembunyi, hanya bisa berkembang paling banyak empat bagian saja."

"Kalau begitu…"

”Kalau begitu, orang yang pernah menelan mustika serupa, hanya bisa mengembangkan kasiat maksimal sebesar empat bagian." Potong Jaka menjelaskan lagi. "Dan saya menemukan lihat, Rubah Api tidak memiliki kecocokan dengan khasiat mustika. Seperti yang saya katakan, biarpun sekarung mustika yang ia telan, tenaganya tak lebih hanya maju dua puluh tahun hasil latihan…"

"Susunan tubuhnya tidak cocok?" ujar Ki Glagah. "Benar."

"Jika analisamu benar, kenapa sekarang bisa berkembang begitu hebat?"

"Karena dia dalam keadan terluka." "Oo… jadi,"

"Benar!" Jaka memotong lagi. "Tiap orang dapat memaksimalkan kasiat tiap mustika jika dia dalam keadaan hampir mati. Namun keadaan sekarat juga bukan jaminan untuk mengembangkan kasiat tiap mustika!"

Tiada lagi yang bertanya, sebab pikiran mereka sedang sibuk dengan penjelasan Jaka.

Diam-diam orang-orang yang pernah menelan mustika itu menghela nafas getun. Pantas saja selama ini aku merasa kurang ada kemajuan, ternyata tenagaku hanya bertambah paling banyak tiga atau empat puluh tahun hasil latihan, pikirnya.

Bagi mereka—orang-orang perkumpulan Garis Tujuh— naiknya tenaga murni hampi 40 tahun hasil latihan bukan kemajuan, namun bagi kaum dunia persilatan, kekuatan orang-orang ini merupakan kekuatan seorang mega bintang. Seorang yang juga dikategorikan memiliki kesaktian dahsyat.

"Tapi apakah semua orang harus mengalami sekarat lebih dulu?" tanya wanita berusia 30-an.

Jaka menoleh, ia tersenyum simpul lalu menggelengkan kepalanya. "Dalam hal ini, saya bisa menjelaskannya dengan istilah jodoh. Jodoh dalam arti kata, bahwa orang itu memiliki susunan tulang, otot, saraf dan nadi yang cocok untuk sebuah mustika tertentu. Jadi dengan demikian, hanya dengan ditelan mentah-mentah saja, mustika itu akan mengembangkan potensinya sampai batas paling tinggi."

Bukan cuma wanita itu yang mengangguk paham, kelihatannya semuanya juga mengangguk penjelasan Jaka membuka pikiran mereka.

"Apakah mustika yang sudah ditelan bisa dikembangkan lagi potensinya?" tanya murid kedua Ki Lukita.

"Bisa dan tidak," jawab Jaka. "Bisa, jika dalam keadan tertentu. Dan, tidak… juga dalam keadaan tertentu."

"Misalnya?" tanya Pratiwi bingung. "Bisa yang kumaksud adalah, manakala waktu kau memakan akar mustika itu belum terlalu lama, dengan sendirinya.. kasiatnya belumlah terbuang percuma."

"Ooo..." gadis ini manggut-manggut. "Dan, kau bisa melakukannya? Memaksimalkannya?" sambungnya dengan mata berbinar.

Jaka tak menjawab, ia berpikir sejenak lalu pemuda ini mengangguk, “Mungkin bisa…” Mau tak mau bukan cuma orang itu saja yang terkesip, semuanya juga terperanjat dengan kepastian Jaka.

Pemuda ini kembali berkonsentrasi penuh dengan kondisi Rubah Api. Jaka memegang lengan dan kaki serta leher yang membangkak besar sekali. Anggota tubuh yang membengkak itu juga mengejang, sehingga sepintas lalu, kaki, tangan, dan kepala, di ikat dengan benang dan digantung diatas, terlihat memprihatinkan.. juga menggelikan.

Satu dua jam kemudian, jarum dan pisau baru terlepas dengan sendirinya, pikir Jaka setelah memeriksa dengan seksama. Lalu pemuda ini berjalan menghampiri gurunya. "Guru, lebih baik kita keluar dari kamar ini."

"Eh, memangnya kenapa?"

"Kondisi Rubah Api tidak akan berubah sampai beberapa lama. Bukankah kita bisa mempergunakan waktu ini untuk hal lainnya?"

"Benar juga!" gumam Ki Lukita. Ki Glagah dan sesepuh lainnya juga setuju. 42 - Siasat Mematik Api

Jalan Setapak di Telaga Batu Kita tinggalkan Jaka sejenak..

Sore itu, diantara banyak orang yang sedang asik mencari aren, terlihat dua orang penduduk nampak sedang menyambit rerumputan, dan memetik daun pohon lumbu, tidak ada yang istimewa dari mereka… sesekali keduanya saling melempar canda. Tak berapa lama, penuhlah keranjang mereka dengan rumput dan daun lumbu. Masih membicarakan hal yang tak jelas keduanya berlalu dari jalan setapak Telaga Batu.

Setelah mereka berlalu, muncul dua orang yang menggunakan pakaian penduduk setempat pula, yang satu memakai ikat kepala kuning yang satunya membiarkan rambut panjangnya tergerai, mereka terlihat mencari-cari sesuatu, wajah mereka menegang mana kala apa yang dicari tidak ada.

“Kau yakin, tidak salah lihat?” ujar orang berikat kepala kuning pada temennya.

“Aku yakin sekali, makanya aku buru-buru memanggilmu.” Katanya dengan gundah.

“Tanda yang kau lihat paling jelas ada dimana?”

“Disini,” tunjuk si rambut gondrong pada temannya, dia menunjukan semak-semak dekat pohon randu. Mereka melihat semak-semak itu terlihat bersih… rerumputan disana sudah terbabat.

“Sial!” makinya tertahan, mereka sadar, ternyata tukang rumput tadi menghilangkan tanda yang dia lihat tadi. Dahi orang berikat kepala kuning berkerut, dia merasa aneh dengan kondisi itu. “Coba kau ingat-ingat, dimana saja, tanda-tanda itu kau lihat.”

Orang berambut pajang ini lalu sibuk menunjukannya. Dan mereka terbelalak, mengetahui dimana mereka melihat tanda itu, ternyata sudah di babat oleh tukang rumput tadi.

“Ah, mereka bukan warga biasa!” desis si ikat kepala kuning terkejut. Bagaimanapun dia tak ingin kehadirannya, membuat orang-orang yang asik menderes aren jadi mengamati mereka.

“Apa perlu di kejar?” lelaki berambut panjang ini bertanya ragu.

“Tak perlu, aku yakin mereka tak bertindak sebodoh itu, membiarkan dirinya dapat di kejar.”

“Kelihatannya mereka penduduk asli sini…” gumam si rambut panjang ini. “Cara mereka tadi, sangat wajar dan tidak dibuat-buat.” Duganya.

“Bisa jadi…” ujarnya, dan mereka memutuskan untuk berlalu dari situ. Sebenarnya apa yang mereka cari? Jalan itu adalah jalan yang dilalui Jaka, saat dia dikuntit, pemuda ini sengaja berjalan lambat, pemuda itu belaku seperti itu bukan tanpa sebab, selain untuk membuat penguntit-nya bosan, dia juga mengumpulkan isyarat-isyarat yang ditingalkan teman- temannya. Dia juga meninggalkan isyarat yang sama. Itulah cara Jaka berkomunikasi dengan teman-temannya…

Instruksi yang diberikan pada Mintaraga kelihatannya sudah di terjemahkan dengan sempurna. Bahwasanya, Jaka meminta Mintaraga untuk mengumpulkan semua informasi yang berkaitan dengan apapun yang ada di situ, termasuk pergerakan sekecil apapun, siapa saja yang keluar-masuk kota, dan begitu banyak detail yang diinginkan Jaka. Maka metoda yang digunakan Mintaraga adalah dengan merunut kembali jejak Jaka Bayu.

Dugaannya sangat tepat, sebab disana dia menemukan tanda-tanda, ‘instruksi’ tambahan yang diminta Jaka. Bahkan beberapa anak buah Si Penikam sudah memberikan simbol jawab pada Jaka, tentang siapa Bergola, dan siapa yang menjadi penghubung, atasan, dan dengan siapa dia harus melaporkan tugasnya, yang sudah diterima Jaka pada saat membuat gemas para penguntitnya.

Tak disangka gerakan Mintaraga juga di mata-matai oleh orang lain, entah dipihak siapa si gondrong dan si ikat kepala kuning itu. Begitu mereka berlalu. Muncul pula dua orang yang asik duduk ongkang-ongkang di atas pohon berdahan tinggi.

“Kau tahu apa yang sedang berlaku disini?” Tanya lelaki yang berusia enampuluhan pada orang disebelahnya.

“Ya, kelihatannya hajatan yang dilakukan Perguruan Naga Batu kelewat besar... sampai-sampai para pendatang beradu muslihat.” Jawabnya, dengan tertawa. Orang ini berpenampilan menarik, usianya sekitar akhir tigapuluhan.

“Aku tertarik dengan tukang rumput tadi.” Ujar orang yang lebih tua dengan pandangan menerawang kedapan. “Mereka nampaknya memiliki pimpinan hebat.”

“Haha… tak perlu menduga-duga Ayah…, apakah dia orang hebat atau tidak, biarlah kita nilai pada saat berjumpa nanti.” Ternyata mereka ayah dan anak, “Aku berharap, bisa berjumpa dengan pimpinan mereka, kau lihat sendiri… kerja mereka sangat cekatan.”

“Ya…” sahutnya. “Ayah, tahukah kau tadi aku berselisih jalan dengan siapa?” tanyanya dengan nada prihatin.

Sang ayah menggeleng.

“Aku berjumpa dengan Beruang…” ujarnya dengan mimik muka aneh.

Sang ayah terlihat kaget, dia paham, yang dimaksud Beruang ini, bukan sebangsa hewan… tapi julukan nama bagi orang, dan orang itu berjuluk Beruang. Seorang manusia yang sangat sulit dihadapi. Konon, Beruang pernah berprofesi sebagai pembunuh bayaran, sebelum akhirnya menyatakan, bahwa membunuh karena uang itu tidak menarik. Menurut kabar, Beruang saat ini sedang menekuni hobi baru… bertaruh nyawa. Beruang kadang menyatroni tempat-tempat yang sering dijadikan kongkow pada ahli beladiri. Bukan saja Beruang penciumannya sangat tajam, pengetahuan orang ini juga luas, entas kau sedang menyamar seperti apa, katanya dia bisa mengenali dirimu… makanya para tokoh yang punya nama besar kadang-kadang kalau berselisih jalan dengan Beruang lantas sipat kuping. Sebab mereka enggan di ajak bertaruh, merekapun masih sayang nyawa.

“Aneh, belum pernah kudengar Beruang sampai kedaerah sekitar sini, bukannya dia berkelana di daerah Cakradenta?”

“Itu yang kuherankan ayah, mungkin kali ini dia akan membuat onar di Perguruan Naga Batu.” Duganya. “Ah biar sajalah, biarkan semua mengalir apa adanya, saat ini kita hanya memerlukan orang yang akan menjadi pelengkap untuk dua tahun kedepan.” Ujar sang ayah.

“Semoga saja cepat didapatkan…” Jawab sang anak singkat. “Situasi dikota ini kita ketahui dengan baik, tetapi tidak dengan atasan tukang rumput tadi.”

“Ya, karena itu kupikir jangan bertindak gegabah, jangan ikut campur urusan yang tidak perlu. Dan jangan sekali-kali bentrok dengan siapapun. Terus terang saja aku sangat mengkhawatirkan kelompok penyambit rumput tadi.”

“Ya, ayah.”

“Kau kenal dengan orang yang tadi sibuk mencari-cari tanda?”

“Tidak dapat kuduga ayah, tapi rasanya dari aura si ikat kuning, aku mengenal pola ilmunya.”

“Hm,” sang ayah mengumam. “Kurasa, kalau kau menguntit mereka, kau bisa tahu mereka tak lebih dari anak-anak murid Garis Lintang Perak…”

“Ayah benar.” Tukas si anak dengan tersenyum.

Keduanya tak bercakap-cakap lagi, mereka berkelebat cepat kearah timur. Menuju ke sebuah lereng bukit. Dan kemudian masuk ke salah satu rumah sederhana, diantara beberapa rumah yang berdekatan.

Tiba-tiba saja sesuatu meluncur dari atas pohon yang hanya berjarak dua puluh tombak dari dua orang misterius tadi. Bayangan jangkung itu merapat pada batang pohon. Apakah ini api yang di maksud tuan? Batinnya.

Mendadak dia melesat kearah dua orang tadi pergi. Tak berapa lama dia sudah berada didepan rumah dimana keduanya tadi masuk. Rumah itu memang tidak cukup besar untuk ukuran orang kaya, tetapi desain rumah itu sangat bagus dan kokoh.

Orang itu mengeluarkan secarik kain dari balik bajunya. Dia bukannya menutupi sebagian mukanya, tetapi seluruh wajahnya! Termasuk mata! Aneh… kalau dia tak ingin dikenal, kan cukup matanya saja yang diperlihatkan, kalau matanya tertutup, bagaimana dia bisa melihat? Oh, ternyata kain yang menutupi mata, terlihat lebih jarang—menyerupai jaring. Benar-benar cara yang bodoh dan aneh, jika terlihat orang, tentunya sangat mencurigakan, sore masih terang begini… jikalau dia adalah pejalan malam, maka dia keluar telalu cepat!

Dengan langkah tenang, dia mendekati rumah itu, lalu mengetuk pintu.

Satu kali… Dua kali…

Tidak ada sahutan.

Tiga kali… ketukannya lebih panjang, diselingi nada kecil ketukan lain.

“Siapa?” Tanya orang dari dalam.

“Tamu sore hari.” Sahutnya, kedengaran janggal. “Kami tidak terima tamu.” “Tolonglah, aku ingin menginap, aku datang dari utara yang berhawa dingin.” Aneh, jawaban orang ini tak lazim pula.

“Pergilah!” bentak orang dalam rumah.

“Hh… sungguh sayang, padahal aku punya informasi tentang orang yang ingin kalian ketahui.” Gumamnya sedikit keras, agaknya supaya si tuan rumah ikut mendengar.

Tak berapa lama pintu terbuka. “Silahkan masuk!”

Orang itu masuk tanpa ragu. Kelihatannya ruangan itu cukup luas, tanpa sungkan dia duduk. Sungguh tamu yang tak sopan, mana kedoknya tidak dicopot lagi.

Tak berapa lama, dari dalam muncul tujuh orang berbadan besar. Mereka segera berdiri dibelakang orang berkdok, seperti mengurungnya. Tapi dia tetap tenang, seolah tidak ada apa-apa. Dari ruangan dalam muncul dua orang. Oh, kelihatannya ayah dan anak yang tadi.

“Informasi apa yang kau ketahui?” tanya Sang Anak dengan santai.

“Banyak, yang jadi pertanyaan… kenapa aku harus memberikan padamu?”

“Karena kau masuk kesini.” Tandas sang anak.

“Ah, sayang kalau begitu. Lebih baik aku pergi saja.” Ujarnya sambil berdiri. Tapi lelaki dibelakangnya yang menghadang sejak tadi, tiba-tiba mencengkeram bahunya. Kelihatan seperti cengkraman biasa, tapi pada tiap ujung jarinya terdapat benda runcing. Kalau kena, tentu habislah bahunya.

Tapi luput... entah bagaimana cengkeraman cepat itu tak mengenai orang berkedok. Jika kebanyakan orang, setelah lolos dari serangan seperti itu pasti akan membalas, atau meloloskan diri. Tapi orang ini tidak, dia malah mendekati ayah dan anak tadi.

“Apa maumu?”

Orang berkedok ini tertawa. “Kau tanya apa mauku?” “Benar.”

“Kau pasti memberikannya?” “Harus kupikir dulu.”

“Baik, aku ingin batok kepalamu.” Sahut orang ini masih sambil tertawa. “Bisa kau pikirkan itu? Atau kau secara suka rela, mau memberikan padaku?”

“Tidak perlu kupikir lagi.” Sahutnya. Mendadak lelaki ini mengipatkan tangannya, selarik sinar putuh menyerang Si Kedok. Jarak mereka hanya dua jangkauan saja, kalau bukan orang yang memliki kelihayan diatas rata-rata, tak mungkin lolos dari serangan secepat kilat itu.

Tapi Si Kedok entah orang hebat atau bodoh, jika orang hebat, dia bisa menangkis atau balas menyerang sama cepatnya, tapi Si Kedok sama sekali tidak menangkis, tidak menghindar, diam saja! Dia biarkan dirinya diserang.

Srt! Oh, ternyata sinar putih itu adalah kain sutra. Kain itu membelit Si Kedok. si tuan rumah segera menyentaknya. Tentu saja Si Kedok ikut terbawa maju.

“Kau mau, jika batok kepalamu yang kuberikan?” tanya si tuan rumah dengan suara dingin.

Si Kedok tertawa ringan. “Kau mau membunuhku? Bodoh! Jika kau berikan kepalaku padaku, bukankah sama saja aku tidak jadi kau bunuh?”

“Hh!” si tuan rumah mendengus. “Kalau begitu anggap kau berutang padaku.”

“Kenapa aku harus berutang?” “Karena nyawamu kuampuni.”

“Lucu...” sahut si kedok tertawa geli. “Kau pikir seranganmu itu benar-benar mengenaiku?” Usai berkata seperti itu, dia mundur dua langkah. Kain yang membelitnya, terjatuh ketanah.

“Kau lihat itu?”

Siangtuan rumah mengangkat alisnya, dia kelihatan tak terkejut. “Lumayan juga.”

Memang sesaat dia terkejut, sebab yang bisa menghindari serangan itu, hanya tokoh-tokoh tertentu saja, serangan kainnya itu, adalah lontaran mendadak yang disentak kekiri denganan ujung jari, sehingga laju kain tidak lurus, tapi menyamping dan membelit pada saat mendekati sasaran, jika sasaran telat menghindar, otomatis akan terbelit. Tadi dia terkejut juga melihat lawannya tidak terbelit, tapi barulah dia tahu kalau si lawan sebelumnya sudah mengira serangannya, dan bergerak memutar berlawan dengan arah serangan, lalu dia bergerak maju lagi, sehingga seolah-olah dia terbelit, padahal kainnya hanya menempel di bajunya saja. Tentu saja saat disentakkan, dia ikut maju kedepan.

“Kau juga lumayan.” Ujar Si Kedok sambil menjura. Ya, dia memang harus menghormati si tuan rumah, karena tahu cara yang ia pakai untuk lolos.

Lelaki ini terheran-heran. “Kenapa kau bilang aku lumayan.”

“Sebab jerih payah ayahmu tidak sia-sia, bukankah begitu?” katanya, tapi kepalanya mengarah pada si kakek yang duduk disebelah lelaki itu.

Kali ini, tuan rumah baru kelihatan terkejut. “Kau tahu?” “Jangan heran, kenapa aku tahu rahasiamu. Sebab kau

juga mengetahui sedikit rahasia, bukankah begitu?” “Apa yang kau ketahui?”

Si Kedok tetawa, lalu dia duduk berhadapan dengan kakek tua itu. “Sejauh yang ingin kalian ketahui, mungkin itulah pengetahuanku.”

“Omong kosong!” Bentak sang anak, kelihatannya dia sudah tidak setenang tadi.

“Sabar.” Gumam sang ayah sambil mengangkat tangannya. Dari tadi dia diam saja melihat situasi, dan kini dia sudah merasa kalau dirinya harus turut campur.

“Sekali lagi aku bertanya, sejauh apa kau tahu tentang kami.” Si Kedok tak mnjawab, dia hanya manggut-manggut. “Kalian ingin tahu siapa atasan tukang rumput tadi?”

Kakek ini melegak. “Tidak, tapi kurasa sebentar lagi pasti tahu.”

Si Kedok tertawa, “Benar… kuberitahu sedikit, dia seroang pemuda…”

Mereka berdua terkejut mendengar ucapan Si Kedok. “tetap saja saat ini aku tak mau tahu.” Jawab sang ayah ketus.

Si Kedok kembali manggut-manggut. “Benar, apakah karena sebentar lagi akan saling bersua?”

“Tahu diri juga kau.”

Tapi Si Kedok tertawa bergelak. “Justru perbedaan itu— yang sebentar lagi—dapat kupastikan, akan menghancurkan dirimu.”

“Apa maksudmu?”

“Kau ingat tadi aku bicara soal apa?”

“Kau mau beri kami infomasi tentang pemuda itu.” “Benar.”

“Bukankah itu artinya sesaat lagi kami pasti tahu. Suka atau tak suka.”

“Aih, salah umpan, salah umpan…” gumam Si Kedok tak jelas artinya.

Mereka tak paham maksudnya, tapi toh tak ditanyakan apa arti ucapan Si Kedok. “Lalu siapa dia?” Tanya tuan rumah. Si Kedok menggeleng. “Apa artinya itu?!” seru si anak berang.

“Tenanglah...” ayahnya menyabarkan lagi.

“Aku hanya ingin memberi tahu kalian satu hal, mungkin besok malam, pemuda itu akan mengunjungi kalian.”

“Ah...” alangkah kaget hati keduanya, tak bisa ditahan lagi. Mereka datang sebagai penduduk, mereka bertingkah seperti rakyat, tetapi orang didepan mereka berbicara seolah tahu semua rahasianya.

“Apa artinya itu?” Tanya si kakek.

“Artinya dia tahu semuanya tentang kalian. Karena itu aku datang kesini.”

“Lalu apa maksudmu datang kesini, mengejek kami?” “Tentu saja tergantung keadaan, dan aku yakin tergantung

sikap tuan rumahnya juga. Kalau kalian ingin tahu, aku ini cuma perantara saja, hanya kurir yang datang menyampaikan pesan, supaya kedatangan beliau tidak mengagetkan kalian.”

Ayah dan anak itu saling berpandangan. “Beliau, hm?” “Kenapa memangnya, kalian keberatan kalau orang hebat,

kupanggil dengan sebutan hormat?” “Terserah kau, aku tak ikut campur.”

“Hah, tahu diri juga kau!” seru Si Kedok dengan nada yang sama dengan si tuan rumah tadi. Mereka mendengus samar. “Aku hanya ingin tahu, tepatnya, kapan dia datang?”

“Besok malam, kentongan kesembilan.”

Suasana jadi hening seketika. “Dan kau, siapa kau sebenarnya?”

“Seperti yang kubilang tadi, hanya perantara.”

“Bukan itu maksudku. Kenapa kau sebut pemuda itu sebagai beliau?”

“Oh, aku paham yang kau maksud. Kau ingin tahu apa aku mengenal baik beliau?”

“Terserah bagaimana kau menafsirkan pertanyaanku.”

“Ah, sebenarnya aku tak ingin memberi tahu, tapi kalian pasti penasaran setengah mati.” Setelah itu Si Kedok terbahak.

“Apa yang lucu?!” bentak si tuan rumah.

“Kau tahu apa yang membuatku tertawa?” mereka tak menyahut. “Aku cuma sedang membayangkan, ada orang bekerja secara rahasia, tapi rahasianya sudah diketahui orang lain. Apa itu tak lucu?”

“Tutup mulutmu!”

Si Kedok tertawa lepas. “Baiklah, supaya kau tidak mati penasaran, kalian tentu ingin tahu apakah aku bekerja untuknya?”

Mereka mengangguk.  “Dugaan kalian benar. Aku memang bekerja untuknya.” “Sebagai apa?”

Si Kedok tertawa, ia tak menjawab pertanyaan tadi. “Kalian tahu kenapa dari tadi aku tertawa? Tak lain, karena melihat sikap kalian tidak sesuai sebagai tuan rumah. Tapi tak masalah, teka-teki seperti apapun sulitnya, pasti akan terpecahkan.” Dua orang itu terlihat tertegun, kelihatannya mereka tak menduga Si Kedok bicara begitu.

“Kau tak menjawab pertanyaan kami…”

“Kenapa aku harus menjawab.” Tukas Si Kedok getas. “Kalian tahu jawabannya, jadi tidak perlu bertanya sendiri. Dan lagi, menurutku kalian belum pantas.”

“Bangsat, tutup mulutmu!”

“Baik, jangan marah-marah begitu. Aku minta maaf..” seru Si Kedok dengan gaya dibuat-buat, siapapun tahu kalau permintaan maafnya hanya olok-olok.

Keduanya berpandangan, alis mereka berkerut. Entah memikirkan apa. Kelihatannya mereka sangat dongkol, tapi terpaksa harus menahan diri. Sungguh aneh, anak dan ayah dengan sifat seperti orang sebaya.

Si Kedok memperhatikan dua orang itu lebih seksama. Ia membatin, tidak salah… tidak salah, aku memang selalu yakin dengan keterangannya. Benar-benar orang hebat, tak sia-sia, sungguh hidupku tak sia-sia…

“Kelihatannya tidak ada yang perlu di diskusikan lagi.

Tugasku sudah selesai.” Mereka terdiam, tak menanggapi. “ Cuma seperti itu?” Gumam sang ayah dengan bengis.

“Toh pesan sudah kusampaikan, dengan sendirinya, aku harus pergi sekarang.”

“Silahkan...” si kakek berdiri hendak mengantar.

Saat Si Kedok juga berdiri dan melangkah kepintu, satu hawa kuat menerepa puggungnya.

“Keparat!” bentaknya kaget. Secepat kilat, dia segera membalik badan, geser kesamping, dan beringsut kebelakang. Tapi dibelakangnya juga ada serangan hawa dingin menyayat kulit. Oh, tujuh lelaki berbadan besar yang dari tadi diam, juga ikut menyerang.

”Pengecut!” bentaknya gusar. Untung aku waspada, dasar kalian manusia-manusia rendah! Batin Si Kedok.

Si Kedok melejit keatas, gerakannya sungguh ringan, serangan pedang ketujuh lelaki tadi lolos, tapi serangan si tuan rumah, segera menyusul. Dalam keadaan melayang seperti itu, sulit sekali berkelit dari dua serangan dahsyat. Tanpa banyak pikir, Si Kedok mengkerutkan tubuhnya, dan menangkis serangan dari kanan kirinya.

Blar! Braak!

Tubuhnya terpental kebelakang dan menghantam dinding rumah, sungguh kuat tenaga dua orang itu. Untung saja dinding bagian atas terbuat dari kayu, bukannya dari batu. Dinding itu pecah dan tubuh Si Kedok terhubalang menembus, hingga jatuh terguling keluar.  Belum lagi dia berdiri sempurna, satu serangan menerpanya, rupanya ada beberapa orang yang sudah berjaga-jaga di luar, dan begitu ada bayangan tak dikenal keluar dari rumah, serentak mereka menyerang Si Kedok.

Tapi bacokan yang hampir saja memotong tubuhnya, dapat dihindari dengan gerakan canggung. Maklum saja, dia masih harus menahankan sakitnya akibat menahan dua gempuran hebat tadi.

Merasa cukup aman karena bisa lolos dari serangan tadi, dia menghela nafas lega, tapi belum lagi kelegaan dirasakan lebih lanjut…

“Jangan mimpi kau bisa lolos!” desis sang ayah, bengis. Dia memburu keluar bersama anak dan pengawalnya. Di dahului tujuh pengawalnya, mereka menyerang Si Kedok dengan gerakan cepat.

Pengawal pertama dan kedua membacoknya dari kiri kanan. Dengan terhuyung Si Kedok menghindar dengan gerakan memutar cepat. Bukan gerakan memutar kebelakang, tetapi kekiri! Serangan pengawal ke satu, hanya selisih seujung jari.

Pengawal itu kaget sekali kalau lawannya begitu dekat dengan dirinya. Dengan gerakan tergesa, dia menarik goloknya, dan menyerang punggung Si Kedok dengan gagang golok. Tapi Si Kedok bukan orang bodoh, dia sudah memperhitungkan serangan itu, dengan manis, dia meloloskan diri dari bawah ketiak lawannya. “Serangan tolol!” ejeknya, begitu menghindar serangan itu, langsung melenting, berjumpalitan kebelakang. Dia tahu ada tiga orang yang hendak menyerang dirinya.

Tapi kali ini Si Kedok skak mat, dia terkepung! Rupanya serangan tiga orang itu hanya pancingan, supaya Si Kedok menghindar, sementara yang lain mengantisipiasi gerakan berikut dengan mengurung tempat berdirinya yang berikut.

Orang ini terkejut, sungguh tak sangka pengawal yang kelihatan hanya mengandalkan badan besarnya, bisa bekerja sama seapik itu.

Sret!

Sebuah anak panah kecil berkesiuran menyerangnya lagi. Si Kedok menghindar dan mengibaskan lengan bajunya. Tapi, buuk!

Rupaya serangan itu hanya kamuflase, dan serangan sebenarnya adalah kibasan kain sutra tanpa suara, menghantam dadanya. Itulah serangan si tuan muda.

“Manusia rendah! Kelihatannya kalian hanya layak dihadapi dengan cara-cara kaum rendah!” bentak Si Kedok dengan terbatuk-bantuk, sungguh tak sangka dirinya dikibuli dengan siasat usang.

Belum lagi dia kembali beraksi, Sang Ayah dan anak tak memberinya waktu untuk menghindar, dua orang ini menyerang dengan dahsyat.

Sebisa mungkin Si Kedok mengelak. Tubuhnya meliuk-liuk, melenting dan kadang tengkurap ditanah, sungguh gerakan menghindar tak lazim, aneh, juga terlihat buruk, tapi justru gerakan seperti itu sangat ampuh untuk menghindari serangan, namun, lama kelamaan serangan kedua orang itu bisa mendesaknya.

Seharusnya dia masih bisa bertahan tiga atau empat puluh jurus lagi, jika mau menghindar mundur, tapi Si Kedok tidak melakukan itu, sebab dia tahu, jika dirinya mundur, para pengawal yang mengepung pasti menyambut tubuhnya dengan bacokan.

Untuk menghindari serangan pengawal, mudah baginya, tapi tidak mudahnya kalau dua orang tuan rumah juga ikut menyerangnya. Itu sama saja, sudah jatuh minta ditimpa tangga.

“Kena kau!” seru si kakek menghantamkan tapaknya kedada Si Kedok pada saat dia sedang menghindari serangan anaknya.

“Kau yang kena!” desisnya sambil menyambut serangan tapak itu dengan siku kanannya. Sebelumnya, dia memang sedang terhuyung karena menghindari serangan anaknya, begitu lolos, dia melihat sang ayah hendak menyerang. Sambil menyeringai karena girang—juga lantaran punggungnya sakit—dia merogoh saku baju dan memasang sesuatu pada sikunya.

Plak!

“Ah…!” sang ayah menjerit terkejut, dan segera mundur. Sang anak juga tak melanjutkan serangan. Terlihat ayahnya memandangi telapak tangan dengan sorot mata kaget. Kesempatan sebagus itu, tidak disia-siakan Si Kedok dengan menghirup udara sekuat mungkin, lalu dia mengeluarkan benda seperti buah anggur, dari balik bajunya.

“Selamat tinggal!” serunya sambil terbahak.

Mereka melihatnya, dan sadar apa yang akan dilakukan. “Awas!” teriaknya gusar.

Terlambat! Buum!

Si Kedok sudah membantingnya. Asap putih pekat mengulung tebal. Pada lingkup sepuluh tombak, segera tercemari asap tebal.

Mereka—tuan rumah dan pengawalnya—mundur teratur, khawatir kalau Si Kedok memanfaatkan situasi itu untuk menyerang.

Entah terbuat dari bahan apa, asap itu bukannya membuyar setelah agak lama, tapi tetap saja seperti awal, tebal pekat. Setelah sepeminuman teh kemudian, barulah asapnya menipis, tapi toh, belum membuat mereka lega, sebab asap itu belum diketahui beracun atau tidak.

Sebab beberapa dari mereka yang menghisapnya, berulang kali bersin dan batuk.

“Dia lolos!” geram si tuan rumah muda.

“Mengerikan… sungguh mengerikan,” desis sang ayah, sambil menatap tangannya. Rupanya, saat dia berbenturan dengan Si Kedok, telapak tangannya terkena semacam selusub, jarum kecil setipis bulu jika ditusuk pelan, pasti tak terasa. Tapi lantaran dia memukul dengan tapak dan mengerahkan tenaga pula, rasanya seperti disengat kalajengking, dan gatalnya bukan main.

Mungkin itu yang dimaksud Si Kedok, bahwa lawannya layak dihadapi dengan cara-cara kaum rendah.

“Eh, aneh…” gumamnya. “Ada apa?”

“Lihat…” ia sorongkan tangan yang tadinya bengkak, kini perlahan mengempis dan kelihatan racunnya mulai mengendap, sirna. Hanya tinggal setitik warna merah di tengah telapak, mungkin disitu asal serangan balik Si Kedok.

“Aneh…” anaknya mengumam pula.

Tak berkomentar lagi, mereka masuk kembali kedalam rumah. Bagian atas rumah yang bolong, dengan cepat ditembel para pengawal.

Sore kian temaram, sungguh kejadian didunia ini banyak ragamnya. Ada mata-mata, tetapi dia sendiri dimata-matai orang lain.

Dan kini ada satu lagi!

Sosok tubuh terbungkus kain kelabu bergerak melayang dari atap rumah. Gerakannya sungguh ringan, kelihatannya berkali lipat lebih hebat dari Si Kedok tadi. Kalau dia sudah ada di atas sana lebih dulu dari Si Kedok, berarti tuan rumah tidak menyadari kehadirannya. Jika dia datang setelah semua berkumpul, maka orang-orang didalam rumah tadi tidak ada yang becus—termasuk Si Kedok. Sebab, mereka tak mengetahui adanya penyusup.

“Aneh, sungguh aneh…” gumamnya pula.

Apakah dia juga merasa aneh dengan racun tadi, atau dengan situasi yang terjadi? Atau karena hal lain?

Entahlah, tidak ada yang tahu secara pasti. Begitu banyak kejadian yang membuat bingung… siapa mengintai siapa, siapa mengincar siapa, belum diketahui. Bahkan Jaka sendiri yang sudah malang melintang dengan teman-temannya di dunia mata-mata juga tak akan menduga sama sekali apa yang bakal terjadi nanti!

43 - Bertutur Kisah Lampau

Ruang bawah tanah Kembali pada Jaka..

Dengan di iringi hadirin, mereka keluar kamar. Di ruangan tengah—ruangan yang dindingnya terdapat banyak pintu dan lorong, Ki Glagah mengajak yang lainnya untuk duduk— lesehan, sebab tak ada kursi.

Ki Alit Sangkir masuk ke salah satu lorong, tak berapa lama kemudian ia keluar. Satu menit setelah Ki Alit Sangkir keluar dari lorong, empat orang wanita separuh baya dan dua lelaki botak—yang dandanannya serupa dengan dua orang di kamar Rubah Api, muncul. Mereka membawa nampan dan kendi serta gelas yang terbuat dari tanah liat. Berbincang-bincang tanpa ada cemilan, rasanya ada yang kurang.

Alis Jaka terangkat satu, diam-diam Jaka tersenyum senang. Kebetulan, aku sudah mulai lapar. Kali ini aku tak perlu malu untuk makan banyak, pikirnya.

Ki Gunadarma memperhatikan senyuman pemuda ini, lelaki itu tertawa geli. "Apa yang membuatmu tersenyum Jaka?"

Jaka terkejut mendengar pertanyaan Ki Gunadarma, sekejap, wajahnya memerah. "Saya pikir menyenangkan sekali berbincang-bincang sambil makan. Soalnya di penginapan makanannya payah sekali." Jawaban Jaka yang lugas tanpa menyembunyikan apa yang ia pikirkan, membuat beberapa orang tersenyum geli.

Benar-benar polos! pikir mereka. Tapi ada juga yang berpendapat kalau itu memalukan.

Tak berapa lama kemudian, makanan ringan seperti onde- onde, bakwan, tahu goreng, pisang goreng dan berbagai makanan yang lezat telah terhidang.

"Silahkan."

Begitu dipersilahkan, tanpa sungkan Jaka mengambil makanan kesukaannya, bakwan udang.

Beberapa orang tertawa melihat ulah Jaka, namun dimata para sesepuh, tindakan Jaka jauh dari munafik.

"Nah, saatnya berbincang." Kata Ki Benggala setelah ia meminum habis air aren dalam kendi. "Benar, dan kebetulan banyak pertanyaan yang akan kutanyakan padamu." Sambung Ki Lukita.

"Silahkan,"

"Kulihat kau menggunakan tongkat bambu lentur sebagai ikat pinggang, bambu itu kau dapat dari mana?"

Ah, Jaka mendesah dalam hatinya. Agak diluar dugaan juga ternyata para tetua bertanya masalah ini. "Saya mendapatkan dari seseorang,"

"Siapa dia?" hampir serentak delapan sesepuh itu bertanya. Jaka terperangah. Aneh, pikirnya. Jangan-jangan tak sesepele yang kusangka?

Begitu juga dengan anggota lain, mereka sering berkumpul dengan sesepuh, tentu saja tahu seperti apa sifatnya. Saat ini para sesepuh menunjukkan antusias besar, tentang bambu lentur milik Jaka. Pasti ada apa-apanya. Beberapa orang yang tadinya bosan, kini tertarik dan mengikuti perbincangan dengan serius.

Jaka termenung sesaat, sekilas rona wajahnya agak berubah. Perubahan sekejap itu tak lepas dari mata tiap orang. Dan, masing-masing memiliki kesimpulan sendiri. Ada yang beranggapan bahwa masalah itu memalukan untuk diutarakan, juga ada yang beranggapan mungkin bersangkutan dengan soal pribadi.

"Sebenarnya agak riskan untuk saya ceritakan," Kata pemuda ini sambil termenung sesaat.

"Apakah ada syarat tertentu untuk mendengar ceritamu itu?" tanya Ki Lukita cepat tanggap. "Guru memang pengertian." Sahut Jaka sambil tersenyum simpul. "Saya memang memiliki syarat tertentu."

”Beratkah?"

"Bagi yang dapat dipercaya, syarat saya ringan saja. Tapi bagi mereka yang tak biasa pegang janji, ini mungkin berat."

”Maksudmu kau ingin kami yang mendengar ceritamu, tidak menceritakan pada siapapun?" tanya gurunya.

"Benar. Bukan sekedar janji, tapi sumpah; bahwa siapa yang mendengar cerita ini tidak mengutarakan dalam bentuk apapun, pada siapa dan apa.”

Siapa, dan apa? Diam-diam 8 tetua mengagumi kecerdikan Jaka. ‘Siapa’ yang dimaksud tentu manusia. Dan ‘apa’, adalah sesuatu—selain manusia. Bagi orang awam, syarat Jaka ini agak ‘miring’. Masa selain manusia, bisa jadi curahan hati untuk menyampaikan rahasia? Maksudnya bukan demikian. Misal, jika kau tak tahan merahasiakan, lalu menulisnya pada batu, bukankah sama dengan memberitakukan pada ‘apa’?! Jadi, maksud Jaka sudah jelas. Tak ada jalan untuk mengutarakan rahasia, kecuali disimpan di hati.

Tentu saja anggota lain tahu maksud Jaka. “Hh, berbelit- belit.” Gerutu seseorang.

Jaka mendengarnya, dia segera menyambung penjelasannya. “Jika memang harus disampaikan, tentu harus dipilih mana yang perlu diutarakan, dan mana yang harus disimpan."

"Jadi kami harus bersumpah?" tanya Ki Gunadarma. Pemuda ini tersenyum. "Tidak perlulah, saya percaya, janji dalam hati rasanya cukup. Jika enggan menerima syarat, tapi ingin mendengarkan, cukup ditimbang dengan hati saja, syarat tadi. Enteng kan? Lagi pula Tuhan Maha Tahu, saya tak perlu pusing-pusing harus bertanya apakah kau sudah bersumpah atau belum."

Mereka tercengang mendengar ucapan Jaka yang banyak mengisyaratkan maksud dan arti berlainan.

“Baiklah, akan saya mulai…”

"Aku heran denganmu Jaka,” Ki Lukita memotong ucapannya. “kalau tahu apa yang akan kau utarakan merupakan rahasia, kenapa kau ceritakan juga?" ia bertanya heran, namun Jaka tahu pertanyaan itu juga untuk mengujinya.

"Saya percaya! Saya pikir orang-orang yang ada dihadapan saya bisa dipercaya. Seandainya pikiran saya keliru, ya… itu resiko.” Ucapan Jaka terdengar ringan, tapi bagi mereka terdengar seperti tamparan. Benar-benar bocah kurang ajar, pikir mereka.

“Lagi pula antara guru dan murid tak ada rahasia. Guru meminta, murid memberi. Murid Meminta, guru memberi. Guru mengajar, murid meresapkan dalam hati dengan baik. Karena itu saya tidak memiliki rahasia yang perlu disimpan. Setidaknya, selama pertanyaan tidak berkaitan erat dengan pribadi, dan pribudi kelahiran manusia bernama Jaka Bayu ini." Bagi orang berpengalaman, paham dengan apa yang diucapakan Jaka, Ki Lukita merasa terharu. Tapi mereka yang muda tidak begitu paham dengan ungkapan Jaka.

"Maksudmu bagaimana?" tanya Wiratama tak paham.

"Jika guru bertanya padaku mengenai rahasia pribadiku yang berkaitan erat dengan adanya aku didunia ini—artinya bersangkutan dengan orang tua, silsilah keluarga dan lain sebagainya, maka aku tidak harus, bahkan dapat menolak memberitahu pada guru. Apabila ada orang yang memintaku untuk menyimpan rahasia, maka aku-pun tidak akan mengemukakannya walaupun guru berbudi yang menanyakan hal itu."

"Jadi kisah yang akan kau ceritakan itu, apakah ada hubungannya dengan seseorang yang memintamu untuk menyimpan rahasia?"

"Ada dan juga tidak, beliau memintaku agar apa yang terjadi saat itu tidak disebarluaskan. Dengan sendirinya memintaku untuk tidak bercerita pada orang, namun karena beliau tidak meminta secara langsung untuk merahasiakannya, dalam hal ini ada satu isyarat yang beliau berikan padaku, bahwa kejadian itu boleh diketahui oleh orang tertentu. Yakni mereka yang dapat mengambil hikmah dari kejadian yang akan saya kemukakan. Saya pikir, andika(anda) sekalian adalah manusia paripurna, sudah pasti dapat memiliah, dan memilih hikmahnya. "

"Kenapa pada awalnya kau ingin kami bersumpah?" tanya Ayunda. "Karena kata 'tidak boleh disebarluaskan'-lah yang membuatku berlaku hati-hati saat hendak menceritakannya. Akupun harus membatasi diri..."

"Maksudnya?"

"Hanya sekali ini saja persoalan tersebut keluar dariku, untuk selanjutnya tidak akan pernah lagi. Walau diperbolehkan menyampaikan pada orang-orang tertentu, supaya bisa mengambil hikmah."

"Aku tak begitu paham…" desah gadis itu.

"Pengalaman memang membedakan semuanya," sahut Ki Lukita. "Apa yang dikemukakan Jaka merupakan tata kesopanan cara menghormati amanat yang diberikan seseorang padanya. Kalau kita bertindak bijaksana, maka apapun yang menjadi janji dalam hati, dan rahasia dalam diri, bisa di sampaikan dengan benar—tanpa rasa bersalah—pada orang yang dapat dipercaya."

Semua—mereka yang tak paham—mengangguk, kini pandangan mereka pada Jaka berubah, mereka tidak lagi memandang bahwa kharisma yang ditimbulkan Jaka karena kehebatannya saja, tapi karena kebijakkannya menimbang segala sesuatu, dan menempatkannya pada bagian yang sesuai.

"…yang memberikan bambu ini adalah seorang kakek. Beliau berbadan besar dan tegap, semua rambutnya sudah memutih. Sayangnya walau sudah beberapa lama tinggal dengan beliau, saya lupa menanyakan namanya. Hh, sungguh ceroboh…" "Terus dimana kau berjumpa dengan beliau?" ujar Ki Benggala. Dalam pertanyaan itu terkandung rasa hormat. Jaka terkesip mendengar nada hormat dari pertanyaan Ki Benggala.

"Waktu itu saya berada di sebuah gunung, sayang tak bisa saya sebutkan digunung mana. Kata orang, di gunung itu banyak hal-hal menarik, saya segera bergegas kesana. Tidak tahunya begitu sampai di lambung gunung, saya dihadang puluhan orang yang memakai tutup kepala, sikap dan tindak tanduk mereka aneh. Mata kiri tiap orang itu ditutupi kain. Semula saya pikir, mungkin seragam penutup mata itu, sekedar simbol saja. Tapi dugaan saya salah, mata kiri mereka terluka.

Mereka menghadang, dan mengatakan pada saya bahwa gunung itu tidak boleh dimasuki orang. Tentu saja saya heran, para penduduk mengatakan gunung itu senantiasa terbuka untuk tiap orang, tidak ada larangan apapun. Penduduk kaki gunung juga tidak pernah mengatakan di gunung itu ditinggali sekelompok orang. Kalaupun ada, pasti dia seorang penduduk desa yang senang hidup digunung. Karena penasaran maka saya bertanya pada orang-orang itu,

‘ “Eh, sebenarnya darimana tuan-tuan ini? Kenapa saya tidak boleh naik keatas gunung?” ‘

‘ “Tak usah banyak bacot, pergi kau!” ‘

‘ “Eh, tapi bac.. mulut saya cuma satu tuan.” ‘

Sampai disini banyak orang tertawa, cara Jaka bercerita seolah ada dua orang disitu, bahkan percakapan yang ia ceritakan juga berlainan tinggi rendah suaranya. ‘ “Tak perduli segara omongan setanmu, pergi kau dari sini sebelum terlambat!” ‘

‘ ”Lho, kenapa omongan saya omongan setan? Saya kan manusia, bukankah saya tidak bisa diusir?” ’

‘ ”Bangsat! Kami penguasa gunung ini, tahu! Setiap keputusan terserah dengan kemauan kami, orang udik tolol!” ’

Kembali banyak orang tertawa, tak terkecuali Diah Prawseti. Beberapa pemuda yang naksir berat dengannya, menghela nafas berat. Jaka benar-benar saingan tangguh! Pikir mereka.

“Jawaban mereka benar-benar membuat gemasnya. Tapi saya terus mencecar mereka dengan pertanyaan.

‘ “Tapi setahuku gunung ini tidak pernah dihuni sekelompok orang. Kalau sekelompok monyet memang ada.” ‘

‘ “Monyet busuk!” ‘' maki orang itu makin kasar saja. Karena makian itu makin lama makin tak senonoh, saya makin senang menggoda mereka.

‘ “Bukan, bukan… kata penduduk kaki gunung, bukan sekelompok monyet busuk. Cuma monyet… tidak busuk!" ‘

“Waktu itu saya mengatakannya dengan tingkah makin menyebalkan. Saya tidak perduli mereka sudah pasang tampang galak—padahal tampang mereka itu lebih mirip penjual ikan ketimbang centeng. Sungguh aneh, kenapa orang semacam mereka bisa menjadi pengawal?

‘ “Kau pemuda dogol! Sudah kukatakan disini tidak ada apa-apa!” ‘ maki mereka gusar, tapi bagi saya mereka terlihat menahan tindakan kasar. Ini mengherankan, sebab dalam perkiraan saya, kemampuan mereka lebih hebat ketimbang caican mereka. Maka, saya simpulkan mereka anak buah seseorang yang ditakuti. Mungkin, karena sebelumnya sang pimpinan memberi mandat supaya tidak berbuat onar digunung itu. Untuk memancing agar mereka bertindak lebih kasar lagi, saya-pun mulai memaki mereka.”

"Memaki?" ujar Andini dengan bibir mencibir. "Kenapa?" Jaka bertanya heran.

"Tidak dapat kubayangkan orang seperti kau memaki…" kata gadis ini blak-blakan. Sesaat kemudian barulah ia sadar, dari ucapannya mengartikan dia memperhatikan Jaka, wajah gadis itu merah jengah. Tapi dia adalah gadis pendekar, bukan gadis pingitan, sikapnya sudah kembali seperti semula.

Beberapa orang terlihat tersenyum geli melihat perubahan air muka Andini. Tapi ada juga yang makin cemberut.

Jaka, untuk urusan berkenaan dengan perasaan wanita, boleh dikatakan tidak paham. Karena itu ucapan Andini dianggap sebagai komentar seorang pendengar.

"Memaki memang bukan kegemaranku. Dan aku juga enggan memaki mereka. Mungkin lebih tepat lagi dikatakan menyindir. Kukatakn pada mereka,

‘ “Oh, begitu. Sebenarnya saya datang kemari karena mendengar kabar diluar sana…” ‘

‘ “Kabar apa?” ‘ tanya seorang dari mereka. Sedikit-banyak perhatian mereka terpancing juga. Karenanya, saya terus membual mengenai satu cerita. ‘ “Katanya disini banyak terdapat tanaman mustika, salah satu jamur yang tiap hari warnanya bisa berubah. Lalu untuk beberapa hari kemudian lenyap, layu dan menghilang tanpa bekas.” ‘

‘ “Benarkah?” ‘ kelihatannya mereka tertarik. Dari situ saya dapat memastikan mereka adalah sekumpulan orang-orang yang hanya tahu bertindak tanpa berpikir.

"Coba bayangkan mana ada jamur mustika seperti yang saya sebutkan tadi. Apa yang saya sebutkan adalah ciri kebanyakan jamur tanah. Bukankah beberapa jenis jamur ada yang hanya bisa tumbuh dalam lima hari saja dan tiap harinya warnanya berubah? Dan setelah lebih dari lima hari jamur itu akan mati... artinya sama dengan lenyap?!"

Mereka mengangguk membenarkan. Tentu saja mereka juga tahu penjelasan alasan Jaka. Cuma, mereka tak menyangka Jaka adalah orang yang suka berbelit-belit. Ambil saja contoh alasan jamur tadi, nampaknya sederhana, padahal butuh penjelasan seperti tadi.

"Untuk sesaat saya ragu meneruskan cerita saya tadi, maklum saja… boleh jadi mereka orang kasar, namun kita tidak boleh menilai orang hanya dari melihat tampang saja." Kata Jaka meneruskan penuturan ceritanya.

‘ “Dimana letak benda yang kau sebut tadi?”‘ mereka bertanya dengan penuh antusias.

‘ “Entahlah, kalau aku tahu sudah dari dulu-dulu kemari. Kata orang, tanaman mustika itu ada di sekitar daerah sini, tapi entah dimana.” ‘

‘ “Benar begitu?” ‘ Saya membenarkan. ‘ “Konon tanaman itu dipelihara orang dan di jaga segerombolan hewan piaraan.” ‘

‘ “Omong kosong!” ‘ seru seseorang membentak.

‘ “Lho, ini bukan omong kosong! Tap-tapi.. memangnya kenapa?” ‘

‘ “Didaerah sini selain…” ‘ orang itu tidak meneruskan bicaranya karena kawan yang disebelah menyikut iganya. ‘ “Pokoknya tidak ada orang yang tinggal disini, kami biasa memastikan itu!” ‘

‘ “Mungkin saja engkau benar, tapi bagaimana dengan kawanan binatang yang berkeliaran menjaganya?” ‘ saya sengaja bertanya seperti itu untuk menyindir mereka. Itupun kalau mereka merasa tersindir."

Mereka yang menyimak cerita Jaka, paham prihal sindiran itu. Kalau disebutkan daerah itu tak ada lagi orang menghuni, tentu yang dimaksud dengan 'binatang yang berkeliaran’ adalah mereka sendiri. Dan dari cerita itu, mereka bisa berkesimpulan, orang yang dihadapi Jaka memang komplotan yang jarang menggunakan otaknya.

Situasi yang dialami Jaka saat itu memang cocok buat pemuda ini. Jaka memang tak suka basa-basi, tapi main kayu—bermain kata, bersiasat—mungkin jagonya.

‘ “Eh, yang benar saja…” ’ sahut mereka tak banyak pikir.

‘ “Kalau begitu menjaga tanaman mustika adalah mereka, binatang itu! Aku jelas manusia, berarti bukan aku yang menjaga. Kalau begitu, jangan-jangan kalian yang menjaga mustika itu!?” ‘ ‘ “Apa maksudmu?” ‘

‘ “Bukankah kau bilang daerah ini tertutup untuk manusia, dan aku bilang ada yang tinggal disini dengan para penjaganya, tentu saja penjaganya itu bukan manusia dan kali ini aku bertemu dengan segerombolan orang yang aku curigai sebagai penjaga mustika...” ‘

“Mereka saling berpandangan, sejauh itu mereka belum tahu apa yang saya bicarakan. Tentu saya kesal, sudah banyak waktu saya buang hanya untuk membual. Dari kejadian itu saya bisa mengambil pelajaran berharga, yakni; ada kalanya akal muslihat bisa memperdaya orang, tetapi perhitungan orang pintar kadang tak berlaku bagi orang bodoh, sebab orang bodoh tidak pernah memperhitungkan apa yang ia perbuat. Karena mereka tak kunjung mengerti, saya menyindir terang-terangan.

‘ “Maksudku adalah; kalian ini mungkin saja penjaga mustika. Apa kalian memang menjaganya? Tapi, karena daerah ini tertutup bagi manusia, maka kusimpulkan kalian ini memang bukan manusia! Hm, mungkin sejenis hewan penjaga mustika yang berbentuk seperti manusia.” ‘

“Kalau ucapan sejelas itu belum paham, saya tak tahu cara apa membuat mereka marah. Untungnya mereka paham dengan ucapan saya. Begitu selesai berkata, sialnya mereka langsung memanah saya. Untung saya waspada, begitu panah dilolos, saya segera kabur. Namun ada keanehan, mereka tidak mengejar saya. Padahal kalau dipikir-pikir jarak saya dengan mereka hanya terpaut lima tombak saja. Karena penasaran, malam harinya saya menyusup keatas, kebetulan tidak ada penghalang." "Apa yang terjadi disana?!" tanya Andini tak sabaran. "Tidak ada apa-apa." Jawab Jaka perlahan. Jawaban itu

membuat Andini jadi berkerut alis. "Maksudnya itulah kesan pertamaku." Katanya pada gadis cantik itu, lalu ia kembali meneruskan ceritanya.

"Lebih jauh masuk kedalam, saya menemukan sebuah benteng besar. Sebuah benteng yang terbuat dari batu cadas, sangat kokoh, kuat. Sepengetahuan saya, tidak ada satupun penduduk yang pernah bercerita tentang adanya benteng itu. Dengan demikian saya berkesimpulan bahwa keberadaan mereka, mestinya tanpa sepengetahuan penduduk. Mungkin mereka juga berusaha menghindari penduduk. Menilik bangunannya, mungkin sudah berusia puluhan tahun. Saya sangat kagum, entah bagaimana cara mereka menutupi mata penduduk.

“Dua puluh tombak dari benteng, ada barisan penghambat berdaya gaib. Mulanya saya tidak tahu barisan apa itu, tapi setelah memasukinya, baru paham, ternyata gubahan barisan Enam Muskil Menjelma…"

"Eh…"

Beberapa orang tetua terperanjat, tapi Jaka enggan menanyakan sebab kekagetan mereka. Menurutnya, mereka kaget lantaran barisan itu pernah tersohor pada waktu yang lampau.

"Singkatnya, saya bisa melewati barisan itu dan menyusup kedalam benteng. Lalu, apa yang saya lihat benar-benar membuat bulu kuduk berdiri, dan jantung berdebar lebih cepat. Di situ banyak tubuh bergelimpangan, saat itu saya tidak tahu apakah itu mayat atau bukan. Tapi keadaan mereka benar- benar mengenaskan. Lalu ada seorang kakek yang sedang dikeroyok tujuh orang sebayanya. Ilmu mereka benar-benar luar biasa. Paling tidak, menurut taksiran saya, mereka berdelapan memiliki tenaga diatas seratus tahun hasil latihan. Pertarungan itu adalah pertarungan paling dahsyat yang pernah saya saksikan.

“Tujuh orang pengeroyok itu memiliki ilmu barisan penyerang amat dahsyat, yang jelas tiap kali kakek yang dikeroyok itu menyerang, serangannya dapat diatasi dengan mudah, padahal menurut saya, tenaga kakek itu paling tidak ada satu kali lipat dari lawannya. Hh, pertarungan itu benar- benar menyita seluruh perhatian saya..

“Anehnya setelah sekian lama, kedua belah pihak tidak dapat mendesak satu sama lain. Menurut perkiraan saya, rasanya sangat mustahil ketujuh orang yang memiliki tenaga dalam seratus tahun lebih, tak dapat memenangkan pertarungan, apalagi didukung barisan penyerang lihay. Walau kakek yang dikeroyok tenaganya hampir satu kali lipat lebih besar dari seorang penyerangnya, diapun sanggup bertahan lama. Kesan yang saya peroleh, mereka seperti sedang berlatih, tapi itu tak benar, mengingat banyak korban bergelimpangan.

“Saat itu saya tak ambil pusing dengan pertarungan itu, yang jelas, mereka yang menjadi korban harus segera ditolong. Tak banyak pikir akibatnya, saya masuk dan memeriksa mereka satu-persatu. Untungnya, tak ada yang tewas, anehnya keadaan mereka seperti mati suri. Kondisi mereka seperti orang mati yang sudah dibalsem lama. Itu merupakan kasus baru bagi saya! Jumlah korban dua puluh tujuh orang. Saya kumpulkan mereka disatu sudut ruangan. Saat itu saya tidak menyadari, pertarungan sudah berhenti. Perhatian saya tercurah hanya untuk menolong para korban. Beberapa lama kemudian, saya dapat menolong salah satu korban. Hh, sungguh memeras keringat! Untungnya saya berhasil mendapatkan metoda pengobatan singkat efektif. Waktu pengobatan yang saya perlukan hampir selama empat kentungan. Mereka siuman, kelihatannya sehat-sehat saja. Rasa penasaran, membuat saya ingin mengetahui persoalan dalam benteng itu hingga detail. Saya bertanya kepada mereka, 

‘ “Apa yang terjadi disini?” ‘ tanya saya pada salah satu korban. Tapi orang itu cuma menggeleng lemah, begitu menghibakan. Tak mendapat jawaban memuaskan, saya tidak berani mendesak. Karena belum menemukan jalan terbaik mengetahui apa yang terjadi, saya juga ikut-ikutan diam.

‘ “Siapa kau anak muda?” ‘ tiba-tiba seseorang menegur dari belakang. Saya baru sadar pertarungan mereka terhenti karena kedatangan orang asing—sayalah orangnya. Atas pertanyaan tadi, saya sangat terkejut, kedatangan mereka tidak terdeteksi, kalau mereka mau, saya yakin waktu itu saya sudah terkapar karena bokongan.

“Saya menyadari situasi tak menguntungkan, saya segera berdiri dan menghormat dua kali—saat itu mereka berdiri dalam dua kelompok terpisah, kelopok pertama tujuh orang pengeroyok, dan kelompok kedua adalah satu orang yang dikeroyok.

‘ “Saya hanya seorang pengelana.” ‘

‘ “Bagaimana kau bisa sampai disini?” ‘ tanya orang yang dikeroyok itu. ‘ “Tentu saja lewat jalan yang disediakan.” ‘

‘ “Maksudmu kau melewati barisan yang kami buat?” ‘

‘ “Ya, memangnya kenapa, bukankah barisan itu merangkap sebagai jalan? Tentu saja sebagai jalan digunakan untuk dilewati. Supaya bisa masuk, sudah tentu saya harus melewatinya, masa dalil sederhana tak bisa dipahami.” ‘

‘ “Kau… mustahil! Kau mampu melewati barisan kami, dasar pembual! Katakan siapa yang memberi tahu kunci barisan itu!” ‘

‘ “Kenapa harus minta tolong orang kalau saya bisa lewat sendiri?” ‘

‘ “Mustahil! Aku tak percaya kalau barisan kami itu kau lewati segampang itu!” ‘

‘ “Kami?! Memangnya…” ‘ berulangkali ucapan itu dikeluarkan salah satu kakek pengeroyok, membuat saya heran, namun saya tak berani lancang bertanya.

“Saya tambah bingung melihat mereka—dari dua kubu berlawanan—saling pandang heran. Saat itu saya dibingungkan dengan ‘keakuran’ mereka. Kejadian itu membuat saya berkesimpulan; kemungkinan besar mereka kenal baik satu sama lain, entah karena apa bisa sampai gontok-gontokan seperti itu.

‘ “Jangan banyak tanya!” ‘ hardik seorang dari tujuh pengeroyok.

“Saya-pun tak banyak omong lagi, karena situasi tak mengijinkan. ‘ “Anak muda, kau seorang tabib?” ‘ tanya orang tua yang tadi dikeroyok.

‘ “Boleh dikatakan begitu kek.” ‘

‘ “Kurasa jawaban yang tepat adalah ya!” ‘ ujar kakek itu sambil tersenyum ramah.

‘ “Tidak mungkin! Pembual macam dirimu bisa menjadi tabib? Puih!” ‘ seseorang mengejek sambil meludah. Sesabar apapun saya, panas juga perut ini. Kalau ada kesempatan, rasanya ingin kulempar kotoran apa saja kewajahnya.”

Jaka bercerita sambil cemberut, ekspresinya sulit ditebak, sebentar seperti anak-anak yang merajuk minta mainan, sebentar meringis seperti monyet kebakaran ekor. Roman mukanya bisa serius dan kaku bagai batu karang. Jika dimisalkan ia sebagai aktor watak, maka Jaka salah satu yang terbaik.

Ki Lukita yang baru menjadi gurunya, mau tak mau harus mengevaluasi penilaiannya pada sang murid. Orang lain yang melihatnya juga menilai dengan pertimbangan masing-masing. Bahkan ada yang memisalkan Jaka adalah, api, air, atau angin... seperti namanya.

Kupikir anak ini lugu dan polos, ternyata sedikit bengal juga. Pikir Ki Lukita tersenyum kecil.

Jaka kembali meneruskan ceritanya, “Saya melihat kenyataan bahwa ada perbedaan besar antara dua kelompok itu. Kakek yang dikeroyok ternyata orang yang supel dan ramah, sedangkan ketujuh kakek lainnya begitu garang dan terlihat bengis. Menanggapi ejekan tadi, saya balas menyindir. ‘ “Terserah apa kata andika, mungkin saya ini pembual seperti apa yang dikatakan andika. Tapi yah… anggap saja memang pembual seperti saya kebetulan bisa menyembuhkan penyakit.” ‘

‘ “Aku yakin kau pasti tabib sakti!” ‘ seragah kakek ramah tadi dengan wajah serius.

‘ “Ah, itu hanya dugaan kakek saja, saya bukan tabib, apalagi disebut sakti… tapi, kalau mau dibilang tukang obat keliling, boleh jugalah.” ‘ Saya menanggapi ucapan kakek ramah itu setengah bergurau.

‘ “Aku tak bermaksud memujimu, aku yakin pasti kau tabib terkenal! Apakah kau tahu mereka lumpuh karena apa? Mereka—anak buahku—lumpuh karena Racun Asap Kayangan, kau sudah pernah dengar nama racun itu?” ‘

“Saya benar-benar tak tahu ada nama racun seperti itu, memang jenisnya saya kenal, tapi kan yang ditanya nama racun, tentu saja saya tak kenal. Jadi saat saya menggeleng, saya merasa tak bersalah.

‘ “Baru kali ini saya dengar kek.” ‘

“Kakek itu terlihat sedih, ia menghela nafas panjang, saya pikir banyak beban yang ia pikul.

‘ “Jaman memang sudah berubah, ombak didepan selalu dihempaskan ombak dibelakangnya. Racun begitu hebat pun bisa dengan mudah ditawarkan… Yah, memang tidak bisa disalahkan, dulu racun itu menjadi kebanggaan partai kami. Jarang—bahkan tak ada, ada orang yang bisa lolos dari racun itu. Karena itu penggunaan racun tersebut tidak diperbolehkan apabila bukan dalam kondisi sangat terdesak. Kini sudah tiada orang yang mengenal racun ini, namanya tertelan jaman sedikit demi sedikit. Memang sudah wajar,” ‘ Desah kakek itu dengan tatapan menerawang jauh.

‘ “Adakah didunia ini yang bisa abadi?” ‘ Nada kakek itu terlihat sangat rawan saat mengucapkan kata terakhir tadi

‘ “Tutup mulutmu adi!” ‘ bentak salah seorang pengeroyok.

‘ “Kakang, jangan coba menutupi kenyataan. Perguruan Macan Lingga sudah lenyap ratusan tahun silam, jangan kau buka kembali lembaran pahit para leluhur kita!” ‘

"Apaaa...?!" Jerit kekagetan para tetua, mengejutkan Jaka.

44 - Kisah Perguruan Macan Lingga 1

"Ada apa?" tanya Jaka heran.

"Apa kau tidak salah dengar?!" ujar Ki Glagah suara bergetar.

"Maksud Aki?"

"Kau tidak salah dengar pembicaraan mereka?" tanya Ki Glagah menyakinkan. Alis Jaka terangkat mendengar pertanyaan itu, mulutnya cemberut. Para tetua yang merasa tegang mendengar cerita Jaka, sama tertawa geli melihat mimik Jaka. Mereka seperti melihat anak kecil mau... menangis.

"Tidak! Saya masih yakin telinga saya sehat." Sungut Jaka masih dengan bibir cemberut. "Bukan maksudku menyangsikan pendengaran-mu, hanya saja… astaga!" desah Ki Glagah menimpali.

"Sebenarnya ada apa kek?" tanya Pertiwi penasaran.

Ki Glagah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. "Luar biasa, sungguh luar biasa, tak nyana kau bisa dapat rejeki begitu besar." Mulutnya bergumam seperti itu berulang kali.

"Kek?!"

Ki Glagah menatap cucunya, "Sebaiknya kita dengarkan cerita Jaka sampai tuntas, setelah itu baru kujelaskan kenapa kami begitu terkejut."

Semuanya setuju, dan Jaka juga harus melanjutkan ceritanya.

‘ “Kau bodoh!” ‘

"Apa?!" ujar Pertiwi tidak tanggap.

Muka Jaka memerah menahan geli, pemuda ini berkata seperti itu adalah untuk menyambung percakapan dalam ceritanya, jadi bukan bermaksud memaki orang dalam ruangan itu. Namun sebelum Jaka memberikan penjelasan lebih lanjut, Ayunda segera menyikut Pertiwi, gadis itu menjelaskan maksud ucapan Jaka. Barulah Pertiwi mengangguk-angguk dengan wajah panas.

Ki Glagah mengangguk, artinya; Lanjutkan.

‘ “Apa maksud kakang mengatakan aku bodoh?”‘ tanya kakek yang ternyata orang termuda dari mereka. ‘ “Untuk membangun kekuatan yang sama seperti dulu, kita sudah memiliki modal utama! Salah satunya, kami memiliki anak buah yang setia! Tersebar seantero negeri. Mereka dapat disejajarkan dengan para pendekar kosen.” ‘

‘ “Sehebat apapun rencana yang andika sekalian susun, tidak akan membuktikan apa-apa. Apakah andika ingin kebusukan Macan Lingga makin lama dikenang dari jaman ke jaman?” ‘

‘ “Kau salah mengerti rencana kita adi,” ‘

‘ “Tidak, saya sangat paham rencana andika!” ‘

‘ “Kau tahu apa!” ‘bentak orang tua itu dengan bengis. “Saya makin tegang mendengar percakapan delapan orang

itu. Saya bisa menduga, mereka ingin mendirikan kembali partai leluhur, kemungkinan besar ingin menguasai dunia persilatan. Namun pikiran itu, kali ini saya hilangkan.”

“Kali ini?” Tanya sang guru.

“Ya, karena ternyata dunia persilatan memiliki Perkumpulan Garis Tujuh. Ditambah Enam Belas Perguruan terkemuka, tentu tak semudah itu menaklukan dunia persilatan.”

Ki Kukita tersenyum mendengar penjelasan Jaka. Lalu pemuda ini melanjutkan ceritanya.

“Karena tak tahu kemana arah pembicaraan mereka, saya memberanikan diri menyela.

‘ "Maaf, kalau saya tidak sopan…" ‘ ' "Kau memang tak sopan!" ' damprat salah satu kakek pengeroyok.

“Sungguh panas perut saya, mendengar nada bicara orang tua itu. Sejauh itu, saya bicara masih dengan tata kesopanan, tapi yang diajak bicara benar-benar tak tahu sopan santun, kan rugi kalau saya buang-buang tenaga. Saya menyahut dengan jengkel,

‘ “Tapi saya lebih sopan dari andika, saya tidak suka mengeroyok orang.” ‘ Balas saya tandas. Rasanya jawaban saya sudah cukup kasar, dan memang langsung membuat kakek itu melotot marah.

“Berulang kali saya yakinkan dalam diri saya, untuk bersabar. Jika saja bukan orang sabar, tentu bisa keguguran saking kesalnya.

“Keguguran?” tanya Diah dengan alis berkerut.

Jaka memandangan sesaat kearah si gadis salju. Wajah pemuda ini memerah sesaat. “Maaf, itu istilahku untuk mengungkapkan kejengkelan. Kau tahu, wanita hamil keguguran bagaimana rasanya? Seperti itulah perasaanku pada orang tua tak tahu aturan itu. Untungnya tiap ucapan mereka, tak membuatku lepas kendali.”

“Tapi tidak sopan!” sahut si gadis, ketus.

“Maaf, aku tidak bermaksud demikian…” sahut Jaka membela diri. Si gadis tak mengatakan apa-apa, hanya saja wajahnya memerah, dan ia melototi Jaka sekejap, lalu melengos ke arah lain. Kejadian kecil itu tak luput dari pengelihatan tiap orang, kembali mereka menghela nafas kagum, tapi juga.. jengkel— khususnya pada pemuda yang jatuh hati pada Diah Prawesti.

Jaka… Jaka, kau pakai pelet apa sih? pikir mereka gemas.

Jaka memang saingan berat, pikir mereka.

‘ “Sebenarnya apa yang sedang dibicarakan?” ‘ tutur Jaka kembali meneruskan ceritanya.

‘ “Mereka adalah kakang seperguruanku,” ‘ jelas kakek baik hati itu dengan ramah. “ ‘Mereka ingin agar aku...” ‘

‘ “Diamlah adi!” ‘ bentak salah seorang diantaranya.

Melihat suasananya yang tak begitu bersahabat, rasanya untuk berbicara satu patah kata saja bisa menimbulkan masalah, tapi saya memang sudah memutuskan agar dapat mengetahui persoalan sebenarnya.

‘ ”Maaf, bisakah kakek diam sejenak agar saya bisa mendengarkan cerita sebenarnya?” ‘ saya bertanya dengan suara lantang, saking dongkolnya melihat sikap mereka.

“Mendengar bentakkan saya, wajah mereka sedikit pucat. Saya paham dengan reaksi itu, mereka pasti sangat terkejut karena saya begitu berani. Ucapan saya memang bisa diartikan menantang.

‘ “Hooo.. berani kurang ajar kau ya?” ‘

‘ “Saya tidak kurang ajar, saya rasa sikap saya ini lebih sopan ketimbang andika bertujuh!” ‘

“Ucapan saya yang tegas dan tandas, membuat ketujuh kakek itu makin tercengang. Mereka pikir saya berani berbicara begitu karena punya pegangan berarti. Berpikir begitu ketujuh kakek itu saling pandangan dan samar-samar mengangguk.

‘ “Bocah, apakah kau benar-benar ingin tahu cerita yang sebenarnya?” ‘

‘ “Tentu saja, siapa tahu aku bisa bercerita pada tukang ikan dipasar.” ‘ sahut saya membuat mereka melotot marah, tapi pancingan saya tidak membuat mereka bereaksi.

‘ “Kau tidak menyesal?” ‘

‘ “Kenapa saya harus menyesal, bukankah jika ada orang yang butuh informasi ini, saya bisa mendapatkan uang banyak darinya?” ‘ saya makin ngawur menanggapi ucapan mereka.

‘ “Kau anak keparat!” ‘

Jaka mengatakan itu dengan mimik tegang, orang sama tertawa mendengar cara Jaka mengucapkan itu. Kalau saja ada orang yang baru mendengar dan melihat Jaka bercerita, dia bisa mengira Jaka memaki padanya.

“Saya tertawa mendengar makian kakek itu, timbul niat saya untuk menggodanya makin lama. ’ “Oh, kenapa andika menyebut saya keparat? Apakah anda mau menjadi kakek saya?” ‘

Kali ini banyak tawa meledak diruangan bawah tanah itu, mereka paham maksud Jaka—dengan memaki tak langsung, bahwa Jaka ingin mengatakan kalau anaknya keparat, kan bapaknya lebih parah lagi? Lalu apa sebutan untuk kakeknya, kalau anak-cucunya adalah keparat? Tentu lebih-lebih parah! ‘ “Dasar anak set…” ‘ mereka ingin memakai saya, tapi tak jadi, saya jadi geli sendiri. Sebenarnya menyenangkan juga bermain kata dengan kakek-kakek itu, tapi saya sadar situasinya tidak menguntungkan, jadi saya langsung mengajukan pertanyaan yang dinanti mereka.

‘ “Maaf, kalau saya membuat andika sekalian marah. Tapi saya memang berniat tahu cerita sebenarnya. Dan silahkan ajukan syaratnya, saya sudah menunggu dari tadi.” ‘

‘ “Pemuda cerdik, kau sudah begitu tanggap, maka aku tidak perlu banyak menjelaskan lagi. Karena kau ingin mengetahui latar belakang persoalan kami, dengan sendirinya, latar belakang perguruan kami harus diceritakan padamu juga. Kalau sudah begitu sebagian dari banyak rahasia perguruan tentu bocor padamu...” ‘

‘ “Dengan demikian andika sekalian memiliki alasan untuk mencelakai saya setelah mendengarkan cerita itu bukan?” ‘ potong saya tak sabar. Begitu mendengar ucapan saya, wajah orang yang bercerita tadi agak berubah—hanya sekejap, namun tak luput dari mata saya.

‘ “Ah, kami tidak seburuk itu!” ‘ kilahnya. ‘ “Jadi apa syaratnya?” ‘

‘ “Kau harus bisa menerima lima jurus serangan dari tiap orang diantara kami,” ‘

‘ “Lalu?” ‘ potong saya cepat.

‘ “Hm, kau sungguh pemuda cerdik, baru satu yang aku kasih sudah sepuluh yang kau paham.” ‘ ‘ “Terima kasih atas pujianmu, tapi saya tidak berminat dengan pujian itu, saya hanya ingin tahu semuanya. Jangan bertele-tele!” ‘

“Mendengar saya cukup ketus dan tak terlihat jeri, muka tujuh kakek itu berubah merah padam. Mereka sangat marah, mungkin merasa dilecehkan orang yang jauh lebih muda.

‘ “Kalau kau sanggup menghadapi lima jurus tiap orang diantara kami, selanjutnya kau harus menghadapi tujuh orang sekaligus.” ‘

‘ “Kakang! Apakah itu tidak keterlaluan?” ‘ seru kakek ramah dengan nada kawatir.

“Mereka tidak menjawab, namun dengan tajam mereka menatap saya, seolah mengatakan; ‘ Tidak tidak perlu dikawatirkan, kalau pemuda itu mati, jangan salahkan kami. Tapi salahkan kepandaian terlalu rendah!‘

“Muak dengan sikap mereka, saya tidak tanggung menyindirnya.

‘ “Bagi mereka saya yakin itu tidak keterlaluan kek, hakekatnya mereka selalu ingin memuaskan diri sendiri. Pikirannya menang dan menang, tidak akan melihat kanan kiri, tidak tahan disentil, tidak tahan di koreksi orang lain.” ‘

“Rupanya ucapan saya itu tepat mengenai borok mereka, wajah ketujuh kakek itu berubah bengis. Anehnya, mereka tidak bereaksi apa-apa. Saya tahu apa sebabnya, mereka hanya bisa melotot untuk mempertahankan harga diri. “Saya tahu apa yang mereka pikirkan saat itu, dan untuk membungkam kesombongannya, saya juga perlu menawarkan harga yang sangat mahal.

‘ “Andika menawarkan syarat yang begitu ringan, ini benar- benar penghinaan buat saya, syarat itu terlalu merendahkan saya!” ‘ kata saya dengan nada mencemooh. ‘“Apakah tidak ada syarat yang lebih berat lagi? Misalnya, masing-masing andika menyerang saya selama lima puluh jurus?” ‘

“Tentu, saya menantang mereka karena terpaksa, demi untuk membungkam kesombongan dan keangkuhan. Mereka selalu memandang rendah orang lain!

‘ “Oh, sungguh besar pambekmu bocah cilik!” ‘ bentak salah seorang dari mereka. ‘ “Kalau kau memang sanggup, kenapa tak kita lakukan saja?!” ‘

“Tantangan itu sebenarnya hanya untuk memukul harga diri mereka—yang notabene adalah tokoh besar, masa harus merendahkan begitu rupa demi untuk menghajar saya?! Benar-benar tak habis pikir! Tapi saya juga harus setuju dengan usul saya sendiri.

‘ “Anak muda, kau sangat ceroboh. Apakah karena kau melihat aku sendirian tidak bisa dirobohkan mereka, lalu kau menantang mereka tiap orang lima puluh jurus?” ‘

‘ “Bukan begitu Ki,"' Jawab saya, karena saya memang bersimpati dengan kakek itu. ‘“Biarpun saya sudah menelan nyali naga dan macan sekalipun, kalau tidak memiliki kemampuan yang menjadi pegangan, tentu saya tidak akan menantang mereka begitu rupa.” ‘

‘ “Jadi?!” ‘ ‘ “Saya percaya, bisa mengatasinya.” ‘

“Namun saya melihat kakek baik hati itu ragu, karena itu ia bertanya pada saya, ‘ “Sudah berapa lama kau belajar ilmu silat?” ‘

’ “Kalau belajarnya terhitung latihan dan teori, saya sudah lima tahun belajar silat.” ‘

‘ “Lima tahun?! Masya Allah, kau pikir bisa menghadapi mereka yang memiliki tenaga hasil latihan lebih dari seratus tahun itu?!” ‘

‘ “Jangan kawatir Ki, saya bisa mengatasinya.” ‘

“Agar kakek itu tidak merintangi dengan macam-macam pertanyaan saya langsung berbalik dan menghadapi mereka bertujuh.

‘ “Jadi pada saat anda sekalian MENGEROYOK saya,” ‘ Sengaja saya tekan kata mengeroyok, agar kesombongan mereka makin tenggelam. ‘ “Apakah akan menggunakan senjata, atau tangan kosong?” ‘

“Pertanyaan itu sangat manjur, wajah mereka membesi. Apa jadinya ‘mantan’ tujuh tokoh besar mengeroyok pemuda ingusan, bila tersiar di kalangan persilatan? Mau dikemanakan muka mereka? Tapi, kelihatannya mereka tak begitu mengkhawatirkan perasaan itu, untuk melawan satu orang saja belum tentu mampu menghadapinya, apalagi saya menantang bertanding lima puluh jurus. Kemungkinan untuk membunuh pun makin besar. Berpikir seperti itu membuat wajah mereka kembali tenang, dengan kembali dihiasi senyuman sinis—meremehkan, jemu benar saya melihatnya. ‘ “Kita gunakan tangan kosong saja. Senjata tak bermata, bisa berbahaya menggunakannya.” ‘

‘ “Oh, jadi andika sekalian takut menggunakan senjata? Takut terluka?” ‘ ejek saya agak dongkol. Omong kosong yang dikatakan kakek itu sungguh kelewatan, dia seolah mengasihani saya, padahal niat sesungguhnya memang untuk melenyapkan saya. Karena saya sudah mereka duga, banyak mengetahui persoalan mereka. Tapi mereka tetap saja tak menanggapi ejekan saya.

‘ “Tunggu dulu!” ‘

“Rupanya kakek baik hati itu masih juga sangsi, beliau menghalangi berdiri di depan saya dengan wajah cemas.”

‘ “Kau yakin melakukan ini?” ‘ ‘ “Saya yakin Ki!” ‘

‘ “Katakan padaku, apa yang menjadi andalan kepandaianmu. Agar aku sedikit tenang…” ‘

“Sungguh, kakek itu sangat perhatian padaku, saya yakin, bila pada kesempatan lain kami berjumpa, tentu saya bisa banyak menimba pelajaran darinya. Agar beliau tidak resah, saya menghiburnya.

‘ “Saya memang lebih senang mengobati orang dari pada melukai orang, karena itu sejak belajar silat lima tahun lalu, saya hanya mempelajari ilmu olah langkah dan peringan tubuh saja.” ‘

‘ “Olah Langkah dan peringan tubuh? Itu belum cukup!” ‘ serunya dengan kawatir. ‘ “Ki, tenang saja. Apa yang saya pelajari itu sudah lebih dari cukup untuk melindungi diri sendiri. Kalau saya tidak bisa menghindar, bukankah saya masih bisa lari?” ‘

‘ ”Lari, kau pikir semudah itu lari dari mereka?” ‘ tanya sang kakek simpatik itu.

‘ “Ehm, kakek tapi perlu kawatir, ada pepatah mengatakan; jangan takut dengan anak kura-kura.” ‘

‘ “Maksudmu?” ‘ kakek itu tidak tahu maksud saya, padahal saya mana tahu ada pepatah kura-kura.

Ki Lukita tertawa geli. “Oh.. jadi pepatah ngawurmu itu hanya untuk menyindir saja?”

“Benar guru.”

“Jadi yang kau maksudkan ada dua hal?”

“Dua?” ujar Jaka tak mengerti. Tapi tiba-tiba dia merasa jengah, ia mengangguk. “Saya rasa bisa dikatakan begitu.”

“Eh, tunggu dulu. Dua bagaimana?” tanya Ki Benggala pada Jaka.

Pemuda ini salah tingkah, ia menatap gurunya penuh harap, agar orang tua itulah yang menjelaskannya.

Ki Lukita terlihat mesam-mesem geli. “Jaka berkata begitu maksudnya jelas, kura-kura kan tidak mungkin berlari cepat?”

“Benar Juga.” Ki Benggala menyahut. “Dan maksud yang kedua?” Sayangnya Jaka menyebut itu sebagai pepatah, jika ada yang paham logatnya—untuk daerah tertentu—pasti paham apa yang dikatakan Jaka.

“Maksudnya apa si kek?” tanya Ayunda.

Sebelum Ki Lukita menjawab, Jaka sudah buru-buru berkata dengan gugup. “Maaf, bukan maksud saya begitu, tapi saya memang berucap asal saja. Tidak ada dalam pikiran bahwa mereka itu adalah seperti germo segala.” Pemuda ini terjengah, ia menunduk malu.

“Oh, jadi anak kura-kura itu germo?” ujar Pertiwi mengulang penjelasan Jaka tanpa sadar, tapi mendadak dia sadar, wajahnya merah, sambil melotot gemas kearah Jaka.

“Sudah… tak usah dilanjutkan. Lalu bagaimana kelanjutannya?”

Jaka bersyukur ditolong Ki Alit Sangkir dari suasana canggung yang memalukan. "Tentu saja mereka marah pada saya. Saya mana tahu mereka berfikir bahwa saya mengolok- olok mereka sebagai germo segala.” Sampai disitu wajah Jaka agak merah.

Bocah aneh, pikir beberapa orang di ruangan itu, hanya berkata seperti itu saja sudah begitu likat—malu, cara bagaimana kau mau menjalin hubungan dengan gadis kelak?

‘ “Tidak semudah itu kau lari!” ‘ seragah salah seorang kakek yang akan saya hadapi berseru marah pada saya— Jaka melanjutkan ceritanya.

‘ “Memang tidak semudah itu.” ‘ Sahut kakek ramah itu mengiyakan. ‘ “Semoga mudah. Ingat pepatah saya tadi.” ‘

‘ “Dasar bocah keparat!” ‘ maki salah satu kakek itu terlihat marah, tapi anehnya dia tidak menyerang saya, mungkin mereka masih menaruh segan pada kakek ramah yang membela saya. Kakek ramah itu menasehati saya katanya,

‘ “Kelihatannya tidak mungkin kau meloloskan diri dari mereka. Ingat! Yang kau hadapi adalah orang-orang tangguh yang memiliki tenaga dalam sangat handal dan mumpuni.” ‘

‘ “Apa yang Aki katakan benar, dari segi yang satu itu saja saya sudah kalah jauh, tapi Aki melupakan satu hal.” ‘

‘ “Apa itu?” ‘

‘ “Sehebat apapun pukulan seseorang, jika tidak kena sasaran tidak akan berpengaruh apa-apa.” ‘

“Kakek itu terhenyak mendengar alasan saya, namun akhirnya dia mengangguk-angguk dengan tersenyum, kelihatannya untuk terakhir kalinya, saya bisa membuatnya paham.

‘ “Kalau begitu kudoakan semoga kau berhasil. Kalau mereka sampai bertindak keterlaluan, aku pasti membelamu. Sebagai ungkapan terima kasih, karena kau menyembuhkan keluargaku.” ‘ Kakek baik hati itu berkata dengan sungguh- sungguh dan begitu tulus.

“Saya yakin semua orang yang terluka itu bukan keluarganya—paling tidak hanya beberapa orang saja— selebihnya, anak buah. Beliau benar-benar seorang pemimpin yang baik, karena menganggap bawahan sebagai salah satu bagian dirinya, dengan demikian siapapun yang bekerja padanya tak merasa dirugikan, dan bersedia bertaruh nyawa demi membela kehormatan sang majikan.

‘ “Ah, masalah menyembuhkan keluarga Aki, tidak perlu diungkit lagi. Untuk apa saya mempelajari pengobatan, kalau bukan didermakan bagi yang membutuhkan. Saya bisa jadi orang tak berguna, jika ilmu pengobatan yang saya pelajari, tidak bermanfaat. Mungkin saya tak sebaik yang Aki sangka, tapi melihat korban begitu banyak, saya jadi kasihan.” ‘

“Beliau tertawa panjang. ‘ Kau benar-benar pemuda baik. Mudah-mudahan kita berjodoh…” ‘ kata kakek itu sambil berjalan menepi.

“Saya tidak paham ucapan kakek itu. Saya tidak memikirkan ucapan itu, karena saya anggap itu hanyalah rasa terima kasih saja.

“Bodoh...” hampir bersamaan Ki Gunadarma dan Ki Lukita berseru sambil tersenyum kecil. Jaka sempat tertegun. Tapi dia tidak memikirkan maksud ucapan dua tetua tadi, ia kembali bercerita.

“Begitu beliau menyingkir, tujuh kakek aneh itu mendekati saya.”

‘ “Kita mulai sekarang!”

“Tentu saja saya harus menyetujuinya.

‘ “Siapa yang akan melawan saya lebih dulu?” ‘ Tak menunggu lebih lama lagi, kakek berwajah bersih dengan muka merah maju kehadapan saya. Kalau melihat tindak kakinya saat melangkah, saya yakin benar, paling sedikit kakek itu memiliki tenaga diatas seratus tahun hasil latihan. Meski usianya paling banyak baru akhir enam puluhan. Saya kira dia banyak menggunakan mustika untuk mendongkrak tenaganya.

‘ “Setan cilik! kau harus hati-hati!” ‘ seru kakek lawan saya memperingati.

‘ “Apakah masih dengan ketentuan tadi? Bahwa tiap pertandingan ini hanya lima jurus saja atau lima puluh jurus seperti yang saya usulkan?” ‘

‘ “Tentu saja!” ‘ dari suaranya yang ketus saya tahu dia tersinggung sekali. Tapi yang ia katakan ‘tentu saja’ bisa saja lima atau lima puluh jurus. Sungguh tak disangka orang yang kelihatan pemarah, memiliki pertimbangan cermat. Diam-diam saya mewaspadai seluruh tindak tanduk mereka. Mungkin saja dalam pikiran mereka, untuk menghadapi orang seperti saya, satu jurus sudah cukup! Kalau dilihat dari roman wajah yang tidak menyiratkan apapun, siapapun menduga hal itu tidak berlebihan.

“Singkat cerita, saya beruntung dapat menghadapi mereka. Biarpun tidak jadi dikeroyok, tapi lima jurus dapat saya atasi— walau dengan, yah... kalau bisa disebut kebetulan. Sungguh! Kekuatan satu orang dari mereka bukan main dahsyatnya. Saya pikir, dalam lima puluh jurus tak bakal bisa saya lalui dengan selamat. Saya yakin… saya tidak bermaksud merendahkan para penguasa ilmu mustika—karena saya sendiri salah satunya, yang jelas, kekuatan mereka lebih hebat dari orang yang memiliki ilmu mustika. Kalau Paman Benggala yang sudah termasuk jago kosen dalam dunia persilatan memiliki kekuatan begitu hebat, maka ketujuh orang itu memiliki rata-rata kekuatan sekitar lima atau enam tingkat diatas paman." "Wah… kalau begitu hebat sekali!" seru Ki Wisesa terkagum-kagum tapi hatinya berdebar miris.

“Dan kini yang kuherankan, bagaimana kau bisa seberuntung itu melawan mereka?” Tanya gurunya.

Jaka terdiam sesaat. “Sudah saya katakan…” “Kebetulan?” sahut sang guru.

Jaka hendak mengangguk, tapi pandangan tiap orang menginginkan jawabannya. “Ah, bagaimana saya hendak menjelaskan? Ini benar-benar sulit.”

“Ceritakan saja apa adanya.” Pinta gurunya.

“Ah,” Jaka menggaruk kepalanya, ia merasa serba salah. “Baiklah, tapi... sebelumnya maaf, saya bukan bermaksud

merendahkan…”

“Tidak apa, aku mengerti maksudmu.” Sahut gurunya.

Pemuda ini menghela nafasnya. “Masih ingat pertarungan saat saya diuji paman Benggala?”

“Kau aneh, tentu saja kami, aku ingat.” Ki Benggala sendiri yang menyahut.

“Begitulah saat saya menghadapi kelima orang itu.” “Cuma itu?”

“Ya.”

“Sesingkat itu?” seru Ki Gundarma tak puas. “Memang demikian adanya.”

Beberapa tetua saling berpandangan. Mereka pikir Jaka memang tidak ingin menceritakan hal sebenarnya, dan mereka bisa mengira pertarungan itu pasti sangat seru.

“Kau hadapi dengan apa?” Tanya Ki Benggala. “Dengan olah langkah.”

“Tidak mungkin, bukankah kau mengatakan, melawan mereka seperti halnya saat melawanku?”

“Benar. Hanya ada bedanya, saat melawan mereka saya tidak sungkan lagi. Waktu itu tak terpikir oleh saya untuk menggunakan ilmu mustika.”

“Oh, kau tak menggunakannya?” Tanya sang guru. Jaka mengangguk.