Raden Banyak Sumba Bab 4 : Pengembara

Bab 4 : Pengembara

Setelah beberapa lama melewati huma serta reuma, dan setelah kuda mereka terpaksa melompati pagar yang terdiri dari bambu atau tumbuh-tumbuhan berduri, kedua orang pengembara muda itu tiba di atas sebuah bukit kecil. Dari atas bukit itu, tampaklah kepada mereka jalan besar. Di sana, kelihatan beberapa orang penunggang kuda, pedati-pedati yang ditarik kerbau, dan para pejalan. Jalan besar yang agak sibuk itu mengisyaratkan kepada mereka tentang tempat mereka sendiri, yang tentu tidak jauh lagi dari Kota Medang.

Berkatalah Banyak Sumba kepada jasik, "Kita akan mengunjungi Kota Medang dulu, Sik."

"Apakah tidak terlalu berbahaya?" tanya Jasik yang mengetahui bahwa Banyak Sumba tidak diperintahkan Ayahanda Banyak Citra untuk pergi ke sana.

"Kalau malam turun, orang tidak akan mengenali saya. Di samping itu, waktu tiga tahun banyak sekali mengubah rupa saya."

Jasik melirik kepada Banyak Sumba, memerhatikannya. Walaupun ia tidak berkata apa-apa, Banyak Sumba dapat menduga isi hati Jasik yang cemas.

"Saya akan melepaskan pakaian saya dan menggantinya dengan pakaian petani. Di samping itu, kita akan memasuki kota setelah gelap."

"Kuda-kuda kita terlalu gagah, Raden. Mereka akan bertambah curiga melihat petani berada di atas pelana kuda yang segagah ini."

Banyak Sumba termenung. Waktu ia hendak berangkat, Ayahanda menyerahkan sehelai kulit. Di atas kulit itu, Ayahanda menulis beberapa catatan: pertama, abu Jante Jaluwuyung, kedua, Anggadipati, ketiga, Pembayun Jakasunu, keempat, Tumenggung Wiratanu. Catatan yang tidak lengkap itu tidak mudah dimengerti orang yang tidak erat hubungannya dengan keluarga Banyak Citra. Akan tetapi, itu mengandung arti begitu banyak bagi Banyak Sumba. Pada sehelai kulit itulah tergambar seluruh tugas hidup yang diembannya sebagai putra tertua keluarga Banyak Citra.

Sekarang, ia berdiri di atas bukit kecil, bimbang. Apakah ia akan memperturutkan hasratnya untuk berkunjung ke Kota Medang, kota kelahirannya, tempat tinggal gadis yang sering menjadi penghuni hatinya di kala sepi? Ataukah ia langsung melanjutkan perjalanan untuk mencari guru yang akan mengajarkan ilmu kepahlawanan?

Jasik melihat kebimbangan Banyak Sumba. Sebagai seorang panakawan yang berperasaan halus dan sayang kepada tuannya, Jasik selalu ingin menyenangkan Banyak Sumba. Setelah beberapa lama hening, berkatalah Jasik, "Kita cari jalan agar dapat berkunjung ke dalam kota, Raden."

"Bagaimana kalau kita meninggalkan kuda di kampung, lalu menumpang gerobak kerbau itu?"

"Tentu saja kita perlu menyamar, Raden," ujar Jasik sambil kembali melirik tuannya.

Bagaimanapun, sukar bagi orang seperti Banyak Sumba untuk menyembunyikan jati dirinya. Tubuhnya yang semampai, kulitnya yang kehitaman dan bersih, matanya yang jernih, serta tutur kata dan gerak-geriknya yang halus, akan menyebabkan semua orang tahu bahwa ia seorang bangsawan, bahkan bangsawan tinggi. Seandainya Banyak Sumba berpakaian petani, orang-orang akan bertambah curiga. Apalagi anak buah Pembayun Jakasunu, yang tentu saja akan lebih bersikap curiga setelah mereka berhasil merebut kedudukan Ayahanda Banyak Citra secara curang.

Semua itu disadari kedua orang pengembara itu. Akhirnya, berkatalah Banyak Sumba, "Kita akan memasuki kota, tapi tidak lama tinggal di sana. Kita akan memasukinya di waktu gelap dan keluar di waktu gelap. Saya ingin mengetahui bagaimana keadaan kota dewasa ini, dan sejauh mana Pembayun Jakasunu sudah berhasil dalam usahanya yang tidak diridhai Sang Hiang Tunggal itu."

Ada sesuatu yang tidak diucapkannya, yaitu keinginannya untuk mengetahui bagaimana keadaan Teja Mayang setelah begitu lama ditinggalkannya.

"Kita dapat lebih lama berada di dalam kota, Raden. Kita dapat saja bersembunyi di rumah salah seorang yang setia kepada Ayahanda."

Banyak Sumba gembira sejenak mendengar pendapat Jasik itu, tetapi hatinya segera kecil kembali. Ia tahu bahwa Ayahanda tidak memberi tahu siapa pengikut setia yang berada di Kota Medang. Mungkin saja Ayahanda akan memberi tahu kepadanya tentang mereka itu, kalau saja Banyak Sumba diberi tugas untuk berkunjung ke Kota Medang. Akan tetapi, tugas pertama Banyak Sumba adalah belajar ilmu kepahlawanan. Setelah cukup untuk menegakkan kehormatan keluarga dengan ilmunya itu, ia harus berangkat ke Pakuan Pajajaran terlebih dahulu. Ia harus mengambil abu jenazah Jantejaluwu-yung. Maka, ia pun berkata kepada Jasik, "Tak seorang pun kukenal dan kuketahui siapa yang setia kepada Ayahanda di Kota Medang Ayahanda merahasiakannya, bahkan kepadaku."

"Kalau begitu, kita laksanakan rencana pertama saja, Raden," ujar Jasik.

Mereka pun menaiki kuda masing-masing, lalu turun dari bukit kecil itu. Setelah melompati beberapa pagar huma, tibalah mereka dijalan besar. Di sana, Banyak Sumba bimbang kembali. Ke manakah mereka akan pergi, ke kampung yang berdekatan dengan kota atau sebaliknya? Di kampung yang berdekatan dengan kota, mungkin ia akan dikenal. Oleh karena itu, ia berpaling kepada Jasik, "Sik, lebih baik kita ke barat dan menuju kota kalau senja hampir tiba." Sebagai seorang panakawan yang cerdas, Jasik mengerti maksud tuannya. Ia pun memalingkan kudanya, mengikuti kuda Banyak Sumba. Kedua orang pengembara itu memacu kuda masing-masing dijalan yang luas.

Beberapa kali, kedua orang pengembara berpapasan dengan pedati yang ditarik kerbau dan beberapa kali pula mereka berpapasan dengan rombongan jagabaya yang menjaga keamanan di jalan-jalan lengang antara kampung- kampung. Tampak kepada mereka bahwa jagabaya yang melihat Banyak Sumba tertarik untuk memerhatikannya.

Bagaimanapun, mereka tunduk kepada tata krama bahwa- mereka harus menghormati para bangsawan. Banyak Sumba memperlihatkan segala sifat kebangsawanan itu, walaupun ia tidak memakai pakaian bangsawan. Itulah rupanya yang menyebabkan para jagabaya bimbang ketika berpapasan dengan Banyak Sumba. Mereka tidak menghormati, tetapi mereka pun melambatkan kuda mereka. Sikap mereka itu lebih meyakinkan Banyak Sumba bahwa keinginannya untuk memasuki kota dapat membahayakannya. Oleh karena itu, diputuskan dalam hatinya bahwa hanya setelah senja ia akan memasuki Kota Medang.

Setelah beberapa lama mereka memacu kuda masing- masing, tampaklah sebuah kampung kecil yang terletak di pinggir sungai yang jernih airnya. Banyak Sumba menahan kendali kudanya. Jasik pun mengikuti.

"Kita berhenti di sini, Sik." "Baik, Raden," ujar Jasik.

Tak lama kemudian, mereka sudah berjalan menuntun kuda masing-masing menuju sebuah rumah yang paling dekat ke jalan. Seorang laki-laki tua dengan beberapa helai rotan yang sedang dianyamnya bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menyambut mereka. "Kami sedang menuju Kutabarang, Paman, tetapi dijalan tadi tiba-tiba timbul keinginan kami untuk mengetahui Kota Medang. Kami bermaksud menitipkan kuda kami di sini dan nanti malam kami akan berangkat ke kota."

"Baik, Raden. Kuda dapat dilepas di tepi sungai. Silakan masuk."

Jasik mengambil kendali dari tangan Banyak Sumba, lalu membawa kedua ekor kuda mereka ke tepi sungai. Sementara itu, Banyak Sumba berjalan mengikuti orang tua yang membukakan wide serambi rumahnya. Banyak Sumba dipersilakan duduk di atas sehelai kulit kambing yang bulunya mengilat. Tak berapa lama kemudian, berbagai macam penganan dan teh disodorkan dalam baki kayu.

"Terima kasih, Paman. Jangan menyusahkan."

"Tak ada yang bersusah-susah di sini. Sudah biasa orang mampir di sini, Raden. Raden mau ke mana?"

"Ke Kutabarang, Paman."

'Jauh sekali. Waktu masih muda, Paman pernah beberapa kali berkunjung ke Kutabarang. Kota yang sangat besar, tiga kali atau empat kali lebih besar daripada Kota Medang," kata orang tua itu.

"Paman sering ke Kota Medang?" tanya Banyak Sumba. "Paman ke kota hampir sepuluh hari sekali, mengantarkan

anyaman-anyaman rotan ini," kata orang tua itu.

"Tidakkah banyak perubahan setelah huru-hara tiga tahun, oh, empat tahun lalu?" tanya Banyak Sumba menyelidiki.

"Tidak banyak, kecuali bangunan-bangunan yang terbakar telah diganti dengan yang baru dan lebih baik. Menurut kabar, pemerintah kerajaan menyumbang kayu jati yang baik-baik. Di samping itu, tentu penguasa lama, yaitu Aria Banyak Citra yang menghilang, harus ada gantinya dan kabarnya sudah diganti. Paman kurang periksa."

"Siapakah pengganti penguasa lama itu, apakah penguasa baru bernama Pembayun Jakasunu?"

"Paman tidak tahu, Raden. Maklumlah, Paman datang ke kota hanya mengirimkan barang dagangan, tidak tertarik dengan urusan para bangsawan. Kalau usaha tidak terganggu, Paman tidak banyak memikirkan yang lain."

'Jadi, tidakkah terganggu usaha Paman oleh huru-hura itu?" "Sama sekali tidak, Raden. Paman mengetahui adanya

huru-hura dan kebakaran itu empat hari kemudian, setelah Paman mengantar barang dagangan ke sana. Oh, Paman diberi tahu sebelumnya oleh tetangga yang kembali dari sana. Ketika Paman datang ke sana, segalanya sudah pulih kembali. Para bangsawan dari Pakuan Pajajaran yang hadir di sana sedang sibuk memimpin perbaikan-perbaikan.

"Yang agak menghebohkan adalah menghilangnya Aria Banyak Citra. Para penduduk cemas, kalau-kalau beliau bersama keluarganya diculik orang dalam huru-hara itu.

Sampai sekarang, beritanya tidak ada, walaupun pemerintah kerajaan berusaha mencari jejak beliau. Rakyat, terutama penduduk kota yang mencintai beliau, tentu saja kehilangan bangsawan yang baik itu. Soalnya, sudah turun-temurun Kota Medang berada di tangan keturunan Banyak Citra. Di tangan wangsa inilah Kota Medang dan sekitarnya mendapat kemajuan. Terutama keamanan sangat baik. Belakangan ini, perampokan kecil-kecilan mulai terjadi. Rupanya, perampok- perampok itu tahu bahwa Aria Banyak Citra tidak ada."

Banyak Sumba tidak menyela cerita orang tua itu. Ia duduk sambil mencicipi penganan yang ada di hadapannya, la agak kecewa karena satu hal yang ingin diketahuinya ternyata tidak pula diketahui orang tua itu. Ia ingin mengetahui apakah Pembayun Jakasunu sudah berhasil menduduki jabatan Ayahanda. Pengetahuan ini sangat penting karena dengan demikian, ia tidak akan ragu-ragu melaksanakan apa-apa yang dibebankan Ayahanda kepadanya.

Ia masih ingat bagaimana Pembayun Jakasunu minta masuk kota setelah Banyak Sumba memergokinya di dalam hutan, ketika dia bertemu dengan para utusan dari ibu kota.

Kemudian, ia masih ingat bagaimana keluarga Pembayun Jakasunu sambil menangis-nangis memohon kepada Ayahanda agar Pembayun Jakasunu diizinkan masuk dan Ayahanda membatalkan keputusannya untuk membuang bangsawan itu. Segala kejadian itu dan kejadian selanjutnya, membuat Banyak Sumba penasaran. Ia ingin tahu masalah Pembayun Jakasunu ini. Makin keras pulalah keinginannya untuk memasuki Kota Medang malam itu, kota yang dicintainya, yang di dalamnya tinggal Teja Mayang dan Pembayun Jakasunu, dua orang yang memiliki arti khusus bagi Banyak Sumba.

-ooodwooo-

KETIKA hari mulai teduh, Jasik datang membawa kabar bahwa ia telah melihat sebuah pedati kerbau menuju kota. Di samping itu, dikatakannya pula bahwa kuda telah dititipkan dan diurus. Sambil menyampaikan kabar itu disodorkan kepada Banyak Sumba kantong kulit yang berisi uang emas, sedangkan Jasik memegang bungkusan besar yang berisi senjata mereka. Banyak Sumba menggantungkan kantong kulit itu di pundaknya dan dengan pakaian seorang petani melangkah ke jalan besar, mencegat pedati kerbau itu.

"Paman, kami bermaksud pergi ke kota dan membutuhkan pertolongan Paman," kata Banyak Sumba.

Tukang pedati itu mempersilakan mereka naik kalau bersedia duduk di atas batang-batang kayu yang katanya kotor. "Petani biasa bermain lumpur, Paman," ujar Banyak Sumba. "Mengapa sore-sore menuju kota?" tanya kusir pedati itu.

"Ada saudara kami yang sakit di sana," kata Jasik menyela,

cemas kalau-kalau Banyak Sumba tidak dapat berbohong. "Ini kayu untuk apa?"

"Saudara masih ingat kebakaran dulu itu? Nah, kayu ini untuk membuat bangunan-bangunan baru. Belum semua sempat diperbaiki. Kayu ini diambil dari hutan dekat Gunung Manglayang

"Apakah sekian lamanya belum diperbaiki?" tanya Banyak Sumba.

"Semuanya sudah diperbaiki, tapi ada yang diperbagus, misalnya rumah Raden Laya, Raden Setra, Raden Pembayun Jakasunu, Ki Sulki, dan lain-lain."

"Tidakkah Raden Jakasunu pindah ke istana Kota Medang?" tanya Banyak Sumba, sangat tertarik oleh berita itu.

"Saya tidak tahu, tapi Raden Pembayun Jakasunu jarang berada di kota. Beliau lebih banyak berada di Kutabarang. Kabarnya, beliau sibuk di sana."

"Sibuk apa, Paman?" "Tidak tahu," ujar kusir itu.

"Tahukah Paman, siapa yang menjadi penguasa kota sekarang?"

"Paman tidak tahu, kabarnya seorang bangsawan dikirim dari ibu kota untuk mengurus Kota Medang. Kabarnya, Raden Pembayun Jakasunu membantunya."

Jawaban kusir itu menyebabkan Banyak Sumba makin penasaran dan makin berteguh hati untuk menyelidiki keadaan Kota Medang Dan ketika menara-menara penjagaan mulai tampak, berdebarlah jantung Banyak Sumba. Menara-menara itu makin lama makin jelas kelihatan dan akhirnya benteng pun membayang di dalam remang senja. Kusir mempercepat jalan kerbaunya, takut kalau-kalau gerbang telah dipalang.

Ternyata, beberapa pedati besar dan kecil terkumpul di depan gerbang. Kusir berpaling kepada Banyak Sumba, "Sudah terlambat, Raden, pedati tidak dapat masuk, gerbang besar telah ditutup."

"Tidak apa-apa, Paman. Kami dapat jalan kaki ke dalam kota," ujar Banyak Sumba sambil mengemasi barang bawaannya yang sedikit jumlahnya. Jasik pun mulai mengaitkan tali bungkusannya di pundak dan bersiap melompat dari pedati itu. Akan tetapi, tiba-tiba beberapa orang laki-laki menghentikan pedati. Dari dalam gelap, seorang di antara laki-laki itu bertanya dengan suara rendah kepada kusir, "Paman dari arah barat?"

"Ya!" ujar kusir itu. Laki-laki itu mendekat, lalu bertanya, "Paman, tidakkah Paman melihat dua orang penunggang kuda, dua orang pemuda. Yang seorang bangsawan, kira-kira berumur tujuh belas tahun, yang lain panakawannya, juga berumur tujuh belas tahun. Mereka menunggangi kuda yang gagah. Yang bangsawan berkulit hitam manis, tubuhnya semampai."

Pertanyaan-pertanyaan itu mengejutkan Banyak Sumba dan Jasik. Ketika kusir itu termenung mengingat-ingat, berkatalah Banyak Sumba, "Kami melihatnya, mereka memacu kudanya ke arah barat, cepat sekali, seperti ada yang mengejar."

Orang yang diajak bicara itu bukannya pergi seperti yang diharapkan Banyak Sumba, tetapi malah mendekat, lalu bertanya setengah berbisik, "Yang seorang semampai, berkulit hitam?"

"Ya," ujar Banyak Sumba seraya menenang-nenangkan dirinya. Untung langit sudah gelap, pikirnya. Ia sadar bahwa Jasik gemetar di sampingnya. "Kuda mereka cokelat, yang satu cokelat tua yang satu kemerah-merahan dan tinggi-tinggi, bukan?"

"Ya," ujar Banyak Sumba dari sela-sela kayu di dalam pedati itu.

"Terus ke barat?"

"Ya, memacu kuda cepat-cepat," ujar Banyak Sumba pula “Ji, mungkin mereka tahu, kita menyusul mereka," kata

penanya itu kepada kawannya.

Kawannya menjawab di dalam gelap, "Mudah-mudahan, kawan-kawan kita dapat mengejar mereka."

"Terima kasih," kata penanya kepada Banyak Sumba, lalu pergi. Banyak Sumba dan Jasik bernapas lega. Untuk beberapa lama, mereka tidak dapat beringsut dari tempat duduk. Kemudian Banyak Sumba bangkit, lalu mengucapkan terima kasih kepada kusir yang dalam gelap mengawasinya, seperti curiga.

Banyak Sumba dan Jasik segera menjauh dari tempat itu, bukan menuju Kota Medang, tapi menghindarinya dengan jalan menyeberangi huma, kemudian masuk hutan.

Subuh-subuh mereka sampai di tempat menitipkan kuda.

Dengan letih, mereka menaiki kuda masing-masing. Kemudian, selagi kabut masih rendah, mereka memacu kuda ke selatan.

MEREKA tidak berani mendekati jalan besar, kuda mereka terpaksa berulang-ulang menerobos semak-semak dan melompati pagar-pagar huma. Dalam perjalanan, tak henti- hentinya Banyak Sumba merenungkan kejadian yang tidak disangka-sangka itu. Ia menyesal telah melanggar perintah Ayahanda dan tergoda untuk mengunjungi Kota Medang terlebih dahulu. Ia meminta maaf dalam hati kepada orangtua yang bijaksana itu dan berikrar diam-diam bahwa dia tidak akan melakukan pelanggaran lagi.

Sementara itu, kedua orang pengembara menyuruk-nyuruk di antara semak-semak dan embun pagi yang mulai mengangkat tabir uapnya dari atas padang-padang dan bukit- bukit. Ayam hutan dan ayam kampung bersahutan mengelu- elukan fajar yang mulai memerahkan langit di timur. Di suatu tempat yang agak tinggi dan agak lapang, Banyak Sumba mengacungkan tangannya, memberi isyarat kepada panakawannya untuk berhenti. Mereka pun berhenti, lalu turun dari kuda yang berdengus-dengus dengan napas beruap.

Banyak Sumba melihat ke sekeliling, lalu berkata, "Hampir di semua tempat terdapat perguruan. Sekarang, soalnya bagaimana menemukan perguruan yang terbaik atau guru yang paling tinggi ilmunya. Saya sudah memikirkan beberapa cara bagaimana kita akan menemukan perguruan yang baik atau guru yang mahir itu, Sik."

"Bagaimana, Raden?"

"Tentu saja kita akan bertanya kepada setiap orang yang pantas untuk ditanya. Di samping itu, kita pun akan melihat sendiri bukti-bukti kepandaian yang ada pada siswa-siswanya. Saya bermaksud terus-menerus mengunjungi perayaan- perayaan tempat diadakan pertunjukan."

"Tapi, Raden." kata Jasik, "menurut keterangan ayah saya, para pendekar sebenarnya tidak pernah muncul dalam gelanggang pertunjukan. Mereka yang berilmu tinggi biasanya juga bijaksana. Mereka tidak perlu lagi perhatian dan pujian orang. Hal-hal yang lebih tinggi dari pujianlah yang menjadi tujuan mereka. Perhatian dan pujian hanya dicari oleh yang rendah ilmunya."

Mendengar keterangan itu, tertegunlah Banyak Sumba. Keterangan Jasik mudah dimengerti dan masuk akal. Hal ini berarti bahwa mencari guru bukanlah soal yang mudah. Akhirnya, berkatalah Banyak Sumba, "Perkataanmu itu kukira benar, Sik. Jadi, kita harus mencari cara lain. Rupanya tidak semudah yang kubayangkan semula. Tapi baiklah, kita akan berusaha sebaik-baiknya dan berdoa semoga Sang Hiang Tunggal berkenan menunjukkan jalan."

"Raden, lihat!"

Banyak Sumba melihat ke utara, ke jalan besar yang samar-samar tampak dari tanah ketinggian itu. Dijalan itu, timbul tenggelam antara hutan-hutan kecil atau kampung- kampung, tampaklah serombongan penunggang kuda menuju ke Kota Medang.

"Mungkin, mereka rombongan yang mencari kita," sam- bungjasik.

"Ya," ujar Banyak Sumba. Terpikir olehnya bahwa hanya kebetulan mereka dapat meloloskan diri dari malapetaka itu dan bagi orang yang mencari-carinya, ia akan mudah sekali dikenal. Bagaimanapun, rupa Ayahanda banyak melekat pada dirinya. Orang yang kurang tajam pengamatannya pun dalam selintas akan menduga bahwa ia ada hubungan darah dengan Ayahanda Banyak Citra.

"Mari kita pergi," kata Banyak Sumba. Mereka pun mulai mengendarai kuda masing-masing, lalu melarikannya di pa- dang-padang atau antara semak-semak. Kadang-kadang, mereka menemukan dan mengikuti jalan-jalan kecil yang ke selatan. Mereka tak berani mengambil jalan besar yang jauh lebih mudah dilalui.

SETELAH beberapa hari mereka mengadakan perjalanan dan terpaksa bermalam di gubuk-gubuk di tengah perhumaan, barulah mereka berani masuk kembali di jalan besar. Karena belum punya tujuan yang pasti, mereka tidak pernah melarikan kuda cepat-cepat. Bahkan, di tiap persimpangan mereka berhenti, menunggu pejalan atau penunggang kuda lain untuk menanyakan arah.

Di suatu pertigaan, kedua orang pengembara berhenti, lalu beberapa saat menunggu rombongan petani yang berjalan ke arah mereka. Begitu para petani itu berpapasan, Banyak Sumba mengucapkan sampurasun, lalu bertanya, "Paman, kami mohon pertolongan. Tahukah Paman arah jalan-jalan ini?"

Seorang yang tampak paling cerdas dari keempat orang petani itu maju, lalu dengan mempergunakan ibu jari tangannya menunjuk, mula-mula ke timur.

"Kalau Raden mengambil jalan ini dan lurus ke timur, dalam tiga hari Raden akan tiba di Kota Medang, sebuah kota yang sedang besarnya tapi makmur dan aman, berkat Aria Banyak Citra yang cerdik dan ditakuti oleh orang-orang jahat. Ke utara menuju Kutawaringin. Mula-mula Raden ke utara, kemudian di suatu pertigaan menuju ke barat. Di pertigaan itu terdapat sekelompok rumah, tempat orang menyediakan makanan dan minuman untuk para pejalan dan ubi atau ketela untuk kuda. Kutawaringin kota yang besar dan kaya raya. Selain hasil bumi, hasil laut bergudang-gudang disimpan di kota ini. Dari sinilah para pedagang menyebar ke selatan, ke bagian pedalaman kerajaan. Ke sebelah barat Kutabarang dan lebih barat lagi, agak ke selatan, ibu kota kerajaan. Raden mau ke mana?" 

"Kami pengembara, sedang mencari pengalaman, tidak ada tujuan yang pasti," sahut Banyak Sumba.

"Oh, Raden tentu putra bangsawan tinggi."

"Baiklah, Paman, saya tak hendak mengganggu kalian lebih lama. Terima kasih," kata Banyak Sumba sambil memasukkan kakinya ke sanggurdi, lalu melompat ke atas punggung kudanya. Para petani itu mengundurkan diri, lalu berjalan kembali, sementara Banyak Sumba termenung. Perguruan terbesar di seluruh wilayah Pajajaran yang termasyhur adalah Padepokan Tajimalela yang letaknya tidak diketahui orang Di perguruan milik kerajaan itu, hanya para calon puragabaya yang diperkenankan belajar. Perguruan lain adalah Bale Rante, tempat mendidik para jagabaya. Perguruan ini pun milik kerajaan dan hanya diperuntukkan bagi rakyat biasa yang telah dipilih dan dinilai secara teliti kelakuan baiknya dan kepantasannya untuk menjadi prajurit kerajaan. Masih banyak perguruan lain yang sama masyhurnya, seperti Jalaksana, Pasir Eurih, Gamping, dan lain-lain. Akan tetapi, menurut Paman Wasis, perguruan-perguruan yang belakangan ini tidak akan memberikan ilmu yang baru karena Paman Wasis sendiri di masa mudanya pernah berturut-turut memasukinya.

Menurut nasihat Paman Wasis, tempat belajar yang paling baik adalah Padepokan Tajimalela. Akan tetapi, karena itu tidak mungkin dimasuki, yang perlu dicari adalah orang-orang tertentu yang sedikit-sedikit dapat mengumpulkan rahasia ilmu para puragabaya. Orang-orang inilah yang harus dicari Banyak Sumba. Dan untuk ini, perlu dipikirkan cara-cara, bagaimana ia harus bertemu dengan orang-orang yang biasanya tidak mudah membukakan pengetahuannya di muka umum.

Seraya termenung demikian, tidak disadari bahwa kudanya telah jauh menuju Kutawaringin. Ketika Banyak Sumba menyadari arah jalannya, ia tidak berhenti. Tidak ada salahnya ia menuju Kutawaringin karena di mana pun mungkin saja ia bertemu dengan orang-orang yang dicarinya. Maka, dengan teriakan, dipaculah kudanya di jalan lengang itu. Matahari mulai meninggi.

Setelah dua hari dua malam melakukan perjalanan dan menginap di kampung-kampung terpencil, akhirnya jalan tidak lengang lagi. Kampung-kampung sepanjang jalan makin banyak ditemukan, sedangkan huma di kiri kanan makin banyak dan makin luas pula. Semua itu berarti sebuah kota telah de cat.

Sangkaan Banyak Sumba tidaklah salah karena tak lama kemudian, tampaklah menara penjagaan kota yang tinggi. Di suai u belokan, ia berpapasan dengan kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda, kereta yang hanya dapat dipergunakan dijalan lebai sekitar kota. Kesadaran bahwa ia akan memasuki kota melegakan hati Banyak Sumba.

Beberapa buah pedati kerbau yang mengangkut hasil bumi telah mereka lewati, ketika di suatu kelompok rumah mereka melihat pemandangan yang aneh. Orang-orang tua menyuruh anak-anak gadisnya masuk rumah atau sembunyi.

"Apakah yang terjadi?" pikir Banyak Sumba sambil menahan kendali kudanya. Belum lagi pertanyaan hatinya terjawab, dari jauh terdengar suara trompet tiram mendayu- dayu.

Tak lama kemudian, terdengar pula suara pecut besar yang diledak-ledakkan di udara. Banyak Sumba melihat ke kanan ke kiri. Ke arah orang-orang yang berjajar di pinggir jalan, kepada ibu-ibu yang sibuk menghalau gadis-gadis supaya menjauh, dan kepada pemuda-peniuda yang dengan muka muram berdiri di pinggir jalan. Banyak Sumba melihat pedati' kerbau berhenti di pinggir jalan hingga rodanya masuk ke selokan. Demikian dilihatnya para penunggang kuda lain turun dari kudanya masing-masing, seraya meminggir memegang kendalinya.

"Bangsawan tinggi lewat, Raden," ujar Jasik dari belakang Banyak Sumba.

"Tapi mengapa gadis-gadis itu disuruh bersembunyi, Sik?" "Saya pun heran, Raden."

Percakapan mereka terhenti karena bunyi pecut, suara trompet tiram, dan deru derap kuda terdengar mendekat. Tak lama kemudian, dari tikungan muncullah lima orang penunggang kuda bersenjata lengkap memacu kudanya seperti sedang dikejar maut. Kelima orang itu meledak- ledakkan pecut. Kadang-kadang mempergunakan pecut itu untuk menghantam orang yang berdiri agak ke tengah.

Melihat itu, Banyak Sumba segera mundur, lebih minggir lagi.

Setelah kelima orang ponggawa itu lewat, muncullah dari tikungan rombongan penunggang kuda lain. Semuanya berpakaian indah dan masih muda belia. Kadang-kadang, tampak di antara mereka ada yang bersolek berlebihan, dengan badik yang disisipkan dangkal-dangkal, disangkuti selendang sutra yang warnanya mencolok, berkibar-kibar tertiup angin. Ada pula yang tutup kepalanya dihias dengan bunga hingga Banyak Sumba menyangka bahwa rombongan itu adalah rombongan pertama arak-arakan pesta.

Akan tetapi, dugaannya itu lenyap kembali karena tak lama kemudian, muncullah sebuah kereta yang sangat bagus, yang kayu-kayunya diukir sangat rumit dan dicat dengan warna emas. Kereta ini ditarik oleh dua ekor kuda yang dihias dengan genta-genta dan bulu-bulu ekor merak serta sutra- sutra dewangga hingga seperti dalam dongeng.

Bersamaan dengan munculnya kereta itu, berdudukkan-lah rakyat di tanah pinggir jalan itu. Banyak Sumba dan Jasik kebingungan, ia tidak tahu apa yang terjadi dan apa yang harus mereka lakukan. Kebingungan itu berubah menjadi rasa terkejut ketika seseorang menarik pundak mereka dan berbisik menyuruh mereka duduk seperti yang lain supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Dengan kikuk, kedua orang pengembara itu pun bersila di pinggir jalan, lalu meniru yang lain menghaturkan sembah ke arah jalan tempat kereta besar itu lewat. Sekejap kemudian, gemuruhlah suara kaki kuda dan bersamaan dengan itu, hiruk pula bunyi berpuluh-puluh buah genta yang bergantungan pada binatang-binatang itu. Sedangkan trompet tiram dan bunyi pecut, terus menggetarkan udara. Sungguh kacau- balaulah pendengaran Banyak Sumba. Bersamaan dengan itu, naik pulalah debu jalan, menyesakkan napas dan mengotori pakaian. Akan tetapi, Banyak Sumba tidak dapat berbuat apa- apa. Ia cuma bersila dan meniru apa yang diperbuat rakyat di sana.

Tak lama kemudian, kereta itu berlalu dan semua orang berdiri kembali. Mereka membersihkan pakaian dari debu sambil memaki-maki dengan kata-kata yang tidak pernah terdengar di Kota Medang. Banyak Sumba dengan Jasik pun terpaksa mengibas debu dari pakaian serta rambut mereka. Selagi mereka melakukan hal itu, tiba-tiba didengarnya orang berkata, "Saudara-saudara orang asing?"

Banyak Sumba berpaling dan tampaklah olehnya laki-laki setengah baya yang tadi menyuruhnya duduk di pinggir jalan.

"Ya, Paman, kami sedang mengembara mencari pengalaman," jawab Banyak Sumba.

"Tentu pengalaman yang baru termasuk ke dalam pengalaman pahit," kata laki-laki itu sambil tersenyum pahit.

"Kami bingung, apakah akan kami masukkan pengalaman pahit atau lelucon," ujar Banyak Sumba sambil tersenyum kepada orang itu.

"Memang tidak lucu, Anak Muda," kata orang itu. "Siapakah yang lewat itu dan mengapa tadi saya melihat

ada yang aneh, gadis-gadis remaja dihalau supaya bersembunyi?"

"Pertanyaanmu itu menunjukkan bahwa kalian benar-benar orang asing yang baru pertama kali datang ke Kutawaringin."

"Memang demikian, Paman."

"Yang lewat itu Raden Bungsu Wiratanu bersama rombongannya, bangsawan-bangsawan muda Kutawaringin. Dan gadis-gadis itu disembunyikan karena mereka dapat diibaratkan sebagai anak ayam, sedangkan Raden Bungsu Wiratanu, walaupun masih muda, adalah elang yang rakus."

Banyak Sumba samar-samar menangkap sesuatu yang dimaksud orang itu. Tapi, ada suatu hal yang sangat menggetarkan hatinya. Tidak disadari, ia telah berdekatan dengan salah seorang yang menempati arti sangat penting dalam hidupnya. Raden Bungsu Wiratanu adalah anggota wangsa Tumenggung Wiratanu; tentu ia adik Raden Bagus Wiratanu yang dipergunakan untuk memancing-mancing perkelahian dengan Kakanda Jante Jaluwuyung. Pada saatnya, ia akan berhadapan dengan Bungsu Wiratanu ini dan seperti Jante Jaluwuyung, ia akan membunuh elang muda yang rakus itu. Ia menarik napas panjang.

Tiba-tiba, terdengar suara ladam kuda yang dilarikan de- ngan cepat. Tujuh penunggang kuda dari rombongan Raden

Bungsu Wiratanu kembali. Rakyat meminggir. Banyak Sumba pun meminggir sambil memerhatikan tampang- tampang angkuh para penunggang kuda itu. Dengan tidak disangka-sangka, para penunggang kuda itu berhenti di hadapannya.

"Yang ini?" kata yang seorang kepada temannya.

"Ya," kata yang lain sambil matanya mengawasi kedua ekor kuda mereka.

"Hai, kamu!" kata yang lain sambil menunjuk kepada Banyak Sumba dengan gagang pecutnya. "Raden Bungsu mau beli kuda kamu itu," lanjutnya sambil mendekat.

"Kami tidak akan menjual kuda. Kami sedang berada dalam perjalanan," sahut Banyak Sumba. Rakyat yang mendengar jawaban Banyak Sumba mundur ketakutan.

"Apa?" tanya penunggang kuda itu keheranan. "Kami tidak akan menjual kuda!" sahut Banyak Sumba tegas.

Tiba-tiba, orang-orang itu mengarahkan ujung tombak mereka ke leher Banyak Sumba. Banyak Sumba yang tidak menduga sebelumnya, tidak dapat bergerak. Kalau bergerak, empat ujung tombak akan melukainya.

Sementara Banyak Sumba tidak dapat bergerak, Jasik mencoba maju, tetapi orang yang mengajaknya bercakapnya tadi menahan tangan Jasik dan berbisik kepadanya. Maka, Jasik pun tidak berbuat apa-apa ketika dua orang dari rombongan Bungsu Wiratanu mengambil kuda mereka, melepaskan kantong-kantong dan melemparkannya ke tanah.

Kedua ekor kuda itu dituntun, lalu kendalinya diikatkan ke pelana kuda dua orang penunggang kuda itu. Sementara itu, salah seorang ponggawa yang menekankan ujung tombaknya ke leher Banyak Sumba mengambil sesuatu dari dalam kantong kecil di pelana kuda, lalu melemparkan beberapa keping uang emas ke tanah dekat kaki Banyak Sumba. Tak lama kemudian, mereka mengundurkan diri, lalu memacu kuda mereka sambil membawa kuda Banyak Sumba dan Jasik.

Banyak Sumba memandang orang-orang itu hingga lenyap di tikungan, kemarahannya yang ditahan mengguncangkan tubuhnya. Ia menggeram seperti Ayahanda menggeram.

Kemudian, dirasanya telapak tangan di pundaknya. Laki-laki setengah baya tadi berkata, "Sudahlah, Anak Muda. Pada suatu kali, mungkin mereka terpaksa akan bayar utang, bukan kepadamu saja, tapi kepada kita semua."

Dengan sedih, Banyak Sumba melangkah, diiringi Jasik, mengikuti laki-laki itu menuju rumah besar yang terletak tidak jauh dari jalan. Banyak Sumba dan Jasik dipersilakan masuk serambi yang berwide, lalu duduk di atas tikar pandan. Tak lama kemudian, datanglah wanita setengah baya, istri tuan rumah, diiringi oleh seorang anak laki-laki yang membawa minuman dan penganan. "Silakan minum," kata laki-laki itu.

"Terima kasih, Paman," kata Banyak Sumba, "terima kasih atas bantuannya. Kalau tidak ada Paman, mungkin kami celaka."

"Sabarlah, Anak Muda. Tidakkah lebih baik kita mengetahui nama masing-masing?" tanya laki-laki itu. "Paman bernama Askiwin, orang sini asli. Anak Muda dari mana?"

"Nama saya Banyak Sumba. Ini kawan saya, Jasik." "Banyak Sumba, Raden Banyak Sumba?"

"Ya, Paman:"

"Oh, maaf. Raden. Paman sudah menduga Raden seorang bangsawan."

"Saya tak lebih dari siapa pun di mata Sang Hiang Tunggal, Paman," sahut Banyak Sumba.

"Ke manakah tujuan perjalanan, Raden?"

"Kami sendiri tidak tahu, Paman. Kami sedang mencari orang yang dapat kami jadikan guru ilmu kepahlawanan."

"Sayang sekali, di dekat-dekat Kutawaringin, Raden tidak akan menemukan tempat berguru. Penguasa kota sangat ketakutan. Oleh karena itu, ia melarang adanya perguruan- perguruan di wilayahnya. Jadi, Raden harus berjalan jauh."

"Apakah Raden Bungsu Wiratanu itu putra Tumenggung Wiratanu penguasa kota ini?"

"Benar, Raden. Kakaknya bernama Bagus Wiratanu. Kami tidak pernah dibiarkan tidur nyenyak oleh orang itu. Untung tangan Sang Hiang Tunggal yang kasih kepada kami mencabut nyawanya. Seorang puragabaya membunuhnya dalam perkelahian. Akan tetapi, karena cerdiknya Tumenggung Wiratanu, akhirnya puragabaya itu dibunuh oleh utusan-utusan kerajaan." "Saya pernah mendengar kisah yang menyedihkan itu, Paman," kata Banyak Sumba. Kesedihannya bangkit kembali dan kenangannya kepada Jante Jaluwuyung bercampur amarah. Ah, kalau saja Kakanda Jante masih ada, ia tidak akan tanpa daya seperti tadi menghadapi pengawal-pengawal Bungsu Wiratanu.

"Paman, mengapa warga kota dan warga Kutawaringin tidak mengadu kepada sang Prabu?"

"Raden, niat untuk mengadu kepada sang Prabu telah dilaksanakan, tetapi para utusan rakyat dan para bangsawan menemui nasib yang malang. Di jalan mereka disergap dan hanya nama mereka yang kembali."

"Tidakkah pejabat-pejabat dari ibu kota Pakuan datang kemari?"

"Mereka sewaktu-waktu datang, tetapi kami tidak dapat kesempatan untuk melapor apa yang sebenarnya diderita rakyat di bawah kekuasaan penguasa kota yang sekarang. Dan segala yang dilaporkan kepada para utusan dari ibu kota hanya yang baik-baiknya, yang diperlihatkan hanya yang indah-indah. Nanti Raden akan melihat sebuah istana kecil yang indah di lingkungan taman, yang kata orang seperti di Kahiangan. Nah, taman ini untuk menyenangkan tamu dari ibu kota, dibuat secara kerja paksa dan sumbang paksa dari rakyat serta bangsawan-bangsawan. Padahal, rakyat dan bangsawan-bang-sawan yang baik menginginkan usaha perluasan perhumaan. Raden tahu, penduduk bertambah padat, huma harus diperluas. Itu dibutuhkan waktu, tenaga, dan biaya. Akan tetapi, biaya, tenaga, dan waktu ini diperas dari rakyat dengan percuma, hanya untuk membuat taman itu."

"Sang Hiang Tunggal tidak akan membiarkan segalanya berlangsung lama, Paman," kata Banyak Sumba, hatinya dipenuhi kemarahan dan kesedihan. "Semoga, Raden," katanya. Tiba-tiba orang itu menutupkan telunjuknya ke mulut, lalu berbisik bahwa ada orang datang.

"Mata-mata Wiratanu ada di mana-mana, kita tidak tahu apakah saudara kita sendiri berada di pihak sana."

"Marilah kita lupakan segala yang buruk itu, Paman. Kita akan berbicara tentang yang lain dan tidak tentang perampas kuda itu. Dapatkah Paman membantu kami, di manakah Paman dengar ada perguruan ilmu kepahlawanan yang baik?"

"Raden, di sini tidak ada, semua dilarang," jawab Aski-win.

Setelah termenung, berkatalah pula dia, "Di perbatasan dengan wilayah Kutabarang, Paman dengar ada satu, tetapi perguruan biasa saja."

"Baiklah, Paman. Kami akan bertanya sepanjang jalan nanti. Di manakah kami bisa membeli kuda?"

"Nanti Paman antar Raden ke sana. Sekarang, marilah kita masuk, Bibi telah menyediakan makanan bagi kita."

Sore itu, dengan kuda baru, Banyak Sumba dan Jasik memasuki Kota Kutawaringin. Mereka lewat di suatu bangunan yang terbuat dari kayu jati. Mereka mendapat keterangan bahwa bangunan itu bernama terungku, tempat memenjarakan orang jahat. Mereka melewati lapangan besar tempat upacara "Menerima Padi Sulung". Beberapa malam sebelumnya, penduduk kota baru saja mengadakan upacara mengelu-elukan Nyi Pohaci Sang Hiang Sri karena seluruh wilayah Kutawaringin baru selesai panen.

Selagi berjalan-jalan, mereka dikejutkan oleh ingar-bi-ngar dan teriakan-teriakan rakyat. Pedagang-pedagang berlarian ke pinggir jalan, ayam lepas dari kurungan pedagang ayam dan beterbangan kian kemari sambil berkotek-kotek, seorang pedagang minuman terjatuh dilanggar pedagang bunga rampai yang berlari ke pinggir. Seorang buta kehilangan tongkatnya dan ditarik oleh seorang perempuan tua ke pinggir jalan. "Apa yang terjadi?" tanya Banyak Sumba kepada orang- orang yang berdiri di pinggir jalan bersamanya.

"Biasa," ujar orang itu. Banyak Sumba tidak mengerti, tetapi tak lama kemudian menderulah penunggang-penung- gangkuda, semuanya anak-anak bangsawan dengan beberapa orang pengiring bersenjata. Mula-mula, Banyak Sumba heran, kemudian ia sadar bahwa bangsawan-bangsawan muda itu sedang berpacu kuda sambil berteriak-teriak riang gembira. "Berpacu kuda di tengah kota!" pikir Banyak Sumba dengan muak. "Seandainya itu terjadi di Kota Medang, Ayahanda pasti menghukum anak-anak bangsawan itu dengan pukulan cemeti di depan umum. Tapi, ini Kutawaringin," pikirnya.

"Sik, marilah kita tinggalkan kota ini," kata Banyak Sumba.

Beberapa hari kemudian, mereka sudah berada di perbatasan Kutawaringin.

-oooodwoooo-

PERGURUAN ilmu kepahlawanan biasanya tidak saja berhubungan erat dengan bidang-bidang keprajuritan dan kepentingan kerajaan lainnya, tetapi juga dengan bidang perdagangan. Kalau keprajuritan memerlukan kepandaian dalam ilmu bertempur, hal itu sudah sewajarnya. Akan tetapi, kepandaian ini tidak asing bagi mereka yang bergerak dalam perniagaan. Para pedagang kerajinan, perhiasan yang mahal- mahal, misalnya dari emas dan batu-batu mulia, biasanya terdorong menguasai ilmu berkelahi sekadarnya untuk melindungi keselamatan dan harta mereka. Mudah dimengerti kalau perguruan-perguruan banyak tersebar di tengah masyarakat yang bergerak dalam bidang perdagangan dan bukan di tengah-tengah masyarakat petani.

Itulah sebabnya, kunjungan Banyak Sumba dan Jasik ke Kutabarang merupakan kunjungan yang terencana karena Ku- tabarang merupakan pusat perniagaan yang terbesar dan terpenting di seluruh kerajaan. Di sanalah Banyak Sumba berharap dapat menemukan perguruan yang terbaik.

Pada hari pertama tiba di kota, perhatian Banyak Sumba tertarik oleh keramaian dan kesibukan kota itu. Belum pernah Banyak Sumba melihat rombongan orang yang demikian besarnya berkumpul di satu tempat. Di dalam lingkungan benteng yang luas itu, mungkin Kutabarang menampung dua puluh atau tiga puluh ribu orang penduduk. Mereka terdiri dari pegawai-pegawai kerajaan, para perwira, tukang, dan pedagang. Sementara itu, di kampung-kampung yang terletak di luar benteng, yaitu di depan gerbang kota bagian selatan, para petani kaya telah mendirikan tempat tinggal mereka berupa rumah-rumah kayu yang besar, kuat, dan indah.

Beberapa ratus tonggak ke utara terletaklah pelabuhan, tempat kapal-kapal layar, perahu besar dan kecil berlabuh. Begitu sibuknya pelabuhan itu dan begitu banyaknya kapal berlabuh, hingga laut yang warnanya biru hanya sekali-kali saja tampak antara celah layar-layar yang berwarna-warni. Sedangkan kesibukan pelabuhan tidak terkatakan pula ramainya. Berbagai bangsa datang ke Pelabuhan Kutabarang, berbagai bahasa diucapkan, bahasa Cina, bahasa Keling, bahasa Benggala, bahasa Melayu, bahasa Jawa, dan lain-lain. Segala kemegahan, kesibukan, dan keramaian kota itu, selama tiga hari, menarik perhatian Banyak Sumba dan Jasik.

Pada hari keempat, diputuskan oleh Banyak Sumba untuk mengunjungi perguruan yang ditunjukkan oleh seorang pelayan di tempat mereka menginap. Perguruan itu terletak di atas sebuah bukit yang tidak jauh letaknya dari benteng Kutabarang. Dari bukit itu terlihat dengan jelas letak benteng dengan wilayah sekitarnya.

Ketika kedua orang pengembara dengan penunjuk jalan pelayan penginapan tiba di tempat itu, seorang penjaga membukakan lawang kori. Begitu besarnya perguruan itu hingga bagi orang asing, sukar untuk membedakannya dengan sebuah kampung biasa. Setelah berada di dalam lingkungan pagarnya yang terdiri dari kayu dan tumbuh- tumbuhan berduri, Banyak Sumba dapat melihat perbedaan yang khas dari perguruan itu. Penghuninya semua laki-laki dan kebanyakan masih muda. Mereka anak-anak pedagang atau para pegawai perusahaan perdagangan dari Kutabarang. Dan ketika Banyak Sumba dan Jasik tiba, para penghuni perguruan itu tampak langsung menduga bahwa Banyak Sumba anak seorang pedagang kaya.

Beberapa orang pelayan segera mengelu-elukan Banyak Sumba yang diiringkan oleh Jasik. Kedua orang pengembara dibawa ke salah satu ruangan tempat mereka diterima oleh wakil pemimpin perguruan.

"Juragan hendak belajar?" tanya wakil pemimpin perguruan itu.

"Kami baru hendak mencari keterangan, Paman. Saya ingin tahu segala hal yang perlu saya ketahui tentang perguruan ini."

"Setiap siswa membayar tiga keping emas setiap bulan. Mereka mendapat pelajaran dari matahari terbit hingga para petani melepas parang dari tangannya wakil pemimpin itu menghentikan bicaranya ketika dilihatnya dua orang tamunya keheranan.

Memang, Banyak Sumba sangat keheranan mendengar ongkos belajar yang begitu tinggi. Di Medang, kalau orang hendak belajar kepada seorang guru, tidak pernah ditetapkan bahwa orang itu harus membayar. Ia cukup meminta diajari kepada guru itu setelah mengangkat sumpah bahwa kepandaian yang akan didapatnya tidak akan dipergunakan untuk kepentingan dirinya sendiri atau melakukan kejahatan. Lebihnya adalah seekor ayam yang disembelih dan darahnya dipercikkan di tempat latihan, kain bagi guru, dan sirih pinang. Syarat yang tanpa malu-malu disampaikan kepada Banyak Sumba oleh wakil pemimpin perguruan itu benar-benar mengejutkannya. Timbul syak wasangka dalam diri Banyak Sumba, barangkali perguruan itu kurang dapat dipercaya. Ia menyesal tidak bertanya terlebih dulu kepada pelayan yang mengantarnya, apakah perguruan itu didirikan dengan sepengetahuan bangsawan Kutabarang atau tidak.

"Anak Muda jadi mau belajar di sini?" tanya wakil pemimpin itu seakan-akan mendesak. Banyak Sumba kebingungan, tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Dalam kantong kulitnya, kira-kira terdapat dua puluh delapan keping emas lagi, dengan tujuh keping perak dan lima belas keping perunggu. Ia tidak mungkin dapat membayar keping-keping emas untuk pelajaran yang belum tentu benar-benar dibutuhkannya. Siapa tahu apa yang akan didapatnya dari perguruan itu sebenarnya sudah didapat dari Paman Wasis.

'Anak Muda jadi mau belajar?" tanya wakil pemimpin itu sekali lagi, seraya memandang tajam ke wajah Banyak Sumba. Dengan tidak banyak berpikir, keluarlah kata-kata Banyak Sumba sebagai dalih untuk menolak, "Saya ingin melihat dulu pelaksanaan pelajaran di sini, baru saya dapat memutuskan."

Wakil pemimpin perguruan itu tampak marah; ia mendelik, lalu berdiri, "Kalau tidak berani membayar, jangan belajar di perguruan ini," katanya.

Mendengar perkataan itu, panaslah daun telinga Banyak Sumba. Walaupun demikian, ia tetap tenang karena sadar bahwa ia harus menghindarkan setiap perkelahian yang tidak ada hubungannya dengan tugasnya, yaitu membalas dendam terhadap Puragabaya Anggadipati, wangsa Wiratanu, Pembayun Jakasunu, serta mengembalikan abu jenazah Kanda Jalu-wuyung kepada keluarga Banyak Citra. Setiap penghinaan dari orang-orang kerdil seperti wakil pemimpin itu harus diterimanya dengan tabah, dan setiap kesedihan harus dianggapnya sebagai persembahan kepada Sang Hiang Tunggal—yang akhirnya akan menolong orang yang diperlakukan dengan tidak adil, seperti seluruh keluarga Banyak Citra.

Akan tetapi, Jasik tidak menerima penghinaan wakil pemimpin perguruan itu seperti tuannya. Jasik berdiri, lalu berkata, "Saudara tidak perlu menghina. Tuan saya ini—kalau mau—dapat membeli seluruh perguruan dan membubarkannya. Yang kami inginkan contoh yang diajarkan di perguruan ini. Kami ingin mengetahui kepandaian yang bakal kami dapat di perguruan ini. Saya bersedia menjadi percobaan agar tuan saya dapat melihat dengan mata kepala sendiri kepandaian guru perguruan ini, terutama kepandaian Saudara sendiri."

Banyak Sumba tidak dapat menghindarkan lagi peristiwa selanjutnya. Wakil pemimpin perguruan gemetar dan mende- ngus-dengus karena marahnya, sedangkan pelayan pengantar menyelinap dan lari ke luar ruangan seperti anjing melihat tongkat. Wakil pemimpin berdiri tegak, lalu melangkah ke tengah-tengah ruangan sambil memberi isyarat kepada Jasik.

Jasik yang marah melangkah dengan pasti ke tengah- tengah ruangan, lalu pasang kuda-kuda.

'Jasik, ingat ayahmu” kata Banyak Sumba. Ia ingin mengingatkan Jasik bahwa perkelahian tidak boleh dilakukan dalam keadaan kalap seperti itu. Jasik harus membaca mantra untuk menenangkan diri. Itulah sebabnya Banyak Sumba mengingatkan Jasik. Akan tetapi, Jasik sudah kalap, matanya menyala-nyala seperti dua buah bara yang tiba-tiba panas sekali. Banyak Sumba berseru kembali sambil melangkah ke dinding di dekatnya, bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Ia kemudian berseru:

"Demi air terjun yang berasap di lunas cadas Demikian titik embun..." Itulah awal mantra yang dipelajarinya dari Paman Wasis untuk menenangkan diri sebelum menghadapi lawan.

Rupanya, Jasik pun sekarang teringat akan nasihat ayahnya. Ia memperlambat napasnya dan cahaya matanya tidak liar lagi. Maka, kedua orang lawan berhadapan dengan siap.

Tiba-tiba, wakil pemimpin perguruan itu menyerbu dengan cepat dan dengan tenaga yang besar sekali. Jasik mengelak, tetapi karena cepatnya serangan, walaupun tinju lawan tidak mengenainya, tak urung kedua orang lawan bertabrakan. Lalu terjadilah perkelahian yang kacau-balau, sama-sama bertindak serampangan dalam mempergunakan tangan dan kaki mereka.

Melihat perkelahian yang buruk itu, Banyak Sumba marah dan kesal. Ia menyesali Jasik seolah-olah melupakan segala pelajaran yang diterima dari ayahnya. Segala siasat yang pernah diperbincangkan dan dibahasnya bersama, seolah-olah tidak berkesan di hati Jasik. Panakawan yang baik itu berkelahi secara ngawur dan begitu sering kena pukulan.

Sedangkan setiap pukulannya yang masuk tubuh lawan, itu hanya kebetulan. Kemudian, wakil pemimpin itu melepaskan diri sambil terengah-engah mundur. Jasik yang kelelahan tidak bisa mempergunakan peluang yang diberikan lawan. Kedua belah kakinya tidak dapat dilangkahkan, seolah-olah melekat di lantai tanah ruangan itu. Banyak Sumba melihat bahwa wakil pemimpin itu telah menerima pukulan yang berarti, ia lebih payah daripada Jasik.

Tiba-tiba, terdengar langkah orang datang. Banyak Sumba bersiap. Dari pintu yang tidak ditutup, muncullah seorang laki- laki, kira-kira berumur tiga puluh lima tahun. Banyak Sumba bersiap menghadapi segala kemungkinan. Jasik pun menggeser kakinya. Akan tetapi, laki-laki yang mula-mula kebingungan melihat sekitar kamar itu berseru, "Sik!"

"Kang Arsim!" seru Jasik gembira sambil melangkah ke arah laki-laki itu. Kedua orang yang baru bertemu itu berpelukan di hadapan Banyak Sumba yang keheranan dan wakil pemimpin perguruan yang tampak lega.

Ternyata, Arsim salah seorang bekas murid Paman Wasis. Setelah ia mendapat keterangan apa yang terjadi dan setelah diperkenalkan kepada Banyak Sumba, ia tampak segera berusaha agar suasana yang buruk menjadi cerah kembali. Hal ini tidak sukar dilakukannya karena dengan alasan yang tidak begitu jelas, wakil pemimpin perguruan segera menghilang dari ruangan itu. Tinggallah Banyak Sumba, Jasik, dan Arsim dengan beberapa orang siswa perguruan yang menggelar tikar dan membawa teh serta penganan.

Setelah berbicara tentang itu dan ini, setelah Arsim banyak bertanya tentang Kota Medang dan sekitarnya, akhirnya gilirannyalah yang menjelaskan mengapa ia di Kutabarang.

Semula, ia datang ke Kutabarang ikut dengan pamannya untuk berdagang. Akan tetapi, berdagang ternyata tidak semudah yang dibayangkannya semula. Ia berulang-ulang menderita rugi hingga tidak punya lagi ongkos untuk pulang, kecuali menjual harga dirinya dengan mengemis sepanjang jalan. Maka, ia pun memutuskan untuk mencari pekerjaan hingga terkumpul sedikit ongkos.

Ia bekerja di pelabuhan sebagai tukang angkat barang.

Pada suatu hari, ia bertengkar dan lawan yang kalap menyerangnya. Pelajaran yang didapatnya dari Paman Wasis tidak sia-sia. Lawan dikuncinya hingga tidak dapat berkutik. Rupanya, ketika itu ada seorang anggota perguruan yang melihat. Semenjak itu, ia punya kerja baru, yaitu mengajarkan ilmu berkelahi seperti yang diterimanya dari Paman Wasis.

Untuk itu, ia mendapat penghargaan berupa ongkos-ongkos hidup dan tempat menginap. Ia pun mempelajari cara-cara berkelahi yang tidak didapatnya dari Paman Wasis.

"Adakah hal-hal yang patut dipelajari di sini, Kang Ar-sim," tanya Banyak Sumba yang sangat tertarik oleh ilmu-ilmu baru dalam bidang itu. "Tidak banyak, Raden. Orang-orang di Medang lebih maju dalam berkelahi," demikian keterangan Arsim. Banyak Sumba kecewa karena ia tahu bahwa ia harus mengembara lebih jauh lagi.

"Kang Arsim, barangkali Kang Arsim mendengar, di mana kami dapat menambah ilmu seperti yang kita terima dari Paman Wasis di Medang."

"Berita-berita banyak, Raden. Setiap siswa bercerita ten- tangjagoan zaman dahulu atau jagoan yang berada di tempat- tempat jauh yang tidak mungkin dicapai. Di seberang Hutan Larangan atau di seberang lautan, penuh dengan jagoan ini.

Akan tetapi, tentu saja bukan itu yang Raden cari. Sepanjang pengetahuan saya, di daerah ini, di perguruan ini ada seorang ahli yang dapat kita hargai, yaitu Gan Tunjung, pemimpin perguruan. Akan tetapi, menurut pendapat saya, ia tidak lebih ahli daripada Paman Wasis. Saya sering penasaran, bagaimana kalau Gan Tunjung bertanding dengan Paman Wasis. Menurut pendapat saya, keduanya-duanya punya harapan yang sama untuk menang."

"Kang Arsim sendiri, tidak adakah hasrat untuk menambah keahlian yang sudah ada?" tanya Banyak Sumba.

Arsim tidak segera menjawab. Setelah tersenyum, baru ia berkata, "Raden tahu, saya pergi ke Kutabarang hanya untuk berdagang. Ilmu yang saya pelajari dari Paman Wasis hanyalah alat pembantu dalam perdagangan, untuk keamanan dan keselamatan. Raden tahu, kalau saya berada di sini, itu karena saya tidak mau pulang sebelum sebelum kaya,",katanya sambil mengerlingkan mata, kemudian ia melanjutkan, "Saya sudah mengumpulkan sejumlah uang, dalam dua-tiga tahun saya dapat pulang dan membuat rumah kayu yang besar dan kuat di pinggir Kota Medang," sambil berkata demikian, tampak ia mengkhayalkan kesenangan punya rumah besar itu. Ia melupakan kedua orang tamunya, dan Jasik mengambil kesempatan untuk berbisik kepada Banyak Sumba bahwa Arsim ini pernah mencintai seorang gadis yang mata duitan. Gadis itu kawin dengan orang lain, dan Arsim tampaknya bermaksud menjadi kaya untuk memanas-manasi gadis yang pernah menolaknya itu.

Dari cerita Jasik itu, Banyak Sumba mengambil kesimpulan bahwa ia tidak akan dapat belajar banyak dari perguruan itu. Walaupun begitu, tawaran Arsim untuk menginap di perguruan itu diterimanya dengan baik. Ia penasaran untuk dapat menyaksikan latihan yang dilakukan di perguruan itu. Ia pun ingin tahu bagaimana tingkat kepandaian Gan Tunjung yang menjadi pemimpinnya. Ia tinggal di sana dan mempergunakan waktunya untuk melihat-lihat perguruan dan sekitarnya.

Ketika hari mulai teduh, banyak penunggang kuda berdatangan ke perguruan itu. Dari tingkah laku dan tutur kata para pendatang yang muda-muda itu, Banyak Sumba mengambil kesimpulan bahwa mereka anak saudagar- saudagar kaya dari Kutabarang. Mereka berpakaian gemerlapan, sehat, dan gembira. Mereka memasuki gerbang perguruan dengan bebas, tidak seperti memasuki pedepokan yang bersuasana khidmat, tetapi lebih seperti memasuki tempat bermain.

"Sebentar lagi, latihan akan dimulai," bisik Arsim seraya memberi hormat kepada siswa-siswa yang datang. Ini pun mengherankan Banyak Sumba. Seharusnya, siswa-siswalah yang menghormat kepada pelatihnya dan tidak sebaliknya. Kemudian, segalanya menjadi jelas.

Gan Tunjung yang menjadi pemimpin dan guru utama dari perguruan itu seorang bangsawan. Akan tetapi, bangsawan ini memiliki cacat besar. Ia suka sekali berjudi dan menyabung ayam. Karena kegemarannya yang dianggap hina oleh kaum keluarganya, ia disisihkan. Untuk membiayai hidupnya dan membayar ongkos kegemarannya, ia terpaksa menjual ilmu kebangsawanannya, yaitu ilmu berkelahi dan keperwi-raan. Maka, didirikanlah perguruan itu dengan peraturan siswa- siswa harus membayar mahal.

Para putra saudagar yang menjadi siswa pada perguruan itu dengan sendirinya mengetahui kedudukan Gan Tunjung. Walaupun di hadapannya mereka memberi penghormatan sepantasnya, dalam hati masing-masing, mereka tidak memiliki rasa hormat kepada guru mereka itu. Mereka menganggap bahwa Gan Tunjung hanya dapat hidup dengan bantuan mereka. Itulah sebabnya mereka bersikap bebas dan bahkan menganggap badega kepada pelatih seperti Arsim.

Arsim sendiri, asal ia mendapat uang banyak untuk memanaskan hati gadis yang menolaknya itu, tampaknya tidak keberatan dengan sikap mereka itu.

Sore itu, pada saat latihan, disertai Jasik, Banyak Sumba hadir di tempat latihan. Arsim menerangkan kepada Gan Tunjung, seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar bahwa Banyak Sumba dan Jasik adalah saudaranya yang datang dari Kota Medang untuk urusan dagang. Dengan keterangan itu, Gan Tunjung mengizinkan kedua orang pengembara itu untuk menyaksikan latihan.

Ruangan latihan itu sebuah lapangan yang dikelilingi dinding. Banyak Sumba bertanya kepada Arsim, mengapa tempat latihan itu tidak pakai atap. Sambil tersenyum dan berbisik, Arsim berkata, "Agar kalau hujan, Gan Tunjung tidak usah melatih dan dapat,bersenang-senang di Kutabarang, di tempat judi."

Mendengar penjelasan itu, Banyak Sumba berpaling kepada Gan Tunjung yang berdiri di tengah siswanya yang mulai melakukan jurus-jurus. Arsim pun mulai membantu siswa yang jumlahnya kira-kira tiga puluh orang.

Dari gerakan-gerakan yang mereka lakukan, Banyak Sumba mengambil kesimpulan bahwa ilmu yang diajarkan dalam perguruan itu tidaklah lebih tinggi daripada yang diajarkan oleh Paman Wasis. Jurus-jurusnya memang banyak yang rumit, tetapi jurus-jurus itu tidak akan banyak gunanya dalam perkelahian yang sebenarnya. Sementara itu, tampak bahwa gerakan-gerakan seperti yang dilihat di sana, banyak sekali yang menggunakan tenaga, bukan kecerdikan. Ini mudah dimengerti karena Gan Tunjung seorang yang berbadan tinggi besar dan dengan sendirinya bertenaga kuat. Tenagalah yang menjadi andalan siswa perguruan itu. Ini akibat sikap dan ilmu gurunya, yaitu Gan Tunjung. Oleh karena itu, jelas berbeda dengan sikap dan ilmu Paman Wasis yang lebih mengandalkan kecerdikan.

Pada waktu istirahat, Banyak Sumba bertanya kepada Arsim yang duduk di dekatnya, "Kang Arsim, mengapa tidak diberikan cara-cara tipuan yang kita terima dari Paman Wasis?"

Arsim mengerlingkan matanya, lalu berbisik, "Itu rahasia, Raden. Saya hanya akan menjualnya kalau ada orang yang mau membayar mahal, mahal sekali. Biarlah mereka menjadi kuat seperti kerbau dan tetap dengan otak kerbau. Kalau banyak olah kita, modal kita dikeluarkan, mereka akan tetap hormat kepada kita, dan ... akan membayar tinggi."

"Kang Arsim, saya yakin, bagi Kang Arsim tidak sukar untuk mengalahkan Gan Tunjung," kata Banyak Sumba berbisik.

Arsim tampak terkejut, kemudian tersenyum pahit, seolah- olah menganggap bahwa Banyak Sumba seorang yang tolol.

"Raden, kalau saya mengganggu Gan Tunjung, artinya saya menghilangkan sumber rezeki! Bayangkan, saya jatuhkan Gan Tunjung dengan tipuan-tipuan dari Paman Wasis, itu berarti perguruan ini hancur dan saya kehilangan pekerjaan."

"Bukankah Kang Arsim dapat mendirikan perguruan baru?" "Raden, cita-cita saya bukan jadi guru."

"Tapi, bukankah Kang Arsim dapat mengajarkan ilmu yang didapat dari Paman Wasis di perguruan ini?" "Sudah saya katakan, saya menjual mahal ilmu itu, Raden.

Dan... memang ada beberapa orang putra saudagar yang belajar secara sembunyi-sembunyi kepada saya. Merekalah yang akan menyebabkan saya segera pulang ke Kota Medang dan akan mendirikan rumah besar di sana."

Dari obrolan-obrolan Kang Arsim, jelaslah bagi Banyak Sumba, dengan orang macam apa ia berhadapan. Rupanya, yang terpenting bagi Kang Arsim di dunia ini adalah uang. Ia bersedia menghinakan diri di hadapan murid-murid perguruan itu, demi uang. Ia pun bersedia bertindak sebagai pelayan Gan Tunjung yang angkuh itu demi uang, walaupun sebenarnya Gan Tunjung pantas jadi pelayannya kalau ditinjau dari kepandaiannya berkelahi. Banyak Sumba muak bergaul dengan orang macam itu.

Akan tetapi, ia sadar bahwa kemuakannya tidak akan sia- sia kalau saja Arsim dapat membantunya mencarikan atau menunjukkan perguruan atau guru yang pantas dikunjunginya. Setelah latihan selesai, ia pun menanyakan hal itu.

"Raden, sebenarnya banyak juga jagoan di daerah ini.

Kawan-kawan Gan Tunjung ada beberapa orang yang sebenarnya lebih sigap daripada Gan Tunjung. Kadang- kadang, mereka datang ke sini untuk mengobrol atau mengurus utang piutang yang biasa terjadi dengan tukang judi dan sabung ayam. Jagoan-jagoan ini biasa punya murid, putra-putra saudagar, atau petani kaya. Tapi, secara umumnya bukan bangsawan seperti Gan Tunjung. Mereka tidak mendirikan perguruan secara resmi."

"Apakah benar, ada yang lebih pandai daripada Gan Tunjung?" sela Banyak Sumba yang penasaran.

"Ada, bahkan sangat masyhur, yaitu si Colat. Disebut begitu karena di keningnya terdapat luka berwarna merah, bekas golok. Ia sangat pandai dan punya beberapa puluh orang murid, tetapi budi pekertinya tidak baik sehingga selalu dibayang-bayangi para jagabaya. Dikabarkan pula, ia tidak segan-segan membunuh untuk sekeping uang perunggu. Dan kalau sudah minum tuak, seolah-olah tuak itu menguap saja dan tidak masuk perutnya."

Banyak Sumba masih penasaran, tetapi Arsim harus kembali membantu siswa-siswa yang sedang berlatih. Sore itu, Banyak Sumba dan Jasik kembali ke penginapan di Kutabarang tanpa berhasil menemukan keterangan yang akan berguna bagi mereka dalam mencari guru atau perguruan yang pantas.

Berminggu-minggu telah berlalu dalam pengembaraan, guru yang baik belum juga ditemukan. Banyak Sumba mulai gelisah. Dan untuk menghilangkan keresahannya itu, diajaknya Jasik untuk melihat-lihat Kota Kutabarang pada malam hari.

Setelah mandi dan berganti pakaian, mereka berangkat. Mereka berjalan di jalan-jalan lebar yang di tepinya berjajar warung-warung yang diterangi lampu minyak kelapa.

Sementara itu, di tiap perempatan dinyalakan pula obor-obor besar, tempat anak-anak muda berkumpul, mengobrol, menggoda gadis-gadis yang duduk di serambi rumah yang remang-remang diterangi lampu. Di sana sini, sayup-sayup terdengar orang bernyanyi diiringi kecapi dan suling. Dari jauh terdengar bunyi dogdog dan angklung buncis, mungkin ada orang yang sedang kenduri. Di jalan-jalan, orang masih hilir mudik, ada yang berjualan, ada juga yang sedang ngobrol.

Malam hari, orang-orang Kutabarang tidak segera tidur. Mereka bersenang-senang melepas lelah setelah sibuk bekerja sepanjang hari.

Di tengah kelompok-kelompok orang inilah, Banyak Sumba dan panakawannya berjalan tak tentu arah. Kadangkadang, Banyak Sumba berhenti melihat orang asing yang menawarkan benda-benda aneh, seperti akik dan akar bahar. Kadang-kadang, dikunjunginya pula warung yang memajang senjata kecil dan pendek. Akan tetapi, hatinya yang risau tidak mendorongnya untuk menikmati tamasya kota itu. Ia berjalan terlunta-lunta dari lorong ke lorong, di antara orang banyak.

Ia menyesali dirinya karena tidak dapat segera melaksanakan tugasnya. Ia marah dan tidak dapat menghargai dirinya sebagai salah seorang wangsa Banyak Citra.

Pertanyaan-pertanyaan Jasik dijawab dengan singkat. Ia sendiri tidak pernah membuka percakapan. Jasik yang menyadari suasana hati tuannya sedang tidak baik, tidak berkata apa-apa lagi. Ia membisu sambil terus mengikuti tuannya. Mereka pun berjalan, sementara malam makin larut dan bulan makin tinggi.

Tanpa disadari, mereka menuju suatu perempatan. Di sana, banyak sekali orang berkumpul. Di tempat itu lebih banyak obor dipasang hingga malam pun terang benderang. Tampak pula pedagang luar biasa banyaknya.

Makin lama, orang makin banyak hingga akhirnya Banyak Sumba dan panakawannya tidak dapat maju lagi. Mula-mula, Banyak Sumba akan berbalik. Kemudian, terdengarlah suara kecapi tukang pantun yang dengan lantang dan indah menggetarkan udara malam yang sejuk. Banyak Sumba tertegun. Jasik tampaknya senang karena dia tahu Banyak Sumba senang sekali mendengarkan cerita dan nyanyian tukang pantun. Ia berharap agar kesenangan itu dapat mengubah suasana hati tuannya yang sedang kalang kabut. Maka, berdirilah ia dengan hormat di belakang tuannya.

Banyak Sumba tengadah, mencoba melihat ke panggung tempat tukang pantun buta itu duduk, dikelilingi para tamu laki-laki dan para pemuda. Sementara tamu wanita dan nyonya rumah, bersama para pemudi, berkumpul di seberang ambang pintu di tengah rumah.

Ketika Banyak Sumba datang, tukang pantun itu sedang melawak. Ia sedang menceritakan tokoh badut dalam cerita, tetapi bukan Uwak Batara Lengser. Badut dalam cerita itu namanya Mang Ogel. Dengan kata-kata yang kocak, tukang pantun itu menceritakan tubuh Mang Ogel yang bulat, kepalanya yang bulat, bahkan sampai kuda tunggangannya pun bulat bentuknya.

Mendengar nama Mang Ogel, mengernyitlah kening Banyak Sumba. Rasa-rasanya, ia ingat pada nama itu. Mungkin, ada seorang panakawan atau gulang-gulang atau ponggawa yang bernama demikian. Juga rasa-rasanya ia ingat bahwa memang orang itu lucu seperti namanya. Akan tetapi, ia tidak ingat benar, siapa dan di mana ia pernah bertemu dengan orang itu. Mungkinkah orang itu pelawak yang biasa ngamen di pasar Kota Medang? Atau mungkinkah petani, gembala, atau kusir pedati kerbau kocak yang suka berkunjung ke Kota Medang? Kemudian, renungannya terhenti karena ia mendengar tukang pantun itu menyanyi dengan nyaring, sementara para penonton tertawa dengan riuh.

Ternyata, tukang pantun menceritakan bagaimana Mang Ogel itu dikeroyok di suatu tempat dekat mata air ketika ia mengantar tuannya. Juga bagaimana lawannya yang diserang tidak menyangka dia orang, tetapi batu bulat yang menggelundung ke hadapan mereka.

"Saya bukan batu, jangan pura-pura, siapa yang berani?!" seru Mang Ogel sambil siap dengan tangan-tangannya yang besar.

"Hei, Kepiting! Pergi ke laut!" kata lawannya. Mendengar cerita itu, teringatlah Banyak Sumba akan Mang Ogel yang diceritakan tukang pantun.

Tukang pantun itu sedang mengisahkan pengalaman Puragabaya Anggadipati dengan panakawannya yang bernama Ogel. Memang, Puragabaya Anggadipati dan panakawannya bertahun-tahun belakangan ini telah menjadi tokoh cerita yang termasyhur dan disenangi rakyat. Puragabaya Anggadipati menjadi tokoh kesatria Pajajaran yang menyerahkan hidupnya bagi kerajaan dan anak negeri, sedangkan Mang Ogel contoh panakawan setia yang dalam sukaduka tidak pernah mengeluh, bahkan selalu gembira dan menghibur tuannya. Mengenai kisah-kisah puragabaya itu, Banyak Sumba berpendapat bahwa rakyat memuja orang itu secara membabi buta, sedangkan kisahnya kebanyakan dilebih-lebihkan.

Akan tetapi, karena Banyak Sumba sangat suka pada pertunjukan pantun, ia tidak jadi meninggalkan tempat itu. Kebetulan, suara penyanyi buta itu sangat baik dan kepandaian bercerita serta bermain kecapinya lumayan.

"Kita tinggal di sini sebentar, Sik," katanya kepadajasik. "Baik, Raden," jawab Jasik, senang karena tuannya mulai terhibur. Mereka pun berdiri di antara orang banyak.

Tukang pantun itu mengisahkan bagaimana seorang putra bangsawan yang bernama Raden Jamu terpilih menjadi calon puragabaya. Akan tetapi malang, anak yang cekatan dan manis budi ini mendapat kecelakaan dalam latihan. Akhirnya, kerajaan memutuskan bahwa Pangeran Anggadipati yang muda, walaupun baru berumur dua belas tahun, dipilih menjadi penggantinya. Pangeran yang masih muda itu menjadi calon paling muda dan berlatih di Padepokan Tajimalela. Dikisahkan, setelah latihan-latihan yang berat, pangeran ingin menjadi puragabaya yang tangguh. Dikisahkan pula bagaimana ia masuk air terjun maut dan keluar dengan selamat, berkelahi dengan ular dan berhasil membunuh ular itu.

Setelah dilantik, ia menundukkan pemberontakan di Kota Galuh yang tua. Kemudian, dikisahkan bagaimana seorang putri yang cantik jelita bernama Yuta Inten menarik hatinya, betapa mesra mereka berkasih-kasihan, serta betapa menyedihkan dan cemasnya gadis itu ketika puragabaya bertugas ke Cipamali untuk mengadakan serangan pada kubu- kubu musuh. Akhirnya, diceritakan bagaimana kakak Yuta Inten yang juga seorang puragabaya hebat menjadi gila karena kerasukan siluman, dan bagaimana puragabaya yang gila serta haus darah itu dibunuh oleh Pangeran Anggadipati, hingga ....

Sebelum tukang Pantun itu selesai berkisah, sesosok tubuh melompat ke atas panggung, lalu berteriak, "Bohong!" serunya. Sambil berkata demikian, disepaknya kecapi ke samping.

"Raden!" seru Jasik dengan terkejut. Beberapa orang bangkit dan menyerang Banyak Sumba yang berdiri di atas panggung di tengah-tengah para tamu. Seseorang menarik Banyak Sumba dari belakang sambil berseru, "Kurang ajar, orang gila macam apa berpakaian bagus begini?!"

Yang lain, tanpa berkata-kata, langsung menghantamkan tangannya ke leher Banyak Sumba. Akan tetapi, tangan itu ditangkap ketika berada di udara, sedangkan kaki Banyak Sumba masuk ke perut orang itu. Orang yang menarik baju Banyak Sumba tidak beruntung pula. Setelah menghantam yang datang dari depan, Banyak Sumba mundur. Setelah tubuhnya mendekat pada orang yang memegangnya, tangan Banyak Sumba menangkap leher orang itu, lalu melemparkannya ke depan. Orang itu melayang sekejap, lalu terjerembap di atas gulai, acar-acar, dan berbagai masakan yang ada di tengah serambi.

Wanita-wanita dan gadis-gadis menjerit-jerit, para tamu berlompatan ke luar, bahkan ada yang berhambur dari atas panggung ke tengah-tengah penonton. Tukang pantun menghilang dituntun anak penuntunnya, sementara tuan rumah yang punya kenduri pingsan di tengah rumah, di antara hidangan, karena terkejut.

Sementara itu, di panggung, Banyak Sumba tetap berdiri menghadapi beberapa orang pemuda dan laki-laki yang mengepungnya. Ia tidak menunggu serangan, tetapi menghambur ke kanan ke kiri, ke muka dan ke belakang, membagikan pukulan yang pernah dipelajarinya dari Paman Wasis. Ia berkelahi dengan penuh semangat karena segala dukacita dan kemarahan yang selama ini dipendamnya tiba- tiba meledak ke luar menemukan jalannya. Setiap orang yang menerima pukulan atau tendangannya, kebanyakan roboh dan tidak dapat tegak kembali. 

Tiba-tiba, seorang berhasil menangkap pinggang Banyak Sumba. Sikut Banyak Sumba tidak dapat dipergunakan menghantam orang itu karena tangannya harus menghadapi serangan yang datang dari muka. Ketika Banyak Sumba mulai kewalahan harus menghadapi serangan sambil diberati oleh orang yang erat-erat memegang pinggangnya, ia terpaksa mengerahkan seluruh tenaganya untuk membanting tubuh orang itu dengan gerakan badannya. Ia membanting orang itu ke tiang panggung yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Dengan gerakan yang kuat, ia mengibas orang itu hingga kakinya terangkat dari lantai panggung, sementara tangannya menangkis pukulan dari depan.

Pinggang orang itu menghantam tiang. Saking kerasnya, ia mengaduh dan melepaskan pegangannya. Malang, sebuah obor yang diikat pada tiang itu jatuh. Minyaknya meresap ke lantai panggung yang terbuat dari anyaman bambu. Api tiba- tiba berkobar. Karena tidak ada yang memikirkan untuk memadamkannya, dalam sekejap kebakaran pun terjadi.

Banyak Sumba terus menghantam ke sana kemari, sementara api berkobar-kobar di kanan kirinya.

Jeritan, sumpah serapah, teriakan minta tolong, perintah- perintah, ingar-bingar kedengarannya, hingga akhirnya suara trompet tanduk mendayu dengan berat, tanda para jagabaya datang untuk mengamankan. Ketika itulah, Banyak Sumba sadar akan dirinya. Ia pun melompat dari atas panggung, lenyap dalam gelap, di antara lorong-lorong yang penuh dengan orang-orang berlarian ke sana kemari. Tak lama kemudian, ia berlari di lorong yang lengang. Suara langkah terdengar di belakangnya. "Sik!" serunya.

"Saya, Raden," seru Jasik dalam gelap.

Di penginapan itu, Banyak Sumba merunduk dalam gelap.

Kesedihan yang dalam dan perasaan berdosa memberati hatinya. Keesokan malamnya, secara rahasia, ia mengirim lima belas keping uang emas untuk tuan rumah yang berkenduri, yang tempatnya dijadikan gelanggang perkelahian itu.

Tinggallah sepuluh uang emas lagi yang dimilikinya.

-ooo0dw0ooo-