Raden Banyak Sumba Bab 1 : Gerhana

Bab 1 : Gerhana

Banyak Sumba, putra laki-laki kedua wangsa Banyak Citra yang berkuasa di Medang, berdiri di atas benteng. Ia seorang anak yang tampan, bertubuh semampai, berkulit kehitam- hitaman, dan bersih. Ketika itu, umurnya hampir tiga belas tahun, walaupun orang akan menyangka ia sedikitnya berumur lima belas tahun, karena tubuhnya yang tinggi dan besar.

Banyak Sumba memerhatikan lapangan kecil di luar benteng. Di sana, banyak anak yang lebih muda daripada dia sedang bermain-main. Matanya yang berkilat dan hitam kelam, memandang dengan penuh kerinduan dan hasrat untuk ikut bermain-main, berlari-lari, dan bersorak-sorak dengan mereka Akan tetapi, sesuatu dalam dirinya menahan kehendak itu. Ia berdiri saja di atas benteng sambil memerhatikan mereka

Ia sering merindukan masa kecilnya, ketika ia berumur delapan atau sembilan tahun. Ketika itu, ia dapat berlari-lari dengan bebas di lapangan di bawah bayang-bayang benteng. Akan tetapi, ia sering berpikir, alangkah tololnya anak-anak kecil itu. Mereka kadang-kadang berkelahi sampai luka untuk suatu mainan, sepotong kayu, atau sebuah batu. Alangkah menyenangkan masa kanak-kanak, tapi alangkah menggelikan dan tolol pula, pikirnya. Jelas baginya, ia tidak mungkin lagi dapat bermain dengan anak-anak kecil itu. Bukan saja ia sudah terlalu tinggi dan terlalu besar, melainkan permainan anak-anak itu walaupun menyenangkan sebenarnya tidak ada artinya.

Ia sudah besar. Akan tetapi, ia tidak dapat bergaul dengan para jagabaya dan para gulang-gulang. Mereka terlalu tinggi dan terlalu besar. Selain itu, percakapan mereka banyak yang tidak dapat ia mengerti. Walaupun ingin sekali ikut bercakap- cakap dengan mereka, ia tidak merasa betah berada di antara mereka. Ia sering merasa seperti seorang asing di tengah- tengah mereka itu. Itulah sebabnya, ia berdiri di atas benteng itu, menjauh dari mereka. Itu pula sebabnya, ia lebih banyak termenung daripada bergaul. Banyak Sumba gelisah. Kadang- kadang, pikirannya mengembara ke penjuru Buana Pancatengah. Kadang-kadang, perasaannya kelam tanpa alasan. Kadang-kadang, ia gembira tanpa diketahui apa sebabnya. Kadang-kadang, ia ingin bergerak, menaiki kuda, dan memacunya seperti dikejar maut; tetapi ia lebih sering menutup diri di dalam bilik, membaca buku-buku kenegaraan, atau duduk depan tingkap sambil melamun. Kalau tidak begitu, ia berjalan-jalan di lorong-lorong istana, dan setiap ada orang, ia segera membelok, menghindarkan diri.

Hal yang paling dihindarinya adalah gadis-gadis atau putri- putri bangsawan yang tinggal di Puri Banyak Citra.

Gadis-gadis itu, terutama yang sebaya dengan dia, sekarang sering menyebabkan ia gugup. Kalau menegur mereka, ia sering mendengar suaranya gemetar. Kalau mereka yang menegur, alangkah kikuknya jawaban yang dia berikan. Sering sekali darahnya naik ke muka dan memanaskan daun telinganya, kalau ia kebetulan bertemu dengan gadis-gadis di lorong-lorong istana. Kalau gadis-gadis itu tertawa di belakangnya, dia merasa mereka menertawakannya dan panaslah kulit mukanya. Itulah sebabnya, ia menghindari mereka, tidak pernah lewat lorong istana tempat gadis-gadis biasa berkumpul.

Sebaliknya, kalau ia sedang di dalam biliknya, suara atau tawa mereka sering menyebabkan ia berlari ke arah tingkap. Ia senang memerhatikan gadis-gadis itu sembunyi-sembunyi. Ini tidak pernah dilakukan sebelumnya karena gadis-gadis itu makhluk biasa saja, walaupun berbeda dengan kawan- kawannya yang laki-laki. Akan tetapi, sekarang gadis-gadis itu, pada satu pihak menimbulkan kegugupan sehingga dihindarinya, pada lain pihak menarik perhatiannya, dan ia suka mengintip mereka.

Dulu, wajah dan tubuh gadis-gadis itu tidaklah menarik perhatiannya meskipun berbeda dengan laki-laki. Sekarang, ia mulai sangat peka terhadap perbedaan itu. Bukan rupa mereka saja, gerak-gerik serta tingkah laku mereka pun menjadi perhatiannya. Sekarang, gadis-gadis itu, walaupun penuh rahasia, sering menimbulkan gairah yang aneh dalam hatinya. Ketika sedang mengintip dari biliknya, ia sering sekali ingin menyentuh mereka, terutama seorang di antara mereka, Teja Mayang.

Kalau gadis itu sedang ikut membantu Ayunda Yuta Inten menyulam atau menenun di kaputren, Banyak Sumba sering menyelinap dan masuk salah satu kamar yang tingkapnya bcr-

hadapan dengan ruang tenun Ayunda Yuta Inten. Dari sana, dari bilik tabir, Banyak Sumba memandangi gadis itu tidak ada puasnya. Ia membelai-belai rambut dan leher gadis itu dengan tangan khayalnya. Ia mencium bibir gadis itu dengan segenap perasaannya, dari kejauhan. Kemudian, kalau gadis itu sudah pulang, ia segera masuk biliknya, lalu berbaring seraya khayalnya terbang dengan awan yang berarak di luar tingkap.

Segala kegelisahan, kebimbangan, dan gairah-gairah aneh yang menghuni perasaannya, tak urung memengaruhi tingkah laku Banyak Sumba. Sering sekali ia tidak mendengar kalau disapa Ibunda, Ayunda, bahkan oleh Ayahanda. Perintah mereka dilakukan dengan tidak sewajarnya karena pikiran Banyak Sumba terpecah. Tingkah lakunya yang kikuk tidak pernah menyebabkan orangtuanya marah. Mereka bahkan menertawakannya, terutama Ibunda dan Ayunda. Akan tetapi, olok-olok mereka justru menambah kegugupannya serta menyebabkan darahnya naik ke muka dan'memerahkan daun telinganya. Bukan olok-olok mereka saja yang menyebabkan ia malu.

Setiap kali ia mendengar nama Teja Mayang disebut, mukanya menjadi panas tanpa alasan. Hal ini menambah kegugupannya, dan usahanya menyembunyikan warna mukanya sering menyebabkan ia melakukan hal-hal yang lebih menggelikan, bahkan menyebabkan dia marah terhadap dirinya sendiri.

Seperti telah diduganya, Ayunda benar-benar dapat menyelami apa yang sedang dialaminya. Pada suatu sore, ketika Banyak Sumba berada di kaputren, tiba-tiba Ayunda Yuta Inten sambil tersenyum nakal mengganggu dengan berkata, "Sumba, Teja bertanya kepada Yunda, mengapa engkau tidak pernah datang ke rumahnya lagi dan bermain dengan Wisesa?"

Rangga Wisesa adalah kakak Teja Mayang, salah seorang sahabat Banyak Sumba. Akan tetapi, Banyak Sumba tahu bahwa persahabatannya dengan Rangga Wisesa tidak menjadi perhatian Ayunda Yuta Inten. Ia sangat sadar bahwa Ayunda hanya menggodanya dengan menyebut-nyebut Teja Mayang. Bagaimanapun, pertanyaan kakak perempuannya itu harus dijawab karena begitulah kaidah kesopanan. Dengan muka memerah, Banyak Sumba berkata, "Ha... ha... hamba sibuk, Yunda."

"Bukankah hatimu selalu di rumah Rangga Wisesa walaupun kausibuk?" tanya Yuta Inten sambil tersenyum.

Banyak Sumba tidak dapat membuka mulutnya. Untung tiba-tiba gulang-gulang datang membawa panggilan Ayahanda. Kesempatan ini dijadikannya dalih untuk tidak menjawab pertanyaan Putri Yuta Inten yang sebenarnya olok- olok belaka.

Banyak Sumba berjalan sepanjang lorong yang berbelit- belit, menanjak, dan mendaki ke ruangan puri yang melekat ke dinding benteng, tepat di bawah mercu penjagaan. Di sanalah letak ruangan khusus Ayahanda Banyak Citra. Ruangan itu cukup luas. Karena banyaknya kotak lontar yang dikumpulkan Ayahanda, sukar membedakan ruangan itu dari sebuah gudang. Walaupun demikian, suasana ruangan itu jauh sekali dari suasana gudang. Kalau sebuah gudang tidak memengaruhi suasana hati, ruangan Ayahanda memberikan kesan angker dan murung

Ke arah ruangan itulah, untuk kesekian kalinya, Banyak Sumba berjalan. Dua tangga sebelum lantai ruangan, Banyak Sumba menanggalkan alas kakinya yang terbuat dari kulit yang kasar. Lantai batu menyengatnya dengan rasa dingin yang menusuk tulang. Bukan enggan melepaskan alas kaki itu, melaiiik.in ih begini kenal waiak ayahandanya. Ayahanda Banyak Citra tidak suka mendengar suara berisik, apalagi kalau suara itu datang dari putra-putrinya. Itulah sebabnya, Banyak Sumba cenderung memilih lantai batu yang dingin daripada mengenakan alas kaki kulit yang kasar. Dengan kaki telanjang, Banyak Sumba melangkah menuju pintu tertutup ruangan khusus Ayahanda.

Makin dekat ke pintu, makin hening suasana. Seperti pada masa kanak-kanak, perasaan takut menghinggapi hati Banyak Sumba setiap kali berjalan menuju pintu ruangan itu.

Kemurkaan Ayahanda terhadapnya atau terhadap saudara- saudaranya pada masa ia masih kecil, menanam rasa takut dalam dirinya. Bagaimanapun, Ayahanda Banyak Citra seorang bangsawan yang keras, apalagi terhadap putra-putri beliau.

Seandainya salah seorang di antara putra-putrinya gagal melaksanakan asas-asas yang ditanamkan terhadap keluarganya, Ayahanda Banyak Citra tidak pernah segan- segan memberi pelajaran dengan kekerasan. Masih terbayang dalam ingatan Banyak Sumba ketika KakandaJaluwuyung diikat pada dua tonggak dan dilecut seratus kali oleh gulang- gulang untuk suatu kesalahan terhadap tata kekeluargaan di Puri Banyak Citra. Kenangan itulah yang tetap memburu dalam hati Banyak Sumba. Kenangan itu pula yang menyebabkan Banyak Sumba gemetar setiap kali menghadap Ayahanda.

Makin dekat ke pintu, Banyak Sumba makin melambatkan langkahnya. Ketika tinggal beberapa langkah lagi dari pintu, seorang gulang-gulang datang dari tempat yang kelam, dari lorong kanan pintu. Gulang-gulang itu mengangguk, lalu membuka pintu perlahan-lahan. Banyak Sumba melangkah ke dalam ruangan, memijak permadani hijau tua yang menjadi alas ruangan itu. Di antara tumpukan kotak lontar, di tengah- tengah ruangan, menyalalah sebuah lampu minyak kelapa walaupun siang hari. Di tengah-tengah cahaya itu, Ayahanda duduk di tikar sambil menulis dengan pisau pangot di atas daun-daun lontar berwarna putih. Dengan tidak bersuara, Banyak Sumba duduk di sudut, tidak jauh dari Ayahanda yang sedang bekerja.

Banyak Sumba tidak berkata apa-apa. Ia tahu bahwa mengganggu Ayahanda bekerja adalah kesalahan besar. Ia dapat dihukum karenanya. Oleh karena itu, ia tidak berbuat lain kecuali menunggu, seperti yang biasa ia lakukan kalau ia dipanggil menghadap. Ia pun tidak terlalu peduli berapa lama harus menunggu karena kadang-kadang, hampir setengah hari menunggu, tiba-tiba pembicaraan ditangguhkan. Banyak Sumba sudah biasa menghadapi hal seperti itu. Ia pun duduk dengan sabar sambil memerhatikan Ayahanda yang tekun menulis.

Dipandanginya wajah Ayahanda yang pucat di bawah sinar lampu minyak kelapa. Laki-laki setengah baya itu kelihatan lebih tua daripada umurnya. Rambutnya yang panjang dan bergelung sudah bercampur dengan uban, sedangkan wajahnya kurus dengan bibirnya yang tipis, dan punggungnya agak bungkuk, punggung orang kurus yang telah begitu berat menanggung beban penderitaan dalam kehidupannya. Rupa Ayahanda yang dapat menimbulkan kasihan memberi kesan tentang seorang laki-laki yang telah gagal dan diremukkan oleh kehidupan, kalau saja tidak ada bagian wajah lain yang sangat menonjol. Hidung Ayahanda yang agak besar dan melengkung bagai paruh elang menghilangkan kesan lemah dari pribadinya. Hidung Ayahanda yang menonjol itu seolah- olah menantang kesan-kesan yang ditimbulkan oleh bagian- bagian wajah dan tubuh lainnya. Kesan yang diberikan hidung itu demikian kuat, sehingga memberikan kesan menantang dan dapat mengatasi segala kesukaran dan derita hidup. Di samping itu, hidung itu memberi kesan ketangguhan seorang bangsawan Pajajaran yang berani menyerahkan segala- galanya untuk asas yang diperjuangkannya. Apalagi kalau kesan hidung itu sudah berpadu dengan pandangan mata Ayahanda Banyak Citra, pandangan sepasang mata hitam kelam dan terletak dalam-dalam di tempatnya.

Kedua mata yang tajam itu sekarang terangkat, memandang Banyak Sumba yang sejak tadi duduk di sudut sambil memandangi Ayahanda yang sedang bekerja.

KETIKA Banyak Sumba menyadari bahwa Ayahanda memandangnya, ia segera beringsut dari tempat duduknya, lalu menghaturkan sembah. Ayahanda memberi isyarat agar ia mendekat. Banyak Sumba pun maju, lalu duduk di lantai berti- kar, dekat tempat Ayahanda menulis. Banyak Sumba duduk bersila, sedangkan wajahnya menunduk dan matanya memandangi lukisan bunga-bunga dan daun-daunan pada tikar. Akan tetapi, segala perhatiannya tercurah kepada Ayahanda yang duduk di hadapannya.

"Sumba," kata Ayahanda. Suaranya seperti terlalu rendah bagi orang tua yang berperawakan kecil itu. "Hamba, Ayahanda," ujar Banyak Sumba. "Sekarang, engkau sudah terlalu besar untuk bermain-main di luar benteng. Di samping itu, engkau seorang anak dengan masa depan yang gemilang. Engkau harus mempersiapkan diri. Maka, sejak hari ini, kita akan punya acara tetap bersama-sama. Ayah akan menjadi gurumu. Kita akan membaca buku-buku yang sebagian telah kaubaca. Kita akan pergi berburu dengan para bangsawan. Engkau akan belajar bertata krama, selain segala kebijaksanaan dan pengetahuan dari abdi-abdi sang Prabu."

"Hamba, Ayahanda," ujar Banyak Sumba tanpa mengangkat mukanya.

"Ingatlah, Anakku, wangsa Banyak Citra tidak pernah kepalang tanggung dalam segala hal. Jikajadi perwira, ia hanya memilih dua hal, mencapai kemenangan atau gugur. Kalau jadi negarawan, ia hanya memilih dua hal, jadi negarawan yang baik atau tidak memakai nama Banyak Citra dan mengaku-aku ada hubungan darah dengan wangsa Banyak Citra. Itulah yang diadatkan dalam wangsa Banyak Citra," kata Ayahanda.

Entah sudah berapa kali Banyak Sumba mendengar wejangan seperti itu dari Ayahanda. Wejangan itu akhirnya menanamkan anggapan bahwa wangsa Banyak Citra adalah wangsa luar biasa di antara wangsa-wangsa bangsawan Paja- jaran. Keluarbiasaan ini banyak contohnya. Ayahanda Banyak Citra seorang bangsawan yang termasyhur karena Kota Medang dapat menyumbangkan barisan jagabaya yang tangguh, patuh, dan perwira. Dari Kota Medanglah penjaga- penjaga negara yang baik didatangkan. Mereka tersebar hampir di seluruh perbatasan Pajajaran: ke daerah rawa-rawa di utara, ke belantara di selatan, di tepi samudra tempat bersemayam Ratu Siluman Laut, atau ke timur—tempat pertempuran-pertempuran kecil terus-menerus terjadi dengan kerajaan-kera-jaan tetangga di seberang Cipamali.

Nenekanda yang juga bernama Banyak Citra adalah sahabat sang Prabu. Hal itu hanya mungkin berkat kebijaksanaan serta pengetahuan beliau yang meluas dan mendalam tentang berbagai masalah kenegaraan. Almarhum Nenekanda adalah salah seorang di antara bangsawan wangsa Banyak Citra yang dijadikan suri teladan oleh Banyak Sumba, ipar-ipar, serta saudara-saudaranya.

Terakhir, Kakanda Jante Jaluwuyung. Kakanda Jante adalah puragabaya yang tidak ada tandingannya. Setiap bangsawan, baik yang datang dari Pajajaran maupun kota-kota lain menyatakan hal itu. Bahkan, Pamanda Minda, salah seorang guru dari Padepokan Tajimalela, secara tidak langsung menyatakan hal itu ketika Banyak Sumba bertanya kepadanya.

Waktu itu, Pamanda Minda dari Padepokan Tajimalela mengadakan perjalanan ke suatu tempat yang dirahasiakan di perbatasan timur kerajaan. Pamanda Minda singgah di Medang. Selain membawa pesan dari Kakanda Jante, beliau pun perlu menginap semalam di Medang. Ketika itulah, Banyak Sumba bertanya, "Pamanda, siapakah puragabaya terbaik masa kini?"

"Kakakmu salah seorang yang paling tangguh," jawab Pamanda Minda sambil mengusap Banyak Sumba yang baru berumur sepuluh tahun.

"Bagaimana dengan yang lain? Apakah mereka kurang hebat dan semua dikalahkan Kanda Jaluwuyung dalam latihan?"

Pamanda Minda tersenyum, lalu berkata, "Banyak yang hebat, misalnya Ginggi, Girang, dan... Pangeran Anggadipati... yang sekarang biasa dipanggil Anom. Mereka ini tidak terkalahkan dalam latihan-latihan, kecuali oleh Pamanda Rakean dan Pamanda Minda sebagai gurunya," lanjutnya sambil tersenyum.

Semua yang telah dicapai oleh leluhur dan belakangan oleh Kanda Jante Jaluwuyung, di satu pihak menumbuhkan rasa bangga pada diri Banyak Sumba. Tetapi di lain pihak, itu menjadi beban pula baginya. Sering dia bertanya pada diri sendiri, apakah ia, Banyak Sumba, dapat menjadi anggota wangsa Banyak Citra yang menonjol dan termasyhur di Kerajaan Pajajaran? Pertanyaan itu menimbulkan kecemasan dalam dirinya. Bagaimana kalau ia tidak menjadi orang yang berarti di mata para bangsawan dan rakyat Pajajaran?

Bagaimana kalau mengecewakan Ayahanda Banyak Citra?

"Anakku, Banyak Sumbaaku yakin, engkau akan menjadi orang yang benar-benar membawa sifat-sifat wangsa Banyak Citra," demikian Ayahanda berkata, membangunkan Banyak Sumba dari renungannya.

"Mudah-mudahan, Sang Hiang Tunggal merestui, Ayahanda," ujar Banyak Sumba.

"Sekarang pergilah, ambillah perlengkapanmu. Suruh gulang-gulang membawanya ke sini agar kau tidak harus membungkuk saat membaca lontar-lontar ini," ujar Ayahanda sambil melihat-lihat setumpukan peti lontar di samping beliau.

"Di tempat hamba ada sebuah peti besar yang biasa hamba pergunakan. Bolehkah hamba menggunakannya di ruangan ini?"

"Cari yang lebih baik. Sekarang engkau sudah besar.

Engkau seorang bangsawan," kata Ayahanda pula.

Banyak Sumba tidak berkata apa-apa lagi. Ia menyembah dengan hormat, lalu mengundurkan diri.

KETIKA itu hari menuju senja, beribu-ribu keluang terbang ke hutan-hutan yang kelam di sebelah barat. Banyak Sumba berjalan menyusuri jalan di atas dinding benteng, menuju bagian kaputren Puri Banyak Citra. Ia sengaja menyusur benteng karena di sana obor-obor menyala terang. Sambil berjalan di atas benteng, ia memandang ke sekeliling, ke langit yang berangsur berubah warna, dari Jingga menjadi merah tua. Beberapa orang gulang-gulang dan jagabaya yang mendapat giliran jaga malam di atas benteng, menegurnya dengan hormat. Banyak Sumba menyahut dengan hormat pula, sesuai dengan kedudukannya sebagai putra penguasa Kota Medang.

Ketika Banyak Sumba melayangkan pandangannya ke perhumaan dan gundukan-gundukan kampung yang tersebar di sebelah barat Kota Medang, di antara kelap-kelip cahaya obor yang tampak dari jauh, tampaklah tiga buah obor besar yang bergerak dengan cepat ke arah kota. Ketika Banyak Sumba menajamkan pandangannya menembus remang senja, terlihat tiga buah obor besar itu bergerak sepanjang jalan besar yang menuju gerbang Kota Medang.

Aneh, ketika melihat ada orang yang tergesa-gesa menuju kota pada waktu senja seperti itu, jantungnya seolah-olah terhenti. Entah apa sebabnya, hatinya tiba-tiba cemas, kalau- kalau para pendatang itu membawa berita yang tidak dikehendaki. Akan tetapi, kecemasan yang tidak masuk akal itu segera diusir dari pikirannya. Ia mulai memerhatikan para penunggang kuda yang mendekat dengan obor berkobar- kobar. Di belakang pembawa obor itu, kira-kira sepuluh penunggang kuda memacu kuda mereka dengan cepat sekali.

"Paman," kata Banyak Sumba kepada seorang gulang- gulang yang juga memandang ke arah para pendatang yang makin lama makin dekat, "tampaknya para penunggang kuda itu bangsawan. Saya melihat pakaian kuda mereka gemerlapan di bawah obor itu."

"Matamu tajam sekali, Raden," kata gulang-gulang, "Paman tidak dapat melihat pakaian kuda dari tempat ini."

"Lihat, mereka bangsawan," kata Banyak Sumba sambil menunjuk ke arah para pendatang yang makin dekat.

Memang, dari kuda yang berpakaian gemerlap, orang dapat menduga bahwa rombongan tamu Kota Medang itu para bangsawan dengan para pengiringnya. "Ya, jelas sekarang, mereka orang-orang besar," kata gulang-gulang itu, "tapi ada urusan penting apa malam-malam mereka memacu kuda ke sini?"

Pertanyaan itu mengembalikan rasa cemas yang aneh dalam diri Banyak Sumba. Ya, ada urusan apa rombongan itu datang malam-malam secara tergesa-gesa? Sambil merenungkan pertanyaan itu, Banyak Sumba terus berjalan, kemudian menuruni tangga yang diterangi obor dari tangan gulang-gulang yang mengantarnya. Setelah berada di bawah benteng yang terang benderang oleh lampu-lampu minyak kelapa, ia berjalan tergesa ke ruangan besar di kaputren. Di sana, Ayunda Yuta Inten sedang menyulam dikelilingi putri- putri bangsawan yang juga sedang menjahit atau menyulam.

"Biasanya, engkau tidak suka datang ke tempat gadis- gadis, Sumba. Ada apa?" tanya Yuta Inten.

"Hamba perlu kotak, Yunda. Ayahanda memerintahkan agar hamba membawanya ke ruangan beliau."

"Baiklah, pilih salah satu di ruangan kanan. Suruhlah seorang gulang-gulang membawanya. Jangan ambil jalan memotong, lebih baik lewat benteng supaya terang."

"Ya, hamba pun lewat benteng waktu kemari," ujar Banyak Sumba.

Tiba-tiba, ia ingat bangsawan-bangsawan berkuda itu. Ia tertegun sebentar di ambang ruangan besar sebelah kanan, tempat gadis-gadis menyulam. Ia berpaling kepada Putri Yuta

Inten, lalu berkata, "Ayunda, hamba melihat serombongan bangsawan penunggang kuda menuju gerbang kota. Mungkin para tamu kita."

Yuta Inten tegak dari duduknya dan dengan penuh penasaran bertanya, "Sumba, apakah kau melihat salah seorang di antara mereka berkuda putih?" sambil bertanya demikian, sulaman di tangan Putri Yuta Inten jatuh dari pangkuannya.

"Ayunda, hari terlalu gelap dan hamba tidak memerhaT tikannya," jawab Banyak Sumba. Keinginan hendak menggoda Ayunda Yuta Inten terbit dalam hatinya.

Ayunda Yuta Inten sudah bertunangan dengan Pangeran Anggadipati, sahabat seperguruan Kakanda Jante Jalawuyung. Banyak Sumba beranggapan bahwa gadis yang jatuh cinta itu seolah-olah kembali menjadi anak kecil. Ya, anak kecil yang dapat mainan baru. Begitulah sekurang-kurangnya Ayunda Yuta Inten di mata Banyak Sumba waktu itu. Gadis itu tidak dapat melepaskan segala pikiran dari tunangannya. Segala tingkah lakunya seolah-olah ditujukan kepada tunangannya yang berada di Pakuan. Ayunda Yuta Inten bersolek, menyulam, bernyanyi kecil, dan belajar menari; semuanya itu ditujukan kepada Pangeran Anggadipati. Demikian juga segala percakapan Ayunda, apa pun yang menjadi bahan pembicaraannya dan siapa pun yang diajaknya bicara, baik gadis-gadis bangsawan maupun Banyak Sumba, akhir percakapan akan kembali kepada Pangeran Anggadipati.

Alangkah anehnya seorang gadis, walaupun gadis itu kakaknya sendiri, demikian anggapan Banyak Sumba. Karena keanehan itu, ia senang menggoda Ayunda Yuta Inten.

Ditambah pula, Ayunda Yuta Inten suka menggodanya. Itulah sebabnya, Banyak Sumba tidak berterus terang kepada Putri Yuta Inten bahwa dia tidak melihat kuda putih, kuda yang biasa ditunggangi para pura-gabaya.

Karena Banyak Sumba tidak memberikan jawaban pasti tentang warna kuda tamu-tamu yang datang, timbullah harapan Yuta Inten untuk dapat bertemu dengan kekasihnya. Ia bangkit dari atas tikar tempat duduknya, lalu berjalan ke arah Banyak Sumba yang berdiri di ambang pintu.

"Sumba, walaupun gelap, bulu kuda putih dapat kaulihat.

Apakah secara samar-samar tidak kaulihat kuda putih?" "Hamba tidak yakin, Ayunda, tapi mungkin saja ada kuda putih," jawab Banyak Sumba.

"Kaulihat warna putih berkelebat dalam gelap?"

"Mungkin saja, Ayunda, tetapi mungkin yang putih pakaian penunggangnya," jawabnya.

"Sumba! Kaulihat penunggang kuda itu berpakaian putih? Tahukah engkau bahwa puragabaya itu berpakaian putih di balik pakaian malamnya yang hitam? Sumba, kaulihat... kaulihat?" Putri Yuta Inten tidak melanjutkan perkataannya. Gadis itu segera melangkah menuju gadis-gadis lain, kemudian mereka memasuki ruangan lain dengan tergesa. Banyak Sumba tersenyum ketika membayangkan Ayunda Yuta Inten akan bersolek dibantu gadis-gadis itu. Sungguh, gadis yang sedang diamuk rindu itu mudah sekali ditipu atau menipu dirinya sendiri, pikir Banyak Sumba seraya memasuki ruangan lain.

Setelah kotak itu ditemukan, Banyak Sumba memanggil seorang gulang-gulang. Gulang-gulang itu disuruhnya mengangkat kotak dan membawanya ke ruangan Ayahanda membaca atau menulis. Banyak Sumba berjalan mengiringkan gulang-gulang menuju kamar Ayahanda yang sejak malam itu menjadi tempat dia belajar tentang kenegaraan.

"Wah, Raden sudah boleh belajar di ruangan Ayahanda.

Sebentar lagi, Kota Medang mengirimkan calon menteri kera- jaan ke Pakuan Pajajaran," kata gulang-gulang itu sambil mengerling kepada Banyak Sumba di dalam gelap senja»

"Oh, begitu?" ujar Banyak Sumba menjawab kelakar gulang-gulang itu dengan pura-pura tak acuh.

"Raden, kalau nanti pergi ke Pakuan Pajajaran untuk menduduki jabatan menteri kerajaan, bawalah Emang sebagai salah seorang yang mengantarmu. Ingin sekali Emang melihat keramaian ibu kota Pakuan yang begitu banyak diceritakan dan dikagumi orang." "Apakah Emang yakin,- saya akan jadi menteri kerajaan?" tanya Banyak Sumba, masih juga tak acuh.

"Mengapa tidak? Raden Jaluwuyung telah menjadi puragabaya paling hebat, sesuai dengan rencana Ayahanda. Dan Raden Sumba direncanakan menjadi menteri kerajaan dari keluarga Banyak Citra ini. Apa yang tidak mungkin bagi Ayahanda? Beliau akan mendidikmu menjadi menteri paling hebat."

Banyak Sumba mengangkat bahunya. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Menjadi menteri atau tidak menjadi menteri bukan soal besar baginya. Ia tidak tahu apakah menjadi menteri itu menyenangkan atau tidak. Akan tetapi, kalau hal itu akan menyenangkan Ayahanda, tentu saja ia harus berusaha sebaik-baiknya untuk mencapai cita-cita itu. Bagaimanapun, Banyak Sumba mengetahui bahwa Ayahanda bukanlah orang yang dapat ditentang kehendaknya. Lagi pula, seorang anak tidak boleh menentang orangtuanya.

Demikianlah pelajaran yang diterimanya. Demikian pula yang diketahuinya dari pengalaman. Kakanda Jaluwuyung sering sekali menjadi korban kemurkaan Ayahanda karena mencoba menentang kehendaknya. Itulah sebabnya ia merasa tidak ada pilihan lain, kecuali mengikuti kehendak Ayahanda. Ia pun yakin, kehendak Ayahanda tidak akan membawanya ke arah yang buruk.

Sementara termenung demikian, mereka sudah sampai di depan ruangan Ayahanda. Banyak Sumba mendahului gulang- gulang yang membawa kotak itu, lalu membukakan pintu perlahan-lahan. Gulang-gulang itu masuk, lalu meletakkan kotak di tempat yang diisyaratkan Banyak Sumba. Setelah itu, gulang-gulang menyembah ke arah Ayahanda yang tidak mengangkat muka dari tumpukan lontar yang ada di hadapannya. Setelah gulang-gulang itu keluar, Banyak Sumba mulai duduk menghadapi kotaknya. Ia duduk bersila di atas permadani, memandangi ayahandanya. Tak lama kemudian, Ayahanda bangkit. Dengan dua buah kotak lontar di tangan, beliau berjalan ke arahnya. Ayahanda Banyak Citra membungkuk, meletakkan kedua buah lontar itu di atas meja Banyak Sumba. Bau cendana yang harum terisap oleh Banyak Sumba. Tentu kotak lontar itu terbuat dari kayu yang mahal dan isi kotak itu merupakan naskah-naskah tentang ilmu-ilmu mulia. Makin yakin Banyak Sumba bahwa ia harus belajar dengan sungguh-sungguh. Kalau Ayahanda begitu bersungguh-sungguh menghadapinya, apalagi dia, anak yang harus berbakti kepada orangtuanya.

"Sumba," tiba-tiba Ayahanda berkata, "leluhur kita adalah menteri-menteri kerajaan atau para pahlawan, puragabaya atau laksamana. Engkau anggota wangsa Banyak Citra.

Engkau harus merencanakan bagaimana membaktikan dirimu pada kerajaan. Karena Kakanda Jaluwuyung telah menjadi puragabaya, puragabaya yang baik pula, kupilihkan engkau pendidikan negarawan. Sejak malam ini, pelajarilah lontar yang ada dalam kotak-kotak itu. Kalau ada kesukaran, bertanyalah kepadaku. Kita akan banyak berbincang-bincang tentang isi kotak-kotak itu."

"Baik, Ayahanda," ujar Banyak Sumba.

"Sekarang, mulailah pelajari kotak yang sebelah kiri.

Ayahanda akan berada di sini mengerjakan tulisan-tulisan ini," kata Ayahanda pula sambil kembali menunduk, menghadapi tumpukan lontar yang ada di hadapan beliau.

Dengan berhati-hati, Banyak Sumba membuka kotak lontar yang sebelah kiri. Begitu kotak itu terbuka, bau kayu cendana yang lebih semerbak tersebar ke seluruh kamar. Dari lontar pertama, yang terbaca oleh Banyak Sumba adalah dua patah kata yang ditulis dengan bagus sekali "Sang Negarawan".

Akan tetapi, baru saja ia membuka lontar yang pertama dan mulai membaca lembar lontar yang kedua, dari luar benteng terdengar suara hiruk pikuk disusul dengan langkah gulang- gulang yang berisik di atas lantai batu benteng menuju ruangan.

Banyak Sumba mengangkat mukanya, tampak olehnya ayahanda pun mengangkat muka. Dalam sekilat, Banyak Sumba ingat kepada rombongan penunggang kuda yang datang ke arah Kota Medang. Firasat buruk menyentuh hatinya kembali. Adakah kampung-kampung di wilayah Medang yang diserang gerombolan perampok? Atau adakah harimau menerkam orang? Atau naga yang keluar dari Hutan Larangan dan memangsa berpuluh-puluh penduduk kampung, seperti pernah terjadi di zaman Nenckanda Banyak Citra yang ketiga? Barangkali ada kebakaran hutan, malapetaka yang paling ditakuti oleh binatang dan manusia? Segala pikiran buruk membayang dalam hati Banyak Sumba, tetapi tidak lama, karena gulang-gulang sudah tiba di pintu dan menyembah.

"Para tamu dari Kutabarang dba dan menunggu di ruang tengah," kata gulang-gulang itu. Wajah Ayahanda yang angker bertambah kelam, mungkin segala pikiran buruk membayang pula dalam hati beliau. Ayahanda bangkit, lalu meninggalkan ruangan diiring oleh gulang-gulang menuju istana.

Setelah termenung sebentar, dan dengan hati yang masih gelisah, Banyak Sumba mulai membuka lontar halaman kedua.

Demikianlah sabda Sang Maha Budiman bahwa sesungguhnya tiada yang kuasa selain Sang Hiang Tunggal, yang mencurahkan restu-Nya kepada anak negeri untuk mengurus diri mereka, bersaudara dalam kasih sayang. Para petani pergilah ke bukit, nelayan ke lautan. Pedagang- pedagang gelarkan tikar kalian di pasar-pasar, perwira- perwira, berdirilah di perbatasan kerajaan. Sedangkan dari mereka Sang Hiang Tunggal akan menetapkan seorang raja, ia yang paling budiman, ia yang tidak membutuhkan apa-apa selain kesempatan untuk mencintai rakyatnya. Yang tidak takut apa-apa, selain takut rakyatnya akan menderita....

Belum habis Banyak Sumba membaca, tiba-tiba didengarnya sayup-sayup suara jeritan. Banyak Sumba menajamkan pendengarannya. Suara itu terdengar dari arah istana. "Apakah yang terjadi?" tanya Banyak Sumba dalam hati, jantungnya berdetak dengan cepat. Kemudian, suara jeritan panjang mengikuti, diiringi suara tangisan lainnya.

Suara yang makin lama makin keras itu membangkitkan Banyak Sumba dari tempat duduknya. Ia kemudian berjalan ke luar. Ketika suara tangis makin nyaring, ia berlari di atas dinding benteng.

Di atas dinding benteng, gulang-gulang berkumpul, bercakap-cakap dalam bisikan. Banyak Sumba berlari melewati mereka. Karena asyik bercakap-cakap, tak ada seorang pun di antara gulang-gulang itu yang melihat dia lewat.

"Sudah seminggu ia meninggal, kalau begitu," kata seorang gulang-gulang. Mendengar itu, Banyak Sumba lari. Siapakah yang meninggal? Siapakah yang ditangisi wanita-wanita itu?

Banyak Sumba makin mempercepat larinya. Beberapa tangga yang gelap dituruninya, tapi ia tidak terpeleset karena tempat- tempat itu sudah dikenalnya dengan baik. Kemudian, ia berlari di lorong-lorong istana. Di lorong-lorong istana pun ia bertemu dengan para gulang-gulang yang juga bercakap-cakap dengan berbisik. Jelas bahwa suatu malapetaka telah menimpa isi Istana Banyak Citra. Dengan pikiran itu, tibalah ia di ruangan tengah.

Ayahanda duduk seperti patung pada kursi kebesaran beliau. Para tamu yang ternyata ipar-ipar dan keponakan Ayahanda yang datang dari Kutabarang, duduk dengan kepala tertunduk. Sementara itu, di samping Ayahanda, Ibunda dikerumuni para emban. Semua menangis, melolong-lolong.

Ternyata Ibunda tidak sadarkan diri, demikian pula Ayunda Yuta Inten yang terbaring di ruangan lain tidak jauh dari ruangan tengah. Melihat pemandangan yang mengibakan hati itu, air mata Banyak Sumba tidak dapat ditahan lagi. Ia berdiri di samping pintu ke ruangan tengah, di bawah bayang-bayang lampu yang bergerak-gerak. Ia tidak dapat menggerakkan kakinya. Ia berdiri di sana seperti patung.

Setelah semua wanita diperintahkan mengundurkan diri sambil membawa Ibunda ke ruangan dalam, berkatalah Ayahanda.

"Kita harus mengetahui ke mana abu jenazahnya dibawa." "Ya, tapi abu jenazah disembunyikan oleh pemerintahan

kerajaan karena anggota-anggota wangsa Wiratanu bermaksud mengambil dan menghinakannya. Bahkan, waktu jenazah hendak dibakar dengan segala upacara yang pantas bagi puragabaya, orang-orang Wiratanu menyerang upacara itu untuk mengambil jenazah. Kabarnya, mereka bersumpah untuk memberikan jenazah Jaluwuyung kepada anjing mereka," demikian Pamanda Galih Wangi memberi penjelasan.

Kata 'Jaluwuyung" tiba-tiba seperu geledek di siang bolong bagi Banyak Sumba. Betulkah apa yang didengarnya, Kakanda Jaluwuyung telah gugur dan abu jenazahnya diperebutkan orang? Betulkah ia sudah kehilangan kakak laki-laki yang menjadi kebanggaannya?

"Kita harus membuat perhitungan dengan wangsa Wiratanu," kata Ayahanda, "kalau tidak, kita ini bukan anggota wangsa Banyak Citra."

"Kita perlu menyelidikinya lebih lanjut, mengapa Jaluwuyung membunuh Raden Bagus Wiratanu," kata Pamanda Galih Wangi.

"Raden Bagus Wiratanu hanyalah dalih, percayalah kepadaku. Jantejante anakku berulang-ulang menceritakan bahwa ia mencurigai pengkhianatan. Ia menduga, para pelatih berusaha membunuhnya sejak ia di padepokan. Demikian pula calon-calon puragabaya lainnya. Dan dalam menghadapi musuh, Jante sering merasa hendak dikorbankan. Itulah yang berulang-ulang dikatakan kepadaku," kata Ayahanda.

"Kalau begitu, segala kejadian dapat diterangkan. Akan tetapi, bukan berarti masalah pokok dapat dijawab. Mula- mula, Kutabarang kedatangan sepasukan orang-orang dari Kuta Kiara yang hendak menuntut balas kematian Raden Bagus Wiratanu. Kemudian, datang rombongan puragabaya ini, katanya untuk mencegah perbuatan-perbuatan onar dari pihak wangsa Wiratanu. Akan tetapi, nyatanya mereka datang untuk membunuh Jante, sejalan dan setujuan dengan maksud wangsa Wiratanu. Hanya ada satu soal, mengapa mereka sejak awal hendak membunuh Jante?"

"Karena ia puragabaya yang terlalu hebat, ia puragabaya keturunan Banyak Citra. Ia dianggap berbahaya dan karena itu harus dibunuh oleh calon iparnya sendiri, Anggadipati.

Sungguh orang ini telah menipuku dan menipu anakku, Yuta Inten. Kalian tahu ia telah bertunangan dengan Yuta Inten," sambung Ayahanda sambil menundukkan kepala. Ketika beliau mengangkat kepala, kembali tampak oleh Banyak Sumba, betapa dalam sekejap beliau berubah seperti bertambah tua beberapa tahun.

"Ya, setiap orang mengatakan, hanya Puragabaya Ang- gadipati-lah tandingan Jante. Oleh karena itu, ia yang ditugaskan untuk menghadapinya."

"Kalau tidak dibantu puragabaya lain, Anggadipati tidak akan mampu menghadapi Jante," ujar Ayahanda perlahan- lahan. Setelah menarik napas panjang, ia menyambung.

"Kita harus membuat perhitungan dengan setiap orang yang terlibat dalam peristiwa keji ini. Akan tetapi, pertama- tama kita harus berurusan dengan mereka yang meremehkan tangan atau senjatanya dengan darah Jante. Keturunan Banyak Citra tidak boleh gugur tanpa diikuti oleh kematian pe- ngecut-pengecut itu." "Peristiwanya belum jelas bagi saya," kata Pamanda Angke. "Semuanya jelas bagiku," tukas Ayahanda, "ada pihak-

pihak yang tidak suka kepada Jante. Pihak-pihak ini

mempergunakan tangan-tangan wangsa Wiratanu untuk memancing Jante. Jante terpancing, lalu diturunkanlah Anggadipati dengan pengeroyok lainnya."

"Akan tetapi, sepanjang pengetahuan saya, tidak semudah itu para puragabaya dapat dipergunakan oleh pihak-pihak yang tidak suka kepada Jante. Apalagi mengingat Anggadipati mencintai Yuta Inten. Banyak hal yang belum jelas," sambung Pamanda Angke.

"Angke!" seru Ayahanda Banyak Citra, "engkau tidak mengalami sendiri bagaimana bangsawan tertentu dapat berhati busuk. Aku mengalaminya dengan mata kepalaku sendiri. Ketika aku hampir diangkat menjadi penguasa Kota Medang, bukankah nyawaku diancam pula? Sudah lupakah engkau bagaimana aku dihadang perampok yang hampir berhasil membunuhku? Apakah kaukira perampok itu bukan suruhan sainganku sebagai calon penguasa Kota Medang ini?"

"Kalau begitu, entahlah. Akan tetapi, bagiku masih banyak hal yang gelap. Ada orang-orang di Kutabarang yang menyatakan bahwa Jante kehilangan pikiran sehatnya. Ada yang menyatakan bahwa dia ketakutan setelah membunuh Bagus Wiratanu dalam perkelahian itu, ya, dan banyak lagi” kata Pamanda Angke. Akan tetapi, sebelum Pamanda Angke menyelesaikan kata-katanya, Ayahanda menyela.

'Jante berulang-ulang mengatakan kepadaku bahwa nyawanya terancam. Pihak-pihak tertentu tidak menyukainya dan berulang-ulang para pelatih di padepokan serta kawan- kawan seperguruannya mencoba mencelakakannya."

"Kalau Kakanda yakin, terserahlah. Akan tetapi, saya ... saya ragu-ragu apakah ...," ujar Paman Angke. "Soalnya jelas, Jante dibunuh oleh Anggadipati setelah diumpani oleh Bagus Wiratanu. Kita anggota wangsa Banyak Citra harus menegakkan kehormatan kita sepantasnya. Yang setengah hati, dipersilakan menyimpan senjatanya," sambil berkata demikian, mata Ayahanda berkeliling mengawasi wajah bangsawan-bangsawan Kota Medang yang hadir satu per satu.

"Biarkanlah darah kita menjadi dingin lebih dahulu, baru kita mempersoalkan apa yang akan kita perbuat," kata Pamanda Galih Wangi setelah lama menundukkan kepala. Tampak banyak bangsawan yang setuju dengan pendapat itu. Akan tetapi, Ayahanda menggeram dan marah.

"Seorang anggota keluarga terbunuh tidak pantas disambut dengan perundingan-perundingan. Kita anggota wangsa Banyak Citra yang punya harga diri dan aku anggota sulung wangsa Banyak Citra. Aku bersedia menegakkan kehormatan keluargaku seorang diri."

Tak ada bangsawan yang berani angkat suara. Itu berarti pula kehendak Ayahanda menjadi perintah.

WALAUPUN tidak seluruh bangsawan Kota Medang sependapat dan setuju dengan Ayahanda, pada malam berikutnya, "Upacara Sumpah Pembalasan Dendam" dilakukan di tengah-tengah lapangan depan istana. Para bangsawan pembantu terdekat Ayahanda dalam memerintah Kota Medang, bangsawan-bangsawan muda sahabat Kakanda Jante Jaluwuyung, dengan pakaian perang yang gemerlapan dan senjata lengkap, berkumpul mengelilingi api unggun besar di tengah lapangan itu. Api unggun itu demikian besar sehingga suaranya yang gemuruh menyeramkan, sedangkan panasnya menyengat. Banyak Sumba sudah siap dengan pakaian kebesarannya. Walaupun semula hati Banyak Sumba kosong dari segala perasaan karena terkejut mendengar berita yang tidak disangka-sangka, malam itu—di depan api unggun raksasa—tiba-tiba ia mengalami sesuatu.

Api unggun yang besar, berkobar-kobar, dan panas adalah lambang dendam wangsa Banyak Citra terhadap Pangeran Anggadipati. Sadar akan hal itu, meremanglah bulu roma Banyak Sumba. Ia meramalkan banyak darah akan mengalir, banyak nyawa akan melayang karena kematian putra sulung Ayahanda, Kakanda Jante Jaluwuyung. Kesadaran dan rasa seram itu bertambah pula ketika ia menyadari bahwa Ayahanda Banyak Citra yang keras dan pantang menyerah, orang yang disakiti dalam peristiwa yang menyedihkan itu.

Dendam seorang laki-laki yang keras dan pantang menyerah akan mengguncangkan Kerajaan Pajajaran sehingga mereka yang bersalah terhukum dan mereka yang khilaf meminta maaf. Sebelum itu, Pajajaran akan bergelimang darah, besi, dan api! Sekali lagi, meremang bulu roma Banyak Sumba.

Sementara Banyak Sumba termenung, ternyata persiapan upacara sudah selesai. Hampir seluruh penduduk Kota Medang, para pedagang, petani, tukang-tukang, dan para bangsawan hadir di tengah lapangan itu. Di babancong seluruh keluarga Banyak Citra berkumpul, berpakaian gelap tanda dukacita. Kaum pria berpakaian perang, kaum wanita berpakaian perkabungan. Di samping kanan Ayahanda yang duduk di kursi kencana yang ditutupi kain hitam, duduk Ibunda. Di sebelah kiri, Ayunda Yuta Inten yang tidak dapat duduk tegak dan harus dipegang para emban karena tak tahan mengusung beban dukacita. Suara tangis dari arah kaum wanita kadang-kadang mengeras, kadang-kadang melemah di antara gemuruh bunyi api unggun.

Setelah beberapa lama orang berhenti berdatangan ke lapangan itu dan suasana menjadi hening di antara gemuruh api, berdirilah Ayahanda Banyak Citra. Beliau mengenakan pakaian kebesaran dan bersenjata lengkap seakan-akan beliau akan pergi ke medan perang. Beliau berjalan ke depan babanconghmgga tampak dengan jelas dari semua arah di dalam terang api unggun itu. Setelah beberapa lama beliau berdiri di sana, suasana semakin hening. Akhirnya, suara orang berbicara pun lenyap. Tinggal suara api yang gemuruh dan gemeletup, seolah-olah suara raksasa atau binatang buas yang menggeram-geram karena marah.

Dalam keheningan itu, berserulah Ayahanda dengan suara berat tapi lantang, 'Jante Jaluwuyung, anakku, anak kita semua. Jante Jaluwuyung, sahabatmu, saudaramu. Jantejalu- wuyung yang mencintai kalian semua, yang akan bersedia setiap waktu memberikan darahnya seandainya kalian terancam, seandainya kawan-kawan kalian dan saudara- saudara kalian dalam bahaya. Jante Jaluwuyung yang mencintai kota kelahirannya, Kota Medang yang sama-sama kita bangun dan kita cintai ini, telah tiada.

"Ia telah meninggal. Dan kita tidak bisa lain, kecuali

mengikhlaskannya kalau itu kehendak Sang Hiang Tunggal. Jante Jaluwuyung meninggal, tapi ia meninggal tidak secara wajar. Ia meninggal karena dibunuh.

"Baiklah, kita akan menerima kalau ia dibunuh karena kesalahannya. Akan tetapi, ia terlalu baik untuk berbuat kesalahan tanpa minta maaf hingga orang harus membunuhnya. Dan bagaimana ia dibunuh? Pembunuhnya bertindak secara pengecut. Ia dibunuh setelah dipancing oleh seseorang yang bernama Bagus Wiratanu, kemudian dikeroyok oleh para pengecut. Bukan saja oleh puragabaya- puragabaya, tapi juga oleh pelatihnya. Dalam perkelahian itu, seseorang yang tak mau kusebut namanya mencabut nyawanya dengan mendorongnya ke jurang."

Suara menggeram datang dari hadirin, terutama rakyat biasa yang berdiri di belakang. Mereka para petani, pedagang, dan tukang-tukang yang sangat kenal dan sangat sayang kepada para putra Ayahanda Banyak Citra. Mereka menggeram karena mendengar Jante dibunuh para pengecut. Ya, Jante yang biasa mereka sebut Den Ageung, yang pada masa kanak-kanaknya biasa bermain-main di antara mereka, sekarang sudah dibunuh orang. Mereka menggeram karena dendam mulai bangkit dalam hati mereka. Mendengar geraman itu, Ayahanda Banyak Citra berhenti bicara. Setelah suasana hening kembali, beliau melanjutkan kata-katanya, "Hanya itulah yang akan kusampaikan kepada kalian, anak sulungku telah tiada. Kuserahkan pada kasih sayang kalian agar rohnya diterima di Buana Padang dengan baik. Semoga anakku, anak kalian, Jante Jaluwuyung dapat tidur dengan nyenyak. Kuminta doa kalian untuk kepergiannya."

Untuk pertama kali dalam kehidupannya, Banyak Sumba mendengar betapa suara Ayahanda gemetar karena kesedihan. Suara laki-laki yang keras itu baru kali ini gemetar dan tidak disadarinya, dada Banyak Sumba pun mulai berguncang. Banyak Sumba menangis selama dua hari sejak ia mengetahui bahwa Jante Jaluwuyung dibunuh orang.

Tiba-tiba, terdengar teriakan dari hadirin, teriakan-teriakan yang mula-mula tidak jelas terdengar, tetapi akhirnya dapat ditangkap dengan terang. Teriakan-teriakan itu adalah teriakan tuntutan balas dendam. Bangsawan-bangsawan muda dengan pakaian perang dan sikap yang gagali perkasa maju ke depan. Mereka mengucapkan sumpah balas dendam dan berjanji untuk menyerahkan nyawanya demi terbunuhnya para pembunuh Jante Jaluwuyung. Kemudian, rakyat biasa pun berbuat demikian, ingar-bingarlah lapangan, seolah-olah seluruh hadirin mabuk atau menjadi gila karena marah.

Dalam ingar-bingar itu, Banyak Sumba maju, melemparkan badik hadiah dari Pangeran Anggadipati. Demikian juga Ayunda Yuta Inten, melemparkan segala perhiasan yang diterima dari tunangannya. Kemudian, Ayunda pingsan untuk ketiga kalinya dan terpaksa dipapah menjauh dari api yang berkobar-kobar buas itu. Sementara itu, tangisan menjadi keras kembali, teriakan-teriakan menggetarkan langit malam itu. Bendera-bendera merah dan hitam dikibarkan, demikian juga umbul-umbul tua yang telah sobek-sobek, umbul-umbul keramat yang telah mengalami beberapa kali peperangan.

Banyak Sumba yang mula-mula tidak mengerti, akhirnya hanyut juga dalam arus perasaan yang menguasai hadirin. Kesedihan, kemarahan, kebencian, dan tekad membalas dendam bergalau dalam dadanya.

UPACARA selesai setelah malam sangat larut. Bangsawan- bangsawan kebanyakan tidak terus pulang, tetapi masuk istana menemani Ayahanda. Banyak Sumba masuk ke ruangannya, lalu membaringkan badannya yang lelah. Akan tetapi, sampai kokok ayam jantan terdengar untuk pertama kali, matanya tidak juga hendak terpejam. Peristiwa yang berturut-turut dialaminya mengisi kesadarannya. Di samping itu, dari arah ruangan tengah terdengar percakapan atau perundingan orang-orang tua. Sedangkan dari kaputren kadang-kadang terdengar 6ayup-sayup suara tangis. Di lorong, para gulang-gulang yang juga tidak hendak tidur, terus berbincang-bincang. Tentu saja tentang kematian Kakanda Jante Jaluwuyung. Ketika hari hampir pagi, barulah Banyak Sumba tertidur. Akan tetapi, tidurnya gelisah oleh berbagai impian buruk. Suatu kali, impian buruk itu begitu mendebarkan jiwanya sehingga ia terbangun, lalu duduk di atas balai-balainya.

Ia membukakan tingkap, melihat kabut yang masih menyelimuti pepohonan di taman kaputren dan dinding benteng yang membayang dari jauh. Menara pengintai benteng pun masih belum tampak. Udara dingin masuk ruangannya, menyegarkan badan yang sangat lelah. Ia pun bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke luar ruangan yang masih sangat sepi. Ia berjalan di lorong istana, mengikuti ujung jari kakinya. Suatu ketika, dikenangnya Pangeran Anggadipati, tunangan Ayunda Yuta Inten yang ternyata telah membunuh Kakanda Jante Jaluwuyung. Alangkah lemah lembut dan manis tingkah laku dan tutur kata puragabaya, tapi alangkah jahatnya perangai yang ada di belakang tingkah laku dan kera- mahtamahan itu. Dan alangkah pandainya pula puragabaya itu menyembunyikan kebusukan hatinya. Ketika pertama kali mendengar bahwa pembunuh Kakanda Jaluwuyung adalah Pangeran Anggadipati, sukar baginya untuk percaya. Tidak mungkin, seribu kali tidak mungkin, pikirnya. Akan tetapi, para bangsawan yang datang dari Kutabarang berulang-ulang menyatakan begitu. Di samping itu, ada satu hal yang menyebabkan ia percaya akan berita itu, yaitu penjelasan Ayahanda Banyak Citra kepada para tamu.

Ayahanda menyatakan, Kakanda Jaluwuyung pernah mengatakan baHwa puragabaya-puragabaya lain dan bahkan para pelatih mencari kesempatan untuk membunuhnya. Hal itu dapat dimengerti karena Kakanda Jaluwuyung seorang puragabaya yang sangat pandai dan hebat. Memang, dalam segala hal, Kakanda Jaluwuyung selalu menjadi yang terhebat.

Banyak Sumba ingat ketika dalam perlombaan memanah, naik kuda, dan bergumul dengan putra-putra bangsawan, Kakanda Jaluwuyung selalu unggul. Ia sangat kagum kepada Kakanda Jaluwuyung, ia memuja Kakanda Jaluwuyung. Masuk akal kalau banyak orang iri kepadanya. Kakandajaluwuyung dipancing untuk marah, kemudian membunuh Raden Bagus Wiratanu. Setelah kematian Raden Bagus Wiratanu inilah, para puragabaya yang iri hati menyerangnya secara pengecut.

Seperti anjing-anjing pengecut menyerang babi hutan jantan yang perwira. Alangkah pengecutnya! pikir Banyak Sumba, dan hadnya pun mulai panas. Tanpa disadarinya, ia berjalan bertambah cepat karena hatinya panas, walaupun arah langkahnya tidak pasti. Tiba-tiba, ia sudah berada di ruangan tengah, tempat semalam Ayahanda mengadakan pembicaraan dengan para tamu dan para bangsawan Kota Medang. Ternyata, beberapa orang gulang-gulang masih tetap berjaga di setiap pintu ruangan. Dan ketika Banyak Sumba berpaling ke arah kursi besar ayahandanya, ternyata beliau masih duduk di sana.

Dari kelopak matanya yang cekung dan dari biji mata beliau yang kemerah-merahan, Banyak Sumba sudah dapat mengira bahwa Ayahanda tidak tidur sepanjang malam. Ia memandang orangtuanya yang duduk dengan kedua belah tangan bertelekan pada meja panjang di ruangan itu. Ia melihat betapa punggung Ayahanda yang agak bungkuk itu memberi kesan seolah-olah Ayahanda seekor elang tua, ya, seekor elang yang sedang termenung karena marah dan sedih.

Banyak Sumba tidak bergerak dari ambang pintu. Ia memandang Ayahanda dengan kebingungan, tidak tahu yang akan diperbuatnya.

Ayahanda Banyak Citra berpaling, lalu memberi isyarat kepadanya supaya mendekat. Banyak Sumba melangkah ragu- ragu karena sebelumnya ia tidak pernah dipanggil menghadap di ruangan tengah itu. Ayahanda memberinya isyarat kembali, seolah-olah menyatakan bahwa ia tidak usah ragu-ragu.

Banyak Sumba pun segera datang dan berdiri di sebelah kiri meja panjang dekat ujung tempat Ayahanda duduk.

"Duduklah," ujar Ayahanda. Banyak Sumba duduk di bangku yang sebelumnya tidak pernah disentuhnya karena hanya dipergunakan oleh orang tua dan bangsawan. Ia duduk dengan kaku sekali. Ayahanda melihat hal itu, kemudian berkata, "Engkau sekarang anak laki-laki terbesar dalam keluarga Banyak Citra. Oleh karena itu, kau berhak duduk di sana. Kakakmu sudah dada, engkau gantinya," kata Ayahanda. Terdengar oleh Banyak Sumba, suara Ayahanda bergetar seperti malam sebelumnya. Banyak Sumba menundukkan kepala. "Sumba, Anakku, aku meramalkan, kehidupan kita akan berubah. Mungkin kita harus menderita, tetapi bukan anggota wangsa Banyak Citra kalau tidak berani menderita dan berkorban untuk kehormatannya. Aku tahu, engkau seorang yang benar-benar berdarah wangsa Banyak Citra. Oleh karena itu, segala perubahan yang akan kita alami tidak akan memenga-ruhimu. Justru karena penderitaan, engkau akan menjadi anggota wangsa Banyak Citra yang sebenarnya.

Anakku, Sumba, Sang Hiang Tunggal menasibkan keturunan wangsa Banyak Citra menderita. Akan tetapi, aku yakin, itu karena Sang Hiang Tunggal mengetahui bahwa keturunan Banyak Citra adalah orang-orang yang jujur, tabah, dan berani. Wangsa Banyak Citra adalah orang-orang yang menempuh jalan lurus dalam hidupnya, walaupun jalan itu sukar.

Engkau seorang keturunan Banyak Citra. Engkau sekarang putra sulungku."

Sambil berkata demikian, Ayahanda bangkit dari tempat duduknya, lalu memegang pundak Banyak Sumba. Banyak Sumba bangkit dan mereka pun berjalan ke ruangan khusus Ayahanda yang ada di dekat dinding benteng, tempat sebelumnya mereka duduk bersama. Sepanjang lorong, tangan Ayahanda tidak lepas dari pundak Banyak Sumba. Baru pertama kali itulah, Ayahanda berlaku demikian. Biasanya, tidak pernah Ayahanda memperlihatkan kasih sayang dan kemesraan seperti itu, bahkan kepada anak-anak yang masih kecil atau putri-putrinya. Ayahanda juga jauh dari anak- anaknya. Akan tetapi, hari itu sangat terasa oleh Banyak Sumba bahwa Ayahanda berubah. Dukacita yang merupakan pukulan bagi orangtua karena kehilangan putra sulungnya telah memengaruhi tingkah laku Ayahanda.

Ketika mereka di ruangan khusus, kotak lontar yang dua buah dan yang kemarin malam diletakkan Banyak Sumba, masih terletak di sana. Setiba di sana, Ayahanda menunduk, lalu mengambil kedua buah kotak itu. Tidak disangka-sangka, Ayahanda mengambil lampu minyak kelapa yang masih menyala di sudut ruangan, lalu membakar isi kedua kotak itu. Banyak Sumba melihat kejadian itu dengan keheranan, tetapi tak sepatah kata pun diucapkannya.

Setelah lontar yang bertuliskan pelajaran-pelajaran tentang kenegarawanan itu habis terbakar, Ayahanda mengambil kotak lain yang berwarna hitam dan buruk rupanya. Kotak itu dibukanya dengan susah payah, kemudian diletakkannya di hadapan meja Banyak Sumba, "KakandaJaluwuyung telah hafal isi semua lontar dalam kotak ini. Itulah sebabnya ia.dapat belajar dengan cepat di Padepokan Tajimalela sehingga menjadi puragabaya paling hebat dan paling perkasa. Pelajarilah isi kotak ini walaupun ilmu yang ada di dalamnya barangkali hanya seperseribu dari ilmu kepuragabayaan. Semua yang tertulis di sana akan berguna bagimu. Ilmu yang tertulis dalam lontar itu kudapatkan dari orang yang pernah tersesat dalam hutan, kemudian masuk ke Padepokan Tajimalela yang dirahasiakan. Ia ditangkap, lalu dilepaskan kembali karena dianggap terlalu bodoh untuk dapat membocorkan rahasia perguruan. Akan tetapi, orang ini dapat menulis. Semua hal yang dilihatnya ditulis, lalu dijual kepada seorang perwira jagabaya. Perwira jagabaya ini menukarkan keterangan-keterangan itu dengan sebuah badik bermata gading dari kakekmu. Begitulah, ia sekarang tiba di hadapanmu. Pelajarilah, karena kehormatan keluarga menuntutmu menjadi seorang laki-laki yang perkasa."

Setelah berkata demikian, Ayahanda meninggalkan ruangan. Banyak Sumba membuka-buka lontar yang ada di hadapannya. Lontar itu tidak diberi nomor urut dan ditulis dengan tulisan yang sangat buruk pula. Sukar sekali bagi Banyak Sumba untuk mengerti ujung pangkal pikiran penulisnya. Hanya beberapa istilah aneh yang tertangkap, misalnya jurus, jurus susun, leway, sorong dayung, dan lain- lain yang sedikit pun tidak dimengertinya. Di samping itu, karena tidak ddur semalaman, mata dan perhatiannya tidak dapat dipusatkan pada bacaannya. Dan karena kantuknya tidak tertahan lagi, ia tersungkur dengan posisi kepala di atas kotak tempat menyimpan peti-peti lontar itu.

Ia terbangun karena cahaya matahari siang yang panas menembus celah ijuk dan dengan tajam menyorod pipinya. Ia segera bangkit, takut kalau Ayahanda melihatnya. Ternyata,

Ayahanda tidak ada dalam ruangan itu. Ia pun bangkit.

Karena pusing, ia berjalan sempoyongan ke arah pintu. Saya harus mandi, pikirnya. Ia berjalan melewati lorong menuju jamban istana. Akan tetapi, terpikir olehnya, mandi di telaga akan lebih menyenangkan. Di samping itu, untuk pergi ke telaga, ia tidak usah lewat kaputren. Ia tidak mau melewati kaputren untuk menyaksikan dukacita yang dialami Ibunda dan Ayunda Yuta Inten. Itulah sebabnya, ia membelokkan langkahnya, lalu berjalan menuju luar istana, terus ke gerbang luar kota.

Di samping gerbang utara kota, terletak kandang kuda istana. Banyak Sumba berjalan ke kandang si Dawuk, kudanya yang berbulu keabu-abuan. Mang Iba segera membuka kandang dan menyodorkan kendali kepada Banyak Sumba.

Mereka tidak berkata-kata, suasana dukacita masih menekan seluruh, kota. Tak lama kemudian, Banyak Sumba sudah berada di luar benteng, melarikan kudanya perlahan-lahan antara semak-semak atau hutan-hutan kecil, menuju telaga. Setiba di sana, tanpa mengikatkan si Dawuk, ia membuka pakaian, lalu menceburkan diri ke dalam telaga yang berair jernih dan sejuk. Si Dawuk makan rumput-rumputan di pinggir telaga. Kuda yang cerdik dan terlatih itu tidak mau pergi jauh dari tuannya.

Demikianlah Banyak Sumba berenang ke sana kemari, menyeberangi telaga yang luas itu berulang-ulang hingga segala rasa penat dan pusing hilang meninggalkan tubuhnya. Setelah puas, Banyak Sumba keluar dari telaga, berpakaian kembali, lalu duduk di atas sebatang pohon tumbang. Ia tidak hendak pulang dulu karena suasana dukacita di puri Ayahanda sangat menekan hatinya. Ia akan beristirahat di sana hingga langit teduh dan dapat pulang dengan tidak melarikan kudanya. Akan tetapi, rasa lapar menggeliat dalam perutnya. Ia segera turun ke tepi telaga, lalu minum air yang jernih itu. Setelah minum, ia melihat sekeliling, mencari buah-buahan hutan yang mungkin ada di sana. Di sebatang pohon, tampak buah samolo. Banyak Sumba pun berjalan ke sana, lalu memanjatnya dengan sigap.

Ketika didapatnya buah samolo yang besar dan matang, dicabutnya belati yang terselip di pinggang. Tanpa turun dahulu, ia mengupas buah itu, kemudian mengeratnya dan sepotong demi sepotong dimasukkan ke mulutnya. Sementara itu, dari "atas pohon yang tinggi itu, ia melihat ke segala arah, ke bukit-bukit dengan ladang yang mulai menghijau, ke kelompok pohon tempat kampung-kampung petani, ke kandang-kandang jaga yang terletak di samping gerbang kampung-kampung itu. Kemudian, ke gunung-gunung yang samar-samar di sebelah barat.

Di sanalah, di balik gunungku terletak Pakuan Pajajaran, kota yang paling besar dan paling ramai di seluruh Buana Pancatengah, pikirnya. Dan di salah satu puncak gunung itu terletak Padepokan Tajimalela yang dirahasiakan, hanya diketahui para puragabaya. Demikian Kakanda Jaluwuyung pernah bercerita kepadanya. Ke sebelah utara adalah Kutabarang, pelabuhan Kerajaan Pajajaran yang kaya. Agak ke timur, antara Pakuan Pajajaran dan Medang, terletak Kuta Kiara atau Kutawaringin. Ke sebelah selatan Kota Galuh yang tua, bekas ibu kota kerajaan. Dan ini ... mata Banyak Sumba tiba-tiba melihat serombongan penunggang kuda, timbul tenggelam sepanjang jalan besar yang meliku-liku di antara kampung-kampung dan hutan-hutan kecil di tengah-tengah ladang yang luas. Banyak Sumba melindungkan tangannya dari cahaya matahari, mengawasi penunggang kuda yang besar jumlahnya itu. Tentu tamu-tamu Ayahanda, pikirnya, karenajumlah penunggang kuda itu cukup besar walaupun tanpa kereta, seperti yang biasa terlihat pada rombongan para saudagar. Di samping itu, panji-panji yang berkibar menyatakan bahwa para penunggang itu bukan pedagang, melainkan para tamu resmi atau para jagabaya. Apakah ada berita baru lagi?

Apakah kesedihan keluarga mereka akan menjadi lebih mendalam atau menjadi tawar? Jantung Banyak Sumba berdegup keras karena penasaran. Ia segera turun dari pohon samolo, memanggil-manggil si Dawuk yang tak lama kemudian muncul dari semak-semak.

Banyak Sumba melompat ke atas kuda, lalu melarikannya ke arah jalan besar yang menuju gerbang kota sebelah barat. Ia berharap dapat bertemu dengan rombongan penunggang kuda itu. Akan tetapi, ternyata untuk menuju jalan besar itu banyak sekali hambatannya. Ladang rakyat antara telaga dan jalan besar tidak rata sehingga si Dawuk terpaksa berkeliling- keliling. Jika melompati tebing-tebing yang tinggi, dikhawatirkan kaki si Dawuk akan keseleo. Di samping itu, beberapa orang petani melindungi ladang mereka dengan tumbuhan berduri untuk menghindarkan babi hutan. Itulah sebabnya untuk beberapa lama, Banyak Sumba tersesat berkeliling-keliling sehingga sangat terlambat tiba di tepi jalan besar yang menuju gerbang kota bagian barat.

Ternyata, rombongan penunggang kuda sudah lewat terlebih dahulu. Banyak Sumba hanya melihat bekas-bekas ladam mereka di jalan* besar itu. Ia pun melarikan si Dawuk menuju kota dengan penuh rasa ingin tahu. Di sepanjangjalan, ia berpapasan atau mendahului penduduk yang pulang ke kampung mereka di luar kota atau kembali ke dalam kota. Setiba di dalam kota, segera ia menyadari bahwa dugaannya tidak salah. Serombongan tamu penting telah tiba. Mungkin mereka membawa berita dan perkembangan baru dari peristiwa yang telah terjadi. Sambil menuntun kudanya di antara orang-orang yang lalu-lalang atau para pedagang yang sedang membereskan dagangannya dan bersiap-siap untuk pulang, ia mendengar percakapan orang-orang yang bergumam atau setengah berbisik. Tentu percakapan itu sekitar peristiwa terakhir yang menyedihkan dan tentang kedatangan rombongan tamu yang baru.

-oo00dw00oo-