Putri Borong Mini Eps 08 : Runtuhnya Kerajaan Manchuria

Eps 08 : Runtuhnya Kerajaan Manchuria

1

Pantai Selat Malaka dihujam panas siang itu. Keangkuhan matahari membuat bumi bagai terpang- gang. Angin pantai pun menjadi terasa menyiksa. Sea- kan tidak ingin lagi mengirim keramahan pada mak- hluk penghuni bumi.

Di bawah siraman sinar matahari itu, puluhan pen- dekar tampak berdiri gagah, seolah-olah tidak mempe- dulikan sengatan matahari. Mereka terbagi dalam dua kelompok besar. Sebagian tergabung dalam pasukan Bongkap. Sedang sebagian yang lain adalah pasukan Kerajaan Manchuria.

Di antara dua pasukan yang saling berhadapan itu, Bong Mini tampak berdiri gagah. Matanya memandang Panglima Liu Hen Hui yang juga tengah menatapnya. Sedangkan tangan kanannya menggenggam cambuk hitam sepanjang tiga meter.

“Siapa kau, Bocah Lancang!” geram Panglima  Liu Hen Hui. Dia benar-benar jengkel karena niat untuk membunuh Bongkap dengan cambuk hitamnya terha- lang oleh kehadiran gadis itu.

Sebenarnya bukan panglima dan prajurit Kerajaan Manchuria saja yang terkejut melihat kehadiran Bong Mini yang tiba-tiba itu. Para pendekar di pihak Bong- kap pun sangat tercengang bercampur gembira. Me- reka tercengang karena Bong Mini mampu menyela- matkan Bongkap dengan sangat mudah. Meski Bong- kap di bawah ancaman cambuk hitam Panglima  Liu Hen Hui. Sedangkan mereka  gembira  karena  Bong Mini hadir pada waktu yang tepat.

“Aku adalah Putri Bong Mini!” ujar Bong Mini te- nang.

Panglima dan prajurit Kerajaan Manchuria tampak tercengang ketika mendengar nama itu. Biarpun baru kali ini berjumpa dengan Bong Mini, mereka sudah mendengar tentang sepak terjangnya dari kaisarnya, Thiang Tok. Thiang Tok mengatakan kalau gadis itu mempunyai kepandaian melebihi Bongkap. Dan itu te- lah mereka saksikan saat Bong Mini muncul menyela- matkan papanya secara tiba-tiba.

“Ha ha ha...!” Panglima Liu Hen Hui  terbahak-ba- hak, menutupi  keterkejutannya. “Aku tidak menyang- ka kalau putri Bongkap memiliki wajah yang demikian cantik!”

Bong Mini tersenyum sinis mendengar pujian itu. “Jangan banyak bicara. Hadapilah aku jika kau ma-

sih punya nyali dan kepandaian!” ketus Bong Mini. Dia sudah tidak ingin membuang waktu lebih lama untuk menghajar orang-orang kaisar Kerajaan Manchuria.

Tantangan yang mengandung ejekan tadi membakar kedua telinga Panglima Liu Hen Hui. Ia pernah berha- dapan dengan pendekar-pendekar wanita, tapi  baru kali ini mendapat tantangan dari wanita berusia muda. Ketika tantangan itu terlontar dari mulut Bong Mini, tentu saja darahnya langsung berdesir panas ke selu- ruh tubuh.

“Bocah setan!” maki Panglima Liu Hen Hui sambil menggulung cambuk hitam, lalu memasukkannya kembali ke dalam jubah. Kemudian diambilnya pedang yang terjatuh saat bertarung melawan Bongkap (untuk lebih jelasnya, ikuti serial Putri Bong Mini episode: ‘Api Berkobar di Bukit Setan’). Setelah pedang tergenggam di tangannya, ia kembali berdiri gagah. Matanya me- mandang tajam pada Bong Mini yang sejak tadi mem- perhatikan gerak-geriknya.

Baladewa yang sejak tadi berdiri di dekat ibunya, Ningrum, menjadi cemas. Kakinya segera melangkah menghampiri Bong Mini. “Bong Mini, mundurlah! Biar  kulayani  panglima itu!” pinta Baladewa. Ia merasa kasihan kalau kekasih- nya yang baru datang harus pula bertarung melawan Panglima Liu Hen Hui, lelaki berkepandaian tinggi.

“Tidak perlu!” ketus Bong Mini tanpa menoleh pada Baladewa sedikit pun. “Persoalan ini menyangkut pri- badi papa dengan kaisar Kerajaan Manchuria!” lanjut- nya.

Baladewa menghela napas. Dia tidak bisa lagi men- cegah keinginan gadis yang memang mempunyai sifat keras itu.

“Kalau kau ingin membantuku, hadapilah para pra- jurit agar pertarungan cepat selesai!” sergah Bong Mini lagi.

“Heh, Cecunguk! Minggir!” Panglima Liu Hen Hui membentak kesal pada Baladewa.

Sebagai pemuda berumur dua puluh tahun yang masih dipenuhi gejolak emosi, Baladewa merasa ter- singgung mendengar bentakan itu. Dengan wajah be- rang, tubuhnya berbalik. Dipandangnya Panglima Liu Hen Hui dengan mata memerah bagai bara.

“Manusia tengik! Majulah kalian semua!” tantang Baladewa.

Telinga para prajurit Kerajaan Manchuria menjadi panas mendengar tantangan panas itu. Kemudian me- reka menyerang Baladewa serentak. Bagai air bah, me- reka berhamburan ke depan. Hal itu tidak dibiarkan begitu saja oleh pasukan Bongkap.

Trang trang trangngng!

Serangan pasukan Kerajaan Manchuria yang ber- jumlah lima puluh orang itu segera disambut oleh para pendekar di pihak Bongkap yang sejak tadi sudah siap menghadapi pertarungan.

Saat itu pula, Pantai Selat Malaka menjadi hiruk- pikuk. Deburan ombak yang susul-menyusul berbaur dengan pekikan kematian serta bau amis darah.

Sementara itu, Bongkap yang sejak tadi menahan rasa nyeri akibat sabetan cambuk Panglima Liu  Hen Hui di punggungnya, kini telah bangkit dan melakukan serangan bersama para pendekar lain. Seolah-olah ra- sa sakit di punggungnya hilang seketika.

Hiyaaat!

Panglima Liu Hen Hui menyerang Bong Mini dengan permainan pedang yang diberi nama ilmu ‘Pedang Na- ga Merah’. Ilmu yang dipelajarinya ketika berada di Bukit Naga Merah.

Wut wut wut!

Sinar pedang berwarna merah yang memanjang menyambar-nyambar leher dan perut Bong Mini dalam kecepatan menggila.

Bong Mini sempat terkejut mendapat serangan yang demikian dahsyat dan gencar itu. Tapi dengan cepat ia mengelakkan serangan itu dengan cara merunduk, melompat, dan bersalto ke belakang. Ketika dia berdiri kembali, tangannya sudah mencabut Pedang Teratai Merah.

Sreset!

Pedang yang selalu memancarkan sinar merah ber- bentuk bunga teratai itu tergenggam di tangan kanan Bong Mini. Siap untuk menyambut serangan lawan se- lanjutnya.

Sementara itu, Bongkap dan  para  pendekar  lain pun telah pula berhadapan dengan lawan masing-ma- sing. Bongkap berhadapan dengan lima prajurit Kera- jaan Manchuria. Begitu tangkas dan gigih. Seluruh te- naga dan kepandaiannya dikerahkan untuk melawan lima pengeroyoknya.

Pertempuran tak seimbang tidak hanya dihadapi Bongkap, tetapi juga para pendekar lain. Seperti Tiga Pendekar Mata Dewa dan Pendekar Teluk Naga, mas- ing-masing menghadapi sembilan prajurit Kerajaan Manchuria. Baladewa dan Ashiong menghadapi lima lawan  masing-masing.  Sedangkan  Prabu  Jalatunda dan Sang Piao berhadapan dengan lima pengeroyok- nya. Begitu pula dengan Ningrum, Thong Mey, dan Ra- tih Purbasari yang begitu gigih melawan tiga penge- royok masing-masing.

Sementara Bong Mini, tidak bisa memandang remeh lawan yang cuma seorang. Karena kepandaian silat Panglima Liu Hen Hui jauh lebih tinggi dibanding para prajuritnya. Hanya orang berkepandaian tinggi yang mampu berhadapan dengan panglima itu. Sedangkan Bongkap saja masih bisa dirobohkan. Padahal kepan- daian silatnya seimbang dengan Panglima Liu Hen Hui. Untunglah pada saat kritis, Bong Mini segera datang menyelamatkan Bongkap dan langsung berhadapan dengan Panglima Liu Hen Hui.

“Hiyaaat!”

Panglima Liu Hen Hui kembali memekik panjang berbareng terjangan ke arah Bong Mini. Sedangkan pe- dang di tangan kanannya menghujam lurus ke kepala Bong Mini dengan gerakan membacok.

Trangngng!

Pedang Panglima Liu Hen Hui segera ditangkis oleh Bong Mini sambil memiringkan tubuh ke samping. Di- susul dengan serangan balasan.

Wut wut wut! Trangngng! Singngng!

Sambaran pedang Bong Mini mengarah ke tubuh lawan dengan ganas. Ketika Panglima Liu Hen Hui mencoba menangkis, pedangnya langsung terpental tinggi dan jatuh di luar kancah pertarungan. Sedang- kan tubuhnya sendiri terhenyak dua tombak ke bela- kang.

Dukkk! “Auh!”

Panglima Liu Hen Hui mengaduh pendek ketika pantatnya mencium tanah dengan keras. Sedangkan tangan kanannya masih terasa perih saat terjadi ben- trokan pedang tadi. Namun demikian, ia masih mampu bangkit seraya memandang Bong Mini dengan sorot mata yang menyimpan kemarahan.

Sementara itu, Bongkap dan para pendekar sedang mendesak musuh penuh keganasan. Bahkan mereka berhasil merobohkan beberapa orang lawan.

Sejak awal, Bongkap begitu gigih menghadapi la- wan-lawannya. Kini dia berhasil merobohkan dua dari lima prajurit yang dihadapinya.

“Hiyaaat!”

Tubuh Bongkap berputar bagai baling-baling kapal, berbareng dengan satu pekikan membahana. Sementa- ra berputar, tubuhnya melesat setinggi dua meter ke arah lawan. Sehingga pedangnya yang ikut berputar hanya tampak sebagai sinar memanjang yang bergu- lung. Itulah gabungan silat antara jurus ‘Tanpa Bayangan’ dan jurus ‘Pedang Samber Nyawa’.

Tiga prajurit Kerajaan Manchuria tampak terkejut melihat tubuh lawan yang bergulung itu. Mereka tahu betul jurus yang digunakan lawan. Karena mereka pernah mendengar dan melihat sendiri keampuhan ju- rus-jurus yang berasal dari negeri mereka itu. Sebelum mereka mengambil posisi untuk menghadapi serangan itu, sinar panjang yang bergulung telah tiba di dekat mereka.

Bret! Crokkk!

Pedang Bongkap yang bergerak cepat bagai kilat itu berhasil mengenai dua sasaran. Sabetan pertama mengenai leher lawan hingga kepalanya pisah dari ba- dan, sedangkan sabetan kedua membacok kepala la- wan yang lain hingga terbelah dua. Kedua lawan yang terkena sabetan pedang berdiri limbung sebentar sampai akhirnya roboh dan mati tanpa mengeluarkan pekikan sedikit pun.

Di lain pihak, Ningrum, Thong Mey, dan Ratih Pur- basari pun sedang berjuang gigih menghadapi sembi- lan pengeroyok. Mereka melakukan perlawanan de- ngan cara saling melindungi. Ningrum dan Ratih Pur- basari berdiri berlawanan dengan punggung yang ham- pir bersentuhan. Sedangkan Thong Mey berdiri di sam- ping keduanya.

Setelah ketiganya membuat posisi saling membela- kangi, pedang di tangan kanan mereka diangkat agak menyilang, sedangkan tangan kiri ketiganya terkem- bang miring di depan dada masing-masing.

Sembilan lawan mereka bergerak maju mengelilingi tiga wanita cantik itu. Mereka menyerang dengan gera- kan-gerakan aneh. Gerakan berlari mengelilingi sambil menyambar-nyambarkan pedangnya dengan gerakan menusuk.

Wut wut wut!

Serangan pedang mereka memang sambil lalu saja. Namun banyaknya senjata yang mengarah pada ketiga wanita itu, tentu saja sangat berbahaya. Untunglah ke- tiganya mampu menangkis dengan pedang masing- masing.

Trang trang trangngng!

Benturan pedang yang berlawanan itu menimbul- kan denting amat nyaring yang susul-menyusul.

“Aaakh aaakh aaakh!”

Pekikan kaget terdengar dari mulut para prajurit Kerajaan Manchuria manakala senjata mereka ter- tangkis oleh pedang ketiga lawan. Empat orang di an- tara mereka terpaksa melepaskan senjata dari geng- gamannya karena tidak kuat menahan getaran dan ra- sa perih di telapak tangan. Kenyataan tersebut, membuat para prajurit itu sa- dar kalau tiga wanita cantik yang diserang memiliki kekuatan amat hebat. Sehingga ketika telah  berada pada posisi semula, mereka langsung mengurung dan menyerang dengan gencar.

“Aaakh...!”

Pekikan tertahan yang susul-menyusul datang dari arah lain. Ternyata pekikan itu datang dari lima belas prajurit yang tewas di tangan Prabu Jalatunda, Bala- dewa, Ashiong, Sang Piao, Tiga Pendekar Mata Dewa, dan Pendekar Teluk Naga. Mereka sengaja melakukan perlawanan bersama agar pertempuran lebih cepat be- rakhir.

Sementara itu, pertarungan antara Bong Mini dan Panglima Liu Hen Hui masih berlangsung. Malah se- makin sengit. Karena kali ini, Panglima Liu Hen Hui menggunakan cambuk hitam yang panjangnya sekitar dua meter. Kemudian Cambuk Lidah Naga Merah itu bergerak menyambar tubuh Bong Mini.

Wut! Tarrr! Wut! Tarrr!

Ujung cambuk itu menyambar tubuh lawan dengan dahsyat. Namun dengan cepat, Bong Mini mengelak- kan serangan dengan melompat ke arah lawan.

Dukkk! “Uuuh!”

Kepala Bong Mini langsung membentur perut la- wan. Tubuh panglima itu terhenyak ke belakang. Se- dangkan cambuknya terlepas dan langsung  melayang di udara, kemudian jatuh di luar arena pertarungan.

Bukkk!

Tubuh Panglima Liu Hen Hui menyusul jatuh telen- tang di atas tanah. Namun dengan cepat, Panglima Liu Hen Hui bangkit dengan sorot mata yang tetap tajam memandang Bong Mini.

Gadis bertubuh mungil berpakaian merah ketat itu sudah tidak ingin lagi mengulur-ulur waktu. Ketika Panglima Liu Hen Hui bangkit berdiri, ia segera menye- rang dengan sabetan pedang ke kepala lawan.

Wut wut wut!

Dengan tangkas, Panglima Liu Hen Hui mengelak- kan serangan itu. Tubuhnya dimiringkan ke samping sambil merunduk. Sehingga pedang lawan yang ber- kelebat cepat itu luput dari sasaran. Namun Bong Mini tidak berhenti sampai di situ. Ia segera menyusulkan serangan dengan tendangan kaki kanannya.

Dukkk!

Tendangan Bong Mini begitu telak menghantam wa- jah lawannya, hingga tubuh Panglima Liu Hen Hui kembali terjengkang ke belakang. Sebelum ia sempat bangkit kembali, Bong Mini segera memburu dan me- lancarkan serangan pedangnya.

Bret! “Aaakh!”

Ujung pedang Bong Mini merobek perut Panglima Liu Hen Hui dengan sadis. Saat itu juga Panglima Liu Hen Hui memekik kaget sambil meraba perutnya yang sudah menganga lebar. Seolah hendak memperli- hatkan isi perutnya.

Walaupun perutnya telah terkena sabetan pedang, Panglima Liu Hen Hui masih tampak kuat. Dia berdiri terhuyung dengan mata berpijar penuh kemarahan yang sukar dikendalikan. Dengan gerakan lemah, Panglima Liu Hen Hui menendang Bong Mini. Sedang- kan kedua tangannya tetap mendekap perut yang ma- sih mengeluarkan darah.

“Uuuh!”

“Hep!”

Dengan tenang serta senyum di bibir, Bong Mini menangkap tendangan Panglima Liu Hen Hui yang bergerak lemah ke arahnya. Kemudian kaki kanan la- wan yang telah tertangkap tangan kirinya itu ditarik sedikit ke dekatnya.

Crokkk! “Aaakh!”

Panglima Liu Hen Hui memekik tertahan ketika pe- dang di tangan Bong Mini membacok pinggangnya. Pa- da saat itu juga tubuhnya terbelah dua dan tewas.

Bong Mini berdiri tegak sambil memandangi mayat Panglima Liu Hen Hui dengan perasaan puas. Setelah itu pandangannya dialihkan pada para pendekar yang masih bertarung. Matanya melihat Ningrum, Thong Mey, dan Ratih Purbasari masih gigih menghadapi sembilan lawan mereka. Kemudian dengan Pedang Te- ratai Merah yang masih berlumur darah, Bong Mini melesat ke arah mereka.

“Hiyaaat!”

Seraya mengeluarkan lengkingan tinggi, Bong Mini melenting ke arah sembilan prajurit yang mengeroyok tiga wanita cantik itu. Sedangkan pedang di tangan kanannya berlumur darah berkelebat ke arah lawan disertai dorongan tangan kiri yang mengandung tenaga ‘Inti Udara Bergulung’.

Bret bret bret! Duk duk duk! “Aaakh!”

Lima dari sembilan pengeroyok tiga  wanita cantik itu memekik kaget. Rupanya kelebatan pedang Bong Mini menyabet leher dua prajurit. Sedangkan tiga pra- jurit lain terhantam tangan kiri Bong Mini yang me- ngandung ‘Inti Udara Bergulung’. Dalam sekejap, lima orang yang terkena serangan Bong Mini itu roboh tak bernapas lagi.

Empat prajurit yang masih hidup tampak terkejut melihat serangan mendadak dan mematikan itu. Sera- ngan mereka yang tadinya mengarah teratur pada Ningrum, Thong Mey, dan Ratih Purbasari, kini menja- di kacau.

Ketika mengetahui siapa penyerangnya, hati mereka menjadi kecut. Karena pikir mereka, “Kalau gadis ber- tubuh mungil yang tadi berhadapan dengan Panglima Liu Hen Hui mengalihkan penyerangan ke arah me- reka, sudah tentu dia akan merobohkan lawannya de- ngan mudah.”

Rasa terkejut melihat serangan yang tiba-tiba itu menyelinap dalam diri prajurit Kerajaan Manchuria. Juga dalam diri tiga wanita cantik itu. Dan ketika me- ngetahui kalau yang membantu mereka Putri  Bong Mini, hati mereka menjadi lega.

“Kalian hadapilah empat  manusia  jahanam  itu!” usai berkata begitu, Bong Mini melompat kembali ke arah para pendekar. Sedangkan matanya tertuju pada Prabu Jalatunda yang sedang berusaha mati-matian melawan lima pengeroyoknya. Dan seperti yang dila- kukan terhadap sembilan prajurit Kerajaan Manchuria tadi, Bong Mini pun segera menyerang lima pengeroyok Prabu Jalatunda secara tiba-tiba.

Bret! Crokkk!

Pedang Bong Mini menyambar tangan kanan seo- rang prajurit yang sedang mengarahkan pedangnya ke tubuh Prabu Jalatunda hingga putus sebatas siku. Se- dangkan sabetan kedua mengenai kepala lawan hingga terbelah dua. Lawan berdiri limbung sesaat, selanjut- nya roboh tak bernapas lagi.

Tiga orang yang selamat dari sabetan pedang Bong Mini dan seorang prajurit yang buntung karena sa- betan pedang Bong Mini menjadi terkejut. Serempak mereka mengalihkan pandangan ke arah gadis yang menyerang secara tiba-tiba.

“Kalian memang anjing-anjing buduk yang perlu di- beri pelajaran!” geram Bong Mini seraya menatap em- pat prajurit yang terpana memandangnya. Sebelum mereka sadar dari keterkejutan, tubuh Bong Mini su- dah melesat kembali.

“Hiaaat!”

Tubuhnya melenting setinggi satu meter ke depan bersama satu pekikan tinggi. Sedangkan pedangnya bergerak mencari sasaran.

Bret bret!

Dua prajurit kembali tewas tanpa sempat memekik ketika pedang Bong Mini membabat leher mereka hing- ga putus.

“Keparat!” geram dua prajurit lain ketika  melihat dua teman mereka mati dalam keadaan mengenaskan. Dengan cepat mereka menggerakkan pedangnya ke arah Bong Mini.

Singngng...! Siuttt! Trang trang trang!

Gadis bertubuh mungil yang sudah memiliki ilmu kedigdayaan ini segera menyambut serangan pedang dua prajurit itu dengan gerakan yang gesit.

Trangngng! “Aaakh!”

“Aaakh!”

Dua lawan Bong Mini memekik keras ketika lengan mereka diterabas hawa dingin yang menyelusup mela- lui senjata, membuat lengan mereka seperti membeku. Karena pada saat terjadi bentrokan pedang, Bong Mini sudah mengerahkan ilmu ‘Salju Meredam Raga’. Salah satu ilmu warisan Putri Teratai Merah.

“Majulah kalian kalau ingin kukirim ke neraka ber- sama panglima kalian!” tantang Bong Mini dengan bi- bir tersenyum sinis.

Dua prajurit itu terkejut. Keduanya segera menoleh ke tempat pertarungan Bong Mini dan Panglima  Liu Hen Hui tadi. Mereka benar-benar tersentak saat melihat pangli- ma mereka mati dengan tubuh terpotong dua. Saat itu juga timbul perasaan gentar di hati mereka. “Kalau Panglima Liu Hen Hui yang terkenal hebat dan sadis saja dapat dikalahkan oleh gadis itu, bagaimana de- ngan mereka?” begitu pikir keduanya. Namun karena mereka sudah telanjur berhadapan, lari pun percuma. Maka dengan cepat rasa gentar itu disingkirkan.

“Bangsat!” ujar dua prajurit kerajaan itu bersama- an, sebagai cara mengusir rasa gentar. Kemudian ke- duanya segera menyerang Bong Mini kembali dengan pedang terhunus.

Sing sing sing! “Hup!”

Bong Mini memasukkan pedang ke dalam sarung- nya kembali. Kemudian dengan tenang dan berani, dua pedang yang menyambar dari arah kiri dan kanannya disambut dengan tangan kosong.

Dua prajurit itu terbelalak kaget menyaksikan la- wan dengan berani menangkap kedua pedang mereka. Karena menurut mereka, bagaimanapun kuatnya se- seorang, tentu telapak tangannya akan tersayat jika menangkap pedang dengan tangan telanjang.

“Hiiiy!”

Dua prajurit itu mengerahkan tenaga sekuat mung- kin untuk membetot pedang mereka agar telapak ta- ngan Bong Mini tersayat. Namun bagaimanapun kuat mengerahkan tenaga, pedang mereka tetap tak berge- rak sedikit pun dari genggaman Bong Mini. Membuat hati mereka semakin gentar saja.

Ningrum, Thong Mey, dan Ratih Purbasari takjub menyaksikan keberanian Bong Mini. Mata mereka tak berkedip sedikit pun untuk mengetahui tindakan Bong Mini selanjutnya.

“Hiiiy!” Bong Mini menarik dua pedang lawan yang digeng- gamnya. Begitu kuat, sehingga  tubuh  kedua  prajurit itu pun turut pula  tertarik  ke  depan.  Selanjutnya, Bong Mini melepas genggaman dan memukul lawan.

Dukkk! Dukkk!

Kedua tangan Bong Mini yang sudah dialiri ilmu ‘Salju Meredam Raga’ memukul dada lawan dengan ke- ras. Membuat tubuh mereka terlempar ke belakang.

“Hekh! Hekh!”

Dua prajurit itu memekik tertahan ketika tubuh mereka terjatuh di atas pasir pantai. Sedangkan dada yang terkena pukulan telapak tangan Bong Mini didera rasa sakit dan sesak yang amat hebat, akibat hawa dingin yang keluar dari telapak tangan Bong Mini. De- ngan tubuh masih tergeletak, kedua prajurit itu me- mandang Putri Bong Mini dengan perasaan was-was, takut dan sebagainya. Mereka ingin lari menyela- matkan diri, tapi tidak mampu. Karena saat itu tubuh mereka terasa dingin dan membeku seperti ditimbun dalam salju.

Dengan sikap tenang dan senyum sinis, Bong Mini melangkah mendekati dua prajurit yang belum dapat berdiri itu.

“Sudah saatnya kau menyusul panglima dan te- man-temanmu!”

Keduanya tampak terkejut bukan main. Wajah me- reka tampak pucat, penuh ketakutan. Sebelum keter- kejutan dua prajurit itu hilang, tiba-tiba  Bong  Mini yang berdiri di antara mereka melompat kecil setinggi satu meter, disertai lengkingan tinggi.

“Hiyaaat!” Duk duk! “Aaakh!”

“Aaakh!”

Dua prajurit itu memekik tertahan saat Bong Mini menjatuhkan kakinya yang melebar itu ke leher me- reka masing-masing. Tubuh mereka langsung bergelin- jang seperti kambing disembelih. Lalu diam tak berge- rak-gerak lagi. Mereka mati dengan lidah menjulur dan leher membiru seperti dicekik.

Prabu Jalatunda yang sejak tadi menyaksikan per- tarungan Bong Mini sempat terkejut melihat kegara- ngan Bong Mini. Terutama saat kaki Bong Mini menje- jak leher dua lawannya. Namun ia sendiri maklum, mengingat kematian mama Bong Mini saat terjadi per- tarungan dengan pihak Kerajaan Manchuria (untuk le- bih jelasnya, baca episode: ‘Sepasang Pendekar dari Selatan’).

Pertarungan seru antara pihak Bong Mini dengan prajurit Kerajaan Manchuria yang datang ke Selat Ma- laka sudah mulai surut. Korban banyak berjatuhan di pihak pasukan Kerajaan Manchuria. Hal ini  bukan  sa- ja karena ketangkasan para pendekar, tetapi juga rasa gentar mereka saat melihat kematian  Panglima  Liu Hen Hui. Kesempatan itu digunakan para pendekar untuk menyerang dan mendesak lawan sampai tewas.

Bongkap telah berhasil menewaskan lawan-lawan- nya. Begitu pula dengan Pendekar Mata Dewa, Pende- kar Teluk Naga, Ningrum, Thong Mey, dan Ratih Pur- basari. Hanya Baladewa saja yang masih bertarung de- ngan dua lawannya.

Para pendekar yang telah selesai bertarung melang- kah untuk menyaksikan pertarungan Baladewa de- ngan dua prajurit Kerajaan Manchuria.

“Hiaaat!” Sing sing!

Dua prajurit memekik tinggi berbareng terjangan ke arah Baladewa. Sedangkan pedang yang di genggaman mereka dihujamkan ke arah lawan dengan gerakan menusuk. “Uts!”

Baladewa menghindari serangan dua pedang yang datang dari arah kiri dan kanannya dengan cara me- lompat. Sambil melompat dia mengerahkan jurus ‘Ten- dangan Geledek’ ke arah lawan.

Duk duk! “Aaakh!”

“Aaakh!”

Dua prajurit itu terhenyak ke belakang. Sedangkan pedang mereka terlepas dari tangan masing-masing. Sebelum keduanya kembali mengatur kuda-kuda, Ba- ladewa sudah melancarkan jurus ‘Tendangan Geledek’- nya kembali.

Duk duk! “Aaakh!”

“Aaakh!”

Tendangan Baladewa begitu beruntun dan cepat, sukar dielakkan. Sehingga dua prajurit yang tadi  ma- sih terhuyung itu terbanting ke belakang disertai peki- kan kesakitan.

Baladewa yang sudah tidak ingin memberikan ke- sempatan pada kedua lawan untuk melakukan sera- ngan segera menyerangnya kembali.

“Uuuh!”

Dua prajurit yang terbanting ke tanah itu berguli- ngan menghindari tendangan kaki Baladewa yang de- mikian cepat dan dahsyat Kemudian mereka bangkit dan membuat posisi serangan dari arah kiri dan kanan Baladewa.

Bongkap dan Bong Mini serta para pendekar lain yang menyaksikan pertarungan itu sempat kagum me- lihat ketangguhan dua  prajurit  Kerajaan  Manchuria itu. Mereka begitu kuat. Berbeda dengan prajurit lain. Begitu pula terhadap Baladewa yang mampu mengha- dapi dua lawannya dengan tangan kosong. Bahkan senjata yang tadi digunakan oleh dua prajurit itu terle- pas oleh getaran tendangan Baladewa. Kini mereka sama-sama bertarung dengan tangan kosong.

“Hiaaat!”

Tubuh kedua prajurit itu mencelat ke arah Bala- dewa disertai pekikan nyaring untuk melakukan sera- ngan pukulan.

“Uts!” Duk duk!

Baladewa melakukan gerakan melompat setinggi sa- tu meter disertai tendangan kedua kakinya yang tepat mengarah pada muka lawannya. Membuat dua prajurit itu kembali terhenyak ke belakang.

Baladewa yang sudah ingin mengakhiri pertarungan itu segera mengirimkan serangan pada seorang lawan dengan cengkeraman kedua tangannya. Tapi tanpa di- duga, seorang prajurit yang masih telentang di atas ta- nah menyambut kedatangan Baladewa dengan sera- ngan kakinya.

“Uts!”

Baladewa menangkap tendangan itu. Kemudian ka- ki kanannya menjejak selangkangan lawan dengan ke- ras.

“Aouw!”

Prajurit itu memekik kesakitan. Tubuhnya menge- jang seketika dan mati. Karena selangkangannya dire- mukkan kaki Baladewa.

“Hiaaat!”

Seorang prajurit yang masih hidup mengeluarkan lengkingan tinggi. Tubuhnya berkelebat menyambar Baladewa.

Mendengar lengkingan itu, tubuh Baladewa cepat berbalik untuk menyambut serangan lawan.

“Hup!”

Baladewa menangkap  tangan  kanan  lawan  yang mengarah ke mukanya dengan tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya yang sudah mengandung ilmu ‘Pu- kulan Tangan Dewa’ memukul dada lawan dengan ke- ras.

“Auh!”

Prajurit itu memekik tertahan. Mulutnya memun- tahkan darah segar. Ketika tubuhnya terhuyung ke be- lakang, Baladewa mengirim kembali sebuah tendangan dahsyat.

Dukkk!

Tendangan Baladewa mengenai wajah lawan. Mem- buat lelaki itu jatuh telentang. Saat itu pula, Baladewa menerkamnya dengan ganas, kemudian mencekik leh- er prajurit itu.

“Aaakh! Aaakh!”

Lawan mengeluarkan erangan tertahan. Tidak lama kemudian, ia mati dengan tubuh mengejang dan mata melotot.

“Huh...!”

Baladewa menghela napas lega. Kemudian tubuh- nya bangkit dan melangkah ke tempat para pendekar berkumpul.

“Kita segera berangkat!” kata Bongkap, mengajak para pendekarnya. Kemudian mereka bergerak menuju kapal peninggalan pasukan Kerajaan Manchuria. Sete- lah semuanya naik, kapal pun bergerak menuju negeri Manchuria.

***

2

Waktu terus berputar.

Matahari yang sejak pagi menerangi bumi telah la- ma terbenam di ufuk timur. Berganti dengan cahaya rembulan yang menampakkan diri sepenuhnya. Pepo- honan, rumah-rumah penduduk  serta  benda-benda lain yang biasa ditelan kegelapan malam, kini terlihat samar.

Bulan purnama di malam itu, bukan  saja  menera- ngi perkampungan, tetapi juga menerangi seluruh lau- tan. Membuat panorama malam di sekitar pantai men- jadi indah dan syahdu.

Jauh di tengah laut, sebuah kapal tampak berlayar tenang di atas tarian gelombang kecil. Itulah kapal mi- lik kaisar Kerajaan Manchuria yang berhasil direbut pasukan Bong Mini dari tangan pasukan Kerajaan Manchuria.

Di bawah siraman rembulan yang syahdu itu, seo- rang gadis cantik berumur dua puluh tahun tampak berdiri menikmati pemandangan alam sekitar. Wajah- nya yang cantik tampak menengadah menatap sapa ramah bulan purnama. Bibirnya yang mungil tampak tersenyum. Seolah-olah mengagumi sinar rembulan yang bergayut di cakrawala itu.

“Oh..., alangkah indahnya panorama malam ini!” desah gadis itu dengan wajah berseri. Rambutnya me- nari-nari tiada henti, tertiup hembusan angin malam.

Dari sebuah pintu kapal yang tak jauh dari tempat gadis itu berdiri, muncul seorang pemuda tampan ber- pakaian setengah jubah berwarna putih dengan teru- san celana panjang longgar yang juga berwarna putih. Sedangkan pada bagian pinggangnya melingkar se- buah sabuk warna merah. Membuat penampilan pe- muda itu benar-benar gagah dan mengagumkan.

Dengan langkah perlahan, pemuda tampan itu men- dekati gadis tadi dan berdiri di belakang punggungnya.

“Belum tidur?” tegur pemuda itu ramah.

Gadis cantik yang sedang menikmati sinar rembu- lan itu tersadar dari keasyikannya dan menoleh ke asal suara yang menegurnya.

“Aku masih ingin menikmati pemandangan yang in- dah ini,” desah gadis yang tidak lain Bong Mini, sambil mengalihkan pandangannya pada riak kecil di bawah kapal yang ditumpanginya.

Pemuda yang tidak lain Baladewa, melangkah dua tindak dan berdiri sejajar dengan Putri Bong Mini. Ma- tanya pun turut memandang air laut.

“Ada sesuatu yang hendak kutanyakan  padamu,” ujar Baladewa dengan pandangan yang tetap tertuju pada air laut.

“Tentang apa?” tanya Bong Mini datar. “Tentang kepergianmu semalam suntuk.”

Bong Mini tersenyum tipis. Dia tak menoleh sedikit pun pada Baladewa.

“Aku pergi untuk melepaskan rasa kangen pada Kanjeng,” sahut Bong Mini datar.

“Jadi kau pergi hanya untuk itu?” tanya Baladewa terkejut. Badannya berbalik.  Dipandangnya  wajah Bong Mini yang masih asyik memandang bayangan bu- lan di permukaan laut

“Ya,” desah Bong Mini.

“Kalau kau memang pergi ke tempat Kanjeng Rah- mat Suci, kenapa tidak mengajakku?”

Bong Mini tersenyum hambar.

“Bagaimana aku mau bilang  padamu.  Sedangkan kau sendiri tidak mau mendengarkan keluhanku,”  ka- ta Bong Mini.

“Aku tidak mau mendengarkan keluhanmu yang rindu pada Kanjeng karena waktu dan keadaannya ti- dak tepat,” Baladewa berdalih.

“Ya, aku tahu. Dan  karena itu, aku berangkat sen- diri tanpa memberitahu siapa pun!” ketus Bong Mini seraya menatap tajam pada Baladewa. Baladewa menghela napas berat

“Lalu bagaimana dengan keadaan Kanjeng? Apakah dia juga menanyakan diriku?” tanya Baladewa agak kesal karena ucapan Bong Mini yang bernada ketus.

Kini Bong Mini yang berbalik menghela napas. Ke- mudian dengan langkah gontai dia berjalan menjauhi Baladewa dan berdiri memandang lautan bebas. Se- dangkan kedua tangannya bertopang pada dinding bu- ritan kapal.

“Aku tidak sempat berkata sepatah kata pun!” “Maksudmu?”  tanya  Baladewa  sambil  melangkah

mendekati Bong Mini. Dia berdiri di sampingnya. “Kanjeng  sudah  pergi  sebelum  aku  sempat  mene-

muinya!”

“Pergi?” tanya Baladewa dengan wajah tak mengerti. Bong Mini tidak menyahut. Hanya air matanya  saja yang merembas lewat celah-celah bulu matanya. Ke- mudian telaga bening itu mengalir meliuk-liuk di ke-

dua pipi lembut gadis itu.

Melihat kekasihnya menangis, Baladewa semakin ti- dak mengerti. Tapi untuk mengajukan pertanyaan, ia pun merasa segan. Tanpa dapat berbuat apa-apa, Ba- ladewa tak berkedip memandang air mata kekasihnya yang sudah memanjang sampai di dagu.

“Kanjeng sudah tiada,” mulai Bong Mini lagi, setelah beberapa saat terdiam. Suaranya begitu pelan. Bahkan hampir tak terdengar.

“Bicara apa kamu?!” tanya Baladewa. Suaranya ter- dengar meninggi.

Bong Mini menoleh. Wajah Baladewa dipandang de- ngan uraian air mata. Wajahnya sendu layaknya ca- haya redup rembulan.

“Kanjeng telah wafat!” desah Bong Mini menje- laskan.

“Apa? Kanjeng wafat?!” tanya Baladewa terkejut Ke- dua biji matanya pun melotot, seakan hampir keluar.

Bong Mini yang sudah terisak tidak dapat menya- hut, kecuali menganggukkan kepala. Itu pun sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

“Tidak!” bantah Baladewa bersama luapan emosi. “Kanjeng orang baik dan suci. Dia tidak boleh mati!” lanjut Baladewa, tidak mau menerima berita yang di- sampaikan Bong Mini.

Sikap Baladewa yang tidak mau menerima kenya- taan itu memang bisa dimaklumi. Karena sejak ber- umur sebelas tahun ia sudah berada dalam pengawa- san Kanjeng Rahmat Suci. Jadi bagi  Baladewa,  Kan- jeng Rahmat Suci bukan cuma gurunya, tetapi juga sebagai orangtua.

Melihat sikap Baladewa, Bong Mini menghentikan isak tangisnya dan memandang Baladewa dengan ma- ta lembab.

“Baladewa!” ucap Bong Mini dengan suara lembut “Kenapa kau tidak mau menerima berita kematian Kanjeng?” lanjut Bong Mini.

“Aku..., aku sangat mencintainya dan menganggap- nya sebagai orangtuaku,” sahut Baladewa.

“Aku mengerti. Aku pun mempunyai perasaan yang sama denganmu. Tapi ingat, kita jangan berlebihan mencintai seseorang hingga tidak sudi menerima ke- nyataan pahit seperti ini,” tutur Bong Mini lembut.

“Kematian itu terlalu cepat buat Kanjeng!” kata Ba- ladewa dengan sikap yang masih menampakkan pe- nyesalan.

“Ya,” balas Bong Mini. “Tapi siapa yang dapat meng- elak dari takdir?”

Lama Baladewa terdiam. Perkataan Bong Mini baru- san membuat dia merasa harus merenungi kembali ar- ti hidup yang singkat ini. Sampai akhirnya dia meng- hela napas. Hatinya lega. Karena kata-kata Bong Mini tadi telah menyadarkan dirinya kalau setiap makhluk hidup tidak bisa lepas dari takdir yang telah digariskan Tuhan.

“Rupanya kerinduanmu terhadap Kanjeng itu meru- pakan isyarat atas kematiannya,” kata Baladewa. Ma- tanya memandang kosong pada bulan yang bercermin di air laut.

“Ya,” sahut Bong  Mini  pendek.  Sesungguhnya  ia pun masih sedih atas kematian Kanjeng Rahmat Suci.

Akhirnya, keduanya pun larut dalam kesedihan. Te- rutama Baladewa yang tidak sempat melihat wajah gu- runya untuk yang terakhir kali.

***

Sementara itu, ruang Istana Kerajaan Manchuria tampak begitu hening. Enam prajurit tampak berdiri pongah di kiri kanan pintu masuk ruang kebesaran kaisar. Sedangkan di dalam ruangan itu, Kaisar Thiang Tok tampak duduk di kursi kebesarannya. Matanya menatap dua prajurit yang berlutut di atas lantai ber- lapis permadani merah.

“Bagaimana dengan Kidarga dan Nyi Genit?” tanya Kaisar Thiang Tok yang berusia sekitar enam puluh tahun itu.

“Hamba tidak tahu persis, Tuanku! Hamba hanya melihat kobaran api dan kepulan asap di sekitar Bukit Setan!” kata seorang dari dua prajurit yang melapor.

Kaisar Thiang Tok mengangguk-angguk.

“Lalu, di mana kalian melihat mayat para prajurit?” “Hamba melihat di sekitar Bukit Tengkorak!” jawab

prajurit tadi. “Hamba berkesimpulan, setelah memba- kar markas Perguruan Topeng Hitam, pasukan Bong- kap bertemu dengan prajurit kerajaan yang sudah sampai di Bukit Tengkorak, lalu mereka bertempur!” lanjut prajurit itu lagi. Kaisar Thiang Tok kembali mengangguk-angguk. Wajahnya tampak keruh seperti sedang berpikir keras.

“Bong Khian Fu benar-benar seorang yang tang- guh!” gumam Kaisar Thiang Tok seraya berdiri. Dia hanya mengenal Bongkap dengan sebutan Bong Khian Fu, sebagai nama asli Bongkap ketika mengabdi pada Kerajaan Manchuria beberapa tahun lalu (untuk lebih jelasnya, baca episode: ‘Sepasang Pendekar dari Sela- tan’).

Dengan langkah perlahan, Kaisar Thiang Tok mon- dar-mandir di sekitar tempatnya berdiri. Pakaian kera- jaannya yang panjang, berwarna kuning serta terbuat dari bahan sutera halus yang mahal tampak berjum- bai-jumbai menyapu lantai.

Setelah beberapa saat berjalan mondar-mandir dan berpikir, kaisar yang suka memelihara  jenggot  tipis dan panjang itu berdiri di depan kursi kebesarannya. Sedangkan matanya memandang dua pengawal yang berdiri memegangi tombak.

“Panggil para panglima perang ke sini!” perintah Ka- isar Thiang Tok.

“Siap, Tuanku!” sahut dua pengawal itu seraya membungkuk. Kemudian dengan gagah mereka me- langkah meninggalkan ruangan itu.

“Kalian boleh pergi!” perintah Kaisar Thiang Tok ke- pada dua prajurit yang memberikan laporan.

“Baik, Tuanku!” ucap kedua prajurit itu serentak. Kemudian secara bersamaan pula mereka melangkah keluar.

Setelah ruangan itu kosong, Kaisar Thiang Tok kembali duduk di kursi kebesarannya. Wajahnya  ku- sut dan gelisah memikirkan keadaan Perguruan To- peng Hitam yang sudah habis terbakar.

Baru beberapa saat ia merenung di kursi kebesa- rannya, tiba-tiba muncul dua pengawal bersama lima lelaki gagah. Lima lelaki itu berjubah merah  dengan ikat pinggang berwarna kuning emas melingkar di pinggang. Dalam lingkaran ikat pinggang itu terselip sebilah pedang panjang yang sarungnya terbuat dari perak asli. Sedangkan kepala mereka tampak licin, seolah-olah tak satu rambut pun yang bersedia tum- buh.

Lima lelaki gagah berkepala botak yang usianya se- kitar lima puluh tahun itu terus melangkah dan berdiri dalam jarak dua tombak dari tempat kaisarnya.

“Tuanku memanggil kami?” ujar Cong Siat Fong, Ketua Perkumpulan Naga Perak.

“Ya, aku memang memanggil kalian berlima!” kata Kaisar Thiang Tok seraya berdiri. “Duduklah!”

Lima lelaki gagah yang tergabung dalam Perkumpu- lan Naga Perak itu melangkah satu tindak ke dekat kaisarnya dan duduk bersila di kiri kanan tempat du- duk Kaisar Thiang Tok.

“Ada apa Tuanku memanggil kami?” tanya Liu Soen Jie.

Kaisar Thiang Tok tidak segera menjawab. Hanya matanya memandang lima orang yang menjadi pangli- ma perangnya.

“Aku ingin menyampaikan kabar buruk kepada ka- lian!” kata Kaisar Thiang Tok.

Lima Naga Perak itu terhenyak dan saling berpan- dangan.

“Dua dari lima puluh orang prajurit yang kukirim ke negeri Selat Malaka telah kembali lagi ke sini dan me- ngabarkan tentang kekalahan Perguruan Topeng Hi- tam oleh pasukan Bongkap!” sambung Kaisar Thiang Tok, menjelaskan tentang berita buruk yang  dimak- sud.

Para panglima perang Kerajaan Manchuria itu kem- bali terkejut dan saling pandang. “Lalu bagaimana dengan para pendekar dan prajurit yang kita kirim?” tanya Cong Siat Fong.

“Para pendekar yang kita kirim telah tewas semua. Begitu pula dengan para prajurit pengiriman pertama. Sedangkan lima puluh  orang  prajurit  yang  terakhir  ki- ta kirim belum  diketahui  nasibnya.  Karena  dua  praju- rit yang melapor tadi tidak sempat bertemu pasukan Bongkap ketika kembali lagi ke negeri ini!” tutur Kaisar Thiang Tok.

Lima orang dari Perkumpulan Naga Perak itu meng- angguk-angguk.

“Lalu, apa yang hendak Tuanku perintahkan  kepa- da kami?” tanya Cong Siat Fong.

Kaisar Thiang Tok merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.

“Aku minta kalian melatih dan memperketat pasu- kan!” ujar Kaisar Thiang Tok dengan pandangan lurus ke depan.

“Apakah kami dan para prajurit akan dikirim ke sa- na?” tanya Cong Siat Fong.

“Ini untuk berjaga-jaga saja,” kata  Kaisar  Thiang Tok. “Aku merasa yakin kalau pasukan Bongkap akan datang ke sini untuk melakukan penyerbuan!” lanjut Kaisar Thiang Tok.

Lima lelaki gagah dari Perkumpulan Naga Perak itu mengangguk-angguk mengerti.

“Kalau boleh kami tahu, berapa banyak sebenarnya pasukan Bongkap itu?” tanya Cong Siat Fong.

“Sebenarnya jumlah pasukan mereka tidak banyak. Namun begitu, mereka memiliki kepandaian yang luar biasa,” ucap Kaisar Thiang Tok menjelaskan. “Teruta- ma Bongkap dan putrinya!” lanjut Kaisar Thiang Tok yang sudah tahu betul bagaimana kehebatan Bongkap dalam menumpas musuh-musuhnya. Hal itu diketahui saat Bongkap masih mengabdikan diri padanya seba- gai panglima perang.

Lima orang Perkumpulan Naga Perak yang menjadi panglima perang Kerajaan Manchuria itu mengangguk- angguk.

“Nah, laksanakan perintahku!” ujar Kaisar Thiang Tok.

“Baik, Tuanku!” ucap kelima orang Perkumpulan Naga Perak bersamaan. Kemudian mereka bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan itu.

***

3

Malam datang menjemput. Kegelapan menyelimuti bumi. Udara dingin yang setiap malam selalu turun di negeri Manchuria, kini menyapa kembali. Menusuk sampai ke tulang sumsum.

Dalam keremangan bumi yang hanya diterangi bu- lan sabit, pasukan Bong Mini telah tiba di sebuah da- taran kecil berumput yang melandai ke tenggara, men- ciptakan pemandangan indah di daerah sekitar. Pada siang hari, para petani bisa menggiring kuda dan lem- bunya ke sana untuk merumput. Tapi malam itu, tak seekor binatang pun yang terlihat atau terdengar. Ke- tenangan di sana hanya terpecah oleh hembusan angin malam, membelai daun pepohonan dan rerumputan.

Pasukan Bong Mini terus berjalan menyusuri pa- dang rumput itu tanpa merasa lelah sedikit pun. Hing- ga mereka sampai di satu tempat bernama Kampung Dunsina. Sebuah desa kecil tempat Bong Mini dilahir- kan.

“Inilah tempat tinggal keluargaku saat aku menja- bat Panglima Perang Kerajaan Manchuria,” kata Bong- kap, memperkenalkan nama desa yang dipijaknya.

Para pendekar, termasuk Prabu Jalatunda yang berjalan di samping Bongkap tampak mengangguk- angguk sambil menyebarkan pandangan pada peman- dangan alam di sekitar mereka.

“Aku tidak melihat rumah-rumah penduduk seba- gaimana perkampungan lain,” tukas Prabu Jalatunda ketika pandangannya hanya menemukan pepohonan besar.

“Kita baru memasuki pinggiran kampung. Sekitar dua kilo meter dari sini, rumah-rumah penduduk akan segera tampak!” kembali Bongkap menjelaskan.

Prabu Jalatunda mengangguk-angguk sambil terus berjalan menuju pertengahan kampung.

“Papa!” tegur Bong Mini yang berjalan di belakang Bongkap bersama Ningrum, Thong Mey, dan Ratih Purbasari.

“Hm, ada apa?” tanya Bongkap tanpa menoleh. Ka- rena sedang bercakap-cakap dengan Prabu Jalatunda sambil berjalan.

“Bagaimana kalau langsung ke rumah kita?” usul Bong Mini. “Siapa tahu rumah kita masih utuh dan be- lum ditempati orang!” lanjutnya.

“Ya, kita lihat saja. Kalau masih kosong, bisa kita jadikan tempat tinggal sampai tugas kita selesai,” sa- hut Bongkap, menyetujui pendapat putrinya.

Mereka terus berjalan. Dan karena perjalanan me- reka diselingi percakapan, tanpa terasa mereka sampai di tempat tujuan.

Bongkap menghentikan langkahnya. Diikuti oleh para pendekar lain.

“Papa!” desah Bong Mini saat mendekati papanya. Dan berdiri di samping Bongkap. “Kenapa kampung ki- ta jadi begini?” lanjut Bong Mini seperti bertanya pada dirinya sendiri ketika menyaksikan rumah-rumah penduduk yang porak-poranda.

Bongkap tidak menyahut. Dia melanjutkan langkah, mendekati reruntuhan sebuah rumah. Tapi langkah- nya segera berhenti ketika matanya terantuk pada ge- limpangan mayat di halaman reruntuhan rumah ter- sebut. Dari bau busuk yang menyebar, dapat disim- pulkan kalau orang-orang itu telah mati sekitar  dua atau tiga hari yang lalu.

“Menyedihkan sekali!” ucap Bongkap sambil meng- amati mayat yang tergeletak di dekat kakinya. Sedang- kan Bong Mini melanjutkan langkah untuk memasuki reruntuhan rumah.

“Papa, lihatlah!” seru Bong Mini tiba-tiba dengan suara yang agak keras.

Bongkap,  Prabu  Jalatunda,  Ningrum,   Baladewa, dan Kao Cin Liong segera memasuki reruntuhan se- buah rumah bilik yang tinggal tiang-tiangnya saja.

“Lihatlah, Papa! Ini benar-benar perbuatan biadab!” maki Bong Mini dengan nada geram.

Bongkap dan beberapa pendekar yang masuk ke re- runtuhan rumah melihat sesosok mayat wanita yang tergeletak di atas dipan bambu. Pakaian bagian depan- nya terkoyak-koyak, hingga memperlihatkan bagian tubuh mayat wanita muda itu.

“Pasti wanita ini diperkosa sebelum dibunuh!” lan- jut Bong Mini.

Bongkap menghela napas berat. Wajahnya me- merah tegang seperti menyimpan kemarahan yang amat sangat

“Siapa manusia yang melakukan perbuatan keji ini!” geram Bongkap.

“Aku yakin, ini pasti perbuatan orang-orang suru- han Kaisar Thiang Tok!” sela Kao Cin Liong berpenda- pat.

“Sudah  sejauh  inikah   kebiadaban  Kaisar   Thiang Tok?” geram Bongkap.

“Begitu yang kutahu sebelum berangkat ke negeri Selat Malaka untuk menyusul kalian!” sahut Kao Cin Liong. “Mereka tidak hanya meminta upeti yang tinggi, tetapi juga melakukan penyiksaan, pembunuhan, dan pemerkosaan terhadap rakyat yang tidak bisa mem- bayar upeti!” lanjut Kao Cin Liong menjelaskan.

Bongkap dan Bong Mini terdiam.  Namun  di  balik itu, mereka memendam sebongkah kegeraman.

“Kita harus bertindak, Papa!” cetus Bong Mini sete- lah beberapa saat terdiam.

“Tentu saja, Putriku!” timpal Bongkap setuju. Ke- mudian dengan langkah lesu ia kembali keluar, di ma- na para pendekar lain berada.  Begitu  pula  dengan Bong Mini dan yang lain.

“Kita lanjutkan perjalanan!” kata Bongkap dengan suara yang masih terdengar geram.

“Ke rumahmu?” tanya Prabu Jalatunda.

“Ya. Mudah-mudahan di sana tidak  terjadi  apa- apa!” sahut Bongkap. Kemudian bersama para pende- kar lain, dia melanjutkan perjalanan menuju rumah Bongkap yang terletak dua kilo meter lagi dari tempat itu.

***

Waktu terus  merayap.  Malam  pun  semakin  larut.

Membuat udara di malam itu bertambah dingin.

Dalam suasana malam yang larut dan dingin itu, Bongkap dan pengikutnya telah sampai di tempat tu- juan. Harapan untuk menemukan rumahnya dalam keadaan utuh ternyata kandas. Sebagian rumah di se- kitar tempat itu sudah berubah menjadi hamparan ta- nah luas, termasuk rumahnya.

Beberapa rumah terlihat masih utuh. Karena para penghuninya tidak turut melarikan diri ke Selat Ma- laka. Sedangkan tempat tinggal keluarga yang berang- kat dengan Bongkap ke Selat Malaka langsung dihan- curleburkan oleh pihak Kerajaan Manchuria.

Beberapa saat Bongkap dan Bong Mini tercenung. Bukan merenungi rumah mereka yang dihancurkan. Melainkan memikirkan penderitaan rakyat yang demi- kian menyedihkan, akibat kesewenang-wenangan kai- sarnya.

Belum sempat mereka sadar dengan keadaan seke- liling, tiba-tiba puluhan lelaki gagah berloncatan dari belakang dan langsung mengepung mereka.

Bongkap, Bong Mini, dan pengikutnya tersentak ka- get. Mereka langsung memegangi senjata masing- masing. Mata mereka memandang tajam pada dua pu- luh pengepung yang juga tengah mengamati mereka dengan pedang terhunus di tangan kanan masing- masing.

Dua puluh orang yang mengurung  para  pendekar itu terdiri dari para pemuda gagah. Kurang lebih beru- sia dua puluh lima tahun. Berpakaian model jubah warna merah dengan ikat pinggang hitam. Rambut me- reka panjang digelung ke atas. Rata-rata berwajah tampan dengan sepasang mata tajam penuh selidik ke arah para pendekar yang dikurung.

“Siapa kalian?! Dan apa tujuan kalian menghadang kami?!” tanya Bongkap dengan sikap tenang. Namun matanya tetap waspada, menjaga serangan mendadak yang mungkin akan dilakukan para pengepung yang belum diketahui asal-usulnya itu.

“Kami orang-orang dari Perguruan Tapak Tangan Suci. Lalu siapa kalian?!” sahut Fu Yen, pemimpin dua puluh pemuda gagah itu.

“Kami tidak mempunyai nama perkumpulan!” jawab Bongkap. “Tapi kalau kalian ingin tahu, akan kuperke- nalkan namaku!” “Sebutkan saja siapa namamu!” kata Fu Yen tidak sabar.

“Namaku Bong Khian Fu!” ucap Bongkap, memper- kenalkan namanya. Sengaja nama aslinya disebutkan. Karena nama itu terkenal di negeri Manchuria.

Dua puluh pemuda gagah itu terkejut ketika men- dengar nama Bong Khian Fu disebutkan. Mereka ber- pandangan satu dengan yang lain. Kemudian tanpa komando, mereka memasukkan pedang kembali ke da- lam sarungnya dan langsung mendekati Bongkap.

“Maafkan tindakan kami  yang  lancang  tadi!”  kata Fu Yen seraya menjura hormat

Para pendekar di pihak Bongkap tampak terkejut melihat perubahan sikap para pengepung yang men- dadak itu. Kecuali Bongkap dan Bong Mini. Karena mereka tetap yakin kalau nama Bong Khian Fu masih dikenal oleh orang-orang Perguruan Tapak Tangan Su- ci.

Bongkap tersenyum kecil pada Fu Yen.

“Kesalahan dan kekeliruan pasti terjadi pada setiap manusia!” ujar Bongkap, membalas permohonan maaf Fu Yen.

“Sebenarnya kedatangan Tuanku sudah lama kami tunggu!” kata Fu Yen lagi. Ternyata dia memang me- ngenal Bongkap walau hanya sebatas nama.

Bongkap dan Bong Mini saling berpandangan.

“Agar lebih jelas, ada baiknya Tuan  dan  pasukan ikut ke perguruan kami!” lanjut Fu Yen.

Dengan segumpal tanda tanya mengenai maksud Ketua Perguruan Tapak Tangan Suci, Bongkap, Bong Mini, dan pendekar lain segera melanjutkan perjala- nan, mengikuti langkah dua puluh lelaki gagah itu.

***

Malam terpuruk dalam kekelaman dan kesunyian. Jangkrik terdengar mengerik. Begitu nyaring dan susul-menyusul. Seolah sengaja hendak memecah ke- heningan suasana itu.

Setelah menembus kegelapan sejauh satu kilometer, Bongkap, Bong Mini, dan pengikutnya sampai di se- buah benteng yang cukup luas. Ketinggian benteng itu membuat bangunan di dalamnya tidak terlihat  dari luar.

“Inilah markas Perguruan Tapak Tangan Suci!” kata Fu Yen memperkenalkan. “Sengaja bentengnya diba- ngun setinggi sepuluh meter agar bangunan di dalam- nya tidak terlihat. Termasuk suara-suara orang yang berlatih silat!” lanjut Fu Yen. Sebelum Bongkap mem- beri komentar, Fu Yen sudah melangkah menuju pintu gerbang.

“Mari masuk!” ajak Fu Yen setelah pintu gerbang dibuka dua penjaga.

Para pendekar itu memasuki pintu gerbang ben- teng. Sementara mata mereka tidak henti-hentinya be- redar pada keadaan sekitar. Mereka cuma melihat se- buah rumah kecil yang berdiri di atas hamparan tanah luas. Di sekitarnya tumbuh pepohonan besar yang ter- lihat bagai para penjaga raksasa di malam hari.

Bongkap dan para pendekar terus melangkah me- nuju rumah kecil yang berdiri di tengah hamparan ta- nah itu.

“Silakan duduk dulu! Akan kupanggil guru di da- lam!” pamit Fu Yen.

“Silakan!” ucap Bongkap.

Fu Yen segera melangkah ke dalam. Sedangkan Bongkap dan pengikutnya, serta orang-orang Pergu- ruan Tapak Tangan Suci menduduki dipan bambu di depan rumah kecil itu.

Tidak begitu lama mereka menunggu, Fu Yen telah menemui mereka kembali bersama seorang wanita cantik jelita berumur kurang lebih sekitar dua puluh lima tahun. Tubuhnya tinggi semampai, amat serasi dengan wajahnya. Apalagi dengan pita merah yang mengikat rambut legamnya.

Untuk beberapa saat wanita muda yang cantik itu berdiri tertegun ketika pandangannya bertemu dengan mata Bongkap.

“Susiok Bong Khian Fu?” ucapnya dengan wajah berseri.

Walaupun Bongkap menyadari kalau orang-orang di negeri itu masih mengenali dirinya, namun dia tetap terkejut manakala wanita muda itu memanggilnya de- ngan sebutan paman.

Belum sempat Bongkap bertanya, gadis cantik itu telah mengalihkan perhatian kepada Bong Mini. Dis- apanya Bong Mini dengan wajah berseri pula. “Kamu pasti Bong Mini!”

Bong Mini sama terkejutnya dengan Bongkap ketika namanya disebutkan. Pada saat namanya disebut tadi, dia sendiri masih mengira-ngira siapa nama gadis itu. Karena secara samar ia pun merasa mengenalnya.

Wanita cantik itu tersenyum lebar melihat panda- ngan bingung Bong Mini padanya.

“Aku maklum kalau kau sudah lupa terhadapku!” katanya seraya maju setapak mendekati Bong Mini. “Sembilan tahun merupakan waktu yang cukup lama, yang membuat orang lupa terhadap sahabat masa la- lunya!” lanjut wanita itu. Sesungguhnya ucapan tadi hanya diucapkan untuk memancing daya ingat Bong Mini.

“Kau...? Kau Cici Yin Yin?” ucapan tadi langsung memancing ingatan Bong Mini. Saat itu juga, dia lang- sung teringat masa lalunya sebelum berangkat ke ne- geri Selat Malaka. Ketika berumur sebelas tahun, ia se- lalu bermain akrab dengan wanita berusia lima tahun lebih tua dari umurnya.

“Ah..., ternyata kau masih ingat, Bong Mini!” tukas wanita bernama Yin Yin. Lalu keduanya segera be- rangkulan erat, melepas rasa rindu bersama haru yang menyelimuti mereka.

Hening.

Para pendekar yang berada di sekitar tempat itu hanya dapat menyaksikan Bong Mini dan Yin Yin yang sedang dirundung keharuan.

“Papa, ini Yin Yin! Teman sepermainanku waktu ke- cil!” seru Bong Mini, memperkenalkan kepada pa- panya.

Bongkap mengangguk-angguk dengan wajah ber- seri. Walaupun ia masih merasa asing dengan gadis itu dan baru teringat ketika Bong Mini menyebutkan na- manya.

Bongkap melangkah menghampiri Yin Yin dan me- nyentuh bahu wanita muda yang cantik itu sambil berkata, “Maafkan aku, jika aku tidak  mengenalmu sama sekali!”

Yin Yin menjawab dengan sebaris senyum lembut. Matanya menatap lelaki bertangan buntung yang ber- diri di hadapannya.

“Aku mengerti, Susiok!” ujar Yin Yin sambil melirik lengan baju sebelah kiri Bongkap. Dia terkejut dan bertanya, “Apa yang terjadi dengan tangan Susiok?”

Bongkap tersenyum tipis seraya melirik pada lengan yang dimaksud Yin Yin.

“Resiko perjuangan!” ucap Bongkap ringan. Seolah- olah tidak ambil peduli dengan cacat tubuh tersebut.

Yin Yin mengangguk-angguk.

“Sebaiknya kita lanjutkan percakapan di  dalam!” ajak Yin Yin kemudian. Kakinya segera melangkah ke dalam.

Karena ruang tamu di dalam rumah itu terlalu kecil, maka yang masuk ke ruangan  itu  hanya  Bongkap, Bong Mini, Prabu Jalatunda, Ningrum, dan Baladewa. Termasuk Thong Mey dan Ratih Purbasari. Sedangkan para pendekar bersama murid-murid Perguruan Tapak Tangan Suci tetap duduk di atas dipan sambil berca- kap-cakap.

“Sejak tadi aku tidak melihat kedua orangtuamu. Ke mana?” tanya Bong Mini setelah duduk berdekatan de- ngan Yin Yin.

Yin Yin menundukkan wajahnya beberapa saat. Seolah-olah menyembunyikan kemurungan terpen- dam.

“Kedua orangtuaku sudah  meninggal,”  desah  Yin Yin hampir tak terdengar. Sementara telaga bening mulai merembesi bulu-bulu matanya.

“Maafkan aku jika pertanyaan tadi membuat  hati Cici sedih!” ucap Bong Mini ikut terharu.

“Tidak apa!” desah Yin Yin. Air matanya diusap, se- mentara dia berusaha menenangkan perasaan. “Sudah seharusnya kau dan Susiok tahu kematian kedua orangtuaku. Mereka mati akibat perbuatan Kaisar Thiang Tok yang sewenang-wenang!”

Bongkap dan Bong Mini terkejut mendengar kete- rangan itu. Keduanya saling berpandangan dengan amukan kegeraman terhadap Kaisar Thiang Tok.

“Kenapa kedua orangtuamu sampai dibunuh?” ta- nya Bongkap ingin tahu.

“Mereka dibunuh karena belum bisa  membayar upeti sesuai dengan perjanjian,” cerita Yin Yin. “Seba- gai pengganti upeti yang tertunggak, Cong Siat Fong meminta mama ikut ke istana kerajaan untuk menjadi selir kaisar!”

“Siapa Cong Siat Fong itu?” tanya Bongkap, memo- tong cerita Yin Yin.

“Seorang tokoh sesat yang dipercaya kaisar untuk menjadi panglima perang bersama empat teman seper- guruannya,” tutur Yin Yin menjelaskan.

Bongkap, Bong Mini, Baladewa, Prabu Jalatunda, Ningrum, Thong Mey, dan Ratih Purbasari tampak ter- diam. Meski hati masing-masing bergeliat dibakar ke- marahan.

“Bagaimana cerita selanjutnya?” tanya Bong Mini. “Mama menolak ketika Panglima Cong Siat Fong

memaksanya ikut ke istana kaisar. Begitu pula dengan papaku yang berusaha menggagalkan niat busuk panglima itu. Namun perjuangan papa untuk memper- tahankan mama gagal. Papaku mati di tangan empat teman Cong Siat Fong yang menyertainya!” Yin Yin menghentikan ceritanya sejenak. Bahunya mulai turun naik menahan isak tangis. Sedangkan air  matanya mulai mengalir membasahi kedua pipi melalui celah- celah bulu matanya.

“Mama berusaha berontak ketika melihat papa te- was. Beliau mengamuk dan melakukan perlawanan de- ngan cara melemparkan barang-barang di  sekitar ruang tamu ke arah lima utusan kaisar! Tapi mama seorang wanita lemah yang tidak memiliki kepandaian silat. Ia pun mati tertusuk pedang Cong Siat Fong!” Yin Yin mengakhiri ceritanya dengan isak tangis yang tak terbendung lagi.

Bongkap dan Bong Mini menghela napas. Wajah keduanya tegang dan geram, penuh kemarahan yang teramat sangat.

“Biadab!” maki Bong Mini. “Perbuatan mereka be- nar-benar sudah di luar batas kemanusiaan!” lanjut- nya.

“Kaisar Thiang Tok dan pengikutnya tidak akan per- nah mengenal perikemanusiaan, selama hati mereka terus diburu haus kekuasaan!” kata  Yin  Yin  di  sela isak tangisnya. Bong Mini menoleh pada wanita cantik yang pernah menjadi teman sepermainan sewaktu kecil dulu.

“Bagaimana kau bisa lolos dari tangan mereka?” tanya Bong Mini.

“Pada saat kejadian itu, aku hanya dapat mengintip dari dalam kamar. Ketika mengetahui kedua orangtua- ku tewas, aku langsung melarikan diri lewat jendela kamar!” jawab Yin Yin. “Dan dalam pelarian itu, aku bertemu dengan seorang tokoh kungfu bernama Ciu Hok Kwi dari Desa Peging. Dari dia kupelajari ilmu kungfu, sehingga aku mampu mendirikan Perguruan Tapak Tangan Suci bersama dua puluh pesilat lain un- tuk membalas dendam terhadap kebiadaban Kaisar Thiang Tok dan pengikutnya. Namun untuk mewujud- kan hal itu, saat ini jelas tidak mungkin. Mengingat Kaisar Thiang Tok memiliki ratusan prajurit pilihan. Tapi malam ini aku bersyukur karena Susiok Bong Khian Fu yang terkenal sebagai ‘Singa Perang’ telah berada di sini!” kata Yin Yin mengakhiri ceritanya.

Hening.

Bongkap dan Bong Mini saling berpandangan dalam tutur hati masing-masing. Sedangkan  Prabu  Jalatun- da, Baladewa, Ningrum, Thong Mey, dan Ratih Purba- sari hanya dapat memandang  Bongkap,  Bong  Mini, dan Yin Yin. Karena mereka masih merasa asing de- ngan keadaan negeri yang seumur hidup baru dipijak itu. Dan untuk mengetahui sepak terjang kaisar negeri itu, mereka hanya dapat mendengar dari cerita yang disampaikan Yin Yin, sebagai seorang pendekar wanita yang besar di negeri itu.

“Susiok,” ucap Yin Yin setelah beberapa saat suasa- na hening. “Kedatangan Susiok ke sini hendak mem- bantu perjuangan kami, kan?” lanjutnya.

“Tentu saja. Karena ini negeri kelahiranku!” sahut Bongkap. “Terima kasih, Susiok!” ucap Yin Yin. Kemudian matanya beralih pada para pendekar yang sejak tadi belum diperkenalkan. “Siapakah orang-orang gagah yang menyertai Susiok ini?” tanya Yin Yin.

“O, ya. Aku hampir lupa memperkenalkannya!” ge- gas Bongkap. “Mereka adalah para pendekar dari nege- ri Selat Malaka. Dengan hati tulus, mereka akan mem- bantu perjuangan kita!” lanjut Bongkap menjelaskan.

“Oh, senang sekali kalau begitu!” desah Yin Yin gembira. Lalu ia pun menjabat tamunya itu satu persa- tu sambil memperkenalkan nama masing-masing.

***

4

Senja itu udara cukup cerah. Matahari memancar- kan kehangatan sinarnya di sebelah barat. Cakrawala mulai disapu warna lembayung, berpendar lembut pe- nuh keramahan.

Dalam senja yang cerah itu, seorang gadis mungil berpakaian merah ketat tampak berjalan tenang me- masuki Kampung Chang Chow. Sebuah kampung yang banyak dihuni penduduk miskin. Sehingga di waktu senja seperti saat itu, asap dapur hanya mengepul dari beberapa rumah saja.

“Sungguh menyedihkan sekali keadaan rakyat di kampung ini!” gumam gadis bertubuh mungil yang ti- dak lain Putri Bong Mini itu. Senja itu ia sengaja mela- kukan perjalanan untuk melihat-lihat keadaan pendu- duk kampung di negeri Manchuria.

Sudah sekian tahun ia meninggalkan negeri  itu. Amat layak kalau kini ia berjalan-jalan menikmati pe- mandangan sambil melihat-lihat keadaan penduduk sebagai pelepas rindu terhadap negeri kelahirannya.

Ketika memasuki Kampung Chang Chow yang pen- duduknya dibebani kemiskinan, Bong Mini menjadi te- renyuh. Hal itu terlihat bukan saja dari  asap  dapur yang cuma mengepul dari beberapa rumah, tetapi juga dari anak-anak kecilnya yang hidup tak terurus. De- ngan tubuh telanjang, mereka duduk di depan rumah masing-masing tanpa sinar keceriaan. Mereka tampak kurus. Sementara perut mereka membuncit dengan wajah pucat tanpa darah. Pertanda jika anak-anak ma- lang itu terlalu kurang makan.

Rumah-rumah berjajar padat itu rata-rata berdin- ding papan bersusun. Itu pun sudah tua, hingga terli- hat kerapuhan di sana sini. Tepian atapnya sudah ter- lihat hijau berlumut karena seringkali terkena siraman hujan dan terpaan sinar matahari. Ada yang  terbuat dari rumbia, dan ada pula dari seng berkarat.

Di saat Bong Mini melangkah tenang sambil meng- amati pemukiman kumuh itu, tiba-tiba matanya meli- hat sebuah piring melayang dari pintu satu gubuk bo- brok, lalu pecah berantakan di jalan. Disusul dengan keluarnya lelaki yang berumur sekitar lima puluh ta- hun. Tubuhnya agak kurus dengan tinggi sekitar sera- tus enam puluh lima sentimeter. Dia keluar terhuyung dengan wajah ketakutan. Selang beberapa saat, me- nyusul pula istrinya yang bertelanjang kaki dan ram- but awut-awutan. Umurnya sekitar empat puluh ta- hun. Namun raut wajah justru tampak lebih tua dari suaminya. Dia berbadan kurus keriput dan hanya me- ngenakan kain sebatas pusar. Sedangkan bagian atas- nya dibiarkan telanjang. Sehingga teteknya yang peot bergayut-gayut seperti tetek sapi.

“Ngomong sekali lagi. Ayo ngomong! Laki-laki tua ti- dak tahu malu. Baru pegang uang begitu saja sudah kepingin cari ‘daun muda’!” kata perempuan tua itu sambil terus mengejar suaminya. “Pakai otakmu. Pikir- kan anak-anakmu di rumah yang jarang makan!” maki sang istri lagi. Sedangkan dari dalam rumahnya ter- dengar tangisan anak-anak, diramaikan oleh gonggo- ngan anjing di depan rumah itu.

Perempuan tua itu kini telah berhasil menarik baju belakang yang dikenakan suaminya. Dan langsung memukuli, mulai dari punggung, dada sampai menca- kari wajah suaminya.

Para tetangga yang sejak tadi keluar untuk menon- ton pertengkaran, kini datang mendekat dan mencoba melerai suami-istri lanjut usia itu.

Melihat kejadian tersebut, Bong Mini tampak terse- nyum kecil, walaupun hatinya iba mendengar tangisan anak-anak pasangan suami-istri itu. Kemudian lang- kahnya dilanjutkan kembali melewati suami-istri yang bertengkar serta para tetangga yang berusaha melerai keduanya.

Setelah agak jauh melewati tempat pertengkaran tadi, Bong Mini memasuki sebuah kedai murah.  Di mana para pengunjungnya hanya para pekerja kasar.

Sampai di dalam kedai berbentuk rumah itu, Bong Mini melihat empat lelaki setengah baya tengah duduk menikmati kopi dan pisang goreng.

Bong Mini terus melangkah. Diambilnya tempat du- duk di sudut ruangan agak jauh dari empat lelaki tadi. Tidak lama kemudian, seorang wanita datang.

“Cici mau makan  atau minum  kopi?” tanya wanita itu sopan. Sedangkan sepasang matanya menatap he- ran pada Bong Mini. Karena baru kali ini kedainya di- masuki seorang wanita cantik berpakaian indah ter- buat dari sutera halus yang cukup mahal harganya.

“Aku minta dibuatkan kopi saja!” ucap Bong Mini. Kedatangannya ke kedai itu memang hendak singgah saja, tanpa keinginan untuk makan. “Terkadang aku berpikir, apakah nasib kita akan te- rus begini?” terdengar lelaki pertama berkata seraya menyalakan cerutunya.

“Yah..., kita terima nasib saja,” sambut lelaki kedua yang duduk di sampingnya. “Habis mau bagaimana la- gi? Orang-orang gagah yang berpihak kepada kita ma- lah tewas di tangan prajurit kerajaan saat melakukan pemberontakan,” lanjutnya.

“Memang benar!” lelaki ketiga yang duduk di hada- pannya membenarkan pendapat lelaki kedua. “Apalah artinya kita melakukan pemberontakan terhadap kela- liman kaisar. Daripada mati konyol karena tidak mem- punyai kepandaian, lebih baik kita terima nasib apa adanya!” lanjut lelaki ketiga  yang  tampaknya  tidak mau ambil pusing dengan nasib yang dialaminya.

“Tapi aku berharap, moga-moga Tuhan mengutus orang-orang gagah untuk melawan kekejaman kaisar dan pengikutnya,” kata lelaki pertama penuh harapan. Sedangkan wajahnya yang sudah menunjukkan garis- garis ketuaan tampak murung. Matanya menatap ko- song pada kopinya yang tinggal setengah gelas lagi.

Bong Mini menghela napas mendengar keluhan em- pat lelaki setengah baya itu. Bahkan batinnya  tere- nyuh saat mendengar harapan lelaki pertama.

“Ini kopinya, Cici!” tiba-tiba terdengar suara halus di sebelahnya.

Bong Mini yang sedang asyik mendengarkan perca- kapan keempat lelaki tadi tersadar. Segera disambut- nya segelas kopi yang hendak diletakkan di atas meja oleh perempuan tadi.

“Terima kasih!” ucap Bong Mini dengan sebaris se- nyum.

Perempuan itu membalas dengan senyuman pula, lalu kembali ke dalam.

Belum sempat Bong Mini menghirup kopinya, tiba- tiba muncul empat lelaki gagah berjubah kuning se- panjang lutut. Rambut mereka digelung dan panda- ngan keempatnya tajam. Menciptakan kesan angker pada penampilan mereka yang memang terlihat kasar dan beringas.

Melihat kedatangan empat lelaki berusia sekitar empat puluh tahun itu, keempat lelaki yang tadi asyik duduk menikmati segelas kopi dan pisang goreng tam- pak terkejut. Mereka berdiri takut dan melangkah ke sudut ruangan di sebelah Bong Mini.

Melihat tingkah mereka, keempat lelaki gagah yang baru masuk terbahak-bahak sambil menempati meja yang dikosongkan empat lelaki setengah baya tadi.

Tanpa sepengetahuan mereka, Bong Mini mengama- ti dengan mata menyipit kesal. Kebetulan tempat du- duk Bong Mini terhalang deretan kotak makanan.

Perempuan muda yang tadi melayani Bong Mini ke- luar membawakan empat gelas kopi. Diletakkannya kopi itu di meja empat lelaki gagah tadi. Tampaknya mereka biasa datang ke kedai tersebut. Terbukti dari pelayanan pemilik kedai yang langsung membawakan empat gelas kopi, meski belum dipesan.

“Eit, mau ke mana lagi?” tegur lelaki pertama seraya mencekal pergelangan tangan perempuan pembawa kopi ketika hendak melangkah.

“Saya sedang menggoreng pisang di dapur, Tuan!” sahut perempuan itu dengan wajah ketakutan.

“He he he..., biar saja ibumu yang menggoreng. Kau temani aku di sini!” tukas lelaki gagah itu. Kemudian disambut gelak tawa teman-temannya.

“Ja... jangan, Tuan! Ibu saya sedang repot. Saya ha- rus membantunya!” kata perempuan yang berwajah cantik itu. Dia semakin ketakutan ketika tangan kiri lelaki gagah itu beralih memeluk pinggangnya.

Bong Mini menyaksikan perlakuan lelaki gagah ter- hadap perempuan berumur lima belas tahun itu men- jadi berang. Apalagi ketika melihat wajah perempuan itu pucat karena ketakutan. Dengan suara lantang ia pun berseru ke arah empat lelaki gagah yang bermen- tal cabul itu.

“Lepaskan perempuan itu!” bentak Bong Mini seraya berdiri.

Empat orang lelaki tadi tampak terkejut ketika meli- hat gadis berdiri dengan angkuh. Mereka tak menyang- ka ada seorang gadis cantik yang mampir ke kedai itu. Keterpanaan terhadap kecantikan Bong Mini membuat mereka lupa pada anak gadis pemilik  kedai.  Lelaki yang memeluk gadis itu malah melepas rangkulan be- gitu saja dari pinggangnya.

Tanpa menghiraukan tatapan terpana mereka, Bong Mini melangkah keluar. Namun ketika hendak melewa- ti keempat lelaki gagah berwajah bengis itu, seorang dari mereka segera menghadang. Dia berdiri tepat di depan Bong Mini, sementara bibirnya memperlihatkan senyum yang menjengkelkan.

“He he he..., aku tidak menyangka ada gadis cantik yang mampir ke warung ini!” ucapnya dengan bibir te- tap cengengesan. Matanya begitu liar menggerayangi tubuh Bong Mini.

“Siapa namamu, Nona Manis?” tanya lelaki kedua seraya mencolek bahu gadis yang mengundang pesona itu.

Bong Mini menoleh padanya dengan mata mendelik. “Punya uang berapa kau berani colek-colek aku!” tan- tang Bong Mini, berpura-pura.

Keempat lelaki gagah itu saling berpandangan. Ke- mudian mereka tertawa serempak sambil memandang Bong Mini kembali penuh nafsu.

“Rupanya kau gadis penjual ‘daging mentah’!” tukas lelaki gagah pertama diiringi gelak tawa teman-teman- nya.

Bibir Bong Mini menampakkan senyum yang begitu samar. Kata penjual ‘daging mentah’ merupakan sebu- tan lain bagi seorang pelacur. Itu berarti pancingannya telah berhasil.

“Kalau kau memang wanita penjual ‘daging men- tah’, sungguh sangat kebetulan!” seru lelaki gagah ke dua seraya merangkul pundak Bong Mini.

Mendapat perlakuan kurang ajar itu, Bong Mini ma- lah mengerling genit. Namun tanpa diduga, siku kiri Bong Mini menyikut perut lelaki yang merangkul ba- hunya itu dengan gerakan mendorong.

Dukkk! “Auh!”

Lelaki itu mengaduh ketika siku Bong Mini menge- nai ulu hatinya. Dia terhuyung dua langkah ke bela- kang sambil memegangi ulu hatinya yang terasa sesak. Tiga lelaki lain menjadi terkejut melihat temannya merintih-rintih kesakitan. Kesempatan itu diperguna-

kan Bong Mini untuk melompat keluar halaman. “Hup!”

Dalam sekejap, tubuh Bong Mini sudah berada  di luar kedai. Dia berdiri gagah memandangi empat lelaki yang masih berada di dalam kedai. Bibirnya terus me- ngembang, memperlihatkan senyum mengejek.

“Sial! Perempuan itu bukan pelacur. Dia pendekar wanita yang hendak menguji kita!” dengus  lelaki  ke dua yang sudah mulai bisa berdiri tenang. Sedangkan matanya terus mencorong ke arah Bong Mini.

“Kita tangkap gadis itu!” sentak lelaki pertama sam- bil keluar kedai. Diikuti oleh ketiga temannya.

Empat lelaki setengah baya yang sejak tadi berdiri ketakutan di sudut ruangan, kini melangkah ke pintu untuk menyaksikan peristiwa selanjutnya antara Bong Mini dengan empat lelaki berwajah beringas tadi. Begi- tu pula dengan anak perempuan pemilik warung. Dia melihat pertarungan antara Bong Mini dengan keempat lawan bersama ibunya yang sudah sejak tadi  keluar dari dapur ketika mendengar keributan.

“Majulah kalian kalau ingin menikmati tubuhku!” tantang Bong Mini. Bibirnya kini memperlihatkan se- nyum sinis.

Lelaki yang sempat menikmati sikutan Bong Mini terkekeh mendengar tantangan tadi.

“Kau terlalu muda untuk berhadapan dengan kami, Nona Manis. Dan aku tidak  tega  melukai  tubuhmu yang mulus itu,” katanya, masih bisa bertingkah.

Bong Mini kembali tersenyum sinis menanggapi ke- pongahan lawannya.

“Bagaimana aku dapat mengetahui kehebatan kali- an dalam bercumbu jika tidak melakukan tes dengan pertarungan!” tantang Bong Mini lagi.

Empat lelaki gagah berwajah bengis yang otaknya sudah dijejali oleh nafsu birahi itu terbelalak senang mendengar tantangan Bong Mini yang menggoda itu. Dengan cepat, lelaki kedua maju dua langkah ke arah Bong Mini.

“Baiklah, aku akan menyerangmu terlebih dahulu, Nona!” kata lelaki kedua. Lalu dia bersiap-siap untuk melakukan serangan. Dibukanya jurus ‘Totok Bangau’. Tangan kanannya diangkat lurus dengan kepala, se- dangkan tangan kiri diangkat lurus dengan bahunya. Ada pun lima jari dari kedua tangannya dipertemukan hingga membentuk kerucut.

“Hiaaat!”

Lelaki itu menerjang dengan tangan kanan me- nyambar leher sedangkan tangan kirinya menyambar pinggul Bong Mini.

Wut wut!

Serangannya luput dari sasaran. Karena pada saat itu, Bong Mini berhasil mengelak dengan cara mengge- rakkan kaki kiri ke belakang, bersama tubuhnya yang juga dimiringkan ke belakang. Sambil memiringkan tu- buh, Bong Mini melangkah ke samping dengan ilmu ‘Halimun Sakti’. Kemudian dengan cepat melakukan tamparan ke wajah lawan.

Wut wut!

Mendapat sambaran telapak tangan yang begitu ke- ras, lelaki ke dua terkejut bukan main. Untunglah ia segera mengelak, sehingga tangan Bong Mini tidak ber- hasil mengenai sasaran.

Ketika gadis itu melakukan tamparan begitu cepat, lelaki gagah itu segera menangkisnya.

Duk duk!

Kedua pergelangan tangannya berhasil menangkis telapak tangan Bong Mini. Namun tanpa diduga sama sekali kedua tangannya yang menahan tamparan la- wan didorong keras oleh gadis itu hingga tubuhnya ter- jengkang ke belakang. Tubuhnya langsung menggelin- ding seperti bola ditendang. Namun dengan sigap dia mampu bangkit kembali seraya mencabut pedang dari pinggangnya.

Sret!

Pedang panjang berwarna hitam keluar dari sa- rungnya. Warna hitam itu menandakan kalau pedang- nya sering dilumuri racun. Begitu pula dengan ketiga temannya. Menyaksikan temannya terjengkang dalam waktu singkat, mereka mencabut pedang masing-ma- sing dan mengepung gadis cantik yang lincah itu.

Empat lelaki setengah baya bersama dua orang ibu dan anak pemilik kedai berdiri tegang menyaksikan seorang gadis cantik dikepung empat lelaki gagah ber- wajah beringas. Raut wajah orang-orang itu memperli- hatkan kalau mereka sangat mengkhawatirkan kese- lamatan Bong Mini. Lain halnya dengan wajah Bong Mini. Dia tampak tenang-tenang saja menghadapi kepungan itu. Bibir- nya malah tersenyum-senyum, sementara matanya menatap keempat lawannya satu persatu.

“Kalian mau bertarung sungguhan?” tanya Bong Mini. Nada suaranya tidak lebih dari ejekan.

Keempat lelaki gagah itu tidak menyahut. Hanya pandangan mata mereka yang terus  mencorong  ke arah Bong Mini.

“Kalian pasti menyesal mengajak aku bertanding sungguhan. Karena kalau aku mati, kalian tidak akan sempat menikmati keindahan tubuhku!” goda Bong Mini lagi dengan sebaris senyum genit.

Keempat lawannya tetap diam. Mereka tidak sedikit pun menanggapi ucapan Bong Mini. Mereka  tahu ka- lau Bong Mini bukan gadis sembarangan. Apalagi se- bagai pelacur seperti dugaan  mereka  semula.  Untuk itu mereka harus bersungguh-sungguh menghadapi kelihaian gadis itu.

“Hiyaaat!”

Tiba-tiba empat orang lelaki itu mengeluarkan peki- kan tinggi berbareng kelebatan tubuh mereka. Sedang- kan pedang di tangan mereka menyambar tubuh lawan ke sana kemari.

Sing sing singngng!

Sinar hitam berkelebat kian kemari dengan ganas. Dengan tangkas, gadis yang diserang mengelak dengan cara melompat lurus di atas kepala mereka. Begitu tu- run, kedua kakinya langsung menjejak dua kepala la- wan yang berdiri berdekatan. Sedetik kemudian kaki- nya dihentakkan keras-keras.

“Hiiiy!”

“Auh!”

Kedua orang itu terjengkang keras ke samping di- sertai pekikan kesakitan ketika tubuh mereka menda- rat di tanah, dan langsung mencelat ke udara kembali, lalu turun ke tempat yang agak jauh dari lawannya.

Melihat dua temannya roboh, dua lelaki lain menja- di terkejut bukan main! Bukan karena dua temannya yang roboh, melainkan karena mereka melihat sera- ngan Bong Mini yang demikian cepat.

Gerakan kilat Bong Mini tentu saja tak terlihat oleh lawan. Karena pada saat itu Bong Mini masih menge- rahkan ilmu ‘Halimun Sakti’-nya. Membuat pandangan lawan kabur. Seolah-olah terhalang kabut.

“Kelinci kecil! Sebutkan namamu sebelum nyawamu kukirim ke neraka!” geram lelaki pertama dengan sorot mata merah menyala. Rupanya dia sudah dirasuki amarah yang demikian memuncak.

“Apa untuk masuk neraka aku harus mendaftarkan nama dulu?” Bong Mini balik bertanya, disertai senyu- man mengejek.

“Keparat!” geram lelaki pertama. Tubuhnya kembali bergerak cepat untuk menyerang Bong Mini. Begitu pula dengan tiga temannya yang sudah bangkit kem- bali.

Wut wut wut!

Jurus ‘Pedang Ekor Naga’ yang dimainkan keempat lelaki itu berkelebat di sekitar tubuh Bong Mini. Tapi mereka dibuat terkejut karena tubuh lawan yang di- serang hanya menyerupai bayangan. Sedangkan  tubuh asli Bong Mini sudah menyelinap tanpa diketahui, lalu berdiri di belakang keempat lawan sambil tersenyum. Kemudian dengan tenang ia memukul dua punggung lawan yang terdekat dengannya.

Buk, buk! “Aaakh!”

“Aaakh!”

Dua lelaki yang terkena pukulan telapak tangan Bong Mini langsung menjerit menggidikkan sambil berguling di atas tanah. Pada saat itu tubuh mereka terasa panas luar biasa. Tidak lama kemudian tubuh keduanya diam tanpa gerak Keduanya mati dengan tu- buh hangus bagai terbakar, akibat pukulan ‘Tapak Ta- ngan Hangus’ yang dilancarkan Bong Mini.

Dua lelaki lain menjadi terperanjat melihat teman- nya mati mengerikan. Dengan kemarahan yang sudah sampai ke ubun-ubunnya, kedua orang itu membabi buta menyerang Bong Mini.

Sing sing!

Sinar pedang yang dilancarkan dua lelaki itu me- nyambar-nyambar tubuh Bong Mini.

Bong Mini tetap tenang menghadapi serangan dua lawannya itu. Dan ketika pedang mereka menyambar dari arah kanan dan kiri, ia menyambut dengan me- nangkap kedua ujung pedang itu.

Flek! Flek!

Lewat ilmu kekebalan tubuh ‘Tolak Pati’, Bong Mini berhasil menangkap dua ujung pedang lawan. Dilan- jutkan dengan menarik kedua pedang bersama tubuh- nya yang sengaja dijatuhkan telentang. Tubuh kedua lawannya ikut tertarik ke depan. Sebelum tubuh me- reka mencium tanah, Bong Mini menyilangkan kedua kakinya ke leher masing-masing.

Duk duk! “Aaakh!”

Kaki Bong Mini berhasil mencengkeram kuat leher lawan. Sekejap kemudian kakinya bergerak mengadu- kan kepala lawan dengan keras. Saat itu pula terde- ngar jeritan kesakitan dari mulut mereka. Sedangkan dua kepala yang berbenturan itu pecah menjadi dua bagian. Akhirnya kedua orang itu tewas dalam keada- an menyedihkan!

Empat lelaki setengah baya dan dua perempuan pemilik kedai yang menyaksikan pertarungan itu tam- pak menyeringai ngeri melihat kematian empat lelaki tadi. Bahkan dua wanita pemilik warung menutup wa- jah dengan kedua telapak tangan mereka. Tak mampu melihat pemandangan yang mengerikan itu lebih lama lagi.

Setelah keempat lelaki itu tewas di tangannya, Bong Mini mendekati empat lelaki setengah baya dan dua perempuan pemilik kedai.

“Siapa mereka, Ko?” tanya Bong Mini pada seorang di antara keempat lelaki setengah baya itu.

“Mereka para pesilat yang ditugaskan kaisar untuk mengawasi dan memata-matai rakyat!” kata seorang le- laki berkumis dan berjenggot putih.

Bong Mini mengangguk-angguk.

“Apa masih banyak para pesilat yang bergabung de- ngan kaisar selain mereka?” tanya Bong Mini lagi, in- gin tahu.

“Tentu saja, Non. Jumlah mereka ratusan orang. Hampir seluruh pesilat dan pendekar di negeri ini mengabdi pada Kaisar Thiang Tok. Mereka dijadikan prajurit kerajaan!” sahut lelaki setengah baya tadi.

Bong Mini kembali manggut-manggut.

“Kalau boleh kami tahu, siapa Nona sebenarnya?” lelaki itu balik bertanya.

“Aku berasal dari negeri ini juga!” sahut Bong Mini. Keempat lelaki setengah baya itu saling berpanda-

ngan. Begitu pula dengan dua perempuan pemilik wa- rung. Wajah mereka menunjukkan keheranan. Karena baru kali ini mereka melihat gadis mungil berwajah cantik yang memiliki kepandaian tinggi.

Bong Mini mengerti rasa heran orang-orang itu. Ma- ka dengan senyum ramah ia berkata, “Namaku Bong Mini, putri Bong Khian Fu!”

Empat lelaki setengah baya dan dua perempuan pemilik warung yang tadi menunjukkan wajah heran, kini berubah terkejut ketika mendengar nama Bong Khian Fu. Nama seorang mantan panglima Kerajaan Manchuria yang mendapat julukan ‘Singa Perang’ atau Kapten Kang. Bahkan nama itu semakin harum ketika melakukan pemberontakan terhadap kaisarnya sendiri (untuk lebih jelasnya, baca episode: ‘Sepasang Pende- kar dari Selatan’).

Belum sempat mereka mengajukan pertanyaannya lebih lanjut, Bong Mini segera mohon diri. Dia pergi meninggalkan enam orang yang masih berdiri terma- ngu-mangu memandanginya, hingga punggung Bong Mini lenyap dari pandangan mereka.

***

5

Berita kedatangan Bongkap atau Bong Khian Fu bersama putri dan pasukannya telah terdengar ke te- linga rakyat. Rakyat yang sudah  pasrah  pada  nasib, kini bersemangat kembali. Ibarat bara api tersiram mi- nyak.

Kabar itu sampai pula ke telinga Kaisar Thiang Tok. Tentu saja hal itu merisaukannya. Untuk mencari pe- mecahan masalah yang nanti akan lahir karena keda- tangan Bongkap, ia segera memanggil para panglima perangnya.

“Apa kalian sudah mendengar berita kedatangan Bongkap ke negeri ini?” tanya Kaisar Thiang Tok ke- pada lima panglima perangnya.

“Secara samar kami telah mendengar,  Tuanku,” ka- ta Cong Siat Fong.

“Bagus!” puji Kaisar Thiang Tok. Kemudian ia bang- kit dari kursi kebesarannya. Sepasang matanya yang selalu memancar tajam menatap para panglima pe- rangnya. “Tahukah kalian, apa arti semua itu?” lanjut Kaisar Thiang Tok.

“Kami mengerti, Tuanku. Ini merupakan ancaman bagi kerajaan,” jawab Cong Siat Fong.

Kaisar Thiang Tok tertawa terbahak-bahak.

“Ini bukan ancaman. Tapi jalan yang memudahkan kita menangkap Bong Khian Fu, sekaligus membu- nuhnya!” ujar Kaisar Thiang Tok.

“Maaf, Tuanku!” kata Cong Siat Fong seraya menju- ra. “Menurut hemat kami, melakukan penangkapan terhadap Bong Khian Fu tidak semudah yang kita bayangkan!” lanjut Panglima Cong Siat Fong.

Kaisar Thiang Tok menatap tajam Panglima Cong Siat Fong.

“Apa alasanmu berpendapat begitu?” tanya Kaisar Thiang Tok serius.

“Berdasarkan pengamatan yang kita  lihat  selama ini, Tuanku,” kata Panglima Cong Siat Fong. “Dua ra- tus lebih prajurit dan pendekar yang kita kirim ke Per- guruan Topeng Hitam ternyata tidak membawa hasil. Mereka malah meninggalkan nama. Belum lagi dengan Kidarga, Nyi Genit dan anak buahnya,” lanjut Panglima Cong Siat Fong.

“Jadi kau anggap Kidarga dan Nyi Genit sudah mati di tangan Bong Khian Fu?”

“Begitu perkiraanku, Tuanku!” sahut Panglima Pe- rang Cong Siat Fong. “Kalau dua tokoh Perguruan To- peng Hitam itu masih bernyawa, mana mungkin me- reka membiarkan Bong Khian Fu hidup. Apalagi sam- pai berada di negeri ini!” lanjutnya.

Kaisar Thiang Tok mengangguk-angguk. Ia membe- narkan pendapat Panglima Cong Siat Fong yang  ma- suk akal tadi.

“Lalu, tindakan apa yang terbaik menurutmu?” ta- nya Kaisar Thiang Tok.

“Bagaimana kalau kita membujuknya untuk kem- bali bekerja di sini dengan menawarkan jabatan yang lebih tinggi lagi buatnya?” Panglima Cong Siat Fong mengemukakan pendapatnya.

“Percuma! Dia tidak akan terima tawaran itu!” ban- tah Kaisar Thiang Tok. Dia tahu pasti  watak  Bong Khian Fu yang pernah menjadi panglima. “Bong Khian Fu orang yang keras kepala, gigih terhadap pendapat- nya. Lagi pula, dia bukan orang yang silau dengan ke- dudukan atau harta!” lanjutnya menjelaskan.

Panglima perang itu terdiam. Tampaknya sedang memikirkan rencana yang lebih baik.

“Bagaimana kalau kita memasang papan pengumu- man, Tuanku?” Panglima Perang Ngi Ik Cin yang sejak tadi diam, tiba-tiba mengajukan pendapat.

“Maksudmu?”

“Kita buat pengumuman di setiap jalan desa  dan kota dengan tulisan: Siapa saja yang berhasil menang- kap Bong Khian Fu dan putrinya,  hidup  atau  mati, akan diberikan hadiah dan kedudukan yang tinggi,” tutur Panglima Ngi Ik Cin, mengemukakan usulnya de- ngan penuh semangat.

“Bagus! Aku setuju dengan pendapat itu!” sambut Kaisar Thiang Tok langsung menyetujui. “Tapi kalian harus tetap mengerahkan beberapa prajurit kerajaan untuk mencari tempat persembunyian Bong Khian Fu dan putrinya dengan penyamaran agar tak dikenali!”

“Akan kami laksanakan!” sahut Panglima Cong Siat Fong, mewakili keempat rekan. Kemudian bersama Ngi Ik Cin, Liu Soen Jie, Bong Cun Min, dan Cong A Thit, ia meninggalkan ruangan kaisarnya.

***

Di sepanjang  jalan  setapak  berbatu  menuju  Bukit Ciangsi Bun berdiri sederetan rumah kumuh yang atapnya terbuat dari sambungan-sambungan seng ter- susun. Begitu pula pada sebagian dinding-dindingnya.

Bong Mini yang secara diam-diam melakukan perja- lanan untuk mengamati kehidupan rakyat negeri Man- churia, tampak berjalan di sepanjang perumahan ku- muh itu.

Akhirnya ia sampai di sebuah toko barang tembikar. Di sana matanya melihat lelaki tua berkaos singlet pu- tih dan bercelana pendek kumal sedang asyik bekerja membuat sebuah piring dari tanah liat. Begitu cekatan jari-jari tangannya bergerak membentuk tanah liat hingga menjadi sebuah piring. Sementara di sudut to- ko itu, berdiri sebuah meja panjang darurat yang ter- buat dari papan-papan sambungan. Di atas meja  pa- pan itu berderet piring, kendi, serta gelas yang semua- nya terbuat dari tanah liat. Barang-barang jadi itu di- jual dengan harga sekitar sepuluh sampai dua puluh sen, sesuai dengan daftar harga yang tertera pada pa- pan di samping pintu masuk.

Kalau dilihat dari cara kerja orang tua berumur li- ma puluh tahun itu, harga barang-barangnya memang sangat murah. Membuat Bong Mini jadi bertanya da- lam hati, “Apakah dengan harga semurah itu,  dia da- pat mencukupi kebutuhan makan keluarganya?”

Dari penghasilan menjual barang-barang tembikar itu, mereka memang tidak bisa makan tiga kali sehari. Tapi apa boleh buat. Daripada bekerja menggarap sa- wah milik kaisar, lebih baik menciptakan pekerjaan sendiri. Tapa harus menerima resiko berat,  dipukul atau dicambuk seperti para penggarap sawah kaisar, jika mereka kehabisan tenaga atau istirahat tidak se- suai waktunya.

Setelah puas mengamati barang-barang  tembikar itu, Bong Mini melanjutkan perjalanannya. Kali ini dia mampir ke sebuah kuil tua. Dari pintu  masuk  kuil, Bong Mini melihat orang-orang papa tengah mem- bungkuk sambil berdoa khusyuk.

“Ya, Tuhan, berikan kami kemerdekaan. Lindungi Bong Khian Fu dan putrinya dari keganasan Kaisar Thiang Tok dan pengikutnya!” sebaris doa meluncur tulus dari mulut orang-orang papa yang berada di da- lam kuil tua itu.

Bong Mini terharu mendengar doa tulus untuk ke- selamatan dirinya dan papanya. Kemudian secara di- am-diam ia pergi meninggalkan kuil itu. Namun baru tiga langkah, tiba-tiba pandangannya tertuju pada se- buah papan pengumuman yang tergantung di tembok kuil. Di sana matanya melihat tulisan yang berbunyi:

‘Siapa yang berhasil menangkap Bong Khian Fu dan putrinya, hidup atau mati, akan diberikan imbalan yang sangat memuaskan dan kedudukan’.

Bong Mini terperanjat ketika membaca tulisan itu. Lalu dengan hati-hati diambilnya papan pengumuman itu dan menghancurkannya dengan geram. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dengan langkah yang lebih cepat. Tanpa disadari, perbuatannya menghancurkan papan pengumuman tadi diawasi oleh sepuluh prajurit Kerajaan Manchuria yang menyamar sebagai rakyat je- lata. Dan ketika Bong Mini melanjutkan perjalanan, kesepuluh prajurit kerajaan itu terus membuntutinya.

Bong Mini terus melangkah sampai akhirnya tiba di tepi Bukit Ciangsi Bun. Di sana ia berhenti sambil me- lepas caping anyaman kulit bambu dari kepalanya. Caping itu kini tergantung di balik punggungnya.

Setelah melepas caping, Bong Mini duduk di tepi bukit. Pandangannya menyebar ke rumah-rumah di perkampungan Ciangsi  Bun. Dari tepi bukit itu ia da- pat melihat dengan jelas seluruh  rumah  penduduk yang bentuknya mirip kandang burung. Saat duduk berpeluk lutut, pikiran Bong Mini ter- pusat pada cita-cita batinnya yang sederhana. “Mem- bebaskan penderitaan rakyat dari kekejaman Kaisar Thiang Tok dan para prajuritnya”. Semangat juangnya terus terbakar, apalagi setelah membaca papan peng- umuman tadi.

“Aku harus segera menyampaikannya pada  papa dan mengajaknya untuk segera memulai pertempu- ran!” gumam hati Bong Mini.

Baru beberapa saat ia duduk di tepi bukit itu, tiba- tiba sepasang telinganya mendengar gemerisik orang melangkah. Dari suara kasar yang ditimbulkan oleh langkah  kaki itu, Bong Mini dapat menyimpulkan ka- lau orang itu belum memiliki kepandaian tinggi.

“Hm..., jumlah mereka cukup banyak juga!” gumam Bong Mini setelah memasang telinganya lebih tajam la- gi. Lalu, tubuhnya melesat ke arah suara yang mencu- rigakan itu.

“Siapa kalian dan mengapa membayangiku!” bentak Bong Mini ketika melihat sepuluh lelaki yang rata-rata berumur empat puluh tahun tengah mengendap-endap di sekitar semak belukar.

Sepuluh lelaki yang sejak tadi membuntuti  Bong Mini tampak terkejut ketika melihat gadis yang dibaya- ngi sudah berdiri di samping mereka. “Betapa cepat ge- rakan gadis itu, hingga sudah berada di belakang kita dalam sekejap,” pikir kesepuluh lelaki itu. 

Sepuluh lelaki yang sebenarnya prajurit Kerajaan Manchuria itu tampak tegang seraya mengatur posisi untuk mengurung Bong Mini.

“Aku membayangi karena memang punya urusan denganmu!” kata Sek Se Tau yang ditunjuk oleh Pang- lima Perang Cong Siat Fong untuk menjadi pemimpin penyamaran.

Bong Mini  yang  belum  tahu  tentang  penyamaran mereka menjadi terheran-heran. “Urusan apa?” ketus Bong Mini.

“Tadi kami melihat kau telah melakukan pengrusa- kan terhadap papan pengumuman yang terpasang di tembok kuil!” tekan Sek Se Tau.

Bong Mini terperangah. Firasatnya langsung menya- takan kalau sepuluh lelaki itu pasti orang-orang Kera- jaan Manchuria.

“Kalau aku yang merusak papan pengumuman itu, kau mau apa?” tanya Bong Mini tenang. Karena secara diam-diam ia sudah menilai tingkat kepandaian silat mereka.

“Tentu saja kami akan membuat perhitungan kepa- damu!” tukas Sek Se Tau.

“Karena kalian orang-orang kerajaan?” sela Bong Mini.

“Hm...! Ternyata penglihatanmu tajam juga!” sinis Sek Se Tau.

“Tentu saja! Orang mana yang mau marah melihat papan pengumuman itu dirusak, kecuali para penjilat Kaisar Thiang Tok!” sahut Bong Mini semakin lantang.

Sek Se Tau dan kesembilan temannya terkejut ber- campur geram melihat keberanian gadis cantik itu. Me- reka langsung menduga kalau dia pasti putri Bong Khian Fu. Karena selama ini tidak ada seorang pendu- duk pun yang berani menentang keinginan kaisar. Apalagi seorang gadis cantik yang muda belia.

“Dari keberanianmu berbicara, aku yakin kalau kau pasti putri Bong Khian Fu yang dicari kaisar!”  tuduh Sek Se Tau.

“Dugaanmu benar! Dan kalau kalian ingin menang- kapku, lakukanlah! Bukankah nanti kalian akan men- dapatkan kedudukan yang lebih baik?” tantang Bong Mini. Sikapnya tetap tenang.

“Keparat!” Sing sing singngng!

Kilatan sinar tampak ketika pedang dikeluarkan da- ri sarung oleh sepuluh prajurit itu. Dengan wajah ga- rang mereka mulai bergerak untuk melakukan sera- ngan.

Bong Mini tampak tenang menghadapi keroyokan seperti itu. Ia tidak menggunakan pedangnya sama se- kali. Karena Pedang Teratai Merah miliknya selalu di- tinggalkan di kamarnya selama menginjakkan kaki di negeri Manchuria.

“Hiyaaat!”

Sepuluh prajurit Kerajaan Manchuria mengeluarkan pekikan nyaring bersama tubuh mereka yang berkele- bat ke arah Bong Mini. Sedangkan pedang yang me- reka genggam bergerak liar menyambar-nyambar tu- buh gadis yang dikeroyok.

Wut wut wut!

Deru angin keras ditimbulkan gerakan pedang me- reka. Tubuh Bong Mini langsung terkurung rapat. Mu- lai dari kepala, perut hingga kaki. Tapi dengan tangkas pula Bong Mini menghindari serangan lawan dengan cara melompat sambil mengerahkan ilmu andalannya, ‘Halimun Sakti’. Hanya ilmu itu yang bisa digunakan di saat menghadapi lawan yang lebih dari satu dan tanpa senjata.

“Hup!”

Sambil melompat di atas kepala musuh-musuhnya, Bong Mini menggerakkan tangan untuk  menyambar dua pedang lawan yang berada di dekatnya. Dan keti- ka kakinya telah menjejak tanah, sepasang pedang te- lah tergenggam di kedua tangannya.

Sepuluh prajurit Kerajaan Manchuria tampak terke- jut melihat kelihaian lawan. Apalagi dua orang yang kehilangan pedangnya. Pikir mereka, “Bagaimana mungkin gadis itu menyambar pedang secepat itu?” “Heh! Kenapa kalian termangu seperti itu. Majulah kalian kalau hendak menangkapku!” ejek Bong Mini.

Sepuluh prajurit yang tadinya sudah gentar melihat kehebatan Bong Mini, kini memaksakan diri untuk me- nyerang lawannya kembali.

“Hiyaaat!” “Hiyaaat!”

Pekikan nyaring terdengar dari arah yang berlawa- nan. Bersamaan itu pula sepuluh lawan bergerak me- nyerang Bong Mini kembali. Begitu pula dengan Bong Mini yang bergerak menyambut serangan mereka.

Trang!

Pedang di tangan kanan Bong Mini bergerak me- nangkis delapan pedang yang bergerak mencecar tu- buhnya. Sedangkan pedang yang tergenggam di tangan kirinya bergerak menyambar tubuh lawan.

Sret! Sret! “Aaakh!”

Tiga prajurit memekik bersamaan saat pedang di ta- ngan kiri Bong Mini merobek perut dan leher mereka. Mereka berdiri limbung sebentar, setelah itu roboh dan mati. Sedangkan pedang ketiganya pun terlepas.

“Keparat! Perempuan tengik!” maki Sek Se Tau keti- ka melihat tiga temannya mati mengenaskan.

Kemudian bersama enam temannya yang lain, ia kembali menyerang gadis cantik bertubuh mungil itu.

Melihat tujuh lawan sudah bergerak ke arahnya, Bong Mini pun cepat-cepat melakukan gerakan menye- rang. Pikirnya, “Dalam menghadapi pengeroyokan se- perti ini lebih baik menyerang lebih dahulu seperti ke- tika ia menewaskan tiga prajurit tadi”.

“Hiyaaat!”

Teriakan perang yang menakutkan itu keluar dari mulut Bong Mini yang mungil, berbareng dengan gera- kan cepat tubuhnya. Dia melompat  ke arah tujuh la- wannya yang juga sedang bergerak ke arahnya. Saat tubuhnya di udara, Bong Mini menusukkan  pedang yang tergenggam di tangan kanannya ke kepala seo- rang lawan.

Crokkk! “Aaa...!”

Ujung pedang Bong Mini menusuk kepala seorang lawan. Tepat mengenai ubun-ubunnya. Saat itu pula, darah menyembur dari kepala yang tertusuk itu. Mem- buat pedang yang digenggam Bong Mini berlepotan da- rah lawan. Dan ketika ujung pedang yang masih me- nancap di  ubun-ubun  kepala  ditarik,  tubuh  prajurit itu langsung jatuh dan mati. Selanjutnya, dengan ama- rah yang masih memburu, Bong Mini membalik sera- ngan keenam lawan yang masih gigih mengurung dan menyerangnya. Kemudian dua buah pedang yang ter- genggam di tangannya itu berkelebat dan berputar bersama tubuhnya yang berpusing seperti gangsing.

Sing sing sing!

Sinar putih yang dipancarkan dari kedua pedang Bong Mini berkelebat kian kemari dan menghantam lawan yang coba mendekat. Menyerang lawan dengan jurus kungfu ‘Tanpa Bayangan’ merupakan salah satu ajaran yang diberikan papanya. Dan cara ini memang dapat diandalkan bagi orang yang kalah dalam jumlah. Jurus itu lebih jitu dan dapat mempercepat kematian lawan-lawannya. Walaupun memberikan kesan sadis.

Sing sing sing! Bret!

Dua pedang yang digenggam Bong Mini menyambar empat lawannya. Setiap kali pedang di tangannya me- nyentuh lawan, tubuh mereka pasti tercabik-cabik me- ngerikan!

Dua prajurit berdiri ngeri menyaksikan empat te- mannya mati dengan isi perut keluar. Wajah mereka pias bagai mayat. Tanpa pikir panjang lagi mereka mengambil langkah seribu.

“Pengecut! Hendak lari ke mana kalian!” teriak Bong Mini yang sudah kalap. Sambil membuang pedang di genggamannya, dua prajurit yang melarikan diri itu di- kejar.

“Demi Tuhan! Tidak akan kubiarkan orang-orang kerajaan hidup!” teriak Bong Mini lagi dengan suara lantang, sambil terus berlari.

Bong Mini mengejar terus dengan mengerahkan pe- ringan tubuh yang hampir mencapai tingkat sempur- na. Tubuhnya tampak ringan, bagai kapas tertiup a- ngin. Dan ketika tinggal dua meter di belakang bu- ruannya, tubuh Bong Mini mencelat dengan ketinggian satu meter ke arah dua prajurit yang berlari di depan- nya.

“Hiy!” Duk duk!

Kedua prajurit itu mendadak terhuyung ke depan dan jatuh mencium tanah.

“Bangun! Hadapi aku pengecut!” hardik Bong Mini dengan geram.

Dua orang yang terjatuh itu menatap Bong Mini yang berada di depan mereka sambil berusaha bangkit. “Ayo! Serang aku! Masa’ kalah  dengan perempuan

kecil?” ejek Bong Mini.

Sebenarnya kedua prajurit itu hendak melarikan di- ri, namun karena sudah tidak memiliki kesempatan la- gi, mereka terpaksa melayani tantangan Bong Mini.

Sek Se Tau dan temannya kini berdiri menghadap Bong Mini dengan pedang tergenggam di tangan ma- sing-masing.

“Hiyaaat!”

Dua prajurit itu melesat ke arah lawan disertai pe- kikan nyaring. Wut wut!

Dua pedang langsung menyambar leher dan perut Bong Mini. Dengan tenang Bong Mini melompat dua tindak ke belakang.

Kegagalan tadi tak membuat serangan dua prajurit itu surut, mereka terus merangsek lawan dengan ga- nas. Keduanya berusaha mencecar lawan agar tidak memiliki kesempatan untuk balas menyerang.

Ting ting!

Sek Se Tau dan temannya terkejut bukan main me- lihat Bong Mini tetap berdiri tenang ketika mendapat sabetan bertubi-tubi pedang mereka. Tak ada luka se- dikit pun dari bekas sabetan pedang mereka. Padahal mereka yakin benar kalau cecaran pedang tadi me- ngenai pundak, leher, perut, dan kaki lawan.

Tanpa mereka ketahui, sebenarnya Bong Mini me- miliki ilmu kekebalan tubuh ‘Tolak Pati’ yang didapat- nya dari Kanjeng Rahmat Suci (untuk lebih jelasnya, lihat episode ketiga: ‘Pedang Teratai Merah’).

“Puas?” tanya Bong Mini dengan sebaris senyum mengejek.

Dua prajurit itu tidak menyahut. Mereka masih ter- cengang pada kesaktian Bong Mini.

“Kalau kalian sudah puas, kini giliranku untuk me- lakukan serangan!” tandas Bong Mini. “Nah, bersiap- lah!” lanjut Bong Mini sambil menggerakkan kaki ka- nannya. Ditendangnya perut Sek Se Tau dengan cara memutarkan badannya sedikit. Sambil memutarkan badan, tangan kanan Bong Mini yang terkepal berge- rak memukul lawan yang lain, tepat mengenai rahang- nya.

Dukkk! Dukkk! “Aaakh!”

“Aaakh!”

Kedua prajurit  itu  memekik  keras.  Tubuh  mereka terhuyung ke belakang dan langsung roboh.

“Bangun!” bentak Bong Mini sambil menggerakkan telunjuknya sebagai isyarat.

Dua prajurit itu bangkit terhuyung. Lalu mereka be- rusaha menyerang Bong Mini kembali, tanpa mem- pedulikan darah kental yang mengucur dari mulut ma- sing-masing. Namun sebelum mereka bergerak, tubuh Bong Mini telah melesat ke arah mereka dengan ten- dangan yang lebih dahsyat.

“Auh!”

Sek Se Tau dan temannya kembali mengeluh.  Tu- buh keduanya terjengkang ke belakang. Sebelum me- reka sempat bangkit kembali, gadis bertubuh  mungil itu melancarkan tendangan kembali ke wajah Sek Se Tau.

Duk duk! “Aaakh!”

Sek Se Tau memekik pendek ketika tendangan dah- syat Bong Mini mengenai rahangnya. Saat itu juga, tu- lang rahangnya menembus keluar kulitnya.  Bersa- maan itu pula Sek Se Tau tewas dalam keadaan me- ngenaskan.

Sementara itu, prajurit yang lain berusaha melari- kan diri saat Bong Mini menghajar Sek Se Tau. Namun baru mengayun langkah beberapa meter, tiba-tiba se- buah pedang melayang lurus ke arahnya.

Siuttt...! Creb! “Aaakh!”

Prajurit itu memekik tinggi saat pedang yang dilem- par Bong Mini menembus punggungnya hingga ke pe- rut.

“Itulah hukuman bagi orang yang suka menyiksa rakyat tak berdosa!” gumam Bong Mini sambil ter- senyum puas. Lalu tubuhnya melesat meninggalkan mayat dua prajurit tadi. ***

6

Malam merambah bumi. Kegelapan menyelimuti. Lampu-lampu tempel di rumah-rumah penduduk  tam- pak bergoyang-goyang  tertiup  angin.  Bila  dipandang dari kejauhan,  api  kecil  lampu-lampu  itu  mirip  kedi- pan bintang di angkasa raya.

Malam itu, pasukan Bongkap dan murid-murid Per- guruan  Tapak Tangan Suci tampak sedang berkumpul di dalam sebuah rumah mungil, tempat kediaman Yin Yin. Mereka duduk melingkar di atas lantai beralas ti- kar. Wajah mereka memancarkan sinar kegelisahan.

“Apakah Putri Bong Mini mengatakan hendak pergi ke mana kepada Susiok?” tanya Yin Yin, Ketua Pergu- ruan Tapak Tangan Suci.

“Bila dia mengatakan hendak pergi ke mana, tentu aku tidak seresah ini,” sahut Bongkap dengan air  mu- ka keruh. “Sebenarnya dia juga sering bepergian tanpa pamit seperti ini!”

“Kalau memang begitu, kenapa Susiok cemas?” po- tong Yin Yin.

“Aku mengkhawatirkannya karena sejak tumbuh dewasa, baru kali ini dia menjejakkan kaki di negeri kelahirannya,” sahut Bongkap. “Lagi pula, dia belum tahu siapa kawan dan lawannya.”

Yin Yin mengangguk-angguk. Keningnya agak ber- kerut, mencoba mengira-ngira tempat tujuan  Bong Mini.

Sementara di sudut ruangan, Baladewa pun tampak cemas. Malah ia sangat mengkhawatirkan keselamatan kekasihnya itu. Kekhawatirannya semakin memuncak ketika teringat ucapan Bong Mini yang menyatakan, ‘Bila takdir sudah menjemput, melawan seorang lelaki dungu pun kita akan mati’!

Lama kelamaan kekhawatiran dan kegelisahannya tidak dapat dibendung lagi. Baladewa segera bangkit, lalu menghormat pada Bongkap.

“Izinkan aku mencari Putri Bong Mini malam ini ju- ga!” ujar Baladewa minta pamit.

Bongkap tidak segera menyahut. Kecuali meng- alihkan pandangannya ke arah Prabu Jalatunda dan Ningrum yang juga tengah memandangnya penuh makna.

“Berangkatlah!” Prabu Jalatunda menyahuti. “Tapi ingat, segera beritahukan ke sini kalau sampai besok pagi belum juga kau temukan jejak Bong Mini agar kita bisa sama-sama mencarinya!”

“Baik, Ayah!” ucap Baladewa dengan tubuh sete- ngah membungkuk. Setelah itu ia berbalik dan lang- sung melangkah ke pintu keluar.

Baru saja Baladewa melangkah  dua  tindak,  tiba- tiba muncul Bong Mini. Dia berdiri tegak di  dekat pin- tu seraya menyebarkan pandangan ke sekeliling.

Wajah Bongkap dan orang-orang yang sejak tadi mencemaskan keselamatannya tampak berubah cerah. Begitu pula dengan Baladewa. Dia menghela napas le- ga seraya memandang wajah Bong Mini.

Kegembiraan mereka berubah menjadi tanda tanya setelah mengamati wajah Bong Mini yang tegang tanpa senyum, tidak seperti biasanya.

“Kita harus menggempur istana kaisar secepatnya!” tukas Bong Mini sambil melangkah,  kemudian  duduk di sebelah Ningrum, istri Prabu Jalatunda.

“Heh? Baru datang sudah main serang segala?” sela papanya setengah bergurau.

“Aku serius, Papa!” sergah Bong Mini tanpa  se- nyum. “Hm...,” gumam papanya berubah  sungguh-sung- guh. Begitu pula dengan yang lain. Puluhan mata pen- dekar itu mengarah pada Bong Mini. Mereka ingin mendengar ucapan gadis itu selanjutnya.

“Keadaan kita sekarang ini sedang gawat!” lanjut Bong Mini, mengejutkan orang-orang di sekitarnya.

“Gawat bagaimana maksudmu?” tanya Bongkap. “Kaisar Thiang Tok telah mengetahui kedatangan ki-

ta dan menyebarkan papan-papan  pengumuman  di tiap tempat ramai!” lapor Bong Mini.

Bongkap dan semua yang hadir di situ tampak sa- ling berpandangan.

“Apa isi pengumuman itu?” tanya Prabu Jalatunda. “Isinya mengenai penangkapan Papa dan diriku!”

sahut Bong Mini.

Hening.

Masing-masing pendekar berpikir mengenai lang- kah-langkah mereka selanjutnya.

“Kita harus menyerang secepatnya, Papa!” cetus Bong Mini, tidak sabar.

“Tenanglah! Kita jangan tergesa-gesa mengambil tin- dakan!” kata Bongkap.

“Papa,” ucap Bong Mini agak kesal. “Kaisar Thiang Tok pasti akan mengerahkan seluruh prajuritnya un- tuk mencari dan menangkap kita. Apalagi jika kaisar mengetahui pembunuhan yang telah kulakukan siang tadi!”

Bongkap dan seluruh pendekar tersentak kaget mendengar pengakuan Bong Mini.

“Jadi, kau sudah berhadapan dengan  prajurit  Kai- sar Thiang Tok?” tanya Yin Yin dengan kedua mata masih membelalak karena terkejut.

“Benar, Cici Yin Yin!” sahut Bong Mini cepat. “Mu- lanya aku berhadapan dengan empat pendekar di Kampung Chang Chow. Kemudian aku bertempur de- ngan sepuluh prajurit yang menyamar sebagai rakyat biasa di Bukit Chiangsi Bun,” lanjut Bong Mini.

Hening kembali. Mereka tidak menyangka kalau ke- pergian Bong Mini telah meminta korban nyawa para prajurit Kerajaan Manchuria.

“Bagaimana pendapatmu, Yin Yin?” tanya Bongkap kepada Ketua Perguruan Tapak Tangan Suci.

“Menurutku, kita tetap di sini untuk beberapa hari sambil menyusun kekuatan. Jumlah kita masih sangat sedikit dibanding jumlah prajurit kerajaan!” kata Yin Yin, mempertahankan rencana semula.

“Aku pun berpendapat demikian!” kata Bongkap se- tuju.

“Aku tidak setuju!” sanggah Bong Mini. “Mengun- durkan rencana penyerbuan sama artinya memberikan waktu pada pihak kerajaan untuk mengatur siasat!” lanjutnya.

“Putriku!” ucap Bongkap lunak. “Kita tidak bisa ge- gabah dalam bertindak!”

“Aku mengerti, Papa! Tapi kita pun tidak bisa mem- biarkan mereka bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat selamanya!” kata Bong Mini. “Dalam mencari ki- ta, sudah tentu mereka mendatangi rumah-rumah penduduk untuk minta keterangan. Mereka tentu akan bertindak keras terhadap penduduk yang tidak mau membuka mulut!” tambah Bong Mini.

Bongkap dan para pendekar lain termangu-mangu mendengar pendapat Bong Mini.

“Sejak kedatanganku ke sini, aku sudah banyak melihat penderitaan rakyat. Dan aku tidak ingin pen- deritaan yang dialami rakyat menjadi lebih parah lagi!” lanjut Bong Mini. Kemudian ia beranjak menuju ka- marnya. Diikuti pandangan Bongkap dan para pende- kar yang masih termangu-mangu.

Selang beberapa saat, Bong Mini keluar kembali de- ngan pedang tergenggam di tangan.

“Maafkan aku jika kali ini kita berbeda  pendapat. Aku akan melakukan penyerangan malam ini juga!” Setelah berkata begitu, Bong Mini langsung melesat ke luar.

“Putriku, jangan nekat!” cegah Bongkap seraya me- langkah cepat menuju pintu. Tapi sampai di sana ma- tanya sudah tidak melihat tubuh Bong Mini lagi. Gadis itu telah lenyap ditelan kegelapan.

Bongkap kembali ke tempat semula dengan langkah lesu.

Dari sudut ruangan, Baladewa tiba-tiba berdiri de- ngan pandangan menyebar ke arah para pendekar.

“Putri Bong Mini memang keras hati!” kata Bala- dewa dengan pandangan tetap berkeliling. “Tapi yang kutahu, selama ini tindakannya itu tak pernah  mele- set. Karena itu, aku pun akan segera pergi untuk me- nyertainya!” lanjutnya.

Mata semua pendekar yang berada di ruang itu ter- belalak. Sebelum mereka sempat menanggapi, Bala- dewa sudah melesat menembus kegelapan.

Hening.

Para pendekar terdengar menghela napas.

“Apa boleh buat. Kita terpaksa mengikuti kehendak putriku!” kata Bongkap lemah. Kemudian ia bangkit tanpa gairah. “Kita berangkat sekarang!”

Tanpa banyak cakap lagi, semua pendekar di rua- ngan itu serentak berdiri, lalu  melangkah  menuju ruang belakang untuk mengambil senjata masing-ma- sing. Setelah itu mereka berangkat menuju istana ke- rajaan.

***

Dalam perjalanan menuju Istana Kaisar Thiang Tok, Bong Mini mengerahkan dua ilmu kesaktian sekaligus yaitu ‘Halimun Sakti’ dan peringan tubuh. Penggabu- ngan dua ilmu itu membuat tubuhnya berkelebat me- nyerupai bayang-bayang membelah kegelapan malam. Tanpa banyak memakan waktu, Bong Mini telah sam- pai di Lembah Hijau.

Bong Mini duduk di atas batu besar sambil mele- paskan lelah. Sedangkan matanya memandang ke se- berang Lembah Hijau. Di sana Istana Kerajaan Man- churia berdiri angkuh. Dan dari jarak lima ratus meter itu matanya juga dapat melihat puluhan prajurit yang menjaga pintu gerbang istana.

Bong Mini tetap duduk di atas batu besar sambil menyusun rencana agar dapat menembus ke dalam is- tana kaisar itu.

Sebenarnya bisa saja ia menerobos masuk ke pintu gerbang yang dijaga ketat lima puluh prajurit lebih itu dengan cara melakukan gempuran langsung. Tapi cara itu jelas ia hindari, mengingat pertarungan itu akan menimbulkan kegaduhan yang dapat mengundang pa- ra prajurit lain.

Apa sebenarnya yang dipikirkan Bong Mini? Ia tidak hanya mempertimbangkan untuk bisa masuk, tetapi juga memikirkan bagaimana cara keluar istana itu jika ada kesulitan. Posisi istana itu memang kurang meng- untungkan baginya. Di belakang benteng terdapat pa- rit dalam, sedangkan jalan masuk di depan benteng terlindung ketat oleh gerbang ganda.

“Hm..., tidak mudah untuk menyelinap masuk ke dalam benteng itu,” gumam Bong Mini. “Sekalipun kuambil jalan pintas dan yakin berhasil menumpas pa- ra penjaga gerbang itu, tentu kelanjutannya akan membahayakan hidupku sendiri.”

“Tidak! Aku tidak bisa melakukan cara itu!” protes hatinya lagi. Di balik protes itu, ia merasakan ada ke- pengecutan dalam hatinya. “Ah, bukan! Aku bukan pengecut!” bantah sisi hati yang lain. Saat itu pula,  ia merasakan  ketenangan ba- ru yang mengalir dalam dadanya seperti sungai yang lembut. Dan dalam ketenangan yang datang menyen- tuh relung hatinya itu, ia langsung merasakan dirinya menjadi manusia.

Bong Mini tiba-tiba tersadar dari percakapan batin- nya, manakala matanya menangkap bayangannya sen- diri di atas tanah. Dan, ah..., ia hampir tidak percaya ketika melihat langit begitu terang dan cantik. Pertan- da hari sudah pagi.

“Hm..., ternyata cukup lama juga aku di sini!” gu- mamnya sambil mengalihkan pandangan kembali ke benteng istana.

“Aku harus menyeberang lembah dan memanjat ka- rang di sebelah sana!” bisik Bong Mini, mengatur ren- cana. Rencana itu begitu saja datang ketika melihat tembok benteng bagian belakang ternyata tak berpintu gerbang dan tanpa pengawalan ketat.

Belum sempat Bong Mini melaksanakan rencana- nya, sebuah tombak berukuran satu meter mendesing ke arahnya.

Siuttt...! Creb!

Ujung tombak itu menancap di tanah satu senti dari jemari kaki Bong Mini.

Gadis cantik bertubuh mungil itu terkejut. Tubuh- nya melompat dua tindak ke depan sambil berbalik. Ternyata dua puluh prajurit kerajaan telah berdiri ga- gah memandang ke arahnya. Kemudian satu persatu prajurit itu bergerak mengepung Bong Mini dengan senjata terhunus. Ada tombak biasa berukuran dua meter, ada pula tombak dan pedang bergigi seperti ger- gaji.

Kini para prajurit itu sudah berdiri tegak menge- pung Bong Mini dalam susunan yang begitu rapi. Se- dangkan mata mereka menatap tajam penuh selidik.

Bong Mini yang berdiri di tengah kurungan para prajurit itu juga memandang mereka. Begitu tajam dan kejam, bagai tatapan harimau yang terusik.

“Pasti gadis ini yang telah membunuh teman-teman kita!” ujar seorang prajurit seraya menunjuk dengan ujung pedangnya ke arah Bong Mini.

“Kalau memang benar, tentu ia seorang putri yang sedang kita cari?!” timpal temannya yang lain.

Mendengar tuduhan itu, Bong Mini diam. Hanya kedua matanya saja yang semakin tajam memandang para prajurit itu, seolah-olah hendak menerkamnya.

Salah seorang dari dua puluh prajurit itu maju dua langkah ke arah Bong Mini.

“Apakah kau yang telah membunuh empat pende- kar dan sepuluh prajurit kerajaan?” tegur Sun Kwan Tek, pemimpin prajurit itu. Ia mengetahui kematian teman-temannya setelah melakukan pencarian di seki- tar Kampung Chang  Chow  dan  Kampung  Chiangsi Bun, tempat di mana teman-temannya tewas.

Dari sana mereka langsung bergegas menuju istana untuk melaporkannya kepada Kaisar Thiang Tok. Na- mun ketika tiba di Lembah Hijau, mereka melihat Bong Mini tengah duduk mengamati benteng istana.

Seorang prajurit langsung menyerang Bong Mini de- ngan sebuah tombak yang menancap di dekat  Bong Mini tadi. Mereka yakin kalau gadis itu yang melaku- kan pembunuhan, karena selama ini tidak ada orang yang berani menentang para prajurit utusan kaisar. Apalagi membunuh. Terlebih jika menilik sikap Bong Mini yang mencurigakan.

Bong Mini masih diam. Sepasang matanya tetap bergerak waspada.

“Heh! Kau tuli, ya!” hardik Sun Kwan Tek melihat Bong Mini tidak mempedulikan pertanyaannya. Bong Mini tetap diam. Namun beberapa saat kemu- dian, mulutnya mengeluarkan lengkingan tinggi ber- sama kelebatan tubuhnya. Saat melayang di udara, di- cabutnya Pedang Teratai Merah dengan pengerahan ju- rus ‘Pedang Samber Nyawa’.

“Hiyaaat!” Bret bret bret!

Gulungan sinar merah berbentuk bunga teratai ber- gerak menyambar lima prajurit Kerajaan Manchuria.

“Aaakh!”

Pekik kematian terdengar seketika saat tubuh lima prajurit itu ditebas pedang Bong Mini.

Belum sempat yang lain tersadar dari keterkejutan- nya, tubuh Bong Mini yang mungil itu berkelebat cepat menyambar lawan yang lain.

Singngng! Crokkk!

Pedang Bong Mini kembali membabat leher dua orang lawan hingga terpisah dari badan.

“Seraaang!”

Sun Kwan Tek segera tersadar dan langsung mem- berikan aba-aba penyerangan pada pasukannya.

Sing sing sing!

Serangkai sinar pedang berkelebat cepat di sekitar tubuh gadis mungil itu. Belum lagi lima mata tombak yang terus mencecar bagian tubuh Bong Mini dengan gerakan menusuk.

“Hiyaaat!”

Bong Mini memekik tinggi. Tubuhnya melenting se- tinggi dua meter. Gerak melompatnya demikian ringan seperti seekor walet, mementahkan serbuan para pra- jurit yang memperdengarkan teriakan perang. Panca- ran wajah serta lengkingan mereka terdengar buas ba- gai singa lapar mengejar mangsa.

“Aaakh!” Tiba-tiba lima prajurit Kaisar Thiang Tok yang me- ngepung Bong Mini memekik tertahan dan langsung mati berlumur darah. Ketika yang lain menoleh, ter- nyata seorang pemuda tampan telah membantu Bong Mini.

Bong Mini yang masih berada di udara sempat ter- kejut melihat kedatangan pemuda yang tidak lain Ba- ladewa itu. Kemudian dengan gerakan cepat tubuhnya berputar di udara sambil menyabetkan pedangnya ke kepala para pengeroyoknya yang tinggal delapan orang itu.

Crokkk! Crokkk!

Dua prajurit kembali tewas tanpa mengeluarkan pekikan ketika pedang Bong Mini menyambar kepala mereka hingga terbelah dua.

“Hup!”

Bong Mini melompat ke tempat yang agak jauh dari arena pertarungan. Sedangkan tangannya masih menggenggam Pedang Teratai Merah yang sudah ber- lumur darah.

Enam prajurit berdiri gentar. Karena yang mereka hadapi bukan Bong Mini saja, tetapi juga seorang pe- muda yang tidak kalah tangkas.

“Biar enam pecundang ini kulayani!” seru Baladewa kepada Bong Mini yang berdiri di seberangnya.

Bong Mini tidak menyahut. Dia hanya memasukkan pedangnya sebagai tanda setuju. Setelah itu ia berdiri tegak menyaksikan Baladewa tengah berhadapan de- ngan enam prajurit yang tampak semakin gentar.

Tanpa menunggu serangan enam prajurit itu, Bala- dewa segera memainkan pedang bersama tubuhnya yang melesat cepat ke arah lawan.

“Hiaaat!”

Sing sing sing!

Sinar pedang berkelebat menyambar lawan. Namun kali ini serangan pedang Baladewa luput dari sasaran.

Baladewa semakin geram melihat enam lawannya berhasil mengelakkan serangan pedangnya. Dengan nafsu yang sudah melonjak ke ubun-ubun, dia kemba- li menggerakkan pedangnya dengan mengerahkan ju- rus pedang ‘Seribu Kilat Menyambar Bumi’, warisan dari mendiang gurunya, Kanjeng Rahmat Suci.

Singngng!

Bret! Bret! Creb!

Sinar pedang Baladewa terlihat menjadi banyak aki- bat gerakannya yang demikian cepat. Sesaat kemudian empat prajurit roboh dengan sayatan lebar di tubuh masing-masing. Mereka menggeliat-geliat sebentar, la- lu mati.

Sun Kwan Tek dan seorang temannya tercengang melihat kematian mereka. Dengan wajah pucat ke- duanya bergegas untuk menyelamatkan diri. Sebelum niat itu terlaksana, Baladewa sudah menyerangnya.

“Hiyaaat!” Creb!

Seorang prajurit tewas seketika saat ujung pedang Baladewa menghujam perutnya. Kesempatan itu diper- gunakan Sun Kwan Tek untuk melarikan diri.

Mengetahui lelaki itu hendak melarikan diri, Bala- dewa kembali bertindak. Dilepaskan pedangnya yang masih menancap di perut lawan. Lalu tubuhnya berge- rak cepat, melompat dan menubruk tubuh lawan yang belum begitu jauh tempatnya berdiri.

“Hup!”

Tubuh Baladewa dan tubuh Sun Kwan Tek berguli- ngan di atas tanah. Keduanya berusaha saling men- cengkeram lawan.

Sementara itu, Bong Mini yang sejak tadi menyaksi- kan pertarungan dari jauh, kini mendekat dan meng- amati dua lelaki gagah yang sedang baku hantam de- ngan tangan kosong.

Baladewa dan Sun Kwan Tek masih bergulingan di atas tanah. Sedangkan tangan keduanya saling men- cengkeram leher lawan dengan kuat.

Dukkk!

Tangan kanan Sun Kwan Tek yang semula men- cengkeram leher lawan, tiba-tiba bergerak memukul wajah Baladewa yang berada di atas tubuhnya.

Baladewa melepaskan cekikan kedua tangannya pada leher lawan. Sedangkan tubuhnya sendiri terhe- nyak ke belakang. Sebelum sempat bangkit, Sun Kwan Tek bergerak memburunya.

Dukkk! “Hekh!”

Sun Kwan Tek memekik tertahan. Sedangkan kedua tangannya meraba perutnya yang sakit. Pada saat hen- dak menubruk tubuh lawan yang masih berbaring di atas tanah, rupanya kaki Baladewa bergerak cepat menendang keras perutnya.

Baladewa cepat berdiri dan melayangkan tinjunya pada muka lawan yang masih meringis kesakitan.

Dukkk! “Aaakh!”

Tubuh Sun Kwan Tek terjengkang ke belakang. Ba- ladewa segera memburunya.

Dukkk! Dukkk!

Pukulan bertubi-tubi ke wajah Sun Kwan Tek dilan- carkan Baladewa. Tak ada tiga tarikan napas, sekujur wajah lelaki itu dibanjiri darah segar.

Baladewa yang tidak pernah memberi ampun la- wannya, kembali berbuat sadis. Tubuh Sun Kwan Tek yang sudah tak berdaya itu dihantam berkali-kali.

Crukkk!

Tulang-tulang rusuk lawan remuk seketika saat tiga kepalan tangan Baladewa menghantamnya. Kemudian ujung-ujung tulang rusuk yang patah itu tersembul menembus kulit tubuhnya.

Sun Kwan Tek menggeliat berbareng raungan pan- jang, menahan rasa sakit yang teramat sangat.

Baladewa bertambah nafsu melihat geliatan tubuh Sun Kwan Tek. Kembali dihantamnya lawan. Kali ini tinju Baladewa merangsek wajah Sun Kwan Tek.

Crokkk!

Dua biji mata Sun Kwan Tek langsung terlepas dari ceruknya saat pukulan ‘Tangan Geledek’ Baladewa menghantam wajah lelaki itu. Belum puas dengan hal itu, Baladewa mendaratkan pukulannya kembali seca- ra bertubi-tubi.

“Aaakh!”

Sun Kwan Tek memekik tertahan saat tiga pukulan Baladewa mendarat telak di wajah dan kepalanya. De- tik itu pula, Sun Kwan Tek mati. Otaknya menyembur keluar dari kepalanya yang retak.

Baladewa berdiri tegak sambil menatap mayat la- wan lekat-lekat.

“Sadis!” desis Bong Mini.

Baladewa memalingkan pandangannya  ke  arah Bong Mini seraya tersenyum kecut.

“Apa lagi tindakan kita selanjutnya?” tanya Bala- dewa.

“Kau ingin terus menyertai perjuanganku?” Bong Mini balik bertanya.

“Sehidup semati! Itulah janjiku padamu!” kata Bala- dewa dengan wajah sungguh-sungguh.

Bong Mini tersenyum kecil.

“Baiklah kalau begitu. Kita akan terus menggempur Istana Kaisar Thiang Tok di lembah sana!”  kata  Bong Mini. Jarinya menunjuk istana kerajaan yang berdiri di seberang lembah.

Baladewa menoleh  ke  arah  yang  ditunjuk  Bong Mini. Kepalanya mengangguk-angguk saat matanya memandang jelas bangunan megah itu.

“Kita bergerak sekarang!” kata Bong Mini lagi seraya melangkah.

“Tunggu!”

Tiba-tiba terdengar seruan seseorang.

Bong Mini dan Baladewa membalikkan tubuh. Di sana, keduanya melihat Bongkap dan rombongannya tengah bergerak ke arah mereka.

Bongkap dan rombongannya terkejut saat menje- jakkan kaki ke tempat di mana Bong Mini dan Bala- dewa berada. Karena mereka melihat mayat-mayat prajurit yang bergeletakan di sekitar tempat itu.

“Apakah kalian yang melakukan pembantaian ini?” tanya Bongkap.

Bong Mini dan Baladewa saling berpandangan. Ke- mudian kepala keduanya mengangguk.

“Kalau begitu, kita segera bertindak!” kata Bongkap. Bong Mini terkejut senang mendengar ucapan pa- panya. Tanpa mengulur-ulur waktu lagi, mereka segera bergerak melakukan penyerbuan ke Istana Kaisar

Thiang Tok.

***

7

Malam siap beringsut.

Cahaya matahari mulai memendar di belakang pun- cak pegunungan sebelah barat. Tepat sebelum kegela- pan menyelimuti bumi, rombongan Bong Mini telah be- rada di sekitar benteng Istana Kerajaan Manchuria.

Melihat bahaya mengancam, lima puluh  prajurit yang bertugas di luar benteng segera bertindak. Rom- bongan Bong Mini diserang dengan tombak dan pe- dang mereka masing-masing. Dalam waktu singkat, denting senjata dan pekik peperangan berbaur menjadi satu.

Pertempuran tak seimbang berlangsung sengit. Na- mun jika ditilik dari segi kemampuan dan kepandaian, pasukan Bong Mini jelas lebih unggul dibanding pihak musuh. Seni perang pun hanya sedikit yang mereka ketahui. Tidak heran bila dalam pertempuran itu pihak Bong Mini lebih banyak menelan korban ketimbang para prajurit Kerajaan Manchuria.

Trang trang trang!

Benturan senjata yang datang dari arah berlawanan itu terdengar berdenting nyaring mengilukan. Bunga api berpijar di sana-sini, membuat suasana benar-be- nar mencekam, mengerikan dan penuh darah.

“Hiyaaat!”

Bong Mini mengeluarkan lengkingan tinggi. Kemu- dian tubuhnya melesat sambil berputar seperti baling- baling kapal. Begitu pula dengan pedangnya yang ber- gerak tak kalah cepat menyambar sepuluh penge- royoknya.

Singngng! Bret!

Sinar merah yang bergulung cepat itu menyambar lima musuhnya. Dalam sekejap mata, lima orang yang terbabat pedang Bong Mini tewas mengerikan.

Sementara itu, para prajurit Kerajaan Manchuria yang berada di dalam benteng terkejut mendengar den- tang senjata dan teriakan kematian di luar benteng. Kericuhan itu memancing mereka untuk membuka gerbang.

Saat gerbang terkuak, mereka terkesiap bukan ke- palang melihat pemandangan yang tak disangka itu.

“Cepat bantu  mereka!”  perintah  seorang  dari  me- reka. Kemudian dua ratus prajurit  berhamburan  ke luar benteng untuk membantu teman-temannya me- nyerang pasukan Bong Mini. Sedangkan prajurit yang memberi komando segera melangkah ke dalam istana.

Di ruang kebesaran, Kaisar Thiang Tok tampak se- dang bercakap-cakap dengan lima panglima perang- nya. Percakapan mereka tiba-tiba terpenggal manakala seorang prajurit tergopoh-gopoh memasuki ruangan itu.

“Kau telah melanggar aturan! Kau memasuki rua- ngan ini tanpa kupanggil!” bentak Kaisar Thiang Tok seraya berdiri murka.

“Maafkan hamba, Tuanku!” ucap prajurit itu sambil menjura dalam-dalam. “Sesungguhnya kelancangan hamba memasuki ruangan ini karena ingin menyam- paikan berita buruk kepada Tuanku!” lanjutnya.

Kaisar Thiang Tok dan lima panglima perangnya menaikkan alis mendengar ucapan prajurit itu. Me- reka, saling berpandangan dengan wajah tegang.

“Berita apa yang ingin kau sampaikan, prajurit?” tanya Kaisar Thiang Tok ingin segera mendengar.

“Di luar telah terjadi pertempuran antara prajurit kerajaan dengan para pemberontak!” jelas prajurit itu.

Kaisar Thiang Tok dan lima panglima perangnya terkejut. Wajah mereka kian berkerut tegang.

“Pemberontak!” desis Kaisar Thiang Tok seperti ber- tanya pada diri sendiri.

“Benar, Tuanku! Malah prajurit kita yang berjumlah ratusan orang hampir dikalahkan para pemberontak itu!” lapor prajurit itu kembali.

Penuturan prajurit itu tentu saja sangat menge- jutkan Kaisar Thiang Tok dan para panglimanya.

“Keparat!” maki Kaisar Thiang Tok geram. Urat-urat di keningnya mulai menonjol, menunjukkan kalau ke- marahannya sudah demikian memuncak. “Kita segera ke sana!”

Lima panglima perang dan prajurit tadi segera mengikuti langkah kaisarnya yang berjalan lebih dahu- lu.

Sampai di halaman istana, Kaisar Thiang Tok dan lima panglimanya menjadi terkejut manakala melihat benteng yang selama ini berdiri kokoh sudah runtuh sebahagian akibat pertempuran dahsyat itu. Mereka menjadi lebih terkejut ketika melihat lelaki berlengan buntung yang begitu tangkas menghadapi serangan para prajurit istana.

“Jahanam! Dia telah menyerang lebih dahulu!”  Kai- sar Thiang Tok murka. Wajahnya terbakar kemarahan. “Thiang  Tok,  majulah!  Jangan  hanya  pandai  menon- ton pertempuran!” tiba-tiba terdengar teriakan bernada mengejek. Dan suara itu terlontar dari mulut Bongkap. Secara kebetulan dia melihat Kaisar Thiang Tok ber-

sama lima panglima perangnya.

“Buntung keparat!” Kaisar Thiang Tok mendesis marah.

“Apakah orang itu yang selama ini menggayuti piki- ran Tuanku?” tanya Panglima Cong Siat Fong sambil memperhatikan kegigihan Bongkap menghadapi kero- yokan prajurit kerajaan.

“Ya. Itulah orang yang bernama Bong Khian Fu!” Kaisar Thiang Tok menegaskan.

“Kalau begitu, biar kami beresi orang itu!” ujar Panglima Cong Siat Fong, lelaki berwajah bengis.

“Hati-hati, dia amat berbahaya!” kata Kaisar Thiang Tok memperingatkan. “Kalau bisa, tangkap Bong Khian Fu hidup-hidup. Aku ingin mengakhiri nyawanya seca- ra perlahan-lahan!” lanjutnya.

“Baik, Tuanku!” ucap Panglima Cong Siat Fong. Ke- mudian bersama empat temannya, ia bergerak menuju kancah pertempuran. ***

Pertempuran semakin seru dan dahsyat. Korban banyak berjatuhan dari kedua belah  pihak.  Terutama di pihak kerajaan. Selain banyak yang mati, tidak se- dikit pula yang terluka parah dan tidak dapat melan- jutkan pertempuran.

Sementara itu, Bongkap atau Bong Khian Fu masih bertahan terhadap serangan gencar para prajurit la- yaknya air bah. Setiap kali ada prajurit yang tewas, prajurit yang lain selalu menggantikannya.

Wut wut wut!

Lima larik sinar pedang menyambar kepala, perut, dan kaki Bongkap dengan ganas. Secepat kilat Bong- kap memiringkan tubuhnya ke belakang berbareng lompatan setinggi dua meter. Ketika meluncur turun, tubuhnya berpusing bagai baling-baling kapal.

Bret bret bret!

Sinar putih menyambar dari putaran tubuhnya ke arah para pengepung. Akibatnya, tiga prajurit lang- sung mati di ujung pedang Bongkap. Kemudian masih dengan tubuh berpusing, Bongkap kembali melancar- kan serangan dengan dua jurus kungfu andalan, ‘Pe- dang Samber Nyawa’ dan ‘Tanpa Bayangan’. Kedua ju- rus inilah yang dikerahkan sejak awal pertempuran.

Singngng! Bret bret bret! “Aaakh!”

Lima prajurit kerajaan mati sekaligus dengan kepa- la terpisah dari badan.

Wut wut wut!

Selarik sinar putih pantulan dari sebatang pedang lawan menyambar bagai lidah kilat ke arah Bongkap yang mulai mengurangi putaran tubuhnya. Untunglah mata Bongkap cukup jeli menangkap sinar pedang itu. Dengan cepat tubuhnya berguling di udara. Karena demikian cepat berputar, tubuhnya terlihat bagai bola yang ditendang ke udara.

Cong Siat Fong, Bong Cun Min, serta puluhan pra- jurit yang melakukan serangan terperangah menyaksi- kan tubuh Bongkap berputar di udara. Dan ketika tu- buh Bongkap meluncur ke bawah dengan kecepatan deras, mereka segera menyambut dengan sabetan pe- dang. 

Trang trang trang!

Sabetan puluhan pedang yang bergerak cepat itu segera ditangkis oleh Bongkap.

“Uh!”

Lima prajurit memekik tertahan manakala terjadi benturan pedang, karena Bongkap telah menyalurkan tenaga dalam yang luar biasa melalui pedangnya. Tela- pak tangan kelima prajurit itu seketika terasa perih membuat mereka melempar pedang ke samping. Se- dangkan tubuh mereka terjengkang ke belakang.

Bongkap yang terkenal ganas dalam setiap pertem- puran langsung menerjang mereka seraya menya- betkan pedangnya.

Bret bret bret! Creb!

Lima prajurit yang belum mampu bangkit itu lang- sung tewas tersayat pedang Bongkap.

Di lain pihak, Panglima Cong Siat Fong  dan  Bong Cun Min memburu Bongkap dengan ganas.

Wut wut!

Angin yang ditimbulkan gerakan dua pedang kedua lawan menderu di sekitar tubuh Bongkap dengan ke- ras.

“Hup!”

Bongkap berguling ke belakang sejauh dua tombak. Sebelum tubuhnya bangkit, Panglima Cong Siat Fong dan Bong Cun Min kembali menyerangnya. Begitu ce- pat dan ganas, membuat Bongkap kewalahan dan ter- paksa bergulingan kembali di tanah tanpa mampu me- lakukan serangan.

Sret!

Ujung pedang Bong Cun Min menggores bahu  ka- nan Bongkap. Saat itu pula darah  membasahi  seba- gian pakaiannya.

Bongkap bergulingan, tanpa dapat meraba bahunya yang terluka. Dia memang tak bisa melakukan hal itu karena tangan kirinya sudah tak ada lagi.

Pada kesempatan yang sama, Cong Siat Fong segera mengirimkan totokan ke tengkuk lawan dengan dua ja- rinya.

“Ekh!”

Bongkap mengeluh pendek. Gerakan tubuhnya langsung terhenti dan tak dapat bergerak lagi. Seluruh tubuhnya lumpuh, kecuali matanya yang berkilat-kilat murka pada kedua lawan.

Bibir panglima Cong Siat Fong dan Bong Cun Min menyeringai melihat lawan tak berdaya.

“Ternyata hanya seperti ini kehebatan  Bong Khian Fu yang dikhawatirkan Kaisar Thiang Tok!” cemooh Panglima Cong Siat Fong. Kemudian didekatinya Bong- kap yang masih tergeletak di tanah, lalu dibawa me- nuju ruang istana.

Kaisar Thiang Tok tersenyum senang melihat Pang- lima Cong Siat Fong datang membawa tubuh Bongkap yang sudah tak berdaya. Cong Siat Fong sendiri men- dudukkan Bongkap pada sebuah kursi.

“Hm...! Ternyata orang-orangku tidak mengalami banyak kesulitan untuk merobohkanmu, Bong Khian Fu!” ejek Kaisar Thiang Tok seraya menyeringai.

Bongkap tak bisa berbuat apa-apa untuk menang- gapi ejekan itu. Hanya kedua matanya saja yang me- mandang tajam ke arah Thiang Tok, penuh kemarahan dan dendam.

“Bawa dia ke kamar tahanan!” perintah Kaisar Thiang Tok kepada empat pengawal khususnya.

Tanpa banyak cakap, dua di antara lima orang pe- ngawal pribadinya menghampiri Bongkap dan lang- sung menggiringnya ke kamar tahanan. Sedangkan Kaisar Thiang Tok, Panglima  Cong  Siat  Fong,  Bong Cun Min, dan dua prajurit lain mengikuti dari bela- kang.

***

Kamar tahanan itu terletak dalam ruang bawah ta- nah di belakang istana. Luas ruangan itu sekitar sera- tus meter persegi. Dindingnya dibangun dengan batu- batu kali. Bagian luarnya dilapisi besi baja yang terli- hat kokoh, sehingga tahan untuk  masa  puluhan  ta- hun.

Ruang bawah tanah itu hanya memiliki satu kamar dengan luas sekitar empat meter persegi. Dindingnya berupa tembok batu setinggi satu meter yang bersam- bung dengan jeruji besi. Sedangkan bagian lain dibiar- kan kosong tanpa kamar, kecuali tumpukan peti-peti barang.

Bongkap sudah berada di ruang tahanan. Dia diikat kuat di sebuah kursi. Tubuhnya begitu lemas, karena masih dalam pengaruh totokan.

Kaisar Thiang Tok berdiri menyeringai memandangi lelaki yang pernah menjabat sebagai panglima kera- jaannya.

“Masih ada seorang lagi yang belum berhasil kita tangkap!” ujar Kaisar Thiang Tok pada kedua panglima perangnya.

“Putri tahanan ini maksud Tuanku?” tanya Pangli- ma Cong Siat Fong. “Ya!”

“Kalau orangtuanya berhasil kita tangkap, tentu pu- trinya lebih mudah diringkus,”  kata  Panglima  Cong Siat Fong meremehkan.

“Benar, Tuanku!” sela Bong Cun  Min.  “Aku  yakin, Liu Sun Jie, Cong A Thit, dan Ngi Ik Cin akan berhasil menangkap gadis itu,” lanjutnya.

Kaisar Thiang Tok mengangguk-angguk sambil ter- senyum kecil.

“Mungkin hanya gadis itu yang akan kubiarkan hi- dup. Kecuali kalau sudah tua dan wajahnya berubah keriput,” ceracau Kaisar Thiang Tok dengan bibir mengurai senyum sambil membayangkan kecantikan Putri Bong Mini, walau ia sendiri belum pernah meli- hatnya. 

Mendengar ucapan Kaisar Thiang Tok yang  cabul itu, darah Bongkap bergejolak. Ingin sekali dicabik- cabiknya mulut Kaisar Thiang Tok kalau saja  tubuh- nya tidak sukar digerakkan.

***

Pertempuran antara kaum pemberontak dengan prajurit kerajaan sudah mereda. Korban banyak berja- tuhan, terlebih di pihak prajurit. Karena walaupun berjumlah sampai ratusan orang, pasukan kerajaan masih kalah unggul dalam tehnik berperang dibanding lawan.

Banyaknya korban di pihak musuh, bagi Bong Mini bukan berarti pertempuran menjadi lebih ringan. Dia tampak masih cukup kewalahan menghadapi tiga mu- suhnya. Yang dihadapi kali ini bukanlah puluhan pra- jurit yang mudah dirobohkan, melainkan tiga panglima perang yang cukup tangguh dan sadis. Malah ia  ham- pir terdesak oleh hujaman-hujaman pedang yang me- ngurung dirinya. “Hiyaaat!”

Tiba-tiba Bong Mini melenting setinggi dua tombak. Kemudian tubuh mungil itu berputaran di udara menghindari serangan pedang Liu  Sun  Jie,  Cong  A Thit, dan Ngi Ik Cin. Setelah itu, kedua kakinya menje- jak di tempat yang agak jauh dari arena pertarungan semula.

Sambil menjejakkan kaki, Bong Mini menyebarkan pandangannya ke sekitar tempat pertempuran. Dia mencari-cari sesuatu. Tapi yang dicarinya tidak juga terlihat.

“Papa tidak ada!” desis Bong Mini dengan wajah khawatir.

Melihat gadis itu berdiri bimbang, ketiga lawannya segera memburu untuk melancarkan serangan susu- lan.

Trangngng!

Walaupun konsentrasi Bong Mini buyar karena me- mikirkan papanya, ia masih mampu menangkis huja- man tiga pedang lawan yang mengarah padanya. Ma- lah dengan kemarahannya yang mendadak muncul akibat kehilangan papanya, ia berhasil menyodokkan Pedang Teratai Merah-nya.

Creb! “Aaakh!”

Cong A Thit memekik tertahan ketika ujung pedang Bong Mini menusuk perutnya. Dalam sekejap, darah menyembur dan membasahi pedang gadis itu. Selan- jutnya, tubuh yang berdiri limbung itu ambruk  dan mati seketika.

Liu Sun Jie dan Ngi Ik Cin terkejut bukan main ke- tika melihat gadis itu dapat merobohkan temannya.

“Keparat! Rasakan pedangku!” hardik Liu Sun Jie geram. Kemudian dilanjutkan dengan serangan pe- dangnya yang bergerak miring untuk menyambar leher Bong Mini.

Trangngng!

Bong Mini menangkis serangan pedang lawannya seraya memiringkan tubuh ke samping. Disusul de- ngan sebuah tendangan lurus kaki kanannya ke dada lawan.

Bukkk! “Aaakh!”

Liu Sun Jie memekik kaget ketika mendapat ten- dangan Bong Mini. Pedang di tangan kanannya terle- pas dan jatuh di samping Bong Mini. Sedangkan tu- buhnya sendiri terjengkang ke belakang.

Mendapat kesempatan baik itu, Bong Mini langsung memburu dan hendak menghujamkan pedangnya ke arah Liu Sun Jie. Namun baru saja pedangnya hendak diayunkan, selarik sinar pedang berkelebat menuju ke- palanya.

“Hup!”

Bacokan pedang Ngi Ik Cin yang mengarah ke ke- pala Bong Mini bisa ditangkap dengan tangan kirinya. Disusul dengan satu sabetan pedang ke perut lawan.

Bret!

Dengan ganas pedang Bong Mini menyayat tubuh lawannya hingga terputus dua.

Liu Sun Jie terbelalak kaget melihat kesadisan Bong Mini. Dia tidak menyangka gadis muda secantik Bong Mini mampu melakukan tindakan ganas itu. Lebih ka- get lagi setelah mengetahui tingkat kepandaian Bong Mini yang demikian tinggi.

Sejak melihat papanya tidak ada, Bong Mini ber- ubah menjadi panik. Ia mengkhawatirkan keselamatan Bongkap. Kalau papanya menghilang dari arena per- tempuran, berarti pihak kerajaan telah berhasil me- nangkapnya. Oleh karena itu ia berubah geram dan in- gin mengakhiri pertarungan secepatnya. Dan untuk mempercepat pertarungan, terpaksa ia mengikuti gera- kan Pedang Teratai Merah yang mempunyai kekuatan gaib. Sehingga setiap kali pedangnya mengenai sasa- ran, selalu diakhiri dengan kematian yang mengerikan. Liu Sun Jie berdiri gentar menghadapi Bong Mini.

Apalagi ketika mata gadis itu mencorong tajam, seolah- olah hendak melumat tubuhnya. Tapi  segentar  apa pun, mau tidak mau ia harus menghadapi gadis itu. Mengingat jabatannya sebagai panglima perang.

“Heh, kenapa bengong!” ejek Bong Mini. “Atau kau gentar karena tidak memiliki pedang?” lanjut  Bong Mini. “Pakailah pedangku ini!”

Singngng!

Pedang Teratai Merah yang dilemparkan Bong Mini segera disambut oleh Liu Sun Jie dengan tangkas. Ke- mudian dia mengamati pedang milik Bong Mini itu be- berapa saat. Hatinya begitu kagum melihat  pedang yang selalu memancarkan sinar merah berbentuk bu- nga teratai.

“Hm..., aku merasa pedang ini mempunyai  kesak- tian yang luar biasa,” gumam Liu Sun Jie penuh keya- kinan. “Ternyata gadis itu begitu bodoh telah membe- rikan pedang ini kepadaku!” bisik hatinya. Kemudian dipandangnya lawan yang berdiri di hadapannya.

“Aku pasti dapat membunuhnya dengan  pedang sakti ini!” gumam Liu Sun Jie,  menyeringai  angkuh. Saat itu dia merasa yakin dapat memenangkan perta- rungan. Apalagi Bong Mini kini tak bersenjata.

“Hiyaaat!”

Liu Sun Jie mengeluarkan pekikan tinggi saat tu- buhnya mencelat ke arah Bong Mini. Pedang di ta- ngannya merangsek dalam gerakan lurus, sedang ta- ngan kirinya setengah terbentang ke depan.

Wut!

Pedang yang dihujamkan ke arah kepala Bong Mini berkelit ke samping kiri. Begitu kuat! Sehingga tubuh Liu Sun Jie ikut terpelanting, lalu jatuh bergulingan di atas tanah. Sedangkan gadis yang hendak menjadi sa- sarannya itu malah berdiri tenang sambil tersenyum menyaksikan lawannya yang sibuk sendiri

Liu Sun Jie  sangat  terkejut  melihat  kenyataan  itu. Ia hendak berusaha melepaskan Pedang Teratai Merah yang digenggamnya. Namun niatnya itu tidak terlaksa- na. Sekujur tangan hingga jari-jemarinya terasa ter- kunci rapat. Ketika ia hanya dapat telentang di atas tanah karena putus asa, Pedang Teratai Merah mem- berikan kekuatan gaib pada tangan kanan Liu Sun Jie, sehingga tangan tersebut bergerak tanpa kendali.

Mata Liu Sun Jie membelalak penuh kengerian keti- ka ujung pedang itu berbalik arah tepat ke perutnya. Ingin ditariknya kembali senjata aneh itu tapi sia-sia. Tenaga gaib di dalam Pedang Teratai  Merah  begitu kuat menarik tangan Liu Sun Jie. Creb!

“Aaakh!”

Mulut Liu Sun Jie memekik tertahan ketika Pedang Teratai Merah menancap perutnya sendiri, seolah-olah dia melakukan bunuh diri. Tidak lama kemudian, ia tewas dengan dua biji mata mendelik serta lidah men- julur keluar.

Setelah Liu Sun Jie mati, Pedang Teratai Merah se- gera melepaskan diri dari genggamannya. Senjata itu melayang ke Bong Mini. Lalu masuk ke sarungnya.

Bong Mini menghela napas menyaksikan peristiwa tadi. Kemudian tubuhnya berkelebat cepat menuju ruang dalam istana.

*** 8

Kaki Bong Mini melangkah perlahan. Dia menyeli- nap pada setiap ruangan di  dalam  Istana  Kaisar Thiang Tok. Namun setiap ruangan yang dimasuki ter- nyata kosong. Jangankan mendapatkan papanya, Kai- sar Thiang Tok sendiri belum juga ditemukan.

“Hm..., pasti kaisar itu telah menyembunyikan pa- pa,” pikir Bong Mini. Gadis itu berdiri mematung. Ma- tanya menyebar ke sekeliling, mencari kamar-kamar rahasia.

Di saat itu, empat lelaki tiba-tiba memburu ke arah Bong Mini dan langsung mengurungnya dengan pe- dang di tangan masing-masing.

Bong Mini berdiri tegang. Diamatinya mereka de- ngan sorot mata tajam. Ketika mengetahui kalau pe- ngepungnya adalah para pengawal kerajaan, Bong Mini berkata ringan.

“Kalian sebaiknya minggir! Aku cuma berurusan de- ngan Kaisar Thiang Tok!” usir Bong Mini tenang. Na- mun pandangannya tetap tajam menusuk mata para pengepungnya.

Empat pengawal setia Kaisar Thiang Tok yang ditu- gaskan menjaga pintu ruang bawah tanah mendengus geram. Kemudian tanpa komando lagi, mereka mela- brak Bong Mini.

Wut wut wut!

Dengan tenang Bong Mini  menghindari  serangan itu. Tubuhnya melenting ringan. Dan secara tiba-tiba kedua kakinya bergerak mencari sasaran.

Duk duk!

Sepasang kaki Bong Mini berhasil menendang wa- jah dua penyerang yang berada di kiri dan kanannya. Keduanya langsung terhuyung ke belakang. Setelah melakukan tendangan, Bong Mini sendiri langsung me- lompat menjauhi lawannya.

“Sudah kukatakan, sebaiknya  kalian  beritahu  saja di mana Kaisar Thiang Tok keparat itu berada!” ketus Bong Mini.

“Keparat! Kau pikir kami gentar melihat sepak ter- jangmu tadi!” dengus seorang  dari mereka. Kemudian ia menyerang Bong Mini kembali. Begitu pula dengan ketiga temannya.

Melihat keempat pengawal itu bergerak kembali ke arahnya, Bong Mini segera mengerahkan jurus kungfu ‘Tanpa Bayangan’. Dalam sekejap, tubuhnya sudah berpusing. Dan begitu para pengeroyoknya sudah mendekat, Bong Mini langsung mengerahkan jurus ‘Tendangan Maut’-nya.

Duk duk! “Aaakh!”

“Aaakh!”

Dua prajurit yang terkena tendangan Bong Mini ta- di, kembali merasakan kaki Bong Mini. Kali ini tendan- gan Bong Mini begitu dahsyat menghantam dagu dan dada mereka. Membuat kedua orang itu memekik ter- tahan. Sedangkan tubuh keduanya terlempar dua tombak ke belakang.

Brukkk!

Dua tubuh yang membentur lantai secara bersa- maan itu terdengar berdebum. Keduanya meringis di- siksa sakit yang teramat sangat pada pundak dan pan- tat mereka. Untuk beberapa saat, kedua pengawal itu hanya dapat bergulingan tanpa mampu berdiri.

Sementara itu di luar istana, pertarungan  antara para pendekar dan prajurit kerajaan masih saja ber- langsung, walaupun tidak seramai sebelumnya.

Baladewa, Prabu Jalatunda, Ningrum, Yin Yin, Thong Mey, Ratih Purbasari, Ashiong, Sang Piao, dan Kao Cin Liong yang semula bertarung dengan lawan masing-masing, kini bergabung menghadapi dua puluh prajurit Kerajaan Manchuria. Mereka bersatu menye- rang dan saling melindungi.

Walaupun jumlah lawan terbilang sedikit, prajurit kerajaan tampak agak gentar menghadapi gabungan para pendekar itu. Mereka mengakui kalau tingkat ke- pandaian lawan lebih tinggi dibanding kepandaian me- reka. Namun demikian, mereka tetap bertahan dan melakukan penyerangan disertai pekikan-pekikan ting- gi.

“Aaakh...! Aaakh...!”

Pekikan-pekikan kesakitan dan kematian terdengar susul-menyusul. Dilanjutkan dengan tewasnya enam prajurit. Belum lagi yang terluka akibat sabetan pe- dang Baladewa, Yin Yin, Sang Piao, dan Ashiong. Se- dangkan Prabu Jalatunda, Thong Mey, Ratih Purbasa- ri, dan Kao Cin Liong, sibuk pula menghadapi  sembi- lan prajurit yang masih bertahan. Tetapi tidak lama kemudian, mereka berhasil pula ditewaskan.

Setelah melihat seluruh prajurit itu tewas, para pendekar itu langsung memburu ke dalam istana.

Akhirnya mereka sampai di tempat pertarungan Bong Mini melawan empat pengawal pribadi Thiang Tok.

Melihat Bong Mini masih bertarung, Baladewa lang- sung melompat ke kancah pertarungan. Disabetkan pedangnya ke arah dua pengawal yang berdiri gentar melihat kedatangan para pendekar.

Bret bret! “Aaakh!”

“Aaakh!”

Dua pengawal itu memekik tinggi ketika pedang Ba- ladewa menyambar tangan kanan mereka masing- masing. Bagai menebas pelepah pisang, tangan kedua- nya terpotong sebatas bahu dan jatuh bersama pedang yang digenggamnya.

Darah mengucur deras dari bagian bahu kedua le- laki itu. Membuat dua temannya yang masih berguli- ngan di lantai membelalak ngeri. Wajah mereka lang- sung pias. Apalagi ketika Bong Mini mendekati mereka dengan wajah garang.

“Ampun, Nona! Jangan bunuh kami!” rengek seo- rang pengawal yang masih terbaring di lantai. Tubuh- nya menggigil ketakutan.

“Aku akan mengampuni kalian jika sudah memberi- tahukan di mana kaisar menawan papaku!”  sergah Bong Mini tegas.

Hati empat pengawal tadi semakin ciut saja ketika gadis itu menyebut kata papa. Mereka kini tahu kalau gadis berwajah cantik  yang  berilmu  tinggi  itu  putri Bong Khian Fu.

“Kami..., kami akan memberitahukannya,  Nona. As- al Nona mau melindungi kami jika Kaisar Thiang Tok murka kepada kami karena telah membocorkan raha- sia!” kata pengawal tadi, terbata-bata.

“Hm..., baik!” ucap Bong Mini berjanji. “Sekarang, coba kau sebutkan di mana tempatnya!” lanjutnya.

“Di..., di sana!  Di  bawah tanah!” ucapnya lagi sam- bil menunjuk ke sebuah lorong remang berpenerang obor.

Bong Mini bangkit perlahan sambil menoleh ke lo- rong yang luasnya sekitar satu meter itu.

“Kita segera ke sana!” ajak Baladewa tidak sabar. “Ya. Tapi ingat! Kaisar Thiang Tok aku yang hada-

pi!” kata Bong Mini.

“Terserah!” sahut Baladewa, pasrah terhadap kei- nginan Bong Mini. Ia sendiri sadar kalau kepandaian Bong Mini di atas kepandaiannya.

Setelah mendapat kata sepakat, Bong Mini dan pen- dekar lain melangkah menyusuri lorong. Sedangkan empat pengawal kerajaan tadi melangkah di depan me- reka sebagai penunjuk jalan.

***

Di ruang bawah tanah, keadaan Bongkap tampak menyedihkan. Lelaki itu masih dalam keadaan duduk terikat di atas sebuah kursi. Sementara Panglima Cong Siat Fong dan Panglima Cong A Thit melakukan pen- yiksaan sadis terhadapnya. Mereka memukuli wajah Bongkap bertubi-tubi hingga bengkak membiru dan mengucurkan darah.

“Cukup!” Kaisar Thiang Tok memberi aba-aba. Bi- birnya tersenyum angkuh pada Bongkap.

Dua panglima perang yang melakukan penyiksaan terhadap Bongkap segera menghentikan pukulannya.

“Pindahkan dia dan ikat di tali gantungan!” perintah Kaisar Thiang Tok lagi.

Dua panglima perang itu segera melaksanakan pe- rintah kaisarnya. Keduanya membuka ikatan, lalu me- nyeret Bongkap untuk mengikatnya kembali ke tiang gantungan yang terletak di sebelah kamar tahanan.

Kaisar melangkah mendekati Bongkap yang sudah terikat tak berdaya itu. Ditatapnya Bongkap penuh ke- licikan.

“Sebelum kuhabisi nyawamu, kau harus menyaksi- kan dulu percumbuanku dengan putrimu bila tiga panglimaku berhasil membawanya ke sini!” desis Kai- sar Thiang Tok dengan kalimat terpatah-patah hingga setiap kata terdengar jelas.

“Phuih!”

Bongkap meludahi wajah Kaisar Thiang Tok hingga berlumur darahnya.

Mendapat perlakuan kurang ajar dari tawanannya itu, Kaisar Thiang Tok menjadi murka. Plak plak!

Dua tamparan keras mendarat di wajah Bongkap yang sudah berlumuran darah. Namun Bongkap se- dikit pun tidak mengeluarkan rintihan. Rasa sakit dan perih itu ditahannya dengan merapatkan mulutnya kuat-kuat bersama kedua matanya yang terpejam.

Brakkk!

Tiba-tiba pintu terbuka keras. Selanjutnya,  Bong Mini dan rombongannya bergerak memasuki ruang ta- hanan.

Kaisar Thiang Tok dan dua panglimanya membalik- kan badan ke arah pintu dengan wajah terkejut. Ke- terkejutan mereka semakin memuncak manakala pan- dangan ketiganya tertuju pada para pendekar yang berdiri gagah.

Rasa terkejut itu bukan saja hinggap pada diri Kai- sar Thiang Tok dan dua panglimanya, tetapi juga menghinggapi diri Bongkap yang masih terpejam me- nahan rasa perih di wajahnya. Ketika kedua matanya terbuka, keterkejutan itu berubah menjadi kegembi- raan. Apalagi saat melihat kehadiran Bong Mini.

“Jahanam! Pengecut!” geram Bong Mini ketika sepa- sang matanya melihat  keadaan  Bongkap yang  terikat di tiang gantungan.

Kaisar Thiang Tok tersenyum pongah. Kemudian ketiganya melangkah dan berdiri di dekat Bong Mini dengan posisi yang menyerupai bulan sabit.

Sementara itu, Baladewa dan para pendekar lain melangkah berpencar untuk menyaksikan dari kejau- han Bong Mini yang mulai berhadapan dengan tiga la- wannya. Sedangkan empat pengawal kaisar yang men- jadi penunjuk jalan tampak berdiri terpisah dari rom- bongan Bong Mini.

Bong Mini berdiri gagah dan tenang di tengah ketiga pengepungnya. Matanya meneliti wajah ketiga orang itu, memilih mana-mana yang mungkin berbahaya dan mencari kelemahan bentuk kepungan mereka.

“Apa kau putri Bong Khian  Fu?”  tanya  Kaisar Thiang Tok dengan mata liar meneliti keindahan tubuh Bong Mini.

“Tepat! Akulah Putri Bong Mini yang akan meng- hancurkan seluruh penghuni istana ini!” sahut Bong Mini lantang.

Kaisar Thiang Tok tersenyum genit dengan mata tak lepas memandang dua bukit yang menyembul di dada Bong Mini. Saat itu pula darah birahinya berdesir, me- manasi seluruh tubuhnya.

“Sayang, gadis muda dan cantik yang mempunyai tubuh molek terjun ke dunia penuh darah dan pekik kematian!” kata Kaisar Thiang Tok dengan suara te- nang.

“Phuih!” Bong Mini meludah ke samping kanan. “Kaisar tua yang tidak tahu diri!” maki Bong Mini de- ngan mata berkilat-kilat.

Melihat sikap Bong Mini, Kaisar Thiang Tok malah tertawa terkekeh-kekeh. Matanya yang sipit semakin tak terlihat. “Apakah kau sudah siap berhadapan de- nganku, Kelinci Manis?”

Bibir Bong Mini menyeringai meremehkan. Tawa ke- cil yang keluar dari bibir mungilnya membekukan ke- gairahan lawan. “Seorang pendekar selalu siap walau- pun sedang tidur nyenyak!” pongah Bong Mini.

“Majulah kalian bertiga. Tak ada gunanya banyak cakap!” tantang Bong Mini lagi.

Walaupun ucapan Bong Mini membuat panas teli- nga Panglima Cong Siat Fong dan Panglima  Cong  A Thit, Kaisar Thiang Tok  tampak  tenang-tenang  saja. Dia seperti tak tersinggung sedikit pun.

“Apakah kedatanganmu ke sini hendak membe- baskan papamu?” tanya Kaisar Thiang Tok. Sebelum Bong Mini menyahut, ia telah melanjutkan ucapannya, “Kalau memang itu tujuanmu, dia akan segera kube- baskan. Dengan catatan, kau harus bersedia menjadi istriku!”

Mendengar ucapannya yang genit,  bukan  cuma Bong Mini yang terlihat marah, tetapi juga Baladewa. Malah ingin sekali ia menyerang kaisar genit itu. Tapi karena ia ingat pesan Bong Mini yang ingin menyele- saikan persoalan itu sendirian, maka Baladewa pun segera menahan amarahnya.

“Aku bukan saja hendak membebaskan papaku, te- tapi juga ingin membunuhmu!” berang Bong Mini.

Mendengar jawaban itu, wajah Kaisar Thiang Tok yang semula tenang dan penuh kegenitan, berubah menjadi merah. Darah panas bergolak menjalar ke se- kujur tubuhnya. Sedangkan dua panglimanya yang se- jak tadi membendung amarah, tampak mencabut pe- dang masing-masing.

Andai saja saat itu Bong Mini melakukan sedikit ge- rakan mata atau tubuh yang keliru, pedang mereka pasti menyerbu ke arahnya seperti udara menyerbu ruang hampa. Namun karena Bong Mini tetap berdiri kokoh dengan mata yang tetap waspada, dua panglima itu tetap berdiri tenang untuk menunggu perintah kai- sarnya.

“Kalian berdua sudah memegang senjata, bergerak- lah! Jangan hanya menunggu perintah seperti budak!”

Kata-kata yang dilontarkan Bong Mini seperti mi- nyak tertuang dalam nyala api, membuat kemarahan dua lelaki itu meletup tak terkendali lagi. Tanpa meng- hiraukan kaisarnya, keduanya bergerak menyerang gadis yang berdiri angkuh di depan mereka.

Wut wut!

Dua pedang terayun ke tubuh Bong Mini dengan dahsyat. Bong Mini yang sejak tadi sudah siap meng- hadapi serangan cepat melompat satu tindak ke bela- kang. Dilanjutkan lompatan ke depan, melewati kepala dua penyerangnya.

Sing sing sing!

Sinar merah berbentuk bunga teratai tampak berki- lauan menerangi ruang bawah tanah ketika Bong Mini mengeluarkan pedang yang tersandang di punggung- nya. Ruang bawah tanah yang hanya diterangi oleh api obor di sudut-sudut dinding, dalam sekejap diterangi warna merah.

Kaisar Thiang Tok dan kedua panglimanya terce- ngang menyaksikan pedang di genggaman Bong Mini. Baru kali ini mereka melihat pedang yang selalu me- mancarkan sinar merah berbentuk bunga teratai itu. Membuat mereka menafsirkan pedang itu menyimpan satu kekuatan yang luar biasa.

“Hiyaaat!”

Bong Mini melabrak dua lawannya yang masih ter- tegun.

Crokkk!

Leher Cong A Thit terbabat pedangnya sampai lepas dari badan. Kepalanya menggelinding ke arah Kaisar Manchuria itu dan terhenti tepat di dekat jari kakinya. Sedangkan darah yang menyembur lewat leher yang terbabat itu tampak membasahi lantai hingga berubah merah.

“Hiyaaat!”

Teriakan mengerikan kembali terdengar. Bukan saja dari mulut Bong Mini, tetapi juga dari mulut Cong Siat Fong. Mereka bertarung penuh kemarahan yang me- muncak. Keduanya sudah seperti binatang buas yang hendak mencabik-cabik lawan masing-masing.

Singngng!

Pedang Bong Mini mendesing kian kemari di udara, menyambar tubuh lawannya. Crok crok crok!

Dengan ganas Bong Mini membabat habis tubuh Cong Siat Fong. Darah dan otaknya berpercikan saat senjata Bong Mini mendarat di kepala lawan. Sedang- kan jari-jemari tangannya beterbangan di udara terke- na sabetan pedang Bong Mini.

Kaisar Thiang Tok dan empat pengawal yang meng- antarkan rombongan Bong Mini tadi tampak berdiri te- gang dengan wajah memucat menyaksikan penyembe- lihan brutal itu. Begitu pula dengan Bongkap dan para pendekar di pihak Bong Mini. Mereka heran Bong Mini dapat berbuat sesadis itu. Berbeda dengan pertarun- gan-pertarungan sebelumnya.

Sebenarnya perlakuan kejam Bong Mini terhadap Panglima Cong Siat Fong tadi di luar kehendaknya. Dia sendiri berusaha ingin mengendalikan kekuatan gaib dalam pedang yang digenggamnya itu. Tapi entah ke- napa, tenaga gaib yang biasanya mampu dikendalikan, kini tidak bisa ditaklukkan! Tenaga Bong Mini kalah kuat dengan kekuatan gaib pedang itu. Mau tak mau Bong Mini harus mengikuti gerakan pedangnya.

Sampai akhirnya Bong Mini tidak sanggup lagi me- ngendalikan kekuatan Pedang Teratai Merah. Dile- paskannya gagang pedang itu. Ketika terlepas dari genggaman Bong Mini, Pedang Teratai Merah langsung meluncur deras ke arah Kaisar Thiang Tok.

Kaisar Thiang Tok membelalak ngeri melihat pedang itu melayang ke arahnya. Belum sempat ia berpikir un- tuk melakukan sesuatu, pedang Bong Mini itu telah mendarat ke tubuhnya.

Creb! “Aaakh!”

Kaisar Thiang Tok memekik tertahan saat ujung Pe- dang Teratai Merah menembus perutnya hingga ke punggung. Tubuhnya terhuyung sebentar, lalu roboh. Dia tewas detik itu juga.

Seperti memiliki kehendak sendiri, pedang Bong Mini bergerak mencabut diri ketika Kaisar Thiang Tok roboh berlumuran darah. Kemudian pedang yang ma- sih mengucurkan darah lawan itu bergerak mendekati Bong Mini dan masuk ke sarungnya.

Walaupun para pendekar telah mengetahui kesak- tian pedang Bong Mini, sebagian dari mereka sempat tercengang pula menyaksikan peristiwa tadi.

Setelah Kaisar Thiang Tok dan pengikutnya mati, Bong Mini berlari memburu papanya. Dilepasnya tali yang mengikat Bongkap, lalu segera dipeluknya erat- erat. Saat itu air mata kebahagiaan meleleh lewat ce- lah-celah bulu matanya.

Bongkap membalas pelukan putrinya tanpa gairah. Tenaganya masih tetap lemah akibat siksaan Panglima Perang Kaisar Thiang Tok, walaupun sejak tadi telah terbebas dari pengaruh totokan yang bertahan bebe- rapa jam itu.

“Putri Bong Mini!” panggil Yin Yin memecahkan ke- heningan.

Bong Mini melepas  pelukan papanya dan menoleh ke arah Yin Yin dengan mata yang masih berair.

“Kalau pedang yang kau miliki itu memiliki kekua- tan gaib yang luar biasa, kenapa tidak sejak dulu saja kau perintahkan pedang itu untuk membasmi Kaisar Thiang Tok dan pengikutnya?” lanjut Yin Yin.

Bong Mini tersenyum. Ia maklum terhadap perta- nyaan sahabat lamanya itu.

“Apa yang kau katakan memang benar,” kata Bong Mini. “Tapi kita sendiri tidak bisa sembarang perintah. Karena Pedang Teratai Merah hanya dapat bergerak dan melakukan pertempuran sendiri bila aku dalam keadaan terdesak!” lanjut Bong Mini.

Yin Yin  dan  para  pendekar  mengangguk-angguk mengerti.

Baru beberapa saat Bong Mini menghentikan uca- pan, entah dari mana datangnya, tiba-tiba seorang wa- nita bergaun putih panjang berdiri di dekat pintu. Wa- jahnya cantik dengan tubuh tinggi semampai. Sedang- kan bibirnya yang merah merekah tampak tersenyum pada Bong Mini sambil melangkah mendekati.

“Putri Teratai Merah!” desis Bong Mini dengan mata membelalak. Begitu pula dengan yang lain. Mereka ter- belalak karena baru kali ini melihat seorang wanita yang demikian cantik mempesona. Dan  kecantikan serta daya pesonanya tidak membuat birahi lelaki te- rangsang, tetapi justru membuat mereka hormat dan tidak mempunyai keberanian untuk menggoda. Tidak seperti kecantikan yang dimiliki wanita lain.

“Aku datang ke sini hendak mengucapkan selamat karena kau telah berhasil memperjuangkan kemerde- kaan rakyat!” ucap Putri Teratai Merah seraya meng- ulurkan tangannya.

Mendapat uluran tangan itu, Bong Mini tidak me- nyambutnya dengan jabatan tangan. Dia malah mera- patkan tubuhnya erat-erat di pelukan Putri Teratai Me- rah, seolah tidak ingin berpisah. Sementara butiran air mata kembali membasahi kedua pipinya.

Putri Teratai Merah membalas pelukan Bong Mini dengan penuh kasih sayang.

Hening.

Bongkap,  Baladewa,  Prabu  Jalatunda,   Ningrum, dan para pendekar hanya dapat termangu-mangu me- nyaksikan adegan yang mengharukan itu.

“Aku tidak lama, sayang!” ucap Putri Teratai Merah seraya mengusap-usap rambut Bong Mini. “Aku datang ke sini karena ada sesuatu yang hendak kusampaikan padamu!” lanjutnya.

Bong Mini merenggangkan pelukan. Ditatapnya Pu- tri Teratai Merah dengan kepala menengadah.

“Berita apa yang hendak kau sampaikan itu?” ucap Bong Mini sendu.

“Aku menyampaikan kepadamu kalau Pedang Te- ratai Merah sudah waktunya kembali ke tempat asal- nya!” kata Putri Teratai Merah.

Bong Mini tertegun. Hatinya merasa berat untuk melepaskan pedang sakti yang selama ini telah banyak membantu perjuangannya.

Putri Teratai Merah tersenyum. Dia dapat menduga apa yang sedang menggayuti hati dan pikiran  Bong Mini saat itu.

“Jangan khawatir! Pedang itu akan tetap menjadi milikmu. Kapan saja kau rindu atau  membutuhkan- nya, Pedang Teratai Merah akan datang menemuimu tanpa kau minta!” ucap Putri Teratai Merah lembut, menenangkan perasaan Bong Mini.

“Baiklah kalau begitu,” kata Bong Mini yang mulai menyadari kalau tugas Pedang Teratai Merah untuk membantu perjuangannya sebenarnya sudah selesai. Kemudian diserahkannya pedang tersebut pada Putri Teratai Merah.

Sungguh menakjubkan, ketika berada di tangan Pu- tri Teratai Merah, pedang sakti itu berubah bentuk menjadi dua tangkai kembang Teratai Merah. Hal itu tentu saja sangat mengejutkan para pendekar yang menyaksikannya itu.

“Nah, sekarang aku akan kembali ke istanaku!” pa- mit Putri Teratai Merah seraya mengecup kening Bong Mini. Setelah itu, ia pun melangkah pergi tanpa meng- hiraukan orang-orang di sekitarnya.

“Siapa dia?” sebuah pertanyaan pendek terlontar dari para pendekar secara bersamaan.

“Dialah Putri Teratai Merah, pemilik pedang yang selama ini kupergunakan!” sahut Bong Mini menje- laskan.

Para pendekar mengangguk-angguk.

“Di mana dia tinggal?” tanya Ningrum ingin tahu. “Dia tinggal di Istana Putri, di alam gaib. Tapi dia

pernah hidup ratusan tahun silam!” jelas Bong Mini lagi.

Para pendekar kembali mengangguk-angguk. Lalu mereka pun meninggalkan ruang bawah tanah itu. Termasuk empat pengawal Kaisar Thiang Tok yang su- dah bergabung dengan rombongan Bong Mini.

***

9

Keindahan melengkapi malam itu. Bulan tanggal empat belas bergayut penuh di kebeningan cakrawala. Tak setitik awan pun menodainya. Sinarnya menyapu lembut ke wajah sendu sang bumi.

Dalam keindahan malam itu, semua rakyat, tua- muda, lelaki, dan perempuan berbondong-bondong menuju istana Kerajaan Manchuria. Wajah mereka me- mancarkan sinar kegembiraan yang teramat sangat, karena selama hidup di negeri Manchuria, baru malam ini mereka dapat menginjakkan kaki di istana.

Kedatangan mereka ke istana kaisar tidak lain un- tuk memenuhi undangan Bongkap untuk mengadakan pesta kemenangannya terhadap kekuasaan Kaisar Thiang Tok.

Selain mengadakan pesta kemenangan, malam itu Bongkap juga mengadakan pesta pernikahan tiga pa- sang pemuda-pemudi. Baladewa dengan Putri Bong Mini, Ashiong  dengan  Ratih  Purbasari,  sedangkan Sang Piao berpasangan dengan Thong Mey. Dan seka- rang, tiga pasang pengantin itu tengah berdiri gembira menyambut ucapan selamat. Bukan saja dari rakyat kalangan atas dan menengah, tetapi juga dari rakyat golongan bawah. Malah Bongkap sengaja mengundang rakyat miskin lebih banyak lagi. Maksudnya tidak lain agar mereka yang selama ini hidup menderita, dapat juga merasakan kesenangan dan kebahagiaan, walau hanya satu hari. Dan bagi mereka yang tidak memiliki pakaian bagus, Bongkap memberikan pakaian para prajurit kaisar yang telah tewas untuk mereka kena- kan di malam pesta yang meriah itu. Kaum papa yang sehari-harinya hanya mengenakan pakaian butut, kini terlihat lebih gagah dan perlente.

“Saudara-saudara sekalian!” Bongkap membuka ucapan setelah berakhirnya acara ucapan selamat ke- pada ketiga mempelai. “Malam ini merupakan awal ke- bahagiaan bagi kita semua. Karena kita  telah  bebas dari belenggu kebiadaban Kaisar Thiang Tok dan peng- ikutnya. Oleh karena itu, pada malam yang berbahagia ini pula, aku yang pernah menjabat sebagai panglima perang di negeri ini akan mengadakan pemilihan kai- sar baru sebagai pemimpin kalian. Dalam hal ini, pe- milihan kaisar kuserahkan kepada kalian. Silahkan kalian pilih orang yang cocok untuk diangkat sebagai kaisar negeri Manchuria yang baru!” lanjut Bongkap di hadapan ribuan rakyat negeri Manchuria yang ber- kumpul di halaman istana.

Rakyat yang hadir di tempat itu tampak bercakap satu dengan yang lainnya. Percakapan mereka terde- ngar bergemuruh, tak jelas apa yang diucapkan. Yang pasti, mereka memperbincangkan masalah pengangka- tan kaisar baru.

Dalam gemuruh itu, Yin Yin yang berdiri mendam- pingi Bongkap mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat agar rakyat bersikap tenang. Kemudian setelah suasana reda kembali, Yin Yin berkata kepada mereka, “Bagaimana kalau aku menjadi wakil kalian untuk me- nunjuk kaisar kita yang baru?”

“Setujuuu...!”

Gemuruh sambutan terdengar dari kerumunan rak- yat.

“Bagaimana kalau aku memilih Bong Khian Fu se- bagai kaisar baru kita?” tanya Yin Yin lagi.

“Setujuuu...!”

Suara yang penuh persatuan itu kembali memecah keheningan malam.

Yin Yin tersenyum sambil menoleh pada Bongkap. “Bagaimana, Susiok?”

Bongkap tidak segera menyahut. Kecuali meman- dang Yin Yin sekilas. Kemudian beralih memandang kerumunan rakyat.

“Apakah kalian tidak menyesal memilihku sebagai kaisar negeri ini?” tanya Bongkap.

“Tidak!” Rakyat menjawab serempak.

“Kalau memang demikian, baiklah. Dan malam ini aku berjanji di hadapan kalian, akan kulaksanakan jabatan baru ini sebaik mungkin, sesuai dengan hara- pan kalian!” ucap Bongkap, menetapkan ikrar.

“Hidup Bong Khian Fu!” “Hidup kaisar kita yang baru!”

Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut rakyat bersama luapan kegembiraan.

Bongkap diam-diam terharu, air matanya menitik melihat dukungan rakyat yang demikian tulus kepa- danya.

“Susiok. Kenapa Susiok menangis?” tanya Yin Yin ketika sempat melihat butiran air mata mengalir di ke- dua pipi Bongkap yang sudah mengendur.

“Aku terharu dengan pernyataan rakyat yang demi- kian tulus!” sahut Bongkap dengan suara bergetar. “Sudah sepatutnya Susiok menerima jabatan kai- sar!” kata Yin Yin seraya tersenyum.

Bongkap memandang Yin Yin dengan mata berkaca- kaca. Kemudian tangan kanannya mendekap gadis itu erat-erat.

“Terima kasih atas kepercayaanmu, Yin Yin!”

Mendengar ucapan itu, Yin Yin ikut terharu. Ia pun menitikkan air mata, air mata kebahagiaan.

Setelah acara pemilihan kaisar yang baru usai, Bongkap dan Yin Yin masuk ke dalam istana, di mana tiga pasang pengantin dan para pendekar berada. Se- dangkan rakyat yang tadi berkerumun, kini berpesta sambil menikmati hidangan dan nyanyian yang diku- mandangkan wanita-wanita cantik bersuara merdu. Membuat suasana malam itu benar-benar meriah.

***

Sebulan sudah Bongkap menjadi kaisar. Dan  sela- ma sebulan itu, Bongkap melakukan perombakan-pe- rombakan undang-undang yang selama ini diberlaku- kan oleh Kaisar Thiang Tok. Kalau  zaman  Kaisar Thiang Tok rakyat dipungut upeti dengan jumlah yang sangat besar dan mencekik leher, kini pungutan upeti itu diringankan, sesuai dengan penghasilan rakyat da- lam setiap panen. Sedangkan sawah dan ladang yang dulu milik Kaisar Thiang Tok, kini telah dikembalikan kepada rakyat yang semula memilikinya.

Untuk jabatan panglima, Bongkap memilih  Sang Piao, Ashiong, dan Kao Cin Liong, Ketua Pendekar Ma- ta Dewa yang selamat ketika bertempur melawan pa- sukan Kaisar Thiang Tok. Sedangkan para prajuritnya diambil dari rakyatnya sendiri. Para pemuda yang se- mula menganggur, kini telah mendapat pekerjaan yang sangat baik.

Suatu hari, ketika Bongkap, Prabu Jalatunda, Ning- rum, Baladewa, Bong Mini, dan Yin Yin tengah ber- kumpul di ruang pertemuan, Prabu Jalatunda me- nyampaikan maksudnya kepada Bongkap.

“Bongkap!” ucap Prabu Jalatunda sambil menatap wajah sahabatnya yang duduk di seberang meja. “Su- dah saatnya aku kembali ke Selat Malaka!”

Bongkap tercekat. Ia baru sadar kalau Prabu Jala- tunda mempunyai tanggung jawab di negerinya. Me- nanggapi ucapan Prabu Jalatunda, Bongkap hanya da- pat mendesah tanpa mampu menahan. Walaupun ia sangat mengharapkan sahabat yang sudah menjadi mertua putrinya itu tetap tinggal di istananya.

“Sebagai sahabat yang sudah menjadi satu  kelu- arga, aku berkeinginan kau tetap tinggal di sini. Na- mun karena aku mengerti akan tanggung jawabmu di negeri Selat Malaka, aku pun tidak dapat menahan keinginanmu!” tutur Bongkap datar.

“Terima kasih atas pengertianmu, Bongkap!” ucap Prabu Jalatunda.

“Kau sendiri bagaimana, putriku?” Bongkap meng- alihkan pertanyaan kepada Bong Mini yang duduk di sebelah kanannya.

Mendapat pertanyaan itu, mendadak Bong Mini me- nutupkan wajah dengan kedua telapak tangannya. Se- dangkan bahunya terguncang-guncang karena mena- han isak tangis.

Bongkap,  Prabu  Jalatunda,  Ningrum,   Baladewa, dan Yin Yin tampak bingung melihat Bong Mini men- dadak menangis.

“Mengapa kau tiba-tiba menangis, Sayang?” lembut Bongkap bertanya sambil mengusap kepala Bong Mini. “Papa!” desah  Bong  Mini. Disapunya air mata, ke- mudian ia memandang wajah Bongkap dengan wajah sendu. “Sebenarnya aku sangat mencintai dan menya- yangi Papa. Aku ingin selalu berdekatan dengan Papa selama-lamanya. Tapi...,” Bong Mini tidak melanjutkan ucapan karena terpenggal tangis kembali.

“Papa mengerti. Papa mengerti!” ucap Bongkap, me- mahami maksud putrinya. “Maksudmu kau sekarang sudah menjadi milik Baladewa?”

Bong Mini mengangguk.

“Dan suamimu mengajak tinggal di negeri Selat Ma- laka?”

Bong Mini kembali mengangguk.

Bongkap menghela napas dengan sebaris senyum kecil.

“Sebenarnya papa pun sangat berat berpisah de- nganmu. Tapi apa boleh buat. Perpisahan merupakan takdir yang telah digariskan Tuhan, saat kau sudah berumah tangga. Dan tanggung jawab papa pun se- karang sudah beralih pada suamimu, Baladewa!” ucap Bongkap, bijak.

Bong Mini menghentikan tangisnya. Dia mencoba mencerna ucapan papanya.

“Tapi walau kita berpisah, ikatan batin, cinta, dan kasih sayang antara orangtua dan anak tetap ada. Be- gitu pula sebaliknya. Karena hal itu yang  membuat ki- ta selalu merasa dekat, walau terpisah oleh bentangan samudera,” lanjut Bongkap. “Kau mengerti, Sayang?”

“Aku mengerti, Papa!” sahut Bong Mini. Kepalanya mengangguk lamat.

Bongkap tersenyum seraya membenamkan kepala Bong Mini dalam pelukannya.

***

Prabu Jalatunda, Ningrum, Baladewa, dan Bong Mini telah kembali ke negeri Selat Malaka. Di sana me- reka menjabat sebagai pemimpin negeri. Dan atas usul Bong Mini, Baladewa mendirikan istana di bekas ru- mah Bong Mini yang sudah menjadi reruntuhan. Bala- dewa dan Bong Mini membangun istana di atas rerun- tuhan rumah Bongkap dengan pertimbangan agar ma- kam Sinyin, mama Bong Mini, yang terletak di samping istana bisa terawat dengan baik. Sedangkan Bongkap, Sang Piao, Ashiong, Yin Yin, dan Kao Cin Liong menja- lani kehidupan di negeri Manchuria.

Tiga bulan setelah Bongkap dan Bong Mini berpi- sah, Bongkap dan Yin Yin menikah. Kesediaan Yin Yin menjadi istri Bongkap bukan karena tahta atau harta yang dimiliki Bongkap, tetapi karena Bongkap seorang lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Bukan saja terhadap Yin Yin, tetapi juga kepada seluruh rakyat yang dipimpinnya. Sehingga rakyat negeri Manchuria yang dulu dihujani penderitaan demi penderitaan, kini telah menjadi negeri yang makmur, penuh sandang pangan.

Dengan dinobatkannya Bongkap sebagai kaisar di negeri Manchuria dan Bong Mini di negeri Selat Ma- laka, banyak orang Manchuria berkunjung ke negeri Selat Malaka. Mereka bukan saja melancong untuk menikmati keindahan pantainya, tetapi juga sebagai imigran yang menetap di Selat Malaka. Dan kedua ne- geri itu menjadi negeri yang tak bisa dipisahkan.

SELESAI