Putri Borong Mini Eps 02 : Hilangnya Seorang Pendekar

Eps 02 : Hilangnya Seorang Pendekar

1

Waktu terus merayapi malam. Lampu-lampu obor yang dipasang di setiap sudut ruangan sebuah kedai tampak bergoyang-goyang, tertiup oleh semilir angin malam yang masuk ke ruangan rumah makan itu.

Di warung makan yang cukup luas itu, tampak em- pat lelaki duduk di ruang tengah sambil menikmati hi- dangan yang disediakan oleh pemilik warung. Cara makan mereka tampak begitu sopan. Tidak buru-buru dan tanpa cakap. Kalaupun terjadi percakapan hanya sesekali saja. Itu pun bila benar-benar perlu.

Keempat lelaki itu tampaknya orang-orang Melayu asli. Selain matanya yang tidak sipit, pakaian yang di- kenakan juga menunjukkan kalau mereka orang-orang pribumi.

Di sudut ruangan yang agak remang, duduk  seo- rang perempuan bermata sipit berambut panjang dike- pang dua ke belakang. Sedangkan pada bagian mu- kanya dipotong poni sampai sebatas alis mata.

Perempuan bermata sipit dengan alis mata seperti bentuk pedang itu bertubuh kecil. Namun demikian, dari gurat-gurat wajahnya tampak  kalau  perempuan itu sudah beranjak remaja. Dialah Bong Mini, si gadis mungil dari Tiongkok yang berkelana di kawasan Pulau Bangka.

Mata Bong Mini terus memperhatikan empat lelaki yang ada di depannya. Wajahnya sedikit agak kagum. Karena selama ini ia baru melihat orang yang begitu sopan.

“Kita terpaksa harus mencari penginapan sampai kita dapatkan orang yang kita cari,” kata seorang dari keempat lelaki itu. “Ya, apa boleh buat. Kita belum diperbolehkan pu- lang sebelum mendapatkan orang-orang yang diingin- kan juragan kita,” sahut seorang temannya yang  du- duk menghadap ke arah Bong Mini.

Hm..., jadi mereka sedang mencari orang, gumam Bong Mini dalam hati, yang mendengar percakapan itu dengan jelas. Lalu siapa orang-orang yang mereka ca- ri?

Sebelum Bong Mini mendengar percakapan mereka lebih jauh lagi, tiba-tiba muncul orang-orang berwajah beringas dan kasar. Mereka datang berempat dan du- duk di salah satu meja.

Melihat kedatangan mereka, suami istri pemilik wa- rung yang telah dikenal oleh Bong Mini tampak keta- kutan.

“Sediakan kopi, cepat!” bentak  salah  satu  dari keempat orang itu. Empat orang itu pun  telah  dikenal oleh Bong Mini. Mereka adalah anak  buah  Yang  Seng yang pernah mengeroyoknya beberapa waktu  lalu  keti- ka ia dan papanya hendak pulang.

Mendapat bentakan tadi, istri pemilik warung sege- ra membuatkan empat gelas kopi dan menyuruh anak gadisnya untuk mengantarkan. Tapi gadis itu menolak. Baru ketika dipaksa oleh papanya, gadis itu mengan- tarkan kopi dan meletakkannya di atas meja keempat lelaki yang tergabung dalam Partai Persatuan Ular Hi- tam.

Ketika gadis itu hendak kembali ke tempat semula, tiba-tiba seorang dari mereka segera menarik ta- ngannya dengan kasar.

“Jangan, Bang. Jangan ganggu saya,”  pinta  gadis itu meronta-ronta.

“Alaaa, temani kami ngobrol di sini sebentar,” kata lelaki yang menarik tangan gadis itu sambil berusaha memeluk bahu sang gadis yang tidak tertutup baju. Karena kain yang dikenakannya hanya menutupi tu- buh sampai sebatas dada.

“Jangan, Bang. Saya tidak mau!” kata gadis itu lagi sambil terus meronta-ronta minta dilepaskan.

“Sebentar, sebentar saja,” ujar lelaki itu lagi dengan tetap berusaha memeluk dan menciumnya. Disaksikan oleh ketiga temannya yang hanya tertawa tergelak- gelak.

Melihat anak gadisnya dipeluk-peluk secara paksa, suami istri pemilik warung itu hanya melihat dengan wajah cemas. Mereka tidak berani menentang. Karena mereka tahu, siapa keempat lelaki yang tengah meng- ganggu anak gadisnya.

Di saat keempat lelaki itu tengah berusaha mengge- rayangi tubuh calon korbannya, tiba-tiba terdengar suara benda yang jatuh di meja mereka.

Prak!

Keempat lelaki yang sedang dilanda gejolak nafsu, serentak menghentikan aksi mereka, lalu menoleh ke arah orang yang melakukan itu. Ternyata Bong Mini sudah berdiri tegak di belakang mereka.

“Lagi-lagi kau!” dengus seorang di antara mereka yang sudah mengenal Bong Mini.

“Heh, ada perempuan cantik dari seberang yang minta disentuh,” seloroh lelaki yang belum mengenal siapa sebenarnya Bong Mini. Sebab tiga dari keempat orang itu belum pernah ikut bertempur melawan Sepa- sang Pendekar dari Selatan yang terjadi beberapa wak- tu lalu.

Lelaki itu berdiri terkekeh-kekeh di belakang Bong Mini sambil berusaha memeluk pinggangnya. Namun sebelum niatnya terlaksana, Bong Mini telah meng- hadiahkan pukulan siku tangan ke dadanya, sehingga ia terpental ke sudut ruangan. Diiringi dengan sembu- ran darah dari mulutnya.

Lelaki yang terkena siku tangan Bong Mini menjadi berang. Ia tidak mengira kalau gadis mungil itu mam- pu menjatuhkannya dengan pukulan yang demikian keras.

“Perempuan sialan!” dengus lelaki yang mengelua- rkan darah dari mulutnya itu sambil berusaha bangkit untuk menyerang Bong Mini. Namun sebelum sera- ngannya dilakukan, tubuh Bong Mini telah lebih dulu meloncat ke luar dan berdiri tegak di halaman warung itu.

Lelaki tadi menyusul Bong Mini ke luar dari kedai dengan rasa penasaran yang membludak di dadanya. Sesampainya di halaman kedai, ia langsung melabrak Bong Mini.

“Hiaaat! Hih!”

Teriak lelaki itu diiringi saat tubuhnya meluruk un- tuk menyerang Bong Mini dengan jurus silatnya. Teta- pi dengan tenang, Bong Mini mengelakkan badannya sedikit ke samping, disusul dengan pukulan siku tan- gannya yang tepat mengenai punggung lawan. Sehing- ga lelaki itu terhuyung lalu jatuh mencium batu besar di hadapannya. Seketika itu juga darah meleleh dari hidung dan mulutnya.

Melihat lelaki itu jatuh dan tak mampu bangun lagi, ketiga temannya segera menyerang Bong Mini dengan pekikan-pekikan yang amat keras.

“Hiaaat!”

Tubuh Bong Mini melenting ringan dengan mem- buat putaran dua kali di udara. Lalu turun dengan ge- rakan menendang ke arah dua lawan.

Bug! Bug!

Tendangan Bong Mini yang cukup keras mengenai rahang dan dada kedua lawan yang berada di sisi kiri dan kanannya.

Tubuh kedua lawan yang terkena tendangan dah- syat Bong Mini langsung terpental ke belakang. Mulut mereka mengeluarkan darah segar.

“Hm...! Kau mau coba seperti mereka!” bentak Bong Mini pada seorang lawannya yang masih berdiri tegak, melihat nasib ketiga temannya yang terjatuh di tanah sambil mengerang-ngerang menahan sakit.

Lelaki yang sudah mengetahui kemampuan ilmu be- la diri Bong Mini menjadi geram. Dikeluarkan goloknya yang sejak tadi terselip di pinggang.

Srettt!

Lelaki itu langsung menerjang Bong Mini dengan go- lok terhunus. Tapi dengan ringan Bong Mini menun- dukkan badan seraya kakinya mengait kaki lawan.

Bug!

Lawannya tersungkur ke tanah dengan wajah ter- bentur goloknya sendiri. Membuat wajahnya berlumu- ran darah seketika itu juga.

Bong Mini tersenyum penuh kemenangan melihat keempat lawannya sibuk mengerang kesakitan. Lalu ia menghampiri seorang dari mereka.

“Ampun, Nona..., kami janganlah dibunuh!” mohon lawan yang dihampirinya itu. Dikiranya Bong Mini hendak membunuhnya.

Bong Mini tersenyum mencibir pada lelaki yang ke- takutan itu.

“Aku pantang membunuh orang yang sudah tidak berdaya seperti kau!” bentak Bong Mini. “Aku hanya ingin menanyakan asal-usul perguruanmu dan siapa pemimpinmu!” lanjutnya sambil menekan telapak kaki kanannya di dada lawan yang telentang tak berdaya, akibat pukulan keras Bong Mini. “Aku..., aku berasal dari Partai Persatuan Ular Hi- tam,” jawab lelaki itu tergagap-gagap.

“Ular Hitam,” gumam Bong Mini. Baru kali ini ia mendengar perguruan itu. “Lalu siapa pemimpinmu?”

“Yang Seng. Dari negeri Tiongkok!”

“Hm..., terima kasih. Sampaikan salamku padanya!” ucap Bong Mini. Kemudian ia melangkah menuju wa- rung nasi kembali.

Pasangan suami istri pemilik warung dan anak ga- disnya yang sejak tadi menyaksikan pertempuran itu segera menyambut Bong Mini dengan hormat.

“Terima kasih atas pertolongan Nona,” ucap suami istri itu bersamaan.

Bong Mini hanya tersenyum membalas ucapan me- reka. Lalu ia duduk di kursi di dekat pintu luar.

Keempat lelaki sopan yang menyaksikan pertempu- ran Bong Mini duduk terkagum-kagum di tempatnya. Namun mereka belum berani mendekat. Mereka hanya memandang Bong Mini dalam jarak yang agak jauh.

“Ada sedikit yang ingin saya tanyakan kepada Ba- pak dan Ibu,” ucap Bong Mini kepada suami istri itu.

“Tentang apa, Non?” tanya sang suami.

“Tentang orang-orang itu,” sahut Bong Mini. “Apa benar mereka dari Partai Persatuan Ular Hitam?”

“Benar, Non,” sahut lelaki pemilik warung itu. “Pemimpinnya bernama Yang Seng?” tanya Bong

Mini lagi.

“Benar,” sahutnya kembali pendek. Bong Mini mengangguk-angguk.

“Memangnya kenapa, Non?” suami pemilik warung itu balik bertanya.

Bong Mini menghela napas. Lalu memandang lelaki pemilik warung dengan tatapan mata sungguh- sungguh. “Bapak bisa ceritakan sedikit mengenai sepak- terjang mereka di desa ini?” tanya Bong Mini.

Lelaki pemilik warung terdiam beberapa saat. Lalu matanya memandang ke arah istrinya.

“Mereka orang-orang liar, Non,” sahut istri pemilik warung, membantu suaminya memberikan jawaban.

“Maksud Ibu?” tanya Bong Mini kurang mengerti. “Mereka merupakan orang-orang yang suka meme-

ras rakyat. Memaksa penduduk untuk meminjam uang kepada pemimpinnya dengan bunga yang berlipat. Dan bila tidak bisa membayar sesuai dengan waktu yang ditentukan, mereka akan menyita setiap barang yang ada,” jelas istri pemilik warung.

Bong Mini mengangguk-angguk. Tentang cerita itu sudah ia dengar dari seorang perempuan tua yang cu- cunya menangis beberapa waktu lalu. (Bacalah serial Bong Mini dalam episode: ‘Sepasang Pendekar dari Se- latan’ ).

“Tapi kalau ada anak gadisnya, mereka lebih suka membawa anak gadis itu sebagai alat bayar hutang untuk dipersembahkan kepada pemimpinnya, Yang Seng,” lanjut istri pemilik warung.

Bong Mini kembali mengangguk-angguk. Hati kecil- nya mengutuk perbuatan mereka.

“Dan anak buahnya, Non,” lanjut perempuan itu dengan wajah serius. “Mereka selalu mengganggu anak-anak gadis yang terlihat oleh mereka. Malah ti- dak segan-segan melakukan pemerkosaan di hadapan orangtua gadis itu!”

“Biadab!” geram Bong Mini mendengar  cerita  ter- akhir itu.

“Mereka benar-benar biadab, Non!” istri pemilik wa- rung menambahkan.

Entah kenapa,  setelah  mendengar  cerita  terakhir dari pemilik warung, tiba-tiba ia teringat mamanya yang mati karena mempertahankan mahkotanya yang akan direnggut oleh panglima perang ketika ia masih berada di Tiongkok.

“Sudah berapa lama mereka mengadakan aksi di kampung ini, Bu?” tanya Bong Mini, ingin mengetahui lebih jauh.

“Sudah dua tahun, Non. Sejak Kho Sue Cheng dija- tuhkan oleh Yang Seng.”

“Kho Sue Cheng? Siapa dia?” tanya Bong Mini  se- raya mengerutkan kening.

“Dia dulu pemimpin kampung ini,” kali ini  suami- nya yang menjelaskan.

“Ooo...,”  ucap  Bong  Mini  mengangguk-angguk. “Dulu ketika masih dipimpin oleh Kho Sue Cheng,

kampung ini sangat tenteram. Dia juga sering membe- rikan pinjaman kepada rakyatnya, tapi tanpa bunga. Pembayarannya juga tidak ditentukan. Tergantung ka- pan si peminjam punya uang.”

“Lalu, bagaimana Kho Sue Cheng bisa dibunuh oleh Yang Seng?” tanya Bong Mini.

“Biasa, Non. Perebutan kekuasaan!” jawab lelaki itu dengan suara datar.

Bong Mini kembali mengangguk-anggukkan kepala- nya.

“Bapak tahu, di mana markas mereka?”

“Tahu, Non. Di sana, di sekitar Pantai Sungai Liat,” jawab pemilik warung itu memberitahukan.

Bong Mini kembali mengangguk lamat. Hatinya me- rasa lega telah mengetahui markas Partai Persatuan Ular Hitam. Besok atau lusa ia harus pergi ke sana un- tuk menyelamatkan kembali tiga dayangnya yang ber- hasil dibawa lari oleh mereka.

Setelah  mendapat   keterangan   yang   memuaskan, Bong Mini segera meninggalkan  warung itu.  Sebelum ia sampai di luar, keempat lelaki sopan yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka segera membu- runya.

Bong Mini membalikkan punggungnya dan menatap salah seorang dari keempat lelaki yang memburunya tadi.

“Ada apa?” tanya Bong Mini tegas. Sepasang ma- tanya menatap tajam ke arah lelaki itu.

“Maaf, Nona. Saya mengganggu!” ucap lelaki itu sambil tersenyum sopan.

“Katakan saja apa maksudmu!” kata Bong Mini te- gas, karena sejak kematian mamanya ia memang tidak simpati terhadap kaum lelaki.

“Sebenarnya kami datang dari jauh, dari Desa Pa- domorang,” ucap lelaki itu memperkenalkan asal-usul mereka.

Bodo amat. Memangnya aku pikirkan?! Kata Bong Mini, namun itu ia cetuskan dalam hatinya saja.

“Saya datang ke sini diutus oleh pemimpin kami, yaitu akan mencari beberapa orang yang pandai silat untuk mengawal pengambilan barang berupa intan berlian dari Tiongkok,” lanjut lelaki itu menjelaskan.

“Terus?” tanya Bong Mini masih bernada ketus. “Kami ingin minta bantuan, mungkin Nona tahu

orang-orang yang saya butuhkan itu,” jawabnya.

Bong Mini berpikir sejenak. Sedangkan ekor ma- tanya begitu tajam melirik keempat lelaki itu.

“Baiklah, kalian ikut saya!” ajak Bong Mini seraya melangkah ke luar, mendekati kuda putihnya.

Keempat lelaki itu mengikuti Bong Mini dengan wa- jah berseri-seri. Mereka berpikir akan  mendapatkan apa yang dicari selama seharian ini.

Tubuh Bong Mini meloncat ke punggung kudanya. Tidak lama kemudian, kuda yang  ditumpangi  Bong Mini melesat dengan kecepatan tinggi, menembus ke- gelapan malam. Diikuti oleh keempat lelaki tadi.

***

“Papa!” seru Bong Mini ketika sampai di muka pintu rumahnya.

Bongkap yang sejak tadi uring-uringan kepada para pengawalnya, langsung lompat dari duduknya dan me- meluk Bong Mini dengan erat.

“Dari mana saja kamu, Sayang? Papa sudah kangen seharian tidak melihatmu,” sambut Bongkap dengan suara yang bernada khawatir.

“Saya habis bertempur, Papa,” kata Bong Mini da- lam pelukan papanya.

“Heh?” Bongkap kaget. Tapi tak lama kemudian, dia tertawa sambil mengusap-usap kepala putrinya. “Tapi kamu tidak apa-apa, kan?”

“Siapa dulu dong, papanya!” ucap Bong Mini sete- ngah bercanda.

“Ha ha ha...!” Bongkap tertawa lepas. “Ini namanya anak papa!” Bongkap memuji sambil menepuk-nepuk kedua pipi putrinya.

“O, ya Pa...”

“Ada apa, Sayang?” tanya Bongkap segera. “Saya membawa teman lelaki, Papa!”

“Heh?” lagi-lagi Bongkap terkejut. Namun kemudian dia tersenyum sambil mendekatkan wajah ke telinga putrinya dan berbisik, “Kamu sudah pandai memilih lelaki, ya?”

“Idih, Papa!” muka Bong Mini merah mendengar ucapan papanya.

“Ha ha ha...!” Bongkap tertawa melihat putrinya be- rubah cemberut. “Mana laki-laki yang kamu bawa itu?” “Ada di luar, Papa!”

“Suruh masuk!” perintah papanya.

Bong Mini segera keluar. Dan tak lama kemudian ia telah kembali lagi bersama empat orang lelaki.

“O..., berempat,” ucap papanya dan Bong Mini cem- berut karena papanya masih meledek.

Sesaat Bongkap menyambut keempat lelaki itu de- ngan ramah namun tetap berwibawa sebagaimana seo- rang raja.

“Di mana kalian bertemu dengan putri saya?” tanya Bongkap dengan mata menatap keempat tamunya pe- nuh selidik.

“Di warung, Tuan,” sahut seorang dari mereka. Lalu ia menceritakan awal mulanya mereka bertemu dengan Bong Mini, sehingga bisa sampai ke rumah Bongkap bersama-sama.

Bongkap tersenyum kagum karena keempat  lelaki itu datang setelah melihat kehebatan ilmu silat putri- nya dalam pertempuran.

“Kalau boleh saya tahu, siapa nama kalian?” tanya Bongkap ingin tahu.

“Nama saya Pradata dan tiga kawan saya ini ber- nama Sengkawang, Sengkawung, dan Benggala,” sahut Pradata memperkenalkan namanya dan nama teman- nya masing-masing.

Bongkap mengangguk-angguk sambil memandang Sengkawang dan Sengkawung. Pikirnya, pasti kedua orang itu kembar. Bukan saja dari namanya, wajah kedua orang itu pun tampak begitu mirip.

“Asal kalian dari mana?” tanya Bongkap kemudian. “Kami berasal dari Desa Padomorang,” jawab Prada-

ta menyebutkan nama daerah asal mereka. “Di sana kami mengabdi pada seorang saudagar kaya yang ber- nama Prabu Jalatunda!” Bongkap mengangguk-angguk. Sedangkan kening- nya tampak berkerut, mencoba mengingat-ingat nama yang disebutkan Pradata tadi.

“Berapa lama perjalanan dari Desa Padomorang ke sini?” tanya Bongkap lagi.

“Satu hari, Tuanku!” jawab Pradata.

Bongkap mengangguk-angguk lagi. Sementara pan- dangan terus tertuju kepada keempat tamunya itu dengan tatapan mata yang tajam.

“Kedatangan kalian ke  sini  tentu  punya  maksud dan tujuan?”

“Benar, Tuanku,” sahut Pradata cepat. “Kami dipe- rintah oleh Tuanku Prabu Jalatunda untuk mencari beberapa orang ahli silat untuk mengawal kereta ba- rang!”

Bongkap tercekat. Matanya memandang empat pe- ngawalnya.

“Tadi saya pun sudah bicara dengan putri Tuan dan dia mengajak kami ke sini,” lanjut Pradata lagi.

Kini mata Bongkap beralih pada Bong Mini yang duduk di sebelahnya.

“Saya bawa mereka ke sini dengan harapan Papa dapat membantu mereka,” cetus Bong Mini.

“Mengawal kereta barang, maksudmu?” Bongkap tersinggung.

“Bukan itu, Papa,” kata Bong Mini cepat. “Lalu?”

“Mungkin Papa dapat mencarikan orang-orang yang mereka perlukan,” kata Bong Mini.

Bongkap mengangguk perlahan. Rasa tersinggung- nya mendadak hilang setelah mendengar penjelasan putrinya.

Beberapa saat suasana hening.

Bongkap terdiam karena  sedang  berpikir.  Sedang- kan keempat tamunya terdiam menunggu jawaban dengan harap-harap cemas.

“Apa di sana tidak ada jago-jago silat?” tanya Bong- kap kemudian.

“Beberapa hari yang lalu Prabu Jalatunda memerin- tah para jago silat dari sana untuk pengambilan ba- rang. Tapi ketika melewati daerah Bukit Garang, ru- panya mereka dihadang perampok. Karena saat kami melacak, para pengawal kereta barang itu sudah ter- kapar semuanya dengan tubuh bersimbah darah. Se- dangkan barang-barang yang ada dalam kereta itu le- nyap,” tutur Pradata menjelaskan.

Bongkap, Bong Mini, dan keempat pengawalnya ter- kejut mendengar penjelasan Pradata. Mereka merasa yakin bahwa kereta barang yang dimaksud Pradata adalah kereta yang mereka rampok beberapa hari lalu.

“Prabu Jalatunda sudah berusaha mencari peram- pok itu?” tanya Bongkap menutupi ketercengangan- nya.

“Tidak, Tuanku. Beliau seorang yang bijak. Dan ke- tika mendengar barang-barangnya dirampok, beliau hanya berkata; biarlah. Mudah-mudahan Yang Kuasa menggantinya dengan yang lebih baik lagi,” urai Prada- ta, menjelaskan sifat majikannya.

Mendengar penjelasan itu, bukan keterkejutan yang tampak dari wajah Bongkap. Justru rasa malu dan pe- rasaan sangat berdosa. Karena yang ia rampok ter- nyata seorang saudagar berhati bersih dan bijak. Be- naknya langsung membayangkan sosok Prabu Jala- tunda yang menurut perkiraannya pasti berwajah lem- but dan agung. Tercermin dari para utusannya yang begitu sopan duduk di hadapannya.

“Baiklah. Aku dan para pengawalku bersedia men- jadi pengawal kereta barang saudagarmu. Dan besok kita sama-sama berangkat menghadap Prabu Jalatun- da,” ucap Bongkap dengan sikap tenang.

Jawaban Bongkap rupanya sangat  mengejutkan Bong Mini dan para pengawalnya. Bagaimana mungkin seorang raja di kawasan mereka itu mau bekerja seba- gai pengawal? Sedangkan Pradata dan ketiga teman- nya, wajah mereka tampak berseri-seri mendengar ja- waban Bongkap yang menyenangkan itu.

“Terima kasih atas kesediaan Tuanku!” ucap Prada- ta dengan hati gembira.

“Nah sekarang, kau persiapkan orang-orang kita untuk pengawalan besok!” perintah Bongkap kepada Ashiong yang masih terheran-heran.

“Baik, Tuan!” sahut Ashiong. Lalu ia pun segera ke- luar ruangan. Diikuti oleh ketiga temannya.

“Sekarang kalian istirahat dulu. Besok pagi-pagi  ki- ta berangkat!” kata Bongkap lagi kepada keempat ta- munya.

“A Ing!” teriak Bongkap lagi,  memanggil  pengawal- nya.

“Siap, Tuan!” A Ing segera masuk ruangan. “Antar mereka ke kamar untuk beristirahat!”

“Baik, Tuan!” sahut pengawalnya. Lalu ia segera mengajak keempat tamu itu menuju kamar tempat is- tirahat mereka.

***

2

Prabu Jalatunda adalah saudagar kaya yang sangat disegani oleh masyarakat sekitar Desa  Padomorang. Hal itu bukan karena ia pandai dalam ilmu silat dan bukan pula karena harta kekayaannya yang  berlim- pah. Melainkan  karena  ia  selalu  saling  asah,  asuh, asih terhadap penduduk. Kekayaan yang dimiliki tidak membuatnya menjadi angkuh, tapi sebaliknya mem- buat ia rendah hati. Hidupnya diisi kebaikan dengan sesama dan memberi pada orang-orang yang hidupnya serba kekurangan. Karena sifat welas asih tersebut, masyarakat sekitar daerah itu segan terhadapnya.

Prabu Jalatunda mempunyai seorang istri yang can- tik bernama Ningrum. Dan ia pun tidak berbeda sifat dengan suaminya. Ia selalu banyak bergaul dengan masyarakat di sekitarnya sambil melihat-lihat keadaan mereka. Bila ada penduduk yang hidup dalam kepa- paan, Ningrum tidak sungkan-sungkan memberikan pertolongan. Dari pembawaannya tersebut, ia pun sa- ngat disenangi dan dikagumi penduduk Desa Padomo- rang.

Dari hasil perkawinan antara Prabu Jalatunda de- ngan Ningrum telah lahir seorang anak laki-laki tam- pan dan gagah bernama Baladewa, yang kini berusia sekitar enam belas tahun. Namun sejak usia sebelas tahun, Baladewa sudah tidak bersama mereka. Dia di- kirim ayahnya ke Bukit Gunung Muda untuk mempe- lajari ilmu-ilmu kesaktian. Dan sejak berada di  Gu- nung Muda, ia tak pernah datang ke rumahnya. Begitu pula dengan Prabu Jalatunda dan istrinya, sangat ja- rang menengok anaknya. Mereka hanya bertemu seta- hun sekali. Itu pun kalau pengiriman makanan untuk anaknya diperkirakan sudah habis.

Jarangnya mereka bertemu dengan buah hati yang disayanginya itu, bukan karena tidak ada rasa kangen. Melainkan karena saran dari guru silat Baladewa yang melarang agar jangan terlalu sering menengoki, sebab hal itu akan membuat si anak menjadi manja dan ti- dak konsentrasi terhadap pelajaran yang diberikan gu- runya karena selalu ingin dekat dengan kedua orang- tuanya.

“Ajari dia hidup prihatin sejak dini, agar kelak men- jadi manusia yang tangguh dan terbiasa dalam meng- hadapi liku-liku hidup!” kata Kanjeng Rahmat  Suci, guru Baladewa ketika menyampaikan larangannya ke- pada Prabu Jalatunda dan Ningrum saat menengok anaknya beberapa tahun yang lalu.

Prabu Jalatunda juga mempunyai  sepuluh  anak buah yang berkepandaian silat cukup dibanggakan. Empat diantaranya sedang diutus untuk mencari be- berapa pendekar tangguh untuk mengawal barang- barang berharga yang datang dari Tiongkok.

Sebenarnya bisa saja Prabu Jalatunda menyuruh para pendekar yang ada di desanya. Tapi hal itu tidak dilakukannya lagi setelah melihat kematian para pe- ngawal kereta barangnya yang begitu menyedihkan di tangan para perampok.

Malam itu, Prabu Jalatunda tengah berada di ka- marnya. Sesekali kedua matanya memandang istrinya yang juga terbaring di sampingnya dengan kedua mata yang menerawang kosong seperti ada sesuatu yang se- dang dipikirkan.

“Malam ini kamu  kelihatan  murung,  Rayi.  Ada apa?” tanya Prabu Jalatunda sambil membelai-belai rambut istrinya yang tidur dengan memiringkan ba- dan.

Ningrum membalikkan badannya dan menatap su- aminya dengan pandangan sendu.

“Sudah beberapa hari ini aku merasakan kerinduan yang sangat dalam, Kakang. Hatiku rindu pada Bala- dewa,” sahut Ningrum. Bola matanya berkaca-kaca se- perti ada telaga bening yang membasahinya. Prabu Jalatunda menghela napas. Matanya me- mandang langit-langit kamar. Sesungguhnya ia pun merasa rindu. Namun karena ia lelaki, kerinduan itu tidak ditampakkannya.

“Ingin sekali rasanya aku bertemu dengan anakku,” keluh Ningrum lagi seraya menelentangkan tubuhnya. Pada saat itu terlihat garis bening yang bergetar di se- pasang bola matanya. Kemudian bias bening itu bergu- lir perlahan-lahan di kedua pipinya. Lalu jatuh mene- tesi bantal di bawah kepalanya.

“Sebenarnya apa yang kau rasakan itu tidak jauh berbeda dengan apa yang kurasakan,” ucap Prabu Ja- latunda mengemukakan perasaannya.

“Kakang juga merindukannya?” tanya Ningrum dengan pandangan yang diselimuti air mata.

Prabu Jalatunda tersenyum.

“Orangtua mana yang tidak merindukan anak kan- dungnya sendiri, Rayi?” Prabu Jalatunda balik ber- tanya.

“Tapi tidak serindu perasaanku, kan?” sergah Ning- rum sendu.

Kembali Prabu Jalatunda tersenyum.

“Sebenarnya takaran kerinduan kita sama, Rayi. Namun cara membawa kerinduan itu yang berbeda. Kerinduan hatiku terhadap anak kita masih diimbangi dengan pikiranku. Sedang kau, sepenuhnya kerinduan itu tersimpan dalam perasaan hingga membuat kau begitu terpengaruh,” urai Prabu Jalatunda.

Ningrum diam saja mendengar kata-kata suaminya. Pikirannya, bagaimana pun  kasih sayang antara wani- ta dengan lelaki memang jauh berbeda.

“Anak kita itu pasti sudah tumbuh besar,  tampan dan perkasa!” desah Ningrum membayangkan keadaan anaknya. Wajahnya yang tadi murung berubah berseri seperti benar-benar melihat kedatangan anaknya, Ba- ladewa. “Kalau dia datang akan kusambut dengan pe- lukan dan ciuman yang bertubi-tubi. Oh..., Baladewa anakku!” tiba-tiba wajah Ningrum kembali muram.

Prabu Jalatunda terharu melihat sikap istrinya yang begitu mendambakan kehadiran buah hatinya. Tubuh istrinya didekapnya dengan hangat. Sedangkan bibir- nya mencium pipi istrinya yang masih segar dan lem- but.

“Rayi jangan terlalu memikirkannya. Nanti akan mengganggu kesehatan  Rayi,”  bisik  Prabu  Jalatunda ke telinga istrinya.

“Bagaimana aku bisa menghilangkan pikiran dan perasaan rindu ini kalau orang yang kurindukan itu anakku sendiri,” desah Ningrum dengan bibir bergetar menahan tangis yang sudah tiba di tenggorokannya. Sedangkan pipinya masih dibasahi air mata yang me- rambat dari celah-celah bulu matanya.

Prabu Jalatunda terus mendekap serta membelai- belai rambut istrinya. Sesekali  diusapnya  air  mata yang mengalir di pipi istri yang dicintainya itu.

Akhirnya sentuhan-sentuhan jari tangan Prabu Ja- latunda melenakan Ningrum. Dia tertidur dengan air mata di pipi.

***

Paginya, ketika Prabu Jalatunda tengah duduk di ruang tamu, tiba-tiba datang seorang penjaga pintu gerbang. Dia terduduk di hadapan Prabu Jalatunda sambil memberi hormat.

“Ada apa, penjaga?” tanya Prabu Jalatunda, semen- tara matanya menatap tajam pada orang yang bersim- puh di hadapannya.

“Hamba datang  membawa  kabar,  Tuanku!”  ucap penjaga pintu gerbang itu.

“Kabar apa?” tanya Prabu Jalatunda ingin tahu. “Keempat utusan Tuanku telah tiba. Mereka mem-

bawa orang-orang yang Tuanku butuhkan,” jawab pen- jaga pintu gerbang itu menjelaskan.

“Hm..., baik. Suruh mereka masuk dan bawa  ke ruang pertemuan!” perintah Prabu Jalatunda.

“Perintah Tuanku akan hamba laksanakan!” ucap penjaga pintu gerbang itu sambil membungkuk. Ke- mudian pergi meninggalkan Prabu Jalatunda.

“Ada apa, Kakang?” tanya Ningrum yang baru saja keluar dari kamar dengan mata sembab karena habis menangis semalam.

“Para pengawal kereta barang yang kita butuhkan telah datang,” jawab Prabu Jalatunda.

“Berapa banyak?” tanya Ningrum ingin tahu. “Entahlah. Aku baru ingin menemuinya. Kau mau

ikut, Rayi?”

“Tidak, Kakang. Bukankah itu urusan laki-laki?” jawab Ningrum yang memang tak pernah mau men- campuri urusan laki-laki, kecuali bila suaminya me- minta.

“Baiklah kalau begitu. Tapi tolong Rayi sediakan hi- dangan yang nikmat untuk mereka!” pinta Prabu Jala- tunda.

“Baik, Kakang!”

“Saya pergi dulu, Rayi!”

Ningrum mengangguk sambil melepaskan kepergian suaminya dengan tersenyum.

Ketika sampai di ruang pertemuan, semua utusan- nya berdiri hormat seraya memberi jalan buat Prabu Jalatunda. Kecuali Bongkap, Bong Mini, dan empat orang pengawalnya. Mereka berdiri tegak sambil terus memandang Prabu Jalatunda yang melangkah ke arah mereka dengan gagah.

Satu persatu Prabu Jalatunda menyalami mereka dengan hormat.

“Silakan duduk!” Prabu Jalatunda mempersilakan tamunya. Sedangkan ia sendiri mengambil duduk di kursi khususnya yang mengarah pada keenam ta- munya.

Beberapa saat suasana hening.

Prabu Jalatunda memperhatikan tamunya satu per- satu. Dia begitu kagum. Karena selain tubuh mereka yang kekar-kekar, di punggung mereka terselip pedang masing-masing.

Pasti mereka orang-orang tangguh. Apalagi mereka datang dari negeri Tiongkok, gumam Prabu Jalatunda langsung menebak.

“Siapa pemimpin di antara kalian?” tanya Prabu Ja- latunda penuh wibawa.

“Saya, Prabu,” Bongkap menyahut dengan suara be- rat dan penuh wibawa.

Prabu Jalatunda mengangguk-angguk kepala. Di- pandangnya Bongkap dengan penuh kagum.

Ditilik dari penampilannya, jelas dia bukan orang sembarangan, cetus hati Prabu Jalatunda lagi.

“Siapa nama Kisanak?” tanya Prabu Jalatunda me- nyebutnya dengan panggilan kisanak, sebagai panggi- lan kehormatan buat orang yang belum dikenalnya.

“Namaku Bongkap!” jawab Bongkap tenang.

Mendengar nama itu, Prabu Jalatunda meloncat kaget dari tempat duduknya. Dugaannya kalau Bong- kap bukan orang sembarangan, benar. Lalu ia me- manggil keempat pengawalnya yang membawa Bong- kap kepadanya.

“Ada apa, Tuanku?” tanya Pradata, hormat.

“Kalian  telah   lancang,   membawa   Bongkap   dan orang-orangnya ke sini!”

Bongkap, Bong Mini, dan para pengawalnya terdo- ngak heran melihat kemarahan Prabu Jalatunda ke- pada pengawalnya. Mereka tidak tahu apa yang mem- buat Prabu Jalatunda marah.

“Kami hanya melaksanakan titah, Tuanku!” sahut Pradata.

“Aku memang telah memerintahkanmu mencari pa- ra pengawal barang, tapi bukan mereka yang mestinya kalian bawa ke sini!” Prabu Jalatunda semakin marah.

Mendengar kata-kata Prabu Jalatunda, Bongkap, Bong Mini dan para pengawalnya terkejut bukan kepa- lang. Kata-kata Prabu Jalatunda telah menyakitkan te- linga mereka. Namun dengan tenang Bongkap mereda- kan kemarahan Bong Mini dan para prajuritnya yang hendak memaki Prabu Jalatunda.

Setelah memarahi keempat pengawalnya, Prabu Ja- latunda kembali menghadap Bongkap sambil berdiri hormat.

“Maafkan atas kelancangan para pengawalku, Bong- kap!” ucap Prabu Jalatunda.

Lagi-lagi Bongkap, Bong Mini, dan para pengawal- nya dibuat terheran-heran dengan sikap Prabu Jala- tunda. Kalau tadi mereka terkejut karena ucapan Pra- bu Jalatunda seperti mengandung penghinaan, kini mereka terkejut karena Prabu Jalatunda justru me- minta maaf pada Bongkap dengan sikap hormat.

“Saya jadi tidak mengerti dengan sikap Prabu,” kata Bongkap mengemukakan rasa bingungnya.

“Ah, Anda terlalu merendah, Bongkap,” kata Prabu Jalatunda lagi membuat Bongkap dan orang-orangnya semakin tidak mengerti.

“Saya sangat malu dengan kelancangan para pe- ngawalku. Tapi saya gembira karena seorang raja de- ngan segala kerendahan hatinya berkenan berkunjung ke tempat kami!” lanjut Prabu Jalatunda.

Plong! Rasa keterkejutan Bongkap dan Bong Mini serta para pengawalnya menjadi lemas seketika. Mere- ka baru tahu bahwa persoalan itulah yang membuat Prabu Jalatunda marah besar pada para pengawalnya.

Memang bisa dimengerti kalau Prabu Jalatunda itu marah pada para pengawalnya. Karena Bong Mini dan para pengawalnya sendiri masih bingung dengan sikap Bongkap yang mau menjadi pengawal kereta barang. Hal itu sebenarnya yang ingin ditanyakan Bong Mini sejak semalam. Tapi keinginan untuk bertanya sampai sekarang belum terlaksana karena keadaan yang tidak memungkinkan.

Dengan segala kehormatan, akhirnya Bongkap dan Bong Mini diajak ke ruang pribadi Prabu Jalatunda. Di sana kedua bapak beranak ini diperkenalkan kepada istri Prabu Jalatunda, Ningrum.

“Aku akan membatalkan kehendak Bongkap untuk menjadi pengawal kereta barang,” ucap Prabu Jala- tunda ketika mereka duduk berdua saja di ruang pe- ranginan.

“Tidak usah, Prabu. Lanjutkan saja!” ujar Bongkap tetap pada kehendaknya.

“Saya harus menjaga wibawa Anda sebagai raja,” sanggah Prabu Jalatunda mengemukakan alasannya.

Bongkap tersenyum.

“Kewibawaan tergantung dari sepak-terjang kita, Prabu. Bukan dari tinggi rendahnya kedudukan.  Wa- lau kita mempunyai kedudukan  atau  jabatan  yang baik, tapi kalau sepak-terjang kita rendah di mata ra- kyat, apakah mereka akan menghormati kita?” tanya Bongkap. “Sepak-terjang Kerajaan Manchuria, di mana dulu aku menjadi panglima di sana menjadi cermin buatku agar tidak mengikuti jejak langkahnya,” lanjut Bongkap.

“Apakah sepak-terjang Raja Manchuria begitu hina dipandang masyarakat?” tanya Prabu Jalatunda ingin tahu.

“Dia memanfaatkan kedudukannya sebagai raja. Memeras rakyat dengan mengambil upeti yang demi- kian tinggi. Karena itu aku mengundurkan diri sebagai panglima. Kemudian mengajak rakyat untuk pindah ke Selat Malaka,” tutur Bongkap menjelaskan.

Prabu Jalatunda termangu-mangu mendengar ceri- ta Bongkap. Hatinya benar-benar memuji sikap yang dimiliki Bongkap. Sebab jarang seorang panglima mau mengorbankan kedudukannya demi kesejahteraan rak- yat

“Prabu, kapan pengambilan barang dari dermaga akan dilaksanakan?” tanya Bongkap mengalihkan pembicaraannya.

“Besok pagi. Tapi saya minta Anda tetap berada di sini. Kalaupun Anda memaksa, biarlah para pengawal Anda yang mengawal kereta barang,” kata Prabu Jala- tunda tetap mencegah Bongkap untuk tidak ikut  da- lam pengawalan kereta barang.

“Begitu juga bagus!” sahut Bongkap setuju. Dengan penuh persahabatan, keduanya melangkah menuju ru- ang makan untuk makan bersama. Sekaligus meraya- kan persahabatan mereka yang baru saja terjalin.

*** 3

Pukul enam pagi pengiriman dan pengambilan ba- rang telah dilaksanakan. Empat pengawal kepercayaan Bongkap ditambah lima pengawal Prabu Jalatunda se- gera berangkat mengawal kereta barang. Dan dua jam dari keberangkatan mereka, Bongkap dan Bong Mini pun segera mohon diri.

Sebenarnya Prabu Jalatunda dan Ningrum meng- hendaki kedua bapak beranak itu untuk menginap semalam lagi. Tapi karena Bongkap dan Bong Mini su- kar ditahan, akhirnya dengan segala keterpaksaan me- reka pun melepaskan kepergian Sepasang Pendekar dari Selatan.

“Sering-seringlah Nak Mini ke sini!” begitu kata Ningrum, istri Prabu Jalatunda ketika mereka sudah duduk di atas punggung kuda.

Bong Mini hanya membalas dengan anggukan diser- tai senyum. Lalu mereka pun segera memacu kuda meninggalkan rumah Saudagar Prabu Jalatunda.

“Papa,” ucap Bong Mini ketika keduanya sudah ber- ada di pertengahan jalan dengan memacu kuda lam- bat-lambat.

“Hm...? Ada apa?” tanya Bongkap.

“Kita harus segera mendapatkan ketiga dayang yang diculik itu,” ungkap Bong Mini.

“Ya. Tapi ke mana harus mencarinya?”

“Saya sudah tahu markas  mereka,  Papa,”  sahut Bong Mini.

“Hm...!” Bongkap menoleh pada putrinya.

“Orang-orang yang menculik ketiga dayang kita me- rupakan orang-orang yang tergabung dalam Partai Per- satuan Ular Hitam,” ujar Bong Mini menjelaskan. “Ular Hitam?” Bongkap mengerutkan keningnya. “Ya, Papa. Mereka dipimpin oleh seorang keturunan

Tiongkok yang bernama Yang Seng,” jawab Bong Mini menjelaskan.

“Yang Seng?” mendadak kuda yang dinaiki Bongkap berhenti.

“Ada apa, Papa?” tanya Bong Mini ketika melihat papanya terkejut.

“Papa seperti mengenal nama orang itu,” gumam Bongkap.

“Siapa, Papa?” Bong Mini pun turut menghentikan kudanya.

“Kalau tidak salah dia  anak seorang Raja Manchu- ria yang diusir beberapa tahun silam,” kata Bongkap sambil mengingat-ingat.

“Benarkah itu, Papa?” Bong Mini terkejut.

“Ya. Waktu itu kau belum lahir. Dan mama pun be- lum mengandungmu!”

“O, pantas jika aku tak tahu,” gumam Bong Mini. “Kenapa dia sampai diusir, Papa?” tanya Bong Mini, ingin segera tahu.

“Masalah kotor,” ucap Bongkap kurang jelas. “Maksud Papa?” tanya Bong Mini tidak mengerti.

Ujung alisnya yang bagai pedang terangkat.

“Dia main asmara dengan seorang perempuan yang menjadi selir papanya,” jawab Bongkap menjelaskan.

“Hm...!” terdengar helaan napas Bong Mini.

“Kenapa kamu?” tanya papanya seraya melirik Bong Mini.

“Pantas saja dia dan pengikutnya sekarang ini sela- lu gentayangan mencari wanita!” dengus Bong Mini.

“Begitulah, Anakku. Tabiat orangtua, entah itu baik atau buruk pasti akan melekat pada salah seorang anaknya. Ibarat buah, tergantung akarnya. Kalau akarnya baik pasti menghasilkan buah yang baik pula. Tapi kalau akarnya kurang baik maka hasilnya pun kurang memuaskan!” jelas Bongkap, setengah membe- ri pengetahuan kepada anaknya.

“Wah, jawaban Papa sungguh mengagumkan!” ucap Bong Mini, ia tersenyum bangga.

Bongkap membalas senyum putrinya dengan se- nyuman pula. Lalu ia turun dari  punggung  kudanya dan duduk di bawah sebuah pohon. Sedangkan ku- danya diikat di sebuah pohon yang tak jauh dari situ.

“Semua itu papa dapatkan dari kakekmu ketika masih hidup beberapa puluh tahun lalu,” ucap  pa- panya sambil duduk bersandar di batang pohon.

“Apakah kakek seorang yang sakti, Pa?” tanya Bong Mini yang sejak lahir belum sempat bertemu kakeknya. “Kakekmu seorang pendekar ulung di daratan tanah Tiongkok. Hampir semua perguruan silat waktu itu menyatakan tunduk kepada kakek,” Bongkap menje- laskan. “Dan dari kakek pula papa mendapatkan ilmu-

ilmu kungfu itu.”

“Apakah hanya ilmu kungfu yang kakek ajarkan kepada Papa?”

“Tidak. Banyak ilmu-ilmu yang beliau berikan de- ngan cara semadi. Kakek bilang, belajar ilmu lewat semadi akan sangat banyak manfaatnya. Di antaranya mendidik kita untuk bisa hidup prihatin dan tidak ber- laku sombong serta welas asih kepada sesama. Sebab dalam semadi, kita menghindari diri kita dari hal-hal yang sifatnya menjurus pada keduniawian,” jawab Bongkap memberikan pengertian kepada putrinya.

Bong Mini termangu mendengar cerita papanya. “Papa juga mengharapkan kamu agar mengikuti je-

jak papa yang baik dan tinggalkan bila ada yang buruk menurut  pandanganmu,”  kata  Bongkap.  Dipeluknya bahu Bong Mini.

“Papa?” keluh Bong Mini.

“Kita ini makhluk yang paling sempurna. Sehingga dalam diri kita ada sisi baik dan sisi buruk. Tapi kita berusaha untuk berbuat baik sesuai dengan kemam- puan,” kata Bongkap menasihatkan.

“Papa,” keluh Bong Mini lagi seraya menyandarkan kepalanya di dada papanya yang bidang. “Saya merasa bahagia mempunyai orangtua seperti Papa.”

“Papa juga bahagia mempunyai putri sepertimu, Sayang. Cantik, lincah dan patuh!” puji Bongkap pula sambil mempererat pelukannya.

Sedang asyiknya mereka dicekam kebahagiaan yang teramat sangat, puluhan orang berwajah garang sudah mengelilingi mereka. Mereka orang pribumi yang ber- naung di bawah Partai Persatuan Ular Hitam.

“He he he...! Mesranya bapak dan anak hingga lupa keadaan sekeliling,” ejek seorang dari mereka sambil tertawa terkekeh.

Bongkap dan Bong Mini berdiri terkejut. Mata me- reka menyebar ke sekeliling.

“Lagi-lagi bajingan Ular Hitam,” gumam Bong Mini dengan mata menatap berkeliling.

“Jadi ini anak-anak buah Yang Seng?” tanya Bong- kap.

“Ya. Mereka orangnya!” jawab Bong Mini yang me- ngenal beberapa orang dari mereka.

“He he he.... Kau tak mungkin lepas sekarang, ke- linci manis,” kata seorang pemimpin pasukannya.

“Mau apa kalian!” bentak Bong Mini. Wajahnya mu- lai merah karena menahan marah.

“Mau apa? He he he..., tentu saja ingin menang- kapmu dan menikmati dagingmu yang masih  muda itu!” sahut pemimpin pasukan dengan kata-kata cabul. “Heh! Kutil Setan! Jaga mulutmu yang busuk itu bi- ar tidak kurobek!” geram Bong Mini dengan memelo- totkan mata.

Pemimpin pasukan itu makin terkekeh-kekeh meli- hat Bong Mini marah.

“Dasar kelinci manis. Semakin marah semakin menggairahkan!”

“Tutup mulutmu, Kurap Monyet!” bentak Bongkap dengan suara yang meledak.

“Kambing! Rasakan sabetan tongkatku ini!” usai berkata begitu, Ketua Pasukan Ular Hitam segera me- nyerang Bongkap seraya memutar-mutarkan tongkat- nya.

Wet wet wet...!

Tubuh Bongkap segera melompat dan bersalto menghindari sabetan-sabetan tongkat yang begitu ce- pat.

“He he he...!”

Penyerangnya tertawa-tawa melihat Bongkap kewa- lahan. Tapi tiba-tiba tawanya terhenti ketika mera- sakan punggungnya dipukul orang.

Bug!

Rupanya Bong Mini sudah tidak bisa lagi menahan ledakan kegusarannya. Dia memukul lelaki itu tanpa maksud membokongnya. Biar bagaimanapun jiwa ke- pendekarannya tidak akan sudi melakukan hal itu. Dia hanya mengalihkan perhatian lelaki tadi.

“Kelinci liar! Rasakan tongkatku ini!” sejurus kemu- dian tongkat yang tadi menyerang Bongkap beralih ke arah Bong Mini. Tapi Bong Mini segera melompat lalu hinggap di atas sebuah batang pohon.

Lawannya melongo melihat Bong Mini dengan ri- ngan berdiri di atas ranting pohon.

Sementara itu, Bongkap tengah sibuk mengadakan perlawanan dengan para pengeroyoknya. “Hiaaat!”

Bong Mini meloncat ke arah para pengeroyok pa- panya.

Srettt!

Pedang Bong Mini menebas, membelah dada seo- rang lawan. Membuat orang itu terhuyung-huyung se- bentar, lalu ambruk.

Orang-orang Ular Hitam segera berpencar  dalam dua kelompok. Sebagian menyerang Bong Mini dan se- bagian lagi menyerang Bongkap.

Terpecahnya serangan mereka membuat Bong Mini lega. Ia menyerang lawan secara tiba-tiba justru hen- dak memberi peluang pada papanya untuk bergerak dan mengadakan serangan balik.

Melihat penyerangnya demikian banyak, Bong Mini segera mencabut pedangnya yang lain. Sehingga dua pedang kini berada di kedua tangannya. Dia siap un- tuk mengeluarkan jurus pedang ‘Samber Nyawa’.

“Hiaaat!”

Trang! Trang! Trang! Bles!

Pedang di tangan kiri Bong Mini menangkis sera- ngan-serangan senjata lawan. Sedangkan pedang di tangan kanan menembus ulu hati seorang lawan sam- pai ke punggungnya.

“Aaakh!”

Terdengar teriakan lawan yang terkena tusukan pe- dang Bong Mini. Seketika itu juga dia jatuh tak ber- kutik lagi.

Setelah mencabut pedang dari tubuh lawan, Bong Mini kembali mengadakan serangan dengan kedua pe- dangnya yang kini berlumuran darah.

Sementara itu, Bongkap pun dengan ganas tengah menyabet-nyabetkan pedangnya ke arah lawan yang jumlahnya kurang lebih dua belas orang.  Jurus  pe- dang ‘Samber Nyawa’ yang diolah menjadi satu dengan jurus kungfu ‘Tanpa Bayangan’ membuat ia semakin ganas di tengah pertempuran. Putaran badan yang be- gitu cepat bagai baling-baling kapal membuat lawan- nya kewalahan. Julukan Singa Perang yang dulu dida- pat ketika berada di Tiongkok, kini tampak kembali.

Herrr..., sret, sret!

Hembusan angin dan putaran pedang yang demi- kian cepat membuat para lawan melongo tanpa mela- kukan serangan. Sehingga pedang yang berputar-putar itu menebas tiga tubuh lawan sekaligus.

“Aaa...!”

“Aaa...!”

“Aaa...!”

Jerit kesakitan dari tiga lawan hanya sesaat terde- ngar. Setelah itu mereka roboh dengan tubuh masing- masing terbelah.

Melihat nasib ketiga temannya yang begitu menge- rikan, pemimpin pasukan itu tercengang, serta sedikit gentar. Namun perasaan gentar itu lenyap, saat meli- hat kesempatan yang diperkirakannya tepat.

Dep!

Sebuah totokan yang dilancarkan oleh pemimpin pasukan itu tepat mengenai punggung Bong Mini yang sedang lengah. Dalam sekejap tubuh Bong Mini terku- lai lemas. Dan sebelum sempat jatuh, tangan  pemim- pin pasukan itu sudah merangkul dan menggendong- nya.

“He he he..., lihatlah ke sini Bongkap. Putrimu  su- dah berada dalam pelukanku. Kau tak akan menang!” teriaknya disertai tawa yang terkekeh-kekeh.

“Iblis cabul. Lepaskan putriku!” teriak Bongkap ke- tika melihat Bong Mini berada dalam pelukan lelaki itu dengan tubuh yang sama sekali tidak berdaya akibat totokan yang menghentikan aliran darahnya.

Pemimpin pasukan itu malah tertawa terkekeh- kekeh melihat kemarahan Bongkap. Setelah itu tubuh- nya melesat pergi meninggalkan arena pertempuran dengan cepat.

“Jahanam! Setan licik!” geram Bongkap, melihat anaknya dibawa pergi oleh pemimpin pasukan itu. De- ngan gerakan yang kacau namun memikat, Bongkap menyabet-nyabetkan pedangnya ke arah lawan yang masih belumlah banyak.

Bles!

Ujung pedang Bongkap menembus perut lawan. Kemudian pedang itu diangkatnya bersama-sama tu- buh lawan dan dilemparkannya tinggi-tinggi. Sehingga tubuh lawan itu terpental jauh entah jatuh di mana.

***

Pemimpin pasukan itu terus berlari membawa tu- buh Bong Mini, disertai tawanya yang terkekeh-kekeh. Sedangkan Bong Mini dengan gerakan-gerakan yang lemah terus meronta-ronta minta dilepaskan.

Ketika dirasa telah jauh dari arena pertempuran, pemimpin pasukan itu segera menghentikan larinya. Kemudian dibaringkannya tubuh Bong Mini di antara semak-semak.

“He he he..., akhirnya kudapatkan juga  tubuhmu yang mungil dan segar ini, kelinci manis,” desisnya disertai tawa terkekeh.

Bong Mini berusaha menguras tenaganya untuk bi- sa lari dari tempat itu. Namun apa yang dilakukannya itu sia-sia. Jangankan untuk berlari. Bangun saja dia tidak mampu. Yang dapat dilakukannya hanya meng- geser-geserkan tubuh saja agar bisa menjauh dari lela- ki yang hendak berbuat jahat kepadanya.

Melihat tubuh Bong Mini yang merayap-rayap itu, pemimpin pasukan itu malah memandangi sambil ter- kekeh-kekeh. Perlahan dihampirinya Bong Mini dan membalikkan tubuhnya agar telentang.

“Lepaskan aku lelaki cabul! Lepaskan!” teriak Bong Mini tanpa tenaga karena sudah terkuras habis.

Teriakan-teriakan Bong Mini sia-sia  saja.  Lelaki yang telah dirasuki iblis itu malah membiarkannya dengan tawa menyeringai. Lalu dengan terkekeh- kekeh, ia membungkukkan badan dan meraba-raba kedua pipi Bong Mini dengan lembut dan penuh pera- saan.

“He he he...! Baru kali ini aku bisa merasakan keha- lusan wajah seorang gadis,” ucap lelaki itu terkekeh.

“Lepaskan cabul! Lepaskan!” tubuh Bong Mini me- ronta-ronta. Namun rontaan Bong Mini yang lemah ju- stru merangsang birahi Ketua Pasukan Partai Persa- tuan Ular Hitam.

Dengan penuh nafsu, ia membuka  kancing  baju Bong Mini. Sehingga dua buah bukit yang masih mengkal itu jelas terlihat. Kemudian  dengan  napas yang memburu, dia menundukkan kepala dan menci- umi pipi dan leher Bong Mini yang putih mulus itu.

Bong Mini terus berusaha meronta-ronta sambil memaki-maki lelaki yang sedang dirasuki nafsu jaha- nam itu. Namun rontaan-rontaan tubuh Bong Mini ju- stru dianggap sebagai geliat yang merangsang kelela- kiannya. Membuat pemimpin pasukan itu semakin bernafsu mendekap dan memeluki tubuh Bong Mini.

Di saat tubuh Bong Mini terkulai lemas dan pasrah terhadap apa yang akan menimpa dirinya, tiba-tiba tu- buh pemimpin pasukan itu terpental beberapa meter dari tubuh Bong Mini. la menggelepar-gelepar dengan tubuh menghitam hangus.

Bong Mini terkejut melihat kejadian itu. Lalu de- ngan kesempatan yang ada, ia segera memperbaiki kancing bajunya yang terbuka. Kemudian perlahan tu- buhnya merayap menghampiri mayat pemimpin pasu- kan yang hangus itu dengan pandangan tak percaya.

“Siapa yang menjadi dewa penolongku?” gumam Bong Mini sambil menyebar pandangannya ke sekeli- ling. Tapi matanya tidak melihat tanda-tanda yang mencurigakan sedikit pun.

“Kau tak apa-apa?” terdengar suara lelaki entah da- ri mana, tiba-tiba sudah berada di belakangnya.

“Kaukah yang tadi menyelamatkan jiwaku dari ke- jahatan lelaki ini?” tanya Bong Mini ketika melihat so- sok lelaki yang wajahnya tertutup kain hitam. Hanya mata dan mulutnya saja yang terlihat.

“Bukan aku. Tapi Yang Menguasai dirimu yang me- nyelamatkanmu,” jawab lelaki itu.

“Aku tidak mengerti maksudmu?”

“Kelak kau akan mengerti,” jawab lelaki itu cepat. “Sekarang balikkan tubuhmu!” lanjut lelaki itu.

Bong Mini tanpa menaruh rasa curiga segera meng- ikuti perintah lelaki itu.

Sesaat ketika ia memunggungi lelaki itu, ia merasa dua jari tangan lelaki itu menyentuh punggungnya.

“Nah, sekarang kembalilah pada papamu!” ucap le- laki itu. Lalu tubuhnya segera melesat dan lenyap en- tah ke mana.

Bong Mini terlolong-lolong di tempat. Ia ingin berte- riak memanggil, tapi nyaris tertelan di tenggorokan ka- rena lelaki itu sudah  keburu  hilang.  Tinggal  ia  terpaku di tempat.

Setelah terpaku beberapa saat, Bong Mini segera berdiri. Dan betapa kagetnya ia karena tubuhnya yang tadi dirasakan lemas kini segar kembali.  Seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa.

“Luar biasa lelaki itu. Ilmunya benar-benar tinggi,” puji Bong Mini. Kemudian tanpa menunggu waktu lagi, ia segera berlari menuju tempat papanya bertempur dengan mempergunakan ilmu peringan tubuh.

Sampai di tempat pertempuran, Bong Mini melihat papanya telah menewaskan banyak lawan. Kini tinggal lima orang yang masih berhadapan dengannya.

“Ini bagianku, Papa!” teriak Bong Mini sambil mele- sat ke arah lawan yang tinggal lima orang itu.

Sret! Sret! Sret!

Dua pedang yang tergenggam di kedua tangannya langsung menebas leher tiga lawan sekaligus hingga nyaris putus.

Melihat kehadiran Bong Mini yang tampak segar kembali, Bongkap menjadi heran. Padahal ia sudah berpikir kalau anaknya tidak mungkin bisa disela- matkan. Bukan jiwanya, tapi kegadisannya.

Ketika ketiga temannya jatuh dengan leher yang hampir putus, kedua temannya langsung mengambil langkah seribu, meninggalkan kancah pertempuran yang sudah dibanjiri oleh darah dan bau amis.

“Kau tidak apa-apa, Sayang?” tanya Bongkap, lalu cepat mendekap putrinya.

“Seperti yang Papa lihat,” sahut Bong Mini dengan tersenyum cerah.

“Papa mengira kalau kau sudah digagahi oleh lelaki cabul itu,” kata Bongkap mengemukakan perkiraan- nya.

“Tadinya memang begitu. Tapi tiba-tiba datang dewa penyelamat sehingga saya terbebas dari nafsu iblis le- laki tadi.”

“Siapa dewa penyelamat itu?” tanya Bongkap ingin tahu.

“Saya sendiri tidak tahu, Papa. Wajahnya tertutup kain hitam. Tapi dari suaranya, saya dapat memperki- rakan bahwa dia seorang lelaki,” jawab Bong Mini.

“Lelaki bertopeng?” Bongkap mengernyitkan ke- ningnya.

“Ilmunya sangat tinggi, Papa. Dalam satu pukulan jarak jauh, lelaki yang ingin memperkosaku terpental jauh dengan tubuh hangus terbakar,” cerita Bong Mini, memuji kehebatan lelaki yang menolongnya.

“Hm..., siapa dia, ya?” gumam Bongkap lagi.

“Tapi dia menolak ketika  saya  mengatakan  kalau dia yang menolongku. Dia menjawab, yang menolong- ku adalah Yang Menguasai diriku,” kata Bong Mini.

“Yang Menguasai dirimu?”

“Begitulah katanya, Papa. Papa mengerti maksud kata-katanya?”

“Nanti saja kita bicarakan lagi di rumah,” sahut Bongkap. Dibimbingnya Bong Mini menuju kuda mere- ka masing-masing. Tak lama setelah itu mereka telah memacu kudanya dengan kecepatan yang amat tinggi, melanjutkan perjalanan menuju markas Partai Persa- tuan Ular Hitam.

***

4

Hari itu, Yang Seng dan puluhan pengawal pribadi- nya sedang berpesta pora. Bermacam makanan dan minuman yang memabukkan tersedia begitu banyak. Ditambah lagi dengan tari-tarian yang dilakukan lima wanita anggota Partai Persatuan Ular Hitam, menam- bah suasana semakin hangat dan meriah.

Beberapa puluh pasang mata lelaki yang sudah se- tengah mabuk tampak tidak berkedip ketika kelima penari meliuk-liukkan tubuhnya dengan gemulai. Apa- lagi ketika pinggul lima wanita yang padat berisi itu berputar meliuk-liuk membuat penonton lelaki anggota Partai Persatuan Ular Hitam berdebar-debar hatinya.

Yang Seng menyaksikan kegembiraan anak buah- nya dengan wajah berseri-seri. Sesekali matanya meli- hat pada lima wanita yang sedang meliuk-liukkan tu- buh dengan gemulai.

Apa lagi yang tidak kudapatkan sekarang ini?  Har- ta, tahta, wanita, semuanya sudah kumiliki. Walaupun dengan jalan kekerasan, merampok dan merebut pe- rempuan-perempuan orang. Aku tidak peduli dengan sumpah serapah orang terhadap kekejianku. Aku juga tidak mau pusing dengan kesesatan pikiranku. Yang penting, aku hidup penuh kesenangan! Gumam hati Yang Seng sambil memperhatikan kegembiraan anak buahnya.

Hidup ini penuh kesenangan. Dan kesenangan ha- rus kita nikmati. Itulah hukum dunia. Sedangkan pa- hala dan dosa merupakan perhitungan yang terakhir. Karena hukum akhirat hanya berlaku jika manusia sudah mampus! Ceracau hatinya lagi dengan wajah gembira. Lalu ia menuangkan arak dalam kendi yang sejak tadi digenggamnya ke dalam gelas. Kemudian di- reguknya dengan penuh nikmat.

“Wahai kalian semuanya!” teriak Yang Seng seraya melangkah ke tengah-tengah anak buahnya yang se- dang berpesta pora. “Meriahkan dan nikmatilah pesta ini sepuas-puasnya. Dunia ini diciptakan untuk kese- nangan dan kenikmatan. Hanya orang-orang bodoh yang menentang dan menjauhi kesenangan yang kita ciptakan ini,” lanjut Yang Seng dengan wajah yang be- rubah merah karena pengaruh arak yang mulai menja- lar ke seluruh syarafnya.

Orang-orang yang hadir di pesta itu menyambut ucapan Yang Seng dengan tawa dan wajah berseri.

“Nah, aku akan segera meninggalkan ruangan ini untuk menikmati kesenanganku sendiri di kamar. Jadi jagalah pesta ini sebaik mungkin!” lanjut Yang Seng. Lalu ia pun segera menuju kamarnya.

Sampai di muka pintu kamar, dua wanita  cantik yang menjadi selirnya segera menyambut penuh ke- hangatan. Mereka mengiringi langkah Yang Seng me- nuju ranjang. Kemudian  tangan-tangan  halus  mulus itu bergerak memijit-mijit bahu Yang Seng, sementara bibir mereka tersenyum genit. Sedangkan Yang Seng sendiri hanya diam berbaring, merasakan kelembutan tangan-tangan lembut yang memijiti bahunya.

“Inilah malam yang penuh kegembiraan!”  desah Yang Seng sambil menatap langit-langit kamar. “Apa- kah kalian juga turut merasakan kegembiraan ini?” tanya Yang Seng yang menatap kedua wajah selirnya bergantian.

“Tentu saja kami menikmatinya, Tuan,” sahut seo- rang selir dengan senyum genitnya.

Sementara itu, di kamar paling belakang terdapat tiga perempuan yang terbaring di masing-masing dipan dengan keadaan kedua tangan dan kaki terikat. Se- dangkan pakaian bagian muka terlihat robek-robek. Sehingga dua buah bukit dengan anak gunungnya ter- lihat jelas. Mereka adalah dayang-dayang Bong Mini yang berhasil diculik oleh anak buah Yang Seng.

Ketiga dayang itu tampak terbaring lemas di atas dipan. Sedangkan air mata meleleh di sekitar pipi me- reka. Mereka saling memandang dengan tatapan mata sendu. Mahkota ketiganya telah direnggut oleh anak buah Yang Seng secara paksa dan bergantian, mening- galkan bercak-bercak darah di sekitar paha mereka.

Di ruang tamu, pesta tuak dan tarian  erotik sema- kin panas. Lima penari wanita yang bertubuh seksi- seksi itu mulai membuka pakaiannya satu persatu sambil terus meliuk-liukkan pinggulnya yang aduhai. Kemudian dilemparkan pakaiannya itu kepada salah seorang lelaki yang masing-masing ditaksirnya terlebih dahulu.

Kini para penari itu hanya mengenakan rok bawah saja. Sedangkan bagian atas hanya memakai selipan beha, membuat penonton lelaki tidak berkedip.

Pada saat tarian semakin erotik, lima lelaki mabuk yang mendapat lemparan pakaian penari itu segera menghampiri dan merangkul pinggul mereka. Lalu se- muanya menari berpasang-pasangan.

Melihat kelima temannya menari dengan lima pena- ri wanita itu, lelaki lainnya merasa iri dan tergiur. Dengan jalan sempoyongan, mereka menghampiri dan merebut wanita itu dari tangan temannya. Tentu saja hal ini membuat marah temannya yang sedang menari. Sehingga terjadi tarik-menarik, memperebutkan wanita itu diselingi ocehan-ocehan yang menyebarkan bau arak. Akhirnya pertengkaran mulut dan tarik-menarik tangan wanita itu berubah menjadi ajang perkelahian. Dalam waktu singkat, pesta yang hangat itu berubah menjadi pesta senjata.

Lima orang penari perempuan segera  menarik  diri dari tempat itu. Mereka mundur perlahan ke sudut ruangan dengan kedua tangan menyilang di antara dadanya yang terbuka. Wajah mereka tampak meringis ketakutan ketika mendengar senjata saling beradu.

Seorang yang  sudah  mabuk  berat  segera  bangkit dari duduknya. Dengan kedua mata kuyu dan langkah sempoyongan, lelaki yang sudah mabuk berat itu menghampiri sepuluh temannya yang sedang berkela- hi.

“Kenapa sih kalian ribut-ribut, heh?” tanya lelaki mabuk itu dengan suara lemah tak bertenaga, menco- ba melerai teman-temannya. Tapi karena  pengaruh arak yang demikian tinggi dan menghilangkan akal pi- kiran mereka, teman yang melerainya itu malah ter- kena bacokan golok.

Bet!

Darah langsung mengucur dari bahunya yang ham- pir putus. Kemudian orang itu berdiri limbung bebe- rapa saat dan jatuh di lantai dengan tubuh bermandi darah.

Di luar, puluhan lelaki bertopeng sedang mengintip keadaan orang-orang Partai Persatuan Ular Hitam dari balik semak-semak.

Seorang di antara mereka yang menjadi pemimpin penyerangan itu segera memberi aba-aba dengan ta- ngannya untuk maju.

Dengan gerakan cepat tanpa suara, orang-orang bertopeng hitam itu segera  mendekati  beberapa  penja- ga yang setengah mabuk lalu menotoknya dengan mu- dah.

Dep!

Totokan tangan dari orang-orang bertopeng menda- rat di tubuh penjaga pintu gerbang yang berjumlah li- ma orang. Dan kelimanya langsung terkulai tak sadar- kan diri. Kemudian dengan gerakan ringan pula, satu persatu mereka masuk ke ruangan dalam dan menye- rang orang-orang yang ada di sana dengan jurus kung- fu yang sudah terlatih sempurna.

Sesaat kemudian  ruangan  itu  telah  dipenuhi  oleh dentingan-dentingan senjata dan teriakan-teriakan pe- perangan. Berbaur pula dengan teriakan kelima penari perempuan yang ketakutan.

Mendengar kegaduhan di luar, Yang Seng yang se- dang bercengkerama dengan dua selirnya segera be- ranjak dari ranjang untuk mengenakan pakaiannya. Setelah itu, kakinya melangkah keluar kamar untuk mengetahui apa yang terjadi.

Betapa kagetnya ia ketika sampai di luar, melihat anak buahnya bertempur mati-matian melawan pulu- han orang bertopeng hitam.

“Sial! Ada saja orang-orang yang usil dengan kese- nanganku!” geram Yang Seng sambil menyerbu ke are- na pertempuran.

“Hiat!”

Segarang singa lapar, tubuhnya bergerak cepat me- nyerang orang-orang bertopeng.

“Hiaaat!”

Dug! Dug! Dug!

Pukulan beruntun yang dilakukan Yang Seng me- ngenai seorang lawan hingga tubuhnya menggeliat- geliat lalu mati. Kemudian ia menyerang orang berto- peng lain dengan ganas.

Jurus ‘Tinju Baja’ yang sudah dikuasainya membu- ru ke arah lawan-lawannya dan mengenai beberapa sasaran dengan telak.

“Aaakh...!”

Teriakan-teriakan kematian dari kedua belah pihak terus memadati ruangan disertai cucuran darah dari tubuh mereka yang memerahi lantai.

Pertempuran antara pasukan Partai Persatuan Ular Hitam dengan orang-orang bertopeng yang tadi hanya di dalam ruangan, kini meluas sampai ke halaman rumah. Jurus-jurus kungfu yang dikerahkan oleh ke- dua belah pihak membuat suasana pertempuran se- makin seru dan sengit.

Di luar pertempuran, seorang lelaki dan perempuan terlihat tengah menyaksikan pertempuran itu. Mereka tidak lain Bongkap dan Bong Mini yang kini tengah mengawasi kedua pasukan yang sedang bertukar se- rangan dari atas sebuah pohon.

“Ternyata ada perguruan lain yang mendahului se- rangan kita,” cetus Bong Mini.

“Ya. Dan kedua-duanya adalah orang-orang yang ki- ta cari,” balas Bongkap.

“Maksud Papa?”

“Orang-orang bertopeng itu pasti yang pernah mela- kukan serangan ke rumah kita dan membunuh enam orang pengawal,” jawab Bongkap.

Bong Mini mengangguk-angguk sambil terus meng- awasi jalannya pertempuran yang berlangsung di ha- laman markas Partai Persatuan Ular Hitam.

“Lalu apa tindakan kita  sekarang,  Papa?”  tanya Bong Mini, ingin mengetahui rencana Bongkap selan- jutnya

“Kita harus tahan diri dulu dan melihat pertempu- ran mereka. Sebab selain jumlah mereka yang banyak, jurus-jurus silat mereka pun tidak bisa diremehkan.”

Di saat keduanya  asyik  memperhatikan  pertempu- ran itu, dua lelaki lari tergopoh-gopoh  hendak  mema- suki halaman markas Ular Hitam.

Bong Mini yang mengetahui siapa mereka, langsung bergerak hendak menyerang. Tapi cepat-cepat dicegah oleh papanya.

“Jangan gegabah!”

Bong Mini kembali diam di tempat, mengikuti peri- ngatan papanya.

Ketika kedua lelaki yang tergopoh-gopoh itu mema- suki halaman rumah, mereka langsung diserang oleh hujaman pedang dari dua orang bertopeng.

Bret!

Kepala kedua orang yang pernah melawan  Bong Mini dan Bongkap itu langsung terpental dari lehernya. Dan semua peristiwa itu tidak terlepas dari pandangan Bong Mini yang berdecak-decak kagum.

Pertempuran antara pasukan Ular Hitam dengan orang-orang bertopeng itu terus berlangsung dengan sengit. Dalam sekejap saja markas Partai  Persatuan Ular Hitam menjadi berantakan. Kursi, meja, dan se- mua benda yang ada di situ hancur. Lantainya pun di- genangi darah, menebar bau anyir ke segenap rua- ngan.

Pasukan Ular Hitam tampak kewalahan menghada- pi lawannya ketika pertempuran itu berlangsung bebe- rapa jam. Selain jumlah penyerang yang sangat ba- nyak, orang-orang bertopeng itu pun mempunyai ju- rus-jurus andalan yang tidak bisa diremehkan.

Prak!

Tiba-tiba atap rumah itu jebol. Bersamaan  dengan itu dua orang terlihat menerobos keluar dan mengada- kan perkelahian di atas atap. Jurus-jurus pedang me- reka sama-sama hebat, berkelebatan cepat mencari sa- saran.

“Yang Seng,” gumam Bongkap ketika pandangannya mengarah pada atap rumah itu. Walaupun keadaan temaram, ia masih mampu melihat wajah Ketua Partai Persatuan Ular Hitam.

“Itukah  orang  yang  bernama  Yang  Seng,  Papa?” tanya Bong Mini saat melihat kedua orang yang sedang bertempur di atas atap.

“Ya. Dialah orangnya.”

“Ilmu permainan pedangnya sangat bagus,” gumam Bong Mini memuji sambil tak henti berdecak. “Dia bukan tandinganmu, Anakku!”

“Tapi suatu saat saya akan mencoba berhadapan dengannya, Papa,” sahut Bong Mini tanpa bermaksud menyombongkan diri.

“Sia-sia, Anakku. Kepandaian jurus-jurus kungfu yang dimiliki Yang Seng masih jauh lebih tinggi diban- dingkan milikmu,” kata Bongkap, memperingatkan pu- trinya.

Suasana pertempuran mulai sepi. Orang-orang Par- tai Persatuan Ular Hitam yang bertempur di halaman rumah sudah banyak yang mati oleh babatan pedang lawan.

Sementara itu, di ruangan dalam pun hanya tiga sampai lima orang yang masih bertempur. Sedangkan yang lain sudah tergeletak bermandi darah. Dan mere- ka yang mati kebanyakan dari Partai Persatuan Ular Hitam.

Dalam suasana pertempuran yang sepi itu, bebera- pa orang bertopeng hitam masuk ke dalam dan mem- buru lima penari cantik tadi yang kini tengah menggigil ketakutan di sudut ruangan. Sedangkan kedua tangan mereka menyilang menutupi dua buah bukit  yang hanya tertutup beha.

Melihat orang-orang bertopeng mendekat, kelima perempuan yang tadi menari itu mundur beberapa langkah dengan mata menyipit ngeri. Tapi dengan tangkas orang-orang bertopeng memburu. Kelima pe- rempuan itu menjadi tidak berdaya ketika leher mere- ka terkena totokan. Dalam keadaan lemah,  orang- orang bertopeng itu segera menggendong mereka dan membawa lari meninggalkan ruangan. Sedangkan orang-orang bertopeng lain menyebar ke kamar-kamar untuk melakukan tindakan yang sama. “Papa, lihat!” pekik Bong Mini ketika melihat sege- rombolan orang-orang bertopeng berlari dalam kegela- pan dengan membawa perempuan di pundaknya ma- sing-masing.

“Pasti di antara perempuan itu ada tiga orang da- yang kita,” lanjut Bong Mini.

“Ya. Ayo kita kejar mereka!”

Bongkap dan putrinya segera melompat dengan menggunakan ilmu peringan tubuh. Sehingga gerakan mereka sedikit pun tidak menimbulkan suara.  Gera- kan keduanya begitu cepat, hanya menampakkan bayangan yang berkelebat. Kemudian bayangan bapak dan anak atau Sepasang Pendekar dari Selatan terus menembus ke arah pepohonan hutan yang lebat, di mana orang-orang bertopeng tadi melarikan beberapa wanita.

Walaupun mereka sudah mencapai tempat  yang agak jauh untuk mencari orang-orang bertopeng, tapi Sepasang Pendekar dari Selatan itu tak mendapatkan para buruan yang dicari. Mereka kehilangan jejak ka- rena tersapu kegelapan malam. Juga karena orang- orang bertopeng itu menggunakan ilmu peringan tu- buh yang cukup sempurna dalam melarikan mang- sanya.

Dengan lesu dan menyesal, Bongkap dan Bong Mini melangkah meninggalkan hutan yang pekat itu untuk kembali ke markas Partai Persatuan Ular Hitam.

***

Di markas Partai Persatuan Ular Hitam, pertempu- ran sudah surut. Pasukan, baik dari Partai Persatuan Ular Hitam maupun dari Perguruan Topeng Hitam te- lah banyak yang mati dengan tubuh berlumur darah. Hanya kedua pemimpin mereka yang masih alot. Ber- tempur dengan mengerahkan kepandaian tarung mas- ing-masing.

“Hiaaat, mampuslah kau!” bentak Yang Seng. Tu- buhnya melayang dengan cepat ke arah lawan, disertai acungan pedangnya.

Melihat lawan bergerak demikian cepat, pemimpin pasukan bertopeng segera mengelak sambil membalas dengan totokan tangan kiri menuju ke pergelangan tangan Yang Seng yang memegang pedang. Tapi de- ngan cepat pula Yang Seng menarik kembali pedang- nya dan melanjutkan serangan secara bertubi-tubi de- ngan jurus-jurus pilihannya. Ilmu permainan pedang yang hampir dikuasai sepenuhnya berkelebat begitu cepat kian kemari, menyambar-nyambar tubuh lawan. Karena cepatnya, pedang Yang Seng  yang  berkelebat itu hampir tak terjangkau oleh pandangan manusia bi- asa. Seolah-olah hanya tangannya saja yang bergerak.

Melihat ketangkasan lawan, pemimpin pasukan ber- topeng itu tidak ingin memandang rendah lawannya. Walaupun ia sendiri dengan mudah dapat menghindari setiap serangan lawan.

Wuttt! Plak! Plak! “Aduh!”

Yang Seng terlempar ke samping, lalu jatuh bergu- lingan di tanah. Pundaknya terasa remuk terkena tam- paran tangan lawannya. Jadi, ketika  dia  menyerang dari kiri, mendadak lawannya sudah mencengkeram rambutnya yang agak panjang lantas menyentakkan sedemikian rupa sehingga tusukan pedangnya menye- leweng. Tubuhnya menjadi miring. Sebelum ia sempat memperbaiki posisi tubuh, pundaknya telah terkena tamparan yang membuat tubuhnya terguling.

Dengan cepat ia bangun kembali untuk melakukan serangan. Tapi belum sempat kakinya berpijak dengan kokoh, pedang tipis yang memancarkan sinar merah kembali mengancam.

Singngng...! Singngng...! Siuttt...!

Yang Seng terpaksa mengerahkan seluruh ilmu pe- ringan tubuhnya untuk mengelak dengan berloncatan ke sana-sini. Kemudian gerakan itu dipercepat kembali ketika melihat musuhnya terus menerjang tanpa mem- berinya kesempatan sedikit pun untuk melakukan per- lawanan.

Pertandingan kali ini memang merupakan pertandi- ngan yang hebat luar biasa. Keduanya kali ini merasa- kan perlawanan yang menguras seluruh tenaga dan ilmu masing-masing.

“Hiyyy, mampus kau!” tubuh pemimpin pasukan bertopeng itu cepat melayang ke arah Yang Seng seper- ti seekor elang menyambar mangsa.

Deg! Deg!

Dua totokan tangan pemimpin pasukan bertopeng mendarat di leher dan  punggung Yang Seng. Seketika itu juga tubuhnya terkulai lemas. Sedangkan pedang yang digenggamnya terlepas ke tanah. Serangan yang dilancarkan oleh pemimpin pasukan bertopeng itu memang merupakan serangan menotok untuk meng- hentikan peredaran darahnya.

Tubuh Yang Seng jatuh telentang tanpa daya.  Ha- nya kedua matanya saja yang berkedip-kedip.  Malam ini kematian benar-benar telah siap menjemput, pikir- nya. Oleh karena itu ketika lawannya datang mendekat dengan pedang di tangannya, Yang Seng pasrah. Ia sudah tidak dapat melakukan apa pun untuk meng- hindar dari mata pedang pemimpin pasukan bertopeng yang bisa saja mencincang tubuhnya.

Di lain pihak, pemimpin pasukan  bertopeng  tidak ingin mempercepat kematian lawannya. Ia menyadari kehebatan dan ketangguhan lawan yang bisa diandal- kan untuk membantu rencana-rencana Perguruan To- peng Hitam. Oleh karena itu ketika mendekat, ia sege- ra berkata kepada lawannya.

“Karena aku telah melihat kepandaian dan ketang- guhanmu, maka aku memberikan dua pilihan kepada- mu; hidup atau mati. Jika kamu masih menginginkan hidup, aku akan membebaskan totokan itu asal kau bersedia menjadi pengikut Perguruan Topeng Hitam yang dipimpin oleh Kidarga dan Nyi Genit. Tapi kalau tidak, malam ini juga pedangku ini akan mencincang- cincang tubuhmu!” tuturnya memberikan pilihan ke- pada Yang Seng.

Mendapat kesempatan itu, girang bukan main hati Yang Seng. Pikirnya, walaupun ia belum mengetahui secara persis tentang kegiatan Perguruan Topeng Hi- tam, ia yakin kegiatan itu akan menguntungkan diri- nya. Sekalipun kegiatan  itu bersifat  buruk.  Bukankah ia sendiri selama ini melakukan tindakan perampokan dan kejahatan lainnya? Maka ketika mendapat pilihan itu, ia segera menyahut untuk memilih yang pertama.

“Aku bersedia menjadi pengikut Perguruan Topeng Hitam!” sahut Yang Seng lemah karena masih dipenga- ruhi oleh totokan yang dilancarkan lawan.

Mendengar jawaban itu, pemimpin pasukan berto- peng mengembangkan senyumnya. Lalu dia pun ber- jongkok di depan tubuh Yang Seng yang masih terba- ring di tanah.

“Telungkupkan badanmu!” perintahnya.

Yang Seng mencoba menggerakkan tubuhnya. Na- mun sia-sia karena tubuhnya terlalu lemah, tanpa ke- kuatan untuk bergerak sama sekali. Akhirnya pemim- pin pasukan bertopeng itu turut membantu menelung- kupkan badannya. Kemudian ia pun membebaskan pengaruh totokan yang menghentikan  jalan  darah Yang Seng dengan cara merapatkan kedua telapak tangannya di punggung Yang Seng disertai penyaluran hawa murni.

Setelah beberapa saat kedua telapak tangan itu me- lekat di punggungnya, Yang Seng merasakan sekujur tubuhnya dingin. Lalu perlahan tubuhnya menjadi se- gar. Tanpa ia sadari, tubuhnya yang tadi lemah tiada daya, kembali dapat digerakkan seperti semula.

Yang Seng girang bukan main merasakan tubuhnya segar kembali. Dengan wajah gembira, ia bersujud di hadapan pemimpin pasukan bertopeng

“Terima kasih atas pertolonganmu!”

Lelaki bertopeng di hadapannya tersenyum angkuh seraya berdiri.

“Siapa namamu?” tanyanya pada Yang Seng. “Namaku Yang Seng!” sahut Yang Seng sambil ber-

diri.

“Nah, Yang Seng. Sekarang ikutlah kau ke Pergu- ruan Topeng Hitam. Akan kuperkenalkan kau pada pemimpin kami!” ajak pemimpin pasukan orang berto- peng. Lalu tubuhnya segera melesat pergi meninggal- kan markas Partai Persatuan Ular Hitam yang porak- poranda. Diikuti oleh Yang Seng. Mereka melayang ce- pat di udara bagai dua burung malam yang menembus kegelapan.

Bersamaan dengan hilangnya  kedua  tubuh  lelaki itu, muncul Sepasang Pendekar dari Selatan dari balik kegelapan. Mereka berdiri di muka pintu gerbang. Ten- tu saja mereka adalah Bongkap dan Bong Mini yang baru sampai di markas Yang Seng atau Partai Persa- tuan Ular Hitam.

“Kita terlambat, Papa!” ucap Bong Mini ketika ma- tanya tak melihat lagi orang-orang yang bertempur. “Ya. Tapi dari mayat-mayat yang berserakan ini kita dapat melihat siapa yang kalah,” sahut Bongkap de- ngan mata yang terus meneliti ke arah mayat-mayat yang bergelimpangan.

“Orang-orang Persatuan Ular Hitam telah dikalah- kan oleh orang-orang bertopeng itu,” ungkap Bongkap setelah lama meneliti mayat-mayat itu satu persatu.

“Bagaimana Papa bisa memastikan itu?” tanya Bong Mini, agak heran.

“Dari mayat-mayat yang kuperiksa, tak kulihat tu- buh Yang Seng atau pemimpin pasukan bertopeng itu!” sahut Bongkap.

“Mungkin salah satu di antara mereka melarikan di- ri, Papa.” Bong Mini memberikan pendapat lain.

“Mungkin juga. Tapi bisa pula Yang Seng yang  ka- lah, lalu diajak berkomplot dengan orang-orang Pergu- ruan Topeng Hitam.”

Bong Mini mengangguk-angguk.

“Kalau perkiraan Papa itu benar, berarti Perguruan Topeng Hitam akan semakin kuat dan merajalela,” ka- ta Bong Mini dengan suara yang mengandung ke- khawatiran.

“Pendapatmu benar. Dan kita harus cepat-cepat mencegahnya sebelum korban bertambah di pihak rak- yat jelata!” ucap Bongkap sama khawatirnya.

“Tapi dengan jumlah kita yang hanya  beberapa orang tak mungkin dapat mengalahkan mereka!” kilah Bong Mini merasa yakin kalau untuk sekarang ini me- reka tidak akan mampu mengalahkan orang-orang Perguruan Topeng Hitam. Apalagi pemimpinnya.

Bongkap mengangguk perlahan, membenarkan pen- dapat putrinya. Sedangkan sampai saat ini mereka be- lum mendapatkan para pendekar yang mau bergabung untuk menentang kebiadaban orang-orang Perguruan Topeng Hitam. Malah sebaliknya, banyak pendekar ali- ran putih yang tidak mau menanggung resiko akhirnya berkomplot dengan Perguruan Topeng Hitam.

“Kita harus terus berusaha menghubungi para pen- dekar yang mau bergabung dengan kita,” kata  Bong- kap akhirnya.

“Apa bisa kita mendapatkan orang-orang yang kita harapkan itu? Sudah lama kita berusaha mencari, tapi sampai sekarang kita belum menemukan juga,” keluh Bong Mini pesimis.

“Selama ini kita tidak sungguh-sungguh mencari mereka, Putriku. Karena setiap perjalanan kita selalu terhalang oleh orang-orang Perguruan Topeng Hitam atau orang-orang Ular Hitam.”

Bong Mini terdiam. Hatinya mengakui bahwa sela- ma ini mereka memang belum sepenuhnya mencari para pendekar. Sebab setiap kali hendak melaksana- kan tujuan itu selalu bentrok dengan orang-orang Ular Hitam atau Perguruan Topeng Hitam.

Setelah meneliti keadaan sekeliling markas Partai Persatuan Ular Hitam yang sudah berantakan, Bong- kap dan Bong Mini segera keluar melanjutkan perjala- nan kembali. Kali ini, perjalanan mereka untuk menca- ri ketiga dayangnya dibatalkan. Karena mereka yakin tak akan mampu berhadapan dengan orang-orang ber- topeng yang jumlahnya tak terbilang. Karena itu mere- ka berbalik arah menuju Desa Padomorang, di mana sahabat baru Bongkap, Prabu Jalatunda tinggal.

***

Sementara itu, di lain tempat, empat orang keper- cayaan Bongkap dan lima anak buah  Prabu  Jalatunda yang dipercaya untuk mengawal kereta barang tengah sibuk pula dengan puluhan orang-orang bertopeng yang menghadang untuk mengadakan perampokan.

Ashiong, Achen, Sang Piao dan A Ing, berusaha mengerahkan semua jurus-jurusnya untuk menja- tuhkan para penyerang.

Trang! Trang! Trang!

Benturan senjata kedua belah pihak menimbulkan suara yang sangat nyaring. Sehingga pijar-pijar api je- las terlihat dalam kegelapan malam itu.

“Hiaaat..., mampus!”

“Eit, nggak kena!” elak Sang Piao dengan membung- kukkan badannya sambil melakukan serangan  bala- san.

Bret!

Pedang Sang Piao yang diarahkan ke kaki lawan te- pat mengenai sasaran. Dalam sekejap mata kaki itu mengatung-ngatung hendak putus.

Lelaki bertopeng yang terkena babatan pedang Sang Piao itu hilang keseimbangannya dan roboh. Pada ke- sempatan itu Sang Piao menjejakkan kakinya ke dada lawan hingga muntah darah. Lawannya mengerang- ngerang sebentar, lalu mati dengan lidah menjulur ke- luar. Sedangkan kedua matanya melotot mengerikan. Semua itu terlihat jelas oleh Sang Piao karena ia sem- pat menyambar topeng hitam yang dikenakan lawan- nya. Ia ingin mengetahui wajah orang bertopeng itu. Tapi sebelum ia meneliti lebih jauh lagi, sebuah sera- ngan mendadak melesat ke arahnya.

Sret!

Bahu Sang Piao terkena goresan ujung pedang la- wan.

“Bangsat!” teriak Sang Piao melihat darah  keluar dari bahunya. Lalu ia membalas serangan lawan de- ngan menggunakan jurus ‘Pedang Samber Nyawa’. Pe- dangnya diputar-putar dengan kencang bagai baling- baling kapal. Lalu diarahkan kepada lawannya.

Siuttt!

Dengan kecepatan yang sulit dijangkau pandangan, pedang yang dilempar Sang Piao menembus dada la- wannya.

Blep!

Lawannya jatuh menggeliat-geliat di tanah, lalu am- bruk tak berkutik lagi.

Dengan penuh rasa puas, Sang Piao mencabut kembali pedangnya yang menembus perut lawan. Ke- mudian tubuhnya melenting ke dalam kancah pertem- puran teman-temannya yang mati-matian memperta- hankan nyawa.

Sementara itu Ashiong bersalto menghindari sera- ngan lawan yang begitu gencar. Kemudian dia berdiri lagi dengan mengerahkan ilmu tenaga dalamnya.

“Hiaaat...!” Bug! Bug! Bug!

Dua tendangan kakinya yang dahsyat karena dialiri ilmu tenaga dalam itu membentur dada dua lawannya hingga terpental jatuh disertai cairan merah yang ter- sembur dari mulut mereka. Sedangkan kedua ta- ngannya berhasil mencekal kedua kepala lawan  lain lalu mengadukannya, hingga kedua  batok  kepalanya itu pecah dengan otak berhamburan.

Pertempuran antara pengawal kereta barang dengan perampok bertopeng tak berlangsung lama. Empat di antara lima anak buah Prabu Jalatunda mati tertikam pedang. Sedangkan di pihak lawan beberapa orang menerima ajal amat mengerikan. Ada yang kepalanya pecah, ada yang perutnya robek dengan isi perut ter- burai keluar dan masih banyak lagi yang mengalami kematian yang mengerikan.

Empat orang perampok bertopeng yang masih hidup segera mengambil langkah seribu untuk menyela- matkan diri dari hujaman pedang lawan yang sangat dahsyat. Mereka merasa tidak mampu lagi untuk ber- tempur, apalagi untuk melawan empat anak buah Bongkap.

“Ayo, lanjutkan perjalanan pulang kita!” ajak Ashi- ong. Dengan gerakan sigap ia melompat ke punggung kuda dan menarik tali kekangnya.

Seperti halnya setiap peperangan, serakan mayat selalu menjadi saksi bisu atas ketamakan manusia da- lam hidup. Anyir darah, lalat-lalat, burung-burung pemakan bangkai tetap ingin mewarnai peristiwa yang terlewat dalam catatan kebuasan manusia terhadap yang lain.

***

5

Bukit Setan merupakan satu bukit yang amat ang- ker. Pepohonan besar tumbuh lebat mengapit setiap jalan serta jurang-jurang yang ada di sekitarnya. Mem- buat Bukit Setan menyerupai hutan belantara.

Apabila temaram merambah, suasana di sekitar bu- kit itu menjadi sepi dan gelap pekat. Cahaya purnama pun tidak sanggup menembus karena terhalang oleh lebatnya pepohonan. Karena kegelapan yang meng- hampar bagai bayangan segerombol makhluk raksasa, tidak ada orang yang berani melewati jalan di bukit itu. Bahkan waktu siang pun hanya beberapa kendaraan berkuda saja yang melintas. Selebihnya hanya kelen- gangan dan kesunyian yang mencekam jalan itu.

Di sebelah selatan bukit itu terdapat sebuah goa be- sar yang cukup luas sehingga bisa menampung ratu- san orang. Di dalam goa itu banyak tulang-belulang manusia berserakan. Biasanya serakan kerangka ma- nusia itu berawal dari orang-orang yang tersesat. Me- reka masuk untuk istirahat beberapa  hari  di  dalam goa. Namun pada malam harinya, orang-orang itu di- cabik-cabik oleh binatang buas yang ada di sekitar tempat itu. Kebetulan goa itu adalah sarang berbagai macam binatang liar.

Goa Setan yang dulu terkenal angker, saat itu ber- ubah menjadi ramai. Puluhan tokoh sakti banyak yang datang ke sana dan tinggal menetap di Goa Setan. Ke- banyakan orang-orang yang tinggal di situ merupakan tokoh golongan hitam yang datang dari berbagai dae- rah. Mereka bersatu untuk membentuk sebuah pergu- ruan yang diberi nama Perguruan Topeng Hitam.

Untuk menyesuaikan dengan nama perguruannya, maka seluruh anggotanya tidak diperkenankan mema- kai pakaian yang berwarna lain. Semuanya harus ber- pakaian hitam-hitam. Begitu pula bila keluar rumah, mereka tidak diperbolehkan menampakkan wajah, ke- cuali pada waktu siang hari. Bila hendak melakukan aksinya, walaupun siang harus mengenakan  kedok yang terbuat dari lapisan kain hitam. Hanya pada ba- gian mata saja yang diberi lubang agar dapat melihat.

Perguruan Topeng Hitam dipimpin oleh pasangan suami istri bernama Kidarga dan Nyi Genit. Mereka se- benarnya berasal dari Desa Larangan. Tapi karena su- atu peristiwa yang menyakitkan, keduanya pergi me- ninggalkan Desa Larangan dan bersembunyi di Goa Setan. Di sana keduanya melakukan tapa selama sera- tus hari tanpa makan dan minum, bahkan tidak berge- rak sama sekali. Hingga badan mereka kurus kering, persis manusia tengkorak. Selesai bertapa selama seratus  hari,  Kidarga  dan Nyi Genit langsung membentuk satu perguruan besar yang diberi nama Perguruan Topeng Hitam, sesuai pe- san seseorang yang datang dari alam gaib.

Pagi itu, Kidarga dan Nyi Genit sedang berada di da- lam kamar. Keduanya sama-sama terdiam. Seolah-olah ada sesuatu yang sedang mereka pikirkan.

Kidarga menghela napas. Ia bangkit dari ranjang. Rambutnya yang panjang, kotor dan memutih dibiar- kannya tergerai bebas, menutupi sebagian wajahnya yang hitam gersang. Sedangkan tubuhnya yang tinggal tulang berbalut kulit, dibiarkan terbuka tanpa  pakai- an. Hanya bagian bawahnya saja yang mengenakan ce- lana pangsi warna hitam.

“Ke mana orang-orang itu pergi?!” tanya Kidarga dengan suara yang agak serak. Sedangkan wajahnya menampakkan kekesalan.

“Mungkin mereka mendapat rintangan!” sahut Nyi Genit yang tetap duduk di sisi ranjang sambil menyisir rambutnya yang setengah beruban dan kumal itu. Keadaan tubuhnya pun tak beda dengan Kidarga, hi- tam dan kurus. Ia hanya mengenakan celana pangsi serta stagen sebagai penutup dadanya sampai sebatas pusar.

“Tiga orang yang kusuruh untuk mencari perem- puan muda belum datang, sekarang enam orang yang kusuruh untuk menyusulnya pun lenyap tiada kabar berita!” lanjut lelaki yang berusia kurang lebih enam puluh tahun itu dengan nada kesal.

Tiga orang yang dimaksud Kidarga ini tidak lain orang yang berperut gendut bersama dua orang berwa- jah hitam yang bertarung melawan Bong Mini. Kemu- dian ketiga orang yang mencegat Bong Mini di tengah perjalanan itu berhasil dikalahkan, hingga lari tung-  gang-langgang. Sedang keenam lelaki yang disuruh menyusul mereka tidak lain orang yang mengikuti Pu- tri Bong Mini ketika baru keluar dari warung makan di Kota Girik. Keenam lelaki itu dipimpin oleh seorang berpakaian putih dan rapi, yang semuanya dapat dika- lahkan oleh sabetan-sabetan pedang Bong Mini. Hing- ga akhirnya keenam lelaki itu tak berkutik tanpa nya- wa.

“Mungkin mereka melarikan diri dari perguruan kita karena merasa tidak betah,” lagi-lagi Nyi Genit berkata seperti menyabarkan.

“Mana mungkin, Nyi. Mereka itu adalah orang-orang patuh yang selalu menurut terhadap perintah kita. La- gi pula mereka sudah merasakan kenikmatan dunia yang ada di dalam perguruan kita!” sahut Kidarga, membantah perkiraan istrinya.

Keduanya kembali terdiam. Mereka bermain dengan pikiran masing-masing.

Setelah beberapa saat suasana hening, Kidarga me- langkah menuju sudut kamar yang terdapat sebuah batu besar. Kemudian tubuhnya membungkuk seperti mencari-cari sesuatu di balik batu besar itu. Tak bera- pa lama ia kembali berdiri tegak sambil memegang dua botol berukuran sedang. Satu botol yang digenggam- nya diberikan kepada Nyi Genit, istrinya.

“Ramuan obatku sudah habis, Nyi!” ucap Kidarga saat memperhatikan isi botol yang tinggal sepertiga- nya.

“Ramuanku juga, Ki!” ucap Nyi Genit pula sambil memperhatikan isi botolnya sendiri. “Paling ramuan ini hanya bisa diminum dua sampai tiga kali!” lanjut Nyi Genit. Lalu ramuan obat itu segera diteguknya dengan kedua mata yang terpejam. Seolah-olah merasakan kenikmatan yang ditimbulkan oleh ramuannya itu. Apa yang dilakukan Nyi Genit, dilakukan pula oleh Kidarga. Ketika mulut botol itu menjauh dari bibirnya, terlihatlah warna merah seperti darah segar menempel di sana.

Di saat keduanya sedang diliputi oleh keresahan, ti- ba-tiba terdengar suara seorang murid memanggil dari luar kamar.

“Guru! Guru!”

Kidarga segera melangkah menuju pintu kamar lalu membukanya.

“Ada apa?” tanya Kidarga. Sepasang mata cekung- nya yang merah menatap muridnya dengan tajam.

“Maaf, Guru! Saya ingin memberitahukan bahwa ti- ga murid yang diutus keluar dua hari yang lalu telah kembali!” lapor muridnya itu memberitahukan. Se- dangkan tubuhnya terbungkuk-bungkuk sebagai  tan- da hormat.

“Suruh mereka tunggu!” ujar Kidarga.

“Baik, Guru!” sahut muridnya. Lalu ia pun segera meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Kidarga kemba- li masuk ke dalam untuk mengambil  baju  kokonya yang berwarna hitam dan memakainya.

“Kita temui mereka, Nyai!” ajak Kidarga pada istri- nya yang juga tengah mengenakan baju.

“Baik, Ki!” sahut Nyi Genit seraya meraih tongkat berkepala ular naga. Begitu pula dengan Kidarga. Lalu keduanya beriringan menuju ruang depan.

Di ruang depan, kedua suami istri itu langsung me- mandang tajam pada ketiga anak buahnya. Tiba-tiba saja mata mereka terbelalak kaget ketika menyaksikan anak buahnya yang berperut gendut.

“Ada apa dengan dia?” tanya Kidarga sambil terus memandang si gendut yang masih terkulai lemas aki- bat totokan Bong Mini. “Ampun, Guru. Kami mengalami kegagalan!” ucap seorang dari mereka sambil bersujud hormat.

“Maksudmu?” tanya Kidarga dengan matanya yang mencorong.

“Ketika kami hendak membawa seorang gadis mu- ngil untuk Tuanku, tiba-tiba gadis itu mengadakan perlawanan. Ternyata dia bukan gadis biasa, boleh di- kata seorang pendekar wanita,” cerita anak buahnya tadi, melaporkan pengalaman mereka ketika berhada- pan dengan Bong Mini.

“Terus?” desak Kidarga.

“Terpaksa kami bertiga bertempur untuk menakluk- kan gadis itu. Tapi rupanya dia mempunyai kepan- daian yang sangat tinggi, hingga pada satu kesempa- tan ia berhasil menotok jalan darah si gendut!”

“Setelah si gendut terkulai, kalian melarikan diri, begitu?” tanya Nyi Genit.

“Benar, Guru. Dia terlalu pandai!” sahut anak buahnya itu.

Mendengar jawaban muridnya seperti itu, tongkat berkepala ular naga yang sejak tadi digenggamnya kini terangkat. Lalu ujung tongkat itu dihentakkan ke dada muridnya yang melapor. Dalam sekejap darah mengu- cur dari mulutnya, akibat hentakan tongkat Nyi Genit yang demikian keras.

“Aaakh...!” pekiknya tertahan. Beberapa saat kemu- dian tubuhnya tersungkur ke tanah tanpa daya.

Melihat kejadian itu, tubuh temannya yang masih segar segera mengkeret. Dia merasa yakin kalau na- sibnya akan sama dengan temannya tadi.

“Kalian ternyata hanya menang tampang! Sedang- kan jiwa kalian jiwa pecundang!” setelah berkata begi- tu, ujung tongkat Nyi Genit kembali bergerak ke dada muridnya yang mengerut ketakutan. Kali ini sentu- hannya terlihat amat pelan. Namun akibat begitu he- bat. Murid yang tersentuh ujung tongkat itu langsung jatuh lemas seperti orang yang terkuras habis tena- ganya.

Melihat muridnya jatuh lemas, Nyi Genit tertawa cekikikan. Mirip suara kuntilanak yang tengah meng- goda orang.

“Hi hi hi..., kalian berdua harus menyusul kematian temanmu itu. Tapi sebelum kurenggut nyawamu, aku akan lebih dulu mengisap darahmu. Lumayan, untuk melanggengkan kesaktianku!” seringai Nyi Genit sam- bil mendekati kedua tubuh yang masih terdiam lemah.

“Jangan, Guru! Jangan lakukan itu!  Kasihanilah saya!” rengek seorang muridnya. Tapi Nyi Genit sendiri sudah kebal dengan rengekan-rengekan semacam itu. Tanpa peduli, jari-jari Nyi Genit segera mencengkeram leher seorang anak buahnya hingga lidahnya menjulur. Kemudian lidah anak buahnya yang keluar itu lang- sung dikulum dengan mulutnya yang sudah peot itu.

Lelaki yang bibirnya dicium dengan dahsyat itu hanya dapat merintih dengan dua matanya mendelik karena menahan sakit. Kemudian dari mulutnya itu keluar darah segar. Karena lewat ciuman itu, Nyi Genit telah menggigit bibir dan lidah anak buahnya itu hing- ga pecah-pecah. Lewat bibir dan lidah yang pecah- pecah itu, Nyi Genit mengisap darahnya dengan penuh nafsu. Belum puas mendapatkan darah dari lidah dan bibir anak buahnya itu, Nyi Genit mengalihkan ci- umannya pada leher.

Seorang pengikut Perguruan Topeng Hitam yang di- isap darahnya itu meronta-ronta seperti seekor ayam yang disembelih. Matanya melotot memandang ke arah teman-temannya seperti meminta tolong. Lalu tubuh- nya kelihatan berkelojotan ketika Nyi Genit yang be-  rumur enam puluh tahun itu mengisap darahnya lewat lehernya. Urat-urat besar di lehernya ditembus oleh gi- gi runcing Nyi Genit.

Melihat nasib temannya, lelaki  berperut  gendut yang tubuhnya masih bersandar lemas menjadi terbe- lalak penuh kengerian. Dan ia langsung mengira bah- wa nanti ia pun akan mendapat  siksaan  yang  sama dari pemimpinnya. Oleh karena itu, ia memejamkan kedua matanya kuat-kuat, tak tahan menyaksikan pemandangan yang mengerikan di depan hidungnya.

Kini, murid Perguruan Topeng Hitam yang darahnya diisap itu terlihat tak berdaya lagi. Matanya yang tadi melotot, berubah menjadi meredup tanpa sinar. Wa- jahnya makin pucat. Lalu tubuh yang lemas itu perla- han-lahan meregang dari pelukan Nyi Genit dan am- bruk ke tanah. Sedangkan Nyi Genit sendiri tampak tersenyum-senyum puas karena telah dapat menikmati darah anak buahnya. Walaupun darah yang diisapnya hanya dapat melanggengkan kesaktiannya.

“Hi hi hi..., sekarang giliranmu, Gendut!” kata Nyi Genit seraya menghampiri lelaki gendut yang masih memejamkan kedua matanya karena ngeri.

Tubuh si gendut tidak bergeming. Kedua matanya pun tidak berani dibuka. Dia sudah memasrahkan di- rinya terhadap segala sesuatu yang akan terjadi.

Demikianlah, untuk yang kedua kalinya, Nyi Genit melakukan perbuatan keji itu, mengisap darah mang- sanya yang sudah tidak berdaya. Itu dilakukan pada anak buahnya yang tidak becus  dan  bernyali  kecil. Oleh karena itu, bagi anak buahnya yang berpikir pan- jang, lebih baik mati di tangan musuh  ketimbang ha- rus kembali ke markas perguruan yang pada akhirnya akan mati juga dengan cara yang lebih mengerikan.

Setelah puas mengisap darah kedua anak buahnya, Nyi Genit segera melangkah ke dalam dengan wajah berseri serta bibir tersenyum.

Sementara itu, Kidarga yang menyaksikan perbua- tan istrinya, turut tersenyum-senyum, memandangi ketiga mayat anak buahnya. Sedangkan hatinya  sen- diri iri. Ingin menikmati darah sebanyak yang diisap istrinya. Tapi ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Ka- rena darah perawan yang dibutuhkan tidak ada. Oleh karena itu, dia hanya bisa diam mendongkol.

“Lemparkan mayat-mayat itu ke jurang!” perintah Kidarga kepada anak buahnya yang ada di situ.

Tiga orang anak buahnya segera bergerak dan me- narik  mayat  temannya  keluar  goa.  Ketika  sampai  di luar goa, mereka membopongnya  menuju  jurang  yang tak jauh dari situ.

Beberapa menit setelah ketiga mayat itu dibawa ke jurang Bukit Setan, tiba-tiba muncul sebelas orang bertopeng dengan membawa sepuluh wanita dan seo- rang laki-laki bermata sipit. Mereka tidak lain orang- orang Perguruan Topeng Hitam yang semalam menye- rang markas Partai Persatuan Ular Hitam di bawah pimpinan Yang Seng. Adapun sepuluh wanita yang mereka bawa itu merupakan hasil dari penyerangan semalam. Sedangkan lelaki bermata sipit itu tidak lain pemimpin Partai Persatuan Ular Hitam yang berhasil dikalahkan pemimpin pasukan orang bertopeng.

Setelah mereka sampai di markasnya, barulah me- reka membuka topeng yang selama dalam aksinya me- nyembunyikan wajah mereka. Kini terlihatlah  wajah asli mereka. Wajah-wajah hitam pekat, kumal dengan sorot mata yang memancar tajam menakutkan. Se- hingga memberi gambaran bahwa mereka adalah orang-orang bengis. Terutama pemimpin pasukan yang mempunyai wajah hitam pekat dengan rambut kumal panjang yang dibiarkan tergerai sebatas bahu. Sepa- sang matanya yang menjorok ke dalam memberikan kesan yang amat menyeramkan bagi siapa saja yang melihatnya. Kemudian, setelah membuka topeng penu- tup wajahnya, kakinya terus melangkah ke dalam un- tuk menemui pemimpinnya, Kidarga

“Saya menghadap, Guru!” ucap pimpinan  pasukan itu seraya membungkuk hormat.

Kidarga yang baru saja duduk di kursi kebesa- rannya segera bangkit seraya menatap anak buahnya yang menghadap dengan pandangan mata tajam. Se- dangkan tangan kanannya tak lepas memegang tong- kat sakti berkepala ular naga.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya Kidarga dingin. Namun kedua matanya tetap mencorong  ke arah anak buahnya yang tengah berdiri menghormat.

“Beres, Guru. Malah hasilnya melebihi  apa  yang Guru perintahkan kepada kami!”

“Maksudmu?” Kidarga maju dua langkah mende- kati.

“Rumah yang kami rampok itu ternyata sebuah markas perguruan yang bernama  Partai  Persatuan Ular Hitam. Dan di markas itu kami melakukan per- tempuran-pertempuran sengit. Tapi akhirnya, kami dapat mengalahkan mereka. Bahkan pemimpin yang bernama Yang Seng menyatakan tunduk dan bersedia menjadi pengikut Perguruan Topeng Hitam!” lapor pe- mimpin pasukan, menceritakan pengalamannya.

Kidarga tertawa terbahak-bahak mendengar penu- turan pengikutnya yang ditugaskan merampok. Ta- ngannya menepuk-nepuk pundak anak buahnya seba- gai tanda kagum.

“Kau memang hebat. Tidak sia-sia aku mengangkat- mu sebagai pemimpin pasukan!” puji Kidarga sambil terus tertawa.

“Terima kasih, Guru!” ucapnya. Bibirnya memperli- hatkan senyum bangga karena dipuji.

“Sekarang, aku akan melihat tampang Ketua Partai Persatuan Ular Hitam yang berhasil kamu  kalahkan itu!”

“Baik, Guru. Saya akan  mengantarnya!” katanya la- gi, seraya membuntuti langkah Kidarga.

Sampai di luar goa, Kidarga meneliti orang-orang yang ada di depannya. Lalu pandangannya tertuju pa- da sepuluh wanita yang duduk ketakutan. Apalagi ke- tika ia melangkah mendekat.

“Ha ha ha...! Kau benar-benar hebat, Giwang. Baru kali ini aku melihat perempuan-perempuan cantik se- perti ini. Benar-benar mengundang gairah semangat- ku!” Kidarga kembali tertawa terbahak. Lalu panda- ngannya beralih pada Yang Seng.

“Inikah Ketua Partai Persatuan Ular Hitam yang kamu maksudkan itu?” tanyanya kepada pemimpin pasukan yang bernama Giwang.

“Benar, Guru. Dia  mempunyai  kepandaian  silat yang dapat diandalkan untuk membantu cita-cita Per- guruan Topeng Hitam!” sahut Giwang, menjelaskan tentang kepandaian silat yang dimiliki Yang Seng.

“Ya, ya. Aku telah membaca kepandaiannya dari si- nar matanya!” kata Kidarga. Ditatapnya  mata  Yang Seng dengan tajam, tepat pada manik-maniknya.

“Kau bersedia mengabdi dan mematuhi segala pe- rintah dan peraturanku?” tanya Kidarga dengan suara berat dan serak.

“Peraturan apa pun yang ada di perguruan ini, saya bersedia menerima dan melakukannya, Guru!” sahut Yang Seng dengan hormat.

Kidarga kembali tertawa terbahak. Bukan saja gem- bira pada jawaban Yang Seng yang spontan, tetapi juga gembira karena Yang Seng langsung memanggilnya dengan sebutan guru.

“Nah, sekarang, masuklah kalian ke dalam dan amankan perempuan-perempuan itu ke kamarku!” pe- rintah Kidarga kepada anak buahnya.

Mendapat perintah itu, serentak anak buahnya ma- suk ke dalam dengan membawa ke sepuluh wanita menuju kamar khusus.

“Giwang!” panggil Kidarga ketika Giwang hendak masuk ke dalam.

Giwang menghentikan langkah, lalu  berbalik  ke arah Kidarga.

“Besok pagi carilah wanita muda untukku!” perin- tah Kidarga.

“Bukankah Guru telah memerintahkan  si  gendut dan dua orang temannya serta enam orang yang me- nyusul mereka?” tanya Giwang.

“Memang aku telah menyuruh muridku yang lain. Tapi si gendut dan dua orang temannya telah mati di tangan Nyi Genit. Sedangkan enam orang lainnya en- tah pergi ke mana. Mungkin mereka pun sudah pada mampus!” kilah Kidarga dengan suara yang amat ge- ram.

“Baiklah, Guru. Kalau begitu besok saya akan men- carinya!” kata Giwang menyetujui. Setelah itu, kedua- nya melangkah masuk ke dalam goa.

*** 6

Dengan dikalahkannya Partai Persatuan Ular Hitam dan bergabungnya Yang Seng bersama beberapa anak buahnya pada Perguruan Topeng Hitam, membuat orang-orang Perguruan Topeng Hitam bertambah se- mena-mena. Setiap hari orang-orang  dari  perguruan itu berkeliaran ke kampung-kampung. Di sana mereka merampas harta penduduk, terutama anak-anak mu- da.

Penduduk yang tadinya tak pernah kenal minuman keras atau berjudi, kini sudah mulai dibuai ayunan kenikmatannya. Bagi mereka yang tetap bertahan, ti- dak mau mengikuti jejak Perguruan Topeng Hitam, orang-orang Perguruan Topeng Hitam tidak segan- segan melakukan pembunuhan di tempat. Membuat semua orang ngeri melihatnya.

Selain merampas harta penduduk dan menyebar- kan segala macam perbuatan maksiat, orang-orang Perguruan Topeng Hitam pun melakukan penculikan terhadap kaum wanita. Bukan saja yang masih terbi- lang perawan, wanita yang sudah bersuami pun mere- ka culik. Malah tidak segan-segan mereka memperkosa kaum istri di hadapan suaminya. Kalau suami itu membangkang, tak mau melihat istrinya yang sedang diperkosa, maka orang-orang Perguruan Topeng Hitam akan melakukan penganiayaan terhadapnya. Mau ti- dak mau sang Suami menyaksikan bagaimana istrinya menderita, melayani nafsu setan beberapa lelaki dari Perguruan Topeng Hitam dengan hati teriris tanpa daya.

Begitulah sepak-terjang orang-orang Perguruan To- peng Hitam. Kebejatan moral yang menguasai diri orang-orang Perguruan Topeng Hitam, disebarkan pa- da kalangan penduduk, terutama kepada para rema- janya. Ini membuat Yang Seng semakin senang berga- bung dengan mereka. Karena memang itu yang sebe- narnya ia inginkan.

Keresahan akibat sepak-terjang orang-orang Pergu- ruan Topeng Hitam tidak saja dirasakan oleh masyara- kat kelas bawah yang tidak berdaya, tetapi juga terasa oleh orang-orang perguruan yang beraliran putih. Na- mun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab selain jumlah mereka sangat banyak, ada pula orang-orang dari aliran putih yang masuk ke Perguruan Topeng Hi- tam karena tergiur oleh kenikmatan semu. Berjudi, mabuk, dan perempuan.

Apa yang dirasakan oleh rakyat dan tokoh-tokoh aliran putih, juga dirasakan oleh Bongkap dan Prabu Jalatunda. Kini mereka berdua sedang  bercakap-ca- kap, ditemani oleh Bong Mini dan Ningrum, istri Prabu Jalatunda. Mereka memperbincangkan sepak-terjang orang-orang Perguruan Topeng Hitam

“Apa yang harus kita perbuat untuk menghentikan sepak-terjang orang-orang Perguruan Topeng Hitam, Bongkap?” tanya Prabu Jalatunda dengan sikap penuh persahabatan. Mereka duduk melingkar menghadap meja makan yang tersedia bermacam buah-buahan, sebagai makanan selingan di saat mereka beristirahat.

Bongkap yang mendapat julukan Singa Perang ter- diam beberapa saat. Keningnya berkerut karena berpi- kir untuk mencari jalan terbaik yang harus mereka la- kukan untuk menghentikan kebrutalan orang-orang Perguruan Topeng Hitam.

“Kalau kita membiarkan sepak-terjang mereka terla- lu lama, khawatir seluruh kampung di negeri ini men- jadi tempat maksiat,” tambah Prabu Jalatunda lagi dengan wajah yang menampakkan kemurungan.

“Aku pun berpikir begitu, Prabu,” sahut Bongkap dengan suara lemah tapi tetap mengandung wibawa. “Untuk menumpas kejahatan mereka, kita harus ber- pikir masak-masak. Mereka bukan orang-orang sem- barangan. Terutama gurunya,” lanjut Bongkap penuh pertimbangan.

“Ya, dua guru mereka merupakan tokoh sakti bera- liran hitam yang tidak bisa dilawan oleh orang berilmu tanggung,” balas Prabu Jalatunda.

“Itulah kesesatan yang diyakini!” sahut Bongkap. “Maksudmu?” tanya Prabu Jalatunda.

“Sebuah ilmu sesat yang kalau kita yakini akan menjadikan kekuatan yang luar biasa,” jelas Bongkap.

Prabu  Jalatunda  mengangguk-angguk  mengerti. “Itu baru  kesesatan  yang  diyakini,  lalu  bagaimana

kalau kebenaran yang diyakini, sulit dibayangkan,” ucap Prabu Jalatunda seperti berkata pada diri sendiri. “Tapi sayangnya, manusia cenderung meyakini ke- sesatan ketimbang kebenaran. Karena persyaratan un- tuk mendapatkan ilmu semacam itu sesuai dengan keinginan-keinginan nafsunya. Berbeda dengan ilmu putih, ilmu kebenaran. Mereka justru harus menge- kang nafsu liarnya dan mengganti dengan keinginan yang menjurus pada perbuatan-perbuatan baik. Jadi mereka harus bersih jiwa raga,” timpal Bongkap yang sudah mempelajari berbagai macam ilmu walau tanpa

pendalaman yang cukup.

Prabu Jalatunda diam-diam mengagumi isi pikiran Bongkap. Sungguh suatu keuntungan aku bisa berke- nalan dengan orang bijak seperti Bongkap, pikirnya.

Beberapa saat suasana hening.

Bongkap dan Prabu Jalatunda masing-masing ber- pikir mengenai cara untuk mengikis habis orang-orang Perguruan Topeng Hitam. Itu harus benar-benar dilak- sanakan. Selain untuk menyelamatkan orang banyak, juga untuk menyelamatkan tiga orang dayangnya dan perempuan-perempuan yang berada dalam cengkera- man Perguruan Topeng Hitam.

Bongkap sungguh tidak dapat membayangkan ba- gaimana nasib ketiga dayang dan perempuan-perem- puan yang diculik oleh orang-orang Perguruan Topeng Hitam. Tentu mereka sangat menderita fisik dan men- tal menghadapi kebuasan mereka.

Dalam keheningan suasana di kamar tengah itu, di- am-diam Ningrum, istri Prabu Jalatunda  mengajak Bong Mini meninggalkan ruangan menuju kamarnya. Biarlah masalah orang-orang Perguruan Topeng Hitam diselesaikan oleh orang-orang lelaki, pikirnya.

Sebenarnya Bong Mini masih ingin duduk berlama- lama di situ, mendengarkan pendapat-pendapat dari dua lelaki yang ia kagumi, Bongkap dan Prabu Jala- tunda. Namun untuk menghormati istri Prabu Jala- tunda, akhirnya ajakan itu diikuti juga.

“Untuk menumpas orang-orang Perguruan Topeng Hitam, jalan satu-satunya kita harus mempersatukan para pesilat dari golongan putih. Sebab hanya dengan persatuan yang kokoh kita baru bisa mengalahkan me- reka!” simpul Bongkap setelah putrinya masuk ke ka- mar bersama istri Prabu Jalatunda.

“Betul juga. Kita harus bertindak sesuai kata sepa- kat dan persatuan,” kata Prabu Jalatunda membenar- kan pendapat Bongkap. “Kalau begitu kita harus sege- ra mengumpulkan mereka, bagaimana?” lanjut Prabu Jalatunda, meminta pendapat Bongkap.

“Itu pun ada baiknya,” sahut Bongkap tanpa kebe- ratan.

Setelah mendengar persetujuan Bongkap, Prabu Ja- latunda segera memerintahkan para pengawalnya un- tuk menghubungi tokoh-tokoh perguruan aliran putih untuk berkumpul di rumahnya.

“Nanti siang aku pun akan menghubungi Kanjeng Rahmat Suci dari Gunung Muda,” ucap Prabu  Jala- tunda setelah memerintahkan para pengawalnya.

“Siapa dia?” tanya Bongkap.

“Beliau seorang tokoh sakti yang mempunyai ilmu putih. Di tempatnya pula anakku, Baladewa, menuntut ilmu,” jawab Prabu Jalatunda menjelaskan.

Bongkap mengangguk-angguk.

“Dan, aku berharap sekali agar kau juga bersedia berkunjung ke sana!” lanjut Prabu  Jalatunda  menga- jak Bongkap.

“Saya sangat senang menerimanya, Prabu!” sahut Bongkap seraya tersenyum. Lalu keduanya pun saling menepuk bahu penuh persahabatan.

“Sekarang kita makan siang dulu sebelum berang- kat ke sana!” ajak Prabu Jalatunda. Lalu ia melangkah menuju kamar, di mana istrinya dan Bong  Mini bera- da.

“Rayi,” panggil Prabu Jalatunda saat berdiri di am- bang pintu.

“Ya, Kakang!” Ningrum yang sedang duduk berca- kap-cakap di ranjang segera bangkit menatap sua- minya.

“Tolong Rayi siapkan hidangan makan siang. Kita makan sama-sama,” kata Prabu Jalatunda.

“Baik, Kakang!” ucap Ningrum. Lalu ia segera keluar untuk menyediakan hidangan makan siang. Dibantu oleh Bong Mini.

Selesai makan siang, Prabu Jalatunda, Bongkap, Ningrum dan Bong Mini segera bersiap-siap untuk be- rangkat menuju Gunung Muda. Sebenarnya Prabu Jalatunda tidak mengizinkan is- trinya ikut mengingat situasi yang demikian rawan akibat ulah orang-orang Perguruan Topeng Hitam, namun karena istrinya tetap merengek hendak ikut untuk melihat anaknya yang sudah lama tak bertemu, akhirnya Prabu Jalatunda mengizinkan juga.

Prabu Jalatunda dan Bongkap duduk di depan ke- reta kuda, sedangkan Bong Mini bersama istri Prabu Jalatunda duduk di bagian belakang. Disertai oleh em- pat anak buah Bongkap dan sepuluh anak buah Prabu Jalatunda yang mengawal mereka.

***

Perjalanan menuju Gunung Muda memang berjalan lancar. Tidak ada hambatan-hambatan mencurigakan yang datang dari orang-orang Perguruan Topeng Hi- tam. Hingga hari mulai merayap menuju kegelapan. Namun, saat mereka melewati sebuah bukit, tiba-tiba mereka melihat segerombolan orang bertopeng berdiri di tengah jalan yang hendak dilewati.

Ashiong yang menjadi pimpinan pengawal perjala- nan segera memberi isyarat.

“Berhenti!”

Serentak para pengawal lain berhenti. Sedang Ashi- ong membalikkan kudanya menuju kereta kuda, di mana Bongkap, Prabu Jalatunda, Ningrum dan Bong Mini berada.

“Ada apa?” tanya Bongkap melihat kehadiran Ashi- ong yang demikian terburu-buru.

“Jalan kita terhenti, Tuanku!” sahut Ashiong mem- beri laporan.

“Maksudmu?”

“Ada sekelompok orang bertopeng berada di ujung jalan sana. Mereka berdiri membuat barisan untuk menghadang kita!” Ashiong menjelaskan.

“Hm..., rupanya sejak tadi mereka membuntuti kita dan baru menghadangnya di jalan ini,” gumam Bong- kap agak geram.

“Lalu bagaimana dengan perjalanan kita?” tanya Ashiong menunggu keputusan Bongkap.

“Bagaimana, Prabu Jalatunda?” Bongkap bertanya kepada Prabu Jalatunda karena beliaulah yang mem- punyai rencana kepergian itu.

“Kita sudah telanjur menempuh perjalanan jauh. Sedangkan menuju Gunung Muda tidak lama lagi akan sampai,” jawab Prabu Jalatunda.

Bongkap mengerti ucapan Prabu Jalatunda. Kemu- dian ia segera memerintah Ashiong untuk terus melan- jutkan perjalanan.

Ashiong segera menunggang kudanya kembali un- tuk bergabung dengan para pengawal lain yang ada di depan. Tapi sebelum mereka memacu kuda, tiba-tiba dari arah semak-semak dan dari atas pohon bermun- culan orang-orang bertopeng yang langsung mengelili- ngi mereka. Ketika orang-orang bertopeng itu menge- pung, pasukan bertopeng yang ada di ujung jalan se- gera menarik tali kekang kuda untuk mendekati rom- bongan kereta kuda.

“Ha ha ha..., akhirnya kita bertemu di sini, Bong Kian Fu!” seru seorang lelaki bertopeng yang menjadi pemimpinnya.

Bongkap terkejut mendengar orang itu mengenal namanya.

“Siapa kau dan dari mana kau tahu namaku?!” ben- tak Bongkap dengan suara yang memecah keheningan malam.

“Siapa pun aku, kau tidak perlu tahu. Kau  pasti sudah dapat menebak asalku!” jawab pemimpin pasu- kan bertopeng itu.

“Hm..., dia berasal dari negeri Manchuria,” gumam Bongkap membuat Bong Mini terkejut. Hampir saja ia ingin membuka tirai kereta kuda untuk melihat para pengepung. Tapi untung segera dicegah Prabu Jala- tunda. Khawatir keselamatan kedua perempuan itu te- rancam.

“Lalu apa maksudmu menghadang kami?” teriak Bongkap lagi.

“Aku ingin membawa kepalamu untuk kupersem- bahkan kepada seorang raja yang dulu memimpinmu!” sahut pemimpin pasukan bertopeng.

Bongkap mendengus. Ia semakin yakin kalau orang bertopeng itu adalah seorang kepercayaan Raja Man- churia. Namun yang masih  ia herankan  kenapa sam- pai masuk ke Perguruan Topeng Hitam? Apakah orang-orang bertopeng itu prajurit-prajurit Kerajaan Manchuria yang sengaja membuat huru-hara sambil mencari dirinya?

“Kenapa tidak kepalamu saja yang kau persembah- kan kepada raja lalim itu?” teriak Bongkap geram.

“Bangsat! Rupanya kau masih sombong, Kapten Kang?” bentak lelaki bertopeng penuh nafsu.

“Sombong lawan sombong jadi impas, bukan?” “Bedebah! Serang mereka!” teriak pemimpin pasu-

kan bertopeng, memberi aba-aba pada orang-orangnya. Mendapat aba-aba itu, orang-orang bertopeng yang jumlahnya mencapai dua puluh lima orang segera me- nyerang  para  pengawal  kereta  kuda  yang  berjumlah

empat belas orang.

Melihat jumlah yang tidak seimbang itu, Bongkap segera bersiap-siap hendak mengadakan perlawanan.

“Kau tetap di sini untuk menjaga Bibi Ningrum. Dan kalau ada apa-apa segeralah berteriak!” pesan Bong- kap kepada putrinya yang duduk di dalam kereta ku- da. Kemudian tubuhnya langsung melesat  menuju arena pertempuran.

“Hiaaat!”

Jurus-jurus kungfu Bongkap yang terkenal ganas dalam menggebrak lawan langsung dikeluarkan. O- rang-orang bertopeng harus dilawan dengan kekerasan tanpa ampun, pikirnya. Ia bertekad untuk memusnah- kan mereka dari muka bumi.

Ketika melihat bagaimana ganasnya Bongkap me- nyerang lawan, Prabu Jalatunda segera turun dari ke- reta kuda untuk membantu pasukannya.

“Mau ke mana, Kakang?” tanya Ningrum, penuh khawatir.

“Aku akan turut membantu!” jawab Prabu Jalatun- da.

“Hati-hati, Kang!” Ningrum memperingatkan.

Prabu Jalatunda mengangguk. Kemudian ia segera melompat ke ajang pertempuran.

Sebenarnya Bong Mini sudah begitu gemas ingin tu- run ke medan pertempuran untuk melawan pasukan bertopeng. Namun karena di sebelahnya duduk seo- rang perempuan yang tak memiliki ilmu bela diri, ter- paksa ia duduk terpaku di dalam sambil mendengar teriakan-teriakan kematian. Atau sesekali membuka tirai jendela untuk melihat pertempuran itu.

Sret! Sret! Sret!

Sambaran tiga bilah pedang lawan berkelebat ganas untuk mencincang tubuh Bongkap. Namun dengan ge- rakan yang manis, Bongkap mengelakkan serangan- serangan itu.

“Hiyaaa...!”

Bongkap meloncat sambil terus bersalto di atas ta- nah. Kemudian ia kembali berdiri tegak menantang. Sreset!

Pedang yang terselip di punggungnya segera ditarik. Kemudian dengan jurus pedang ‘Samber Nyawa’ yang digabung dengan jurus ‘Tanpa Bayangan’, Bongkap se- gera membalas serangan orang-orang bertopeng.

“Hiaaat!” Bug! Sret!

Tendangan dan pedang yang diarahkan Bongkap ke tubuh lawan sangat tepat mengenai sasaran. Dua la- wan tersungkur sekaligus di tanah. Yang satu mati mengeluarkan darah kental dari mulutnya akibat ten- dangan Bongkap yang begitu keras di dadanya. Sedang yang lain mati dengan leher tergorok pedang Bongkap.

“Heh, Setan Congek! Jangan bengong di situ! Maju- lah kalau memang menginginkan kepalaku!” tantang Bongkap kepada pemimpin Perguruan Topeng Hitam yang sejak tadi hanya duduk di punggung kuda me- nyaksikan pertempuran.

“Monyet buduk! Rasakan pukulanku!” teriak Ketua Perguruan Topeng Hitam berang sambil melancarkan jurus ‘Angin Setan Mencekik Leher’. Sejurus kemudian angin kencang berhembus ke arah Bongkap lalu cepat melilit lehernya.

Bongkap yang tidak menyangka kehebatan jurus yang dikeluarkan lawan menjadi kewalahan. Tubuhnya meronta-ronta untuk menghindari  serangan  angin yang melilit lehernya. Tapi usahanya sia-sia karena matanya tidak dapat menangkap wujud angin itu.

Ketua Perguruan Topeng Hitam tertawa terbahak- bahak melihat Bongkap yang kewalahan menghindari jurus ‘Angin Setan Mencekik Leher’ yang dikeluarkan kedua tangannya.

“Malam ini nyawamu akan berakhir, Bong Kian Fu!” teriak orang bertopeng itu disertai tawa terbahak-ba- hak, memecah keheningan malam.

Mendengar nama papanya disebut oleh pemimpin pasukan bertopeng itu, Bong Mini segera mendongak- kan kepala keluar untuk mengetahui apa yang terjadi dengan papanya.

“Papa!” jerit Bong Mini ketika melihat tubuh pa- panya berguling-guling seperti berjuang melepaskan sesuatu yang melilit tubuhnya. Lalu ia melompat hen- dak memburu papanya.

“Bong Mini. Jangan, Nak!” cegah Ningrum, istri Pra- bu Jalatunda. Namun Bong Mini sudah melesat ke arah papanya.

Istri Prabu Jalatunda menjadi cemas terhadap kese- lamatan Bong Mini. Ia hendak turun mencoba me- manggil Bong Mini. Tapi niatnya itu ia urungkan kem- bali mengingat keselamatan jiwanya. Karena ia tidak memiliki ilmu bela diri apa-apa. Akhirnya ia hanya bisa melihat Bong Mini yang berdiri terpaku di dekat tubuh papanya yang bergelinjang-gelinjang liar.

Bong Mini memang hanya dapat berdiri di dekat pa- panya. Ia ingin menolong tapi tidak bisa karena ma- tanya tidak melihat musuh papanya. Ia hanya dapat melihat keadaan papanya yang seperti seekor ikan ter- dampar.

“He he he..., ada perempuan juga rupanya!” ucap pemimpin pasukan ketika melihat kehadiran  Bong Mini.

Bong Mini tidak mengacuhkan ucapannya. Ia masih terpaku melihat papanya yang mulai lemah karena te- naganya terkuras habis.

“Pengawal! Tangkap perempuan itu dan bawa ke si- ni!” seru Ketua Perguruan Topeng Hitam itu.

Dua orang di antara Perguruan Topeng Hitam yang sedang melakukan serangan segera memburu ke arah Bong Mini untuk menangkapnya.

Namun sebelum tangan kedua orang bertopeng itu menyentuh tubuh Bong Mini, tiba-tiba tubuh kedua orang itu terpental. Mereka terjatuh berdebum. Sebe- lum keduanya sempat menyadari apa yang terjadi, tu- buh mereka diserang rasa panas luar biasa. Mereka menggelepar-gelepar dan pelan-pelan tubuh kedua orang itu hangus lalu tidak berkutik lagi.

Melihat kedua anak buahnya jatuh mendadak de- ngan tubuh hangus, ketua pasukan bertopeng itu ter- belalak kaget.

“Bangsat! Siapa yang melakukan ini!” geramnya dengan mata menyebar ke sekelilingnya. Tapi yang ter- lihat hanya kegelapan malam yang menyeluruh.

“Hei, siapa pun dirimu, perlihatkanlah! Jangan ber- sembunyi seperti keong!” maki orang bertopeng itu. Namun tak ada tanda-tanda ada orang di kegelapan malam.

Sementara itu pertempuran antara para pengawal dengan pasukan bertopeng praktis terhenti ketika me- lihat dua orang bertopeng mati mendadak dengan tu- buh hangus terbakar. Mereka sama-sama ingin menge- tahui siapa orang yang melakukan serangan  menda- dak itu. Mereka yakin kalau orang itu bukan orang sembarangan.

Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, muncul se- seorang berpakaian putih-putih dengan wajah tertutup kain putih pula. Hanya pada bagian matanya saja yang terbuka.

“Bangsat! Rupanya kau yang ikut campur dalam pertempuran ini!” bentak pemimpin pasukan berto- peng.

“Aku tidak sengaja,” jawab lelaki itu dari balik kain yang menutupi. “Setan roban! Rasakan pukulanku ini!” teriak pe- mimpin pasukan bertopeng seraya mengirim serangan ‘Angin Setan Mencekik Leher’ kembali.

“Kembalilah kau kepada orang yang  telah  memeli- hara dan memerintahmu!” seru lelaki yang wajahnya tertutup kain putih tanpa bergerak sedikit pun.

Setelah dia berkata begitu, mendadak lawannya ter- pelanting dari punggung kuda sambil mengerang- ngerang. Tak berapa lama kemudian pemimpin pasu- kan bertopeng tak berkutik dengan leher membiru se- perti dicekik.

Bersamaan dengan kematian Ketua Perguruan To- peng Hitam itu, tubuh Bongkap perlahan-lahan pulih kembali. Rasa sakit pada lehernya hilang seketika.

Melihat pemimpinnya mati dengan tubuh yang mengerikan, orang-orang dari Perguruan Topeng Hitam itu segera mengambil langkah seribu. Mereka tidak in- gin mengalami nasib yang sama.

“Terima kasih. Kau telah  menolongku  dari  kema- tian!” ucap Bongkap ketika orang-orang bertopeng itu sudah tidak terlihat lagi.

“Bukan aku. Tapi Yang Menguasai dirimu!” ujar le- laki yang menutupi wajahnya dengan kain putih itu. Sebelum sempat orang-orang di sekitarnya bertanya, lelaki itu telah berkata kembali, “Batalkan rencana ke- pergian kalian!” Setelah berkata begitu, tubuhnya se- gera melesat pergi lalu hilang ditelan kegelapan.

Orang-orang yang menyaksikan kehebatan lelaki itu menghela napas kagum.

“Saya yakin, dialah yang dulu pernah menyela- matkan saya dari pemerkosaan beberapa hari lalu. Hanya penutup mukanya  saja  yang  diganti,”  ucap Bong Mini kepada papanya.

“Bagaimana  kau   bisa   memastikan   itu,   Putriku?” tanya Bongkap.

“Dari jawabannya, bukan aku, tapi yang menguasai dirimu!” ujar Bong Mini, mengulang ucapan lelaki tadi. Bongkap menghela napas. Ia memang pernah men- dengar jawaban itu dari putrinya ketika memenangkan

pertempuran dengan orang-orang Ular Hitam.

Setelah diam sejenak, Bongkap menoleh pada Prabu Jalatunda.

“Bagaimana dengan perjalanan kita ini, Prabu?” “Lebih baik tetap kita lanjutkan. Sebab pada waktu

subuh nanti,  kita sudah sampai di tujuan. Sedang ka- lau kita kembali lagi seperti yang dikatakan orang tadi, maka kita harus menempuh perjalanan seharian lagi,” sahut Prabu Jalatunda mempertimbangkan.

“Aku pikir juga begitu, Prabu. Kita sudah terlanjur menempuh jarak yang jauh, bahkan bertempur pula,” kata Bongkap sependapat.

Setelah mendapatkan kata sepakat, akhirnya me- reka kembali melanjutkan perjalanan dengan penga- walan yang berkurang empat orang karena terbunuh dalam pertempuran tadi.

***

7

Perjalanan menuju Gunung Muda kali ini berjalan aman. Bongkap dan Prabu Jalatunda merasa bahwa perjalanan mereka sudah tidak mendapatkan gang- guan lagi. Apalagi hari sudah mulai merayap ke waktu subuh. Berarti tidak lama lagi mereka akan sampai di tempat tujuan. Tapi ketika sekitar lima kilo lagi mereka tiba ke Desa Gunung Muda, tiba-tiba mata mereka me- lihat serombongan kuda menembus kegelapan  dari arah yang berlawanan.

Belum sempat mereka berpikir lebih jauh, rombo- ngan orang berkuda itu telah berpapasan dengan me- reka.

Orang-orang bertopeng lagi, gumam Bongkap ketika melihat orang-orang yang menunggang kuda itu me- ngenakan topeng hitam.

Ternyata dugaan Bongkap memang benar. Mereka merupakan orang-orang dari Perguruan Topeng Hitam yang ditugaskan untuk mengadakan perampokan di Desa Gunung Muda yang dipimpin oleh Giwang orang kepercayaan guru mereka, yang berhasil mengalahkan Yang Seng.

Sebenarnya mereka baru saja hendak pulang ke Perguruan Topeng Hitam setelah mendapatkan hasil rampokan dari para penduduk Tetapi berpapasan de- ngan kereta kuda yang ditunggangi oleh Bongkap dan Prabu Jalatunda, maka mereka pun menghentikan perjalanan dan menghadang pasukan Bongkap. Siapa tahu ada barang-barang berharga di dalam kereta ku- da itu untuk dibawa, pikir mereka. Karena biasanya orang yang menempuh perjalanan dengan mengguna- kan kereta kuda pasti membawa barang-barang ber- harga.

“Periksa isi kereta kuda itu!” perintah Giwang dari punggung kudanya.

Empat orang yang merasa mendapat perintah itu segera bergerak menuju kereta kuda. Tapi sebelum mereka sempat membuka tirai penutupnya, Bongkap segera menghadangnya.

“Kembali ke tempat! Kami tidak membawa barang yang kalian cari!” bentak Bongkap tanpa rasa takut.

Keempat orang  bertopeng  itu  tidak  mau  peduli  de- ngan ucapan Bongkap. Mereka terus merangsek hen- dak menyingkirkan penghalangnya. Tapi Bongkap bu- kan orang yang suka membiarkan kejahatan merajale- la. Apalagi kejahatan itu berlangsung di depan ma- tanya. Ketika keempat orang itu bergerak hendak me- mukulnya, Bongkap segera menyambutnya dengan se- buah pukulan yang tidak begitu keras tapi cukup membuat orang itu terjatuh.

“Maaf, tidak sengaja!” ujar Bongkap tenang, sete- ngah meledek.

“Bedebah! Baru kali ini ada orang yang berani me- nentang kehendak orang-orang Perguruan Topeng Hi- tam!” hardik Giwang di balik topeng hitamnya. Nada- nya begitu geram, menunjukkan kemarahannya.

“Aku cuma mempertahankan hak!” sahut Bongkap masih kalem. Namun badannya siap untuk mengha- dapi serangan dari orang-orang bertopeng di hadapan- nya.

Giwang tidak mempedulikan ucapan Bongkap. Diri- nya telah dibakar oleh nafsu amarah.

“Seraaang...!”

Serentak orang-orang bertopeng bergerak menye- rang Bongkap dan para pengawalnya. Namun Bongkap dan para pengawalnya adalah orang-orang yang tang- guh. Serangan-serangan itu dengan mudah mereka elakkan.

Sesaat kemudian tempat itu menjadi ramai oleh pe- kikan-pekikan kematian. Ditingkahi oleh ringkikan- ringkikan kuda yang menghentak-hentakkan kaki de- pannya, sehingga debu-debu berterbangan memadati udara.

Giwang yang hanya menyaksikan pertempuran itu dari punggung kuda tertawa terbahak-bahak ketika pasukan Bongkap kewalahan menghadapi pasukannya yang demikian banyak. Sehingga ada seorang  anak buah Bongkap yang melawan tiga lawan bahkan ada pula yang melawan empat lawan sekaligus.

Prabu Jalatunda yang tadi duduk di belakang kuda juga tidak ketinggalan. Ia melompat ke arena pertem- puran sambil membabat-babatkan goloknya ke tengah pertempuran.

Sebagai orang yang berpengalaman dalam bertem- pur, Bongkap dengan tangkas menghadapi serangan keempat lawannya lewat jurus-jurus kungfu. Teriakan- teriakan keras yang tercipta dari mulut Bongkap dalam mengadakan serangan benar-benar memecahkan ke- heningan malam. Jurus-jurus ilmu ‘Tanpa Bayangan’ langsung dikeluarkan agar pertempuran tidak mema- kan waktu lama.

“Hiaaat!”

Tubuh Bongkap melompat ke arah empat lawannya seraya memutar badannya mencari sasaran.

Bug! Bug! Bug!

Tendangan Bongkap tepat bersarang di dada dua lawannya, membuat kedua orang itu terjungkal ke be- lakang dengan menyemburkan darah kental dari mu- lutnya. Sesaat mereka menggelepar-gelepar di tanah lalu kehilangan nyawa.

Dua orang bertopeng yang tersungkur mati oleh tendangan Bongkap tadi membuat Giwang geram. Na- mun ia tetap berada di punggung kuda tanpa melaku- kan serangan. Karena jumlah pasukannya masih ba- nyak dibanding jumlah pasukan Bongkap yang hanya tinggal delapan orang karena dua orang dari mereka ada yang mati.

Pertempuran terus berlangsung dengan sengit. Kor- ban berjatuhan dari kedua belah pihak. Pekikan kema- tian bersahutan, mengiringi bau amis darah yang me- nyebar, menembus udara malam.

Bong Mini yang selalu ikut bertempur di samping papanya menjadi kesal karena harus terus duduk  di dalam kereta kuda menemani Ningrum, istrinya Prabu Jalatunda.

“Bibi,” ucap Bong Mini kepada Ningrum yang se- dang menyusutkan tubuhnya karena tidak kuasa me- lihat pertempuran yang banyak menelan korban.

“Ada apa, Nak Mini?” tanya Ningrum dengan wajah agak pucat.

“Maukah Bibi tinggal di sini sendiri?”

“Nak Mini mau ke mana?” Ningrum balik bertanya.

Wajahnya menunjukkan ketakutan. “Saya akan membantu papa, Bi.”

“Ha? Jangan, Nak Mini!” cegah Ningrum terperanjat. “Saya tidak bisa tinggal diam melihat  pertempuran yang tidak seimbang itu, Bi. Saya tidak mau korban di pihak kita bertambah banyak!” sergah Bong Mini, me-

ngemukakan perasaannya.

Ningrum menghela napas berat. Ia ingin tetap mela- rang. Tapi karena ingat ucapan Bong Mini yang tidak menghendaki korban di pihaknya, maka ia pun meng- izinkan juga.

“Tapi kamu harus hati-hati!” Ningrum memperi- ngatkan.

“Ya, Bibi!” sahut Bong Mini. Lalu dengan sikap seo- rang pendekar, ia melompat ke arena pertempuran.

“Hiaaat!”

Bret! Bret! Bles!

Pedang di sepasang tangan Bong Mini langsung me- ngenai tiga orang bertopeng yang sedang mengeroyok Sang Piao. Ketiga orang  bertopeng  itu  langsung  terja- tuh akibat jurus ‘Samber Nyawa’ Bong Mini.

Giwang yang sejak tadi memperhatikan pertempu- ran di punggung kuda terperanjat ketika melihat Bong Mini berada di tengah pertempuran dan  membunuh tiga orangnya. Dengan cepat ia mengadakan serangan ke arah Bong Mini. Tujuannya bukan hendak memba- las kematian tiga orangnya di tangan Bong Mini, tetapi justru hendak membawanya untuk dipersembahkan kepada pemimpin yang membutuhkan darah seorang perawan sebagai ramuan obat.

“Hati-hati. Jangan kalian lukai tubuh gadis  cantik ini!” teriak Giwang, memberikan peringatan  kepada dua anak buahnya yang tengah mengarahkan golok pada tubuh Bong Mini.

Teriakan Giwang tentu saja membuat Bong Mini ka- lap. Karena sudah yakin bahwa ia akan dijadikan pe- muas nafsu orang-orang Perguruan  Topeng  Hitam yang terkenal liar dan jalang. Maka dengan beringas Bong Mini melepas serangan kepada lawannya.

Wet! Wet!

Pedang lawan berkelebatan mengancam tubuhnya. Tapi dengan gesit Bong Mini dapat menghindar. Tu- buhnya berguling-guling di atas tanah. Kemudian ber- diri kembali dengan kuda-kuda yang kokoh, siap me- nahan dan melakukan serangan.

Sementara itu, Bongkap yang pernah mendapat ju- lukan ‘Singa Perang’ berhasil membabat habis bebe- rapa lawannya dengan pedangnya yang terkenal ganas.

Trang! Trang!

Dua pedang beradu dengan keras. Mereka saling menahan dan berusaha untuk bisa  menembuskan ujung pedang masing-masing ke tubuh lawan. Pada kesempatan saling menahan itu Bongkap menjungkir- balikkan badannya lantas berdiri di belakang lawan, disertai sabetan pedang yang begitu cepat

Bret! Bret! Bret! Gerakan pedang Bongkap berhasil menyabet tubuh lawan dan mencincangnya beberapa kali. Ketika la- wannya ambruk, tampak tubuhnya yang tidak berdaya itu berantakan bagai dicabik-cabik binatang buas.

Apa yang dilakukan Bongkap tidak berbeda dengan apa yang dilakukan Prabu Jalatunda. Lewat jurus ‘Go- lok Membelah Bumi’, Prabu Jalatunda berhasil meron- tokkan beberapa tubuh lawan.

Sebenarnya tebasan golok Prabu Jalatunda tidak begitu parah bagi lawannya. Kalau hanya mengandal- kan ketajaman goloknya, lawan masih bisa bertahan dalam beberapa jurus lagi. Tapi yang membuat lawan- nya mati itu justru getaran goloknya ketika mengenai sasaran. Getaran golok itu begitu dahsyat hingga bisa merontokkan seluruh isi perut. Akibatnya lawan yang terkena sabetan golok Prabu Jalatunda mengerang- ngerang karena merasa isi perutnya yang demikian nyeri.

Di lain pihak Bong Mini dapat bertahan menghadapi serangan-serangan gencar yang dilakukan Giwang. Namun pertahanannya kali ini tidak  begitu  tangguh bila dibandingkan dengan pertempuran-pertempuran sebelumnya. Selain orang yang dihadapinya begitu tangguh dengan kepandaian ilmu yang setingkat mele- bihi kemampuan Bong Mini, juga karena tenaganya sudah habis terkuras menghadapi orang-orang berto- peng sebelumnya. Sedangkan Giwang baru saja bebe- rapa menit turun ke medan pertempuran. Itu  pun hanya berhadapan dengan Bong Mini yang tenaganya mulai menurun.

Tubuh Bong Mini berguling-guling di tanah. Namun ketika ia hendak bangkit berdiri, tiba-tiba sebuah toto- kan bersarang di lehernya, membuat ia jatuh lemas tanpa tenaga sama sekali. Melihat Bong Mini terkulai, Giwang segera mema- sukkan pedangnya kembali. Kemudian  tubuh  Bong Mini yang mungil itu dengan ringan dipapahnya. De- ngan gerakan yang ringan pula Giwang melompat ke atas kudanya dan menghelanya sambil membawa tu- buh Bong Mini.

“Bong Mini! Bong Mini dibawa kabur!” tiba-tiba ter- dengar teriakan Ningrum dari dalam kereta kuda. Ia mengetahui jelas peristiwa itu karena sejak Bong Mini turun dari kereta kuda, Ningrum selalu mengawasinya dari tirai jendela.

Mendengar  teriakan  itu,  Bongkap   semakin   kalap. Dia mencoba menoleh ke arah Giwang yang membawa kabur Bong Mini. Namun  usahanya  sia-sia,  yang  ia  li- hat hanya kegelapan yang menyelimuti alam.

“Setan roban! Demi yang Maha Kuasa akan kuhan- curkan orang-orang Perguruan Topeng Hitam!” geram Bongkap. Dicabutnya pedangnya yang lain dari balik punggung.

Sreset!

Bongkap berdiri tegak dengan kedua tangan meme- gang pedang. Baru kali ini ia bertempur memperguna- kan dua bilah pedang sekaligus. Padahal biasanya, ba- gaimanapun banyaknya musuh  yang  menyerang,  ia tak pernah mempergunakan kedua pedangnya. Tapi sekarang, karena yang terancam adalah jiwa putrinya, yang dalam bayangannya sudah pasti menjadi santa- pan orang-orang budak nafsu, maka kedua pedang itu dikeluarkan. Dengan jurus ‘Tanpa Bayangan’ yang di- padukan dengan jurus ‘Pedang Samber Nyawa’, tubuh Bongkap melesat cepat ke  arah  pasukan  bertopeng. Dia berkelebat ke sana kemari dengan ganas. Mirip seekor singa lapar yang mencari mangsa.

Bret! Bret! Bret! Tiga orang bertopeng langsung mati di mata kedua pedangnya.

Ketika melihat ketiga lawannya tersungkur dan ti- dak bisa bangun lagi, Bongkap  segera  meloncat  ke arah orang-orang bertopeng lain yang sedang bertem- pur dengan para pengawalnya. Dengan gerakan tubuh- nya yang cepat dan sulit dijangkau oleh pandangan lawan.

Sementara kancah pertempuran di kedua belah pi- hak mulai agak sepi. Seluruh anak buah Prabu Jala- tunda sudah menemui ajalnya melawan orang-orang bertopeng karena jumlah yang tidak seimbang. Se- dangkan Prabu Jalatunda sendiri tampak kewalahan menghadapi serangan yang dilancarkan tiga orang la- wannya. Sejak turun ke ajang pertempuran tidak ha- bis-habisnya ia mendapat serangan. Mati yang satu muncul penyerang lain. Sehingga tenaganya yang per- kasa terkuras habis.

“Hiaaat!”

Trang! Trang! Trang!

Golok yang dipegang Prabu Jalatunda bergerak kian kemari untuk menangkis serangan lawan. Lalu tubuh- nya berguling-guling di tanah menghindari serangan lawan. Belum sempat ia berdiri lagi, sabetan-sabetan pedang dari tiga lawan kembali mengarah ke tubuh- nya.

Trang!

Tubuh Prabu Jalatunda berguling cepat. Benturan tiga pedang sekaligus dengan goloknya membuat diri- nya semakin tersudut. Dalam keadaan seperti itu, Pra- bu Jalatunda hanya mampu berkelit di tanah tanpa memberikan serangan balasan.

Dug!

Tanpa disadari sebelumnya, bibir  Prabu Jalatunda terantuk sebuah batu besar saat ia berguling-guling menghindari serangan. Seketika itu juga darah me- ngucur dari mulut Prabu Jalatunda.

Melihat darah mengucur dengan rasa sakit yang tak terkira di mulutnya, Prabu Jalatunda segera berdiri sebelum ketiga orang bertopeng itu menyerang lagi.

“Hiah!”

Tubuh Prabu Jalatunda yang baru bisa berdiri be- berapa saat melenting ke atas dengan deras.

“Aaa...!”

Prabu Jalatunda mengerang kesakitan karena tu- buhnya membentur sebuah batu besar dengan keras. Matanya terpejam menahan sakit, tanpa mampu ber- gerak menghindari serangan lawan. Ia merasa ajalnya malam ini akan tiba. Tubuhnya terkulai pasrah ketika ketiga lawannya dengan penuh nafsu berlari membu- runya.

Tetapi saat ketiga lawannya hendak menginjak-in- jak tubuh Prabu Jalatunda, tiba-tiba dua buah pedang berkelebat menebas leher ketiga orang bertopeng itu. Sehingga dalam waktu singkat tubuh mereka roboh berlumur darah dengan kepala terlepas dari badan.

Bongkap yang menyabetkan pedang ke arah ketiga orang bertopeng itu segera membawa tubuh Prabu Ja- latunda menuju kereta kuda.

“Kakang, Kakang Prabu! Kau tidak apa-apa?” Ning- rum terpekik kaget ketika melihat tubuh suaminya di- gotong Bongkap.

“Kau tetaplah di sini, Prabu. Biar aku sendiri yang akan menumpas orang-orang Perguruan Topeng Hitam itu!” usai berkata begitu, Bongkap kembali mencelat ke tengah pertempuran.

“Hiaaat!”

Dua pedang di tangan Bongkap berkeliaran mencari sasaran. Sehingga dalam waktu yang tidak  begitu la- ma, ia berhasil merobohkan semua lawannya. Hanya dua orang yang dibiarkan hidup.

“Katakan! Siapa nama Ketua Perguruan Topeng Hi- tam!” bentak Bongkap kepada kedua orang Perguruan Topeng Hitam yang tak berdaya karena berada dalam ancaman dua pedang Bongkap.

“Mereka, mereka suami istri!” gugup terdengar sua- ra seorang bertopeng itu.

“Jelaskan namanya!” bentak Bongkap lagi dengan kedua mata yang melotot mereka.

“Kidarga dan Nyi Genit!”

Bongkap mendengus geram mendengar nama itu, walau ia baru mendengarnya.

“Sampaikan salamku  pada  kedua  pemimpinmu yang cabul itu. Aku, Singa Liar akan menghancurkan Perguruan Topeng Hitam. Demi Yang Kuasa! Tak akan kubiarkan anak cicit Perguruan Topeng Hitam untuk tetap hidup!” geram Bongkap kepada kedua anak buah Perguruan Topeng Hitam. Dan selesai berkata begitu, pedang Bongkap membabat tangan kanan mereka.

Kedua orang Perguruan Topeng Hitam yang menda- pat ‘hadiah’ itu, meraung kesakitan sambil melihat tangan kanannya yang buntung.

***

Giwang telah membawa pergi tubuh Bong Mini jauh dari arena pertempuran. Namun di tengah  perjalanan ia menghentikan langkah kudanya karena tubuh Bong Mini yang tadi terkulai lemas berangsur-angsur pulih kembali. Totokan yang dilakukannya tadi memang hanya totokan sementara untuk melemahkan persen- dian.

“Lepaskan! Lepaskan aku, Biadab!” teriak Bong Mini seraya meronta-ronta dalam  rangkulan  Giwang. “Hanya orang bodoh yang mau melepaskan buruan

yang telah di tangan!” setelah berkata begitu, Giwang langsung menotokkan dua jarinya ke leher Bong Mini. Pada detik itu juga tubuh  Bong  Mini  terkulai  lemas, tak sadarkan diri.

Merasa telah aman, Giwang kembali bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannya menuju Perguruan Topeng Hitam. Tapi tanpa diduga, kuda yang ditung- ganginya mendadak mengamuk, meronta-ronta se- hingga tubuhnya terpental ke tanah.

“Kuda sialan!” maki Giwang sambil  menahan  sakit di bagian pantat yang terbentur. Kemudian diletakkan tubuh Bong Mini yang pingsan di tanah. Lalu ia  bang- kit mendekati kudanya yang mendadak  ngamuk  itu dan berusaha menjinakkannya.

Di saat Giwang sedang sibuk menjinakkan  kuda- nya, tanpa sepengetahuannya, melesat sesosok tubuh dan langsung meraih tubuh Bong Mini dan cepat membawanya menembus kegelapan.

Bersamaan dengan menghilangnya bayangan ma- nusia yang membawa tubuh Bong Mini dalam kegela- pan, saat itu pula kuda Giwang yang tadi binal  ber- ubah jinak kembali.

Giwang menghela napas panjang. Nafasnya turun naik kecapaian. Ketika pandangan matanya tertuju ke tempat Bong Mini dibaringkan, wajahnya berubah ter- kejut. Di sana, ia tidak melihat tubuh Bong Mini lagi.

Giwang penasaran. Kakinya melangkah mendekati tempat itu untuk meyakinkan penglihatannya. Tapi di sana ia tidak melihat apa-apa,  kecuali  rerumputan yang terlihat samar-samar karena berselimut kegela- pan.

“Bangsat! Pasti ada seseorang yang mengambil ga- dis itu. Dan orang itu pula yang telah berbuat jahil ke- pada kudaku!” geram Giwang dengan gigi-gigi gemeru- tuk menahan marah.

“Siapa orang yang telah berani mempermainkan aku!” geram  Giwang seraya menyebarkan pandangan ke sekelilingnya. Tapi yang terlihat hanya bayang- bayang dedaunan di hamparan kegelapan. Kemudian dengan menahan marah. Giwang kembali lagi ke arena pertempuran disertai pandangannya yang tak henti- hentinya menyebar, mencari-cari siapa tahu dapat ber- temu dengan orang-orang membawa Bong Mini.

***

8

Dua murid Perguruan Topeng Hitam yang tangan- nya dibuat buntung oleh Bongkap telah sampai di Goa Setan. Beberapa murid Perguruan Topeng Hitam yang bertugas jaga di luar goa menjadi terkejut ketika meli- hat tangan kanan kedua temannya buntung dengan darah yang masih menetes. Ketika beberapa langkah lagi sampai di mulut goa, tubuh kedua orang itu ter- huyung jatuh dan tak sadarkan diri karena terlalu ba- nyak mengeluarkan darah hingga wajah mereka tam- pak pucat-pasi.

Melihat kedua temannya ambruk, para pengawal yang sedang berjaga itu segera menghampiri dan mem- bawa mereka ke dalam. Di sana kedua orang itu diba- ringkan di atas dipan untuk segera mendapat pengoba- tan. Sedangkan dua orang lain bergegas menuju ruang tengah di mana Kidarga dan Nyi Genit sedang duduk di kursi kebesarannya. “Ampun, Guru!” kedua murid Perguruan Topeng Hi- tam itu segera berlutut hormat.

“Ada apa?” tanya Kidarga, masih duduk tenang di atas kursi kebesarannya.

“Hamba ingin melapor bahwa dua  orang  murid Guru terluka bacok dengan tangan kanan buntung,” salah seorang dari muridnya berkata.

Mendengar laporan itu kedua tokoh Perguruan To- peng Hitam menjadi terkejut. Mereka saling bertatapan dengan wajah gusar. Tanpa banyak bertanya lagi, Ki- darga dan Nyi Genit segera menuju ruangan di mana kedua orang muridnya dirawat oleh murid-murid lain. 

Kidarga dan Nyi Genit tertegun beberapa saat meli- hat kedua muridnya yang mendapat luka parah itu. Wajah mereka berubah tegang dengan kedua  mata yang merah menyala menahan marah.

“Ke mana yang lain?” tanya Kidarga sambil memen- dam rasa marahnya.

“Mereka belum kelihatan, Guru,” sahut salah seo- rang muridnya.

Kidarga berdiri angkuh.

“Ini suatu penghinaan buat Perguruan Topeng Hi- tam!” dengus Kidarga dengan pandangan buas.

Murid-murid Kidarga yang jumlahnya sudah tak terbilang itu hanya berdiri terpaku, seolah menunggu keputusan Kidarga selanjutnya.

Sementara, kedua muridnya yang tadi tak sadarkan diri sudah mulai siuman. Dengan keadaan tubuh yang masih lemah, keduanya berusaha untuk duduk di atas dipan.

Kidarga menoleh ke arah kedua muridnya yang ter- luka dengan tatapan mata tajam.

“Apa yang  terjadi  dengan  kalian?”  tanya  Kidarga.

Suaranya tenang namun tajam. “Ampun, Guru. Kami gagal melakukan perampo- kan!” ucap salah seorang dari mereka yang terluka.

“Maksudmu?” tanya Kidarga tak mengerti.

“Ketika kami pulang dari Kampung Gunung Muda dengan membawa hasil rampokan, tiba-tiba kami ber- papasan dengan sebuah kereta kuda yang dikawal oleh beberapa prajurit. Kemudian kami mencegatnya untuk melihat apa yang ada di dalam kereta kuda itu. Tapi salah seorang dari mereka melakukan pemberontakan sehingga terjadilah pertempuran. Semula kami merasa menang karena jumlah mereka sedikit dibanding de- ngan kami. Tapi pimpinan mereka ternyata orang yang mempunyai jurus-jurus tangguh. Sehingga banyak pi- hak kita yang mati di tangannya,” cerita  anak  buah- nya.

“Hm..., siapa dia?!”

“Kami kurang tahu, Guru. Namun dia pernah bilang kepada kami bahwa dia menyebut dirinya dengan ju- lukan Singa Liar.”

“Singa Liar?” Kidarga berkernyit seperti mengingat- ingat nama itu.

“Benar, Guru. Dia bilang; dia akan menghancurkan perguruan ini sampai ke anak cucu!” tambah  murid- nya itu seolah sengaja hendak membakar kemarahan Kidarga.

Kidarga tertawa terbahak-bahak mendengar penje- lasan muridnya itu.

“Perguruan Topeng Hitam tidak akan lenyap. Kare- na Kidarga dan Nyi Genit tidak akan mati!” ujar Kidar- ga dengan angkuh.

Murid-muridnya tertawa senang memuji-muji gu- runya.

“Bagaimana dengan Giwang?” tanya Kidarga dengan merubah wajahnya menjadi serius. Tapi belum sempat ia mendapat jawaban, empat orang murid yang diutus untuk melakukan perampokan datang dan bersujud di hadapan Kidarga dan Nyi Genit. Mereka adalah seba- gian anak buah Kidarga yang menyelamatkan diri keti- ka melakukan perampokan pertama. Mereka kabur ka- rena tidak ingin mengalami nasib seperti pemimpinnya yang hangus terbakar oleh orang bertopeng putih.

“Ada apa lagi dengan kalian?” tanya Kidarga yang sudah mempunyai firasat tidak enak.

“Lapor, Guru. Pimpinan kami Pho Pho telah mati terbakar melawan seorang bertopeng putih!”

Mendengar laporan muridnya itu, Kidarga dan Nyi Genit menjadi terkejut. Baru saja ia mendapat laporan tentang kekalahan murid-muridnya yang dipimpin Gi- wang, sekarang empat orang murid lain melaporkan bahwa pemimpin pasukan mereka  terbunuh  oleh orang bertopeng putih.

“Siapa orang bertopeng putih itu?” tanya Kidarga geram.

“Kami tidak tahu, Guru. Sebab ketika kami sedang bertempur melawan para pengawal kereta barang, tiba- tiba orang bertopeng itu sudah berada di arena. Dan entah dengan pukulan apa, tiba-tiba Pho Pho menge- rang-ngerang. Lalu mati dengan tubuh hangus terba- kar!” jawab seorang dari keempat muridnya yang baru datang itu.

“Apakah kereta kuda itu dipimpin oleh seorang lela- ki keturunan Tiongkok yang berambut panjang dan se- lalu diikat?” tanya anak buah Kidarga yang mendapat luka di tangan kanannya.

“Benar.”

“Ada seorang gadis cantik yang rambut depannya diponi?”

“Benar,” jawab temannya cepat. “Kalau begitu tidak salah, Guru. Dialah yang men- juluki dirinya Singa Liar. Dan gadis cantik itu mungkin anaknya yang sudah berhasil dibawa Giwang terlebih dahulu,” sela murid yang terpotong tangan kanannya menjelaskan.

“Tapi kenapa Giwang sampai saat ini belum muncul juga?” keluh Kidarga setengah curiga.

Belum lama ia berkata, tiba-tiba Giwang datang menghadap.

“Ampun, Guru!” ucap Giwang menyembah.

“Mana gadis yang kau culik itu?” Kidarga langsung bertanya mengenai gadis yang menurut keterangan muridnya telah dibawa Giwang.

“Ampun, Guru. Di tengah perjalanan menuju kema- ri, tiba-tiba kudaku mengamuk. Lalu aku menaruh ga- dis yang pingsan itu di rerumputan. Sedangkan saya berusaha menjinakkan kuda yang mendadak liar itu. Tapi setelah kuda itu jinak, tiba-tiba gadis yang kuba- wa tidak ada lagi di tempat. Saya mencoba menca- rinya, tapi tidak berhasil. Pasti ini pekerjaan seseorang yang mempunyai kepandaian sangat tinggi. Sebab ku- da itu pun berubah liar tak wajar!” jawab Giwang, memberikan pendapat.

“Bedebah! Jadi kau gagal membawa darah perawan untuk ramuan obatku?!” bentak Kidarga dengan kedua mata merah menyala seperti ingin menerkam.

“Ampun, Guru. Saya akan berusaha lagi menda- patkannya!” ucap Giwang berjanji.

“Sekarang kalian pergi dan cari orang-orang yang telah mencoreng mukaku itu. Bunuh mereka semua- nya dan bawa kepala orang yang menamakan dirinya Singa Liar itu kemari!” perintah Kidarga dengan suara yang membludak karena marah.

“Siap, Guru.  Kami  akan  melaksanakan!”  ucap  mu- rid-muridnya. Kemudian dengan langkah gagah mere- ka bergegas keluar termasuk Giwang.

“Baru kali ini ada orang yang berani mencoreng mukaku!” geram Kidarga saat memandang kepergian murid-muridnya. “Mereka harus merasakan akibatnya dariku,” lanjut Kidarga lagi.

“Sudahlah, Kakang. Biar orang-orang kita yang me- nangani persoalan itu!” bujuk Nyi Genit sambil meng- gayutkan kedua tangannya di pundak Kidarga.

Kidarga mengalihkan pandangan ke wajah Nyi Ge- nit. Dan saat itu pula kemarahannya mereda melihat pesona yang dipancarkan wajah istrinya.

***

Setelah menghadapi perlawanan orang-orang Pergu- ruan Topeng Hitam, Bongkap dan Prabu Jalatunda membatalkan perjalanan mereka menuju Gunung Mu- da. Padahal tempat yang mereka tuju itu sudah terli- hat, karena mereka sudah berada di sekitar wilayah Desa Gunung Muda.

Batalnya perjalanan mereka bukan karena letih se- habis bertempur atau karena Prabu Jalatunda yang masih merasakan nyeri di tubuhnya yang membentur batu. Tetapi penculikan Bong Mini oleh orang Pergu- ruan Topeng Hitam justru yang membuat mereka re- sah, terutama Bongkap. Karena selama ini putrinya se- lalu berada di sampingnya, baik di rumah maupun da- lam bertempur.

“Apakah kau masih ingin tetap mencari putrimu, Bongkap?” tanya Prabu Jalatunda.

“Benar, Prabu. Sampai kapan pun aku harus dapat merebut kembali putriku dari orang-orang Perguruan Topeng Hitam itu,” sahut Bongkap dengan nada geram menahan marah. “Tapi menurutku, lebih baik kau istirahat  dulu  di sini sejenak untuk memulihkan kembali tenagamu. Sebab menurutku, putrimu sudah ada di dalam  mar- kas mereka. Sedangkan untuk mendapatkan putrimu kembali kita harus berhadapan dahulu dengan murid- muridnya yang jumlahnya tidak terhitung itu. Belum lagi guru mereka yang merupakan tokoh-tokoh sakti dari aliran sesat,” tutur Prabu Jalatunda mencoba memberikan saran.

“Tidak, Prabu.  Bagaimanapun  kekuatan  mereka, aku akan menghadapinya demi anakku. Aku tidak in- gin putriku menderita terlalu lama di sarang orang- orang biadab itu!” tegas Bongkap, bersikeras hendak mengadakan perhitungan dengan orang-orang Pergu- ruan Topeng Hitam. Dia berjanji dalam hatinya; demi ketenteraman rakyat dan putrinya, akan ia hancurkan semua murid-murid Perguruan Topeng Hitam bersama dua gurunya, Kidarga dan Nyi Genit.

Prabu Jalatunda tidak bisa lagi mencegah kehendak Bongkap. Dia mengerti bagaimana galaunya perasaan sahabatnya itu mengingat nasib putrinya yang berada dalam kekuasaan orang-orang Perguruan Topeng Hi- tam. Ia sendiri bersama istrinya Ningrum, selalu meng- ingat putranya Baladewa. Memikirkan kebutuhannya. Padahal putranya itu berada di tengah seorang guru yang bijak.

Setelah beberapa saat suasana hening, Bongkap melirik keempat anak buahnya.

“Kalian masih ingin menyertaiku?”

“Tuanku yang bijak. Sejak masih berada di negeri Manchuria kami selalu setia mendampingi Tuanku, kenapa sekarang tidak?” sahut Ashiong yang dipercaya memimpin pasukan pengawal.

“Tapi  sekarang   lain,   Ashiong.   Orang-orang   yang akan kita hadapi merupakan  orang-orang  tangguh yang tak berperikemanusiaan,” pancing Bongkap. Ia ingin tahu sampai di mana kesetiaan keempat pengaw- al kepercayaannya itu.

“Tuanku. Dulu kita sama-sama datang ke sini kare- na satu tekad hendak membebaskan rakyat dari kera- kusan kaisar. Sekarang kita juga bertekad hendak memberantas orang-orang Perguruan Topeng Hitam demi ketenteraman rakyat. Tidak ada bedanya, kan?” kata Ashiong.

Bongkap terharu mendengar jawaban Ashiong. Tan- pa memikirkan kedudukan antara raja dan pengawal, lalu Bongkap mendekati Ashiong dan memeluknya, penuh persahabatan. Begitu pula dengan Ashiong yang membalas dengan pelukan erat.

Prabu Jalatunda yang menyaksikan adegan itu, di- am-diam menjadi terharu. Betapa dekat hubungan an- tara Bongkap dengan pengawalnya, pikirnya. Dan hal itu sangat jarang ia jumpai di kerajaan mana pun.

“Saya ada saran, Tuanku!” ucap Ashiong ketika Bongkap telah melepaskan pelukannya.

Bongkap diam beberapa saat. Matanya mengamati wajah Ashiong.

“Coba jelaskan saranmu itu!” kata Bongkap akhir- nya.

“Menurut hemat saya, bagaimana kalau pencarian Putri Bong Mini kita bagi menjadi dua arah. Satu ke- lompok menuju selatan dan satu kelompok lagi menu- ju utara!” kata Ashiong mengemukakan sarannya.

Bongkap mengangguk-angguk.

“Karena menurut pertimbangan saya, kita  bukan saja mencari Putri Bong Mini, tetapi juga menghancur- kan para pengacau negeri ini!” lanjut Ashiong.

Bongkap kembali mengangguk-angguk. “Sungguh baik saranmu itu. Aku terima!” putus Bongkap, langsung menyetujui.

“Terima kasih, Tuanku!” ucap Ashiong dengan wa- jah berseri karena sarannya diterima.

“Sekarang, kalian bertiga pergi ke arah selatan. Se- dangkan aku dan Sang Piao berangkat menuju utara!” kata Bongkap, membagi tugas.

“Baik, Tuanku!” sahut para pengawal setianya. Setelah berunding dengan empat orang pengawal-

nya, pandangan Bongkap beralih pada Prabu Jalatun- da.

“Prabu, dengan sangat menyesal kita berpisah un- tuk sementara waktu. Aku harus  benar-benar  pergi hari ini juga untuk mendapatkan kembali  putriku,” ucap Bongkap dengan sikap sopan dan berwibawa.

“Kalau memang itu menjadi tekadmu,  aku  tidak akan memaksa. Tapi izinkanlah pula agar aku turut menyertaimu!” sahut Prabu Jalatunda yang juga ingin turut membantu.

“Sebaiknya Prabu tetap saja di sini. Pulihkanlah kembali kesehatan Prabu!” kata Bongkap menyaran- kan.

“Tidak, sahabatku. Kita sama-sama mengemban tu- gas yang mulia, mengembalikan kembali kesejahteraan rakyat dengan memerangi orang-orang Perguruan To- peng Hitam!” sahut Prabu Jalatunda. Ia benar-benar merasa terpanggil untuk turut berjuang bersama Bongkap.

Bongkap terdiam sambil menimbang-nimbang ke- inginan Prabu Jalatunda.

“Tapi bagaimana dengan istrimu, Rayi Ningrum?” tanya Bongkap setelah beberapa saat terdiam. “Pada suasana tegang seperti ini, Rayi Ningrum sangat mem- butuhkan perlindungan!” Sebelum Prabu Jalatunda menjawab, tiba-tiba mun- cul Rayi Ningrum dari dalam kamar. Ia keluar karena telah mendengarkan semua percakapan antara Bong- kap dengan suaminya.

“Kakang Prabu!” desah istrinya sambil terus me- langkah mendekati mereka yang sedang berkumpul.

Prabu Jalatunda menoleh ke arah istrinya. Begitu pula dengan Bongkap dan para pengawal.

“Kalau memang Kakang hendak turut berjuang, be- rangkatlah. Saya rela melepaskan. Tapi harapan saya temuilah dulu Putri Bong Mini. Dan bawalah ke sini. Saya sangat kehilangan dia!” tuturnya, hampir kehi- langan tenaga suaranya. Air mata Ningrum perlahan menggenangi dua bola matanya yang redup. Perlahan air mata itu bergulir membasahi kedua pipinya yang masih kelihatan segar.

Melihat kesedihan Ningrum, bukan cuma Prabu Ja- latunda yang terharu. Semua yang hadir di situ juga merasakan keharuan. Terlebih lagi Bongkap. Walau- pun dirinya adalah Singa Perang, namun kalau ingat nasib putrinya, hatinya akan terenyuh dan sedih.

“Saya sangat menyayangi dia, Kakang,” ucap Ning- rum lagi. Kali ini punggungnya berguncang-guncang menahan isak tangis.

Prabu Jalatunda sangat maklum dengan kesedihan istrinya. Apalagi dia tahu betul bahwa istrinya sangat mencintai dan menyayangi Putri Bong Mini. Bukan ka- rena dia sebagai putri raja. Tetapi karena sejak dulu istrinya sangat mendambakan seorang anak perem- puan. Kehadiran Bong Mini di tengah mereka tentu sa- ja sangat menyenangkan hati Ningrum. Sehingga Nin- grum langsung menganggap Putri Bong Mini sebagai anaknya sendiri. Walaupun tak pernah diungkapkan langsung, tapi gerak dan sikap yang diberikannya pada  Bong Mini telah menunjukkan hal itu.

Ketika istrinya menangis sedih seperti itu, Prabu Ja- latunda segera mendekati istrinya dan memeluknya dengan lembut agar dapat meredakan kesedihannya.

“Sudahlah, Rayi. Putri Bong Mini tidak bisa kita te- mukan kembali dengan hanya menangis dan bersedih hati. Berdoalah kepada Yang Kuasa agar kakang, Bongkap, dan para pengawal bisa mendapatkannya kembali!” bujuk Prabu Jalatunda dengan tetap meme- luk istrinya.

“Saya senantiasa berdoa untuk keselamatan Putri Bong Mini, Kakang!” lirih Ningrum di sela-sela isaknya. Mendengar ucapan istri Prabu yang tulus itu, diam- diam hati Bongkap tersentuh. Ia tidak mengira sama sekali kalau istri Prabu Jalatunda benar-benar sangat mencintai dan menyayangi putrinya. Padahal mereka baru dua kali bertemu, tetapi hatinya begitu melekat pada putrinya. Tidak jauh berbeda dengan perhatian

Sinyin, istrinya, ketika masih hidup.

Setelah istrinya sudah dapat tenang kembali, Prabu Jalatunda melepaskan pelukannya.

“Kami akan berangkat sekarang juga, Rayi!” ucap Prabu Jalatunda. Disentuhnya kedua bahu perempuan itu.

“Berangkatlah, Kakang. Doaku selalu menyertaimu. Juga untuk keselamatan Putri Bong Mini!” sahut Ning- rum mencoba bersikap tegas. Walaupun hatinya ingin kembali menangis. Ia berusaha menahannya agar  ti- dak memberatkan kepergian suaminya. Termasuk Bongkap dan para pengawal.

Setelah mendapat izin dari Ningrum, keenam orang gagah itu segera keluar dan memacu kudanya masing- masing untuk mencari jejak Putri Bong Mini.

*** 9

Siang itu matahari bersinar garang.  Panasnya tera- sa seperti mematangkan kulit, memaksa para pejalan kaki berlindung di bawah payung.

Di tengah siraman sinar matahari yang membakar bumi itu, tiga lelaki tampak memacu kudanya dengan cepat. Membuat jalan di sekitarnya dipenuhi kepulan debu yang ditinggalkan oleh tapak-tapak sepatu kuda. Ketika sampai di kota Girik, tiga penunggang kuda itu memperlambat lari kudanya. Sedangkan mata mereka menyebar pada hiruk-pikuk orang yang berlalu-lalang di sekitar situ.

“Bagaimana kalau kita isi perut dulu. Biar bisa kuat sampai di tujuan,” usul  seorang  penunggang  kuda yang mengenakan baju lurik berlengan panjang de- ngan kain dililit sebatas lutut. Sedangkan pada ping- gangnya melilit ikat pinggang yang lebarnya kurang le- bih sejengkal. Dialah Prabu Jalatunda.

“Sebaiknya memang begitu,” sahut lelaki berjubah merah dan berambut panjang diikat. Dialah Bongkap. Sedangkan seorang lagi tidak lain Sang Piao. Dia me- ngenakan pakaian pangsi warna putih dengan ujung celana yang dililit oleh  tali sepatu sampai sebatas lu- tut. Sama seperti Bongkap.

Setelah Bongkap menyetujui usul Prabu Jalatunda, mereka memacu kuda perlahan untuk mencari warung nasi. Kebetulan tak jauh dari situ ada sebuah rumah makan merangkap penginapan yang bernama Rumah Makan Tan Lok. Nama itu diambil dari nama pemilik- nya yang berkebangsaan Cina. Tidak heran jika rumah makan itu banyak menyediakan  masakan-masakan khas Cina. Para pengunjungnya pun memang keba- nyakan orang-orang bermata sipit.

Seorang pelayan segera menyambut ramah ketika Bongkap, Prabu Jalatunda dan Sang Piao memasuki rumah makan itu, lalu mengantar mereka ke sebuah meja makan yang masih kosong.

“Tolong sediakan nasi putih tiga, lengkap dengan ikan dan cap-cay-nya. Juga teh dan anggur!” pinta Bongkap kepada pelayan tadi.

Pelayan tadi membungkuk sopan. Lalu segera mengambilkan pesanan tamunya.

Sambil menunggu datangnya pesanan, Bongkap menyebarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Di sana ia melihat banyak sekali orang-orang Cina. Mere- ka asyik menikmati hidangan sambil sesekali ngobrol dengan orang yang duduk semeja.

Sedang asyiknya Bongkap menikmati suasana ruangan rumah makan yang ramai oleh pengunjung, tiba-tiba muncul seorang pemuda dari luar. Umurnya kurang lebih sekitar tiga puluh tahun. Pakaiannya bi- asa saja. Bercelana panjang warna putih dengan baju berlengan panjang yang juga berwarna putih.

Jika dilihat dari pakaian, wajah dan sikapnya, pe- muda itu seperti seorang bangsawan  atau  seorang kaya raya dan terpelajar, atau seorang pendekar muda yang halus dan sopan gerak-geriknya. Pemuda itu langsung melangkah ke barisan meja di mana Bong- kap, Prabu Jalatunda, dan Sang Piao berada.

Aduh, lapar sekali perutku ini. Tapi tempat ini su- dah penuh! Gumam pemuda itu dengan mata bergerak ke sana kemari mencari-cari meja yang kosong. Dan tanpa disengaja pemuda itu melihat satu bangku ko- song di dekat Bongkap.

“Maaf saudara-saudara gagah perkasa. Saya meng- ganggu sebentar!” ucap pemuda itu dengan sikap so- pan memandang ke arah Bongkap,  Prabu  Jalatunda, dan Sang Piao yang tengah duduk menanti hidangan. Belum sempat ketiganya membuka mulut, pemuda itu sudah kembali melanjutkan ucapannya. “Seandainya saudara-saudara tidak keberatan, bolehkah saya me- numpang di meja ini untuk makan? Tapi seandainya keberatan tidak mengapa  ”

Melihat pemuda berpakaian rapi dengan sikap yang sopan seperti itu, ketiga orang itu menyambutnya de- ngan ramah pula. Mereka berdiri untuk membalas penghormatan pemuda itu.

Prabu Jalatunda dan Sang Piao memandang Bong- kap, sebagai isyarat agar Bongkap yang mengambil ke- putusannya.

“Kita sama-sama tamu di restoran ini. Kalau me- mang saudara suka, kita bisa  sama-sama  duduk  di meja ini. Silakan!”

“Terima kasih, terima kasih...! Saudara-saudara sungguh baik sekali!” ucap pemuda itu sambil ter- senyum senang. Kemudian pandangannya menoleh pada seorang pelayan yang tak jauh dari tempat itu.

“Pelayan. Tolong hidangkan nasi putih semangkok dengan ikan serta tiga macam sayuran dan air teh!” sambungnya kepada pelayan itu yang segera meng- angguk dan berlalu ke ruang masakan. Bersamaan dengan itu Bongkap dan tiga orang yang mengelilingi meja itu segera duduk kembali.

“Kalau boleh saya tahu, siapakah nama Saudara?” tanya Bongkap sambil menatap tajam pada pemuda yang duduk di hadapannya.

“Nama saya Kian Liong. Seorang pendatang yang baru dua hari di sini,” sahut pemuda itu menyebut namanya.

Karena  pemuda   itu   telah   memperkenalkan   na- manya, maka Bongkap,  Prabu  Jalatunda,  dan  Sang Piao pun menyebutkan nama pula.

“Terima kasih Saudara Bongkap dan Saudara ber- dua. Saya sangat senang sekali bisa duduk di sini dan berkenalan dengan saudara bertiga!” ucap Kian Liong. Wajahnya benar-benar girang karena ia merasa disam- but hangat oleh ketiga lelaki yang baru dikenalnya.

Pada saat itu, dua orang pelayan datang dengan membawa makanan yang dipesan oleh Bongkap dan Kian Liong. Kemudian makanan  itu  dihidangkan  di atas meja. Tiga nasi putih dengan ikan  bersama cap- cay dihidangkan pada Bongkap dan dua orang pengi- kutnya, Prabu Jalatunda, dan Sang  Piao.  Sedangkan nasi putih, ikan bersama tiga macam sayuran dihi- dangkan di dekat Kian Liong.

“Mari kita makan sama-sama!” ajak Bongkap kepa- da Kian Liong. Sedangkan pemuda itu menyambut dengan anggukan dan senyuman ramah. Lalu keem- patnya sudah terlihat menikmati makanannya masing- masing dengan lahap.

Tidak lama kemudian, Bongkap, Prabu Jalatunda, Sang Piao dan Kian Liong telah selesai makan.

“Saya punya urusan penting, Saudara Kian  Liong. Jadi maaf kalau kami bertiga keluar lebih dulu!” pamit Bongkap.

“Ah, tidak apa. Kesediaan kalian bertiga yang telah memberikan tempat untukku itu pun sudah cukup!” sahut Kian Liong.

Setelah menyampaikan perkataan maafnya, ketiga orang gagah perkasa itu keluar ruangan kedai setelah terlebih dulu membayar makanan yang dipesan mere- ka tadi. Ketika sampai di luar, ketiganya segera naik ke punggung kuda. Tapi sebelum menarik tali kekang, seorang pemuda menyerukan nama Bongkap di depan pintu rumah makan. “Bongkap tunggu!”

Ternyata orang yang berseru itu Kian Liong. Ia nam- pak melompat dengan ringannya ke arah  Bongkap. “Ada sesuatu yang hendak kutanyakan kepada Anda!”

“Apa itu?” tanya Bongkap dengan kening berkerut. “Apa Anda mengenal Bong Kian Fu?” tanya Kian

Liong.

Bongkap dan Sang Piao sama terkejutnya. Mereka saling berpandangan heran. Karena nama yang dis- ebutkan pemuda itu adalah namanya  sendiri.  Nama asli ketika ia tinggal di negeri Manchuria.

“Apa ada sesuatu yang penting dengan orang itu?” Bongkap balik bertanya.

“Begitulah, Saudara Bongkap. Saya ingin menemui dia karena hendak meminta bantuannya,” sahut Kian Liong.

Bongkap tampak mengangguk lamat.

“Kalau begitu mari kita pergi sama-sama untuk mencari tempat yang lebih baik. Aku ingin mendengar ceritamu,” ajak Bongkap.

“Apakah Anda kenal dengan Bong Kian Fu?”

“Walau tidak kenal, tapi bila sudah mendengar maksudnya, saya bisa turut menolongmu untuk men- carinya,” sahut Bongkap, menyembunyikan dirinya.

Kian Liong mengangguk. Lalu ia segera menghampi- ri kudanya dan melompat ke punggungnya. Secepat itu pula mereka berempat telah memacu kuda masing- masing.

Selang sepeminum teh, mereka berhenti di sebuah hutan. Lalu keempatnya turun  dari  punggung  kuda dan duduk pada tempat yang terlindung oleh daun pe- pohonan yang rindang.

“Kalau boleh saya tahu, dari mana asalmu?” tanya Bongkap langsung pada pembicaraan pokok.

“Saya berasal dari negeri Tiongkok. Tepatnya dari negeri Manchuria,” kata Kian Liong, menjelaskan asal usulnya.

Lagi-lagi Bongkap dan Sang Piao terkejut mende- ngar penjelasan Kian Liong. Dan yang membuatnya heran, kenapa pemuda itu tidak mengenali dirinya se- bagai Bong Kian Fu? Padahal nama itu telah banyak dikenal oleh orang-orang penduduk negeri Manchuria. Bukan saja oleh kalangan atas, tetapi juga oleh kaum rakyat jelata. Tapi kini, pemuda di hadapannya, yang mengaku berasal dari negeri Manchuria tidak menge- nal dirinya.

“Apakah Saudara Kian Liong mengenali wajah Bong Kian Fu?” tanya Bongkap dengan pandangan mata pe- nuh selidik.

“Saya tidak begitu mengenalnya, Saudara Bongkap. Kebetulan saya dulunya tinggal di negeri Yunan dan belum berapa lama ini pindah ke negeri Manchuria,” jawab Kian Liong.

Bongkap mengangguk-angguk. Dia mulai mengerti kenapa pemuda itu tidak mengenal dia sebagai Bong Kian Fu yang dicarinya.

“Keperluanmu sekarang dengan Bong Kian Fu?” “Saya ingin minta bantuan beliau untuk dapat me-

nolong rakyat Manchuria. Karena pada saat ini rakyat tengah dicekam oleh rasa takut dan kemiskinan. Raja Manchuria semakin bertindak sewenang-wenang ter- hadap rakyat. Melakukan pemerasan dan kekerasan lewat upeti-upeti yang dimintanya,” jelas pemuda itu. 

“Terus?” tanya Bongkap ingin mengetahui sedalam- dalamnya.

“Menurut penduduk yang sudah lama tinggal di sa- na, dulu pernah ada yang menentang kehendak raja itu. Orang itu bernama Bong Kian Fu yang lebih di- kenal dengan nama Kapten Kang karena dia seorang Panglima Perang Kerajaan Manchuria. Dialah yang kemudian melakukan perlawanan terhadap raja dan membawa sebagian pengikutnya ke negeri ini ketika berhasil mengalahkan pasukan raja. Oleh karena itu saya datang ke sini untuk mencarinya agar bisa mem- bantu rakyat yang sedang menderita kembali. Sekali- gus ingin menyampaikan kabar lain kepadanya,” urai Kian Liong panjang lebar.

“Kabar apa itu?” tanya Bongkap lagi semakin ingin tahu.

“Raja Manchuria akan menuntut balas  terhadap Bong Kian Fu yang telah berhasil mengalahkan pasu- kannya. Lalu secara bertahap dia mengirimkan orang- orang pilihan ke negeri ini untuk menangkapnya, baik hidup atau mati!”

Bongkap kembali mengangguk-angguk. Pantas ada orang perampok bertopeng yang mengetahui namaku ketika terjadi pertempuran saat melakukan perjalanan menuju Bukit Gunung Muda, pikirnya. Mungkin mere- ka orang-orang yang dikirim Raja Manchuria untuk melakukan penyergapan terhadapnya. Dan di sini me- reka bergabung dengan orang-orang Perguruan Topeng Hitam.

“Saudara Bongkap. Kalau boleh saya tahu, kenapa Anda begitu bersikeras untuk mengetahui tujuanku mencari Bong Kian Fu?” kini Kian Liong yang balik bertanya.

Bongkap menghela napas sambil memandang Kian Liong dengan tajam.

“Ketahuilah Saudara Kian Liong. Orang yang kamu cari itu sekarang berada di sini,” ujar Bongkap dengan sikap tenang. Kian Liong bukan main terperanjatnya mendengar penjelasan Bongkap. Lalu sepasang matanya menatap pada Bongkap dan Sang Piao bergantian, mencoba menebak-nebak yang bernama Bong Kian Fu.

“Akulah yang bernama Bong Kian Fu!” akhirnya Bongkap memperkenalkan diri.

“Apa Anda tidak main-main, Saudara Bongkap?” tanya Kian Liong dengan wajah yang masih menun- jukkan keterkejutan.

Bongkap menggeleng sambil tersenyum.

“Dan Sang Piao ini adalah pengikut setiaku yang tu- rut bertempur melawan kelaliman Raja Manchuria!” kembali Bongkap menjelaskan, meyakinkan orang di hadapannya.

Kian Liong mengangguk-angguk dalam keterpana- annya.

“Di negeri ini kuubah namaku dengan sebutan Bongkap agar orang-orang Manchuria tidak mengeta- hui siapa sebenarnya Bongkap itu,” ungkap Bongkap lagi.

Kian Liong kembali mengangguk-angguk.

“Lalu bagaimana dengan keputusan Anda dengan maksud saya tadi?” tanya Kian Liong ingin segera mengetahui. Sebab bagaimana pun juga ia sangat ber- harap kalau Bongkap mau membantunya. Karena wa- lau ia sudah berada di negeri ini, tentu Bongkap pun tidak akan melupakan negeri asalnya. Negeri yang te- lah melahirkan dan membesarkannya.

“Apa yang kau sampaikan tadi mengenai nasib rak- yat negeri Manchuria, tentu menjadi pemikiranku  pu- la. Tapi aku tidak bisa segera meluluskan permoho- nanmu dan berangkat ke sana.  Sebab  pada  saat  ini aku pun sedang dalam urusan penting. Mencari putri- ku yang diculik orang-orang bertopeng,” sahut Bong- kap menjelaskan.

Kian Liong terdiam. Hatinya sedikit menyimpan ke- kecewaan terhadap Bongkap yang tidak bisa segera be- rangkat bersama ke negeri Manchuria.

“Bukan berarti aku mendahulukan kepentingan pri- badiku, tetapi karena putriku itu satu-satunya yang dapat memberikan semangat perjuanganku. Jika seka- rang aku berangkat ke sana akan sia-sia jadinya.  Se- bab pikiranku selalu terganggu oleh bayangan putriku yang nasibnya belum kuketahui,” tutur Bongkap lagi seperti dapat menangkap kekecewaan Kiang Liong.

Kian Liong menghela napas. Ia mulai maklum de- ngan keadaan Bongkap.

“Tidak apa jika Saudara Bongkap tidak bisa  segera ke sana. Tapi saya berharap, jika putri Anda telah ber- hasil diketemukan kembali, segeralah ke sana. Kami benar-benar sangat mengharapkan!” pinta Kian Liong penuh harap.

“Bila Yang Kuasa memberiku umur dan putriku bi- sa diketemukan kembali, aku akan segera ke sana. Ka- rena bagaimanapun juga, Manchuria negeri kelahiran- ku sendiri!” janji Bongkap.

“Terima kasih Saudara Bongkap. Tapi izinkanlah saya untuk menyertai Anda di sini. Kita sama-sama mencari putri Anda!” ucap Kian Liong.

“Terima kasih atas kesediaanmu  yang  ingin  turut serta dengan kami. Tapi dengan berat hati saya tidak dapat menerimanya!” tolak Bongkap  hati-hati  agar  ti- dak menyinggung perasaan pemuda di hadapannya.

“Kenapa? Apakah Saudara Bongkap meragukan ke- mampuanku?” tanya Kian Liong agak tersinggung de- ngan penolakan Bongkap.

Bongkap menggeleng sambil tersenyum.

“Bukan begitu Saudara Kiang Liong. Justru dengan kemampuanmu itu aku berharap kau bisa kembali ke negeri Manchuria. Sebab di sana, orang-orang lebih membutuhkanmu. Ajarilah mereka ilmu-ilmu yang kamu miliki agar pada waktunya nanti pasukan kita sudah terhimpun dan siap melakukan pemberonta- kan!” kata Bongkap mengemukakan alasannya.

Kian Liong mengangguk paham. Perasaan tersing- gungnya telah berubah menjadi kegembiraan setelah mendengar alasan Bongkap. Saran Bongkap itu pun diterimanya dengan senang hati.

“Sekarang mari kita lanjutkan perjalanan kita ma- sing-masing!” ajak Bongkap lagi sambil berdiri. Se- sungguhnya ia tak ingin membuang-buang waktu lagi. Ia ingin segera kembali merebut putrinya dari tangan orang-orang Perguruan Topeng Hitam.

Prabu Jalatunda, Sang Piao, dan Kian Liong turut bangkit dari duduknya. Mereka berjalan menuju kuda masing-masing.

“Selamat jalan, Kian Liong. Dan ingat! Jangan bica- rakan pertemuanmu denganku kepada siapa pun, se- belum aku datang ke sana!” pesan Bongkap sebelum menarik tali kekang kudanya.

“Jangan khawatir, Saudara Bongkap. Itu sudah jadi pertimbanganku!” sahut Kian Liong sambil tersenyum. Lalu ia segera menarik tali kekang kudanya dengan penuh rasa gembira. Disaksikan oleh tiga pasang mata yang memandang kepergiannya sampai pemuda itu menghilang ditelan rimbun pepohonan Hutan Roban. Setelah itu, barulah mereka bertiga memacu kudanya menuju utara.

Belum jauh kuda yang ditunggangi mereka berjalan, tiba-tiba sekelompok pasukan orang berkuda datang menghadang dari arah yang berlawanan. Jumlah me- reka cukup banyak. Kurang lebih mencapai dua puluh orang. Tubuh mereka sedang-sedang saja, namun ga- gah. Mereka rata-rata bercelana pangsi warna hitam dengan baju rompi yang juga berwarna hitam. Seperti halnya wajah mereka yang juga berwarna hitam meng- kilat karena terkena sinar matahari.

“Mereka pasti orang-orang Perguruan Topeng Hi- tam!” cetus Bongkap dengan mata tak berkedip me- mandang dua puluh orang yang menghadang mereka. Dan ketika jarak mereka telah berada sekitar sepuluh meter, Bongkap segera menghentikan kudanya. Begitu pula dengan Prabu Jalatunda dan Sang Piao.

“Siapakah kalian ini. Dan kenapa menghalangi per- jalanan kami?” tanya Bongkap lembut namun penuh waspada.

Salah seorang di antara mereka yang menjadi pe- mimpin pasukan menarik tali kekang kudanya untuk maju selangkah.

“Kami adalah orang-orang Perguruan Topeng Hitam. Kalian sendiri siapa?” tanya pemimpin pasukan ber- kuda itu dengan wajah bengis.

“Kebetulan sekali kalau begitu.  Kedatanganku  ke sini justru untuk berjumpa dengan orang-orang Pergu- ruan Topeng Hitam, terutama pemimpinnya,” sahut Bongkap dengan geram setelah mendengar kata-kata lelaki tadi. Ia yakin, merekalah yang telah melakukan perampokan di Desa Gunung Muda dan menculik pu- trinya. Hanya saja sekarang ini mereka berhadapan tanpa menggunakan topeng.

“Apa maksud kalian hendak menghubungi pemim- pin kami?” tanya pemimpin pasukan berkuda itu.

“Kau sebagai budak Perguruan Topeng Hitam tak perlu tahu. Nah, menyingkirlah!” halau Bongkap. Se- ngaja ia mengejek untuk memancing kemarahan la- wannya. “Bangsat. Beraninya kau menghinaku!” geram pe- mimpin pasukan berkuda itu. Kemudian tangannya segera memberi aba-aba kepada teman-temannya. Ma- ka serentak pasukan berkuda itu maju dengan golok- golok terhunus. Sedangkan pihak Bongkap sendiri su- dah siap untuk melakukan perlawanan. Pada detik itu pula, terjadi pertempuran sengit yang tidak seimbang. Tiga lawan sembilan belas orang.

Tringngng! Trangngng!

Senjata yang saling berbentur keras itu menimbul- kan suara dentingan yang amat nyaring. Malah pijar- pijar api yang ditimbulkannya terlihat berkerjap. Wa- laupun cahaya percikan api itu pucat karena tertimpa cahaya matahari yang bersinar kuat.

Menghadapi empat orang pengeroyok, Bongkap sa- ma sekali tidak gentar. Malah dengan lincah dan gigih dia menangkis, meloncat dan bersalto. Bahkan sesekali ia membabatkan pedangnya dengan cepat ke arah la- wan.

Wettt! Wettt!

Angin keras yang ditimbulkan oleh sabetan golok lawan terasa berseliwer di sekitar tubuh Bongkap. Se- rangan golok pertama menyambar ke arah leher, se- dangkan golok lawan lainnya menyambar ke kaki Bongkap. Tapi dengan kemampuan jurus-jurus kung- funya, Bongkap menghindari serangan-serangan yang amat gencar itu.  Bahkan  pada kesempatan  yang  ada, ia dapat menjulurkan tangannya untuk mencengkeram leher lawan yang paling dekat.

“Aaakh!”

Salah seorang lawannya terpekik tertahan. Lalu tu- buhnya berkelojotan berputar bagai ayam disembelih sampai akhirnya tak berkutik lagi dengan leher mem- biru akibat cengkeraman Bongkap yang demikian ke- ras karena mengandung tenaga dalam. Kemudian, se- telah berhasil membunuh seorang lawannya, Bongkap menarik tubuhnya kembali ke belakang seraya me- nangkis serangan-serangan ketiga golok lawannya.

Senjata lawan menyambar-nyambar dengan kecepa- tan deras, tanpa memberikan kesempatan sedikit pun kepada Bongkap untuk melakukan perlawanan, kecua- li menangkis, bersalto dan berguling-gulingan di atas tanah. Dalam keadaan bergulingan itu, diam-diam Bongkap mengambil segenggam tanah yang bercampur pasir. Campuran tanah dan pasir dilemparkan ke mata ketiga lawannya, sehingga ketiga lawannya yang le- ngah itu langsung menghentikan serangan karena ma- ta mereka terkena siraman pasir. Pada kesempatan yang baik itu, Bongkap segera bangun dan mengayun- kan pedangnya ke tubuh ketiga lawannya yang masih sibuk mengucek-ucekkan mata.

Bret! Bret! Bles!

Dengan tenang pedang Bongkap merobek dan me- nusuk perut lawannya. Dalam sekejap ketiga lawannya roboh bersimbah darah.

Setelah ketiga pengeroyoknya mati, Bongkap tidak membuang-buang waktu lagi. Dia  segera  melompat dan menyambar tubuh orang-orang Perguruan Topeng Hitam yang sedang menyerang Prabu Jalatunda.

Singngng...!

Sinar pedang Bongkap menyambar leher seorang pengeroyok Prabu Jalatunda. Orang yang terkena sa- betan pedang itu terhuyung berputar, dan akhirnya ambruk dengan kepala yang hampir putus dari badan- nya.

Tanpa melihat bagaimana nasib lawannya yang ter- kena sabetan pedangnya, Bongkap melanjutkan sera- ngan ke arah orang-orang Perguruan Topeng Hitam lain.

Crokkk!

Pedang Bongkap yang mengarah pada leher lawan- nya yang lain dapat ditahan lawannya. Akibatnya, ta- ngan lawan yang digunakan untuk menangkis pedang Bongkap terbabat putus sampai sebatas siku. Namun demikian lawannya yang terkena sabetan pedang itu tetap memberikan perlawanan, tanpa menghiraukan tangan kirinya banyak mengucurkan darah segar. Dengan mudah Bongkap menangkis lalu menyerang kembali lawannya yang buntung itu dengan memba- batkan pedangnya ke tangan kanan lawan hingga bun- tung pula.

Melihat lawannya tidak berdaya, Bongkap tidak membuang-buang waktu lagi. Ditinggalkan lawannya yang buntung itu. Lalu beralih pada lawan lain yang sedang mengeroyok Prabu Jalatunda dan Sang Piao.

Di saat Bongkap membantu Prabu Jalatunda dan Sang Piao, sepintas matanya mampu menangkap pe- mimpin pasukan orang bertopeng menarik tali kekang kudanya untuk lari meninggalkan kancah pertempu- ran. Bergegas Bongkap melompat dengan mengguna- kan ilmu peringan tubuhnya untuk menghadang.

“Mau lari ke mana kau, Cacing Kremi!” bentak Bongkap seraya menuding ke arah pemimpin pasukan itu dengan pedangnya yang berlumur darah.

Orang itu terkejut bukan main dihadang tiba-tiba seperti itu. Namun ia mencoba bersikap tenang kemba- li. Lalu sambil menarik tali kekang kudanya, pemimpin pasukan itu langsung menyerang Bongkap dengan pe- dangnya.

Trangngng! Trangngng!

Dua sinar berkelebat ketika kedua pedang itu dige- rakkan ke arah lawan masing-masing. Cringngng! Trangngng!

Tangan pemimpin pasukan berkuda itu bergetar hebat ketika pedangnya ditangkis dengan cepat oleh lawan. Sehingga tubuhnya terlompat dari punggung kuda.

Bongkap tidak ingin memberikan kesempatan kepa- da lawannya itu. Ia segera menyerang dengan pedang- nya yang berkelebat di sekitar tubuh lawan.

“Kamu harus mati di tanganku, Pengecut!” teriak Bongkap sembari menyambarkan pedangnya ke arah lawan. Tapi dengan mudah serangan itu dielakkan oleh lawan. Sehingga terkaman pedang Bongkap luput dari sasaran.

Walaupun lawannya mempunyai kepandaian ilmu silat masih di bawahnya, Bongkap diam-diam memuji. Ketangguhan pemimpin pasukan ini lebih gigih diban- dingkan dengan temannya yang lain. Sedangkan la- wannya pun sangat terkesan dengan kehebatan Bong- kap. Dia mengakui sendiri bahwa kepandaiannya ma- sih jauh di bawah lawan. Namun demikian ia tetap be- rusaha bertahan sedapat mungkin.

Trangngng!

Dua pedang yang berlainan arah kembali bertemu dengan keras, hingga tubuh keduanya terdorong mun- dur dua tindak. Mereka mengakui kehebatan tenaga dalam masing-masing yang disalurkan lewat pedang mereka.

Pemimpin pasukan ingin segera menyelesaikan per- tarungan dengan cara melarikan diri. Tapi sayangnya dia tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Sebab Bongkap sendiri berniat hendak menyelesaikan perke- lahian itu dengan menghabisi lawannya. Oleh  karena itu ia tidak henti-hentinya menerjang dan mencecar.

Pedang pemimpin  pasukan  segera  berkelebat  dari samping untuk menangkis senjata lawan, disertai de- ngan pengerahan tenaga dalam yang mempunyai daya tempel yang sangat kuat. Sehingga ketika kedua pe- dang itu kembali bertemu, maka pedang itu terus me- lekat dan hal ini sangat terasa oleh Bongkap. Lalu ber- samaan dengan itu pula tangan kiri musuh sudah menghantam ke arah dada Bongkap dengan telapak tangan terbuka. Sehingga bila telapak tangannya itu dihentakkan ke dada Bongkap, maka ia akan terkejut dan dengan mudah pedangnya menusuk bagian tubuh lawan. Tapi orang yang dihadapinya itu bukan orang yang baru terjun ke dunia persilatan. Malah boleh di- katakan dia lebih banyak hidup di tengah dentingan suara pedang dan baunya amis darah. Oleh karena itu, di saat lawannya hendak memukulkan ilmu tenaga da- lam lewat tangan kirinya, Bongkap pun segera mena- hannya lewat tangan kiri pula dengan jari-jari tangan terbuka dan mendorongnya dengan cepat.

Plak!

Dua telapak tangan itu saling bertemu dan saling menempel hingga sukar untuk dilepaskan kembali. Begitu pula dengan kedua pedang mereka yang tetap masih menempel, hingga jalan satu-satunya yang ha- rus mereka lakukan adalah mengerahkan ilmu tenaga sakti untuk merobohkan lawan. Dan untuk terakhir ini keduanya harus mengerahkan ilmu tenaga dalam yang amat kuat. Siapa yang kalah tentulah dia yang akan putus nyawanya. Dan kebetulan dalam hal adu tenaga ini, Bongkap lebih banyak menguasai ketimbang la- wannya. Sehingga dalam beberapa saat saja, lawannya merasakan betapa kuat dorongan tenaga Bongkap, membuat tubuhnya gemetaran. Keringat dingin pun mulai bercucuran di sekitar wajahnya. Sedangkan uap putih mengepul dari kepalanya. Aku benar-benar akan mati hari ini..., pikir pimpi- nan pasukan itu. Dan untuk mengelaknya tidak lain ia harus tetap mempertahankan diri sampai akhir hayat- nya.

“Aaakh!”

Tiba-tiba pimpinan pasukan itu terpekik tertahan. Dia merasakan tubuhnya panas seperti terbakar. Wa- jahnya yang hitam semakin gersang. Begitu pula de- ngan kedua matanya yang berubah merah bagai darah mendelik mengerikan. Sedangkan dari mulutnya ke- luar darah kental kehitam-hitaman seperti habis digo- dok. Dan bersamaan itu pula tubuhnya langsung  ro- boh disertai pekikan yang sangat mengerikan. Lalu te- lapak tangannya yang tadi menempel pada telapak tangan Bongkap terlepas dan berubah hangus. Se- dangkan Bongkap sendiri tubuhnya terasa lemas kare- na tenaganya yang hampir terkuras. Sedangkan keri- ngatnya membasahi sekujur tubuhnya. Namun demi- kian dengan perasaan lega dan puas, ia menatap pim- pinan pasukan orang-orang Perguruan Topeng Hitam itu. Lalu ia melangkah menuju tempat di mana Prabu Jalatunda dan Sang Piao sedang bertempur. Di sana ia melihat pertempuran menjadi seimbang. Empat dari pihak Perguruan Topeng Hitam berhadapan dengan Prabu Jalatunda dan Sang Piao. Sedangkan lima belas orang-orang Perguruan Topeng Hitam semuanya sudah tergeletak di tanah disertai lumuran darahnya sendiri.

Melihat pertempuran yang mulai seimbang itu, Bongkap hanya duduk santai menyaksikan. Sekaligus memulihkan kembali tenaganya yang sudah terkuras habis.

Singngng! Singngng! Wuttt! Wuttt!

Pedang Sang Piao menyambar dengan kecepatan penuh serta terisi kekuatan yang amat dahsyat sehing- ga tampak berkilauan diiringi suara bersuitan ketika pedangnya membelah udara. Kejadian itu tak lepas da- ri pengamatan Bongkap yang memperhatikannya den- gan terkagum-kagum. Ia benar-benar memuji keheba- tan dan keindahan gerakan ilmu pedang yang dimiliki Sang Piao. Kemudian mata yang terkagum-kagum itu berubah terbelalak terkejut. Karena dalam waktu yang begitu cepat, pedang Sang Piao telah menebas  perut dan leher kedua lawannya. Hingga dalam detik itu pula kedua lawannya roboh dengan badan berlumur darah.

Di pihak lain, Prabu Jalatunda pun telah berhasil membunuh seorang lawannya. Tinggallah kini ia ber- hadapan dengan seorang lawannya lagi. Tapi ketika melihat teman-temannya sudah tergeletak semuanya dengan bermandikan darah, orang itu segera mundur untuk mengambil langkah seribu. Namun baru bebe- rapa langkah, tubuhnya jadi terpental hebat dan membentur sebuah batang pohon yang tumbuh di se- kitar situ. Ternyata Bongkap yang melakukan itu. Ia memukul orang Perguruan Topeng Hitam itu dengan menggunakan pukulan jarak jauh.

Bongkap segera menghampiri lawan yang meringis- ringis menahan sakit itu.  Dan  dengan  sikap  tubuh yang gagah, ia berdiri di hadapan lawannya yang ma- sih duduk menahan sakit di punggung dan pantatnya.

“Sebelum aku membebaskanmu, cepat kau  kata- kan, di mana putriku kalian sembunyikan!” bentak Bongkap sembari menuding muka orang itu dengan ujung pedangnya.

“Aku..., aku tidak tahu mengenai putrimu!” sahut orang itu terbata karena menahan sakit dan  rasa ta- kut.

“Bohong!” bentak Bongkap dengan suara meninggi. Sepasang matanya memancar penuh kemarahan. “Sa- lah seorang pemimpin pasukan kalian telah membawa lari putriku dan tentunya kamu sebagai orang Pergu- ruan Topeng Hitam mengetahui, di mana sekarang pu- triku berada!”

Lelaki dari Perguruan Topeng Hitam itu diam bebe- rapa saat. Dia sudah menduga bahwa pimpinan pasu- kan yang dimaksud itu adalah Giwang, yang melaku- kan perampokan kemarin malam dan berhasil mem- bawa seorang gadis. Namun dalam laporannya, Giwang menyatakan bahwa gadis itu raib saat ia menjinakkan kudanya yang mendadak mengamuk. Apakah laporan- nya benar atau tidak, ia sendiri tidak tahu. Sebab ia tidak ikut dalam pasukan yang dipimpin Giwang. Ia bersama teman-temannya yang lain ditugaskan untuk memata-matai orang yang dianggap mencurigakan.

“Aku..., aku benar-benar tidak tahu mengenai pu- trimu!” gemetaran tubuh lelaki itu ketika menjawab.

“Bedebah!” geram Bongkap. Kemudian pedang yang sejak tadi diarahkan ke muka lelaki itu segera mene- bas perutnya. Hingga dalam detik itu juga lelaki tadi mengerang-ngerang dan akhirnya diam selama-lama- nya.

Prabu Jalatunda dan Sang Piao sangat terkejut me- lihat kebuasan Bongkap dalam menghabisi lawannya. Tetapi mereka sendiri maklum. Karena kekalapan Bongkap disebabkan oleh perbuatan orang-orang Per- guruan Topeng Hitam yang menculik putri kesaya- ngannya, Putri Bong Mini.

Bongkap memandang puas mayat-mayat yang ber- gelimpangan di hadapannya. Kemudian dengan sikap tenang dan berwibawa ia memasukkan pedangnya ke dalam sangkur yang terbuat dari perak. Lalu ia duduk seperti orang beristirahat. Begitu pula dengan Prabu Jalatunda dan Sang Piao. “Apakah kita harus melanjutkan perjalanan untuk mencari Putri Bong Mini, Tuan?” tanya Sang Piao.

“Ya. Bagaimanapun kita harus mencarinya,” sahut Bongkap cepat.

“Apakah sebaiknya tidak ditunda dulu, Bongkap?” tanya Prabu Jalatunda mencoba menyampaikan saran. “Bagaimana mungkin, Prabu?  Menunda  waktu  be- rarti kita telah membiarkan nasib putriku semakin tak karuan. Apalagi sekarang ini putriku berada di tangan orang-orang kotor. Orang-orang Perguruan Topeng Hi- tam yang sudah kita kenal kebiadabannya!” kilah

Bongkap tidak menyetujui usul sahabatnya.

“Tapi, walaupun kita terus mencarinya, tak akan mungkin kita segera mendapatkannya. Orang-orang Perguruan Topeng Hitam berjumlah tak terbilang. Dan mereka pun mempunyai pemimpin pasukan yang tidak bisa dianggap remeh. Diperkuat lagi dengan berga- bungnya Yang Seng dengan mereka. Karena bagaima- napun juga kehadiran Yang Seng di perguruan itu ha- rus kita perhitungkan!” kata Prabu Jalatunda membe- rikan alasan.

Bongkap terdiam. Ia membenarkan alasan yang di- kemukakan sahabatnya.

“Kita tak mungkin dapat menembus ke markas Per- guruan Topeng Hitam berada. Karena hampir di setiap tempat mereka mengirim antek-anteknya!” tambah Prabu Jalatunda lagi.

Bongkap terangguk-angguk. Ia memang menyadari sepenuhnya betapa banyak jumlah orang-orang Pergu- ruan Topeng Hitam yang tersebar di seluruh pelosok. Bukan saja di perkampungan, tetapi juga di setiap bu- kit dan hutan-hutan. Penjagaan mereka benar-benar ketat seperti lapis baja yang sulit ditembus.

“Baiklah, saran Prabu saya terima. Tentang putriku, kuserahkan kepada Yang Maha Kuasa. Aku yakin Dia selalu berpihak pada orang-orang yang benar dan sela- lu memberikan pertolongan-Nya!” kata Bongkap, pe- nuh kepasrahan terhadap nasib putrinya, Bong Mini.

Prabu Jalatunda dan Sang Piao tersenyum. Lalu ke- tiganya naik ke punggung kuda dan memacunya. Tu- juan mereka adalah mencari para pendekar untuk ber- gabung memerangi kebiadaban orang-orang Perguruan Topeng Hitam. Gabungan kekuatan yang terbentuk nanti diharapkan mampu menumpas Perguruan To- peng Hitam yang telah menjadi wabah kejahatan.

Nah, di manakah sebenarnya Putri Bong Mini bera- da? Berhasilkah Bongkap dan Prabu Jalatunda mene- mukannya? Lalu, bagaimana dengan permintaan Kian Liong, yang mengharapkan Bongkap untuk me- nyelamatkan negeri Manchuria dari tekanan seorang raja yang lalim? Apakah Bongkap sanggup mengabul- kan permohonan Kian Liong tersebut?

Nah, untuk jawabannya silakan Anda ikuti serial Putri Bong Mini dalam episode: ‘Pedang Teratai Merah’.

SELESAI