Prabarini Bab 6 : Salyaparwa

 
Bab 6 : Salyaparwa

"Keremangan senja makin hari makin melahirkan aniaya dalam hidup hamba" Demikian kalimat pertama lontar Prabarini yang baru saja diterima Sedah dari tangan Jodeh. Ah, Prabarini makin berani menempuh bahaya, pikir Sedah. Atau memang demikian kodratnya cinta? Kemudian Sedah menghadirkan Prabarini sendiri dalam bayangnya. Seolah ia sendiri yang bercakap.

"Dan bila purnama datang, kenangan masa lalu itu kembali menjemput. Namun itu semua membuatku luluh dalam ketakutan." Untuk kesekian kalinya Prabarini mengeluh.

"Takut pada Yang Suci, yang tentunya akan menuntut kesucian hamba. Sungguh, sesuatu yang tak mungkin lagi dapat hamba persembahkan. Tapi semua telah terjadi di luar mau hamba. Itu sebabnya, hamba makin hari serasa makin diburu oleh keinginan untuk bersemuka dengan Yang Suci dan berlutut di kaki Yang Suci. Andai Yang Suci tak sudi mengampuni hamba, maka hidup ini tak perlu dilanjutkan lagi. Karena Yang Suci-lah hamba sampai saat ini masih mempunyai kekuatan hidup."

Kembali Sedah menghela napas. Memang Prabarini memerlukan pengampunannya.

"Yang Suci, kapankah kita dapat menyatukan hati dan jiwa kita? Apakah di alam nirwana nanti kita akan bersua? Apakah benar pengetahuan tidak bisa mengatasi kekuasaan? Atau Yang Suci sengaja akan membiarkan bunga yang kembang menjadi layu, dan akhirnya kering, lalu runtuh ke bumi? Andai memang benar harus demikian jalan hidup ini, hamba memohon pada Hyang Maha Dewa, kiranya diberi kesempatan bersemuka tanpa halangan siapa pun. Berpandang mata dengan mata, tanpa saksi seorang pun sebelum hayat ini punah sama sekali. Hamba ingin dengar langsung dari bibir Yang Suci sendiri, memaafkan atau tidak. Puas rasanya menerima hukuman mati yang dijatuhkan oleh orang yang hamba kasihi. Hamba cintai dalam hidup ini"

Sedah bangkit dari tempat duduknya. Berjalan mondar- mandir dalam ruangannya. Jika itu permintaan Prabarini, yah apa boleh buat. Maka harus menunda dulu Bhramara Wila Sita. Yang terbaik adalah menyalin Mahabharata. Dan memang dalam beberapa hari ini ia telah menyelesaikan dua parwa lagi, yaitu Bhismaparwa dan Asramawasikaparwa. Yang terdahulu menceritakan gugurnya Rsi Bhisma, seorang renta yang masih perkasa, di tangan wanita yang wandu (Seorang wanita lesbian, karena di bahagian ini diceritakan bahwa Sri Khandi pernah diambil menantu oleh raja Dharsana; dan bahwa hampir terjadi pertempuran hebat antara negeri Sri Khandi dengan negeri mertuanya, karena ketahuan ia seorang wanita. Namun istrinya enggan dipisahkan. Perang batal.) bernama Sri Khandi, putri raja Drupada.

Sedang yang berikut menceritakan kehidupan Dhrtarastra beserta istrinya, Gandhari, yang menjadi pertapa di tengah hutan. Juga Kunthi, ibu para Pandawa dan bagaimana kemudian ketiganya tewas karena hutan tempat mereka bertapa itu terbakar.

Sedah berjanji dalam hati akan menyelesaikan ketiga parwa berikutnya, baru kemudian ia akan menerjemahkan Bharatayudha. Maka dari itu ia memohon bantuan Mpu Panuluh untuk membantu menyalin parwa keenam belas yang sudah pernah diterjemahkan di zaman Dharmawangsa, dan parwa ketujuhbelas serta ke delapan belas. Panuluh menyetujui setelah Sedah menyerahkan naskahnya.

"Suatu kehormatan jika kami boleh membantu Yang Suci," Panuluh menjawabnya. "Jika tidak demikian, waktunya akan sangat lama, Yang tersuci. Penerjemahan yang berikutnya membutuhkan penelitian lebih rumit dari yang terdahulu. Karenanya, tidak diterjemahkan waktu itu."

Panuluh mengangguk-angguk. Barangkali saja Sedah benar. Terlalu sukar menerjemahkan bahagian-bahagian Bharatayudha. Atau sang penerjemah tidak sampai hati menerjemahkan perihal pembunuhan dan kematian.

Jadilah Panuluh menyalin atau menyunting Mausalaparwa.

Parwa yang menceritakan punahnya kerajaan Krsna atau keluarga Yadawa dikarenakan perang saudara. Kakak Krsna, Sri Baladewa, gugur karena matanya telah rabun dan pikun. Sementara Sri Krsna mati terkena anak panah seorang pemburu pada telapak kakinya, saat ia bertapa di tengah hutan.

Dalam hati, Panuluh memang iri terhadap keberhasilan Sedah memperoleh salinan tersebut, sekaligus amat kagum. Tentu anak itu telah berusaha keras untuk mendapatkannya. Tidak bisa tidak. Dari mana? Tak ada anugerah tanpa usaha apa-apa.

Parwa ketujuh belas adalah Mahaphrasthanika-parwa.

Menceritakan pengunduran diri para Pandawa dari kekuasaan di Hastina dan menyerahkan kekuasaan pada cucu Harjuna, Pariksit. Dia adalah putra Abhimanyu yang gugur dalam keroyokan para Kurawa. Suatu peperangan yang tidak jujur dan membuat Harjuna marah. Setelah pengunduran diri itu, Pandawa meninggalkan keraton, lalu mengembara di hutan dengan diikuti oleh istri setia Yudhistira, Drupadi. Satu-satu mereka tewas. Cuma Yudhistira, raja suci tanpa dosa itu, yang terangkat naik ke nirwana.

Parwa berikutnya adalah Swargarobanaparwa, yang mengisahkan perjalanan Yudhistira di nirwana. Ia diajak berkeliling melihat Kurawa yang tinggal di Swarga Pengrantungan (tempat swarga pencobaan sebagai penantian hari pengadilan). Mereka bersenang-senang. Yudhistira terhenyak melihat itu. Untuk sementara Mpu Panuluh menghentikan bacaannya. Benarkah cerita ini? Atau ini karangan Sedah sendiri? Setelah beberapa saat barulah ia meneruskan pembacaannya. Sungguh tak masuk akal, pikirnya.

Yudhistira masih diajak berjalan lagi. Kini ia melihat neraka.

Banyak orang tersiksa di sana. Pertama ia melihat istrinya yang tercinta. Dengan air mata meleleh ia bertanya pada Hyang Dharma yang mengantarnya. Kenapa istrinya harus menerima siksaan seperti itu? Padahal selama ini ia selalu patuh mengikuti semua ajarannya.

"Memang benar ia seorang perempuan taat. Tak ada bandingnya di dunia ini. Ia setia dalam suka dan duka. Namun jauh di sudut hatinya, sebenarnya ia mencintai Harjuna, karena semula ia mengira bahwa Harjuna-Iah yang akan menjadi suaminya."

Beberapa jarak lagi ia melihat Nakula dan Sahadewa yang menerima hukuman yang sama. Dewa menerangkan bahwa keduanya memiliki dosa yang sama: merasa diri paling tampan dan cerdas di antara umat manusia di muka bumi. Sedang Harjuna dan Karna yang pernah menjadi panglima Kurawa tapi anak Kunthi itu, memiliki dosa yang sama pula: merasa diri sebagai orang paling sakti dan pintar di dunia. Sedang Bima merasa diri paling kuat, perkasa tanpa tandingan.

Setelah melihat semuanya, Yudhistira tidak mau meninggalkan neraka. Ia ingin bersama mereka. Karenanyalah mereka semua dipindahkan ke sorga, sebaliknya Kurawa yang angkara menerima bahagian siksa kekal, yaitu lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang.

Beruntunglah Sedah yang sudah membaca semua itu, pikir Mpu Panuluh. Tentu aku bisa juga menerjemahkannya.

Meskipun tidak selengkap dia barangkali. Tapi bila aku berkesempatan, aku pun akan mencobanya. Baik! Sekarang aku mulai menyunting ini saja. Pasti tidak cukup enam bulan untuk menyunting tiga parwa ini saja. Bukan saja karena ia sudah tua dan penglihatannya kadang sudah kabur, tapi juga ada tanda-tanda baca yang sukar dipahaminya. Lebih dari itu, harus dihindari kata-kata atau kalimat yang mungkin saja bisa menyinggung Sri Jayabhaya. Memang berbeda dengan Sedah yang tak pernah menggubris segala tata cara. Tata bahasa Sedah serba bebas dan lugas, tidak suka berhias-hias kata.

Namun demikian orang senang membaca karyanya. Buktinya pada waktu Wirataparwa diumumkan, semua orang memujinya. Mereka merasa mendapat bacaan segar. Bebas dan tidak tersirat jiwa budak dalam tulisannya. Tidak seperti para pujangga pendahulunya yang selalu membawa suara kerajaan, selalu memuji sikap kerajaan.

Dan Sedah tetap tak peduli akan sikap orang padanya.

Seperti rajawali yang tidak pernah peduli pada burung lainnya. Baginya, saat ini semua karya dan dharmanya hanya untuk kekasihnya, Prabarini. Prabarini harus kembali menjadi miliknya. Harus! Apa pun caranya. Prabarini, gadis atau bukan! Itu bukan urusan. Yang terpenting, ia ingin menunjukkan pada dunia, bahwa ia sanggup merebut kembali Prabarini. Ia akan buktikan itu!

Sementara itu Prabarini resah karena Sedah tiada membalas lontar-lontarnya.

"Apa tidak disampaikan padanya, ya?" tanyanya suatu ketika pada Nyi Rumbi.

"Tapi... lelaki itu sudah berjanji, kok."

"Lalu kenapa dia tidak membalasnya?" Kembali bermendung.

"Aduh, aduh, Yang Mulia. Jangan gelisah seperti itu. Pasti dia akan menjawab. Barangkali saja masih mencari jalan."

"Kalau begitu, kau tanyakan pada lelaki penjaga kebunnya itu. Siapa namanya? Jodeh? Satunya lagi Sontoh?" "Hamba, Yang Mulia. Tapi jangan tergesa seperti itu.

Bahaya jika ketahuan..."

"Aku sudah jenuh hidup dalam ketakutan, Bibi. Sudah kudengar semua nasihatmu dan dayang lainnya. Apa hasilnya? Aku harus menggugurkan kandungan. Dan terus dalam kepura-puraan."

Nyi Rumbi terdiam. Tapi apakah ia juga akan ikut mati konyol? Dan entah apa sebabnya, rasanya ia enggaq meninggalkan istana ini. Di sini serba ada, serba mudah. Bukankah lebih menyenangkan jika ia juga bisa menahan Prabarini tinggal lebih lama di istana? Tapi... andaikan wanita muda ini nekat melarikan diri, mau tidak mau ia harus dipenggal juga. Salah atau tidak! Yang penting harus ikut mempertanggungjawabkan keberadaan Paramesywari di dalam taman ini. Tapi pada siapa sebenarnya ia mengabdi? Ia telah bersumpah suka dan duka bersama Prabarini. Dan karena itulah ia berkali berusaha menjumpai Jodeh maupun Sontoh. Namun dua orang itu mengatakan bahwa Sedah belum menjawab apa-apa.

"Belum menjawab?"

"Ya. Belum, Wong manis..." Jodeh berseloroh. Hati tua serasa muda kembali. Memberengut seolah gigi belum ada yang copot.

"Tanyakan, Kang. Tolong, ya!" Nyi Rumbi merajuk. "Ah, surat dari siapa sih? Kok ngotot?"

"Lho kau ini? Yang Suci tidak cerita?" "Tidak!"

"Kau tidak baca?"

"Menghina kau ini. Mana ada sudra bisa membaca lontar.

Apalagi ditulis dalam Sansekerta, katamu..."

"Ya, sudah! Pokoknya tanyakan lagi! Nanti dapat hadiah." "Apa sih upahnya?"

"Uh! Upah melulu. Nih! Uang perak!" "Tidak mau!"

"Sekarang tidak mau uang perak? Jual mahal?"

"Sudah banyak uang. Dari gaji sendiri maupun hadiah dari Mpu Sedah."

"Lalu?"

"Itu!" Tersenyum. "Apa?"

"Tidak tahu?"

"Kau ini main-main. Sudah tua masih saja main-main." , "Apa salahnya? Tua-tua kelapa, makin tua makin

bersantan."

Dan Nyi Rumbi jengkel, lalu melangkah pergi. Pinggulnya bergoyang-goyang. Mata Jodeh juga ikut bergoyang-goyang.

Prabarini sedih mendengar laporan itu. Nafsu makannya segera menjadi surut. Semangatnya kembali punah. Apalah artinya hidup ini tanpa pengampunan dari Sedah? Tangisnya kembali hadir di kesunyian hatinya. Jayabhaya kembali melihat mendung dalam taman. Prabarini kembali sukar tersenyum, walau ia sudah mengajak Paramesywari membaca karya-karya Sedah yang baru, tampaknya ditanggapi dingin. Dan Prabarini tak bersedia menjawab ketika ia bertanya mengapa itu terjadi.

Sedah menghibur Sri Jayabhaya lagi dengan menyelesaikan penerjemahan Wanaparwa yang dulu tak sempat diterjemahkan oleh brahmana di zaman Dharmawangsa.

Dengan demikian parwa kesatu sampai parwa keenam sudah tersusun urut. Tinggal parwa ketujuh sampai parwa keempat belas yang harus diterjemahkan semua, agar seluruh Mahabharata tersusun urut.

"Hamba sudah memohon Mpu Panuluh menyalin terjemahan parwa keenam belas sampai terakhir, Yang Termulia, agar lebih cepat selesai."

"Oh, yang tiga parwa terakhir diselesaikan oleh Mpu Panuluh?"

"Ajas permohonan hamba. Bukankah bahagian hamba sudah terlalu, banyak dengan ditambah oleh Bhramara Wila Sita}"

"Ya. Yang Suci benar. Kira-kira kapan semua selesai?

Rasanya lelah menunggu."

"Semua orang merasakan kejenuhan dalam menunggu.

Siapa saja! Itu menunjukkan keterbatasan manusia itu sendiri. Karena memang keti-dakterbatasan adalah milik Hyang Maha Dewa."

"Jagad Dewa! Yang Suci merendahkan daku?" "Ampunkan hamba, Yang Termulia. Bukankah ini

kebenaran? Manusia dapat menembus keterbatasannya jika ia

memiliki karya seperti Hyang Maha Dewa. Semua keterbatasan dan ketidakke-kalan akan dikalahkan jika manusia itu sendiri telah mengerjakan suatu karya raksasa seperti Hyang Maha Dewa."

"Jagad Bathara! Mungkinkah ada manusia semacam itu?" "Mpu Vyasa telah membuat karya raksasa yang belum

tertandingi sampai kini. Dia hidup pada ribuan tahun lampau. Tapi siapa pun akan mengenal Mpu Vyasa dengan Mahabharata-nysi.

Setiap kali kita membaca Mahabharata maka rasanya kita akan terlibat dalam kehidupan yang tertera di dalamnya. Begitu hebatnya Mpu yang satu itu, mampu memindahkan tokoh-tokohnya dalam pribadi tiap pembacanya. Di situlah sebenarnya letak rahasia ketidakterbatasan Mpu Vya-sa: menyatukan diri dengan kekekalan terbatas dari bumi yang menghidupinya." "Jagad Dewa!"

"Dan hamba tentu tidak bisa diikat dengan waktu, karena Bathara Kala menyorong waktu dengan cepatnya, tanpa tersadari oleh umat manusia. Tapi hamba, bekerja sambil menghadapi berbagai macam kendala dan keterbatasan."

"Jagad Dewa. Apakah Yang Suci bisa menceritakannya sehingga hamba bisa turun tangan untuk menyingkirkan semua kendala serta keterbatasan itu?"

Sedah tersenyum mendengarnya. Demi suatu keinginan untuk menempatkan diri pada keabadian, Jayabhaya telah membuat banyak kelonggaran. Pertama, ia tidak mengusik Sedah yang menginjak-injak tatakrama kerajaan. Kini malah akan memberi kemudahan.

"Banyak kesukaran dalam menggambarkan keadaan dan manusia yang terlibat dalam Mahabharata, Yang Termulia."

"Sekali lagi, Yang Suci, jika diperlukan maka kami bersedia memberikan apa saja demi sempurnanya penerjemahan itu," tegas Jayabhaya.

"Memang. Seperti waktu menerjemahkan Wanaparwa, kami bisa menggambarkan keadaan hutan, rawa, dan beberapa tokoh di dalamnya, karena hamba sendiri pernah masuk hutan lebat, dan melihat dengan mata kepala sendiri kesukaran orang dalam penyamaran dan pelarian. Tapi kini hamba menghadapi kesulitan besar."

"Apa itu?"

"Hamba akan segera menerjemahkan Salyapar-wa. Karena parwa itu yang tersukar dan terindah, banyak tokoh yang sukar digambarkan. Seperti Rsi Bagaspati, seorang tinggi besar. Hampir bisa kita katakan raksasa. Tapi ia punya anak perempuan bernama Pujawati, yang kelak menjadi istri Salya. Tapi hamba mengalami kesukaran dalam menggambarkan kecantikan Pujawati atau Setya-wati itu, karena hamba belum pernah melihat wanita cantik secantik yang diceritakan Mpu Vyasa itu."

"Jadi? Yang Suci ingin melihat wanita cantik?"

"Kalau ada yang tercantik di seluruh Penjalu. Nah, jika tiada kemungkinan, hamba akan mencoba mengembara ke luar wilayah Penjalu. Karena menurut Mpu Vyasa dalam karyanya itu, Setyawati adalah wanita tercantik dan tersetia tanpa tandingan."

"Jagad Dewa!" Jayabhaya menghela napas sambil menghempaskan diri ke sandaran singgasananya. Gadis pengipas di samping kanan-kirinya gopoh-gopoh membetulkan letak praba dipundak Jayabhaya yang tergeser karena bersentuhan dengan kursi. Ia mengerutkan keningnya, sehingga tampak lebih tua dari biasanya. Dan suasana menjadi hening. Semua yang hadir memandangnya dengan berbagai perasaan. Sebentar-sebentar mereka menyempatkan diri melirik Sedah yang sedang menajamkan mata pada Sri Jayabhaya. Pandangan Jayabhaya menatap tempat kosong.

Rakai Hino Dyah Pawagi dan Rakai Holu Sirikan, Putra Mahkota, juga hadir saat Sedah menghadap.

"Baiklah," Sedah membuka suara terlebih dahulu. "Sambil menunggu atau melihat-lihat keadaan di Daha yang juga sangat berguna bagi penulisan Bhramara Wila Sita, hamba akan melanjutkan penerjemahan dua parwa sebelumnya: Dronaparwa dan Karnaparwa. Tapi selama itu hamba ingin benar-benar mendapatkan bantuan Sri Prabu, agar hamba mendapat keleluasaan untuk meninjau semua tempat dan segala segi kehidupan di Daha." "Pendapat Yang Suci itu baik. Hamba perkenankan Yang Suci pergi ke mana pun dengan pemberitahuan pada Rakai Hino Pawai."

"Terima kasih, Yang Termulia." Sedah kemudian minta diri.

Ia tahu bahwa ia belum sampai pada apa yang dimaksudkannya. Namun keleluasaan itu sudah merupakan kemajuan penting bagi usahanya untuk menjumpai Prabarini. Namun itu akan menjadikannya gila sendiri. Cuma menemui, tidak bisa berkata-kata. Tentu merupakan aniaya.

"Tunggu, Yang Suci. Kita berunding dulu. Dan..." Jayabhaya menoleh pada caraka yang berdiri di ujung pendapa agung. Kemudian melambai sebagai tanda memanggilnya.

"Panggil Mpu Panuluh!" perintahnya setelah orang itu menyembah.

Dan tanpa banyak kata-kata orang itu menyembah lagi lalu berangkat.

"Apa yang terbaik, Rakai Hino?" tiba-tiba Jayabhaya mengajak pembantunya itu berunding.

"Jika hamba boleh bicara, kita kumpulkan saja seluruh wanita dari segala penjuru Kerajaan Penjalu ini. Dan Yang Tersuci Mpu Sedah memeriksa mereka satu-satu."

"Apa? Mengumpulkan semua wanita di Daha ini?" "Apa boleh buat? Demi bagusnya karya Yang Suci Mpu

Sedah."

Sri Jayabhaya mengangguk-angguk. Entah berapa anggukan, baru berhenti. Rambutnya yang putih seperti kapas disanggul di belakang kepalanya. Cambang di depan telinganya pun sudah memutih. Akhir-akhir ini memang tampaknya ia menjadi makin cepat tua, kendati keamanan negeri boleh dikatakan lebih aman dari saat ia pertama memangku jabatan menjadi raja. Bersamaan dengan berhentinya anggukan itu, Mpu Panuluh muncul di titian pendapa agung.

"Dirgahayu." Orang tua itu bersembah.

Jayabhaya membalas, kemudian mempersilakannya duduk di sebelah Sedah. Setelahnya Jayabhaya segera menceritakan tentang keinginan Sedah.

"Betulkah harus begitu, Yang Tersuci?"

"Memang betul. Bahwa akan lebih baik jika dia melihat dan mengalami sendiri, lalu menulis," jawab Panuluh tanpa

tunggu-tunggu lagi. Padahal Sedah sudah berdebar. Andaikata Mpu Panuluh tidak membenarkan niatnya itu niscaya akan gagal rencananya.

"Baik! Jika demikian, Rakai Hino perintahkan semua ponggawa mengumpulkan setiap wanita. Mereka harus berbaris, di hadapan Yang Suci Sedah, sambil berjalan lambat- lambat. Mereka dibariskan lewat depan rumah panggung Mpu Sedah saja."

"Hamba, Yang Maha Mulia."

Setelah perundingan ditutup. Mpu Sedah pulang bersama Mpu Panuluh. Berjalan berjajar. Dan semua orang yang berpapasan jalan menjatuhkan diri sambil menyembah. Sedah sebal diperlakukan seperti itu, maka ia berusaha mencegah mereka.

"Lho! Kenapa melarang mereka menyembah? Bukankah mereka melakukannya dengan tulus?"

"Tulus?"

"Ya! Tulus," Panuluh menegaskan. "Kita tidak bersenjata.

Tak ada alasan untuk membuat mereka takut pada kita." Sedah terbahak-bahak. "Lalu kita keenakan dengan perlakuan mereka? Jika itu dasar kita menerima perlakuan mereka, maka sebenarnya kita sudah bukan brahmana sejati. Karena jika mau belajar dari sejarah, kita akan tahu bahwa bukan semaunya mereka menyembah-nyembah seperti itu. Mereka melakukan karena dibiasakan selama beratus-ratus tahun. Petani, sudra, adalah orang-orang -yang terus-menerus dikalahkan. Dan biasa kalah itulah membuat mereka selalu mengalah; Sebagai tanda kekalahannya, mereka menyembah."

"Jagad Dewa!" Panuluh menyebut. Diam beberapa saat. "Tapi kami mengakui, Yang Suci telah mampu

mengguncang bumi Penjalu, kendati karya Yang Suci belum

semua diedarkan."

"Ah, Yang Tersuci, hamba cuma menyalin. Menyunting. Apa beratnya? Apa hebatnya?"

"Dalam Bhramara Wila Sita itu. Andaikata bukan Yang Suci, tentu sudah dilarang untuk diedarkan. Bayangkan, Yang Suci berani menceritakan bagaimana asal-mula pecahnya Kali Brantas! Sedang semua orang percaya bahwa Brantas tercipta dari air kendi yang dibawa terbang oleh Mpu Bharadah untuk memisahkan Penjalu dan Jenggala, sebagai hasil pembagian dua Kerajaan Kahuripan."

"Ha... ha... ha..." Sedah kembali tertawa lepas. "Itulah busuknya brahmana dan orang-orang yang ingin diagungkan serta disembah. Bagaimana mungkin air kendi bisa berubah menjadi kali? Itu memperdewakan diri namanya. Dengan cara menjejali kawula atau semua anak-cucu dengan dongengan. Supaya kita dianggap orang hebat? Kita juga mau ikut-ikutan menutupi kenyataan bahwa pembuatan sudetan untuk menanggulangi banjir itu memakan korban ribuan nyawa.

Belum lagi harta benda. Sementara Erlangga mendapat keuntungan ganda. Namanya menjadi harum karena banjir bisa ditanggulangi. Sementara itu ia makin menjadi kaya karena menjuali kayu-kayu yang dibabat sepanjang hutan yang dijadikan kali baru itu. Belum ditambah dengan makin menjadi lancarnya perniagaan... Ahai, cukai dermaga makin banyak yang disedot."

"Jagad Dewa. Hamba tak pernah menghitungnya." "Yang kaya akan menjadi makin kaya, karena mereka

memang makin pintar membodohi semua orang. Yang tidak

bisa dibodohi, dipaksa untuk bungkam dan menjadi bodoh." * "Ah... Sudahlah, Yang Suci. Itu kan urusan mereka."

"Sebenarnya urusan semua orang yang hidup, yang diperas! Juga yang memeras. Tapi, yah... sekudus-kudusnya manusia, di bawah perintah penjahat, akan jadi penjahat pula!"

"Jagad Dewa!"

0ooo0dw0ooo0

Kesibukan di Daha meningkat. Bukan cuma karena perniagaan yang makin maju saja, tapi juga karena kesibukan para ponggawa menyebarkan pengumuman ke seluruh negeri bahwa seluruh wanita harus berkumpul di alun-alun. Semua wanita kecuali yang sudah nenek-nenek. Dan tentu saja itu menimbulkan berbagai dugaan serta prasangka. Dari mulut ke mulut terdengar bisik. Apalagi yang dikehendaki Sri Prabu?

Selirnya sudah banyak. Istrinya seperti bidadari dan masih muda. Kurang apa?

Apa pun ketidaksetujuan kawula, tak akan sampai ke hati Sri Prabu. Ia hanya mau Mahabharata selesai dan berhasil baik. Dari kampung ke kampung kegiatan menjalar. Juga perkataan-perkataan, baik yang sumbang maupun yang menyenangkan. Dan ulah para wanita menjadi macam- macam. Ada yang berangkat dengan bersolek lebih dahulu. Ada yang malah berusaha menutupi kecantikan yang dimilikinya. Sedangkan beribu cemburu bergayut di hati tiap suami. Tapi mereka tidak berani menyembunyikan istri mereka, sebab tiap rumah akan digeledah. Dan jika ketahuan menyimpan wanita muda di rumah, tentu akan menerima hukuman.

Tentu Sedah membentuk sebuah dewan juri yang akan memilih para wanita yang diperkenankan melintas di hadapannya untuk ia pilih sebagai contoh Setyawati. Karena itulah banyak yang menjadi kecewa. Sebelum mereka memasuki alun-alun untuk kemudian digiring satu per satu ke halaman rumah Sedah, sudah banyak yang diperintahkan pulang. Mereka yang pincang, mereka yang sumbing, mereka yang hidungnya hilang separoh, mereka yang jari tangannya lebih dari lima, yang matanya juling, dan macam-macam cacat lainnya. Apalagi yang menderita kusta. "Ah... sombong!

Mentang-mentang raja agung, melihat orang cacat tidak mau!" kutuk mereka jatuh pada alamat yang salah.

"Nasib, nasib! Mengapa Hyang Maha Dewa menciptakan kita sebagai orang bercacat! Dosa apa yang kita perbuat sampai dihukum seperti ini?" Lebih jauh gerutuan mereka. Sambil pulang mereka bersungut-sungut.

Yang pertama terjadi di Daha. Kerumunan wanita berjejal di jalan-jalan raya. Jayabhaya dan para pembesar negeri lainnya duduk di panggung kehormatan di seberang jalan rumah panggung milik Sedah. Mereka semua ingin menyaksikan apa yang dilakukan Sedah dalam memilih wanita-wanita itu. Sementara Sedah berdiri di panggung kecil di seberang panggung kehormatan, diapit beberapa anggota Dewan Cerdik Pandai Penjalu. Satu per satu para wanita itu oleh para ponggawa yang bertugas mengatur diperintahkan jalan pelan-pelan lewat di depan Sedah.

Luar biasa gaya mereka. Sedah tersenyum dalam hati. Ada yang berdandan meniru orang-orang Jambudwipa. Tepat di atas hidungnya diberi tanda bundar kecil merah. Ada yang mengenakan perhiasan secara berlebihan. Cara mereka berlenggang pun macam-macam. Ada yang seperti blarak sempal (daun kelapa yang patah dari tangkainya), ada yang seperti harimau lapar, ada yang seperti hewan bersua jodoh.

Sedah juga memaklumi beberapa wanita yang tingkahnya agak aneh. Misalnya mereka yang sengaja tidak bersolek, bahkan ada yang tidak mandi dan sengaja mengenakan kain kumal. Namun ulahnya yang demikian justru membuat jantungnya serasa akan copot, karena Sedah mendadak memerintahkannya berhenti. Sedah melambaikan tangan sebagai isyarat supaya wanita muda itu mendekat. Tentu saja wajahnya, menjadi pucat-pasi, karena suaminya ada di antara penonton di pinggir jalan. Sedah melihat jelas betapa langkahnya makin gemetar. "Siapa namamu?" tanyanya.

Wanita itu tak berani menatap Sedah. Melirik pun tidak. Tunduk. Sementara Jayabhaya dan para pembesar negeri heran bukan kepalang. Yang lebih cantik tidak dihentikan tapi kini yang kumal malah mendapat perhatian. Maka semua mata tertuju pada Sedah. Pujangga gila barangkali!

"Ham... hamba... Tirah..." jawabnya takut-takut. Hampir- hampir tak kuat berdiri di atas lututnya.

Kembali Sedah tersenyum. Angannya membayangkan betapa bahagia suami wanita ini. Demi cintanya ia merelakan diri menutupi kecantikannya. Langka.

"Namamu bukan Tirah! Kau menipu seorang brahmana!"

Kini wanita itu jatuh berlutut dan menyembah. "Ampunkan hamba!"

"Cintamu begitu besar pada suamimu! Pergilah!"

Pelan-pelan wanita itu beranjak, seolah tak percaya pada keputusan Sedah.

"Ya! Pergilah! Bukan kau yang kucari. Berbahagialah kau dengan suamimu!"

"Terima kasih, Yang Suci!" Semua orang bergeleng tidak mengerti. Hanya Sedah seorang yang mengerti. Dan itu merupakan bahan tersendiri dalam karya-karyanya mendatang. Di zaman segala-gala dijual, masih ada perempuan yang tak sudi menjual keperempuanannya. Ia menutup semua keindahan yang ada pada dirinya dengan segala keburukan. Tapi siapa yang tidak melihat susu kenyal menjajakan kehangatan dan kesuburan itu? Bibir mungil dan leher jenjang yang diselimuti debu, seolah daki cuma penyamaran yang kurang sempurna di mata Sedah.

Kembali satu-satu gadis, wanita muda yang jaijda maupun yang masih bersuami, semua melintas di hadapannya. Ada memang yang sempat mengejutkan hatinya. Sungguh mirip Prabarini. Namun setelah ia menajamkan mata, ia yakin betul bahwa itu bukan! Bukan Prabarini. Hampir sehari penuh ia meneliti tiap wanita, tapi tiada satu pun yang diterimanya.

Kala mentari mulai condong ke barat Sedah menghentikan pemeriksaannya. Dan ia melapor ke hadapan Sri Jayabhaya yang dengan tekun ikut melihat dari panggung kehormatan.

"Ampunkan hamba, Yang Termulia. Sampai sekarang belum bersua dengan orang yang cocok untuk tokoh yang hamba maksud. Maka pemeriksaan ditunda dahulu. Biar mereka pulang."

"Ya." Jayabhaya sedikit kecewa. Tapi ia sadar bahwa Sedah bukan macam orang yang suka dipaksa-paksa. Demi apa pun Sedah tak akan mau mengerjakannya. Dia hanya mau mengerjakan apa maunya sendiri.

Esok harinya merupakan ulangan dari harini. Begitu pula hari-hari berikutnya. Empat hari berlangsung membosankan. Jayabhaya mulai tidak ikut hadir dalam pemilihan itu. Karena ternyata usia tidak mendukungnya untuk bertahan dalam debu yang sering naik karena tertiup angin atau karena kaki orapg yang berbaris di jalan-jalan. raya. Hidungnya terasa pengar dan ingus terkadang mengganggu pernapasannya. Hari kelima Sedah menghadap lagi bersama para cerdik pandai.

"Yang Suci telah menemukan?" tanya Jayabhaya sambil duduk di singgasana dengan kepala bersandar.

"Ampun, Yang Termulia..." "Jadi?"

"Ya. Belum ada yang pas."

Makin lemaslah tubuh Jayabhaya. "Seluruh Daha sudah keluar?"

"Ya. Menurut Yang Mulia Dyah Pawagi semua perempuan sudah ikut berbaris di hadapan hamba."

Sri Prabu menoleh pada Rakai Hino Dyah Pawagi. Yang ditoleh menjadi berdebar. Kendati

Jayabhaya sudah tua dan lebih bijak dari waktu-waktu lalu, namun jika marahnya kehiar, tidak satu orang pun bisa bertahan.

"Benar, Yang Maha Mulia..." ia buru-buru menyembah. Kepala Jayabhaya makin berdenyut-denyut. Kecewa,

marah, sakit, menyatu dalam tubuhnya. Namun ia masih berusaha berpikir jernih.

"Juga putri-putri narapraja sendiri? Kaum satria?"

Dyah Pawagi menjadi pucat. Sampai-sampai anak istri para narapraja pun harus berbaris di hadapan Sedah?! Tapi ini bukan kehendak Sedah. Ini titah Sri Prabu!

"Ampunkan hamba, Yang Maha Mulia!"

"Kerahkan mereka semua! Ini perintahku! Jangan satu pun tertinggal."

"Hamba, Yang Maha Mulia." Jayabhaya segera berdiri. Mukanya merah padam.

Mendadak ia meninggalkan ruangan dan masuk ke gedong kuning, atau tempat peraduannya. Kepalanya makin berat. Sementara itu di luar istana kesibukan meningkat lagi. Kembali para cendekiawan memberikan pendapatnya mengenai Sedah. Satu orang telah mengguncangkan satu negeri. Dan Sedah tersenyum-senyum kecil. Tak seorang pun dapat membantah. Istri para narapraja dan brahmana pun harus berbaris di hadapan Sedah. Kini kawula menonton di pinggir-pinggir jalan.

Pameran kecantikan seperti barisan bidadari turun dari kahyangan. Putri-putri yang hampir tak pernah disentuh mentari. Para kawula mengagumi kulit mereka yang mulus. Suara binggal gemerincing beradu setiap kali melangkah.

Kalung dan praba serta pending yang menghiasi mereka berkilau tertimpa sinar. Juga kutang emas dengan hiasan beraneka macam untuk menutup putik susu mereka.

Tidak seperti istri atau anak-anak dari kampung-kampung, umumnya mereka sudah mengerti bahwa Sedah mencari contoh wanita yang tercantik. Mereka semua akan bahagia jika dipilih oleh Sedah. Dengan kata lain, itu berarti mereka adalah wanita tercantik di seluruh bumi. Mereka adalah

wanita-wanita puri yang telah terlatih dalam bersolek. Berjalan pun mereka sudah terlatih. Langkah mereka pendek-pendek dan membentuk satu garis lurus tiap kali telapak kaki mereka menapak. Entah takut buminya retak atau apa, cara mereka berjalan seolah meniti pelangi pagi hari.

Kendati begitu tak satu pun yang dipilih Sedah.

Keesokan harinya kala Jayabhaya terjaga, ia memerintahkan seorang caraka untuk memanggil Dyah Pawaqi. Orang tersebut diperkenankan menghadap ke gedong kuning.

"Bagaimana, Yang Mulia?" Ia langsung menanyakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sedah. "Ampun, Yang Maha Mulia. Mpu Sedah belum menjatuhkan pilihannya/"

"Jagad Dewa!" Sri Prabu kembali menggolek-kan diri.

Matanya menatap langit-langit. Mendadak saja bayang-bayang semua selirnya berpindah di angannya. Dan jatuhlah perintahnya,

"Perintahkan semua selir dan anak-anaknya yang perempuan berbaris di depan Sedah."

Dyah Pawagi terperanjat mendengar itu. Ia pandang Sri Jayabhaya dengan mata keheran-heranan.

"Mengapa kau tak segera beranjak?" Jayabhaya menekannya.

"Ampunkan hamba, Yang Maha Mulia. Ini keterlaluan." "Tidak! Aku yang memerintahkannya. Kerjakan!" "Belum pernah ada kejadian macam ini di jagad mana

pun," Rakai Hino Dyah Pawagi berusaha lagi. "Ini mencoreng

kewibawaan Yang Maha Mulia. Hamba keberatan."

"Keberatan? Kau tidak tahu, tiap karya besar pasti membutuhkan pengorbanan besar juga. Atas namaku, pergilah! Ini perintahku! Kerjakan!"

Dyah Pawagi kembali bergelut dalam keheranan dan ketidakmengertian. Namun perintah tetaplah perintah. Kendati hati panas, tetap juga ia laksanakan. Dan ia makin tidak mengerti, karena tampaknya para selir pun menyambut gembira perintah itu. Ternyata mereka semua sudah mendengar tentang Sedah yang tampan dan pandai. Dayang- dayang dan gadis-gadis, anak-anak mereka pun ikut gembira. Setidaknya mereka ingin melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana wajah Sedah yang menjadi buah bibir di antara para dayang itu. Sudah barang tentu mereka berhias sebaik-baiknya.

Seelok-eloknya. Tak bisa tidak penjagaan diperketat. Tapi Sri Prabu sendiri tidak nampak di panggung kehormatan. Kawula makin # memadati pinggir-pinggir jalan yang akan dilewati para selir. Tak kurang-kurang yang menjadi pingsan karena berdesak-desakan. Semua orang ingin melihat wajah-wajah putri-putri simpanan Raja.

Kesempatan itu bukan cuma digunakan putri-putri jelita itu untuk melirik Sedah saja, tapi juga melirik pemuda-pemuda atau satria-satria muda yang kebetulan sedang berjaga. Mata mereka nampak lebih berbinar dari putri-putri yang kemarin. Tak mengherankan jika mereka menjadi ? pilihan Raja. Satu dengan lainnya saling memiliki kelebihan.

"Kau pilih yang mana?" bisik salah seorang pemuda pada temannya.

"Bingung." "Bingung?"

"Habis semua cantik. Yang satu manis. Yang lain menarik."

"Ceck, cek, cek..." decak kagum bergumam dibibir seseorang, tanpa sadar. "Ini yang namanya cuci mata."

Tidak kurang dari seratus lima puluh orang. Satu-satu melirik kala sudah dekat dengan Sedah.

Sementara Sedah meneliti. Hatinya berdebar. Hati-hati sekali ia memilih. Kalau-kalau ada Prabarini di.antara mereka. Betul-betul ia menajamkan mata. Tapi yang dicarinya tiada! Maka ia memberi tahu Dyah Pawagi,

"Hamba telah banyak merepotkan Yang Mulia. Ampunkan hamba karena yang seperti Setyawati ternyata tak ada."

"Tak ada?"

"Tak seorang pun." Dyah Pawagi ingin rasanya memutar batang leher pemuda brahmana yang berdiri di hadapannya itu. Bukan kepalang, wanita istana pun tak ada yang cocok. Mau cari yang seperti apa?

"Hamba putus asa. Sebaiknya semua panggung dibongkar saja. Hamba akan mencarinya sendiri."

"Baiklah! Aku akan mempersembahkan semua ini ke bawah duli Sri Prabu."

Sedah segera memunggunginya tanpa penghormatan, kecuali ucapan dirgahayu! Tanpa menyembah. Seorang Rakai Hino dianggap apa oleh anak ini? Tapi ia harus menahan hati. Pemuda ini sedang dibutuhkan oleh Sri Prabu! Awas kau! Jika saatnya tiba, kau harus menyembah di telapak kakiku!

Hampir melonjak Jayabhaya ketika mendengar laporan bahwa para selir tiada satu pun yang terpilih. Matanya nampak menyala. Lubuk hatinya tersinggung.

"Panggil Sedah!" teriaknya dari tempat tidur. "Ingin mampus anak itu!"

Dyah Pawagi pergi lagi. Kakinya sudah penat berjalan ke sana kemari, tapi ia tetap mengerjakan semua perintah Raja. Lebih jengkel lagi karena kala ia bersua Sedah, pemuda itu tampak tenang-tenang saja, bahkan menyambutnya dengan senyuman.

"Sri Prabu marah. Dan Yang Suci diperintahkan menghadap."

"Sekarang?"

"Ya. Sekarang juga!"

Senyum lagi. Dan langkahnya begitu ringan menuruni anak tangga rumah panggungnya, lalu berjajar dengan Dyah PawacL Tak menunjukkan kesan bersalah sama sekali. Juga tidak ada ketakutan. Keduanya berkuda, walau Sedah tidak terbiasa naik kuda. Setelah melewati beberapa belokan, sampailah mereka di alun-alun. Kenangan Sedah tergugah. Waktu pertama datang di Daha ia sering mengintip-intip istana dari seberang alun-alun sana.

"Dirgahayu, Yang Termulia..." Sedah dibawa masuk ke gedong kuning.

Sri Prabu terbangun oleh suaranya.

"Kau menghina aku?" langsung Sri Prabu menuduh. "Yang Termulia sendiri yang memerintahkan kami untuk

melakukan semua ini. Lalu sekarang menuduh hamba menghina. Mengherankan! Atau memang demikian kehidupan istana? Setiap kesalahan yang timbul selalu dari luar istana?"

"Jagad Dewa! Kau mempersalahkan daku?"

"Salah bisa terjadi pada siapa saja. Jadi, siapa pun bisa bersalah."

"Yang Suci!" Jayabhaya gemetar. Tak ada orang berani bicara semacam itu sebelumnya.

"Ampunkan, hamba. Inilah kebenaran itu. Yang sering hamba lihat, istana pun bisa melakukan kesalahan atau kekeliruan. Tapi tudingan tidak pernah dialamatkan kepada istana. Setiap telunjuk yang akan menuding istana akan berbias ke arah lain. Nah, ampunkan hamba. Jika tak ada lagi wanita cantik di Daha ini, maka hamba akan segera pergi.

Izinkan hamba mundur." Setelah menghormat, Sedah segera memunggungi Jayabhaya. Kepala Jayabhaya makin berdenyut-denyut.

"Sedah!" panggilannya menghentikan langkah pemuda itu. "Hamba akan segera menyelesaikan parwa lainnya, karena

itu hamba mohon diberi kesempatan. Jangan seorang pun

boleh mengusik hamba lagi." Sedah makin mengejutkannya. Dyah Pawagi pun kaget luar biasa. Mpu Panuluh pun takkan berani mengajukan permohonan seperti itu. Karenanya kedua pembesar Penjalu itu terdiam. Cuma memandangi saja kala Sedah meninggalkan mereka. Tenang sekali anak itu. .

Jayabhaya terpojok tanpa daya. Dyah Pawagi pun menjadi makin penasaran. Jelas Sedah merongrong kewibawaan Sri Prabu dan meniadakan kewibawaannya sebagai Rakai Hino. Harus! Harus digantung! Putusnya dalam hati. Tapi ia tidak berani mengutarakannya. Tidak! Bisa-bisa malah menjadi umpan-balik, karena Sri Prabu sendiri tidak berani mengambil tindakan apa pun.

Keputusan berikutnya semakin tak dapat dimengerti oleh siapa pun. Kepala pengawal istana diperintahkan memanggil Prabarini. Tinggal dialah satu-satunya yang belum dilihat oleh Sedah. Hatinya berdebar keras setelah kepala pengawal pergi. Ah, pemuda itu bermata dewa! Berani benar dia berkata bahwa jika di puri taman sari sudah tiada wanita lagi, maka dia akan pergi meninggalkan Daha. Dan lagi kesalahan!

Kesalahan kadang bisa lahir di istana. Dari dalam daku sendiri. Ah, benar! Benar! Tapi aku tidak pernah memperhitungkannya sebagai kesalahan selama ini.

Prabarini tampak pucat dan kurus. Jayabhaya amat terkejut melihat ini.

"Jagad Dewa! Istrinda? Sakitkah kau?"

Prabarini menunduk. Sri Prabu sendiri sedang gering. Sri Prabu melambaikan tangan agar Prabarini mendekat.

"Hamba juga sedang sakit..." Prabarini maju sambil berkata pelan.

"Jagad Dewa!" Jayabhaya sedikit kecewa. Tergambar di wajahnya yang memamerkan mendung. Dia sendiri makin pusing. "Baiklah! Tapi aku ingin supaya Istrinda bersolek. Setelah itu datangilah Sedah di rumah panggung seberang jalan yang berhadapan dengan taman sari Istrinda. Karena dia mendapat kesulitan dalam menggambarkan tokoh Setyawati."

"Yang Maha Mulia menjadikan hamba boneka?" Prabarini pura-pura tersinggung. Namun demikian, sebenarnya ia terhenyak dalam keheranan. Terbukti buat beberapa saat ia tidak menjawab, hanya memandangi mata Sri Prabu.

"Jangan tersinggung, Istrinda. Demi anak-cucu kita, aku merelakan kau dijadikan contoh. Kau brahmani, bukan? Kau suka pengetahuan, bukan? Nah, demi pengetahuan dan karya abadi itu sendiri aku memerintahkanmu menghadap Sedah."

"Yang Maha Mulia telah mencampakkan hamba menjadi satria. Mengapa kini akan mengembalikan hamba menjadi brahmani?"

"Kilisuci Bathara Istri adalah satria sejati. Tapi beliau juga brahmanr sejati. Jangan berbantah! Aku sedang pening."

Prabarini menahan senyum di bibirnya. Mukanya masih muram ketika ia berbalik memunggungi Sri Jayabhaya. Sudah lama dia berlatih untuk berbuat seperti itu. Menangis tapi terpaksa harus bermuka^ manis. Kini sebaliknya! Hati melonjak-lonjak tapi harus mengumpulkan mendung dan memindahkannya ke wajahnya. Inikah . kehidupan? Prabarini tak mampu menjawab pertanyaannya sendiri. Dan memang tak perlu dijawab, karena kehidupan adalah kenyataan, yang harus berlangsung terus. Terus! Tanpa henti.

0ooo0dw0ooo0

Sedah sudah memerintahkan kedua penjaga kebun dan rumahnya agar ia tidak diganggu. Sedah memang ingin menyelesaikan karya-karyanya. Makin lama ia melangkah ia makin merasay bahwa perjumpaannya dengan Prabarini makin menemui jalan buntu. Baru-baru ini Mpu Panuluh dan pamannya sendiri, Mpu Samirana Guna, datang memberikan peringatan, bahwa langkah Sedah itu dianggap keterluan.

"Keterlaluan?"

"Ya! Itu penghinaan terhadap martabat Raja. Junjungan semua kawula..." Mpu Samirana Guna menandaskan.

"Tapi segera dipotong oleh Sedah.

"Hamba tak tahu, apakah paman sudah mempelajari Weda atau cuma membacanya secara ambil lalu. Atau memang sudah melupakannya sama sekali karena tinggal di istana megah?"

"Jagad Dewa! Apa maksud Yang Suci?" Mpu Panuluh juga terbeliak.

"Jayabhaya melakukan penghinaan lebih dari apa yang hamba lakukan. Dia menghina semua brahmana dengan menganggap diri titisan Bathara Wisnu. Dan karena itu berhak memerintah semua brahmana semau-mau. Maka lihat! Banyak brahmana yang lari ke hutan-hutan. Mendirikan perguruan- perguruan di sana." Sedah diam sebentar untuk melihat wajah dua mpu itu. Lalu,

"Berhak memperisterikan seorang brahmani? Belum lagi dengan penghapusan papan-papan pendapat di gubuk-gubuk peristirahatan di hutanhutan!* Penghinaan terhadap kawula! Walau sudra, mereka juga punya mulut yang bisa bicara dan tangan yang bisa menulis untuk menyatakan pendapat.

Kenapa itu dihapuskan? Pendapat mereka tak perlu didengar lagi? Semua harus selalu patuh dan mendengar pendapat istana?"

"Yang Suci... Ada apa sebenarnya...?"

"Ingin mengembalikan manusia kepada kemanusiaannya. Bukan sebagai dewa, juga bukan sebagai hewan yang bisa diperlakukan semau-mau oleh orang lain. Anjing masih berharga memasuki nirwana, kala Mpu Vyasa menceritakan bagaimana Yudhistira naik ke nirwana bersama anjingnya."

"Jagad Dewa!" ,

Pembicaraan itu terhenti, karena datang lagi beberapa orang brahmana yang berasal dari luar kota. Mpu Panuluh tak begitu dapat menangkap pembicaraan mereka, karena Sedah menemui mereka secara terpisah. Beberapa saat kemudian Sedah masuk ke biliknya dan keluar lagi sambil menyerahkan beberapa lontar. Dan inilah kata-kata yang sempat didengar oleh Mpu Panuluh dan Mpu Samirana Guna:

"Naskah ini tidak akan diizinkan beredar di Penjalu ini. Meskipun begitu, bukan berarti tak akan terbaca. Hamba masih yakin bahwa tulisan tak akan bisa dibendung.

Katakanlah jika saatnya tiba hamba harus dibunuh, tapi tulisan itu tetap merayap ke setiap meja kaum brahmana dan dibaca oleh siapa pun yang mencintai kemanusiaan."

"Baik, Yang Suci."

"Terima kasih atas bantuan para Yang Suci dalam memberi keterangan atas semua yang hamba perlukan. Dan jika sempat bersua dengan Mpu Dewaprana serta Mpu Brahma Dewa, tolong katakan kepada mereka bahwa hamba telah bersua dengan yang hamba cari. Salam hormat hamba buat mereka."

"Baiklah, Yang Suci. Hamba mohon diri."

Tamu-tamu itu pergi sambil memberi hormat kepada Panuluh dari kejauhan. Panuluh membalas dengan senyum. Tapi ia menyesalkan sikap Sedah yang tidak memperkenalkan mereka.

"Tak ada gunanya, Yang Tersuci. Mereka bukanlah brahmana yang bisa condong ke arah angin bertiup. Mereka manusia yang ingin menikmati keberadaannya sebagai manusia. Mereka adalah orang-orang yang jijik terhadap semua orang yang melanggar hak manusia lainnya. Jadi apakah bisa ada kecocokan dengan Yang Tersuci?"

"Jagad Dewa!" kedua mpu itu menyebut berbareng. Saling pandang untuk beberapa saat. Panuluh dan Samirana Guna seakan disentakkan dari mimpi.

"Beberapa ratus brahmana tinggal di hutan-hutan, Yang Tersuci. Bukan karena '. memang begitu keharusan kaum brahmana, tapi lebih karena mereka tidak mau menyembah orang yang memperdewakan diri."

"Jagad Dewa."

"Mereka tak memerlukan jabatan seperti kita. Mereka tak rakus terhadap emas dan perak dan wanita. Dan hamba cuma salah seorang dari mereka yang muncul di permukaan. Masih banyak lagi yang sependapat dengan hamba."

"Jadi..."

"Larangan terhadap karya-karya tulis para pujangga adalah salah satu bentuk pelanggaran hak. Dan itu kejahatan!"

"Jagad Dewa!"

"Dan inilah yang harus Yang Tersuci sadari! Yang Tersuci telah melakukannya atas karya-karya Mpu Brahma Dewa, juga karya beberapa mpu lainnya, sementara Yang Tersuci membiarkan karya-karya orang-orang yang dekat dengan Yang Tersuci." Sedah .berdiri dan mulai menyemburkan kegeramannya yang sudah sekian lama ditahan dalam hati.

"Ampunkan hamba, Yang Suci. Demi kerajaan, hamba melakukannya."

"Atau demi kedudukan sebagai kepala Dewan Cerdik Pandai Penjalu?" Sedah tertawa ngakak.

Kini hati Kepala Dewan Cerdik Pandai itu meriup kecil. Orang yang dulu diwisudhanya sendiri telah melontarkan tuduhan itu. Dan meskipun terdengar kasar, jauh di lubuk hatinya ada pengakuan. Maka untuk sementara ia terdiam sambil mengelus jenggotnya yang putih itu. Matanya tak lepas dari tiap gerak tipu Sedah.

"Hamba pernah membaca Gatotkaca Qraya. Memang sebuah karya besar yang patut dihargai. Tapi jika Yang Tersuci jujur, maka hamba percaya bahwa Yang Tersuci mengerjakannya dengan hati berat. Kecuali jika Yang Tersuci adalah brahmana yang haus darah, Yang Tersuci tak perlu iba dengan penumpahan darah yang biadab di Jambi itu. Apakah karena yang melakukannya Jayabhaya? Orang yang membayar Yang Tersuci, sehingga Yang Tersuci perlu menciptakan Gatotkaca Qraya untuk memperingati kemenangannya?"

"Yang Suci. " Mpu Panuluh tersinggung, tapi kekuatannya

tiada. Punah. Entah ke mana.

"Kehormatan bagi Jayabhaya adalah kehinaan bagi orang lain! Kemenangan Penjalu, kekalahan bagi Jambi, Penjalu, Lwaram dan negeri-negeri lainnya!"

"Ampunkan hamba, Yang Suci. " akhirnya Panuluh

menerima.

"Hamba juga tidak suka menerjemahkan Mahabharata.

Bukan karena tidak bisa, tapi karena hamba tidak^suka pertumpahan darah. Pembunuhan yang terus berlangsung sepanjang zaman. Jadi, yang hamba lakukan sekarang dengan satu tujuan tertentu."

"Apa itu?" dua mpu di hadapan Sedah itu terkejut. Dua pasang mata tua mereka seolah ingin terlompat keluar dari kelopaknya.

"Akan datang waktunya untuk mengetahui semua itu." "Jagad Dewa!" Keduanya menarik napas panjang

berbareng. "Ada bagian penting yang memang harus diterjemahkan." Sedah tersenyum tipis. "Tapi sebahagian besar contoh buruk: berebut warisan." Sedah diam lagi. Beberapa bentar kemudian berkata lagi sambil mengarahkan wajahnya ke jendela. Bicara seperti pada diri sendiri. "Itu masih lebih baik dari kebanyakan pujangga kita sekarang. Apa yang mereka utarakan dalam tulisan-tulisan mereka tak lebih dari masalah laki-laki dan perempuan. Membosankan! Pembunuhan yang dikarenakan rebutan wanita cantik. Ah..."

"Yang Suci, tak selamanya kebenaran itu benar..." Panuluh ikut berdiri, demikian pula Mpu Samirana Guna. "Dan karena itu, tidak semua pendapat, bisa dinyatakan kepada semua orang. Inilah kenyataannya, Yang Suci."

Sedah tercenung dalam-dalam.

"Memuakkan!" Sedah tetap tak menggubris tamunya.

Berdekap tangan memandang ke luar, kemudian tak berkata- kata lagi. Tak tahu apa yang berkecamuk dalam hatinya.

Sampai setelah tamu-tamu itu pulang. Sedah masih melamun sendiri.

Jodeh dan Sontoh terpaksa menolak para tamu yang datang, ketika Sedah sudah berhadapan dengan lontar-lontar untuk menulis kembali. Sedah ingin secepatnya menyelesaikan beberapa parwa sebelum Salyaparwa itu. Terutama sekali Karnaparwa. Ini tentu menarik, pikirnya.

Karnaparwa menceritakan bahwa Karna lahir dari hubungan gelap antara Hyang Surya sebagai Dewa Matahari dengan Dewi Kunthi, putri raja Mandura. Dan anak itu lahir lewat telinga. Karena malu tak berayah, maka bayi tersebut dibuang di Sungai Gangga, dengan maksud diserahkan kembali pada Hyang Surya. Dan untuk itu Kunthi memerintahkan kusirnya, Adirata. Namun Adira-ta tak sampai hati membuang anak itu, ia justru menyembunyikannya dan malah memelihara Karna.

Sampai masa mudanya Karna dipelihara oleh seorang kusir. Tentu mengalami penderitaan lahir-batin. Walau harus melewati perjuangan berat, penghinaan karena derajatnya sebagai anak kusir, ia diterima sebagai salah seorang murid di Perguruan Tinggi Sokalima. Dan Hyang Drona tak pernah memper-bedakan antara dia dengan murid-murid lainnya saat itu. Ia menilai kepandaian Karna sejajar dengan Pandawa, dan lebih pintar dibanding para murid Kurawa. Dendam yang bergelora di hati Karna diperhinakan sebagai anak sudra, telah melecut dirinya untuk belajar dan berjuang lebih keras. Dan berhasil, setelah ia memadamkan pemberontakan raja bawahan Hastina dari Awangga. Atas kemenangan itu, Karna diangkat menjadi raja bawahan Hastina. Karna melepaskan diri dari kesudraannya. Ia kebaskan semua kehinaan yang merundung dirinya.

Lebih hebat lagi, Karna mampu mempersunting salah seorang anak Prabu Salya dengan istrinya Setyawati. Tanpa rasa rendah diri sebagai anak sudra, ia mampu melompati pagar taman sari Kerajaan Mandaraka dan memadu kasih dengan anak raja itu. Cintanya pada Surtikanthi memang tulus. Ia tak pernah berkhianat, karena itu ia tak pernah memperduakan cintanya sampai ia gugur di tangan Harjuna dalam perang Bharatayuddha.

Sedah memang sangat tertarik pada tokoh Karna. Seorang miskin, sudra, tapi tidak pernah gagal meraih cita dan cintanya. Ia bertekad mengabadikan tokoh itu dalam susunan kata yang tepat. Sastra bukan sekadar rangkaian kata-kata indah, tapi harus mengandung kebenaran yang mendasar, yang kelak membuahkan tuntunan bagi jalan hidup pembacanya. Bukan sekadar hiburan. Itu sebabnya Sedah tak mau diganggu.

Mendung kelabu menggantung tebal di seluruh ibukota Daha. Bahkan mungkin saja sampai jauh ke luar ibukota. Gerimis tipis mengiringi jatuhnya senja hari. Saat itulah memang pilihan Prabarini yang melintas penjagaan para pengawalnya dengan jalan kaki. Nyi Rumbi memayunginya dengan payung sutera buatan China. Dan para pengawal tak memperhatikannya lagi. Mereka terlalu sering menerima hadiah. Apalagi kepergian Prabarini juga atas perkenan Sri Prabu sendiri.

Tak seorang pun keluar dari rumah. Mereka sibuk memasukkan ternak ke kandang atau menghitung unggas mereka masing-masing, sementara yang lain sibuk, memasang lampu. Para petani baru saja membersihkan diri dari belepotan lumpur. Prabarini berjalan dengan hati berdebar. Titik-titik debu basah melompat ke tumitnya, satu-dua. Jarak serasa amat jauh. Jauh! Seratus langkah, dua ratus langkah... lima ratus langkah. Sontoh menghentikan langkah dua wanita itu.

"Atas perintah Yang Maha Mulia aku memasuki pelataran ini," kata Prabarini berang.

"Tapi...," Sontoh menggigil kedinginan, "hujan-hujan begini? Siapa..."

"Hei! Kamu lancang!" Nyi Rumbi memperdengarkan suara. Sontoh melihat. Sementara Jodeh ikut mendekat.

"Hei! Cepat beri jalan!" Prabarini makin berdegup.

"Ampun, Yang Mulia... Mpu Sedah tak bersedia terima tamu."

"Drubiksa kamu! Lapor! Aku yang datang. Jika ditolak bisa kena hukuman!"

"Oh, jika demikian... masuk saja sendiri. Yang satu ini tidak boleh ikut! Kami tahan di rumah hamba saja. Nah, usai mohon Yang Mulia memberitahu."

"Begini saja, hamba pulang dulu ke taman. Di rumah kunyuk ini bisa-bisa dilabrak istrinya!" Nyi Rumbi ketawa.

Semua juga. Dan Prabarini meneruskan perjalanannya sendiri. Jodeh dan Sontoh yang takut melanggar perintah Sedah, buru-buru' pulang. Melarang takut salah, mengizinkan terang dimarahi oleh Sedah, yang akhir-akhir ini menjadi pemarah. Dan di ambang tangga Prabarini sempat mencuci kakinya sendiri. Titik-titik pasir basah pun jatuh oleh siraman air. Pelahan ia meniti tangga kayu. Dan debar jantungnya kian mengentak-entak. Di beranda berhenti sebentar. Pintu tertutup. Prabarini memutar tubuh untuk melihat ke semua arah. Keremarigan mulai turun- Mendung di mana-mana.

Sunyi.

Dengan tangannya yang mungil dan halus ia mulai mengetuk. Pelan-pelan. Dan ia kumpulkan semua keberanian yang ada. Tak ada jawaban. Suara gemersak air jatuh berintik-rintik lebih menguasai suasana. Mengetuk lagi. Sekali lagi. Tiada berjawab. Suara batuk-batuk kecil yang terdengar di dalam. Ia lebih mengeraskan ketukan.

"Ada apa, Jodeh?"

"Hamba..." bibir Prabarini gemetar. Udara makin dingin.

Tapi Sedah tak menyahut lagi. Suara lirih Prabarini ditelan rintik gerimis yang menimpa sirap rumah itu. Akhirnya habis sabar Prabarini. Jari-jemari runcingnya tampak gemetar ketika pelahan-lahan menguak daun pintu kayu yang berat itu. Ia gerakkan lehernya untuk menjenguk-kan kepala. Ruangan luas terhampar di depannya. Kini tubuhnya pun sudah masuk. Pelan.

Angin kencang yang disertai hawa dingin menyerbu masuk. Sedah terkejut. Ia menoleh. Prabarini berdiri di ambang pintu. Tak percaya. Ia gosok matanya. Belum beranjak. Tapi hati berdebar keras. Ah, bukan hanya mimpi. Bukan! Pelahan ia bangkit. Ia pandang Prabarini mulai ujung kaki sampai ujung rambut. Tidak seperti dulu. Kini rambutnya tersanggul di atas kepalanya. Rambut itu berhiaskan kondai emas bertatahkan mutiara dan jamrut. Berkelip tertimpa sinar lampu. Sebagai akibatnya, leher jenjang Prabarini semakin nampak jelas.

Kalung mutiara dan emas menghiasi leher itu. Kembali Sedah menggosok matanya. Bukan cuma bayang- bayang. Lesung pipit di pipi montok Prabarini menjelaskan pada Sedah bahwa kehadirannya bukan cuma dalam angan. Tak melekat jubah sutera dalam tubuh wanita muda ini.

Susunya cuma berkutang emas berantai-rantai. Tegak memamerkan pesona dengan putik yang tertutup kelopak daun terbuat dari emas mulia. Pusarnya juga terbuka, karena pending emas yang melingkar di pinggang itu justru melorot di bawah pusarnya. Kain sutera ketat menutupi bagian bawah tubuhnya sampai di bawah lutut sedikit. Namun bahagian depannya terbelah, sehingga kadang tersingkap sedikit jika angin bertiup: memamerkan ujung paha dan lutut kuning bersih karena tak pernah berbelepotan lumpur seperti wanita kawula Penjalu atau para petani. Sedah berulang menghela napas tanpa kata. Prabarini bukan lagi seperti yang dulu.

Bukan brahmani!

"Kanda..." Prabarini lebih dulu menyapa dengan suara bergetar, seperti sukmanya yang sedang bergetar. Seribu rasa menyatu tanpa tentu. Suara yang menyentakkan Sedah dari semua khayalnya.

"Adinda..." Ia melangkah meninggalkan semua lontarnya.

Prabarini makin bergetar. Lututnya seperti tak mampu menahan berat badannya. Dan sebelum Sedah berdiri tepat di hadapannya kaki itu tertekuk tanpa sadar.

"Ampunkan hamba..." Air matanya tersembul pelahan, lalu mengalir membasahi pipinya. Bahkan mulai jatuh ke dadanya. Sedah masih terpateri di hadapan Prabarini, sambil berdiri tegak.

"Kanda..." Kembali Prabarini mengiba. "Prabarini..." Suara Sedah terdengar amat dalam.

Prabarini memeluk kedua lutut Sedah. Membenamkan mukanya. Kini terisak. "Kenapa Kanda panggil dengan nama itu?" "Apakah aku tak boleh menerima kenyataan bahwa kau sudah bukan kekasihku yang dulu? Kau telah menyamakan dirimu? Apa aku salah jika aku memanggilmu dengan namamu sekarang? . Atau aku harus menipu diriku sendiri dengan meniadakan semua kenyataan yang aku lihat?"

Pundak Prabarini berguncang oleh isak yang makin menyesakkan. "Tiada ampun..."

"Jangan kaukatakan itu, Prabarini! Aku Cuma mau jujur pada diri sendiri! Tidak gampang itu! Kau mau menipu dirimu sendiri? Dengan berkata bahwa kau masih seperti dulu?"

"Setidaknya hati hamba..."

"Cuma Hyang Maha Dewa yang mampu menyelidiki hati!

Sudahlah! Aku mau belajar menerima semua ini!" "Jika tiada pengampunan, bunuhlah hamba!"

Sedah mengerutkan dahi, lalu dengan jemari yang bergetar ia menarik bahu Prabarini agar berdiri. Prabarini merasakan betapa dingin tangan yang menempel di kedua belah bahunya ini. Keringat dingin telah keluar dari pori-pori di telapak tangan Sedah. Dan ia berdiri. Wajah mereka berhadap-hadapan.

Prabarini sedikit mendongak. Dekat sekali.

"Kau adalah Prabarini!" Sedah tiba-tiba saja melepaskan pelukannya. Ia sendiri tak tahu mengapa. Ia yang merencanakan kehadiran Prabarini semacam ini, tapi mendadak saja darahnya seperti menggelegak. Memang seharusnya ia membunuhnya.

"Masihkah harus ada hakmu untuk membela diri? Kau telah berkhianat terhadap sumpahmu sendiri di hadapan Hyang Maha Dewa! Apakah masih mengharap pengampunan?" Dingin sekali suara Sedah dalam getaran jiwanya.

Prabarini tergagap. Seluruh persendiannya seperti dicopoti satu-satu. Apalagi ia melihat Sedah berjalan memunggunginya. Menuju tempat kerjanya kembali. "Yang Suci..." Prabarini mengikuti langkah Sedah. "Seharusnyalah tanpa ampun bagi seorang seperti hamba. Tapi tiada bolehkah hamba menjelaskan sedikit alasan kenapa semua ini bisa terjadi?"

Sedah menghentikan langkah di depan hamburan lontarnya. Ada yang sudah diisi tulisan. Ada yang masih kosong.

"Tiap orang akan menyusun berjuta alasan untuk mempertahankan kebenarannya sendiri. Masihkah aku harus mendengarnya?"

"Oh..." Kembali tangis Prabarini terdengar. "Ternyata semua orang sama! Satria maupun brahmana! Mereka hanya pandai memperdengarkan suaranya, tapi tak pandai mendengar! Coba apakah yang diperbuat Yang Suci, seandainya tempat kita berganti? Yang karena keinginan mencari kekasihnya, pria pujaannya yang bernama Sedah, kemudian jatuh ke tangan drubiksa. Dan, dihadapkan pada dua pilihan: dilempar ke tengah-tengah para budak di tambang emas untuk diperkosa beramai-ramai dan bergantian, atau menerima menjadi Paramesywari! Apa pendapat Yang Suci?! Berilah jawab!" raung Prabarini makin keras.

Sedah tercenung. Pandangnya menatap dinding yang terbuat dari jajaran bambu kuning pilihan, tanpa makna. Apa pendapatmu Sedah? usik hatinya sendiri.

"Haruskah seorang brahmani menyerah begitu saja?" terlompat tanya dari mulutnya.

"Tidak! Tapi Jayabhaya bukan orang yang terbiasa mendengar pendapat. Harus terjadi semua yang dia maukan. Hamba sudah bersemadi. Menyerahkan dan memohon pertolongan Hyang Maha Dewa! Segala yoga, puasa, dan daya sudah hamba kerahkan... Tapi, oh, Hyang Maha Dewa sendiri tak pernah kunjung tiba... Tidak, Yang Suci! Pertolongan tiada. Jalan untuk berlari juga tertutup. Lalu apa salah jika hamba berbuat seperti Sinta dalam genggaman Rahwana, menunggu dan menunggu datangnya..."

"Aku bukan Sri Rama, Prabarini! Aku adalah aku. Dan aku akan tetap ingin menjadi seperti diriku sendiri," Sedah menegaskan.

"Hyang Dewa Ratu! Jika demikian... sia-sia hidup hamba selama ini, Yang Suci? Juga, apa artinya Yang Suci datang?" Prabarini berputus asa. Tiba-tiba saja suara gemerincing logam jatuh di lantai kayu rumah Sedah. Sedah menoleh ke arah suara itu. Dua logam uang emas dilempar oleh Prabarini.

"Apa pula artinya Yang Suci mengusik hamba dengan logam itu? Nah, jika kedatangan Yang Suci bukan untuk menghukum..." Prabarini terhenti lagi. Kerongkongannya seolah tersumbat.

"Kau sudutkan aku, Prabarini! Kau ingin menjadikan diri seperti Sinta?" Sedah menarik napas panjang.

Prabarini mengamati wajah kekasihnya itu. "Lihatlah Sinta yang mampu mempertahankan dirinya sebagai seorang istri suci! Yang berani berkata dan menentang Rahwana akan merobek kulitnya jika raksasa perkasa itu menjamah kulitnya. Kau? Mimpi-mimpi buruk memburuku setiap waktu."

Tubuh Sedah pun menjadi lunglai. Pikirannya seolah buntu.

Dasar anak bandit! Palagantara tak lebih dari bandit busuk! Mengapa kau akan terima dia? Pergulatan muncul dengan tiba-tiba dalam benak Sedah. Pantas!!! Pantas bersuamikan bandit yang merampasi semua harta petani! Ya! Petani adalah makhluk mengibakan sepanjang segala abad! Karena haru$ selalu mempersembahkan dan terus mempersenv-bahkan.

Tanah memang subur! Padi memang menguning. Tapi sering mereka cuma makan ubi. Apa sebab? Ulah orang-orang semacam Jayabhaya telah menjadikan mereka makhluk terhina sepanjang masa. Dengan lemah Sedah terduduk.

"Yang Suci..." Prabarini menjatuhkan cundrik yang sudah dia persiapkan, yang terbungkus di balik kainnya.

"Hamba rela menerima hukuman. Mati sekalipun, asal di tangan Yang Suci." Ia menghadapi Sedah sambil menyodorkan cundriknya. . Sedah memandangnya dengan pandangan kosong. Dan beberapa saat mereka saling pandang-Sedah seperti kehilangan keseimbangan.'

"Hamba- bersalah, Yang Suci... Hukumlah! Hukumlah hamba! Bunuhlah!"

Benar-benar Sedah tak mampu berkata-kata. Kepalanya pening. Makin pening. Mendadak muncul di hadapannya beribu-ribu bintang. Seolah berputar di hadapannya. Dan sebelum ia lupa akan semua dan segala, ia sempat mengucapkan kalimatnya,

"Tinggalkan aku sendiri, Prabarini! Pergilah dengan damai!

Aku masih terlalu lelah!" Lalu matanya terpejam. Tubuhnya tergolek tanpa daya.

Prabarini terkejut. Tak tahu harus berbuat apa. Ia berlari turun. Ke rumah Jodeh dan Sontoh...

0ooo0dw0ooo0