Prabarini Bab 3 : Hariwangsa

 
Bab 3 : Hariwangsa

Seluruh kawula Daha dilarang berangkat ke sawah atau ke tempat-tempat pekerjaan masing-masing pada harini. Bukan cuma sekadar desas-desus, bahwa Paramesywari akan dikirap keliling kota Daha. Maka sejak pagi-pagi semua lelaki- perempuan, tua-muda, anak kecil maupun dewasa berjejal memadati pinggir-pinggir jalan. Tak peduli apakah mereka belum sarapan, atau sudah. Untung mendung sering menutupi mentari yang merambat naik, hingga sinarnya tidak terlalu keras membakar kulit.

Berbagai macam kembang telah mereka siapkan di pinggir jalan dan siap ditaburkan bila sang Paramesywari melewatinya. Menurut desas-desus yang dibawa oleh para bakul atau penjaja keliling, wajah Paramesywari baru ini luar biasa cantiknya. Ada-ada saja cerita perempuan-perempuan bakul sayur-mayur, atau para penjaja makanan keliling kota

.itu. Tentu banyak yang ditambah-tambahi. 'Sudah biasa, sepanjang-panjang jalan masih panjang lidah.

"Aduh... ada wanita kok seperti itu..." Kata mereka yang jualan di sudut pasar pada seorang pembeli.

"Kenapa? Jahat barangkali?"

"Oh, tidak. Wajahnya masih seperti bayi. Tapi matanya bercahaya, persis bintang timur."

"Ah, masa, Bu..." "Diberi tahu, kok."

Pedagang sebelahnya lagi tak mau kalah. "Giginya, seperti deretan mutiara berbaris rapi. Sungguh jika tersenyum... hemh! Itulah yang membuat Sri Prabu terbirit-birit." Cekikikan.

"Hush! Jangan menghina Sri Maha Prabu, lho!" "Rambutnya! Tahu? Jika diurai, cekh, cekiu cekh..." "Kenapa, Mbok?"

"Bukan cuma tebal dan hitam, tapi panjangnya itu, sampai menyentuh tanah.""

"Wah, wah, wah..." Pendengarnya kagum luar biasa. "Kulitnya, tahu? Wuu... lebih halus dari sutera buatan China

sekalipun. Jangan sutera buatan Penjalu. China! Dan warnanya kuning tapi lebih banyak condong ke putih. Tidak seperti kulitku ini. Coklat masam..."

"Hi... hi... hi... hi..." Pendengarnya terkikik.

"Apa si Embok sudah pernah bersua? Kok bisa bercerita begitu jelas dan bersemangat?" tanya salah seorang pembeli.

"Ah, kapan bisa bersua dengan bidadari seperti itu? Cuma kata ibu-ibu, itu lho istri-istri ponggawa yang pernah berbelanja."

"Oh, katanya?"

"Iya, katanya." Tersenyum. Dan semuanya jadi tersenyum.

Yang lain lagi juga cerita tentang bibirnya yang mungil dan tipis, serta selalu tampak basah menawan. Ada yang menceritakan keindahan susunya yang tegak seperti dua buah pepaya kembar, ada juga yang menceritakan kakinya yang seperti padi bunting. Ujung jarinya yang runcing, lenggangnya yang seperti macan kelaparan, pendek kata sejuta sanjungan buat Prabarini. Tapi kala menerima pertanyaan yang sama, apa sudah pernah bersua? Jawabnya satu, seragam: katanya....

Tapi harini tidak! Mereka akan membuktikan sendiri.

Melihat sendiri. Tak lagi katanya. Sejak pagi Prabarini memang sudah disiapkan. Dayang juru rias telah bekerja dengan baik, lengkap dengan semua perhiasan. Prabarini masih membaca lontar Bhagawad Gita waktu Jayabhaya menjemputnya.

Jayabhaya tidak pernah mampu membacanya, tapi ia tidak ingin mengusik istrinya, karena memang kebiasaan brahmana membaca sebelum melakukan segala sesuatu. Dia sama sekali tidak mengerti bahwa sebenarnya Prabarini mencari kekuatan bathin dan lahir dengan membaca kitab Bhagawad Gita itu.

Secara kebetulan Prabarini membaca percakapan kedua belas sloka ketujuh:

tesham aham samuddharta mrityu samadra sagarat bhavami nachirat partha mayy avesita chetasam Artinya:

Yang pikiran mereka tertuju padaKu Dengan cepat Aku langsung, Partha, membebaskan mereka itu

Dari lautan sengsara hidup lahir dan mati

Dan Prabarini berdoa dalam semadinya: Hyang Maha Dewa biarlah Engkau saja yang menjadi pusat hidupku. Aku

pasrah atas semua ini.

Kemudian membaca lagi. Sloka berikutnya:

Mayy eva mana dadhatsya mayi buddhim nivesaya nivasishyasi mayy eva ata urdhvam samsayah Artinya:

Pusatkan pikiranmu hanya padaKu

Biarkan kebrahmanaanmu, pekertimu berdiam padaKu Hanya di dalam Aku engkau hidup nanti

Dan jangan sangsi lagi.

Prabarini menarik napas panjang. Terbebaslah ia dari semua-mua. Hyang Maha Dewa sendiri telah mengatur. Biarlah kebrahmanaan ini diinjak, tapi semua seizin Hyang Maha Dewa. Sebab bukan pada manusia aku akan memusatkan hidupku, tapi padaMu ya, Hyang Pencipta!

"Istrinda...," sapa Jayabhaya.

"Sembah untuk Yang Maha Mulia..." Itulah pertama kali Prabarini membalas Sri Prabu.

Kendati masih belum lazim sapaan begitu untuk seorang suami, namun bagi Jayabhaya sudah memberikan kedamaian tersendiri. Hatinya, seolah tersiram air yang tersimpan dalam guci selama sewindu.

"Akan kuberitahukan padamu semua ponggawa dan kawula kita. Supaya jika Kanda berhalangan, kau dapat mewakiliku."

"Ampunkan hamba, Yang Maha Mulia! Bukankah sudah ada Yang mulia Rakai Sirikan sebagai Putra Mahkota? Bukankah beliau lebih berhak dari pada hamba?"

"Sungguh berhati mutiara, Adinda! Tapi selama ada daku, maka kau berhak tampil jika aku berhalangan. Maka kau harus melihat sendiri semua naraprajaku.

. "Hamba, Yang Maha Mulia." Prabarini melangkah dalam bimbingan Jayabhaya, walau masih belum hilang rasa sakit dan nyeri yang meradang di perut bahagian bawah dan pangkal pahanya, karena ulah Jayabhaya. Lebih sakit lagi hatinya. Namun demi kembali teringat akan Bhagawad Gita percakapan kedua belas sloka kedelapan itu, hatinya tenang kembali. Mengapa harus sakit? Semua-mua sudah menjadi takdir yang tak terbantahkan.

Maka mulai ia berani menatap wajah suaminya: gemuk, tinggi, tak mengherankan jika ia teraniaya luar biasa selama dua hari kemarin. Memang ada sisa kegagahannya. Juga sisa ketampanannya. Tapi semua tinggal sisa, karena sudut mata orang di sampingnya itu mulai dihiasi garis-garis seperti serat daun sirih. Jenggotnya tinggal dua helai. Apalagi jika tertunduk. Cara tersenyumnya agak aneh menurut Prabarini. Tentu bukan senyum tulus. Walau tampaknya mudah senyum, namun tiap senyumnya seolah mengandung makna. Sekalipun begitu, orang ini tidak kempong. Giginya pun belum ada yang rontok. Mungkin karena banyak bersirih.

Tiga orang putra yang duduk dalam Panca Ri Pakira-kiran, atau lima orang yang ditunjuk untuk membantu Raja dalam bertimbang, termasuk Putra Mahkota. Itulah yang pertama dikunjungi oleh Jayabhaya dan Prabarini.

"Setiap bulan mereka menerima gaji dari kerajaan. Tetapi sesekali mereka juga memperoleh hasil bumi atau hasil lain dari tanah yang dihadiahkan kepada mereka."

Prabarini membalas penghormatan mereka dengan memamerkan lesung pipit di pipinya serta seleret mutiara yang gemerlap di sela bibir yang sedikit terkuak itu. Berbeda dengan penampilan pertamanya di muka umum sebelum wadad suci. Dan itu saja membuat kesan tersendiri. Jantung mereka seolah copot jika senyum Prabarini berakhir.

"Juga seluruh menteri, Istrinda!" Jayabhaya melanjutkan sambil membimbing istrinya meninggalkan ruangan Rakyan (panggilan untuk seorang menteri) Ri Pakira-kiran. "Mereka menerima gaji sepuluh tail emas sebulan." Prabarini mengulang dalam hati.

Sepuluh tail emas? Pantas jika tingkat hidup mereka jauh melebihi semua kawula. Mpu Brahma Dewa, dang hyang di Widya Trisnapala itu barangkali dua tahun baru bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Karena memang uang emas jarang beredar di kalangan "bawah, hanya uang perak yang beredar di kalangan kawula.

Di sebelah kanan keraton ada gedung besar yang dipakai untuk tempat para panglima di bawah Menteri Mukha. Cuma berbatasan pagar bata saja dengan keraton milik Sri Maha Prabu. Sengaja memang, agar memudahkan jika sewaktu- waktu Sri Pabu perlu memanggil mereka.

Di alun-alun telah berjongkok tiga ratus orang pembantu menteri. Mereka semua bertugas mencatat dan melaporkan hasil kerajaan. Mereka juga digaji dengan uang emas, tapi hanya dua setengah tail.

"Di bawah mereka masih ada seribu orang yang disebar ke seluruh negeri. Mereka digaji sepuluh tail setiap satu tahun, sesuai dengan pangkat masing-masing."

"Satu tahun?" Prabarini sedikit terkejut. "Ya. Sesuai dengan pangkat mereka."

Yang bekerja berat mendapat lebih sedikit, pikir Prabarini. Pintar juga suaminya mengatur kekayaan negara. Tapi lebih pintar lagi bagaimana mengaturnya demi kekayaan diri sendiri. Setelah membalas penghormatan orang-orang yang berjongkok di alun-alun sambil meneriakkan "Dirgahayu!", Prabarini dibimbing ke perbentengan sebelah kanan istana.

"Para panglima digaji tiap setengah bulan sekali, sepuluh tail emas."

"Sepuluh tail emas setiap setengah bulan? Berarti dua kali gaji para menteri?" Suaranya makin merdu berkicau. "Ya, sebab merekalah yang menyebabkan Penjalu menjadi kaya. Mereka yang siap mengorbankan jiwa demi negara dan raja."

"Bagaimana dengan para prajurit? Bukankah mereka yang bergelimangan darah di garis depan?"

"Tiga ribu perwira tempur Penjalu, darat maupun laut, mendapat gaji sama dengan para panglima. Tapi enam bulan sekali. Yang lain digaji sesuai dengan pangkat masing- masing."

Prabarini tidak bertanya lagi. Para perwira tinggi menyambut mereka. Satu di antara mereka ada yang sudah amat dikenalnya! Kuda Amiraga! Dia yang membunuh keponakannya sendiri. Wajar jika ia rela melakukan seperti itu. Wajar jika ia setia seperti itu. Sepuluh tail emas setiap setengah bulan. Apalagi dengan jasanya yang baru, mempersembahkan Prabarini kepada Sri Ma£>anji, kini pangkatnya dinaikkan secara istimewa. Lebih dari itu, ia juga diangkat menjadi Wakil Menteri Mukha. Jabatan yang selama ini lowong.

Tidak lama di perbentengan itu. Prabarini dibimbing lagi ke tempat upacara pemberangkatan kirap. Sebuah kereta yang ditarik sepasang kerbau telah tersedia di depan pendapa agung. Kereta itu berbentuk perahu, dengan empat roda.

Tempat duduk kusir ada di depan lambang garudha mukha. Sedang di belakangnya bergambar narasingha sebagai simbol pribadi Sang Ma-panji Sri Jayabhaya. Berat tentunya kereta yang lebarnya satu depa dan panjangnya dua depa itu, maka ditarik oleh dua ekor kerbau yang perkasa. Apalagi terbuat dari kayu hitam berukir-ukir. Tempat duduk raja serta paramesywari beralaskan permadani. Tidak kurang dari lima ratus orang prajurit yang akan mengawal kirap itu.

Prabarini geleng kepala. Perjalanan keliling ibukota saja harus dikawal sekian banyak orang. Di depan sendiri Menteri Mukha serta putra mahkota duduk di atas seekor gajah. Lengkap dengan perisai dan peralatan perang. Luar biasa. Ternyata seorang raja jaya yang namanya terkenal sampai ke belahan bumi utara ini seorang yang takut mati. Pengawalan demikian ketat di seputar kereta. Hiasan beraneka macam terpancang di pinggir-pinggir jalan. Prabarini tersenyum.

Bukan membalas penghormatan kawula yang semua berjongkok di pinggir jalan itu, tapi sebenarnya lebih menyenyumi diri sendiri. Yang tanpa semaunya telah memasuki alam yang sama sekali dibencinya.

Alam yang selalu mengambil keberuntungan dari milik manusia lainnya. Lihat itu, Kuda Amiraga! Ia telah mengambil keberuntungan darji kecantikanku! Sedangkan aku mendapat kemuliaan dari kewibawaan Jayabhaya. Sebaliknya Jayabhaya merampas kenikmatan keperempuananku yang seharusnya milik Sedah. Baik! Aku dirampas! Bukankah hidup ini timbal- balik?

Taburan bunga dibalasnya dengan lambaian tangan.

Jayabhaya sengaja mengajak istrinya itu berdiri. Kendati di mana-mana banyak pohon murbei yang menghasilkan bukan saja buah» murbei, tapi juga ulat sutera, namun semua kawula Daha laki-perempuan umumnya telanjang dada.

Telanjang kaki. Sementara Sri Prabu tidak saja mengenakan kain sutera pada bahagian bawah tubuhnya seperti dia, tapi juga mengenakan selendang sutera kuning yang diselempangkan menyilang di dadanya. Untuk apa?

Sebenarnyalah untuk menutup perisai yang terpasang di dada dan' punggung Sri Mapanji. Maka tak heran jika ada anak panah yang diluncurkan secara gelap dan tepat mengenai dada raja, maka panah itu tak akan mempan. Nah, ini rupanya rahasia kekebalan raja yang diceritakan dari bibir ke bibir di kalangan kawula Penjalu itu. Sebagai titisan Wisnu, Sri Prabu bukan cuma bijak tapi juga kebal dan sakti.

Perjalanan sampai di gerbang kota Daha. Di sini berdiri sebuah candi kecil. Mereka turun. Rombongan berhenti karena Jayabhaya mengajak istrinya berdoa di depan patung Wisnu. Berbeda dengan yang di puri kerajaan, yaitu Wisnu duduk di atas seekor ular atau shesa yang melambangkan bahwa raja yang berkuasa adalah pemuja Wisnu yang Maha Kuasa, kini patung Wisnu berdiri.

Prabarini memperhatikan mahkota Wisnu yang bersusun tiga, sedang di sebelah kiri ada pahatan bunga teratai yang bertangkai bunga panjang, sedang di atas teratai itu ada sebilah pedang. Wisnu memiliki empat tangan yang menunjukkan betapa saktinya sang Maha Pencipta, Maha Pemelihara dan Maha Perusak itu. Satu tangan kiri bahagian belakang memegang pelita yang menggambarkan bahwa Wisnu berkuasa memberikan terang dan gelap. Berkuasa atas susah dan senang.

Keduanya selesai berdoa. Tiba-tiba Jayabhaya bertanya pada istrinya,

"Sebagai brahmani, tentulah Istrinda dapat menerangkan arti semua perlengkapan Hyang Maha Dewa ini."

"Jagad Dewa Bathara, kenapa baru sekarang hamba diuji?

Bukankah tak ada niat hamba untuk memasuki sayembara sebagai paramesywari? Mengapa harus diuji?" Prabarini pura- pura terkejut. Namun ia memaksudkan semua itu sekadar untuk menjajagi hati Baginda.

"Bukan maksudku menguji Istrinda. Tapi bukankah baik jika aku mengetahui pendalaman istriku." Jayabhaya tidak kurang bijak.

Prabarini pun mengartikan semuanya.

"Penggada di sebelah kiri depan ini, adalah penggambaran bahwa Wisnu-lah pemegang hari penghakiman akhir! Tak seorang pun berhak menghakimi lainnya, karena kuasa penghakiman di tangan Hyang Maha Wisnu. Dialah penegak kebenaran. Karena memang manusia di muka bumi ini tiada satu pun yang benar." "Jagad Dewa Bathara! Aku belum pernah menerima penjelasan seperti ini. Lalu?"

"Cakra di tangan kanan bahagian belakang, artinya, cakra adalah lambang ketajaman. Cakra juga senjata di atas segala senjata. Sebenarnyalah di atas muka bumi ini tak ada pemenang seperti Sang Wisnu. Jika manusia ingin menjadi pemenang abadi, ia harus manunggal dan menyerahkan segala segi hidupnya pada Maha Wisnu. Cakra juga lambang ketajaman otak. Cuma Wisnu-lah yang memiliki ketajaman otak itu. Karenanya kita harus memohon padaNya untuk mendapat anugerah ketajaman otak, agar dapat memecahkan rahasia alam. Sebab, memang Hyang Maha Wisnu-lah sumber segala pengetahuan. Juga sumber segala yang tahu!"

"Sepantasnyalah kau mengajari semua putra raja, Istrinda." "Di Penjalu ada banyak brahmana pandai, Yang Maha

Mulia."

"Baik. Aku makin tertarik pada uraianmu. Lanjutkan!" Pinta Jayabhaya.

"Tangan kanan depan menyilang di hadapan perutnya, dengan telapak tangan terlentang, ini mengartikan bahwa Hyang Maha Kuasa sanggup menampung semua masalah dan persoalan yang diadukan oleh semua umat di muka bumi.

Karena itu, jika manusia menerima beban, pencobaan dan kesulitan hidup, seharusnyalah menyerahkan segala yang dikuatirkan itu pada Hyang Maha Wisnu, karena hanya Wisnu yang dapat menampung dunia dengan segala isinya! Manusia penuh keterbatasan, tapi Hyang maha Wisnu tidak pernah terbatas."

"Bagaimana pendapat Yang Tersuci?"

"Tak dapat disangsikan lagi, Yang Maha Mulia, bahwa Paramesywari adalah brahmani yang mumpuni," puji Panuluh yang ikut dalam rombongan itu. "Ah, tiap orang memiliki kekurangannya sendiri-sendiri, Yang Maha Mulia." Prabarini buru-buru menyembah, "Hamba pun tak luput dari kekurangan."

"Hyang Maha Wisnu menjodohkan kita, Istrinda," Jayabhaya kini membimbing istrinya, "untuk saling menutupi kekurangan yang kau maksudkan itu. Mari! Berbahagialah kau di sampingku, Adinda!"

Prabarini hanya tersenyum. Ia tidak berani menjawab. Memang senyum adalah lebih bijak dari pada menjawab dengan kata-kata. Sebab untuk mengiakan tentu Prabarini membutuhkan perjuangan melindas hati sendiri. Dan buru- buru ia membuang pandang ke arah umbul-umbul yang berkibar-kibar di pinggir jalan, seolah ikut beria-ria menyapanya. Daun-daun nyiur juga daun-daun pisang nan hijau bergoyang oleh hembusan angin lirih. Sawah yang mulai menghijau memberi harapan pada semua warga kota Daha.

Melegakan sang Baginda. Apalagi dengan pengumuman yang dikeluarkan oleh Mpu Panuluh, bahwa Paramesywari anugerah Hyang Maha Dewa akan membawa kesuburan bagi bumi Penjalu seperti waktu zaman Bathara Erlangga sorga. Atau mungkin sekali malah melebihinya. Karena ternyatalah bahwa Prabarini adalah penjelmaan Sri Lakhsmi sendiri. Tapi banyak orang bijak yang sudah menangkap maknanya, bahwa ternyatalah Prabarini masih perawan waktu Sri Jayabhaya menidurinya pertama kali.

Sepulang dari perjalanan keliling kota Daha Jayabhaya menasihati Prabarini untuk memanggil seorang dayang yang bertugas sebagai tukang pijit agar terlepas dari keletihan.

Namun Prabarini menjawab dengan ramah.

"Cukuplah Nyi Rumbi, Yang Maha Mulia. Karena dialah yang merawat hamba sejak hamba kecil."

Raja kembali ke balai agung, karena masih ada sesuatu yang hendak dibicarakan dengan para menteri. Kesempatan itu dipergunakan oleh Prabarini untuk kembali berdoa. Ia memohon pada Hyang Maha Dewa agar dirinya tidak terpengaruh oleh lingkungannya yang serba gemerlap. Dan setelannya ia kembali membaca Bhagawad Gita. Kini percakapan kedua belas sloka kesepuluh:

abhyase py asamartho si matkarma paramo bhava madartham api karmani karvan siddhim avapsyasi Artinya:

Jika engkau tak sanggup lagi melakukan yoga Maka pusatkan semua pengabdian padaKu Dan segala kegiatanmu demi untukKu Engkau pasti akan mencapai kesempurnaan.

athai 'tad apy asakto ’si kartum madyogam saritah sarva karma phala tyagam tatah kuru yatatmavan Artinya?

Jika itu pun tak dapat kaulakukan,

Maka berlindunglah dalam keajaiban syaktiKu

Dan tanggalkan semua rasa berjasamu atas karyamu Jiwamu akan teguh terkendalikan.

Prabarini seperti memperoleh kekuatan diri dalam kepasrahan. Saatnya akan tiba, ia bersua dengan Sedah. Karena itu ia bertekad tidak akan melahirkan anak bagi Jayabhaya.

"Kau tahu caranya itu?" tanyanya pada Nyi Rumbi. "Beri tahu pada hamba bila Yang Mulia datang bulan

terlambat. Sebab, itu salah satu tanda."

"Baiklah! Apa yang akan kaulakukan seandainya aku datang bulan terlambat?"

"Tidak sukar. Hamba akan meramukan jamu.

Dari nanas muda di campur dengan mrica serta arak hitam.

Jika gagal, maka hamba akan mencarikan buah durian dicampur dengan ramuan lain. Pasti!"

"Pasti manjur?"

"Pengalaman hamba, pasti manjur. Tapi tidak tahu lagi jika benih seorang sakti titisan Dewa Wisnu..."

"Anak Dewa siapa pun, selain Sedah, harus aku gugurkan!" "Baiklah! Nanti kita juga bisa berunding dengan Nyi

Lembini. Tentu dia lebih pintar. Bukankah ia seorang tabib?" "Oh... iya!" Prabarini tersenyum lebar.

O000odw0ooo0

Musim penghujan belum berakhir kala Sedah menuruni lereng Gunung Kawi dan kembali menuju Adiluwih. Tapi Sedah tidak pernah peduli dengan hujan. Juga tidak pernah peduli dengan udara gunung yang dingin. Dengan celana hitam, jubah hitam, dan kalung emas panjang dengan medali bergambar teratai tergantung di perutnya, Sedah tetap meneruskan perjalanannya. Dalam hatinya ia mengukir sebuah syair buat kekasihnya:

Dua puluh tiga tahun sudah Bumi menyanggaku

Mentari memanggang kulitku Hujan dan badai menepis wajahku

Tapi kakiku tetap melangkah menuju esok Tiba-tiba...

Sebuah kidung usang menyentakkan daku

Dan membawa kakiku menyelusuri jalan-jalannya Pengulangan! Ya, sebuah pengulangan!

Tapi aku terhanyut...

Dalam hempasan gelombang asmara

Jadilah aku berandai-andai dalam berjuta mimpi Ah, benarkah ini?

Hidup cuma sebuah impian yang diulur?

Pohon-pohon Sonokembang dalam hutan tidak cukup untuk meneduhinya dari hujan dan panas, tapi ia tidak peduli.

Sawah-sawah memberikan kedamaian. Tapi ia tidak berhenti untuk berbincang dengan para petani yang dijumpainya, kecuali untuk membetulkan tali kasutnya yang terbuat dari pelepah daun pinang. Tongkat hitam dengan hulu terbuat dari emas berbentuk bulatan akan menolongnya jika ia gontai. Tapi tidak! Dalam usia dua puluh tiga tahun ia tidak pernah gontai. Dan semua orang, pedagang ataupun petani yang berpapasan dengannya, pasti akan menjatuhkan diri dan menyembah.

Sedah heran. Sewaktu hendak memasuki perkampungan Badas, ia bersua dengan seorang setengah umur, yang rupanya baru saja mencari kayu di hutan. Dengan langkah panjang orang itu memikul dua ikat kayu di kiri-kanan tubuhnya. Ia amat terkejut kala hampir menubruk Sedah. "Jagad Dewa Pramudita! Hati-hatilah, Paman..."

Dengan gugup orang itu memandang Sedah. Entah apa sebabnya, tubuhnya tiba-tiba menggigil. Ia langsung menjatuhkan diri sambil menyembah,

"Oh, ampunkan hamba, Yang Maha..."

"Jangan seperti itu, berdirilah! Kenapa kau ini?" "Bukan mak... mak... sud ham..."

"Jangan gugup! Atau kau sudah terlalu lapar?" Sedah mengeluarkan bungkusan nasi yang tadi dibelinya di sebuah kedai.

"Tidak! Terima kasih..."

"Kenapa takut? Aku bukan hantu. Aku manusia biasa."

Tapi orang itu kembali menyembah dengan muka terhunjam ke tanah. Sedah tidak ingin memberi aniaya lebih lanjut pada orang tua itu, maka setelah meninggalkan nasi di samping orang itu, segera ia berlalu.

Dan orang itu menceritakan pada teman-teman sekampungnya, bahwa ia telah bersua dengan Hyang Kamajaya.

"Ah, kau biasanya suka bohong! Cari apa Hyang Kamajaya pergi ke tepian hutan?"

Sebaliknya Sedah menjadi amat heran. Barangkali wajahku menakutkan. Barangkali setelah berhari-hari menempuh rimba, jurang dan gunung-gunung, wajahku jadi berubah?

Menakutkan? Maka Sedah segera mencari sebuah kali kecil di pinggir hutan untuk bercermin sekaligus mandi. Siapa tahu mereka betul. Wajahku telah berubah menjadi seperti drubiksa. Jika demikian tentu Dinar juga akan berlari ketakutan. Tapi begitu ia bercermin pada air jernih, ah, tidak! Aku belum berubah. Lalu apa sebabnya? Sedah tetap tidak menyadari, bahwa busana brahmana yang dikenakannya telah membuat setiap sudra yang bersilang jalan dengannya selalu menjatuhkan diri. Apalagi dengan tongkat berhulu emas di tangannya begitu, tentu orang menganggapnya dewa yang turun dari Nirwana. Apalagi ia membiarkan rambutnya yang hitam ikal itu terurai lepas di bawah pundaknya. Alisnya tebal, seolah gambar sepasang golok hitam tertempel di atas matanya dengan pangkal beradu. Bulu matanya lentik dan lebat, membuat matanya bersinar seolah bintang kejora. Keberaniannya beradu pandang merupakan petunjuk bahwa Sedah tidak pernah ragu berhadapan dengan siapa pun.

Akhirnya Sedah tidak mau direpotkan dengan sikap orang padanya. Selesai mandi ia segera melanjutkan perjalanan. Dan sebelum kembali masuk hutan ia mengganti kasutnya dengan yang baru. Ternyata kasut pelepah pinang tidak sekuat yang terbuat dari kulit. Tapi tak apa. Begitu pun ia tetap bersyukur. Kelelahan selalu dikalahkannya dengan menikmati panorama sepanjang perjalanan. Tak jarang ia berhenti beberapa saat untuk memperhatikan akar-akaran yang menggantung dari pohon-pohon besar. Luar biasa! Pohon besar dengan akar demikian banyak. Akibatnya juga lebih luar biasa lagi: tak satu pun rumput bisa hidup di bawahnya. Ternyata pohon besar bukanlah lambang pelindung. Tapi lambang keserakahan.

Lihat! Ia tak sudi berbagi rejeki dengan pohon-pohon kecil! Lihat, betapa rakusnya akar-akarnya mengisap kandungan perut bumi! Kurang puas? Masih mengeluarkan akar lagi dari dahan dan rantingnya.

Kekaguman Sedah pada Hyang Maha Dewa makin bertambah. Sekalipun rumput tak mampu tumbuh, atau pohon jenis lain, ternyata setelah ia mengamati dan mendongak ke atas, ada jenis pohon lain yang dengan wajah sinis mengejek pohon-pohon kecil yang tak mampu hidup. Daunnya tidak sama dengan milik pohon raksasa yang berdiri tegar dan angker itu. Kecil! Tapi sanggup memerintah raksasa itu untuk mencarikan makan untuknya. Bukan main! Itulah benalu! Ya, benalu namanya! Raksasa rakus itu. tak sanggup mengebaskannya. Sedah tersenyum. Inilah hidup dan kehidupan. Saling mengalahkan.

Beruntung memang Sedah. Di tengah perjalanan dalam rimba ia mendengar harimau mengaum-ngaum. Cepat ia memanjat pohon untuk melihat apa yang sedang terjadi. Matanya yang tajam dapat melihat dengan jelas, betapa seekor harimau menjadi panik karena dikeroyok ribuan tawon.

Ternyata ada sebatang pohon yang roboh. Entah apa sebabnya? Tapi tahu-tahu memang sudah roboh melintang di jalan setapak yang akan dilewati Sedah. Ternyata di dahan pohon tersebut terdapat sarang tawon madu. Nah, rupanya si harimau bukan sekedar pemakan daging, tapi juga menyukai madu. Kala mencoba mengisap madu dengan mulutnya, marahlah si empunya sarang. Barangkali ada tiga puluh ribu lebih. Lebah-lebah itu menggunakan senjatanya untuk mengusir si raja hutan. Mau tak mau si raja rimba terbirit-birit. Dan Sedah mendapat keuntungan. Kala pasukan lebah itu mengejar musuhnya ia datang dengan membawa asap, lalu memotong sarang yang menyimpan madu. Tidak semua sarang diambil memang. Tapi Sedah yang berpengalaman hanya mengambil bahagian yang bermadu. Disimpannya di bumbung persediaan air yang dibawanya. Sebahagian lagi disedot masuk perutnya. Kemudian Sedah melanjutkan perjalanan, seiring dengan harimau yang berlari-lari kecil sambil mencoba menepiskan kerumunan tawon dengan cakarnya.

Tanpa sesadar Sedah, harimau tadi memasuki perempatan jalan di tengah rimba. Sedah menjadi amat terkejut. Tiba-tiba ia mendengar teriakan-teriakan, disusul dua orang lari pontang-panting.

"Harimau! Harimau! Tolong!" Si raja rimba yang mempunyai panjang badan tidak kurang dari satu depa itu pun sempat heran.

Berhenti sejenak, dan telinganya mendadak menjadi tegak. Matanya mengawasi orang yang sedang lari. Tapi empat lelaki bercawat dengan senjata pedang pendek jatuh gemetar di bawah pandang si raja rimba. Tidak terkecuali seorang perempuan. Mereka semua mengatupkan mata, pasrah untuk dilahap sang macan. Tapi ternyata tidak! Seperti jengkel saja ulah si harimau, ia melompat masuk ke dalam semak belukar. Dan tinggallah Sedah di tengah-tengah perempatan sambil memandang sekelilingnya. Semua masih gemetar sambil mengatupkan matanya. Bahkan ada di antara mereka yang menggulung tubuhnya, menyatukan lutut serta tangannya merapat ke dahi. Pasrah. Sedah tersenyum,

"Bukalah mata kalian! Jangan takut!"

"Aduh... ampun, Eyang (sebutan untuk harimau yang dikeramatkan sebagai penguasa hutan (kakek)) jangan bunuh kami... kami tidak akan mengganggu orang lagi di daerah Eyang..." Suara mereka makin gemetar. Lelaki-lelaki yang cuma bercawat itu makin tak berdaya.

Sementara perempuan yang juga cuma mengenakan cawat sebagai penutup kemaluannya itu berlutut sambil berdoa.

Mungkin merasa dilindungi oleh penguasa rimba itu. Betapa mengibakan mereka ini. Hidup dalam ketidaktahuan. Karena terpencil dari pergaulan, akibatnya sama sekali tak terjamah oleh pengetahuan.

"Bangunlah! Bukalah mata kalian!" suara Sedah mantap. Sedah melangkah mendekati seseorang dan mengelus kepala orang itu. Tapi orang itu malah makin ketakutan.

Membenamkan mukanya ke tanah sambil menjerit,

"Ampuuunn! Jangan hamba, Eyang!! Hamba cuma diajak saja! Hamba tidak merampok perempuan ini!" Menangis! Dan mengiba-iba, "Anak hamba ada lima... istri hamba tiga, Eyang... siapa kasih mereka makan jika hamba mati?!"

Sedah menarik napas panjang. Geleng kepala. Ia mencoba mendekati yang lain. Ia jamah tangan orang itu,

"Bukalah matamu!"

Tapi orang in pun makin merapatkan tangan dan kaki ke dahinya dengan amat gemetar.

"Jangan... Eyang! Ki Samir kepala kami yang lari itulah..." Orang itu tak sanggup melanjutkan kata-katanya, karena langsung tak sadarkan diri.

Sedah hampir kehabisan akal. Tapi ia segera mendekati wanita yang sedang bersimpuh sambil berdoa itu,

"Bukalah matamu! Lihatlah siapa aku!" suaranya dibuat sedemikian sehingga terdengar lembut. Dan pelan-pelan, walau masih takut, wanita itu membuka mata.

"Jagad Dewa!" wanita terkejut dan menyebut.

"Jangan terkejut! Aku adalah Sedah! Bukan Eyang seperti perkiraan kalian."

"Bukan penjelmaan Eyang...?"

Sedah tertawa mendengar itu. Membuat ketiga lelaki mulai berani membuka mata. Tentu saja mereka pun tertegun. Sinar mata Sedah setajam mata harimau tadi, pikir mereka. Tapi mereka tak berani beringsut. Menunduk dan sesekali melirik temannya yang masih pingsan.

"Kenapa kau bersama enam lelaki ini?"

"Hamba pedagang beras." Wanita itu menyembah. "Lalu orang-orang ini merampok hamba. Untung..."

"Baik." Sedah memandang ketiga lelaki yang kini sudah membuka matanya. "Apakah kalian tidak malu merampok seorang wanita yang bekerja keras demi anak-anaknya?" "Ampun..." sahut mereka berbareng.

"Sudah berapa duitnya yang kamu rampok?" "Kami baru mencegat."

"Benar keterangannya?" Sedah menoleh pada wanita itu. "Benar."

"Bersyukurlah kau! Hyang Maha Dewa telah menyelamatkanmu!''

Dan orang itu pun menyembah. "Siapa namamu?"

"Sumi. Dari Watan Mas."

"Watan Mas? Baiklah! Pergilah kau dan hati-hatilah!

Selamatlah kau di perjalanan."

"Terima kasih!" Wanita itu mengangkat bakulnya yang telah kosong lalu undur sambil mengendap-endap. Berkali ia menoleh. Belum pernah ia melihat pria setampan itu.

"Dan kalian, jika jiwa kalian ingin selamat, jangan merampok lagi. Tapi carilah pekerjaan.

Jika kalian sukar mencari makan di desa kalian, carilah kerja di Watan, sebelah utara Brantas. Atau ke Daha, menjadi pekerja di peternakan ulat sutera. Atau apa saja, asal jangan merampok." "Hamba..."

"Tunggulah kawanmu itu sampai sadarkan diri! Aku akan jalan lebih dahulu. Sampai jumpa. Dirgahayulah kalian!" ujarnya, kemudian melangkah pergi.

"Dirgahayu..." jawab mereka sambil mengawasi langkah Sedah menguak gerumbul semak yang menutupi jalan setapak di depannya.

"Tentu Bathara Indra, turun dari sorgaloka..." "Ya... beruntunglah kita. Tentu Hyang Maha Dewa akan melakukan sesuatu yang besar sehingga menurunkan Hyang Bathara Indra ke atas bumi. Mungkin saja akan memulihkan kerajaan Bathara Erlangga sorga, yang telah pecah dan dirobek-robek oleh perang."

"Siapa namanya tadi? Sedah?"

"Ya. Sedah. Oh, matanya hihh... seperti Eyang..." "Sudah jangan dibicarakan lagi si Eyang..."

Sedah terus melangkah. Menyinggahi desa-desa, kota-kota. Tapi juga sawah dan hutan. Gunung dan jurang. Tapi di mana pun Sedah singgah, namanya selalu menjadi buah bibir. Bukan cuma wajahnya yang membuat tiap gadis berdebar kala bersua, tapi juga karena ia ringan tangan menolong siapa pun yang ia pandang memang harus ditolong. Hari keempat belas perjalanan Sedah lewat di Lembah Selong. Sedah sudah merasa bahwa ia tersesat, karena lembah ini diapit oleh dua gunung. Di barat laut tampak megah Gunung Watujuwadah, sedang di tenggara Gunung Argowayang. Dari dua gunung ini tersembul dua mata air, yang kemudian mengalir turun untuk kemudian menyatu dengan sungai yang melingkar lewat selatan Gunung Argowayang dan yang bermata air di Gunung Anjas-mara. Brantas! Yang dulu pernah disebut orang sebagai pembatas Kerajaan Penjalu dan Jenggala. Sebelah utara sungai itu adalah wilayah Jenggala, sedang di selatannya adalah wilayah Penjalu. Jenggala beribukota Watan (letaknya di sekitar Jombang), sedang Penjalu di Watan Mas (letaknya di bawah kaki Gunung Penanggungan). Sekarang ibukota Penjalu sudah pindah ke Daha. Artinya, bergeser ke barat untuk menempatkan diri di tepi sungai raksasa ini. Penjalu mendirikan dermaga di Daha demi kepentingan perniagaannya.

Kendati di tengah hutan, Lembah Selong tidak pernah sepi. Di sini bermukim seorang guru yang berasal dari Jambudwipa. Sigdha Gandarsigh, demikianlah nama yang sampai di telinga Sedah. Guru ini membawa ajaran aneh dari negerinya. Dan menurut cerita dari mulut ke mulut, orang ini mempunyai banyak pengikut. Bahkan secara sembunyi-sembunyi, orang- orang istana pun sering datang. Apa pula kerja mereka? tanya Sedah dalam hati. Bahkan juga ada satu-dua brahmana yang datang. Luar biasa jika brahmana yang sudah menyerap ilmu pengetahuan tinggi masih pergi ke Sigdha Gandarsigh untuk meminta petunjuk dan berkah bagaimana caranya supaya selalu bisa selamat dan langgeng dalam mengabdikan diri pada raja. Sama seperti para petani yang memohon berkah agar mendapat kesuburan tanah, sehingga panen mereka berhasil dengan baik. Demikian pula pedagang, yang memohon berkah agar cepat menjadi kaya.

Kala Sedah memasuki gerbang perkampungan, ia melirot dua patung singa di kiri-kanan gerbang.

"Jagad Dewa' Pramudita!" Sedah menyebut lirih. Matanya menangkap enam orang perempuan duduk melingkar sambil meneteskan air mata. Tanpa suara. Ia mencoba mendekati mereka. Dan para wanita itu terkejut.

"Oh, Hyang Bathara! Segala sembah kami persembahkan. " "Kalian tampak berduka. Apa yang menyebabkan?"

Kelima orang itu saling pandang.

"Oh, Hyang Bathara! Tidakkah Hyang Bathara tahu bahwa anak kami diambil untuk sesajen malam ini?"

"Anak kalian?"

"Ya, anak kami yang baru lahir!"

"Jagad Dewa Pramudita!" Sedah menyebut. Dadanya berdegup. Orang-orang ini tentu menganggapnya sebagai dewa. Sedah kemudian mengingat-ingat. Ini adalah tanggal lima belas bulan Kasadha (tanggal 1 Juli). "Siapa yang mengambil anak-anak bayi kalian?" Sedah bertanya lagi.

"Ampunkan kami... Bukankah utusan Hyang Bathara...?" "Berhentilah kalian berkata seperti itu! Aku seorang

brahmana dari Widya Trisnapala. Sedah namaku. Dan aku baru pertama kali datang ke tempat ini. Jadi utusan Sigdha Gandarsigh yang mengambil anak kalian?"

Enam orang perempuan itu diam dan saling bertanya dalam pandang. Tapi tanpa jawab.

"Kenapa kalian tidak menjawab?"

"Kami tidak boleh menyebut nama beliau dengan sembarangan," jawab salah seorang. Masih duduk mereka itu.

"Kenapa?"

"Beliau Maha Suci. Maha Syakti!"

"Akan kuusahakan agar anak kalian tetap hidup! Demi Hyang Maha Dewa!" Sedah melangkah pergi meninggalkan mereka. Dan aneh, seperti terkena sihir. Pelan-pelan mereka bangkit, lalu mengikuti Sedah dari jarak yang agak jauh. Tapi tak biasa dilakukan orang-orang yang sebelumnya menjadi korban.

Belum seratus depa Sedah memasuki daerah kekuasaan Sigdha, ia harus melewati hutan kecil lagi. Dalam hutan itu ternyata banyak berkerumun lelaki yang cuma mengenakan cawat sebagai penutup kemaluan mereka. Memang ada di antara mereka yang mengenakan kain sutera sebagai pembungkus tubuh bahagian bawah mereka. Sedah memperkirakan tentu ini orang kota. Tapi sebahagian lagi kawula yang tinggal di daerah terpencil. Sedah bergesa mendekati mereka. Ternyata jumlah mereka mungkin mencapai tujuh puluhan. "Dirgahayu!" Sedah menyapa dari atas batu besar. Orang- orang yang berwajah muram itu menoleh ke arahnya. Dan dalam kejut mereka bersujud sampai ke tanah.

"Apakah yang kalian tunggu di sini? Maka kalian berdiam diri seperti laiknya orang kaya yang lumbungnya penuh padi sehingga tidak perlu bekerja?"

"Kami menunggu anak-anak kami," jawab salah seorang yang paling tua di antara mereka.

"Anak-anak kalian?" Sedah mengerutkan dahi. "Bukankah anak-anak dara kami dibawa kemari untuk

dipersembahkan dalam upacara maithuna (upacara persetubuhan massal untuk meminta kesuburan tanah) nanti malam?" jawab mereka hampir bersamaan.

"Jadi anak kalian akan dijadikan nayake (wanita yang dipakai untuk upacara maithuna itu)" mata Sedah melindas semua-mua. Tak seorang pun berani memandang wajahnya. Dan tanpa jawab. Ketakutan merajai sukma mereka.

Kembali Sedah menjelaskan siapa dirinya. Dan pelan-pelan, satu demi satu mereka mendongak setelah Sedah berkata,

"Tataplah wajahku! Aku bukan dewa seperti sangka kalian!

Aku seorang brahmana! Ayo jangan takut!"

Tapi bagaimanapun juga mereka harus mengakui. Dalam mata pemuda ini seperti ada kuasa besar dari para dewa.

Mungkin saja anak ini memang titisan Hyang Kamajaya atau Hyang Bathara Indra. Lalu apa maksud pemuda ini datang? Merestui upacara nanti malam?

"Kalian merelakan anak kalian jadi nayake?"

"Demi Hyang Maha Dewa! Demi kesuburan bumi pertiwi!" "Dengarkan aku!" Sedah bicara keras. Kakinya renggang di

atas batu sebesar gajah itu. Tongkatnya berpindah ke tangan kiri. "Hyang Maha Dewa tidak pernah merencanakan kerusakan atas tanah dan negeri kalian, sebab Hyang Maha Dewa mengasihi semua-mua. Lihat! Ia memberikan mentari pada semua dan segala. Karena itu, sadarlah kalian: bahwa kerusakan tidak pernah ditimbulkan oleh Hyang Maha Dewa." Ia diam sebentar. Untuk menjajagi hati semua pendengarnya. Dan mereka mengangguk-angguk.

"Lihatlah burung di udara! Mereka tidak pernah menanam, tapi mereka tidak berhenti menuai. Karena Hyang Maha Dewa telah menyediakan makan untuk mereka. Lihat semua binatang di rimba-raya, tak pernah mencangkul ataupun membajak sawah! Tapi mereka mendapatkan makanannya!

Apalagi kita yang dianugerahi pikiran, sehingga berbudaya, maka sewajarnyalah kita hidup dalam kelimpahan." Diam lagi. Menelan ludah.

Beberapa saat kemudian,

"Percayakah kalian akan ucapanku ini?" "Percaya!" jawab mereka serentak.

"Tanpa diminta pun, Hyang Maha Dewa telah memberikan kesuburan tanah itu pada kalian. Lihat! Apakah yang kalian persembahkan pada Hyang Maha Dewa saat pertama kalian membuka hutan bagi persawahan kalian? Apakah orang, sudah mempersembahkan maithuna waktu sungai raksasa yang membelah Kerajaan Kahuripan menjadi dua kerajaan, Penjalu dan Jenggala, dialirkan dari lereng Gunung Anjasmara? Dan apakah Sri Bathara Erlangga memerintahkan maithuna wak^ tu beliau menyudet Kali Brantas sehingga yang satu menjadi Kali Mas sedang satunya tetap Kali Brantas dengan muara di Kemal Pandak? Yang kemudian memberikan kesuburan tanah bagi wilayah Kahuripan? Dengarkan dan camkanlah baik-baik hal ini!"

Kala Sedah berhenti, mereka saling berunding satu dengan lainnya. "Benar juga, ya!" "Iya... yah."

"Lalu bagaimana?"

Suara mereka seperti lebah bubar dari sarangnya.

"Jadi, sebenarnyalah, upacara maithuna ini, persundalan terselubung. Apalagi jika para naya-kenya dipilih perawan- perawan! Aku berkata, bahwa sesungguhnyalah itu usaha untuk memper-sundalkan anak-anak kalian! Memperbodoh kita. Percayalah padaku! Tidak ada kesucian yang dicapai dengan persundalan!"

"Tapi itu sudah menjadi adat-istiadat..."

"Warisan busuk dari pikiran busuk, kendati itu dari moyang sendiri, harus dicongkel keluar dari kehidupan kita! Dan diganti dengan yang baru! Demi Hyang Maha Dewa! Demi keluhuran akhlak! Aku peringatkan kalian, jika wanita telah kehilangan akhlaknya, maka kelak arwah-arwah kita akan kehilangan sesajian. Karena tidak ada lagi wanita yang mengajarkan pada anaknya untuk mempersembahkan sesaji di pura-pura. Tapi yang ada dalam pikiran mereka adalah nafsu persundalan semata-mata! Dengarkan aku!" .

"Bagaimana kami boleh melanggar yang diajarkan kaum brahmana?" Yang tertua masih bertanya lagi.

"Aku adalah seorang brahmana! Untuk itu aku harus menguasai Atharwaweda Karenanya aku berkata padamu, janganlah terpengaruh oleh orang yang mengajar dengan perkataan muluk-muluk dan menarik, tapi sebenarnya munafik! Dia sebenarnya berusaha menikmati apa yang tersurat dalam Weda, dan dia berkata, "tiada jalan lain atau "harus!". Padahal sebenarnya nafsu pribadilah yang dimanjakan. Jadilah mereka mengajarkan beranekaragam upacara, untuk memperoleh kenikmatan dan kekuasaan." "Tapi banyak orang yang telah menjadi pengikut dan muridnya. Mereka akan marah jika kita mengambil anak-anak yang sudah berada di tangan mereka."

"Aku tahu! Sebab, barangsiapa yang pikirannya dipengaruhi oleh keinginan memburu kenikmatan dan kekuasaan, akan terjebak oleh ajaran-ajaran yang tak jelas. Dan orang demikian tidak akan mampu melakukan yoga dan tidak pantas melakukan semadi!"

"Jadi?"

"Kita harus menghentikan upacara ini! Jika kalian mau dan berani, maka anak kalian tidak akan ternoda."

"Setuju!" Seorang yang masih muda menyahut. Yang lain semula ragu, tapi kemudian menyahut juga.

"Siapa namamu?" tanya Sedah pada pemuda yang pertama menyetujuinya.

"Maliki, Yang Suci."

"Rumahmu jauh, Maliki? Kekasihmu bukan yang diculik?" Sedah mencoba menebak. Dan ternyata betul.

"Betul, Yang Suci." Maliki heran. "Rumah hamba, tidak terlalu jauh. Paling seperempat perjalanan mentari, kami bisa pulang balik ke sini."

"Baik! Jika demikian, kau harus pulang, kemudian kembali ke sini dengan membawa temantemanmu. Bawa pemuda kampungmu untuk membantuku meminta kekasihmu!" "Hamba, Yang Suci!"

"Ingat-ingat! Jangan sampai purnama naik! Aku akan mencoba mendatangi Sigdha Gandarsigh."

Rencana pun segera diatur. Sedah kemudian melanjutkan niatnya untuk masuk ke pusat pemujaan. Setelah melampaui beberapa ratus depa, dengan menerobos gerumbul semak dan pohon-pohon besar, sampailah Sedah pada sebuah lapangan luas yang dikelilingi barak-barak besar. Sepatutnyalah ini asrama laskar, pikir Sedah. Tak ada pagar mengelilingi daerah ini kecuali hutan lebat di seputarnya. Cuma di penghujung jalan setapak yang dilewatinya itu ada gapura besar dengan ukiran gambar singa. Lambang penguasaan terhadap sesamanya. Tepat di tengah lapangan besar itu berdiri sebuah kuil dengan patung Hyang Durga. Rupanya inilah tempat pemujaan itu. Di depan gapura tersebut ada gardu penjagaan. Sedah melangkahkan kaki ke sana.

Tujuh orang berada di gardu penjagaan itu. Salah seorang menyapa, "Selamat siang, Yang Suci. Kami belum pernah melihat atau bersua dengan Yang Suci."

Sedah menghentikan langkahnya. Dan begitu ia menoleh, semua orang menjadi tertegun. Masih belia brahmana ini.

Dan... pandangannya begitu tajam. Senyumnya tentu akan menggoyangkan iman para wanita.

"Ampunkan kami telah menghentikan langkah Yang Suci...," kembali orang yang tertua itu berkata.

"Dirgahayulah kalian!" balas Sedah sambil mendekati mereka.

"Oh, dirgahayu..." Mereka gugup. Langkah Sedah begitu pasti. Pangkal tongkatnya berkilau tertimpa sinar mentari. Juga medali di perut yang tergantung pada kalungnya.

"Apakah Yang Suci akan mengikuti upacara nanti malam?" "Aku akan bersua Sigdha Gandarsigh! Atas nama Hyang

Maha Dewa dan atas nama seluruh brahmana di muka bumi,

aku datang ke tempat ini."

"Oh, ampunkan kami. " Semua orang lalu berjongkok

menyembah.

Ucapan Sedah begitu tegas. Membuat mereka bertanya dalam hati, siapakah orang muda ini. Mungkin benar dia utusan dewa-dewa. "Di mana Sigdha berada?"

Apalagi Sedah memanggil nama Sigdha tanpa sebutan apa- apa. Sigdha selama ini mereka anggap guru yang paling suci, penjelmaan dewa-dewa. Tapi Sedah memanggilnya tanpa sebutan apa-apa. Sedang brahmana lainnya selalu menyebut sebagai Dang Hyang Suci.

"Di barak yang besar. Paling besar di tengah-tengah itu. Semua murid saat ini sedang berdoa bersama-sama untuk persiapan upacara nanti malam. Sedang barak besar yang beratap ilalang itu adalah barak para nayake."

"Lalu di mana tempat bayi-bayi yang akan dikorbankan itu?"

"Yang Maha Suci tentu lebih awas dari kami. Tapi baiklah. Itu! Barak yang terkecil itu. Yang beratap sirap. Sama seperti barak yang ditempati Yang Maha Suci Sigdha dan para murid untuk..."

"Terima kasih!" Sedah melempar dua tail emas untuk mereka.

"Bagilah itu rata-dengan teman-temanmu!"

"Yang Maha..." Pemimpin penjaga itu gemetar. "Brahmana cuma membayar dua puluh keping perak. Satria dua puluh lima..."

"Terimalah itu!"

"Ini terlalu banyak jika ditukar dengan perak!"

"Itulah yang aku bisa lakukan," jawab Sedah. Ketika ia akan melangkah, tiba-tiba kepala penjaga itu membunyikan genta tiga kali. Sedah mengernyitkan dahi sambil memandang dengan tajam.

"Bukan apa-apa, Yang Maha Suci." Kepala penjaga kembali ketakutan. "Ini cuma sebuah panggilan untuk penerima tamu. Setiap tamu harus menerima penyambutan." Dan sebelum Sedah menjawab kata-kata orang itu, seorang perempuan muda muncul. Sedah memandangnya tajam.

Wajah gadis ini agak bundar. Matanya berkilau. Bulunya lentik. Alisnya kecil seperti garis lengkung yang melindungi mata. Hidungnya tidak terlalu mancung tapi juga tidak pesek. Lehernya jenjang, berhiaskan kalung yang terbuat dari untaian melati. Tentu saja baunya wangi dengan harum yang tidak mencolok. Tubuhnya padat, dengan susu tegak tanpa pelindung apa-apa. Tidak nampak sepercik pun daki menempel pada kulit. Bahkan kulit perutnya tanpa garis.

Kecuali pusarnya yang merupakan hiasan tersendiri. Kain sutera tipis melilit ketat menutup pinggulnya. Namun bahagian pahanya sering tersingkap jika sedang melangkah. Rambutnya tebal hitam tersanggul rapi. Kembang mawar terpasang sebagai kondai. Dengan ramah wanita itu tersenyum pada Sedah. Rupanya ia pun tidak menduga bahwa brahmana ini masih sangat muda.

"Dirgahayu!" wanita itu memberanikan diri. Sudah terbiasa rupanya, pikir Sedah.

"Hamba bertugas mengantar Yang Suci. Apakah ingin beristirahat atau langsung bergabung dengan Yang Maha Suci, Sang Guru?"

"Boleh berjalan-jalan?"

"Dengan senang hati hamba akan menemani."

Sedah melangkah. Tentu wanita ini akan lebih banyak memberikan keterangan yang aku perlukan. Jika tidak satu pun brahmana berani meluruskan jalan Sigdha Gandarsigh, akulah yang akan melakukannya. Ini penyimpangan! Weda tak pernah mengajar yang sedemikian ini! Wanita itu menyembah terlebih dahulu sebelum kemudian melangkah ke sampingnya.

"Siapa namamu?" "Kukilani." "Satu nama yang amat indah. Tentu ini bukan nama sebenarnya. Karena nama ini berarti..."

"Berarti apa, Yang Suci?" Wanita itu makin berani. "Kukila berarti burung. Ni berarti tempat. Jadi... yah...

hehm kau sudah mesem-mesem." Sedah pun tersenyum. "Dari mana?"

"Maksudnya, asal hamba?"

"Ya." Sedah melangkah terus. Tapi pelan-pelan. "Daha."

"Ah, kau kembali berdusta!" Sedah berseloroh cepat. Dan wanita itu tersipu.

"Yang Suci mengada-ada." Tapi hati wanita itu berdebar keras.

Seolah Sedah sudah tahu pendalamannya.

"Setiap orang yang sudah berjalan dalam kegelapan, membiasakan diri dalam penyesatan. Itulah sebabnya kau cenderung berdusta. Sampai-sampai matamu tak melihat dengan siapa sedang berhadapan. Padahal mulutmu memanggilku Yang Suci."

Debur jantung Kukilani makin hebat. Mendadak ia rasakanN gelombang mengguruh dalam sukmanya. Luar biasa pemuda ini. Ia mencoba melirik. Ikal rambut pemuda ini. Diurai tanpa sanggul. Tongkat panjang di tangan kirinya. Kakinya berkasut. Salah satu giginya yang sebelah kanan atas nampak melesek ke dalam kala sedang tersenyum. Tapi matanya itu! Aduh, tajamnya. Bagai dapat membelah dada.

"Dan lucunya lagi, tiap gadis yang mengalami seperti kau ini akan mengaku diri sebagai orang Daha. Mungkin saja ingin disebut keturunan Dewi Kilisuci. Ha... ha... ha... Begitu tololnya aku ini, sehingga tiap wanita menipu aku!" Sedah berhenti lagi. Kemudian tertawa lagi.

"Wanita dari desa Padasan atau Padangan atau mungkin sekali dari hutan Lodaya, jika sudah mengalami nasib seperti kau ini juga akan mengubah nama dan selalu mengatakan bahwa ia lahir di Daha. Bayangkan! Anak penggembala itik, karena malu mengaku diri sudra, mengganti nama dan asal- muasal."

"Yang Suci!" Kukilani tersentak. Mendadak tubuhnya lemas.

Sedah menghentikan langkahnya di tempat yang terlindung. Sulit diawasi dari mana pun, karena terkepung oleh belukar yang lebat.

"Apa?"

"Dengan siapakah hamba sedang berhadapan?" Wanita itu menjatuhkan diri. Gemetar.

Sedah berdiam sesaat. Napas keluar satu-satu dengan dalam sekali.

"Aku adalah Sedah. Maha Rsi dari perguruan tinggi Widya Trisnapala, Adiluwih."

"Ampunkan hamba, Yang Suci. Dari manakah Yang Suci mengetahui semua tentang pribadi hamba?"

"Jagad Dewa Bathara!" Sedah terkejut. Tapi ia menahan diri untuk tetap tenang. Sedah heran, mengapa ia selalu berhadapan dengan kebetulan semacam ini? Atau memang benar, brahmana adalah manusia berlidah dewa?

"Kukilani, berdirilah kau! Jangan berpura-pura seperti itu! Karma Hyang Maha Dewa akan segera datang pada seorang pendusta!"'

"Oh, ampunkan hamba, Yang Suci! Kali ini hamba mohon pertolongan Yang Suci. Agar hamba keluar dari segala yang sedang menghimpit ini." "Kau tulus?"

"Demi Hyang Maha Dewa!"

"Baiklah! Aku bertanya, apakah kau salah satu istri guru saktimu?"

"Dulu benar. Tapi sekarang sudah ada yang baru. Sedang kami sekarang bertugas menerima tamu dan melayani para satria yang datang dan bermalam di sini."

"Berapa orang yang mengalami nasib seperti kau ini?" "Dua puluh tiga!"

"Tak adakah keinginan kalian keluar dari sini?"

"Kami sudah tidak tahan lagi di sini. Tapi mungkinkah kami bisa hidup di desa kami? Setiap wanita yang sudah masuk tempat ini akan sukar keluar. Mereka punya banyak cara untuk menahan kami. Nanti Yang Suci bisa lihat sendiri."

"Dijagakah tempat bayi-bayi itu?"

"Tentu, Yang Suci. Juga teman-teman kami yang menjaga." "Bayi-bayi itu akan dibunuh. Orok merah! Bagaimana jika

itu anak kalian sendiri?"

Kukilani tidak menjawab. Mokanya bermen-dung.

"Niat kalian akan keluar dari tempat ini adalah baik. Tapi sebelum itu, bantulah aku menghentikan pembunuhan dan upacara..."

"Kami akan terkena hukuman dari dewa jika menentang kehendak Maha Guru Yang Suci..."

"Aku datang atas nama Hyang Maha Dewa! Dan atas nama semua brahmana yang mengabdi pada kemanusiaan di seluruh muka bumi!"

"Ba... baik, Yang Suci." "Tak ada hukuman bagi orang yang menolong orang lemah. Kalian tidak melanggar Weda, sebab kalian hanya akan dihakimi menurut Weda."

"Hamba, Yang Suci."

"Beri tahu teman-temanmu!" "Hamba, Yang Suci."

Keduanya pergi. Setelah mendapat petunjuk jalan-jalan yang aman, Sedah mengintip ke barak gadis-gadis yang disiapkan untuk upacara maithuna. Terdengar suara gendang dan gambang serta gong ditabuh bertalu-talu. Asap kemenyan dan dupa membumbung tinggi menembus sela-sela atap dan dinding. Tak satu pria pun boleh masuk ke sini kecuali penabuh gamelan itu. Dukun yang membakar kemenyan dan membacakan mantera pun wanita. Sedah mengintip dari dinding sebelah utara, yang menempel dengan semak belukar. Dan, Sedah menyebut dalam hati.

Bukan karena semut dan nyamuk yang mengganggu kaki dan tangannya, tapi melihat pemandangan di dalam ruangan itu. Menurut Kukilani, yang dulu juga pernah menjadi nayake, para penabuh itu adalah orang-orang buta. Entah buta bawaan atau diperbutakan ia tidak tahu. Nyatanya mereka tak pernah dapat melihat pemandangan di hadapannya. Luar biasa cerdik Sigdha Gandarsigh! Sedah kembali menyebut.

Puluhan gadis, tak satu pun mengenakan selembar kain untuk menutup tubuh mereka. Cuma untaian kembang melati, kantil, kenanga saja yang berjajar menutup tubuh mereka bahagian bawah. Selama beberapa hari mereka dilatih menari oleh dukun yang sudah setengah tua. Tampaknya juga orang asing, Sedah tidak tahu pasti. Setiap hari mereka diberi minuman surga yang warnanya merah hampir seperti darah. Kukilani tidak tahu apa nama minuman itu. Ia hanya menyebut sebagai minuman surga. Awalnya memang agak pusing dan tubuh seperti terbakar. Tapi lama-kelamaan jadi nikmat. Demikian pula makanan yang diberikan untuk mereka, jauh lebih nikmat daripada makanan di rumah-rumah mereka yang harus mereka dapatkan dengan bekerja keras.

Sementara beberapa wanita menyanyi dengan suara melengking tinggi, para nayake itu menggerakkan pinggul mereka ke kiri dan kanan sambil merentangkan tangan seperti burung yang sedang mengepak-ngepakkan sayapnya. Kadang juga I mengangkat kaki laksana burung kuntul yang sedang melangkah di atas air dalam mengejar mangsa. Kadang dengan sebelah kaki di depan, sebelah di belakang, tangan direntang, merebahkan diri pelan-pelan ke belakang. Dadanya bergoyang-goyang, seolah merak yang merontokkan debu dari bulu-bulunya. Kemudian tubuh mereka membentuk lengkungan seperti busur, sampai rambut mereka, bahkan kepala mereka, hampir menyentuh tanah. Luar biasa! Pikir Sedah. Baru beberapa hari mereka berlatih, sudah mampu membuat gerakan yang sedemikian. Tentu bukan cuma karena latihan itu sendiri yang membuat mereka bisa seperti ini. Perlu diselidiki, apa saja yang mereka makan dan minum itu. Tentu ada ramuan yang menolong mempercepat kematangan mereka. Dan mereka bergerak terus berputar- putar selama gamelan berbunyi.

Sedah segera mengundurkan diri dari tempat itu. Sedah harus kembali menjumpai orang-orang yang sedang menanti- nantikan anak-anak mereka itu. Dan kembali berhubungan dengan Kukilani untuk mencari jalan rahasia melewati semak- semak. Dan menurut Kukilani, latihan nanti akan berhenti kala mentari mulai condong ke barat. Semua akan diberi kesempatan tidur. Menjelang senja mereka dibangunkan untuk mandi, setelannya diberi minuman dan makanan.

"Aku harus bertindak cepat!" Sedah berkata.

Kukilani dengan beberapa temannya bersedia membantu.

Sedah kembali menjumpai para orangtua dan kekasih para calon nayake itu. Sementara itu Kukilani bersama beberapa temannya mengirim makanan dan minuman kepada para penjaga, yang o,leh Sedah dianjurkan supaya dicampur air pala. Sementara itu Sigdha bersama para pengikutnya masih khusyuk berdoa. Ia tenggelam dalam asap dupa dan kemenyan. Dan dengan suara yang sudah serak ia terus meneriakkan mantera-mante-ra yang bahasanya tidak dimengerti oleh semua pengikutnya. Sementara itu pengikutnya juga berteriak-teriak dengan keras dan penuh semangat. Tapi tak satu pun yang mengetahui makna kata- kata yang keluar dari mulut mereka sendiri. Apalagi orang lain, sebab- Sigdha Gandarsigh memang mengajarkan,

"Jangan berdoa dengan akal budimu! Sebab itu merupakan kulit dari jiwa kita. Juga jangan berdoa dengan jiwamu!

Karena andai telor, jiwa itu putihnya! Tapi berdoalah dengan inti sukmamu! Lepaskan dirimu dari akal, pikiran, dan hatimu! Sebab di dalamnya ada keinginan, rasa malu, dan macam- macam. Masuklah ke alam !naluri terdalam, inti dari sukma.

Ucapkan apa saja yang keluar dari sukma terdalam itu! Supaya engkau memperoleh nirwana sekarang juga!"

Hasilnya memang hebat. Semua yang menuruti1 nya berteriak-teriak seolah tidak mengenal siapa diri sendiri. Lelaki-perempuan, segala kasta berbaur.

"Bebaslah kalian dari segala kasta! Bebaslah semutlak- mutlaknya!" Sigdha berpesan lagi. "Ke-baskan pengetahuan di kepalamu! Sebab pengetahuan akan menghalangi kita masuk ke dalam inti sukma kita!"

Di bawah sinar yang cuma remang-remang, mereka berulang disodori minuman merah. Hampir tak ada celah yang membuat sinar masuk ke dalam ruangan barak besar itu.

Cuma ada satu pintu selebar setengah depa untuk keluar- masuk. Itu pun harus selalu ditutup. Tidak sedikit mereka yang berjatuhan karena lelah saat mentari telah condong ke barat. Mereka lalu digotong minggir. Begitu asyiknya, sehingga Sigdha Gandarsigh tidak tahu bahwa semua pengawalnya tertidur karena makan dan minum air pala. Juga tidak tahu bahwa bayi-bayi yang akan dipersembahkan kepada Hyang Durga telah lenyap, telah dibawa menyusup semak belukar.

"Berpindahlah kalian ke kota Daha. Di sana mungkin saja anak buah Sigdha Gandarsigh tidak akan mengusik kalian lagi!" pesan Sedah kepada para orangtua bayi-bayi itu.

Demikian pula pada para nayake yang telah dibebaskan, melewati jalan rahasia, atas petunjuk Kukilani.

"Kejahatan ada di mana-mana. Tapi di kota besar yang peradabannya lebih tinggi, kalian akan lebih aman. Pergilah kalian dengan selamat! Jangan pulang ke rumah kalian!"

Semua orang yang sudah terkena sidhi (syakti daripada dewa) yang memancar dari mata Sedah, langsung menyembah sampai ke tanah. Namun Maliki serta beberapa temannya tidak ikut orang-orang yang melarikan diri. Setelah kembali, bersama teman-temannya ia mengikuti Sedah yang menyelundup masuk ke barak besar.

"Sebisa mungkin aku akan bicara pada Sigdha Gandarsigh," ujar Sedah pada mereka.

Mereka tidak tega Sedah mengalami kecelakaan. Karena bukan tidak mungkin Sigdha menggunakan kekerasan menghadapi Sedah. Dan memang kala purnama mulai naik, anjing-anjing hutan menyalak di seputar lembah itu. Sigdha mulai memerintahkan mereka bersiap ke lapangan tengah, menghadap patung Hyang Durga. Patung yang telah berulang-ulang mandi darah bayi.

Kini Sigdha tidak tampil dengan jubah kuning keemasan seperti waktu dalam barak tadi. Tapi jubah putih. Serba putih. Namun menurut Sedah, jubah itu terlalu besar. Sekalipun tubuh orang itu gemuk, namun tidak terlalu tinggi. Mungkin saja aku lebih tinggi dari orang ini, pikir Sedah. Api unggun terpasang di empat sudut lapangan. Ditambah purnama yang makin naik, maka semua-mua nampak jelas. Di tangan kanan pandi-ta itu terdapat tongkat hitam yang berukir gambar ular kobra. Melengkung seperti hidung Sigdha Gandarsigh. Pipinya mulai nampak peot, dan jenggotnya sudah putih. Kumisnya tidak tampak tebal. Barangkali sudah banyak yang rontok seperti rambutnya. Itu sebabnya ia selalu mengenakan penutup kepala. Tak seperti laiknya brahmana Ciwa. Ternyata tongkatnya bergiring-giring.

Orang-orang berdiri agak jauh, kala Sigdha maju menyembah patung. Dengan suara serak dan keras ia berdoa dengan bahasa aneh. Sansekerta bukan, Jawa kuno pun bukan, apalagi bahasa Penjalu ataupun Jenggala.

"Bahasa apa ini?" Sedah bertanya dalam bisik pada seorang brahmana yang duduk di sampingnya.

"Rupanya Yang Suci baru di sini?" "Ya."

"Bahasa inti sukma terdalam. Tidak dapat dimengerti oleh akal pikiran kita. Tak bisa juga dipecahkan oleh pengetahuan. Cuma dapat dirasakan oleh sukma terdalam. Inti dari semua sukma!"

"Jagad Dewa! Ini pelajaran baru!" Sedah bergumam. Orang itu tidak mendengar. Terus tertunduk dan berdoa dengan bahasa inti sukma terdalam,

Kini tampak Sigdha mengangkat kedua tangannya tinggi- tinggi sambil berseru,

"Terima kasih, Bathara Agung, Hyang Maha Dewa! Durga yang punya kuasa atas kehidupan dan kematian! Maithuna akan dimulai. Kiranya benihmu yang tertumpah dari lingga (kemaluan lelaki) dan yoni (kemaluan perempuan Lambang agama Ciwa adalah lingga yoni) ciptaanMu sendiri, akan menyuburkan tanah negeri ini. Dan engkau akan memberkati orang yang diam di dalamnya dengan amat limpahnya!"

Sigdha membunyikan giring-giring dengan cara menggoyangkan tongkatnya keras-keras. Dan sesaat kemudian terdengar bunyi gamelan ditabuh keras-keras. Kedengaran lebih semarak karena sekarang ditambah dengan bunyi kencreng: dua buah benda yang mirip piring dan terbuat dari kuningan. Semakin cepat irama gendang, semakin cepat pula kencreng itu berbunyi.

Mata Sigdha sudah berkali-kali tertuju pada barak para nayake. Karena bunyi gamelan sudah semakin menggemuruh. Tapi mereka belum keluar juga. Semua orang menunggu walau mereka tetap mengarahkan pandang ke arah patung Durga itu. Sesaat dua saat Sigdha menanti. Tapi tetap tak muncul. Bahkan si dukun wanita itu pun tidak muncul.

Jengkel. Beranjak dari tempatnya, ke tempat genta besar yang tergantung di samping patung. Ia tarik tali genta tiga kali untuk kemudian menunggu barang sepuluh saat. Tidak satu orang pun muncul. Padahal itu panggilan untuk para penjaga.

Setelah lebih dari seratus saat ia menunggu, kesabarannya punah. Kelelawar dan kalong seolah mengejeknya. Mereka terbang bolak-balik melintasi puncak arca. Kala ia akan melangkah menengok sendiri ke barak nayake, Sedah berjalan mendekatinya.

"Dirgahayu, Sigdha Gandarsigh!" sapanya.

Terkejut. Seorang muda menyapa tanpa sebutan apa pun. "Siapa kau?" suaranya parau.

"Tentu kau tak mengenal aku, sebab matamu bukan untuk melihat ke kejauhan seperti laiknya brahmana. Juga telinga cuma disumpal oleh desah napas wanita muda yang terpuasi di pembaringanmu. Aku adalah Sedah..." "Oh... ho... ho... ho... Yang Suci. Siapa yang tak pernah dengar nama besar Yang Suci. Seorang Maha Rsi yang kepintarannya menggapai nirwana. Bahkan membuat para bidadari menengok ke bawah. Ho... ho... ho... Ampunkan, hamba. Berbahagia sekali menerima kunjungan Yang Suci."

"Apa yang kaucari sehingga kau turun dari altar penyembahanmu? Tak ada lagikah pelayan padamu, sehingga seorang brahmana harus mengambil sendiri sesajian?"

Merah muka Sigdha Gandarsigh mendengarnya. Dua kali pemuda ini mengejek. Tapi ia masih menahan hati. Ia dengar anak ini mendapat penghargaan dari Jambudwipa dan Swarnadwipa. Semua orang menjadi terbengong melihat orang berwajah seperti dewa itu berdiri di hadapan Guru Suci mereka. Tapi mereka tak berani berkutik tanpa perkenan sang Guru Suci. Maka jadilah mereka pendengar yang baik.

Sementara itu suara kayu gemertak karena terbakar.

Tiba-tiba saja muncul sang dukun saat suara gamelan berhenti. Wanita tua itu gemetar dan menyembah sang Guru Suci.

"Ampunkan hamba, Yang Suci... para nayake dan korban persembahan semua lenyap," lapornya.

"Apa katamu?" teriaknya meledak. "Para nayake tidak ada?"

"Be... betul "

"Apa kerjamu?" Tongkat berkepala ular melayang. Namun tongkat Sedah segera menyusul dan membentur tongkat itu.

"Tongkat ini adalah tanda kebrahmanaan. Bukan senjata, Tuan. Aku tak tahu lagi jika tongkat ini cuma milik tukang sihir."

"Yang Suci, bukankah Yang Suci datang untuk merestui maithuna? Tapi kini para nayake tidak ada. Mendadak lenyap. Juga korban persembahan. Lalu apa artinya kita berkumpul? Memalukan!" Mata Sigdha melotot. Rahangnya menegang. Giginya gemertak.

Tapi Sedah justru mentertawakannya.

"Merestui? Penyesatan memang selalu ada sepanjang segala abad. Tapi terkutuklah orang yang melakukannya! Terkutuk pula orang yang dengan sengaja merestuinya!"

"Yang Suci memaksudkan ajaran kami sebagai penyesatan?" Wajah Sigdha makin membara.

"Yang kaulakukan adalah mendorong orang ke tebing jurang keruntuhan susila. Bahkan lebih dari itu, mendorong mereka untuk terjerumus kedalam lumpur ketiadaansusila! Padahal sebagai brahmana kau seharusnya tahu yang tertulis dalam Weda dan Bhagawaditay bahwa keruntuhan susila akan menyeret keluarga-keluarga ke alam hitam kelam tanpa batas. Bahkan lebih dari itu, arwah para leluhur akan jatuh ke dalam kenistaan karena tiada lagi orang yang berpikir untuk memasang sesajen. Semua orang telah disibuki oleh kehendak hatinya, memenuhi hasrat birahi mereka. Para lelaki akan menjadi jalang, wanita akan menjadi binal!"

"Hai, Brahmana muda! Begitu nista pikiranmu! Kau akan menginjak-injak adat leluhur? Menghapus maithuna maksudmu?"

"Hyang Bathara Kala mendorong bola bumi bergulir terus. Dan siapa pun yang menentangnya akan digilas punah tanpa ampun!"

"Jadi..."

"Engkau telah menjejali orang-orang itu dengan ajaran sesat. Tak pernah disebutkan bahwa kepada Hyang Maha Dewa harus dipersembahkan darah bayi. Itu kaulakukan karena engkau memerlukan anugerah dari kekuatan gaib yang amat mengerikan. Anugerah untuk menguasai manusia lainnya! Dan kau tahu?" Sedah berkata sambil menunjuk ratusan orang yang masih bersila di lapangan. "Bahwa penguasaan manusia untuk kepentingan pemuasan nafsu pribadi adalah kejahatan yang paling jahat."

"Dan dengarlah semua orang yang duduk bersila di lapangan ini! Aku datang demi Hyang Maha Dewa dan atas nama semua brahmana yang mengabdi kemanusiaan!

Dengarkan daku! Menyingkirlah dari tempat terkutuk ini! Sebelum hukuman Hyang Maha Dewa jatuh di atas kepala kalian!"

Semua orang tertegun mendengar itu. Terutama kaum brahmana yang juga hadir. Tapi suara parau Sigdha Gandarsigh kembali meraung, ”ika kau tahu, apa yang bakal terjadi pada masa mendatang, dan bagaimana nasib semua orang, maka mereka akan dengar kau! Tapi jika tidak, maka kami akan membunuhmu beramai-ramai. Setuju, Saudara?" Sigdha tertawa sambil menujukan pandangnya pada murid- muridnya.

Tapi sebelum mereka menjawab, Sedah sudah lebih dulu melindas dengan suara keras,

"Tapi jika ternyata kata-kataku benar, maka kalian harus mengusir Sigdha dari tempat ini! Setuju?" Sedah menantang.

Semua orang menjadi diam. Tapi Maliki dan kawan- kawannya menyetujui. Karenanya berteriak berbareng, "Setuju! Setuju!"

Sigdha terkejut. Ternyata ada juga yang berada di bawah pengaruh Sedah.

"Dengar!" Sedah berkata lagi. Suasana menjadi hening. Semua terkena sidhinya. "Masa mendatang akan semakin buruk jika semua orang mendengar ajaran sesat semacam ini. Akan datang saatnya di mana banyak orang yang tidak lagi bisa menerima ajaran sehat. Mereka akan mencari dan mengundang guru-guru yang dapat memuaskan telinga mereka. Jiwa mereka cuma dapat disegarkan dengan ajaran yang dapat meniup hasrat mereka dalam memuaskan nafsu mereka." Sedah diam sebentar. Sambil berjalan mendekati orang-orang yang bersila itu, ia mengawasi mereka tajam- tajam. Lalu lanjutnya,

"Itulah, keadaan akan menjadi makin sulit, karena orang akan mementingkan diri sendiri. Mereka telah kehilangan anugerah terindah dalam hidup yang diberikan oleh Hyang Maha Dewa, yaitu kasih! Setiap orang akan menjadi garang karena mereka akan cinta uang. Karena manusia akan dinilaikan dari harta dan kekayaannya! Persundalan akan muncul di setiap sudut kota, di lorong-lorong, di tengah kota sekali pun, karena rasa malu makin terkikis dari hati anak manusia. Sebagai akibat dan kelanjutannya, para penyesat dan penjerat akan masuk ke rumah-rumah untuk menjebak kaum wanita yang lemah. Pikiran mereka sarat oleh kemesuman dan berbagai macam nafsu. Sekalipun mereka haus akan pengajaran, dan selalu ingin diajar, tapi mereka tak akan pernah mengenal kebenaran. Sebab, kebobrokan susila sudah mengendap dalam akal mereka." Sedah menelan ludahnya. Semua orang kagum mendengar itu.

"Bagaimana dengan nasib manusia?" Sigdha masih berusaha.

"Sudah kukatakan! Itulah keadaan masa depan manusia. Meskipun begitu, nasib manusia sangat ditentukan oleh karya dan dharma manusia itu sendiri. Di tangannya sendirilah tergantung nasib seseorang."

"Itu menyalahi ajaran!" teriak Sigdha. Namun Sedah memperdengarkan tawanya.

"Kenapa kau panik, Pandita? Kalau kau menuding aku dengan telunjukmu, maka tiga jarimu menuding dirimu sendiri, sedang satu jarimu, menunjuk ke atas atau ke bawah. Ahai, kau akan salahkan juga langit dan bumi? Tapi lihatlah, yang tiga itu! Bukankah kebusukan datangnya lebih banyak dari dalam dirimu sendiri? Karena kau telah memilih kshara (termusnahkan (menuju ke kebinasaan)) dan bukan akshara (jalan kekal (tak termusnahkan)). Brahmana bijak bermahkotakan pengetahuan..."

"Ah, kalian akan diajari untuk menjadi brah-macbarin (orang yang tak ternoda oleh hubungan sex). Dibawa dalam kehidupan tanpa kenikmatan! Bunuh saja dia beramai-ramai!"

"Tidak!" Maliki bersama kawan-kawannya menjawab serentak. Membuat semua murid Sig-dha ragu pada ajaran gurunya sendiri.

"Kau yang harus dicincang! Kau menjerumuskan kami!" teriak Maliki bersama kawan-kawannya bersahut-sahutan. Sampai Sedah mengangkat tangan untuk menenangkan mereka lagi. Dan mereka patuh.

"Tunggu! Aku belum selesai bicara!"

Kini Sigdha Gandarsigh jadi gelisah. Ia menoleh kiri kanan, seolah mencari jalan keluar untuk melarikan diri. Seperti ayam dalam kepungan.

"Hai kalian kaum brahmana yang saat ini berkumpul di tempat ini! Tidakkah kalian pernah baca Bhagawad Gita percakapan keempat sloka kedua puluh delapan yang berbunyi:

dravyayajnas tapoyajna yogayajnas tatha 'pare svadhydya jnanayajnas cha yatayah samsitavratah Artinya:

Ada yang mempersembahkan harta, ada tapa ada yoga, ada yang lain pula Pikiran terpusat pada sumpah berat mempersembahkan ilmu dan pendidikan budi. Dan selanjutnya bila kita simak dalam sloka ketiga puluh tiga dari percakapan ini, maka kita akan tahu bahwa di antara semua persembahan, ilmu pengetahuan menempati tempat tertinggi. Sebab, dengan ilmu pengetahuan seorang brahmana bisa menyesatkan banyak orang. Tapi dengan pengetahuan pula brahmana yang berbudi suci, mampu membawa umat manusia ke alam yang damai sejahtera. Lalu, kita tinggal pilih sekarang! Jadi brahmana berbudi ataukah drubiksa berbaju brahmana?" Diam sebentar. "Pilihan sekarang menentukan masa depan kita!" lanjutnya.

Keadaan menjadi senyap. Namun, satu demi satu, mereka yang berjubah brahmana berdiri lalu pelan-pelan meninggalkan tempat.

"Dirgahayu, Yang Suci!" teriak mereka dari kejauhan. "Terima kasih!"

Sedah tersenyum. Lalu teriaknya lagi pada semua orang, "Selama tinggal semua-mua! Aku bukan hakim! Di tangan

kalian sendirilah terletak nasib kalian! Menjadi pendurhaka?

Atau menjadi manusia sebenarnya! Nah, selamat tinggalff'

"Bagaimana dengan pandita ini?" Maliki dan kawan- kawannya tidak puas, sesaat setelah Sedah melangkah.

Tanpa menoleh lagi Sedah menjawab,

"Aku sudah membebaskan para nayake! Aku sudah membebaskan anak-anak kalian yang akan disembelih. Maka, urusan kalian sendirilah berhadapan dengan Sigdha Gandarsigh!"

Selesai mengucapkan itu ia meneruskan langkahnya. Suara hiruk-pikuk di belakangnya tak ia perhatikan. Ia tak merasa perlu melihat apa yang sedang terjadi di belakangnya. Apa yang dipikirkannya sekarang adalah Adiluwih! Sebab kerinduannya pada kembang desa itu makin menghentak- hentak. Di pandangnya tampak jemari runcing bagai duri pohon salak melambai-lambai.

Berkali ia harus mengganti kasutnya karena aus oleh batu- batu padas, atau air paya dan kali yang ia seberangi. Tanpa mengtytung hari dan malam, ia terus melintas. Dan terus melintas. Sampai akhirnya desa kenangan itu tampak di depan matanya. Buat sesaat ia berhenti di bawah pohon asam di pinggir jalan menuju ke desa itu. Pagi baru saja merekah.

Suasana Adiluwih tentu ceria. Kupu beterbangan mencari kembang. Para wanita masih ada di pasar. Siswa Widya Trisnapala tentu masih duduk di ruang belajar menerima pelajaran dari para dang hyang.

Sedah membersihkan diri di kali yang mengalir di tepi hutan. Dalam hati Sedah berharap agar angin yang berhembus menyentuh kekasihnya dan membisikkan kepadanya bahwa Sedah telah tiba. Dan setelah mengenakan semua pakaiannya, Sedah duduk sebentar untuk makan ubi bakar yang menjadi bekalnya sejak kemarin. Untung masih banyak sisa madu yang dibawanya dari hutan, peninggalan si harimau beberapa waktu lalu. Sedikit saja madu itu mampu menyegarkan Sedah dari kelelahan dalam perjalanan yang amat jauh. Setelah bertimbang untuk beberapa saat, tanpa ragu ia melangkah memasuki desa Adiluwih. Tapal batasnya masih seperti dulu. Perkebunan murbei sebagai tempat berbiaknya ulat sutera itupun masih belum berubah. Memang pohon-pohonnya tampak lebih besar dan tinggi. Buahnya makin lebat saja. Kadang pohon-pohon itu bergoyang tanpa makna karena tiupan angin. Seperti halnya pohon kelapa dan daun-daun pisang. Seperti tangan melambai yang mempersilakannya memasuki desa kenangan.

Anak-anak kecil memandangnya dengan mata tertegun.

Mereka yang sedang bermain-main di halaman rumah berhenti dan memandangnya dengan heran. Entah apa sebabnya, hati sedah berdebar menerima pandangan anak-anak yang berselimut debu itu. Ia sempat memperhatikan anak-anak yang kumuh dan ingusan itu.

Tak sedikit dari mereka yang perutnya buncit penuh dengan cacing. Dan Sedah jadi teringat akan masa kecilnya, kala menerima aniaya, dicekoki (dijejali dengan parutan temu- ireng yang dibungkus kain, dan setelah dalam mulut, kain itu diperas) dengan air temu ireng (sebangsa kunyit atau lempuyang) dan lempuyang. Ia menangis sejadi-jadinya. Tapi ibunya tak peduli. Aniaya tidak berhenti sampai di situ. Kala paginya buang air, cacing berkeriapan lari dari duburnya.

Sebagian telah mati. Tapi tak pernah ada yang tahu apa sebab cacing begitu besar dan banyak »bisa hidup dalam perutnya. Ibunya pula yang selalu menetesi matanya dengan air kencing atau air sirih. Katanya untuk menjaga agar matanya tidak sakit.

Jika tidak cacing besar semacam gelang dan pita, tentu banyak di antara mereka yang dijangkiti kremi. Huh! Kembali Sedah mesem. Ingat kremi yang selalu mengganggu.

Membuat permukaan dubur atau bokongnya gatal-gatal. Gila! Jika sudah begitu maka ibunya tidak memberi ampun! Temu ireng kembali menganiayanya. Lagi-lagi temu ireng! Teriaknya jengkel. Tapi biasanya para ibu tidak peduli. Tangan dan kaki anaknya diikat erat-erat. Dicekok lagi.

Lebih heran lagi kala ia berpapasan dengan gadis-gadis yang akan berangkat mencuci di kali. Mereka menyembah dari kejauhan, lalu memandangnya seperti keheran-heranan.

Sempat tertangkap di telinganya sedikit pembicaraan mereka, kok datang sendiri? Sedah sempat kagefe, Memangnya harus dengan siapa, pikirnya. Apakah seorang brahmana harus berpengawal seperti satria kerajaan? Atau seperti anak kecil yang takut pada momok dan harus diantar oleh bapaknya?

Kala Sedah hendak bertanya, bergesa mereka menjauh.

Orang yang dulu dikenalnya pun menyapa dengan hangat, tapi Sedah dapat menangkap, ada sebuah tanya dalam pandang mereka. Tak apa, nanti akan jelas juga. Maka ia melangkahkan kakinya menuju rumah Mpu Dewaprana. Tentu di sana akan berubah. Semua akan menjadi jelas. Namun kala memasuki rumah itu pun keheranannya tidak berkurang.

Halaman nampak tidak terurus. Kembang dan. rumput berebut tinggi. Tidak terdengar dendang orang yang sedang menumbuk padi. Bahkan pendapa pun lengang.

Nyi Dewaprana terkejut ketika melihatnya di ambang pendapa. Sedah tak kurang terkejutnya. Wanita itu cepat sekali menjadi tua. Kurus. Nampak gugup.

"Dirgahayu!" Sedah menyapa lebih dulu. Dalam berdiri ia menyembah sambil menyandarkan tongkatnya ke bahu.

"Oh, Dirgahayu, Yang Suci. Aduhh... pangling. Sekarang kumisnya tampak hitam. Aduh... masih belia memelihara kumis..." gopah-gopoh. "Mari... mari, naiklah... Yang Suci."

"Terima kasih." Sedah naik pelan-pelan. Namun matanya cepat menyapu ruangan. Banyak debu. Lalu apa kerja Dinar di rumah? Apa terlalu sibuk dengan pelajaran sehingga tak. sempat membantu membersihkan rumah?

"Silakan duduk lebih dulu, Yang Suci. Hamba panggilkan Mpu Dewaprana..."

"Jangan mengganggu beliau! Biarlah beliau mengajar lebih dulu!"

"Mentari sudah tinggi. Tentu beliau sedang istirahat." Wanita itu tampak ingin segera pergi. Enggan bersemuka dengannya. Apa gerangan sebabnya?

"Jika demikian, ada baiknya hamba pergi ke sana sendiri." "Bukankah kali ini menjadi tamu Mpu Dewaprana?"

"Ya. Tapi bukankah dulu hamba juga berjanji akan mengajar di Widya Trisnapala?" "Mengajar?" "Dang Hyang Brahma Dewa sendiri yang meminta hamba, bukan? Lupa, Yang Suci?"

"Oh... ampunkan hamba, Yang Suci... usia merangkak terus. Mendekati keberakhiran! Ho... ho... ho... Ingatan pun tidak bekerja baik."

"Nah, dirgahayulah, Yang Suci. Lebih baik hamba sendiri ke sana."

Tanpa menunggu jawaban lagi Sedah berbalik.

Ditinggalkannya beban bekalnya di pendapa, setelah lebih dahulu menitipkannya pada Nyi Dewaprana. Sementara Nyi Dewaprana terpana memandang punggung pemuda yang semampai itu. Hatinya berdesir. Bukan karena pesona.

Usianya sudah terlalu tua untuk terpesona. Tapi ia tiba-tiba diradang oleh ketakutan. Sedah datang tanpa Dinar. Padahal Dinar pergi hampir satu setengah tahun lalu untuk menyusul Sedah. Mungkinkah Dinar tersesat? Atau dia sudah menemukan ayahnya Palagantara? Kalau betul begitu, di manakah, dia sekarang? Tapi setelah kepergian Dinar, Candala Raka juga menghilang. Apakah mereka sudah saling berjanji? Dan Dinar berkhianat? Ah,...

Perasaan bersalah menghantuinya. Diam-diam ia dekati bungkusan bekal milik Sedah. Ada dua bumbung. Satu berisi madu. Satu lagi berisi air. Bungkusannya juga dua. Satu berisi umbi-umbian yang sudah matang karena dibakar, sedang satunya berisi pakaian. Bayangan Dinar yang bersumpah bahwa ia tidak berbuat serong dengan Candala Raka tiba-tiba saja muncul di pelupuk matanya. Nyi Dewaprana terisak-isak.

Jadi, ke mana kau sekarang? Nyi Dewaprana bergumam sendiri. Oh, diculik penjahat? Aduh, lalu ke mana? Dijual? Nyi Dewaprana menutup wajahnya. Kengerian menghantui pikirannya. Sejuta penyesalan menyumpal pikirannya. Dan Sedah tentu akan melampiaskan kemarahannya.

Mengumpatnya. Uh, wanita tua tak tahu diri! Tidak bijak! Tak ubahnya kerbau dungu! Sudah! Sudah! Nyi Dewaprana menggeragap. Keringat dingin menyembul dari tiap lubang porinya. Meleleh lewat lipatan-lipatan keriputnya. Napasnya tersengal. Menoleh kiri- kanan. Tak ada orang yang melihat. Kejadian yang demikian sudah sering kali dialaminya. Ijcu sebabnya para pembantu disuruhnya pulang. Hanya jika diperlukan saja mereka dipanggil. Ia merasa malu karena sering bercakap-cakap sendiri. Seperti halnya kala masih kanak-kanak. Bagaimana jika Sedah benar-benar marah? Sebaiknya sekarang Sedah aku bunuh saja.

Ya! Dibunuh saja! Dibunuh saja! Caranya? Sedah seorang muda dan terlatih berjalan jauh. Ia tak mungkin melawan Sedah dengan tenaga maupun dengan kata-kata. Ia tentu telah berlidah dewa. Diracun saja makanannya. Atau minumannya. Ya! Tentu ia akan tewas. Dan racun apa? Ah, warangan! Warangan tentu akan membuatnya mati kaku.

Namun kala kakinya melangkah mencari warangan atau racun untuk senjata, sudut hatinya memperingatkannya. Kau, seorang brah-mani, mau membunuh? Betapa liciknya hatimu! Pengecut kau!

Urung.

Ternyata hatinya tak cukup berani melakukannya.

Pembunuhan memang bukan pekerjaan seorang brahmana. Cuma bandit! Ya, bandit saja yang sanggup melakukannya.

Dan kini niat itu gugur. Sebagai gantinya, dengan tangan gemetar ia meraup semua perbekalan itu untuk diamankan dari gangguan lalat. Sementara itu Sedah sudah memasuki gerbang Widya Trisnapala. Semua siswa sedang belajar. Tak satu pun yang berkeliaran di halaman. Maka ia langsung ke ruangan dang hyang. Bukan main terkejut Mpu Brahma Dewa dan Mpu Dewaprana melihat Sedah berdiri di ambang pintu.

"Dirgahayu!" Sedah menyapa terlebih dulu. "Oh, Yang Suci..." seru mereka berbareng. Brahma Dewa cepat berdiri dan langsung memeluk Sedah.

"Sudah rindu rasanya," kata orang tua itu.

Wajah Sedah memerah. Ia merasa tersindir. Kok Dinar belum selesai belajar sudah disusul. -Tapi ia segera- meredakan gejolak dalam kalbunya.

Lain halnya dengan Dewaprana. Mendadak jantungnya berdebar keras. Segera ia teringat pada Dinar. Tapi tak segera ia bertanya tentang Dinar. Berbasa-basi sebentar. Namun debar jantungnya jftetul-betul makin mengeras setelah Sedah bercerita tentang pengalamannya ketika membantu mengajar di lereng Gunung Kawi. Sama sekali tidak menyinggung Dinar. Tapi karena di hadap-" an Brahma Dewa, maka ia menahan diri.

"Hebat. Suatu pengalaman yang luar biasa. Apalagi pengalaman di Lembah Selong itu! Seha-rusnyalah setiap brahmana mengamalkan pengetahuan yang dimilikinya seperti itu. Tentu kemanusiaan tak akan terkotori oleh tangan busuk yang menamakan diri brahmana."

"Tak ada yang hebat dari hamba, karena semua adalah anugerah Hyang Maha Dewa sendiri."

"Ha... ha... ha... Masih saja rendah hati seperti dulu...," ujar Bhrama Dewa gembira. "Tentu Yang Suci sudah siap membantu kami, bukan? Nah, sebelum Yang Suci melaksanakan tugashamba harap Yaog Suci membaca dulu sebuah kakawin baru, karya Mpu Panuluh."

"Karya Mpu Panuluh?" "Ya. Mpu Panuluh."

"Hamba tak suka karya beliau." Sedah tidak bersemangat.

"Lho kenapa? Beliau adalah pandita istana. Pujangga yang tiada tandingannya di seluruh Penjalu ini." "Barangkali benar. Tapi lihatlah semua karya beliau!

Gatotkacagraya, misalnya! Bukankah kakawin itu intinya cuma memuliakan Sri Prabu Jayabhaya?! Membenarkan semua siasat kekuasaan Sri Prabu. Juga cerita tentang kemenangan perang dengan Jambi yang pada hakikatnya tidak lebih dari penjarahan tambang-tambang emas..."

"Hus! Jangan diteruskan! Demi kepentingan, keselarasan dan kedamaian Kerajaan Penjalu ini, hendaknya Yang Suci berhati-hati dalam mengeluarkan pendapat!" Mpu Brahma Dewa memotong.

Sedah menjadi sedikit heran. Maka ia mengernyitkan dahi seraya menajamkan matanya.

"Sejak kapan kita mulai membenarkan tindakan penjarahan dan pembunuhan semena-mena itu?" ia bertanya.

"Sekali lagi, Yang Suci. Jika kita melihat penjarahan dan pembunuhan, itu sudah kami tanyakan. Dan dijawab oleh pihak Kerajaan bahwa itu terjadi di masa perang. Tidak sekarang. Dan ketika hamba menghadap ke Daha, maka pada perguruan tinggi kita ini, pihak Kerajaan memperingatkan agar tidak terlalu campur tangan dalam soal-soal siasat kekuasaan. Yang kita kerjakan adalah mengajar tiap orang agar kelak bisa menjadi abdi negara yang baik. Nah karena itu pula semua karya dan dharma harus dipersembahkan pada negara dan kerajaan!"

Sedah tertawa terbahak-bahak mendengar itu.

"Jadi semua cendekiawan akan dijadikan abdi! Abdi yang tak punya wewenang mengeluarkan pendapat? Ha... ha... ha... Hanya dewa yang punya abdi seorang brahmana!"

Ketiganya juga tertawa. Bahkan sampai berguncang tubuh mereka. "Lalu apa gunanya kita belajar untuk menjadi pintar jika cuma untuk menjadi abdi? Hamba kira untuk menjadi abdi tidak perlu harus belajar di Perguruan Tinggi Widya Trisnapala..." "Tapi..." Mereka sama-sama duduk di bangku panjang.

Kemudian Brahma Dewa meneruskan lagi. "Baik sudra, satria, brahmana, ataupun kasta lain, tidak pernah punya kebenaran. Sebab, kebenaran pada hakikatnya adalah milik yang punya kekuasaan, punya uang, punya senjata. Nah, di luar itu kebenaran cuma tinggal angan-angan. Ya! Omongan kosong yang sia-sia."

"Jagad Dewa Pramudita!"

"Demikian pula pujangga! Jika ia berpegang teguh pada kebenaran yang diyakininya, maka ia akan kehilangan hak untuk dibaca. Boleh saja ia menulis. Tapi tidak akan dibaca oleh orang di seluruh Penjalu. Bahkan mungkin saja. di seluruh wilayah Kahuripan." Brahma Dewa berhenti sebentar. Sementara itu Sedah mengangguk-angguk. Entah berapa saat kemudian Brahma Dewa melanjutkan,

"Karena kita bukan hidup pada zaman Mpu Sindok. Beliau seorang pemimpin yang suka pada karya-karya tulis, tanpa memandang siapa penulisnya. Beliau menghargai. Juga tidak peduli bagaimana isinya. Karena beliau mengerti benar, sebagai seorang yang pernah menyerap ilmu pengetahuan tinggi dan bergelar Mpu, maka hatinya terbuka untuk kebenaran yang hakiki. Tapi..."

"Baiklah! Hamba mengerti," potong Sedah. "Apa judul kakawin itu?"

"Hariw angsa."

"Hariwangsa Bercerita tentang apa pula Mpu Panuluh?" "Yang Suci akan dapat menyimpulkannya jika sudah

membacanya sendiri. Nah, jika setuju, sebaiknya Yang Suci membacanya di tempat hamba. Barangkali dua-tiga hari. Baru setelah itu Yang Suci tidur di rumah Yang Suci Dewaprana."

Sedah mengerutkan dahi sebentar. Orang ini tak mengerti urusan muda-mudi rupanya. "Apa pun pendapat Yang Suci, Mpu Panuluh telah mampu mengukir namanya di langit. Dengan Gatotkacagraya dan Hariwangsa itu, serta barangkali karya-karya lainnya yang belum diedarkan, orang itu telah menjejakkan kakinya ke alam kekekalan. Sebuah penulisan kakawin yang menceritakan tentang hidup dan kehidupan merupakan karya kekekalan."

"Bagaimana jika kita menuliskan sesuatu yang salah?" "Mengapa Yang Suci menghakimi? Kebiasaan banyak orang

cenderung menghakimi suatu karya, tapi tidak menghargai

jerih lelah orang yang berkarya tersebut. Yang dengan segala kesungguhan hati ingin mempersembahkan dharma dan karya itu demi manusia dan kemanusiaan. Memang ~suatu kesalahan dalam karya tulis juga merupakan kesalahan kekal. Dan tiap penulis akan menyesal seumur hidupnya atas kesalahan itu sendiri, karena zaman dan sejarah akan memberikan penghakimannya." Brahma Dewa berhenti sebentar. Lalu bangkit berdiri dan meletakkan kedua tangannya di belakang tubuhnya. Berjalan ke jendela besar sambil menghadap ke halaman.

"Tapi hamba percaya, banyak manfaat yang kita peroleh dari membacanya. Tidak terlalu jelek, karena memang penyusunan pupuh-pupuhnya. amat bagus."

"Baiklah! Hamba setuju." Sedah akhirnya menerima. Dan untuk itu ia harus menyabarkan hatinya ketika diajak langsung pulang ke rumah Brahma Dewa. Dua tahun aku bersabar.

Kenapa dua hari tidak?

Rumah Brahma Dewa tidak terlalu jauh dari Perguruan Tinggi Widya Trisnapala. Sebuah rumah besar, dengan bilik- bilik yang besar pula. Paling tidak satu bilik berukuran enam kali sepuluh depa. Bilik yang memberikan kelegaan, karena penerangannya cukup. Banyak lontar yang tersimpan rapi dalam bumbung-bumbung sepanjang satu ruas. Ada tempat duduk yang terbuat dari kayu hitam. Ada pula tempat pelita besar untuk menerangi ruangan kala kegelapan menghampiri bumi.

Nyi Brahma Dewa amat ramah. Sekalipun keriput mewarnai wajahnya, namun sisa-sisa kecantikan masih saja membayang. Rupanya suka bersolek pada masa mudanya.

Sanggulnya masih rapi. Bibirnya selalu berhiaskan senyum, kendati ia kurang suka bicara dengan orang yang bukan suaminya. Sedah tidak pedulikan sikap itu. Dia bertekad akan menyelesaikan Hariwangsa dengan cepat. Makin lama makin tertarik ia membacanya. Dalam hati Sedah mengakui, sebenarnyalah susunan kata demi kata pada tiap sloka atau pupuh mampu menarik hati pembacanya.

Sebagai seorang brahmana, yang bukan cuma karena keturunan, ia segera dapat menangkap makna kakawin Hariwangsa itu. Pada pupuh-pupuh permulaan, Mpu Panuluh menceritakan perkawinan antara Narayana dengan Dewi Ruk- mini. Narayana atau Sri Kresna telah menculik Rukmini dari tengah-tengah keluarganya. Tapi pada bahagian belakang dari sloka-sloka terakhir, Sedah mampu menangkap bahwa Mpu Panuluh menyiratkan, tindakan Jayabhaya sehingga ia dapat mempersunting paramesywarinya yang baru. Bukankah Rukmini bukan satu-satunya istri Kresna? Juga bukan istri pertama, karena sebelum itu Kresna sudah kawin dengan wanita lain.

Siapa yang tidak pernah mendengar bahwa Jayabhaya mempunyai puluhan selir? Tapi untuk paramesywari baru ini, tentu Mpu Panuluh ingin memberitakan pada dunia bahwa sebenarnyalah Jayabhaya seorang penculik. Luar biasa pintar orang ini, puji Sedah. Tampaknya ia selalu memuji kebesaran Sri Prabu, tapi sebenarnyalah, secara tersirat ia menelanjanginya.

,5Tidak!" Brahma Dewa berkeberatan. "Hamba menilai tidak seperti Yang Suci. Mpu Panuluh sekadar menceritakan apa yang terjadi di Penjalu saat ini. Itu pun secara halus. Tak ada maksudnya untuk mempermalukan Raja."

Sedah ternyata menyelesaikan bacaannya cuma dalam dua hari dua malam. Tapi ia sedikit heran, gurunya itu berkeberatan terhadap pendapatnya.

"Mengapa?" tanyanya.

"Pujangga yang baik bukan hakim. Kita harus meletakkan diri di tempat masing-masing. Pujangga bukan adhyaksal Tugas pujangga adalah menegakkan nilai-nilai kemanusiaan tanpa rasa benci dalam dadanya, apalagi dendam. Banyak orang menulis hanya sekadar ingin memuntahkan apa yang menyesaki kepala dan hatinya."

"Baiklah, lalu apa yang kita kerjakan dalam tulisan?

Artinya..."

"Menulis artinya bercakap-cakap. Memberikan berita.

Memberi nasihat, atau wejangan agar manusia meninggalkan nilai-nilai kurang dalam hidup ini. Meninggalkan semua kebusukan dan kebobrokan. Meninggalkan ketidakadilan!

Sekali lagi, bukan memuntahkan endapan lahar dari kepundan kebencian..." .

"Baik. Tapi bisakah kita berdiam diri melihat ketidakadilan? Keserakahan? Sementara manusia lain di bumi yang sama ini menderita kelaparan dan aniaya?"

"Pujangga seperti Mpu Panuluh, atau siapa pun saja, pasti akan terusik. Tapi kita tidak pernah melawan semua itu dengan kemarahan. Kita akan melawan semua ketidakadilan cuma dengan rangkaian kata-kata yang tersusun indah."

"Hyang Bathara!'! .

"Sebab kita tidak diperkenankan menggunakan pedang. Itu akan melangkahi Yajur Weda jika kita langgar. Dan menurut pendengaran hamba, bukankah Yang Suci telah mengajarkannya di Lembah Selong, bahwa di muka bumi tak ada yang lebih baik kecuali kasih?"

"Be... betul, Yang Suci." Sedah menghela napas panjang.

Kembali ia mengagumi gurunya.

"Apa sebab?" Gurunya kini memandangnya tajam-tajam.

Sedah diam buat sesaat. Meneguk minuman yang baru saja disuguhkan oleh "Nyi Brahma Dewa. Sementara itu sinar mentari pagi jatuh menimpa pohon-pohon dan tiang-tiang pendapa rumah itu. Memberikan bayang-bayang dan membuat sudut-sudut tajam pada pangkal bayang-bayang.

Beberapa saat kemudian Mpu Brahma Dewa menjawab sendiri pertanyaan yang diajukannya tadi.

"Sebab kasih itu sebenarnya adalah keselarasan dalam ketidaksamaan. Itulah sebabnya kasih adalah sesuatu yang terindah!"

Dan Sedah mesem mendengarnya.

"Jika dibalik, maka kalimat itu akan bermakna lain, ketidaksamaan dalam keselarasan." Berhenti lagi.

Sedah mengerutkan dahi.

"Tapi yang ini... kemunafikan. Dan itu selalu ada di muka bumi. Selama ada orang yang memperdewakan diri dan berkuasa untuk menghidupi atau menghentikan hidup manusia lain, maka kemunafikan akan tetap ada."

"Jagad Bathara! Bukankah kemunafikan adalah kejahatan?" "Dilihat dari satu sisi memang begitu. Tapi jika kita

melihatnya dari sisi lain, maka kadang kemunafikan itu -

diperlukan."

"Jagad Dewa! Ya, Jagad Pramudita! Diperlukan?" Sedah terhentak dalam kejutnya. Dengan mata tajam ia menuntut pengertian dari gurunya, kendati tidak berkata-kata.

Pandangan mata memang memiliki seribu makna berbeda. "Dalam kuasa tirani yang memaksakan pendapat sehingga menyatukan pandangan hidup, maka di dalamnya pasti terpendam ketidaksamaan dalam permukaan yang selaras.

Sebagai contoh, di Penjalu ini Sri Jayabhaya tetap memasang lamr bang garuda mukha, demi kesatuan kawula Penjalu dan sebagai satu alasan untuk menundukkan Jenggala, karena Jenggala juga berlambang garu-dha mukha. Tapi ia juga memasang simbol narasingha sebagai gambaran pribadi.

Siapa yang boleh menentangnya? Tak seorang pun! Dengan- bermacam-macam gelar dia telah menaklukkan semua orang di Penjalu. Dengan memasang nama Anindita dia ingin menyatakan pada dunia bahwa Jayabhaya berdiri di atas semua brahmana dan cendekiawan. Yang melebihi semua itu, dengan nama Madhusudanawata, ia berharap bahwa semua makhluk di muka bumi tunduk bersujud, kepadanya."

Kini Sedah mengangguk-angguk.

Jika brahmana yang berpengetahuan tinggi seperti Panuluh dikuasainya, apalagi yang dungu? Jayabhaya benar-benar telah memanfaatkan anugerah tertinggi yang diberikan Hyang Maha Dewa .pada manusia, yaitu kekuasaan untuk menaklukkan orang lain. Setidaknya untuk mempengaruhi orang lain. Benar. Jika orang menentang, atau menyalahkan pada Sri Prabu, jangan-jangan malah dicabut haknya untuk tinggal di bumi Penjalu. Untuk mengatasinya, semua harus mengiakan apa saja yang dikatakan Jayabhaya. Baik atau buruk yang diucapkan Raja harus dianggap tetap baik.

Bukankah itu kemunafikan? Hah, jika demikian dunia penuh dengan kemunafikan.

"Yang Suci jangan salahkan itu. Pada hakikatnya tak ada keselarasan dalam pasangan hidup. Yang ada mengalah.

Mengalah! Ya! Itu! Mengalahkan diri sendiri demi keselarasan. Keterpaduan. Dan yang katanya mengalah itu pasti sakit.

Sakit!" Brahma Dewa menutup penjelasannya. Dengan kesan yang tersendiri. Sedah minta permisi untuk segera berbicara dengan keluarga Dewaprana. Betapapun dia sangat berterima kasih.

"Kebetulan harini semua libur. Dewaprana tentu sudah rindu."

Langkahnya mantap. Tidak terlalu bergesa. Untuk mengembalikan kenangan, Sedah menyimpang sedikit ke kiri untuk melintas lewat kebun murbei. Sedah tidak tahu, dari mana mulanya mereka bisa mendapat bibit pohon murbei itu. Tapi sekarang ini orang Penjalu bukan cuma mengembangkan tanaman murbei, kapas juga semakin banyak. Orang menjadi semakin pintar saja. Dan siswa Widya Trisnapala, menurut Brahma Dewa, sekarang juga diajari memintal kapas untuk menjadi benang. Dengan tujuan jika kelak mereka telah mandiri, bisa menjadi seorang brahmana yang bukan omong- kosong semata.

Semula orang memang melihat kapas sebagai kembang hias. Tapi ilmu pengetahuan telah membuat kapas sebagai pohon berdayaguna. Sungguh luar biasa manfaat pengetahuan! Setiap hari memamerkan keajaiban baru. Orang tidak cuma sekadar mengolah batu. Tidak!!! Bukan cuma membikin patung. Sekarang senjata dari besi dan baja pun sudah ada. Siapa penemunya mula-mula? Sedah juga tak tahu. Tapi secara jujur ia mengakui, kemajuan budaya yang dimiliki manusia Jawa ini tentunya hasil persinggungan dua budaya yang hebat dan amat tinggi, yaitu China di utara-timur dan Jambudwipa di utara-barat. Itu sebabnya banyak pengetahuan yang ditulis dalam Sansekerta. Walau ada juga yang ditulis dalam Jawa seperti karya-karya Mpu Sindok, bahka» karya Sri Prabu Darmawangsa. Tapi itu masih amat muda jika dibanding karya-karya dalam Sansekerta.

"Sedah! Oooii! Yang Suci Sedah! Tunggu!" sebuah panggilan menghentikan langkahnya lagi. Sebenarnyalah Sedah kurang suka. Keinginannya untuk bersua dengan Dinar sudah mengentak-entak.

Langkah berat orang berlari terdengar seolah mengguncang bumi, mendekatinya. Napasnya juga terdengar kasar, seperti napas kuda. Sedah menoleh.

"Oh, kau? Detya Butha Wreku?"

"Ya. Dirgahayu, Yang Suci..." Orang tinggi besar itu masih terengah-engah.

"Aha, dirgahayu! Rupanya kau yang mengajar teman- teman memintal kapas menjadi benang?"

"Bukan! Tentu bukan hamba. Tapi kenapa Yang Suci datang sendiri? Apa kabar istri Yang Suci?"

Dua pertanyaan yang disambung itu amat mengejutkan Sedah. Ia mengerutkan dahi dan memandang wajah temannya tajam-tajam.

"Kenapa Yang Suci memandang hamba sedemikian?" Butha Wreku berbicara dalam Sansekerta.

"Jagad Dewa Bathara! Apa artinya ini, Detya? Kau tidak bergurau?" Senyum Sedah punah segera.

"Apa bukan hamba yang berhak mengajukan pertanyaan seperti ini?"

Sedah segera menghentikan langkahnya di bawah sebuah pohon murbei. Hatinya kini berdebar. Tentu Detya Butha Wreku tidak main-main. Dengan menarik panas panjang, kemudian ia menceritakan pengalamannya selama dua tahun ini, sambil melanjutkan langkahnya pelan-pelan.

"Jika demikian, Yang Suci akan sangat terkejut jika masuk ke rumah Mpu Dewaprana. Sungguh, Yang Suci tidak akan bersua lagi dengan kekasih Yang Suci..." "Apa?" Kembali Sedah menghentikan langkahnya dalam kejut. Ia tangkap kedua lengan teman yang kini berdiri di hadapannya, kemudian mengguncangnya.

Butha Wreku menyesal amat sangat memberikan berita yang mengejutkan itu. Tentu seperti itu pulalah terguncangnya hati Sedah saat ini.

"Ampunkan hamba, Yang Suci..." kata Detya Butha Wreku sambil menghapus keringat yang tiba-tiba saja muncul di kepala dan dahi Sedah. Sebesar-besar biji jagung, gelembung keringat yang bertempelan itu. Kendati begitu, Sedah mencoba menguasai dirinya.

"Apa yang sudah terjadi di sini, Detya?"

"Biarlah kita bersama-sama menghadap Mpu Dewaprana.

Setelah beliau memberikan keterangan, hamba juga akan memberikan sedikit berita yang mungkin saja dapat menjelaskan di mana Dinar berada."

Keduanya kini bergesa.

Tak peduli lagi pada rombongan gadis-gadis yang sedang bergotong-royong menyirami kembang dan tanaman lain di kebun milik Widya Trisnapala. Tak peduli pada kambing- domba milik perguruan tinggi itu yang sedang berkeliaran tanpa gembala. Tidak peduli pada ayam-ayam yang juga sedang mencari makan di sana-sini. Dan bahkan mereka hampir lupa memberikan penghormatan kala meniti pendapa rumah Dewaprana; Tapi dengan suaranya yang besar Butha Wreku mengejutkan pemilik rumah yang sedang berunding di dalam.

"Dirgahayu!" Balas Dewaprana segera menyongsong.

Namun kala melihat Sedah bersama Butha Wreku, ia menjadi amat terkejut. Wajahnya mendadak kaku.

"Silakan duduk, Yang Suci..." Hatinya berdebar. "Mari kita berbincang di dalam. Hamba tahu hati kita sedang membuncah seperti gelombang. Tapi tidak patut brahmana berbicara dengan hati atau kepala yang panas."

"Hemh..." Sedah menghela napas. Bertiga mereka melangkah masuk. Sementara itu Nyi Dewaprana berbaring di kamar tidurnva. Ia tidak tahan lagi. Justru hari-hari inilah yang ditakutkan nya. Tubuhnya gemetar. Keringat dingin terus mengalir.

Tanpa ada yang ditutupi lagi, Mpu Dewaprana menerangkan semua yang terjadi atas keluarganya, sehingga mengakibatkan Dinar bertekad mencari Sedah untuk menjelaskan keberadaan dirinya. Dinar ingin tahu, apakah kalau ternyata dia tak berdarah brahmana Sedah masih mau mencintainya.

"Semua telah terjadi..." Akhirnya Sedah menarik napas panjang. "Namun demikian Dinar tak dapat diganti. Demi Hyang Maha Dewa, aku akan mencarinya."

"Hyang Bathara! Ke rnjana? Bukankah Yang Suci akan menjadi pengajar di Widya Trisnapala?"

"Aku datang bukan untuk- Widya Trisnapala. Aku datang untuk cintaku pada Dinar. Berlaksa-laksa tombak jauljjiya dari timur ke barat aku menjelajah hutan, hanya untuk satu orang... Dinar!" Sedah memutar tubuhnya. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan Dewaprana. Tapi berkata pada diri sendiri. Ia mengambil perbekalan miliknya. Diperiksanya dengan cermat. Tak ada yang kurang. Juga gulungan lontar, baik yang ada tulisannya maupun yang kosong. Semua masih ada.

"Barangkali ia sekarang di tangan Candala Raka?" Butha Wreku bertanya kala mereka sudah » meninggalkan rumah Dewaprana. Kemudian ia menceritakan bagaimana Candala Raka meninggalkan Widya Trisnapala kala senja hari. Tapi menurut cerita siswa-siswa yang sempat mengintip, sebelum itu lamarannya melalui kembang mawar ditolak oleh Dinar. Mungkin malu.

"Hamba tidak percaya hati Dinar bisa diluluhkan oleh sikap Candala Raka. Tidak! Dia tidak punya modal apa-apa untuk bisa memikat hati Dinar. Sekalipun ia punya sejuta akal yang licik."

"Lalu ke mana Yang Suci akan mencari?"

Sebenarnya sebal rasa hati Sedah dengan berbagai pertanyaan itu. Ia belum tahu akan ke mana. Pikirannya berlarian ke sana kemari. Itu sebabnya ia ingin berjalan sendiri. Sebab di dalam kesendirian terdapat kemajemukan. Kemajemukan yang berpencar-pencar dan akhirnya hinggap di tempat-tempat yang tak terketahui.

"Lebih baik kau kembali ke barakmu, Detya! Biarkan aku sendiri yang mencarinya."

"Yang Suci... hamba sangat benci terhadap cara yang dilakukan Candala Raka sehingga kekasih Yang Suci terusir dari rumahnya. Aku ingin bersua dengannya, karena ternyata ia berkhianat terhadap sesama brahmana..."

"Kebencian yang mencapai titik tertinggi akan melahirkan cinta. Dari ketidaksamaan muncul keselarasan. Dari kelemahan akan muncul kekuatan yang maha dahsyat! Itulah kehidupan. Candala punya hak untuk melakukannya. Tapi aku pun punya hak untuk menepati sumpahku kepada Hyang Maha Dewa. Nah, selamat belajar! Kau datang ke sini bukan untuk menumpahkan kebencian, tapi untuk mencari ilmu."

"Tapi..."

"Dapatkan dulu apa yang kaucari!" Sedah tetap pada pendiriannya. Dan ia makin bergesa. Tapal batas Adiluwih sudah di depan mata. Ia tidak perlu berpamitan pada Brahmana Dewa, karena ia sendiri belum menentukan ke mana akan pergi. "Dalam tiap perjalanan kita menjumpai banyak persimpangan. Tapi barangsiapa bimbang di tiap persimpangan, maka ia tidak akan sampai ke tempat tujuannya."

"Hyang Bathara!"

"Jangan menyimpang ke kiri ataupun ke kanan, supaya engkau berhasil."

Detya Butha Wreku tidak bisa memaksakan kehendaknya. Sedah memang punya pendirian yang baginya mengagumkan. Dan ia kembali. Kembali ke Widya Trisnapala untuk menghadap Brahma Dewa. Ia menceritakan semua yang . terjadi atas Sedah. Dan ia minta izin untuk tidak mengikuti pelajaran, tapi akan datang kelak waktu ujian.* Karena ia berniat mengikuti perjalanan Sedah dari jauh, guna memberikan bantuan jika Sedah sangat memerlukan. : "Baiklah, Wreku. Kau memang mengulang. Tapi jangan kau menampakkan dirimu pada Sedah, karena ia akan menjadi amat marah. Dan mungkin saja akan membuat jiwanya makin terguncang."

Dengan pesan itu, Butha Wreku pun meninggalkan Widya Trisnapala. Ia ikuti dan terus ikuti perjalanan Sedah. Kemudian ia mencatat dan mencatat. Catatan lontarnya inilah kelak yang menolongnya dan membuat ia lulus dari Widya Trisnapala.

Sedah sendiri membuat catatan atas perjalanan hidupnya itu. Pencarian Sedah yang pertama ialah ke pasar-pasar, sebab di sanalah berkerumun kaum wanita. Setiap hari ia berpindah dari satu pasar ke pasar lainnya. Ia mencari keterangan pada ponggawa yang mengurusi di mana ada pasaran keesokan harinya. Dan karena kecerdikannya, ia berhasil memperoleh keterangan tentang hari-hari pasar di seluruh Penjalu.

Misalnya hari Soma Petakan (Hari Senin Legi) pasaran jatuh di desa Badas. Maka berangkatlah Sedah ke desa itu. Dan sejak pagi-pagi buta dia sudah duduk di tempat yang paling cocok untuk mengawasi orang-orang yang keluar-masuk pasar itu. Demikianlah, esok harinya hari Angguna Abritan (Hari Selasa Pahing), ia sudah pindah ke desa Dadapan. Sedang hari berikutnya, yaitu Budha Jenean (Hari Rabu Pon) ia pindah ke pasar desa Watangan. Demikianlah dari satu pasar ke pasar lain. Namun belum pernah ia jumpai seorang pun yang mirip Dinar. Sekalipun begitu, ia tetap tidak putus asa.

Siapa tahu Dinar diculik orang kemudian dijual ke pasar budak perempuan? Tentu seorang gadis seperti Dinar akan laku sangat mahal. Pembelinya tentu orang-orang asing, yang akan menjadikan Dinar pemuas nafsu mereka. Atau Dinar dijual pada raja-raja, setidaknya raja-raja uang, atau

penjahat-penjahat dan bajak-bajak laut. Memang wajah cantik tidak menjamin apakah seorang akan bahagia, karena kadang- kadang penjahat pun merasa berhak memiliki wanita cantik.

Atas pertimbangan itu, maka Sedah kini mulai mengintai dermaga. Sebab ia tahu persis di sanalah tempat penjualan budak-budak secara gelap.

Sampai suatu hari ia mengenal salah seorang penadah gelap budak-budak wanita. Seorang lelaki berkulit kuning dan bermata sipit, dengan kumis jarang-jarang yang ujung- ujungnya melengkung ke bawah. Badannya tinggi besar, bahkan boleh dikatakan gempal. Giginya berlapis warna kuning. Bukan karena emas, tapi karena malas menggosoknya dengan arang ataupun abu. Tanujayamerta! Begitu orang itu menyebut namanya. Sedah tahu persis bahwa ini pasti bukan nama asli.

"Rupanya sedang cari-cari, Yang Suci?" sapa Tanujayamerta suatu hari, setelah Sedah berkali-kali mengintip rumahnya.

"Ya. Aku sedang mencari seorang gadis yang cocok untuk membantu aku." "Ahha... ha... ha... Yang Suci ini main-main." Tanujayamerta ternyata kurang bisa mengucapkan "er".

"Tidak. Aku tidak main-main. Orang-orang memberi tahu supaya aku minta tolong pada Tanujayamerta. Bukankah kau?"

"Betul... betul. Tapi ini... Baiklah, Yang Suci, silakan masuk saja."

Rumah Tanujayamerta amat besar!. Banyak hiasan keramik bergambar naga, atau perempuan berjubah dengan kipas di tangan. Pilar-pilar rumahnya kokoh seperti istana raja-raja.

Gila! Keramik dan tembikar buatan China. Tentu amat mahal. Permadani terbentang hampir memenuhi lantai ruangan.

Beberapa gadis menyambut mereka dengan sembah. Tanujayamerta memperkenalkan mereka sebagai istri-istri. Satu orang beristri sembilan? Sedah bergumam dalam hati. Beberapa pengawal mengenakan baju dan celana sutera hitam, bersenjata pedang yang menempel di punggung mereka. Semua mengenakan pembungkus kaki terbuat dari kulit. Gerakan mereka amat lincah.

Seorang wanita yang sudah terjebak masuk ke tempat ini tentu akan sukar keluar. Setelah ia dipersilakan duduk di atas sebuah kursi yang terbuat dari kayu ulin, seorang gadis lain keluar mempersembahkan minuman. Cara mempersembahkannya sambil berjongkok. Sedah melirik gadis itu. Masih belasan tahun. Susunya dibiarkan terbuka. Bahkan pusarnya pun tak tertutup seperti para istri Tanujayamerta.

Sedang bahagian bawah tubuhnya terbungkus kain sutera yang paling tipis, yang membungkus ketat dan bahagian depannya terbelah sampai hampir separoh pahanya. Tentu akan berkali tersingkap jika melangkah. Sehati-hati bagaimanapun cara melangkahnya, tidak akan tidak pasti terkuak. Dan paha mulus itu akan mengundang pesona tersendiri. Para istri memang berbinggal emas di perge-langan kaki mereka, tapi para budak berbinggal perak.

"Yang Suci, gadis-gadis yang ada di sini dibiarkan aman. Para pengawal itu adalah orang-orang yang sudah dikebiri. Dan mereka adalah orang-orang yang patuh pada hamba, sebab mereka sadar tidak akan dapat hidup tanpa hamba."

Tengkuk Sedah bergidik dan merinding mendengarnya.

Dikebiri dan patuh? Luar biasa orang ini. Bahaya jika demikian. Para pendekar dari negeri utara yang amat termasyhur itu bisa dijadikannya tolol seperti kerbau yang dicocok hidungnya.

Dengan apa? Tentu dengan... candu! Sedah berusaha menebak. Manusia akan menjadi semakin garang karena candu. Tapi lelaki akan menjadi wanita juga karena candu.

"Yang gadis pasti terjamin kegadisannya..." Sedah menolak minuman yang diberikan. Dan

Tanujayamerta kaget melihat itu. Tidak biasa tamu menolak

minumannya. Maka Tanujayamerta segera mengerti bahwa tamunya orang istimewa. Muda belia tapi badannya tampak kurus, sedang matanya bersinar.

"Oh... ini minuman biasa, Yang Suci."

"Tak perlu gopah-gopoh itu! Aku ingin segera tahu simpananmu. Barangkali ada yang cocok, aku akan beli. Berapa pun harganya."

"Baik. Baik, Yang Suci..," Tanujayamerta menerka-nerka, siapa sebenarnya Sedah ini. Di negeri utara sana, seorang brahmana biasanya selalu pandai bersilat. Apalagi ia melihat tongkat di tangan kiri Sedah. Sepanjang tubuhnya. Bukankah itu toyai Aku harus berhati-hati. Maka ia bangkit dan Sedah mengekor bagai bayangan.

Melewati beberapa ruangan, mereka menuju ke bahagian belakang rumah. Ada sebuah barak panjang. Juga dikawal oleh orang-orang berbaju dan bercelana sutera hitam, dengan pedang pada punggung mereka. Gagah-gagah. Antara satu bilik dan bilik lain cuma dibatasi oleh kain mori putih yang tebal. Mungkin moriJ»uatan Penjalu sendiri. Mungkin saja satu barak dibagi menjadi dua puluh lima bilik.'

Hampir semua berwajah pucat. Ketakutan. Tapi apa dayaku menolong orang-orang ini? Uangku tentu tak cukup untuk membebaskan mereka semua. Padahal semua memandang penuh harap. Memang pembebasan adalah impian semua orang. Karena, sesungguhnyalah kebebasan adalah hak yang paling hakiki dari semua o tang. Sedah meneliti satu demi satu wanita di bilik-bilik itu. Dua puluh empat jumlah mereka.

"Tak ada," desahnya kala melihat wanita terakhir. "Hanya ini?" Sedah memancing.

"Baru saja diberangkatkan sembilan belas orang kemarin."

"Ya. Aku telah melihatnya di dermaga." Sedah menjawab dingin. Dan itu membuat hati Tanujayamerta terkesiap.

"Ampunkan hamba, Yang Suci, tak ada lagi. Yang bagaimanakah yang dicari?"

Sedah kemudian menjelaskan ciri-ciri yang dimiliki Dinar.

Dan Tanujayamerta mendengar sambil meletakkan kedua tangannya di depan tubuhnya, ngapurancang. Dahinya berkali-kali tampak berkerut seperti orang yang sedang mengingat-ingat. Demikian Sedah selesai menjelaskan, keduanya terdiam. Alis Tanujayamerta berulang terangkat naik, sementara matanya memandangi tempat kosong.

"Mana ada wanita seperti itu? Kira-kira... y ah... hamba... pernah melihatnya."

"Pernah?"

"Waktu hamba menyaksikan pernikahan Sri Jayabhaya.

Haiyah! Benar! Itu Paramesywari! Tak salah jika seperti cerita Yang Suci, pastilah cuma Paramesywari saja. Hampir dua tahun lalu hamba melihatnya waktu kirab. Dan seluruh kawula juga pernah melihatnya. Lalu beberapa bulan lalu, ketika hamba menghadap untuk permohonan izin usaha."

"Jadi usahamu ini mendapat izin resmi dari istana?" "Ya, Yang- Suci. Selama ada uang baik perak maupun

emas, tidak ada kesulitan dalam urusan perizinan."

"Jagad Dewa Pramudita!"

Tanujayamerta terkekeh-kekeh. Sementara Sedah tenggelam dalam pertimbangannya. Namun ia cepat mengingat: Hariwangsa karya Mpu Panuluh. Bukankah dengan karya itu Panuluh ingin memberitahu dunia bahwa sebenarnya Jayabhaya yang diagungkan oleh seluruh kawula Penjalu sebagai raja bijak titisan Hyang Maha Wisnu itu, ternyata tak lebih dari seorang penculik wanita. Baik! Aku akan mencoba memasulfi istanamu! Barangsiapa mengambil, daripadanya akan diambil, seperti barangsiapa memberi kepadanya akan diberi.

Setelah berpamitan, Sedah bergesa menuju istana. Tapi, apa perlunya itu? Sedah tidak akan dapat mendekati istana, karena di hadapan istana terbentang sebuah lapangan yang amat luas. Rumputnya terpangkas rapi, sehingga dari jauh tak ubahnya bentangan permadani hijau. Tepat di tengah- tengahnya tumbuh dua pohon beringin raksasa. Sungguh dalam keremangan malam pastilah orang akan menyangka bahwa itu dua raksasa kembar penjaga istana Sri Prabu Jayabhaya. Untuk kesekian kali Sedah memperhatikan akar tumbuhan raksasa itu. Dan setiap kali hati Sedah meleGehkan.

.

Bukankah pohon ini dikabarkan sebagai lambang bahwa Raja adalah tempat berlindung. Karena siapa pun yang berlindung di bawah pohon raksasa itu akan terlindung dari sengatan terik mentari. Ahai, tapi bagaimana orang dapat berlindung di bawahnya, sedang di pinggir-pinggir lapangan ini terdapat belahan kayu yang terukirkan tulisan: "Dilarang melintasi alun-alun agar tidak merusak rumput."

Bagaimana Raja bisa menjadi pelindung kawula? Beringin itu tak pernah beranjak dari tempatnya. Sementara orang yang mencoba mendekati dengan melintas lapangan rumput ini akan menerima hukuman berat. Dan mungkin begitulah gambaran nasib orang yang akan menghadap Sri Jayabhaya. Apa yang bisa sampai? Keluhan kawula? Dia duduk di tempat yang amat tinggi. Terlalu tinggi untuk bisa mendengar desah kawulanya. Ah, rumput saja tak boleh diinjak. Berbahagialah kau rumput! Karena kau sempat menjadi rumput milik Raja di raja.

Tubuh Sedah makin kurus saja. Kumisnya yang mulai membayang hitam itu pun menjadi panjang, dan ujung- ujungnya turun ke bawah seolah enggan berdiri. Tapi Sedah tak mempedulikan keadaan tubuhnya. Ingin rasanya ia melihat wajah Paramesywari. Kendati dari kejauhan. Namun harapannya tinggal sia-sia. Yang berlalu-lalang di pendapa cuma para pengawal. Kadang ada beberapa menteri yang menghadap. Wajah Sri Prabu pun tak pernah nampak.

Sungguh seperti ingin bersua dewa-dewi. Beberapa hari berlalu begitu. Aniaya sangat terasa benar oleh Sedah jika kegelapan malam turun. Bayang-bayang kekasihnya seperti melintas di pelupuk mata. Kadang berhenti mengajak berbincang. Kadang ia lihat sedang menangis. Tapi malam ini lebih menyakitkan: kekasihnya muncul dengan perut buncit!

"Kau mengandung? Mengandung anak seorang satria?" "Ampunkan hamba, Yang Suci..."

"Oh..."

Dan Sedah terbangun dengan napas terengah-engah.

Ternyata ia mimpi di pembaringan penginapan. Sedah segera berdoa. Bersemedi. Untuk mengatasi semua kesulitan angannya sendiri Kemudian mencoba keluar. Perutnya lapar. Berhari-hari ia tak makan. Ternyata kedai penuh dengan orang makan. Padahal cukup besar kedai makan milik penginapan ini. Dan ketika ia akan duduk di sudut ruangan, seseorang menepuk bahunya dari belakang. Ia sedikit terkejut. Seorang berpakaian brahmana tersenyum. Sedah mengingat-ingat. Orang itu masih tersenyum. Bersama dengannya ada empat orang asing. Dua dari China dan dua dari Jambudwipa. Orang itu masih menunggu, seperti mau menggugah ingatan Sedah.

"Oh..." Sedah pun tersenyum setelah beberapa saat mengerutkan dahinya. "Paman! Paman Sami-rana Guna!"VSambil berdiri ia menyembah.

"Ah, Sedah... Yang suci, Sedah. Ingatanmu masih tajam. Sudah hampir lima belas tahun kita berpisah, tapi kau masih mengenaliku. Kenalkan ini teman-teman brahmana dari China. Khun Chan Feh..." Orang yang disebut namanya membungkuk memberi hormat. Tinggi besar, kumisnya panjang dan mengenakan topi persegi yang terbuat dari sutera kuning.

Jubahnya bertangan lebar, juga dari sutera kuning. Mengenakan sepatu kulit. Pipinya terlalu montok, sehingga membuat matanya tampak makin sipit.

"Dia adalah Chou Khu Fan..." Kini orang yang disebut namanya itu memberikan penghormatan. Kulit orang ini agak kemerahan. Sungguh santun. Tingginya tak terlalu jauh dari yang pertama. Demikian pula besar dan usianya. Hampir setengah umur.

"Dia adalah Chandra Brahmamukha, dari Jam-budwipa." Orang ini pun menghormat. Tampan, dengan mata yang amat tajam. Bulu matanya lentik dan lebat seperti bulu mata kerbau. Berewoknya terpelihara rapi, hitam kelam. Sehitam itu pula warna rambutnya. Mungkin usianya baru sekitar tiga puluh lima tahun. Sedah tersenyum membalas penghormatan orang itu sambil meraba jenggotnya. Iri, karena masih licin. "Yang satu ini satu negeri dengan Yang Suci Chandra, namanya Mahendra Wisksu."

Wisksu pun menghormat. Sebaya dengan temannya.

Kemudian Mpu Samirana Guna memperkenal- ? kan Sedah pada mereka dalam bahasa Sansekerta. Setelahnya mereka sama-sama duduk. Kini Sedah menjadi tamu pamannya.

Seorang Mpu yang bekerja sebagai pembantu Panuluh di istana Raja. Setelah menanyakan tempat menginap Sedah, dan mendapat jawaban, ia menawarkan agar Sedah tidur di rumahnya.

"Hamba suka di penginapan ini, Paman."

"Kita sudah sangat lama tidak berbincang. Aku ingin tahu keadaanmu. Berita tentang ayahmu. Dan berita tentang kampung..."

"Hai, masih rindu kampung? Kukira panas hari lupa kacang akan kulitnya." Sedah tertawa. Pamannya juga. Yang lain ikut, karena Sedah bercakap dalam Sansekerta.

"Setelah menjadi Maha Rsi, kau jadi berani mengolok orang tua." Pipi pamannya sudah melipat kala tersenyum. Juga sudut-sudut imata-nya dihias gambar cakar rajawali. "Berani menolak tawaran untuk singgah. Apa kata-katamu tadi tidak seharusnya terpulang untukmu sendiri?"

Kembali tawa riuh mereka menarik perhatian tamu-tamu lain. Tapi mereka tidak mengerti apa yang dipercakapkan, karena para brahmana itu lebih sering bercakap dengan Sansekerta daripada bahasa Penjalu.

"Apa urusan para Yang Suci ini melancong ke Penjalu?

Melihat-lihat dunia?" Tiba-tiba Sedah bertanya.

"Kami dari Jambudwipa mendapat perintah dari Raja. Dalam rangka persahabatan dua negeri kita, Maharaja mempersembahkan naskah kakawin Mahabharata pada Sri Prabu Jayabhaya. Karena kami dengar beliau sangat tertarik pada (karya sastra itu."

"Jadi dari istana?"

"Ya. Kami sudah menghadap beliau. Tapi sayang, rupanya beliau kurang dapat bercakap dalam Sansekerta..."

"Jadi?"

"Untung, Paramesywari yang masih belia dan jelita itu mahir dalam Sansekerta, sehingga beliaulah yang bertindak sebagai jurubahasa."

Sedah tersentak mendengarnya. Hem... katanya dalam hati. Tak salah lagi berita dari Hariwangsa-nya Panuluh itu! Tentu Prabarini adalah Dinar, kekasihnya. Debar jantungnya memburu, tapi ia menahan diri.

"Sungguh luar biasa Paramesywari itu," Khun juga memuji.

Matanya yang sipit mengedip-ngedip tanpa makna. Alisnya yang seperti golok sering terangkat-angkat pada ujungnya. "Bukan saja wajahnya yang gilang-gemilang, tapi kepalanya juga luar biasa cerdas. Beliau begitu menguasai banyak masalah tentang kehidupan. Dan rupanya amat tertarik kala kami menghadiahkan buku karya Samsara Maha China."

"Memang semua orang yang melihatnya akan menjadi iri," Samirana Guna ikut memuji. "Hamba menggambarkannya sebagai Prajnaparamita (bidadari tercantik di sorgaloka, (gambaran patung Ken Dedes))."

Dan semua tertawa lagi. Hati Sedah berdegup. Kepalanya mulai berdenyut-denyut. Akibatnya ia tak berani lagi bertanya tentang istana. Setiap kata yang menyinggung Prabarini ternyata telah membuat hatinya berdesir. Lamunannya tiba- tiba melayang jauh.

"Barangkali Yang Suci telah lelah. Mari kita istirahat," Pamannya mengejutkannya. Walau semua masih ingin berbincang dengan Sedah yang dinilai punya pikiran tajam dan pandangan jauh, namun mereka setuju, karena memang tiba- tiba semangat Sedah nampak hilang. Dan dengan naik kereta milik kerajaan mereka mengantar tamu-tamu itu ke wisma tamu negeri. Dalam hati Sedah berharap, dengan perantaraan pamannya ia akan dapat melihat wajah Prabarini.

Lampu-lampu yang terbuat dari logam kuning berjajar rapi di jalan-jalan ibukota Kerajaan Penjalu. Rapi dalam jarak yang sama. Rumah-rumah berjajar di pinggir jalan, juga dalam jarak yang tertata menurut aturan yang ditentukan oleh penata perumahan ibukota. Sedah memuji keindahan ibukota di waktu malam. Apalagi ini bulan Manggasri (bulan November—Desember, yang disebut sebagai bulan kelima). Di malam purnama nanti akan ada pesta air. Tentu semua orang akan datang untuk bersenang-senang di dermaga dengan naik perahu yang berhias-hias. Bahkan tidak sedikit yang sengaja menjatuhkan dirinya ke air untuk menarik perhatian gadis- gadis yang juga sedang berperahu.

"Pernah kau melihat pesta air?"

"Ya, dulu waktu masih kecil, Yang Suci," jawab Sedah pada pamannya.

"Kau nampak bermendung setelah mendengar berita tentang istana. Terutama setelah kau mendengar berita tentang Prabarini. Kenapa?"

Sedah tersentak mendengar itu. Pamannya meraba tepat sekali. Ia masih mencoba menguasai diri. Di bawah sinar rembulan, pamannya berusaha menjajaki hatinya. Kereta bergoyang-goyang. Sais yang duduk di belakang kuda tidak berani menoleh. Menguping pembicaraan brahmana dengan brahmana lainnya adalah tabu. Apalagi mata Sedah menghunjam tajam ke punggungnya yang telanjang, seolah memberi isyarat pada pamannya bahwa Sedah tak ingin pembicaraan mereka didengar oleh sais itu. Beberapa saat kemudian Mpu Samirana Guna berbicara dalam Sansekerta. Mengulangi pertanyaannya. Dan Sedah menjawab sambil menghela napas panjang. Naluri sais itu berkata bahwa Sedah menjawab dengan amat terpaksa.

"Paman, Yang Suci, pernah membaca Hari-wangsa?" "Karya Mpu Panuluh itu?"

"Ya. Yang Tersuci Panuluh."

"Apa hubungannya dengan pertanyaanku tadi?" "Jika Paman sudah membaca, tentu Paman sudah

menangkap apa yang sedang hamba pikirkan." Sedah berkali membetulkan duduknya karena guncangan kereta. Lampu- lampu tak menarik lagi baginya. Bahkan dermaga yang sempat mereka lewati pun tak menarik. Walau juga dihias dengan beraneka lampu, umbul-umbul dan janur-jemanur.

"Aku sudah membaca. Karena aku termasuk orang yang ditunjuk ikut memeriksanya." "Memeriksa?"

"Ya. Memeriksa tiap karya sebelum diedarkan pada pembacanya."

"Tugas dari mana itu?"

"Dari Menteri Mukha yang baru. Yang Mulia Kuda Amiraga." "Jagad Dewa Pramudita! Apa hak menteri atas karya-karya

para pujangga atau brahmana?"

"Demi keamanan negeri hal ini diberlakukan di Penjalu. Sebab setiap tulisan yang tak sesuai dengan kehendak yang Maha Mulia tidak boleh diedarkan di Penjalu. Apalagi yang kemungkinan bisa merusak citra seseorang, harus dihentikan peredarannya. Sebab, keresahan di Penjalu akan digunakan oleh musuh-musuh Penjalu untuk menyerbu negeri yang sudah dibangun dengan susah-payah oleh Yang Maha Mulia Sri Jayabhaya. Bukankah itu baik? Bukankah kau pernah baca prasasti Kalkuta yang ditulis oleh Bathara Erlangga sorga yang berbunyi: "Ri prahara. Haji Wurawari maso mijil sangka Lwaram." (Di waktu ada kekacauan, Haji Wurawari muncul dari Lwaram (untuk menumpas Dharmawangsa dengan seluruh keluarganya)) Nah, kita tidak ingin ini terjadi ulang."

"Hamba hampir tidak percaya jika negeri bisa diguncang cuma karena sebuah tulisan. Wurawari menjatuhkan Yang Mulia Darmawangsa Anumerta tidak dengan menggunakan lontar atau tulisan, tapi senjata. Brahmana tak pernah membawa negeri ke dalam bahaya, tapi satria, yang tak pernah berhenti haus kekuasaan dan kegilaan akan hormat!"

"Hyang Bathara! Yang Suci, pendapat itu benar. Tapi jangan diutarakan di Penjalu, sebab kebenaran yang diakui dunia belum menjamin akan diakui di Penjalu. Hati-hatilah Yang Suci!"

"Jagad Dewa! Wajarlah jika demikian di Daha tidak pernah lahir pujangga besar. Karena ternyata di sini terlalu banyak yang di jangankan dan diharuskan!" Sedah tertawa mendadak. Lepas saja suaranya.

Pamannya kaget. "Semakin banyak jangan, maka semakin banyak kedunguan!"

"Begitu rata-rata pendapat brahmana di Widya Trisnapala?" "Hamba kira itu pendapat bebas dari seluruh brahmana di

muka bumi." Sedah tertawa lagi. Seperti tak terkendali. Mpu

Samirana Guna terkesiap.

"Jangan kita teruskan percakapan tentang ini." Ia menoleh ke semua penjuru. Sedah yang melihat itu makin heran. Ada brahmana demikian takutnya. Tapi ia mencoba memakluminya. Diam beberapa saat.

"Apa hubungannya Hariwangsa dengan lamunanmu?" "Bukankah sebagian isinya adalah yang tertulis dalam

Krsnayana karangan Mpu Triguna?"

"Pengamatanmu memang tajam."

"Tapi bukan itu yang dimaksud oleh Yang Tersuci Panuluh." "Lalu?"

"Beliau hendak menjelaskan pada dunia bahwa Sri Jayabhaya adalah seorang raja yang memiliki kekuasaan besar. Ingin menyamakan dirinya dengan Sri Krsna. Dan tentang Paramesywari itu, di gambarkan seperti halnya Dewi Rukmini yang diculik dari negerinya oleh Kresna? Prabarini adalah seorang putri culikan!" "Hyang Bathara! Ja..."

"Sekalipun ia tidak datang dari negeri asing. Tapi, setidaknya ia direnggut dari lingkungannya. Bahkan kastanya! Seorang satria yang mabuk kekuasaan tidak mempedulikan lagi bahwa/yang diculiknya adalah seorang brahmani!"^

"Jangan teruskan! Yang Suci! Sedah!" Pamannya panik. "Aku cuma mengutarakan Hariwangsa dan Krsnayana. Kan

kedua karya itu tidak dilarang di Penjalu?"

Derak kereta makin keras. Berkeriut-keriut. Rumah Samirana Guna makin dekat. Ia tahu Sedah berbicara pada diri sendiri. Ah tentu ada sesuatu dengan anak kakaknya itu.

"Paman, terus-terang karena Hariwangsa-lzh hamba melangkah kemari." 4

"Jadi..."

"Ingin bersua dengan Prabarini," tegas Sedah. "Jagad Dewa!"

"Ya! Paman terkejut..."

"Hati-hatilah Sedah. Ini urusan kepala. Jika kau memfitnah Raja, maka kepalamu akan dipenggal."

"Paman, hamba akan buktikan, apakah Prabarini milik hamba, ataukah Sri Jayabhaya!"

"Baik, nanti pada pesta air, kita bisa melihatnya dari jauh. Tapi tahan hatimu! Jangan tergesa-gesa. Aku akan berusaha membuka jalan bagimu agar dapat bersemuka dengan Paramesywari."

"Paman..." "Berdoalah!" "Terima kasih..." Kereta berhenti.

0ooo0dw0ooo0