Prabarini Bab 2 : Sangkar Emas

 
Bab 2 : Sangkar Emas

Lebih dari tiga bulan Dinar hampir tidak bisa sama sekali berpisah dari bayang-bayang Sedah.

Sungguh menakjubkan cara anak muda itu hadir dalam hidup Dinar, demikian antara lain yang dipikirkan Dinar.

Tahun-tahun ajaran pertama ia kenal Sedah tidak ada setetes pun perkiraan, bahwa pemuda itu akan hadir dalam hidupnya. Dan tidak seperti kebanyakan pemuda, Sedah memang mendahulukan pelajaran - dari wanita idamannya. Dengan pandai ia menyimpan rapat-rapat gejolak hatinya. Baru setelah selesai dan berhasil mencapai gelar Maha Rsi ia menyatakan cintanya.

Entah berapa lama Dinar mulai memperhatikan pemuda yang menjadi buah bibir para sebayanya maupun kakak- kakak, serta angkatan yang sebaya dengan adik-adiknya. Atau barangkali saja semua wanita yang pernah bersua dengan pemuda itu. Semula Dinar merasa tak ada keistimewaan pada Sedah. Bukankah siswa dari Jambudwipa lebih gagah dan tampan dibanding dia? Dan ia tahu persis bahwa di antara siswa-siswa dari Jambu-dwipa atau Swarnadwipa dan mungkin juga dari China ada yang mencoba-coba mendekatinya.

Macam-macamlah tingkah mereka. Ada yang memberi hadiah permata dan barang-barang keramik dari China. Misalnya saja Tan Kiat Mung, yang pernah memberinya hadiah setelah beberapa lama berkenalan dengannya.

"Ibuku mengirimnya dari negeri leluhur. Nah, apa gunanya aku menyimpan barang ini? Mungkin lebih cocok jika menghiasi lehermu." Pemuda itu bercakap dalam Sansekerta.

Dinar memang tak kuasa menolak. Namun ternyata barang itu tak mampu membuka hati Dinar lebih lanjut. Tak kurang dari Butha Wreku yang pemalu itu," pernah pula memberinya hadiah kain mori dan sutera halus bikinan Jambudwipa. Kain-kain itu bernasib sama dengan permata serta tembikar keramik dari China itu. Di mata mereka Dinar seolah jinak-jinak belut. Betapa pun jinaknya, jika sudah di lumpur belut, akan sulit ditangkap.. Kendati tangan penangkapnya kadang sudah penuh berlepotan lumpur.

Perawakan Sedah cuma ramping saja. Bahkan seolah keberatan menyangga kepala yang berambut tebal dan ikal itu. Kulitnya memang kuning, agak lebih banyak putih kemerah-merahan. Telinganya agak sedikit lebar. Alisnya memang tebal berbentuk golok, dengan warna hitam pekat seperti rambutnya. Mukanya lebih tidak mempunyai daya tarik lagi sebenarnya. Andaikan pipinya tidak sedikit montok, tentu akan tampak rahangnya yang ngungkal gerung (rahangnya kaku dan sedikit menonjol, sehingga wajahnya hampir nampak persegi), membuat wajahnya tidak bulat telur seperti wajah Dinar. Senyum Sedah memang agak menawan dengan bibir yang tipis, bahkan sedikit mungil hampir seperti bibir seorang wanita. Tapi bila tertawa akan tampak susunan gigi yang kurang rapi. Karena pada bahagian atasnya taring kiri- kanannya lancip seperti taring anjing. Sedang sebelah taring kanan, giginya agak melesek ke dalam. Gingsul (salah satu giginya tumbuh agak menjorok ke dalam)

Dinar tak percaya bahwa wajah yang demikian ini mampu merontokkan iman para wanita. Apa yang membuatnya menarik? tanya Dinar dalam hati. Barangkali saja mereka itu berlebihan membicarakan Sedah. Tapi setelah ia mendekatinya, ia tahu, bahwa mata pemuda itulah yang membuat banyak wanita terguncang imannya. Ia sendiri merasa copot jantungnya tersedot mata Sedah yang tajam itu. Mata yang seolah mampu menggeledah semua yang berada dalam tubuhnya. Hidungnya juga tidak terlalu mancung, namun tentu tidak bisa dikatakan pesek. Ditambah pengetahuan serta gaya Sedah bicara yang semuanya kini tak bisa hilang dari ingatan Dinar. Sampai-sampai setiap kali ia keluar dari balai pracabaan, tentu menjadi bahan gurauan teman-teman gadisnya, karena ia sering menjawab keliru jika ditanya oleh para dang hyang.

"Melamun, ya? Ah, anak manis sekarang banyak melamun. Dulu tidak sudi. Sekarang setengah mati," Malawati meledek.

Memerah wajah Dinar mendengar itu. Tapi ia tersenyum. Memang murah senyum. Lesung pipit menghias pipi montok seperti pipi bayi.

"Dinar yang cari-cari penyakit. Dia coba-coba, akhirnya...?" yang lain lagi juga nyeletuk.

Tapi Dinar tidak sakit hati. Karena memang benar kata-kata temannya itu. Dulu ia menganggap bahwa benteng hatinya cukup kuat. Dan bahkan mungkin saja Sedah yang akan tergila-gila.

"Hatimu tidak di sini kendati kau ada di sini," Malawati meneruskan gurauannya.

"Ada-ada saja. Kau pikir hatiku bisa copot dari tempatnya?

Seperti apa saja..."

"Hatimu telah terbawa pergi oleh Maha Rsi Sedah."

Semua cekikikan dalam tawa. Untung memang, Dinar seorang periang. Tapi bila ia sedang sendiri, maka semua tembang dalam senandungnya hanya untuk Sedah. Ya, Sedah! Bayangan kala menari bersama, berdoa bersama, dan... kala pertama saling berciuman. Semua akan bermunculan kala sedang terjebak dalam kesendirian. Jika sudah demikian, manusia sering membiarkan dirinya hanyut dalam ketidaksadaran untuk berandai-andai.

Andai aku seekor burung gelatik Ingin terbang mengejarnya hinggap di pundaknya masuk sangkarnya sangkarnya!

Tapi dia rajawali Yang lepas, terbang....

Tinggi menguak awan.

Dinar terkejut sendiri tanpa sadar waktu sudah berada di peraduannya malam itu. Rajawali? ia mengulang sloka terakhir dari syair yang dibuatnya sendiri sebagai kidung pujian bagi kekasihnya, Sedah. Rajawali adalah seekor burung yang tak suka beriung-riung dengan teman-temannya, melainkan suka pada kehidupan di angkasa bebas yang keras. Dan memang itu salah satu milik Sedah yang membuatnya kagum.

"Aku ingin segera menamatkan pelajaran di sini. Ingin selekasnya bebas dari keharusan-keharusan yang diberikan oleh para dang hyang," kata Sedah kala pertama kali mereka saling berkenalan.

"Kenapa? Bukankah dalam hidup memang banyak keharusan?"

"Keharusan membuat kita jadi semacam siput. Mudah lisut karena takut. Aku ingin mengerjakan apa yang aku suka.

Bukan yang diharuskan oleh orang lain."

Dari percakapan itu Dinar menilai bahwa anak muda itu ingin menerjunkan diri dalam kebebasan. Dan tentunya barangsiapa mendambakan kebebasan ia juga tidak suka melanggar kebebasan orang lain.

"Tak ada orang yang suka melaksanakan keharusan bisa menjadi pribadi yang besar. Tidak! Sebab ia tak pernah menciptakan sesuatu dari pendapatnya sendiri. Apa bahagianya?" "Walau keharusan yang diberikan oleh orang-tua sendiri?" "Ada masanya orangtua memberikan keharus-an-

keharusan. Tapi, pada akhirnya orangtua harus merelakan

anaknya terbang ke angkasa kehidupan."

"Hyang Dewa Ratu! Bagaimana dengan kebersamaan?

Hidup memerlukan kebersamaan. Karena pada dasarnya kita tidak terlahir dari belahan batu." Dinar gemas.

Tapi Sedah tersenyum dan amat tenang. Menghela napas sebentar kemudian menoleh ke angkasa. Beberapa jenak.

Dinar melihat juga ke angkasa. Seekor elang berputar-putar di angkasa.

"Rombongan burung pipit dan gelatik tak pernah terbang setinggi itu." Tangan Sedah diangkat lurus ke atas. Dan telunjuknya menuding burung yang sedang berputar-putar di langit biru.

"Kebersamaan kadang-kadang sangat diperlukan. Tapi untuk bisa meraih cita-cita yang tinggi, rajawali harus terbang sendiri. Sendiri! Ia tak pernah menggubris kebersamaan, sebab kadang justru kebersamaan itu membuat impian indah jadi ambruk sama sekali," tegas Sedah.

"Hyang Dewa Ratu! Jika demikian manusia tak perlu kawin- mengawin, karena tak diperlukan lagi kebersamaan."

"Perkawinan adalah salah satu tugas mulia yang berisikan tanggung-jawab." Sedah ini menatap wajah Dinar. Mata gadis itu tampak berkilau-kilau memantulkan sinar mentari.

"Tugas mulia untuk mengisi keseimbangan dalam kehidupan. Dewata telah memberikannya sebagai kodrat. Karena itu tak banyak orang yang dapat mengesampingkan perkawinan dalam hidupnya. Jadi perkawinan diperlukan untuk menjaga keberlangsungan dan perputaran hidup dan kehidupan."

"Cuma itu?" Dinar berusaha mendesak. Sedah diam.

Dahan bergoyang menahan Tiupan angin. Daun gemersik. Rerumputan menari di bawah mentari. Tapi mentari itu berlari. Kian jauh. Jauh. Dan makin jauh. Mengabur. Kini Dinar tergagap. Ia mendapati dirinya tersengal di sisi pembaringannya. Sutera putih alas tidurnya awut-awutan. Aku tidak tidur, gumamnya dalam hati. Ia menarik napas panjang. Memati-diri untuk masuk alam semadi. Ia ingin melepas diri dari bayang-bayang Sedah. Ya, harus! Tapi tidak bisa. Tiap kali menutup mata, tiap sloka kidung yang ditembangkan Sedah mengiang di telinganya.

Semadi yang pada hakikatnya mematikan segala ingatan, segala keinginan, segala kegiatan dan gerakan justru saat manusia masih hidup. Itu sebabnya disebut memati-diri atau istilah yang lebih lazim adalah pati-raga. Usaha itu pun gagal. Sebab seolah angin yang masuk melalui lubang hidung atau pori-pori kecil, tubuhnya juga mendengungkan: Sedah! Sedah! Sedah! Tanpa sadar Dinar melelehkan air mata. Tapi sebagai seorang brahmani ia segera sadar. Ia hapus air mata yang melaju lamban di kedua belah pipinya yang halus itu. Suara seseorang berdehem di luar biliknya. Ia cepat-cepat mengambil lontar kosong. Diambilnya pula alat penulis. Ia tidak boleh menyimpan apa saja yang menggumpal di dadanya. Tulisnya:

Memang sudah lapuk, sudah banyak dilalui orang tapi...

Aku

serasa berayun meniti pelangi

di antara gumpalan awan kelabu. Batas!

Dan jangkarnya telah bersauh senyum bertepikan aniaya Sang rajawali terbang melintas awan-awan. Hati resah dalam tanya

Bila ku menapaki jalan-jalanmu? Mendaki menguak langit menjangkau cintaku...

Dengan berakhirnya tulisan itu, Dinar mengatupkan mata.

Tertelungkup menahan kantuk. Ayam jantan berkokok. Menjemput fajar.

Berbeda dengan teman-teman lainnya, Candala Raka merasa bahwa dengan seringnya Dinar pergi menyendiri, adalah kesempatan yang termanis untuk mendekati hati anak itu. Iai yakin bahwa cinta akan bisa dibangun dengan seringnya mereka saling bersua dan saling menghibur.

Bukankah kebiasaan memudahkan segala-gala? Maka ia perlu merebut hati Dinar yang sudah ditinggal oleh Sedah itu.

Mula-mula ia tidak membicarakan masalah cinta. Tidak.

Candala Raka bukan brahmana jika tidak cerdik.

"Kok berjalan-jalan sendiri?" pancingnya suatu hari ketika dengan sengaja ia menjumpai Dinar yang sedang berjalan- jalan di sela-sela pohon murbei di perkebunan milik Perguruan Tinggi Widya Trisnapala.

Agak terkejut Dinar mendengar sapa Candala. Pemuda gagah yang sering mendekatinya sejak saat sebelum Sedah meninggalkan Adiluwih. Ia diberitahu oleh beberapa teman putrinya bahwa pemuda itu bahkan sering membayang- bayangi-nya. Namun ia memaksakan diri tersenyum sambil memutar tubuhnya untuk berbalik ke arah perguruan tinggi.

"Ya. Cari angin."

"Boleh aku menemani jalan-jalan?"

"Boleh. Tapi aku sudah lelah. Dan aku akan kembali." Candala sedikit kecewa. Tapi disembunyikannya. Dadanya terguncang melihat deretan mutiara kecil yang berjajar rapi di sela bibir Dinar. Tak jemu-jemu rasanya ia memandangi wajah yang serasi antara kulit dan bentuk muka yang bulat telur itu. Makin mendebarkan karena Dinar baru saja berkinang, sehingga bibir itu berwarna sedikit merah. Tipis. Setipis bibir itu sendiri.

"Kok sering memisahkan diri dari teman-teman? Ada kesulitan yang perlu dibantu? Atau cuma ingin memperhatikan..."

"Tidak ada masalah apa pun." Dinar menjawab dengan tangkas dan lincah. Hatinya mengajak kaki bergesa. Namun ia heran kenapa langkahnya seolah menjadi makin pendek- pendek. Candala Raka memberanikan diri mejajarinya. "Aku cuma ingin memanjakan hati dalam mengagumi Hyang Maha Dewa. Luar biasa! Ulat-ulat menjelma menjadi kain yang indah dan halus."

"Bukankah itu menunjukkan daya cipta manusia yang mendorong budaya menjadi begitu tingginya? Dan karena itu kita yang tak mampu mencipta dan «hanya menjiplak orang- orang China dalam menjadikan ulat itu kain yang halus dan kita beri nama sutera, maka kita mengatakan bahwa itu anugerah Hyang Maha Dewa."

"Hyang Maha Dewa Ratu! Betapa benarnya pendapat itu. Tapi sayang, yang Suci tidak menyertakan penyelidikan dari mana ulat terlahir* Dari mana manusia memiliki bahagian tubuh yang bernama kepala. Dan dari kepala itulah terlahir begitu banyak pengetahuan dan pendapat." "Oh, ampun!" Dan sebelum ia mengeluarkan pendapatnya lagi, mereka sudah sampai di halaman perguruan tinggi. Dinar cepat-cepat masuk ruang belajar, sementara teman-temannya masih bergurau di luar. Dinar menjadi sangat tidak enak berjalan berbareng Candala Raka di bawah pandang teman-temannya. Sebaliknya, Candala Raka memasuki halaman dengan pongah. Seolah ia berkata, bukan cuma Sedah yang bisa berjalan berjajar dengan Dinar. Ia pun bisa. Dan belum tentu jika Sedah nanti yang memetik kembang dari Adiluwih itu.

Siapa tahu, aku! Dan aku harus mencari jalan agar impianku itu terwujud.

"Dari mana kalian?" tanya Butha Wreku pada Candala. "Mengisi hati yang kesepian."

"Dewa Bathara! Baru tiga bulan mereka berpisah.

Mungkinkah Dinar melakukannya?"

"Kau ini seperti sudra yang dungu," desis Candala Raka makin pongah. Ia tahu Butha Wreku pun pernah jatuh cinta pada gadis yang sedang jadi kembang Adiluwih itu. "Bukankah hidup ini mengandungkan berlaksa merjan kemungkinan?

Barangkali tidak denganmu, tapi mungkin denganku. Apalagi dulu ia menyambut Sedah kan karena kekaguman sekilas.

Bukan dari hati yang terdalam."

Detya Butha Wreku mengangguk-angguk. Jauh dalam sudut hatinya, ia menjadi iri. Kalau saja Candala benar, maka ia benar-benar manusia tidak beruntung. Dan Candala tidak hanya mengatakan itu pada Wreku, tapi pada hampir setiap teman lelakinya. Apalagi Dinar tidak pernah menyadari keadaannya. Besoknya berulang kejadian yang sama. Kalau ia sedang memunguti murbei yang berjatuhan karena terlalu matang dan tidak ada yang memanen.

Tanpa sesadarnya Candala sudah menunggu di tengah- tengah kebun murbei itu. Hatinya memang berdebar keras. Apa saja yang dikerjakan pemuda ini, maka setiap hari di sini? Dan ia buru-buru membalikkan tubuh.

"Kita sama-sama, Dinar. Waktu istirahat kita masih panjang, bukan?" "Eh, terima kasih. Aku hendak membawa buah murbei ini pulang dulu." Dinar mencari alasan.

"Cuma segitu kau bawa pulang? Ini, aku tadi juga mencari.

Bawalah sekalian jika kau mau."

Dinar ragu. Tapi takut menyinggung perasaan dan menimbulkan kesan angkuh, maka ia menerimanya. Ragu memang. Tapi tanpa kata ia memasukkan kumpulan murbei milik Candala Raka. Mengapa bisa bertepatan juga pemuda ini sedang cari buah murbei? Siali Dinar mengumpat dalam hati.

"Mengapa kau sekarang jarang bergurau bersama teman- temanmu? Atau bertembang bersama dalam kidung pujian di pura-pura? Tampaknya aneh."

"Aku kan sudah berbeda dengan mereka." Dinar mencoba berterus-terang pada Candala Raka, dengan harapan pemuda itu tak lagi mendekatinya.

"Apanya yang berbeda?"

Angin siang bertiup di sela pepohonan murbei. Membelai tubuh mereka. Menyejukkan.

"Aku sekarang milik Sedah. Maha Rsi Sedah." Ia pandang Candala dengan saksama untuk melihat perubahan air muka pemuda itu. Namun ia tak melihatnya. Bahkan dengan tenang Candala memamerkan senyumnya.

"Sedah sudah jauh. Jauh. Di lerang Gunung Kawi. Dan andai saja kau tahu tempat di mana Sedah sekarang mengajar, maka kau akan meragukan apakah Sedah-mu itu tetap seperti yang dulu."

"Apa maksudmu?" Kini Dinar mengerutkan dahinya. Mata yang berbola hitam dan bening itu makin menarik.

"Wanita mana yang tak mengagumi Sedah? Ia punya seribu macam daya untuk mempesona wanita. Sesuai dengan kecerdikan yang dimilikinya. Para dang hyang saja bisa dijerat sehingga memberitahukan semua soal yang akan diujikan pada ujian itu. Wajar saja jika ia lulus terbaik." Candala kembali tersenyum dengan tatapan mata yang aneh.

"Hyang Dewa Ratu!" Dinar menahan hati. "Sampai hati kau berkata seperti itu?" suara Dinar bergetar.

"Aku bersungguh-sungguh. Jangan kau kaget seperti itu!"

Sebenarnyalah Dinar tidak terkejut, tapi amat tersinggung oleh tuduhan Candala itu. Bukankah itu sama dengan menuduh pamannya, Mpu Brahma Dewa, menerima suap dari Sedah? Juga ayahnya? Sungguh suatu penghinaan terhadap citra Widya Trisnapala.

"Kau punya bukti yang menguatkan tuduhan-mu itu? Dan kau tahu pada siapa saja Sedah menyuap?"

"Mengapa tidak?" Candala tegar. "Dewa Ratu!" mendadak Dinar menutup wajahnya dan berbalik lalu lari. "Dinar!" Candala berteriak. Tapi Dinar tidak menoleh lagi. Ia bergesa pulang. Ia bertanya pada ayahnya, pada ibunya, apakah benar mereka menerima suap dari Sedah. Jika demikian halnya, tentu mereka adalah sebu-ruk-buruknya brahmana. Baik yang menyuap maupun yang menerima suap, sebab itu bukan kebiasaan para brahmana.

Beberapa teman putri Dinar menjadi heran karena anak itu tidak ke tempat mereka belajar. Bukan kebiasaan Dinar begitu. Maka mereka ramai-ramai merubung Candala yang datang searah dengan gadis itu. Walau ada persaingan di antara mereka dalam memperebutkan cinta Sedah, namun kini itu sudah berlalu. Mereka mengaku secara jujur bahwa mereka kalah dengan Dinar.

"Ya, biasa. Aku menjelaskan padanya bahwa Sedah itu lulus dari sini karena menyuap beberapa % guru besar. Itu sebabnya ia dipilih jadi yang terbaik." Candala menjelaskan. "Rupanya hatinya terluka mendengar kenyataan ini." "Candala! Kami keberatan atas fitnahmu ini!" salah seorang di antara putri-putri itu mendamprat dengan ketus. "Kau benar-benar ular bilu-dak! Kita semua tahu bahwa Sedah sungguh pintar. Aku juga ikut diuji bersamanya. Aku gagal.

Aku tak sakit hati. Karena memang aku tahu dia punya kepala cemerlang."

"Gila kau Mandraswati. Barangkali saja kau terpesona karena wajahnya yang elok sehingga tak melihat kegugupannya waktu diwisudha dulu. Nah, sebenarnya jauh dalam lubuk hatinya, anak itu "mengakui bahwa ia belum berhak menerima gelar Maha Rsi Jadi..."

"Rupanya kau jatuh cinta pada Dinar dan kalah oleh Sedah sehingga engkau menyebar fitnah. Itulah rupanya yang membuat Dinar terlalu sering menyendiri. Drubiksa kau!" Tuding beberapa putri lagi. Dan tak ayal yang lain ikut-ikutan.

Hati Candala meriup takut. Akhirnya ia menyingkir dari kerumunan gadis-gadis itu.

"Drubiksa!" teriak mereka mengikuti langkahnya. Dan Candala menundukkan kepala menuju bale pracabaan.

Sementara itu Dinar telah memasuki halaman belakang rumah Dang Hyang Dewaprana. Ia memang tidak lewat depan sebagaimana biasa. Bahkan ia masuk dengan diam-diam.

Sampai-sampai juru masak yang sibuk di dapur tidak melihatnya, karena memang terhalang oleh tumpukan persediaan kayu bakar. Dengan melewati sebuah lorong besar Dinar mencapai bilik tengah rumahnya yang digunakan untuk menyimpan kumpulan lontar. Untuk beberapa bentar ia berhenti. Memperhatikan kumpulan lontar yang disimpan dalam bumbung-bumbung (tabung-tabung dari bambu yang dipotong dari pangkal ruasnya sampai kira-kira setengah meter, diberi bahan pengawet untuk menyimpan lontar) lontar yang berisikan pengetahuan dan cerita. Sayang hanya kaum brahmana saja yang boleh menyentuhnya. Ketika hendak melangkahkan kaki ia dengar suara berbisik dari dalam bilik di seberang bilik penyimpanan lontar itu. Dinar menajamkan telinga untuk mendengarnya, sambil menahan hati yang didera oleh keinginan untuk menjumpai ibu- bapaknya. Keinginannya menanyakan kebenaran ucapan Candala Raka begitu besar. Ah, rupanya ayahnya, Dang Hyang Dewaprana serta ibunya. Apa yang sedang mereka percakapkan? Dinar menempelkan kupingnya ke dinding bambu itu.

"Kau ini bagaimana, Istrinda? Apakah kau sudah bertanya pada Dinar? Itu kan cuma bicara orang?" terdengar suara Dewaprana.

Hati Dinar berdebar. Dan ingin tahu kelanjutan pembicaraan mereka.

"Yang Suci tidak percaya? Tanyalah pada para pembantu di dapur itu! Ia selalu pergi ke kebun murbei berduaan. Ini baru tiga bulan Sedah pergi. Belum dua tahun. Pokoknya Yang Suci harus memberi peringatan pada Dinar. Jangan sampai ia seperti ibunya."

"Istrinda! Hati-hatilah bicara!"

"Nyatanya memang ia bukan anak kita sendiri, Suaminda. Tapi semua orang tahu bahwa ia sebagai anak kita. Jangan- jangan perangainya akan sama dengan bapaknya, si Palagantara itu!"

"Istrinda! Tahan! Kau ini brahmani! Mengapa bicaramu tak terkendali seperti orang dungu?"

"Justru hamba brahmani, hamba malu Dinar berbuat begitu."

Dengup jantung Dinar kian berdebar mendengarnya. Apa arti semua ini? Apa yang aku lakukan, sehingga memalukan Nyi Dewaprana yang ternyata bukan ibu kandungnya itu? Lalu siapa Palagantara itu? Ayahku? Di mana dia sekarang? Berjuta pertanyaan tiba-tiba saja berlarian dalam kepalanya. Seolah berkejaran dengan tiada yang dapat tertangkap.

"Baik! Akan aku peringatkan dia. Tapi kita harus jelas dulu masalahnya. Dinar telah kita didik secara baik, sebagai seorang brahmani. Tentu aku tidak percaya jika ia berakhianat pada janji yang diucapkannya di hadapan Hyang Maha Dewa."

"Biasanya, begitu ayahnya, begitu pula anaknya. Menyesal aku telah menyetujui memungutnya."

"Jagad Dewa Pramudita!"

Hanya itu yang didengar Dinar, karena ia segera berbalik meninggalkan tempat itu. Hatinya * buntu. Tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Rasanya sebongkah batu besar menindih dadanya.

Air mata berderai tanpa tertahan. Jagad Dewa, apa salahku? Maka Ibu telah menjatuhkan hukuman seperti itu? Jadi kasih yang ditunjukkannya selama ini kesemuan?

Mengapa brahmani sanggup hidup dalam kesemuan seperti itu?

Dalam ketidaktahuannya, ia tertuntun kembali ke Perguruan Tinggi Widya Trisnapala. Ternyata semua siswa sedang dikumpulkan di bale pracaba-an. Rupanya ada sesuatu yang penting, karena berlangsung di luar kebiasaan. Pelan- pelan ia duduk di bahagian paling belakang. Ia sempat melihat di deretan tengah orang yang membuatnya jadi buah bibir dan membuat ibunya marah. Candala Raka. Benci rasanya. Tapi apa yang harus dilakukannya? Pemuda itu rupanya sengaja meniupkan api kebusukan.

Mpu Brahma Dewa sedang membacakan suatu berita yang baru saja dikirim oleh penguasa Kerajaan Penjalu. Dan semua orang yang tinggal di daerah kekuasaan Penjalu harus tahu berita ini. Sekalipun hati masih gundah, sebagai seorang brahmani Dinar merasa berkepentingan mendengar semua kejadian. Kebiasaan telah membuatnya jadi seperti sangat haus akan segala berita.

"Hal yang sangat menyedihkan bagi kaum brahmana, yaitu peperangan antara Penjalu dan Jenggala akan segera berakhir. Perang saudara yang terjadi sejak peristiwa pembelahan Kerajaan Kahuripan menjadi Penjalu dan Jenggala. Bumi Jawa terbelah jua oleh peperangan yang tidak berkeputusan. Kita kaum brahmana sedih melihat kenyataan ini. Sebab peperangan merusak semua dan segala."

Diam sebentar untuk memperhatikan para siswa. Kemudian menoleh pada deretan guru besar. Ada beberapa tempat duduk yang kosong. Ke mana saja mereka itu? Tanya Brahma Dewa dalam hati. Atau mereka sedang kosong dan mengajar di lain tempat? Memang ada yang sering-sering diundang perguruan tinggi lainnya, di luar negeri. Selama itu juga mendapat izin dari pemerintah pusat di Penjalu. Biasanya mereka dilarang menerima undangan dari Jenggala. Sungguh itu bertentangan dengan tata kebrahmanaan. Memang siasat kekuasaan tidak akan pernah sejalan dengan pemikiran para brahmana yang mendambakan terciptanya perdamaian yang tulus. Sebab siasat kekuasaan juga mengatasnamakan dirinya demi kemanusiaan. Membunuh sekali pun berhak mengatasnamakan diri demi kemanusiaan asal itu mengabdi pada suatu kekuasaan.

"Beberapa waktu yang lalu, Yang Mulia Rakai Huno Dyah Pawasi telah mengerahkan laskar Penjalu secara besar- besaran. Karena Yang Maha Mulia Mapanji Jayabhaya Sri Warmesywara Ma-dhusudanawata Anindita Suhtrsinghadani Paraka-rama Uttungga Dewa sudah tidak sabar lagi. Beliau memerintahkan agar laskar Penjalu berperang habis-habisan sampai Jenggala bertekuk-lutut."

Berhenti lagi. Beberapa orang menjadi bergidik. Perang tidak lagi mengindahkan suatu persaudaraan. Dinar pun ngeri mendengar itu. Bukankah Sri Maharaja Hemabhupati masih saudara sepupu Jayabhaya? Bukankah mereka masih sama- sama keturunan Bathara Erlangga? Ah, bagaimana macamnya Jayabhaya itu? Saudara sendiri ditumpas!

Dinar tertarik untuk mendengar lanjutannya. Menangkah Penjalu? Jika demikian, kasihan Jenggala. Bagaimana pula sikap Jayabhaya menghadapi orang lain? Benarkah ia menegakkan kemanusiaan seperti yang tertulis dalam karya- karya tulis para mpu. Brahmana pun sanggup melakukan penipuan. Untuk apa? Uang dan kekuasaan.

"Dan saat ini peperangan telah menunjukkan adanya penyelesaian," lagi Brahma Dewa melanjutkan, namun air mukanya tampak bermendung. Itu dapat dimaklumi; sebab ia memang tidak senang terhadap peperangan.

"Laskar Jenggala makin terdesak, dan laskar Penjalu mulai memasuki wilayah Jenggala. Ternyata kawula Ngantang memihak pada Penjalu. Itu sebabnya Penjalu Jayanti (Prasasti Ngantang tahun 1135 menyebutkan kemenangan Penjalu).

Masih belum diberitakan nasib Sri Maha Prabhu Hembhupati." (Raja Jenggala, (nama lengkapnya tidak terungkap))

Tiada sorakan seperti orang-orang Daha mendengar berita ini. Dan tiap pendengar tenggelam dalam pendapat serta penilaian masing-masing. Candala Raka sekilas teringat pada adik ibunya yang menjadi pemimpin laskar berkuda Penjalu. Dalam hati ia berdoa agar pamannya yang menunjang pembiayaan keluarganya itu selamat dalam pertempuran.

Lain lagi Dinar. Bagaimana kira-kira wajah Jayabhaya itu?

Begitu kejamnya orang itu. Begitu banyak pujangga yang mengagungkannya. Sampai-sampai ada kakawin Gatotkaca Qraya karya Mpu Panuluh, yang menceritakan kemenangan Jayabhaya di Jambi. Bahkan kalau orang melihat namanya yang begitu panjang, tentu kesannya Jayabhaya adalah seorang mulia dan berbudi luhur. Mungkin saja orang menyebutnya sebagai dewa. Coba! Dia juga menggunakan nama Ma-dhusudanawata! Bukankah itu berarti dia menyebut diri sebagai ketirisan Wisnu? Tak kurang-kurang memang orang yang memiliki kuasa tertinggi, menghanyutkan diri ke alam keseakan-an. Seakan-akan aku adalah dewa! Apa tujuannya? Tidak lebih untuk memperbodohkan orang lain.

"Bagaimana sikap Perguruan Tinggi Widya Trisnapala dalam kejadian ini?" tanya Butha Wreku dengan suara keras setelah mengangkat tangannya.

"Ya! Bagaimana sikap kita?" tanya salah seorang guru besar. "Kita harus menunjukkan sikap!"

"Memang! Kita, sebagai perguruan tinggi dan tempat berkumpul para brahmana, harus menunjukkan sikap. Dan sikap kita akan menjadi panutan bagi brahmana di lain tempat. Nah, apa sekarang pendapat yang bisa kita sumbangkan demi kemanusiaan?" Mpu Brahma Dewa mengajak semua orang berunding.

Tenang sesaat. Dua saat. Tiga saat.

Suara burung-burung merajai suasana di luar ruangan. Seolah-olah saling bercanda satu dengan lainnya. Saling memperdengarkan kicaunya. Tak mereka hiraukan perang besar yang membentang sepanjang perbatasan Jenggala dan Penjalu. Mayat ataupun bangkai bertebaran di seputar sungai Brantas yang menjadi batas yang membelah Kerajaan Kahuripan menjadi dua, Penjalu dan Jenggala. Satu di bahagian utara, sedang sebahagian lainnya di selatan. Atau sebaliknya, burung-burung itu ingin mewartakan bahwa di sela pepohonan, bebatuan, atau yang dihanyutkan oleh aliran air Sungai Brantas yang amat deras itu terdapat ribuan mayat manusia dan bangkai binatang. Mati! Mati tak ubahnya kucing budug tanpa harga.

"Seharusnya kita mengucapkan selamat atas kemenangan Penjalu ini. Kita perlu mengadakan pengucapan syukur pada Hyang Maha Dewa, atas kebijakan Sri Jayabhaya yang membawa kesejahteraan pada kawula Penjalu. Memang demi kesejahteraan itu diperlukan pengorbanan. Tumbal! Dan Jenggala telah menjadi tumbal itu. Bukankah kita harus mengucap syukur karena bukan kita yang dijadikan tumbal. Bukankah suatu kebijakan luar biasa jika Sri Jayabhaya mengorbankan orang lain?" Candala Raka membuka suara lebih dahulu setelah semua tidak mengeluarkan pendapat. Tapi seusai ia mengutarakan pendapat seperti itu, para wanita yang hadir langsung saling bertukar bisik. Akibatnya suara seperti lebah pulang kandang memenuhi ruangan.

Brahma Dewa segera angkat suara untuk menghentikan raungan lebah itu. Ia tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

"Saudara-saudara! Hentikan saling bisik ini! Jika punya pendapat, hendaknya disampaikan padaku. Bukan cuma pada teman! Agar kita segera memperoleh kesepakatan."

Suasana kembali tenang. Tapi beberapa mata kini mengawasi Candala Raka. Terutama kaum wanita. Brahma Dewa mengawasi mereka. Kemudian ganti mengawasi pilar- pilar kayu yang kokoh dan berjajar rapi, menyangga atap ijuk yang lebar itu. Beberapa bentar kemudian menatap ke halaman. Kumpulan batu sebesar-besar telor ayam dan itik ditata di jalanan menuju barak-barak, diapit tanaman kembang kenanga dan kantil putih yang rimbun daunnya.

Belum lagi beraneka kembang pacar dan sedap malam, atau melati yang menyuguhkan aroma damai. Tak mengherankan, burung dan kupu ataupun kumbang berebut dulu hinggap di pepohonan itu.

"Kita memang tinggal di wilayah Penjalu. Dan kebetulan menang. Tapi bagaimana perasaan kita, seandainya kita tinggal di Jenggala?" Tiba-tiba saja Dinar memecahkan kesunyian setelah lebih dahulu mengacungkan telunjuknya ke atas untuk minta diizinkan bicara. "Hamba percaya, tentu kita akan sangat menderita. Demikian pula halnya dengan orang- orang Jenggala saat ini. Berlarian diburu oleh ganasnya pedang, tombak, dan panah. Sebagai brahmana yang mendambakan peradaban yang lebih baik, seharusnya kita malah berusaha mencegah peperangan ini. Setidaknya kita mengajukan permohonan agar pembantaian atas orang-orang Jenggala dihentikan. Demi kemanusiaan. Demi peradaban."

Tepuk-tangan riuh dari kaum brahmani mengiringi kata- kata penghabisan Dinar. Tanda bahwa mereka sangat setuju. Bahkan beberapa siswa pria pun ikut setuju. Telinga Candala Raka mendadak menjadi merah melihat kenyataan itu. Apalagi jika ia teringat akan lecehan anak-anak dara sebelum santiaji itu.

"Ada yang berkeberatan pada pendapat Dinar?" Brahma Dewa mengajukan pertanyaan.

Candala Raka ingin mengangkat tangan. Tapi ia menahan hati. Ia tahu begitu angkat bicara, gadis-gadis itu akan saling bertukar bisik lagi. Atau barangkali saja malah meraung, meledak dalam rasa ketidaksenangan.

"Silakan mengajukan pendapat jika kalian tidak setuju!" Brahma Dewa menekankan. "Jangan di sini diam, tapi kembali ke barak dengan hati panas dan muka muram. Ingat-ingat!

Jika mukamu muram dan hatimu tidak sejahtera, maka dosa mengintip di pintu hatimu!"

Sekali lagi Candala seperti tersentak mendengar itu. Dosa mengintip di balik pintu hati? Benarkah itu? Dosa ada di ambang hatiku? Dosa bisa terjadi saat orang tersenyum. Bisa! Kapan saja bisa. Di mana saja. Dan tidak jarang orang bermuka murung malah menemukan jalan yang terbaik bagi hidupnya. Hati Candala ramai dengan perdebatan.

Berdentingan pantul-memantul di tiap dinding hatinya. Tapi diam. Tak ingin melukai hati Dinar. Jika ia melakukannya, tentu akan menimbulkan kebencian di hati gadis pujaannya itu. "Apakah nanti kita tidak dituduh sebagai pengkhianat?" Amandakala, seorang dari Swarnadwipa bertanya.

Brahma Dewa seperti tersentak.

Semua juga. Dan pelan-pelan semua mata tertuju pada Dinar yang duduk bersandar pilar belakang ruangan. Ada yang meleceh. Ada yang mengharap keterangan. Ada yang ingin anak itu membela pendapatnya. Dan benar... Brahma Dewa meminta pendapat Dinar.

Sebab dengan tuduhan pengkhianatan, Rakai Hino Dyah Pawasi (Rakai Hino dapat disamakan dengan kepala kabinet atau kepala pemerintahan. Zaman Majapahit memakai istilah pratandamukha) akan menutup perguruan tinggi ini. Mungkin untuk sementara. Atau bahkan bisa selamanya tidak diperkenankan melakukan kegiatan apa pun. Dinar menarik napas panjang. Untuk sementara melupakan semua yang menindih kalbunya. Lalu pelahan ia mulai mengutarakan pendapatnya.

"Pengkhianatan? Sungguh suatu pertanyaan yang aneh jika ini dilontarkan oleh kaum brahmana. Pada kodratnya manusia dilahirkan dalam persekutuan. Persekutuan antara anak dan bunda! Anak dan ayahnya. Juga persekutuan antara atman dan brahman! (persekutuan antara tubuh dan jiwa: manusia dan Tuhan) Jagad pramudita dan diri. Dan semua itu tercapai dengan dasar kasih yang tulus. Itulah Nirwikana." Diam sebentar. Melirik ke semua arah.

Lalu,

"Kita brahmana sekarang! Kodratnya, kaum brahmana dipakai oleh Hyang Maha Dewa sebagai alat untuk melahirkan ilmu pengetahuan dan mengamalkannya pada hidup dan kehidupan. Dan brahmana terbiasa mengajukan pendapat.

Karena memang ia belajar untuk itu! Suatu pendapat yang memperbaiki tata kehidupan. Mengapa lalu kita takut dibayangi oleh pendapat kita sendiri? Takut dituduh pengkhianat bangsa? Akhirnya, takut pada pendapatnya sendiri? Ahai, alangkah lucunya jika brahmana seperti itu. Tak sepatutnya ia menjadi brahmana. Dan tak ada gunanya ia belajar bertahun-tahun untuk menjadi brahmana. Karena pada akhirnya ia tidak akan membuahkan apa-apa, kecuali menjadikan diri anjing peliharaan yang setia pada tuannya."

Berhenti lagi. Dan orang-orang berdecak penuh kekaguman. Sebahagian meriup kecil. Para brahmani tersenyum. Senang.

"Seharusnya kita kembali pada kodrat kita. Terlahir sebagai brahmana. Terlahir untuk membela kemanusiaan dan kebenaran walau bukan dengan senjata, bukan dengan membunuh, tapi dengan kata-kata dan pengetahuan. Jadi hamba tetap pada pendirian semula. Brahmana harus mencegah pembunuhan manusia atas manusia. Mencegah kerusakan alam serta isinya. Karena memang untuk itulah kita terlahirkan."

"Jagad Dewa Pramudita!" Brahma Dewa menyebut. "Setuju!" Serentak suara kaum brahmani. Dan beberapa

brahmana.

"Aku akan berangkat ke Daha. Karena kita tidak diperkenankan mengajukan pendapat dengan membawa arak- arakan siswa seperti di Jambu-dwipa atau Swarnadwipa dan negeri-negeri lain. Kita harus menyampaikannya melalui Yang Tersuci Panuluh, pandita istana Daha. Nah, kembalilah ke barak masing-masing! Selamat sore."

Kala semua orang mulai berdiri dan meninggalkan tempat, Dinar seperti disentakkan dari sebuah mimpi buruk. Kembali ia teringat pada persoalan yang sedang dihadapinya. Ia memang berdiri. Tapi bergerak pelan-pelan sambil menunduk.

Malawati menepuk pundaknya dari belakang, kala ia bersandar di pilar. "Apa saja yang kaulamunkan ini, wanita hebat?" Dinar tak menjawab. Ia menarik napas panjang.

"Hembusan napasmu menyulingkan kidung buat Sedah, Wong ayu." Malawati menggoda.

Dinar mengerutkan dahi. Membuat alisnya hampir-hampir bertemu.

Dan Malawati melihat wajah itu makin membuatnya iri. Tak salah jika Sedah memilihnya. Tapi Malawati segera terkejut ketika memperhatikan wajah temannya. Air mata kini meleleh lamban di kedua pipi montok Dinar.

"Dinar?!"

Dan Dinar memandang temannya yang agak gemuk, namun wajahnya amat manis itu. Dengan tahi lalat di sudut bibir sebelah kanan atas. Pandangan matanya juga gilang- gemilang.

"Ada apa kau Dinar? Mari ke barakku. Jangan dilihat orang air matamu itu!" Ia kemudian memapah temannya ke kamarnya. Kecil jika dibanding kamar Dinar di rumah Dewaprana. Tempat tidur Malawati cuma ambin bambu yang ditutup dengan permadani. Lontar berhamburan tidak teratur. Dan Dinar duduk di ambin itu sambil menunduk.

"Ada permasalahan yang besar?"

"Ya, Sahabat." Dinar menghapus air matanya.

"Apa?" Malawati bangkit menyulut pelita. Pelita dengan minyak kelapa sawit. Memang keremangan mulai turun di kamar itu.

"Susah untuk menceritakannya." Dinar menggeleng. Air matanya kembali mengalir. Tapi segera dihapusnya. Ia ingat betul, bahwa ia terdidik di lingkungan brahmana. "Tapi tak baik menyimpan kesesakan dalam dada. Lihat! Lahar yang tersimpan di perut Gunung Kelut itu. Jika terlalu padat akan muntah. Dan itu membahayakan banyak orang."

"Hyang Dewa Ratu!" Dinar menyebut. Kemudian memandang temannya.

Malawati membelainya. Seperti pada adik sendiri. "Jangan khawatir. Jika memang perlu, aku akan

merahasiakan. Ya. Merahasiakan. Percayalah. Siapa tahu, aku bisa menolongmu. Siapa tahu?" kata-kata Malawati meluncur dengan merdu.

Dinar senang mendengar warna suara itu. Seolah membawa kedamaian. Barangkali begitulah kira-kira suara tokoh Banowati dalam Maha-bharata, si istri raja Hastina itu. Ia menarik napas panjang, lalu,

"Baiklah...," katanya. Lalu ia ceritakan semua yang ia alami.

Malawati terpatri di tempat duduknya. Mendadak napasnya ikut sesak.

"Kau tahu di mana Palagantara berada?" "Sama sekali aku tidak tahu."

"Ini memang harus dirahasiakan. Jika sampai ketahuan dan ternyata Palagantara bukan seorang brahmana, bisa-bisa kau dikeluarkan dari Widya Trisnapala. Bahkan bisa dituntut."

"Hyang Dewa Ratu!" Dinar mengeluh pelahan. Tiba-tiba saja sejuta bintang seolah berputar-putar di seputar kepalanya. Dekat. Dekat sekali! Dan pandangannya menjadi kabur.

Malawati cepat merebahkannya ke pembaringan. Ia benar- benar menjadi iba. Tapi' dengan tenang ia membasuh keringat dingin yang keluar dari pori-pori halus di tubuh Dinar yang kuning langsat itu. Ah, tubuh sempurna, tanpa cacat setitik pun. Andai ia bukan seorang brahmani, mengapa Hyang Maha Dewa menganugerahkan kepala yang begini cemerlang? gumamnya dalam hati sambil menyisir rambut Dinar dengan jari-jemarinya yang runcing.

Kala Dinar tersandar, ia menjadi agak malu. "Tidurlah dulu, Manis. Kau terlalu lelah."

Menggeliat. Membangkitkan kekaguman. Jika aku yang wanita begini kagum, apalagi pria. Tiba-tiba ia ingat Candala Raka. Ah tentu ini adalah ulah Candala Raka. Maka ia segera bertanya,

"Apakah kau punya hubungan dengan Candala Raka?" "Aku sudah berpikir bahwa ini adalah ulahnya. Tapi Bunda

telah menjadi begitu marah."

"Belum tentu! Belum tentu beliau benar-benar marah.

Namun barangkali sangat malu mendengar kau mengingkari janjimu pada Sedah. Apalagi sampai menjadi buah bibir. Nah, berbincang-lah kau dengan ibundamu itu. Walau mungkin saja benar kau bukan anaknya sendiri. Tapi kebiasaan berkumpul denganmu, tentunya telah menumbuhkan rasa kasih seperti halnya pada anak sendiri."

"Tapi aku ragu..."

"Aku antar kau sampai di depan rumahmu.

Hari sudah mulai gelap. Jika kau tidak pulang tentu akan menjadikan Adiluwih ini terkoyak oleh kegemparan."

Sekali lagi Malawati membimbing temannya. Teman-teman putri lainnya, yang tahu bahwa Dinar ada di kamar Malawati, diam sambil dipenuhi tanda-tanya, apalagi dari celah dinding kamar masing-masing mereka dapat mengintip Dinar dalam bimbingan. Sebenarnya bukan cuma teman-teman putri yang mengintip, baik dari tempat mereka mandi ataupun kamar masing-masing, tapi juga Candala Raka. Karena itu ia sengaja mencegat di balik gerbang. Memang tepat jika ia mencegat di gerbang itu. Karena banyak bunga yang merupakan tumbuhan perdu dan rumpun melati yang lebat dan dapat dijadikan tempat bersembunyi.

Tapi ia sama sekali tidak tahu kapan waktunya Dinar akan pulang. Lama. Membosankan. Nyamuk dan semut, menambah rasa jengkel dalam penantian.

Akhirnya tampak juga si Dinar. Ah, berjalan bersama Malawati. Drubiksa! Kali ini ingin ia memberanikan diri berterus-terang. Bahwa daripada menunggu Sedah, baiklah lari bersamanya saja. Tapi ada Malawati. Ah, tak peduli.

Kemudian ia keluar dari tempat persembunyiannya. Sebentar ia membersihkan jubahnya. Memetik sekuntum mawar dan setangkai melati. Makin dekat langkah mereka, makin keras debar jantungnya. Diri berayun-ayun dalam keraguan. Tapi kali ini titik. Titik penentuan. Aku kalah oleh Sedah karena aku belum pernah melamarnya dengan terus-terang.

"Eh, selamat petang..." Gugup begitu keduanya dekat. Dinar dan Malawati tidak tersenyum sebagaimana biasanya.

Bahkan mata mereka memancarkan api. Tapi ia menebalkan telinga.

"Baru pulang, Dinar. Eh..." Mencoba mencegat keduanya. ?

Dinar makin gusar. Menahan lahar di dalam dada. Lelaki dengan mulut manis tapi berhati drubiksa.

"Eh, aku ingin memperundingkan pendapatmu tadi " Candala memperoleh bahan untuk membuka pembicaraan.

"Kau hendak menuduhku pengkhianat?" Dinar masih tanpa senyum dan tidak menghentikan langkah. Mukanya nampak merah jambu.

Malawati ikut gemas.

"Bukan. Bukan aku... tapi... tentunya Sri Maharaja..." "Justru yang menuduhlah pengkhianat terhadap kodratnya.

Ya, kodratnya sebagai manusia yang terdiri dari kumparan otot dan daging, yang diciptakan oleh Hyang Maha Dewa dengan kasih dan anugerah."

"Jagad Dewa! Berani kau berkata seperti itu?" "Terserah kau menilaikan. Kita memang berpijak pada

landasan yang tidak sama. Nah, minggir-lah. Kami akan

lewat."

"Dinar! Sikapmu berubah mendadak. Kemarin senyummu begitu manis..."

"Sungguh hebat kau! Mulutmu manis namun penuh racun," Dinar memotong.

"Atau barangkali karena ada Malawati kau malu meramahiku. Aku sengaja memetik kembang ini untuk menyatakan bahwa aku..."

Dengan tangan gemetar Dinar menepis tangan Candala yang mengulurkan kembang. Dan kembang-kembang itu terburai berhamburan di tanah.

"Untuk inilah sebenarnya kau mencegat aku dan menyebar kebohongan ke seluruh Adiluwih! Ingin menyisihkan Sedah dari hatiku dan menggantikannya dengan dirimu!"

Ternganga mulut Candala Raka mendapat perlakuan itu.

Marah tak tertahankan. Apalagi di bawah saksi Malawati. "Makan saja kembang-kembangmu itu!" ejek Malawati.

Makin terbakar. Ingin ia mencekik leher kedua wanita muda itu, tapi tak berani melakukannya. Ia tidak terbiasa membunuh. Tapi kata-kata mereka benar-benar menyakitkan. Dengan loyo ia kembali ke baraknya. Tapi sebelum masuk kamarnya, suara Malawati terngiang kembali di telinganya.

Makan kembang-kembang itu\ Langkahnya terhenti mendadak. Dinar yang membuatnya dilecehkan oleh Malawati. Dan beberapa waktu lalu mereka juga meneriakinya sebagai drubiksa.

Aku harus beri pelajaran buat mereka, ancamnya dalam hati. Malam ini juga ia akan meminta tolong pamannya, Kuda Amiraga, kepala pasukan berkuda Penjalu. Ia sekarang sedang menuju ke Daha dari Ngantang. Ia akan bertanya, apakah yang harus dilakukan untuk menghadapi perawan yang bengal seperti Dinar. Tentu sebagai seorang yang biasa bertugas di mana-mana, pamannya bukan hanya berpengalaman menaklukkan musuh di medan laga, tapi juga menaklukkan hati wanita. Ia bertekad hendak meninggalkan Widya Trisnapala tanpa izin. Dan ia tidak akan memberitahukan hal ini pada bapaknya. Karena bapaknya akan marah mendengar keinginannya mempersunting Dinar sebelum menamatkan pelajaran.

Sementara itu Malawati dan Dinar sudah sampai di pendapa rumahnya. Pada Nyi Dewaprana, Malawati menjelaskan bahwa Dinar takut pulang karena selalu di bayangi oleh Candala Raka.

"Makin nekat saja anak itu," kata Malawati.

"Jadi bukan Dinar sengaja mencari kesempatan saat kalian istirahat?" tindas Nyi Dewaprana kala menyambut mereka di pendapa.

"Ampunkan hamba, Bunda..." Dinar berdebar di bawah sorot-mata ibunya yang kini nampak asing.

"Sungguh. Hamba berani menjadi saksi. Di hadapan Hyang Maha Dewa sekalipun hamba rela menjadi saksi." Malawati sekali lagi mengajukan pembelaan.

"Baiklah. Silakan masuk." Nyi Dewaprana tersenyum dibuat-buat.

"Terima kasih, Yang Suci. Hamba cuma mengantar..." Lalu ia berpamitan. Ia berniat menceritakan pada teman-temannya tentang penolakan rDinar ini, sebab sudah ada beberapa teman yang mulai membicarakan hubungan Candala Raka dengan Dinar. Seolah Dinar tak layak menjadi seorang brahmani, karena tidak menepati janji.

"Tidak banyak lelaki jalang seperti Candala Raka itu, Teman-teman. Orang semacam itu memandang wanita cuma sebagai alat pemuas atau pelampiasan kejalangannya. Dan hidup ini dipandang dari penting atau tidaknya menuruti keja- langannya. Mereka tidak memperhatikan kesusilaan lagi.

Makin banyak perempuan kehilangan kesusilaan makin senang mereka. Dengan begitu mereka akan makin leluasa memanjakan kej alangannya."

"Hyang Dewa Ratu!" sebut para siswi itu hampir berbareng. Dan mereka berjanji, bersama-sama akan menjadikan Candala Raka sebagai bahan ejekan.

Berbeda dengan keadaan Dinar. Sekalipun ia sudah menjelaskan pada kedua orangtuanya, tapi sikap Nyi Dewaprana masih belum berubah. Mendung tergambar di wajah wanita tua itu. Membuat hati Dinar makin gundah. Maka ia bertekad untuk membongkar pedalaman Nyi Dewaprana.

"Tampaknya Ibunda tidak berkenan pada keterangan hamba. Apakah kiranya yang menjadikan sebab?"

"Tidak pernah ada seorang brahmani yang menjadi buah bibir semacam kau. Dinar, aku tak tahu bagaimana cara kita menghapus aib di kening kita ini?" wanita tua itu melengos ke tempat lain. Mukanya masih bermendung.

"Hyang Dewa Ratu!" Dinar menyebut. Dewaprana sendiri tak kalah terkejutnya.

"Bukankah kita bisa menjelaskan pada semua orang bahwa bukan niat Dinar untuk berdua-dua dengan Candala Raka?" Dewaprana menenangkan istrinya. "Lihat! Teman Dinar, si Malawati pun memberikan kesaksiannya. Apa yang perlu kita sangsikan dari anak kita ini?"

"Sedah! Hamba takut Sedah mendengar ini dan marah. Kemudian membatalkan pertunangan ini. Betapa malunya kita."

"Aku akan menjelaskan pada Sedah." Dewaprana masih pada pendiriannya.

"Suaminda... pikirkan ini masak-masak! Apa Sedah yang bermata dewa itu akan percaya pada keterangan kita?" Nyi Dewaprana melengking. Semua terkejut.

Dinar menyembah sambil meneteskan air mata. "Ampunkan hamba, Ibunda Yang Suci. Barangkali hamba

tidak layak lagi mendapatkan kasih dari Bunda..."

"Dinar!" Dewaprana yang memotong. "Jangan ucapkan itu, Nak. Memang ibumu sedang marah..."

"Barangkali Ibunda betul. Bahwa tidak setetes pun darah brahmana mengalir dalam tubuh hamba. Maka..."

"Cukup! Kau adalah anakku, Dinar!" "Suaminda!"

"Istrinda! Tak patut brahmana melengking-lengking seperti itu!"

"Jadi hamba yang tak patut?"

Semua terdiam. Sampai beberapa jenak. Suara jangkrik dan binatang malam lain menguak suasana. Temaram rembulan mulai menerangi kegelapan. Mendung tipis berkejaran di dekat rembulan. Tapi anak-anak kecil sudah tidak ada di halaman.Tak ada lagi yang main jamuran, gobak- sodor, atau sembunyi-sembunyian. Bulan tanggal tua.

"Siapakah Palagantara... dan di mana orang itu sekarang?" Dinar memberanikan diri. Pelan suaranya. Tapi serasa petir di telinga Dewaprana. Ia pandang wajah istrinya. Sebentar kemudian Dinar. Berganti- ganti. Juga Dinar memandangnya. Kemudian pada istri Dewaprana. Air matanya memantulkan cahaya pelita yang terpasang di sudut ruangan.

"Jagad Dewa Pramudita..." Dewaprana akhirnya menjatuhkan diri di tempat duduk. Ia tak mungkin lagi menutup-nutupi. Tak mungkin brahmana menipu. Tidak.

"Ampuni aku, Dinar. Aku tidak tahu di mana dia berada. Ia adalah ayahmu. Ia menyerahkan kau, waktu kau masih bayi merah, kemudian pergi entah ke mana." -

"Di manakah ibundaku?"

"Yah, Dewa Bathara! Aku juga tak akan menipu. Aku tak tahu dia siapa. Juga tak tahu dia di mana. Sungguh, Dinar. Aku tidak bohong. Itulah yang kutahu tentang asal-muasalmu. Sebab setelannya, kau adalah anakku. Anakku!" Dewaprana gemetar.

"Hamba tidak tahu mengapa sejak sekarang ada tangan yang mahakuat, yang menghalangi kasih Bunda pada hamba. Barangkali memang waktunya, anak itik berenang di air.

Sekalipun kala masih berupa telor dulu dierami oleh induk seekor ayam."

"Apa maksudmu Dinar?"

"Ampunkan hamba, Yang Suci. Barangkali lebih baik jika hamba pergi mencari Sedah. Hamba akan berterus-terang. Apabila Sedah menolak hamba, maka hamba akan mencari Palagantara..."

"Dinar..."

"Ampunkan aku, Dinar..." Nyi Dewaprana gemetar. Ia sama-sekali tidak menduga Dinar akan mengambil keputusan seperti itu. "Bertimbanglah Dinar.." "Barangkali karena hamba bukan brahmana, sehingga nalar ini tak sanggup lagi bertimbang. Ampunkan hamba." Setelah menyembah, Dinar surut ke biliknya.

Sementara itu kedua suami-istri saling berpandangan dalam penyesalan yang amat dalam.

"Biarlah aku besok mengantar Dinar, Istrinda. Kita tunjukkan padanya, bahwa kita bukan pengusir yatim-piatu."

"Kanda... ampunkan hamba." Nyi Dewaprana terhuyung masuk ke bilik Dinar. Serta-merta dipeluknya Dinar yang sedang berkemas-kemas.

"Jangan pergi, Anakku..."

"Jika hamba tidak pergi, Candala Raka akan merupakan ancaman yang membahayakan keselamatan hamba. Bahkan ancaman bagi perguruan tinggi kita. Hamba harus menghindarinya."

"Tapi..."

"Relakan hamba, Yang Suci. Karena hambalah yang menyebabkan Candala Raka berpikiran jahat, atau banyak lelaki lain jatuh dalam dosa. Biarlah hamba akan pergi."

"Oh, Dinar..." Tangis Nyi Dewaprana makin menjadi-jadi. Dan itu menarik perhatian Nyi Rumbi, inang pengasuh Dinar, yang berada di bilik sebelah. Ia tertarik untuk menengok ke bilik Dinar.

"Jagad Dewa Bathara! Ada apa ini ribut-ribut?"

Dan kala ia tahu Dinar akan pergi, maka meledaklah tangis wanita gemuk bermuka bulat itu. Namun tumpahan air mata mereka tak dapat membendung niat Dinar untuk melangkah ke luar rumah Mpu Dewaprana. Juga malam yang sunyi itu.

Dan itu sebabnya Nyi Rumbi tak sampai hati membiarkannya pergi sendiri. Ia bertekad mengikuti kepergian Dinar. "Biarkan aku sendiri, Bibi. Aku menolak ditemani oleh Bapa Mpu Dewaprana, mengapa kau ikut?"

"Tapi hamba tidak bisa berpisah dengan Yang Suci." Wanita itu mengejar terus. Tak ia pedulikan dinginnya hawa malam yang menusuk kulitnya. Akhirnya berdua mereka menguak sunyi. Menerjang malam, berjalan menuju ke timur. Gunung Kawi.

Sawah di kiri-kanan jalan membentang luas, tidak menunjukkan warna hijau seperti sediakala. Kendati rembulan bersinar pucat, namun kere-mangan lebih banyak dikuasai warna hitam. Kerikil menggelitik telapak kaki, nyeri. Terkadang menyeruak debu, atau menjejaki rerumputan. Tapi mereka berjalan terus. Kini rumah-rumah desa Adiluwih sudah tiada.

Gerumbul hitam membentang di hadapan mata mereka. Hutan lebat. Jalan makin sempit. Keraguan memercik di sudut hati Dinar. Namun tekad telah mengatasi semua ketakutan. Aum harimau yang sedang memburu lawannya, atau mungkin sedang kawin, kembali membuat hati berdesir. Keduanya berpelukan sesaat. Tapi begitu aum itu musnah ditelan gema, kaki mereka kembali melangkah. Tidak ada penerangan.

Mereka bertekad, berpelita bintang dan beroborkan rembulan.

Hutan memang tidak menjanjikan apa-apa pada Dinar dan Nyi Rumbi, kecuali semak-belukar dan jurang dan onak duri. Tapi keduanya tidak peduli. Malam telah berganti pagi. Dan dua orang itu tetap berjalan. Dan terus berjalan. Kelelahan mulai ikut memberikan aniaya tersendiri. Yang lebih menjengkelkan adalah rombongan nyamuk.

Kendati mentari sudah menguak gelap, mereka tak berhenti menyedot darah. Nyi Rumbi melihat betapa tubuhnya sudah dipenuhi bintik-bintik merah. Nyamuk yang menyebabkannya. Dinar masih mengenakan jubah kebrahmanaan. Maka ia selamat dari keganasan binatang-binatang durhaka itu.

Nyi Rumbi memang arif. Ia membawa sedikit perbekalan makanan kala akan berangkat. Dan itu mereka hemat, makan sedikit-sedikit. Dan minum bisa mereka dapatkan dari mata air-mata air kecil yang ada di hutan. Bahkan tidak jarang mereka minum dari kali-kali kecil yang kebetulan mereka jumpai di perjalanan. Dan siang hari, kala mentari tepat di atas kepala, keduanya mengambil waktu untuk istirahat.

Pohon rindang menjadi pelindung mereka. Silir angin memberikan kesejukan dan bersama kelelahan kedua orang itu masuk ke dalam alam mimpi. Mimpi Nyi Rumbi dan Dinar ternyata berbeda. Nyi Rumbi merasa seolah didatangi kambing yang amat besar yang menjilat-jilat kakinya. Lalu ia berlari.

Membawa tubuhnya yang gemuk itu menghindari kambing yang nekat mencium-cium pantatnya. Sebaliknya Dinar bermimpi seolah sedang bergandengan tangan dengan Sedah. Keduanya berjalan pelan-pelan, meniti pelangi.

Namun impian Dinar segera berhenti. Ia terkejut oleh jeritan Nyi Rumbi. Wanita itu duduk dengan rambut terurai dan napasnya tersengal-sengal. Ia raba tubuh Nyi Rumbi yang basah oleh keringat. Dingin.

"Bibi...," desisnya. Heran. Ia pandangi sekelilingnya. Masih di dalam hutan. Juga Nyi. Rumbi menoleh kiri-kanan.

"Oh, hamba mim... mimpi," katanya sambil senyum. "Kukira kau dari mana, maka keringatmu begini banyak.

Atau barangkali bersua harimau tutul?"

"Ah, tidak " Kemudian Nyi Rumbi menceritakan mimpinya. Membuat keduanya tertawa geli. Tapi Dinar sendiri malu menceritakan mimpinya. Ingin rasanya tidur kembali untuk menyambung mimpi. Tapi ia sadar bahwa untuk menjumpai Sedah tak mungkin hanya mengulur-ulur impian. Tak ada sesuatu yang dapat dicapai dalam tidur. Impian cuma membuahkan kekecewaan.

Waktu mandi sore di sebuah belik (mata air) ia tak berani lama-lama. Karena di samping nyamuk yang buas, ada lintah yang tak segan mengisap darah siapa pun. Dan kalau lintah sudah menempel di kulit, binatang itu sukar dilepaskan sebelum kenyang. Begitu pula Nyi Rumbi. Tak berani terlalu lama di air. Mereka mandi bergantian. Saling menjaga.

Dua hari kemudian baru mereka memasuki perkampungan kecil Dusun Hyang (bukan desa Turun Hyang yang termuat dalam Prasasti Turun Hyang itu). Di sini mereka berusaha mencari perbekalan. Cuma beberapa puluh rumah yang ada di perkampungan itu. Kawula di sini pada umumnya masih mengenakan cawat yang kumuh. Hati Dinar sedikit berdesir melihat sorot mata mereka. Rumah mereka umumnya terbuat dari ilalang, baik dinding maupun atapnya.

Lelaki mereka tidak mencangkul di ladang, karena pekerjaan itu dilakukan oleh wanitanya. Lelaki hanya berburu. Dinar iba melihat perempuan yang mencangkul sambil menggendong bayi.

Ah, ternyata peradaban belum menjamah desa ini. Padahal Prabu Jayabhaya selalu mendengungkan bahwa seluruh negeri ada dalam kesejahteraan. Tak ada lagi kawula yang belum terjamah oleh peradaban. Lalu apa gunanya orang itu mengumpulkan kaum brahmana beriung-riung di istananya?

Dinar benar-benar heran. Apa pula artinya penanaman murbei besar-besaran untuk peternakan ulat sutera itu? Untuk apa pertenunan yang didirikan di mana-mana atas anjuran Sri Maha Raja itu? Ke mana kain-kain itu sehingga orang-orang sini cuma bercawat? Dengan kata lain, kesejahteraan di Penjalu ini cuma dinikmati oleh sebahagian orang yang memperoleh kesempatan untuk menikmatinya.

Tapi di luar dugaan mereka berdua, ternyata kepala perkampungan itu sangat baik. Kepala kampung mempersilakan brahmani muda itu singgah barang sebentar. Dan karena takut diperlakukan yang tidak sopan, Dinar mengiakan. Memang rumahnya lebih besar dari rumah lainnya, tapi tetap dari ilalang. Dan tiang-tiangnya terbuat dari bambu, demikian juga penyangga ilalang yang juga diapit oleh bambu. Seorang perempuan yang masih belum tua tampak terbaring di balai-balai, di sudut ruangan, dikelilingi tiga anak lelaki dan dua anak perempuan.

"Dia adalah istriku, Yang Suci," kepala dusun itu menyembah.

Dinar mendekati perempuan yang sedang terbaring itu. Tak ada bilik-bilik dalam ruangan besar itu.

"Jagad Dewa Pramudita!" Suara merdu Dinar menyebut. "Kenapa ini?"

"Sakit, Yang Suci," kembali suara parau kepala dusun itu menjelaskan.

Tanpa kain. Tentu tubuh wanita itu kedinginan. Segera Dinar membuka bungkusannya. Ia ambil kain persediaannya. Tatkala akan menutupkan pada perempuan itu, Dinar makin terkejut. Wajah perempuan itu nampak amat pucat. Bahkan matanya memantulkan sinar kuning.

"Dirgahayu!" Dinar menyapa wanita yang lemah itu. Seleret senyum terbias di bibir pucat sebagai jawaban.

"Kalian ingin ibu kalian sembuh?" tanya Dinar pada anak- anak kepala dusun itu.

Mereka mengangguk bersama-sama sambil menyembah.

Tak berani memandang wajah Dinar. Kepala dusun juga menyembah penuh harap.

"Nah, carilah pisang emas (pisang seperti pisang susu, tapi kecil-kecil dan rasanya amat manis), segera!" perintah

Dinar yang kemudian dibebankan oleh kepala dusun itu pada anak tertua. Anak kedua juga mengikutinya. "Juga gula aren!"

"Hamba, Yang Suci." "Carikan juga daun saga!" Kepala dusun itu segera meninggalkan mereka diikuti oleh anaknya yang ketiga. Segera sesudah itu Nyi Rumbi diperintahkan memasak air panas. Sedangkan kedua anak perempuan yang masih kecil-kecil itu tetap menunggui ibunya. Sementara itu Dinar segera tenggelam dalam doa. Agak lama memang. Kemudian terdengar ribut-ribut di luar rumah dan suara kedua bocah yang bertugas mencari pisang emas telah tiba. Ternyata dia tidak cuma berdua. Semua anak muda dan bocah-bocah sebayanya telah menunjukkan kasih setia untuk membantu kedua bocah itu dalam mencari pisang emas yang masak. Keduanya menyerahkan pada Dinar, kemudian menyembah.

Dinar kemudian memanggil kedua anak perempuan yang masih kecil-kecil itu. Bersama Nyi Rumbi, Dinar metani (metani (Jawa) = mencari kutu di kepala, biasa dilakukan oleh perempuan-perempuan yang kekurangan kerja) kepala anak itu. Ternyata dugaan Dinar benar. Banyak kutu di kepala

anak-anak yang berambut tebal dan agak keriting itu. Setelah itu mencampur kutu-kutu hasil tangkapannya dengan pisang emas yang sudah dikupasnya dan menyuapkannya ke mulut istri kepala dusun. Banyak sekali pisang yang dibawakan oleh teman-teman kedua bocah tadi. Setelahnya anak-anak itu juga menyerahkan gula aren yang masih cair. Dan Nyi Rumbi menghangatkannya lebih dahulu. Dengan cangkir yang terbuat dari batok (batok(jawa) = tempurung kelapa) Nyi Rumbi memberikan air gula aren itu pada istri kepala dusun itu. Beberapa saat kemudian, keringat membasahi tubuh itu.

"Satu minggu lagi Ibu akan sembuh. Tapi jangan ke ladang dulu. Jangan bekerja apa-apa."

"Ham... ham... ba, Yang... Suci." Wanita itu menjawab dan akan bangkit untuk menyembah. Ia rasa tubuhnya mulai segar.

"Jangan bangkit!" cegah Dinar. "Kau tidak boleh bergerak!

Nanti aku beri tahu suamimu." Kemudian pada anak-anak perempuan itu Dinar menjelaskan bahwa ibu mereka akan segera sembuh jika tidak banyak bergerak.

"Karena itu, kalian harus membantu! Menggantikan Ibu di ladang. Sanggup?"

Anak-anak itu saling pandang. Berunding dalam pandang.

Tapi yang tua segera memutuskan, "Hamba, Yang Suci."

Jemari runcing Dinar membelai rambut anak itu. Bau apek (apek (Jawa) = bau tidak enak yang ditimbulkan oleh rambut yang lama tidak dikeramasi) merangsang hidung Dinar. Tapi ia tahan juga. Demikian kala kepala dusun tiba dengan membawa sepikul daun saga, karena dibantu oleh penduduknya, ia juga memberitahukan hal yang serupa.

"Jadi istri hamba tidak boleh kerja?"

"Untuk sementara, barang dua atau tiga bulan, sekalipun nanti jika ia sudah bisa berjalan. Jika tidak, ia akan mati."

"Dewa Bathara!" lelaki itu menyembah. "Hamba, Yang Suci."

Kala tengah hari Dinar akan berpamitan untuk melanjutkan perjalanan kepala dusun itu mencegahnya.

"Ampunkan hamba, Yang Suci. Istri hamba tampak damai berada di dekat Yang Suci. Tunggulah barang sehari-dua, agar bisa sembuh." Lelaki itu menyembah dan mengiba-iba.

Dan Dinar menuruti kehendak kepala dusun yang malang itu. Bersama Nyi Rumbi ia banyak berdoa dan bekerja untuk menyembuhkan istri kepala dusun. Sebab kata kepala dusun, dukun-dukun sudah menyuruhnya mempersiapkan ke-matian istrinya. Jika ingin istrinya tetap hidup, maka kepala dusun itu harus menyerahkan anak gadisnya untuk dipersembahkan pada dewa-dewa. Dewa Pamali menghendaki nyawa istrinya. "Dukun dari mana itu?" tanya Dinar heran. "Dukun Kanta.

Karena memang ia tinggal di dekat mata air." "Mata air Kali Kanta?"

"Betul, Yang Suci."

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya istrimu akan sembuh." Tegas Dinar. "Asal kauturuti semua petunjukku."

Dalam hati kepala dusun itu bertanya, siapakah putri ini? Jangan-jangan penjelmaan Dewi Ratih? Atau Hyang Laksmi penjelmaan Hyang Durga Mahisasura Mardhini itu? Seribu tanya menggelembung tanpa jawab. Namun ia bersembah jua.

Tepat satu minggu kemudian, istri kepala dusun itu mampu berdiri kembali. Walau rasanya mual karena terlalu banyak makan pisang dan kutu anaknya, tapi karena ingin sembuh, ia terima juga apa pun yang disuapkan Dinar dan Nyi Rumbi ke dalam mulutnya.

Penduduk Dusun Hyang kagum luar biasa, sekaligus takut pada wanita molek yang sedang lewat di desa mereka itu.

Semua lelaki dan perempuan bersujud kala Dinar meninggalkan mereka. Perempuan pada menangis karena tak lagi mendengar suara merdu yang menembangkan kidung- kidung sendu kala kesenyapan mulai merajai malam. Tak lagi melihat senyum manis di bibir mungil dengan lesung pipit di pipi montok. Pendek kata, sekalipun cuma satu minggu Dinar di dusun itu, namun semua orang merasa kehi-x langan.

Seolah Dinar telah menjadi bahagian dari kehidupan desa kecil terpencil itu.

Hari-hari terlewati bersama jarak yang telah dilalui. Hutan, jurang, bukit, sawah dan perkampungan berapa jumlahnya tak diingatnya, telah menjadi saksi berapa jarak yang telah ditempuh oleh kedua wanita itu. Dinar tak pernah menghitung berapa jauhnya. Namun hari dan malam yang dilewatinya bicara sendiri. Kini mereka telah hampir memasuki Ngantang. Sebuah desa terkenal. Karena di desa inilah Sri Jayabhaya memperoleh kemenangan besar atas Jenggala. Dan di sini pula Jayabhaya menulis Prasasti "Penjalu Jayan-thi" dan mengucap terima kasih atas bantuan semua kawula Ngantang yang setia.

Gemercik suara air Kali Kanta telah terdengar jelas.

Bebatuan di sepanjang hamparan dasar kali membuat aliran Kali Kanta makin deras dan terkesan ganas. Gerumbul rumpun bambu menaungi kali yang mengalir berkelok-kelok dari timur ke barat, terus berbelok ke utara melewati rimba, persawahan, dan desa-desa untuk kemudian bermuara di Sungai Brantas. Dinar tak tahu di mana mata air Kali Kanta, tapi ia mengerti jelas bahwa yang melewati desa Ngantang ini adalah Kali Kanta yang terkenal itu. Mentari telah condong ke ufuk barat. Itu sebabnya Dinar mengajak Nyi Rumbi mencari kali itu untuk mandi.

Hati keduanya menjadi amat gembira setelah menemukan Kali Kanta, sebelum mereka memasuki Ngantang. Warna airnya yang jernih mem-buih karena membentur bebatuan, membuat mereka lupa diri. Air yang tersedia itu, anugerah Hyang Maha Dewa akan menyegarkan tubuh yang telah seharian berjalan. Yang seharian diselimuti debu dan dibasahi keringat. Dan keduanya menuruni tebing kali'yang memang tidak terlalu

curam. Di bawah rimbunnya bambu, keduanya melepas pakaian karena merasa aman.*- Mereka tidak lagi berawas- awas pada macan yang merajai rimba. Begitu asyik keduanya bercanda. Saling bantu membersihkan daki di punggung.

Sehingga mereka tidak menyadari bahwa mentari telah bergulir memasuki perut bumi. Pelahan, tapi pasti. Yang tersisa cuma suatu tanda semburat di ufuk barat. Awan jingga!

Dinar tak pernah menyadari bahwa Ngantang yang akan mereka lewati itu adalah daerah pertahanan yang amat kuat. Di sini berjaga-jaga pasukan berkuda puluhan ribu jumlahnya. Sekalipun Jenggala telah takluk, namun Penjalu masih menempatkan laskar yang kuat untuk mengawasi kemungkinan pemberontakan musuh yang turun-temurun itu. Sekalipun sayup, Dinar dan Nyi Rumbi mendengar suara tawa, bahkan kadang juga suara gamelan ditabuh.

Memang Dinar tidak tahu bahwa saat itu Sri Maha Raja Prabhu Jayabhaya sedang beranjang-karya di Ngantang. Keduanya masih asyik saling menciprat-cipratkan air ke tubuh masing-masing. Di sela itu mereka juga memperdengarkan suara cekikikan. Melepas kelelahan dan kejenuhan selama menempuh perjalanan jauh, karena esok akan melanjutkan perjalanan, setelah nanti malam menginap di Ngantang.

Kala bola bumi bergulir mendekati malam, dan kegelapan mulai turun, baru keduanya mengangkat tubuh ke tebing.

Namun baru saja mereka melilitkan kain di pinggang, tiba-tiba sebuah tangan perkasa penuh bulu menangkap tangan dan pinggang Dinar. Cuma sebuah pekikan lirih yang menunjukkan pembelaan diri. Setelah itu semuanya sia-sia. Tanpa tahu bagaimana caranya, kedua orang itu telah berada di atas punggung dua kuda dalam pangkuan dua lelaki perkasa.

Secepat kilat pula kuda bergerak bersama lima orang pengiring lainnya. Dinar dan Nyi Rumbi tak mampu melihat wajah para penculik mereka. Teriakan Dinar minta tolong juga sia-sia. Dan setelah menguak gerumbul ilalang, sampailah mereka pada suatu perkampungan yang penuh dengan orang bersenjata. Bahkan di antara rumah-rumah yang berpenghuni cuma lelaki bersenjata itu, ada kandang kuda yang amat besar. Dinar tak tahu berapa jumlah kandang yang ada di dalam-, nya. Di sebuah rumah besar berdinding batu dengan pendapa yang besar pula mereka berbelok. Halamannya terbuat dari hamparan hijau seperti alun-alun yang juga luas. Ada gerbang yang dijaga oleh orang-orang bersenjata. Pada umumnya rambut mereka disanggul di atas kepala. Tata rambut dan sumping kulit kerbau, serta gelang di lengan, memberikan petunjuk bagi Dinar bahwa penculiknya adalah laskar Penjalu.

Kuda yang mengangkutnya berhenti persis di depan pendapa. Salah seorang dari mereka turun dan melapor pada caraka (urusan) yang bertugas di pendapa. Caraka itu masuk dan beberapa bentar kemudian seorang tinggi besar keluar dari rumah itu. Langkahnya mantap. Dan semantap itu suaranya kala bertanya pada anak buahnya yang sedang berlutut menyembahnya.

"Ada apa, Cemengan?" Alisnya yang tebal membuat matanya makin tajam. Suaranya seolah mengguruh.

"Hamba mempersembahkan seorang gadis yang amat cantik—"

"Apa tujuanmu? Kau mencari kenaikan pangkat dengan menyuap aku?" Mata orang itu tidak berkedip. Sekalipun tanpa dihias kumis, namun wajahnya membuat anak buahnya menjadi gugupi Apalagi disertai pertanyaan itu.

"Am... pun, Yang Mulia " Orang itu gugup.

"Penculikan itu sendiri adalah tindakan tercela. Turunkan gadis itu!"

Dan terjadilah kehendaknya. Dinar dihadapkan pada pemimpin laskar berkuda itu. Dalam ketakutan Dinar mendongak, memperhatikan lelaki setengah baya yang berdiri di hadapannya. Tapi orang itu sama sekali tak menoleh.

Dengan sudut mata pun tidak! Mata orang itu masih mengawasi anak buahnya dengan tajam. Dinar berdebar; Mulut orang itu terkatup rapat. Rahangnya yang tampak menonjol melintang kaku.

"Kau mengerti bahwa perbuatanmu ini bisa dihukum?" "Hamba, Yang Mulia," Prajurit yang gempal itu gemetar.

Nyi Rumbi dan Dinar pun tak kalah gemetarnya. "Aku bukan orangnya yang dapat kauperlakukan begini.

Mengerti?"

"Hamba, Yang Mulia."

Dengan sedikit gerakan orang itu menoleh pada Dinar. Hatinya sedikit heran karena Dinar tidak menyembahnya. Dengan suara berat ia bertanya.

"Siapa namamu?"

"Dinar," jawaban yang tanpa penghormatan. Sekalipun saat ini ia juga telanjang dada, tidak secuil pun tanda-tanda yang menunjukkan bahwa" ia brahmani.

"Dinar? Dan itu pembantumu?" "Hamba..."

Orang itu memutar tubuhnya menghadap si caraka.

Suaranya masih berat, sekalipun bening dan menggambarkan ketenangan yang luar biasa. "Panggil tamuku!"

Caraka itu menyembah lalu memunggunginya. "Mengherankan, seorang brahmani berjalan tanpa kawalan

para cantrik. Hendak ke mana?" Masih tanpa senyum.

Dinar berdesir. Pertanyaan sederhana yang penuh selidik. "Ke lereng Gunung Kawi..."

"Jauh benar." Orang itu memotong. Kemudian diam sesaat.

Lalu menoleh pada anak buahnya yang tadi menculik Dinar. Sementara itu Dinar melirik ke sana-kemari untuk mengamati keadaan. Ternyata pendapa itu dihiasi janur-jemanur.

Bahkan disediakan tempat duduk istimewa. Ada umbul- umbul beraneka macam di gapura. Juga sepanjang dinding pagar halaman yang amat luas itu. Tapi Dinar tak mengerti apa makna semua itu. Tentu bukan penyambutan bagi dirinya. Dinar tak sempat merenung terlalu jauh, karena beberapa jenak kemudian, ia dikejutkan oleh munculnya seseorang dari balik pintu. Dan ia menyebut dalam hati.

"Ini wanita yang kaumaksud?" Kuda Amiraga dengan suara mengguruh bertanya pada orang yang baru muncul itu.

Berpakaian brahmana. Masih muda.

"Paman!" brahmana muda itu bergirang. "Benar." Dan kemudian langsung pada Dinar. "Tak kukira kau menyusul aku kemari. Tapi kenapa kau tak mengenakan pakaian brahmani?"

Merah muka Dinar mendengarnya. Mata tajam Kuda Amiraga terus memperhatikan kedua orang itu. Candala Raka berjalan mendekati Dinar. Nyi Rumbi memandang Dinar heran.

"Ternyata kau tak kuasa menipu diri sendiri, bukan? Kau mencintaiku?" Candala Raka tersenyum penuh kemenangan.

"Hyang Dewa Ratu!" Dinar menyebut dalam marahnya. "Bandit! Jadi kaulah otak penculikan diriku? Kau yang membayar dia untuk menculik aku?"

"Sabar! Kau sendiri yang datang ke sini. Bahkan rela melepas kebrahmanianmu. Artinya kau tidak terikat lagi dengan kekasihmu, bukan?"

Seperti ditampar oleh seribu petir Dinar mendengar itu.

Maka ia menoleh pada Kuda Amiraga.

"Yang Mulia!" teriaknya berani. "Inikah kerja laskar Penjalu yang kabarnya pelindung kawula itu? Kau pintar bersandiwara. Ternyata kalian telah bersekongkol dalam menculik aku. Tapi kau berpura-pura memarahi mereka. Ternyata kau sama banditnya dengan Candala Raka!"

Kulit muka sawo matang Kuda Amiraga makin kelam mendengar itu. Telinganya seolah dapat bergerak-gerak seperti telinga macan yang mendengar langkah mangsanya. Hatinya terbakar bukan kepalang. Tak pernah ia mendapat perlakuan semacam itu. Dari wanita mana pun. Apalagi, ia adalah seorang perwira tinggi yang amat disegani di Penjalu. Ia selalu menang dalam setiap pertempuran. Maka dengan suaranya yang seperti guruh itu dia tatap wajah Candala Raka.

"Kau yang meminta aku melamarnya. Kaukatakan bahwa kalian sudah saling mencintai. Tapi sekarang kau mempermalukan aku. Brahmana macam apa kau?"

"Paman..."

"Rupanya kau akan menggunakan kewibawa-anku untuk memaksakan kehendakmu pada orang lain. Kau sudah bersalah terhadap seorang perwira tinggi. Ini penghinaan! Kau harus dihukum!" «geram Kuda Amiraga.

"Paman..."

"Juga kau!" kemudian ia menunjuk Dinar. "Yang bersalah bukan aku. Seharusnya kubiarkan kau diperkosa ramai-ramai oleh Cemengan dan kawan-kawannya di hutan." Berhenti sebentar sambil menelan ludahnya. Matanya tetap tajam.

Bahkan kini memancarkan bara yang menganga di dadanya.

Dinar terkesiap mendengar kata-katanya. Brahmana tak berharga di mata Kuda Amiraga.

"Rasa keadilan dalam hatiku membuat aku turun tangan menyelamatkanmu. Tapi rasa keadilanku yang terusik itu pula membuat aku akan menghadapkanmu pada penguasa hukum atas Penjalu, Yang Maha Mulia Sri Jayabhaya yang sebentar lagi akan tiba di sini."

"Hyang Dewa Ratu!" Dinar memandang Rumbi.

"Kau sudah menghinaku. Sekarang kau boleh pilih. Aku menyerahkanmu ke tangan penculik-mu atau..."

"Paman, ampuni, hamba. Berikan ia sebagai istriku." Candala Raka berjuang.

"Tutup mulutmu! Caraka! Panggil para inang juru masak kita!" Candala tidak berkutik. Karena Kuda Amiraga tak mempedulikan omongannya. Beberapa jenak tak seorang pun bergeming. Kecuali orang-orang yang sibuk memasang pelita, untuk mengusir kegelapan. Dalam hati Dinar bertanya, Sri Jayabhaya? Akan tiba di sini? Mengherankan seorang raja tiba tanpa penyambutan yang luar biasa.

Memang tak ada penyambutan luar biasa. Karena Jayabhaya akan datang dengan diam-diam. Secara resmi Jayabhaya bermalam di rumah kepala desa Ngafltang, tapi sebenarnya Jayabhaya tidak pernah merasa aman tinggal di luar tembok istananya sendiri. Maka setiap kali beranjangkarya ia selalu berpindah-pindah tempat tidur, untuk mengelabui musuh-musuhnya. Bukan tak mungkin Raja Jenggala, Hemabhupati, mengirim telik (serdadu rahasia/agen rahasia) untuk membunuhnya.

Ruangan telah menjadi terang kembali oleh pelita yang begitu banyak. Dan beberapa bentar kemudian dua orang wanita juru masak yang dimaksud oleh Kuda Amiraga memasuki pendapa. Ternyata mereka bukan juru masak biasa, karena di pinggang mereka juga bergantung pedang yang tidak terlalu panjang, yang tidak sebesar milik prajurit pria.

Orang-orang itu juga telanjang dada seperti laiknya prajurit pria.

"Beri dia ruangan tersendiri. Beri juga pakaian! Karena dia akan aku hadapkan pada Yang Maha Mulia." Suara Kuda Amiraga membalas penghormatan mereka.

"Hamba, Yang Mulia." Dua orang itu menyembah lagi, kemudian mendekati Dinar. Keduanya mengerti benar apa makna kata-kata Kuda Amiraga. Wanita ini menjadi tawanan terhormat. Jangan coba-coba meninggalkan tempat ini kalau ingin selamat. Demikian peraturan yang tidak tertulis dan tak terucapkan. Tapi mendadak saja Candala Raka kembali berkicau,

"Paman. Begitu tega Paman memperlakukan hamba seperti ini. Kembalikan istriku..." "Baik. Aku tanya padamu, _Dinar! Benarkah kau istrinya?" "Penipu!" desis Dinar jengkel, sekalipun ia putus asa.

"Kau telah mengarang cerita bohong padaku. Dan hampir- hampir saja aku dipermalukan di Adiluwih. Tapi kau tidak meluputkannya di sini. Di hadapan anak buahku. Sekarang masih memaksa aku. Membantah keputusanku. Tidak tahukah kamu bahwa aku penguasa di sini? Semua orang harus patuh padaku. Kau justru menghancurkan kewibawaanku. Karena itu selayaknya kepalamu yang keras ini dipisahkan dari tubuhmu!"

"Paman..." Candala menjatuhkan diri dalam ketakutan yang amat sangat. "Aku anakmu sendiri..."

"Kewibawaan hanya bisa ditegakkan oleh kebenaran.

Barangsiapa tak berpegang teguh pada kebenaran, tak pantas menjadi seorang pemimpin. Dan kau Ah, jika brahmana seperti ini dibiarkan hidup, maka^pekerjaanmu kelak tak lebih dari mengotori negeri yang aku cintai dengan segala kekuatanku..."

"Paman!" Candala menangis tersedu-sedu. Menyembah.

Sementara itu Dinar menyebut dalam hati. Apa jadinya jika ia membantah. Anak kakaknya sendiri dibunuh. Maka ia dan Nyi Rumbi tak membantah ketika dibimbing masuk. Sayup ia sempat mendengar perintah Kuda Amiraga pada prajuritnya untuk melaksanakan pembunuhan itu. Candala Raka berteriak- teriak, memohon ampun. Tapi suaranya makin lama makin punah dari pendengaran Dinar.

Masuk ke rumah besar. Melewati lorong-lorong yang diterangi sinar pelita yang terpasang sepanjang kiri-kanan lorong itu. Ada bilik yang selalu tertutup dan dijaga. Tentu itu gedong pusaka (bilik penyimpanan senjata). Setelah itu ia melihat di sebelahnya ada ruangan yang lebih besar. Saat ini bilik itu juga dijaga. Mungkin ini bakal tempat tidur Jayabhaya nanti. Di sebelahnya juga satu ruangan besar. Ternyata ia dihentikan di depan ruangan ini. "Sudah mandi?" tanya salah seorang wanita tadi. "Sudah."

Keduanya membuka pintu dan mempersilakan Dinar masuk. Apa yang dilihat Dinar cukup membuatnya tercengang. Ada sebuah tempat tidur yang besar dengan alas permadani Mesir. Hijau warnanya. Ada sebuah kotak besar seperti almari. Ternyata seorang dari kedua wanita itu menuju ke sana dan mengambil kain wanita dari dalamnya. Tanpa banyak bicara ia langsung melepas pakaian Dinar.

"Aku bisa melakukannya sendiri," bantah Dinar, sementara Nyi Rumbi tak habis pikir. Tapi dua wanita itu tak menggubris sama sekali. Tanpa daya Dinar harus telanjang bulat. Kedua wanita itu berdecak melihat setiap lekuk tubuh gadis di hadapannya itu. Sungguh luar biasa, puji mereka tanpa berjanji. Dan keduanya geleng kepala sambil berdecak. Dinar resah dipandang semacam itu. Apalagi dalam ketelanjangan. Hampir ia menangis. Namun ketidakterimaannya tidak membuahkan hasil. Kulit Dinar yang halus seperti kulit bayi membuat mereka benar-benar iri. Apalagi kulit itu jarang menerima sengatan mentari karena selalu mengenakan jubah kebrahmani-an. Dan kala kain dililitkan, Dinar masih menunjukkan, ketidakterimaannya,

"Aku seorang brahmani. Aku tak mau berbusana seperti ini."

"Ini perintah! Jika membantah... Tahu nasib Candala Raka?

Atau kau ingin seperti dia? Yang lebih buruk dari itu juga..." "Apa? Apa yang lebih buruk dari kematian?"

Kedua wanita yang juga masih muda itu terkikik-kikik. Dinar dan Nyi Rumbi pun saling pandang.

"Rupanya kau belum pernah mendengar ada yang lebih berat dari hukuman mati bagi tiap wanita? Ada seorang teman kami menolak melayani Sri Jayabhaya waktu beliau beranjangkarya semacam sekarang ini, karena dia sedang hamil muda. Ia mengalami nasib yang amat buruk. Ia dilempar ke tengah-tengah budak yang dipekerjakan di tambang emas. Di sana ia harus melayani para budak itu bergantian..."

"Dewa Bathara!" Dinar menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Nyi Rumbi pun tak kalah takutnya.

"Bayangkan! Ratusan budak! Kita cuma seorang. Dan mereka itu tentu sangat haus, karena bertahun-tahun tidak bersua dengan wanita. Jika kita sudah lemas, akan diangkat untuk diberi makan dan istirahat. Setelah cukup sehat dilempar lagi untuk mereka yang belum menerima giliran.

Begitu seterusnya sampai semua budak merasakan tubuh kita."

Kepala Dinar menjadi pening mendengar itu. Tubuhnya lemas. Wajahnya pucat. Tidak bisa ia membayangkan menerima kehinaan yang sedemikian itu. Nyi Rumbi masih bersimpuh. Ia makin terpesona memandang Dinar dalam busana seorang wanita kasta satria. Sekalipun sedikit pucat, namun gambaran lekuk tubuh Dinar lebih nampak jelas. Tak seperti jika sebagai seorang brahmani, yang menutup lekuk- lekuk tubuhnya dengan jubah. Kain melilir^itat, tentu tak menyembunyikan bentuk pinggul Dinar. Juga bahagian depannya yang sedikit terbelah sampai sebatas lutut, memberikan pesona tersendiri saat wanita muda itu berjalan. Sementara itu malam kian merangkak jauh. Dan sebentar- sebentar lolong anjing hutan menguak kesunyian. Pikiran Dinar kini berlarian kian-kemari tanpa arah. Jauh di sudut hatinya ada tanya: masihkah ada harapan bersua Sedah?

Masa lalunya kembali melintas. Sepercik penyesalan muncul di balik dinding hatinya. Andaikata ia tidak meninggalkan Adiluwih, barangkali saja tidak akan pernah terjadi hal yang seperti ini. Dalam diam, pelahan-lahan air matanya tersembul di sela kedua belah kelopak matanya. Lalu bergulir malas. Butir demi butir. Turun membasahi pipi yang montok itu.

"Hyang Dewa Ratu! Kenapa Yang Suci menangis?" "Keberadaanku tak mampu melawan kodrat. ? Bibi, ampuni

aku telah menyeretmu pada aniaya ini."

"Oh, Yang Suci... jangan pikirkan hamba. Hamba akan setia mati ataupun hidup."

"Bibi..." Dinar menjatuhkan diri ke pelukan Nyi Rumbi.

Beberapa bentar terbenam dalam isak, dalam ketidak- berdayaan.

Di luar masih sering terdengar suara anjing menggonggong. Kunang-kunang bergerak seolah bintang- bintang yang sedang mendarat. Jangkrik dan binatang malam lainnya memperdengarkan suaranya sendiri. Seolah tak peduli pada isak Dinar, yang tidak menyadari bahwa sebenarnya rombongan Sv'i Jayabhaya telah tiba, karena memang ia tak mendengar apa yang sedang terjadi di seputarnya.

Pengamatannya sedang berlarian tak menentu. Berulang wajah dan nama Sedah muncul di awan-awan hatinya, tapi berkali-kali pula pergi seperti rajawali terbang. Sampai kedua orang itu disentakkan oleh suara pintu dibuka.

"Hapus air matamu itu!" salah seorang dari dua wanita yang tadi mengawalnya itu benkata. "Atau susumu yang montok itu akan kauserahkan pada ratusan budak-budak?"

Punah seketika kekuatan Dinar. Kelincahannya musnah sama sekali. Apalagi ketika mulut wanita muda itu memerintahkan agar ia berdiri. Seluruh persendiannya gemetar. Pelahan ia melangkah sesuai kemauan dua wanita itu. Sementara Nyi Rumbi mengikuti di belakang ketiganya. Tentu bukan karena ketatnya kain yang melilit bagian bawah tubuhnya, tapi karena memang kekuatannya sudah habis.

Ketakutan merajai hatinya. Dalam iringan dua prajurit wanita, ia kembali menyusuri lorong yang dilewatinya tadi. Namun tidak kembali ke pendapa. Di tengah-tengah ternyata ada belokan ke kiri.

Beberapa puluh langkah kemudian mereka memasuki ruangan besar. Lantainya digelari permadani merah. Dinar tak tahu, siapa-siapa yang duduk di ruangan itu, berapa orang yang sedang berkumpul di ruangan itu. Tidak! Ia tidak tahu. Karena ia memang menunduk dalam-dalam. Tapi kebiasaannya sebagai brahmani, membuatnya tidak bersimpuh dan menyembah. Namun Nyi Rumbi yang ngelesot di sampingnya mengamati semua dan segala. Ada sekurangnya enam belas pilar kayu yang kokoh menyangga atap ruangan itu. Dinding kayu berukir-ukir mengelilingi mereka. Namun ia tidak tahu jenis kayu apa yang dibuat sebagai dinding itu. Di tiap-tiap pilar tertancap pelita yang terbuat # dari perunggu. Letaknya miring hingga membuat sudut pada pilar itu. Masih ada lagi di kiri-kanan tempat duduk yang kini diduduki oleh Jayabhaya.

Hingga Nyi Rumbi dapat melihat jelas wajah Jayabhaya. Tinggi besar, bahkan agak sedikit gemuk jika dibanding Kuda Amiraga. Cambang di depan dan telinganya memanjang sampai ke pangkal rahangnya. Sudah lebih separoh warnanya bercampur putih. Tidak berkumis. Seperti halnya Kuda Amiraga, ia tidak memelihara kumis. Hidungnya mancung.

Tidak seperti Amiraga yang sedikit melebar kendati tidak pesek. Gelang emas menghiasi pergelangan tangan dan pangkal lengannya. Empat buah. Sebagai keturunan Erlang- ga, maka ia mengenakan simbol garuda mukha pada pending emasnya. Membuktikan betapa kayanya Jayabhaya.

Betapa tidak? Setelah mengalahkan Jambi yang diabadikan oleh Mpu Panuluh dalam kakawin Gatotkaca Craya, dia memiliki banyak tambang emas di Swarnadwipa. Maka tak heran ke mana pun pergi ia selalu membawa tongkat sepanjang lengan yang terbuat dari emas murni. Pangkal tengkorak bertaring sebesar kepalan tangan wanita pada tongkatnya itu juga terbuat dari emas murni. "Inikah dia?" suara Jayabhaya memecah keheningan.

Memang tidak semantap suara Kuda Amiraga, bahkan sedikit sengau, tapi itu cukup membuat tubuh Dinar menggigil seperti orang kedinginan.

"Hamba, Yang Maha Mulia." Amiraga menyerahkan. "Bapa Yang Tersuci, benarkah ini seorang brahmani? Dari

Widya Trisnapala?"

Mpu Panuluh yang menyertai perjalanan Raja itu menggosok-gosok matanya. Dengan saksama ia memandang. Ya! Ia teringat.

"Hamba, Yang Maha Mulia." Suaranya sedikit ragu.

Tapi Dinar tidak lupa, bahwa itu adalah suara Mpu Panuluh.

Sepercik harapan memuncrat di sudut hatinya: mudah- mudahan Mpu Panuluh menolongnya.

"Apakah brahmana diajar menghina seorang perwira tinggi seperti yang telah dilakukannya?"

Dinar menyebut dalam hati. Satu tuduhan tanpa menanyainya lebih dahulu. Ia tidak segera mendengar jawaban Mpu Panuluh. Orang tua itu mengernyitkan dahinya sambil mengelus-elus jenggot putih sepanjang leher. Suasana menjadi hening kembali. Dinar memperoleh kesan, Mpu Panuluh pun dalam kesulitan di bawah lindasan mata Jayabhaya. Tapi Dinar tetap menunduk.

"Widya Trisnapala adalah perguruan tinggi terbaik di seluruh wilayah Penjalu. Hamba tahu, tidak mungkin diajarkan cara-cara menghina. Memang brahmana bukan diajar agar menghina, tapi mengajar yang tidak tahu."

"Jika demikian ia patut menerima hukuman?" Jayabhaya mendesak lagi.

Kembali Mpu Panuluh bergelut dalam kebim-bangan. Ia berkali menghela napas panjang. Tapi Jayabhaya menanti dengan sabar. Matanya yang agak sipit karena bulu matanya tidak lebat itu berkali mengamati Dinar. Mulai dari ujung kaki sampai rambutnya. Dan hatinya bergetar. Luar biasa. Wajah bulat telor. Dihiasi mata bundar dengan alis teduh berbentuk kembang turi. Bibirnya tipis mungil.

"Segala purba wasesa tentang hukum ada di tangan raja, bukan di tangan pandita." Panuluh menjawab dengan bijak. Bijak untuk menyelamatkan diri sendiri. "Ampunkan hamba..."

Dinar kecewa luar biasa. Tapi apa dayanya? Doa terus terucapkan dalam hati. Segala mantra ia baca, namun apa yang didengarnya membuatnya jatuh pingsan.

"Bawa dia ke istana, Rakai Hino Dyah Pawasi! Dia akan menjadi Permaisuri Penjalu. Perintahkan seluruh dayang kepala dan kepala biti perwara istana mempersiapkannya. Kau sendiri, persiapkanlah upacara peresmiannya. Semua akan kita lakukan segera setelah aku tiba dari anjang-karya."

"Bagaimana dengan Putra Mahkota?"

"Beri tahu padanya: Ini keputusan Raja. Tanpa mengganggu kedudukannya sebagai Rakai Holu, karena dialah memang pewaris Kerajaan Penjalu yang sah. Tapi jabatan Permaisuri yang kosong selama beberapa tahun karena berpulangnya adinda sorga (istilah untuk pembesar yang mati karena sakit, bukan karena perang) haruslah diisi."

”Hamba Yang Mulia." Orang itu menyembah.

Dan pada kedua pengawal wanita serta Nyi Rumbi, ia memerintahkan agar tubuh Dinar diangkat.

"Yang Tersuci, pulanglah beserta mereka. Persiapkan upacara yang akan Yang Tersuci pimpin itu. Umumkanlah pula bahwa nama pramesywari adalah Prabarini. Artinya, wanita yang bersinar-sinar. Juga siapkan pakaiannya. Jangan pakaian brahmana, karena ia telah menjadi satria yang akan diperistri oleh Maha Raja." "Hamba, Yang Maha Mulia."

Panuluh segera meninggalkan Jayabhaya. Dalam hati mengakui, siapa yang tak akan runtuh imannya berhadapan dengan wanita seperti Dinar? Ah, namanya bukan berarti uang emas lagi, sehingga diperebutkan oleh banyak orang. Tapi diganti Prabarini: wanita yang bersinar-sinar. Istri seorang Madhusudanawata, yang berarti raja ketitisan Wisnu. Ketitisan Sang Wasesa Jagad Semesta dan Pramudita! Tak boleh ada yang memperebutkannya lagi jika tidak ingin lumat binasa.

Siapa yang tak akan tunduk pada Jayabhaya Sang Madhusudanawata itu? Kaum brah-manapun harus tunduk! Raja-raja asing pun harus mendengarnya.

Panuluh sendiri merasa, bahwa ia tidak berdaya di hadapan Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmesywara Madhusudanawata Anindita Suhtrsinghadani Parakarama Uttungga Dewa. Tak ada yang boleh membantah, kendati usianya sudah di atas lima puluh, tapi mengambil paramesywari gadis berumur enam belas tahun. Juga tak boleh dibantah, walau menyalahi peraturan karena gadis itu dari kasta brahmana yang seharusnya dihormatinya. Karena Jayabhaya juga bergelar Anindita alias Yang Tak Bercela!

Maka dengan kepala tertunduk ia melaksanakan semua yang dimaukan Sri Jayabhaya!

0ooo0dw0ooo0

Ibukota Kerajaan Penjalu menjadi semarak dengan tiba- tiba. Jalan-jalan raya maupun perkampungan dihiasi umbul- umbul. Ribuan, dengan aneka warna-warni. Tiap pendapa di rumah-rumah bekel, kepala kampung, atau pamong praja lainnya, juga dihias dengan umbul-umbul dan janur-jemanur. Tidak, kalah meriah dibanding Hari Raya Wai^aka atau Hari Raya Kuningan. Tidak! Jalan-jalan dibersihkan. Tidak satu rumpun rerumputan pun diperkenankan tumbuh. Semarak memang, kebetulan juga karena ketika itu awal musim semi di Daha.

Pedati-pedati, dan kereta-kereta penumpang juga dihiasi dengan umbul-umbul, tapi tentu ukurannya jauh lebih kecil dibanding dengan yang tertancap di pinggir-pinggir jalan.

Yang di pinggir jalan panjangnya barangkali hampir dua depa, tapi yang di pedati-pedati itu cuma satu depa. Lebarnya juga cuma sejengkal, dibanding yang di pinggir-pinggir jalan yang dua kalinya.

Lumut-lumut yang menempel di dinding percandian atau perbentengan kota juga dibersihkan. Sampai-sampai dinding batu yang mengelilingi kota Daha itu tampak seolah baru.

Ukir-ukiran yang terpampang tinggi di alun-alun untuk memuji kebesaran Sri Jayabhaya diberi warna baru setelah dibersihkan dari debu yang menyelimutinya. Apalagi ukir-ukiran yang menempel di dinding perbentengan keraton. Semua seolah baru.

Dermaga yang menjadi tempat berlabuh perahu, dan jung Penjalu di tepi Sungai Brantas juga dibersihkan dan dihias.

Bukan cuma dermaganya yang dihias, tapi semua perahu milik warga negara Penjalu yang berpangkalan di dermaga Daha harus dihias. Beraneka sutra untuk umbul-umbul. Dan jika perlu, diperbaharui warnanya, seperti milik kerajaan. Semua diperbaharui. Apalagi kapal-kapal perang milik laskar laut Penjalu. Pendek kata semua dan segala diharuskan menyambut hari pernikahan Sri Jayabhaya.

Tidak tanggung-tanggung. Sri Jayabhaya bahkan memerintahkan orang membangun taman tersendiri untuk Prabarini. Taman itu dikerjakan oleh lebih dari tiga ratus orang, dengan maksud agar cepat selesai. Tapi mereka bukan Sukrasana, yang dapat meraup Taman Sriwedari milik Bathara Wisnu di Sorgaloka untuk kemudian dipindahkan ke kerajaan Prabu Arjuna Sasrabahu di bumi. Bukan! Mereka tidak hidup dalam alam wayang purwa. Tapi Jayabhaya menghendaki, keindahan taman itu menyamai keindahan Taman Sriwedari milik Mahadewa Wisnu, karena ia bergelar Ma- dhusudanawata.

Direncanakan dalam taman itu akan ada sebuah pemandian bagi Prabarini, sehingga wanita itu dapat berenang atau mandi di pancuran dengan sesuka hati tanpa harus mencari ke luar taman. Taman tersebut akan dikelilingi delapan menara di delapan penjuru mata angin. Dan di tengah-tengah juga ada satu menara, yaitu yang paling tinggi di antara semua menara. Jadi jumlah menaranya akan ada sembilan. Delapan menara itu berukuran setidak-tidaknya tiga depa menjulang ke atas.

Dasar menara empat depa lebih kelilingnya. Menara induknya lebih tinggi. Dasar menara induk dikelilingi batu berhias dan berpeli-pit emas, lengkap dengan ukiran kepala garuda yang dari mulutnya memuncratkan air sebagai pancuran yang mengisi kolam renang. Kolam itu sendiri panjangnya hampir enam depa, dan lebarnya tak kurang dari empat depa lebih. Juga di sudut kolam ada jalawara (pancuran air, yang memuncrat dari tangan patung Wisnu) yang terselubung oleh patung Bathara Wisnu yang tangannya memberikan air kehidupan pada tiap insan. Saluran air pembuangan ditempatkan pada empat sisi kolam itu. Selain itu tepat di samping kolam renang itu akan dibangun pesanggrahan istimewa bagi Sri Prabu dan paramesywari.

Namun semarak kota Daha itu tidak dialami oleh Prabarini. Dalam biliknya ia menangis tak putus-putus. Dayang dan selir mendapat perintah menjaga dan menemaninya. Sebahagian para selir itu ada yang menjadi iba, tapi sebahagian lagi tenggelam dalam lautan iri hati. Melihat wajah Prabarini yang sedemikian, tentulah Raja nanti tidak akan berpaling lagi pada mereka. Maka tak heran jika kadang mereka berbisik satu dengan lainnya. "Itu bukan menangis sedih. Pura-pura saja! Mana ada orang diperistri Raja malah sedih. Jadi Peramesywari lagi. Huh! Gadis desa!" salah seorang menyatakan kekesalannya.

"Di desa paling-paling ia jadi istri seorang bekel. Atau akan jadi piala bergilir dari satu lelaki direbut oleh..." Mereka terkikik-kikik.

"Hus... kalian iri, ya?" Yang lain bertanya.

"Paling-paling nama aslinya bukan Prabarini. Berani taruhan. Dan paling-paling anak seorang penjual sayur. Bukan seperti kita, anak-anak mantri bupati atau pamong praja."

"Belum tentu. Aku dengar ia seorang brahmani. Itu sebabnya ia menolak menjadi istri raja. Lihat! Masa ada seorang sudra punya inang pengasuh?" «,

Prabarini sama sekali tidak tahu bahwa di luar biliknya terjadi pergunjingan seru. Untung masih ada Nyi Rumbi. Dialah satu-satunya yang menghibur dan dapat mencegahnya dari niat membenturkan kepalanya pada dinding bata.

"Kita tanpa daya, Yang Suci. Mati berarti kita putus asa." "Aku takut pada dewata, karena sumpahku pada Sedah."

"Jika Yang Suci diizinkan oleh Hyang Maha Dewa menjadi jodoh Yang Suci Sedah, maka tak akan terjadi hal seperti ini. Berpikirlah sebagai seorang brahmani. Walau mungkin saja gelar brahmani itu sebentar lagi akan lepas. Tapi kebrahmanian harus tetap tinggal pada diri Yang Suci."

"Hyang Dewa Ratu!" Prabarini terkejut. Seorang sudra mampu bertimbang seperti itu. Atau karena dia sudra sehingga tak kehilangan apa pun jika harus kawin dengan seorang satria. Tapi aku? Ya! Siapa kau Prabarini? Dinar? Siapa? Pertanyaan pantul-memantul dalam hatinya. Benarkah kau berdarah brahmana? Bukankah kau anak Palagan-tara yang tak tentu rimbanya? Apakah kau pikir nama Palagantara itu nama brahmana? Bukan. Itu nama berarti: seorang yang selalu berada dalam pertempuran. Hem, kau...

Prabarini terhenyak. Ia hapus air matanya. Ya, aku anak pungut Mpu Dewaprana.

"Tidakkah l^ita harus menerima kenyataan ini sebagaimana adanya? Seperti Yang Suci sendiri telah ajarkan pada hamba dan perawan-perawan di Adiluwih dulu?"

"Iya... iya " Prabarini mengangguk-angguk, dalam keputusasaan. "Oh, Kanda... Sedah...," tangisnya lagi.

"Sayangilah air mata itu. Pantang brahmani menangis seperti ini."

Kembali Prabarini tersentak. Nyi Rumbi membelai rambutnya, seperti membelai anaknya sendiri. Dan kala pintu diketuk oleh seseorang, Prabarini memeluk Nyi Rumbi.

Tubuhnya gemetar.

"Jangan takut! Tentu Yang Suci akan mampu mengatasi rasa takut dengan cara Yang Suci sendiri. Jika sudah teratasi maka dalam hati akan muncul kedamaian."

"Baik... Baik... Buka pintu!" Prabarini menghapus air matanya. Cepat-cepat. Ia ingin menunjukkan bahwa ia benar- benar seorang brahmani.

"Selamat pagi, Yang Mulia..." Mpu Panuluh yang berdiri di ambang pintu. Prabarini amat kaget. Ia tidak bercakap dalam Jawa, tapi Sansekerta, hingga dua pengawal dan dua selir yang bertugas menemaninya tidak mengerti. Prabarini juga membalas dengan Sansekerta yang amat bagus.

"Apakah bisa tidur enak?" Panuluh yang memang menerima tugas khusus dari Sri Prabu itu tersenyum.

"Tentu ini pertanyaan basa-basi seorang negarawan, bukan cuma sekadar brahmana," potong Prabarini agak sengit sambil mengerutkan dahi. Mpu Panuluh terbahak. Semua orang memandangnya heran. Para selir tertarik untuk mendengar percakapan mereka. Tapi tak mengerti.

"Luar biasa brahmani dari Widya Trisnapala. Bukan cuma berani, tapi amat cerdas," katanya sambil menunduk dan mengelus jenggotnya.

"Yang Tersuci memuji terlalu tinggi. Tak ada seorang cerdas membiarkan diri terjebak dalam ketidakberdayaan. Juga tidak ada seorang pemberani membiarkan diri dipermalukan."

"Jagad Dewa Bathara, ya, Jagad Prarnudita!" Panuluh menyebut sambil memandang wajah Prabarini tajam-tajam. "Tak ada seorang pun berani mempermalukan Yang Mulia di sini."

"Hyang Dewa Ratu!" Prabarini bergerak maju dua langkah. "Dari panggilan Yang Suci menjadi Yang Mulia, apakah ini bukan kehinaan? Yang Suci milik brahmana. Milik Dewa-Dewa! Tapi kemuliaan milik satria. Untuk mencapai kesucian orang harus meninggalkan kemuliaan. Karena kemuliaan bisa diraih dengan menindas dan menipu, bahkan menakut-nakuti orang banyak. Membunuh atau segala cara agar bisa jadi pemenang dan dimuliakan oleh semua orang. Tapi kesucian tidak!

Kesucian dicapai dengan tapa brata yang tekun dan ulet. Juga membutuhkan pengetahuan tinggi untuk memecahkan rahasia alam." Prabarini menempatkan diri di beranda. Kini semua selir dapat melihatnya. Memang harus mereka akui, Prabarini mempunyai banyak kelebihan dibanding diri mereka. Apalagi mereka dengar nyata-nyata wanita muda itu bercakap dalam Sansekerta.

"Yang Mulia benar. Tapi pada kenyataannya, seorang raja tidak pernah dapat dibatasi. Dengan kekuasaan, kekayaan, dan dengan semua hukum serta peraturan, raja telah menjadikan diri sebagai dewa. Dan harus diperdewakan. Barangsiapa menentangnya, tidak mendapat hak hidup di negeri ini."

"Hyang Dewa Ratu!" Prabarini langsung teringat pada cerita dua pengawal wanita tentang buasnya budak-budak di tambang emas.

"Yang Maha Mulia Jayabhaya berhak mengawini Yang Mulia."

"Menurut Yama dan Gama tidak!" Prabarini masih mencoba.

"Dia adalah Madhusudana..."

"Karena dia berkuasa maka ia berhak mengatakan bahwa ia ketitisan Hyang Maha Wisnu, dan karena itu ia bisa berbuat semau-mau."

"Tak ada pilihan lain bagi kita. Berhamba-hamba. Karena itu bersiaplah, besok upacara pernikahan Yang Mulia. Hamba diperintahkan untuk bertanya, siapa ayah Yang Mulia, supaya bisa menyaksikan upacara pernikahan tersebut."

"Dewa Ratu!" Prabarini menahan marahnya. Tapi ia mengerti benar bahwa Mpu Panuluh pun tidak berdaya, karena ia makan gaji dari Sri Prabu. Sebenarnyalah, brahmana yang bersedia makan gaji telah menjadikan dirinya boneka tanpa makna. Dan kini ia sendiri sedang diambang kemusnahan makna diri.

"Hamba adalah anak burung yang telah pergi dari sarangnya. Dan kini terperangkap oleh jerat anak manusia. Maka tak ada artinya lagi bertanya siapa induk dan di mana. Relakah Yang Tersuci jika induk burung itu terperangkap juga?"

"Ampunkan hamba, Yang Mulia. Jika demikian hamba akan sampaikan pada Yang Maha Mulia. Memang anak burung yang lepas sarang telah siap menghadapi kemungkinan yang memenuhi kehidupan ini. Baiklah! Tapi jangan terlalu risau, karena sangkar yang disediakan bagi Yang Mulia adalah sangkar emas. Terima kasih."

"Terima kasih kembali! Tapi jangan lupa, sekalipun emas tetaplah sangkar namanya."

Prabarini membalikkan tubuh. Lunglai. Tapi ia ingat akan perkataannya sendiri. Ia burung yang dibiarkan pergi oleh induknya dari sarang. Induknya tak pernah merasa kehilangan. Tidak. Tentu yang kehilangan sekarang adalah Sedah. Sedah! Sedah akan merana! Atau sebaliknya Sedah menjadi jijik jika mengetahui bahwa kenyataannya ia bukan seorang brahmani. Maka jadilah ia seperti laiknya perempuan sudra.

Ia tak bisa membayangkan. Jika menjadi seorang paramesywari, bagaimana akan berhadapan dengan putra mahkota yang usianya lebih tua darinya sendiri? Dan ia harus memanggil: anakku! Ia juga tak tajiu bagaimana nanti jika harus berhadapan dengan para menantu suaminya? Sampai saat ini ia belum pernah melihat wajah Jayabhaya.

Tampankah dia? Atau sudah penuh kerut-kemerut sehingga pipinya berlipat-lipat? Ia juga tak tahu, bagaimana perasaannya nanti berhadapan dengan sorot mata para selir yang akan iri dan dengki karena mendadak saja ia diangkat sebagai pendamping utama dalam hidup

Raja. Tidak! Ia tidak sanggup memikirkan semua itu. Dan ia kemudian masuk ke dalam semadi untuk mencapai suatu darana, karena di alam darana ia bisa mendapat kedamaian.

Tanpa memperhatikan sekeliling, dan dalam pengawasan Nyi Rumbi, ia mulai mengadakan pranayana (pengaturan nafas dalam yoga semadi). Sebab memang pranayana adalah awal dari sebuah semadi. Jika pranayana gagal, maka gagallah sebuah yoga semadi.

Langkah kedua maka ia memusatkan pikiran dan pandangan untuk mencapai ekagrata (mengkonsentrasikan pandangan sehingga tinggal satu titik saja yang nampak). Dalam ekagrata barulah manusia bisa menyatukan cipta dan karsa. Untuk mencapai ke sana tentu para yogis harus mampu menutup telinga rapat-rapat, sehingga tidak mendengar suara apa pun, mampu mengesampingkan perasaan apa pun, mampu meluluhkan kekuatan hawa nafsu apa pun.

Sampai-sampai kala senja hari Sri Jayabhaya berkunjung untuk melihat dan berbincang barang sepatah dua, Prabarini masih belum bangun dari semadinya. Jayabhaya kembali tanpa berkata-kata. Dalam hati ia makin kagum pada calon Paramesywari. Tentu ia seorang yang bijak, sebab seorang yang berhasil dalam yoga tentulah mampu mengendalikan dirinya sendiri. Maka tidaklah salah ia menumpahkan kasih sayangnya pada istri mudanya itu. Ia berharap bahwa dengan beristrikan seorang brahmani, negaranya akan menjadi suatu negeri yang adiluhung dan terkenal di mana-mana. Tak apalah bersabar sampai esok. Pada Nyi Rumbi ia berpesah agar besok Prabarini dirias secantik mungkin. Banyak tamu-tamu yang terdiri dari para pembesar negeri maupun pembenar manca negara.

Malam yang penuh pergumulan harus dilewati oleh Prabarini dengan bersemadi. Ia tidak perlu mendengar semua petuah dan nasihat dayang-dayang tua yang bertugas memandikannya dengan air kembang serta mengolesi tubuhnya dengan segala macam wewangian. Juga rambutnya yang lebat dan panjang sampai di bawah lutut itu tak luput dari wewangian. Menyerah adalah lebih baik dari pada harus menjadi umpan para budak. Siapa tahu umur Jayabhaya tidak terlalu panjang, sehingga ia akan terbebas jika Sri Prabu mati? Hyang Maha Dewa tentu akan menolong siapa saja yang dengan bersungguh hati memintanya.

Kini ia sedang menghadapi orang yang mem-perdewakan diri. Orang yang menguasai hukum di atas bumi Penjalu. Lebih dari semua itu, merasa menguasai semua dan segala yang hidup di bumi Penjalu. Termasuk manusia, tidak peduli kasta apa saja, semua harus tunduk pada kehendak raja. Apalagi sang Madhusudanawata. Luar biasa. Manusia yang dianggap dewa!

Semua pergumulan terlewati dengan kekalahan bagi Prabarini. Ia harus merelakan nama yang disandangnya sejak kecil, harus dilepaskannya. Nama Dinar, yang berarti emas putih, kini diganti dengan Prabarini, yang berarti wanita yang bersinar-sinar. Jauh di lubuk hati yang terdalam, ia ingin menyatakan penolakan, sebab ia tidak ingin menjadi wanita yang bersinar-sinar. Tapi, ia bercita-cita menjadi sinar kaum wanita. Itu sebabnya ia menjadi brahmani. Jadi wanita semacam Yang Tersuci Kilisuci. Namun ia bukan putra seorang penguasa seperti Kilisuci, sehingga dapat bertahan pada pendirian. Dan apa yang dirasakan oleh Prabarini ialah, bahwa mulai saat ini musnahlah sudah yang bernama jatidiri.

Ia tidak tahu bahwa saat ini ribuan orang menunggu di alun-alun. Semua ponggawa kerajaan hadir dengan mengenakan pakaian kebesaran. Tidak! Ia saat ini sedang dirias oleh beberapa dayang kepala yang sudah terpercaya untuk merias semua istri Raja. Rambutnya yang panjang disanggul tepat di atas kepala, hingga berbentuk seperti sebuah mahkota hitam, apalagi dihias dengan untaian mutiara putih yang dilingkarkan dan dilekatkan. Gelang melingkar di kedua lengannya. Demikian juga pada pergelangan tangan.

Yang lebih menyakitkan hatinya adalah binggal emas yang bergiring-giring, sehingga jika ia melangkah meninggalkan bunyi. Mungkin saja bagi wanita lain merupakan kebanggaan, mengenakan binggal emas bergiring-giring yang begitu mahal harganya. Tapi tidak bagi Prabarini. Malah merupakan aniaya. Bukan saja terasa berat, karena memang ia tak pernah memakainya, tapi lebih dari _itu, dia mengerti bahwa dulunya binggal adalah suatu tanda bahwa wanita yang mengenakannya adalah budak belian. Bukan di Penjalu memang, tapi di seberang lautan sebelah barat, di negeri yang amat jauh. Tentunya dulu bukan giring-giring, tapi rantai panjang yang menghubungkan satu kaki dengan kaki lainnya, sehingga sang budak tidak dapat pergi dengan bebas. Pada perkembangannya, para suami yang punya istri cantik memberikan binggal bergiring-giring pada istrinya, agar tak bebas pergi dengan orang lain. Jadi setiap gerak si istri akan selalu terdengar oleh suaminya. .

"Ah, ada-ada saja, Yang Mulia," sela salah seorang dayang yang mendengar cerita Prabarini tentang binggal.

"Betul. Hamba tidak membual. Kebanggaan bagi wanita lain," Prabarini berhenti sebentar karena kakinya dicubit oleh Nyi Rumbi sebagai suatu peringatan agar berhati-hati mengucapkan kata-kata, tapi ia tidak peduli, sambil melucu ia teruskan, "aniaya bagi hamba."

"Ah..." Dayang kepala mengernyitkan dahi sambil terus memasang kutang yang berbentuk rantai untuk menyangga susu Prabarini. Putiknya tertutup hiasan emas berbentuk kembang teratai. Putik susu yang masih belum bercampur warna coklat kehitam-hitaman, menandakan bahwa ia masih perawan. Apalagi masih menghadap tegak lurus. Setelah itu pending emas juga terpasang di bawah pusarnya. Begitu halus kulit Prabarini yang tidak pernah bersolek itu, tak beda dengan pualam, membuat para dayang iri. Wajar mampu merontokkan hati Sri Prabu yang sebenarnya sudah tua itu.

"Coba saja, pikir! Ada orang yang demi keenakan diri sendiri sengaja memamerkan keperempuanannya untuk merampas hati lelaki yang menjadi suami orang lain.

Perempuan itu bahagia bila bisa merampas suami orang. Tapi si istri tentu teraniaya. Jadi dalam hidup ini, selalu ada dua sisi yang bertolak-belakang. Kebahagiaan bagi yang satu, aniaya bagi lainnya."

"Walau mengalami hal yang sama?" tanya salah seorang dayang yang tertarik pada kata-kata Prabarini. "Ya. Walau menerima hal yang sama. Andai saja kau menerima anugerah seperti halnya aku, jadi seorang paramesywari, tapi kau sudah pernah berjanji pada seorang pemuda di hadapan Hyang Maha Dewa, bahkan telah mengucapkan sumpah, apakah anugerah itu bukan malah merupakan aniaya bagimu? Sementara orang lain mungkin malah mengharapkan anugerah yang sama."

Mereka berdecak kagum. Para selir yang pernah mereka rias belum satu pun yang pernah berkata seperti ini. Kalung mutiara dan emas sudah bergantungan di leher Prabarini.

Juga anting emas berseling jamrut sewarna dengan cincin yang terpasang di jari manisnya yang runcing seperti duri salak sudah bergantung di telinganya. Kemudian Prabarini dipersilakan minum sebuah ramuan jamu yang tidak diketahui apa nama -dan apa saja yang diramukan. Lalu dipersilakan' berki-nang. Akibatnya seperti biasa, bibirnya seolah diberi pewarna. Dan...

"Sungguh wanita nareswari (wanita yang mempunyai wahyu kerajaan)" bisik dayang kepala pada anak buahnya sambil bersujud tepat di depan telapak kaki Prabarini.

"Hyang Dewa Ratu... Mengapa tiba-tiba kalian berubah?" "Sungguh. Kami belum pernah melihat istri raja seperti

Yang Mulia. Ah, apakah kami sedang berhadapan dengan Sri

Lakhsmi (isteri bathara Wisnu, sang Pencipta dan Pemelihara Kehidupan)?”

"Aku seorang brahmani, bukan dewa-dewi dari Indraloka (tempat para dewa)."

Beberapa saat kemudian dayang kepala surut untuk memberi laporan pada prajangkara (protokol Istana) bahwa paramesywari sudah siap. Dan kembali lagi untuk kemudian menggiring Prabarini memasuki pendapa agung. Dayang kepala selalu memberi petunjuk, apa yang harus dikerjakan Prabarini. Dan dengan selalu ingat akan nasib wanita-wanita yang terlempar ke tengah para budak, Prabarini mengiakan semua kata-kata dayang kepala. Bahkan menangis pun tidak berani, walau hati ingin meraung-raung menyatakan kesebalannya terhadap semua dan segala.

Para selir mengiringkannya sambil berbisik-bisik satu dengan lainnya. Ada yang memuji. Tapi tak sedikit yang melecehkan.

Para tamu sudah tak sabar menantikan kehadiran sang putri. Lebih lagi Sri Jayabhaya. Berulang ia melongokkan kepala ke arah puri di mana Prabarini seharusnya muncul. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan dan kakinya. Bahkan kepalanya mulai berdenyut-denyut. Bukan karena terlalu berat menyangga mahkota emas. Ingin rasanya ia sendiri pergi ke puri rias Paramesywari itu, dan memarahi para dayang yang lambat kerjanya.

Ia tidak tahu bahwa langkah Prabarini benar-benar seperti sebuah siput. Barulah hatinya lega kala Mpu Panuluh membunyikan giring-giring, tanda upacara siap dimulai. Suara gamelan berkumandang menyambut langkah Prabarini meniti pendapa agung. Betapa pun hati wanita itu tersibak oleh keterkejutan. Sama sekali tak pernah mimpi bahwa akan menerima kemegahan yang sedemikian. Berbagai macam bendera dan umbul-umbul menunjukkan kehadiran semua pembesar laskar laut dan darat Penjalu. Bahkan di pendapa agung itu berkumpul para menteri, para akuwu, para raja bawahan. Dalam hati ia mencari, siapakah yang bernama Hemabhupati dari jenggala itu?

"Para hadirin dipersilakan mempersembahkan penghormatan pada Yang Mulia Paramesywari Prabarini Uttungga Dewi..." Prajangkara memberikan aba-aba.

Dan semua orang mengangkat sembah, walau tidak beranjak dari tempat duduk masing-masing. Hamparan permadani merah melambari kaki wanita ini. Gemerincing bunyi giring-giring menarik, semua orang untuk melirik ke arah sang maha putri. Dan... semua hati menjadi ikut berdebar. Berjuta pujian dan sanjungan bergema di setiap hati lelaki maupun wanita yang melihat wajah Prabarini. Tiada segaris pun cela di kulitnya. Sampai-sampai tidak sedikit yang ternganga dalam kekaguman.

Bukan cuma mereka. Sri Jayabhaya sendiri tidak pernah membayangkan akan bersua dengan seorang yang berparas seperti ini. Anugerah yang tak berbanding. Bukankah ini Sri Lakhsmi sendiri? Ia buru-buru berdiri sebelum prajangkara mempersilakannya. Jayabhaya menggosok matanya. Ah, andaikan ia adalah Prabhu Arjuna Sasrabahu, tentu ia akan menyuruh patihnya yang bernama Suwandha itu untuk memindahkan Ta-man Sriwedari demi Prabarini. Tentu dalam sekejap taman itu sudah berpindah ke Daha.

"Om awighnam astu namas siddam " Panuluh mulai berdoa.

Dan semua orang mendengar. Atau ada yang dengan khikmad menutup mata dan ikut berdoa, tapi ada yang setengah-setengah menutup atau membuka mata sambil mencuri pandang untuk memperhatikan wajah Sri Ratu yang baru. Semua brahmana istana yang berjumlah dua puluh tiga orang itu ikut berdoa bersama-sama. Kemudian membaca mantera Lokananta (mantera pelebur dosa) sebagai awal dari semua langkah yang akan dikerjakan atau memasuki jenjang kehidupan baru. Setelah beberapa lama, Panuluh mengangkat tongkat yang bergiring-giring dan ia menutup semua rangkaian doa yang panjang.

"Sri Maha Raja dipersilakan menjemput paramesywari." Prajangkara kembali mempersilakan.

Sementara semua orang mengangkat sembah sampai tertunduk ke lembaran permadani, dan Prabarini masih berdiri tegak, Raja melintas permadani merah bergambar kalacakra hitam dan berpelipit kuning, pada ujung-ujungnya runcing di keempat mata penjuru angin: simbul kebesaran raja-raja Wisnu. Sebab, cakra adalah senjata Wisnu dalam menghancurkan keangkaramurkaan.

"Bersujudlah!" bisik dayang kepala yang ada di sebelah dan memegang lengan kanan Prabarini. Sedang sebelah kirinya adalah Nyi Rumbi. Dayang itu menarik lengan Prabarini ke bawah sambil menekuk kakinya. Dengan hati berat Prabarini melakukan apa yang bertentangan dengan hukum yang ia pelajari. Seorang brahmani menyembah satria.

"Bersembahlah!" bisik dayang itu lagi setelah Jayabhaya tepat berdiri di hadapannya.

"Oh ampunkan hamba, Hyang Maha Dewa. Ini menyalahi kodrat," keluh Prabarini dalam hati. Tapi kembali dayang sialan itu berbisik supaya ia menyembah. Dan dengan tangan gemetar Prabarini menyembah. Air matanya, tersembul di sudut kelopak matanya. Tapi ia cepat menghapus dan kemudian melindas kepahitan hatinya.

"Cucilah kaki Sri Prabu!" bisik dayang itu lagi.

Setelah itu beberapa dayang menyediakan bokor emas di tengah jarak antara Sri Prabu dengan paramesywari baru.

Sambil masih terus berlutut, Prabarini melakukan keharusan yang ditentangnya itu. Kaki yang berwarna sawo matang dengan kuku yang berwarna kuning bercampur coklat. Setiap orang yang menyaksikan pasti bisa melihat, tangan Prabarini gemetar ketakutan. Tapi harus ia kerjakan sebagai persyaratan bahwa ia resmi menjadi seorang istri. Rambut lebat masih belum rontok dari pangkal jari-jari kaki Jayabhaya.

Selesai itu giring-giring berbunyi. Dan Mpu Panuluh segera berteriak dengan keras.

"Sejak saat ini Penjalu mempunyai Permaisuri baru. Kiranya damai sejahtera melingkupi negeri ini."

Gamelan juga segera berbunyi keras-keras. "Dirgahayu!" Kembali Panuluh berkata. "Dirgahayulah Sri Prabu! Dirgahayu Paramesywari! Dirgahayu semua kawula Penjalu!"

"Dirgahayu!" Teriak semua hadirin. "Dirgahayu!"

Mendengar itu, yang di alun-alun, walau tidak tahu persis apa yang sedang terjadi, ikut berteriak keras-keras,

"Dirgahayu! Dirgahayu Sri Prabu! Dirgahayu Paramesywari!"

Jayabhaya tersenyum. Sambil mengangkat alis sebelah kanan tapi itu membuat mata kirinya menyipit sedikit, ia mendekati istri mudanya yang masih berlutut dengan gemetar.

"Istrinda...," sapanya.

Prabarini masih menunduk. Tidak tahu apa yang harus dikerjakannya. Sampai dayang kepala berbisik lagi,

"Bersembahlah!"

Dan dengan amat gugup Prabarini menyembah. Dan ia serasa melayang-layang tanpa tahu apa yang harus diperbuat tatkala tangan Jayabhaya yang besar dengan jari-jemari yang sebesar-besar pisang emas itu menarik lengannya untuk berdiri.

"Mari, Adinda! Istrinda!"

Jayabhaya kini yang membimbingnya. Para biti perwara, selir, dan dayang kini mengiring di belakang keduanya.

Melintas permadani kalacakra. Berhenti tepat di tengah-tengah kalacakra, Mpu Panuluh berdoa untuk mereka.

"Aum santih, santih santih " Mpu Panuluh mengakhiri doanya yang panjang. Setelahnya kedua mempelai itu menuju panggung yang sudah disediakan di depan pendapa agung, menghadap alun- alun. Pelahan sekali jalan mereka, seolah takut bumi yang mereka injak itu akan terkuak dan menganga lebar, membuat mereka terperosok ke dalam perut bumi. Jayabhaya tersenyum tak putus-putus. Bukan hanya karena bahagia, tapi juga karena merasa menang. Seorang satria memperistrikan brahmani. Merupakan kebanggaan yang tiada duanya. Apalagi bukan sembarang brahmani. Lihat, siapa yang tidak menelan ludahnya memandanag Istrinda?

Gegap-gempita sorai kawula Daha. Prabarini tidak berani memandang ke arah mereka. Takut kalau-kalau di antara mereka hadir Sedah atau salah seorang dari Widya Trisnapala. Dan... tiba-tiba ia teringat, Mpu Brahma Dewa akan datang menghadap Jayabhaya untuk memohon kemurahannya agar menghentikan pembantaian di daerah Jenggala oleh laskar Penjalu yang menang.

Jayabhaya melambaikan tangan pada kawulanya, tapi Prabarini diam saja. Melihat itu Jayabhaya segera mengangkat lengan istrinya tinggi-tinggi. Makin dalam Prabarini tertunduk. Kebanggaan di hati Jayabhaya makin merupakan kehinaan di hati Prabarini. Jayabhaya tak mengerti itu. Setelah prajangkara mempersilakan, karena prajangkara telah menyampaikan rasa terima kasih pada kawula Penjalu atas nama Jayabhaya, maka kedua mempelai itu turun. Kembali ke pendapa agung.

Kini Jayabhaya memperkenalkan semua pejabat tinggi pada istrinya. Yang pertama dikenalkan adalah putra mahkota.

"Dia adalah Putra Mahkota Kerajaan, Sri Rakai Sirikan..."

Putra Mahkota tersenyum sambil menyembah. Prabarini tak tahu perasaan apa yan§ berkecamuk dalam hatinya.

Tampaknya Putra Mahkota pun lebih tua dari dirinya. Dan memang juga sudah beristri, sebab di sebelahnya berdiri seorang wanita muda yang ayu dan ikut menyembah waktu Rakai Sirikan menyembah. Namun senyum wanita ayu itu bagi Prabarini seolah mengandung ejekan: Kau masih muda jadi istri seorang tua. Apa yang kau harap? Anak darimu akan menggantikan suamiku jadi Putra Mahkota? Huh!

Kuatkan hatimu, Prabarini! Pandang mereka! Pandang!

Tatap! Tatap kehidupan dengan berani! Berani! Beranikanlah dirimu! Sekali lagi! Suara-suara itu muncul dari hatinya sendiri. Maka dengan mendadak sinar matanya berubah. Entah dari mana datangnya kekuatan, ia pandang semua yang hadir dengan mata berkilat dan wajah yang tidak tertunduk lagi.

Tentu itu membuat semua makin kagum. Luar biasa indah mata itu, puji mereka.

"Ini Rakai Hino Dyah Pawasi!"

Orang itu menyembah. Prabarini kini memperhatikan.

Orang ini yang memboyongnya pada waktu ia pingsan malam itu. Lebih muda sedikit dari Jayabhaya. Tinggi badannya melebihi suaminya. Tapi kurus. Rambutnya juga sudah dua warna. Juga kumisnya yang jarang-jarang itu. Meski begitu istrinya juga seorang prajurit.

"Rakai Hino juga Patih Amangkubhumi Penjalu," Jayabhaya melanjutkan.

Prabarini cuma menatapnya tajam. Tanpa -senyum. Masih mahal senyumnya, bisik Dyah Pawasi pada istrinya.

"Ini Singhadhahana... Menteri Mukha (Menteri Pertahanan) Penjalu."

Sama seperti terdahulu: menyembah. Orang ini pun sudah amat tua. Semua rambutnya putih-Mungkin masa mudanya gagah. Dadanya berbulu. Juga pori-pori tangannya. Tapi sekarang nampak gemuk. Napasnya sudah terengah-engah. Orang ini tidak disertai istrinya. "Ini Jaladria Manggaladipa! Samodraksa (Kepala staf Angkatan Laut) dengan pangkat Laksamana. Istrinya seorang Laksamani. Ya, Laksamani Ringgani."

Orang ini pun sudah berambut putih, dengan kumis tebal. Matanya tajam. Juga istrinya. Setengah umur wanita itu, tapi nampak perkasa dan bermata tajam. Cantik! Heran Prabarini, sekalipun sudah setengah umur tapi susunya nampak masih padat. Suaminya tidak terlalu gemuk. Hidungnya mancung.

"Ini Mpu Sumarakana Dewa!" Seorang brahmana. Belum begitu tua. Tapi alisnya tebal. Hidungnya sedikit melebar.

Tidak terlalu tinggi. Juga tidak terlalu pendek. "Dia adalah menteri cadangan negeri."

Masih ada lima orang brahmana lagi yang bergabung menjadi Menteri Ri Pakira-kiran ((Dewan Pertimbangan Agung, yang memberi nasehat dan membantu raja untuk mempertimbangkan undang-undang) . Mereka semua menyembah dengan sikap amat hormat. Prabarini melihat mereka dengan sebal. Brahmana yang memperhambakan diri pada seorang satria.

Tapi mendadak ia teringat kembali akan dirinya. Bukankah kamu juga brahmana?

"Bukan! Bantah sudut hati yang lain. Aku anak Palagantara!

Seorang yang tak tentu rimbanya. Siapa ibuku? Juga tidak tahu!

Pergumulannya berhenti sementara ketika ia diperkenalkan dengan tamu-tamu perwakilan negeri sahabat. Jambudwipa, Swarnadwipa, China, Jenggala, Wora-wari, Kelingga, Malaka, Bali, Brunei, dan beberapa lagi. Setelannya undangan, yang terdiri dari para saudagar terkemuka dari Jawa, China, dan Jambudwipa. Ada yang pedagang beras, ada yang pengusaha kain sutera, ada yang berdagang palawija, lada, serta cengkih. Lama acara perkenalan itu. Membosankan. Setelah itu masuk ke ruang bojana andrawina (Ruangan makan bersama) Di sini ada upacara yang mengejutkan Prabarini. Ia harus menyuapi Raja. Sebaliknya Raja juga harus menyuapinya, di bawah gambar simbol kerajaan, garudha mukha! Selesai itu baru semua ikut makan hidangan yang telah disediakan.

Prabarini tak dapat menghitung, berapa saja uang yang dikeluarkan untuk upacara ini. Ia mulai memperhatikan isi ruangan. Tiang-tiang terbuat dari kayu hitam berukir. Juga tempat duduk yang disediakan untuk Raja dan dia, namun berlapis emas, dengan ukiran yang bergambar- garudha bertaring. Prabarini agak kurang suka dengan gambar-gambar begitu. Baginya, itu melambangkan keserakahan.

"Berbicaralah, Istrinda! Kenapa diam saja?" tanya Raja dalam bisik.

Prabarini gugup, tak tahu apa yang harus dikatakan.

Matanya mencari-cari di mana dayang kepala dan Nyi Rumbi, ingin minta pertimbangan.

"Kau istri raja sekarang! Mengapa bersikap kaku seperti itu?

Tidak selayaknya seorang brahmani bijak seperti sudra yang baru terangkat derajatnya."

"Hyang Dewa Ratu!" Dada Prabarini naik turun karena hatinya tersinggung. Tapi ia menahan diri. Tanpa menoleh ia menjawab, "Ampun-kan hamba, Yang Maha Mulia " Gemetar

suaranya.

"Baiklah! Memang kita harus melewati satu upacara wadad suci (selama empat puluh hari empat puluh malam keduanya tidak boleh bersua sebelum masuk ke pelaminan pertama.

Dimaksudkan untuk persiapan fisik dan mental bagi keduanya) lebih dahulu untuk dapat saling mendekatkan diri. Aku akan sabar menunggu sampai upacara wadad suci itu selesai."

Prabarini tidak berkata-kata lagi. Sampai kemudian rombongan Raja dengan semua kerabat mengiringkan Prabarini masuk ke puri wadad suci (tempat mengurung diri selama melakukan wadad suci). Di sini Prabarini hanya boleh ditemani dayang-dayang kepercayaan. Puri tersebut dijaga ketat oleh laskar wanita yang bersenjatakan panah dan tombak. Tak seorang pria pun boleh memasukinya. Nyi Rumbi diperkenankan menemani Prabarini atas permohonan Prabarini.

Puri ini terletak di antara taman para selir dan keraton. Sebelum Prabarini masuk, di ambang pintu, Mpu Panuluh memberikan petuahnya lagi,

"Dirgahayulah Maha Raja! Dirgahayulah Paramesywari yang memasuki upacara suci. Tapi sebelumnya tentu kita bertanya kenapa harus melalui upacara wadad suci ini, padahal Paramesywari baru adalah orang yang kedua. Ini dibenarkan oleh hukum, karena Sri Mapanji Jayabhaya berjanji bahwa beliau akan melakukan trisna brahmacarya (melakukan perkawinan lebih dari satu kali berdasyarkan kepentingan masyarakat, rumah tangga, serta kerukunan dalam membangunkesucian agar agar mendapatkan kebahagian lahir batin, Juga untuk perubahan keturunan). Karena itu, mohon Paramesywari memaklumi akan ini. Negara membutuhkan Paramesywari. Maka semua ini kami mohon dikerjakan demi kepentingan negara. Segala keraguan akan lenyap jika semuapoengabdian kita kerjakan demi negara. Termasuk merelakan diri menjadi Paramesywari. Nah, aum santih santih santih."

Semua rombongan termasuk Sri Jayabhaya membalikkan tubuh. Ia pun harus masuk puri. Bersama Nyi Rumbi, dayang terpilih, dan dayang kepala yang berusia setengah tua, mereka kemudian melepasi semua perhiasan yang telah memberikan aniaya beberapa waktu lamanya.

"Silakan istirahat dulu, Yang Mulia...," ujar dayang kepala setelah memandikan Prabarini dengan air kembang melati.

Prabarini memaksakan tersenyum. Menghilangkan semua kejengkelan. Toh semua akan sia-sia. Kenapa aku tidak menatap hidup dengan senyuman? "Hamba masih melihat Yang Mulia tadi ber-mendung. Andai tidak begitu, mungkin semua lelaki yang hadir tadi akan jatuh pingsan...," dayang kepala terkekeh-kekeh tulus.

"Ada-ada saja. Dan ah, ampunkan aku, Bibi, barangkali mengecewakanmu."

"Hamba memaklumi, Yang Mulia. Hamba sudah diberi tahu oleh Nyi Rumbi..."

"Simpanlah untukmu sendiri, sebab akan membahayakan diriku, bukan? Aku sudah kalah. Jangan aku dilempar ke tengah para budak seperti cerita para prajurit wanita..."

"Betul, Yang Mulia. Itu betul. Para Srikandi itu justru petugas untuk melempar wanita ke sana."

"Hyang Dewa Ratu!"

"Dan..." dayang itu mendekatkan mulutnya pada telinga Prabarini untuk melanjutkan berbisik lirih, "hati-hatilah bicara dengan para selir, sebab mereka bersaing. Saling bersaing untuk merebut hati Raja.' Dan, dalam persaingan itu mereka licik."

"Licik bagaimana?" tanya Prabarini dalam bisik. "Kadang menfitnah yang lain. Akibatnya, bila Sri Prabu

termakan, terusirlah selir itu. Untung jika cuma terusir."

"Oh, chkk... cekh... cekh " Prabarini makin ngeri.

"Ingat! Dinding ini bertelinga. Tak ada satu suara pun yang tidak sampai ke telinga Sri Prabu."

"Jadi. "

"Ya, Yang Mulia harap mengerti sendiri."

Dayang itu pergi. Prabarini memperhatikan ruangan besar untuknya. Sejuk ruangan itu. Beratap ijuk. Halaman di seputar puri itu dikelilingi taman dengan beraneka bunga. Tapi di sebelah luarnya ada pagar bata keliling dengan tinggi tidak kurang dari tiga depa. Ada tempat tidur yang terbuat dari kayu hitam berpelipit emas. Cangkir keramik dan barang tembikar lainnya yang dipasang sebagai hiasan juga tersedia dalam ruangan besar itu. Bokor dan tempat kinangan emas ternyata juga telah disediakan untuknya. Bahkan pangidon (tempat menampung ludah, terutama sesudah berkinang, supaya ludahnya tidak terbuang di sembarang tempat) pun terbuat dari emas. Piring untuk makan juga terbuat dari efnas. Rasa hati melambung begini tinggi, seolah terbang di awan-awan.

Ia tahu, berapa tahun ia butuhkan waktu untuk mengumpulkan barang-barang semacam itu sebagai seorang brahmani? Mungkin sampai tua seperti ayah angkatnya, Mpu Dewaprana, takkan terlaksana. Tapi kini semua ada— seperti mimpi. Alas tempat tidur permadani termahal, buatan Mesir atau barangkali dari negeri lain yang ia tidak tahu. Alas itu akan membuatnya tidak resah dalam tidur. Sampai lantai pun beralaskan permadani. Tak ada kutu busuk di sini. Ada dayang yang punya tugas cuma membunuh kutu busuk. Berapa jumlah dayang di istana ini?

"Tidak kurang dari empat ratus orang, Yang Mulia," salah seorang dayang menjawab saat ia mencoba bertanya.

"Empat ratus?"

"Belum terhitung juru masak dan tukang membersihkan halaman taman sari," tambah orang itu lagi.

Empat ratus belum termasuk juru masak? Lalu berapa gaji mereka. Kalau semua digaji, tentu bukan main-main kekayaan Jayabhaya. Entah jamu apa saja yang harus diminumnya.

Prabarini sama sekali sudah tidak menggubris. Andai disuruh minum racun pun Prabarini tidak akan peduli. Tapi tidak akan ada yang berani melakukannya, sebab selalu ada tabib perempuan yang mendapat perintah istimewa untuk merawat dan memeriksa kesehatan Prabarini. Nyi Lembini, demikian nama tabib perempuan itu. Ia adalah seorang brahmani, maka pandai bercakap Sansekerta. Pernah belajar di Widya Trisnapala.

"Hamba pernah melihat Yang Suci," bisik Praoarini hati-hati dalam Sansekerta. Nyi Lembini tampak terkejut.

"Di mana?" Ia menjawab dalam Sansekerta pula. "Widya Trisnapala."

"Adiluwih?"

"Ya. Adiluwih," Prabarini menjawab sambil memberi isyarat pada Nyi Rumbi agar memeriksa keadaan.

"Oh, Yang Mulia... Siapa sebenarnya Yang Mulia ini?" Lembini menyembah. Ia makin hati-hati.

"Baik hamba ceritakan, tapi jangan ceritakan pada siapa pun!" ujar Prabarini setelah menerima isyarat balasan bahwa keadaan aman.

"Hamba berjanji. " Perempuan setengah tua itu memang

iba melihat Prabarini. Sejak semula ia heran, Jayabhaya bisa mendapatkan perempuan cantik yang sedemikian mudanya. Dan hatinya semakin teriris-iris setelah mendengar pengakuan Prabarini.

"Hyang Dewa Ratu! Jadi Yang "

"Biarkan hamba tetap dipanggil Yang Mulia. Bukan Yang Suci. Sebab, dengan memasuki Upacara perkawinan itu pun kesucian hamba sudah dilanggar." Prabarini menitikkan air mata sedikit, tapi cepat menghapusnya.

"Baiklah, Yang Mulia. Apa yang bisa hamba kerjakan buat ?"

"Sekarang tidak ada. Yang Suci. Tapi kelak -akan ada.

Sebab apa pun daya kita sekarang, tak akan dapat melepaskan hamba dari tangan Sri Mapanji Jayabhaya." "Jadi akan menyerahkah, Yang Mulia?"

"Jika Hyang Maha Dewa merelakan hamba dipermalukan oleh seorang satria, kesucian hamba dilanggar, apalah daya kita? Brahmana cuma bersenjatakan kata-kata. Tapi berhadapan dengan raja yang memperdewakan diri, semua itu tidak akan berarti."

"Baiklah. Hamba akan selalu berdoa demi keselamatan Yang Mulia."

"Terima kasih."

Hari keempat puluh makin mendekat. Malam terasa kian pekat. Dan bayangan wajah Sedah kian menggoda. Doa makin tak putus-putus dari mulut Prabarini. Kemudian ia meminta Nyi Rumbi mencarikan lontar. Ia ingin menulis. Menulis. Agar suatu ketika kelak, ya, kelak, Sedah tahu bahwa apa yang ia lakukan sekarang bukan karena ia sengaja mencederai janjinya. Bukan juga karena pengabdian pada negara seperti yang dianjurkan Mpu Panuluh. Bukan! Tapi karena ia kalah!

Kalah!

Berulang terpaksa dibuang lontar itu, tapi terus ia mencoba,

Roda kehidupan bergulir terus Melintas waktu dan kehidupan Meninggalkan kenangan

Tapi berhadapan dengan mimpi

Ah, ternyata dalam gemerlap ada gelap Dalam senyum ada tangis.

Bumi juga menggelinding terus

Kadang meninggalkah siang menyongsong malam Kekasih, aku tak kuasa menahannya Gelombang telah menghempaskanku Menjauhkan aku dari cintaku

Kering air mataku, habis suaraku, punah tenagaku Dan, kau berlalu sendiri

Menuju angkasa biru. Berulangkah mimpi-mimpi? Semua telah punah dilanda tirani Bukit-bukit digenangi air

Hai, Rajawali, di mana kau akan mampir? Lidah kelu bukan karena bisu

Tapi belenggu dalam permata biru. Bilakah kau tiba?

Membangunkan aku dari mimpi-mimpi Mengembuskan suaramu dalam gema Menegakkan buluh yang terkulai Dalam genggaman tirani abadi!

Selesai membaca ia segera menggulung lontar kecil itu.

Cepat-cepat ia menyimpannya, untuk kemudian menitipkannya pada Nyi Lembini saat orang itu mengadakan pemeriksaan terakhir pada kesehatan Prabarini.

"Hamba harus menyimpannya?"

"Betul, Yang Suci. Tapi... suatu ketika jika ada seorang... brahmana muda, bernama..."

"Siapa?" desak Nyi Lembini lirih.

"Yang Suci sudah pernah mengenalnya. Dia Maha Rsi Sedah." "Jagad Dewa Bathara! Diakah kekasih Yang Mulia? Kasihan, mengapa nasibnya kurang beruntung?"

"Ya. Hati-hatilah, Yang Suci!"

"Ya. Tapi... beberapa hari lalu ada seorang brahmana akan menghadap. Tapi cuma ditemui oleh Mpu Panuluh, karena selama empat puluh hari ini Raja dilarang keluar."

"Tentu Mpu Brahma Dewa."

"Apa dang hyang itu tahu Yang Mulia di sini?"

"Tidak. Ia datang untuk urusan lain. Memohon penghentian pembantaian dan penjarahan atas kawula Jenggala."

"Jagad Dewa! Itu tindakan terlalu berani." "Demi kemanusiaan."

"Widya Trisnapala bisa ditutup."

"Jika itu terjadi, maka hamba yang akan mencoba." "Hati-hatilah!"

"Demi kemanusiaan. Demi Hyang Maha Dewa. Demi kasih dan kebebasan semua umat di muka bumi."

"Hati-hatilah!"

"Gineng pratidina (membuat diri selalu berguna) walaupun sudah menjadi seorang yang kalah."

Prabarini mencium Nyi Lembini, yang memi-numinya dengan air pala saat akan pergi. Betul, siang itu Prabarini tidur pulas. Sore sehabis dimandikan pun ia tidur lagi dengan pulas.

Tepat hari keempat puluh Prabarini, diiringi oleh para dayang yang bertugas, memasuki ge-dong tengen atau gedung yang terletak di sebelah kanan keraton. Ruangannya ternyata jauh lebih besar dari ruangan yang digunakan wadad selama empat puluh hari itu. Lantai berbabut permadani hijau. Warna coklat menguasai dinding yang tinggi, dan dilengkapi dengan jendela berkeranda kain mori dari Jambudwipa. Bau rangkaian bunga yang diletakkan di sudut ruangan berbaur dengan bau melati yang bertabur di atas permadani sampai tempat tidur berukuran lebar yang beralaskan sutera putih buatan China.

Hati Prabarini berdebur seperti gelombang laut, kala sampai di dekat tempat tidur. Dayang kepala melepas sanggulnya, perhiasannya, bahkan kainnya. Dan meletakkan semua busananya di sudut ruangan. Kemudian memasang hamparan kapas, dan di atas tumpukan kapas dihamparkan mori selebar setengah depa berbentuk bujur sangkar. Kain inilah yang akan menjadi bukti, apakah Prabarini masih gadis ataukah tidak lagi. Dan kain itu akan disimpan di pura pemujaan. Jika ternyata ia masih gadis, kain itu untuk memohon kesuburan tanah negeri Penjalu. Cuma paramesywari yang masih gadis sucilah yang dapat memberikan kesuburan atas negeri Penjalu. Itulah kepercayaan kaum Wisnu. Pelahan Prabarini dibaringkan.

Beberapa saat kemudian Nyi Rumbi dan dayang kepala meninggalkan tempat. Kembali ketakutan merajai hatinya. Ternyata Hyang Maha Dewa tak menolongnya. Sedah! Kau akan kehilangan kini... teriaknya dalam hati. Seperti anak kecil melihat hantu laiknya, kala ia mendengar pintu dibuka.

Menyusul suara langkah berat mendekati tempat tidur. Ia mengatupkan kelopak matanya. Keringat dingin merembes dari tiap lobang halus porinya.

Di luar tentu orang tak pernah membayangkan hal itu. Para dayang ada yang bergurau sampai sedikit keterlaluan,

"Enaknya jadi raja. Sudah bangka dapat yang gadis.

Perawan."

"Belum tentu perawan. Siapa tahu di desanya sudah..." Yang lain menjawab.

Yang lain lagi membumbui, "Ya. Wajah seperti itu, mana tak jadi rebutan di desa." "Ah, tapi mori itu?"

"Darah kutu busuk atau nyamuk atau mungkin juga air ludah mereka waktu berkinang... siapa tahu?"

"Has... kau, apa semalaman mereka akan mencari nyamuk untuk memperoleh darah sebanyak itu?.Seperti tidak berpengalaman saja."

Mereka makin menjauh sambil cekikikan. Toh mereka tidak akan melihat hasil upacara hari keempat puluh ini. Yang berhak adalah pandita istana. Andai Prabarini sudah tidak perawan, pandita istana akan dibayar dan mengatakan pada umum bahwa Prabarini masih perawan tulen, begitu antara lain tuduhan orang yang iri.

Suara pending diletakkan di atas meja dan, mahkota dan kalung serta gelang, membuat Prabarini makin putus asa.

"Istrinda..." Suara yang sedikit sukar mengucapkan bunyi er menguak senyap.

Prabarini tak menjawab. Tergolek seperti boneka pualam. Tangan Jayabhaya mengelus perut dan pusar yang tanpa cela itu. Napasnya memburu. Makin memburu. Ia dekatkan mulut ke telinga Prabarini. Tapi Paramesywari tetap diam dengan wajah pucat. Tubuh makin gemetar. Jayabhaya tidak kurang akal. Meraba terus.

"Istrinda..."

Warna Jingga di ufuk barat makin meredup. Bergeser menjadi lembayung. Dan makin lama makin gelap. Tiba-tiba gerimis tipis merenda senja. Angin mengempaskan kegerahan. Kesejukan merambah ke mana-mana. Di pantai gelombang- gelombang kecil menerpa karang. Camar menarik diri surut.

Sebagai gantinya, kelelawar dan kalong merajai angkasa. Purnama mulai mengintip di balik cakrawala, menyumbangkan warna tersendiri pada riak air di pantai pasir. Namun perahu nelayan telah mengangkat sauh. Menguak air laut yang masih takut akan datangnya malam. Takut terpisah dari terang. Tapi sang biduk tak peduli. Melaju terus, ke tengah... ke tengah... dan terus merobek batas cakrawala.

Dan... suara jala tercebur ke air, merobek keheningan.

Merobek perut laut. Dan ikan pun terangkat naik...

Dan... Prabarini merintih menahan sakit...

0ooo0dw0ooo0