Prabarini Bab 1 : Adiluwih

 
Bab 1 : Adiluwih

Bintang gemintang menghias langit. Bertaburan seolah jamrud, yang bertebaran di angkasa tanpa dapat dihitung jumlahnya. Bulan juga mulai merangkak naik di ufuk timur. Merangkak. Namun dengan pasti melangkahi mega-mega yang putih dan tipis. Ingin mendapatkan tempat di antara segala bintang. Bahkan memudarkan cahaya semua bintang. Beberapa bentar kemudian ia memamerkan senyum kemenangan yang ceria. Tidak lagi ia pedulikan mendung putih berkejaran gumpal demi gumpal. Lapis demi lapis. Dan juga angin yang mendorong awan-awan itu. Kelelawar dan kalong pun hilir-mudik mencari makanan. Ujung pepohonan bergoyang karena jamahan angin yang bertiup pelahan.

Geseran bintang-gemintang mengiringi purnama telah meninggalkan jarak. Benda-benda angkasa itu tak pernah menghitung berapa panjang jarak yang telah mereka lalui. Bahkan mereka tidak pernah peduli. Dan esok akan mengadakan ulangan-ulangan pada yang sama. Muncul di timur dan tenggelam di. barat. Ya, di depan mereka ada jarak, di belakang mereka juga. Namun mereka tak pernah bosan.

Mengulang dan mengulang. Berselang-seling dengan mentari. Mengabdikan diri, memberikan penerangan bagi manusia yang menghuni bumi. 

Itu berbeda dengan nasib manusia. Apa yang terjadi kemarin tak akan terulang pada esok. Semua yang terlewati tinggal menjadi ingatan yang bernama kenangan. Dan antara manusia dengan kenangan itu dipisahkan oleh waktu atau masa. Sungguh itu merupakan jarak pemisah yang tiada mungkin diatasi oleh siapa pun. Karena memang waktu adalah kekuasaan dewa perkasa yang bernama Hyang Maha Kala.

Hyang Bathara Kala. Tak seorang jua yang dapat berdaulat terhadap Bathara Kala. Dewa itu pula yang mendorong roda usia manusia dan bumi. Bahkan zaman. Ia punya kuasa yang tidak terbantahkan. Dan ada orang yang berkata bahwa siapa yang mengalahkan Kala maka dia mampu menggenggam bumi dengan segala isinya. Bahkan menggenggam kehidupan. Ia mungkin akan menjadi salah seorang yang menatap hidup dengan semua masalahnya sambil menyunggingkan senyum di bibir.

Demikian pula saat itu, bulan memancarkan sinar emasnya di atas desa Adiluwih. Menyinari padi-padi di sawah, kelapa atau palawija di ladang-ladang. Juga menyinari kali yang mengalir berkelok-kelok di tepian desa Adiluwih itu.

Pendek kata menyinari semua-mua. Tak terkecuali alun- alun di seberang halaman 'Perguruan Tinggi Widya Trisnapala, yang dipimpin oleh seorang mahaguru, Mpu Brahma Dewa.

Sebagaimana biasa tepat saat purnama bulan Sriwana (antara bulan Juli dan pertengahan Agustus), pada tahun ajaran kelima perguruan tinggi ini selalu mewisudha para brahmana yang dinyatakan lulus.

Kali ini Sedah memperoleh kehormatan diwi-sudha sebagai seorang rsi dengan nilai terbaik di antara tiga belas rsi yang dinyatakan lulus saat ini. Seperti Perguruan Tinggi Nandala di Sriwijaya, Perguruan Tinggi Widya Trisnapala ini pun, memberlakukan peraturan yang ketat, termasuk memberikan gelar cuma lima tahun sekali. Bahkan setiap kali ujian dilaksanakan terakhir semacam itu, Brahma Dewa selalu mendatangkan guru-guru besar dari luar negeri, seperti dari Jambu-dwipa, Swarnadwipa, dan juga China, sekalipun selalu di bawah pengawasan pandita istana Penjalu, ?ifang Tersuci Mpu Panuluh. Itu sebabnya, salah satu syarat untuk lulus dari perguruan tinggi itu harus menguasai bahasa Sansekerta.

Menurut para guru besar Widya Trisnapala, hampir semua pengetahuan ditulis dalam Sansekerta. Persyaratan yang berat untuk lulus dari Widya Trisnapala itu menyebabkan banyak brahmana yang tidak lulus ujian. Dan karena itu mereka harus menunggu lima tahun lagi.

Cukup lama, tapi itulah peraturan yang berlaku. Maka semua harus menerima apa yang sudah berlaku bertahun-tahun. Ada yang tidak terima, tapi tidak berani menyatakan ketidakterimaannya sebagai suatu pendapat. Karena tiap perguruan tinggi yang sudah punya nama seperti itu, tidak akan menggubris semua pendapat, yang dianggap dapat mengurangi citranya.

Api unggun telah dinyalakan di tengah alun-alun. Menjilat meraih langit, menyaput hawa dingin di malam purnama itu. Saat itu para siswa yang duduk di bangku awal, atau mereka yang belum ikut ujian, ataupun mereka" yang mengulang karena tidak lulus, sudah berjajar rapi mengitari api unggun dalam jarak beberapa puluh depa. Kehangatan menyentuh tubuh mereka. Beberapa bentar kemudian terdengar giring- giring dibunyikan. Mantera diucapkan oleh beberapa brahmani, yang juga siswa Widya Trisnapala, mengiringi langkah wisudhawan keluar dari barak persiapan. Berbaris rapi, di belakang seorang gadis pembawa pataka (bendera yang berjumbai-jumbai pada pinggir-pinggirnya) Gadis yang telanjang dada dengan rambut terurai. Berbalut kain sutera kuning sebagai penutup bahagian bawah tubuhnya. Pataka itu juga berwarna kuning dengan gambar Ganesya di tengahnya.

Pelahan sekali langkah mereka. Serasi kaki mereka waktu menapak bumi. Seandainya tidak ada barisan pembawa obor yang mengapit mereka, tentulah barisan itu tak ubahnya barisan siput yang pulang ke persembunyian setelah memangsa dedaunan di ladang petani. Namun wajah mereka menatap mantap ke arah altar yang-disediakan di dekat api unggun. Mata mereka seolah mampu menembus keremangan malam. Dan membelah masa depan. Hanya mereka yang tahu, sebab beberapa bentar kemudian suara gamelan menenggelamkan semua perhatian atas mereka. Wajah-wajah yang ceria seperti wajah para dewa itu sementara terhilang dari pandang. Hanyut dalam kejut. Apalagi disusul nyanyian melengking tinggi. Semua giring-giring berbunyi berbareng. Menyambut hadirnya sang wisudhawan. Beberapa bentar lagi, tepuk tangan meriah seperti tumpukan batu bata yang rubuh bila didengar dari kejauhan. Namun wisudhawan tetap tenang menyungging senyum di bibir. Dengan jubah biru tua yang berselempang kain sutera kuning emas mereka nampak anggun. Rambut mereka terurai tanpa dipotong ataupun dikondai, menunjukkan bahwa Perguruan Tinggi Widya Trisnapala tidak terikat oleh peraturan kerajaan yangx melarang semua lelaki mengurai rambutnya seperti laiknya brahmana Ciwa.

Di altar Mpu Brahma Dewa tampak berdiri dengan tenang. Jubahnya kuning dengan kalung emas bermedali bergambar parasyu (gambar kapak lambang ketajaman pikiran yang dipegang oleh tangan kiri belakang Ganesya, yang digambarkan punya empat tangan) yang terbuat dari emas sebesar telapak tangan. Tangan kirinya memegang tasbih aksmala (lambang keberanian sebagai irama dalam hidup) seperti lambang Ga-nesya. Agak ke belakang, di bahagian kiri altar yang tinggi itu, duduk Mpu Panuluh, sebagai peninjau dan wakil kerajaan untuk mengakui keabsahan wisudha itu. Sedang di sebelah kanan, juga agak ke belakang, berdiri fylpu Dharmajapa yang memegang tongkat bergiring-giring dengan gambar cakra pada ujungnya. Sedang di bawah altar, di sebelah kanan, ada panggung kehormatan yang diperuntukkan bagi para undangan. Mereka adalah guru-guru besar dari berbagai perguruan tinggi, baik dari dalam negeri maupun dari manca negara. Inilah keunggulan Perguruan Tinggi Widya Trisnapala dibanding perguruan tinggi mana pun di seluruh kekuasaan Kerajaan Penjalu.

Sering kali Mpu Panuluh minta laporan, berapa biaya yang dikeluarkan setiap kali mengundang guru besar dari manca negara macam itu? Toh di Daha (Daha adalah ibukota kerajaan Penjalu) banyak guru yang terpilih dalam Dewan Cerdik Pandai kerajaan. Tentunya mereka mampu menjadikan murid Widya Trisnapala brahmana yang jempolan. Tapi pihak Widya Trisnapala tetap tidak mau minta bantuan kerajaan untuk banyak hal., untuk biaya maupun pengajar.

Semua tetabuhan dan bunyi lengkingan nyanyian berhenti ketika para wisudhawan sudah berjajar lurus di depan altar. Suasana menjadi amat tenang. Cuma gemertak kayu yang terbakar dalam api unggun raksasa itu saja yang terdengar. Secara serempak tanpa ada yang memerintah atau memberi aba-aba, semua tertunduk dalam doa. Bahkan memasuki nirwikana (kesatuan antara Brahman (Tuhan) dan Atman (jiwa)). Beberapa bentar hanyut dalam nirwikana itu. Itulah tingkah kaum brahmana setiap kali akan memulai sesuatu yang dianggap suci, atau melakukan pekerjaan yang dianggap penting.

Tiba-tiba Mpu Dharmajapa membunyikan giring-giring di tangannya sambil mengangkat tongkat tinggi-tinggi. Setelah semua orang mendongak, seorang brahmana yang bertindak sebagai pemimpin acara memohon Mpu Panuluh agar berdoa untuk seluruh wisudhawan. Maka yang dimaksud maju dan mengangkat kedua tangannya sambil mengucapkan mantra.

"Om awighnam astu..." dan seterusnya, kemudian ditutup dengan, "Aum santih santih santih!" (Oh Tuhan, damai, damai, damai bagi semuanya!)

Semua orang mengikuti dengan khidmat. Sementara para wisudhawan mengikutinya dengan hati berdebar. Diri seolah terayun-ayun antara dua dunia: kegembiraan dan tanggung jawab. Gembira meraih gelar, tapi menyadari tanggung jawab besar mengabdi pada kemanusiaan menanti. Tanggung jawab dari seorang yang berpengetahuan untuk menyingkap rahasia alam yang mengundang berjuta tanya. Bahkan lebih dari itu, tugas brahmana pula menguak tabir kezaliman yang selalu disembunyikan oleh sementara orang yang meraih keberuntungannya dari kejahatan.

Panuluh kembali ke tempatnya setelah selesai mendoakan para wisudhawan. Giring-giring kembali dibunyikan sebelum pemimpin acara menyebutkan bahwa acara wisudha dimulai. Dan satu demi satu mereka dipanggil menghadap ke altar.

Mpu Brahma Dewa mengalungkan medali emas bergambar bunga teratai ke leher mereka yang terpanggil Sebagai tanda bahwa orang tersebut resmi menjadi brahmana yang telah meraih gelar kebrahmanaannya melewati ujian berat setelah belajar bertahun-tahun. Bukan sekadar dikarenakan darah yang mengalir dalam tubuh mereka, tapi telah mereka lengkapi dengan pengetahuan.

"Brahmana tanpa pengetahuan adalah penjahat!" begitu antara lain amanat Mpu Brahma Dewa kala mereka pertama kali menginjakkan kaki ke bale pracabaan (ruangan khusus untuk memberikan kuliah umum) Widya Trisnapala. Ucapan itu mereka ingat terus. Sebagai cambuk dalam menuntut ilmu.

"Kita bisa melihat, sekarang banyak brahmana yang tidak menyumbangkan pengetahuannya demi kemanusiaan. Tapi di atas gelar brahmana itu, seorang yang paling dungu sekali pun, mengaku berhak menerima persembahan. Harta dan kalau mungkin wanita cantik! Ini juga barangkali termasuk salah satu tanda akhir zaman," sambung Brahma Dewa lebih tandas.

Lamunan para wisudhawan dan undangan punah ketika pengacara berkata dengan keras,

"Mohon perhatian! Yang kami panggil sebentar lagi adalah mereka yang harus menghadap Yang Suci Brahma Dewa dan Yang Tersuci Mpu Panuluh untuk mendapat pengesahan atas keberhasilannya dalam ujian. Nah, yang mendapat penghormatan pertama adalah..." berhenti sebentar.

Wisudhawan berdebar. Muka mereka agak memerah. Keluarga atau istri atau barangkali tunangan mereka yang kala itu juga diundang dan duduk di bangku kehormatan pun ikut berdebar. Kendati sudah pasti. Ya, sudah pasti menerima gelar...

"Pi-nang-kil!" Suara pemimpin acara memanggil dengan tekanan yang khusus. "Yang Suci Pinangkil!" lebih keras dari semula. Dan tepuk tangan pun menggemuruh.

Pinangkil maju pelahan-lahan. Sesekali ia melirik ke arah bangku kehormatan. Istrinya duduk bersama ayah-ibu dan mertuanya. Dan entah berapa kali ia membetulkan letak lengan jubahnya yang sebenarnya tidak salah itu. Bahkan secara tidak sadar sambil berjalan ia juga sering mengelus kumis yang sudah dirapikan sejak tadi. Sampai di hadapan kedua mpu itu ia menyembah. Sementara itu seorang gadis yang berwajah gilang-gemilang, bermata bundar dan berkain sutera merah, bertelanjang dada, namun pada dada kirinya tersampir selendang sutera putih, maju mendekat Mpu Brahma Dewa dengan mempersembahkan sebuah talam tempat medali serta kalungnya. Pinangkil menyembah. Maju lagi beberapa langkah. Mpu Brahma Dewa mengambil kalung dan medali di atas talam emas. Kemilau diterpa sinar rembulan. Sebentar kemudian kalung serta medali emas itu berpindah tempat. Di leher Rsi Pinangkil. Menyembah lagi.

Kemudian dipersilakan berdiri di sebelah kanan altar.

Para gadis berbisik-bisik. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Barangkali saja mereka tidak -tahu bahwa Pinangkil sudah beristri. Dan tanpa menunggu bisikan-bisikan itu lenyap, pemimpin acara sudah memanggil lagi, "De-wa-bra- ta... Rsi Dewabrata!"

Dan kejadian seperti tadi hampir sama terulang. Namun Dewabrata bukan seorang tinggi besar. Perawakannya sedang dan kumisnya kecil melintang. Gerakannya lincah.

"Ja-ti-mur-ti! Rsi Jatimurti!"

Seorang berkulit hitam, rambutnya keriting dan giginya agak menonjol ke depan, maju di bawah tepuk-tangan riuh. Ia tidak punya saudara di Kediri, sehingga tak perlu melirik ke bangku kehormatan. Namun kesan para pengunjung ia nampak selalu riang. Barangkali juga karena giginya itu.

"Sing-da-bra-da—Ka-la-mar-cun-da! Dari Swarnadwipa. Rsi Singdabrada Kalamarcunda!""

Meskipun disebutkan dari Swarnadwipa, rupanya orang ini keturunan dari Negeri Jambudwipa;'

Hidungnya mancung. Brewoknya amat lebat. Gagah sekali dalam jubahnya yang biru tua itu. Senyumnya menawan.

Memamerkan gigi yang rapi. Rupanya ia rajin menggosoknya dengan arang, kendati di sela-selanya masih nampak bekas kinang. Merah. Rambutnya ikal disanggul di atas kepala, namun kulitnya sawomatang.

"Si-da-ra-ga! Rsi Sidaraga!"

"Mar-ma-de-wa! Rsi Marmadewa!"

Terus. Nama demi nama dipanggil. Dan kemudian mereka berderet di kanan altar. Sedah berdebar menanti namanya dipanggil. Makin sedikit jumlah yang menemaninya berbaris, makin keras debar jantungnya. Dan... rupanya ia yang terakhir dipanggil. Seribu rasa menyatu. Karena perhatian semua orang kini tertumpah padanya. Ia tidak berani melirik pada ayahnya yang datang dari lereng barat Gunung Kawi itu.

Namun ia menenangkan hatinya. Ia berusaha meluruskan pandang ke altar. Ah, kenapa kini yang memegang nampan adalah Dinar? Seorang gadis berambut hitam pekat dan disanggul tepat di atas kepalanya, seperti sebuah mahkota. Selendang sutera buatan Kediri sendiri, tersampir di bahunya, menutup susu kanannya. Sedang susu kiri dibiarkan terbuka seolah ingin memamerkan kulit yang mulus berwarna kuning langsat. Putik susunya punya warna lain dari gumpalan daging yang menyangganya. Merah jambu bercampur sedikit coklat yang dikuasai kuning. Suatu pertanda bahwa belum a la bayi yang mengisapnya. Untaian kalung mutiara yang menghias leher jenjang bergaris-garis menyerupai leher ular menunjukkan bahwa ia anak orang kaya. Belum lagi pending emas yang menghias pinggang di bawah pusarnya. Pinggang seperti pinggang tawon. Hati Sedah kian berguncang kala langkahnya sudah mendekati altar. Mata Dinar seolah bintang timur yang setia meneranginya. Ia segera membuang pandang ke arah Mpu Brahma Dewa agar tak terganggu. Nanti saja setelah selesai acara wisudha ini ia akan mendatangi Dinar secara pribadi. Di bawah empat mata ia akan melamarnya. Sebelum gadis idaman setiap pria yang belajar di perguruan Tinggi Widya Trisnapala ini makin dekat dengan altar, ia melirik sedikit. Ah, bibir Dinar yang tipis dan mungil berbentuk seperti busur, dan berwarna seperti kulit manggis yang merekah itu nampak tersenyum tipis. Seolah ikut gembira. Ya, ikut merayakan keberhasilan Sedah. I}an setelah Sedah menyembah seperti halnya wisudhawan lainnya gemerisik kain sutera pembungkus tubuh bagian bawah Dinar mengiringi langkah yang bergesa.

Sedah menunduk. Matanya yang biasanya tajam itu seolah kehilangan keberanian untuk menatap apa yang ada di depannya. Wajahnya sedikit memerah. Jauh, di bangku kehormatan beberapa gadis berbisik-bisik, membicarakan pemuda yang berbadan semampai agak jangkung itu.

"Kau pernah melihat Hyang Kamajaya?" tanya seorang gadis pada temannya.

"Belum." "Itulah dia..."

"Kau? Jatuh hati rupanya? Apa dia mau? Pipimu tembem seperti apem begini," celoteh temannya.

"Huh, kamu! Seperti yang paling cantik saja!" Cemberut.

Di rombongan lain beberapa orang yang sudah berumur juga ikut memperbincangkannya. "Andai ia mau, ingin aku mengambilnya jadi menantu.

Tampan sekaligus pintar. Sungguh anak kekasih dewata," kata seorang brahmana pada istrinya.

"Jangan mengandai-andai, Kanda. Sepantasnyalah ia beristrikan seorang bidadari."

"Itu menyalahi kodrat, Istrinda. Mana ada brahmana beristrikaivfcidadari. Brahmana harus beristrikan brahmani."

"Sang Mintaraga beristrikan Supraba (Mintaraga dan Supraba adalah tokoh dalam kakawin Arjuna Wiwaha, di mana Arjuna sebagai Miraaraga bertapa dan mengalahkan musuh para dewa sehingga dihadiahi Dewi Supraba). Apa salahnya? Hyang Maha Dewa sendiri sering menghadiahkan bidadari pada manusia. Lihat, Dewi Tari yang dihadiahkan pada Rahwana."

"Ah "

Perkataan itu terputus karena pemimpin acara mengumumkan: "Kita semua dimohon berdiri. Untuk menghormati wisudhawan ini. Karena selain Rsi Sedah lulus tanpa cela, seluruh penguji telah bersepakat untuk memberinya nilai terbaik."

Tepuk tangan gemuruh menyambut ucapan itu. Sedah tersenyum. Setumpuk kebahagiaan tersusun dalam hatinya. Kekaguman terpancar dari pandangan mata para undangan. Bahkan Brahma Dewa sendiri tampak amat bangga. Sebab telah sepuluh tahun belakangan ini tidak ada siswa Widya Trisnapala yang dinyatakan meraih nilai terbaik. Sungguh yang dicapai oleh Sedah itu adalah hasil yang luar biasa. Dan itu yang menyebabkan Dewan Penguji bersepakat untuk menobatkan Sedah menjadi Maha Rsi. Semua geleng kepala atas kecemerlangan ingatan yang dianugerahkan oleh Hyang Maha Dewa pada Sedah.

Tapi apakah semua orang akan jujur menerima kekalahan mereka? Segala hal memiliki berbagai sisi. Candala Raka menampilkan sisi lain dari kebanyakan orang yang hadir di Adiluwih itu.

"Betapa akan pongahnya anak itu," katanya sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Detya Butha Wreku. Dan yang belakangan terpaksa menunduk karena memang tubuhnya yang tinggi besar.

"Aku tidak melihatnya, Kawan. Memang ingatannya luar biasa tajamnya, seperti kapak parasyu. Mengapa kita harus iri?"

"Bukan iri. Tapi -ipakah dia tidak menyuap para guru besar itu, sehingga ia mampu menjawab semua pertanyaan?"

"Jauhkanlah tuduhan macam itu dari hatimu, Candala Raka.

Banyak pertanyaan yang tidak terjawab oleh kita pada saat ujian berhasil dijawab oleh Sedah. Juga pertanyaan yang semestinya diperuntukkan orang lain, Sedah mampu menjawab dengan lugas. Hati-hatilah dengan sikapmu, sebab kita ini adalah brahmana. Ingat, seorang berpengetahuan tinggi yang tak mampu menguasai benih kejahatan yang tersimpan dalam hatinya akan segera menjelma menjadi penjahat yang paling keji dan kotor!"

Candala Raka nampak menghela napas panjang. Ia dan Detya Butha Wreku termasuk sekian orang yang tidak lulus. Namun Bhuta Wreku ini sanggup menerima kenyataan dan akan mengulang lima tahun lagi. Padahal orang ini datang dari Jambudwipa. Mengapa ia tak merasa rugi waktu?

Lamunannya dihentikan oleh suara tetabuhan. Juga giring- giring. Kemudian pengacara meminta semua orang berdiri, untuk menghormati hari bahagia yang diterima oleh Sedah dan Perguruan Tinggi Widya Trisnapala. Tetabuhan berhenti. Sebagai gantinya adalah tepuk tangan semua orang. Dinar yang mengantarkan talam berusaha mencuri pandang ke arah Sedah. Namun di hadapan Mpu Panuluh dan Brahma Dewa, Sedah tidak berani melakukan hal yang sama. Setelah itu Sedah diperkenankan berdiri bersama kawan-kawannya yang lulus dan mendapat gelar Rsi. Kendati ia sendiri mendapat gelar Maha Rsi.

Kemudian semua undangan dipersilakan duduk kembali. Saat selanjutnya adalah mendengar amanat dan pesan Dang Hyang Mpu Brahma Dewa (Dang Hyang dimaksudkan sebagai gelar guru besar). Sebenarnyalah pesan itu ditujukan untuk mereka yang akan meninggalkan Widya Trisnapala. Semua mata tertuju ke altar. Juga semua telinga diarahkan untuk mendengarkan suara Mpu Brahma Dewa. Tidak kurang-kurang orang yang menganggap kata-katanya sama seperti ucapan dewata. Karena Mpu Brahma Dewa memang seorang pendiam.

"Dunia sedang dilanda ketidak-pastian, ketidakadilan...," begitu antara lain sebagian amanat dang hyang itu. "Karena itu brahmana bertugas untuk menjadi pemecah persoalan. Bukan sebaliknya, menjadi penyebab persoalan. Pengetahuan untuk mengabdi pada kemanusiaan. Bukan sebaliknya, menginjak-injak manusia dan kemanusiaan," tandas brahmana itu. Diam sebentar dan sambil senyum ia menebarkan pandang pada semua-semua.

"Sekali lagi aku mengingatkan pada para brahmana!

Mengabdi kemanusiaan adalah seindah-indahnya panggilan hidup. Tugas kemanusiaan bukan cuma tugas para tabib.

Membuat orang mengerti akan keadaannya, akan hakikat hidupnya, akan haknya sebagai manusia, dan tugasnya sebagai manusia. Dan, yang lebih dari semua itu, membuat orang menemukan kembali jatidirinya adalah tugas kemanusiaan. Termasuk di dalamnya memperjuangkan kebebasan bagi mereka yang teraniaya di bawah kuk pengisapan manusia sejenisnya.

Semua orang saling pandang. Terkesiap hati Sedah yang amat memperhatikan ucapan dang hyang yang amat dikaguminya itu. Demikian pula para murid yang lain. "Pesan yang terakhir sebelum para Yang Suci terjun ke tengah samodra kehidupan yang maha luas ini, ialah, jangan lupa belajar dan selalu mengadakan pengamatan atas kehidupan."

Selanjutnya Brahma Dewa turun setelah lebih dahulu mengucapkan serentetan doa. "Aum santih, santih, santih..."

Dan semua orang berdiri. Untuk kemudian berhamburan mengelilingi api unggun, kelompok demi-kelompok menemui keluarga masing-masing. Dan mereka menari serta menyanyi bersama mengucap syukur atas anugerah yang diberikan Hyang Maha Dewa hari ini.

Beriung-riung mereka melompat dan menyanyi serta menari sambil bergandengan tangan. Sedah mendekati ayahnya. Walau hati mengajaknya mendekati Dinar yang saat ini melompat-lompat bagai kijang betina menari sendiri. Ia dengar jelas suara Dinar memuji Hyang Maha Dewa, "Hing Kling! Hing Kling! Narakam Kira Asma..."

Namun Sedah bersama ayahnya terlebih dahulu. Keduanya tak henti-hentinya memuji kebesaran Hyang Maha Dewa atas anugerah yang diterima oleh Sedah. Sambil melompat-lompat mengitari api unggun, Sedah kemudian bertanya pada ayahnya,

"Bapa lihat gadis itu?"

"Kalau tidak salah ia keponakan Mpu Brahma Dewa?" "Benar."

"Kenapa?"

"Bapa izinkan hamba melamarnya." "Hyang Bathara! Kau?"

"Ya. Kami sering berbincang-bincang. Asal Bapa mengizinkan saja. Aku lakukan sekarang." "Lakukan, Anakku! Aku berdoa untukmu." Orang tua itu melepas anaknya untuk mendekati gadis yang memang menurut penilaiannya sukar dicari tandingannya itu. Sekalipun di kalangan ksatria di kota-kota besar yang pernah ia kunjungi, tak pernah ia bersua yang seperti itu. Sambil masih melompat dan berdoa, ia tidak melihat justru saat itu Candala Raka yang sejak tadi memperhatikan Dinar juga mencoba mendekati gadis itu.

Candala Raka memang penasaran. Setiap kali ia mendekati, gadis itu selalu menyibukkan diri. Kalau tidak sedang belajar atau membaca lontar ya... mengerjakan pekerjaan lainnya.

Tidak pernah memberi kesempatan berbincang lama. Pernah memang keduanya berjalan seiring waktu kebetulan ada santiaji (santapan rohani) siswa dari semua tingkat di bale pracabaan. Tapi belum sempat bicara panjang teman-teman putri Dinar pada berdatangan dan ikut berjalan seiring.

Betapapun hatinya hancur, namun jika melihat senyum Dinar, lumatlah sudah semua penyesalan yang diakibatkan oleh kegagalan dalam ujian. Saat matanya mengawasi gadis itu sambil mendekatinya, seseorang telah menyentuhnya.

Terkejut.

Derya Butha Wreku memandangnya sambil tertawa tanpa suara.

"Berdosa kau! Berdoa mengucap syukur pada Hyang Maha Dewa sambil melamunkan seorang gadis."

"Ah, kau..."

"Itu rupanya yang membuat kau sengaja tidak menjawab pertanyaan dengan sempurna. Ingin berlama-lama di Adiluwih. Menunggu si dia agar bisa lulus bersama-sama." Butha Wreku memamerkan giginya yang besar-besar dan dilapisi warna kekuning-kuningan. Rupanya ia kurang memanfaatkan arang atau bubukan batu bata sebagai penggosok giginya. Mendadak muka Candala Raka menjadi merah. Menahan gelombang dalam dadanya. Ia rasa temannya ini mengejek. Ingin Candala Raka mematahkan batang leher pemuda tinggi besar berkulit hitam dan berperut gendut ini. Namun demi melirik jari-jemari kawannya yang sebesar-besar buah pisang kluthuk itu, hatinya menjadi ngeri. Andaikata saja Butha Wreku ini membalas dan meremas tubuhnya, tentu tulang- tulangnya akan remuk. Ah, tak seharusnya ia menjadi siswa di tempat ini. Untuk selamanya dia tidak akan lulus, gumam Candala dalam hati. Kepalanya sedungu kerbau. Sepatutnya ia

jadi budak pengangkut pasir di sungai Namun segera ia

tersenyum. Tersenyum untuk menutupi kepahitan dalam hatinya.

"Tahu saja..."

"Kenapa tidak? Semua orang mengimpikan jadi pendampingnya. Semua ingin memetik kembang yang begitu molek."

"Termasuk kau?"

"Para guru besar pun. Ya. Para dang hyang pun."

"Ah?" Candala menatap wajah temannya dengan sungguh- sungguh. "Kau mengigau barangkali?"

"Aku bilang para dewa sekali pun." Butha Wreku menegaskan sambil menghapus air liur sialan yang merembes pelahan di sudut kedua belah bibirnya. Kemudian melanjutkan lagi.

"Kau tidak perhatikan Dang Hyang Chen Yu Ming dari daratan China itu? Semalam dia mengigau, memanggil- manggil nama Dinar."

"Gila kau! Kenapa sekarang tidak mendekatinya?"

"Guru besar kan tidak seperti kita. Masa iya ada guru besar yang berani merendahkan martabatnya sendiri dengan mendekati gadis impian pada saat berdoa seperti ini? Kaupikir mereka itu buaya?"

Candala Raka tidak bertanya lagi. Kemudian mencoba meninggalkan temannya untuk bergesa mendekati sang gadis.

Namun  

"Drubiksa!" ia mengumpat tanpa dapat menahan.

Wreku terkejut, dan menoleh mencari Dinar. Gadis itu ternyata sudah dalam gandengan tangan Sedah. Ia tahu persis Candala Raka benar-benar terbakar. Anak muda ini perlu ditolong, pikirnya. Jika tidak, bisa memalukan Widya Trisnapala. Perguruan tinggi yang namanya punya arti tempat belajar yang tanpa membeda-bedakan, jadi satu perguruan tinggi yang menghargai persamaan dan persaudaraan. Ia segera berjaga-jaga. Mata Candala Raka menyala.

"Ke mana kau?" tegurnya kala Candala telah kehilangan pertimbangan.

"Kubunuh anak it.u!" "Membunuh?"

Candala meronta. Namun tangannya telah digenggam oleh tangan Butha Wreku yang perkasa. Bahkan kini Wreku mengangkat-angkat tubuhnya seolah mempermainkan boneka. Begitu pintarnya, sehingga orang lain mengira keduanya sedang menari bersama.

"Kelakuanmu seperti para darmana (sebutan untuk budak- budak penarik perahu yang mengangkut pasir atau barang- barang dagangan dari hilir Sungai Brantas atau Kali Kanta, mudik ke Daha atau Tumapel) saja. Atau barangkali para darmana tidak pernah melakukannya. Ayam jantan yang bertarung sampai mati memperebutkan betinanya.''

"Kau dibayar berapa oleh Sedah, sehingga kaulindungi dia seperti ini?" Candala melotot. "Rupanya drubiksa telah menginap dalam kepalamu!" Detya Butha Wreku agak kasar. "Ingat kita ini brahmana! Brahmana!"

Nafas Candala tersengal-sengal.

"Aku melakukan ini karena mengasihimu. Mengasihi semua orang. Jodohnya belum tentu di tangan Sedah. Tapi kali ini Sedah berkesempatan untuk menari bersamanya. Jangan iri! Jangan pula cemburu!"

Gigi Candala gemertak. Menahan marah. Tapi di-tangan Butha Wreku yang perkasa itu, ia tak berani berbuat apa pun. Kini ia melihat Sedah dan Dinar melompat-lompat, menari- nari. Menyanyi bersama. Dua pasang kijang muda.

Menggemaskan.

Dan memang saat itu hati Dinar berbunga oleh kegembiraan. Tak semua gadis dapat bergandengan tangan dengan pemuda terpandai di seluruh kerajaan ini. Bahkan mendapat pengakuan dari Perguruan Tinggi Nalanda dari Jambudwipa yang dinyatakan oleh kepala perutusannya, Agraha Devapati.

"Betapa akan bangga wanita yang telah melahirkan Yang Suci jika mendengar anugerah ini," kata Dinar pada Sedah dalam bisik.

Sedah tersenyum. Tak tahu bagaimana harus menjawab. Masih belum mampu menguasai diri, dari ayunan sang rasa. Tidak mengira bahwa akan begitu mudah Dinar menerima tangannya kala ia mengulurkan tangan untuk mengajaknya bergandengan. Sedah mengajak Dinar untuK; berdoa bersama terlebih dahulu. Kemudian saling bertukar pantun bersahut- sahutan dalam tembang.

Sedah:

Anak macan di kandang sapi Sapi benggali dari Gunung Kawi Banyak macam anak mudi

Tapi aku cuma menari dengan yang satu ini.

Dinar:

Anak macan di kandang kuda Kuda jantan dari Kediri Banyak macam anak muda

Aku tetap akan pilih sang Maha Rsi.

Memerah wajah Sedah mendengar itu. Keringat membasahi tubuh keduanya. Kehangatan api unggun menambah indahnya malam.

Sedah:

Di sana ada gunung yang bernama Kelut Di bawahnya mengalir sebuah kali Sudah lama rasa bingung dan kalut

Mencari tahu di mana bisa melabuhkan hati

Berdesir hati Dinar mendengarnya. Namun segera ia menjawab dengan lincahnya:

Kembang mekar menanti kupu Dalam putik tersedia madu Hati muda terayun dalam sipu Jika dipetik dara pun mau....

Sebongkah kegembiraan muncul di kalbu Sedah. Gadis idaman para dewa itu menerima cintanya. Tanpa sadar ia meremas tangan dalam genggamannya itu. Kehangatan bukan cuma dikarenakan api unggun. Keduanya tidak menyadari entah dari mana lagi datangnya. Namun yang jelas kehangatan makin membuat keduanya seolah mendidih.

Manik-manik keringat bermunculan di dahi mereka. Dan tanpa berjanji, dalam pandang mereka saling meremas. Kaki mereka seolah tidak pernah merasa lelah. Menari mengikuti irama gamelan. Irama hati juga.

Sedah kini benar-benar menyadari apa yang tertera dalam lambang Ganesya. Bahwa keberanian merupakan irama dalam hidup. Orang yang tidak memiliki keberanian sebenarnya telah kehilangan irama dalam hidupnya. Di manakah keindahan suara gamelan tanpa iramanya? Demikian pula halnya hidup. Ia percaya bahwa tidak mungkin dapat memadu hati dalam janji jika ia tidak berani menyatakan cintanya pada Dinar.

Kebahagiaan juga membutuhkan keberanian.

Tanpa terasa titik-titik embun pun mulai turun. Bathara Kala dengan pelahan telah menggelindingkan waktu. Dan pagi pun mulai mengintip. Pelahan. Pelahan sekali, api unggun ikut surut. Pemimpin acara tidak lagi memerintahkan pawang api menambah kayu, yang kebetulan sekali memang sudah habis dari persediaannya. Jilatannya sudah tidak seperkasa kemarin sore. Tak juga seperti tadi malam. Makin lama makin pendek. Tidak lagi mencakar langit. Juga kehangatannya. Makin susut. Sebagai gantinya udara sejuk turun pelahan-lahan.

Titik-titik hitam kecil, mungkin abu yang terangkat naik waktu api menjilat angkasa, kini mulai ikut turun bersama embun. Jatuh pada tubuh-tubuh yang masih menari, menabuh, atau pohon-pohon, daun-daun dan atap-atap rumah serta rerumputan. Tapi semua tak mengacuhkannya. Asyik. Makin asyik. Sampai api unggun benar-benar pudar dan genta besar di gerbang Widya Trisnapala berbunyi dengan keras. Bertalu-talu. Memberi tanda bahwa upacara usai. Dan semua harus berhenti untuk kembali ke barak masing-masing. Sebahagian harus kembali ke wismanya. Tak terkecuali Sedah dan Dinar. Harus berhenti.

Ayah Sedah masih menunggu di kejauhan. Hatinya ikut gembira. Anaknya masih saja berdiri berhadap-hadapan dengan gadis yang dia impikan. Yang dalam lontar-lontar suratnya anak itu selalu menceritakan tentang keramahan, tentang senyum, tentang matanya yang seperti bintang kejora. Pendek kata dalam tiap suratnya tidak pernah terlewat satu atau dua kalimat untuk menceritakan gadis itu dengan segala kelebihannya. Sebagai orang-tua yang bijak, tentulah ia sudah tanggap bahwa anaknya jatuh hati pada Dinar.

Dan menurut pendapatnya Sedah tidak berlebihan. Ia lihat Dinar benar-benar gadis yang sukar dicari bandingnya.

Matanya menyiratkan bahwa anak itu amat cerdas. Memang seorang brahmani yang luar biasa. Ia membayangkan betapa akan bahagia anaknya kelak jika mampu mempersunting gadis itu.

"Api sudah memudar, namun arang yang menggunung itu masih merah membara. Begitulah hati ini, Kanda. Kehangatan yang Kanda berikan malam ini akan tetap membara." Dinar berbisik. Tangannya masih dalam genggaman Sedah. Dan memang pemuda itu tak ingin melepaskannya lagi. Kendati orang-orang sudah mulai meninggalkan tempat itu. Satu-satu. Sampai akhirnya habis.

"Api unggun ini boleh padam. Upacara boleh usai. Tapi kasihku yang berawal dari sekarang, hanya akan berakhir bila kematian telah menjemputku."

"Kanda..." Dinar tak dapat menahan hatinya. Tanpa memperhatikan sekelilingnya, ia menjatuhkan kepalanya ke dada Sedah. Dan untuk pertama kalinya, Sedah memberanikan diri membelai kepala Dinar. Membelai rambutnya. "Bisakah aku percaya?" Dinar berdebar.

"Mari kita menghadap ayahandaku. Setelahnya menghadap Mpu Brahma Dewa dan ayahandamu, supaya mereka semua menyaksikan, dan merestui cinta kita ini."

"Hyang Dewa Ratu! Kita lebih dahulu ke pura."

Keduanya berlari-lari kecil menuju pura, yang ada di tengah-tengah perkampungan barak para siswa. Mereka tak mempedulikan lagi semua orang melihat ke arah mereka. Bergandengan tangan. Seolah tidak mau berpisah lagi.

Berulang Candala Raka yang mengintip dari sela rumpun bambu kuning di dekat baraknya mengerutkan gigi. Menahan hati yang panas. Sementara itu ayah Sedah mengikuti dari kejauhan sambil geleng-geleng kepala. Ia tidak berani masuk pura. Takut mengganggu kedua muda-mudi yang tentunya sedang masuk dalam alam darana (alam konsentrasi pada waktu bersemadi: memusatkan perhatiannya pada satu titik, Hyang Maha Dewa, jagad dan pramudita) untuk bersua dengan Hyang Maha Kuasa. Hyang Maha Dewa!

0oo0dw0ooo0

Mentari sudah sejak tadi merekah menguak kabut. Para petani Adiluwih sibuk membajak sawahnya, sejak keremangan masih menguasai jagad. Sedang anak-anak kecil mengikuti alur bajak yang ditinggalkan oleh kerbau itu sambil bergurau dengan saudara-saudaranya, sebab dari bongkahan tanah yang terbalik karena bajak itu sering muncul jangkrik atau gangsir yang kemudian pada berenang di air yang segera mengisi alur itu. Berebutlah anak-anak itu sambil berbagi tawa. Sementara orangtua mereka mengendalikan bajak sambil berkidung dalam berbagai tembang. Menghibur diri atau menghibur sang kerbau? Sama-sama.

Sementara itu di beberapa sudut petak sawah ada beberapa orang yang mencangkul mempersiapkan persemaian. Beberapa bentar kemudian para wanitanya datang sambil membawa bakul. Luar biasa kebahagiaan yang tersirat dalam kehidupan mereka itu. Sedah tersenyum ketika mengamati.

"Kenapa Kanda tiba-tiba tersenyum?" Dinar yang sedang di sebelahnya bertanya.

"Adinda, sepatutnyalah kita menghadapi hidup dan semua permasalahannya ini dengan senyum. Lihatah!" Ia menunjuk para petani yang sedang beriung-riung dalam makan pagi bersama. "Mereka itu! Kendati sudra papa, sedang membajak pun bibir mereka berkidung. Nah, siapa bilang sudra tidak bisa berbahagia?"

"Ya, lihat Kanda, suami-istri dan anak-anak! Berbagi suka dan duka. Sama-sama tertawa. Tapi juga sama-sama berlepotan lumpur." Dinar setuju. Tanpa sadar ia pun mempererat pelukannya atas lengan Sedah.

Dan kaki mereka terus melangkah lamban. Seolah takut bumi yang mereka injak akan merekah dan menelan mereka ke dalam perut bumi.

"Bisakah nanti kita seperti mereka?"

"Mengapa tidak?" Sedah menjawab tangkas. "Kesamaan pandangan dan kesamaan kepentingan telah membuat mereka berbagi secara adil semua suka dan duka."

"Bukankah cinta yang membuatnya, Kanda?"

"Cinta? Sebahagian memang benar,-Adinda. Tapi cinta saja tidak dapat menjadi dasar dalam menata kehidupan. Suatu persekutuan dapat terjalin terus jika pandangan hidup dan kepentingannya terjaga dalam kesamaan."

"Hyang Dewa Ratu!" Dinar menyebut dalam kekaguman. Ia belum pernah menerima pelajaran semacam itu. Kendati dari ayahnya ataupun pamannya, Mpu Brahma Dewa. Dari mana Sedah memperoleh pengetahuan semacam ini?

Tanpa sadar mereka sudah mengelilingi Adilu-wih. Banyak orang menyapa kedua brahmana muda itu dengan ramah.

Sementara kedua orang-tua mereka saling beramah-tamah dan berunding dengan disaksikan oleh Mpu Brahma Dewa. Dan kesepakatan pun telah tercapai. Karena Sedah dan Dinar sudah berjanji kala keduanya berhadapan dengan Hyang Maha Dewa di pura, sebagai orang yang disebut brahmana maka mereka peka dan tidak mungkin menghalangi kehendak keduanya. Cuma Sedah masih akan pulang ke lereng Gunung Kawi terlebih dahulu. Ia telah berjanji pada teman ayahnya bahwa ia akan membantu pembangunan pertapaan dan perguruan di Panawijen.

"Barangkali kita akan berpisah selama dua tahun." Sedah menghela napas panjang. "Kau mau bersabar? Sementara kau masih perlu menambah pengetahuan di sini?"

"Aku akan bisa tamat nanti lima tahun mendatang." Dinar memandang wajah kekasihnya.

"Setelah dua tahun aku akan datang dan menunggui kau di sini."

"Benarkah itu? Ah " Tanpa sadar Dinar meraih leher

Sedah untuk mendekatkan mukanya. Dan kesempatan itu tak disia-siakan oleh Sedah. Ia pun menundukkan kepalanya dan kedua wajah berpadu dalam ciuman. Sama-sama baru

pertama kali melakukannya. Sama-sama tak dapat menahan gejolak jiwa. Juga tak mampu menguasai debar jantung masing-masing.

Kanda...

Adinda...

Akibatnya mereka tak menyadari bahwa sejak tadi langkah mereka diikuti oleh Candala Raka dari kejauhan. Dan betapa panas hati Candala ketika melihat kemesraan yang sedang berlangsung di hadapannya. Kendati dari kejauhan. .Ketika Sedah menyudahi ciumannya dan mengamati sekelilingnya, buru-buru ia menyelinap ke dalam semak. Dan ternyata pasangan itu membalikkan tubuh untuk kemudian berjalan kembali ke perguruan. Pendek-pendek langkah mereka.

Terpaksa Candala merapatkan diri ke tanah dengan tanpa gerak kala Sedah dan Dinar melewatinya. Lama sekali rasanya. Karena ia menunggu sampai beberapa jarak.

Mau tak mau ia harus menahan rasa gatal dan panas yang disebabkan oleh gigitan semut merah. Ah, sial. Kebetulan sarang semut. Dan ketika ia berdiri sambil membersihkan pakaiannya... minta ampun... keluhnya. Dagu dan dadanya penuh lumpur yang berwarna coklat. Setelah diciumnya... tahi kerbau! Candala buru-buru berlari-lari kecil ke sungai. Ia mandi tanpa lebih dulu melepas jubahnya. Tentu bukan kebiasaan, brahmana mandi bersama-sama anak-anak yang sedang memandikan kerbau. Apa boleh buat. Mereka toh cuma anak-anak kecil yang tidak mungkin menceritakan aibnya ini pada teman-temannya di barak. Akibatnya ia tidak akan berani segera pulang sebelum jubahnya kering kembali. Dan ia mencari tempat sepi untuk kemudian menjemur jubahnya setelah mandi. Sungguh aniaya tersendiri  

Dan itu pula yang menjadi salah satu sebab, kenapa Candala tidak ada waktu Sedah berpamitan pada seluruh rekannya di perguruan, bahwa ia akan ke Gunung Kawi selama dua tahun. Sementara itu beberapa teman lainnya yang telah lulus, sudah lebih dahulu meninggalkan Widya Trisnapala. Walau memang ada beberapa yang masih tinggal untuk menyelesaikan beberapa masalah. Misalnya, karena ada di antara mereka yang sudah terlanjur menikah dengan perawan Adiluwih dan punya anak sebelum tamat belajar.

Tentu memakan waktu untuk meninggalkan Adiluwih dengan membawa serta anak dan istri mereka.

Yang terakhir Sedah dengan ayahnya berpamitan kepada calon mertuanya. Entah apa sebabnya, maka Mpu Dewaprana beserta istrinya merasa berat ditinggalkan oleh Sedah. Seolah Sedah adalah bahagian dari hidup mereka. Apalagi melihat wajah anaknya, Dinar, yang bermendung.

Rasanya mereka ingin menahan Sedah di Adiluwih saja, supaya keduanya segera membangun bahtera rumah tangga.

"Ampunkan hamba, Yang Suci...," Sedah menyembah sambil tetap berdiri. "Bukan hamba akan melukai hati. Tapi apalah artinya hidup ini, jika tidak dapat mempersembahkan yang kita miliki pada kehidupan? Mengabdi pada kemanusiaan adalah panggilan suci dan mulia. Karena itu, perkenankan hamba menepati janti terlebih dahulu pada orang Panawijen."

"Jika soalnya mengabdikan diri, maka di sini pun bisa. Tapi soal janji, itu yang tak mungkin kita ingkari." Dewaprana mengangguk-angguk. "Nah, Dinar... jangan kau bersedih lagi. Ia tentu tidak akan ingkar, bukan?"

"Mana ada brahmana menipu," ibunya ikut menghibur.

Semua jadi tertawa mendengar itu. Dinar juga. Kemudian mendekati Sedah. Tanpa malu ia memeluk pemuda itu, seraya katanya,

"Seolah dalam mimpi. Atau memang benar-benar mimpi?" "Aku tak tahu bagaimana menjawabnya, Adinda. Tapi yang

pernah terjadi antara kita sebenarnyalah bukan cuma mimpi.

Walau seperti mimpi. Memang banyak orang yang menyamakan hidup sebagai kenyataan dan mimpi." Sedah diam sebentar sambil membetulkan rambut Dinar yang terurai karena ditiup angin.

"Tapi kita harus mengakui bahwa hidup memang sering dihiasi oleh mimpi-mimpi indah dan dihantui oleh mimpi-mimpi buruk. Namun manusia memilih yang pertama sebagai ladang perburuan. Karena memang begitu indahnya impian itu. Dan itu sebabnya jika impian itu berhenti, kita ingin memperpanjangnya. Seakan kita mampu memperpanjang impian itu."

"Apakah kita tak kuasa?"

"Jika kekuasaan yang demikian itu ada di tangan manusia, maka tak perlu ada Hyang Maha Dewa Wasesa Jagad Pramudita!"

"Kanda..." .

"Dua tahun tidak lama jika kita dapat membunuhnya.

Membunuh kesepian dalam alunan rindu dengan belajar untuk menambah pengetahuan kita. Ingat-ingat! Hyang Maha Dewa mengajar pada kita, bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang ajaib. Begitu ajaibnya, sehingga dalam keseakanan ia tinggal di tempat yang amat tinggi, yang sukar untuk kita capai."

"Hyang Dewa Ratu!"

"Nah, selamat tinggal, Adinda. Selamat tinggal, Bapa..." Sedah dan ayahnya membalikkan badan. Namun kepalanya masih menoleh ke belakang. Dinar melambai dan melambai...

0ooo0dw0ooo0