--> -->

Pertarungan Terakhir Bab 11 : Penyesalan

Bab 11 : Penyesalan

Mula-mula, Banyak Sumba tertarik. Akan tetapi, setelah mereka saling menyerang, tampaklah kepadanya bahwa perkelahian mereka rendah sekali mutunya. Ia mengundurkan diri dari lubang pengintai itu, lalu berjalan ke tengah-tengah ruangan. Si Colat yang duduk di atas bangku sambil menghadapi hidangan pagi berkata, "Perkelahian monyet.

Raden. Tapi, karena para jagabaya itu monyet-monyet yang bodoh, mereka lebih sering menang daripada kalah," katanya. "Tapi, saya pernah melihat monyet yang berkelahi dengan cara lebih baik, Kakanda," kata Banyak Sumba dengan nada bersenda gurau.

"Ya, harimau pun berkelahi lebih baik daripada seseorang yang tidak pernah belajar ilmu keprajuritan. Akan tetapi, manusia dapat mengubah cara berkelahi dari waktu ke waktu. Dari abad ke abad, monyet atau harimau berkelahi dengan cara yang sama. Manusia tidak, di sinilah perbedaannya.

Manusia memiliki akal dan dari akal ini, lahirlah ilmu keperwiraan yang makin lama makin disempurnakan dan diperluas. Perguruan-perguruan ilmu keperwiraan didirikan. Ada Padepokan Sirnadirasa, ada Padepokan Tajimalela.

"Nah, itulah sebabnya, kita selalu melihat kemungkinan- kemungkinan maju pada manusia. Prajurit yang berkelahi di bawah tadi adalah orang-orang baru. Dalam sebulan, dengan latihan setiap pagi, mereka akan lebih baik daripada umumnya para jagabaya kerajaan."

"Apakah mereka itu orang-orang baru?"

"Ya, Raden, rupanya keluarga si Colat ini makin lama makin bertambah besar juga. Dulu beberapa puluh orang, sekarang beberapa ratus. Engkau anggota keluarga baru," ujar si Colat sambil mulai makan. Obeh masuk dengan air pencuci tangan baru dan kain pengering. Si Colat mempersilakan Banyak Sumba makan. Banyak Sumba menolak karena ia tertarik oleh kegaduhan di luar, di samping itu ia belum mandi.

"Makanlah nanti bersama-sama dengan Jimat," ujar si Colat.

Banyak Sumba pun mohon izin untuk ke luar, lalu turun, ikut menggabungkan-diri dengan anak buah si Colat. Raden Jimat menyambutnya seraya mengucap sampurasun. Banyak Sumba berdiri di samping anak yang tampan dan lemah lembut itu. Sementara itu, pasangan yang berkelahi telah berganti.

Kadang-kadang Raden Jimat berseru, menghentikan mereka yang sedang berlatih, lalu membetulkan cara-cara yang tidak tepat. Banyak Sumba sadar bahwa betapapun mudanya Raden Jimat, pengetahuannya tentang ilmu keperwiraan sangat tinggi. Kesadaran ini bertambah juga ketika Raden Jimat turun ke gelanggang menghadapi salah seorang prajurit. Dengan tangkas dan indah, diseranglah lawannya sehingga tidak dapat berkutik. Gaya berkelahinya telah begitu dikenal oleh Banyak Sumba, yaitu gaya berkelahi yang dilihatnya di Padepokan Tajimalela. Yakinlah Banyak Sumba sekarang bahwa si Colat benar-benar telah menguasai ilmu kepuragabayaan.

"Coba hadapi aku oleh tiga orang!" tiba-tiba Raden Jimat berseru.

Tiga orang masuk gelanggang dan bersiap mengepung Raden Jimat. Akan tetapi, dengan cepat Raden Jimat melompat ke sana kemari, mengacaukan kepungan lawan- lawannya dengan tendangan dan pukulan. Makin kagum juga Banyak Sumba kepadanya.

"Jimat, lawan Raden Banyak Sumba!" tiba-tiba terdengar si Colat berseru dari lubang pengintai. Orang-orang bersorak dan Raden Jimat memandang kepada Banyak Sumba sambil tersenyum-senyum.

"Raden, dalam latihan pukulan penuh, hanya boleh dilepaskan ke bagian badan yang tidak berbahaya. Sedangkan ke arah bagian yang lemah hanya peringatan," sambung si Colat kepada Banyak Sumba. Banyak Sumba sadar bahwa si Colat sangat sayang kepada putranya. Oleh karena itu, ia merasa perlu untuk memberikan peringatan agar putranya tidak terancam bahaya.

"Baiklah, Kakanda. Tapi, barangkali sayalah yang akan banyak kemasukan pukulan," kata Banyak Sumba sambil tersenyum bersenda gurau. Setelah berkata demikian, masuklah ia ke dalam gelanggang bertepatan dengan keluarnya lawan-lawan Raden Jimat yang tiga orang. Tak lama kemudian, mereka pun berhadapan.

Berbeda dengan perkelahian sebelumnya, biasanya gerakan-gerakan segera dilakukan, Raden Jimat maupun Banyak Sumba tidak cepat-cepat menyerang.

Keduanya mencari celah pada kuda-kuda masing-masing.

Untuk itu, biasanya memancing dengan celah-celah yang dibuat pada kuda-kuda sendiri atau dengan gerakan yang memindahkan perhatian. Lama sekali Banyak Sumba mencari jalan untuk membuka serangan, tetapi Raden Jimat begitu baik menutup dirinya.

Sementara itu, seluruh gelanggang sepi semata. Hanya suara angin yang lewat di daun-daun yang terdengar. Orang- orang tidak lagi bersorak-sorai. Dengan tegang, mereka memerhatikan gerak-gerik kecil dan lembut pada Banyak Sumba dan Raden Jimat.

Banyak Sumba berpikir keras. Ia lebih besar dan lebih tinggi sedikit daripada Raden Jimat. Ia mendapat keuntungan dalam perkelahian jarak dekat. Dengan sendirinya, Raden Jimat akan mempergunakan siasat memukul, kemudian menjauh. Ia harus segera membendung siasat Raden Jimat ini, yaitu dengan menyudutkannya ke pinggir gelanggang. Ini harus dilakukannya dengan dua siasat.

Pertama, untuk menghadapi siasat serang lari, ia tidak boleh tinggal di tempat. Kemudian, untuk menyudutkan Raden Jimat, ia tidak boleh menyerang secara lurus tetapi harus melebar. Sementara itu, walaupun otot-ototnya kuat, ia tidak boleh memberi kesempatan untuk dipukul. Pukulan-pukulan Raden Jimat terhadap para prajurit tadi tampak begitu berbahaya sehingga umumnya mereka itu tidak dapat berbuat banyak setelah satu kali terpukul. Dengan pikiran seperti itulah, Banyak Sumba dengan tenang maju mendekat ke arah Raden Jimat. Dengan tidak disangka-sangka, Raden Jimat maju pula, seolah-olah ia tidak memperhitungkan tinggi dan besar tubuh Banyak Sumba. Ini membingungkan Banyak Sumba. Dan ketika ia belum dapat menetapkan siasat baru, Raden Jimat telah menyerangnya.

Serangan itu pun tidak disangka-sangka. Dengan keras, Raden Jimat memukul tangan Banyak Sumba yang paling dekat.

Secara naluriah, kalau mendapat serangan, Banyak Sumba segera maju. Sekarang, apa yang diduganya terjadi. Raden Jimat menjauh, menghindar ke samping sambil menyepak ke arah perut Banyak Sumba. Akan tetapi, kakinya dapat dikibaskan, bukan karena diperhitungkan, melainkan karena kebetulan saja. Banyak Sumba berpendapat bahwa ia dapat mulai menerapkan siasatnya, yaitu dengan menyudutkan Raden Jimat ke pinggir gelanggang. Akan tetapi, Raden Jimat maju kembali dan tanpa memperhitungkan jangkauan tangan Banyak Sumba yang lebih panjang dan berat badan Banyak Sumba yang lebih besar, ia melakukan serangan jarak dekat.

Tangannya menempel ke kedua tangan Banyak Sumba. Tangan itu tidak melawan tenaga tangan Banyak Sumba, tetapi menyerah pun tidak. Banyak Sumba merasa bahwa tangannya dibelit oleh ular yang licin, yang sewaktu-waktu kepalanya dapat mematuk ke arah tubuhnya. Banyak Sumba berusaha menghindarkan beberapa tusukan tanpa dapat mengembalikan serangan Raden Jimat. Untung ia tidak terpesona oleh serangan tangan itu. Kakinya dengan sigap menyapu kaki Raden Jimat. Radenjimat hampir terjatuh, tapi dengan tangkas ia memindahkan berat badannya, lalu menjauh.

Suara bergumam terdengar dari tepi gelanggang. Pada saat itu, Banyak Sumba membalas menyerang dengan langkah tidak lurus. Dengan gerakan melebar ke kanan dan ke kiri, ia berusaha mengepung Radenjimat. Sedangkan Radenjimat berulang-ulang mencoba menembus kepungan itu dengan serangan-serangan keras, terutama ke arah perut Banyak Sumba. Akan tetapi, tangan Banyak Sumba terlalu cepat sehingga semua serangan itu dapat dikibaskan. Akhirnya, ia makin mundur ke tepi gelanggang.

Banyak Sumba siap-siap untuk menangkap dan melemparnya. Akan tetapi, siasat baru yang tidak dikenal oleh Banyak Sumba dilancarkan oleh Radenjimat. Ia melakukan serangan jarak dekat, mengeraskan kedua tangannya menempel ke arah tangan Banyak Sumba. Ini mengundang bantingan, demikian pikir Banyak Sumba sambil membanting Radenjimat ke samping. Radenjimat memutar tubuhnya dan berpusing menuju ke tengah. Sekarang, Banyak Sumba-lah yang berada di tepi gelanggang, sedangkan Radenjimat yang diburunya, dengan tersenyum sudah lolos dan berdiri di tengah-tengah gelanggang. Ia terengah-engah, demikian juga Radenjimat.

"Satu-satu," tiba-tiba terdengar si Colat berseru dari atas.

Banyak Sumba tengadah. "Sapuan kakimu bagus sekali, Raden. Kalau bukan Jimat, sudah terbanting rata di rumput itu. Ia lebih ringan, jadi mudah memindahkan berat badannya."

Pertandingan antara mereka selesai. Para prajurit turun ke gelanggang, bertarung satu sama lain. Sementara itu, Banyak Sumba berjalan dengan Radenjimat ke arah sungai yang terletak tidak jauh dari hutan bambu itu. Mereka bercakap- cakap tentang ilmu keperwiraan. Banyak Sumba merasa gembira telah mendapatkan kawan berlatih yang begitu tangguh dan begitu cerdas.

"Sejak kapan Ayahanda mengajar Raden?" tanya Banyak Sumba pada suatu ketika.

"Sejak berumur delapan tahun. Saya belajar dengan tangan kosong setiap hari selama dua tahun, kadang-kadang sepanjang hari. Kemudian, dengan berbagai senjata saya pel- ajari tiga tahun. Yang lebih berat belajar dengan tangan kosong," katanya.

"Siasat tangan kosong Raden bagus sekali," kata Banyak Sumba dengan penuh kekaguman.

"Yang penting, kita tidak kehilangan akal, tidak bingung, apalagi marah. Itulah yang selalu diajarkan kepada saya oleh Ayahanda. Saya pernah bertanya kepada Ayahanda, apakah ada orang yang dapat mengalahkannya? Ayahanda menjawab, setiap orang dapat mengalahkannya kalau beliau sedang kehilangan akal sehatnya. Tapi dalam keadaan biasa, beliau tidak takut oleh siapa pun, juga oleh Pangeran Anggadipati yang termasyhur atau Jante jaluwuyung yang sudah tidak ada itu."

Banyak Sumba termenung.

"Rupanya, Ayahanda banyak mengenal para puragabaya itu," katanya.

"Ayahanda belajar bersama mereka," kata Raden Jimat. Banyak Sumba tidak mengerti, ia berpaling kepada Raden Jimat. Raden Jimat yang mengetahui Banyak Sumba kebingungan menjelaskan, "Karena dukacita, Ayahanda membuang diri ke dalam hutan. Beliau memasuki Hutan Larangan, menyerahkan diri pada binatang buas. Akan tetapi, para guriang melindunginya dan beliau diperkenankan memasuki wilayah Padepokan Tajimalela. Secara sembunyi- sembunyi, beliau mempelajari ilmu kepuragabayaan bertepatan dengan saat-saat Pangeran Anggadipati dan Raden Jante Jaluwuyung nun jadi siswa di sana."

Mendengar penjelasan itu, termenunglah Banyak Sumba. Ia makin sadar, betapa banyak persamaan nasibnya dengan nasib si Colat. Ia diperlakukan tidak adil. Ia terpaksa harus berpisah dengan putri yang dicintainya. Ia mempelajari ilmu kepuragabayaan secara sembunyi-sembunyi. "Pamanda Banyak Sumba," kata Radenjimat. "Sebenarnya tidak sukar untuk mencapai Padepokan Tajimalela kalau orang berani menembus Hutan Larangan yang mengelilinginya," demikian keterangan Radenjimat. Kemudian, ia tertegun.

"Sudahkah Pamanda ke sana? Dari gaya berkelahi Pamanda, saya melihat gaya Padepokan Tajimalela."

"Saya pernah melihat calon puragabaya berkelahi," kata Banyak Sumba menyembunyikan kenyataan.

Setelah tubuh mereka dingin, mereka bersama-sama membersihkan diri di sungai jernih yang mengalir dekat persembunyian si Colat. Dan semenjak itu, setiap pagi mereka berlatih, mengobrol, mandi, dan makan bersama-sama. Makin hari, makin haluslah ilmu keperwiraan Banyak Sumba.

TERNYATA, tempat itu hanyalah salah satu persembunyian si Colat. Banyak Sumba hanya beberapa hari tinggal di hutan bambu itu. Pada suatu hari, ia diberi tahu bahwa besok mereka akan berpindah tempat. Pada keesokan harinya, ketika matahari terbenam, berangkatlah sekitar lima puluh orang penghuni hutan itu menuju persembunyian lain.

Sepanjang jalan, berulang-ulang para anggota rombongan tertentu memisahkan diri untuk kemudian kembali dengan membawa tambahan perbekalan. Akhirnya, Banyak Sumba mengerti bahwa perbekalan itu diambil dari kampung- kampung karena orang-orang kampung yang ketakutan jauh sebelumnya sudah diberi tahu dan diharuskan menyediakan upeti mereka, terutama garam dan beras bagi pasukan si Colat.

Pada suatu kali, rombongan yang terdiri enam orang, kembali ke induk pasukan dengan tangan hampa. Bahkan, di antara mereka membawa anak panah tertancap di punggungnya. "Apa yang terjadi?" tanya si Colat. Walaupun tenang, terdengar suaranya agak lain. la marah melihat anak buahnya yang tcrluka itu.

"Ketika kami berseru-seru, dari dalam kampung tak ada jawaban. Kami segera mengundurkan diri karena merasa curiga. Untuk menyelidiki, pasukan disebar mengelilingi kampung itu. Seseorang melepaskan panah, diikuti oleh yang lain."

"Berapa besar kampung itu?" tanya si Colat.

"Kira-kira dua puluh lima keluarga, tapi tidak perlu ada yang ditakutkan," kata pemimpin rombongan yang enam orang itu.

Si Colat termenung, sedangkan orang yang luka itu diurus. Anak panah dicabut dan lukanya dibebat setelah diberi obat penawar racun. Setelah beberapa lama terdiam, si Colat berkata, "Dua puluh lima orang laki-laki dewasa bukanlah persoalan, tetapi tentu ada jagabaya di dalam kampung itu. Tak mungkin mereka berani menolak tuntutan kita kalau tidak ada jagabaya di sana. Kita harus kembali dengan pasukan yang lebih besar. Kita urus nanti," kata si Colat. Kemudian, ia memberi isyarat kepada rombongan untuk melanjutkan perjalanan.

Sepanjang jalan, Banyak Sumba melarikan kudanya tidak jauh dari si Colat dan Raden Jimat. Kalau jalan kebetulan besar dan mereka dapat mengendarai kuda berdampingan, kadang-kadang mereka berbicara tentang itu dan ini. Karena kepenasarannya, pada suatu kali Banyak Sumba bertanya, "Apakah memang ada kampung yang berani menolak?"

"Baru satu kampung itulah di daerah barat ini," ujar si Colat. "Tapi hanya sementara, mereka akan tahu risiko perbuatan mereka itu dalam waktu dekat," kata si Colat. Nada suaranya memperlihatkan kemarahan. "Mereka akan tahu arti perbuatan mereka sendiri," tiba-tiba si Colat berkata kembali. Entah apa sebabnya, perkataan si Colat itu meremangkan bulu roma Banyak Sumba.

-ooo00dw00ooo-