Pertarungan Terakhir Bab 12 : Malakal Maut

Bab 12 : Malakal Maut

Seperti juga yang pertama, persembunyian si Colat , yang kedua tidak disangka-sangka letaknya. Hutan kecil itu tidak berapa jauh letaknya dari jalan besar kerajaan. Bukan saja orang tidak mudah menyangka bahwa si Colat tinggal di tempat itu, tetapi letaknya yang dekat dengan jalan besar memudahkan si Colat untuk bergerak dan berhubungan dengan anak buahnya yang tersebar dalam hutan-hutan antara wilayah Kutabarang dan Pakuan Pajajaran.

Setiba di tempat persembunyian yang kedua ini, kehidupan sehari-hari Banyak Sumba tidak banyak berbeda dengan ketika dalam persembunyian yang pertama. Ia berlatih setiap pagi. Agar tidak membuang-buang waktu, ia membantu mengurus kuda pasukan, yaitu sebagai pemeriksa karena pengurus kuda pasukan si Colat kurang ahli dalam hal itu.

Banyak Sumba sebagai seorang putra bangsawan yang sejak kecil bergaul dengan kuda, jauh lebih ahli dalam memelihara dan menjinakkan kuda. Tampaknya, si Colat senang dengan pekerjaan yang dilakukan Banyak Sumba. Pernah ia meminta kepada Banyak Sumba agar mengajari Raden jimat dalam mengenal watak binatang yang berguna itu.

Banyak Sumba sendiri, setelah beberapa lama tinggal dengan si Colat, menyadari bahwa ilmunya tidak akan bertambah lagi kalau ia tidak mencari guru lain. Tidak dapat disangkal bahwa si Colat perwira yang sukar tandingannya.

Raden Jimat sendiri walaupun masih anak-anak sudah demikian tangguh, apalagi si Colat sebagai orang dewasa, yang di samping kecerdasannya telah pula mendapat pengalaman dari perkelahian-perkelahian yang mempertaruhkan nyawa. Ini sangat jelas kalau sewaktu-waktu ia berkenan memberikan petunjuk kepada Banyak Sumba saat berlatih dengan Raden Jimat. Namun, akhirnya dorongannya untuk pergi timbul juga dalam hati Banyak Sumba.

Pertama, ia harus segera melaksanakan tugasnya, yaitu membalas dendam terhadap Anggadipati dan mengangkat kembali nama keluarga Banyak Citra. Kedua, ia ingin segera dapat bertemu dengan keluarganya. Ketiga, sudah rindu pula ia kepadaJasik, dan keempat... walaupun dalam kabut keraguan, ia teringat kepada Nyai Emas Purbamanik. Maka, direncanakannya akan minta diri kepada si Colat untuk pergi ke Kutabarang.

Dari sana, dengan Jasik, ia akan pergi ke Pakuan Pajajaran tempat Anggadipati berada. Ia akan memasuki asrama kesa- triaannya dan menantangnya sebagai laki-laki. Kalau ia gugur, Jasik akan pulang sendirian ke Kota Medang. Kalau dia yang menang, mereka akan pulang bersama, dan siapa tahu Banyak Sumba dapat bertemu dan mengetahui bagaimana keadaan

Nyai Emas Purbamanik sejak gadis itu ditinggalkannya. Ia yakin, si Golat tidak akan keberatan, bahkan siapa tahu si Colat akan memberinya beberapa orang pengawal.

Ia menangguhkan niatnya karena saat yang baik untuk menyampaikan maksudnya belum tiba. Belakangan, si Colat merasa tidak senang karena beberapa kampung berani menolak permintaan upeti yang dituntutnya. Bahkan, para jagabaya dikabarkan tampak di hutan-hutan mendirikan asrama darurat. Belum lagi terhitung yang menginap di kampung-kampung. Beberapa belas anak buah si Colat dikabarkan hilang pula.

"Kita harus menghajar mereka," suatu kali si Colat berkata.

Tapi, ancaman itu tidak dilaksanakannya hingga pada suatu kali, berita buruk diterima di tempat persembunyiannya.

Ketika itu, hari masih pagi, embun masih meliputi puncak gunung. Burung-burung belum begitu ramai bernyanyi. Di bawah embun, dari arah lembah, muncullah kira-kira sepuluh penunggang kuda. Lawang kori dibuka dan kesepuluh pendatang masuk. Pemimpin segera menghadap si Colat di ruangannya.

Dalam ruangan itu, si Colat ditemani Banyak Sumba dan Raden Jimat. Kepala rombongan menghadap dengan kepala menunduk.

"Celaka, Juragan!" badega itu berkata dengan sedih. "Apa yang terjadi?"

"Seperti biasa, kami meminta upeti dari Kampung Murugul.

Mereka mempersilakan kami dengan membuka lawang kori lebar-lebar. Ini mencurigakan sebagian dari kami. Wasji, Anda, Rawi, Waskir, dan Jagoi masuk. Orang-orang kampung mempersilakan kami masuk, tapi kami menunggu di luar.

Sebagian dari kami bertindak begitu karena curiga, sebagian lagi karena bernasib baik. Tiba-tiba, dari arah hutan-hutan sekitar kampung, keluarlah para jagabaya—ada yang menunggang kuda, ada yang berjalan kaki. Sedangkan dari arah kandangjaga dan pohon-pohonan yang memagari kampung, hujan anak panah menyembur kami. Kami segera melawan dan menyerang jagabaya itu. Kami membunuh beberapa orang dan melukai banyak di antara mereka.

Juragan bisa melihat senjata kami yang berdarah. Akan tetapi, yang memasuki kampung tidak dapat keluar lagi. Lawang kori segera ditutup oleh orang-orang kampung Kami tidak tahu bagaimana nasib mereka." Mendengar berita buruk itu, si Colat termenung sejenak, kemudian memanggil Obeh. Obeh keluar kembali, tak lama kemudian tiga orang badega yang sudah agak lanjut usia masuk ruangan.

"Panggil tiga pasukan yang paling dekat. Perintahkan mereka mempersenjatai diri. Suruh yang lain membuat sejumlah obor kecil, sediakan kain-kain bekas atau rumput kering, dan minyak kelapa sebanyak-banyaknya."

Para badega itu segera keluar setelah memberikan hormat.

Sementara itu, yang membawa berita ditahan dulu untuk tinggal di dalam ruangan. Si Colat meminta keterangan lebih banyak tentang kampung yang dijadikan perangkap oleh para jagabaya itu. Setelah lama mengorek keterangan tambahan dari yang membawa laporan, si Colat menyuruhnya beristirahat, lalu ia berkata kepada Banyak Sumba, "Sekurang- kurangnya, tiga kampung yang berdekatan dengan kampung itu harus dibakar dalam dua-tiga hari ini. Para jagabaya akan menahan diri untuk bertindak lebih jauh."

"Tapi, kampung-kampung lain mungkin tidak mengizinkan para jagabaya untuk menjadikannya perangkap, Kakanda.

Mereka mungkin tetap setia kepada Kakanda. Sekurang- kurangnya, pada saat ini mereka belum berbuat salah," ujar Banyak Sumba.

"Raden, saya dibacok di dalam gelap oleh beberapa orang begundal, apakah saya harus berbuat salah terlebih dulu?

Ayahanda Raden pun dijatuhkan dari takhtanya, apakah beliau sudah berbuat salah? Raden sekarang kesatria yang mengembara dan menderita keprihatinan, apakah harus berbuat salah terlebih dulu? Apakah seseorang menderita setelah berbuat salah dulu? Tidak, Raden Banyak Sumba.

Siapa pun boleh menderita, bahkan tewas, tanpa berbuat salah terlebih dahulu. Itulah sebabnya, kampung-kampung sekitar kampung perangkap itu harus menderita, tanpa ada syarat mereka berbuat salah terlebih dahulu kepada kita." Banyak Sumba tidak berkata apa-apa, pertama karena masalah itu belum pernah dipikirkannya, kedua karena ia tahu pikiran si Colat sedang kalut.

Walaupun begitu, ia tetap merasa bahwa keputusan si Colat itu tidak adil. Ia yakin ada sesuatu yang salah walaupun tidak dapat menjelaskan bagaimana persoalan sebenarnya dengan tiga kampung yang akan dirusak pasukan si Colat itu.

Ia tidak memecahkan masalah itu. Ketika malam kedua tiba setelah datangnya peristiwa buruk itu, pada suatu subuh, ia dibangunkan oleh langkah-langkah kaki. Ia melihat dari tingkap ruangan di sebelah selatan tampak langit menjadi kemerah-merahan. Bukan hutan terbakar, tapi kebakaran besar lain telah terjadi.

Keesokan harinya, laporan tiba. Dan si Colat berkata kepada Banyak Sumba sambil tersenyum, "Mereka telah mengerjakan tugas dengan baik sekali. Tidak hanya kampung yang mereka bakar, tapi juga huma. Para jagabaya itu tentu akan berpikir dua kali sebelum mereka memasang perangkap lagi."

Banyak Sumba tidak berkata apa-apa mendengar berita itu. Ia sebenarnya ingin bertanya, apakah penduduk kampung itu diselamatkan dulu atau tidak. Akan tetapi, ia segera sadar bahwa si Colat akan memberi jawaban yang sama, "Haruskah orang menderita karena sebelumnya berbuat salah?" Menurut pengalaman si Colat, orang dapat menderita dan bahkan meninggal tidak perlu disebabkan oleh perbuatannya. Segala perbuatannya yang sebenarnya tidak dapat diterima oleh hati nurani Banyak Sumba, telah dipertanggungjawabkan secara demikian.

AKAN tetapi, kendatipun tiga kampung telah terbakar musnah sebagai peringatan, para jagabaya dengan bantuan rakyat tampaknya tidak gentar. Peristiwa penolakan membayar upeti oleh kampung-kampung disusul dengan penghadangan oleh para jagabaya. Korban berjatuhan hingga akhirnya, si Colat mengumpulkan para pembantunya dari semua daerah.

Setelah mengadakan perundingan, si Colat memutuskan beberapa hal yang mencerminkan gawatnya keadaan bagi mereka. Pertama, tindakan keras harus dilakukan terhadap kampung yang ternyata tidak mau memberikan upeti atau mencurigakan. Penculikan terhadap kepala kampung yang mencurigakan harus mulai dilakukan, kehati-hatian ditingkatkan, dan tempat persembunyian harus dipindah- pindah lebih sering.

Banyak Sumba mengambil kesimpulan bahwa kesabaran pihak kerajaan sudah habis dan sekarang para jagabaya telah dikerahkan untuk menghentikan kegiatan si Colat. Hal ini menimbulkan kebimbangan pada Banyak Sumba Akankah ia tinggal bersama si Colat sambil menanti pasukan yang mungkin dipimpin oleh Pangeran Anggadipati atau langsung menyerang Pangeran Anggadipati di tempatnya, Pakuan Pajajaran?

Mula-mula, Banyak Sumba tak berani menyampaikan niatnya untuk pergi dari rombongan si Colat. Ia takut si Colat menganggapnya penakut dan tidak punya rasa setia kawan. Akan tetapi, pada suatu kali, si Colat berkata kepadanya. "Raden Banyak Sumba, dari keterangan yang diterima, pemimpin pasukan yang dikerahkan untuk menghadapi kita ini adalah Pangeran Anggadipati. Ia dilihat oleh anak buah saya di Kutabarang beberapa waktu yang lalu. Di sana, ia mengadakan perundingan dengan penguasa kota. Mungkin sekali kita mem-binasakannya. Pertama, tentu saja gerakan akan berhenti untuk beberapa lama hingga kita dapat menyerangnya di Kuta-barang. Kalau kita dapat membinasakan dia, banyak keuntungan yang kita peroleh.

Pertama, tentu saja gerakan akan berhenti untuk beberapa lama, hingga kita dapat bernapas dan memperkuat diri. Kedua, gerakan rahasia yang dilaksanakan di Kutabarang akan merupakan penghematan pasukan."

Uraian si Colat tentang hal itu sungguh menggembirakan hati Banyak Sumba. Ia dapat meninggalkan si Colat yang tindakan-tindakannya tidak disetujuinya. Lagi pula, dia dapat menunaikan tugasnya. Maka, ia pun berkata, "Seandainya Kakanda memutuskan akan melaksanakan gerakan rahasia itu, saya bersedia serta di dalamnya," katanya.

"Engkau pantas menjadi pemimpin gerakan itu, Raden.

Engkau seorang puragabaya dengan segala kepandaian yang kaumiliki itu. Seorang puragabaya harus dihadapi oleh puragabaya lagi. Tetapi, saya tidak, mau melibatkan kau dalam persoalan ini. Ini urusan saya," kata si Colat

"Tapi, saya pun punya urusan dan perhitungan dengan dia, Kakanda," kata Banyak Sumba. Si Colat memandangnya dengan penuh pertanyaan, kemudian berkata, "Pernahkah ada silang sengketa antara dia dan kau, Raden?"

"Ia membunuh kakak saya," ujar Banyak Sumba. Mereka berpandangan. Mendengar penjelasan itu, berbisiklah si Colat, "Tidak salah dugaanku, engkau putra Pangeran Banyak Citra yang menghilang itu. Mula-mula, kusangka engkau hanyalah putra bangsawan biasa, yang karena iri hati orang lain, dijatuhkan dari kedudukannya. Engkau putra wangsa yang sangat terkenal dan tidak pantas prihatin seperti sekarang.

Pajajaran akan menerima hukumannya seandainya berani menghinakan putra-putra terbaiknya," katanya sambil tetap memandang Banyak Sumba.

"Saya, saya laki-laki terbesar di antara para putra Ayahanda Banyak Citra."

"Kalau begitu, kita akan menyerang dia bersama-sama. Sekarang, marilah kita atur penyerangan itu. Kita menarik perhatian isi Istana Kutabarang dengan membuat keributan di pinggir kota. Kita dengan anggota pasukan pilihan akan menyelinap dalam gelap memasuki istana. Saya akan menghadapi Anggadipati. Engkau, Raden, bersama dengan pasukan pilihan, menghadapi para calon puragabaya yang menjadi pengiring Anggadipati."

"Sayalah yang akan menghadapi dia, Kakanda, karena sayalah yang punya urusan pribadi dengan dia," kata Banyak Sumba. Si Colat memandangnya, lalu berkata, "Anggadipati bukan puragabaya biasa, Raden."

"Saya tahu hal itu, Kakanda."

"Saya bukan tidak percaya kepadamu Raden, tapi Si Colat termenung, lalu berkata, "Begini saja, Raden. Siapa yang lebih dahulu bertemu dengan dia akan lebih dahulu menghadapinya."

"Baiklah, Kakanda," kata Banyak Sumba. Sebenarnya, dia kurang senang dengan keputusan itu.

Ia tidak setuju dengan tindakan-tindakan si Colat. Kalau serangan itu dilakukan bersama, seolah-olah ia anak buah si Colat yang melakukan penyerangan di bawah perinlah si Colat. Ia sungguh gelisah, tetapi segera menenangkan diri dengan berdoa kepada Sang Hiang Tunggal untuk mendapatkan petunjuk.

Di samping kesibukan sehari-hari, di tempat persembunyian itu terlihat pula kesibukan lain. Si Colat melakukan perundingan dengan para pembantu utamanya dalam rangka melakukan penyerangan terhadap Istana Kutabarang.

"Saya akan datang malam hari dan kalian telah menyiapkan segalanya," demikian kata terakhir, setelah segala rencana siap.

TETAPI, rencana yang sudah siap itu tidak dapat dilaksanakan pada saat yang telah ditetapkan, karena begitu perundingan selesai dan baru saja para pemimpin pasukan meninggalkan ruangan perundingan, seorang mata-mata datang bermandi keringat.

"Sepasukan besar jagabaya bergerak ke sini," katanya. "Berapa banyak?" tanya Si Colat.

"Kira-kira seratus lima puluh orang, bersenjata berat."

"Kita terpaksa mengundurkan diri karena di sini hanya ada tiga puluh lima orang, Raden."

Gerakan pengunduran diri pun dilakukan dengan cepat. Si Colat menetapkan tempat persembunyian sementara. Sepuluh orang anggota pasukan disebar untuk menghubungi pasukan lain dan memanggil mereka agar berkumpul di suatu tempat yang telah ditetapkan. Dari tempat itu, mereka'akan mengatur penghadangan terhadap pasukan kerajaan yang berjumlah seratus lima puluh orang itu. Setelah segalanya ditetapkan, pengunduran diri dimulai.

Dua puluh lima orang penunggang kuda, termasuk si Colat, Radenjimat, dan Banyak Sumba memacu kuda masing-masing melintasi perhumaan dan hutan-hutan kecil. Perkampungan dihindari. Dalam perjalanan itu, suatu hal yang menyedihkan terjadi. Seorang petani sedang bekerja. Ketika mendengar mereka lewat, ia berdiri. Petani memerhatikan pasukan yang lewat. Seorang prajurit si Colat memberi tahu adanya petani itu, "Bereskan sendiri, jangan sampai dia menjadi sebab malapetaka bagi kita semua," kata si Colat.

Pasukan jalan terus, hingga Banyak Sumba mendengar teriakan yang mengerikan. Ketika dia berpaling, tampaklah dua orang prajurit sedang membunuh petani itu. Ia tidak dapat berkata apa-apa melihat kejadian itu. Hatinya bertambah gelisah. Ia tidak betah lagi duduk di atas kudanya di samping si Colat, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya berdoa dalam hati agar Sang Hiang Tunggal menunjukkan jalan baginya dalam mengemban tugas keluarganya. Sementara itu, perjalanan dilanjutkan, hingga matahari condong ke barat. Ketika itulah, si Colat memerintahkan agar pasukan berhenti untuk beristirahat. Pasukan pun memasuki hutan kecil dan membuka perbekalan. Sementara itu, para pemimpin berkumpul.

"Kita bermalam di sebuah kampung," kata si Colat. 'Apakah itu tidak terlalu berbahaya?" tanya salah seorang

pembantu utama yang namanya tidak diketahui oleh Banyak Sumba.

"Tidak. Pasukan jagabaya sedang mengatur pengepungan tempat persembunyian kita yang kosong. Mereka akan cukup lama mencari jejak kita sebelum besok. Di samping itu, kalau mereka dapat mengejar kita, kita punya sandera, yaitu isi seluruh kampung, dan kawan-kawan akan segera tiba."

"Mengapa tidak menginap di hutan?" tanya yang lain. "Kita harus menyelidiki sikap orang-orang kampung ini,"

kata si Colat, "Di samping itu, hutan lebih terbuka dari pengepungan, sedangkan kampung berpagar tinggi dan hanya orang-orang seperti anak buah kita yang tahu bagaimana menembusnya. Para jagabaya dengan senjata berat akan menjadi sasaran yang bagus bagi anak panah dari atas kandang jaga," kata si Colat.

Yang lain tidak berbicara apa-apa. Setelah kuda cukup mengaso, mereka pun menuju suatu kampung yang letaknya diketahui oleh anak buah si Colat. Ternyata, pikiran si Colat itu penuh dengan perhitungan. Dari kampung itu, mereka mendapat bahan makanan, di samping tempat berlindung.

Malam itu, Banyak Sumba tak dapat tidur nyenyak. Bukanlah karena ia takut diserang tiba-tiba oleh para jagabaya, tetapi karena pengalamannya yang lalu, serta percakapannya dengan si Colat. Betapapun tidak adilnya kehidupan terhadap dirinya, ia tidak akan bertindak seperti si Colat, pikirnya. Akan tetapi, ketetapan hatinya itu tidak sanggup menenangkannya. Sepanjang malam itu, ia gelisah dan diganggu oleh impian-impian buruk. Berulang-ulang terbayang juga pemandangan pembunuhan yang dilakukan oleh dua orang prajurit si Colat terhadap petani yang malang dan tidak tahu apa-apa itu.

Keesokan harinya, setelah mengurus seluruh persediaan beras dan garam dari kampung yang didudukinya, pasukan berangkat menuju tempat persembunyian baru yang telah ditetapkan. Di suatu persimpangan jalan, sepasukan berkuda yang terdiri dari lima belas orang telah menunggu. Ternyata, mereka anak buah si Colat yang datang dari daerah lain.

Mereka membawa dua ekor kuda yang tidak bcrpenunggang.

"Kita kehilangan dua orang," kata pemimpin rombongan baru itu dengan sedih.

"Ditangkap?" tanya si Colat. Kemarahan tampak pada air muka yang tiba-tiba berubah.

"Kami dihujani anak panah ketika mendekati kampung di utara Bukit Saninten itu. Mereka bangkit bersama-sama. Juga penduduk kampung-kampung sebelah utara. Kami mendengar berita itu dari penyelidik kami yang sekarang masih menghubungi kawan-kawan lain."

"Mereka akan belajar nanti," kata si Colat seperti berkata kepada dirinya sendiri.

Perjalanan pun dilanjutkan, masuk hutan keluar hutan, melintasi perhumaan, menyeberangi sungai atau padang alang-alang. Pada sore itu, rombongan melihat sebuah bukit gundul yang penuh dengan batu-batu runcing berserakan pada tebingnya yang curam. Ke atas bukit itulah rombongan berjalan. Ketika matahari hampir terbenam, mereka dengan susah payah mencapai puncak bukit itu.

Di sana sudah menunggu kurang lebih lima puluh orang anak buah si Colat lagi yang datang dari tempat lain. Tak lama kemudian, datang pula pasukan lain dalam jumlah yang sama. Maka, puncak bukit yang luas dan merupakan benteng alam itu pun dalam sekejap sudah merupakan sebuah benteng yang siap menghadapi dan menghalau serangan. Sungguh cerdik si Colat yang telah menemukan dan mempergunakan puncak bukit batu sebagai tempat persembunyian. Bagaimanapun, pasukan jagabaya yang mencoba datang ke tempat itu tentu kelelahan sebelum mencapainya. Di samping itu, tanpa membawa perbekalan, pengepungan terhadap benteng alam itu tidak mungkin dilakukan karena daerah sekitarnya tandus belaka.

Sebelumnya, benteng itu merupakan anugerah alam yang luar biasa bagi siapa saja yang menggunakannya. Tebing bukit itu sangat curam, tetapi dengan melalui celah, mudah didaki. Pihak yang menguasai benteng ini dengan mudah menjaga celah atau menutupnya dengan batu besar, agar lawan tidak dapat masuk. Sementara itu, tanah di sekeliling benteng alam itu tidak menguntungkan bagi pihak penyerang. Tanah di bawahnya gundul dan rata, sehingga sukar bagi penyerang untuk mendapatkan perlindungan dari hujan anak panah.

Sedangkan batu dalam ukuran yang tepat untuk pelanting sangat banyak di puncak, hingga tidak perlu dikumpulkan dari tempat lain.

"Sungguh benteng yang tidak mungkin dikalahkan," kata Banyak Sumba kepada si Colat yang berdiri di sampingnya. Ia sedang memberikan perintah kepada anak buahnya untuk mendirikan beberapa gubuk dan membereskan tempat-tempat hingga menyenangkan untuk dijadikan tempat tinggal.

"Kita tidak akan menjadikan tempat ini sebagai tempat bertempur, Raden. Betapapun kuatnya benteng ini, dengan pengepungan panjang yang dilakukan seribu jagabaya, akhirnya akan jatuh juga. Kita bukan saja melawan jagabaya, tetapi juga melawan kelaparan. Kalau sekarang kita berada di sini, itu hanyalah agar kita lebih tenteram mengatur siasat bagi medan pertempuran yang akan kita buka di mana-mana, di bagian kerajaan sebelah sini. Bahkan, kita akan berusaha agar lawan tidak dapat mendekati tempat ini. Dan hal itu mudah dilakukan. Pertama dengan menghancurkan mereka di perjalanan kalau jumlah mereka cukup kecil. Kedua dengan memancing mereka untuk mengejar pasukan kita ke tempat lain."

"Tetapi, seandainya lawan sampai ke tempat ini, mereka benar-benar tidak beruntung," kata Banyak Sumba.

"Ya," ujar si Colat sambil melayangkan pandangan ke sekelilingnya, ke hutan-hutan kelam yang tampak dari atas benteng alam itu.

Ketika itu, dari bawah tampak pula serombongan penunggang kuda yang berjalan menuju celah satu-satunya ke puncak bukit itu.

"Mereka datang dari utara," kata si Colat. "Kita akan mendapat kabar keadaan Kutabarang, Raden," sambungnya. Banyak Sumba berjalan bersama si Colat menyambut kedatangan pasukan baru yang berjumlah kira-kira dua puluh orang.

Mereka turun dari kuda masing-masing. Dalam cahaya obor, tampak wajah mereka yang berkeringat dan berdebu.

"Kami tidak berhasil mendapat perbekalan sesuai dengan permintaan yang tercantum dalam surat Juragan," kata pemimpin rombongan. Si Colat tidak berkata apa-apa, pandangan matanya bertanya kepada orang itu.

"Orang-orang kampung mulai melawan, hanya beberapa kampung yang menyediakan upeti. Yang lain tidak membuka lawang kori, bahkan ada yang menghujani kami dengan anak panah atau batu pelanting."

Si Colat menundukkan mukanya ke tanah untuk beberapa lama, kemudian ia mengangkat mukanya lagi, berkata, "Baiklah, soal perbekalan kita urus nanti, soal sikap orang- orang kampung itu lebih penting. Kita harus mengurusnya terlebih dulu."

Setelah itu, ia tidak banyak berkata. Dengan Banyak Sumba, ia berkeliling mengawasi pengaturan tempat di atas bukit itu. Tak lama kemudian, gubuk-gubuk telah berdiri, juga kandang kuda. Gudang besar terbuat pula untuk tempat perbekalan. Perbekalan yang sudah ada segera dimasukkan gudang itu. Akan tetapi, baru sedikit yang tersedia sehingga gudang besar itu sangat kosong. Untuk beberapa lama, si Colat memandang ke dalam gudang yang masih kosong itu.

Kemudian, bersama Banyak Sumba, ia berjalan ke arah celah yang merupakan satu-satunya gerbang ke atas bukit itu.

"Kita akan membuat pintu besar dari kayu, yang dapat ditutup dan dibuka," kata si Colat sambil memeriksa cadas di kedua belah celah. Ia memandang pula ke atas, ke tempat beberapa orang anak buahnya berdiri, menjaga.

"Hanya puragabaya yang dapat menyelinap. Tapi sebelum dapat mencapai dinding benteng, puragabaya pun akan menghadapi bahaya yang sukar dihindarkan," sambungnya pula.

"Mungkinkah kerajaan mengerahkan para puragabaya?" "Mungkin saja, Raden," ujar si Colat, "Sekurang-kurangnya,

para calon akan diikutsertakan sebagai pembantu pemimpin

pasukan jagabaya. Mereka akan menjadi penasihat dalam hal siasat atau penunjukjalan. Kalau ada kesempatan, mereka akan bertindak pula sebagai pengintai dan penyerang gelap. Pernah seorang pembantu saya tewas dengan cara yang aneh. Ia ditemukan mati di gubuknya. Ini pekerjaan calon puragabaya yang diperbantukan pada pasukan jagabaya yang menyerang pasukan anak buah saya itu. Tentu saja pasukan yang kehilangan kepala ini kalang kabut. Banyak yang mati, banyak pula yang tertawan. Tapi, kita tidak mau diserang secara demikian untuk kedua kali. Kami harus lebih cerdik, lebih banyak bergerak. Jangan mau diserang, lebih baik menyerang, lalu menghilang. Semenjak itulah saya berpindah- pindah."

Setelah pembicaraan itu, mereka kembali ke gubuk yang telah disediakan oleh anak buah si Colat. Malam itu juga, sambil makan si Colat dan para pembantunya melakukan perundingan. Kemudian, ditetapkan bahwa dua hal yang penting harus dilakukan dalam seminggu. Pertama, mengumpulkan perbekalan sebanyak-banyaknya dan menghancurkan pasukan-pasukan jagabaya yang dikirimkan kerajaan ke daerah itu. Kedua, usaha itu harus dilakukan bersama-sama untuk mencapai tiga hal, yaitu untuk mendapatkan bekal, untuk mengubah sikap rakyat, dan untuk memberikan waktu kepada pasukan si Colat menciptakan siasat lain setelah pasukan-pasukan jagabaya dihancurkan.

Dalam rangka siasat yang besar, diatur pula siasat-siasat kecil, di antaranya bertujuan untuk menyembunyikan tempat induk pasukan. Untuk itu, kampung-kampung yang terlalu dekat dengan benteng alam tidak boleh diganggu. Di samping itu, kekacauan-kekacauan akan dilaksanakan di dekat kota- kota, hingga balatentara kerajaan akan beranggapan bahwa gerakan si Colat berpindah mendekati kota-kota setelah mereka mengirim pasukan ke kampung-kampung. Hal itu akan membingungkan lawan.

Keesokan harinya, usaha itu mulai dijalankan. Pasukan dibagi dalam kelompok-kelompok dan berangkat menuju tempat-tempat yang ditentukan sebelumnya. Akan tetapi, suatu pasukan besar berangkat ke arah lain, yaitu untuk menghadang jagabaya yang dikabarkan mendatangi wilayah itu.

Si Colat tinggal di puncak bukit itu. Ia menerima laporan setiap hari dari para penunggang kuda yang datang berdua- dua dari segala jurusan.

Pada suatu pagi, si Colat berkunjung ke gubuk yang khusus disediakan untuk Banyak Sumba. "Raden, pasukan jagabaya yang seratus lima puluh orang itu sudah berada di sekitar Kampung Murugul. Pasukan- pasukan kita sudah siap di sekitarnya. Saya harus berangkat ke tempat itu untuk memimpin penyerangan. Karena di sini tidak ada pemimpin sama sekali dan Raden satu-satunya orang yang dapat saya percaya, terpaksa saya meminta kepadamu untuk tinggal di sini dan mengawasi pengaturan serta menerima berita dari daerah-daerah."

"Berapa jauh Kampung Murugul dari sini, Kakanda?"

"Dua hari perjalanan Raden, jadi saya akan berada kembali di sini dalam waktu lima hari," kata si Colat. Mendengar perkataan si Colat itu, sebenarnya Banyak Sumba merasa lega. Bagaimanapun, ia tidak bermaksud bertempur melawan para jagabaya yang tidak punya persoalan dengan dia. Ia hanya bermaksud berkelahi melawan Anggadipati. Dan kalaupun saat itu ia bersama si Colat, hal itu dilakukan dengan harapan pada suatu hari Anggadipati terpaksa akan diperintah mengatur penyerangan terhadapsi Colat. Ketika itulah ia menghadapi Anggadipati.

"Kalau memang tidak ada orang lain yang dapat Kakanda tugaskan di sini, apa boleh buat," kata Banyak Sumba.

Si Colat memandang Banyak Sumba untuk beberapa saat, kemudian berkata, "Di samping itu, saya pun tak hendak melibatkan kau dengan persoalan saya ini, Raden. Kau tidak punya kewajiban untuk ikut menghadapi mereka itu."

Banyak Sumba tidak tahu bagaimana ia harus berkata.

Kemudian, ia segera mengisi keheningan, "Baiklah, jadi saya akan mengurus di sini dan menerima berita-berita dengan Raden jimat."

"Tapi, Jimat mau ikut, Raden."

"Kakanda, bukankah itu sangat berbahaya?" tanya Banyak Sumba. Ia gelisah. Kalau Raden jimat ikut, tentu ia sendiri akan malu kalau tidak ikut. "Tidak, Raden. Ia akan bersama saya tinggal di puncak bukit, di tempat mengatur siasat. Kalau ada sesuatu yang terjadi, dan itu tidak mungkin, kami sudah mempunyai jalan- jalan dan cara-cara meloloskan diri."

Banyak Sumba merasa lega karena hal itu berarti bahwa kepergian si Colat ke medan perang bukan untuk bertempur, tetapi untuk mengatur pertempuran. Ia segera berkata, "Baiklah, Kakanda. Saya akan menunggu Kakanda di sini hingga tiba kesempatan saya untuk bertempur, nanti di Kutabarang."

"Ya, Raden," kata si Colat sambil tersenyum. Setelah itu, pembicaraan hanya mengenai soal-soal kecil, kemudian mereka pun berpisah. Si Colat bersiap-siap untuk berangkat, sementara Banyak Sumba menghubungi anak buah si Colat yang tidak berangkat untuk menyampaikan perintah.

KETIKA si Colat tidak ada di tempat, tak banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Banyak Sumba hanya berpindah tempat, yaitu ke gubuk terbesar. Di sana, ia menerima para penyelidik yang berdatangan dari waktu ke waktu untuk menyampaikan laporan. Semua laporan umumnya hampir sama, yaitu mengenai bertambah sukarnya mendapat perbekalan karena kampung-kampung mulai diduduki oleh jagabaya.

"Harap disampaikan kepada Juragan bahwa kampung- kampung sekarang merupakan benteng yang bukan saja tidak lagi menjadi sumber perbekalan pasukan, tetapi juga menjadi benteng yang disebarkan lawan untuk mengepung kita."

Dari laporan-laporan yang diterimanya itu, Banyak Sumba dapat membayangkan keadaan yang dihadapi si Colat. Karena keangkuhannya, akhirnya kerajaan memutuskan untuk memberinya pelajaran. Si Colat benar-benar dikepung, tidak hanya diancam. Banyak Sumba mengambil kesimpulan bahwa tidaklah tepat untuk melawan kerajaan dengan mempergunakan pasukan yang besar. Untuk menghantam kerajaan, akan lebih bijaksana kalau mempergunakan sepuluh orang puragabaya yang paling baik. Tapi, tentu saja mempergunakan puragabaya tidak mungkin karena para puragabaya adalah mereka yang menyerahkan hidupnya untuk kerajaan. Jadi, sebaiknya si Colat mempergunakan orang-orang yang dididik dalam keperwiraan hingga mencapai tingkat kepuragabayaan. Demikianlah pikiran Banyak Sumba menerawang selagi ia duduk di tengah-tengah gubuk besar, seraya menanti anak buah si Colat yang datang dari waktu ke waktu membawa berita.

Tiba-tiba, bertanyalah ia dalam hati, "Mengapa si Colat melakukan suatu hal yang tidak bijaksana, yaitu dengan membina suatu pasukan besar?" Pertanyaan yang muncul dengan tiba-tiba itu mengherankan dirinya sendiri.

Bagaimanapun, tindakan si Colat dengan membuat pasukan yang besar benar-benar tidak bijaksana, kalaupun tidak dapat dikatakan sia-sia. Yang jelas, tidak ada gunanya kalau hanya untuk membalas dendam terhadap keluarga Tumenggung Wiratanu. Apakah si Colat memiliki tujuan lain? Banyak Sumba mulai curiga.

Sementara ia masih termenung demikian, datanglah penunggang kuda dua orang, yang langsung dibawa oleh penjaganya.

"Kami dari wilayah barat, Juragan," kata kedua orang penunggang kuda itu.

"Laporankanlah segalanya, nanti saya sampaikan kepada majikan kalian," sambut Banyak Sumba seraya mengeluarkan beberapa helai lontar dari kotaknya, kemudian mulai bersiap untuk menulis. Kedua penunggang kuda itu secara saling melengkapi menerangkan keadaan yang dihadapi pasukan si Colat di daerah barat. Ternyata, keadaan di dekat Pakuan Pajajaran tidaklah seburuk di tempat-tempat lain. Kampung-kampung pegunungan yang sukar dicapai oleh para jagabaya terpaksa masih memberikan makanan kepada pasukan si Colat. Sikap melawan tidak tampak di sana. Rupanya, orang-orang Pakuan Pajajaran sudah mengetahui bahwa si Colat masih jauh.

Pengepungan lebih tepat dilakukan di tempat yang benar- benar berada di sekitar persembunyian si Colat.

"Baiklah," kata Banyak Sumba, "tidak ada lagi?"

Sebelum kedua penunggang kuda itu menjawab, di luar terdengar ribut-ribut. Banyak Sumba mengangkat kepalanya, seorang badega masuk, lalu berkata, 'Juragan Anom, ada utusan yang hendak melapor, tapi ia luka. Ia hampir meninggal dan tidak mungkin di bawa ke sini."

Banyak Sumba memberi isyarat kepada kedua tamunya, lalu ia bangkit dan bergegas ke luar.

Dibaringkan di atas helai kulit kambing, seorang anak buah si Colat yang sudah berumur, sedang berjuang melawan malakal maut.

Dari pakaian yang basah, Banyak Sumba tahu bahwa ia luka parah.

"Seorang penduduk kampung melemparkan tombak kepadanya ketika ia lewat dijalan di bawah bayangan pagarnya," kata temannya yang lebih muda.

"Mengapa tidak dibawa ke dalam ruangan agar diurus?" tanya Banyak Sumba. "Laporan dapat ditangguhkan dulu," sambungnya.

"Ia mau menyampaikan sesuatu kepada Juragan Colat.

Ketika diberi tahu Juragan Colat tidak ada, ia meminta Juragan Anom."

Banyak Sumba berlutut, lalu berkata kepada orang tua itu, "Paman, saya wakil Juragan Colat." Orang tua itu membuka matanya, memandangnya dengan teliti, lalu berusaha berkata, tetapi kemudian matanya dipejamkan kembali. Sambil terpejam ia berkata, "Saya sudah katakan dulu adanya

Banyak Sumba dengan sabar menunggu lanjutan kata-kata itu. Orang tua itu membuka matanya, kemudian berkata, lagi, "... kalau keluarga Tumenggung Wiratanu sudah habis, sudahlah. Kerajaan terlalu kuat untuk direbut... dan sang Prabu adalah pilihan Sang Hiang Tunggal... katakan kepadanya."

"Ya," kata Banyak Sumba, walaupun ia tidak yakin akan apa yang ditangkapnya dari kata-kata orang yang menghadapi kematian itu.

Setelah itu, orang tua tersebut tidak berkata apa-apa lagi. Banyak Sumba memerintahkan agar orang yang terluka itu dibawa ke gubuk terdekat. Ia sendiri berdiri untuk beberapa lama, memandang ke arah para badega yang menggotong orang itu dengan hati-hati.

Waktu Banyak Sumba sudah berada kembali dalam gubuk besar, seorang badega datang memberi tahu bahwa orang terluka itu sudah meninggal. Banyak Sumba pun segera mengurus hal-hal yang berhubungan dengan upacara pembakaran jenazahnya.

Malam itu, setelah larut sekali, Banyak Sumba baru dapat tidur. Tetapi, ia terbangun subuh-subuh benar. Sekeliling tempat itu sepi sekali, hanya kadang-kadang dari arah hutan rimba terdengar aum harimau atau teriakan binatang lain.

Banyak Sumba mencoba tidur kembali, tetapi pikirannya melayang ke arah peristiwa siang harinya.

'Juragan,Juragan," tiba-tiba terdengar orang memanggil dari luar. Banyak Sumba membuka pintu, lalu memandang kepada dua orang badega yang berdiri dalam remang-remang subuh. "Ada apa?"

"Tewas, Juragan Anom." "Apa?"

"Raden Jimat gugur."

"Raden Jimat?!" tiba-tiba Banyak Sumba berseru. Berita itu datang bagaikan sebuah tinju besar menghantam kepalanya.

"Ya, kena anak panah."

"Apakah ia ikut bertempur?" tanya Banyak Sumba.

"Tidak. Pertempuran berjalan dengan baik, kita membunuh dan menawan anggota-anggota pasukan jagabaya itu."

"Lalu?"

"Ketika pasukan kita pulang, kami lewat di sebuah kampung. Ketika itu, Juragan Colat ingin mengetahui kesetiaan kampung itu dan menyuruh sebagian pasukan mendekatinya. Tiba-tiba, dari atas pohon-pohonan anak panah datang bagaikan hujan. Salah satu menyelusup di sela-sela baju zirah Radenjimat dan mengenai paru-parunya.

Radenjimat meninggal tidak lama kemudian."

"Saya akan pergi ke sana sekarang juga!" kata Banyak Sumba. Kesedihan mendesak dalam kalbunya.

"Kami diperintahkan untuk mengambil pakaian dan semua senjata Raden jimat. Upacara pembakaran mayat akan dilakukan di kampung itu juga."

Banyak Sumba membantu kedua utusan itu mengambil pakaian dari senjata Raden jimat. Sambil memegang pakaian anak itu, air matanya menitik tidak tertahankan. Segala kenangan dengan anak itu terungkap kembali ketika helai demi helai pakaiannya diambil dari dalam peti. Ia dapat membayangkan betapa remuk hati si Colat oleh peristiwa itu. Setelah menyerahkan tugas kepada badega yang tertua dan menitipkan berbagai pesan, bersama sepuluh orang anggota pasukan, Banyak Sumba berangkat menuju tempat akan dilaksanakan upacara pembakaran. Sepanjang hari, Banyak Sumba dengan pengiringnya memacu kuda mereka. Ternyata, kampung itu berada sehari perjalanan dari bukit persembunyian mereka.

Ketika matahari turun, barulah mereka sampai. Untung ketika itu upacara penyucian jenazah baru selesai dilakukan dan orang sedang membungkuskan kain putih sebagai baju kematian Radenjimat.

Banyak Sumba menyentuh jenazah sambil tidak dapat menahan air matanya. Ia tidak berani melihat ke arah si Colat yang berdiri dekat jenazahnya bagaikan sebuah patung. Ia ikut membantu para badega dan seorang pendeta yang memanjatkan doa. Setelah jenazah selesai dipersalinkan, segala miliknya yang berupa perhiasan dan senjata diletakkan di sampingnya. Jenazah pun diusung di atas keranda yang dihias dengan indah ke lapangan yang terletak tidak jauh dari kampung.

Sepanjang jalan, sambil berdoa, Banyak Sumba melihat mayat laki-laki bergelimpangan. Ia menyadari bahwa kampung itu direbut dengan pertumpahan darah. Kemudian, perhatian Banyak Sumba tertarik oleh unggun pembakaran jenazah yang disusun tinggi-tinggi di lapangan kecil dekat kampung itu.

Dalam remang-remang senja, tampak susunan unggun seperti sanggar pemujaan.

Pasukan berkeliling sekitar unggun, kira-kira jarak sepuluh langkah darinya. Jenazah diusung oleh empat orang badega dibawa ke arah unggun. Di depan jenazah, berjalan pendeta menabur-naburkan bunga seraya menyanyikan doa. Di sekeliling tempat itu hening belaka.

Tiba-tiba, Banyak Sumba melihat sesuatu yang aneh dalam remang-remang cahaya sore itu. Beberapa bagian unggun itu bergerak-gerak. Ketika Banyak Sumba menajamkan pandangannya, tampaklah sesuatu yang mengejutkan dan menyeramkan bulu ramanya.

Ternyata, berselang-selang dengan kayu samida sebagai kayu pembakaran itu, terdapat pula manusia yang diikat satu sama lain, seperti juga kayu bakar. Segera Banyak Sumba menyadari bahwa mereka itu adalah penduduk kampung yang menyebabkan kematian Raden Jimat. Menyadari hal itu, gemetarlah seluruh tubuh Banyak Sumba. Ia makin menajamkan matanya. Ia ragu-ragu, apakah manusia yang bercampur dengan kayu bakar itu semua laki-laki atau juga termasuk perempuan. Ini pikiran dan dendam orang gila, pikir Banyak Sumba. Ini tidak boleh terjadi. Sang Hiang Tunggal akan mengutuk seluruh Pajajaran, termasuk dirinya, kalau peristiwa yang buas itu terjadi. Betapapun hatinya meronta- ronta, kakinya seolah-olah terpaku pada tanah. Ia hanya gemetar dan tidak dapat berbuat apa-apa. Juga ketika seorang badega berjalan dengan obor besar, menuju tumpukan kayu samida dan manusia yang telah disirami dengan minyak kelapa itu. Tubuh Banyak Sumba berguncang, hatinya berontak, tetapi badannya seperti membeku di

tengah-tengah keheningan itu.

Tiba-tiba, sesuatu terjadi. Dari arah tumpukan kayu dan manusia itu, terdengar suara kecil. Mula-mula tidak jelas, kemudian makin lama makin keras. Tangisan bayi. Tangisan bayi itu makin lama makin keras. Banyak Sumba mendengarnya dan tiba-tiba ia menyadari bahwa itu tangisan bayi manusia yang mewakili seluruh kemanusiaan yang hendak diperiakukan dengan buas. Mendengar tangisan bayi di dalam tumpukan kayu bakar itu, berkunang-kunanglah mata Banyak Sumba.

Ia melihat badega yang membawa obor besar berjalan dan hendak menyulut unggun besar itu. Tiba-tiba, tangisan bayi itu melengking bertambah nyaring. Hati banyak Sumba berontak, melonjak, dan tercabutlah kakinya dari bumi. Ia menghambur ke depan, ke arah pembawa obor itu.

"Tidak. Tidak. Jangan!" katanya sambil berlari. Ia menangkap obor itu, lalu membantingnya ke tanah dan memijak-mijak nyalanya hingga padam. Ia berpaling kepada si Colat, hendak mengatakan sesuatu, "Kakanda!" serunya tersendat.

Yang dilihatnya adalah ujung-ujung tombak menuju dadanya.

"Jangan, mari kuhabisi," kata si Colat kepada anak buahnya yang menodongkan tombak kepada Banyak Sumba.

Secepat kilat, si Colat mencabut trisula yang tersembunyi di balik ikat pinggang kain lebar. Ia melangkah menuju Banyak Sumba. Banyak Sumba mundur, "Kakanda," katanya berbisik. Ia melihat mata si Colat memandang kepadanya dengan cahaya lain. Banyak Sumba mundur. Tapi karena kebiasaan sebagai perwira, ia menangkap gerak kedua kaki si Colat. Ia mundur, tapi ia pun meraba kedua trisulanya yang juga terselip di bawah ikat pinggang kulit harimau tutulnya. Ia mundur dan tiba-tiba si Colat menghambur.

Banyak Sumba melihat obor. Ia menyangka obor itu obor lain untuk menyalakan api unggun pembakaran. Ia mengambil risiko. Ia mencegat gerakan si Colat dengan melanggar kaidah perkelahian puragabaya.

Ia mencegat gerakan si Colat itu dan menyusul dengan serangan putus asa karena ingin segera melepaskan diri dari perkelahian dan mencegah orang memulai pembakaran jenazah itu. Suara daging robek dan tulang yang patah terdengar, kemudian dia dan si Colat sama-sama terpelanting. Rasa sakit yang amat sangat menusuk seluruh tubuh Banyak Sumba. Dengan pandangan berkunang-kunang, ia melihat si Colat terhuyung menuju kepadanya dengan kedua trisula di tangannya. Banyak Sumba bersiap dan ketika mereka bertubrukan, tiba-tiba pandangan Banyak Sumba menjadi gelap. Ia hanya mendengar teriakan-teriakan, kemudian segalanya gelap dan sunyi.

-ooo00dw00ooo-