-->

Pertarungan Terakhir Bab 08 : Hampir Tersesat

 
Bab 08 : Hampir Tersesat

Matahari telah miring ke barat ketika napasnya seolah-olah hampir menyumbat tenggorokannya. Ketika itulah, ia menghentikan larinya, lalu sekali lagi menjatuhkan diri dalam semak-semak. Telinganya mendengarkan, kalau-kalau suara pengejar itu mendekat, walaupun ia tahu, tidak akan dapat lari lagi seandainya mereka mengejarnya. Ia berbaring saja, seluruh tubuhnya gemetar karena kelelahan. Akan tetapi, tidak didengarnya suara apa-apa, selain suara angin dan burung- burung. Itulah sebabnya, ia berbaring berdiam diri, merentangkan badan seenak-enaknya untuk mengembalikan tenaga. Entah berapa lama ia berbaring demikian, kemudian ia merasa sangat dahaga dan lapar. Banyak Sumba duduk, lalu melihat ke atas pohon, mencari buah-buahan yang mungkin dapat dimakannya. Akan tetapi, pohon-pohonan di tempatnya berhenti itu umumnya tidak berbuah. Ia bangkit dan dengan hati-hati mengawasi sekelilingnya, kemudian berjalan sambil merunduk. Tiba-tiba, didengarnya suara burung kutilang. Ia merasa gembira karena adanya burung-burung itu berarti ada buah-buahan.

Ia terus berjalan menuju suara burung-burung kutilang dan kucica yang makin ramai terdengar. Tak lama kemudian, terlihat olehnya bagian hutan yang terbuka, yang ditumbuhi semak-semak harendong, pohon-pohon duwet, dan pohon buah-buahan kecil lainnya. Ia sadar bahwa daerah itu pernah didatangi orang-orang yang berhuma, itulah sebabnya ia harus berhati-hati. Dengan melihat ke kiri ke kanan dan sekelilingnya, ia mulai memetik buah-buahan yang ranum, lalu memakannya. Banyak Sumba tersenyum sendiri, teringat akan masa kanak-kanaknya di wilayah Medang. Ketika itu, ia sering naik si Dawuk pergi ke luar tembok kota, mengembara di padang-padang dan semak-semak, untuk menikmati buah- buahan kecil yang sekarang dimakannya sebagai makanan utama.

Tiba-tiba, ia tertegun. Ia teringat bahwa Jasik akan menunggunya. Apakah Jasik sudah melarikan diri atau ditangkap? Banyak Sumba termenung sejenak, kemudian diputuskannya agar pada hari itu juga, ia menemui Jasik. Akan tetapi, jalan mana yang harus ia lalui? Ia yakin bahwa segala jalan menuju ke Kutabarang dan Kutawaringin timur akan tertutup oleh para siswa yang mengepungnya. Mungkin, sekarang para jagabaya telah diberi tahu dan diminta untuk menangkapnya. Banyak Sumba termenung. Akhirnya, diputuskannya untuk mencoba menerobos para pengepung, lalu menemui Jasik. Ia kembali memasuki hutan yang baru ditinggalkannya, terus berjalan. Hutan makin lama makin lebat. Ia kembali mencari buah-buahan kecil, tetapi suara burung kutilang tidak didengarnya. Makin lama, hutan yang dimasukinya makin tidak dikenalnya. Ia mencoba melihat matahari, tetapi tidak dapat memastikan dari arah mana ia dapat melihat matahari. Ia mengira akan menemukan arah kembali kalau matahari telah berada di atas bukit. Akan tetapi, hal itu berarti bahwa ia akan kemalaman. Itulah sebabnya, ia berjalan terus. Kemudian, hutan bertambah lebat. Matahari tidak dilihatnya lagi, ternyata ia tersesat. Ketika kakinya sudah tidak mau dilangkahkan lagi, ia duduk termenung.

Manakah yang lebih sial, ditangkap oleh para siswa padepokan atau tersesat di dalam hutan yang belum pernah diinjak manusia? Tapi bukan itu masalahnya, yang penting ia harus menemukan jalan keluar. Ia pun bangkit dan kembali berjalan. Matahari bertambah condong. Akan tetapi, ia tidak dapat melihatnya, di bawah kerindangan pohon yang besar- besar itu. Banyak Sumba hanya dapat melihat cahaya, tetapi ia tidak tahu dari mana sumber cahaya itu. Ia sering tidak dapat melihat cahaya sama sekali, hutan yang lebat itu remang-remang belaka. Karena terasa perjalanan semakin berat, kakinya sudah tidak dapat dilangkahkan lagi. Akhirnya, ia memutuskan untuk mencari Jasik keesokan harinya.

Ia pun mencari tempat beristirahat. Ia tengadah, mencari pohon yang dapat dijadikannya tempat menginap malam itu. Setelah dilihatnya sebatang yang agak berjauhan letaknya dengan yang lain, ia mulai memanjat pohon itu. Akan, tetapi, perbuatan itu tidak mudah dilakukannya. Tangan kirinya hampir tidak dapat dipergunakannya, setiap pergelangan itu meregang, rasa sakit menusuk hingga ke pundaknya. Akan tetapi, dengan susah payah, akhirnya dicapainya juga dahan yang dapat dijadikannya tempat beristirahat. Ia duduk di atas dahan itu seperti di atas punggung kuda, kepalanya diletakkan, seperti meletakkan kepala di leher kuda, di atas surainya. Sementara itu, ikat pinggangnya yang terdiri dari kain hitam yang panjang dibelitkan ke batang pohon dan diikatkannya ke pinggangnya agar kalau tertidur, ia tidak jatuh. Karena lelahnya, tak lama kemudian, ia pun tertidur.

Ia baru terbangun ketika didengarnya suara seperti guntur yang menggetarkan isi hutan itu. Ia membuka matanya, terkejut. Sekelilingnya sudah gelap dan ketika ia melihat ke bawah, berpasang-pasang mata berwarna hijau memandangnya, sedangkan tubuh-tubuh yang besar dan belang, membayang kehitaman di malam remang-remang itu. Ia bersyukur telah memilih pohon yang tinggi dan kecil, hingga raja-raja hutan itu tidak dapat mencapainya.

Tiba-tiba, ia terkejut karena terdengar jeritan babi hutan tidak jauh dari tempat itu. Mendengar jeritan babi hutan itu, raja-raja hutan sebagian menyelinap, meninggalkan tempat itu, sebagian lagi tetap berdiri seraya memandang seolah-olah menunggu ia turun. Akhirnya, Banyak Sumba tidak peduli. Ia memejamkan matanya kembali, setelah mempererat ikat pinggangnya. Malam pun berlalu dan ia hanya beberapa kali terbangun karena jeritan binatang yang menjadi mangsa binatang buas atau karena aum binatang-binatang buas yang sedang membunuh mangsanya.

KEESOKAN harinya, ia terbangun di saat fajar, waktu burung-burung mulai bernyanyi. Begitu ia tersadar, begitu dilepaskannya ikal pinggangnya, lalu ia menuruni pohon tempatnya bermalam. Ia bergegas dengan tekad mencari jalan untuk mengunjungi tempat Jasik seharusnya menunggu. Berulang-ulang didengarnya gemersik daun-daun semak, berulang-ulang ia berhenti dan mendengarkan suara itu dengan penuh kecurigaan. Mungkinkah ia masih dikejar para siswa padepokan?

Ia berjalan terus, tetapi tidak tenang seperti saat-saat sebelumnya. Hutan makin lama makin lebat juga, pohon- pohon makin lama makin besar. Bahkan, mulai tampak pohon- pohon yang batangnya sebesar-besar tubuh kerbau. Tak lama kemudian, tampak pohon yang lebih besar dan lebih tinggi. Sementara itu, semak-semak di bawahnya mulai rapat hingga Banyak Sumba tidak lagi dapat menembusnya. Akhirnya, Banyak Sumba berhenti berjalan, kemudian beristirahat sambil berpikir, "Walaupun menuju ke utara, kalau hutan bertambah lebat, berarti menjauhi dunia manusia dan mulai memasuki dunia binatang-binatang buas dan para siluman," demikian bisik hati Banyak Sumba. Ia memutuskan untuk kembali. Agar cepat menuju tempat semula, ia bermaksud menuruti jalan- jalan binatang yang banyak bersimpang siur dalam semak- semak.

Sewaktu beristirahat itu, terpikir pula olehnya untuk memiliki senjata, untuk melindungi dirinya terhadap binatang- binatang yang menyerangnya. Badik yang tersisip dalam ikat pinggangnya terlalu kecil untuk melawan babi hutan, apalagi harimau yang mungkin mencegatnya. Itulah sebabnya, ia mencari dahan-dahan kayu yang cukup besar. Dengan kekuatan yang ada padanya, dipatahkannya sebatang dahan kaliage, kemudian dibuatnya senjata untuk menghadapi binatang buas.

Setelah senjatanya itu siap, berjalanlah Banyak Sumba, menuju arah yang menurut dugaannya selatan. Tak lama kemudian, ditemukannya jalan yang biasa dilalui binatang. Di sana, ia melihat banyak sekali bekas kaki menjangan dan babi hutan. Ia menuruti jalan binatangku, selama tidak membelok ke arah yang bertentangan dengan yang dianggapnya selatan.

Ia akan sampai ke tempat yang ditinggalkannya pagi-pagi, demikian pikirnya.

Makin lama, ternyata lebat hutan makin berkurang, bahkan terdapat semak-semak rendah yang rupanya bekas-bekas huma yang sudah lama ditinggalkan. Itulah sebabnya, Banyak Sumba berjalan lebih cepat lagi. Ketika ia berjalan dengan tergesa-gesa, sayup-sayup terdengar olehnya jeritan binatang. Banyak Sumba terhenti, lalu mendengarkan dengan lebih teliti. Segalanya sunyi, kecuali angin. Akan tetapi, ia melangkah lebih lanjut, jeritan binatang itu dengan keras terdengar kembali. Kemudian, ingar-bingar suara aum dan jeritan binatang terdengar, diiringi oleh tangisan binatang yang memilukan. Lalu, sepi kembali.

Banyak Sumba melangkah, tetapi tidak secepat sebelumnya. Ia harus waspada, pikirnya. Ia pun berjalan dengan gada siap di tangan. Setelah beberapa lama berjalan, tahulah ia apa yang telah terjadi. Rupanya, segerombolan babi hutan telah diserang harimau karena di suatu tempat terlihat titik-titik darah. Di sekitar tempat itu terdapat bekas-bekas perkelahian. Darah makin banyak berceceran. Dari suatu tempat, Banyak Sumba melihat bagian semak yang roboh seakan-akan ada benda berat yang diseret lewat di sana. Tiba- tiba, detak jantungnya seakan-akan terhenti karena tidak jauh darinya dua ekor harimau besar sedang menggerogoti bangkai babi hutan yang besar. Ketika ia tiba di sana, tampak kedua ekor binatang itu memandangnya, tapi tidak bergerak. Banyak Sumba terpaku sejenak. Setelah ketenangannya kembali, ia mundur perlahan-lahan tanpa mengeluarkan bunyi. Setelah merasa cukup jauh, barulah ia bergerak dengan lebih cepat.

Sementara berjalan itu, ia bersyukur kepada Sang Hiang Tunggal. Seandainya tidak didahului oleh gerombolan babi hutan itu, mungkin ia yang dihadang oleh kedua ekor harimau itu.

Ia berjalan dengan cepat. Senjata siap di tangan dan tetap waspada. Ia harus berada dekat dengan gerombolan babi hutan yang akan menjadi pelindung di depan. Ia berlari sepanjang jalan binatang itu, kadang-kadang melalui semak- semak yang pendek. Sekali-sekali melalui semak-semak yang bercampur dengan pohon-pohon yang agak tinggi tapi jarang. Di sana sini terdapat pohon besar yang daunnya sangat rimbun. Banyak Sumba terus berlari.

Ketika ia sedang berlari dan memandang ke muka, tiba-tiba dilihatnya seolah-olah ada cabang pohon besar yang jatuh ke arah jalan binatang itu. Akan tetapi, tidak terdengar suara berdebum, yang terdengar adalah jerit seekor babi hutan. Banyak Sumba terus berlari karena disangkanya memang ada cabang pohon besar yang jatuh menimpa babi hutan. Ketika ia makin dekat ke arah pohon itu, dilihatnya cabang pohon itu bergerak-gerak. Banyak Sumba berhenti berlari dan berdiri tidak jauh dari pohon itu. Suatu pemandangan yang menyipratkan darah disaksikannya dengan mata terbelalak.

Seekor ular sanca besar, hampir sebesar pohon kelapa, dengan setengah badannya bergantung—ekor di atas dan kepala di bawah—sedang mengangkat seekor babi hutan ke atas pohon. Babi hutan itu masih bergerak-gerak, tetapi karena besarnya, ular itu dengan tenang mengangkatnya. Tak lama kemudian, seluruh badan ular itu menghilang di balik daun pohon besar yang gelap karena rimbunnya. Kadang- kadang saja tampak pohon besar itu bergerak-gerak karena dihuni oleh makhluk yang besar dan berat.

Setelah beberapa lama terpaku dan seolah-olah membeku karena terkejut dan ketakutan, barulah Banyak Sumba dapat bergerak. Sambil mengucapkan syukur kepada Sang Hiang Tunggal yang telah dua kali menyelamatkannya, ia mulai lagi berlari, tapi tidak mengikuti jalan binatang itu. Ia menyimpang merambah semak-semak yang pendek. Arah tidak lagi dipersoalkannya. Yang penting baginya adalah ia segera menjauhi tempat binatang yang tidak terkalahkan oleh apa pun itu.

Semenjak dua kejadian itu, ia lebih berhati-hati, tidak pernah berlari lagi. Berulang-ulang ia berhenti, mengawasi daerah yang akan dilaluinya. Ia tidak berani lewat di bawah pohon-pohon besar atau terlalu rimbun hingga dapat menyembunyikan binatang-binatang buas. Ia pun mulai berusaha tidak menuju suatu tempat dengan mengikuti arah angin. Ia berusaha supaya selalu menentang arah angin agar bau tubuhnya tidak tercium oleh binatang-binatang buas. Dengan begitu, berarti ia tidak dapat mengikuti arah yang dikehendaki dengan leluasa. Pada hari kedua itu, ia tidak menemukan hutan-hutan yang dikenalnya. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk menginap kembali di dalam hutan.

Dipilihnya tempat yang dianggapnya paling aman, yaitu sebatang pohon yang berada di tengah-tengah semak-semak pendek yang terbuka.

Di sanalah ia menginap, duduk di atas cabang pohon dan mengikat diri agar tidak jatuh kalau tertidur. Akan tetapi, semua pengalaman pada hari sebelumnya yang menakutkan itu tidak mengizinkannya tidur nyenyak. Di samping itu, makin gelap hutan, makin ramai dengan suara dan bunyi kaki binatang. Aum harimau, salak ajag, teriakan-teriakan yang me-remangkan bulu roma, mungkin teriakan siluman, meramaikan hutan yang remang-remang di bawah cahaya bintang.

HARI ketiga, keempat, kelima, keenam ... akhirnya hari-hari tidak terhitung lagi. Dengan sedih, disadarinya bahwa ia tersesat di dalam hutan yang tidak pernah diinjak kaki manusia. Mula-mula, ia tidak mengerti mengapa sampai tersesat. Akan tetapi, setelah diingat-ingat kembali bagaimana harus berjalan, sadarlah ia bahwa karena terlalu banyak menyimpang untuk menghindari bahaya, makin lama makin menyimpang dari arahnya sehingga akhirnya memasuki hutan itu.

Hutan itu tidak begitu lebat karena tanahnya tidak subur dan sebagian terdiri dari cadas dan batu. Pohon-pohonan tidak terlalu tinggi pula. Di samping itu, semak-semaknya pun tidak segelap di hutan yang pernah dikunjunginya. Buah-buahan cukup banyak, yang kecil-kecil hingga yang besar-besar. Itulah sebabnya, burung dan binatang pemakan buah-buahan sangat banyak di sana. Monyet dan lutung meramaikan pohon- pohonan. Di dalam semak-semak itu pun terdapat pula silang jalan-jalan binatang lain, seperti babi hutan, rusa, dan binatang-binatang lain yang bekas kakinya tidak dikenalnya.

Di hutan itulah Banyak Sumba tinggal, entah berapa bulan. Ia tidak lagi dapat menghitung hari-harinya. Pakaiannya sudah mulai robek-robek, bukan saja karena tua, tetapi juga karena sering tersangkut duri selagi ia mengembara di hutan itu.

Untuk menghilangkan laparnya, ia memungut atau memetik buah-buahan, kemudian memanjat pohon yang tinggi.

Kadang-kadang, dijeratnya binatang menggunakan rotan atau kulit kayu yang dianyamnya menjadi tambang. Kadang- kadang, binatang itu dikejarnya, lalu dipukul dengan gadanya.

Di saat-saat beristirahat, bila sudah terlalu lelah mencari jalan keluar dari hutan itu, ia sering termenung memikirkan segala kemungkinan dalam ilmu keperwiraannya. Pada saatsaat seperti itu, Jasik, panakawannya yang baik dan setia itu, sering terkenang olehnya. Alangkah akan lebih baiknya kalau ia tersesat bersama Jasik. Ia akan dapat terus-menerus berlatih dan mengadakan percobaan-percobaan dengan hasil renungan-renungannya itu.

Ia pun berulang-ulang teringat keluarganya. Dalam keadaan demikian, kadang-kadang tidak tertahan air matanya. Berulang-ulang pula ia teringat kepada Nyai Emas Purbamanik. Akan tetapi, harapannya untuk mendapat gadis yang dicintainya itu makin lama makin menipis. Bukan saja karena ia tidak tahu lagi bagaimana sikap gadis itu sekarang, setelah begitu lama mereka berpisah. Lebih-lebih, karena perbuatannya belakangan ini dianggapnya makin menjauhkan dia dari gadis itu. Ia harus menunaikan tugasnya. Gadis itu belum tentu mengerti segala perbuatan yang sebenarnya tugas keluarga.

Kalau kesedihan menusuk hatinya, ia segera mengalihkan renungan ke masalah-masalah ilmu keperwiraan. Karena heningnya hutan itu dan karena ia terpaksa harus berpikir untuk menghindari kesunyian dan kesedihannya, hasil dari renungan-renungannya cukup banyak. Yang menjadi persoalannya adalah bagaimana membuktikan kebenaran apa- apa yang ditemukannya itu. Ia harus punya teman berlatih, tapi Jasik hanya ada dalam kenangannya. Itulah sebabnya, Banyak Sumba hanya dapat berlatih seorang diri. Oleh karena itu, ia tidak dapat membuktikan, apakah hasil-hasil renungannya tentang ilmu keperwiraannya itu benar atau tidak. Hatinya gemas belaka kalau ia merasa mendapatkan suatu kesimpulan tentang renungan-renungannya.

Pada suatu senja, ketika ia sedang berjalan mencari pohon yang baik untuk bermalam, tiba-tiba terdengar raung harimau tidak jauh darinya. Banyak Sumba mula-mula bermaksud melarikan diri dari tempat itu dan segera mencari pohon terdekat. Akan tetapi, dari balik semak-semak terlihat olehnya dua ekor harimau besar sedang berkelahi. Sebagai seorang yang sedang mempelajari ilmu keperwiraan, akhirnya rasa ingin tahu dan hasrat menyelidiki mengalahkan rasa takut dan gentarnya. Banyak Sumba mendekati tempat terdengarnya geram dan raung kedua ekor makhluk perkasa yang berkelahi itu, serta semak-semak yang belingsatan ke sana kemari.

Makin dekat ke tempat pertarungan itu, semak-semak seolah- olah sedang diamuk angin puting beliung. Banyak Sumba gentar sejenak, ketika raungan yang sangat keras seolah-olah mengguncangkan bumi. Rasa penasaran mendorong dia untuk melanjutkan niatnya. Ia berlari-lari, kemudian memanjat sebuah pohon kecil. Karena setiap hari ia harus memanjat, pekerjaan itu dilakukan seperti ia berjalan di tanah. Dalam sekejap mata, seperti seekor monyet, ia telah mencapai puncak pohon itu. Dengan jelas, ia dapat melihat dua ekor harimau yang sedang berhadapan.

Dengan mata yang tidak berkedip, Banyak Sumba memerhatikan kedua ekor binatang itu saKng mengintip, saling menunggu kesempatan. Dengan raungnya yang dahsyat, keduanya menghambur. Masing-masing berusaha membinasakan lawannya dengan dua belah kaki kanannya yang kuat dan berkuku tajam itu. Kemudian, mereka berpisah karena yang seekor menolak lawannya. Dengan kaki belakangnya yang kuat, keduanya berhadapan kembali.

Banyak Sumba memerhatikan bagaimana sikap kaki depan dan kaki belakang serta sikap tubuh kedua ekor binatang itu. Ia pun memerhatikan setiap perubahan, bagaimana sikap yang satu diikuti lawannya. Tiba-tiba, mata Banyak Sumba menyala-nyala karena apa-apa yang pernah direnungkannya dapat dilihatnya dari kedua ekor binatang buas yang sudah biasa berkelahi itu.

Setiap kali yang seekor menempati kedudukan serangan dapat dilakukan, lawannya segera memindahkan kedudukannya, sambil mencari kedudukan ia dapat menyerang dengan leluasa. Akan tetapi, baru saja ia bergerak, lawannya sudah bergerak kembali, mengambil kedudukan lain. Karena keduanya tidak menemukan celah kelemahan pada sikap lawan, kecepatanlah yang dipergunakan. Seekor di antara harimau itu begerak, mengubah sikap. Ketika lawannya akan menyesuaikan diri pada sikapnya, melompatlah ia dengan raungnya yang hebat. Kedua ekor binatang itu mulai saling cakar dan saling desak, seraya kedua-duanya bersiap- siap dengan taringnya kalau-kalau ada kesempatan membenamkan senjata yang hebat itu ke leher atau tengkuk lawannya.

Pergumulan berlangsung beberapa saat. Selama itu, Banyak Sumba mempelajarinya dengan melupakan alam sekelilingnya. Ia memerhatikan bagaimana binatang-binatang itu mempergunakan tenaga, bagaimana melaksanakan serangan dengan kaki depan atau kaki belakang. Hingga akhirnya, geraham yang seekor berhasil menangkap kaki depan lawannya, lalu dengan gertakan yang keras, menerkam dan mematahkannya. Raungnya yang meremangkan bulu roma terdengar. Kemudian, lawan yang kalah melompat menjauhi, lari terpin-cang-pincang dikejar lawannya. Tapi, pemenang yang kelelahan tidak dapat mengejarnya. Ia berhenti, berdiri sambil meraung-raung dan memandang ke arah semak-semak tempat lawannya menghilang.

SETIAP pagi, bersama dengan terbitnya matahari, Banyak Sumba turun dari pohon tempatnya bermalam. Ia langsung berjalan seraya memetik buah-buahan sebagai makanan pagi, Kalau kebetulan ditemukannya telaga kecil, ia mandi dan minum sepuas-puasnya untuk kemudian berjalan kembali dengan selalu bersiap siaga menghadapi segala bahaya, terutama dengan mengandalkan gada kayunya yang berduri- duri itu. Jalannya tidak selalu laju. Sebentar-sebentar ia berhenti, merasakan angin atau mendengus-dengus, mencoba membaui udara, kalau-kalau ada bau yang mencurigakan yang harus dihindarinya. Bau kemenyan datang dari harimau, sedangkan bau pesing dari ular sanca. Kedua binatang buas itulah yang dihindarinya, sedangkan banteng, badak, dan babi hutan, apalagi rusa, tidak dihiraukannya. Bukan saja karena mereka tidak memakan daging, tetapi biasanya mereka tidak mengganggu kalau tidak diusik.

Sering sekali Banyak Sumba berhenti berjalan, kemudian dengan sigap berlari menuju pohon terdekat dan memanjatnya seperti seekor kera kalau dirasanya bahaya sedang mendekat. Perasaannya yang menjadi tajam berulang- ulang menyelamatkannya. Berulang-ulang binatang buas yang menghadangnya tidak berhasil mencelakakan karena Banyak Sumba telah waspada terlebih dahulu. Gerakan kecil dalam semak bisa menghentikan langkahnya. Bau yang mencurigakan menyebabkan ia lari terbirit-birit mendekati pohon untuk sewaktu-waktu dipanjatnya seandainya bahaya memang benar-benar mengancamnya. Akan tetapi, seandainya tertambat menyelamatkan diri dengan lari, ia mempunyai kemampuan lain untuk mempertahankan dirinya, yaitu kepandaiannya dalam ilmu keperwiraan dan senjatanya yang berbahaya, yaitu gada kayunya yang sebesar betisnya serta berduri-duri. Dari hari ke hari, Banyak Sumba berjalan dengan tujuan untuk menemukan jalan ke dunia yang dihuni manusia.

Hidupnya tidak teratur lagi. Kadang-kadang, berhari-hari ia tidak menemukan air. Kadang-kadang, berhari-hari pula ia tidak menemukan buah-buahan. Kalau keadaan demikian, ia terpaksa memburu binatang dengan mengintainya, menjeratnya dengan rotan atau melemparnya. Kadang- kadang, mengejar dan memukulnya dengan gada. Ia menyalakan api dengan jalan menggosokkan dua batang ranting kering yang dilekati daun kering pula. Di atas api unggun yang dibuatnya itulah, ia membakar daging binatang. Begitulah ia hidup, mengembara dalam hutan belantara itu dengan sedih mencari-cari jalan keluar. Kadang-kadang, ia begitu sedihnya dan sangat mencekam rasa kesepiannya hingga air matanya tidak tertahan lagi. Sering ia menangis, tetapi kemudian ia meredakan dukacitanya dengan berdoa, Sang Hiang Tunggal Yang Mahaadil tidak akan menghukum orang yang tidak berdosa. Ia merasa yakin bahwa tak ada kesalahan yang dilakukannya dengan sadar. Kalau ia bersalah, pikirnya, hal itu karena mencintai Ayahanda, Ibunda, dan keluarganya. Mencintai keluarga adalah perintah Sang Hiang Tunggal juga. Demikianlah, ia berjalan, memanjat pohon kalau malam tiba, termenung memikirkan ilmu keperwiraannya, dan menangisi nasibnya. Iajuga membayangkan wajah Nyai Emas Purbamanik. Akhirnya, ia mengenangkan dunia yang dihuni manusia dengan kerinduannya.

Akan tetapi, bukanlah watak Banyak Sumba untuk selalu merenungkan nasibnya. Setiap kali kemurungan menyerbu ke dalam hatinya, cepat-cepat ia merenungkan ilmu keperwiraan. Ilmu keperwiraanlah yang dijadikannya obat untuk melupakan apa-apa yang dideritanya. Dengan ilmu keperwiraan yang selalu di pikirannya itulah, ia mengusir keprihatinan, kerinduan, dan kesepiannya. Tanpa disadarinya, ilmunya makin lama makin bertambah juga. Banyak hal baru yang selama ia berada di tengah-tengah masyarakat tidak sempat dipikirkannya. Sekarang, ketika hari-hari lewat tanpa kesibukan, ia dapat memikirkannya. Banyak masalah ilmu keperwiraan yang sebelumnya tidak terpikirkan penyelesaiannya, dalam kesepian hutan itu dapat dipecahkannya. Keheningan hutan, udara yang bersih, dan langit yang membiru di sela-sela daun menjernihkan pikirannya.

PADA suatu sore, ketika ia mencari pohon untuk dijadikan penginapan malam itu, terlintaslah suatu pemecahan masalah yang selama ini menjadi bahan pemikirannya. Ia terhenti berjalan, cahaya matanya menyala-nyala seperti biasanya kalau ia menemukan ilham. Ia tersenyum seorang diri seraya bergegas ke arah pohon kecil yang hendak dijadikannya tempat menginap malam itu. Sepanjang malam, ia terus merenungkan ilhamnya. Ia merasa gembira karena suatu masalah yang bertahun-tahun jadi buah renungannya telah ditemukan jawabannya. Akan tetapi, ia tertegun, tidak dapat membuktikan apakah pendapatnya itu benar atau tidak. Ia teringat kepada Jasik yang entah berapa bulan tidak dilihatnya.

Karena yakin bahwa ilhamnya itu benar, tetapi tidak ada cara dan kawan untuk membuktikan kebenaran penemuannya, hatinya pun jadi gelisah. Ia kehabisan, akal bagaimana akan mencobakan ilmunya itu. Masyarakat entah kapan dimasukinya kembali. Sebagai seorang yang baru menemukan sesuatu yang telah bertahun-tahun dicarinya, ia tidak cukup sabar untuk tidak segera mencoba penemuannya itu.

"Bagaimana kalau dicoba terhadap binatang buas?" tanyanya dalam hati. Bagaimana kalau ia menghadang beruang atau harimau? Itu akan baik sekali, tetapi tentu saja besar bahayanya. Bagaimana kalau ia dikalahkan, bukankah ia harus menyelesaikan tugasnya dan tidak boleh menyia- nyiakan hidup secara sembarangan dengan menentang maut demi penemuannya yang belum tentu benar? Banyak Sumba terus merenung, kemudian karena kantuknya, akhirnya ia tertidur.

Baru ketika matahari panas keesokan harinya, ia terjaga, lalu turun. Selama berjalan, penemuan malam sebelumnya terus-menerus mengganggu pikirannya. Penemuannya itu akan dicoba terhadap binatang buas ataukah lebih baik bersabar hingga ia memasuki masyarakat kembali? Berulang- ulang ia memutuskan untuk tidak mencoba ilmu itu terhadap binatang buas, untuk tidak menghadapi bahaya yang terlalu besar. Akan tetapi, berulang-ulang hatinya berkata bahwa penemuan itu harus segera dibuktikan. Maka, terombang- ambinglah pikirannya dan ia tidak dapat mengambil keputusan.

Suatu ketika, Banyak Sumba merasa lapar. Setelah beberapa lama berjalan, ternyata di sana tidak ada pohon buah-buahan. Umumnya, pohon-pohonnya jarang diselang- seling dengan semak-semak. Di beberapa tempat, Banyak Sumba menemukan tanah lembap. Untuk beberapa lama, Banyak Sumba berdiri termenung. Ia harus berburu, pikirnya. Kemudian, ia berjalan. Dengan tangannya yang kuat, dipatahkannya cabang-cabang pohon yang cukup besar dan lurus. Setelah mendapat beberapa batang, dibuanglah daun- daunannya, lalu pangkalnya yang besar diruncingkan. Tak beberapa lama kemudian, Banyak Sumba telah bersenjatakan beberapa batang tombak di samping gada yang dijinjing di tangan kirinya.

Ia mulai mendengus-dengus, membaui udara, kemudian ia berjalan. Di suatu tempat, ia menunduk, memeriksa jejak binatang. Ia berjalan kembali sambil berulang-ulang menunduk. Kadang-kadang, ia berlutut, lalu berjalan lagi.

Tiba-tiba, ia menjatuhkan diri, lalu merangkak. Tak berapa jauh darinya terdapat sebuah telaga kecil. Di tepi telaga itu biasanya terdapat banyak binatang. Itulah sebabnya, ia mengendap-endap dan merangkak bagai seekor harimau. Sangkaannya tidaklah meleset karena setelah beberapa lama merangkak, dari jauh, di tepi telaga di seberang yang bertentangan dengan tempatnya bersembunyi, tampaklah sekelompok besar menjangan. Binatang-binatang tersebut sebagian sedang minum, sementara yang lain berjaga-jaga, menghadap ke semak-semak yang ada di sekeliling tempat terbuka. Melihat kelompok binatang itu, senanglah hati Banyak Sumba; ia merasa mujur pula karena ia menentang angin.

Maka, ia menyelinap kembali dan sambil mempergunakan loncatan melambung, mendekati tempat binatang-binatang tersebut.

Karena pekerjaan seperti itu sudah biasa dilakukannya, ia bergerak hampir tidak mengeluarkan bunyi. Di samping itu, pancaindranya sekarang menjadi tajam sekali.

Ia dapat membaui binatang-binatang itu, sedangkan suara yang selemah-lemahnya, dapat ia bedakan dari suara gemerisik daun-daunan. Pancaindranya tidak saja terasah karena ia perlu mendapat binatang buruan untuk hidupnya, tetapi karena di hutan itu banyak binatang buas. Ia pun sering merasa menjadi binatang buruan. Itulah sebabnya, pancaindranya selalu siap siaga. Suara sekecil-kecilnya, gerak- gerik selemah-lemahnya, bau asing yang menyentuh hidungnya harus ditangkapnya. Kalau tidak, ia akan kelaparan atau akan menjadi mangsa binatang buas. Dengan ketajaman pancaindranya itu, bertambah kuat pula tubuhnya. Ia jadi terbiasa hidup secara liar di alam terbuka. Otot-ototnya menjadi kenyal dan kuat, anggota badannya yang terus- menerus dipergunakan secara teratur dan sesuai dengan kehendak alam, menjadi lebih lincah dan lebih terampil kerjanya. Ia sekarang dapat bergerak tanpa mengeluarkan bunyi seperti seekor harimau atau seekor ular. Ia dapat memanjat dengan cepat dan lincah seperti seekor monyet, melompat dari dahan ke dahan tanpa takut dan ragu-ragu.

Dengan kelincahan dan keterampilannya itu, ia tidak saja dapat menyelamatkan diri dari bahaya, tetapi dapat hidup dengan berkecukupan makanan.

Sementara itu, tak ada binatang yang dapat mengalahkannya karena sebagai manusia, ia dianugerahi suatu hal yang tidak ada taranya oleh Sang Hiang Tunggal, yaitu akal yang cerdas. Karena akalnya itulah, ia dengan mudah dapat menangkap menjangan-menjangan.

Ia membuat perangkap, banderingan dari rotan yang ujungnya diikatkan pada bongkah-bongkah cadas. Untuk menakut-nakuti harimau, ia dapat menyalakan api.

Kemampuannya sebagai manusia dan keampuhan barunya karena lama hidup di dalam hutan adalah modal yang luar biasa baginya. Karena modal itulah, ia merasa leluasa bergerak di hutan, seperti sebelumnya ia merasa leluasa bergerak di tengah-tengah masyarakat di wilayah Kerajaan Pajajaran.

Dengan segala kemampuannya itulah, ia bergerak mendekati rombongan menjangan itu. Makin lama, makin dekat ia ke tempat binatang berkumpul di pinggir telaga itu. Setelah beberapa puluh langkah lagi, ia muncul dari semak, lalu berteriak dengan keras. Binatang-binatang itu terkejut dan lari dengan cerai-berai. Banyak Sumba mengawasi seekor rusa jantan, lalu melemparkan tombak kayunya ke arah binatang itu. Karena pekerjaan itu biasa dilakukannya, dengan tepat paha belakang rusa itu dikenainya. Akan tetapi, karena jarak antara Banyak Sumba dan binatang itu cukup jauh, sedangkan tombak kayu itu ujungnya tidak terlalu tajam karena belum sempat dibakar, binatang itu tidak roboh. Rusa jantan yang kuat itu walaupun timpang terus lari. Banyak Sumba tertawa karena ia merasa ditantang untuk mengadu kekuatan. Ia berlari mengejar binatang itu. Tiga buah tombak kayu dibuangnya, tinggal gadanya yang ia acung-acungkan di udara sambil berteriak-teriak kegirangan seperti anak-anak. Binatang itu menerobos semak-semak. Banyak Sumba dengan lincah melompat-lompat atau menyelinap antara semak-semak, makin lama makin dekat ke arah binatang itu. Kemudian, di depan binatang itu terdapat tempat yang sedikit terbuka, di antara semak-semak gelagah yang tinggi. Banyak Sumba mempercepat larinya karena di tempat terbuka itulah ia bermaksud menghabisi binatang itu.

Suatu kejadian yang tidak disangka-sangkanya terjadi dengan cepat sekali. Ketika binatang itu berada di tengah- tengah tanah terbuka dan ketika Banyak Sumba melompati semak terakhir memasuki pinggiran tanah lapang kecil itu, dari sebuah semak di sebelah kiri binatang itu melompatlah seekor harimau. Dengan secepat kilat, harimau mematahkan leher rusa itu dan membantingnya ke tanah.

Banyak Sumba dengan cepat menghentikan larinya. Kalau tidak, ia akan menubruk kedua ekor binatang yang masih bergumul di tanah itu dan akan tersandung serta jatuh. Ia berdiri, gada siap di tangan kanannya. Tak lama kemudian, rusa itu tidak bergerak-gerak lagi dan harimau itu sudah berdiri di atasnya, memandang ke arah Banyak Sumba dengan curiga dan bersiap-siap untuk menyerang.

Banyak Sumba menghentikan napasnya. Ia tidak bergerak karena tahu, begitu ia bergerak, binatang buas itu akan langsung menyerang. Secepat kilat, terlintas dalam hatinya bahwa ketika itulah ia akan mencoba penemuan tentang ilmu keperwiraan. Ia memandang harimau itu, memerhatikan letak kaki muka dan kaki belakangnya. Ia meramalkan bahwa kalau harimau itu menyerang, berat badannya terutama akan tumpah ke sebelah kiri dan ia akan membelok ke sebelah kanan. Jadi, Banyak Sumba harus memukulkan gadanya ke sebelah kiri. Ia pun tidak boleh menentang tenaga lawan yang langsung tumpah ke arahnya. Kalau begitu, ia yang lebih ringan daripada harimau itu akan dirobohkan. Itulah sebabnya, Banyak Sumba harus memukul harimau itu dari samping, kalau perlu terus melompat. Pikiran itu secepat kilat bergerak dalam otaknya. Sementara itu, ia berpandangan dengan binatang buas itu dalam jarak beberapa langkah saja.

Keduanya sama-sama menunggu. Harimau itu akan bergerak kalau saja Banyak Sumba menggerakkan ujung jarinya atau mengejapkan matanya. Harimau itu pun tidak menggeram. Ia memendam suaranya seperti ia memendam tenaga yang akan dicurahkannya pada saat menyerang Banyak Sumba. Begitu mereka berdiri berhadapan, tak ada suara maupun gerakan antara mereka.

Banyak Sumba memindahkan letak gadanya ke sebelah kanan dan pancingan itu dijawab harimau itu dengan serangan yang dibarengi auman yang mengguncangkan seluruh hutan. Banyak Sumba mengerahkan seluruh tenaganya untuk memukul ke samping kiri dari arah harimau datang. Betapapun kukuh kuda-kudanya, ketika gada itu mengenai tubuh harimau, ia terguncang juga. Begitu pukulan mengena, ia menghambur menuju tubuh harimau yang menyeleweng karena pukulan. Ia tidak memberikan kesempatan kepada binatang itu. Ia memberikan pukulan yang kedua ke arah kepala harimau itu. Akan tetapi, dengan cepat dan tepat, gada itu ditangkis oleh binatang itu seraya menghambur ke depan mencengkeram kaki kanannya ke arah Banyak Sumba. Banyak Sumba menghindar sambil memukul, kemudian maju lagi dengan gada berdesing-desing. Beberapa pukulan mengenai kepala dan tubuh harimau, beberapa pukulan mengenai pula tubuh Banyak Sumba.

Kemudian, harimau itu tidak selincah semula. Mereka berhadapan sejenak. Banyak Sumba menghambur menyerang. Harimau itu menghindar. Akan tetapi, dari sikapnya sudah diramalkan Banyak Sumba, dari arah mana binatang itu akan menyerang. Itulah sebabnya, harimau itu menghindar. Derak tulang dan auman yang keras terdengar serentak, kemudian harimau itu roboh, berputar-putar di tanah. Banyak Sumba mengangkat gadanya tinggi-tinggi, kemudian dengan dengusan, dihantamnya kepala harimau itu. Ia terjatuh menimpa tubuh harimau yang gemetar dan panas.

Banyak Sumba terduduk, entah berapa lama ia terengah- engah. Berulang-ulang ia melihat harimau yang dibunuhnya. Badan binatang itu hampir dua kali lebih besar daripada tu- buhnya. Sementara itu, Banyak Sumba menyadari pula bahwa harimau itu masih muda, justru sedang berada di puncak kekuatannya. Ia merasa lega, bukan karena telah selamat dari bahaya maut, tetapi pendapat-pendapat yang ditemukan dalam renungannya tentang ilmu perkelahian ternyata benar. Semua pendapat itu dapat dibuktikannya dan bukti yang paling baik adalah binatang yang lebih besar dan lebih hebat senjatanya itu dapat dilumpuhkannya.

Tiba-tiba, Banyak Sumba merasa tusukan pedih di rusuk kirinya. Ia melihat ke bawah, tampaklah bajunya yang sudah lusuh tidak keruan, tercabik-cabik oleh jambretan kuku harimau itu. Di beberapa tempat, kain yang tercabik-cabik itu basah. Ketika Banyak Sumba membuka kain itu, tampaklah luka-luka yang mengerikan di beberapa bagian tubuhnya.

Untung luka-luka itu tidak dalam. Akan tetapi, Banyak Sumba cemas juga karena luka akibat serangan harimau sering membunuh karena racunnya. Ia segera berdiri, lalu berpikir.

Kemudian, ia mencabut belatinya, menguliti harimau itu.

Karena pekerjaan itu sering dilakukannya, dalam sekejap kulit harimau itu telah terkelupas. Ia mengambil hati harimau itu, kemudian menggarap pekerjaan yang lain, yaitu menguliti rusa yang terbaring tidak jauh dari tempat itu. Diambilnya hati dan jantung serta kedua paha binatang itu. Setelah itu, dinya- lakannya api. Ia memasang cabang-cabang pohon yang bercagak di atas api. Daging dan hati itu dipanggangnya di atas api unggun yang dibuatnya. Sementara itu, ia mengambil daun-daunan tertentu yang dijadikannya obat luka. Tak lama kemudian, terciumlah bau sedap dari arah api. Daging dan hati binatang itu sudah masak.

Banyak Sumba duduk sambil memakan daging yang tidak digarami. Pikirannya melayang kembali ke arah pengalaman yang baru saja dilaluinya. Tiba-tiba, hatinya berkata bahwa ia tidak takut kepada siapa pun, kepada binatang maupun manusia. Ia telah menemukan suatu rahasia yang sangat berharga di bidang ilmu keperwiraan. Ia dapat meramalkan gerakan lawan dan oleh karena itu, ke mana pun.lawan bergerak, ia sudah siap siaga. Ia teringat kepada Jasik, ia membayangkan bagaimana Jasik akan menggeleng-gelengkan kepalanya karena kagum kepadanya.

Selesai makan, Banyak Sumba membersihkan diri di telaga yang tidak jauh letaknya dari tempat ia menyalakan api unggun. Ia mengobati lukanya, kemudian kembali ke jemurannya, kulit harimau yang indah. Ia bermaksud membuat baju dari kulit harimau itu karena bajunya sudah hancur. Ketika ia membersihkan kulit harimau itu, matahari menggelincir ke barat.

DARI hari ke bulan, dari bulan ke tahun, Banyak Sumba tidak tahu lagi sudah berapa lama ia tersesat dan mengembara mencari jalan keluar dari hutan belantara itu. Ia disiksa oleh kesedihan dan kesunyiannya, dikepung oleh bahaya dari saat ke saat. Akan tetapi, penderitaannya itu ditahannya dengan tabah. Pertama, karena menyadari bahwa ia menderita untuk tujuan yang mulia. Oleh karena itu, ia pun yakin bahwa suatu hari ia dapat keluar dari hutan belantara itu. Kedua, setiap kali kesedihan dan kesepian menghimpit jiwanya, ia segera mengalihkan perhatiannya pada masalah- masalah ilmu keperwiraan. Di samping itu, ia terus-menerus berusaha mencari jalan ke luar hutan itu.

Ia tidak pernah tinggal diam di suatu tempat di hutan. Ia terus berjalan, mendaki gunung-gunung, menuruni lembah, menyeberangi sungai. Pada suatu kali, tibalah ia di sebuah hutan yang ajaib. Hutan itu terletak di atas gunung yang sangat tinggi. Kabut tidak pernah jauh dari atas kepala Banyak Sumba. Oleh karena itu, angkasa selalu suram. Banyak Sumba terus mendaki gunung yang berhutan lebat itu. Ia berharap, semoga ia dapat melihat ke arah dunia manusia dari puncak gunung itu. Itulah sebabnya, ia berjalan terus, walaupun kadang-kadang pendakian sangat terjal hingga ia harus merayap bagai seekor cecak, berpegang pada akar pohon- pohonan.

Ketika habis merayap itulah, tiba-tiba ia berdiri di tepi hutan yang aneh. Pohon-pohon di hutan itu tampak tidak subur, bahkan semak-semaknya sedikit sekali. Seolah-olah, hutan itu sebuah borok besar di tengah-tengah hutan-hutan lain yang sehat. Di samping itu, Banyak Sumba mendengar suara-suara yang aneh, sayup-sayup kadang-kadang seperti jauh, kadang-kadang dekat sekali. Melihat pohon-pohonan yang dalam remang seperti rangka-rangka yang hitam terbakar dan mendengar suara yang aneh-aneh, yang mendekati suara manusia, meremanglah bulu roma Banyak Sumba. Akan tetapi, ia tidak mundur. Ia melangkah terus dengan gada siap menghadapi segala kemungkinan. Ia berjalan, angin bertiup dari arah mukanya. Angin sangat dingin, tetapi baju kulit harimaunya cukup tebal untuk melindungi kulitnya. Ia melangkah terus dengan tujuan tetap, yaitu mendaki gunung itu lebih tinggi lagi agar mencapai puncaknya. Dari sana diharapkannya akan melihat dunia manusia.

Tiba-tiba, ia melihat kabut yang tebal sekali merendah ke arah gunung itu. Bagai lidah besar, kabut itu menjilat beberapa bagian hutan yang aneh itu. Mula-mula, Banyak Sumba tidak acuh saja. Kemudian, angin bertiup ke arahnya. Banyak Sumba terkejut karena tiba-tiba ia sudah terkurung oleh kabut yang sangat tebal sehingga pemandangannya remang-remang belaka. Dalam keremang-remangan itu, pohon-pohonan makin menyeramkan. Banyak Sumba tidak peduli, ia terus berjalan ke arah puncak gunung yang tinggi yang pernah dilihatnya itu. Akan tetapi, makin lama kabut makin tebal juga. Akhirnya, ia hanya melihat tabir kumal yang membentang di hadapannya. Ia tidak dapat melihat apa-apa. Ia berdiri dan dengan kesal menunggu kabut itu pergi. Tiba-tiba, dekat sekali di sampingnya, ia mendengar teriakan seorang perempuan yang keras, lalu tertawa cekikikan. Bulu roma Banyak Sumba meremang. Ia tahu bahwa yang tertawa itu bukanlah manusia, melainkan makhluk yang ditakuti manusia. Banyak Sumba bersiap-siap dengan gadanya dan melihat ke sekelilingnya. Selintas, dia seolah-olah melihat seorang perempuan beriari, rambutnya terurai, tubuhnya tidak ditutup oleh sehelai benang pun. Aneh, perempuan itu berlari cepat sekali di dalam kabut yang tebal itu. Makin yakin Banyak Sumba bahwa ia berada di wilayah kerajaan Siluman. Ia membaca mantra-mantra, mohon perlindungan kepada Sang Hiang Tunggal dan Sunan Ambu, sementara tangannya erat-erat memegang gada.

Suara jeritan terdengar dari dalam semak yang ada di dekatnya. Ia mendengar orang dipukuli, tangisan, jeritan, dan caci maki bergalau dalam keributan itu. Banyak Sumba mula- mula hendak bergerak mendekati semak itu, tetapi ia segera sadar bahwa hal itu tidak boleh dilakukannya. Ia selalu akan digoda oleh makhluk-makhluk terkutuk itu. Itulah sebabnya, ia mengurungkan maksudnya untuk mendekati tempat itu, walaupun suara orang yang disiksa dan bunyi tindakan- tindakan penyiksaan berjalan terus, balikan makin lama makin hebat terdengar.

Kemudian, terdengar suara tangis bayi dari suatu arah. Terdengar pula geram harimau. Hampir saja Banyak Sumba bergerak ke arah suara bayi itu, tetapi ia pun segera sadar dan terus membaca mantra-mantra. Ia tahu bahwa ia sedang digoda agar jatuh ke dalam malapetaka. Ia berdoa, mudah- mudahan kabut segera pergi dan matahari bersinar kembali. Ternyata, doanya tidak segera dijawab. Lama sekali kabut itu bergayut di sana, sedangkan angin bertiup lemah sekali. Maka, ia pun terpaksa menulikan telinganya terhadap suara- suara yang meremangkan bulu romanya itu. Ia pun tidak peduli pada pemandangan yang aneh-aneh yang berkelebatan di sekelilingnya. Ia siap dengan gadanya. Apa pun yang mendekati, akan dipukul dengan senjatanya yang ampuh itu.

Kabut menipis, tetapi pemandangan hanya remang- remang. Banyak Sumba mulai berjalan. Ia sadar bahwa tempat dari arah suara bayi terdengar tadi adalah sebuah jurang yang dalam sekali. Seandainya bergerak ke sana, niscaya ia sudah terbaring remuk di dasar jurang itu. Ia mengucap syukur atas keselamatannya.

Setelah beberapa lama ia berjalan, kabut pun menjadi tipis sekali. Ia bergegas, meninggalkan hutan yang menakutkan itu. Ia siap dengan gadanya. Tibalah ia di tepi sebuah jurang. Banyak Sumba tertegun. Dari dalam jurang, keluar asap yang berbau busuk. Dan ketika Banyak Sumba melihat ke bawah, tampak sebuah lubang besar yang berasap. Banyak Sumba mundur. Ia berkata dalam hatinya, barangkali lubang itu adalah salah satu gerbang yang menuju ke Buana Larang, tempat Ratu Siluman bersemayam. Ia segera meninggalkan lubang yang berasap busuk itu.

Hutan menjadi jarang pohon-pohonannya. Makin lama, hutan makin jarang. Akhirnya, ia tiba di tempat yang tidak berpohon sama sekali. Ia berjalan terus di sepanjang lembah gundul. Ia heran, mengapa di atas puncak gunung ada bagian tanah yang begitu kering dan gersang.

Tiba-tiba, ia tertegun. Di bagian lembah yang dalam, ia melihat pemandangan yang mengerikan. Berpuluh-puluh tengkorak berserakan. Di antara tengkorak-tengkorak tersebut, terdapat pula mayat yang masih utuh dan setengah utuh. Di antara tengkorak manusia, terdapat pula tengkorak binatang, dari menjangan hingga babi hutan. Bahkan, ada tengkorak yang besar dan panjang sekali, yaitu tengkorak ular sanca yang terbentang, di hadapannya terbaring tengkorak seekor menjangan besar. Suatu kisah tergambar di belakang pemandangan itu.

Banyak Sumba melangkah ke belakang. Ia teringat kepada dongeng orang-orang tua yang pernah tersesat di lembah seperti itu. Ia pun tersesat di Lembah Tengkorak yang terkenal tapi jarang dilihat orang. Ia salah seorang di antara yang cukup malang sehingga tersesat di lembah berbahaya itu. Siapa pun yang berani melintasi lembah itu akan menjadi mayat belaka karena lembah itu terkutuk, dan siluman berkuasa di sana. Banyak Sumba mundur seraya membaca mantra tidak henti-hentinya.

Dengan tergesa-gesa, Banyak Sumba menghindar dari daerah yang menakutkan itu. Ia berjalan terus, mendaki, menuju ke arah hutan hijau yang membayang di balik kabut tipis. Ia mulai kelelahan, keringatnya membasahi seluruh tubuhnya, walaupun udara di tempat itu sangat sejuk.

Akhirnya, ia sampai juga di bagian hutan yang lebat. Begitu menginjakkan kaki di sana, ia menyadari bahwa ia telah keluar dari daerah yang bukan daerah manusia atau binatang. Ia merasa lega, lalu beristirahat. Dibukanya kantong besar yang terbuat dari kulit menjangan, dikeluarkannya buah-buahan yang dipetiknya di hutan-hutan di kaki gunung yang tinggi itu. Ia pun mengeluarkan beberapa potong dendeng menjangan dan harimau. Ia menyalakan api, lalu memanggang daging itu di atas api unggun yang terbuat dari ranting-ranting.

Walaupun daging itu berbau asap, karena lapar, ia memakannya dengan lahapjuga.

TERNYATA, walaupun ia telah mengelilingi puncak gunung itu dan dari sana melihat ke sekelilingnya, ia tidak berhasil melihat dunia manusia. Ke mana pun ia berpaling, hutan yang hijau kelabu belaka yang dilihatnya. Akhirnya, ia berputus asa dan menganggap bahwa usahanya yang penuh dengan godaan dan bahaya itu sia-sia belaka. Berhari-hari, ia berkeliling di hutan itu. Ia sadar bahwa di puncak gunung itu tidak ada binatang perburuan karena daerah itu terlalu tinggi. Buah-buahan sedikit sekali di sana sehingga mungkin saja ia dapat mati kelaparan.

Pada suatu pagi, ia bergerak turun. Ia menghindari hutan yang menakutkan dan Lembah Tengkorak itu. Dicarinya jalan lain. Ia terus turun hingga akhirnya tiba di tebing yang curam. Ia menarik napas panjang. Terpikir olehnya, kecuali dengan melalui Hutan Siluman dan Lembah Tengkorak itu, ia tidak akan dapat menuruni tebing yang curam itu.

Ia tertegun, apakah ia akan kembali melalui hutan berkabut yang penuh dengan pemandangan dan suara-suara yang meremangkan bulu roma itu? Mungkinkah ia dapat selamat untuk kedua kalinya dalam melewati hutan yang gelap dan penuh dengan jurang menganga yang tidak kelihatan dasarnya itu? Ia melihat ke dalam jurang yang ada di depannya. Tampak hutan yang lebat di dasarnya. Ia memutuskan untuk menuruni jurang yang sangat curam itu karena selama hidup di dalam hutan itu, ia sudah terampil seperti seekor kera. Apa salahnya ia mempergunakan kepandaiannya itu untuk menuruni tebing?

Banyak Sumba mengeratkan kantong besar yang disandangnya. Ia pun menyisipkan gadanya pada ikat pinggang yang terbuat dari kulit harimau. Ia mulai memegang ranting semak-semak, lalu merayap ke bawah. Entah berapa lama ia merayap, ketika pada suatu kali, dilihatnya benda yang bergerak di bawahnya. Ia berhenti, lalu memandang ke bawah. Tiba-tiba napasnya terhenti.

Di bawahnya, di dalam jurang itu, di balik hutan yang lebat, terdapat sebuah jalan kecil. Kalau matanya tidak salah tangkap dan ia tidak bermimpi, ia melihat tiga orang penunggang kuda. Dua orang dewasa menunggang kuda di depan dan di belakang, sedangkan seorang anak melarikan kudanya di antara kedua orang tua itu. Banyak Sumba hampir saja berteriak karena kegirangan, la ingin memanggil manusia pertama yang ditemukannya. Akan tetapi, tiba-tiba terlintas dalam hatinya bahwa mungkin orang-orang yang lewat di dasar jurang itu para anggota Padepokan Tajimalela.

Kegembiraannya hampir meledakkan dadanya demi terpikirnya hal itu. Ia sadar bahwa ketiga orang penunggang kuda itu berbaju putih. Baju putih adalah pakaian penghuni Padepokan Tajimalela.

Padepokan Tajimalela berada di dalam hutan rahasia, dilingkungi bahaya yang menghadang siapa saja yang ingin mengunjunginya. Bukankah ia hampir jadi korban Hutan Kabut dan Lembah Tengkorak? Bukankah menurut cerita, Hutan Siluman dan Lembah Tengkorak itu dekat sekali letaknya dengan padepokan para pahlawan Pajajaran yang perkasa itu?

Dalam kegembiraan itu, Banyak Sumba tergesa-gesa turun hingga berulang-ulang ia hampir terjatuh. Akhirnya, tibalah ia di dasar lembah. Benar, ia melihat banyak sekali jejak kuda di lembah yang sempit itu. Di sana terdapat jalan setapak, yang tentu akan menuju ke padepokan yang terkenal tetapi tidak diketahui letaknya itu. Banyak Sumba berlari-lari mengikuti jejak kuda yang masih baru itu. Ia berlari secepat-cepatnya. Akan tetapi, betapapun cepatnya, ia tidak dapat menyusul kuda yang lari. Pada suatu tempat, ia kehilangan jejak. Ia kelelahan dan duduk di atas rumput di dalam semak.

Tiba-tiba, keraguan timbul bersama kecemasan dalam hatinya. Mungkinkah ia disesatkan oleh siluman? Mungkinkah ketiga orang penunggang kuda itu siluman yang menyamar, yang memberi harapan, kemudian menyesatkannya ke tempat-tempat yang lebih berbahaya? Banyak Sumba bangkit, lalu mencari-cari jejak kuda di sekitar hutan itu.

Ia mulai menyesal, mengapa ia tidak berseru memanggil para penunggang kuda itu. Alangkah sialnya, pikirnya.

Ataukah ia beruntung? Ia tidak tahu, apa yang akan terjadi kalau ia memanggil ketiga orang penunggang kuda itu. Mungkinkah ia dibunuh karena memasuki daerah padepokan itu memang terlarang? Atau mungkinkah ketiga penunggang kuda itu bukan manusia, hanya siluman yang menggoda dan menyesatkan? Ataukah itu para guriang yang kembali dari pengembaraan di dunia manusia?

Seraya pikirannya kacau-balau seperti itu, Banyak Sumba terus-menerus mencari jejak-jejak kuda itu. Setelah demikian lama tidak juga ditemukannya, akhirnya ia berhenti sambil terengah-engah kelelahan. Dan ketika ia beristirahat itu, hari pun senja.