Pertarungan Terakhir Bab 07 : Raden Madea Calon Puragabaya

 
Bab 07 : Raden Madea Calon Puragabaya

Sejak malam itu, Banyak Sumba memberikan pelajaran di Padepokan Sirnadirasa. Akan tetapi, siswa-siswa padepokan itu telah bertahun-tahun mempergunakan tenaga dengan cara tertentu, sehingga otot-otot mereka sudah terbiasa dan sukar mengubah cara kerjanya. Banyak Sumba menyadari bahwa Jasik lebih cepat menguasai ilmu itu karena tubuh Jasik tidak terikat oleh kebiasaan yang ketat. Sebaliknya, karena kebiasaan yang sudah membeku di dalam otot-ototnya, banyak di antara siswa padepokan yang tidak lagi menguasai ilmu baru itu. Terutama, para siswa yang telah lanjut dan mahir mempergunakan ilmu Padepokan Sirnadirasa.

Walaupun begitu, tak ada seorang pun di antara siswa yang menyerah dan .menghentikan latihan. Yang termasuk tekun dan cerdas adalah Raden Girilaya. Karena mereka berada dalam satu padepokan, sering sekali sampai larut malam mereka bercakap-cakap dan bertukar pikiran tentang ilmu- ilmu keperwiraan. Saat itu, berulang-ulang Banyak Sumba teringat kepada Nyai Emas Purbamanik yang raut wajahnya sama dengan pemuda di hadapannya. Berulang-ulang Banyak Sumba hampir menerangkan hubungannya dengan gadis itu, tetapi ia tidak juga menyampaikannya. Setiap terasa dorongan untuk menerangkan hal itu, setiap kali pula sesuatu memberati lidahnya.

Dorongan untuk menjelaskan segala hubungannya dengan Nyai Emas Purabamanik kadang-kadang hampir tidak tertahankan. Ia ingin mencurahkan kerinduannya kepada gadis itu dengan jalan mempercakapkannya dengan saudaranya, Raden Girilaya. Pada suatu malam, ketika mereka selesai bersemedi senja dan mulai duduk beristirahat, berkatalah Banyak Sumba kepada kawannya, "Berulang-ulang saya akan mengatakan sesuatu kepada Saudara, tetapi berulang-ulang saya tidak dapat mengatakannya."

Raden Girilaya berpaling kepadanya, lalu berkata, "Raden Banyak Sumba, kita sudah bersaudara, bukan saja karena sama-sama menjadi siswa di padepokan, tetapi ternyata kita sangat cocok satu sama lain. Seandainya ada sesuatu yang dapat kita lakukan bagi saudara, saya akan berusaha sebaik- baiknya untuk memenuhinya."

"Bagaimana Saudara Girilaya dapat menduga bahwa ada sesuatu yang saya perlukan?" tanya Banyak Sumba agak keheranan.

"Saya sering melihat Saudara termenung. Saya menduga ada kesusahan atau hal lain yang mengganggu hati Saudara."

Banyak Sumba tertegun, kemudian keberaniannya untuk menerangkan hubungannya dengan Nyai Emas Purbamanik mulai berkurang. Ia ragu-ragu apakah keterangan yang akan disampaikannya kepada Raden Girilaya akan baik akibatnya, atau sebaliknya? Apakah ia akan mengatakan hal yang sebenarnya tidak perlu dikemukakan, kalau hanya disebabkan dorongan oleh kerinduan terhadap gadis itu? Banyak Sumba bimbang dan ketika ia berkata, apa yang dikatakannya bukanlah mengenai hubungannya dengan Nyai Emas Purbamanik. Ia berkata, "Saya pun sering melihat Saudara termenung dan saya tidak menganggap Saudara mendapat kesusahan," kata Banyak Sumba sambil tersenyum. Sekarang, Raden Girilaya berpaling kepadanya dengan penuh perhatian. Tampak ia akan menyatakan sesuatu. Ia kemudian berkata, "Saudara Sumba, memang saya sering termenung dan memang ada persoalan yang sering menjadi bahan renungan saya. Bahkan, telah pula saya bicarakan persoalan ini dengan Ginggi." "Persoalan apakah itu?" tanya Banyak Sumba, perhatiannya sekarang mulai tertarik.

"Bukan persoalan pribadi saya, tetapi persoalan ini harus menjadi bahan renungan kita semua. Saudara Sumba, keterangan Eyang Resi mengenai rencana kerajaan untuk menundukkan si Colat menyebabkan saya sering termenung."

"Mengapa?" tanya Banyak Sumba, makin tertarik.

"Selagi masih sangat muda, saya telah menjadi pengagum si Colat ini. Bayangkan, Saudara Sumba, seorang kesatria yang berbudi dan berilmu itu dalam pandangan saya pantas untuk dijadikan teladan. Sebagai orang yang memutuskan diri untuk menjadi perwira, tentu saja sejak dulu mengenal nama dan kemasyhurannya. Saya pernah bertemu dengan dia di Kutabarang,. waktu saya masih berumur tiga belas tahun. Ia lewat di atas kudanya, seorang kesatria yang sangat tampan dan lemah lembut. Saya memandangnya dengan penuh kekaguman, penuh rasa memuja. Tak lama kemudian, saya mendengar dia meninggal dibunuh orang, lalu tampillah si Colat yang sekarang. Oh, dulu namanya bukan si Colat, Raden Geger Malela nama sebenarnya."

Raden Girilaya termenung untuk beberapa lama. Lalu berkata kembali, "Gambaran tentang seorang kesatria sempurna sukar dihilangkan dari hati saya. Saya belum melihatnya lagi semenjak itu. Tentu sekarang ia telah berubah, seorang buas yang tak kenal rasa kasihan. Akan tetapi, saya tetap tidak dapat menghilangkan kebimbangan saya. Saya sering bertanya, bukankah ia menjadi buas karena tindakan orang juga? Dan bukankah yang bersalah dalam hal ini bukan dia, tetapi orang-orang yang memperlakukannya dengan kejam?" kata Raden Girilaya seperti bertanya kepada dirinya.

"Saya yakin, sang Prabu tidak sembarangan mengambil kebijaksanaan. Akan tetapi, gambaran saya tentang si Colat dulu tidak meyakinkan saya bahwa dia sebuas yang digambarkan oleh berita-berita yang saya dengar."

"Memang, kenangan masa kecil sukar sekali dihapuskan, Saudara Girilaya," ujar Banyak Sumba.

"Di samping itu, saya tahu banyak tentang keluarga Wiratanu ini," ujar Raden Girilaya. "Dulu, di Kutabarang sering sekali terjadi huru-hara, yaitu terjadinya perkelahian- perkelahian antara bangsawan muda. Di belakang semua perkelahian ini selalu disebut-sebut nama Bagus Wiratanu, putra sulung penguasa Kutawaringin yang sedang belajar di Kutabarang. Saya pernah melihat orang ini dan langsung tidak menyukainya. Begitu angkuh, begitu mewah, dan kasar.

Saudara Sumba, kalau kita akan ikut mengepung si Colat, saya merasa seolah-olah akan memenangkan orang ini, Bagus Wiratanu yang berandalan itu."

"Sang Prabu bijaksana," kata Banyak Sumba karena tidak ada kata-kata lain yang hendak diucapkannya.

"Ya, saya yakin akan hal itu. Dan mungkin kalau nanti kita menemukan si Colat, perasaan saya terhadapnya langsung akan berubah."

"Perasaan Saudara akan berubah. Saya pernah melihatnya dan meremang bulu roma saya melihat senyumnya," kata Banyak Sumba, telanjur berkata.

"Saudara pernah bertemu dengan dia?" tanya Raden Girilaya penasaran.

"Ya” kata Banyak Sumba.

"Di mana?" tanya Raden Girilaya.

"Di sebuah hutan," jawab Banyak Sumba. Raden Girilaya memandangnya dengan penasaran. Banyak Sumba sekarang agak gugup. Ia baru menyadari bahwa percakapan itu mungkin akan membahayakan rahasianya. Ia berpikir keras untuk membelokkan percakapan. "Saya kira, sikap orang-orang Medang, seperti Saudara, akan seperti sikap saya sekarang," kata Raden Girilaya.

"Mengapa?" tanya Banyak Sumba.

"Saudara Sumba pun tahu bahwa rakyat Medang dengan sendirinya membenci penguasa Kutawaringin karena orang- orang Kutawaringin ini bukan saja bermaksud menghinakan abu jenazah Jante Jaluwuyung, tapi diketahui pula bermaksud menumpas keluarga wangsa Banyak Citra."

Banyak Sumba-lah sekarang yang penasaran. Ia hendak bertanya, tetapi tiba-tiba terkilas pikiran cerdik yang segera akan membelokkan percakapan. Ia berkata, "Ya, tapi janganlah diharapkan keluaraga Wiratanu akan menemukan keluarga pangeran kami yang menghilang. Kami sendiri sudah lama mencari jejaknya, tapi tidak menemukannya. Apalagi mereka yang bermaksud jahat. Kami yakin bahwa Sang Hiang Tunggal akan melindungi mereka."

Permainan sandiwara Banyak Sumba berhasil karena tampak bahwa Raden Girilaya memperlihatkan pengertiannya. Ia berkata, "Saya tahu bahwa Saudara dan rakyat Kota Medang akan sangat prihatin dengan menghilangnya Pangeran Banyak Citra itu," katanya.

"Saya ingin mengetahui lebih banyak, bagaimana Saudara dapat bertemu dengan si Colat," tanya Raden Girilaya.

"Kami berada dalam perjalanan, maksud saya, saya dan panakawan saya, Jasik. Kami melihat rombongannya dan kami melihat kesatria tampan, tetapi dari ujung bibir sampai telinganya melintang bekas luka yang mengerikan."

Banyak Sumba berdusta. Yang terbayang dalam hatinya adalah peristiwa bagaimana si Colat menyelamatkan Raden Jimat, putranya yang berumur delapan tahun, yang diculik oleh kepala jagabaya di sebelah barat Kutabarang. Terbayang olehnya bagaimana si Colat, seperti seorang yang menari, merobohkan lawan-lawannya dengan mudah, lalu menghilang dalam gelap.

Dengan jawaban yang bertentangan dengan isi hati Banyak Sumba, Raden Girilaya rupanya puas. Mereka kemudian bercakap-cakap tentang itu dan ini. Ketika bintang-bintang mulai banyak bertaburan, mereka pun membaringkan diri di dalam gua yang diterangi oleh lampu minyak.

BEBERAPA hari setelah percakapan malam itu, pada suatu tengah hari yang panas, datanglah calon puragabaya yang dinanti-nantikan itu. Ketika itu, Banyak Sumba sedang beristirahat di bawah sebatang pohon yang rindang dan berbincangbincang dengan Raden Girilaya tentang ilmu baru yang ditemukannya. Seorang badega beriari-lari di depan mereka. Ketika dipanggil, bandega itu mengatakan bahwa ia melihat dua orang penunggang kuda, yang seorang kesatria atau pendeta dan yang lain panakawannya.

Banyak Sumba memandang ke dalam mata Raden Girilaya dengan hati berdebar-debar.

"Calon itu," kata Raden Girilaya sambil tersenyum gembira.

Sebaliknya, hati Banyak Sumba menjadi tegang karena ia tahu, suatu hal yang sangat penting akan terjadi. Dan, kejadian itu akan membawa pengaruh buruk atau pengaruh baik terhadap hidup dan tugasnya.

"Tidakkah kita menyambutnya sekarang juga?" tanya Raden Girilaya seraya memandang Banyak Sumba yang tampak tidak bergairah oleh kedatangan calon puragabaya itu.

"Saudara Girilaya, saya ingat kepada si Colat," kata Banyak Sumba mengalihkan percakapan. Raden Girilaya tampak tertegun, tersenyum kembali, lalu berkata, "Si Colat pernah menjadi pujaan masa remaja saya, Saudara Sumba. Akan tetapi, yang saya puja dulu bukanlah si Colat sekarang. Saya sudah memutuskan untuk mencoba menangkapnya dan saya yakin, sang Prabu telah mengambil kebijaksanaan yang tepat." Mendengar perkataan itu, berdirilah Banyak Sumba. Kedua orang anak muda itu pun tergesa menuju ke tanah lapang tempat penghuni Padepokan Sirnadirasa menerima tamu-tamu penting dengan segala upacara.

Di lapangan kecil itu telah berkumpul penghuni padepokan dengan Eyang Resi berdiri di tengah-tengah. Di hadapan beliau berdiri dua orang asing, seorang pemuda yang berumur kira-kira dua atau tiga tahun lebih muda daripada Banyak Sumba. Pemuda yang tampan itu berpakaian putih-putih seperti pakaian seorang pendeta. Tubuhnya yang semampai sekali-kali tidak memperlihatkan bahwa ia seorang calon perwira tinggi dari Padepokan Tajimalela. Otot-ototnya halus, tidak gempal-gempal seperti kebanyakan otot siswa-siswa di Padepokan Sirnadirasa. Walaupun tinggi, pemuda itu sama tinggi dengan Banyak Sumba. Kalau ditilik dari besarnya, mungkin berat pemuda itu hanya tiga perempat berat badan Banyak Sumba. Begitu pula pergelangan tangan pemuda itu, paling besar hanyalah dua pertiga pergelangan tangan Banyak Sumba. Semua itu tidak lepas dari perhatian Banyak Sumba, yang dalam pertemuan pertama telah mengukur kekuatan calon perwira tinggi itu.

Panakawan calon itu seorang yang umurnya kira-kira sama dengan Kang Arsim, antara tiga puluh dan tiga puluh lima.

Tampaknya, orang ini berlainan sekali dengan tuannya. Pendek, gempal, kocak, dan berpakaian nila. Dari otot- ototnya, Banyak Sumba melihat bahwa orang ini memendam tenaga yang besar. Otot-ototnya mengingatkan Banyak Sumba pada bentuk otot-otot si Gojin.

Ketika kedua orang tamu itu bersujud menghaturkan sembah kepada Eyang Sirnadirasa, berkatalah Eyang Resi, "Selamat datang di padepokan kami, Raden. Semoga tenanglah Raden tinggal di sini untuk beberapa lama dan semoga terlaksanalah tugas Raden dengan baik." "Terima kasih dan terimalah sembah sujud hamba, Eyang.

Terima pula salam Eyang Resi Tajimalela yang saya bawa untuk Eyang."

"Terima kasih, Raden. Sekarang, marilah kita memasuki ruangan," ujar Eyang Resi sambil mengangkat calon puragabaya itu dari tempatnya berlutut. Seraya berjalan, Eyang Resi memperkenalkan siswa-siswa padepokan kepada calon puragabaya itu, sambil memperkenalkan kembali calon puragabaya kepada para siswa. Ternyata, gelar calon puragabaya itu Ma-dea. Nama aslinya sudah ditiadakan untuk menghilangkan asal usul kebangsawanan yang tidak boleh dibawa-bawa dalam kedudukan kepuragabayaan.

Setiba di ruangan besar, yang sebagian terdiri dari ruangan gua dan sebagian lagi ruangan bangunan beratap ijuk, duduklah semua hadirin, berkeliling. Eyang Resi duduk di samping calon puragabaya yang sekarang tidak lagi ditemani panakawannya.

"Anak-anakku, inilah tamu yang kalian nanti-nantikan selama ini. Mengenai tugas tamu kita ini, Raden Madea akan menjelaskannya sendiri kepada kalian nanti. Sekarang, sambil Raden Madea beristirahat di tengah-tengah kalian, berbin- cang-bincanglah kalian di sini dan nanti malam kita akan berkumpul kembali."

Setelah berkata demikian, Eyang Resi mengundurkan diri.

Sementara itu, Raden Madea dijamu dengan buah-buahan yang banyak didapat di hutan-hutan dekat padepokan. Para siswa mengelilingi tamu itu dan bercakap-cakap dengannya. Banyak Sumba duduk di tempat yang agak jauh, termenung memikirkan rencana-rencananya. Tak lama setelah itu, Raden Madea dipersilakan untuk beristirahat. Demikian pula para.

Mereka siswa segera mengundurkan diri ke tempat masing- masing.

Malam itu, setelah bersemedi senja, mereka berjalan ke arah lapangan kecil yang ditumbuhi lumut. Bulan terbit agak larut, tetapi karena udara jernih, cahayanya cukup menerangi mereka. Di lapangan kecil itu, mereka duduk. Setelah Eyang Resi mempersilakan, berkatalah calon puragabaya itu. Ia menerangkan maksud kedatangannya dan menjelaskan sebagian tugas yang diembannya.

"Saudara-saudara," kata calon puragabaya, Raden Madea, "tentu saja Eyang Resi telah menjelaskan kedatangan saya ini karena sebelumnya dari Pakuan Pajajaran telah diutus dua orang badega untuk membawa berita. Akan tetapi, pada tempatnya jika saya memberikan uraian lebih lanjut sesuai dengan tugas saya dan agar Saudara mendapat gambaran yang lebih tegas lagi tentang tugas yang akan kita emban bersama dalam waktu dekat."

Raden Madea berhenti sejenak, seluruh hadirin sunyi sehingga angin yang lewat di daun-daun hutan terdengar berdesir. Lalu, Raden Madea melanjutkan penjelasannya.

"Saudara-saudara, dengan dukacita, sang Prabu terpaksa menetapkan bahwa seorang anak negerinya yang bernama si Colat, terpaksa harus diperlakukan sebagai binatang buas. Ia harus diburu seperti seekor harimau yang merusak ternak, seperti babi hutan yang merusak palawija, seperti ular besar yang menelan pendeta di pertapaannya.

'Apakah dosa si Colat sehingga ia harus diperlakukan seperti seekor binatang buas? Bukankah ia seorang manusia yang mempunyai budi dan karena itu dapat memimpin dirinya hidup secara layak sebagai manusia yang beradab? Saudara, dari sinilah titik tolak masalahnya. Karena riwayat hidupnya yang menyedihkan, si Colat ini telah berubah sifat-sifatnya sehingga akal budinya tidak dapat lagi menjadi pembimbingnya. Ia sangat berdukacita. Saudara-saudaranya tidak mau mengakui dan bahkan menghinakannya, kemudian saudara-saudara seayahnya hampir mencabut nyawanya dalam suatu pengeroyokan oleh para badega. Ia dilukai dan ia tidak mau kembali kepada istri yang dicintainya, seorang putri cantik lagi budiman yang telah memberinya seorang putra yang sehat dan tampan, yang dinamai Raden Jimat. Ia mengirim berita kepada istrinya lewat badega-badeganya bahwa ia telah gugur dalam pengeroyokan itu. Sebenarnya, ia masih hidup, tetapi tidak dapat bertemu dengan istrinya kembali karena bekas luka yang mengerikan, melintang dari sudut bibir hingga telinganya. Saudara-saudara dapat membayangkan. Betapa besar penderitaan orang yang dianiaya secara lahir dan batin seperti si Colat ini.

"Seorang yang terlunta-lunta dan berdukacita seperti si Colat dapat bergantung dengan tangan kanannya kepada para Bujangga dan Pohaci. Ia terpanggil untuk menjadi pertapa.

Akan tetapi, karena kelemahannya, ia dengan tangan kirinya bergantung kepada siluman. Ia mengembara mencari Gerbang Buana Larang yang kemudian dapat ditemukannya. Dari sana, dibawanya ilmu yang berbahaya. Ia seorang perwira yang sukar tandingannya. Dan, keperwiraannya itu dipergunakannya untuk membalas dendam.

"Tiga orang bangsawan tinggi Kutawaringin dan dua orang bangsawan di Kutabarang telah dibunuhnya. Kepala bangsawan-bangsawan ini dikirimkan di atas baki kepada Tumenggung Wiratanu di Kutawaringin. Sang Prabu dapat memahami dan meraba perasaan si Colat yang selama ini telah begitu banyak menderita. Akan tetapi, kalau kekejaman yang luar biasa ini dibiarkan, anak negeri Pajajaran akan melihat contoh yang buruk. Usaha-usaha dan cara-cara yang halus telah dijalankan. Utusan-utusan telah dikirim untuk bertemu si Colat, dengan pesan sang Prabu. Pertama, agar si Colat menghentikan tindakan balas dendamnya; kedua, agar ia mau datang menghadap supaya persoalannya dapat diadili. Akan tetapi, si Colat tak pernah menuruti panggilan itu. Ini pun contoh yang tidak baik. Bukankah seorang anak yang marah tidak berhak membangkang terhadap ayah yang menyayanginya. Akhirnya, dengan rasa penuh dukacita, sang Prabu terpaksa mengambil kebijaksanaan lain. "Kebijaksanaan untuk menjalankan kekerasan ini didorong pula oleh peristiwa-peristiwa belakangan ini, yaitu oleh perbuatan-perbuatan anak buah si Colat. Mereka mulai merusak dan menganiaya anak negeri yang tidak berdosa, yang tidak ada hubungannya dengan pihak-pihak yang punya perhitungan dengan si Colat. Dua orang rakyat meninggal, sebelas orang pernah dianiaya, dan seorang gadis petani hilang diculik. Sang Prabu memerintahkan agar para jagabaya bergerak.

"Namun, gerakan ini tidak segera mendatangkan hasil karena si Colat bukan lawan yang lemah. Oleh karena itu, sang Prabu mengutus seorang ponggawa ke Padepokan Tajimalela untuk membicarakan hal itu dengan Eyang Resi. Hasilnya, saya berada di sini sekarang."

Demikian akhir kata Raden Madea sambil tersenyum.

Kemudian, ia menyembah kepada Eyang Resi yang berkata, "Anak-anakku, kalian sudah tahu tugas-tugas kalian, yaitu membantu usaha kerajaan untuk mengembalikan keamanan dan ketenteraman hidup anak negeri ini. Raden Madea dipilih menjadi pemimpin kalian dalam gerakan ini. Sebenarnya, gerakan ini dipimpin oleh seorang puragabaya dan empat calon puragabaya. Anak buah pasukan yang terdiri dari lima puluh orang yang diambil dari berbagai perguruan. Perguruan kita mendapat kehormatan."

Eyang Resi berpaling kepada tamu yang mengangguk dan tersenyum kepada beliau.

"Tentu saja kehormatan itu harus kita buktikan dulu, Anak- anakku," ujar Eyang Resi sambil tersenyum pula. "Malam ini, kita akan memperlihatkan kepada Raden Madea apa-apa yang kita miliki di sini. Kalian akan berkelahi berpasang-pasangan, kemudian kalian akan berkelahi melawan kero-yokan- keroyokan dan selanjutnya."

Banyak Sumba menajamkan pendengarannya. Ia berharap mendengar Raden Madea akan memperlihatkan keperwiraannya dengan melawan mereka, tetapi Eyang Resi tidak mengatakan hal itu. Banyak Sumba berbisik kepada Raden Girilaya yang duduk di sampingnya, apakah Raden Madea akan menunjukkan kepandaiannya. Raden Girilaya berbisik, "Tidak mungkin, Saudara. Para puragabaya dan calon puragabaya dilarang berkelahi, kecuali demi kepentingan pendidikan mereka dan demi kepentingan kerajaan, misalnya menyelamatkan anak negeri dan dirinya sendiri, atau menyelamatkan sang Prabu. Raden Madea akan melihat kita, mungkin memberikan nasihat-nasihat, mungkin juga tidak.

Yang pasti dikemukakannya adalah hal-hal yang lebih terperinci mengenai si Colat."

"Sayang," ujar Banyak Sumba, setengah sadar. "Ya?" kata Raden Girilaya.

"Sayang, kalau dapat melihat gaya berkelahinya, mungkin kita sedikit banyak akan dapat mempelajari ilmu kepuragabayaan," kata Banyak Sumba pula.

Raden Girilaya memandang Banyak Sumba dengan keheranan. Banyak Sumba terkejut ketika ia menyadari bahwa ia telah berbuat yang tidak senonoh. Bagaimanapun, ingin mengetahui sesuatu yang dilarang kerajaan adalah tidak senonoh, apalagi kalau keinginan itu ada pada hati seorang kesatria seperti dia. Ia dengan gugup berkata kepada Raden Girilaya, "Oh, saya hanya main-main, Saudara," katanya.

Raden Girilaya menarik napas panjang, lalu berpaling ke arah Eyang Resi dan calon puragabaya.

Banyak Sumba termenung, meninjau kembali rencana- rencana yang sudah lama digariskan dalam pikirannya.

Setelah acara pembicaraan selesai dan calon puragabaya itu memberitahukan tentang waktu keberangkatan para siswa, mereka pun berdiri, lalu berjalan ke arah lapangan tempat berlatih. Di sana, mereka memperlihatkan cara-cara perkelahian berpasang-pasangan, lalu cara pengeroyokan dan perlawanannya. Banyak Sumba mencoba menyelami kesan- kesan yang tergambar pada wajah Raden Madea tentang cara-cara perkelahian siswa-siswa itu. Akan tetapi, Raden Madea tidak memperlihatkan kesan-kesan khusus. Ia tersenyum, tapi apakah senyumnya itu memperlihatkan kepuasan atau bukan, Banyak Sumba tidak dapat menduganya.

Keesokan harinya, pagi-pagi setelah latihan, mereka berkumpul kembali. Raden Madea membuka kain sutra tempat peta kerajaan tergambar dengan indah. Ia menunjukkan tempat yang akan mereka tuju, yaitu daerah-daerah pegunungan dan hutan-hutan lebat yang diketahui sebagai tempat persembunyian si Colat dengan anak buahnya. Setelah menerangkan beberapa hal lain tentang persenjataan anak buah si Colat, cara-cara mereka menyerang, dan tokoh-tokoh utama di samping si Colat, mereka pun bubar. Banyak Sumba mengharapkan Raden Madea akan mengikuti latihan mereka, tetapi Raden Madea memilih berkunjung ke gua tempat Eyang Resi. Banyak Sumba ikut berlatih dengan perasaan kecewa.

SEMENJAK Raden Madea berada di Padepokan Sirnadirasa, semenjak itulah Banyak Sumba sering termenung. Berulang- ulang ia meninjau kembali rencana yang ada dalam pikirannya dengan maksud menggagalkan rencana itu, tetapi selalu ia mengatakan kepada dirinya bahwa kesempatan yang lebih baik belum tentu akan muncul seperti ketika itu.

Pada suatu siang, tibalah Jasik di Padepokan Sirnadirasa. Maka, segalanya jadi berubah. Banyak Sumba berketetapan hati untuk melaksanakan rencananya itu. Ketika Banyak Sumba berkunjung ke tempat para badega di tempat Jasik menginap, berundinglah mereka secara sembunyi-sembunyi.

"Sik, di padepokan ini ada seorang calon puragabaya," kata Banyak Sumba.

Jasik segera menyela, "Sudahkah Raden mencoba keperwiraannya?" "Itulah soalnya, Sik. Sukar sekali bagiku untuk mengorek ilmu yang sangat berguna itu darinya. Ia tidak akan berani melanggar peraturan Padepokan Tajimalela. Kau tahu, Sik, para calon puragabaya dan puragabaya dilarang keras berkelahi kalau tidak sedang mengemban tugas untuk itu. Peraturan yang keras ini mudah dimengerti karena ilmu kepuraga-bayaan merupakan senjata yang luar biasa ampuhnya sebagai alat untuk melindungi anak negeri, kerajaan, dan sang Prabu. Itulah sebabnya, jalan satu-satunya

...."

"Raden menyerangnya?"

"Ya, Sik, walaupun saya tidak yakin, apakah cara itu akan berhasil, tetapi itu cara satu-satunya."

Jasik termenung. Tampak ia pun melihat akibat besar dari cara itu. Tak lama kemudian, ia bertanya, "Seandainya Raden menyerangnya, bagaimana kira-kira sikap Padepokan Sirnadirasa terhadap Raden?"

"Itulah soalnya, Sik. Mereka tentu menyesali saya dan saya tidak mungkin lagi jadi siswa di padepokan ini."

"Apakah menurut pendapat Raden masih banyak ilmu yang harus dipelajari di padepokan ini?"

Banyak Sumba ragu-ragu sebelum menjawab. Pertanyaan itu berulang-ulang ia tanyakan kepada dirinya. Akan tetapi, ia takut menjawabnya karena ia tahu, masalahnya bukan terletak pada jawaban pertanyaan itu, melainkan pada pertanyaan selanjutnya. Setelah lama termenung, ia berkata, "Tidak banyak lagi yang harus kupelajari di sini, Sik. Bahkan, sekarang saya mulai mengajar ilmu yang saya temukan ketika kita berjalan antara Kota Medang dan Kutawaringin," ujar Banyak Sumba.

"Kalau begitu, apakah salahnya kalau Raden diusir dari padepokan ini. Bukan Raden yang rugi, tetapi padepokan yang akan kehilangan Raden." "Bukan begitu, Sik. Soalnya, saya dulu berjanji bahwa saya akan mempergunakan ilmu saya secara baik dan untuk kebaikan."

"Lha, bukankah dengan mencoba keperwiraan puragabaya itu Raden akan menguji ilmu Raden sendiri, kemudian akan dipergunakan untuk menegakkan kehormatan keluarga?"

Sekali lagi, Banyak Sumba termenung, la tidak berani mengemukakan masalah sebenarnya yang terletak pada Raden Girilaya. Raden Girilaya adalah saudara Nyai Emas Purbamanik. Seandainya Banyak Sumba melakukan apa-apa yang dianggap buruk Raden Girilaya, bukankah mungkin ia akan kehilangan gadis yang dicintainya itu? Ia ingin mengatakan hal itu kepada Jasik, tetapi ia merasa malu. Ia tentu saja dianggap Jasik sebagai anggota wangsa Banyak Citra yang tidak pantas, yang mementingkan diri sendiri daripada kehormatan keluarga. Jasik tentu menganggap Banyak Sumba sebagai kesatria yang lemah, mendahulukan wanita daripada tugas kesa-triaan. Itulah sebabnya, Banyak Sumba terdiam. Ia tahu, Jasik yang belum pernah tertarik oleh gadis-gadis yang ditemukannya, tidak akan dapat merasakan apa yang dirasakannya. Terasa olehnya bahwa tidaklah mudah memecahkan pertentangan antara kepentingan keluarga dengan kepentingan dirinya.

Setelah menarik napas panjang, berkatalah Banyak Sumba, "Rupanya, cara itu memang cara satu-satunya, Sik, dan saya mengambil segala akibatnya."

Setelah berkata demikian, terkenanglah segala kejadian di Puri Purbawisesa, ketika Banyak Sumba hendak meninggalkan puri itu. Alangkah indahnya pengalaman malam itu. Dengan kenangan yang indah itu, menyusup pulalah kesedihan ke dalam hatinya. Mungkin ia tidak dapat menikmati keindahan itu lagi untuk selama-lamanya karena ia seorang kesatria.

Seorang kesatria harus mendahulukan tugas daripada kepentingan dirinya. Ia berpaling kepada jasik seraya berkata dalam hatinya, alangkah baiknya kalau ia jadi orang biasa, jadi pemuda kampung dan tidak sebagai kesatria. Ia tersenyum karena hatinya kemudian berkata, ia tidak boleh lemah, Nyai Emas Purbamanik mungkin saja suatu godaan yang dijatuhkan-Sang Hiang Tunggal di tengah-tengah perjalanannya. Agar ia mendapat kesukaran dalam usaha membalas dendam terhadap pembunuh Kakanda Jante dan menegakkan kembali kehormatan keluarga.

Sekali lagi ia menarik napas panjang, kemudian berkata, "Baiklah, Sik. Saya akan mengambil segala akibatnya. Saya akan menyerangnya, lalu melarikan diri dari padepokan karena saya tahu, saya akan ditangkap. Bagaimanapun, saya akan dianggap mencemarkan nama padepokan. Untuk itu, besok pagi-pagi, tunggulah saya di kaki bukit sebelah timur.

Sediakan kudaku, janganlah mencurigakan orang-orang di tempat para badega."

"Apakah Raden akan menyerang malam hari?" "Tidak, Sik, besok pagi-pagi. Raden Madea calon

puragabaya itu, biasa berlari-lari mendaki dan menuruni tebing gunung. Ia biasa melompati beberapa cadas, kemudian beristirahat di suatu tempat. Sebelum atau sesudah beristirahat itulah saya akan menyerangnya. Setelah itu, saya akan menjumpaimu. Tunggulah di sana sebelum matahari terbit karena Raden Madea biasa berlatih subuh."

"Baiklah, Raden. Apakah segala perbekalan perlu pula disiapkan?"

"Saya kira tidak usah, Sik. Kita harus cepat-cepat melarikan diri dari padepokan, kuda harus ringan. Perbekalan akan kita cari di Kutabarang nanti."

"Baiklah, Raden," ujar Jasik.

Mereka berpisah dan Banyak Sumba memerinci rencana yang akan dilaksanakannya keesokan harinya. KEESOKAN harinya, subuh-subuh Banyak Sumba sudah bangkit.

"Hari masih subuh, Saudara Sumba," kata Raden Girilaya dari tikar tidurnya.

"Saya harus pergi ke kali," kata Banyak Sumba sambil mengenakan pakaian luarnya. Ia melirik Raden Girilaya dan merasa lega karena Raden Girilaya bermaksud tidur kembali. Dengan hati-hati, Banyak Sumba mengambil beberapa buah kotak lontar kecil tempat ia mencatat berbagai hal mengenai ilmu keperwiraan yang sedang menjadi bahan renungannya. Diambilnya pula badik kecil, lalu disisipkan di pinggangnya. Setelah melekatkan ikat kepala, ia pun bangkit, lalu membuka tabir pintu gua. Sementara udara segar memasuki gua, ia keluar.

Matahari belum terbit, tetapi burung-burung kecil sudah terjaga dan berbunyi. Banyak Sumba berjalan di antara semak-semak. Alas kakinya yang terbuat dari kulit kasar segera basah karena embun dari rumput. Ia berjalan mendaki punggung gunung. Agar segera tiba di tempat tujuannya, ia mulai berlari kecil. Ditirunya perbuatan calon puragabaya, sepanjang jalan dilompatinya bongkahan-bongkahan cadas yang menonjol di sana sini. Belum lama ia berlari, napasnya sudah memburu. Ia tertegun, termenung.

Tiba-tiba, ia sadar bahwa semua yang dilakukan oleh calon puragabaya setiap subuh itu bukanlah permainan. Ternyata, perbuatan yang aneh itu ada artinya, pikir Banyak Sumba.

Kalau saja ia saban hari berlari seperti itu, sudah barang tentu napasnya menjadi panjang. Bukankah otot-ototnya menjadi kuat karena dulu ia biasa mengangkat batu-batu besar ketika sedang belajar kepada si Gojin? Paru-paru harus diperkuat, caranya dengan berlari di udara, terbuka. Terasa olehnya, dadanya agak sakit karena ia tidak biasa melakukan perbuatan yang memerlukan bernapas kuat-kuat. Biasanya ia beranggapan bahwa dalam perkelahian, lawan harus dirobohkannya dalam waktu singkat. Dengan demikian, kalau memang lawan lemah, napas yang panjang tidaklah diperlukan benar. Akan tetapi, bagaimana kalau lawan tidak cepat roboh? Ia menyadari bahwa ia telah menemukan suatu hal yang penting, suatu bagian dari ilmu kepuragabayaan, yaitu cara memperkuat paru-paru dan memperpanjang napas.

Sambil termenung, ia terus berjalan mendaki punggung gunung, menuju lorong di antara semak-semak yang biasa dipergunakan Raden Madea berlari pagi-pagi. Tiba-tiba, ia melihat Raden Madea tidak berapa jauh darinya. Ketika ia masih ragu-ragu, Raden Madea sudah melewatinya dan berlari ke arah puncak gunung. Banyak Sumba termenung, ia bingung. Ia harus memanggilnya, tetapi itu akan menarik perhatian padepokan. Kalau ia menunggu dan kemudian menghadangnya ketika calon puragabaya itu turun, perkelahian akan tidak seimbang. Mungkin Raden Madea ketika itu sudah kelelahan. Tak ada jalan lain, ia harus mengejar dan menyerangnya. Supaya Raden Madea marah dan mau berkelahi, ia harus menyerangnya dari belakang.

Dengan pikiran demikian itu, berlari pulalah ia mengejar Raden Madea. Mula-mula, Raden Madea terus berlari, tetapi tiba-tiba berhenti, lalu berpaling. Ia tersenyum kepada Banyak Sumba, lalu berkata, "Marilah berlomba sampai puncak, kemudian kita berlomba menuruni gunung ini, turun lebih sukar, apalagi bagi Saudara yang bertubuh lebih besar daripada saya. Mari!" sambil berkata demikian, Raden Madea berlari dengan cepat sekali.

Banyak Sumba mengejarnya. Ketika Raden Madea menjadi lambat larinya karena semak-semak yang semakin lebat,

Banyak Sumba sudah ada di belakangnya. Begitu berada di belakang Raden Madea, Banyak Sumba mempergunakan kaki kanannya untuk menyapu kedua kaki Raden Madea. Dengan mudah, tubuh Raden Madea yang semampai itu terangkat dari tanah dan jatuh ke depan, tetapi tidak tersungkur. Dengan mengherankan, Raden Madea berjungkir dan segera berdiri kembali, lalu beriari lagi sambil tertawa dan berseru, "Jangan terlalu dekat larinya, ambillah lorong lain supaya Saudara tidak terhambat kalau saya lambat."

Banyak Sumba yang terheran-heran mulai mengerti bahwa calon puragabaya itu menyangka dia melibat kakinya secara tidak sengaja. Ia menggertakkan giginya karena kesal dan mendengus, seperti yang biasa dilakukan anggota laki-laki wangsa Banyak Citra kalau marah. Napasnya mulai tersengal- sengal, tapi ia terus berlari. Ia bertekad melakukan apa yang telah diperbuatnya sekali lagi dan berulang-ulang sampai Raden Madea mengerti.

Tak lama kemudian, kesempatan itu datang kembali. Banyak Sumba menjangkau ujung ikat pinggang Raden Madea, lalu menariknya ke belakang. Raden Madea terjungkir ke belakang, lalu berdiri kembali dan terus lari sambil tertawa, "Saudara licik!" serunya sambil tertawa-tawa. "Tapi baiklah, kejarlah saya."

Banyak Sumba kehabisan akal, napasnya sudah hampir habis, sedangkan Raden Madea ternyata begitu ringan dan lincah mendaki lereng gunung yang terjal itu. Banyak Sumba berhenti, menunggu orang yang diburunya itu. Ia akan mempergunakan siasat lain. Ia akan langsung menyerang, tidak melibat kakinya, tetapi akan menangkap dan membantingnya.

Sementara itu, tampak Raden Madea mulai turun. Banyak Sumba bersiap-siap. Ketika Raden Madea tinggal beberapa langkah lagi darinya dan Banyak Sumba hendak menerkamnya, tiba-tiba pinggangnya dipegang orang.

Sepasang tangan yang pendek-pendek tapi besar-besar mengunci pinggangnya.

Banyak Sumba mempergunakan sikutnya. Terdengar orang itu mengaduh ketika ujung sikutnya itu mengenai benda keras. Ternyata, kedua pasang tangan makin erat mengunci perutnya. Akhirnya, Banyak Sumba memilih salah satu jari, membuka jarinya itu dengan susah payah, kemudian akan mematahkannya. Sebelum Banyak Sumba sempat mematahkan jari itu, si pemegang telah melepaskan tangannya dan menyapu kaki Banyak Sumba dengan tangan kanannya. Banyak Sumba tidak punya pilihan lain. Ia menjatuhkan diri ke depan, tapi sambil memutar badannya. Ketika ia jatuh telentang, lawannya yang menyerang dari belakang tampak hendak menggulatnya. Dengan cepat, Banyak Sumba menarik lututnya ke atas dan kaki kanannya menjejak ke depan, ke arah tubuh yang menubruknya.

Jejakan mengenai sasarannya. Orang itu terpental, memegang ulu hatinya. Seraya sempoyongan mulutnya menganga, mencari napas. Ternyata, orang itu badega Raden Madea.

Banyak Sumba berdiri menghadap kepada Raden Madea. Ia keheranan.

"Ada apa?" tanya Raden Madea.

"Awas, Raden!" seru panakawannya seraya menyerang Banyak Sumba dari samping. Sambil menangkap tangan kanan Banyak Sumba dan berusaha melipatnya, panakawan itu berseru, memberi tahu tuannya bahwa Banyak Sumba bermaksud mencelakakannya.

Merasa tangannya akan dikunci, Banyak Sumba tidak dapat berbuat lain, kecuali melawan. Ia berbalik. Dengan mempergunakan tinju kirinya, ia menghantam muka panakawan itu dengan keras. Darah memancar dari hidung panakawan yang berwajah bulat itu. Akan tetapi, panakawan itu tidaklah mundur. Dengan cepat, ia menubruk, mendorong dada Banyak Sumba dengan maksud menjatuhkannya ke lereng gunung. Banyak Sumba mempergunakan dadanya untuk mematahkan pergelangan panakawannya itu. Bunyi jaringan otot yang meregang terdengar, raungan yang keras keluar dari mulut panakawan yang sambil mundur memegang pergelangan tangan kirinya. "Tangan kirinya terkilir, Saudara, marilah saya urut," kata Raden Madea seraya mendekati panakawannya. Akan tetapi, Banyak Sumba tidak memberinya kesempatan. Begitu ia lewat, Banyak Sumba yang lebih besar menangkap leher Raden Madea, tapi ternyata ia menangkap udara. Begitu cepat Raden Madea menghindar hingga suara tangan Banyak Sumba keras terdengar, seperti orang yang bertepuk. Banyak Sumba tidak mundur. Ia menyerang dengan kakinya, tetapi Raden Madea lincah seperti kucing.

"Saudara kehilangan akal sehat," kata Raden Madea sambil menghindari serangan Banyak Sumba yang bertubi-tubi.

"Saya bermaksud membunuh Saudara," ujar Banyak Sumba, memancing kemarahan dan perlawanan calon puragabaya itu.

"Saya tidak punya kesalahan terhadap Saudara," kata calon itu.

Banyak Sumba berhasil menangkap tangan lawannya yang masih keheranan, lalu melipat dengan maksud membantingnya. Dengan cepat, kedua belah matanya menjadi gelap, tertutup telapak tangan kiri calon itu. Ketika Banyak Sumba mengibaskan mukanya, tiba-tiba saja kakinya sudah tidak berpijak lagi dan dia terbaring di atas semak. Raden Madea berdiri di dekatnya, memerhatikannya seperti keheranan.

"Bacalah mantra-mantra pengusir siluman, mungkin Saudara kerasukan," kata calon puragabaya itu.

Banyak Sumba bangkit, lalu menyerangnya dengan kaki.

Akan tetapi, dengan mudah kakinya ditepuk calon puragabaya itu dengan kedua tangannya yang halus dan lemah, seolah- olah ia mengibas sehelai saputangan. Banyak Sumba sempoyongan oleh tangannya sendiri yang terbuang. Akan tetapi, ia merasa senang karena telah membaca beberapa hal yang tidak akan pernah dibacanya dalam buku ilmu keperwiraan mana pun. Sambil terengah-engah, ia maju. Ia akan mempergunakan keuntungan yang dimilikinya, yaitu tubuhnya yang besar. Ia akan mencoba mendesak calon puragabaya itu ke kedudukan yang berbahaya hingga ia akan terpaksa mengeluarkan ilmu yang dirahasiakannya. Ia mendekat, tetapi Raden Madea menghindar dengan melompat ke belakang. Dengan sekali lompat saja, sekurang-kurangnya tiga langkah terbentang antara tempat berdiri semula.

Banyak Sumba mengejarnya sekali lagi. Raden Madea melompat, sekarang makin jauh. Banyak Sumba berlari dan kadang-kadang melompat. Raden Madea menghindar, menuju arah padepokan. Banyak Sumba mulai cemas, kalau-kalau usahanya akan menghasilkan sedikit. Maka, dipercepat-lah pengejarannya. Karena ia lebih hafal jalan di semak-semak itu, akhirnya ia dapat mencegat Raden Madea. Raden Madea terpojok dengan di belakangnya semak yang tinggi. Banyak Sumba beranggapan bahwa sekarang calon itu terpaksa melawan. Ia menyerangnya. Akan tetapi, Raden Madea melompati semak itu dan ketika kakinya terkait, ia berjungkir dan tiba di seberang semak itu dengan berdiri mantap, "Barangkali Saudara sudah gila," kata Raden Madea di seberang semak.

"Kubunuh kau," kata Banyak Sumba, melompati semak dan tiba di hadapan Raden Madea. Raden Madea memandangnya dengan bingung dan heran.

"Serulah ayah dan ibumu karena sebentar lagi nyawamu akan terbang ke Buana Larang," kata Banyak Sumba.

Ia menangkap baju Raden Madea, menariknya ke depan dengan maksud merangkulnya, lalu melipatnya bagai seekor ular besar meremukkan mangsanya. Hal itu dilakukannya untuk memancing perlawanan belaka dan tidak untuk membuat calon itu cedera. Akan tetapi, begitu berada dalam jarak pukul, tiba-tiba calon puragabaya itu memukul ulu hatinya. Tampaknya seperti perlahan, tetapi pandangan mata Banyak Sumba menjadi gelap dan napasnya hampir terhenti. Waktu ia sempoyongan dan jatuh, satu hal terlintas dalam pikirannya, yaitu bahwa ilmu pukulan yang dimilikinya belum apa-apa dibandingkan dengan ilmu pukulan yang dikuasai calon puragabaya itu. Ia menyadari bahwa ia merobohkan lawan sampai pingsan dengan pukulan-pukulan yang mempergunakan banyak tenaga. Calon puragabaya itu melakukannya seperti sambil bermain-main. Dengan pikiran itu, ia segera bangkit, lalu kembali pasang kuda-kuda. Ia melihat ke arah calon puragabaya itu. Ternyata, lawannya tidak bersiap-siap, ia berdiri biasa.

"Kalau nanti saya diadili karena saya melawan Saudara," kata Raden Madea, "bersedialah menjadi saksi dan berkatalah benar. Katakanlah bahwa saya terpaksa melawan karena Saudara bermaksud buruk terhadap saya."

Banyak Sumba mendekati Raden Madea dengan kaki kiri di belakang kukuh tertanam pada bumi, sedangkan kaki kanan mengangkang. Ini memberi dua keuntungan dalam menghadapi Raden Madea yang berdiri tegak di depannya.

Kaki kiri maupun kaki kanan Banyak Sumba akan dapat menyerang dengan leluasa. Serangan itu dilakukannya. Mula- mula, kaki kiri Banyak Sumba menderu, tetapi dengan mudah ditepuk oleh Raden Madea. Kaki kanan yang menyusul, tidak beruntung pula. Kaki kanan yang mempergunakan tenaga besar ini tidak ditepuk ke bawah, tetapi ke samping. Tubuh Banyak Sumba mengambang sejenak, kehilangan keseimbangannya. Dengan suatu sentuhan, terjatuhlah ia.

Akan tetapi, begitu jatuh, Banyak Sumba bangkit dan bersiap lagi karena takut mendapat serangan. Ternyata, Raden Madea tidak menyerangnya. Ia berdiri saja sambil memandang Banyak Sumba dengan keheranan.

"Bacalah mantra, Saudara. Saya yakin, Saudara akan dikeluarkan dari perguruan. Sudah bersediakah Saudara diusir dari perguruan yang sangat baik itu?" tanya Raden Madea. Banyak Sumba tidak berkata apa-apa. Ia maju. Dalam hatinya, ia menyiapkan siasat lain. Kalau serangan terhadap tubuh dari dekat dan dari jauh tidak mempan, barangkali calon puragabaya ini harus diserang pada bagian-bagian anggotanya yang lemah. Ia akan berusaha menyerang jari tangan calon itu atau pergelangan serta sikutnya. Ia maju dengan pandangan ke arah lawannya. Ketika mereka berdekatan, tangan Banyak Sumba segera menangkap kedua tangan lawan. Banyak Sumba segera memutar tangan Raden Madea yang kanan. Aneh, tangan itu berputar, tetapi tak tampak bahwa Raden Madea kesakitan. Ketika ia keheranan itulah, tiba-tiba kaki kanannya yang maju ke depan disapu Raden Madea. Sekali lagi, Banyak Sumba terbaring di semak- semak. Ia bangkit dan segera menghambur, tetapi ia menubruk udara kosong dan dengan tunggang langgang ia terjatuh menuruni tebing. Tangan kirinya terkilir dan untuk beberapa lama, ia tidak dapat bangkit karena kesakitan.

Ketika ia bangkit dan melihat ke bawah, tampaklah panakawan Raden Madea berlari-lari mendaki, diiringi hampir seluruh siswa Padepokan Sirnadirasa.

Lari! demikian terlintas dalam pikiran Banyak Sumba. Ia pun berlari, tetapi sambil membungkuk, menyembunyikan diri.

"Ke timur! Ke timur!" seru panakawan Raden Madea. Suara semak-semak yang terlanda dan diterobos terdengar dari bawah.

Banyak Sumba membelok, mendaki gunung. Ia menyadari, sebagai orang yang berada di tempat yang lebih tinggi dan semak-semaknya lebih pendek, sukar sekali baginya untuk bersembunyi. Itulah sebabnya, ia harus menjauhkan diri secepat-cepatnya dan masuk hutan yang ada di sebelah timur atau selatan. Ia berlari terus, walaupun agak sempoyongan, karena tangan kirinya yang terkilir mulai kesemutan dan ngilu. Ia terus berlari, berbelok-belok, dan berusaha menyembunyikan diri sebelum mencapai hutan. Dari bawah terdengar seruan-seruan. Napasnya sendiri berdengus-dengus dan mulai tersengal-sengal. Pandangannya kabur oleh keringat yang turun dari dahinya. Ia terus berlari. Pada suatu ketika, kakinya tersandung akar, ia terjatuh berguling-guling, tangan kirinya tertindih dan ia mengaduh.

Betapapun sakitnya, ia bangkit lagi dan terus berlari. Ia tahu bahwa kalau tertangkap, ia akan mendapat malapetaka besar. Siapa tahu ia akan dibunuh. Itulah sebabnya, ia harus berlari. Akhirnya, pohon-pohon tinggi mulai tampak. Ia makin mempercepat larinya.

Ketika ia mulai masuk hutan, hatinya mengucapkan doa syukur kepada Sang Hiang Tunggal yang telah melindunginya. Dalam hutan itu, ia akan lebih mudah meloloskan diri. Ia memperlambat larinya, sambil mengurut-urut pergelangan tangan kirinya yang mulai membengkak. Ia terus beriari, makin lama hutan makin lebat dan udara makin sejuk.

Akhirnya, ia berjalan, walaupun telinganya terus-menerus mendengarkan setiap suara, waspada terhadap kemungkinan adanya pengejar yang membuntuti. Akhirnya, karena segalanya sunyi, kecuali suara beberapa ekor burung yang bernyanyi di atas dahan-dahan kayu yang tinggi dan rindang, ia pun menjatuhkan diri di atas daun-daun kering di sela-sela semak.

Ia hampir kehabisan napas, keringatnya membasahi seluruh tubuhnya, sementara itu pergelangan tangan kirinya makin berdenyut juga. Ia menarik tangannya itu. Ketika rasa sakitnya menusuk, teringatlah ia kepada Jasik. Seandainya Jasik ada di dekatnya, panakawannya yang setia dan sayang kepadanya itu akan mengurutnya. Dalam waktu singkat, akan pulihlah tangannya itu. Ia ingat bahwa berulang-ulang ia terkilir dan Paman Wasis dengan mudah membetulkan tulang- tulang atau urat-uratnya yang salah tempat. Akan tetapi, karena biasa menggantungkan diri pada pertolongan Jasik, sekarang ia tidak tahu bagaimana harus membetulkan tangannya sendiri. Ia hanya merasakan sakit amat sangat yang hampir menghentikan napasnya.

Tiba-tiba, suara berisik terdengar. Ia segera bangkit dan lari merunduk-runduk menjauhi suara itu sambil makin dalam memasuki hutan belantara. Setelah merasa aman, ia berhenti dan duduk di akar sebatang pohon yang besar. Kembali ia mencoba mengurut-urut tangannya sambil mengerang-erang. Kemudian, terpikir olehnya bahwa tulang pergelangan tangan kirinya yang bengkak itu tidak tepat letaknya, tidak seperti yang kanan. Ia mencoba mengubah kedudukan tulang tangannya yang tidak tepat itu. Ketika rasa sakitnya amat sangat, ia mengaduh dengan keras. Dari arah bawah terdengar suara berisik ke arahnya. Ia bangkit dan berlari dengan cepat, tetapi berusaha tidak menimbulkan suara.

Tiba-tiba, kakinya kehilangan pijaknya. Ia tidak melihat bahwa di samping kanannya terdapat jurang. Ia terjatuh dan berusaha secara naluriah menangkap pegangan. Tangan kanannya menggapai, tangan kirinya yang sakit menangkap cabang semak. Bersamaan dengan tubuhnya yang mulai bergantung, berbunyilah pergelangan tangannya itu. Rasa sakit menusuk seluruh tubuhnya. Banyak Sumba memejamkan mata sambil menangkap cabang lain dengan tangan kanannya. Air matanya keluar karena kesakitan yang amat sangat. Akan tetapi, terasa olehnya bahwa betapapun masih sakit, tangan kirinya mulai mereda sakitnya. Ia melihat ke tangan kirinya. Di bawah bengkaknya, ia dapat menduga bahwa tulang-tulangnya sudah kembali pada tempatnya semula.

"Terus, ke atas!" terdengar suara di bibir jurang. "Saya lihat ia kemari."

"Tapi ia tidak ada di sini, tentu di tempat lain," kata temannya.

"Ini ada bekasnya." Banyak Sumba menahan napasnya sambil berdoa. Kalau saja ada orang yang melihat ke dalam jurang, siapa tahu ia akan ditemukan. Dan membunuh orang yang berada di dalam kedudukan seperti dia tidaklah sukar. Lemparkanlah batu yang cukup besar dan ia akan jatuh bersama batu itu ke dalam jurang. Itulah sebabnya, ia berdoa, memohon lindungan Sang Hiang Tunggal.

Suara-suara makin menjauh. Setelah segalanya sunyi kembali, Banyak Sumba bergerak, melihat ke dalam jurang. Ternyata, jurang itu dalam sekali. Dasarnya tidak kelihatan karena ditutupi pohon-pohon yang besar. Ia memejamkan matanya, lalu mulai mempergunakan tangan kanan dan kedua belah kakinya untuk menaiki tebing itu. Kadang-kadang, ia mempergunakan giginya untuk berpegangan. Kalau keadaan sangat berbahaya, ia terpaksa mempergunakan tangan kirinya, walaupun sambil mengerang-erang kesakitan. Kalau di atas terdengar berisik, ia menghentikan usahanya sambil menahan napasnya.

Ketika sunyi mulai menguasai hutan, ia mulai lagi merangkak ke atas. Akhirnya, tiba juga ia di bibir jurang, walaupun seluruh tenaganya terasa telah meninggalkan tubuhnya. Maka, berbaringlah ia di sana untuk beberapa lama. Setelah napasnya pulih kembali, ia bangkit. Sambil mengendap-endap, ia berjalan tak tentu arah.

Entah sudah berapa lama ia berjalan. Ia tidak dapat mengira-ngira panjangnya waktu. Matahari sudah berada di puncak langit, dahaga mulai membakar dadanya. Ia duduk di bawah sebatang pohon sambil mengurut-urut tangan kirinya yang bengkak, "Saudara Sumba, menyerahlah!" tiba-tiba terdengar suara Raden Girilaya. Banyak Sumba segera berdiri dan bersiap untuk berlari. Ternyata, di sekelilingnya sudah berdiri para siswa padepokan.

"Saya sungguh-sungguh prihatin dan bersedih hati karena perbuatan Saudara yang tidak saya mengerti. Sungguh saya tidak mengerti," kata Raden Girilaya, "Saudara saya hormati, saya jadikan teladan, tetapi ternyata Saudara berjiwa kerdil. Sekarang, menyerahlah. Kami akan memperlakukan Saudara baik-baik," katanya, pada wajahnya terbayang kesedihan dan kebingungan. Hampir saja Banyak Sumba menyerahkan diri ketika ia melihat kesedihan terbayang di wajah yang mengingatkannya kepada Nyai Emas Purbamanik. Akan tetapi, tiba-tiba terngiang dalam hatinya pelajaran Paman Wasis, "Kalau dikeroyok, berusahalah supaya lawan tidak mengurung Raden. Rencanakanlah ke mana Raden akan melarikan diri atau mencari kedudukan lain yang lebih baik. Seranglah lawan yang Raden anggap paling kuat!"

Kenangan pada pengajaran Paman Wasis menyalakan matanya kembali. Sifat keras hatinya tumbuh lagi, keberanian berkobar. Ia berdiri tegak, lalu berkata, "Saya sudah meramalkan bahwa Saudara-saudara akan menyesali perbuatan saya. Akan tetapi, saya tidak menyesal karena perbuatan itu saya lakukan untuk tujuan mulia yang tidak dapat saya jelaskan kepada Saudara-saudara. Sebagai seorang kesatria, saya tidak boleh menyerah karena dengan demikian, berarti saya tidak yakin lagi kemuliaan cita-cita yang saya junjung. Oleh karena itu, tangkaplah saya," kata Banyak Sumba.

"Saudara Sumba, Saudara telah melanggar kesatriaan Saudara, yaitu dengan menyerang calon puragabaya. Saudara hanya dapat mempertahankan kesatriaan Saudara dengan mengakui kesalahan Saudara. Pengakuan kesalahan itu hanya dapat Saudara lakukan dengan perbuatan, yaitu dengan menyerahkan diri dan meminta maaf serta bersedia dihukum," kata Raden Girilaya dengan nada sedih yang keluar dari lubuk hatinya.

"Saudara Sumba, bacalah mantra-mantra, sadarlah” ujar Raden Girilaya dengan sedih. "Pikiran saya jernih, saya tidak gila. Kakanda..” ia akan mengatakan bahwa Kakanda Jante Jaluwuyung juga disebut gila sebelum dibunuh dan ia tidak mau diperlakukan demikian. Ia tidak berkata lagi, ia bergerak, bersiap siaga. Para pengurung bergerak mengecilkan kurungannya, kecuali di belakang Banyak Sumba yang terhalang oleh sebatang pohon besar.

"Saudara Sumba..”

Banyak Sumba maju, mendekat ke arah Ginggi yang terdekat. Itu hanyalah pancingan. Ia tahu bahwa yang terkuat di antara mereka adalah Raden Girilaya, tetapi ia harus menipu mereka. Kurungan makin ketat. Banyak Sumba merasa, tangan kirinya berdenyut perlahan-lahan. Ia tahu bahwa ia akan repot sekali dengan mempergunakan tangan itu. Ia harus memercayakan nasibnya terutama pada kedua belah kakinya. Ia menghambur ke arah Ginggi yang segera menghindar.

Tanpa mempergunakan matanya, Banyak Sumba dapat meramaikan bahwa Raden Girilaya bergerak ke depan hendak menangkapnya, ketika ia berpura-pura menyerang Ginggi.

Banyak Sumba mendengar suara gerakan itu. Tanpa membalikkan badannya, ia menendang dengan kaki kirinya ke arah suara itu. Tendangan yang keras menemukan sasaran yang tidak menduga. Gedebuk suara tendangan diikuti dengan suara tubuh jatuh di atas semak-semak. Sambil berteriak, Banyak Sumba melompat ke arah tempat lowong yang ditinggalkan oleh Raden Girilaya yang terbaring di dalam semak dan mencoba bangkit. Dua orang mencoba mencegatnya, tetapi tangan kanan dan kaki kiri Banyak Sumba berdesing ke arah mereka.

Banyak Sumba berlari berbelok-belok, menyelinap mengendap. Tiba-tiba, Kunten sudah berdiri di hadapannya sambil berteriak-teriak, "Di sini! Di sini!" Banyak Sumba pura-pura kembali melarikan diri. Akan tetapi, ketika didengarnya suara Kunten mengejarnya, ia segera berbalik mengirimkan tendangan ke muka Kunten yang kurang waspada. Kunten jatuh ke samping, ke semak. Banyak Sumba berbelok. Di sekelilingnya ia melihat semak-semak bergerak dan pakaian hitam berkelebatan. Tiba-tiba, dari dalam semak, melompatlah seseorang dan melibat kakinya.

Banyak Sumba jatuh berjungkir. Akan tetapi, karena ia melindungi tangan kirinya, tangannya itu tidak tertindih. Begitu ia bangkit dengan mempergunakan tangan kanannya, sebuah tendangan menuju mukanya. Ia sempat menghindar dan menjatuhkan diri bergelundung ke bawah lereng Ketika ia berdiri, sebuah tinju mendesing dan mengenai pundak kanannya. Ia mempergunakan kaki kanan untuk merobohkan penyerang yang kemudian terpental dan berguling-guling di lereng yang semaknya pendek itu.

Banyak Sumba berbalik karena kalau turun dari gunung, ia akan menuju padepokan. Dari atas, seseorang berlari memburunya. Banyak Sumba membelok ke sebelah timur.

Semak-semak bergerak sekelilingnya. Mereka mencegat, pikirnya. Ia membelok mendaki. Galih berdiri di hadapannya, siap. Banyak Sumba membelokkan badannya seolah-olah akan berlari ke kiri. Galih melompat ke sebelah kiri, hendak mencegatnya. Banyak Sumba menyepak dengan kaki kirinya ke arah itu. Galih menghindar, tetapi karena kakinya tersangkut akar, walaupun tidak kena tendangan, Galih terjatuh berguling-guling ke bawah.

Tiba-tiba, orang mencegatnya dari kiri dan kanan, serempak keluar dari dalam semak. Banyak Sumba yang sudah kelelahan menyerusuk ke sebelah kanan sambil memukul dengan pinggir tangan kanannya. Pukulan itu tertangkis, tetapi berat badan Banyak Sumba melanggar orang itu. Ketika mereka jatuh, seseorang menangkap pinggang Banyak Sumba. Banyak Sumba mengibaskan tubuhnya yang besar dan berat, lalu menggelundungkan diri ke bawah. Sementara itu, tangan kanannya mencari-cari jari orang yang memegang pinggangnya. Ia membuka sebuah jari penangkapnya, lalu berusaha berdiri, tetapi kakinya ditangkap lawan. Ia mempergunakan kaki kiri menyepak pundak lawan yang berada di tempat yang lebih rendah di lereng bersemak itu. Ia bangkit dan sadar, para pemburu telah mengurungnya. Ia hampir berputus asa karena ia sudah telalu lelah.

Dengan keputusasaannya itu, timbullah keberanian yang nekat. Dengan teriakan, ia berlari menuju salah seorang penge-pung yang berdiri di sebelah kirinya. Tampak Hariang yang ditujunya gentar, ia berpaling ke kiri dan ke kanan.

Ketika itulah, Banyak Sumba membelok, menyerang orang yang berdiri di samping Hariang, beberapa langkah di dekat pengepung itu. Pukulan tangan kanan yang dipelajarinya dari si Gojin menghantam pengepung itu yang kemudian tidak bangkit lagi. Banyak Sumba berlari terus menuju ke timur, ke hutan lebat.

-ooo00dw00ooo-