Pertarungan Terakhir Bab 04 : Tidak Jadi Digantung

 
Bab 04 : Tidak Jadi Digantung

Tidak Jadi Digantung

Kesadarannya perlahan-lahan kembali. Yang pertama dirasanya adalah rasa sakit yang tajam menusuk kepalanya sebelah kiri. Banyak Sumba mengerang, setelah itu didengarnya suara berbisik. "Raden?" Banyak Sumba hendak menjawab, tetapi pundaknya terasa sakit. Ia diam tidak bergerak. Dirasanya benda dingin dan berat membelit kedua belah pergelangan kakinya. "Raden?" terdengar pula bisikan itu. Kesadaran Banyak Sumba berusaha melawan kesakitan dan kelemahan yang terasa menghimpit dan menggelapkan dunia. Perlahan-lahan, dengan rasa sakit, rasa dingin di kedua belah pergelangan kakinya, dan cahaya yang perlahan-lahan menembus kelopak matanya, kesadarannya bertambah kuat. Akhirnya, ia membuka matanya.

Samar-samar, tampaklah wajah seseorang yang makin lama makin jelas baginya. "Sik?"

"Ya, Raden," kata Jasik. Banyak Sumba menutup matanya kembali. Bagai sebuah paku besar, rasa sakit menusuk kepalanya di bagian kiri. Ketika rasa sakit itu mereda, ia membuka matanya kembali. Bukan wajah Jasik sekarang yang diperhatikannya, melainkan sekeliling tempatnya berbaring.

Sadarlah Banyak Sumba bahwa dia dan Jasik berada dalam terungku yang terbuat dari batu bata.

Banyak Sumba hendak bangkit, tetapi badannya sangat berat. Ia melihat ke sekelilingnya, ke jeriji-jeriji besi, tembok batu-bata yang hitam warnanya karena tua, lapangan kecil yang berada di hadapan pintu penjara yang berjeriji itu. Suatu hal memukau Banyak Sumba hingga ia benar-benar menjadi sadar. Sebuah tiang gantungan berdiri di tengah-tengah lapangan kecil, yaitu sebuah tiang kayu jati besar dan di atasnya mengusung palang kayu lain yang kuat. Teringadah akan peristiwa sebelumnya. Ia dikeroyok dan dikalahkan. Ia tidak merasa apa-apa, kecuali kesedihan karena semua yang dialaminya itu sebenarnya bukanlah tidak dapat dihindari.Jasik lebih bijaksana dan Jasik telah memberinya peringatan.

Sekarang segalanya terjadi dan yang lebih menyedihkannya adalah Jasik ikut menjadi korban kecerobohannya.

"Maafkan saya, Sik."

Jasik tidak segera menjawab, kemudian terdengar ia berbisik, 'Janganlah memikirkan saya, Raden. Marilah kita berdoa, semoga Sang Hiang Tunggal menjalankan keadilan dan kasih sayang-Nya."

Akan tetapi, Banyak Sumba tidak dapat lagi berdoa. Ia mengutuk dirinya sendiri. Apakah artinya doa kalau malapetaka yang seharusnya dapat dihindari tidak ia hindari? Orang-orang yang diterima doanya hanyalah orang-orang yang berhati-hati, bijaksana, dan memperhitungkan segala- galanya.

Orang-orang yang ceroboh seperti anak-anak manja yang terus-menerus meminta kepada Sang Hiang Tunggal. Sang Hi- ang Tunggal sudah menyediakan berbagai malapetaka bagi orang-orang macam ini dan Banyak Sumba salah seorang di antara mereka, pikirnya.

"Maafkan saya yang menimpakan kesialan ini kepadamu," sekali lagi Banyak Sumba berkata, sementara itu ia mencoba mengangkat tubuhnya yang berat.

"Jangan pikirkan, Raden, keluarga kami sudah bersumpah untuk mengabdi kepada keluarga Raden karena keluarga Raden pun dulu, pada zaman leluhur saya, telah mengorbankan segala-galanya demi keselamatan dan kesejahteraan keluarga kami."

"Seharusnya, saya melindungimu dari hal-hal yang tidak perlu seperti ini," ujar Banyak Sumba.

"Raden pasti dapat melindungi kita, seandainya mereka tidak mempergunakan pelanting."

"Ya, ketika Raden tidak dapat diserang secara kesatria, mereka mundur dan mengambil pelanting dari sarung mereka. Itulah yang mengenai Raden dan juga pundak saya."

"Salahku, Sik. Seandainya kita bertempur sambil lari, mereka tidak akan berkesempatan mengenai kita secara demikian. Soalnya, saya belum hafal benar jalan-jalan kota ini."

"Beberapa orang dari kawan-kawan kita yang berunding di ruangan itu tertangkap pula. Mereka disimpan di penjara sebelah. Mereka tertangkap lebih dulu. Saya melihat mereka ketika diseret ke sini oleh para badega." Mendengar perkataan Jasik yang terakhir, Banyak Sumba melirik ke arah Jasik. Dilihatnya siku dan lutut Jasik berdarah, muncul dari balik celana pangsi dan siku salontreng hitamnya.

"Jadi, kau diseret ke sini, Sik?"

"Mula-mula ya, tetapi saya berkata kepada mereka bahwa mereka akan membayar mahal seandainya Raden mereka cederakan." Banyak Sumba termenung mendengar perkataan Jasik itu.

"Apa maksudmu?"

"Raden pun ketika itu diseret. Saya berteriak walaupun sudah terikat. Saya berkata, orang yang mereka seret itu bukan sembarangan dan seluruh Pajajaran akan gempar oleh kejadian itu. Para badega itu rupanya ketakutan, lalu menaikkan Raden dan saya ke dalam pedati."

"Apa maksudmu dengan perkataan itu, Sik?"

"Raden, saya cuma menakut-nakuti mereka. Saya sendiri tidak tahu, mengapa saya berkata begitu dalam keadaan yang sangat gawat itu."

"Sang Hiang Tunggal memfasihkan lidahmu, Sik."

"Ada suatu hal penting yang perlu Raden ketahui," kata Jasik. Sebelum melanjutkan perkataan, ia melirik ke luar jeriji, ke arah cuaca siang hari yang terang benderang.

"Apakah itu, Sik?"

"Bungsu Wiratanu datang ke sini ketika Raden masih pingsan. Ia berdiri di depan pintu dengan beberapa orang ponggawa, mereka lama bercakap-cakap, berbisik-bisik. Ada orang yang mengeluarkan kain dari dalam sakunya, seolah- olah ia meneliti Raden. Mungkin di atas kain itu ada gambar atau huruf atau ... saya tidak tahu. Apakah kira-kiranya arti perbuatan Bungsu Wiratanu dengan para pembantunya itu, Raden?" "Bagaimana saya tahu, Sik? Tapi... mudah-mudahan ia tidak tahu tentang kita. Saya akan mengatakan kepadanya bahwa saya datang tidak bermaksud apa-apa. Saya akan mengatakan bahwa kita melawan badega-badega Bungsu Wiratanu karena kita menyangka mereka akan merampok kita, Sik."

"Baiklah, Raden. Saya pun kalau ditanya akan berkata begitu."

"Baik, Sik, kita akan tetap berkata begitu kalaupun disiksa." "Ya, Raden. Oh, tapi bagaimana dengan kawan-kawan kita

yang tertangkap itu?" tanya Jasik. "Kawan kita?" tanya Banyak Sumba.

"Maksud saya, mereka yang berkumpul di warung dengan kita itu?"

"Mengapa?"

"Saya mendengar mereka disiksa dan yang seorang mengaku bahwa ia bermaksud membunuh Bungsu Wiratanu karena kekasihnya diculik."

'Apakah ia mengaku karena siksaan?"

"Tidak, Raden. Ia dengan gagah berani berteriak mengutuk dan menantang Bungsu Wiratanu untuk perang tanding."

Mendengar itu, Banyak Sumba termenung. Rasa hormatnya timbul terhadap orang yang gagah berani dan bersifat kesatria itu. Ia termenung dan bertanya dalam hatinya, apakah yang akan dilakukannya kalau badega-badega Bungsu Wiratanu menyiksanya? Apakah ia akan berdusta sebagai pengecut atau menghadapi hukuman yang paling berat sebagai seorang kesatria?. Ia termenung dan tidak dapat mengatakan apa-apa kepada Jasik. Ia menggerakkan kakinya dan insaflah ia, kakinya dihubungkan dengan rantai besar yang pendek. Ia melirik pada kaki Jasik. Panakawannya itu juga dirantai kakinya, rantai besar yang hanya dapat dibuka oleh pandai besi dengan alat-alatnya yang lengkap.

"Raden!" tiba-tiba Jasik berseru dengan suara tertahan. Dari suatu arah, berjalan rombongan kecil ke tengah-

tengah lapangan. Rombongan itu terdiri dari tiga orang badega yang mengawal seorang tawanan. Banyak Sumba segera mengenal tawanan itu. Ia anak muda yang ditemuinya dua kali, di warung kecil di salah satu lorong kota dan warung tempat mereka berkumpul setelah itu. Pemuda itu dirantai kakinya dengan rantai besar. Ia didorong oleh ketiga orang badega itu ke tengah-tengah lapangan. Sayup-sayup terdengar ia berkata, "Tak usah kalian dorong, saya masih berkaki," katanya dan dengan gagah ia berjalan, menuju tiang gantungan. Banyak Sumba dan Jasik memandangnya dengan terpukau. Dalam waktu yang singkat sekali, peristiwa itu terjadi. Anak muda yang dirantai tangan dan kakinya dengan gagah naik ke panggung yang ada di bawah tiang gantungan. Ketika badega-bade-ga mempersiapkan pelaksanaan hukuman, berteriaklah anak muda itu, "Bungsu Wiratanu, kau akan segera menyusulku. Badanmu akan diberikan kepada anjing dan kepalamu sebelum teriakannya selesai, salah seorang badega menutupkan kain hitam di kepala anak muda itu. Banyak Sumba mendengar nama si Colat diserukan oleh anak muda itu, kemudian peristiwa selanjutnya Banyak Sumba tidak mau lagi melihatnya.

Segalanya berjalan dengan cepat. Sebuah pedati datang ke tengah-tengah lapangan, seorang badega memutuskan tambang dengan goloknya. Tubuh yang tak bernyawa lagi diseret dan diangkat ke atas pedati. Kemudian, lapangan sepi kembali. Banyak Sumba dan Jasik kehilangan kata-kata.

Mereka membisu.

Tiba-tiba, suara beberapa pasang langkah terdengar. Bayangan beberapa sosok tubuh menggelapkan ruangan penjara tempat Banyak Sumba danjasik berada. Empat orang badega berbaju hitam membuka pintu besi yang berjeriji.

"Bangun!" kata seorang kepada Banyak Sumba danjasik. "Yang ini," kata seorang kepada yang pertama sambil

melirik Banyak Sumba. Dengan kasar, tiba-tiba Banyak Sumba diangkat.

"Saya bisa berdiri, tidak usah diangkat," Banyak Sumba berdiri.

"Raden!" tiba-tiba Jasik berseru. Ia berdiri dengan tangannya yang dirantai menerjang ke arah mereka yang datang. Badega itu serempak menghantam Jasik yang dengan mudah dijatuhkan.

"Kalian tidak tahu siapa yang akan kalian hukum! Seluruh Pajajaran akan gempar dan kalian tidak akan dapat tidur nyenyak lagi!" teriakan Jasik bergema. Teriakan itu merupakan kutukan yang bercampur tangis putus asa. Banyak Sumba terharu, tapi kesadarannya mulai memudar. Ia membisu membeku.

Ketika orang-orang itu hendak menyeretnya ke luar, ia berkata, "Tidak usah kalian paksa, saya dapat berjalan."

Sementara itu, didengarnya Jasik berteriak-teriak me- nyeru-nyeru namanya di antara denting kunci pintu besi itu. Banyak Sumba tidak berani berpaling untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Jasik untuk selama-lamanya. Ia tahu bahwa Jasik akan segera pulang untuk memberitahukan nasibnya kepada seluruh keluarganya. Ia membayangkan bagaimana adiknya, Tohaan Angke, akan mulai belajar keperwiraan dan bagaimana Ayahanda akan bersumpah membalas dendam. Ia melangkah di belakang seorang badega yang sebelumnya memutuskan tambang bekas menggantung pemuda itu menggiringnya. Di belakangnya terdengar langkah tiga orang badega lain. Ketika berjalan menuju tiang gantungan, ia merenungkan rantai tangan dan kakinya yang berat. Pikirannya tiba-tiba melayang kepada suatu hal yang aneh baginya sendiri. Seharusnya ia minta izin untuk mandi dulu dengan air bunga-bungaan dan minta pakaian bersih. Bukankah ia akan menghadap kepada Sang Hiang Tunggal dan Sunan Am-bu? Ingatannya tiba-tiba meloncat kepada Putri Purbamanik. Ia mengigit bibirnya.

Pikiran-pikiran itu segera lenyap ketika ia menaiki tangga panggung tiang gantung. Ia memasangkan tambang ke lehernya, tangannya yang berantai membantu badega-badega itu sebelum tangannya diikat ke tubuhnya. Ia ingin berteriak kepada Bungsu Wiratanu, seperti pemuda yang baru saja meninggalkan dunia fana ini. Akan tetapi, ia tidak melakukannya karena Jasik berteriak-teriak mengutuk seperti orang gila dalam ruangan yang baru ditinggalkannya.

Kalaupun ia berteriak mengutuk Bungsu Wiratanu dan seluruh wangsa Wiratanu, kutukannya tidak akan terdengar, walaujasik berteriak sangat keras. Ia ingin berdoa dan ia pun berdoa sambil memejamkan mata. Ia minta ampun kepada Sang Hiang Tunggal akan segala dosanya dan memohon kepada Sang Hiang Tunggal agar seluruh keluarganya dilindungi....

Tambang mulai dicoba oleh badega yang bertugas. Ijuk tambang besar itu terasa kasar di lehernya. Tapi aneh, berulang-ulang badega-badega itu menghentikan usahanya. Mereka berulang-ulang mengelilingi panggung kecil untuk memeriksa persiapan-persiapan itu.

"Hai, Orang Muda! Berdoalah!" kata badega yang tertua. "Cahaya yang kau lihat adalah cahaya dunia yang

penghabisan, berdoalah!"

Tambang perlahan-lahan ditarik dan menjadi erat. Tinggal beberapa saat lagi ketika seorang badega mencabut papan di bawah kakinya Jasik berteriak-teriak bagai gila dari arah

ruangan. Tiba-tiba, terdengar suara derap kuda dan teriakan- teriakan. Para badega berhenti. Pintu gerbang kecil yang menuju lapangan kecil itu dibuka dengan paksa bersama geme-rincing genta-genta kuda, masuklah Bungsu Wiratanu dengan para pengiringnya yang berpakaian megah. Banyak Sumba memandang wajah Bungsu Wiratanu dengan tajam.

"Berhenti! Berhenti!" seru Bungsu Wiratanu dengan keras sambil memandang ke arah badega-badega yang hampir melaksanakan hukuman mati itu. Rombongan Bungsu Wiratanu yang berpakaian serba gemerlap itu hampir memenuhi lapangan. Bungsu Wiratanu turun dari kudanya diikuti oleh orang lain. Ia berjalan ke panggung, lalu naik tangga tempat penggantungan. Sambil melepaskan tali gantungan dari leher Banyak Sumba, berkatalah ia dengan ramah, "Selamat datang di Kutawaringin, Raden Banyak Sumba. Mohon maaf karena salah paham yang hampir saja mendatangkan malapetaka terhadap keluarga kita berdua."

Banyak Sumba tidak dapat berkata apa-apa. Ia tercengang mengalami peristiwa yang tiba-tiba itu. Matanya berkunang- kunang ketika badega-badega membuka ikatan rantai tangan dan kakinya. Sementara itu, Bungsu Wiratanu memandangnya sambil tersenyum. Banyak Sumba tidak tahu apa yang harus dikatakan atau dilakukannya. Dan ketika ia kebingungan seperti itu, Bungsu Wiratanu memegang tangannya, lalu membimbingnya turun dari panggung tempat orang terhukum itu. Ia dibimbing, lalu dibawa ke arah seekor kuda yang tampan dan dipersilakan menungganginya. Ketika itulah, Banyak Sumba dapat berkata.

'Jasik," katanya, suaranya gemetar.

"Oh," kata Wiratanu, lalu pangeran yang berpakaian megah itu menepukkan tangannya. Seorang badega segera datang.

"Panakawan Raden Banyak Sumba, lepaskan dan persalinkan. Cepat!" Bungsu Wiratanu tersenyum kepada Banyak Sumba yang telah duduk di atas pelana kuda. Ia memandang ke arah mata Banyak Sumba yang penuh dengan pertanyaan. 'Jangan bertanya dahulu, Raden, segalanya akan menjadi jelas nanti, setelah kami menghormati Raden seperti tamu yang layak."

Banyak Sumba tidak berkata apa-apa. Ia memandang pakaiannya yang kotor dan robek-robek, lalu melihat darah pada pakaian dalamnya yang putih. Ketika seorang badega menuntun kudanya, rasa sakit di kepalanya sebelah kiri mulai menusuk lagi.

KETIKA itu, matahari telah menjalani seperempat perjalanannya. Udara masih sejuk, burung-burung bernyanyi di pohon-pohon yang ada di taman dalam benteng Kutawaringin. Cuaca terang benderang, tetapi hati Banyak Sumba benar-benar kalang kabut. Baru saja ia menghadapi ancaman kema-tian, tambang ijuk terasa kasar di lehernya di panggung penggantungan itu, sekarang ia dikawal oleh orang- orang bangsawan yang berpakaian serbagemerlapan. Bungsu Wiratanu begitu ramah dan hormat kepadanya. Apakah ia bermimpi? Atau, mungkinkah ia bermimpi dalam kematiannya? Apakah orang mati pernah bermimpi? Banyak Sumba meraba tangannya sendiri, lalu menarik kendali kuda tunggangannya. Segalanya terasa dan segalanya bukan mimpi.

Belum pertanyaan-pertanyaannya itu terjawab, rombongan telah tiba di depan Gerbang Kesatrian, tempat Raden Bungsu Wiratanu dengan para pengiring dan sahabat-sahabatnya tinggal di dalam istana itu. Gerbang dibuka oleh penjaga. Dan begitu Taman Kesatrian tampak, berjajar gadis-gadis cantik mengelu-elukan rombongan. Bungsu Wiratanu melompat dari atas kudanya, lalu berjalan ke arah Banyak Sumba sambil berkata, "Selamat datang di Kesatrian Kutawaringin, tempat Saudara dapat beristirahat dan menginap sesuka Saudara.

Silakan turun, jangan ragu-ragu, masuklah."

Banyak Sumba tidak punya pilihan lain, kecuali menurut.

Sebelum ia melangkah memasuki Taman Kesatrian, ia berpaling mencari Jasik. Ternyata, panakawannya itu dipersilakan pula untuk mengikutinya. Begitu Banyak Sumba memasuki Kesatrian, gadis-gadis cantik yang bersolek berlebih-lebihan segera menjemputnya, seorang di antara gadis itu membawa bokor tembaga yang berisi air hangat dan jernih. Di sampingnya membawa kain-kain tebal untuk mengeringkan air. Setiba di tangga dan sebelum memasuki ruangan tamu di Kesatrian, gadis-gadis itu menghentikan

Banyak Sumba dan membersihkan tangan dan kakinya dengan air hangat, lalu mengeringkannya. Bangsawan-bangsawan muda lain diperlakukan demikian pula. Begitu Banyak Sumba duduk di atas bangku pendek dan lebar, di atas permadani yang tebal, gadis lain datang menyerahkan setumpuk kain tebal di atas baki kayu. Sambil tersenyum, gadis itu berkata, "Pangeran dipersilakan mempergunakan kain-kain yang telah diuapi untuk membersihkan wajah, tangan, atau apa saja."

"Terima kasih," kata Banyak Sumba. Itulah perkataan yang pertama-tama diucapkannya setelah sekian lama membisu.

Sementara di dalam ruangan sibuk belaka, gadis-gadis yang menjadi pelayan hilir mudik ke sana kemari. Banyak Sumba tak melihat seorang laki-laki pun, kecuali para bangsawan muda dan dua orang gulang-gulang yang menjaga gerbang. Akan tetapi, betapapun cantik seorang gadis yang ada di sana, Banyak Sumba merasa ada sesuatu yang salah dengan mereka itu. Senyum mereka tidak seperti senyum gadis-gadis petani atau putri-putri yang biasa ditemukannya. Sementara itu, cara mereka berdandan sangat berlebihan.

Kalau mereka berkata, mereka mempergunakan lagak lagu yang agak aneh bagi Banyak Sumba. Cara mereka berkata mengingatkan Banyak Sumba pada cara berkata pemain sandiwara keliling yang rendah mutunya. Dilayani oleh gadis- gadis akan sangat menyenangkan kalau saja itu wajar. Akan tetapi, kewajaran itu tidak ada pada penghuni Kesatrian.

Sementara Banyak Sumba termenung, datang makanan yang bermacam-macam jenisnya. Daging-daging bakar yang dibumbui, ada daging kambing, menjangan, dan lain-lain. Sayur-sayuran tak terhitungjumlahnya dan setelah nasi tersedia, datang pula pembawa buah-buahan yang tak terhitung jenisnya.

"Raden Banyak Sumba, sebelum persiapan makan selesai, ingin saya perkenalkan dulu kawan-kawan ini. Yang paling ujung itu Ginggi, Rahiyang Watu, Loring, Rangga, Aria Sabrang, dan saya sendiri, Raden sudah mengenal saya, bukan?"

Banyak Sumba melihat berkeliling pada bangsawan muda yang berpakaian mewah itu. Ia menganggukkan kepala sambil tersenyum. Sementara itu, datang seorang laki-laki setengah baya, berbadan kurus berhidung besar melengkung.

"Oh, Paman Guru. Ini Raden Banyak Sumba."

Orang tua setengah baya itu segera mendekati dan memberi salam, kemudian sambil menggeleng-geleng kepala berkata kepada Banyak Sumba, "Sang Hiang Tunggal sangat kasih kepada para anggota wangsa Banyak Citra. Hampir saja malapetaka yang menimpa kita, menimpa wangsa Banyak Citra dan wangsa Wiratanu yang jaya. Mengapa Raden berkunjung tanpa memberi tahu terlebih dahulu dan berhubungan pula dengan penjahat-penjahat itu?"

"Paman Guru," kata Bungsu Wiratanu, "duduklah. Mari kita makan dulu, nanti kita mengobrol dengan Raden Banyak Sumba," kata Bungsu Wiratanu.

"Oh, baiklah, tapi Paman masih harus menghadap Ayahanda. Silakan, Anak-anak Muda, Paman pergi dulu, nanti kembali kemari," sambil berkata demikian, ia tersenyum, lalu manggut rendah sekali dan meninggalkan ruangan.

Ketika Banyak Sumba membetulkan letak duduknya, di hadapannya telah tersedia berbagai makanan yang sangat mewah. Sementara itu, di samping kiri dan kanannya, dua orang gadis bersiap-siap menunggu perintahnya. "Marilah kita mulai," kata Bungsu Wiratanu. Bangsawan- bangsawan muda itu mulai mengambil makanan. Banyak Sumba ragu-ragu sebentar, tetapi dengan tersenyum-senyum gadis-gadis itu segera memotong daging berbumbu, lalu menaruhnya di atas piring yang ada di hadapannya.

Betapapun laparnya, Banyak Sumba tak dapat menikmati makanan itu. Di samping itu, perhatiannya terganggu pula, gadis-gadis yang berada di kiri dan kanannya mendesak- desak, mereka begitu ingin melayani, seolah-olah mereka bersedia menyuapi Banyak Sumba. Pemandangan di sekelilingnya mengganggunya. Bangsawan-bangsawan muda, termasuk Bungsu Wiratanu, memperlakukan gadis-gadis itu dengan cara-cara yang menurut pandangan Banyak Sumba tidak terhormat. Banyak Sumba lebih banyak menunduk daripada memandang ke arah kejadian-kejadiar yang asing baginya.

Setelah acara makan selesai, Banyak Sumba dipersilakan beristirahat. Dua orang gadis yang lain mengantarnya ke ruangan tempatnya beristirahat, kemudian dengan susah payah gadis-gadis itu dipersilakan ke luar oleh Banyak Sumba. Akan tetapi, gadis-gadis itu sambil tertawa-tawa kecil berusaha untuk tetap tinggal dalam kamar dengan Banyak Sumba.

"Kami mendapat tugas untuk menemani Raden," kata mereka.

"Saya harus beristirahat, terima kasih atas perhatiannya," kata Banyak Sumba. Ia melihat ke kanan ke kiri, mencari perlengkapan membersihkan diri. Gadis-gadis itu rupanya mengerti. Mereka berlomba-lomba mengambil bokor-bokor besar, kain-kain tebal, dan pakaian bersih. Mereka, tanpa berkata itu dan ini terlebih dahulu, segera membuka pakaian Banyak Sumba. Banyak Sumba menolak dengan halus. Tapi, mereka mendesak seperti dua ekor kucing yang kedinginan. "Raden ini sangat pemalu," kata salah seorang gadis itu, rambutnya yang tebal menutup hidung Banyak Sumba hingga Banyak Sumba sukar bernapas. Tangan mereka pun bagai dua pasang ular. Terpaksa Banyak Sumba mengibaskannya.

Akhirnya, kesabaran Banyak Sumba habis. Dengan agak kasar, didorongnya kedua orang gadis itu keluar ruangan, lalu ditutupkannya pintu dan dipalang dari dalam. Ia duduk di atas tempat tidur yang ada dalam ruangan dan tiba-tiba ia terkenang kepada Nyai Emas Purbamanik. Rasa rindunya meluap. Ia menyadari, alangkah halus, lemah lembut, dan sopan santun kekasihnya itu dibandingkan dengan gadis-gadis di Kesatrian Wiratanu itu. Ia sadar bahwa ia telah masuk ke tempat yang tidak baik dan memutuskan untuk secepat mungkin meninggalkan tempat itu dan pergi ke Pakuan Pajajaran. Ia harus bertemu dengan gadis yang dicintainya.

LAMUNANNYA terputus karena tiba-tiba pintu diketuk.

"Raden?" terdengar Jasik memanggil. Banyak Sumba membuka pintu. Dengan keheranan, ia melihat Jasik berurai air mata sambil merangkulnya. Sebelum Banyak Sumba dapat bertanya, Jasik telah berkata, "Sang Hiang Tunggal telah menunjuk kasih sayang dan keadilannya. Raden selamat."

Begitu bertumpuk pengalaman yang aneh-aneh, hingga Banyak Sumba tidak peka menerimanya. Ia baru menyadari bahwa ia baru saja lolos dari kematian. Ia pun baru bertanya dalam hati mengapa ia tidak jadi dihukum gantung. Terasa kembali tambang yang kasar pada lehernya. Ia bertanya dalam hati apakah segala yang terjadi itu impian belaka, suatu impian buruk? Tapi segalanya nyata. Jasik ada di hadapannya dan menangis gembira. Mereka berada dalam suatu ruangan yang lengkap dan mewah.

"Kita akan pergi ke kuil dan menyerahkan persembahan di sana untuk keselamatan kita ini, Sik," kata Banyak Sumba setelah beberapa lama termenung. "Betapa bersyukur hati saya, Raden. Makin yakin saya bahwa wangsa Banyak Citra dilindungi Sang Hiang Tunggal. Begitu banyak bahaya mengepung, tapi Raden selalu dapat mengatasinya. Dan terakhir sekali, maut sudah mencengkeram, nyatanya Raden sekarang sehat dan segar. Akan tetapi, saya tetap tidak mengeti, Raden, sungguh saya tidak mengerti," kata Jasik.

"Saya pun tidak, Sik. Akan tetapi, kita akan tetap waspada dan siaga," ujar Banyak Sumba.

"Juga ada peristiwa lain yang sungguh-sungguh memalukan dan mengherankan, Raden," lanjut Jasik.

Banyak Sumba bertanya dengan cahaya matanya.

"Begini, Raden," kata Jasik, kemudian setelah ragu-ragu ia berkata, "setelah saya diambil dari penjara itu, saya dibawa ke dalam sebuah ruangan yang bagus. Di sana ada dua orang emban yang muda-muda dan ... cantik-cantik. Aneh, kedua orang emban itu memaksa hendak memandikan saya.

Bayangkan, Raden, setua ini saya masih hendak dimandikan oleh gadis-gadis yang cantik-cantik pula. Bayangkan, tentu saja saya menolak dan mengusir kedua emban itu."

"Pengalamanku juga demikian, Sik," kata Banyak Sumba sambil memandang Jasik yang telah bersih dan berpakaian bagus. Hidung Banyak Sumba mencium wangi bunga- bungaan. Ia tersenyum.

"Raden, ketika saya habis mandi dan keluar hendak menanyakan tempat Raden, ternyata kedua orang emban itu menunggu di depan pintu. Begitu saya membuka pintu, mereka langsung menyerbu saya dan memerciki baju saya dengan air bunga-bungaan. Pening kepala saya oleh baunya, Raden. Sungguh-sungguh tidak biasa dan tidak betah saya di tempat ini, walaupun serbamewah, Raden." Jasik berkata demikian dengan sungguh-sungguh. Banyak Sumba tersenyum, lalu berkata, 'Jangan takut, Sik, kita masih banyak tugas."

Sementara berkata demikian, Banyak Sumba berjalan ke tempat mandi yang sudah tersedia. Jasik membantu membuka pakaiannya, lalu menyusunnya. Ketika Banyak Sumba sedang mandi, Jasik berjalan dan membuka tempat pakaian yang terbuat dari kayu cendana berukir. Ketika peti pakaian itu dibuka, tercenganglah Jasik melihat isinya yang sangat indah. Bermacam-macam baju salontreng terbuat dari sutra hijau muda, kuning, dan putih keperak-perakan. Ikat-ikat pinggang dari kulit halus yang dihiasi. Ikat kepala pun ada setumpuk, bermacam-macam pula warnanya. Yang lebih mengherankan Jasik adalah beberapa buah badik yang bagus-bagus, di antaranya ada yang sarungnya terbuat dari gading.

Selesai membersihkan badan, Banyak Sumba berjalan ke arah Jasik yang sedang memandangi barang-barang yang indah-indah itu.

"Pakaian bagi berandalan dan pesolek, Sik."

"Raden, tapi Raden terpaksa harus memilih salah satunya karena yang lama sudah robek-robek."

"Tentu, Sik, tapi kau tahu mana yang cocok bagiku." "Raden, pakaian yang ada dalam peti ini cukup untuk satu

pasukan pengawal," ujar Jasik.

'Ambil saja yang perlu, Sik," kata Banyak Sumba. Jasik berjalan menyerahkan sepasang pakaian. Banyak Sumba dengan cepat mengenakannya karena tak ada perhiasan emas yang dikenakannya, ia lebih menyerupai seorang santri dari sebuah padepokan daripada seorang putra bangsawan Pajajaran.

"Saya ditunggu di ruangan tengah, Sik," kata Banyak Sumba. "Saya pun ditunggu di ruangan lain. Sampai nanti, Raden." Mereka keluar dari ruangan, lalu berpisah.

Banyak Sumba segera didekati dua orang pengawal yang menghaturkan sembah kepadanya, "Pangeran Muda ditunggu oleh Tuan Muda di dalam untuk bercengkerama."

Banyak Sumba mengikuti mereka. Setelah beberapa lama berjalan dari lorong ke lorong dalam istana dan benteng itu, tibalah Banyak Sumba di sebuah taman yang sangat luas. Di tengah-tengah taman itu ada sebuah bangunan kecil. Ke sanalah Banyak Sumba berjalan dan di tempat itu sudah menunggu Bungsu Wiratanu dengan kawan-kawannya yang Banyak Sumba telah lupa lagi namanya.

"Raden kelihatannya sudah segar kembali sekarang," kata orang tua setengah baya yang dipanggil Paman Guru oleh Bungsu Wiratanu.

"Silakan duduk, kami ingin sekali dapat membantu Raden untuk perjalanan yang sedang Raden lakukan," kata Paman Guru itu pula. Banyak Sumba duduk di atas bangku rendah yang dihampari permadani yang bagus. Seorang gadis segera menyodorkan baki yang berisikan penganan dan minuman.

Belum selesai Banyak Sumba membenahi duduknya, orang tua setengah baya itu mulai berkata, "Sekarang, ceritakan kepada kami, apa yang dapat kami lakukan untuk Raden."

"Ya, Saudara Banyak Sumba, kami akan senang sekali kalau dapat membantu salah seorang anggota wangsa Banyak Citra yang termasyhur itu. Tukang-tukang pantun di masa yang akan datang akan menyanyikan cerita yang mengisahkan tentang kunjungan Saudara ke sini dan apa yang kami persembahkan sebagai bantuan perjalanan Saudara."

Menghadapi pertanyaan yang bertubi-tubi itu, Banyak Sumba tenang-tenang saja dan setelah berbenah, barulah ia berkata, "Justru saya yang diliputi pertanyaan. Saya sudah hampir meninggalkan dunia yang penuh dengan kesusahan ini, tetapi tiba-tiba saya diselamatkan. Rupanya, pertanyaan itulah yang lebih penting mendapat penjelasan karena mengenai diri saya sendiri tidak ada yang perlu dijelaskan. Saya seorang pengembara, sedangkan mengembara adalah pekerjaan putra-putra bangsawan Pajajaran yang menganggur," katanya.

"Tidak benar, Raden. Kisah-kisah pengembaraan Raden sudah banyak kami ketahui dan pengembaraan itu bukanlah pengembaraan putra seorang bangsawan yang tidak punya kerja."

"Paman Guru, Raden Banyak Sumba orang yang tidak suka berbicara tentang dirinya sendiri. Paman Guru harus menceritakan apa yang telah kita ketahui tentang Raden Banyak Sumba," kata Bungsu Wiratanu sambil mengusap-usap rambutnya yang mengilap dan terurai ke pundaknya bagai rambut seorang gadis.

"Tidak, Raden Bungsu. Kita sangat ingin tahu, bukan?"

"Jangan memaksa, Paman Guru. Raden Banyak Sumba menjadi tamu kita untuk dihibur, bukan untuk menghibur kita dengan kisah-kisah perjalanannya yang menarik hati."

"Wah, kalau begitu, memang pada tempatnya Raden Bungsu yang bercerita," kata Paman Guru.

"Saya pun bukanlah tukang cerita. Kalau Raden Banyak Sumba menghendaki, kita dapat memanggil tukang pantun," sambil berkata demikian, Bungsu Wiratanu menepuk tangannya, lalu muncullah para badega yang seram-seram rupanya.

"Panggil Aki Gombal. Cepat!"

Mereka segera meninggalkan ruangan.

"Saya mengucapkan terima kasih untuk segala penghormatan yang telah disampaikan kepada saya dan panakawan saya," kata Banyak Sumba, "tetapi janganlah bersusah-susah memanggil tukang pantun karena justru saya ingin mendengar, bagaimana sampai saya lolos dari kematian itu."

"Tidak benar Raden lolos dari kematian karena memang Raden tidak pada tempatnya untuk dihukum," kata Paman Guru.

"Saya tidak mengerti maksud Paman."

"Raden Bungsu akan menceritakannya," kata Paman Guru. "Tidak usah diceritakan lagi, Paman. Itu sudah lampau dan

memang tidak menyenangkan untuk menceritakan bahaya yang baru saja kita hindarkan."

"Tapi ini penting, Raden Bungsu. Raden Banyak Sumba ingin tahu," kata Paman Guru.

"Tapi saya tidak pada tempatnya menceritakan, Paman. Karena kalau begitu, orang akan menganggap saya berbuat hal itu dengan harapan mendapat ucapan terima kasih."

Banyak Sumba mendengarkan percakapan mereka dengan penuh perhatian.

"Tidak, Raden. Paman tahu Raden berbuat demikian keluar dari hati murni, tanpa pamrih. Oleh karena itu, tidak ada salahnya kalau Paman menceritakannya."

"Saya tidak setuju, Paman," kata Bungsu Wiratanu. "Tapi Raden Banyak Sumba ingin mendengarkannya dan

Raden Banyak Sumba tamu kita. Jadi, kalau kau tidak mau

bercerita, Pamanlah yang akan bercerita."

"Kalau begitu, saya tidak ikut campur," kata Bungsu Wiratanu, lalu meraih pinggang gadis yang ada di sampingnya, ia membisikkan sesuatu kepada gadis itu, mukanya tenggelam di rambut gadis yang tertawa cekikikan. "Begini, Raden," kata Paman Guru. "Sudah lama diketahui bahwa dalam kota terdapat orang-orang yang berniat jahat kepada penguasa dan keluarganya. Para badega dan jagabaya sudah mengetahui orang-orang itu, tinggal menunggu waktu untuk bertindak. Kebetulan, malam tadi adalah saat yang ditentukan untuk bertindak dan dalam usaha itu secara tidak sengaja Raden ditangkap. Pagi-pagi hukuman dilaksanakan, ternyata Raden tidak dikenal. Para jagabaya dan badega- badega memutuskan Raden akan dihukum juga karena mereka menganggap Raden sebagai anggota gerombolan penjahat itu. Tentu saja, Raden Bungsu Wiratanu tidak setuju. Ia menangguhkan niatnya untuk pergi berburu karena ia tidak mau seorang yang tidak bersalah dihukum. Ia sudah berangkat ketika mendapat kabar bahwa ada orang yang tidak dikenal ikut tertangkap dan akan dihukum. Ia menangguhkan perburuannya, lalu kembali ke sini untuk melihat sendiri orang yang tidak dikenal itu. Pagi-pagi kami menengok ke penjara, Raden Bungsu Wiratanu mengenal Raden, lalu membuktikannya, yaitu dengan melihat gambar Raden yang dibuat Raden Laya."

"Gambar saya?" tanya Banyak Sumba keheranan.

"Ya, kami memiliki gambar-gambar orang terkenal di sini, termasuk Raden."

"Dari mana Raden Laya mengenal dan mengetahui wajah saya?"

"Seorang pelukis adalah orang ajaib. Ia dapat menggambarkan wajah seseorang hanya dari obrolan orang lain. Tapi baiklah, nanti Raden akan mengetahui mengapa Raden dapat digambar oleh Raden Laya."

"Saya tidak percaya bahwa saya dapat digambar tanpa dilihat lebih dahulu."

"Nanti Paman membuktikannya," kata Paman Guru. Akan tetapi, ketika itu juga datang seorang badega membawa sehelai kain sutra. Paman Guru mengambil kain sutra yang tergulung itu, lalu membukanya di hadapan Banyak Sumba. Banyak Sumba terpukau oleh gambar wajahnya sendiri.

Memang tidak tepat benar, tetapi orang akan segera mengenalnya dengan melihat gambar itu.

"Nah, sekarang Raden percaya. Baiklah akan Paman terangkan kemudian bagaimana gambar itu dibuat, tetapi sekarang Paman menerangkan dulu, mengapa Raden lolos dari hukuman yang tidak adil itu. Begitu Raden Bungsu mengenal Raden, segera diperintahkan olehnya tentang pembebasan Raden. Diperintahkan pula agar secara resmi pemerintah Kota Kutawaringin minta maaf kepada penguasa Kota Medang yang sah tentang kejadian itu."

"Saya masih belum mengerti, terutama tentang gambar itu.

Di samping itu, saya pun tidak mengerti, mengapa saya diselamatkan. Bukankah mungkin saya yang bermaksud jahat seperti yang lain? Dan bukankah ..." Banyak Sumba ragu-ragu mengatakannya, tetapi kemudian dia mengatakannya juga, "... Bukankah saya telah memukul dan bahkan membuat cedera jagabaya atau badega-badega?"

"Itu soal kecil, Raden," kata Paman Guru. "Paman Guru, sekarang terpaksa saya menerangkannya kepada Saudara Banyak Sumba karena ternyata Paman bingung sekali menghadapi pertanyaan-pertanyaan Saudara Sumba," kata Raden Bungsu Wiratanu sambil menurunkan gadis dari pangkuannya.

"Baiklah saya terangkan, Raden," kata Bungsu Wiratanu. Ia menepuk tangannya tiga kali dan pergilah para badega, embanemban, gadis, juga bangsawan-bangsawan muda yang duduk di sana. Hanya mereka bertiga yang tinggal dalam ruangan itu, yaitu Banyak Sumba, Bungsu Wiratanu, dan Paman Guru.

"Begini, Saudara Banyak Sumba. Sebenarnya, keluarga kita menghadapi masalah yang sama dari lawan yang sama. Itulah sebabnya, dari dulu saya mencari-cari Saudara dan keluarga Saudara. Segala berita tentang Saudara dan keluarga Saudara kami catat, mereka yang kenal dengan Saudara kami tanyai. Akhirnya, kami beruntung dapat menggambar wajah Saudara. Laya-lah sebenarnya yang menyelamatkan Saudara, bukan saya. Dengan adanya gambar yang dibuat Laya itulah, Saudara kami kenal dan kami selamatkan."

Bungsu Wiratanu meneguk tuak yang ada di hadapannya, lalu membersihkan bekasnya dengan saputangan sutra keemasan.

"Begini Saudara Banyak Sumba. Tadi saya mengatakan bahwa kita sebenarnya menanggung nasib yang sama, menghadapi lawan yang sama. Lawan yang sama itu tidak lain Anggadipati. Kakak saya, Bagus Wiratanu meninggal, bukan karena kakak Saudara Jante jaluwuyung Kakak Saudara hanyalah alat yang tidak tahu-menahu. Saudara Sumba perlu mengetahui, sebelumnya Anggadipati pernah merusak muka Kakanda Bagus, yaitu dengan melemparnya ke dalam semak- semak duri. Itu terjadi ketika Anggadipati masih siswa di Padepokan Tajimalela. Dendam antara kedua orang ini, yaitu Kakanda Bagus dan Anggadipati, rupanya tidak padam-padam. Nah, pada suatu waktu, kami mendengar adanya-persaingan yang tersembunyi antara Anggadipati dengan Kakak Saudara Sumba. Kita sama-sama mengetahui bahwa puragabaya yang paling hebat dan paling besar untuk segala zaman adalah Jante Jaluwuyung, Kakak Saudara Sumba. Itu diakui oleh siapa pun. Nah, hati Anggadipati yang jahat tentu saja tidak senang, dicarinya alasan untuk memusnahkan orang yang dianggap saingannya. Dan, kesempatan itu tidaklah lama ditunggu. Seperti diketahui, Kakanda Bagus mencintai seorang gadis di Kutabarang. Nah, ketika kakak Saudara Sumba bertugas di Kutabarang, dibawalah kakak Saudara ke rumah gadis itu. Dengan tipu muslihat dan akalnya yang cerdik, diusahakannya agar seolah-olah antara kakak Saudara dan gadis itu ada pertalian batin. Ini tentu saja menyebabkan kakak saya tersinggung. Ia yang tidak banyak tahu tentang tipu muslihat, langsung mencari kakak Saudara. Begitu bertemu, ia menyerang, tidak tahu bahwa yang diserangnya adalah seorang puragabaya yang tidak ada tandingannya di Buana Pancatengah ini. Hasilnya yang menyedihkan sudah sama-sama kita ketahui. Tapi ada akibat yang lebih menyedihkan lagi, yaitu timbul alasan bagi Anggadipati untuk menghancurkan Jante Jaluwuyung. Dikatakan kepada puragabaya yang lain bahwa Jante Jaluwuyung telah melanggar tata krama kepuragabayaan, dan yang lebih busuk lagi, dikatakan kepada kawan-kawannya bahwa Jante Jaluwuyung telah gila. Karena mulutnya yang manis dan senyumnya yang meruntuhkan keragu-raguan, akhirnya Resi Tajimalela percaya akan laporannya, lalu diburulah Jante Jaluwuyung seperti seekor babi hutan. Betapapun hebatnya, kalau dikeroyok oleh tujuh orang puragabaya, ia akan kalah juga. Ia dilemparkan ke dalam jurang yang dalam. Itulah kisahnya, dan kisah yang sebenarnya itu tidak diketahui orang, ya, bahkan Saudara sendiri baru mendengarnya sekarang dari saya. Itulah yang menyedihkan, ternyata kebenaran tidak mudah dimenangkan dalam kehidupan ini."

Mendengar kisah itu, berdebar-debarlah hati Banyak Sumba. Jantungnya berdetak dengan keras, keringat dingin membasahi dahinya. Untuk beberapa lama ia terdiam, kemudian bertanya, "Dapatkah Saudara Bungsu menceritakan tentang abu Kakanda Jante?"

"Nah, benar. Abu itu telah dicuri oleh badega-badega Anggadipati dan perbuatan yang keji itu dituduhkannya kepada kami. Katanya, kami hendak menghinakan abu kakak Saudara. Ia sendirilah yang bermaksud demikian!" seru Bungsu Wiratanu seperti marah. Banyak Sumba menundukkan kepala.

Setelah beberapa lama menundukkan kepala, berkata pula Banyak Sumba, "Tapi saya dengar, justru Anggadipati yang menambah jumlah penjaga-penjaga kuil tempat menyimpan abu jenazah itu."

"Ya," kata Bungsu Wiratanu sambil tersenyum, "dan juga ia terus-menerus mengunjungi kuil, ketika orang ramai-ramainya lalu-lalang, lalu menitikkan air mata buaya di hadapan guci abu jenazah Jante Jaluwuyung. Saudara Sumba, orang yang sama-sama menjadi musuh kita ini halus seperti seekor kupu- kupu, licin seperti belut, berbisa seperti seekor ular, cerdik seperti kancil, dan " Sebelum Bungsu Wiratanu

menyelesaikan kata-katanya, tertawalah Paman Guru. "Mengapa tertawa, Paman?" tanya Bungsu Wiratanu.

"Perbandingan-perbandinganmu sungguh bagus, Raden.

Memang Anggadipati ini bukan manusia. Ia siluman yang lolos dari Buana Larang. Sayang, dulu waktu Kakanda Bagus menangkapnya, tidak langsung membunuhnya. Kakanda Bagus terlalu berperikemanusiaan hingga pemuda yang sengaja mencari gara-gara itu tidak dihukumnya."

"Pernahkah Anggadipati ditangkap di sini?"

"Ya, pernah, oleh Raden Bagus Wiratanu dulu. Ia pernah dihajar babak belur oleh Raden Bagus dulu. Dan, itulah salah satu peristiwa yang menyebabkan dia memilih Raden Bagus sebagai umpan bagi kakak Raden, Raden Jante Jaluwuyung. Sungguh luar biasa cerdiknya Anggadipati ini."

"Saya menyesal tidak membunuhnya ketika mendapat kesempatan dulu," tiba-tiba Banyak Sumba berkata. Kedua orang kawan bercakapnya memandang kepada Banyak Sumba, seolah-olah mereka penasaran ingin mengetahui kisah pertemuan dengan Anggadipati. Akan tetapi, Banyak Sumba membisu. Ia berkata dalam hati, kalau kisahnya demikian, ia dapat mengerti mengapa ia diselamatkan dari geraham maut oleh Bungsu Wratanu. Ia berkata, "Saya berterima kasih kepada Saudara yang telah menyelamatkan saya dari kematian. Dengan demikian, saya masih dapat melaksanakan tugas saya, yaitu berbakti kepada orangtua dengan membalas dendamnya. Di samping itu Banyak Sumba berdiam diri sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya. "Sebenarnya, saya harus minta maaf kepada Saudara karena saya datang ke Kutawaringin ini sebenarnya bermaksud jahat terhadap Saudara. Saya bermaksud mencelakakan Saudara karena "

Sebelum Banyak Sumba melanjutkan perkataannya, Bungsu Wratanu tersenyum sambil memegang pundaknya.

"Karena badega-badega saya telah merampas kuda Saudara dulu. Sayalah yang harus minta maaf. Saya masih ingat, beberapa bulan yang lalu saya melihat kuda yang bagus, dituntun oleh seorang pemuda tampan. Saya ketika itu berkata, alangkah bagusnya kuda yang dituntun oleh pemuda itu dan badega-badega saya menganggap saya menginginkan kuda itu. Mereka merampas kuda Saudara, bukan? Saya benar-benar menyesal dan minta maaf pada kesempatan yang baik ini."

"Kuda tidak ada artinya dibandingkan dengan nyawa. Saudara sebenarnya dapat saja menghukum saya. Saya memang bermaksud jahat terhadap Saudara karena salah paham juga"

"Ya, semuanya karena Anggadipati."

"Ya, semuanya karena Anggadipati. Anggadipati yang ada di belakang segalanya. Segala kesusahan keluarga Wiratanu dan keluarga Banyak Citra disebabkan oleh seorang Anggadipati ini," kata Paman Guru sambil memandang kepada Banyak Sumba. Entah perasaan apa yang bergerak dalam hati Banyak Sumba. Ia mendengus, seperti yang biasa dilakukan oleh anggota laki-laki wangsa Banyak Citra kalau marah.

-ooo00dw00ooo-