Pendekar seribu diri Jilid 17 (Tamat)

Jilid 17 (Tamat)

Adu tenaga dalam kali ini dua kali lebih dahsyat dari tadi. tapi mereka tidak berhenti seperti tadi. Aram sabetkan tangannya yang menggelegar dan mencicit seperti jutaan pedang sedang disabetkan. itulah ‗‗pedang tunggal melintang jagad‘‘

yang dihadapi oleh Maharaja Sembilan Dewa dengan jurus yang berjenis sama maka terjadilah.

―Trangggggg‖

Lelatu api bermuncratan seperti dua logam diaduka, padahal itu adalah tangan.

Aram segera bentuk tangannya menyerupai posisi totokan, jarinya kini berubah menjadi perak dan berteriak mengguntur,

―totokan tunggal paku jagad‖,

―Totokan Jasad dewa iblis‖

―Bukkkkkk. bukkkkkkk‖

―Hoekk. hoekkk‖ Keduanya muncratkan darah segar lagi. brukkk keduanya jatuh ketanah, Aram merasa dunia menjadi gelap, perlahan memburam, tapi ia melihat sebuah batu meluncur kearah kepalanya, dan jika dibiarkan maka nyawanya akan lenyap.

memanglah tubuhnya sudah tak bisa digerakan, tapi batinnya tidak, segera ia menarik kujang bergagang harimau di ikat rambutnya dan dilemparkan.

―Gerrrrrrrrrmmmm‖

―Grauuk,,,, grauuk,... kres,.,.kres...‖

Batu itu ditelan oleh Seekor harimau besar penjelmaan kujang Kekuatan Sejati. bukan itu saja, Harimau itu segera menerkam tubuh Maharraja Sembilan Dewa. dikoyak dan di makan serat dicakarnya tubuh itu.

Maharaja Sembilan Dewa yang terpingsan setelah melemparkan batu yang ia aliri dengan segenap tenaga dalamnya tentu tidak tahu bahwa ia takan pernah melihat dunia lagi. mimpipun ia takan menyangka bahwa ia akan mati ditangan seekor harimau yang merupakan penjelmaan dari Kujang yang bernama Kekuatan Sejati.

Aram juga terpingsan. dan ia tak sadarkan diri lagi. dunia yang kelam berubah secerah mentari pagi di antara apitan gunung yang menjulang tinggi

+++++

―Pendekar Seribu Diri, Aram Widiawan sang pujangga Silat‖ Hanya nama itu yang kini menjadikan sebuah buah bibir setiap insan manusia, khususnya di daerah Nusantara(Sweta Dwipa). nama itu bagaikan sesosok manusia penjelmaan dewa. namanya begitu harum didalam hati mereka, perjuangannya takan pernah mereka lupakan hingga mereka mati nanti.

Senyuman dan tawa bahagia kini berdengungan dimana-mana, dari ujung barat sampai ujung timur, dari ujung selatan hingga ujung utara. diberbagai daerah malah terlihat membangun sebuah monumen diatas tebing yang menjulang, dimana ditebing itu tertulis sebuah tulisan ―AKU MENGHILANG DATANGLAH TENANG AKU MUNCUL DATANGLAH DARAH‖.

selain itu juga terdapat sebuah gambar lukisan yang menggambarkan bahwa Aram sedang bertarung dengan Maharaja Sembilan Dewa. dibawahnya tertulis. ―Seribu kebaikan takan pernah hilang, Seribu diri dalam satu adalah kekuatan yang terhebat, singkap kebatilan dan rogoh keadilan.‖

dibawahnya terdapat beberapa manusia yang sedang melakukan panjat doa, berbagai macam sesajen tampak berjejeran rapi. senyuman dan tangisan bahagia dijadikan tema dalam upacara itu.

Jauh dari tempat itu disebuah pulau yang bernama Anglep juga berjejer puluhan mayat. tangisan duka dan bahagia terlihat di wajah mereka. mereka beduka atas pengorbanan sahabat- sahabatnya yang telah mendahului pulang kepada yang maha kuasa. mereka bahagia sebab mereka sudah melewati sebuah rintangan yang terhebat dalam perjuangan mereka, Sementara itu, para petinggi Bendera Awan Langit, Ksatria Satwa juga berdiri dengan tertunduk lesu, Si Sinting dari Utara, Nyi Renjani, Kakek Arak seribu kati tampak mengelilingi Aram yang terbaring Lemah. disampingnya Melati, Thian Hong Li dan Rismi Laraspati menangis sesenggukan. sudah tiga hari ia pingsan dan belum siuman-siuman.

Tampak juga Thian Liong sibuk menghibur ketiganya.

―Hong Moay, jangan engkau terlalu sedih, nanti anak dalam kandunganmu terkena apa-apa. percayalah bahwa dia akan baik-baik saja, Melati jangan terlalu sedih, nanti kau akan jatuh sakit, Rismi aku mohon kau juga jangan terus menangis, nanti wajahmu sembab dan bila dia siuman ia akan sedih melihat keadaanmu.‖

―Ukghhh!!‖ Aram melenguh. perlahan matanya terbuka, dan pertama kali yang dilihatnya adalah langit yang biru. ditutupkan kembali matanya itu berusaha untuk mengumpulkan ingatan. mendengar lenguhan Aram, serempak ketiga gadis itu hentikan tangis.

Dan semua mata tertuju pada sosok yang berbaring itu.

Aram buka matanya dan berusaha untuk duduk, dengan sigap Thian Liong membantunya.

―Terimakasi...h‖ ucap Aram tersendat.

Thian Liong tersenyum lembut. ―Jangan terlalu banyak bergerak tubuhmu ‖ ―Aku mengerti, sebelum aku pingsan tak sadarkan diripun aku sudah mengerti bahwa tenaga dalamku sudah hilang‖ Aram memotong dengan tegas.

―Anaku, Bagaimanakah keadaanmu‖ Ki Asmaradanu menatap Aram.

―Baik, baik sekali , akh ayah bisakah ayah memanggil Kakang

Sobar kemari, agar perasaanku semakin baik‖ Pinta Aram.

―Baik. ia berada disampingmu!‖ Kata Ki Asmaradanu lembut.

―Kakang‖

―ya, Adikku.‖

―Dapatkah, aku meminta bantuanmu sekali lagi‖

―Tentu tentu saja aku akan melaksanakan perintahmu adkikku‖

―Kakang, kembalilah Pimpin Bendera Awan langit, itupun untuk anggota yang masih ingin bergerak dalam organisasi. juga. persilahkan kepada orang-orang yang hendak menyembunyikan diri ataupun melepaskan diri dari keanggotaan daripada mnjadi duri. aku bersama ketiga calon istriku akan pergi kesebuah tempat terpencil dan tinggal bersama mereka. sampaikan salam hormatku kepada yang lain. apakah kakang masih bisa melaksanakan permintaanku?‖

‖Aram, apakah keputusanmu sudah bulat!‖ mata Sipengabar Langit berkaca-kaca. ―tentu.. kakang. bagaimana?‖

―Aku...aku ingin ikut bersamamu.‖

―Tidak. kakang aku hanya akan tinggal bersama Ayah, dan ketiga istriku. bagaimanapun aku ingin merasakan kebahagiaan, dan menjadi orang biasa tanpa ada pembunuhan lagi. aku ingin mencuci tangan kakang. jangan sampaikan kepergianku kepada mereka sebelum aku meninggalkan tempat ini.‖

―Ayah‖ Aram menggumam lagi.

―Ya, Anakku...‖

―Bawa aku keruanganku‖

―baik-baik anakku‖

Segera saja Ki Asmaradanu memanggul tubuhnya diiringi ketiga calon istri Aram. sebelum meninggalkan tempat itu, Aram meminta untuk mengucap beberapa patah kata kepada Petinggi Organisasi dan Ksatria Satwa.

―Saudaraku sekalian, mungkin kalian sudah mendengar keputusanku... terimakasih atas pengertian dan bantuan kalian, semoga kita bisa berjumpa dilain titisan... hiduplah bersama kebahagian yang akan menyertai kalian. gunakan kepandaian kalian untuk kebaikan. katakanlah sepatah kata sebelum aku meninggalkan tempat ini.‖

―Kami ikut bersamamu‖ Angkara mewakili yang lain. ―Tidak, silahkan kalian pilih jalan kalian sendiri, aku pergi selamat tinggal sahabat-sahabatku, saudaraku yang paling aku cintai dan sayangi‖ aram berkata tegar dan memalingkan wajahnya yang berkaca-kaca.

―Selamat Tinggal ketua yang paling kami banggakan‖ Angkara menjawab tegas meski matanya berkaca-kaca. bahkan Ksatria Satwa dan Para Petinggi lain juga sesegukan menangis.

―Kakang, Supek, Hong Ji mohon pamit. maafkan Hong ji bila Hong Ji ada salah.‖

―Selamat Jalan Anakku!‖ Kakek Arak Seribu Kati mengiringi Thian Hong Li yang berjalan menjauh dan semakin menjauh.

Beberapa tahun telah berlalu, disebuah hutan yang jarang terjamah manusia. Kadang kala ada pemburu atau pencari kayu yang melihat sekeluarga kecil manusia bermunculan disekitar yang terpencil itu dan jauh dari keramaian manusia, bahkan mereka sering sekali membantu mereka, namun siapapun takan menyangka bahwa mereka adalah Keluarga para Pendekar yang menggetarkan jagad.

Setahu mereka mereka adalah para penduduk biasa dan merupakan orang awam, sebab keluarga itu memiliki ladang dan berbagai macam alat pertanian dan pemburuan.

Siapakah mereka? keluarga yang sering munculkan diri itu bukan lain adalah Ki Asmaradanu, Aram, ketiga istrinya dan beberapa orang putra putrinya, semenjak hidup mereka mengasingkan diri ditempat tersebut, mereka dapat melewatkan sisa hidupnya dengan gembira dan penuh kedamian.

Disebuah tempat lain, terdapat sebuah perkampungan yang damai akan ketenangan, ditempat itu terdapat berbagai keluarga yang menempatinya. mereka antara lain keluarga, Luyu Manggala, Murka Semesta, Amuk Samudera, Kasturika, Cempaka, Huru-Hara.

Sementara itu, Angkara, Ryusuke, Yumi dan Jelita Indria kembali ketanah Jepun dan hidup tenang disana. Thian Liong dan Kakek Arak seribu Kati kembali kenegaranya.

Sipengabar Langit kembali memimpin Anggotanya yang tersisa. Para Pertinggi Organisasi memencarkan diri dan hidup sesuai keinginan masing-masing. dan beberapa Anggota pergi mengelana.

Adakah Kebahagiaan itu terus berlanjut? entahlah semoga

demikian....

(TAMAT)