Pendekar seribu diri Jilid 05

Jilid 05

―Jangan melongo kaya kesurupan begitu, ayo masuk..‖ Thian Liong geli melihat Aram seperti kehilangan sukma. Aram gelagapan, wajahnya merah menahan malu, kepergok perasaannya. Dengan cepat ia mengikuti Thian Liong yang sudah duluan masuk kehalaman.

―Engkoh Aram ‖ Seorang gadis memeluk Aram. Aram

gelagapan karena dengan tersenyum penuh arti Thian Liong menatapnya seraya masuk kerumah.

―Hong moay...kau terlihat sedikit kurus...? Aku kangen kamu ‖

bisiknya ditelinga Thian Hong li.

―ak. aku juga kangen kamu Engkoh Aram.‖

Cup sebuah ciuman lmbut mendarat dipipi Thian Hong li. Hati

Thian Hong li bagaikan bunga yang berada di taman nirwana, mekar indah lembut menyentuh relung relung jiwa. Mereka bertatapan dengan mesranya.

―mau sampai kapan kalian bermesraan seperti itu?‖ sebuah suara yang lembut terdengar menyentak keduanya. Dengan tersipu sipu keduanya melepas pelukan dan masuk keruangan. Mereka tak sadar bahwa ada sepasang mata yang memandang penuh kebencian dipinggir jalan.

Malam yang dingin begitu dingin membekukan tulang. Menyaksikan dua insan yang sedang melepaskan rindu,, Mereka duduk berdua sebab Thian Liong pergilagi ke warung tempatnya bekerja.

―Dingin ya Hong Moay?‖ Aram memecah keheningan.

―hihi. ‖ Thian Hong li cekikikan.

―Mengapa engkau malah tertawa dinda? Aram mencoba merubah bahasanya.

―Dingin dingin gini enaknya ngpain ya?‖

―Emmmcchh....minum kopi atau ‖

―Atau apa ?‖

―Atau gini. ‖ Aram memeluk Thian Hong li dan menciumnya.

―akkkhhh...kau nakal kanda..‖ jerit Thian Hong li manja. Mulut bicara begini tapi tubuhnya berkata lain, Thian Hong li dengan mesra memagut bibir Aram dan membelai rambutnya.

―Aku cinta kamu Thian Hong li‖ bisik Aram ketika mereka mengambil napas. Tapi dibalas ciuman oleh Thian Hong li

―emmmchhhh‖ gumamnya.

―Aku sayang kamu Thian Hong li‖ Aram kembali berbisik. Yang dibalas dengan ciuman mesra lagi.

―Emcchhh‖

―Bolehkah aku melakukan hal yang dulu kita lakukan sayang...‖

―Lakukan apa yang kau ingin lakukan kandaku...akupun merindukan itu ‖ balas Thian Hong li.

―Kapan Kakakmu pulang?‖

―Besok pagi..‖ dengan tatapan penuh pengharapan Thian Hong li menatap mata Aram. Wajahnya kemerah merahan menahan sesuatu. Matanya sayu bibirnya merah menggoda setengah

membuka seakan mengharapkan sesuatu.

―kita pergi kekamarmu saja ayuuuk. ! Segera Aram

membopong Thian Hong li dan membaringkannya diranjang...

mereka berciuman dengan bernafsu, saling membelit, menerjang menyedot, menggigit dan melepaskannya jika mereka sudah kehabisan nafas lalu kembali bertempur. Tangan Aram tanpa permisi menyusup kebalik pakaian Thian Hong li dan melepaskan kaitannya. Lalu meremas gundukan yang berada disana.

Thian Hong li memegang tangan Aram dan melepaskannya.

―Kenapa?‖ Aram Kecewa. Thian Hong li tak menjawab ia turun dari pembaringan. Dan kejadian selanjutnya membuat Aram tak bisa berkata kata selain memandang dengan berdebar debar dan kagum. Mengapakah demikian? Seraut wajah yang cantik bak bidadari berdiri dengan keadaan tanpa selembar benangpun melekat ditubuhnya, kulit yang putih mulus tanpa cacat terpampang begitu saja didepan mata Aram Widiawan sipemuda berusia 17 tahun.

―Sayang, Aku berikan semuanya untukmu jangan menolak..!‖

cuppp emmmchhh Thian Hong li kembali mencium Aram.

Mereka kembali bertempur seru Dengan mesra Aram membelai meremas sekehendak hatinya gunung milik Thian Hong li yang begitu sekal. Kini Aram bebas bergerak karena tak ada lagi penghalang tangan kirinya turun kebawah dan membelai sungai didalam rimba dengan lembut. Thian Hong li mendesah desah

keenakan tangannya bergerak memegang dada Aram. Karena kasihan sambil bercumbu Aram melepas pakaiannya. Malam begitu dingin tapi mereka malah berbugil ria, bergulat saling menjatuhkan, darah membasahi sprei suara erangan semakin santar, suara dua buah senjata yang bertempur juga semakin santer terdengar hingga pada suatu kesempatan mereka mencapai puncaknya, suara jeritan melengking terdengar cairan bening bercampur darah dari sungai didalam rimba mengalir....

membawa sejuta kenangan.

Begitulah malam itu mereka kembali bertempur berulang ulang sampai keduanya lemas dan tertidur bertindihan.

-ooooo(jumpfunk boys adventure)oooooo-

―Tuaknya kang ‖ Suara merdu yang penuh kebahagiaan

terdengar dipagi yang temaram ini membuai seorang pemuda tampan yang baru selesai bersemadi. Pemuda itu mengambil tuak dan menyimpannya disamping tubuhnya.

―mengapa tak diminum kang?‖ pemuda itu tak menjawab ia malah bersenandung.

Puisi Merah Jambu Bila kau tanyakan aku Apa artinya cinta Sungguh aku pun tak tahu Ku hanya merasakannya Tapi bila kau tanyakan Cinta kah aku padamu?… Dengan tulus kuakui Bersyukur memilikimu

Jalan hidup ini temukan aku denganmu Waktu jadi saksi, aku disini untukmu Terkadang kau kusakiti

Kau tahu itu bukan maksudku Terkadang engkau tak peduli Aku memikirkanmu

Kita hadapi, kita bernyanyi… Kita jalani… bersama hidup ini

―Akh kau bisa saja kakang, Aku kedapur dulu ya, mau masak....‖...gadis yang ternyata adalah Thian Hong li berkata.

―baiklah,...Hati hati, jangan sampai tersulut api‖ Pemuda yang ternyata adalah Aram widiawan berkata mesra.

Didunia ini tak ada satupun kehidupan yang selamanya bahagia, meski pikiran kita ingin berbahagia selamanya, namun bila takdir berkehendak lain apalah daya kita....

Dengan lesu seorang pemuda tampan berpakaian pelayan berjalan menuju sebuah rumah mungil dipinggir jalan, seorang pemuda lain yang tadi asyik minum tuak dipintu datang menyambutnya.

―Ada apa kakang wajahmu begitu kusut?‖ Aram menyapa.

―kita bicara didalam saja Aram ‖Pemuda berpakaian pelayan yang tak lain adalah Thian Liong menjawab. Dengan beriringan keduanya kembali kerumah. Dan kebetulan sekali sepertinya makanan sudah siap.

―Adik, Kebetulan kakak belum makan...‖ Dengan wajah tersenyum getir thian Liong berkata. Thian Hong li menatap kakaknya dengan heran, tak biasanya kakaknya itu berwajah demikian.

Tanpa banyak bicara mereka bertiga segera mulai bersantap.

―Aku dipecat tanpa diberikan suatu alasan apapun, membuat hati ini tak puas penasaran.‖Thian Liong berkata dengan berapi- api. ―Apa?‖ Thian Hong li terkejut sementara Aram diam saja.

―Sepertinya ada yang tidak beres‖ Ujar Aram dengan gayanya yang khas ketika ia berpikir.

―Menurutmu bagaimana?‖ Thian Liong heran

―Sepertinya ada Sangkut pautnya dengan aura negatif kemarin..‖

―Aku masih belum mengerti..‖

―Ketika aku datang kemari, dan melepas rindu dengan hong Moay aku merasa seakan punggungku ditatap dengan aura kebencian.‖

―Bagaimana kau bisa merasakannya?‖

―Aku memiliki sebuah ilmu yang bernama Aura kematian, dengan ilmu itu, tubuhku peka terhadap Aura aura negatif. Jadi, itu alasan ku mengetahui‖

―Jadi menurut engkoh siapa?‖ Thian Hong li menyela.

―Entahlah hemmmcchhh sepertinya ia berpengaruh..‖

―akh, bagaimana ini? Jikalau memang ia berpengaruh, aku yakin disemua tempat ini tak bakalan menerimaku. Sepertinya kita harus meninggalkan desa ini.. dan menyelidiki mereka ditempat baru. , tapi dimana?‖

―Aku tahu tempat itu. Kau ikutlah denganku kalian tak keberatan kan?‖

―Akh jadi merepotkanmu Aram.‖

―Bukankah kita ini bersahabat?‖

―Sahabat sejati‖ suatu kata yang sederhana namun begitu memiliki arti. Banyak yang mengartikan persahabatan sejati Memiliki makna berbeda di tiap daerah Tetapi tetap satu utama intinya Saling adil dalam memberi Tanpa ada kaitan ini lemah tak berdaya, atau kaya miskin.

Aram merenung, dahinya berkerut. Melihat itu Thian Hong li seakan mengerti bahwa kekasihnya sedang berpikir makanya ia tak mengganggu.

―Ada apa, sepertinya kau mendapatkan sesuatu yang buruk?‖ Thian Liong bertanya,

―Sepertinya hari ini ada sedikit keonaran. Sebaiknya kakang segera menjual rumah ini. Biarkan aku yang akan menawarkan kepada tetangga, sementara kalian lekaslah berkemas ‖ wussstttt setitik bayangan biru melesat kejendela meninggalkan dua insan berbeda yang merasa sedih, kagum, bercampur aduk, tapi tak lama kemudian mereka segera melakukan tugasnya

―Bruukkk. ‖ suatu buntalan jatuk berdebum dihadapan Thian

Liong dan Thian Hong, sebagai orang yang melatih silat dan memiliki indra yang peka. Mereka tahu jika tadi ada benda yang jatuh dari udara makanya siang siang mereka sudah menghindar dan memasang kuda kuda. Ketika mereka mendongak kelangit tampaklah suatu bayangan biru sedang menari diudara.

Bayangan itu meliuk liuk menggapai langit, wunggg....tep..setelah beberapa saat bayangan itu mendarat dibumi.

―Engkoh Aram kau mengagetkan kami. ‖ pekik Thian Hong li, disusul dengan Thian Liong ―Sudah?‖ . Aram tertawa dan menjawab.

―hahaha beres..itu uangnya‖ Aram menunjuk buntalan yang

jatuh tadi. Mata Thian Hong li terbelalak melihat uang sebanyak itu, padahal waktu mereka membeli rumah itu. Tak ada setengahnyapun tidak.

―Kau dijjual kepada siapa?‖ Dengan tergagap Thian Hong li

berkata. Yang dijawab dengan senyuman indah.

―Hmm Kita kedatangan tamu‖ Thian Liong berkata sambil

memandang kesebuah jalan, benarlah disana tampak tiga orang berjalan beriringan menuju mereka,. Orang pertama seorang pemuda berwajah cakap dengan kumis tipis diatas bibirnya, bajunya hijau dengan sebuah kipas di pingganggnya. Orang kedua adalah seorang pemuda berusia sekitar duapuluh tujuh tahunan memakai baju biru namun terlihat seperti pemuda berusia duapuluh tahunan, seorangnya lagi adalah wanita berusia dua puluh lima tahunan yang memiliki wajah seorang gadis belia.

―Selamat datang samwi di kediaman kami, tapi mohon maaf tempat ini sudah bukan menjadi milik kami, sehingga tidak dapat mempersilahkan kalian bertiga.‖

Wajah salah satu orang yang tampaknya adalah pimpinan mereka kaget karena itu diluar dugaan mereka.

―Hemmm Tampaknya kalian tidak bodoh‖ ucapnya sinis,.

Aram tak mempedulikan mereka dengan lagaknya yang khas ia berkata kepada Thian Hong li ―Sepertinya ada anjing yang tak kebagian Tulang, makanya ia mengamuk membabi buta.‖

―Hihi. dan sekarang anjing itu menggonggong tak keruan‖

Thian Hong li cekikikan.

―Anjing kurap....berani kau menghinaku hah..!‖ Pemuda berpakaian hijau itu membentak.

―Kita sama sekali tak menghinamu atau apa, kau sendiri yang mengaku mungkin benar kata pepatah, anjing selalu berkata

anjing,,!!‖ dengan diiringi senyuman aneh Aram berkata. Betapa geramnya ketiga Orang itu, jelas mereka bukanlah orang bodoh, tanpa diberitahu juga mereka mengerti itulah SENYUMAN MENGEJEK...

―Dikasih jalan surga malah memilih jalan neraka, kau memilih jalan kematianmu bocah ‖ bentak Pemuda itu sengit. bukannya

marah Aram malah tertawa terbahak bahak, jangankan ketiga lawan yang heran, Thian Hong li dan Thian Hong juga terpengarah.

―mengapa kau tertawa hah !‖

―Aku merasa geli dengan tingkahmu..‖

―Ger....‖ rasakan ini hiaaaattt Pemuda berbaju hijau

menekuk kaki kanan, kedua tangannya ditarik kebelakang dengan sekali sentakan meluncurlah sinar berwarna biru, tapi Aram dengan santainya meliuk tanpa menggeser kakinya, serangan itu melesat dan menabrak pohon duaaarrrr,. seketika

pohon itu berguguran daunnya lalu menjadi kuning ketika menyentuh tanah. Berubah paras Thian Hong li dan Thian Liong. Ketika mereka memperhatikan pohon itu, ternyata pohon itu telah meluruk jadi debu. Sungguh mengerikan jika mengenai manusia.

―hm....Pukulan Rajawali emas meluruk gunung , masih belum

sempurna‖ dengan santainya Aram mengomentari. Wajah pemuda berpakaian hijau itu memerah malu. Baru kali ini ada yang berani menghinanya.

―tahukah kau sedang berhadapan dengan siapa, anjing kurap hah?..dengan menahan kemarahan yang meledak ledak pemuda berpakaian hijau itu garang.

―Persetan dengan dirimu, perlu ku ingatkan, kita itu seperti air sumur dengan air sungai, satu sama lain tak saling mengganggu.. kenapa kau seenaknya memecat sahabatku..?‖

―Hahaha...itulah pelajaran bagi seorang kakak yang berani mengijinkan adiknya yang manis untuk kau peluk,‖

―hemm apakah kau mencintai kekasihku?

―mencintai sih tidak, tapi aku menyukai wajahnya yang cantik dan body yang aduhai‖

―Anjing cabul...berani kau menghinaku ‖ Thian Hong merah

padam karena marah.

―Haha Adik yang manis kau semakin cantik, kalau

marah ikutlah denganku, Aku adalah Virahin putra Panglima

Caturangga dari keraton barat. Aku yakin jika kau ikut denganku kau akan hidup bergelimang harta juga kenikmatan surgawi haha‖...

―Namamu saja aku jijik, apalagi kelakuanmu huh tak sudi aku ikut denganmu‖ Bentak Thian Hong.

―kalau dengan jalan baik baik tidak bisa dengan kekerasan pun boleh, Kalian berdua bantu aku ‖

Set. Dua orang itu maju kedepan hingga tiga orang melawan

tiga orang.

Aram berhadapan dengan Lelaki berbaju biru, Thian Hong li dengan Virahin dan Thian Liong dengan Wanita cantik berumur duapuluh lima tahunan,

―daripada bertempur seperti ini, benar benar menguras tenaga, salah salah nyawa melayang. lebih baik kita bertarung diranjang saja Adik manis‖ rayu Virahin kepada Thian Hong li.

merah wajah Thian Hong li dengan gusar segera ia membuka serangan, Thian Hong li memasang kuda-kuda, ia memajukan langkah dalam posisi menyamping disertai dengan pukulan punggung tangan dengan suatu gerak cepat kaki kiri maju kedalam, dalam suatu loncatan disertai dengan menarik mundur pada kaki kiri dan penutupan perlahan dengan menungkupkan dua tangan didekat dada wussss. Blarrrr bila diceritakan

sungguh panjang tapi dalam kenyataannya itu terjadi dalam beberapa sekian detik.

Dengan kening berkerut cepat virahin membuat kuda-kuda posisi rendah dengan kedua tangan terkepal setengah tertekuk didepan tubuh, lalu menyambuti serangan Thian Hong li dengan menangkis pada tangan kanan dan sambutan pukulan dengan kepalan kiri...Des. terjadilah adu tangan dengan dialiri tenaga

dalam.

Diarena lain keadaan Thian Liong pun tak begitu jauh, mereka saling rangsek, saling libas jurus demi jurus telah mereka keluarkan, Thian Liong segera menjinjit kaki kanannya untuk ditarik mendekat pada kaki lainnya sambil memutarkan tubuh berjurusan kekiri sambil diiringi pula dengan pengangkatan kaki kiri. Tangan kiri memutar dan tangan kanan dipersiapkan dalam suatu pemuulan dengan terkepal.

Mendapat angin, cepat cepat wanita cantik itu menyerang, dengan tersenyum Thian Liong mengayunkan langkah kaki kiri kedepan laju dengan kaki kanan yang mengikuti geseran gerak kaki kiri dengan kepalan tangan kiri yang melakukan suatu pukulan kuat dan tangan lainnya terayun keatas,. begg ulu hati

wanita itu terkena telak, cepat ia mundur tiga langkah dan mengatur kuda-kudanya.

―Ternyata kau hebat juga bocah tampan‖ Wanita itu berkata. Ternyata wanita itu terlalu menganggap remeh Thian Liong, yang akhirnya harus dibayar dengan mahal, ulu hatinya terasa sakit bukan main.

Thian Liong tersenyum, ―Siapakah namamu Nona?...‖

―Untuk apa aku harus memberitahumu? jawab wanita itu genit. Thian Liong tergugu ―akh..anu..emch‖

―Hihihi. kau lucu sekali tampan, baiklah namaku Cintamani

orang persilatan memanggilku Iblis pemuas berahi,‖. Thian Hong melongo tapi gara gara kelengahannya itu, harus dibayar

dengan pundaknya. sebab dengan memanfaatkan kelengahannya itu Cintamani menerjang dengan menggunakan sebuah jurus langit mendua bumi bersedih degg..seharusnya yang terkena adalah dada Thian Liong, tapi bukan Thian Liong bila harus menerima kekalahan begitu saja, ia berkelit meski pundaknya tak bisa diselamatkan.

Sementara dipihak lain Aram melawan lelaki berbaju biru diawali dengan adu kekerasan, keduanya sama sama tak meraih keuntungan, tapi nampaknya Aram menang setingkat dibanding dengan Lawannya. terbukti dengan wajahnya yang tetap tak berubah.

―Laknat, sebutkan namamu, aku tak ingin membunuh orang dengan tak memiliki nama.‖ garang ucapan Lelaki berbaju biru itu.

―Aram Widiawan‖ jawab Aram pendek. lelaki baju biru itu diam merenung.

―Pernah Apakah kau dengan Si pengecut Gunawan Widiawan dan perempuan binal Widia seta?‖

―Mengapa kau memanggil beliau dengan panggilan tak genah seperti itu?., cecongormu itu tak sedikitpun pantas menanyakan itu‖ Dengan sewot Aram menjawab.

―ciss...apa hebatnya mereka.. Hanya dengan beberapa jurus aku bertiga dapat membunuh keduanya dengan mudah. Aku Gandapura murid si Iblis Langit tak pernah sudi memandang

tinggi mereka‖ ejek Gandapura atau silelaki berbaju biru dengan angkuh.

Membesi wajah Aram, wajahnya memerah matang.. matanya yang merah berkilat kilat tajam. sementara tubuhnya menggigil menahan marah.

Melihat lawannya gemetaran, Gandapura semakin sombong,

―haha Aku Gandapura Si Tangan Telengas takan

membunuhmu, asal kau merangkak pergi dari sini, haha‖

―Keparat, mati kau !‖ Teriak Aram melengking, suaranya

menggelegar bagaikan suara guntur disiang bolong. keempat orang yang sedang sengit sengitnya bertarung terkejut mendengar suara yang begitu kencang. bahkan pemuda berbaju hijau memegang telinganya tak kuat menahan tenaga dalam yang tersalur didalamnya.

Thian Liong dan Thian Hong li cepat mudur kebelakang, begitu pula dengan Virahin dan cintamani, kini mereka menonton kedua naga yang sedang bertarung.

Diarena pertarungan Aram memutar kedua tangan diatas kepalanya. dan keajaiban pun terjadi, awan tiba tiba mendung, angin bertiup dingin merasuk tulang, jika hanya itu, maka bukan ajaib namanya, petir menyalak nyalak meraung raung memekikan telinga cahayanya menyambar nyambar. Itulah yang dinamakan dengan jurus Raungan Petir murka langit , salah satu jurus pamungkas dari ilmu Halilintar perobek bumi.

Gandapura mengerti, lawan mengerahkan ilmu simpanannya, iapun mengerahkan segenap kemampuannya.

―Hiaaaaaaaaaaaa‖ Teriakan melengking dari keduanya menggelegar, dua sosok bayangan mencelat dan bersatu dipertengahan jarak, ―Breetttt werrr jlegarrrrr Duaaarrrrrrrrr‖ beriringan dengan menyambarnya petir dua buah tenaga sakti bertemu diudara,.

Empat buah bayangan sosok manusia mencelat terhempas tenaga sakti, pohon pohon mencelat tercabut dari akarnya, bagaikan topan prahara melanda tempat itu, semua yang berada dalam jarak duapuluh tombak semuanya berantakan, debu mengepul tinggi,....

Penduduk sekeliling tempat itu siang siang sudah mengunci rumah mereka, mereka benar benar ketakutan. sementara kaum rimba hijau berdatangan ketempat itu, mengintip dari jauh.

Dibalik kepulan debu dua sosok bayangan biru saling menerjang juga saling melibas. tampaknya keduanya tak ada yang mau mengalah, entah berapa jurus mereka saling bentrokan tenaga, dari saling adu bentrokan tenaga, kini mereka merubah siasat bertarung dengan kecepatan, yang tampak kini hanya dua

bayangan biru saling bertemu dan saling terpisah, keduanya tak bisa dibedakan mana Aram dan mana Gandapura., memasuki ratusan jurus tiba tiba keduanya meloncat mundur.

Tak jelas siapakah yang akan memenangkan pertarungan hidup mati ini, Baju bagian dada Gandapura sobek, mulutnya berdarah, nampaknya ia sudah terluka dalam yang cukup parah. dilain pihak Aram juga tak beda jauh dengan Gandapura, meski mulutnya tak mengeluarkan darah, namun sepertinya ia juga terluka tidak ringan, hidungnya mengucurkan cairan merah.

Dengan memasang kuda-kuda kembali Aram segera menaikan kaki kanan sambil melakukan gerak putaran dengan tangan kanan yang berjurusan dari bawah keatas dari arah luar dengan tangan kirinya ditarik didepan dada sambil menghimpun tenaga dalamnya. Dilain pihak Gandapurapun tak kalah sigapnya meski sambil menahan sakit dadanya yang sesak, ia segera memasang kuda kuda tenaga dalam selaksa racun langitnya dikerahkan sampai sepuluh bagian, dengan menurunkan kaki kiri kearah samping kiri, tangan kanan segera digerakan menyilang didada sementara tangan kirinya diturunkan sejajar dengan ikat pinggang,

Dari cepat, kini mereka berubah dengan tenang, saking tenangnya, gerakan demi gerakan bahkan anak kecilpun sanggup melihat gerakan seperti itu, tapi, jangan salah...semakin tenang, tenaga dalam yang dikeluarkan justru semakin dahsyat, kerikil kerikil berterbangan diudara seakan tak ada gravitasi bumi.

Dari penjuru barat Aram mendorongkan tangan kanannya dengan gerakan secepat siput berjalan, begitu tenang jangankan suara, anginpun seakan tak sudi menyingkir dari dorongan itu. setelah tangan kanan sampai didepan tangan kiri melakukan tangkisan serangan dari Gandapura yang memukul dengan tangan kiri yang menyilang kebawah dengan punggung tangannya.

Setelah dua tangan beradu, mendadak langit yang mendung dengan sekali kali salakan petir menurunkan hujan rintik-rintik

―Blaaaarrrrrr‖ Jlegar....jlegarrr. petir juga tiba tiba menyalak

menyemarakan suasana, dari kubangan arena munculah sebuah angin Prahara.

Sesosok bayangan biru mencelat kepenjuru selatan. semakin bertarung semakin heran dan geramlah Gandapura segera ia menekuk pinggang memasang kuda-kuda terus melontarkan pukulan Racun langitbertebaran , kali ini bukan saja dia mengerahkan seluruh kekuatannya, sebaliknya Aram hanya menggunakan sepuluh bagian tenaganya, adalah jamak kalau Aram yang dirugikan. mungkin gara-gara ia kalap dibutakan dendam, ia harus membayar dengan mahal meski selembar jiwanya tak melayang. segera Aram menenangkan hatinya, sambil menggerung dia gerakkan kedua tangan seraya menarik napas,

"Lihat serangan-" Ditengah bentakan, tubuhnya terapung keatas, ditengah udara dia kebas sepasang lengan baju kebelakang hingga tubuhnya meluncur seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya, tubuhnya melengkung kedua tangan bergerak.

Suara ‖plak-plok" dan ledakan tenaga sakti juga ajian ajian terdengan nyaring berkumandang di angkasa, damparan angin pukulan sedahsyat gunung gede menindih menerpa kearah Gandapura

Gandapura sudah lama berkelana di Rimba Hijau pengalamannya luas, kalau tidak ribuan, juga ratusan kali bertempur menghadapi lawan tangguh, namun belum pernah dia menghadapi lawan muda setangguh ini, serangan lawan

menuntut dirinya untuk memboyong seluruh kemampuannya dan telah memeras seluruh tenaganya, kini lawan menyerang sedahsyat gunung, bila dia angkat kepala, bayangan telapak tangan sebanyak itu mengaburkan pandangannya. itulah yang dinamakan dengan jurus telapak kilat membelah gunung.

Pengalaman berkata dan sudah menjadi kenyataan bahwa olah kanuragan lawannya meski masih muda namun memang lihay maka dia tidak berani melawan secara kekerasan lagi, dia undur dua langkah sembari memutar badan.

Sebelah tangan menepuk balik sementara tangan yang lain didorong miring keatas balas menggempur kearah Aram. namun dengan mengandalkan kegesitannya dengan mudah Aram menghindar dan balas menyerang Gandapura kembali diserbu oleh bayangan telapak tangan-

"Blang" dengan telak batok kepalanya kena tamparan keras, seketika kepala pusing mata berkunang-kunang.

Memanfaatkan itu Aram segera susuli serangan dengan sebuah jurus yang luar biasa dahsyat, jurus itu adalah sebuah jurus yang kali pertamanya ia bertarung dengan gandapura yakni Raungan Petir murka langit.

Pendekar Golongan putih yang bersembunyi mencaci, mereka beranggapan menyerang orang yang sudah tak berdaya bukanlah perbuatan ksatria, lalu mengintip orang yang bertarung apakah juga merupakan sikap ksatria?

Seandainya yang bertarung dengan Gandapura adalah pendekar golongan putih, mungkin ia ada harapan hidup, tapi sayang, sungguh disayangkan Aram Widiawan bukanlah

seorang dari golongan putih, saat tersadar dari pusingnya Gandapura terkejut ketika sebuah pukulan berada sejari didadanya, menjeritpun tak lagi sempat, apalagi harus menghindar.

―DUAAARRRRRR.........‖ ―JELEGAARRRRRR ‖

WUUUSSSSTTT...BLAAARRRR !!!

Bumi dan langit kini disibukan lagi dengan sebuah ledakan ajian dan tenaga sakti yang bergabung.....

Debu bagaikan selimut bumi...

Pohon-Pohon bagaikan anai-anai yang bertebaran.. Burung kini enggan berkicau..

Langit masih juga kelabu...

berlomba dengan jeritan jeritan petir...

Ketika semua kembali normal, debu-debu telah jatuh kebumi, petir berhenti meraung raung dan kegelapan mulai menghilang, diatas kubangan selebar lima tombak berdiri seorang pemuda tampan berbaju biru dengan rambut kuncir kuda mematung memandang angkasa. didepannya seonggok tulang tengkorak berserakan.

Dua tiga cairan bening jatuh kepipinya, ― Ayah, Ibu ananda telah menghabisi satu pembunuh kalian‖ dengan tersendat ia menggumam

―Kakaaaaaang‖ Seorang wanita berteriak melengking.

Dengan terseok-seok wanita itu melangkah mendekat kedalam kubangan dan segera meratapi kakak seperguruannya yang telah menjadi seonggok tulang karena hempasan jurus Raungan Petir murka langit.

―Kau harus membayarnya dengan nyawamu‖ Hiaaaaatttt dengan kalap wanita itu menerjang meski tubuhnya masih sempoyongan sebab masih terluka parah karena hempasan angin akibat hempasan dua tenaga sakti.

Dingin-dingin saja Aram menyambuti terjangan Cintamani, ia hanya menepiskan ujung lengan bajunya ―Wusss‖ Seberkas sinar keperakan melesat kearah dada Cintamani.

Cintamani terkejut, ia ingin menghindar tapi apa dayanya, serangan itu datang begitu cepat, tak sempat ia memejamkan matanya serangan itu sudah menimpa dadanya

―Dukkk...Aaaaakkkhhh‖ jerit lengking terdengar dari Cintamani, ia terpental menumbuk dinding tanah yang telah berkubang.

―Saat ini, Aku tak akan membunuhmu tapi, aku akan menyampaikan tantangan kepada gurumu. ingatlah jurus yang aku gunakan bernama Ajian Birahi kematian.‖

Pucat wajah Cintamani, sebagai golongan hitam ia tahu apa itu Ajian Birahi kematian, ilmu itu adalah sebuah ilmu dari golongan hitam yang beberapa tahun telah menghilang dari peredaran dunia persilatan.

Barang siapa yang terkena ilmu itu, maka birahinya akan memuncak sepuluh kali lipat tapi, jika ia melampiaskan birahinya itu maka ia akan mati dengan keluar darah dari tiga belas lubang. (mata, hidung, telinga, puting susu, mulut, pusar, kemaluan, anus dan pori-pori).

Cintamani heran bagaimana orang dari golongan putih, menguasai ilmu itu, tak tahan ia bertanya.

―Bukankah engkau adalah dari Golongan Putih, bagaimana engkau menguasai ilmu itu?‖

―Salah, Aku bukanlah dari golongan putih‖

―Hah...! Jadi engkau dari Golongan Hitam?‖

―Juga bukan..!‖

―Ap Apa kau ketua dari salah satu perguruan golongan

merdeka.‖

―Bukan, mereka hanya temanku.. pergilah sebelum aku berubah pikiran dan menguliti tubuhmu.‖

―Tap...Tapi. ‖

―Aku Paham, saat pertemuan di Lembah kematian aku akan menyembuhkanmu. Gembira Cintamani mendengar itu, dengan menahan sakit ia berdiri dan dengan terbirit birit Cintamani melarikan diri kearah selatan.

Aram menghela nafas panjang, ―Jika kau masih hidup‖ ujarnya pelan setelah Cintamani tak lagi terlihat. lalu dengan sekali enjot ia sudah berada disamping Thian Liong dan Thian Hong li,

―Mari kita pergi, nampaknya disini sudah kedatangan tamu tamu.‖

Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh mereka menyambar buntalan yang mereka siapkan, dan menghilang diantara rumah rumah penduduk.

Didepan sebuah penginapan dua pemuda dan satu pemudi melangkah masuk dengan santai.

―Ada yang bisa saya bantu tuan tuan‖ Sapa seorang pelayan.

―Adakah kamar yang mirip sebuah pondok mungil?‖

―Ada...Ada, Apakah yang ada tamannya atau tidak?‖

―Saya memesan keduanya paman‖

―Mari,, mari saya antarkan‖

Ketiganya memasuki penginapan itu, dan melangkah ketaman, lalu melewati sebuah rumpun bunga, bambu, gundukan batu dan beberapa kolam, tanpa sadar Thian Liong dan Thian Hong li mengikuti langkah langkah Aram, hingga mereka sampai disebuah pondok mungil.

Dengan tenang Aram masuk kedalam dan mengajak kedua temannya kedalam. mereka bercakap cakap asyik hingga mereka mendengar langkah kaki.

―Satu....Dua..tiga...Empat...‖ Thian Hong li menghitung.

―Dua Gadis muda, dan Dua pemuda‖ Ralat Aram.

^^^^^(one)^^^^^

"Cucuku..., Melati" sebuah suara serak terdengar bergetar. Seolah merasa berat dengan apa yang diutarakannya itu. "Hari ini, genap sudah empat tahun kau tinggal bersama kami. Dan semua kepandaian kami telah diturunkan kepadamu, hingga tidak ada lagi yang dapat kami turunkan padamu!

Rasanya sudah waktunya eng-kau turun ke dunia ramai untuk membasmi kejahatan yang akhir-akhir ini merajalela! dan mencari musuh-musuh Orang Tuamu"

'Tapi, Kakek.... Ini..., ini," gadis yang dipanggil melati tak mampu menerus-kan ucapannya. la terharu sekali dengan kebaikan dan kasih sayang yang dilimpahkan Kakek dan nenek angkatnya sekaligus gurunya selama ini.

"Sudahlah, Cucuku! Esok sebelum matahari terbit, kau sudah harus berangkat!" Ujar Ki Dewa pedang tegas.

Melati membisu Rasanya memang berat untuk mening-galkan orang tua itu sendirian di sini. Tapi mengingat bahwa kejahatan telah merajalela, bahkan mungkin juga ada anak yang senasib dengan dirinya akibat pembantaian dengan intrik yang sama halnya dengan yang terjadi pada dirinya. maka gadis itu harus melaksanakan tugas yang diberikan gurunya itu.

"Nah! Sekarang, Kakek dan Nenek akan bersemadi dan tidak ingin diganggu lagi!" Ujar Nyi Sateja sambil melangkah meninggalkan Melati yang duduk termangu itu.

Beberapa saat kemudian, Melati tersadar dan segera berlari. Dikejar guru-gurunya itu, dan langsung bersimpuh di hadapan kakek dan Nenek itu.

"Kek...,Nek..." ucapnya serak, sambil memeluk kedua kaki Nyi Sateja.

Setelah mengusap-usap kepala Melati, Nyi Sateja dan Ki Dewa pedang ber-gegas meninggalkan tempat mondok yang biasa mereka gunakan saat menggodok melati. Mereka tidak ingin menunjukkan kesedihannya yang malah akan memberat-kan langkah muridnya nanti.

Mentari pagi bersinar malu malu dibalik himpitan dua bukit, burung–burung berlomba mencari makanan, siulan merdu dari mulut mereka bersahut sahutan mengiringi seorang gadis dengan pakaian kelabu dan caping lebar dikepalanya.

Ia berjalan dengan tenang menyusuri jalan setapak yang entah menuju kearah mana. tapi, gadis itu tetap langkahkan kakinya sambil menenteng pedangnya, Dari gerak-gerik si gadis, orang berpengalaman dapat menduga kalau gadis itu bukan seorang wanita sembarangan.

Gadis itu berjalan tidaklah sendirian, didepan dan dibelakangnya mengekor puluhan orang-orang yang mungkin juga berasal dari Rimba hijau menilik dari penampilan mereka.

"Eyang, boleh Saya bertanya?" sapa si gadis pada seorang kakek-kakek yang juga berjalan dengan santai. lelaki paruh baya itu mengenakan pakaian serba putih dengan hiasan bulu burung jalak di ikat kepalanya, tak salah lagi dialah salah seorang datuk silat dari golongan putih yakni kyai jalak atau biasa dipanggil Pendekar Burung Jalak

Kakek -kakek itu menoleh dan memperhatikan gadis yang menanya, dengan seksama.

"Silahkan.."

"Rombongan apa ini? apakah ada sesuatu yang luar biasa sehingga paman dan orang-orang ini mengadakan perjalanan bersama.?"

Kakek itu tersenyum sesaat, tapi wajahnya kembali agak mendung.

"Kalau melihat dari gerak-gerikmu, aku yakin kau ini termasuk orang persilatan."

"Memang benar!"

"Jadi, mengapa kau tidak tahu apa artinya rombongan besar- besaran ini? apalagi dirimu ikut dalam iring-iringan bersama kami!"

"Saya memang tidak tahu Eyang.. saya hanya menurutkan langkah kaki ini saja, apalagi saya sama sekali tidak mengenal daerah ini, saya pikir bahwa inilah satu satu jalan menuju desa terdekat " sahut gadis itu Jujur.

"Sebenarnya apa yang terjadi Eyang?" tambahnya Kakek itu menghela nafas panjang. diperhatikannya wajah gadis bercaping tadi,

Gadis itu mengerti, segera ia lepas capingnya dan munculah seraut wajah yang cantik khas Desa Parahyangan.

Setelah melihat bahwa gadis itu berkata jujur kakek itu berkata. "Hm.. baiklah, tak ada salahnya kuceritakan padamu. menurutmu perkumpulan manakah saat ini yang paling berpengaruh?‖ Sikakek balik bertanya.

―Apakah Panji Telapak Perak?‖ dengan hati hati gadis itu berkata.

―Benar. Engkau benar sekali.. Anak manis..‖

―Apakah kalian mencari kematian?‖ terbelalak mata gadis itu...

―Tak ada pilihan bagi kami anak manis, jika kami menolak hadir nyawa keluarga kami, bakal melayang.‖

―Intinya, semua orang takut. ?‖

―Jika hanya aku, nyawa yang hanya selembar ini melayang toh tidak jadi masalah ketahuilah sebenarnya rombongan kami ini,

bukan dari satu perguruan atau perkumpu¬lan yang sama. Hanya saja, karena kami datang dengan tujuan yang sama, maka dalam perjalanan kami bergabung."

―Bergabung untuk apa?‖

―Berjuang menyelamatkan keluarga yang ditawan.‖ menjawab kakek itu...

Gadis itu mengangguk angguk mengerti,...

―Manusia memang berbeda beda sipat, ada yang memandang kematian seolah pergi kerumah, ada juga yang menganggap kematian seolah pergi ke neraka.‖

―Maksud eyang, apakah ada diantara iring iringan yang hendak bergabung dengan mereka?‖

―Kau memang pintar anak manis, bolehkah aku bertanya, kemanakah sebenarnya tujuanmu anak manis?‖

―Saya tak memiliki tujuan tertentu eyang, seperti yang tadi saya katakan...saya pergi kemanapun mengikuti langkah kaki ini, mengenai rencana mungkin ada,‖

―Kalau begitu, apakah rencanamu??‘‘

―Saya, ingin bertemu dengan sahabat saya eyang‖

―kalau begitu, ikutlah denganku barangkali disana engkau menemukannya, bagaimanapun juga semua orang persilatan telah diundang kesana.‖

―Baiklah...Siapakah Namamu Eyang?‖

―Aku biasa dipanggil Kyai jalak oleh teman-teman persilatan, haha aku lupa menanyakan siapakah namamu anak manis?‘‘

―Melati. ‖

*****

Lembah Kematian, sebuah lembah mati yang dikelilingi tebing- tebing tinggi nan terjal.....

Tempat itu terletak disebuah hutan rimba yang jarang dimasuki manusia., ditempat itu, tidaklah ada pohon lain kecuali, sebuah pohon mati sebesar tiga pelukan orang dewasa. sekelilingnya hanya rumput setinggi mata kaki.

Tempat yang jarang terinjak manusia itu kini bagaikan sebuah lapangan tempat berkumpulnya manusia, sekitar satu setengah jutaan manusia bertebaran disekeliling sebuah panggung besar disamping sebuah gua, sekeliling itu dijaga oleh beberapa ratus jiwa yang sepertinya prajurit dari Panji Telapak perak.

Dengan angkernya, mereka berdiri menenteng berbagai macam senjata. wajah mereka tertutup dengan sebuah topeng berwarna perak. dengan pakaian yang sama yakni. HITAM.

―Kita sampai‖ suara seorang kakek-kakek kepada orang yang berada disampingnya. ―Hemm nampaknya bakal ada pembantaian besar-besaran

Eyang,‖ jawab seorang gadis. wajah gadis itu tak nampak sebab ditutupi sebuah caping lebar. namun dilihat dari lekukan tubuhnya yang menggoda setiap insan lelaki, sepertinya gadis itu berwajah jelita.

―haha kau memang seorang gadis pintar, diberi tahu satu,

kau tahu tiga ‖

―Akh, Eyang....‖Tersipu Gadis itu....

―Mari, kita kesana ‖

Dengan beriringan keduanya melangkah ketengah lapangan dan menuju kebarak disebelah selatan., kedatangan mereka ternyata menjadi sebuah pusat perhatian,

―Selamat datang Kyai Jalak ‖ sapa seorang pendekar bercambang lebat.

―Bagaimana kabarmu Cambang beringin‖ Jawab seorang kakek yang ternyata adalah Pendekar burung Jalak.

―Siapakah Pendekar wanita yang bersamamu Kyai‖ Seorang pemuda tampan dengan jubah kelabu bertanya. didunia persilatan ia terkenal sebagai Pendekar Pedang Surya sedangkan nama aslinya adalah Waranggana.

―Namanya Melati, julukannya aku tak tahu ‖ Kyai jalak

menjawab.

Tak lama berselang Kyai Jalak terlibat obrolan ringan dengan berbagai orang pendekar. karena memang selain terkenal akan ilmu silatnya, ki Jalak juga terkenal akan keramahannya., sebenarnya Ki Jalak bukanlah orang asli tanah jawadwipa, melainkan dari sebuah pulau lain yang bernama pulau DEWATA.

Tak lama setelah rombongan Kijalak datang, munculah beberapa rombongan lain yang nampaknya akan menghadiri acara itu.....

Dilain tempat, disebuah istana didalam gua dilembah kematian tampaklah suatu pemandangan yang begitu mendebarkan dada juga membakar birahi dan membuat orang mengkirik karena ngeri.

Mengapakah demikian? Disebuah Ranjang yang mewah duduk bersandarlah seorang Lelaki paruh baya yang bertelanjang bulat, ia bersandar didada seorang gadis berusia kira kira sembilan belas tahun yang juga tanpa selembar benangpun.

Disamping kanan dan kirinya duduk beberapa gadis yang telanjang bulat, usia mereka sebaya. Mereka sibuk melayani lelaki paruh baya itu sambil tertawa jalang. Ada yang memainkan puting dada, Ada juga yang asyik menggosok gosok bukit kembarnya di paha atau betis ada yang menari sambil duduk diatas pangkal paha, ada yang sibuk menyuapi makan, juga ada perempuan yang sibuk menggosok gosok dadanya ditelapak kaki lelaki paruh baya itu.

Lelaki setengah baya itu berwajah cakap tanpa guratan guratan tua, hanya jenggotnya saja beberapa ada yang sudah memutih. Rambutnya berwarna Putih Keperakan diikat dengan kain putih yang menjuntai sampai punggungnya. diperutnya terdapat garis yang melingkar kemudian ke dada kanan dan kirinya lalu kearah tangannya yang memutih keperakan.

Disudut lain terdengar jeritan jeritan ngeri, jeritan kesakitan, ada juga jeritan ketakutan. Mengapakah? Ternyata disana sedang ada penyiksaan terhadap beberapa manusia. Dari yang paling ringan sampai yang paling berat atau kematian. Yang paling ringan ternyata adalah dirajam dengan cambuk besi yang membara.

Beberapa manusia sedang digantung diudara dalam keadaan polos, beberapa manusia yang merintih rintih bahkan menjerit ketika beberapa anggota tubuhnya dicacah ataupun dicincang hidup-hidup.

Kaisar Iblis memang orang yang kejam... menikmati jeritan- jeritan kematian adalah salah satu kesukaannya lalu,

bagaimana dengan gadis gadis itu? Pada awalnya merekapun

sama halnya ketakutan bahkan mungkin akan terkencing- kencing dicelana melihat kejadian itu, apalagi bila ia melihat kaum sejenisnya yang disiksa dengan memasukan pedang/gada ke kemaluannya.

Seperti kata pepatah, Bisa karena Biasa, begitulah yang terjadi mereka, karena terlalu sering disuguhi kejadian seperti itu, lambat laun hatinya terbina, maka dari itu, akhirnya mereka menganggap kekejian yang tak berperikemanusiaan itu adalah suatu pertunjukan yang monoton.

Entah salah apakah mereka, hingga mereka mengalami hal yang mengerikan seperti itu. Sedang asyik-asyiknya bersenang- senang dengan para dayangnya, lelaki setengah baya itu dikejutkan dengan kemunculan seorang kepercayaannya.

―Hamba menjumpai Yang Mulia Kaisar Iblis..‖ Seorang Pemuda yang memakai pakaian serba putih keperakan mensoja.

―Ada apakah Adiraja sehingga engkau sendiri yang harus menghadap.‖ Lelaki paruh baya yang dipanggil kaisar iblis menjawab.

―Datuk delapan penjuru telah hadir ‖

Kaisar Iblis mengerutkan kening, ―Bukankah itu salah satu siasat kita....‖....

―Memang,. Tapi,‖ Adiraja ragu-ragu. ―Teruskan !‖

―Saat ini si sinting dari Timur Ki Asmaradanu tak nampak batang hidungnya, bahkan Pasukan Telik Sandi tak dapat menemukan dia, ketika Sisinting dari Timur bertemu dengan seorang pemuda berjubah coklat dengan Perhiasan Kulit Rubah mereka kehilangan jejak disebuah bangunan kuno, tampaknya telah muncul seorang tokoh baru selain, yang aku ketahui.‖

―Hemm......, Pemudah berbaju coklat ‖ Desis Kaisar Iblis.

―Braaaakkkkk. ‖ Sebuah meja hancur berkeping keping dilanda

kemarahannya. perempuan-perempuan yang tadi bersenang- senang kini ketakutan, dengan sigap mereka membereskan patahan meja dan pergi keluar ruangan.

―Bagaimana dengan Ketua Perguruan Golongan Merdeka yang telah berani terang-terangan memusuhi kita. hemmm tadi kau

bilang, beberapa pendekar muda dengan jubah coklat, siapakah mereka? ‖

―Entahlah, yang pertama bernama Angkara, ciri cirinya ia memakai peralatan dari Kulit Kijang, ia selalu bersama temannya dari negri asing, yang kedua seorang yang bernama Huru hara ciri-cirinya ia memakai peralatan dari kulit srigala dengan temannya yang bernama Kerbau manggala, juga berpenampilan sama, hanya peralatannya terbuat dari kulit kerbau. yang ketiga dua orang perempuan memakai ciri-ciri dari kulit domba, lalu yang keempat bernama Amuk Samudra,ciri-cirinya ia memakai peralatan dari kulit kulit buaya, selama ini dia mengacaukan lautan, bajak laut diporak porandakan, mungkin hanya ia yang bekerja dilautan. yang kelima ia bernama Murka semesta, ia memakai peralatan dari kulit Ular, bahkan kabarnya, Sipengabar Langit juga berpakaian sama, namun ia memakai peralatan dari kulit harimau, lalu sekarang muncul lagi orang yang memakai peralata dari kulit Rase Mengenai Sepuluh Peruruan itu,

hamba telah membuat suatu kejutan bagi mereka ‖

―Hemmm,,,,, ceritakan rencanamu ‖

―Hamba menjadikan pihak mereka sebagai kambing hitam dengan pihak kerajaan, hamba yakin. ‖

Begitulah, mereka berbincang-bincang mengenai siasat yang dijalankan orang kepercayaan dari Kaisar Iblis....

Suara teriakan, bisikan, dan lainnya terdengar memekikan telinga siapapun yang mendengarnya, bila anda melihat dan mendengar satu juta jiwa berteriak apakah yang terjadi?.......

Kejadian Hari ini, adalah kejadian paling menggemparkan dalam dunia persilatan, bukan hanya dari tanah jawadwipa saja yang menghadiri kejadian ini, bahkan dari negri lainnya seperti Swarnadwipa, Malaya (Malaysia dan Singapura), Gujarat, Mesir, Tionggoan, Jepun dan beberapa negri lainnya.

Mereka berkumpul dan bergumul menjadi satu berdasarkan golongannya, Dibarak Selatan adalah tempat golongan Putih, Dibarak Utara adalah tempat para Golongan Hitam. dan ditengah tengah itu berkelompok dari Golongan Merdeka.

Diantara semua Golongan, Barak kaum golongan merdeka adalah yang paling sedikit lalu golongan hitam dan yang paling

besar adalah kaum dari Golongan Putih. memang pada masa itu adalah masa kejayaan dari golongan Putih, jika seandainya tidak ada kehebohan yang ditimbulkan Panji Telapak Perak, barangkali Golongan hitam tak ada yang berani memunculkan wajahnya.

―Selamat Siang saudara-saudaraku , terimakasih telah

menghadiri acara peresmian perkumpulan kami, kami Ucapkan Selamat Datang di Lembah kematian Tempat berdirinya perguruan Paling besar dijagat raya ‖

Gemuruh para hadirin sekalian mendengar ucapan yang begitu Jumawa dan Takabur....tiba-tiba...

―Ting...Tang...Teng.....Tong ‖

―..Jrek...Jeng...Dung...Dung ‖

Suara Tabuhan Musik melantun tinggi dan merdu dari dalam bilik gua. Sontak saja semua orang terdiam, suasana yang tadi bising kini berubah menjadi kuburan hanya Suara musik yang

semakin santer terdengar, iring iringan itu begitu indah, dengan diawali dengan kedatangan sekelompok gadis-gadis yang polos tanpa selembar benangpun yang menari Orang dari Golongan

Hitam dan Merdeka terbelalak kegirangan, bagaimanapun mereka adalah orang yang sama sekali tidak mengindahkan peraturan. sementara orang golongan putih segera memalingkan wajah karena malu hanya beberapa orang dari golongan muda

saja yang asyik

Setelah Gadis-gadis itu, muncul kemudian disusuli dengan kedatangan berbagai macam lelaki dengan baju hitam dan sarung tangan perak. diikuti dengan sebuah Tandu yang terbuat dari Emas, sementara dibelakang tandu itu Dayang dan Prajurit pilih tanding dari perkumpulan Panji Telapak perak berjalan mengiringi tandu yang terbuat dari emas itu.....

Iring iringan itu berhenti, Salah seorang Gadis cantik keluar dari tandu tanpa sehelai benangpun, ia kemudian memasukan tangannya kedalam tandu dan menuntun seorang lelaki paruh baya.

Semua Orang yang hadir menahan nafas, ingin menyaksikan seperti apakah gerangan sosok yang telah menggemparkan seluruh dunia persilatan bahkan negara negara didunia lainpun ikut terkena dampaknya,.... Kekejaman dan kesadisan mereka sangatlah luar biasa, mereka menghasut beberapa anggota perguruan-perguruan didunia untuk menghancurkan perguruannya.

Mereka yang datang dari negri lain adalah mereka yang datang untuk membawa murid murtad dari perguruan masing-masing, dan datang untuk menyatakan bergabung.

Lelaki setengah baya itu berwajah cakap tanpa guratan guratan tua, hanya jenggotnya saja beberapa ada yang sudah memutih. Rambutnya berwarna Putih Keperakan diikat dengan kain putih yang menjuntai sampai punggungnya. Pakaiannya serba perak dengan jubah perak.

Ia berjalan gagah menuju singgasananya, setelah duduk, musik berhenti, semua pengawalnya segera membuat barisan pelindung.

Setelah dihitung Anggota Murid Perkumpulan Panji Perak ternyata telah mencapai sekitar lima atau tujuh ribuan, entah darimana saja pasukannya itu.

Semua Hadirin terkesiap tak menyangka jika anggota Perkumpulan Panji Telapak Perak begitu besar jumlah anggotanya sampai-sampai melampaui jumlah anggota tiga atau empat perguruan besar ditanah Jawadwipa,

Adalah Pantas jika Perkumpulan Panji Telapak Perak Mengaku partai paling besar didunia. jika memang dilihat dari kwantitasnya. entahlah apabila itu dilihat dari kwalitasnya, hadirin sekalian belum melihat.

Tiba-tiba hadirin bergemuruh seruan kaget, tercengang atau pun desahan terdengar bersahut-sahutan.

Melihat itu Anggota Panji Telapak Perak segera berpaling kearah pusat perhatian, mereka pun mendesah terkejut mengapakah demikian? Dari Arah Timur melayanglah diudara beberapa sosok bayangan berwarna warni membentuk formasi sisik ikan.

Tepz Semuanya mendarat ringan dibumi, tampaknya mereka

adalah Tamu terakhir dalam pertemuan itu.

Yang menjadi kepala barisan ternyata adalah Seorang Pemuda belia dengan jubah coklat yang sudah menggemparkan dunia persilatan. hanya saja, hadirin sekalian banyak diantaranya belum pernah melihat orang yang memakai peralatan Kulit Rubah....

Hanya orang ‗tertentu‘saja yang mengetahuinya termasuk Melati dengan ketajaman matanya ia bisa melihat ‗kawan lamanya yang telah mengisi hatinya itu‘ ia bahagia sekaligus kecewa, mengapa sosok yang ia rindu-rindukan itu harus berjalan menuju barak kaum golongan merdeka.

Ki Jalak termasuk orang yang sudah berpengalaman dalam mengecap asam dan garam mengerti apa yang dirasakan melati.

―Itukah kawanmu itu?‖ tanyanya lirih, namun tak cukup lirih karena ada orang lain yang mendengar. diam-diam dia merasa cemburu. siapakah itu? tentu anda sekalian masih ingat

dengan sosok pemuda tampan dengan jubah kelabu. perkenalan singkatnya dengan melati telah menumbuhkan rasa nyaman dan bahagia, dialah orang yang bernama Waranggana. Waranggana bukan orang bodoh ia paham bahwa dirinya telah mencintai gadis cantik yang satu itu.

―Benar Eyang ‖

―Engkau masih harus bersyukur anakku, setidaknya ia masih dapat membedakan yang salah dan benar. mungkin suatu saat ia akan masuk kedalam golongan putih., bagaimanapun harus disyukuri ia tidak masuk kedalam golongan hitam‖ bijak ucapan ki Jalak.

Dilain pihak yang membuat orang-orang bertanya adalah bagaimana mungkin si sinting dari Timur Ki Asmaradanu ikut dalam barisan itu. Padahal mereka Tahu, Ki Asmaradanu bukanlah tipe orang yang suka bergaul dengan oranglain, adapun orang yang bergaul dengannya keesokan harinya pasti akan menjadi gila. mengenai kemampuannya, tak usah diragukan lagi. jika ia menjadi seorang dedengkot silat delapan penjuru mustahil ia hanya kaum keroco.

Dengan santai tanpa menghiraukan Tuan Rumah mereka berjalan menuju barak yang berada ditengah tak menunggu

waktu lama mereka sudah tiba dibarak... luar biasa, mereka

semua berjalan dengan santai.. tapi jarak dua kilo lebih bisa dengan mudah mereka capai.

Sesampainya disana, mereka menyebar lalu menyiapkan sebuah kursi untuk Pemuda berjubah coklat dengan peralatan dari kulit rubah.

Tentu saja, ulah mereka itu mendapat perhatian penuh dari jutaan pasang mata. Bagaimana seorang remaja diperlakukan begitu terhormat.

Mereka tahu kemampuan-kemampuan dari masing-masing orang itu. sembilan dari sepuluh mereka merasa jerih bila berhadapan bagi mereka. tapi saat ini, mereka melayani seorang remaja yang begitu masih belia, bukankah itu menjadi sebuah pertanyaan.

―Melati, tampaknya temanmu itu telah menjadi orang yang besar..‖ Ki Jalak berkata memecah keheranan hadirin.

―Maksud eyang?

―Kau tahu siapa orang yang melayani temanmu itu?‖ Melati menggeleng bagaimanapun ia baru saja keluar perguruan, masalah dunia persilatan ia masih buta sama sekali.

―Emch, Kau kenal pemuda itu rupanya Anak manis...‖ Suara merdu yang mendayu-dayu menghentikan obrolan Ki Jalak dan Melati.

Keduanya berpaling dilihatnya dua sosok perempuan cantik yang pertama berambut terurai sepanjang punggung. Matanya memandang tajam, usianya sudah paruh baya namun masih memiliki keindahan yang menarik, Perempuan itu mengenakan jubah tanpa lengan warna merah. Dadanya ditutup dengan selembar kain warna hijau muda. Namun masih tampak kencang dan menantang. dilihat dari ciri cirinya jelaslah ia salah satu

datuk ilmu silat yang dikenal dengan julukan ‗Dewi Pemanah Asmara‘ yang bernama asli Nyi Permata Dewi.

Sedangkan perempuan yang kedua memiliki seraut wajah yang agung. usianya lebih tua dari Nyi Permata dewi kira kira sudah mencapai enam-puluh tahunan. perempuan itu mengenakan baju warna hijau dan celananya juga warna hijau. Ikat pinggangnya dibalut kain beludru warna Hijau pula. Nampaknya warna hijau adalah warna kesukaan perempuan itu.

Di pinggang Perempuan itu terselip sebilah pedang bersarung hitam dengan gagang ukiran bentuk kepala Naga. dilihat dari ciri-cirinya dialah sosok yang bernama Nyai Dewi Renjani atau biasa dipanggil Bidadari Penakluk Naga.

―Haha... Kalian berdua perempuan-perempuan cantik dari kalangan tua, sepertinya juga tertarik dengan Pemuda itu‖ Kijalak jenaka menggoda Nyi Renjani dan Nyi Permata Dewi.

―Tua bangka awet muda, sepertinya maut masih menyayangimu..!‖ Nyi Permata Dewi berseloroh...

―Apa Dia Kekasihmu Anak manis?‖ Nyi Renjani menggoda Melati.

Melati memerah, ia tertunduk malu. Pada waktu itu memanglah ada hukum mengartikan bahwa diam itu berarti mengakui atau setuju.

Dibelakang mereka juga terdegar beberapa percakapan, percakapan mereka ternyata mengenai orang-orang yang menjadi tamu terakhir itu. bahasa mereka sangatlah beragam karena memang Kaum rimba hijau yang berkumpul saat itu, gabungan dari beberapa negri.

―Siapakah Pemuda Aneh itu kakang?‖ Seorang kakek-kakek berbaju putih dengan selendang hijau tersampir dipundaknya. dialah Kyai Ahmed Sofyan bin malik , seorang penduduk tanah jawa keturunan bangsa Arab.

―Entahlah Adi, tampaknya ia adalah pimpinan dari pemuda- pemudi berjubah coklat yang aneh itu.‖ seorang kakek-kakek berselendang putih dipundaknya menjawab pertanyaan adiknya sementara Kakek ini biasa dipanggil dengan Kyai

Abdul Sofyan Bin Malik, kakak dari Kyai Ahmed Sofyan.

―Apakah mungkin bila pemuda berusia tak lebih dari delapan belas tahun mampu mengendalikan sekawanan pemuda-pemudi yang begitu luar biasa. ?―

Seorang pendekar lain menyela. Pendekar itu memakai celana pangsi sebatas mata-kaki, sementara bagian atasnya polos, alias telanjang dada. dipinggangnya sebuah trisula pendek menggantung gagah. dialah si Trisula Bugil. seorang pendekar golongan putih dari negri Malaya.

―Aku juga tak mengerti, tapi tak ada yang mustahil didunia ini,. ‖

Jawab Kyai Abdul Sofyan Bin Malik tenang...

―akh, kalau tak salah dia adalah Pendekar seribu diri. ‖ Ucap

salah satu dari Pendekar didalam kerumunan. ―Akh, Jangan ngaco kamu, bukankah Pendekar Seribu Diri Identik dengan baju Biru dan Kuncir kudanya?‖

―Mungkin ia bosan dengan tampilan lama...‖

―Wa....wes....wosh ‖

Mereka bercakap-cakap dengan sekali-kali di timpali beberapa pendekar disekelilinginya, sehingga dibarak kaum golongan putih ribut degan desas-desus tak kunjung juntrungannya bak Suara tawon yang sedang pindah rumah. meski mereka bisik- bisik dengan lirih tapi bila dilakukan oleh beberapa ribu orang jelaslah itu merupakan suatu hal yang mustahil bila dibandingkan dengan keadaan seperti dikuburan.

Hal serupa terjadi dibarak golongan Hitam. mereka berbisik-bisik riuh rendah bersahut-sahutan,

Seorang kakek-kakek bermata cekung, dengan tulang pipi dan tulang rahang saling bertonjolan. Jubah Ungunya tak dikancingkan. dilehernya menggantung kepala tengkorak sebesar kepala bayi menambahkan keseramannya. juga besi yang melintang dilehernya lengkap dengan seutas rantai yang membelit kesebagian tubuhnya. Dialah Ki Sapta yang dikenal sebagai Iblis Pembunuh Raga. menurut kabar yang beredar dia adalah seorang tahanan kerajaan kresnapaksa,

Namun waktu berada didalam penjara ia bertemu dengan seorang sakti, sehingga ia dapat keluar dari penjara dengan membantai seluruh Pasukan keamanan Tahanan dalam Penjara. dia hanya menyisakan onggokan-onggokan daging yang berserakan sebagai bukti kekejamannya. maka dari sejak itu ia dipangggil dengan Iblis Pembunuh Raga.

―Cisss. Itukah Sosok Ketua dari sepuluh perguruan merdeka?

sungguh memalukan, mereka malah membungkuk-bungkuk dihadapan bocah bau kencur itu, Sungguh tak nyana orang- orang yang berani menentang Panji Telapak Perak hanyalah kumpulan bocah-bocah bau kencur‖ Dengus Iblis Pembunuh Raga kepada kakek-kakek yang sedang melotot menyaksikan Gadis-gadis cantik dari Rombongan Terakhir.

Kakek itu berwajah Kurus kering kerontang bagaikan jerangkong, tubuhnya lebih mirip kerangka daripada seorang manusia, diujung jari-jarinya mencuat kuku-kuku runcing warna kehitam-hitaman. dilihat dari ciri-ciri kukunya dialah Ki seta atau Iblis pemakan jantung.

―Emch daripada melihat bocah yang belum kelar nyusu lebih

baik kau lihat perempuan-perempuannya saja, kau lihat tubuh- tubuhnya yang aduhai itu, hahaa apalagi jantungnya sluuurrrppphh‖ Iblis Pemakan jantung ngiler, tetesan air ludahnya bercucuran membasahi baju rombengnya.

Dilain pihak ada dua orang sosok manusia yang memandang Tamu terakhir dengan kebencian. pula terdengar mereka bercakap-cakap.

―Guru, itulah Pemuda yang telah membunuh kakang Gandapura, dan melukaiku dengan Ajian Birahi Kematian‖ Seorang wanita berwajah pucat kepada seorang lelaki paruh baya yang berwajah sangar dihiasi kumis yang melintang, dengan ciri khasnya yaitu rambut berwarna merah yang tak lain si Iblis langit selatan adanya.

―Gerrr. ‖ Ia menggeram. orang yang berada didekatnya

memperhatikan iblis Langit Selatan dengan heran...

Lalu, bagaimana dengan Golongan Merdeka? ya, tentu saja mereka gembira, bagi mereka menjadi pusat perhatian dalam tatapan kagum dan segan adalah hal yang langka. adalah suatu keajaiban bila mereka masih hidup jika memiliki ilmu yang pas- pasan. sebab Golongan hitam dan putih memusuhi mereka lalu

Dimanakah mereka bisa berpijak? padahal jumlah mereka tidaklah seperempat dari tiap golongan putih maupun hitam. Mereka segera memasang gaya sok jagoan, ada yang tertawa terbahak bahak.... juga ada yang sok acuh kini hebohlah

seluruh barak.. baik dari golongan putih, merdeka hitam juga beberapa prajurit PANJI Telapak perak pada berbisik-bisik. Tapi, ada satu hal yang perlu diperhitungkan yakni semua hadirin, bahkan beberapa petinggi dari Panji Telapak perak baru pertama kalinya melihat sosok-sosok dari para penggetar langit dan bumi persilatan khususnya bumi pertiwi tanah Jawa.

Mau tak mau mereka mengkaji ulang pikiran-pikiran mereka yang menyatakan bahwa dalang dari mereka adalah kaum tua. Para pemuda maupun pemudi melotot menyaksikan kehadiran Tamu terakhir dengan Tajam. suara Suitan, Rayuan, sindiran, ajakan maupun yang lainnya bersahut-sahutan memecah kegaduhan yang ada. ditambah jeritan-jeritan histeris gadis- gadis muda, bagaimanapun Ksatria Satwa Khususnya adalah sosok-sosok pemuda pemudi yang memiliki kelebihan dalam fisik.

Wanita mana yang tak histeris bila menyaksikan Si Ular bermata seribu? apalagi sekarang harus menyaksikan beberapa pemuda tampan yang berpenampilan sama?

Gilakah dunia? apakah memang didunia ini harus tercipta orang yang dapat menggegerkan Dunia hanya bermodalkan tampang? mau tak mau hari ini harus terjadi juga.

―Oh keindahan kau datang memberi sejuta kenangan meninggalkan segala Penderitaan‖ ―Khiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa        ‖ Jeritan melengking

menembus langit seakan ingin mengoyak-ngoyak bumi dari arah panggung. ternyata yang berteriak adalah pembawa Acara yang tadi mempersilahkan hadirin.

Semua hadirin terkejut, dari jumlah manusia hampir mencapai dua juta itu serempak duduk bersila dan mengerahkan tenaga dalam , hanya beberapa orang saja yang tak terpengaruh dengan teriakan itu, termasuk rombongan dari Tamu terakhir yakni Aram widiawan dan Kawan-kawan.

―Tampaknya mereka tak lagi dapat bersabar, ‖ Berkata

Seorang wanita muda dengan tahi lalat didagunya, diantara semuanya mungkin dialah yang paling seronok pakaiannya. bagaimana tidak? dengan percaya dirinya Ia memakai jubah tanpa pakaian lagi didalamnya, jubah kancing kesatu dan keduanya tidak dikancingkan, sehingga tonjolan didadanya mengintip malu malu. jubahnya lumayan panjang hingga menutupi lututnya, tapi gilanya jubahnya itu terdapat belahan sampai lima jari dari pangkal paha. dia bernama kenanga ketua dari partai kupu-kupu malam.

―Haha..... mungkin kau benar sayang..‖ jawab seorang pemuda tampan berbaju merah darah dengan kipas ditangannya, dia bernama Eka Purnama, ketua dari partai Naga Darah Biru‖ Ucapan mereka terputus karena tiba tiba mereka mendengar logat gaya bicara yang mereka kenal.

―Selamat Tinggal, Semoga Arwahmu dialam baka bahagia menjadi darah Pertama dilembah kematian ini‖ Terdengar Gumaman dari bibir Seorang pemuda yang sedari tadi memejamkan mata. dilehernya tersampir bulu rubah yang masih utuh, sekilas bulu rubah itu seakan rubah asli yang sedang melilit dilehernya. Bulu rubah itu, ia dapatkan dari Anak buahnya yang bernama Rival ketua dari Partai Harimau Niaga. Sehari sebelum memulai berangkat ke Lembah Kematian.

Teman-temannya yang sedari tadi diam terheran-heran apakah yang ia maksudkan, namun kebingungan mereka tak lama karena mereka dibuat mengerti juga.

―Aaaakkkhhhhh‖ Jeritan melengking menyayat dari barak Golongan hitam. semua Orang terkejut, ketika berpaling mereka melihat pemandangan yang paling mengerikan. bagaimana tidak?

Sesosok tubuh mungkin perempuan jika dilihat dari lekukan tubuhnya sedang bermandi darah dari tiga belas lubangnya. (mata, hidung, telinga, puting susu, mulut, pusar, kemaluan, anus dan pori-pori)tubuhnya mengeluarkan darah bagaikan air mancur, sebagian orang meski menyingkir tapi masih ada yang terkena percikan darah itu.

Sungguh kematian yang menggenaskan. hebatnya sosok perempuan itu, meski kesakitan atau merenggang nyawa tapi tak setitikpun berpindah atau berubah dari posisinya.

Siapakah sosok perempuan itu? tentu anda sekalian masih ingat dengan Sosok perempuan yang bernama Cintamani bukan?

Kala itu, Cintamani sedang bisik-bisik dengan Iblis Langit Selatan. Namun mendadak cintamani berdiri terbawa reaksi dari aliran darahnya. yang terheran-heran tentu adalah Iblis Langit sendiri.

Ketika ia berdiri itu, darah tiba-tiba menggumpal ditenggorokannya, Cintamani Gugup cepat ia salurkan tenaga dalamnya, kali ini ia benar-benar mati kutu, Sebab tenaga dalamnya bagaikan melemparkan batu ditengah samudra.