Pendekar seribu diri Jilid 04

Jilid 04

Sama sekali Ninja itu tidak menyangka gerak tubuh Pemuda itu bisa sedemikian gesit dan cepat, ia benar-benar terkejut. Tapi ilmu Ninjutsu Ninja ini memang juga tidak lemah, pengalaman tempurnya juga luas, dalam keadaan terkejut ia tidak menjadi gugup.

Sebaliknya ia malah mendesak maju sambil mengegos ke samping, dengan demikian ia sempat memutar ke belakang Pemuda berjubah coklat dan

tanpa menoleh lagi sebelah tangannya terus menabok wajah pemuda berjubah coklat. Serangan ini sangat cepat, gayanya juga indah, pemuda berjubah coklat terkejut serangan dadakannya dapat dielakannya dengan mudah bahkan dapat membalas menyerang, cepat ia merunduk kedua tangannya memantek bumi kaki kanannya, ditendangkan kebelakang diikuti kaki kiri sambil jungkir belakang srettt tumit pemuda berjubah coklat menendang dagu si Ninja benar benar serangan balasan yang tak kalah hebat. Ninja itu terkejut dalam posisi demikian lawan masih memberikan serangan balasan. Cepat kedua kaki nya memancal, ia berjumpalitan di udara, lalu turun beberapa depa di sebelah sana.

Katanya dengan tertawa, "Eh,tunggu, tunggu dulu!" "Tunggu apa?" terpaksa si pemuda berjubah coklat

menghentikan serangannya. "sampai berapa jurus kita bertarung untuk menentukan kemenangan?" tanya Ninja itu. "duapuluh jurus cukup," jengek pemuda berjubah coklat.

"cukup, malah cukup untuk membunuhmu hiaaaattttttt" tanpa memberi aba-aba Ninja itu menyerang pemuda berjubah coklat. Dengan menyatukan kedua telapak tangannya dan menggerakan beberapa kali diiringi mulutnya yang komat kamit Ninja itu berteriak jurus pertama ―Nara Ryuu :Rouha‖ (jurus ninja aliran Nara :ledakan serigala) tangan kirinya menghentak kedepan sinar putih bergulung gulung meluncur kemuka duaaaarrrrrrr‖ untung sebelumnya pemuda berjubah coklat melompat keudara, ketika ia menengok ia bergidik melihat tempatnya tadi ia berdiri berlubang sebesar kubangan kerbau.

Belum sempat pemuda berjubah coklat mendarat tiba tiba Ninja itu berteriak Jurus kedua ―Nara Ryuu :Rouketsu‖( jurus ninja aliran Nara : serangan serigala) wussshhh sinar putih keabu- abuan meluncur, cepat pemuda berjubah coklat itu memapak dengan jurus Rubah keluar sarang duaaaarrrrrrrr dua buah tenaga sakti beradu diudara, binatang binatang berterbangan mencari selamat, pohon pohon bertumbangan terhempas angin. Terlihatlah pemuda berjubah coklat terbang terbawa hempasan tenaga sakti, segera ia menggunakan ilmu pemberat yang bernama paku bumi, sementara ninja tadi terpental hingga dua tombak, tapi ia tidak gentar cepat ia kembali menyerang ‖Nara Ryuu: ninpo Raijuukou (jurus ninja aliran Nara :Raungan monster petir) breetttttt kilatan petir menyambar pemuda

berjubah coklat, pemuda berjubah coklat gusar segera ia menyerang ―Rubah melumat mangsa‖teriaknya lantang duarrrrr kembali terdengar dentuman tenaga sakti yang beradu.

Jurus demi jurus telah mereka keluarkan, memasuki jurus ke 18 pemuda berjubah coklat menyatukan kedua telapaknya didepan dada dengan kuda kuda kaki kanan didepan ditekuk di lutut dan bersanggah di kaki kiri. Mulutnya berkumat kamit merapal

mantra ...‖Hiaaaaattt... Rubah menyembah mayat‖     teriaknya

melengking seraya menyentakan tangannya kedepan selarik sinar biru keluar menyentak kemuka menerjang sesosok bayangan hitam yang sedang bersiap siap ―Jurus ke 19 Nara Ryuu: ninpo kamaitachi‖( jurus ninja aliran Nara: sabit musang angin). Blarrrr kembali terdengar dentuman menggelegar.

Tampaklah si Ninja yang ternyata Ninja Nara mencelat karena tenaga dalamnya kalah tinggi.

"Berhenti, jangan berkelahi lagi," kata pemuda berjubah coklat dengan tertawa. ―mengapa? Kau mengaku kalah?‖ Ninja Nara itu mendengus. "Sekali kau keluarkan tenaga lagi segera kau akan mati dengan tujuh lubang (hidung, mata, telinga, dan mulut

= tujuh lubang) keluar darah. Nah, kuberitahukan dengan maksud baik, janganlah kau tidak percaya lagi."

Saking gusarnya Ninja Nara berbalik tertawa, katanya, "Kau setan cilik ini membual seperti setan, kau kira dapat menggertak diriku. Kita belum selesai masih ada satu jurus"

"Menggertak kau? Tidak, sama sekali aku tidak main gertak, tapi bicara sungguh-sungguh. Apakah kau tahu di dunia persilatan ada semacam ilmu gaib yang disebut ' Rubah Menyembah Mayat beracun '. Artinya, barang siapa terkena pukulan ini, kecuali berdiri tak bergerak, bila bergerak, maka tidak lebih jauh bergerak orangnya pasti akan roboh dan tamat riwayatnya." "Omong kosong, di dunia ini mana ada ilmu pukulan begitu," jengek si Ninja Nara. Walaupun di mulut ia tidak percaya, tapi diam-diam ia pun merasa seram, kaki terasa lemas dan tidak berani bergerak lagi. Sambil menatap orang dengan tajam, Pemuda berjubah coklat itu berkata lirih, "Ilmu pukulanku ini sudah ratusan tahun kehilangan turunan, apalagi kau dari negri asing dengan sendirinya kau tidak tahu, dan tentu juga tidak percaya. Namun tanpa sengaja kudapatkan ajaran orang sakti dan berhasil meyakinkan ilmu pukulan ini, maka "

"Kau telah berhasil memukul aku satu kali, begitu bukan?" Ninja Nara dengan mendengus. Walaupun ia sengaja berlagak tak mengacuhkan ucapan Pemuda berjubah coklat itu tadi, tapi dalam keadaan demikian, siapa pun pasti waswas dan tidak berani sembarangan bergerak.

"Hah, sekali ini ucapanmu memang tepat," demikian Pemuda berjubah coklat itu menanggapi, "cuma aku hanya memukul satu kali, bahkan memukul

dengan perlahan. Asalkan kau mau mengaku kalah padaku, maka dapatlah kutolongmu."

"Jika kau kira dengan beberapa patah katamu ini dapat menggertak diriku, maka keliru besar dan salah alamat," jengek si Ninja Nara "O, jadi kau tidak percaya?" Pemuda berjubah coklat itu menegas. "Baik, sekarang kau boleh meraba tulang igamu yang nomor tiga di sebelah kiri, coba apakah di situ terasa kemeng atau tidak? Itulah gejalanya kalau terkena pukulan berbisa 'Rubah Menyembah Mayat beracun' yang kukatakan tadi."

"Hm " kembali Ninja nara mendengus, tanpa kuasa tangannya

terus meraba tulang iga yang disebut Pemuda berjubah coklat, tanpa terasa sorot matanya lantas berubah juga.

Pemuda berjubah coklat tampak menunduk memandang bayangan sendiri yang membayang di sebelah kaki , katanya, "Bagaimana, terasa sakit dan kemeng bukan?"

Walaupun jarinya rada gemetar, tapi di mulut Ninja Nara itu tetap berteriak, "Sudah tentu sakit, setiap orang pasti mudah merasakan sakit di bagian ini."

"Tapi itu bukan rasa sakit biasa melainkan rasa sakit khusus, rasanya seperti tertusuk jarum, bagai terbakar, sakit bercampur panas, betul tidak?" sembari bicara sorot mata Pemuda berjubah coklat beralih ke muka lawannya, lalu menyambung pula dengan perlahan, "Sekarang coba raba lagi bukan, bukan di situ. Ya,

ke kiri sedikit, ya di situ "

Begitulah tanpa terasa jari Ninja Nara bergerak mengikuti komando Pemuda berjubah coklat, mendadak Pemuda ituberseru, "Ya, betul di situ

tempatnya, tekan jarimu sekuatnya!"

Benar juga, tanpa terasa jari pemuda baju putih menekan bagian tubuh sendiri dengan kuat. Tapi segera tubuhnya terasa kaku kesemutan, "bluk", ia terguling dan tak dapat bergerak lagi. "Hahaha!" Pemuda berjubah coklat tertawa gembira, "betapa pun cerdikmu akhirnya kena kukerjai juga. Nah, apakah kau tahu cara bagaimana kau tertipu olehku?" Walaupun tak dapat bergerak, tapi mata Pemuda berjubah coklat melotot dengan geregetan, matanya merah membara, tapi mulut sukar berucap.

"Nah, dengarkan, di dunia ini pada hakikatnya tidak ada pukulan Rubah menyembah mayat beracun segala, apalagi menguasai ilmu demikian itu. Namun di dunia ini memang benar ada semacam ilmu gaib yang disebut 'Rubah menipu mangsa' dengan ilmu menutuk simpul darah memotong nadi Sebuah ilmu pertabiban sebagai medianya aku dapat mengalahkanmu jadi, selamat tinggal" dengan santainya Pemuda berjubah coklat itu duduk minum menonton Ninja nara yang tergeletak disampingnya, ―hahaha sekarang aku ingin melihat wajahmu, 

lagipula aku tahu wajahmu waktu kau mengintipku di pasar, hehehe..‖ ia tertawa sambil berjalan santai menuju Si Ninja Nara. Sorot mata si Ninja Nara benar benar ketakutan, jika ada lobang ingin sekali ia mengumpat disana.

Srett Topengnya terbuka benarlah apa yang diduganya,

ternyata wajah dibalik topeng itu seraut wajah tampan, matanya sipit, kulitnya putih bersih, rambutnya sepundak. Wajahnya pucat pias, ia benar benar ketakutan, ia tak takut mati. Tapi ia takut Pemuda berjubah coklat itu menyuruh dia untuk menentang hati nuraninya. Sett tuk. ―Ninja Nara tak menduga Pemuda

berjubah coklat itu malah membebaskannya dengan senyuman tulus.

―sekarang apa permintaan mu!, apapun yang kau minta aku akan lakukan‖ Ninja Nara Menunduk. ―Siapa Namamu?‖ Pemuda berjubah coklat malah bertanya. Ninja Nara Melengak tak mengira pertanyaan Pemuda berjubah coklat. Dengan gelagapan ia menjawab ―Ryu, Ryusuke‖ ―kau mau jadi sahabat setiaku, menyongsong masa depan yang gemilang dalam kedamaian ‖Ninja Nara bertambah melongo lagi. lagi ia mendengar ucapan diplomatis dari Pemuda berjubah coklat. Ditatapnya wajah Pemuda berjubah coklat itu. Sorot mata yang hangat dan bersahabat cepat ia melengos, ia tak sanggup lagi menatap wajah itu. ―baik, tuan aku mau‖ akhirnya ia menjawab. Mendengar itu Pemuda berjubah coklat tersenyum, senyum

yang tak dapat dipastikan benar benar misterius. ―Ryu kau dengar apa yang kuminta!‖ Ryusuke mengangguk.‖kau meminta aku tuk menjadi sahabatmu‖ Pemuda berjubah coklat tersenyum puas ‖kalau begitu rubahlah panggilanmu itu, aku tak suka.

Namaku saat ini adalah Angkara. ‖

―baiklah, Angkara tadi sebelum bertarung kita telah melakukan perjanjian. Aku tak suka mengingkari perkataanku. Ucapan lelaki sejati ibarat anak panah yang di lepaskan dari busurnya. Ucapan adalah motivasi terkuat dalam hidupku‖ Ryusuke berkata semangat. Angkara merenung beberapa saat. Angkara tau lelaki sejati semacam Ryusuke. Jika tidak diluluskan itu merupakan penghinaan bagi dirinya.

―baiklah, pertama aku ingin engkau berhenti berbuat mempertaruhkan nyawa hanya demi uang, kau tahu apa sebabnya?‖ ucap Angkara. Timpalnya lagi ―Mari kita tinggalkan tempat ini kita bercakap cakap sambil jalan saja‖ Angkara

membangunkan ryusuke sambil menuntun kudanya. Merekapun berjalan bersama sama sambil bercakap-cakap. Ryusuke masih diam, wajahnya merah karena malu

―maafkan aku Angkara aku memang benar-benar

membutuhkan uang itu,. ‖ desis Ryusuke. ―Uang merupakan

hamba yang sangat baik, tetapi tuan yang sangat buruk.‖(P.T. Barnum,) Angkara berujar. Ryusuke diam tak berkomentar. ―Aku tahu kau sedang ada masalah, katakanlah barangkali aku bisa membantumu.‖Angkara berkata dengan spontan. Ryusuke mendelong bagaimana orang disampingnya bisa berkata demikian. Ia mempertimbangkan haruskah ia memberitahukan. Ditengah ia berpikir dirinya ditambah keheranan lagi, sebab Angkara berkata lagi ―Aku tahu kau sedang berpikir haruskah engkau memberitahukan ku atau tidak, perlu kau camkan baik baik, sahabat selalu ada disaat engkau membutuhkan, teman bisa saja silih berganti tapi sahabat tetap sejati.‖

―Huffzz‖ Ryusuke menghela nafas percuma saja ia bertindak rahasia, orang yang ada disampingnya benar lain dari yang lain, tindakannya benar benar tak bisa diduga orang ―baiklah, percuma saja aku menyembunyikannya. Kau memang lain dari yang lain, sebaiknya aku ceritakan dari awal. Kau suka mendengarkan?‖ Angkara mengangguk

―Aku datang dari Desa Kouraningun negri matahari terbit (Jepang), Di Negri kami ada lima aliran Ninja terbesar yang paling disegani. yaitu Nara, emerarudo, Iga, Okazaki, dan Fuurai, Aku termasuk Aliran Ninja Nara, disana Aku memiliki seorang sahabat, namanya Kyoshiro, ia berencana meninggalkan kouraningun ia ingin melepas statusnya sebagai seorang Ninja, tidaklah mudah bagi seorang ninja untuk meninggalkan kelompoknya menurut peraturan kami, Ninja yang ingin melepas statusnya, akan dikejar sampai kemanapun hingga ia mati.. tapi,. aku tidak rela kehilangan dia, karena

Kyoshiro adalah sahabatku yang paling berharga diam diam

aku membawa adikku serta untuk membantuku menyelamatkan Kyoshiro, beberapa purnama silam ada kabar bahwa ia pergi ketanah ini. Maka kamipun bergegas kemari. ― Ryusuke mengambil nafas sebentar lalu melanjutkan. ―tapi tanah ini sungguh luas, meskipun aku seorang mata mata yang cukup handal, tapi kemanakah aku harus mencari?. Maka dari itu aku memerlukan tenaga bantuan, tujuh hari yang lalu aku bertemu dengan seorang wanita, ia mengaku bahwa ia seorang pemimpin telik sandi., akupun meminta bantuan darinya tapi, ia mengajukan syarat dimuka ia meminta uang seratus keping

perak sebagai imbalan. Maka dari itu ‖

―kau mengumpulkan uang. sementara adikmu kau suruh untuk

mengawasi pergerakan orang yang diberi tugas untuk membunuh temanmu itu ketika kau dipasar tadi, melihatku

menghambur hamburkan uang kepada pedagang kau berniat merampoku kau lebih suka merampoku meski resikonya lebih

tinggi daripada merampok pedagang karena kau tak ingin menyusahkan orang lemah benar bukan? ― Angkara menebak

lanjutan dari penuturan Ryusuke.

Rysuke tersenyum kini ia telah terbiasa dengan watak orang yang berada disampingnya. ―hemmmzz kau memang lain

dari yang lain, kau sudah mendapatkan gelar? ‖ Angkara

menggeleng ‖belum‖ jawabnya.

―boleh aku memberikan gelar padamu? Pendekar Kijang

berbaju coklat bagaimana menurutmu?‖ Ryusuke

mengajukan usul. Angkara merenung ia tersenyum dan

menjawab ―Boleh, .. . . . Burung...elang !‖ Angkara menatap

langit... Koak.... Koaakkkk,,,. benarlah apayang

dikatannya terlihatlah seekor burung elang berputaran diudara

dan menukik menuju ketempat mereka berjalan Teppp Ia

hinggap dipundak Ryusuke burung elang itu lumayan besar,

ada kain berwarna merah yang melingkar dilehernya membentuk segitiga. Dikakinya terlihatlah sebuah tabung bambu sebesar ibu jari. ―Gawat. Yoninshu sudah bergerak, kita harus bergegas. ‖teriak Ryusuke dengan tegang

Angkara tetap tenang ia bertanya ‖Surat dari kawanmu?,‖

―benar..........!, sebaiknya kita lari..‖ dengan mengerahkan Ilmu peringan tubuh Ryusuke melesat kemuka kemudian diikuti oleh Angkara. mereka melesat bagaikan sebuah bayangan.....

sampai akhirnya mereka sampai diluar sebuah desa, dan berjalan seperti orang normal. ―Ryusuke sebaiknya pakaianmu kau ganti, dengan pakaian seperti itu kau terlalu mencolok.‖Angkara mengusulkan. Ryusuke sungguh mendongkol ia balas menjawab ―memangnya penampilanmu itu tak mencolok?.....‖ ―hahaha tapi lebih baik darimu bukan, kau

membawa pakaian orang normal. ‖Angkara tambah

mengolok...‖gerr....emang kau pikir aku orang gila , pakaian

gantiku ku jual, kau punya lebih‖ Ryusuke uring uringan ―nih,,,,....


Didepan sebuah kedai yang cukup ramai terlihatlah dua pemuda sebaya dengan penampilan sama. Yang membedakan mereka cuman wajah dan matanya orang pertama berwajah tampan berkulit kuning matanya bersinar terang, dan yang kedua berwajah tampan berkulit putih matanya sipit, mereka adalah Angkara dan Ryusuke yang baru saja tiba disana.

Dikedai itu tidaklah terjadi hal hal yang menarik, tetapi ketika mereka keluar dari kedai Angkara tiba tiba melesat kemuka, membuat Ryusuke keheranan tapi, tak lama kemudian ia ikut

melesat mengejar.

Disebuah hutan yang lebat dan rimbun itu terjadilah suatu kejar kejaran. Kelihatan lah pemuda berjubah coklat ditengah yang tak lain adalah Angkara mengejar lima oran sosok hitam dimuka , Tapi tiba tiba lima sosok berbaju hitam itu berhenti.

Yang tentu saja membuat ia kaget. Cepat ia meloncat ke sebuah dahan dipohon dan nangkring disana. Terdengar sebuah bentakan keras menggelegar ―Kau pikir bisa kabur dari kami Kyoshiro...matilah kau.‖ salah seorang yang memegang Kusarigama (Arit berantai) setelah memutar dua kali cepat ia membeset kebawah.....

―Tunggu ‖ Tiba tiba terdengar suara menggelegar dari

belakang.

Tahu tahu dibelakang lima sosok ninja tersebut muncul seorang pemuda berjubah coklat lainnya yang tak lain adalah Ryusuke.

―Heh, Apa kau juga mau ikut berkhiatan Ryusuke? Cepat minggir,. ‖ bentak seorang ninja yang memegang Katana

dengan kedua tangannya.

―sudahlah,, Ryusuke engkau pergilah aku tahu niat baikmu itu,

tapi ini tetap peraturan meski aku bukan seorang ninja lagi .

aku percaya, sampai sekarangpun tanganmu tetap seakrab dulu, seperti bunga teratai dan bunga sawi‖ Kyoshiro tersenyum.

Pedih hati hanji,... ― Duaaarrrrr. tiba tiba sebuah bom peledak

meledak‖ debu mengepul. ternyata salah seorang dari Ninja

yang berpakaian hitam melemparkan sebuah bom peledak. Itulah yang disebut dengan Kajutsu. (Tekhnik tentang bahan peledak dan senjata api)

Setelah debu menghilang kelihatanlah hanya sebuah pedang katana tergeletak ditanah ternyata Kyoshiro telah jatuh ke

jurang...

―Kyoshirroooooooo............‖teriak Ryusuke menyayat. kalian

Yoninshu jahanam hiaaattttt Ryusuke mencabut ktana di

punggungnya dengan kedua tangannya, lalu bergerak menyabet bret trang Ninja Yoninshu menangkis,,.. dengan kalap kembali ia menyerang, hiaaaatttt trang trang , ―Manusia tak tahu diri,

hiaaattttt‖ Ninja yang lain menyerang, sebentar saja terjadi pertarungan yang tidak seimbang, lima lawan satu.

―Jika dibiarkan saja, Ryusuke pasti mati., ...‖ hemmmm .. Angkara bergumam...

―huh...Keroyokan... Ryusuke serahkan dua orang pengecut yang memegang arit berantai, dan orang yang memakai pedang pandak disebelahnya‖ Angkara melengking dan menerjang.....

Ryusuke tak menjawab, ia terus mencecar ninja yang menyerangnya.

―Huh...dasar pengetahuan dangkal. jaga katana ini‖teriak ninja

yang memegang katana yang dianggap pedang pandak oleh Angkara. Ia anggap remeh Angkara. Karena bagainapun Angkara masih belia. ―Aku terima berikut rentenya, srett tep...

sungguh luar biasa katana yang sedang disabetkan bisa ditangkap oleh jari, dengan menjepit katana dengan telunjuk dadan ibu jarinya, angkara mengerahkan Aji halilintar Perobek baja, srrttttt bagai terkena setrum saja, Ninja itu gemetar ia

kaget benar pedang yang ia pegang bagai listrik ribuan volt yang menyerang dirinya.

Sebagai ninja yang sudah berpengalaman dalam membunuh, apalagi kelompok yoninshu merupakan murid murid utama dari aliran Nara desa Kouraningun. Mendapat serangan seperti itu tidak membuatnya gelagapan cepat ia lepaskan katananya dan bersalto belakang duakali.

Melihat kejadian itu, Ninja yang memegang kusarigama menganggap hanya sebuah kebetulan saja, dengan sebat ia

memutar kusarigamanya sebanayk empat putaran dan menyabetkan kemuka kearah leher.

―Putus lehermu, Putus nyawamu‖teriak Ninja itu.

―Leher kawanmu, putus nyawanya‖ balas Angkara sambil merunduk dan mengait rantai kusarigama itu, Crassss brett.....Glutuk...Sebuah kepala jatuh menggelinding, darah mengguyur bumi, Tanpa jeritan tanpa keluhan, benar benar sadis. Ninja yang memegang Kusarigama terkejut melihat

kawannya terpenggal kepalanya. Ia tak menyangka kawannya akan ikut kearena pertarungan. Rupanya Ninja yang memegang katana masih penasaran ia dapat dipecundangi dengan mudah...

dengan sebat ia menyerang Angkara., ia juga tahu temannya menyerang Angkara, tapi tak pernah terlintas dari bayangannya bahwa Angkara akan menggunakan Senjata temannya untuk membunuh dirinya. Ketika ia sadar, ia sudah terlambat kepalanya sudah lepas dari lehernya....

―haha sekarag giliranmu,‖ Angkara tertawa dan mendesak

lawannya.

Sementara Ryusuke..terus terdesak. melihat Angkara dapat

membunuh salah satu lawannya semangatnya terbakar. segera

ia melipatkan serangannya

―PENGECUT PENGECUT tukang keroyokan.. Kak, serahkan dua Orang kepada kami. ‖tiba tiba terdengar teriakan

melengking halus dan merdu, munculah dua sosok bayangan perempuan cantik, dan langsung terjun kearena.

―Yumi, Hai. Ambilah, Peminpinnya aku yang pegang.‖ Teriak

Ryusuke dengan girang.

Sosok gadis yang langsing dibalut dengan kain hitam tanpa tutup kepala langsung menyerang seorang yang memegang kendo. Di jepun Seorang sinobi atau ninja perempuan biasa dipanggil dengan kunoichi.

Bret. sebuah senjata rahasia berbentuk bintang dilemparkan

Yumi., atau lebih dikenal dengan shuriken Trang trang orang

yang memegang kendo menangkis, kemudian mereka terlibat pertempuran.

Sementara itu...perempuan yang datang bersama yumi langsung melemparkan pedangnya seraya berteriak ―Pedang pemburu nyawa‖ melihat serangan Ninja yang diserang cepat membalas dengan sebuah ilmu tangan kosong yang disebut dengan

taijutsu. ―Harimau menerkam sembunyi‖ teriaknya lantang brett.....duarrrr nyata sekali kepandaian wanita yang baru

datang itu memiliki ilmu yang hebat.terbukti dengan sekali sentakan pedang yang dilemparnya berbelok dan menyabet leher.. untunglah Ninja itu masih dapat berkelit dengan memukulkan tangannya pada batu dan bersalto diudara.

Daripada itu Angkara yang melihat kedatangan dua orang gadis cantik tak mau menyiakan waktu lagi dengan sebat ia meningkatkan kecepatan tubuhnya dan menyerang secepat bayangan. Tahu tahu Angkara telah berada di belakangnya, dan Jrushhhhhhhh katana milik Ninja yang telah mati menghujam di jantungnya. Tak ada suara keluhan, tak ada suara jeritan yang ada hanya suara bedebum jatuh tubuh dan klontrangan Kusarigama. Hakikatnya ia tak diberi kesempatan untuk mengelak bahkan menjeritpun tak sempat.

Lalu, ia duduk dibatu memperhatikan dua orang gadis sedang bertarung ia berpaling kearah lain dilihatnya ryusuke sedang

menuju akhir pertarungan, nyata sekali kepandaian Ryusuke lebih tinggi dari ninja lawannya. Dengan lantang ryusuke berteriak.

―Matilah kau...., ‖ Srinngggg craasss Aaaaaaaakkhhhhh jeritan

menyayat hati berkumandang dipinggir jurang sebuah hutan. Bagian dalam tubuh Ninja itu berhamburan keluar, darah berpancur laksana sebuah air terjun, usus ususny membredel keluar, benar benar kematian yang mengerikan. Ryusuke menghela nafas ia berpaling melihat pertarungan adiknya, lalu orang yang bersama adiknya ketika ia mencari pertarungan Angkara ia terkejut melihat dua mayat bergelimpangan. Sementara Angkara entah kemana. Ia benar benar kaget, bahkan ia tak tahu kapan pemuda itu membunuh lawannya.

Diliarkannya pandangan keseliling tempat itu, tak jauh dari dirinya ia melihat angkara sedang memperhatikan pertarungan adiknya Wajah angkara kadang merah, kadang tegang, lalu

tersenyum begitulah berganti ganti. Ryusuke tersenyum melihat tingkah sahabat barunya itu, karena adiknya ada yang memperhatikan, Ryusuke memutuskan untuk melihat perempuan yang membantu dirinya. ―Hebat sekali gadis itu ‖

Ryusuke menggumam.

Diarena pertarungan gadis itu tiba tiba melompat keudara dan menari, tariannya begitu gemulai dan indah. Ninja Yoninshu dan ryusuke Terlonggong longgong kagum, melihat indahnya tarian diudara itu, apalagi celana gadis itu berbentuk seperti payung (Rok) sehinggga pahanya yang putih mulus terlihat menggoda iman setiap lelaki. Tiba tiba dari atas langit meluncur sebuah titik kperakan ―Hujan pedang Tunggal‖teriak gadis itu merdu.

Jrubbbbbb Bruk Ninja Nara itu tersate sebuah pedang. Ryusuke terbeliak matanya melihat Ninja Yoninshu itu tersate dari wajah sampai anusnya. Ia bergidik ngeri. Dilihatnya adiknya juga sudah mengakhiri pertarungan.

Tapppp Ringan sekali gadis itu menginjakan kakinya di tanah

lalu menghampiri korbannya dan mencabut pedangnya kemudian tersenyum pada ryusuke.

Dilain tempat diwaktu yang sama dengan gadis tadi menari. Pertarungan Yumi dengan ninja Yoninshu bersenjata kendo juga sedang mencapai puncaknya. Tampaklah yumi sedang terdesak hebat, dikala yumi mundur ninja itu melemparkan sebuah paku yang biasa digunakan dalam teknik Saimonjutsu (teknik menghipnotis). ―Jurus rahasia Mengikat bayangan jerat sukma.‖ Teriak Ninja Yoninshu itu. (Jurus itu adalah sebuah jurus untuk mengikat bayangan seseorang dengan cara melemparkan paku atau sejenisnya ke bayangan lawan. Teknik itu sama halnya dengan teknik mentotok supaya tidak bisa bergerak. Yaitu membuat lawan tidak bisa menggerakan tubuhnya melalui proses sugesti pada mental lawan) sekilas terlihat Yumi akan Kalah pada saat itu. Angkara tegang, tapi, tiba tiba dari tangan yumi melesat empat buah Shuriken dan trang.....jrub...jrubbb....jrubb Tak kepalang kejutnya bahwa

lawan akan melakukan itu. Yumi tersenyum melihat lawannya mati dengan kematian tiga buah shuriken di tiga tempat yaitu, dahi, leher dan dada.

―Kau hebat nona !‖ Angkara Antusias.

―terimakasih‖jawab Yumi tersipu.

―siapakah namamu nona jelita‖ Angkara Merayu.

―Yumi, dan kau?‖

―Angkara. ‖

Angkara melihat Ryusuke dan gadis itu mendekat kearahnya.

―Kau juga hebat nona, Tarianmu begitu menyesatkan sukma ‘‘

tanpa basa basi Angkara memuji.

―hihihi....Kau terlalu memuji...lihatlah hasilmu sendiri. kau yang

paling banyak membunuh‖Gadis itu menjawab. Angkara memperhatikan gadis itu.

Gadis itu berwajah cantik, usianya juga paling banter delapan belas tahunan. Ia mengenakan baju berbentuk jubah dengan warna kuning gading. Kain itu tipis, sehingga pakaian dalamnya yang berwarna biru tua itu terlihat membayang di balik jubah kuningnya. Celananya berbentuk payung, sebatas mata kaki. Rambutnya yang panjang sebatas pinggang dibiarkan lepas terurai ke depan, sebagian di dada kiri sebagian lagi di dada kanan, la mengenakan ikat kepala bukan dari kain, melainkan dari tali sutera yang berwarna merah, Tali sutera itu sedikit panjang sehingga sisa ikatannya jatuh berjuntai melewati pundak kanannya..

―Apa ada masalah dengan wajahku kisanak?‖ Gadis itu bertanya. Ryusuke terdiam akhirnya ia menjawab. ―kau gadis dari tanah Antah berantah ya?‖ gadis itu tersentak kaget.

―benar, namaku Jelita Indria.‖ Ia memperkenalkan diri. ―Angkara‖ tanpa ditanya Angkara menyebutkan namanya,

Tiba tiba Ryusuke menyela ―Kau hebat Angkara. Kau

membunuh dua orang tanpa suara, sampai samopai aku tak tahu kapan kau menyelesaikan pertarungan.‖

―hahaha kau salah Ryu. Aku tak membunuh

mereka....merekalah yang saling membunuh sendiri...lihatlah...

Ninja yang itu mati dibawah tikaman pedang yang bernama katana milik ninja yang kepalanya buntung. Sedangkan ninja yang kepalanya buntung mati dipenggal arit berantai milik ninja itu.‖ Angkara menunjuk. memang benarlah kenyataannya

seperti itu, tapi mereka tahu tanpa Dia (Angkara) melakukan

‗sesuatu‘ mana mungkin mereka saling bunuh sendiri.

―krruukkkk. kruuukkkk‖terdengar suara panggilan perut dari

Yumi. Ryusuke, Angkara dan Jelita Indria berpandangan lalu

tertawa terbahak bahak. sementara Yumi tersipu malu seperti

kepiting direbus. Disebuah Desa di dekat sungai cikaso, Desa sampar angin Namanya. terdengar orang orang berbisik bisik dengan heboh, bahkan kehebohan itu merambat kedesa desa sebelahnya, orang orang persilatan dengan penasaran berbondong bondong datang ke desa itu, mengapakah demikian???

Di tengah tengah desa itu, orang orang Awam, maupun orang persilatan dengan tercengang cengang melihat seorang pemuda belia dengan pakaian dalam hitam dengan jubah coklat ketat, jubahnya aneh karena jubah pribumi tanah jawadwipa tidak ada seperti itu, jubahnya panjang sampai mata kaki dengan belahan dibelakang sampai lutut dipenuhi dengan kantong baju, bagian depannya terbuka memperlihatkan baju dalamnya yang berwarna hitam, diikat tali selebar tigajari sebanyak tiga tali di dada, satu tali dileher, dan satu tali di pinggang, sepatunya terbuat dari kulit Serigala terlihat dari bulunya, sampai lutut diikat dengan tali dari rotan, kedua tangannya memakai sarung dari kulit Serigala seperti halnya dengan sepatunya, sampai sikut.

Siapakah dia kalau bukan Jali atau Huru Hara sng ksatria serigala, Pemuda itu sedang asyik masyuk menjajakan jualannya, layaknya seoran pedagang. Lalu mengapakah bisa membuat orang orang gempar??

Terlihatlah, ternyata barang yang ia jajakan itu ternyata segala macam barang dengan lambang Panji telapak perak. Bahkan panji telapak perak yang biasa digunakan dalam mengambil nyawa orangpun berserakan disana, Orang orang bertanya tanya siapakah gerangan pemuda ini yang berani bertindak seperti itu, Padahal didunia persilatan ini siapakah yang berani berurusan dengan mereka.

―Kisanak, Nisanak silahkan jangan dilihat saja, silahkan dibeli barag barang rongsokan ini.‖ Pemuda itu berkaok kaok. Sudah dua hari ia berdagang disana namun tak ada satupun yang membeli, hanya sebuah kegemparan yang ada.

―Ekh kakak pengemis yang ada dijalan sana, mari mari sini. ‖

Huru Hara berteriak kepada salah seorang pengemis, pengemis itu memakai baju penuh tambalan, wajahnya lugu, mendekati kebodohan dengan terheran heran ia mendekati Huru hara.

―Ada apa Kisanak?‖ ucapnya setrelah dekat dengan Huru hara.

―Buka baju dan celanamu, Aku akan menambal yang bolong itu‖huru hara menunjuk bolongan di dekat dada dan pantat sipengemis.

―Tapi, ‖

―Soal biaya, kau tak usah pikirkan..aku kasih gratis untukmu‖ betapa girangnya Pengemis lugu itu, memang ia tak mempunyai uang sepeserpun untuk menambal pakaiannya.

―kau memang baik kisanak...hehe....baiklah, tapi. ‖

―nih kau pakai dulu.‖huru hara memberikan sebuah selimut seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh Pengemis itu.......

Beberapa saat kemudian.....‖iNi sudah ‖ Huru hara

menyerahkan pakaian pada pengemis lugu. Dengan tergesa gesa Pengemis itu mmakai pakaianya.

Karena kesal tak ada yang membeli Huru hara mencOba bercakap cakap dengan pengemis itu.

―Ekh, Siapakah namamu?‖

―Luyu Manggala dan kau?‖ Pengemis itu balik bertanya.

―huru Hara‖ balas Huru hara pendek.

―Hahahah Pantas pantas sekali nama dengan kelakuanmu

itu?‖

―Maksudmu?huru hara bingung.

―Kau tahu? Kau sangat terkenal dipenjuru dunia persilatan dengan tingkahmu yang bisa dibilang gak normal ini‖ luyu Manggala berkata.

―Apa maksudmu?‖huru hara tersinggung.

―Apa kau tahu semua orang persilatan segan dan takut pada gambar bendera bendera yang kau jual‖

‗bwahahaaaaa Apakah kau juga takut dengan gambar

rongsokan, dan panji panji kecil tak berguna ini, yang lebih pantas aku pasang dipantat kau‖ dengan terbahak bahak Huru hara tertawa.

Dengan panasaran Luyu manggala berdiri dan menatap pantatnya. ―hahaha kau memang penambal ulung sobat,

memang benar gambar panji ini lebih berguna dan pantas menempel di pantatku ini. Dengan begini gambar ini pasti akan dihibur farfum paling alami‖ lelu keduanya tertawa bersamaan, tapi mata mereka melihat ada beberapa orang memandang dengan api kemarahan diwajah mereka. Orang orang persilatan semakin gaduh mendengar percakapan itu.

Huru hara tersenyum penuh arti. Melihat itu mata Luyu manggala berkilat tajam. Sepertinya ia paham dengan apa yang ingin dilakukan oleh pedagang belia yang satu ini. Huru hara bukanlah orang bodoh, tentu saja ia paham maksud kilatan mata itu., Dalam hatinya huru hara berpikir.

―Hem...meski terlihat bodoh, ternyata orang ini cerdik juga tak

ada salahnya jika aku menjadikannya partnerku.‖

―Huru hara, bagaimana kalau kita berteman?‖ Ajak Luyu manggala.

―Bukankah kita sekarang sudah berteman?‖ Huru hara menatap wajah Luyu Manggala. Luyu Manggala meski terlihat bodoh ternyata ia sangat cerdik, beberapa patah kata dari Huru hara membuatnya kagum. Tak nyana seorang pedagang belia memiliki bobot ucapan seorang pelajar. Luyu manggala tentu saja paham maksud dari ucapan itu ia tersenyum dengan penuh kekaguman. Ia paham Huru hara bukan hanya menjadikannya seorang teman tapi juga seorang sahabat. Orang awam mungkin berpikir, apasih bedanya teman dengan sahabat? Bukannya itu hanya sama saja? Tapi orang orang ahli tentu saa dapat membedakan teman dan sahabat. Teman bisa saja berganti bergiliran seiring dengan waktu. Tapi sahabat? Ia selalu menjadi nomor satu. Kapanpun dan dimanapun. Sahabat lebih berharga dari seorang kekasih. sebab bisa saja kekasih membuat kita

sakit. karena sebuah kata ―CINTA‖ bahkan yang lebih ironisnya

kekasih bisa menjadi musuh. Lain halnya dengan Sahabat.....

―Kau pernah mendengar kabar berita akhir akhir ini Sobat? Luyu Manggala bertanya. Sobat sebuah panggilan sederhana

namun memiliki begitu banyak arti.

―Berita Apa? ‖

―Berita tentang Kekejaman Panji telapak perak yang saat ini engkau perjual belikan ini?‖

Orang sekitar itu cepat tajamkan pendengaran, jika anda adalah seorang persilatan mungkin anda juga akan sama halnya dengan mereka bagi kalangan rimba hijau hal apakah yang

membuat mereka begitu bersemangat? Dikalangan rimba hijau ada sebuah pepatah tentang 6 buah malapetaka yang menyenangkan.

Pepatah itu mengatakan ―Harta, Benda Mestika, Wanita, Tuak dan Berita terbaru adalah sumber kehidupan sehari hari, burung mati mencari makanan manusia mati karena hatrta. Orang gagah binasa karena wanita. Rimba hijau banjir darah karena benda mustika, Karena tuak orang gila dan karena berita baru mereka celaka.‖

―Hahaha Untuk apa takut pada kaum keroco seperti mereka, Kau tahu tentang sepuluh Perguruan Merdeka?‖ Huru hara menjawab.

Dengan mengerutkan kening Luyu manggala menjawab ―Tidak, Baru mendenagarpun aku baru saja darimu.

―Dengarlah Sobat, Seorang Penjaga gerbangnya saja memiliki ilmu silat beraneka ragam, kau tahu Jurus teratai membuka, milik perguruan teratai putih, jurus rajawali sayap emas, milik perguruan rajawali emas, jurus bintang kemukus menimpa bumi dari perguruan bintang kemukus, 9 Jurus pedang bumi dari perguruan pedang bumi dan Jurus golok pembunuh harimau dari perguruan golok harimau. Nah, untuk ukuran pembantunya memiliki dasar ilmu beladiri seperti itu, bisa kau bayangkan seperti apa murid utama dan pemimpinnya?‖

Bola mata Luyu Manggala melotot seperti gundu bahkan

beberapa orang yang berlalu lalang dan yang memasang telinga, mendengarkan mendesah tak percaya.

―Kau sadar dengan ucapanmu huru hara?‖ luyu manggala tergagap bahkan ia merubah panggilannya tanpa sadar.

―hahaha...tentu saja aku sadar, kau tahu si Ular bermata

seribu? Dari dialah aku tahu ‖dengan acuh tak acuh Huru hara

menjawab didunia rimba hijau ini siapakah yang tak tahu si

Ular bermata seribu? Seorang tokoh muda yang meggemparkan dengan sepak terjangnya, perguruan manapun dibuat pusing olehnya, bahkan istanapun ia obrak abrik, tapi anehnya, semua korbannya tak ada yang berani mendendamnya, yang lebih hebatnya lagi seorang Adipati Rajalela juga yang merupakan seorang raja, juga tak berani mengusiknya.

hampir semua orang mengenalnya, bahkan bila kau bertanya kepada seorang anak kecil ia pasti menjawab ―oh Ular bermata seribu yang berani tidur dikamar adipati, dan seenaknya mengubrak abrik istana itu ya!‖.

Bila kau bertanya kepada seorang gadis maka mereka akan menjawab ―Oh, lelaki tampan dengan jubah coklat itu ya? Aku adalah sahabatnya‖ benarkah gadis gadis itu sahabatnya?

Jawabannya tidak ! bahkan mereka tak pernah berjumpa

dengan dia. Hanya segelintir orang saja yang tahu lalu

mengapa mereka berkata bahwa dia adalah sahabatnya? Jawabannya satu Mereka terkena Racun yang bernama

―GOSIP‖. Perempuan mana didunia ini yang tak senang bergosip? Jika kau bertanya padaku maka ku jawab ―tidak tahu‖. Kau tahu wanita suka dengan ‗sesuatu‘ yang bernama ―CANTIK‖

? Mungkin seperti itulah tingkah mereka untuk

menggambarkan kesukaan wanita dalam bergosip. Orang tertentu mengatakan ―Wanita memiliki Bibir dua‖ ternyata memang tidak begitu jauh dengan keadaan itu.

Tiba tiba........

―Ekh, bocah kau ngoceh sembarangan rupanya sepuluh

perguruan tai kucing jangankan sepuluh perguruan seratuspun

jangan harap dapat mengalahkan kami..aku Parisada yang akan pertama kali membunuh pemimpin mereka, katakan dimana sarang mereka‖ Seorang lelaki brewokan yang Ternyata bernama Parisada membentak.

―kami.......? Akh Jangan jangan kau Anggota Panji telapak

perak. ?‖ Setengah berteriak Huru hara menuding Parisada.

Orang orang yang lalu lalang seketika berhenti dan langsung menatap Parisada. Parisada kena batunya dengan tergagap ia menjawab ―Ak. Apa Maksudmu bocah?‖

―benar juga katamu Huru hara, aku juga tadi melihat ia memandang dengan kemarahan ditahan kepadamu waktu mengatakan panji ini cuman barang rongsokan.‖ Luyu Manggala menimpali.

Semakin berkobar wajah orang orang dipasar itu. Lalu mereka bergerak mengepung Parisada.

―Benarkah demikian Parisada?‖ teriak seorang yang memakai baju loreng dengan sebuah cakar baja di tangannya.

―Pende....pendekar Cakar baja...Apa kau juga percaya dengan bualannya ‖ dengan gugup Parisada menjawab, wajahnya

celingukan mencari jalan kabur. Melihat kesempatan baik Huru hara berteriak.

―kalau jika memang kau bukan Anggota Panji telapak perak, mengapa kau segugup itu, apalagi mencari jalan kabur. !‖

ucapan itu bagaikan gugur disiang bolong ditelinga prasada, sedangkan bagi Orang orang yang mengepung semakin

mantap. Diam diam Parisada berfikir. ‖Ternyata bocah ini licin

luar biasa, aku kena jebakannya melawan orang sebanyak ini

jelas aku takan mampu, sebaiknya aku kabur saja, selama gunung masih hijau tak bakalaan aku kehabisan kayu bakar‖ dicarinya celah untuk melarikan diri, tapi, ia tercekat. di sebelah

utara seorang wanita jelita berusia sekitar 30 tahun, berpakaian serba kuning, jubahnya tanpa lengan warna Kuning, kain penutup bagian dada dan pinggulnya juga warna Kuning, bahkan pedangnya dari sarung pedang sampai gagang dililit kain warna Kuning. Ia berdiri tegak dengan tangan siap mencabut pedang. Di dunia persilatan ia dikenal sebagai dewi kuning.

Disebelah barat dengan angkernya seorang kakek berdiri dengan geram kakek itu memakai baju hijau dengan caping lebar menutupinya ia dikenal sebagi dewa hijau bercaping, disebelah lainnya ada si pedang kilat, rajawali biru, harimau tanpa taring, sikakek tua daun ilalang. Juga beberapa pendekar lainnya,.

Serempak semua merangsek mendekati Parisada tetapi, .......

―Berhenti. ‖ dari arah langit terdengar bentakan melengking

halus dan merdu. Serentak semua orang menatap langit, seketika wajah mereka terpengarah terlebih pendekar Rajawali darah biru dan pendekar teratai salju. Dilangit terlihatlah sesosok gadis berbaju merah cabai menari dilangit yang perlahan turun kebumi.

Pendekar Rajawali darah biru tentu saja mengenali ilmu peringan tubuh yang digunakan sosok itu, ilmu peringan tubuh itu bernama Bayangan Rajawali langit emas. Sedangkan Pendekar teratai salju mengenali tarian yang luar biasa indah itu, karena tak lain adalah jurus teratai langit mekar, mereka terkejut bagaimana gadis itu mampu menggunakan sesempurna itu, yang bahkan guru besar mereka juga belum tentu mampu melakukannya.

Ternyata gadis itu memakai cadar berwarna merah, namun tetap tak bisa menutup wajahnya yang ayu. Dara itu berbadan langsing namun sekal mengenakan jubah merah tanpa lengan.

Jubahnya itu tidak dikancingkan, tapi ia mengenakan penutup dada semacam kutang namun terbuat dari kain tipis warna hitam.

Tipisnya kain membuat gumpalan montok di dadanya itu tampak membayang dari luar. Kelihatan kencang dan menantang.

Sedangkan pakaian bawahnya berupa kain tipis warna hitam berbelahan depan dari bawah sampai ke atas. Jika kakinya menendang, belahan kain itu menyingkap dan tampaklah sesuatu yang ada di balik kain itu, dipinggangnya melilit sebuah selendang berwarna merah..

"Hahah nona Anjardani Kita jumpa lagi, kau semakin cantik

saja‖ Huru hara berteriak......

Anjardani diam saja, tapi huru hara yakin bahwa gadis itu tersipu, ia yakin setiap wanita pasti akan senang bila ia dipanggil cantik.

―Siapa kau nona ?‖ Parisada mencoba bersikap tenang.

―kau ingin tahu?‖

―ya ‖

―Aku adalah calon pengiringmu keneraka !‖

―haha kau jangan membual Nona manis. katakanlah siapa

dirimu ‖

Tanpa babibu lagi Anjardani menyerang Parisada dengan selendang yang berada dipinggulnya. ―hiaaaattttt Bukkk. dengan telak selendang itu menghajar pundak

parisada parisada yang tak menyangka akan diserang

terkejut cepat ia mengelak, namun naas serangan itu terlalu dahsyat untuk dielak. dengan meringis ringis ia memegangi

pundaknya.

―baik, supaya arwahmu tentram di Alam sana aku beritahukan padamu, namaku Anjardani Penjaga Gerbang salah satu perguruan yang kau katakan tahi kucing tadi. , Aku tak punya

banyak waktu...jadi. ‖

―Wussstttt....Prak. Bruukkk‖ tanpa ampun lagi kepala Parisada

hancur berkeping keping dengan dingin Anjardani melanjutkan

perkataannya. ―mengasolah dialam baka ‖

Semua pendekar terpengarah, mereka tahu sewaktu gadis itu melancarkan serangannya. Tapi, baru mereka akan mencegah nyawa Parisada telah meninggalkan raganya. Kini mereka sadar dan semakin yakin bahwa kemampuan dari sepuluh perguruan golongan merdeka benar benar tak dapat diremehkan.

Tak lebih hanya dua jurus Parisada yang terkenal hanya menggeletak tak bernyawa. Siapakah yang akan percaya jika tak melihatnya sendiri....tapi itu benar benar terjadi...siapakah yang akan menyangkal akan kekejaman sidara? keindahan sidara?

Kesaktian sidara? Mereka benar benar seperti baru bangun dari tidur, bahwa mereka yang merasa jago hanya seorang yang tak berguna? Siapakah yang salah? Ilmunya gurunya atau dia sendiri?

―Huru hara berhentilah mengoceh tak keruan, aku ambil kain dan panji panji ini.‖Settt empat keping uang menempel dimeja pemajang.

―Untuk Apakah Dani?‖ Dengan lembut Huru hara bertanya,

―Untuk Kucing peliharaan Ketua, kain ini untuk tidurnya,. Anjardani mengacungkan Kain itu.

―Dan Panji itu?‖ Anjardani berfikir sebentar.

―Untuk latihan berburu babi Oleh tuan muda‖ Akhirnya ia menjawab habis itu, ia berkelebat lenyap meninggalkan bau harum bunga yang khas.

Para Pendekar mengerti ucapan itu jelas untuk menghina Panji Telapak Perak. Sekejap itu berita tentang kegemparan yang dilakukan Huru Hara ditiap desa manapun dia berada ia selalu menarik minat setiap orang persilatan. Apalagi sekarang makin santer kabar yang menyatakan bahwa Huru Hara memiliki seorang sahabat Dungu melebihi kerbau, yang selalu memporak porandakan orang persilatan yang berani mengganggu mereka.

Apa yang anda pikirkan dan lakukan jika anda melihat seorang gadis cantik?... jika anda normal pasti anda akan berusaha mencari perhatiannya bukan?, begitu pula yang terjadi disebuah warung makan di dekat pantai Ujung Genting ini. Semua lelakinya pada ribut, ada yang memamerkan hartanya, ada juga yang pasang tampang kegagahannya,

Sudah jamak bila Dimata seorang lelaki ingin menikmati seorang wanita, Apalagi jika seorang lelaki melihat gadis semacam ini yang mungil menggemaskan, dengan Pakaian dalamnya yang berwarna merah muda sangat memancing perhatian, karena pada hakikatnya baju itu terlalu tipis untuk ukuran baju dalam, sehingga dada yang sekal itu pun terpmpang jelas, apalagi puncaknya yang kecoklatan seakan ingin menerobos kain itu dan sepertinya dada itu menantang orang untuk memilikinya, rambutnya tergerai lurus sepunggung menambah kecantikannya.,

Tapi anehnya gadis itu memakai jubah yang aneh yakni jubah berwarna coklat jubah coklat ketat, memperlihatkan lelukan tubuh gadis itu, jubahnya panjang sampai mata kaki dengan belahan dibelakang sampai paha, sehingga kalau berjalan atau sedikit mengangkat kakinya paha yang indah itu akan mengintip malu malu memancing gairah lelaki, apalagi gadis itu hanya memakai celana dalam saja. bagian depannya terbuka memperlihatkan baju dalamnya yang berwarna merah muda, jubah itu diikat tali selebar tigajari sebanyak tiga tali di dada mengganjal disisi dua gundukan bukit didada mempertegas besar bukit itu, satu tali dileher, dan satu tali di pinggang, sepatunya terbuat dari kulit Domba hitam sampai lutut diikat dengan tali dari rotan, kedua tangannya memakai sarung dari kulit Domba Hitam seperti halnya dengan sepatunya, sampai sikut.

Lelaki lelaki disana pada menelan ludah seakan ingin menelan gadis itu bulat bulat, semua mata tertuju pada gadis yang sedang asyik masyuk tersenyum dengan sekali kali mengangkat gelas air minumnya itu...meski ada yang berlagak sok acuh tapi diam diam matanya suka melirik lirik. Tiba tiba .....

Gubrakkk. Seorang Pemuda jatuh terlentang dari kursinya, tapi

tak ada seorang pun yang memperhatikan apalagi menertawakan karena semua mata tertuju pada paha gadis itu, ternyata tuak kekuning kuningan yang berada digelas gadis itu tumpah dan membasahi paha mulusnya. Mungkin karena tak tahan menahan gejolak birahinya, pemuda itu sampai terjungkal dari kursinya mengapakah orang orang disana tak langsung

mempermainkan gadis itu disana? Padahal di warung itu hanya ada seorang gadis? Lagipula mereka adalah kaum persilatan apalagi gadis itu terlihat begitu lemah?

Ternyata disamping gadis itu berdiri dua orang yang bertolak belakang sifatnya Orang pertama berwajah begitu lemah

lembut, tenang, malah terlalu tenang sampai diwajahnya tak

ada satupun orang yang bisa menebak perasaannya. Ibarat Kerikil tercebur kedalam lautan. Penampilannya serba putih.., sikapnya santai, saking santainya ia duduk berselonjor kaki diudara, seolah udara itu adalah kursinya. sedangkan orang yang kedua, wajahnya terlihat begitu serius, saking seriusnya sampai tak ada senyumpun dibibirnya. Ia berdiri disana, tak ada setitik gerakpun ia bergerak. Ia berdiri tak bergeming. Padahal mereka disana sudah hampir tiga kentungan.

―Ia datang‖ Dengan senyuman yang begitu memabukan lelaki. gadis itu berkata. Suaranya bak burung nuri yang sedang berkicau tiba tiba ia berkata dengan lantang sembari menatap

pintu masuk. .

―Selamat datang saudariku, ―

―Hihi......Terimakasih saudari.....atas sambutannya..‖ Terdengar suara lembut merdu mendayu dayu Jika seorang gadis dapat

meributkan satu warung, apalagi berdua?....

Dari pintu masuk munculah seorang gadis cantik berpakaian dalam Hitam berjubah sama dengan gadis yang duduk dikursi, hanya saja, gadis yang satu ini memakainya dengan gaya seorang pria, yakni memakai celana panjang yang selazimnya dipakai oleh seorang laki-laki, dan pelengkap pakaiannya dari kulit domba putih. Meski ia bergaya seperti pria, tapi tetap tak dapat menutupi kecantikannya yang ayu.

Ia berjalan dengan lemah gemulai menghipnotis setiap mata laki laki yang memandangnya tak berkedip. lalu duduk dihadapan gadis yang duduk dikursi.

―Kasturika, Bagaimana kabar kalung yang diambil gagak?‖ Tanya gadis yang menunggu dikedai tadi.

―hihi. Kalung yang diambil gagak telah dibagikan kepada

anaknya ! lalu bagaimana kabar lebah yang berebut madu

dengan kupu kupu, adik Cempaka? Ternyata gadis yang dari

tadi menunggu diwarung bernama Cempaka lalu gadis yang baru datang adalah Kasturika si Dewi Damai Buana.

Maksud dari Kalung adalah harta milik hartawan yang dicuri, sedangkan gagak adalah dirinya (Kasturika) lalu dibagikan kepada anaknya jelas sekali bahwa harta yang dicurinya telah dibagikan kepada rakyat.

Mengenai Lebah yang berebut madu dengan kupu kupu adalah, informasi yang didapatkan dari pelanggan (Lebah) sedangkan kupu kupu melambangkan gadis yang bernama cempaka, karena memang profesinya sebagai wanita malam.

―Telapak tangan ku telah pegal dan memang sudah bergerak, memang telapak tangan tak bisa digerakan hanya dengan

tangan saja, melainkan dengan kerjasama anggota tubuh‖ ucap Cempaka. Kasturika termenung. Lalu berkata

―Biarlah kutemui ‗KE‘dai ‗TUA‘ untuk berbicara beberapa patah kata‖

―hihi. Kau nakal Kak Kasturi, oh ya nampaknya pada saat pesta

nanti bakal ada sandiwara menjebak Undangan saat penjamuan. Yang kurang hati hati bakal dikasih kue lo, kau mau datang?

Selain itu Sandiwaranya juga menggunakan macam macam alat untuk menunjangnya dijamin seru‖

Kasturika tertegun ―darimana kau dapat bocoran itu ayi cempaka Bukannya itu rahasia?‖

―hihi. Aku tahu dari mempelai, jadi gak bakalan salah‖

―kau tahu skenario sandiwaranya‖

―Tentu, ini lihatlah‖ Cempaka menyerahkan gulungan lontar. Mimpipun tidak jika kaum persilatan disana mengetahui jikalau pembicaraan dua gadis itu menyangkut dunia persilatan. Setahu mereka dua gadis itu sedang asyik masyuk membicarakan perkawinan sahabatnya.

―Nona berdua ingin memesan apakah?‖ Sapa salah seorang pelayan sambil melap sebuah baki dengan sebuah ikat pinggang berwarna merah.

―Nasi putih sebakul dan ayam panggang kecap minumannya tuak saja., oh ya paman, bisakah paman menyampaikan kepada pemilik ‗Ke‘dai Tua bahwa kami mengundang ke pesta pernikahan teman kami, dan ini surat undangannya.‖ Kasturika menyerahkan daun lontar kepada pelayan itu.,

‗baik, nona‖

―tunggu ! Ambilah ini‖ Cempaka menyerahkan sekeping uang

perak.

―Terimakasih nona, pelayan itu meninggalkan kedua nona jelita itu. Yang sedang asyik brcengkrama diiringi tatapan mata para lelaki..........

―Tuan, Tuan berilah sedikit rejeki tuan kepada kami,. ‖ seorang

pengemis mengiba dipintu warung pengemis itu

menengadahkan mangkuk, mangkuk itu berwarna merah darah....

―Ambilah, dan segera enyah dari sini, kau menghalangi setiap pengunjung lihatlah gara gara dirimu banyak yang diam diluar, ― Seorang pelayan warung membentak dan melemparkan sekeping uang dengan selembar daun lontar, dan sebuah kain lap.

Tanpa diperintah dua kali pengemis itu segera menyingkir, menjauhi kedai, setelah sampai disuatu kota tiba tiba wussttt tepp dengan congkaknya seorang anak muda dengan

penampilan mentereng merebut mangkuk sipengemis dan mengambil uangnya.

―Enyah kau dari hadapanku‖ bentaknya sambil menudingkan jari dijidat pengemis itu. Tangannya yang berlengan panjang membuka sedikit memperlihatan sebuah gelang indah berwarna merah darah,

Orang orang yang melihat itu, menghela nafas panjang. Didesa itu siapakah yang tak mengenal Tuan muda Jumantara.

―Biadab kau, mentang mentang kau orang kaya, beraninya memeras seorang yang lemah‖ bentak seorang gadis yang datang dengan dua orang pria dan seorang gadis berbaju merah muda dengan jubah warna hitam. Gadis muda itu

menyandang pedang di punggung. Sedangkan yang membentak itu seorang gadis baju berbentuk jubah dengan warna kuning gading. Kain itu tipis, sehingga pakaian dalamnya yang berwarna biru tua itu terlihat membayang di balik jubah kuningnya.

Celananya berbentuk payung, sebatas mata kaki. Rambutnya yang panjang sebatas pinggang dibiarkan lepas terurai ke depan, sebagian di dada kiri sebagian lagi di dada kanan, la mengenakan ikat kepala bukan dari kain, melainkan dari tali sutera yang berwarna merah, Tali sutera itu sedikit panjang sehingga sisa ikatannya jatuh berjuntai melewati pundak kanannya..

―Gadis Cantik siapakah kau?‖ Tuan muda Jumantara. Terkejut melihat seorang gadis membentaknya. Paras mukanya sedikit berubah melihat seorang lelaki memakai jubah coklat dengan perlengkapa kulit kijang, tersenyum geli melihatnya.

Tanpa mempedulikan si Gadis Tuan muda Jumantara berbalik dan melangkah menuju rumah bordil. Sigadis tersinggung

―Keparat‖Teriaknya sambil memasang kuda kuda hendak menyerang tapi, ia membatalkan serangannya Karena Ia ditahan seorang lelaki dengan wajah kekuningan.

―mengapa engkau menahanku kakang Angkara?‖ dengan keheranan gadis itu bertanya. Pemuda itu yang ternyata angkara tersenyum, ―Kau akan mengerti nanti... Jelita!‖

Dengan terburu buru Tuan muda Jumantara memasuki rumah bordil sesampainya disana Nyi Mala datang menghampirinya,

―Selamat datang Tuan Muda?‖ sapanya. ―aku ingin bercengkrama dengan sikupu kupu malam‖ dengan angkuhnya Tuan Muda Jumantara berkata seraya menyodorkan beberapa uang kertas.

―Kebetulan Sikupu kupu malam sedang tidak memetik bunga, mari ikuti saya tuan lalu keduanya melangkah menuju kamar.

―Silahkan bersenang senang Tuan Muda.‖ Nyi mala melanjutkan langkahnya kebelakang dan menyusuri kebun bunga, bunga itu ditanam dengan indahnya malah seakan diatur sedemikian rupa. Nyi Mala maju kedepan dua langkah, kekiri dua langkah maju sepuluh langkah, dengan gesit melompat kekanan sejauh dua kaki setelah itu berjalan menyusuri bunga mawar hingga ia sampai dipondok sederhana.

Dilihatnya seorang pemuda cakap dengan codet melintang dari alis kiri sampai kanan dialah Sipengabar langit. ―Kupu kupu

terbang membawa kabar burung‖ sapanya.

―Burung hinggap di pondok mungil‖ Sipengabar langit menjawab. Nyi mala menyerahkan uang kertas dan kembali keruangan kerjanya. ....................................................

―Angkara, Aku masih tak mengerti dengan kejadian tadi‖ seorang pemuda memakai jubah coklat disebelahnya bertanya dan disetujui oleh kedua temannya yang lain.

―Sudahlah, Nanti kalian mengerti, kita hampir sampai ikuti langkahku jangan sampai salah langkah.‖ Angkara berjalan dengan diiringi ketiga yang lainnya. Mereka melewati kebun bunga, hutan bambu, gundukan batu, dan beberapa kolam. Hingga sampai disuatu pondok yang cukup besar. ―Kita sudah sampai‖ Angkara memecah kebisuan.

Dengan berkerut kening Angkara melihat Jelita sedang

termangu mangu melihat jalan yang barusan dilewtinya. ―Ada Apa Jelita?‖ Yumi bertanya. Mengejutkan Jelita

―Barisan Bunga penyesat arwah, barisan Selaksa dewa bambu menjebak iblis, barisan cermin air gaib, dan barisan Padang gurun tak bertepi.‖Desisnya. ―Siapakah yang membuat barisan kuno ini Kakang?‖ Jelita bertanya kepada angkara.

―Sahabatku‖ jawabnya singkat. Dan melanjutkan perjalanan,. Mau tak mau ketiga lainnya mengikuti. sesampainya didepan sebuah pondok mungil tiba-tiba....

―Kau sudah datang Angkara, malah membawa dua gadis dan satu laki laki gagah kau hebat Angkara, hahaha silahkan

masuk, silahkan masuk..‖ dari dalam terdengar orang berkata. Mau tak mau ketiga sahabat angkara berubah wajahnya, kecuali Angkara yang memang mengenal suara itu. Bagaimanapun orang yang mengetahui kedatangan orang seperti mereka, jelas merupakan seorang jago kosen. Angkara membuka pintu dilihatnya seorang anak muda yang sangat tampan sedang berhadapan dengan dua Orang tamunya yang memang sepertinya bukan orang tanah jawa. Mereka tak lain adalah Thian Hong li dan Thian Liong

―Sepertinya kau sedang ada tamu, ketua !‖Tanpa sungkan

Angkara duduk disebuah tempat duduk yang terbuat dari kulit kijang. Teman Angkara bertiga terkejut tak disangkanya ketua yang dikatakan hebat oleh seorang Angkara hanyalah seorang pemuda sebaya mereka.

―benar, kenalkan inilah Thian Hong li dan Thian Liong dari negriTionggoan‖ Thian Hong li dan Thian Liong bangkit dan memberi Hormat. ―Thian Hong li dan Thian liong memberikan hormat kepada Siwi. !‖ .

Ryusuke dan Yumi juga bangkit dan menjura 90o. Begitulah mereka berbasa basi dan bercakap cakap untuk saling mengenal diri masing masing.

Bagaimana cara Thian Hong li dan Thian Liong bisa ada disana? Kita mundur dua hari kebelakang.

Matahari bersinar terik menyengat kulit membakar jagat raya....

awan berarak menari di angkasa raya menyelimuti seorang pemuda berbaju biru dengan kuncir kuda di belakang kepalanya. Seorang Pemuda berbaju Biru itu sepertinya baru sampai di Desa Padanghaur itu terheran-heran menyaksikan keramaian pada hari itu yang tidak seperti biasanya. Kemudian ia memasuki sebuah kedai yang sangat ramai. Tidak ada tempat kosong sehingga terpaksa dia berdiri sambil menengok ke sana ke mari.

Ia melihat dua orang lelaki yang sedang bersantap sambil mengobrol tak henti-hentinya. Karena di situ masih ada tempat kosong, maka Pemuda itu mendekati mereka.

"Maaf" ucapnya sambil menghormat pada kedua orang itu. "Bolehkah aku duduk di sini?"

"silakan" sahut salah seorang sambil memandangnya. "Terima kasih" Pemuda itu tersenyum dan duduk- segera seorang pelayan menghampirinya.

"Tuan mau makan apa?"

"semangkok nasi dan sop sapi," jawab Pemuda itu.

Tak lama kemudian, pelayan sudah menyediakan pesanannya. Ketika ia mulai bersantap, kedua orang di dekatnya terdengar mengobrol lagi.

"Kau sudah mendengar berita baru?." "Berita Apa?..."

"huhhhh " orang yang berbadan gemuk meng-geleng-

gelengkan kepala.

"Sepertinya dunia persilatan bakal banjir darah lagi" "Mungkin kau benar, aku juga pernah mendegar berita yang menggemparkan didunia Persilatan?." Temannya manggut- manggut.

"Aaakh" orang berbadan gemuk menghela nafas panjang. "Sepertinya generasi sekarang ini bakal mengalami masa masa suram."

"yaah" Temannya menggeleng-geleng kepala, "menurutmu tokoh muda yang baru baru muncul, apakah

membantu memerangi kesuraman apakah malah membantu?"

―Entahlah, ― dengan murung keduanya terus ngobrol. Pemuda itu menyelesaikan makan dan berpamitan kepada keduanya, dengan tenang ia berjalan santai dan menepuk

pundak seorang pemuda tampan berbaju pelayan. Sepertinya ia hendak pulang kerumahnya. Pemuda itu terperanjat, dari gerak geriknya yang gesit dan cekatan sepertinya pemuda berpakaian pelayan itu mengerti ilmu silat. Dengan cepat ia berpaling dan melongo....

―Hahaha Kita jumpa lagi Thian Liong, Pemuda itu memeluk

Thian Liong. Dengan gelagapan thian Liong menjawab.

―Setan Cilik, kau.....Adiku, sampai murung kangen padamu..‖

‗Haha bagaimana denganmu? Kangen tidak padaku‖

―tidak..‖

―Bohong..‖

―Hahaha.....‖ brukk. Thian Liong balas memeluk Pemuda yang

ternyata Aram Widiawan itu.

―yuk, kita pulang sekarang..‖ ajak Thian Liong

―Bagaimana kabar Hong Moay?

―Hong Moay?‖

―Ah..Aaanu Maksudku Adik Thian Hong li‖

―Haha,....Kau lihat saja nanti. ‖

Bibir ini tak bisa bicara kala cinta sedang berkata

walau sejuta coba menyapa ku hanya bisa tertawa Mungkin rasa itu akan pudar di suatu saat yang terbakar tapi hati ini akan trus gembira tak pedulikan suasana terkira

Cinta yang bisa membuat manusia menari di tengah-tengah udara tertawa dilangit dunia

tanpa ada batasannya (internet)

Setangguh atau secerdik apapun seorang lelaki, jika ia dihadapkan dengan kata ―CINTA‖ hilanglah sudah kekagahan dan kecerdikannya. Ia akan seperti anak yang baru lahir. Perlu diketahui cinta merupakan senjata yang paling ampuh didunia ini bahkan melebihi sebuah pedang, cinta juga merupakan senjata yang paling jitu untuk membunuh.

―Kau kejam , oh ya, aku tadi kepenginapan yang dulu, tapi

kata pemilik penginapan kau telah pindah..!‖

―ya, bagaimanpun kalau nginap terus uangku bakal tekor, makanya aku membeli sebuah rumah baru meski mungil‖ Begitulah mereka terus bercakap cakap hingga mereka tiba didepan sebuah rumah mungil yang sederhana namun asri. Bunga bunga mekar dengan indahnya. Menghiasi seorang gadis cantik yang sedang asyik memetik bunga....

Aram terpelongo takjub, ―Bidadari bunga..‖ serunya tanpa sadar. Gadis itu terkejut seketika ia berpaling dan melongo, bibirnya yang ranum terbuka menantang. Aram terlena melihat bibir yang indah itu.