-->

Pendekar Majapahit Jilid 2

Jilid 2

B A G I A N I

OLEH Gusti Harya Banendra , Kyai Tunggul pernah pula akan diberi pangkat dan kedudukan sebagai dukun di Senopaten, akan tetapi ia tidak mau menerimanya, dengan alasan ingin hidup bebas. Upah- upah yang diterimanya dari pada para bangsawan sebagian besar dibagi-bagikan pada rakyat yang hidup dalam kemiskinan. Ia tinggal bersama Nyai Tunggul dan anak angkatnya bernama Sujud yang selalu mengikuti dalam perjalanan itu, didesa Ngawi ditepi kali bengawan.

— Jud, tamu kita ini mempunyai pangkat tinggi sekali di Kerajaan, maka kau harus segera memberi sembah kepadanya — Kata Kyai Tunggul kepada anaknya angkat. Sujud yang sedari tadi mengamat- amati Indra Sambada segera membetulkan duduk bersilanya dan menyembah dengan rasa penuh hormat. Tapi Indra Sambada segera mendekati dan memegang kedua belah tangan Sujud serta berkata.

— Adikku manis, jangan kau menyembah kepadakui Anggaplah aku sebagai kakakmu sendiri dan selanjutnya panggillah aku dengan kangmas atau kakang saja, — Sujud segera menggagalkan sembah sujudnya dan duduk dengan mulut ternganga, karena tidak tahu apa yang harus ia diperbuat. Ayahnya memerintahkan menyembah tapi tamunya menolak untuk diberi sembah sebagai penghormatan.

Kepalanya yang dicukur gundul dengan kuncung didepan dipegangnya oleh Indra Sambada dengan belaian mesra. Anak itu usianya kira-kira 11 tahun, badannya kokoh kuat. Ia bertubuh pendek agak gemuk, dan mukanya bulat dengan wajah yang masih kekanak-kanakan. Dilengan kirinya nampak jelas sebuah tailalat, berbentuk bundar sebesar ibu jari kaki, berwarba merah kehitam-hitaman.

-- Ya, baiklah panggil saja kangmas kepada tamu kita itu, Jud! Kiranya tamu kita ini baik sekali dan tidak mau memakai adat kebangsawanannya.—

Kyai Tunggul berkata kepada anaknya.

Sebentar saja Indra Sambada telah bergaul bebas dengan kyai Tunggul dan Sujud anaknya. Dengan tidak ada rasa canggung lagi Kyai Tunggul memperlakukan Indra sebagai keluarga.

Demikianpun Sujud melancarkan pertanyaan yang lucu ber-tubi-tubi kepada Indra yang selalu dijawab oleh Indra dengan riang hati.

— Sebaiknya nakmas nanti singgah dipondok saya barang sepekan atau lebih untuk mengenal desa kita. Nyai tentu sangat bergirang hati, apabila nakmas sudi singgah dipondok kita. — Demikian usul kyai Tunggul pada Indra Sambada.

—Saya mengucapkan banyak terima kasih, akan kebaikan budi Bapak Kyai jawab Indra Sambada.:— Sesungguhnya sayapun memang akan bermaksud demikian, kiranya bapak Kyai selalu dapat menebak tepat isi hatiku.---

--- Ah, nakmas itu selalu memberikan pujian terlalu tinggi.— Kyai Tunggul menjawab dengan rendah hati.— Jud, sebaiknya kau keluarkan sekarang saja bekal makanan kita, perutku telah terasa Iapar sekali. Mari Nakmas kita dahar pagi bertiga. —

Mereka bertiga segera makan dengan lahapnya. Nasi pondoh atau nasi jagung dibungkus dengan daun jati dan lauknya tempe bacem. Dalam sekejap saja, enam bungkus nasi pondoh telah lenyap, tinggal daun bungkusnya. Indra Sambada yang sudah dua hari tidak mau makan, kini merasakan akan lesatnya makanan sederhana yang dihidangkan itu.

— Nakmas kelihatan sangat letih, — Kyai Tunggul mulai membuka pembicaraan kembali. —

--- Tebakan bapak sangat tepat karena saya telah dua malam tidak dapat tidur sejenakpun.- jawab Indra Sambada. Janganlah sungkan-sungkan, sebaiknya nakmas mengaso saja dengan merebahkan badan. Ambilah tikar pandan yang itu dan silahkan beristirahat, agar badan nanti terasa segar kcmbali, berkata demikian Kyai Tunggul sambil menunjuk tikar yang dilipat terselip dipajon gerobagnya

--- Nanti setelah sampai dirumah kita dapat melanjutkan percakapan sepuas hari.— ia melanjutkan kata-katanya. Dengan tidak diulangi Indra Sambada segera mengambil tikar pandan yang dimaksud untuk kemudian merebahkan diri. Kiranya, setelah perut merasa kenyang, kantuknya kini tak dapat ditahan lagi. Ia segera dapat tidur dengan pulasnya.

Sepasang sampi yang menarik pedati seakan-akan telah tahu jalan yang harus ditempuhnya. Pelan- pelan, dengan tidak menghiraukan segala yang dijumpainya mereka berjalan terus laju.

Dengan tidak terasa kini matahari telah condong kebarat. Dengan pelan sang Surya berangsur turun dan hampir masuk kedalam cakrawala. Kesaktian umat yang bagaimanapun tak nanti dapat menahan turunnya sang Surya.

Mega merah membara, mulai membentang diafas cakrawala, dan bayangannya tampak mengindahkan wajah dataran.

Indra Sambada segera terbangun dari tidurnya, dan duduk terpaku melihat keindahan alam didepannya sejauh mata memandang.

— Desa depan disebelah selatan yang kelihatan itu, adalah tempat pondokku.— Kyai Tunggul dengan memalingkan kepalanya kearah Indra sambil tersenyum. Indra tersentak dari lamunannya dan menjawabnya dengan anggukan kepala.

— Wah, kiranya saya tadi dapat tidur nyenyak sekali, pak. Badanku kini terasa segar kembali.— ia melanjutkan jawabannya.

Gerobag pedati berjalan pelan dan kini memasuki sebuah desa yang dituju. Tidak jauh dari ujung desa itu kelihatan tanggul tebing kali Bengawan. Dari desa Ngawi itu, terdengar jelas air bengawan mengalir dengan derasnya.

Desa Ngawi adalah sebuah desa kecil, yang menilik dari rumah bangunan yang berada disitu, penduduknya tidak akan lebih dari duapuluh kepala somah.

Pekarangannya pada umumnya luas, hingga jarak rumah-rumah bangunan berjauhan satu sama lainnya. Tanahnya subur, terlihat dari segarnya tanam-tanaman yang berada dipekarangan. Ini mungkin dikarenakan dekat letaknya dari kali Bengawan yang selalu tak pernah kekurangan air.

Rumah tempat tinggal Kyai Tunggul adalah merupakan rumah bilik atau disebutnya rumah gebyok, terbuat dari kaju dengan ruang pendapa yang sedang luasnya. Pekarang yang mengitari rumah itu dipagari keliling dengan Lambu yang rapih sekali. Tanam-tanaman bunga liar beraneka dan pohon- pohon buah-buahan dipekarangan kelihatan segar terawat bersih.

Tiga orang pemuda tanggung segera menyambutnya atas kedatangan Kyai Tunggul, menyusul kemudian Nyai Tunggul menyambut didepan rumah.

— Nyai ! Kali ini aku datang membawa tamu dari jauh yang akan tinggal sementara disini, hendaknya Nyai segera menyiapkan tempat ia bermalam dan lain-lainnya.— Kyai Tunggul berseru kepada isterinya.— Dan anggaplah tamu ini sebagai keluarga sendiri. — Sambil menunjuk kepada Indra Sambada -- Mari nakmas Indra, ini adalah Ibumu Nyai yang selalu setia — ia berkata kepada Indra. Indra segera membungkukkan badannya dengan berkata :--- Maafkan Ibu Nyai, bahwa saya datang hanya membikin repotnya Ibu Nyai saja.

— Ah, tak mengapa nakmas. Silahkan masuk dan berlakulah seperti dirumah sendiri. — demikian Nyai Tunggul menjawab dengan ramahnya.

Sungguhpun Nyai Tunggul telah lanjut usianya dengan rambutnya telah ubanan, dan berpakaian sebagai wanita petani desa biasa, namun jelas nampak diwajahnya, bahwa ia dahulu pada waktu masih muda memiliki wajah yang cantik Dari pandangan sinar matanya yang memancar jernih, jelas menunjukan bahwa Nyai Tunggul bukan berasal dari petani biasa, Apa lagi jika menilik dari tindak tanduknya yang selalu halus dan sopan, sekalipun, ia sangat ramah tamah.

Pedati dengan sepasang sampi serta kuda Indra Sambada yang menguntit dibelakang pedati tadi, segera dirawatnya oleh tiga orang pemuda tanggung yang tadi menyambutnya. Sujud lari kedalam memapag Nyai Tunggul. Kelakuan Sujud tak ubahnya seperti lazim seorang anak yang selalu dimanja oleh Ibunya. Mereka semua segera memasuki didalam rumah dan duduk asyik ber-cakap-cakap, diatas balai-balai bambu yang lebar dengan tikar pandan. Dalam hati, Indra Sambada iri akan kebahagiaan keluarga Kyai Tunggul yang sangat sederhana itu. Sadarlah ia kini, bahwa kebahagiaan seseorang tidak t ergan-tung dari pada pangkat kedudukan ataupun harta-benda.

Sang Bulan telah lama menggantikan takhta, menelan terangnya siang. Sinarnya remang-remang menyelubungi seluruh alam semesta.

Tiba saatnya Indra Sambada ingin menggunakan kesempatan, untuk mencurahkan isi hatinya yang penuh dengan pertanyaan, selama ia berkenalan dengan Kyai Tunggul.

— Apakah bapak itu berasal pula dari desa ini ?. — Indra Sambada membuka percakapan. — menurut dugaan saya tentunya bapak Kyai dan Ibu, bukan berasal dari desa ini. --- Kyai Tunggul menghela nafas panjang dan menjawab ! — heh, …… ada-ada saja, pertanyaan nakmas Indra itu. Tak kukira, bahwa penglihatanmu sangat tajam. Untuk menjawab pertanyaan nakmas itu adalah merupakan suatu kisah yang sangat panjang dan berbelit-belit.

Tetapi jika tidak kujawab tentunya nakmas akan selalu merasa penasaran. Lagi pula saya telah banyak mengetahui tentang dirinya nakmas. Tidak adilah jika sebaliknya tidak mengenal diriku yang sebenarnya. Ia berhenti sejenak dan melanjutkan berkata : — Akan tetapi karena kisahku yang lampau itu erat hubungannya dengan kepentingan rakyat banyak, serta merupakan beban tugas bagimu untuk penyelesaiannya maka kuharap nakmas untuk bersabar hati sampai pada suatu kesempatan yang baik. Kukuatirkan akan dinding-dinding bertelinga disini.

Sebaliknya hal itu janganlah nakmas singgung pada waktu sekarang. Lebih baik kini kita bercerita lain mengenai hal-hal yang ringan yang langsung ada hubungannya dengan nakmas sendiri. —

Percakapan tadi walaupun diseling dengan suara tertawa tapi bagi Indra cukup menjadi perhatian yang menegangkan syaraf angan-angannya.

Sebagai seorang ksatrya yang terlatih cepat ia mengusai kembali akan ketenangan dan menekan rasa sifat ingin tahu dalam bathinnya. Ia sempat pula turut bersenyum dan rnengalihkan pembicaraan.

— Aku masih ingat pada uran-uran mijil bapak tadi pagi. Dan hingga sekarang belum menerima jawaban yang tepat. Yang kuherankan, dari manakah bapak tahu tentang nasib yang sedang kualami ini

?— Tanya Indra Sambada. Kyai Tunggul tertawa nyaring — O, itukah yang nakmas tanyakan. Baiklah akan kujelaskan padamu secara jujur.— Kyai Tunggul melanjutkan ceritanya. —Pada waktu almarhum - Lurah Somad mendekati ajalnya, sayalah orangnya yang dipanggil untuk memberikan pertolongan oleh Tumenggung Sunata karena kebetulan saya berada di rumahnya. Tetapi segala sesuatu itu telah ditentukan oleh Yang Maha Agung. Luka yang dideritanya terlalu dalam, lagi pula keris yang digunakan untuk bunuh diri itu adalah keris pusaka yang ampuh. Maka tak mungkinlah kudapat menolongnya.

Sukmanya telah kembali keasalnya menghadap Dewata Yang Agung. Hanya kata-kata terakhir yang dapat diucapkan kepadaku jelas terdengar — ia berhenti sesaat sambil meng-ingat-ingat, dan kemudian ia melanjutkan: -- Sampaikan baktiku ini kepada Gusti Indra, dan semoga ia hidup bahagia. Hanya itulah yang dapat dikatakan, untuk kemudian menutup mata se-lama-lamanya. Sejak peristiwa yang menyedihkan itu terjadi, Nyi Lurah Somad jatuh sakit, dan saya pulalah yang diperintah oleh Tumenggung Sunata untuk mengobatinya. Kepadaku dan kepada Tumenggung Sunata Nyi Lurah Somad menceriterakan semua kisah dan perbuatannya, akan tetapi ia menyatakan tidak menyesal karena ia memang menyintai nakmas lndra.

Berulang kali Tumenggung Sunata memperingatkan kepadaku agar rahasia ini jangan sampai bocor. Bahkan beliau berpesan bahwa kelak beliau seudirilah yang akan memberi tahukan semua kejadian ini kepada nakmas indra. Tetapi selanjutnya dengan tidak terduga - duga setelah melahirkan puteranya, Nyi Somad mengambil jalan yang sesat membunuh diri, dengan minum racun. Sampai disinilah saya mengetahui peristiwa itu, yang menyangkut dirinya nakmas. Sejak itu saja selalu dekat dengan Tumenggung Sunata karena beliau berhasrat untuk belajar dariku dalam ilmu usadha.

Dari beliau pulalah saya banyak mengetahui akan kesaktian dan sifat-sifat kesatryaan nakmas lnclra.

— Maafkan, jika sekiranya ceriteraku ini menyinggung perasaan nakmas Indra. — Kyai Tunggul berhenti bicara dan memperhatikan sikap Indra.

— Ah …… sama sekali saya tidak merasa tersinggung pak Kyai,— jawab Indra — bahkan saya merasa berhutang budi pada bapak Kyai. Menghadapi peristiwa yang telah terjadi ini saya ingin minta petunjuk- petunjuk dari bapak, serta jika diperkenankan saja ingin menjadi murid Bapak, untuk mempelajari ilmu usadha, guna menambah pengetahuanku yang sangat dangkal.—

-- Jika nakmas sudi menerima nasehatku hendaknya nak mas jangan tenggelarn dalam rasa kesedihan dan kecemasan akan noda yang telah diperbuatnya, karena hal itu tidak akan membawa manfaat bagi nakmas sendiri, maupun nama Kebesaran Kerajaan. Ingatlah bahwa hanya seorang yang seperti nakmas itu, yang mampu untuk menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan yang besar. Maka pelita semangat berjuang hendaknya jangan dipadamkan, hanya karena sedih. Kesedihan itu bahkan harus menjadi obor untuk menyalakan semangat berjuangmu.

Beban yang masih dihadapi sedang menunggu, dan membentang dihadapan nakmas Indra. Saya sebagai seorang yang telah lanjut usia, hanya dapat memberikan petunjuk-petunjuk saya.

Kembalikanlah kepercayaan pada dirimu sendiri, dengan bekal aji kesaktianmu Bandung Bandawasa yang telah kamu miliki itu dan binalah terus hingga mencapai kesempurnaan. Tentang hal nakmas ingin mempelajari ilmu usadha yang kumiliki saya, sangat bergirang hati dan bersedia untuk mewariskan kepandaianku yang tidak berarti ini kepada nakmas Indra. Hanya saya nakmas harus menerima petunjuk-petunjuk saya tadi. Sampai disini Kyai Tunggul berhenti sejenak dan meneguk air teh yang berada dihadapannya.

— Aduh, kini benar-benar saya menjumpai seorang tua, tak ubahnya seperti orang tuaku sendiri yang dapat meringankan kesedihanku.— dengan nada terharu Indra melanjutkan bicara: — Nasehat bapak semoga menjadi pedoman hidupku kemudian, dan kesediaan bapak menerima sebagai murid, saya merasa berhutang budi yang sukar untuk membalasnya. ---

-- Ah …. tak usah nakmas merendah diri dan banyak memuji kepadaku. Baiklah hari besok kita lanjutkan. Karena kini telah larut malam, sebaiknya kita beristirahat dahulu agar besok pulih kembali tenaga kita ! — Kyai Tunggul memotong kata-kata Indra.

Sebentar kemudian suasana telah sunyi senyap, hanya suara air mengalir deras dari kali Bengawan yang masih tetap terdengar semakin jelas.

*

• * •

B A G I A N II

RASANYA INDRA SAMBADA semakin lama semakin betah tinggal didesa Ngawi itu. Semula yang sedianya hanya akan tinggal kira-kira sepekan, tapi kini telah setengah bulan lamanya ia masih tetap tinggal di pondok Kyai Tunggul.

Pada hari siang, tiap-tiap harinya Indra selalu mengikuti Kyai Tunggul bersama Sujud menjelajah desa-desa dan kota-kota untuk memberikan pertolongan mengobati orang orang yang sedang menderita sakit atau membagi-bagikan harta ataupun makanan kepada orang-orang yang sangat miskin

yang dijumpainya sedangkan pada malam hari ia tekun mempelajari ilmu usadha dari gurunya, ialah Kyai Tunggul sendiri.

Pada dasarnya, ilmu usadha mempunyai tiga pokok pelajaran, yalah pertama mengobati dengan ramuan-ramuan jampi- jampi yang terdiri daun-daun-an, akar-akar serta bermacam-macam bisa dari binatang-binatang, dan bahan-bahan lain. Dalam hal ini ia harus rajin menghafal dari kitab usadha sastra.

Bagian kedua ialah pelajaran "sangkal putung" yaitu cara-cara menyambung tulang-tulang patah ataupun membetulkan sambungan tulang-tulang yang terkikir. Sedangkan bagian pokok yang terakhir atau yang ketiga ialah mengobati dengan kekuatan bathin disalurkan ujung jari-jari untuk mengurut sipenderita, agar jalinan syaraf-syaraf yang lemah dan tidak mau bekerja sebagaimana mestinya dapat digerakkan dan dikembalikan pada tempat jalinan yang benar.

Pun kekuatan bathin itu dapat pula disalurkan liwat pernafasan dan dikeluarkan dengan tiupan pelan kedalam mulut sipenderita untuk membantu pernafasan si penderita dan menggerakkan jalan-jalan darah ataupun jalinan-jalinan syaraf yang lemah.

Dengan bekal kecerdasan otaknya serta ketekunan, ditambah karena gemar alan mempelajari ilmu usadha itu, Indra Sambada dalam waktu yang singkat segera dapat menguasai pelajaran-pelajaran yang diterimanya. Dalam menghimpun kekuatan bathin ia tidak perlu mempelajari pelajaran dasar, karena telah dapat dikatakan mahir mendekati kesempurnaan. Ternyata dalam ilmu menghimpun tenaga bathin tidak ada bedanya dengan pelajaran-pelajaran yang telah dimiliki, ialah merupakan sebagian dari pada ajiannya Bandung Bondowoso. Hanya penggunaannya yang berlainan. Waktu setengah tahun telah dilaluinya, namun Indra Sambada ternyata semakin betah tinggal dirumah Kyai Tunggul. semakin lama Nyai Tunggul semakin menyayangi Indra Sambada, tak ubahnya sebagai seorang ibu yang menyayangi putranya sendiri. Demikian pula Sujud telah menganggapnya lndra Sambada sebagai kakaknya. Diwaktu terluang Indra Sambada tidak lupa pula memberikan latihan pelajaran dasar bela diri dengan tangan kosong ataupun dengan senjata tajam kepada Sujud. Karena memang anak itu mempunyai bakat, maka cepat pula Sujud dapat menangkap semua pelajaran-pelajaran yang diterimanya. Dengan rajin ia selalu mengulang latihan-latihan yang telah diberikannya.

Kini Indra Sambada telah menguasai dua pertiga bagian dari seluruh ilmu usadha yang dimiliki oleh Kyai Tunggul dengan saksama, hanya saja masih memerlukan pengalaman-pengalaman untuk memahirkan. Satu tahun penuh ia kini telah menjadi murid Kyai Tunggul……

Sebagaimana biasa ia bersama Sujud mengikuti Kyai Tunggul menjelajah sekitar daerah itu pada tiap-tiap hari. Kali ini Kyai Tunggul dengan diikuti oleh Indra Sambada sendiri memakai sampan menyeberangi kali Bengawan mengikuti arus kehilir. Dengan tangkasnya Kyai Tunggul mendayung sampannya ketepi dan menambatkannya pada patok yang berada dipinggir kali Bengawan, dibawah pohon gayam.

Berdua mereka berjalan kaki menuju kesebelah desa yang tidak jauh dari kali Bengawan itu. Tetapi setelah mereka memasuki desa Trinil, ialah nama desa yang dituju, mereka sangat terperanjat melihat keadaan disekitar itu.

Rumah-rumah banyak yang menjadi puing, bekas kemakan api sedang penduduknya satu orangpun ridak menampakan diri. Kyai Tunggul mendahului memasuki sebuah rumah yang kelihatan masih utuh dengan diikuti Indra Sambada. Pintu yang kunci dibukanya dengan paksa dan mereka segera masuk kedalam. Tetapi alangkah tercengangnya karena ternyata tidak ada penghuninya. Mereka berdua terperanjat setelah sesaat kemudian melihat dua anak setengah telanjang, merangkak keluar dari kolong balai-balai dengan membawa bangkai seekor ayam.

Dengan lemah-lembut Kyai Tunggul dan Indra membujuk agar kedua anak itu mau diajaknya bicara. Satu diantara anak itu ternyata anak lelaki berusia kurang lebih 6 tahun, sedangkan yang satu lainnya adalah anak perempuan berusia tiga atau empat tahun. Nasi pondoh untuk bekal dalam perjalanan oleh Kyai Tunggul diberikan kepada dua anak tadi dan bangkai ajam yang dipegangnya diminta oleh Kyai Tunggul untuk kemudian dilempar jauh keluar rumah. Anak laki-laki itu memandang kepada Kyai Tunggul dengan penuh rasa heran, sedangkan yang lebih kecil menangis me-rengek-rengek meminta kembalinya bangkai ayam yang telah dilempar tadi. Tetapi segera mereka berdua duduk berdekatan dan membuka bungkusan nasi pondoh yang tadi diterimanya dari Kyai Tunggul. Mereka lalu makan dengan lahapnya, saolaholah apa yang baru saja terjadi telah dilupakan.

Indra Sambada pergi kebelakang untuk menimba air dari perigi yang berada dibelakang rumah serta membawanya untuk kemudian dikasihkan kepada anak tadi sebagai air minum.

— Kemana bapak ibumu pergi nak ? — Tanya Kyai Tunggul dengan lemah lembut kepada dua anak tadi, setelah mereka selesai makan. Lama mereka tidak menjawab: — Kemarin bapak dikubur. — jawab kemudian anak lelaki itu dengan singkat.

— Dikubur? Apakah ada yang membunuhnya? — Kyai Tunggul bertanya lagi. Anak lelaki itu memandang Kyai Tunggul dan Indra Sambada ber-ganti-ganti dan kelihatan mulai menggigil ketakutan. Ia hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya sambil memandang keluar.

— Jangan takut nak. --- Indra berkata mendekati anak perempuan yang kecil dengan membelai kepalanya yang berambut panjang.

— Tahukah kau nak? Siapa yang membunuh orang tuamu? Jangan takut-takut kepadaku, aku ini datang untuk menolong kau berdua.– Kyai Tunggul melanjutkan bertanya dengan lemah lembut.

— Orang banyak berkuda datang kemari, membakari rumaah dan membunuh bapak. Ibu kami dibawanya lari,. — Mendengar jawaban anak laki-laki itu Indra Sambada sangat terharu. Ia memeras otaknya untuk ingin mengetahui, gerangan siapakah yang sedemikian kejamnya, membabi buta membunuh sesama manusia dan membakar rumah-rumah. Tetapi sulit baginya untuk mendapat jawabannia, karena tak ada orang lain yang dapat menerangkan dengan jelas. Indra memegang lengan anak perempuan yang kecil tadi serta memondongnya melangkah keluar rumah. Kyai Tunggul dengan menggandeng anak lelaki mengikuti pula keluar rumah dan kini mereka ber-cakap-cakap dihalaman depan.

— Siapa namamu, anak manis?— tanya Indra Sambada kepada anak yang dipondongnya. Lama anak itu tak mau menjawab tapi setelah pertanyaan itu diulang lagi oleh Indra dengan lemah- lembut hingga dua kali, barulah anak itu menjawab pelan dengan logat ke kanak-kanakan: — Atinem. — jawabnya singkat. Anak lelaki yang digandeng Kyai Tunggul menyaut membetulkan ucapan adiknya.

-- Martinem. Ia adikku.

--O, Martinem,— Indra mengulang kata, yang diucapkan oleh anak lelaki itu.

— Dan kau, siapa namamu?—

-- Saja Martiman. anak lelaki itu menjawab dengan jelas.

Sedang mereka ber-cakap-cakap dihalaman, tiba-tiba seorang kakek-kakek dengan bertongkat keluar dari rumah yang telah hangus sebagian dan hampir roboh itu, dari seberang jalan desa yang membujur didepannya, tidak jauh dari tempat mereka ber-cakap-cakap. Kakek-kakek itu mengawasi kanan kiri sejenak dengan bas-was dan kemudian jalan sempoyongan mendekati mereka berempat yang sedang bercakap-cakap dihalaman tadi. Setelah agak dekat, Indra sambil memondong Martinem segera bertanya.

— .Mbah Kakek! Ada kejadian apa disini?—

— Den bei sekalian itu dari mana?— kakek-kakek itu tidak menghiraukan pertanyaan Indra, tetapi bahkan menjawab dengan pertanyaan pula.

Kyai Tunggul memotong: Silahkan bapak dekat kemari.— Kakek itu menurut apa katanya Kyai Tunggul dan segera datang lebih dekat lagi.

Jangan panggil kami den bei pak. Kami adalah orang tani biasa yang tinggal diseberang Bengawan didesa Ngawi sana. — kata Kyai Tunggul sambil menunjuk kearah utara.

--- Dan coba tolonglah ceriterakan, ada kejadian apa sebenarnya didesa ini pak?—

— Kemarin dulu malam desa ini kedatangan rampok, yang dikepalai sendiri oleh Kerta Gembong. Mereka datang ber-kuda lebih dari 15 orang. Semua isi rumah-rumah diangkut, sedangkan yang melawan dibunuh secara kejam sekali. Kiranya tidak hanya sampai disitu saja kekejamannya, mereka lalu membakari rumah-rumah itu semua. — kakek tadi bicara sambil menunjuk kearah puing-puing rumah bekas hangus terbakar disekitarnya. Orang-orang yang masih hidup melarikan diri mencari keselamatan asing-masing. Lima enam penduduk yang ditangkap dipesan supaya menyampaikan kepada yang lain agar penduduk disini mengungsi jauh-jauh, karena tiga hari lagi mereka akan menetap didesa Trinil ini.— Kakek itu berhenti berbicara sebentar dan kemudian melanjutkan Iagi. — Hanya saya sendirilah yang ketinggalan disini, karena tidak tahu akan mengungsi kemana. Dan saya juga tidak tahu bahwa anaknya Jayadipa itu, masih juga ketinggalan disini. — berkata demikian kakek-kakek itu memandang kedua anak tadi.

— Lalu pak Jayadipa sendiri sekarang berada dimana pak? — tanya Kyai Tunggul.

— Begini nak, Jayadipa itulah yang menyebabkan adanya banyak korban. Ia sedianya menolong tetangganya dengan mengadakan perlawan., mungkin karena tidak tahu bahwa rampoknya banyak jumlahnya. Ia dibunuh dengan kejam sekali oleh para rampok tadi dan istrinya dibawa lari …….—

Kyai Tunggul dan Indra Sambada saling berpandang-pandangan, setelah mendengarkan cerita kakek- kakek tadi.

— Mbah, siapakah sebenarnya Kerta Gembong itu? Dan orangnya bagaimana? — lndra bertanya lagi.

— Apakah belum pernah mendengar nama Kerta Gembong. — kakek-kakek menjawab.

— Wah, dia itu namanya telah tersohor sebagai kepala rampok yang menakutkan, jangankan penduduk desa, sedangkan den Demang Jlagran yang sakti saja takut mendengar nama Kerta Gembong. Ia kabarnya orang kebal, tidak mempan dibacok dengan klewang, dan yang lebih menakutkan lagi ia seperti dapat menghilang seperti siluman.— Indra Sambada semakin bingung mendengar jawaban tadi. Nama Kerta Gembong ia belum pernah mengenalnya.

Kini ditambah dengan nama yang baru lagi baginya seorang sakti yang bernama den Demang Jlagran.

— Lalu simbah tidak mengungsi, apakah tidak takut?

--- Saya ini sudah tua, berjalan kaki terlalu jauhpun tidak mampu, jadi menyerah pada nasib, nak.— berkata demi kian kakek itu sambil menundukkan kepalanya, ia melanjutkan:

— Sebaiknya anak berdua besuk jangan berada disini, karena mereka besuk, siang entah malam hari tentu datang kemari.-

— Bagaimana pendapat bapak ? — tanya Indra kepada Kyai Tunggul.

— Sebaiknya kita pulang saja dengan membawa dua anak ini. Biarlah mereka nanti dirawat oleh ibumu. — jawab Kyai Tunggul dengan tegas. : — Marilah kita pulang sekarang. — sambil berkata demikian Kyai Tunggul memberi isyarat kepada Indra untuk segera meninggalkan tempat itu.

Mereka berdua dengan memondong dua anak tadi segera berpamitan kepada kakek-kakek itu untuk meninggalkan desa Trinil. Kakek-kakek itu mengawasi Kyai Tunggul dan Indra sebentar, kemudian menganggukkan kepalanya sambil berkata : — Hati-hati diperjalanan nak, dan semoga Dewata mclindungi kita semua.

Dengan kata-kata terakhir dari kakek tadi sebenarnya Kyai Tunggul agak merasa heran. Bukankah kakek, sendiri yang berada dalam bahaja, dan harus ber-hati-hati, tapi mengapa justru ia dengan Indra yang dikuatirkan dengan pesan yang hati-hati, diperjalanan? Rasa heran tadi disimpan didalam hatinya. Kyai Tunggul dengan menggandeng Martinem berjalan, diikuti oleh Indra dengan memondong Martinem meninggalkan desa Trinil, menuju ketebing kali Bengawan dimana sampannya ditambatkan. Mereka berjalan dengan tidak berbicara sepatah katapun. Kini Martinem ternyata tidur nyenyak dalam pondongan Indra. Terasalah teriknya matahari, karena tak ada pohon yang dijumpainya dalam perjalanan setelah meninggalkan desa Trinil. Yang ada hanya tegalan luas dcngan tanam-tanaman palawija yang kelihatan baru saja ditanamnya.

Mereka menuruni tebing kali Bengawan untuk kemudian tiba dipohon gayam tadi.

Tiba-tiba ada orang berkelebat meloncat kebawah dari atas pohon, langsung menyerang Kyai Tunggul yang sedang menggandeng Martiman dengan bacokan klewang. Sekalipun serangan tadi dilakukan secara tiba-tiba, tetapi ternyata Kyai Tunggul dengan mudah dapat menghindari. Tangan kirinya mendorong Martiman kesamping sedang ia sendiri menjatuhkan diri berjumpalitan kemuka.

Setelah penyerang gelap tadi rnenemui sasaran kosong, dengan cepatnya bangkit, dan menerjang kembali dengan bacokan klewangnya kearah Kyai Tunggul yang sedang berjumpalitan menjatuhkan dirinya. Namun kembali Kyai Tunggul menyambut serangan tadi dengan tendangan kaki kanannya kearah lambung lawannya, yang tepat mengenai sasarannya. Penyerang gelap segera jatuh terduduk kebelakang, tetapi segera bangkit dan melompat kesamping kiri untuk menghindari datangnya pukulan Kyai Tunggul yang menyusul itu. Indra Sambada masih memegang erat-erat pada Martinem yang dipondongnya itu, dengan tangan kirinya sedang tangan kanannya siap siaga untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan datang. Kiranya Martiman yang didorong dengan tangan kiri oleh Kyai Tunggul tadi jatuh terperosok kesamping, sehingga mukanya berlepotan tanah. Martiman lari kebelakang mendekati Indra Sambada dengan badannya menggigil karena takutnya.

Bersamaan dengan meloncatnya penyerang gelap kesamping kiri, menyusul penyerang gelap kedua meloncat dari balik pohon gayam. langsung menyerang pada Indra Sambada dari arah belakang.

Martiman berteriak terkejut. Tetapi Indra Sambada adalah perwira tamtama yang mendapat gelar "Banteng Majapahit.

Sejak penyerang pertama tadi menyerang Kyai Tunggul, ia telah bersiap siaga Secepat kilat Indra Sambada membalikkan badannya, dengan sikap merendahkan badannya. Tangan kanannya menjulur, menangkap pergelangan tangan kanan lawan yang sedang mengayunkan klewang kearah kepalanya, lalu ditariknya kuat-kuat disusul dengan kaki kirinya bergerak melancarkan tendangan yang tepat mengenai perut orang yang menyerang itu. Tak ayal Iagi, si penyerang jatuh terkulai ditanah dan jatuh tiada sadarkan diri, dengan hanya satu gebrakan saja. Tak kuat ia menerima tendangan yang disertai tenaga dahsyat, padahal Indra Sambada justru sengaja hanya meng-kira-kira separo dari tenaganya.

Melihat lawannya yang jatuh tak sadarkan diri itu, segera Indra Sambada memalingkan kepalanya untuk mengikuti jalannya perkelahian antara Kyai Tunggul dengan penyerang yang pertama tadi. Tetapi ternyata aneh sekali. Penyerang gelap pertama setelah melihat kawannya jatuh dan tidak sadarkan diri cepat meloncat meninggalkan gelanggang dan lari untuk kemudian terjun dikali Bengawan yang airnya deras mengalir. Ternyata penyerang pertama mempunyai kemahiran berenang. Ia menampakkan dirinya diatas permukaan air, setelah jauh mengikuti derasnya arus air yang membawanya.

Kyai Tunggul segera mendekati Indra Sambada yang sedang berjongkok memegang pergelangan tangan penyerang yang pingsan tadi, dengan Martinem yang telah terbangun menangis meronta-ronta dalam pondongannya. Berdua mereka menyeret orang yang tak sadarkan diri tadi mendekati perahu sampannya, dan Martiman mengikuti dibelakangnya. Dengan tali pengikat perahu sampan tadi, orang yang tak sadarkan diri itu segera diikat kedua tangannya kebelakang dan dinaikkan dalam perahu.

Setelah semua berada diatas perahu sampan, Kyai Tunggul mengambil air kali dengan kedua tangannya dan disiramkan kearah mukanya orang tersebut, yang sesaat kemudian terbangun kembali sadar. Ia bangkit per-lahan-lahan dan berusaha duduk dengan kedua tangannya yang masih terikat erat kebelakang.

— Jangan kau berusaha melarikan diri, bila kau masih ingin hidup. — dan ikuti semua perintahku. — bentak lndra Sambada kepada orang yang terikat itu.

— Ampun den, saya hanya disuruh, dan tidak tahu apa-apa. — jawab orang itu dengan menggigil ketakutan, dan kemudian diam dengan menundukkan wajahnya.

— Untunglah nakmas Indra Sambada ada disampingku, jika tidak tentu namakulah yang kembali dan tidak dapat bergurau lagi dengan Nyai. — Kyai Tunggul memecah kesunyian dengan tersenyum lebar.

— Akh tidak kusangka, bahwa Bapak Kyai dapat mengelabuhi mata saya. Satu tahun aku menjadi raurid bapak, masih juga tidak tahu, bahwa bapak Kyai mahir pula dalam ilmu krida yudha. Baru kali inilah saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, dan kini tentunya bapak tidak akan dapat menyembunyikan rahasia lagi.— Indra menyahut dengan tersenyum pula.

— Itukan hanya suatu kebetulan saja. — Kyai Tunggul membantah — Orang yang menyerangku tadi kebetu.lan orang yang hanya pandai melarikan diri, dan terbukti dalam perlombaan lari tadi , aku kalah pula dengannya.—

— Tetapi bapak tadi memang sengaja tidak mengejar. Dan aku yakin bahwa bapak dapat menangkapnya apabila hal itu dikehendaki. — sahut Indra mendesak. — Bukan demikian maksudku, justeru aku tidak mau mengejar karena tidak mungkin aku dapat menangkapnya, mengingat daya kemampuanku yang tak berarti ini. — masih juga Kyai Tunggul mengelak — Sudahlah, jangan kita persoalkan lagi, yang terang aku harus berterima kasih pada nakmas Indra — berkata demikian Kyai Tunggul sambil mendayung sampannya menepi dipinggiran.

— Anak2 manis, mari kita turun! Tidak jauh dari kita sudah sampai dirumah — Kyai Tunggul berkata sambil menggendong Martiman. Martinem yang masih ter-isak-isak me-nangis didalam pondongan tangan kiri Indra Sambada, sedangkan tangan kanan Indra memegang tali pengikat orang itu dan memerintah — Ayo lekas jalan kedepanku,— bentaknya.

Orang-orang tetangga yang melihat pulangnya Kyai Tunggul dengan Indra Sambada membawa dua anak kecil serta seorang yang dibelenggu tangannya, segera datang dan berkumpul masuk dipendapa rumah Kyai Tunggul dan menanyakan tentang peristiwa kejadiannya.

Untuk tidak memperpanjang pertanyaan-pertanyaan, oleh Tunggul diterangkan dengan singkat, bahwa orang yang diikat ini adalah begal yang mau menganiaya kedua anak itu, dan kemudian dapat diringkus oleh Indra Sambada. Tapi masih ada pula diantara orang-orang itu yang kurang puas dengan keterangan yang diberikan oleh Kyai Tunggul, bahkan ada pula yang segera melontarkan rasa kemarahannya pada orang yang diikat tadi dengan memberikan tinju kearah muka orang itu.

— Bunuh saja, orang yang macam begini ini! — teriaknya. Indra segera menyapih orang-orang yang sedang marah tadi dengan berkata — Sudahlah kisanak, jangan turut campur dalam urusan ini. Orang ini akan aku serahkan kepada punggawa praja yang berwenang dikota nanti malam.—

Orang-orang tetangga segera pulang kerumah masing-masing dengan menahan perasaan yang kurang puas.

Nyai Tunggul turut sibuk pula mengurus dua anak tadi. Martinem masih juga menangis dan selalu menanyakan ibunya. Kakaknya Martiman dengan kata-kata membujuk menghibur adiknya. Sambil menyuapkan nasi kepada Martinem Nyai Tanggul sebentar-sebentar mengusap matanya dengan ujung bajunya karena selalu mengembeng air mata. Nyai Tunggul tak tega melihat kepada kedua anak tersebut yang tertimpa kemalangan sedemikian rupa.

--- Diam ya manis, jangan menangis lagi.— kata Nyai Tunggul menghibur.

Saya inilah gantinya ibumu selama ibumu belum pulang. Tak lama lagi ibumu pasti menyusul kemari.—

— Diamlah Nem, kakaknya turut menghibur: — Besok ibu tentu datang kemari !— Setelah dua anak tadi makan kenyang dan diberi pakaian sekedar menutupi badannya, rnereka segera merebahkan badannya diatas bale-bale dengan ber-himpit-himpitan, dan tak lama kemudian tidur dengan nyenyaknya.

Nyai Tunggul masih tetap duduk menunggu disisinya, sambil mendengarkan percakapan Kyai Tunggul dengan Indra Sambada yang duduk tidak seberapa jauh dibale-bake sebelahnya. Sujud menguntit terus dibelakang Kyai Tunggul dan memasang telinganya lebar-lebar untuk mengikuti percakapan bapaknya?


— Bagaimana menurut pendapat bapak, akan tindakan kita selanjutnya? — Indra bertanya.

— Hal itu memang sangat sulit sekali, untuk memecahkannya. — Kyai Tunggul menjawab dengan memejamkan matanya sesaat, seolah-olah sedang ada yang dipikirkan berat. Kemudian ia melanjutkan.

— Segala sesuatu harus dipikirkan masak-masak nakmas, tak boleh kita asal bertindak.—

— Akan tetapi jangan sampai kita terlambat, pak! — desak Indra Sambada.

— Ya, tentunya demikian. Kukira dalam hal ini nakmas mempunyai kelebihan daripada saya. Berlainan halnya apabila menolong seseorang yang sedang sakit …….— — Akh ……., lagi-lagi bapak masih juga merendahkan diri, — Indra Sambada menyahut sambil bergumam.

— Hasratku untuk menumpas perampok itu memang besar, tetapi apa daya, kemampuanku tidak memungkinkan untuk mendapat hasil yang baik, bahkan mungkin akan terjadi sebaliknya. Maka saya menyerahkan akan kebijaksanaan nakmas Indra Sambada saja, bagaimana sebaiknya, — Kyai Tunggul menjawab.

Mendengar jawaban Kyai Tunggul itu, Indra sebenarnya timbul rasa kecewanya. Namun demi untuk menghormat orang tua itu sebagai gurunya ia melanjutkan bicaranya dengan merendah. - Baiklah, saya akan mengemukakan pendapat saya, setelah saya memeriksa tawanan itu. — Berkata demikian Indra Sambada bangkit dan berdiri dimuka orang yang duduk dilantai sebagai tawanannya itu.

Ternyata setelah mengadakan tanya jawab dengan orang yang diikat tangannya itu Indra Sambada tidak dapat menghasilkan jawaban yang diharapkan. Rupa-rupnyanya orang itu hanya seorang bawahan biasa yang disuruh untuk mengadakan pengawasan didesa Trinil tadi, berkenaan dengan akan datangnya para perampok pada besok petang harinya.

Tiga orang pemuda desa yang berada dipondok Kiai Tunggul segera dipanggil dan diperintah uutuk menjaga tawanan itu bergiliran. Kini orang tahanan tndi dibawa kebelakang di-kandang pedati dan dijaga oleh tiga orang pemuda tadi secara bergilir.

— Bagaimana halnya jika orang tadi besok pagi-pagi lepaskan, pak.— Indra Sambada bertanya kembali kepada Kyai Tunggul, setelah orang tahanan tadi dipindahkan kebelakang.

— Jangan, jangan nakmas! — jawab Kyai Tunggul dengan sungguh-sungguh.

— Walaupun orang itu tidak ada artinya bagi kita, tapi jangan sampai dilepaskan besok pagi, itu dapat menggagalkan siasat kita!.

— Dalam hati Indra Sambada merasa geli juga. Kini setelah dia mengusulkan supaya dilepaskan tahanan tadi. Kyai Tunggul mencegah karena takut akan kegagalan siasatnya, sedangkan sebelumnya ia menyerahkan akan kebijaksanaannya. Indra Sambada sama sekali tidak memperlihatkan rasa gelinya ia tetap bicara dengan wajar. — Lalu mau kita apakan tahanan itu, pak? --- Indra Sambada melanjutkan kata-katanya.

--- Kita lepaskan juga, akan tetapi setelah nakmas Indra berhasil menumpas Kerta Gembong dengan gerombolannya.—

Jawab Kyai Tunggul. Usul ini sebenarnya sependapat pula dengan fikiran Indra Sambada, namun ia hanya berpura-pura saja, untuk mengetahui siasat Kyai Tunggul.

— Mengapa justru saya sendiri yang harus menumpasnya, bukankah kita berdua bersama Bapak Kyai? Karena saya sendiri belum tahu akan kesaktian yang dimiliki oleh Kerta Gembong. Kenal namanya saja baru sekarang.— Kembali Indra Sambada mendesak Kyai Tunggul.

— Bagaimanapun kesaktian Kerta Gembong, aku percaya bahwa nakmas pasti dapat menundukkannya. Saya akan mengawasi dari kejauhan, karena jika saya turut serta, nanti bahkan akan mengacaukan gerakan nakmas Indra. Saya hanya bermaksud untuk menolong kakek tadi keluar dari desa Trinil—

Kini Indra menaruh curiga pada Kyai Tunggul. Sewaktu Kyai Tunggul diserang deagan tiba-tiba Indra melihat dengan jelas, bahwa gerakan cara mengelakkan serangan-serangan tadi adalah mentakjubkan. Kiranya jarang yang memilikinya. Tetapi sekarang kelihatannya Kyai Tunggul takut menghadapi Kerta Gembong dengan gerombolannya. Apakah ini hanya merupakan sandiwara saja dari Kyai Tunggul, Indra Sambada tidak da-pat menebaknya. -Biarlah, besok toh akan terbongkar juga rahasianya - pikir Indra *

**

Bayangan hitam berkelebat bergerak pesat dikegelapan malam, memasuki suatu pekarangan didesa Trinil. Dengan tangkasnya bagaikan seekor kuciing ia memanjat pohon nangka dan melompat mlembar kewuwungan sebuah rumah Genteng. Gerakan itu dilakukan dengan ketangkasan yang luar biasa,menilik tidak adanya suara bergoyangnya dahan ataupun suaranya genteng pecah. Cepat bayangan hitam itu mengguling ke bawah dan untuk kemudian menjatuhkan diri ditalang antara bangunan dapur dan rumah besar, dengan tidak mengeluarkan suara sedikitpun, se-olah-olah seperti daun kering saja jatuhnya. Sungguhpun langit cerah, dan bintang-bintang bergemerlapan diangkasa, namun cahaya bulan sedikitpun tiada nampak. Bulan purnama telah berselang beberapa waktu yang lalu.

Indra Sambada dengan pakaian ringkasnya yang serba hitam dengan keris pusakanya dipinggang dan kantong berisi taji disebelah kanan, sedang melihat melalui celah-celah genteng keruangan dalam rumah yang terang benderang mendapat sinarnya cahaya lampu minyak yang tergantung di tengah- tengah ruangan. Lima orang sedang duduk di bale-bale dengan bercakap-cakap keras, yang diselingi dengan gelak ketawa. Satu diantara lima orang itu adalah Kerta Gembong sendiri. Ia memakai baju hitam dengan disulam benang emas berbentuk kepala harimau didadanya. Sedang golok panjang hamper menyerupai klewang dengan tangkainya dari gading terselip dipinggang menonjol kedepan.

Celananya hitam panjang sampai dibawah lutut, dengan sarung warna dasar merah yang dilipat menyelubungi perutnya. Orangnya bertubuh tinggi besar, mukanya bersih berseri-seri dengan matanya yang agak cekung dan bersinar tajam. Rambutnya panjang terurai sampai dipundaknya dan kelihatan telah berwarna dua. Ikat kepalanya lebar segitiga diikat kebelakang berwarna merah. Sungguhpun ia dalam percakapan tadi lancer menggunakan Bahasa daerah Jawa namun logatnya menunjukkan bahwa ia bukan berasal dari daerah sekitar Kota Raja ataupun dari daerah Martapura. Ketiga orang yang berada dihadapannya semua berpakaian serba hitam pula, dengan bersenjatakan klewang, sedangkan seorang yang duduk disamping kiri Kerta Gembong, pakaiannya menyerupai Kerta Gembong. Hanya sulamannya dengan benang perak didadanya, berbentuk kepala harimau pula.

Orang yang berkumis tebal tidak berjenggot dan alisnya tebal berbentuk sepasang golok. Mukanya kasar dan bopeng, dengan sinar pandang matanya yang bengis. Menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang kejam yang tidak berkeperikemanusiaan. Dihalaman luar kelihatan adanya empat ekor kuda yang ditambatkan pada pohon dadap, dan ringkikannya terdengar jelas.

Dari percakapan itu dapat ditarik kesimpulan bahwa Kerta Gembong akan menyerahkan pimpinannya kepada orang yang berada disampingnya. Dan dari pembicaraan itu dapat diketahui pula bahwa orang itu bernama Suronggolo, atau digelari oleh anak buahnya Suro Macan.

Sedangkan orang-orang banyak yang mengenalnya, menamakan dia sebagai Surodaksiyo, dengan melihat kekejaman yang telah dilakukan.

— Adi Suro, saya akan pergi jauh selama kurang lebih satu tahun, maka desa Trinil ini supaya kau jaga dan pertahankan sebagai tempat kita menetap untuk melebarkan sayap kita kearah timur hingga sampai di Kota Raja. Kelak apabila saya kembali akan langsung datang didesa ini. Panggilah besok pagi-pagi Den Demang Jlagran itu, dan angkatlah dia sebagai wakilmu. Dengan dia berarti kita mempunyai tambahan anak buah yang tidak sedikit jumlahnya. Lagi pula ia adalah punggawa narapraja, yang mempunyai pengaruh luas didaerah ini.—Kerta Gembong berhenti sejenak dan mulai lagi menghisap pipanya dalam- dalam dan menghembuskan asap tembakaunya keluar dari mulutnya.

Kakang Kerta.— orang disamping yang diajak bicara menjawab dengan suara parau — Perintahmu akan saya taati semua, tapi sebelum kau berangkat hendaknya simpanan harta benda kita, kita bagi- bagikan lebih dahulu.

— O, soal itu tak usah kau khawatirkan, semua harta akan aku serahkan semua padamu, sedangkan aku hanya akan membawa bekal secukupnya saja untuk keperluanku diperjalanan. — sahut Kerta Gembong.

Salah satu dari ketiga orang yang berada dihadapannya memotong bicara:— Percaya saja kepada Pak Gem- bong, kang Suro. Sedari dahulu Pak Gembong tidak pernah rakus dalam pembagian harta. Bahkan sebagian besar selalu diberikan kepada anak-anak buah seperti kita-kita ini.—

Belum juga Suronggolo menjawab, tiba-tiba genteng diatasnya jatuh pecah berantakan dilantai, dan bersamaan dengan itu meloncat jatuh tegak berdiri seorang pemuda yang berpakaian serba hitam didepan mereka, dengan tangan kiri bertolak pinggang, sedangkan tangan kanannya menuding sambil berkata Menyerah semua!-

Dengan tidak menjawab akan seruan itu Suronggolo dengan suatu gerakan meloncat langsung menyerang dengan babatan klewangnya kearah pinggang Indra Sambada. Dengan tangkasnya Indra Sambada memiringkan badannya dan surut setindak untuk mengelakkan serangan tadi.

Dengan satu loncatan kesamping kiri Indra Sambada langsung memukul lampu yang tergantung dengan telapak tangannya. Lampu padam dan kini ruangan menjadi gelap gulita. Segera suara gaduh terdengar. Lima orang serentak maju dengan senjata masing-masing ditangan menerjang Indra Sambada. Tetapi kiranya tidak mudah menyerang dalam kegelapan, dimana semua kebetulan memakai pakaian serba hitam. Satu sama lain bertubrukan, bahkan ada yang terkena bacokan klewang kawannya sendiri.

Kerta Gembong bersiul panjang dan nyaring, serta menerjang keluar dengan pukulan yang dahsyat ditujukan kearah pintu. Pintu kaju jati yang kokoh segera hancur berantakan dan terbuka lebar. Semua itu hanya terjadi dalam sekejap mata saja. Semua segera mengikuti gerakan Kerta Gembong ketuar rumah. Namun dua diantara orang-orang tadi yang segera jatuh tersungkur didepan pintu dengan tidak bernafas lagi. Dua buah taji yang dilemparkan Indra Sambada tepat mengenai kepala bagian belakang dari kedua orang tadi.

Melesatnya Kerta Gembong seperti bayangan dalam kegelapan malam, diikuti oleh Suronggolo menuju ketegalan pinggiran desa Trinil. Sesaat ketnudian menusul Indra Sambada dengan tidak kalah gesitnya. Kiranya untuk tanya jawab sudah tidak ada kesempatan lagi. Kerta Gembong segera membalikkan badannya dengan golok terhunus langsung menyerang Indra Sambada yang baru saja. tiba mengejar. Demikian pula Suranggala membantu menyerang Indra dengan klewangnya. Pertarungan sangit terjadi, Indra Sambada sangat sibuk melayani dua musuhnya yang tangguh dan bersenjata.

Dengan suara teriakan nyaring Indra Sambada meloncat tinggi untuk menghindari dua senjata yang menyerang dari arah yang berlawanan, untuk kemudian jatuh disamping. Dengan demikian kini ia dapat melayani serangan-seranga hanya dari depan dan samping.

Tapi Kerta Gembong rupanya telah menduga akan maksud yang akan dilakukan oleh Indra Sambada. Dengan tidak kalah tangkasnya pula ia meloncat tinggi dengan goloknya membabat kearah kepala Indra. Kembali Indra Sambada menjadi sibuk, dan segera ia merendahkan diri untuk menghindari serangan yang dilancarkan mengarah kekepalanya. Dengan demikian kedudukan Indra Sambada kembali seperti semula, yang mana ia harus melayani serangan-serangan msuhnya dari arah yang berlawanan lagi yaitu dari arah muka dan belakang. Kedudukan yang demikian itu kurang menguntungkan bagi kedudukan Indra Sambada. Namun ia tetap masih dapat melayani dengan tangan kosong. Untuk mencabut keris pusakanya dirasakan belum pada saatnya. Ia menyesal mengapa ia tadi tidak membawa klewang ataupun tongkat. Kesempatan untuk menggunakan lemparan tajinya tidak ada, karena datangnya serangan dari arah yang berlawanan itu sangat bertubi-tubi, ditambah jarak antara keduanya sangat terlalu dekat. Benar-benar Kerta Gembong memiliki kemahiran dalam menggerakkan goloknya. Gerakannya menyamai gerakan seorang perwira tamtama yang tangguh. Kini ia tahu sudah akan segi kekuatan dan kelemahan lawan Indra Sambada berniat menggempur Suronggolo terlebih dahulu, yang tidak begitu mahir dan tangkas dibandingkan dengan Kerta Gembong.

Suronggolo hanya mengandalkan pada kekuatan dalam gerakan menggunakan klewang untuk membabat serta memutarkannya sebagat perisai, apabila diserang.

Dalam pertempuran ia banyak mengeluarkan tenaga, tidak seperti halnya dengan Kerta Gembong yang selalu menyerangnya dengan perhitungan-perhitungan yang cermat serta berbahaya. Seringkali gerakan golok Kerta Gembong hanya merupakan pancingan saja, yang kemudian disusul dengan tendangan-tendangan yang dahsyat atau pukulan tebangan dengan tangan kirinya disertai loncatan yang indah.

Pertempuran berjalan dengan serunya, Kerta Gembong bersiul nyaring lagi mengulangi panggilan kepada bawahannya dengan melancarkan serangan-serangan yang berbahaya. Namun agaknya ia menjadi heran, setelah sesaat mengawasi kanan kiri tidak ada anak buahnya yang datang.

Ternyata niat Indra Sambada untuk lebih dahulu menggempur Suronggolo tidak mendapat kesempatan, dan tidak mudah pelaksanaannya, sebagaimana ia perkirakan lebih dahulu. Tiap kali ia akan menerjang Suronggolo, golok Kerta Gembong selalu berkelebat menyerangnya dari arah yang tidak diduga.

Tusukan golok Kerta Gembong kembali datang dari arah belakang, yang cepat dielakkan oleh Indra Sambada dengan merendahkan badannya, tetapi segera disusul lagi dengan tendangan yang dahsyat. Ternyata tusukan goloknya hanya merupakan tipu belaka. Serangan semacam itu sudah dapat diduga dan mendapat perhatian lndra akan datangnya tendangan yang beruntun.

Namun sekarang kiranya sukar untuk dielakkan. Kerta Gembong tertawa nyaring demi melihat serangan tendangan kakinya mengenai sasarannya dan bersarang dilambung Indra Sambada. Dengan jatuh ber- guling-guling Indra bangkit merapat dengan badannya Suronggolo yang sedang mengayunkan klewangnya kearah kepala lawannya.

Kesempatan demikian tidak di-sia-siakan oleh Indra Sambada. Dengan pukulan pada pergelangan tangan kanan Suronggolo, klewang yang dipegang dengan eratnya telah terpental jatuh sejauh dua langkah dari tempat itu. Bersamaan dengan terpentalnya klewang, bayangan hitam berkelebat mendatangi dan langsung memukul Suronggolo dengan pukulan tongkat yang tepat mengenai kepalanya, hingga Suronggolo jatuh terlentang untuk tidak berkutik lagi. Dalam saat yang sama Kerta Gembong meloncat surut kebelakang dan lari terus meninggalkan gelanggang pertempuran. Kerta Gembong sadar bahwa tendangan yang diperkirakan dapat mematikan ternyata memang sengaja diterimanya dengan kekuatan dalam yang luar biasa sebagai gerak tipuan. Gerak tipu Indra Sambada ternyata hanya setengah berlindung karena gerak tipunya cepat dapat diketahui oleh lawannya. Pada waktu tendangan dari Kerta Gembong diterimanya, Indra Sambada memang sudah mematek aji kesaktiannya Bandung Bondowoso yang disalurkan keseluruh badannya untuk membuat dirinya kebal terhadap serangan pukulan-pukulan dan tendangan yang sudah diduga terlebih dahulu datangnya.

Indra Sambada segera meloncat mengejar larinya Kerta Gembong. Tetapi Kyai Tunggul dengan tangkasnya melemparkan tongkat penjalinnya menghadang didepan Indra Sambada. Ternyata tongkat yang dilemparkan tadi tepat beradu dengan sebatang golok pendek yang meluncur dengan pesatnya kearah Indra.

Kiranya sambil berlari cepat Kerta Gembong melemparkan golok pendeknya kearah Indra Sambada untuk mencegah pengejaran. Indra Sambada terpaksa berhenti sejenak untuk mengelak kesamping. Dalam hati ia memuji ketangkasan Kyai Tunggul dalam melepaskan tongkat penjalinnya. Dengan demikian terang sndah bahwa Kyai Tunggul memiliki pula suatu ilmu yang tinggi. Dengan melihat jatuhnya dua benda yang berbenuran diudara tadi, Indra Sambada  

dapat mengukur pula akan kekuatan Kyai Tunggul dan Kerta Gcmbong adalah seimbang.

Kini jarak antara Indra Sambada, dan Kerta Gembong telah lebih dari lima puluh langkah, maka Indra Sambada segera melemparkan tajinya kearah Kerta Gembong dengan kekuatan bathin yang telah disalurkan lewat tangannya.

Taji meluncur cepat, berkelebat sepintas dalam kegelapan. Namun kiranya Kerta Gembong telah waspada akan datangnya bahaja dari belakang. Golok panjang disabetkan dengan berpusingan sambil terus lari dengan membongkok. Suara beradunya taji dan golok yang tepat berpapasan terdengar nyaring.

Kyai Tunggul maju mendekati Indra Sambada dan mengambil tongkatnya yang jatuh ditanah. Ia memegang lengan Indra dan tangan kanannya menunjuk kearah larinya Kerta Gembong dalam kegelapan.- Lihatlah, nakmas. Ada bayangan baru yang muncul mengejar Kerta Gembong

— Siapakah dia, pak ?—Indra menyahut dan bertanya. Bukankah kita hanya berdua ,saja?-. Tapi jarak dua bayangan yang sedang kejar mengejar itu agak jauh, sung guhpun jarak antara keduanya terlihat makin dekat. Tiba-tiba sampai diujung desa Kerta Gembong meloncat tinggi, dan kemudian ….. ternyata ia telah menaiki kudanya yang ditambatkan dikegelapan diujung desa tadi.

Ia memacu kudanya dengan berteriak lantang:— Tunggulah setahun lagi aku pasti datang kembali disini!. — Suaranya jelas terdengar sebagai ancaman. Hanya tertuju kepada siapa, Indra Sambada tidak tahu.

Kyai Tunggul dan Indra Sambada masih mengikuti larinya bajangan yang kedua sampai diujung desa pula, tetapi bayangan tadi kini hilang di kegelapan dan tidak meninggalkan bekas. Kyai Tunggul membisikan kata-kata ketelinga Indra Sambada dengan pelan, kemudian mereka berdua segera masuk kembali didesa Trinil dan memasuki rumah rusak yang ditempati oleh kakek-kakek waktu kemarin.

Berdua mereka menjumpai kakek-kakek itu. yang sedang duduk bertopang dagu dengan tongkatnya ditangan, serta menggigil ketakutan.

— Mbah, apakah tadi tidak ada orang masuk kemari?— Indra Sambada menegur.

— Tidak nak!— yang saya dengar ialah keributan diluar sana, tapi saya takut untuk melihatnya,— djawab kakek-kakek dengan kata-kata terputus, karena ketakutan- Kyai Tunggul dengan Indra Sambada segera keluar lagi menudju kerumah bekas tempat pertempuran tadi. Pun disitu sunyi sepi tak ada suara orang ataupun ringkikan kuda. Mereka segera memasuki halaman. Dan alangkah terkejutnya setelah melihat empat orang bergelimpangan menjadi mayat, demikian pula ke-empat-empat kuda mengalami nasib yang sama. Seingat Indra, dalarn pertempuran tadi hanya dua oranglah yang menjadi korban lemparan taji-nya. Indra Sambada memandang kepada Kyai Tunggu dengan penuh curiga, namun Kyai Tunggul tiba-tiba menegur Indra; — aach, kuda-kuda itu sebenarnya tak perlu dibunuh, nakmas! Tetapi sudah terlanjur!— gumamnya.

— Bukankah ini semua bapak yang melakukannya? — Indra Sambada bertanya dengan rasa curiga!

--- Ha? …… Tak mungkin saya sekejam ini!— jawabnya tegas:— Mari kita kembali ketempat kakek- kakek tadi!—

Mereka segera keluar halaman menyeberangi jalan desa menuju ketempat kakek-kakek tadi yang sedang duduk menggigil ketakutan. Tetapi keduanya lebih lagi terperanjat, penuh dengan keheranan. Setelah mencarinya didalam kegalapan dimana kakek-kakek tadi telah tidak berada dirumah itu.

Mereka segera keluar rumah yang sudah tinggal separo itu, menuju kehalaman belakang. Dan terdengarlah suara rintihan orang. Setelah didekati ternyata ada lima orang yang diikat kakinya dan tangannya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Hanya seorang diantara mereka telah kembali sadar dan merintih kesakitan. Kyai Tunggul segera menyiramnya dengan air yang ditimbanya dari perigi yang berada dlalaman. Setelah keempat lainnya sadar kembali, mereka mulai mengerang kesakitan daa menggigil ketakutan minta diampuni.

Kelima orang tadi setelah berjanji tidak akan melakukan lagi perbuatannya menjadi perampok, segera dilepaskan dari ikatannya dan disuruh pergi dari desa Trinil, dengan membawa mayat-mayat kawan- kawannya serta mengubur kuda-kuda yang telah mati. Dari keterangan yang diperoleh dari kelima orang anggota perampok itu bahwa isteri Jajadipa kini berada dirumahnya Demang Jlagran.

— Mari kita pulang dahulu, nakmas, nanti setelah kita beristirahat sejenak, akan saya ceriterakan dengan jelas persoalan yang rumit ini! — Kyai Tunggul berkata. Waktu itu telah hampir fajar.

Dengan janji Kyai Tunggul itu, Indra Sambada agak merasa lapang hatinya. Ia percaya bahwa teka teki yang selarna ini terkandung dalam hatinya akan dapat segera dipecah oleh keterangan Kyai Tunggul itu.

Sampai dirumah keduanya segera duduk berjajar ber sama-sama mengatur pernafasannya, untuk kemudian bersemedi. Lama mereka tenggelam dalam semedinya.

Terebih dahulu Kyai Tunggul dan Indra Sambada melakukan sembahyang kepada Dewata Yang Maha Agung yang telah memberikan akan segala kemurahanNya, dan kemudian memulihkan tenaganya kembali. Mereka lalu merebahkan badannya untuk membiarkan syaraf-syarafnya dan jalan darah kembali tenang dan berjalan seperti keadaan sebagaimana mestinya.

Memang bagi orang yang telah tinggi ilmu bathinnya, jika dikehendaki, ia tidak memerlukan waktu terlalu lama untuk istirahat dan memulihkan tenaganya walaupun telah lebih kurang sehari semalam tak mengaso. Waktu itu waktu telah pagi. Orang-orang petani telah berada disawah untuk mengerjakan tanahnya, sedangkan orang yang pergi ke-pasarpasar desa telah pulang pula. Para wanita dari petani- petani itu, telah pula siap untuk berangkat kesawah dengan rnembawa makanan dan minuman untuk merangsum kepadn suaminya atau keluarganya yang sedang mengerjakan sawahnya dengan giat.

Matahari dari timur memancarkan sinarnya dengan teriknya. Anak-anak kecil ber- main-main dipekarangan dan ditegalan dengan asyiknya.

--- Marilah nakmas, kita berangkai mencari ikan dikali Bengawan, sambiI nanti kuceriterakan rahasia yang selama ini menjadi tanda tanya bagi nakmas! — Kyai Tunggul mengajak Indra Sambada.

Dengan membawa jaring dan kantong tempat ikan yang lazim disebut "kenis". Mereka pergi menuju kekali Bengawan dengan diikuti oleh Sujud.

Bersampan mereka bertiga menuju kehulu sungai dengan pelan. Sebentar-sebentar Kyai Tunggul melemparkan jaringnya yang mengembang seperti Iingkaran jatuh diair dangkal ditepi, dan kemudian ditariknya pelan-pelan untuk diangkat. Jaring yang berkembang melingkar dengan pelan menjadi kecil kembali dan melipat. Ikan-ikan kecil, wader dan sebangsanya berkolejotan didalam jaring, dan Sujud membantu mengambil ikan-ikan itu untuk kernudian dimasukkan dalam kantong yang dibawanya.

Yaitu kepis yang terbuat dari bambu yang dianyam. Indra Sambada mendayung sampan dengan pelan-pelan, terus menyusuri tepi Bengawan menuju kehilir.

Kini kantong ikan telah terisi hampir penuh. Tiga per-empat dari kepis itu penuh dengan ikan yang ber-macam-macam. Setelah mengawasi kekanan kekiri yang ternyata sepi, perahu sampan segera dibelokkan ketepian, dan Kyai Tunggul segera memulai bicara. — Nakmas Indra, kurasa sekarang telah tiba saarnya aku membuka rahasia yang aku pendam, dan juga mengenai kejadian kemarin dulu itu kepadamu!-

Indra Sambada membetulkan duduknya dan mendengarkan dengan penuh perhatian.

— Sebetulnya aku telah mengenaI si Kerta Gembong — Kyai Tunggul melanjutkan kata-katanyanya.— Kerta Gembong itu dulunya adalah Bupati tamtama juga dari Kerajaan Pajajaran dan bernama Kertanata Kusumah. Terang bahwa baginya ada maksud-maksud tertentu dibalik memimpin rampok yang mengganas didaerah ini. Semalam aku mengintai pula dari luar dengan jelas dari celah-celah gebyok untuk meyakinkan. Ternyata yang telah aku dengar, sejak waktu lama berselang itu benar.—Kyai Tunggul menghela nafas panjang. — Jika dernikian apa kira-kira maksud yang sebenarnya, pak?— Dan siapakah kakek-kakek itu yang serba aneh itu?— Indra memotong pembicaraan.

— Sabarlah dahulu.— Kyai Tunggul menjawab. — Untuk menjawab pertanyaanmu itu, ceritanya sangat pan yang. Sewindu yang lalu sewaktu perang Bubat yang menyedihkan itu terjadi, hingga merupakan malapetaka bagi seluruh Narapraja dan tamtama bahkan meliputi pula sebagian besar rakyat. Banyaklah para perwira tamtama yang meninggalkan Kota Raja dan kini mereka berada didaerah Sumedang, yang disebut orang Gunung Nyalindung.

Mereka berkumpul disitu untuk menghimpun kembali kekuatan baru yang maksudnya untuk merebut kembali Kerajaan Pajajaran.

Tetapi ternyata Kerajaan Majapahit telah lebih cepat menggantikan para pimpinan tamtama dan punggawa narapraja untuk menggagalkan maksud-maksud itu. Punggawa narapraja dari Kerajaan Majapahit yang memerintah daerah Pajajaran itu, ternyata dari sebagian diantaranya ada yang kejam dan menindas rakjatnya. Rasa kurang puas dalam hati tiap-tiap para perwira tamtama yang memang sudah tertanam itu, menjadi lebih melonjak lagi. Namun ada pula diantara para perwira tamtama dan bekas narapraja Pajajaran yang ingin mengetahui lebih dalam lagi, sebelum menentang kekuasaan yang menindas daerah Pajajaran itu.

Bahkan ada pula para perwira tamtama yang berpendapat bahwa perang Bubat itu disebabkan adanya Durno-durno dalam istana Kerajaan Majapahit jadi bukan atas kehendak Baginda Rajasanegara ataupun Gusti Patih Mangkubumi Gajah Mada.

Kiranya para perwira tamtama masih terus akan melanjutkan usaha-usahanya itu hingga berhasil. Mereka tidak mau berhenti sebelum mengetahui siapa Durno-durno yang berada di Istana Kerajaan Majapahit. Dengan semboyan mereka akan menuntut kembalinya daerah Pajajaran. Hal ini dapat dimengerti dengan adanya tindakan-tindakan dari para punggawa-punggawa yang ditempatkan untuk memerintah dari Kerajaan Majapahit yang telah memeras dan menindas secara kejam didalam daerah yang dikuasai.— Kyai Tunggul menceriterakan dengan semangat yang bernyala-nyala dan kelihatanlah diwajahnya bahwa ia juga turut dendam pada punggawa-punggawa yang menyeleweng itu.

Karena tidak adanya perpaduan pendapat dalam hal pelaksanaan cara menentangnya kebijaksanaan Kerajaan Majapahit yang semena-mena itu, maka para perwira tamtama yang mempunyai keberanian dan kecintaan terhadap Tanah Air dan rakyatnya bertindak sendiri-sendiri. Ada yang bermaksud untuk membalas mengacau didaerah Majapahit dan ada pula yang bermaksud untuk membalas membunuh pada Durno-durno yang berada di Istana. Namun adapula yang mengambil jalan secara halus dengan berniat menyampaikan kepada Baginda di Kerajaan Majapahit, keadaan yang sebenarnya demi kepentingan rakyat banyak. Tetapi maksud yang terakhir ini sukar dicapai, sebelum menyelidiki lebih dalam lagi tentang kebijaksanaan Kerajaan Ma-japahit yang sesungguhnya, dalam memperlakukan rakyat daerah bekas Kerajaan Pajajaran. Dan pula tidak mudah untuk menghadap secara langsung kehadapan Sri Baginda Maharaja Rajasanegara.

Jika diteliti keadaan dahulu sebelum perang Bubat terjadi, hubungan antara kedua Kerajaan dan hubungan rakyatnya itu sangat baik sekali, namun sekarang masing-masing terutama dari sebagian besar rakyat Pajajaran telah menyimpan benih kedendaman yang mendalam terhadap rakyat Kerajaan Majapahit, yang sukar dipadamkan.

Telah tiba saatnya aku sekarang akan membeberkan semua rahasiaku sendiri kepadamu dengan se- jujur-jujurnya. Sampai disini Kyai Tunggul berhenti bicara sejenak dan mengawasi kembali kanan- kiri sekitarnya, untuk kemudian memandang tajam kepada Indra Sambada.

— Nakmas Indra, sebagai muridku tentunya nakmas tahu apa yang kumaksudsan — Kyai Tunggul melanjutkan ceritanya kembali — Janganlah nakmas melihat dari kacamata sepihak, apabila hendak bertindak adil dan bijaksana demi kepentingan rakyat banyak. Rakyat tak mungkin mau diajak bertindak yang bukan-bukan, seperti memberontak atau menuntut yang bukan-bukan apabila mereka diperlakukan wajar dan bijaksana olch para punggawa yang menguasai.

Dan kurasa dengan jalan yang bijaksana dapat pula Kerajaan Majapahit menaungi Kerajaan Pajajaran, dengan mengangkat para bekas perwira tamtama dan para punggawa narapraja untuk ditempatkan dalam kedudukan yang wajar. Tentunya dalam hal ini memerlukan penelitian dan penyaringan lebih dahulu terhadap kelakuan dan sifat-sifat para perwira tamtama dan punggawa narapraja tadi.

Aku jakin bahwa hubungan baik antara rakyat Pajajaran dan Majapahit akan terjalin pulih baik kembali. Dan dengan demikian nama keagungan Kerajaan Majapahit akan lebih harum. Rakyat akan dapat bersatu kembali dalam naungan satu bendera Kerajaan Majapahit seperti dahulu kala.

— Apakah yang bapak maksudkan itu, agar Kerajaan Pajajaran dihidupkan kembali? — Sela Indra Sambada.

--- Bukan, bukan dernikian maksudku nakrnas. — menjawab Kyai Tunggul dengan cepatnya. Jika pemerintahan diserahkan kepada orang-orang Pajajaran sendiri aku yakin bahwa ketenteraman dan kesejahteraan rakyat akan lebih dapat dicapai. Hal ini tidak perlu dengan menghidupkan kembali Kerajaan Pajajaran yang telah musna itu. Dahulu Sri Baginda Raja menyerahkan putrinya untuk dipersunting oleh Sri Baginda Rajasanegara, adalah dengan maksud mempererat hubungan kedua Kerajaan yang telah terjalin lama, dan rela pula untuk dinaungi dibawah satu bendera Kerajaan. Tetapi kiranya ada Durno-durno dalam Istana, sehingga perang Bubat terjadi dan sangat menyedihkan.

Tujuh tahun lebih aku tekun menyelidiki tata Pemerintahan Kerajaan Majapahit, dan sekarang aku telah mengetahui dengan jelas, bahwa Priyagung-priyagung pimpinan Pernerintahan Kerajaan Majapahit pada umumnya bersifat ksatrya dan arif bijaksana. Demikian pula sifat Gusti Patih Mangkubumi Gaja Mada yang lebih mendekati seorang Brahmana. Atas dasar pengetahuanku ini, aku yakin bahwa apabila salah seorang Priyagung mengetahui keadaan daerah Pajajaran yang sebenarnya tentu akan sependapat dcngan usulku.

Hanya kepadamulah aku berani bicara terus terang, karena yakin bahwa nakmas yang dapat menyelesaikan persoalan ini dengan jalan penuh arif dan bijaksana. — Kyai Tunggul berhenti lagi berbicara, untuk menunggu kesediaan jawaban Indra Sambada dalam hal ini. 

— Pak, kiranya hal ini tidak menyimpang dari tugas saya sebagai tamtama mengingat akan janji pasti Panca Setia tamtama yang telah menjadi pedoman dalam melaksanakan tugasku. Saya tidak berjanji akan berhasilnya ataupun tidaknya dalam menghadapi tugas baru yang dibebankan oleh bapak, tetapi sudahlah menjadi kewajiban saja uatuk melaksanakannya.

Hanya ada pertanyaan saya yang belum dijawab oleh bapak Kyai Tunggul, siapakah sebenarnya Bapak Kyai Guruku ini?— Indra menjawab dan mengajukan pertanyaan lagi.— Dan siapakah kakek-kakek kemarin malam yang aneh itu.—

— Bagiku tak ada alasan lagi untuk seialu menyembunyikan dan membohongi kepadamu. Aku adalah bekas punggawa narapraja pula dari Kerajaan Pajajaran, Bupati didaerah Indramaju. Dan namaku yang sebenarnya adalah Wirahadinata. Sejak daerahku diperintah oleh Bupati Tumenggung Praja-ratmaka, saya lalu meninggalkan Kabupaten Indramayu dan menetap di Ngawi ini, dengan nama samaran Kyai Tunggul. Dengan bekal keakhlianku dalam ilmu usadha, saya dapat mengenal lebih banyak Priyagung- priyagung dari Kerajaan Majapahit dan telah tujuh tahun lamanya aku dapat bertahan tinggal disini. Maksud dan tujuanku telah aku utarakan padamu tadi, namun hingga sekarang belum memungkinkan untuk langsung menghadap berhadapan dengan Baginda Maharaja Rajasa-negara ataupun Gusti Patih Mangkubumi Gajah Mada. Sekali lagi hanya nakmas Indralah yang menjadi harapanku dapat menyelesaikan maksudku, demi kepentingan rakyat banyak, dan demi keharuman nama Kerajaan kita semua Majapahit.

Tentang kakek-kakek semalam, saya tidak banjak mengetahui. Hanya menurut dugaanku ia adalah Kyai Pandan Gede, yang telah dijuluki oleh orang-orang dengan "Siluman ambek paraamerta„ Dahulu tempat kediamannya adalah di Gunung Pandan tak jauh dari sini, namun sekarang orang tak tahu akan tempat tinggalnya yang tetap. Di-mana-dimana diwaktu ada peristiwa-peristiwa yang penting ia selalu muncull. Maksud dan tujuannyapun tidak banyak saya mengetahuinya. Tetapi selama tujuh tahun aku berdiam disini tak pernah mendapat gangguan dari Kyai Pandan Gede, bahkan ketemu saja baru kemarin malam itu. Itupun jika tebakanku benar. Dulu saya kuatirkan bila rahasiaku akan bocor, dan ia bertindak terhadapku.

Namun kekuatiranku itu kini telah hilang lenyap. Karena orang-orang selalu hanya menceritakan tentang kebaikannya dari tindakan Kyai Pandan Gede dan kesaktian sebagai siluman yang dimilikinya. Asya pernah berusaha menemuinja, tetapi sudah dua kali aku mendaki Gunung Pandan, tidak pernah dapat berhasil menemui. Mungkin jika nakmas dapat menemuinya akan banyak manfaatnya dalam menunaikan tugasmu itu.

— Kyai Tunggul bcrhenti lagi sejenak. Kiranja panas teriknya matahari yang menyinari langsung dari atas kepalanya mengganggunya. Sebentar-sebentar ia menyeka peluhnya. Indra Sambada mendengarkan cerita Kyai Tunggul dengan saksama. Kalimat demi kalimat diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Sedangkan Sujud lama-lama duduk terkantuk dengan sendirinya,

Setelah puas mereka bercakap cakap dengan tiada gangguan, maka mereka bertiga kembali pulang, dengan sampannya mengikuti mengalirnya air kali Bengawan. Dalam perjalanan pulang tidak banyak yang mereka bicarakan, karena masing-masing terbawa dalam alam lamunan mereka sendiri. Hanya Sujudlah sebentar-sebentar mengajukan pertanyaan yang bukan-bukan kepada Kyai Tunggul.

Karena ia kini tahu pula, bahwa ayah angkatnya sebenarnya adalah seorang bekas Bupati. Diam? iapun turut mengikuti jalan ceritanya.

*

* *

Sedang ia duduk bersemadi memuji akan kebesaran Yang Maha Agung serta mohon penerangan dan kekuatan padaNya, demi untuk mengabdi pada Kerajaan dan rakyat, terdengar suara ketukan pelan tiga kali dari dinding kayu yang berada dibelakangnya. Indra Sambada setelah mengambil keris pusakanya yang berada dibawah bantal, segera keluar lewat pintu belakang, untuk tidak mengganggu seisi rumah yang sedang tidur nyenyak.

Malam itu telah tengah malam. Cuaca gelap, awan hitam menggantung diangkasa. Di-sela-selanya memancar bintang-bintang dengan sinarnya yang pudar.

Tak kuasa sinarnya menembus tebalnya awan yang menghalang. Angin basah meniup dari selatan, membuat segarnya badan. Dcngan pelan ia menutup pintu belakang kembali dan berjalan dengan penuh kewaspadaan menuju kearah suara ketukan yang tadi didengarnya, dengan hati yang ber – debar-debar. Tetapi alangkah herannya setelah didatangi, ternyata tidak ada seorang manusia. Keadaan disekitarnya sunyi sepi. Ia segera bertindak pelan memasuki kandang sapi dan memeriksa dengan teliti pula, didalam dan dikolong pedati. Namun tidak nampak juga apa yang dicarinya. Kembali ia berdiri di- tengah-tengah pekarangan serta mengawasi kearah atas pohon-pohon yang rindang. Tetapi ternyata dahan serta rantingnya sedikitpun tidak bergerak. Dengan tangkas ia meloncat naik kegenteng dapur, dan berjalan mengikuti membujurnya wuwungan. Pun disitu kelihatan sepi, dan tidak ada bekas tanda- tanda injakan orang. Ia segera turun kembali dengan rasa penuh keheranan. Suara ketukan tadi walaupun pelan tapi terdengar jelas olehnya, tidak mungkin ia salah dengar.

Kini ia berdiri seperti patung dikegelapan malam yang sunyi itu. Hanya suara air yang deras mengalir dari kali Bengawan terdengar semakin jelas seperti tak pernah merasa lelah dan jemu.

Tiba - tiba tergerak rasa hatinya untuk pergi ketanggul tepi kali Bengawan. Kakinya melangkah mengikuti suara hatinya. Kini ia telah berdiri ditebing kali Bengawan mengawasi kekanan kiri sejauh ia dapat memandang menembus dikegelapan malam.

Tetap tidak ada tanda-tanda berkelebatnya bayangan manusia. Ia berjalan pelan rnenyusuri tebing kearah utara. Setelah merasa lelah berjalan menyusuri tebing kali Bengawan, ia du-duk tenang diatas rumput yang tumbuh lebat diatas tanggul. Ia tengah memikirkan nasib ibunya Martinem, dan nasib rakyat didaerah Pajajaran yang menurut Wiriahadinata, hidup dalam penderitaan. Sedang ia tenggelam dalam lamunan disertai dengan khayalan yang melantur. Tiba-tiba terdengar suara orang memanggilnya: — Tumenggung Indra, lekas pulang dan berangkatlah segera kelereng Gunung Sumbing


Begitu suara itu lenyap, bayangan orang bertongkat dise-berang kali Bengawan berkelebat dengan pesatnya menjauhi kearah barat. Tak mungkin ia mengejar untuk mengetahui lebih jelas, siapa orang itu. Dan demikian tak ada jalan lain kecuali ia harus mengikuti perintah suara itu. Melihat berkelebatnya bayangan tadi adalah orang bertongkat, maka tak ada lain rabaannya kecuali Kyai Pandan Gede. Tetapi apa maksudnya ia harus pergi kelereng Gunung Sumbing, dan pula kesempatan untuk bertanya menjelaskan tak diberinya. Lereng Gunung sebelah manakah yang dimaksud oleh Kyai Pandan Gede tadi

? Penasaran akan rasa ingin tahu ia cepat berjalan laksana bayangan berkelebat ditengah malam menuju kerumah. Dengan tangkas ia melompati pagar bambu yang mengelilingi halaman untuk kemudian menuju kepintu depan dengan langkah yang penuh kewaspadaan, karena mendengar adanya suara percakapan yang ramai didalam rumah, dengan diselingi suara tangis anak terisak-isak.

Ternyata pintupun tak tertutup rapat, dan lampu minyak didalam rumah menyala terang. Kini rasa cemasnya hilang seketika setetah melihat Kyai Tunggul bersama Nyai Tunggul sedang duduk berdampingan, menghadapi seorang perempuan yang dikerumuni oleh Martiman dan Martinem.

Martinem duduk dipangkuan orang itu sedangkan Martiman dalam pelukan menyandarkan badannya dekat-dekat kedada orang perempuan tadi. Indra Sambada melangkah masuk rumah sambil membungkukkan badannya tertuju kepada orang perempuan yang tak dikenalnya. Ia segera mengambil tempat duduk disisi Kyai Tunggul. Dengan datangnya Indra Sambada, percakapan tadi berhenti scbentar, dan kini Kyai Tunggul bicara tertuju kepada Indra.

— Nakmas Indra, harap kenalkan dahulu pada tamu kita ini, ia adalah Nyai Jayadipa ibunya Martiman.—

Indra segera membetulkan duduknya, sambil menganggukkan kepalanya. — Kenalkan mbakyu, saya Indra Sambada anak kemenakan Kyai Tunggul, kata Indra dengan penuh sopan, yang disambut oleh Nyai Jayadipa dengan anggukan kepala pula sebagai balasan untuk menghormatnya.

— Menurut katanya, datangma kemari diantarkan oleh seorang kakek-kakek bertongkat—, Kyai Tunggul melanjutkan bicaranya ! — Dan nakmas tadi dari mana? Apakah tidak ketemu dengan kakek- kakek itu? tanya Kyai Tunggul kepada Indra.

Saya tadi dari tanggul Bengawan situ, pak! Tapi tidak berjumpa dengan siapapun jawab Indra singkat. — Coba nak Jaya, teruskan ceritamu tadi, biarlah nakmas Indra ini turut mendengarkan. Bagairnana kakek-kakek dapat menolongmu ---. Kyai Tunggul kembali mempersilahkan Kyai Jayadipa untuk melanjutkan ceritanya yang terhenti.

--- Setelah saya berada dikamar yang pintunya tertutup dari luar, di Kademangan Jlagran, dari sela-sela papan pintu itu saya melihat banyak sekali orang-orang yang berkumpui disitu, mungkin kira-kira ada duapuluhan, termasuk yang membawa saya. Menurut percakapan mereka yang dapat saya tangkap, saya hanya akan dititipkan selama, tiga hari, dan setelah itu entah mau dibawa kemana lagi oleh orang yang kasar itu. Oleh Demang Jlagran dan istrinya saya diperlakukan baik-baik, tapi selalu saya menangis bersedih hati, teringat kepada anak-anak saya yang nasib kelanjutannya tak kuketahui.

Tentunya Pak Kyai dan Ibu Nyai ataupun si adi, dapat membayangkan, betapa kesedihan yang sedang menimpa diriku itu,— Nyai Jayadipa berhenti sebentar sambil mengusap air mata yang mengenang dipelupuk matanya dengan ujung bajunya. -- Bapaknya anak-anak dibunuh, saya dibawa tak tahu akan kemana lagi, sedangkan anak-anak saya yang masih kecil ditinggalkan tak ada yang memperdulikan nasibnya. — kembali ia berhenti bicara, sambil menahan isaknya.

— Maka saya sangat berterima kasi kepada Kyai, siadi maupun Bu Nyai yang telah dengan susah payah sudi merawat anak-anak saya. Semoga Dewata Agung melimpahkan karunia yang setimpal akan jasa Bapak Kyai sekeluarga itu ….. Setelah malam ketiga tiba, kawanan rampok datang kembali di Kademangan Jlagran, dipimpin oleh orang yang sangat kasar itu. Dari percakapan mereka baru saya dapat mengetahui, bahwa nama orang yang kasar itu adalah Suronggolo. Semakin menggigil seluruh badanku karena ketakutan. Nama itu telah tersohor di-mana-mana sebagai orang yang sangat kejam. Suronggolo hanya sebentar singgah di Kadernangan Jlagran, dan katanya mau berangkat lagi menuju kedesa Trinil.

Pesannya kepada Demang Jlagran dengan jelas dapat kudengarkan.— Nanti malam menjelang pagi setelah pertemuan dengan Pak Kerta Gembong, saya kemari pagi dan mengambil simpanan saya— Yang dimaksudkan simpanan, tentulah diriku ini. Hatiku ber-debar-debar, nafasku terasa sesak, setelah mendengar percakapan itu, namun apa dayaku. Ingin aku membenturkan kepalaku ke-dinding-dinding kaju jati itu. Tetapi teringat kembali akan anak-anakku yang aku tinggalkan.— sampai disini ia menghela nafas panjang untuk kemudian melanjutkan ceritanya lagi: — Semalam suntuk saya tak dapat memejamkan mataku, tapi merasa heran hingga fajar pagi orang yang kasar itu tidak nampak datang kembali . Den Demang kelihatan gelisah juga. Wajahnya kelihatan kusut dan pucat. Saya dapat menduga tentu ada hal-hal yang terjadi atas dirinya para perampok.

Harapanku untuk dapat menyelamatkan diri dari noda timbul kembali. Sungguhpun belum tahu apa yang telah terjadi. Tiba-tiba datang lima orang langsung masuk kedalam dan kembali pintu kamarku ditutup rapat-rapat dari luar. Saya hampir jatuh pingsan, karena mengira bahwa Suramenggala dan kawan-kawannya telah datang kembali. Harapanku kini terbang seketika—

Kyai Tunggul dan Indra Sambada mendengar dengan penuh perhatian dan sebentar-sebentar menganggu-anggukan kepala mereka. Sedangkan Nyai Tunggul tak henti-hentinya mengeluarkan suara gersahnya, sambil mengusap air mata. Kembali Nyai Jayadipa melanjutkan ceritanya:

— Tetapi setelah saya dapat menguasai diriku kembali, saya menilingkan dengan seksama akan percakapan mereka yang setengah berbisik itu. Ternyata tak dapat kudengar banyak, Hanya jelas bahwa Sura Macan tidak ada diantara lima orang itu. Kudengarkan Den Demang Jlagran mengumpat dan mengumam pada orang-orang itu.— Jika saya ada, tak mungkin itu terjadi, hanya kata-kata itulah yang dapat dengan jelas kudengar. Pada hari siangnya pintu kamarku dibukak, dan saya diajak makan bcrsama Den Demang. tapi isterinya kelihatan tak berada dirumah. Ternyata Den Demang itu juga orang berhidung belang pula. ---

Sudahlah, dari pada kau diambil Suronggolo, kan lebih senang kalau saya kawin saja— kata dia kepadaku. Saya tak menjawab hanya terisak-isak menangis ingat anakanakku kembali.

Kiranya ia dingin saja tak memperdulikan kesedihanku. Sudah tak usah nangis dan lekas masuk kamar kembali, bentaknya kepadaku. Makanan yang disediakan tadi sedikitpun aku tidak menjamahnya. Baru saja aku bangkit akan masuk kekamar, isterinya Den Demang telah kelihatan datang. Dan dalam hatiku, saya mengucap syukur kehadlirat Dewata Yang Maha Agung akan kemurahan Nya. Karena dengan demikian, tak dapat terjadi sesuatu atas diri saya.

Kembali tangisku ter-isak-isak tak dapat kutahan setelah berada didalam kamar. Akh nasib apa yang sedang kualami ini. Tapi tak lupa aku selalu sembahyang kepada Dewata, semoga saya dan anak-anakku dilindungi olehNya ….. Dan kiranya Dewata mendengarkan tangisku. Jaaaahhh …… bapak Kyai sekeluarga yang menjadi perantaraannya. — Ia terhenti lagi dan menghela napas panjang.

— Lalu bagaimana mbakyu dapat lolos dari Kademangan Jlagran itu? Indra memotong dengan tak sabar.

— Inilah yang akan aku ceritakan sekarang adi. — Nyai Jayadipa menjawab. la menidurkan Martinem yang ternyata telah tidur nyenyak dipangkuannya diatas bale-bale sisinya, sedangkan Martiman juga telah ber-ulang-ulang menguap karena kantuknya. Martiman segera turut merebahkan dirinya disisi adiknya dan tak lama kemudian kedua anak tadi tidur dengan nyenyaknya. Nyai Jayadipa melanjutkan ceritanya Waktu itu telah tengah malam, sedang Den Demang duduk dipendapa dengan dua orang,

enth peronda entah kebayannya, mendadak ketiga – tiganya jatuh tersungkur dengan suara jeritan pendek tertahan. Kemudian pintu kamarku terbuka, dan dihadapan saya berdiri seorang kakek-kake yang bercelana hitam tak memakai baju atas, dengan tongkatnya, mendekati saya Lekas ikut aku

keluar! — katanya singkat. Dan seperti didorong oleh kekuatan gaib, saya mengikutinya dengan setengah sadar. — Diluar rumah Kademangan, orang-orang penjaga Kademangan semua bergelimpangan ditanah. Mati ataupun pingsan, saya tidak mengetahuinya dengan jelas. Untuk menanyakan pada kakek-kakek itu, rasanya mulutkupun seperti tersumbat.—Nyai Jayadipa berhenti lagi dan memejarnkan matanya sesaat, se-olah ada yang di-ingat-ingat kembali.

— Aneh ……Aneh — Indra Sambada berkata kepada dirinya sendiri. — Lalu selain kakek itu, apa ada

orang lain yang berada disitu? tanya Indra kemudian.

— Tidak ada. — jawab Nyai Jayadipa. — Yang ada ya hanya kakek-kakek itu. Entah kalau orang-orang yang menghajar Den Demang serta kawan-kawannya tadi sudah pergi terlebih dahulu, saya tidak tahu. Saya ditarik lari keluar oleh kakek-kakek tadi dalam keadaan setengah sadar. Dan selanjutnya saya tak ingat lagi. Tahu-tahu saya diturunkan dari gendongan pundaknya didepan pintu ini. Setelah saya sadar kembali, ia membisikkan ketelingaku, bahwa rumah ini rumahnya Kyai Tunggul yang menolong anak- anakku, dan supaya segera aku mengetok pintunya. Baru saja aku mengetok pintu depan itu yang segera kemudian dibukanya oleh pak Kyai sendiri, ternyata kakek-kakek yang kuduga berada dibelakangku itu telah menghilang. Maka itu tadi setelah pintu dibuka oleh pak Kyai saya kembali jatuh pingsan karena ketakutan!—

— Ya, nakmas ! Tadi saya juga terperanjat karena begitu pintu saya buka, ada orang perempuan yang jatuh tersungkur kedalam. Untunglah Ibumu Nyai cepat menolongku dengan mernbawa air yang kemudian kuminumkan.— Kyai Tunggul memperkuat cerita Jayadipa.

— Jadi terangnya, yang menolong saya tadi mungkin memang bukan orang, tetapi siluman yang baik hati, di Nyai Jayadipa menegaskan.

Nyai Jayadipa bertubuh sedang seperti lazimnya wanita-wanita daerah itu, namun potongan badannya ramping gangnya yang ramping pula — nawon kemit --- dan buah dadanya yang padat. Raut mukanya bulat telur, dengan sepasang alisnya yang tipis mclengkung. Matanya agak sipit bening berseri-seri.

Rambutnya hitam lebat dan pajang, sungguhpun waktu itu kelihatan kusut tidak disisir. Bicaranya lantang, tapi sedap didengar memikat hati, dengan mulutnya yang mungil. Kulitnya kuning ke-merah- merahan. Usianya kurang lebih duapuluh dua tahun. Kiranya ia adalah perempuan yang cantik terkenal menjadi buah bibir selalu disekitar daerah itu.

Diluar dari kejauhan, suara ayam jantan mulai ber-saut-sautan dikandangnya masing-masing yang kemudian suara itu semakin mendekat, karena sautan ajam jantan yang berada disekitar rumah. Dan sebentar kemudian disusul suaranya orang-orang yang sedang menimba air dari perigi, dan suara orang- orang menyapu pekarangan masing-masing. Hari telah fajar pagi

— Sudahlah nak Jaya. — Nyai Tunggul turut bicara. — Tinggallah dipondokku ini dengan anak-anakmu, sambil menentramkan hatimu yang sedang risau itu, dan biarlah pak Kyai nanti yang menengoknya rumahmu itu, berkata demikian Nyai Tunggul berpaling kepada Kyai Tunggul untuk menanti usul pendapatnya.

— Ia, sebaiknya nak Jaya menuruti akan nasehat ibumu Nyai, biarlah nanti aku dan nakmas Indra menengok di Trinil — Kyai Tunggul berkata.

Indra Sambada diam tak turut bicara, ia masih mengagumi akan keluhuran budi dan kesaktian Kyai Pandan Gede. Pun ia masih memikirkan akan keberangkatannya kelereng Gunung Sumbing, mengikuti perintah Kyai Pandan Gede yang tidak jelas tadi.

*

**  

B A G I A N III MATAHARI mulai kelihatan nampak disebelah timur. Sinarnya memancarkan cahaya yang indah, merah membara, kuning keemas-emasan, namun sayang agak terhalang oleh Gunung Merbabu yang berdiri megah laksana raksasa yang sedang duduk bersemadi. Langit cerah menambah resapnya pandangan.

Burung-burung terbang simpang siur diangka,a clengan tak henti-hentinya kearah semua penjuru, sambiI berkicau. Banyak pula yang hinggap didahan pohon-pohon rindang dengan bersiul-siul nyaring, merupakan irama alam diwaktu pagi. Se-olah-olah mereka sedang mengucapkan syukur kepada yang Maha Agung, akan kebesaran Nya.

Hawa pagi terasa segar. Angin meniup pelan, dan daun2-daun kering jatuh bertebaran ditanah. Lama- lama sinar cahaja merah kuning keemasan tadi naik diketinggian dan kemudian nampak terang benderang. Sang Surya menerangi seluruh alam dengan teriknya.

Dua orang muda sedang bertempur dengan serunya melawan tiga orang, yang menilik usianya tak sebanding. Demikian pula jika dilihat senjata-senjata yang digunakannya. Seorang diantara orang muda tadi hnya bersenjatakan tongkat penjalin sebesar ibu jari dan sepanjang setengah depa, melawan dua orang yang bersenjatakan kampak dan sepasang golok pendek. Seorang lagi kelihatan lebih muda bersenjatakan klewang, melawan orang setengah tua bersenjatakan cemeti ditangan kiri dan keris ditangan kanan. Namun pertempuran berjalan seru dan seimbang. Ternyata dua orang muda tadi tetap dapat melayani tiga orang setengah tua dengan tidak terdesak.

Panas teriknya matahari yang sedang memancarkan cahayanya tak mengganggu sama sekali jalanya pertempuran di-tengah hutan dekat dukuh Kapuan, dilembah sebelah barat Gunung Merbabu. Kira-kira jarak lima puluh langkah dari tempat pertempuran tadi, duduk seorang gadis tanggung berusia kurang lebih 15 tahun bersandar dipohon, dan sebentar-sebentar menutup mukanya dengan kedua belah tangannya, serta mangeluarkan suara jeritan yang nyaring mengikuti jalannya pertempuran.

— Adi Rimang, awas sabetan cemeti! — Jaka Wulung memperingatkan adiknya. Ternyata dalam bertempur melayani dua orang, masih sempat juga ia memberikan petunjuk-petunjuk kepada adiknya Jaka Rimang. Yang diperingatkan segera meloncat dengan tangkas kesamping kiri, dengan diiringi bacokan klewangnya kearah datangnya cambukan cemeti tadi. Tapi orang setengah tua yang memegang cemeti ditangan tak kurang tangkasnya Ia segera membatalkan cambukan dan meloncat surut kebelakang, untuk kemudian mendesak lagi maju dengan serangan-serangan tusukan keris, kearah lawannya yang berbahaya. Kembali suara Jaka Wulung memperingatkan adiknnya. Awas, susulan tendangan! — Pertempuran berlangsung terus dengan serunya. Jaka Wulung berusia kira2 20 tahun, berbadan kokoh tidak tinggi atau disebutnya sedepah.

Warna kulitnya hitam kemerah-rnerahan. Matanya agak cekung dengan sinar pandangannya yang tajam. Raut mukanya mendekati bulat, dan bersih berwibawa. Rambutnya hitam lebat sedikit berombak, dan lepas terurai sampai ditengkuknya.

Pita hitam selebar tiga jari yang melingkari kepalanya, diikat dikepala bagian belakang. Pakaiannya lurik hitam tenunan sederhana, dengan sarung tenun pula yang dilipat diperutnya untuk tidak menghalang gerakannya. Lengan-lengannya kokoh berotot namun geraknya sangat tangkas dan ringan, menunjukkan bahwa ia telah menguasai ilrnu pembelaan diri yang mendekati tingkat kesempurnaan.

Lawannya yang aeorang, bertubuh tinggi besar dengan raut mukanya yang kejam. Kamis jenggot dan cambang bauknya bertumbuh lebat. Hidungnya melengkung seperti paruh burung hantu. Ikat kepalanya lebar segitiga diikat kebelakang menutupi rambutnya. Kampak yang besar selebar satu jengkal ditangan kanannya, ber-tubi-tubi dibacokkan kearah lawan dengan ringannya. Ternyata ia memiliki tenaga yang kuat, sesuai dengan bentuk tubuhnya. Jubahnya dari sutra berwarna ungu. Sedangkan seorang lagi bertubuh kurus tinggi dengan matanya melotot. Raut mukanya panjang, berjenggot pula, tapi tak berkumis. Rambutnya telah berwarna dua dan bertumbuh jarang botaknya di – tengah-tengah kepala. Ia tidak memakai ikat kepala. Baju atasnya warna hitam dengan seret kuning keemasan pada lengan bajunya dengan memakai celana hitam panjang sampai dibawah lututnya, dan berseret kuning sutra pula. Kainnya dilipat dan diikatkan kebelakang. Ia bersenjatakan sepasang golok pendek yang

panjangnya masing-masing setengah hasta, ditangan kanan dan kirinya. Dilihat dari pakaiannya tentunya ia adalah seorang narapraja.

Jaka Rimang memiliki bentuk dan raut muka hampir menyerupai kakaknya, hanya ia lebih langsing sedikit jika dibanding dengan bentuk tubuh kakaknya. Usianya tak jauh berbeda pula, kira-kira 18 tahunan. Pakaiannya sederhana dari tenun lurik hitam bintik-bintik merah, dan kainnya serupa pula. Ia tak memakai pita untuk ikat kepalanya, tetapi memakai sisir panjang melengkung diatas kepalanya terbuat dari tanduk. Kelewang ditangannya menari-nari dengan tangkasnya. Sebentar-sebentar merupakan serangan tusukan-tusukan, dan kemudian disusul dengan serangan babatan yang berbahaya ke arah lawan.

Yang sedang dihadapi adalah orang setengah tua dengan punggungnya yang agak bongkok, yang bersenjatakan cambuk pendek berduri dan sebilah keris ditangan kanannya. Pakaiannya pakaian seragam menyerupai pakaian tamtama, berseret putih diatas dasar warna merah. Ikat kepalanya seutas pita selebar dua jari berwarna merah diikatkan erat-erat kebelakang.

Serangan-serangan maut ber-tubi-tubi dilancarkan oleh kedua fihak, karena masing-masing ingin segera mengakhiri pertempuran dengan kemenangan difihaknya. Pertempuran tadi telah berlangsung lama melihat pada dahi masing-masing telah basah dengan air peluh. 

Serangan-serangan kampak dari orang yang bertubuh tinggi besar selalu diiringi dengan bentakan- bentakan memekakkan telinga. Namun ketenangan dan ketangkasan Jaka Wulung membuat kampaknya selalu jatuh ditempat kosong, demikian pula serangan sepasang golok dari Panewu Gunung Pring raden Projopangarso.

Panewu Prodiopangarso dan Wongsobojo kini telah mengeluarkan semua kepandaiannya dan memeras tenaga habis-habisan untuk menghadapi Jaka Wulung yang hanya bersenjatakan tongkat penjalin itu. Semula mereka berdua memandang ringan kepada Jaka Wulung, karena melihat usianya yang masih muda itu. Sedangkan Wongsoboyo telah terkenal dengan kampak mautnya disekitar daerah Gunung Pring. Pun Panewu Projopangarsa adalah orang terpandang didaerahnya. Baik sebagai Panewu maupun sebagai guru peatiak silat. Ia terkenal juga sebagai Panewu yang berhidung belang, dan selalu mengganggu ketentraman para gadis didaerahnya

Tapi kiranya orang-orang banyak yang segan dan takut akan akibatnya apabila mereka meughaiangi kehendaknya. Lebih-lebih muigingat Wongsobojo yang selalu mendampingi Prodjopa-ngarso sebagai tangan kanannya. Wongsobojo sudah dikenal oleh seluruh penduduk Gunung Pring sebagai seorang yang kejam tak mengenal prikemanusiaan. Tapi kini mereka kiranya telah ketemu dengan batunya.

Untuk mengelakkan pukulan dan sodokan tongkat penjalinnya Jaka Wulung saja, telah memerlukan seluruh kepandaiannya dan tenaga yang dimilikinya. Sebentar-sebentar mereka berdua meloncat surut kebelakang dan berjumpalitan, menghindari Dukulan soddokan tongkat Jaka Wulung yang berbahaja. Ternyata ia makin lama mereka berdua semakin terdesak kedudukannya.

Kampak dan sepasang golok yang silih berganti menyerang tak pernah mengenai sasarannya. Tetapi sebaliknya Jaka Wulung sungguhpun dapat mendesak kedudukan lawan, belum juga dapat menundukkan. Tiap kali tongkatnya akan mengenai sasarannya segera ditarik kembali karena datangnya serangan senjata lawan yang berganti-ganti itu. Pula ia seialu terganggu akan pemusatan pikirannya, karena terpaksa harus memperhatikan pula nada adiknya yang selalu terdesak dan mendapat serangan-serangan yang berbahaya, dengan menyerukan peringatan-peringatan tertuju pada Jaka Rimang.

Kampak berkelebat kearah pelipisnya, sedangkan sepasang golok datang pula menyerang kearah perutnya. Jaka Wulung tak mau melangkah surut kebelakang tapi ia menjatuhkan dirinya dan berguling merapat mendekati lawan.

Bersamaan dengan gerakan itu tongkatnja disodokan kearah perut Projopangarso.

Dengan tak kurang tangkasnja Projopangarso menangkis dengan golok berada ditangan kiri dan surut selangkah kebelakang. Itulah yang dinanti-nantikan Jaka Wulung, ternyata gerakan tipuaanya beehasil. Cepat ia menarik kembali tongkat penjalinnya untuk kemudian berubah menjadi pukulan kearah pergelangan tangan kiri Projopangarso yang sedang menyulurkan tangan kirinya bersenjatakan golok untuk menangkis datangnya sodokan. Pukulan tepat mengenai sasarannya. Golok yang ditangan kiri terpental jatuh ditanah dengan diiringi jeritan ngeri tulang pergelangan tangan kirinya terasa patah dan tidak dapat digerakkan kembali. Sambil menjerit Panrwu Projopangarso melompat jauh kesamping kanan. Secepat itu pula Jaka Wulung meloncat mengejar Projopangarso sambil menghindari datangnya serangan kampak dari Wongsoboyo.

Tiba-tiba pukulan tongkat kearah Projopangarso yang hampir mengenai sasaranya segera ditarik kembali oleh Jaka Wulung dan melompat surut jauh kabelakang, karena mendengar suara jeritan adiknya yang dang bergelimpangan dengan berlumuran darah dipaha kanannya.

Gijanti, anak gadis— tanggung yang bersandarkan pohon tadi, turut menjerit pula dan bangkit mendekati kakaknya yang sedang luka dan bergelimpangan ditanah. Dengan satu lompacan Jaka Wtaung telah menggagalkan serangan camhukan dan tusukan yang akan dilancarkan kedua kalinya kearah Jaka Rimang yang sedang jatuh ditanah.

Bertepatan dengan adegan yang mendebarkan itu, dari balik hatu besar dibelakang pohon climana Gijanti tadi bersandar, melompat seorang pemuda dengan gayanjya yang sangat indah, langsung berdiri ditengah antara Jjaka Wulung dan Projopangarso.

— Berhenti dulu ! — bentak Indra Samhada: — Apakah yang kalian perebutkan ?- Memang sebenarnya sudah sejak lama Indra Sambada bersembunyi dibalik batu besar tadi, dan mengikuti jalannya pertempuran dengan saksamna. Tapi baginya serba ragu-ragu untuk campur tangan dalam pertempuran itu.

Jika menilik keadaan sewajarnya, ia harus membantu fihak Jaka Wulung dengan adiknya, akan tetapi jika ditilik bahwa lawan Jaka Wulung adalah petugas Kerajaan, tenturtia ia harus mernbantu menangkap Jaka Wu-lung dan adiknya.

Karena dalam pertempuran yang seru itu ia tak dapat mengetahui sebab musababnya yang sebenarnya, maka ia hanya melihat saja. Tetapi kini Jaka Rimang jatuh terluka karena tusukan keris berbisa dipahanya, sehingga ia tak tega untuk melihat kelanjutan pertempuran yang tidak seimbang itu. Lagi pula jika Jaka Rimang tak ditolong dengan cepat akan berbahayalah akibatnya.

Tidak seorangpun mau menjawab pertanyaan yang diajukan namun bentakan yang berwibawa memaksa pertenapuran berhenti sesaat.

— Hai anak muda, bedebah, tak perlu kau turut menghalangi maksudku! Wongsoboyo menyahut dengan lantangnya. Kini difihaknya mendapat angin baru, setelah Jaka Rimang dapat ditundukkan temannya. Tentu saja dengan munculnya seorang lagi, mereka merasa sangat dongkol.

Berkata demikian Wongsobojo sambil rnengajunkan kampaknya kearah Indra Sambada yang berdiri tegak. Tetapi Indra Sambada telah berpengalaman luas dalam menghadapi serangan yang tiba-tiba. Dengan perasaan naluri yang telah dimiliki Indra Sambada tidak bergeser sedikitpun. dan hanya dengan merendahkan badannya kesamping kanan dengan mukanya mendongak, tangannya bergerak cepat memukul dengan telapak tangan kanannya kearah pundak lawan, yang segera melepaskan pegangan pada tangkai kampaknya. Wongsoboyo melompat kesamping dan berdiri dengan ternganga, demi ke- nyataan dalam segebrakan saja kampaknya telah lepas dari genggamannya. Demikian pula Projopangarso, segera membatalkan niatnya untuk menyerang.

Indra Sambada masih berdiri di-tengah-tengah mereka sebagai pemisah.

— Hentikan dahulu pertempuran ini! — katanya dengan pcenuh berwibawa. Orang yang berpakaian seragam yang menyerupai tamtama tidak mau menghiraukan akan kata-kata Indra Sambada tadi. la segera mengayunkaa cambuknya dan kerisnya yang ditangan kanan, dan mulai bergerak menyerang pula. Dengan tangkas Indra Sambada mendahului melancarkan serangan tendangan dan disusul pukulan tindjunya. Cepat penyerang menarik kembali tusukan kerisnya dan meloncat kebelkang, menghindari datangnya tendangan dan pukulan yang dahsjat itu. Kali ini Indra memang sengaja akan memperlihatkan simpanan keknatannya, demi memudahkan berhentinya pertempuran.

Kekuatan yang telah terpusat didalam bathinnya disalurkan kearah tangan kanannya, untuk kemudian mengepal dan melancarkan tinjunya dengan dahsyat kearah pohon jambu sebesar paha lebih, yang berdiri dibelakang penyerang tadi.

Kiranya memang bukan orang yang bersenjatakan cemeti dan keris yang menjadi sasaran Indra. Tak ajal lagi pohon jambu sebesar paha lebih segera patah dan tumbang. Ranting dan daun daun keringnya rnendahului jatuh bertebaran ditanah, menyusul sesaat kemudian tumbangnya pohon dengan suara berderak. Semua iang menyaksikan berdiri ternganga. Baru kali ini mereka m-nyaksikan keampuhan tinju dari seorang yang masih semuda itu. Kejadian itu hanya berjalan sebentar, karena dengan tak diduga duga Panewu Projopangatso meloncat kebelakang untuk kemudian melarikan diri dengan kencangnya. Wongsoboyo dan seorang temannya lari pula mengikuti tindakan Panewu Prodiopangarso. Jika dikehendaki, kiranya tidaklah sukar bagi Indra untuk mengejarnya tapi ia segera membalikkan badannya dan mendekati Jaka Wulung yang sedang mengawasinya dengan cermat.

Sementara itu Djaka Rimang masih berbaring ditanah dengan mengerang kesakitan, dan didekatnya, Giyanti duduk dengan memegang paha kakaknya yang luka, sambil menangis.

— Adik sekalian itu siapa? — Indra memulai bertanya kepada Djaka Wulung, dan apa kesalahan kalian hingga di kejar-kejar oleh petugas Kerajaan?

--- Apakah tuan itu gusti Tumenggung Indra? — Jaka Wulung berganti tanya dengan tidak menjawab pertanyaan Indra, sambil masih memandangnya penuh perhatian.

— Darimana kau tahu, bahwa aku adalah Tumenggung Indra ? Indra menjawab dengan pertanyaan pula.

— Gusti, maafkan terlcbih dahulu, bahwa kami tak segerra memberi hormat sebagaimana lajaknya, — berkata demiklan Jaka Wulung segera duduk bersila di tanah dan akan menyembahnya, tetapi Indra segera memegang kedua belah tangannya dan turut duduk disebelahnya.

— Ach, tidak perlu kau memakai adat yang demikian terhadapku. Seperti kau ketahui, bukankah aku sengaja menyamar sebagai petani desa saja ? -- Indra Sambada berkata dan mengulangi lagi pertanyaannya,— dari mana kau tahu bahwa aku ini Indra ? —

— Guruku pernah bercerita tentang Gusti Indra Sambada — jawab Jaka Wulung.

— Siapakah gurumu, jika aku boleh mengetahuinya ?— Indra mendesak bertanya lagi. ---Guruku adalah Kyai Pandan Gede, dan menurut ceritanya, beliau pernah ketemu dengan Gusti di Trinil. — Jaka Wulung rnenjawab. : --- dan yang terluka itu adalah adikku Jaka Rimang, dan Giyanti adalah adikku yang paling bungsu--

— Panggil saja untuk selanjutnya Kakang pada saya. Dengan demikian kalian membantu dalam penyamaranku. — Coba kulihat luka adikmu itu. — berkata demikian Indra segera mendekati Jaka Rimang yang masih saja mengerang kesakitan. Giyanti tersipu malu menggeser duduknya kebelakang menjauhi Indra.

— Jangan kau takut dan malu kepadaku di. Anggaplah saya seperti kakakmu sendiri. — Indra berkata kepada Giyanti dengan bersenyum.

Indra segera memegang paha kanan Jaka Rimang dan memeriksa lukanya dengan teliti. Sekitar tempat luka kini telah menjadi bengkak dan berwarna hitam. Terang, bahwa keris yang melukai paha Jaka Rimang adalah beracun. Indra segera melepaskan gelang akar baharnya yang dipakai di-pergelangan tangan kiri, untuk kemudian ditempelkan ditempat luka tadi. Ternyata apa yang telah dikatakan oleh Pendeta Gurunya benar adanya. Gelang akar bahar yang hitam mengkilat, kini menempel erat mcnyedot racun yang telah masuk melalui pembuluh-pembuluh darah.

Darah hitam bercampur hijau keluar menetes sedikit demi sedikit. Tetapi kiranya pertolongan tadi telah terlambat datangnya, karena kini ternyata Jaka Rimang tak sadarkan diri dengan muka yang semakin hitam dan suhu badannya menjadi panas membara. Cepat Indra mengeluarkan sebuah pel merah yang berada di dalam boneka kecil terbuat dari emas, pel mana dengan tidak ragu-ragu lagi, dimasukkan kedalam mulut Jaka Rimang, dengan paksa, karena mulut Jaka Rimang mulai terkatub rapat. Jaka Wulung membantu memegang kepalanya, sedang Giyanti mulai menangis kembali ter-isak-isak sambil memanggil beruIang ulang nama Jaka Rimang.

— Biarkanlah, baringkan ia disini. — Indra berkata kepada Jaka Wulung — dan tolong ambilkan air.— perintahnya.

— Baik kakang, berkata dernikian Jaka Wulung segera bangkit dan lari menuju kee Desa Kapuan yang dekat letaknya dari tempat itu. la kembali dengan membawa tempurung yang telah berisikan air dari perigi, dan diberikan kepada Indra.

Indra menuangkan air itu demi sedikit ke mulut Jaka Rimang, setelah itu, ia menempelkan mulutnya sendiri kemulut Jaka Rimang dan meniupnya pelan. Semua pusat tenaga batinnya dicurahkan napasnya yang kemudian ditiupkan kemulut Diaka Kimaag, untuk membantu geraknya jalan pernapasan dan jalinan-jalinan syaraf, agar pel penolak racun dapat masuk dalam pencernakannya. Ternyata pertolongannya berhasil dengan memuaskan.

Pelan-pelan panasnya berkurang, dan pernapasannya ber-angsur-angsur menjadi tenang kernbali.

Indra istirahat sejenak, sambil memperhatikan raut muka Jaka Rimang dengan penuh pengharapan agar segera sembuh kembaii.

Jaka Wulung dan Gijanti duduk terpaku mengawasi wajah Jaka Rimang dengan hati yang ber-debar- debar penuh kekhawatiran akan nasib Jaka Rimang. Tetapi segera timbul harapannya kembali, akan sembuhnya Jaka Rimang, setelah ia mulai mengigau dan merintih-rintih merasakan sakitnya.

Benar benar ajaib. Akar bakar jatuh terlepas dari lukanya, sedangkan raut muka Jaka Rimang kini ber angsur-angsur menjadi merah, kembali. Kini ia telah sadarkan diri, dan mengawasi orang yang duduk disisinya tak dikenal.

— Tenanglah dulu, adi Rimang ! Jangan banyak bergerak. Lukamu sedang diobati oleh kakang Indra,— a,ka Wulung berusaha menenangkan adiknya. — Aku haus sekali, kakang Wulung, — Jaka Rimang mulai berkata pelan. Indra mengambil tempurung yang berisi air disisinya dan diberikan pada Jaka Rimang, yang segera diminumnya.

— Kini kau harus dapat menahan sakitmu sebentar, adi Rimang.— Indra berkata padanya,— Luka dipahamu akan kukorek dengan pisau tajiku. — berkata demikian Indra mengambil sebilah taji yang berada dikantongan dan memegang paha yang terluka dengan tangan kirinya, sedang tangan kanan-nya yang memegang taji segera bekerja dengan tangkasnya. Kembali Jaka Rimang mengerang kesakitan, tetapi oleh Indra tak didengarkan. Bekal ramuan obat luka luar yang dibawanya, ditempelkan di tempat luka yang baru dikoreknya tadi, dan selanjutnya dibalut dengan sobekan baju yang diambilkan dari lengan bajunya sendiri.

— Bagaimana sekarang rasa lukamu?— Indra bertanya.

--- Tinggal rasa pedihnya, tetapi tak mengapa. Kiraku saya telah dapat berjalan sendiri lagi. Tapi siapakah, kakang itu. Saja belum mengenalkan,— jawab Jaka Rimang sambil pelan-pelan berusaha duduk. Jaka Wulung menolong adiknya dengan memegang bahunya dan mendudukkan.

— Ja, ini, yang namanya Gusti Indra Sambada. Bagaimana Kyai guru menceritakan ber ulang-ulang kepada kita dulu,— Jaka Wulung menyahut, menjelaskan pada adiknya. — Tetapi beliau tak mau dipanggil Gusti, dan atas perintahnya kita harus memanggilnya dengan kakang Indra saja. Tetapi mumpung tak ada orang yang melihatnya, lekaslah menyembah dan berterima kasihlah padanya. Kiranya jika tidak ada pertolongan dari beliau, kati telah tidak dapat ditolong lagi...

Jaka Rimang segera berusaha akan bersila dan me-nyembah, tetapi Indra Sambada cepat memegang bahunya serta berkata: — Tak usah kau susah-susah bersila dan menyembahku. Perhatikanlah lukamu sendiri itu. Dan tidak perlu kau berterima kasih padaku, karena pel obat dan akar bahar yang kugunakan untuk mengobatimu adalah asal dari pemberian orang pula.

Saya adalah hanya perantara belaka. Berterima kasihlah-Dewata Yang Maha Agung kemurahan Nya.—

— Baiklah kakang Indra tetapi saya tetap merasa berhutang budi se-lama-lamanya. Kiranya jika Kakang Indra tidak berada disini, saya mungkin sudah tinggal nama saja. Ingin aku memperlihatkan kesetiaanku mengabdi pada kakang. Jaka Rimang menggagalkan sembahnya serta berkata dengan nada yang sungguh-sungguh.

— Akh, hal itu jangan dibicarakan sekarang disini dan jangan pula memujiku beriebihan. Yang penting taatilah apa perintah gurumu, karena gurumu itu terkenal sebagai orang tua yang berambeg paramerta. Sekarang yang ingin kutanyakan, apa sebabnya tadi, adi-adi berdua bertempur mwlawan punggawa praja?— Indra melanjutkan dengan pertanyaanya kembali.

— Begini, kakang Indra. Saya bertiga sedang berjalan dicegatnya dipersimpangan jalan diujung desa Kapuan tadi, dengan ancarnan supaya saya berdua meninggalkan adik saya Giyantiitu. Penghinaan yang demikian memaksa saya bertindak. Mereka bertiga saya layani sendiri, sedangkan adi Rimang saya suruh melarikan Gijanti di hutan disini. Tetapi saya tidak dapat lama bertahan, karena seorang diantaranya mengejar adikku itu. Saya berlari mengikuti, sampai ditempat ini, dan kembali bertempur lagi. Karena disini banyak pohon-pohon yang rindang, saya merasa lebih aman akan adikku Gijanti.

Segera ia kusuruh jauh-jauh berteduh dipohon besar itu, dan kami berdua dapat menghadapi mereka bertiga dengan agak tenang. Selanjutnya,kukira kakang Indra melihat dengan mata kepala sendiri dari balik sebuah batu yang besar itu, dimana kakang tadi bersembunyi— Jaka Wulung mejawab.

— Untunglah, kakang Indra segera keluar dari persembunyian, jika tidak, mungkin saya bertiga ini telah menjadi korban keganasannya. Memang jika menilik dari pakaiannya dan percakapan mereka, yang satu orang tadi adalah Panewu Gunung Pring. tetapi saya tak dapat mengerti, mengapa seorang punggawa praja ,yang seharusnya rnelindungi rakyatnyaa bertindak demikian kejinya. — Jatka Wulung menjelaskan.

— O, ….. begitu, Indra. Sambada memotong. — Jika demikian, memang sepantasnyalah mendapat hajaran dari kita.

Sayang tadi. adi Jaka Wulung tak mau menjelaskan duduk perkaranya padaku. Kiranya kini banyak punggawa praja yang menyeleweng, menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan memuaskan diri sendiri. — Indra Sambada berhenti sebentar untuk memakai gelang akar baharnya kembali setelah dicucinya, dan kemudian ia melanjutkan bertanya. — Dan adi bertiga itu tadi dari mana dan akan kemana?—

— Kami berdua akan keSecang perlu mengantarkan adik saya yang bungsu itu, — menjawab pertanyaan itu, Jaka Wulung sambil menunjuk kearah Giyanti yang sedang duduk di sisinya Jaka Rimang dengan muka tertunduk menahan rasa malu. — maksud kami, ia akan kami titipkan kepada paman agar mendapat asuhan yang baik. Setelah itu kami akan meneruskan perjalanan menuju ke lereng Gunung Sumbing memenuhi perintah Kyai Guru. Kami bertiga tinggal didesa Deles dilereng gunung Merbabu.

Sepekan yang lalu Guruku datang dan memberikan perintah itu. — jawab Jaka Wulung dengan jelas.

— Jika demikian, sebaiknya kita jalan bersama saja, itu kalau adi bertiga tidak berkeberatan. Karena saya juga akan pergi kelereng gunung Sumbing memenuhi perintah gurumu yang aneh itu. Dan terus terang aku tak tahu dilereng sebelah mana yang dimaksudkan, dan untuk apa? — aku harus pergi kesana, — Indra berkata mengemukakan usulnya. —

— Kang Wulung, …… memang Kyai Guru itu seringkali bertindak aneh. Mungkin yang dimaksud Kyai Guru juga di Kaliangkrik, sebagaimana beliau memerintahkan kita, — sahut Jaka Rimang tertuju pada kakaknya, dan kemudian melanjutkan bicara tertuju pada Indra, — buat kita bertiga kebetulan sekali, jika kakang Indra mau jalan bersama-sama kita. Dengan demikian, tak akan lagi kuatir adanya gangguan ditengah jalan. Bukankah demikian kakang Wulung?—

— Jika hanya gangguan ditengah perjalanan saja, kiranya kakakmu Jaka Wulung tentu dapat mengatasinya, — lndra Sambada memotong pembicaraan Jaka Rimang.

— Aku telah menyaksikan sendiri akan ketangkasan gerakan tongkatnya yang sukar mendapat tandingan, — lndra Sambada berkata memuji kepada Jaka Wulung.

--- Ah, ….. Kakang Indra ini pandai juga berkelakar menyindir orang — Jaka Wulung menyahut dengan tersenyum.

— Kata-kataku tadi bukan sindiran, tetapi sungguh-sungguh aku mengagumi akan permainan tongkatmu yang tunggal itu. — Indra Sambada menjawab dengan kejujurannya.

— Pujian kakang Indra terlalu tinggi. Buktinya, jika tadi tidak dibantu kakang, kami bertiga mungkin sudah tidak dapat meneruskan perjalanan. Saya masih mengagumi akan kesaktian kakang Indra yang serba lengkap itu.

Kesaktian bertempurmu mungkin melebihi guruku, masih pula memiliki kesaktian mengobati orang yang mendekati ajalnya. Kiranya cerita dongengan guruku itu benar-benar merupakan kenyataan. Jaka Wulung membalas memujinya.

— Tidak akan habis-habisnya jika kita saling merendahkan diri. Mari kita berangkat sekarang, supaya malam nanti kita telah sampai di desa sebelah utara sana. Kita berjalan pelan-pelana saja—. Indra berkata sambil bangkit berdiri. Jaka Rimang segera bangkit pula dengan pelan-pelan dan dibantu oleh Jaka Wulung dan Giyanti. Mereka segera meneruskan perjalanannya dengan berjalan pelan, mengingat akan luka yang diderita oleh Jaka Rimang. Gijanti berjalan menggandeng tangannya Jaka Rimang didepan, sedangkan Indra Sambada berjalan berdampingan dengan Jaka Wulung dibelakangnya.

Dalam perjalanan, mereka berampat segera menunjukan keakrabannya, tak ubahnya sebagai empat bersaudara sekandung. Kiranya Gijanti adalah gadis yang selalu dimanja oleh kakak-kakaknya. Setelah hilang rasa malunya, ternyata ia pandai bergurau dan pandai pula menggoda kakak-kakaknya dan Indra. Wajahnya cantik dengan warna kulitnya hitam manis. Bibirnya yang merah mungil selalu dihias dengan senyum kekanak-kanakan. Matanya redup, dengan kerlingannya yang menggairahkan. Rambutnya yang hitam panjang digelung dengan tusuk konde terbuat dari tanduk. Subang bermata intan menghiasi daun telinganya, yang selalu gemerlapan karena gerakan kepalanya. Lengannya berlenggang lemah gemulai dengan jari-jarinya yang halus meruncing. Potongan badannya ramping dan padat berisi. Bajunya lurik tenunan desa warna brongsong dengan berkain lurik pula berwarna merah, menambah indahnya. — Alangkah bangganya aku jika mempunyai adik yang demikian ini — kata bathin Indra pada diri sendiri.

Kini ia diam merenung sambil berjalan karena terkenang kembali akan nasibnya. Tak beribu, tak bersaudara dan jauh dari ayahnya. Hidup sebatangkara terlunta-lunta dengan tidak bertujuan pasti. Seandainya ia mempunyai saudara sekandung seperti Jaka Wulung ini, tentulah dapat ia mencurahkan segaIa kesedihannya.

Kini mereka berempat asyik bercerita ber-ganti-ganti sambil berjalan hingga jarak jauh yang telah ditempuhnya tidak terasa olehnya.

Jaka Wulung dan Jaka Rimang menjelaskan akan maksud kepergiannya mereka kelereng Gunung Sumbing didukuh Kaliangkrik. Atas perintah gurunya Kyai Pandan Gede, mereka berdua supaya

menyantrik pada "Wiku Sepuh„ dipadepokannya, untuk mencari tambahnya ilmu. Menurut keterangan Kyai Pandan Gede, Wiku Sepuh adalah kakaknya Kyai Pandan Gede seperguruan. Ia telah lama sekali berscmbunyi dipadepokan Kaliangkrik, dan tidak pernah mencampuri urusan masyarakat ramai.

Namanya dulu terkenal harum, jauh mengumandang .sampai dikota Raja. Beliau dulu bernama Sidik Pamungkas dan oleh orang-orang lawannya dijuluki " Yamadipati ,,.

Kesaktiannya jauh diatas Kyai Pandan Gede gurunya. Demikian mereka berdua menceriterakan dengan semangat yang berjalan nyala. Dalam hati Indra turut mengagumi pula, sungguhpun ia belum pernah kenal dengan Wiku Sepuh itu.

Akan kesaktian Kyai Pandan Gede Si Siluman aneh itu; ia telah merasa kagum, tetapi kini masih ada orang yang kesaktiannya jauh melebihi Kyai Pandan Gede. Bagaimana kesaktian Wiku Sepuh ia tidak dapat membayangkan. Keinginannya untuk turut serta menyantrik padanya kini bertambah besar tetapi, segera timbul rasa takutnya, jika seandainya ia tidak diterima sebagai muridnya.

Perasaan itu segera terhibur kembali dengan mengenangkan ajaran-ajaran guru Pendetanya. Semua adalah kehendak Dewata Yang Maha Agung namun manusia harus berikhtiar. Kini semangatnya timbul kembali, setelah mengenang ajaran-ajaran Guru Pendetanya. Dan bukankan ia mencari ilmu untuk mengabdi pada Kerajaan dau rakyatnya ?

Jaka Wulung dan Jaka Rimang juga menjelaskan bahwa menurut kata-katanya Kyai Pandan Gede, kini dimana mulai timbul kerusuhan-kerusuhan yang bermacam-macam coraknya. Didesa-desa banyak perampokan-perampokan dan maling, sedangkan dikota kota banyak pembrontakan kecil-kecil, sehingga kewibawaan Kerajaan mulai menurun karenanya. Para Punggawa Narapraja banyak yang mulai menyeleweng, bahkan tidak sedikit yang merangkul para perampok, demi keselamatan dan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan mewah yang berlebih-lebihan untuk kepentingan diri pribadinya.

Memang hal ini telah dirasakan sendiri akan kebenarannya oleh Indra Sambada.

Sejak ia mengembara banyaklah hal-hal yang dialaminya, dan diketahuinya. Bahkan sering pula ia terpaksa turut campur turun tangan memberantas kerusuhan-kerusuhan yang dijumpainya demi pembelaan terhadap rakyat jelata. Pengalaman-pengalaman ini merupakan tambahan ilmu pula yang tidak ternilai dalam melanjutkan pengabdiannya.

Setelah bermalam disebuah desa kecil yang dilalui, mereka esok paginya melanjutkan perjalanannya menuju ke Secang, yang dapat ditempuh selama satu hari berjalan kaki dari desa yang telah dipakai untuk bermalam.

Pada senja hari mereka berempat telah sampai di Secang. Dengan mudah mereka segera menemukan tempat kediaman Pamannya. Karena didesa itu Pamannya adalah orang yang terpandang juga. Ia adalah abdi dalem Punggawa Narapraja merangkap sebagai Lurah didesa Secang. Pangkatnya Bekel dan nama lengkapnya Raden Bekel Jayengguno. Ia dulu pernah mengabdi di Kepatihan di Kota-Raja sebagai abdi dalem jajar, dan karena kesetiaannya ia diangkat menjadi Bekel Lural, ditempat asalnya ialah desa Secang yang kini dibawahkan oleh Bupati Kebanjaran Agung Mataram.

Pak Lurah Bekel Jayengguno usianya telah lanjut, mendekati tujuh puluhan tetapi masih kelihatan kuat, menilik dari jalannya tidak bertongkat dan tegak. Rambutnya telah putih beruban, dan diikat kebelakang menyerupai gelung yang kecil. Sedangkan dikepalanya melingkar sebuah sisir lebar yang lengkung terbuat dari tanduk. Dahinya yang lebar telah pula kelihatan banyak kerutnya. Wajahnya kuning bersih berkeriput.

Rasa rindu yang telah lama dikandungnya kepada anak-anak kemenakannya, kini dilampiaskan sepuasnya. Karena sikap Indra Sambada yang selalu dapat menyesuaikan dirinya dimanapun dia berada, maka Pak Bekel Jayenguno memperlakukan tak ubahnya sebagai anak kemenakannya scndiri. Sampai jauh malarn mereka bercakap-cakap dan tak henti-hentinya, Pak Bekel Jayengguno menanyakan keadaan para keluarga yang berada di Deles Merbabu, terutama tentang keadaan ayah dan ibu Jaka Wulung sendiri. Hanya Jaka Rimanglah yang segera mendahului istirahat sejak sore malam tadi, karena kakinya yang luka dipahanya dirasakan pegal dan sakit. Giyanti setelah membantu bibinya didapur kini turut pula mendengarkan percakapan yang mengasikkan itu. Ibu bibinya yang telah lanjut pula usianya, merasa sangat bahagia dan bangga atas kemenakan-kemenakannya yang setelah dewasa ternyata kelihatan gagah perkasa itu, dan anak kemenakan putrinya yang cantik. Sebentar-sebentar ia bangkit dari tempat duduknya, untuk melihat keadaan Jaka Rimang yang sedang berbaring. Sifat-sifat keibuan yang penuh rasa kasih sayang terhadap kemenakan-kemenakannya, telah melekat padanya.

Pak Jayengguno beserta isteri merasa sangat girang sekali dan mengucapkan syukur kepada Dewata Yang Maha Agung setelah Jaka Wulung mengatakan, bahwa kedatangannya ialah akan menyerahkan adiknya yang bungsu Giyanti agar diasuh oleh Pamn dan Bibinya, yang memang tidak mempunyai keturunan. Dulu pula Giyanti telah pernah dimintanya, tetapi karena Giyanti juga merupakan satu- satunya anak perempuan, maka oleh orang tuanya Jaka Wulung dipertahankan.

Tetapi pendirian itu kiranya kini tak dapat dibenarkan, karena apabila Gijanti hanya tinggal didesa pegunungan tak mungkin la akan mendapat kemajuan pendidikan yang layak bagi umumnya para wanita sebagai idaman orang tua.

Atas pesan Indra Sambada sewaktu diperjalanan, Jaka Wulung tak mau juga menceritakan tentang keadaan yang sebenarnya, tentang Siapa Indra Sambada itu kepada Paman dan Ibu bibinya. Ia hanya mengatakan bahwa Indra Sambada  adalah kakak angkatnya.

Sambil menunggu sembuhnya luka Jaka Rimang mereka tinggal dirumah Bekel Jayengguno lima hari lamanya ….. Jaka Wulung, Jaka Rimang dan Indra Sambada setelah berpamitan kepada Jayengguno dan isterinya serta memberikan pesan berupa petunjuk-petunjuk seperlunya kepada Giyanti, yang ditinggalkan di Secang, mereka berangkat meneruskan perjalanan dengan jalan kaki menuju Lereng Gunung Sumbing, ke Padepokan Wiku Sepuh di Kaliangkrik. Giyanti menangis ter-sedu-sedu dengan air mata bercucuran sewaktu kedua kakaknya dan Indra Sambada berpamit padanya.

Ber-ulang-ulang Giyanti berpesan pada kakak-kakaknya dan Indra Sambada, agar mereka sering pergi ke Secang menjenguknya. Demikian pula Ibu bibinya, yang isak tangisnyapun tak dapat ditahan pula.

— Memang didunia itu tak ada yang kekal. — kata Jayengguno menghibur.

— Ada waktu bertemu, tentu pula ada waktu berpisah. Semua itu adalah kehendak Dewata yang Maha Agung. Kita semua tak dapat menentang akan kehendak Nya, Maka ingatlah selalu akan kebesaran Nya.

— pesannya ber-ulang-ulang— dan mohonlah selalu penerang dan petunjuk dari Nya.

— Adegan demikian membuat semakin pedih rasa hatinya Indra Sambada. Dan terkenanglah kembali akan kejadian sewaktu ia meninggalkan rumahnya Kebanjaran Agung Bandawasa, serta semua petuah- petuah ayah serta Guru pendetanya.

Ia terkenang pula akan peristiwa sewaktu ia akan berangkat menunaikan tugas menggempur bajak laut di Pontianak sebagai Perwira Tamtama. Dibalik kenangan-kenangan yang indah itu, perasaan sedih yang tak terhingga akan fitnah yang terkutuk, selalu mengejarnya.

Ya!! Kapan dia akan dapat mencuci noda yang telah melekat itu??? Dapatkah kelak ia hidup bahagia, dengan noda-noda yang masih tetap melekat padanya? Tetapi Dewata Yang Maha Kuasa, adalah Maha Pengasih. Manusia hanya wajib berikhtiar, namun ketentuan adalah dalam kekuasaanNya Perobahan raut muka yang memancarkan rasa kesedihan itu selalu menjadi perhatian Jaka Rimang. Maka dalam perjalanan menuju ke Lereng Gunung Sumbing, Indra Sambada selalu didesaknya untuk menjelaskan.

— Kakang Indra,— Jaka Rimang mulai menghibur sambil menanyakan pada Indra.

— Aku selalu melihat pancaran kesedihan diwajah kakang. Gerangan apakah yang selalu membikin bangkitnya rasa kesedihan kakang Indra? Sejak semula aku kenal kakang, aku telah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan mengabdi selamanya padamu, kakang lndra! Kesedihanmu aku turut merasakan pula. Apabila sekiranya tak menyinggung perasaanmu, dan aku dapat membantu meringankan deritamu itu, sudilah kakang Indra menjelaskan padaku!—

— Adi Wulung dan adi Rimang,— Jawab Indra Sambada — Sungguhpun adi berdua dalam hatiku telah kuanggap sebagai adikku sekandung, tetapi mengenai kesedihanku ini sukar untuk kujelaskan padamu. Penderitaanku adalah hukuman atas akibat perbuatanku sendiri.

--- Tetapi apabila kakang Indra hanya salah dalam perbuatan, apakah tidak dapat segera ditebus dengan perbuatan pula.— Jaka Rimang mendesak.

— Tidak mungkin karena perbuatanku menyalahi pada janjiku sendiri. Dan bukan terhadap lain orang. Itulah yang selalu aku merasa menderita,— Indra Sambada menjelaskan. Keterangan Indra Sambada semakin sukar dimengerti oleh Jaka Wulung dan Jaka Rimang.

— Tetapi jika tidak berkeberatan, ingin aku mengerti persoalanmu itu, kakang Indra ! — Jaka Rimang semakin mendesak: — Ingatlah kakang, bahwa kakang Indra bukan hanya sebagai kakangku, tetapi juga sebagai guru dan pepundenku.—

Karena desakan dari Jaka Rimang maka Indra Sambada menceritakan kisah yang dialaminya dari awal hingga sampai akhir. Jaka Wulung dan Jaka Rimang saling berpandangan, turut merasakan penderitaan bathin yang dialami oleh Indra Sambada, terutama Jaka Rimang. -

--- Bagaimana jika kita nanti minta petunjuk-petunjuk dari Paman Guru Wiku Sepuh ?— Jaka Rimang mengemukakan pendapatnya. — Hal itu memang sudah menjadi tujuanku. — Indra Sambada menyahut: --- Tetapi apakah Kyai Wiku Sepuh berkenan menerimaku sebagai muridnya, itulah saya masih meragukan.—

— Aku rasa beliau akan bergirang hati menerimamu sebagai murid, karena beliau menurut Guruku, adalah seorang yang waskita, artinya dapat melihat jauh akan sifat-sifat ksatrya yang dimiliki oleh kakang Indra. — Jaka Wulung berkata.

— Justru karena Paman Gurumu itu waskita, saya malah beranggapan sebaliknya. Dapatkah beliau menerimaku sebagai murid dengan nodaku yang melekat pada jiwaku ini? — lndra membuka isi hatinya dengan kejujuran.

— Kakang Indra terlalu mendalam memikirkan kekeliruan perbuatan yang telah lampau, — Jaka Wulung berkata menghibur. — Bukankah pepatah mengatakan, tak ada orang yang sempurna, — dan pula menurut pelajaran guruku, Dewata Yang Maha Agung itu Maha Pengasih sayang terhadap umat- Nya, apabila umat itu percaya penuh kepadaNya.—

— Ya, katamu memang benar. Tetapi perasaanku belum dapat tenang apabila belum mendapat petunjuk-petunjuk tentang bagaimana aku harus membersihkan nodaku, walaupun jiwa ragaku kini kuserahkan untuk mengabdi sebagai tamtama, — lndra Sambada menjawab. Dalam hati Indra Sambada berterima kasih akan nasehat-nasehat Jaka Wulung dan Jaka Rimangpun ia memuji pula akan budi luhur yang oleh dua pemuda itu.

— Sebaiknya kita nanti mengaso dahulu setelah menyebeangi Kali Progo, dan pada hari tengah malam menjelang fajar kita lanjutkan, supaya dapat sampai di Padepokan pada pagi hari. Dengan demikian kedatangan kita tidak mengganggu orang-orang yang sedang tidur nyenyak dimalam hari. — Indra memberikan saran kepada Jaka Wulung dan Jaka Rimang.

— Kami sangat menyetujui saran kakang Indra. — jawab mereka berdua hampir berbareng.— Dan juga kita akan mempunyai tenaga yang segar, sewaktu menghadap Paman Guru Wiku Sepuh.—

Setelah berjalan setengah harian. mereka kini berjalan lebih cepat lagi sambil asyik ber-cakap-cakap.

Pada waktu senja sampailah mereka bertiga diseberang Kali Progo. Kali Progo, sunggulipun lebar tapi airnya tak begitu deras.

Kali Progo itu bermata air dari lereng-lereng Gunung Bismo kemudian mengitari Gunung Sumbing dan mengalir ke selatan untuk kemudian bermuara di Laut bebas Nuswantara dipantai selatan daerah Kabupaten Kebanjaran Agung Mataram.

Sawah-sawah dan tegalan membentang luas sampai gunung Sumbing, dengan tanaman-tanaman polowijo yang beraneka warna jenisnya dan sayur mayur seperti kobis dan sebagainya. Desa-desanya terpencar jauh satu sama lain. Ternyata daerah disekitar seberang barat Kali Progo sampai dilereng- lereng gunung Sumbing adalah merupakan daerah yang makmur dan sejahtera, berkat dari rakyat desa disekitar itu yang sangat rajin akan mengolah tanah-tanah dan pemeliharaan ternak hewan-hewannya. Walaupun letaknya daerah itu agak terpencil dan jauh dari pusat pemerintahn ataupun tempat Punggawa Narapraja, tetapi selalu aman dan tenteram. Setiap kali para perampok ataupun penjahat- penjahat lainnya mencoba masuk didaerah itu, selalu dapat digagalkan oleh murid-murid Wiku Sepuh yang bersemayam di Padepokan Kaliangkrik. Setelah mereka beristirahat disebuah gubug ditengah tegalan ber-sama-sama dengan orang yang menjaga tanaman, maka sebelum fajar tiba, berangkadah mereka menuju Kaliangkrik, Dan waktu pagi hari mereka telah sampai dipadepokan Wiku Sepuh ……

Halaman muka Padepokan itu sangat luas dengan tanaman kembang liar pegunungan beraneka warna dan pohon pohon buah-buahan beraneka macam. Halaman yang luas itu kelihatan bersih, dan tanam- tanamannya segar terpelihara. Di-tengah-tengah halaman Padepokan bagian depan yang luas itu, ada berdiri sebuah pohon beringin yang rindang sebagai lambang pengayoman. Padepokan itu terdiri dari tiga bangunan rumah besar dengan pendapa-pendapa.yang luas, berjajar semuanya menghadap keutara. Semuanya terbuat dari kayu jati yang kokoh kuat dan beratap genting. Namun rumah yang di- tengah-tengah semua tiangnya diukir dengan ukir-ukiran berbentuk kembang-kembang dan daun-daun yang indah sekali. Disebelah kiri dalam Pendapa yang luas itu, kelihatan serakit gamelan terbuat dnri perunggu yang mengkilap bersih karena selalu terawat dengan baik. Sedangkan disebelah kanan dalam pendapa terdapat sebarak tempat duduk dari bambu yang sangat lebar hampir selebar seperempat pendapa, dengan digelari tikar anyaman dari mendong putih, yang umumnya disebut pula tikar pasir dan kelihatan sangat bersih.

Didalam pendapa-pendapa rumah kanan kiri, terdapat pula bale-bale serupa itu dan digelari dengan tikar pasir pula.

Sebelum memasuki ruang pendapa rumah tengah, ada sebuah kolam seluas kira-kira sepuluh langkah persegi, dengan airnya yang jernih sedalam selutut. Kolam itu disediakan untuk mencuci kaki, sedangkan padasan yang selalu berisi air disamping kolam adalah untuk mencuci tangan dan muka bagi mereka yang akan memasuki ruang pendapa.

Sungguhpun rumah yang berada disamping kanan kiri kelihatan sederhana dibanding dengan bangunan rumah ditengah, namun kiranya tidak kalah bersihnya. Taman-taman disekitarnyapun kelihatan teratur dan terawat baik.

Dibelakang rumah padepokan itu terbentang luas tegalan dengan ber-macam-macam tanaman, dan sebagian besar ditanami jagung, ketela, polowijo dan sayur-sayuran, sedangkan sebagian kecil lainnya ditanami rempah-rempah bahan obat-obatan, seperti laos, lempuyang, temulawak, klembak dan daun- daun obat-obatan beraneka jenis.

Dikala pagi itu, Kyai Wiku Sepuh sedang duduk dibale-bale diruang pendapa dengan lima orang muridnya yang telah di-angkatnya sebagai pamong atau pemimpin-pemimpin dari pada murid-murid lainnya. Muridnya semua ada 40 orang pemuda, dan tiap pagi hari mereka bekerja dalam tugasnya masing-masing bergiliran. Ada yang sedang berlatih bela diri dihalaman belakang, ada pula yang sedang bercocok tanam ditegalan dan ada pula yang sedang memasak ataupun mengatur balai rumah.

Wiku Sepuh usianya telah mencapai tujuh puluhan, namun bentuk badan dan wajahnya masih kelihatan segar, se-olaholah beliau baru berusia sekitar ampat puluh lima . Badannya kokoh kuat dengan tingginya yang sedang. Rambutnya terurai lepas sampai ditengkuknya.. Beliau tidak memakai ikat kepala. Pakaiannya seperti pakaian petani biasa dengan celana hitam panjang sampai dibawah lututnya. Tiga deret kerut keningnya kelihatan jelas. Namun kulit mukanya kuning bersih agak kemerah-merahan dan tidak berkeriput. Alisnya tebal dan telah putih pula. Sinar matanya tajam dan memancarkan daya perbawa yang kuat.

Kelima pamong muridnya pakaiannyapun serupa seperti petani biasa, hanya mereka kelima-lima nya memakai ikat kepala lebar segi tiga dari tenun lurik sederhana, bintik-bintik kuning diatas warna hitam. Mereka sedang duduk berjajar dihadapan gurunya Wiku Sepuh dengan muka yang tertunduk, mendengarkan petunjuk-petunjuk yang sangat berguna baginya. Kelima pamong muridnya oleh Wiku Sepuh diberi nama masing-masing yang tertua Waspadha Paniling, yang kedua Wasangka Pandulu, yang ke-tiga Panyuluh, yang keempat Watangan dan yang- kelima Landeyan. Waspadha Paniling berusia kira- kira 40 tahun, dan dulunya ia berasal dari Banten. Ia menjadi murid Wiku Sepuh sejak berusia 18 tahun, dan dulu ia selalu mengikuti pengembaraan Wiku Sepuh tatkala Wiku Sepuh masih hernama Sidik Pamungkas. Waspadha Paniling adalah murid kesayangan dari Wiku Sepuh, yang kelak diharapkan dapat menggantikan kedudukan Wiku Sepuh di Padepokan. Nama itu memang sesuai sekali dengan sifat-sifat yang dimiliknya. Ia memiliki sifat ketenangan dan dalam tindakannya selalu cermat dengan penuh perhitungan. Bentuk tubuhnya tinggi agak kurus. Ia jarang tertawa, dan ketawanyapun hanya merupakan senyuman saja.

Semua murid-murid selalu taat mematuhi. perintahnya. Wasangka Pandulu adalah tangan kanannya dalam tugasnya sehari-hari mengasuh para murid atas petunjuk-petunjuk Wiku Sepuh. Wasangka Pandulu bentuk tubuhnya sedang, tidak tinggi dan kelihatan kokoh kuat dengan urat-urat yang kelihatan menonjol dilengan-lengannya. lapun mempunyai sifat-sifat yang hampir serupa dengan Waspadha Paniling, tenang dan cermat dengan perhitungan dalam segala tindakan Ia berusia kurang lebih 35 tahun.

Panyuluh mempunyai sifat-sifat yang lain dari kedua kakak seperguruannya. Ia gemar berbicara dan bicaranya selalu diiringi dengan ketawa, Ia adalah murid yang cerdas, dan pandai menceritakan kembali apa yang ia dapat dengar dari gurunya. Bentuk tubuhnya agak kecil dengan wajah yang lucu. Ia berusia kira-kira tigapuluhan tahun dan dahulunya berasal dari Tuban.

Watangan dan Landejan umurnya sebaya kira-kira duapuluh delapan taltun. Bentuk tubuhnya hampir sama dan hampir merupakan sepasang kembar. Namun sifat-sifatnya berlainan. Jika watangan mempunyai sifat tenang dan sabar. Lain halnya Landejan. la sebaliknya mempunyai sifat-sifat yang selalu tergesa-gesar, dan lekas marah. Kedua-duanya dulu berasal dari daerah Mantaram. Kedua-duanyapun mempunyai kesaktian dalam ilmu bertempur yang seimbang dan dapat mempergunakan ber-macam- macam senjata, tetapi semua murid tak terkecuali para pamong murid, setelah mahir dalam mempergunakan bermacam-macam senjata tajam, selanjutnya dilarang oleh Wiku Sepuh mempergunakannya. Mereka hanya diperbolehkan memakai tongkat penjalin sebagai senjata dalam menghadapi segenap bahaja serangan lawan yang mendatang. Itulah ciri asli dari murid-murid Wiku Sepuh. Karena bagi orang yang telah mahir dalam ilmu bela diri, tongkat penjalin tak kalah ampuhnya dibanding dengan senjata-senjata tajam lainnya. Dan dapat digunakan sebagai tongkat biasa yang tidak mempunyai sifat-sifat pamer.

— Paniling dan adi-adimu semua!— Wiku Sepuh berkata kepada murid-muridnya: -- Harap semua muridku nanti tidak turut campur tangan apabila aku sedang menyambut datangnya tiga orang tamu yang masih muda. Cukup kau semua mendengarkan saja dara duduk tenang, sekali apapun yang akan terjadi. Perlu kau ketahui semua, bahwa dua orang diantaranya tamu tersebut adalah murid Pandan Gede adikku, yang akan menyantrik disini. Sedangkan seorang lagi adalah priagung dari Kerajaan yang berpangkat Bupati Manggala Muda Tamtama.

Semua murid dihadapannya mendengarkan dengan penuh perhatian. Dan kini kata - kata Gurunya benar-benar menjadi kenyataan ……

Tiga orang pemuda berjalan memasuki halaman menuju kerumah Padepokan. Mereka bertiga setelah mencuci kaki masing-masing dikolam dan mencuci muka serta tangannya dengan air yang telah memancur dari padasan, segera masuk keruang pendapa. Tak ada satu muridpun yang berani menyambut kedatangannya tiga orang pemuda itu. Wiku Sepuh masih duduk bersila tenang ditempatnya, seolah-olah tidak mempedulikan atas kedatangan tiga orang pemuda yang tidak lain adalah Jaka Wulung, Jaka Rimang dan Indra Sambada …..

Belum pernah Indra Sambada menghadap seorang dengan rasa ragu seperti sekarang ini. Keraguan yang diiiputi rasa ketakutan. Kekuatan bathin yang tabah akan memusat, selalu buyar kembali, dan jantungnya ber-debar-debar penuh rasa kecemasan. Berulang ulang ia berusaha mengurnpulkan tenaga bathinnya, tetapi selalu gagai dalam samadhinya. Tahulah dia kini, bahwa perbawa Wiku Sepuh yang sedang dihadapi jauh lebih tinggi dari pada daya perbawanya sendiri. Tak kuat ia menatap pandang kearah Wiku Sepuh. — Dirgahajulah kau bertiga yang baru datang!— Wiku Sepuh menyambut sujud mereka bertiga dengan tenang.

Tetapi belum juga ke – tiga-tiganya dapat sempat menjawab, Wiku Sepuh segera berobah wajahnya dmgan kemarahan yang bernyala nyala, diiringi kata-kata keras penuh daya perbawa! — Hai, Banteng Majapahit. Tumenggung lndra! serunya — Nodamu tak cukup dicuci dengan air kolam dan padasan. Apabila kau benar - benar bertobat, mohonlah ampun pada Dewata Yang Maha Agung, dan berangkatlah sekarang juga ke Candi Arjuna didataran tinggi Dieng. Bersamadilah untuk mencuci nodamu selama ampatpuluh hari lamanya, dan tanggalkan semua senjata yang meiekat dibadanmu itu.-

-……

Mendengar kata-kata Wiku Sepuh yang penuh dengan kemurkaan, India Sambada tak kuasa untuk bangkit. Un uk menjawab saja rasa tenggorokkannya seperti tersumbat. Mukanya tertunduk lesu, Itulah daya perbawa aji sakti; Wiku Sepuh yang dinamakan aji sakti — Panggendaman Rajawana. — Kini setelah melihat Indra Sambada te tunduk tak berdaya, Wiku Sepuh melanjutkan kata-katanya dengan nada kemarahan yang berkurang — Pesanku dalam perjalanan menuju ke Dieng, kau tak diperkenankan membunuh binatang-binatang liar, sekalipun mereka akan menerkammu. Serahkanlah akan keselamatan jiwa ragamu kepada Dewata Yang Maha Agung. Jika mendapat lindungan- Nya, tentu kau dapat kembali pulang kemari dengan selamat.---

--- Perintah Bapak Wiku Sepuh, akan saya laksanakan. Hanya doa restu Bapak Wiku Sepuh saya minta untuk menyertaiku---, Hanya itulah kata-kata Indra Sambada yang dapat diucapkan. Dengan berkata demikian, ia segera melepaskan keris pusakanya dari pinggang sebelah kiri dan kantong yang berisikan taji dipinggang sebelah kanan, un tuk kemudian diserahkan kepada Wiku Sepuh. Semua yang menyaksikan turut terharu. Terutama Jaka Rimang. Ia tak tahan melihat Indra Sambada diperlakukan secara demikian.

Ingin ia turut berkata untuk membela, namun karena terkena perbawa aji sakti penggendaman rajawana, tak mampu pula ia bergerak.

Wajah Wiku Sepuh yang memancarkan kemurkaan kini berangsur-angsur berobah menjadi tenang kembali dan berkata pelan. — Dari jauh aku akan selalu semadi berdoa untuk keselamatanmu. — Kini rasa daya perbawa yang menekan telah lenyap, seakan-akan disapu bersih oleh suara kata-kata yang penuh ketenangan tadi.

— Jika Kyai Guru Wiku Sepuh memperkenankan saya akan menyertai kakang Indra Sambada dalam perjalanan. — Jaka Rimang memotong bicara.

— Itu tidak mungkin, kau tidak kuperkenankan, karena tak ada perintah gurumu Pandan Gede demikian jawab Wiku Sepuh singkat! — Kelak apabila Tumenggung Indra kembali dengan selamat, kau baru dapat rnenyertainya, dalam perjalanan mengemban tugas amanat penderitaan rakjat selaku pengikut setia dari pada Banteng Ivlajapahit. —

Setelah meninggalkan keris pusakanya dan semua senjata yang ada padanya. Indra Sambacla segera sujud kembali, untuk berpamit, dan kemudian bangkit meninggalkan rumah Padepokan, Jaka Wulung dan Jaka Rimang dengan para pamong murid mengantarkan perginya Indra Sambada sampai dipagar halaman depan, dengan penuh rasa iba. Sedangkan Wiku Sepuh masih tetap duduk bersila tenang ditempatnya, dengan berkata pelan pada dirinya sendiri — Selamat, selamat, selamat.

Candi Arjuna terletak di-tengah-tengah dataran tinggi Dieng, dengan dikelilingi candi-candi lainnya, seperti candi Bima, candi Dwarawati, candi Gatotkaca dan candi-candi kecil lainnya dan merupakan kelompok candi-candi yang terpisah - pisah.

Pintu gerbang candi Arjuna bingkainya berupa ukiran lukisan Kalamakara, dan tak seberapa jauh dari tempat itu ada sebuah danau dengan airnya yang sangat jernih. Air danau itu mengalir kekali Tulis, yang kemudian bertemu dengan kali Seraju, dan terus mengalir keselatan bermuara pantai Cilacap. Tidak sebuah pohonpun dapat bertumbuh didalam dataran Dieng dekat candi-candi itu. Hal itu mungkin karena tanahnya mengandung uap belirang.

Candi tersebut didirikan oleh Keradjaan Mantaram, dikala Sri Baginda Sanjaya Raka I Bhumi Mantaram bertakhta pada lebih kurang tahun 700. Beliau beragama Hindu syiwa.

Belum lagi lenyap kenangan pedih yang diderita, ujian berat telah menyusul ia harus berpisah

dengan kedua adik angkatnya yang disayang …….

Namun ……. semuanya itu diterima dengan hati tabah, dan tawakkal……! Selesai menyepi, bersamadi, dan mensucikan diri, tugas berat telah menanti …… , diatas pundak Indra Sambada yang Sakti.

Dan dalam membasmi Tokoh Sakti golongan Dursila ia tetap pada pegangan yang diajarkan oleh

Ayah, dan ke-empat orang Gurunya yang Sakti : bahwa : SURADIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING, PANGASTUTI

*

**

B A G I A N IV.

KEMBALI LAGI kini Indra Sambada sebatang kara dalam perjalanan, sambil merenungkan dan memikirkan kepedihan nasib yang sedang dialaminya. Baru saja ia terhibur karena pertemuannya dengan Jaka Wulung dan Jaka Rimang serta Giyanti, bahkan bersama-sama menempuh perjalanan dari Kapuan sampai di Secang dan kemudian bersarna sama kedua pemuda itu melanjutkan perjalanan sampai dilereng Gunung Sumbing sambil bersendau gurau dengan mesranya, kini tiba-tiba sebelum ia dapat duduk tenang beristirahat, diusir dari Padepokan, supaya berangkat menuju ke Dieng. Badannya terasa letih lunglai seperti tidak bertulang. Sedangkan kakinya dirasakan berat untuk melangkah sewaktu ia keluar halaman, ia tak berani memalingkan kepala kebelakang sebentar, untuk menjawab lambaian tangan dari Jaka Wulung dan Jaka Rimang.

Seruan-seruan perpisahan dari Jaka Wulung dan Jaka Rimang, tak pula ia mendengarkan. Ia berjalan terus lurus kearah utara melewati pematang-pematang ditengah sawah yang luas membentang, untuk kemudian tiba didesa berikutnya. Kini ia menempuh jalan-jalan desa, dan sampailah ia disuatu lembah dengan banyak pohon-pohonnya yang rindang. Indra Sambada berhenti, dan duduk beristirahat dibawah pohon asam yang rindang.

Dikala itu sang surya telah condong kebarat. Sinar teriknya memancar memenuhi alam. Benda - benda yang terkena sinarnya sang surya menciptakan bayangan-bayangan hitam ditanah, menyerupai bentuk wujudnya masing - masing. Sewaktu ia sedang duduk bertopang dagu dan tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba suara tertawa nyaring terdengar dari belakang dan membuatnya terkejut. Cepat ia memalingkan kepala kearah datangnya suara tertawa tadi, dan siap sedia menghadapi segala

kemungkinan yang akan terjadi ……Dan ternyata ….. Seorang kakek kakek kurus bertongkat telah berdiri dibelakangnya.

— Tak kusangka orang yang bergelar Banteng Majapahit, semangat juangnya mudah patah. kakek- kakek itu berseru menyindir — Jika Tumenggung Indra masih memiliki aji shakti Bandung Bondowoso, kejarlah aku ! ! ! — berkata demikian kakek-kakek bertongkat itu melesat lari kejurusan utara bagaikan berkelebatnya bayangan. Mendengar kata-kata yang mengejek dirinya itu, Indra Sambada segera terbangun sadar, dan tahulah ia dengan pasti, bahwa kakek-kakek itu tak lain dari pada Kyai Pandan Gede adanya. Secepat Pandan Gede melesat lari keutara, Indra Sambada segera mematek aji shak tinya Bandung Bondowoso memusatkan tenaga bathinnya untuk kemudian menghilangkan rasa berat badannya, dan secepat kilat itu pula Indra Sambada melesat mengejar larinya Pandan Gede. Dua orang kejar-kejaran, laksana berkelebatnya bayangan. Ternyata dua orang memiliki kesaktian yang sama tingkatannya dalam lomba lari, menilik jarak antaranya yang selalu tidak berobah. Sang surya telah memasuki cakrawala, tetapi samar-samar masih kelihatan dua orang lari ber-kejar-kejaran, menuruni jurang-jurang yang curam untuk kemudian menaiki tebing yang terjal, dan memasuki lembah hutan belukar. Waktu itu telah tengah malam. Pandan Gede mengurangi kecepatan larinya yang segera tersusul oleh Indra San.bada.

— Ha …. Ha …. ha ….. menyerah kalah aku — Pandan Gede berkata sambil berhenti lari dan duduk bersandar pada pohon ditengah hutari. Indra Sambada segera mengikuti duduk ditanah ber-hadap- hadapan dengan Kyai Pandan Gede. — Salah ….. salah dugaanku tadi. Ternyata gelar Banteng Majapahit sesuai dengan pemiliknya --- Pandan Gede mulai bicara dengan kata pujian tertuju pada Indra Sambada.

--- Kyai Pandan Gede, sengaja mengalah — jawab Indra Sambada dengan jujurnya – Gelar siluman shakti ambeg paramaarta tepat benar untuk Kyai — Indra Sambada membalas memuji — Dan kiranya saya baru setingkat dengan murid Kyai — Indra bicara merendah.

— Aneh ….. aneh ….. selalu merendahkan diri. — Kyai Pandan Gede berkata dengan tertawa, dan meneruskan bica-  

ranya — Aku menyerah kalah, dan lomba lari selesai sampai disini saja. PesanKu terimalah pengabdian Jaka Rimang sebagai muridmu. Dan ingatlah, bahwa jeritan rakyat menunggu pertolongan dari Pendekar Majapahit — berkata demikian Pandan Gede melesat menghilang dikegelapan malam. Dengan kata-kata lomba lari sampai disini saja, tahulah Indra Sambada, bahwa mengejar larinya Kyai Pandan Gede tidak ada gunanya. Bagaikan seorang yang baru bangun dari tidurnya, kini Indra Sambada semangat juangnya berkobar kembali menyala. Ia mengenangkan kembali pesan Wiku Sepuh yang terakhir dan pesan Pandan Gede yang baru saja berselang. Ia telah mendapatkan kebulatan tekad untuk pergi mencuci nodanya dicandi Arjuna, untuk kemudian melanjutkan pengabdiannya sebagai seorang tamtama, demi amanat penderitaan rakyat dan demi keagungan nama Kerajaan Majapahit. Ia melanjutkan berjalan cepat dikegelapan malam melalui lereng-lereng Gunung Sindoro, untuk kemudian mengitari lereng- lereng gunung Bismo, dan menaiki tebing-tebing terjal menuju ke-Gunung Dieng, dengan pusat perhatiannya kearah candi Arjuna. Duabelas hari lamanya ia berjalan melalui jurang-jurang lembah- lembah dan tebing yang terjal yang sukar dilalui oleh manusia biasa. Binatang liar yang dijumpai dalam perjalanan segera menyimpang jauh, tak kuat menatap wajah Indra Samloada yang bersinar yang dilindungi oleh aji shakti Bandung Bondowoso.

Dengan langkah yang gontai, ia memasuki Candi Arjuna dan bermaksud akan bersemadhi di sudut ruang sebelah dalam. Akan tetapi tiba-tiba detak jantungnya berdebar-debar, dan sebagai Ksatrya shakti cepat pula ia dapat menguasai dirinya kembali untuk menenangkan serta menghentikan langkahnya, sambil mengawasi,sekeliling ruangan dengan penuh waspada.

Sesaat ia menjadi terkesiap, demi dilihatnya dengan jelas, bahwa disudut dalam ruangan yang terang samar-samar sebelah kanan, nampak adanya seorang berpakaian seragam sebagai Lurah tamtama Kerajaan, sedang duduk bersila dengan muka tertunduk sambil memegang keris pusaka yang telah terhunus. Sedang Indra Sambada melangkah mendekat, untuk menegornya, tiba-tiba …… orang itu bangkit berdiri dengan masih menggenggam keris pusaka ditangan kanannya.

Indra Sambada melompat surut ke belakang selangkah, untuk ber jaga menghadapi segala kemungkinan yang akan mendatang. Namun demi diingatnya kembali, akan pesan Wiku Sepuh, bahwa apapun yang terjadi atas dirinya. ia tak diperkenankan melawan dengan ilmu kanuraganya. Maka cepat ia menyalurkan segenap tenaga dalamnya yang telah terpusat ke-arah sinar pedang matanya, untuk kemudian menatap pada muka orang yang kini berada dihadapannya dengan pandang tajam penuh perbawa.

Orang itu tiba-tiba ter-huyung-huyung kebelakang selangkah, dan keris pusaka ditangan kanannya berkelebat laksana kilat menembusi dadanya sendiri. Ia roboh terkulai dilantai dengan mandi darah.

Dengan tangkas lndra Sambada meloncat maju selangkah, dan kemudian berjongkok disisih orang yang kini tengah bergulat dengan maut itu.

Kiranya tak mungkin lagi ia dapat tertolong. Keris pusaka yang tertancap di dada orang itu demikian dalamnya, hingga hampir tembus sampai di punggungnya.

Sedang Indra Sambada membantu menyilangkan tangan orang itu didadanya tiba-tiba, sambil membuka matanya sesaat, orang itu berbicara dengan suara yang amat lemah dan hampir tak kedengaran serta terputus-putus.

— Gus…. ti …..In. .dra …..Ampu….. In…. do…. .sa….. hamba yang….. hina…. di….. na…. Pun…. su…. rat…. Itu … ham ….ba…. yang….. membu….. St…..

Ia berhenti sesaat sambil berusaba mengerahkan tangannya yang terakhir serta mernbuka lagi matanya yang kian suram untuk melanjutkan kata-katanya.

Kematian Ki Lurah Somad dan istrinya bukan bunuh diri tapi hambalah yang mernbunuhnya.

Sampai disini suara orang itu terputus. Nafasnya tersengal-sengal... dan kemudian badannya berkelejetan bergulat melawan maut yang kiranya telah menyengkeramnya semakin kuat.

— Lurah Sampar ! ! ! Sampaaaaarrr ! ! ! — Seru Indra Sambada sambil meng-goyang-goyang tubuhnya yang ternyata telah mulai rnembeku itu. Namun orang yang dipanggil namanya oleh Indra Sambada itu, ternyata telah tak bernafas lagi.

Dan suasana kini menjadi sunyi hening kembali.

Ia tak menduga sama sekali, bahwa lurah Tamtama Sampar yang selalu taat dan dipercayai serta dianggapnya sangat setia itu, ternyata adalah orang yang mengkhianatinya. Orang yang melakukan perbuatan pengkhianatan yang amat rendah, keji serta terkutuk.

Tetapi semua itu telah terjadi dan segala sesuatu yang telah terjadi tak perlu disesalkan dan diungkap kembali.

--- Yah, semoga Dewata Yang Maha Agung dapat pula mengampuni dosa-dosamu itu— lndra Sambada berkata lirih, setelah mana ia mengubur mayat Lurah tamtama Sampar dibelakang candi.

Kegelapan yang selalu rnenyelimuti dirinya kini perlahan-lahan menyingkir bagaikan tertimpa oleh sinar cahaya nyala-nya pelita.

Kini ia kembali memasuki candi Arjuna lagi dan dengan tenangnya ia mulai duduk bersila disudut ….. Mematikan daya rasa panca indranya. Dan terciptalah — trimurti jati manunggal ialah . bersatu padunya cipta, rasa dan karsa, untuk kemudian menyerah dengan tekad yang bulat dan menghadap pada kekuasaan Dewata Yang Maha Agung dan Maha Pengasih, bagaikan daun-daun kering menyerah pada hembusan angin yang maniupnya. la duduk bersila dan tenggelam dalam samadhinya laksana patung.

Yang ada padanya hanya, — mohon ampun, dan mohon petunjuk Nya dalam kelanjutan hidupnya demi mengabdi padaNya.—

*

* *

B A G I A N : V.

DIWAKTU SENJA seorang bangsawan dengan pakaian kebesarannya sebagai Senopati Muda Manggala Tamtama Pengawal Raja bertubuh tinggi besar, bercambang bauk wajahnya, dengan dadanya yang bidang memasuki halaman Padepokan Kaliangkrik tempat Wiku Sepuh bersemayam. Kedatangan Gusti Senopati Adityawardhana didampingi oleh Tumenggung Sunata dan diiringkan oleh sepasukan tamtama sebanyak 30 orang.

Kelima pamong murid sibuk menyambutnya, sedangkan para murid lainnya sibuk menambatkan kuda- kuda tunggangannya dibelakang Padepokan. Pasukan tamtama pengiring dipersilahkan istirahat diruang pendapa dirumah sebelah kanan, sedangkan Gusti Senapati Muda dan Tumenggung Sunata langsung dipersilahkan masuk ke ruang pendapa dirumah tengah.

Wiku Sepuh segera keluar menyambut dengan didampingi oleh Jaka Wulung dan Jaka Rimang, mempersilahkan Gusti Senapati Muda dan Tumenggung Sunata duduk di-bale-bale yang lebar itu diruang pendapa. Menyusul kemudian kelima pamong, turut duduk berjajar dibelakang Wiku Sepuh yang sedang menghadapi tamu agung dari kota Raja.—

— Maafkan jika kami menyambut kedatangan Gusti Senapati serba kurang pantas. Wiku Sepuh berkata dengan kerendahan hati —Dan perkenankanlah kami mengucapkan dirgahayu atas kedatangan Gusti Senapati.—

— Sangat berterima kasih atas kesediaan menerima kedatanganku, Bapak Kyai Wiku Sepuh.— Gusti Senapati menjawab.—Tak kusangka bahwa padepokan yang terpencil, demikian indahnya.—ia melanjutkan berkata dengan memuji. Tetapi dibalik kata-kata pujian, Gusti Senapati mengerahkan tenaga dalamnya dengan menatap wajah Kyai Wiku Sepuh. Kyai Wiku Sepuh tak mau menatap wajah Sang Senapati. Sengaja ia menundukkan mukanya, tetapi dengan pelan ia menghembuskan nafas yang disertai pemusatan kekuatan bathinnya dengan aji kesaktian panggendaman rajawana. Sang Senapati segera terperanjat sesaat, setelah merasa bahwa ujung kain bajunya bergetar sebentar. Tahulah sekarang, bahwa yang di hadapinya ialah Sang Wiku Sepuh yang memiliki kesaktian mendekati sempurna. Ia segera menundukkan mukanya, menyesal akan kecerobohannya yang telah dilakukan.

— Gustiku Senopati, hendaknya jangan merasa canggung dalam padepokan yang buruk ini. Sudilah berlapang hati dan menganggap seperti di Istana sendiri, Wiku Sepuh berkata dengan bersenyum. — Saya hanya seorang petani biasa, dan tak mampu membangun lebih baik dari pada ini.—

— Kami sangat kagum akaa indahnya pandangan dan segarnya hawa disini, rasanya aku tak ingin pulang kerumahku sendiri. — jawab Sang Senopati dengan tak kurang tangkasnya dalam beradu lidah.

Kyai Wiku Sepuh tersenyum simpul, mendengar kata-kata pujian yang tak langsung itu. — Tak kusangka, bahwa Gustiku Senopati pandai pula bergurau.— sahut Wiku Sepuh dengan mengalihkan bicaranya.

Tumenggung Sunata dan kelima pamong murid serta Jaka Wulung dan Jaka Rimang duduk diam, rnendengarkan kedua tokoh sakti yang sedang ber-cakap-cakap. Dua tokoh sakti, tetapi berlainan kedudukannya, Kyai Wiku Sepuli sebagai tokoh rakyat yang termasyur, sedangkan Sang Senopati sebagai Tamtama Kerajaan yang terpandang.

Percakapan berhenti sejenak, karena datangnya para murid yang mengantarkan hidangan makanan berupa nagasari, wajik, ketan dan minuman teh hangat.

— Silahkan Gusti-gusti, hanya inilah hidangan yang dapat kami sajikan. — Wiku Sepuh mulai mempersilahkan untuk menikmati hidangan pada kedua tamunya, yang segera disambutnya dengan riang dan akrab. Sambil menikmati hidangan yang telah tersedia itu, percakapan masih berlangsung terus dengan asyiknya.

Murid-murid Kyai Wiku Sepuh disamping mahir dalam ilmu kanuragan, kebathinan, kiranya mahir pula memasak. — Sang Senopati Muda birjara sarnbil menikmati hidangan makanan.

— Saya memang melatih murid-murid saya, agar kelak dapat terpakai sebagai juru masak di Senopaten. — Kyai Wiku Sepuh menyahut sambil tersenyum riang.

— Sedangkan ajaran-ajaran lain yang dapat kuberikan hanya merupakan pelengkap mengingat pengetahuanku yang masih sangat dangkal itu. — Kyai Wiku Sepuh melanjutkan bicaranya dengan merendah hati, yang sekali gus merupakan sindiran tak langsung. Sungguhpun percakapan itu telah agak lama berlangsung, tetapi masih tetap berkisar pada pembicaraan yang ringan-ringan saja. Sang Senopati belum juga memberikan penjelasan maksud kedatangannya, sedangkan Wiku Sepuh belum juga mau menanyakan maksud kedatangannya.

( Bersambung jilid III )