-->

Pendekar linglung Jilid 9 (Tamat)

 
Jilid IX (Tamat)

MEMANGLAH Pendekar Budiman ini hanya dapat bertahan saja, kadang-kadang kalau ada kesempatan ia akan membalas serangan- serangan lawannya. Ilmu Pedang Naga Angkasa makin diperhebat, bahkan jurus-jurus simpanannyapun telah dikeluarkan dengan hebatnya. Hingga pedang Besi Merah mengaung-gaung diudara.

Ketiga Setan Dieng inipun belum pernah menghadapi lawan setangguh ini, Joko Senolah orang pertama yang dapat menghadapi keroyokan mereka bertiga dengan berhasil mempertahankan diri lebih dari puluhan jurus. Karena itulah maka ketiga saudara Kolo itu tak berani memandang rendah lagi, mereka lalu mencabut senjata-senjata andalannya. Kolo Pati telah memegang rantai berbandul bola besi berduri, Kolo Kresno

373 memainkan tombak trisula pendek dan Kolo Yudo mempergunakan golok besar yang selalu tergantung diatas pundaknya.

Weesss....... wingggg...... werrr....... bandul besi yang berada ditangan Kolo Pati terus-menerus menyambar kearah tubuh Joko Seno, rupa- rupanya ketiga lawannya itu ingin lekas-lekas melumatkan tubuh si Pendekar Budiman yang menjadi lawannya itu.

Namun dengan sekuat tenaga Joko Seno tetap mempertahankan diri, dengan Ilmu Pedang Naga Angkasa inilah Pendekar Budiman melayani krida mereka. Bisa ular yang selalu menyembur-nyembur dari ular kalung Kolo Kresno itu terus-menerus mengarah kemuka. Hingga dengan demikian tangan kirinya yang tadinya memainkan ilmu pukulan Bledek Mangampar terpaksa dikibas-kibaskan untuk membuyarkan uap putih yang selalu menyerang mukanya.

Seluruh kepandaian Joko Seno telah dikerahkan untuk menjaga diri dan kalau mungkin merobohkan lawannya, akan tetapi tetap saja dirinya selalu terkurung rapat-rapat oleh ketiga orang Setan Dieng itu. Hingga didalam hatinya ia mengeluh.

“Maaf kakang Barata aku tak dapat menolongmu, mungkin akupun akan mati ditangan tiga Setan ini.” Serunya didalam hati. Namun makin lawannya mengurung makin nekadlah Joko Seno itu, dengan tanpa memperdulikan keselamatannya lagi maka Pendekar Budiman itu lalu menusukkan pedangnya kearah lambung Kolo Pati. Akan tetapi bersama dengan itu trisula dan rantai berbandul terus menahan serangan pedangnya. Sedangkan golok Kolo Yudo meluncur dengan keras berusaha membelah batok kepalanya.

Weeeerrr....... angin dingin terus menyerang mukanya setelah golok orang ketiga dari Setan Dieng itu dapat dihindarkan. Sewaktu Joko Seno sedang berada dalam kerepotan itu tiba-tiba saja berkelebatlah sesosok tubuh yang terus memainkan pedangnya untuk membabati ketiga Setan Dieng yang sedang mengamuk.

Begitu berkelabat dan menggerakkan tangannya maka terdengarlah jeritan Kolo Yudo dan Kolo Pati. Ternyata kedua orang Setan Dieng itu telah kehilangan kupingnya. Sedangkan Kolo Kresno yang masih terbengong-bengong itupun terus mendapat hadiah pula.

“Cresss!!!” Sekali pendatang itu berkelebat maka hilanglah kuping kiri orang kedua dari Setan Dieng ini. Memanglah gerakan orang pendatang ini sangat cepat, hingga tak kalah dengan kecepatan kilat. Begitu mereka berhenti barulah Joko Seno tahu bahwa penolongnya itu adalah Topeng Merah.

“Ki Topeng Merah??!!” “Ya angger!”

“Bangsat kau!!” Desis ketiga orang Setan Dieng itu dengan marah akan tetapi Topeng Merah tampak tenang-tenang saja. Bahkan matanya yang tajam itu terus memandang kearah Setan-Setan Dieng dengan penuh selidik. 374 “Kolo Pati, Kolo Kresno dan kau Kolo Yudo apakah kau belum juga insyaf akan keberandalanmu itu? Jauh-jauh dari Loano kemari kau hanya akan melanjutkan kebiadabanmu saja. Sekali lagi aku mengampuni kalian. Akan tetapi besuk kalau aku masih mendengar kabar bahwa kalian tetap melakukan kejahatan maka aku tak akan segan-segan membunuhmu. Nah sekarang cukup hanya mengambil sebuah telinga kalian saja.”

Kolo Kresno dan Kolo Yudo menjadi pucat sekali setelah melihat siapa yang datang, memanglah mereka itu menjadi jeri setelah dihajar oleh Topeng Merah sewaktu berada dihutan Loano. Pada waktu itu Topeng Merah menjadi marah sekali setelah melihat kelakuan tiga orang kakak beradik Kolo ini sewaktu memperkosa seorang gadis dengan bergantian.

“Topeng Merah berkali-kali kau mengganggu kesenangan kami, sekarang kau tak mau membunuhku maka besuk kalau ada kesempatan aku akan membunuhmu hai Topeng Busuk! Kuakui bahwa waktu ini aku berhutang nyawa dua kali kepadamu. Nah kau pintalah apa saja yang kau kehendaki untuk menebus hutang kami itu!” Geram Kolo Pati sambil menahan perasaan sakitnya.

Memang kalau dirasa-rasakan perasaan sakit dan perih yang menimpa kupingnya itu tak seberapa kalau dibandingkan dengan perasaan sakit menyerang hatinya. Ingin rasanya Kolo Pati itu menangis meraung-raung bagaikan anak kecil. Akan tetapi kehormatannya yang melarang.

“Huahahaha...... huahahahaha...... huahahaha...... aku tak bermaksud menghutangkan nyawa kepada kalian Kolo Pati, aku hanya ingin kesadaranmu saja. Setelah kau menjadi sadar aku akan merasa senang dapat bersahabat dengan kalian yang mempunyjai kepandaian tinggi ini. Bukankah itu lebih baik daripada kita saling bermusuhan?? Nah kalau kalian akan menolongku maka aku mengucapkan terima kasih. Sebagai baurekso yang menguasai daerah Dieng maka kalian tentu tahu bukan tentang katak ajaib itu?? Nah berilah aku seekor dan aku akan segera pergi.”

“Kau minta katak ajaib??” Ulang mereka dengan serentak.

“Ya! Apakah kalian keberatan?? Kalau kalian keberatan maka biarlah aku mencari sendiri.”

“Tak mudah kalian mendapatkannya, dan lagi ini bukannya musim katak itu keluar. Katak itu akan keluar sepuluh tahun sekali sedangkan tiga tahun yang lalu katak ajaib itu baru saja keluar. Jadi untuk mendapatkannya kalian harus menunggu tujuh tahun lagi.” Jawab Kolo Kresno dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tujuh tahun lagi???” Ulang Joko Seno dan Topeng Merah dengan serentak.

“Ya, itulah jarak waktu paling pendek.” Seru Kolo Kresno.

“Tidakkah ada jalan lain lagi? Aku ingin segera mendapatkannya. Apakah kalian bertiga dapat menolongku? Apa yang akan kalian pinta asalkan aku dapat mengabulkan maka akan kululuskan permintaan kalian itu.” Seru Topeng Merah agak lemah. 375 “Huahaha...... huahaha...... huahahaha...... sudah kukatakan bahwa tak ada jalan lain kecuali tujuh tahun lagi. Nantilah waktu itu dan kalau kalian mujur maka dalam waktu tujuh tahun itu akan telah mendapatkan barang yang kalian ingini.” Seru Kolo Yudo.

Sesaat mereka itu terdiam, masing-masing sedang mencari jalan bagaimana caranya untuk menolong Barata yang sedang menderita sakit itu. Sedangkan waktu telah kian mendesak. Tiba-tiba saja terdengar perkataan Kolo Pati dengan keras :

“Topeng Merah, kalau kau benar-benar membutuhkan maka ada jalan lain!”

“Jalan lain??”

“Ya!”

“Bagaimanakah itu? Lekas katakan!” Seru Topeng Merah dengan penuh harapan.

“Akan tetapi dapatkah perkataanmu tadi itu kami percaya??”

“Kau kira aku ini manusia apakah?? Mintalah apa saja, kalau aku sanggup pasti akan kukabulkan untuk penukar barang itu.”

“Bagus!”

“Lekas katakan!” Teriak Joko Seno dengan tak sabar.

“Begini Topeng Merah, kami mempunyai simpanan seekor katak ajaib. Aku mau menukar dengan kalian, asal Topeng Merah sudi menurunkan tiga macam ilmu kepada kami. Inilah syarat untuk mendapatkan katak ajaib yang jarang sekali keluar. Bagaimana??”

“Tiga macam?” Ulang Topeng Merah dengan kaget.

“Ya! Bukankah kau tak keberatan? Kami tahu kalau kau mempunyai banyak sekali ilmu-ilmu dahsyat akan tetapi kami hanya minta tiga macam saja untuk menukar katak itu. Nah terserah kepadamu.” Seru Kolo Pati.

“Tidakkah hanya dua saja??”

“Aku tak dapat tawar-menawar, tiga! Kalau tidak tiga tidak.” Jawab Kolo Pati dengan kukuh.

“Baiklah kalau demikian kehendakmu. Akan tetapi lekas kau berikan kepadaku itu katak ajaibnya.” Seru Topeng Merah dengan menarik napas berat.

“Tidak bisa, sebelum kau menurunkan ilmu itu kepada kami jangan harap mendapatkan katak itu. Nah kau dapat memulainya nanti malam.” Seru Kolo Pati dengan tersenyum. Melihat senyuman Kolo Pati ini maka bergidiklah Joko Seno, senyuman ini bukannya menambah bagusnya Kolo Pati akan tetapi malah sebaliknya.

“Benarlah mulai malam itu juga Topeng Merah menurunkan ilmu meringankan tubuh kepada ketiga orang Setan Dieng, karena mereka itu telah mempunyai dasar-dasar ilmu silat tinggi maka sebentar saja dapat menerima ilmu yang diturunkan oleh Topeng Merah.

Malam-malam berikutnya mereka menerima pelajaran ilmu mempergunakan tenaga dalam, dan ilmu ketiga ilmu gerak langkah. Dengan amat rajin ketiga orang Setan Dieng itu mulai mempelajarinya dan kalau ada yang tak dapat lalu ditanyakan kepada Topeng Merah.

Lima hari kemudian turunlah Joko Seno dan Topeng Merah dari gunung Dieng, hati mereka itu menjadi puas setelah mendapat hasil dari jerih payahnya. Akan tetapi disamping kepuasannya Joko Seno dan Topeng Merah juga gelisah sekali. Sebab waktu yang dijanjikan oleh Pendeta Kertopengalasan hanya tinggal dua hari saja.

“Mari angger Joko Seno kita percepat perjalanan kita.”

“Marilah ki Topeng Merah!” Setelah berkata demikian maka keduanya lalu makin mempercepat gerakannya. Mereka itu tak akan pernah istirahat dan menahan terus perasaan laparnya. Pikirannya telah dipenuhi oleh bayang-bayang untuk menolong sahabatnya Barata pendekar dari desa Jalitunda.

*

* *

Sementara itu yang berada dihutan Paranggelung. Sakit yang diderita oleh Barata makin lama makin parah, kalau dahulu sebelum Ariyani datang Pendeta Kertopengalasan dapat mengatakan bahwa umurnya masih delapanbelas hari, akan tetapi setelah bertemu dengan Ariyani yang selalu menangisi Barata, maka hati pendekar Jalitunda itu makin bertambah susah.

Ia sangat sedih melihat kemalangan yang menimpa anak tunggalnya ini. Patah dalam percintaan, dan anaknya ini kelihatan kurus serta tak bersemangat lagi. Hingga karena pikiran-pikirannya inilah maka menambah perasaan sakit Barata.

Hingga pada hari yang kelimabelas Barata telah tak kuat lagi menahan perasaan sakitnya. Tubuhnya terus bergetar dengen hebat, badannya panas sedangkan dari mulutnya terus memuntahkan darah. Makin lama tubuh pendekar besar dari Jalitunda ini makin bertambah lemah.

Melihat keadaan suaminya yang bertambah parah ini makin bingunglah Wulandari, ia lupa akan segala kegagahannya dan terus menangis dengan sedih. Begitupun dengan Ariyani. Kedua orang wanita itu terus-menerus menanti kedatangan Joko Seno dan Topeng Merah dengan penuh harapan. Akan tetapi yang dinanti-nantikan tak kunjung datang, hingga keadaan Barata makin bertambah parah.

“Ibu, biarlah aku menyusul paman Joko Seno ke gunung Dieng! Seru Ariyani dengan sedih.

“Jangan nini, selain kau tak akan sempat kembali juga belum tentu dapat bertemu dengan pamanmu itu. Nantikanlah kedatangannya. Dan berdoalah supaya pamanmu itu dapat berhasil membawakan apa yang kita butuhkan.” Jawab Wulandari melarang anaknya pergi.

377 “Tapi....... tapi...... ayah makin parah sakitnya ibu, apakah kita harus menanti terus-menerus orang yang belum tentu berhasil itu??” Bantah Ariyani dengan gemas.

“Jangan...... jangan anakku, tak ada gunanya kau mencarikan obat untukku.” Tiba-tiba saja terdengarlah perkataan Barata yang lemah itu. Memang Barata dapat menangkap apa yang sedang diperbantahkan antara isterinya dan anaknya ini. Karena itulah ia lalu melarang puterinya pergi.

Mendengar larangan Barata ini maka Ariyani tak berani membantah, memanglah gadis nakal dan aneh ini sangat mencintai ayahnya. Selain mencintai juga amat penurut.

“Ya....... ya...... ayah aku tak akan pergi. Makan, ya? Biar kekuatan bapa cepat kembali lagi.” Seru Ariyani dengan lembut.

“Tidak...... tidak nini, makanan akan berubah menjadi pahit setelah masuk kedalam mulutku. Biarlah nini jangan kau risaukan keadaanku ini. Semoga kau dapat hidup bahagia dikelak kemudian hari. selain itu yang rukunlah dengan ibumu. Kasihan dia, nini.”

“Ya ayah, kita bertiga akan hidup senang serta rukun. Besuk kalau perasaan sakit ayah telah sembuh maka kita akan pulang ke Tangkuban Prahu dan hidup bahagia disana. Sawah ladang serta penduduk Jalitunda telah rindu kepada kita, ayah.”

“Semoga saja nini, berdoalah kepada Yang Membuat Hidup supaya ayahmu ini dikaruniai umur panjang.” Seru Barata menghibur puterinya.

“Tentu...... tentu...... aku selalu mendoakan kepada Tuhan supaya ayah cepat sembuh. Sehat seperti sediakala.” Jawab Ariyani dengan yakin.

Wulandari yang mendengarkan perkataan ayah dan anak ini menjadi terharu, dan tanpa terasa air matanya terus menetes dengan deras. Sebagai seorang isteri ia telah melihat keputusasaan suaminya ini. Memang tak dapat disalahkan keputusasaan Barata ini sebab penyakit yang dideritanya ini benar-benar hebat.

“Ya Tuhan, semoga Kau limpahkan berkah-Mu kepada suamiku itu.” Doa Wulandari didalam hati.

Sesaat mereka itu terdiam, masing-masing sedang tenggelam dalam alam khayalannya sendiri-sendiri. Hingga keadaan benar-benar menjadi hening dan tenang. Akan tetapi tak lama kemudian kembalilah terdengar perkataan Barata yang makin melemah :

“Tinggalkanlah aku, biar aku melepaskan lelah serta tidur dahulu, nini.”

“Baik ayah, semoga ayah dapat tidur dengan nyenyak dan lekas sembuh.” Jawab Ariyani yang terus meninggalkan ayahnya. Kepergian Ariyani ini disusul oleh Wulandari. Hingga tinggallah Barata sendirian didalam ruang tersendiri.

“Bagaimanakah keadaan suamimu, Wulan??” Tanya Pendeta Kalinggapati setelah melihat Wulandari keluar.

“Bertambah buruk keadaannya, kakang!! Makin lemas.” Jawabnya dengan pelan. 378 “Ah...... semoga saja adi Joko Seno cepat pulang dan berhasil.” Desis Pendeta Kalinggapati dengan penuh harapan.

“Semoga saja kakang, akan tetapi mengapa sampai sekarang belum juga adi Joko Seno kembali? Atau mungkin ia mendapat halangan dijalan.” Seru Wulandari dari dengan cemas.

“Semoga tidak adi, memang pekerjaan yang kita pikulkan keatas pundak adi Joko Seno benar-benar berat. Ia harus mencari katak ajaib yang keluarnya setiap sepuluh tahun sekali. Hal ini benar-benar menyangkut nasib baik serta keberuntungan adi Barata. Sebab kalau memang nasib adi Barata baik maka kedatangan adi Pendekar Budiman itu akan bertepatan dengan keluarnya katak-katak itu. Begitupun sebaliknya.” Jawab Gagak Rimang.

Sewaktu mereka itu sedang asyik bercakap-cakap tiba-tiba saja datanglah Joko Seno dan Topeng Merah yang terus masuk kedalam sarang Untung. Melihat kedatangan kedua orang ini berdebarlah hati Wulandari, seakan-akan melihat dewa penolong datang menghampirinya. Dengan tanpa sungkan-sungkan lagi wanita itu lalu bertanya kepada Pendekar Budiman :

“Adi, bagaimanakah hasilnya?? Dapatkah kau menangkap katak ajaib itu??”

“Berkat doa ayu maka aku berhasil mendapatkan katak itu, akan tetapi sebetulnya yang mendapatkan malah ki Topeng Merah ini.” Jawabnya dengan tenang.

“Jadi kau dapat menangkap katak itu??” Seru mereka dengan serentak. “Bukan menangkap akan tetapi ditukar dengan ilmu.” Kembali

Pendekar Budiman menjawab sesingkat-singkatnya.

“Jangan banyak bertanya dahulu, baik kau keluarkan katak dan ramuan obat-obatan yang diambil dari gua Melati biar aku membuatnya dan segera menolong adi Barata.” Seru Pendeta Kertopengalasan.

Setelah semua ramuan serta katak ajaib itu diberikan kepada Pendeta Kertopengalasan maka Joko Seno lalu masuk kedalam ruang Barata bersama dengan Wulandari.

Akan tetapi betapa terkejutnya hati kedua orang pendekar sakti ini setelah melihat Barata menggeletak tak bernyawa. Badannya telah kaku dan dingin sekali.

“Kakanggggggg.......” Teriak Wulandari yang terus menubruk mayat suaminya.

Sedangkan Pendekar Budiman hanya dapat menghela napas panjang saja, tubuhnya lemas. Joko Seno benar-benar kecewa dan merasa berdosa sekali sebab pertolongan yang diberikannya itu ternyata telah terlambat.

Dilain saat mereka yang berada diluar itu terus menerjang masuk kedalam setelah mendengar jeritan Wulandari tadi. Ariyani yang melihat kalau ayahnya meninggal terus menangis dengan keras. Untung ada Wardani dan Raden Ayu Gusik yang menghiburnya.

379 Kakek tua Sancaka hanya menitikkan air matanya tanda ikut berduka akan keberangkatan Barata menuju kealam baka itu. Disela-sela deraian air matanya itu terdengarlah gumam Sancaka :

“Kau mendahului aku angger Barata, selamat jalan.”

Ramailah keadaan disarang Untung itu. Mereka terus sibuk mengurus layon pendekar besar dari Jalitunda itu. Barata tewas dalam pengabdiannya untuk mengusir penjajah dari tanah airnya. Nusantara tercinta.

“Adi Barata darahmu akan menjadi pupuk kemerdekaan yang kekal! Biarpun namamu tak akan pernah dikenal orang sebagai bunga bangsa kemerdekaan, tenangkanlah hidupmu dalam kelanggengan.” Desis Pendeta Kalinggapati separti orang berdoa.

Sewaktu mereka itu sedang ribut-ribut untuk mengubur jenazah Barata tiba-tiba saja datanglah serangan dari tentara Kumpeni Belanda. Kedatangan mereka ini dipimpin oleh Klabang Songo, Baurekso, Pendeta Kumborono dan Pendeta Kridopaksa.

Dalam kekalutan ini maka sebagian besar dari pendekar-pendekar yang berada dihutan Paranggelung itu lalu mempertahankan diri dari serangan-serangan lawan. Sedangkan pasukan Untung makin menggila dalam membunuhi para serdadu-serdadu Belanda yang telah mengingkari janjinya.

Ditengah peperangan itu tampaklah Pendekar Linglung sedang mengamuk dengan dahsyat. Tangan kanannya memegang cambuk sedangkan tangan kirinya memegang pedang.

Menghadapi amukan Pendekar Linglung ini banyaklah pasukan Untung yang mati. Bahkan dapat dikatakan kalau sekali Pendekar Linglung menggerakkan kedua tangannya maka akan tampaklah kalau ada dua orang yang menggeletak tanpa nyawa.

Ada beberapa orang yang tahu bahwa orang yang sedang mengamuk itu adalah Pendekar Linglung yang namanya telah menggemparkan dunia kependekaran. Mereka segera berteriak-teriak dengan keras :

“Pendekar Linglung   ngamuk........   Pendekar   Linglung   ngamukk.......

awass wong edan ngamuk....... Pendekar Linglung ngamukkk     ”

Mendengar teriakan ini cepatlah Topeng Merah melesat menghampiri medan pertarungan dimana Pendekar Linglung sedang mengamuk. Dengan sekali gerak saja berhasillah Topeng Merah menyerang Pendekar Linglung dengan totokannya.

Memanglah Pendekar Linglung tak menyangka kalau dirinya akan diserang orang dengan gerakan secepat itu hingga ia tak bersiaga. Hal ini benar-benar menguntungkan bagi Topeng Merah. Setelah menotok jalan darahnya dan membuat Pendekar Linglung menjadi lemas ia lalu menyerahkan Pendekar Linglung kepada Pendeta Kertopengalasan yang sedang meramu obat.

Karena mendengar kalau Barata telah mati maka Pendeta Kertopengalasan lalu meminumkan ramuan itu kepada Pendekar Linglung. 380 Begitu ramuan masuk kedalam mulutnya kenyanglah sang perjaka sakti itu. Dan karena panasnya Pendekar Linglung jatuh pingsan.

Akan tetapi setelah mendapat rawatan dari Pendeta Kertopengalasan yang telaten itu maka kembalilah kesadaran Pendekar Linglung. Dan ia telah dapat memikir lagi akan kejadian-kejadian lampau. Hingga boleh dikatakan kalau pengaruh racun perampas sukma itu telah hilang lenyap bagaikan awan tipis disapu angin.

Memanglah ini berkat kehebatan khasiat katak ajaib tadi, begitu sadar ia lalu memandang kearah Pendeta Kertopengalasan dengan tajam dan tak lama kemudian terdengar sapaannya :

“Siapa kau??”

“Aku Pendeta Kertopengalasan yang telah menolongmu dan mengembalikan ingatanmu, angger. Bukankah kau selama ini ditawan oleh Baurekso musuh rakyat ini? Ingatkah kau bahwa selama ini telah membantu Belanda diluar kesadaranmu itu??”

“Hehhh.    apa?? Aku telah membantu Belanda??”

“Ya! Karena kau terpengaruh oleh racun perampas ingatan. Bahkan kau telah melukai pendekar besar Barata hingga akhirnya ia tewas dalam tanganmu.”

“Huahhh..... aku telah membunuh paman Barata?? Bukankah ia ayah dari adik gila itu??” Ulangnya dengan heran. Karena kekembaliannya jalan pikiran ini maka kembalilah Pendekar Linglung jatuh pingsan.

“Hemmm....... anak ini mengalami goncangan hati yang hebat sekali.” Desis Pendeta Kertopengalasan sambil memijit-mijit tengkuk Pendekar Linglung. Hingga tak lama kemudian sadarlah ia dari pingsannya.

“Paman, lepaskanlah totokan ini biar kuhajar habis anjing-anjing Belanda itu. Akan kubeset Baurekso keparat.” Seru Pendekar Linglung dengan marah. Dan setelah ia berhasil melepaskan totokannya terus berkelebat keluar menerjang kearah para perajurit Belanda hingga banyaklah yang tewas karena amukan Pendekar Linglung ini.

Melihat kejadian ini Baurekso menjadi heran, dan segera ia berteriak dengan keras :

“Linglung, apakah kau telah menjadi gila? Mengapa kawan sendiri kau basmi? Hehhh. lekas kau bunuh anjing-anjing pemberontak itu.”

“Huaha...... hahahaha........ hahaha...... aku memang telah menjadi benar- benar linglung, Baurekso. Akan tetapi sekarang aku telah sadar dari alam mimpi buruk itu. Nah, terimalah kebinasaanmu.” Setelah berkata demikian maka Pendekar Linglung lalu menggempur Baurekso dengan kedua senjatanya. Hingga hal ini benar-benar merepotkan Baurekso yang sedang bingung serta keheranan.

Makin lama pertarungan yang berjalan itu makin bertambah seru. Joko Seno, Pendeta Kalinggapati, Untung, Sancaka dan lain-lainnya terus menahan amukan musuhnya. Retnosari terus mengamuk dengan hebat, hingga mengakibatkan banyak lawan yang tewas dibawah cambuk bercabang lima itu. Sedangkan kemarahan Ariyani terus dilimpahkan 381 kepada anjing-anjing Belanda itu. Mayat-mayat terus bergelimpangan kena hajar pedang serta keris Kyai Blarak Sinebet.

Akan tetapi karena banyaknya perajurit-perajurit Belanda itu maka makin lama pertahanan Untung dapat dibobolkan. Bahkan banyak pula perajurit-perajurit yang gugur dalam palagan sewaktu mempertahankan lawan.

Melihat tandang Pendekar Linglung ini maka tersenyumlah si Topeng Merah. Orang sakti misterius inipun terus-menerus membabati para pengeroyoknya. Bahkan dengan mudah ia telah berhasil membunuh Pendeta Kridopaksa.

“Lariii..... laaaarriiiiiiii......... selamatkan mayat Barata! Kita mencari tempat yang baik!!” Teriak Untung dan Sancaka dengan serempak. Memanglah kedua orang ini sengaja meneriakkan untuk menyelamatkan mayat Barata supaya Belanda tak mengira bahwa pertahanan para pejuang ini telah bobol.

Kebanyakan dari para pejuang-pejuang ini telah maklum akan siasat yang diatur oleh Sancaka dan muridnya itu. Hingga dengan demikian tanpa menanti datangnya komando yang kedua mereka itu langsung mengundurkan diri sambil membawa kawan-kawannya yang terluka.

Mereka makin lama makin lari kearah timur, hingga akhirnya keluarlah dari hutan Paranggelung. Dengan berbondong-bondong mereka itu menuju kesebuah hutan lainnya.

“Kita dapat melepaskan lelah dan mengobati kawan-kawan yang terluka disini, angger Untung.” Seru Sancaka yang terus duduk dibawah pohon.

“Baik bapa!”

Setelah mereka itu berkumpul disuatu tempat tiba-tiba saja terdengarlah seruan Retnosari, Wardani dan Ariyani dengan serentak :

“Angger Ugrasena!” “Kakang Linglung.” “Pendekar Linglung!”

Begitu mendengar teriakan Retnosari ini maka Ariyani kembali saling berpandangan dengan Wardani dan tanpa sesadarnya ia lalu berdesis?”

“Ugrasena?”

“Ya nini, inilah angger Ugrasena calon suamimu.” Jawab Retnosari dengan girang dan terus memeluk puteranya ini.

“lbu!” Desis Ugrasena sambil membalas pelukan ibunya itu, sedang Joko Seno hanya dapat berdiri terpaku sambil mendesiskan suara :

“Angger Ugrasena.”

“Paman Joko Seno, dialah orangnya yang menyebut dirinya sebagai Pendekar Linglung.” Seru Wardani, dengan gemetar.

“Apa!! Ugrasena itu yang menjadi Pendekar Linglung??” Teriak Joko Seno dengan memandang puteranya dengan tajam-tajam.

“Ya bapa, akulah Ugrasena yang disebut juga Pendekar Linglung.” Jawabnya dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. 382 “Ahhh!!” Desis Joko Seno dengan sedih.

Memang ia menjadi sedih sekali setelah mengetahui bahwa Ugrasenalah yang menjadi Pendekar Linglung itu. Hingga tanpa dikehendaki ia terus melirik kearah Wardani dan Ariyani secara berganti- ganti. Wardani tampak gemetar sedangkan Ariyani menjadi merah. Kedua orang gadis ini sedang berusaha mati-matian untuk melawan gejolak hatinya ini.

“Heee.... jadi Pendekar Linglung ini anakmu, adi?” Tanya Pendeta Kalinggapati sambil menatap wajah Joko Seno dengan tajam.

“Begitulah, kakang!” Jawabnya dengan lemah.

“Mengapa kau menjadi bersedih hati setelah bertemu dengan anakmu, adi? Bukankah seharusnya kau bergembira?” Tanya Wulandari dengan penuh selidik.

“Karena Pendekar Linglung itu anakku.” Jawab Pendekar Budiman dengan lemah.

“Heeee...... mengapakah kau? Ataukah kau menjadi bersedih hati setelah melihat bahwa pejuang yang tak kenal menyerah itu anakmu, angger??” Tanya Sancaka dengan heran.

“Bukan...... bukan begitu kakek, aku sebagai ayah Ugrasena menjadi bangga setelah mengetahui bahwa anakku adalah seorang pejuang dan pembela tanah air.”

“Lalu apakah yang kau sedihkan!” Tanya Pendata Kertopengalasan dengan heran.

“Tentang perjodohannya!”

“Ayaaaaaa!!!! Kau benar adi! Akupun menjadi bingung sekali melihat kenyataan ini.” Seru Pendeta Kalinggapati sambil memukul-mukul kepalanya. Pendeta yang sok ugal-ugalan ini menjadi benar-benar bingung. Sedangkan Retnosari baru mengetahui mengapa suaminya menjadi bersedih setelah mengetahui siapa sebetulnya Pendekar Linglung itu.

Memang sangat berat bagi Joko Seno untuk memutuskan hal itu. Ia telah berjanji kepada Wardani akan menikahkan dengan Pendekar Linglung sedang dengan Barata yang telah meninggal iapun pernah berjanji bahwa Ariyani akan dijodohkan anaknya yang bernama Ugrasena. Sekarang?? Ternyata Ugrasena adalah Pendekar Linglung itu sendiri. Sabagai seorang pendekar besar tentu saja ia tak dapat mengingkari janji yang telah diucapkan. Janji lebih berharga daripada nyawa.

“Lalu bagaimanakah keputusanmu, adi??” Desak Wulandari dengan tak sabar. Ia benar-benar dapat mengerti bagaimana perasaan anaknya itu. Dua kali telah mengalami kegoncangan jiwa, kedua-duanya karena dunia cinta.

“Ayu Wulan, aku benar-benar bingung.” Jawab Pendekar Budiman dengan lemah.

“Angger Ugrasena, siapakah diantara kedua orang calon isterimu yang akan kau pilih? Wardani atau Ariyani.” Tanya Pendeta Kalinggapati kepada Pendekar Linglung. 383 Tak pernah disangkanya kalau ia akan dihadapkan kepada hal yang sesulit ini. Kepada Wardani terang ia telah saling cinta-mencintai akan tetapi kepada Ariyani yang dipanggil dengan sebutan adik gila ini ia merasa kagum dan segan kepada ayah bundanya. Selain itu iapun telah berdosa hingga mengakibatkan kematian Barata ayah adik gila itu. Pikiran Pendekar Linglung benar-benar bingung sekali, hingga sampai lama ia tak dapat menjawab pertanyaan Pendeta Kalinggapati.

“Heeeeh........ bagaimanakah jawabanmu, angger??” Ulang Pendeta Kalinggapati dengan menatap tajam-tajam.

Jawaban yang akan keluar dari dalam mulut Pendekar Linglung ini benar-benar diharapkan sekali oleh kedua gadis yang sama-sama mencintainya itu. Wardani dan Ariyani sama-sama memasang kupingnya untuk mendengarkan jawaban Ugrasena nanti. Akan tetapi tiba-tiba saja jawaban yang diberikan oleh Pendekar Linglung itu benar-benar mengejutkan mereka berdua yang sedang menanti dengan penuh ketegangan itu :

Negara sedang kacau mengapa kita harus memikirkan soal perjodohan? Bukankah kepentingan pribadi dapat kita kesampingkan terlebih dahalu?? Aku akan berjuang dahulu demi terusirnya penjajah Belanda.” Setelah demikian maka ia laiu melirik kearah Wardani. Sedang gadis yang dilirik itu terus tersenyum dengan manis.

Lirikan Pendekar Linglung dan senyum manis Wardani ini benar- benar seperti sembilu yang menyayat hati Ariyani. Ia maklum kalau kalah bersaing dengan Wardani. Namun bagaimana lagi?? Pernah ia mengalah kepada gadis itu dalam persoalan Pendekar Linglung akan tetapi apakah ia harus mengalah lagi dalam memperebutkan Ugrasena? Hatinya benar- benar bingung dan kacau. Seakan-akan bintang-bintang dilangit jatuh menimpa kepalanya. Ariyani jatuh pingsan setelah melihat lirikan tadi.

“Ah...... mengapa nasibmu begitu malang, nini.” Seru Wulandari yang terus membopong tubuh anaknya.

Melihat kejadian ini terharulah hati Wardani. Sebagai seorang wanita ia tak tega melihat kejadian yang menimpa sahabatnya itu, dan begitu melihat Wulandari pergi maka ia lalu berteriak memanggilnya :

“Bibi       bibi Wulandari tunggu!”

Mendengar kalau ada orang yang memanggilnya maka berhentilah Wulandari dan tanpa menengok kebelakang ia lalu bertanya dengan nada dingin :

“Mengapa kau menghentikan kepergianku, nini?” “Bibi........ harap sabar sebentar........

“Sabar mengapa? Aku tak apa-apa denganmu nini, dan akan selalu mendoakan supaya hidup kalian dengan Pendekar Linglung akan selalu bahagia.” Serunya tetap bernada dingin.

“Bibi, ketahuilah mulai sekarang aku menyerahkan kakang Pendekar Linglung kepadamu. Aku tahu kalau cinta ayu Ariyani lebih dalam dari pada cintaku. Dan lagi ia adalah kakak angkatku, aku mengalah bibi.” 384 Mendengar perkataan Wardani ini maka Wulandari terus membalikkan tubuhnya dan memandang kearah Wardani yang ternyata telah duduk bersimpuh dihadapannya.

“Bibi aku berkata sebenarnya, memang aku mencintai Pendekar Linglung akan tetapi tak semua cinta dapat terlaksana, kadang-kadang cinta itu memerlukan pengorbanan. Dan demi cintaku kepada Pendekar Linglung aku berani berkorban demi kebahagiaan orang yang kucintai bibi.”

“Ohhhh.    kau sungguh mulia nini Wardani, akan tetapi aku tak begitu

jelas mengetahui bagaimana kau dapat mengaku adik angkat anakku ini? Apakah itu betul?”

Mendengar pertanyaan ini maka Wardani lalu menceriterakan apa yang terjadi di Batavia dahulu dan tanpa menceriterakan kalau Ariyani telah dapat diperkosa oleh pendeta Kridopaksa. Mendengar cerita Wardani ini Wulandari mengangguk-anggukkan kepalanya dan tanpa sesadarnya ia lalu berdesis :

“Aku bangga mempunyai anak angkat sepertimu itu nini, bahkan aku tak akan membeda-bedakan antara kau dengan nini Ariyani. Kau sama- sama anakku.” Serunya dengan terharu.

“Adi, akupun bangga mempunyai adik seperti kau ini. Semoga besuk kau mendapatkan gantinya yang lebih dari Pendekar Linglung.” Seru Raden Ayu Gusik dengan girang.

Lain halnya dengan Ariyani yang telah sadar dari pingsannya itu, semua percakapan ibunya dengan Wardani tadi dapat diikuti dengan baik. Begitu mendengar pengakuan Wardani yang tulus ikhlas ini ia menjadi terharu dan terus menjawab dengan lantang hingga mengejutkan para pendekar-pendekar yang berada disitu :

“Tidak...... tidak aku tak mau merusak kebahagiaan adikku. Tetaplah Wardani menjadi isteri Pendekar Linglung. Tentang aku jangan dipikirkan lagi. Aku bangga mempunyai adik yang berperasaan halus serta berani berkorban demi kakaknya. Walaupun hanya kakak angkat. Huahaha......

huahahaa....... huahahaa....... jangan pikirkan aku! Jangan pikirkan Pendekar Wanita Gila.......” Setelah berkata demikian maka berkelebatlah Ariyani meninggalkan mereka semua.

“Sungguh hebat getaran hati nini Ariyani! Ia benar-benar menjadi anak yang kurang waras.” Desis Pendeta Kertopengalasan.

“Ayu tunggu!!” Teriak Wardani yang terus menyusuli kepergian Ariyani.

Melihat kalau kedua orang gadis yang sama-sama mencintainya itu pergi maka Pendekar Linglung benar-benar menjadi sedih dan terharu. Ia pulalah pangkal kesedihan ini hingga tanpa banyak cakap lagi lalu berkelebat menyusul kedua orang gadis pujaannya itu.

“Ayaaaaa...... hati-hati muda telah bergolak, dan cinta! Karena cintalah dunia hancur akan tetapi karena cinta pula seisi dunia ini berubah menjadi indah.” Seru Pendeta Kalinggapati sambil menggeleng-geleng kepalanya. 385 “Karena kita telah tak punya tempat tinggal lain lagi maka lebih baik kita mendirikan sarang saja disini.” Ajak Untung kepada teman-temannya.

Akan tetapi tiba-tiba saja terdengarlah perkataan Raden Ayu Gusik, dari pada kita mendirikan disini lebih baik ke Cirebon dan minta perlindungan kepada Sultan Cirebon. Sebab Sultan Cirebon adalah pamanku sendiri.”

“Baiklah kalau demikian, mari kita ke Cirebon.” Seru Sancaka dan Topeng Merah dengan serempak.

Setelah menemukan permufakatan maka berangkatlah mereka itu menuju ke Cirebon. Berhari-hari mereka itu melakukan perjalanan jauh, dan untuk memudahkan serta keamanan maka Retnosari, Raden Ayu Gusik, dan Wulandari lalu menyamar bagaikan laki-laki.

Setengah bulan lamanya mereka itu terus-menerus mengadakan perjalanan dan akhirnya sampailah mereka itu ketelatah Cirebon. Akan tetapi betapa terkejutnya rombongan Untung itu setelah mengetahui bahwa dipinggir perbatasan Cirebon terdapat begal.

“Berhenti!”

Mendengar teguran seorang pemuda yang gagah maka berhentilah mereka itu. Dengan serta merta Sancaka lalu bertanya :

“Apakah maksud anak mas menghentikan kami?”

“Hehh orang tua jangan banyak cakap lekas kau serahkan perbekalanmu semua itu. Kalau tidak jangan salahkan aku Suropati akan membunuh habis kalian semua.” Serunya sambil menarik pedangnya.

“Huahahaha....... huahahaha........ huahahaha.     pantaskah anak seorang

adipati melakukan perampokan??” Seru Raden Ayu Gusik disela-sela suara tawanya.

Mendengar ini maka semua orang menjadi heran, akan tetapi tak ada mulut yang mengeluarkan perkataan. Ia hanya melihat bahwa Raden Ayu Gusik telah menerjang kemuka dan siap menghadapi Suropati dengan kyai Kolomisani ditangan.

“Hehh pemuda banci, apakah kau hendak melawanku?” Tanya Suropati dengan angkuh.

“Tak ada jalan lain untuk menginsyafkanmu Suropati. Hayo kau lawanlah aku yang kau anggap sebagai banci.” Setelah berkata demikian maka Raden Ayu Gusik lalu menerjang sambil menusukkan kerisnya kearah lambung.

Akan tetapi dengan sigap dan gesit sekali Suropati mengelak kesamping dan terus membabatkan pedangnya kearah pinggang Raden Ayu Gusik. Namun mana mau pinggangnya dipotong? Dengan amat indahnya Raden Ayu Gusik, lalu memutar kerisnya dan akibatnya terdengarlah bunyi........ Trangg bunga api berpijar, tubuh Suropati terus

terhuyung-huyung kebelakang beberapa tindak.

Melihat kesempatan baik ini Raden Ayu Gusik tak membuang-buang waktu lagi dengan cepat ia lalu mengirimkan sebuah totokan kearah atas

386 dada hingga.......... heeekkkk........ lemaslah tubuh Suropati setelah kena totokan lawan.

“Hemm........ untuk membuka mata paman adipati kau harus ikut kami Suropati.” Setelah berkata demikian maka mereka lalu melanjutkan perjalanannya menuju kekadipaten. Sesampainya disana mereka lalu di sambut oleh Adipati Cirebon sendiri.

“Hem.      mengapa anakku kau bawa kemari dalam keadaan tertotok?”

Siapakah kalian?”

“Ampun paman, apakah paman lupa kepada hamba? Hamba Gusik isteri Pangeran Purboyo.” Serunya sambil membuka tutup kepalanya.

Melihat ini terkejutlah Adipati Cirebon itu dan terus bertanya dengan penuh keheranan :

“Heee.    apakah maksudmu nini? Manakah suamimu si Purboyo?”

“Hamba telah bercerai dengan kakanda Purboyo, paman!” Jawab Raden Ayu Gusik dengan tenang.

“Heeee....... mengapa kau bercerai dengan suamimu itu??” Kembali Adipati Cirebon ini bertanya.

“Sebab kakanda Purboyo menyerah dan tak mau lagi mengangkat senjata melawan Belanda. Hamba hanya mau diperisteri orang-orang yang selalu mengangkat senjata melawan Belanda.”

“Bagus kalau demikian nini, kau tak menghilang-hilangkan keberanian para leluhurmu. Lalu apakah maksudnya kau datang dengan menawan saudara tirimu itu?”

“Ketahuilah paman, Suropati ini benar-benar memalukan sekali, pekerjaannya hanya merampok dan menggoda wanita. Pokoknya selalu membuat rusuh kadipaten yang paman pimpin.”

“Hehhh, kurangajar sekali! Telah berkali-kali aku memperingatkan akan tetapi ia tak mau menyadari. Sekarang telah tiba peringatanku yang terakhir, sebelum ini aku telah memberinya waktu untuk menebus segala perbuatannya dulu akan tetapi rupa-rupanya ia benar-benar setan yang berkedok manusia. Mampuslah besuk kau ditiang gantungan bangsat! Ini adalah perkataanku dahulu.” Seru Adipati Cirebon dengan marah, setelah berhenti sejenak maka terdengarlah perkataan selanjutnya :

“Siapakah yang menjadi pemimpin rombongan ini?”

“Untung, kanjeng adipati!” Jawab Topeng Merah dengan penuh hormat.

“Bagus, majulah kemari orang yang bernama Untung!” Serunya dengan melambaikan tangannya.

Mau tak mau Untung harus maju kedepan, akan tetapi semua pendekar yang berada disitu telah siap-sedia membela Untung kalau terjadi apa-apa yang tak mereka inginkan. Akan tetapi setelah mendengar sabda Adipati Cirebon itu mereka semua menarik napas lega :

“Untung, aku telah mendengar kabar akan keperkasaanmu, dan karena aku telah dikecewakan oleh anak-angkatku ini maka aku akan mengambilmu sebagai anak angkat, dan mulai sekarang kau kuberi nama 387 UNTUNG SUROPATI bukankah kau bersedia menjadi anak angkatku angger??”

“Dengan senang hati hamba mengucapkan banyak-banyak terima kasih, rama adipati! Tak pernah kuimpikan kalau aku bekas budak akan diterima dan diangkat putera oleh seorang adipati yang agung.” Jawab Untung dengan terharu.

“Bagus, angger. Akan tetapi ketahuilah karena aku ini bersahabat dengan Belanda maka untuk tidak menimbulkan kecurigaan serta kejadian-kejadian yang kurang enak kalian akan kuusir dan teruskanlah perjalalanan menuju ketimur, bantulah rakyat yang sedang bergolak itu. Aku akan menjadi bangga kalau mendengar kabar bahwa anak angkatku berhasil mengalahkan Kumpeni Belanda.”

“Baik ayahanda, memang tujuan kami akan terus mengganyang Belanda.” Jawab Untung Suropati dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Akupun akan kembali ke Mataram untuk minta perlindungan kepada ayahanda.” Seru Raden Ayu Gusik.

“Benar........ benar...... ayahmu selalu mengangkat senjata dengan Belanda maka bantulah perjuangan beliau itu, Aku akan selalu berdoa untuk kalian semua.”

“Terima kasih! Semoga saja doa restu rama adipati akan menjadikan semangat juangku bersama anak-anak buahku ini.”

Setelah itu mereka lalu saling memperkenalkan namanya dan bermalam dikadipaten Cirebon. Keesokan harinya Suropati benar-benar digantung ditengah alun-alun. Memanglah banyak para pendekar- pendekar yang memintakan ampun akan tetapi karena kesalahan Suropati telah banyak Adipati Cirebon tak dapat mengampuni lagi.

*

* *

“Ayu..... ayu..... tunggu ayu! Tunggulah aku ayu Ariyani.” Teriak Wardani yang terus-menerus mengejar kakak angkatnya itu. Akan tetapi makin lama Ariyani makin mempercepat langkahnya hingga Wardani banyak ketinggalan.

Untung saja dibelakang mereka itu lari pula Pendekar Linglung, Pendekar Linglung ini tak membiarkan kedua orang gadis ini terombang- ambing oleh perasaannya. Bahkan ia sendiri telah mendengar pekik ngeri kegilaan dari Ariyani.

Begitu melihat kalau Ariyani makin mempercepat larinya maka Ugrasena lalu mempercepat larinya dan menghadang didepan Ariyani.

“Adi tunggu dahulu aku akan bicara denganmu sebentar.”

Melihat kalau yang menghadang dimukanya itu adalah Ugrasena pemuda yang telah menarik perhatiannya itu maka berkatalah Ariyani :

“Mengapa kau menghadangku?” 388 “Sabarlah adi, aku akan bicara denganmu.” Sementara itu Wardanipun telah sampai kesitu pula. Hingga ketiga orang muda-mudi ini terus saling berpandangan.

“Kakang, kaupun telah berada disini?” Tanya Wardani kepada Pendekar Linglung.

“Ya adi!” Jawabnya dengan singkat.

“Kakang Pendekar Linglung aku minta supaya kau jangan menyia- nyiakan kakakku. Kawinlah kau dengan kakakku Ariyani.” Serunya dengan gagap.

“Tidak..... tidak adi, aku tak akan merenggut Pendekar Linglung yang benar-benar kau cintai itu dari tanganmu. Memang kuakui kalau bukan kau yang menjadi sainganku maka aku akan merebut. Akan tetapi sekarang yang menjadi sainganku adalah adikku sendiri. Tidak..... aku tidak akan segila itu. Kaulah yang pantas menjadi isteri Pendekar Linglung.”

Pendekar Linglung yang menjadi bahan pembicaraan itu terus menundukkan kepalanya dan keringat dingin mengalir dengan deras. Ia benar-benar bingung memikirkan hal ini. Akan tetapi lama-kelamaan perjaka sakti itu dapat menekan perasaannya dan terus berkata dengan pelan :

“Adi berdua, dari pada kita bercekcok apakah tidak lebih baik kalau merantau bersama-sama dan menangguhkan persoalan ini?”

“Benar perkataanmu itu kakang!” Seru Wardani dengan cepat. “Bukankah kau juga setuju adi gila?” Tanya Ugrasena kepada Ariyani. “Apakah aku tak mengganggu kesenangan kalian?? Biarlah aku

merantau sendiri.” Jawab Ariyani sambil menggigit bibirnya untuk menekan pergolakan hatinya itu.

“Tidak, kau harus bersama-sama kami ayu. Kalau kau tak mau melakukan perjalanan bersama kami maka akupun tak mau bersama Pendekar Linglung. Kita harus membuat nama besar bersama. Kalau mungkin hidup bersama pula.” Seru Wardani dengan lantang.

Berdesirlah darah Pendekar Linglung mendengar perkataan Wardani ini. Ia telah dapat menangkap apa arti perkataan dara yang keras kepala itu. Akan tetapi semakin dipikir akan makin bertambah bingunglah pikirannya.

Sedangkan Ariyanipun maklum akan perkataan Wardani itu, namun ia sebagai seorang wanita tahu bahwa pengorbanan Wardani ini dilakukan demi kebaikannya hingga dengan demikian meluncurlah perkataannya dengan lemah :

“Terima kasih adi, akan tetapi aku tak dapat hidup bersama kalian. Aku bukan gadis suci lagi. Ingatlah kau akan peristiwa didalam kuil Batavia dahulu?”

“Tidak..... tidak ayu, gadis atau bukan sama saja. Bukankah yang dinodai itu hanya badan wadakmu saja? Sedangkan batinmu tetap suci murni? Lupakanlah itu.” Setelah berkata demikian maka Wardani lalu berpaling kearah Pendekar Linglung dan berkata dengan keras : 389 “Hai Pendekar Linglung bukankah kau dahulu telah mengatakan bahwa kau mencintaiku?”

Bukan main kagetnya hati Ugrasena mendengar perkataan Wardani ini. Akan tetapi memang ia pernah mengucapkan perkataan itu kepada Wardani, dan memang perasaan cintanya telah direbut oleh dara Banten itu. Hingga dengan tanpa sesadarnya ia menganggukkan kepalanya.

“Bagus! Ternyata kau masih mengakui bahwa mencintai aku, dan apakah kau mau menuruti kehendak orang yang kau cintai??”

“Asal permintaan wajar maka aku Ugrasena akan berusaha memenuhinya. Lekaslah katakan apa yang kau pinta, adi Wardani.”

“Bagus, sekarang aku minta supaya kau mau mengawini kakang mbok Ariyani.”

“Dan kau!”

“Dan aku?? Jadi kedua-duanya akan kau ambil bersama?” Tanya Wardani dengan heran.

“Ya! Aku mau mengawini adi Ariyani asalkan kau juga sanggup menjadi isteriku.”

“Gila........ gila........ aku tak mau kawin dengan Pendekar Linglung aku tak mau.” Teriak Ariyani dengan keras.

“Tidak ada jalan lain untuk tetap berkumpul ayu, kau dan aku akan menjadi saudara benar-benar dan sama-sama menjadi nyai Ugrasena. Bukankah itu menggembirakan?” Seru Wardani tanpa sungkan-sungkan lagi. Mendengar pengakuan ini meneteslah air mata Ariyani, ia benar-benar berhutang budi kepada adik angkatnya ini karena itulah gadis perkasa puteri pendekar Jalitunda ini lalu memeluk Wardani dan kedua dara ini saling bertangisan.

Disela-sela suara tangisnya ini terdengarlah pertanyaan Ariyani yang sangat pelan :

“Adi apakah kau tak kecewa membagi kebahagiaan denganku?” “Ahhh...... tidak......... tidak ayu, bahkan aku sangat senang kalau kau

mau menerima Pendekar Linglung itu menjadi suamimu pula. Jadi dengan demikian kita dapat sehidup-semati.” Jawab Wardani dengan lemah.

“Terima kasih adi! Kau sangat baik sekali.” Jawab Ariyani yang makin mempererat pelukannya. Sampai lama mereka itu berpelukan bahkan setelah menyatakan kesetujuannya Wardani lalu menciumi pipi Ariyani dengan perasaan haru.

Setelah puas bertangisan dan bercium-ciuman maka mereka berdua lalu melepaskan pelukannya. Sedangkan Wardani terus bertanya kepada Pendekar Linglung yang masih berdiri termangu-mangu.

“Kakang Pendekar Linglung, kalau kau benar-benar mau mengambil kami berdua sebagai isterimu maka ambillah. Kami berdua kakak beradik sanggup melayanimu dengan sepenuh hati kami kakang.”

“Terima kasih adi sekalian, akan tetapi ketahuilah aku telah bersumpah tak akan kawin sebelum selesai mengerjakan tugasku 390   membasmi penjajah. Atau setidak-tidaknya harus dapat membuat mereka bingung terlebih dahulu.”

“Bagus, itulah ucapan seorang jantan. Akupun akan menyertaimu kakang. Memang pemuda demikianlah idam-idamanku ini.” Seru Ariyani dengan penuh semangat.

“Aku telah tahu akan keberanianmu dan perjuanganmu dalam melawan penjajah adi, aku selalu teringat akan peristiwa pembebasan budak di Semarang dulu. Sedangkan kepada adi Wardani akupun tahu perjuangannya sebab Mataram tak pernah bersahabat dengan Belanda kecuali Prabu Amangkurat. Nah, memang kalian adalah Srikandi-Srikandi Nusantara.”

“Bagus marilah kita menyusul rombongan orang tua ,kita! Bukankah tak sukar untuk mencarinya? Untung dimana-mana selalu menjadi buah bibir rakyat yang ingin kemerdekaan.” Ajak Ariyani dengan girang.

“Marilah nimas ayu!” Jawab Pendekar Linglung sambil mengandeng tangan kedua gadis kekasihnya itu. *

* *

Disepanjang jalan Untung Suropati dan anak buahnya serta dibantu oleh pendekar-pendekar yang berada dilingkungannya terus-menerus memberantas kejahatan dan menegakkan keadilan. Hingga dengan demikian nama Untung Suropati makin dikenal rakyat dan ditakuti para penjajah, terlebih-lebih para pendekar yang membantunya itu.

Perjalanan mereka itu makin lama makin ketimur akhirnya sampailah mereka didesa Aji Barang. Akan tetapi mereka itu terkejut dan heran setelah mengetahui bahwa kadipten Banyumas telah diduduki oleh dua orang berandal sakti. Hingga demikian kadipaten yang terkenal subur makmur ayem tentrem dan gemah ripah totoraharjo menjadi kucau balau.

Tak kusangka kalau Adipati Banyumas dapat dikalahkan oleh berandal-berandal yang pekerjaannya hanya merampok saja. Hayo kawan- kawan mari kita bantu Adipati Banyumas untuk menghalau berandal- berandal itu.” Seru Untung Suropati kepada kawan-kawannya.

“Bagus, memang selain memberantas penjahat dan berjuang melawan penjajah kitapun harus menegakkan keadilan dan membela kebenaran. Juga jangan melupakan membela si lemah dari pada tindasan si kuat.” Seru Topeng Merah sambil mengamgguk-anggukkan kepalanya.

“Bagus! Mari kita langsung masuk kekadipaten Banyumas untuk menangkap Surodento dan Surodenti itu. Ganyang terus perusuh yang kerjanya hanya menyusahkan rakyat saja.” Teriak mereka dengan serempak.

“Sebelum kalian akan menyerang Banyumas maka lebih baik kirim dahulu utusan antuk menyelidiki daerah itu, setelah mengetahui betul- betul barulah menyerang.” Sancaka memberi peringatan. 391 “Benar angger, kau selidikilah dahulu keadaan mereka.” Sambung Pendekar Budiman kepada Untung Suropati.

“Baiklah paman, kalau demikian biarlah adi Wirayuda menyelidiki tempat itu, bukankah kau sedia Wirayuda?”

“Tak ada kesenangan lain dari pada menjalankan tugas yang kau berikan Untung. Terima kasih atas kepercayaanmu kepadaku.” Jawab Wirayuda dengan gagah.

“Bagus, berangkatlah sekarang adi!”

“Doa kalian semua saja yang kupinta.” Setelah berkata demikian berngkatlah Wirayuda menuju ke Banyumas.

Memanglah keadaan Banyumas sekarang sangat berlainan dengan Banyumas beberapa waktu yang lalu. Adipati Banyumas yang baru ini kesukaannya hanya mengadu ayam dan memeras rakyat yang telah miskin karena pajak-pajak yang tinggi dari Belanda makin bertambah menderita setelah dikenakan pajak-pajak tambahan oleh Surodento dan Surodenti.

Pada suatu malam sampailah Wirayuda ke alun-alun kadipaten Banuumas. Dan betapa kecewa serta marahnya ketika melihat kalau rakyat dan bupati barunya itu sedang asyik menyabung ayam dan minum-minum tuak serta mengerumuni tayub. Banyak penduduk yang mabuk tuak terus menari bersama para penari-penari tayub.

Segala kemaksiatan berada ditengah-tengah alun-alun itu. Surodento dan Surodenti itupun tengah asyik menyabung ayaml dengan beberapa orang kaya yang kebetulan berada di alun-alun.

“Huahahaha..... huahahaha..... huhahaha..... beranikah kau menambah dengan tiga reyal lagi Putut?” Seru Surodento dengan girang ketika melihat ayam aduannya sedang berada diatas angin.

Mendengar tantangan ini Ki Putut yang telah yakin benar-benar akan kemenangan ayam jagonya maka menjawab dengan tak kalah senangnya.

“Jangan lagi hanya tiga reyal, sepuluh reyalpun aku berani sang adipati.”

“Bagus! Itulah namanya botoh yang tak kepalang tanggung, sepuluh reyal jadi.” Setelah berkata demikian maka mata mereka itu lalu ditujukan kearah ayam yang sedang berlaga.

“Apittttt..... asoorrrrr..... apittttt..... asoorrrr!” Teriak para penonton dengan ramai.

Gelanggang alun-alun kadipaten Banyumas itu benar-benar bagaikan ada pasar malam saja. Jago-jago adon mereka itu terus berlaga dengan seru. Setiap sepeminuman teh mereka melerai ayam-ayamnya dan memberinya minum serta menyeka darah-darah yang keluar akibat tusukan taji ayam lawannya.

Wess......... ayam jago Ki Putut terus meneladung jengger ayam Surodento dengan kecepatan yang mengagumkan sekali. Akan tetapi ayam sabungan Surodento itupun bukan ayam sembarangan. Begitu melihat teladungan ayam lawannya ia lalu menyeruduk maju dan masuk kedalam sayap lawannya hingga dengan demikian untuk sesaat kedua ayam itu tak 392 dapat bergerak dan meneladung atau menggunakan tajinya yang telah dipasangi dengan pisau kecil untuk melukai lawannya.

“Hayooo......... Kurik lekas kau bunuh saja lawanmu itu!” Seru Ki Putut dengan bertepuk tangan karena kegembiraannya.

Akan tetapi dilain saat terdengarlah suara tepuk tangan Surodento yang berteriak-teriak untuk memberi semangat kepada ayamnya :

“Tukung, masakah kau kalah dengan ayam jembel itu? Hayo lekas kau hajar saja musuhmu dan nanti aku akan memberimu makan enak.”

Wessttt........ tak! Begitu mendapat kesempatan maka ayam jago Ki Putut lalu memukulkan tajinya kearah leher ayam jago Surodento hingga dengan demikian matilah ayam Adipati Banyumas itu.

“Horeeeeee........ hayo lekas kau bayar uang taruhannya.” Teriak Ki Putut dengan girang dan terus mengambil uang yang berada dimukanya. Akan tetapi begitu ia mengulurkan tangannya tiba-tiba saja berkelebatlah sebuah golok yang menghalang-halangi Ki Putut mengambil uang itu.

“Heeee........ mengapa kau main-main dengan golok adipati? Bukankah uang ini telah resmi menjadi hakku setelah ayamku menang?” Tanya Ki Putut dengan heran.

“Jangan banyak cakap! Lekas kau enyah dan tinggalkan semua uangmu. Ayamku kalah karena ayammu curang.” Bentak Surodento dengan geram.

“Heee curang?? Bagaimanakah itu?” Tanya Ki Putut dengan heran.

“Ya, ayammu curang. Ia berusaha menghujamkan tajinya sewaktu ayamku dalam posisi terdesak. Selain itu ayamku baru kais-kais.” Jawab Adipati Banyumas dengan mencari-cari alasan.

Mendengar alasan yang dibuat-buat ini maka marahlah Ki Putut. “Biarpun kau seorang adipati tapi kalau curang terpaksa aku

melawanmu Surodento. Marilah kita putuskan kemenangan itu dengan mengadu atosing daging dan uleting kulit.”

“Huahahaa........ huahahaa........ huahahaha........ itulah ucapan seorang jantan. Ternyata yang gagah bukannya hanya ayahmu saja tapi kaupun gagah pula Putut. “Awas serangan.” Setelah berkata demikian maka melayanglah golok Surodento kearah perut, akan tetapi tentu saja Ki Putut tak mau kalau perutnya terobek dengan begitu saja dengan sigap ia lalu mengelak kesamping dan terus mengayunkan pukulannya kearah muka lawan.”

Untung Surodento cepat menundukkan kepalanya hingga terbebaslah ia dari pukulan maut Ki Putut. Akan tetapi Surodento tak hanya habis sampai disitu saja, bersama dengan menundukkan kepalanya itu tangan kirinya terus menyodok keperut lawan hingga...... kekkkk terjungkallah

tubuh Ki Putut dalam keadaan pingsan.

Akan tetapi bersama dengan itu berkelebatlah sesosok tubuh yang terus menerjang kearah Surodento, untung berandal itu cepat mengelak hingga terjangan orang tadi hanya mengenai angin kosong saja. Akan tetapi betapa herannya hati Surodento setelah mengetahui bahwa yang 393   menerjang tadi adalah seorang gadis, dengan cengar-cengir ia lalu menyapa dengan lagak dibuat-buat :

“Siapakah kau, wong ayu? Mengapa kau menerjang aku Adipati Banyumas? Mari-mari kita pulang kekadipaten dan hidup tenang disana sebagai selir kinasih.”

“Bangsat tutup mulutmu yang kotor itu! Tak tahukah kau kalau sedang berhadapan dengan Wardani?” Seru wanita itu yang ternyata Wardani.

“Hehhhh....... hehhh....... hehhh....... jangan galak-galak nimas ayu, bukankah kau juga menginginkan kedudukan? Kalau perlu biarlah semua selirku akan kuusir demi kebahagiaanmu. ”

“Tutup mulutmu!” Setelah berkata demikian maka Wardani lalu menerjang kearah Surodento. Akan tetapi dengan gesit sekali berandal itu dapat mengelakkan terjangan lawannya dan terus menubruk kemuka berusaha memeluk pinggang lawannya yang ramping.

Melihat Adipati Banyumas berkelahi dengan seorang gadis maka ramailah para penduduk datang menonton, diantara sekian banyak penonton itu termasuk Wirayuda dan Surodenti.  

“Awas serangan.” Setelah berkata demikian maka melayanglah golok Surodento kearah perut, akan tetapi tentu saja Ki Putut tak mau kalau perutnya terobek dengan begitu saja........ 394 Wirayuda benar-benar terkejut sekali setelah mengetahui bahwa orang yang sedang melawan Surodento itu adalah Wardani yang telah dikenalnya baik-baik, hingga dengan demikian tanpa banyak cakap lagi lalu menerjunkan diri dalam kancah peperangan sambil berseru :

“Aku datang membantumu Wardani!” Bersama dengan lenyapnya suara itu berkelebatlah Wirayuda yang terus merangsek kearah Surodento. Melihat kalau ada orang yang berani mengeroyoknya maka Surodento lalu memutar goloknya dengan dahsyat.

Demikianpun dengan Surodenti, sebagai seorang adik ia tak dapat berpeluk tangan saja melihat kakaknya dikeroyok orang, dengan berteriak keras lalu menerjang kearah Wirayuda :

“Bangsat kau main keroyokan.” Begitu sampai ditelatah pertarungan maka tangannya berkelebat mengayunkan goloknya kearah punggung Wirayuda. Untung dengan gerakan yang gesit Wirayuda dapat menghindarkan diri dari serangan maut itu. Bersama dengan memutarkan tubuhnya ia lalu menggerakkan tangan kanannya untuk menangkis golok yang dibabatkan kearah punggungnya tadi....... tranggg....... begitu pedang dan golok mereka saling berbenturan maka tampaklah kalau kedua- duanya sama-sama terhuyung-huyung kebelakang.

Akan tetapi setelah keduanya dapat memperbaiki kedudukannya lagi maka terdengarlah desisan Surodenti :

“Mampus kau!” Bersama dengan itu goloknya yang panjang dan berat itu telah meluncur dengan cepatnya menuju keleher lawannya, akan tetapi tentu saja Wirayuda tak mau mati dengan konyol, dengan sekuat tenaga maka ia lalu menundukkan tubuhnya rendah-rendah sambil menusukkan pedangnya kearah perut lawan.

“Ayaaaaaaa..........” seru Surodenti yang terus mengenjotkan tubuhnya keudara dan berjumpalitan beberapa kali untuk menghindarkan serangan itu. Dan ketika kepalanya meluncur kebawah Surodenti lalu menganyunkan ilmu pukulan jarak jauhnya mengarah kekepala Wirayuda.

Wirayuda tak kurang akal, dengan cepat iapun menyambut pukulan itu dengan pukulan pula hingga terdengarlah bunyi ledakan akibat bertemunya tenaga raksasa itu. Begitu bertemu maka tubuh Surodenti lalu terlempar keatas lagi dengan cepat. Secepat anak panah lepas dari busurnya.

Sedangkan Wirayuda yang berdiri diatas tanahpun mengalami nasib yang seimbang, kakinya terus masuk kedalam tanah sebatas mata kaki. Hingga dengan demikian mau tak mau Wirayuda haruslah mengakui bahwa tenaga dalam lawannya itu tak dapat dibuat main-main.

Dilain saat Surodento benar-benar terdesak ketika melawan Wardani, ia tak pernah menyangka sama sekali kalau gadis yang kelihatan lemah lembut itu dapat berbuat seperti apa yang dilakukannya. Bahkan lebih. Goloknya yang besar dan berat itu hanya dapat digerakkan untuk menangkis dan menghindarkan serangan lawan terus-menerus tanpa diberi kesempatan untuk membalas. Keringat dingin keluar dengan deras. 395 Karena merasa kalau benar-benar telah terdesak maka terdengarlah suara Surodento :

“Tangkap pemberontak!!”

Bersama dengan terdengarnya perintah Adipati Banyumas ini maka terdengarlah teriakan-teriakan para perajurit dan rakyat yang hidup selalu tertindas dan takut kepada adipatinya ini :

“Baik kanjeng adipati!” Dan benarlah mereka itu berramai-ramai mulai mengepung Wirayuda dan Wardani yang sedang mengamuk itu.

“Heii..... menyerahlah saja setan! Lihat dirimu telah terkepung.” Seru Surodenti dengan memperhebat gerakannya. Akan tetapi seruan ini tak dihiraukan sama sekali oleh kedua orang yang sedang mengamuk itu. Bahkan mereka malah lebih menghebat lagi dalam membabati lawannya, hingga tandangnya benar-benar bagaikan banteng ketaton.

“Hayo..... majulah siapa yang ingin mampus terlebih dahulu.” Teriak Wirayuda dengan gagah.

Akan tetapi makin lama para pengeroyok itu makin banyak dan kian menghebat. Hingga hal ini tidak dapat dibiarkan dengan begitu saja oleh Pendekar Linglung dan Ariyani yang masih berdiri menonton pertarungan antara kedua orang gagah itu.

“Huahahaa..... huahahaa..... huahahaa..... adi Wardani minggir kau bantulah sahabat itu untuk menghalau musuh serahkan saja Surodento dan Surodenti kepadaku.” Setelah berkata demikian maka Pendekar Linglung lalu menerjang kearah Surodento dan Surodenti yang telah bertempur saling bantu-membantu itu.

“Akupun tak akan mau berpeluk tangan, Pendekar Linglung telah turun tangan mengapa Pendekar Gila tidak?” Setelah berkata demikian maka Ariyanipun membantu Wardani untuk mengenyahkan lawan- lawannya itu.

Untung sekali bagi para rakyat dan perajurit-perajurit Banyumas kalau ketiga orang pendekar itu tak menghendaki nyawa-nyawa mereka. Wardani, Ariyani dan Wirayuda hanya ingin mengusir mereka dan mengembalikan mereka kearah jalan benar.

“Hehhhh..... rakyat Banyumas mengapa membantu berandal ini? Apakah kalian tak ingin kembali kepada adipatimu yang terusir itu? Hahh siapa yang tak mau menyingkir akan kubasmi semua, lekas!” Teriak Ariyani dengan lantang.

Mendengar perkataan Pendekar Gila ini mau tak mau mereka itu lalu berpandangan, memang kebanyakan mereka itu masih sangat setia kepada adipatinya yang lama. Akan tetapi untuk menolak perintah kedua orang berandal yang menguasai Banyumas sekarang ini mereka tak mempunyai keberanian.

Lain halnya dengan Surodento dan Surodenti, begitu mereka mendengar perkataan lawannya ia lalu berteriak dengan keras :

“Tangkap pemberontak itu, siapa yang dapat menangkap mati atau hidup akan kuangkat menjadi pembantu-pembantu dalam kadipaten. 396 Jangan dengarkan ocehan-ocehan mereka itu. Anggaplah ocehan mereka itu sebagai kentut busuk saja.”

“Huahahaa...... huahahaa..... huahahaa..... kesesatanmu telah terlampau jauh Surodento, maka sekarang jangan salahkan aku kalau menangkapmu untuk kuserahkan kepada Adipati Banyumas yang berhak.” Setelah berkata demikian maka Pendekar Linglung lalu menggerakkan cambuknya untuk menghadapi amukan kedua orang berandal bersaudara itu.

Taaarrrr..... taaarrrrr..... taaarrrrr..... ujung cambuk Pendekar Linglung itu terus-menerus melecut-lecut diudara bebas. Bersama dengan itu Ugrasena mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk menghadapi kedua orang bersaudara ini, hingga dengan demikian seringlah Surodento dan Surodenti kehilangan lawan.

“Hehhhh..... aku disini kawan.” Teriak Pendekar Linglung yang tahu- tahu telah berada dibelakang kedua orang lawannya. Begitu mereka membalikkan tubuhnya dan menyabatkan goloknya..... winggg..... werrr.....

golok-golok itu hanya membabat angin saja dan bayang-bayang Ugrasena sedikitpun tak tampak disitu. Namun tahu-tahu pundak mereka itu merasa kalau dipegang orang dan kakulah tubuh mereka kena totok Pendekar Linglung.

“Hehhhh..... lekas kau buang senjata kalian, adipatimu telah kutawan.” Teriak Pendekar Linglung dengan lantang.

Sesaat mereka itu menghentikan pengeroyokannya terhadap Ariyani dan kawan-kawannya, setelah benar-benar melihat bahwa Adipati Surodento dan Surodenti itu tertawan mereka lalu membuang senjatanya dan berkata dengan serentak : “Kami menyerah!”

“Bagus, kalau demikian harap kau bawa kedua orang berandal ini menghadap adipatimu yang semula. Katakan kalau yang membantu untuk menangkap kedua orang berandal yang berhasil mengusirnya ini adalah Pendekar Gila, Wardani dan Wirayuda anak buah Untung Suropati.” Teriak Pendekar Linglung.

“Jangan lupa yang paling besar jasanya adalah PENDEKAR LINGLUNG!” Teriak Wirayuda dengan tersenyum.

“Kami akan melakukan perintah-perintah dari para pendekar yang budiman dengan baik-baik.” Jawab mereka itu dengan serempak.

“Nah lekas kau hadapkan kedua orang benggolan perampok ini kepada Adipati Banyumas.” Perintah Pendekar Linglung kepada mereka.

“Sekarang juga akan kami iring kesana.” Setelah berkata demikian maka mereka itu meninggalkan alun-alun untuk menuju ketempat kediaman Adipati Banyumas dalam menyembunyikan diri.

Sedangkan Pendekar Linglung dan kedua orang kekasihnya itu kembali menggabungkan diri dengan rombongan Untung Suropati. Joko Seno dan Retnosari serta Wulandari menjadi puas melihat keputusan yang diambil oleh Pendekar Linglung itu. Bahkan yang paling senang sekali adalah Pendeta Kalinggapati, hingga dalam kelakarnya terdengarlah perkataannya : 397 “Huahaha........ huahaha........ huahaha....... memang persoalan para muda hanya dapat diselesaikan oleh orang muda sendiri. Bahagialah kau angger Ugrasena sekali mendapat jodoh dapat dua orang sama cantik dan sama- sama gagah. Kaulah orang yang paling beruntung didunia ini.”

*

* *

Mataram!

Mataram adalah sebuah kerajaan yang terkenal sebagai penantang penjajah yang nomer satu. Daerah inilah yang paling sukar ditundukkan oleh tentara Kumpeni Belanda. Dengan segala upadaya dan tipu muslihatpun sukarlah untuk diduduki. Bahkan dipengaruhi saja belum dapat.

Pada suatu hari tampaklah Sunan Mataram sedang bercakap-cakap dengan Pangeran Nerangkusuma. Kedua orang agung Mataram itu bercakap-cakap ditempat kediaman Pangeran Nerangkusuma.

“Sungguh tak kusangka kalau Kumpeni akan sekejam itu, banyak rakyat yang telah meninggal karena keganasannya, bahkan Matarampun akan ditelannya pula.” Desis kanjeng Sunan Mataram.

“Kalau menurut pendapat hamba lebih baik kita melawan dari pada menyerah kepada anjing Kumpeni itu gusti, bukankah lebih baik mati meninggalkan nama harum dari pada hidup menjadi cemoohan rakyat?” Jawab Pangeran Nerangkusuma.

“Benar-benar, memang kita harus melawan kalau Belanda akan melanda Mataram, aku tak mau peduli dengan perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh almarhum ayahanda baginda dahulu. Sayang sekali kita tak mempunyai panglima yang baik untuk diserahi memimpin pasukan Mataram ini.” Seru Sunan Mataram menguraikan pendapatnya.

“Memang itulah yang kupikirkan, setiap kali kita mengadakan latihan untuk mencari panglima yang baik akan tetapi usaha kita tetap sia-sia. Semua orang yang akan masuk perajurit selalu tak ada yang dapat mengalahkan Lambangkoro, padahal orang itu saja belum mampu memimpin wadyabala untuk mengusir Kumpeni. Ahhh pusing aku.” Desis Pangeran Nerangkusuma dengan bingung.

Sewaktu mereka itu sedang asyik bercakap-cakap tiba-tiba saja datanglah seorang perajurit penjaga waringin kurung.

“Ampun gusti hamba menghadap tanpa dipanggil!” Seru perajurit itu dengan bersembah.

“Mengapa kau masuk kemari perajurit? Bukankah tugasmu menjaga waringin kurung gapuro kadipaten??” Tanya Pangeran Nerangkusuma dengan heran.

“Ampun gusti, diluar ada serombongan orang yang akan menghadap kepada gusti, dan salah seorang dari mereka itu mengaku putera paduka.

398 Hamba menanti titah apakah orang-orang itu diperkenankan masuk atau tidak?”

“Heeee...... salah seorang mengaku puteraku? Siapakah dia itu?” Tanya Pangeran Nerangkusuma dengan heran.

“Entah hamba tak mengetahui siapa namanya, akan tetapi ada salah seorang dari mereka yang mengatakan bahwa rombongan ini adalah rombongan Untung Suropati.”

“Untung Suropati??” Ulang Pangeran Nerangkusuma sambil memandang kearah Sunan Mataram.

“Demikianlah gusti.”

“Suruh mereka itu masuk kemari, dan langsung menghadap kami.” Perintah Sunan Mataram mendahului tuan rumah.

“Benar, suruh mereka kemari.” Sambung Pangeran Nerangkusuma. Setelah perajurit penjaga waringin kurung itu keluar maka Pangeran

Nerangkusuma lalu bertanya kepada Sunan Mataram : “Untung Suropati kemari akan apakah??”

“Entah akupun menjadi heran, sependengarku Untung Suropati itu selalu menentang penjajah di Jawa Barat, akan tetapi kemari ini aku benar- benar tak mengetahuinya, baiklah nanti kita tanya bersama.”

“Yang lebih mengherankan lagi ialah orang yang mengaku sebagai putera hamba, selamanya hamba tak pernah mempunyai putera yang hidup di Jawa Barat kecuali Gusik isteri Pangeran Purboyo.” Kembali Pangeran Nerangkusuma mengemukakan keheranannya.

Akan tetapi kedua orang agung Mataram itu tak dapat melanjutkan pembicaraan mereka itu sebab tahu-tahu masuklah beberapa orang kedalam ruangan.

“Ayahhh!!” Teriak Raden Ayu Gusik dan Wardani dengan serempak, bersama dengan teriakan itu keduanya lalu menjatuhkan diri dan berlutut dihadapan Pangeran Nerangkusuma.

Sampai lama Pangeran Nerangkusuma berdiri terpaku melihat kalau yang datang ini adalah puteri-puterinya. Seakan-akan tenggorokannya terasa tersumbat oleh batu besar hingga sedikitpun tak dapat mengeluarkan kata-kata, akan tetapi sepeminuman teh kemudian barulah Pangeran Nerangkusuma dapat membuka mulutnya :

“Benarkah kalian berdua ini Gusik dan Wardani??” “Benar, rama!” Jawabnya dengan serentak.

“Gusik, dimanakah suamimu? Kemanakah Pangeran Purboyo??” Tanya Pangeran Nerangkusuma dengan penuh selidik.

“Ananda telah berpisah dengan kakangmas Purboyo, rama.” Jawabnya dengan lemah.

“Apa, berpisah?? Maksudmu berpisah dijalan?” Ulang Pangeran Nerangkusuma dengan heran dan hati berdebar-debar.

“Bukan!” Jawab Gusik dengan singkat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Bercerai?” 399 “Ya!”

Mendengar jawaban puterinya ini maka terdiamlah Pangeran Nerangkusuma wajahnya terus memerah dan napasnya memburu, akan tetapi setelah dapat menenangkan keadaannya maka beliau lalu bertanya lagi :

“Mengapa kalian bercerai? Berilah alasan yang tepat.”

“Rama ananda bercerai dengan kakangmas Pangeran Purboyo karena ananda tidak puas melihat kalau Pangeran Purboyo akan menyerah dan memihak kepada Belanda. Sedangkan para leluhur hamba tak ada yang mau memihak mutlak kepada anjing-anjing penjajah itu. Karena itulah maka ananda lalu bercerai dan menggabungkan diri dengan Untung Suropati, adapun kedatangan kami kemari ini akan minta perlindungan dan membantu usaha rama pangeran untuk mengusir perjajah.”

“Nah itulah ucapan seorang puteri Mataram, angkatlah senjata kalian untuk mempertahankan tanah air kita dari serangan para penjajah. Aku Sunan Mataram akan menerima kalian untuk menjadi pembantu- pembantuku yang setia, selain itu akupun telah mendengar tentang perjuangan kalian bersama Untung Suropati.”

“Gusik manakah orang yang bernama Untung Suropati itu??” Tanya Pangeran Nerangkusuma sambil memandang kearah teman-teman anaknya itu.

“Hamba yang bernama Untung, gusti.” Jawabnya dengan penuh hormat.

“Bagus, apakah betul perkataan Gusik kalau kau akan membantu kami menghalau penjajah Belanda, angger?? Tanya Pangeran Nerangkusuma kepada Untung Suropati.

“Benar apa yang dikatakan oleh Raden Ayu Gusik, kalau paduka berkenan maka hamba akan senang sekali membantu perjuangan paduka.” “Huahahaa.......... huahahaa........ huahahahaa........ kau adalah seorang pejuang besar Untung, aku Sunan Mas atau Sunan Mataram akan bergembira sekali berjuang bersamamu.” Seru Sunan Mas yang masih

muda itu.

“Terima kasih gusti, akan tetapi hamba masih mempunyai kawan- kawan yang tinggal diluar. Bahkan guru hambapun ikut serta dalam rombongan ini! Apakah mereka itupun diperkenankan berjuang bersama- sama dengan paduka?”

“Boleh............ boleh........ aku malah senang sekali menerima kalian, ehh aiapakah yang menjadi gurumu? Dan berapakah jumlah kawan-kawanmu itu.” Tanya Pangeran Nerangkusuma dengan girang.

Semua berjumlah kurang lebih empat puluh orang, dia guru hamba bernama Sancaka.”

“Sancaka?? Bukankah dia yang dikenal sebagai pengemis sakti pada puluhan tahun yang lalu??” Tanya Sunan Mas dengan gembira. “Benar gusti, bahkan selain itu hamba membawa Pendekar Budiman sekeluarga, dan murid-murid dari Gua Melati serta banyak lagi pendekar- perdekar besar pada jaman ini.”

“Berita bagus, berita menyenangkan! Hancurlah sekarang pasukan Belanda yang akan menyerang kita. Hehh apakah kau belum berumah tangga Untung??” Tanya Suaan Mas dengan tersenyum.

“Sudah gusti, isteri hamba adalah Suzana. Dan sekarang diasingkan oleh Belanda karena menikah dengan hamba seorang budak. Jadi jelasnya hamba adalah duda.”

“Itu lebih baik lagi, duda dikawinkan dengan janda adalah cocok bagaikan tumbu mendapat tutup. Bukankah itu baik sekali paman Nerangkusuma??”

Mendengar pertanyaan Sunan Mataram ini Pangeran Nerangkusuma ini telah tanggap ing sasmito. Dengan cepat ia lalu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bertanya kepada Raden Ayu Gusik :

“Bukankah kau bersedia kalau kuhadiahkan kepada Untung Suropati itu nini Gusik??”

“Hamba akan menerima segala apa saja yang ramanda berikan kepada hamba dan kalau Untung Suropati mau hambapun mau asal tetap melawan penjajah.” Jawabnya dengan tegas. Memanglah Raden Ayu Gusik telah tahu bahwa Untung Suropatipun ada hati kepadanya, akan tetapi laki-laki itu tak berani mengutarakan dalam keadaan seperti itu. Hingga dengan demikian sewaktu menjawab pertanyaan ayahnya ia tak ragu-ragu lagi.

“Huhahahaa...... huahahaa...... huahahaa...... bukankah kaupun setuju Untung? Ha........ huahahaa........ huahahaa....... akupun yakin kalau Untung akan tetap melawan penjajah sampai tetes darahnya yang terakhir.” Seru Sunan Mataram dengan girang.

Memanglah Sunan Mas menjodohkan Untung Suropati dengan Raden Ayu Gusik ini bukannya tiada maksudnya. Kalau Untung Suropati telah menjadi menantu Pangeran Nerangkusuma maka perjuangan yang dilakukannya akan bertambah hebat dan sungguh-sungguh sesuai dengan permintaan isterinya yang pantang menyerah itu.

Para pendekar lainnyapun setuju kalau Untung Suropati lekas-lekas dikawinkan dengan Raden Ayu Gusik. Sebab dengan demikian mereka itu akan lebih leluasa lagi berpijak di Mataram sebab rekannya itu adalah menantu dari Pangeran Nerangkusuma yang menjadi penasehat Sunan Mataram. Dari kedua belah pihak sama-sama merasa beruntung.

Benarlah tak antara lama maka keraton Mataram tampak ramai dan dihias dengan indah, pernikahan Untung Suropati dan Raden Ayu Gusik dilakukan dengan besar-besaran dan semeriah mungkin.

Para anak buah Untung Suropati dan pendekar-pendekar yang tergabung dalam rombongan Untung berjaga diluar keraton untuk menjaga jangan sampai peristiwa bersejarah ini dikacau oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab.

401 Perkawinan Raden Ayu Gusik dengan Untung Suropati ini tidaklah terluput dari jaring-jaring yang dipasang oleh Belanda dimana-mana itu. Segera ada beberapa antek Belanda yang melaporkan ke Batavia bahwa Untung Suropati yang dicari-cari itu sekarang berada di Mataram dan dilindungi oleh Sunan Mataram.

Untung Suropati dan Pangeran Narangkusuma serta Sunan Mas tak mengira sama sekali kalau Belanda telah mengirimkan pasukannya dibawah pimpinan Kapten Tack. Begitu pasukan Belanda dari Batavia sampai di Semarang, maka datanglah pesuruh orang-orang Batavia itu untuk menghadap Sunan Mas.

Begitu Sunan Mas mendengar kalau Belanda minta supaya Sunan Mataram menyerahkan Untung Suropati maka Sunan Mas lalu menemui Pangeran Nerangkusuma.

“Paman, Belanda telah mencium jejak kita! Mereka minta supaya aku menyerahkan Untung Suropati kepadanya. Akan tetapi aku akan menolak lalu bagaimanakah menurut pendapat paman?” Tanya Sunan Mas setelah sampai kekediaman Pangeran Nerangkusuma.

Sesaat Pangeran Nerangkusuma terdiam, penasehat Mataram itu tak dapat menjawab dengan begitu saja. Namun setelah beberapa saat kemudian terdengarlah jawabannya :

“Gusti, hendaknya kita bicara saja langsung kepada Untung, bukankah dengan demikian kita juga dapat mengetahui, bagaimana pendapatnya tentang permintaan Belanda itu?” Ajak Pangeran Nerangkusuma.

“Bagus, marilah kita temui Untung Suropati.” Jawab Sunan Mas dengan girang.

“Marilah kita menuju kegandok timur.” Setelah berkata demikian maka kedua orang agung Mataram itu menuju kegandok timur dimana Untung Suropati dan Raden Ayu Gusik tinggal.

Setelah sampai kegandok timur kedua orang agung itu langsung masuk kedalam dan menemui Untung Suropati. Untung bersama Raden Ayu Gusik lalu segera mendapatkan orang-orang agung itu :

“Silahkan silahkan masuk baginda dan rama pangeran.”

“Terima kasih, angger!” Jawab Pangeran Nerangkusuma.

“Ah. kelihatannya gusti Sunan dan rama pangeran membawa berita

penting untuk hamba sekalian. Benarkah dugaanku ini gusti.” Tanya Untung Suropati sambil menatap wajah raja gustinya.

“Ya........ ya, memang demikian Untung, perasaanmu sungguh tajam sekali. Ketahuilah angger, Belanda telah datang dan meminta kepada gusti Sunan untuk menyerahkan kalian, akan tetapi gusti Sunan tak menginginkan kau menyerah, lalu bagaimanakah pendapatmu?” Tanya Pangeran Nerangkusuma.

Sesaat Untung Suropati tak menjawab pertanyaan ayah-mertuanya, akan tetapi Raden Ayu Gusik terus mewakili suaminya untuk menjawab pertanyaan ayahnya itu :

“Kami akan tetap menyerang lawan, lebih baik kembali kehutan.” 402 “Begitulah jawaban kami, rama! Sambung Untung Suropati dengan tegas.

“Bagus, itulah harapanku. Akan tetapi untuk tidak merusak perjanjian Mataram dengan Belanda dahulu perajurit Mataram akan ikut mengeroyokmu Untung, akan tetapi aku akan memberi peringatan kepada mereka itu untuk memperlemah pertahanan sebelah timur. Ingat-ingatlah pertahanan sebelah timur. Setelah kau dapat melarikan diri ketimur maka aku menganugerahimu tanah Pasuruhan. Tanah Pasuruhan kuberikan kepadamu Untung. Dirikanlah benteng dan kerajaan di Pasuruhan, lawanlah Belanda dari sana.” Seru Sunan Mas kepada Untung Suropati.

“Bagus, hamba akan melawan dari sana gusti, dan sebelumnya hamba mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas hadiah yang tak ternilai itu. Semoga saja cita-cita gusti Sunan dapat terlaksana. Hanya hamba minta tambahnya pangestu.”

“Aku selalu mendoakan untukmu Untung, lawanlah Belanda dengan gigih, aku yakin nama UNTUNG SUROPATI tak akan dilupakan orang sepanjang masa. Nah, aku pulang kawan.

“Sembah bekti hamba saja yang mengiringi kepergian paduka.” Jawab Untung Suropati dengan hormat.

Sepeninggal Sunan Mataram dan Pangeran Nerangkusuma maka Untung Suropati lalu membicarakan hal itu dengan rekan-rekannya. Sebelum ia mendapatkan anak buahnya terlebih dahulu mendapat pesan dari isterinya Raden Ayu Gusik :

“Kakang, karena aku tak dapat berjuang bersamamu maka pakailah ini keris pusaka Kyai Kolomisani yang dipakai oleh Trunajaya dahulu untuk melawan penjajah. Nah, sekarang pakailah Kyai Kolomisani ini, semoga kau akan menjadi lebih gagah daripada Trunajaya dan jiwa kepatriotan Trunajaya akan turun ketubuhmu.” Serunya sambil menyerahkan Kyai Kolomisani.

“Terima kasih isteriku, aku akan memakai Kyai Kolomisani untuk membela tanah air kita ini, tapi mengapakah kau tak ikut berjuang bersama kami, adi??” Jawab Untung Suropati dengan heran.

“Maaf kakang, aku mempunyai tugas lain yang sama beratnya dengan berjuang, perjuanganku inipun melawan maut pula.” Jawab Raden Ayu Gusik dengan tersenyum.

“Heee....... perjuangan apakah itu??” Kembali Untung Suropati bertanya dan pertanyaan itu dikeluarkan dengan hati yang terheran-heran.

“Yah, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah kakang!” Jawab Raden Ayu Gusik dengan pelan.

“Ahhh...... kau mengandung, adi? Ya Tuhan, betapa bahagianya hamba ini.” Setelah berkata demikian ia lalu mendapatkan isterinya dan langsung memeluknya dengan penuh kasih mesra.

“Sudah....... sudah kakang, kau harus merundingkan hal ini dengan kawan-kawan, persiapkanlah mereka sedari masih pagi, hingga besuk

403 kalau penyerangan telah sampai kita telah siap pula. Bukankah lebih baik kita siap sedari masih pagi?

“Benar, kau benar adi. Nah aku pergi menemui mereka dan hati- hatilah kau dirumah.” Setelah berkata demikian Untung lalu menemui gurunya dan para pendekar yang membantunya.

Betapa terkejutnya hati para pendekar itu setelah mengetahui bahwa Belanda telah mengejarnya sampai ke Mataram, namun tiba-tiba saja terdengarlah perkataan Pendekar Linglung :

“Kita harus mengusir mereka! Kebetulan sekali Sunan Mataram memberi tanah Pasuruhan hingga dengan demikian tanah pemberian itu akan dapat kita gunakan untuk titik tolak perjuangan kita ditimur besuk.”

“Benar, aku sependapat dengan anakku itu.” Jawab Pendekar Budiman. “Ya...... ya...... kita harus melawan, melawan sambil mundur untuk mencapai Pasuruhan. Disana nanti kita dapat bebas bergerak karena berada dirumah sendiri. Jadi kita tak tanggung-tanggung dan merasa kikuk

oleh tuan rumah.” Jawab mereka itu dengan serempak.

Setelah mendapatkan kata-kata permufakatan ini maka mulailah mereka itu menjaga keamanan dengan ketat. Topeng Merah terus-menerus menanti diluar daerah untuk mengacaukan perhatian Belanda yang akan menyerang.

Sepekan setelah berita itu terdengar oleh Untung maka datanglah Adipati Madura menemuinya ditempat gandok timur :

“Silahkan masuk gusti Adipati Cakraningrat.” Seru Untung Suropati dengan ramah.

“Terima kasih.” Jawab Adipati Sampang itu dengan dingin.

“Ehh...... benar-benar aku mendapat kehormatan besar dapat menerima adipati dirumahku, adakah keperluan denganku gusti adipati?”

Setelah menenangkan hatinya maka menjawablah Adipati Sampang itu dengan suara berat dan bernada dingin, hingga terdengar bagaikan suara hantu :

“Atas perintah Sunan maka kau harus menyerah kepada Kumpeni. Mari ikut bersamaku menghadap Sunan dan utusan Kumpeni dari Batavia.” “Huahahaha....... huahahaha....... huahahaha....... gusti adipati, aku ingin bertanya apakah gusti adipati ini orang Belanda? Dan berkebangsaan

apakah? Darimanakah makanan, yang gusti makan??”

“Kurangajar kau! Hayo lekas menyerah supaya aku tak berlarut-larut marah kepadamu.”

“Aku mau kalau gusti menjawab terlebih dahulu pertanyaanku itu. Setelah itu barulah akan menjawab partanyaan gusti.” Jawab Untung Suropati dengan gagah.

“Monyet kau, aku orang Madura, tentang makanan yang kumakan tentu saja hasil para petani Madura. Nah lekaslah kau jawab pertanyaanku tadi.” Jawab Adipati Sampang dengan marah.

“Bagus kalau demikian, mengapakah gusti membantu Belanda yang terang-terangan memusuhi kita? Apakah darma bakti gusti kepada tanah 404 air yang telah memberi gusti makan dan minum serta kehidupan yang demikian mewah itu?? Pikirlah perkataanku ini gusti ”

“Bangsat hina dina.” Teriak Adipati Sampang dengan marah sekali. “Huahahaha....... huahahaha....... huahaha....... andaikata kau bukan

seorang duta aku akan membunuhmu anjing Belanda, lekas kau minggat dan katakan bahwa Untung Suropati masih tetap berdiri dimuka pasukannya untuk mengenyahkan Belanda dari muka bumi pertiwi ini.” Teriaknya dengan gagah.

“Aku telah menyangka, akan tetapi ketahuilah aku telah diberi purba dan wasesa. Kalau kau membangkang maka aku dengan pasukanku akan menyeretmu ke Mataram.”

“Lakukanlah kalau kau mampu adipati penjilat.” Teriak Untung yang terus berkelebat keluar. Melihat kalau lawannya telah berada diluar maka Adipati Sampang itupun melesat keluar dan terus memberi komando kepada pasukannya uutuk menerjang musuh.

“Gempur....... ratakan tempat ini dengan tanah dan bunuh Untung Suropati ” Teriak Cakraningrat.

Akan tetapi komando inipun menggugahkan para perajurit Untung Suropati hingga dengan demikian dua buah perajurit telah saling gempur- menggempur.

Trangg...... trang...... trangg...... berkali-kali terdengar suara bunyi bentrokan senjata mereka itu, bahkan kadang-kadang terdengar pula jerit- pekik tangis mereka yang kena tusuk senjata lawan. Akan tetapi pasukan Cakraningrat ini tak mampu menghadapi amukan anak buah Untung Suropati yang dipimpin oleh para pendekar pembela kebenaran itu.

Taaaaaarrr...... taaaarrr....... taaaaarr....... berkali-kali cambuk Pendekar Linglung dan ibunya menghujam musuh yang berani menyerangnya. Hingga dengan demikian banyak perajurit-perajurit lawan yang gugur ditangan kedua orang perkasa ini. Wulandari, Ariyani, Wardani dan lain- lainpun melabrak musuhnya dengan sepenuh tenaga. Hingga sebentar saja anak buah Cakraningrat dapat dihabiskan hanya tinggal Adipati Sampang itu sendiri yang berhasil meloloskan diri dari amukan para anak buah Untung Suropati dan pendekar-pendekar itu.

Akan tetapi bersama dengan habisnya perajurit Cakraningrat ini datanglah bantuan perajurit-perajurit Kumpeni Batavia dan perajurit- perajurit Mataram. Kumpeni Batavia ini datang dibawah pimpinan Kapten Tack, dan bersama itu tanapak pula Undung Kalayaksa, Sindung Laut, Baurekso, Klabang Songo dan lain-lain pendekar-pendekar yang menggabungkan diri dengan Belanda.

Taaaaarrrrr....... tooooorrrr...... taaaaarrrr...... Peluru-peluru terus berdesingan ditengah pertempuran itu. Belanda-belanda yang telah kalap itu semakin memperhebat tembakan-tembakannya.

“Huahahaha...... huahahaha...... huahahaha.... Joko Seno akhirnya kita bertemu kembali disini.” Seru Baurekso yang terus menerjang kearah Pendekar Budiman. Akan tetapi dengan gesit Joko Seno dapat 405   menghindarkan diri dari pukulan tongkat ular Baurekso, bahkan tongkat ular yang dipakai oleh momok gunung Merapi ini lebih panjang dari pada yang dulu.

“Aku sekarang tak akan mengambil tanganmu lagi Baurekso, akan tetapi nyawamu yang akan kusikat.” Setelah berkata demikian Pendekar Budiman itu lalu memainkan ilmu Pedang Naga Angkasa untuk menerjang lawannya.

Wesstttt...... Pedang Besi Merah terus menyambar kearah lambung Baurekso dengan kecepatan yang luar biasa sekali. Akan tetapi dengan lincah Baurekso lalu melompat keatas dan berjumpalitan beberapa kali untuk menghindarkan serangan lawan. Setelah memperbaiki kedudukannya lagi maka kembalilah mereka itu saling serang-menyerang.

Wulandari dan Ariyani terus mengamuk melabrak Klabang Abang dan Klabang Ungu. Kedua orang saudara Klabang ini benar-benar terkejut sekali setelah mengetahui bahwa lawannya ini adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi. Akan tetapi dengan lincah Baurekso lalu melompat keatas dan berjumpalitan beberapa kali untuk menghindarkan serangan lawan........ Klabang Abang benar-benar repot sekali menghadapi pedang dan keris yang berada ditangan Ariyani. Seakan-akan Klabang Abang dikeroyok oleh dua orang sakti yang mempunyai kepandaian dan keistimewaan sendiri-sendiri.

Tranggg...... tranggg...... wesss...... berkali-kali pedang dan keris kedua orang pendekar yang sedang berlaga itu saling bertemu, setiap kali pedang dan keris itu bertemu maka Ariyani lalu menusukkan pedangnya kearah Klabang Abang.

“Mampus kau bangsat!” Setelah berkata demikian kepala perampok Alas Roban ini lalu menusukkan pedangnya kearah dada lawan. Namun dengan gesit sekali Ariyani memiringkan tubuhnya dan tangan kanan memegang keris itu ditusukkan kemuka sedangkan pedangnya menangkis pedang lawan........ traaanggggg....... aduhhh...... dengan terdengarnya suara aduhan Klabang Abang ini maka terdengarlah pula teriakan para perajurit Untung Suropati :

“Hoooooreeeeee........ hooooreeeee........ hooooreeee........ Klabang Abang matiiii...... Klabang Abang mampus ”

Mendengar kabar bahwa kakaknya mati maka Klabang Ungu terus mengamuk dengan hebat, akan tetapi sayang sekali lawannya adalah Wulandari yang telah mumpuni dalam hal olah kanuragan hingga dengan enaknya saja setiap serangannya dapat digagalkan oleh wanita sakti itu.

“Mampus kau setan!” Desis Klabang Ungu sambil menusukkan pedangnya kearah perut Wulandari, akan tetapi dengan cepat wanita sakti itu melompat keatas dan berjumpalitan beberapa kali serta menendangkan kakinya kearah pergelangan Klabang Ungu...... takkk...... desss begitu

kena tendang maka terlemparlah pedang Klabang Ungu lepas dari tangannya.

“Huahahaha....... huahahaha...... huahahaha.      ternyata kau mempunyai

kegesitan yang hebat! Awas!” Setelah berkata demikian maka Klabang Ungu lalu melemparkan paku-paku senjata rahasianya kearah Wulandari. Akan tetapi dengan cepat ibu Ariyani ini lalu memutar pedangnya dan......

uhhhh...... ternyata salah sebuah paku senjata rahasia Klabang Ungu membalik dan mengenai lehernya hingga dengan demikian matilah Klabang Ungu kena senjata rahasianya sendiri.

Kembali para anak buah Untung Suropati lalu berteriak-teriak : “Klabang Ungu mampussss...... Klabang Ungu mampussss Klabang

Ungu matiiiiii......... usir Belanda........ ganyang penjajah.     ”

Akan tetapi tak antara lama dari teriakan-teriakan itu terdengar pula suara gegap-gempita dari para perajurit Belanda.

Wirayuda mampuuussss........ Wirayuda gugurrr...... hoooorreeeeee.......

ganyang terus pemberontak hina....... Wirayuda gugurrrrr      ”

Untung Suropati makin memperhebat dan kemarahannya terus menyala setelah mendengar berita bahwa Wirayuda sahabatnya itu gugur. Dengan nekat ia lalu mengamuk hingga banyak para perajurit yang bergelimpangan mati dibawah keris pusaka Kyai Kolomisani. 407 Dilain saat tampaklah Undung Kalayaksa dan Sindung Laut sedang menghadapi Topeng Merah manusia sakti yang misterius itu. Dengan enak orang misterius itu dapat memainkan kedua orang lawannya, seakan-akan setiap serangan yang dilancarkan kearah Topeng Merah telah diketahui terlebih dahulu.

“Ciiiiiiaaaatttttttttt!!” Undung Kalayaksa terus melompat kearah kanan dan menendangkan kakinya keperut lawan, bersama dengan itu Sindung Laut menusukkan pedangnya kearah leher lawan.

Akan tetapi sungguh mengagumkan sekali gerakan Topeng Merah itu, dengan amat tenangnya ia lalu memutar tubuh dan mundur selangkah untuk menghindarkan tusukan Sindung Laut dan bernama dengan itu terdengarlah perkataan Topeng Merah :

“Ternyata kalian adalah manusia-manusia sesat! Percuma saja kalian mengaku murid Jayasengara. Ketahuilah hai manusia-manusia gila kedudukan bahwa Jayasengara tak pernah menjilat penjajah dan selalu berjuang melawan anjing-anjing Belanda.”

“Huhh...... Topeng Merah, kau tahu apakah tentang guru kami yang telah menyucikan diri itu??” Bentak Sindung Laut dengan menyabetkan pedangnya kearah perut.

“Mari kakang kita cincang saja orang gila ini.” Seru Undung Kalayaksa yang terus membacokkan pedangnya kearah kepala Topeng Merah. Untung Topeng Merah cepat menggeserkan tubuhnya kesamping kiri, kalau tidak niscaya kepalanya akan terbelah menjadi dua kena bacok pedang Undung Kalayaksa.

“Apakah kalian tak mau sadar?? Haruskah aku bertindak mewakili gurumu, heh??” Bentuk Topeng Merah dengan keras.

“Huahahaha....... huahahaha........ huahahaha....... kau akan dapat berbuat apakah, heh orang sekarat? Bunuhlah kami kalau memang kau mampu.” Seru Undung Kalayaksa dengan tertawa mengejek.

“Gila, kalian mencari penyakit.” Desis Topeng Merah dengan garang, setelah berkata demikian maka berkelebatlah Topeng Merah meninggalkan kedua orang musuhnya ini. Begitu melihat kalau Topeng Merah itu melarikan dari maka Undung Kalayaksa dan Sindung Laut terus tertawa dengan riangnya :

“Huahahaha........ huahaha........ huahahaha....... kalau akan lari mengapa harus membuka bacot terlebih dahulu?? Dasar banci, pengecut, huahaha......

huahaha..... huahahaha. ”

Topeng Merah tak menghiraukan hinaan kedua orang panglima Belanda itu. Orang sakti misterius itu lalu menghampiri kearah Pendekar Linglung yang sedang mengamuk melawan Pendeta Kumborono.

Taaaaarrr........ weessss........ taaaaarrrr     pedang dan cambuk Pendekar

Linglung terus-menerus mengurung lawannya dengan rapat-rapat, hingga pada suatu saat berhasillah cambuknya memukul jalan darah dibawah leher hingga tanpa menjerit mampuslah Pendeta Kumborono dibawah tangan Pendekar Linglung. 408 Begitu ia berhasil menewaskan Pendeta Kumborono maka Pendekar Linglung lalu menerjang kearah para perajurit yang sedang mengeroyok kawan-kawannya.

“Angger Ugrasena, lekas kau ikut aku.” Seru Topeng Merah sambil menarik tangan Pendekar Linglung.

“Kemana, Ki Topeng Merah??” Tanya Pendekar Linglung dengan heran. “Ikutlah!” Setelah berkata demikian maka Pendekar Linglung lalu mengikuti jalannya Ki Topeng Merah. Dan ternyata Ugrasena dibawa ketempat Undung Kalayaksa dan Sindung Laut yang sedang mengamuk itu. Begitu kedua orang sakti ini sampai kedekat Undung Kalayaksa dan

Sindung Laut maka terdengarlah perkataan Topeng Merah :

“Angger, tidakkah kau malu mempunyai kakak seperguruan yang nyeleweng itu? Hayo kau wakili gurumu untuk menghukumnya. Bunuh saja orang yang tak mau menuruti ajaran-ajaran gurunya.”

Pendekar Linglung benar-benar merasa tersinggung sekali setelah diingatkan oleh Topeng Merah ini. Begitu melihat kakak-kakak seperguruannya ia lalu menggerung dengan keras dan terus menerjang dengan kedua senjatanya :

“Mampuslah kau pengkhianat!” Bersama dengan lenyapnya suara itu maka terdengarlah bunyi angin berdesir dan ledakan cambuk Pendekar Linglung yang menerjang kearah tempat-tempat berbahaya bagi Undung Kalayaksa dan Sindung Laut. Akan tetapi kedua orang murid Jayasengara itu bukanlah seorang jago silat murahan saja, hingga dengan lincahnya mereka dapat menghindarkan maut yang sedang mengintainya.

“Hehhh Linglung, kalau kau mengaku adik seperguruan kami mengapa kau memihak kepada musuh-musuh kita?? Beranikah kau kurang ajar didepan kakak seperguruanmu? Awas kalau aku mengatakan hal ini kepada bapa guru maka kau akan dihukum.” Seru Sindang Laut menakut- nakuti Pendekar Linglung.

“Jangan sebut-sebut nama guru yang suci itu, mulutmu yang kotor itu tak berhak lagi menyebut nama beliau.” Setelah berkata demikian ia lalu menerjang lawannya kembali.

“Bangsat anak edan!” Bentak Undung Kalayaksa yang terus menerjang Pendekar Linglung dengan pedangnya. Namun dengan gesit serta lincah sekali Ugrasena dapat menghindarkan diri dan terus memukulkan aji Bledek Mangampar kearah Undung Kalayaksa.

Melihat kalau adik seperguruannya terancam bahaya cepatlah Sindung Laut mendorongnya hingga pukulan aji Bledek Mangampar dari Pendekar Linglung itu hanya mengenai tempat kosong saja.

“Huhh kau datang-datang mencari teman, topeng edan! Kau takut mati dibawah tangan kami maka kau mengajukan Pendekar Linglung adik seperguruan kami. Bukankah kau telah tahu kalau kami tak tega membunuh adik seperguruanku itu?? Dasar pengecut.” Teriak Sindung Laut dengan marah.

409 “Jangan bicara tentang pengecut! Kaulah pengecut! Kalau aku mau membunuhmu maka sama saja mudahnya dengan membalikkan telapak tangan. Karena aku segan maka aku mewakilkan kepada Pendekar Linglung yang lebih berhak. Biarlah kalian mengetahui siapa aku ini maka aku akan membuka topengku.” Bersama dengan itu maka Topeng Merah manusia misterius itu lalu merenggut topengnya. Dan tampaklah wajah aslinya.

Seorang tua, kurus dan matanya cekung karena dimakan umur. Rambutnya putih semua. Kalau dilihat sepintas lalu saja memang kelihatan bagaikan seoraag tua yang lemah. Akan tetapi lain bagi ketiga orang murid Jayasengara ini, begitu mereka melihat wajah asli Topeng Merah tadi mereka sama-sama berteriak :

“Bapa guru!!” Akan tetapi hanya Pendekar Linglung saja yang terus menjatuhkan diri dan menyembah gurunya. Namun orang tua itu tak memperhatikan perbuatan murid bungsunya ini dan terus terdengar perkataannya.

“Sindung Laut dan kau Undung Kalayaksa percayakah kau kalau aku mau maka kau akan dapat kubunuh? Bukankah ilmu-ilmu yang kau pergunakan itu semuanya bersumber padaku?? Sekali lagi kuminta kalian minggat dari telatah pertarungan ini dan rubahlah sifatmu itu.”

“Oohh..... benarkah bapa akan mengampuni kami??” Tanyanya dengan serempak.

“Asal kalian mau maka aku akan mengampuni kalian. Benarkah kalian sanggup untuk merubah sikap kalian??” Tanya orang tua itu dengan tegas.

“Sanggup bapa!” Serunya yang terus menjatuhkan diri dan menyembah kepada gurunya yang paling disegani itu.

“Bagus, aku puas melihat kalian kembali kejalan yang benar. Nah, untuk menghilangkan syak-wasangka maka pergilah kalian dari sini.”

“Terima kasih bapa! Nah adi Pendekar Linglung sewaktu-waktu aku ingin bertemu denganmu dan akan memperbaiki hubungan kita.” Seru Sindung Laut yang terus tersenyum kepada adik seperguruannya yang bungsu itu.

“Terima kasih paman! Semoga kita dapat bertemu lagi dilain saat yang menggembirakan.” Jawabnya dengan terharu.

“Bapa dan adi Pendekar Linglung aku pergi, akan tetapi lihatlah keinsyafanku ini.” Setelah berkata demikian maka berkelebatlah Undung Kalayaksa dan terus menghampiri kearah Untung Suropati yang sedang bertempur dengan Kapten Tack itu.

Melihat ini cemaslah hati Pendekar Linglung dan Jayasengara, ia benar-benar tak mengerti yang akan diperbuat oleh Undung Kalayaksa, jika Undung Kalayaksa ini akan mencelakai Untung Suropati maka kedua orang itu tak akan segan-segan membunuhnya, yah membunuh Undung Kalayaksa yang baru saja mendapat pengampunan.

“Akkhhh....” Desah Pendekar Linglung dan Jayasengara dengan bersama. Ternyata Undung Kalayaksa terus mengayunkan pedangnya 410 memenggal leher Kapten Tack yang sedang melawan Untung itu. Karena gerakan Undung Kalayaksa dilakukan dengan secara cepat maka perajurit- perajurit disekitarnya tak ada yang mengerti bahwa yang membunuh Kapten Tack tadi adalah Undung Kalayaksa bawahannya sendiri.

“Hooreeee..... hoorreeee..... Kapten Tack mampus ditangan Untung Suropati..... Kapten Tack mati ditangan Untung Suropati.....” Teriaknya dengan gembira.

Akan tetapi bersama dengan itu maka datanglah berondongan bedil para Kumpeni yang makin mengganas setelah mendengar kalau Kapten Tack mati.

Taaarrrrr..... tooorrrr..... taaarrrrr..... tooooorrrrrr..... peluru-peluru itu terus menghalau para pendekar-pendekar yang sedang menyikat para perajurit-perajurit Belanda itu. Akan tetapi makin lama makin gencarlah hujan pelor itu hingga Untung Suropati lalu memerintahkan anak buahnya mundur :

“Mundurrrr..... mundurrrr   ” Begitu mendapat perintah untuk mundur

maka para pejuang itu lalu menerjang benteng sebelah timur yang dijaga oleh perajurit-perajurit Mataram yang telah diberi tahu oleh Sunan Mas hingga dengan cepat saja anak buah Untung Suropati dan para pendekar lainnya dapat meloloskan diri.

Sedangkan para perajurit Kumpeni telah tak mempunyai nafsu lagi untuk mengejar terus, sebab mereka telah kehilangan pemimpin. Bahkan banyak perajurit-perajuritnya yang kocar-kacir. Hingga hal ini benar-benar menguntungkan Untung Suropati dalam melakukan pemunduran itu.

Pendekar Budiman setelah mengetahui bahwa orang yang memakai topeng merah itu adalah adik dari gurunya maka ia lalu bersembah dihadapan orang tua sakti itu.

“Terimalah sembah bektiku eyang.”

“Terima kasih angger, kau benar-benar patut sekali menjadi murid kakang Pacar Biru. Nah setelah, Undung Kalayaksa dan Sindung Laut insyaf maka aku akan kembali ke Ungaran. Kalian teruskanlah cita-cita kalian yang luhur ini. Aku setuju sekali kalau muridku angger Ugrasena menikah dengan kedua orang dara sakti itu. Nah, selamat tinggal.” Setelah berkata demikian maka Jayasengara lalu berkelebat pergi.

“Sungguh hebat sekali kepandaian eyang Jayasengara, sayang aku baru tahu sekarang bahwa Topeng Merah itu adalah paman guruku. Hiaggn aku tak sempat minta maaf kepadanya atas kekurangajaranku dahulu.” Desis Pendekar Budiman dengan menarik napas panjang.

“Akupun menjadi kehilangan kawan baik, akan tetapi memang sudah menjadi haknya untuk beristirahat. Aku yakin kalau usianya telah hampir seratus tahun, angger.” Seru Sancaka dengan menggeleng-gelengkan kepalanya karena kagum.

“Sewaktu-waktu aku harus mengunjungi beliau.” Desis Pendekar Linglung sambil menggigit bibirnya. Makin lama mereka itu mengundurkan diri makin ketimur, hingga pada suatu saat sampailah mereka itu di Pasuruhan dimana tanah itu telah diberikan kepada Untung oleh Sunan Mataram.

Sesampainya di Pasuruhan mereka itu lalu membantu Untung Suropati untuk mendirikan sebuah kerajaan, dan disinilah Untung Suropati mengangkat dirinya sebagai raja Pasuruhan dengan gelar Wironegoro.

Kerajaan Pasuruhan dibawah pemerintahan Wironegoro ini selalu menentang penjajah Belanda. Sedangkan Pendekar Budiman dan isterinya lalu kembali ke gunung Semeru, namun mereka itu tak tinggal diam. Masih terus ikut membantu Wironegoro dalam menghadapi lawan-lawan berat.

Pendeta Kalinggapati dan Pendeta Kertopengalasan lalu menemani Sancaka untuk menjadi penasehat agung negara Pasuruhan. Sedangkan Pendekar Linglung ikut bersama kedua orang isterinya yang tercinta itu. Sebagai seorang pendekar maka ia tak melupakan tugasnya dalam memberantas kejahatan dan membela negara dari serangan musuh.

Selama Wironegoro menghadapi musuh-musuhnya maka tampaklah Pendekar Linglung selalu menjadi perisainya. Hingga hal ini menjadikan Untung Suropati makin senang dan mengangkatnya sebagai pembantu utamanya.

Kelak kemudian hari setelah Untung Suropati mangkat maka Pendekar Linglung inilah penerus cita-cita Untung Suropati untuk membebaskan negaranya. Ia berusaha mendidik anak-anak muda untuk digembleng dalam olah kanuragan untuk menggempur musuh besarnya Bangsa Belanda.

Akhirnya sampai sekianlah cerita PENDEKAR LINGLUNG berakhir, dan pengarang mengucapkan selamat berpisah sampai bertemu kembali dilain cerita.

Untuk mengetahui tentang asal-usul Pedang Besi Merah dan Pedang Naga Biru yang masih berada ditangan Klabang Songo dan Baurekso itu maka anda sekalian dipersilahkan membaca buku seri dari Pendekar Linglung ini yang berjudul :

“SEPASANG PEDANG MUSTIKA”. Didalamnya tercakup keistimewaan dari sifat-sifat Dendopati, Aswotunggal, Pacar Biru, Jayasengara dan lain- lainnya. Kedengkian, kepalsuan, cita-cita, cinta, kebenaran, keadilan dan lain-lain akan terus bergolak dengan hebat.

Sedangkan perjuangan Untung Suropati, Pendekar Linglung dan bagaimana pengembalian Pedang Pusaka Naga Biru serta dimana adanya Panembahan Jatikusumo dan Widati tokoh sakti itu akan anda jumpai dibuku yang berjudul : “MENDUNG DI TIMUR.”

 — T A M A T —