Pendekar linglung Jilid 6

 
Jilid VI

SETUJU.... aku sangat setuju. Memang tadi aku akan mengajukan Kuffler tapi takut kalau ditolak oleh Edeler.” Jawab Kapten Tack.

“Bagus kalau begitu baik kita panggil saja Opsir Kuffler.” Kata Edeler Moor. Setelah menghela napas segera ia berkata kembali :

“Penjaga, lekas kau panggil Opsir Kuffler supaya lekas datang kemari!” “Baik!” Jawab penjaga itu yang terus lari menjalankan tugasnya. Tak

antara lama kembalilah penjaga itu besama seorang opsir muda.

“Mari-mari Kuffler, silahkan duduk!” Seru Kapten Tack dan Edeler Moor berbareng.

“Terima kasih!” Jawab Kuffler sambil mengambil tempat duduk. “Tugas apakah yang harus kujalankan, Kapten?”

“Bagus-bagus Kuffler, kau adalah seorang perajurit yang baik. Ketahuilah kali ini kau akan mendapat tugas yang sangat berat.” Seru Kapten Tack sambil menghentikan pembicaraannya.

“Kapten, lekas kau katakan tugas apakah yang harus kujalankan.” Tanya Opsir Kuffler dengan tegas.

241 “Dengar Kuffler! Besok kau berangkatlah kehutan Paranggelung, dimana Untung tinggal, dan rundingkanlah dengannya tentang kehendak Pangeran Purboyo yang akan menyerah.” Seru Kapten Tack menerangkan apa yang harus dilakukan oleh Kuffler.

Jadi besok aku harus berangkat ke hutan Paranggelung daerah Untung itu? Dan dengannya pula aku harus berunding? Bagaimanakah kalau kedatanganku itu disambut dengan kekerasan?” Tanta Kuffler.

“Besok kau datang dengan membawa bendera putih. Dan kukira Untung tak akan menyerangmu kalau membawa bendera suci itu.” Jawab Edeler Moor.

“Nah, Kuffler, jalankanlah pekerjaan ini sebaik mungkin. Sebab kalau kau berhasil, maka kenaikan pangkat akan datang padamu!” Seru Kapten Tack.

Sementara mereka sedang bercakap-cakap tiba-tiba terdengarlah suara gaduh dari luar. “Tolong..... tolong..... tolong Pemberontak

menyerang...”. Teriak para penjaga itu sambil mempertahankan bentengnya dari serangan lawan.

Memang serangan yang mendadak serupa ini telah seringkali terjadi dibenteng itu. Sekarang benteng Kumpeni di Batavia mendapat serangan dari pejuang-pejuang rakyat. Sebetulnya siapakah yang menyerang benteng Kumpeni di Batavia itu. ?

Untung. Memanglah yang mengadakan serangan mendadak ini adalah anak buah Untung dengan dipimpin oleh Pendekar Budiman dan para ksatria lainya.

Sedang Untung sendiri sedang mengatur siasat dengan gurunya dan Pendeta Kertopengalasan. Adapun tujaan dari penyerangan ini ialah akan membebaskan Pendekar Linglung dari tangan Klabang Songo dan Baurekso.

Wesssttt.... cringgg.... tar.... trang.... Suara senjata beradu dan letusan senjata api Kumpeni saling susul menyusul. Sorak-sorai dan jerit perajurit terdengar memekakkan telinga. Sebentar saja perajurit Kumpeni yang bersenjata api itu dapat dikocar-kacirkan oleh para pejuang.

Mereka tak memberi kesempatan sedikitpun kepada perajurit- perajurit Kumpeni untuk mengisi senjatanya yang pelurunya telah mereka sebarkan dengan seenaknya tadi.

“Hayo kawan-kawan terus kita obrak-abrik sarang penjajah ini!” Seru Wirayuda dengan penuh semangat.

“Mari.... mari    kita ganyang dan lenyapkan semua penjajah dari muka

bumi ibu pertiwi ini!” Seru mereka dengan semangat yang menyala-nyala. Wesssttt.... tar.... tar.... tar.... tar..... tar.... yang paling marah menghadapi

Kumpeni ini ialah Retnosari, cambuknya yang bercabang lima bergerak dengan cepat bagaikan utusan Hyang Jamadipati saja tandangnya. Setiap ayunan cambuknya tentu terdengar jeritan dari lima orang serdadu Belanda.

242 Amukan Retnosari itu ditiru oleh Wardani. Amukan Wardani ini dihadapi oleh Undung Kalayaksa yang kebetulan berada didekatnya. Karena pejuang-pejuang itu menggunakan taktik perpencaran, maka pertempuran menjadi berkelompok-kelompok.

Yang mengherankan bagi para pejuang-pejuang itu ialah mengapa Klabang Songo dan kawan-kawannya tak kelihatan dalam kancah pertempuran itu. Tapi Wardani tak dapat memikirkan hal ini dalam-dalam, sebab ia harus menghadapi serangan Undung Kalayaksa yang datangnya bertubi-tubi.

Undung Kalayaksa yang pernah tergila-gila oleh kecantikan Wardani maka bukan main senangnya ketika sekarang menjumpai wanita itu kembali ditengah-tengah medan pertempuran. Segera ia berniat akan menawan wanita itu hidup-hidup. Karena niatnya inilah maka Wardani terbebas dari serangan-serangan Undung Kalayaksa yang mematikan. Tiba-tiba ia melihat kalau Undung Kalayaksa yang menubruk maju dengan tangan yang direntangkan.

Wardani maklum akan kesaktian lawan, biarpun serangan ini kelihatan seperti anak muda yang sedang bermain-main dengan kekasihnya, tapi sehetulnya hebatnya bukan main. Ketika ia mengelak sambil meloncat kekiri, maka debu yang dibelakangnya terkena sambaran angin cengkeramannya itu menjadi beterbangan diudara.

“Bagus...... bagus    ” seru Wardani memuji kepandaian lawannya. Tapi

segera iapun membalas serangan Undung Kalayaksa dengan tak kalah hebatnya. Undung Kalayaksa adalah murid dari Jayasengara dan menjadi kakak seperguruan dari Pendekar Linglung yang terkenal itu. Dikalangan Kumpeni, perantau, orang-orang dunia persilatan dan para perampok, Undung Kalayaksa termasuk seorang tokoh yang jarang tandingannya. Orang-orang takut dan segan kepadanya. Selain ilmu silatnya yang tinggi juga kelakuannya sukar dimengerti.

Sebaliknya wanita yang menjadi lawannya ini juga bukan wanita biasa. Ia adalah murid dari Woro Sumekar, seorang Pendekar Puteri. Wardani telah berhasil menamatkan pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Dari itu saja dapat kita kira-kira sendiri kepandainnya. Dulu waktu ia dikalahkan oleh Undung Kalayaksa dihutan Burangrang itu ia belum berhasil meyakinkan seluruh ilmunya. Dan kini ia akan mencoba ilmu yang ia terima dari gurunya ini. Maka dari itu ia Undung Kalayaksa dengan perasaan penuh ketenangan. Dengan demikian pertempuran yang terjadi di benteng Batavia itu berjalan dengan sengit.

Wardani ingin dengan segera membayar kekalahannya dulu itu. Sedang Undung Kalayaksa ingin menangkap musuhnya hidup-hidup. Keduanya saling serang menyerang dan elak-mengelak. Kadang-kadang mereka saling tangkis-menangkis hingga keduanya tersurut mundur. Mereka kadang-kadang meloncat dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang telah mencapai tingkat tinggi. Hingga seakan-akan mereka itu bagaikan sepasang burung garuda yang sedang bertempur diangkasa raya. 243 Sewaktu mereka sedang bertempur dengan dahsyatnya tiba-tiba terdengarlah seorang yang memisahnya :

“Berhenti.... berhenti....” seru orang itu sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Dan apakah akibatnya? Kedua orang yang sedang bertempur itu seperti terdorong mundur oleh suatu tenaga raksasa yang tak tampak. Tapi betapa terkejutnya hati Undung Kalayaksa ketika melihat siapa yang memisahnya.

“Topeng Merah!” Desis Undung Kalayaka.

“Betul, Undung Kalayaksa! Aku Topeng Merah!” Jawab orang yang datang itu. Memang orang yang datang itu adalah Topeng Merah yang sakti dan misterius.

“Apa maksudmu dengan perbuatanmu itu?” Tanya Undung Kalayaksa kepada orang aneh itu. “Berhenti.... berhenti ” seru orang itu sambil mengibas-

ngibaskan tangannya.......

“Undung Kalayaksa lekas kau enyah dari hadapanku sebelum aku menjadi marah, dan sekali lagi kau harus segera sadar dari kesesatanmu itu.” Seru Topeng Merah sambil memandang Undung Kalayaksa dengan mata yang berapi-api. Tapi sesaat kemudian terdengarlah suara Topeng Merah yang lemah-lembut : “Siapakah yang menjadi pemimpinmu dalam penyerangan ini, anak?” Tanya kepada Wardani.

“Paman Joko Seno.” Jawab Wardani singkat.

“Bagus kalau demikian marilah kita cepat-cepat menemui pemimpinmu itu!” Seru Topeng Merah sambil menarik tangan Wardani.

“He... hendak apa kau menemui paman Joko Seno?” Tanya Wardani sambil menarik tangannya dari pegangan orang misterius itu. Tapi apa yang dapat diperbuat? Bukan Wardani yang dapat menarik malah sebaliknya yang terjadi.

“He... anak muda, bukankah tujuan kalian kemari ini untuk membebaskan Pendekar Linglung?” Nah, mari lekas kita beritahukan kalau pendekar itu tak berada disini!”

“Dimanakah Pendekar Linglung itu sekarang?” Tanya Wardani dengan tak sabar.

“Maka dari itu marilah kita cepat-cepat menemuinya.” Seru Topeng Merah sambil membawa lari Wardani. Kemudian lari menuju kerombongan pertempuran yang lain. Setelah mereka sampai dirombongan sebelah timur, maka berserulah Wardani : “Itulah paman Joko Seno yang sedang bertempur dengan Sindung Laut.”

“Bagus!” Seru Topeng Merah sambil melompat ketengah-tengah pertempuran. “Berhenti!” Serunya sambil melentangkan tangannya diantara kedua orang yang sedang bertempur itu.

“Siapa kau?” Tanya Joko Seno dengan terkejut.

“Mari angger Joko Seno, kita tinggalkan dulu Sindung Laut dan kita bebaskan dulu Pendekar Linglung dari tangan Baurekso dan Klabang Songo.” Seru Topeng Merah dengan tak mengacuhkan pertanyaan Joko Seno.

“Mari paman, dia ini adalah Si Topeng Merah.” Ajak Wardani. “Topeng Merah?” Seru Joko Seno dan Sindung Laut dengan terkejut.

Setelah mendengar kalau yang datang ini adalah Topeng Merah, maka larilah Joko Seno mengejar orang yang misterius itu. Bersama dengan itu terdengarlah suara Wirayuda : “Kawan-kawan marilah kita mundur dan

kita ikuti larinya Pendekar Budiman!!!” Maka larilah mereka mengejar Topeng Merah dan Pendekar Budiman.

Dan ternyata Topeng Merah dan Pendekar Budiman lari menuju kesebuah hutan yang berdekatan dengan hutan Paranggelung. Setelah mereka sampai ditempat itu barulah Topeng Merah membuka suaranya :

“Mari-mari angger kita masuk saja kedalam pondok yang telah kusediakan ini.” Serunya sambil memasuki pondok yang kelihatan sederhana ini. Setelah semuanya masuk dan beberapa yang menanti diluar maka mulailah mereka berkenalan dengan Topeng Merah. Tapi semuanya tetap saja tak tahu siapa sebenarnya Topeng Merah itu.

“Ki Topeng Merah apakah maksudmu membawa kami kemari?” Tanya Joko Seno dan Pendeta Kalinggapati bersama.

245 “Tenanglah angger berdua.” Seru Topeng Merah sambil menarik napas. Setelah menenangkan hatinya segera berkata lagi :

“Angger bukankah angger ini sedang mencari Pendekar Linglung?” Tanya Topeng Merah.

“Betul!” Jawab Pendeta Kalinggapati.

“Ketahuilah angger kalau Pendekar Linglung itu tak berada didalam benteng. Sebab Pendekar Linglung ditawan oleh Baurekso dan Klabang Songo disuatu pondok didesa Pakuwon.” Jawab Topeng Merah.

“Kalau begitu marilah kita pergi kesana!” Jawab Pendeta Kalinggapati. “Sabar.... sabar.... sekarang mereka sedang menuju kehutan

Burangrang untuk melindungi Sultan Haji, jadi kalau kita kesana sekararg maka perjalanan kita akan sia-sia saja. Jadi baiknya kita tunggu disini saja. Dan besok pagi kita berangkat kehutan Burangrang untuk membebaskan Pendekar Linglung.” Seru Topeng Merah.

“Ah... kalau begitu baiklah!” Jawab Joko Seno.

“Dan siapakah sebetulnya andika ini?” Tiba-tiba Retnosari bertanya. “Biarlah sementara ini kau ketahui saja kalau aku ini Topeng Merah!

Besok setelah kalian berhasil membebaskan Pendekar Linglung tentu kalian akan tahu siapa sebenarnya aku ini.” Sejenak Topeng Merah diam. Tapi lalu ia segera menyambung perkataannya lagi :

“Angger Joko Seno bukankah pedangmu itu adalah pedang pusaka Besi Merah? Dari mana kau dapat pedang itu?” Tanya Topeng Merah. Pura-pura tak tahu.

“Dari guruku, Ki Topeng Merah!” Joko Seno singkat.

“Apakah kau murid Baskara?” Tanya Topeng Merah kembali. “Aku tak mengerti maksud andika!” Seru Joko Seno.

“Kakang Baskara adalah Pacar Biru!” Seru Topeng Merah sambil tersenyum.

“Betul! Apakah kau kenal dengan guruku?” Tanya Joko Seno dengan wajah berseri-seri.

“Kenal... aku sangat kenal dengan Pacar Biru itu. Bahkan aku tahu pula peristiwa perebutan pedang itu, angger Joko Seno. Tapi dulu yang dipakai rebutan adalah dua pedangnya. Ialah pedang Besi Merah dan pedang Nogo Biru.” Jawab Topeng Merah.

Betapa terkejutnya hati Joko Seno ketika mendengarkan penuturan Topeng Merah ini. Segera ia berkata :

“Apakah andika mau menceritakan asal-usul kedua pedang itu? Dan bagaimana pula perjuangan guruku untuk mencari pedang ini?”

“Baiklah angger, aku akan menceritakan itu semua. Untuk menanti keesokan harinya sebelum kita menolong Pendekar Linglung.” Seru Topeng Merah.

“Benar kau ceritakanlah asal-usul pedang-pedang itu. Kami akan mendengarkan ceritamu sambil menunggu waktu.” Seru Pendeta Kalinggapati dan yang lain-lain dengan serempak.

246 “Setuju... setuju... lekas ceritakanlah, kami akan mendengarnya dari luar!” Seru mereka yang berada diluar.

“Baiklah saudara-saudaraku yang baik!” Jawab Topeng Merah. Mendengar kalau Topeng Merah akan menceritakan asal mula pedang-

pedang pusaka yang dipakai oleh Joko Seno maka mereka itupun segera duduk mengepung Topeng Merah. Seakan-akan mereka itu takut kalau kurang jelas pendengarannya.

Topeng Merahpun segera menarik napas panjang dan setelah keadaan tenang mulailah ia bercerita :

“Dahulu sewaktu tokoh-tokoh persilatan sedang mencari kitab peninggalan pendekar sakti Bayu Sakti orang terus mencari sepasang pedang-pedang pusaka itu. Sebab dikedua pedang itulah terdapat petunjuk-petunjuk tentang dimana beradanya kitab peninggalan pendekar Bayu Sakti itu. Entah telah berapa banyak yang melayang dan berapa banyak darah mengucur karena hanya memperebutkan pedang Nogo Biru dan Pedang Besi Merah itu. Pedang Nogo Biru akhirnya dapat diketemukan oleh Ambarsari seorang pendekar wanita yang berbudi luhur dan selalu siap sedia memberantas kejahatan serta menegakkan keadilan dan membela kebenaran.

Sedang pedang Besi Merah terus terjatuh ketangan Iblis Merah. Hingga tokoh dari goloagan hitam itu seperti harimau yang tiba-tiba muncul sayapnya saja. Kejahatan terus merajalela. Bahkan seluruh kaum dunia persilatan merasa takut dan gentar kepada Iblis Merah. Tapi kejahatan selalu akan mendapat balasan dan tak akan kekal. Begitupun dengan Iblis Merah. Pedang Besi Merah itu akhirnya terjatuh ketangan Pacar Biru. Dan Pacar Biru lalu mulai menggunakan pedang Besi Merah itu untuk menegakkan keadilan dan membela si lemah dari tindasan si kuat. Hingga boleh dikatakan kalau pedang Besi Merah yang tadinya dipakai oleh seorang jahat akhirnya berbalik malah memerangi tokoh-tokoh yang berdiri dialiran hitam.

Setelah mengalami perebutan-perebutan yang seru dan pengorbanan segala apa yang dipunyai maka akhirnya kitab peninggalan pendekar sakti Bayu Sakti itupun dapat diketemukan oleh Dendopati dan Pacar Biru. Pada waktu itu akupun berusaha mencari dimana adanya pedang Nogo Biru. Dan pedang Besi Merah serta kitab peninggalan yang menjadi rebutan itu. Namun memang bintangku belum baik, sampai beberapa tahun aku tetap tak dapat menemukan kedua benda-benda yang sedang menjadi impian para jago-jago silat.” {Untuk lebih jelasnya bacalah Sepasang Pedang Mustika}

Joko Seno dan kawan-kawannya merasa terpaku dan asyik sekali mendengarkan cerita Topeng Merah yang menarik itu. Hingga mereka itu tak menyadari kalau sang fajar telah menyingsing. Ayam jantanpun telah berkokok dengan riuhnya.

Mendengar kokok ayam jantan ini maka berkatalah Topeng Merah :

247 “Akh. hari telah pagi, baiknya kuakhiri sekian dahulu ceritaku angger.

Besok pada lain kesempatan aku akan meneruskan cerita ini.”

Mendengar perkataan Topeng Merah tokoh yang misterius itu kecewalah hati para pendengarnya. Mereka menarik napas panjang dan mulai membicarakan cerita yang menarik itu. Tapi tak demikian dengan Joko Seno si Pendekar Budiman. Ia segera mendekati Topeng Merah dan terus bertanya dengan penuh selidik :

“Topeng Merah siapakah sebetulnya kau ini?? Mengapa kau selalu menyelubungi mukamu dengan kain merah itu??”

“Angger Joko Seno, belum waktunya kau mengetahui siapa aku ini. Besok akhirnya kau akan mengetahui siapa aku. Biarlah untuk sementara waktu kau tetap tak mengetahui siapa aku. Nah sekarang pikirlah bagaimana dapatnya kita membebaskan si Pendekar Linglung.” Jawab Topeng Merah dengan tenang.

“Tapi ketahuilah hai Topeng Merah, kalau aku telah berjanji kepada diriku sendiri harus dapat mengungkap siapa adanya Topeng Merah dan Pendekar Linglung yang misterius itu.” Seru Joko Seno.

Mendengar perkataan Joko Seno ini maka tersenyumlah Topeng Merah. Tak antara lama terdengarlah jawabannya :

“Sudah kukatakan angger, besok kau akan mengetahui siapakah kami sebetulnya ini.”

Sewaktu Joko Seno akan membantah lagi, tiba-tiba terdengarlah suara pendeta Kalinggapati :

“Adi Joko Seno bagaimanakah rencana kita untuk penyerangan nanti?” Mendengar perkataan Gagak Rimang ini mau tak mau Joko Seno haruslah menjawabnya. Sebab ialah yang bertanggung jawab dalam penyerangan nanti. Setelah berpikir  sejenak maka menjawablah si

Pendekar Budiman :

“Kakang, soal ini marilah kita bicarakan bersama-sama, dan aku akan menyuruh seorang punggawa untuk memanggil kakek Sancaka dan kakang Pandan Kuning. Bukankah dengan demikian kita dapat bicara langsung dengan si Untung?? Dan biarlah aku membatalkan maksudku tadi itu, ki Topeng Merah. Sebab besokpun masih banyak waktu.”

Setelah berkata demikian maka mereka itupun lalu kembali berkerumun untuk membicarakan bagaimana caranya untuk membebaskan Pendekar Linglung dari cengkeraman musuh.

Memang kalian harus memanggil Untung dan kakak seperguruan angger Kalinggapati, sebab pembebasan Pendekar Linglung ini benar- benar memerlukan pemikiran yang masak.” Seru Topeng Merah.

Setelah mendapat persetujuan dari rekan-rekannya maka Joko Seno segera menyuruh salah seorang punggawa untuk menjemput Pendeta Kertopengalasan dan Untung.

Setelah punggawa itu berangkat maka kembalilah Joko Seno duduk diantara mereka yang sedang berunding.

“Bagaimana adi?” Tanya Barata kepada Pendekar Budiman. 248 “Orangnya telah berangkat, semoga saja mereka cepat sampai kemari.” Jawab Pendekar Budiman dengan tersenyum.

Sewaktu mereka itu sedang bercakap-cakap dengan asyiknya maka terdengatlah perkataan Retnosari :

“Kakang, makan pagi telah disiapkan!”

“Bagus, marilah kita mengisi perut kita dahulu!” Ajak Joko Seno kepada kawan-kawannya. Dan mendengar perkataan Pendekar Budiman tadi merekapun menyerbu kebelakang untuk mengisi perut.

Setelah selesai makan, kembalilah mereka itu bercakap-cakap.

“Ki Topeng Merah, bagaimanakah kisanak dapat mengerti keadaan lawan dengan begitu jelas? Hingga dapat tahu pula kalau Pendekar Linglung tertawan?” Tanya Malangyuda kepada tokoh misterius itu.

Sesaat Topeng Merah menarik napas, dan setelah memperbaiki duduknya barulah ia menjawab :

“Aku selalu membayangi gerakan mereka, akan tetapi sayang sekali bahwa aku tak mempunyai kesempatan untuk bertindak.”

“Ki Topeng Merah, kira-kira siapakah orang yang sakti dipihak musuh?” Tanya Barata kepada Topeng Merah.

“Orang-orang yang perlu mendapat perhatian ialah Klabang Songo dan Baurekso tokoh dari gunung Merapi. Lainnya kukira dapat diatasi dengan hati-hati, namun jangan terlalu gegabah serta memandang rendah.”

“Bagus, kalau demikian! Ketahuilah Ki Topeng Merah kalau Baurekso sekarang telah menjadi orang cacad. Tangan kirinya telah terpotong.” Seru Retnosari dengan bangga.

“Biarpun cacad namun tetap merupakan seorang momok yang tak dapat diabaikan, nini.” Jawab Topeng Merah menekankan mereka.

Mendengar perkatann Topeng Merah ini semuanya, mengangguk- anggukkan kepalanya tanda dapat menerima perkataan orang itu.

“Biarpun begitu pemimpin-pemimpin mereka itu banyak yang sakti- sakti, dan aku mendengar kalau Ki Nalongsosuro pun datang membantu penjajah.” Sela Pendeta Kalinggapati.

“Memang akupun mendengar kabar itu!” Jawab Topeng Merah sambil mengerutkan keningnya.

“Bagaimanakah kesaktian Ki Nalongsosuro itu?” Tanya Joko Seno dengan memandang Ki Topeng Merah.

“Kepandaiannya telah mencapai tingkat tinggi, akan tetapi kalau ada Pendekar Linglung disini maka kepandaiannya akan tak banyak artinya bagi kita semua.”

“Begitukah?”

“Demikianlah keyakinanku!” Jawabnya dengan tegas.

“Apakah kepandaian Pendekar Linglung itu terlalu tinggi? Dan tinggi manakah kepandaian Pendekar Linglung dengm kepandaian kisanak sendiri?” Tanya Wirayuda kepada tokoh misterius itu.

Mendengar pertanyaan Wirayuda ini tersenyumlah Ki Topeng Merah.

Tapi tak lama kemudian terdengarlah jawabannya : 249 “Ketahuilah angger, kalau kepandaian itu tak ada yang tinggi dan tak ada yang rendah. Semuanya tergantung dari pada pemasakan dalam ilmu itu. Biarpun seseorang mempelajari ilmu yang hebat tapi kalau hanya dipelajari dengan setengah-setengah maka kepandaian itupun tak akan banyak artinya. Dan sebaliknya, biarpun orang mempelajari ilmu yang sederhana dan mungkin dikatakan kurang hebat namun kalau dipelajari dengan sungguh-sungguh dan tahu akan intisarinya maka kepandaiannyapun tak akan dapat dibuat main-main. Dan lagi perlu kau ketahui bahwa mengalahkan musuh itu tak terlalu sukar. Tapi yang paling sukar dan paling penting adalah mengalahkan diri sendiri serta nafsu yang mengeram didalam diri kita.”

Mendengar jawaban orang misterius itu mau tak mau mereka itu membenarkan juga. Bahkan tampaklah kalau Barata terus-menerus mengangguk-anggukkan kepalanya seperti ayam makan padi.

“Benar...... benar...... semua perkataanmu itu benar semua, ki sanak. Orang akan disebut gagah kalau telah dapat mengalahkan nafsunya sendiri, sedang kalau hanya mengalahkan orang lain itu tak seberapa hebat.” Seru Pendeta Kalinggapati.

“Huahaaa... huahaaa... huahaaa... benar-benar tak sia-sia kau menjadi pendeta, angger, sebab kau telah dapat mengambil intisari dari hukum kehidupan ini. Semoga saja Tuhan tetap melindungimu dan menuntunmu berjalan dijalan yang benar. Sebab orang-orang seperti kau yang sedang dibutuhkan oleb masyarakat dijaman ini.” Sambung Topeng Merah disela- sela suara tawanya.

Sewaktu mereka itu sedang asyik bercakap-cakap tiba-tiba terdergarlah suara derap kaki kuda. Dan tak lama kemudian tampaklah Pendeta Kertopengalasan, Untung dan Sancaka telah datang ditempat itu.

“Mari... mari... masuk,” seru Topeng Merah kepada mereka itu.

“Terima kasih...” Jawab Sancaka dengan ramah dan terus masuk kedalam dan ikut duduk dimana mereka itu sedang bercakap-cakap.

Setelah semuanya duduk dan minum-minum maka kembalilah mereka itu merundingkan tentang bagaimana cara yang baik untuk membebaskan Pendekar Linglung.

“Adi Joko Seno, benarkah kau memanggilku?” tanya Pendeta Kertopengalasan sambil meneguk air kendi yang dingin.

“Benar, kakang.”

“Heiii... kau memanggil kami ada keperluan pentingkah?” Seru Kyai Embun sambil melirik-lirik kearah Topeng Merah.

Melihat ini tahulah Joko Seno kalau kakek ini belum berkenalan dan belum mengetahui siapn adanya orang yang bertopeng merah itu. Karena itulah maka ia lalu berdiri dan berkata kepada mereka :

“Kakek kenalkanlah dengan teman baru kita ini.”

Mendengar perkataan Pendekar Budiman tadi maka Topeng Merah mengulurkan tangannya, dan uluran tangan ini disambut oleh Pendeta Kertopengalasan yang terus mendahului tangan Sancaka : 250 “Aku Pendeta Kertopengalasan dari gua Melati.”

“Orang menyebutku sebagai Topeng Merah!” Jawab tokoh misterius itu dengan ketawa.

Mendengar disebutnya Topeng Merah ini terkejutlah Sancaka, Pendeta Kertopengalasan dan Untung. Memang mereka itu telah berkali-kali mendengar nama besarnya tapi baru kali ini mereka berkesempatan berkenalan. Karena itulah cepat-cepat Sancaka mengeluarkan tangannya dan kembalilah tangan Topeng Merah itu berjabatan.

“Aku Kyai Embun, atau Sancaka.”

“Topeng Merah.” Jawabnya sambil tersenyum, akan tetapi senyuman tidaklah terlihat karena berada dibalik kedok merah.

Aneh! Setelah mereka berjabatan tapi tangan mereka itu tak lekas- lekas dilepaskan bahkan mata dengan mata terus bertemu dan tangan yang berjabatan makin lanna makin kencang. Urat-urat ditangan Sancaka segera kelihatan dan keringat dingin terus mengalir dari tengkuknya.

Ternyata kedua tokoh itu sedang mengadu tenaga dan masing-masing ingin mencoba tenaga dalam kawan barunya. Memang Sancaka sebagai seorang tokoh yang terkemuka maka tak mau melepaskan kesempatan baik itu untuk menjajaki kepandaian kawan barunya itu.

Akan tetapi setelah kehendak itu terlaksana ia menjadi terkejut sekali setelah mengetahui kalau remasan tangan Topeng Merah itu makin lama makin kencang. Bahkan sekeras jepitan baja. Dengan ini tahulah kalau kepandaian kawannya ini bukannya kosong saja, bahkan lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri. Dan sebagai seorang ksatria ia cepat-cepat mengaku kalah dan berseru :

“Sungguh bahagia aku bertemu dengan Topeng Merah yang sakti ini.” Dan bersama dengan ini Sancaka lalu mengendorkan tangannya.

Rupa-rupanya Topeng Merah tahu kalau Sancaka mengendotkan tenaganya dan berniat melepaskan tangan mereka. Karena itulah ia lalu menjawab sambil merendahkan diri :

“Makin tua kepandaianmu makin maju, angger!”

Mendengar kalau dirinya dipanggil angger maka Sancaka lalu memandang Topeng Merah dengan seksama, dan tanpa sesadarnya iapun lalu menirukan perkataan tokoh misterius itu : “Angger??”

“Ya, memang aku senang memanggil semua orang dengan sebutan angger.” Jawab Topeng Merah meyakinkan panggilannya tadi.

Setelah mereka itu saling berkenalan satu dengan lainnya maka pembicaraan tadipun segera dilanjutkan. Dan Joko Seno atau si Pendekar Budiman terus menguraikan pendapatnya untuk minta pertimbangan kawan-kawannya bagaimana baiknya dalam menolong Pendekar Linglung itu. “Ki sanak sekalian. Bagaimanakah akal kita untuk membebaskan si Pendekar Linglung?”

Mendengar pertanyaan ini terdiamlah mereka itu. Semuanya lalu mengerutkan keningnya untuk ikut berusaha memecahkan persoalkan 251 yang pelik ini. Tiba-tiba saja terdengarlah perkataan Pendeta Kertopengalasan :

“Bagaimana kalau kita gempur dan cari si Pendekar Linglung dalam tahanan.”

“Bagus, aku setuju. ” Seru Pendeta Kalinggapati yang gagah berani itu.

Dan tak lama kemudian terdengarlah suara Retnosari dan Wulandari berbareng : “Akupun setuju.”

Namun tiba-tiba saja mereka itu dikejutkan dengan perkataan si Topeng Merah tokoh sakti yang misterius itu : “Aku tak setuju.”

“Heee.   mengapa begitu??” Tanya Pendeta Kalinggapati.

“Akupun tak setuju.” Seru Sancaka dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Mendengar kalau Sancakapun tak setuju, maka bingunglah mereka. Akan tetapi pendeta Kalinggapati yang keras kepala itu terus minta keterangan mengapa mereka itu tak setuju : “Mengapa tak setuju? Apakah sebabnya?”

Mendengar perkataan pendeta yang berangasan ini maka Topeng Merah lalu menarik napas panjang. Tapi tak antara lama terdengarlah perkataannya :

“Memang bagi kalian anak-anak muda akan menganggap bahwa penyerangan itu amat baik. Tapi apakah kalian telah memikirkan akibatnya?” Jawab Topeng Merah balas bertanya.

“Tentu saja sudah. Tekad kami kalau tak hasil lebih baik mati.” Jawab mereka dengan serempak.

“Bagus, suatu tekad yang baik tapi tanpa perhitungan.” Jawab Sancaka dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Benar perkataanmu itu, angger Sancaka, mereka itu masih dipengaruhi oleh darah muda. Hingga kurang perhitungan, dan mereka itu bersedia mati, namun kuanjurkan jangan mau kalau mati konyol.” Seru Topeng Merah sambil memandang kearah mereka itu dengan berganti- ganti.

“Apakah maksud perkataanmu itu, Ki Topeng Merah??” Tanya Barata dengan tatapan yang tajam.

“Maksudku ialah mencegah kalian bunuh diri” Jawabnya dengan singkat.

“Siapa yang akan bunuh diri??” Bentak Retnosari dengan keras. “Siapa?? Kalian!” Jawab Topeng Merah sambil menunjukkan jari

telunjuknya kepada mereka semua.

Melihat tingkah laku Topeng Merah itu meraka menjadi marah. Dan tanpa sesadarnya lalu berdiri dan meraba gagang senjatanya. Bahkan Retnosari telah mencabut cambuknya dan mengayunkan keatas udara.....

Taaarrr..... taaarrr..... taaarrr..... taaarrr..... cambuk bercabang lima itu terus menyala diudara.

Namun melihat kejadian ini Topeng Merah tetap diam dan sedikitpun tak menunjukkan bahwa ia menjadi gentar. Lain dengan Sancaka yang 252 telah maklum akan kepandaian Topeng Merah itu, melihat suasana menjadi tegang segera ia berkata dengan lantang :

“Diam... dan tenang! Memang perkataan Topeng Merah tadi benar semua. Dengarlah aku akan mengatakan alasannya.”

Mendengar perkataan Sancaka ini mau tak mau mereka itupun lalu menjadi diam dan duduk lagi. Setelah keadaan kembali menjadi tenang, barulah Sancaka itu memberi keterangan :

“Yang dimaksudkan dengan bunuh diri itu ialah kenekatan kalian yang tanpa perhitungan itu, angger. Andaikata angger melabrak ke benteng Batavia, maka artinya sama saja dengan masuk kedalam mulut macan. Orang dapat dilawan. Akan tetapi senjata api, meriam. Yah, senjata-senjata modern akan melumat tubuh kalian. Selain itu pertahanan mereka menjadi semakin kuat setelah penyerangan kalian semalam. Jadi baiknya kita memakai siasat memancing macan keluar gua.”

Mendengar perkataan Sancaka ini, terdiamlah mereka. Memang kalau dirasa-rasakan maka perkataan pengemis sakti ini benar semua. Apa daya menghadapi senjata-senjata mesin itu? Tubuh boleh kebal, kepandaian boleh tinggi tapi sekali kena tembus timah hangat yang keluar dari pucuk senjata mereka, nyawa pasti melayang.

“Maaf.... maaf Ki Topeng Merah atas kesembronoan kami tadi.” Seru Barata yang terus menyadari akan kesalahannya.

Perkataan Barata ini lalu disusul dengan seruan-seruan yang lainnya : “Benar Ki Topeng Merah, kami minta maaf.”

Melihat ketulusan hati mereka itu, maka terharulah Ki Topeng Merah, dan seakan-akan ia berjanji kepada dirinya sendiri kalau akan terus memimpin ksatria-ksatria ini dengan segenap jiwa raganya. Dan setelah ia berhasil menenangkan deburan hatinya, maka menjawablah ia :

“Tak mengapa.... tak mengapa angger, memang akupun tak dapat menyalahkan kalian. Sebab kalian ini rata-rata masih dapat dikatakan muda. Dan darah muda selalu menggelora dihati pemuda. Nah marilah kita teruskan perundingan kita.”

“Lalu bagaimana baiknya kalau menurut pendapat ki sanak?” Tanya Joko Seno.

“Kalau menurut pendapatku, baiknya kita serang diwaktu mereka lengah. Jadi jangan malam nanti. Dan lagi menurut berita yang kudengar Pendekar Linglung sekarang belum berada di benteng. Dan kira-kira tiga hari lagi baru Pendekar Linglung itu sampai ke benteng Batavia. Jadi baiknya penyerangan kita lakukan setelah tiga hari lagi. Tapi hendaknya kalian ketahui kalau setelah Pendekar Linglung berada di benteng maka pertahanan benteng itupun akan menjadi bertambah ketat.”

“Biarpun bagaimana ketatnya kita akan mencoba membebaskannya, ki sanak.” Jawab mereka.

“Bagus, akupun akan membantu usaha kalian sedapat-dapatku.” Jawab Topeng Merah dengan tenang.

253 “Sebelumnya kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih.” Kembali mereka itu menjawab.

Sewaktu mereka itu bercakap-cakap maka berkatalah Pangeran Purboyo yang sejak tadi hanya berdiam diri saja :

“Ki sanak sekalian, aku mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas pertolongan yang ki sanak sekalian telah berikan kepada kami. Dan sekarang aku mau minta diri untuk bersembunyi sambil mengadakan gerakan-gerakan sendiri digua dekat Banten.

Mendengar   maksud   Pangeran   Purboyo   ini   terkejutlah   mereka.

Terlebih-lebih Wardani. Karena itulah maka Untung segera bertanya : “Apakah tak lebih baik pangeran bekerja sama saja dengan kami??” “Banyak terima kasih, Ki Untung, selalu merepotkanmu saja. Dan

kukira perjuanganku adalah membebaskan Banten dan mencari ayahku. Dan kalau aku berhasil dengan gerakanku maka aku tak akan melupakan kalian dan berusaha membebaskan si Pendekar Linglung.”

“Apakah keputusan pangeran itu telah dipertimbangkan dengan masak-masak? Dan apakah para pengikut pangeran telah setuju semua??” Tanya Sancaka kepada pangeran itu.

“Kiranya demikianlah paman!” Jawabnya dengan tegas.

“Kalau itu yang menjadi kehendak pangeran maka kami tak dapat mencegahnya. Bilakah pangeran akan berangkat??” Tanya Untung.

“Besok pagi.”

“Mengapa tergesa-gesa??” Kembali Untung bertanya.

“Yah, aku telah tak sabar lagi untuk bertemu dengan ayahku. Dan paman Malangyuda kukira akan sanggup membimbingku untuk mencari ayahanda baginda. Bukankah demikian paman??”

“Benar.... benar.... hamba akan selalu setia mengawal paduka gusti.” Jawab Malangyuda dengan mantap.

“Bagus.... bagus.... memang perjuangan haruslah didasari dengan kemantapan. Kalau angger Pangeran Purboyo telah mantap untuk berjuang sendiri maka itu adalah baik sekali.” Seru Topeng Merah sambil mangangguk-anggukan kepalanya.

“Demikianlah kehendakku, selain aku berjuang sendiri akupun ingin bekerja sama dengan perjuangan Ki Untung yang kukagumi ini. Bukankah Ki Untung dan kawan-kawan tak keberatan??” Seru Pangeran Purboyo kepada mereka.

“Kami tak keberatan bahkan merasa senang sekali mempunyai kawan seperjuangan.” Jawab Untung dengan tenang.

“Akhirnya.... marilah kita melepaskan lelah dahulu, aku penat!” Ajak Sancaka kepada mereka.

“Benar paman!” Jawab Barata yang terus berdiri maka mereka lalu melepaskan lelah.

*

*   * 254 Setelah malam mendatang maka mereka itupun lalu membicarakan hal-hal pembebasan Pendekar Linglung tadi. Tapi Ariyani dan Wardani tak ikut dalam pembicaraan mereka itu. Sebab kedua gadis muda ini tak bagitu tertarik oleh siasat pertarungan itu. Karena itulah tampak Ariyani dan Wardani duduk dimuka perkemahan dan memandang bulan yang hanya kelihatan separo.

Wardani dan Ariyani memang telah menjadi baik kembali setelah Ariyani dinasehati oleh ibunya. Bahkan gadis ini diam-diam merasa girang sekali setelah mengetahui kalau ia akan dijodohkan dengan putra Joko Seno. Sebab ia yakin kalau putra dari Pendekar Budiman itupun tentu seorang yang sakti dan tampan. Mengapa tidak demikian?? Ayah ibunya adalah orang-orang dunia persilatan bahkan menjagoi dunia, hingga putranya tentu mempunyai kepandaian yang tinggi. Sedang Joko Seno adalah seorang pemuda yang ganteng. Retnosari wanita .yang cantik maka keturunannyapun tentu cakap. Demikianlah jalan pikiran Ariyani.

Pada malam itu kedua gadis itu sedang asyik memandang kearah bulan. Kaki-kaki mereka itu terus mempermainkan tanah yang berada dibawahnya, dan satu sama lainnya belum tampak membuka suara. Agaknya keduanya sedang mengagumi keindahan bulan itu.

Namun tak lama kemudian terdengarlah perkataan Ariyani memecah kesunyian :

“Adi Wardani, apakah kaupun akan ikut pangeran Purboyo untuk berjuang sendiri??”

“Tidak ayu! Aku akan ikut paman Joko Seno untuk membebaskan Pendekar Linglung dari cengkeraman pejajah.” Jawabnya dengan tegas.

“Akh.... aku sangat senang kalau kau berada disini adi, sebab dengan demikian aku tak menjadi kesepian dan lagi kita akan mengganyang musuh bersama-sama. Bukankah pertarungan kemarin itu sangat mengasyikkan? Sungguh hebat kepandaianmu itu adi.”

“Kau terlalu memujiku ayu, kau sendiri berkepandaian hebat sekali. Dan akupun sangat beruntung dapat bersahabat denganmu.” Jawab Wardani dengan jujur.

Melihat pandangnn mata Wardani yang memancarkan kejujuran itu maka tersenyumlah Ariyani. Kini ia benar-benar rela menyerahkan Pendekar Linglung kepada kawannya ini.

“Memang kau lebih pantas menjadi isteri Pendekar Linglung, Wardani.” Katanya didalam hati.

Kedua gadis itu kembali membisu. Angin terus berembus sepoi-sepoi basa hingga menambah kesegaran mereka itu. Bulanpun makin lama makin merayap keatas.

“Alangkah indahnya malam ini. Sungguh besar sekali kekuasaan Tuhan dan alangkah bahagianya orang-orang yang hidup dibumi yang indah ini.” Seru Wardani dengan pelan.

255 “Memang adi, malam begitu baik dan syandu. Lihatlah itu pokok-pokok pohon terus melambai-lambai kena tiupan sang bayu. Seakan-akan pohon itu adalah bidadari yang menari-nari, dialam indah ini.” Jawab Ariyani sambil menunjukkan jari telunjuknya kearah pohon-pohon itu.

“Apa lagi kalau keadaan aman dan damai, keindahan ini akanlah lebih indah lagi ayu. Bukankah Tuhan menciptakan dunia ini dengan harapan penuh kedamaian? Dan kita manusia hidup saling cinta-mencintai?” Seru Wardani menjawab pertanyaan rekannya itu.

“Benar adi, akupun sangat mengutuk perang itu. Perang akanlah menyebabkan keadaan menjadi keruh. Lihatlah didalam perang akan selalu terdengar suara jerit tangis dari kedua belah pihak. Seorang isteri menangisi kematian suaminya, ibu menangisi kematian anaknya, dan anak menangisi kematian ayahnya. Atau kekasih menangisi kekasihnya yang meninggal akibat keganasan perang. Bukankah demikian adi?”

“Benar ayu!” Jawab Wardani dengan berat. Betapa tidak? Sebab begitu mendengar perkataan Ariyani itu Wardani teringat kepada Pendekar Linglung. Pada hal sekarang Pendekar Linglung sedaag ditawan musuh, hingga mati hidupnya belumlah tentu. Karena pikirannya inilah maka tanpa sesadarnya matanya yang tajam itu mengeluarkan air..... dan terus meleleh keluar. Merasa kalau matanya menjadi panas dan basah cepatlah Wardani menghapus dengan tangannya. Tapi kejadian itu dapat terlihat oleh Ariyani.

“Heee adi, mengapa kau menangis??”

Mendengar pertanyaan Ariyani ini Wardani hanya menggelengkan kepalanya saja. Dan kepalanya terus ditundukkan kebawah supaya tangisnya ini tak diketahui oleh puteri Barata itu. Namun Ariyani tak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Wardani tadi, ia terus bertanya lagi : “Adi mengapakah kau menangis? Apakah perkataanku tadi itu menyinggung perasaanku??”

“Tidak..... Tidak..... ayu, perkataanmu tadi tak menyinggung perasaanku. Tapi aku terus teringat kepada Pendekar Linglung yang sedang ditahan musuh. Akh..... mati hidupnya tak tentu, ayu. Kalau aku teringat padanya maka aku menjadi sedih.” Jawab Wardani yang terus tak dapat menahan deraian air matanya.

Melihat kalau kawannya ini menangis maka Ariyani lalu membiarkannya menangis sepuas-puasnya. Sebab dengan jalan inilah Wardani akan dapat melampiaskan kesedihannya. Setelah sejenak maka mulailah anak Barata itu menghiburnya :

“Sudahlah adi, tak pantas kau seorang yang memiliki jiwa patriot mengeluarkan air mata. Pendekar Linglung tentu selamat, bukankah ia mempunyai kepandaian tinggi? Tenangkanlah hatimu, adi.”

“Tapi..... tapi     ayu, biarpun kepandaiannya tinggi namun orang-orang

yang    menawannya    itupun    mempunyai    kepandaian    tinggi.    Akh.....

bagaimanakah nasibnya itu.” Keluh Wardani dengan susah.

256 “Adi, pandanglah bulan itu, lihatlah baik-baik seakan-akan ia mengejekmu. Seorang wanita gagah perkasa mengeluarkan air mata. Hapuslah air matamu itu adi, dan kukira kesedihanmu itu tak perlu kau lampiaskan sekarang, nantilah lampiaskan dalam peperangan saja.” Hibur Ariyani dengan halus.

Memang aneh wanita itu! Mungkin wanitalah orang atau mahluk paling aneh didunia ini. Beberapa hari yang lalu Ariyani membenci bahkan tak sudi bicara dengan Wardani yang merebut Pendekar Linglung dari dalam hatinya, tapi hari ini? Ariyanilah yang menghibur Wardani diwaktu sedih. Memanglah wanita selalu diselubungi oleh keanehan.

Karena hiburan yang diberikan oleh Ariyani ini maka lambat laun dapatlah Wardani menekan kesedihannya, bahkan ia dapat melupakan sama sekali. kembalilah wanita memperlihatkan keanehannya. Begitu ia dapat menghilangkan perasaan sedihnya, maka Wardani telah dapat bersendau-gurau dan tertawa dengan riangnya. Hingga Ariyani merasa suka sekali melihat perubahan ini.

“Adi, kau akan sangat berbahagia menjadi isteri seorang gagah perkasa dan selalu menentang penjajah itu.” Goda Ariyani dengan tersenyum.

“Akhh..... ayu, kau ini ada-ada saja. Kudengar kau akan dijodohkan dengan putera paman Joko Seno, bukankah putera paman Pendekar Budiman itu gagah dan lebih sakti dari Pendekar Linglung?? Bahagialah kau ayu, sebab aku akan bahagia kalau melihatmu bahagia.” Jawab Wardani yang terus membalas godaan itu dengan godaan pula.

“Idiiiihhhhh!”.

“Aduuuuhhhh!!!” Teriak Wardani. “Sakit??”

“Akh, kau ayu sukanya mencubit, besok saja kalau bertemu dengan putera paman Joko Seno kau boleh mencubitnya dengan sepuas-puasnya.”

“Coba bilang sekali lagi! Bilang kalau ingin kucubit lagi.” Seru Ariyani dengan muka yang terus menjadi merah.

“Heeeee..... cubitlah ayu, tapi kau harus sadar bahwa, aku bukan kekasihmu. Bukan putera paman Joko Seno.” Jawab Wardani yang terus menggeserkan duduknya menjauh dari Ariyani.

“Kau nakal, adi! Awas besok kalau aku bertemu dengan Pendekar Linglung maka aku akan membalas hinaan ini.” Ancam Ariyani.

“Boleh...... boleh ayu! Heehh...... jawab yang benar, bukankah kau merasa bahagia kalau kugoda? Bukanlah begitu ayu??” Seru Wardani dengan tersenyum-senyum.

“Akkkhhh!” Hanya keluhan inilah yang dapat keluar dari dalam mulut Ariyani. Mendengar pertanyaan Wardani tadi ia tak dapat menjawab. Memang sebenarnya hatinya merasa senang dan bahagia kalau Wardani selalu menggodanya.

Melihat kalau Ariyani hanya berdiam diri saja maka Wardani lalu mendesaknya, bahkan ia kelihatan gembira. Dan mulailah ia manggodanya kembali : 257 “Hayo lekas jawab ayu! Bukankah demikian??”

“Apanya yang demikian?” Jawab Ariyani dengan balas bertanya. “Akkhh, masa malu-malu kucing. Bukankah kau senang kalau kau

kugoda dengan putera paman Joko Seno bukan? Nah, jawablah ayu Ariyani yang manissss!!”

“Huuusssttt adi jangan keras-keras!!” Seru Ariyani dengan malu. “Lekas jawab! Atau aku berteriak-teriak?” Desak Wardani dengan

tersenyum manis.

“Yah, perasaanku sama dengan perasaaamu kalau aku menggodamu. Nah, bagaimanakah perasaanmu aku menggodamu? Nah adi lekas kau jawab pertanyaanku!!”

Mengetahui kalau pertanyaannya dibalik, maka kelabakanlah Wardani. Ia tak pernah menyangkanya kalau pertanyaan itu akan membalik kepada dirinya sendiri. Dengan tanpa diketahui terus mukanya menjadi panas dan warna merah mulai tampak dari mukanya.

“Heeeeee.... mengapa mukamu menjadi merah adi? Akh... dari pada kau merahasiakannya, maka lebih baik kau katakan saja padaku. Aku tanggung bahwa rahasia itu tak akan didengar orang lain.” Teriak Ariyani dengan tersenyum-senyum. Ia merasa senang sekali dapat membalas godaan Wardani tadi. Dan inllah kesempatannya untuk membalas hinaan tadi.

Namun sampai lama Wardani hanya berdiam diri saja. Tapi kalau diperhatikan dengan sungguh-sungguh maka tampaklah kalau gadis itu sedang tersenyum. Yah, suatu senyuman yang manis sekali.

“Huh, mengapa diam? Dan tersenyum-senyum saja? Lekas jawablah adikku yang manis dan gagah perkasa!”

“Ayu, kalau kau telah berkata bahwa hatimu sama dengan hatiku kalau sedang kau goda, mengapa bertanya? Bukankah dengan demikian kau telah mengetahui jawabannya?” Jawab Wardani dengan tersenyum.

“Sungguh pandai kau menyusun kata-kata adi! Benar-benar kau mempunyai otak yang cemerlang.” Seru Ariyani dengan tertawa.

“Kalau tak kau paksa menjawab mana aku mempunyai jalan pikiran yang demikian itu, ayu ? Kaulah yang berjasa kalau aku mempunyai otak yang cemerlang seperti yang ku katakan tadi.”

“Mendengar ini maka keduanya lalu tertawa dengan riangnya. Mendengar suara tawa riang kedua orang gadis itu para penjaga perkemahan itu hanya memandang dari kejauhan dengan penuh perasaan tanda tanya saja.

“Adi, dahulu aku pernah bertemu dengan Pendekar Linglung, dan ia memanggilku dengan sebutan adi Gila. Namun aku tak pernah mengetahui siapakah nama sebenarnya dari kekasihmu itu?” Tanya Ariyani kepada kawannya itu.

“Kalau kau percaya padaku ayu, akupun tak mengetahui namanya. Sebab ia hanya mengatakan bahwa namanya adalah Pendekar Linglung. Nama aslinya aku tak tahu.”

258 “Benarkah demikian, adi? Masakan dengan nama kekasihnya kau tak mengetahui. Atau kau tak mau mengatakan kepadaku?” Tanya Ariyani dengan kurang percaya.

“Ayu, aku berkata benar, kau percaya sukur tak percaya aku tak apa- apa. Memang aneh sekali watak Pendekar Linglung itu, semua gerakannya tak mau diketahui orang lain. Mungkin ia sama anehnya dengan Ki Topeng Merah itu.” Jawabnya dengan penuh kejujuran.

“Akh.... benar-benar aneh kalau demikian, lalu bagaimanakah kalian dapatnya berkenalan??” Kembali anak gadis Barata itu bertanya.

“Begini ayu, dahulu sewaktu aku pulang dari rumah guruku aku bertemu dengan Undung Kalayaksa dan karena ia akan memperkosaku maka terjadilah pertarungan. Tapi malang, aku kalah dengannya. Untung saja datang paman Wisakala panglima Banten. Dan aku disuruh pergi dan paman Wisakala akan melawannya. Tapi aku merasa curiga sekali dengan gerak-gerik Wisakala hingga aku tak jadi pergi dan terus mengintip dari semak belukar. Dan kecurigaanku itu benar. Ternyata Wisakala telah berbalik menjadi antek Belanda dan lalu bersama Undung Kalayaksa pergi ke Batavia. Melihat pengkhianatan itu hatiku menjadi panas, segera aku melabraknya. Dan tentu saja aku kalah, dan pada waktu mereka itu akan membunuhku tiba-tiba datanglah Pendekar Linglung yang menolongku. Setelah ia mengalahkan kedua lawannya maka ia lalu mengantarkan aku kembali ke Banten. Nah, demikianlah perkenalanku dengannya.” Jawab Wardani sambil menceritakan pengalamannya sewaktu berkenalan dengan Pendekar Linglung.

“Beruntunglah kau mendapatkan hatinya, Wardani. Memang kau sangat cantik dan cocok sekali menjadi isterinya.” Pikir Ariyani dengan sedih. Memang bagaimanapun in tak pernah dapat melupakan cinta pertamanya. Tapi karena Wardanipun bersikap baik kepadanya akhirnya ia mengalah dan berjanji kepada dirinya sendiri kalau akan menjadi penghubung antara Wardani dan Pendekar Linglung.

“Ayu, apakah kau telah benar-benar cinta kepada putera paman Joko Seno itu? Dan alangkah cocoknya pasanganmu itu. Sebab ayah dan ibumu itu sahabat baik dari ayah ibunya.” Seru Wardani.

“Cinta dapatlah dipelajari adi, memang aku harus menurut apa yang dikatakan oleh kedua orang tuaku. Sebab aku yakin kalau orang tua tak akan memperosokkan anaknya kedalam kesusahan. Dan sebelumnya ayah dan ibu tentunya telah melihat-lihat calonku itu. Tapi yang kutakuti kalau anak paman Joko Seno itu tak mau denganku.” Jawabnya dengan nada sedih.

“Heeee. mengapa begitu??” Tanya Wardani dengan heran.

“Kau lebih beruntung dariku adi, kalau kau hanya tak mengenal nama asli dari Pendekar Linglung. Tapi kau telah mengetahui orangnya dan pula tahu kalau ia memang mencintaimu. Tapi aku... aku ???”

“Kau kena apakah ayu??” Potong Wardani dengan tak sabar. “Aku belum pernah melihat orangnya! Entah gagah entah buruk aku belum tahu. Dan namanya kalau tak salah Ugrasena.” Jawabnya pelan.

“Huuuiiiihhh namanya saja hebat ayu! Ugrasena! Kalau namanya hebat maka aku dapat memastikan bahwa orangnyapun hebat dan cakap, ayu. Hehhh kau tak usah khawatir tentang rupa. Dia cakap dan ganteng...” Jawab Wardani dengan sungguh-sungguh.

“Huhhh.... kau tahu apa?? Bertemu saja belum pernah mengapa kau dapat mengatakan cakap?? Memang yang kupintapun ia seorang yang cakap.” Bantah Ariyani dengan cemberut.

“Eeeehhhh tak percaya! Apakah kau belum mendengar bahwa Wardani adalah ahli nujum yang terkenal?? Lihat tanganmu.” Seru Wardani sambil menarik tangan Ariyani dan terus melihat telapak tangan itu seperti seorang ahli nujum.

“Huussttt jangan main-main, adi!” Seru Ariyani sambil menarik tangannya. Mau tak mau iapun menjadi tersenyum juga melihat kelucuan kawannya ini.

Kalau wanita mengobrol dengan wanita maka mereka akan lupa waktu. Jauh malam telah larut namun mereka itu tak merasakan. Setelah udara menjadi dingin dan air embun mulai turun dengan derasnya barulah mereka sadar bahwa fajar hampir menyingsing.

“Ayu, tak terasa pagi hampir menyingsing. Lihatlah air embun mulai turun dengan deras.” Seru Wardani.

“Benar adi, marilah kita masuk kedalam tenda. Tak baik malam-malam duduk diluar tanpa atap sesuatupun.” Jawab Ariyani.

Setelah berkata demikian maka masuklah mereka itu kedalam tenda. Dan didalam mereka itu mendapatkan ibu Ariyani sedang bercakap-cakap dengan Retnosari dan Raden Ayu Gusik. Namun kedua orang gadis yang telah mengantuk itu terus menjatuhkan diri dan sebentar kemudian mereka tertidur.

*

* *

Keesokan harinya berangkatlah Pangeran Purboyo dengan para pengikutnya. Pendekar-pendekar yang berada situ itu terus mengantarkan kepergian pangeran dari Banten itu sampai ketapal batas.

“Selamat berjuang, pangeran!” Seru Untung sambil melambaikan tangannya kearah rombongan itu.

“Selamat berjuang, dan semoga Belanda dapat segera enyah dari muka bumi ibu pertiwi ini.” Jawab Pangeran Purboyo sambil melambaikan tangannya membalas lambaian Untung.

“Adi, berhati-hatilah kau berjuang dimedan laga, dan sering-seringlah kau menengokku.” Seru Raden Ayu Gusik kepada Wardani.

260 “Aku akan selalu menjaga diriku dengan baik-baik, ayu! Selama Wardani masih bernapas tak nanti aku melupakanmu, sebab hanya kaulah saudaraku yang paling kucintai.” Jawab Wardani.

“Sudah, aku pergi dahulu!”

“Selamat jalan, ayu!” Setelah berkata demikian maka kedua orang wanita kakak beradik itupun lalu saling berpelukan. Begitu tangan mereka saling peluk-memeluk maka keluarlah air mata mereka dari dalam matanya.

“Semoga kau bahagia dan lekas bertemu dengan Pendekar Linglung, adi.” Bisik Raden Ayu Gusik.

“Doamu saja yang selalu kupinta, ayu!” Desis Wardani menjawab perkataan kakak perempuannya itu.

Dilain saat tampaklah Ki Malangyuda sedang berjabat tangan dengan Wirayuda. Memang perpisahan ini sangatlah memberatkan hati mereka. Bagaimana tidak, seorang ayah yang baru saja berkumpul dengan puteranya sekarang telah harus berpisah lagi. Namun keduanya mempunyai kesetiaan yang besar kepada junjungannya hingga biar bagaimanapun beratnya perpisahan itu tetap dilakukan juga.

“Aku pergi, anakku!” Serru Malangyuda dengan gagah.

“Selamat jalan ayahanda, dan sembah baktiku saja yang mengiringkan kepergian ayah. Dan kalau aku masih dikaruniai umur panjang kita akan dapat bertemu lagi dilain saat yang lebih baik, ayah.” Jawab Wirayuda dengan tegas.

“Bagus! Jadilah seorang ksatria yang gagah dan berbudi.” Desis Malangyuda dengan tersenyum.

“Semoga saja kehendak ayah dapat terlaksana. Selamat menunaikan tugas, ayahanda, dan semoga Tuhan selalu melindungi kita.”

“Aku pergi, anakku.” Setelah berkata demikian maka cepatlah Ki Malangyuda melompat keatas kudanya dan terus menyusul rombongan Pangeran Purboyo yang telah membelok ketikungan tadi.

Debu terus mengepul dengan tingginya dan bersama dengan hilangnya derap kaki kuda rombongan Pangeran Purboyo tadi, maka hilanglah mereka itu dari pandangan mata orang-orang yang ditinggalkan.

Pangeran Purboyo terus memacu kudanya menuju kearah kerajaan Banten. Memang pangeran itu akan membuat pertahanan dan serangan- serangan didaerah sekitar Banten.

“Gusti, kemanakah tujuan kita?” Tanya Dewa Brata kepada junjungannya.

Mendengar pertanyaan panglimanya ini terdiamlah Pangeran Purboyo, memang kepergiannya itu belumlah mempunyai tujuan kemana. Ia hanya akan menuju kedekat Banten. Namun dimana ia akan mendirikan perkemahan untuk penyerangan-penyerangannya kepada Banten belumlah diketahuinya. Karena itu ia tak dapat menjawab pertanyaan panglimanya itu.

261 “Kemanakah, gusti?” Ulang Dewa Brata sambil menatap junjungannya untuk minta ketegasan.

“Aku belum tahu, Dewa Brata. Tapi aku akan mendirikan benteng didekat Banten. Namun tempatnya aku belum tahu, karena itulah kau bantu aku mencari tempat yang baik dan tersembunyi untuk benteng kita.” Jawabnya dengan cemas.

Mendengar perkataan junjungannya ini maka Malangyuda segera mengusulkan pendapatnya :

“Jadi gusti pangeran belum punya tujuan?” “Ya, begitulah!”

“Kalau demikian apakah gusti setuju kalau kita membuat perkemahan disekitar sungai Cikalong??” {Cikalong kalau sekarang daerah Cianjur}.

“Apakah tempatnya baik dan terlindung paman? Tanya Pangeran Purboyo dengan penuh gairah.

“Soal baik atau buruknya baiklah kita lihat dahulu, pangeran! Asal pangeran suka kita dapat membuat pertahanan disana, tapi kalau Pangeran Purboyo tak menyukainya kita akan mencari tempat lain. Bagaimana kalau kita lihat dahulu?” Seru Malangyuda dengan balas bertanya.

“Apakah tempatnya tak begitu jauh dari sini paman?”

“Kalau tempatnya sih memang jauh, akan tetapi daerah itu dekat dengan kerajaan Banten yang diduduki oleh kakanda paduka.”

“Bagus, kalau demikian marilah kita menuju kesana dan kita lihat dahulu tempatnya.” Ajak Pangeran Purboyo dengan girang.

“Nah, kalau demikian kita harus membalik dan nanti pada perempatan yang kita lewati tadi membelok kekiri.” Seru Malangyuda yang terus membalikkan kudanya untuk menuju ke Cikalong.

Pangeran Purboyo dan para pengikutnyapun lalu membalap kudanya dibelakang Ki Malangyuda. Kini gantilah Malangyuda yang terus menjadi penunjuk jalannya.

Berhari-hari mereka itu mengadakan perjalanan, dan setiap kemalaman mereka selalu mendirikan kemah ditengah-tengah hutan supaya tak menarik perhatian rakyat dan Kumpeni.

Raden Ayu Gusik sungguhlah seorang puteri yang dapat dibanggakan, biarpun rintangan terus-menerus menghadang didepan mata, namun sekecappun ia tak pernah mengeluh. Bahkan beliau dapat menghibur para anak buahnya yang telah mulai kesal dengan perjalanan yang jauh itu.

“Perajurit Mataram tak pernah mengeluh dalam melakukan perjalanan jauh. Apa lagi perjalanan untuk mengiringkan junjungannya. Lihatlah aku salah seorang puteri Mataram, apakah kalian pernah melihat aku mengeluh?” Serunya didepan para perajurit yang telah kelihatan putus asa itu. “Ki sanak sekalian, janganlah kalah dengan para perajurit Mataram, marilah kita lanjutkan perjalannn kita dengan semangat.” Dengan tiada hentinya Raden Ayu Gusik terus membakar semangat mereka itu dengan tak mengenal lelah. Dan setiap kali mereka melepaskan lelah isteri 262 Pangeran Purboyo yang gagah perkasa itu selalu mendekati anak buah suaminya dan memberikan semangat-semangat yang menyala-nyala.

Setelah mereka itu melakukan perjalanan selama kurang lebih delapan atau sembilan hari maka sampailah ketempat yang mereka tuju. Dan ternyata daerah yang dikatakan oleh Malangyuda itu adalah daerah pegunungan.

Daerah itu masihlah merupakan daerah padas-padas. Namun disela- sela tebing yang runcing dan curam itu terdapat sebuah lobang gua yang cukup besar. Dan gua ini sangatlah terlindung oleh padas-padas yang terjal menutupi mulut lobang gua itu. Apa lagi kalau didaerah itu ditumbuhi ara- ara dan ilalang.

Sesampainya disitu mereka menghentikan kudanya dan Pangeran Purboyo disertai Malangyuda dan Dewa Brata terus melihat-lihat keadaan dalam gua. Dalam gua yang besar itu sangatlah kotor karena di dalamnya bersarang burung layang-layang.

“Paman Malangyuda, tempat ini sangatlah baik untuk kita pakai sebagai pertahanan, sebab selain terlindung tebing-tebing yang terjal itu tempat ini tersembunyi diluar desa. Lihatlah sekitar kita hanyalah padang ilalang belaka.”

“Memang demikian gusti, orang tak akan pernah menyangka kalau didalam gua yang seram ini tinggal seorang pangeran. Dan kita disisi akan dapat bergerak dengan bebas. Begitu kita mendengar kalau pertahanan Banten lemah kita segera dapat menyerang.” Seru Malangyuda dengan gembira.

“Benar, benar..... menurut pendapatkupun tempat ini sangat baik dan strategis sekali untuk pertahanan kita orang buronan. Apa lagi nanti setelah tempat ini kita bangun dan dilindungi oleh tanaman-tanaman yang kita pindahkan kemari.” Seru Dewa Brata dengan tersenyum.

Mendengar perkataan kedua orang panglimanya ini maka mau tak mau Pangeran Purboyo itu harus mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang didalam hatinyapun ia merasa senang melihat daerah ini. Semuanya serba kecukupan. Mau cari air? Didekatnya ada sungai. Makanan? Disebelah kiri dan kanannya, banyak pasar karena desa-desa kecil itu mempunyai pasar-pasar sendiri. Dan yang lebih penting lagi ialah tempat ini tertutup rapat dan jarang orang mengetahui kalau daerah ini ada guanya.

“Lekas suruh perajurit-perajurit itu menghalau burung layang-layang itu dan membersihkan tempat ini.” Perintah Pangeran Purboyo kepada Dewa Brata.

“Sendiko dawuh, gusti!” Setelah berkata demikian maka cepatlah Dewa Brata mengerahkan anak buahnya untuk menghalau burung layang-layang itu sambil membersihkan ruangan gua tadi. Karena para perajurit-perajurit itu bekerja dengan sungguh-sungguh, maka sebentar saja tempat itu telah berubah menjadi suatu ruangan yang bersih dan menarik sekali.

263 Malangyuda yang telah tua itu tak mau hanya berpeluk tangan saja. Segera in pergi kekali dan mengangkat sebuah batu besar terus dibawa masuk dalam gua, dan batu ini dipergunakan untuk meja kursi Pangeran Purboyo.

Anak buah Pangeran Purboyo itupun lalu mulai menganyam rumput yang banyak tumbuh itu untuk dijadikan tikar sebagai tempat duduk dan tidur mereka.

Melihat ini senanglah hati Pangeran Purboyo. Segera ia membagi- bagikan tugas kepada para orang-orang kepercayaannya.

“Paman Malangyuda, paman kumintai untuk menjaga keamanan daerah sini. Pokoknya keamanan daerah sini kuserahkan kepada paman. Dan pamanlah yang bertanggung jawab atas baik buruknya keadaan.”

“Hamba akan menjalankan perintah gusti pangeran dengan baik, dan sedapat-dapatnya hamba akan memikul kepercayaan paduka dengan taruhan jiwa dan raga yang telah tua ini.” Jawab orang tua itu dengan gagah.

“Bagus.... bagus.... memang demikianlah sikap seorang panglima yang gagah perkasa. Sungguh bahagia aku mempunyai seorang pembantu yang sebaik paman Malangyuda ini.” Seru Pangeran Purboyo dengan bangga.

“Paman Malangyuda memang tua-tua keladi.” Seru Raden Ayu Gusik dengan tersenyum.

“Eeeehhh.... tua-tua keladi bagaimanakah gusti ayu?? Aku belum tahu akan maksud gusti ayu itu.” Tanya Malangyuda dengan heran.

“Kau ingin tahu dengan yang kumaksudkan tua-tua keladi itu paman?” Kembali Raden Ayu Gusik tersenyum, dan setiap tersenyum maka tampaklah lesung pipit yang berada dipipinya itu. Hingga dengan demikian menambah manisnya Sang Dyah Ayu Gusik.

“Benar...... benar...... gusti ayu! Janganlah paduka membuat hati hamba menjadi bingung untuk menebak-nebak maksudnya.” Seru orang tua itu dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ketahuilah paman, kalau yang kumaksud dengan tua-tua keladi ialah semakin tua kau menjadi semakin sakti.” Jawab Raden Ayu Gusik sambil tertawa.

Mendengar kelakar Raden Ayu Gusik ini maka semua yang berada disitu lalu tertawa dengan riangnya. Akan tetapi Malangyuda terus tersipu- sipu karena malu.

“Sakti apanya? Orang tua yang tulangnya telah keropos mana dapat dikatakan sakti.” Seru Malangyuda dengan merendah.

“Biarpun kau telah tua dan mungkin tulang-tulangmu telah mulai keropos tapi melihat semangatmu yang menyala-nyala itu aku yakin bahwa paman Malangyuda tentu mempunyai suatu aji andalan hingga berani menerima tugas berat dan tetap gagah perkasa.” Seru Pangeran Purboyo dengan tersenyum.

“Huahaaa..... Huahahaaa..... Huahaaa.    segala macam aji jaya kawijayan

hanya akan menambah beratnya raga ini. Bagaimana kalau jiwaku telah 264 ingin istirahat?? Ketahuilah hai orang-orang muda, tak ada pikiran lain kecuali ingin mati saja bagi orang tua seperti aku ini. Tapi aku ingin mati didalam tugas bukannya mati konyol diatas tempat tidur.” Seru Malangyuda dengan lantang.

Mendengar perkataan Malangyuda yang telah tua ini maka tergugahlah semangat mereka yang masih muda-muda itu. Kalau Malangyuda yang telah tua itu saja berani berkorban jiwa demi kejayaan junjungannya mengapa mereka tidak??

“Bagus... bagus... paman Malangyuda berkata benar! Akupun ingin mengikuti jejaknya. Paling tak suka aku mati diatas tempat tidur. Lebih baik hancur didalam palagan. Bukankah dengan demikian berarti darah dan daging kita akan merjadi pupuk yang baik sekali bagi nusa dan bangsa yang sedang bergolak menentang penjajah ini?” Teriak Dewa Brata dengan karas. Hingga suara itu terus-menerus menggema diruangan gua itu.  

“Tapi aku ingin mati didalam tugas bukannya mati konyol diatas tempat tidur.” Seru Malangyuda dengan lantang...........

“Aku merasa senang dan bangga mempunjai pembantu-pembantu yang tak kenal menyerah kepada penjajah. Bangsa dan negara tak akan melupakan jasa-jasa kalian ini. Yah, semangatmu akan terus hidup 265 sepanjang masa, wahai Malangyuda dan Dewa Brata. Aku Pangeran Purboyo akan menjadi saksi.” Seru Pangeran Purboyo dengan terharu.

Demikianpun dengan Raden Ayu Gusik. Wanita gagah perkasa inipun menjadi terharu ketika mendengar prasetia dari panglima-panglima ini. Ia dilahirkan dengan selamat dibawah ancaman api peperangan, dan lagi para leluhurnya adalah orang-orang yang selalu mengangkat senjata untuk melawan para penjajah hingga jiwa patriotnya terus menurun kedalam badannya. Begitu ia mendengar prasetia-praseti dari panglima-panglima itu tak terasa air matanya terus turun dengan derasnya.

Melihat kalau Gusti Ayu Gusik menangis maka heranlah mereka itu, terutama sekali Pangeran Purboyo. Ia benar-benar tak mengerti mengapa isterinya menangis. Padahal dalam menghadapi segala macam rintangan yang berat dan berbahaya Raden Ayu Gusik selalu tabah dan tak pernah mengeluarkan air mata. Tapi sekarang, aneh! Dengan tanpa sebab wanita gagah itu mengucurkan air matanya.

“Yayi... mengapkah kau menangis?” Tanya Pangeran Purboyo dengan memegang pundak isterinya.

Akan tetapi Raden Ayu Gusik itu seperti tak mendengar pertanyaan suaminya itu, bahkan tangisnya makin lama makin menjadi. Air mata yang keluar dari matanya terus-menerus tak henti-hentinya. Hingga hal ini membuat Pangeran Purboyo menjadi bingung.

“Apakah kau merasa sakit, adi?” Kembali Pangeran Purboyo bertanya. Namun Raden Ayu Gusik tetap diam, dan sebagai jawabannya ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Melihat gelengan kepala Radan Ayu Gusik ini Pangeran Purboyo benar-benar bingung. Memang selamanya ia belum pernah melihat isterinya menangis, hingga tangisannya ini benar-benar membingungkan hati sang pangeran.

Para punggawa yang menghadap itu terus berdiam diri dan sedikitpun mereka tak berani membuka mulut, seakan-akan mereka itu ikut merasa bersedih pula.

“Yayi, apakah kau telah bosan dengan kehidupan yang demikian ini??” Tanya Pangeran Purboyo dengan penuh selidik.

Mendengar perkataan BOSAN ini maka cepatlah Raden Ayu Gusik mengangkat wajahnya dan terus mengulangi perkataan suaminya :

“Bosan???”

“Mungkinkah kau bosan, yayi??”

“Ketahuilah kakangmas, selama jiwaku masih melekat didalam tubuh ini Raden Ayu Gusik tak akan bosan-bosannya mengangkat senjata untuk mengusir para penjajah dari muka bumi ini. Dan perlu kakangmas ketahui kalau tangisku tadi adalah tangis haru melihat kesetiaan paman Malangyuda dan Dewa Brata yang telah bertekat mengganyang penjajah dari muka bumi ini. Akupun demikian kakangmas.” Serunya dengan lantang.

266 Mendengar perkataan Raden Ayu Gusik itu maka mereka lalu menarik napas lega, dan kebanyakan mereka itu merasa terharu sekali mendengar perkataan gusti ayunya.

Biasanya sebagai seorang isteri pangeran tentunya akan hidup bahagia dan tenang didalam istana. Akan tetapi Raden Ayu Gusik ini tak pernah mengenyam kebahagiaan dengan suaminya ini. Mulai dari dulu ia telah diajak mengangkat senjata dan menjadi orang buronan. Betapa besarnya pengorbanan Gusti Ayu Gusik itu dalam perjuangan yang mereka tegakkan itu. Hingga diam-diam Malangyuda merasa kasihan sendiri melihat junjungannya ini.

“Pengorbanan Gusti Ayu Gusik lebih besar dari pada pengorbanan kita semuanya.” Pikir Dewa Brata didalam hatinya.

Kembali suasana menjadi tenang. Pada waktu itu bulan mati. Hingga maIam yang kelam itu benar-benar menyeramkan. Dan tebing-tebing tinggi itu benar-benar bagaikan raksasa-raksasa yang sedang menjaga negaranya. Malam benar-benar kelam. Namun tak lama kemudian ketenangan itu dirobek-robek oleh suara Dewa Brata yang memecah kesunyian.

“Bilakah kita akan menyerang Banten, Gusti Pangeran?

Mendengar pertanyaan Dewa Brata ini kembalilah Pangeran Purboyo tak dapat menjawab. Namun sesaat kemudian terdengarlah perkataannya : “Dewa Brata, seperti halnya paman Malangyuda, kaupun akan kuserahi tugas yang berat, tugas yang harus kau laksanakan ialah tugas sandi. Kau harus mengawasi keadaan Banten, dan kalau ada kesempatan baik lekas kau laporkan kepadaku, dan kita akan segera bertindak. Nah, bawalah orang-orang yang dapat dipercaya.” Seru pangeran itu sambil

memberikan sebuah tugas.

Segala titah paduka akan hamba junjung tinggi.” Jawab Dewa Brata dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, kalau demikian mulai besok kau boleh berangkat Dewa Brata. Dan kuanjurkan supaya penyamaranmu jangan sampai ketahuan orang- orang Banten. Sebab sekali kau ketahuan, maka banyak kemungkinan kedudukan kita disini akan tercium pula oleh mereka.” Nasehat Pangeran Purboyo kepada bawahannya.

“Semua nasehat paduka akan hamba ingat dengan baik-baik. Dan kiranya hamba akan membawa lima orang saja untuk membantu pekerjaan hamba sebagai perajurit sandi.”

“Terserah kepadamu Dewa Brata, ambillah secukupnya.” Seru Pangeran Purboyo dengan memanggut-manggutkan kepalanya.

“Kalau demikian ijinkanlah abdi paduka lengser dahulu untuk menyiapkan keperluan-keperluan dan membicarakan hal ini dengan pembantu-pembantu yang akan kubawa besok.”

“Mundurlah, dan doaku selalu menyertaimu, Dewa Brata.”

* 267 * * Sementara itu yang berada didalam hutan dekat Batavia. Topeng Merah dari lain-lainnya telah bersepakat untuk mengadakan penyerbuan ke benteng Batavia itu. Penyerbuan kali ini akan diadakan secara besar- besaran. Bahkan Topeng Merah sendiri akan ikut turun tangan untuk membebaskan Pendekar Linglung tokoh sakti yang misterius itu.

“Penyerangan kali ini kuminta dilakukan dengan sungguh-sungguh dan jangan sampai gagal lagi. Sebab kalau penyerangan kali ini gagal maka nasib Pendekar Linglung akan benar-benar terancam.” Seru Topeng Merah kepada mereka.

“Benar memang demikianlah. Kalau kita gagal lagi maka banyak kemungkinan bahwa nasib Pendekar Linglung akan menyedihkan.” Jawab Joko Seno sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Mendengar perkataan mereka itu berdesirlah hati Wardani, ia segera memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Agung supaya penyerangan kali ini dapat berhasil dan mengalahkan benteng Belanda. Yang terutama adalah bebasnya Pendekar Linglung si kekasihnya.

Malampun makin lama makin larut. Udara sekitar semakin dingin. Bulan mati, sedangkan bintangpun hanya menyinarkan sinarnya dengan redup saja. Angin berembus dengan kencang. Pokoknya suasana benar- benar menyeramkan sekali.

“Mari, kita berangkat sekarang!” Seru Topeng Merah kepada mereka. “Mari akupun telah siap!” Jawab mereka dengan serempak.

Setelah itu maka berangkatlah mereka itu. Semuanya berjalan kaki dan menggunakan ilmu lari cepatnya untuk menuju ke benteng Kumpeni di kota Batavia.

Gerakan mereka itu benar-benar gesit sekali, seakan-akan setan-setan yang sedang bergentayangan mencari mangsa. Setiap orang selalu menyandang senjatanya dengan erat. Bahkan ada yang memegang senjata lebih dari satu.

Anak buah Untung terus mengikuti jalannya para pemimpin mereka dengan setengah berlari. Akan tetapi biarpun sudah setengah lari, tetap saja mereka ketinggalan. Untung saja para pendekar itu memaklumi akan kekurangan anak buahnya ini hingga mereka itu memperlambat jalannya. Dari kesekian banyak orang itu hanya Wardanilah yang merasa tak sabar. Rasa-rasanya perjalanan mereka itu terlalu lama dan lambat sekali.

“Paman, mengapa kita tak memakai ilmu lari cepat saja?” Tanyanya kepada Pendeta Kalinggapati.

“Eeh.... kau ini apakah tak melihat jalannya para pasukan itu? Kalau kita mempergunakan ilmu lari cepat mereka akan ketinggalan. Memang kalau menurut pendapatku sendiri lebih baik cepat-cepat saja.” Jawabnya dengan tak mengurangi kecepatannya.

“Memang lambat sekali perjalanan mereka ini. mungkin lebih cepat semutnya dari mereka.” Gerutu Wardani dengan kesel. 268 “Huahaahaa..... huahaahaa..... huahaahaa..... memang perasaanmu kurang enak nini, sebab kau terlalu memikirkan si Pendekar Linglung. Bukankan demikian? Jangan kuatir aku akan membebaskannya, sebab iapun pernah menolongku dahulu.” Seru Pendeta Kalinggapati dengan tertawa.

Untung malam itu sangat gelap hingga mereka tak melihat wajah Wardani yang berubah menjadi merah. Andaikata ada cahaya sedikit saja maka akanlah tampak bahwa Wardani itu menjadi malu dan wajahnya bagaikan kepiting direbus.

“Nini Wardani tenangkanlah hatimu, sebentar lagi kau pasti akan dapat bertemu dengan kekasihmu itu.” Seru Barata dengan tersenyum.

“Akupun menanggung kalau kau akan dapat bertemu dalam kancah pertarungan nanti nini, karena itulah kau harus bersabar dan menenangkan hatimu.” Sela Wulandari.

Karena mendapat teguran dari sekian banyak tokoh-tokoh itu maka mau tak mau Wardani harus menyabar-nyabarkan dirinya. Didalam perjalanan itu pikirannya terus-menerus diganggu oleh perasaan akan bertemu dengan Pendekar Linglung nanti. Hingga tak terasa kalau jarak mereka itu telah dekat dengan perbentengan Kumpeni di kota Batavia.

Setelah mereka dekat dengan perbentengan Belanda itu maka berhentilah Ki Topeng Merah. Melihat kalau Topeng Merah berhenti maka mereka itupun lalu menghentikan langkahnya dan terus mengerumuni tokoh sakti yang misterius itu.

“Mengapa kita berhenti disini, Topeng Merah??” Tanya Sancaka dengan heran.

“Kita harus memberi waktu untuk melepaskan lelah dahulu kepada para perajurit. Bukankah mereka itu sangat lelah? Dan lagi hari masih belum tertalu malam. Biar mereka itu melepaskan lelah selama sepenanak nasi.” Jawab Topeng Merah dengan tenang.

“Bagus, akupun setuju dengan pendapat Ki Topeng Merah.” Jawab Sancaka yang telah dapat berpikir panjang itu. Karena Sancakapun menyetujui dan mereka itu telah maklum akan kepandaian serta kecerdikan Topeng Merah maka semuanyapun lalu menyetujuinya.

“Tenangkanlah hati kalian dan kami memberi waktu untuk melepaskan lelah selama sepenanak nasi. Nah, pergunakanlah saat itu sebaik-baiknya.” Seru Untung kepada anak buahnya.

“Baik, ki lurah!” Jawab mereka dengan pelan.

Para perajurit yang tadinya telah terengah-engah karena harus mengikuti jalan mereka yang cepat itu lalu menjatuhkan diri duduk dirumput untuk menenangkan hatinya serta mengatur pernapasan mereka.

“Hemm..... kali ini ki lurah mengadakan penyerangan yang besar- besaran, dan ini berarti pertempuran akan berjalan dengan sengit dan hebat.” Seru salah seorang perajurit sambil memeluk tombaknya.

269 “Benar! Pertempuran akan berjalan dengan dahsyat dan ada kemungkinan saat ini adalah saat tarakhir kita untuk manghirup udara segar didunia ini.” Jawab yang lain sambil menimang-nimang kerisnya.

“Kalau kau ingin mati terserah! Tapi aku tidak mau mati didalam perang nanti. Andaikan terpaksa, aku harus dapat membunuh ratusan serdadu Kumpeni untuk mengiringkan kematianku.” Potong yang lainnya lagi.

“Memang kita harus berjuang dengan mati-matian untuk menggempur musuh-musuh kita. Baik Kumpeni maupun Belanda Hitam.”

“Enak saja kalian ini membicarakan mati atau hidup! Heii... Tra, kumohon kau jangan mati dahalu sebab kalau kau mati sekarang bagaimana dengan hutangmu padaku? Bukankah demikian aku rugi??”

“Huahaha.... Huahaha.... Huahaha.... Biar Sastra mati aku tak perduli. Bahkan kalau ia mati berarti aku akan dapat mewarisi isterinya yang cantik molek itu.” Seru yang lain sambil tertawa.

Mendengar olok-olokan mereka itu maka yang mendengar lalu tertawa dengan riang. Seakan-akan mereka itu lupa kalau maut telah siap sedia mencengkeramnya. Dan kuku-kuku Hyang Jamadipati telah terpancang didepan mereka.

“Hemmm. terkutuklah perang itu!” Sela yang lain.

“Eeehh.... jangan kau mengutuk perang! Ketahuilah kalau perang itupun mempunyai arti yang baik pula. Bukankah semua yang berada didunia ini mempunyai, dua arti yang saling berlawanan?”

“Huhhh.... masakan perang punya arti yang baik!” Seru si pengata tadi dengan mencibirkan bibirnya.

“Kau tak percaya??”

“Mana aku percaya kalau belum melihat buktinya. Sedang bukti perang itu selalu merugikan dan menimbulkan korban saja.” Bantahnya dengan sengit.

“Memang kau ini tolol! Kalau untukmu memang merugikan, tapi untuk bangsa kita perang ini merupakan kebaikan. Bukankah dengan perang ini kalau kita berhasil menghancurkan musuh berarti negara kita merdeka?? Dan merdeka itu disebabkan karena perang kita ini. Jadi perang disini berarti baik karena menghasilkan kemerdekaan.”

Mendengar ini terdiamlah mereka. Memang mereka itu mengakui akan kebenaran kata-kata itu. Melihat ini si pengata lalu tersenyum puas dan bangga.

Waktu berjalan dengan lambat-lambat namun tak seorangpun yang dapat mencegah jalannya waktu. Apalagi didalam keadaan seperti waktu ini. Sepenanak nasi berjalan dengan amat cepatnya, tak seperti biasa kalau orang lapar menunggu nasinya masak. Begitu waktu telah habis, maka terdengarlah perkataan Joko Seno :

“Waktu yang kami berikan telah habis. Nah, lekas-lekaslah kalian bersiap-siap untuk menerjang pertahanan musuh yang kuat itu.”

270 Mendengar perkataan Pendekar Budiman ini mereka lalu mempersiapkan diri. Bahkan semua senjata telah terhunus serta siap ditangan. Pemandangan malam itu benar-benar menyeramkan, senjata- senjata terhunus dan sinarnya berkilau-kilauan.

“Sudahkah kalian siap?” Seru Untung kepada anak buahnya. “Sudah Ki Lurah!” Jawab mereka dengan serempak. “Bagus!” Desisnya dengan pelan.

Sesaat sewaktu mereka akan berangkat tiba-tiba datanglah sesosok tubuh yang terus menuju ketempat mereka, tubuh itu tertatih-tatih bagaikan orang mabuk yang sempoyongan.

Melihat ini cepatlah Barata menerjang maju, tapi setelah dekat, betapa kagetnya hati pendekar dari Jalitunda itu, sebab ia melihat kalau yang datang itu adalah Widura. Yah, Widura seorang mata-mata mereka yang dimasukkan kedalam perajurit Kumpeni.

“He... kena apakah kau angger??” Tanya Barata dengan memegang badan Widura yang akan jatuh itu.

“Paaaa... pamannnn... aku... telah... ketahuan.... ka... kalau... aaa... aku...

ini... mata-mata... dari... Untung... dan... mereka... menembak... ku...

sewaktu... aku... melarikan... diri... dan... teroboslah... dari... sebelah... selat...” Sebelum Widura habis mengucapkan perkataannya, melayanglah jiwanya meninggalkan badannya. Widura gugur sebagai bunga bangsa.

“Tenangkanlah muridku, aku akan membalaskan sakit hatimu.” Desis Gelondong Perbawa sambil memeriksa tubuh Widura.

“Kasihan dia!” Desis Retnosari dengan geram.

“Dadanya yang tertembus peluru.” Seru Pendeta Kertopengalasan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Mari kita terjang pertahanan Belanda itu! Hayo rawe-rawe rantas malang-malang putung!!” Seru Pendekar Budiman dengan semangat.

“Benar, marilah kita gempur pertahanan mereka itu! Memang tak ada perjuangan yang tanpa pengorbanan. Widura mati sebagai bunga bangsa dan pupuk kemerdekaan Nusantara.” Seru Topeng Merah dengan pelan.

“Hayo berangkat!!” Teriak Retnosari sambil mulai berjalan. Melihat ini Untungpun segera memberi isyarat kepada anak buahnya untuk terus menggempur Benteng Kumpeni yang berada di Batavia.

Iring-iringan itu terus berjalan dengan cepat. Dan setelah dekat benar maka barisan besar ini dibagi menjadi empat bagian. Sebagian akan menyerang dari selatan dan yang selatan itu dipimpin oleh Untung dan Sancaka, sebagian lagi akan menyerang dari timur. Pasukan yang dari timur ini dipimpin laugsung oleh Retnosari dan Pendekar Budiman Sebagian lagi dari utara, barisan dari utara ini dipimpin oleh Barata, Wulandari dan kedua orang pendeta dari Gua Melati gunung Muria. Yang dari barat dipimpin oleh Topeng Merah, Gelondong Perbawa, Ariyani dan Wardani.

Barisan dari timur, barat dan utara ini terus nunggu saat yang baik setelah barisan dari selatan mulai menggempur. Dan memang Sancaka 271 akan segera memancing kerusuhan dari selatan. Dan dengan demikian maka semua perhatian akan ditumpahkan keselatan. Setelah perhatian Kumpeni dipusatkan keselatan ketiga barisan lainnya akan segera melabraknya.

Setelah mendapat serangan beberapa kali oleh para gerilyawan- gerilyawan Untung maka Kumpenipun lalu memperhebat pertahanannya. Apa lagi setelah adanya Baurekso tokoh sakti dari gunung Merapi, Klabang Songo dan kedua orang muridnya Klabang Abang dan Klabang Ungu. Setelah itu terdapat pula Ki Nalongsosuro dan muridnya panglima Wisakala dan Sindung Laut serta Undung Kalayaksa murid-murid dari Ki Jayasengara pertapa sakti yang mengasingkan diri digunang Ungaran.

Dengan adanya tokoh-tokoh ini, maka Kumpeni agak dapat bernapas sedikit, namun begitu bila malam mulai mendatang pikiran mereka itu selalu dikacaukan akan keadaan yang hendak menimpanya.

Pada waktu itu penjaga yang diserahi menjaga sebelah selatan benteng adalah Klabang Abang dan Klabang Ungu. Sedangkan Ki Klabang Songo menjaga sebelah timur, dan Baurekso menjaga sebelah barat. Sebelah utara dijaga oleh Nalongsosuro dan muridnya.

Selain tokoh-tokoh sakti itu terdapat pula seorang yang tak dapat diabaikan kepandaiannya. Bahkan pada jaman ini kepandaiannya sangat terkenal dan sepak terjangnya sangat nggegirisi. Orang yang berkepandaian tinggi serta sepak terjangnya nggegirisi itu bukan lain adalah Pendekar Linglung. Ia tetap berada disekitar Ki Baurekso yang menjadi tuannya.

Pada waktu itu malampun telah larut, bahkan lonceng penggantian jaga telah terdengar tiga kali. Para penjaga lainnya telah mulai menguap karena kantuknya. Rata-rata mereka itu telah kehilangan semangat untuk berjaga, sebab telah beberapa malam ini tak pernah ada serangan dari musuh. Hingga dengan itu agak kurang waspada.

Dibagian selatan tampaklah Klabang Abang sedang bercakap-cakap dengan Klabang Ungu.

“Akh... mengapa malam ini terlalu panjang? Ngantuk aku dibuatnya.” Seru Klabang Ungu kepada kakaknya.

“Hussttt... jangan terlalu gegabah, adi. Sewaktu-waktu musuh dapat menyerang kita. Dan kalau kita kurang waspada maka banyak kemungkinan pertahanan ini dapat dibobolkan para pejuang rakyat.” Seru kakaknya.

“Hehhh, kalau demikian maka aku akan jalan-jalan dahulu, sebab dengan keliling maka rasa kantukku akan hilang. Apakah kau tak ikut, kakang??” Tanya Klabang Ungu kepada kakaknya.

“Kau saja yang pergi, biar aku akan tetap menantimu disini.” Jawab Klabang Abang terus duduk ditumpukan kayu.

Setelah mendapat ijin dari kakaknya maka pergilah Klabang Ungu untuk mengontrol anak buahnya dalam melakukan tugasnya. Tak jauh dari

272 tempat Klabang Abang dan Klabang Ungu duduk ini terdapatlah sebuah gardu. Dan begitu Klabang Ungu masuk maka terdengarlah bentakannya :

“Heeehhh.   bangun, babi! Enak-enak tidur saja.”

“Okkhhh..... okkhhh.... maaf-maaf..... aku benar-benar ngantuk,” jawab orang yang didalam gardu itu sambil menyambar senjatanya.

“Huuhhh. jaga yang betul! Coba aku ini musuhmu maka kau sekarang

telah menjadi sate??!!” Bentak Klabang Ungu sambil meneruskan langkahnya.

Hingga tak lama kemudian Klabang Ungupun lalu hilang dari pandangan mata. Sedangkan Klabang Abang masih enak-enak duduk ditumpukan kayu tadi. Melihat kesempatan baik ini maka Untung lalu menggamit gurunya :

“Apakah kita tak bertindak sekarang saja, bapa??”

“Bagus! Mungkin ini adalah kesempatan yang paling bagus.” Jawab Sancaka dengan mengangguk-anggukan kepalanya.

Melihat kalau gurunya telah menyetujui akan gerakannya ini maka Untung segera memberi tanda kepada anak buahnya untuk siap-siap. Dan setelah anak buah Untung itu menyiapkan senjatanya berteriaklah Untung dengan lantangnya :

“Serrbuuuuu..... Gemmmpuurrrr   ”

“Haaaaaaayooooooo!!!!!” Teriak mereka sambil menerjang kearah Klabang Abang yang sedang enak-enak duduk itu.

Betapa terkejutnya hati Klabang Abang melihat datangnya serangan yang seperti banjir besar ini. Tapi ia tak kehilangan keseimbangannya. Dengan cepat mengadakan perlawanan dengan para anak buahnya.

“Tooolooonnnggg..........     muuusuuuuuhhh     daaataaaaannnggg         ”

Teriak para serdadu Belanda itu dengan keras. Dan sebentar saja terdengarlah suara senjata beradu.

Traannggg..... traaannnggg..... traaannnggg..... Praaakkk..... kedua belah pihak telah terlibat dalam pertempuran yang hebat. Perang campuh segera terjadi dengan sengitnya.

Mendengar kalau benteng selatan kebobolan maka cepatlah tokoh- tokoh lainnya menjiapkan bala tentaranya untuk membantu benteng selatan. Akan tetapi tiba-tiba saja terdengarlah teriakan Klabang Songo yang telah tua itu :

“Awasss jangan sampai kena pancing musuh!!”

Tranngg.....   traaaannnggg.....   Praaannnggg.....   Traaakkk        pedang,

golok, parang, dan tombak terus-menerus mencari mangsa. Makin lama petarungan itu berjalan semakin seru. Setan-setan terus bergentayangan mencari mangsa dan darah hangat. Hyang Jamadipati terus-menerus mengulurkan tangannya untuk mencengkeram nyawa-nyawa manusia yang telah tak ada harganya itu.

Klabang Abang dan Klabang Ungu terus mengamuk dengan hebatnya untuk membunuhi setiap orang yang berada dihadapannya. Pedang kedua

273 orang kepala perampok itu terus-menerus berkelebat kesana kemari untuk membabati para penyerang itu.

Sancaka, Untung dan Wirayuda terus beraksi dengan senjata-senjata mereka. Perajurit-perajurit Kumpeni terus dibikin kocar-kacir dan mandi darah. Setiap kali mereka itu mengayunkan tangannya maka terdengarlah jeritan kesakitan atau jeritan maut mereka.

Sancaka adalah seorang tokoh sakti dari timur, selain itu ia mempunyai ilmu Lembu Sakilan. Hingga dengan ilmu ini ia tak kuatir dibokong lawan. Dengan gagahnya orang tua itu terus mengamuk dan membunuhi perajurit-perajurit lawan yang menghadang-hadangi jalannya. Melihat tandang orang tua yang sakti ini gentarlah para perajurit-perajurit Kumpeni itu.

“Huahahaaa..... huahahaaa..... huahahahaa.... hayo keroyoklah aku, hai anjing-anjing Belanda. Jangan kalian hanya maju sendiri hayo ajukanlah pimpinan-pimpinan ini.” Steu Sancaka dengan girang.

Namun benar-benar kuat sekali pertahanan benteng Batavia itu, seakan-akan mati satu tumbuh seribu. Hingga dengan demikian maka perjuangan rakyat itupun belumlah dapat menerobos pertahanan lawan.

Traanngg..... traanngg...... traanngg..... Perajurit-perajurit dari kedua belah pihak terus-menerus mengerahkan tenaganya untuk mempertahankan nyawanya. Perang campuh terus berjalan dengan hebat. Tapi lama kelamaan Sancaka menjadi bosan membunuhi orang-orang yang hanya menjadi alat itu, ia ingin menghadapi tokoh-tokoh dari pihak musuhnya. Karena itulah ia segera mengetrapkan ilmu meringankan tubuhnya dan terus menerjang ketengah-tengah untuk mencari pemimpin- pemimpin dari benteng Batavia itu.

Wirayuda dan Untung terus bertempur bahu-membahu, mereka itu bertempur bagaikan banteng ketaton. Gerakannya lincah dan pertahanannya teguh kuat.

“Mari kita ganyang habis-habis. Kumpeni Belanda!! Teriak Untung dengan semangat yang mennyala-nyala.

“Gemmpppuuurrr.....    terjaaannnggg.....    hantam    Kumpeni        Sikat

Belandaaaaa.   ” Teriak anak buah yang terus mengamuk dengan hebat.

Perjuangan mereka itu tanpa memikirkan mendapat balasan ataukah pujian, hingga dengan demikian setiap pejuang berani mati. Dan mereka berjuang atas dasar kesadaran serta merebut kemerdekaan bangsanya.

Setelah bala bantuan tentara Kumpeni masuk kedalam benteng sebelah selatan maka pertahanan dari utara, barat dan timur, lalu menyerang pula. Hingga dengan demikian Belanda menjadi panik bukan main.

“Ganyang Belanda... Hancurkan benteng keparat....” Teriak para penyerang itu dengan semangat yang menyala-nyala.

Taaaarrrr... Taaaarrrr... Taaaarrrr... Taaaarrrr... Aduhh.... Aduhhhh...

Mati akuuuu... Begitu melompat kedalam kancah peperangan maka Retnosari lalu menggerakkan tangannya dan terus cambuk bercabang 274 limanya mulai beraksi. Setiap kali tangan Retnosari bergerak, maka terdengarlah suara teriakan lima orang yang kesakitan dan kemudian roboh tertotok diarah bagian darahnya yang terpenting. Melihat kalau musuh-musuhnya terus-menerus roboh, maka makin giranglah hati Retnosari. Apa lagi setelah tangan kirinya ikut membantu dengan pukulan- pukulan jarak jauhnya.

Wesssttt.... Taaarrr.... Taaarrr.... Taaarrr.... Aduhhh Lima helai ujung- ujung cambuk itu terus-menerus mematuk-matuk bagaikan lidah ular yang selalu kekurangan mangsa.

Tapi dilain saat tampak pula kalau perajurit-perajurit pejuang itulah menjadi kocar-kacir karena amukan dari Nalongsosuro. Nalongsosuro terus mengamuk dengan hebat sekali. Setiap lawan yang berada dihadapannya tentu dipukul kepalanya hingga hancur. Dengan demikian maka kepalan tangan gurunya Wisakala ini penuk berlepotan darah. Kemarahan ini ia curahkan karena kemarahannya kemarin sewaktu melawan Pendekar Linglung itu.

Melihat kalau ada orang sakti yang selalu merusak pertahanan para anak buah Untung itu maka cepatlah Retnosari meloncat kedepannya, dan dengan cambuk yang terurai itu terus menatap si Nalongsosuro :

“Sungguh hebat tandangmu itu, ki sanak!” Serunya dengan tersenyum, akan tetapi tampaklah kalau senyum itu adalah senyuman yang penuh dengan ejekan.

“Bagus........ kaupun kulihat mempunyai kepandaian pula. Nah, majulah kau. Aku Nalongsosuro akan menghadapimu.” Teriak orang tua itu sambil mencabut pedangnya.

“Huahiiikkk..... hihikkk.... hihikkk.... mampuslah kau ditangan Retnosari.” Setelah berkata demikian maka keduanyapun lalu saling serang-menyerang. Taaarrr..... taaarrr..... taaarrr Cambuk bercabang lima

itu terus menerjang tubuh guru Wisakala dilima tempat yang membahayakan jiwanya.

“Aaaaah....” Teriak Nalongsosuro dengan kaget. Sedikitpun ia tak pernah menyangkanya kalau wanita ini dapat menggerakkan ujung-ujung cambuknya bagaikan menggerakkan salah satu anggauta badannya saja. Untung ia cepat memutar pedangnya untuk melindungi tubuhnya. Dan dengan pedangnya itu pula ia berhasil mementalkan kedua ujung cambuk. Dan tiga buah ujung cambuk yang lainnya dapat dielakkan dengan jalan membuang diri kesamping serta bergulingan diatas tanah untuk menjauhi lawannya yang sedang kalap itu.

Tapi begitu ia telah berada agak jauh dengan Retnosari maka cepatlah ia melanting keatas lagi dan tanpa banyak membuang waktu lalu menusukkan pedangnya kearah lambung si wanita sakti itu. Melihat sinar pedang berkelebat kearah lambungnya cepat Retnosari melompat mundur dan memutar cambuknya untuk menangkis serangan lawan. Tang dua

buah ujung cambuknya mencengkeram pedang lawan sedang yang tiga buah lagi menyerang pinggang, dada dan kemaluan lawannya. 275 Melihat tangkisan yang terus dengan serangan ini mau tak mau Nalongsosuro lalu melenting keudara sambil berusaha menarik pedangnya. Weeesstt....... begitu berada diudara, maka tangan kirinya memukul kearah dada Retnosari dengan dilandasi tenaga dalamnya, namun hal ini tidaklah membuat diri Retnosari menjadi kaget. Ia telah maklum akan serangan lawannya ini dan begitu angin pukulan tadi hanya lewat diatas kepalanya saja. Dan.... wuuuttt... debu mengepul tinggi.

Karena gerakan Retnosari menundukkan badannya itulah maka pedang Nalongrosuro yang tadinya telah terbelit oleh cambuknya menjadi lepas kembali. Dan begitu ia berhasil melepaskan pedangnya dari lilitan ujung-ujung cambuk lawannya maka guru Wisakala itu lalu melayang turun dan siap menghadapi lawannya lagi.

Untung malam itu sangat gelap, hingga tak kelihatan kalau wajah Nalongsosuro itu berubah menjadi merah padam karena marahnya. Beberapa hari yang lalu ia telah dikalahkan oleh Pendekar Linglung, dan sekarang menghadapi seorang wanita saja ia hampir kewalahan. Ia benar- benar heran dan menyangka kalau ilmunya telah susut.

Namun Retnosari tak mau berdiam diri dengan lama lagi, begitu lawannya telah siap dalam kuda-kudanya maka ia lalu memutar cambuknya lagi dan terus menerjang dengan hebatnya. Hingga kembalilah kedua orang tokoh itu terlibat dalam pertarungan yang dahsyat.

Dilain saat Pendekar Budiman sedang bertempur melawan Ki Klabang Songo yang sakti mandraguna itu. Kedua orang itu bertempur bagaikan seekor harimau yang melawan banteng saja. Gerakan orang tua dari Alas Roban itu bukan main cepatnya. Seakan-akan usia tua itu tak mempengaruhi gerakannya.

Joko Seno atau Pendekar Budiman mempertahankan diri dari serangan kakek tua itu dengan tenang sekali. Ketenangannya bagaikan ketenangan seekor banteng yang sedang menghadapi seekor harimau galak. Pedang Besi Merah yang berada ditangannya itu terus menerus menusuk-nusuk kearah tubuh lawan yang membahayakan jiwanya.

Weessttt.... dengan kecepatan yang mengagumkan sekali tangan orang tua itu terus memukul kearah dada Pendekar Budiman. Akan tetapi Pendekar Budiman bukanlah seorang jago silat murahan saja. Begitu melihat pukulan lawannya itu mengarah kedadanya maka ia lalu menundukkan sedikit tubuhnya dan terus membalas pukulan itu dengan pukulan pula. Hingga dengan demikian dua buah tenaga sakti beradu diudara : ....Daaarrr.... akibatnya kedua orang tokoh itu sama-sama terhuyung-huyung mundur. Tapi Pendekar Budiman lebih jauh tiga langkah dari pada Klabang Songo.

“Hebat kau anak muda!” Desis Klabang Songo sambil memperbaiki kedudukannya.

“Sayang ilmu yang setinggi itu kau pergunakan untuk menindas bangsa sendiri dan menjilat pantat Belanda untuk kemakmuranmu sendiri.” Ejek Joko Seno dengan sinis. 276 “Tak usah banyak mulut!” Setelah berkata demikian maka kembalilah Ki Klabang Songo menerjangnya. Pukulannya terus menerus mengarah ketubuh yang membahayakan jiwanya. Mengetahui kalau lawannya ini selalu mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya maka terpaksalah Joko Seno mengeluarkan ilmu meringankan tubuh yang dipelajari dari Pacar Biru. Hingga dengan demikian maka pertandingan itu berjalan dengan hebat sekali. Seakan-akan mereka itu hilang ditelan malam kelam.

Bayangan kedua orang itu terus-menerus kelihatan saling sambar- menyambar. Para perajurit yang mengelilingi jalannya pertarungan itu telah menjadi pening dan tak dapat membedakan mana Klabang Songo dan mana Pendekar Budiman.

Wuuusstttt..... dengan cepat dan mempergunakan tipu dari ilmu pedang Memberantas Kejahatan maka Joko Seno lalu menusukkan pedang Besi Merah itu kearah leher Klabang Songo.

“Heeehhh..... heeehhh...... heeehhh..... jangan keburu-buru untuk mendapatkan kemenangan, anak muda!” Ejek Klabang Songo sambil mengelakkan serangan itu dengan jalan menggeserkan tubuhnya kesamping kiri. Dan bersama dengan melesatnya tubuhnya kesamping kiri itu Klabang Songo menendangkan kakinya kearah lambung lawan.

“Ayaaaaa!!” Teriak Pendekar Budiman dengan membuang tubuhnya keatas dan diatas ia lalu berjumpalitan beberapa kali.

Rupa-rupanya Klabang Songo itu tak akan memberi kesempatan kepada lawannya untuk turun kembali kebumi. Begitu tubuh Pendekar Budiman masih terapung diudara ia lalu melepaskan pukulan jarak jauhnya kearah perut lawan.

Joko Seno adalah seorang tokoh sakti yang digembleng oleh Panembahan Jatikusumo, Sancaka dan yang terakhir menjadi ahli waris Pacar Biru yang sakti itu. Karena itulah maka begitu melihat serangan lawannya ia tak menjadi gugup, dengan cepat ia lalu mengerahkan ilmunya untuk melemaskan tulang dan memindahkan otot. Hingga dengan demikian tubuhnya menjadi lunak selunak kapuk dan kuat sekuat karet. Setelah ilmu itu ditrapkan ia lalu menerima pukulan Klabang Songo.

Dessttt.... pukulan Klabang Songo terus menerjang perut, dan akibatnya terpentallah tubuh Joko Seno keatas. Tubuhnya limbung bagaikan sehelai daun kering yang di tiup angin kencang.

Melihat hasil pukulannya ini tertawalah Ki Klabang Songo : “Huahahaaa.... huahahaha.... huahahaaa..... mampus kau anak setan!

Mana dapat kau menandingi krida Klabang Songo yang terkenal sakti mandraguna.”

Tapi tiba-tiba suara tawanya itu terhenti, dan matanya yang telah agak lamur itu diusap-usap dengan tangannya. Seakan-akan ia tak percaya dengan matanya itu. Ia melihat kalau tubuh Joko Seno yang terlempar keatas itu terus berjumpalitan dan kemudian mendarat ditanah kembali dengan gerakan yang sangat manis.

277 “Jangan kau girang dahulu Klabang Songo, aku masih segar bugar, dan adakah pukulan yang lebih hebat lagi??” Ejek Pendekar Budiman dengan sinis.

“Huhhhh! Kulumatkan tubuhmu, bangsat!” Setelah berkata demikian maka Klabang Songo lalu mencabut pedangnya, hingga kedua orang tokoh sakti itu terus melanjutkan pertarungannya dengan memakai senjata. Kembali tubuh mereka itu hilang, dan sebagai gantinya tampaklah dua buah sinar yang gulung-gemulung. Sinar merah itu terus-menerus mendesak sinar putih. Akan tetapi sesaat kemudian tampaklah kalau sinar putih itu semakin membesar dan ingin menelan sinar merah tadi. Sinar merah tadi itu adalah sinar dari pedang Besi Merah sedangkan sinar putih itu adalah sinar pedang Klabang Songo.

Untung bagi Pendekar Budiman, kalau saja ia memakai pedang biasa agaknya Klabang Songo akan dapat mendesaknya. Tapi sekarang ia memakai sebuah dari pedang mustika hingga dengan demikian Klabang Songo tak berani mengadu pedangnya dengan pedang yang dipakai oleh Joko Seno itu.

Pendekar Budiman terus menerus memutar pedangnya dan memainkan ilmu pedang Pembasmi Kejahatan, ilmu pedang Naga Angkasa, ilmu pedang Segoro Manangkep dengan berganti-ganti.

Biarpun ilmu pedang yang dipergunakan oleh Joko Seno itu adalah ilmu-ilmu pedang kelas tinggi tapi ia masih kalah jauh dalam pengalaman oleh Klabang Songo yang telah puluhan tahun lamanya berkecimpung dalam dunia persilatan.

Mengetahui kalau lawannya ini telah mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya, maka Klabang Songopun tak segan-segan mengeluarkan ilmu Sungsang Maruto yang baru saja diyakini itu. Dengan sangat cepat sekali ia lalu membuat gerakan melompat keudara dan kemudian turun dengan kepala dibawah.

Setelah kepalanya berada ditanah, tangannya lalu memukul-mukul dan pedangnya terus dibawah. Sedangkan kedua kakinya itupun lalu menendang-nendang dengan gerakan yang cepat sekali.

Sesaat Pendekar Budiman terpesona melihat cara Klabang Songo ini. Setiap kali ia menyerang lawan seperti menyerang kebalikannya saja. Hingga dengan demikian maka Joko Seno lalu menirukan gerakan lawannya, kepalanya berada dibawah dan tangannya menyerang lawan dengan pedang pula, sedang kakinya juga menyepak-nyepak.

Melihat kelakuan Joko Seno ini terkejutlah hati Klabang Songo. Ia merasa yakin kalau yang dapat memainkan ilmu Sungsang Maruto itu hanya dirinya sendiri. Bahkan kedua orang muridnya itupun belum pernah mempelajarinya. Tapi mengapa tiba-tiba saja ada orang yang berani menghadapinya dengan ilmu yang sama?? Apakah anak ini juga mengerti ilmu Sungsang Maruto pula? Pikir Klabang Songo dengan heran.

Sebetulnya Joko Seno melakukan demikian itu karena ia merasa kewalahan kalau harus menghadapi dengan berdiri. Kalau sama-sama 278 membalik maka setiap serangan lawannya akan dapat dilihat dengan jelas dan ia akan dapat melayaninya dengan baik pula.

Wuusssttt     tiba-tiba saja tendangan kaki kanan Klabang Songo terus

menerjang perut Joko Seno dan bersama dengan itu pedang yang berada ditangannya itu menusuk kearah lambungnya.

Sudah terang Pendekar Budiman itu tak mau menerima serangan itu dengan begitu saja. Segera ia mendesakkan tenaga dalamnya kearah kepala dan akibatnya...... Desssttt...... kepala itu terus terangkat dari tanah dan melayang keatas dan setelah berputar-putar diudara kembalilah ia meluncur ketanah dan kembali kepalanya menancap.

Melihat cara menghindar yang hebat ini mau tak mau Klabang Songo harus mengaguminya. Dan tanpa sesadarnya ia lalu memuji kecerdikan lawan :

“Bagus!”

Tapi Joko Seno tak mau membiarkan lawannya terlalu lama memandanginya. Dengan sekali gerak ia telah melancarkan ilmu pukulan jarak jauhnya kearah kepala Klabang Songo.

Namun dengan indah dan cepat sekali Klabang Songo mencelat ketempat lain dan terus menyambut pukulan tadi dengan pukulan pula. Daarrr..... kembali kedua pukulan itu bertemu. Akan tetapi kedua-duanya terus menjadi kaget, sebab setelah pukulan mereka itu bertemu dan suaranya menggeletar diudara telinga mereka itu sama-sama akan pecah karena kedahsyatan tenaga yang beradu tadi. Tapi tak lama kemudian keduanya telah terlibat dalam pertarungan yang dahsyat dan mati-matian.

Bukan hanya Pendekar Budiman dan Retnosari saja yang mengamuk dengan hebat dan nggegirisi itu. Tapi Pendeta Kertopengalasanpun tak kalah hebatnya. Pendeta ini sedang enak-enak bertempur melawan Wisakala.

Untuk menghadapi Wisakala murid Jayaningrat ini tak perlu mengeluarkan banyak tenaga dan ilmu simpanannya. Sebab kepandaiannya terang lebih tinggi dua tingkat dari pada kepandaian Wisakala. Namun kekalahan Wisakala ini ditebus oleh pengeroyokan beberapa orang serdadu, hingga dengan demikian Pendeta Kertopengalasan tak dapat dengan mudah mengalakkan panglima pengkhianat dari Banten itu.

“Hehhh.... heeehhh.... heeehhh.... kambing-kambing, apakah kalian belum kapok??” Seru Pendeta Kertopengalasan yang terus menyelentik kuping-kuping pengeroyoknya itu. Dan setiap kali ada kuping yang kena selentik maka terdengarlah jeritannya : “Aduh!!” Dan begitu mereka menjerit maka kelihatan pula kalau tangannya terus memegangi kupingnya yang telah hancur kena sentilan yang dilambari dengan tenaga dalam itu.

Memanglah Pendeta Kertopengalasan masih sadar kalau seorang pendeta yang mengambil jalan suci dan pantang untuk membunuh orang. Dan untuk menghajar mereka itu jalan satu-satunya ialah menyelentik kuping-kuping mereka. 279 “Siapa yang belum kapok??” Seru Pendeta Kertopengalasan itu sambil berkelebat-kelebat membagi-bagikan selentikannya itu kepada para serdadu Belanda itu.

Melihat ini marahlah panglima Wisakala, ia lalu berteriak dengan kerasnya :

“Heee.... mengapa kalian menyingkir? Hayo lekas kalian ringkus pendeta gila itu.”

Biarpun panglima Wisakala itu berteriak-teriak namun tetap saja para pengeroyok itu jeri untuk mendekat kepada pendeta yang sakti dan gagah perkasa itu. Hingga dengan demikian menambah marahnya panglima Wisakala.

Saking marahnya maka panglima Wisakala segera menerjang kearah Pendeta Kertopengalasan dari Gua Melati itu. Entah kapan pedang yang berada ditangannya itu dicabut, tapi tahu-tahu ia menyerang Pendeta Kertopengalasan itu dengan mempergunakan pedangnya.

Namun pendeta dari Gua Melati itu bukannya seorang sembarangan saja, begitu mendengar kalau ada angin tajam mengancam perutnya ia segera melompat kesamping dan kemudian dengan cepat menggerakkan tangannya untuk memukul pedang yang menyerang perutnya dengan pukulan jarak jauh.

Wuuuttt... begitu tangan Pendeta Kertopengalasan bergerak maka menyambarlah sebuah angin kencang, hingga dengan demikian maka pedang panglima Wisakala itu menjadi mencong arahnya. Dan tusukan yang kuat tadi hanya mengenai angin kosong saja.

“Bangsat!” Desis pengkhianat dari Banten itu dengan geram, tapi itu tak mau membuang banyak waktu lagi. Dengan cepat pedangnya terus diputar untuk menerjang musuhnya.

Mendapat terjangan yang dahsyat ini maka Pendeta Kertopengalasan lalu memainkan ilmu silat Mayangseto. Begitu ia memainkan ilmu Mayangseto maka tubuhnya terus bergerak-gerak dengan kecepatan yang mengagumkan sekali. Seakan-akan tubuh pendeta yang bertapa di Gua Melati gunung Muria itu seperti kapas saja, setiap kali pedang Wisakala menyambar maka tubuh Pendeta Kertopengalasan melayang tinggi-tinggi bagaikan kapas yang ditiup angin kencang.

“Huahahaaa..... huahahaaa..... huahahaaa..... Kerahkanlah seluruh kapandaianmu, ki sanak.” Seru Pendeta Kertopengalasan sambil meloncat- loncat bagaikan kera lincahnya. Dan setiap kali ia meloncat maka tangannya terus bergerak memukul kearah tubuh Wisakala. Dan setiap kali memukul lawan maka Wisakala menjadi repot untuk menangkisnya.

“Bangsat, tangguh amat manusia ini.” Geram Wisakala yang terus makin memperhebat serangannya. Tangan kanan yang memegang pedang itu terus-menerus menusuk-nusuk kearah badan lawan sedang tangan kirinya terus memukul-mukul lawan untuk membantu serangan tangan kanannya.

280 Tiba-tiba saja Pendeta Kertopengalasan terus berkelebat dengan cepat dan berteriak dengan keras :

“Ciiiaaattt!!!” Bersama dengan lenyapnya suara itu lenyap pula tubuh Pendeta Kertopengalasan dari depan Wisakala, dan tahu-tahu pedangnya menjadi berat dan tak lama kemudian terdengar bunji... Kreeekkk....

ternyata pedang yang berada ditangan kanannya patah menjadi dua.

“Edan, kowe!” teriak Wisakala dengan gusar sekali dan begitu tahu pedangnya patah ia lalu melemparkan putungan pedangnya itu kearah si pendeta dari Gua Melati yang menjadi lawannya.

Wuuusssttt.... kutungan pedang tadi meluncur dengan kecepatan yang luar biasa sekali. Biarpun malam terlalu kelam, dan luncuran kutungan pedang itu sangat cepat namun telinga Pendeta Kertopengalasan benar- benar telah terlatih. Hingga pendeta itu dapat menangkap suara angin yang menyambar kearahnya. Dengan cepat ia terus meloncat kekiri dan menanti datangnya luncuran pedang itu. Setelah kutungan pedang tadi berada dihadapannya ia lalu menghantamkan tangannya untuk memukul hancur kutungan pedang tadi.

Desssttt.... kraaakkk.... pukulan tadi tepat kena tengah-tengah kutungan pedang yang sedang meluncur, dan begitu kena maka terdengarlah suara krakk.... dan ternyata pedang tadi patah menjadi dua. Begitu kutungan pedang patah maka menyambarlah kearah para perajurit yang berada disekitarnya hingga mereka itu mengeluarkan teriakan yang melengking dan mengerikan sekali.

“Aduuuhhh.....!!! Akhhh!!!” Dan ternyata perajurit yang kena gagang pedang itu menjadi tewas karena kepalanya terpukul gagang pedang yang meluncur dengan dahsyat. Perajurit lain terus mati setelah tenggorokannya kena tusukan kutungan pedang yang tajam itu.

“Dunia kejam.... dunia kejam.... aku tak sengaja.” Desis Pendeta Kertopengalasan yang terus melabrak kearah Wisakala.

Melihat labrakan Pendeta Kertopengalasan ini kagetlah hati Wisakala. Dengan sekuat tenaganya ia lalu mempertahankan diri dengan mempergunakan kegesitannya. Akan tetapi Pendeta Kertopengalasan yang telah mengetrapkan ilmu Mayangseto tentu saja dapat bergerak selincah kera dan setangkas harimau. Hingga dengan demikian kelincahan Wisakala tak banyak gunanya. Namun sebagai manusia tentu saja ia tak mau mati konyol dengan tak melawan. Dengan sekuat tenaga dan harapan yang telah putus asa itu ia lalu melawan sekuat-kuatnya.

“Sayang..... sayang aku terpaksa membuka pantangan untuk membunuh! Kalau pangkhianat semacam ini tak dibunuh, maka dunia tak akan menjadi tenteram.” Desis Pendeta Kertopengalasan mempercepat gerakannya.

Suara Pendeta Kertopengalasan ini masuk kedalam telinga Wisakala bagaikan masuknya sebuah pedang kedalam ulu hatinya. Ia menjadi ngeri dan bergidik mendengar ancaman ini.

281 “Okkhhh... hanya sekianlah riwayatku. Mungkin besok aku telah tak dapat melihat sinar matahari lagi.” Serunya didalam hati.

Wuuusstt... tiba-tiba saja Wisakala yang telah berputus asa itu bergerak dengan cepat dan tahu-tahu tubuhnya telah mencelat kearah seorang perajurit dan sekali sambar saja tombak yang dipegang oleh perajurit tadi telah berpindah tangan. Dan tombak rampasannya ini lalu dipergunakan untuk menyerang Pendeta Kertopengalasn yang terus mengejarnya.

“Bagus... Bagusss... kau boleh sekarat dahulu sebelum mati, ki sanak!” Ejek Pendeta dari Gua Melati itu sambil memukulkan tangannya kearah perut lawan.

Melihat pukulan ini segera Wisakala meloncat kesamping dan dari samping lalu menusukkan tombaknya kearah lambung lawan. Akan tetapi rupa-rupanya pukulan Pandan Kuning itu adalah pukulan tipuan belaka. Begitu lawannya melompat kesamping tangan kirinya bergerak memukul lambung dan kakinya menendang kearah perut.

Tapi karena Wisakala menusukkan tombaknya kearahnya maka terpaksa tendangannya itu ditarik kembali dan hanya tangan kiri yang terus memukul lambung. Deesssttt..... angin menyambar dengan dahsyatnya, dan tak lama kemudian terdengarlah suara..... duuuggg.....

ternyata lambung Wisakala kena hajar pukulan jarak jauh pendeta dari Gua Melati itu. Begitu lambungnya kena maka jatuhlah tubuh panglima Wisakala orang kepercayaan Sultan Haji. Akan tetapi begitu jatuh ia lalu menggelinding kearah perajurit-perajurit dan kemudian dengan sekali loncat saja telah hilang diantara para perajuritnya.

“Tuhan masih melindungimu, Wisakala.” Desisnya dengan pelan.

Tapi seperti telah dikatakan, manusia boleh berussha namun Tuhan berkussa. Sedapat-dapatnya Wisakala meloloskan diri dari maut yang mengancam. Ia merasa sangat gembira setelah dapat meninggalkan pendeta sakti tadi. Akan tetapi rupa-rupanya Tuhan telah menggariskan kalau kehidupan Wisakala hanya sampai dimalam buta itu.

Begitu ia meloncat dan lari dari hadapan Pendeta Kertopengalasan ia disambut oleh seorang kakek yang sedang melihat-lihat jalannya pertempuran. Dan sekali kakek itu menggerakkan tangannya terdengarlah suara..... Praankkk..... Aduuuhhh...... bersama dengan suara prak tadi juga terdengar suara orang mengaduh. Dan ternyata kepala Panglima Wisakala pecah ketika kena pukulan sang kakek itu. Dan Wisakala mati ditangan Sancaka, si pengemis sakti.

Sehabis membunuh panglima Wisakala, Sancaka terus memperhatikan jalannya pertempuran lagi. Dan sedikitpun ia tak terpengaruh oleh perbuatannya tadi. Bahkan ia menjadi tersenyum-senyum melihat kalau pasukannya mulai dapat mengocar-ngacirkan pertahanan Belanda itu.

“Terus rusak..... dan serang pertahanan penjajah!” Teriak orang tua itu sambil bertepuk tangan karena girang.

282 Mendengar suara Sancaka ini maka para perajurit tadi menjadi bertambah semangat dan seakan-akan ada kekuatan gaib yang masuk kedalam tubuhhya. Dengan giat mereka lalu menyerang musuh dan mulai mengamuk dengan hebatnya.

Wardani adalah seorang gadis yang paling nekat dalam pertempuran ini. Ia tak akan mengenal takut, bahkan jiwanya tak segan-segan untuk dikorbankan dalam usahanya mencari dan membebaskan Pendekar Linglung.

Mulai ia masuk kedalam benteng itu ia telah menyapukan pendangannya untuk mencari sang kekasih. Akan tetapi diantara ratusan orang itu ia tak melihat Pendekar Linglung. Dan sewaktu ia sedang mencari-cari sambil membabati para antek-antek Belanda itu tiba-tiba saja Wardani disambut oleh seorang tinggi besar dan berkulit hitam. Kalau melihat kulitnya maka teranglah orang itu bukan bangsa Belanda, namun omongan dan lagak-lagunya persis bangsa penjajah.

“Hehhh.... menyerah saja kau, pemberonta k!” Bentak orang tinggi besar itu dengan garang.

“Bangsat minggir kau anjing Belanda.” Jawab Wardani sambil balas membentak.

Mendengar bentakan gadis ini maka orang tinggi besar dan berkulit hitam tadi melototkan matanya dan terus berteriak dengan keras :

“Hee. apakah kau berani dengan Raja Bone??”

“Puahhh!!! Raja Bone atau raja Iblis sekali aku tak takut! Setiap orang yang membantu Belanda kubunuh!” Seru Wardani dengan mengejek.

“Bagus   jangan salahkan aku Aru Palaka kalau membunuhmu.” Teriak

orang tinggi besar dan berkulit hitam tadi. Dan ternyata orang itu adalah raja Bone Aru Palaka yang terkenal sakti itu.

Dengan tak banyak membuang waktu dan menanti serangan lawan, Wardani segera menusukkan pedangnya kearah lambung lawan. Akan tetapi kali ini ketumbuk batunya. Aru Palaka adalah seorang raja yang sakti mandraguna dan kaya akan ilmu-ilmu gaib. Selain itu Aru Palaka telah kenyang akan asam garamnya peperangan. Dengan demikian ia tak menjadi gugup atau takut melihat datangnya serangan yang mendadak ini. Dengan cepat Raja Bone itu memiringkan tubuhnya dan menggeser kesamping sedikit.

“Huayaaaa!! Kurang tepat budak!” Serunya sambil membalas serangan lawan dengan pukulan pedang bergeriginya. Wuusstt... pedang bergerigi itu terus menyambar dengan cepat dan kuat sekali. Untung sekali Wardani telah menamatkan pelajarannya dari gurunya, hingga dengan demikian ilmu yang berada didalam tubuhnya itu bukannya ilmu silat murahan saja. Begitu melihat datangnya sabatan pedang aneh itu ia lalu meloncat kebelakang dan dengan pedang yang berada ditangan itu ia lalu menangkis. Begitu pedang Aru Palaka bertemu dengan pedang Wardani maka terdengarlah suara dan bunga api berpijar. Masing-masing menarik

senjatanya dan memeriksa. 283 Diam-diam Aru Palaka mengagumi akan kepandaian Wardani, belum pernah ia selama hidupnya bertemu dengan seorang gadis yang segagah dan seperkasa Wardani.

“Ahhh.... andaikata gadis-gadis Bone segagah anak ini, maka negara Bone akanlah ditakuti lawan.” Pikirnya dengan heran.

“Bangsat, tenaga dalamnya benar-benar kuat sekali, hampir saja pedangku ini terlepas dari tangan.” Desis Wardani dengan pandangan mata yang penasaran.

Setelah keduanya mengetahui bahwa pedang mereka masing-masing tak mengalami kerusakan, maka cepatlah mereka saling serang-menyerang lagi. Hingga keduanya lalu terlibat dalam pertarungan yang hebat dan dahsyat. Siapa lengah dan kurang waspada, maka nyawanya akan melayang.

Gerakan Raja Bone ini makin lama makin tangkas dan semakin meyakinkan. Pedang bergerigi itu terus menyambar-nyambar mencari tempat lowong. Dan agaknya Wong Agung Bone itu telah dapat mendesak lawannya.

Namun Wardani adalah seorang gadis yang keras kepala, ia tak mau mengakui akan keunggulan lawan. Dan lagi tak ada pikiran untuk meninggalkan lawannya itu. Dengan sekuat tenaga ia melayani Raja Bone yang gagah perkasa itu.

Wuuusssttt.... trangg..... trang.... prangg... berkali-kali pedang mereka itu bertemu. Dan setiap kali pedang mereka itu bertemu maka terdengarlah keluhan dari Wardani.

“Aduhhh....” Dan tangannya terasa seperti dibeset-beset saja. Memang tak ada jalan lain kecuali mengadu pedangnya dengan pedang lawan kalau Aru Palaka menyerangnya. Sebab ia akan mengandalkan kelincahannyapun tak dapat. Aru Palaka lebih lincah. Pengalaman?? Raja Bone itu telah mempunyai pengalaman yang lebih banyak dan lebih hebat. Tenaga dalam kalah tinggi! Kepandaianpun demikian. Hingga keadaan Wardani benar- benar terdesak.

Namun pada saat yang kritis itu terdengarlah teriakan yang terus membangunkan semangatnya :

“Lawan terus adi, aku segera membantumu.” Dan bersama dengan terdengarnya suara itu berkelebatlah sesosok tubuh yang langsung menyerang Aru Palaka.

Aru Palaka menjadi terkejut setelah melihat kalau penyerangnya itupun seorang wanita yang memegangi sebilah keris yang mengeluarkan cahaya kuning dan hawa panas. Inilah Ariyani yang membantu Wardani.

Akan tetapi Aru Palaka tak diperkenankan mengherankan si gadis itu. Sebab Ariyani terus melabrak dengan hebatnya. Sedang Wardani yang telah mendapat bantuan itupun terus memperhebat putaran pedangnya untuk menyerang lawan tangguh itu.

“Mari ayu, kita lenyapkan saja anjing Belanda ini dari muka bumi.” Ajak Wardani sambil menusukkan pedangnya kearah perut Raja Bone. 284 “Bagus adi, memang antek Belanda harus mampus.” Jawab Ariyani yang segera berkelebat menusukkan keris Kyai Blarak Sinebet kearah leher Aru Palaka.

Mendapat serangan maut dari dua orang gadis ini cepatlah Aru Palaka membuangkan dirinya kebawah dan kemudian bergulingan diatas tanah sambil memutar pedangnya untuk melindungi dirinya. Dan setelah mendapat kesempatan ia lalu melenting keatas dan kemudian berdiri tegak lagi. “Bagusss..... sungguh sakti-sakti wanita Jawa.” Desisnya sambil menyeka peluhnya. Dan pedang bergerigi itu dilintangkan didepan dada siap untuk menggempur lawan-lawannya.

“Hiiikkk..... hiiikkk..... hiiikkk.... rupa-rupanya Raja Bone ini datang ketanah Jawa untuk mempertunjukkan permainannya didepan kita, ayu!” Seru Wardani sambil ketawa.

“Memang adi, permainan trenggiling-trenggilingan yang memuakkan itu.” Jawab Ariyani dengan tenang dan sinis.

Mendengar hinaan ini marahlah hati Wong Agung Bone itu. Bagaimana tidak? Dinegaranya ia disembah-sembah, tapi sekarang di tanah Jawa malah dijadikan bahan ejekan oleh dua orang gadis ini. Karena kemarahannya ini maka ia lalu menggereng dan menubruk kearah lawannya.

“Mampus kau!” Serunya sambil menubruk Ariyani. Akan tetapi Ariyani adalah seorang gadis yang sejak kecilnya telah digembleng ilmu silat oleh ayah dan ibunya. Hingga kepandaiannya sekarang telah mencapai tingkat yang lumayan. Melihat tubrukan ini ia lalu mengelakkan diri, sambil berseru :

“Adi Wardani, awas!!”

Sebetulnya Ariyani tak perlu memberi peringatan kepada kawannya itu, sebab Wardanipun telah maklum akan gerakan lawannya ini. Dengan cepat Wardani lalu menggenjot tubuhnya keatas dan berjumpalitan diudara dan sesaat kemudian kembali turun kebumi dengan gaya yang indah sekali.

Sedangkan Aru Palaka yang menubruk tadi terus menggunakan kakinya untuk menendang kaki lawan yang sedang melayang turun. Dan memanglah serangan Aru Palaka ini adalah serangan berantai yang amat berbahaya. Memang ilmu silat Bone terkenal sebagai ilmu silat yang mempunyai tipuan yang licin sekali. Akan tetapi tentu saja Wardani tak mau kalau kakinya akan digempur, begitu melihat kaki lawan berusaha menendang maka in lalu menggerakkan pedangnya untuk menyambut tendangan itu.

Melihat kalau tendangannya ini disambut oleh mata pedang, maka kagetlah Aru Palaka. Raja Bone ini sedikitpun tak mengira, kalau gadis yang sedang melayang turun ini akan menggerakkan pedangnya kearah kakinya. Dan tentu saja ia tak mau membiarkan kakinya terbabat pedang. Karena itulah dengan cepat ia lalu menipukkan pedangnya kearah pedang 285 lawan hingga terdengar bunyi tranggg.... dan akibatnya pedang Wardani tertahan gerakannya dan kaki Aru Palaka selamat dari babatan itu. Namun pedang bergerigi itu terus meluncur dengan cepat dan jatuh dihadapan Ariyani.

Mengetahui kalau kakinya bebas dari ancaman maut itu ia menarik napas lega. Ia benar-benar bersyukur kepada Tuhan yang telah menghindarkan bahaya itu. Kemudian dengan kepalan tangannya orang tinggi besar dan berkulit hitam itupun terus melabrak maju dengan pukulan-pukulannya.

Akan tetapi kedua orang gadis itu selalu dapat menghindarkan serangan lawan dengan baik. Bahkan kerja sama antara Wardani dan Ariyani itu sangat baik sekali. Setiap kali salah satu ada lowongan yang mungkin dapat diterobos oleh musuh yang lain segera membuat gerakan untuk menutupi lowongan kawannya itu. Hingga dengan demikian mereka itu telah saling tolong-menolong. Dan pertempuran berjalan dengan berimbang. Wardani dan Ariyani belum dapat mendesak lawan, akan tetapi Aru Palakapun tak dapat mendesak kedua orang dara pendekar itu.

Sementara mereka itu sedang bertempur dengan dahsyatnya, tiba-tiba saja terdengarlah suara orang ketawa dan kemudian terdengar perkataannya :

“Hehehhhh... Hehehhhh... Hehhhh... nini berdua, tinggalkanlah orang itu. Biar aku yang menghadapinya. Kau babatilah para perajurit yang tak mau meninggalkan gelanggang.” Dan ternyata yang datang itu adalah Sancaka.

Mengetahui kalau yang datang itu adalah Sancaka, maka mereka lalu meloncat kepinggir sambil berseru :

“Silahkan eyang!”

“Bagus, minggirlah kalian.” Seru Sancaka yang terus memasang kuda- kudanya. Aru Palaka melihat kedatangan orang tua ini tak berani berlaku sembrono. Nalurinya telah memperingatkan bahwa orang tua yang berada dihadapannya ini adalah seorang tua yang sakti dan tak boleh dibuat sembarangan saja. Hingga sejenak ia terdiam.

“Hehhh..... mengapa kau diam saja?? Akulah lawanmu.” Seru Sancaka dengan lantang.

“Bagus, orang tua! Kau telah tua tak mencari ketenangan bahkan mencari penyakit.” Jawab Aru Palaka yang terus menghantamkan tangannya yang besar itu kearah dada Sancaka.

Melihat datangnya serangan ini maka Sancaka lalu mengerahkan ilmu Lembu Sakilannya. Dan begitu kepalan Aru Palaka dekat ia lalu membuka dadanya hingga terdengarlah bunyi..... duuuggg.....

Mengetahui kalau lawannya kena pukulan dan bahkan rupa-rupanya sengaja menerima pukulannya itu senanglah hati Aru Palaka. Tapi setelah ia tahu bahwa pukulannya itu tak dapat menjatuhkan lawan maka ia menjadi penasaran dan heran. Sedikitpun ia tak menyangka kalau kaki

286 yang telah kurus dan kecil ini dapat mencegah tubuhnya dari pukulan yang hebat dan dahsyat itu.

Kali ini Sancaka memang akan mempermainkan lawannya dengan cara menakut-nakuti. Begitu dadanya kena pukul maka ia lalu merem-melek sambil menggerak-gerakkan bibirnya seperti seorang habis makan masakan yang enak. Dan tak lama kemudian terdengarlah perkataannya :

“Masih adakah pukulan yang lebih keras dan lebih nyaman??” Mendengar perkataan Sancaka ini maka makin besarlah kemarahan

Aru Palaka. Dengan sekuat tenaganya ia lalu memukul dada Sancaka dan kembali terdengar bunyi..... Bluuukkk..... Aduhhh..... setelah Aru Palaka memukulkan tangannya maka terdengar suara orang mengaduh. Tapi aneh, yang mengaduh bukannya Sancaka melainkan Aru Palaka sendiri. Ia tak tahu mengapa kakek itu seperti mempunyai tubuh yang terbuat dari baja kerasnya. Ternyata tenaga pukulannya tadi membalik kearah tangannya sendiri hingga ia merasakan bagaikan akan hancur setelah mengenai dada orang tua yang sekeras baja itu.  

Sampai lama Aru Palaka tak dapat berkata apa-apa. Ia terus-menerus menatap orang tua itu dengan penuh kekaguman. Pandangannya terus- menerus menatap dada orang tua itu dan kemudian menatap kepalanya sendiri dengan berganti-ganti.

Melihat Aru Palaka yang sedang heran itu maka berkatalah si Pengemis Sakti itu :

“Apa yang kau herankan sang prabu? Apakah dinegaramu tak ada orang sakti? Karena itulah lebih baik kau pulang saja ke Bone dan jangan berani dengan orang-orang Jawa. Ini baru aku, kau tahu raja-raja di Jawa lebih sakti-sakti lagi.

Mendengar perkataan orang tua yang selalu memperlihatkan kesaktiannya itu mau tak mau keder juga hati Raja Bone ini. Tapi sedikitpun ia tak dapat mengeluarkan kata-katanya. Seakan-akan mulutnya terkunci rapat-rapat. Dan tanpa sesadarnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, lekas kau pergi dan ikut aku menghancurkan Belanda yang sedang menjajah Nusantara ini!” Seru Sancaka setelah mengetahui kalau Raja Bone itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau memang sakti orang tua! Tapi jangan kau mencoba mempengaruhi aku dengan kata-katamu itu!!” Setelah berkata demikian maka berkelebatlah Aru Palaka meninggalkan Sancaka. Sebentar saja tubuhnya hilang dibalik keramaian para perajurit yang sedang mengadu tebalnya kulit dan kerasnya tulang.

Sementara itu Untung dan anak buahnya terus berjuang dengan mati- matian. Pedang, golok dan parang yang tak bermata itu terus-menerus minta korban sebanyak-banyaknya. Tanah di benteng Kumpeni itu menjadi merah karena tersiram darah antek Belanda dan darah-darah para pejuang yang gugur dalam palagan. Namun darah-darah mereka itu akan menjadi pupuk yang sangat subur bagi kemerdekaan mendatang.

Trang.... trakkk.... duunggg.... praaakkk.... aduuuhhh.... creeess... berkali- kali pedang dan golok para perajurit itu bertemu dengan senjata-senjata lawan. Dan keluhan-keluhan terus terdengar dengan memilukan sekali.

Entah telah berapa jiwa yang melayang kembali keasalnya tapi kedua belah pihak belumlah puas dengan hasil mereka itu. Yang satu ingin merebut benteng itu dan membebaskan Pendekar Linglung dan yang satu tetap mempertahankannya dengan gigih sekali. Hingga dengan demikian mereka itu tak menghiraukan berapa banyaknya orang-orang mati karena kehendak beberapa gelintir manusia-manusia itu.

“Huuurrrraaaa gemmmpuurrr bennntenngggg Kuuummmpennnniiii!” Teriak Untung sambil mengangkat tinggi-tinggi senjatanya.

“Gemmmpuuurrr.... ganyaaaannngggg.... lenyapkan Belanda dari bumi kitaaaa ” Jawab mereka itu sambil menerjang dengan lebih nekat lagi.

Akan tetapi dipihak Belanda itupun lalu memberikan komando pula :

288 “Pertahankan bentenggg.... Hancurkan pemberontakkk Hayooo

hancurkan pemberontakkk.... pangkat menantimu!!!” Teriak Kapten Tack dengan keras.