-->

Pendekar linglung Jilid 5

 
Jilid V 

SEMENTARA itu yang berada didalam Tirtayasan di Banten. Tampaklah Sinuwun Sultan Agung baru duduk termenung dipendopo 193 keraton. Hatinya menjadi sangat sedih mendengar pelaporan dari Pangeran Purboyo.

“Ah..... mengapa si Abdul Nazar berbuat senekat itu? Hem.     benar-

benar ia seorang anak yang tak berbakti. Tapi betulkah pelaporan ini? Apakah tidak Purboyo sendiri yang mengada-ada? Ah..... tak mungkin, aku tahu akan sifat si Purboyo, dia adalah seorang anak yang jujur. Oh.    Tuhan

berikanlah hamba ini kekuatan.....” Demikianlah keluh-kesah baginda sinuwun.

Tiba-tiba terdengarlah seorang yang menyapanya : “Rama sinuwun, saya Purboyo datang menghadap.”

“Ada keperluan apakah anakku Purboyo?” Tanya Baginda dengan lesu. “Rama tadi pagi kita dapat surat dari kakang Abdul Nazar!”

Mendengar pelaporan anaknya ini makin tak enaklah hati Baginda Sultan Agung. Diam-diam beliau telah mendapat firasat jelek. Maka dari itu segera ia bertanya kepada anaknya :

“Surat tentang apakah anakku?”

“Entahlah rama baginda sebab anakda belum berani membukanya. Dan ini suratnya, rama!” Seru Pangeran Purboyo sambil menyerahkan suratnya.

Setelah menerima suratnya segera baginda membaca. Dan betapa terkejutnya hati Sultan Agung setelah mengetahui maksud putera mahkota. Kini tampaklah baginda menarik napas panjang dan berat.

“Kurangajar, anak tak tahu diri.” Desis Sultan Agung.

Mendengar perkataan ayahnya ini segera Pangeran Purboyo bertanya :

“Apakah isi dari surat itu, rama baginda?”

“Ia mengharap agar kita menyerah dan menurut kehendaknya untuk bersahabat dengan Belanda. Dan kalau kita menolak besuk kita akan digempurnya. Bahkan mulai sekarang dalem Tirtoyoso telah dikurung rapat oleh pasukan Kumpeni dan anak keparat itu. Ah memang benar pelaporanmu dulu itu anakku. Sayang aku dulu ragu-ragu menerima pelaporanmu itu. Hingga kini kita belum menyiapkan pasukan.” Seru Sultan Agung lemas. Seakan-akan tulangnya telah dilolosi dari tubuhnya.

“Ah mengapa kakangmas mau melakukan hal-hal yang sehina itu. Dimanakah letak kebaktiannya?” Seru Pangeran Purboyo dengan putus asa.

“Anakku Purboyo kita jangan lekas putus asa, marilah kita berusaha untuk mencoba menghalau datangnya serangan penjajah. Bukankah manusia itu diwajibkan untuk berusaha? Memang Tuhan Yang Kuasa.” Seru Baginda Sultan Agung.

“Betul rama baginda.” Jawab Pangeran Purboyo.

“Sekarang kau pergilah memanggil paman Malangyuda supaya menghadap kemari.” Perintah Baginda.

“Baik rama baginda.” Jawab Pangeran Purboyo sambil mengundurkan

diri.

194 Sepenanak nasi lamanya Pangeran Purboyo pergi. Kemudian kembalilah ia menghadap bersama Menteri Malangyuda. Malangyuda adalah seorang yang tinggi besar dan gagah perkasa. Inilah wakil dari Panglima Wisakala yang memegang tampuk pimpinan Angkatan Perang Banten.

“Gusti sinuwun ada kepentingan apakah maka gusti sinuwun memanggil hamba diluar pasewakan agung?” Tanya Malangyuda.

“Bagus..... bagus..... Malangyuda, begitulah sikap seorang pemimpin sewaktu-waktu siap menjalankan tugas. Nah sebelumnya aku mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas kesetiaan paman Malangyuda kepadaku, terutama kepada tanah air!” Seru baginda.

“Ha.... ha.... ha.... gusti memang jiwa ragaku telah kupersembahkan kepada Kerajaan Banten yang tercinta dan begitu pula kepada baginda!” Jawab Malangyuda.

“Nah, paman Malangyuda sekarang jalankanlah perintahku ini. Sekarang juga kau kumpulkan seluruh perajurit Banten, untuk menghadapi serangan musuh yang telah mengepung kerajaan kita.” Perintah baginda kepada Malangyuda.

Betapa terkejutnya hati Malangyuda setelah mendengar perintah yang mendadak ini. Segera Malangyuda bertanya kapada baginda :

“Apakah ada sesuatu yang penting baginda? Mohon gusti sinuwun sudi menerangkan kepada hamba.”

“Betul paman Malangyuda! Negara pada dewasa ini sedang terancam bahaya. Bahkan pada saat ini Kerajaan Banten telah dikepung oleh musuh. Dan besok pagi mereka akan menggempur sini.” Jawab Baginda Sultan Agung.

Kalau ada seribu petir yang menyambar kepalanya belum tentu Malangyuda sekaget itu, tapi kini setelah mendengar sabda baginda ia merasa lemas seluruh tubuhnya. Ia merasa malu sebab ia sebagai seorang pemimpin perang tapi tak tahu akan kejadian ini. Segera ia menjawab dengan geramnya :

“Laskar manakah yang berani mati itu!”

“Laskar Banten dan Kumpeni!” Jawab baginda singkat.

“Banten dan Kumpeni? Ah.... jangan baginda bergurau!” Seru Malangyuda bertambah bingung.

“Aku berkata sesungguhnya! Sebetulnya di Kerajaan Banten ini ada pengkhianatan ”

“Pengkhianatan?” Potong Malangyuda.

“Ya.... pengkhianatan terhadap diriku dan Kerajaan Banten. Dan yang berkhianat itu adalah anakku sendiri Abdul Nazar dan Panglima Wisakala.” Jawab Baginda sambil menerangkan.

“Ah.... tak kusangka! Baiklah hamba akan mengundurkan diri dahulu.

Dan ini harus segera kita menyusun kekuatan. Mohon lengger gusti!” “Silahkan    paman    Malangyuda!    Dan    kaupun    harus    cepat-cepat

menghubungi para panglima lain-lainnya, Purboyo. 195 “Baik rama sinuwun! “ lalu keduanya pergi meninggalkan baginda. Keesokan harinya dialun-alun tampaklah para perajurit Banten.

Mereka telah siap sedia menjaga keamanan dan kemerdekaan negaranya.

Mereka ini dibawah pimpinan Malangyuda, Pangeran Purboyo, Wardani, Raden Ayu Gusik, dan para panglima lainnya. Adapun gelar yang mereka pakai adalah gelar Tapal Kuda.

Sayap kiri dipimpin oleh Malangyuda dan Dewa Brata seorang Panglima Muda Banten. Sayap kanan dibawah Pangeran Purboyo, Radea Ayu Gusik dan Wardani. Lambung pada induk pasukan dipimpin langsung oleh Baginda Sinuwun Sultan Agung bersama dengan para panglima lainnya. Pasukan Banten yang gagah perkasa ini maju terus diiringi dengan sorak-sorai para perajurit. Derap kaki kuda dan kepulan debu makin keras dan membubung tinggi keudara.

Tapi dari arah depan mereka tampaklah musuhnya yang memakai gelar Gajah Meta. Didepan pasukan itu tampaklah empat orang pemimpinnya yang berwajah angker, dan keempat orang itu kelihatan gagah-gagah sekali duduk diatas punggung kudanya.

Keempat orang itu adalah Sindung Laut, Undung Kalayaksa, Klabang Abang dan Klabang Ungu.

Dibagian kiri tampaklah Pangeran Abdul Nazar dan Panglima Wisakala. Sedang dibagian kanan tampaklah seorang tua yang berambut putih dan jenggotnyapun begitu. Dan yang seorang lagi seorang tua pula tapi tubuhnya masih kelihatan kuat dan kekar. Inilah Klabang Songo dan Baurekso.

Tiba-tiba berserulah Sultan Haji :

“Rama baginda, kalian menyerahlah!”

“Siap, jangan mau menyerah... Gempur... Serbu... Serang... Cincang pengkhianat ..!” Teriak para perajurit Banten.

“Gempur... duduki Banten... hancurkan mereka...!” Teriak serdadu Kumpeni dan pasukan Sultan Haji.

Pertempuran sengit mulai berlangsung. Pedang, golok, tombak, keris, kapak dan rantai saling sambar-menyambar. Senjata-senjata itu saling mencari mangsa. Perajurit-perajurit itu mengamuk bagaikan banteng ketaton. Membunuh atau dibunuh! Begitulah semboyan mereka. Perajurit Banten banyak yang kocar-kacir menghadapi amukan dari Undung Kalayaksa, Sindung Laut, Klabang Abang dan Klabang Ungu.

Panglima-panglima Banten bertempur dengan mati-matian. Banyak perajurit musuh yang mati ditangan Dewa Brata dan Malangyuda. Setiap tangannya bergerak maka terdengarlah orang yang memekik kesakitan dan nyawa yang melayang.

“Ha.... ha.... ha.... sungguh hebat kepandaianmu, kisanak!” Seru Klabang Ungu kepada Malangyuda.

“Pemberontak hina siapakah kau?” Bentak Malangyuda. “Ha.... ha.... ha. akulah Klabang Ungu dari Alas Roban.”

196 “Pantas.... pantas.... perampok tentu memihak kepada penjajah. Mari kau hadapi aku Malangyuda, Banteng dari Banten!” Teriak Malangyuda sambil membabatkan goloknya kearah Klabang Ungu.

Tapi Klabang Ungu adalah adik dari Klabang Abang kepala perampok di Alas Roban. Dan sudah berkali-kali ia menerima serangan yang datangnya secara mendadak. Maka dari itu ia hanya menggeserkan sedikit tubuhnya kekanan dan menundukkan sedikit kepalanya bebaslah ia dari ancaman golok maut Malangyuda.

“Bagus.... bagus.... kulayani kau Malangyuda!” Seru Klabang Ungu dengan memainkan pedangnya. Pedang dan golok saling sambar- menyambar. Hingga barang siapa yang lengah sedikit saja maka akan menjadi korban. Weess.... pedang Klabang Ungu membabat pinggang Malangyuda. Tapi cepat banteng Banten itu melompat keangkasa hingga pedang Klabang Ungu hanya lewat dibawah kakinya saja. Tapi rupa- rupanya Klabang Ungu tak memberi kesempatan kepada lawannya untuk mendarat kebumi kembali. Sewaktu tubuh Malangyuda hampir turun bumi segera pedang Klabang Ungu menusuk kearah lambung. Maka cepat Malangyuda menggerakkan goloknya untuk menangkis dan meminjam tenaga benturan itu untuk kembali melayang keangkasa. Akibatnya Klabang Ungu tersurut mundur tiga langkah dan tangannya merasa panas bagaikan terbakar. Tapi Malangyuda juga meluncur kebelakang dan jatuh tersungkur.

Disaat lain tampaklah Sindung Laut sedang menghadapi Dewa Brata. Sindung Laut yang bertubuh tinggi besar itu mengamuk dengan hebatnya. Pedangnya selalu mengikuti kemana saja tubuh Dewa Brata bergerak. Namun musuhnya adalah Brata seorang Senopati Banten, yang kenyang makan asam garamnya peperangan. Gerakannya lincah bagaikan seekor kera. Badannya licin bagaikan seekor belut. Karena Dewa Brata telah mengetrapkan ajinya yang bernama Belut Putih. Ditangan kanannya memegang sebuah Trisula. Inilah yang menjadi senjata andalannya. Maka dari itu pertempuran berjalan dengan seru. Kini Dewa Brata telah mengeluarkan ilmu simpanannya.

“Hayo antek Belanda kau hadapilah Dewa Brata! Hadapilah Trisulaku dengan secara laki-laki!” Tanpa memberi kesempatan kepada lawannya segera Dewa Brata menyerang Sindung Laut. Pemuda ini menyerang dengan penuh kebencian, karena memang Dewa Brata paling benci kepada kaum penjajah. Maka dari itu gerakan Trisulanya hebat bukan main. Cepat dan kuat.

Sindung Laut menjadi terkejut dan segera menangkis sambil mengerahkan tenaga dalamnya. Ingin rasanya ia membuat Trisula lawannya menjadi terlepas dari tangannya karena samplokan pedangnya. Namun betapa terkejutnya ketika Trisula ditangan Dewa Brata itu menjadi seperti hidup. Melejit kebawah melewati pedangnya terus menusuk kelambung.

197 “Aha...” Sindung Laut membuang dirinya kebelakang, dan bergulingan diatas tanah untuk menghindarkan diri. Ia tak mengira kalau lawannya begitu cerdik dan tata berkelahinya sangat hebat. Memanglah ini berkat pengalaman-pengalamannya senopati muda ini dalam menghadapi musuh- musuh negaranya. Karena kepandaiannya dan kecerdikannya ini, maka biarpun masih muda tapi Dewa Brata telah diangkat menjadi Panglima Perang Banten.

Setelah melompat bangun segera Sindung Laut menghadapi penyerangan pemuda ini dengan lebih berhati-hati. Sindung Laut segera menguras habis seluruh kepandaiannya. Namun betapa kecewanya hati Sindung Laut ketika melihat kenyataan kalau makin lama ilmu Trisula Dewa Brata makin hebat. Serangannya makin kuat, dan kurungannya makin menjadi ketat. Kesemuanya ini membingungkan hati Sindung Laut. Hal-hal ini tidaklah mengheramkan karena semenjak kecil ia telah digembleng dengsn hebat oleh gurunya. Dan lagi sekarang Dewa Brata lebih memperhebat serangan-serangannya dengam memakai tipu-tipu yang jarang dikeluarkannya kalau tak menghadapi musuh yang benar- benar tangguh.

Sekarang Sindung Laut mulai menyesal, tadi ia menganggap dirinya telah terlalu kuat benar, malah ia ingin menonjolkan namanya dengan mengalahkan Panglima Muda Kerajaan Banten ini. Bahkan kalau mungkin ia ingin membunuh pemuda ini. Karena ia tahu kalau tubuh dan badan Dewa Brata tidak sehebat tubuhnya. Namun siapa kira kalau menghadapi anak muda ini saja sudah demikian beratnya. Sindung Lautpun telah maklum betapa bencinya pemuda ini kepada para antek Kumpeni. Ilmu Trisula Dewa Brata ini bukan main hebatnya. Biarpun Sindung Laut itu murid Jayasengara, tapi ia belum tamat belajarnya dan hanya sedikit saja pelajaran yang ia terima dari kakek sakti itu. Maka dari itu Sindung Laut bukan lawan dari Dewa Brata. Segera tampaklah kalau Sindung Laut yang bertubuh tinggi besar dan kekar itu terdesak hebat oleh Dewa Brata. Sampai-sampai murid Jayasengara ini tak sempat membalasnya barang sedikitpun. Ia hanya dapat menangkis kesana-kemari dan melompat kekanan dan kekiri, untuk menghindarkan setiap serangan lawannya. Trisula ditangan Dewa Brata itu merupakan maut yang menanti-nanti nyawa Sindung Laut yang tinggi besar itu. Desakan ini menjadikan Sindung Laut merasa malu, marah dan penasaran. Karena itulah menjadi nekad. Sambil menggereng seperti harimau liar ia menangkis Trisula itu dengan pedangnya. Lalu tangan kirinya bergerak mencengkeram lawan.

“Mampus kau penjilat!” Dewa Brata memaki dan menggeser kakinya memiringkan tubuhnya jauh kekanan. Lalu dengan gerakan yang indah dan tak terduga-duga Trisulanya menyambar, untung Sindung Laut cepat menghindar. Hingga bebaslah dadanya dari tusukan Trisula Dewa Brata. Betapa kagetnya hati Dewa Brata melihat kecepatan gerakan lawannya ini. Dan kekagetannya inilah yang menyebabkan gerakannya menjadi lambat. Sehingga ia kena diserang oleh Sindung Laut yang membacokkan 198   pedangnya kearah punggung Dewa Brata. Hebat sekali gerakan dari Senopati Banten itu. Ia berada didalam posisi yang berbahaya sekali, sehabis serangannya gagal dan kaget sekarang punggungnya dibacok oleh musuh yang tangguh.

Tak mungkin ia dapat menangkis dan untuk mengelak juga sukar karena pedang membacok dari belakang. Tapi dasar ia seorang senopati yang cerdik dan silatnya tinggi, sehingga punggungnya seakan-akan mempunyai mata. Yaitu perasaan naluri yang hanya terdapat pada seorang jago silat tinggi. Perasaan naluri yang membuat seorang jago silat dapat menangkis serangan lawan ketika ia masih tidur sekalipun.

Melihat dirinya terancam bahaya Dewa Brata tidak menjadi bingung malah ia menerjang dengan Trisulanya menusuk kearah uluhati. Sambil diam-diam ia mengerahkan tenaga dalamnya yang terus langsung disalurkan kepunggungnya. Dewa Brata berpendapat kalau gerakannya ini tidak kalah cepat oleh gerakan pedang Sindung Laut. Andaikata datangnya serangan pedang Sindung Laut dan serangan Trisulanya datang bersama, maka tusukannya pasti akan menembus uluhati lawan dan sedang tusukan Sindung Laut belum tentu akan berbahaya baginya. Karena Dewa Brata telah memusatkan seluruh tenaga dalamnya kepunggung. Dan seketika itu terdengarlah teriakan Sindung Laut sambil melompat mundur.

“Bangsat!” Teriak Sindung Laut sambil mengurungkan maksudnya untuk membacok punggung lawan sebab ia tahu akan akibatnya yang merugikan dirinya sendiri. Tapi segera Sindung Laut telah melabrak Dewa Brata kembali. Kembali pertempuran berjalan dengan serunya.

Didekatnya tampaklah kalau Pangeran Purboyo sedang menghadapi Klabang Abang. Kedua-duanya sama-sama tangkas, dan kedua pedangnya telah berputar-putar dengan dahsyat diangkasa. Angin dingin menyambar- nyambar hingga menimbulkan suara berderu-deru disekitar pertempuran itu. Tiba-tiba dengan garangnya Klabang Abang melompat menerjang Pangeran Purboyo dengan pedang mengarah keperut lawan. Namun cepat Pangeran Purboyo melompat mundur sambil memutar pedangnya untuk menangkis...... Trang..... bunga api berpijar. Kedua-duanya saling memperbaiki kedudukannya, dan memeriksa senjatanya masing-masing. Kini tampaklah kalau kedua jago ini telah berhadapan kembali.

Pangeran Purboyo telah mengangkat pedangnya diatas kepala dan tangan kirinya disilangkan kemuka dadanya, tangan kiri inilah yang dipakai untuk melindungi dada dan perut.

Sedang Klabang Abang telah menyilangkan pedangnya dimuka dada, dan tangan kirinya diluruskan kemuka. Sesaat kemudian Pangeran Purboyo telah menggerakkan pedangnya, sedang Klabang Abang melototkan matanya memandang tajam-tajam kepada lawannya. Rupa- rupanya mereka sedang mengira-ngira kekuatan lawannya masing-masing. Kemudian.... sret.... wesss    Bagaikan sambaran halilintar pedang Pangeran

Purboyo membabat leher lawan, namun dengan gerakan yang gesit

199 Klabang Abang membuang diri kebelakang. Hingga dengan demikian terhindarlah ia dari bahaya maut pedang Pangeran Purboyo.

Melihat serangannya gagal segera Pangeran Purboyo siap sedia bagaikan banteng untuk menyerang lawannya kembali. Pangeran Purboyo berputar-putar mencari posisi dan kelemahan Klabang Abang. Segera ia menekuk kaki kirinya dan meluruskan kaki kanannya kebelakang. Tangan kirinya diangkat kesamping kepalanya dan siap untuk menerjang lawan.

Namun Klabang Abang telah siap pula. Tiba-tiba terdengarlah teriakan Pangeran Purboyo.... caattt.... ternyata kembali Pangeran Purboyo telah membuka serangannya. Tapi lama-kelamaan hati Pangeran Purboyo menjadi gentar juga. Melihat serangan mautnya dapat selalu dihindarkan oleh lawannya. Hingga setiap serangan Pangeran Purboyo selalu mengenai tempat yang kosong saja. Tapi kembali Pangeran Purboyo membabatkan pedangnya kearah kaki Klabang Abang. Wesssttt.... tahu-tahu tubuh Klabang Abang telah mengapung keangkasa. Kembali serangan Pangeran Purboyo hanya mengenai tempat kosong. Pada saat Pangeran Purboyo hendak membacokkan pedangnya kearah Klabang Abang. Tiba-tiba Klabang Abang telah melesat dan sebelum Pangeran Purboyo sempat mengelak pedangnya telah terpental lepas dari tangannya, inilah akibat dari tendangan kaki Klabang Abang.

Betapa terkejutnya hati Pangeran Purboyo melihat kejadian ini. Dan seketika itu ia melompat dengan maksud akan menerkam kepada Klabang Abang. Tapi dengan sigap Klabang Abang mengelak. Dan sebuah pukulan Klabang Abang yang cukup dahsyat menimpa tengkuk Pangeran Purboyo. Buggg... Seketika itu ia melompat dan akhirnya jatuh pingsan. Kemudian dengan secepat kilat Klabang Abang akan menusukkan pedangnya kearah dada lawannya yang telah pingsan itu, tapi tiba-tiba.... tranggg sebuah

keris telah menangkis pedang kepala perampok dari Alas Roban itu. Betapa terkejutnya hati murid ki Klabang Songo ini ketika melihat kejadian yang tak pernah ia sangka-sangka itu.

Diam-diam ia sangat kagum akan tenaga dalam penangkisnya tadi. Sebab sewaktu pedangnya bertemu dengan keris lawan tangannya menjadi tergetar, ini berarti kalau tenaga dalamnya masih kalah setingkat dengan tenaga dalam penolong dari Pangeran Purboyo tadi. Tapi ini tak menjadikan hati Klabang Abang menjadi jeri. Malah ia segera membentak :

“Bangsat siapa kau?”

“Klabang Abang sudah lupakah kau denganku? “ Jawab penolong Pangeran Purboyo itu.

“Bedebah! Lekas beritahukan siapa namamu sebelum pedangku ini menembus dadamu!” Bentak kepala perampok Alas Roban itu dengan bertambah gusar.

“Bagus..... bagus..... rupa-rupanya kau telah benar-benar melupakanku. Ingatlah kau dulu di Nusa Barung merengek-rengek minta hidup dihadapanku. Dan dulu kau berjanji kalau kau akan mengubah cara hidupmu. Tapi..... huh. anjing Belanda mari kau hadapi aku Barata.” 200 “Kau..... kau..... Barata?..... Bagus..... bagus..... kau majulah Barata! Akan kubalas kekalahanku dulu. Mari bersiaplah kau untuk mati ditangan orang yang kalah dulu.” Seru Klabang Abang dengan keder.

Kini kedua musuh lama saling berhadapan. {Untuk mengetahui duduk perkaranya kedua orang ini dengan jelas bacalah Pendekar Linglung jilid I}. “Keparat kau Barata! Ingatlah kau telah berlaku sembrono membunuh berpuluh-puluh kawanku di Nusa Barung dulu. Dan lagi kau selalu merintangi pekerjaan kami. Hem..... kini aku Klabang Abang tak akan meloloskan nyawamu sampai lebih lama lagi.” Desis Klabang Abang dengan

marah.

“Heh!..... syukurlah kalau kau tak akan meloloskan nyawaku. Yah memang aku masih ingin hidup lebih panjang lagi Klabang Abang, selama kerusuhan masih merajalela aku Barata pantang mati!” Ejek Barata dengan nada sinis.

Mendengar perkataan ini bagaikan api tersiram minyak saja kemarahan Klabang Abang. Bagaikan banteng ketaton Klabang Abang menerjang Barata dengan tabasan pedangnya. Tapi dengan cepat dan ringan bagaikan burung terbang saja pendekar dari Jalitunda itu meloncat keangkasa. Hingga Barata dapat mematahkan serangan pembukaan dari kepala perampok Alas Roban.

“Gila! Dia dengan mudah saja dapat mematahkan seranganku! Dan lagi gerakannya begitu cepat, hem..... rupa-rupanya diapun selama ini memperdalam ilmunya juga.” Gerutu Klabang Abang.

Tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh seruan Barata yang lantang :

“Hah..... Klabang Abang mergapa kau hanya termenung-menung saja? Hayo cepat kau maju lagi supaya aku dapat lebih cepat lagi mengantarkan nyawamu keneraka!”

“Bangsat kau Barata! Kau terlalu menghina! Hingga kau tak tahu tingginya langit dan dalamnya samudera.” Setelah berkata demikian cepat Klabang Abang menyerang lagi dengan nafsu membunuh..... wesssttt.....

Pedangnya menyambar dada Barata. Sambil berteriak : “Bedebah.    kaulah

yang akan kukirim keneraka.”

Tapi secepat kilat Barata telah meloncat mundur. Diam-diam Barata menjadi terkejut ketika melihat serangan Klabang Abang yang cepat dan kuat itu. “Aku harus berhati-hati melawannya! Rupa-rupanya Klabang Abang telah memperdalam ilmunya selama ini.” Pikir Barata.

Ketika melihat serangannya yang cepat dan kuat inipun gagal maka makin marahlah hati Klabang Abang. Hatingnya menjadi sepanas bara. Kembali Klabang Abang menyerang lawannya dengan seluruh kepandaiannya. .....Ciat..... Bukk..... Gerakan Klabang Abang begitu kuat bagaikan hembusan angin topan. Dalam jurus yang kedua puluh enam tampaklah Klabang Abang merobohkan Barata dengan tendangannya. Tubuh Barata terpental dan sewaktu Barata akan berdiri cepat Klabang Abang menyerang dengan pedangnya. Tapi dengan cepat Barata menjatuhkan diri lagi dan bergulingan untuk menghindarkan serangan 201 perampok Alas Roban itu. Dan kemudian secepat kilat Barata telah melompat berdiri kembali.

Namun knli ini Klabang Abang telah siap menerjang kembali dan serangannya lebih ganas, karena kepala perampok Alas Roban ini telah dikuasai oleh nafsu membunuh lawannya. Karena nafsunya ini maka gerakan Klabang Abang tampak banyak yang lowong.

Melihat keadaan ini segera Barata menyarungkan kerisnya. Namun diam-diam ia telah mengetrapkan Aji Tapak Guntur dikedua belah tangannya.

Ketika Klabang Abang mengetahui kalau lawannya telah menyarungkan senjatanya ia menjadi heran dan kaget bukan main. Segera Klabang Abang membentak marah :

“Bangsat pengecut! Aku belum kalah mengapa kau telah menyarungkan senjatamu?”

“Untuk menghadapi serangan seorang antek Belanda perlu apa memakai senjata?” Ejek Barata.

“Bangsat sombong! Jangan menyesal kau kalau mati dibawah ujung pedangku ini!” Teriak Klabang Abang dengan marah yang meluap-luap. Memang inilah yang dikehendaki oleh Barata. Semakin marah hati Klabang Abang semakin banyak pula lowongan-lowongan yang terlihat didalam pertahanan Klabang Abang. Memanglah suatu pantangan besar bagi seorang ahli silat marah-marah ketika menghadapi lawan yang tangguh.

Tiba-tiba..... Ciattt..... Bukkk..... dada Klabang Abang kena hajar pukulan jarak jauh Barata yang bernama Tapak Guntur. Seketika itu juga tubuh Klabang Abang menjadi pingsan. Tapi..... wessttt ada sesosok bayangan menyambar tubuh Klabang Abang. Dan bayangan itu menghilang dibalik para perajurit yang sedang bertempur dengan sengitnya.

Sementara itu Sinuwun Sultan Agung dan Sultan Haji sama-sama memberi perintah kepada laskarnya masing-masing. Kedua pemimpin itu memberi perintah dengan penuh semangat. Kalau Sultan Agung berusaha mempertahankan kemerdekaan negaranya. Tapi Sultan Haji ingin segera dapat merebut Banten dari tangan ayahnya sendiri.

Tiba-tiba dibagian utara pasukan Kumpeni dan Sultan Haji menjadi kocar- kacir karena amukan beberapa orang. Hal ini menjadikan herannya hati Sinuwun Sultan Agung, sebab ia yakin kalau orang yang sedang membantunya itu bukan perajurit-perajurit Banten bahkan mungkin bukan orang Banten sendiri.

Inilah rombongan Pendekar Budiman yang telah datang dan membantu rakyat Banten dalam mengusir penjajah : Wulandari, Ariyani. Barata, Joko Seno, Retnosari, Glondong Perbawa, dan Widura mengamuk dengan hebat. Hingga banyak perajurit musuh yang lari bercerai-berai.

“Bagus..... bagus..... tandang kalian ini benar-benar bagaikan utusan Hyang Jamadipati saja.” Seru seorang kakek yang masih bertubuh kuat dan kekar kepada rombongan orang-orang ini. Inilah Baurekso seorang tokoh dari gunung Merapi yang telah berhasil ditarik tenaganya oleh Belanda. 202 Wess     Tiba-tiba tongkat ular Baurekso menghantam perut Joko Seno.

Namun cepat Joko Seno mengenjotkan tubuhnya melayang keangkasa. Hingga tongkat ular dari pertapa gunung Merapi itu hanya mengenai tempat yang kosong belaka. Diam-diam Joko Seno mengagumi kepandaian lawannya yang dapat memainkan tongkat ularnya yang penuh berisi senjata rahasia itu. Karena dari itu Joko Seno tak mau memandang rendah lawannya ini segera ia mencabut pedang Besi Merah pemberian Pacar Biru. Dengan gerakan yang diisi penuh oleh tenaga dalam segera Pendekar Budiman mengibaskan pedangnya kedepan hingga runtuhlah semua senjata rahasia yang keluar dari tongkat ular Baurekso tadi. Tapi sinar hitam yang kedua menyusul dengan cepat dan lebih hebat lagi. Ketika Pendekar Budiman mengibaskan pedangnya untuk yang kedua kalinya segera sinar hitam itu membalik tapi hanya sepanjang dua depa saja. Lalu terdorong maju kembali. Bahkan kini berpencaran yang menyerang perut,

leher, mata dan dada.

Pendekar Budiman terkejut karena dibelakang sinar hitam itu tampak pula beberapa sinar putih yang menyambar kearahnya. Inilah barisan jarum, senjata rahasia yang sangat ampuh dari Baurekso.

“Bangsat kejam!” Seru Joko Seno dengan marah. Tangan kanannya segera menyambar sebatang tombak yang berada didekatnya. Dan bagaikan terbang ia meloncat keudara. Ketika sinar hitam dan putih itu lewat segera ia mengibaskan pedang Besi Merah dan memutar tombaknya. Tombak dan pedang berputar-putar hingga menyerupai baling-baling yang memukul jatuh semua senjata rahasia lawan. Bersama dengan turunnya kedua kakinya kebumi segera ia membabatkan pedangnya kebahu lawan dan.... wesss.... crak.... akibatnya putuslah lengan kiri Baurekso kena sambaran pedang Besi Merah.

“Bangsat tunggulah pembalasanku nanti!” Seru Baurekso sambil berkelebat pergi.

Disaat lain tampaklah kalau Retnosari sedang bertempur melawan Undung Kalayaksa. Undung Kalayaksa menyerang dengan pedangnya bagaikan harimau lapar. Sedang cambuk Retnosari bergerak-gerak bagaikan lima ekor naga. Disini perlu kita ketahui kalau senjata cambuk bercabang lima adalah senjata dari Retnosari. Inilah keistimewaan dari murid Widati.

Sedang Kalayaksa menyerang terus dengan hebat. Pedangnya berkelebat cepat menghantam Retnosari dari berbagai jurusan. Tapi semua serangan Undung Kalayaksa dapat disambut oleh cambuk Retnosari. Sejurus demi sejurus telah mereka lalui. Kedua-duanya sama-sama kuat dan tangkas.

Hiat... tar... tar... tar....

“Bagus... bagus... sungguh hebat senjatamu itu wanita liar! Tapi hati- hatilah kau menghadapi pedangku ini!” Seru Undung Kalayaksa dengan kagum.

203 “Huh... antek Kumpeni kaupun harus hati-hati menghadapi serangan cambukku ini. Aku kuatir nanti kau pulang hanya namamu saja.” Dengus Retnosari mengejek.

Wesss... tar... tar... tar...

“Sayang anjing Kumpeni gerakanmu kurang tepat. Rupa-rupanya kau keberatan upah.” Ejek Retnosari sambil melompat keudara untuk menghindarkan pedang Undung Kalayaksa. Dan pedang itu terus meluncur hingga kena batu. Dan akibatnya batu yang kena hantam pedang Undung Kalayaksa itu menjadi hancur-lebur. Makin lama jalannya pertempuran itu menjadi semakin hebat. Retnosari tampaknya mulai berhati-hati menghadapi serangan Undung Kalayaksa.

“Ha... ha... ha... betina liar rupa-rupanya kau takut menghadapi ilmu pedangku!” Ejek Undung Kalayaksa.

Muka Retnosari menjadi merah mendengar sindiran itu. Tiba-tiba cambuknya makin gencar mengurung tubuh Undung Kalayaksa. Dengan tenaga dalamnya yang hebat itu ia dapat merubah cambuknya yang lemas itu menjadi kaku... dan dapat dipergunakan untuk senjata yang hebat.

“Hati-hati kau anjing Belanda!”... Tar...

“Bagus... sungguh hebat tenaga dalammu!” Puji Undung Kalayaksa.

Ternyata cambuk bercabang lima itu telah berubah menjadi kaku dan menghantam sebatang pohon hingga roboh patah. Serangan-serangan Retnosari semakin lama menjadi semakin hebat. Ia ingin merobohkan lawannya dengan secepat mungkin. Murid Widati ini berpikir harus dapat merobohkan musuhnya ini kurang dari seratus jurus.

Tiba-tiba..... tar... tar... tar... tar... tar... “aduh... bangsat... curang... Kumpeni licik....” Dengan tak mereka duga-duga pasukan Banten yang hampir mendapat kemenangan itu tiba-tiba mendapat serangan dari kanan dan kiri oleh pasukan Belanda yang bersenjata api. Makin lama tembakan Kumpeni makin gencar.

“Hayo rakyat Banten mundur....” Teriak Sinuwun Sultan Agung. Mendengar teriakan baginda ini segera pasukan Banten mengundurkan diri. Tapi mereka tetap siap mempertahankan.... tar.... tar.... tarr.... tarrr....

Belanda makin menggila ketika melihat pasukan Banten mengundurkan diri. Akhirnya pasukan Belanda dapat mengobrak-abrik pasukan Banten. Kini pasukan Banten benar-benar kacau dan bercerai-berai. Hanya para panglimanya yang masih mempertahankan kemerdekaan negaranya dengan gigih dan gagah berani. Panglima-panglima itu berjuang mati- matian dibawah naungan dan desingan peluru musuh.

“Tolonggg...!” Tiba-tiba tubuh baginda yang sedang memberi aba-aba itu tersambar oleh seorang kakek tua yang berambut putih dan berjenggot putih pula. Inilah kakek sakti Klabang Songo. Tubuh baginda terus dibawa lari kearah pertahanan Belanda dan Sultan Haji. Melihat kejadian ini segera Malangyuda oan Dewa Brata berkelebat mengejar Klabang Songo. Tapi kepandaian Klabang Songo sangatlah hebat. Hingga sebentar saja kedua Panglima Banten itu telah kehilangan jejak. Tapi tak antara lama Klabang 204 Songo muncul lagi dihadapan mereka. Namun Klabang Songo muncul hanya sendirian. Ya sendirian tanpa baginda. Melihat ini marahlah kedua Panglima Banten itu, segera mereka membentak dengan marah :

“Bangsat tua bangka lekas kau serahkan orang yang kau bawa lari tadi!” Memang Malangyuda dan Dewa Brata membahasakan baginda hanya dengan : ‘orang yang kau bawa lari tadi’. Bukankah dengan demikian Malangyuda dan Dewa Brata telah merahasiakan siapa adanya orang yang ditawan Klabang Songo tadi?

“Ha.... ha.... ha. bilang saja kau minta pulang rajamu!” Dengus Klabang

Songo dengan mengejek.

“Bagus.... bagus.... ternyata kau telah tahu kalau orang yang kau tawan itu adalah baginda sendiri. Nah lekas kau serahkan kalau kau tak ingin nyawa anjingmu kucabut dari dalam tubuhmu!” Seru Dewa Brata sambil menimang-nimang Trisulanya.

“Ha... ha... ha... tikus-tikus kecil mau berlagak didepan harimau. Mari- mari majulah hendak kulihat sampai dimana kepandaian kalian anjing- anjing kecil!” Seru Klabang Songo.

“Bangsat busuk! Keluarkan senjatamu!” Bentak Malangyuda dengan marah yang meluap-luap.

“Tak perlu aku mengeluarkan senjata sebab tangan dan kakiku yang telah lapuk ini masih sanggup menghantarkan nyawa kalian keneraka!” Seru Klabang Songo sambil menyiapkan kuda-kudanya.

“Setan, kau sendiri yang mencari mampus!” Seru Dewa Brata sambil menusukkan Trisulanya. Tapi dengan mudah Klabang Songo dapat memusnahkan serangan lawannya. Tak lama kemudian terjadilah pertempuran didaerah itu. Namun Klabang Songo terlalu sakti untuk dilawan oleh kedua orang Panglima Banten ini. Maka dari itu sebentar saja Klabang Songo dapat mendesak kedua lawannya dengan hebat. Pukulan- pukulan Klabang Songo selalu mengurung Malangyuda dan Dewa Brata. Pertempuran itu terus berlangsung. Malangyuda dan Dewa Brata hanya mengelakkan saja setiap kali Klabang Songo melancarkan pukulan. Mereka berdua ini bimbang untuk mencapai kemenangan. Tapi mereka berdua bersemboyan : “Lebih baik mati daripada menyerah kepada penjajah. Mati sebagai banteng Banten adalah mati terhormat.”

“Mari angger Dewa Brata kita hadapi manusia ini hingga titik darah yang terakhir.” Ajak Malangyuda sambil memperhebat permainannya.

“Baik paman!” Jawab Dewa Brata sambil menusukkan Trisulanya kearah perut lawan. Tapi secepat kilat kakek itu meloncat keangkasa, hingga terbebaslah ia dari serangan lawan yang hebat tadi.

Sementara itu dari balik semak ada sepasang mata yang selalu memperhatikan jalannya pertempuran ini. Berkali-kali penonton gelap itu menggelengkan kepala dan menarik napas panjang. Setelah mengetahui kalau kedua Senopati Banten itu terdesak dengan hebat segera ia berloncat keluar.

205 “Bagus... bagus... Klabang Songo! Kiranya kau muncul lagi didalam dunia ramai ini hanya untuk mengacau saja. Apakah kau tak akan kecewa mempergunakan waktumu yang tinggal sedikit ini hanya untuk menambah dosa?” Tegur si pendatang itu.

“Siapakah kau? dan mengapa kau mencampuri urusanku?” Bentak Klabang Songo.

“Panggil saja aku Topeng Merah. Tentang urusanmu tadi memang aku tak mempunyai sangkut paut apa-apa. Namun ini hanya sekedar nasehatku saja, Klabang Songo.” Jawab Topeng Merah dengan tenang.

“Pengecut buka topengmu mari kita bertempur sampai seribu jurus.

Jangan hanya pandai bersilat lidah saja.” Teriak Klabang Songo.

Sraaattt cepat keduanya telah mencabut pedangnya.

“Bagus Klabang Songo, setelah kau istirahat dari merampok sekarang kau membantu penjajah. Dari pada kau membantu penjajah lebih baik kau kembali keneraka saja!” Seru Topeng Merah dengan mengejek.

“Bangsat gila!” Seru Klabang Songo sambil membabatkan pedangnya kearah lambung lawan. Tapi dengan cepat Topeng Merah meloncat mundur sambil memperbaiki kedudukannya. Dalam sekejap mata saja keduanya telah bertempur dengan mati-matian. Rupa-rupanya kali ini Klabang Songo benar-benar berhati-hati sehingga setiap serangan pedang Topeng Merah selalu dapat dielakkan dengan gaya yang indah dan manis.

“Mampus kau!” Sekonyong-konyong Ki Klabang Songo memberikan serangan balasan kearah lambung Topeng Merah.

Tapi dengan sigap orang misterius itu melompat kesamping. Ketika Klabang Songo kembali menyerang maka dengan cepat Topeng Merah melompat kesamping, sambil menjuruskan pedangnya kearah pinggang lawan. Tapi rupa-rupanya kibasan pedang Topeng Merah itu hanya merupakan sebuah tipuan saja. Sebab ternyata ketika Klabang Songo mengelak kesamping satu bacokan telah datang dari samping pula. Tapi untung Ki Klabang Songo telah membuang dirinya kebelakang. Sehingga ia terbebas dari tebasan pedang Topeng Merah. Setelah meloncat berdiri lagi segera Klabang Songo menerjang lawannya lagi. Kini kedua-duanya telah saling serang-menyerang kembali.

Malangyuda dan Dewa Brata sangat kagum melihat kepandaian penolongnya ini. Belum pernah selama hidupnya ia melihat pertempuran yang sehebat dan sedahsyat ini.

Tubuh kedua orang itu telah lenyap ditelan sinar pedang masing- masing.

Tiba-tiba kedua Panglima Banten itu dikejutkan oleh gerakan Klabang Songo yang aneh itu. Karena merasakan kalau musuhnya ini benar-benar tangguh, maka Ki Klabang Songo lalu mengeluarkan ilmu simpanannya ialah ilmu Sungsang Maruto. Kepalanya tegak bagaikan ditancapkan ketanah. Tangannya tetap memainkan pedang dan kedua kakinya dipakai untuk menyerang. Tangan kirinya memukul-mukul untuk memperkuat serangannya. 206 Untuk beberapa saat lamanya Topeng Merah merasa bingung juga untuk melawan serangan Klabang Songo yang aneh ini.

Wesstt... trangg... Ketika pedang Topeng Merah membabat perut, cepat tangan kiri Klabang Songo memukul tanah yang berada dimukanya hingga ia tersurut mundur kebelakang. Disamping itu Klabang Songo juga memutar pedangnya untuk menangkis. Kedua-duanya merasa terkejut... wesssttt... tendangan kaki Klabang Songo mengarah dada orang yang misterius itu. Namun Topeng Merah adalah seorang tokoh yang telah banyak pengalamannya dalam pertempuran. Hingga dengan mudah ia dapat memusnahkan serangan lawan.

“Ha... ha... ha... Topeng Merah pengecut sampai disini dulu perjumpaan kita!” Teriak Klabang Songo sambil berkelebat pergi. Topeng Merah hanya menarik napas panjang ketika melihat kepergian lawannya itu. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh teguran Malangyuda dan Dewa Brata :

“Kisanak Topeng Merah, kami merasa sangat berterima kasih atas pertolongan andika tadi!”

“Ha... ha... ha... dalam perjuangan tak mengenal tolong-menolong kisanak!” Jawab Topeng Merah. Setelah berhenti sejenak segera Topeng Merah meneruskan perkataannya.

“Siapakah nama kalian?” “Aku Malangyuda!” “Dewa Brata!”

“Dewa Brata kalau tak salah lihat bukankah ilmu Trisulamu tadi ilmu Trisula Angin Topan Mengamuk?” Tanya Topeng Merah.

“Betul... betul... Ki Topeng Merah! Memang tadi yang kumainkan adalah ilmu Trisula Angin Topan Mengamuk. Siapakah sebenarnya andika ini? Dan dari manakah tahu akan jurus-jurus ilmu Trisulaku?” Tanya Dewa Brata dengan heran.

“Tak usah kalian memikirkan siapa aku! Sebab aku adalah Topeng Merah. Hanya saja pesanku kepada angger Dewa Brata supaya mempergunakan ilmu Trisula Angin Topan Mengamuk itu untuk berbuat kebajikan. Sekali saja aku mendengar kalau ilmu itu kau salah gunakan maka aku Topeng Merah akan mencarimu dan tak segan-segan untuk membunuhmu. Lain halnya kalau kau gunakan dengan sebaik-baiknya maka ada kemungkinan kalau aku akan menambah sejurus atau dua jurus ilmu Trisula itu.” Jawab Topeng Merah.

Sesaat kemudian Topeng Merah tenggelam dalam lamunannya. Lamunan kemasa lampau yang indah dan mesra itu. Berpuluh-puluh tahun lamanya ia hidup dunia ini. Tapi hanya setahun lamanya ia mengecap masa indah itu. Betulkah ini muridnya...? Atau anaknya....?? Ah aku tak peduli....

Setelah kira-kira sepemakan sirih lamanya maka Topeng Merah membuka suaranya kembali.

“Angger Dewa Brata dan kau Ki Malangyuda, pergilah kalian ke desa. Madangan. Disana kalian akan menemui sembilan pendekar-pendekar gagah perkasa. Mereka ini yang selalu menentang penjajah dan kelaliman.” 207 “Siapakah yang bapa maksudkan itu?” tanya Dewa Brata.

“Mereka itu adalah rombongm Joko Seno atau si Pendekar Budiman. Pendekar-pendekar inilah yang menolong Pangeran Purboyo. Dan disana pula kalian akan dapat menemui sisa-sisa Laskar Banten. Ah, silahkan kalian berdua pergi kesana.” Seru Topeng Merah sambil memberi tahu.

“Tapi siapakah kisanak ini? Dapatkah kami percaya begitu saja kepada orang yang baru saja kukenal?” Tanya Malangyuda.

“Bagus.... bagus... kalian sangat berhati-hati. Tapi kali ini hendaknya percaya saja. Aku Topeng Merah akan mati disambar geledek kalau menipumu. Dan katakan kepada angger Joko Seno kalau saat ini Pendekar Linglung ditawan oleh Baurekso dan Klabang Songo. Nah selamat tinggal dan selamat menjalankan tugas semoga Tuhan melindungi kalian.” Seru Topeng Merah sambil berkelebat pergi. Dan sebentar kemudian ia telah hilang dari pandangan mata.

“Hebat.... hebat   sungguh Topeng Merah seorang yang berkepandaian

tinggi.” Seru Malangyuda.

“Memang berkepandaian tinggi, aneh, dan misterius.” Jawab Dewa Brata.

“Sekarang bagaimana pendapatmu angger Dewa Brata? Apakah kita akan pergi kedesa Madangan saja?” Tanya Ki Malangyuda.

“Benar paman, lebih cepat lebih baik. Bukankah kita dapat ikut Pangeran Purboyo disana?” Jawab Dewa Brata.

“Tapi tentang Gusti Sinuwun Sultan Agung? Dan bagaimana kalau ini hanya merupakan sebuah jebakan saja?” Tanya Malangyuda dengan penuh kekhawatiran.

“Begini paman Malangyuda! Soal Baginda Sinuwun Sultan Agung kita tak begitu mengkhawatirkan. Sebab disana ada Sultan Abdul Nazar. Dan yang menawan beliau adalah utusan dari puteranya sendiri. Maka dari itu aku tak begitu mengkhawatirkan keselamatannya. Sejahat-jahatnya manusia tentu tak akan tega melihat orang tuanya disiksa atau disakiti. Apalagi untuk dibunuh. Cobalah paman pikirkan!” Seru Dewa Brata sambil menarik napas panjang.

Sesaat kemudian keadaan menjadi hening. Kini tampaklah kalau Malangyuda mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Betul... betul jugapendapatmu anak muda. Tapi bagaimanakah pendapatmu tentang Pangeran Purboyo yang dibawa oleh rombongan Pendekar Budiman itu?” Tanya Panglima Malangyuda sambil menatap wajah anak muda itu dengan tajam-tajam :

“Itupun kukira betul juga paman! Sebab orang sesakti Topeng Merah tadi tak usah memakai tipu muslihat kalau mau dengan mudah saja ia membunuh atau menculik kita. Untuk apa ia mempersukar dirinya sendiri? Nah paman, marilah kita cepat-cepat pergi kedesa Madangan.” Ajak Dewa Brata. Maka pergilah mereka berdua menuju kedesa Madangan.

* 208 * *

Marilah kita mengikuti perjalanan Pendekar Linglung yang telah lama kita tinggalkan. Dimanakah Pendekar Linglung berada? Dan mengapa ia tak datang ke Banten untuk menolong rakyat Banten yang sedang mengusir penjajah dan pembelontak? Baiklah kita melihat beberapa waktu yang lalu sebelum Kumpeni dan Sultan Haji menyerang Banten.

Sewaktu Undung Kalayaksa, Klabang Abang, Klabang Ungu, Klabang Songo dan Baurekso menuju Batavia dari gunung Merapi, ditengah perjalanan mereka bertemu dengan Pendekar Linglung.

“Klabang Abang dan kau Klabang Ungu marilah kalian bantu aku untuk meringkus penjahat ini!” Seru Undung Kalayaksa sambil menunjuk kearah Pendekar Linglung.

“Ha.... ha.... ha.... paman Undung Kalayaksa rupa-rupanya kau masih belum kapok oleh peringatanku dulu itu! Setelah kau mendapat kawan baru, maka kau akan mancoba menangkapku. Silahkan..... silahkan paman tapi kau jangan menyesal kalau pedangku ini tak sungkan-sungkan lagi menembus jantungmu!” Seru Pendekar Linglung sambil menggerakkan pedangnya.

Seketika itu memancarlah cahaya biru yang keluar dari pedang Pendekar Linglung. Memang inilah pedang Nogo Biru yang ia terima dari ayahnya.

“Pedang bagus..... pedang bagus   ” Seru mereka serempak.

“Hayo murid-muridku kau hadapilah pemuda sombong itu dan rebut pedang pusaka itu!” Seru Klabang Songo sambil menyuruh murid- muridnya maju.

“Heh..... heh.... heh.   bukankah ini pedang Nogo Biru?” Tanya Baurekso

dengan heran.

“Bagus, bagus kalian telah tahu nama pedangku! Nah sekarang kalian majulah untuk menerima kematian dibawah pedang yang kalian kagumi!” Seru Pendekar Linglung sambil menyiapkan kuda-kudanya.

“He.   kau pernah apakah dengan Pendekar Budiman?” Tanya Klabang

Abang dan Klabang Ungu dengan kaget.

“Apakah kepentinganmu dengan hubungan itu?” Jawab Pendekar Linglung dengan mengejek.

Syaaaatttt........ cepat Klabang Abang, Klabang Ungu dan Undung Kalayaksa mencabut pedangnya.

“Kalian pengkhianat bangsa! Aku Pendekar Linglung berjanji kalau akan membasmi kalian.” Setelah berkata demikian maka tubuhnya bergerak dengan cepat sekali. Dan sekaligus ia telah membagi-bagi serangannya kepada ketiga lawannya. Karena Pendekar Linglung maklum kalau ketiga lawannya ini adalah orang-orang pandai dalam dunia persilatan maka Pendekar Linglung lalu mengeluarkan ilmu simpanannya. Ilmu ini ialah ilmu yang ia pelajari dari Jayasengara. Tidak saja ilmu

209 silatnya yang hebat tapi juga memusatkan seluruh tenaga dalamnya untuk menguatkan setiap serangannya.

Pedang Nogo Biru mengeluarkan angin yang berbunyi sangat dahsyat. Hingga suara angin ini dapat menggetarkan isi dada lawan-lawannya, Hebat sekali gerakan Pendekar Linglung ini. Pedangnya berubah menjadi seperti halilintar menyambar-nyambar. Sinar biru menyilaukan mata ketiga lawannya. Apa lagi serangan yang dibarengi lengkingan-lengkingan tinggi. Hingga lawan-lawannya sama berloncatan mundur untuk mempertahankan diri. Maka selamatlah mereka dari serangan Pendekar Linglung yang hebat ini. Namun ketika lawannya menjadi gentar dan hatinya berdebar-debar.

Tapi ketiga lawannya ini adalah orang-orang yang cerdik dan licin. Merekapun maklum kalau pendekar muda ini tak dapat dibuat main-main. Undung Kalayaksa merasakan bagaikan kepandaian lawannya ini maju dengan pesat sekali daripada pertemuannya yang terakhir dulu.

Sebab kini Ugrasena tak sungkan-sungkan lagi kalau akan membunuh kakak seperguruannya ini dan lagi sekarang ia telah memainkan ilmu pedang Pengacau Angkasa. Maka dari itu ia mengerahkan seluruh kepandaianya, Undung Kalayaksa mengira kalau kepandaiannya bertambah maju dengan pesatnya. Kini tampaklah kalau ketiga orang antek Belanda itu telah mengurung Pendekar Linglung dari setiap sudut.

Ki Klabang Songo dan Baurekso mau tak mau dibuat kagum juga. Mereka terpesona oleh gerakan-gerakan Pendekar Linglung. Tangan mereka telah gatal-gatal dan ingin mencoba sendiri kepandaian pemuda Linglung ini. Tapi mereka malu kalau harus turun tangan mengeroyoknya. Entah apa yang akan dikatakan oleh oranng-orang dunia persilatan kalau mereka mendengar atau tahu bahwa tokoh-tokoh tua mengeroyok seorang pendekar yang baru saja muncul didalam dunia persilatan. Mendapat pikiran yang demikian itu ngerilah hati kedua pendekar angkatan tua ini.

Kini tampaklah kalau Undung Kalayaksa telah melintangkan pedangnya kedepan dada. Klabang Abang telah bersiap pula, pedangnya diangkat tinggi-tinggi keatas kepalanya. Sedang Klabang Ungu berdiri agak jongkok kedua kakinya ditekuk rendah-rendah dibawah lutut. Pedangnya dilintangkan didepan dada, matanya memandang tajam kearah lawannya dengan tak pernah berkedip.

Pendekar Linglung yang terkurung ditengah-tengah itu tampak tenang-tenang saja. Seketika itu lenyaplah kerut didahinya. Kemarahannya telah reda bahkan telah lenyap bagaikan asap ditiup angin. Memang Pendekar Linglung ini telah berhasil mengusir perasaan marahnya dari dalam hati. Dan memang inilah syarat utama dari seorang pendekar silat, ia tak mau dikuasai oleh nafsu perasaan hatinya. Pendekar Linglung berdiri diatas kuda-kuda biasa. Kaki kirinya diangkat keatas dengan lutut ditekuk, kaki kanannya berdiri diatas ujung kaki. Pedang Nogo Biru telah dilintangkan didepan dadanya. Sedang tangan kirinya memegang sebuah cambuk yang menempel dipinggangnya. Kelihatanlah kalau ujung cambuk 210 itu digoyang-goyangkan kekiri dan kekanan. Gerakannya sangat pelan hingga tak mengeluarkan suara. Sepasang matanya diredupkan seakan- akan tak menghiraukan kepungan musuhnya. Pendekar Linglung itu diam tenang sekali bagaikan seorang yang sedang bersamadi. Namun urat syarafnya telah dipasang dan panca inderanya terus mengikut setiap gerakan ketiga lawannya. Sunji hening disaat itu. Empat orang itu hanya bagaikan arca saja. Bahkan pernapasan merekapun tak terdergar.

Ki Klabang Songo dan Baurekso sangat kagum melihat ketenangan pemuda ini. Diam-diam mereka memuji akan ketenangan pendekar muda ini. Semuanya tegang dan sama-sama menahan napas. Dan perasaan mereka penuh dengan kecemasan.

Tiba-tiba keempat patung itu bergerak dengan cepat sekali hingga gerakannya sukar diikuti oleh pandangan mata. Gerakan itu disertai pula oleh teriakan-teriakan yang mengejutkan.

.....Hiattt    ! pedang ditangan Klabang Abang menyambar dengan cepat

sekali. Secepat kilat dan yang tampak hanya sinarnya saja. Wesssstt...

hanya seujung jari saja selisihnya dari leher Pendekar Linglung. Tapi Pendekar Linglung memiringkan sedikit kepalanya dan membiarkan pedang Klabang Abang menyambar didekatnya.

“Ha... ha... ha...” Wesssttt... pedang Undung Kalayaksa melakukan serangan tusukan maut dari samping selagi Pendekar Linglung memiringkan kepalanya. Disusul pula oleh serangan Klabang Ungu yang menyambar perutnya. Gerakan Klabang Ungu ini di sertai tenaga dalam yang penuh. Hingga pedang itu mengeluarkan bunyi wesss dan didahului

oleh sambaran angin tajam.

Namun dengan amat cekatan dan seakan-akan berubah menjadi asap, Pendekar Linglung telah bergerak menyelinap diantara gulungan sinar- sinar pedang lawannya. Dan tak sebuah ujung pedangpun yang berhasil mengenai tubuhnya. Begitupun dengan pukulan-pukulan yang datang dengan tiba-tiba. Namun Klabang Abang telah menyerang dengan pedangntya yang berkelebat-kelebat laksana burung garuda diangkasa. Sedangkan pedang Undung Kalayaksa mematuk-matuk bagaikan ular mencari mangsa. Terus pedang Undung Kalayaksa mengejar tubuh Pendekar Linglung dan yang diarah ialah jalan-jalan darah yang mematikan. Mereka ini dibantu pula oleh tusukan-tusukan pedang dari Klabang Ungu, yang mengeluarkan bunyi berciutan.

Seketika itu Pendekar Linglung menunjukkan kegesitannya. Ia melompat, mendekam, berjongkok, memutar tubuh, berjungkir-balik dan bergulungan dengan berganti-ganti. Setelah sepenanak nasi lamanya mereka bergerak-gerak, dengan demikian cepatnya hingga, bayangan mereka bercampur aduk menjadi satu. Tiba-tiba Pendekar Linglung telah meloncat dengan tinggi sekali dan tahu-tahu sudah berdiri delapan langkah dari para pengeroyoknya.

Kembali seperti tadi mereka berempat saling pandang-memandang dengan rasa benci. Dan satupun tak ada yang saling bergerak-gerak. 211 Mereka tetap tenang bagaikan patung-patung mati. Penasaran, marah, dan ingin lekas-lekas membunuh lawannya. Inilah perasaan musuh-musuh Pendekar Linglung.

Kini Pendekar Linglung tak terkurung lagi. Ia menghadapi musuh- musuhnya dengan mata berkilat-kilat.

Tar... Tar... Wesssttt... tiba-tiba Pendekar Linglung menggerakkan cambuknya kearah jalan darah Klabang Abang dan kemudian disusul pula dengan sambaran yang menuju keleher Undung Kalayaksa serta pedang Nogo Birunya menyambar kearah dada Klabang Ungu.

Melihat serangan yang hebat dan beruntun ini kagetlah ketiga lawan Pendekar Linglung ini. Segera Klabang Abang membuang tubuhnya kebelakang, Undung Kalayaksa berjongkok dan Klabang Ungu meloncat keudara hingga pedang Nogo Biru hanya lewat dibawah kakinya saja. Kini terbebaslah mereka bertiga dari sambaran maut cambuk dan pedang Pendekar Linglung itu. Kini kembali mereka berempat bertempur kembali dengan dahsyatnya. Trang.... wessttt.... tar.... tar Bunyi senjata beradu dan

angin tajam menyambar-nyambar. Wesssttt.... tiba-tiba pedang Undung Kalayaksa menyambar perut Pendekar Linglung. Tapi dengan secepat kilat Pendekar Liaglung mengenjot tubuhnya keudara. Namun waktu tubuhnya masih melayang diudara pedang Klabang Abang menyambar kakinya. Tapi hal ini tidak menjadikan hati Pendekar Linglung menjadi kaget. Secepat kilat ia menggerakan pedang Nogo Biru dan bersama dengan benturan itu ia meminjam tenaga lawan untuk kembali melompat keudara. Dan sewaktu tubuh Pendekar Linglung masih diudara cepat ia menjaga keseimbangan tubuhnya dan melesat kearah Undung Kalayaksa sambil menusukkan pedangnya kearah dada tapi cepat Undung Kalayaksa membuat gerakan memutar tubuh dan menangkis. Trang.... kini Pendekar Liuglung telah berhasil turun keatas bumi lagi. Tapi segera ketiga lawannya melabrak kembali. Kini kembali mereka bertempur dengan dahsyatnya. Lama kelamaan tampaklah kalau Pendekar Linglung berhasil mendesak ketiga orang lawannya.

Pedang Nogo Biru dan cambuk yang berada ditangan Pendekar Linglung itu merupakan maut yang mengintai bagi ketiga orang lawannya. Memang sangat mengagumkan sekali kepandaian Pendekar Linglung itu. Hingga orang angkatan tua seperti Klabang Songo dan Baurekso sendiri sampai terlonggong-longgong karena heran. Tak habis-habisnya kedua orang itu memuji kepandaiannya.

“Benar-benar hebat kepandaian anak muda ini.” Desis Baurekso sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Memang aku sendiri menjadi kagum akan kesanggupannya. Mungkin baru sekali ini aku melihat seorang pemuda yang berkepandaian seperti yang dimiliki oleh Pendekar Linglung ini.” Seru Klabang Songo.

“Ah lebih baik lagi kalau anak ini dapat kita tangkap dan kita beri minuman racun perampas ingatan. Bukankah dengan demikian kita akan mendapat tenaga bantuan yang sangat berguna?” Tanya Baurekso. 212 “Kalau rencana ini berhasil memang baik juga. Tapi bagaimanakah caranya menangkap pemuda yang sehebat itu?” Seru Klabang Songo dengan beragu.

“Oh....... mudah... mudah serahkan saja kepada sahabatmu ini.” Jawab Baurekso dengan bersungguh-sungguh.

Tapi bagi mereka yang sedang bertempur, Klabang Abang, Klabang Ungu dan Undung Kalayaksa menjadi sangat gelisah. Makin lama kedudukannya menjadi semakin jelek. Berkali-kali mereka menengok kearah dua orang jago tua yang sedang menonton itu. Tapi kelihatannya Klabang Songo dan Baurekso tak memperhatikan jalannya pertempuran ini.

Tiba-tiba Pendekar Linglung berkelebat dengan cepat dan terus menyerang ketiga lawannya..... trang..... tar..... tar..... tar.....

“Ah.....” Seru mereka serempak. Dan ketiga-tiganya cepat meloncat mundur. Tahu-tahu pedang mereka telah terlepas dari pegangan tangannya masing-masing dan melayang keudara kena sambaran pedang Nogo Biru dan cambuk, yang dipegang oleh pemuda yang gagah perkasa itu. Tapi bersama dengan keadaan itu berkelebatlah sesosok tubuh yang memasuki arena. Bersama dengan datangnya bayangan itu terdengarlah bentakan dari pendatang itu : “Minggir..... minggir..... kalian manusia tak berguna biar aku yang menangkapnya.” Ternyata yang masuki lapangan itu adalah Baurekso yang sejak tadi hanya menjadi penonton saja.

Melihat kalau yang datang adalah Baurekso maka cepat mereka bertiga meninggalkan lapangan dengan hati lega. Pendekar Linglung terpaksa harus menghadapi lawannya yang baru.

“Heh...... heh...... heh...... anak muda lekas kau serahkan pedangmu itu supaya cepat kuantarkan nyawamu keneraka. Atau kau berlututlah minta ampun supaya aku dapat mempertimbangkan pengampunan atas segala kekurangajaranmu!” Seru Baurekso sambil tertawa.

“Huh... setan tua kau majulah, jangan banyak mulut!” Seru Pendekar Linglung sambil menggerak-gerakkan pedangnya.

Tak lama kemudian Pendekar Linglung telah mengeluarkan teriakan keras dan tahu-tahu telah menyerang lawannya dengan mempergunakan pedangnya, namun cepat Baurekso menggerakkan tongkat ularnya sambil mengelak serangan Pendekar Linglung. Senjata pertama gunung Merapi itu menukik dari atas kekiri menusuk pundak Pendekar Linglung.

Pendekar Linglung sangat terkejut, dan ia telah maklum kalau lawannya ini biarpun telah tua dan tulang belulangnya telah kropos tapi mempunyai gerakan yang cepat dan ilmu tongkat yang amat hebat. Pendekar Linglung segera menangkis dan akhirnya kedua orang ini bertempur dengan dahsyatnya. Makin lama gerakan mereka makin cepat, baru belasan jurus saja Baurekso telah maklum kalau ilmu pedang lawannya ini benar-benar hebat. Dan ia merasa benar-benar terdesak. Tapi segera Baurekso menyambitkan senjata rahasianya yang berupa jarum- 213 jarum halus dengan tangan kirinya. Inilah senjata rahasia yang selalu diandalkan oleh Baurekso, dalam menghadapi musuh yang benar-benar tangguh.

Pendekar Linglung mengeluarkan pekikan tinggi dan tahu-tahu tubuhnya meloncat keatas. Demikian gerakannya menyerupai gerakan seekor burung dan semua sanjata rahasia yang berupa jarum dan sukar dilihat oleh mata itu lewat dibawah kakinya. Dan dari bawah Baurekso terus menyerang dengan tongkat ularnya yang terus meluncur menyerang kepala Pendekar Linglung yang sedang turun. Hal ini benar-benar tak pernah diduga oleh Pendekar Linglung. Memang Pendekar Linglung masih kalah pengalaman dengan Baurekso yang telah malang-melintang semenjak Pendekar Linglung belum lahir didunia persilatan. Terpaksa untuk menyelamatkan dirinya, karena untuk menangkis tak sempat maka jalan satu-satunya ialah membuang dirinya kebelakang. Dan bergulingan menjauhi kejaran lawan. Tapi segera ia melompat bangun dan sekali lagi tangan kirinya bergerak... tar... tar... tar... cambuknya melecut keudara.

Tapi Baurekso tak kurang waspada, cepat ia meloncat kesamping.

“Tua bangka!” Pendekar Linglung berseru dengan keras dan cambuk serta pedangnya kini berkelebat mencari mangsa. Namun Baurekso dapat mengelak dengan cepat dan menghindarkan dari setiap serangan lawannya yang datangnya bagaikan amukan angin ribut saja.

Tapi tak lama kemudian Baurekso balas menyerang dan sedikitpun ia tak memberi kesempatan kepada lawannya untuk menggerakkan pedang dan cambuk untuk balas menyerangnya. Melihat kalau dirinya telah kena kurung oleh tongkat ular Baurekso segera Pendekar Linglung berseru dengan keras dan menguras segala kepandaiannya serta memusatkan pikirannya untuk melawan Baurekso.

Ilmu pedang Nogo Angkasa, ilmu pedang Segoro Manangkep, ilmu pedang Pengacau Angkasa ilmu pedang Runtuhan Seribu Gunung dan ilmu Pedang Pembasmi Kejahatan selalu dimainkan dengan ganti-berganti. Sedang cambuk ditangan kirinya berputar-putar mencari mangsa. Ujung cambuknya mematuk-matuk setiap jalan darah yang mematikan. Tapi Pendekar Linglung masih tetap belum dapat keluar dari kepungan lawan.

“Heh.... heh.... heh.... menyerah dan berlututlah anak muda!” Seru Baurekso sambil memijit pangkal tongkatnya. Dan seketika itu. keluarlah

asap hitam dari mulut tongkat ular itu. Asap hitam itu terus meluncur kearah muka Pendekar Linglung. Segera pendekar muda ini mencium bau yang sangat merangsang yang akibatnya ia menjadi pusing. Pandangannya menjadi kabur....

“Bangsat tua curang....” Teriaknya lemah. Dan akhirnya pingsanlah pendekar muda yang sakti itu.

“Heh... bagus... biar kubunuh saja anak sial.” Seru Undung Kalayaksa sambil mengayunkan pedangnya kearah leher. Tapi tiba-tiba.... trang....

pedang Undung Kalayaksa terpental ketika bertemu dengan tongkat ular

214 Baurekso. Ternyata Baureksolah yang menangkis serangan Undung Kalayaksa.

“He.... mengapa paman menangkisnya?” Seru Undung Kalayaksa dengan kaget.

“Heh..... heh..... heh. biar saja dia hidup! Dia ini akan merupakan suatu

tenaga bantuan yang amat hebat dan baik bagi kita.” Jawab Baurekso dengan ketawa.

“Apa? Tenaga bantuan?” Tanya Undung Kalayaksa bertambah heran. “Betul!” Jawab Baurekso dengan singkat.

“Aku sungguh-sungguh tak mengerti, paman!” Seru Undung Kalayaksa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan matanya masih tetap memandang tajam kepada Pendekar Linglung.

“Ha..... ha..... ha..... kalian orang-orang tua yang akan masuk kubur masih saja akan menambah dosa dengan berlaku curang terhadap seorang pemuda yang baru muncul didunia persilatan.” Seru seorang yang bertopeng merah dari balik tikungan.

“Bangsat! Siapa kau yang berani mencampuri urusanku?” Bentak Baurekso dengan kaget.

Sungguh tinggi ilmu meringankan tubuh Topeng Merah ini. Masakan kedatangannya ini tak diketahui lebih dulu oleh Klabang Songo dan Baurekso. Sedangkan sehelai daun kering yang jatuh saja suaranya akan dapat ditangkap oleh kedua pendekar tua itu.

“Ho..... ho..... ho...... lekaslah kau lepaskan pemuda ini. Kalau tidak jangan salahkan kalau aku si Topeng Merah membuka pantangan untuk membunuh.” Seru Topeng Merah sambil mengejek.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Baurekso untuk menyerang Topeng Merah yang sedang bercakap-cakap. Ia menerjang dari samping dan terjangan ini dibarengi oleh pekikan yang nyaring hingga tak menyerupai pekikan seorang manusia lagi. Melainkan lebih pantas kalau keluar dari mulut binatang buas atau bahkan keluar dari mulut iblis yang berdiam di Neraka jahanam.

Serangan Baurekso ini hebat sekali. Tangan kirinya dihantamkan kedepan hingga menimbulkan bunyi yang berderitan bunyinya. Sedang tongkat yang dipegangnya terus meluncur kemuka.

Tapi lawannya adalah seorang tokoh yang sakti. Dan lagi Topeng Merah adalah seorang yang sangat misterius. Maka dari itu sekarang pertapa dari gunung Merapi ini menemui tandingannya.

Dengan hanya diganda ketawa saja Topeng Merah menyambut serangan Baurekso dengan serangan pula yang tak kalah hebatnya. Toperg Merah mengangkat pedangnya dan tangan kirinya menyebarkan jarum- jarum rahasia kepada Baurekso.

“Huah...!” Baurekso menjerit marah. Tentu saja ia menghindarkan serangan Topeng Merah ini. Tangan kirinya dikibaskan untuk menyambut serangan-serangan jarum lawan. Tapi sesaat kemudian Baurekso telah menyerang lawannya dengan pedangnya diputar secepat angin. Sedang 215 tangan kirinya masih tetap memukul-mukul untuk tambah mendesak serangan lawannya.

“Ha... ha... ha...” Topeng Merah tertawa mengejek. Langsung ia memainkan pedangnya untuk mengimbangi permainan lawannya yang hebat itu. Dilain saat mereka telah berhantam dengan serunya. Biarpun senjata Baurekso terbuat dari kayu dan senjata Topeng Merah terbuat dari besi, tapi kalau kedua senjata ini beradu akan terdengarlah suara nyaring. Inilah berkat tenaga dalam mereka yang berimbang. Lama-kelamaan pertandingan kedua orang itu makin bertambah seru dan dahsyat. Angin yang dikeluarkan oleh kedua senjata orang itu berderu-deru bagaikan angin puyuh. Hingga pohon-pohon disekitarnya menjadi goyang-goyang. Dan daun-daun banyak yang rontok. Tiba-tiba terdengarlah teriakan Baurekso :

“Klabang Songo, lekas bawa lari pemuda ini dan biarlah badut yang tak lucu ini kutahan disini.”

“Baik Baurekso, dan hati-hatilah kau menghadapi orang gila ini!” Jawab Klabang Songo sambil membawa lari tubuh Pendekar Linglung.

Mendengar percakapan kedua orang ini bukan main terkejutnya hati Topeng Merah. Secepat kilat ia berkelebat mengejar Ki Klabang Songo, tapi Baurekso terus menghadang dan melabraknya terus. Hingga mau tak mau Topeng Merah harus menghadapi Baurekso dulu.

Asap hitam yang beracun terus tersebar menyerang Topeng Merah. Tapi Topeng Merah telah maklum akan akibat dari asap hitam itu dan tahu pula akan kelicikan lawannya ini. Cepat Topeng Merah menutup pernapasannya setiap kali tongkat ular itu mengeluarkan asap hitam. Dan pedangnya diputar dengan hebat untuk membuyarkan gumpalan- gumpalan asap hitam yang beracun itu.

“Bedebah curang!” Seru Topeng Merah sambil memperhebat permainan pedangnya. Tapi makin lama makin banyak pula asap hitam yang dikeluarkan oleh tongkat ular Baurekso itu. Kini tampaklah kalau pertempuran itu berjalan semakin seru. Masing-masing mempertaruhkan nyawanya. Tiba-tiba terdengarlah seruan Topeng Merah dengan lantang :

“Bangsat! Sekarang terimalah kematianmu!” Dan seketika itu Topeng Merah memperhebat permainannya. Dan sekarang tampaklah kalau Topeng Merah telah mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya. Lama- kelamaan Topeng Merah berhasil mendesak Baurekso dengan hebat sekali. Tiba-tiba tongkat ular itu mengeluarkan suara.... werrr.... wessttt dan

bersama dengan terdengarnya suara itu meluncurlah uap hitam yang mengepul-ngepul dan serentetan jarum-jarum senjata rahasia yang beracun keluar dari mulut tongkat ular itu.

Seketika itu Topeng Merah meloncat mundur. Begitu Topeng Merah melompat mundur, segera Baurekso melarikan diri. Namun dengan tak banyak membuang waktu lagi segera Topeng Merah mengejar Baurekso. Kejar-mengejar segera terjadi. Tapi karena keduanya mempunyai kapandaian yang setingkat maka jarak antara Baurakso dan Topeng Merah 216 itu tetap saja. Tiba-tiba Baurekso melihat seorang pemuda yang baru enak- enak naik kuda didepannya. Dengan cepat lalu ia menyambar pemuda itu dan langsung melemparkan kearah Topeng Merah yang sedang lari, sedang ia sendiri lalu melompat keatas pelana kuda itu dan dipacunya dengan cepat-cepat.

Melihat kejadian ini terkejutlah hati Topeng Merah dan seketika itu rasa kemanusiaannya naik keatas otaknya. Karena itu lalu tak sampai hatilah ia membiarkan pemuda ini jatuh dihadapannya.

Maka dari itu cepat ia bergerak dan langsung menerima tubuh penunggang kuda tadi. Karena gerakannya ini maka Topeng Merah telah ketinggalan jauh oleh Baurekso. Apalagi sekarang Baurekso naik kuda. Setelah meletakkan tubuh pemuda ini dipinggir jalan segera ia akan mengejar Baurekso lagi. Tapi betapa terkejutnya kalau ia melihat bahwa pemuda yang ia tolong tadi jatuh pingsan. Segera ia mengurungkan niatnya untuk mengejar Baurekso dan segera menolong pemuda tadi. Seketika itu ia mendapat pikiran : “Kalau menolong seorang janganlah hanya setengah- setengah saja!”

Setelah dipijit-pijit sejenak maka sadarlah pemuda itu dari pingsannya. Setelah mendapat urutan dari Topeng Merah maka hilanglah rasa sakit yang dideritanya yang jatuh dari kuda.

“Terima kasih tuan atas pertolongan yang telah tuan berikan kepadaku.” Seru orang yang ditolongnya tadi.

“Ha..... ha..... ha..... Tolong-menolong adalah menjadi kewajiban kita manusia. Maka kalau kau akan menyatakan terima kasih nyatakan kepada Tuhan yang masih melindungimu. Dan siapakah namamu anak muda?” Jawab Topeng Merah.

“Untung! Dan siapa pula yang menjadi nama tuan?” “Panggil saja aku Topeng Merah!”

Memang pemuda yang malang tadi adalah Untung murid dari Kyai Embun. Setelah hati Untung terbuka maka kini Untung telah berbelok haluan dan kini ia memberontak kepada bangsa Belanda. Sebab ia merasa malu kepada rekan-rekannya yang sedang berjuang untuk mengusir penjajah. Ia ingin memerdekakan nusa dan bangsanya dari cengkeraman penjajah Belanda.

“Mari tuan singgah dulu dipondokku!” Ajak Untung dengan nada memohon.

“Terima kasih. Untung! Maaf saja karena aku masih harus menolong Pendekar Linglung dari tangan Baurekso dan Klabang Songo. Nah selamat tinggal anak muda!” Seru Topeng Mwrah sambil berkelebat pergi.

Melihat kecepatan gerakan Topeng Merah ini makin kagumlah hati Untung kepada penolongnya itu. Diam-diam ia membandingkan antara Topeng Merah itu dengan Pendeta Kalinggapati yang telah berhasil mengalahkan kepandaiannya dengan hati terbuka. Pendeta ini pula yang telah membuka hati Untung untuk berjuang demi bangsa dan negaranya.

217 Sementara itu yang berada didesa Madangan Pendeta Kalinggapati, Pendeta Kertopengalasan dan Wulandari sedang asyik meramu obat- obatan.

Pendeta Kertopengalasan tak henti-hentinya memijit-mijit tubuh Pangeran Purboyo. Sedang Wardani dan Raden Ayu Gusik menanti hasil pengobatan itu dengan hati yang berdebar-debar. Dari wajah Raden Ayu Gusik tampaklah kalau isterinya Pangeran Purboyo ini menunjukkan suatu perasaan yang kuatir dan cemas. Keringat dingin keluar dari dahinya dengan deras. Tapi sesaat kemudian Pangeran Purboyo telah siuman dan sekarang dapat tidur dengan pulas.

“Marilah saudara-saudara kita bicara diserambi muka saja. Biar Pangeran Purboyo tidur dulu.” Seru Pendeta Kertopengalasan. Maka pergilah mereka menuju keserambi muka. Setelah mereka duduk diatas tikar pandan yang putih bersih itu segera mereka menceriterakan pengalamannya masing-masing.

“Ah, bagaimanakah nasib Baginda Sultan Agung Tirtoyoso?” Seru Gelondong Perbawa.

“Entah, tapi tadi kulihat paman Malangyuda dan Dewa Brata mengejar penculik Baginda Sinuwun!” Jawab Wardani.

“Siapakah yang menculik Baginda Sultan Agung tadi?” Potong Ariyani bertanya.

“Ki Klabang Songo dan Baurekso!” Jawab ayahnya dengan singkat. “Apakah Klabang Songo guru dari Klabang Abang dan Klabang Ungu

itu?” Tanya Wulandari.

“Betul!” Jawab suaminya dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Siapakah Dewa Brata dan Malangyuda itu?” Tanya Joko Seno kepada

Wardani.

“Paman Malangyuda dan Dewa Brata adalah Panglima-panglima Perang Kerajaan Banten.” Jawab Wardani menerangkan.

Mendengar keterangan ini Joko Seno hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ah..... mengapa Pendekar Linglung tak datang? Kata paman Pendeta Kalinggapati dan kakang Widura ia akan datang kemari untuk membantu baginda sinuwun. Tapi nyatanya? Batang hidungnya tak tampak!” Seru Ariyani dengan lantang.

Mendengar perkataan Ariyani ini berdebar-debarlah hati Wardani. Seketika itu terbayanglah dan terkenanglah akan kekasihnya yang ia rindukan selama ini. Tapi segera ia dikejutkan oleh suara Pendekar Budiman.

“Oh..... ya..... benarkah kalau tadi Pendekar Linglung itu tak muncul?

Pada hal ia sendiri yang mengundang kami kemari.”

“Pendekar macam apakah pemuda itu?” Dengus Retnosari.

“Bibi, mungkin ia mempunyai tugas yang lebih penting lagi dari pada ini atau ia berhalangan datang.” Seru Wardani membela kekasihnya yang dihina orang. 218 “Tapi mana buktinya kalau ia muncul? Dia telah mengingkari janjinya sendiri. Kalau belum dapat menepati janjinya janganlah menepuk dada dan menyebut dirinya sebagai seorang pendekar!” Gerutu Retnosari.

“Bibi, sekali lagi kuperingatkan janganlah kau menghina Pendekar Linglung!” Seru Wardani dengan marah.

“Eh. mengapa kau membelanya dengan mati-matian?” Seru Retnosari

dengan heran.

“Dia penolongku! Dan pokoknya kau tak boleh menghinanya!” Bentak Wardani dengan beraninya.

“Bagus..... bagus..... rupa-rupanya kau telah jatuh hati kepada pendekar sinting itu, gadis liar!” Seru Retnosari mengejek.

Mendengar perkataan Retnosari ini merahlah wajah Wardani semerah kepiting direbus.

“Kurangajar jangan kau kira aku takut melawanmu, manusia sombong.” Seru Wardani dengan berdiri. “Paman Joko Seno! Marilah kalian hadapi ilmu pedangku yang masih dangkal ini paman dan bibi.” Seru Wardani sambil mencabut pedangnya........ “Sudah.... sudah.... adi mengapa kau melayani anak kecil?” Tegur Pendekar Budiman kepada isterinya.

“Bagus.... bagus rupa-rupanya kaupun akan mengejekku, paman Joko Seno! Marilah kalian hadapi ilmu pedangku yang masih dangkal ini paman dan bibi.” Seru Wardani sambil mencabut pedangnya.

“Anak baik simpanlah kembali pedangmu. Dan bukan sekali-kali aku akan menghinamu. Tapi aku tak ingin kalau orang-orang kita saling bergebrak sendiri. Biarlah aku yang memintakan maaf atas segala kesalahan isteriku tadi.” Seru Joko Seno dengan tenang.

Mendengar perkataan Joko Seno ini hilanglah segala kemarahan yang ada dihati Wardani. Semua kemarahannya hilang lenyap bagaikan awan yang tersapu angin. Segera ia menyarungkan kembali pedangnya.

Begitupun dengan Retnosari, ia tak berani berkeras kepala lagi sebab salah-salah ia bisa kena damprat dari suaminya. Tapi tiba-tiba terdengarlah suara Ariyani yang menyeletuk :

“Paman Joko Seno biarlah bibi Retnosari memberi sedikit pengajaran kepadanya. Biar ia tak berani lagi berlaku kurangajar terhadap bibi ”

“Yani diam!” Bentak Barata. “Tapi ayah. ”

“Diam! Aku bilang diam! Memang keputusan pamanmu tadi sangat bijaksana. Mengapa kau hanya akan menambah rusuhnya keadaan saja?” Tegur Barata.

Memang diam-diam Ariyani merasa cemburu kepada Wardani. Sebab ia tahu kalau hati Wardani telah tercuri oleh pemuda pujian hatinya. Dan ini dapat diketahuinya dalam pembelaannya terhadap Pendekar Linglung. Karena perasaannya ini maka ia ingin sekali meminjam tangan Retnosari untuk menghajar Wardani. Seketika itu keadaan menjadi hening. Semuanya membisu.

Tiba-tiba terdengarlah suara derap kaki kuda yang menuju kepondok itu. Makin lama makin dekat dan derap kaki kuda itu makin keras kedengarannya. Semua penghuni rumah itu hatinya menjadi tegang.

Mereka sedang mengira-ngira siapakah yang datang pada malam buta ini? Seketika itu Pendekar Budiman mengayunkan tangan kanannya.....

wesstt     matilah pelita yang berada didalam ruangan itu. Keadaan menjadi

gelap. Derap kaki kuda semakin lama semakin jelas. Bahkan kini penunggangnya telah turun dari pelana kudanya :

“Paman Joko Seno..... guru..... aku Widura datang menghadap.” Seru pemuda itu yang tak lain adalah Widura.

“Hem....... kau angger Widura membuat orang jadi kaget saja.” Seru pendeta Kertopengalasan.

“Paman-paman sekalian dan semuanya saja marilah kita tinggalkan desa ini. Sebab pasukan Belanda dan Sultan Haji telah mencium jejak kita. Bahkan malam ini pula mereka telah menuju kemari. Marilah kita tinggalkan desa Madangan ini sebelum terlambat. Sebab mereka membawa senjata lengkap dan perajurit besar.” Seru Widura. 220 “Mereka menuju kemari?” Tanya para ksatria itu dengan serempak. “Betul!” Jawab Widura dengan singkat.

“Dan kemanakah yang akan kita tuju sekarang?” Tanya Wulandari. “Mari kita pergi kehutan Paranggelung disebelah barat kota Batavia.

Disana aku mempunyai seorang sahabat yang bernama Untung. Kukira mau melindungi kita dari kejaran bangsa Belanda. Sebab Untung sendiri adalah seorang pejuang yang menentang penjajah. Apakah paman dan saudara-saudara sekalian setuju dengan pendapatku ini?” Tanya Widura sambil menguraikan pendapatnya.

Seketika itu keadaan menjadi hening. Masing-masing baru memikirkan berita yang dibawa oleh Widura itu.

“Untung..... Untung..... apakah Untung yang dahulu menjadi perajurit Kumpeni itu?” Tanya Pendeta Kalinggapati.

“Betul paman, dahulu ia adalah seorang serdadu Kumpeni. Tapi sekarang ia telah menjadi sadar maka ia berobah haluan dan sekarang bertekad untuk mengusir penjajah dari muka bumi ibu pertiwi ini.”

“Bagus..... bagus..... rupa-rupanya ia telah insyaf. Dan kukira tak ada jeleknya kalau kita pergi kesana.” Seru Pendeta Kalinggapati dengan tersenyum puas.

Memang sudah semenjak dahulu Pendeta Kalinggapati sudah merasa senang kepada anak muda yang bersama Untung itu. Dan Untung sendiri merasa simpati oleh gerakan-gerakan yang dijalankan oleh pendeta yang dianggap pemberontak oleh Belanda. Bahkan pendeta ini pula yang mengetuk hati Untung untuk segera sadar dan mengingat nasib bangsanya yang hidup dalam kungkungan penjajah.

“Bagaimana pendapatmu, adi Joko Seno? Setujukah kau dengan usul adi Gagak Rimang ini?” Tanya Pendeta Kertopengalasan.

“Karena waktu telah mendesak dan lagi kakang Gagak Rimang telah mengenal watak-watak dari Untung itu maka aku hanya menurut saja dengan pendapat kakang Gagak Rimang itu.” Jawab Pendekar Budiman dengan tenang.

“Nah kalau begitu marilah kita segera berangkat!” Ajak Widura.

Setelah mengemasi barang-barang yang perlu dibawanya maka berangkatlah mereka. Sedang Pangeran Purboyo yang sakit itu diangkat dengan tandu.

Ditengah jalan Wardani dan Ariyani saling lirik-melirik dengan penuh kecurigaan. Satu sama lain memang telah merasa tak cocok dan tak suka. Ariyani merasa cemburu sedang Wardani merasa marah melihat sikap Ariyani yang aneh tadi. Untunglah Wulandari dan Redan Ayu Gusik tahu akan gelagat mereka ini. Masing-masing mendekati anak dan saudaranya dengan menasehati. Setelah menempuh perjalanan yang lama maka sampailah mereka dihutan Paranggelung yang mereka tuju. Setelah sampai dihutan ini maka Widura mendahului rombongan ini untuk menemui Untung.

221 “Hai apa kabar saudara Wirayuda?” Tegur Widura kepada orang yang menjaga sarang dari Untung.

“Hai Widura mari-mari kita duduk-duduk didalam!” Jawab Wirayuda ramah ketika melihat tamunya ini.

“Sabar, sabar, Wirayuda! Apakah Untung ada? Aku akan menyampaikan sesuatu berita penting kepadanya.” Seru Widura dengan tersenyum manis.

“Mau bertemu dengan Untung? Ada... ada... Mari silahkan masuk!” Sewaktu Widura dan Wirayuda bercakap-cakap tampaklah seorang pemuda yang keluar dari semak-semak itu.

“Ada keperluan apakah Widura?” Tanya orang gagah yang baru keluar

itu.

“Eh... Untung! Aku datang kemari dengan maksud minta perlindungan darimu. Apakah kau suka melindungi kami?” Tanya Widura dengan penuh harapan.

“Perlindungan? Kami? Apakah maksudmu?” Tanya Untung.

“Begini Untung, baru-baru ini kami sedang melawan penjajah di Banten. Dan akhirnya kami terdesak oleh senjata api mereka. Maka kami lari kedesa Madangan, tapi jejak kami telah tercium oleh para penjajah, lalu akhirnya aku lari kemari untuk minta perlindungan darimu yang juga sedang melawan penjajah. Dan apakah kau suka menolong kami?” Tanya Widura.

“Kalau soal menolong aku Untung selalu siap sedia. Tapi siapakah yang kau maksudkan dengan kami tadi?” Tanya Untung kepada Widura dengan pandangan mata penuh selidik.

“Mereka itu adalah Pangeran Purboyo dengan isterinya. Dan rombongan para ksatria-ksatria yang dipimpin oleh Pendekar Budiman.” Jawab Widura menerangkan.

“Silahkan menanti sebentar Widura! Biar aku membicarakan soal ini dengan Kyai Embun dulu.” Setelah berkata demikian maka kembalilah Untung masuk kedalam semak-semak itu dan tak menghiraukan Widura yang rupa-rupanya masih ingin menyampaikan kata-katanya.

“Bapa, diluar ada tamu yang ingin minta perlindungan kepada kita! Bagaimanakah menurut pendapat bapa?” Tanya Untung kepada seorang tua yang menjadi gurunya.

“Eh... eh. siapakah itu angger?” Seru Kyai Embun.

“Mereka itu adalah Pendekar Budiman dengan rombongan dan Pangeran Purboyo serta isterinya.” Jawab Untung.

“Apa? Joko Seno? Pendekar Budiman? Suruh mereka masuk! Aku ingin sekali lekas bertemu dengannya. Sebab sudah dua puluh tahun lamanya aku berpisah dengannya.” Seru Kyai Embun dengan wajah berseri-seri.

Setelah mendapat ijin dari gurunya segera ia keluar dari dalam sarangnya.

“Widura aku dapat menerima tamu-tamu itu. Dan sekarang dimanakah mereka?” Tanya Untung. 222 “Terima kasih........ terima kasih........ Untung. Mereka masih menanti dihutan sebelah barat ini.” Jawab Widura.

“Mari, mari kita jemput mereka itu Widura! Dan kau Wirayuda tetaplah jaga disini!” Seru Untung.

“Baik Untung!” Jawab Wirayuda.

Maka dengan cepat Untung dan Widura berlari menuju ketempat tamunya menanti.

“Angger Untung baik-baik sajakah kau?” Tegur Pendeta Kalinggapati setelah yang menjemputnya adalah Untung sendiri.

“Oh.   bapa pendeta? Maaf aku terlambat menjemput bapa! Sebab tadi

Widura tak mengatakan kalau bapa ikut serta rombongan ini. Mari, mari kita menuju ketempat tinggalku!” Setu Untung dengan ramah.

Melihat keramahan Untung ini senanglah hati para pendekar itu.

Segera mereka menuju kesarang dari Untung.

“Siapakah diantara tuan-tuan ini yang bernama Joko Seno?” Tanya Untung kearah para tamunya.

“Aku, anak muda!” Jawab Pendekar Budiman singkat.

“Dan paman pulakah yang bergelar Pendekar Budiman?” Kembali Untung bertanya.

“Betul aku Pendekar Budiman atau Joko Seno! Ada kepentingan apakah denganku, anak muda?” Balas Joko Seno bertanya.

“Tidak paman...... tidak apa-apa...... hanya saja paman ditunggu oleh guruku. Dan paman Joko Seno sangat dirindukan oleh beliau.” Jawab Untung menerangkan.

“Ditunggu? Rindu? Siapakah gurumu itu anak muda?” Tanya Joko Seno dengan heran.

“Beliau adalah Kyai Embun!” Jawab Untung dengan singkat.

“Kyai Embun? Siapa dia?” Sesaat Joko Seno tepekur, tampaklah kalau Joko Seno sedang menguras segala ingatannya. Namun tetap saja ia tak dapat mendapatkan jawabannya. Siapakah Kyai Embun itu. Akhirnya ia berkata : “Entah anak muda aku lupa. Sebab selama hidupku ini baru sekali mendengar nama gurumu itu.” Jawab Joko Seno.

“Tapi paman, waktu aku bilang kalau yang datang adalah paman Joko Seno beliau menjadi terkejut. Dan cepat-cepat guruku menyuruhku untuk cepat-cepat menyambut kedatangan paman.” Jawab Untung menegaskan.

Kembali Pendekar Budiman berpikir : “Terkejut? mengapa ia terkejut setelah mendengar kalau aku yang datang? Apakah dia bekas musuhku? Ah. biar aku harus hati-hati.”

Tiba-tiba lamunan Joko Seno itu dipecahkan oleh perkataan Untung. “Nah tuan-tuan kita telah sampai. Mari kita lekas masuk kedalam saja.”

Ajak Untung sambil membuka dedaunan yang menutupi lobang gua itu.

Melihat keadaan seperti ini hati Joko Seno bertambah tegang. Pikiran buruk memenuhi otaknya. Tapi ia tak mau menunjukkan perasaan cemasnya ini. Dengan diam-diam Pendekar Budiman telah mengetrapkan ajinya Bledek Mangampar dikedua telapak tangannya. Setelah beberapa 223 saat mereka masuk kedalam gua itu maka tiba-tiba terdengarlah teriakan dari dalam gua itu :

“Angger Joko Seno !!!”

“Oh. kakek Sancaka!” Jawab Joko Seno sambil menarik kembali ajinya

yang telah ia trapkan dikedua belah tangannya. Kini keduanya telah saling berpelukan untuk melepaskan perasaan rindu mereka.

Ternyata yang memanggil Pendekar Budiman itu adalah Sancaka atau Kyai Embun. Kyai Embun atau Sancaka ini pernah pula menurunkan beberapa jurus ilmu pedang kepada pendekar besar ini. Adapun ilmu pedang yang diturunkannya itu ialah ilmu pedang ‘Pembebas Kejahatan.

{Baca Pendekar Linglung jilid I}

“Selamat berjumpa kembali paman Sancaka.!” Seru Pendeta Kalinggapati, Pendeta Kertopengalasan, Barata, Wulandari dan Retnosari dengan serempak.

“Ah, selamat datang... selamat datang.... anak-anak gagah! Mari kita mengambil tempat duduk dan biarkan Pangeran Purboyo istirahat dulu.” Jawab Kyai Embun.

Setelah mereka berkenalan dan mengambil tempat duduk, maka mulailah mereka bercakap-cakap dengan asyiknya.

“Kakek, mengapa kau bisa berada disini?” Tanya Joko Seno kepada Sancaka.

“Ha.... ha... ha. panjang sekali ceritanya angger! Sebelum aku bercerita

aku ingin menanyakan dulu bagaimanakah keadaan sahabat-sahabatku?” “Apakah yang kakak maksudkan itu Eyang Panembahan Jatikusumo

dan bibi Widati?” Tanya Joko Seno.

“Betul. Siapa lagi kalau bukan dua orang tua itu? Bukankah yang lain telah meninggal?” Seru Sancaka dengan tersenyum-senyum.

“Entah kakek, sebab eyang dan bibi telah lama meninggalkan tempatnya masing-masing. Bahkan mereka itu tak meninggalkan pesan atau tanda-tanda kemana mereka pergi.” Jawab Joko Seno.

“Memang Widati si Setan Utara itu orangnya aneh. Tapi mengapa eyangmu yang alim itu ikut-ikutan menghilang segala?” Seru Kyai Embun.

“Nah, paman sekarang tiba giliran andika untuk menceritakan pengalaman-pengalaman paman dan mengapa sampai dapat disini.” Seru Barata.

“Hem... baiklah anak-anak muda. Sehabis pulang dari melihat pernikahan kalian itu aku lalu pergi merantau. Sesuai dengan nama julukanku dulu, aku pergi untuk mengemis disana-sini. Hampir seluruh Jawa ini kujelajahi. Akhirnya aku menetap di Batavia.

Disana aku tertarik oleh seorang pemuda yang mempunyai bakat sebagai seorang pemimpin dan menjadi seorang pendekar. Tapi sayagnya ia hidup diantara bangsa penjajah. Sedikit demi sedikit kuselidiki watak dari anak muda itu. Dan Alhamdulillah dia ternyata anak baik dan berjiwa patriot. Biarpun dia seorang serdadu Belanda tapi jiwanya memihak bangsa dan negaranya. Melihat kelakuannya yang baik ini maka aku 224 berkenan mengambilnya sebagai murid. Tapi sayangnya waktu yang kuperoleh untuk mengajarnya hanya sedikit. Maka dari itu perkembangannya menjadi sangat lambat. Pemuda yang kuceritakan ini adalah si Untung murid tunggalku ini. Pada suatu hari kami ditangkap oleh bangsa Belanda karena aku telah berani mengawinkan Untung dengan Suzana anak Edeler Moor. Perkawinan ini kulaksanakan dengan secara diam-diam. Didalam penjara kami bertemu dengan para ksatria-ksatria yang bernasib seperti kami. Maka kami orang-orang tahanan bersepakat untuk berontak. Setelah kami rundingkan dengan masak-masak maka pada waktu kami disuruh antri mengambil makanan, maka saat itu pula yang kami pergunakan untuk berontak. Dan hasilnya sangat memuaskan sebab kita dapat membunuh serdadu Belanda yang tak terbilang banyaknya. Dan pula kami berhasil keluar dari tahanan yang dijaga dengan kuat itu. Setelah kami puas mengacaukan tempat tahanan itu maka kami melarikan diri menuju kehutan Paranggelung ini. Dan hampir setiap hari kami mengadakan serangan-serangan gelap kepada Benteng Belanda di Batavia.” Seru Sancaka dengan mengakhiri ceritanya.

“Bagus...... bagus...... rupa-rupanya kakek Sancaka yang telah tua ini masih pula berjuang dengan gigih untuk melawan para penjajah!” Seru Joko Seno yang menjadi kagum oleh gerakan Untung yang diawasi oleh seorang kakek yang sakti itu.

*

* *

Kita tinggalkan dulu mereka yang sedang bercakap-cakap itu. Marilah sekarang kita ikuti perjalanan Malangyuda dan Dewa Brata. Yang sedang menuju kedesa Madangan.

“Nah Paman Malangyuda, desa Madangan telah kelihan!” Seru Dewa Brata sambil menunjukkan tangannya kemuka.

“Memang angger, tinggal kita lalui saja hutan ini, dan setelah itu akan sampai didesa Madangan.” Jawab Malangyuda.

“Mari paman kita percepat perjalanan kita supaya kita cepat ditujuannya. Dan makin cepat kukira makin baik. Sebab nanti kita akan dapat menemui Pangeran Purboyo.”

Setelah berkata demikian segera kedua Panglima Banten itu memperlebar langkahnya. Jarak yang mereka tempuh makin lama makin dekat. Dan akhirnya sampailah mereka didesa Madangan. Setelah menanyakan kepada penduduk dimana rumah Gelondong Perbawa, maka cepat mereka menuju kerumah itu. Tapi betapa terkejutnya hati Malangyuda dan Dewa Brata ketika melihat rumah itu telah hancur-lebur.

“Setan alas! Rumah ini telah hancur-lebur!” Desis Malangyuda. “Paman, mungkin jejak Pangeran Purboyo telah tercium oleh Belanda.

Hingga mereka menyerbu dan membakar rumah ini.” Jawab Dewa Brata.

225 Sewaktu mereka sedang sibuk bercakap-cakap datanglah seorang anak kecil yang menghampiri kedua Panglima Banten itu.

“Paman, apakah paman berdua inikah yang bernama paman Malangyuda dan paman Dewa Brata? Tanya anak kecil itu.

Mendengar pertanyaan anak kecil ini maka kedua Panglima Banteng ini saling berpandangan satu dengan yang lain. Tapi sesaat kemudian Dewa Brata menjawabnya :

“Benar anak! Aku Dewa Brata dan ini adalah paman Malangyuda.” “Kebetulan paman.... sebah sudah tiga hari lamanya aku menanti

kedatangan paman bedua disini.” Seru anak itu dengan menunjukkan wajah yang gembira.

“Menunggu kami?” Tanya Malangyuda dengan kaget.

“Ya, menunggu paman berdua.” Jawab anak itu dengan singkat.

“Apa maksudmu menunggu kami disini? Dan dari mana kau mengetahui kalau kami akan menuju kemari?” Tanya Dewa Brata penuh selidik.

“Memang aku menunggu paman berdua disini karena disuruh oleh seorang tua, dan tiga hari yang lalu tuan itu menitipkan sebuah surat yang harus kusampaikan ditangan paman berdua.” Jawab anak itu sambil mengangsurkan sehelai surat.

“Surat? Dari siapakah surat ini, anak?” Tanya Malangyuda sambil menerima surat itu.

“Entah akupun tak tahu namanya. Sebab beliau tak mau memberitahukan namanya kepadaku.” Jawab anak kecil itu.

“Dan tahukah kau ciri-ciri orang yang menitipkan surat ini?” Tanya Dewa Brata.

“Beliau memakai sebuah topeng yang berwarna merah, dan topeng itu terbuat dari kain.” Jawab anak kecil itu.

“Topeng Merah!!!” Seru mereka serempak.

“Sekarang dimanakah Topeng Merah itu, anak?” Tanya Dewa Brata. “Entah paman, begitu orang itu menitipkan surat itu kepadaku lalu ia

segera pergi.” Jawab si anak kecil.

“Terima kasih anak muda!” Seru Malangyuda.

“Karena sekarang tugasku telah selesai maka ijinkanlah aku pergi dahulu paman.” Seru anak laki-laki itu.

“Nanti dulu! Siapa namamu?” Tanya Dewa Brata. “Naya!” Jawabnya.

“Pernah apakah kau dengan Topeng Merah itu? Kembali Dewa Brata bertanya.

“Tak ada sangkut-pautnya, sebab aku sendiri baru sekali itu bertemu dengan Topeng Merah.” Jawab Naya.

“Hem..... kalau demikian silahkan kalau kau akan pergi dan sekali lagi kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih, anak!” Jawab Dewa Brata.

Setelah minta diri kepada kedua Panglima Banten itu lalu larilah anak

itu. 226 “Hem.... sungguh aneh dan misterius sekali Topeng Merah itu!

Gerakannya sangat dirahasiakan.” Desis Malangyuda.

“Benar paman, dan apakah isi dari suratnya itu?” Tanya Dewa Brata. “Entah angger, sebab aku sendiri belum membacanya.” Jawab

Malangyuda.

“Marilah kita baca sekarang saja paman!” Seru Dewa Brata.

Setelah surat itu dibuka segera keduanya mulai membacanya. Adapun isi surat itu ialah :

Angger Dewa Brata dan ki Malangyuda. Persembunyian Pangeran Purboyo telah tercium oleh

Belanda. Dan rumah yang kalian cari telah terbakar.

Sekarang dapatlah kalian pergi kehutan Paranggelung di mana Untung bersarang. Dan disana kalian akan mendapatkan junjungan kalian yang telah disalamatkan oleh para ksatria. Nah selamat berjuang, semoga berhasil.

Topeng Merah.

“Hem. benar-benar sakti Topeng Merah itu. Tapi mengapa ia tak mau

turun tangan sendiri untuk menolongnya?” Gumam Dewa Brata.

“Memang angger, biasanya orang sakti bertabiat aneh. Nah, marilah kita segera berangkat kehutan Paranggelung supaya jangan terlambat lagi.” Ajak Malangyuda.

“Baik paman!” Jawab Dewa Brata singkat.

Kini kembali keduanya melanjutkan perjalanannya. Setelah mereka mengadakan perjalanan berhari-hari maka sampailah mereka kehutan Paranggelung.

“Hem.... tahukah angger, dimanakah Untung bersarang?” Tanya Malangyuda.

“Entah paman, tapi biarlah kita cari saja disetiap pelosok hutan ini.” Ajak Dewa Brata.

Setelah mendapat keputusan ini segera kedua orang Panglima Perang Kerajaan Banten itu mulai mencari sarang dari Untung yang sedang memberontak terhadap Belanda. Setelah mereka sumpai ditengah-tengah hutan Paranggelung tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara bentakan :

“Berhenti!”

Mendengar bentakan ini segera kedua Panglima Perang Kerajaan Banten itu berhenti. Tapi keduanya tetap saja bersiaga. Hingga sewaktu- waktu mereka mendapat serangan gelap mereka dapat menghindar atau membalasnya. Setelah sesaat lamanya maka muncullah dua orang dari balik semak-semak.

“Siapakah kalian ini? Dan apa maksudmu memasuki hutan Paranggelung sini?” Bentak kedua pendatang itu. 227 “Kami Malangyuda dan Dewa Brata Panglima Perang dari Kerajaan Banten. Adapun maksud kami ialah akan mencari sarang dari gerakan Untung. Sebab kami ingin menemui Pangeran Purboyo yang menetap didalam sarang Untung itu.” Jawab Malangyudo.

“Apa maksudmu untuk mencari Pangeran Purboyo yang sekarang baru menjadi tamu kami?”

“Kami adalah anak buahnya! Tentu saja kami datang kemari untuk bergabung dengan gerakan pemimpinnya.” Jawah Dewa Brata.

“Tapi semua orang yang belum kami kenal tak boleh masuk kedalam dengan membawa senjata. Kalau kalian mau menyerahkan senjata-senjata kalian kepada kami barulah kami berani mengantar kalian untuk masuk kedalam.

“Bangsat! Apakah ini telah menjadi peraturan kalian?” Seru Malangyuda dengan marah.

“Anjing buduk! Kalau kalian mau lekas serahkan senjata-senjata itu tapi kalau kalian menolak maka lekas kalian enyah dari sini.” Bentak penjaga itu dengan marah.

Tiba-tiba muncullah seorang pemuda dari dalam semak-semak. “Mengapa kalian ramai-ramai?” Teriaknya.

“Bagus kakang Wirayuda, ini ada dua orang yang hendak bertemu dengan Pangeran Purboyo.” Memang yang datang itu adalah Wirayuda pembantu utama dari Untung.

Setelah mengetahui kalau yang datang ini Wirayuda, segera Malangyuda berteriak :

“Anakku ”

“Ayah. ”

Keduanya saling berpelukan dengan mesra. Ayah dan anak yang bertahun-tahun telah berpisah sekarang dapat bertemu kembali dengan tak mereka duga-duga terlebih dahulu.

“Oh.... Tuhan Maha Pengasih....” Desis Malangyuda sambil melepaskan pelukannya.

Kini semua yang menyaksikan pertemuan ayah dan anak itu menjadi ikut terharu.

“Mari-mari ayah kalian kuantar masuk kedalam!” Seru Wirayuda sambil menyilahkan ayahnya dan tamunya yang lain untuk segera masuk kedalam.

Adapun para pendekar yang berada didalam sedang asyik berunding untuk menyerang benteng Batavia. Namun segera pembicaraan mereka terhenti dengan kedatangan Malangyuda dan Dewa Brata.

“Saudara-saudara, kenalkanlah ini ayahku Malangyuda dan sahabatnya yang bernama Dewa Brata.” Seru Wirayuda.

Maka seketika itu keadaan menjadi gaduh. Masing-masing salaman dengan kedua Panglima Banten ini. Melihat kedatangan kedua Panglima ini bukan main senangnya hati Pangeran Purboyo yang baru saja sembuh dari sakitnya. 228 “Bagaimana kabarnya kakang Dewa Brata dan paman Malangyuda?” Tanya Pangeran Purboyo.

“Baik-baik saja angger Pangeran. Dan bagaimanakah keadaan angger pangeran?” Tanya Malangyuda.

“Kamipun baik-baik saja paman, ini karena pertolongan dari para ksatria-ksatria yang berada disini paman.” Jawab Pangeran Purboyo.

“Syukur... syukur... hanya sayangnya aku tak berhasil menolong baginda Sinuwun dari tangan Klabang Songo.” Seru Dewa Brata dengan sedih.

“Tapi bagaimanakah kalian dapat tahu kalau kami berada disini?” Tanya Joko Seno.

“Kami mendapat petunjuk dari Topeng Merah!” Jawab Malangyuda sambil menyerahkan surat Topeng Merah kepada Joko Seno.

“Topeng Merah?? Siapa Topeng Merah itu?” Seru mereka serempak. “Entah, kami sendiri tak tahu siapa sebetulnya dia itu, yang kami

ketahui ialah kalau orang itu berkepandaian tinggi, aneh dan misterius.” Jawab Dewa Brata.

“Ah saudara-saudara, hampir aku lupa menyampaikan pesannya kepada kalian semua.”

“Pesan? Pesan apakah itu?” Tanya Barata.

“Kalau pendekar-pendekar yang berada disini ada waktu maka Topeng Merah berpesan agar sudilah para pendekar-pendekar menolong Pendekar Linglung yang ditawan oleh Baurekso dan Klabang Songo.” Jawab Dewa Brata.

“Pendekar Linglung ditawan?” Seru Pendekar Kalinggapati. “Pantes-pantes ia tak datang ke Banten.” Gumam Joko Seno.

Ketika mendengar berita yang dibawa oleh kedua Panglima Banten ini seketika itu juga kepala Wardani bagaikan disambar petir rasanya. Pandangannya menjadi kabur dan gelap akhirnya ia jatuh pingsan.

Melihat kejadian ini gemparlah keadaan waktu itu. Segera tubuh Wardani diangkat kedalam dan dirawat oleh Raden Ayu Gesik, Wulandari, Retnosari dan tak ketinggalan pula Ariyani.

Setelah diperiksa oleh Wulandari maka tahulah murid termuda dari Tabib Dewa itu kalau Wardani hanya mengalami kekagetan saja. Dan setelah diberi minuman ramuan obat-obatan maka Wardani mulai bergerak-gerak dan sadar dari pingsannya. Tak lama kemudian terdengarlah igauan Wardani :

“......Kakang...... kakang   Linglung.....   jangan   kau   tinggalkan....   aku....

kakang.... lupakah.... kau..... akan janjimu..... kakang   ”

“Wardani adikku sadarlah kau adikku!” Seru Raden Ayu Gusik sambil menggoyang-goyangkan tubuh adiknya.

“......Kakang..... ingatkah..... kakang..... apakah kau..... lupa.   akan janjimu

kakang ?”

229 “Sudah..... sudah..... Wardani sebentar lagi tentu Pendekar Linglung akan segera datang.” Bujuk Retnosari yang menjadi ikut terharu dan kasihan.

Dari kesekian banyaknya orang ini hanya Ariyani yang menjadi marah, sedih dan cemburu. Ketika mendengar rintihan Wardani tadi. Maka dari itu cepat-cepat ia meninggalkan ruangan itu.

“Mau kemana kau Yani?” Tegur Wulandari. “Keluar!” Jawabnya singkat.

“Diamlah disini saja, dan hibur hati Wardani supaya ia lekas sadar.” Seru Ibunya.

“Udara sangat panas, aku ingin menghirup udara segar dulu, ibu.” Jawab Ariyani sambil pergi.

Semua mata tertuju kepada kepergian Ariyani.

Mereka rata-rata tahu kalau sebetulnya. Ariyani tak senang mendengar rintihan Wardani tadi. Dari sikapnya saja mereka tahu kalau sebetulnya kedua gadis ini sama-sama mencintai seorang pemuda. Adapun pemuda itu ialah Pendekar Linglung.

“Adi Retnosari! Coba kau panggilkan kakang Gagak Rimang dan kakang Pandan Kuning supaya membantuku disini.” Seru Wulandari.

“Baik ayu!” Jawab Resnosari sambil melangkah pergi. Tak lama kemudian datanglah para ksatria-ksatria itu dimana Wardani berbaring.

“Kakang, anak ini mengalami kekagetan, tapi setelah kuobati dia malah mengigau. Coba kakang kau bantu aku untuk mengobatinya.” Pinta Wulandari.

“Baik adi!” Jawab Pandan Kuning dan Gagak Rimang bersama-sama.

Setelah dipijit-pijit oleh Gagak Rimang maka sebentar saja Wardani menjadi sadar. Tapi betapa malunya hati Wandani ketika ia mengetahui kalau igauannya tadi telah didengar oleh para ksatria-ksatria itu. Tapi apa boleh buat cintanya kepada Pendekar Lingluug telah berakar sampai dihatinya. Dan pepatah mengatakan kalau cinta itu mengalahkan segala- galanya. Lalu Wardani berpendapat kalau rahasianya telah diketahui oleh orang banyak maka apa perlunya ditutup-tutupi lagi. Lebih baik kuterangkan sekali. Pikirnya.

“Paman Joko Seno!” Tiba-tiba Wardani berkata. “Apa Wardani?” Jawab Joko Seno sambil mendekat.

“Paman, maukah paman memenuhi satu permintaanku?” Tanya Wardani kepada Joko Seno.

“Apakah permintaanmu itu?”

“Tapi paman sanggup atau tidak?” Desak Wardani. “Soal apa dulu?” Tanya Joko Seno dengan bingung.

“Ah.... kalau paman tak sanggup maka lebih baik kalau aku mati saja.” Seru Wardani sambil menodongkan pedang kearah dadanya sendiri.

Melihat keadaan ini maka gemparlah keadaan disitu. “Jangan adikku!” Seru Raden Ayu Gusik.

“Tahan!” Seru Joko Seno. 230 “Mengapa paman menahanku?” Tanya Wardani.

“Lekas katakan apa permintaanmu! Aku Joko Seno akan mempertimbangkan permintaanmu itu. Asalkan tak merugikan perjuangan dan negara aku Pendekar Budiman akan meluluskannya.” Jawab Pendekar Budiman.

“Bagus..... paman Joko Seno adalah seorang pendekar terbesar pada jaman ini. Maka aku tak segan-segan lagi untuk mengatakan apa yang menjadi kandungan hatiku.” Setelab mengatur pernapasannya dan menenangkan hatinya segera Wardani melanjutkan kata-katanya :

“Paman Joko Seno aku minta supaya kau lekas membebaskan Pendekar Linglung dari tangan Baurekso dan Klabang Songo. Dan setelah perjuangan selesai aku minta supaya paman mau mewakili ayah bundaku untuk menjadi wali pada hari perjodohanku dengannya.” Seru Wardani sambil menundukkan kepalanya.

“Ha..... ha..... ha. ” Seketika itu terdengarlah suara tawa riang dari para

ksatriaksatria itu.

“Kiranya hanya itu permintaanmu Wardani? Baik-baik aku Joko Seno akan segera membebaskan Pendekar Linglung yang menjadi pujaan hatimu itu dari tangan Baurekso dan Klabang Songo.”

“Tenangkanlah hatimu Wardani kalau aku Barata juga akan berusaha untuk membebaskannya.”

“Bagus...... bagus...... para pendekar telah berjanji, maka puaslah hatiku sekarang.” Desis Wardani dengan gembira.

Kini kembalilah mereka membicarakan bagaimana caranya untuk membebaskan Pendekar Linglung dari tangan Klabang Songo dan Baurekso yang sangat sakti itu.

Nah kini kita tinggalkan dahulu mereka yang sedang bercakap-cakap marilah sekarang kita lihat kisah dan keadaan Ariyani yang keluar tadi.

*

* *

“Hem... gila... gila... dia mencintai Pendekar Linglung. Dan rupa- rupanya Pendekar Linglungpun mencintainya pula.” Desis Ariyani. Tapi sesaat kemudian terdengarlah suara hatinya.

“Tidak... tidak... dia punyaku!...... Aku harus... memilikinya. Hem, seberapa sih kepandaianmu Wardani... akan kutandingi kau!” Pikiran Ariyani menjadi kusut dan gelisah.

Sebentar-sebentar duduk dan beberapa saat kemudian berdiri    jalan-

jalan tapi, akhirnya duduk lagi. Kini tampaklah kalau ia sedang duduk melamun. Ditengah-tengah hutan yang gelap ini Ariyani melamunkan kekasihnya yang direbut orang. Gadis yang cantik jelita dan lincah ini sekarang menjadi pemurung. Air matanya keluar dari matanya dengan deras. Sampai lama ia merenungi nasibnya yang malang ini. Tiba-tiba saja

231 ia merasa bahunya disentuh oleh orang dari belakang. Maka cepat Ariyani melompat dan memucar tubuhnya sambil siap dalam kuda-kuda.

“Sabar... sabar anakku!” Ternyata yang datang ini adalah Wulandari. Memang tadi Wulandari telah tahu akan gejala tak baik didalam kepergian anaknya. Maka dari itu segera ia mencari anaknya setelah selesai mengobati Wardani. Ternyata betullah dugaannya itu. Ia melihat anaknya sedang menangis dengan sedihnya.

“Oh... ibu!” Seru Ariyani dengan kaget.

“Mari, mari anakku kita duduk-duduk dibawah pohon ini supaya pikiran kita menjadi dingin.” Ajak Wulandari sambil terus duduk.

“Baik ibu!” Jawab Ariyani sambil mengambil tempat duduk disebelah ibunya.

Sesaat keduanya saling membisu. Daun-daun pohon mahoni bergemeresik tertiup angin. Masing-masing orang itu sedang tenggelam dalam alam pikirannya sendiri-sendiri. Tapi tiba-tiba Wulandari membuka perkataannya dan perkataan Wulandari ini memecahkan keheningan malam hutan Paranggelung.

“Yani, apakah yang sedang kau risaukan selama ini?”

Betapa terkejutnya hati Ariyani ketika mendengar suara ibunya ini.

Tapi segera ia menenangkan dirinya dan kemudian menjawab :

“Tidak ibu! Tak sebuahpun yang kurisaukan!” Jawab Ariyani dengan berusaha menutupi kerisauannya.

“Bagus, anakku.” Seru Wulandari sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sesaat kemudian Wulandari meneruskan perkataannya :

“Yani mengapa akhir-akhir ini sikapmu menjadi aneh?”

“Apanya yang menjadi aneh?” Tanya Ariyani dengan hati berdebar- debar.

“Yani aku ini siapa?” Tanya Wulandari sambil memandang anaknya dengan tajam-tajam.

“Ibu akukan anakmu? Mengapa ibu menanyakan hal yang seaneh itu?” Jawab Ariyani.

“Yani, kalau kau masih mengakui kalau aku ini adalah ibumu maka katakanlah apa yang kau risaukan selama ini. Katakalah anakku mungkin ibumu ini dapat menolongmu.” Desak Wulandari.

Tapi Ariyani tetap menundukkan kepalanya dan tak sebuah perkataanpun yang keluar sebagai jawaban atas pertanyaan ibunya tadi. Pikirannya melayang dan terbayanglah ia akan pertemuannya dengan Pendekar Linglung dulu. Pemuda bercambuk.... gagah.... tampan dan berkepandaian tinggi. Hem.... betapa mesranya panggilan pemuda bercambuk itu kepadanya. Tapi apakah igauan Wardani tadi...??? Kakang... kakang Linglung... lupakah kau... padaku?... Kata-kata Wardani tadi sangat menyakitkan hati Ariyani. Apa lagi kalau ia melihat sikap Wardani yang menunjukkan rasa cintanya kepada Pendekar Linglung. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh pertanyaan ibunya dan seketika itu buyarlah semua lamunannya. 232 “Yani jawablah pertanyaanku!”

“Ibu sebetulnya aku malu kalau harus mengatakannya dengan terus terang.” Jawab Ariyani sambil menundukkan kepalanya.

“Yani anakku sayang, biarpun mulutmu tak menunjukkan atau mengatakan apa-apa tapi matamu telah menceritakan semua kisah cinta yang kau sandang itu anakku. Bukankah kau mencintai Pendekar Linglung?” Seru Wulandari sambil membelai-belai rumbut anaknya.

Mendengar pertanyaan ibunya ini bukan main kagetnya hati Ariyani ketika mengetahui kalau rahasianya telah ketahuan oleh ibunya.

Maka sebagai jawabannya ia hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah. Melihat pengakuan anaknya ini diam-diam Wulandari ikut berduka atas kegagalan anaknya ini. Ia sendiri dapat merasakan bagaimana pahit dan getirnya hati Ariyani waktu itu. Cinta yang tak terbalas!!!! Pikir Wulandari. Tapi segera ia berusaha menghibur hati anaknya yang sedang berduka itu.

“Yani lupakanlah si Pendekar Linglung ini, sebab rupa-rupanya mereka telah memadu janji dengan Wardani! Sekali lagi lupakanlah dia anakku! Tak usah kau mengejar jodoh kalau ia memang jodohmu tentu ia sendiri yang akan datang melamarmu.” Seru Wulandari menasehati anaknya.

“Baik ibu aku akan berusaha melupakannya.” Jawab Ariyani dengan sedih.

“Dan lagi anakku tahukah kau siapa sebetulnya si Pendekar Linglung itu? Siapa pula orang tuanya?” Tanya Wulandari.

“Entah ibu sebab baru sekali dulu itu aku bertemu dengan Pendekar Linglung itu.” Jawab Ariyani.

“Maka dari itu anakku kita belum tahu akan sifat-sifatnya dan dari aliran mana pula ia datang.” Seru Wulandari.

“Baik ibu aku berjanji akan melupakan Pendekar Linglung itu dari dalam hatiku. Dan sekarang aku rela menyerahkannya kepada adi Wardani. Dan aku akan merasa bahagia kalau orang yang kucintai itu dapat hidup bahagia. Dan kukira adi Wardani lebih mencintainya dari pada cintaku kepadanya.” Jawab Ariyani dengan tegas.

“Bagus..... bagus..... anakku itulah ucapan seorang ksatria yang tidak hanya memikirkan kebutuhanya sendiri. Dan lagi anakku cinta sejati itu membutuhkan pengorbanan. Dan sekarang aku dapat melihat cintamu itu adalah suatu cinta yang murni tulus jadi bukan hanya cinta yang menurutkan nafsu saja.” Kembali Wulandari memberi nasehat kepada anaknya.

“Baik ibu!” Jawab Ariyani.

“Nah, begitulah seharusnya sikap yang kau ambil anakku. Sebab KEGAGALAN adalah GURU UTAMA dan tak ada guru yang lebih pandai daripada PENGALAMAN dari KEGAGALAN. Dan janganlah kegagalan itu kau pakai untuk menuju keputus-asaan. Tapi pakailah sebagai cambuk untuk mencapai kesuksesan.” Seru Wulandari. 233 “Semua nasehat ibu akan kuperhatikan dan kuingat-ingat dengan baik- baik dan tak lupa ananda minta tambahnya pangestu dari ibu supaya dapat menghadapi segala godaan dan gangguan dengan tabah.” Jawab Ariyani.

“Bagus anakku! Ibu tak akan putus-putusnya meminta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa demi kebahagiaanmu kelak.” Seru Wulandari dengan terharu.

“Terima kasih ibu!” Desis Ariyani.

*

* *

Sementara itu Joko Seno, Retnosari, Barata dan kedua pendeta dari gua Melati sedang bercakap-cakap dengan asyiknya. Mereka asyik mengobrol kesana-kemari. Bahkan kadang-kadang mereka mengungkap kembali masa lalu mereka itu.

“Adi Joko Seno, anakmu sekarang sudah berumur berapa?” Tanya Pendeta Kalinggapati.

“Eng.... kurang lebih dua puluh tahun kakang!” Jawab Retnosari yang mewakili suaminya.

“Dan anakmu si Ariyani itu kira-kira sudah berumur berapa adi Barata?” Kembali Pendeta Kalinggapati bertanya.

“Delapan belas tahun kakang!” Jawab Barata.

“Ha... ha... ha... suatu pasangan yang cocok dan baik sekali adi Joko Seno dan Barata. Setujukah kalian kalau kedua anak itu besok kita jodohkan?” Tanya Pendeta Kalinggapati.

“Bagus kakang Gagak Rimang, aku setuju dengan usulmu tadi.” Seru Barata Joko Seno berbareng.

“Adi Sari mengapa kau tak menjawab? Apakah kau tak setuju dengan rangkapan jodoh ini?” Tanya Pendeta Kalinggapati.

“Kalau aku sangat setuju kakang, tapi sekarang anakku tak ada. Lagi pula apakah dia mau menurut begitu saja akan jodoh yang kita carikan itu? Jadi terus terang saja aku belum dapat mengambil keputusan. Kalau anakku mau maka aku setuju, tapi kalau anakku menolak maka aku tak dapat memaksanya. Sebab yang menjalani perkawinan itu bukan kita orang-orang tua melainkan mereka berdua. Dan lagi suatu perjodohan itu harus didasari dengan cinta saling mencintai. Maaf kakang Barata! Kulihat dari gelagatnya anakmu itu kelihatannya mencintai Pendekar Linglung. Jadi apakah dia mau membelokkan cintanya kepada anakku? Seandainya anakku mau kita jodohkan dengan Ariyani.” Jawab Retnosari mengutarakan pendapatnya.

“Betul..... betul..... cinta tak dapat kita paksakan. Maka dari itu lebih baik kalau kita tunggu saja kedatangan kedua orang itu. Supaya kita dapat langsung menanyakan kepada mereka.” Seru Pendeta Kertopengalasan.

“E..... adi Seno bilakah kau akan menjodohkan Wardani dengan Pendekar Linglung?” 234 “Kakang kukira besok saja kalau keadaan telah aman. Dan lagi ini kalau si Pendekar Linglung mau.” Jawab Joko Seno.

“Kakang Rimang kau dulu pernah ditolong dengan Pendekar Linglung, dan tahukah kau siapa sebenarnya dia itu?” Tanya Barata.

“Entahlah adi. Aku hanya tahu kalau dia itu adalah murid dari Jayasengara. Lainnya aku tak tahu.” Jawab Gagak Rimang.

“Yang aneh lagi ialah sekarang muncul lagi seorang pendekar yang menamakan dirinya dengan Topeng Merah. Ah..... pusing aku memikirkannya. Tapi aku ingin sekali mengungkap rahasia kedua orang pedekar yang menyembunyikan namanya itu.” Seru Pendekar Budiman. 

“Memang adi, aku sendiri ingin mengetahui siapakah sebetulnya kedua orang yang misterius itu.” Kata Pendeta Kertopengalasan.

“Betul kakang siapa tahu kalau orang itu seperti paman Sancaka yang menyamar sebagai Kyai Embun.” Seru Pendeta Kalinggapati.

Sewaktu mereka sedang asyik bercakap-cakap tiba-tiba datanglah Wulandari dan Ariyani.

“Mari, mari ayu Wulan!” Seru Retnosari.

“Ha..... ha..... ha...... kebetulan, kebetulan adi. Nah adi Barata lekas kau sampaikan usulku tadi kepada adi Wulan.” Seru Pendeta Kalinggapati.

“Ha..... usul apakah itu kakang? Hayo lekas kau ceritakan kepadaku. Supaya aku tak terlalu lama menebak-nebak lagi.” Seru Wulandari sambil mengambil tempat duduk.

“Ha..... ha..... ha..... baiklah mari kita bicarakan bersama-sama.” Jawab Barata. Lalu mulailah pendekar dari Jalitunda itu menceritakan apa maksud Pendeta Kalinggapati untuk menjodohkan anaknya dengan anak dari Pendekar Budiman.

Mendengar cerita ayahnya ini merahlah muka Ariyani bagaikan kepiting direbus. Dan segera ia menundukkan muka. Seketika itu pikirannya kembali melayang kearah Pendekar Linglung yang telah merebut cinta pertamanya. Tapi lain halnya dengan Wulandari segera ia menjawab :

“Bagus aku sangat setuju kalau puteriku yang bodoh ini dijodohkan dengan putera adi Retnosari..... Eh..... Yani bagaimanakah pendapatmu? Mau tidak kau dijodohkan dengan putera pamanmu?” Tanyanya kepada Ariyani.

Tak pernah disangkanya kalau ia mendapat pertanyaan yang seperti ini dari ibunya. Dan ia masih tenang saja belum menjawab, akan menjawab ia merasa malu. Ariyani masih menundukkan muka. Tiba-tiba terdengarlah suara Wulandari :

“Yani jawablah! Kalau kau malu menjawabnya maka kau boleh mempergunakan anggukan atau gelengan saja.”

Dari pada aku sibuk-sibuk memikirkan Pendekar Linglung yang telah berkasih-kasihan dengan Wardani, maka lebih baik kalau aku menerima tawaran ini saja. Dan lagi belum tentu kalau anak paman Joko Seno ini

235 kalah gagah dan sakti dari pada Pendekar Linglung. Demikianlah jalan pikiran Ariyani diwaktu itu.

Maka tak lama kemudian menjawablah Ariyani : “Ibu, aku hanya menurut saja akan segala kehendak ibu.”

Mendengar jawaban Ariyani ini tertawalah para pendekar-pendekar yang berada disitu. Tapi diam-diam Barata dan Wulandari merasa puas akan jawaban anaknya ini.

“Bagus... Bagus... kita hanya tinggal menanyakan kepada anakmu saja, adi Joko Seno.” Seru Pendeta Kalinggapati dengan gembira.

“Ah... besuk kalau kedua mempelai itu dapat kita ketemukan maka aku Pendeta Kalinggapati akan mendidik kedua mempelai itu. Hemmm... betapa riangnya mempunyai murid anak-anak seorang pendekar yang gagah perkasa.” Seru Pendeta Kalinggapati dengan terharu.

“Semoga cita-citamu yang luhur itu terlaksana, kakang,” desis Wulandari. *

* *

Sekarang marilah kita melihat keadaan Pendekar Linglung yang sedang ditawan oleh Baurekso dan Klabang Songo.

Pendekar Linglung ditawan oleh Klabang Songo dan Baurekso disebuah pondok yang terletak didesa Pakuwon. Setiap hari Baurekso selalu meramu obat-obatan yang mengandung racun. Dan racun itu ialah racun perampas ingatan. Dan setiap hari pula Pendekar Linglung diberi minuman racun ini. Karena kerasnya racun itu maka Pendekar Linglung lupa siapa sebetulnya dia itu.... lupa pula siapa sebetulnya ayah bundanya dan lupa semuanya. Pendekar Linglung sekarang ini benar-benar menjadi orang yang linglung. Tapi hanya satu saja yang tak dapat ia lupakan. Dan satu-satunya itu ialah ilmu silat. Yah ilmu silatnya yang telah mendarah- daging itu.

Kini pendekar Linglung benar-benar sebagai boneka yang bernyawa. Dan apa saja perintah Baurekso tentu dijalankan dengan patuh. Kini pedang Nogo Biru pemberian ayahnyapun telah ditukar oleh pedang biasa.

Pada suatu hari tampaklah Pendekar Linglung sedang duduk termenung dimuka pondoknya. Ia duduk dengan tenang hingga bagaikan patung batu saja. Pandangannya yang biasanya tajam itu kini tampak kosong melompong. Tingkah lakunya bagaikan orang gila. Yah sekarang dapatlah kita katakan kalau pendekar yang sakti itu telah benar-benar menjadi linglung. Biar ia telah menjadi linglung benar-benar tapi Klabang Abang dan Klabang Ungu tak berani main-main dengan pemuda itu. Sekali saja Pendekar Linglung mau melawan akan celakalah kedua kepala perampok Alas Roban itu.

Sewaktu Pendekar Linglung sedang tersenyum-senyum sendirian tiba- tiba telinganya mendengar suara langkah kaki yang menuju kepondoknya. 236 Seketika itu ia berdiri dan menanti datangnya orang yang mendatanginya. Lama-kelamaan pendatang itu makin dekat. Akhirnya sampailah pendatang itu dihadapan Pendekar Linglung. Dan ternyata yang datang itu ialah Wisakala dan gurunya yang bernama Nalongso Suro. Melihat ini segera Pendekar Linglung mencabut pedangnya dan berseru :

“Pergi.... pergi.... jangan kau berani mendekati istana bapa penolongku!”

Memang Baurekso menyuruh Pendekar Linglung memanggilnya dengan sebutan bapa penolong.

Inilah suatu bukti akan kemujijatan racun perampas ingatan.

“Awas guru! Dia adalah mata-mata dari Banten, maka bunuh saja dia!” Seru Wisakala memperingatkan gurunya. Memang Wisakala belum mengetahui kalau Pendekar Linglung ini benar-benar telah menjadi linglung.

“Minggirlah muridku! Biar aku yang menyelesaikan anak ini!” Seru Nalongso Suro sambil menyiapkan kuda-kudanya.

Melihat lawannya siap segera Pendekar Linglung memasang kuda- kudanya.

“Keluarkan senjatamu!” Seru Pendekar Linglung. Memang biarpun ia menjadi benar-benar linglung tapi ia tak melupakan aturan-aturan dunia persilatan.

“Jangan sungkan-sungkan anak muda biar aku Nalongso Suro mennghadapimu dengan tangan kosong saja.” Jawab Nalongso Suro.

Melihat kesombongan lawannya ini marahlah hati Pendekar Linglung, segera ia menyarungkan pedangnya dan mulailah Pendekar Linglung mengetrapkan Aji Bledek Mangampar dikedua belah tangannya. Melihat kalau lawannya menyarungkan pedangnya maka tak senanglah hati Nalongso Suro. Maka dari itu cepat ia menyerangnya.

“Anak muda terimalah seranganku ini!” Pendekar Linglung menangkis pukulan itu dengan pukulan pula.... “Bukkk!” Dua lengan bertemu. Nalongso Suro mundur tiga langkah. Inilah berkat kekuatan tenaga dalam Pendekar Linglung yang tak ia ketahui.

Memang ramuan racun perampas ingatan itu setelah masuk kedalam tubuh Pendekar Linglung selain merusak ingatan juga menjadikan tenaga dalam Pendekar Linglung maju dengan pesatnya.

Inilah suatu tanda keajaiban Tuhan. Baurekso berkehendak mencelakakan Pendekar Linglung tapi rupa-rupanya Tuhan masih melindungi umatnya yang sedang tertimpa kemalangan itu. Biarpun Pendekar Linglung hanya tersurut mundur selangkah saja tapi dadanya sakit bukan main. Hingga diam-diam ia mengeluh. Pendekar Linglung tadi memang sengaja hendak mencoba tenaga dalam lawannya. Dan ternyata tenaga dalam lawannya masih berada dibawah tingkatnya. Tapi kalau Pendekar Linglung mengerahkan tenaganya terlalu besar akan membuat dadanya menjadi sesak. Disini perlu kita ketahui kalau racun perampas ingatan itu selain merusak otak, juga merusak jantung. Tapi dipihak musuh 237 kaget setengah mati. Tak pernah ia sangka sama sekali kalau pemuda yang kelihatannya masih hijau itu ternyata memiliki tenaga dalam yang sehebat ini.

Tapi Nalongso Suro segera teringat akan cerita dari muridnya. Kalau pemuda itu adalah murid dari seorang pertapa sakti yang bernama Jayasengara. Maka dari itu ia tak mau memandang rendah kepada pemuda itu lagi. Diam-diam guru dari Panglima Wisakala ini meragu dan mulai menyesal mengapa ia terlalu gegabah melawan pemuda ini. Sedang menurut Wisakala dulu pemuda ini dikerojok oleh Wisakala dan kakak seperguruannya sendiri masih dapat pula mengalahkan semua pengeroyoknya. Bahkan pemuda ini pula yang telah membebaskan Pendeta Kalingganapi dari dalam tahanan yang dijaga oleh para serdadu Belanda.

Akan tetapi sekarang Nalongso Suro sudah tak dapat mundur lagi. Karena ia merasa malu kalau harus mundur dari medan laga. Maka dari itu ia menjadi nekad. Sambil mengeluarkan bentakan-bentakan nyaring Nalongso Suro mulai menyerang lagi.

Kini pertapa gunung Papandayan itu telah mengetrapkan Aji Panglebur Wukir. Aji ini mengandung tenaga dalam yang hebat sekali dan diselingi pula oleh cengkeraman-cengkeraman.

Makin lama Pendekar Linglung merasa dadanya makin menjadi sesak. Tapi seujung rambutpun ia tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan menyerah. Malah pendekar muda yang gagah perkasa itu tak menunjukkan rasa sakitnya. Dan ia masih pula menandingi serangan lawan keras dengan keras. Semua serangan yang dilancarkan oleh pertapa gunung Papandayan itu dapat dipunahkan oleh Pendekar Linglung yang telah mengetrapkan Aji Bledek Mangampar.

Maka dari itu makin lama keadaan tubuh Pendekar Linglung menjadi semakin payah. Dan tak dapat dicegah lagi maka serangan-serangannya menjadi semakin lemah. Tapi Pendekar Linglung masih tetap akan menghadapi lawannya dengan tenaga yang masih ada didalam tubuhnya. Penggunaan tenaga ini tidak mempedulikan keselamatannya sendiri.

Kelambatan dan tetesan darah yang mengalir dari dalam mulut pemuda sakti itu benar-benar membuat hatinya Nalongso Suro menjadi girang. Kini tahulah kakek itu kalau lawannya sebenarnya menderita luka yang berada disebelah dalamnya. Melihat gerakan lawannya menjadi kendur itu maka cepat Nalongso Suro mencengkeram dan tanpa dapat dicegah lagi pergelangan tangan kanan Pendekar Linglung terancam cengkeraman yang hebat sekali.

Tak ada jalan lain bagi Pendekar Linglung kecuali melawan cengkereman pula. Mrlihat ini Nalongso Suro tertawa mengejek. Sebab ia yakin kalau ilmu cengkeramannya akan lebih hebat dari pada ilmu cengkeraman pemuda ini.... Crakk.... dua buah lengan bertemu. Jari-jari mereka saling mencengkeram.

238 Pendekar Linglung merasa dadanya seperti tertusuk dengan jarum. Tapi ia segera menahan napas, dan mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan serangan kakek sakti itu.

Sambil menggereng seperti harimau lapar Nalongso Suro mengangkat tangannya dan siap dipukulkan kearah kepala Pendekar Linglung. Murid Jayasengara ini tentu saja tak mau menerima pukulan dengan begitu saja. Ia segera mengangkat tangan kirinya dan segera menyambut pukulan lawan dengan pukul pula... Dukkk... Dua pukulan bertemu, diangkasa. Dan tangan yang satunya masih tetap saling mencengkeram.

Pertapa gunung Papandayan itu mengeluarkan suara seperti orang kena tendang perutnya. Sedang Pendekar Linglung tubuhnya menjadi panas. Dengan nekad guru Wisakala itu memukul lagi. Dan pukulan ini diterima pula oleh pukulan Pendekar Linglung. Begitu kedua kepalan itu bertemu maka pertapa gunung Papandayan itu mengeluarkan suara....

Hikkk    dan murid Jayasengara menjadi semakin panas. Tapi rupa-rupanya

kedua orang itu telah menjadi nekad dan terus-menerus mengadu kedua kepalannya.

Pertempuran mati-matian itu diikuti oleh Panglima Wisakala dengan hati berdebar-debar. Selain Wisakala ada juga empat pasang mata yang selalu memperhatikan jalannya pertempuran itu dari balik dinding pondok.

Tiba-tiba terdengar suara... duk... duk... duk... kedua kepalan itu saling bertemu dan kedua pukulan-pukulan keras itu telah menjadikan kedua jago ini menjadi lemas. Pertapa gunung Papandayan ini memandang muka lawannya dengan muka mendelik, sebaliknya Pendekar Linglung memandang muka lawannya dengan tajam-tajam. Keduanya berhenti sebentar. Tangan yang saling mencengkeram masih menjadi satu. Napas mereka terengah-engah.

Kemudian Nalongso Suro memejamkan matanya dan ia baru memusatkan tenaga dalamnya ketangan kanan.

Pendekar Linglung maklum akan keadaan ini. Segera Pendekar Linglung mengerahkan tenaga dalamnya yang langsung disalurkan ketangan kiri. Dan secepat kilat ia memukulkan tangan kirinya kearah dada lawan..... wesstt..... terlemparlah tubuh Nalongso Suro dalam keadaan pingsan.

Melihat kejadian ini segera Wisakala menghampiri gurunya. Dan bersama dengan itu terdengarlah bentakan :

“Linglung mundur kau!”

“Baik bapa penolong!” Jawab Pendekar Linglung sambil melangkah masuk kedalam pondok. Dan ternyata yang datang adalah Baurekso, Klabang Songo serta kedua orang muridnya.

“Apa maksud kalian datang kemari?” Tanya Baurekso dengan tak acuh. “Paman aku disuruh oleh Gusti Sultan Haji untuk menjemput kalian sebab baru-baru ini sultan mendapat surat ancaman dari Untung. Kalau

239 Gusti Sultan Agung tak segera dilepaskan maka Sultan Haji akan diculik atau dibunuhnya.” Jawab Wisakala.

“Heh..... heh..... heh..... anak kecil mau main ancam-ancaman segala.

Baiklah kalau demikian aku Baurekso segera datang.”

“Kakang Wisakala sekarang Sultan Haji berada dimana, sebab kemarin waktu aku ke benteng Kumpeni beliau tak kelihatan.” Tanya Klabang Ungu. “Oh. ya hampir saja aku lupa mengatakan kalau sekarang Sultan Haji

mendirikan kemah dihutan Burangrang. Dan sebagian dari serdadu Belanda ikut berjaga disana.” Seru Wisakala sambil memijit-mijit tubuh gurunya yang kena pukul.

“He..... Sultan Haji sekarang berada di hutan Burangrang? Mengapa beliau tak tinggal didalam benteng saja?” Tanya Klabang Songo dengan kaget.

“Begini paman, dibenteng sering sekali diserbu oleh musuh. Maka gusti Sultan lalu berpendapat kalau lebih baik beliau keluar dari dalam benteng saja. Dan sekarang bersembunyi di hutan Burangrang.” Jawab Wisakala.

“Bagus, bagus kalau ini hanya untuk siasat saja. Sungguh pantas ia menjadi, calon raja.” Puji Klabang Abang.

“Betul... betul muridku. Wahyu keraton tak datang kepada setiap orang. Rupa-rupanya dia yang kejatuhan Wahyu keraton.” Sambung gurunya.

“Heh... heh... heh... minggirlah Wisakala, biar aku yang mengobati gurumu.” Seru Baurekso sambil memeriksa keadaan Nalongso Suro.

Tak lama kemudian dia mengeluarkan sebungkus ramuan obat-obatan yang selalu dibawanya. Setelah obat itu dicampur dengan air segera ia meminumkan obat itu kepada Nalongso Suro. Setelah sepenanak nasi lamanya mulailah Nalongso Suro bergerak-gerak. Akhirnya hilanglah rasa sakit yang dideritanya. Cepat ia berdiri dan menghaturkan terima kasih kepada Baurekso.

“Ah... kisanak, aku mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas pertolongan yang telah kau berikan kepadaku tadi.”

“Heh... heh... heh... kita orang sendiri mengapa sungkan-sungkan lagi? Dan kita, harus tolong-menolong diantara teman. Bukankah begitu Ki Klabang Songo?”

“Betul... begitu hendaknya. Dan marilah kisanak kita bicara didalam saja. Supaya pembicaraan kita dapat lancar.” Ajak Klabang Songo sambil mempersilahkan tamunya masuk. *

* *

Sekarang marilah kita lihat keadaan sekitar benteng Kumpeni di Batavia. Pada waktu itu Kapten Tack sedang bercakap-cakap dengan Edeler Moor. 240 “Kapten, bagaimana cara kita untuk menangkap Pangeran Purboyo?” Tanya Edeler Moor.

Sejenak Kapten Tack tetap membisu. Pikirannya melayang mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Edeler Moor tadi. Tapi tak lama kemudian terdengarlah jawaban Kapten Tack :

“Memang sukar Edeler, sebab menurut berita yang kudengar sekarang Pangeran Purboyo telah bersekutu dengan Untung.”

“He.... apa?   Pangeran   Purboyo   telah   bersekutu   dengan   Untung?

Kurangajar!” Desis Edeler Moor.

“Betul Edeler, kalau kita dapat mempengaruhi Untung maka mudah saja untuk menangkap Pangeran Purboyo.” Jawab Kapten Tack.

“Bagaimana caranya? Lekas katakan!”

“Begini Edeler, kita halus pura-pura baik dan membebaskan Untung dari pengejaran. Dan kita ajak dia berunding. Sebab menurut berita yang kudengar dari mata-mata, Pangeran Purboyo itu akan menyerah kalau ia boleh pulang ke istana.” Jawab Kapten Tack dengan sungguh-sungguh.

“Ah, kalau begitu baiklah kita jalankan saja siasat itu. Dan soal dia ingin kembali ke istana itu terserah akan kebijaksanaan Sultan Haji.” Seru Edeler Moor dengan riang.

“Tapi nanti dulu Edeler, kita jangan terlalu riang dulu. Sebab siapa yang patut kita suruh untuk melakukan tugas yang penting dan berat ini?” Tanya Kapten Tack sambil berpikir.

“Eng.... ah.... kita suruh saja Opsir Kuffler. Sebab dia adalah seorang yang berpikiran cerdik dan keberaniannya sangat mengagumkan. Dan apakah kapten setuju dengan orang yang kupilih ini?”