-->

Pendekar linglung Jilid 4

 
Jilid IV

“SIAPA nama ayahmu itu angger Ugrasena?”

“Joko Seno dan didunia persilatan ia terkenal dengan nama Pendekar Budiman. Karena ayah dan ibu telah lama tak keluar dalam dunia persilatan maka mereka berpesan kepadaku supaya aku merahasiakan sebenarnya aku ini dan keadaan ayah ibu.” Jawab Ugrasena.

“Lalu apakah sekarang kedua orang tuamu itu menjadi pertapa dipuncak Semeru?” Tanya Jayasengara.

“Tidak eyang, beliau dengan diam-diam membantu perjuangan rakyat.” Jawab Ugrasena dengan singkat.

“Bagus.... ayahnya harimau anaknyapun harimau! Sungguh pantas kau menjadi cucu murid kakang Baskara. Ah, sungguh beruntung nasib kakang Baskara yang kukira telah mati itu. Malah dia mempunyai murid yang berjiwa patriot. Nah angger, biar tak kepalang tanggung mulai besok kalau kau telah sembuh benar-benar aku akan menurunkan seluruh kepandaianku kepadamu. Maukah kau?” Tanya Jayasengara.

“Ah eyang, sebelumnya hamba mengucapkan banyak terima kasih.” Jawab Ugrasena sambil berlutut.

Tiga hari setelah kejadian itu mulailah Ugrasena menerima gemblengan-gemblengan dari Jayasengara.

“Angger Ugrasena, coba kau pelajari ilmu pedang ini!” Seru Jayasengara sambil memberi contoh. Kini tampaklah kakek Jayasengara bersilat sendirian. Gerakannya lincah hingga sulit untuk diikuti mata. Jurus demi jurus ia pelajarkan kepada Ugrasena. Untunglah Ugrasena telah mempunyai dasar-dasar ilmu silat tinggi hingga dengan mudah saja ia dapat menangkap segala pelajaran yang diajarkan oleh gurunya. Hampir sebulan lamanya barulah Ugrasena dapat memahami ilmu pedang itu. 146 “Nah angger, setelah kau menguasai ilmu pedang Runtuhan Seribu Gunung maka terimalah ilmu yang paling kuandalkan, ialah ilmu pedang Pengacau Angkasa. Tapi sebelum kau pelajari ilmu ini coba angger menyerangku dengan ilmu pedang Naga Angkasa.”

Mendengar ini ragu-ragulah hati Ugrasena. Ia telah maklum akan keampuhan daya serang dari ilmu pedang Naga Angkasa ini. Apakah kakek ini kuat menerimanya? pikir Ugrasena. Tapi rupa-rupanya Jayasengara melihat keragu-raguannya ini maka segera ia berkata : “Cepatlah angger, tak perlu kau mengkhawatirkan keadaanku lagi! Bukankah kau ingin kepandaianmu ini bertambah sempurna?” Seru kakek itu.

Mendengar perkataan Jayasengara ini sadarlah Ugrasena kalau ia kini sedang menghadapi orang yang telah menguasai ilmu pedang Naga Angkasa ini berpuluh-puluh tahun lamanya. Maka dari itu hilanglah semua keragu-raguannya, bagaikan awan tertiup angin.

“Eyang, aku akan segera memulainya.” Seru Ugrasena sambil menarik pedangnya.

“Bagus! Mulailah angger.” Seru Jayasengara yang telah memegang sebuah pedang pula.

“Awas pedang!” Teriak Ugrasena yang langsung menusukkan pedangnya kearah tenggorokan Jayasengara. Tapi sebelum pedang itu sampai ditujuannya, Jayasengara telah jongkok dan menangkis serangan itu dengan pedangnya. Trangg.... bunga api berpijar. Betapa terkejutnya hati Ugrasena setelah merasakan kalau kulit telapak tangannya menjadi panas bagaikan terbakar. Hampir saja pedangnya terlempar dari tangannya. Melihat kehebatan tenaga dalam Jayasengara ini lenyaplah seluruh sisa-sisa keragu-raguannya tadi. Bahkan kini ia merasa kagum sekali atas kesaktian orang tua ini.

Kembali Jayasengara menyerang dengan sengitnya. Tapi setiap serangannya dapat digagalkan dengan mudah oleh kakek sakti itu. Bahkan Jayasengara selalu mengirimkan serangan-serangan balasan yang tak kalah hebatnya. Hingga terpecahlah perhatian Ugrasena menjadi dua. Yang satu harus memikirkan serangannya dan yang lain harus berusaha menangkis serangan-serangan kakek Jayasengara.

“Hiattt...” Seru Ugrasena membabatkan pedangnya kearah perut. Tapi tahu-tahu  Jayasengara  telah melayang keangkasa  dan  sambil berjumpalitan ia balas menyerang  kearah   leher Ugrasena. Namun Ugrasena adalah seorang   yang  berkeberanian bagaikan  singa. Dan berketenangan  bagaikan   banteng. Melihat  serangan ini  segera ia bergulingan ditanah, setelah Jayasengara menginjakkan kakinya ketanah kembali segera Ugrasena melantingkan diri dan siap berdiri dimuka gurunya. Pada waktu itu Jayasengara telah berdiri tegak dihadapannya dan senyuman yang sejuk menghiasi bibirnya hingga menyentuh hati Ugrasena. “Eyang, sungguh hebat ilmu pedang Pengacau Angkasa tadi, kemana

saja ilmu pedang Naga Angkasa bergerak tentu dapat dihindarkan dengan

147 cepat dan tepat. Bahkan balasannyapun sangat dahsyat.” Puji Ugrasena dengan sejujurnya.

“Jangan kau heran angger, sebab ilmu pedang Pengacau Angkasa ini kuciptakan memang untuk mengalahkan pedang Naga Angkasa. Bagiku mudah saja menciptakan ilmu ini sebab aku telah tahu akan kehebatan dan kelemahan ilmu pedang Naga Angkasa.”

“Apa maksud eyang menciptakan ilmu penakluk Naga Angkasa ini?” Tanya Pendekar Linglung dengan tak senang.

“Angger, jangan kau berprasangka jelek terhadapku! Aku menciptakan ilmu ini dengan tujuan untuk membalaskan dendam kakang Baskara kepada Dendopati dan Aswotunggal. Sebab dulu aku menyangka kalau kitab peninggalan Pendekar Bayu Sakti yang setengahnyapun berisi ilmu yang sejenis dengan ilmu pedang Naga Angkasa itu. Maka dari itu aku segera menciptakan ilmu penakluknya. Hingga aku berhasil membunuh Dendopati dan Aswotunggal.” Seru Jayasengara.

“Ah jadi eyang pula yang telah membunuh kedua manusia sesat itu?” Tanya Ugrasena dengan kaget.

“Betul angger!” Jawab Jayasengara sambil menganggukkan kepalanya. “Nah angger, bersiaplah kau untuk menerima ilmu ini.”

“Baik eyang, aku akan berusaha sedapat-dapatnya.” Maka mulailah Ugrasena menerima gemblengan-gemblengan ilmu pedang Pengacau Angkasa. Tiap gerakan yang sukar dan masih kaku selalu diulangi bahkan kakek Jayasengara sering pula memberi contoh. Tiap malam disuruhnya Ugrasena melatih samadi yang ia dapatkan dari ayahnya. Begitulah pekerjaan mereka sehari-hari. Sang waktu berjalan dengan cepat, tak dapat orang menghalang-halangi jalannya waktu. Dengan tak terasa setahun telah lewat. Selama setahun ini Ugrasena digembleng oleh Jayasengara dipuncak Ungaran. Maka pada suatu hati dipanggilnyalah Ugrasena menghadap gurunya.

“Angger Ugrasena, kukira telah tiba waktunya kau harus turun gunung.” Seru Jayasengara.

“Tapi eyang, kalau aku turun gunung bukankah nanti eyang akan sendirian?” Jawab Ugrasena.

“Terima kasih angger, atas perhatianmu kepadaku. Aku sudah bisa hidup sendirian seperti ini. Bukankah dulu sebelum aku bertemu denganmu juga hidup sendiri? Ingatlah angger, kalau kau ini seorang pendekar. Darma baktimu sangat dibutuhkan oleh nusa dan bangsa. Tegakkanlah keadilan, demi jayanya negara kita. Ingatlah angger bahwa penjajah, perampok, maling dan pengacau sekarang baru merajalela. Sedang rakyat menjerit-jerit karena sedihnya. Mendengar nasehat-nasehat Jayasengara ini tergugahlah semangat pendekar yang mengalir ditubuhnya. Diam-diam ia berjanji kalau hidupnya akan ia baktikan demi keadilan dan menumpas segala kejahatan, akhirnya ia berkata :

“Baik eyang, kapan aku diijinkan berangkat!”

148 “Sekarang juga kau boleh berangkat angger. Dan andaikata besok kau bertemu dengan Sindung Laut dan Undung Kalayaksa katakanlah bahwa aku tak suka melihat pekerjaannya. Selain dari pada itu aku minta supaya kau mau ikut mengawasi perbuatannya dan andaikata perbuatanya itu menyimpang dari pada kebenaran kau kuberi kekuasaan untuk memperingatkannya. Kalau mereka tetap membangkang terserahlah kepadamu kalau kau akan mengambil sikap keras!” Seru Jayaningrat.

“Segala petuah eyang akan selalu kuingat dan ijinkanlah sekarang aku berangkat.” Seru Ugrasena.

“Silahkan angger dan hati-hatilah kau diperantauan.”

*

* *

Kita tinggalkan dulu perjalanan Pendekar Linglung. Marilah kita melihat perjalanan Barata, Wulandari dan Ariyani. Seperti telah kita ketahui dibagian depan kalau Barata dengan keluarganya sedang mengadakan perjalanan ketimur untuk menemui Pendeta Kertopengalasan dan Pendeta Kalinggapati, digua Melati digunung Muria serta ke Semeru untuk menemui Joko Seno dan isterinya. Tapi sayangnya perjalanan yang jauh dan memakan waktu yang lama ini sia-sia saja. Sebab sebelum rombongan Barata sampai kegua Melati Joko Seno telah lebih dahulu mengunjungi sahabatnya digua Melati. Adapun maksud Joko Seno ini ialah ingin menggabungkan dirinya kepada perjuangan Sultan Agung di Banten. Tapi sayangnya Pendekar Budiman hanya menjumpai Pendeta Kertopengalasan saja. Sedang Pendeta Kalinggapati telah lama turun gunung untuk merantau.

Setelah kira-kira sebulan lamanya perginya Pendekar Budiman dan Pendeta Kertopengalasan datanglah rombongan Barata. Karena itu mereka hanya mendapatkan suatu tempat yang kosong belaka. Sedang Pendeta Kalinggapati belum pulang juga dari perantauannya. Setelah Barata mengetahui kalau tempat itu benar-benar kosong dan tak dapat mendapatkan keterangan apa-apa segera rombongan itu meneruskan perjalanannya menuju padepokan Semeru.

Tapi di padepokan Semerupun mereka hanya menemui pelayan- pelayan saja. Dan dari mereka ini rombongan Barata mendapat keterangan kalau Joko Seno dan Retnosari pergi kebarat. Setelah istirahat beberapa hari di padepokan Semeru maka segeralah mereka menuju kebarat. Mereka ingin cepat-cepat menemui mereka dan langsung menggabungkan diri. Setelah menempuh perjalanan selama empatbelas hari lamanya, maka sampailah rombongan ini di alas Roban.

Pada waktu itu daerah Kaliwungu sampai alas Roban dikuasai oleh dua orang kakak beradik, adapun kedua kakak beradik itu ialah Klabang Abang dan Klabang Ungu. Adapun pekerjaan mereka itu hanya merampok, 149 memperkosa, menculik bahkan tak jarang mereka itu membunuh korbannya.

Klabang Abang dan Klabang Ungu ini adalah murid-murid terkasih dari Ki Klabang Songo. Tiap hari pekerjaan anak buah kedua orang ini hanya membikin rusuh keadaan saja.

Begitupun kedatangan Barata itu tak terlepas dari pengamatan mereka. Waktu itu ketiga orang itu enak-enak melakukan perjalanan.

Tiba-tiba...... Weeesss..... Sebuah anak panah meluncur dengan cepatnya manuju punggung Barata. Tapi begitu ia mendengar kesiuran angin dibelakangnya segera Barata melompat keudara dan berhasillah ia menyelamatkan diri dari serangan gelap itu.

Wulandari dan Ariyani sangat terkejut dan marah sekali melihat kecurangan dan kelicikan musuhnya.

Sekonyong-konyong terdengarlah suatu derai tawa dari arah pohon maja dan tak lama kemudian berkelebatlah sesosok bayangan yang turun dari pohon itu. Ia turun bagaikan sehelai daun kering yang ditiup angin. Sedikitpun tak terdengar suaranya. Inilah suatu demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang telah mencapai tingkat tinggi. Setelah orang itu menginjakkan kakinya dibumi segera berkatalah ia :

“Bagus, ternyata boleh juga kepandaianmu!”

“Bangsat licik, siapa kau?” Bentak Barata dengan marah.

“Ha..... haa..... haa..... orang gagah kau telah berani memasuki daerah kami, maka aku Padas Gempal telah diberi wewenang oleh lurah kami untuk menerima sekedar sumbangan dari kau yang telah dianggap sebagai sahabatnya.” Seru Padas Gempal dengan tertawa.

“Hai, jadi jelasnya kau ingin merampok?”

“Nih, terimalah sumbangan dari kami.” Seru Ariyani sambil menusukkan kerisnya kearah tenggorokan Padas Gempal.

“Ha..... haa..... haa..... nona kecil, jangan main-main senjata dengan kami!” Seru Padas Gempal sambil menggeserkan tubuhnya kesamping dan sedikit menundukkan kepalanya.

“Yani mundur!” Seru Barata dan Wulandari serempak.

“Biar ayah! Aku ingin memberi hajaran sedikit kepada perampok busuk ini.” Jawab Ariyani sambil memegang kerisnya.

Padas Gempalpun telah berdiri dihadapan musuhnya sambil memegangi goloknya.

Wess..... tiba-tiba golok Padas Gempal membabat deras kearah leher Ariyari. Tapi ternyata Ariyani sangat gesit, hingga waktu golok Padas Gempal menyambar, Ariyani telah menundukkan kepalanya. Sambil mengayunkan tangam kanannya menyerang lambung lawan. Melihat serangan ini segera Padas Gempal meloncat mundur. Tapi rupa-rupanya Ariyani tak memberi kesempatan lagi. Secepat Padas Gempal melangkah, iapun cepat meloncat maju dengan tangan kanannya diangkat sedikit hingga ujung kerisnya mengarah keleher.

150 Melihat ujung keris tetap mengejarnya segera Padas Gempal meluruskan tangannya yang memegang golok. Melihat kejadian ini segera Ariyani menarik serangannya, dan langsung meloncat keudara dan berjumpalitan kebelakang.

Padas Gempal tak mau melepaskan kesempatan baik itu. Segera ia memperhebat serangan goloknya. Sehingga menimbulkan angin berdesir yang menyambar-nyambar, menyertai putaran goloknya.

Mendapat serangan yang hebat ini sibuklah Ariyani memutar kerisnya dan mengandalkan kelincahannya untuk menangkis dan menghindarkan dari setiap serangan lawannya. Tapi ia adalah puteri tunggal dari Barata dan Wulandari. Semenjak kecil ia telah digembleng ilmu silat oleh kedua orang tuanya. Karena itu Ariyani dapat mengimbangi serangan-serangan lawannya dengan baik. Bahkan serangan balasannyapun bertambah hebat.

Melihat pertarungan ini diam-diam Barata dan Wulandari girang hatinya. Karena dari sini ia dapat melihat kemajuan-kemajuan telah dicapai oleh anaknya.

“Adi, perhatikanlah anak kita ini, bukankah besok dia akan menjadi seorang pendekar yang pilih tanding?” Seru Barata dengan bangga.

“Moga-moga saja kakang ia bisa menjajari nama bibi Widati.” Jawab Wulandari terharu.

Widati adalah seorang tokoh wanita yang sakti, dan tokoh ini yang menjadi guru dari Retnosari isteri Joko Seno. Senjatanya adalah sebuh cambuk yang bercabang lima.

Pertempuran antara Ariyani dan Padas Gempal menjadi semakin seru. Masing-masing telah mengeluarkan seluruh kepandaiannya, untuk saling menjatuhkan lawannya Padas Gempal yang bertubuh tinggi besar itu bertempur bagaikan seekor harimau lapar, goloknya menyambar-nyambar kearah tubuh lawannya.

Sedang Ariyani telah mengeluarkan ilmu simpanannya yang bernama ilmu keris Wanara Sakti. Kini gerakan Ariyani benar-benar gesit hingga lama-lama Padas Gempal merasa terdesak oleh lawannya.

Tiba-tiba terdengarlah suara Padas Gempal bersuit.... suittt      dan

berloncatanlah tiga orang memasuki lapangan. Melihat kejadian ini segera Barata dan Wulandari siap sedia menolong puterinya.

“Ha..... ha..... ha.   Padas Gempal mengapa untuk menghadapi serangan

seorang budak saja memakan waktu yang terlalu lama!” Teriak dari salah seorang pendatang itu.

“Mari-mari, Padas Gempal kubantu kau!” Seru yang lain.

“Hai manusia-manusia liar janganlah kau main keroyokan! Kalau kau telah gatal-gatal marilah kau hadapi pedangku.” Teriak Wulandari.

“Bagus manusia sombong! Mari adi Jlontrotbaya, kau bantu aku dan kau Surowongso kau hadapilah wanita cerewet itu.”

“Baik kakang Singobadugo.” Jawab mereka berdua.

Kini tampaklah kalau Singobadugo telah siap dengan kapaknya dan Jlontrotbaya dengan rantainya. Setelah mereka saling berhadapan segera 151 kedua orang perampok itu menggerakkan kapak dan rantainya menyerang maju dengan gerakan-gerakan yang cepat sekali. Rantai dan kapak itu mengeluarkan bunyi yang berdering-dering dan mengeluarkan angin dingin yang menyambar-nyambar.

Terkesiaplah hati Barata ketika melihat kehebatan kedua musuhnya ini. Keris ditangannya digerakkan dengan cepat untuk mengimbangi serangan-serangan lawannya. Berkali-kali kapak dan rantai ditangan Singobadugo dan Jlontrotbaya membalik ketika bertemu dengan keris ditangan Barata. Kini ganti kedua orang itu yang menjadi kaget. Mereka maklum bahwa lawan yang dihadapinya kini adalah seorang pendekar yang berkepandaian tinggi.

Sinar kuning yang dikeluarkan oleh Blarak Sinebet senjata Barata itu terus menerus menyambar-nyambar dan disela-sela kehebatan keris itu terdengar pula auman Barata yang telah mengetrapkan aji Senggoro Singo. Setiap kali Barata mengeluarkan jurus-jurus sakti dan dibarengi oleh auman aji Senggoro Singo maka tampaklah bahwa pertahanan musuh- musuhnya menjadi semakin kendor. Dan seakan-akan semangat mereka telah hilang, jantung mereka berdentang dengan kerasnya. Hingga mudah bagi Barata untuk mendesak kedua orang lawannya.

Pertempuran itu berjalan dengan seru dan hebat..... wesstt..... trangg.....

berkali-kali kapak dan rantai itu bertemu dengan Kyai Blarak Sinebet. Setelah lama mereka bertempur maka tampaklah kalau Singobadugo dan Jlontrotbaya telah mengeluarkan keringat.

Melihat kegagahan Barata ini mau tak mau kedua orang lawannya haruslah mengakuinya. Memang betapa jahat dan kejamnya seorang dunia persilatan, namun ciri-ciri dari orang-orang persilatan masih tampak jelas adanya. Yaitu mengagumi dan menghargai kegagahan serta kepandaian lawannya.

Sementara itu pertarungan antara Wulandari dan Surowongsopun berjalan dengan serunya. Serangan-serangan Surowongso selalu dapat dielakkan oleh Wulandari dengan tepat dan cepat..... wesstt tiba-tiba

Surowongso mengirimkan sebuah serangan memukul kearah kepala Wulandari dengan tangan kanannya sedang tangan kirinya mencengkeram kearah muka Wulandari.

Semenjak Wulandari mewarisi ilmu-ilmu gurunya dan mendapat gemblengan-gemblengan dari suaminya maka bertambah tinggilah kepandaian Wulandari. Memanglah tak dapat disangkal kalau Wulandari giat sekali melatih ilmu silatnya bersama dengan suami dan anaknya. Tanpa ia ketahui dengan latihan-latihannya itu kepandaiannya telah maju dengan pesatnya.

Sekarang ia menghadapi serangan bertubi-tubi dari Surowongso, otomatis gerakan silat yang telah mendarah daging itu bekerja. Segera Wulandari memiringkan kepalanya menghindarkan pukulan tangan kanan lawan sedang tangan kirinya diangkat untuk menangkis serangan cengkeraman lawan. Prakk.... jari tangan kiri Surowongso berhasil 152   mencengkeram tangan Wulandari yang halus kecil itu. Hingga lima pasang jari saling menggenggam. Wulandari merasa betapa tangan Surowongso mengalirkan suatu tenaga yang mendorong kedudukannya. Mengetahui hal ini segera Wulandari mengerahkan tenaga dalamnya untuk menggempur tenaga dalam lawannya. Hebatlah pertarungan itu. Barang siapa yang berani mengendurkan sedikit saja tenaganya tentu akan mati terlempar oleh desakan tenaga dalam lawannya.

Lama-kelamaan tampaklah kalau Surowongso telah mengeluarkan keringat dingin. Matanya melotot kelihatannya hampir keluar, tubuhnya bergoyang-goyang. Kedua tangannyaa itu bagaikan lekat dan tak dapat ditarik kembali. Makin lama makin keraslah huyungan tubuh Surowongso. Mukanya berubah menjadi pucat. Dan.... huakk!! Tiba-tiba Surowongso memuntahkan darah segar dan darah yang kehitam-hitaman. Tubuhnya menjadi lemah dan akhirnya nyawanya melayang.

Bersama dengan itu terdengarlah suatu jeritan. Aduhh... ternyata Padas Gempal telah roboh akibat tusukan keris Ariyani.

Dibagian lain terdengarlah bentakan Barata : “Singobadugo dan kau Jlontrotbaya lekas kalian pergi sebelum aku menjadi marah.”

Tapi sebagai jawabannya ialah... wesss... Singobadugo mengayunkan kapaknya dan Jlontrotbaya memutar rantainya yang segera mengurung Barata.

Tiba-tiba terdengar teriakan Ariyani : “Ayah biar aku membantumu!” sehabis berkata demikian cepat Ariyani menyerang Singobadugo. Melihat kepalanya diserang segera Singobadugo jongkok dan tangannya menangkis. Tapi Ariyani segera memutar kerisnya dan menyerang lagi. Sedang Singobadugo mengayunkan, kapaknya dengan deras. Trangg... bunga api berpijar, ketika kapak dan keris itu bertemu. Betapa terkejutnya hati Singobadugo sebab hampir saja kapaknya terlepas dari tangannya. Tapi diam-diam Ariyanipun mengagumi tenaga dalam lawannya.

“Bangsat, budak hina! Ternyata kaupun berkepandaian juga!” bentak Singobadugo dengan marah. Apalagi setelah ia mengatahui kalau kekuatan lawan ternyata berimbang.

Tanpa pikir panjang lagi segera Ariyani menusukkan kerisnya dengan berdasarkan ilmu keris Wanara Sakti. Maka sebentar saja Ariyani dapat mengurung Singobadugo.

Tiba-tiba terdengarlah suara... darr... aduhh... terlemparlah tubuh Jlontrotbaya kena gempuran Aji Tapak Guntur yang telah ditrapkan ditangan Barata. Melihat ini terbanglah semangat Singobadugo. Dengan cepat ia melompat sambil mengayunkan kapaknya kearah muka Ariyani. Mendapat serangan yang mendadak ini kagetlah hati Ariyani. Dengan cepat puteri Barata itu melompat kebelakang, dan kesempatan ini dipakai oleh Singobadugo untuk melarikan diri. Setelah mengetahui kalau musuhnya melarikan diri segera Ariyani siap untuk mengejarnya. Tapi cepat Wulandari mencegahnya.

153 “Ibu, mengapa kau mencegahku untuk mengejarnya? Bukankah dengan terbunuhnya orang tadi hilang lagi seorang yang berbuat jahat?” tanya Ariyani tak puas.

“Musuh telah melarikan diri tak baik untuk dikejar!” potong Barata. “Nah, marilah kita segera meneruskan perjalanan kita!” Ajak

Wulandari. Maka pergilah mereka bertiga untuk melanjutkan perjalanannya. Tujuannya yang pertama ialah akan mencari dimana Joko Seno dan para ksatria yang sedang berjuang itu berada.

*

* *

Pada tahun 1658 Banten adalah suatu negara yang makmur. Rakyat hidup dalam keadaan tenang dan damai. Bolehlah kita sebut negara gemah ripah subur makmur lohjinawi. Terlebih-lebih setelah jatuhnya Makasar. Kini tinggal Bantenlah satu-satunya pelabuhan yang bebas dari monopoli Belanda di Nusantara ini. Bahkan banyak pula pedagang-pedagang Gujarat yang menetap disana.

Kemakmuran Banten ini dapat dicapai karena kepandaian Sultan Agung dalam memegang tampuk pemerintahan. Istana Tirtoyoso sangatlah megah dan disitulah baginda bersemayam. Tetapi kemegahan ini sangatlah tidak menyenangkan bagi kaum Belanda.

Berkali-kali pemerintah Belanda mencari gara-gara untuk menggempur kerajaan Banten. Tapi barang apakah didunia ini yang tanpa cacat? Andaikata kerajaan Banten itu kita misalkan seekor harimau maka harimau itu adalah harimau yang sakit jantung. Dari luar memang kelihatan angker tapi sebetulnya dalamnya sangat parah. Nah, begitulah gambaran kerajaan Banten diwaktu itu. Apakah yang terjadi dinegara Banten itu?

Baginda Sultan Agung telah berselisih pendapat dengan putera mahkota. Kalau yang satu anti Belanda tapi yang lain itu pro Belanda. Telah berkali-kali terjadi perang dingin diantara mereka. Laskar Bantenpun telah terpecah menjadi dua. Yang sebagian masih tetap setia kepada Baginda Sinuwun dan yang lain telah menjadi pengikut putera mahkota.

Pada suatu hari tampaklah Sultan Haji, putera mahkota kerajaan Banten sedang bercakap-cakap dengan seorang kepercayaannya. Adapun orang kepercayaan Sultan Haji itu adalah seorang yang bertubuh tinggi besar dan berkepandaian tinggi. Sebab dia adalah murid tunggal dari Ki Nalongsosuro, pertapa dari gunung Papandayan. Dan karena kepandaiannya itu ia dapat menduduki pangkat panglima perang. Adapun nama dari murid Ki Nalongsosuro itu ialah Wisakala.

“Ada keperluan pentingkah maka gusti memanggil hamba?” Tanya Wisakala sambil mendekat kearah junjungannya.

“Betul paman! Ini adalsh suatu berita yang amat penting. Tapi sebelum kukatakm aku akan bertanya dulu kepadamu. Apakah paman sanggup 154 menjalankan tugas yang dapat kukatakan berat dan dapat pula kita katakan ringan?” Setelah berkata demikian segera Sultan Haji menghentikan perkataannya. Dan ia menatap tajam-tajam pada Wisakala. Seakan-akan Sultan Haji ingin membaca isi hati orang kepercayaan ini.

Tiba-tiba terdengarlah perkataan Wisakala. “Lekas katakan gusti, jangan terlalu lama paduka berteka-teki. Apakah sekarang paduka telah hilang kepercayaan kepada hamba?”

“Ah..... tidak.... tidak paman! Sebelumnya aku mengucapkan banyak- banyak terimakasih atas kesetiaan paman kepadaku. Nah, paman aku harap berita ini jangan sampai terdengar oleh siapapun. Ibarat pohon dan daunpun jangan sampai mendengarnya. Kalau berita ini terdengar oleh orang lain maka akan beratlah tanggungjawabnya. Nah, begini paman! Kau tentu sudah tahu bukan akan perselisihan paham antara aku dan Romo Sinuwun serta yayi Purboyo? Karena rasa sakit hatiku kian lama kian terasa maka aku mengambil keputusan kalau aku akan menggempurnya dengan terang-terangan.”

Mendengar perkataan Sultan Haji ini bukan main terkejutnya hati Wisakala. Dan seketika itu ia menjawab : “Tapi gusti, kekuatan kita sangat kecil kalau dibandingkan dengan kekuatan Gusti Sinuwun dan laskar Pangeran Purboyo!”

“Maka dari itu paman aku bermaksud minta bantuan kepada Kumpeni di Bantavia. Dan sekarang paman akan kusuruh memberikan suratku ini kepada Belanda di Batavia. Apakah paman akan sanggup menjalankan tugas ini?” Tanya Sultan Haji.

“Ha.... ha.... ha.... mati hidupku telah kupersembahkan bagi paduka gusti. Bilakah paman diijinkan berangkat?”

“Besok pagi paman boleh berangkat!”

*

* *

Keesokan hatinya pergilah Wisakala menuju ke Bativta. Dari jauh ia kelihatan amat gagah. Kudanya berwarna hitam mengkilat. Larinya sangat cepat. Cocok benar kalau Wisakala dipilih menjadi seorang panglima perang.

Hanya sayangnya Wisakala mempunyai jiwa penjilat. Berhari-hari ia menempuh perjalanan, kudanya dilarikan dengan cepat, dan jarang istirahat. Pada suatu pagi sampailah dihutan Burangrang dan betapa terkejutnya hati Wisakala ketika melihat Wardani seorang pendekar puteri dari Banten baru bertempur melawan seorang laki-laki yang bertubuh besar dan bercambang bauk. Maka diam-diam Wisakala melihat dari kejauhan.

Pertempuran kedua orang itu memang amat seru. Biarpun Wardani seorang pendekar puteri dari Banten, tapi ia menjadi repot juga ketika menghadapi ilmu pedang yang hebat dan dahsyat itu. Sudah kalah tinggi 155 ilmunya ditambah kegelisahan yang menyelimuti dirinya hingga menambah pikirannya menjadi kacau dan akibatnya mudah saja bagi lawannya untuk mendesaknya. Pada jurus ke limapuluh pedang Wardani terbabat putus oleh pedang lawannya. Melihat ini berkelebatlah Wisakala dan siap untuk membantu Wardani.

“Tuan puteri silahkan mundur! Biar hamba saja yang menghadapi orang kasar ini!” Seru Wisakala.

“Bagus paman! Habisi saja antek Belanda ini!” Jawab Wardani agak lega setelah melihat ada bantuan datang.

Mendengar kalau calon musuhnya ini orang yang bekerja sama dengan Belanda maka ragu-ragulah hati Wisakala untuk menyerangnya. Bukankah dengan secara langsung ia sendiri sekarang menjadi antek Belanda? Jadi ia dan orang yang melawan Wardani ini masih tergolong orang sendiri. Maka dari itu segera ia berkata : “Silahkan tuan puteri pulang dulu!”

Bukan main kagetnya hati Wardani ketika mendengar perkataan Wisakala yang bersifat mengusirnya tadi. Sebab setiap kali Wisakala menolong atau melindunginya belum pernah ia mengeluarkan perkataan yang sekasar itu. Maka diam-diam ia merasa mendapat firasat jelek. Tiba- tiba terdengarlah suara Wisakala : “Cepatlah tuan puteri!”

Akhirnya timbullah kecurigaan terhadap sikap aneh Wisakala itu. Wardani bertekad akan menyelidiki keanehan yang menyelubungi Wisakala. Maka segera ia menjawab : “Baik paman dan hati-hatilah kau menghadapi lawanmu itu sebab ilmu pedangnya amat hebat!” Setelah berkata demikian segera ia berkelabat dan menghilang dibalik pohon.

Tapi sebetulnya Wardani tak pergi jauh dari situ. Ia ingin sekali melihat pertarungan antara Wisakala dan bekas lawannya tadi. Tapi sudah sekian lamanya keduanya masih tenang-tenang berdiri ditempat masing- masing. Dan tak kelihatan tanda-tanda kalau keduanya akan saling menggempur. Melihat ini bertambah gelisahlah hati Wardani. Tiba-tiba mendengar suara Wisakala yang memecah kesunyian.

“Kisanak, betulkah kau bekerja sama dengan Belanda? Dan siapa pula namamu?”

“Huh. kau telah mendengar sendiri kalau aku bekerja untuk Kumpeni

masih kau bertanya lagi. Namaku Undung Kalayaksa! Mengapa kau mencampuri urusauku?”

“Adi Undung Kalayaksa, tenanglah kita kawan segolongan!” Jawab Wisakala.

“Apa? Kawan segolongan???” Seru Undung Kalayaksa dengan kaget. “Sssst.... jangan keras-keras adi, kalau ada yang mendengar akan

celakalah aku.” Seru Wisakala memperingatkan sahabat barunya.

Mendengar pengakuan Wisakala ini bagaikan tersambar halilintar kagetnya hati Wardani. Tapi cepat ia menahan gelora hatinya. Dan cepat ia memasang telinganya untuk mendengarkan kisah ini selanjutnya.

“Apa buktinya kalau kau masih segolongan denganku?” Tanya Undung Kalayaksa. 156 “Begini adi aku mau menceriterakan ini kepadamu kalau kau mau berjanji sudi membantuku. Maukah kau menerima syaratku ini?”

“Asal kau benar-benar orang segolongan maka aku tak segan-segan membantumu. Bahkan berkorban nyawa sekali aku rela.” Jawab Undung Kalayaksa dengan gagah.

“Bagus! Begitulah sikap seorang perajurit yang setia. Bertanggungjawab kepada atasan. Nah beginilah persoalannya. Kukira kaupun telah mendengar kalau dikerajaan Banten sekarang baru terjadi perselisihan pendapat antara Sinuwun dan putera mahkota. Karena mereka satu sama lainnya tak begitu cocok dengan sifatnya masing- masing. Kalau Sinuwun anti Belanda dan kalau putera mahkota itu pro Belanda. Maka dari itu aku lalu diutus oleh putera mahkota untuk meminta bantuan perajurit Kumpeni di Batavia untuk menggempur Banten. Dan ini aku membawa surat dari putera mahkota. Setelah kau mengetahui duduknya perkara ini apakah kau sanggup mengantarkan aku ke Kumpeni di Batavia untuk mengantarkan surat ini?”

“Jadi maksudmu aku kau suruh mengantarmu masuk ketangsi Belanda?” Tanya Undung Kalayaksa.

“Betul adi! Dan sanggupkah kau?” tanya Wisakala dengan penuh harapan.

“Sungguh mujur kau kakang, sebab yang menjaga keamanan tangsi di Batavia itu aku dan kakang Sindung Laut.” Jawab Undung Kalayaksa.

Mendengar percakapan kedua orang ini bukan main marahnya hati Wardani. Dengan melupakan rasa sakitnya segera ia menyerang kedua orang itu dengan kepalannya, sambil berteriak :

“Bangsat pengkhianat hina dina!” Terus tangannya memukul kearah kepala Wisakala. Munculnya Wardani ini bagaikan kilat yang menyambarnya disiang hari bolong. Terkejut, marah dan takut bercampur menjadi satu didalam kepala Wisakala. Tapi segera ia dapat menenangkan hatinya.

“Bagus Wardani, karena kau telah mendengar semua percakapanku tadi maka sekarang kau harus mampus!” Dengus Wisakala sambil mengelakkan serangan Wardani.

“Mari kakang kubantu kau untuk menangkap tikus kecil ini!” Teriak Undung Kalayaksa.

“Bangsat penghianat!” Desis Wardani. Sebentar saja Wardani telah dikeroyok dua orang yang berkepandaian lebih tinggi. Kini makin nekatlah Wardani melayani Undung Kalayaksa dan Wisakala yang berkepandaian hebat. Wardani bertempur dengan tangan kosong dan tak mengenal takut. Andaikata pendekar wanita ini memegang sebuah pedang maka sedikitnya ia dapat mempertahankan serangan-serangan lawan-lawannya dengan lebih baik. Tapi kini ia bertangan kosong. Hingga dengan mudah kedua orang lawannya dapat mendesaknya. Apalagi setelah kedua orang lawannya mempergunakan pedang-pedangnya. Langsung kedua orang itu memperhebat serangannya. Keduanya menyerang dengan dahsyat! Hingga 157 pada jurus yang keduapuluh pedang Wisakala telah berhasil melukai pundak Wardani. Seketika itu tubuh Wardani menjadi terhuyung-huyung. hampir roboh ketanah. Namun segera ia menggigit bibirnya dan menahan rasa sakitnya. Segera ia menyerang kedua musuhnya kembali. Kini gerakannya makin lincah dan gesit hingga darah yang mengalir dari lukanya tercecer-cecer kemana-mana.

Tapi Wisakala dan Undung Kalayaksa tahu kalau lawannya seperti mendapat kekuatan baru. Segera mereka makin mendesak dengan serangan-serangan yang mematikan.

Tiba-tiba..... wesss..... aduhh..... ternyata pedang Undung Kalayaksa telah berhasil menyobek paha Wardani. Dan seketika itu jatuhlah tubuh Wardani diatas tanah.

“Ha..... ha..... ha..... sekarang tiba masanya kau menghadap Tuhan, Wardani!” Seru Wisakala dengan riang.

“Betul kakang, supaya rahasiamu tak bocor!” Jawab Undung Kalayaksa. Kini tampaklah kalau kedua orang itu telah mengangkat pedangnya dan siap untuk dibacokkan kearah tubuh Wardani yang telah tak berdaya itu.

Wess..... kedua pedang itu telah terayun dengan keras. Wardani menutup kedua matanya dan menyerahkan nasibnya ketangan Yang Membuat Hidup. Tiba-tiba terdengarlah suara...... trangg..... kedua pedang itu terlempar sebelum menyentuh tubuh Wardani. Dan ternyata yang mementalkan kedua pedang itu adalah dua butir batu kecil yang dilemparkan oleh tangan yang bertenaga kuat.

Bersama dengan kejadian itu muncullah seorang pemuda sambil berkacak pinggang.

“Bangsat siapa kau?” Bentak Undung Kalayaksa dan Wisakala bersama. “Orang menyebutku dengan sebutan Linglung! Atau lebih terkenal lagi

dengan sebutan Pendekar Linglung.”

“Pantas memang kau seorang pemuda yang berpikiran linglung. Dan apakah maksudmu merintangi pekerjaan kami?” Seru Wisakala dengan marah.

“Apakah kalian tak malu akan membunuh seorang gadis yang tak berdaya. Dimanakah letak kegagahan kalian?” Jawab Pendekar Linglung dengan nada mengejek.

“Hai Linglung tutup bacotmu! Anak kemarin sore berani menggurui Panglima Wisakala!”

“Bohong! Kau seorang pengkhianat Wisakala!” Teriak Wardani. “Anjing buduk kau minta dibunuh?” Bentak Wisakala sambil

mengayunkan tangannya kearah dada Wardani. Tapi secepat kilat Pendekar Linglung telah menangkis serangan Wisakala tadi. Hingga beradulah kedua lengan mereka...... dukk..... dan akibatnya terlemparlah tubuh Wisakala kebelakang empat langkah. Melihat kejadian ini bukan main terkejutnya hati Wisakala. Mau tak mau ia harus mengakui keunggulan tenaga dalam musuhnya yang masih muda itu.

158 “Bagus, rupa-rupanya kau mempunyai kepandaian yang berarti juga.

Mari adi Undung Kalayaksa kita bereskan dulu coro ini!” Seru Wisakala. “Apa, Undung Kalayaksa? Betulkah kau ini paman Undung Kalayaksa?”

Tanya Pendekar Linglung dengan kaget.

“Betul, aku adalah Undung Kalayaksa!” Jawabnya singkat.

“Paman Undung Kalayaksa, janganlah kau teruskan perbuatanmu yang sesat ini. Ingatlah akan pesan Eyang Jayasengara.”

“Siapakah kau ini sebetulnya anak muda?” Tanya Undung Kalayaksa dengan terkejut.

“Aku adalah murid ketiga dari Eyang Jayasengara! Nah, mengingat hubungan kita, maka cepatlah paman meninggalkan hutan ini.” Seru Pendekar Linglung dengan nada memerintah.

“Bangsat anjing gila! Terimalah seranganku ini!” Bentak Undung Kalayaksa sambil mulai menyerang si Pendekar Linglung. Tapi hanya dengan sedikit mengeser tubuhnya saja Ugrasena dapat menghindarkan diri dari serangan lawan. Undung Kalayaksa sangat penesaran dan segera ia mengirimkan serangan berantai. Namun sembilan kali sambaran pedangnya selalu dapat dihindarkan oleh Pendekar Linglung dengan baik. Hingga semua serangan-serangan itu hanya mengenai tempat kosong saja. Seakan-akan pemuda ini telah tahu kemana arah pedangnya akan menyerang. Karena itu Undung Kalayaksa bertambah marah.

Segera ia menyerang mati-matian dan bersama dengan itu terlihatlah Wisakala memasuki arena dan terus membantu sahabatnya. Kini Ugrasena harus menghadapi kedua musuh yang mempunyai kepandaian tinggi dan tangguh. Segera si Pendekar Linglung menerjang kemuka dan sekaligus kedua tangannya bergerak. Yang kiri menotok dan yang kanan merampas pedang Undung Kalayaksa. Tapi segera Wisakala membabatkan pedangnya kearah tangan Pendekar Linglung. Secepat kilat Ugrasena meloncat mundur. Sambil menarik kembali serangannya.

Undung Kalayaksa marah sekali melihat hal ini dan secepat baling- baling ia memutar pedangnya kembali. Lalu ia membabat perut lawan. Tapi gerakan Pendekar Linglung untuk meloncat kebelakang itu hanyalah tipuan belaka. Tahu-tahu tubuh pemuda itu telah menyelinap kebelakang tubuh Undung Kalayaksa dan langsung menotok pangkal lengan kanan hingga Pendekar Linglung berhasil merebut pedang Undung Kalayaksa. Pucatlah wajah Undung Kalayaksa melihat kejadian ini.

“Bangsat keparat... hari ini aku Undung Kalayaksa akan mengadu nyawa denganmu setan!” Teriak Undung Kalayaksa sambil memungut potongan pedang Wardani yang terletak ditanah. Potongan itu diputar dengan cepat hingga merupakan segumpal sinar yang menerjang Pendekar Linglung.

Kini Ugrasena telah pula memutar pedangnya dilain saat Wisakala telah membabatkan pedangnya kearah Pendekar Linglung. Trangg... tiga buah pedang bertemu... akibatnya Undung Kalayaksa terhuyung-huyung kebelakang dua tindak. Begitupun dengan Wisakala. Sedang Ugrasena 159 masih tetap pada posisinya semula. Disaat berikutnya ketiga orang itu telah bertempur lagi dengan sengitnya. Alangkah herannya hati kedua musuh Pendekar Linglung itu. Pemuda yang bertubuh kecil itu dapat melawan tenaga dalam mereka berdua.

Kini mulailah Ugrasena mendesak lawannya dengan ilmu pedang Pengacau Angkasa ciptaan Jayasengara.

“Sekali lagi kuperingatkan supaya kau meninggalkan hutan ini!” Seru Pendekar Linglung dengan lantang.

“Mari kakang Wisakala kita pergi dulu, besok masih ada waktu untuk mencari pemuda Linglung ini.” Ajak Undung Kalayaksa sambil melompat pergi. Setelah Undung Kalayaksa pergi segera Wisakala menyusulnya. Dan dari jauh terdengarlah sayup-sayup suara Wisakala :

“Hai Linglung, tunggulah pembalasanku!”

Setelah kedua musuhnya melarikan diri segera Pendekar Linglung menghampiri Wardani.

“Terima kasih atas pertolonganmu, pendekar! Dan bolehkah nku mengetahui namamu?” Seru Wardani.

“Hem... namaku adalah Linglung dan orang menyebutku sebagai Pendekar Linglung. Tapi siapakah kau ini? Dan mengapa kau berada ditengah hutan yang selebat ini?”

“Aku Wardani! Adik dari Raden Ayu Gusik dari Banten. Adapun aku berada disini karena aku baru saja pulang dari mengunjungi guruku didesa Cilatu. Dan sekembalinya dari desa Cilatu aku diikuti oleh Undung Kalayaksa si bangsat antek Belanda itu. Setelah sampai dihutan ini segera ia meloncat dan menghadang perjalananku. Betapa marahnya hatiku ketika mengetahui maksudnya.” Dan seketika itu Wardani menghentikan ceritanya. Mukanya berubah menjadi merah, semerah kepiting direbus. Kalau mengingat peristiwa yang lalu hatinya menjadi bergidik dan bulu kuduknya meremang karena takut dan ngeri. Sesaat keadaan menjadi sepi.

“Apakah maksudnya Undung Kalayaksa tadi?” Tanya Ugrasena memecah kesunyian.

“Ia bermaksud memperkosa aku dihutan ini.” Jawab Wardani lemah sambil menundukkan kepala.

“Memperkosa?” Tanya Ugrasena dengan kaget.

“Betul, ia akan memperkosaku ditempat yang sunyi. Tapi demi menjaga kehormatanku aku segera melawannya dengan mati-matian. Tapi sayang kepandaiannya lebih tinggi dari pada kepandaianku. Maka ia berhasil mematahkan pedangku dan melukai tanganku. Tiba-tiba muncullah paman Wisakala panglima perang dari Banten. Mula-mula hatiku menjadi girang melihat munculnya paman Wisakala. Tapi akhirnya aku menjadi kecewa setelah mengetahui kalau paman Wisakala telah berbalik haluan malah memusuhiku, setelah aku mengetahui rahasia pengkhianatannya kepada gusti sinuwun. Sebetulnya ia akan pergi ke Batavia untuk menyerahkan surat Sultan Haji kepada Kumpeni. Adapun isi surat itu ialah Sultan Haji ingin minta bantuan kepada Kumpeni untuk 160 menggempur ayahnya sendiri.” Seru Wardani menerangkan duduk perkaranya.

“Bangsat jahat!” Desis Ugrasena. Mandengar cerita Wardani ini makin kecewalah hatinya melihat kelakuan kakak seperguruannya ini. Ah, mengapa aku tadi tergesa-gesa malepaskannya? pikir Ugrasena.

“Mari adi Wardani kau kuantar pulang. Maafkanlah aku akan mendukungmu. Berdebarlah hati Ugrasena ketika tangannya mulai menyentuh badan Wardani. Memang selama hidupnya belum pernah Ugrasena bergaul dengan wanita. Maka dari itu agak ragu-ragu dan canggung-canggunglah hati Ugrasena dan ini menjadikan tangannya gemetar. Hingga getaran tangan Ugrasena ini dapat dirasakan pula oleh Wardani.

Dan seketika itu juga Wardani merasakan hati selalu berdebar-debar ketika tubuhnya kena raba tangan Ugrasena. Tapi ia tak dapat berkhayal lebih lama lagi. Sebab tahu-tahu tubuhnya telah terangkat dan terasalah ia kalau tubuhnya telah dibawa lari dengan cepatnya. Hingga ia merasakan bagaikan terbang saja. Karena angin lembut membelai-belai tubuh Wardani segera ia menjadi ngantuk dan akhirnya tertidur didalam gendongan Ugrasena.

Ugrasena merasakan kalau dadanya dihembus-hembus oleh udara yang hangat yang keluar dari hidung Wardani. Maka dari itu tambah berdebar-debarlah hatinya. “Hem..... sungguh cantik kau Wardani! Bahagialah kumbang yang berhasil memetik bunga seindah ini.” Karena memikirkan yang demikian itu maka makin keraslah debaran jantung Ugrasena, tiap malam tentu Ugrasena mencarikan tempat untuk bermalam dan ia selalu menunggunya dengan setia.

Pada suatu malam ketika mereka sedang beristirahat, diam-diam hati Wardani telah timbul suatu perasaan yang aneh. Selama hidupnya belum pernah ia merasakan keanehan yang seperti ini. Yah rupa-rupanya Wardani telah jatuh cinta kepada pemuda penolongnya yang belum ia ketahui siapa sebetulnya namanya itu. Aneh..... aneh..... belum tahu namanya, tetapi telah jatuh cinta. Memanglah aneh cinta itu. Telah beberapa hari mereka mengadakan perjalanan bersama-sama. Bahkan Wardani setiap hari didukungnya terus-menerus oleh pemuda yang telah merebut hatinya.

Lama-kelamaan tahulah Ugrasena kalau luka yang diderita oleh Wardani kian hari kian baik. Dan kalau menurut perkiraannya tentu telah dapat dipakai untuk jalan sendiri. Namun rupa-rupanya Wardani masih ingin selalu didukungnya. Dan alasan yang selalu dikemukakannya ialah : “Masih sakit.”

“Adi Wardani, bagaimanakah keadaan lukamu? Sudah baik bukan?” Tanya Ugrasena ketika mereka sedang beristirahat dihutan.

“Ah kakang aku merasa bahwa sakitku ini makin lama makin bertambah parah. Sakit-sakit nyeri rasanya.” Jawab Wardani.

161 “Memang adi akupun melihat makin memburuknya penyakitmu itu. Bukankah kini sakitmu makin menjalar naik?” Tanya Ugrasena dengan berlagak serius.

Bukan main senangnya hati Wardani ketika mendengar perkataan. Pendekar Linglung ini. Ia seperti mendapat angin untuk terus aleman kepada pemuda pujaannya.

“Ha..... ha..... ha..... adi Wardani memang rasanya sakitmu itu terus bertambah naik sampai kehati bukan?” Seru Ugrasena sambil tertawa.

“Ah..... kakang kau ada-ada saja!” Seru Wardani sambil mengejar Pendekar Linglung.

“Ha..... ha..... ha..... kalau berjalan belum dapat, tapi kalau lari rupa- rupanya telah pandai.”

Mendengar teriakan Ugrasena ini malulah hati Wardani. Sebab dengan secara tak sadar ia telah membuka rahasianya sendiri. Setelah itu segera Wardani menjatuhkan diri ketanah dan menangis menutupi mukanya.

Betapa terkejut dan gelisahnya hati Ugrasena melihat yang aneh ini.

Segera ia menghampiri dan menggoyang-goyangkan pundak Wardani.

“Adi Wardani maafkanlah kata-kataku tadi.” Bisik Ugrasena dengan perasaan terharu. Mendengar perkataan ini makin keraslah suara tangis Wardani.

“Sudah-sudah adi, aku mengaku salah. Atau tak dapatkah kau memaafkan kesalahanku ini?” Desak Pendekar Linglung

“Mengapa kau menggodaku terus, kakang?” Tanya Wardani disela sedu-sedannya.

“Biar adi, malam ini akan kuceritakan kepadamu bahwa bukan aku tak senang mendukungmu, tapi malah sebaliknya adi. Aku berharap agar kau mau memperpanjang rasa sakitmu. Supaya aku dapat lebih lama menggendongmu.”

“Apakah maksudmu, kakang?” Tanya Wardani dengan hati berdebar- debar.

“Karena aku cinta padamu, adi.” Desis Ugrasena hampir tak terdengar. Mendengar pengakuan Ugrasena ini kembali Wardani menangis. Tambah terkejutlah hati Ugrasena melihat kenyataan ini. Ia menyangka kalau pernyataan cintanya ini sangat menyakitkan hati Wardani.

“Maafkanlah, adi! Sekali lagi aku minta maaf karena aku telah melukai hatimu lagi!” Kata Pendekar Linglung dengan bingung.

“Kakang, aku tak marah dan tak merasa sakit hati. Malahan aku sangat gembira mendengar pengakuanmu tadi, kakang. Kini tahulah aku kalau cintaku selama ini tak bertepuk sebelah tangan.” Seru Wardani.

Tiba-tiba terdengarlah suara Ugrasena.

“Adi, kalau kau merasa gembira mengapa kau menangis setelah mendengar pengakuanku tadi?”

Memang aneh sikap Wardani kalau tadi ia habis menangis karena malu sekarang ia dapat tertawa dengan riangnya.

162 “Kakang, begitulah sifat wanita, ia menangis kalau susah dan ia akan menangis pula kalau hatinya gembira.”

Mendengar perkataan Wardani ini makin gembiralah hati Pendekar Linglung. Segera iu memegang kedua pundak Wardani dan berkata dengan lembut :

“Wardani, betapa bahagianya kalau kelak aku dapat hidup bersamamu, Wardani, aku tertarik akan kelembutanmu dan kelincahanmu.....

parasmu..... akan semuanya.... percayalah kalau kita kelak akan hidup berbahagia.”

Mendengar perkataan Pendekar Linglung ini makin bahagialah hati Wardani. Ia merasa bahagia dan bangga mendapatkan Pendekar Linglung ini. Gagah, cakap lagi pula berkepandaian tinggi.  

“Adi, kalau kau merasa gembira mengapa kau menangis setelah mendengar pengakuanku tadi?”.....

Berhari-hari bahkan telah seminggu mereka mengadakan perjalanan bersama, tapi Ugrasena tak pernah berbuat yang melanggar kesopanan. Ia tetap melakukan Wardani sebagai gadis yang masih suci dan tak mengerti apa-apa. Seperti sebelumnya ia mengetahui kalau cintanya ini dibalas oleh Wardani. Setelah terjalinnya cinta kedua muda-mudi ini perjalanan mereka 163 dapat dirasakan lebih indah dari pada yang sudah-sudah. Tapi jarak yang mereka tempuh makin lama makin lekat akhirnya sampailah ketujuannya. Setelah mereka sampai dihalaman istana Tirtoyoso maka berkatalah Ugrasena kepada kekasihnya :

“Adi, aku mengantarmu sampai disini saja, kelak aku pasti akan datang kemari untuk mempersuntingmu. Nah, adi, relakan aku pergi dulu.” Seru Pendekar Linglung.

“Kakang tapi bilakah kau kembali kemari? Janganlah kau meninggalkanku terlalu lama. Dan sekali lagi aku ingin menanyakan siapakah namamu yang sebenarnya kakang?” Tanya Wardani dengan derasnya.

“Adi kenangkanlah aku sebagai Pendekar Linglung saja. Besok kau akan mengerti sendiri siapa aku ini Nah, adi selamat tinggal dan semoga

kau cepat-cepat menggabungkan diri dengan para ksatria yang berjuang melawan para penjajah.” Setelah berkata demikian itu segera Ugrasena berkelebat dan sebentar saja ia telah hilang dibalik bangunan sekitar istana.

“Pergilah pahlawanku! Semoga cita-citamu yang luhur itu cepat terlaksana. Dan kau selalu didalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa.” Demikianlah doa Wardani yang mengiringi kepergian Ugrasena.

Sampai lama ia mengawasi kearah hilangnya tubuh kekasihnya tadi. Dengan tak ia sadari airmatanya telah mengalir dengan derasnya. Tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh teguran kakaknya.

“Heh adi, mengapa kau melamun diluar?”

“Eh.... eh.... ayu, kau membuat orang jadi kaget saja.” Jawab Wardani sekenanya.

“Adi, mengapa lama benar kau mengunjungi guru kita?” Tanya Raden Ayu Gusik.

“Guru kita dalam keadaan baik-baik saja. Tapi ayu, aku membawa suatu berita penting sekali. Mari kita bicara didalam saja.” Setelah berkata demikian segera kedua orang tadi masuk kedalam Dalem Tirtoyasan. Dan keduanya langsung masuk kedalam taman.

“Ayu, apakah kakang Purboyo ada?” tanya Wardani diperjalanan.

“Ada, beliau ada didalam. Mengapa kau menanyakan beliau? Apakah ada hubungannya berita yang kau bawa itu dengan beliau, adi?” Tanya Raden Ayu Gusik.

“Betul ayu, sebab soal ini menyangkut pula jaya atau runtuhnya kerajaan Banten!” Jawab Wardani.

“Eh. jangan main-main kau, adi!” seru Raden Ayu Gusik dengan kaget

dan setengah tak percaya.

“Cepat ayu kau panggil saja kakangmas Purboyo supaya ia ikut mendengarkan ceritaku ini.” Seru Wardani.

“Baik adi!” Seru Raden Ayu Gusik yang terus meninggalkan Wardani untuk memanggil suaminya.

164 Tak antara lama datanglah mereka berdua kedalam taman dimana Wardani telah menunggu.

“Betulkah kau membawa berita penting, adi Wardani?” Tanya Pangeran Purboyo dengan tak sabar.

“Betul kakangmas, bahkan berita ini kelewat penting bagi kakangmas dan baginda Sinuwun.” Jawab Wardani.

“Lekas kau sampaikan berita itu, adi Wardani!” Seru Raden Ayu Gusik dengan tak sabar lagi.

“Baiklah, kalian tentu tahu bukan kalau beberapa hari yang lalu aku pergi ke Cilatu, sepulangku dari desa Cilatu aku diikuti oleh seorang laki- laki yang bernama Undung Kalayaksa. Pertama-tama aku tak mengetahui apakah maksudnya. Tapi setelah aku memasuki hutan Burangrang, Undung Kalayaksa segera mencegahku. Dan alangkah marahnya hatiku setelah aku mengetahui maksudnya yang kotor dan hina itu. Sebab ia akan memperkosa aku ditempat yang sunyi dan gelap itu. Maka untuk menjaga kehormatanku segera kulawan orang liar itu. Tapi dia adalah seorang yang berkepandaian tinggi hingga pada jurus yang kelimapuluh pedangku berhasil dipatahkan dan tangankupun terluka. Dan pada waktu yang sangat berbahaya itu muncullah paman Wisakala.

“Bagus! Tentu orang kasar itu dapat dihajar oleh paman Wisakala, bukan?” Seru Raden Ayu Gusik dengan gembira.

“Tidak ayu! Bahkan mereka berdua mengeroyokku!” Bantah Wardani dengan muka cemberut.

“He. mengapa mengeroyokmu? Gila barangkali paman Wisakala itu?”

Seru Pangeran Purboyo dengan heran.

“Betul kakangmas, paman Wisakala menjadi kalap setelah rahasianya terdengar olehku!” Seru Wardani.

“Rahasia? Rahasia apakah itu, adi?” Tanya Pangeran Purboyo bertambah heran.

Karena sibuknya mereka bercakap-cakap maka tak tahulah mereka kalau sepasang mata dan telinga mengintip dan mendengarkan apa saja yang mereka bicarakan.

“Rahasianya ialah cerita ini, kakangmas. Sebetulnya paman Wisakala akan pergi ke Batavia untuk minta bantuan Kumpeni untuk menggempur Kerajaan Banten, kakangmas.” Seru Wardani.

Bagaikan mendengar letusan seribu gunung kagetnya, hati Pangeran Purboyo ketika mendengar berita yang dibawa oleh Wardani itu.

“Betulkah ceritamu itu, adi? Awas kalau kau hanya mengada-ada saja!” Seru Pangeran Purboyo.

“Betul kakangmas, sebetulnya paman Wisakala itu hanya disuruh saja oleh kakangmas Sultan Haji yang telah menyiapkan tentaranya untuk mengempur Kerajaan Benten!” Seru Wardani dengan penuh keyakinan.

“Hai kakang Sultan Abdul Nasar mau memberontak?”

Sewaktu keadaan menjadi kacau dipakailah sebagai kesempatan oleh pendengar tadi untuk melarikan diri. Sayang ketiga orang itu sedang asyik 165 dengan persoalan mereka sendiri, hingga tak melihat kalau ada orang yang melarikan diri dari belakang mereka.

“Ah... kejadian ini harus segera kulaporkan kepada ayahanda baginda!” Seru Pangeran Purboyo. *

* *

Marilah sekarang kita mengikuti perjalanan Ugrasena setelah mengantarkan kekasihnya kembali ke Banten. Sekarang tujuannya yang pertama akan memperingatkan kedua kakak seperguruannya yang bertindak nasar itu. Maka dari itu ia segera mempercepat larinya menuju ke Batavia, benteng Belanda! Tujuannya semula. Sebab didalam benteng itulah ia akan dapat menemui Undung Kalayaksa dan mungkin ia akan dapat pula menemui Sindung Laut yang menjadi kakak seperguruan yang yang tertua.

Berhari-hari bahkan sampai sebulan lebih ia terus berlari tanpa mengenal lelah. Karena kemauannya yang keras dan kebulatan tekadnya ini maka sampailah ia kekota Batavia. Tak sukarlah baginya untuk mencari letak benteng Belanda dikota itu.

Tapi ia segera bersabar sampai sang bulan menggantikan kedudukan Batara Surya, yang menyinari jagad raya ini. Sambil menunggu datangnya malam maka pergilah ia kesuatu rumah makan. Memanglah sejak pagi tadi perutnya belum terisi sebutir nasipun. Sambil makan ia mendengarkan percakapan para pengunjung lainnya.

Ugrasena tertarik oleh cerita tertangkapnya seorang pendeta yang dianggapnya pemberontak oleh para Kumpeni. Segera Pendekar Linglung itu memanggil seorang pelayan yang telah lanjut usianya. Maka ia bertanya tentang sebab-sebab penangkapan pendeta itu.

“Pak, dapatkah bapak menceritakan tentang tertangkapnya seorang pendeta yang dianggap pemberontak itu?” Tanya Ugrasena kepada pelayan tua tadi.

“Ah..... apakah anak belum mendengar ceritanya? Kukira setiap orang yang berada di Batavia ini telah mendengar akan berita itu.” Jawab si pelayan tua itu.

“Tapi aku benar-benar belum mendengarnya pak!” Seru Ugrasena dengan sejujurnya.

“Baiklah kalau demikian, anak muda!” Setelah pelayan tua itu menarik napas panjang segera ia mulai membuka ceritanya : “Dua hari yang lalu ketika patroli Belanda lewat ada seorang yang berjalan-jalan ditengah jalan. Telah berkali-kali penjaga menyuruh pendeta itu minggir, tapi apa jawaban pendeta itu? Minggir!! Tai anjing!! Kentut!.... kentut!..... Jalan ini bukan jalan mereka. Penjajah harus lekas pergi dari bumi pertiwi ini! Seru pendeta itu sambil menyumpah-nyumpah. Karena kelakuan pendeta itu maka penduduk setempat menganggapnya ia adalah seorang pendeta gila. 166 Melihat kenekatan pendeta ini marahlah para perajurit Belanda itu. Cepat salah seorang perajurit itu mengirimkan pukulan kearah dada pendeta itu. Tapi tahu-tahu pemukul itu menjerit roboh ketika pendeta itu balas memukulnya. Karena kematian seorang serdadu ini maka keadaan menjadi gempar. Seketika itu sang pendeta dikurung oleh para serdadu lainnya. Tapi betul-betul sangat mengagumkan kepandaian pendeta itu. Dalam waktu yang singkat saja ia dapat menewaskan delapan belas serdadu Belanda.

Mendengar cerita ini kagumlah hati Pendekar Linglung kepada keberanian pendeta itu. Lama-lama kekagumannya itu berubah menjadi rasa simpati. Namun segera ia memasang telinganya kembali untuk mendengarkan cerita pelayan tua itu.

“Setelah pendeta itu berhasil menewaskan beberapa orang serdadu Belanda, maka datanglah dua orang antek BeIanda. Adapun nama kedua orang itu ialah Sindung Laut dan Undung Kalayaksa.”

“Apa Sindung Laut dan Undung Kalayaksa?” Tanya Ugrasena dengan terkejut.

“Betul angger! Mengapa kau kelihatan kaget setelah mendengar kedua nama itu? Apakah kau kenal dengan kedua orang itu?” Tanya pelayan tua itu dengan heran.

“Memang aku telah mengenal kedua orang itu. Dahulu kedua orang itu selalu menjunjung tinggi kebenaran dan menegakkan keadilan. Tapi sekarang entahlah kalau telah berubah tabintnya.” Jawab Pendekar Linglung dengan sekenanya.

“Betul angger, manusia itu mudah terpengaruh. Setelah datang kedua orang itu maka sang pendeta menemui tandingnya. Mula-mula Undung Kalayaksa yang menghadapinya tapi rupa-rupanya pendeta itu masih berada diatas angin. Karena lama-kelamaan Undung Kalayaksa makin terdesak segera Sindung Laut maju menggantikan temannya itu. Tapi keadaannya sama saja. Sindung Laut dapat dihajar sungsang balik oleh pendeta yang gagah perkasa itu. Maka akhirnya Sindung Laut dan Undung Kalayaksa maju bersama-sama.

Menghadapi keroyokan dua orang yang berkepandaian tinggi ini sibuklah pendeta itu untuk menangkis dan menghindarkan setiap serangan kedua orang lawannya itu. Namun lama-kelamaan pendeta yang sakti itu terdesak olah kedua orang lawannya. Apalagi setelah datang Wisakala membantu kedua orang pengeroyok itu. Kini ketiga orang itu benar-benar telah berhasil mendesak pendeta yang dianggap pemberontak itu. Tapi rupa-rupanya sang pendeta itu tak mau menyerah dengan begitu saja. Ia bergerak dengan cepat dan tahu-tahu ia telah berhasil melukai Wisakala. Hanya sayangnya waktu pendeta itu menyerang Wisakala pedang Sindung Laut dan pukulan jarak jauh Undung Kalayaksa berhasil merobohkan pendeta yang gagah perkasa itu. Akhirnya pendeta yang malang itu dibawa ketangsi Belanda.” Seru pelayan tua itu sambil mengakhiri ceritanya.

167 “Ah.... sungguh kasihan nasib pendeta itu. Tahukah bapa siapa nama pendeta yang gagah perkasa itu?” Tanya Ugrasena.

“Menurut berita yang kudengar dan kata orang-orang ia bernama Kalinggapati.” Jawab pelayan itu.

“Kalinggapati... Kalinggapati...” desis Ugrasena.

“Betul angger, namanya adalah Kalinggapati.” Seru pelayan tua itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Terima kasih, pak! Nah terimalah ini sekedar rasa terima kasihku kepadamu, dan ini untuk membayar makanan yang kupesan tadi.” Jawab Ugrasena sambil meletakkan uangnya kemeja.

“Terima kasih.... terima kasih.... angger!” Seru pelayan tua itu dengan girang.

Setelah ia keluar dari rumah makan itu segera ia pergi kebenteng Belanda. Disitu tampaklah suatu bangunan yang besar dan dijaga oleh para serdadu Belanda. Boleh kita katakan kalau penjagaannya sangatlah kuat. Pada tiap-tiap sudut benteng itu tampaklah lima orang yang bergerombol.

Hem.... kalau siang seperti ini maka akan sukarlah untuk menerobos benteng ini! pikir Ugrasena. Nah, nanti malam aku akan memasuki melalui pintu sebelah barat ini. Disamping keadaannya paling sunyi disinipun tumbuh pohon tanjung, hingga mudah untuk menyelinap! pikir Ugrasena.

Malam harinya yang berada didalam benteng ini adalah para pembesar-pembesar Belanda. Didalam gedung sebelah benteng itu tampaklah Edeler Moor, Is de Sain Martin, Kapten Tack, Jonker dan Aru Palaka. Tampaklah kalau mereka sedang berunding.

“Bagaimanakah menurut pendapatmu itu Kapten Tack! tentang permintaan Sultan Haji?” Tanya Edeler Moor kepada bawahannya.

“Ah, itu soal gampang. Kalau menurut pendapatku kita terima saja permintaan itu, dan kita segera kirimkan bantuan ke Banten. Tapi harus dengan syarat!” Jawab Kapten Tack dengan tenang.

“Apakah syaratnya itu?” Tanya Is de Sain Martin.

“Syaratnya gampang saja! Asal nanti Sultan Haji naik takhta ia harus menandatangani perjanjian yang isinya sebagai berikut :

1. Banten harus mengakui monopoli dagang V. O. C.

2. Banten menjadi koloni V. O. C.

Bukankah isi perjanjian ini sudah sangat menguntungkan kita?” Seru Kapten Tack dengan nada bertanya.

“Betul, ini sangat menguntungkan, bukankah dengan demikian kita dapat menguasai bandar-bandar di Nusantara ini? Sebab kini satu-satunya bandar yang masih bebas dari monopoli kita hanya Banten.” Seru Jonker dengan menganggukkan kepalanya tanda hatinya puas.

“Bagus, kalau ini telah kalian setujui! Kini tinggal kita menjalankan rencana itu. Tapi sayangnya tuan Wisakala tak dapat kita suruh cepat-cepat pulang karena ia terluka waktu melawan pendeta gila itu!” Seru Edeler Moor.

168 “Ah.... memang ia rupa-rupanya seorang pendeta edan! Kita telah menyiksanya tapi ia tetap membisu.” Gerutu Kapten Tack dengan marah.

“Biar kalau besok pagi ia tak mau mengaku kita bunuh saja babi gila itu!” Potong Jonker dengan jengkel.

“Betul, pemberontak harus dihukum mati!” Seru Aru Palaka.

“Kapten, kedudukan kita ini akan lebih kuat lagi kalau kita dapat menggabungkan tenaga-tenaga kaum dunia persilatan. Mereka kita bujuk supaya mau bekerja sama dengan kita.” Seru Jonker menguraikan pendapatnya.

“Nah inilah suatu pendapat yang bagus! Tapi agaknya sukar untuk menjalankannya.” Seru Aru Palaka dengan hati masygul.

“Kira-kira siapa saja yang patut kita hubungi?” Tanya Kapten Tack. “Kalau menurut berita yang kudengar, dialas Roban ada dua orang

kakak beradik yang berkepandaian tinggi. Mereka itu adalah Klabang Abang dan Klabang Ungu. Kalau kedua orang ini dapat kita pikat maka besar kemungkinannya kita dapat menarik bantuan gurunya yang sakti mandraguna. Nama gurunya ialah Klabang Songo. Dan lagi dipegunungan Merapi terdapat seorang tokoh sakti yang mengasingkan diri. Nama tokoh itu ialah Baurekso. Dapatkah kalian menyetujui usulku ini?” Tanya Jonker.

“Bagus tapi siapakah yang dapat kita suruh untuk pergi kesana?” tanya Aru Palaka.

“Ah.... kita suruh saja Undung Kalayaksa, dan biarlah Sindung Laut yang menjaga keamanan disini.” Jawab Is de Sain Martin.

Dengan tak merasa mereka itu teah bercakap-cakap dengan tak mengenal waktu. Diluar udara sangat dingin. Pos penjagaan telah berganti dua kali. Ini menandakan kalau jam telah menunjukkan lebih dari pukul sepuluh malam.

Disebelah barat benteng itu tampaklah sebuah bayangan yang bergerak-gerak dengan gesit. Bayangan itu terus berlari akhirnya meloncat keatas pohon tanjung. Gerakannya sangat ringan dan bagaikan gerakan seekor burung saja. Hingga para penjaga itu tak melihat gerakannya. Bayangan tadi adalah bayangan dari Ugrasena yang hendak menolong Pendeta Kalinggapati yang telah menarik hatinya akan keberaniannya pendeta itu.

Teng... teng... teng... tiba-tiba terdengarlah suara lonceng tanda penggantian jaga telah terdengar. Seketika itu tampaklah para penjaga yang berlarian menuju kepusat penjagaan dan siap akan pindah keposnya yang baru. Kesempatan inilah yang dinanti-nantikan oleh Pendekar Linglung. Setelah ia meloncat keatas tembok ia segera turun disebelah dalam dengan menjelinap diantara tembok-tembok gedung itu. Berkali-kali Ugrasena harus meloncat bersembunyi kalau berpapasan dengan para peronda. Terus Pendekar Linglung mengelilingi benteng itu dengan diam- diam, untuk mencari dimana letaknya penjara tempat Pendeta Kalinggapati ditahan. Tapi usaha Ugrasena selalu sia-sia belaka.

169 Hampir setiap gedung didalam benteng itu dijaga dengan rapat. Karena kesalnya segera ia menyambar seorang peronda yang sedang lewat didekatnya. Sebelum orang itu sempat berteriak segera Pendekar Linglung menotok jalan darah gagu. Setelah mengempit tubuh peronda itu segera Pendekar Linglung lari kearah tempat yang sunyi dan gelap.

“Hai, kau ingin hidup atau mati?” Dengus Pendekar Linglung dengan membebaskan totokannya.

“Siapa kau!” Balas peronda itu membentak dengan beraninya. “Sssttt... diam kau! Kalau kau masih menyayang nyawamu!”

“Apa maksudmu dengan menculikku, hah!” Seru peronda itu tetap garang.

“Katakanlah dimana Pendeta Kalinggapati ditahan!” Bentak Pendekar Linglung.

“Jangan harap kau dapat memaksaku dengan cara begini, sahabat!” Seru peronda itu dengan nada mengejek.

“Huh... betul-betul kau tak menyayang nyawamu lagi!” Bentak Ugrasena sambil tambah menekan pedangnya. Hingga leher peronda itu makin tertusuk. Tapi betapa kagumnya hati Ugrasena setelah mengetahui kalau peronda ini benar-benar akan menutup mulutnya. Maka dari itu segera ia merobah caranya :

“Sahabat, aku minta tolong beritahukanlah dimanakah letak Pendeta Kalinggapati ditawan!” Seru Pendekar Linglung dengan sabar dan menyarungkan kembali pedangnya.

“Nah, kalau begini sikapmu baru aku mau menerangkan. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya dulu, siapa namamu? Dan apamukah Pendeta Kalinggapati itu?”

“Pendekar Linglung namaku, dan Pendeta Kalinggapati adalah sahabatku.” Jawab Pendek Linglung dengan tenang.

“Pendekar Linglung? marilah kita berangkat ketempat itu! Adi, nanti kau hati-hatilah disana. Nah, kau ikuti saja jalan ini jangan kau berbelok kemana-mana. Tentu nanti diujung jalan ini kau menemukan sebuah gedung yang bentuknya bulat. Nah, disanalah Pendeta Klinggapati ditahan. Nah adi, selamat berjuang, sebetulnya kita adalah kawan sendiri!” Jawab peronda itu sambil tersenyum.

“Kawan sendiri? Siapakah kau sebenarnya kakang?” Tanya Ugrasena dengan kaget.

“Aku adalah Widura anak murid dari Gelondong Perbawa. Dan aku sekarang ditugaskan oleh guruku dan paman Joko Seno untuk memata- matai gerakan Belanda.” Jawab Widura dengan tersenyum-senyum.

“Ah... kakang kalau begitu kita benar-benar kawan sendiri! Apakah yang kau sebut dengan paman Joko Seno itu Pendekar Budiman?”

“Betul adi!” Jawabnya singkat.

“Mengapa tidak Pendekar Budiman yang turun tangan untuk menolong pendeta ini? Bukankah pendeta itu telah terang-terangan melawan penjajah?” Tanya Ugrasena dengan berlagak tak mengerti. 170 “Begini adi, sebetulnya benteng ini telah terkepung oleh para ksatria yang akan menolong Pendeta Kalinggapati itu. Sedang mereka mulai bergerak nanti jam dua malam. Sebelum ayam berkokok.” Jawab Widura.

“Siapakah mereka itu?” Tanya Ugrasena tertarik.

“Ksatria-ksatria itu adalah Pendekar Budiman dengan isterinya yang bernama Retnosari. Pendeta Kertopengalasan yang juga menjadi kakak seperguruan dari Pendeta Kalinggapati. Lalu guruku sendiri. Dan kabarnya datang juga pendekar dari Jalitunda yang bernamn Barata dan isterinya bernama Wulandari serta anaknya yang bernama Ariyani.” Jawab Widura.

“Bagus kakang Widura, mari kau ikut aku saja untuk melepaskan Pendeta Kalinggapati itu! Dan nanti kita segera berangkat kepusat pergerakan para ksatria itu.” Setelah berkata demikian segera Ugrasena berkelebat dan terus lari menuju jalan yang telah ditunjukkan oleh Widura, sedang Widura mengikuti dibelakangnya. Betullah diujung jalan terdapat gedung yang berbentuk bulat.

“Apakah gedung ini kakang?” Tanya Ugrasena kepada Widura.

“Betul adi! Tapi bagaimanakah caranya kita menolong Pendeta Kalinggapati itu?” Tanya Widura.

“Begini kakang, aku akan melemparkan batu kesebelah pohon lalu kakang kearah pohon itu sambil berteriak..... penjahat tentu mereka akan

tertarik oleh teriakan kakang. Sewaktu terjadi kegaduhan aku akan masuk kedalam gedung itu dan membebaskan Pendeta Kalinggapati.” Seru Pendekar Linglung dengan semangat.

“Bagus, aku sangat setuju dengan pendapatmu itu adi.” Seru Widura dengan senang.

Tak lama   kemudian   terdengarlah   suara   dari   arah   pohon   itu.....

bumm.....

“Tangkap penjahat !” Teriak Widura sambil lari kearah pohon itu.

Mendengar teriakan ini larilah para penjaga kearah sumber kegaduhan itu.

“Mari kawan-kawan, kita tangkap penjahat itu!” Teriak Widura dengan geram.

“Dimanakah penjahatnya?” Tanya seorang penjaga yang lain.

“Tuh..... dia lari kemari. Mungkin hanya bersembunyi disekitar sini saja.” Jawab Widura dengan menunjukkan jarinya kearah pohon yang gelap itu. “Apa kau melihat orangnya?” tanya yang lain.

“Terang aku melihat sendiri dengan mata kepalaku. Gerakannya sangat gesit dan larinya menuju kemari.” Seru Widura menguatkan pendapatnya.

Sementara mereka sedang ribut-ribut, berkelebatlah Ugrasena memasuki gedung penjara dimana Pendeta Kalinggapati ditahan. Tapi ternyata didalam gedung itu masih terdapat dua orang yang menjaga Pendeta Kalinggapati. Namun dengan cepat pedang Ugrasena dapat menamatkan kedua penjaga itu. 171 Trang..... trang..... trang..... Jeruji besi yang mengurung Pendeta Kalinggapati patah berserakan kena sambaran pedang Ugrasena yang penuh berisi tenaga dalam. Trang..... sekali lagi terdengar patahnya sebuah jeruji, inilah suara patahnya jeruji besi yang membelenggu tangan Pendeta Kalinggapati.

“Siapakah kau ini anak muda?” Tegur Pendeta Kalinggapati dengan heran.

“Sssttt..... paman mari kita lekas keluar dari tempat yang terkutuk ini paman. Nah, pakailah pedang ini untuk senjata paman!” Seru Pendekar Linglung.

“Terima kasih anak muda. Mari kita segera keluar!” Ajak Pendeta Kalinggapati kepada pemuda itu.

Tapi sebelum mereka berhasil melarikan diri para penjaga telah berlarian memasuki gedung penjara, sebab mereka mendengar suara gaduh dari dalam gedung penjara itu.

“Kepung....!! Tangkap....!! Penjahatnya berada disini....!!” Teriak para penjaga.

Tapi dengan tangkas Pendeta Kalinggapati dan Ugrasena melawan keroyokan mereka. Pedang dan cambuk terus menyambar-nyambar. Memang kepandaian para perajurit ini belum berarti apa-apa bagi kedua pendekar ini. Hingga sebentar saja mereka berhasil menerjang pagar manusia itu dan berhasil meloloskan diri melalui pagar tembok. Keduanya lari dengan cepat. Tapi rupa-rupanya para perajurit itu tak mau melepaskan dengan begitu saja. Cepat mereka mengejar dan terus mengikuti larinya Pendeta Kalinggapati dan Ugrasena. 

“Bangsat pemberontak layanilah kami dengan secara jantan! Janganlah kalian hanya lari-lari seperti pengecut saja!”

“Pendeta gila Kalinggapati berhentilah kau! Hayo hadapi aku Sindung Laut yang akan membunuhmu!”

Mendengar tantangan ini dan tahu pula siapa yang menantang, maka marahlah hati Ugrasena, darah mudanya segera bergolak.

“Mari paman Kalinggapati kita hadapi anjing-anjing Belanda itu!” Seru Ugrasena sambil berhenti dari larinya. Kemudian ia berdiri tegap dan siap uutuk menghadapi musuhnya. Ternyata yang mengejar mereka hanya tiga orang. Setelah mereka mendekat segera Ugrasena mengenali yang seorang.

“Undung Kalayaksa!!” Desis Pendekar Linglung. “Linglung?” Teriak Undung Kalayaksa dengan kaget.

“Hai pendeta gila marilah kita mengadu kepandaian hingga salah satu diantara kita menggeletak tak bernyawa!” Tantang Sindung Laut. Setelah mengetahui kalau yang menantang Pendeta Kalinggapati itu adalah Sindung Laut segera Ugrasena membentaknya :

“Paman Sindung Laut dan Paman Undung Kalayaksa kalau kalian tak segera mengakhiri perbuatan jahat kalian, jangan salahkan kalau aku mewakili guru Jayasengara untuk menghukum kalian atas kemurtadan yang telah kalian lakukan!” Seru Ugrasena dengan geram. 172 “Bangsat anjing cilik siapa kau yang berani membuka bacot dengan seenaknya sendiri itu?” Bentak Sindung Laut.

“Dengarlah aku paman Sindung Laut, aku adalah Pendekar Linglung murid termuda dari Eyang Jayasengara di Ungaran!”

“Apa, kau murid guru Jayasengara? Bohong! Jangan kau mencoba menakut-nakuti aku dengan nama guruku!” Bentak Sindung Laut.

“Bangsat rendah! Mari kakang Sindung Laut kita bereskan dulu orang yang berani mengaku-aku sebagai adik seperguruan kita.” Teriak Undung Kalayaksa dengan marah yang meluap-luap.

“Baik adi!” Lalu keduanya telah menyerbu kearah Pendekar Linglung. Dalam sekejap mata saja Ugrasena telah menghadapi keroyokan kedua kakak seperguruannya. Tapi pertempuran antara tiga saudara seperguruan ini adalah pertempuran yang haus darah. Kedua saudara seperguruan Ugrasena telah lupa kalau mereka ini sedang menghadapi adik seperguruannya sendiri. Sindung Laut dan Undung Kalayaksa bertempur dengan penuh nafsu membunuh. Melihat kejadian ini ketawalah Ugrasena, seakan-akan pengeroyokan atas dirinya adalah peristiwa yang sangat menyenangkan hatinya.

Apakah sebabnya Ugrasena malah senang menghadapi keroyokan dari Sindung Laut dan Undung Kalayaksa ini? Sebab dengan pertempuran ini ia dapat melihat hasilnya selama setahun yang ia terima dari kakek Jayasengara. Apalagi sekarang ia memainkan ilmu pedang itu dengan sebilah pedang pusaka Nogo Biru. Pedang Nogo Biru ini ialah pedang pemberian ayahnya. Memang pedang ini jarang ia pergunakan kalau tidak menghadapi musuh yang tangguh. Biasanya didalam pertempuran Ugrasena hanya mempergunakan pedang yang sekarang ia pinjamkan kepada pendeta Kalinggapati itu atau hanya memakai cambuk saja.

Maka dari itu sekarang ia merasa amat senang. Melihat hasilnya ini segera ia memperhebat permainannya dan mendesak kedua lawannya dengan dahsyat pula.

Dilain tempat tampaklah Pendeta Kalinggapati sedang berhadapan dengan pengejarnya yang satunya.

“Anak muda mengapa kau yang berkepandaian tinggi ini mau bekerja sama dengan penjajah?” Tanya Pendeta Kalinggapati dengan ingin tahu.

“Bapa, aku melakukan hal ini karena terpaksa.”

“Terpaksa? Bagaimanakah sebab-sebabnya?” Tanya Pendeta Kalinggapati dengan ingin tahu.

“Begini bapa, aku ini sebetulnya tak suka bekerja sama dengan Belanda. Tapi bagaimana lagi, mereka itu telah banyak berbuat baik dan menolongku. Dan sekarang aku dimintai tolong untuk menangkap bapa dan pendekar muda itu. Coba bapa bayangkan? Dulu aku adalah seorang budak belian tapi sekarang aku telah dibebaskan dari derajat budak. Bukankah ini suatu budi yang besar? Tapi bapa, aku tak dapat kalau harus menindas bangsaku sendiri seperti yang telah didengung-dengungkan guruku.” 173 “Siapakah gurumu itu anak muda?” Tanya Pendeta Kalinggapati. “Guruku adalah Kyai Embun JoIodriyo,” Jawabnya singkat. “Dan

marilah kita pura-pura bertempur bapa, supaya menghilangkan kecurigaan kedua kawanku itu.”

“Ah sungguh malang dan kasihan sekali nasibmu anak muda!” Seru Pendeta Kalinggapati sambil menarik napas. “Dan siapakah namamu?”

“Untung!” Jawabnya singkat.

“Nah, marilah kita segera memulainya angger!” Seru Kalinggapati dengan penuh semangat.

Setelah itu keduanya saling berhadapan, tapi kedua orang itu masih tetap tersenyum-senyum.

“Lihat pedang! Seru Untung, pedangnya menyambar kearah Pendeta Kalinggapati dengan cepat. Tapi segera ia tertegun sebab selain pedangnya hanya mengenai tempat yang kosong, pun pendeta yang berada dihadapannya tadi telah lenyap dari pandangan matanya. Selagi ia bingung karena kehilangan lawan segera ia mendengar suara lirih dari belakangnya. Cepat ia berbalik dan menyerang dengan pedangnya. Tapi kembali Untung kehilangan lawannya yang ternyata dengan ilmu meringankan tubuhnya yang luar biasa itu ia telah lenyap dan berada dibelakangnya. Berkali-kali Untung menyerang, tapi hasilnya tetap saja, bahkan ia tak pernah melihat musuhnya. Karena gerakan Pendeta Kalinggapati yang cepat bagaikan gerakan setan saja. Untung merasa bagaikan melawan sebuah bayangan saja. Melihat kenyataannya ini kagumlah hati Untung.

“Bagus, bagus bapa, ternyata kepandaianmu sangat tinggi!” Puji Untung dengan sejujurnya.

“Kaupun hebat, angger Untung!” Jawab Pendeta Kalinggapati.

Kini barulah Untung melihat lawannya yang telah berdiri tegak dihadapannya. Segera Untung menyerang lagi, tapi kali ini Pendeta Kalinggapati tak berusaha mengelak melainkan ia mengangkat pedangnya untuk menangkis serangan lawan dan balas menyerang. Pendeta Kalinggapati sengaja memperlihatkan kepandaiannya. Pedangnya berkelebat dengan cepat dan menyambar-nyambar hingga dalam belasan jurus saja Untung merasa terdesak oleh pedang lawannya. Mengelak dan menangkis saja yang ia perbuat, sebab sedikitpun ia tak diberi kesempatan untuk balas menyerang oleh Pendeta Kalinggapati.

“Ilmu pedang bagus... ilmu pedang bagus...” Seru Untung dengan kagum.

Memang ia pernah mendengar akan kesaktian Pendeta Kalinggapati ini. Tapi selama ini ia belum pernah merasai kehebatannya kecuali sekarang ini. Sekarang barulah ia yakin bahwa ketenaran tentang kesaktian Pendeta Kalinggapati ini bukannya suatu ketenaran yang kosong belaka. Tiba-tiba Pendeta Kalinggapati makin memperhebat serangannya. Makin lama napas Untung makin terengah-engah. Dan makin sibuklah ia menangkis ujung pedang yang tak terhitung banyaknya. 174 “Angger, coba kau tangkislah ilmu pedang. Mayangseto ini.” Seru Pendeta Kalinggapati. Dan pedangnya makin hebat menekan gerakan Untung. Karena tekanan yang hebat ini maka Untung berteriak kaget. Baju didadanya telah sobek terbabat pedang lawan. Dan pedangnya sendiri terlempar lepas dari tangannya.

“Hebat... hebat... aku mengaku kalah, bapa!” Seru Untung dengan penuh kekaguman.

“Baik... baik... anak muda selamat tinggal, semoga kau lekas terbebas dari belenggu penjajah serta sampaikan salamku kepada gurumu.” Seru Pendeta Kalinggapati.

“Mudah-mudahan aku dapat segera menjalankan, bapa!” Jawab Untung dengan terharu.

Sementara itu Ugrasena telah berhasil mendesak kedua lawannya. Pedangnya menyambar-nyambar leher, perut dan dada kedua lawannya. Makin lama makin terkurunglah Sindung Laut dan Undung Kalayaksa.

“Paman sekalian insyalah... supaya pedangku ini tak menyobek dada kalian paman.” Seru Ugrasena dengan kesal.

“Ha... ha... ha... bunuhlah aku anak muda!” Seru Sindung Laut sambil memperhebat serangannya.

“Bagus kalian sendiri yang mencari penyakit.”

Wess... trang... aduh... Ternyata pedang Ugrasena telah berhasil melukai tangan dan pundak Sindung Laut serta Undung Kalayaksa.

“Nah paman, inilah sekedar peringatan dariku. Kalau besok kita bertemu lagi dan paman masih belum insyaf aku tak segan-segan lagi untuk membunuh kalian!” Teriak Ugrasena mengancam.

“Nah, paman Kalinggapati, mari kita segera meninggalkan tempat ini paman.” Seru Ugrasena.

“Baiklah angger!” Maka berkelebatlah kedua pendekar perkasa itu.

Sebentar saja keduanya telah hilang dibalik kegelapan.

Sewaktu Pendeta Kalinggapati dan Ugrasena berlari, tiba-tiba muncullah Widura dari balik kegelapan.

“Sssstt    Adi Linglung dan paman Kalinggapati kemarilah, kalian telah

menempuh jalan yang salah!” Seru Widura memperingatkan.

Mendengar suara ini segera Pendeta Kalinggapati dan Pendekar Linglung memalingkan mukanya. Setelah tahu kalau yang memanggil adalah Widura segera Pendekar Linglung menghentikan langkahnya.

Tapi tidak demikian oleh Pendeta Kalinggapati melihat kalau yang memanggil adalah seorang serdadu Belanda maka tanpa tanya lagi segera ia mengirimkan sebuah pukulan.

“Bangsat antek Belanda mampuslah kau!” Bentak Pendeta Kalinggapati sambil mengayunkan tangannya. Betapa terkejutnya hati Widura melihat datangnya serangan ini. Tak pernah terpikir dalam otaknya kalau Pendeta Kalinggapati itu akan memukul serangan lawan.

.....Duk..... dua tenaga raksasa bertemu. Dan akibatnya terlemparlah tubuh

175 Widura, kira-kira tiga tindak. Dan jatuhlah Widura dengan memuntahkan darah segar.

Begitupun bagi Ugrasena, ia tak sempat mencegah kesembronoan Pendeta Kalinggapati. Sebab ia tak mengira sama sekali kalau sang pendeta akan melancarkan serangan kepada Widura.

“Tahan!” Hanya inilah yang keluar dari mulut Ugrasena.

Mendengar seruan Pendekar Linglung ini, maka Pendeta Kalinggapati membatalkan maksudnya untuk melabrak musuhnya kembali.

“Mengapa kau halang-halangi aku, anak muda? Bukankah dia ini antek Belanda?” Seru Pendeta Kalinggapati dengan tak senang.

“Sabar, paman! Dia bukan antek Belanda. Dia adalah kakang Widura murid dari paman Gelondong Perbawa yang ditugaskan untuk memata- matai gerak-gerik Belanda. Jadi ringkasnya kakang Widura ini adalah kawan sendiri.” Jawab Pendekar Linglung menerangkan.

“Oh.   jadi dia itu orang sendiri? Maafkan aku yang telah salah tangan.”

Setelah berkata demikian segera Pendeta Kalinggapati lari menghampiri Widura yang masih merangkak-rangkak mencoba bangun.

“Maaf..... maaf..... angger Widura aku orang tua benar-benar tak tahu kalau kau adalah orang sendiri.” Seru Pendeta Kalinggapati dengan nada menyesal.

“Tak mengapa..... tak mengapa..... bukankah kita harus selalu waspada. Memang ini adalah kesalahanku sendiri paman.” Jawab Widura sambil tersenyum menahan sakitnya.

“Mari-mari kuperiksa keadaanmu!” Sesaat kemudian mulailah Pendeta Kalinggapati memijit-mijit tempat yang kena pukul tadi. Setelah itu segera ia mengeluarkan sebungkus ramuan dan disuruhnya Widura menelan ramuan itu.

“Sudah..... sudah..... paman aku telah sehat kembali!” Seru Widura dengan perasaan sungkan.

“Nah sekarang kakang Widura dan paman Pendeta Kalinggapati, kalian pergilah kepusat pergerakan kaum ksatria-ksatria itu berkumpul.” Seru Ugrasena.

“He.... sedang kau sendiri akan kemana, adi?” Tanya Widura dengan kaget.

“Kakang aku masih mempunyai banyak urusan yang harus kuselesaikan. Bukankah kau tahu sendiri kalau kedua kakak seperguruan itu telah berlaku sesat? Maka dari itu aku harus cepat-cepat memperingatkannya. Dan sampaikanlah salam juangku kepada para ksatria-ksatria yang sedang berkumpul disana. Selain itu, katakanlah kepada mereka bahwa rakyat Banten memerlukan pertolongan mereka. Nah selamat tinggal kakang Widura dan paman Kalinggapati, sampai bertemu kembali di Banten.” Setelah berkata demikian segera Pendekar Linglung berkelebat pergi. Sebentar saja bayangannya telah hilang ditelan kepekatan malam.

176 “Hebat..... hebat    lagi pula berbudi luhur.” Desis Pendeta Kalinggapati

dengan kagum.

“Mari, paman kuantarkan ketempat para ksatria-ksatria itu berkumpul.” Ajak Widura.

“Ksatria-ksatria siapa sajakah mereka itu?” Tanya Pendeta Kalinggapati dengan heran.

“Mereka kebanyakan adalah sahabat-sahabat paman sendiri, bahkan hadir pula kakak seperguruan paman yang bernama Pendeta Kertopengalasan.”

“He.... apa? Kakang Pandan Kuning hadir pula? Mari-mari kita segera menuju kesana!” Seru pendeta Kalinggapati sambil menarik tangan Widura. Dan lalu keduanya lari kearah keluar kota Batavia.

Adapun mereka yang berada diluar kota Batavia, disuatu pondok yang terletak didesa Cijantung. Pondok inilah yang dipakai sebagai tempat berkumpul para ksatria-ksatria yang akan membebaskan Pendeta Kalinggapati.

“Kakang Barata, coba kau ceritakan bagaimana sampai kau dapat kesini?” Tanya Joko Seno.

“Ah.... adi, ini merupakan suatu perjalanan yang sangat menjemukan! Dan lagi sangat menyesalkan hati. Sepeninggal kami dari desa Jalitunda kami terus menuju kegua Melati. Tapi disana kudapati hanya tempat yang kosong melompong, Kakang Pandan Kuning dan kakang Gagak Rimang tak tampak batang hidungnya. Bahkan telah kutanyakan kepada para penduduk sekitar, tapi mereka tak tahu kemana perginya kakang pendeta berdua itu. Maka kami meneruskan perjalanan kami menuju kepuncak Semeru. Disanapun kami mendapatkan tempat yang sama dengan gua Melati. Rupa-rupanya kedatanganku itu telah terlambat. Tapi dari para pelayan padepokan Semeru aku dapat mendengar kemana perginya adi Joko Seno dan adi Retnosari. Ternyata mereka telah mendahuluiku untuk pergi ke barat. Dan menggabungkan diri dengan pasukan Banten yang dibawah gusti sinuwun Sultan Agung. Memanglah tujuanku kegua Melati dan padepokan Semeru ini ialah ingin mengajak kalian semua untuk mempersatukan tenaga-tenaga kita untuk membantu perjuangan Sultan Agung Tirtoyoso dalam mengusir penjajah. Maka dari itu segera aku pulang ke barat dengan harapan agar dapat lekas bertemu dengan kalian dan bergabung. Untung kami dapat bertemu dengan kakang Gelondong Perbawa yang mengajak kami kemari.” Seru Barata sambil mengakhiri ceritanya.

“Paman, pernahkah paman mendengar nama Pendekar Linglung?” Tanya Ariyani kepada Pendekar Budiman.

“Pendekar Linglung?” Sejenak Joko Seno berpikir tapi segera ia menjawabnya : “Selama hidupku baru sekali ini aku mendengar nama itu! Ada apakah kau menanyakan nama itu?” Ganti Pendekar Budiman yang bertanya.

177 “Ah.... tidak apa-apa, paman!” Jawab Ariyani dengan jengah. Seketika itu mukanya menjadi merah. Sebab dengan diam-diam hatinya telah tercuri oleh Pendekar Linglung. Wajah yang cakap dan simpatik itu selalu terbayang dipelupuk mata Ariyani. Pemuda cakap bersenjata cambuk.

“Mengapa dengan Pendekar Linglung itu?” Kembali Joko Seno bertanya. Dan seketika itu buyarlah segala angan-angan indah dilamunan Ariyani. Hilang musnah bagaikan awan yang tertiup angin. Setelah ia berhasil menenangkan pikirannya dan deburan hatinya segera ia menjawab : “Tidak apa-apa paman, andakata ia dapat bergabung dengan kita bukankah berarti kekuatan kita akan bertambah?” Jawabnya sekenanya.

“Apa orang yang disebut dengan Pendekar Linglung itu juga memusuhi para penjajah?” Tanya Joko Seno.

“Betul paman, bahkan ia sangat membenci kepada para penjajah. Dulu dialun-alun Semarang pernah ia membunuh berpuluh-puluh orang serdadu Belanda. Dan disitu pula ia membebaskan berpuluh-puluh budak belian. Bukankah tindakannya ini patut kita puji?” Jawab Ariyani dengan bangga. Diam-diam Ariyani merasa senang ketika Pendekar Budiman tertarik oleh ceritanya. Bukankah pendekar ini yang selalu dikagumi oleh ayah dan ibunya? Maka segera ia menceritakan pengalamannya ketika dialun-alun Semarang. Dan tentu saja Ariyani menambah-nambahi dan menyanjung-nyanjung pemuda pujaannya itu.

“He.... kalau begitu hebat juga kepandaian Pendekar Linglung itu. Dan siapakah nama sebenarnya dari pemuda yang perkasa itu?” Tanya Joko Seno dengan tertarik.

“Mana aku tahu? Karena ia hanya mengaku sebagai Pendekar Linglung saja. Bahkan memanggilku dengan sebutan adik gila saja.” Jawab Ariyani dengan tersenyum-senyum.

Maka teringatlah ia ketika peristiwa pertemuannya dengan Pendekar Linglung dulu. Tapi tiba-tiba terdengarlah suara Pendeta Kertopengalasan :

“Adi Joko Seno, mari kita segera berangkat!”

“Baik kakang Pandan Kuning. Apakah yang lain juga telah siap?” Tanya Pendekar Budiman kepada Pandan Kuning.

“Sudah adi, mereka telah menanti diluar!” Setelah itu keluarlah mereka. Joko Seno, Retnosari, Pandan Kuning, Barata, Wulandari, Gelondong Perbawa.

“Yani, kau tinggallah disini saja dan jangan pergi-pergi!” Seru Barata kepada anaknya.

“Ayah aku ingin ikut! Bukankah ini akan menambah pengalamanku?

Bantah Ariyani.

“Yani, ini soal penting dan berbahaya sekali maka dari itu kau jangan ikut, anakku!” Seru Wulandari menegur anaknya.

Ariyani diam tak menjawab. Tapi didalam hatinya ia berkata : “Biar sekarang aku tak boleh ikut. Tapi nanti aku akan mengikutimu dari belakang.” 178 “Sssttt... diamlah dulu kukira ada dua orang yang menuju kemari.” Seru Joko Seno memperingatkan.

Tapi semua yang hadir disitu belum ada yang dapat mendengar suara tanda-tanda kalau akan ada orang datang. Maka berpencaranlah mereka menuju ketempat yang agak gelap. Makin lama makin keraslah suara derap kaki itu. Setelah agak dekat barulah mereka mendengar. Sesaat kemudian tampaklah dua sosok bayangan yang lari menuju kepondok itu.

“Hai bukankah ini kakang Gagak Rimang?” Seru Joko Seno sambil melompat keluar dari persembunyiannya.

“Ah... kau adi Gagak Rimang? Kabarnya kau ditawan oleh Belanda?” Tanya Pendeta Kertopengalasan dengan riang.

“Hai... kakang Pandan Kuning mengapa kau bisa keluyuran sampai disini?” Seru Gagak Rimang, dengan girang hingga ia mengabaikan pertanyaan dari Pendeta Kertopengalasan.

“Mari-mari kita bicarakan didalam supaya dapat bebas pembicaraan kita!” Seru Gelondong Perbawa sambil menyilahkan tamu-tamunya masuk kedalam.

Disitulah mereka dapat bicara dengan bebas dan melepaskan rindunya masing-masing.

“Ha... ha... ha... rupa-rupanya para ksatria telah berkumpul disini. Tapi bagaimana kok kau tahu kalau, aku berada disini kakang Kuning?” Tanya Pendeta Kalinggapati disela-sela tertawanya.

“Kau adi kalau pergi tak pernah bilang dulu! Hingga orang tua susah- payah gentayangan mencarimu!” Gerutu Pendeta Kertopengalasan.

“Ha... ha... ha... ternyata kau masih mengkhawatirkan kendaan diriku kakang, terima kasih... terima kasih... atas perhatianmu kakang.” Jawab Pendeta Kalinggapati sambil masih tertawa.

“Adi, sebetulnya kedatanganku kemari ini adalah atas ajakan adi Joko Seno, adapun maksudnya ialah untuk menggabungkan diri kepada gerakan sinuwun Sultan Agung di Banten untuk mengusir penjajah.” Seru Pendeta Kertopengalasan.

“Bagus... bagus... adi Seno jangan lupa kau mencatat namaku!” Seru Gagak Rimang sambil bergurau.

“Tentu kakang, bahkan namamu telah tercantum pada baris yang pertama.” Jawab Joko Seno yang menanggapi guraunya dari Pendeta Kalinggapati.

“Kakang Rimang betulkah kau selama ini ditaan oleh Kumpeni?” Tanya Wulandari kepada kakak seperguruannya.

“Betul adi! Tapi bukan selama ini melainkan hanya dua hari saja.” Jawab Gagak Rimang yang masih bergurau.

“Adi, bagaimana dapatnya kau terbebas? Padahal baru saja kami akan berangkat menolongmu.” Kata Pendeta Kertopengalasan menerangkan.

Sementara itu datanglah Widura sambil membawakan sepoci kopi dan sepiring wajik.

179 “Begini ceritanya!” Seru Pendeta Kalinggapati sambil mengambil sebuah wajik. Setelah makan wajik dan minum kopi maka mulailah Gagak Rimang menceritakan pengalamannya.

“Tadi malam ketika aku sedang enak-enak tidur didalam tahanan, tiba- tiba aku mendengar suara gaduh. Dan ini ternyata adalah perbuatan Widura murid dari Gelondong Perbawa... Eh ya mengapa aku belum dikenalkan dengan Ki Gelondong Perbawa?

“Ha... ha... ha... terima kasih... terima kasih.... akulah yang bernama Gelondong Perbawa.” Seru Gelondong Perbawa sambil mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Pendeta Kalinggapati.

Setelah mereka saling berkenalan segera Pendeta Kalinggapati melanjutkan ceritanya :

“Setelah angger Widura berhasil membuat gaduh keadaan dan para penjaga yang menjaga tempat tahananku itu pergi semua segera berkelebatlah seorang pemuda yang menolongku. Tapi setelah kami berhasil keluar segera para serdadu Belanda itu mengurung kami lagi. Setelah melihat para serdadu mengurung kami segera pemuda itu memberikan pedangnya kepadaku dan ia sendiri lalu mengeluarkan sebatang cambuk. Sesaat kemudian mulailah kami mengamuk dengan dahsyat. Puluhan serdadu Belanda yang tewas dalam tangan kami. Dan akhirnya kami dapat melarikan diri. Tapi rupa-rupanya mereka tak mau melepaskan kami dengan begitu saja.

Kejar-mengejar segera terjadi, dan yang berhasil mengejar kami hanya tiga orang saja. Tiga orang itu ialah : Sindung Laut, Undung Kalayaksa dan Untung. Menurut cerita penolongku tadi, Sindung Laut dan Undung Kalayaksa adalah kakak-kakak seperguruannya. Tapi anehnya kalau Sindung Laut dan Undung Kalayaksa itu bekerja sama dengan Belanda tapi penolongku ini sangat membenci bangsa Belanda. Setelah para pengejarnya sampai muka, aku disuruhnya menghadapi Untung. Dan ia sendiri menghadapi kedua kakak seperguruannnya. Betapa hebatnya kepandaiannya itu. Sebentar saja kedua kakak seperguruannya itu dapat didesak dengan hebat. Waktu mendesak iapun telah memakai pedang pula. Memang kepandaian penolongku itu sangat mengagumkan. Sebab dulu waktu para serdadu Belanda mengejarku dua orang inilah yang berhasil mendesakku. Apa lagi setelah datang Wisakala membantunya. Ah.....

memang hebat kepandaiannya itu pada hal umurnya tidak lebih dari umur angger Widura.

Dan ada lagi yang menarik perhatianku. Lawanku yang bernama Untung itupun seorang pemuda bahkan dapat kita katakan kalau ia masih bocah. Dan kepandaiannyapun cukup lumayan. Sebab ia adalah murid dari Kyai Embun. Sayangnya ia hidup diantara Belanda-Belanda. Bahkan menurut ceritanya dia dulu adalah seorang budak belian. Dan sekarang ia telah dibebaskan dari derajat budak oleh Edeler Moor. Biarpun ia hidup dilingkungan Belanda tapi kukira ia mempunyai darah patriot juga. Ini dapat kubuktikan dengan perkataannya tadi. Tadi Untung mengatakan 180 kalau ia sebetulnya tak suka melakukan pekerjaan yang akibatnya menindas rakyat. Tapi penangkapan atas diriku itu ia lakukan karena terpaksa. Dan ini disebabkan karena ia berhutang budi kepada bangsa Belanda. Bahkan waktu malawanku ia hanya berpura-pura saja. Perlawanannya ini hanya untuk menghilangkan kecurigaan terhadap kedua kawannya tadi. Ah bukankah ini suatu tekanan batin yang hebat?” Tanya Pendeta Kalinggapati sambil mengakhiri ceritanya. Tiga orang itu ialah : Sindung Laut, Undung Kalayaksa dan Untung.........

“Memang adi, itu merupakan suatu tekanan batin yang sangat hebat.” Seru Pendeta Kertopengalasan.

“Kakang, siapakah nama penolongmu yang gagah perkasa itu?” Tanya Joko Seno dengan hati berdebar-debar. Sebab ia segera teringat kepada puteranya yang juga mahir dalam memainkan ilmu pedang dan cambuk. Tapi kini ia tak tahu kemana perginya puteranya ini. Ah tak mungkin kalau dia puteraku. Sebab Ugrasena tak mempunyai saudara seperguruan,” pikir Pendekar Budiman. “Ah adi pemuda itu adalah seorang yang sangat aneh dan misterius. Dia tak mau mengaku siapa namanya. Ia hanya meninggalkan nama sebagai Pendekar Linglung.” Jawab pendeta Kalinggapati.

“Pendekar Linglung?” Seru mereka serempak.

“Betul dia adalah Pendekar Linglung!” Jawab Gagak Rimang meyakinkan.

“Ah, lagi-lagi Pendekar Linglung!” Seru Barata.

“Kakang..... sekali-kali aku ingin sekali menemuinya. Sebab aku benar- benar kagum atas sepak terjangnya yang gagah berani itu!” Seru Pendekar Budiman.

“O.... ya adi, tentu si Ugrasena itu mempunyai kepandaian yang hebat bukan.....? He..... jangan-jangan si Pendekar Linglung itu angger Ugrasena, adi!” Sebab ia bersenjata pedang dan cambuk. Bukankah pedang pelajaran dari adi Joko Seno cambuknya itu pelajaran dari Retnosari?” Teriak Pendeta Kalinggapati.

“Betul adi, Pendekar Linglung itu mungkin anakmu sendiri adi!“ Teriak mereka serempak.

“Kalau dia anaku tentu dia tak mempunyai saudara seperguruan. Sebab dari dulu aku belum mengambil murid selain anakku.” Jawab Joko Seno dan Retnosari serempak.

“Oh.... paman, aku hampir lupa menyampaikan pesan Pendekar Linglung tadi,” Seru Widura.

“Pesan? Untuk siapa dan apa pulakah isinya?” Seru Ariyani dengan tak sabar. Memang selama orang-orang membicarakan Pendekar Linglung hatinya selalu berdebar-debar.

“Pesan untuk kita semua! Dan isi pesan itu ialah supaya kita kaum ksatria suka membantu pergerakan Sinuwun Sultan Agung di Banten untuk mengusir penjajah. Sebab waktu ini kerajaan Banten sedang mengalami bahaya. Sultan Haji putera mahkota Banten telah minta bantuan kepada kumpeni untuk menggempur ayahnya sendiri. Dan Pendekar Linglung telah mendahului kita pergi kesana. Kita ditunggunya di Banten.” Seru Widura yang menyampaikan pesan Pendekar Linglung.

“Apa, dia menunggu kita di Banten? Bukan main.... bukan main....

sungguh hebat pemuda itu. Benar-benar ia seorang patriot sejati. Nah, kawan-kawan kita harus cepat-cepat pergi kesana. Sungguh kasihan nasib rakyat Banten.” Seru Barata.

“Betul ayah, kita harus cepat pergi kesana, sebab kalau kita tidak pergi kesana jangan-jangan kita ini dianggap sebagai pengecut oleh Pendekar Linglung itu.” Kata Ariyani deagan bernafsu.

Memang gadis ini tampaknya sangat bersemangat. Tapi didalam relung hatinya ia berharap agar supaya ia dapat lekas bertemu dengan pemuda yang menjadi pujaan kalbunya.

“Eh.... adi Gagak Rinnang, tahukah kau murid siapakah Pendekar Linglung itu?” Tanya Pendeta Kertopengalasan.

182 “Kalau tak salah ia adalah murid pertapa sakti dari gunung Ungaran. Adapun nama dari pertapa itu ialah Jayasengara. Sebab waktu mereka bertengkar tadi aku mendengar kalau nama guru mereka itu adalah Jayasengara,” jawab Pendeta Kalinggapati.

“Mari kita istirahat dulu, kawan-kawan.” Seru Gelondong Perbawa. “Mari-mari kita tidur!” Seru mereka serempak. Setelah itu bubarlah

percakapan mereka. Dan masing-masing mencari tempat untuk tidur dimana saja mereka sukai. *

* *

Sekarang marilah kita mengikuti perjalanan Undung Kalayaksa yang sedang disuruh oleh Belanda untuk menghubungi kepala perampok di alas Roban. Adapun kepala perampok itu ialah Klabang Abang dan Klabang Ungu.

Kuda Undung Kalayaksa terus dipacu dengan cepat. Karena jalan ini telah sering dilalui oleh Undung Kalayaksa dan lagi waktu Undung Kalayaksa masih berguru kepada Jayasengara ia sering pergi kedaerah- daerah itu. Maka itu ia tak banyak mendapat kesukaran dalam perjalanannya menuju ke alas Roban. Setelah makan waktu berbulan-bulan maka sampailah Undung Kalayaksa ketujuannya. Tapi sayangnya Undung Kalayaksa belum mengetahui dimana letak sarang perampok alas Roban itu. Maka dari itu segera ia berteriak dari atas punggung kudanya : “Klabang Abang..... Klabang Ungu..... keluarlah aku membawa suatu berita yang penting dan menggembirakan bagi kalian!!!”

Suara Undung Kalayaksa terus bergema dalam hutan itu. Tapi setelah sesaat hilanglah suara itu seperti ditelan kepetakan hutan. Dan keadaan kembali menjadi tenang. Berkali-kali Undung Kalayaksa berteriak-teriak memanggil Klabang Abang dan Klabang Ungu. Tapi sudah sekian lama kedua orang yang dipanggil-panggilnya itu belum juga kelihatan batang hidungnya. Tiba-tiba melayanglah seorang yang memakai topeng kain merah dihadapannya.

“Hai   kisanak mengapa kau memanggil-manggil kedua orang saudara

Klabang itu?” Tanya orang yang bertopeng merah itu. “Hai siapa kau?” Undung Kalayaksa balas bertanya.

“Panggil saja aku si Topeng Merah! Dan apa maksudmu memanggil- manggil kedua orang kakak-beradik perampok itu?” Tanya Topeng Merah dengan penuh selidik.

“Apa pedulimu dengan segala urusanku?” Tanya Undung Kalayaksa dengan marah yang meluap-luap.

“Tiada urusan denganmu. Tapi kalau kau mau menuruti nasehatku janganlah kau meneruskan hubunganmu dengan kedua orang kepala perampok itu. Sebab mereka itu adalah orang-orang jahat!” Seru Topeng Merah sambil menghentikan percakapannya dan ia memandang tajam- 183 tajam kepada Undung Kalayaksa. Seakan-akan ia akan melihat reaksi dari Undung Kalayaksa setelah mendengar percakapan tadi. Karena ia tahu kalau Undung Kalayaksa tak mengeluarkan reaksi apa-apa segera Topeng Merah melanjutkan percakapannya.

“Kisanak kalau melihat gerak-gerikmu maka kelihatanlah kalau kau ini termasuk seorang yang jahat. Tapi mengapa kau mencari-cari kepala perampok yang berkelakuan jelek itu?”

“Topeng Merah pergilah kau dari hadapanku! Lekas pergi kalau kau tak ingin menghadapi pedangku ini. Aku tak sudi mendengarkan ocehanmu itu. Pergi.... pergi sebelum kesabaranku habis!” Teriak Undung Kalayaksa

dengan marah sekali.

“Ha... ha.... ha.... kisanak memang enak pembicaraanmu tadi, tapi ini membuat telinga menjadi merah. Ingatlah, kisanak kalau tenagamu sangat dibutuhkan oleh rakyat.” Seru Topeng Merah sambil tak menghiraukan ancaman lawannya.

Saarrrttt!! Cepat bagai kilat Undung Kalayaksa mencabut pedangnya dan langsung menodongkan pedangnya kearah dada lawan. Sambil membentak :

“Sekali lagi kuperingatkan supaya lekas pergi dari sini, topeng busuk!” “E... e. kisanak jangan kau main-main dengan senjata, nanti bisa dapat

celaka.” Seru Topeng Merah dengan menggigil ketakutan dan segera mundur. Melihat kejadian ini makin senanglah hati Undung Kalayaksa.

“Pedang bagus... senjata bagus... bolehkah aku melihat dan mengaguminya, kisanak?” Tanya Topeng Merah dengan kagum.

“Boleh, asal setalah kau melihat pedangku ini kau segera pergi. Dan kalau tidak pergi maka pedang ini akan menusuk dadamu,” Jawab Undung Kalayaksa dengan bangga.

Segera Topeng Merah mulai memijit-mijit dan mengelus-elus pedang Undung Kalayaksa. Dan terdengarlah suaranya : “Pedang bagus senjata

bagus.... Nah, kisanak aku mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas kebaikanmu. Sekali lagi kuperingatkan supaya kau urungkan saja maksudmu untuk menemui kedua orang perampok itu. Dan inilah suatu peringatan dariku.” Seru Topeng Merah sambil berkelebat pergi.

Bukan main herannya hati Undung Kalayaksa ketika melihat kecepatan Topeng Merah bergerak. “Ah!” teriaknya dengan mata melotot. Waktu Undung Kalayaksa akan menyarungkan pedangnya, tiba-tiba pedang itu hancur bagaikan tepung setelah Undung Kalayaksa bergerak. Dapat kita bayangkan betapa hebatnya tenaga dalam Topeng Merah tadi. DidaIam hati Undung Kalayaksa bergulatlah rasa syukur dan marah. Ia merasa marah karena senjatanya dengan mudah dapat dirusakkan dengan sedemikian hebatnya. Sedang ia sangat bersyukur karena kakek sakti tadi tak mengganggu pada dirinya. Kiranya kalau Topeng Merah mau tentu dengan mudah saja ia dapat dikalahkannya. Kalau hal ini diingatnya maka mengalirlah keringat dingin dari dalam tubuhnya. Tapi segera Undung Kalayaksa dapat menguasai dirinya kembali. Dan... werr tiba-tiba 184   pedangnya yang tinggal pendek itu dilemparkan kearah pohon yang berada didekatnya. Hingga pedang yang pendek itu menancap habis di pokok pohon itu.

“Bagus... bagus... lemparan senjata yang bagus!” Tiba-tiba muncullah dua orang dari balik pohon yang kena hajar pedang Undung Kalayaksa itu. Begitu melihat munculnya dua orang ini Undung Kalayaksa siap dalam keadaan kuda-kuda. Dan langsung membentak : “Siapa kau?”

“Ha... ha... ha... bukankah kau tadi memanggil-manggil kami??” Tanya seorang yang berbaju merah.

“Jangan curiga kawan, kami bukannya kawannya orang yang pengecut tadi!” Seru yang lain.

“Apakah kalian ini Klabang Abang dan Klabang Ungu?” Tanya Undung Kalayaksa kepada dua orang pendatang itu.

“Betul, aku adalah Klabang Abang dan ini adikku yang bernama Klabang Ungu.” Jawab orang yang berbaju merah.

“Bagus... bagus... tak kusangka kalau aku akan dapat menemukan kalian dengan waktu yang sesingkat ini. Tapi tahukah kau si Topeng Merah tadi?” Tanya Undung Kalayaksa.

“Entahlah, akupun baru sekali ini bertemu dengannya. Ah, untuk apa kita membicarakan orang pengecut tadi Seru Klabang Ungu.

“Apa Klabang Ungu... dia itu seorang pengecut?” Tanya Undung Kalayaksa kepada Klabang Ungu.

“Betul, dia adalah seorang pengecut, coba kalau dia bukan pengecut tentu dia tak akan memakai topeng!” Jawab Klabang Abang mewakili adiknya.

“Eh... tadi kau memanggil-manggil kami ada keperluan apakah?” Tanya Klabang Ungu.

“Siapa pulakah kau? Dan apa maksudmu?” Tanya Klabang Abang dengan penuh selidik.

“Aku adalah Undung Kalayaksa, aku datang dari Batavia. Kedatanganku ini akan mengajak kalian untuk merundingkan sesuatu yang amat penting. Tapi adakah tempat yang lebih baik untuk tempat kita berunding?” Tanya Undung Kalayaksa.

“Kalau begitu maksudmu marilah kita bicara dikediamanku saja.” Jawab Klabang Abang.

Maka pergilah mereka bertiga menuju sarang perampok alas Roban. Untuk menghilangkan jejak maka kuda Undung Kalayaksa ditambatkan diarah tempat yang berlawanan arahnya dengan letak gua sarang para perampok itu.

Ternyata sarang Klabang Abang dan Klabang Ungu itu merupakan sebuah gua yang mulutnya ditutup oleh pohon-pohonan yang menjalar. Maka kalau tak kita perhatikan dengan saksama tak akan tampaklah kalau itu adalah mulut sebuah gua. Setelah mereka memasuki gua dan duduk diatas tikar pandan yang halus maka berkatalah Undung Kalayaksa :

“Apakah kita dapat mulai berbicara?” 185 “Silahkan! Berita apakah yang kau bawa dari Batavia itu. Dan apakah hubungannya dengan kami?” Tanya Klabang Abang.

“Begini Klabang Abang dan Klabang Ungu, aku ini adalah utusan dari Kumpeni di Batavia. Dan kedatanganku kemari ini untuk mengajak kalian supaya mau bekerja sama dengan kami.” Jawab Undung Kalayaksa.

“Jadi terangnya kau hendak mengajak kami untuk membantu Belanda?” Tanya Klabang Ungu.

“Betul Klabang Ungu, sekarang Belanda sedang mempersatukan tenaga kaum pendekar-pendekar untuk diajak bersahabat. Bahkan sikap Belanda akan menjadi pemurah dan peramah kepada para sahabatnya.” Bujuk Undung Kalayaksa.

Mendengar bujukan Undung Kalayaksa ini mulai tertariklah hati kedua kakak-beradik perampok itu. Memang Klabang Abang dan Klabang Ungu ini mau bekerja dan bersahabat dengan siapa saja asal menguntungkan dirinya sendiri. Sekarang ia mendapat tawaran dari Belanda untuk bersahabat. Maka segera pikirannya melayang dan memikirkan untung- ruginya kalau ia bersahabat dengan Belanda. Sekarang Belanda baru berkuasa, kalau dia menjadi sahabatnya maka sedikitnya ia akan berpengaruh pula menjadi sahabat dari orang yang sedang berkuasa. Lagi pula ia akan dapat memakai kekuasaannya itu. Lagi pula kedudukannya dan keamanannya akan terjamin. Maka dari itu mereka segera akan memutuskan kalau mereka akan menerima tawaran Belanda itu.

“Bagus, bagus, bagaimana dengan kau Klabang Ungu?” Tanya Undung Kalayaksa dengan girang.

“Kalau kakang Klabang Abang setuju aku begitu pula!” Jawab Klabang Ungu. “Tapi kakang, tidakkah kita minta ijin dulu kepada bapa guru!”

“Betul adi Klabang Ungu, bapa guru harus kita beritahu dulu. Mungkin beliaupun mau bekerja sama dengan saudara Undung Kalayaksa, siapa tahu!” Jawab Klabang Abang.

“Ah.... usahakanlah supaya guru kalian yang sakti itu mau membantu perjuangan kita yang suci ini. Kalau beliau mau tentu kedudukan kita akan bertambah kuat. Dan lagi mana berani orang menjadi pemberontak setelah mengetahui kalau yang menjaga keamanan adalah Ki Klabang Songo yang terkenal sakti itu!” Seru Undung Kalayaksa dengan manisnya.

“Tapi guru kami telah lama mengasingkan diri dan tak mau berurusan dengan dunia ramai ini. Bahkan beliau sekarang lebih senang menyendiri dan menenangkan batinnya.” Seru Klabang Ungu menerangkan.

“Biar adi nanti aku yang membujuknya, masakan beliau akan merelakan kita pergi berdua saja?” Seru Klabang Abang.

“Begitulah kawan. Ini adalah sikap ksatria. Marilah kita temui guru kalian itu!” Ajak Undung Kalayaksa dengan riangnya.

“Begitupun baik! Mari kita segera berangkat!” Jawab Klabang Abang. Adapun tempat tinggal dari Ki Klabang Songo adalah didalam Jurang

Plelen, yang terletak ditengah-tengah alas Roban. Ki Klabang Songo adalah seorang pertapa yang telah lanjut usianya. Badannya kurus kering, dan 186 semua rambut serta jenggotnya telah memutih. Putih bagaikan kapas. Memang kakek sakti ini telah lama mengasingkan diri didalam Jurang Plelen ini. Dahulu sewaktu mudanya kakek ini adalah perampok tunggal yang bertempat tinggal didalam hutan Bonokeling. Petualangan Klabang Songo ini berakhir setelah ia dikalahkan oleh Jayasengata. Dan semenjak itu ia menghilang dan namanya lenyap dari dunia persilatan. Bahkan ada berita yang mengabarkan kalau Ki Klabang Songo telah meninggal dunia. Sebetulnya Ki Klabang Songo sedang bertapa sambil memperdalam ilmunya. Disini pula ia menggembleng kedua orang muridnya.

Kini tampaklah kalau kakek ini sedang melatih ilmu samadinya untuk menguatkan tenaga dalamnya. Cara bersamadinya sangatlah aneh. Sebab kedua kakinya diangkat keatas dan kepalanya tegak ditanah. Jenggot yang panjang dan putih itu berkibar-kibar ditiup angin gunung yang sepoi-sepoi basah itu. Tiba-tiba kakinya bergerak-gerak dan merupakan sebuah jurus ilmu silat tinggi. Inilah gerakan ilmu silat Sungsang Maruto yang baru saja diyakini dan diciptakan itu. Angin tajam menyambar-nyambar keseluruh penjuru ketika kaki kakek Klabang Songo itu digerakkan kesana-kemari.

Tiba-tiba terdengarlah suara brak..... dan ternyata kaki kakek itu menendang sebuah batu yang sebesar pelukan orang itu hingga hancur lebur. Dari kejadian ini dapat kita bayangkan saja bagaimana kehebatan tenaga dalam dan kedahsyatan ilmu Sungsang Maruto yang baru diciptakan dan diyakini oleh Ki Klabang Songo itu. Setelah beberapa lama kakek itu berlatih maka beristirahatlah kakek itu. Dan diwaktu kakek Klabang Songo itu enak-enak istirahat, datanglah kedua orang muridnya dengan seorang yang belum ia kenal masuk melalui pintu rahasia.

“Maaf guru kami mengganggu bapa!” Seru Klabang Abang menyapa gurunya.

“Rupa-rupanya ada berita penting yang kau bawa muridku. Dan siapakah pemuda yang bersamamu itu?” Tanya Ki Klabang Songo.

“Betul guru, aku membawa suatu berita penting. Dan ini adalah sahabat kami yang bernama Undung Kalayaksa.” Potong Klabang Ungu.

“Perkenalkan aku Klabang Songo guru dari kedua orang sahabatmu.” Seru Klabang Songo sambil menepuk-nepuk pundak Undung Kalayaksa. Untunglah Undung Kalayaksa adalah murid gemblengan dari kakek Jayasengara seorang pertapa sakti digunung Ungaran. Coba Undung Kalayaksa itu seorang pemuda biasa saja niscaya pundaknya akan hancur kena tepukan Klabang Songo yang memakai tenaga dalam yang hebat itu. Sebab tepukan Klabang Songo ini bukannya tepukan biasa, ia ingin menguji kekuatan sahabat muridnya ini. Tapi betapa terkejutnya hati Undung Kalayaksa kalau tepukan dipundaknya ini makin lama bertambah makin berat. Tahulah ia kalau sekarang ia sedang diuji oleh kakek yang sakti ini. Segera mengetrapkan ilmunya memindah otot-otot dan melunakkan daging. Seketika itu badannya menjadi lunak bagaikan kapas tapi kuat bagaikan karet. Hingga tepukan Klabang Songo ini terserot kedalam tubuh murid Jayasengara ini. 187 “Ah..... bagus, bagus kau sangat cocok menjadi sahabat kedua orang muridku ini, anak muda. Sama-sama muda dan sama-sama gagah.” Seru Klabang Songo dengan terkejut dan cepat-cepat ia menarik tangannya yang dipakai untuk menepuk-nepuk tadi.

“Guru, maksud kami menghadap ini adalah ingin minta pertimbangan kepada guru soal yang akan kami utarakan ini.” Seru Klabang Abang.

“Soal apakah itu muridku?” Tanya Klabang Songo dengan penuh perhatian.

“Begini guru! Ini saudara Undung Kalayaksa datang dari Batavia atas perintah Belanda. Adapun maksudnya ialah akan mengajak kami untuk bekerja-sama dengan kaum Belanda. Kalau menurut pendapatku bukankah ini suatu tawaran yang baik? Dan tak ada dijeleknya kalau kita terima. Bukankah demikian guru?” Seru Klabang Abang.

“Sebabnya?” Tanya Ki Klabang Songo.

“Bukankah dengan demikian kedudukan kita akan bertambah kuat?” Jawab Klabang Abang.

“Bagus..... bagus..... kalau itu telah kau pikirkan dengan masak-masak maka aku orang tua hanya restui saja. Dan pesanku hati-hatilah kalian dirantau!” Seru Klabang Songo.

“Apakah tidak lebih baik kalau bapa ikut serta dengan kami? Sebab dengan ikut sertanya bapa kekuatan kita akan bertambah dengan hebat!” Tiba-tiba Undung Kalayaksa mengusulkan pendapatnya.

“Aku??? Aku telah tua! Tulang-tulangku telah keropos dan kukira kedatanganku ke Batavia tak akan ada gunanya. Sebab tenagaku telah habis bahkan hanya akan merepotkan kalian saja.” Seru Klabang Songo.

“Banyak... banyak sekali yang dapat kita lakukan disana, bapa. Biar bapa kita angkat jadi penasehat saja. Setujukah bapa dengan pendapatku ini?” Tanya Undung Kalayaksa.

“Ha... ha... ha... baiklah anak muda. Dari pada aku mati ditempat tidur lebih baik kalau aku mati berjuang.” Jawab Klabang Songo dengan wajah berseri-seri.

Mendengar jawaban Ki Klabang Songo ini bukan main senangnya hati Undung Kalayaksa. Bukankah dengan demikian nanti setibanya di Batavia ia akan mendapat pangkat atau hadiah dari Kumpeni atas kesuksesannya ini?

“Mari bapa, dan saudara Klabang Abang dan Klabang Ungu kita berangkat kegunung Merapi untuk menemui Baurekso.” Ajak Undung Kalayaksa dengan gembira.

“Baurekso? Bagus... bagus... mari kita pergi kesana!” Jawab Klabang Songo.

“Apakah bapa kenal dengan Baurekso itu?” Tanya Undung Kalayaksa dengan penuh harapan.

“Kenal... bahkan aku sangat kenal kepadanya karena aku adalah sahabatnya sewaktu kami masih muda.” Jawab Ki Klabang Songo.

188 Tak lama kemudian berangkatlah mereka kegunung Merapi. Karena mereka melakukan pekerjaan dengan riang, maka dengan tak terasa mereka telah sampai didaerah yang mereka tuju. Setelah mereka sampai dipondok Baurekso segera Klabang Songo berseru :

“Baurekso tua bangka lekaslah kau keluar!”

“Ha... ha... ha... Klabang Busuk! Silahkan masuk saja, pintuku tak tertutup bagi kalian.” Bersama dengan hilangnya suara itu tampaklah seorang tinggi besar yang berjenggot pendek-pendek dan lebat berdiri dimuka pintu.

“Ha... ha... ha... Baurekso ternyata kau ini masih awet muda saja.” Tegur Klabang Songo.

“Ha... ha... ha... beginilah kalau orang yang hidup dengan tenang dan tenteram. Pantas, pantas sejak kemarin angin yang bertiup di gunung Merapi ini baunya sangat busuk, tak tahunya kalau akan kedatangan seorang sahabat lama.” Seru Baurekso disela-sela suara tawanya yang pekak dan menyakitkan telinga.

Setelah mereka masuk rumah Baurekso maka mulailah Ki Klabang Songo menguraikan maksudnya.

“Hai... jadi Belanda minta bantuan kepada kita?” Tanya Baurekso kepada Undung Kalayaksa.

“Betul paman! Bantuan paman sangat diharapkan oleh Belanda!” Jawab Undung Kalayaksa.

“Ha.... ha.... ha.... aku bersedia membantu mereka asal mereka mau menerima syaratku.” Jawab Baurekso.

“Apakah syaratmu itu, paman? Lekaslah katakan!” Seru Undung Kalayaksa dengan hati bertanya-tanya.

“Mudah... mudah saja anak muda. Disana nanti kau sediakan saja tuak yang enak dan wanita yang cantik-cantik. Dapatkah kau memenuhi permintaan ini?” Tanya Baurekso.

“Ha... ha... ha... kau tua-tua keladi Baurekso. Makin tua tidak makin insyaf tapi malah makin jadi. Besok kalau mati kau tentu akan masuk neraka jahanam, Baurekso.” Seru Klabang Songo dengan tertawa.

“Ha... ha... ha... mengapa kau mengomongkan neraka? Bukankah kau juga telah banyak dosamu? Apakah kau juga akan masuk surga, Klabang Songo? Tidak... tidak, orang macammu tempatnya hanya didasarnya neraka jahanam. Sebab surga hanya tempat orang yang benar-benar suci saja. Jadi bukannya tempat orang berlagak suci sepertimu itu.” Seru Baurekso dengan tersenyum-senyum.

“Memang kita ini orang-orang jahat, Baurekso ”

“Maka dari itu marilah kita menebus dosa dengan mengamankan negara dari kekacauan” Potong Undung Kalayaksa.

“Betul. betul, marilah kita segera berangkat.” Seru mereka serempak.

Sementara itu yang berada disekitar benteng Kumpeni di Batavia. Untung anak angkat dari Edeler Moor sedang duduk termenung. Pertemuannya dengan Pendeta Kalinggapati itu telah mengetuk hatinya. 189 Sekarang ia merasa benar-benar sebagai orang yang tak berguna. Yah ia sekarang merasa pula kalau dengan secara tak langsung ia ikut pula menindas rakyat. Rakyat menjadi sengsara. Betapa tidak??? Sekarang ia bekerja sama dengan Belanda yang mengakibatkan rakyat menjadi tertindas. Belanda pula yang membuat rakyat jadi menderita, sengsara dan tak jarang pula menjadi lapar.

Seketika itu terngiang-ngianglah kata-kata Pendeta Kalinggapati : “Selamat tinggal angger Untung semoga kau lekas terlepas dari belenggu penjajah.” Kata-kata inilah yang selalu mengiang-ngiang ditelinga pemuda yang gagah perkasa ini.

Betapa malunya ia dengan Pendekar Linglung itu. Pendekar Linglungpun masih muda tapi ia telah menemukan jalannya yang gemilang. Sedang dia?? Ah..... antek Belanda!!! Kalau semua ksatria-ksatria akan mengagumi sikap Pendekar Linglung yang melawan penjajah itu tapi kalau menilai dirinya tentu..... Huh. anjing Belanda!

“Tidak..... tidak..... aku harus segera mengakhiri cara hidupku yang hina ini.” Seru Untuag telah ssdar dari lamunannya. “Betul kata-kata Bapa Pendeta Kalinggapati dulu. Rakyat membutuhkan tenagaku. Penjajah harus cepat-cepat angkat kaki dari bumi Nusantara yang tercinta ini. Hem.....

baiklah aku akan minta pertimbangan kepada bapa guru dulu. Setelah mendapat pikiran yang demikian ini segera Untung pergi kerumah gurunya. Memang Untung berguru kepada Kyai Embun dengan secara diam-diam. Sebab ia tak mau kalau diketahui oleh orang lain kalau dirinya itu dapat main silat. Dan yang lebih penting lagi ialah Kyai Embun menyuruh muridnya untuk merahasiakan kepandaiannya. Dan lagi jangan sampai bilang kalau ia berguru kepada Kyai Embun.

Entahlah mengapa bagitu? Tapi kalau kita perhatikan dengan sungguh-sungguh maka akan tampaklah kalau Kyai Embun guru Untung itu merahasiakan sesuatu. Orangnya sudah tua, wajahnya kelihatan tenang tapi perbawanya sangat besar. Setelah beberapa saat berselang-selang sampailah Untung dirumah gurunya.

“Bapa, aku Untung datang menghadap bapa.” Seru Untung dari muka pintu rumah gurunya.

“Masuklah angger, mari kita bicara didalam saja!” Jawab Kyai Embun dari dalam.

Setelah itu masuklah Untung dan langsung duduk dibalai-balai kayu disamping gurunya.

“Ada keperluan apakah angger malam-malam datang kemari?” Tanya Kyai Embun dengan memandang wajah muridnya.

“Begini bapa, kemarin malam waktu Pendeta Kalinggapati melarikan diri dari dalam penjara, aku, kakang Sindung Laut dan kakang Undung Kalayaksa ditugaskan untuk mengejar pendeta itu. Setelah kami berhasil mengejar maka mulailah kakang Sindung Laut dan kakang Undung Kalayaksa bertempur dengan Pendekar Linglung yang menolong Pendeta Kalinggapati tadi. Sedang aku menghadapi Pendeta Kalinggapati sendiri. 190 Tapi anehnya bapa! Ia tak segera menyerangku. Malahan pendeta itu memberi petuah-petuah dan menyayangkan aku yang masih muda dan berkepandaian ini mau bekerja sama dengan Belanda. Tapi untuk menghilangkan rasa kecurigaan kami dari mata kakang Sindung Laut dan kakang Undung Kalayaksa maka pura-pura bertempur.

Namun apa lacur? Ia benar-benar seorang yang berkepandaian tinggi. Semua seranganku dapat dielakkan bahkan pendeta itu tak mambalasnya. Tapi setelah pendeta itu mau membalusnya..... Ah..... aku tak dapat melawannya. Serangannya benar-benar bagaikan hujan ujung pedang saja. Aku hanya dapat menangkis dan tak dapat menyerangnya sedikitpun.

Tiba-tiba ia berseru, Angger Untung, terimalah pedang Mayangseto ini.” Dan seketika itu Pendeta Kalinggapati menggerakkan pedangnya dengan cepat bagai kilat..... dan..... bret.... baju yang menutupi dadaku telah sobek oleh ujung pedangnya. Dan yang lebih mengherankan lagi ialah pedangku terlempar lepas dari tangan. Pada hal aku telah menggunakan seluruh tenaga dalamku untuk menjaga pedang itu!” Seru Untung.

Betapa kagetnya hati Kyai Embun ini setelah mengetahui nama ilmu pedang yang dipergunakan oleh musuh muridnya itu. Ilmu pedang Mayangseto!! Segera ia teringat akan masa belasan tahun yang lalu. Tapi siapakah Pendeta Kalinggapati yang pandai memainkan pedang Mayangseto itu? Pikir Kyai Embun.

Maka keadaan menjadi hening. Masing-masing tenggelam dalam perasaannya sendiri-sendiri. Tiba-tiba Untung berkata memecah kesunyian :

“Bapa, kalau mendengar perkataan Pendeta Kalinggapati tadi ingin rasanya aku melarikan diri dari benteng itu dan menggabungkan diri dengan para ksatria-ksatria itu. Ah.... bapa.... betapa hinanya hidupku ini. Hidup sekali saja menjadi antek Kumpeni.” Keluh Untung.

“Bagus.... bagus.... muridku ternyata semua perkataan pendeta yang gagah perkasa itu telah termakan olehmu. Aku merasa ikut gembira akan kesadaranmu itu. Tapi kini belum waktunya kau bergerak muridku. Nanti kalau sudah tiba waktunya kau akan kuberi tahu. Nah, sekarang tenangkanlah hatimu!” Seru Kyai Embun menghibur muridnya.

“Terima kasih, bapa! Aku akan selalu mentaati segala nasehat bapa.” Jawab Untung.

“Na, Untung, untuk Inemperdalam ilmu yang kau miliki itu datanglah kemari setiap malam. Biar nanti aku yang membimbingmu!” Seru Kyai Embun.

“Baik bapa!” Jawab Untung.

Dan mulai itu Untung digembleng oleh Kyai Embun setiap malam. Dengan tak bosan-bosannya ia melatih segala pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Hingga sebentar saja tampaklah kemajuannya, sekarang gerakannya menjadi lincah gesit dan kuat.

Pada suatu malam tampaklah Untung sedang berendam dilaut sebelah utara kota Batavia. Kalau hari hampir menjelang fajar barulah Untung naik 191 kedarat. Latihan-latihan yang berat ini selalu dilayani dengan sabar dan telaten. Apakah tujuan Kyai Entbun menyuruh Untung untuk berendam pada tiap malam dilautan? Kyai Embun berusaha menempa tubuh Untung supaya tubuhnya dapat kuat bagaikan batu karang yang tak mudah untuk dihempaskan oleh ombak lautan. Hingga besok kalau Untung telah berhasil meyakinkan ilmunya ia dapat tahan menahan serangan pukulan yang sekeras hempasan ombak.

Karena keranjingannya dan ketekunannya maka dapatlah Untung menerima segala pelajaran yang diturunkan kepadanya. Setahun telah berlalu Untung sekarang telah berubah menjadi seorang anak muda yang gagah perkasa luar dan dalamnya. Kepandaiannyapun telah maju dengan pesat sekali. Semakin lama semakin hebatlah kepandaian Untung itu. Perkembangan ini tak terduga-duga olehnya. Begitupun pertumbuhan badannya, hingga semakin hari semakin gagahlah si Untung bekas budak belian itu. Hingga kecakapannya ini menarik perhatian majikannya. Suzana.... Suzana.... anak tunggal dari Edeler Moor. Suzana adalah saudara angkat dari Untung.

Pada suatu hari tampaklah Untung sedang bercakap-cakap dengan Suzana didalam kebun bunga dirumah Edeler Moor.

“Tung, kemana saja kau tiap malam?” Tanya Suzana.

“Pergi kerumah kawan, nona!” Jawab Untung dengan singkat. “Masakan setiap malam pergi kerumah kawan? Bantah Suzana dengan

tak percaya.

“Betul nona, aku main catur disana! Sebab kalau malam aku tak betah tinggal dirumah!” Jawab Untung.

“Tak betah tinggal dirumah? Apakah yang kurang didalam rumah ini?

Barang kali makanmu kurang enak?” Tanya Suzana dengan heran.

“Tidak nona, semuanya serba cukup dan memuaskan! Hanya saja satu yang selalu mengganggu pikiranku nona!” Tiba-tiba saja Untung berhenti dari percakapannya dan tak melanjutkan perkataannya tadi.

“Apakah itu, Tung?” Tanya Suzana dengan hati jengkel. “Tidak apa-apa nona!” Jawab Untung tenang.

“Katakanlah Tung! Mungkin aku dapat menolongmu! Seru Suzana. “Memang aku hanya dapat ditolong oleh nona seorang, tapi apakah

nona tak keberatan untuk menolongku?” Tanya Untung dengan hati berdebar-debar.

“Katakanlah Tung! Aku selalu siap sedia menolongmu! Asal aku dapat dan mampu menolongnya.” Jawab Suzana dengang heran.

“Terimakasih nona! Anu.... eh. ” Kata Untung dengan gugup.

“Anu.... eh.... lekaslah katakan jangan kau selalu membisu saja!” Seru Suzana dengan jengkel.

“Sebentarlah nona, aku akan menyusun kata-kataku dulu!” Jawab Untung dengan berdebar-debar.

“Masakan akan mengatakan saja harus menyusun kata-kata lebih dahulu!” Gerutu Suzana. 192 Kini keduanya sama-sama membisu. Angin bertiup sepoi-sepoi. Semerbak harum bunga tercium oleh kedua muda-mudi ini. Tiba-tiba berkatalah Untung hingga memecah kesunyian.

“Nona, betulkah nona hendak menolongku?”

“Sejak kapankah kau tak mempercayai kata-kataku lagi Untung?” Bentak Suzana dengan marah.

“Maaf... maaf nona, bukannya maksudku tidak mempercayai nona!

Tapi bagaimana kalau tuan yang tidak mengijinkan?” Seru Untung.

“Papa?... adakah hubungannya dengan papa?” Tanya Suzana bertambah heran.

“Ada, bahkan sangat erat sekali!” Jawab Untung.

“Lekas katakan kalau sekiranya hal ini penting maka aku akan mengabaikan papa!” Gerutu Suzana.

“Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih nona. Dan sekarang aku akan mengutarakan hal ini kepada nona.” Maka berhentilah Untung untuk menarik napas dan menenangkan hatinya. Setelah sesaat kemudian barulah Untung membeberkan maksudnya.

“Begini nona, sebetulnya aku cinta padamu. Dapatkah nona menerima dan membalas cintaku?” Tanya Untung sambil menatap wajah Suzana.

Betapa kagetnya hati Suzana karena ia tak mengira sama sekali kalau Untung akan menyatakan cintanya secepat ini. Seketika itu teringatlah ia akan tunangannya yang berada di Semarang. Tunangannya adalah seorang Opsir Belanda yang bernama Herman De Wilde. Tetapi didalam hati kecilnya ia berkata : “Memang kata-katamu inilah yang selalu kuharap- harapkan, Tung! Dan kaulah orangnya yang selalu membayangi mimpiku setiap malam!” Setelah hatinya agak tenang maka menjawablah ia :

“Ah... soal semudah itu mengapa kau buat berbelit-belit, Tung? Nah, sekarang kau boleh bergembira karena akupun mencintai kau!” Seru Suzana dengan tersenyum.

“Betulkah ini Suzana?” Teriak Untung sambil menarik Suzana dalam pelukannya. Sebagai jawabannya Suzana hanya mengangguk, dan menyandarkan kepalanya didada Untung yang bidang itu.

Ah betapa mesranya kedua muda-mudi yang baru dimabok cinta itu. Kata-kata manis dan bujuk rayu selalu keluar dari dalam mulut kedua muda-mudi itu. Nah, marilah kita tinggalkan dulu dua orang yang sedang berkasih-kasihan itu. Marilah sekarang kita melihat yang berada didalam dalem Tirtoyasan.

* * *