Pendekar linglung Jilid 2

 
Jilid II

SEBETULNYA kepandaian Joko Seno setingkat lebih tinggi dari kepandaian Retnosari, tapi karena Joko Seno harus menggendong Endang maka keadaan menjadi berimbang. Tiba-tiba Joko Seno merasakan adanya angin dingin menyambar tubuhnya. Tahu-tahu Endang sudah dapat direbut oleh Widati.

“Nah sekarang kau dapat leluasa menggunakan kedua tanganmu anak muda,” kata Widati. Kembali mereka bertempur dengan dahsyatnya.

“Mampus kau penculik!” bentak Retnosari sambil melayangkan kakinya kearah dada lawan. Namun dengan cepat Joko Seno menggeser kaki kesamping terus langsung balas menyerang lambung lawan. Melihat lambungnya terancam bahaya, langsunglah ia menggenjot tubuh dan membuat salto melepaskan pukulan..... dukk perut Joko Seno kena hajar,

tapi dengan cepat Joko Seno menyalurkan tenaga dalamnya kearah perut, sebentar saja hilanglah rasa sakit diperutnya. Karena merasakan sakit maka Joko Seno menjadi marah.

“Gadis liar, siapakah kau? Datang-datang menyerangku!” Damprat Joko Seno.

“Huh.   kau penculik sombong, hayo kita lanjutkan pertempuran ini!”

“Penculik? Apa katamu? Jangan seenaknya kau menuduhku, gadis liar!” bentak Joko Seno.

“Tak usah menyangkal! Nah, terimalah ini!” bentak Retnosari sambil memukul lawan. Melihat lawannya sudah mulai memukul, Joko Senopun menyambut pukulan-pukulan itu dengan pukulan pula.

Dukk...... sekali lagi dua tangan saling beradu dan akibatnya kembali Retnosari terlempar kebelakang sedang Joko Seno tetap pada kedudukannya. Mau tak mau Retnosari harus mengakui keunggulan tenaga dalam lawan. Cepat Retnosari bangun dan menyerang lagi dengan cambuk ditangannya.

Tar...... tar...... cambuk Retnosari telah berobah menjadi sinar coklat kehitam-hitaman. Cambuk ini dibuat dari bulu ekor kuda yang telah direndami ramuan obat-obatan yang menjadikan cambuk itu tak dapat putus oleh senjata tajam tapi masih memiliki sifat-sifat lemas. Melihat cambuk ini terkejutlah Joko Seno.

“Eh..... bukankah kau murid Nyi Widati? Sabar nona sabar, kita adalah orang sendiri!” teriak Joko Seno.

“Orang sendiri? Kau kira aku sebangsa penculik?” ejek Retnosari sambil menggerakkan cambuknya. Melihat kenekatan gadis ini, terpaksalah Joko Seno mencabut pedangnya. Kini ganti Nyi Widati yang kaget.

52 Bukankah pedang ini pedang Nogo Biru milik Jatikusumo? pikir Widati. Murid Jatikusumokah dia? Persetan! Murid Jatikusumo atau bukan tapi dia yang terang orang jahat, penculik. Demikianlah jalan pikiran Widati. Cambuk adalah senjata yang paling sukar dipelajari, apalagi cambuk bercabang lima. Tapi cambuk ini ditangan Retnosari dapat digerak-gerakan dengan seenaknya. Tiap ujungnya dapat menyambar- nyambar bagai ular. Joko Senopun memainkan pedangnya yang baru saja ia dapat dari Sancaka.

Sinar hitam dan biru saling sambar-menyambar. Keduanyapun saling mengagumi keuletan lawannya. Tiap cambuk Retnosari menyambar, Joko Seno haruslah berusaha menghadapi dan menghindar kelima serangan itu. Joko Seno merasa seakan-akan menghadapi lima orang musuh yang masing-masing menyerang tempat-tempat berbahaya yang berlainan. Bagi Retnosaripun harus hati-hati menghadapi pedang Joko Seno, sebab perubahan-perubahan ilmu pedang ini sukar diduga. Melihat permainan pedang Joko Seno ini kembali Widati terkejut. Bukankah ini ilmu Sancaka? Aneh. aneh pemuda ini mempergunakan pedang Jatikusumo tapi ilmunya

yang dimainkan itu terang ilmu dari Sancaka. Tapi Widati tak dapat berpikir panjang lagi sebab ia melihat muridnya baru mengadu tenaga dengan musuhnya. Cambuk Retnosari berhasil melilit pedang lawan. Kedua muda-mudi itu mengerahkan tenaga dalamnya agar dapat merampas senjata lawan.

Tapi..... sratt...... Joko Seno berteriak dan berhasil menarik cambuk lawan. Waktu Retnosari masih terhuyung-huyung Joko Seno memukulnya dengan tangan kiri. Tapi Widati tak dapat membiarkan muridnya celaka. Cepat ia menangkis pukulan Joko Seno dan akibatnya..... Auh..... teriak Joko Seno, tubuhnya melayang masuk jurang dibelakangnya..... Aih. Widatipun

terkejut melihat kejadian ini. Ia tak menyangka kalau tenaganya dapat melontarkan Joko Seno sekian jauhnya. Tapi kekagetan hatinya ini segera hilang setelah ia berpikir, bukankah Joko Seno seorang penculik? Aku tak takut dan tak peduli dia murid Jatikusumo atau Sancaka, kalau orang tua itu marah iapun tak takut, pikirnya.

“Ibu guru, kemanakah musuhku tadi?” tanya Retnosari. “Musuhmu telah masuk jurang,” jawab Widati singkat.

“Apa? Masuk jurang? Mana mungkin itu dapat terjadi?” bantah Retnosari karena ia tak tahu terjadinya peristiwa tadi. Tapi setelah Widati menceritakan kejadian tadi baru mengertilah ia.

“Tapi kenapa ibu guru berbuat begitu? Bukankah aku belum kalah?” bantah Retnosari tak puas dengan gurunya.

“Akupun tak sengaja, mungkin dia sudah letih melawanmu jadi ia tak kuat lagi menahan gempuranku tadi.”

“Aku sendiri heran mengapa pertahanannya begitu lemah sedang tadi kulihat ia memakai pedang Nogo Biru kepunyaan Jatikusumo, sedang ilmu pedangnya yang dipergunakan tadi tak salah lagi tentu ilmu Sancaka. Mungkin ia mempunyai hubungan dengan salah seorang dari mereka atau 53 mungkin kedua-duanya. Nah, ayo Sari kita hantarkan dulu anak ini kepada orang tuanya.”

Marilah kita kembali menengok keadaan Joko Seno. Karena pikirannya kacau dan keadaannya lemah maka mudahlah Widati menggempur Joko Seno. Kena gempuran Widati terlemparlah ia jatuh dijurang. Karena goncangan dada dan kepedihan hatinya maka pingsanlah Joko Seno. Sedang tubuhnya terus jatuh kebawah dengan cepatnya. Tapi tiba-tiba tubuh Joko Seno turun dengan lambat dan jatuh diatas pangkuan seorang kakek yang sedang duduk didasar jurang itu. Setelah meletakkan tubuh Joko Seno lalu kakek itupun mulai memeriksa keadaan Joko Seno yang sedang pingsan itu.

“Ah sungguh kasihan pemuda ini, dia mempunyai tulang pendekar. Mudah-mudahan aku dapat mengobatinya.” Lama kakek itu memijat-mijat jalan darah Joko Seno, akhirnya berhasillah ia menyadarkan Joko Seno.

“Dimanakah aku ini?” tanya Joko Seno.

“Janganlah banyak bergerak dulu ngger, pusatkanlah tenagamu didada,” perintah kakek itu.

Segeralah Joko Seno menjalankan perintah kakek itu. Tapi..... uh.....

tiba-tiba Joko Seno memuntahkan darah segar dan Joko Seno kembali pingsan lagi.

“......ah......” desis kakek itu, “keadaannya sudah sangat lemah.” Kembali kakek itu memijat-mijat tubuh Joko Seno. Pada hari ketiga sadarlah Joko Seno dari pingsannya dan selama ia pingsan, kakek itulah yang merawatnya. Kini tinggallah demam yang menyerang Joko Seno. Dengan sabar kakek itu tiap pagi siang dan malam menyuapi Joko Seno. Pada hari kelima Joko Seno telah kelihatan agak sembuh, mukanya yang tadinya pucat sekarang sudah agak merah.

Seperti biasanya hari itupun kakek itu mengantar makanan malam pada Joko Seno.

“Terima kasih, sekarang aku sudah dapat makan sendiri,” seru Joko Seno.

“Bagus, memang kulihat berangsur-angsur kesehatanmu bertambah baik,” jawab kakek itu.

“Itu berkat rawatan kakek,” jawab Joko Seno singkat. “Nah silahkan makan, ngger!”

“Tanpa sungkan-sungkan lagi dimakanlah makanan yang dihidangkan oleh kakek itu. Sebentar saja sudah habis dimakan Joko Seno.

“Kakek, bolehkah aku mengetahui siapakah namamu?”

“Ah..... sayang, aku sendiri telah lupa siapa namaku, tapi dulu kurang lebih limapuluh tahun yang lalu orang-orang dunia persilatan memanggilku dengan nama : “Pacar Biru.”

“Pacar Biru?” kembali Joko Seno mengulang nama itu, memang ia belum pernah mendengar nama itu.

“Ya, itulah sebutanku limapuluh tahun yang lalu.”

54 “Mengapakah kau tinggal ditempat yang sesunyi ini, kek?” kembali Joko Seno bertanya.

“Ceritanya panjang ngger, apakah kau tak bosan mendengarkan?” “Oh. tidak! Malah aku sangat senang,” jawab Joko Seno.

“Ha. aku hampir lupa menanyakan namamu dan siapakah gurumu?”

“Namaku Joko Seno, sedang guruku adalah Panembahan Jatikusumo, kenalkah kakek padanya?”

“Tidak, Seno, aku belum kenal padanya, karena telah lima puluh tahun, aku tak meninggalkan tempat ini.” Memang betullah perkataan Pacar Biru itu bahwa ia belum kenal dengan Jatikusumo, sebab sewaktu Pacar Biru masih berkecimpung didalam dunia persilatan, Jatikusumo masih muda.

“Nah, sekarang ceritakanlah kek, mengapa kau tinggal disini?”

“Lima puluh tahun yang lalu didunia persilatan ada tiga tokoh yang dianggap sebagai orang-orang sakti,” kakek itu mulai bercerita :

“Pada waktu itu sukarlah untuk mencarikan tandingan yang setingkat dengan ketiga tokoh itu. Adapun ketiga tokoh itu adalah Pacar Biru, saya sendiri, Aswotunggal dan Dendopati. Entahlah siapa yang berkepandaian lebih tinggi dari ketiga tokoh itu. Aswotunggal masih terhitung adik seperguruan dari Dendopati. Pada waktu itu dunia persilatan dihebohkan oleh desas-desus adanya sebuah kitab pelajaran silat peninggalan dari Pendekar Bayu Sakti yang hidup kira-kira tigaratus tahun yang lalu. Semua jago silat ingin memilikinya.”

“Tiba-tiba kami mendengar kabar bahwa kitab berada disebuah gua dilereng gunung Ungaran. Maka pergilah kedaerah Ungaran. Tiap jago silat tentu dengan giat mencari dimana letak kitab itu. Mereka saling berlomba untuk dapatnya menguasai kitab itu. Setelah lama kita mencari dengan susah payah, akhirnya kitab itupun diketemukan juga. Dan yang beruntung mendapatkan kitab itu, adalah pendekar dari Ambarawa yang bergelar Blekok Bongkok, sebab potongannya tinggi kurus tetapi badannya bongkok. Mendengar kabar bahwa Blekok Bongkok berhasil mendapatkan kitab itu maka pergilah kami ke Ambarawa untuk merebut kitab itu dari tangan Blekok Bongkok. Maka terjadilah pertempuran di Ambarawa. Akhirnya Blekok Bongkok dapat dibunuh oleh pendekar dari Mantingan yang bergelar Singomaruto dan buku peninggalan Bayu Sakti itupun dibawanya pulang ke Mantingan.

Tetapi sebelum sampai di Mantingan, Singomaruto terpaksa bergebrak dulu dengan Dipoloyo dari Tayu dan mujur bagi Singomaruto dapat mempertahankan kitab itu dengan jalan membunuh Dipoloyo.

Beberapa jiwa melayang hanya untuk memperebutkan sebuah kitab. Maka diteruskannyalah perjalanannya ke Mantingan. Tapi sayang sesampainya di Jepara terpaksa merelakan kitab itu, karena kitab itu bisa direbut oleh Dendopati. Setelah Dendopati berhasil membawa kitab itu maka dibawanyalah kemana-mana ia merantau.

Pada suatu pagi hari bertemulah Dendopati dengan aku dihutan Bonokeling didaerah Madiun. Akupun tahu kalau kitab peninggalan Bayu 55 Sakti berada ditangan Dendopati. Maka bergebraklah aku dengan serunya. Pukul-memukul dorong-mendorong, akhirnya Dendopati menggunakan penggadanya dan akupun lalu mencabut pedang. Kembali kami bertempur. Tiba-tiba penggada Dendopati dihantamkan kearah kepalaku. Dengan mengeluarkan perkataan ‘bagus’ akupun melompat kesisi. Dendopati karena takut kitabnya kurebut, ia lalu memukulkan kembali penggadanya. Akupun meloncat-loncat, ia makin jadi bersemangat. Penggadanya dimainkan sedemikian hebatnya hingga merupakan sinar. Setiap serangannya ditujukan ketempat yang mematikan. Melihat ini aku tertawa dingin, dengan gerakan lincah bagaikan seekor kera aku terus meloncat kesana-kemari.

Demikianlah keadaan berjalan sampai sembilan atau sepuluh jurus. Dan pertempuran kemudian berlangsung sampai seratus jurus. Tetapi belum ada tanda-tanda siapa yang kalah dan siapa yang menang. Tak lama kemudian akupun berseru keras. Mampus kau.....! Begitu aku menggerakkan pedang hampir mengenai tubuhnya. Mau tak mau Dendopati harus melompat kebelakang. Tetapi tidak disangkanya aku bisa berlaku lebih cepat pula. Sebab pada saat itu aku menggunakan serangan berantai. Maka ketika aku menyerang untuk kedua kalinya, Dendopati tidak keburu mengelakkan diri. Pedangku cepat menusuk bahu kiri Dendopati. Kemudian tampaklah darah mengalir dari luka Dendopati. Karena menderita tusukan ini marahlah Dendopati. Bangsat! Setelah berkata demikian penggadanya diputar lebih hebat lagi, lalu menerjangku.

Kakinyapun bergerak menendang kearah ulu hati. Karena gerakan inilah maka kitab Bayu Sakti jatuh dari kantongnya. Dengan secepat kilat Dendopati menyambar kitab itu, tapi bersamaan dengan gerakannya, akupun membuat gerakan untuk menyambar kitab itu pula, dan bret......

kitab itu terbagi menjadi dua, separo berada ditangan Dendopati dan separo berada ditanganku. Melihat kejadian ini larilah Dendopati meninggalkan aku. Tetapi aku tak mengejar. Maka dengan diam-diam aku mulai mempelajari sebagian ilmu yang tertulis dalam kitab itu. Dan Dendopatipun giat mempelajari isi dari sebagian kitab yang didapatnya itu. Setelah Dendopati berhasil meyakini sebagian dari ilmunya, maka pergilah ia mancari Aswotunggal dan ia mengajak Aswotunggal untuk bersama- sama menggempurku. Tetapi Aswotunggal tak mau kalau harus mengeroyokku. Sebab ia yakin belum tentu aku dapat mengalahkannya. Tapi Dendopati lalu menyebar fitnah. Dia mengatakan kalau aku menantangnya. Sudah tentu ia menerimanya tantangan itu. Sebab mana mau ia kehilangan muka didunia persilatan. Akhirnya berangkatlah mereka mencariku. Setelah lama mereka mencariku berhasillah mereka bertemu denganku diatas jurang ini.

Pacar Biru janganlah kau selalu menyembunyikan diri saja. Nah, terimalah ini, sehabis berkata demikian lalu Aswotunggal menyambitkan senjata rahasianya yang berupa paku. Aku hanya menggerakkan kedua tangan menyambuti paku-paku itu, sedang paku yang tak keburu 56 kutangkappun dapat kuhindarkan hanya dengan menggerakkan sedikit pinggul. Melihat ini Aswotunggal jadi semakin mendongkol, dengan bernafsu ia lalu mencengkeramku, kemudian dengan gerakan yang sangat cepat ia melemparkan sepuluh buah paku kearah pelbagai anggota tubuhku. Tapi aku tidak bergerak atau berusaha menangkis senjata lawan. Memanglah aku ingin mempraktekkan ilmu yang baru saja kupelajari dari isi kitab peninggalan Bayu Sakti. Maka kini tampaklah kesepuluh paku mulai satu-persatu menyentuh tubuhku sehingga bajuku berlobang-lobang akibat coblosan senjata rahasia itu, tapi aku tetap berdiri disitu, jangankan jatuh, bergerakpun tidak, dan tak lama kemudian kesepuluh paku itu jatuh tanpa mengeluarkan suara. Saya diam-diam menggerakkan tenaga dalam sehingga otot-otot menjadi ciut, membuat badan menjadi kuat, sehingga paku dari Aswotunggal tak bisa menembusi tubuhku. Setelah saya menarik napas, paku-paku pada berjatuhan ketanah. Inilah ilmu bathin yang tiada taranya. Aswotunggal dan Dendopatipun terkejut melihat hal ini.

Bagus, kau ternyata telah mewarisi ilmu dari setengah kitab itu Pacar Biru, desis Dendopati. Masih ada lagi, hayo lekas lemparkan, ejekku. Jangan sombong, kata Aswotunggal. Sekali Aswotun ggal menggerakkan tangan kirinya melayanglah tiga paku dengan cepatnya. Dalam saat itu juga saya telah menggerakkan tangan dan terbanglah tiga buah jarum langsung memukul jatuh ketiga paku Aswotunggal.

Bagus, ternyata kaupun pandai menggunakan senjata rahasia, Dendopati memujiku. Mari adi Aswo, kubantu kau meringkus manusia sombong ini, seru Dendopati sambil memukul dadaku. Demikianlah suatu pertempuran dahsyat telah dimulai. Dendopati dan Aswotunggal melawan aku. Kalau melihat pertandingan ini, maka akulah yang lebih tinggi ilmu silatnya. Tetapi menghadapi dua tokoh musuh ini agak repot juga aku. Kali itu aku terpaksalah mengerahkan seluruh kepandaianku. Gerakanku tambah cepat dan tepat. Dendopati dan Aswotunggal juga tak berani berlaku sembrono lagi. Merekapun lalu menggunakan ilmu andalannya masing-masing untuk menghadapiku. Gerakani-gerakan Dendopati dan Aswotunggal hampir sama. Sebab memang ilmu mereka sesumber. Maka gerakan mereka saling isi-mengisi kekosongan masing-masing. Waktu itu aku selalu menggunakan taktik, meloncat ketimur memukul kebarat, meloncat keutara memukul keselatan. Hingga seranganku sukar diduga dan gerakankupun cepat sekali. Dengan demikian dalam waktu yang singkat saja mereka tak dapat mengetahui kelemahan lawan.

Demikianlah pertempuran sudah berjalan tigaratus jurus, tetapi belum diketahui siapakah yang lebih unggul. Akukah atau Dendopati dan Aswotunggalkah? Walaupun gerakanku cepat dan setiap seranganku sukar diduga terlebih dahulu, tetapi aku tidak dapat menjatuhkan mereka dengan cepat. Aku menjadi gelisah sebab makin lama tenagaku makin berkurang.

Pada waktu itu ketika Dendopati dan Aswotunggal melihat posisiku dalam bahaya, maka cepatlah mereka menyerangku dengan dahsyatnya. 57 Tendangan Dendopati diarahkan kepunggungku, sedang Aswotunggal mengarahkan keperutku. Tetapi dalam keadaan terjepit ini aku seperti mendapatkan kekuatan baru. Dengan cepat aku lalu menggenjotkan tubuh, maka selamatlah aku dari bahaya maut.

Dengan cepat Dendopati dan Aswotunggal membalikkan tubuh. Tangan kiri diputar sambil tangan kanan memukul kearah dadaku. Gerakan ini cepat sekali dan tampaknya akan mengenai sasaran. Tetapi mana aku mau menerima begitu saja. Dengan cepat akupun lalu manggerakkan tanganku...... dukkk..... dua tenaga raksasa bertemu, kami masing-masing terlempar kebelakang. Dalam posisi yang jelek ini aku harus mengadu tenaga dengan Aswotunggal. Akibatnyapun hebat. Aswotunggal terlempar sampai sembilan langkah dan memuntahkan darah segar. Akupun menderita luka dalam yang hebat. Kemudian baru saja aku dapat menguasai keseimbangan Dendopati telah menyerangku dari belakang, kemudian memukulku. Melihat aku diserang, cepat-cepat aku membalikkan tubuh dan balas menyerang. Tetapi pukulan Dendopati adalah pukulan yang dilandasi aji Kilat Buana. Melihat ini aku cepat-cepat menarik seranganku. Kemudian dengan menggerakkan tenaga aku menyambut serangan Dendopati.

Bukan hanya tangan kiriku saja yang menyanggah tetapi juga tangan kanankupun bekerja, sehingga terdengar suara krakkk..... Kembali aku terhuyung kebelakang. Sebetulnya kalau aku tidak terluka dadaku belum tentu Dendopati dapat membuat aku terpental. Cepat-cepat aku bangun lagi, tetapi tendangan Dendopati kembali bersarang pada perutku. Dan melayanglah aku hingga akhirnya terjatuh kedalam jurang ini. Nah, inilah sebabnya aku diam disini, Seno.“

“Tetapi mengapa kakek tidak berusaha mencari jalan keluar?” tanya Joko Seno dengan nada terharu.

“Tadinya memang aku berusaha ingin keluar, tetapi setelah kupikir apa gunanya aku kembali kedunia ramai? Maka akhirnya aku mengambil keputusan untuk terus tinggal disini.”

“Masih hidupkah Dendopati dan Aswotunggal itu kakek?” kembali Joko Seno bertanya.

“Entahlah, sebab sehabis bertempur dengan mereka, aku tak pernah mendengar lagi keadaan dunia ramai,” jawab Pacar Biru.

“Mungkin mereka sudah mati, sebab kalau masih hidup tentu guruku kenal padanya. Eh........ kakek tahukah kau dengan Sancaka, Widati, Singopati atau Arya Cempaka?” kata Joko Seno sambil menyebut nama- nama tokoh pada jaman ini.

“Dari sekian nama itu hanya satu yang kukenal, Seno.” “Siapakah dia kakek?”

“Arya Cempaka! Kalau tak salah Arya Cempaka adalah murid dari Dendopati, sebab dahulu waktu aku masih berkecimpung didunia persilatan, aku pernah mendengar bahwa Dendopati punya murid seorang

58 anak laki-laki yang usianya kurang lebih sepuluh tahun dan bernama Arya Cempaka.”

“Arya Cempaka? Manusia iblis itu murid Dendopati? Ah, pantas ia sakti benar.” Maka berceritalah Joko Seno tentang kejadian-kejadian yang ia alami termasuk usahanya untuk membalas dendam.

“Angger Seno, selama hatimu masih dikuasai oleh nafsu untuk membalas dendam, maka kau tak akan dapat hidup tenang.”

“Tapi mereka itu orang-orang jahat,” potong Joko Seno kurang puas. “Mereka itu orang jahat, itukan menurut penilaianmu. Tapi menurut

penilaian mereka sendiri tentu akan menganggapnya itu suatu hal yang biasa, kalau kau bernafsu untuk membalas dendam aku tak akan menghalang-halangi. Tapi andaikata kau dapat memaafkannya itu adalah bijaksana. Didunia ini tak ada orang jahat atau salah. Yang ada hanya manusia-manusia yang sadar dan manusia-manusia yang dikuasai nafsu. Nah, apabila mereka itu sadar bukankah ia akan menjadi manusia-manusia baik?” Mendengar nasehat-nasehat ini terdiamlah Joko Seno.

Memang kalau dipikir secara mendalam perkataan Pacar Biru ini benar belaka. Tapi dapatkah ia membiarkan musuh besarnya bertambah gila? Maka terjadilah pergulatan perasaan dihatinya. Akhirnya ia hanya dapat menjawab :

“Ah. kepalaku pening lagi kakek.”

“Nah tidurlah ngger, memang hari telah jauh malam.” Sesudah berkata demikian Pacar Birupun telah melangkahkan kakinya meninggalkan Joko Seno. Setelah setengah bulan ia sakit maka kini ia telah sembuh sama sekali. Pada suatu hari datanglah Pacar Biru menemui Joko Seno.

“Ah. ngger, pagi-pagi sudah melamun.”

“Eh.... ah.... tidak,” jawab Joko Seno gugup. Memang sejak bertemu dengan Retnosari hati Joko Seno selalu teringat padanya. Entah mengapa ia selalu terbayang wajah Retnosari. Inilah yang membuat Joko Seno akhir- akhir ini sering termenung.

“Angger Seno, ada hal yang akan kubicarakan kepadamu.” “Hal apakah itu, kelihatannya penting, kakek?”

“Begini angger, maukah kau menjadi muridku? Sebelum meninggal aku ingin mewariskan kepandaianku ini padamu.”

“Dengan senang hati aku merasa bahagia dapat diambil murid oleh kakek Pacar Biru.”

“Bagus, nanti malam kau harus sudah mulai dengan pelajaran samadi.” “Baik aku hanya menurut sagala perintah guru,” jawab Joko Seno. “Nah, sekarang kau boleh istirahat dulu. Nanti sehabis makan malam

kau kunanti disebelah timur jurang.” Mulai malam itu Joko Seno sudah mulai digembleng oleh Pacar Biru. Mula-mula Joko Seno disuruh membuka bajunya dan mulailah ia bersamadi. Pertama-tama memang agak sukar bagi Joko Seno melakukannya. Tapi berkat ketekunan Joko Seno dan kesabaran Pacar Biru maka berhasillah ia mempelajari ilmu samadi dari

Pacar Biru. Lama-kelamaan makin kuatlah samadinya bahkan sampai ia 59 mencapai tiga malam ia dalam keadaan samadi. Melihat ketekunan Joko Seno ini makin puaslah hati Pacar Biru.

“Angger Seno, sekarang kau boleh melihat hasil latihanmu itu. Nah, sekarang pukullah batu ini,” perintah Pacar Biru. Maka mulailah Joko Seno menggerakkan tenaga dalamnya dan setelah terpusat ditangannya, lalu secepat kilat tangan itu dipukulkan kearah batu yang ditunjuk oleh Pacar Biru itu. Maka terdengarlah.... bukk.... Tapi batu itu masih tetap utuh ditempatnya.

“Bagus ” seru Pacar Biru memuji.

Kagetlah ia melihat kejadian ini, biasanya ia dapat menghancurkan batu sebesar itu tapi kenapa sekarang dihadapan Pacar Biru ia tak mampu, lebih mendongkol lagi ketika ia mendengar seruan Pacar Biru.

“Guru, mengapa kau mengejekku?” keluh Joko Seno tak puas. “Mengejek? Aku memujimu dengan hati yang tulus ikhlas mengapa kau

katakan mengejek?” bantah Pacar Biru.

“Bukankah pukulanku tak mampu memecahkan batu itu?”

“Ha... ha... ha... anak bodoh... makin tinggi kepandaian orang makin merasakanlah bahwa ia bodoh. Heh... heh... heh. Seno coba angkatlah batu

itu.” Kembali Joko Seno menuruti perintah Pacar Biru. Aaah.    betapa

kagetnya Joko Seno ketika tangannya menyentuh batu itu maka gugurlah batu itu menjadi bubukan tepung.

“Nah, sekarang percayakah kau, padaku?” tanya Pacar Biru. Ditanya demikian tersipu-sipulah Joko Seno.

“Maafkanlah kekurangajaran murid tadi guru”.

“Tak mengapa, tak mengapa. Sekarang setelah kau berhasil melatih ilmu samadi itu tenaga dalammu menjadi sepuluh kali lipat dari semula. Asal kau tak segan melatihnya, mungkin kau dapat mencapai puncak kesempurnaan.”

“Terimakasih guru, semua nasehat guru akan kami indahkan.”

“Nah, sekarang ikutilah aku masuk kegua sebelah ini dan kita akan melatih ilmu meringankan tubuh. Setelah masuk gua disuruhnyalah Joko Seno menangkap burung-burung yang berada digua itu. Latihan ini bukanlah latihan yang mudah dikerjakan, sebab selain gua itu besar, Joko Seno tidak diperkenankan memakai senjata untuk menangkapnya. Berhari- hari ia melakukan hal ini. Maka ia hanya dapat menangkap seekor burung dengan sekali lompat tapi lama-kelamaan Joko Seno dapat menangkap enam ekor burung sekali lompat. Latihan yang diberikan oleh Pacar Biru selalu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Tiap malam Joko Seno tak pernah lupa untuk samadi.

“Seno, kukira sudah cukup latihan ini. Sekarang setelah kau memiliki dasar yang kuat, pelajarilah ilmu pedang ini baik-baik”. Mulai hari itu juga Joko Seno digembleng ilmu pedang oleh Pacar Biru. Mula-mula Pacar Biru memberi contoh dengan gerakan-gerakan yang lambat tapi semakin lama semakin cepat. Tapi berkat kecerdasan Joko Seno serta bakat yang ada

padanya, maka sebentar saja Joko Seno telah berhasil memainkannya 60 dengan baik. Hanya kadang-kadang ia membuat suatu kesalahan. Tapi cepat kesalahan dibetulkan menurut perintah gurunya.

Pada suatu hari tampaklah Joko Seno sedang berlatih pedang, sinar biru bergulung-gulung melindungi tubuhnya.

“Ah.... Seno.... gerakan ular memakan katak itu salah, yang dinamakan ular makan katak adalah tipuan serangan yang cepat tetapi tidak ganas.” Terusnya gerakan harimau masuk hutan, yang dimainkan dengan bagus sekali dan jurus selanjutnya adalah gerak melintang yang dinamakan kera memanjat pohon. Lalu Joko Seno melanjutkan sejurus demi sejurus, maka akhirnya habislah jurus-jurus ilmu pedang yang diajarkan oleh Pacar Biru.

“Bagus, gerakanmu cukup lincah dan seranganmupun cukup kuat. Nah, tinggallah kau memasakkan latihan-latihan ini. Dan ilmu ini kunamakan ilmu pedang Nogo Angkoso. Sekarang istirahatlah dulu besok kita lanjutkan dengan ilmu menyambitkan dengan senjata rahasia.” Setelah berkata demikian maka pergilah Pacar Biru meninggalkan Joko Seno. Kini tinggallah Joko Seno sendirian. Lama ia termenung memikirkan nasibnya. Tiba-tiba terbayangiah ia akan wajah Retnosari. Ah.... mengapa aku selalu teringat padanya. Mungkinkah aku jatuh cinta padanya?

Tiba-tiba matanya melihat suatu benda. Betapa terkejutnya waktu melihat bahwa benda itu adalah cambuknya beberapa bulan yang lalu dipergunakan untuk menyerangnya. Sekarang ia baru teringat, dahulu ketika ia berhasil merebut senjata lawan, lalu menyambarlah suatu tenaga yang kuat menghantamnya hingga tubuhnya melayang dan jatuh kedalam jurang. Maka ia ditolong oleh seorang kakek yang berambut putih. Akhirnya ia diangkat murid oleh kakek itu. Lama Joko Seno termenung, setelah ia sadar dari lamunannya, maka masuklah ia keguanya. Tak lama kemudian tertidurlah ia.

Setelah bangun cepat ia kembali melatih ilmu pedang Nogo Angkoso.

Tak antara lama datanglah Pacar Biru.

“Marilah Seno, kita mempelajari memakai senjata rahasia.” Sehabis berkata demikian Pacar Biru mengambil batu kecil-kecil. “Seno, batu ini dapat kita pergunakan untuk senjata. Coba lihatlah!” Sehabis Pacar Biru berkata demikian tampaklah ia menggerakkan tangannya dan melayanglah lima buah batu menyambar lima ekor burung yang terbang disekitarnya. Akibatnya jatuhlah kelima burung itu. Melihat itu makin kagumlah Joko Seno. Cepat ia meniru gerakan Pacar Biru tapi usahanya sia-sia saja. Maka diulangnya berkali-kali sampai akhirnya ia dapat menguasai ilmu itu.

“Seno, kukira sekarang kau holeh meninggalkan tempat ini tapi ingatlah kepandaianmu janganlah kau pergunakan untuk hal-hal yang merugikan orang lain.”

“Baik guru, aku akan selalu mengingat semua pesanmu.”

“Ada satu lagi pesanku setelah kau keluar dari jurang ini, janganlah kau ceritakan bahwa aku masih hidup, katakanlah bahwa kau telah berhasil menemukan kitab dari Pacar Biru. Ingat-ingatlah pesanku ini

Seno.” 61 “Kalau itu menjadi kehendak guru, baiklah aku akan mengatakan bahwa guru telah meninggal.”

“Nah, muridku terimalah ini hadiah dariku.” Sambil berkata demikian Pacar Biru menyerahkan sebuah pedang pusaka. “Nama pedang ini adalah Besi merah. Dulu ini yang selalu mengawaniku dalam perantauan.”

“Terimakasih guru dan ijinkanlah murid berangkat sekarang.”

“Baik, hati-hatilah kau dirantau. Masuklah gua disebelah selatan itu, nanti kau akan menemui terowongan yang menghubungkan keatas.”

Maka pergilah Joko Seno menuju kegua yang ditunjuk oleh Pacar Biru. Setelah masuk benarlah ia menemukan terowongan itu, sebentar saja ia telah sampai diatas tebing. Maka langsunglah ia akan pulang ke Semeru, untuk memberitahukan pada gurunya supaya datang ke Puncak Merbabu besok, dan yang terpenting dalam tujuannya ialah ingin segera bertemu dengan ibunya.

Kita tinggalkan dulu perjalanan Joko Seno yang menuju padepokan Semeru. Marilah kembali kita mengikuti perjalanan Widati dan Retnosari. Setelah Widati membebaskan totokan Endang, maka dapatlah Endang bergerak dengan leluasa.

“Bocah siapakah namamu?” Tanya Widati.

“Namaku Endang, dan siapakah kau nenek dan bibi ini?” “Namaku Widati dan ini bibi Retnosari.” Jawab Widati.

Melihat keberanian anak ini timbullah rasa senang dihati Widati. Memang aneh sikap tokoh dari utara ini, ia amat suka pada anak yang pemberani. Tapi ia amat benci kepada anak yang bersifat pengecut. Retnosaripun sangat heran melihat kelakuan gurunya ini. Biasanya gurunya ini paling tak pernah memperhatikan orang lain. Mengapa kali ini dia kelihatan sangat menyayang sekali. Endangpun merasa senang sebab melihat keramahan itu.

“Sari, kulihat anak ini mempunyai jiwa yang besar, masakan habis diculik ia kelihatan tak gelisah. Hem. sungguh anak yang menarik.”

“Betul ibu, memang adik kecil ini patut kita kagumi.” Demikian jawab Sari. Dalam perjalanan Retnosari sering termenung. Malah kadang-kadang ia tak mendengar ketika ditanya gurunya. Sayang pemuda segagah itu menjadi penculik. Atau betulkah katanya bahwa ia bukan penculik? Gagah tampan lagi pula berkepandaian tinggi. Sayang...... sayang...... dia terjatuh kedalam jurang. Ah...... mengapa guru turun tangan. Misalkan guru tak turun tangan tentu tak akan terjadi peristiwa ini. Kata guru tadi ia memakai pedang Nogo Biru milik paman Jatikusumo dan memainkan ilmunya paman Sancaka. Adakah dia murid salah seorang dari kedua tokoh itu? Setelah ia sadar dari lamunannya tersenyumlah dia. Didalam hatinya berkata : “Ah mengapa aku selalu terbayang padanya. Aku harus cepat melupakannya.” Tapi makin Retnosari berusaha melupakannya makin jelaslah wajah pemuda idamannya itu. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh teguran gurunya.

62 “Hai Sari, mengapa akhir-akhir ini kau selalu termenung? Ah rupanya hatimu telah tercuri oleh penculik itu, bukan?”

“Tidak garu,” jawab Retnosari gugup. Terkejutlah dia, sebab tiba-tiba gurunya dapat menebak isi hatinya dengan tepat.

“Jangan kau coba menipuku Sari, dari sinar matamu dapatlah kubaca perasaanmu.”

Mendengar ini makin guguplah hati Retnosari. Sedapat-dapatnya ia akan menutupi dengan menjawab :

“Apakah aku akan mencintai orang yang telah mati?” Mendengar kelakar ini ketawalah Widati. Akhirnya berkatalah dia :

“Nah, marilah kita lanjutkan perjalanan kita.”

Kepanjen masih dalam keadaan duka, sebah anak dari lurahnya yang diculik masih belum ketemu. Penjagaanpun diperkuat. Pada saat itu pak lurah sedang duduk dimuka rumah.

Tiba-tiba terdengarlah suaru anak memanggil.

“Ayah. aku datang!” teriak Endang sambil memeluk ayahnya.

“Endang, kau datang? Ah. darimanakah kau selama ini? Kau membuat

ibumu menjadi gelisah saja,” kata pak lurah.

“E. ayah mari kukenalkan kepada nenek Widati dan bibi Retnosari.”

“Apa, kau datang bersama mereka?” tanya pak lurah dengan gugup. “Mereka berada diluar, mereka itu sangat baik ayah.” kata Endang.

Dengan tak menghiraukan perkataan anaknya pergilah pak lurah keluar untuk segera menyambut kedatangannya penolong anaknya. Tetapi sesampainya ia diluar pekarangan, pak lurah tak melihat Widati, bayangannya saja tidak. Dimanakah Widati dan Retnosari? Setelah Widati tahu kalau Endang telah bertemu dengan orang tuanya maka ia segera mengajak muridnya untuk melanjutkan perjalanannya.

“Sari, sebelum kita menuju kepuncak Merbabu baiklah kita melihat- lihat keadaan kota Ponorogo. Bukankah kita masih mempunyai waktu yang agak lama?”

“Baik ibu, murid hanya menurut saja apa kehendak guru.” Maka pergilah mereka menuju ke Ponorogo. Apakah yang menarik perhatian Widati untuk pergi kesana? Ia tertarik oleh cerita orang-orang akan kesaktian para Warok. Memang selamanya Widati belum pernah bertemu dengan warok. Apalagi merasakan kesaktiannya. Maka itu Widati ingin menyaksikan sendiri. Betulkah cerita-cerita orang itu? Berhari-hari Widati dan Retnosari melakukan perjalanan menuju Ponorogo. Untuk menuju kesana tak jarang mereka harus keluar masuk hutan dan naik turun gunung. Tetapi kesukaran-kesukaran ini tak berarti bagi kedua pendekar ini. Dengan mudah mereka dapat mengatasi rintangan-rintangan ini. Pada hari yang kedelapan sampailah mereka di Ponorogo.

“Ibu, kalau dihutan kita dapat bermalam dipohon, tetapi sekarang dikota nanti kita bermalam dimana?”

“Dahulu waktu aku muda pernah aku berkenalan dengan seorang pedagang lembu yang bernama Tenaya tinggal di Ponorogo sini. Maka dari 63 itu mari kita mencari rumahnya, dan nanti malam kita bermalam dirumahnya.”

“Baik ibu kalau sudah ada yang kita tuju. Tidakkah lebih baik kalau kita cari sekarang aja.”

“Begitupun baik Sari.” Jawab Widati. Maka pergilah mereka mencari rumah Tenaya. Baik Widati dan Retnosari tak begitu sukarlah untuk mencari rumah kenalannya itu. Dengan menanyakan kepada penduduk dapatlah mereka ketemukan. Sebab bagi penduduk Ponorogo siapakah yang tak kenal kepada pedagang yang kaya itu? Tetapi setelah mereka sampai dimuka rumah Tenaya ragu-ragulah mereka untuk masuk.

“Ibu bagaimanakah nanti kalau paman Tenaya sudah lupa kepada ibu?”

“Ah, tak mungkin! Dulu waktu ia dicegat oleh perampok dari Nusa Barung, aku yang menolongnya. Setelah para perampok lari tunggang- langgang dia mengajakku supaya singgah dulu dirumahnya. Tapi.... ah... tak kusangka kalau dia sekaya ini. Padahal kau tahu dia itu sangat sederhana. Tapi marilah kita coba, andaikata dia telah lupa padaku kita dapat mencari penginapan lain.” Setelah berkata demikian masuklah mereka kedalam pekarangan.

“E. nyonya kau mencari siapa?” tanya tukang kebun.

“Betulkah ini rumah kakang Tenaya?” Widati balas bertanya.

“Betul, memang ini rumah tuan Tenaya! Apakah nyonya ada keperluan dengannya?”

“Betul, nah katakan bahwa sahabatnya yang bernama Widati datang berkunjung kemari.”

“Tapi nyonya, tuan Tenaya masih. ”

“Lekas tak ada tapi!” bentak Widati sambil mendorong tukang kebun itu. Mendapat perlakuan yang kasar ini marahlah tukang kebun ini.

“Heh. manusia liar, jangan kurang ajar kalau tak ingin kupukul,” seru tukang kebun itu.

“Apa? Kau akan memukulku? Baik, kau boleh memukul sepuluh kali dan aku akan memukul sekali saja,” jawab Widati.

“Apa? Sudah gilakah engkau? Masakan aku kau suruh memukulmu sepuluh kali sedang kau akan memukulku sekali saja,” dengus tukang kebun.

“Kau berani tidak?” ejek Widati.

“Gila.... gila. kau perempuan cari penyakit. Tentu saja aku berani. Tapi

kalau aku kau suruh memukulmu sepuluh kali aku tak sanggup. Bukankah ini namanya tak adil? Sekarang baiknya begini saja. Kau boleh memukul sepuluh kali dan aku akan memukul tiga kali saja.”

“Huh. kau manusia sombong. Nah kau mulailah sebab nanti aku akan

memukulmu sepuluh kali,” jawab Widati.

64 “Kau perempuan mencari penyakit. Jangan salahkan aku kalau kau mampus kena pukulanku. Nah, siaplah aku akan memulainya!” seru tukang kebun.

“Baik, mulailah aku sudah siap,” kata Widati. Melihat peristiwa ini ketawalah Retnosari. Memang begitu sifat Widati. Aneh.    gerak-geriknya

sukar diraba. Tapi Retnosari tak dapat melanjutkan angan-angannya. Sebab pertandingan sudah dimulai. Cepat manggerakkan tenaga dalamnya. Tiba-tiba...... awas pukulan!” teriak tukang kebun.... Bukkk   pukulan tukang

kebun bersarang dipipi Widati.

“Tak usah kau sungkan-sungkan, hayo pukullah aku sekeras-kerasnya. Sebab kau akan menyesal nanti kalau kesempatan ini kau lewatkan saja dengan percuma.” Ejek Widati. Memang pukulan tukang kebun tadi tak menggunakan tenaga sepenuhnya. Mendengar ejekan ini makin marahlah tukang kebun tadi.

“Sekarang hati-hatilah kau!” sehabis berkata demikian tangan tukang kebun itu memukul perut Widati.... Dakk.... “Aduhh...” teriak tukang kebun sambil memegangi tangannya.

“He.... he.... he.... aku yang kau pukul tapi kau yang mengaduh. Nah kau masih berhak memukulku sekali lagi, cepat kerjakan!” seru Widati. Makin keraslah tawa Retnosari melihat adegan itu. Diam-diam ia merasa kasihan melihat kebodohan tukang kebun itu.

Melihat kedua pukulannya tak dapat, melukai lawannya, maka makin marahlah tukang kebun itu. Maka ia memukul lagi dengan sekuat-kuatnya. Tapi akibatnya...... bukk...... bukk...... setelah tangannya menyentuh dada Widati, bagaikan ada tenaga raksasa yang melemparkannya kebelakang. Jatuhlah tukang kebun itu dan tangannya sakit karena bengkak.

“Kawan, lebih baik lekas panggilkan saja majikanmu sebelum kesabaran kami habis.” Potong Retnosari.

“Tidak..... tidak..... dia harus memukulku dulu. Mana sudi aku mengingkari janjiku sendiri, bentak tukang kebun itu.

Mendengar kata-kata tukang kebun ini makin kagumlah hati Widati akan kejujuran lawan. Karena itu ia tak sampai hati untuk mencelakakannya.

“Betul sahabat, lekaslah kerjakan perintah muridku itu!”

“Tidak..... tidak..... hayo balas aku sudah siap. Kalau kau tak mau maka kau kuanggap kalah.” Teriak tukang kebun itu.

“Hem.   orang ini keras kepala harus kuberi pelajaran sedikit biar tahu

rasa,” pikir Widati.

“Nah awas, aku mau menyerangmu!” Sehabis berkata demikian majulah Widati langsung mencubit lengan tukang kebun itu. Tiba-tiba terdengarlah tukang kebun itu berteriak : “......aduh..... ampun..... aduh. aku

sudah kapok..... aduh..... sakit......” Memang Widati tadi mencubit tukang kebun itu dengan menggunakan ajinya Klabang Sayuto. Melihat ini puaslah hati Widati.

“He..... he..... betulkah kau sudah kapok?” 65 “Betul..... betul..... aku sudah kapok. Jangan kau ulangi lagi    aku betul-

betul telah kapok.”

“Nah, telanlah obat ini!” seru Widati sambil memberikan sebuah pil. Setelah menelan pil pemberian Widati, maka hilanglah sakitnya.

Sementara itu Tenaya dan tamunya mendengar suara gaduh diluar, maka cepat-cepatlah mereka keluar.

“He..... mengapakah kau ribut-ribut.” Seru Tenaya kepada tukang kebun itu. Sebelum tukang kebunnya menjawab tiba-tiba terdengarlah Widati memanggilnya :

“Kakang Tenaya lupakah kau padaku?”

Sejenak Tenaya memandang Widati. Memang ia pernah melihat wajah ini tapi dimana ia lupa. Setelah Tenaya mehhat sabuk yang melingkar dipinggang wanita itu teringatlah ia pada penolongnya dahulu.

“Eh. kau adi Widati, silahkan masuk.” Jawab Tenaya dengan ramah.

“Terimakasih kakang, kukira kau lupa padaku.” Jawab Widati.

“Man, ada apa ribut-ribut tadi?” tanya Tenaya pada tukang kebunnya. “Maaf tuan.” Lalu Sarman menceritakan apa yang baru saja terjadi.

Mendengar kejadian ini marahlah Tenaya.

“Huh... kau sungguh kurang ajar sekali, Man! Berani menghina tamuku!” Bantak Tenaya.

“Sudah, sudah kakang, sebetulnya akulah yang salah. Sebab aku terlalu memaksanya.” Potong Widati. Mendengar kata-kata Widati ini agak puaslah hati Sarman. Dan begitu pula Tenaya, sebab tamunya tak merasa tersinggung oleh kelakuan tukang kebunnya.

“Mari-mari, adi, ah tak kusangka adi sudi mampir dirumahku ini. Dan siapakah anak yang bersamamu ini?” seru Tenaya dengan ramah sekali.

“Dia adalah muridku, dan namanya Retnosari.” Setelah mereka masuk lalu mereka diperkenalkan dengan para tetamu dari Tenaya.

“Adi Widati, kenalkanlah ini sahabat-sahabatku : Suramenggala, Singobarong, dan Kalakatung. Ketiga-tiganya ini adalah warok-warok yang terkenal di Ponorogo sini. Dan kalian sahabat-sahabatku kenalkanlah tamuku ini adalah adi Widati dan muridnya yang bernama Retnosari.” Setelah Widati mendengar bahwa ketiga tamu Tenaya itu adalah warok- warok, maka inginlah ia mencoba kesaktian mereka. Memang inilah tujuan dari Widati untuk datang ke Ponorogo. Dan lagi ia paling tak senang mendengar orang yang di sanjung-sanjung karena kesaktiannya.

Bagi ketiga warok itupun tak begitu memperhatikan perkenalan itu. Sebab mereka beranggapan bahwa semua wanita itu makhluk lemah, yang selalu minta perlindungan kalau ada bahaya. Maka itu mereka hanya memandang rendah kepada wanita itu.

“Nah, marilah kita teruskan pembicaraan kita,” seru Tenaya.

“Tapi pembicaraan kita tak dapat didengar oleh orang luar,” kata warok Kalakatung.

“Ah, kau terlalu curiga Kalakatung. Aku yang menanggung bahwa mereka tak akan membocorkan rencana kita. Bukankah demikian adi 66 Widati?” tanya Tenaya. Tapi sebelum Widati sempat menjawab, Singobarong telah mendahului.

“Apakah gunanya kita bawa wanita dalam pembicaraan kita ini, ingat bahwa musuh kita adalah Warok Secadarma. Secadarma tak dapat kita buat main-main, bukankah ia akan menambah beban kita untuk melindunginya?”

“Bangsat! Kau berani menghinaku? Hati-hatilah kalau membuka mulutmu. Hayo lekas berlutut minta maaf kalau tak ingin kuhajar!” bentak Widati dengan marah. Memang sengaja Widati menyuruhnya berlutut, sebab sudah tentu Singobarong tak mau berlutut. Dan inilah yang dikehendaki oleh Widati. Bukankah dengan jalan demikian ia mendapat jalan untuk mencoba kesaktian warok-warok itu? Mendengar bentakan Widati marahlah warok Singobarong.

“Berlutut? Minta maaf? Ha..... ha..... ha..... jangan mimpi kalau Singobarong mau berlutut dimukamu, nenek gila!”

“Bangsat! Memang kau minta dihajar!” bentak Widati sambil memukul kepala lawan. Melihat serangan yang mendadak ini berjongkoklah Singobarong untuk menghindarkan pukulan lawan. Melihat serangannya gagal cepat Widati melayangkan tendangannya kearah perut Singobarong. Sekali lagi Singobarong menghindarkan terjangan lawan dengan jalan menjatuhkan diri kebelakang. Sewaktu Singobarong masih bergulingan dilantai Widati menghujani pukulan-pukulan kearah dada, pinggang, kepala dan lambung lawan. Tetapi setiap pukulan dapat dielakkan dengan manis oleh warok Singobarong.

Bahkan kini tampaklah bahwa warok Singobarong telah mulai balas menyerang. Ia menghujani pukulan-pukulan kearah tempat-tempat yang mematikan. Tapi dengan mudah setan Utara itu dapat menghindarkan setiap serangan lawannya, dengan jalan melompat-lompat kesana-kemari. Melihat serangannya dengan mudah dapat dihindarkan maka marahlah hati Singobarong :

“Tahan.....! Berhenti! Adi Widati berhenti! Dan kau Singobarong berhenti!” Berkali-kali Tenaya berusaha melerai kedua jago yang sedang bertempur itu. Tapi mana mau keduanya berhenti. Malah pertempuran bertambah seru. Tiba-tiba terdengarlah suara warok Singobarong :

“Hai, Widati marilah kita bertempur diluar supaya bebas kita melepaskan pukulan-pukulan.”

Setelah berkata demikian, maka larilah warok Singobarong keluar rumah. Melihat musuhnya sudah berada diluar, maka berkelebatlah Widati keluar. Sesampainya diluar, maka bertandinglah mereka kembali. Heranlah warok Suramenggala dan warok Kalakatung melihat kehebatan Widati. Tak pernah mereka sangka kalau Widati dapat menghadapi warok Singobarong lebih dari lima puluh jurus. Tapi bagi Singobarong lain lagi, ia merasa malu sekali terhadap warok Suramenggala dan warok Kalakatung. Sebab baru menghadapi wanita saja ia sudah merasa kewalahan. Apalagi nanti ia harus

menghadapi warok Secadarma yang sudah terkenal sakti. Karana rasa 67 marahnya, maka ditariklah kolornya. Kolor bukanlah sembarang kolor ditangan seorang warok. Dengan cepat warok Singobarong memutar kolornya. Cepat bagaikan ular mencari mangsa. Melihat lawannya sudah mengeluarkan senjatanya, lalu Widatipun mencabut cambuknya, yang melilit dipinggangnya. Tarr... tar... tar... lecutan cambuk Widati menggema diudara. Melihat ini makin kagumlah hati warok Suramenggala dan warok Kalakatung. Sebagai saorang warok ingin mereka merasakan sendiri akan kehebatan sanjata Widati. Menghadapi cambuk Widati makin bingunglah hati warok Singobarong. Hingga pertahanannya makin lama menjadi lemah. Tapi...... Wess...... tiba-tiba kolor Singobarong menyambar dada Widati. Cepat ia melangkahkan kaki kesamping dan segera mundur. Tapi serangan warok Singobarong tidak berhenti sampai disitu saja dengan cepat ia menendangkan kakinya kearah lambung. Melihat datangnya serangan yang bertubi-tubi ini meloncatlah Widati keudara dan membuat salto serta memutar cambuknya langsung membalas serangan lawan. Setelah kembali kebumi tubuh warok Singobarong sudah berdiri kaku dalam keadaan tertotok.

“Hebat....! hebat!” seru warok Suramenggala dan warok Kalakatung berbareng.

“Sudah adi, sudah jangan kau teruskan, adi Widati!” Seru Tenaya.

“Baik kakang, aku hanya ingin membuka matanya bahwa kami kaum wanita tak dapat dipandang rendah. Hai.... kalian akan mencobaku pula?” kata Widati pada warok Suramenggala dan Kalakatung. Memang inilah yang mereka nantikan.

Memang aku ingin pula merasakan pukulan cambukmu pula, wanita sombong!” seru warok Kalakatung.

“Sudah... sudah, Kalakatung, dan kau adi Widati, bukankah kalian ini tamu-tamuku? Janganlah kalian, bertempur!” kata Tenaya.

“Kakang, kami tidak akan bertempur, hanya akan main-main sebentar dengan mereka,” jawab Widati cepat. Melihat kelakuan gurunya ini sebetulnya hati Retnosari tak setuju. Ah.... mengapa ibu tak menghiraukan larangan tuan rumah? Benar-benar terlalu, pikirnya. Tapi segera ia ingat apa maksud tujuannya datang ke Ponorogo sini. Memang tepat kalau orang mengatakan bahwa ibu bersifat aneh, demikianlah jalan pikiran Retnosari.

“Betul-betul kami akan main-main sebentar dengan saudari Widati untuk mengesankan perkenalan kami!” Seru Suramenggala.

“Ah, kalau begitu terserahlah asal kalian tak bertempur sungguh- sungguh. Sebab kalau Secadarma tahu tentu ia akan menertawakan kita!” Kata Tenaya lantang.

“Nah, tuan rumah sudah mengijinkan, tunggu apa lagi?” seru Widati. Melihat gurunya akan menghadapi dua orang musuh maka berserulah Retnosari :

“Ibu, biarlah aku menghadapi yang seorang!”

“Jangan. Jangan ganggu kami. Duduklah sambil melihat permainan ini saja,” seru Widati mencegah muridnya. Sehabis berkata demikian 68 langsunglah Widati memukul lawan. Melihat dirinya dipukul lawan, cepat- cepat Kalakatung balas memukul untuk mengukur tenaga Widati.

Dukk... dua lengan beradu dan akibatnya tubuh Kalakatung terlempar kebelakang sejauh enam langkah, sedang Widati tetap pada kedudukannya. Dengan cepat Kalakatung berdiri kembali dan terus menyerang Widati. Suromenggolopun tak tinggal diam saja. Cepat ia memukul kearah kepala Widati. Tapi mana mau Widati menerima pukulan itu begitu saja? Dengan cepat Widati lalu menggeser tubuhnya dan terus jongkok. Maka terhindarlah ia dari pukulan Suromenggolo. Sewaktu Widati menghindar dari pukulan warok Suromenggolo, cepat-cepat Warok Kalakatung mengirimkan tendangan kearah ulu hati Widati. Melihat serangan mendadak ini meloncatlah Widati keudara sambil balas memukul lawan.

Darr... dua tenaga raksasa beradu.

“Bagus!” puji Suromenggolo sambil loncat menerkam pinggul Widati. Namun cepat bagai kilat Widati mengayunkan kakinya. Prakk... tangannya warok Suromenggolo kena hajar kaki Widati. Tetapi kedua-duanya terhuyung kebelakang. Hebat juga tenaga warok ini, pikir Widati. Warok Suromenggolopun tak kalah kagetnya. Sudah susutkah tenagaku? Mengapa baru menghadapi wanita saja terhuyung-huyung? pikir warok Suromenggolo. Sesaat kemudian Widati berpikir untuk segera menggunakan ajinya Klabang Sayuto. Tetapi dua orang musuhnya adalah orang-orang yang cukup tinggi kepandaiannya. Sungguhpun ia yakin akan dapat merobohkan seorang musuhnya, tentu yang seorang lagi akan menggunakan kesempatan itu untuk menggempurnya. Roboh satu tetapi ia pun harus menerima kerugian pula. Oleh karena keragu-raguan ini maka Widati tak jadi menggunakan ajinya itu. Kemudian timbullah maksudnya untuk menggunakan cambuknya, tetapi maksudnya inipun diurungkan pula sebab ia merasa malu kalau harus melawan dengan senjata. Sedang musuhnya hanya bertangan kosong. Karena kebimbangan dan keraguan ini menyebabkan Widati agak lemah. Dengan kecepatan yang luar biasa menyambarlah cengkeraman warok Suromenggolo menuju tengkuk Widati. Tetapi dengan cepat Widati merendahkan diri sambil menghantamkan tangan kirinya kearah tangan warok Suremenggolo. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Warok Kalakatung. Cepat bagai kilat ia menendang lambung lawan. Tetapi kali ini lawannya adalah tokoh dari Utara. Kalau melihat serangan ini saja sudah terkejut, belum dapatlah Widati malang-melintang di Utara.

Ketika melihat lambungnya terancam bahaya, cepatlah Widati menyambut kaki lawan dengan cubitan yang telah dilambari aji Klabang Sayuto.

Mendapat cubitan ini warok Kalakatung menjerit menahan sakit. Memanglah cubitan Widati bukan cubitan sembarang cubitan. Sakitnya sama dengan kalau disengat klabang sejuta banyaknya. Melihat kelakuan temannya ini makin heranlah hati warok Suromenggolo. Tetapi disamping

rasa heran, marahlah warok Suromenggolo. Sebab didaerah Ponorogo ini 69 namanya sudah terkenal sebagai orang yang sakti mengapa kini ia tak dapat mengalahkan wanita itu. Segera ia menyerang kembali. Tangan kanannya menyerang kepala sedang tangan kirinya menyerang leher.

Akan tetapi hanya dengan menggeserkan kaki dan melangkah mundur selangkah saja Widati dapat menghindarkan serangan warok Suromenggolo itu. Melihat serangannya gagal cepat warok Suromenggolo kembali menyerang, tapi kali ini mengarah kepala lawan. Kembali Widati menggeser tubuh kesamping dan siap balas menyerang. Sebelum pukulannya dilepaskan cepat-cepat ia tarik kembali sebab serangan Suromenggolo sudah berubah. Tangan kanannya ditekuk untuk menyerang dada sedang tangan kirinya mencengkeram ulu hati.

Cepat-cepat Widati membungkukkan tubuhnya, tangan kirinya menangkis serangan lawan sedang tangan kanannya memukul paha. Melihat gerakan ini terkejutlah warok Suromenggolo. Cepat-cepat ia melompat kesamping sambil mengayunkan kakinya kearah lambung. Pertempuran makin menjadi seru. Lama-kelamaan kelihatan bahwa kepandaian Widati masih lebih dua tingkat kalau dibandingkan dengan kepandaian Suromenggolo. Pertempuran masih berlangsung terus dengan sengitnya. Angin pukulan mereka menyambar-nyambar mencari kelemahan musuh. Kini makin kagumlah warok Suromenggolo akan keuletan lawannya. Biasanya warok Suromenggolo adalah warok yang jarang tandingannya didaerah Ponorogo itu. Sekarang tiba-tiba ia mati kutu menghadapi wanita didaerahnya sendiri. Untuk mengaku kalah ia merasa malu. Tetapi untuk meneruskan ia tak kuat. Maka tiba-tiba timbullah suatu pikiran bahwa ia harus melawan sampai titik darah penghabisan. Matipun ia akan mati sebagai satria. Mendapat pikiran demikian kembalilah semangat Suromenggolo. Lalu diurailah kolornya. Cepat bagaikan kilat kolor itu menyerang pinggang Widati. Tapi dengan mudah Widati dapat menghindarkan diri. Dengan jalan melentingkan diri keatas dan dengan gaya yang manis pula ia mendarat kembali dibumi. Tetapi kolor warok Suromenggolo terus mengejarnya. Karena cepatnya warok Suromenggolo memutar kolornya timbullah sinar putih dari kolor warok Suromenggolo yang tertimpa sinar matahari.

Namun gerakan Widati sangat gesit. Sehingga ia dapat menguasai medan pertempuran........ Syaarrr....... darrr........ meluncurlah kolor warok Suromenggolo meletus diudara. Melihat permainan kolor ini makin senanglah hati Widati. Sebab inti gerakan kolor ini hampir sama dengan gerakan cambuknya. Hanya saja kalau cambuknya dapat menyerang lima tempat yang berlainan dengan sekaligus, sebab cambuknya bercabang lima. Sedang kolor warok Suromenggolo hanya dapat menyerang satu bagian saja. Melihat ia selalu dikurung kolor lawan, maka Widati memperlincah gerakannya.

“Bagus. Memang kau patut memakai gelar warok sebab memang hebat kepandaianmu,” seru Widati. Tetapi gerakan-gerakan Widati bukan main lincahnya hingga kelihatannya ia tidak menginjak tanah. Sekarang ganti 70 Widati yang mengurung lawan, kemana saja gerakan lawan selalu diikutinya.

Tahu kalau gerakannya selalu diikuti makin marahlah hati warok Suromenggolo. Perasaan marah inilah yang membuat pertahanan Suromenggolo menjadi lemah. Memang kalau menuruti nafsu amarah menjadi pantangan bagi orang yang sedang bertempur.

Wess..... kolor Suromenggolo mengarah kelambung. Tapi bersama dengan itu Widati melompat mendekati Suromenggolo dan tangan kanannya digerakkan menotok jalan darah lawan.

“Hemm..... benar-benar hebat kepandaianmu, Suromenggolo,” kata Widati sambil mengusap peluhnya.

“Aduh... aduuuhh... sakit...!” teriak warok Kalakatung.

“Hai, Kalakatung, kalau kau ingin sembuh dari penderitaan maka berjanjilah bahwa kau tak akan memandang rendah kaum wanita lagi. Maukah kau?” tanya Widati.

“Mau... mau... aku berjanji!” seru Kalakatung cepat.

Setelah mendengar kesanggupan Kalakatung itu, maka Widati memberikan sebutir pil yang segera disuruh menelan Kalakatung. Setelah Kalakatung menelan pil pemberian Widati maka hilanglah rasa nyeri dibadannya.

“Terima kasih... terima kasih... Widati, aku sangat kagum atas kepandaianmu!” seru Kalakatung.

“Baiklah,” jawab Widati sambil membebaskan totokan warok Suromenggolo dan warok Singobarong.

“Ah, Widati, selama hidupku aku belum pernah mendapat lawan sehebat kau. Aku Suromenggolo benar-benar mengaku kalah!”

“Betul, akupun demikian,” potong warok Singobarong.

“Nah, setelah kalian saling berkenalan marilah kita masuk dan melanjutkan pembicaraan kita tadi,” kata Tenaya. Setelah mereka masuk kerumah Tenaya maka mulailah mereka melanjutkan pembicaraan yang terpotong tadi.

“Adi Widati, dan kau Retnosari, tentu kalian belum tahu apa pembicaraan kami bukan? Nah, baiklah kuceritakan dahulu kepada kalian. Baru-baru ini didaerah Ponorogo sini keadaannya tidak aman. Tiap malam tentu ada rumah yang kemalingan, bahkan kadang-kadang maling itu makin berani terang-terangan datang untuk mengangkuti barang-barang yang dikehendakinya. Kalau ada yang berani menghalang-halanginya atau melawannya mereka itu membunuh perintangnya. Telah berkali-kali penjaga keamanan desa Ponorogo sini berusaha menangkapnya namun selalu sia-sia saja. Adapun yang menjadi maling itu adalah Secadarma.”

“Apakah paman Singobarong, paman Suromenggolo, dan paman warok Kalakatung, juga tak dapat menangkapnya?” tanya Retno.

“Betul nini, kami pernah berusaha menangkapnya tetapi kepadaian kami belum cukup untuk menandingi kepandaiannya,” jawab warok

Suromenggolo. Mendengar ini warok Singobarong dan warok Kalakatung 71 mengangguk-anggukkan kepalanya tanda membenarkan kata-kata kawannya tadi.

“Ah.... kalau begitu sakti juga warok Secadarma itu,” seru Widati, tertarik.

“Memang adi, tadi kami bermaksud untuk mencari bantuan dari desa lain untuk menangkap warok Secadarma. Tapi kebetulan kau datang kemari. Maukah kau menolong kami uutuk menangkapnya?” tanya Tenaya mengharap.

“Kalau keadaan memang gawat baiklah aku menyanggupi permintaan kalian,” jawab Widati.

“Terima kasih adi, marilah kita beristirahat dahulu.” Setelah itu pergilah mereka ketempat yang sudah disediakan.

*

* *

Musim kemarau sangatlah panjang didaerah Ponorogo. Malam pada musim ini udara sangatlah dinginnya. Embun malam berjatuhan membasahi orang-orang yang lewat. Maka tak heranlah kalau malam ini jarang orang kelihatan keluar rumah. Tiba-tiba dari kepekatan malam muncullah sesosok tubuh yang menggunakan pakaian serba hitam. Bayangan itu lagi menuju kesebuah rumah. Kalau diperhatikan dengan teliti maka tampaklah kalau dibelakang orang yang mengenakan pakaian hitam tadi masih ada manusia lain yang mengikutinya secara diam-diam. Hingga orang yang berpakaian hitam-hitam itu tak tahu kalau sedang diikuti. Kedua orang itu terus lari dengan cepatnya. Seperti tak merasakan dinginnya udara disekitarnya.

Sesampai pada rumah yang dituju berhentilah orang yang berpakaian serba hitam tadi. Sebentar ia melihat kesana-kemari seperti tak mau kalau dilihat orang lain. Melihat orang yang diikuti itu berhenti maka cepatlah ia meloncat kepohon tanjung yang tumbuh didekatnya. Setelah merasa aman maka masuklah orang yang berpakaian serba hitam tadi kerumah itu melalui jendela. Tak lama kemudian terdengarlah suara dari dalam rumah tadi.

“Ampun, kami Secadarma, kami orang miskin janganlah...”

“Diam!” bentak Secadarma. Mendengar bentakan itu makir takutlah pemilik rumah tadi. Dengan cepat lalu Secadarma menyambar tangan korbannya lalu diikat.

“Tolong... tolong...” teriak si pemilik rumah tadi. Plakkk.....

“Apakah kau minta kubunuh?” seru Secadarma dengan garang.

“Maling hina, maling kejam. Secadarma, akulah lawanmu!” Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang mengejutkan baik Secadarma ataupun pemilik rumah itu. Suara itu ternyata adalah suara bayangan yang sejak

tadi mengikuti Secadarma. Dengan cepat Secadarma berpaling kearah 72 suara itu. Tetapi betapa tercengangnya ketika tahu yang menegurnya adalah seorang wanita.

“Siapa kau? Mengapa kau menghalang-halangi maksudku?” bentak warok Secadarma.

“Namaku Widati dan aku paling jijik melihat segala macam maling. Tak terkecuali engkau.”

“Bangsat!” maki Secadarma sambil mengayunkan goloknya kearah Widati. Cepat Widati meloncat kesamping dan dibarengi tendangannya kearah lambung lawan. Secadarma tak menyangka sama sekali. Sudah barang tentu ia tak dapat mengelakkan serangan itu. Ia tersurut kebelakang, tetapi sebentar saja ia sudah dapat menguasai keadaannya. Dan kini Secadarma balik menyerang, tetapi Widati melompat menghampiri pemilik rumah. Dengan mengerahkan tenaga dalamnya ia memutuskan tali yang mengikat tuan rumah. Alangkah terkejutnya Secadarma melihat kejadian itu. Dan lagi ia tak menyangka kalau musuhnya mempunyai kecepatan gerak dan kekuatan yang demikian itu. Sehingga dengan sekali loncat saja ia mampu mencapai jarak beberapa depa darinya. Dan langsung Widati melolos cambuk yang melilit pinggangnya.

“Bangsat... setan kau...!” caci Secadarma kalang-kabut. Sambil berkata demikian ia menusukkan goloknya kearah Widati. Dengan secepat kilat Widati melompat dan berjumpalitan diudara, sambil melecutkan cambuknya. Sehingga melilit golok warok Secadarma. Sudah barang tentu golok Secadarma tak mengenai sasarannya tapi malah Secadarma terseret kearah Widati yang menarik cambuknya. Sebelum tubuh Secadarma mendekat Widati sudah mendorong dengan tangan kirinya. Sehingga tubuh Secadarma jatuh terlentang. Dengan cepat Secadarma berdiri kembali. Untung baginya bahwa Widati tak memukulnya dengan seluruh tenaganya. Andaikata Widati menggunakan seluruh tenaganya tentu warok Secadarma tak dapat bernapas lagi. Memang sengaja Widati mempermainkannya.

Bukankah tujuannya ke Ponorogo ini hanya untuk mencoba kepandaian warok-warok saja? Karena mendengar kalau warok Secadarma adalah warok di Ponorogo sini, maka timbullah keinginan untuk mempermainkannya. Mempunyai pikiran demikian itu maka teruslah Widati mendesak lawan dengan pukulan-pukulannya. Betapapun tangguhnya Secadarma yang berbadan kekar dan dempal itu tetapi menghadapi Widati ia hanya dapat bertahan saja.

Kali ini Secadarma tak dapat mengimbangi serangan lawan. Pukulan Widati terus menghujani Secadarma. Sehingga Secadarma tak mempunyai kesempatan untuk membalasnya. Pengalaman pahit bagi Secadarma. Baru kali ini merasa kecil hati, dan dalam hatinya makin marahlah ia.

“Awas   !” teriak Widati sambil melontarkan cambuknya kearah badan

Secadarma. Secadarma tak dapat mengelak, sehingga didadanya terdapat guratan merah sebanyak lima garis. 73 Terkejutlah Secadarma melihat kejadian ini. Cepat ia meloncat kembali. Memang merupakan suatu pantangan bahwa dalam keadaan belum siap dipergunakan untuk menyerang lawan yang selalu siaga. Maka ketika ia menusukkan goloknya, cepat-cepat Widati melompat kesamping dan memukul tangan Secadarma dengan tenaga yang cukup besar.

Prakkk.... terdengar bunyi pukulan itu. Secadarma berteriak keras. Bersama teriakan itu Widati melompat menghajar dada lawan. Jatuhlah Secadarma dengan muntahkan darah segar dari mulutnya. Secadarma tak sadarkan diri. Cepat Widati menyambar tubuh itu, lalu dibawanya lari menuju rumah Tenaya.

Melihat datangnya Widati buru-buru Tenaya, Retnosari dan ketiga warok itu menyambutnya.

“Adub, adi berhasil menangkapnya. Ah, betapa besar rasa terima kasih rakyat Ponorogo kepadamu,” seru Tenaya kegirangan.

“Nah, kakang, karena musuh sudah tertangkap maka terserahlah pada kalian untuk menghukumnya.” Jawab Widati acuh tak acuh. “Dan kakang, karena fajar telah menyingsing maka ijinkanlah kami melanjutkan perjalanan.” Dengan tak menunggu jawaban cepatlah Widati berkelebat pergi sambil menarik tangan muridnya.

*

*   *

Sekarang marilah kita lihat keadaan di Pulau Nusa Barung, Ditengah- tengah sebuah hutan di Pulau Nusa Barung tampaklah sebuah perkampungan yang menyerupai sebuah benteng. Kalau dilihat sepintas lalu saja maka akan tampak aneh. Masakan ditengah-tengah hutan selebat itu penduduknya mempunyai perabot rumah tangga yang biasanya berada dirumah orang-orang berada. Tetapi bagi orang-orang yang mengetahui asal-usul perkampungan itu segan untuk mendekat. Sebab perkampungan itu adalah sarang dari perampok yang terkenal ganas dan kejam. Mereka adalah gerombolan yang dipimpin oleh Candraloka. Candraloka sendiri menempati sebuah bangunan mewah yang berada ditengah-tengah perkampungan itu. Seperti kita ketahui bahwa dimana saja Candraloka atau anak buahnya muncul tentu terjadi keonaran. Marilah kita lihat rencana apakah yang akan mereka lakukan.

Tampaklah Candraloka dengan dua orang pembantunya bercakap- cakap dengan riangnya.

“Telah lama kita tak keluar. Persediaan kita makin menipis. Daerah manakah lagi yang akan kita datangi, Sang?” tanya Candraloka pada anak buahnya yang bernama Rangsang.

“Kalau menurut pendapatku baiknya kita datangi saja daerah Lamongan. Sebab kulihat penduduknya kaya-kaya. Dan kalau menurut pendapatmu daerah manakah, Bol?” tanya Rangsang kepada kawannya

yang bernama Cebol. 74 “Kalau menurut pendapatku, lebih baik pergi ke Tuban saja, sebab menurut kabar penduduk sana habis panen. Bukankah ini makanan yang empuk?” jawab orang yang dipanggil Cebol tadi.

“Huh, mana mungkin, yang satu mengajak ke Lamongan sedang yang lain mengajak ke Tuban. Yang manakah harus kita datangi lebih dahulu?” tanya Candraloka.

“Kalau soal ini terserah saja kepada kebijaksanaan Ki Lurah,” jawab Rangsang.

“Betul juga kata kakang Rangsang. Mana dulu yang kita datangi terserah kepada kebijaksanaan Ki Lurah. Pokoknya kita dapat berhasil dan selamat, seru Cebol.

Memang begitu baiknya. Sayang Karjoleo dan Wiro sudah mati dan lagi Jalak Item sekarang baru pergi. Tak ada orang yang kusuruh untuk melihat-lihat keadaan bakal korban kita.” Gumam Candraloka.

“Apakah Ki Lurah akan mendiamkan saja kematian kakang Karjoleo dan kakang Wiro?” tanya Cebol tiba-tiba.

“Apa maksud kata-katamu itu, Bol?” tanya Candraloka.

“Maksudku ialah apakah Ki Lurah akan mendiamkan saja pembunuh kakang Karjoleo dan kakang Wiro dengan tiada pembalasan dendam terhadap pembunuhnya?” kata Cebol menjelaskan.

“Apa? Mendiamkan? Huh, justru aku sangat dendam kepadanya. Sebab dia berani membunuh anak buahku. Hal itu sama dengan menghinaku, mengerti?” bentak Candraloka gusar.

“Akupun setuju kalau kita cari pembunuh kakang Karjoleo dan kakang Wiro, sebab mereka itu adalah orang-orang penting dalam perkumpulan kami. Bukankah begitu, Ki Lurah?” kata Rangsang dengan bersemangat.

“Benar, Karjoleo dan Wiro adalah pembantuku yang setia dan dapat dipercaya. Jasanya sudah banyak bagi kita. Maka itu aku sangat berduka mendengar kematian mereka itu,” jawab Candraloka geram campur haru.

Tiba-tiba sehabis Candraloka berkata demikian itu, mereka dikejutkan dengan kedatangan Wrekso yang tangannya buntung sebelah.

“Hai Wrekso, kena apakah tanganmu dan dimanakah Jalak Item?

Bukankah dia pergi bersamamu?” tanya Candraloka bertubi-tubi.

“Betul, Ki Lurah. Kakang-Jalak Item memang pergi bersamaku. Tapi........” Diamlah Wrekso tak dapat meneruskan kata-katanya. Melihat Wrekso tak meneruskan kata-katanya, tak sabarlah Candraloka menanti. Bentaknya :

“Tapi apa? Lekas katakan apa yang terjadi dengan Jalak Item!” seru Candraloka gelisah.

“Kakang Jalak Item sekarang sudah mati,” jawab Wrekso agak takut. “Mati? Jalak Item mati?” teriak Candraloka kaget.

“Betul Ki Lurah. Kakang Jalak Item mati ditangan Joko Seno.” Maka diceritakanlah kejadian yang mereka alami ketika didesa Kepanjen.

“Joko Seno, kembali Joko Seno menghinaku!” desis Candraloka dengan geram bercampur marah. “Hai, kalian Rangsang, Cebol dan kau Wrekso, 75 bersiap-siaplah kalian besok kita berangkat ke Semeru untuk menuntut balas akan kematian ketiga anak buahku itu!” Teriak Candraloka dengan perasaan dendam yang meluap-luap.

“Tapi Ki Lurah, disana ada tua bangka Jatikusumo. Apakah kita sanggup melawannya?” tanya Rangsang.

“Pengecut! Biar ada sepuluh Jatikusumo aku tidak takut! Bukankah jumlah kita lebih banyak?” seu Candraloka.

“Kalau ini memang sudah menjadi kehendek Ki Lurah maka kami hanya menurut saja,”jawab Rangsang.

“Nah, sekarang kalian pulanglah ke rumah kalian dan beritahukan pada teman-teman kalian kalau besok pagi kita berangkat menuju ke Semeru!” perintah Candraloka pada anak buahnya bertiga.

Keesokan harinya berderet-deret barisan kuda meninggalkan perumahan perampok itu dan langsung dibawah pimpinan Candraloka sendiri. Kepergian mereka diiringi sorak-sorai penduduk. Maklumlah bahwa mereka adalah keluarga-keluarga dari perampok-perampok itu.

Derap kaki kuda makin jauh meninggalkan mereka dan hilang ditelan kelebatan hutan. Berhari-hari mereka mengadakan perjalanan untuk mencapai padepokan Semeru. Didaerah-daerah yang mereka lalui mereka selalu membuat kerusuhan. Merampok, memperkosa, membunuh adalah pekerjaan biasa bagi mereka.

Setelah memakan beberapa hari perjalanan maka sampailah mereka didesa Karangrejo dikaki Gunung Semeru. Disinilah mereka mengadakan perkemahan untuk bersiap-siap menggempur padepokan Semeru.

“Sang, cobalah kau selidiki dahulu keadaan padepokan itu sebelum kita datangi!” perintah Candraloka pada Rangsang.

“Baik Ki Lurah, ijinkanlah saya berangkat sekarang juga,” jawab Rangsang sambil minta diri.

Sambil menunggu kedatangan Rangsang mereka mengadakan kerusuhan-kerusuhan didesa Karangrejo.

“Tolooong.... tooolooonggg....!” teriak seorang wanita yang diculik oleh Cebol.

“Ha.... haaa.... makin kau marah makin bertambah manis kau, sayang,” seru Cebol gembira karena dapat menangkap buruannya. “Menurutlah apa kehendakku kalau kau ingin selamat. Kau ingin uang? Atau perhiasan? Tentu akan kukabulkan,” bujuk Cebol kepada wanita yang dapat diculiknya itu.

“Tidak.... tidaaakk.... aku tidak sudi.... lepaskan aku! Awas kau kalau orang-orang sini mengetahui tentu kau akan dicincang!” Seru wanita itu dengan marahnya.

Mendengar ancaman ini tertawalah Cebol. “Ha... ha... haa.... aku tak takut oleh amukan penduduk, anak manis. Sudah, menurutlah saja untuk kujadikan isteriku manis.”

“Aku tidak sudi! Hayo lekaslah kau lepaskan aku. Kau perampok terkutuk....” 76 Plakk... tiba-tiba saja pipi wanita itu ditampar Cebol.

“Coba sekali lagi kau maki aku kalau ingin kusobek mulutmu!” bentak Cebol.

“Bangsat! anjing!”

Plakk tiba-tiba kembali menampar pipi wanita itu. Tapi tak pernah ia

sangka sebelumnya. Sekonyong-konyong terdengarlah teriakan Cebol : “Aduh.... aduh. !”

Plakk.... bukk.... Apakah yang terjadi? Rupanya wanita tadi sudah menjadi nekat. Daripada ia dipukul lebih baik ia membalasnya. Mendapat pikiran demikian ini maka langsunglah ia menggigit tangan Cebol dengan sekuat-kuatnya. Maka terdengarlah teriakan Cebol yang mengaduh kesakitan tadi. Dan karena gigitan itu maka hilanglah rasa sukanya kepada Widati itu. Lalu diayunkanlah tangannya yang satunya untuk memukul wanita yang menggigitnya. Plak.... plok.... plakk.... plok.... hingga wanita tadi mati oleh pukulannya yang bertubi-tubi mengenai tubuhnya tanpa ada perlawanan sedikitpun darinya karena kalah kuat.

Inilah salah satu dari kerusuhan-kerusuhan yang dilakukan gerombolan perampok Candraloka atas penduduk setempat. Dan masih banyak lagi kejahatan-kejahatan lain yang lain lagi coraknya. Tetapi pengarang tak sampai hati untuk menulisnya.

Setelah kurang lebih lima hari maka datanglah Rangsang dari menyelidiki keadaan padepokan Semeru tadi.

“Bagaimana keadaannya, Sang? Dapatkah kita sekarang menuju kesana?” tanya Candraloka tidak sabar lagi.

“Berita baik, Ki Lurah. Kulihat penjagaan disana tak begitu kuat dan kukira penduduk sana tak merasa curiga terhadap kedatangan kita.” Jawab Rangsang.

“Hua... ha... ha... sungguh suatu berita yang menggembirakan. Marilah kita cepat menuju kesana!” Seru Candraloka dengan angkuhnya. Maka berangkatlah mereka menuju ke padepokan Semeru. Tak jarang mereka menganiaya penduduk yang berani menghalang-halangi perjalanannya. Banyak pula kampung-kampung yang mereka bakar.

*

* *

Adapun yang berada dipedepokan Semeru hanyalah Retno Anggarsih bersama lima cantrik Panenbahan  Jatikusumo.  Kemana Panembahan Jatikusumo? Telah kurang lebih satu bulan lamanya Panembahan Jatikusumo turun gunung untuk mencari muridnya yang sedang merantau. “Tuan puteri Anggarsih, hamba akan melaporkan kendaan yang hamba

lihat didesa sekitar.” Seru seorang cantrik.

“Berita apakah itu? Lekaslah katakan,” seru Anggarsih.

“Begini tuan puteri, waktu hamba turun gunung untuk membeli kebutuhan-kebutuhan yang kita perlukan, hamba melihat suatu 77 perkemahan didesa Karangreja. Dan yang berkemah disitu kelihatannya bersenjata lengkap. Menurut penduduk sekitar pekerjaannya hanya membuat kekacauan saja. Bahkan tak jarang mereka mengadakan rajapati.”

“Ah, kurang ajar! Mereka berani main gila ditempat kita. Tuan puteri, ijinkanlah saya pergi untuk mengusirnya!” Seru Gangsiran dengan marah.

“Sabar Gangsiran, marilah kita pikirkan dahulu soal ini. Kalau ada jalan tengah, lebih baik kita ambil jalan damai saja. Ini untuk menghindari pertumpahan darah. Bukankah demikian pesan bapa panembahan?” seru Anggarsih.

“Kami setuju, dan akan patuh menjalankan segala perintah dari tuan puteri.” Sahut mereka serempak.

“Bagus... bagus, memang itulah yang kupinta. Nah, sekarang siaplah kalian sebab sewaktu-waktu kita harus menghadapi mereka. Untukmu Gangsiran kuserahi memimpin kawan-kawanmu,” kata Anggarsih.

“Baik tuan puteri, Gangsiran akan menjunjung tinggi tugas yang tuanku percayakan.”

“Dan bagi kalian Badra, Cocak Rowo, Jenggul dan Jenggil harus taat pada Gangsiran. Sebab Gangsiran telah kupilih sebagai wakilku untuk memimpin kalian dalam pertempuran nanti,” kata Retno Anggarsih.

Tiba-tiba dari luar terdengarlah suara tantangan.

“Hai, orang-orang Semeru, keluarlah jangan bersembunyi seperti tikus! Ayo lekaslah keluar!”

“Tuan puteri, rupanya bangsat itu datang kemari!” desis Cocak Rowo dengan geram.

“Marilah kita sambut, tetapi kalian harus ingat kalau masih ada jalan tengah haruslah kita hindarkan pertumpahan darah,” seru Retno Anggarsih.

Tetapi sesampainya diluar betapa terkejutnya Retno Anggarsih begitu melihat kalau yang datang adalah perampok-perampok dari Nusa Barung. Seketika itu meluaplah dendam Anggarsih yang telah lama terpendam dalam hatinya. Tetapi berkat latihan samadinya lama-lama dapatlah ia menekan rasa dendam itu. Setelah ia berhadapan dengan Candraloka maka bertanyalah ia :

“Candraloka, apakah maksudmu datang kemari.”

“E, kau telah mengenalku? Ketahuilah, aku datang kemari untuk mencari Joko Seno. Hayo, siapakah diantara kalian yang bernama Joko Seno, majulah!” seru Candraloka menantang.

Mendengar jawaban ini berdebarlah hati Retno Anggarsih. Seperti diingatkan, segera ia teringat kepada putra tunggalnya. Ah, mungkinkah Seno telah datang ke Nusa Barung? Pikirnya. Tetapi ia dapat menguasai dirinya.

“Untuk apakah kau mencari Joko Seno?” tanya Aaggarsih.

78 “Untuk apa? Ha.... ha.... ha. untuk kubunuh! Eh, kemana pulakah si tua

bangka Jatikusumo? Takutkah dia melihat kedatanganku?” ejek Candraloka.

“Bunuh?? Takut??” bentak Anggarsih.

“Ya, kubunuh. Mengapa kau terkejut? Siapakah engkau?” bentak Candraloka.

“Hai, Candraloka rampok biadab! Dengarlah baik-baik siapa aku!” “Perempuan cerewet! Buat apa kau jawab panjang lebar, aku hanya

ingin tahu siapa kau, dan siapa mereka itu!” seru Candraloka dengan pandangan mata memandang rendah kepada mereka.

“Namaku Retno Anggarsih, aku adalah ibunya Joko Seno. Mengapa kau ingin membunuh anakku? Dan menantang Panembahan Jatikusumo?” kata Retno Anggarsih.

“Joko Seno telah membunuh tiga orang anak buahku, sedang Jatikusumo adalah guru dari anakmu. Jadi iapun harus dibunuh!” seru Candraloka.

“Soal Joko Seno membunuh tiga orang pembantumu adalah wajar sebab ia akan membunuhmu pula! Ingatlah lebih kurang 18 tahun yang lalu, didesa Ragajampi kau telah membunuh ayah Joko Seno,” jawab Retno Anggarsih.

“Hai, jadi kau adalah orang Ragajampi dulu? Bagus, bagus, dimanakah anakmu? Lekas suruh ia membunuhku!” ejek Candraloka.

“Pengecut! Coba anakmas Joko Seno ada disini, sudah sejak tadi kau dihajar sungsang sambal!” dengus Gangsiran.

“Kurang ajar, siapa kau?” seru Candraloka dengan geram. “Aku Gangsiran, cantrik dari perguruan Semeru!”

“Mampus kau!” bentak Candraloka sambil memukul dada Gangsiran. Tapi biarpun hanya seorang cantrik, Gangsiran pun mendapat pelajaran silat pula dari Panembahan Jatikusumo. Maka dari itu dengan gerakan yang indah ia dapat mematahkan serangan lawan. Tapi tiba-tiba berkelebatlah suatu bayangan melindungi Gangsiran.

“Candraloka, akulah lawanmu!” kata bayangan itu yang ternyata adalah Retno Anggarsih.

“Bagus, bagus, perempuan sombong! Hendak kulihat seberapa kesaktianmu!” kata Candraloka dengan marah. Dan begitu selesai berkata ia sagera menerjang kearah Retno Anggarsih. Begitu ia sampai dimuka Retno Anggarsih lalu menghantam kearah dada Anggarsih. Namun Anggarsih bukanlah makanan empuk bagi Candraloka. Secepat kilat ia menghindar. Dan dengan pukulan yang tak kalah hebatnya ia balas menghatam lambung lawan. Tetapi pukulan Anggarsih dapat dihindarkan Candraloka dengan hanya memiringkan sedikit tubuhnya.

Anggarsih terus menghujani lawannya dengan pukulan yang bertubi- tubi. Walaupun demikian tak sebuah pukulanpun yang mengenai tubuh lawan. Kesemuanya dapat dihindarkan dengan baik oleh Candraloka.

Setiap habis menghindar Candraloka terus langsung mengirimkan 79 serangan balasan. Anggarsih menjadi kualahan juga dibuatnya. Untuk pertama kalinya Retno Anggarsih menggunakan ilmunya untuk bertempur sungguh-sungguh. Maka tak mengherankan kalau Retno Anggarsih tak dapat menandingi Candraloka yang sakti. Sebab ia hanya memperdalam ilmu samadinya. Bukan memperdalam olah kanuragan. Oleh karena itu ia harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan Candraloka. Tapi berkat latihan samadinya itu ia mempunyai tenaga dalam melebihi musuhnya. Inilah yang membuatnya tak mudah dikalahkan oleh musuhnya.

Dilain pihak tampaklah Gangsiran dan kawan-kawannya dikeroyok oleh anak buah perampok Candraloka.

“Ahaa..... mari kawan-kawan kita bereskan tikus-tikus ini!” seru Rangsang sambil melontarkan pukulan kearah Gangsiran dengan gerakan yang cepat sekali. Melihat gerakan pukulan ini terkejutlah kawan-kawan Gangsiran. Tetapi betapa herannya mereka melihat kejadian itu.

Apakah yang terjadi? Ketika Rangsang mengayunkan pukulannya kearah kepala Gangsiran, cepat Gangsiran menghindar kesamping dan kemudian menggait kaki lawannya. Oleh karena Rangsang baru saja mengayunkan pukulan maka konsentrasinya pada kuda-kuda menjadi terganggu, dan begitu kakinya tergait hilanglah keseimbangan tubuhnya, dan terhuyung-huyung. Tapi Rangsang ternyata bukan orang sembarangan. Begitu merasa kesimbangannya terganggu cepat-cepat ia memperbaiki keadaannya. Sehingga dengan demikian ia tak terguling roboh. Dan begitu ia dapat menguasai dirinya cepat-cepat ia meloncat kearah lawan. Tetapi ternyata sudah ada perubahan.

Malanglah bagi Jenggil dan Cocak Rowo waktu ia terheran-heran melihat gerakan Gangsiran tiba-tiba dua batang tombak menusuk pinggang mereka. Dan tewaslah mereka itu sebagai pahlawan padepokan Semeru. Melihat saudaranya tewas maka mengamuklah Jenggul untuk membalaskan kematiannya. Begitupun Badra dan Gangsiran. Walaupun Jenggul dikeroyok tiga orang ia masih dapat melayani dengan baik. Bahkan ia tampak berada diatas angin. Ketiga laki-laki itu belum dapat merobohkannya. Jangankan dapat merobohkan, mendesak saja belum. Amukan Jenggul ini benar-benar membingungkan lawan. Ia bergerak gesit bagaikan seekor kera. Setiap pukulan lawan yang dijatuhkan kepadanya dapat dihindarkan dengan mudah. Bahkan tak jarang mereka saling pukul- pukulan sendiri. Karena kalau salah seorang diantara mereka menjatuhkan pukulan dan kemudian dihindarkan oleh Jenggul, dengan gaya yang manis. Sehingga sipemukul tak dapat menguasai dirinya dan akibatnya pukulannya jatuh pada kawannya yang berada di hadapannya. Oleh karena dipermainkan itu maka sebentar saja ketiga pengeroyok itu sudah kehabisan tenaga.

Hiyaaaatt.... Duk... duk.... duk.... terdengarlah teriakan Jenggul disusul oleh bunyi duk-duk lawan Jenggul menggeletak mandi darah. Sebab dada,

80 lambung dan perut mereka kena hajar oleh pukulan Jenggul. Melihat lawannya sudah tak berkutik, larilah Jenggul membantu Badra.

“Mari kakang Badra, kita habiskan merecka!” Teriak Jenggul. Dengan segera ia memukulkan serangkaian serangan untuk mendesak lawan. Tapi lawan yang dihadapi Badra adalah sebelas orang. Melihat bantuan datang maka kembalilah semangat Badra yang hampir putus asa. Tapi biarpun mereka mengamuk dengan gagah perkasa, melawan sebelas orang yang berkepandaian yang setingkat dengannya repot juga Jenggul dan Badra untuk menghadapi mereka. Sesaat kemudian terdengarlah Badra mengaduh. Sebab lambungnya termakan golok lawan. Setelah mengaduh sebentar maka meclayanglah nyawa Badra meninggalkan badannya.

Kini tinggallah Jenggul sendiri yang harus menghadapi sebelas orang lawan. Melihat teman-temannya banyak yang roboh maka makin diperhebatlah perlawanannya. Melihat ini terkesiaplah hati lawannya. Benar-benar seperti banteng ketaton saja amukan Jenggul ini.

“Hiyaaat.....” terdengarlah teriakan Jenggul dan sehabis itu terdengarlah suara lawannya yang mengaduh.

“.....Aduh..... Tobat..... Mati aku..... Ampun......” teriak lawannya. Ternyata Jenggul telah berhasil mengirimkan keempat nyawa lawannya untuk menghadap Tuhan yang Maha Esa dengan serangannya yang berantai tadi. Melihat ini terkesiaplan lawannya yang lain. Kembali mereka mengurung Jenggul kembali. Pertempuran berjalan makin lama menjadi semakin seru.

“Prakk..... Haah.....” kembali sebuah nyawa melayang akibat pukulan Jenggul. Tapi bersama dengan ini sebuah mata pedang lawan menembus jantung Jenggul dan matilah ia seketika itu juga. Jenggil, Jenggul, Cocak Rowo, dan Badra, telah gugur. Kini tinggallah Retno Anggarsih dan Gangsiran yang melawan dengan mati-matian. Gangsiran harus menghadapi Rangsang dan Cebol. Namun biarpun dikeroyok dua tapi Gangsiran masih memperlihatkan tanda-tanda keunggulannya. Walaupun kedua lawannya ini berusaha untuk mengalahkan Gangsiran tapi usahanya selalu sia-sia saja. Setiap serangan yang dilancarkan kearah Gangsiran selalu dapat dipatahkan dengan mudah. Dengan senjata yang beraneka ragam itu enam orang sisa musuh Jenggul turun mengeroyok Gangsiran. Tapi dengan mudah Gangsiran dapat menghindarkan setiap bacokan dan tusukan lawan. Tiba-tiba Gangsiran mengayunkan kakinya kearah lambung lawan yang kelihatannya lemah dan ...bukk, terlemparlah tubuh yang malang itu dalam keadaan tak bernyawa. Sedang dipihak Anggarsihpun tak kalah serunya. Setelah mereka bertempur ratusan jurus bukannya Anggarsih dapat mendesak lawan bahkan ia semakin terdesak oleh serangan-serangan yang dilancarkan oleh Candraloka. Keringat dingin telah membasahi tubuh Anggarsih. Tapi ia pantang mundur untuk melawan Candraloka. Maka dengan memeras seluruh kepandaiannya ia berusaha menyerang lawannya. Tapi semua ini dapat dihindarkan oleh Candraloka dengan mudah. Lama-lama Candraloka dapat melihat

kelemahan lawannya. Ia kalah tenaga dengan wanita itu maka ia 81 mengambil keputusan untuk mengadu kecepatan gerak saja. Tiba-tiba Candraloka bergerak dengan cepat dan melancarkan sebuah serangan. Melihat pukulan ini terkejutlah Anggarsih. Untuk mengelak tak mungkin. Maka disambutnya pukulan ini dengan pukulan pula. Tapi cepat-cepat Candraloka menarik pukulannya dan mengayunkan tendangannya kearah lambung Anggarsih.

Dukk.... terhuyung-huyunglah tubuh Anggarsih. Tapi rupanya Candraloka tak berhenti sampai disitu saja, cepat ia mengirimkan sebuah pukulan kearah dada. Anggarsih berusaha menghindarinya tapi terlambat. Dukk... dada Retno Anggarsih kena pukul dan melayanglah jiwanya.

“Huah... hah... hah... mampus kau anjing betina!” seru Candraloka dengan angkuhnya. Setelah itu pergilah dia kearah pertempuran Gangsiran.

“Huh... masakan membereskan seekor anjing saja tak mampu, minggir semua! Serahkan saja padaku!” Bentak Candraloka sambil memukul Gangsiran. Cepat Gangsiran melompat kesamping sambil melancarkan serangan balasan. Melihat serangan ini Candraloka menggeserkan tubuhnya kebelakang dan lalu melancarkan sebuah pukulan jarak jauh. Tapi dengan sekali menggenjot kaki melayanglah tubuh Gangsiran diudara dan bebaslah ia dari gempuran lawan. Tapi diam-diam ia merasa terkejut merasakan kesiuran angin pukulan Candraloka yang tajam tadi. Cepat ia menyodokkan tangan kanannya kearah dada Candraloka. Bersama dengan itu Candralokapun telah siap memukulkan tangannya kearah lengan lawan... Prakk... dua lengan beradu akibatnya lengan Gangsiran patah oleh gempuran tenaga lawan. Sebelum sempat Gangsiran memperbaiki kedudukannya sebuah pukulan Candraloka telah menghajar kepalanya.

Prakk   pecahlah kepala Gangsiran. Dan tewaslah seketika itu.

“Ha.... ha.... ha.... mari kita bakar tempat keparat ini.... cepat....!” seru Candraloka.

“Baik Ki Lurah, mari kawan-kawan kita ratakan padepokan Semeru ini dengan tanah!” Teriak Rangsang. Sebentar saja padepokan yang kelihatan tenang dan damai itu berubah menjadi lautan api. Setelah melihat keadaan api yang telah merata maka berserulah Candraloka :

“Mari kita pulang! Biar terkejut nanti Joko Seno dan Jatikusumo kalau datang!” Setelah berkata demikian maka meloncatlah mereka kekuda masing-masing. Dan lama-lama hilanglah mereka dibalik padas dan perkampungan dengan meninggalkan padepokan Semeru yang telah habis musnah terbakar.

Sekarang marilah kita mengikuti perjalanan Arya Cempaka. Setelah ia turun dari gua Melati di gunung Muria, Arya Cempaka tak langsung pulang ke pulau Sempu. Melainkan ia pergi kedaerah selatan. Entah apa yang menarik perhatiannya untuk pergi kesana. Padahal ia baru saja bergebrak dengan Singopati didaerah itu pula.

Tiap hari pekerjaannya hanya mondar-mandir didaerah Secang, Muntilan, Magelang dan Kota Gede. Luka yang dideritanya makin lama 82 menjadi semakin baik. Tiap malam tak lupa ia hnrus berlatih dengan tekun, sebab besok ia harus menghadapi Sancaka di puncak Merbabu. Pada suatu hari tampaklah Arya Cempaka sedang mengagumi patung-patung di candi Prambanan. Tak bosan-bosannya ia melihat satu persatu tiap bentuk patung-patung itu. “Ha.... ha.... ha.... mari kita bakar tempat keparat ini....

cepat !” seru Candraloka.

“Betul-betul pandai orang-orang dulu masakan mereka bisa membuat candi hanya dengan menempel-nempelkan batu gunung saja. Dari semua patung-patung itu yang menarik perhatian Arya Cempaka hanyalah patung dari Trimurti. Sampai lama ia memandangi patung-patung itu. Pertama- tama ia menjumpai patung dewa Brahma. Patung yang menggambarkan suatu keperkasaan. Melihat patung ini kagumlah hati Arya Cempaka kepada dewa Brahma. Yang menurut cerita-cerita orang tua dewa Brahma adalah dewa pencipta alam. Setelah ia puas melihat patung dewa Brahma maka gantilah Arya Cempaka mengagumi patung dewa Wisnu. Patung ini menggambarkan suatu perwatakan yang sabar lagi cerdas. Inilah dewa pemelihara alam. Akhirnya sampailah Arya Cempaka kepada patung yang terakhir dari Trimurti. Patung dewa Syiwa. Patung ini kelihatan angker, wajahnya menunjukkan kekerasan hati. Bentuk-bentuknya pun sangat menakutkan. Inilah dewa yang paling dihormati dan ditakuti serta disembah oleh Arya Cempaka. Sampai lama ia merenungi patung ini. Tiba- tiba matanya melihat suatu keganjilan didalam patung ini. Heranlah ia melihat keanehan ini. Masakan ibu jari kaki dewa Syiwa besar sebelah. Karena herannya itu tanpa sesadarnya Arya Cempaka telah menekan ibu jari yang besar itu. Dan.... krak...... terbukalah suatu gua yang menuju kedalam. Alangkah terkejutnya hati Iblis pencabut nyawa melihat kejadian ini. Tapi berkat ketabahan serta keyakinan pada diri sendiri, maka timbullah keinginannya untuk mengetahui dalamnya. Maka masuklah ia kedalam dan ternyata didalam gua itu ada alat untuk menutupnya kembali. Setelah guanya tertutup kembali, maka makin jauhlah ia memasukinya. Akhirnya sampailah ia disuatu ruangan yang lebar dan disitu ia melihat suatu benda yang memancarkan cahaya. Setelah didekati ternyata benda tadi merupakan sebuah kotak yang berukuran kecil dan terbuat dari batu pualam.

Setelah dibuka alangkah girangnya hati Arya Cempaka. Sebab didalamnya berisi suatu kitab pelajaran silat. Pada halaman pertama tertulislah kata-kata sebagai berikut :

Kepada siapa saja yang menemukan Kitab ini kuijinkan untuk mempelajarinya dan setelah selesai harus cepat keluar dan menuntut balas kepada orang-orang yang namanya tersebut dibawah ini :

1. RANGGA.

2. Seorang wanita yang hernama WIDATI.

3. SANCAKA.

Mereka bertiga ini yang membuat diriku tersiksa didalam gua ini, kalau kau tak sanggup jangan pelajari Kitab ini.

IBLIS MERAH.

Setelah membaca ini ketawalah Arya Cempaka.

“Hua... hah... hah... permintaanmu akan kukabulkan Iblis Merah. Singo Gila, Setan Utara, dan Pengemis Busuk tentu mampus ditanganku!” Seru Arya Cempaka.

Setelah itu mulailah Arya Cempaka mempelajari kitab peninggalan Iblis Merah. Dengan tak mengenal lelah terus ia berlatih mengerjakan apa saja yang tertulis dalam kitab itu. Suatu keuntungan pula bagi Arya Cempaka bahwa Iblis Merah mengajarkan ilmu pukulan Sapujagat yang mengandung hawa beracun, ilmu silat yang bersenjatakan panggada dan ilmu kekebalan yang disebut ilmu kebal Bandung Bandawasa. Setelah

84 mempelajarinya dan melihat hasilnya yang memuaskan itu sangat giranglah hati Iblis Penyabut Nyawa.

“Hua... ha... ha... tercapailah sekarang apa cita-citaku. Untuk menguasai dunia persilatan. Akulah tokoh sakti tanpa tanding.” lamunan Arya Cempaka. Karena girangnya ia menari-nari bagaikan seorang gila.

“Hua... huah... huah... lama betul jalannya waktu! Sudah tak sabar lagi aku menanti datangnya tanggal 15 Anggara Manis bulan Maulud. Lebih baik kutunggu saja mereka disekitar daerah Merbabu,” pikir Arya Cempaka. Tapi tiba-tiba ia mendapatkan pikiran yang lain lagi.

“Ah... lebih baik aku menanti disini saja sambil memasak ilmu-ilmu yang baru saja kupelajari.” Maka mulailah Arya Cempaka memperdalam ilmunya sambil memasakkan ilmunya yang baru saja ia dapatkan. Maka berpuasalah Arya Cempaka selama empat puluh hari dan ia tak boleh makan sembarangan yang terdapat dalam gua itu. Ia harus makan daging ular yang hidup didaerah sekitar Candi Prambanan itu. Tapi herkat ketekunan Arya Cempaka maka bertambahlah kepandaian Arya Cempaka. Sekarang mulailah ia keluar dari guanya. Begitu ia berjumpa dengan manusia maka timbullah keinginannya untuk mencoba pukulannya yang bernama Sapujagat. Setelah ia mengerahkan ajinya Sapujagat maka dilontarkanlah kepada orang yang ditemuinya.

Darrr... akibatnya orang yang kena pukulan Sapujagat tadi terlempar kurang lebih lima meter dan mati dalam keadaan hangus kena racun. Tapi lama-kelamaan tubuh itu berubah menjadi hijau. Inilah berkat dari kemukjijatan bisa ular yang ia makan selama berpuasta. Melihat hasilnya ini amat puaslah hati Arya Cempaka. Maka bersoraklah ia kegirangan bagaikan seorang anak kecil mendapat kembang gula dari ibunya. Lama Arya Cempaka tenggelam dalam kesukaannya. Tetapi setelah sadar larilah ia menuju ke puncak Merbabu. 

*

* *

Marilah kita kembali mengikuti perjalanan Joko Seno. Setelah ia mendapat gemblengan dari Pacar Biru maka terasalah kini perobahan- perobahan pada dirinya. Kini ia dapat lari dengan cepat bagaikan burung yang terbang diangkasa. Joko Seno sekarang bukanlah Joko Seno dua bulan yang lalu. Andaikata dahulu ia bagaikan seekor harimau maka sekarang ia merupakan seekor harimau yang tumbuh sayapnya. Gagah perkasa penuh kayakinan pada diri sendiri. Perjalanannya makin lama makin dekat dengan padepokan Semeru. Setelah memakan beberapa hari perjalanan maka sampailah ia dikaki gunung Semeru.

Tapi makin dekat dengan pondoknya makin berdebarlah hati Joko Seno. Entahlah apa yang selalu menyebabkan hati Joko Seno selalu berdebar-debar. Karena itulah maka dipercepat larinya. Seakan-akan ingin

ia mengetahui apa yang terjadi dipondoknya. Sakitkah ibu? ...Ah tidak... 85 tidak.... ini hanyalah perasaan betapa besarnya rinduku pada ibu. Setelah berpikir demikian agak terhiburlah hati Joko Seno. Tapi setelah sampai betapa terkejutnya dia melihat padepokan Semeru yang telah rata dengan tanah. Ah, perbuatan siapakah ini? pikirnya. Tapi segera ia ingat pada ibunya dan pada eyangnya, maka berteriaklah dia :

“Ibuuu.... Eyanggg.... dimanakah kalian?????”. Tetapi sudah sekian lamanya tak terdengar jawaban dan akhirnya suaranya hilang ditelan kesunyian. Kembali ia berteriak : “Ibu, Eyang, dimanakah engkau?”

Tetapi Joko Seno tak sadar kalau teriakannya itu bagaikan guntur disiang hari. Sampai-sampai penduduk yang tinggal dilereng Semeru tak kuat mendengarnya. Inilah berkat gemblengan dari Pacar Biru sehingga tenaga dalamnya mencapai tingkat yang tinggi. Makin lama makin keras teriakannya. Dan bagaikan orang gila ia lari kesana-kemari mencari ibu dan gurunya.

Dimanakah ibu dan eyang? Mengapakah kejadian ini harus terjadi? Apakah sebabnya? Berbagai pertanyaan timbul didalam benak Joko Seno. Kini terpikirlah suatu pendapat untuk menanyakan pada penduduk sekitar. Setelah mendapat pikiran ini, maka larilah ia kedesa dekat pondok itu.

“Selamat siang pak!” tegur Joko Seno kepada seorang petani yang baru mengerjakan sawahnya.

“Selamat siang, nak! Ada perlukah kau dengan bapa?” tanya petani itu sambil meletakkan cangkulnya.

“Betul bapa! Aku mau menanyakan sedikit tentang kejadian di puncak Semeru. Dapatkah bapa menjelaskan?”

“Eh..... siapakah kau anak muda? Mengapa kau menanyakan peristiwa yang menyedihkan itu?” Kata petani itu.

“Bapa, aku adalah Joko Seno putera dari ibu Anggarsih dan cucu dari Panembahan Jatikusumo. Tiga tahun yang lalu aku turun gunung    ” belum

habis Joko Seno meneruskan kata-katanya sudah dipotong oleh petani itu. “Kau anak mas Joko Seno? Betulkah ini? Aduh ngger, kasihan kau,”

seru petani itu sambil menangis memeluk tubuh Joko Seno.

“Sudah... sudah bapa, katakanlah apa yang terjadi dengan beliau berdua?”

“Ah, angger kuatkanlah hatimu!” Keluh petani itu sambil mengusap air matanya. Setelah itu kembali ia berkata :

“Begini angger, kira-kira setengah bulan yang lalu tempat tinggalmu didatangi serombongan orang berkuda. Entah apa yang mereka bicarakan dengan ibumu. Tahu-tahu mereka mengamuk. Tapi ibumu beserta kelima pembantunya mengadakan perlawanan. Karena amukan ibumu dan pembantu-pembantunya maka banyaklah pihak sana yang tewas. Tapi mana mungkin enam orang harus melawan amukan puluhan lawan yang sakti itu. Akhirnya berhasillah mereka membunuh ibumu dan kelima pembantunya.”

“Apa ibu terbunuh?” tanya Joko Seno kaget.

86 “Betul, ibumu terbunuh!” Mendengar berita ini lemaslah tubuh Joko Seno. Kembali ia teringat masa lalu waktu ia berada didekat ibunya. Tapi sekarang tak mungkin lagi berbuat seperti itu. Ayah mati terbunuh, ibupun mati terbunuh. Tapi manakah eyang Panembahan? Mengapa sejak tadi tak kulihat? Dan bapa petanipun belum menceritakannya? Karena itu maka bertanyalah Joko Seno kepada petani itu.

“Pak, sejak tadi aku belum mendengar cerita tentang panembahan dan pula belum melihatnya, apakah beliau juga ikut terbunuh pula?”

“Oh.... hampir lupa aku menceritakan padamu. Eyangmu Panembahan Jatikusumo telah agak lama turun gunung entah untuk keperluan apa aku tidak tahu!”

“Jadi eyangpun belum tahu akan kejadian ini?”

“Belum angger, sebab kepergian eyangmu lebih dulu daripada kejadian ini.”

“Tahukah bapa siapa yang membunuh ibu serta kelima pembantunya?”

“Tahu dengan pasti sih tidak. Tapi menurut berita yang kudengar mereka itu datang dari Nusa Barung. Dan dibawah pimpinan Candraloka.”

“Apa? Candraloka??” kembali Joko Seno terkejut. “Betul. Sudah tahukah kau dengan Candraloka?”

“Candraloka adalah pembunuh ayahku dan sekarang ibuku pun mati karena keganasan Candraloka, Candraloka.... Candraloka tunggulah

pembalasanku!” teriak Joko Seno, sambil melompat meninggalkan petani itu. Sebentar saja hilanglah bayangan Joko Seno. Ia terus berlari turun gunung dengan membawa hati yang luka. Tujuan yang pertama ingin ia mencari gurunya untuk memberitahukan kepadanya berita kematian ibunya da hancurnya tempat tinggalnya. Berhari-hari Joko Seno lari terus- menerus sampai ia lupa makan, tidur dan mengurusi pakaiannya. Makin lama makin kurus dan pakaiannyapun compang-camping bagaikan orang gila. Pada suatu hari waktu Joko Seno lewat dihutan Pakis ia mendengar suara orang merintih. Cepat ia menuju kearah suara itu. Setelah dekat terdengarlah suara senjata beradu. Ternyata Joko Seno melihat seorang yang berusia setengah umur sedang menghadapi keroyokan delapan orang. Dan didekat situ berbaringlah sesosok tubuh yang merintih-rintih karena kena bacokan golok.

“Paman, siapakah yang bertempur ini?” tanya Joko Seno kepada orang yang merintih tadi. Sejenak orang itu memandang kearah Joko Seno.

“Dia yang dikeroyok itu adikku. Sedang mereka adalah perampok.” Jawabnya singkat. Melihat keadaan yang tak seimbang dan tahu kalau mereka adalah perampok maka tak ragu-ragulah Joko Seno untuk menolong orang yang dikeroyok tadi. Kini setelah ibunya terbunuh oleh penjahat maka hatinyapun makin benci terhadap segala macam penjahat.

“Kawan, mari kubantu untuk menghancurkan perampok-perampok ini!” seru Joko Seno sambil memasuki arena pertempuran. Sehabis berkata

demikian langsunglah ia memukul kepala salah seorang perampok. 87 Akibatnya..... Prakk. Pecahlah kepala perampok malang itu kena pukulan tangan Joko Seno. Joko Seno sendiri terkejut melihat kejadian ini. Tadi ia hanya menggunakan pukulan biasa dan hanya menggunakan seperlima bagian tenaganya saja. Tapi kenapa ia dapat menghancurkan sebuah kepala. Sekarang dicobanyalah ia menggunakan ajinya Bledek Mangampar dan memakai tenaga penuh seteiah itu dipukulkanlah kearah musuh. Dan akibatnya sangat hebat..... Darr..... Prakk..... Bukk..... empat orang yang berada dihadapannya hancur lebur kena angin pukulannya. Melihat kejadian ini maka perampok-perampok yang lainnya segera membuang senjatanya, dan terus berlutut.

“Ampunkan nyawa kami tuan!” seru seorang perampok itu.

“Huh, sekarang kau berlutut. Coba aku tak lewat disini, kau tentu membunuh dua orang kawan ini. Nah, sekarang pergilah dan jangan menjadi perampok lagi. Kalau besok aku tahu bahwa kalian masih merampok, aku tak akan mengampuni jiwa kalian lagi.”

“Terima kasih tuan,” jawab para perampok tadi dengan cepat-cepat mereka pergi meninggalkan Joko Seno.

“Anak muda, kami mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu.

Dan bolehkah kami mengetahui nama besarmu?”

“Terima kasihlah kepada Tuhan. Bahwa Tuhan masih melindungi kalian. Dan tentang namaku aku sendiri lupa,” jawab Joko Seno seenaknya sambil berkelebat pergi.

“Ah kau adalah anak muda yang gagah biar kami mengenangmu sebagai : Pendekar Budiman,” kata orang tua itu dengan masih terlongong- longong.

Setelah Joko Seno meninggalkan desa Pakis maka langsunglah ia meneruskan perantauannya. Disamping kesedihan yang dibawanya ada pula kegembiraan yang terpancar dari hatinya. Ia merasa gembira sebab kemajuan ilmunya yang ia capai. Bukankah ini merupakan suatu bekal untuk membalaskan dendam atas kematian kedua orang tuanya? Disamping kedua perasaan ini ada pula suatu perasaan yang sukar ditinggalkan ialah perasaan...... rindu..... Yah, memang sejak pertemuan pertama dengan Retnosari ia selalu terbayang akan wajahnya. Setiap hari ia selalu merenungi cambuk dari bekas musuhnya dulu. Sekilas ia teringat waktu berkumpul dengan Pandan Kuning, Gagak Rimang dan Wulandari murid-murid dari Jayaningrat.

Betapa bahagianya mereka hidup didekat gurunya yang mereka cintai. Sebab hanyalah pada eyangnya ini ia dapat mencurahkan segala perasaannya. Tapi Joko Seno tak tahu entah gurunya berada dimana. Karena itu perjalanannya ini tak ada arah tujuannya. Semakin lama Joko Seno merantau makin tenarlah nama Pendekar Budiman. Tapi orang tak mengetahuinya siapa nama asli dari Pendekar Budiman itu. Sampai-sampai angkatan tua seperti Panembahan Jatikusumo, Sancaka, Widati, Singopati,

Arya Cempaka dan Jayaningrat sendiri mendengar kabar bahwa didunia persilatan telah muncul tokoh baru yang bergelar Pendekar Budiman. 88 Tapi mereka ini belum pernah menjumpainya sendiri. Berita ini sangatlah menggemparkan dunia persilatan. Bagi orang yang belum pernah berjumpa dengan Pendekar Budiman tentu akan mengira bahwa pemuda ini berwajah cakap dan simpatik. Tapi bagi mereka yang pernah berjumpa akan lain lagi. Sebab Pendekdr Budiman itu berwajah seram dan hampir menyerupai orang gila. Begitulah berita yang tersiar didalam dunia persilatan.

*

* *

Adapun yang berada di gunung Kidul, Singopati sedang bercakap- cakap dengan muridnya.

“Muridku, bagaimanakah hasil latihanmu? Adakah kesukaran- kesukaran dalam mempelajari ilmu-ilmu yang kuturunkan padamu? Kalau ada tanyakanlah sebab hanya kau yang harus mewakiliku untuk menghadapi Widati. Janganlah kau nanti membikin malu gurumu.”

“Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menghadapi bibi Widati. Tentang ilmu yang bapa guru turunkan kepada murid, telah saya latih baik- baik. Tapi untuk memasakkan ilmu-ilmu itu sudilah bapa guru membimbingku.”

“Bagus.... bagus, muridku tak sia-sialah aku membimbingmu selama ini. Barata, pakailah ini Kyai Blarak Sinebet,” kata Singopati sambil memberikan sebilah keris.

“Terimakasih bapa, dan bagaimanakah luka yang bapa derita?”

“Sudah cukup baik! Tetapi belum dapat kugunakan untuk bertempur. Kecuali kalau terpaksa. Tapi kau jangan cemas muridku, besok kita pergi bersama-sama kepuncak Merbabu. Dan sebelum itu kita dapat berlatih dulu untuk persiapanmu menghadapi Widati. Kau tak usah takut menghadapinya sebab kukira tak mungkin ia melukaimu.”

“Baik bapa, segala nasehat bapa guru akan selalu kuingat.”

“Marilah kita berlatih muridku, kulihat kau masih kurang memahami ilmu pukulan Tapak Guntur.”

“Memang guru, murid selalu mendapat kesukaran kalau mempelajari ilmu Tapak Guntur itu.”

Setelah berkata demikian maka keluarlah mereka menuju kehalaman muka. Dan mulailah mereka berlatih. Berkali-kali Barata memukul batu- batu yang menjadi sasarannya. Tapi tiap kali memukul, Barata menjadi kecewa, sebab belum berhasil memecahkan batu itu.

“Pusatkan tenaga dalammu kepusar dan lalu salurkan ketanganmu. Sesudah tanganmu merasa kesemutan, maka pukulkanlah kesasarannya,” kata Singopati memberi nasehat.

“Baik guru,” kata Barata sambil mulai memusatkan tenaganya. Keadaannya menjadi hening. Tiba-tiba terdengarlah..... Darr pukulan

Barata memecahkan batu sebesar anak kambing. 89 “Bagus, ternyata kau telah dapat melakukannya. Tapi pemusatan tenagamu masih kurang. Coba sekali lagi tapi kau harus memusatkan seluruh tenagamu. Nah, pukullah batu ini.” Kembali Barata mencoba ajinya Tapak Guntur, dan hasilnya sangat memuaskan. Batu yang kena hantamannya itu pecah menjadi tiga.

“Bagus, muridku. Nah, marilah kita sekarang melatih ilmu kerismu.” Dengan cepat Barata menghunus Kyai Blarak Sinebet. Dan mulailah ia memainkan ilmu saktinya yang bernama : ‘Wanara Sakti’. Mula-mula lambat tapi makin lama makin cepat dan akhirnya hilanglah tubuhnya ditelan sinar kuning yang keluar dari Kyai Blarak Sinebet. Dan udara sekitarnya berubah menjadi panas. Gerakannya lincah, sebentar menusuk kekiri dan sebentar menusuk kekanan. Lincah gesit bagaikan seekor kera yang meloncat-loncat. Kalau sedang memusatkan tenaga dalamnya ia tenang bagaikan seekor banteng. Tapi kalau sudah mulai menyerang maka gerakannya cepat bagaikan seekor harimau menerkam musuh. Gerakan yang gesit dan tangguh ini lebih hebat lagi kalau dibarengi dengan teriakan aji Senggoro Singo. Teriakan yang dilambari aji Senggoro Singo dapat melemahkan semangat musuh. Melihat gerakan muridnya makin puaslah hati Singopati.

Dia lebih hebat dari pada aku waktu masih muda, desis Singopati. Lama setelah Barata menghabiskan jurus demi jurus, ilmu keris Wanara Sakti itupun habislah. Tapi Barata tak kelihatan lelah. Tata napasnyapun masih teratur rapi.

“Sudah cukup latihan kita hari ini muridku, marilah kita istirahat dahulu. Dan besok pagi kita mulai berangkat menuju ke puncak Merbabu.”

“Besok? Bukankah masih sebulan lagi perjanjian kita?”

“Benar, kita masih mempunyai waktu sebulan lagi, tapi kau harus ingat bahwa keadaanku tak mungkin untuk melakukan perjalanan dengan cepat. Yang penting lagi kau harus mendapat pengalaman dulu.”

“Baik bapa, murid akan selalu menurut apa pendapat bapa.” Setelah itu masuklah mereka kedalam pondok. Barata dan Singopati lalu menyiapkan pakaian-pakaian yang akan mereka bawa besok. Keesokan harinya ketika fajar menyingsing berangkatlah kedua guru dan murid meninggalkan gunung Kidul. Mereka pergi dengan seenaknya sambil melihat-lihat pemandangan alam. Perjalanan yang sangat menyenangkan. Dimana ada pemandangan indah tentu mereka singgah disitu.

“Barata, kau telah sering merantau apakah kau juga sudah mendengar munculnya seorang Pendekar Budiman?”

“Memang nama itu sudah demikian terkenalnya. Tapi murid belum pernah bertemu dengannya.”

“Memang, dia muncul dimana-mana sukar dicari tempat tinggalnya yang tetap. Sedang nama aslinyapun tak ada yang mengetahuinya, dan lagi kabar yang kudengar Pendekar Budiman itu menyerupai seorang gila.”

“Benar bapa, akupun mendengar demikian.” Setelah beberapa hari mereka mengadakan perjalanan maka sampailah Singopati dan muridnya 90 di desa Suluh. Didesa ini mereka melihat kesibukan penduduk yang membangun sebuah panggung ditengah alun-alun. Maka berkatalah Barata kepada salah seorang penduduk :

“Paman, untuk apakah panggung ini?” Mendengar pertanyaan ini heranlah orang yang ditanyai itu.

“Ah, tuan berdua tentu bukan pendudak sini bukan?”

“Betul adi, memang kami orang perantauan,” jawab Singopati.

“Kami membangun panggung ini untuk pertandingan adu kepandaian antara jago dari desa kami dengan para perampok yang selalu membuat kacau desa ini.”

“Mengapa untuk melawan perampok saja harus diatas panggung?” tanya Barata.

“Memang angger, kami sengaja menantang mereka secara satria. Satu lawan satu diatas panggung. Sebab kalau secara keroyokan kami kalah banyak orangnya, maka dari itu kami mengajukan tiga orang jago dan dari pihak sanapun mengajukan tiga orang. Kalau pihak kami dapat memenangkan dua kali pertandingan maka perampok-perampok itu tak boleh mengganggu desa Suluh sini. Tapi kalau yang menang pihaknya maka kami harus membayar sekantong emas.”

“Suatu pertandingan yang menarik tapi tidak adil,” seru Singopati. “Bapa, lebih baik nanti kita bermalam disini saja, supaya dapat

menyaksikan pertandingan ini”.

“Betul, mari kita pergi dulu, nanti malam saja kita kembali kemari.” Setelah mengucapkan terima kasih maka pergilah mereka meninggalkan alun-alun.

Setelah matahari terbenam ramailah penduduk desa Suluh mengerumuni panggung ditengah-tengah alun-alun itu. Dari seluruh penduduk itu rata-rata muka mereka membayangkan rasa cemas. Sedang diatas panggung tampaklah seorang yang berusia pertengahan dan dua orang yang berusia dua puluhan. Inilah Wasesa dan kedua orang muridnya yang bernama Trunalaya dan Sawungrana. Sewaktu mereka asyik bercakap-cakap terdengarlah suara orang ketawa :

“Ha... ha... ha... Wasesa aku datang!” Tiba-tiba berkelabatlah tiga sosok bayangan memasuki panggung.

“Selamat datang Keong Growong!” Seru Wasesa membalas.

“Hai Wasesa, bagaimana syaratnya untuk mengetahui kalau menang?” tanya Keong Growong tak mengacuhkan teguran Wasesa. Tapi cepat Wasesa menjawab pertanyaannya :

“Mudah, mudah, kalau siapa saja yang bertempur turun dari panggung akan dianggap kalah. Atau kalau dapat dibunuh lawan.”

“Bagus-bagus, kami setuju!” potong Keong Growong.

“Nah, marilah kita mulai! Orang yang pertama menjadi jago kami adalah muridku yang bernama Trunalaya.”

“Baik, baik, kau hadapilah Trunalaya itu Jurang Latah!” Seru Keong Growong. Setelah mandapat perintah, majulah mereka untuk saling 91 bergerak. Cepat Jurang Latah memukul dada Trunalaya. Tapi dengan menekuk lutut dan melemparkan tubuh kesamping terhindarlah ia dari pukulan Jurang Latah.

“Bagus, bagus!” seru Jurang Latah sambil menghunus golok. Melihat lawannya memakai senjata maka Trunalayapun mencabut pedangnya.

“Lihat pedang!” seru Trunalaya, sambil menggerakkan pedangnya. Mula-mula digerakkan lambat-lambat tapi makin lama makin cepat dan dahsyat. Pedang Trunalaya menyambar-nyambar kearah leher, ulu hati dan dada. Namun Jurang Latah dapat menghindarkan serangan-serangan itu dengan gerakan yang gesit dan lincah. Bahkan Jurang Latah dapat pula membalas serangan-serangan itu. Sekonyong-konyong berkelebatlah sesosok sinar menyambar kearah Trunalaya. Melihat datangnya serangan ini Trunalaya tak menjadi gentar, dengan cepat ia menggerakkan pedangnya untuk menangkis. Dan.... tang.... golok dan pedang bertemu. Akibatnya kedua-duanya mundur tiga langkah. Tapi dengan cepat Jurang Latah memperbaiki keadaannya dan segera ia menyerang Trunalaya. Diam-diam Trunalaya kagum atas ketangguhan musuhnya. Dengan cepat iapun telah memainkan pedangnya kembali. Kemudian pertandingan telah berlangsung kembali dengan serunya. Keduanya sama-sama tangguh sama-sama kuat. Hingga ratusan jurus masih belum ada tanda-tanda siapa yang menang atau yang kalah, namun lama-lama tampaklah bahwa napas Trunalaya sudah tak teratur lagi. Sedang serangan lawan makin kuat. Gerakan goloknya mantap penuh keyakinan. Sikap Jurang Latah tetap tenang, pertahanannya kokoh. Sama sekali Jurang Latah tak kelihatan lelah atau gugup. Malah lama-lama goloknya mulai dapat mendesak lawannya. Melihat kejadian ini khawatirlah hati Wasesa dan sekalian penduduk, benarlah apa yang mereka khawatirkan sebab tahu-tahu tubuh Trunalaya terlempar keluar panggung oleh tendangan Jurang Latah, melihat jatuhnya Trunalaya ini ketawalah Keong Growong. Tapi ini bagi Wasesa adalah sebaliknya.

“Hush... hah... hah... Wasesa, sekarang siapa lagi yang akan maju? Hayo lekas aku tak sabar lagi!”

“Keong Growong, jangan kau tekebur dulu kami masih mempunyai dua orang jago lagi. Nah, sekarang orang kedua yang akan maju aku seudiri!”

“Kau sendiri? Ha... ha... ha... Sambar Mega, kau layanilah si Wasesa!” Seru Keong Growong. Memang siasat inilah yang dipakai oleh Keong Growong untuk mencapai kemenangan. Ia sengaja mengadu jago nomor satu dari pihaknya diadu dengan jago nomer dua dari pihak lawan, jago nomer dua pihak Keong Growong diadu dengan jago ketiga dari desa Suluh dan yang terlemah dari pihak perampok diadu dengan yang terkuat dari pihak Wasesa. Bukankah dengan demikian ia akan lebih mudah untuk mendapatkan dua buah kemenangan?.

92 “Kalau memang itu kehendakmu, ayo majulah Sambar Mega!” seru Wasesa. Melihat musuhnya adalah Wasesa maka cepatlah Sambar Mega mencabut pedangnya.

“Wasesa, cabutlah senjatamu!”

“Tak usah kau sungkan-sungkan lagi Sambar Mega, pakailah pedangmu dan aku akan melayanimu dengan tangan dan kaki.”

“Bangsat! Manusia sombong!” bentak Sambar Mega sambil membacokkan pedangnya. Wess... angin pukulan pedang itu menyambar kearah kepala Wasesa. Namun dengan mudah dapat dielakkan serangan itu. Melihat serangannya gagal cepat Sambar Mega menyerang lagi dengan dahsyatnya. Pedangnya menusuk kearah dada, leher, perut dan ulu hati tapi dengan gerakan yang lincah Wasesa dapat menghindarkan semua serangan yang dilancarkan oleh Sambar Mega. Melihat gerakan Wasesa yang lincah ini kagumlah hati Sambar Mega. Tapi Sambar Mega tak dapat mengagumi lebih lama lagi sebab tiba-tiba Wasesa memukul dada Sambar Mega. Tapi cepat Sambar Mega meloncat kesamping dan langsung memberikan tusukan kearah ulu hati lawan. Sebelum pedang Sambar Mega menusuk ulu hati, Wasesa sudah melenting keudara dan memberikan sebuah tendangan kilat kearah perut lawan... Hekk.... teriak Sambar Mega sambil memegangi perutnya. Melihat kesempatan baik ini tak disia-siakan oleh Wasesa, cepat ia mengulangi tendangannya kearah dada lawan. Dan tak ampun lagi terlemparlah Sambar Mega keluar gelanggang dalam keadaan pingsan. Melihat kejadian ini bersoraklah para penduduk desa Suluh. Singopati dan Baratapun diam-diam ikut senang melihat kemenangan Wasesa ini.

“Bapa, tidakkah lebih baik kalau kita bantu saja rakyat desa ini untuk mengusir Keong Growong?” tanya Barata kepada gurunya.

“Sabar dulu muridku, nanti kalau kira-kira keadaan jago desa Suluh ini dalam keadaan bahaya barulah kita turun tangan,” jawab Singopati.

“Hah... hah... ha... bagus Wasesa, keadaan kita menjadi satu-satu. Sekarang tinggallah pertandingan kita yang terakhir. Dan yang menentukan kalah atau menangnya pertandingan itu!” Seru Keong Growong. Sekarang barulah tahu Wasesa akan kelicikan lawannya. Kini tinggallah Sawungrana yang harus menghadapi Keong Growong. Wasesa akan maju lagi untuk menghadapi Keong Growong sudah terang tak mungkin. Sebab ia telah maju. Kini tinggallah harapannya pada Sawungrana. Tiba-tiba terdengarlah tantangan Keong Growong :

“Hayo siapakah yang akan melayani aku?”

“Akulah lawanmu, Keong Growong!” seru Sawungrana dengan gagah. Setelah kedua jago saling berhadapan maka segera mencabut pedangnya masing-masing.

“Mulailah Keong Growong!” tantang Sawungrana sambil melintangkan pedangnya kearah dada.

“Bagus, awas pedang!” teriak Keong Growong sambil membuka serangannya. Melihat serangan lawan cepat Sawungrana menggulingkan 93 tubuhnya kebelakang dan langsung membabat kaki lawannya. Tapi Keong Growong adalah kepala perampok yang telah banyak pengalamannya dalam menghadapi berbagai musuh tangguh. Melihat serangan balasan Sawungrana tadi cepat ia melompat keudara dan memberikan serangan balasan kearah leher. Dan... trang.... bunga api berpijar karena benturan dua buah pedang. Terkejutlah hati Sawungrana karena tangannya terasa tergetar dan pedangnya hampir terlepas.

Cepat Sawungrana memperbaiki keadaannya dan langsunglah ia menerjang lawan dengan menusukkan pedangnya kearah lambung. Serangan ini dapat dihindarkan oleh Keong Growong hanya dengan menggeserkan tubuhnya kesamping kiri. Melihat serangannya gagal cepatlah Sawungrana menendangkan kakinya kearah perut. Kembali Keong Growong mengelak dan langsung memberikan serangan balasan berupa tusukan kearah leher. Dengan gerakan yang gesit, cepat Sawungrana menggerakkan pedangnya untuk menangkis tapi tiba-tiba pedang Keong Growong berubah arah penyerangannya. Pedang itu meluncur kearah dada. Repot juga Sawungrana menghindarkan serangan Keong Growong yang datangnya dengan tiba-tiba. Cepat ia melompat kesamping tapi... dukkk... sebuah pukulan tangan kiri Keong Growong bersarang diperutnya. Sewaktu Sawungrana masih terhuyung-huyung cepat Keong Growong mengirimkan sebuah tendangannya kearah lambung.... Huakk... terlempar jatuhlah tubuh Sawungrana dalam keadaan mati.

“Guru, ijinkanlah aku naik panggung untuk menghajar Keong Growong!” seru Barata.

“Baik, tapi hati-hatilah kau menghadapinya,” balas Singopati. Tapi sebelum Barata sempat naik kepanggung berkelabatlah sebuah bayangan naik keatas panggung. Pakaiannya kumal, matanya cekung, rambutnya riap-riapan bagaikan orang gila. Dipinggangnya tergantung sebuah pedang. Kedua matanya tajam mengawasi Keong Growong. Maka dapatlah kita pastikan bahwa didalam hati orang itu tentu mengandung kebencian terhadap Keong Growong. Melihat munculnya orang ini sibuklah para penduduk menduga-duga siapa adanya dia. Singopati dan Baratapun amat terkejut melihat gerakan orang itu.

“Ah, sekali ini tentu Keong Growong akan tertumbuk batu,” seru Singopati.

“Betul bapa, aku hampir tak dapat menangkap bayangannya waktu ia naik keatas panggung tadi,” kata Barata.

“Eh... Barata apakah dia ini Pendekar Budiman? Bukankah dia itu menyerupai orang gila?” tanya Singopati.

“Entahlah bapa, tapi mungkin juga. Sebab bukankah ia s,elalu muncul dimana saja kalau ada kejahatan?”

“Betul, betul, kita nantikan saja perkembangannya,” kata Singopati.

Tiba-tiba terdengarlah bentakan Keong Growong :

“Hai, apakah maksudmu naik diatas panggung ini?” 94 “Lekas kau buntungi lengan kananmu untuk menebus dosa-dosa yang kau perbuat selama ini. Atau aku harus membunuhmu!” jawab pendatang ini dengan nada dingin.

“Gila kau, berani main-main dihadapan Keong Growong! Siapakah kau?”

“Jangan tanya siapa aku, sebab kalau kau tahu, aku takut kalau kau lari meninggalkan panggung ini.”

“Manusia sombong! Majulah hendak kulihat apakah kepandaianmu juga sehebat omonganmu!” bentak Keong Growong sambil menggerakkan pedangnya.

“Jangan menyesal kalau aku terpaksa membunuhmu, Keong Growong!” bentak orang kumal itu sambil melompat kearah lawannya. Melihat serangan ini maka cepatlah Keong Growong menggerakkan pedangnya. Biarpun tubuhnya masih melayang diangkasa tapi ia meremehkan serangan pedang Keong Growong. Cepat in merobah gerakannya    dan    menangkap    pedang    lawan.    Tiba-tiba.....    krakk.....

terdengarlah suara patahnya pedang Keong Growong. Tahu kalau hanya dengan segebrak saja pedangnya dapat dipatahkan maka ciutlah nyali Keong Growong. Dan makin marah pula ia melihat kejadian ini. Segera ia mengayunkan tangannya memukul dada lawan. Tapi rupanya orang itu membiarkan saja dadanya kena pukul. Bukk     aneh, bukan tubuh orang itu

yang terpental melainkan tubuh Keong Growong itu sendiri yang terlempar kebelakang! Namun rupa-rupanya Keong Growong tak mau sudah sampai disitu saja. Cepat ia melontarkan pukulan jarak jauh kedada lawan. Dan akibatnya..... hoeek..... Keong Growong memuntahkan darah segar. Kemudian nyawanya melayang. Melihat kejadian itu bersoraklah para penduduk. Singopatipun tak habis herannya melihat demonstrasi tenaga dalam itu. Tiba-tiba kegaduhan itu berhenti ketika terdengar suara dari bekas lawan Keong Growong tadi : “Wasesa, sekarang terserah kepadamu untuk membereskan sisa anak buah perampok itu!”

“Baik, baik, orang gagah dan siapa kau?”

“Aku tak punya nama. Tapi orang menyebutku sebagai Pendekar Budiman,” jawabnya sambil berkelebat pergi.

Mengetahui bahwa yang menolongnya adalah Pendekar Budiman, makin gemparlah sorak-sorai penduduk desa Suluh. Tapi lain halnya dengan Singopati dan Barata. Cepat ia melesat kearah perginya Pendekar Budiman. Mereka cepat mengejar Pendekar Budiman. Tapi sebentar saja ia telah kehilangan jejak.

“Hebat, hebat! Sungguh luar biasa Pendekar Budiman. Masih muda sudah sehebat itu. Pantas dengan cepat ia dapat menggemparkan dunia persilatan!” Seru Singopati kagum.

“Barata, marilah kita mencari tempat istirahat dulu dan besok kita melanjutkan perjalanan.”

“Baik bapa, murid hanya menurut kehendak bapa.”

95 *

* *

Gunung Merbabu adalah salah satu gunung dari deretan gunung- gunung besar di Jawa Tengah. Pada hari-hari belakangan ini tampaklah gunung Merbabu ramai didaki orang. Kebanyakan mereka itu adalah jago- jago silat. Rupa-rupanya mereka tertarik akan berita yang mengabarkan bahwa Widati tokoh dari utara akan mengadu kepandaian dengan Singopati tokoh dari selatan. Berduyun-duyun mereka mendaki gunung Merbabu supaya tidak ketinggalan untuk melihat pertandingan yang jarang terjadi ini. Adapun pendekar-pendekar yang datang secara sembunyi- sembunyi. Mereka akan muncul tepat pada waktunya. Akhirnya sampailah waktu yang mereka nanti-nantikan yaitu tanggal 15 Anggara Manis di bulan Mulud. Dipuncak Merbabu telah berkumpul tokoh-tokoh dan jago- jago silat dari segala pelosok dunia. Mereka ingin segera menyaksikan pertandingan itu supaya cepat dimulai.

“Hua... ha... ha... ternyata perjanjianku dengan Widati telah menarik orang-orang dunia persilatan.” Seru Singopati sambil menggunakan ajinya yang disebut Senggoro Singo. Akibatnya banyaklah para pengunjung yang pingsan mendengar teriakan ini. Bagi mereka yang tenaga dalamnya cukup kuat segeralah mereka mengerahkannya untuk melindungi isi dadanya.

“Bagus Singopati! Ternyata kau datang juga!” Seru Widati dengan tenang.

“Huah... hah... hah... kalian seperti anak kecil saja masih senang berkelahi. Apakah keuntungan kalian dengan kemenanganmu? Ha... ha... ha... dunia gila... dunia gila... Bukankah begitu orang yang berlagak alim?” seru Sancaka memotong pembicaraan mereka.

“Benar... benar... suatu perbuatan yang tolol, kalau kalian ingin bertempur kenapa tak melawan penjajah saja?” kata Panembahan Jatikusumo.

“Hai rupa-rupanya kita orang tua yang disebut tokoh-tokoh berkumpul disini!” seru Jayaningrat.

“Eh, belum lengkap, manakah Arya Cempaka? Belum kelihatan dia.

Padahal ia dulu janji padaku kalau akan hadir,” kata Sancaka. “Mari Singopati, segera saja kita mulai!” Tantang Widati.

“Sayang, sayang, Widati keadaanku masih terluka oleh Arya Cempaka sehingga aku tak dapat melayanimu. Tapi kau jangan kecewa sebab muridku akan menemanimu. Kalau kau dapat mengalahkannya berarti akupun kalah terhadapmu.”

“Apa? Muridmu?? Setan! Kau akan menghinaku?? Apakah aku tak pantas untuk melayanimu? Jangan sombong kau Rangga, mana sudi aku melawan anak kemarin sore?!”

“Betul, betul, Singopati harus melawan Widati!” Teriakan ini berasal dari sebelah selatan gelanggang. Memang banyak para pendatang yang

96 tujuannya hanya untuk membuat kacau saja. Kebanyakan mereka itu adalah dari golongan hitam.

“Hai mengapa pertemuan yang diadakan tokoh-tokoh sakti ini hanya merupakan pertemuan para pengecut? Dimanakah kegagahan kalian? Ataukah nama-nama besar kalian itu hanya nama kosong belaka?” Teriak Bajul Sengara kepala bajak dari Laut Jawa sambil melesat masuk digelanggang.

“Hayo siapakah yang akan mencoba kesaktianku dulu?” teriak Bajul Sengara dengan sombong.

“Manusia sombong akulah yang akan melayanimu!” Teriak Gagak Rimang maju ke muka.

“Haa..... haa..... haa    anak muda kau mundurlah. Aku menantang kaum

tua. Sebab segan aku menghadapi anak-anak muda. Tapi kalau kau ingin tahu siapa aku, aku adalah Bajul Sengara.” Demi mendengar nama itu terkejutlah hati para pendekar yang hadir disitu. Sebab siapa yang belum mendengar nama besarnya? Kepandaiannya sangat hebat. Dahulu kepandaian Bajul Sengara hanyalah kalah setingkat saja dengan keenam tokoh pada jaman ini. Mendengar nama ini maka bimbanglah Jayaningrat. Akan memanggil muridnya supaya mundur ia malu. Tapi segera ia mencurahkan perhatiannya kegelanggang.

“Bajul Sengara tak usah kau banyak cakap, layanilah aku Gagak Rimang!” teriaknya sambil menerjang kearah lawan. Tetapi agaknya Bajul Sengara telah siap. Dengan cekatan ia menggerakkan kepalanya hingga pukulan Gagak Rimang yang mendatangkan angin yang kuat itu dapat dihindarkan. Melihat hantamannya gagal mencapai sasaran, Gagak Rimang menggeram. Dengan gerakan yang lebih mantap ia menghantam lagi dan kali ini mengarah dada. Diam-diam Jayaningrat puas melihat gerakan muridnya ini. Walaupun tubuhnya tegap besar tapi gerakannya tetap gesit. Kebesaran tubuhnya ini rupanya tak mempengaruhi kebebasannya bergerak. Pukulan yang lebih dahsyat. Tapi dapat pula Bajul Sengara menghindarkannya. Ternyata gerakan Bajul Sengara makin menjadi lincah. Sehingga marahlah Gagak Rimang melihat itu.

Dengan gerakan yang lebih mantap Gagak Rimang menghujani pukulan. yang berdasarkan ilmu Mayang Seto kepada Bajul Sengara. Namun dengan lincah Bajul Sengara dapat menghindari setiap pukulan lawan dengan gerakan yang manis.

Dan tiba-tiba Bajul Sengara berteriak : “Pergi!” seketika itu terlemparlah tubuh Gagak Rimang keluar gelanggang. Cepat Pandan Kuning dan Wulandari menolongnya. Seketika itu masuklah sesosok bayangan memasuki gelanggang arena.

“Bajul Sengara cabutlah senjatamu!” ternyata yang memasuki gelanggang adalah seorang wanita.

“Siapa kau?” tanya Bajul Sengara.

“Aku Woro Podang dari Jepara. Hayo lekas cabut senjatamu!” bentaknya.        97 “Ha... haa... haa... tangan dan kaki adalah senjataku. Kalau kau akan main-main silahkanlah.”

“Awas pedang!” Belum habis Bajul Sengara berkata Woro Podang telah mengayunkan pedangnya. Pedang yang berada ditangannya digerakkan dengan ganas kearah Bajul Sengara. Melihat serangan ini agaknya Woro Podang amat mambenci Bajul Sengara. Memang begitulah. Sebab suaminya dulu mati terbunuh oleh Bajak Laut itu. Serangan-serangan Woro Podang ini sangat kacau sebab ia terpengaruh oleh perasaannya yang ingin segera membunuh lawannya. Gerakannya sangat membabi-buta. Apabila ia mau sedikit saja menggunakan siasat mungkin tak mudahlah bagi Bajul Sengara mempermainkannya. Sehingga hal ini membuat marahnya hati pendekar wanita dari Jepara ini. Ia marah sekali. Pedangnya ditusuk-tusukkan dengan cepat. Sehingga merupakan segulungan sinar saja. Tapi semakin cepat Woro Podang menyerang semakin cepat pula Bayu Sengara menghindar.

Disaat orang sedang terpaku oleh gerakan Woro Podang itu tiba-tiba terdengarlah teriak Bajul Sengara. “Roboh!” dan bersama itu jatuhlah tubuh Woro Podang. Dadanya kena pukulan jarak jauh dari Bajul Sengara.

“Hayo siapa lagi yang akan melayaniku?” tantang Bajul Sengara dengan angkuh. Bagi angkatan tua kalau akan maju merasa malu. Tak berapa lama masuklah seorang pemuda memasuki gelanggang.

“Akulah yang akan mencoba melawanmu, Bajul Sengara!”

“Keluarlah kau anak muda, sudah bosan aku menghadapi sebangsamu!”

“Huh, sombong kau! Terimalah pukulan Wisata dari daerah Mantingan!”

“Oh, rupanya kau juga ingin main-main denganku Wisata?” kata Bajul Sengara sambil mengelakkan pukulan lawan. Melihat ketangguhan lawan, segera Wisata menghunus kerisnya. Lalu menusukkan kerisnya kearah pinggang Bajul Sengara. Namun dengan gerakan yang cepat Bajul Sengara menghindar kesamping lalu melancarkan serangan balasan. Sekali memukul terbitlah angin yang kuat. Ketika tahu kalau tusukannya gagal maka Wisata cepat menarik serangannya.

Dan ketika pukulan Bajul Sengara datang ia lalu menusukkan kerisnya kearah tangan lawan. Tapi Bajul Sengara tak kurang waspada. Melihat bahaya mengancam tangannya ia cepat menarik kepalanya. Sebentar kemudian terjadilah suatu pertempuran yang seru. Wisata terus-menerus menusuk-nusukkan kerisnya kearah yang mematikan. Sedang Bajul Sengara tak kalah cepatnya untuk mengirimkan serangan balasan.