Pendekar Darah Pajajaran Jilid 5 (Tamat)

Jilid 5 (Tamat)

B A G I A N I

— Kita harus dapat bertahan sampai petang nanti, dan Belum juga ia dapat

mengakhiri bicaranya, tiba-tiba pasukan musuh yang mengurung dari sebelah utara menjadi berantakan bercerai berai. Suara ringkikan kuda dan jeritan-jeritan ngeri susul-menyusul bercampur - aduk dengan suara beradunya senjata serta derap langkah kuda yang tengah menyerbu dan tak ada hentinya.

Debu disebelah utara mengepul lebih dahsyat hingga gelapnya pandangan. Ratusan tamtama lawan jatuh bergelimpangan ditanah dengan mandi darah. Dan kini suasana menjadi semakin gaduh.

Ternyata induk pasukan dari Kerajaan Negeri Tanah Melayu yang dipimpin oleh Senapati Manggala Yudha yang bergelar Bintang Minang, telah tiba pada saat pasukan Yoga Kumala hampir putus asa. Dibawah pimpinan Bintang Minang, pasukan itu langsung menyerang musuh dari lambung kanan, hingga lawan kocar-kacir dibuatnya.

Dari balik semak-semak belukar di dataran tebing sungai Tungkal, pasukan Bintang Minang langsung menyerbu lawan secara bergelombang yang tak ada putusnya, dengan diiringi sorak sorai yang gemuruh memekakkan telinga. Sesungguhnya jumlah kekuatan pasukan penyerang seluruhnya dari Kerajaan Negeri Tanah Melayu itu, walaupun berserta induk pasukan masih juga tak seimbang jika di- bandingkan kekuatan lawan.

Akan tetapi karena penyerbuan yang dilancarkan oleh Bintang Minang itu secara tiba-tiba dan tak diduganya sama sekali oleh fihak lawan, maka tak heranlah apabila lawan menjadi berantakan dan terpaksa menderita banyak korban. Lagi pula siasat menyerang dengan secara bergelombang itu, membuat musuh sukar untuk mengetahui dengan pasti akan kekuatan penyerang yang sebenarnya.

Banyak diantara para perwira tamtama lawan mengira, bahwa kini merekalah yang terkurung oleh pasukan penyerang yang amat kuat.

Dan hampir sepertiga bagian dari kekuatan lawan berebut ducung lari meninggalkan medan pertempuran menuju kearah timur.

Sebaliknya pasukan Yoga Kumala yang tadinya hampir putus asa, kini semangat tempurnya menjadi menyala-nyala kembali. Daya kekuatan para tamtama yang hampir lenyap, menjadi pulih seketika, bagaikan rumput tersiram oleh embun pagi.

Dengan bersorak sorai gegap gempita, mereka bertempur dengan semangat yang menyala- nyala. Dan harapan kemenangan difihaknya telah membayang kembali.

Musuh yang tak sempat menghindarkan diri dari amukan para tamtama, tak ayal lagi roboh terguling dengan tak bernyawa. Dan korban peperangan yang dahsyat itu, kini bertambah lebih banyak lagi.

Kini pasukan dari Kerajaan Negeri Tanah Melayu berganti menguasai medan pertempuran.

— Tumenggung Yoga !! Mundurlah beserta pasukanmu yang telah lebih itu, dan biarlah aku yang mengganti kedudukanmu ! — Seru Bintang Minang pada Yoga Kumala.

— Gustiku Bintang tak usah kuatir akan diri saya— jawabnya singkat. — Kedatangan Gustiku telah memulihkan tenaga kekuatan kami semua katanya sambil masih terus bertempur.

Akan tetapi kejadian yang nampaknya menguntungkan itu, kiranya tak berlangsung lama sebagaimana dikehendaki oleh pasukan penyerang. Karena tiba2 saja, suara Senapati Sanggahan Alam menggema lantang bagaikan guntur disiang hari — Haiiii ! Seluruh tamtamaku dari kerajaan Sriwijaya !! Atas nama Sri Baginda Maharaja kuperintahkan, tumpaslah musuh kita !!! Kekuatan kita masih jauh lebih besar dari pada kekuatan mereka ! Ikutilah aku !—

Berseru demikian Sanggahan Alam meloncat turun dari punggung gajahnya dan langsung jatuh terduduk diatas pelana kuda tunggangannya yang telah berada di-tengah-tengah para pengawalnya.

Perisai baja ditangan kirinya dilempar jauh-diauh, dan dengan pedang pusakanya yang telah terhunus ditangan kanan ia mulai mengamuk ditengah-tengah kancah pertempuran. Kudanya yang tinggi besar berulaskan hitam kemerah-merahan itu seakan2 telah sehati dengan tuannya.

Ternyata Sanggahan Alam sebagai seorang Senapati Manggala Yudha memiliki kesaktian yang amat tangguh. Gerakan nya sangat tangkas, dan pedang pusakanya berkelebatan bagaikan kupu2 yang tengah menari.

Pusakanya yang telah bercerai-berai, kini merapat bersatu kembali dan bertempur dengan gigihnya, mengikuti jejak pimpinannya. Kiranya Sanggahan Alam yang telah berpengalaman luas itu tak mudah menyerah dengan hanya diperdayai oleh siasat yang demikian.

— Ha ha hahaaa …… ha ha ha ….. haaaaa ……! Tumenggung Yoga Kumala ! ! Aku Sanggahan Alam tak mungkin dapat kau tipu secara permainan anak2 ! — Serunya lantang sambil memacu kudanya ke arah Yoga Kumala.

Suara tawanya yang terbahak bahak terdengar menyeramkan. Jelas bahwa pemusatan tenaga dalamnya mengiringi gelak tawanya yang menggema itu.

Akan tempi sewaktu Yoga Kumala siaga hendak menyambut datangnya Sanggahan Alam, tiba2 Bintang Minang telah melintang dihadapannya, sambil berseru. Mundur !II Dan serahkan priyagung musuh padaku !—

Sesaat kemudian dua orang Senapati Manggala Yudha itu telah bertempur dengan sengitnya.

Dikala itu, matahari telah mulai memasuki garis cakrawala disebelah barat, dan kini tinggal nampak separo saja. Pancaran sinarnya yang merah lembajung menghiasi seluruh alam. Dan perlahan- lahan haripun menjadi gelap remang2.

Tiba2 kuda tunggangan Bintang Minang melompat tinggi melampaui ber-puluh2 tamtama yang mengurungnya dan lari kencang meninggalkan gelanggang pertempuran dengan diikuti oleh Yoga Kumala, Sontani, Braja Semandang berserta seluruh pasukannya yang masih ada, menuju ke Barat.

Dan hanya suara Bintang Minanglah yang terdengar sayup-sayup dari kejauhan : — Sanggahan Alam! Lain waktu dihari yang cerah kita tentu dapat bertemu kembali '!!—.

Kini pertempuran yang belum berakhir, berhenti dengan sendirinya.

Kedua pasukan yang bermusuhan, masing-masing mening-galkan gelanggang memenuhi perintah pimpinannya.

Bintang Minang dan Yoga Kumala, berserta seluruh pasukan menuju ke arah barat, sedangkan Sanggahan Alam mundur ke arah Timur dengan diikuti oleh segenap pasukannya.

Dilembah hutan utara sungai Batangharileka dan Sungai Lawas itulah pasukan Kerajaan Negeri Tanah Melayu Pagar Ruyung kemudian membangun kubu-kubu darurat untuk beristirahat serta hendak mengatur siasat selanjutnya.

— Bagaimana pendapatmu tentang kelanjutan peperangan ini, Tumenggung Yoga Kumala ? Bintang Minang membuka percakapan sambil meneguk minumannya setelah ia berada dalam kemah.

— Gustiku Bintang Minang tentunya lebih mengetahui tentang hal ini, dan saya akan tetap patuh menjunjung titah-titah Gustiku ? — jawab Yoga Kumala singkat.

— Kegagalan ….!!! Kegagalan yang membawa banyak korban ! — Geramnya Bintang Minang pada diri sendiri. —

— Aneh !! Mengapa kita harus mengalami kegagalan yang sedemikian rupa …… !!!

Wajahnya muram dan keningnya berkerut. Ia memandang tajam-tajam lurus kedepan sambil meremas-remas batu yang berada dalam genggaman tangan kirinya hingga hancur mendebu. Mulutnya terkatub rapat kembali dengan giginya berkerot gemertakan. Seakan-akan ia lupa bahwa dihadapannya terdapat banyak perwira tamtama yang sedang duduk menghadap.

Namun satupun diantara para perwira tamtama itu tak ada yang berani mengucapkan sepatah kata. Semuanya duduk dengan kepala tertunduk.

Yoga Kumala dan Sontani pun menjadi terdiam pula. Mereka tahu, bahwa Bintang Minang panglimanya sedang murka.

Marah karena mengalami kegagalan dalam melakukan serangannya. Kemarahan yang tercampur dengan rasa penyesalan serta kesedihan yang tak terhingga. Marah, karena siasat yang telah diperhitungkan berbulan-bulan dengan cermat, tiba-tiba hancur berantakan dalam waktu satu hari saja. Dan sedih, karena banyaknya tamtama yang setia terpaksa gugur dimedan laga, dan belum lagi terhitung banyaknya tamtama yang luka2.

Suatu kegagalan yang tak diduga-duga sama sekali.

Dan yang paling mengesalkan ialah, tak diketahuinya sebab-musabab dari kegagalan siasatnya

itu.

Seandainya saja bukan Yoga Kumala yang memimpin pasukan penyerang pertama, mungkin

akan mengalami kehancuran seluruhnya, pikirnya. Dan diam-diam ia memuji pula dalam hati akan keshaktian serta sifat-sifat ksatriaan Yoga Kumala.

Semula Bintang Minang mengharap akan mengetahui sebab musabab kegagalan serangannya dari Yoga Kumala, akan tetapi ternyata Yoga Kumala sendiri tak mengetahui sama sekali akan latar belakang dari kegagalan serangannya itu.

Tetapi ini semua telah terjadi. Dan ia sebagai manusia biasa tak kuasa akan merobah sesuatu yang telah terjadi,

Sampai disini pikirannya yang keruh perlahan-lahan menjadi tenang kembali.

Ia masih harus berterima kasih pada Dewata Yang Maha Agung, bahwa hari tadi tak mengalami kehancuran seluruhnya.

*

* *

B A G I A N II

SUASANA yang sunyi diliputi rasa tegang itu berlangsung agak lama. Minuman panas yang berada dihadapan para Perwira tamtama hingga dingin tak ada yang berani menyentuhnya . . . . . .

Waktu telah tengah malam, namun tak seorangpun berani bergeser dari tempat duduknya masing-masing.

Semuanya masih diam tertunduk bagaikan patung. Semua segera merasa lapang, setelah Bintang Minang tiba-tiba bangkit berdiri dan melangkah keluar dari perkemahannya, sambil berkata.

— Sudah !! Silahkan semua mengaso !! Esok pagi-pagi kita bicarakan lagi ! — dan kemudian : — Tumenggung Yoga Kumala dan Sontani ! Ikutilah aku. Ada sesuatu yang hendak kubicarakan dengan kalian berdua !—

Tanpa menjawab sepatah kata, Yoga Kumala dan Sontani segera bangkit berdiri serta mengikuti langkah Bintang Minang.

Dengan langkah yang berat serta perlahan-perlahan Bintang Minang dengan diikuti oleh Yoga Kumala dan Sontani, mendaki tanggul tebing kali Sungai Batangharileka yang tak jauh letaknya dari tempat perkemahan mereka.

Setelah dirasakan aman tempat sekitarnya, mereka bertiga segera duduk diatas sebuah batu besar yang rata permukaannya.

Terasalah hawa udara diluar dalam gelap malam yang remang remang itu, amat sejuk dan menyegarkan badan. Langit biru membentang bersih dan bintang-bintang diangkasa memancarkan cahaya yang gemerlapan.

Dengan suara perlahan dan tenang, Bintang Minang mulai membuka percakapan.

— Apakah Tumenggung Yoga Kumala atau Panewu Sontani dapat memperkirakan akan sebab musabab dari kegagalan serangan kita ? Dan bagaimanakah nasib pasukan Kobar serta pasukan Damar Kerinci yang bersama-sama menyerang dari Timur dan Selatan, menurut dugaan kalian?— tanyanya.

Mendengar pertanyaan Bintang Minang, Sontani diam tertunduk Sesaat ia memandang pada wajah Yoga Kumala, dan setelah itu ia menundukkan kembali mukanya. la sendiri tak tahu, bagaimana ia harus menjawabnya.

Dan kiranya Yoga Kumala cepat menangkap akan isi hati Sontani. Bahwa untuk menjawab pertanyaan Bintang Minang diserahkan padanya.

— Pertanyaan Gustiku sesungguhnya saya sendiri tak dapat menjawab. Akan tetapi keanehan yang telah saya alami tadi, sewaktu Gustiku belum tiba dimedan pertempuran, mungkin erat sekali hubungannya dengan pertanyaan Gustiku. — Jawab Yoga Kumala sambil menatap wajah Bintang Minang sejenak.

— Coba jelaskan ! Apa yang kau maksudkan dengan pengalaman yang aneh itu?— Desak Bintang Minang.

— Bukankah itu suatu keanehan, apabila Sanggahan Alam telah mengenal nama saya dengan jelas, sebelum saya memperkenalkan? Sedangkan Gustiku Bintang Minang mengetahui sendiri, bahwa saya baru pertama kali ini menginjakkan kaki di bumi Kerajaan Sriwijaya.—

— Benarkah, apa yang kau katakan itu ? — Bintang Minang memotong, seakan - akan ia belum percaya pada kata2 Yoga Kumala.

— Benar, Gusti. Dan karena itulah saya sangat merasa heran Menurut dugaan saya,

tentulah ada orang kita yang membocorkan. Hanya saja, siapa orangnya, saya sendiri belum dapat menebak.

Dan kini ketiga-tiganya menjadi terdiam sejenak. Mereka saling pandang dengan diliputi sebuah teka-teki dalam hati masing masing.

— Jika demikian, tentulah ada pengkhianat yang berselimut dalam pasukan kita sendiri!— Tiba- tiba Bintang Minang memecah kesunyian, sambil mengepal2 tinjunya.

— Mudah-mudahan saja pasukan Damar Kerinci tak mengalami kehancuran karena pengkhianatan ini!— desisnya.

— Yaaaaa sayapun berharap demikian. Gusti!— Sahut Yoga Kumala.

— Dugaanmu tepat. Dan sama dengan apa yang yang ku perkirakan. Sesungguhnya sejak aku melihat melintasnya panah api pada hari kemaren malam, akupun telah curiga. Perobahan waktu yang tiba-tiba, tentunya tak mungkin terjadi apabila tak ada sesuatu kejadian diluar perhitungan kita

Dan pada malam itu akupun telah mengirim beberapa tamtama narasandi sebagai penghubung yang dipimpin oleh Lurah tamtama Jala Mantra untuk menemui Tumenggung Anom Kobar, guna menanyakan hal itu. Akan tetapi hingga sekarang mereka yang kuutus itupun belum juga kembali. Maka kini menjadi sulitlah bagiku untuk menentukan sikap selanjutnya. —

Percakapan menjadi terhenti kembali, dan suasananya sunyi senyap tertelan oleh sepinya

malam.

— Sssssssstt ada suara derap langkah kuda yang menuju kemari dari arah Timur, jauh

diseberang sungai. Gusti ! —

Yoga Kumala tiba-tiba berkata perlahan setengah berbisik sambil menempelkan jari telunjuknya pada bibir mulutnya, sebagai isyarat agar semua berlaku waspada.

Dan kini pandang mata ke-tiga2nya mengarah ke Timur, menyusupi jauh di gelap malam yang

sepi itu.

— Ach aku tak mendengar apa-apa selain suara mengalirnya air sungai ini. Dan tak

melihat sama sekali adanya kuda mendatang dari kejauhan pikir Sontani. mungkin Gusti Yoga terlalu letih dan ingatannya masih terpengaruh oleh pertempuran yang belum lama berselang.- — Sungguh tajam pendengaranmu. Tumenggung Yoga! Tetapi jika tak salah hanya seekor kudalah yang tengah mendatang ini ! — Bintang Minang menyahut. Mendengar percakapan dua orang ini Sontani menjadi semakin heran

Telinganya dipasang lebar-lebar dan sepasang matanya memandang tajam tajam jauh kearah timur, namun belum juga ia dapat menangkap suara yang dimaksud. Pun tak melihat adanya benda yang bergerak mencurigakan di kejauhan.

— Ijinkanlah saya sendiri yang menyambutnya dari seberang sungai dibalik semak-semak itu, Gusti !— Yoga Kumala berkata kemudian, dan berkelebat bagaikan bayangan meninggalkan Bintang Minang dan Sontani.

Bersamaan dengan menghilangnya Yoga Kumala di gelap malam, kini nampak remang2 di kejauhan sebuah titik hitam yang bergerak mendekat. Dan semakin lama, makin jelaslah bahwa yang tengah meluncur mendatang itu adalah seekor kuda berserta penunggangnya yang duduk tertelungkup diatas pelana.

Bintang Minang dan Sontani segera sembunyi dibalik batu besar itu, sambil mengawasi dengan hati berdebar2.

Sementara itu, Yoga Kumala telah berada diseberang sungai, siap untuk menyambut datangnya orang yang tidak dikenal itu.

Larinya kuda amat kencang, dan jarak antara Yoga Kumala dengannya semakin dekat. Kini tinggal kira2 seratus langkah lagi, tetapi kuda itu masih saja berlari dengan amat kencangnya kearah dimana Yoga Kumala sembunyi.

Jarak kini tinggal lima puluh langkah . . . . . . tigapuluh langkah . . . . . . dua puluh langkah  . . . . .

dan kini hanya tinggal sepuluh langkah lagi . . . . .

Bintang Minang dan Sontani yang mengikuti dari kejauhan menjadi cemas. Detak jantungnya semakin berdebar-debar diliputi oleh rasa was-was. Mengapa Yoga Kumala masih saja sembunyi dan tak mau mendahului menyerang dengan lemparan pisau ataupun sabetan pedangnya ?I— pikir mereka.

Tiba-tiba . . . . . . . bbbrrruuuuukkk !! . . . .

Sebelum Bintang Minang dan Sontani mengetahui dengan jelas, kuda telah roboh terguling ditanah dengan suara ringkikan yang tertahan pendek. Sedangkan penunggangnya jatuh terpental dan telah berada dalam pelukan tangan Yoga Kumala.

Ternyata sewaktu kuda hanya tinggal lima langkah lagi jaraknya, Yoga Kumala melompat keluar dari tempat persembunyiannya. Ia langsung menerjang kuda yang sedang lari dengan kencang kearahnya.

Jari-jari tangan kirinya mengembang tegang, dan menyerang dengan totokan kearah urat nadi paha kaki kanan depan si kuda, sedangkan telapak tangan kanannya digunakan untuk memukul rahang kuda dengan gerakan pukulan dari bawah serong ke atas.

Tak ayal lagi, kuda jatuh terperosok untuk kemudian berguling ditanah dengan kepala yang

terkilir.

Dan secepat itu pula, ia menubruk si penunggang kuda yang jatuh terpental kira2 tiga langkah darinya.

Akan tetapi, betapa terkejutnya setelah mengetahui bahwa orang itu tak bergerak dan ternyata ada sebatang anak panah yang tertancap dipunggungnya.

Sebagai seorang yang pernah mempelajari ilmu usadha, Yoga Kumala segera tahu, bahwa orang itu tentu telah lama tak sadarkan diri karena luka yang dideritanya sangat parah dan membahayakan jiwanya. Sipenunggang kuda yang masih tak sadarkan diri itu segera diangkat dan didukung diatas pundak kirinya, untuk kemudian dibawa kembali menyeberangi sungai yang tak seberapa lebar itu. Dengan sekali tendang, kuda yang berguling ditanah tadi telah habis riwayatnya, sewaktu Yoga Kumala hendak kembali menyeberangi sungai.

Sontani segera keluar dari tempat persembunyian atas perintah Bintang Minang, untuk menyambut kedatangan Yoga Kumala yang kelihatan mendukung seorang diatas pundaknya.

— Musuhkah orang itu, Gusti Yoga? — tanya Sontani dengan tergopoh-gopoh.

— Menilik pakaiannya, ku rasa bukan! — jawab Yoga Kumala sambil berjalan mendekat. — Mari kita periksa di-tempat yang terang! Ia luka parah terkena anak panah beracun dan tak sadarkan diri, — Sambungnya.

— Kita periksa didalam kemahku saja! — perintah Bintang Minang kemudian, serta berjalan mendahului.

Dengan pelahan-lahan orang itu diletakkan ditempat pembaringan dengan badan tengkurep, karena anak panah yang tertancap dipunggungnya belum dicabut oleh Yoga Kumala.

Sesaat ketiga-tiganya terperanjat, dan bahkan Sontani hampir-hampir menjerit setelah mengetahui, bahwa orang yang terluka parah itu adalah lurah tamtama Jaka Gumarang adanya.

Setelah air panas dan ramuan obat-obatan disiapkan, Yoga. Kumala segera mencabut anak panah yang menancap dipunggung Gumarang itu, dan suara rintihan pendek terdengar keluar dari mulutnya.

Lukanya amat dalam dan disekitarnya telah menghitam, karena mata tajamnya anak panah itu ternyata beracun sebagaimana diduga oleh Yoga.

Setelah diurut nadi jalan darahnya dan kemudian dihisap dengan mulut oleh Yoga Kumala darah hitam mulai mengucur keluar dari tempat luka dipunggung Jaka Gumarang. Obat luka yang telah tersedia segera ditaburkan, dan kemudian ia dibaringkan terlentang.

Akan tetapi Jaka Gumarang masih juga belum sadarkan diri. Raut mukanya pucat pasi dengan sepasang telapuk matanya yang setengah tertutup.

Mulutnya terkatub rapat dan ludahnya telah keluar membusa bercampur darah.

Nafasnya tersengal-sengal tak teratur serta terdengar amat lemah sekali. Telapak kakinya telah pula mulai dingin membeku, sedangkan kedua belah tangannya terkulai lemah.

Melihat keadaan Jaka Gumarang demikian itu, Yoga Kumala menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

— Apakah ia masih dapat ditolong? Bintang Minang bertanya tak sabar, sambil berjongkok disampingnya.

— Saya akan berusaha sebanyak mungkin, Gusti. Akan tetapi sayaa kira pertolongan ini telah terlambat. Racun anak panah merangsang memasuki semua jalan darah dalam tubuhnya. Yaaaaaahhh . .

. . . . samoga Dewata Yang Maha Agung memberi ampunan serta kekuatan padanya. — Yoga Kumala menjawab perlahan, sambil membuka kancing baju serta ikat pinggang Jaka Gumarang. Sejenak Yoga Kumala duduk bersila dengan menyilangkan kedua tangan diatas dadanya untuk bersemadi guna mengumpulkan dan memusatkan seluruh tenaga dalamnya.

Setelah itu ia membungkuk lebih dekat lagi. Mulutnya ditempelkan pada mulut Jaka Gumarang, serta meniupnya dengan amat perlahan ,mengikuti jalan pernafasannya sendiri. Tenaga dalam yang telah dikerahkan dan terpusat itu, kini disalurkan melalui bembusan tiupannya kedalam tubuh Gumarang lewat mulutnya. Ia melakukan demikian itu berulang kali, hingga ia sendiri merasa kehabisan tenaga serta seluruh badannya menjadi basah bermandikan peluh dingin. Kini wajah Jaka Gumarang

Akan tetapi, betapa terkejutnya setelah mengetahui bahwa orang itu tak bergerak dan ternyata ada sebuah anak panah yang tertancap dipunggungnya.

berangsur-angsur menjadi merah, namun masih juga ia belum sadar kembali. Terdengar suara nafasnya tersengal-sengal, tetapi tak selemah tadi, dan mulutnyapun kini mulai membuka sedikit.

Masakan obat ramuan yang telah tersedia dipinggan, sedikit demi sedikit dituang kedalam mulutnya oleh Yoga Kumala.

Tiba-tiba Jaka Gumarang mulai membuka matanya dengan pelahan-lahan sambil mengeluarkan suara keluhan yang tertahan dan hampir-hampir tak terdengar karena sangat lemahnya. Setelah itu ia menutupkan matanya kembali. Cepat Yoga Kumala membungkuk lagi, serta membisikkan sesuatu kedalam telinganya Gumarang.

Kini Jaka Gumarang membuka lagi matanya, dari bibirnya bergerak-gerak. Kemudian ia mulai bicara dengan suara yang terdengar amat lirih dan terputus-putus.

— Gus . . . . ti . . . Yoga Ku . . mala . . . .! Kobar . . . . peng .. . . khi . . . . a . . . . nat pasukan . . ..

sen . . .. diri . ... ditum . . . . pasnya . seca . . . . ra . . . ke . . .. jam .. . . dan .. . . banyak . . . yang . . .. di . . . .

tawan . . . .—

Hanya kata2 itulah yang dapat keluar dari mulutnya. Setelah itu matanya tertutup lagi dan mulutnya menjadi terkatub kembali.

— Gumarang!!! Gumarang! Bisik Yoga Kumala, namun Gumarang telah tak dapat

mendengar bisikannya. Matanya tertutup untuk selama-lamanya. Sukmanya telah meninggalkan raga dan menghadap pada Dewata Yang Maha Kuasa . . . Penciptanya . . .

Detak nadinya telah lenyap dan badannyapun telah mulai membeku.

Semua yang menyaksikan diam terpaku. Suasana sunyi seketika. Mereka kini mengheningkan cipta, mohon pada Dewata Agung, agar arwah Jaka Gumarang yang gugur sebagai pahlawan mendapat kebahagiaan abadi disisinya.

Para tamtama yang sedang mendapat giliran berjaga diperintahkan oleh Bintang Minang untuk merawat dan memakamkan jenazah Jaka Gumarang sebaik2-nya.

— Sayang, bahwa. Lurah tamtama Jaka Gumarang telah tak dapat tertolong lagi. Ia seorang tamtama yang setia dan pantas mendapat anugerah bintang! — kata Bintang Minang setelah pemakaman selesai

— Sayapun sangat berduka dengan gugurnya seorang sahabat yang serta serta berbudi luhur seperti Gumarang itu Gusti!! — sahut Yoga Kumala dengan matanya yang berkaca. Sontani tertunduk tak berkata, namun air matanya ber-linang2 meleleh membasahi kedua pipinya. — Kebaikan budi Jaka Gumarang dan tingkah lakunya yang senantiasa bersahabat dengan siapapun, membayang kembali didepan matanya . . .

– Yaaaahh Jangan hendaknya kita menyesali berlarut larut atas segala apa yang telah

terjadi . . . .

Ingatlah bahwa semua adalah atas Kehendak Dewata Yang Maha Agung. Kita semua manusia berada dalam Kekuasaan-Nya.

Dan kita harus berterima kasih pula padanya, bahwa gugurnya pahlawan Lurah tamtama penatus Jaka Gumarang berada di tempat perkemahan kita yang berarti menyelamatkan seluruh sisa pasukan yang masih ada. —

Demikianlah petuah Bintang Minang Semuanya masih diam tak ada yang menjawab,

walaupun mereka membenarkan serta menjunjung tiuggi petuahnya itu dalam hati masing-masing. Kiranya kedukaan yang baru saja berlalu masih dalam lubuk hati mereka.

— Mari kita segera bicarakan bersama, untuk memecahkan persoalan yang sangat rumit ini, — perintah Bintang Minang.

Kemudian pada Yoga Kumala, Sontani dan para perwira-perwira tamtama lainnya yang memegang tapuk - pimpinan dalam pasukan.

Pertemuan para priyagung tamtama Kerajaan Negeri Tanah Melayu yang dipimpin oleh Bintang Malang dalam perkemahan itu berlangsung amat singkat.

Setelah menerimaa saran-saran serta pendapat-pendapat dari para perwira tamtama yang hadir sebagai bahan pertimbangannya.

Kini Bintang Minang berkenan memutuskan untuk mengubah perang gelar yang tengah berlangsung menjadi sandi Yudha.

Seluruh sisa pasukan dipecah pecahnya dalam beratus-ratus kelompok kecil, dan diperintahkan untuk menyebar keseluruh wilayah Kerajaan Musuh.

Disamping bantu membantu satu sama lain kelompok yang berdekatan dalam melakukan serangan-serangan secara tiba-tiba, mereka diharuskan pula untuk merebut hati rakyat jelata yang berada dilingkungannya. Karena menurut pendapat Bintang Minang peperangan hanya dapat dimenangkan apabila mendapat dukungan dan bantuan dari rakyat sepenuhnya.

Dan menurut perhitungan, hal itu kiranya mudah dilaksanakan, mengingat pada saat itu banyak rakyat yang mempunyai perasaan benci pada sebagian besar para priyagung Nara praja yang selalu bertindak semena-mena untuk kepentingan diri pribadinya.

Dalam pasewakan darurat yang amat singkat itu, Bintang Minang berkenan pula menyerahkan wewenangnya sebagai Manggala Yudha kepada Yoga Kumala untuk sementara waktu.

Serah terima wewenang itu dilakukan, karena Bintang Minang bermaksud kembali ke Kota Raja lama untuk menyusun kembali kekuatan baru, serta memperkokoh pertahanan perbatasan Kerajaan.

Setelah nanti, kekuatan pasukan baru tersusun, dan keadaan wilayah kerajaan lawan menjadi makin lemah karena berkobarnya Sandi Yudha, maka Bintang Minang akan menyerang kembali langsung diarahkan ke Kota Raja lawan dengan siasat "gadha'', ialah penyerangan yang bersitat menentukan.

— Pun untuk mendapat kepastian tentang berita pengkhianatan yang dilakukan oleh Tumenggung Anom Tamtama Kobar. Serta pidana yang harus dijatuhkan padanya, kupercayakan penuh padamu, Tumenggung Yoga!—

Pesan Bintang Minang pada Yoga Kumala, dan katanya kemudian : — Junjunglah titahku atas nama Seri Baginda Maharaja dengan baik-baik, dan semoga Dewa Kemenangan selalu menyertai kita semua.— Berkata demikian Bintang Minang menyerahkan cincin tanda kebesarannya sebagai manggala Judha dan berkenan pula mengenakan di jari manis kanan Yoga Kumala.

— Doa restu Gustiku Bintang Minang selalu saya harapkan agar dapat mengemban titah Gustiku dengan hasil yang gemilang ! — Jawab Yoga Kumala singkat sambil memberikan sembah.

Ingin ia berkata lebih panjang, namun hatinya penuh rasa keraguan, hingga ia membatalkan maksudnya.- Benarkah Bintang mencurahkan kepercayaan penuh padanya? Ataukah hanya suatu siasat belaka yang maksudnya menguji kesetiaannya? Kini ia merasa dirinya dalam kedudukan yang serba salah.

Berita bahwa kegagalan penyerangan besar adalah akibat dari pada pengkhianatan Bupati Anom Kobar, untuknya cukup pedih bagaikan kena tamparan langsung dimukanya. . . Ia tak tahu lagi kemana ia harus menyembunjikan mukanya, karena merasa sangat malu.

Bagaimanapun juga, Kobar adalah teman sepasukan dari tamtama Kerajaan Majapahit.- Dan lebih dari pada itu. Kobar adalah wakilnya langsung dalam memimpin pasukan sebagai pasukan bantuan dari Kerajaan Majapabit. Andaikan benar-benar Kobar mengkhianati peperangan besar ini, bukankah Bintang Minang seharusnya mencurigai padanya? Akan tetapi mengapa kini bahkan menyerahkan wewenangnya sebagai Manggala Yudha padanya walaupun hanya sementara .

Atau mungkin penyerahan tadi hanya untuk mencoba dirinya. Tetapi menurut anggapannya tidak mungkin Bintang Minang hanya mencobanya, sebab sedikitpun tidak kelihatan pada wajahnya yang sungguh sungguh dan sedikitpun tidak ada tanda-tanda mencurigainya.

Tetapi Yoga Kumala dalam hati berjanji tidak akan menyia-nyiakan tugas yang begitu agung.

Sejak lama Yoga Kumala tak senang melihat tingkah laku Kobar yang congkak dan selalu haus akan kekuasaan akan tetapi untuk berbuat demikian jauh sebagai pengkhianat, ia tak menduga sebelumnya sama sekali.

Bahkan belum pula ia percaya sepenuhnya pada berita yang dibawa oleh Gumarang. Akan tetapi apa daya untuk bertanya lebih lanjut pada sipembawa berita Jaka Gumirang, tak mungkin. Dan sampai dimanakah pengkhianatan Kohar, iapun belum dapat mengira-irakan.

Namun sebagai perwira tamtama, baginya tak ada lain pilihan kecuali melaksanakan sebaik baiknya semua perintah atasannya.

Dan atas pertimbangan yang terakhir inilah, Yoga Kumala tak dapat berbicara lebih banyak. Ia hanya ingin menunjukkan kesetiaannya dengan membuktikan melaksanakan tugas sebaik baiknya.

Dan sebelum ia dapat membuktikannya, tak berani ia bertanya lebih banyak pada Bintang Minang.- Jangankan bertanya, sedangkan menatap pandang pada Bintang Minangpun ia tak mampu.

Ia duduk dengan muka tertunduk kembali, dan menunggu kata2 terakhir dari Bintang Minang.

Tiba-tiba saja dirasakan jatuhnya tepukan telapak tangan yang pelan pada bahu kirinya. Suatu tepukan yang penuh berarti.

— Tumenggung Yoga ! — kata Bintang Minang sambil meletakkan telapak tangan kanannya diatas bahu Yoga. : — Jangan kau ragu-ragu hanya kaulah yang kupandang cakap untuk menggantikan sementara kedudukanku selaku Manggala Yudha! Laksanakanlah perintahku demi kejayaan Kerajaan Negeri Tanah Melaju dan kejayaan Kerajaan Agung Majapahit. —

Perlahan-lahan Bintang Minang bangkit berdiri dan diikuti oleh Yoga Kumala.

Kedua orang sakti beepandangan sejenak serta saling memegang lengan kanan erat-erat sebagai tanda keakraban hubungan.

Dan sejenak kemudian persewakan darurat segera bubar.

*

* *

B A G I A N III

SEMUA pasukan turut serta bubar dan masing - masing berpisah jalan menjadi kelompok2 kecil mengikuti perintah Tumenggung Yoga Kumala.

Dengan didampingi oleh Sontani, Braja Semandang serta Dirham si penunjuk jalan dan dikawal oleh sepuluh tamtama berkuda Yoga Kumala bergerak kearah selatan mengikuti mengalirnya Sungai Lawas.

Ia bermaksud untuk menghubungi pasukan yang berada disebelah Selatan dibawah pimpinan Senapati Damar Kerinci dengan melintasi hutan belukar.

Hari itu masih pagi-pagi buta tatkala Yoga Kumala dengan rombongannya menempuh perjalanan di hutan belukar mengikuti tebing tebing sungai Lawas yang berliku - liku dan curam serta licin.

Kabut tipis yang semua mengaburkan pemandangan pelan-pelan membumbung ke angkasa, dan mataharipun terbit dengan riahnya di ufuk timur memandikan daerah hutan belantara. Dan sungai itu dalam cahaya yang redup, sehingga air sungai layaknya serasa berkilau2an bagaikan kaca cermin.

Kiri kanan sungai tumbuh pohon-pohon raksasa liar yang berumur puluhan tahun mewujudkan hutan belantara yang tak pernah dijamah oleh angan manusia.

Air embun masih membasahi daun2 sehingga nampak berkilat2 karena tertimpa cahaya matahari. Lumut hijau bertumbuh subur di-batang2 pohon raksasa yang telah tumbang dan jatuh melintasi tebing2 sungai, dan ditanah-tanah basah serta batu-batu alam bagaikan permadani yang tebal.

Berhari-hari mereka menyusupi hutan belukar dan walaupun tak pernah menghadapi rintangan- rintangan yang berbahaya, namun perjalanan itu cukup membuat mereka sangat letih. Kadang-kadang mereka harus berjalan mengitari rawa2 ataupun berlompatan diatas batang-batang pohon yang tumbang melintang. Tidak jarang pula mereka harus berjalan satu demi seorang dengan saling berpegangan karena gelap dan licinnya jalan yang dilaluinya.

Kini mereka telah tiba di Sungai Musi, dan disitulah Sungai Lawas memutahkan airnya, untuk kemudian bergabung mengalir menjadi Musi besar. Karena Sungai Lawas adalah hanya merupakan salah satu diantara anak cabang Sungai Musi.

Dengan Sampan rakit dari bambu, rombongan Yoga Kumala kemudian menyeberangi Sungai Musi yang lebar itu.

Walaupun permukaan airnya nampak tenang, tetapi dibawah permukaan yang tenang itu, sebenarnya airnya deras mengalir. Apapun yang tercebur akan segera lenyap dan hanyut terbawa derasnya arus. Dan karena amat lebar dan derasnya arus lebih cepat kiranya bila dinamakan "Bengawan".

Pada tiap2 hari diwaktu pagi hingga gelap malam, banyaklah sampan2 nelayan hilir mudik di Sungai Musi itu. Selain para nelayan yang mencari ikanpun banyak pula perahu-perahu pedagang yang hilir mudik untuk menuju ke Kota Raja atau-pun sbaliknya. Pendek kata Sungai Musi selain pemberi nafkah abadi bagi para pencari ikanpun merupakan jalan raya yang menghubungkan antara desa-desa dan kota-kota sekitarnya.

Bahkan lebih dari pada itu semua Sungai Musi adalah lambang pula bagi kejayaan Kerajaan Sriwijaja. Muara Sungai Musi adalah pintu gerbang Kota Raja Kerajaan Sriwijaj, dan merupakan banjir besar yang selalu dikunjungi oleh perahu-perahu layar dari pedagang-pedagang besar negeri-negeri asing serta utusan2 raja2 negeri asing sekitarnya.

Akan tetapi waktu rombongan Yoga Kumala menieberangi Sungai Musi, ternyata suasananya lain dari pada hari2 biasa. Tak sebuah perahu nelayan tampak dipermukaan air. Sekelilingnya ternyata sunyi sepi.

Walaupun ditempat dimana ia menyeberang itu sangat jauh dari Muara Bandar Musi, namun keadaan biasanya tak demikian.

Hari itu matahari telah condong kebarat mendekati senja. Sebentar lagi akan bertukar dengan sang malam.

Perlahan-lahan mereka mendarat diseberang sambil mengawasi kanan kiri, lalu berjalan mendaki tanggul tebing sungai itu yang tak seberapa tingginya. Semua kelihatan letih jalannyapun sempoyongan hanya Yoga Kumala dan Sontanilah yang masih tampak tegap dan bersemangat. Akan tetapi jika melihat wajahnya, kedua perwira ini diliputi oleh rasa muram serta selalu tegang. Mereka saling membungkam dan jarang sekali bercakap-cakap.

Tiba-tiba saja Dirham mulai bicara memecah kesunyian sambil berjalan disamping Yoga Komala.

— Gusti Yoga! Keadaan disini biasanya tak sesepi ini !—

— Ya! . . . . .  Aku sendiri agak curiga pula demi melihat suasana yang sepi ini. Tetapi . . . .

gerangan yang terjadi?— Jawab Yoga sambil mengawasi kanan kiri.

— Untuk dapat melihat lebih jelas sekitarnya, sebaiknya kita mendaki tanggul sebelah barat sana yang agak tinggi, Gusti! Kata Dirham sambil menunjuk kearah yang dimaksud . — Ayoooh! — potong Yoga Kumala singkat sambil mempercepat langkahnya. Dan semuanya segera turut berlari-larian mengikuti dibelakang Yoga Kumala.

Semakin ke barat tanggul sungai itu memang semakin menanjak, dan dataran sekitarnya pun mulai berbukit - bukit dengan pepohonan-pepohonan yang rindang dan lebat merupakan hutan.

Jauh disebelah barat selatan nampak remang-remang biru semburat merah. Gunung Kaba yang tegak berdiri bagaikan raksasa Kumba Karna yang sedang menelan Surya. Dan dari lereng-lereng Gunung Kaba sebelah barat utara itulah Sungai Musi bersumber.

— Lihatlah Gusti! Kampung jauh disana itu nampak adanya kebakaran! Sontani tiba-tiba berkata sambil terengah-engah dan sambil menunjuk dengan tangannya kearah timur pada sebuah desa dilembah bawah yang nampak jelas adanya api menyala-nyala di ketinggian. Dan semua cepat berpaling mengarahkan pandangan masing-masing pada sebuah desa yang ditunjuk Sontani dengan penuh perhatian.

— Benar apa katamu Son:ani! mari kita segera menuruni tanggul ini dan langsung menuju kedesa bawah sana. Mungkin mereka memerlukan bantuan kita. — Sahut Yoga setelah mengawasi sejenak dengan tajam.

— Biarlah saya dengan Braja Semandang yang mendahului ke sana, Gusti. Dan sebaiknya Gustiku Yoga berserta pengawal dan Dirham menunggu saja dari kejauhan.

— Bukankah baiknya demikian. Lurah Braja Semandang? — Sahut Sontani sambil berpaling kearah Braja Semandang yang tengah berdiri memandang kearah desa itu dengan menghela nafas panjang.

Dalam hatinya ia merasa amat kasihan pada penduduk desa yang kini tengah menderita akibat kebakaran itu.

— Ya ijinkan saya mengawal Panewu Sontani, Gusti!— potong Braja Semandang.

— Baik, bawalah prajurit-prajurit pengawal ini dan aku dengan Dirham akan mengikuti dibelakang! — Jawab Yoga dengan singkat serta mengerutkan keningnya.

Entah karena apa, tetapi ia merasa was-was. Perasaan nalurinya bekerja cepat dan dalam semadhi yang singkat sambil berjalan menuruni tanggni itu, perasaan cemas menyelubungi dirinya. Seakan-akan ia tahu bahwa bahaya menghadang didepannya.

Demi perasaan cemas yang terkandung itu, ia berseru sambil berlari mengikuti Sontani : — Sontaniiii jangan kau meninggalkan kewaspadaan ! —

Kini hari telah mulai gelap. Dan mereka hanya kelihatan seperti bayangan-bayangan saja yang sedang melayang cepat menuruni tebing yang berliku liku itu.

Semakin dekat dengan desa yang terbakar itu, semakin terdengar jelas suara jeritan orang-orang perempuan dan tangis anak-anak kecil bercampur dengan seruan minta tolong yang menyayat hati.

Suara titir kentongan sahut menyahut tak ada henti-hentinya dan disambut pula oleh penduduk desa- desa yang berada disekitarnya.   Seorang diantaranya bersenjatakan tombak bercabang. Bentuk tubuhnya kurus tinggi dengan rowan muka yang bengis menyeramkan. Dua orang lainnya masih muda kira2 sebaya dengan Sontani, dengan bersenjatakan klewang …..

Akan tetapi belum juga api kebakaran didesa yang didatangi itu padam, menyusul kini desa disebelah timurnya kebakar. Asap hitam mengepul bergulung2 menjulang tinggi dan api men-jilat2 di tengah2 kepulan asap.

Larinya Sontani bersama kawan-kawannya bagaikan lepasnya anak panah. Tiba-tiba saja lima orang bajak laut menghadang dengan kelewang terhunus dihadapannya, hingga ia terpaksa menghentikan langkalmja.

— Aaiiii! Apa yang terjadi didesa ini ? — Tanya Sontani dan Braja Semandang hampir bersamaan. Akan tetapi lima orang bersenjata itu tanpa menjawab pertanyaan, lalu langsung menyerang dengan senjata masing masing. Kiranya pertempuran tak dapat lagi dihindarkan dan sekejap kemudian terjadilah pertempuran sengit.

Dengan bantuan prajurit pengawalnya Sontani mengamuk, hingga sebentar saja lima orang itu terdesak mundur dan lari terbirit-birit.

Belum juga lima orang itu lenyap dari pandangan, kini menyusul datang tiga orang berkuda dan menyerangnya dengan serentak serta tiba2.

Seorang diantaranya bersenjatakan tombak bercabang. Bentuk tubuhnya kurus tinggi dengan roman mukanya yang bengis menyeramkan. Dua orang lainnya masih muda kira-kira sebaya dengan Sontani, dengan bersenjatakan klewang. Sambil menyerang dengan jurus-jurusnya maut yang berbahaya orang yang pertama tadi berseru lantang sambil ketawa mengejek.

— Haiii! Bedebah anak muda! Siapakah kau, berani turut campur urusanku?!—

— Perampok hina ! Menyerahlah kalian ! Aku Panewu Tamtama Sontani dari Pagaruyung datang kemari untuk membasmi kalian!—

— Ha Haa Haa haa ! ! Jangan berlagak kesatria disini. Menyerahlah untuk kubelenggu tangan kalian! Rupa2nya kalian adalah musuh Kerajaan. — serunya dengan bengis sambil terus menyerang dengan senjata tombaknya. Serangan amat ganas dengan jurus2 yang berbahaya serta sukar diketahui akan perobahan2nya. Ternyata gerakan gerakannya sangat tangkas dan cepat. Dan diantara lawan ke tiga2nya itu, ialah yang paling tangguh.

Para pengawal yang kurang cepat menghindari serangannya sebentar saja terkulai roboh ditanah.

Melihat banyak pengawalnya yang telah menjadi korban keganasan musuhnya itu, Sontani dan Braja Semandang mengamuk punggung bagaikan banteng terluka, akan tetapi ternyata lawannya amat tangguh.

Segenap tenaganya telah diperas, namun orang yang kurus tinggi bersenjatakan tombak bercabang itu belum juga dapat dirobohkan.

Sekali lagi Sontani melompat tinggi samhil memekik dengan nada yang tinggi melengking hingga memekakkan telinga. Pedang tamtama ditangan kanannya meluncur cepat dalam gaya tusukan langsung menyerang Iawan. Akan tetapi sekali lagi lawannya menunjukkan kemahiran yang sangat menakjubkan.

Ia memacu kudanya untuk menghindari serangan2 sambil meloncat tinggi lepas dari pelana. Tombak cabangnya berputar sesaat untuk kemudiam diubah menjadi serangan yang dahsyat kearah lambung Sontani, selagi ia diudara menghadapi balasan serangan yang tak diduga itu. Sontani sesaat terperanjat dan peluh dingin keluar dari jidatnya.

Andaikan ia bukan Sontani panewu Tamtama yang shakti tentulah terobek lambungnya. Untunglah bahwa ia masih sempat berjungkir balik diudara sehingga terhindar dari serangan maut lawannya.

Pedang tamtamanya cepat berputar selagi ia berjungkir balik dan membentuk sebuah lingkaran bagaikan perisai baja. Dua senjata beradu dan masing-masing terkesiap jatuh bergulingan surut kebelakang beberapa langkah, sedang kuda tunggangan lawannya lari jauh sambil meringkik, meninggalkan tuannya.

Sementara Braja Semandang sedang sibuk menghadapi dua orang lawan yang tangguh pula. namun dalam pertempuran melawan dua orang itu ia tak merasa terdesak. bahkan kini Braja Semandang telah berhasil merobohkan dua ekor kuda lawan, hingga mereka terpaksa bertempur terus diatas tanah.

Tiba tiba terdengar derap langkah kuda di-celah2 suara jeritan perempuan-perempuan dan anak- anak disekitar tempat kebakaran. Semakin lama semakin jelas, dan nampaknya bukan hanya seorang penunggang kuda tetapi kiranya lebih dari lima belas orang.

Sambil bertempur menghadapi dua orang lawannya, Braja Semandang berpaling sesaat untuk mengetahui para pendatang yang berkuda itu.

Ia melihat jelas adanya dua orang berkuda dengan mengenakan pakaian kebesaran sebagai priyagung tamtama musuh Dan alangkah terperanjatnya, setelah mengetahui dengan jelas, bahwa kedua orang itu tak lain dari pada Kobar dan Berhala. Belum juga Braja Semandang sempat menyambut kedatangan Kobar dan Berhala, dalam saat ia sedang berpaling, tiba-tiba punggungnya, dirasakan panas bagaikan tersengat dan pandangan matanya menjadi kian kabur remang. Ia jatuh terkulai ditanah dan tak sadarkan diri sebilah pisau belati bersarang tepat dipunggungnya. Itulah lemparan pisau dari Tumenggung Anom tamtama Kobar yang terkenal shakti.

— Jangan dibunuh! Seru Kobar sambil turun dari kudanya. Suaranya lantang dan berwibawa.

— Ikat! Dan bawalah itu kembali ke pesanggrahan di Muara.— Tiga orang pengawalnya segera turun dari peIana kuda dan kemudian membelenggu kedua belah tangan Braja Semandang yang jatuh terkulai tak sadarkan diri, serta mengangkatnya keatas pelana kuda sepuluh orang berkata

diperintahnya oleh Kobar untuk mengawal Braja Semandang yang masih terkulai diatas pelana kuda dengan tangan terbelenggu itu. Dan sekejap kemudian Braja Semandang teclah dibawanya kabur dalam gelap malam yang kelam itu kearah Timur.

Bersamaan dengan robohnya Braja Semandang, Sontani yang sedang bertempur dengan sengitnya tiba2 tubulmja tersentak oleh seutas tali yang melingkar erat dibadannya, hingga ia jatuh bergulingan ditanah. Semakin ia berusaha untuk melepaskan diri dari jeratan itu, ternyata semakin erat tali itu menjeratnya. Hampir2 ia lupa, bahwa tangan kanannya masih menggenggam pedang tamtamanya, cepat tangan kanannya bergerak dan sekali tebas putuslah tali yang menjerat badannya itu. Ia bergulingan ditanah beberapa langkah kesamping menghindari datangnya serangan yang tiba-tiba dari lawan yang masih dihadapi serta serangan gelap dari belakang.

Kini Sontani berdiri tegak dengan kuda kudanya yang kokoh kuat, siap menunggu datangnya serangan dari semua lawan. Alangkah terkejutnya setelah mengetahui dengan jelas bahwa dua orang pendatang baru yang kini berada dihadapannya adalah Kobar dan Berhala. Mimpikah ia? Hampir-hampir ia tak percaya pada penglihatan sendiri.

la terkejut dan sangsi bukan karena takut. Bukan! sekali-kali bukan. Seratus Kobar, Sontani tak akan gentar menghadapi. Kalah atau menang, baginya bukan soal.

Sekalipun Dewa Maut akan merenggut jiwanya, ia tak nanti akan lari terbirit-birit. Ia benci pada sifat-sifat pengecut dan pengkhianatan. Tak salah lagi bahwa yang tengah kuhadapi ini adalah pengkhianatan2 Kobar dan Berhala,— pikirnya.

Darah mudanya tersirap hingga wajahnya menjadi merah matanya seakan-akan menyala, memandang tajam kearah Kobar dan Berhala.

— Pengkhianat2!!! desisnya. Ingin ia melontarkan kata2 lebih banyak lagi, namun bibirnya hanya bergerak2 menelan kemarahan yang meluap2.

— Haiiii!! Budak Sontani!! Lebih baik kau menyerah dan menjadi budakku daripada menjadi budak Perwira-perwira tamtama Kerajaan. — Haa ilaaa Ha Haaaa. Sahut Kobar sambil ketawa ter-

bahak2.

— Bukankah kawan - kawan pasukanmu hancur berantakan dan bercerai berai, dan kini, kau tersesat sampai di sini? Dimana Yoga Kumala yang kau andalkan itu? Suruhlah lekas keluar dari tempat persembunyiannya. Ataukah sengaja ia tak mau keluar dari tempat persembunyiannya, dan kaulah yang akan dijadikan korban demi untuk keselamatan jiwanya Haa . . .  Ha . . . . Haaaa… Haa ..Haaa!!!!!!

— Pengkhianat berlancang mulut. Kembalikan Braja Semandang dan bersiaplah untuk kubelenggu kedua belah tanganmu dan kuhadapkan pada Gustiku Yoga Kumala. — Berseru demikian Sontani sambil menyerang langsung dengan tamtamanya kearah Kobar. Kiranya ia telah tak dapat menahan kemurkaannya, lebih lama lagi.

Sebagai tamtama yang berpengalaman luas dan memiliki kesaktian, Kobar telah dapat menduga akan datangnya serangan yang, tiba-tiba itu. Ia bergeser selangkah kesamping kanan sambil menghunus

pedang pusakanya dengan tangan kanannya.

Gerakannya amat cepat dan tangkas, sehingga sukar diikuti dengan pandangan mata. Dua senjata beradu dengan dahsyatnya hingga mengeluarkan percikan api berpijaran.

Kedua-duanya melompat surut kebelakang satu langkah dan masing-masing merasakan pedih ditelapak tangannya.

Peluh dingin keluar dari dahi Sontani setelah ia mengetahui bahwa pedang tamtama yang masih erat digenggam ditangan kanannya ternyata terbabat patah diujungnya.

— Ha Ha Ha Haaa Haaa!! Sontani budak kecil! masihkah kau hendak melawan dengan pedangmu yang tumpul itu?! Ayoooh! panggilah segera Yoga Kumala majikanmu. Agar kalian dapat kuikat jadi satu dengan Braja Semandang —

Bedebah pengkhianat. Tak usah kau menyebut-nyebut Gustiku Yoga Kumala! Sambutlah ujung pedangku yang tumpul ini!! —

Bersamaan dengan kata seruannya yang terachir, Sontani melompat sambil menyerang kembali dengan tebangan dan tusukan yang berangkai. Serangannya sangat berbahaya dan dahsyat . Dan kali ini ia memang sengaja hendak mengadu jiwa dengan Kobar. Kebenciannya telah memuncak, rasa2nya ia muak melihat wajah lawannya. Dendam kesumat yang lama dikandungnya, kiranya ia ingin menumpahkan seluruhnya. Akan tiba-tiba Kobar meloncat jauh kebelakang menghindari serangan sambil ketawa terbahak dan berseru.

— Kelingi! Berhala! tangkaplah budak kecil itu hidup-hidup dan bawalah segera bersama2 dengan Braja Semandang tawanan kita tadi! —

B A G I A N IV

TERNYATA orang kurus tinggi yang tadi bertempur dengan Sontani itu bernama Kelingi.

Demi mendengar perintah Kobar, Berhala dan Kelingi berserta dua orang lainnya segera melompat mengurung Sontani. Sementara itu Kobar hanya berdiri mengawasi dari dekat. Satu penghinaan yang cukup dapat membuat telinga Sontani merah. Ia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk dapat menerobos pengepungan ampat orang lawannya yang tangguh itu. Pedang yang telah tumpul ditangannya berkelebatan bagaikan sinar putih yang bergulung-gulung menghubungi dirinya, dengan diselingi rangkaian tendangan kearah ampat penjuru.

Akan tetapi, belum juga ia dapat menerobos pengepungannya yang semakin merapat itu.

Tombak bercabang dari Kelingi dan pedang Berhala selalu dapat memusnahkan serangan - serangannya yang dahsyat .

Sebagai seorang tamtama yang memiliki banyak pengalaman serta selalu mendapat bimbingan dari Yoga Kumala yang terkenal sebagai Pendekar Pedang Shakti, ia masih dapat melayani ampat orang lawannya dengan baik dan seimbang. Sambil bertempur, masih juga ia dapat menggunakan kecerdasan otaknya. Ia tahu bahwa untuk merobohkan keempat lawannya secara bersamaan, tentulah tak mungkin.

Maka satu-satunya jalan ialah merobohkan seorang demi seorang dan harus dimulai dengan lawan yang terlemah lebih dahulu. Tetapi inipun tak semudah untuk dilaksanakan, sebagaimana ia kehendaki. Pedang tamtama yang tumpul ujungnya berputar cepat hingga membentuk perisai baja yang kokoh menyelubungi dirinya, dan tiba - tiba ia berseru melengking Tinggi sambil melompat dengan gaya tusukan kearah ulu hati Berhala. Akan tetapi sebelum pedangnya menyentuh tubuh Berhala, tiba tiba ditariknya kembali dengan rangkaian tebangan, mengarah leher salah seorang lawan yang berada dibelakangnya. Perobahan gerakan ini arnat cepat sekali tak diduga2.. ltulah jurusan2 tipuan menerjang badan.

Jeritan ngeri terdengar dari seorang lawan yang berada dibelakangnya roboh ditanah dengan mandi darah. Akan tetapi bersamaan dengan robohnya seorang lawan Sontani sendiri dengan tiba2 merasa tangan kanannya tak dapat digerakkan, dan sesaat kemudian pedang tamtama yang digenggamnya jatuh gemerincingan ditanah. Sebuah pisau belati tertancap sedalam empat jari dilengan kanannya.

Tombak bercabang berkelebat bagaikan kilat dan menyusul bersarang dipaha Sontani, selagi ia terhuyung2 surut kebelakang. Sesaat kemudian Santanipun roboh terkulai ditanah tak sadarkan diri.

— Cepat ikat dia, dan bawalah pergi segera ! ! Aku akan menyusul dibelakang pasukan! — Kelingi dengan seorang pengawalnya segera membawa Sontani lari berkuda kearah Timur. Sedangkan Berhala tertinggal mendampingi Kobar yang masih tenang berdiri disamping kuda tunggangannya. Ia menunggu datangnya para pengawal lainnya yang diperintahkan untuk membakar dan merampok para petani didesa yang berada tak jauh dari tempat itu.

Api yang membakar rumah2 petani didesa2 sekitarnya telah makin padam, namun para pengawal pasukan rampok yang terdiri tidak kurang dari 10 orang itu belum juga datang berkumpul dihadapan Kobar. Ia memekik tiga kali dengan suara yang tinggi melengking sebagai isyarat panggilan. Suaranya menggema mengalun jauh, untuk kemudian hilang lenyap kembali tertelan gelap malam yang pekat. Tetapi tak terdengar suara jawaban. Tiba-tiba saja muncul dua orang dengan masing2

menggenggam pedang terhunus dihadapan Yoga Kumala dengan Dirham.

Sesaat Kobar dan berhala terperanjat dan surut kebelakang beberapa langkah, sambil menghunus pedang mereka masing2. Tetapi cepat pula mereka dapat menenangkan perasaan kembali. Belum lenyap pertanyaan dalam benak hatinya akan perginya para pengawal yang sedang ditunggunya, kini dengan tiba2 muncul Yoga Kumala musuh besarnya.

Sedang Kobar akan membuka mulutnya untuk berbicara, tiba2 terdengar suara tawa nyaring yang menyeramk.an, hingga bulu kuduknya berdiri. ltulah suara tawa Yoga Kumala yang sedang mematek ajinya "Wuru Shakti„ ilmu warisan dari kakek Dadung Ngawuk. Suara tawanya menggema jauh dan terpantul kembali untuk pelahan2 lenyap dari pendengaran.

Lenyapnya suara tawa yang menyeramkan disusul dengan bentakan yang sangat berwibawa. — Bedebah pengkhianat Kobar ! ! Lihatlah cincin kebesaran yang kupakai dijari manis ini, dan lekaslah ber- lutut untuk kutebas lehermu ! ! Ketahuilah bahwa perampok2 anak buahmu tertinggal telah kutumpas semuanya —

Demi mendengar kata2 yang terachir dari Yoga Kumala itu, hati Kobar merasa tergoncang bercampur cemas. Namun sebagai seorang perwira yang memiliki kesaktian, ia segera dapat menyembunyikan rasa cemasnya dan kembali tenang.

— Yoga Kumala ! Cincin kebesaran yang kau pakai itu, untuku tak ada artinya, jika kau dapat menumpas anak buahku yang banyak tertinggal beberapa gelintir itupun, aku tak heran. Bukankah seluruh pasukan dari Pagar Ruyung kini telah tumpas dan bercerai berai, hingga kau harus mengorbankan dirimu sendiri hanya demi untuk nama baikmu, yang ternyata kosong itu? Ketahuilah, bahwa sesungguhnya aku tidak bermaksud berfihak pada kerajaan Sriwijiya, tetapipun tak sudi menjadi budak Kerajaan2 Pagar Ruyung.

Lihatlah bahwa kelak jika dua kerajaan itu mengalami kehancuran akulah, yang akan bertahta.

Niaka marilah kita bekerja sama kembali untuk tercapainya cita-citaku. Akan kuangkat kau kelak sebagai mahapatihku.

Bukankah kita sama-sama telah mengalami kepahitan itu sebagai budak-budak Kerajaan Kerajan Renungkanlah sesaat akan nasehatku ini, sebelum kau terlambat ! Dan memang telah lama aku mengharap akan berjumpa denganmul

Dan sekarang inilah keputusanmu terachir kunantil—

Bahwasannya Kobar bermaksud mengkhianati kedua Kerajaan itu, memang benar adanya. Telah lama ia menanti nantiku saat yang baik, untuk merebut kekuasaan dan mengangkat dirinya sebagai raja. Dan setelah mengetahui kelemahan-kelemahan dari kedua Kerajaan yang sedang bermusuhan itu, ia menduga akan tercapai maksudnya.

Ia pertama-tama berlaku mengkhianati Kerajaan Pagar Ruyung dan berfihak pada Sriwijaja.

Semua siasat perang Kerajaan Tanah Melaju Pavar Ruyung dibentengkan pada Sanggahan Alam Manggala Yudha Sriwijaja, hingga pasukan Pagar Ruyung mengalami kehancuran. Beribu-ribu ditawan dan beribu-ribu pula dapat dimusnahkan.

Urusan-urusan penghubung tamtama dan narasandi dari Pagar Ruyung dapat pula dijebak dan ditawan. Dan dernikian pula nasib para tamatama narasandi putri. lndah Kumala Wardhani, Ratnasari, Ktut Chandra dan Sampur Sekar ditawan pula oleh Kobar sendiri dan ditempatkan dalam sebuah perahu Bajak Laut yang berlabuh di Muara Musi.

Ia bermaksud akan memperistrikan Indah Kuraala Wardhani sedangkan Ratnasari akan dihadiahkan pada Berhala yang telah banyak berjasa padanya,

Memang sejak lama ia tergila-gila pada Indah Kumala Wardhani, dan kini telah berada ditangannya. Kiranya mudah untuk melaksanakan cita-citanya, semudah bagaikan membalikkan telapak tangannya sendiri, pikirnya dan hanya tinggal menunggu saat yang baik saja.

Setelah itu Kobar menghimpun pasukanp-pasukan yang terdiri dari para perampok dan bajak laut untuk merampas harta benda rakyat dan sekaligus bermaksud mengeruhkan suasana daerah Kerajaan Sriwijaya sendiri.

Sebagian besar dari rencananya telah berhasil. Dan taraf terachir dari pada rencananya ialah membunuh Sanggahan Alam dari belakang, baru kemudian mencari jejak Yaga Kumala musuh besarnya yang olehnya dianggap pula sebagai penghalang, Dengan Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari dalam cengkeramannya tentu mudah untuk menjebaknya. Tak diduga-duganya bahwa kini ia berhadapan sendiri dengan Yoga Kumala, sebelum ia mencarinya.

Tetapi ia tak perlu gemetar menghadapinya karena Sontani dan Braja Semandang tangan kanan Yoga Kumala telah dapat diringkus. Dan inilah yang menyalakan semangatnya kembali, lenyap semua rasa cemasnya.

Ia sengaja berpura-pura menarik Yoga Kumala difihaknya dengan janji-janji yang muluk-muluk agar Yoga Kumala menjadi lunak dan mudah untuk dimusnahkan, kelak, dengan tanpa mengeluarkan tenaga. Tetani ternyata jauh meleset dugaannya suara tawa terkekeh-kekeh menyeramkan kembali menggema — Haai! Bangsat pengecut Angkara Murka! Aku Yoaa Kumala tak mungkin sudi berkawan dengan pengkhianat seperti kau. Kali ini, jangan mengharap ampunan dariku. Mohonlah ampun pada Dewata Yang Maha Agung sebelum kepalamu terpisah dari badan! —

Kedua kakinya terpentang lebar dengan lututnya ditekuk hingga badannya merendah.

Pedang pusaka ditangan kanannya melintang didadanya yang bidang dengan mata tajamnya kedepan. Jari-jari tangan tangan kirinya mengembang tegang dan matanya memandang tajam kearah lawannya si Kobar. — Itulah gerakan Wuru-shakti dalam bentuk jurusnya "Terkaman harimau kumbang".

Secepat kilat Yoga Kumala melompat dengan serangan langsung pada Kobar dengan diiringi tawanya yang terkekeh-kekeh menyeramkan. Sesaat Kobar terkesiap menyambut serangan yang sukar diduga- duga itu. Ia melompat tinggi surut kesamping kanan sarnbil memapaki serangan pedang Yoga Kumala dengan pusakanya. Ujung pedang pusaka masing-masing beradu dengan mengeluarkan api dan kedua- duanya terperanjat mundur kebe/akang selangkah, demi mengetahui kedahsyatan tenaga lawannya. Dalam hati Yoga Kumala memuji pula akan ketangguhan lawaw, yang dapat lolos dari serangannya.

Sebaliknya Kobar juga terperanjat demi merasakan pedih telapak tangannya yang menggenggam pedang pusakanya. Andaikan ia tak mengerahkan kesaktiannya tentulah pedang pusaka akan terlepas dari genggamannya. Demikian dahsyatnya serangan Yoga Kamala. — Pikir Kobar.

Tanpa diperintah Dirham segera menerjang Berhala dan pertempuran sengit dalam dua kalangan segera berlangsung. Semula perhatian Yoga Kumala terpecah menjadi dua. Ia bertempur melawan Kobar yang ternyata tangguh sambil mengawasi Dirham yang sedang bertempur melawan Berhala. Ia sedikit cemas menyaksikan gerakan-gerakan Dirham yang agak lambat itu, sedangkan ketangguhan tenaga si Berhala ia telah mengetahuinya.

Tetapi ternyata kelambatan gerakan Dirham memiliki unsur2 serangan yang cukup bahaya bagai lawannya. Sehingga pertempuran sesaat kemudian menjadi seimhang.

Menyaksikan demikian, Yoga Kumala telah lenyap rasa cemasnya dan kini ia mulai memusatkan seluruh perhatian pada gerakan lawan yang tengah dihadapanya.

Sebentar-sebentar Yoga Kumala terhuyung2 dengan langkah-langkah wurushaktinya kedepan dan kesamping untuk menghindari serangan2 maut dari Kobar, dengan balasan2 serangan yang cukup berbahaya pula.

Dua pedang pusaka berkelebatan hingga menyilaukan pandangan, bagaikan kupu2 yang berkejaran. Pohon-pohon disekitarnya banyak yang tumbang terkena tebasan dua pedang pusaka itu.

Sedang pohon-pohon yang masih berdiri, daun2 dan ranting2nya telah rontok terkena angin sambaran kedua orang shakti yang sedang bertempur dengan serunya masing2 ingin merenggut jiwa lawan dalam waktu yang singkat. Namun belum juga ada yang roboh.

Jurus-jurus Cahaya Tangkuban Perahu ciptaan Ejangnya Cahaya Buana Pendeta Pajajaran yang Shakti kini mulai dilancarkan oleh Yoga Kumala. Demikian pula Kobar telah menggunakan ilmu pedang warisan ayahnya si Ular Merah. Gerakan-gerakan tusukan sabetan dan tebangan silih berganti dengan cepatnya, dan hanya sinar hitam semburat biru yang bergulung saja yang nampak dapat dilihat dengan mata, akan tetapi sesaat kemudian Kobar terperanjat sesaat setelah mengetahui, bahwa pedang pusaka Yoga Kumala selalu dapat mendahului akan gerakan-gerakan ujung pedangnya yang bagaikan kilat itu.

Kini kedua ujung pedang pusaka melekat bagaikan terkena daya tarik besi sembrani dan masing- masing mengerahkan tenaga dalamnya untuk melepaskan senjatanya agar kemudian dapat mendahului menyerangnya lawan. D-ngan kuda-kudanya yang kokoh menunjam ditanah Kobar menyerahkan seluruh tenaga kesaktiannya, untuk dapat terlepas ujung pedang pusakanya dari pedang lawan.

Sekuijur badannya telah mandi air peluh. Mulutnya terkatub rapat dan giginya gemertak. Kerut didahinia yang penuh air peluh nampak Iebih jelas. Namun masih saja ujung pedang pusakanya tetap melekat pada pedang pusaka Yoga Kumala yang berdiri merendah dengan kedua kakinya terbentang lebar dengan kedua lututnya yang sedikit ditekuk itu.

Tiba-tiba badan Yoga Kumala bergetar dan bergerak lebih merendah lagi. Tangan kirinya diangkat kemuka dengan jari-jarinya mengembang tegang. Dan . . , . kembali suara tawa terkekeh-kekeh yang menggema menyeramkan keluar dari mulutnya yang menyeringai. Itulah pengerahan tenaga Shakti ajaran Ki Dadung Ngawuk yang telah dipadu dengan ajaran Ajengan Cahaya Euana. Bersamaan dengan lenyapnya suara ketawanya yang menyeramkan, ia melesat tinggi sambil berseru lantang — Lepas pedang —

Pedang pusaka ditangan kanan Yoga Kumala yang ujungnya menempel pada ujung pedang lawan ditekan kesamping dengan pengerahan tenaga dalam yang dahsyat hingga dengan sendirinya bergeser kearah jari-jari tangan lawan yang menggenggam pedang. Suatu gerak „Sontekan„ dengan pedang pusakanya memaksa Kobar melepaskan pedangnya. Cepat bagaikan kilat pusaka itu disusul dengan Sabetan kearah senjata lawan yang sedang terlepas itu dan tanpa diketahui pedang pusaka Kobar telah terpental membumbung tinggi jauh kebelakang sekira sepuluh langkah. Bersamaan dengan terpentalnya pedang pusaka Kobar, Yoga Kumala telah menyerangnya dari atas dengan ujung pedang pusakanya kebawah mengarah dada Kobar yang sedang mendongak mengikuti terpentalnya senjatanya.

Semua gerakan itu demikian cepatnya, hingga sukar untuk diikuti dengan pandangan mata. Itulah serangan maut berangkai dalam bentuk jurus jurus „Petikan bunga berduri„ dan dirangkaikan dengan „Tusukan sambar nyawa...

Menghadapi serangan demikian itu Kobar seakan-akan merasakan bahwa „dewa maut„ telah berada di-umbun2 kepalanya. Semangatnya terbang mengikuti terpentalnya pedang pusakanya. Ia tak menduga sama sekali, bahwa lawan yang dihadapinya memiliki kesaktian yang amat tinggi dan hampir mendekati sempurna. Sejak lama ia ingin mengukur kesaktian Yoga Kumala, dan dahulu ia mengira bahwa ilmu Yoga Kumala tentu berada dibawah kesaktiannya.

Tapi kini ia telah menghadapi suatu kenyataan. Dan jelas dalam mengadu tenaga shakti ia merasa setingkat berada dibawah Yoga Kumala.

Namun ia tentu tak mungkin mau mengakui dengan terang-terangan. Desakan angkara murka dan sifat kejahatan yang menyelubungi dirinya membuat ia bertambah dendam pada Yoga Kumala.

Sewaktu ujung pedang Yoga Kumala hampir menyentuh dadanya. Kobar menjatuhkan diri sambil menendang dengan kakinya kiri kearah pergelangan tangan Yoga Kumala dan dirangkaikan dengan jungkir balik surut ke belakang hingga sepuluh langkah lebih Demikian jauhnya ia

bergulingan menghindari, takut kalau-kalau serangan lanjutan segera menyusul.

Akan tetapi watak ksatria Yoga Kumala sebagai pendekar darah Pajajaran, mencegahnya untuk membunuh lawan yang sedang tak bersenjata. Yoga Kumala hanya berdiri dengan kakinya yang terpentang lebar sambil mengawasi Kobar yang sedang bergulingan menjauhkan diri padanya dengan ketawa menyeringai.

— Hai Kobar! Pungutlah senjatamu kembali dan tunjukkan kejantananmu dalam menghadapi maut sebagai hukuman pengkhianatanmu ini— Kesempatan itu tak dibuang dengan sia-sia oleh Kobar. Cepat-cepat ia melompat dan memungut pedang pusakanya yang menggeletak diatas tanah tak seberapa jauh darinya. Akan tetapi bukan untuk melangkah maju menyerang lawan Ia secepat kilat

melompat kepelana kuda tunggangannya yang berada disampingnya dan memacunya kabur meninggalkan gelanggang sambil berseru.

— Yoga Kumala! Kita lanjutkan pertempuran ini, setelah selesai pesta upacara pernikahan dengan adikmu Indah Kumala, seratus hari lagi menjelang bulan purnama Dan penuhilah undanganku

ini untuk datang, di Muara Musi guna menyaksikan pesta perkawinanku! —

Bersamaan dengan melesatnya Kobar. Berhalapun segera turut meninggalkan gelanggang dengan menaiki kudanya dan hilang dikegelapan malam, dengan terluka dilengan kirinya, Yoga Kumala yang hendak melompat mengejar, tetapi Dirham segera mencegahnya.

— Gusti Yoga! Biarlah jahanam-jahanam itu kali ini lolos dari maut. Tugas Gustiku amat berat dan memerlukan pemikiran yang sempurna. Kita harus dapat membebaskan Gusti Sontani, Braja Semandang dan putri putri tamtama narasandi termasuk adik kandung Gustiku Yoga serta tawanan- tawanan keseluruhannya. Baru kemudian kira harus dapat menumpas gerombolan - gerombolan jahanam itu, untuk dapat memenangkan peperangan. —

— Ya . . , pendapatmu benar. Trima kasihlah atas nasehatmu itu, — jawab Yoga pendek.

*

* *

B A G I A N V.

DENGAN langkah yang gontai Yoga KumaTa dengan diikuti oleh Dirham berjalan menyusuri tebing sungai Musi kemuara dalam gelap malam.

Beberapa macam perasaan menyekap dirinya. Ia sedih karena tak mengetahui bagaimana kini nasib Indah Kumala Wardhani adiknya. Dan menyesal mengapa ia membiarkan adiknya terlibat dalam peperangan ini . . . sifat-sifat kenakalan dan kelucuannya membayang kembali dihadapannya. Yaaaa . . . .

dan bagaimanakah nasib Ktut Ghandra putri pulau Dewata yang menjadi idam-idamannya itu . . . .

Sampai disini hatinya menjadi tersayat sayat sedih diliputi kecemasan. Ia menyesal mengapa tak dapat langsung melindunginya. Wajahnya ayu yang selalu dihiasi dengan senyuman dan kerlingan matanya yang memikat hati itu kini membayangkan kembali dalam angan2nya.

Ia terkenang pula akan kelincahan Ratnasari yang selalu dekat padanya.

Jasa-jasa Sontani dan Braja Semandang yang selalu mendampingi dalam suka dan derita, tak mudah pula untuk dihilangkan dari ingatannya.

Tapi apa mau dikata. Nasib umat manusia telah ditentukan oleh Penciptanya.

Dikala itu, waktu telah larut malam mendekati terang tanah. Bintang bintang bertaburan diangkasa dengan sinar pancaran yang berkelipan.

Semakin lama sinar pancaran gemerlapan bintang-bintang itu menjadi semakin pudar, dan lambat laun hilang lenyap tersapu oleh cahaya merah keemasan, menyambut merekahnya sang matahari dari ufuk Timur Fajar. Kabut tipis perlahan-lahan membumbung ke-angkasa dan

mataharipun terbit dengan riahnya. Berhari-hari Yoga Kumala dengan diikuti Dirharn berjalan terus menuju kearah Timur mengikuti arus air sungai Musi, dengan angan-angan yang sedih kusut dan jauh merana. Kadang-kadang mereka beristirahat di tengah-tengah hutan ataupun diperdesan di rumah-rumah para petani yang dijumpainya dalam perjalanan, ada kalanya jalan yang ditempuhnya terputus karena menjumpai daerah rawa-rawa yang sukar untuk dilaluinya, sehingga mereka harus menempuh perjalanan memutar arah.

Dalam perjalanan itu mereka tak banyak bercakap-cakap hanya Dirhamlah yang selalu berusaha menghibur Yoga Kumala dengan nasehat-nasehat demi berhasil dalam mengemban tugas yang mulia itu. Dan kiranya Yoga Kumala menjadi sadar kembali. Dalam hati ia bersumpah, tak akan kembali sebelum dapat memenangkan peperangan dan membebaskan seluruh tawanan serta menumpas gerombolan pengkhianat Kobar. Iapun rela untuk mengorbankan jiwa, demi menjunjung tinggi tugasnya itu.

Sebulan telah berlalu, dan kini mereka berdua telah tiba diperbatasan Kotaraja Sriwijaya dekat bandar Muara Musi. Mereka singgah disebuah desa pinggir kota raja itu dan atas petunjuk Dirham, mereka berdua berganti pakaian sebagai petani-petani biasa. Dengan demikian mereka tak kuatir akan di curigai oleh para tamtama kerajaan musuh.

Sambil menunggu saat para utusan dari pasukan yang terpecah pecah sebagaimana dahulu kala telah ditentukan, Yoga Kumala dan Dirham menjelajahi Kota Raja dengan menyamar sebagai rakyat biasa, ataupun sebagai pedagang keliling.

Tiba-tiba diwaktu larut malam, sedang mereka berdua merebahkan badan untuk mengaso disebuah rumah penginapan, pintunya diketuk pelan-pelan oleh orang. Cepat Yoga Kumala dan Dirham menyandang pedangnya dan membuka pintu, sambil bersiap siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Orang itu segera memasuki kamar dan dengan tangkasnya ia menutup rapat pintunya kembali, dengan tanpa mengeluarkan sepatah kata. Ia mengenakan pakaian serba hitam dengan kepalanya tertutup topi anyaman dari alang-alang liar, melihat gerakan tamu yang tak, diundang itu, ujung pedang pusaka Yoga Kumala berkelebat dan telah menempel di punggung orang yang sedang menutup pintu.

— Jangan bergerak!!! Perintah Yoga Kumala singkat dengan nada yang tertahan. Namun aneh. Orang itu sedikitpun tak memperlihatkan kecemasannya, bahkan seakan-akan tak menghiraukan sama sekali ancaman Yoga Kumala.

Dengan tenangnya ia memalingkan kepalanya kearah Yoga Kumala, sambil membuka topinya yang lebar dan hampir menutupi matanya itu.

Sesaat Yoga Kumala terperanjat demi melihat wajah tamunya itu. Pedang pusaka disarungkan kembali dan ia menubruk orang yang berbaju serba hitam serta memeluknya erat-erat.

— Kakang Talang Pati! Tak kusangka bahwa aku dapat berjumpa denganmu disini !!

— Adi Yoga! Hampir satu tahun aku menjelajah mengembara untuk mencarimu dan akhirnya dewata mempertemukan kita kembali. Suatu pertemuan yang sangat mengharukan.

Mereka saling berpelukan dengan eratnya. Sedangkan Dirham hanya berdiri dengan mulut ternganga.

Perlahan lahan mereka masing - masing melepaskan pelukannya dan kini kedua saudara angkat duduk berdekatan ditempat pembaringan Yoga Kumala.

— Oh Ya, hampir-hampir aku lupa memperkenalkan denganmu Dirham! Ini adalah kakak angkatku kakang Talang Pati! kata Yoga pada Dirham yang masih saja berdiri ternganga.

Cepat Dirham mendekat dan membungkukkan badannya sambil berkata pelan — Selamat datang Gustiku Talang Pati.

— Saya adalah pengawal pribadi Gustiku Yoga Kumala!—

Sambil memegang pundak Dirham dan mempersilahkan untuk duduk didekatnya, Talang Pati menyahut jangan menyebutku dengan Gusti, karena aku bukan priyagung seperti adikku Yoga Kumala! Panggillah aku dengan Kakang Talang Pati saja.

Sejenak Dirham memandang pada Yoga Kumala dan kemudian menundukkan kepalanya. Ia merasa janggal dan canggung untuk menyebutnya Talang Pati dengan kakang. Bukankah ia berhak pula akan sebutan Gusti, karena adi angkatnya seorang priyagung yang mempunyai kekuasaan penuh sebagai penjabat Senapati Manggala Yudha Kerajaan Negeri Tanah Melayu Pagar Ruyung yang besar itu.

Kiranya Yoga Kumala cepat dapat mengungkap isi hati Dirham. Dan sambil bersenyum ia berkata padanya — Penuhilah kehendak kakang Talang Pati itu, Dirham. Ia memang aneh dan selalu bersikap merendahkan diri. Maka panggillah ia dengan sebutan "Kakang" saja agar hubunganmu dengannya tak canggung lagi.—

— Baik Gusti! ... Dan maafkan kakang Talang Pati. Demi memenuhi kehendakmu dan perintah Gustiku, perkenankanlah saya memanggilmu "Kakang" sahut Dirham sambil berpaling pada Talang Pati.—

— Bagus! Bagus! Aku lebih senang akan perlakuan yang dernikian, Dirham! — Jawab Talang Pati dengan senyumnya lebar. Kini ketiganya menjadi lebih akrab lagi dan percakapan berlangsung dengan asyiknya hingga pagi hari walau percakapan itu, Talang Pati menceritakan, bahwa kedatangannya adalah memenuhi perintah gurunya Kakek Dadung Ngawuk. Ia diharuskan mencari Yoga Kumala hingga ketemu dan selanjutnya mendampingi dalam suka deritanya.

Dalam perdialanan Talang Pati telah pernah bertemu dengan Martiman dan Martinem dan kedua anak itu kini dititipkan pada Bupati Indramayu Wirahadinata ayah angkat Yoga Kumala. Dengan singkat diceriterakan bahwa pertemuan dengan Martiman dan Wirtinem waktu itu dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Kedua anak itu berada dalam cengkeraman seorang penjahat lumpuh yang shakti

bergelar „si Ular Merah" Mereka dipaksa bekerja sebagai pengemis secara bergantian demi kebutuhan hidupnya si Ular Merah. Ia menjumpai Martinem sewaktu anak itu sedang mengemis dengan pakaian yang kumal dan compang camping. Anak itu sendiri kurus kering.

Dengan menangis terisak-isak Martinem menceriterakan bahwa kantong kulit yang berisikan harta milik Yoga Kumala dahulu dirampasnya dan kakaknya Martiman diikatnya dan diancam akan dibunuh jika ia tak mau mengemis untuk kepentingan sipenjahat itu. Dan jika kakaknya Martiman yang dilepas untuk mengemis maka ia Martinemlah yang diikat sebagai jaminan, agar Martiman tak dapat melarikan diri.

Penderitaan itu baru berakhir setelah Talang Pati dalam pertempuran yang sengit dapat membunuh si penjahat Ular Merah.

Dan dari mulut si Ular Merah sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir Talang Pati mengetahui, bahwa Kobar adalah keturunan tunggal dari sipenjahat shakti. Kepada Yoga Kumala dinasehatkan agar selalu waspada dalam menghadapi Bupati Anom Tamtama Kobar.

Yoga Kumala mendengarkan ceritera Talang Pati dengan perasaan2 yang sangat iba.

Dalam kesempatan itu Yoga Kumala tak lupa pula menyerahkan sebuah cincin batu akik „panca warna warisan mendiang gurunya mbah Duwung.

Akan tetapi cincin batu itu diserahkan kembali pada Yoga Kumala dan dijelaskan akan khasiatnya. Dalam menjelajahi hutan belantara, cincin batu " Panca warna" itu apabila dipakai dapat mengusir binatang binatang buas, karena binatang-binatang itu takut pada pancaran sinarnya.

*

* *

B A G I A N VI

HARI ITU telah lewat siang tengah bari. Matahari telah condong ke barat dengan memancarkan sinar teriknya, ditengah-tengah lembah hutan yang lebat agaknya Sungai Ogan dan Sungai Komering nampak adanya gerombolan manusia yang 3edanq duduk bercakap-cakap dengan asyiknya.

Pohon-pohon yang tumbuh liar dan lebat itu kiranya dapat dijadikan tempat persembunyian yang aman.

Diantara pohon-pohon yang rindang dan tumbuh liar terdapat sebuah pohon raksasa yang telah berabad-abad usianya. Daun-daunnya menyerupai pohon beringin demikian pula batang dan ranting rantingnya. Tapi akar-akarnya yang panjang bagaikan tali tambang tumbuh lebat dibatang dan cabang- cabangnya yang besar, bergantungan dimana-mana tak teratur. Akar pokoknya yang dibawah amat besar dan kokoh, menonjol keluar dan menjulur kesemua penjuru.

Besar pohonnya kira-kira lebih dari pelukan lima orang bergandeng- Demikian besarnya dan rindangnya pohon itu hingga dapat melindungi seratus oranq lebih dari panas terik matahari dan hujan Sesungguhnya lembah hutan belantara itu tak seberapa jauh letaknya dari kota RaJja Sriwiijaya.

Ia berada disebelah selatan dan dapat ditempuh dengan jalan kaki sehari penuh hingga sampai di Kotaraja. Akan tetapi karena lembah hutan itu amat lebatnya dan ba yak rawa rawa serta binatang- binatang buas, maa tak seorangpun sudi memasuki hutan belukar itu.

Dan baru pertama kali inilah tempat yang tak pernah dikunjungi oleh manusia, menjadi tempat pertemuan para Tamtama dan Priyaguna Kerajaan Negeri Tanah Melayu Pagar Ruyung yang dipimpin oleh Yoga Kumala. Mungkin bagi mereka dipandangnya sebagai suatu tempat yang paling aman untuk merundingkan sesuatu rahasia yang amat penting berkenaan dengan siasat rencana perangnya.

Ternyata memang benar demikian.

Kini tempat itu telah menjadi kota dan dinamakan kota Kayu Agung sebagai kenang kenangan pada pohon raksasa yang pernah berdiri megah dan bersejarah dimasa-masa yang telah silam.

Yoga Kumala dengan didampingi oleh Talang Pati dan Dirham duduk bersandar pada pohon raksasa.

Sedangkan Damar Kerinci duduk dekat dihadapannya. Dibelakang tamtama Damar Kerinci dan sekitarnya nampak para tamtama utusan-utusan dari pasukan2 jang kini telah mengepung Kota Raja Sriwijaja dari segenap penjuru dalam Susunan perang "Sandhi Yudha"

Dalam pasewakan paripurna ditengah hutan belantara ini telah ditentukan waktu dan harinya untuk mengadakan serangan serentak yang langsung ditujukan pada Kota Raja jantung kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Dan isyarat-isyarat sebagai printah pucuk pimpinan dari Mangsala Yudha Yoga Kumala telah pula ditetapkan.

Senapati Damar Kerinci berkenan untuk sementara waktu memimpin pasukan penyerbuan, sedangkan Yoga Kumala akan membebaskan seluruh tawanan dan menumpas gerombolan bajak laut yang dipimpin Kobar. Pasewakan yang dihadiri para utusan utusan pasukan yang terdiri dari 100 orang priyagung tamtama kerajaan mulai berkobar dimana-mana induk pasukan tak mengherankan karena kebanyakan praja Kerajaan yang memegang kekuasaan pada umumnya bertindak semena-mena terhadap rakyatnya.

Para bajak laut, perampok-perampok dan orang2 jahat dibina oleh para priyagung yang mempunyai wewenang, untuk dijadikan perisai dan alat untuk memeras rakyat.

Ajaran-ajaran agama telah dikesampingkan, dan hanya nafsu angkara murkalah yang selalu diketengahkan. Mereka telah tak mengenal lagi pada Tuhan Penciptanya. Demikian jauhnya mereka tersesat.

Pendeta-pendeta yang mengajar kebajikan serta membela rakyat tertindas, diusirnya dan bahkan banyak diantaranya yang dibunuh dengan secara kejam.

Kuil-kuil dan candi-candi tempat sembahyang tidak lagi mendapat perawatan sebagaimana mestinya.

Rakyat miskin dan hidup dalam ketakutan. Kepercayaan pada kerajaan telah lenyap. Dengan demikian keagungan Kerajaan Sriwijaya menjadi pudar.

Kedatangan pasukan - pasukan Kerajaan Negeri Tanah Melayu Pagar Rujung disambut oleh rakyat bagaikan mendapat pelita dalam kegelapan.

Kaum pria yang masih memiliki keberanian segera menggabungkan diri dengan kerelaan untuk turut serta dalam menumpas penguasa-penguasa yang menyeleweng dan tersesat jauh. Sedangkan kaum wanita membantu dibelakang barisan dengan mengumpulkan perbekalan perbekalan pangan dan sebagainya.

Dan mereka yang takut akan peperangan telah mulai mengungsi berbondong - bondong menjauhi Kota Raja. Kiranya bukan hanya rakyat jelata saja yang mengungsi tetapi sebagian besar dari para priyagung yang mencintai harta bendanya telah pula sibuk mengungsi dengan membawa hasil perasaan rakyat yang berlimpah-limpah itu.

Mereka ingin hidup terus untuk dapat menikmati harta kekajaannya yang diperolehnya dengan tak wajar.

yaaaa, merEka telah lupa bahwa mati dan hidup manusia berada dalam Kekuasaan Tuhan.— Desa demi desa dan kota demi kota direbut dan beralih dalam tangan kekuasaan Kerajaan Negeri Tanah Melayu Pagar Rujung.

Dengan menYusuri Sungai Komering sEbagai nelayan, akhirnya Yoga Kumala dengan didampingi oleh Talang Pati dan Dirham dapat pula memasuki Bandar Muara Musi.

Sementara itu pasukan-pasukan kecil telah beradu pula Tanjung Kalimantan dan sebagian lagi telah tiba disebelah selatan Muara Sungai Musi ialah didekat Muara Sungai Sabal.

Siang telah berlalu dan hari mulai gelap Dewi malam mulai nampak diketinggian dengan pancaran sinarnya, menerangi remang remang mayapada, bagaikan Ratu Ayu yang sedang duduk di Singgasana. Langit biru membentang cerah dan bintang-bintang gemerlapan diangkasa, laksana batu permata yang bertaburan.

Muara Sungai Musi yang amat lebar mengalir dengan tenang. Namun jelas nampak adanya suatu kesibukan yang lain dari biasanya diatas permukaan air yang setenang itu.

Berpuluh puluh perahu layar besar berlabuh di Bandar Muara sungai Musi. Bendera lambang kebesaran Kerajaan Sriwijaja dan panji-panji berkibar-kibar diatas perahu yang berlabuh.

Satu diantaranya terdapat sebuah perahu layar yang cukup besar, dan berlabuh ditengah.tengah dengan dihiasi lampu lampu dan pintu kain sutra yang beraneka warna.

Dari gladag sampai dimenara nampak terang benderang karena banyaknya Iampu yang bergantian.

Para priyagung dan tamtama Kerajaan berpakaian kebesaran kelihatan hilir mudik di gladak perahu itu dalam suasana kesibukan.

Kemudian terdengar sayup-sayup bunyi gamelan yang bertalu-talu dari atas geladak perahu layar itu. Seorang priyagung dalam pakaian kebesarannya sebagai Senapati Manggala muda tamtama

Kerajaan Sriwidiaja tiba tiba muncul diatas geladak. Ia berdiri sempoyongan sambil ketawa riang terbahak bahak dalam keadaan setengah mabok karena kebanyakan minuman keras.

Ia adalah pengkhianat Kobar yang sedang pesta pora hendak melangsungkan perkawinannya dengan Indah Kumala Wardhani diatas geladak perahu layar itu. Sepuluh pengawal pribadinya dalam pakaian tamtama Kerajaan mengikuti di belakangnya.

Menyusul kini para priyagung yang kebanyakan terdiri para pemimpin bajak laut, hingga hampir memenuhi ruang diatas geladak.

— Hai, Berhala dan Kelingi!! Bawalah segera sesaat untuk upacara perkawinanku itu kemari. Haa, ha, haaa ha !! Suara perintah Kobar terdengar lantang diiringi tawanya yang terbahak-bahak.

Dua orang yang diperintah itu segera turun kebawah dan tak lama kemudian kembali diatas geladak dengan membawa 3 orang tawanan yang masing-masing diikat kedua tangannya kebelakang erat-erat. Yalah 2 orang pria dan seorang wanita. Ternyata dua orang pria itu adalah Sontani dan Braja Semandang, sedangkan wanita yang rambutnya terurai dan duduk tertunduk adalah Ktut Chandra.

Ketiga-tiganya berpakaian serba hitam dan duduk berpegang pada dinding perahu.

Sesaat suasana menjadi sunyi, karena perhatian para hadiriin kini terpusat pada ketiga tawanan yang duduk tertunduk tak bergerak itu.

Beberapa hadirin ada yang berbisik-bisik sambil sebentar-sebentar berpaling kearah Ktut Chandra. Ada yang merasa kasihan demi menyaksikan putri pulau Dewata itu. Tetapi banyak pula yang hanya merasakan sayang, karena tertarik akan cantiknya, dan bukan karena perasaan perikemanusiaan.

Tak seorang berani membuka mulut menyatakan perasaannya. Semua hadirin membisu. Mereka tahu bahwa Kobar memegang kekuasaan yang tinggi dan apapun yang dikehendaki tak akan ada yang dapat merintanginya.

Suasana sepi itu hanya berlangsung sejenak. Karena tiba2 Kobar berbicara lantang memecah kesunyian. — Hadirin dan segenap priyagung tamtama Kerajaan yang berada dibawah perintahku! Kini upacara perkawinanku akan segera dimulai. Sebagai upacara pembukaan aku akan sesaji pada dewa- dewa yang bersemayam di Sungai Musi lambang kebesaran kita ini dan Dewa2 di lautan.

Sesajiku berupa darah manusia yang segar. Darah kedua pria yang akan kupenggal lehernya nanti adalah untuk Dewa Sungai Musi, sedangkan darah gadis remaja adalah sesajiku untuk Dewa2 di Lautan.

Kali ini aku akan sesaji besar dan lain dari pada biasanya demi untuk syahnya perkawinanku dan demi untuk kemenangankul Aku berjanji pula pada segenap priyagung tamtama yang berada dibawah perintahku, bahwa kelak akan kuberi hadiah-hadiah dan pangkat yang setimpal dengan jasa-jasa saudara-saudara.

Ketahuilah bahwa cita-citaku tentu akan tercapai. Tak lama lagi aku tentu akan duduk disinggasana Kerajaan Sriwijaya, karena saudara-saudara telah mengetahui sendiri, bahwa si Baginda kini telah lolos meninggalkan Kerajaan. Kiraku dengan kekuatan yang ada sekarang, aku sangat mudah untuk menumpas Sanggahan Alam beserta pasukannya.

Ini semua akan segera ku lakukan, setelah pesta perkawinanku selesai! Nah!...saudara-saudara hadirin semua! Jika ada sesuatu usul ataupun pertanyaan-pertanyaan hendaklah segera diajukan sebelum aku memulai dengan sesaji! —

Suaranya parau tetapi berkumandang penuh wibawa. Kata demi kata dapat jelas ditangkap oleh para priyagung yang hadir.

Kiranya Kobar telah memusatkan tenaga shaktinya untuk memumalkan rasa maboknya. Seakan-akan ia percaya penuh pada kemampuannya sendiri. Suatu khayalan yang bayang bayang, bahwa ia sebentar lagi akan menjadi raja telah nampak didepannya.

Maksud siasat pengkhianatan yang kedua kalinya ini tentu akan berhasil pula pikirnya.

Ia menyapu dengan pandangan mata yang tajam kearah semua

Dan segenap priyagung yang kebanyakan terdiri dari para pimpinan bajak laut dan perampok - perampok itu menanggapi maksud pengkhianatan Kobar dengan sangat gembira. Telah lama mereka menunggu-nunggu ketegasan Kobar. Mereka saling berebut menunjukkan kesetiaannya, demi kepentingan masing-masing.

Dan nafsu angkara murkanya melonjak-lonjak. Mereka ingin cepat-cepat dapat menikmati kekuasaan yang lebih dari pada sekarang dengan harta kekayaan yang berlimpah limpah, sekalipun harus menginjak2 kerangka2 rakyatnya sendiri.

Kini mereka berunding untuk mengajukan usul masing-masing. Suaranya beriring memenuhi geladak perahu layar yang besar itu bagaikan lembah dalam sarang.

Kelingipun nampak mondar-mandir dan turut serta berunding dengan para priyagung yang berkelompok2.

Sejenak kemudian, tiba2 Kelingi menghadap Kobar dan bicara dengan semangat yang me-nyala2.

— Gustiku Kobar! saya mewakili! segenap para priyagung untuk menyampaikan sesuatu usul.—

— Bagus ! Bagus! Bicaralah segera!— Sahut Kobar sambil tertawa lebar.

— Gustiku Kobar tentunya telah mengetahui tentang kesetiaan2 kita semua. Dan kemampuan2 serta jasa-jasa kita semua selama mengabdi pada Gustiku Kobar tentunya telah diketahui pula. Dan kiranya gustiku tentu takkan ragu2 lagi pada kita.

Untuk apakah Gustiku Kobar menunda2 pemberian pangkat pada kita? Bukankah Gusriku Kobar sekarang telah pula menentukan dan mengangkatnya sebagai calon dengan disaksikan oleh kita semua yang hadir?

Dengan demikian kita akan lebih bersemangat dalam mengemban tugas masing2.

Sesaat Kelingi berhenti bicara, sambil berpaling kearah hadirin, seakan2 menunggu suara dukungan dari teman2nya. Namun kesemuanya diam dan hanya saling ber-bisik2 lirih, menunggu jawaban keputusan Kobar.

Tiba2 Kobar ketawa ter-bahak2 sambil berbicara lantang: — Ha . . . Ha Haaa        usul yang bagus ! Aku

telah dapat menangkap isi hati kalian, Baiklah ! Hari ini juga aku akan membentuk Kerajaan bayangan, dan aku sendirilah Maharajanya. Susunan tatapraja.

Kerajaan bayangan ini akan kutentukan sekarang juga, agar kalian tiada ragu2 lagi, dan kelak setelah menjadi suatu kenyataan, kalian tinggal menduduki pangkat dan jabatan sesuai dengan ketentuan2 yang telah saya tempatkan sekarang!.

Tepuk tangan terdengar riuh gegap gempita menyambut ketegasan Kobar. Dan memang itulah yang telah lama dinanti2 oleh mereka.

Semua puas dengan diliputi oleh rasa gembira — Diam! Dan dengarlah keputusan saya baik2!!—

Mendengar seruan Kobar yang berwibawa itu, suasana kini menjadi sepi. Tak seorangpun berani membuka mulutnya.

Dengan hati yang berdebar2 mereka menanti keputusan tentang pemberian pangkat bayangan pada masing2.

Dalam hati Sontani, Brojo Semandang dan Ktut Chandra yang duduk dilantai geladak, ketawa geli pula demi mendengar percakapan mereka itu.

Akan tetapi ketiga2nya tetap saja duduk tertunduk dengan tenang mereka tak berdaya, karena kedua belah tangan masing2 dibelenggu kebelakang erat2.

— Sampai saat akan menghadapi hukuman maut, mereka tak menunjukan rasa takutnya. Mereka telah menyerah pada Dewata Yang Maha Agung, Maha Kuasa serta Maha sayang dan asih.

Rasa cemasnya telah hilang lenyap dan sedikitpun mereka tak mengeluh.

Mereka telah percaya penuh, bahwa apapun yang akan terjadi adalah kehendak Dewata Yang Maha Agung.

— Berhala ! Bawalah calon permaisuriku keatas geladak, agar ia turut serta menyaksikan segala keputusanku ini Perintah Kobar kemudian.

Sejenak kemudian semua priyagung yang berada digeladak perahu itu bergeser, untuk memberi jalan pada seorang wanita yang berkerudung putih dan dikawal oleh Berhala.

Semua hadirin segera membungkukkan badannya sebagai penghormatan atas hadirnya calon permaisuri itu.

Namun puteri berkerudung putih itu sedikitpun tak menghiraukan akan penghormatan yang diberikan. Ia tetap berjalan tenang dengan langkahnya yang kecil2 matanya memandang tajam kedepan dengan pancaran sinarnya yang penuh wibawa. la adalah Indah Kumala Wardhani semua yang hadir diam terpaku tak bergerak.

Dengan tangan yang masih terbelenggu serta duduk bersila Sontani berpaling sesaat kearah Indah Kumala Wardhani dan kemudian tertunduk kembali. la tahu bahwa saat ini sang maut telah berada diubun2nya; DETAK jantung yang berdebar2 ditekannya sendiri untuk kembali tenang; Tak sudi ia mengeluh. Dan tak sudi pula ia merengek-rengek meminta belas kasihan Kobar agar jiwanya dilindungi.

Dan demikian pula kiranya perasaan Braja Semandang dan Khut Chandra. Mati ditangan musuh, sebagai tamtama adalah merupakan hal yang wajar.

Akan tetapi demi menyaksikan hadirnya Indah Kumala Wardhani yang sebentar lagi akan

menyerah menjadi istrinya Kobar, mereka tak rela Rasa hatinya akan membrontak, akan tetapi apa daya! Mereka telah dibelenggu erat2 hingga tak mungkin dapat melepaskannya.

Benarkah Indah Kumala Wardhani akan menyerah sedemikian saja ? Jika tidak, mengapa lndah Kumala Wardhani sudi datang memenuhi panggilan Kobar? Bukankah ia dapat berbuat sesuatu untuk menentangnya ? Melawan ataupun bunuh diri? Akan tetapi kesempatan untuk melayangkan angan- angan itu tiba-tiba berhenti seketika.

Indah Kumala Wardhani yang kini berada kira kira tiga langkah lagi dari Kobar, tiba-tiba berdiri tegak serta membuka dengan renggutan pada krudungnya sendiri.

— Bangsat pengkhianat Kobar! trimalah hadiahku ini! — serunya.

Bersamaan dengan lenyapnya seruan Indah Kumala Wardhani, sebuah tusuk konde melesat bagaikan kilat mengarah dada Kobar.

Serangan lemparan tusuk konde yang tidak diduga sebelumnya membuat Kobar terkesiap. sesaat. Ia melompat tinggi kesamping untuk menghindari senjata rahasia yang aneh itu, sambil berseru mengejek dan menghunus pedangnya.

— Ha haaa haaa ha! tak kusangka bahwa calon istriku dapat pula bermain main dengan tusuk kondenya!!!

Namun walaupun ia terhindar dari bahaya maut itu akan tetapi bulu tengkuknya berdiri juga. Karena ternyata lengan kirinya masih dapat tergores dengan mengeluarkan darah segar.

Kiranya serangan yang dilancarkan oleh Indah Kumala Wardhani tidak berhenti hanya sekian saja, sebagai cucu dari Ajengan Cahaya Buana yang sejak kecil mendapat warisan ilmu kanuragan dan membenci sifat-sifat kejahatan, ia menjadi lebih marah setelah mengetahui serangannya yang pertama gagal.

la maju selangkah sambil melepaskan angkin sutra dari pinggangnya, dan bersamaan dengan berkelebatnya angkin sutra merah ditangan kanannya itu, dua buah tusuk kondenya dilemparkan beruntun mengarah kepala dan dadanya Kobar.

— Sambutlah senjataku pamungkas ini serunya!

Saat itu Kobar belum berdiri tegak, dan kiranya tak mungkin untuk melompat menghindar.

Pedang pusaka ditangan kanan Kobar berputar cepat sambil merendah, menghindari melesatnya tusuk konde emas yang mengarah kekepalanya bagaikan sambaran kilat :Criiiing! Sebuah tusuk konde terkena sambaran pedang pusaka Kobar hingga terpental dan jatuh tertancap diatas geladak tepat dihadapan Sontani yang sedang duduk tak berkutik.

Akan tetapi, tiba-tiba hadirin yang diam terpaku melihat ketangkasan Kobar itu, kini menjadi

gaduh.

Karena bersamaan dengan terpentalnya sebuah tusuk konde, Kobar tiba2 beseru tertahan sambil terhuyung huyung kebelakang tiga langkah dengan mendekap pada mata sebelah kirinya. Aduh —!

Kiranya ia kurang waspada dan sebuah tusuk konde lagi mengarah dadanya kini tepat mengenai mata sebelah kiri, secara kebetulan karena pada saat itu ia merendah.

Lebih sejari tusuk konde itu menghujani dimata kirinya dan darah mengalir deras.

— Jahanam iblis betina!— Saksikan dulu sesajiku.— Seru Kobar sambil membalikkan badannya serta mengayunkan pedang pusakanya dalam gaya „tebangan maut„ mengarah leher Sontani yang sedang duduk dengan terbelenggu.

— Aaaiiiii ! — Suatu jeritan panjang melontar dari mulut Indah Kumala Wardhani dan bersamaan dengan jeritannya, ia langsung menubruk Sontani yang sedang duduk diambang maut.

Kiranya sebagai seorang putri, ia tak tega mehhat kekejaman Kobar yang akan merenggut jiwa Sontani.

Dan lebih dari itu, iapun ingin mengadu jiwa demi melindungi Sontani kekasihnya.

Tiba tiba perahu layar itu bergoncang-goncang keras Pedang pusaka Kobar yang hampir

mengenai sasaran terbentur pada sebuah pedang pusaka lain yang berkelebat tepat menghadang arahnya.

Yoga Kumala dengan pakaian hitam yang basah kuyub telah berada dihadapan Kobar dengan pedang pusaka terhunus.

Beratus-ratus tamtama kerajaan Pagar Ruyung dengan pakaiannya yang basah kuyub mengikuti jejak Yoga Kumala dan langsung menyerang para priyagung yang berada digeladak itu.

Rencana pesta upacara perkawinan kini menjadi pertempuran yang besar.

Suatu serangan yang tiba2 dan tak terduga sama sekali, Jeritan ngeri terdengar susul-menyusul diselingi oleh gemerincing beradunya senjata. Pertempuran berlangsung sengit, dan telah banyak pula kepala manusia terpisah dart badan serta jatuh tercebur di Sungai Musi.

— Aaaaiiiiii ! — Suatu jeritan panjang, melontar dari mulut Indah Kumala Wardhani dan bersamaan dengan jeritannya. ia langsung menubruk. Sontani yang sedang duduk diambang maut.

— Haaai Kobar!! Hukumaa maut untukmu sebagai pengkhianat, kini telah tiba pada saatnya? maka segeralah mohon ampun pada Dewata, sebelum kau menghadapNya!! — Seru Yoga sambil menyerang.

— Haa Haaa! Jahanam budak penjilat! Yoga Kumala. Kedatanganmu adalah mengantar jiwa. Maka menyerahlah sebelum terlambat !—

Membalas demikian Kobar sambil melompat kesamping menghindari serangan Yoga Kumala yang bertubi-tubi dan membalasnya pula dengan jurus-jurus pedang warisan ayahnya si Ular Merah yang terkenal ampuh itu.

Walaupun matanya yang kiri telah terluka dan menjadi buta. namun Kobar yang shakti itu masih juga dapat mengimbangi ketangkasan Yoga Kumala.

Dua pedang pusaka berkelebat menyambar-nyambar pada masing-masing lawan, dan sebentar- sebentar terlihat muncratnya percikan api karena beradunya kedua pedang pusaka.

Sementara itu Sontani. Braja Semandang dan Ktut Chandra telah terbebas belenggunya berkat bantuan Talang Pati, kini mereka telah mengamuk dalam kancah pertempuran.

Dengan pedang rampasan Sontani menyerang Berhala. Sedangkan Braja Semandang menghadapi Kelingi yang sedang mengamuk punggung bagaikan Banteng terluka.

Empat priyagung tamtama pasukan Kobar mengurung Talang Pati dengan senjatanya masing2. Namun Talang Pati yang bersenjatakan cambuk ular dan golok panjang, murid setia Mbah Duwung dan murid terakhir dari kakek Dadung Ngawuk yang shakti itu dengan mudah ia dapat merobohkan keempat lawannya. Belum sampai sepuluh jurus keempat lawannya telah roboh menjadi darah dan jatuh terjebur terbenam arus Sungai Musi.

Cepat Talang Pati melompat kesamping dan hendak membantu Yoga Kumala. Akan tetapi kiranya ini tak dikehendaki oleh Yoga.

— Kakang Talang Pati! biarlah pengkhianat Kobar ini mati ditanganku! Dan Bantulah teman- teman yang lain! Elak Yoga Kumala.

Dikala itu, waktu tengah malam. Langit biru membentang cerah, dan bulan nampak bulat diketinggian dengan memancarkan cahayanya yang terang remang2.

Bintang bintang berta buran diangkasa.

Awan putih bagaikan kapas tipis bergantungan terpencar2 merupakan hiasan yang indah.

Air sungai Musi yang keruh mengalir bercampur lumpur kini menjadi kemerah merahan karena bercampur darah. Mayat-mayat yang terapung terbawa arus segera lenyap menjadi santapan ikan-ikan buas. Suatu sesaji besar bagai keagungan Sungai Musi.

Pertempuran masih berlangsung terus dengan sengitnya tiba-tiba beratus-ratus panah berapi berlintasan diudara dan perahu-perahu layar yang berlabuh disekitarnya menjadi lautan api. Kiranya pasukan Kerajaan Kerajaan Negeri Tanah Melayu Pagar Ruyung atas perintah Damar Kerinci telah datang membantu pasukan Yoga Kumala.

Disela-sela asap hitam yang bergulung gulung membumbung keangkasa dan api yang menjilat-jilat itu, pertempuran sengit tengah berlangsung pula.

Beberapa perahu-perahu layar tenggelam didasar Muara Sungai Musi dengan diiringi suara jeritan-jeritan ngeri.

Pun bersamaan waktunya, nampak disebelah barat diatas Kota Raja Kerajaan Sriwijaja asap hitam bergulung gulung membumbung tinggi dan api menyala menjilat jilat diangkasa. Langit yang tadinya cerah cemerlang, kini menjadi gelap tertutup awan hitam semburat merah.

Pertempuran besar di Kota Raja, kiranya tekah mengakhiri sejarah keagungan Sriwijaya.

Demi melihat lautan api disekitarnya. Kobar segera menggagalkan serangannnya. Ia melompat tinggi tinggi dan Iangsung menceburkan diri di Sungai Musi yang deras mengalir.

Pertempuran terhenti dengan sendirinya.

Musuh yang masih hidup segera membuang senjatanya masing-masing tanda menyerah. Berhala dan Kelingi mati dengan kepala terbabat pisah dari badan oleh amukan Sontani dan Braja Semandang.

Suara genderang bertalu dengan diiringi derap langkah kaki kuda yang beribu-ribu terdengar didaratan tebing Muara Sungai Musi Pasukan Keradiaan Negeri Tanah Melayu Pagar Ruyung dibawah pimpinan Bintang Minang telah tiba untuk menyambut Yoga Kumala beserta pasukannya.

Dalam sambutan besar itu, Manggala Yudha Bintang Minang berkenan pula memberikan anugerah gelar "Pahlawan Pengemban Sumpah Palapa terachir" pada Yoga Kumala.

Fajar telah merekah diufuk timur, dan cahayanya yang cerah semburat kuning keemasan memancar menerangi buana.

Bendera-bendera Sang Saka "Dwiwarna" berkibar kibar dengan megahnya disepanjang jalan seluruh Kota Raja, memenuhi Sumpah " Tan Amukti Palapa ", ialah Sumpah Shakti mendiang Maha Patih Gajah Mada. (Akhir abadXIV).

Tak lama kemudian Kota Raja mengadakan pesta besar untuk merayakan hari perkawinan ampat pasang temanten agung.

YOGA KUMALA dengan KTUT CHANDRA

S o n t a n i mendapatkan dengan Indah Kumala Wardani Braja Semandang dengan Sampur Sekar

Sedangkan Ratnasari hidup berbahagia dengan suaminya Talang Pati.

TAMAT