Pangeran Anggadipati Bab 19 : Seorang Qalon Baru (Tamat)

 
Bab 19 : Seorang Qalon Baru (Tamat)

Beberapa hari setelah peristiwa yang sangat menyedihkan itu, dari Padepokan Tajimalela Pangeran Muda memacu si Bulan ke arah kota Medang. Ia berangkat seorang diri, dan sepanjang hari tidak berhenti memacu kudanya, didorong oleh hatinya yang gelisah dan berdukacita.

Pada hari kedua, ketika hari menuju senja, tampaklah di depannya menara-menara benteng kota Medang. Pangeran Muda makin cepat memacu kudanya dan ketika gerbang kota itu sudah tampak, tiba-tiba dari arah depan datanglah penunggang kuda lain yang dikenalnya, yaitu Mang Ogel. Ketika mereka bertemu di tengah-tengah jalan itu, Mang Ogel segera turun.

"Anom, tenanglah, marilah kita segera kembali ke Padepokan. Setelah segalanya menjadi tenang, kita dapat merencanakan untuk berkunjung ke kota Medang!"

Segala firasat jelek dan kegelisahan seperti menjelmakan dirinya dengan tingkah laku Mang Ogel yang kelihatan bingung dan bersedih hati itu. Pangeran Muda turun dari kudanya, lalu bertanya, "Mang Ogel, katakanlah kepada saya apa yang terjadi."

Mang Ogel kelihatan sangat bersedih hati dan juga tidak mau memulai pembicaraan. "Mang Ogel, katakanlah."

"Anom, seluruh kota seperti hendak mengamuk mendengar berita kematian putra sulung penguasanya. Semua kaum laki-laki, hingga kepada anak-anak dipersenjatai, dan engkau dicaci maki dengan kata-kata yang hanya boleh didengar oleh siluman. Sedang malam ini, mereka akan melakukan upacara sumpah pembalasan dendam terhadapmu. Karena itu, tenang-kanlah dan tabahkanlah hatimu. Marilah kita pulang ke padepokan, dan kalau suasana sudah sedikit berubah, kita akan kembali dan menjelaskan segala-galanya."

"Mang Ogel, tapi saya tidak bersalah."

'Anom, kemarahan tidak pernah memberi kesempatan kepada siapa pun untuk mencari kebenaran, yang dicarinya hanyalah kesalahan."

"Tidak, Mang Ogel, saya harus menjelaskan semuanya," kata Pangeran Muda. 'Anom!" seru Mang Ogel ketakutan, seraya menangkap tangan Pangeran Muda yang

memegang pelana si Bulan. Kedua tangan yang besar itu, seperti dua sepitan dari besi menjepit pergelangan tangan Pangeran Muda. Pangeran Muda tidak dapat bergerak karena tenaga Pangeran Muda telah dibekukan oleh Mang Ogel yang sangat hafal akan ilmu tenaga itu.

"Mang Ogel, berilah kesempatan pada saya untuk pergi ke kota Medang, untuk bertemu dengan Yuta Inten dan menjelaskan segalanya. Sekurang-kurangnya kepadanya."

Mang Ogel termenung, lalu berkala, "Ingat Anoin, pertemuanmu dengan putri itu belum tentu memperbaiki keadaan. Bahkan siapa tahu malah memperjeleknya. Di samping iiu, Mang Ogel tidak menjamin keselamatanmu serta keselamatan orang lain. Segala perbuatanmu adalah tanggung jawabmu. Mang Ogel sudah memberimu peringatan, dan engkau adalah seorang dewasa yang sudah pantas memiliki pikiran waras. Di samping itu, engkau adalah seorang puragabaya yang berkewajiban selalu berpikiran waras."

Sambil berkata demikian, Mang Ogel melepaskan tangannya. Mendengar perkataan Mang Ogel itu, lemahlah seluruh sendi Pangeran Muda. Kakinya hampir tidak sanggup menahan berat tubuhnya. Ia pun bersandar pada pelana si Bulan, air mata panas di kelopak matanya.

Mang Ogel berjalan ke arahnya, dan sambil memegang pundaknya berkata, "Pergilah nanti ke sana, tetapi setelah malam gelap. Masuklah ke kamar putri itu, dan jelaskanlah segalanya, kemudian kita pulang ke padepokan. Mintalah petunjuk Eyang Resi untuk tindakan-tindakan yang bijaksana selanjutnya. Bertapalah di padepokan, atau bertapalah dalam kesibukan baktimu pada kerajaan, mudah-mudahan Sang Hiang Tunggal mendengar doa-doamu."

Mendengar itu, agak ringanlah penderitaan Pangeran Muda. Ia memandang kepada Mang Ogel yang tersenyum sayu kepadanya. Kemudian ia berpaling ke arah menara-menara kota Medang yang samar-samar di langit yang kelam. Tak lama kemudian, kedua orang penunggang kuda itu pun telah bergerak beriringan menuju kota Medang yang gerbangnya sudah ditutup rapat.

SAMBIL menunggu malam bertambah gelap, Pangeran Muda dengan Mang Ogel melepaskan kuda mereka di dekat mata air. Selagi mereka menunggu kuda-kuda mereka minum, langkah derap kuda terdengar dari arah barat menuju mereka. Seorang gulang-gulang begitu tiba melompat .dari kuda, lalu berkata, "Apakah ini Pangeran Anggadipati Muda?"

"Ya," ujar Pangeran Muda.

"Hamba membawa surat dari Pakuan Pajajaran untuk Pangeran Muda."

"Dari siapa? Oh!" Pangeran Muda melihat kotak lontar yang dikenalnya dari Ayahanda Pangeran Muda bertanya, "Bagaimana kau dapat menyusul saya? Dari mana pula kau datang?"

"Saya dari Kutabarang, Pangeran Muda. Pangeran Jayapati menerima surat ini, lalu memerintah empat orang gulang-gulang menuju ke suatu tempat. Di sana kami mendapat kabar bahwa Pangeran Muda tidak berada di padepokan dan orang yang harus menerima surat menyarankan kepada kami agar menyusul ke kota Medang. Kami menuruti saran itu dan ketika kami beristirahat, seseorang memberikan keterangan bahwa siang tadi seorang penunggang kuda putih lewat. Kami berbeda pendapat, yang tiga orang berpendapat belum tentu penunggang kuda putih itu Pangeran Muda. Saya sendiri punya firasat bahwa itu Pangeran Muda, lalu saya memutuskan untuk menyusul seorang diri, sementara yang lain menunggu di kampung yang letaknya tidak jauh dari sini. Sepanjang jalan saya bertanya kepada orang-orang kampung, apakah mereka melihat penunggang kuda putih, seorang kesatria. Mereka menunjuk ke arah sini."

"Kecerdikanmu patut dihargai. Terima kasih, dan sampaikan pula terima kasih kepada Pangeran Jayapati. Kau tak akan kulupakan," lanjut Pangeran Muda.

"Terima kasih kembali, Pangeran Muda, tugas hamba selesai, dan hamba mengundurkan diri."

Setelah gulang-gulang itu hilang dalam kelam malam Pangeran Muda dengan bantuan cahaya bintang dapal membaca tulisan di atas lontar itu.

Anakku,

Ayahanda sedang sangat sibuk, tetapi kegembiraan dan kebanggaan mendorong Ayahanda mengucapkan selamat kepadamu. Sang Prabu dan Putra Mahkota sangat berkenan dengan perbuatan-perbuatanmu untuk kerajaan selama ini. Penangkapan pemimpin pengacau dan penyerangan ke seberang Cipamali masih segar di dalam ingatan penghuni istana, dan sekarang kau telah pula berhasil membunuh puragabaya yang gila dan membahayakan itu (siapakah nama puragabaya itu?). Sang Prabu sungguh-sungguh sangat berkenan, dan engkau telah mengangkat kehormatan keluarga kita di mata beliau. Berulang-ulang beliau berkunjung kepadaku, hanya untuk memperbincangkan engkau. Terakhir beliau menawarkan apakah kau bersedia menjadi pengawal pribadi beliau. Anakku, ini suatu kehormatan dan kemuliaan bagimu dan bagi seluruh keluarga kita. Kukirimkan pula surat kepada Ibunda dan Ayunda di rumah. Mereka pasti akan berbahagia mendengar beritayang menggembirakan itu. Anakku, pikirkanlah baik-baik tawaran sang Prabu yang sangat jarang terjadi bagipuragabaya- puragabayayang masih muda dan masih belum banyak pengalaman seperti engkau. Sekian dulu, ayahmu sangat sibuk tapi sangat bergembira, Anggadipati.

Pangeran Muda tidak tahu, perasaan apa yang tergerak dalam hatinya setelah membaca surat itu. Yang disadari hanyalah, bahwa tangannya yang memegang kotak lontar itu gemetar, walaupun malam sekali-sekali tidak dingin. Pangeran Muda memasukkan kotak lontar itu ke dalam kantong pelana, dan setelah menitipkan kendali si Bulan pada Mang Ogel, berangkatlah Pangeran Muda seorang diri, berjalan menuju bayangan benteng kota yang kelam itu.

SETELAH memanjati benteng lapisan luar, Pangeran Muda melompati beberapa benteng lain, dan setelah meluncur pada sebatang pohon, tibalah dekat jendela kamar Putri Yuta Inten. Akan tetapi, seluruh ruangan dalam rumah besar itu gelap belaka. Pangeran Muda mengendap-endap di lorong. Semuanya sunyi. Maka Pangeran Muda pun kembali memanjati benteng, dan setelah melewati beberapa atap rumah, tibalah di atas benteng yang melingkari lapangan kota. Ternyata seluruh penduduk kota berkumpul di sana. Di antara mereka, di suatu tempat yang dimuliakan, tampaklah seluruh keluarga Banyak Citra. Laki-lakinya berpakaian perang, sedang wanita- wanitanya berpakaian perkabungan.

Di tengah-tengah lapangan kota dinyalakan api unggun yang sangat besar. Apinya berkobar- kobar menerangi seluruh lapangan. Pada suatu saat, majulah seorang bangsawan muda ke depan, sedang bangsawan-bangsawan muda lain berdiri di belakangnya. Bangsawan muda itu mengacungkan tangan kanannya, lalu berseru, "Demi kehormatan keluarga Banyak Citra dan warga kota Medang, kami bertekad untuk membalas dendam dan membunuh pembunuh sahabat kami, Jante Jaluwuyung. Kami akan meminum darahnya, memakan hatinya, dan menyerahkan bangkainya pada anjing. Semoga tekad kami direstui Sang Hiang Tunggal, Maha Penghukum, Maha adil."

Ucapan itu diikuti oleh ucapan bangsawan-bangsawan dan pemuda-pemuda lain yang berkumpul mengelilingi api unggun besar itu. Setelah ikrar diucapkan, Banyak Sumba, adik laki-laki Putri Yuta Inten maju, ia mencabut sebuah senjata dari pinggangnya, lalu melemparkannya ke dalam api yang menyala. Pangeran Muda ingat badik kecil bergagang gading yang pernah dihadiahkan kepada anak itu. Pangeran Muda merasa tertusuk melihat pemandangan yang menyatakan kekerasan hati seorang anak yang masih kecil itu. Akan tetapi, pemandangan yang lebih meremukkan kalbunya segera menyusul. Setelah ragu-ragu, Yuta Inten, berjalan ke depan, ayahnya tegak seperti patung, tidak melihat kepadanya, tetapi kebisuannya seolah-olah memesona seluruh hadirin untuk melakukan hal-hal yang memperlihatkan bahwa mereka berdiri di pihak laki-laki yang keras itu untuk membalas dendam kepada Pangeran Muda. Setelah beberapa lama berdiri di dekat api yang berkobar-kobar itu, Putri Yuta Inten melepaskan kedua gelang yang dipakainya, subangnya, dan kalungnya, lalu tusuk konde, yang kesemuanya merupakan hadiah dari Pangeran Muda. Benda-benda yang sangat berharga itu dilemparkan ke dalam api. Kemudian gadis itu jatuh terduduk, dan dipapah kembali ke tempat keluarga mereka oleh emban. Melihat pemandangan itu, hampir jatuh Pangeran Muda dari atas benteng.

Pemandangan-pemandangan yang tidak kurang fasihnya dalam mengucapkan tekad membalas dendam dan kebencian diperlihatkan berturut-turut. Pangeran Muda tidak dapat melihat pemandangan-pemandangan seperti itu lebih lama lagi. Ia merangkak, lalu terbaring di dalam lekuk benteng yang gelap. Ketika segalanya sudah sunyi dan dari arah lapangan itu tidak terdengar lagi teriakan-teriakan, Pangeran Muda bangkit, lalu merangkak ke arah kaputren, menuju ruangan Putri Yuta Inten. Setiba di sana dilihatnya jendela tertutup, walaupun di dalam ruangan tampak cahaya remang-remang. Pangeran Muda menyelinap, lalu membuka jendela itu dengan hati-hati, kemudian meloncat ke dalam.

Putri Yuta Inten dengan pakaian berkabung yang belum ditanggalkannya berdiri, dan dengan jeritan yang tercekik berseru, "Pembunuh!"

Sambil berseru-seru demikian, gadis itu tiba-tiba tampak memegang sebilah badik dan menghambur menyerang Pangeran Muda. Melihat pemandangan itu, Pangeran Muda seperti membeku, tidak dapat bergerak, tidak dapat menghindar. Akan tetapi, ketika badik itu sudah diangkat dan hendak ditusukkan ke dadanya, tiba-tiba Putri Yuta Inten berhenti. Ia tertegun, kemudian melemparkan badik itu, dan merangkul Pangeran Muda sambil menangis tersedu-sedu.

"Mengapa Pangeran Muda datang ke sini, apakah untuk membuat anak itu menjadi gila karenanya?" tanya emban sambil memandang dengan tajam ke wajah Pangeran Muda.

"Kakak anak ini telah dibunuh, adiknya hendak disiksa pula. Pergilah, sebelum kaum laki-laki keluarga Banyak Citra datang," kata emban tua itu mengancam.

Mendengar ancaman itu, Putri Yuta Inten melepaskan pelukannya, lalu berseru, "Pergi!" seraya matanya memandang kepada Pangeran Muda dengan kebencian.

Tak ada pukulan yang lebih keras dari pandangan mata yang tajam dan penuh kebencian itu. Pangeran Muda sungguh-sungguh terguncang, dan dengan gontai dan tetap memandang gadis itu, ia mengundurkan diri dari arah jendela. Akan tetapi, ketika ia hendak melompat ke luar, Putri Yuta Inten mengejarnya, lalu merangkulnya, memegang lehernya dan menyurukkan mukanya yang basah oleh air mata ke muka Pangeran Muda.

Lalu gadis itu menangis tersedu-sedu dengan keras.

Setelah agak tenang, Pangeran Muda mulai menjelaskan segalanya, dari sejak kecurigaannya kepada jante hingga peristiwa yang menyedihkan itu. Berulang-ulang Pangeran Muda menyatakan, "Mungkinkah orang yang seperti Kakanda membunuh sahabatnya, calon iparnya, kakak gadis yang dicintainya demi kehormatan keluarga Anggadipati? Apakah artinya kehormatan, artinya kebanggaan dan harga diri, kalau yang dikejar dalam hidup ini adalah kebahagiaan dan kesejahteraan bersama yang hanya dicapai dengan kasih sayang?"

Gadis itu menjadi reda dan setelah itu Pangeran Muda menegaskan bahwa apa yang terjadi adalah suatu kecelakaan, suatu nasib buruk yang bukan saja menimpa dirinya, akan tetapi menimpa seluruh seluruh kepuragabayaan dan kerajaan. Di sela-sela sedunya pada suatu saat gadis itu berkata, "Untuk tidak harus kawin dengan bangsawan lain, Adinda sudah berjanji pada Ayahanda bahwa Adinda tidak akan kawin seumur hidup dan akan menjadi pendeta wanita sebagai tanda duka cita karena kematian Kakanda Jaluwuyung."

"Engkau berjanji ketika hatimu sedang terguncang. Engkau harus menarik janji itu kembali. Kalau tidak, Kakanda pun berjanji tidak akan kawin untuk selama-lamanya dan akan menjadi pendeta, sebagai dukacita Kakanda karena kematian Jaluwuyung yang Kakanda sayangi."

Gadis itu tidak berkata apa-apa. Ia mengeratkan pelukannya. Sementara itu, di luar terdengar langkah para gulang-gulang.

Emban berbisik pada Pangeran Muda, "Untuk tidak memperjelek keadaan, pergilah segera dari sini. Biarkanlah Yuta Inten-beristirahat. Cepatlah meninggalkan kota Medang karena kaum laki-laki bertekad membunuhmu."

Pangeran Muda pamitan kepada Putri Yuta Inten yang kemudian menangis kembali dan mempererat rangkulannya.

"Marilah kita berpisah, dan berdoa kepada Sunan Ambu serta Sang Hiang Tunggal yang akan memberikan petunjuk kepada kita, apakah kita akan bertemu lagi atau tidak. Sekarang hari sudah larut, tidurlah karena kau kelelahan. Kakanda terpaksa meninggalkanmu, para gulang-gulang menjaga kaputren semakin ketat," demikian ujar Pangeran Muda yang menyadari, langkah- langkah makin banyak terdengar di sekitar kaputren itu.

SEPANJANG malam itu. Pangeran Muda dengan Mang Ogel berkuda menuju Padepokan Tajimalela. Ketika keesokan harinya matahari terbit mereka tiba di persimpangan yang menuju ke Padepokan Tajimalela dan Kutabarang. Di atas sebuah bukit yang menghadap ke arah persimpangan itu mereka beristirahat.

Waktu Pangeran Muda berdiri melihat pemandangan pagi ke segala arah, dari jauh tampaklah tiga orang penunggang kuda. Mang Ogel bangkit, ikut melihat ke arah ketika penunggang kuda yang mengambil jalan menuju ke Padepokan Tajimalela. Makin dekat makin jelas juga ketiga penunggang kuda itu. Akhirnya, Pangeran Muda mengenal dua orang di antara mereka, yaitu Pamanda Minda dan Si Rawing, badega padepokan.

"Mang Ogel, ternyata kita mendapat kawan pulang," kata Pangeran Muda. Mang Ogel segera mendekati kudanya, hendak menyusul orang-orang dari padepokan itu.

"Nanti dulu, Mang," ujar Pangeran Muda. "Kita akan menyusulnya nanti, setelah kuda-kuda kita beristirahat." Mang Ogel berjalan dan berdiri di samping Pangeran Muda, memandangi rombongan Pamanda Minda yang lewat di bawah mereka.

"Calon baru!" kata Mang Ogel sambil memandang ke-arah seorang anak muda sekira umur tiga belas atau empat belas tahun. Dari pakaian dan sikapnya yang anggun di alas kudanya yang tampan, jelas bahwa anak itu adalah putra salah seorang bangsawan Pajajaran.

Pangeran Muda memandangi anak itu dengan perasaan yang bercampur baur. Apakah yang akan dihadapi oleh anak yang sekarang masih muda itu? Sadarkah anak yang masih muda itu kemungkinan-kemungkinan yang begitu banyak, tentang suka-duka yang harus dihadapinya? Sadarkah ia bahwa menjadi seorang puragabaya berarti tidak memiliki diri sendiri dan menyerahkannya demi kepentingan kerajaan? Segala pengalaman Pangeran Muda sendiri terkenang kembali, semenjak latihan-latihan perkelahian dengan berandalan hukuman, lembah tengkorak, rawa siluman, Ki Monyet Putih, Janur, Jante, dan Yuta Inten. Mungkinkah anak yang sekarang tidak tahu apa-apa yang nanti akan menghadapi pengalaman-pengalaman yang dialaminya sendiri?

Sambil memandang ke arah calon itu, hati Pangeran Muda dipenuhi pula oleh perasaan- perasaan yang tidak dapai diberinya batasan. Ia termenung sambil tersenyum memandang anak itu, tetapi dengan tidak disadarinya, kelopak matanya digenangi airmata.

"Anom, mereka terlalu jauh nanti," ujar Mang Ogel. Pangeran Muda bergerak dan melompati si Bulan.

"Ha!" seru Mang Ogel kepada kudanya. "Ha! Ha!" katanya pula keras-keras sementara mereka mengejar rombongan Pamanda Minda. Debu jalan yang menuju Padepokan Tajimalela itu mengepul ke udara dari bawah ladam kuda mereka.

"Ha! Ha!" seru Mang Ogel, makin lama suaranya makin jauh dan akhirnya tidak terdengar.

Rombongan yang telah 'bersatu itu kemudian lenyap dari pandangan karena membelok di suatu tempat di dalam hutan. Debu-debu kembali jatuh di atas jalan yang sekarang lengang dan sunyi, di bawah matahari pagi Pajajaran.

SELESAI

Glosarium
Badega: orang yang berkedudukan sedikit lebih tinggi dari pelayan

Barangbang semplak. pelepah daun kelapa jatuh (model/ cara memakai ikat kepala) Baros: dewan yang terdiri dari para orang tua, bertugas mengadili perkara

Bujangga: lelaki tampan di kahyangan atau Buana Padang yang bertugas mengabdi kepada Sunan Ambu, dewi tertinggi dalam mitologi Sunda Kuno

Gendewa: busur panah Gulang-gulang: prajurit Guriang: dewa Lawang kori: pintu gerbang Ngelindur: mengigau Nyakseni: mengamini

Panakawan: pembantu

Pengwidangan: kayu berbentuk cincin yang dipakai untuk merentang kain saat dibordir

Pisau pangot: pisau kecil yang biasa digunakan untuk menulis dengan cara menggoreskannya di atas daun lontar

Pohaci: wanita cantik di kahyangan seperti bujangga

Seja nyaba ngalalana, ngitung lemur ngajajah, mi-langan kor i: Niat pergi mengembara, menghitung kampung, merambah bilangan kori

Suwargi: almarhum Terangko: ruang tahanan

Baca kisah selanjutnya di buku kedua