Pangeran Anggadipati Bab 18 : Malakal Maut

 
Bab 18 : Malakal Maut

Pangeran Jayapati adalah Penguasa Kota Kutabarang. Rombongan puragabaya pertama-tama menghadap kepada pangeran itu untuk melengkapi keterangan dan meminta saran-saran bagaimana supaya mereka dapat menemukan Jante. Pangeran Jayapati dengan murung menerangkan kepada mereka, 'Jaluwuyung adalah seorang puragabaya yang baik. Ia sangat patuh dan melaksanakan segala tugas dengan baik. Akan tetapi, ada suatu hal yang mengganggu pikiran saya semenjak dia datang ke sini. Ia. sangat pemurung, dan kadang-kadang cahaya matanya memperlihatkan sinar yang aneh. Berulang-ulang saya bertanya kepadanya, apa yang menjadi sebab kemurungannya. Ia tidak mau menjelaskan. '

"Belakangan ia menjelaskan bahwa serombongan bangsawan-bangsawan muda yang datang dari luar kota, yaitu dari Kuta Kiara, membayang-bayanginya selagi ia mengelilingi kota sebagai pelaksanaan salah satu dari tugasnya. Saya menanyakan kepadanya, apa sebabnya pemuda- pemuda itu membayang-bayangi. Ia menjawab tidak tahu. Belakangan saya mendapat keterangan dari seorang bangsawan bahwa seorang putri yang bernama Mayang Cinde menaruh perhatian kepadanya. Rupanya rombongan bangsawan muda dari Kuta Kiara tidak bersenang hati akan hal itu, dan dalam suatu kesempatan mencegatnya di luar benteng. Perkelahian terjadi, dan tiga orang menjadi korban, yang pertama adalah Raden Bagus Wiratanu, yang lain adalah kawan- kawannya. Di samping yang tewas itu terdapat pula yang luka-luka, patah tulang dan sebagainya. Semenjak itu, Jante tidak kembali ke istana."

"Apakah jejaknya sudah ditemukan?"

"Perwira jagabaya melaporkan, dari jejak dan keterangan-keterangan yang dapat dikumpulkan, kemungkinan Jante melarikan diri ke dalam hutan terlarang di sebelah selatan Kutabarang. Hutan ini belum pernah dimasuki manusia, kecuali penjahat-penjahat dan para petapa yang mencari sepi. Juga jalan ke sana begitu sukarnya, hingga jagabaya-jagabaya yang ditugaskan umumnya tidak dapat memasuki daerah hutan sedalam yang diharapkan. Tumbuh-tumbuhan rambat, binatang-binatang buas, ular-ular raksasa menjadi penghalang mereka."

"Dapatkah kami mendapatkan bantuan dari para jagabaya?" tanya Pamanda Rakean. "Tentu saja, justru penunjuk jalan telah tersedia untuk mengantarkan Saudara-saudara ke

tempat jejak terakhir itu," ujar Pangeran Jayapati. Ketika perundingan sedang berjalan, beberapa orang jagabaya tiba dengan berita yang mengejutkan. "Tiga orang bangsawan yang sedang berburu terbunuh. Dari keterangan kawan-kawannya, yang menyerang mereka bukanlah binatang buas, tetapi manusia, walaupun lebih tangkas dari binatang buas."

Para puragabaya saling memandang satu sama lain. "Di hutan mana peristiwa itu terjadi?"

"Dekat hutan larangan," ujar jagabaya itu. Sekali lagi para puragabaya saling berpandangan. Dan dalam perundingan selanjutnya, para puragabaya meminta kepada Pangeran Jayapati untuk segera dikirim ke tempat di sekitar peristiwa itu terjadi.

Keberangkatan rombongan pencari ditangguhkan sampai keesokan hatinya, sedang pada malam harinya para puragabaya dijamu dahulu oleh Pangeran Jayapati. Malam itu, Pangeran Muda tidak dapat tidur, begitu banyak perasaan yang mengharu-biru hatinya.

Pertama keanehan Jante sendiri, yang di samping kemurungannya yang makin lama makin menonjol, juga sering aneh dalam pembicaraannya. Menurut pendapat Pangeran Muda, Jante sering sekali mengatakan hal-hal yang memperlihatkan bahwa kesadaran Jante tidak berpijak dengan kukuh di atas kenyataan. Sedang dari pikiran-pikirannya yang tidak mendasar, pikiran- pikiran jelek tentang orang lainlah yang menguasai kesadaran Jante.

Pangeran Muda sangat menyesal hal itu tidak sempat dikabarkannya kepada Eyang Resi dan para pelatih. Kesibukan Pangeran Muda dan Putri Yuta Inten merebut seluruh perhatian Pangeran Muda. Dan Jante, walaupun makin hari makin menjadi aneh, terlupakan olehnya. Pangeran Muda sungguh-sungguh menyesal karenanya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, tujuh orang penunggang kuda putih dengan penunjuk jalan dua orangjagabaya yang berkuda hitam ke luar dari gerbang kota Kutabarang menuju ke arah hutan yang lebat dan menakutkan di sebelah selatan.

UNTUK mendapat keterangan yang lebih lengkap, rombongan tidak langsung memasuki hutan lebat itu, tetapi berjalan menuju sekelompok kampung untuk bertanya kepada para petani yang menjadi pengiring bangsawan-bangsawan pemburu yang malang itu. Setiba di kampung yang dituju, para puragabaya tidak segera dapat menemukan para petani itu, karena mereka sudah bekerja di huma mereka masing-masing. Oleh karena itu, dari kampung beriringlah para puragabaya dengan penunjuk jalan menuju perhumaan.

Orang pertama yang menjadi saksi kejadian itu ketika ditanya menjelaskan, ketika para bangsawan berburu di tepi hutan, salah seorang di antara mereka melihat gerakan di dalam semak yang dekat sekali dengan hutan. Seorang di antara bangsawan itu turun dari kudanya, lalu dengan diiringi oleh beberapa ekor anjing menghambur ke dalam semak itu dengan tombak di tangan. Akan tetapi, tiba-tiba bangsawan itu berteriak dan rubuh. Ketika para pengiringnya datang ke sana, bangsawan itu terbaring dengan dari mulutnya mengeluarkan darah. Ketika diperiksa tulang selangka dan beberapa buah rusuknya patah bekas pukulan yang dahsyat. Sementara itu, para pengiringnya melihat seorang manusia menyelinap tanpa mengeluarkan bunyi antara semak- semak itu. Walaupun anjing-anjing mengejarnya, anjing-anjing itu kemudian kehilangan jejaknya.

Kawan-kawan bangsawan yang malang itu mengejar bayangan dalam semak-semak yang tinggi ituj tetapi tidak berapa lama kemudian mereka pun menghadapi nasib yang sama. Tulang-tulang rusuk, tangan, dan bahkan tulang-tulang jari mereka remuk. Dan ketika mereka dibawa pulang, di perjalanan jiwa mereka meninggalkan tubuh mereka yang menderita itu.

"Kami ditugaskan untuk mencari orangku, Paman," kata Pamanda Rakean. Sambil berkata demikian Pamanda Rakean memberi isyarat kepada jagabaya pengantar itu untuk melanjutkan perjalanan. Maka rombongan pun berjalanlah beriring di jalan-jalan setapak dalam perhumaan itu.

Beberapa orang petani lagi mereka mintai keterangan, tetapi jawabnya umumnya tidak menambah keterangan-keterangan yang diberikan oleh kawan-kawannya. Di antara petani ada yang mengatakan bahwa menurut pendapatnya yang menyerang dan membunuh tiga orang bangsawan itu bukan manusia, akan tetapi siluman.

"Mengapa Paman berpendapat demikian?"

"Saya sempat melihat mata makhluk itu, dan dari nyalanya saya berpendapat, walaupun bertubuh manusia, ia bukanlah manusia, tapi siluman yang lolos dari Buana Larang dan merajalela di hutan terlarang itu." Dengan sedih, Pangeran Muda menyadari, anggapan petani itu dapat diterima. Pangeran Muda barulah menyadari sekarang, pandangan mata Jante belakangan ini memang memberikan kesan yang sangat aneh. Pandangan mata Jante kadang-kadang sangat mengerikan. Pandangan itu menyinarkan ketakutan serta kebencian yang luar biasa terhadap sekelilingnya. Pangeran Muda mulai bertanya di dalam hati, mungkinkah siluman-siluman telah merebut jiwa Jante dan menjadikan Jante budaknya untuk melaksanakan rencana-rencana jahat di Buana Pancatengah ini?

Sementara Pangeran Muda termenung-menung, Pamanda Rakean memerintahkan agar rombongan bergerak kembali. Setelah bertanya kepada beberapa petani lagi, mereka pun bergerak meninggalkan perkampungan-perkampungan itu. Mereka menuju ke hutan lebat yang membentang di hadapan mereka. Karena jalan-jalan sempit ke arah hutan itu, mereka berjalan beriringan, denganjagabayapenunjukjalan berjalan di muka. Setelah bergerak terus-menerus hingga matahari berada di puncaknya, mereka pun tibalah di bagian ladang yang bersemak- semak. Jagabaya pengantar menunjukkan tempat-tempat di mana peristiwa yang menyedihkan itu terjadi.

Di samping dari luka-luka yang sempat mereka periksa pada tubuh bangsawan-bangsawan yang menjadi korban, jejak-jejak yang tampak dalam semak-semak itu menjelaskan bahwa yang melakukan perbuatan yang mengerikan itu benar-benar seorang puragabaya.

SORE itu para puragabaya menitipkan kuda mereka dalam sebuah kampung kecil di tepi hutan yang mata pencarian penduduknya mencari madu di dekat hutan. Setelah itu mereka tidak terus beristirahat, tetapi langsung memasuki hutan, mengikuti jejak Jante. Akan tetapi, karena jejak itu telah lama dan telah banyak manusia lain serta binatang yang memijaknya kembali, pencarian mereka tidak membawa mereka ke mana-mana. Dan ketika matahari hampir terbenam Pamanda Rakean berseru memanggil anak-anak buahnya.

"Kita tidak akan menemukannya hari ini. Kita lebih baik bermalam dahulu sambil merencanakan pencarian yang lebih saksama esok pagi."

Para puragabaya yang sudah lelah menyetujui pendapat itu, dan mereka pun berjalanlah ke arah kampung pencari madu itu. Keesokan harinya pencarian dilakukan dengan lebih saksama. Mereka lebih dalam lagi memasuki hutan yang belum dibuka oleh orang-orang Kutabarang maupun orang-orang Kuta Kiara. Akan tetapi, tidak ditemukan jejak yang segar, sementara jejak lama makin samar-samar. Karena banyaknya jurang kecil yang dapat dilompati oleh seorang puragabaya, jejak itu hampir tidak akan dapat membimbing mereka menemukan orang yang meninggalkannya.

Pada hari ketiga datanglah berita dari Kutabarang, dibawa oleh tiga orang jagabaya utusan Pangeran Jayapati. Berita itu menyatakan bahwa kampung yang berada di tepi barat hutan larangan pernah kedatangan seorang asing. Orang itu dengan mudah menaiki pagar kampung yang tinggi, kemudian setelah masuk dan mengambil makanan, menghilang kembali ke dalam hutan. Gambaran penduduk kampung tentang orang yang datang dari hutan itu cocok dengan gambaran Jante. Oleh karena itu, rombongan puragabaya pun bergeraklah ke arah kampung itu. Keesokan harinya dengan diantar oleh beberapa orangjagabaya dan penduduk kampung, mereka bergerak ke timur, memasuki sebuah hutan yang angker.

Berbeda dengan hutan di bagian-bagian lain yang bertanah hitam dan subur, hutan yang baru ini bercadas-cadas di berbagai bagiannya. Tebing-tebing yang curam umumnya telanjang karena kerasnya cadas. Hanya rumput-rumput palias yang tumbuh di permukaan tebing jurang yang curam itu. Akan tetapi, lembah-lembah ditumbuhi oleh hutan yang lebat, yang selain terdiri dari tumbuhan-tumbuhan rambat yang sukar ditembus, terdiri pula dari tumbuh-tumbuhan berduri.

Sungguh tepat kalau ada orang yang bertapa atau menyembunyikan diri di tempat seperti itu.

Dan dalam hutan itu pulalah para puragabaya bergerak.

Dengan saksama mereka meneliti jejak-jejak yang ada di sana, melihat celah-celah cadas dan gua-gua, sementara mereka mendengus-dengus dengan udara, mencoba membaui udara dengan hidung yang daya penciumannya telah menjadi kuat karena latihan di Padepokan Tajimalela. Pada suatu saat raung harimau kumbang terdengar, dan Ginggi tampak ber-kelebat-kelebat di antara semak-semak untuk beberapa saat. Ia muncul sambil menggerutu-gerutu sambil menyeret binatang yang telah mati sambil menyusut titik-titik darah dari tangannya yang kena cakar binatang buas itu.

"Tidak apa-apa?" tanya Pamanda Rakean serata meraba kantong obat-obatan yang disandangnya.

"Berilah saya sedikit penawar racun," ujar Ginggi sambil menyodorkan tangannya yang menderita luka-luka yang panjang tapi dangkal. Pamanda Rakean mengeluarkan obat penawar racun, lalu menaburkannya di atas luka itu. Ketika mereka berkumpul melihat-lihat harimau kumbang yang terbaring di atas cadas, Girang datang dan berbisik, "Saya telah membauinya."

"Di mana?"

Girang memalingkan mukanya ke arah sebuah tebing cadas yang menjulang. Pada tebing cadas mereka melihat celah besar dan kelam. Pamanda Rakean memberi isyarat agar anak-anak buahnya duduk. Mereka pun duduklah berkeliling menurut kebiasaan puragabaya. Setelah mereka hening, berkatalah Pamanda Rakean, "Tugas kita adalah membawa Jante ke padepokan. Hal itu perlu kita lakukan dengan cara yang lembut, cara biasa. Dan kalau dia dapat kita bawa, hendaknya dia mengikuti kita dengan kesadarannya, dan tidak dengan paksaan atau tipu daya.

Untuk tidak merasa bahwa dia dikepung atau diburu, sebaiknya kita tidak datang bersama-sama. Seorang atau dua orang datang kepadanya, lalu menjelaskan maksud kedatangan kita. Kalau dia lunak hatinya, langsunglah bawa dia pulang. Tinggalkanlah yang lain seolah-olah yang lain tidak ada di sini. Seandainya, dia berkeras dan membangkang, kita serahkan segalanya pada Sang Hiang Tunggal yang akan memberi petunjuk kepada kita bagaimana kita harus mengabdi kepada kerajaan dalam menghadapi masalah yang menyedihkan ini."

"Pamanda Rakean, sayalah kawannya yang paling dekat, di samping itu ... saya adalah calon iparnya," kata Pangeran Muda kepada Pamanda Rakean. Mendengar itu, tak ada yang berbicara.

Kemudian Pamanda Rakeanpun berkatalah, "Kalau begitu, baiklah. Anom, kau tahu watak dan isi hati Jante. Berusahalah agar dia sadar akan keadaannya."

Sambil berkata demikian Pamanda Rakean melepaskan tambang puragabaya yang tersembunyi di balik sarungnya, lalu memberi isyarat kepada yang lain agar juga melonggarkan ikatan-ikatan tambang itu, agar kalau diperlukan dapat dipergunakan. Melihat tambang-tambang itu berdukacitalah Pangeran Muda. Tiba-tiba ia menyadari, bagaimana seorang manusia yang telah bertahun-tahun dididik untuk kebudimanan, keluhuran, dan keagungan, tiba-tiba berubah dan terpaksa harus diperlakukan oleh sesamanya seperti binatang buas. Dalam saat-saat itu tiba-tiba Pangeran Muda benci kepada tubuhnya sendiri. Setiap anggota, setiap otot, setiap jari-jarinya telah menjadi senjata yang sangat berbahaya dan dapat mengakibatkan kerusakan dan dukacita di dunia ini. Akan tetapi, kesedihan dan kebenciannya itu dengan segera bergulat dengan kesadaran, bahwa segalanya tidak dapat dihindarkan. Ia seorang bangsawan, seorang kesatria Pajajaran yang jiwa-raga-nya tidak menjadi miliknya, tetapi milik kerajaan.

Seraya termenung demikian Pangeran Muda mengurai tambang dari ikatannya, lalu menyerahkannya kepada salah seorang kawannya, "Lebih baik saya menyimpan.tambang ini, supaya Jante tidak curiga," katanya. Pamanda Rakean tampak setuju, dan Pangeran Muda pun bangkitlah.

"Pamanda, lebih baik Anom tidak seorang diri," ujar Rangga yang selama ini diam. Pamanda Rakean termenung sejenak, kemudian berkata, "Anomlah yang memutuskan." "Mungkin kalau seorang diri lebih mencurigakan, oleh karena itu kalau Rangga mau, saya

bersedia ditemani."

"Baiklah," ujar Pamanda Rakean, maka Rangga pun bangkitlah, setelah memberikan tambang dan senjata pendeknya pada Elang. Kedua puragabaya muda itu pun meninggalkan kawan- kawannya yang terlindung di balik semak-semak. Mereka berjalan menuju ke arah tebing yang sangat curam yang bercelah di salah satu tempatnya.

Pangeran Muda berjalan di depan, diikuti oleh Rangga yang terdengar membaca mantra-mantra mengusir siluman. Mereka melangkah tanpa menimbulkan suara, makin lama mereka makin dekat ke muka celah itu. Mereka berusaha agar berjalan biasa dan dengan demikian tidak menimbulkan sangkaan pada Jante bahwa mereka datang untuk mengepung dan menangkapnya. Makin lama mereka makin dekat, dan jantung Pangeran Muda mulai berdegup dengan keras. Ketika mereka masih cukup jauh dari mulut celah itu, tiba-tiba terdengarlah suara Jante, "Rangga! Anom! Berhenti, jangan mendekat, atau kalian mati!"

Pangeran Muda dan Rangga terpukau bagai dua patung, berdiri tidak bergerak-gerak.

Kemudian Pangeran Muda menarik napas panjang dan berbisik pada Rangga untuk melangkah terus. Setelah itu berserulah Pangeran Muda, "Jante, kami datang untuk menjemputmu. Pulanglah bersama kami, janganlah takut, dalam pengadilan kami akan membelamu. Saya pun tahu siapa Raden Bagus Wiratanu. Saya yakin, mereka pantas terbunuh dalam perkelahian itu."

"Anom!" seru Jante dari dalam gua itu. "Saya ragu-ragu mengenai apa yang ada dalam pikiranmu," katanya, sementara itu ia tidak tampak.

"Saya tidak pernah bercabang lidah kepadamu, kau adalah sahabat dan calon iparku. Saya sayang kepadamu."

"Bohong!" seru Jante.

Pangeran Muda terhenyak. 'Jante, kau tidak adil," kata Pangeran Muda pula.

"Kalian semua hendak membunuhku dari dulu. Dalam latihan, Anapaken selalu hendak membunuhku. Dalam ujian, Geger Malela akan membunuhku dan bajuku terbakar. Lalu bangsawan-bangsawan itu dengan badik mereka hendak membunuhku. Lalu aku diburu seperti binatang buas di pinggir hutan! Anom, jangan percaya kepada manusia!"

Seandainya Jante sebelumnya tidak pernah berbicara aneh, tentu saja perkataannya yang baru saja akan mengejutkan Pangeran Muda. Akan tetapi, sekarang Pangeran Muda tidak terkejut lagi. Apa yang diucapkan Jante tidaklah benar, tetapi hal itu sesuai dengan kecenderungan- kecenderungan jalan pikiran Jante yang sebelumnya didengar oleh Pangeran Muda. Pangeran Muda tidak terkejut lagi, ia berdukacita sedalam-dalamnya. Jelas sekarang baginya bahwa siluman telah menguasai seluruh kesadaran Jante.

Tanpa mengajak Rangga, Pangeran Muda melangkah. Rangga mengikuti. Mereka berjalan menuju mulut gua itu. Setelah mereka tiba di depannya, mereka berhenti, dan memandang ke dalam.

'Jante!Jante!" seru Pangeran Muda yang terdengar hanya gema suaranya, sedang Jante tidak menjawab. Setelah beberapa kali memanggil-manggil kembali, akhirnya Pangeran Muda memberi isyarat kepada Rangga agar memasuki mulut gua itu. Mereka pun melangkah dengan hati-hati dan waspada.

Walaupun mulutnya kecil, ternyata terowongan gua itu sangat besar. Di lantainya berserakan tulang-tulang binatang dan bahkan ada tulang-tulang yang tampak seperti tulang manusia.

Pangeran Muda beranggapan, mungkin sebelum didiami oleh Jante gua itu menjadi tempat tinggal harimau lodaya atau binatang pemakan daging lainnya. Sementara melihat ke sekeliling, Pangeran Muda dengan waspada terus melangkah mengikuti lorong gua yang makin lama makin dalam masuk ke dalam perut gunung batu itu. Suasana makin lama makin hening, dan udara makin lama makin kelam dalam gua itu. Akan tetapi, berkat mata yang terlatih dan diberi obat-obatan di Padepokan Tajimalela, tidak sukar bagi kedua puragabaya muda itu untuk dapat melihat dengan jelas.

'Jante! Jante! Janteeeeeeeeee!" seru Rangga.

Hanya gema yang menjawab, sahut-menyahut dari tebing ke tebing jurang. Sementara itu mereka makin dalam memasuki perut gunung batu itu. Tiba-tiba mereka melihat cahaya. Mereka menghentikan langkah masing-masing dan mengawasi ke sekeliling ke arah lekuk-lekuk cadas di dalam ruangan gua yang melebar. Di salah satu sudut gua itu berdirilah Jante, dengan matanya yang bersinar liar memandang kepada mereka.

Melihat Jante ketika itu, seram bercampur dukacita meliputi hati Pangeran Muda. Pakaian Jante sudah tidak menentu lagi, tinggal kain-kain yang kotor dan cabik penuh bekas-bekas darah.

Sementara itu, rambut Jante yang tidak kalah kotor tampak kusut masai dan lengket. Jambang dan kumis Jante yang tumbuh panjang hampir menyebabkan Pangeran Muda tidak mengenalinya lagi.

"Kalian datang untuk membunuhku!" tiba-tiba Jante berkata. 'Jante!" seru Pangeran Muda dan Rangga bersama-sama. "Kalian jangan coba-coba mendekat, kalian tidak akan sanggup! Orang yang akan mampu membunuhku sudah mati. Hanya si Janur yang akan dapat membunuhku, tapi ia telah mati di dalam jeram siluman itu!"

Dengan dukacita yang sangat dalam, Pangeran Muda menyadari bahwa siluman sudah menguasai seluruh pikiran dan perasaan Jante. Orang yang dihadapinya bukanlah Jante, tapi siluman yang meminjam tubuh Jante yang menyebabkan malapetaka dan dukacita. Cahaya mata Jante sudah terlalu berubah untuk dapat dikenal lagi, demikian juga seluruh jiwanya. Akan tetapi, harapan Pangeran Muda tidaklah putus. Seraya berdoa di dalam hati, Pangeran Muda mendekat dan berkata, 'Jante, segala yang kaukatakan itu hanyalah khayalanmu, tak ada orang yang akan membunuhmu."

"Anom, engkau orang baik, tapi aku tidak percaya kepadamu," sambil berkata demikian Jante berjalan mendekat, memandang ke dalam mata Pangeran Muda seolah-olah hendak melihat sesuatu di dalamnya.

"Dan kau Rangga, kau badut, di balik leluconmu kau rancang pembunuhan-pembunuhan yang paling pengecut! Kau tidak akan mampu membunuhku, badut!" teriaknya pula, parau. Teriakannya itu bergema dalam gua dan di tebing-tebing jurang. Sementara udara masih bergetar oleh suara teriakkan Jante dan tertawanya yang menyeramkan, Pangeran Muda mendengar Rangga berbisik.

"Ia gila, siluman telah merebut seluruh jiwanya dan menjadikan dia budaknya!" katanya dengan keheranan dan terpukau.

Tiba-tiba dari luar gua terdengar pula orang-orang datang. Para puragabaya yang cemas di bawah pimpinan Pamanda Rakean mengikuti Pangeran Muda dan Rangga. Tiba-tiba mata Jante menjadi liar dan buas. Ia memandang ke arah puragabaya-puragabaya lalu berkata, "Kalian akan menangkap dan membunuhku seperti binatang, coba!"

Sambil berkata demikian, tiba-tiba ia menyerang ke arah Pangeran Muda dan Rangga dengan loncatan ke depan dan dua serangan yang berbahaya. Pangeran Muda dan Rangga mengelak pada waktunya. Dan ketika mereka bersiap untuk menerima serangan baru, tiba-tiba Jante melompat dan menghilang ke dalam salah sebuah lubang dalam gua itu. Pangeran Muda segera menyusulnya, demikian juga Rangga. Sementara itu, para puragabaya yang lain pun bergerak. Tetapi mereka mencari jalan-jalan lain, dengan harapan dapat menghadang Jante.

Pangeran Muda diikuti oleh Rangga berlari-lari dalam lorong yang gelap dan panjang, yang tiba-tiba saja keluar di puncak gunung cadas itu. Begitu Pangeran Muda melangkahi ambang gua itu, Jante menyerangnya bagai kilat. Pukulan tangannya yang kuat itu mendesing. Untung Pangeran Muda sudah bersiap, dan begitu serangan tiba, Pangeran Muda sempat meloncat ke tempat lain, lalu berdiri dengan jurang menganga di belakangnya.

Begitu serangannya meleset Jante tidak berhenti, tetapi segera menyerbu Rangga. Rangga tidak dapat menghindarkan dan terpaksa melayani serangan itu dengan sebaik-baiknya. Suatu rentetan pertukaran pukulan terjadi dengan cepat, dan tiba-tiba Rangga melepaskan diri dari pergulatan itu. Ia melompat, kemudian mundur perlahan-lahan menjauhi Jante.

Jante tertawa dengan keras, dan dengan secepat kilat menyerang ke arah Pangeran Muda. Pangeran Muda mengibaskan serangan itu, dan dalam pada itu sadar bahwa dengan demikian Jante akan terjatuh ke dalam jurang. Ingatan yang datang secepat kilat itu menyebabkan Pangeran Muda mencoba menangkap pinggang jante. Ia hanya dapat menangkap cabikan baju Jante, dan karena tarikan yang keras, kuda-kuda Pangeran Muda tercabut, dan Pangeran Muda pun berguling ke arah tepi jurang. Sementara itu, Jante yang terlempar oleh serangannya sendiri melayang sambil mengeluarkan teriakan yang dahsyat. Kemudian suara tubuhnya terdengar menghantam dasar jurang yang terdiri dari cadas itu.

Ketika Pangeran Muda bangkit dari sela-sela cadas tempat ia terguling, para puragabaya datang ke dekatnya. Ada yang langsung membantu membangunkannya, ada pula yang melihat ke dalam jurang tempat Jante terjatuh. Sementara itu, Rangga tiba-tiba terjatuh.

"Rangga!" seru Ginggi sambil mendekat.

Rangga memegang tulang selangkanya. Paman Rakean segera menolong. Ternyata tulang selangka itu remuk, dan Pamanda Rakean segera mengeluarkan bebat dan penawar sakit.

Sementara Rangga diurus, Pangeran Muda dengan dua orang puragabaya menuruni jurang yang bercadas-cadas itu. Setiba mereka di bawah segera mereka memburu ke arah tempat tubuh Jante terbaring. Sambil terbaring matanya yang liar dan buas memandang ke arah mereka. Ketika Pangeran Muda mendekat, ia tiba-tiba bangkit dan mengambil sikap seperti akan menyerang. Akan tetapi, kemudian tubuhnya gemetar.

'Jahanam!" serunya keras sekali, disahuti oleh tebing-tebing. Ketika ia memaki itu keluarlah darah dari mulutnya. Lalu ia rubuh kembali ke sela-sela cadas, dan tidak lama kemudian matanya yang liar itu menjadi suram, lalu kelopaknya gemetar, tapi tidak menutup.

Ketika Girang memegang pergelangan tangannya, ia mengangguk kepada yang lain. Yang lain mengerti, dan air mata tidak dapat ditahan, keluar dari mata Pangeran Muda.

Untuk beberapa lama Pangeran Muda melihat Jante yang sudah tidak bernyawa lagi. Aneh, setelah pemuda itu meninggal, segala keliaran dan kebuasan dengan mengherankan meninggalkan seluruh dirinya. Jante berbaring dengan tenang, seperti seorang anak yang sedang tidur nyenyak.

Tak lama kemudian rombongan pun menuruni hutan bercadas-cadas itu dengan dua usungan.

Rangga diusung karena tulang selangkanya yang remuk menyebabkan dia sangat lemah. Jante sendiri, setelah pakaiannya diganti dan tubuhnya dibersihkan, terbaring dalam usungan kedua, tenang dan megah, seperti seorang pahlawan yang gugur dan dibawa dari suatu medan perang.

000dw000kz000