Pangeran Anggadipati Bab 17 : Monyet Putih dan Permata Sakti

 
Bab 17 : Monyet Putih dan Permata Sakti

Sesuai dengan yang telah diduga, setelah penyergapan itu kegiatan pengacau berhenti sama sekali. Rakyat yang semula tiap malam mengungsi, mulai lagi berani tidur di kampung mereka masing-masing. Walaupun demikian, perondaan malam terus-menerus dilakukan oleh tujuh puluh lima orang jagabaya di bawah pimpinan Garda yang sekarang telah menjadi perwira dan dengan megah memakai tanda anugerah kerajaan. Di samping melakukan tugasnya Garda sering berkunjung kepada Pangeran Muda untuk berbincang-bincang tentang itu dan ini. Karena rasa terima kasihnya, ia memperlihatkan sikap yang sangat bersahabat terhadap Pangeran Muda. Pada suatu kesempatan bahkan seluruh keluarga Garda, anak-istrinya dibawanya untuk berkunjung kepada Pangeran Muda. Sikap persahabatan Garda dan jagabaya-jagabaya yang pernah bersama- sama melakukan penyergapan dan semuanya mendapatkan anugerah itu sungguh-sungguh membesarkan hati Pangeran Muda.

Akan tetapi, setelah beberapa lama kerinduannya hampir tidak tertahankan lagi untuk berkunjung ke kota Medang. Berulang-ulang ia hampir mengemukakan isi hatinya pada Pangeran Rangga Wisesa, tetapi berulang-ulang pula niatnya diurungkan karena sadar bahwa bagi seorang kesatria, menahan . diri adalah suatu kewajiban.

Akan tetapi, pada suatu hari datanglah surat dari Pajajaran yang isinya mengundang Pangeran Rangga Wisesa dan Pangeran Muda untuk dalam waktu singkat datang ke ibu kota. "Suatu hal yang penting telah terjadi, kita harus segera pergi untuk mengetahui hal itu," kata Panglima Rangga Wisesa dengan wajah yang sungguh-sungguh.

"Mungkinkah telah terjadi pemberontakan?" tanya Pangeran Muda.

"Ada dua kemungkinan: pertama, pemberontakan; kedua, serangan dari luar. Dua-duanya jelek," ujar Panglima. Tapi satu hal menyebabkan Pangeran Muda berbesar hati di samping kecemasan, yaitu ia akan bertemu dengan Putri Yuta Inten dan keluarganya sendiri. Akan tetapi, tentu saja rasa gembiranya itu tidak bebas diungkapkan karena rasa penasaran dan bahkan cemas pun membayanginya. Mungkinkah telah terjadi pemberontakan? Mungkinkah ada pasukan asing yang datang menyerang?

Pada hari yang ditetapkan, sehari sesudah datangnya panggilan, berangkadah Pangeran Muda dengan Panglima, diiringi oleh dua puluh orang pengawal. Perjalanan yang sukar dan panjang itu tidak banyak menemui hambatan. Maka pada hari ketujuh, rombongan yang seluruhnya terdiri dari para prajurit dan perwira itu pun telah melewati gerbang timur ibu kota yang megah itu. Dan dalam waktu singkat, Pangeran Muda bersama Panglima telah berkumpul di ruangan istana, dalam suatu rapat di mana hadir hampir semua pembesar kera-jaan dan sejumlah besar puragabaya.

Sebelum rapat dimulai, sang Prabu sempat menanyakan kepada Ayahanda tentang Pangeran Muda. Dengan gembira, Ayahanda membawa Pangeran Muda menghadap kepada beliau.

"Saya punya harapan yang besar bagi masa depanmu, Anggadipati," demikian sabda sang Prabu sambil memegang pundak Pangeran Muda.

"Semoga hamba dapat memenuhi itu, Gusti."

"Engkau sudah kenal dengan anakku?" sang Prabu bertanya. "Kami sudah kenal baik, Gusti."

"Syukurlah, saya berharap kita akan dapat berbincang-bincang lebih leluasa setelah masalah yang kita hadapi ini diselesaikan," sabda sang Prabu, ketika juru acara datang dan memberitahukan bahwa segalanya telah siap. Maka para bangsawan dan puragabaya pun berkumpullah.

Jumlah para bangsawan tinggi dan puragabaya yang hadir tidak lebih dari tiga puluh orang, sedang hadirin yang lain yang duduk di belakang mereka adalah bangsawan-bangsawan muda dan para calon puragabaya. Sebagai pengawal Panglima Rangga Wisesa, Pangeran Muda duduk di belakang bangsawan tinggi itu, yang kebetulan duduk tidakjauh dari Ayahanda dan sang Prabu.

Dalam ruangan tampak pula Putra Mahkota duduk berdampingan dengan Pangeran Rangga Wesi yang sebagai calon pejabat tinggi kerajaan harus hadir dalam rapat yang sangat penting itu.

Tidakjauh dari bangsawan-bangsawan muda itu berjajar pula calon-calon puragabaya, kawan- kawan Pangeran Muda.

Setelah semua siap dan ruangan hening, bersabdalah sang Prabu, "Para bangsawan dan para puragabaya, kita berkumpul untuk membicarakan suatu masalah yang sangat penting untuk melihat nasib rakyat kerajaan dan bahkan kerajaan sendiri. Seperti Saudara-saudara ketahui, pengacauan di wilayah Galuh Tua telah dapat dipadamkan, dengan pemimpin pengacau-nya tertangkap hidup-hidup. Para puragabaya yang bertugas untuk mengumpulkan keterangan darinya menarik kesimpulan, pengacauan itu termasuk ke dalam suatu rencana besar yang tujuannya tidaklah lain untuk merobohkan Pajajaran sendiri. Dengan mengadakan pengacauan terus- menerus di Galuh Tua, lawan mengharapkan akhirnya rakyat tidak akan percaya lagi kepada kepemimpinan kita. Dan dengan mengangkat bangsawan-bangsawan setempat sebagai pemimpin mereka, mereka akan mendirikan kembali Kerajaan Galuh yang oleh leluhur kita dipindahkan ke barat ini. Setelah Galuh Tua didirikan, lawan mengharapkan agar antara Galuh baru dengan Pajajaran terjadi pertentangan dan pertempuran. Ketika itulah tangan yang sebenarnya mengatur sandiwara akan muncul sebagai pemenang.

"Dengan dihentikannya pengacauan di wilayah kota Galuh salah satu rencana mereka telah dapat digagalkan. Akan tetapi, tidak berarti mereka berhenti dengan usaha mereka. Kegiatan dipindahkan ke bentuk yang lain, yaitu penyerangan yang lebih kasar, tetapi tidak kurang bahayanya.

"Dari tepi Cipamali, Ki Monyet Putih mengirimkan laporan kepada kami tentang meningkatnya kegiatan lawan, setelah pengacauan di Galuh dipadamkan. Dari laporan itu digambarkan tentang pemusatan sejumlah besar prajurit, dan perbekalan dan pembuatan bangunan-bangunan serta peralatan-peralatan perang lainnya. Juga dari Pantai Utara kami menerima laporan. Pangeran Kutabarang berhasil menangkap seorang mata-mata lawan yang dalam keterangannya mengatakan kepada kita bahwa gelombang serangan baru akan dilakukan terhadap Pajajaran, terutama melalui daratan. Nah, untuk menghadapi bahaya inilah kalian kami undang.

"Dalam perundingan dengan Panglima Tertinggi Jagabaya beserta panglima-panglima pembantunya telah diambil dua pilihan, yaitu menjawab bahaya itu dengan mengirimkan sejumlah besar jagabaya ke tepi barat Cipamali, atau mengirimkan sekelompok pasukan kecil yang terlatih dengan baik untuk mengadakan serangan tiba-tiba, dengan tujuan membunuh semangat lawan.

"Pilihan pertama diperhitungkan akan memakan biaya, waktu, dan tenaga yang sangat besar.

Karena waktu, dalam hal ini sangat penting, pilihan pertama nilainya diragukan. Pilihan kedua tampaknya lebih ringan, yaitu dengan hanya mengirimkan beberapa puluh orang anggota pasukan terpilih, kita akan dapat menggagalkan perencanaan mereka serta melumpuhkan semangatnya.

Diharapkan, sebelum lawan dapat mempersiapkan rencana lain, kita sudah dapat memperkuat tepi barat Cipamali. Oleh karena itu, Panglima Tertinggi Jagabaya memutuskan untuk memilih yang kedua dan bermaksud menyempurnakan rencana-rencananya dengan Saudara-saudara."

Setelah pengantar diberikan oleh sang Prabu, maka perundingan yang sangat lama dilakukan oleh para panglima dan para bangsawan tinggi. Setelah memakan waktu sehari semalam, akhirnya diputuskanlah tiga puluh orang pasukan khusus akan dikirimkan ke perbatasan. Di antara yang tiga puluh orang itu dua puluh orang terdiri dari jagabaya, sepuluh orang lagi adalah calon-calon puragabaya. Pasukan ini dipimpin oleh seorang puragabaya, yaitu puragabaya Geger Malela, dengan wakilnya seorang perwira jagabaya yang bernama Ki Santang, seorang perwira jagabaya yang telah memperlihatkan keberanian dan kelicinannya dalam berbagai medan pertempuran. Di dalam pasukan itu termasuk pula sepuluh orang pasukan jagabaya yang dipimpin oleh Garda, hanya Garda tidak menyertai mereka karena tanggung jawabnya terlalu berat untuk ditinggalkan di Galuh.

Para calon puragabaya hampir seluruhnya ikut, kecuali Jante karena Kutabarang termasuk daerah yang sangat penting di Pantai Utara sehingga tidak mungkin ia meninggalkannya. Di samping Jante, Rangga pun tidak ikut, juga karena alasan yang sama, yaitu karena panglima yang dikawalnya menduduki tempat yang terlalu penting untuk tidak dikawal. Maka, pada saat yang telah ditetapkan, berkumpullah pasukan khusus ini.

Untuk satu minggu pasukan mendapat petunjuk-petunjuk berbagai segi medan yang akan mereka hadapi. Kemudian tentang jumlah persenjataan dan kebiasaan-kebiasaan lawan. Akhirnya, tentang cara-cara serangan yang mungkin akan harus dilakukan. Dan setelah semuanya itu selesai, anggota-anggota pasukan diberi waktu istirahat salama satu hari. Keesokan harinya mereka diberangkatkan ke medan pertempuran.

Jelas bagi Pangeran Muda, ia tidak mungkin dapat bertemu dahulu dengan Putri Yuta Inten. Akan tetapi, kesedihannya itu ditekannya dengan kesadaran bahwa masalah pribadinya sangat kecil artinya kalau dibandingkan dengan nasib rakyat dan seluruh kerajaan. Dengan selalu menekankan kepentingan kerajaan inilah Pangeran Muda dapat mencumbu dirinya sendiri, agar tidak terlalu risau.

Ketika barisan mendapat penghormatan terakhir dari penduduk kota dan sang Prabu, Pangeran Muda melihat kedatangan sebuah kereta. Dari dalam kereta itu turunlah Raden Banyak Citra dengan keluarganya. Putri Yuta Inten menghambur, dan seraya melupakan kebangsawanannya mendesak ke muka untuk dapat berdiri di pinggir jalan di mana pasukan khusus dengan megah lewat. Pangeran Muda berusaha memberi isyarat kepada Putri Yuta Inten yang mencari-carinya di antara pasukan yang berseragam dan bertutup kepala sama itu. Akan tetapi Yuta Inten tidak dapat membedakan Pangeran Muda dari anggota pasukan yang lain. Lalu dalam sekejap mata, anggota-anggota pasukan sudah berada di luar dinding benteng, menderu ke arah timur di atas kuda-kuda masing-masing.

Walaupun pasukan tempur hanya terdiri dari tiga puluh orang, anggota pasukan yang berangkat hari itu terdiri dari empat puluh satu orang. Yang sepuluh orang adalah pengurus senjata, pengurus kuda dan juru-juru masak. Sedang yang seorang lagi adalah ahli dalam obat- obatan yang akan memelihara kesehatan pasukan dan merawat yangmungkin terluka. Dengan berpakaian serbaindah dan dengan panji-panji yang berkibar megah, pasukan ini meninggalkan Pakuan Pajajaran ke arah timur. Pada suatu tempat, ketika perkampungan sudah menjadi jarang, Pangeran Muda bersama pasukan berhenti. Pertama, untuk mengganti pakaiannya yang megah dengan pakaian pertempuran; kedua, untuk memberi minum kepada kuda mereka. Setelah itu, selama satu minggu pasukan terus bergerak menuju ke timur, hingga pada suatu ketika tibalah di suatu hutan yang tidak begitu lebat di tepi barat Cipamali. Di sana mereka diterima oleh perwira pemimpin asrama jagabaya yang ditempatkan di tengah-tengah hutan. Perwira itu memberikan penjelasan sekadarnya tentang keadaan medan, kemudian secara bergiliran anggota pasukan khusus itu dipersilakan pergi mengunjungi tempat pengintaian.

Ketika giliran Pangeran Muda tiba, Pangeran Muda pergi ke tempat pengintaian itu dengan empat orang kawannya, yaitu Pamuk, Girang, Ginggi, dan Wide. Mereka diantar oleh jagabaya dan setelah beberapa lama menyelinap dalam semak-semak, akhirnya sampailah mereka di sebuah bukit kecil yang di atasnya ditumbuhi sebatang pohon yang sangat tinggi.

"Kita tiba, Saudara-saudara," kata jagabaya itu seraya melihat ke atas pohon. Pangeran Muda melihat pula ke sana. Tampaklah olehnya seorang kakek-kakek berambut putih sedang duduk di sebuah dahan besar sambil memegang suatu benda yang diletakkan di depan matanya seraya ia memandang ke arah timur.

"Di atas itu adalah Ki Monyet Putih, pengintai kerajaan yang sudah bertahun-tahun tinggal di sini dan hafal akan setiap helai daun yang ada di hutan-hutan di tepi barat dan timur Cipamali ini," kata jagabaya itu sambil tersenyum.

"Marilah kita panggil Ki Monyet Putih," kata jagabaya itu, lalu membunyikan bibirnya meniru suara burung hutan. Ki Monyet Putih menoleh, lalu memasukkan benda yang dipegangnya ke dalam kantong-koja yang disandangnya. Seperti seekor kera ia meluncur ke bawah.

"Ini anggota-anggota pasukan baru, harap dipersilakan melihat medan," kata jagabaya itu.

Para calon puragabaya memperkenalkan diri dan memberi salam kepada orang tua yang sudah berambut putih itu. Kemudian orang tua itu menjelaskan, dari atas pohon yang tinggi itu mereka akan dapat melihat tempat pemusatan lawan dengan segala gerak-gerik yang mereka lakukan.

Adapun untuk melihat lawan itu mereka akan mempergunakan sebuah Permata Sakti yang menjadi milik keluarga Ki Monyet Putih turun-temurun. Sambil berkata demikian, Ki Monyet Putih mengeluarkan benda yang tadi dipegangnya dari dalam kojanya. Benda itu adalah sebuah bumbung bambu kecil yang telah mengilap karena pemeliharaan. Di dalam bumbung bambu yang tidak ada bukunya lagi itu diletakkan sebuah permata putih yang bulat dan pipih bentuknya.

Permata Putih itu ditempatkan di suatu tempat dalam bumbung bambu itu dengan bantuan bingkai logam perak, yang melingkari pinggirnya. Sambil memperlihatkan benda itu dan menerangkan sejarahnya, Ki Monyet Putih berulang-ulang menyatakan bahwa benda itu sangat suci, anugerah para bujangga dan pohaci kepada keluarganya, agar keluarganya dapat membantu menjaga keamanan dan kesejahteraan Pajajaran.

Setelah itu para calon dipersilakan untuk siap memanjat pohon itu dengan mempergunakan tangga tambang yang akan dipasang oleh Ki Monyet Putih. Para calon menyatakan bahwa mereka tidak memerlukan tangga.

"Tapi pohon ini sangat tinggi dan licin karena terus-menerus dipanjat orang," ujar Ki Monyet Putih.

"Kami telah berlatih di padepokan bagaimana memanjat pohon yang licin, Kakek," jawab Ginggi. Maka, walaupun ragu-ragu, Ki Monyet Putih mulai memanjat. Para calon mengikutinya, sama tangkas dan cekatan seperti Ki Monyet Putih sendiri. Dengan keheranan, Ki Monyet Putih memandang mereka. Setelah mereka berada di atas, secara bergiliran para calon diberi kesempatan untuk mempergunakan permata itu dan melihat ke arah timur, ke tempat yang ditunjukkan oleh Ki Monyet Putih.

Dengan ajaib sekali, melalui permata sakti itu hutan yang jauh jadi dekat dan besar kelihatannya. Demikian pula, apa yang tampak samar-samar menjadi jelas kelihatan. Dan setelah beberapa lama menyusur hutan dengan pandangannya, mata Pangeran Muda melihat sejumlah gubuk, dengan sebuah gubuk besar terletak di tengah-tengah. Gubuk-gubuk itu berwarna hitam, agar tidak mudah kelihatan. Di sekitar gubuk-gubuk tampak sejumlah besar tentara, sekurang- kurangnya meliputi ratusan orang, sedang sibuk bekerja. Di antara yang sedang bekerja, tampak sejumlah besar yang sedang memasang rakit-rakit. Di samping itu, tampak pula orang-orang yang sedang mengangkut dan membongkar perlengkapan dari pedati-pedati besar yang ditarik oleh kerbau ke dalam hutan itu. Di antara perlengkapan itu tampaklah pula senjata, seperti tombak- tombak dan pelanting-pelanting besar.

Setelah semua mendapat giliran, para calon pun turun, lalu diantar kembali ke asrama jagabaya yang terletak agak jauh menjorok ke dalam hutan dari tepi barat Cipamali.

Malam itu puragabaya Geger Malela mengumpulkan pasukan, dan dengan sebuah peta kulit di depannya mulai menerangkan kedudukan lawan. Gubuk-gubuk diperkirakan sebagai tempat bermalam perwira-perwira dan tempat menyimpan persediaan, sedang rakit-rakit adalah sebagai alat penyeberangan pasukan lawan, kalau mereka sudah merasa saatnya tiba untuk bergerak ke barat. Akan tetapi, tentu saja gerakan hanya akan dimulai, seandainya perkiraan-perkiraan itu sudah dibuktikan. Untuk itu, dua orang calon akan dikirim sebagai pengintai. Mereka harus menyeberangi Sungai Cipamali dan mencoba mendekati perkubuan lawan sedekat mungkin. Untuk itu Pangeran Muda ditugaskan untuk pergi bersama-sama dengan Ginggi. Pada malam itu juga Pangeran Muda berenang menyeberangi sungai yang besar itu diikuti oleh Ginggi.

Malam tiba di seberang timur dan dalam waktu yang hampir bersamaan. Ketika mereka mulai bergerak ke dalam hutan, mereka mendengar desir semak. Mereka segera berhenti dan bersembunyi. Tak berapa lama kemudian muncullah dua orang anggota pasukan musuh, mengobrol perlahan-lahan dalam bahasa yang asing. Melihat kedua anggota pasukan lawan yang juga sedang melakukan pengintaian dan melihat-lihat ke seberang, Ginggi berpaling dan bertanya dengan isyarat mata, apa yang akan mereka lakukan. Pangeran Muda menggelengkan kepala, sebagai isyarat bahwa mereka tidak akan melakukan apa-apa terhadap anggota pasukan lawan itu. Maka mereka pun kembali merangkak-rangkak dan menyelinap dalam semak-semak seperti dua ekor ular.

Ternyata daerah perkubuan lawan yang melalui permata sakti itu tampak dekat, pada kenyataannya sangatlah jauh. Sebelum sampai ke tempat itu Pangeran Muda dengan Ginggi harus menyeberangi sungai-sungai kecil, memanjat tebing-tebing rendah, dan bahkan melintasi perbukitan kapur yang tidak bersemak. Mereka terpaksa merangkak seperti dua ekor ular, agar tidak tampak seandainya anggota pasukan berada dekat-dekat ke sana. Untung malam sangat kelam dan penyelinapan mereka pun tidak terlalu sukar untuk dilakukan.

Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di tepi perkubuan itu. Mula-mula mereka bersembunyi dalam semak, tetapi karena malam sangat gelap dan orang sangat banyak, akhirnya Pangeran Muda dengan Ginggi dapat menggabungkan diri dengan lawan, dan dengan bebas mencatat dalam hati apa yang mereka lihat di sana. Dengan hati berdebar-debar, mereka berjalan ke sana kemari di antara orang-orang yang bekerja dalam gelap. Untuk tidak menimbulkan kecurigaan Ginggi dan Pangeran Muda mengangkat keranjang kosong yang mereka temukan di suatu tempat. Setelah cukup mendapat gambaran, mereka pun kembali menyelinap ke dalam semak, lalu menyusur hutan ke arah barat.

Mereka baru tiba kembali ke pangkalan pada saat subuh. Sepanjang malam itu puragabaya Geger Malela terus menunggu, dan ketika mereka tiba baru puragabaya itu tidur. Karena harus memusatkan seluruh perhatian, dan karena menderita tekanan ketegangan sewaktu mereka berada di perkubuan lawan, pengintaian itu merupakan tugas yang sangat melelahkan. Pangeran Muda dan Ginggi tertidur dengan pulas, dan baru ketika akan diadakan perundingan, keesokan harinya mereka dibangunkan.

Pada perundingan itu segala perkiraan diperiksa kembali dan disesuaikan dengan apa yang dilihat oleh kedua pengintai. Setelah itu baru ditetapkan siasat penyerangan. Seluruh pasukan dibagi dalam kelompok-kelompok. Kelompok itu terdiri dari tiga sampai lima orang. Setiap kelompok diharuskan menyerang penghuni kubu-kubu, sedang yang lima orang yang termasuk ke dalam kelompok Pangeran Muda diberi tugas untuk menyerang isi kubu yang paling besar, di mana diperkirakan Panglima Pasukan lawan menginap. Kelompok lain yang terdiri dari lima orang lagi ditugaskan untuk membakar semua daerah perkubuan dan rakit-rakit yang sudah dibuat ataupun bahannya. Setiap anggota pasukan diminta agar dapat membunuh sebanyak-banyaknya. Setelah itu ditetapkan aba-aba penyerangan dan aba-aba pengunduran diri.

Malam itu juga, ketika hari mulai gelap, ketiga puluh orang pasukan dengan diantar oleh perwira asrama jagabaya setempat berangkat ke tempat penyeberangan yang telah ditetapkan. Anggota-anggota pasukan bersenjata lengkap, berupa gada-gada, pedang-pedang pendek, dan baju zirah. Di samping itu, beberapa anggota pasukan membawa minyak kelapa yang akan membantu mereka dalam melakukan pembakaran-pembakaran.

Maka setelah dua orang puragabaya berenang dan merentangkan tambang, pasukan pun dengan berpegang pada tambang itu mulai menyeberangi Cipamali. Penyeberangan itu tidak mudah dilakukan, bukan saja karena persenjataan mereka berat, tetapi perbekalan-perbekalan lain seperti minyak sangat sukar diseberangkan tanpa menderita kerusakan. Di samping itu, penyeberangan pun tidak dapat pula dilakukan dengan terlalu berisik karena hal itu mungkin menarik perhatian pengintai-pengintai lawan.

Setelah penyeberangan dilakukan dengan selamat, pasukan pun bergerak terus. Sengaja mereka mengambil jalan melingkar, bukan saja untuk menghindarkan kemungkinan adanya pengintai lawan, tetapi juga agar dapat menyerang lawan dari arah timur. Dan setelah lama sekali mengendap-endap, tibalah mereka di tempat menunggu yang telah ditetapkan, yaitu sebuah hutan yang berada di sebelah timur perkubuan. Untuk beberapa lama mereka menunggu di sana, sambil menunggu berkurangnya kesibukan di perkubuan. Pada saat itulah mereka akan menyerang. Setelah malam sangat larut dan perkubuan bertambah sunyi, pasukan pun bergerak mendekati. Beberapa lama mereka menunggu lagi sambil berjalan meniarap, lalu ketika subuh tiba serta ayam berkokok, puragabaya Geger Malela memberi aba-aba penyerangan. Menghamburlah pasukan melangkahi anggota-anggota pasukan lawan yang tidur di lapangan dan sekitar perkubuan.

Pangeran Muda dengan lima orang calon puragabaya menghambur menuju gubuk yang terbesar. Mereka dihadang oleh beberapa orang penjaga, dan di depan gubuk pun terjadilah pergumulan. Pangeran Muda dihadang oleh seorang penjaga, tapi penjaga itu tidak diberinya kesempatan. Dengan dua gerakan, kepala penjaga itu telah remuk oleh gada kecilnya. Setelah itu Pangeran Muda memasuki gubuk. Beberapa orang yang masih terbaring atau setengah bangun dihantam oleh Pangeran Muda dan kawan-kawannya. Teriakan kesakitan, peringatan, aba-aba bahaya bercampur aduk dengan suara gemuruh api. Dalam kalang kabut itu Pangeran Muda memukulkan gadanya ke kiri dan ke kanan ke arah penjaga-penjaga yang memasuki gubuk. Tiba- tiba bagian atas gubuk mulai terbakar karena seseorang melemparkan obor ke sana. Ginggi mempergunakan pedangnya untuk membuat lubang di sisi kemah, dan dengan melalui lubang itu ia keluar. Pangeran Muda sambil menghindarkan serangan dan memukul lawan yang menyerbu masuk ke dalam gubuk mundur ke arah lubang itu. Dan ketika ia sudah tepat berada di depan lubang itu ia melompat keluar.

Di luar tampak orang kalang kabut berlarian ke sana kemari sambil berteriak-teriak. Api berkobar-kobar di semua gubuk juga di tempat pembuatan dan penimbunan rakit. Dalam keadaan kalang kabut itu, Pangeran Muda melihat puragabaya Geger Malela berdiri di tengah-tengah lapangan seraya memerhatikan kejadian itu dengan senjata di tangan. Puragabaya itu tidak melakukan hal-hal lain, kecuali memerhatikan seluruh kejadian itu dengan tenang dan teliti. Tak lama kemudian, ia berjalan ke arah penimbunan rakit. Sambil berjalan berulang-ulang, ditebaskan pedangnya ke arah pasukan lawan yang hilir mudik dengan kacau.

Sesuai dengan yang diperintahkan, Pangeran Muda pun segera menuju ke tempat pembuatan dan penimbunan rakit. Di tempat itu terjadi pertempuran antara anggota-anggota pasukan khusus Pajajaran yang sedang melindungi kawan-kawannya yang bertugas membakar rakit-rakit, melawan anggota-anggota pasukan lawan yang akan menyelamatkan rakit-rakit dan bahan-bahan rakit mereka yang mulai menyala. Melihat hal itu, Pangeran Muda segera menyerbu, menetakkan gadanya ke arah pasukan lawan dari arah belakang.

Ternyata tugas membakar rakit itu tidak dapat dilakukan dengan mudah. Selain minyak bakar terlalu sedikit yang dapat diselamatkan dalam penyeberangan, ternyata bambu-bambu besar yang menjadi bahan rakit itu masih basah. Itulah sebabnya sejumlah anggota pasukan terpaksa harus menahan serangan lawan untuk melindungi kawan-kawannya yang sedang menyiramkan minyak dan menyuluti rakit-rakit itu. Pangeran Muda dengan sekuat tenaga membantu memukul pasukan lawan yang makin lama makin banyak bergerak ke arah tempat rakit itu. Pangeran Muda pun melihat bagaimana api makin lama makin besar, dan akhirnya berada di luar jangkauan lawan untuk memadamkannya. Dalam kobaran api yang menerangi cakrawala itu, terdengarlah aba-aba pengunduran diri. Pangeran Muda seraya masih memukul ke kanan dan ke kiri menghambur ke dalam hutan yang kelam.

Setiba di tempat berkumpul yang telah ditentukan, Pangeran Muda melihat sebagian dari kawan-kawannya sudah berada di sana. Kemudian puragabaya Geger Malela muncul, sambil menyusut pedangnya yang penuh darah dengan daun-daunan yang dipungutnya. Kemudian beberapa orang yang lain muncul. Hanya tiga orang yang tidak kembali hingga saat kokok ayam hutan terdengar, ketika mereka menetapkan untuk pergi. Untuk ketiga orang anggota pasukan yang tidak kembali itu, mereka mengucapkan doa bersama-sama. Kemudian pasukan bergerak ke salah satu pinggir sungai yang lain. Perjalanan yang sukar kembali ditempuh, kemudian penyeberangan yang berbahaya dan akhirnya tibalah mereka di asrama jagabaya yang jadi pangkalan mereka.

Dua hari setelah pertempuran malam itu, pasukan khusus yang dipimpin oleh puragabaya Geger Malela kembali ke Pakuan Pajajaran. Pasukan itu kehilangan tiga orang jagabaya. Pangeran Muda disambut oleh Putri Yuta Inten yang tidak kembali ke kota Medang tapi tetap menunggu di Pakuan Pajajaran hingga Pangeran Muda tiba kembali dari perbatasan. Saat-saat sekembali dari pertempuran itu merupakan saat yang paling membahagiakan bagi Pangeran Muda.

HAMPIR dua minggu Putri Yuta Inten menunggu kedatangan Pangeran Muda dari Pajajaran timur. Hal itu bukan saja karena kekerasan hati Putri Yuta Inten untuk tidak kembali ke Medang, tetapi juga karena Raden Banyak Citra berkepentingan untuk berada di Pakuan Pajajaran selama keadaan genting itu. Setelah pasukan khusus kembali dari perbatasan timur, karena memahami akan hasrat Putri Yuta Inten untuk berdekatan dengan Pangeran Muda, Raden Banyak Citra mengundurkan waktu pulangnya.

Kedua muda remaja mempergunakan kesempatan yang baik itu dengan penuh gairah. Kalau tidak berjalan-jalan melihat-lihat kemegahan kota, kadang-kadang Pangeran Muda meminjam sebuah kereta kecil dari Pangeran Rangga Wesi, lalu membawa Putri Yuta Inten mengembara di padang-padang di luar benteng. Pada suatu kali, dengan mempergunakan kereta kecil itu, mereka mengembarai jalan-jalan yang melintasi padang-padang, huma-huma dan palawija penduduk.

Ketika matahari berada di puncak dan kuda mereka kelelahan, Pangeran Muda membelokkan kereta kecil itu menuju ke arah sebuah mata air yang sekelilingnya ditumbuhi oleh semak-semak bunga yang rindang dan rumput-rumput yang hijau. Mereka pun turunlah di tempat yang teduh itu.

Ketika Pangeran Muda melepaskan kuda untuk memberinya minum, Pangeran Muda tidak melihat ke belakang. Dan ketika Pangeran Muda kembali ke kereta, Putri Yuta Inten sudah tidak ada. Pangeran Muda terkejut, kemudian melihat ke sekeliling, ke kaki langit, ke padang-padang lalang dan semak-semak yang berdekatan dengan mata air itu. Akan tetapi, Putri Yuta Inten tidak tampak. Pangeran Muda berseru memanggil-manggil untuk beberapa kali, tetapi tidak ada yang menyahut. Dengan cemas, Pangeran Muda berjalan ke arah kereta, lalu melihat tanah di sekeliling kereta itu. Ia tersenyum karena jejak kaki hanya ada sepasang, kecil-kecil dan ringan.

Dengan mengikuti jejak kaki itu, Pangeran Muda berjalan hati-hati menuju semak bunga- bungaan, kemudian memasuki semak yang pohon-pohonnya agak besar. Begitu Pangeran Muda tiba di suatu pinggir kelompok semak yang rimbun, terdengarlah suara tertawa ditahan, kemudian tampaklah Puteri Yuta Inten berlari menjauh. Pangeran Muda mengejarnya, makin lama makin dekat. Kemudian makin dekat, dan rambut Yuta lnten yang panjang mengibas-ngibas wajahnya. Akhirnya, Pangeran Muda menangkap pinggang gadis itu yang sambil tertawa-tawa menjatuhkan diri, membawa Pangeran Muda berguling-guling di atas rumput-rumput yang lembut itu. Dengan mulut tertutup, untuk beberapa lama mereka bergulat, berguling-guling. Tiba-tiba Yuta Inten memegang tangan Pangeran Muda.

”Jangan!" katanya lemah.

Sejenak mereka diam membisu, hanya napas mereka yang berat terdengar. Untuk beberapa lama mereka tidak berkata apa-apa, kemudian setelah agak tenang Pangeran Muda berkata, "Adinda, tidakkah kau takut memancing-mancing Kakanda ke dalam hutan seperti ini?"

"Mengapa harus takut? Adinda didampingi oleh seorang calon puragabaya."

"Maksud Kakanda, tidakkah kau takut akan diri kita sendiri, terutama oleh Kakanda sebagai seorang laki-laki?" "Kakanda seorang kesatria, dan bukan orang kasar yang tidak tahu tata krama," ujar Putri Yuta Inten sambil menyurukkan wajahnya ke dada Pangeran Muda.

Setelah beberapa lama hening, berkatalah Pangeran Muda, "Bagaimana kalau kita segera kawin?"

Putri Yuta Inten melepaskan pelukannya, memandang ke arah Pangeran Muda, lalu memeluknya lagi. Mereka pun kembali berguling-guling di atas rumput itu, dan baru beberapa lama mereka dapat berkata-kata.

"Ayahanda sedang sangat bersenang hati, segera minta izin," kata gadis itu dengan sepenuh hati.

"Kita direncanakan untuk menikah pada waktu yang sama dengan Kakanda Rangga Wesi dan Ayunda Ringgit Sari, Kakanda harus berunding dengan mereka dan Ayahanda terlebih dahulu."

"Ya, cepadah, sebelum berita datang dari perbatasan dan Kakanda harus menerima tugas kembali."

"Tugas tidaklah menjadi persoalan. Kau dapat mengikutiku sebagai seorang istri ke kota Galuh," ujar Pangeran Muda sambil memegang tangan gadis itu.

"Adinda akan ikut Kakanda walau ke medan perang sekalipun," katanya.

"Mari, kita harus segera bertemu dengan Kakanda Rangga Wesi," kata Pangeran Muda. Tanpa menjawab Putri Yuta Inten bangkit lalu berlari ke arah kereta, Pangeran Muda mengikutinya dari belakang. Tak lama kemudian, seperti tidak menyentuh tanah, kereta kecil itu menderu di jalan- jalan di luar benteng Pakuan Pajajaran, menuju gerbangnya yang megah dan lebar itu.

MELIHAT kedatangan mereka, Pangeran Rangga Wesi sungguh-sungguh keheranan.

"Adik-adikku, apakah yang terjadi? Dari mana pula kalian, hingga pakaian kalian kusut dan rambut kalian penuh dengan rumput?"

Kedua remaja itu tidak peduli akan pertanyaan itu dan Pangeran Muda segera berkata, "Kakanda, kami bermaksud cepat-cepat menikah, kami minta izin kepada Kakanda, kami berniat menikah lebih dahulu."

Mendengar usul itu, Pangeran Rangga Wesi lebih terkejut lagi, tetapi kemudian ia berkata, "Kalian kira Kakanda sendiri cukup sabar?" Sambil tersenyum, kemudian Pangeran itu melanjutkan, ”Adinda berdua, Kakanda mengerti akan hasrat kalian, tetapi sebagai seorang yang lebih tua, sebagai kakak kepada adik-adiknya, Kakanda merasa kewajiban untuk menyampaikan saran. Bagaimana kalau ditangguhkan beberapa lama lagi, terutama karena berita sudah tiba di perbatasan timur."

Sebelum perkataan Pangeran Rangga Wesi selesai, Pangeran Muda telah menyela, "Akan tetapi, Kakanda, ada atau tidak tugas tidaklah menjadi pertimbangan kami. Seandainya tugas tiba bagi hamba untuk pergi ke kota Galuh, hamba akan lebih berkeras lagi meminta kepada Ayahanda agar kami segera dipersatukan. Hamba tidak sanggup pergi ke Galuh seorang diri."

Setelah tersenyum, Pangeran Rangga Wesi berkata, "Adinda Anggadipati, kalian salah sangka. Kalian tidak akan ditugaskan ke Galuh sementara. Karena perbatasan timur aman, dan Galuh pun aman, Adinda akan dikembalikan ke Padepokan Tajimalela untuk enam bulan, kemudian dalam upacara diangkat menjadi puragabaya yang sempurna. Kakanda sudah berunding dengan Ayahanda Anggadipati bahwa upacara perkawinan kita akan dilakukan dengan perayaan menerima seorang puragabaya dan seorang pengantin di Puri Anggadipati."

Mendengar itu termenunglah Pangeran Muda. Enam bulan bukanlah waktu yang lama, sedang jarak antara padepokan dengan Medang tidaklah jauh benar. Hanya satu hari perjalanan berkuda. Di samping itu, apa salahnya menunggu kalau hal itu akan lebih menyemarakkan perkawinan mereka? Adalah watak terpuji bagi seorang kesatria untuk bersabar dan tidak tergesa-gesa. Akan tetapi, keputusan tidak terletak kepadanya sendiri. Maka Pangeran Muda pun berpaling pada Putri Yuta Inten yang, ada di sampingnya.

"Bagaimana pendapatmu, Adinda?"

"Kakanda akan menjadi puragabaya dalam enam bulan?" "Ya," jawab Pangeran Muda dengan pasti.

"Dan Kakanda tidak akan meninggalkan hamba ke Galuh?" "Tidak," lanjut Pangeran Muda.

"Kakanda akan berada di Padepokan Tajimalela kembali dan kita dapat sering bertemu." "Kalau begitu...," ujar Putri Yuta Inten, "terserah kepada Kakanda."

"Kita tidak akan menjadi terlalu tua dalam enam bulan, Adinda," ujar Pangeran Muda sambil tersenyum seraya memegang tangan gadis itu.

.Pangeran Rangga Wesi pun tersenyum, lalu berkata, "Dan tidak hanya kalian yang harus bersabar, kami pun, Kakanda dengan Kakanda Ringgit Sari, terpaksa harus menunggu dulu Adinda Anggadipati puragabaya."

DUA hari sejak peristiwa itu, Pangeran Muda berangkat dari ibu kota. Mula-mula menuju Medang, mengantar Putri Yuta Inten dengan ayahandanya, kemudian tanpa menginap dulu, langsung menuju Padepokan Tajimalela. Setiba di sana, bersama-sama dengan kawan-kawan seangkatannya, Pangeran Muda langsung digembleng dalam ilmu perkelahian yang baru.

Seperti juga ilmu keseimbangan badan dan ketangkasan, ilmu yang terakhir ini merupakan ilmu pelengkap bagi kemampuan berkelahi yang sebenarnya. Dalam latihan keseimbangan badan, setiap calon diharuskan menguasai sejuruh tubuhnya hingga ia tidak mungkin dirubuhkan dalam perkelahian. Dalam latihan ketangkasan, selain digembleng hingga setiap calon tidak akan mudah lelah, kecepatan menggerakkan dan mempergunakan seluruh anggota badan dan ketepatan penggunaannya harus mereka miliki. Isi dari kemampuan berkelahi itu sendiri terletak pada kemampuan melakukan gerakan-gerakan secara sempurna dan melakukan pukulan-pukulan yang keras pada bagian-bagian tubuh lawan yang lemah. Dalam latihan taraf terakhir ini, pancaindralah yang dipertajam.

Mula-mula mata para calon dilatih untuk berjalan di tempat yang sukar di dalam gelap, menyeberangi jembatan tali di tempat yang gelap, memanjat jurang di tempat yang gelap, dan membedakan berbagai warna di tempat yang gelap. Latihan itu diseling dengan latihan bertapa, tanpa menyentuh makanan atau minuman kadang-kadang untuk waktu beberapa hari. Mata mereka pun berulang diberi obat-obat oleh Pa-manda Minda. Setelah terus-menerus latihan itu dilakukan, akhirnya terasa oleh Pangeran Muda bahwa pandangannya semakin tajam, hingga siang dan malam tidak lagi berbeda baginya. Latihan mata hanya sebentar saja dilakukan di bawah bimbingan, dan seperti juga kebanyakan dari latihan-latihan lain, akhirnya latihan mata diserahkan penyempurnaan kepada para calon sendiri. 

Berturut-turut mata, telinga, hidung, dan seluruh permukaan kulit diperhalus sedemikian rupa, hingga para calon dapat mengetahui gerak-gerik alam yang sekecil-kecilnya dengan bantuan pancaindra mereka yang telah dipertajam itu. Setelah gemblengan dilakukan terus-menerus selama enam bulan, akhirnya latihan kepuragabayaan mereka dianggap selesai.

Mereka menerima pesan dari Eyang Resi, untuk terus-menerus memperhalus kemampuan pancaindra mereka dalam kehidupan.

Sebelum upacara pengangkatan mereka sebagai puragabaya, dan selagi menunggu bangsawan-bangsawan tinggi serta Putra Mahkota yang akan menghadiri upacara itu, Eyang Resi memberi mereka waktu istirahat selama dua minggu. Kebanyakan dari para calon meninggalkan padepokan, demikian juga Pangeran Muda. Sebagian dari waktu cutinya dipergunakan di Puri Anggadipati, sebagian di kota Medang di mana upacara pertunangannya dengan Putri Yuta Inten dilaksanakan.

Setelah pertunangan itu dilangsungkan, Jante yang datang bersama-sama ke Medang dengan Pangeran Muda, meminta izin kepada orangtuanya untuk pergi ke Kutabarang untuk menguruskan hal-hal yang tidak diterangkan kepada orang lain. Oleh karena itu, ketika saat untuk kembali ke padepokan tiba, Pangeran Muda hanya diiringkan oleh Mang Ogel yang menjadi pengiring Pangeran Muda dalam masa cuti itu.

Ketika mereka tiba kembali di padepokan, sebagian dari bangsawan-bangsawan dari ibu kota sudah hadir. Beberapa hari kemudian saat upacara pelantikan pun tiba dan para calon sudah hadir semua, kecuali Jante. Dengan gelisah, Pangeran Muda menunggu calon iparnya datang, tetapi ketika upacara dilaksanakan Jante tidak muncul. Maka upacara pun dilangsungkan tanpa Jante.

Dalam upacara yang khidmat itu mula-mula dilakukan penyumpahan terhadap para calon. Para calon berjanji dengan petaruh nyawa mereka masing-masing untuk setia kepada kepentingan warga kerajaan, untuk tidak menyentuh ilmu-ilmu lain kecuali ilmu kepuragabayaan, untuk tidak mempergunakan ilmunya kecuali dalam keadaan terpaksa dan atas nama kepentingan kerajaan, untuk tidak sayang pada kepentingan dirinya bahkan kepada jiwanya sendiri kalau kerajaan meminta, untuk tidak menyentuh makanan dan minuman yang dapat menghalau pikiran sehat, untuk berusaha menjadi contoh dalam segala hal yang baik dalam kehidupan, khususnya sebagai prajurit dan warga kerajaan. Setelah penyumpahan dilakukan upacara perlambang, Pangeran Muda dipilih untuk mewakili kawan-kawannya.

Pada upacara itu Pangeran Muda berpakaian bangsawan tinggi, dengan pakaian gemerlapan, dengan mahkota emas yang biasa dipakai oleh seorang pangeran. Ia menyandang pedang dan badik, memegang tombak di tangan kanan dan tameng besar di tangan kiri. Di samping itu, Mang Ogel yang berjalan di sampingnya membawa baki yang di atasnya terletak dua buku, yaitu buku kepuragabayaan dan buku kenegarawanan. Dengan diiringi oleh para pelatih dan para calon, Pangeran Muda berjalan ke hadapan Eyang Resi yang berdiri berdampingan dengan Putra Mahkota. Ketika mereka sudah berhadapan di tengah-tengah lapangan padepokan itu, Eyang Resi membacakan doa-doa, diikuti oleh Putra Mahkota dan bangsawan-bangsawan tinggi yang berdiri di belakang mereka. Setelah itu Eyang Resi menyalakan api dalam pedupaan batu besar yang telah berdiri beratus tahun di sana. Api yang bahan bakarnya terdiri dari kayu samida yang dicampur dengan minyak itu menyala dengan cahaya yang putih.

Pangeran Muda, sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan kepadanya sebelumnya, berjalan ke arah api itu. Ketika Mang Ogel menyodorkan baki yang berisi dua buah buku,

Pangeran Muda mengambil buku tentang kenegarawanan, dan setelah mengacungkannya untuk dilihat hadirin, melemparkannya ke dalam api, sebagai lambang bahwa sebagai puragabaya ia menghindarkan buku itu dan membuangnya jauh-jauh dalam kehidupannya. Setelah itu Pangeran Muda mengambil perhiasan-perhiasan yang semuanya terbuat dari emas, yang juga dilemparkannya ke dalam api, sebagai lambang, bahwa sebagai puragabaya ia hanya akan mengejar pelaksanaan kewajibannya dan akan menghindarkan kemewahan. Setelah itu tombak dipatahkannya, demikian juga pedang panjang, yang kesemuanya juga menjadi makanan api suci, lambang semangat kepuragabayaannya. Pangeran Muda membuang senjata-senjata panjang karena senjata-senjata itu hanya dipergunakan oleh rakyat dan prajurit-prajurit biasa, yaitu ja- gabaya-jagabaya dan para gulang-gulang. Puragabaya hanya mempergunakan senjata-senjata pendek. Itu berarti bahwa puragabaya akan bertempur untuk kepentingan kerajaan di barisan yang paling depan dan akan bertempur dari tangan ke tangan. Setelah semua lambang dari hal- hal yang asing bagi kepuragabayaan dan yang harus dijauhi oleh puragabaya diserahkan ke dalam api suci, ketiga pelatih yang membawa pakaian serta senjata puragabaya maju ke depan, lalu melekatkan pakaian kepuragabayaan yang berwarna putih, dengan ikat pinggang keemasan kepada Pangeran Muda. Di luar pakaian putih itu ditutupkan pula pakaian hitam, sebagai pelindung dan pakaian malam puragabaya. Setelah itu rambut Pangeran Muda yang sekarang terurai, diikat dengan ikat kepala puragabaya yang juga berwarna hitam. Setelah itu diserahkan dua senjata pendek, yaitu sebuah kujang dan sebuah trisula, senjata-senjata kepuragabayaan.

Lalu Mang Ogel maju dengan bakinya, dan Pangeran Muda mengambil buku yang ada di atasnya, buku kepuragabayaan yang kemudian dipegangnya.

Setelah itu, datanglah si Rawing membawa dua ekor kuda, yang satu adalah si Gambir, kuda yang setia dan sudah tua, yang lain putih warnanya, kuda Pangeran Muda yang akan diterimanya sebagai seorang puragabaya. Kuda-kuda itu dibawa ke hadapan Pangeran Muda. Pangeran Muda melepaskan kendali dan pelana dari si Gambir, lalu mengenakannya pada kuda putih yang dinamainya si Bulan di dalam hatinya.

Untuk beberapa lama Pangeran Muda memandang ke arah si Gambir dengan perasaan terharu dan kasih sayang. Kuda itu sebentar lagi akan dikembalikan ke Puri Anggadipati, dan akan dibiarkan bebas di padang, setelah bertahun-tahun hidup bersama dengan Pangeran Muda.

Betapa besar utang budi Pangeran Muda pada kuda yang kuat dan lemah lembut itu. Dalam hati, Pangeran Muda mengucapkan syukur kepada Sang Hiang Tunggal, yang telah menciptakan makhluk yang baik itu.

Ternyata upacara penyerahan kuda putih itu merupakan upacara penutup. Eyang Tajimalela maju ke muka, untuk berdoa. Setelah itu, bubarlah upacara pelantikan itu, para bangsawan dan Eyang Resi serta para puragabaya memasuki ruangan untuk bersantap dan berbincang-bincang. Pangeran Muda sendiri, seorang diri menuntun si Gambir mengelilingi padepokan yang telah lama dikenalnya dan dicintainya. Dipandangnya tempat-tempat latihan yang perkasa dari jauh dengan penuh kenang-kenangan. Terbayang kawannya yang telah tiada, Janur yang sangat berbakat itu. Terkenang pula bagaimana mereka pernah menangkap ular besar. Setiap bagian dari padepokan memiliki kisahnya sendiri, dan sambil menuntun si Gambir Pangeran Muda mengulangi kisah-kisah itu dalam khayalannya.

Siang harinya dilakukan sembahyang bersama, setelah itu bangsawan-bangsawan meninggalkan padepokan, dan padepokan pun sunyilah kembali. Ketika itulah Pangeran Muda teringat pada Jante yang tidak dapat hadir dalam upacara pelantikan itu. Pangeran Muda mulai cemas ketika panakawan yang diutus ke Kutabarang untuk menjemput Jante itu terlambat datang dan pada hari ketiga, kecemasan itu ternyata beralasan. Panakawan itu menyampaikan berita yang menyedihkan kepada Eyang Resi, "Peristiwa yang menyedihkan telah terjadi. Jante telah membunuh beberapa orang bangsawan muda, dan sekarang menghilang. Kita harus segera menemukannya dan menyelesaikan persoalannya."

Berita itu bagi halilintar di musim kemarau bagi Pangeran Muda. Hatinya terhenyak dan sedih. Ia sadar pula, peristiwa itu akan sangat menyedihkan keluarga Banyak Citra, dan sebagai seorang yang akan menjadi anggota keluarga bangsawan itu, ia sangat merasa terlibat dalam suka-duka keluarga itu. Malam itu, ketika perundingan padepokan menetapkan lima orang puragabaya baru di bawah pimpinan Pamanda Rakean untuk mencari Jante, Pangeran Muda mengajukan diri untuk menjadi tenaga sukarela. Dan keesokan harinya, ketika hari masih berkabut, tujuh orang puragabaya meninggalkan padepokan menuju Kutabarang.

0-d-0-w-0-k-0-z-0