--> -->

Pangeran Anggadipati Bab 16 : Rawa Siluman

 
Bab 16 : Rawa Siluman

Keesokan harinya kebanyakan dari para calon yang menginap di kepuragabayaan telah mendapat tugas masing-masing. Termasuk ke dalam gelombang pengiriman pertama ini adalah Pangeran Muda. Sebagai satu-satunya di antara para calon yang ditugaskan ke Pajajaran timur, Pangeran Muda diikutsertakan dengan rombongan kerajaan yang terdiri dari sebuah kereta dan dua puluh orang anggota rombongan, lima belas di antaranya pengawal. Di antara anggota rombongan yang lima orang, termasuk Pangeran Muda, adalah petugas-petugas kerajaan. Pada saat yang ditetapkan, berangkatah rombongan itu menuju ke timur.

Berbeda dengan perjalanan yang dilakukan di bagian utara dan barat kerajaan, perjalanan ke bagian timur dan selatan kerajaan kebanyakan melalui dataran tinggi. Pemandangan seperti padang-padang terbuka dan bukit-bukit hampir tidak ada. Yang harus ditempuh kebanyakan berupa jalan-jalan sempit di sela-sela tebing jurang, hutan-hutan lebat, gunung-gunung berhutan yang pohon-pohonnya besar dan berjanggut.

Kampung-kampung di daerah ini berbeda pula dengan kampung-kampung di dataran rendah. Rumah-rumah hampir tidak kelihatan di balik pohon-pohonan yang berdaun rindang, sedang di samping pagar-pagar tinggi yang mengelilingi kampung-kampung itu, rumah-rumah bertiang sangat tinggi pula. Untuk memasuki beberapa rumah, kadang-kadang orang harus menggunakan tangga. Dari kawan seperjalanannya, Pangeran Muda mendapatkan keterangan bahwa di dataran tinggi itu banyak binatang buas, yang paling ditakuti adalah ular-ular berbisa. Itulah sebabnya rumah-rumah bertiang tinggi-tinggi.

Karena rombongan sangat besar, soal keamanan tidaklah mengkhawatirkan. Perampok- perampok tidak akan berani mengganggu suatu rombongan yang dikawal oleh lima belas orang gulang-gulang Oleh karena itu, selama di perjalanan tak ada gangguan-gangguan dari manusia, kecuali dari alam, seperti pohon-pohon yang tumbang ke jalan, pendakian-pen-dakian yang terlalu curam, jalan berlumpur yang menyebabkan roda-roda kereta tertanam dan kereta harus diangkat bersama-sama, dan sebagainya. Setelah perjalanan yang sukar itu dilalui selama lima hari, dataran rendah mulai terbentang di hadapan rombongan. Maka mereka pun menarik napas panjang karena lega. Dua hari perjalanan lagi, dengan dua malam menginap di tengah padang dan sebuah kampung, tibalah rombongan di kota Galuh yang tua itu.

Kota Galuh bukan saja sudah sangat tua dan didirikan beratus tahun yang lampau, tetapi juga bersuasana tua. Luas kota itu dan tebal dinding bentengnya hampir menandingi kota Pakuan Pajajaran, tetapi jumlah penduduknya dan kesibukannya sangat kecil kalau dibandingkan dengan ibu kota. Karena tuanya, dinding-dinding benteng itu kehitaman tampaknya, demikian juga rumah- rumah dan bangunan-bangunannya. Oleh karena itu, suasana kota itu sangat murung.

Setelah berapa lama melewati lorong-lorong kota itu, akhirnya tibalah rombongan di depan sebuah bangunan yang paling besar, tempat beberapa orang bangsawan keluar dengan diiringi oleh pengawal-pengawal mereka. Sementara anggota-anggota rombongan lain berurusan dengan para bangsawan, Pangeran Muda diperkenalkan kepada Pangeran Rangga Wisesa yang menerimanya dengan ramah dan gembira.

"Mudah-mudahan engkau senang tinggal di sini, anak muda. Oh, siapa namamu?" tanya Pangeran yang setengah baya itu. "Anggadipati, Panglima, seperti tertulis pada surat pengantar itu," ujar Pangeran Muda dengan hormat.

"Suasana daerah ini akan sangat berbeda dengan Pajajaran barat atau utara. Wilayah ini ditinggalkan oleh penduduknya yang memilih daerah barat atau utara yang lebih ramai dan lebih aman, itulah sebabnya kota ini tampak terlalu besar. Kebanyakan yang tinggal di sini adalah petani-petani dan prajurit, sedang kaum pedagang dan cerdik cendekia memilih Pajajaran barat dan utara. Tapi bagaimanapun juga ini adalah bagian Pajajaran. Kita harus mengembangkannya kembali di berbagai bidangnya. Nah, penugasanmu ke sini adalah untuk membantuku dalam soal pengembangan kembali itu, khususnya di bidang keamanan."

"Mudah-mudahan hamba dapat memenuhi harapan, Panglima," ujar Pangeran Muda.

"Daerah rawa-rawa tentu merupakan daerah yang baru bagimu, anak muda," ujar Panglima itu. "Ya, Panglima," ujar Pangeran Muda. Dan sambil berbincang-bincang seperti itu tibalah mereka

di atas gerbang benteng. Para gulang-gulang mempersilakan mereka untuk memasuki kandangjaga yang tepat terletak di atas gerbang kedua dari kota Galuh, yaitu gerbang yang menghadap ke selatan.

KETIKA itu hari sudah menuju gelap, langit dipenuhi oleh keluang dan kelelawar. Akan tetapi, dengan agak keheranan, Pangeran Muda melihat para gulang-gulang belum juga menutup gerbang kota. Ia bertanya kepada Panglima, apakah belum waktunya para gulang-gulang menutup pintu kota itu.

"Sebentar lagi, anak muda. Sebentar lagi rombongan terakhir petani dari daerah rawa-rawa akan memasuki kota. Mereka sudah setengah tahun lamanya terpaksa tidur di dalam kota karena di kampung mereka keamanan tidak terjamin," kata Panglima.

"Hamba tidak mengerti maksud Panglima," ujar Pangeran Muda.

"Begini, anak muda. Saya justru ditugaskan di wilayah ini untuk menghadapi masalah keamanan yang pelik. Sebelum saya datang ke sini, hampir seluruh penduduk kampung terpaksa mengungsi ke kota setiap malam karena merajalelanya penjarah-penjarah dan pembunuh- pembunuh. Setelah diadakan gerakan-gerakan pembersihan, umumnya kampung-kampung di luar benteng cukup aman, kecuali yang berdekatan dengan rawa. Sudah berulang-ulang dilaksanakan pencarian ke daerah rawa-rawa itu, tetapi hasilnya tidak banyak. Kita belum menemukan jejak penjahat-penjahat ini."

'Apakah pengejaran masih terus dilakukan?"

"Masih. Tiga kelompok jagabaya masing-masing berjumlah dua puluh lima orang terus-menerus menyisir hutan-hutan dan rawa-rawa serta padang-padang sempit. Akan tetapi, hasilnya tidak banyak, jejak mereka sukar dicari di daerah yang bersungai-sungai ini. Lebih mudah mencari musuh di padang-padang utara daripada di sini, anak muda," kata Panglima.

Pada saat itu muncullah rombongan terakhir petani-petani yang mengungsi itu. Obor-obor mereka berkobar-kobar di tengah-tengah kegelapan. Suara roda pedati, suara ternak serta percakapan dan suara tangis anak-anak sayup-sayup terdengar. Pangeran Muda memerhatikan rombongan yang makin dekat itu dengan penuh perhatian. Dan ketika mereka sudah berada di bawah dinding benteng serta mulai melewati kandang jaga, tampaklah rakyat yang prihatin itu berbondong-bondong. Pemandangan itu menyedihkan hati Pangeran Muda. 

"Seandainya mereka terus-menerus harus mengungsi ke dalam kota setiap malam, akhirnya kepercayaan mereka kepada kerajaan akan menurun. Mungkin karena bosan mereka akan menyerah pada pengacau-pengacau itu dan memutuskan untuk membayar pajak kepada mereka. Kalau sudah demikian, kita sudah setengah kalah karena berarti kerajaan sudah kehilangan rakyatnya," ujar Panglima.

"Apakah hal seperti itu mungkin terjadi Panglima?"

"Saya datang ke sini menghadapi keadaan yang sudah sangat jelek, anak muda. Sebenarnya, saya belum dapat menetapkan betapa jeleknya keadaan karena baru enam bulan saya berada di sini. Akan tetapi, kalau keadaannya seperti sekarang, keadaan yang paling jelek mungkin saja terjadi. Berulang-ulang saya hampir meminta bala bantuan sejumlah besar jagabaya untuk mencari pengacau-pengacau itu, tetapi harga diri saya belum mengizinkan untuk itu. Demikian juga saya berpendapat, kalau sejumlah jagabaya ditempatkan dan terikat di sini, mungkin hal itu sebenarnya yang diinginkan oleh lawan-lawan kita. Jadi, yang penting adalah menemukan cara- cara pengepungan dan pencarian yang tepat, sesuai dengan keadaan medan di sini. Dan itu sedang terus-menerus kita cari."

Keesokan harinya, sebagai pengawal pribadi Panglima, Pangeran Muda ikut menghadiri perundingan yang dilakukan oleh Panglima dengan pembantu-pembantunya. Pertama-tama diterima laporan terakhir dari daerah rawa-rawa yang dianggap oleh Panglima sebagai tempat persembunyian para pengacau itu. Kemudian diadakan pembahasan dan diambil kesimpulan oleh Panglima dan para pembantunya. Dilakukan pula perkiraan mengenai gerakan yang harus dilakukan kemudian.

Setelah perundingan hari itu selesai, dan ketika Panglima sedang meninggalkan ruangan, seorang penunggang kuda datang tergopoh-gopoh membawa laporan. Panglima membaca laporan itu dan dengan wajah suram mengatakan kepada Pangeran Muda bahwa sepuluh orang jagabaya tenggelam di salah sebuah rawa yang letaknya tidak dapat ditetapkan.

"Yang saya butuhkan sebenarnya kira-kira sepuluh orang puragabaya, tetapi kalau saya meminta bantuan sepuluh orang puragabaya, saya tidak usah lagi berpangkat panglima jagabaya," kata Pangeran Rangga Wisesa. Tampak beliau sangat berkecil hati dengan adanya laporan terakhir itu. Dengan adanya laporan terakhir itu, rapat terpaksa dibuka kembali dan perundingan dilanjutkan hingga siang, di mana diputuskan jumlah jagabaya yang lebih besar dikerahkan ke daerah selatan wilayah Galuh itu.

Dua minggu setelah peristiwa tenggelamnya sepuluh orang jagabaya, kejadian yang menyedihkan terulang kembali, di mana tiga jagabaya lain tewas karena penghadangan yang direncanakan dengan baik oleh pengacau-pengacau itu. Terdorong oleh keinginan lebih banyak membantu Panglima Rangga Wisesa, dan terdorong pula oleh keinginan mengetahui lebih banyak tentang daerah kekuasaan Galuh, Pangeran Muda mengusulkan dirinya untuk mengikuti salah satu rombongan jagabaya yang melakukan pencarian tempat persembunyian gerombolan pengacau itu.

"Tugas utamamu adalah sebagai pengawal pribadiku, anak muda. Tugas kedua adalah menyumbangkan pikiran-pikiran dalam perundingan karena seorang puragabaya adalah orang yang menguasai soal-soal siasat peperangan. Sedang mengikuti jagabaya bukan saja tidak termasuk ke dalam tugasmu, tetapi mungkin akan merendahkan martabat kepuragabayaan," ujar Panglima.

"Panglima, saya belum lagi seorang puragabaya. Oleh karena itu, mengikuti pasukan jagabaya tidak akan merendahkan martabat kepuragabayaan. Di samping itu, kalau iktikad hamba untuk mengabdi kepada kerajaan, hamba kira tak ada hal yang akan merendahkan siapa pun."

"Akan tetapi, seorang puragabaya tidak boleh menjadi anak buah jagabaya, walaupun apa pangkat dia," ujar Panglima.

"Hamba tidak akan jadi anak buah siapa pun, Panglima. Hamba hanya akan membantu kepala pasukan jagabaya itu. Juga, hamba tidak akan bertindak atau bersikap sebagai puragabaya, tetapi sebagai seorang prajurit Pajajaran saja."

Panglima Rangga Wisesa termenung sebentar, dan setelah menarik napas panjang berkatalah, "Kalau begitu, baiklah. Akan tetapi ingatlah, apa pun yang terjadi kepadamu, itu adalah tanggung jawabku, anak muda."

"Hamba akan menjaga diri hamba sebaik-baiknya, Panglima."

"Ya, mudah-mudahan darahmu tidak terlalu panas, walaupun kau masih sangat muda," lanjut Panglima Rangga Wisesa.

Keesokan harinya pagi-pagi, Pangeran Muda sudah berada di atas punggung si Gambir, menuju daerah yang berawa-rawa sebelah selatan kota Galuh.

SEORANG gulang-gulang mengantarkan Pangeran Muda ke tempat pemusatan pasukan jagabaya yang berada di tengah-tengah hutan kecil, rawa-rawa, dan sungai-sungai. Setelah beberapa kali menyeberangi jembatan-jembatan darurat yang dibuat dari bambu, dari jauh tampaklah sebuah bangunan besar yang sekelilingnya dipagari dengan bambu yang ujungnya diruncingkan. Di keempat sudut pagar yang tinggi itu dibangun empat buah menara, tempat para pemanah siap dengan busur panah mereka.

"Itulah asrama jagabaya, Anom," ujar gulang-gulang itu.

"Bawalah saya kepada perwira pimpinan, gulang-gulang," kata Pangeran Muda. "Baiklah, Pangeran Muda." Setiba mereka di gerbang asrama itu, beberapa orang penjaga menyambutnya, kemudian mempersilakan mereka masuk ke bangunan kecil yang ada di pojok lapang asrama, tempat perwira pimpinan berada. Setelah perwira itu membaca surat dari Panglima, ia berdiri memberi hormat kepada Pangeran Muda, kemudian menyilakan duduk.

"Tenaga Juragan sangat kami butuhkan karena kami tidak memiliki seorang pun yang ahli dalam mencari jejak," kata perwira itu.

"Saya pun bukan seorang ahli, tetapi karena bertahun-tahun tinggal di hutan dan setiap waktu harus mencari jejak binatang-binatang, saya jadi terbiasa dengan berbagai jejak itu," ujar Pangeran Muda yang kepuragabayaannya disembunyikan oleh Panglima.

"Malam ini suatu rombongan yang terdiri dari dua puluh orang akan berangkat ke arah selatan, apakah Juragan sudah bersedia ikut malam ini juga? Kalau masih perlu beristirahat, besok malam pun rombongan lain akan berangkat"

"Lebih baik malam ini," ujar Pangeran Muda, dan sore itu bersama dengan dua puluh orang jagabaya di bawah pimpinan bintara yang bernama Garda, Pangeran Muda berangkat.

Kedua puluh orang jagabaya itu ternyata merupakan pasukan pilihan. Mereka semua menunggang kuda, sedang senjata-senjata mereka yang pendek menyatakan bahwa mereka adalah prajurit-prajurit yang ahli dalam pertempuran jarak dekat dan perkelahian dari tangan ke tangan. Senjata untuk jarak jauh yang mereka bawa hanyalah disandang oleh beberapa orang pemanah. Yang lainnya tak seorang pun membawa senjata macam demikian, sedang perisai yang biasa menjadi pelindung para jagabaya, tak satu pun tampak mereka bawa.

Perlengkapan serta persenjataan jagabaya yang sangat sedikit itu ternyata kemudian disesuaikan dengan keadaan medan. Setelah melewati beberapa kampung yang kosong karena ditinggalkan oleh petani-petani yang terpaksa bermalam di kota, pasukan turun dari kuda dan menitipkan binatang-binatang itu pada suatu kampung yang diduduki oleh kelompok kecil jagabaya. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Dalam perjalanan itu, Pangeran Muda berjalan paling depan dan bertindak seolah-olah sebagai pembantu Garda. Untuk beberapa lama sukar bagi Pangeran Muda untuk dapat berjalan dengan cepat karena selain belum terbiasa menjelajahi hutan-hutan kecil yang tanahnya berawa-rawa, malam sangat gelap pula. Sedang penggunaan obor-obor tidak mungkin dilakukan. Segalanya harus dilakukan secara rahasia karena mereka sedang mengintai gerak-gerik lawan yang juga merahasiakan jejaknya.

Demikianlah seperempat malam pertama mereka lalui dengan melintasi jalan-jalan setapak dalam semak, menyeberangi sungai-sungai kecil di daerah yang berawa-rawa dan menyeberangi jembatan-jembatan yang terbuat dari bambu. Pada suatu saat, ketika mereka akan menyeberangi sungai yang agak lebar, tiba-tiba Garda berhenti melangkah, dan bekas-bekasnya tampak hanyut dan tersangkut tidak jauh dari tempat jembatan itu semula berdiri.

"Untung dan sial!" kata Garda. "Pertama untung karena mereka memberitahukan kepada kita bahwa mereka ada dekat-dekat di sini. Sial karena kita harus mencari jalan lain dan itu berarti setengah malam lamanya."

"Mengapa mereka harus meruntuhkan jembatan ini?" tanya Pangeran Muda.

"Mereka sudah kehabisan bekal dan harus merampas persediaan yang mungkin tertinggal di kampung yang akan kita kunjungi. Atau kemungkinan lain, mereka meruntuhkan jembatan di sini untuk menarik perhatian kita, padahal mereka akan melakukan serangan di tempat lain, dan siapa tahu yang mereka hantam adalah asrama kecil yang baru saja kita tinggalkan bersama-sama kuda-kuda kita."

Mendengar itu teringatlah Pangeran Muda pada si Gambir. Bagaimana kalau si Gambir sampai terampas oleh lawan yang licin itu?

"Berapa orang yang ditugaskan menjaga asrama kecil itu?" tanya Pangeran Muda.

"Tujuh orang, tapi pagar bambunya cukup tinggi, dan mereka tidak akan menyerah begitu saja."

"Tapi apakah tujuan mereka kalau mereka sampai menyerang asrama kecil itu?" tanya Pangeran Muda pula.

"Lebih banyak jagabaya yang tewas, lebih berkurang kepercayaan rakyat kepada kerajaan," ujar Garda dengan dingin. "Sekarang, apa yang akan dilakukan?

"Kita akan mengambil jalan keliling, dan mencoba mencapai kampung yang kita tuju dengan secepat-cepatnya."

"Bagaimana kalau kita menyeberang di sini?" tanya Pangeran Muda.

"Dengan arus sederas ini dan dengan perlengkapan senjata yang memenuhi tubuh?" tanya Garda keheranan.

Pangeran Muda baru menyadari akan hal itu. Pangeran Muda meraba tali yang tergantung di pinggangnya, di balik sarung yang dilipat setengah. Tali itu kecil dan ringan, tetapi adalah tali khusus yang biasa dipergunakan dan dibawa ke mana pun oleh para puragabaya dan para calon.

"Saya membawa tali, dan barangkali kita dapat mencoba menyeberangi arus yang deras ini dengan tali itu," kata Pangeran Muda sambil menguraikan tali yang dibawanya. Garda memandangnya dengan ragu-ragu.

"Tapi tali itu terlalu kecil," ujarnya.

"Tali ini kuat sekali, jangan takut. Sekarang peganglah ujungnya, ujung yang lain akan saya ikatkan ke pinggang saya. Saya akan menyeberang, dan kalau saya hanyut, tariklah," sambil berkata demikian Pangeran Muda mengikatkan ujung tali ke pinggangnya, di bawah pandangan dua puluh orang jagabaya yang penasaran tetapi juga ragu-ragu.

"Sekarang peganglah ujung ini, saya akan berenang."

Pangeran Muda berjalan ke tepi sungai yang agak curam lalu menuruninya. Setelah meraba- raba dengan telapak kakinya, masuklah ia ke dalam arus yang deras, kemudian mencoba berenang. Akan tetapi, arus itu deras sekali. Berulang-ulang Pangeran Muda hanyut dan kembali ke tepi dengan bantuan anak-anak buah Garda yang memegang ujung tali yang lain. Kemudian, dengan mengerahkan tenaga sebaik-baiknya, Pangeran Muda dapat melewati arus tengah sungai itu, lalu mencapai seberang. Setelah mengikatkan ujung tambang pada sebatang pohon, Pangeran Muda, dengan berpegang pada tali itu kembali ke seberang tempat pasukan berada. Ujung tali yang lain diikat pula pada sebatang pohon. Setelah itu Pangeran Muda mempersilakan pasukan untuk menyeberang dengan berpegang pada tali itu. Akan tetapi, karena mereka ragu-ragu, Pangeran Muda pun terpaksa memberi contoh. Kemudian, dengan susah payah, pasukan menyeberang sungai yang deras itu dengan bantuan seutas tali puragabaya. Dengan basah kuyup, pasukan dengan tergesa-gesa berjalan menuju kampung yang menjadi tujuan.

Setiba di kampung itu Garda berseru, memanggil suatu nama. Dari dalam gelap datanglah suara langkah, kemudian muncullah seorang jagabaya dengan badan basah kuyup dan pakaian tidak keruan. Di belakang jagabaya itu berjalan beberapa orang kakek-kakek dan nenek-nenek.

"Mereka datang! Belum lama!" kata jagabaya itu kepada Garda. "Syukur kau selamat, berapa orang?" ujar Garda.

"Kata kakek kira-kira dua puluh orang, tapi mungkin lebih karena sebagian menunggu di luar pagar."

"Apa yang mereka lakukan?"

"Kakek dapat menerangkannya," kata jagabaya itu.

"Mereka minta garam dan mengancam akan membunuh kakek-kakek serta nenek-nenek yang tinggal di kampung kalau nanti di saat mereka kembali garam itu belum tersedia."

"Dari tempat persembunyian, saya dengar mereka membentak-bentak," kata jagabaya yang tampak habis bersembunyi itu menyela.

"Besok kakek ikutiah mengungsi dengan anak-anak," kata Garda.

"Garda," kata Pangeran Muda sambil membawa Garda menjauh dari tempat mereka berkumpul, "janganlah dulu orang-orang tua disuruh mengungsi. Kalau kita mengungsikan orang-orang tua, itu berarti kemenangan bagi pihak lawan. Jadi, janganlah orang-orang tua itu disuruh ke kota besok. Biarlah mereka tinggal di sini. Saya kira lawan pun tidak akan berbuat banyak terhadap mereka."

"Tapi kalau begitu, kita harus menyediakan garam bagi lawan," ujar Garda.

"Baiklah, bagaimana kalau garam itu kita sediakan, tetapi dicampur dulu dengan sesuatu hingga mereka sakit perut, misalnya?"

"Bukan garam saja yang mereka minta, juga pancing" kata jagabaya yang tinggal di kampung itu. "Pancing?" seru Garda keheranan.

"Garda," bisik Pangeran Muda, "kalau mereka meminta-pancing itu menyatakan seolah-olah mereka hidup dengan damai walaupun kita kejar-kejar. Artinya itu penghinaan terhadap kita. Di samping itu, mereka bermaksud memengaruhi rakyat, yaitu agar rakyat beranggapan mereka sudah sangat kuat, hingga dapat meremehkan kehadiran jagabaya yang sangat banyak jumlahnya di daerah ini."

"Apakah kita beri pancing itu, Juragan?"

"Apa sukarnya, asal kita pancing pula mereka."

Selagi berunding-runding demikian, datanglah pula rombongan kakek-kakek dan nenek-nenek yang terdiri dari enam orang. Mereka termasuk orang-orang tua yang tidak mengungsi dan bersama jagabaya dipasang di kampung itu untuk mengumpulkan keterangan-keterangan tentang jejak lawan.

"Nah, Kakek, apa yang mereka katakan kepada Kakek?" tanya Garda kepada seorang kakek- kakek yang paling tua dan berjalan paling depan.

Kakek-kakek itu tidak menjawab, tetapi menyodorkan dua helai lontar kepada Garda.

"Oh, ya," kata jagabaya yang ditempatkan di kampung itu, "mereka meninggalkan dua helai lontar, tapi di sini tidak ada yang bisa membaca."

'Juragan, apakah Juragan dapat membaca?" tanya Garda kepada Pangeran Muda. Pangeran Muda tidak menjawab. Ia mengulurkan tangan dan menerima lontar selebaran itu. Pangeran Muda kemudian membacanya.

Pajajaran tidak sanggup lagi mengurus wilayah bekas kekuasaan Galuh yang pernah jaya di masa lalu dan akan jaya kembali di masa yang akan datang. Hai, rakyatyang ingat akan kebesaran Galuh, bersiapsiaplah untuk menyongsong kebangkitan Galuh yang lebih besar dan lebih jaya di masa yang tidak lama lagi!

"Apa isinya, Juragan?" tanya Garda setelah melihat Pangeran Muda selesai membaca. "Omong kosong!" ujar Pangeran Muda. "Mereka berniat mendirikan Kerajaan Galuh, padahal

Pajajaran adalah lanjutan dari Galuh," kata Pangeran Muda melanjutkan.

Setelah itu pasukan mencoba mencari jejak lawan yang belum lama meninggalkan kampung itu, tetapi karena malam menjadi sangat gelap, mereka terpaksa kembali ke kampung, dan melanjutkan perencanaan yang akan mereka lakukan keesokan harinya.

Selagi mereka berunding, nenek-nenek menjerang air dan menyajikan gula dengan ubi bakar kepada para jagabaya. Ketika Pangeran Muda meminum teh yang disajikan, ia merasa bahwa teh itu sangat pahit. Pangeran Muda meletakkan teh itu kembali.

"Terlalu pahit?" tanya Garda seperti sudah mengetahui.

"Ya, tapi terpaksa Juragan harus meminumnya karena teh itu diberi penangkal siluman," ujarnya sambil tersenyum.

"Apa yang kaumaksud, Garda?" tanya Pangeran Muda.

'Juragan datang dari Pajajaran barat tentu saja merasa asing dengan minuman kami di sini. Begini Juragan, siluman-siluman di daerah rawa ini demikian jahatnya, hingga setiap orang yang datang ke dekatnya dibunuhnya. Mereka menyamar sebagai nyamuk, dan melalui gigitannya dibunuhnya korbannya perlahan-lahan. Untung kami memiliki dukun sakti, ia dapat menemukan pohon penangkal siluman dari hutan rahasia di dataran tinggi Pajajaran. Nah, dengan mencampur kulit pohon penangkal itu dengan teh, terlindunglah kita dari siluman-siluman yang jahat itu," kata Garda.

'Juragan, minumlah teh itu, demi keselamatan Juragan sendiri," kata seorang jagabaya.

Pangeran Muda menurut, lalu meminumnya banyak-banyak. Dan setelah beberapa kali meminum teh hangat itu, terbiasalah Pangeran Muda pada rasa pahitnya.

Tengah malam pasukan bergerak ke arah kampung berikutnya, dan setelah bermalam dan pasukan tidur beberapa saat lamanya, hari pun sianglah.

SETELAH makan pagi dan menyiapkan perlengkapan lainnya, pasukan pun berangkadah menuju kampung yang semalam dikunjungi oleh lawan. Dari sana, dengan mengikuti jejak yang samar-samar, pasukan berjalan menerobos semak-semak. Sekarang anggota pasukan menjadi dua puluh orang karena jagabaya yang disimpan di kampung mengikuti mereka sebagai penunjuk jalan. Pangeran Muda sendiri membantu Garda dengan memberikan pertimbangan-pertimbangan setiap kali muncul masalah baru.

Pada hari keempat pasukan kehabisan makanan, karena sebagian perbekalan hanyut dalam suatu penyeberangan. Garda mengusulkan agar pasukan kembali asrama atau ke kampung terdekat. Pangeran Muda yang melihat hutan-hutan di sana penuh dengan binatang perburuan, seperti kijang dan babi hutan bahkan kerbau-kerbau liar dan banteng, mengusulkan agar mereka memanfaatkan pemanah-pemanah yang ada dalam pasukan.

"Akan tetapi, panah-panah itu beracun, Juragan," ujar Garda.

"Buadah anak-anak panah baru atau patahkanlah paruh anak-anak panah yang kurang baik," jawab Pangeran Muda. Pada suatu kesempatan, dengan mempergunakan kepandaiannya menyelinap seperti ular, Pangeran Muda berhasil menangkap seekor menjangan dengan mempergunakan pentung. Maka soal makanan pun terpecahkanlah.

Pada suatu saat pasukan tidak bisa bergerak karena dihadapkan pada rawa yang dalam dan sungai dihuni oleh sejumlah besar buaya. Sekali lagi Garda berputus asa dan mengusulkan kembali. Pangeran Muda menyarankan agar pasukan membuat rakit-rakit.

"Tapi kita harus mengambil bambu dari tempat yang jauhnya kira-kira lima bukit dari sini, Juragan!" sahut Garda.

"Lihat Garda, di sebelah selatan kita tampak daun pisang melambai-lambai. Kita akan dapat membuat rakit-rakit bahkan untuk pasukan yang anggotanya seratus orang," jawab Pangeran Muda. Mereka pun menyeberang dengan mempergunakan rakit-rakit itu.

Pada hari keenam pasukan terpaksa bermalam di suatu daerah yang hampir dari berbagai arah dikelilingi oleh rawa-rawa. Begitu malam turun, nyamuk berdengung gemuruh dan Garda mulai membaca mantra-mantra mengusir siluman.

"Garda, kita harus membuat api unggun untuk mengusir nyamuk."

"Juragan, tidak mungkin. Mungkin kita sudah dekat sekali dengan mereka. Untuk apa kita berjerih-payah mengikuti jejak mereka kalau kita akan menghalaunya malam ini?"

"Garda, tentu saja tidak usah besar-besar. Kalau ada, tentu saja sebaiknya api unggun dari dedak padi, tetapi itu tidak mungkin. Akan tetapi, kita masih ada akal."

"Bagaimana, Juragan?"

"Bukalah sarung-sarung hitam jagabaya. Kita akan membuat api unggun kecil di tengah-tengah tabir-tabir hitam, dan kita tidur mengelilinginya."

Garda tampak mengerti, lalu memerintahkan pada anak-anak buahnya untuk mencari pohon- pohon kecil yang akan dipergunakan sebagai tonggak untuk menambatkan sarung-sarung hitam itu.

"Panaskan air teh dan masukkan kulit kayu besar-besar, mungkin siluman-siluman telah menggabungkan diri dengan nyamuk-nyamuk ini. Nyalakan apinya kecil-kecil karena kita hanya membutuhkan asap dan hangatnya saja bukan cahayanya," ujar Garda pula. Mereka pun bekerjalah, kemudian berbaring, sementara beberapa orang jagabaya yang ditugaskan berjaga siap dengan senjata mereka.

Malam itu Pangeran Muda cepat sekali tertidur karena sangat lelah. Sekira tengah malam, Pangeran Muda tiba-tiba terbangun. Pangeran Muda menajamkan pendengarannya, lalu bangkit dan hampir tidak percaya akan apa yang didengarnya.

"Sssssst, Juragan, tidurlah kembali!" bisik Garda yang ternyata terjaga pula. "Garda, gamelan itu!"

"Sssssst," ujar Garda, suaranya terdengar ketakutan.

"Barangkali kita sudah dekat sekali ke tempat persembunyian mereka, Garda. Siapa tahu kita dapat menyerang sekarang!" kata Pangeran Muda.

"Ssssst," terdengar dari arah beberapa jagabaya yang juga ternyata tidak tidur. Tampak dalam kelam itu mereka semua ketakutan. Sementara itu Garda memberi isyarat agar Pangeran Muda mendekat. Pangeran Muda mendekat, melewati jagabaya-jagabaya yang menggigil ketakutan dan ramai membaca mantra-mantra pengusir siluman.

"Saya tidak mengerti, Garda."

'Juragan, daerah ini adalah wilayah siluman. Gamelan itu adalah gamelan mereka. Bagi orang sini, suara itu tidak asing, dan setiap kali mereka mendengarnya, mereka akan menjauh atau sekurang-kurangnya membaca mantra Rajah Pamunah untuk mengusir siluman-siluman itu. Sekurang-kurangnya, janganlah kita mengganggu mereka karena hal itu berbahaya."

Pangeran Muda tidak menjawab. Ia tidak dapat memutuskan, apakah akan memercayai cerita Garda itu atau tidak. Sementara itu suara gamelan bergema dengan merdu dan megah, seolah- olah di suatu tempat yang tidak jauh dari tempat mereka sedang dilakukan orang pesta besar.

Begitu nyaring dan merdunya suara gamelan itu hingga akhirnya Pangeran Muda yakin bahwa perkataan Garda itu omong kosong belaka. Akan tetapi, untuk tidak menusuk hatinya, Pangeran Muda tidak berkata apa-apa. Ia minta diri untuk pergi duduk-duduk dekat jagabaya yang mendapat giliran berjaga.

Jagabaya itu dengan badan menggigil berjongkok berdekatan satu sama lain sambil memegang senjata masing-masing. Ketika Pangeran Muda mendekat, salah seorang di antara mereka berbisik.

'Jangan terlalu banyak bergerak, bacalah mantra-mantra."

"Kawan, izinkanlah saya meninggalkan tempat ini sebentar," kata Pangeran Muda. Mendengar usul itu, mereka sangat keheranan.

"Kalau hendak buang air, nanti saja sesudah bunyi gamelan itu berhenti," kata seorang di antara mereka yang tidak dapat melihat Pangeran Muda dalam gelap itu.

"Saya tidak tahan lagi," kata Pangeran Muda sambil melangkah tanpa mengeluarkan bunyi.

Maka dengan mempergunakan pelajaran berjalan tanpa bunyi dan meniru ular meluncurlah Pangeran Muda dalam semak-semak di antara tumbuh-tumbuhan rawa menuju ke arah datangnya suara gamelan yang merdu itu.

Makin dekat makin nyaring pula terdengar suara gamelan itu, bahkan suara tepuk tangan mulai terdengar. Bertambah dekat terdengar suara-suara orang bernyanyi dan bercakap-cakap.

Pangeran Muda mulai bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah dengan tidak sadar mereka telah bermalam di dekat sebuah kampung besar yang tidak mengungsi? Tapi, mungkinkah Garda dengan pasukan yang berpengalaman yang dipimpinnya melakukan kekeliruan begitu besar?

Sementara itu Pangeran Muda mengendap-endap dan meluncur. Akan tetapi, lebih mengherankan lagi, walaupun suara itu makin nyaring terdengar, belum juga tampak oleh Pangeran Muda cahaya yang biasa banyak dinyalakan di tempat pesta. Dengan penasaran, Pangeran Muda berjalan dengan tergesa tetapi tanpa bunyi. Akhirnya, suara itu terdengar nyaring sekali, diselingi dengan suara nyanyi dan tertawa, suara tepuk tangan dan percakapan. Akan tetapi, di rawa itu tak satu pun cahaya atau orang kelihatan, tak sehelai daun pun bergerak.

Menyadari hal aneh itu, berdirilah bulu roma Pangeran Muda dan dengan tidak sadar, mantra- mantra pun mulailah dibaca. Kemudian dengan setengah berlari tapi tanpa bunyi Pangeran Muda kembali. Akan tetapi, Pangeran Muda tidak menemukan jejaknya dalam gelap itu.

Pangeran Muda terus-menerus berjalan, sementara di belakangnya terdengar suara gamelan seolah-olah mengejarnya. Berjalan dan berjalan terus-menerus, hingga akhirnya Pangeran Muda kelelahan dan terduduk di tanah yang basah. Telinganya terus-menerus mendengar irama gamelan yang merdu yang kadang-kadang menjadi nyaring, kadang-kadang melemah. Setelah beberapa lama beristirahat, Pangeran Muda memaksakan diri berjalan kembali, tetapi tidak dapat menemukan tempat kawan-kawannya bermalam.

Kemudian, setelah terdengar ayam hutan berkokok, berhentilah suara gamelan itu. Maka heninglah rawa dan semak-semak itu. Sementara Pangeran Muda terus-menerus mencari tempat bermalam pasukan, dan ketika matahari terbit, terdengarlah anggota pasukan berteriak-teriak memanggil-manggil, 'Juragan! Juragan!"

Setelah menggabungkan diri kembali dengan pasukan, seluruh pasukan mengelilinginya sambil bertanya-tanya. Karena kelelahan dan masih belum mengerti persoalannya, Pangeran Muda tidak banyak bercerita. Ia hanya mengatakan tersesat dan kemudian meminta kepada petugas perbekalan untuk memberinya minum dan pakaian yang kering. Setelah itu tanpa banyak menyinggung-nyinggung soal itu, rombongan pun kembali bergerak.

PADA hari kedelapan, dua hari sebelum pasukan menyelesaikan tugasnya, di suatu tengah hari pasukan tiba di tepi suatu rawa yang luas, yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pulau.

Pasukan melihat jejak kaki yang banyak sekali di tepi rawa itu. Seraya memerhatikan jejak kaki itu Garda berkata, "Ini bekas kawan-kawan kita, Juragan." "Mungkinkah bekas kawan-kawan kita yang tewas di rawa itu?"

Garda termenung sebentar, kemudian memandang ke arah pulau yang ada di tengah rawa itu. Setelah beberapa lama ia berkata, "Menurut keterangan orang yang selamat, memang demikian. Mereka tiba di suatu rawa, kemudian ketika menyeberang menuju suatu pulau, beberapa orang ada yang menarik dari dalam rawa dan tidak dapat ditolong lagi."

Pangeran Muda memandang ke arah pulau yang berhutan dan sunyi itu. Setelah beberapa lama ia mengusulkan kepada Garda, bagaimana kalau mencari tempat menyeberang yang lebih sempit daripada yang dihadapinya. Garda setuju dan pasukan pun bergerak dengan mengendap-endap dan hati-hati. Mereka bergerak sepanjang pinggiran rawa seraya terus memandang ke arah pulau yang mencurigakan itu. Tiba-tiba Pangeran Muda melihat gerakan di balik semak pulau itu.

Bertepatan dengan itu seorang jagabaya melihat ke belakang dan memberi isyarat bahwa ia melihat orang. Pasukan terus bergerak perlahan-lahan, dan akhirnya menemukan tempat menyeberang yang tidak terlalu luas. Dengan hati-hati, mereka turun dan mulai melangkah ke tengah-tengah.

Tiba-tiba dari seberang terdengarlah teriakan peperangan, dan bagai hujan, anak panah menghambur dan berdesing di udara dan di antara semak-semak. Para jagabaya tidak gentar menghadapi serangan itu, tetapi dengan semangat mereka pun menyerukan teriakan peperangan dan bergerak dengan gagah menuju lawan yang bersembunyi di balik semak-semak. Anak-anak panah lawan yang mengenai tubuh mereka tidak mereka hiraukan, karena di balik baju-baju mereka terdapat zirah logam. Mereka bergerak terus, menuju lawan yang bersembunyi di balik semak-semak. Seruan mereka yang bersemangat bergema menenggelamkan teriakan-teriakan lawan.

Akan tetapi, pada suatu tempat di rawa itu, tiba-tiba seorang jagabaya jatuh. Mula-mula yang lain tidak menghiraukannya dan terus berjalan, yang lain jatuh, dan makin tengah, makin banyak jagabaya yang terjatuh hingga akhirnya Garda berseru, supaya mereka berhenti. Ketika mereka berhenti itulah baru mereka sadar bahwa dari dalam rawa itu ada tenaga yang menarik tubuh mereka. Seolah-olah berpuluh-puluh tangan siluman menarik untuk mengubur mereka ke dalam lumpur itu.

Mengetahui akan hal itu, ketakutanlah para jagabaya itu. Seorang mulai berteriak minta tolong dan berusaha kembali, tetapi kakinya makin lama makin dalam terbenam. Demikian juga, orang- orang yang pertama-tama jatuh sudah sampai pinggang diisap oleh lumpur rawa yang menakutkan itu. Pangeran Muda sendiri yang sudah menguasai pelajaran bagaimana harus meringankan tubuh berjalan di rawa yang dalam, sungguh susah mengatasi isapan lumpur rawa. Pangeran Muda berseru, mewakili Garda yang dalam ketakutan dan terkejutnya tidak dapat berkata apa-apa, "Pegang semak-semak, pegang alang-alang!"

Beberapa jagabaya menurut perintah itu dan berpegangan dengan erat, hingga badannya tidak terlalu mudah diisap oleh lumpur itu. Akan tetapi, jagabaya-jagabaya yang berjalan paling depan dan berjauhan dengan semak tidak dapat berbuat apa-apa. Dengan susah payah dan ketakutan, mereka berusaha menyelamatkan diri tapi sia-sia. Pangeran Muda dengan sedih melihat ke arah mereka dan berpikir dengan keras untuk menyelamatkan mereka dari siluman rawa yang buas itu.

"Mundur!" kata Pangeran Muda pada jagabaya jagabaya yang masih belum terisap oleh rawa itu. Dengan perlahan-lahan dan waspada terhadap anak-anak panah yang terus menghujan, mereka mundur. Di tempat yang agak keras Pangeran Muda melepaskan tali yang ada di pinggangnya, lalu berseru kepada jagabaya yang paling depan yang sudah terbenam hingga ke pundaknya.

"Tangkap!"

Tali itu melingkar di leher jagabaya itu, yang kemudian memegangnya. Beberapa orang menarik jagabaya itu dengan susah payah, kemudian mengeluarkannya dari dalam lumpur dan menariknya ke tempat yang tidak terlalu berbahaya. Berturut-turut prajurit-prajurit yang terancam bahaya itu ditolong dan diselamatkan, untuk kemudian dibawa ke tempat yang aman dari serangan-serangan anak panah lawan.

Akhirnya, seluruh pasukan dapat diselamatkan dan dengan kelelahan mengundurkan diri ke tempat yang jauh dari rawa yang menakutkan itu. Setelah napas mereka kembali tenang dan setelah mereka mengatasi terkejut dan ketakutan, berkatalah Garda, "Kita harus segera pulang dan melaporkan segala yang terjadi."

Mendengar itu, berkatalah Pangeran Muda, "Tidak, kita harus menemukan jalan menyeberangi rawa siluman ini." Karena kepenasaran dan karena semangat berjuangnya yang meluap. Pangeran Muda lupa, bahwa dalam pasukan itu Gardalah yang menjadi pemimpin. Mendengar perkataan Pangeran Muda yang tidak pada tempatnya itu, bangkitlah Garda dan dengan tegas berkata, "Juragan tidak berhak memberikan perintah dalam pasukan ini."

"Maaf, Garda, saya lupa, tetapi saya mengusulkan, agar kita mencari jalan untuk menyeberangi rawa ini."

"Tidak, sudah terlalu banyak yang jatuh sebagai korban, dan saya tidak mau anak buah saya mati tenggelam secara hina. Saya rela kaiau mereka mati dengan senjata di tangan setelah berjuang dengan gagah berani. Akan tetapi, saya tidak rela kalau mereka mati dengan sia-sia di rawa siluman ini."

"Garda, tapi pasti ada jalan tempat menyeberang. Kalau lawan bisa menyeberangi rawa ini, mengapa kita tidak?"

"Lawan sudah bersekutu dengan siluman dan kita tidak akan dapat mengalahkannya," kata Garda dengan tegas.

'Jadi, apakah yang akan kaulaporkan pada perwiramu sekembali dari tempat itu? Apakah akan mengatakan bahwa kau takut dan tidak berusaha untuk mencari tempat menyeberang? Akankah kau mengatakan bahwa kau tidak sanggup setelah musuh berada di depanmu? Setelah kau menghabiskan sejumlah besar bekal dan setelah seminggu kau mengenakan baju zirah yang mahal, yang dibeli dan dibiayai oleh rakyat kerajaan?"

Mendengar perkataan Pangeran Muda itu, Garda tertegun, kemudian berkata, "Tidak, saya tidak mau diperintah oleh orang yang tidak berhak atas pasukan ini."

"Garda, tapi saya ditugaskan oleh Panglima untuk membantumu, itu berarti bahwa kau harus mempertimbangkan setiap saran yang kusampaikan kepadamu."

"Tidak!" Garda dengan keras membangkang.

"Jadi, dapat saya laporkan bahwa kau pengecut dan pantas dipecat dari kedudukanmu dengan tidak hormat begitu kau tiba di asrama. Juga kalian semua akan dipecat kalau kalian menuruti kepengecutan bintaramu ini."

Mendengar itu pasukan kebingungan, sebagian berpihak pada Garda, sebagian berpihak pada Pangeran Muda, sebagian kebingungan. Sementara itu berserulah Garda, "Sekarang bergeraklah kalian, untuk kembali ke pangkalan!"

Kebanyakan jagabaya bergerak, tetapi yang lain tidak, sedang yang lain ragu. Garda melihat kepada mereka yang ragu-ragu, lalu mendorongnya agar ikut berjalan dengan yang lain. Karena orang itu kebingungan, orang itu tidak mau bergerak, mungkin karena takut akan ancaman Pangeran Muda bahwa mereka akan dipecat. Karena keragu-raguan anak buahnya, naik pitamlah Garda. Didorongnya anak buah itu hingga terjatuh. Pangeran Muda menahan Garda yang akan menyepak ulu hati orang yang jatuh itu. Akan tetapi, Garda malah membalik dan memukulnya.

Untung Pangeran Muda sempat merasakan terlebih dahulu gerakan tubuh Garda yang dipegangnya ketika itu, hingga pukulan Garda menuju ke tempat kosong. Sekali gagal Garda terus menghantam, didorong oleh kemarahannya. Pangeran Muda menghindar dengan dua langkah mundur kemudian bersiap-siap.

Melihat kejadian itu berkelilinglah para jagabaya memerhatikan kelanjutan peristiwa itu.

Pangeran Muda berdiri dengan tenang tapi siap siaga, sedang Garda terengah-engah memandangnya dengan mata merah dan kening yang direntangi oleh urat-urat yang tegang. Tiba- tiba dia berkata, "Rubuhkan dulu aku, baru kuanggap pasukan ini pasukanmu!"

"Saya tidak bermaksud menjadi pemimpin pasukan, tetapi memperingatkan kepadamu bahwa kau dibiayai oleh kerajaan dan rakyat Pajajaran untuk berusaha sebaik-baiknya menyelesaikan tugasmu," belum Pangeran Muda selesai berkata, Garda telah menyerangnya. Ia menyerang dengan mengulurkan kedua tangannya yang besar-besar ke arah leher Pangeran Muda. Barangkali ia beranggapan bahwa Pangeran Muda yang berbadan Iampai dan jauh lebih kecil daripadanya tidak akan berdaya kalau ditangkap dan dibantingnya. Akan tetapi, ketika kedua tangannya yang besar-besar itu sudah hampir mencapai Pangeran Muda, kedua tangan Pangeran Muda diangkat ke atas, bersilangan dengan kedua tangan Garda yang lurus ke depan. Kemudian dengan sekejap mata, dengan mempergunakan berat badannya, Pangeran Muda membuang tangan lawan ke samping kiri. Dengan keras tubuh Garda berdebum jatuh di dekat kaki kiri Pangeran Muda.

Untuk memberi kesan bahwa rubuhnya Garda itu karena kebetulan, Pangeran Muda tidak menyerangnya, tetapi memberinya kesempatan untuk bangkit. Begitu Garda bangkit, dengan deras ia menyerang kembali. Sekarang tangan kanannya melayang ke arah bawah telinga kiri Pangeran Muda, Pangeran Muda mengangkat tangan itu dengan tangan kirinya, lalu menariknya ke bawah. Garda menarik tangan kanannya yang ditahan oleh Pangeran Muda. Seluruh tenaga Garda dipusatkan di tangan kanannya itu. Pangeran Muda menyodokkan tangan kanannya ke bawah dada, lalu membanting Garda ke arah kiri. Sekali lagi tubuh Garda terbaring dekat kaki kirinya.

Pangeran Muda tidak menyerangnya, tetapi membiarkan dia terbaring dan bangkit. Tiba-tiba Garda menyerang kembali, menghambur sambil menyeruduk Pangeran Muda. Pangeran Muda menghindar sambil menepuk tengkuk Garda dengan tangan kirinya. Garda tersungkur dengan wajah mencium tanah, tetapi tangannya sempat mencapai pakaian hitam

Pangeran Muda yang robek karenanya. Ketika itulah para jagabaya melihat pakaian putih Pangeran Muda dengan ikat pinggang keemasan yang hanya dipakai oleh puragabaya atau calon- calonnya. Hanya Garda tidak melihatnya karena ia tidak dapat bangkit lagi, sebelum dua orang jagabaya memapahnya.

"Dengarkan," kata Pangeran Muda kepada jagabaya-jagabaya yang berkumpul di hadapannya. "Saya diberi tugas untuk membantu bintara yang memimpinmu ini," sambil berkata demikian ditunjuknya Garda yang masih terduduk, lalu katanya pula, "Bintaramu itu terkejut dan kehilangan semangat karena rawa siluman itu. Saya merasa berkewajiban untuk membantunya dengan mengembalikan semangatnya hingga tugas kita berhasil. Kalau ia tidak berani menyerang musuh yang ada di seberang, kita semua berkewajiban menjalankan tugas hingga berhasil. Kalian dapat memilih anggota tertua dari kalian untuk memimpin."

Tak ada yang menjawab untuk beberapa lama. Kemudian Garda bangkit.

"Saya sudah insyaf, dan bersedia menyerahkan pimpinan pasukan kepada Juragan sebagai puragabaya," ujarnya dengan tulus.

"Puragabaya atau bukan tidaklah perlu dipersoalkan, yang penting kita sudah menemukan jejak lawan, dan barangkali kita sudah sampai di tempat persembunyiannya. Kita harus menyelesaikan tugas ini dengan sebaik-baiknya."

Maka perundingan yang tenang pun mulailah dilakukan, di bawah lindungan semak-semak bakau.

PANGERAN Muda mendapat keterangan bahwa siasat lawan adalah siasat yang biasa dilakukan oleh pasukan yang jumlahnya kecil. Mereka tidak pernah bersedia bertempur secara terbuka dengan pasukan yang besarnya lebih dari dua puluh orang. Biasanya mereka lakukan penghadangan, lalu menghilang dengan cara yang sangat sempurna. Malam hari, dengan rombongan lima atau sepuluh orang, mereka datangi kampung-kampung, menakut-nakuti rakyat, mengambil perbekalan, kadang-kadang menganiaya dan membunuh di samping membagi-bagikan tulisan-tulisan yang umumnya menjelek-jelekkan kerajaan atau memperingatkan penduduk akan zaman Galuh yang jaya yang akan datang dalam waktu dekat.

Dari penjelasan-penjelasan itu, Pangeran Muda dapat memperkirakan bahwa paling banyak lawan berjumlah lima puluh orang.

Mengenai persenjataan mereka Pangeran Muda pun tidak merasa cemas. Panah-panah beracun adalah senjata utama di samping tombak-tombak. Malam hari mereka mau juga melakukan pertempuran dengan mempergunakan golok dan badik. Akan tetapi, perkelahian seperti yang biasa dilakukan tentara yang kuat, yaitu perkelahian dari tangan ke tangan dengan mempergunakan senjata pendek atau tangan hampa, tidak pernah mereka lakukan. Oleh karena itu, Pangeran Muda menarik kesimpulan yang kedua, yaitu bahwa mereka bukanlah tentara pilihan yang bermutu tinggi, tetapi tentara biasa. Kalau selama ini mereka tampak kuat dan sukar untuk ditundukkan, hal itu disebabkan tentara kerajaan menghadapi kesukaran-kesukaran yang berupa hambatan-hambatan alam. Alam ini juga memberikan tempat bersembunyi yang sempurna bagi lawan. Di samping mempertimbangkan kekuatan lawan, Pangeran Muda pun mempertimbangkan kekuatan pasukan jagabaya yang ada. Dua puluh satu orang jagabaya yang turut serta adalah prajurit-prajurit pilihan yang berpengalaman di beberapa medan pertempuran. Persenjataan mereka lengkap pula, terutama terdiri dari senjata-senjata pendek, seperti golok, kapak, pisau- pisau, dan baju zirah yang biasa dipergunakan oleh pasukan pilihan. Dengan kekuatan pihak sendiri seperti itu, asal saja tempat atau cara penyeberangan.dapat ditemukan, Pangeran Muda beranggapan, bahwa penyerangan yang dilakukan tidak akan sia-sia. Kalau tidak dapat menghancurkan lawan sama sekali, sekurang-kurangnya melumpuhkannya untuk waktu yang lama.

Segalanya ini dijelaskan pada pasukan, kemudian ditetapkan cara-cara penyelidikan yang akan dilakukan kalau hari sudah gelap. Di antara cara itu adalah Pangeran Muda akan mencoba menyeberangi rawa siluman itu dengan bantuan dua orang jagabaya yang memegang tali ijuk.

Seandainya cara penyeberangan yang sebaik-baiknya dapat ditemukan, maka malam itu juga pasukan akan menyeberang, kemudian esok harinya subuh-subuh akan melakukan serangan tiba- tiba. Setelah hal itu disetujui, pasukan pun beristirahatlah, sambil membuka perbekalan dan menunggu hari gelap.

Begitu malam turun, Pangeran Muda dengan diiringi oleh Garda dan dua orang jagabaya bergerak kembali ke pinggir rawa. Pada saat mereka tiba di pinggir rawa, sayup-sayup terdengar suara orang di pulau itu. Pangeran Muda berbisik kepada Garda, bahwa ternyata lawan tidak melarikan diri.

"Mereka menyangka kita pulang, Juragan Puragabaya," ujar Garda.

"Bagus., mudah-mudahan kita dapat menemukan jalan menyeberang, dan mudah-mudahan kau akan mendapat penghargaan nanti," kata Pangeran Muda membesarkan hati Garda.

Sementara itu, mereka terus berjalan, dan akhirnya Pangeran Muda mulai turun ke rawa itu dengan pinggang diikat tali yang ujungnya dipegang oleh dua orang jagabaya.

Makin lama Pangeran Muda makin jauh ke tengah, sementara itu Pangeran Muda tidak pernah keluar dari semak-semak. Bukan saja untuk menghindarkan diri dari pandangan musuh, akan tetapi terutama karena dekat semak-semak itu lebih aman. Sekiranya lumpur mulai mengisap, Pangeran Muda dapat menjangkau cabang-cabang semak itu.

Di samping seutas tali yang mengikat pinggangnya, Pangeran Muda pun membawa seutas tali yang lain, yang ujungnya diikatkan pada sebuah dahan yang bercabang-cabang. Dahan itu diikat, dengan harapan akan dapat digunakan sebagai sangkutan seandainya dapat dilempar ke seberang. Dengan perlengkapan itu, Pangeran Muda terus maju, sementara itu kakinya makin lama makin sukar untuk diangkat. Pada suatu saat tibalah Pangeran Muda di bagian rawa yang tidak dapat lagi dipijak. Betapapun Pangeran Muda berusaha untuk tegak, lumpur di bawah kakinya tidak dapat dijadikan tumpuan. Maka Pangeran Muda pun terpaksa merangkak, sementara jagabaya yang memegang tali juga berusaha mendekatinya.

Pangeran Muda merangkak dan bergerak seperti orang yang sedang berenang, tetapi lumpur itu ternyata tidak dapat direnangi. Pangeran Muda seolah-olah ditarik oleh suatu tenaga yang sangat kuat ke dalam lumpur itu. Melihat hal itu, jagabaya yang ada di belakang Pangeran Muda berseru, bertanya, apakah Pangeran Muda perlu ditarik. Pangeran Muda menjawab tidak dan terus melemparkan dirinya ke depan. Di hadapan Pangeran Muda remang-remang kelihatan semak pulau itu, oleh karena itu semangatnya tidak patah oleh tarikan lumpur itu.

Pangeran Muda terus merangkak, walaupun gerakan-gerakannya tidak membawa kemajuan, dan bahkan makin dalam membenamkan tubuhnya ke dalam lumpur. Pada suatu saat, Pangeran Muda melemparkan cabang kayu yang terikat pada tali yang dibawanya. Setelah habis melemparkan cabang itu, begitu terasa betapa lumpur itu melulurnya dari bawah. Pangeran Muda menggapai-gapaikan tangannya dan mulai batuk-batuk karena air memasuki mulutnya. Jagabaya yang memegang tali segera menariknya, dan dengan susah payah mereka melepaskan Pangeran Muda dari pelukan lumpur itu.

Setelah berada di tempat aman, Pangeran Muda teringat akan cabang dahan yang sekarang sudah ada di seberang. Pangeran Muda segera menarik ujung tali yang satu. Mula-mula tali itu dapat ditariknya, akan tetapi kemudian sesuatu menahannya. Cabang itu tersangkut. Pangeran Muda berdoa, mudah-mudahan cabang itu tersangkut pada batang pohon yang kuat, hingga dapat dijadikan penahan kalau Pangeran Muda di atas lumpur menyeberangi rawa itu.

Setelah beberapa kali menarik tali yang menjadi tegang itu, Pangeran Muda berpaling kepada Garda dan dua jagabaya yang mengantarnya.

"Kalau saya tiba di seberang, saya akan menarik tali yang diikatkan di pinggang saya tiga kali. Itu berarti saya selamat. Nah, kalau demikian ikatkanlah tali itu di batang pohon di tepi rawa. Saya akan mengikatkan ujung yang lain di seberang. Mungkin saya akan kembali dahulu melalui tali yang sudah direntangkan itu, mungkin saya akan terus menyelidiki. Apa pun yang terjadi, janganlah pergi dari dekat kalian mengikatkan tali di pohon itu." Setelah berkata demikian, dengan berpegang pada tali yang satu, dan masih terikat oleh tali yang lain di pinggangnya, Pangeran Muda mulai lagi menyeberang.

Bagian rawa yang sukar sudah dilalui, tetapi makin dekat ke pulau itu makin sukar lumpur direnangi. Pangeran Muda berpegang pada tali dan sambil berdoa menariknya, hingga badannya makin lama makin terdorong ke depan. Entah berapa lama Pangeran Muda bergulat dengan tarikan lumpur itu, akhirnya kakinya dapat berpijak, walaupun tidak kukuh. Hati Pangeran Muda mulai lega, dan sambil berdoa terus bergerak dan tidak melepaskan tali itu. Akhirnya, tanah keras pun dicapainya, dan tibalah Pangeran Muda pada ujung tambang dengan cabang yang terikat di ujungnya tersangkut pada akar pohonan air. Akar itu sudah hampir putus karena berat badannya.

Setiba di tanah yang kering, dan setelah menemukan pohon yang agak besar, Pangeran Muda melepaskan tambang yang terikat pada pinggangnya, lalu mengikatkan ujungnya pada sebatang pohon erat-erat. Setelah itu Pangeran Muda menarik tambang itu, menyentakkannya tiga kali, memberi tahu kepada kawan-kawannya yang ada di seberang bahwa ia sudah selamat. Setelah itu, tanpa beristirahat dulu Pangeran Muda terus bergerak dengan hati-hati dan tanpa bunyi, menuju ke tengah pulau. Setelah beberapa lama berjalan, mulailah terdengarlah suara orang, walaupun samar-samar. Pangeran Muda makin hati-hati, walaupun makin cepat menuju ke tempat datangnya suara itu. Akhirnya, dilihatnya cahaya.

Cahaya itu datang dari suatu api unggun yang dikelilingi oleh beberapa belas orang laki-laki. Di atas unggun api itu sedang dibakar seekor babi hutan yang besar. Di belakang laki-laki itu, dalam cahaya remang-remang berdirilah gubuk-gubuk.

Dalam gubuk-gubuk itu terlihat pula cahaya lentera dan gerakan-gerakan, tetapi Pangeran Muda tidak dapat melihat apa yang dilakukan oleh penghuni gubuk-gubuk itu. Sambil berdiri di tempat gelap Pangeran Muda mengambil kesimpulan, musuh sudah merasa aman, hingga mereka tidak berjaga-jaga lagi. Akan tetapi, hal itu dapat dimengerti karena rawa yang mengelilingi tempat mereka itu begitu sukar ditempuh, hingga karena nasib baik saja orang akan dapat menyeberanginya.

Setelah puas mengawasi lawan yang tidak sadar akan kehadirannya, Pangeran Muda mulai merenungkan siasat yang akan dilaksanakannya. Seandainya lawan hanya berjumlah dua puluh orang, Pangeran Muda dapat menyerang seorang diri di dalam gelap itu. Akan tetapi, kalau lebih dari dua puluh orang, mungkin Pangeran Muda justru akan menjadi korban. Di samping itu, penyergapan bukan hanya dimaksudkan untuk menghancurkan para pengacau, tetapi juga untuk mengetahui latar belakang pengacauan itu sendiri. Oleh karena itu, penyerangan malam hari yang penuh bahaya mungkin tidak akan mencapai sasaran. Sebagian dari lawan mungkin akan melarikan diri, dan bahan-bahan keterangan yang berharga dapat dihancurkan terlebih dahulu.

Dengan pertimbangan demikian, beralihlah pikiran Pangeran Muda pada cara penyeberangan yang akan dilakukan oleh pasukan yang ditinggalkannya.

Bagaimanapun juga pasukan harus diseberangkan malam itu juga. Akan tetapi, penyeberangan itu sukar sekali dilakukan. Dan seandainya lawan mengetahui, korban-korban akan jatuh. Akan tetapi, itulah satu-satunya cara yaitu, menyeberang dengan bantuan tambang. Pangeran Muda kembali ke tepi rawa, lalu dengan menyusur tambang yang telah direntangkan sebelumnya menyeberang kembali ke arah kawan-kawannya.

Penyeberangan kembali itu memakan waktu dan melelahkan. Akan tetapi dalam perundingan, Garda yang telah bangkit lagi semangatnya, menyetujui rencana penyeberangan malam itu. Maka pasukan pun dipanggil ke tepi rawa, dan Pangeran Muda menyeberang pahng dahulu. Karena sukarnya, penyeberangan itu dilakukan dalam waktu yang lama. Ketika tengah malam lewat, baru sepuluh orang yang tiba di seberang, semuanya kelelahan dan pucat, seolah-olah baru lepas dari bahaya maut. Walaupun sangat lelah, Pangeran Muda tidak tinggal diam. Diselidikinya sekeliling tempat itu, sambil selalu bertanya-tanya, bagaimana caranya pihak lawan melakukan penyeberangan ke pulau berhutan di tengah rawa yang berbahaya itu. Akan tetapi, jawab pertanyaan itu tidak didapatkannya, lalu tidak menjadi perhatiannya lagi. Yang menjadi persoalannya sekarang adalah penyerangan yang akan dilakukannya subuh atau pagi-pagi benar, ketika lawan belum bangun atau sedang tidur pulas. Maka dikumpulkanlah anggota pasukan itu di. suatu tempat, dan dalam gelap mereka mengadakan perundingan.

Pertama ditetapkan, mereka akan bergerak mendekati tempat lawan, kemudian menetapkan dan membagi-bagi sasaran penyerangan. Setelah itu mereka akan beristirahat, hingga lawan semua tidur dan malam tidak terlalu gelap. Setelah itu bergeraklah pasukan mendekati tempat lawan yang ternyata belum semuanya tidur.

Di lapangan yang dikelilingi oleh gubuk-gubuk masih terdapat empat lima orang di antara mereka sedang mengobrol mengelilingi api unggun. Sementara itu, di dekat mereka bergelimpangan kawan-kawannya yang tidur lelap. Lawan yang masih jaga dan yang telah tidur itu dihitung, dan ternyata berjumlah lima belas orang, Pangeran Muda kemudian menghitung gubuk-gubuk yang ada di sekeliling tempat itu, yang ternyata berjumlah delapan buah, dengan dua buah lebih besar daripada yang lain. Pangeran Muda memperkirakan pemimpin para pengacau itu tidur di salah satu di antara gubuk-gubuk besar itu. Gubuk tempat pemimpin itu harus segera ditemukan agar serangan yang akan dilakukan mengenai sasarannya. Untuk tujuan itu Pangeran Muda berunding dengan Garda.

"Garda, sekurang-kurangnya pemimpin pengacau ini harus dapat kita tangkap hidup-hidup.

Lebih banyak yang kita tangkap hidup-hidup, lebih baik. Tentu saja kalau penyerangan kita berhasil dengan baik," kata Pangeran Muda.

'Jangan takut, Juragan Puragabaya, anak buah saya semuanya berpengalaman dan sudah biasa melakukan penyergapan dan penangkapan hidup-hidup."

"Syukurlah kalau begitu, tetapi kita harus hati-hati karena mungkin jumlah lawan lebih banyak daripada kita."

"Menurut perkiraan panglima, mereka tidak akan lebih dari lima puluh orang. Di samping itu, mungkin sebagian sedang berada di luar. Mudah-mudahan pemimpin pasukannya sedang berada di sini," ujar Garda sambil tetap memandang ke arah lawan yang beberapa orang masih belum tidur.

"Sebelum melakukan serangan, ,kita akan menghantam penjaga dulu, setelah itu pasukan kita bagi ke sasaran masing-masing dalam waktu yang sama."

"Baik, saya dan Juragan Puragabaya akan membunuh penjaga-penjaga itu terlebih dulu," ujar Garda. Maka segala perintah lanjutan pun disampaikan kepada pasukan yang semuanya mengerti bahwa pemimpin pengacau tidak boleh dibunuh. Setelah itu, mereka pun beristirahat, sambil tetap memandang ke arah lawan.

MALAM pun bertambah sunyi, sedang bintang-bintang di langit yang berjuta-juta banyaknya, letaknya sudah banyak bergilir ke barat. Sayup-sayup kokok ayam terdengar, disahuti oleh kokok ayam hutan yang berdekatan dengan rawa itu. Pangeran Muda tetap mengawasi lawan yang lima orang banyaknya, yang belum juga tidur. Mungkin mereka termasuk bagian pasukan yang diserahi tugas jaga, pikir Pangeran Muda. Akan tetapi, kemudian yang lima orang pun satu per satu meninggalkan api unggun, lalu pergi ke dalam gelap. Akhirnya, tinggallah dua orang penjaga yang masih tetap berjongkok di sekitar api unggun itu. Kadang-kadang kedua orang ini berjalan-jalan berkeliling, kadang-kadang menghilang di balik gubuk-gubuk itu. Suara langkahnya terdengar berdesir di atas semak-semak. Pada suatu kali pernah salah seorang di antara penjaga itu berjalan dekat sekali pada pasukan, hingga terpaksa anggota-anggota pasukan jagabaya bertiarap menyembunyikan diri.

Hari makin bertambah terang juga, sedang ayam-ayam jantan makin ramai bersahutan.

Pangeran Muda memberi isyarat kepada para jagabaya agar bersiap-siap. Ia pun berbisik kepada Garda, agar mereka menyergap penjaga itu dengan mula-mula menutup mulut mereka, lalu menghantamnya. Garda mengangguk. Kemudian isyarat diberikan, agar pasukan bergerak dan melebar. Maka bergeraklah pasukan, setelah mereka diberi tahu bahwa penyerangan dimulai setelah kedua pemimpin mereka berhasil melumpuhkan kedua penjaga itu. Maka pasukan pun terus bergerak, hingga mereka berhenti beberapa langkah di dekat tempat lawan yang tidur bergelimpangan di atas tanah

Pangeran Muda memberi isyarat kepada Garda untuk mulai menyergap. Mereka pun melingkariah, agar mereka dapat menyergap kedua penjaga itu dari belakang. Setelah berada di belakang mereka, dengan tidak mengeluarkan bunyi, mereka mengendap-endap ke arah kedua penjaga itu, lalu dengan waktu yang hampir bertepatan, Pangeran Muda dan Garda menutup mulut penjaga-penjaga itu dengan tangan kiri, lalu menghantam ulu hati mereka dengan tangan kanan. Dengan tiga pukulan, menggeleparlah penjaga-penjaga itu, lalu tidak bergerak-gerak lagi, Pangeran Muda berdiri, lalu memberi isyarat. Maka menghamburlah dua puluh orang jagabaya dengan senjata mereka berkilat-kilat dalam cahaya langit subuh dan unggun yang hampir padam, Pangeran Muda dengan Garda berlari ke arah gubuk yang paling besar, sambil menghantam anggota-anggota gerombolan yang terlewati. Dari arah lapangan di mana pembantaian sedang dilakukan oleh para jagabaya, terdengar jeritan-jeritan, demikian juga dari tempat-tempat lain yaitu dari gubuk-gubuk yang lain yang mendapat serangan jagabaya.

Ketika Pangeran Muda dan Garda tiba di gubuk yang terbesar, ternyata pintu ditutup dari dalam.

"Minggir!" kata Pangeran Muda kepada Garda yang mencoba mendorong pintu. Garda minggir, dan Pangeran Muda mundur, lalu melakukan serangan dengan telapak kaki ke arah pintu itu.

Walaupun kayu pintu gubuk itu kuat, dengan sekali hentakan berantakanlah pintu dengan palangnya. Begitu pintu terbuka, Garda segera menghambur masuk ke dalam ruangan gubuk yang remang-remang itu. Pergulatan terjadi, Pangeran Muda hanya melihat tubuh Garda berguling- guling dengan tubuh seorang lawan di lantai gubuk. Di samping itu, Pangeran Muda pun melihat dinding gubuk terbuka di sebelah belakang. Dengan secepat kilat, Pangeran Muda melompat keluar melalui lubang dinding itu.

Begitu tiba di luar, tampaklah seseorang lari menuju tepi rawa. Dengan beberapa lompatan, Pangeran Muda sudah dapat mengejar orang itu. Rupanya orang itu sadar akan pengejarnya karena ia segera berbalik dan bersiap-siap. Pangeran Muda berdiri menghadapi orang itu, sambil dalam hatinya memuji kerapatan dan keteguhan kuda-kudanya.

Orang itu tampak seorang kesatria. Ia menyodorkan kaki kanannya ke depan, dan tangan kanannya membalik ke atas, dengan sikutnya lurus-lurus berada di atas lutut. Sementara itu tangan kirinya yang ditarik dekat ke dadanya bersiap-siap dengan jari-jarinya setengah dikuncupkan. Melihat sikap seperti itu, Pangeran Muda agak kebingungan. Ada dua kemungkinan yang sedang dihadapinya; pertama, sikap itu merupakan pancingan yang belum dikenalnya; kedua, mungkin kesatria yang dihadapi itu seorang kidal yang tangan kirinya lebih kuat daripada tangan kanan. Kedua-duanya akan merupakan siasat yang sukar dihadapi.

Akan tetapi, Pangeran Muda tidak menunggu hal-hal yang lebih jelas. Untuk tidak terpancing, Pangeran Muda tidak akan menangkap tangan kanan kesatria itu. Kalau ia menangkapnya ada dua kemungkinan; pertama, ia menjadi sasaran tangan kiri kesatria itu; kedua, mungkin Pangeran Muda akan disentakkan ke belakang, hingga tersungkur ke sisi kanan kesatria itu. Untuk tidak terpancing menjadi salah satu sasaran itu, Pangeran Muda tidak menangkap tangan kanan kesatria itu, tetapi dengan lurus dan cepat mendorong badan kesatria itu dengan menekankan telapak tangan pada pergelangan dan sikut kesatria itu.

Tepat seperti yang diramalkan oleh Pangeran Muda ternyata kesatria itu benar-benar kidal.

Begitu tangannya disentuh dan didorong, tangan kiri pemuda itu berdesing menuju lekuk di bawah leher Pangeran Muda. Karena sudah diramalkan, Pangeran Muda sudah siap. Dengan telapak kedua kaki bergeser ke belakang, sementara tangan kiri dengan telapaknya yang terbuka lebar menerima tangan kanan lawan pada perge-langan, sedang tangan kanan yang juga telapaknya terbuka lebar, menyentakkan tangan kanan lawan tepat pada sikutnya. Tenaga lawan yang terarah ke depan dengan kuat, oleh Pangeran Muda ditumpahkan ke samping, hingga kesatria itu terjungkal lepas dari kuda-kudanya, dan jatuh ke samping dengan berjungkir. Akan tetapi, dengan mengherankan anak muda itu tidak terus rubuh. Setelah berjungkir dengan bagus, ia telah berdiri kembali dan memasang kuda-kuda baru. Sekarang tangan kirinya yang disodorkan ke depan. Pangeran Muda sudah memperkirakan gerakan-gerakan selanjutnya, yaitu bahwa tangan kiri akan tetap menjadi senjata utama kesatria itu. Tangan kiri yang disodorkan ke depan akan dijadikan umpan agar dipegang atau ditarik oleh Pangeran Muda. Tangan kiri ini akan ditarik ke belakang diikuti dengan serangan tangan kanan yang tidak akan ampuh, tetapi memberi kesempatan pada tangan kiri untuk menyerang pada gerakan selanjutnya.

Dengan perkiraan itu, Pangeran Muda berpura-pura terpancing. Ia maju ke depan dengan badan yang rengkuh dan tangan jauh menjulur ke depan untuk menghindarkan serangan kaki lawan. Dengan telapak-telapak tangan yang terbuka, Pangeran Muda menyentuh pergelangan tangan kiri lawan yang oleh lawan segera ditarik ke belakang. Gerakan itu diikuti oleh Pangeran Muda dengan tetap tidak melepaskan tangan kanannya pada pergelangan kiri lawan sementara kaki kiri Pangeran Muda menggeser dengan cepat. Tepat seperti yang diramalkan, terasa oleh Pangeran Muda bahwa lawan akan menghantamkan tangan kanannya, tapi sebelum tangan kanan sempat menderu ke muka, Pangeran Muda yang telapak tangan kanannya seperti melekat ke pergelangan kiri lawan, mendorong lawan sambil menggeser kaki kanannya ke depan. Lawan kehilangan keseimbangan dan tidak dapat memberikan pukulan. Dalam keadaan kacau dan bingung itu, Pangeran Muda memasukkan pukulan pendeknya ke rusuk kiri lawan yang langsung terjatuh dan menggeliat-geliat di tanah.

Pangeran Muda mengangkatnya dengan memegang kedua ketiak lawan dari belakang, lalu menyeretnya ke arah lapangan, di mana para jagabaya di bawah pimpinan Garda sedang mengumpulkan lawan yang masih hidup. Hanya tujuh orang yang hidup karena para jagabaya umumnya mempergunakan senjata-senjata tajam mereka. Yang lain bergelimpangan mandi darah, ada yang pecah kepalanya, ada yang putus tangannya, ada badan tanpa kepala, dan lain-lain nasib yang mengerikan. Sementara itu, Pangeran Muda mendapat kabar dari Garda bahwa lawannya bergulat di dalam gubuk terpaksa dibunuhnya karena Garda hampir kewalahan.

Pangeran Muda menjelaskan, hal itu tidak terlalu menjadi persoalan karena seorang kesatria yang menjadi pemimpin pengacau telah dapat ditangkapnya hidup-hidup.

Pagi itu, setelah para jagabaya membakar berpikul-pikul padi dan dendeng-dendeng serta perlengkapan-perlengkapan lawan lainnya, mereka keluar dari hutan kecil itu. Ternyata gerombolan itu memiliki perlengkapan penyeberangan berupa rakit-rakit yang terbuat dari bambu besar, hingga karena udara yang terkandung di dalamnya tidak mudah terbenam, betapapun besarnya tarikan lumpur. Terpikir oleh Pangeran Muda gerombolan itu telah merencanakan pengacauannya dengan sangat baik karena bahkan persediaan bambu-bambu besar itu sempat didatangkan ke suatu daerah di mana tidak terdapat pohon-pohon bambu.

BERITA ditemukannya persembunyian pengacau dan ditangkapnya hidup-hidup salah seorang di antara pemimpin mereka sangat cepat diterima oleh sang Prabu di Pajajaran. Dalam minggu kedua setelah peristiwa pertempuran di rawa itu, datanglah sebuah kereta yang dikawal oleh dua puluh jagabaya ke kota Galuh. Kereta itu membawa sejumlah bangsawan dan panglima jagabaya dari ibu kota. Di samping diberi tugas oleh sang Prabu untuk menyampaikan penghormatan dan penghargaan kepada Panglima dan kepada Garda, mereka pun bermaksud mengambil tawanan- tawanan itu untuk dibawa ke Pakuan Pajajaran dalam waktu singkat, untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Yang paling menggembirakan Pangeran Muda adalah kereta itu juga membawa surat-surat baginya. Dari Pangeran Anggadipati berupa pernyataan dan kegembiraaan seorang ayah kepada anaknya yang sudah berbuat banyak bagi kerajaan. Dalam surat itu dikatakan, walaupun yang secara terbuka mendapat penghargaan adalah Panglima Rangga Wisesa dan Garda sebagai jagabaya, sang Prabu yang diberi penjelasan lengkap oleh Panglima Rangga Wisesa tentang jalannya peristiwa, sangat berkenan atas perbuatan Pangeran Muda. Seandainya Pangeran Muda sudah berkedudukan sebagai seorang puragabaya, tentu sang Prabu akan memberikan penghargaan secara resmi. Disampaikan juga berita oleh Ayahanda, sang Prabu dan Putra Mahkota ingin sekali bertemu Pangeran Muda.

Surat yang kedua dari calon iparnya, Pangeran Rangga Wesi yang menyampaikan ucapan selamat, juga memberikan berita tentang segala yang terjadi di istana dan di Puri Anggadipati setelah Pangeran Muda bertugas. Diberitahukan pula oleh Pangeran Rangga Wesi, walaupun Ayahanda Anggadipati mengusulkan supaya ia segera menikah dengan Ayunda Ringgit Sari, kedua asyik masyuk itu memutuskan untuk menangguhkan perkawinan mereka. Pertama, mereka menganggap lebih baik kalau perkawinan dilangsungkan setelah Pangeran Rangga Wesi diangkat untuk menjabat salah satu kedudukan kerajaan; kedua, mereka mengharapkan untuk dapat menikah pada hari yang sama dengan Pangeran Muda dan Putri Yuta Inten. Pangeran .Muda sungguh-sungguh terharu membaca berita itu. Tergugahlah rasa sayangnya kepada Ayunda dan calon iparnya itu.

Yang terakhir adalah surat dari Putri Yuta Inten. Pertama-tama diberitakan tentang kegembiraan keluarganya, setelah diberi tahu bahwa mereka saling mengasihi. Kemudian kebanggaan gadis itu setelah mendengar cerita-cerita tentang peristiwa penangkapan pemimpin pengacau di daerah Galuh yang dilakukan oleh Pangeran Muda dengan para jagabaya. Gadis itu menyatakan, Pangeran Muda sudah menjadi seorang pahlawan bagi Pajajaran. Beberapa tukang kecapi sudah membuat lagu-lagu pujaan bagi kepahlawanannya. Terakhir sekali dinyatakannya kerinduannya.

Gadis itu menyatakan, bagaimana jalan-jalan, lorong kota Medang dan lorong-lorong di rumahnya selalu mengingatkan dia kepadanya. Dan kalau benda-benda atau tempat-tempat tidak mengingatkannya pada Pangeran Muda, percakapan rakyat tentang kepahlawanan Pangeran Muda tidak dapat dihindarkannya. Segalanya itu membuatnya ia menderita, walaupun ia menganggap penderitaan itu adalah penderitaan yang seindah-indahnya dalam hidupnya. Kemudian gadis itu berpesan agar Pangeran Muda menjaga dirinya baik-baik dan segera pulang ke Pajajaran barat, di mana gadis itu selalu menantinya. Sebelum menutup surat, gadis itu memberitahukan juga bahwa Jante mengirim kabar dari Kutabarang, memberitakan tentang kesehatannya. Menurut Jante, segalanya di Kutabarang baik-baik, hanya ia selalu dibayang-bayangi oleh beberapa kesatria yang dipimpin oleh Raden Bagus Wiratanu.

Tambahan surat itu agak mengherankan Pangeran Muda, tetapi karena perhatiannya tertumpah ke bagian surat yang lain yang berulang-ulang dibacanya, Pangeran Muda segera melupakan berita tentang jante. Perhatiannya terpusat kepada bagian-bagian surat yang lain, yang menyatakan rindu dendam gadis itu. Sebaliknya, pernyataan rindu dendam itu menggugah pula rindu dendam pada diri Pangeran Muda. Alangkah inginnya ia pulang ke Pajajaran barat. Hanya kesatriaannya saja yang menahan untuk tidak mengemukakan keinginannya itu kepada Panglima Rangga Wisesa.