Pangeran Anggadipati Bab 15 : Di Ibu Kota

 
Bab 15 : Di Ibu Kota

Walaupun kesempatan bertemu dengan Ibunda dan Ayunda jarang sekali, Pangeran Muda tidak dapat lama tinggal di Puri Anggadipati. Pertama, karena tugas menunggu di ibu kota; kedua, karena Ayahanda sudah berada di sana. Setelah tiga hari berada di kampung kelahirannya, Pangeran Muda pun berangkatlah ke Pakuan Pajajaran, diiringi oleh empat orang gulang-gulang.

Keempat gulang-gulang ini diberi tugas oleh Ibunda untuk mengawal Pangeran Muda hingga Pakuan Pajajaran, berhubung kekhawatiran Ibunda akan keselamatan putranya seandainya Pangeran Muda seorang diri melakukan perjalanan yang sangat jauh itu. Pangeran Muda sendiri sebenarnya tidak memerlukan gulang-gulang itu, tetapi untuk menyenangkan hati Ibunda, diterimanya juga pengawal-pengawal itu. Di samping itu, tidak ada salahnya kalau ada teman seperjalanan, apalagi gulang-gulang yang empat itu adalah kenalan-kenalan lamanya, kawan- kawan sepermainan di waktu

Pangeran Muda masih kanak-kanak. Maka pada hari yang ditetapkan, rombongan pun berangkatlah.

Sepanjangjalan antara Kutabarang dengan dataran tinggi, rombongan memacu kuda. Karena lari kuda cepat, dan karena suasana hati Pangeran Muda sedang risau, tak banyak yang dipercakapkan dalam perjalanan itu. Pangeran Muda lebih banyak membisu, sementara hatinya melayangjauh, melintasi gunung-gunung yang sayup-sayup, ke arah suatu kaputren di kota Medang tempat Putri Yuta Inten berada.

Semenjak pertemuannya dengan gadis itu, Pangeran Muda pun menyadari segi lain dari dirinya.

Ia adalah seorang bangsawan dan puragabaya, berarti seluruh hidupnya harus diserahkan pada kerajaan, pada tugas-tugas pengabdian untuk seluruh warga kerajaan. Sebelum menjadi calon puragabaya, hanya pengabdian itulah yang menjadi masalahnya. Sekarang, setelah Pangeran Muda bertemu dengan Putri Yuta Inten, terasa oleh Pangeran Muda, apa artinya menjadi seorang kesatria, seorang pria yang muda remaja.

Sadar akan kedudukannya sebagai pria dan kesatria ini merupakan suatu hal yang baru bagi Pangeran Muda. Ia seolah-olah memasuki dunia baru yang penuh dengan janji keindahan. Akan tetapi, karena barunya, dunia itu penuh dengan keasingan yang menimbulkan keragu-raguan dan kecemasan. Pergulatan antara harapan dan kecemasan, sukacita dan kerinduan, menyebabkan Pangeran Muda seolah-olah hidup dalam impian. Ia sering termenung-menung, sering sekali seperti terbangun dari tidur kalau tiba-tiba ada orang yang mengajaknya bercakap-cakap.

Bagi Pangeran Muda, khayalan dan kenyataan bergulat, memperebutkan kesadarannya.

Kesadarannya kadang-kadang berpijak pada kenyataan, yaitu bahwa ia sedang berada di atas pelana kuda, memacunya menuju ibu kota Pajajaran. Tetapi lamunan selalu menariknya ke arah Medang. Kalau lamunannya menjadi lebih kuat, lupalah Pangeran Muda pada alam sekelilingnya. Yang terbayang olehnya hanyalah jalan-jalan dan Kaputren Medang, dengan wajah, gerak-gerik Yuta Inten yang lemah gemulai, .suaranya yang merdu memenuhi pancaindranya.

Mata Pangeran Muda memandang ke depan, sementara tangannya erat memegang kendali. Akan tetapi, mata hatinya memandang ke arah lain, ke tempat yang jauh. Seorang gadis muda- remaja tersenyum, berjalan, duduk sambil menyulam, bernyanyi kecil menidurkan adiknya, gemetar menerima tangannya ketika bersalaman.

'Anom!" tiba-tiba terdengar seorang gulang-gulang berseru dari belakang. Pangeran Muda terbangun dari lamunannya. Dengan segera ia mengekang kendali.

"Ada apa?" "Ini bukan jalan ke Pakuan Pajajaran, tapi ke Muarabe-res. Sebetulnya sejak tadi saya merasa ragu-ragu dan bertanya-tanya, mengapa Anom mengambil jalan ini. Baru sekarang saya yakin, kita telah tersesat."

Pangeran Muda termenung sejenak, kemudian tersenyum sayu.

"Terima kasih, Gita," katanya. "Mari kita kembali, saya sungguh-sungguh jadi pelupa sekarang," lanjutnya.

"Pangeran Muda," kata gulang-gulang yang bernama Jatun ketika mereka sudah berada kembali dijalan yang benar, "kalau seorang tua pelupa,.hal itu disebabkan oleh kesadarannya sudah tidak betah lagi berada di dunia ini. Sebaliknya, kalau seorang pemuda pelupa, hal itu disebabkan oleh karena kesadarannya terlalu lincah melompat-lompat dari kenyataan yang satu ke kenyataan yang lain, hingga sering terpeleset dan terjungkir."

Pangeran Muda tidak mengemukakan pendapatnya tentang hal itu, hingga Gita bertanya sambil tertawa,'Jatun membandingkan kesadaran manusia dengan seekor bajing. Kalau kesadaran orang tua suka melompat ke api pembakaran, apakah kesadaran Pangeran Muda melompat ke arah setangkai bunga hingga tersesat dijalan?"

Pangeran Muda tersenyum, lalu berkata, "Engkau melompat ke dahan yang tepat, Gita." "Kalau begitu saya menang taruhan, Anom," katajatun. Kemudian ia menerangkan bahwa

ketika Pangeran Muda tiba, mereka melihat Pangeran Muda sering termenung-menung. Jatun dan Gita bertaruh, Jatun menebak bahwa Pangeran Muda sedang dimabuk asmara, sedang Gita sebagai orang yang lebih sungguh-sungguh wataknya menduga Pangeran Muda sedang menghadapi tugas yang berat.

"Kalau begitu, tidak ada di antara kalian yang menang, Tun," ujar Pangeran Muda. "Saya sedang menghadapi kedua-duanya."

Maka Pangeran Muda pun menyuruh gulang-gulangnya agar melarikan kudanya lebih dekat dan ia pun membukakan rencananya kepada mereka.

"Begini, Gita, Jatun. Sebenarnya, saya tidak memerlukan pengawalan kalian. Sejelek-jeleknya saya adalah seorang calon puragabaya. Tidak ada yang saya takuti."

"Tidak benar, Anom," seru Jatun sambil tertawa, "yang saya takuti Anom tersesat kalau tidak dikawal," dan mereka pun tertawalah.

"Baiklah, tapi marilah dengarkan persoalanku. Kalau kalian kuizinkan mengawalku, hal itu menyenangkan Ibunda dan barangkali memang saya sudah punya firasat akan tersesat," kata Pangeran Muda sambil tersenyum, kemudian ia melanjutkan, "Kalian anak-anak muda, dan saya yakin kalian akan dapat merasakan apa yang kurasakan. Putri itu, atau kami, menyatakan hati masing-masing tepat sebelum berpisah. Bayangkan, begitu kami menyatakan isi hati kami masing- masing, kami berpisah. Kami belum puas mengungkapkan apa-apa yang terpendam dalam hati kami. Oleh karena itu, saya ada rencana. Kalian tidak usah terus mengawalku ke Pakuan Pajajaran, untuk sementara. Nanti di tempat kita menginap, saya akan menulis surat kepadanya dan esok hari kalian berbelok ke arah Medang untuk menyampaikan suratku itu. Kemudian kalian mengikutiku kembali ke Pakuan Pajajaran, sambil membawa surat darinya kalau ia menyerahkannya kepada kalian."

"Akan tetapi, bagaimana kalau Ibunda Putri bertanya kepada kami?"

"Beliau tidak akan mengetahui tentang apa yang kita lakukan," kata Pangeran Muda. "Kalau begitu, baiklah," ujar Gita. Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan tidak banyak

bercakap-cakap. Tepat ketika hari mulai gelap, tibalah mereka di sebuah kampung.

Malam itu Pangeran Muda menulis surat, menceritakan tentang perasaan-perasaan, harapan- harapannya yang timbul semenjak mereka berkenalan. Diceritakannya pula kepada Putri Yuta Inten, bagaimana Pangeran Muda sering mengintip dari jendela tempatnya menginap di Medang, mendengarkan suaranya yang merdu, memerhatikannya dengan penuh gairah bagaimana jari-jari Yuta Inten yang tirus dengan lincah menyulamkan bunga-bungaan pada kain yang terbentang di pang-widangan. Pada penutup surat itu diceritakannya pula, karena tidak dapat menahan dorongan hatinya, pada malam terakhir berada di Medang, Pangeran Muda telah menyelinap dan mengintip, ketika Putri Yuta Inten sedang menjalin rambutnya yang lebat dan indah itu.

Dikatakannya, percakapan Putri Yuta Inten dengan emban didengarnya pula. Untuk segala kelakuannya itu, Pangeran Muda minta maaf karena segalanya itu dilakukannya tidak didorong oleh iktikad-iktikad yang rendah, tetapi karena perasaan-perasaan yang luhur dan mulia juga.

Setelah surat itu beberapa kali dibaca kembali, Pangeran Muda meletakkan pisau pangotnya, lalu mengambil kotak lontar yang terbuat dari kayu cendana yang wangi. Surat itu disusunnya, lalu dimasukkan ke dalam kotak lontar itu.

Keesokan harinya, setelah kuda-kuda diurus dan diberi makan, Pangeran Muda dengan keempat pengawalnya meninggalkan kampung itu. Sekira matahari mulai hangat, tibalah mereka di suatu persimpangan. Pangeran Muda mengacungkan tangannya, memberi isyarat agar para pengawalnya berhenti.

"Kita berpisah di sini, Gita." "Baik, Pangeran Muda."

Pangeran Muda turun dari kudanya, demikian juga para gulang-gulang. Pangeran Muda mengambil kantong kulit yang indah dari kantong besar yang tergantung di pelana si Gambir, lalu menyodorkannya kepada Gita sambil berkata, "Gita, kantong ini berisi dua kotak, yang satu berisi beberapa helai lontar, yang lain berisi perhiasan. Pergilah kalian ke kota Medang, dan setiba di sana, pergilah kalian ke pasar, tunggu rombongan bangsawan datang berbelanja. Engkau akan mudah mengenal Putri Yuta Inten

"Karena Putri itu yang paling cantik di antara yang lain-lain, Pangeran Muda," kata Jatun menyela.

Pangeran Muda tidak marah akan kelancangan gulang-gulang itu. Ia hanya tersenyum, lalu melanjutkan bicaranya, "Gadis itu selalu didampingi oleh seorang emban tua yang berbadan besar. Dekatilah emban tua itu, dan katakanlah, bahwa kau utusanku. Berikanlah kantong itu kepada emban tua itu, lalu susullah saya ke Pakuan Pajajaran."

"Baiklah, Anom. Tadi Anom mengatakan, salah satu kotak berisi perhiasan," kata Gita.

"Ya, Gita, kalian tidak usah takut karena jalan antara tempat ini dengan Medang cukup aman.

Di samping itu, mungkin kau dapat menggabungkan diri dengan rombongan-rombongan lain," kata Pangeran Muda.

"Bukan begitu, Anom. Kalau perlu kami berkelahi dengan perampok-perampok karena kewajiban kami adalah mengabdi kepada Anom. Akan tetapi, tentang perhiasan itu."

"Mengapa?"

"Menurut orang tua-tua tidaklah baik memberi pakaian atau perhiasan kepada seorang kekasih karena pemberian-pemberian semacam itu sering menyebabkan gagalnya pelaksanaan perkawinan," ujar Gita.

Pangeran Muda tersenyum.

"Takhayul, Gita," katanya. "Sekarang, selamat berpisah, dan susullah saya secepat-cepatnya ke Pakuan Pajajaran agar kalian dapat melaporkan kepada Ibunda dan Ayunda bahwa saya tiba di sana dengan selamat."

"Baiklah, Anom."

"Anom, kami takut Anom tersesat," seru Jatun sambil tertawa.

"Tidak mungkin, Jatun. Sebagian dari hatiku yang akan membawa sesat sudah kumasukkan ke dalam kotak surat itu," sambut Pangeran Muda sambil tersenyum. Kemudian, seraya mengacungkan tangannya sebagai tanda ucapan selamat berpisah, ia pun memacu kudanya ke arah Pakuan Pajajaran. Sementara itu, pengawal-pengawal berbelok ke arah timur.

SETELAH dua hari di perjalanan, pada suatu siang tampaklah dari jauh dinding benteng Pakuan Pajajaran. Begitu besarnya kota Pakuan Pajajaran, hingga dari jauh dinding bentengnya tampak seperti sebuah bukit yang panjang dengan puncaknya yang rata. Di atas benteng itu berjulanganlah menara-menara pengawas. Sepanjang benteng, panji-panji dan umbul-umbul berkibar dan melambai-lambai ditiup angin. Ketika itu, jalan yang dilalui Pangeran Muda mulai ramai. Bukan saja penung-gang-penunggang kuda lain yang hilir-mudik, datang dari depan atau belakang, tetapi para pejalan kaki pun sangat banyak. Di samping itu, pedati-pedati yang ditarik kerbau atau kuda hilir mudik, dengan berbagai macam muatan yang dibawanya ke arah ibu kota atau dari ibu kota ke kampung-kampung di sekitarnya atau bagian kerajaan yang jauh-jauh.

Betapapun banyaknya orang yang lalu-lalang, jalan besar itu tidaklah rusak. Berbeda dengan jalan-jalan antara ibu kota atau kampung di tengah-tengah padang di wilayah Pajajaran lainnya, jalan-jalan yang dekat dengan ibu kota ini dibuat dari batu yang disusun dengan rapi. Di kiri kanan jalan ditanam pula pohon-pohon tanjung agar para pejalan kaki terlindung dari panas matahari di musim kemarau. Sementara itu, padang-padang di sekitar ibu kota tidaklah seperti padang-pa- dang yang terbuka di sekitar kota-kota lain di Pajajaran. Pa-dang-padang di sekitar ibu kota Pakuan Pajajaran tampak diurus dan dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Di tengah-tengah padang-padang itu kelompok-kelompok rumah didirikan orang. Semuanya itu memperlihatkan bahwa di sekitar ibu kota keamanan sangat terjamin, hingga orang-orang berani mendirikan rumah-rumah mereka di tengah-tengah padang tanpa melingkungi rumah-rumah itu dengan pagar-pagar tinggi seperti di tempat-tempat lain.

Makin dekat ibu kota, makin ramai juga jalan. Di salah satu tempat tukang besi menjual ladam kuda, di tempat lain tukang kulit menjajakan pakaian kuda. Di sepanjang jalan, setiap lima ratus langkah terletak tempayan air yang besar, sengaja disediakan oleh penduduk untuk para pejalan yang kehausan. Di tempat lain lagi disediakan kolam, tempat para pejalan memberi minum kuda mereka.

Selagi Pangeran Muda memerhatikan tamasya sekitar ibu kota, tiba-tiba terdengar trompet tiram ditiup orang. Pangeran Muda berpaling ke suatu jalan bersilang dengan jalan yang sedang dilaluinya. Dari arah itu datanglah sebuah kereta besar dan indah yang ditarik oleh empat ekor kuda yang tampan-tampan pula.

"Pangeran Linggawastu," bisik seorang pejalan.

Pangeran Muda teringat akan nama itu. Pangeran itu adalah keponakan sang Prabu. Setelah kereta bangsawan itu lewat, Pangeran Muda menarik kendali si Gambir, memberi isyarat padanya agar melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian tibalah Pangeran Muda di gerbang kota yang besar dan megah itu.

Gerbang itu demikian besarnya, hingga kalau delapan buah pedati berjalan berdampingan, kendaraan-kendaraan itu tidak usah takut bersinggungan. Di atas gerbang itu dibangun kandang jaga yang sangat besar, hingga kalau ada seratus orang prajurit berdiri di sana tak usah ada di antara mereka yang takut jatuh ke bawah benteng. Dinding benteng itu sendiri demikian tebalnya, hingga prajurit-prajurit yang berbaris berempat dapat berjalan dengan leluasa.

Sementara mengagumi gerbang dan benteng itu si Gambir telah berjalan memasuki kota Pakuan Pajajaran yang termasyhur di seluruh Buana Panca Tengah itu. Sesuai dengan pesan yang diterimanya dari para puragabaya ketika berada di Padepokan Tajimalela, Pangeran Muda turun dari punggung kuda, lalu berjalan ke arah sebuah bangunan kecil di dekat gerbang tempat seorang perwira duduk didampingi oleh pengawal-pengawalnya. Pangeran Muda memberi salam kepada perwira yang menyambutnya dengan ramah.

"Saya dari Padepokan Tajimalela, ini tanda pribadi saya," kata Pangeran Muda sambil mengambil sehelai lontar dari dalam kotak pelana kuda, lalu menyerahkannya kepada perwira itu.

Dengan segera, perwira itu melihat tanda tangan puragabaya Rangga Sena dan dengan segera ia berdiri memberi hormat kepada Pangeran Muda yang berdiri di depannya. Pangeran Muda sungguh-sungguh kikuk menerima penghormatan seperti itu. Ia memberi hormat kembali lalu mempersilakan perwira itu duduk kembali.

"Maaf, saya tidak segera mengenal Pangeran Muda," kata perwira itu.

"Tidak apa, saya sendiri sangat bergembira bahwa kehadiran saya di sini sudah diberitahukan sebelumnya."

"Pangeran Muda akan segera dijemput karena menurut pemberitahuan yang kami terima, sekira tengah hari Pangeran Muda akan tiba. Ternyata Pangeran Muda datang lebih cepat. Jadi, penjemputan itu belum tiba."

Sementara menanti penjemput itu Pangeran Muda memeriksa si Gambir. Melihat hal itu para penjaga segera mendekati, ada yang membawa keranjang yang berisi irisan ubi, ketela, dan rumput, yang lain membawa kantong yang berisi dedak. Yang lain lagi membawa air dalam tempayan besar khusus untuk kuda.

"Kuda ini sangat tampan dan kuat, Pangeran Muda," kata salah satu penjaga sambil mengusap- usap surai si Gambir. "Tapi kuda ini sudah tua. Ia dihadiahkan oleh Ayahanda ketika saya mencapai umur sepuluh tahun. Ia berperangai le-mah-lembut dan mudah mengerti, di samping sangat kuat seperti yang Saudara katakan," ujar Pangeran Muda sambil mengusap-usap si Gambir.

"Tapi kelihatannya masih muda sekali, Pangeran Muda. Ia masih gagah perkasa," ujar pengawal itu.

"Ya, akan tetapi saya tidak bermaksud mempekerjakannya hingga ia terlalu tua. Saya akan segera melepaskannya di padang sekitar Puri Anggadipati. Kasihan kalau saya harus melelahkannya terus-menerus," sambung Pangeran Muda.

"Oh. Di samping itu, Pangeran Muda sebentar lagi akan. diberi kuda putih." "Ya?" kata Pangeran Muda keheranan.

"Ya, Pangeran Muda. Kawan saya ini seorang ahli kuda. Ia petugas khusus yang mengurus kuda-kuda puragabaya. Belakangan ini telah dikumpulkan dua belas kuda putih, menurut keterangan, persediaan untuk dua belas calon puragabaya yang akan lulus dalam waktu dekat."

"Tapi angkatan saya mungkin baru lulus dalam tiga tahun lagi, Paman," ujar Pangeran Muda. "Oh, tidak jadi soal karena kuda-kuda yang dikumpulkan itu masih muda-muda sekali.

Sebaiknya, Pangeran Muda menyediakan nama untuk kuda putih itu," kata pengawal, itu.

"Ah, sungguh nasihat yang baik. Saya dapat menetapkannya sejak sekarang dan memilih nama yang sebaik-baiknya."

"Pangeran Muda dapat memilih nama Bulan, Awan, Perak, nama-nama yang cocok untuk kuda putih," kata pengawal itu.

"Saya akan memikirkannya, Paman," ujarnya.

Sementara itu, seorang pemuda datang menunggang kuda ke arah bangunan yang ditempati oleh pimpinan pengawal-pengawal itu. Pangeran Muda segera berjalan ke arah bangunan itu, dan sesuai dengan sangkaan semula, ternyata pemuda itu adalah orang yang diberi tugas untuk menjemputnya.

"Pangeran Muda, hamba Ardalepa, ditetapkan sebagai panakawan Pangeran Muda selama berada di Pakuan Pajajaran."

"Oh, senang sekali saya bertemu dengan engkau, Ardalepa," kata Pangeran Muda seraya memandang ke arah pemuda yang bermata cerah dan berumur kira-kira satu atau dua tahun lebih muda darinya.

"Hamba diperintahkan agar segera membawa Pangeran Muda menghadap kepada puragabaya Geger Malela di kepuragabayaan. Kemudian hamba pun diperintahkan untuk menemani Pangeran Muda menghadap Pangeran Anggadipad di sayap barat istana."

Setelah mengucapkan terima kasih kepada para pengawal, Pangeran Muda pun segera menunggangi si Gambir, dan bersama Ardalepa berjalan ke arah bagian tengah kota yang sibuk dan ramai itu.

Sambil berjalan berdampingan Pangeran Muda tak putus-putusnya mengagumi kemegahan ibu kota. Di kiri kanan jalan batu yang lebar berdiri bangunan-bangunan yang terbuat dari batu dan kayu jati, kadang-kadang dihias dan diwangikan dengan kayu cendana. Guci-guci yang besar, keramik-keramik yang indah diletakkan di pendapa tempat orang menanam bunga-bunga yang indah. Sedang taman kota yang sempat mereka lewati tak luput jadi sumber kekaguman.

Mengenai penduduk kota, Pangeran Muda belum pernah melihat orang sebanyak itu. Menurut keterangan yang diterima dari Ayahanda Anggadipati, ibu kota Pakuan Pajajaran berpenghuni lebih dari lima puluh ribu orang. Mereka ini terdiri berbagai golongan dan tingkat masyarakat, dari para bangsawan hingga ke para panakawan, di samping saudagar-saudagar dan orang-orang asing, dari Negeri Katai, Negeri Atas Angin, dan dari Pulau Emas. Umumnya penduduk ibu kota berpakaian indah, wanita-wanitanya sangat tahu akan kebersihan dan cara menghias diri.

Sementara itu, para jagabaya yang bertugas, amat sopan terhadap warga kerajaan. Jelas bagi Pangeran Muda bahwa asas-asas kesatriaan sangat dipatuhi di ibu kota Pakuan Pajajaran ini.

Sementara Pangeran Muda melihat-lilhat tamasya kota yang megah dan agung itu, tibalah di hadapan sebuah bangunan yang hampir menyerupai tempat pemujaan.

"Kita tiba, Pangeran Muda," kata Ardalepa sambil turun dari kudanya.

Pangeran Muda mengikuti, dan berjalan di samping Ardalepa. Begitu mereka melewati gerbang, seorang penjaga segera menjemput dan menerima kendali kuda mereka untuk dibawa ke tempatnya. Pangeran Muda langsung menuju ruangan. Di sana terdapat beberapa orang puragabaya, semua berpakaian resmi yang berwarna putih dengan ikat pinggang keemasan. Setelah memberi salam kepada mereka, Ardalepa membawa Pangeran Muda ke suatu ruangan, tempat puragabaya Geger Malela berada.

"Oh, Anggadipati, baik-baik saja?" "Baik, Kakanda, terima kasih."

"Syukur, Anggadipati, engkau akan ditugaskan di wilayah Galuh, di daerah yang dahulu menjadi pusat kerajaan. Engkau akan menjadi pengawal pribadi Pangeran Rangga Wisesa di sana. Daerah ini bukanlah daerah yang menyenangkan. Di sebelah selatan terdapat terdapat samudra raya yang menjadi wilayah Nyai Putri Kidul. Samudra yang berpenghuni berbagai macam naga ini, dan yang ombaknya besar bagaikan gunung-gunung, adalah batas kerajaan di sebelah selatan. Akan tetapi, sebelum samudra terdapat wilayah rawa yang penuh dengan siluman. Orang-orang jahat yang bersekutu dengan siluman biasa melarikan diri dan bersembunyi di rawa-rawa ini setelah mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang terkutuk di daerah Galuh. Saya kira itu sudah cukup menjadi masalah. Akan tetapi, ada masalah yang lebih penting lagi, yaitu bahwa Galuh ini dekat sekali ke perbatasan kerajaan tetangga di sebelah timur. Arti pertahanan kota ini sangat penting lagi, oleh karena itu penguasa di tempat itu harus seorang panglima yang cerdik dan licin agar selalu waspada. Itulah sebabnya dipilih Pangeran Rangga Wisesa. Tentu saja orang penting ini harus dijaga dengan saksama. Untuk itu, engkau dipilih karena menurut Eyang Resi, engkau seorang yang saksama dalam segala hal. Saya menganggap penugasanmu ini sebagai kehormatan bagimu."

"Setiap tugas hamba menganggap kehormatan, Kakanda," ujar Pangeran Muda, sementara hatinya mulai mengembara ke kota Medang. Penugasannya ke kota Galuh berarti penempatan dirinya di ujung timur kerajaan, sedang kota Medang berada di sebelah barat, walaupun tidak berada di ujung barat. Dari kota Galuh ke kota Medang hampir dua minggu perjalanan berkuda. Pikirannya mengenai hal-hal itu menggugah kerinduan Pangeran Muda akan Putri Yuta Inten serta segala hal yang ada di sebelah barat kerajaan, padang-padang yang luas, matahari yang cerah, hutan-hutan yang hangat dan hijau. Akan tetapi, tugas adalah tugas, dan seorang calon puragabaya adalah calon puragabaya, yang tidak lagi memiliki dirinya. Oleh karena itu, Pangeran Muda tidak berkata apa-apa lagi, dan hanya bertanya, apa saja yang harus dikerjakannya di Pakuan Pajajaran sebelum berangkat ke Galuh.

"Tidak ada, selain menunggu pemberitahuan tentang kapan kau harus berangkat dan itu akan disampaikan oleh istana," kata puragabaya Geger Malela.

"Baiklah, Kakanda."

"Dan selama menunggu, kau disediakan penginapan di kepuragabayaan. Ayahmu pernah meminta agar kau dibolehkan menginap di istana, tetapi saya menerima perintah lain, jadi tidak dapat diperkenankan."

"Tidak apa, Kakanda. Ayahanda tidak akan berkecil hati," ujar Pangeran Muda. "Baiklah, sekarang, beristirahatlah sebelum Ardalepa membawamu kepada Pangeran

Anggadipati dan melihat-lihat kota."

KARENA ingin segera bertemu dengan Ayahanda, Pangeran Muda menangguhkan waktu istirahatnya. Di samping itu, perjalanan pagi itu tidaklah terlalu berat. Dengan bersiram air jernih dan sejuk, kesegaran pun segera kembali. Setelah mengenakan pakaian yang terbaik, Pangeran Muda segera ke ruangan tengah kepuragabayaan, tempat Ardalepa siap untuk menjadi panakawannya.

'Ardalepa, apakah saya dapat berkunjung kepada Ayahanda sekarang?" tanya Pangeran Muda kepada anak muda itu.

"Pangeran Muda, beliau masih akan sibuk untuk beberapa saat lagi, jadi lebih baik kita menunggu sebentar. Di samping itu, saya mendapat pesan dari para calon lain yang sudah lebih dahulu datang agar Pangeran Muda bertemu dengan mereka."

"Oh, siapakah yang sudah datang kepuragabayaan?"

"Raden Jaluwuyung, Raden Pamuk Wulung, Raden Elang Ngapak, dan yang lain yang hamba lupa lagi namanya," ujar Ardalepa. Dengan gembira, Pangeran Muda pergi ke bagian bangunan kepuragabayaan tempat teman- temannya berada. Betapa rindu Pangeran Muda kepada mereka yang sudah hampir tiga minggu berpisah dengannya. Mereka berunding untuk pergi melihat-lihat kota bersama-sama, kemudian setelah waktu yang baik tiba, yaitu ketika matahari mulai teduh, berangkatlah tujuh orang calon puragabaya yang sudah berada di Pakuan Pajajaran dengan tujuh orang panakawan mereka. *

"Pangeran Muda, di bagian kota Pakuan sebelah utara terdapat gerombolan-gerombolan putra- putra bangsawan yang berandal. Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak lewat ke sana," ujar Ardalepa.

'Jangan takut, Ardalepa, para calon tidak akan mendorong mereka untuk berkelahi. Mereka akan menyangka kami ini orang-orang dusun dari padepokan yang sedang keliling kota melihat pemandangan untuk didongengkan nanti di dusun di atas gunung," ujar Pangeran Muda.

"Pangeran Muda, tetapi mereka kenal dengan kami. Mereka sering terlibat dalam perkelahian dengan pemuda-pemuda yang bekerja di kepuragabayaan. Mereka sering mengejek kami sebagai puragabaya tiruan."

"Kalian bukanlah puragabaya tiruan, jadi mengapa harus sakit hati? Di samping itu janganlah takut, kalau mereka menantang berkelahi, kami akan melarikan diri."

Mendengar itu Ardalepa tidak berkata apa-apa lagi dan rombongan pun terus berjalan melihat- lihat tamasya kota. Pangeran Muda belum pernah melihat manusia, binatang-binatang, harta, dan segala-galanya begitu berlimpah-limpah seperti di Pakuan Pajajaran. Sambil bercakap-cakap mereka melihat pajangan berbagai barang jualan, hingga akhirnya sampailah Pangeran Muda di tempat penjual senjata. Demi terlihat olehnya sebuah gendewa yang terbuat dari kayu dan gading, teringatlah Pangeran Muda kepada Banyak Sumba, adik laki-laki Jaluwuyung dan Yuta Inten. Pangeran Muda berbisik pada Ardalepa, bertanya tentang harga barang itu. Ardalepa tampaknya ahli dalam soal-soal demikian, dan tak lama kemudian senjata yang indah itu telah dikepitnya, seraya ia terus berjalan di belakang Pangeran Muda.

Ketika mereka tiba di suatu tempat kota itu, sekali lagi Ardalepa memberi peringatan pada Pangeran Muda bahwa di bagian kota sebelah sana terdapat gerombolan bangsawan muda yang suka berkelahi. Pangeran Muda mengatakan hal itu kepada teman-temannya.

'Jangan takut, kita akan mengambil langkah seribu," kata Rangga yang suka lelucon. "Sungguh?" tanya Pangeran Muda yang bersiap-siap, kalau-kalau peringatan Ardalepa itu

terjadi.

"Sungguh. Saya tidak mau disuruh membersihkan lantai asrama untuk enam bulan seperti Anom. Daripada jadi tukang cari kayu, lebih baik lari saja, apa susahnya," jawab Rangga pula. Umumnya calon-calon puragabaya sependapat dengan Rangga, kecuali Jante yang tampak ragu- ragu. Akan tetapi, dalam sekejap mereka pun telah lupa akan masalah itu dan bercakap-cakap tentang berbagai hal lain.

Kemudian tibalah mereka di tempat yang agak luas, sebuah lapangan yang di sekelilingnya terdapat gudang-gudang dan rumah-rumah besar, tempat tinggal para bangsawan atau saudagar. Di tengah-tengah lapangan itu orang-orang sangat sibuk memperdagangkan berbagai barang mewah, ada gading gajah dari Pulau Emas, sutra dari Negeri Katai, rempah-rempah dari Pulau Bunga, senjata-senjata yang indah bentuknya, dan lain-lain. Para calon segera melihat-lihat ke tempat itu.

Selagi mereka asyik, tiba-tiba terdengarlah seseorang berseru, "Ini dia mereka! Mereka membawa balabantuan dan senjata. Jangan beri hati!"

Pangeran Muda terkejut dan melihat ke arah suara itu. Tampak kira-kira lima belas orang pemuda yang berpakaian bagus-bagus berdiri berjajar, menghadap ke arah para panakawan para calon.

"Rangga, ini bukan lelucon!" bisik Pangeran Muda.

"Hehehe," Rangga yang suka lelucon tertawa, lalu berkata, "Kita sudah berjanji akan mengambil langkah seribu, dan menghadapi mereka dengan punggung hehehe."

"Rangga, tapi para panakawan beranggapan kita ini betul-betul balabantuan. Mungkin mereka mempergunakan kesempatan ini untuk menghajar lawannya dengan mempergunakan tinju-tinju kita," kata Pangeran Muda, sambil menyaksikan bagaimana para panakawan dengan gagah berani berjalan berdampingan menuju pemuda-pemuda itu. Para pedagang sudah mulai ribut, mereka mengumpulkan barang-barang, bersiap-siap menghadapi huru-hara. Di sana sini terdengar jeritan dan caci-maki karena dalam kesibukan itu ada pula orang yang jatuh tersenggol oleh tetangganya. Melihat suasana demikian, tertawalah Rangga terpingkal-pingkal. Hanya Jantelah yang bermata liar.

Sementara itu, sebagian dari pemuda-pemuda lawan bergerak mendekati para calon yang berdiri berkelompok. Melihat itu makin geli tampaknya Rangga, ia tertawa terkekeh-kekeh.

"Siap dengan kuda-kuda hehehe," gelaknya, dan para pemuda itu makin dekat, sementara orang-orang berlarian ketakutan.

Tiba-tiba seorang di antara panakawan mulai menyerang, diikuti oleh yang lain. Terjadilah pergulatan yang kalang kabut. Pemuda-pemuda yang dekat para calon pun menghamburlah, tidak mau kedahuluan diserang. Akan tetapi, dengan sigap Rangga melompat melarikan diri, demikian juga Elang, Ginggi, Girang, Jalu, kecuali Jante yang dengan mata liar bersiap-siap. Melihat hal itu, Pangeran Muda segera menarik tangannya, lalu berlari sambil tak dapat menahan tertawa.

Pemuda-pemuda mengejar mereka sambil mencaci-maki, mengatakan nama-nama yang hanya cocok didengar oleh telinga siluman. Akan tetapi, hinaan itu tidak dipedulikan oleh para calon yang sambil berlari memegang perut mereka karena menahan tertawa. Betapapun cepatnya pengejar- pengejar, mereka tidak dapat menyusul lari para calon puragabaya yang sudah biasa berlari, bahkan di padang kerikil atau lumpur rawa. Dan sambil tetap tertawa terpingkal-pingkal, sampailah mereka di depan kepuragabayaan.

Sambil duduk-duduk di ruangan depan kepuragabayaan, tak ada yang menjadi bahan obrolan para calon, kecuali peristiwa penghadangan yang dilakukan oleh pemuda-pemuda berandal itu. Sambil bercakap-cakap tak henti-hentinya, mereka tertawa-tawa, kecuali Jante yang tetap bersungguh-sungguh. Ketika mereka sedang bercakap-cakap itu, datanglah para panakawan satu per satu.

Sungguh-sungguh terkejut Pangeran Muda melihat kedatangan mereka. Pakaian mereka robek- robek, muka mereka kotor dan bahkan babak-belur. Rupanya perkelahian itu sungguh-sungguh keras. Teringat akan kemungkinan yang lebih jelek, menjadi cemaslah Pangeran Muda. Dengan hati tegang, Pangeran Muda menunggu kedatangan panakawan-panaka-wan yang lain. Bukanlah tidak mungkin ada di antara mereka yang nahas dan menderita luka-luka atau bahkan tewas. Itu bukan tidak mungkin karena perkelahian antara bangsawan muda sering terjadi dan korban jiwa bukanlah hal yang aneh. Justru permusuhan antara keluarga-keluarga bangsawan tertentu yang sukar didamaikan, bahkan oleh sang Prabu, banyak yang disebabkan oleh perkelahian antara pemuda-pemuda kepalang tanggung seperti itu.

Satu demi satu para panakawan datang. Ardalepalah yang belum muncul. Dengan tegang dan tak ada lagi yang tertawa, mereka menunggu Ardalepa. Akhirnya, muncul juga anak muda itu, dan legalah hati Pangeran Muda. Seperti yang lain, pakaian Ardalepa kotor dan cabik-cabik, sedang di beberapa bagian mukanya terdapat luka-luka.

"Maaf, Pangeran Muda, saya harus mencari panah itu dulu sebelum pulang," kata Ardalepa. "Oh, Ardalepa, betapa lega saya melihat kau lagi," kata Pangeran Muda. Akan tetapi, anak

muda itu tidak tersenyum, mungkin ia kesal akan tindakan para calon. Demikian juga panakawan- panakawan yang lain tidak seramah seperti semula. Mereka tetap melayani para calon seperti biasa, tetapi senyum mereka tidak tampak lagi. Pangeran Muda mengerti akan isi hati mereka dan bermaksud menerangkan Ardalepa, mengapa mereka melarikan diri seperti kelompok pengecut.

KARENA terjadinya perkelahian itu, rencana mengunjungi ayahanda Anggadipati diundurkan ke senja. Setelah bersiram dan berpakaian pantas, dengan diiringkan oleh Ardalepa pergilah Pangeran Muda ke arah istana. Mereka tidak menunggang kuda walaupun jarak ke istana agak jauh karena Pangeran Muda masih ingin melihat-lihat keadaan kota. Sambil berjalan Pangeran Muda menjelaskan kepada Ardalepa, mengapa para calon melarikan diri ketika ditantang berkelahi.

"Kami tidak percaya ketika Den Rangga menyatakan bahwa Anom dan kawan-kawan akan melarikan diri. Kami menyangka para calon bermain-main," kata Ardalepa. Pangeran Muda pun menjelaskan bagaimana ia pernah mendapat hukuman karena terlibat dalam perkelahian seperti itu.

"Barangkali kamilah yang bersalah," kata Ardalepa. "Sebenarnya kami memang bermaksud melibatkan para calon ke dalam perkelahian itu. Anom perlu tahu bahwa beberapa lama berselang terjadi perkelahian sengit, hingga beberapa orang terluka di kedua pihak. Kami bermaksud menghajar mereka."

'Ardalepa, kami menyesal dengan apa yang telah terjadi. Akan tetapi, ingin kukatakan kepadamu bahwa perkelahian-perkelahian yang kalian lakukan itu sia-sia sekali. Kau pun perlu menyadari bahwa kami, para calon adalah orang-orang yang tidak pernah berkelahi seperti itu sebelum kami dipanggil ke Padepokan Tajimalela. Justru karena kami berlaku sebagai anak-anak yang suka damai itulah, kami terpilih jadi calon-calon puragabaya."

Sebelum Ardalepa mengemukakan pendapatnya tentang hal itu, tiba-tiba dari suatu arah menderulah penunggang-pe-nunggang kuda dengan obor-obor dinyalakan besar-besar. Orang- orang yang lalu lalang menepi karena kuda-kuda itu dilarikan dengan kencang.

"Wah, itulah mereka!" seru Ardalepa sambil berlindung di tempat yang agak gelap. "Siapa?" tanya Pangeran Muda.

"Pemuda-pemuda utara!" kata Ardalepa setengah berbisik. Sementara itu, pemuda-pemuda penunggang kuda tersebut lewat sambil berteriak-teriak, menyerukan pembalasan dendam.

"Seorang di antara mereka terluka parah," bisik Ardalepa.

Pangeran Muda mulai geram melihat tingkah-laku para pemuda dan berita yang disampaikan oleh Ardalepa itu. Dengan perasaan yang tidak terkendalikan, berkatalah Pangeran Muda pada Ardalepa, "Sungguh-sungguh kalian ini sia-sia. Kota seindah dan seagung ini kalian kotori dengan tingkah laku yang menjijikkan. Ya, Sang Hiang Tunggal! Setelah makan dan pakaian dicukupi, ternyata pemuda-pemuda kepalang tanggung ini tidak tahu diri dan lebih rendah kesopanannya daripada pemuda-pemuda tani di kampung-kampung. Ardalepa, kau harus tahu, betapa berat kami dididik di Padepokan untuk keamanan, ketertiban, dan kesejahteraan. Akan tetapi, kalian yang seharusnya memanfaatkan kesejahteraan ini untuk hal-hal yang baik ternyata hanya mempergunakannya untuk berkelahi tanpa alasan!"

Sambil berkata demikian, Pangeran Muda memandang tajam ke arah Ardalepa yang dianggapnya sebagai wakil dari pemuda-pemuda bangsawan yang kepalang tanggung itu. Akan tetapi, Ardalepa tidak melihatnya karena ia masih memerhatikan lawan-lawannya yang lenyap di tikungan barat.

Setelah segalanya tenang kembali, mereka pun berjalan lagi ke arah istana di bawah obor-obor jalan yang terang benderang. Tak lama kemudian mereka pun tibalah di gerbang istana yang keindahannya memukau Pangef an Muda. Setelah Ardalepa melapor, seorang gulang-gulang mengantar mereka ke sayap barat istana. Begitu pintu terbuka, Pangeran Anggadipati dengan tersenyum menyambut tangan Pangeran Muda yang diulurkan pada beliau.

"Aku cemas kau akan terlibat perkelahian lagi, anakku, lalu dihukum lagi seperti dulu." "Tidak mungkin, Ayahanda, walaupun hampir-hampir saja kami terlibat lagi."

"Ya?" ujar Ayahanda sambil memperlihatkan kepenasarannya.

Pangeran Muda tersenyum, kemudian menceritakan apa yang terjadi sore itu. Ayahanda tertawa dengan gemhjra mendengar kisah itu.

"Kau sudah pada tempatnya menjadi puragabaya, anakku. Kau sekarang sudah dewasa, hingga penghinaan dan tantangan orang dapat menjadi lelucon bagimu."

Sekarang Pangeran Mudalah yang penasaran. Ia bertanya dengan sungguh-sungguh, "Sungguhkah demikian, Ayahanda?"

"Ya, anakku. Jiwamu harus begitu matang, hingga kau dapat membedakan mana ancaman sungguh-sungguh dan mana yang hanya berupa lelucon yang sia-sia. Kalau kau sudah demikian, secara rohani kau sudah menjadi seorang puragabaya."

Mendengar keterangan itu teringatiah Pangeran Muda pada Rangga yang suka lelucon.

Timbullah rasa hormat kepada kawannya itu.

Kemudian percakapan berkisar ke persoalan keluarga, ketika Pangeran Muda menyampaikan berita-berita dari rumah dan pesan-pesan dari Ibunda untuk Ayahanda. Selagi menyampaikan berita dan pesan itu, ingin sekali Pangeran Muda menceritakan tentang pengalamannya dengan Putri Yuta Inten. Akan tetapi, lidahnya berat sekali untuk memulai percakapan tentang hal itu. Pangeran Muda merasa ragu-ragu dan malu untuk menyinggung masalah yang sangat bersifat pribadi itu. Walaupun Ayahanda sebenarnya sudah biasa memasalahkan persoalan yang bersifat pribadi seperti itu. Akan tetapi, dorongan untuk mengemukakan isi hatinya demikian besarnya, hingga pada suatu saat Pangeran Muda hendak memulai berbicara tentang hal itu. Ketika kata- kata pertama sedang dicarinya, tiba-tiba Pangeran Anggadipati berkata dengan sungguh-sungguh.

"Anakku, sekali lagi ingin kusampaikan kepadamu pesan seorang ayah sebelum kau pergi ke dunia luas dan mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu sebagai seorang laki-laki dewasa. Anakku, dalam setiap kelompok masyarakat selalu terdapat dua golongan, pertama, yaitu golongan yang memerintah dan kedua, melindungi dan golongan yang mengabdi dan dilindungi. Mereka yang berkewajiban untuk memerintah dan melindungi adalah mereka yang bijaksana dan kuat, sedang yang mengabdi dan dilindungi adalah mereka yang tidak mendapat kesempatan untuk mendapat pendidikan yang baik dan lemah. Jadi, satu golongan harus bekerja dan bertanggung jawab, yang lain hanya bekerja saja. Di Pajajaran, golongan pendeta dan bangsawanlah yang berkewajiban memerintah dan melindungi, walaupun hal itu tidak berarti bahwa orang kebanyakan tidak mendapat kesempatan seandainya mereka bijaksana dan mampu mempergunakan senjata.

"Mengenai kedua golongan ini, hendaknya kau tidak salah menilai. Kedua golongan ini tidak dimuliakan atau dihinakan karena kedudukannya atau golongannya. Seorang bangsawan hanya mulia kalau ia dapat memenuhi kewajibannya sebagai pemerintah dan pelindung. Seorang bangsawan akan lebih rendah martabatnya di mata Sang Hiang Tunggal kalau ia kurang mampu menunaikan kewajibannya daripada seorang kebanyakan yang pandai mengabdi. Nah, sebagai seorang bangsawan, janganlah kau merasa berbeda dengan orang kebanyakan. Tidak ada yang lebih mulia atau lebih hina dalam golongan-golongan masyarakat di mata Sang Hiang Tunggal. Bagi Sang Hiang Tunggal, yang mulia adalah mereka yang dapat menunaikan tugasnya bagi sesama hidupnya. Apakah dia seorang pendeta, bangsawan, rakyat, atau budak, tidaklah jadi soal. Demikian juga hendaknya anggapanmu."

Waktu Pangeran Anggadipati berhenti berkata, Pangeran Muda pun segera menyambut, "Hamba akan berusaha dan sudah berusaha sebaik-baiknya menjalankan segala petunjuk itu, Ayahanda. Sedang mengenai pendapat Ayahanda itu, hamba telah melihat bukti-buktinya dengan mata kepala sendiri. Sampai sekarang hamba sangat berutang budi kepada seorang panakawan di Padepokan Tajimalela. Ia adalah orang kebanyakan, tetapi kemampuan kesatriaannya tidak kalah oleh para puragabaya, apalagi oleh para calon. Tangannya yang kuat dengan mudah dapat melumpuhkan lawan."

"Mang Ogel?" seru Ayahanda. "Mang Ogel, Ayahanda."

"Ayahanda sependapat denganmu, tentang Mang Ogel. Jadi, kau telah mengerti apa yang kumaksudkan, anakku. Sekarang tentang penugasanmu, tentu Geger Malela telah menerangkan kepadamu. Anakku, aku pun kurang mengenal daerah itu, tetapi sebagai orangtua ingin kuperingatkan kepadamu. Titipkanlah dirimu kepada mereka yang lebih tinggi kedudukan dan kesatriaannya daripada dirimu, dan bersedialah kau menjadi pelindung dan pemberi bagi mereka yang membutuhkanmu. Ingatlah selalu bahwa hidup seorang bangsawan adalah mengabdi dan kemuliaan seorang bangsawan tergantung pada pengabdiannya. Seorang bangsawan mungkin disembah-sembah oleh masyarakat yang ada di hadapannya, tetapi kalau ia tidak dapat memenuhi tuntutan pengabdiannya sebagai seorang bangsawan, masyarakat akan meludah di belakangnya. Ingatlah itu, dan camkan bahwa pengabdian selalu berarti pengorbanan. Setiap kali kau menderita, setiap kali kau menghadapi kesukaran ingadah bahwa engkau adalah seorang bangsawan, dan penderitaan serta kesukaran-kesukaran adalah akibat dari kebangsawananmu itu."

"Baiklah, Ayahanda."

"Nah, sekarang marilah kita bertemu dengan Rangga Wesi, mudah-mudahan ia sudah berada di istana," ujar Pangeran Anggadipati.

"Oh, ingin sekali hamba bertemu dengan Kakanda Rangga Wesi," ujar Pangeran Muda dengan gembira.

"Kau pun mungkin dapat bertemu dengan Putra Mahkota, anakku, karena Rangga Wesi adalah sahabat karibnya dan kawan sependidikan Putra Mahkota," lanjut Ayahanda.

Maka mereka pun meninggalkan ruangan sayap barat istana kemudian berjalan melalui lorong- lorong yang besar, yang ruangan-ruangan di kanan-kirinya besar-besar dan dihiasi dengan ukiran- ukiran serta warna-warna yang indah. Pangeran Muda berkata dalam hati: Barangkali demikianlah tempat tinggal para bujangga dan pohaci di Buana Padang!

Beberapa kali mereka bertemu dengan bangsawan-bangsawan tinggi dan berulang-ulang Pangeran Anggadipati memperkenalkan putranya kepada bangsawan itu. Mereka umumnya ramah tamah kepada Pangeran Muda, apalagi mereka yang telah berkunjung ke Puri Anggadipati dan mengenal Pangeran Muda. Di samping itu, Pangeran Muda pun bertemu pula dengan beberapa orang puragabaya yang bergaul dan sukar dibedakan dari para bangsawan tinggi itu kecuali karena pakaiannya yang putih seperti pendeta dan ikat pinggangnya yang keemasan. Mereka ini pun sangat ramah kepadanya dan bahkan seorang di antara mereka berkata, "Anom, orang-orang tua harus segera diganti, mereka sudah ingin sekali hidup di tempat kelahirannya sambil menikmati masa tuanya. Di samping itu, sebentar lagi Putra Mahkota dinobatkan, tidak pantas kalau pengawal-pengawal beliau berambut putih."

"Mudah-mudahan kami dapat menunaikan tugas dengan baik hingga sang Prabu berkenan kami tinggal di istana yang mulia ini," ujar Pangeran Muda.

Tak lama kemudian tibalah mereka di suatu ruangan besar yang lain. Di sana terdapat bangsawan-bangsawan muda yang sedang tekun membaca berpeti-peti lontar. Begitu mereka memasuki ruangan, seorang pemuda yang sangat tampan dan kira-kira tiga tahun lebih tua dari Pangeran Muda bangkit lalu menjemput mereka.

"Anakku Rangga Wesi, ini adikmu," kata Pangeran Anggadipati bangga memperkenalkan putranya kepada calon menantunya.

"Adikku!" kata bangsawan muda itu sambil merangkul Pangeran Muda dengan mesra. "Kakanda!" kata Pangeran Muda dengan rasa kasih sayang yang tiba-tiba tergugah kepada

orang yang baru dikenal dan ditemuinya itu. Bagaimanapun juga bangsawan muda yang ternyata calon iparnya itu adalah seorang bangsawan yang sangat halus perangainya. Dalam sekejap saja Pangeran Muda telah dapat menetapkan, bangsawan-bangsawan muda macam inilah yang kemudian hari pantas menjadi pengusung kerajaan di pundak mereka. Rangga Wesi adalah seorang pangeran yang halus, tekun, penuh rasa pengabdian, setia. Alangkah jauh tingkah laku dan tutur katanya dari bangsawan-bangsawan muda seperti Raden Bagus Wiratanu atau bangsawan-bangsawan muda berandalan yang menghadang rombongannya di bagian utara.

Sementara Pangeran Muda bercakap-cakap sambil merenungkan pengalaman-pengalaman baru dan pengalaman-pengalaman lamanya, Ayahanda minta diri dahulu untuk berbincang-bincang dengan bangsawan-bangsawan sejawatnya. Pangeran Muda pun berjalanlah ke ruangan khusus, untuk berbicara berdua dengan Pangeran Rangga Wesi. Di ruangan itu berkatalah Pangeran Rangga Wesi, "Sayang Kakanda tidak dapat menyertai Putra Mahkota waktu beliau berkunjung ke Padepokan Tajimalela, jadi baru sekarang kita dapat bertemu. Kakanda diberi tahu oleh Ayahanda, bahwa kau akan ditugaskan di Galuh."

"Ya, Kakanda. Itulah sebabnya pertemuan kita kali ini sangat penting. Pertama, karena untuk pertama kali; dan kedua, karena hamba akan pergi jauh, entah untuk berapa lama. Seandainya tidak ada Kakanda, hamba akan sangat risau meninggalkan Ayahanda, Ibunda, dan Ayunda. Akan tetapi, sekarang hamba dapat menitipkan mereka kepada Kakanda."

Ketika Pangeran Muda berbicara demikian, nada sedih terdengar pada kata-katanya. Pangeran Rangga Wesi menatapnya dan sambil memegang pundak Pangeran Muda ia berkata, "Saya mencintai keluargamu seperti mencintai keluarga sendiri, janganlah berkecil hati. Justru kami semua mencemaskan dikau, Adinda. Galuh berbatasan dengan kerajaan lain, daerah itu adalah daerah yang tidak pernah aman. Dan kalau pertikaian sewaktu-waktu meletus, di Galuhlah pertempuran pertama-tama akan terjadi. Kamilah yang cemas, sedang engkau tidaklah usah cemas benar. Percayalah kepadaku," kata Pangeran Rangga Wesi sambil memandang terus kepada Pangeran Muda yang tampak murung.

Akhirnya, Pangeran Rangga Wesi yang ternyata sangat halus perasaannya berkata dengan hati- hati dan ragu-ragu, "Adinda, adakah orang lain yang ingin kautitipkan kepadaku misalnya, misalnya ... seorang putri?"

Pangeran Muda tidak segera menjawab, tetapi segala kerisauan yang selama ini dipendamnya sendiri seolah-olah mendapat kesempatan untuk dicurahkan kepada orang yang dapat dipercayainya. Walaupun malu-malu, kesempatan itu terlalu baik untuk disia-siakan. Maka berkatalah Pangeran Muda, "Ternyata Kakanda sangat memahami. Hamba ingin menitipkan seorang putri yang tidak dapat hamba titipkan kepada orang lain oleh karena suatu hal dan lainnya."

"Siapakah putri itu, Adinda, janganlah ragu-ragu."

Pangeran Muda menerangkan tentang hubungannya dengan Putri Yuta Inten yang karena masih terlalu pagi untuk diketahui oleh orangtua kedua belah pihak, menjadi sumber kerisauannya. Oleh Pangeran Muda dijelaskan, mereka baru mengetahui bahwa mereka saling mencintai sejak lima hari yang lalu. Sebelum mereka sempat mengukuhkan ikatan-ikatan hati secara lebih erat, Pangeran Muda sudah harus bertugas. Itulah sebabnya selama ini Pangeran Muda sangat risau.

"Adinda," ujar Pangeran Rangga Wesi, "tenteramkanlah hatimu, segalanya akan kuurus sebaik- baiknya. Pergilah ke Galuh dengan hati yang teguh, kuusahakan untuk menyampaikan berita- berita dari Medang kepadamu. Di samping itu, akan kuusahakan agar Kakanda dengan Ayunda bertemu dengan Putri Yuta Inten."

"Terima kasih, Kakanda. Akan tetapi, ada suatu hal yang mungkin akan sangat menyusahkan Kakanda. Terutama mengenai berita-berita dari Medang, hamba beranggapan berita-berita itu hanya dapat disampaikan secara beranting. Untuk mencapai Galuh langsung dari Medang adalah suatu hal yang tidak mungkin karena jauhnya. Dengan demikian, hamba memohon kepada Kakanda agar Kakanda dapat menerima berita-berita dari Medang, kemudian menyampaikannya ke Galuh dan sebaliknya. Apakah itu tidak terlalu menyusahkan, Kakanda?"

"Sama sekali tidak, Adinda. Kereta-kereta kerajaan tiap hari hilir-mudik antara ibu kota dengan kota-kota kerajaan lainnya. Kakanda kenal baik dengan petugas yang menguasai dan mengurus kereta-kereta ini. Jadi, tidak menyusahkan sama sekali. Bahkan Kakanda pun akan berusaha untuk suatu kali berkunjung ke Galuh."

"Terima kasih banyak, Kakanda, dan maaf kalau terlalu menyusahkan." "Sama sekali tidak, Adinda."

Mereka keluar dari ruangan itu dan ketika mereka berjalan di lorong besar yang diterangi oleh lentera-lentera minyak, Pangeran Rangga Wesi berhenti berjalan dan memegang tangan Pangeran Muda sambil menunjuk ke arah rombongan bangsawan yang juga berjalan di lorong besar.

"Itulah sang Prabu, yang berjalan di tengah," kata Pangeran Rangga Wesi kepadanya.

Pangeran Muda memandang ke arah seorang tua yang bersuasana agung. Beliau diiringi oleh beberapa orang bangsawan lain, sedang di belakang beliau berjalan puragabaya-pura-gabaya yang sudah dikenalnya, yaitu Geger Malela, Rangga

Gempol, Girang Pinji, dan puragabaya Rangga Sena. Sejenak kemudian, mereka pun sudah kembali ke ruangan tempat bangsawan-bangsawan muda belajar. Di sana Ayahanda sudah menunggu.

PANGERAN Muda meninggalkan istana ketika malam sudah larut sekali. Ketika tiba di pintu sayap barat istana dan dalam ruangan tempat Ardalepa menunggu, tampak oleh Pangeran Muda pemuda itu murung.

"Apa yang terjadi, Ardalepa?"

"Beberapa orang kawan saya ditangkap oleh jagabaya, demikian juga bangsawan-bangsawan muda dari utara kota."

"Karena perkelahian itu?"

"Ya, kami dianggap mengganggu ketenteraman umum, Anom." "Apakah tuduhan itu salah?"

Ardalepa tidak menjawab. Mereka segera meninggalkan ruangan itu dan masuk ke dalam malam yang diterangi oleh obor-obor sepanjang jalan.

Di samping obor-obor itu, malam diterangi oleh bintang-bintang di langit yang cerah. Pangeran Muda teringat pada malam-malam di kota Medang, di saat-saat ia mengintip Putri Yuta Inten.

Keresahan mulai lagi mengganggu hatinya yang dipenuhi dengan berbagai pertanyaan: Apakah Gita dan Jatun serta kawan-kawannya berhasil menyampaikan surat-surat dan perhiasan yang dikirimkannya kepada Putri Yuta Inten? Mungkinkah mereka mendapat kesukaran atau diketahui oleh Raden Banyak Citra, lalu perbuatan itu dianggap tidak sopan oleh bangsawan yang keras itu? Mungkinkah Gita dan Jatun dirampok di tengah jalan dan surat serta perhiasan itu melayang dan tidak diketahui nasibnya? Bagaimana kalau surat itu disalahgunakan oleh orang-orang jahat?

Sambil berjalan dengan gelisah, Pangeran Muda pun berharap semoga di kepuragabayaan sudah tiba Gita dengan kawan-kawannya. Akan tetapi, ketika mereka tiba di sana, yang tampak hanyalah para calon yang sedang membicarakan nasib para panakawan yang diambil oleh jagabaya akibat terlibat dalam perkelahian. Sebenarnya para calon tidak tertarik benar oleh kejadian itu. Demikian juga Pangeran Muda, yang menganggap kejadian itu sebagai suatu hal yang sewajarnya.

Yang menarik perhatian Pangeran Muda adalah Jante Jalawuyung yang kalau dikehendaki oleh Sang Hiang Tunggal akan jadi iparnya. Belakangan ini Jante menempati tempat khusus dalam hati Pangeran Muda. Rasa persahabatan berubah menjadi rasa sayang persaudaraan. Walaupun demikian Pangeran Muda belum berani membukakan isi hatinya kepada Jante. Pertama, anak muda itu sangat tertutup; kedua, wataknya yang keras mencegah Pangeran Muda untuk membicarakan hal-hal semacam itu dengan dia. Akan tetapi, rasa sayangnya tidak berarti berkurang pada anak muda itu. Malam itu juga Pangeran Muda memilih salah sebuah senjata kecil yang indah, sebuah badik yang pamornya disulam dengan emas. Dengan membawa senjata itu, Pangeran Muda berkunjung ke kamar Jante.

"Silakan duduk, Anom."

'Jante, saya dengar kau mendapat tugas di Kutabarang. Saya harus pergi ke Galuh, kita akan sangat berjauhan."

"Ya, Anom, sekurang-kurangnya kita tidak akan bertemu dalam tiga tahun," ujar Jante sambil memandang kepadanya.

'Jante, kau sangat baik kepadaku selama ini, saya ingin mengucapkan terima kasihku kepadamu, tapi kata-kata tidak cukup untuk itu. Demikian juga cara lain, tidak akan dapat mengucapkan terima kasih dan rasa ... persahabatanku kepadamu. Akan tetapi, saya tetap ingin mengucapkannya dan untuk itu terimalah badik kecil ini sebagai rasa terima kasih saya dan tanda mata selama kita berpisah."

Jante memandang benda itu, lalu menerimanya, kemudian ia berdiri merangkul Pangeran Muda.

"Seandainya, di dunia ini lebih banyak orang yang seperti engkau, Anom," kata Jante sambil menekankan tangannya ke pundak Pangeran Muda.

Rasa sayang dan rasa terharu bergalau dalam hati Pangeran Muda. Tak lama kemudian mereka pun berpisahlah karena malam sudah sangat larut.

KEESOKAN harinya dengan tidak sabar Pangeran Muda masih menunggu kedatangan Gita dan kawan-kawan yang seharusnya hari itu sudah tiba di Pakuan Pajajaran. Karena ketidaksabarannya itu, Pangeran Muda memutuskan untuk menunggu mereka di gerbang kota, sambil berbincang- bincang dengan perwira jaga dan tukang-tukang kuda yang telah dikenalnya. Dengan ditemani oleh Ardalepa, pergilah Pangeran Muda ke sana.

Baru sejenak mereka tiba di sana, dari jauh tampaklah rombongan Gita. Pangeran Muda menjemputnya dan dengan bertubi-tubi bertanya tentang hasil tugas mereka. Gita yang masih kehabisan napas tidak banyak menjawab, tetapi menyerahkan sebuah kotak-lontar kecil yang indah dan harum baunya.

"Dari Tuan Putri," katanya kepada Pangeran Muda.

Pangeran Muda menerimanya, lalu membawa Gita ke kepuragabayaan untuk istirahat dan minum sebentar. Setelah itu, sesuai dengan pesan Ayahanda, rombongan Gita disuruh pergi ke sayap barat istana, untuk menginap dan menerima pesan-pesan dan barang-barang dari Ayahanda sebelum mereka kembali ke Puri Anggadipati.

Setelah rombongan Gita segar kembali dan, dengan diantar Ardalepa, meninggalkan kepuragabayaan untuk bertemu dengan Ayahanda di sayap barat istana. Pangeran Muda segera masuk ke ruangannya dan dengan mengunci diri mulai membuka kotak lontar kecil yang indah itu.

Dengan tangan gemetar, dipegangnya helai pertama daun lontar yang berisi tulisan Putri Yuta Inten yang kecil-kecil tapi jelas dan cantik itu:

Kakanda, Hamba seperti seorang yang sudah lama menginginkan sebuah permata, kemudian karena nasibnyayang baik, permatayang sudah lama diinginkannya itu diberikan kepadanya, tetapi baru saja sekejap dipegangnya sudah harus diserahkan kembali untuk disimpan di tempatyang tidak diketahuinya.

Kakanda,

Perasaan apakah namanyayang bergulat dalam kalbu hambayang menyebabkan hamba berurai air mata tapi juga mendorong hamba bersenandung dan tertawa. Hamba bukanlah hamba seperti lima hari yang lalu, yang dengan hati berat oleh rindu dan putus-asa, sempoyongan di lorong- lorong puri Ayahanda, sebuah bayang-bayang yang sudah kehilangan segala keinginan lain, kecuali mengikuti ke mana Kakanda pergi, menunggu di dekat tempat Kakanda berada.

Dan kalau tangan hamba menyulam bunga-bunga emas di atas kain hitam atau bunga-bunga aneka warna di atas kain putih, khayal hamba pun menyulam berbagai kisah asmara antara kita berdua, kisah-kisahyang lebih indah daripadayangpernah dialami atau akan dialami oleh manusia, kisah-kisahyang lebih indah dari aneka bunga-bungayang hamba lukiskan pada kain-kain itu.

Alangkah nikmatnya menjalin khayalan menjadi pengalaman-pengalaman yang indah. Akan tetapi, hamba bukan seorang Pohaciyang karena kasih Sunan Ambu dapat menjelmakan segalayang diinginkannya. Hamba adalah manusia biasa, seorang gadis yang sangat sia-sia, yang setelah berkhayal harus kembali mengakui kenyataan. Hamba mesti kembali mengerjakan pekerjaan kewanitaan sehari-hari dan menyadari bahwa hamba adalah seorang yang menginginkan sesuatu yang berada di luar jangkauan seorang gadis. Ah, betapa tersiksa nasib seekor pungguk yang memandang bulan dan memimpikan bulan itu menjadi miliknya.

Akan tetapi, pagi itu, tiba-tiba bulan itu turun ke pangkuan hamba. Hamba hampir-hampir tidak percaya pada apa yang terjadi. Bahkan sampai beberapa hariyang lalu hamba masih meragu- ragukan diri hamba sendiri. Mungkinkah siluman sudah lama sekali merebut kesadaran hamba, hingga hamba tidak lagi dapat membedakan khayal dan kenyataan? Apakah benar-benar Pangeran Anggadipati memanjat benteng dahulu sebelum beliau meninggalkan Medang?

Mungkinkah itu hanya merupakan khayalan seorang gadis yang terlalu sedih karena akan ditinggalkan oleh sese-orangyang dicintainya untuk selama-lamanya? Hamba bertanya pada Emban hamba, apakah segala kejadian itu benar-benar terjadi atau hanya khayalan? Ketika dia mengatakanya, hamba ragu-ragu, kemudian tidak percaya, kemudian hamba berdukacita.

Lalu datanglah surat Kakanda, dengan perhiasan-perhiasan yang indahyang menjadi wakil kasih sayang Kakanda. Sekarang, kalau hamba merasa ragu-ragu akan diri hamba, hamba tinggal membuka kotak lontar dan meraba perhiasan yang selalu ada di ranjang hamba. Hamba adalah seorang gadis yang paling berbahagia tapi juga paling berat menanggung rindu dan diganggu kecemasan. Berbahagia karena hidupnya telah diberi arti dan diperindah oleh seorang kesatria yang menjadi pujaannya. Akan tetapi, juga menanggung rindu yang hampir tidak tertahankan karena kesatriayang baru saja didapatnya sudah harus meninggalkannya, entah untuk berapa, lama akan berada di tempat yang jauh. Kecemasan pun menghantuinya karena kesatria itu adalah pahlawan yang pekerjaannya menundukkan kejahatan dan hidup di tengah-tengah bahaya.

Kakanda, perasaan apakah namanya yang menyebabkan hamba menangis dan tertawa? Perasaan apakah namanyayang timbul dari pergulatan antara kebahagiaan, kerinduan, dan kecemasan? Dan, akankah hamba kuat menanggungkannya sampai Kakanda kembali? Kalau Kakanda tidak hendak menyiksa hamba, jagalah diri Kakanda dari segala bahaya, dan pulanglah segera kepada hambayang menantikan Kakanda senantiasa di kota, Medang Yuta Inten.

Selesai membaca surat itu berdirilah Pangeran Muda, kemudian duduk lagi, kemudian berdiri dan berjalan mondar-mandir dalam ruangannya. Setelah duduk kembali untuk beberapa lama, ia mulai membaca surat itu kembali dan setelah selesai membaca untuk ketiga kalinya, dipakainya pakaian perjalanan, lalu ia keluar dari kamarnya menuju kamar puragabaya Geger Malela yang menjadi penguasa kepuragabayaan. Akan tetapi, puragabaya itu masih belum kembali dari istana. Maka, tanpa memberi tahu dan minta dikawal oleh panakawannya Ardalepa, Pangeran Muda berjalan menuju istana kembali.

Sampai gerbang istana malam sudah larut, untung penjaga gerbang masih belum diganti, jadi masih mengenalnya dan mengizinkan Pangeran Muda masuk. Ternyata pula Ayahanda sudah beradu, dan Pangeran Muda langsung menuju ruangan tengah, tempat Pangeran Rangga Wesi belajar dengan bangsawan-bangsawan muda lainnya serta Putra Mahkota. Untung, karena ketekunan bangsawan-bangsawan muda itu mereka belum pulang dan masih belajar dan bertukar pikiran satu sama lain.

Setelah Pangeran Muda minta izin bertemu dengan Pangeran Rangga Wesi, seorang gulang- gulang menyampaikan permohonannya itu kepada Pangeran Rangga Wesi yang dengan terkejut segera menemui Pangeran Muda.

'Apakah yang terjadi Adinda? Sakitkah engkau?" tanyanya dengan cemas sambil memandang ke wajah Pangeran Muda. Untuk beberapa lama, Pangeran Muda tidak menjawab, tetapi dengan gemetar menyampaikan surat Yuta Inten itu ke tangan Pangeran Rangga Wesi, untuk kemudian menariknya kembali dan minta maaf. Pangeran Muda berkata, "Kakanda, hamba menerima surat. Hamba mohon maaf dan minta bantuan Kakanda, kapan hamba akan diperintahkan untuk pergi ke Galuh?"

"Maksudmu, bagaimana?" tanya Pangeran Rangga Wesi yang dengan cepat mengerti keadaan Pangeran Muda.

"Kalau masih ada waktu, hamba bermaksud pergi ke Medang dahulu." Mendengar keterangan itu termenunglah Pangeran Rangga Wesi. Akan tetapi, setelah beberapa lama ia memegang pundak Pangeran Muda lalu mengajaknya masuk ke dalam dan mempersilakannya duduk.

Setelah mempersilakan duduk, Pangeran Rangga Wesi masuk ke ruangan belajar lain. Tak lama kemudian kembali dengan Putra Mahkota yang ternyata masih mengenal Pangeran Muda.

"Selamat datang, Anggadipati," ujar Putra Mahkota. Pangeran Muda segera menghaturkan sembah. Rupanya masalah Pangeran Muda sudah dibicarakan Pangeran Rangga Wesi karena Putra Mahkota kemudian berkata, "Begini, Anggadipati. Sebenarnya para calon sudah harus berangkat dalam waktu seminggu. Sedang kau sendiri karena bertugas di tempat yang paling jauh, lusa sudah harus meninggalkan ibu kota. Walaupun begitu, saya dapat mengusahakan pengunduran waktu, tetapi tentu tidak lebih dari satu hari karena kalau lebih dari satu hari akan mengganggu seluruh rencana. Tentu hal itu tidak kauinginkan."

"Hamba serahkan pada kebijaksanaan Gusti Anom," ujar Pangeran Muda.

"Kalau begitu tunggulah, saya harus bertemu dengan Pamanda Geger Malela yang bertanggung jawab dalam masalah ini," ujar Putra Mahkota seraya mengajak Pangeran Rangga Wesi meninggalkan ruangan itu dan berjalan ke arah ruangan lain. Tinggal Pangeran Muda dengan beberapa orang bangsawan muda yang sedang tekun belajar, walaupun hari sudah larut malam.

Pangeran Muda baru menyadari bahwa perbuatannya sangat nekat. Ia telah mengganggu bangsawan muda yang sedang belajar. Ia telah mengganggu Putra Mahkota, dan ia pun akan mengganggu puragabaya Geger Malela yang mungkin harus mengubah segala rencana semula dalam waktu singkat seandainya mengizinkan Pangeran Muda untuk mengunjungi Putri Yuta Inten sebelum pergi ke Galuh. Apakah pandangan dan anggapan para bangsawan serta puragabaya itu terhadapnya nanti? Mungkinkah permohonannya itu dianggap suatu kelancangan hingga akan merendahkan martabatnya sebagai calon?

Timbul niat dalam hati Pangeran Muda untuk menggagalkan rencananya yang datang tiba-tiba itu. Akan tetapi, bayangan Putri Yuta Inten timbul kembali dalam kesadarannya, hingga tekadnya bertambah keras untuk pergi ke Medang dahulu sebelum berangkat. Ia tidak dapat membayangkan penderitaan macam apa yang akan dideritanya seandainya sebelum pergi ke negeri yang sangat jauh itu tidak bertemu dulu dengan putri yang dirindukannya.

Tak lama kemudian muncul pulalah Pangeran Rangga Wesi dengan Putra Mahkota, berjalan menuju kepadanya, "Anggadipati, Pamanda Geger Malela tidak dapat menangguhkan kepergianmu lebih dari satu hari. Paling lambat kau harus sudah berangkat hari setelah lusa," ujar Putra Mahkota.

"Terima kasih atas jerih payah Gusti Anom," ujar Pangeran Muda.

'Jadi, kau mau pergi juga ke Medang, Adinda?" Pangeran Rangga Wesi bertanya dengan terkejut. "Ya, Kakanda."

"Adinda, tapi itu berarti kau harus melakukan perjalanan malam. Malam hari bukan saja jalan- jalan gelap, tetapi binatang-binatang buas berkeliaran dari hutan ke padang-padang. Di samping itu, banyak orang jahat."

"Doa Kakanda hamba mohonkan," ujar Pangeran Muda. "Rangga Wesi, biarlah Anggadipati pergi. Bukankah kau juga seperti dia dan sering memaksaku pergi ke wilayah Kuta-barang untuk bertemu dengan kakaknya?"

"Gusti Anom, tapi hamba cemas akan nasib Adinda Anggadipati," ujar Pangeran Rangga Wesi. "Bagaimana kalau kita sediakan lima orang pengawal?" Putra Mahkota bertanya.

"Ya, itu pikiran yang baik," ujar Pangeran Rangga Wesi.

"Tidak usah menyusahkan, Gusti Anom. Di samping itu, Kakanda, si Gambir sangat cepat larinya, tidak mungkin dapat diikuti oleh kuda para pengawal. Lagi pula, hamba tidak merasa perlu dikawal."

Setelah bertukar pikiran beberapa saat, akhirnya diputuskan Pangeran Rangga Wesi menyediakan lima orang pengawal. Tak berapa lama kemudian, seperti dikejar Malakal Maut, Pangeran Muda pun telah memacu kudanya di bawah berjuta-juta bintang yang berkelipan di angkasa. Ia diikuti oleh lima orang penunggang kuda lain yang makin lama makin jauh ditinggalkan oleh si Gambir dan akhirnya tidak tampak lagi.

PERJALANAN antara ibu kota dengan kota Medang yang biasanya ditempuh dalam dua hari, dengan malam hari beristirahat, Pangeran Muda menempuhnya dalam satu hari satu malam tanpa beristirahat dahulu. Pada sore hari itu, Pangeran Muda sudah berada di wilayah yang berada di bawah kekuasaan Raden Banyak Citra. Makin dekat ke kota Medang, makin cepat Pangeran Muda melarikan si Gambir. Akan tetapi, pada suatu kampung yang berada tidak jauh lagi dari kota Medang, Pangeran Muda berhenti. Dan setelah menitipkan si Gambir untuk diurus dan setelah menyewa seekor kuda yang kuat dari penduduk, Pangeran Muda melanjutkan perjalanan kembali dengan menunggang kuda yang masih segar itu. Ketika malam turun, sayup-sayup terlihatah menara-menara kota Medang. Dan ketika malam mulai gelap, tibalah Pangeran Muda di depan gerbang kota. Akan tetapi karena terlambat, gerbang itu sudah ditutup rapat.

Pangeran Muda membalikkan kuda, lalu mencari kampung terdekat untuk menitipkan kuda itu agar tidak menjadi mangsa serigala. Setelah selesai membuatjanji dengan seorang petani yang tinggal di rumah yang berpagar tinggi di tengah-tengah padang, Pangeran Muda pun pergilah dengan berjalan kaki. Karena rumah petani itu tidak jauh dari dinding kota Medang, dalam beberapa saat Pangeran Muda sudah berada di bawah dinding benteng, terlindung oleh gelap malam.

Seperti seekor bajing, Pangeran Muda memanjatinya. Begitu Pangeran Muda tiba di atas, sekelompok gulang-gulang yang sedang berjaga berkeliling lewat di dekatnya. Pangeran Muda terpaksa bergantung untuk beberapa saat, menunggu hingga gulang-gulang itu berlalu. Setelah mereka berlalu, Pangeran Muda berjalan di atas jalan yang sempit di atas dinding benteng itu. Dalam remang-remang malam itu dicarinya atap rumah-rumah yang paling tinggi yang menjadi tempat kediaman keluarga Banyak Citra. Setelah ditemukannya, Pangeran Muda segera menuruni dinding benteng, kemudian berjalan dalam lorong-lorong yang walaupun lengang, masih belum ditinggalkan sama sekali oleh penduduk kota. Setelah beberapa lama berjalan, tibalah Pangeran Muda di suatu rumah besar yang dinding bentengnya sangat tinggi dan gerbang-gerbang-nya dikawal oleh sejumlah gulang-gulang. Pangeran Muda berdiri di tempat yang gelap sambil memeriksa dinding benteng dari jauh. Kemudian ditetapkannya tempat yang akan dipanjatinya, yaitu dinding benteng yang di sebelah dalamnya terdapat sebuah pohon. Melalui pohon itulah Pangeran Muda bermaksud meluncur dan masuk ke halaman dalam rumah keluarga Banyak Citra. Akan tetapi, ditunggunya sampai malam bertambah gelap sebelum rencananya itu dilaksanakan.

Ketika saatnya sudah tiba dan para gulang-gulang lengah, memanjatlah Pangeran Muda. Dari dinding benteng ia melompat ke arah dahan pohon tanjung tanpa mengeluarkan bunyi. Setelah> meluncur ke bawah ia pun berjalan menuju jendela ruangan Putri Yuta Inten. Mujur jendela itu masih terbuka karena malam belum larut. Akan tetapi, para gulang-gulang masih sibuk hilir-mudik di lorong-lorong, hingga Pangeran Muda tidak dapat segera mendekati jendela itu. Akan tetapi, begitu kesempatan tiba, Pangeran Muda segera mengendap menuju jendela besar itu.

Seperti pada waktu pertama kali dilihatnya, di dalam kamar itu Putri Yuta Inten sedang menjalin rambutnya di depan cermin, sementara emban tua itu sedang membereskan berbagai barang bekas Putri Yuta Inten menyulam. Pangeran Muda berpikir sejenak, bagaimana supaya kedatangannya tidak mengejutkan gadis itu. Setelah berdiri beberapa lama, diputuskannya untuk mengetuk jendela itu, lalu hal itu dilakukannya. Putri Yuta Inten melihat ke arah jendela, dan sambil menutup mulutnya berdiri dari tempat duduknya, memandang kepada Pangeran Muda. Pangeran Muda meletakkan telunjuknya di bibir, lalu dengan tangkas melompati jendela itu. Emban tua itu melihatnya dan menjerit dengan suara tertahan. Pangeran Muda memberinya isyarat supaya ia diam.

Untuk beberapa lama kedua remaja itu berdiri berhadapan dan saling memandang, seolah-olah menganggap satu sama lain makhluk aneh yang baru dilihat untuk pertama kali. Kemudian, seperti digerakkan oleh tenaga gaib, kedua muda remaja itu menghambur ke arah satu sama lain.

Pangeran Muda hanya sekejap melihat bagaimana emban tua itu membalikkan badan membelakangi mereka, kemudian seluruh kesadarannya terpusat pada bibir Yuta Inten, wajahnya dan seluruh kehadirannya, lembut dan hangat melekat di dadanya.

Entah untuk berapa lama mereka berlaku seperti itu, pada suatu saat Putri Yuta Inten bertanya, ”Jalan mana Kakanda masuk?"

"Tak ada dinding yang menghalangi kasih sayang," ujar Pangeran Muda.

Kemudian rambut Putri Yuta Inten yang lembut dan ikal itu menenggelamkan wajah Pangeran Muda dalam impian yang memabukkan. Pada suatu kali terdengar emban tua itu mendeham, dan kedua remaja itu melepaskan diri masing-masing.

"Sebentar lagi ayam jantan berkokok," kata emban tua itu.

"Kakanda, tidurlah malam ini di rumah penduduk kota, esok pagi kita menghadap kepada Ayahanda. Sebenarnya ingin sekali hamba mempersilakan Kakanda tidur di dalam rumah kami, tetapi Ayahanda tidak akan menyetujui hal itu. Kecuali kalau kita membangunkannya dan meminta izin kepada beliau terlebih dahulu," ujar Putri Yuta Inten sambil memegang tangan Pangeran Muda.

"Adinda, tapi malam ini juga Kakanda harus kembali ke Pakuan, untuk kemudian berangkat ke Galuh untuk bertugas. Kakanda telah melakukan perjalanan selama satu hari satu malam agar dapat bertemu dahulu dengan kau sekarang."

Mendengar penjelasan itu, Putri Yuta Inten membukakan matanya yang jelita, penuh dengan rasa heran dan cemas.

'Jadi, Kakanda melakukan perjalanan malam hari, seorang diri?"

"Tidak, Adinda, Kakanda diiringi oleh lima orang pengawal," ujar Pangeran Muda.

"Jadi ... jadi Kakanda datang hanya untuk bertemu ... sebentar saja?" kata gadis itu, seraya menyandarkan dirinya ke dada Pangeran Muda kemudian mulai menangis terisak-isak.

Pangeran Muda tidak tahu apa yang harus dilakukannya kecuali mengeratkan pelukan dan mengusap-usap rambut gadis itu. Lalu dengan mata gabak, Yuta Inten tengadah kepadanya dan berkata, "Jadi, Kakanda harus pergi sekarang juga, sebelum bertemu dengan keluarga hamba?"

"Begitulah, rupanya Adinda."

Hanya setelah emban tua yang cemas itu memperingatkan, mereka berpisah dan berunding tentang rencana-rencana mereka selanjutnya.

"Kita akan berpisah, mungkin untuk tiga tahun, tetapi mudah-mudahan dalam tiga tahun itu Kakanda dapat kembali ke Pajajaran barat ini untuk bertemu dengan kau dan seluruh keluarga. Atau siapa tahu kita dapat bertemu di Pakuan. Kalau ada sesuatu yang harus disampaikan kepada Kakanda, sampaikanlah kepada Pangeran Rangga Wesi di Pakuan Pajajaran. Ia adalah calon suami Ayunda Ringgit Sari dan telah berjanji akan membantu kita. Janganlah ragu-ragu, sampaikanlah segala berita kepada Kakanda melalui Pangeran Rangga Wesi."

"Baiklah, Kakanda. Apakah sudah tiba saatnya hamba memberi tahu kepada Ayahanda tentang hal kita ini?"

"Jelaskanlah segalanya dan sampaikan salam serta permintaan maaf Kakanda kepadanya karena Kakanda tidak sempat bertemu kembali dengan beliau sebelum bertugas."

"Baiklah, Kakanda. Hamba akan dapat mengenakan perhiasan dari Kakanda itu dengan terang- terangan," ujar Putri Yuta Inten seraya tersenyum.

"Sekarang, tibalah saatnya Kakanda untuk meninggalkan kau, Adinda," ujar Pangeran Muda.

Emban tua itu membalikkan tubuhnya dan berpura-pura membereskan alat-alat jahitan untuk kesekian kalinya. Akan tetapi, betapapun beratnya bagi mereka untuk berpisah, akhirnya dengan uraian air mata, Pangeran Muda keluar ruangan dan setelah beberapa kali memanjati dinding kemudian dinding benteng kota, telah berada lagi di padang terbuka. Setelah berganti kuda, dan kembali mengendarai si Gambir, dan setelah berjalan sepanjang hari dan sepanjang malam, pada subuh hari ketiga tibalah kembali Pangeran Muda ke Pakuan Pajajaran.

"Kau sudah ada di sini lagi, Anggadipati?" tanya puragabaya Geger Malela.

"Hamba berterima kasih dan mohon maaf telah mengganggu rencana Kakanda semula," kata Pangeran Muda.

"Tidak apa. Esok pagi kau harus sudah berangkat."

00de00kz00