Pangeran Anggadipati Bab 09 : Lembah Tengkorak

Bab 09 : Lembah Tengkorak

Sementara itu, kedua penunggang kuda tiba di pinggir jurang. Dari atas jurang itu terdapat suatu celah, yaitu jalan air yang biasa dipergunakan oleh para penghuni Padepokan Tajimalela sebagai jalan kalau mereka hendak mengunjungi dunia luar. Ketika Pangeran Muda dan Mang Ogel hendak melalui celah itu, mereka melihat dulu ke sekeliling. Hati mereka menjadi kecut ketika di bawah jurang itu hutan samar saja tampaknya, karena kabut naik dari dataran rendah.

"Mang, kalau kita pulang kembali, kita akan kemalaman dijalan, tetapi kalau kita lanjutkan perjalanan, mungkin kita akan tersesat dalam kabut ini. Satu hal yang dapat kita harapkan bahwa setelah hari panas, kabut ini akan menguap dan naik ke angkasa," kata Pangeran Muda sambil merenung ke arah kabut yang sangat tebal itu.

"Anomlah yang memutuskan, Emang sendiri sudah berpengalaman dalam tersesat di hutan hehehe," ujar Mang Ogel.

Mendengar tertawa Mang Ogel hilanglah kecut hati Pangeran Muda.

"Mari kita untung-untungan saja, Mang. Kalaupun kita harus tidur di hutan, kita akan dapat melindungi diri dan kuda-kuda kita," kata Pangeran Muda sambil menarik kendali, memberi isyarat pada si Gambir supaya mulai menuruni celah jurang itu. Mang Ogel pun menghentakkan kakinya ke arah lambung kudanya yang pendek sambil berseru, "Ha!" Maka kedua kuda mereka pun berjalanlah dengan hati-hati menuruni celah curam itu. Tidak berapa lama kemudian mereka pun sudah tiba di hutan yang ada di bawah jurang, kemudian mulai berjalan di bawah kabut yang rendah. Ternyata kabut itu sangat tebal, hingga pemandangan di hutan itu remang-remang saja. Pangeran Muda merasa seolah-olah mereka sedang memasuki gua yang remang-remang dan berudara dingin. Kuda mereka mendengus- dengus kedinginan, sedang burung-burung hutan yang ketakutan oleh kabut yang rendah itu terbang ke sana kemari sambil berbunyi, panggil-memanggil dengan kawannya. Begitu rendahnya kadang-kadang burung-burung itu terbang, hingga berulang-ulang mereka menggelepar di sekeliling kedua penunggang kuda itu, bahkan kadang-kadang menabraknya. Para penunggang kuda dengan hati-hati, tapi berkeras, terus berjalan sambil mengawasi jalan setapak yang ada di hadapan mereka.

Akan tetapi, makin lama kabut itu makin tebal juga, hingga akhirnya Pangeran Muda turun dari punggung kuda diikuti oleh Mang Ogel. Mereka berjalan menuntun kuda masing-masing, sementara kaki mereka meraba-raba rumputan dan semak-semak, menjaga agar mereka tidak tersesat. Sambil berjalan demikian Pangeran Muda tak habis-habisnya berdoa, mudah-mudahan matahari bersinar lebih terang atau angin kencang betiup, agar kabut yang tebal itu melepaskan cengkeramannya terhadap hutan itu. Akan tetapi, doa-doa itu sia-sia belaka, makin lama makin tebal juga kabut itu, hingga Pangeran Muda hanya sanggup melihat beberapa langkah saja sekeliling dirinya.

"Mang Ogel, talikan kendali kudamu pada pelana kuda saya, agar kita tidak terpisah." Mang Ogel melakukan apa yang diperintahkan oleh Pangeran Muda, dan mereka pun terus berjalan, dalam kabut yang makin lama makin kelam juga. Entah telah berapa lama mereka berjalan, dan entah arah mana mereka berjalan, tiba-tiba suatu hal terjadi. Suara tertawa yang keras dan menyeramkan tiba-tiba terdengar entah dari mana. Dari atas, kiri, dan kanan atau belakang tidak mereka ketahui. Mendengar suara tertawa itu, meremanglah bulu roma Pangeran Muda, sementara itu si Gambir mendengus-dengus sedang surainya berdiri, matanya liar mengawasi ke sekelilingnya.

"Sambal!" gerutu Mang Ogel. "Dikiranya kita seperti anak-anak, dapat ditakut-takuti!" Akan tetapi, kemudian terdengar Mang Ogel membaca mantra-mantra mengusir siluman. Sementara itu, suara tertawa terdengar, kadang-kadang jauh, kadang-kadang dekat sekali. Setiap kali suara itu terdengar kuda-kuda jadi gelisah.

Kadang-kadang Pangeran Muda seolah-olah melihat, dalam keremangan itu ada sosok manusia atau makhluk lain bergerak. Tapi hanya selintas. Kemudian terdengar suara lagi kadang-kadang suara laki-laki, kadang-kadang suara perempuan. Pada suatu kali, ketika kabut sedikit menipis, Pangeran Muda melihat ada seorang perempuan, dengan telanjang bulat dan rambut terurai berlari sambil tertawa di dalam semak-semak itu. Rupanya si Gambir melihatnya pula dan meringkik sambil tidak mau melangkahkan kakinya. Pangeran menarik kendalinya agak keras dan mereka pun terus berjalan.

"Anom, kita tersesat ke dalam hutan mereka," kata Mang Ogel. "Hutan siapa?" tanya Pangeran Muda.

"Hutan makhluk-makhluk terkutuk itu," ujar Mang Ogel.

"Mang, mereka tidak punya hutan. Mereka tidak berhak atas dunia ini. Tempat mereka sebenarnya di Buana Larang. Buana Pancatengah diserahkan oleh Sang Hiang Tunggal pada manusia. Para siluman itu tidak tahu diri," jawab Pangeran Muda.

Tiba-tiba bergelaklah suara tertawa dari berbagai arah, suara laki-laki dan perempuan, tetapi nada tertawa itu sangat berbeda dengan nada tertawa manusia, menyeramkan, menegangkan bulu roma. Pangeran Muda dan Mang Ogel tidak menyerah pada tekanan makhluk-makhluk yang tidak tampak itu. Mereka terus berjalan sambil mengucapkan mantra-mantra.

Kemudian terdengar suara baru, suara bayi menangis di dalam semak itu. Mang Ogel berhenti sejenak, lalu berkata, 'Anom!" Sambil berkata demikian, ia bergerak akan melangkah ke arah suara bayi itu.

"Mang, jangan pedulikan!" kata Pangeran Muda. Rupanya Mang Ogel mengerti karena ia segera kembali memegang kendali kudanya dan terus mengikuti Pangeran Muda yang meraba-raba jalan dengan kakinya. Ternyata suara bayi itu mengikutinya, ke mana pun mereka pergi. Kadang- kadang terdengar pula suara tertawa sayup-sayup, kadang-kadang terdengar suara-suara lain yang tidak dikenal, tetapi semuanya menggelisahkan kuda-kuda mereka, hingga saraf-saraf mereka menjadi tertekan dan sangat tegang karenanya.

"Anom, kita bisa gila kalau terus-menerus begini," bisik Mang Ogel.

"Bacalah mantra-mantra itu terus Mang Ogel, pertahankanlah pikiran waras kita dengan mengutuk nama mereka."

Pada suatu saat Pangeran Muda seolah-olah melihat sesosok tubuh melompat di hadapannya.

Nalurinya segera menjawab hadangan itu dengan gerakan menyerang yang cepat bagai kilat. Akan tetapi, sosok tubuh yang berkelebat di hadapannya lenyap dalam sekejap. Kejadian semacam itu beberapa kali terulang, tetapi Pangeran Muda tidak mau tertipu untuk kedua kali. Dilangkahkannya kakinya meraba-raba tanah menjaga agar mereka tidak terjatuh ke dalam jurang.

Akhirnya, kabut itu menipis juga dan pandangan menjadi lebih luas. Makin lama kabut makin menipis, dan akhirnya hutan yang di sekeliling tampak, walaupun masih suram kelihatannya.

Pangeran Muda mulai merasa lega, dan mereka pun mulai menaiki punggung kuda masing- masing.

'Anom, Mang Ogel tidak kenal dengan hutan ini."

"Tidak jadi apa, Mang. Akhirnya kita kan menemukan jalan kembali, mari!" Mereka pun melanjutkan perjalanan tanpa bercakap-cakap. Dari jauh masih terdengar suara tertawa sayup- sayup, suara bayi pun masih terus mengikuti mereka, walaupun lebih lemah kedengarannya.

Tiba-tiba Pangeran Muda menghentikan kudanya. Di hadapan mereka terbentang hutan yang aneh dan menyeramkan. Pohon-pohon di sana tidak berdaun, sedang batang-batangnya yang berdiri bagai rangka-rangka besar, bentuknya seperti orang-orang yang sedang disiksa, menggeliat-geliat kesakitan. Sementara itu, suasana sangat sunyi, tak ada yang bergerak, tak ada suara, bahkan angin pun tidak bertiup di tempat itu.

Setelah sejenak berhenti, Pangeran Muda melanjutkan perjalanan, sambil terus membaca doa- doa. Pada suatu tempat dengan terkejut Pangeran Muda menahan kendali si Gambir, karena di hadapannya tiba-tiba saja menganga sebuah jurang yang sempit tapi dalam, yang dasarnya tidak kelihatan. Dari jurang itu keluar asap berwarna, yang baunya sungguh-sungguh tidak menyenangkan.

"Anom," bisik Mang Ogel, "jauh sekali rupanya kita tersesat. Jurang itu lubang para siluman yang terowongannya tentu saja berujung di Buana Larang, kerajaan mereka yang terkutuk itu."

"Sssssst," bisik Pangeran Muda, sambil membelokkan si Gambir. Mereka terus berjalan, bukan karena tahu akan tujuan, tetapi kalau tidak berjalan mereka akan merasa sangat tertekan.

LJntunglah makin lama kabut makin menipis, dan suara-suara yang tidak menyenangkan yang mengikuti mereka makin lama makin sayup-sayup. Akhirnya, tibalah mereka di suatu padang terbuka, di pinggir suatu lembah yang tidak ditumbuhi pohon-pohonan. Pangeran Muda memecut si Gambir agar berlari di lembah itu, tetapi tiba-tiba didengarnya Mang Ogel berteriak, "Anom berhenti!"

Pangeran Muda dengan cepat menghentikan kudanya. Mang Ogel segera tiba di sampingnya. "Lihat," kata Mang Ogel sambil menunjuk ke tengah lembah. Di sana tampak benda-benda

putih yang tidaklah lain kecuali tengkorak-tengkorak binatang dan manusia.

"Lembah Kematian," bisik Pangeran Muda yang pernah mendengar dongeng orang tua-tua. "Lembah Tengkorak."

"Mari kita teruskan perjalanan, mari kita lihat tengkorak-tengkorak itu lebih dekat," kata Pangeran Muda.

'Jangan, Anom. Lebih baik kita kembali," kata Mang Ogel ketakutan. Akan tetapi, Pangeran Muda yang merasa penasaran tampaknya tidak akan mengurungkan niatnya. Mang Ogel menahan kembali si Gambir, sambil tetap memandang ke arah lembah luas yang dipenuhi oleh tulang-tulang yang telah memutih. Di suatu tempat tampak mayat manusia setengah utuh, menyeringai dengan tangan-tangan yang menjulur seolah-olah hendak memeluk sesuatu. "Jangan, Anom!" bisik Mang Ogel. Sementara itu, serombongan burung yang terhalau oleh gumpalan kabut terbang rendah.

Mereka berputar-putar, tetapi karena di mana-mana kabut tebal mendinding, burung-burung itu kemudian terbang di atas Lembah Tengkorak itu. Setelah itu, pemandangan yang mengherankan terjadi. Tiba-tiba saja burung-burung itu berjatuhan seperti batu-batu yang dilemparkan dari langit ke atas lembah itu. Beberapa burung selamat dan berusaha terbang melarikan diri dari atas lembah itu sambil berteriak-teriak. Akan tetapi, mereka pun kemudian tidak berdaya dan berjatuhan. Beberapa ekor jatuh di dekat Pangeran Muda dan Mang Ogel.

"Sambal!" gertak Mang Ogel perlahan-lahan. "Siluman sungguhrsungguh sudah berkuasa penuh di lembah itu, Anom. Mari kita pergi!"

Sekarang Pangeran Muda menyadari akan bahaya yang tidak kelihatan yang mengancam nyawa mereka. Dengan patuh Pangeran Muda menarik kembali si Gambir, dan mereka pun berjalan menjauhi lembah yang menakutkan itu.

Entah berapa lama mereka tersaruk-saruk di dalam hutan itu, akhirnya, pada suatu kali Mang Ogel berseru, menyatakan bahwa dia mengenal hutan itu.

"Kalau begitu, berjalanlah di muka, Mang," kata Pangeran Muda.

Mang Ogel berjalan di muka, dan akhirnya tibalah mereka di padang yang mereka kenali.

Setelah mengucapkan syukur kepada para guriang yang melindungi mereka di hutan terkutuk itu, mereka beristirahat. Kemudian, agar tidak kema-laman di padang, mereka memacu kuda mereka ke arah wilayah yang didiami manusia.