Pangeran Anggadipati Bab 07 : Ular dan Bajing

Bab 07 : Ular dan Bajing

Daerah-daerah di sekitar Padepokan Tajimalela sungguh-sungguh merupakan daerah-daerah yang tepat untuk menjadi tempat latihan ketangkasan ini. Jurang-jurang dari yang paling landai hingga yang paling curam ada, sungai-sungai yang airnya paling tenang hingga yang paling deras banyak; demikian juga, padang-padang hingga hutan-hutan rimba terbuka untuk ditundukkan oleh keberanian dan ketangkasan manusia.

Latihan ketangkasan yang pertama adalah latihan meniru ular. Setiap calon diberi petunjuk- petunjuk tentang cara berjalan dan merangkak tanpa mengeluarkan bunyi. Latihan ini mula-mula dilakukan di dalam hutan di mana terdapat daun-daunan serta ranting-ranting kering yang akan berbunyi setiap mendapat sentuhan. Untuk melakukan latihan ini, para calon dengan sendirinya harus melepaskan alas kaki yang terbuat dari kulit mentah agar mereka dapat meraba-raba tanah serta benda-benda yang ada di atasnya dengan tapak kakinya itu. Hanya setelah saraf tapak kaki peka maka para calon dapat menghilangkan bunyi-bunyi yang mungkin dikeluarkan oleh benda- benda yang disentuh oleh tapak kaki mereka.

Latihan ini sangat melelahkan karena seluruh perhatian dipusatkan ke tapak kaki, suatu perbuatan yang baru bagi para calon sendiri. Di samping itu, menghilangkan bunyi bukanlah suatu yang mudah. Daun-daun yang kering, ranting-ranting bahkan rumput-rumputan, cenderung untuk berbunyi kalau mendapat sentuhan secara sembrono. Adalah kewajiban bagi seorang puragabaya untuk mengenal berbagai benda yang teraba oleh tapak kakinya, untuk kemudian mengenal kemampuannya mengeluarkan bunyi. Kalau keduanya sudah dikenal, baru ditentukan bagaimana ia akan memijak benda itu.

Taraf mengenal benda, mengenal kemampuannya mengeluarkan bunyi dan taraf menentukan bagaimana cara memijak dengan sendirinya harus dilakukan dalam waktu yang singkat sekali karena para calon diperintahkan bukan saja harus dapat berjalan tanpa bunyi, tetapi harus pula dapat berjalan cepat. Inilah yang sangat melelahkan para calon. Latihan itu sungguh-sungguh memerlukan pengerahan segala kepekaan saraf.

Latihan berjalan tanpa bunyi ini dilakukan di atas berbagai daerah yang sifatnya berbeda-beda. Pertama, di dalam semak-semak, disusul di atas tanah yang berkerikil, dilanjutkan dengan di atas lumpur di rawa-rawa. Setelah beberapa bulan berlalu dan para pelatih menganggap para calon cukup menguasai pelajaran itu, latihan lanjutan dilaksanakan. Latihan lanjutan ini berupa latihan merangkak tanpa bunyi.

Kalau dalam latihan pertama telapak kaki yang dipertajam sarafnya, dalam latihan merangkak seluruh permukaan tubuh diperhalus kepekaannya. Dalam latihan ini para calon diperintahkan benar-benar untuk meniru ular, binatang yang terkenal tidak pernah bersuara kalau bergerak.

"Bagaimana kalau kita menangkap seekor ular untuk diamati?" katajante kepada Pamanda Rakean pada suatu hari. Rupanya pelatih itu sangat setuju karena kemudian mulai mengajak berunding tentang rencana itu.

"Kita akan menangkap ular sanca. Tidak usah yang terlalu besar, cukup yang bagian-bagian tubuhnya dapat kita lihat selagi dia bergerak."

Mendengar perkataan itu, para calon sangat bergembira. Bagaimanapun juga perburuan binatang merupakan kegemaran para bangsawan, termasuk putra-putra mereka. Sedang para calon puragabaya adalah putra-putra bangsawan Pajajaran. Oleh karena itu, begitu ditetapkan, mereka berangkat ke daerah rawa yang berdekatan dengan Padepokan untuk mencari ular besar itu.

Pencarian yang disangka akan dilakukan beberapa hari, ternyata dilakukan dalam waktu yang sangat singkat. Ketiga puragabaya yang menjadi pelatih mereka dengan mendengus-dengus dan membaui udara secara mudah dapat mengetahui di mana ular besar itu berada.

"Di pohon kiara itu," seru Pamanda Minda sambil memberi isyarat kepada para calon agar mengikutinya. Di satu tempat di dalam hutan terdapat beberapa pohon beringin besar. Di bawah pohon beringin besar itu terdapat jalan setapak yang biasa dipergunakan oleh gerombolan babi atau kijang. Di atas pohon beringin itu ular-ular besar tinggal, sambil mengintai mangsa mereka yang sewaktu-waktu lewat di bawah.

Ketika mereka sudah dekat ke pohon itu, suasana seram tiba-tiba mencekam hati Pangeran Muda. Bagaimanapun juga ular-ular sanca adalah binatang-binatang yang sangat perkasa. Di samping itu, binatang-binatang buas ini menjadi kesayangan para siluman. Melihat pohon yang besar dan gelap itu, meremanglah bulu kuduk Pangeran Muda. Akan tetapi, segala ketakutan itu segera hilang setelah Pangeran Muda melihat bagaimana tenang dan tabahnya para puragabaya yang berjalan di muka para calon.

Beberapa langkah lagi jauhnya dari pohon beringin itu, Pamanda Rakean mengacungkan tangan. Rombongan pun berhentilah.

"Tebang sebatang pohon, cari yang lurus, besarnya jangan melebihi pohon pisang, tetapi harus cukup panjang." Mendengar perintah itu pergilah beberapa orang calon dengan perlengkapan golok. Setelah yang lain menunggu beberapa lama, datanglah mereka kembali sambil dengan susah payah membawa batang pohon yang panjang dan lurus.

"Sediakan tambang yang panjang," kata Pamanda Ana-paken. Tambang pun segera diuraikan.

Setelah siap, ketiga puragabaya berjalan ke depan, lalu tengadah.

"Ini, sebesar paha, apakah tidak terlalu besar?" tanya Pamanda Rakean kepada kedua temannya.

"Tidak," jawab Pamanda Anapaken.

Para calon pun tengadah dan dalam gelap daun-daun beringin itu, bergulunglah seekor ular sanca, melilit-lilitkan tubuhnya pada cabang-cabang pohon itu.

"Pamanda, awas!" kata seorang calon. Mendengar suara ketakutan dari calon itu, yang lain siaga.

'Ada apa?" tanya Pamanda Anapaken.

"Lihat, di pohon kiara yang kecil, besar sekali!"

Semua berpaling ke arah yang ditunjukkan oleh Rangga, dan tampaklah oleh mereka seekor ular yang sangat besar, bergulung-gulung di antara daun-daunan. Kepala ular yang hampir sebesar kepala kuda terulur-ulur, memandang kepada mereka dengan matanya yang bercahaya dan menyeramkan. Melihat ular yang sangat besar itu mundurlah para calon, hingga Pamanda Rakean berkata, 'Jangan takut. Walaupun ular ini binatang yang sangat perkasa, ia juga binatang yang sangat bodoh. Ia tidak akan menyerang kita kecuali kalau lapar bahkan kalau lapar ia tidak akan menyerang kita kalau kita tidak lewat tepat di bawah pohon itu. Ular adalah binatang yang terikat oleh kebiasaan dan karena sudah biasa menangkap babi hutan di bawah pohonnya, tidak di tempat lain, ia tidak tahu lagi apakah binatang-binatang yang tidak lewat di bawah pohonnya dapat dimakannya atau tidak. Jadi janganlah takut, asal tentu saja jangan berjalan di bawah pohon itu karena engkau mungkin akan disangka babi hutan olehnya."

Setelah berkata demikian, dengan tangkas seperti seekor bajing, Pamanda Rakean memanjat pohon beringin itu diikuti oleh kedua kawannya. Mendengar ada yang mengganggu, ular sanca yang sebesar paha itu mengangkat kepalanya dan sambil menjulurkan lidahnya yang bercabang berbunyi berdesis-desis.

Seperti tiga ekor monyet, ketiga puragabaya itu mendekati ular itu dari berbagai arah. Pamanda Rakean membuka kedua tangannya, lalu mendekati kepala ular yang bergerak-gerak di antara akan melarikan diri dan akan mengadakan perlawanan. Dan ketika ular itu bergerak dan menjulurkan kepalanya, dengan sigap Pamanda Rakean menangkap lehernya. Ular menggulung dan mencoba membelitnya, tetapi Pamanda Minda sudah siap dan dengan segera menangkap bagian tengah tubuh ular itu. Pamanda Rakean segera turun diikuti Pamanda Minda sambil menarik tubuh ular itu. Akan tetapi, hal itu tidak mudah dilakukan karena ekor ular itu dengan ketat membelit sebuah cabang beringin. Pamanda Anapaken segera bertindak demi melihat kedua temannya mendapat kesulitan. Dibukanya dengan tekun ikatan ekor ular itu, hingga akhirnya lepas dan dengan mudah kedua temannya dapat menarik seluruh tubuh ular itu dengan mudahnya.

Setibanya di bawah ular itu mencoba berontak, tetapi di dalam tiga pasang tangan puragabaya yang paham akan ilmu tenaga, usaha ular itu tidaklah berarti. Dan setelah tubuhnya direntangkan sepanjang batang pohon yang lurus itu, Pamanda Rakean memerintahkan agar tambang segera diikatkan. 'Jangan terlalu keras, nanti mati!" serunya. Para calon pun bekerja dengan hati-hati, kemudian rombongan kembali dengan mengusung tubuh ular yang sudah terikat pada batang pohon itu. Begitu mereka tiba di Padepokan, segera ular itu dilepas dari batang itu, lalu dipegang oleh para calon yang dengan susah payah menahan geliatan ular yang berusaha melepaskan diri.

"Marilah kita lepaskan di padang berkerikil dan kalian mengamati bagaimana ular itu mempergunakan tubuhnya dalam meluncur," kata Pamanda Anapaken. Rombongan itu pun, dengan ular di tangan mereka, berjalanlah ke padang kerikil yang tidak jauh letaknya dari  Padepokan. Di padang yang luas itu segera ular dilepaskan, dan para calon sambil tertawa-tawa dengan gembira berlari-lari mengiringi ular yang ketakutan dan kebingungan mencari-cari jalan untuk meloloskan diri.

Dengan menajamkan pandangan, Pangeran Muda mengamati cara ular itu meluncur di atas batu-batu dengan tidak mengeluarkan bunyi, bahkan dengan tidak menggerakkan batu-batu sama sekali. Apakah yang menyebabkan ular itu dapat meluncurkan badannya yang besar seolah-olah benda yang ringan?

"Lihat!" kata Pamanda Anapaken sambil berlari-lari, "lihat gerakan-gerakan di bagian bawah badan ular itu. Berat badannya tidak dijatuhkan lurus-lurus ke bawah, tetapi dijatuhkannya ke depan, hingga tekanan badannya tidak mengenai batu-batu itu secara tepat, tetapi hanya melintasi, itulah sebabnya badan ular itu seolah-olah menjadi ringan, dan itu pula sebabnya ia meluncur begitu cepat. Seluruh berat badannya tidak diberi kesempatan menekan ke arah tanah, tetapi dilemparkannya ke depan. "Lihat!"

Setelah mereka puas mengamati cara ular meluncur, dibiarkan oleh mereka ular yang kelelahan itu pergi. Akan tetapi, baru saja mereka berkumpul untuk membahas apa yang mereka amati, seorang panakawan berlari sambil berseru-seru, 'Juragan! Juragan! Jangan dilepaskan!"

Ternyata orang itu Mang Rawing, seorang panakawan yang dikenal sebagai penggemar daging ular. Pamanda Minda yang berdiri tidak jauh dari ular itu meluncur segera mencegat ular itu lalu dengan sebuah sepakan di kepala ular, dihentikannya binatang yang malang itu. Hanya sebentar saja ular itu bergerak-gerak, kemudian Mang Rawing datang mengangkat mayatnya dan menyeretnya ke arah Padepokan di bawah pandangan mata para calon yang keheranan, geli, atau jijik.

Pamanda Rakean berseru-seru, menarik perhatian mereka kembali pada pelajaran. Maka para calon pun merangkaklah di atas padang kerikil itu, mencoba melakukan apa yang dilihatnya pada gerakan-gerakan ular tadi. Beberapa orang calon merasa geli akan kelakuan mereka itu dan tidak menahan tertawa. Para puragabaya meminta supaya mereka diam. Dan latihan pun berjalanlah dengan sungguh-sungguh.

Latihan itu berjalan hingga matahari condong ke barat, dan setelah para calon kelelahan, luka- luka, dan penuh debu, barulah para puragabaya menghentikannya. Betapapun lelahnya para calon tidaklah mengeluh, bukan saja karena dirasa bahwa kepandaian bergerak tanpa bunyi itu memang sangat penting, tetapi meniru-niru binatang itu oleh kebanyakan mereka dianggap perbuatan yang lucu dan menggembirakan. Oleh karena itu, sepanjang jalan menuju Padepokan mereka tetap tertawa-tawa dan bersenda gurau, saling memberikan pendapat tentang tingkah laku masing- masing waktu mereka berlatih.

Akan tetapi, ketika tiba di dekat dapur Padepokan mereka sangat terkejut. Mang Ogel, dengan muka yang pucat dan penuh keringat dingin tampak sedang muntah-muntah dekat kandang ayam. Pangeran Muda dengan yang lain-lain segera berlari mendekatinya. Mang Ogel sambil memegang ulu hatinya terus-menerus muntah, dan baru setelah isi lambungnya habis ia berhenti menganga-ngangakan mulutnya.

Setelah Mang Ogel tenang, seorang calon memberinya minum air dingin yang jernih dan sejuk. Dan setelah tampak tidak lagi pusing Pangeran Muda segera bertanya; apa sebabnya Mang Ogel begitu menderita.

"Demi para siluman, lebih baik saya melihat si Rawing dimakan ular daripada menyaksikan dia melahap binatang besar yang menjijikkan itu! Oooooooo ohek ohek!"

Mengertilah Pangeran Muda apa yang terjadi dengan Mang Ogel. Rupanya para calon pun sekarang tahu apa yang terjadi. Maka tertawalah mereka, lupa akan penderitaan Mang Ogel.

SETELAH berbulan-bulan latihan menjadi ular ini dilakukan, akhirnya para puragabaya menganggap para calon sudah cukup menguasai apa-apa yang harus mereka lakukan. Pada hari latihan terakhir mereka diharuskan berjalan atau merangkak tanpa bunyi dan tidak kelihatan oleh para pelatih. Ujian ini dilaksanakan dengan baik oleh para calon, yang seperti ular atau harimau meluncur dan menyelinap di atas berbagai macam tanah, di dalam semak-semak. Hanya beberapa orang saja sebelum sampai ke tempat yang ditentukan dapat dilihat oleh pelatih. Sebagai hukuman terhadap mereka ini, para pelatih menyediakan batu-batu untuk melempar para calon yang tidak sanggup menyembunyikan kehadirannya. Pangeran Muda termasuk calon yang selamat, tidak pernah mendapat lemparan batu para pelatih yang cukup besar itu.

Setelah latihan ini dianggap selesai, dengan pesan para pelatih agar para calon terus-menerus melatihnya sendiri, latihan macam baru pun segera dimulai. Dalam latihan ini, kepandaian memanjat pohon dan menuruninya digemblengkan pada para calon. Setelah pohon, tebing-tebing, juranglah yang menjadi tantangan mereka. Seperti juga latihan meniru ular, latihan meniru bajing ini dilakukan pada berbagai waktu, siang hari, malam hari, subuh, atau pagi-pagi. Kadang-kadang mata mereka dibiarkan terbuka, kadang-kadang ditutup dengan kain hitam. Di samping itu, pada taraf-taraf lanjutan mereka menaiki atau menuruni jurang itu tidak diperbolehkan mengeluarkan bunyi.

Dari hari ke hari, tebing-tebing, jurang atau pohon-pohon yang harus dipanjat berubah-ubah, makin lama makin sukar ditempuh dan makin berbahaya. Di samping itu, suatu jurang belum dapat diatasi oleh para calon, kalau para calon belum dapat menuruninya setelah selesai menaikinya. Seperti juga dalam waktu menaiki, pelaksanaan menuruni jurang tidak boleh mengeluarkan bunyi. Di samping itu, para pelatih terus-menerus menuntut kepada para calon agar pendakian atau penurunan dilakukan secepat-cepatnya.

Akan tetapi, karena sebelum latihan meniru bajing ini latihan meniru ular telah dilakukan, bahaya-bahaya serta kesukaran-kesukaran banyak sekali berkurang. Para calon telah memiliki saraf-saraf yang sangat peka, hingga telapak kaki mereka dapat mengenal batu-batu yang goyah serta dapat membahayakan dan dapat memilih bagian-bagian cadas mana yang dapat dijadikan pijakan dengan aman.

Untuk dapat meniru bajing dengan sempurna, para calon pun diajari bagaimana caranya melompat dari pohon ke pohon, melompati jurang dari yang sempit hingga yang lebar sekali. Semuanya itu harus dilakukan pula dalam kecepatan yang setinggi-tingginya dan tanpa mengeluarkan bunyi.

Ketika taraf terakhir dari latihan-latihan ini hampir selesai, seorang lagi di antara para calon gugur. Yang sangat menyedihkan, bukanlah karena kecelakaan itu tidak dapat dihindarkan lagi, tetapi justru sebaliknya. Di samping itu, kecelakaan yang terjadi bukanlah akibat kelalaian sang calon, tetapi karena benar-benar nasib buruk telah menimpanya.

Ketika itu latihan yang sedang dilakukan adalah latihan menuruni jurang yang begitu curam, hingga para calon harus mendaki dan menuruninya dengan mempergunakan tambang.

Elang, calon yang malang itu, mendapat giliran beberapa saat sebelum giliran calon terakhir. Dengan mata tertutup oleh kain hitam, dengan tangkas dipegangnya tambang ijuk, lalu kakinya yang sangat halus saraf-sarafnya tanpa bunyi meraba-raba dengan cepat, memilih pijakan-pijakan yang kukuh. Akan tetapi, tiba-tiba angin bertiup dengan kencang, menghempas-hempas tebing jurang itu. Oleh tiupan angin yang keras itu, Elang tidak dapat meluncur dengan cepat. Tubuhnya agak terayun-ayun, walaupun tetap dapat berpijak dengan kukuh. Akan tetapi, ayunan-ayunan itu menyebabkan salah satu bagian dari tambang yang melekat di tebing jurang itu tergesek-gesek pada cadas yang runcing dan menipis. Pada saat tambang yang tipis ini tidak lagi dapat menahan berat badan Elang, putuslah tambang itu dan melayanglah Elang, lalu terhempas pada landasan jurang yang bercadas-cadas runcing.

Ketika ia diusung ke arah padepokan oleh kawan-kawannya, ia masih dapat berkata-kata, walaupun dengan lemah. Akan tetapi, ketika ia telah dibaringkan dalam ruangan dekat candi dan ketika Pamanda Minda sedang menyiapkan alat-alat untuk membetulkan tulang-tulangnya yang remuk, nyawanya tidak dapat bertahan lebih lama dalam tubuhnya yang rusak itu. Maka latihan pun dihentikan untuk satu minggu lamanya. Pertama, sebagai tanda berkabung karena meninggalnya calon itu; kedua, karena beberapa calon dengan Pamanda Minda harus meninggalkan Padepokan untuk mengantarkan jenazah kepada keluarganya.

Dengan meninggalnya Elang, telah tiga orang calon yang mendapatkan kecelakaan, dengan seorang dapat selamat jiwanya, tetapi gagal sebagai calon. Dari para panakawan, Pangeran Muda mendapat penjelasan bahwa angkatannya termasuk angkatan yang nahas. Biasanya kecelakaan dan korban-korban tidak sebanyak itu. "Mudah-mudahan dengan banyaknya kecelakaan ini Sang Hiang Tunggal berkenan untuk menjadikan angkatan ini menjadi puragabaya-puragabaya yang baik di kemudian hari," kata Pangeran Muda.

"Nyakseni," ujar Mang Ogel.