Pangeran Anggadipati Bab 02 : Perjalanan

Bab 02 : Perjalanan

Keesokan harinya, ketika kabut masih memutihkan bukit-bukit di sekeliling puri, dan ketika daun-daunan serta bunga-bunga masih berat digayuti titik-titik embun, Pangeran Muda sudah siap dengan pakaian perjalanan. Ketika itu, di pendapa tidak banyak yang hadir. Ibunda membetulkan kancing-kancing dan kelepak baju Pangeran Muda, Ayunda Ringgit Sari memeriksa perbekalan berupa makanan dan pakaian, sedangkan Ayahanda memerintah beberapa gu-lang-gulang dan panakawan untuk memeriksa pakaian kuda.

"Segalanya sudah siap, Pangeran," seorang gulang-gu-lang melaporkan kepada ayahandanya.

Mendengar itu, Pamanda Rakean berjalan ke arah Ayahanda dan sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman berkata, "Hamba akan berusaha mewakili Pangeran dan Gusti Putri dalam melindungi dan menyayangi Anom. Janganlah terlalu dicemaskan."

"Kami menitipkan kepadamu,. Pamanda Rakean: Dan juga kepadamu, Mang Ogel." "Patuhilah segala perintah Pamanda Rakean dan segala ilmu yang diberikan kepadamu

terimalah dengan sebaik-baiknya," demikian ujar Ibunda sambil membetulkan rambut Pangeran Muda yang tergerai di pundaknya.

"Kinantan telah berkokok, sebentar lagi burung-burung akan saling membangunkan, fajar akan mengemaskan langit di sebelah timur," kata Pamanda Rakean sambil berpaling ke arah timur. "Lebih cepat kami berangkat, lebih baik, agar di saat hari panas kami dapat mencapai hutan."

Setelah berkata demikian, Pamanda Rakean melangkah. Pangeran Muda menyembah Ayahanda dan Ibunda serta Ayunda Ringgit Sari. Dengan sudut matanya terlihat bagaimana Ibunda dan Ayunda menyusut mata masing-masing. Aneh, dua butir airmata memaksa melompat melintasi kelopak mata Pangeran Muda.

"Siaplah, anakku, ingatlah apa-apa yang kupesankan kepadamu," ujar Ayahanda sambil menepuk-nepuk pundaknya. Tangan itu dipegang dan dicium oleh Pangeran Muda, kemudian tanpa berpaling kepada orang-orang yang disayangi dan dihormatinya itu, Pangeran Muda berlari ke arah Pamanda Rakean dan Mang Ogel yang menunggu di halaman pendapa sambil memegang kendali kuda masing-masing.

Pangeran Muda melompat ke atas punggung kuda, lalu setelah melambaikan tangan menepuknya ke arah gerbang, diikuti oleh Pamanda Rakean dan Mang Ogel. Dalamsekejap mereka sudah berada di luar puri dan memacu kuda masing-masing dijalan yang melintasi

padang-padang. Beberapa saat kemudian, Pangeran Muda menahan kendalinya, diikuti oleh kedua kawannya. Pangeran Muda berpaling ke arah puri, sebuah benteng yang menara-menaranya mulai dicelup emas fajar. Perasaan sayu tergugah dalam hadnya, tetapi segera ditekan, dan dengan'teriakan dihalaunya kudanya untuk melanjutkan perjalanan. SEPANJANG subuh mereka melarikan kuda dengan kecepatan sedang, baru setelah matahari hangat memanasi punggung, mereka mengekang kendali dan memberi minum kuda-kuda mereka di sebuah sungai kecil yang mengalir dalam semak-semak

"Anom, pakaian kuda itu terlalu bagus, bisa mengundang perampok-perampok," kata Mang Ogel sambil memerhatikan pakaian kuda Pangeran Muda yang dihiasi dengan perak, emas, dan bulu-bulu merak.

"Tapi ini pakaian kuda saya sehari-hari, Mang Ogel."

"Lebih baik dijadikan pakaian semalam-malam, apalagi kalau terang bulan, ketika kau mengunjungi seorang putri cantik, hehehehe."

"Ogel, pakaian Anom juga terlalu bagus, bagaimana kalau diganti dengan pakaian penggawa saja?" Pamanda Rakean bertanya. Baru ketika itu Pangeran Muda sadar bahwa Pamanda Rakean sudah berpakaian serbahitam seperti seorang penggawa.

"Baiklah, Pamanda," jawab Pangeran Muda, sambil membuka kantong tempat menyimpan pakaian. Setelah pakaian hijau muda yang bersulam emas dan perak diganti dengan pakaian hitam, mereka pun mulai menaiki kuda, kemudian perjalanan dilanjutkan kembali. Akan tetapi, Pamanda Rakean masih berulang-ulang melirik ke arah Pangeran Muda, hingga Pangeran Muda berulang-ulang memeriksa pakaiannya.

"Ogel," kata Pamanda Rakean pada suatu ketika, "walaupun Anom sudah berpakaian hitam, setiap orang dengan mudah dapat menerka bahwa ia seorang bangsawan tinggi. Bagaimana kalau pakaian kudanya diganti?" sambil bertanya demikian, Pamanda Rakean yang berjalan paling depan menahan kendali, maka mereka pun berhentilah. Mang Ogel turun, lalu berjalan mendekati Pangeran Muda, meliriknya sebentar.

"Memang sukar untuk menyembunyikan kebangsawananmu, Anom. Setiap helai rambutmu menunjukkan bahwa Anom seorang bangsawan. Yang paling sukar disembunyikan adalah cahaya matamu. Apa boleh buat, pakaian kudamu akan Mang Ogel balik."

Sungguhpun tidak mengerti mengapa kedua orang tua itu berusaha menyembunyikan tanda- tanda kebangsawanan-nya, Pangeran Muda turun juga dari punggung kudanya. Mang Ogel dengan susah payah mematut-matut pakaian kuda yang harus dibalikkan. Setelah selesai, ia mundur, lalu memandang kuda itu dari jauh.

"Wah, tapi kudanya pun terlalu bagus, setiap orang tahu bahwa kuda setampan ini hanya dimiliki oleh seorang bangsawan atau orang yang kaya sekali. Di samping itu, kantong-kantong yang kaubawa terlalu besar, Anom!" kata Mang Ogel.

Karena kepenasaran yang tidak tertahan lagi, akhirnya bertanyalah Pangeran Muda. "Mang Ogel, apakah sebabnya kebangsawanan saya harus disembunyikan?"

Mang Ogel tidak menjawab, melainkan memandang ke arah Pamanda Rakean. Pamanda Rakean, setelah ragu-ragu menjelaskan, "Anom, kebangsawananmu tidaklah menjadi persoalan benar. Yang menjadi soal adalah sangkaan orang bahwa kita membawa harta. Kudamu yang tampan, pakaian kudamu yang mewah, dan tampangmu, yang tidak dapat disembunyikan kebangsawanannya membuat orang sukar untuk tidak menduga bahwa rombongan kita bukan rombongan orang-orang penting yang membawa banyak uang. Ini akan menyusahkan kita."

'Apakah daerah yang akan kita lewati tidak aman?" Pangeran Muda bertanya karena sekarang persoalan sudah menjadi lebih jelas baginya.

"Soalnya kita akan melalui hutan-hutan yang berbatasan dengan wilayah kerajaan lain. Di daerah-daerah perbatasan ini biasanya keamanan kurang terjamin. Sungguhpun begitu, tidak usah takut! Akan tetapi, tidaklah pula berarti kita harus mencari kesukaran. Itulah sebabnya tanda- tanda yang memperlihatkan bahwa kau orang penting dan kita banyak membawa banyak perlengkapan harus disembunyikan," demikian penjelasan Pamanda Rakean.

Mendengar penjelasan itu, teringatlah Pangeran Muda pada kantong kecil yang berisi uang emas, hadiah-hadiah yang berupa senjata-senjata kecil, kotak lontar yang indah yang berisi syair- syair dan barang-barang kecil lain yang disayanginya. Di samping itu, Pangeran Muda sadar, bahwa si Gambir kuda kesayangannya adalah seekor kuda yang sangat tampan dan kuat. Dapat dimengerti pula kalau setiap orang ingin memilikinya, dan dapat dimengerti pula kalau Pamanda Rakean merasa cemas karena kuda itu. "Sebenarnya, saya dapat membawa kuda yang lain, Pamanda," ujar Pangeran Muda kepada Pamanda Rakean.

'Jangan khawatir. Pamanda kurang teliti pagi tadi. Dalam gelap tidak Pamanda lihat bahwa kudamu begitu indah. Tapi janganlah khawatir," sambungnya pula, kemudian ia mulai meloncat kembali ke atas punggung kudanya. Mereka pun mulai memacu kuda masing-masing dan melarikannya dengan kecepatan tinggi.

Setelah melalui beberapa padang terbuka yang ditumbuhi semak-semak dan setelah dangau- dangau petani tidak tampak lagi, rombongan pun masuklah ke daerah yang berhutan. Burung- burung beterbangan terkejut oleh suara kaki kuda, demikian pula kijang menghambur ketakutan, binatang-binatang liar lainnya menerpa menerobos semak-semak.

Suasana hutan selalu menggairahkan Pangeran Muda. Burung-burung yang berteriak atau kijang yang melesat melintasi jalan kecil di dalam hutan itu menyebabkan Pangeran Muda meraba perangkat panah yang terikat di belakang pelana kudanya. Demikianlah, mata Pangeran Muda nyalang mengawasi hutan-hutan kiri-kanan jalan, melihat binatang-binatang liar yang kebetulan sedang berada di dekat jalan itu.

Pada suatu tempat Pangeran Muda melihat suatu makhluk yang menyerupai monyet, tetapi badannya terlalu besar untuk seekor monyet. Makhluk itu hanya selintas saja tertangkap oleh pandangan matanya, tetapi cukup jelas bahwa makhluk itu menyerupai monyet. Karena penasaran, Pangeran Muda melambatkan lari kudanya, tetapi Mang Ogel yang berlari di belakangnya segera melecutnya dari belakang. Pangeran Muda mengerti bahwa perjalanan tidak boleh berlambat-lambat dengan alasan-alasan yang tidak penting seperti itu. "Pacu kudamu, Anom!" seru Mang Ogel. Ketika Pangeran Muda melecut kudanya dan melihat ke depan, tampak Pamanda Rakean pun memacu kudanya bagaikan terbang. Alangkah senangnya perasaan Pangeran Muda ketika mereka berlomba-lomba melecut kuda masing-masing.

Pada suatu ketika telinga Pangeran Muda mendengar desingan, seperti suara anak panah, tetapi hal itu tidak dipedulikannya benar. Kemudian, suara desingan itu beberapa kali didengarnya pula. Walaupun rasa penasaran hampir menyebabkannya menahan kendali, Mang Ogel yang melarikan kudanya tidak jauh di belakang terus-menerus membunyi-bunyikan pecut, hingga si Gambir yang ketakutan melonjak-lonjak mengejar kuda Pamanda Rakean.

Di suatu tempat di jalan itu, Pangeran Muda melihat rangka sebuah tandu. Melihat rangka tandu yang tampak belum lama ditinggalkan orang, timbullah berbagai pertanyaan dalam hati Pangeran Muda. Akan tetapi, pertanyaan-pertanyaan itu hanya selintas saja mengganggu pikirannya karena tidak lama kemudian, rombongan sudah keluar dari daerah hutan yang lebat dan memasuki padang bersemak-semak kembali. Dengan tidak disadari, hari sudah menuju senja. Oleh karena itu, kuda harus terus dipacu agar mereka tidak kema-laman di tengah-tengah perjalanan.

Makin lama, jalan makin lebar dan oleh karena itu, mereka dapat berjalan berdampingan. "Kita akan bermalam di kampung terdekat. Walaupun hari masih siang, kita tidak akan dapat

melanjutkan perjalanan, karena kalau memaksakan diri berarti kita akan kemalaman di hutan yang akan datang," demikian keterangan Pamanda Rakean.

"Kita harus cepat-cepat mencapai kampung itu, karena mereka akan segera menutup kandangjaga, segera setelah hari terlalu gelap bagi orang-orang kampung untuk dapat mengenali wajah kita," ujar Mang Ogel.

"Kita akan sampai dalam sekejap." Baru saja selesai berkata demikian, Pamanda Rakean menunjukkan tangannya ke depan dan di hadapan mereka tampaklah kampung itu, yang dari jauh tampak berupa dinding dari pagar yang sangat tinggi, terbuat dari kayu-kayu besar yang runcing di puncaknya. Di salah satu tempat di dinding itu, terbuka lawang kori dengan kandang jaga menjulang di atasnya.

Begitu mereka mendekati lawang kori, keluarlah beberapa orang bersenjata menyilangkan tombak mereka.

"Saya Rakean, dari Padepokan Tajimalela, lurah kalian kenal kepadaku," seru Pamanda Rakean seraya turun dari pelana kudanya. "Oh, ya, saya kenal kepada Juragan," kata kepala penjaga. "Silakan masuk," sambungnya.

Rombongan pun masuk, diantar oleh salah seorang penjaga, menuju pendapa kelurahan. Lurah yang kebetulan sedang ada di tempatnya datang mengelu-elukan rombongan.

'Juragan memotong jalan?" tanya Lurah keheranan. "Kami membawa Pangeran Anggadipati, Pangeran Muda harus segera tiba di Padepokan agar tidak ketinggalan belajar," kata Pamanda Rakean.

Lurah men mbah pada Pangeran Muda, kemudian berkata kembali dengan membelalakkan mata, "Tapi hutan itu sangat berbahaya, udakkah Juragan mendapat gangguan?"

"Mereka melepaskan anak-anak panah pada kami, tapi kuda kami cukup cepat larinya. Jalan memotong tidak dapat dihindarkan karena Pangeran Muda harus segera tiba di Padepokan."

"Syukurlah saat-saat yang berbahaya telah lewat dan rombongan tidak kurang suatu apa.

Sekarang, silakan bersantap dan beristirahat," kata lurah itu. Rombongan pun bergerak memasuki ruangan.

KEESOKAN harinya subuh-subuh, mereka berangkat lagi. Ketika mereka berhenti di sebuah kampung kecil, suatu peristiwa yang tidak disangka-sangka terjadi.

Kampung yang hanya terdiri dari beberapa rumah itu tampaknya kosong sewaktu mereka tiba.

Pintu-pintu dipalang. Pamanda Rakean menghentikan rombongan untuk memberi kesempatan pada kuda mereka untuk istirahat dan minum tertegun sejenak. Ia berjalan lagi ke arah kudanya dan sambil melihat berkeliling, memberi isyarat kepada Mang Ogel dan Pangeran Muda untuk melanjutkan perjalanan. Mereka menepuk kuda masing-masing, rombongan pun berjalan kembali. Akan tetapi, beberapa langkah sebelum mencapai lawang kori di sebelah barat, tiba-tiba daun pintu lawang kori itu ditutup oleh orang yang tidak kelihatan. Pamanda Rakean menahan kembali kudanya, lalu membalik, diikuti oleh kedua anggota rombongan yang lain. Mereka melecut kuda ke arah lawang kori tempat mereka masuk sebelumnya. Akan tetapi, ternyata lawang kori ini pun sudah tertutup sekarang. Mereka masuk perangkap!

Melihat gelagat demikian, Pamanda Rakean memberi isyarat agar semua berhenti dan turun dari kuda, kecuali Pangeran Muda. Mang Ogel dan Pamanda Rakean berdiri di tanah lapang kecil yang berada di depan rumah paling besar sambil mengawasi rumah-rumah yang ada di sekeliling mereka.

"Kami tahu kalian ada di balik pintu-pintu itu. Laksanakanlah maksud kalian agar kami dapat pergi dengan segera dari tempat ini!" seru Pamanda Rakean.

Seruan Pamanda Rakean berkumandang memantul ke tebing bukit-bukit yang ada di sekeliling kampung itu. Bertepatan dengan sunyinya kembali suasana, terbukalah pintu ru-

mah terbesar yang menghadap ke tanah lapang itu. Enam orang laki-laki berpakaian hitam- hitam, berselendang sarung biru dan bertutup kepala barangbangsmplak, turun. Firasat Pangeran Muda langsung berkata bahwa mereka bukanlah orang baik-baik.

Yang berjalan paling depan dan tampaknya menjadi pemimpin mereka, berbadan tinggi besar. Orang ini memperlihatkan bekas luka di pundak dekat leher dan di jidatnya. Rambutnya yang agak kemerah-merahan tidak disisir dan meliar saja di kuduknya. Yang lain tampak sekali gaya pakaian serta gerak-geriknya mencontoh sang pemimpin ini. Mereka semua bersenjata, diselipkan pada bagian depan ikat pinggang yang terbuat dari kulit binatang atau kain kasar yang lebar. Seorang di antara mereka membawa gada kecil terbuat dari perunggu yang diputar-putar sambil melangkah.

Begitu mereka berada beberapa langkah lagi di hadapan Pamanda Rakean dan Mang Ogel, sang pemimpin berkata sambil tersenyum simpul, "Menyesal sekali kami harus menghambat perjalanan Saudara-saudara. Kami tahu Saudara-saudara sangat tergesa-gesa, tetapi karena kami perlu untuk membeli barang-barang dari Saudara, terpaksa kami menghentikan perjalanan Saudara-saudara."

"Kami bukan pedagang," ujar Pamanda Rakean. "Tapi Saudara membawa begitu banyak barang," kata sang pemimpin sambil menunjuk ke arah kantong-kantong besar pada kuda Pangeran Muda dan kuda Mang Ogel, seraya tersenyum simpul.

"Itu perbekalan untuk kebutuhan kami sendiri," jawab Pamanda Rakean.

'Juragan, mujur benar, kami sudah lama tidak memiliki bekal lagi. Kami sudah hampir kelaparan," kata sang pemimpin. "Itu bukan makanan, bukan juga uang," kata Pamanda Rakean.

Sementara tukar-menukar kata ini dilakukan, kelima orang laki-laki lainnya mulai berjalan mengelilingi rombongan. Kecemasan mulai menggetarkan hati Pangeran Muda melihat gerak-gerik mereka yang culas itu.

"Kalau uang emas lebih baik lagi," kata sang pemimpin. "Jangan coba-coba mengganggu kami, atau kalian akan menyesali perbuatan kalian," kata Pamanda Rakean.

"ApaJuragan sangka jagabaya dari ibu kota akan sampai ke daerah ini?" tanya sang pemimpin sambil tetap tersenyum.

"Kami tidak memerlukan jagabaya yang menyusahkan kalian," kata Pamanda Rakean.

Mendengar perkataan Pamanda Rakean itu, tampak sang pemimpin dan kawan-kawan agak keheranan.

"Apakah Juragan menganggap diri Juragan sendiri dapat menyusahkan kami, heh?" tanya sang pemimpin mulai kesal. Kawan-kawannya yang lain mulai memperiihatkan sikap mengancam.

Sementara itu, dari lawang kori sebelah timur dan barat datang dua orang lain yang dalam pakaian dan gayanya jelas termasuk gerombolan yang sedang mengepung rombongan

Pangeran Muda.

"Saya peringatkan lagi agar Saudara-saudara tidak mengganggu kami. Biarkanlah kami meninggalkan tempat ini karena kalau kalian ganggu, kalian tidak akan mendapatkan keuntungan apa-apa," ujar Pamanda Rakean dengan tenang. Ketenangan Pamanda Rakean tidak membantu menenangkan jantung Pangeran Muda yang gedebak-gedebur.

"Kalau begitu, tinggalkanlah semua perbekalan Juragan, juga kuda yang ditunggangi anak itu.

Kami tidak akan mengganggu atau memperlambat perjalanan Juragan," kata sang pemimpin. Mendengar perkataan pemimpinnya, salah seorang anggota gerombolan itu berjalan ke arah kuda Pangeran Muda. Akan tetapi, Mang Ogel segera pula melangkah menghadangnya. Orang itu keheranan dan membelalakkan matanya. Mang Ogel berlagak tidak acuh. Orang itu meludah ke pasir, menunjukkan penghinaan. Tiba-tiba Mang Ogel bersenandung,

Seja nyaba ngalalana Ngilung lentur ngajajah Milangan kori

Belum selesai senandung Mang Ogel, tiba-tiba anggota gerombolan yang ada di depannya melayangkan tinjunya ke arah muka Mang Ogel. Seperti menangkap sebuah benda dari udara, Mang Ogel membukakan jari-jari tangannya yang besar-besar seperti jari-jari kepiting itu dan dalam sekejap, seluruh tinju orang itu sudah lenyap dalam kepalannya. Mang Ogel memandang wajah orang itu yang mulai berwarna merah, kemudian pucat memperlihatkan kemarahan dan kesakitan sekaligus. Tiba-tiba orang itu menjerit kesakitan. Kawan-kawannya terkejut dan melihat ke arahnya. "Ogel, lepaskan," ujar Pamanda Rakean. "Saya cuma memegang, Juragan. Orang itu ternyata tidak dapat mengendalikan tangannya sendiri," ujar Mang Ogel sambil melepaskan tangan yang ada dalam kepalannya. Begitu tangan itu dilepaskan dari dalam cengkeraman jari- jarinya, jatuhlah orang itu terduduk, lalu dengan mengerang-ngerang memegang tangan kanannya yang jari-jarinya sudah tidak terletak pada tempatnya semula.

Melihat gelagat itu, mendenguslah pemimpin gerombolan itu. 'Jahanam! Ajar dia!"

Dua orang anggota gerombolan yang lain melangkah ke arah Mang Ogel yang bersikap tak acuh. Dengan serentak kedua orang itu menyerbu, dari kanan dan kiri panakawan itu. Mang Ogel cuma mengulurkan kedua tangan dan membukakan jari-jarinya yang besar. Dua buah sepitan kepiting yang besar itu menangkap dua pergelangan penyerang, lalu menjepitnya.

Kedua orang itu mula-mula menggeliat-geliat, kemudian dari kening mereka keluarlah titik-titik keringat dingin. Kejadian itu disusul dengan erangan dan jeritan.

'Jangan, Ogel!" seru Pamanda Rakean. Lalu, kepada pimpinan gerombolan itu Pamanda Rakean berkata, "Jangan ganggu kami, biarlah kami pergi."

Akan tetapi, pimpinan gerombolan itu dengan marah meludah, lalu memberi isyarat agar kawan-kawannya yang lain menyerang. Dia sendiri melangkah hendak memukul Pamanda Rakean, tetapi entah apa yang terjadi, dengan suatu gerakan kecil dari Pamanda Rakean ke arah ketiak orang itu, membekulah tampaknya tangan orang itu, teracung di udara. Sementara wajah orang itu memperlihatkan rasa terkejut dan kesakitan bercampur dengan kemarahan yang terpendam.

Selagi Pangeran Muda memerhatikan kejadian itu, tidak disangka-sangka seorang di antara gerombolan itu menolak-kannya dari atas punggung kuda. Pangeran Muda terjatuh dan kendali kuda ditangkap oleh orang yang mendorongnya itu. Sekejap Pamanda Rakean sudah berada di depan orang itu, lalu memukul pundaknya. Orang itu terhenyak, kemudian

seperti sebuah karung yang kurang isi, jatuh meluncur. Dengan jatuhnya orang itu dan dua orang yang dipegang oleh Mang Ogel, tinggal tiga orang lagi di antara anggota gerombolan itu yang selamat. Mereka mula-mula memandang kejadian-kejadian itu dengan keheranan, kemudian ketakutan, akhirnya kaki mereka membawa mereka lari ke segala arah.

Akan tetapi, dari rumah-rumah keluarlah beberapa orang laki-laki dengan senjata mereka masing-masing, dari palang-palang pintu sampai golok-golok. Melihat itu, gemetar dan pucatlah mereka, lalu mengacungkan tangan tanda menyerah, bahkan ada yang duduk menyembah- nyembah.

'Jangan disiksa!" seru Pamanda Rakean kepada rakyat yang keluar dari rumah mereka masing- masing dengan berbagai jenis senjata itu.

"Tapi mereka ini perampok, Juragan," kata salah seorang rakyat yang bertindak sebagai pemimpin.

"Bunuh saja. Mereka menempeleng dan menyepak kepala kampung yang sudah tua! Bunuh!" "Boleh saja, tetapi kalian harus bertanggungjawab pada Kerajaan," ujar Pamanda Rakean.

Mendengar perkataan itu, rakyat penduduk kampung itu hening. Sementara itu, dari berbagai arah bermunculanlah anak-anak, kemudian diikuti oleh perempuan dan orang-orang tua. Semuanya hening dan memerhatikan gerombolan yang sudah menyerah itu.

"Saudara-saudara," seru Pamanda Rakean, "orang-orang ini memang bukan orang-orang baik. Mereka bermaksud jahat kepada kami dan menurut pendengaran saya, juga pernah berbuat jahat kepada kalian."

"Mereka merebut ayam-ayam kami!" "Mereka memeras kami!"

"Kepala kampung yang tua itu disepaknya!"

"Kami dipaksa untuk tinggal di rumah ketika mereka hendak merampok Juragan!" demikian rakyat berseru ingar-bingar.

"Baiklah!" seru Pamanda Rakean. "Orang-orang ini perlu dihukum!"

"Gantung! Bunuh! Lemparkan ke dalam jurang!" rakyat berseru-seru sambil mengacungkan senjata masing-masing. Akan tetapi, mereka tidak berani mengganggu anggota-anggota gerombolan yang duduk di dekat kaki Pamanda Rakean dan Mang Ogel.

"Tidak, yang berhak menetapkan hukuman bukan kalian, tapi wakil kerajaan di Kutabarang.

Sekarang sediakan sebuah pedati dan tambang yang kuat, kita angkut orang-orang ini ke asrama jagabaya terdekat," seru Pamanda Rakean.

Rupanya rakyat mengerti apa yang dimaksud oleh Pamanda Rakean karena tak lama kemudian sebuah pedati yang ditarik oleh seekor kerbau sudah tersedia, demikian juga tambang-tambang besar.

"Ikat mereka," kata Pamanda Rakean. Rakyat pun mulai mengikat orang-orang yang tak luput dari sepakan dan tempelengan mereka itu.

"Kau potong ayamku berapa ekor? Tiga ekor?" sambil berkata demikian, dipukulnya muka orang-orang itu oleh rakyat yang kehilangan ayamnya itu. Yang lain dengan senang membantu pula memukuli orang-orang itu, hingga Mang Ogel dan Pamanda Rakean terpaksa mencegahnya.

Setelah ketujuh orang itu diikat dan dinaikkan ke atas pedati yang juga mengangkut lima orang rakyat dengan seorang kusir, berangkatlah pula rombongan Pangeran Muda diikuti oleh pedati itu. Tidak lama kemudian, tibalah mereka di asrama jagabaya terdekat. Di sana Pamanda Rakean dengan bantuan rakyat menerangkan segala hal seperlunya kepada kepala jagabaya itu.

"Juragan, perampok-perampok ini justru sedang kami cari-cari. Sudah banyak kampung diganggunya. Terakhir korban jatuh. Suatu rombongan dengan sebuah tandu besar mereka rampok di Hutan Sancang. Barang-barang mereka rampas, tiga orang luka, dan seorang terbunuh," kata kepala jagabaya. "Mereka mencoba memanah kami ketika kami melewati Hutan Sancang, tetapi semua anak panah meleset. Sunan Ambu masih melindungi kami," jawab Pamanda Rakean.

Mendengar penjelasan Pamanda Rakean itu, teringatlah Pangeran Muda pada saat-saat mereka memacu kuda di hutan lebat. Pangeran Muda mendengar desing anak panah. Di samping itu dilihatnya pula makhluk-makhluk yang semula disangkanya sebangsa monyet. Sekarang jelaslah bagi Pangeran Muda bahwa makhluk-makhluk itu tidaklah lain kecuali orang-orang jahat ini.

Setelah penjelasan diberikan dan orang-orang jahat itu terjamin dalam penguasaan jagabaya, pamitanlah Pamanda Rakean. Sebelum mereka melanjutkan perjalanan, rakyat yang ikut rombongan dengan naik pedati mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Melihat kegembiraan rakyat dan rasa terima kasih mereka yang tulus, terharulah hati Pangeran Muda. Disadarinya bahwa kegembiraan tidak hanya ada dalam perlombaan memacu kuda, memanah, atau berburu binatang, tetapi dalam perbuatan yang memberikan kegembiraan kepada orang lain, terutama kepada rakyat yang membutuhkan. Dalam merenungkan hal itu, teringatlah Pangeran Muda kepada Ayahanda yang sebagai kepala wilayah kerajaan yang luas tak bosan-bosannya berbuat segala sesuatu bagi kesejahteraan anak negeri yang menjadi rakyat beliau. Mengertilah sekarang Pangeran Muda bahwa ketekunan dan kerajinan Ayahanda tidaklah hanya karena beliau takut pada sang Prabu yang menjadi majikan beliau, tetapi karena dengan bekerja bagi anak negeri, ada hadiah yang tersembunyi, yaitu kegembiraan karena telah dapat menolong rakyat itu.

"Anom, mari, kita sudah terlambat," tiba-tiba Mang Ogel berkata sambil menyentuh kuda Pangeran Muda. Rombongan pun berangkatlah, diiringkan oleh ucapan selamat jalan dari rakyat dan para jagabaya.

KUDA Pamanda Rakean berjalan paling depan, di tengah-tengah berjalanlah Pangeran Muda, diiringkan Mang Ogel. Mereka melewati padang-padang yang terbuka, bekas-bekas huma yang ditinggalkan untuk sementara oleh penduduk. Suasana hening, hanya kadang-kadang saja sayup- sayup terdengar bunyi burung-burung dari hutan sebelah kiri kanan jalan yang melintas di tengah padang itu. Sementara itu, bunyi ladam kuda berdepuk-depuk di atas tanah yang kadang-kadang berbatu-batu.

Keheningan alam dan depak-depuk suara ladam kuda yang tunggal nada mendorong Pangeran Muda untuk merenungkan apa-apa yang baru saja terjadi. Tujuh orang perampok dengan mudah dilumpuhkan kedua kawan seperjalanannya itu. Hati Pangeran Muda penuh dengan kekaguman dan penasaran. Ingin sekali Pangeran Muda mendapat keterangan-keterangan, bagaimana kemampuan kedua orang tua yang mengawalnya didapat.

Kebetulan, ketika jalan mereka menjadi lebar, Mang Ogel mempercepat kudanya, hingga mereka berdampingan.

"Mang Ogel, apakah setiap anggota puragabaya ilmu berkelahinya setinggi ilmu Pamanda Rakean?"

"Wah, Mang Ogel juga bukan puragabaya tapi dapat tiga. Pamanda Rakean cuma dapat satu," jawab Mang Ogel sambil tersenyum lebar.

"Mang Ogel mempergunakan seluruh jarinya, sampai berkeringat pula. Pamanda Rakean hanya mempergunakan ibu jarinya dan kepala perampok itu tidak bisa bergerak lagi," ujar Pangeran Muda.

"Hahahahaha, pintar sekali Anom membandingkan orang. Baiklah, Mang Ogel memang kalah.

Tapi apa yang kau tanyakan tadi?"

"Apakah setiap puragabaya dapat berkelahi seperti Pamanda Rakean?"

"Banyak yang lebih pandai berkelahi daripada Pamanda Rakean. Pangeran Rangga Wesi, Rangga Malela, Geger Malela, dan beberapa orang lagi yang sangat tinggi kepandaiannya. Akan tetapi, Pamanda Rakcanlah di antaranya yang pandai mengajar, hingga Gusti Resi menahan Pamanda Rakean di Padepokan. Yang pandai-pandai lainnya sudah berada di Pakuan Pajajaran," kala Mang Ogel, penjelasannya agak melantur.

"Saya sungguh-sungguh takut tadi, Mang," sambung Pangeran Muda.

"Jangan takut, Pamanda Rakean tidak akan cukup kenyang menghadapi orang-orang itu. Mang Ogel sendiri masih bisa menelan empat lima orang lagi kalau masih ada sisa, hehehe."

"Mang Ogel, apakah Mang Ogel suka berkelahi?" tanya Pangeran Muda. "Hah?" tanya Mang Ogel seperti keheranan, tetapi kemudian ia tersenyum; lalu berkata pula, "Tak ada orang yang suka berkelahi, Anom, kecuali orang-orang bodoh. Berkelahi itu melelahkan kalau kita sedang mujur. Kalau kita sedang nahas, benjol-benjol dan babak belurlah, hehehe "Jadi, Mang Ogel tidak suka berkelahi?"

"Wah, kami diperintah menghindarkan setiap perkelahian. Bahkan setiap habis ada perkelahian di mana kami terlibat, kami tidak luput dari pertanyaan-pertanyaan. Banyak calon puragabaya yang lepas dari Padepokan karena berkelahi tanpa alasan yang dapat diterima, hehehe."

Mendengar penjelasan tadi, bingunglah Pangeran Muda. Akan tetapi, tidak disambungnya pertanyaan-pertanyaannya. Terkenang kembali olehnya, bagaimana Pamanda Rakean berusaha menghindarkan perkelahian dengan perampok-perampok itu. Sungguh aneh bagi Pangeran Muda, orang yang setangkas dan sepandai Pamanda Rakean berlaku seperti pengecut ketika perampok- perampok itu memancing-mancing perkelahian. Seandainya, Pangeran Muda mendapat hinaan seperti itu, ia akan mengamuk. Tentu saja kalau Pangeran Muda sudah berilmu seperti Pamanda Rakean.

Bagaimanapun juga, rasa penasaran Pangeran Muda belum lagi terjawab. Sementara itu, perjalanan dilanjutkan dengan kuda-kuda dilarikan dalam kecepatan biasa.

KETIKA padang-padang habis, rombongan pun tibalah di tepi hutan lebat. Pamanda Rakean menghentikan kudanya, lalu berkata, "Anom, kita akan melalui jalan-jalan yang berbahaya, banyak jurang yang curam, peganglah kendali teguh-teguh."

"Baik, Pamanda," sahut Pangeran Muda. Perjalanan pun dilanjutkan kembali.

Apa yang dikatakan oleh Pamanda Rakean segera terbukti. Rombongan ternyata harus berjalan di punggung sebuah bukit yang sempit, kanan kirinya diapit oleh jurang-jurang yang dasarnya tak tampak karena lebatnya hutan: Karena jalan sangat berbahaya, mereka turun dari kuda. Oleh karena itu, perjalanan jadi lambat sekali.

"Ogel, kalau tidak ada halangan, kita dapat melewati Hutan Kiara sebelum senja. Kalau terlambat, kita harus bermalam di Padang Saliara."

"Kita dapat memberikan penjelasan kepada Gusti Resi," ujar Mang Ogel.

"Soalnya bukan bagaimana kita akan memberikan penjelasan, tetapi Anom ini akan terlalu banyak ketinggalan dari calon-calon lain," jawab Pamanda Rakean sambil terus meraba-raba tanah dan kerikil-kerikil dengan kakinya yang ber-sandalkan kulit itu.

Tiba-tiba Pangeran Muda mendengar teriakan Mang Ogel dan suara benda berat yang jatuh. Ternyata kuda Mang Ogel terpeleset dan berguling di tebing yang landai. Kuda itu berguling dua kali, kemudian berdiri, tetapi karena tebing itu landai, kuda itu tidak dapat menahan dirinya dan lari tersaruk-saruk ke dalam hutan yang ada di dasar jurang itu. Sementara Mang Ogel bangkit, lalu membersihkan pakaiannya yang penuh debu dan tanah.

"Sambal!" kutuknya sambil memandang ke arah kudanya yang berada jauh di bawah, di kaki bukit berhutan itu.

"Untung jurangnya tidak curam. Ogel, mestinya kau malu oleh Anom yang walaupun masih muda, lebih berhati-hati."

"Mestinya kaki kuda itu bermata, hehehe," sambil berkata demikian, Mang Ogel mulai menuruni tebing bukit itu. Akan tetapi, ternyata usaha itu sangat berat baginya. Berulang-ulang Mang Ogel terpeleset dan jatuh karena ternyata tebing bukit itu tc rdiri dari tanah kering yang berbatu-batu. Melihat itu, Pamanda Rakean berkata, "Anom, peganglah kendali kuda Pamanda."

"Baik, Pamanda," jawab Pangeran Muda. Pamanda Rakean menuruni bukit itu. Alangkah herannya Pangeran Muda ketika melihat, betapa mudahnya Pamanda Rakean berjalan di atas tanah yang gembur berbatu-batu itu. Berbeda sekali dengan apa yang diperlihatkan Mang Ogel.

Dalam waktu singkat, Pamanda Rakean sudah berada di pinggir hutan di dasar jurang, sementara Mang Ogel masih berusaha turun sambil memegang rumpun-rumpun semak kecil yang ada di dekatnya sebagai penahan agar ia tidak jatuh. Akan tetapi, ternyata kesukaran yang paling besar bukanlah usaha menuruni jurang itu. Usaha menuntun kuda kembali ke puncak bukit itu hampir tidak mungkin dilakukan. Setiap Pamanda Rakean dapat menarik kuda itu ke suatu tempat yang lebih tinggi, longsorlah kerikil dan tanah yang dipijak. Anehnya, Pamanda Rakean sendiri tidak pernah jatuh terseret. Ia malah menancap dengan teguhnya. Kakinya terkubur dalam tanah gembur itu.

Jangankan kuda itu yang badannya sangat berat, Mang Ogel sendiri, berulang-ulang terguling ke bawah, ke arah dasar jurang itu. Entah berapa kali dan entah berapa lama usaha kedua orang itu gagal. Akhirnya Pamanda Rakean mendaki, melompat-lompat setengah berlari, dan tiba kembali di puncak bukit yang memanjang itu. Setiba di puncak bukit dan sambil berdiri di samping Pangeran Muda, orang tua itu lalu termenung Kemudian, berjalanlah ia ke arah sebuah batu besar, lalu melonggarkan dan mengurai tali yang tergantung pada pinggangnya. Tali itu diikatkan pada batu besar itu, kemudian ujungnya yang lain dilemparkan ke arah Mang Ogel yang kemudian mengikatkan ke leher kudanya. Setelah usaha itu selesai, berserulah Pamanda Rakean, "Ogel, nanti kudamu tercekik. Ikatkan tali itu ke dadanya!"

Tanpa berkata sepatah pun Mang Ogel melonggarkan kembali tali itu dari leher kudanya, kemudian melilitkannya ke dada binatang itu.

"Jangan sehelai, belitkan dua atau tiga!" seru Pamanda Rakean pula. Mang Ogel menuruti perintah itu. Setelah selesai, mulailah Pamanda Rakean menarik tali itu. Sementara tangannya menarik, kedua kaki orang tua itu terpancang mantap pada tanah. Perlahan-lahan tali itu ditarik, sementara Mang Ogel berseru-seru memberi semangat pada kudanya yang berusaha mendaki mengikuti tarikan tali dari atas.

Dengan susah payah dan setelah Pamanda Rakean, Mang Ogel, dan kudanya itu mandi keringat, barulah kuda itu berdiri kembali di atas puncak bukit yang memanjang itu. Kemudian, Pamanda Rakean memandang ke arah bayang-bayangnya dan berkata kepada Mang Ogel, "Ogel, kita tidak dapat mencapai tujuan pada waktu yang telah ditetapkan. Kita harus menginap di tengah padang."

"Wah, mungkin ikat pinggang kita perlu dieratkan. Persediaan makanan kita hanya cukup untuk waktu yang pendek," ujar Mang Ogel.

"Kalau begitu, kita harus tidur di dalam rimba," jawab Pamanda Rakean.

"Saya ragu-ragu, apakah para penghuni rimba akan mengizinkan," sambung Mang Ogel. "Kalau begitu, kita harus memacu kuda kita secepat-cepatnya."

Pangeran Muda yang mendengarkan percakapan kedua orang itu dengan penuh perhatian terdorong untuk bertanya, "Tidakkah lebih baik kalau kita tidur di padang?"

"Kita tidak akan dapat tidur, Anom. Kuda-kuda kita akan diserang harimau atau serigala. Kita dapat memasang api besar-besar, tetapi itu mungkin menyebabkan kebakaran atau menarik perhatian orang-orang jahat yang kerjanya memang mengambil keuntungan dari orang-orang yang kemalaman," jawab Pamanda Rakean.

"Apakah kita akan tidur di dalam rimba?" tanya Pangeran Muda pula.

"Itu sama sekali tidak mungkin, Anom. Malam hari rimba menjadi dunia lain dan isi Kahiangan membolehkan para siluman menguasainya selama matahari tidak hadir. Jadi, kita benar-benar harus memacu kuda kita." Sambil berkata demikian, Pamanda Rakean membelai surai kudanya, menepuk-nepuknya, lalu memberi isyarat bahwa saatnya sudah tiba bagi mereka untuk melanjutkan perjalanan.

Mula-mula kuda dilarikan biasa saja, dengan susunan iringan biasa pula, yaitu Pamanda Rakean paling depan diikuti Pangeran Muda, terakhir Mang Ogel. Akan tetapi, makin lama Pamanda Rakean makin cepat melarikan kudanya, hingga kedua anggota rombongan lain terpaksa pula melecut kuda masing-masing. Maka rombongan pun menderulah, lebih menyerupai orang-orang yang sedang berlomba daripada orang yang sedang melakukan perjalanan.

Padang yang menjadi buah percakapan kedua orang itu pun tak lama kemudian tampaklah. Sesayup-sayup mata memandang ke segala arah, yang tampak hanyalah padang belaka. Lalang tumbuh bagai lautan, sedangkan rumpun-rumpun semak dan pohon-pohon kecil menghijau di sana-sini seperti pulau-pulau; padang-padang lalang yang muda dan kekeringan, warnanya berganti-ganti dengan padang rumput yang subur menghidupi beribu-ribu margasatwa liar.

Berulang-ulang Pangeran Muda melihat kelompok besar kijang, banteng, kambing, kerbau hutan, dan kancil. Beberapa kali tampak pula binatang buas, babi-babi hutan yang dengan pongahnya tidak melarikan diri, tetapi memandang rombongan dengan siap siaga. Alangkah gembiranya hati Pangeran Muda dapat melalui padang yang luas itu. Dinikmatinya pemandangan yang hebat dan kaya itu.

Mang Ogel yang melihat Pangeran Muda berpaling ke kanan dan ke kiri lalu berseru, "Inilah surga para pemburu, Anom. Inilah Padang Si Awat-awat, tempat para guriang berlatih mempergunakan panah-panah api! Lihat, burung alap-alap sedang mengintai tikus yang berjuta- juta banyaknya di tepi rawa itu. Di sebelah selatan adalah Rimba Larangan, hanya para siluman dan para gurianglah yang mengetahui, apa yang ada di sana."

Sementara itu, bertiuplah angin. Padang-padang rumput dan padang-padang lalang itu pun bergelombanglah, sedangkan suara daun-daunan berdesau-desau tertiup angin.

"Kita sedang berada di atas perahu dan kerbau-kerbau liar itu adalah ikan hiu, hehehe!" seru Mang Ogel. Sementara itu, kuda mereka melonjak-lonjak ke depan; surainya berkibar-kibar menyibak-nyibak wajah penunggangnya masing-masing.

Entah berapa lama mereka melarikan kuda demikian, kemudian Pamanda Rakean melambatkan jalan kudanya.

"Kita beri minum kuda dulu!" serunya sambil mengacungkan tangan. Tak lama kemudian, mereka pun turunlah di dekat sebuah kelompok pohon-pohonan yang hijau, pertanda tanah di sana subur berair.

Setelah beberapa saat mereka menuntun kuda masing-masing ke arah sumber air dan berjalan di bawah kelompok pohon-pohonan yang agak besar, tiba-tiba Pamanda Rakean berhenti.

Pamanda Rakean berdiri, napasnya berdengus-dengus, lalu segera berbalik.

"Ogel, ada ular besar!" katanya. "Saya tidak membauinya karena kita datang dari arah angin.

Lindungi Anom."

Mereka melangkah, tapi baru beberapa tindak, terasa semak-semak di sekeliling mereka bergerak dan tiba-tiba suatu bunyi terdengar. Ketika Pangeran Muda berpaling, tampak seekor ular besar membelit Pamanda Rakean yang sedang berusaha melepaskan diri dengan pukulan- pukulan tangan dan sepakan kaki. Akan tetapi, ular itu begitu besar, hingga akhirnya Pamanda Rakean jatuh berguling-guling di tanah. Pangeran Muda berteriak karena terkejut. Kemudian, dalam sekejap Mang Ogel melompat dan kedua tangannya yang besar-besar seperti sepitan kepiting itu sudah menangkap leher ular besar itu, kemudian dalam sekejap mata pula menatap ke arah kepala makhluk yang menyeramkan itu. Ditekannya sepitan jari-jarinya yang besar itu.

Ular itu sekarang berusaha melarikan diri. Tubuhnya menggeliat-geliat, ekornya memukul- mukul ke sana-kemari.

Pamanda Rakean sudah dilupakannya, dan sekarang berdiri sambil mengangkat tangan kanannya.

"Hih!" seru Pamanda Rakean sambil memukul ke arah kepala ular itu. Remuklah kepala ular besar itu, hilang bentuk dan kehidupannya. Dalam sekejap, berhenti pulalah gerakan-gerakan tubuhnya dan Mang Ogel pun melepaskan kedua tangannya yang besar-besar itu. Ternyata leher ular itu sudah menjadi kecil dan hampir putus oleh cekikannya itu.

"Kita persembahkan sukma makhluk ini kepada para gudang penghuni padang ini," kata Pamanda Rakean.

"Nyakseni," ujar Mang Ogel sambil menyapu keringat yang membasahi dahinya. Maka, pergilah mereka dan berhenti di mata air, tempat kuda-kuda melepaskan dahaganya.

Sementara kuda-kuda itu minum sepuas-puasnya, sambil mengisi tempat air yang terbuat dari kulit buah kukuk besar, Mang Ogel berkata, "Wah, sungguh-sungguh langkah kiri perjalanan kita ini, Juragan Rakean. Kita berangkat bukan untuk mengantarkan pengantin, tapi malah mengantarkan jenazah Raden Jamu yang baik itu. Kemudian, pelana kuda saya yang masih baru dicuri orang di warung itu. Dan peram-pok-perampok yang tak tahu diri menyangka kita rombongan saudagar kaya. Sekarang ular lapar itu hampir saja mendapat makan siang seorang puragabaya, hehehe

"Seandainya kau Si Rawing, kau akan mengatakan perjalanan ini langkah kanan, Ogel," sahut Paman Rakean.

"Apa sebabnya, Juragan?"

"Si Rawing sangat senang makan daging ular," jawab Paman Rakean. "Wah, kalaupun saya misalnya begitu tak tahu diri hingga mau makan daging ular, saya tidak akan gembira. Habis ular yang badannya hampir sebesar pohon kelapa itu tidak mungkin dapat saya habiskan dan saya tidak sudi membawa-bawanya ke Padepokan Tajimalela, seperti tukang ngamen yang tersesat hehehe,"

Sementara kedua orang tua itu bercakap-cakap, Pangeran Muda termenung, membayangkan kembali pengalaman yang baru saja dilaluinya. Terbayang oleh Pangeran Muda bagaimana Pamanda Rakean menghindarkan serangan ular besar itu dengan pukulan-pukulan dan sepakan- sepakan yang bertubi-tubi dan dalam kecepatan yang luar biasa, hingga ternyata ular itu rusak badannya. Meskipun Mang Ogel tidak datang menolong, ular itu tidak akan dapat berbuat banyak. Walaupun Pamanda Rakean terjatuh disebabkan kakinya memijak tubuh ular yang bergerak-gerak, ular itu sebenarnya sudah habis daya serang dan kebuasannya.

Dari pengalaman-pengalaman yang telah lalu, makin kagum juga Pangeran Muda kepada kedua orang tua itu, terutama kepada Pamanda Rakean sebagai puragabaya. Ketika mereka sudah melanjutkan perjalanan kembali, bertanyalah Pangeran Muda kepada Mang Ogel, "Mang Ogel, sebelum ular itu tampak, Pamanda Rakean sudah tahu bahwa ia ada di sana. Bagaimana Pamanda Rakean bisa tahu?"

Mendengar pertanyaan itu, tertawalah Mang Ogel terkekeh-kekeh. Karena Pangeran Muda memandangnya dengan wajah yang sungguh-sungguh dan memperlihatkan keingintahuan yang keras, Mang Ogel berhenti tertawa dan menjelaskan, "Anom, Pamanda Rakean-mu itu seorang puragabaya. Itu berarti bahwa hatinya adalah hati seorang pendeta, sedangkan tubuhnya adalah tubuh seekor binatang buas."

"Saya tidak mengerti Mang Ogel," ujar Pangeran Muda.

"Begini, Anom. Ketika Pamanda Rakean berumur sepuluh tahun, Eyangmu Resi Tajimalela mendidiknya bersama anak-anak lain sebayanya. Hati Pamanda Rakean dihaluskan dengan ilmu- ilmu kebatinan, ilmu-ilmu agama suci, sedangkan tubuh Pamanda Rakean digembleng menjadi tubuh seekor binatang buas. Mata Pamanda Rakean diberi obat, hingga dapat melihat dengan terang betapapun gelapnya malam. Hidung Paman Rakean diberi obat pula, hingga seperti seekor kijang, ia dapat membaui manusia atau binatang dari jarak yang sangat jauh, kecuali kalau Pamanda Rakean tidak menentang arah angin, seperti waktu kita menuju mata air yang ada ularnya itu. Bahkan perasaan telapak tangan, telapak kaki, dan seluruh kulit Pamanda Rakean dilatih begitu rupa hingga semuanya seolah-olah memiliki pancaindra tambahan. Sebuah bagian tubuh Pamanda Rakean begitu halus sarafnya, hingga tapak kakinya, misalnya, dapat menghitung berapa banyak kerikil yang diinjaknya, demikian juga kulit punggungnya akan tahu berapa buah pisau yang tertuju kepadanya."

Mendengar penjelasan itu, mata Pangeran Muda terbuka lebar-lebar penuh keheranan dan keraguan. Apakah Mang Ogel bersungguh-sungguh atau hanya berkelakar saja karena bersenda gurau adalah sifatnya? Demikian pertanyaan Pangeran Muda dalam hatinya.

Rupanya Mang Ogel sadar akan apa yang terkandung dalam hati Pangeran Muda, ia pun berkata pula, "Kau sangka Mang Ogel membual, Anom? Mari kita buktikan." Sambil berkata demikian, Mang Ogel mencabut sebatang pohon kecil yang besarnya kira-kira sebesar lengan Pangeran Muda. Kemudian, seperti memotong sebatang lidi, jari-jarinya yang besar mulai mematah-matahkan cabang-cabang pohon kecil itu.

Dalam sekejap, pohon itu sudah berubah menjadi sebuah tongkat atau sebuah tombak yang tidak berparuh.

"Lihat," kata Mang Ogel sambil memegang tongkat itu seperti memegang sebuah tombak dan mengarahkannya ke punggung Pamanda Rakean yang melarikan kudanya tidak jauh di hadapan mereka. "Lihat, akan saya tombak."

Meluncurlah tongkat itu dengan cepat menuju punggung Pamanda Rakean. Tapi, dengan sekilat ternyata Pamanda Rakean membalikkan badannya sementara tangan kanan yang tidak memegang kendali dengan sigap menangkap tongkat itu di tengah-tengah.

"Ogel, apa kau sudah gila?" kata Paman Rakean sambil melambatkan lari kudanya.

"Tapi anak muda ini tidak percaya Juragan seorang puragabaya," sahut Mang Ogel berbohong. "Kalau kau lakukan itu sekali lagi, kupindahkan mata kirimu ke sebelah kanan, mata kananmu ke sebelah kiri!" hardik Pamanda Rakean sambil memecut kudanya. Sementara itu Pangeran Muda terbelalak saja melihat segala kejadian itu.

KETIKA matahari tergelincir ke barat dan hampir menyentuh punggung gunung-gunung yang rendah, mereka masih berada di tengah padang yang luas itu. Di hadapan mereka hutan rimba yang lebat sekali membentang hijau tua, mendinding seperti sebuah benteng yang tak mungkin ditembus. Di atas mereka awan berarak-arak; sebagian berwarna putih, sebagian lagi berwarna emas muda tersepuh oleh sinar matahari yang mulai menjadi tua.

Pada suatu saat berhentilah Pamanda Rakean yang berjalan paling muka. Ia memandang berkeliling, lalu berpaling dar berkata kepada Mang Ogel, "Kita tidur di padang, Ogel. Kuda-kuda terpaksa kita lindungi dengan pagar dan api. Siap-siaplah kau dengan tanganmu yang bengkak itu," kata Pamanda Rakean.

Mendengar ejekan itu, Mang Ogel tersenyum sambil mengerling pada Pangeran Muda serta memperiihatkan kedua telapak dan jari-jari tangannya yang besarnya luar biasa hingga tidak wajar kelihatannya.

Setelah beberapa lama melarikan kuda masing-masing, berhentilah mereka di atas tanah yang agak tinggi. Mereka segera turun dari kuda masing-masing. Pangeran Muda melepaskan kantong- kantong besar yang memberati punggung kudanya, demikian juga Mang Ogel dan Pamanda Rakean. Setelah kuda-kuda dilepas dan dibiarkan makan rumput di tempat itu, pergilah Mang Ogel dan Pamanda Rakean ke arah padang yang ditumbuhi semak-semak. Di sana mereka mengumpulkan batang-batang yang dipatahkan dari pohon-pohonan yang agak besar, kemudian dengan mempergunakan golok atau tangannya Mang Ogel mengubah batang-batang dan cabang- cabang pohon itu menjadi tonggak-tonggak yang runcing kedua ujungnya. Tonggak-tonggak itu kemudian ditancapkan di sekeliling tanah yang agak tinggi itu. Terbentuklah pagar yang melingkar dengan ujung atasnya tajam-tajam seperti mata tombak. Akan tetapi, pagar yang terdiri dari tonggak-longgak yang tinggi itu kemudian dikelilingi lagi oleh pagar-pagar yang lebih rendah, yang terbuat dari batang-batang bambu kecil yang diruncingkan atasnya. Selanjutnya, lapisan pagar lain dipasang pula, yang lebih rendah dan yang atas-atasnya juga diruncingkan. Di lapisan paling luar Mang Ogel menyebarkan batang-batang pohon-pohonan yang berduri. Sementara itu, Pamanda Rakean mengumpulkan kayu-kayu dan daun-daunan kering yang dibawa ke dalam daerah yang sekarang terpagar. Sementara mereka bekerja, matahari pun tenggelamlah, tinggal cahayanya yang penghabisan memerahkan langit.

Kuda-kuda dibawa ke tengah-tengah tanah yang dikelilingi pagar, lalu ditambat pada tonggak- tonggak besar yang sengaja dipasang. Pangeran Muda tidak mengerti, apa alasannya hingga kuda-kuda harus ditambat, setelah bidang tanah yang sempit itu dipagar, tetapi hal itu tidak ditanyakan kepada Mang Ogel yang masih sibuk bekerja. Setelah kuda-kuda selesai ditambat, Mang Ogel menyiapkan batang-batang kayu kering dengan rumput-rumput yang juga kering yang akan dijadikannya sebagai bahan pembuat api. Lalu ketiga anggota rombongan itu pun mulailah duduk-duduk sambil membuka perbekalan mereka.

Api dinyalakan dari kayu-kayu kering dan rumput-rumput itu, dendeng-dendeng perbekalan dibakar, kukuk tempat air dikelilingkan. Setelah acara makan sore selesai, berkatalah Pamanda Rakean, "Anom, kau sungguh-sungguh menjadi pengembara kali ini karena kau tidak akan dapat mandi."

"Tidak apa, Pamanda," ujar Pangeran Muda.

Mereka pun mulai berbenah untuk dapat istirahat dengan senang malam itu. Mereka berbaring di tempat terpisah-pisah dekat pagar tonggak yang runcing-runcing. Antara mereka dengan tonggak-tonggak runcing dinyalakanlah api unggun yang apinya diatur begitu rupa, tidak terlalu kecil, tetapi juga tidak terlalu besar hingga dapat menghabiskan persediaan kayu-kayuan sebelum malam berakhir. Di tempat yang paling dalam, yaitu di pusat lingkaran itu ditambatkanlah kuda- kuda. Hal itu agak mengherankan Pangeran Muda yang kemudian berbisik pada Mang Ogel, "Mang Ogel, mengapa kuda-kuda itu disimpan di tengah-tengah sedang manusia lebih pinggir?"

"Kalau kau takut kau dapat tidur dengan kuda-kuda itu, Anom, hehehe." "Bukan begitu, Mang Ogel, tapi saya merasa heran," ujar Pangeran Muda. 'Anom, binatang-binatang buas itu, kecuali ular, semuanya takut akan manusia. Mereka tidak berani menyerang manusia, kecuali kalau mereka bodoh seperti ular itu atau karena mereka terlalu lapar. Akan tetapi, mereka tidak pernah takut pada binatang-binatang lain yang dapat dimakannya. Harimau kumbang atau harimau tutul tidak pernah takut menyerang kuda atau sapi yang tubuhnya kadang-kadang empat kali lebih besar, apalagi harimau lodaya yang kadang- kadang besarnya sama dengan kuda. Kalau kita tidak memagari tempat ini, mereka berani menerkam kuda-kuda kita, walaupun ada api unggun. Pernah suatu waktu Mang Ogel tidur di padang dengan api unggun besar-besar, ketika itu Mang Ogel membawa seekor burung tekukur dalam kurung. Apakah yang terjadi di tengah malam? Seekor harimau tutul melompat di antara dua buah api unggun dan menyambar burung itu dengan kurung-kurungnya. Bayangkan! Nah, itulah sebabnya kita pagari tempat ini, mula-mula dengan duri, kemudian dengan tonggak-tonggak bambu runcing yang pendek, lalu dengan tonggak-tonggak yang panjang dan tinggi ini, disusul dengan api unggun yang ditakuti oleh binatang."

"Nah, sahabat-sahabat sudah datang," tiba-tiba Pamanda Rakean berkata. Pangeran Muda tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Pamanda Rakean. Pangeran Muda memandang ke sekelilingnya tetapi tidak melihat apa-apa. Kuda-kuda gelisah dan mencoba melarikan diri dari tambatannya.

"Lihat," kata Mang Ogel, seraya memegang tangan Pangeran yang menunjuk ke suatu tempat di dalam kelam. Empat buah benda bulat yang kehijau-hijauan warnanya menyala tidak bergerak- gerak.

"Suami istri harimau lodaya, mereka mau membeli kuda-kuda kita, hehehe, tapi harganya terlalu mahal dibandingkan duri-duri, bambu-bambu runcing dan api unggun ini. Mereka masih sayang kalau harus menukar dengan kulitnya, hehehe."

Sementara itu, kuda-kuda makin gelisah. Mereka meringkik dan mendengus-dengus perlahan. Tiba-tiba geraman yang rendah dan makin lama makin tinggi terdengar, disambung dengan aum yang keras sekali hingga seluruh tempat itu seolah-olah bergetar karenanya. Kuda-kuda melonjak ketakutan, menyepak-nyepak ingin melepaskan diri.

"Ogel, ikat!" seru Pamanda Rakean. "Wah, baru ditawar murah sudah bersedia untuk dijual kuda-kuda ini," kata Mang Ogel seraya berdiri dan menguraikan lingkaran tambang yang tergantung di pinggangnya. Satu-satu kaki-kaki kuda diikat dan dihubungkan dengan tonggak besar tempat menambatkannya. Ketika harimau-harimau itu mengaum untuk kedua kali dan selanjutnya, walaupun ketakutan, kuda-kuda itu tidak bisa bergerak terlalu banyak.

Makin larut malam, makin banyak pasangan mata binatang buas memandang ke arah mereka. Geraman mereka pun berulang-ulang terdengar. Kadang-kadang terdengar salak anjing hutan dari jauh, salak berpuluh-puluh ekor anjing hutan yang sedang berburu yang kadang-kadang seperti suara angin layaknya. Kadang-kadang terdengar pula suara-suara binatang yang tidak dikenal, bergema di tengah-tengah padang yang sangat luas.

Sementara itu, pasangan mata binatang buas yang seperti lentera-lentera hijau kekuning- kuningan makin banyak juga mengelilingi tempat mereka. Tiba-tiba terdengar aum yang sangat keras, hingga Pangeran Muda terlonjak dari tempat duduknya, di samping Mang Ogel yang tangannya segera melindungi Pangeran Muda.

"Raja mereka rupanya berkenan datang ke sini hehehe. Kita tamu terhormat rupanya, hehehe.

Jangan takut, Anom." Sambil berkata begitu, tangan Mang Ogel menunjuk ke suatu arah dalam gelap. Di sana tampaklah sesosok makhluk yang sangat besar, hampir sebesar kuda Pangeran Muda, hanya lebih pendek. Dari kepala makhluk itu menyalalah dua mata yang kehijau-hijauan, besar, dan tidak pernah berkedip.

"Ogel, besarkan api unggun itu," kata Pamanda Rakean. "Wah, tapi kita akan kehabisan kayu bakar sebelum pagi, Juragan."

"Saya sudah kenal dengan yang seekor ini, Ogel. Ia binatang yang bodoh dan keras kepala. Siapa tahu ia mau nekat kalau cukup lapar. Ia tidak takut akan manusia. Ia sudah tahu bahwa anak-anak panah hanya sekadar melukainya. Ia pun tahu kulit manusia lebih lembut dan dagingnya lebih gurih. Besarkan api unggun itu!"

Mang Ogel bangkit, entah oleh perintah Pamanda Rakean entah karena ia melihat sendiri bagaimana raja dari segala harimau itu mendekat dan tampak dengan jelas di luar pagar, di dalam cahaya api unggun yang makin membesar. Binatang yang menakutkan itu berdiri di sana dengan mata yang tidak berkedip, sementara binatang-binatang buas lainnya menjauh, seolah-olah memberi jalan kepada raja mereka. Beberapa saat kemudian, binatang itu mengais-ngais tanah dengan kaki depannya sambil menggeram dengan marahnya. Beberapa kali ia merangkak dan bersikap seperti hendak melompat. Akan tetapi, Mang Ogel sibuk menambah kayu bakar dan daun-daunan kering ke dalam api-api unggun itu, hingga akhirnya binatang buas itu membatalkan

maksudnya dan cuma berdiri di sana beberapa lama, kemudian mengaum dengan kuatnya, hingga bumi gemetar dan bukit-bukit serta hutan-hutan mengembalikan gemanya. Setelah itu, ia berbalik, lalu melenggang ke dalam gelap sambil bersungut-sungut dengan geramannya yang rendah, tetapi bergegar. Sementara itu, binatang-binatang lain banyak pula yang menghilang, hanya beberapa pasang mata sekarang tinggal dan tak henti-hentinya memandang ke arah kuda-kuda yang gemetar ketakutan di tengah-tengah lingkaran itu.

"Anom, tidurlah," kata Pamanda Rakean. "Baik, Pamanda," ujar Pangeran Muda, tetapi pengalaman-pengalaman sepanjang hari dan yang baru dihadapinya menghalau kelelahan serta kantuknya jauh-jauh.

"Kunjungan sang Raja sudah berakhir, tinggal kita bermimpi," kata Mang Ogel sambil menebarkan rerumputan kering yang dikumpulkannya sore tadi. Rumputan yang kering itu disebarkan di tiga tempat, yaitu di tempat Pamanda Rakean, Pangeran Muda, dan ia sendiri. Kemudian setelah menguap lebar-lebar, berbaringlah Mang Ogel dan tak lama kemudian dengkurnya pun terdengarlah hampir menyerupai geram harimau, hanya tidak menakutkan kuda- kuda itu.

Pangeran Muda sendiri berbaring, tetapi dengan mata nyalang terbuka. Tampak oleh Pangeran Muda bahwa Pamanda Rakean masih duduk dan memandang ke luar lingkaran. Sementara itu, malam makin lama makin hening, hanya sayup-sayup saja kadang-kadang terdengar salak anjing hutan, aum harimau, dan suara binatang lain yang tidak dikenal.

Tiba-tiba malam menjadi hening sekali. Sepi mencekam dan pohon-pohon seolah membeku karena angin tiba-tiba berhenti. Bulu kuduk Pangeran Muda tiba-tiba berdiri dan seluruh anggota badannya menjadi dingin. Sementara itu, tampak Pamanda Rakean bangkit dan menyalakan beberapa benda wangi baunya. Apakah yang terjadi? tanya Pangeran Muda dalam hatinya yang kecut. Belum lagi habis bertanya demikian, tiba-tiba terdengarlah bunyi-bunyi yang hebat dari arah hutan yang membentang tidak jauh dari tempat itu. Suara gemuruh seolah-olah di hutan sedang terjadi angin puting beliung, teriakan-teriakan seperti suara manusia atau suara binatang terdengar menyayat sepi malam, sementara suara-suara seperti derak dahan-dahan yang dipatahkan dan batang-batang yang dibanting bergema. Akan tetapi, anehnya dari arah hutan itu tidak tampak ada suatu hal yang terjadi. Tidak ada gerakan-gerakan, tidak ada api kebakaran, tidak ada angin. Keanehan itu mencekam hati Pangeran Muda dengan keseraman yang baru dialaminya saat itu.

Sementara Pangeran Muda membeku ketakutan, terdengarlah Pamanda Rakean membaca doa- doa, menyeru-nyeru Sunan Ambu dan Sang Hiang Tunggal dan mengutuk siluman-siluman penghuni rimba, mengancam dan menghalaunya. Setelah beberapa lama, heninglah kembali malam itu. Pangeran Muda menarik napas panjang, tetapi tiba-tiba terhenyak kembali karena dari luar lingkaran, tidak jauh dari tempat mereka, tampaklah sepasang cahaya merah.

Ketika Pangeran Muda menajamkan pandangannya, tampaklah dalam remang cahaya unggun itu sesosok tubuh, seperti tubuh manusia, tclapi dengan mata yang bercahaya merah. Apakah itu manusia atau binatang? "Pergilah, hai makhluk terkutuk ke tempatmu di Buana Larang karena sebentar lagi matahari akan muncul, membakarmu dengan apinya. Pergilah, karena kasih sayang Sunan Ambu melindungi manusia."

Terdengar doa Pamanda Rakean di dalam hening itu, di antara ringkik kuda yang ketakutan, di tengah-tengah gemerlap api unggun yang juga gemetar seperti ketakutan.

Kemudian, terdengar suara ringkik, antara tertawa dan menangis dari arah makhluk itu, lalu tampak bayangan itu sempoyongan seperti orang tua atau orang sakit, masuk ke dalam kelam. Beberapa kali ringkik itu terdengar, kemudian malam sepi kembali dan Pangeran Muda baru sadar kembali keesokan paginya, ketika cahaya matahari menusuk kelopak mata. Ketika mereka sudah berada di perjalanan kembali', pada suatu saat Pangeran Muda memberanikan diri bertanya kepada Pamanda Rakean tentang makhluk yang berkunjung malam itu. Pamanda Rakean seperti terkejut, kemudian sambil memandang ke dalam mata Pangeran Muda berkata, "Anom, barangkali Anom bermimpi tadi malam."

Pangeran Muda tidak diyakinkan oleh jawaban itu, tetapi ia tidak mendesak Pamanda Rakean untuk memberikan penjelasan lebih lanjut. Pangeran Muda berdiam diri, sambil memandangi tanah yang dilaluinya, yang penuh dengan bekas binatang-binatang buas yang simpang siur malam sebelumnya di dekat tempat mereka menginap.