Pangeran Anggadipati Bab 01 Tamu dari Padepokan

Bab 01 Tamu dari Padepokan

Bagi Pangeran Muda pengalaman pagi itu seperti suatu impian. Sukar untuk dipercaya, bahwa apa yang dilihat, didengar, dan dialaminya adalah suatu kenyataan. Beberapa bulan yang lalu, Pangeran Muda masih bermain-main dengan Radenjamu, naik kuda berpacu di padang-padang di luar tembok puri Dipati Layang Setra, berenang di telaga, dan memanah burung-burung di hutan kaki Gunung Manglayang. Sementara hari itu Radenjamu dengan pakaian kebesaran seorang bangsawan tinggi, telah dibaringkan di atas tumpukan kayu samida. Sahabatnya yang berumur lima belas tahun, hanya satu tahun lebih tua dari Pangeran Muda, sudah tidak bernyawa lagi. 

Jenazahnya sudah siap untuk dibakar, agar asapnya naik ke langit dan bersama awan mengunjungi Sunan Ambu di Buana Padang

Maut. Maut. Pangeran Muda sudah beberapa kali dibawa oleh Ayahanda menghadiri upacara pembakaran jenazah.

Sudah beberapa orang yang masih ada tali kekeluargaan dengan keluarganya meninggalkan dunia fana, Buana Pancatengah ini. Akan tetapi, umumnya mereka sudah tua, sudah saatnya untuk kembali kepada Sunan Ambu. Akan tetapi, kali ini Raden Jamu, sahabat karib dan kawan sebaya Pangeran Muda, dan bukan orang lain yang meninggal. Itulah sebabnya kali ini Pangeran Muda tiba-tiba menghayati betapa hebatnya Malakal Maut itu.

Isak dan jerit tangis para bangsawan wanita, gumam dan bisik doa-doa para pendeta, terdesak di luar kesadaran Pangeran Muda. Rasa seram, terkejut, dan terpukau oleh kehebatan Malakal Maudah yang menguasai hati Pangeran Muda Dipandangnya tubuh sahabat karibnya yang terbaring di tengah-tengah pelaminan bunga di atas kayu pembakar jenazah itu. Diamatinya wajah sahabat karibnya yang tenang, seolah-olah sedang tidur nyenyak. Alangkah muda dan tampannya Raden Jamu, alangkah lincah dan gembiranya! Betulkah sahabatnya itu sudah tidak bernyawa lagi? Betulkah api akan dinyalakan dan Raden Jamu akan naik ke awan dan diterima oleh Sunan Ambu? Berulang-ulang keragu-raguan melanda hati Pangeran Muda, dan berulang-ulang pula dibisikkan ke dalam hatinya bahwa semua itu impian, semuanya tidak benar. Akan tetapi, sahabatnya tidak bangkit dan tidak tersenyum, sedangkan para pendeta menggumamkan doa-doa ke angkasa, para wanita menangis, terisak, dan menjerit.

"Berikanlah salah satu dari barang-barang milikmu kepada sahabatmu sebagai tanda cintamu, anakku," bisik ayahanda Pangeran Anggadipati kepadanya. Pangeran Muda terhenyak, lalu mengulurkan tangan perlahan-lahan ke hulu kerisnya, seolah-olah kesadarannya perlahan-lahan mulai berpegang pada kenyataan. Pangeran Muda mencabut keris dengan sarungnya, dilalapnya senjata itu sejenak. Senjata yang indah. Raden Jamu beberapa bulan yang lalu pernah memegang-megang serta me-lihat-lihatnya dengan penuh kekaguman. Alangkah gembiranya Radenjamu seandainya senjata yang dikaguminya itu dihadiahkan kepadanya. Maka dengan ketetapan hati dan rasa bangga dan lega, Pangeran Muda memegang senjata itu dengan kedua tangan, lalu melangkah ke depan, menuju tempat pembakaran jenazah, tempat sahabatnya terbaring.

Akan tetapi, baru saja tiga tindak, terdengar jeritan wanita yang menusuk hati, dan dalam sekejap Pangeran Muda sadar bahwa ia dirangkul dan diciumi oleh ibunda Radenjamu yang berseru-seru, 'Anakku, anakku, mengapa kautinggalkan sahabatmu yang baik ini, mengapa kautinggalkan ibumu yang sudah tua ini...?"

Wanita yang malang itu segera dipegang dan dipapah oleh anggota-anggota keluarga, lalu dibawa ke tengah-tengah para emban. Sementara itu, Pangeran Muda tertegun di antara para hadirin dan tempat pembakaran jenazah. Pangeran Muda tidak tahu apa sebabnya pandangannya tiba-tiba menjadi kabur dan detak jantungnya berubah seolah-olah menjadi tusukan-tusukan yang tajam. Napasnya sesak. Oleh karena itu, hanya dengan mengerahkan kemauan saja kakinya dapat dilangkahkan menuju tempat sahabatnya terbaring.

Pangeran Muda berdiri dekat tempat pembakaran jenazah, memandang wajah sahabatnya dengan saksama, kemudian berkata dengan suara gemetar, "Ini kerisku. Engkau suka padanya dan akan senang memilikinya. Saya menghadiahkannya kepadamu sebagai seorang sahabat... sahabat... yang sayang kepadamu menjadi lega karena sahabatnya tentu akan mendapatkan tempat yang lebih baik daripada di dunia ini. Walaupun demikian, kesayuan tetap . saja tidak meninggalkan hatinya. Seorang sahabat telah hilang, dan dengan kehilangan itu hidup Pangeran Muda mengalami perubahan. Hidupnya berubah sejak kematian Raden Jamu. Sedang setiap perubahan adalah kehilangan, kehilangan masa lalu yang tidak bisa dialami tanpa kesayuan dalam hatinya.

Selagi Pangeran Muda termenung, isak dan jerit jadi ramai kembali. Api dinyalakan oleh para pendeta, bunga-bunga terakhir ditaburkan ke atas jenazah, lalu asap kayu samida yang wangi memenuhi udara. Tak lama kemudian api berkobar-kobar, dan sahabatnya yang terbaring itu pun lenyaplah di balik lidah-lidah api yang berwarna emas kemerah-merahan.

BEBERAPA saat setelah upacara pembakaran itu, rombongan Pangeran Anggadipati telah berada dalam perjalanan pulang. Di depan rombongan, empat orang gulang-gulang dengan membawa panji-panji melarikan kuda mereka dengan kecepatan sedang. Demikian pula, di belakang Pangeran Muda dan Ayahanda, bergerak empat orang gulang-gulang di atas kuda masing-masing Di tengah-tengah, Pangeran Muda dan Ayahanda memegang kendali masing- masing sambil berdiam diri. Kematian Radenjamu yang masih anak-anak itu masih memukau Pangeran Muda dan ayahandanya.

Setelah meninggalkan puri Uwanda Girilaya, ayahanda Raden Jamu yang malang, terbentanglah padang-padang terbuka. Di sana-sini tumbuh pohon di tengah-tengah padang- padang rumput, tempat beberapa gembala berjalan di tengah-tengah beratus-ratus domba dan kambing mereka. Sayup-sayup terdengar suara suling. Lepas padang-padang itu, terbentanglah perhumaan yang subur, dengan ranggon-ranggon tempat para petani mengawasi huma dan menghalau burung-burung atau memanah binatang-binatang hama. Setelah huma-huma ini, terbentanglah rimba yang membatasi wilayah kekuasaan Uwanda Girilaya dengan wilayah ayahanda Pangeran Anggadipati.

Ketika rombongan mulai memasuki jalan di hutan itulah Pangeran Muda tidak dapat menahan isi hatinya, lalu bertanya kepada Ayahanda, "Ayahanda, kecelakaan apakah yang dialami Jamu di Padepokan itu?"

Untuk beberapa lama ayahandanya tidak memberikan jawaban dan baru setelah menarik napas panjang, beliau berkata, "Barangkali engkau mendengar anakku, bahwa Jamu dikirim ke Padepokan Tajimalela untuk dididik menjadi puragabaya," ujar Pangeran Anggadipati.

"Apakah puragabaya itu, Ayahanda?" tanya Pangeran Muda sebelum ayahandanya melanjutkan penjelasan.

"Waktu kau kubawa menghadap sang Prabu di Pakuan, engkau melihat orang-orang yang berpakaian serbaputih yang duduk di belakang sang Prabu. Mereka itulah puragabaya," jawab ayahandanya.

"Oh! Kalau begitu,Jamu dididik untuk menjadi pendeta. Tapi mengapakah pendidikan itu sampai mencelakai Jamu?"

"Anakku," ujar Ayahanda. 'Jamu tidak dididik untuk menjadi pendeta, tetapi untuk menjadi puragabaya. Memang, seorang puragabaya dididik dalam bidang agama seperti seorang pendeta, akan tetapi ia pun dididik menjadi prajurit yang tangguh. Dalam latihan keprajuritan inilah Jamu mendapatkan kecelakaan yang menyebabkan kematiannya."

'Jadi, orang-orang yang berpakaian putih di belakang sang Prabu itu bukan pendeta, tapi prajurit-prajurit?" tanya Pangeran Muda pula. "Sukar bagiku untuk menjelaskannya kepadamu. Mereka adalah prajurit, tapi mereka pun adalah pendeta. Engkau terlalu muda untuk mengerti penjelasan-penjelasanku, anakku. Akan tetapi, baiklah kuterangkan juga. Setiap bangsawan, sekali di masa remajanya bercita-cita untuk menjadi puragabaya, karena kedudukan itu merupakan kehormatan yang sangat besar bagi dirinya dan bagi keluarganya. Akan tetapi, menjadi seorang puragabaya tidaklah mudah. Seorang puragabaya adalah seorang pendeta yang luhur budi, juga ia seorang pahlawan yang pantang menyerah dan tangguh. Menyatukan kedua watak itu bukan soal mudah. Itulah sebabnya mengapa puragabaya sangat dihormati."

"Apakah setiap orang dapat menjadi puragabaya?"

"Sama sekali tidak," jawab Ayahanda. "Jumlah seluruh puragabaya tidak lebih dari empat ratus orang, dan setiap tahun disediakan calon-calon yang ditetapkan untuk dididik. Mereka hanyalah putra-putra bangsawan yang tidak tercela, dan umurnya berada antara empat belas dan lima belas tahun. Mereka akan dilatih mengenai soal-soal rohani dan jasmani, untuk kemudian setelah umur mereka dua puluh lima tahun, akan diserahkan kepada sang Prabu untuk menjadi pengawal beliau. Setelah umur mereka empat puluh tahun, mereka mengundurkan diri untuk jadi pelatih calon-calon."

"Kalau begitu, Jamu meninggal karena kecelakaan ketika menjalani latihan," ujar Pangeran Muda.

"Ya," sambut ayahandanya, "kadang-kadang setengah dari jumlah calon-calon gagal mencapai syarat-syarat pendidikan, banyak di antara mereka yang gugur dalam latihan-latihan, seperti sahabatmu Jamu."

Mendengar penjelasan itu, Pangeran Muda berdiam diri. Ia mulai mengerti, mengapa keberangkatan sahabatnya Raden Jamu dahulu dirayakan secara besar-besaran oleh Uwanda Girilaya dan mengapa keluarga Uwanda Girilaya begitu bangga, bahkan Bibinda Mayang Sari pernah berkata seolah-olah membesarkan hati Pangeran Muda, begini katanya, 'Jangan kecil hati, Anom, walaupun tidak menjadi puragabaya seperti Radenjamu, kalau kau belajar baik-baik mungkin kau dapat menjadi menteri sang Prabu."

Sekarang Pangeran Muda baru mengerti bahwa Raden Jamu telah beruntung terpilih menjadi calon puragabaya. Akan tetapi, ia sekarang meninggal dalam kecelakaan waktu berlatih.

SEMENTARA Pangeran Muda termenung, rombongan sudah tiba di tanah lapang puri Anggadipati. Trompet tiram terdengar ditiup oleh penjaga di menara benteng, pintu gerbang pun terbukalah. Rombongan lewat di bawah bayang-bayang benteng dan rakyat yang sedang sibuk di lapangan pasar menghentikan kegiatan mereka, berdiri di tempat masing-masing dan menghormati pangeran mereka yang datang.

Rombongan segera masuk melalui gerbang istana. Di lapangan depan pendapa beberapa gulang-gulang mengelu-elukan, memegang kendali kuda Ayahanda dan kuda Pangeran Muda. Dari dalam pendapa berlarian panakawan-panakawan yang akan melayani Ayahanda dan Pangeran Muda turun dari kudanya masing-masing. Di antara mereka yang mengelu-elukan, tampak dua orang asing. Yang seorang adalah kesatria atau pendeta berpakaian serbaputih, hanya ikat pinggangnya saja berwarna emas. Yang seorang lagi berbadan pendek gempal seperti seorang petani, berpakaian penggawa. Orang asing itu berjalan ke arah Ayahanda dan Pangeran Muda sambil tersenyum.

Ketika Pangeran Muda mencuri pandang ke arah wajah Ayahanda dengan sudut mata, tampak tiba-tiba wajah itu menjadi pucat. Pangeran Muda keheranan dan berulang-ulang mengalihkan pandangan kepada orang asing dan kepada Ayahanda. Siapakah orang asing itu dan mengapa Ayahanda tiba-tiba menjadi pucat?

Sementara itu, Ayahanda telah bersalaman dengan tamu yang berpakaian putih itu. Pangeran Muda pun menghaturkan salam kepada tamu yang memandangnya sambil tersenyum. Tamu itu memegang pundak Pangeran Muda dan sambil mc-nepuk-nepuknya berkata, "Alangkah cepat kau menjadi besar.

Tentu kau lupa lagi, enam tahun yang lalu. Paman berkunjung ke puri ini, lapi kau tentu saja terlalu muda untuk ingat kepadaku."

"Ingatkah kau kepada Pamanda Rakean?" tanya Ayahanda, suaranya terdengar agak gemetar dan lemah. "Tidak, Ayahanda," jawab Pangeran Muda, setelah tertegun untuk beberapa lama. "Pamanda Rakean datang dari Padepokan Tajimalela ... Pamanda Rakean adalah seorang

puragabaya," lanjut Ayahanda dengan suara lebih gemetar lagi.

"Dan ini Mang Ogel, panakawan Paman yang akan jadi panakawanmu, Anom," kata Pamanda Rakean sambil menunjuk pada penggawa yang berbadan pendek dan gempal itu. Orang yang bernama Mang Ogel tertawa lebar sambil memegang tangan Pangeran Muda. Alangkah heran Pangeran Muda ketika sadar bahwa tangan orang itu sangat besar. Begitu besar kedua tangan itu, hingga Pangeran Muda teringat akan kepiting. Ketika ia menyambut salam Mang Ogel, Pangeran Muda tidak merasa sedang bersalaman. Kedua tangan itu lebih menyerupai alat dari kayu atau dari besi daripada tangan manusia. Akan tetapi, sebelum keheranan Pangeran Muda habis, mereka sudah berada di ruangan tengah istana. Di sana Ibunda dan Ayunda beserta emban menunggu kedatangan mereka dan menyediakan berbagai macam santapan. Dari santapan yang dihidangkan, sadarlah Pangeran Muda bahwa Pamanda Rakean adalah tamu yang dipermuliakan.

Akan tetapi, perhatian Pangeran Muda segera tertarik oleh wajah Ibunda dan Ayunda Ringgit Sari serta para emban. Mereka tampak berdukacita dan tampak pula berulang-ulang memandang kepadanya. Apakah yang terjadi? Apakah yang menyebabkan perhatian tercurah kepadanya?

Ketika acara bersantap itu berlangsung, suasana sangat sunyi, sangat tertekan. Selama itu hati Pangeran Muda bertanya-tanya. Kabar buruk apakah yang dibawa oleh tamu yang aneh-aneh itu?

Untung suasana yang menekan itu segera berakhir. Ayahanda, Ibunda, dan Pamanda Rakean memasuki ruangan tempat menerima tamu, sedang Pangeran Muda masih terlalu muda untuk berbicara dengan orang asing, dipersilakan istirahat.

PANGERAN Muda berjalan ke belakang ruangan, melalui lorong yang menuju ke kandang kuda. Seperu biasa, sehabis bepergian diurusnya kudanya sendiri dengan bantuan beberapa panakawan. Hal ini dilakukannya, agar pergaulannya dengan kudanya bertambah akrab dan agar kudanya lebih mengerti serta lebih menurut akan segala perintahnya. Ketika sampai di lapangan yang berdekatan dengan kandang kuda yang berderet-deret, tampak Mang Ogel sudah ada di sana, sedang mengurus kuda Pamanda Rakean dan kudanya sendiri. Begitu Pangeran Muda mendekat, Mang Ogel berdiri sambil tersenyum lebar.

"Yang mana kudamu, Anom?" tanyanya. "Yang gambir itu, Mang."

"Wah, alangkah tampan, sepadan dengan penunggangnya!" katanya pula. "Eh, maaf Anom," lanjutnya. "Mang Ogel tidak bermaksud mengatakan engkau seperti kuda." Ia tertawa oleh perkataannya sendiri. Tawanya begitu mudah keluar dan begitu kekanak-kanakan, hingga hati Pangeran Muda yang berat menjadi ringan karenanya.

"Anom, Mang Ogel perlu ladam kuda. Kuda Pamanda Rakean kakinya hampir telanjang," kata Mang Ogel sambil berjalan ke arah salah seekor kuda tamu yang berbulu putih.

"Banyak, Mang Ogel," jawab Pangeran Muda. Seorang panakawan yang mendengar percakapan mereka segera berlari ke arah kandang kuda dan dalam sekejap telah datang dengan sebuah peti yang penuh berisi ladam kuda yang masih mengkilap.

"Bagus!" kata Mang Ogel, "cepat sekali kau lari, engkau akan menjadi pencuri yang baik, hehehehehehe!" Ia berkata sambil memandang kepada panakawan yang mengambil peti tadi. Kemudian, dengan diiringkan oleh Pangeran Muda ia berjalan menuju kuda putih. Sambil berjongkok Mang Ogel mengangkat salah satu kaki kuda itu, lalu dengan tidak disangka-sangka mencabut ladam yang sudah aus, hanya dengan mempergunakan telunjuk dan jempol tangannya. Pangeran Muda dengan kagum memandangi tangan yang besar-besar dan sangat kuat itu.

Akan tetapi, perbuatan Mang Ogel yang mengherankan tidaklah hanya sampai di situ. Ia mengambil beberapa ladam dan mengukurkannya pada kaki kuda putih tadi. Akan tetapi ternyata, kebanyakan terlalu kecil atau terlalu besar. Hanya ada sebuah yang cukup besarnya, tetapi bengkok. Dengan mudah dan hanya dengan mempergunakan jari telunjuk dan jempol tangan kiri, dipijitnya ladam itu hingga lurus. Kemudian, diambilnya sejumlah paku dan setelah dipasang pada lubang-lubang ladam, dilekatkannya ladam yang baru pada telapak kaki kuda putih yang saat itu telanjang. Pangeran Muda menyangka Mang Ogel akan mempergunakan palu yang terletak dalam kotak, tetapi sangkaan itu meleset. Karena dengan mengherankan sekali, Mang Ogel hanya mempergunakan jari jempolnya yang besar-besar untuk menekan paku-paku hingga besi kaki itu melekat dengan patut.

"Nah, Bulan," katanya kepada kuda itu, "kau tidak akan berjalan pincang sekarang, kau punya alas kaki baru dan punya kawan baru yang masih muda ini." Mang Ogel meletakkan tangan kirinya yang besar di pundak Pangeran Muda.

"Bawalah Mang Ogel melihat-lihat pemandangan di puri Anggadipati yang termasyhur ini atau bawalah berkunjung pada pacarmu, kalau kau sudah punya, hchehehehehe." Percakapan orang itu aneh kedengarannya oleh Pangeran Muda, akan tetapi Pangeran Muda hanya tersenyum saja.

Kemudian untuk menghormat tamunya itu, Pangeran Muda membawa Mang Ogel naik ke atas benteng untuk melihat-lihat pemandangan yang ada di sekitar puri ayahandanya.

Mereka berdua berjalan di atas benteng menuju salah sebuah menaranya. Para gulang-gulang memberi hormat dengan berdiri tegak dan meletakkan tameng di dada mereka. Tidak berapa lama kemudian, mereka sudah berada di salah sebuah menara yang tinggi dan di hadapan mereka terbentanglah pemandangan yang indah.

Sejauh pemandangan, gunung-gunung dan bukit-bukit mendinding, berwarna biru, kelabu, dan hijau. Setelah gunung-gunung, terbentanglah hutan yang disusul oleh huma dan palawija penduduk. Di tengah-tengah huma dan palawija, ber-kelompok-kelompoklah pohon-pohonan, seperti pulau hijau di tengah-tengah ladang yang keemasan sebelum musim menuai. Di bawah kelompok-kelompok pohon-pohonan itu, walaupun tidak tampak, terdapat rumah-rumah penduduk. Kelompok-kelompok kampung ini dihubungkan dengan jalan-jalan yang timbul- tenggelam di tengah-tengah lautan padi dan palawija. Jalan-jalan tampak hidup karena pejalan dan pedati sibuk bolak-balik di atasnya. Juga malam hari, jalan-jalan ini tidak pernali sunyi karena para prajurit dan gulang-gulang yang menjaga keamanan secara berombongan memacu kuda mereka dengan obor-obor menyala.

Di dekat puri itu sendiri, tidak jauh dari dinding bentengnya, mengalir sebuah sungai kecil yang airnya jernih. Melihat sungai itu, tiba-tiba ingatan Pangeran Muda kembali kepada sahabat karibnya yang baru saja meninggal. Kesedihan menusuk kembali hatinya. Kenangan Pangeran Muda membayangkan lagi betapa beberapa bulan yang lalu sahabatnya berkunjung dan mereka memancing di sungai itu. Segala keindahan yang terbentang di bawah kaki pun lenyaplah dari pandangannya.

"Anom, kau akan segera berubah dan menjadi kakek-kakek kecil kalau kau suka melamun," tiba-tiba didengarnya Mang Ogel berkata. Pangeran Muda tersenyum dengan gugup.

"Anom, perundingan rupanya sudah selesai. Gulang-gulang itu menyilakan kita untuk turun dan masuk ke dalam istana kembali," ujar Mang Ogel. Dengan agak tergesa, mereka pun menuruni benteng itu.

DI RUANG tengah istana duduklah ayahandanya. Dengan penuh rasa ingin tahu serta hati yang berat, ia memandang ke arah wajah ayahandanya yang sedih sayu itu. Ruangan menjadi tenang dan sunyi, Ayahanda menarik napas panjang lalu berkata, "Anakku, dengarkanlah baik-baik. Suatu kehormatan besar telah dianugerahkan sang Prabu kepada keluarga kita." Ayahanda menghentikan bicara beliau dan dengan susah payah mencari kata-kata yang melekat pada ujung lidahnya. Setelah beberapa lama hening, sementara beliau memandangi permadani yang terbentang di hadapannya, berkata pulalah beliau, "Anakku, di antara berpuluh-puluh calon, engkau telah terpilih menjadi calon puragabaya. Ini adalah kehormatan yang sebesar-besarnya bagi keluarga kita. Pada tempatnya kita bersyukur kepada Sunan Ambu dan Sang Hiang Tunggal," setelah berkata demikian, kembali Ayahanda berdiam diri.

Pangeran Muda baru pertama kali mengalami peristiwa yang menyebabkan ayahandanya tampak berada dalam kesusahan dan dukacita, padahal peristiwa itu membawa kebaikan bagi keluarga. Ini membingungkan Pangeran Muda, sehingga ia bertanya.

"Ayahanda, mengapa hamba yang dipilih menjadi calon?" tanyanya.

'Anakku, tidakkah kau senang dipilih menjadi calon Pengawal Pribadi sang Prabu?" ayahandanya balik bertanya dengan penasaran.

"Ayahanda, hamba tidak tahu. Hamba baru saja mendengar dari Ayahanda tentang puragabaya ini. Hamba tidak tahu, apa yang harus hamba kerjakan setelah menjadi puragabaya." "Anakku, kedudukan puragabaya adalah kedudukan yang mulia. Seorang puragabaya menyatukan sifat kependetaan dan kesatriaan dalam dirinya, di samping itu, hanya puragabayalah yang diperbolehkan mempelajari ilmu yang sangat berguna, tetapi juga sangat berbahaya.

Kedudukanmu sebagai puragabaya—kalau Sang Hiang Tunggal menghendaki—adalah kehormatan bagi keluarga kita."

Sebagai seorang yang selalu berterus terang, akhirnya Pangeran Muda memberanikan diri bertanya, "Kalau begitu, mengapa Ayahanda, Ibunda, dan Ayunda kelihatan bersedih hati?"

Mendengar pertanyaan itu, tertegunlah ayahandanya sejenak. Kemudian dengan senyum sayu beliau berkata, "Anakku, engkau anak yang berbakat. Seluruh keluarga sudah sependapat, bahwa engkaulah yang bisa diharapkan akan mencapai kedudukan menteri kerajaan di kelak kemudian hari. Itulah sebabnya semenjak kecil kau telah kami ajari berbagai ilmu tentang kenegaraan.

Sekarang kau terpilih menjadi calon puragabaya. Itu berarti bahwa kau tidak dapat lagi mencapai kedudukan menteri kerajaan, dan bahkan soal-soal yang berhubungan dengan kenegaraan dan kekuasaan ditabukan bagimu."

"Ayahanda, apakah kedudukan seorang puragabaya lebih kurang terhormat dari kedudukan seorang menteri?"

"Sama sekali tidak, anakku," ujar Ayahandanya, "yang menyedihkan kami adalah bahwa kau tidak boleh lagi menyentuh ilmu kenegaraan yang sangat cocok bagi bakatmu itu."

"Mengapa ditabukan bagi hamba ilmu kenegaraan itu?"

"Anakku, seorang puragabaya akan diajari ilmu perang yang luar biasa ampuhnya, hingga ia tidak diperbolehkan mempelajari ilmu kenegaraan," jawab ayahandanya.

"Mengapa tidak boleh, Ayahanda?"

"Anakku, kalau seorang puragabaya tahu akan ilmu kenegaraan, maka mungkin sekali ia pada suatu kali.ingin menjadi orang berkuasa dan memerintah. Ini akan berbahaya sekali. Kalau seorang puragabaya menjadi menteri, misalnya, itu berarti bahwa pada dirinya bersatu dua kekuatan, yaitu kekuasaan seorang menteri dan keperkasaan seorang puragabaya. Kekuasaan dan kekuatan lahiriah ini tidak boleh bersatu, karena akan berbahaya. Seandainya puragabaya yang menjadi menteri itu baik, akan beruntunglah negara dan bangsa kita.

Sebaliknya kalau puragabaya itu meninggalkan asas-asas ke-satriaan dan kcpcndetaan, akan sukar bagi rakyat Pajajaran untuk menggantikannya, karena puragabaya memiliki keperkasaan yang sangat ampuh itu. Itulah sebabnya, anakku, kau akan dilarang menyentuh ilmu kenegaraan, bahkan segala kenangan akan ilmu itu akan dihapus dari pikiranmu sedang daun-daun lontar yang berisi catatan-catatanmu akan dibakar bersamanya."

"Ayahanda, bukankah tidak rugi bagi hamba untuk meninggalkan ilmu kenegaraan dan mendapat ilmu keperkasaan?" tanya Pangeran Muda yang mulai gembira karena penasaran tentang ilmu yang akan dipelajarinya.

"Tentu saja tidak, anakku. Seorang puragabaya dihormati seperti seorang menteri, bahkan lebih," jawab ayahandanya, akan tetapi wajah beliau tetap juga muram. Pangeran Muda termenung karena masih merasa heran mengapa orang-tuanya kelihatan tetap murung. Tiba-tiba Pangeran Muda ingat kembali kepada Raden Jamu. Bersama dengan datangnya ingatan itu datang pula kata-kata pertanyaan di ujung lidahnya.

"Ayahanda, apakah pencalonan hamba ini dilakukan sebagai pengganti Jamu?" Dengan berat hati ayahanda Pangeran Anggadipati menjawab, "Ya, anakku."

Sekarang mengertilah Pangeran Muda, mengapa orang-tuanya begitu bermuram durja.

Pangeran Muda dapat memahami kecemasan mereka. Bukankah pagi itu seorang calon puragabaya dibakar dalam upacara kematian?

"Ayahanda apakah untuk menjadi puragabaya, hamba akan menghadapi latihan-latihan yang sangat berbahaya?"

"Ya, anakku," kata ayahandanya dengan suara berat. "Hamba akan sangat berhati-hati, Ayahanda, percayalah."

"Engkau selalu hati-hati dan saksama, anakku. Akan tetapi, dengarlah nasihatku. Engkau akan diharuskan hidup sederhana, tinggal di tengah hutan belantara, menghadapi latihan-latihan yang taruhannya nyawamu sendiri. Lebih dari itu, sewaktu-waktu mungkin engkau dikembalikan kepadaku karena kesalahan-kesalahanmu. Itu akan merupakan kehinaan bagi keluarga kita, lebih buruk daripada kematian. Itulah sebabnya mengapa kami bersedih dan cemas. Di samping itu, engkau masih sangat muda, umurmu empat belas tahun kurang dua minggu. Ayahanda sudah menyampaikan hal itu kepada Pamanda Rakean, akan tetapi beliau tetap memintamu untuk pergi."

"Ayahanda, hamba selalu berhati-hati, dan hamba tidak mungkin melanggar perintah-perintah hingga harus"dikelu-arkan dari Padepokan Tajimalela."

"Ayahanda percaya kepadamu. Dengarlah nasihatku, ikutilah segala perintah sang Resi beserta para pembantunya, jagalah dirimu baik-baik. Tabahlah menghadapi segala gemblengan, dan ingatlah selalu kehormatan keluarga kita. Sering-seringlah mengirim kabar kepada kami di sini karena jarang sekali engkau akan diizinkan pulang."

"Baiklah, Ayahanda."

Mereka berpandangan sejenak, kemudian ayahandanya tersenyum dan mengajak Pangeran Muda ke ruang lain, tempat isi istana menjamu tamu-tamu dari Padepokan Tajimalela untuk bersantap bersama.