Pandaya Sriwijaya Bab 36 : Bunga Kusang yang Terus Melayang

Bab 36 : Bunga Kusang yang Terus Melayang

Cerita tentang bunga kusang yang telah mengalahkan peperangan itu tak pernah benar-benar selesai diceritakan. Tentu saja ceritanya semakin lama semakin berlebihan.

Namun, pada kenyataannya bunga kusang adalah bunga yang indah. Ia akan lepas dengan sendirinya dari ranting ketika mulai menua. Saat terlepas itulah, angin akan meniupnya terbang... terbang ... dan terbang....

Di padang rumput tempat banyak tanaman bunga kusang berada, siapa pun yang melihatnya akan terpesona. Andai serbuknya tak memabukkan, orang akan terbuai untuk berjalan di tengah tanaman itu. Membiarkan diri dikelilingi oleh taburan bunga-bunga kusang yang berputar-putar dimainkan angin. Terbang tak menentu, sekadar mengikuti arah angin ....

Lalu, orang-orang yang merasa senang itu pun akan mengumpamakan bunga itu sebagai bunga pembawa kabar yang baik ....

Seperti kabar yang datang kepada Sri Maharaja Balaputradewa di sore itu. Kabar tentang peperangan beberapa hari yang lalu.

"Hampir setengah laksa pasukan kita gugur," ujar Pu Chra Dayana.

"Setengah laksa?" Sri Maharaja Balaputradewa berujar

tak percaya.

Pu Chra Dayana mengangguk, "Namun, kita berhasil menghancurkan seluruh pasukan Minanga Tamwa. Panglima Tambu Karen pun berhasil kita bunuh. Kepalanya nanti akan dipersembahkan Panglima Samudra Jara Sinya kepada Sri Maharaja, beberapa hari berselang

Sri Maharaja Balaputradewa hanya mendesah pelan. Setengah laksa... setengah laksa Sungguh, Sri Maharaja

Balaputradewa bisa membayangkan tumpukan mayat-mayat yang ada saat itu ....

Dan, mau tak mau, hal ini membuat pikirannya seketika kembali melayang pada peperangannya kala itu ....

Ia masih ingat dengan jelas ....

Teriakan-teriakan itu, kematian-kematian itu, dan kubangan darah itu ....

Mungkin lebih dari dua laksa pasukan gugur pada saat itu. Sri Maharaja Balaputradewa menerawang.

Mungkin memang tak jauh berbeda keadaannya. Ya, tak jauh berbeda ....

Akan tetapi, yang pasti hanya dalam waktu tak lama saja, ia telah menyebabkan ribuan nyawa melayang?

-ooo0dw0ooo-

Setahun setelah peperangan itu, tak ada lagi kejadian besar yang terjadi di wilayah Sriwijaya. Berkat jasa-jasanya, Panglima Samudra Jara Sinya kemudian ditunjuk menjadi Panglima Utama Sriwijaya, yang membawahi Pasukan Bhumi dan Pasukan Samudra seluruh Sriwijaya. Panglima Bhumi Cangga Tayu sendiri kemudian ditunjuk sebagai penguasa Datu Minanga Tamwa, sedang Dapunta Cahyadawasuna menjadi penguasa Datu Muara Jambi.

Semuanya seakan kembali pada kehidupan tenang. Namun, tidak bagi Dapunta Cahyadawasuna. Sejak hari itu, ia masih saja tanpa henti mencari jejak kedua pandaya yang dulu dipilihnya.

Ia masih belum percaya bila kedua pandaya-nya telah gugur. Terutama Tunggasamudra. Ia sama sekali tak menemukan jenazah Tunggasamudra sehabis peperangan itu, bahkan juga kedua pedang anehnya yang biasa digunakannya. Maka itulah, ia terus meyakini pandaya-nya itu pastilah masih hidup. Kesimpulan inilah yang kemudian membuatnya terus bertanya-tanya mengenai alasan akan kepergian Tunggasamudra. '

Sedang mengenai Sangda Alin, ia memang sempat mendengar kabar-kabar tak jelas tentang sosok jelita yang masih terus dibayangkan kehadirannya di sisinya. Kabar yang mengatakan bahwa ia telah dibunuh oleh pasukan Panglima Samudrajara Sinya secara diam-diam. Namun, ia tak pernah menemukan kejelasan akan berita itu!

Maka itulah, ia tak pernah benar-benar berhenti mencari. Hingga suatu hari, di saat berjalan-jalan mengawasi tanahnya bersama beberapa anak buahnya, ia bertemu dengan seorang pengemis buta yang tengah bercerita. Belasan anak-anak kecil mengelilinginya untuk mendengarkan ceritanya dengan saksama.

Dapunta Cahyadawasuna hampir saja berlalu begitu saja melewati pengemis buta itu bila tak didengarnya sepotong kalimat ini....

"Kalian tahu, perempuan jelita itu dilahirkan dengan wangi semerbak harum di tubuhnya," pengemis buta itu berujar dengan nada dalam, membuat anak-anak di sekelilingnya menatapnya tanpa henti.

"Dan, bila ia berjalan, kupu-kupu akan mengikuti dirinya, merubung dirinya Maka, tak heran perempuan itu dengan

mudah membuat kupu-kupu mau hinggap di tangannya tambah pengemis buta itu lagi sambil mengangkat tangannya, seakan-akan seekor kupu-kupu juga hinggap di tangannya.

Dapunta Cahyadawasuna tertegun mendengar kalimat- kalimat itu. Tanpa bisa ditahannya lagi ia menghentikan langkahnya dan mulai memperhatikan pengemis buta itu. Merasa diperhatikan, pengemis buta itu tiba-tiba menghentikan ceritanya, ia menoleh ke arah di mana Dapunta Cahyadawasuna berdiri, seakan-akan ia benar-benar dapat melihat kehadiran orang itu.

Tentu saja, melihat pengemis buta itu menoleh, anak-anak yang tengah mendengarkan cerita pengemis buta itu pun ikut menoleh ke arah itu.

Dapunta Cahyadawasuna sedikit merasa bersalah, "Maafkan aku bila mengganggumu. Namun, teruskan saja ceritamu!" ujarnya. "Aku tadi hanya merasa mengenal ceritamu "

Lelaki buta itu terdiam, sedikit ia menolehkan wajahnya mencoba mendengar suara itu lebih jelas.

"Kau mengenal perempuan seperti itu?" tanya pengemis

buta itu dengan suara ragu.

"Ya," jawab Dapunta Cahyadawasuna. "Dulu, aku pernah mengenal perempuan seperti yang kauceritakan itu. Ia jelita dan tubuhnya mengeluarkan wangi harum "

Pengemis buta itu kembali terdiam sesaat, tampak berpikir. "Si. apa kau?" tanyanya kemudian.

"Aku Cahyadawasuna, yang kebetulan memimpin datu ini

Mendengar jawaban itu, pengemis itu terperangah.

Wajahnya jelas sekali menampakkan keterkejutan. Namun, hanya sebentar saja begitu. Sesaat berselang, ia tiba-tiba tertawa. "Hahaha ... tak ada yang benar-benar mengenalnya ujarnya sambil berusaha bangkit berdiri. "Ya, tak ada yang benar-benar mengenalnya, termasuk dirimu Pengemis itu kemudian melangkah perlahan mendekati Dapunta Cahyadawasuna.

Ketika i.i lelah begitu dekat dengan Dapunta Cahyadawasuna ia mencondongkan kepalanya dengan gerakan perlahan, "Sungguh, tak ada yang benar-benar mengenalnya tak ada yang benar-benar mengenalnya ... selain ... diriku ... diriku

Lalu, bersamaan dengan jatuhnya sinar matahari dan munculnya ribuan walet di atas kepala, pengemis itu tertawa dengan keras sambil terus melangkah pergi dari tanah itu ....

-ooo0dw0ooo-

Jauh dari tempat itu, di sebuah pulau karang yang tampak semakin sepi, Aulan Rema terbelalak tak percaya. Sebuah kalung kerang yang begitu dikenalnya tiba-tiba sudah ada di depan pintu rumahnya.

Tangannya bergetar meraih kalung itu. Ia tak mungkin lupa pada kalung yang dulu diberikannya kepada Kara Baday. Ia tak mungkin lupa ....

Ini kalung yang Kakak berikan waktu itu Hari ini aku

menganggapnya Kakak belum memberikannya kepadaku. Hingga nanti di kepulangan Kakak selanjutnya, bawakan lagi kalung ini kepadaku....

Lalu mengapa kalung ini tiba-tiba ada di sini?

Aulan Rema segera tersadar. Sambil menyeka air matanya, segera ia berlari ke arah pantai. Di sana di tepi pantai seorang lelaki berambut panjang terurai, dengan pakaian berwarna abu-abu seperti yang biasa dipakai biksu-biksu Buddha, tampak hendak mendorong perahunya. "Tunggu!" Aulan Rema berteriak.

Ia beriari mendekat, "Kaukah ... kaukah yang membawa ini?"

Sesaat lelaki yang bukan lain adalah Tunggasamudra, hanya bisa terdiam tak berucap. Dengan gerakan ragu, ia hanya bisa mengangguk perlahan.

Kedua mata Aulan Rema seketika berkaca-kaca. Sinar matahari pagi yang menimpa wajahnya membuat tetesan air yang keluar dari matanya bagai sebuah kristal yang begitu bercahaya.

Aulan Rema menyeka wajahnya dengan punggung tangannya. "Jadi suara Aulan Rema terdengar tercekat, "ia ... tak akan ... kembali lagi?"

Tunggasamudra terdiam. Sungguh, sebenarnya ia tak ingin menjumpai gadis ini. Ia bisa membayangkan kesedihan seperti apa yang akan hadir di depannya. Dan, ia memilih untuk tidak melihatnya.

Maka itulah, ia datang dalam keheningan. Tak banyak penduduk yang mengetahui kehadirannya. Ia hanya perlu bertanya kepada seorang bocah yang tengah berlari-lari, "Di sinikah tempat Kara Baday menetap?"

Dan, ketika bocah itu mengangguk, ia kembali bertanya, "Lalu, siapa gadis yang selalu dijumpainya?"

Bocah itu pun tersenyum lebar. "Ia pasti Ayuk Aulan Rema," ujarnya. "Rumahnya di sana!" ia menunjuk.

Maka itulah, kemudian ia bisa meletakkan kalung itu di depan rumah gadis ini....

"Jadi, ia tak akan kembali lagi?" tanya Aulan Rema lagi, dengan nada lebih jelas. "Jawablah saja! Aku sudah begitu

lama menunggunya Aku sudah mempersiapkan

kemungkinan terburuk Perlahan Tunggasamudra mengangguk, "Ya, Kara Baday memang telah gugur," tambahnya. "Juga... seluruh anak buahnya

Dan, Aulan Rema pun hanya bisa mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Air matanya kembali menetes.

Tunggasamudra mendekat beberapa langkah. "Maafkan aku," ujarnya sambil membungkuk, "mungkin, aku terlalu lama datang sehingga "

Aulan Rema menggeleng cepat. "Tidak, tidak," ujarnya memotong. "Kau sama sekali tak terlambat sama sekali

tidak "

Aulan Rema mencoba tersenyum, tetapi tetaplah kepiluan yang tampak di situ. "Aku bahkan berharap," tambahnya, "engkau ... begitu.terlambat datang, sangat terlambat ...

sehingga aku bisa lebih lama lagi. berharap Kakak Kara

Baday akan datang

Tunggasamudra terdiam. Ia benar-benar tak tahu lagi harus melakukan apa. Keadaan ini sama seperti kala itu, kala pertarungannya dengan Panglima Tambu Karen di tepi hutan itu. Pertarungan telah berlangsung begitu lama saat itu. Ia tak juga berhasil membunuh sang panglima, walau konsentrasi panglima itu telah bercabang sekalipun. Entahlah, sepertinya satu sisinya tetap merasa tak yakin untuk menusukkan pedangnya di tubuh panglima itu. Maka itulah, ia hanya berusaha menghalau saja, saat panglima itu berkali-kali berusaha melarikan diri darinya untuk kembali ke bentengnya.

Api di kejauhan memang telah begitu terlihat membara membakar malam. Dan, sorak-sorai seakan menenggelamkan pekikan-pekikan kematian yang sebelumnya terdengar. Saat itulah, secara tiba-tiba Panglima Tambu Karen menghentikan gerakannya. Ia memandang ke arah benteng dengan ekspresi yang begitu sulit dilukiskan. Dan, ketika kembali suara sorak-sorai itu semakin bergaung dengan begitu kerasnya, ia pun terpuruk.

"Aku ... kalah desisnya dengan wajah pucat. Ya, semua yang telah direncanakannya begitu panjang sejak dulu seakan sirna saat itu ....

"Aku... kalahaku kalahdengan tatapan kosong ia terus

berkata-kata dengan suara tak jelas. Dan, tiba-tiba Panglima Tambu Karen sudah tertawa panjang. Sungguh, sebuah tawa yang terdengar begitu menyayat. Dan, tanpa diduga lagi, dengan pedang milik Tunggasamudra yang masih dipegangnya, ia kemudian menusuk jantungnya sendiri....

Tunggasamudra hanya bisa terpaku ketika itu. Sungguh, keadaannya begitu sama seperti sekarang. Ia hanya bisa diam dan memandangi Aulan Rema yang tertunduk dan menangis tanpa henti ....

Dan, matahari pun terus bergerak. Sinarnya mulai muncul menerobos celah-celah karang.

Untuk beberapa lama Tunggasamudra masih saja terpaku di hadapan Aulan Rema. Ia tak beranjak sedikit pun, seakan hatinya bisa merasakan kesedihan itu.

Akan tetapi. bukankah pada akhirnya ia harus tetap

melangkah pergi?

Dan, Tunggasamudra memberi waktu lagi sejenak untuk terdiam. Dipejamkannya matanya kuat-kuat. Lalu bersamaan gejolak pikirannya yang tak menentu, dibiarkannya senyum Biksu Wang Hou, gurunya, muncul di situ, juga suaranya yang bergema pelan di hatinya. Suara yang selalu saja membuatnya merasa begitu damai....

Nanti pada akhirnya kau akan menemukanjalanyang membuatmu paling merasa nyaman ,jalan yang paling

membuatmu begitu lentera, hingga kau tak lagi ingin berpaling.... Ikuti jalan itu ikuti.... Sadhu ... sadhu ... sadhu ....

-ooo0dw0ooo-