-->

Pandaya Sriwijaya Bab 35 : Penaklukan Minanga Tamwa

Bab 35 : Penaklukan Minanga Tamwa

Tahun 851 bulan Caitra, armada Sriwijaya kembali melakukan serangan pada Minanga Tamwa.

Dalam peperangan pertama, mereka dapat menguasai Batanghari yang dibuat menyempit itu. Di sini peperangan beriangsung cepat. Sebelum armada samudra menyerang dari arah depan, dari arah belakang Pasukan Bhumi Sriwijaya di bawah pimpinan Panglima Bhumi Cangga Tayu sudah menyerang terlebih dahulu dan menghancurkan area sempit itu serta memasang panji kemenangan di wilayah itu.

Kemenangan ini masih berlanjut hingga mereka berhasil merebut Pelabuhan Minanga Tamwa. Saat itu armada samudra menyerang dari tepi pantai dengan ratusan pelontar panah. Hanya butuh setengah hari untuk membuat pasukan Minanga Tamwa kocar-kacir dan berlari menyelamatkan diri ke dalam benteng mereka!

Kemenangan ini semua disaksikan langsung oleh Panglima Samudra Jara Sinya dari arah sambau utama. Sementara putranya, Luwantrasima dan Sanggatrasima terus tersenyum tampak sangat puas.

"Tampaknya... semua berjalan dengan baik," ujar Luwantrasima tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

Akan tetapi, Panglima Samudra Jara Sinya tak menyahut.

Ia berbalik untuk kembali mengamati peta yang selalu dipegangnya.

"Panglima," Luwantrasima sedikit heran, "mengapa... tak tampak gembira?"

Panglima Samudra Jara Sinya menoleh sekilas, "Putraku, kau masih terlalu cepat menyimpulkan sesuatu," ujarnya. "Apakah kau tak merasa janggal kita menaklukkan ini dengan

... begitu mudah?"

Luwantrasima mencoba berpikir, "Apa maksud, Panglima?" Panglima Samudra Jara Sinya menghela napas panjang,

"Mengalahkan seorang panglima yang telah puluhan tahun menjadi panglima utama di Sriwijaya, apakah ini tidak terlalu mudah?" ia balik bertanya. 'Jelas sekali bila Tambu Karen memang sengaja mengalah pada dua peperangan sebelumnya. Tampaknya ... ia memang berniat menarik semua pasukannya ke dalam benteng dan mencoba bertahan di situ."

Luwantrasima berkerut kening, "Bukankah... itu kepu-tusan yang bagus buat kita, Panglima?" tanyanya dengan nada sedikit ragu. "Kita tinggal berkonsentrasi menggempur benteng itu!"

Panglima Samudra Jara Sinya menggeleng kepalanya, "Kautelah benar-benar menganggap remeh mereka, Anakku. Kau sama sekali tak mengenal Tambu Karen. Bila ia memutuskan untuk bertahan di benteng itu, tentunya ada sesuatu yang tidak kita ketahui di benteng itu!"

-ooo0dw0ooo-

Dan, dugaan Panglima Samudra Jara Sinya ternyata benar!

Benteng Minanga Tamwa ternyata sama sekali berbeda dari apa yang telah dibayangkan sebelumnya. Setelah diamati lebih saksama, benteng itu kini ternyata dikelilingi dua tembok sekaligus. Tembok pertama yang menghadap keluar, memiliki tinggi yang lebih pendek dari tembok kedua. Di sana sudah terlihat ratusan pasukan panah berjejer di kedua tembok dalam dua lapisan. Tak hanya sampai di situ, pada menara- menara yang ada di beberapa sudut, dibuat bertingkat sekaligus. Di setiap tingkatnya terlihat beberapa prajurit berjaga dengan senjata lengkap, bahkan beberapa pelontar panah juga dapat dilihat di situ. Yang lebih mengejutkan lagi adalah di luar tembok bagian terluar benteng, ternyata telah digali sebuah sungai selebar sepuluh tombak lebih, yang berisi penuh dengan ratusan buaya kelaparan!

Ya, semuanya terlihatjelas telah disiapkan dengan matang!

Panglima Tambii Karen memanglah bukan panglima kemarin sore. Sebenarnya, sudah lebih dari sepuluh tahun ia menyiapkan semua ini. Informasi yang tak pernah sampai pada Kedatuan Sriwijaya di Telaga Batu merupakan upaya paling awal yang dilakukannya. Sebelumnya, ia memang telah mengenal tiga kaki tangan Wantra Santra sejak lama, terutama Kung Muda yang mengawasi daerah utara.

Tak butuh upaya keras untuk membuat Kung Muda memihak kepadanya. Ia hanya perlu mengucapkan satu kalimat. "Bantulah aku dan kau akan kujadikan orang paling penting nomor dua setelah diriku!"

Maka setelah itu, semua berjalan dengan baik. Kung Muda bahkan berhasil membujuk dua rekannya yang lain, Basa Kante dan Mu Sangka, untuk bergabung dengannya sehingga semua informasi yang ada pada Minanga Tamwa pun dapat ditutupi dengan sangat baik. Saat itulah, ia mulai membangun bentengnya. Ia juga mulai mengajak Dapunta Ih Yatra, penguasa Datu Muara Jambi untuk bergabung dengannya dan membuatkan benteng di perairan Batanghari dan mulai menyempitkan tepian Batanghari untuk salah satu pertahanannya.

Ya, seperti itulah rencana yang telah disimpannya sejak lama. Tak ada yang pernah menduganya. Kung Muda benar- benar telah menjaga keadaan ini hingga tak terdengar sampai di Kedatuan Telaga Batu.

-ooo0dw0ooo- Sementara itu, di Pelabuhan Minanga Tamwa, Panglima Jara Sinya telah mulai menurunkan semua pasukan yang ada di dalam sambau-sambau-nya. Panglima Bhumi Cangga Tayu yang telah menunggu di daratan sejak beberapa hari lalu langsung menyambutnya.

"Kita benar-benar kecolongan, Cangga!" ujar Panglima Samudra Jara Sinya ketika keduanya hanya tinggal berdua saja. "Mereka dapat membangun benteng seperti itu tanpa kita tahu sama sekali!"

Panglima Bhumi Cangga Tayu mengangguk. Dilemparnya pandangan pada benteng besar yang terlihat jelas di depannya.

"Semua ini gara-gara pengkhianat itu," desis Panglima Samudra Jara Sinya. "Tentunya kau sudah mendengar apa yang kulakukan kepada Wantra Santra, bukan?"

Panglima Cangga Tayu tak langsung menyahut. Ia memang telah mendengar tentang pembunuhan terhadap Wantra Santra. Walau dalam hati sedikit tidak setuju dengan tindakan itu, ia bisa memahami apa yang dilakukan Panglima Samudra Jara Sinya.

"Menurutku, walau ini terasa sedikit gegabah," ujar Panglima Bhumi Cangga Tayu hati-hati, "tetapi aku setuju dengan tindakanmu!"

Panglima Samudra Jara Sinya tersenyum. "Syukurlah kau mendukungku," ujarnya sambil menepuk pundak Panglima Bhumi Cangga Tayu.

"Lalu, apa yang kaulakukan pada pasukan Wangseya?" 'Aku telah memilih seorang pengganti Wantra Santra untuk

sementara. Ia Panglima Kra Dawang!" ujar Panglima Samudra

Jara Sinya. "Ini harus kulakukan dengan cepat karena Kelompok Wangseya memang harus segera kita tempatkan di wilayah timur Minanga Tamwa Panglima Bhumi Cangga Tayu mengangguk-angguk. Kini pandangannya kembali menuju Benteng Minanga Tamwa.

"Kuharap semuanya dapat berjalan lancar. Dari sini, benteng itu terlihat sangat kukuh," ujarnya. "Kita... tak akan mudah menaklukkannya."

Panglima Samudra Jara Sinya terdiam.

"Mereka pasti telah mengupayakan segala cara untuk bertahan!" tambah Panglima Bhumi Cangga Tayu lagi.

Panglima Samudra Jara Sinya mengangguk setuju. "Ya, inilah yang dinamakan Bertahan Menjadi Batu" ujarnya. Tiba- tiba saja ia teringat Buju Taiman, ahli perang Sriwijaya semasa pemerintahan raja pertama Sriwijaya, Dapunta Hyang Jayanasa. Ialah yang mengajarkan strategi-strategi perang pada panglima-panglima perang Sriwijaya selanjutnya.

Salah satu yang pernah diingatnya dari peninggalan lontar yang dibacanya adalah Bertahan Menjadi Batu. Untuk menjadi sebuah batu, Buju Taiman menuliskan beberapa langkah.

Selain membuat lapisan yang kuat pada batu itu, juga memasang binatang-binatang buas di sekelilingnya untuk menjaga!

Mengingat ini, Panglima Samudra Jara Sinya hanya bisa berujar pelan, "Kalau kita langsung menyerangnya, akan terlalu banyak korban di pihak kita

"Apa kita perlu bertahan saja?" Panglima Bhumi Cangga Tayu menoleh. "Kita bisa meracuni sungai yang mengaliri benteng mereka atau menunggunya hingga cadangan makanan mereka habis!"

Panglima Samudra Jara Sinya menggeleng. "Kita tak akan bisa menahan mereka seperti itu. Kalau kita mencoba bertalian ... kita yang akan kalah," ujarnya. Saat itu juga, Panglima Samudra Jara Sinya kembali teringat satu lagi langkah untuk Bertahan Menjadi Batu .... "Aku yakin Tambu Karen telah membuat puluhan terowongan menuju daerah-daerah sekitarnya untuk menyuplai makanan dan minuman mereka!"

Panglima Bhumi Cangga Tayu terkesiap, "Sampai sedemikiankah?"

Panglima Samudra Jara Sinya mengangguk, "Ia telah merencanakan ini sejak lama. Tentunya membuat seratus terowongan jelas lebih mudah daripada membangun benteng berlapis seperti itu, bukan?"

Di tengah pembicaraan itu, Dapunta Cahyadawasuna dengan diiringi Tunggasamudra, yang baru saja berkesempatan turun, mendekati keduanya.

"Dapunta Cahyadawasuna," Panglima Bhumi Cangga Tayu menyambutnya sambil sedikit menganggukkan kepalanya.

"Lama tak berjumpa denganmu, Panglima," ujar Dapunta Cahyadawasuna mendekat. Tak lupa ia juga menganggukkan kepalanya kepada Panglima Samudrajara Sinya.

"Tampaknya peperangan besar tak akan dihindari lagi," ujarnya sambil membuang pandangannya pada Benteng Minanga Tamwa di kejauhan.

Panglima Samudrajara Sinya menoleh, "Maaf, bila ini semuanya tak sesuai dengan keinginanmu, Dapunta."

Dapunta Cahyadawasuna hanya tersenyum sekilas. "Mungkin ... memang inilah jalannya," ujarnya pelan. "Kadang bukankah sebuah jalan memang terjal berliku?"

Panglima Samudrajara Sinya hanya tersenyum samar. . "Dan, tampaknya," sambung Dapunta Cahyadawasuna

pelan, "mereka memilih ... Bertahan Menjadi Batu

Tentu saja ucapan ini membuat Panglima Samudrajara Sinya tertegun. Ia bertanya-tanya apakah kalimat itu sama maksudnya seperti yang dipikirkannya tadi ataukah sekadar ucapan yang kebetulan terlontar?

Akan tetapi, melihat ekspresi wajah Dapunta Cahyadawasuna, Panglima Samudrajara Sinya segera meyakinkan dirinya bahwa ucapan itu memanglah seperti yang dipikirkannya. Sungguh, ia sama sekali tak menyangka bahwa sosok di depannya ini juga membaca dan mengingat Buju Taiman!

"Dan, sepertinya lagi ... akan banyak kematian yang tak terhindarkan," ujar Dapunta Cahyadawasuna lagi. Lalu, tanpa menunggu tanggapan dari ucapannya itu, Dapunta Cahyadawasuna tiba-tiba sudah melangkah maju sambil tak lepas mengamati benteng yang ada jauh di depannya.

"Tampaknya yang harus kita lakukan adalah... merangkul alam...," ujarnya lagi.

Sungguh, ucapan yang terdengar sangat biasa dan tampaknya tak bermakna itu menyentak Panglima Samudra Jara Sinya.

Merangkul alam ... merangkul alam ....

Ya, tak salah lagi. Itu adalah satu strategi perang yang juga diajarkan Buju Taiman.

Belum sempat ia berujar apa-apa, dilihatnya Dapunta Cahyadawasuna tiba-tiba sudah membungkuk mengambil sebuah daun kering yang begitu kecil di dekatnya. Lalu, masih tanpa sahutan yang lain, diletakkannya daun itu di atas telapak tangannya sehingga sebentar saja angin yang bertiup kencang ke utara segera menerbangkan daun itu tinggi-tinggi.

Daun itu tiba-tiba menjadi magnet. Semua mata yang ada memandang liukannya, bahkan Tunggasamudra yang berdiri agak di belakang. Seperti sebuah tarian yang teramat gemulai, daun itu bergerak-gerak dengan mistis. Terus ke atas, ke bawah, ke kiri, ke kanan, dan kembali lagi ke atas.... Sampai beberapa saat semua yang ada mengikuti gerakan itu tanpa bicara hingga daun itu bergerak jauh ke arah Benteng Minanga Tamwa. Bentuknya kini bagaikan sebuah titik kecil. Hanya mata-mata yang awas saja yang masih dapat melihat gerakan daun itu melewati sungai dan terbang ke atas benteng....

Terus meliuk, melewati tembok pertama ....

Lalu, lapis tembok kedua ....

Panglima Samudra Jara Sinya terdiam. Ditatapnya Dapunta Cahyadawasuna lekat-lekat. Ia tak yakin apakah yang dilakukan Dapunta Cahyadawasuna dengan menerbangkan daun itu merupakan sebuah petunjuk untuknya atau hanya sekadar sebuah percobaan kecil belaka. Namun, yang pasti ia benar-benar dapat melihat semua itu dengan jelas hingga daun itu hilang di dalam benteng.

Panglima Samudra Jara Sinya menatap tak percaya. Jujur diakui, sejak Dapunta Cahyadawasuna mencoba melakukan pembicaraan damai dengan Minanga Tamwa, ia tak bisa mengelakkan dirinya untuk menatap sebelah mata kepada dapunta ini. Namun, tidak kali ini. Tatapannya menjadi melunak. Ada sedikit kekaguman yang terpancar.

Sungguh, daun itu telah begitu menginspirasinya ....

Maka, tiba-tiba saja Panglima Samudra Jara Sinya berucap kepada semua yang ada, "Berikan aku waktu 10 hari saja.

Dan, aku akan membuat mereka keluar dan menyerang kita!"

-ooo0dw0ooo-

Ratusan tombak dari Benteng Minanga Tamwa, jarak yang cukup jauh untuk dicapai anak panah, pasukan Kerajaan Sriwijaya membuat tenda sementara di sebuah hamparan padang rumput. Jumlahnya mencapai ratusan. Semuanya dipisahkan menjadi beberapa kelompok. Tenda tempat Panglima Samudra dan Panglima Bhumi sendiri berada di tengah-tengah perkemahan itu. Sementara tenda Dapunta Cahyadawasuna berada tak jauh dari situ.

Kini, selepas makan malam, Dapunta Cahyadawasuna terpekur di tendanya. Tunggasamudra yang terus berada di sampingnya masih mencoba menemaninya.

"Menurut Dapunta," tanyanya membuka percakapan, "apa yang akan dilakukan Panglima Samudra Jara Sinya?"

Dapunta Cahyadawasuna menggeleng, "Entahlah, tetapi yang pasti ia tak mungkin menyerang benteng itu begitu saja."

"Aku dengar tadi ia pergi bersama puluhan pasukannya kembali ke Muara Jambi."

Dapunta Cahyadawasuna mengerutkan keningnya, "Benarkah?" Dapunta Cahyadawasuna sedikit terkejut. "Untuk apa?"

"Hamba tak mengetahuinya, Dapunta."

Dapunta Cahyadawasuna terdiam. Ah, mau apa Panglima Jara Sinya pergi ke sana? Bukankah beberapa hari yang lalu pasukan besar ini dimulai dari sana?

Akan tetapi, tanya-tanya itu tak pernah bisa terjawab sekarang!

Ya, tak ada satu orang pun yang tahu apa yang akan dilakukan Panglima Samudra Jara Sinya di Datu Muara Jambi, termasuk juga seratus prajurit yang menemaninya ke sana.

Akan tetapi, kebungkaman Panglima Samudra Jara Sinya membuat tak seorang pun berani bertanya, termasuk Luwantrasima yang terus ada di sampingnya. Mereka hanya bisa menuruti apa yang diperintahkan Panglima Samudra Jara Sinya. Tak ada yang tahu bahwa tindakan Dapunta Cahyadawasuna menerbangkan sehelai daun ke benteng saat itu benar-benar telah menginspirasi Panglima Samudra Jara Sinya. Ia teringat saat masa mudanya ketika pertama kalinya ia datang ke Datu Muara Jambi dan berbincang-bincang dengan Dapunta Abdibawasepa di bukit itu ....

"Sayangnya, ini adalah akhir perjalanan kita karena kita tak lagi bisa ke atas," ujarnya. "Di sana penuh dengan Bunga Kusang "

"Bunga Kusang?" Jara Sinya muda bertanya tak mengerti.

Dapunta Abdibawasepa tertawa, "Kau belum mendengarnya? Itu bunga racun. Serbuk bunganya dapat memabukkan seseorang dan bila dihirup terus-terusan akan membuat orang tak sadarkan diri, bahkan dapat

menyebabkan kematian!"

Jara Sinya muda menatap tak percaya.

"Maka itulah, tak ada orangyang tinggal di sekitar bukit ini," ujar Dapunta Abdibawasepa lagi. "Terutama di bagian selatan sana. Karena angin terus bertiup ke sana "

Itulah yang kemudian membuatnya bergegas menuju ke bukit itu. Di sana ia segera menyuruh seluruh pasukannya memotong semua bunga kusang yang ada di bukit itu ....

-ooo0dw0ooo-

Sampai beberapa hari ini hanya ada penantian!

Di tempat yang sedikit tersembunyi, jauh dari perke-mahan itu, Tunggasamudra tengah melatih tubuhnya dengan gerakan jurus-jurusnya. Biasanya ia tahan berlama-lama dalam latihan seperti ini, semenjak matahari belum tampak sampai kehirukpikukan di perkemahan mulai terasa. Namun, tidak kali ini. Entah mengapa, konsentrasinya sejak tadi tak bisa dikendalikannya.

Bayangan Sangda Alin terus muncul di angannya ....

Ah, ke manakah gadis itu kini? Apa lelaki itu telah membawanya pergi begitu jauh hingga membuatnya tak lagi kembali?

Tunggasamudra terdiam. Sisi batinnya yang lain sebenarnya menginginkan Sangda Alin tak lagi kembali kemari. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Panglima Samudra Jara Sinya terhadap gadis yang telah membunuh beberapa orang pasukan Wangseya. Kepada Wantra Santra yang sangat berpengaruh seperti itu pun, ia begitu berani, apalagi terhadap seorang pandaya yang baru beberapa purnama bertugas?

Di saat-saat seperti itulah pendengarannya yang terlatih tiba-tiba mendengar hiruk pikuk dari perkemahan. Ini agak mengherankan. Matahari belum sepenuhnya muncul, biasanya baru beberapa saat lagi kehirukpikukan ada.

Tunggasamudra pun segera berlari ke arah perkemahan.

Dari arah tempatnya berlari, ia melihat Panglima Samud-rajara Sinya dan pasukannya ternyata telah datang dari Muara Jambi. Panglima Bhumi Cangga Tayu dan Dapunta Cahyadawasuna dan beberapa prajurit tampak menyambutnya.

Di belakang Panglima Samudrajara Sinya terlihat puluhan prajuritnya menggotong kotak-kotak kayu besar seukuran tubuh manusia dewasa dari dalam dermaga. Tampaknya kotak-kotak ini sudah diturunkan dari sambau sejak beberapa saat lalu. Kini kotak-kotak yang setiap kotaknya harus diangkat tak kurang dari empat orang itu kemudian diletakkan berderet memanjang di posisi paling utara sehingga dapat teriihat jelas dari Benteng Minanga Tamwa Pekerjaan ini terus berlangsung sampai lama. Kotak-kotak itu ternyata berjumlah lebih dari ratusan. Ketika salah satunya akan dibuka, Panglima Samudrajara Sinya menyuruh semua pasukannya yang ada di sekitar tempat itu untuk segera menutup hidung mereka dengan kain basah.

"Rencana apa lagi yang ada padamu, Jara?" tanya Panglima Bhumi Cangga Tayu tak mengerti.

Panglima Samudrajara Sinya hanya tersenyum. "Merangkul alam, inilah yang kulakukan ...," ujarnya sambil menutup hidungnya.

Kemudian, dengan tenaga dalamnya, Panglima Samudra Jara Sinya mulai membuka kotak yang terdekat darinya.

Semua mata tak lepas memandang kepadanya saat ia mulai mengeluarkan sebuah bunga kusang dari dalamnya.

Semua memandang tak mengerti. Dan, Panglima Samudrajara Sinya pun tak berusaha untuk menjelaskannya. Ia maju perlahan dan menengadah untuk merasakan embusan angin. Lalu, dengan sebuah sentakan, digerakkannya bunga itu hingga serbuk-serbuk bunga kusang yang ada di dalam bunga terlepas, dan segera beterbangan mengikuti angin ke utara.

"Kalian bantulah aku!" ujarnya kepada panglima-panglima muda yang ada di dekatnya. "Sebarkan sepanjang benteng itu hingga serbuk bunga ini dapat masuk ke dalam benteng!

Lakukan dengan perlahan!"

-ooo0dw0ooo-

Dari dalam Benteng Minanga Tamwa, Panglima Tambu Karen mengamati seluruh gerakan itu. Senyumnya masih terus mengembang begitu lebarnya hingga memperlihatkan dengan jelas keyakinan pada apa yang telah dilakukannya. Ya, seperti yang diperkirakan Panglima Samudra Jara Sinya, Panglima Tambu Karen memang sudah menyiapkan pertahanan yang berlapis untuk semua serangan. Ia memang berencana untuk bertahan. Dalam hitungannya, ia hanya periu bertahan tak lebih dari dua belas purnama untuk membuat lawan mundur. Ia yakin, pasukan Sriwijaya tak akan bisa bertahan selama itu. Perbekalan mereka tidak akan cukup.

Apalagi tanpa diketahui siapa pun, ia telah mengirimkan surat kepada beberapa datu besar untuk memberi kesempatan menyerang Kedatuan Sriwijaya di Telaga Batu. Ia menjamin kemenangan kepada datu-datu itu karena ia yakin sekali bila seluruh pasukan Sriwijaya kini tengah terpusat pada serangan ke datu-nya. Datu-datu yang diharapkannya dapat bertindak itu di antaranya adalah Datu Darmasraya dan sebuah datu yang ada di Bhumijawa.

Kalaupun ini tak berjalan sesuai rencananya, ia telah menyiapkan rencana lainnya untuk bertahan di bentengnya. Rencana itu juga seperti yang telah diduga oleh Panglima Samudra Jara Sinya. Panglima Tambu Karen memang telah membuat hampir lima puluh terowongan yang menghubungkan ke beberapa datu di sekitar Minanga Tamwa, dari yang hanya berdekatan saja sampai di datu-datu yang cukup jauh. Dari situlah ia yakin dapat terus menyuplai makanan dan minuman untuk pasukan dan warganya sampai kapan pun!

Kini, masih dengan keyakinan penuh, Panglima Tambu Karen tengah mengamati apa yang dilakukan Panglima Samudra Jara Sinya. Sebelumnya, seorang anak buahnya memang sempat melaporkan tindakan Panglima Samudra Jara Sinya yang menurunkan puluhan kotak besar dari dalam sambau-nya..

"Kira-kira apa yang dibawanya?" tanyanya. "Mata-mata kita tak menyebutkannya, Panglima," ujar salah seorang panglimanya. "Namun, yang pasti, itu didapatnya dari Muara Jambi

Panglima Tambu Karen sama sekali tak bisa menebaknya. Ia hanya bisa melihat beberapa orang di kejauhan berderet sepanjang sisi bentengnya yang ada di sebelah selatan.

Mereka kemudian bergerak-gerak, tak jelas apa yang dilakukan.

Akan tetapi, yang kemudian terjadi, menjelang siang hari beberapa prajuritnya terlihat mabuk. Terutama pasukannya yang ada di atas benteng!

Panglima Tambu Karen terkejut. "Tampaknya... kita telah diracuni, Panglima," seorang panglimanya segera menghadap.

Panglima Tambu Karen tak langsung menjawab. Awalnya ia sangsi dengan ucapan panglimanya ini. Ya, bagaimana mungkin mereka dapat diracuni? Ia sangat mengontrol makanan dan minuman yang mereka makan. Beberapa prajuritnya selalu memeriksa tampungan air dan persediaan makanan sebelum dikeluarkan untuk diminum dan dimakan.

Akan tetapi, sekilas sebuah pikiran tiba-tiba muncul di benaknya.

Jangan-jangan... orang-orang yang bergerak-gerak tak jelas di kejauhan sepanjang sisi bentengnya telah melakukan sesuatu?

Panglima Tambu Karen menelan ludah. Saat itu juga ia tersadar. Segera ia bangkit dengan mata terbelalak. Tanpa berucap apa pun segera ia keluar dari kedatuannya.

"Perintahkan kepada semua orang di dalam benteng ini untuk menutup hidung!" teriaknya dengan suara menggelegar. "Kita telah diracun!"

Panglima Tambu Karen segera menuju ke arah benteng. Di situlah beberapa pasukannya dilihatnya tak lagi bei diri dengan tegap. Beberapa bahkan mulai tampak bersandar di tembok dengan tatapan bagai orang linglung.

Panglima Tambu Karen menggeram marah. Tak salah lagi, ini pastilah racun. Ya, ia pernah mendengar tentang Bunga Kusang. Bunga yang dapat memabukkan bagi yang menghirup serbuknya Sungguh, khasiatnya hampir sama dengan daun upas. Namun, tak pernah ada seorang pun yang sebelumnya berperang dengan cara demikian. Bunga Kusang sangat sulit dicari. Tanaman ini tak banyak tersebar di sini. Yang ia tahu hanya ada di Muara Jambi dan itu pun jumlahnya tak banyak....

Panglima Tambu Karen segera bergerak ke atas benteng. Ditutup hidungnya dengan kain yang telah dibasahinya. Dari atas benteng dapat dilihatnya pasukan Sriwijaya masih berderet panjang sambil mengibas-ngibaskan sesuatu.

Kepalan tangan Panglima Tambu Karen mengencang. Walau bagaimanapun, ia harus bertahan. Ia tetap menilai bahwa ini adalah strategi yang terialu naif. Ia yakin persediaan bunga itu tak banyak. Mungkin hanya akan memabukkan prajuritnya beberapa saat saja.

"Sudah kauamati berapa kotak yang dibawa sambau itu?" Panglima Tambu Karen bertanya kepada salah seorang panglimanya yang berdiri di sisinya.

Prajuritnya membungkuk, "Sudah hamba coba untuk menghitungnya, Panglima," jawabnya. "Namun, sampai saat ini kotak-kotak itu masih belum seluruhnya diangkut dari atas sambau yang ada di dermaga. Namun, yang pasti, kotak-kotak yang telah berada di depan kita jumlahnya mencapai hampir seratus kotak!"

Panglima Tambu Karen tertegun. Seratus kotak? Matanya langsung membulat, seperti akan terlepas. Giginya menggeretak seketika. Tangannya yang terkepal kencang tampak bergetar. "Bajingan kau, Jara Sinya!" teriaknya penuh amarah.

-ooo0dw0ooo-

Tunggasamudra mendekati Dapunta Cahyadawasuna yang tengah mengamati dari jauh para panglima yang tengah menaburkan serbuk-serbuk bunga.

"Dapunta, apa strategi ini dapat berhasil?" bisiknya hati- hati.

Dapunta Cahyadawasuna tak langsung menjawab. "Semua strategi... layak untuk dicoba, Tungga!" ujarnya pelan.

"Akan tetapi...," Tunggasamudra menghentikan ucapannya. "Kau merasa ini kekanakan?" Tunggasamudra mengangguk

ragu. Dapunta Cahyadawasuna hanya tersenyum tipis, "Tak

bisa kusalahkan itu," ujarnya. "Namun, kadang peperangan dapat dimenangkan oleh pihak yang dapat memanfaatkan keadaan di sekelilingnya. Dan, sejarah telah menceritakan banyak sekali kejadian seperti itu. Dulu, puluhan tahun yang lalu, tentara Sriwijaya pernah memenangkan sebuah perang karena memanfaatkan serangan tawon-tawon. Pernah juga pasukan Kerajaan Sriwijaya memenangkan perang atas bantuan kclelawar-kelelawar pengisap darah

Dapunta Cahyadawasuna membuang pandangannya ke arah Benteng Minanga Tamwa, "Dan, kini... kupikir akan tetap ada peluang bagi kita memenangkan perang dari bunga- bunga kusang itu "

Tunggasamudra hanya terdiam. Namun, ucapan panjang Dapunta Cahyadawasuna tetap telah membuka pikirannya. Ia pun semakin memperhatikan apa yang dilakukan Panglima Samudra Jara Sinya.

Kini di bagian paling depan pasukan, Panglima Samudra Jara Sinya masih terus mengamati para panglimanya yang tengah menaburkan serbuk-serbuk bunga kusangnya. Berkali- kali ia berujar keras, "Ingat! Lakukan dengan gerakan perlahan dan dalam jeda waktu tertentu!" teriaknya. "Aku yakin tak lama lagi mereka memutuskan untuk menyerang kita."

Panglima Bhumi Cangga Tayu yang berdiri tak jauh darinya menoleh, "Namun apa kita akan menggugurkan semua bunga ini dari seluruh kotak?" ia melirik pada kotak-kotak yang masih menumpuk di sampingnya.

Panglima Samudrajara Sinya hanya tersenyum di balik kain yang menutupi hidungnya. "Tentu saja tidak," ujarnya, "karena bunga-bunga itu tak lebih ada di dalam sepuluh kotak."

Panglima Bhumi Cangga Tayu memandang heran, "Namun ratusan kotak lainnya?"

Panglima Samudrajara Sinya hanya mendengus. "Tentu saja kotak lainnya tak berisi apa-apa "

-ooo0dw0ooo-

Sampai menjelang tengah hari, mulai terdengar suara genderang bertalu-talu dari arah Benteng Minanga Tamwa.

Panglima Samudrajara Sinya tersenyum samar. "Tampaknya mereka mulai melakukan sesuatu," ujar

Panglima Bhumi Cangga Tayu.

Panglima Samudrajara Sinya mengangguk, "Ya, ia akan menyerang kita!" ujarnya.

Tentu saja ucapan ini membuat Panglima Bhumi Cangga Tayu merasa tak yakin. "Apa mungkin secepat itu, Jara?" ujarnya. "Tentu saja ia harus bertindak cepat, Cangga! Bahkan, lebih cepat lagi!" balas Panglima Samudrajara Sinya. "Bila ia telah menyadari akibat yang ditimbulkan dari bunga-bunga kusang ini, hanya dalam beberapa waktu ke depan, tak sampai matahari tenggelam, ia akan melihat beberapa prajuritnya mulai mati!"

Kini Panglima Samudrajara Sinya bangkit. Dipatut-kannya pedangnya yang ada di samping pinggangnya. "Aku akan pergi menemui pandaya itu dulu!" ujarnya sambil melangkah meninggalkan Panglima Bhumi Cangga Tayu. "Kupikir sudah waktunya memberinya tugas yang harusnya dilakukan Wantra Santra

Lalu, Panglima Samudra Jara Sinya segera melangkah dengan gerakan sedikit bergegas ke arah Tunggasamudra berdiri.

"Panglima, ada apa?" Dapunta Cahyadawasuna yang ada di samping Tunggasamudra bertanya dengan nada heran.

Panglima Samudra Jara Sinya menjawab, "Aku hanya ingin bicara dengan sang pandaya," ujarnya sambil menoleh kepada Tunggasamudra.

Lalu, lanjutnya, "Sebentar lagi pasukan Minanga Tamwa akan menyerang kita!" ujarnya. "Dan, bila mereka menyerang kita, aku ingin kau yang membunuh panglima mereka, Tambu Karen!"

-ooo0dw0ooo-

Dua puluh lima tahun yang lalu, ketika Dapunta Abdibawasepa merebut Minanga Tamwa, ia melakukan serangan dari arah gerbang umur. Ini merupakan serangan yang mengejutkan. Dapunta Abdibawasepa telah merancangnya dengan saksama. Ia dapat menilai kelemahan pertahanan yang ada di gerbang timur, mulai dari jumlah menara yang lebih sedikit, sampai bentuk gerbangnya yang tak sekukuh gerbang utama. Maka itulah, serangannya yang cepat dan mengejutkan dapat membuat Minanga Tamwa, yang seharusnya menang secara jumlah pasukan, takluk.

Dapunta Abdibawasepa memang harus mengorbankan ribuan pasukannya, tetapi itulah yang kemudian membuat Panglima Tambu Karen, yang waktu itu masih menjadi panglima utama Sriwijaya, lebih mudah menaklukkan Benteng Minanga Tamwa seutuhnya.

Akan tetapi, peperangan kali ini jelaslah berbeda! Benteng Minanga Tamwa kini dikelilingi oleh pasukan

Kerajaan Sriwijaya dari empat penjuru. Di bagian utara dan

barat Pasukan Bhumi di bawah pimpinan Panglima Bhumi Cangga Tayu telah bersiap. Sementara di sebelah timur pasukan Rahasia Wangseya di bawah pimpinan sementara, Panglima Kra Dawang, tinggal menunggu perintah. Dan, di sebelah selatan pasukan samudra di bawah pimpinan Panglima Samudrajara Sinya mulai bergerak.

Suara genderang dari dalam Benteng Minanga Tamwa merupakan tanda pihak Minanga Tamwa telah mempersiapkan serangan. Ini membuat Panglima Samudrajara Sinya, Panglima Bhumi Cangga Tayu, dan para panglima muda lainnya segera mempersiapkan pasukannya.

Bunga-bunga kusang masih belum berhenti ditaburkan, sementara pelontar-pelontar panah kini mulai diarak maju, diikuti oleh ratusan pasukan panah yang berbaris panjang dalam beberapa kelompok. Bersamaan dengan itu, beberapa burung merpati telah dilepas untuk mengabarkan kepada pihak lainnya.

Sementara itu, Panglima Samudrajara Sinya masih terdiam menikmati alunan suara tabuhan genderang di kejauhan.

"Dugaan Panglima ternyata benar," ujar Luwantrasima yang berdiri di sebelahnya. Kini ia telah memakai jubah perangnya yang terbuat dari lempeng besi, yang menutupi bagian dada dan punggungnya. Biasanya hanya prajurit di bawah gelar panglima yang menggunakan jubah besi, sedangkan prajurit lainnya hanya menggunakan jubah dari rotan yang dipilin.

Panglima Samudrajara Sinya hanya tersenyum samar. Ia sendiri telah menggunakan jubah perangnya, yang telah puluhan tahun melindunginya. Di belakangnya, beberapa pasukannya juga telah menabuh genderang. Gema talunya seakan menyambut talu genderang dari arah Minanga Tamwa.

"Sebaiknya kita bersiaplah!" ia mulai berjalan ke depan.

Sementara itu, di sudut lain, Tunggasamudra juga lengah memakai baju besinya. Dapunta Cahyadawasuna yang berdiri di dekatnya memperhatikannya lekat-lekat.

"Ini tugas berat untukmu, Tungga," ujarnya berusaha menenangkan. "Kekuatan mereka memang hanya ada pada sosok Panglima Tambu Karen. Membunuh panglima ini, sama artinya dengan mengalahkan seluruh pasukan Minanga Tamwa”

Tunggasamudra menoleh, "Aku tahu, Dapunta," ujar nya pendek. "Panglima Jara Sinya sudah mengatakannya kepadaku

Dapunta Cahyadawasuna hanya mengangguk. "Sebenarnya, semua akan lebih mudah bila Sangda Alin bersama kita," tambahnya tanpa bermaksud mengeluh.

Akan tetapi, kali ini Tunggasamudra tak menyahut. Sekilas dilihatnya ekspresi yang ada pada wajah Dapunta Cahyadawasuna. Sejak dulu, ia bisa merasakan perasaan yang ada padajunjungannya ini terhadap sosok Sangda Alin. Wa lau sudah beberapa hari ini junjungannya ini tak bicara soal Sangda Alin, Tunggasamudra yakin kalau sosok di depannya ini terus berpikir tentang Sangda Alin. Hanya karena lak ingin mencampurkan urusan pribadinya dengan perang besar ini saja yang membuatnya terus diam.

Bunyi genderang terdengar makin keras.

Dan, benar dugaan Panglima Samudra Jara Sinya, tiba tiba pintu gerbang Minanga Tamwa yang setinggi tiga tombak lebih mulai terbuka perlahan. Suara engsel yang berderit terdengar sampai jauh. Namun, suara itu segera tergantikan oleh sorakan-sorakan riuh dari dalam benteng.

Lalu, serbuan itu pun dimulai! Ratusan pasukan berkuda Minanga Tamwa maju dengan pedang terhunus. Derap-derap kuda mereka, membubungkan debu hingga ke langit.

Para prajurit yang sebelumnya terus menaburkan bunga kusang itu segera ditarik ke belakang.

Panglima Samudrajara Sinya berujar kepada panglima Mandrasiya, "Siapkan pasukan panah untuk menyambut!"

Segera saja Panglima Mandrasiya maju ke depan dan berteriak, "PASUKAN PANAAAH!"

Lalu, dari arah belakang, bersamaan dengan mundurnya prajurit-prajurit yang menaburkan bunga kusang, ratusan pasukan panah merangsek ke depan. Tanpa komando lagi, mereka segera menyusun diri dalam dua barisan memanjang. Yang satu berjongkok dan yang lainnya berdiri. Langsung mereka siapkan busur untuk menyambut pasukan kuda yang terus berderap maju.

Sesaat bumi terasa bergetar.

Lalu, setelah dirasajarak panah cukup dekat, Panglima Mandrasiya segera berteriak, "PANAAAH!"

Dan, panah segera meluncur ke langit secara beruntun. Hasilnya puluhan pasukan berkuda Minanga Tamwa yang terkena panah-panah itu segera terpuruk, membuat kacau penyerangan. Kuda-kuda yang terjatuh menjadi penghalang yang tak bisa lagi dihindari hingga akhirnya ratusan pasukan kuda Minanga Tamwa kocar-kacir.

Akan tetapi, itu tak beriangsung lama. Tak lebih setelah sepuluh anak panah dilepas, pasukan panah mundur. Posisi mereka segera digantikan oleh pasukan berkuda dan pasukan tombak dan pedang.

Peperangan jarak dekat tak bisa terhindari lagi! Dipimpin oleh beberapa panglima muda, pasukan Sriwijaya mencoba menahan pasukan kuda Minanga Tamwa!

"Ini seperti tanpa rencana ...," desis Panglima Bhumi Cangga Tayu.

"Mereka benar-benar tak punya pilihan lain untuk berperang secara langsung, seperti ini!" jawab Panglima Samudrajara Sinya tanpa melepas pandangannya dari arah medan perang. "Bila ia menunggu sampai sore saja, ratusan pasukannya akan mati dengan percuma, walau malam kita tak menyerangnya. Namun, bukankah esok pagi kita bisa kembali menyerangnya?"

"Akan tetapi, bukankah mereka bisa bersembunyi terlebih dahulu?"

Panglima Samudra Jara Sinya tersenyum, "Kalau mereka bersembunyi, bukankah semakin mudah untuk kita mendekati benteng mereka?"

Panglima Bhumi Cangga Tayu mengangguk-angguk. Diam- diam ia mengakui keberhasilan strategi Panglima Samudra Jara Sinya.

"Akan tetapi," ujarnya lagi, "tampaknya mereka masih setengah hati melakukan serangan ini!" balas.Panglima Bhumi Cangga Tayu. "Mereka hanya mengirim tak lebih dari lima ratus pasukan saja!"

"Ya, walau bagaimanapun mereka tetaplah menunggu kita mendekat," kali ini Panglima Samudra Jara Sinya menoleh. "Itu adalah keputusan terbaik bagi mereka. Apalagi, pada akhirnya ... bukankah kita memang harus tetap maju ke depan?"

Maka, tak berapa lama, setelah pasukan berkuda Minanga Tamwa dapat dihabisi, pasukan pelontar panah pun mulai merangsek maju, diikuti di belakang seluruh pasukan, termasuk pasukan gajah!

Kali ini Panglima Samudra Jara Sinya dan Panglima Bhumi Cangga Tayu telah ikut maju di atas kuda mereka. Di belakangnya Dapunta Cahyadawasuna dan Tunggasamudra serta beberapa panglima muda lainnya mengikutinya dalam diam.

Entah mengapa seiring derap kuda yang semakin menjauh, perasaan Tunggasamudra menjadi tak tenang. Mungkin karena ini adalah peperangan pertama bagi dirinya. Namun, lepas dari itu, tanpa ada yang mengetahuinya, Tunggasamudra merasa begitu sedih melihat mayat-mayat bergelimpangan di depan matanya. Beberapa bahkan masih dilihatnya tampak bergerak-gerak, tanda nyawa mereka masih ada. Dalam kondisi seperti itu, bila itu ternyata merupakan prajurit Minanga Tamwa, prajurit Sriwijaya segera mendekatinya dan langsung menusuk jantungnya, untuk mengakhiri nyawanya dengan cepat.

Tunggasamudra hanya bisa menguatkan hatinya. Sampai saat ini, walau ia merupakan pendekar yang tangguh, ia sama sekali belum pernah membunuh seorang sekalipun! Inilah yang membuat tangannya tiba-tiba terasa basah ... dan sedikit gemetar.

Lalu, pasukan pelontar panah yang dilindungi dengan perisai dari lilitan rotan terus merangsek maju, diikuti pasukan panah. Pasukan Minanga Tamwa dari atas benteng segera melakukan serangan. Langit tiba-tiba kembali penuh dengan panah. Mereka memanahi para pasukan pelontar panah.

Walau tak banyak yang mengenai sasaran, tetapi beberapa di antara mereka tetap saja ada yang tak beruntung. Namun, bagi yang terkena panah, pasukan lainnya akan dengan cepat menggantikannya!

Dari bawah pasukan panah Sriwijaya juga terus membalas serangan. Sambil tak henti merangsek ke depan, mereka secara berirama melakukan serangan ke benteng. Awalnya serangan mereka itu memang tak membuahkan hasil karena jarak panah masih terlalu jauh. Namun, semakin dekat, beberapa prajurit Minanga Tamwa mulai terkena panah mereka. Beberapa prajurit yang berdiri di tepi benteng, bahkan sampai terjatuh ke sungai di depan benteng mereka!

Alat-alat pelontar panah pun semakin mendekat. Serangan pertama segera ditujukan mengarah pada pintu gerbang Minanga Tamwa, juga pada menara-menara Minanga Tamwa. Kini anak-anak panah pelontar itu dilapisi oleh api sehingga serangannya segera berbekas meninggalkan kobaran api pada apa pun yang dikenainya. Terutama pada pintu gerbang utama. Walau terbuat dari kayu terbaik dengan ketebalan yang luar biasa, hanya beberapa saat kemudian gerbang itu terbakar hebat. Saat itulah empat ekor gajah terbesar mendekat dan mengayunkan balok kayu besar yang diikatkan pada tubuh-tubuh mereka ke arah pintu. Hanya dua kali serangan saja, gerbang utama itu pun akhirnya jebol.

Melihat itu, Panglima Samudrajara Sinya dan Panglima Bhumi Cangga Tayu segera menyambutnya dengan mengangkat pedangnya.

"SERBUUU!" "SERBUUU!"

Teriakan keduanya disambut oleh para panglima yang ada di sekitar mereka, lalu segera disambut oleh para prajurit secara bersahutan. Ini merupakan tanda bagi pasukan kuda untuk mulai maju, disusul oleh pasukan tombak dan pedang, juga pasukan gajah. Dengan panah yang terus menyerang dari arah belakang, pasukan terus merangsek ke depan, termasuk Dapunta Cahyadawasuna dan Tunggasamudra.

"Hati-hatilah, Dapunta!" teriak Tunggasamudra yang masih berada di sampingnya. Ya, walau bagaimanapun ia tahu, selain orang tak menyukai jalan perang, junjungannya ini bukanlah pesilat tangguh. Sangadah berbahaya berada di medan perang seperti ini baginya. Namun, sebagai pemimpin ratusan prajurit, Dapunta Cahyadawasuna tampaknya memang harus maju secara langsung memimpin pasukannya.

Dapunta Cahyadawasuna hanya bisa mengangguk. "Pada akhirnya, aku tak punya pilihan untuk berperang, Tungga!" teriaknya sambil mengeluarkan pedangnya. 'Jaga juga dirimu!"

Lalu, ia pun mulai bergabung dengan pasukan kuda yang berderap ke depan. Demikian juga dengan Tunggasamudra. Setelah mencabut salah satu pedang dari punggungnya, ia mulai bergerak semakin merapat ke arah gerbang yang mulai terbuka....

Akan tetapi, belum sempat pasukan Sriwijaya memasuki gerbang, pasukan kuda Minanga Tamwa telah keluar menyambutnya di ambang gerbang. Suara genderang bertalu seiring suara ratusan derap kuda.

Tak bisa dihindari lagi peperangan paling dahsyat terjadi di titik itu!

Panglima Samudra Jara Sinya terus merangsek di bagian paling depan. Sudah belasan nyawa berakhir di tangannya. Pedang Wangga-nya telah menjelma bagai naga yang kelaparan dan terus menginginkan kematian lawannya!

Di sudut lain, pasukan pelontar panah telah berhasil menghancurkan dua menara paling dekat dari gerbang utama. Ini tentu saja membuat pertahanan Minanga Tamwa semakin kocar-kacir. Pasukan panah semakin leluasa melepaskan panahnya ke atas, tanpa ada balasan serangan yang berarti karena pasukan panah Minanga Tamwa yang ada di atas benteng lebih memilih menyerang pasukan berkuda yang mulai merangsek maju.

Maka, tak bisa dihindari lagi, korban pasukan kuda Sriwijaya terus berjatuhan. Panglima Bhumi Cangga Tayu yang melihat itu segera menarik tali kekang kudanya, membuat kuda yang ditungganginya meringkik dan mengangkat kaki ke atas. Ia kemudian memberi tanda agar pasukan gajah maju ke depan.

Dan, seperti yang kerap dilukiskan pada peperangan- peperangan sebelumnya, nyawa kini hanyalah selembar sosok tak berarti, yang bisa segera musnah hanya karena satu gerakan seseorang. Nyawa juga yang bisa menjadi harta paling berharga, yang akan dipertahankan dengan membunuh lawan sebanyak-banyaknya ....

Di tengah hiruk pikuk itulah, Tunggasamudra kemudian melihat sosok paling mencolok di antara semua pasukan Minanga Tamwa. Walau posisinya masih cukup jauh, Tunggasamudra bisa melihat sosok itu duduk di atas kudanya yang besar dan berpelindung anyaman rotan. Ia menggunakan baju pelindung yang terbuai dari besi terbaik, dengan ukiran-ukiran emas bergambar harimau. Di pedangnya terlihat bekas darah yang mengental, tanda sudah puluhan orang yang telah dibunuhnya.

Tunggasamudra segera meyakini bahwa itulah Panglima Tambu Karen!

Maka, ia pun segera merangsek ke sana. Beberapa prajurit Minanga Tamwa berusaha menahan gerakannya dengan mencoba menyerangnya. Namun, dengan mudah Tunggasamudra dapat mengelak dari serangan-serangan itu dan terus melewati gerbang.

Tak lama kemudian keduanya telah berhadapan. Hanya dengan bertatapan beberapa detik saja, keduanya sudah saling menyerang. Pertempuran di antara keduanya tak bisa dihindari lagi.

Sosok itu memang benar Panglima Tambu Karen. Ia telah memimpin pasukannya sendiri menjaga gerbang yang telah terbuka. Posisinya yang ada di balik gerbang membuat dirinya lebih leluasa menyerang prajurit-prajurit Sriwijaya yang memasuki gerbang.

Awalnya ketika menyerang Tunggasamudra, ia bergerak sangat cepat untuk menyudahi pertarungan ini dengan cepat. Keyakinannya memang telah berada di atas. Namun, yang terjadi ternyata Tunggasamudra selalu berhasil menghindari serangan pedangnya dari atas kudanya. Ia bahkan secara perlahan-lahan mulai memancing Panglima Tambu Taren untuk keluar dari gerbang dan menjauhi arena pertempuran yang padat.

Panglima Tambu Karen yang menyadari ini berusaha kembali, tetapi Tunggasamudra selalu membuatnya tak bisa beranjak darinya.

"Kurang ajari" bentak Panglima Tambu Karen dengan marah. "Siapa kau sebenarnya?"

'Aku Tunggasamudra, Pandaya Sriwijaya," ujar Tunggasamudra.

"Huh, pantas kemampuanmu lumayan," Panglima Tambu Karen meludah.

Kali ini ia tak lagi menyerang Tunggasamudra, tetapi segera melompat turun dari kudanya. "Aku tahu kau ditugaskan untuk membunuhku!" ujarnya. "Cepatlah turun dan kita sudahi di sini!"

Selepas ucapan itu, dengan gerakan cepat, ia kembali menyerang Tunggasamudra dengan serangan mematikan. Tunggasamudra terkejut. Serangan yang bergerak meluncur ke perutnya itu mengarah juga pada leher kudanya. Maka, tak ada pilihan lain bagi Tunggasamudra, kecuali melempar tubuhnya dari atas kudanya sehingga membuat serangan itu berubah arah.

Sebelum ia menjejak tanah, serangan lanjutan Panglima Tambu Karen telah melayang kembali mengarah pada tenggorokannya.

TRANK ... TRAAANK....

Tunggasamudra mencoba menangkis serangan-serangan beruntun itu. Dengan gerakan tak teriihat, ia telah mengeluarkan satu pedang lagi di tangan kirinya.

Pertarungan pun semakin dalam.

Di gerbang Minanga Tamwa, Panglima Samudra Jara Sinya dan Panglima Bhumi Cangga Tayu terus merangsek masuk ke dalam benteng. Kini konsentrasi pertahanan Minanga Tamwa telah terbagi. Dari arah barat dan timur, serta utara, pasukan Sriwijaya telah ikut maju menyerang.

Dengan dibantu pasukan gajah yang berderet beruntun, Panglima Bhumi Cangga Tayu terus maju setapak demi setapak. Beberapa panah yang menancap pada gajah- gajahnya membuat gajah-gajah itu melenguh panjang dengan marah. Ini membuat beberapa gajah kemudian membentur- benturkan tubuhnya pada tembok terdekat sehingga tembok pertama yang ada di dekat pintu gerbang akhirnya mulai roboh dan reruntuhannya segera membuat tembok pelapis kedua juga ikut roboh.

Celah yang terbentuk pun semakin lebar, tak heran bila tak lama berselang pasukan tombak dan pedang Sriwijaya mulai memasuki Benteng Minanga Tamwa.

Keadaan di dalam Benteng Minanga Tamwa sekelik.i kacau balau. Beberapa pemanah dari atas benteng dan menara masih terus mencoba meluncurkan panah-panah mereka.

Namun, pasukan tombak dan pedang Sriwijaya segera menyebar ke semua sisi benteng. Mereka mencoba naik ke atas benteng dan membuat kejutan bagi pasukan panah Minanga Tamwa yang ada di situ.

Di sisi lain, beberapa tembok benteng yang secara bc runtun diserang oleh pasukan pelontar panah telah hancur terbakar habis. Beberapa prajurit di menara-menara masih mencoba menyerang, tetapi pasukan tombak dan pedang Sriwijaya yang sudah di dalam benteng segera bergerak cepat merebut menara-menara itu.

Maka, tak sampai hari menjadi gelap, pasukan Minanga Tamwa yang jelas kalah dalam jumlah, mulai terlihat terdesak. Beberapa panglima Minanga Tamwa masih mencoba mengatur serangan dari beberapa menara, tetapi keadaannya tak bertahan lama. Beberapa panglima kemudian memutuskan untuk beriari ke dalam dan menyelamatkan diri melalui terowongan-terowongan yang dibuat di sekitar hutan kecil di belakang kedatuan.

Di saat yang bersamaan, seiring dengan meredupnya sinar matahari di ufuk barat, dua pedang Tunggasamudra masih bergerak bagai kilat menyerang Panglima Tambu Karen.

Jelas ini adalah pertempuran yang berat bagi Panglima Tambu Karen. Konsentrasinya tak bisa seutuhnya di sini. Beberapa kali ia menoleh untuk melihat keadaan bentengnya.

Di antara semburat langit yang berwarna oranye, masih bisa dilihatnya asap di beberapa titik di bentengnya.

Itu tentu saja membuatnya sangat marah. Ia menggeram sambil berusaha mengeluarkan jurus-jurus terhebatnya untuk menghabisi Tunggasamudra. Namun, selalu saja Tunggasamudra berhasil menghindarinya dengan jurus-jurus Pedang Membelah Gunung.

Sungguh, ini sama sekali tak pernah disangka oleh Panglima Tambu Karen. Ia tak pernah menyangka bahwa Sriwijaya akan memiliki pendekar sehebat ini. Selama ini ia terus mengira bila hanya Wantra Santra yang perlu diwaspadai. Ialah sosok yang paling besar kemungkinannya menghancurkan ambisinya bebas dari Sriwijaya. Maka itulah, sejak dulu, ia telah berusaha mencoba menciptakan benih kecurigaan pada Panglima Samudra Jara Sinya, yang telah diperkirakan akan menjadi panglima terpenting di Sriwijaya.

Satu pesanku kepadamu, Jara. Perhatikan baik-baik...

Wantra Santra ....

Perhatikan ia baik-baik....

Sejak hari itu, ia hanya perlu menunggu waktu sampai pengikraran lepasnya Minanga Tamwa dari Sriwijaya. Ia bisa menduga saat itulah Panglima Samudra Jara Sinya pasti akan merasakan ketidakberesan pada laporan-laporan kelompok Wangseya tentang Minanga Tamwa dan Muara Jambi kepada Kedatuan Sriwijaya selama ini. Bila demikian, ia yakin, kecurigaan itu akan muncul pada satu tokoh saja: Wantra Santra.

Dan, dugaan itu ternyata benar. Berita dibunuhnya Wantra Santra oleh Panglima Samudra Jara Sinya benar-benar membuat dirinya semakin yakin pada strategi-strateginya. Bila Wantra Santra sudah tak ada dan kemudian peperangan terbuka harus terjadi, ia masih yakin mampu untuk membunuh Panglima Jara Sinya dan Panglima Cangga Tayu.

Ia yakin sekali itu. Namun ia benar-benar tak menyangka bila muncul sosok lain yang mampu membuat dirinya tak berkutik! Sungguh, ini benar-benar di luar dugaannya.

Asap yang semakin mengepul hitam mengotori langit membuat konsentrasi Panglima Tambu Karen semakin terbelah. Ini membuat dirinya semakin terdesak hingga beberapa kali benturan saja pada pedangnya langsung membuat pedangnya patah menjadi dua!

Tunggasamudra seketika menghentikan gerakannya. Ia tahu konsentrasi lawannya memang telah bercabang. Inilah yang menguntungkan dirinya. Bila tidak, akan sangat sulit tentunya menahan serangan-serangannya.

Tunggasamudra melepas satu ikatan pedang di punggungnya yang tersisa dan dilemparkannya di depan Panglima Tambu Karen.

"Pakailah itu!" ujar Tunggasamudra. Panglima Tambu Karen tak langsung bergerak. Sesaat ia kembali menoleh ke arah bentengnya. Kali ini asap hitam telah dilihatnya menutupi hampir seluruh bentengnya, juga kobaran api yang menyala sudah begitu tingginya.

Sungguh, ini membuatnya tertegun. Terlebih suara sorak- sorai yang semula terus menggema, kini tak lagi terdengar dengan keras ....

Diam-diam Panglima Tambu Karen mulai menduga apa yang terjadi pada bentengnya. Maka, dengan gerakan cepat, dicabutnya pedang yang menancap di depannya itu. Lalu, dengan satu gerakan saja ia sudah kembali meluncur ke arah Tunggasamudra. "HIIAAATH

Dan, pertarungan dilanjutkan ....

-ooo0dw0ooo-

Menjelang dini hari, Benteng Minanga Tamwa berhasil ditaklukkan. Panglima Samudrajara Sinya dan Panglima Bhumi Cangga Tayu memasang panji merah Sriwijaya di puncak benteng. Sorak-sorai kemenangan kembali bergaung seakan tanpa henti.

Dapunta Cahyadawasuna yang tampak kelelahan mencoba mencari-cari Tunggasamudra. Terakhir ia memang melihat Tunggasamudra merangsek memancing Panglima Tambu Karen ke luar benteng, mendekati hutan. Namun, sejak itu, ia tak melihatnya lagi. Saat ia dan beberapa prajurit berusaha mencari di tepi hutan, mereka mendapati Panglima Tambu Karen telah mati dalam posisi duduk dengan pedang menancap di dadanya.

Dapunta Cahyadawasuna mengenal pedang itu sebagai salah satu pedang milik Tunggasamudra. Namun, pemuda itu sama sekali tak tampak di situ.

Sampai lama Dapunta Cahyadawasuna mencari pemuda itu, tetapi ia tetap tak menemukannya. Bahkan, di antara ribuan tubuh-tubuhyang bergelimpangan tak bernyawa pun, ia tetap tak mendapati tubuh pandaya-nya. Tunggasamudra ... seperti telah hilang dari tanah ini ....

Dan, di tahun-tahun kemudian, perang ini kemudian dilukiskan di pahatan batu-batu besar yang terpajang di satu sudut Minanga Tamwa.

Kejayaan bagi Sriwijaya

Kembali Minanga Tamwa berhasil direbut dari tangan orang-orang

yang tak bertanggung jawab, yang tak puas pada kekuasaannya.

Di sinilah kepala pengkhianat Tambu Karen tertanam, untuk mengingatkan bagi penguasa Minanga Tamwa

selanjutnya agar tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.

Bahwa segala pemberontakan terhadap Sri Maharaja penguasa Sriwijaya akan membuat akhir seperti ini....

-ooo0dw0ooo-