-->

Pandaya Sriwijaya Bab 34 : Dua Kematian di Hari yang Tak

Bab 34 : Dua Kematian di Hari yang Tak

Selesai

Lebih dari empat puluh tahun yang lalu, Dapunta Mahak Ilir pernah menyelamatkan seorang bayi yang selamat dari bencana letusan gunung berapi. Waktu itu, ia dan pasukannya baru saja berencana untuk merebut tanah itu. Selama ini, sudah sekian lama ia dan leluhurnya lari dari tanah milik mereka sendiri. Sejak upaya melepaskan diri dari Sriwijaya yang dilakukan moyangnya, Kandra Kayet dan beberapa keturunannya setelah itu, puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, mereka memang tak lagi benar-benar memiliki tanah yang bisa mereka injak dengan bangga.

Maka itulah, sudah sejak lama Dapunta Mahak Ilir mulai merebut datu-datu yang dianggapnya menjadi haknya, yang kini telah dikuasai oleh Sriwijaya. Saat itulah ia mendapati tangisan bayi di sebuah tanah yang baru saja dilanda bencana, di antara semburan lahar-lahar yang mahapanas .... Ialah yang kemudian kali pertama mengangkat bayi itu dalam tangannya. Melepaskan pelukan ibunya yang telah kaku terdiam.

"Bayi yang bisa hidup dalam kondisi seperti ini, pastilah bukan bayi biasa gumamnya ketika itu.

Ia kemudian memutuskan untuk memelihara bayi itu dan memberinya nama Wantra Santra.

-ooo0dw0ooo-

Di ruangan yang tampak lapuk ini, beberapa orang tampak duduk dalam kondisi tegang. Sepulang dari hutan bambu itu, Panglima Samudra Jara Sinya memang meminta Wantra Santra dan Tunggasamudra untuk hadir di situ, guna membicarakan masalah tadi. Dapunta Cahyadawasuna dan beberapa panglima muda juga datang di situ, walau dalam posisi yang sedikit berjauhan dari tempat duduk ketiganya.

Suasana tegang memang tak terelakkan lagi. Untunglah angin yang berembus, walau sesekali menaburkan serbuk- serbuk kayu bekas gerusan rayap, sedikit menyejukkan suasana.

Panglima Samudra Jara Sinya tertawa lepas mencoba menutupi ketegangan yang ada.

"Ayo, minum!" ia mempersilakan dua tamu di depannya untuk minum. Sebagai awalan, ia sendiri segera menenggak cawannya hingga habis.

Diliriknya Wantra Santra yang masih diam, "Ada apa, Wantra? Kau tampak diam?"

Wantra Santra menoleh sekilas. Tanpa bicara dan dengan gerakan kaku, diambilnya cawan di depannya. Sejenak ia menimbang-nimbang sebelum akhirnya meneguknya. Panglima Samudra Jara Sinya tersenyum, kemudian tatapannya beralih kepada Tunggasamudra, "Kau juga, minumlah "

Tunggasamudra mengangguk. Segera diambilnya cawan di depannya, lalu diminumnya.

Senyum Panglima Samudra Jara Sinya semakin melebar, "Bagus, bagus!" ujarnya. "Kalian seharusnya ada dalam suasana seperti ini, bukannya malah saling mengadu ilmu

...," ucapannya yang pelan seakan menjadi sindiran.

"O ya," katanya lagi sambil menyapukan pandangannya, "di mana Sangda Alin? Mengapa ia tidak muncul di sini?" ia melempar pandangannya ke arah Dapunta Cahyadawasuna yang duduk agak jauh di belakang.

'Aku tak menemuinya ada di biliknya," jawab Dapunta Cahyadawasuna pendek. "Mungkin ... ia tengah pergi. "

"Tak perlu lagi kalian mencari dirinya!" ujar Wantra Santra dengan suara dingin. "Ia adalah pengkhianat!!'

Panglima Samudra Jara Sinya dan Dapunta Cahyadawasuna saling bertatapan.

"Apa katamu?" tanya Dapunta Cahyadawasuna tak yakin. "Perempuan ituadalah putri Dapunta Ih Yatra, penguasa

datu ini. Ia sengaja menyusup kemari sebagai pandaya, untuk membalaskan dendam keluarga dan juga perguruannya yang telah kita hancurkan, terutama kepada Kelompok Rahasia Wangseya!"

Sesaat, semuanya terdiam tak percaya.

Dapunta Cahyadawasuna segera berucap pelan, "Sebelum mengambil keputusan itu, lebih baik kita menyelidikinya terlebih dahulu."

Wantra Santra tersenyum sinis, "Tak perlu! Pasukanku telah mengumpulkan cukup bukti untuk mengungkapkannya, terutama saat ia membunuh kaki tanganku. Aku hanya perlu membawanya kemari hidup-hidup agar kalian semua tahu."

Wantra Santra melempar pandangannya kepada Panglima Samudra Jara Sinya, 'Jadi, kupikir tak perlu ada yang diselesaikan di sini!"

Selesai mengucapkan kalimat itu, Wantra Santra segera bangkit berdiri. Sedikit serbuk kayu terbang menjatuhi jubahnya, tetapi ia tak menggubrisnya. 'Aku harus pergi sekarang, masih banyak yang harus aku lakukan," ujarnya.

Panglima Samudra Jara Sinya mencoba tetap tersenyum. "Aku tahu kau begitu sibuk, Wantra. Namun, ini tak akan banyak menyita waktumu," ujarnya. "Aku hanya ingin menyelesaikan pertarunganmu tadi dengan pandaya ini agar nantinya tak ada lagi masalah yang timbul "

Wantra Santra menatap tajam kepada Panglima Samudra Jara Sinya, "Sudah kukatakan bukan, kalau pertarungan tadi hanyalah kesalahpahaman? Ia masih terlalu muda. Aku bisa memahami bila ia membela temannya Ia kemudian melirik kepada Tunggasamudra.

Panglima Samudra Jara Sinya terkekeh mencoba menetralkan kembali suasana, "Baiklah kalau ini memang sekadar kesalahpahaman, aku bisa menerimanya. Namun, aku hanya ingin kembali mengingatkan kalian semua bahwa di sini kita berada di pihak yang sama. Aku tak ingin ... ada kejadian seperti itu lagi!"

Wantra Santra tersenyum sinis. Ucapan tadi dirasakan seperti menekannya. Padahal semua telah tahu bahwa sebagai pemimpin Kelompok Rahasia Wangseya, posisinya hanya ada di bawah Sri Maharaja, bukan yang lainnya.

"Tampaknya... kau ini lupa sedang bicara dengan siapa, Jara!" desisnya. Lalu, tanpa berucap lagi, Wantra Santra segera mengibas jubah hitamnya dan mulai melangkah menjauh. Dari tempat duduknya, Panglima Samudra Jara Sinya hanya bisa terdiam, tanpa ekspresi. Diam-diam, tanpa ada yang menyadarinya, ia seperti melakukan hitungan di setiap langkah Wantra Santra yang semakin menjauh. Dan ketika langkah Wantra Santra sampai di ambang Kedatuan, ia terhenti, seiring berhentinya hitungan dalam hati Panglima Jara Sinya!

Tiba-tiba saja sesuatu seperti menyentak jantung Wantra Santra. Tangannya secara refleks memegang dadanya. Ia berbalik, bersamaan dengan sebuah sentakan lagi di jantungnya!

Ditatapnya Panglima Samudra Jara Sinya yang masih tampak duduk di kursinya dengan tak percaya.

"Kau ...," ia menunjuk dengan tangan gemetar.

Wantra Santra tersadar. Segera disibaknya jubah dan diangkatnya tangannya untuk menggerakkan tiga bola baja miliknya. Namun, ternyata energinya seakan telah hilang dari tubuhnya. Ketiga bola baja yang mulai keluar dari jubahnya, seketika jatuh ke lantai, bersamaan dengan kesakitan yang menjalar di seluruh tubuhnya. Kesakitan yang tiada tara.

Panglima Samudra Jara Sinya mulai berdiri dari duduknya, "Maafkan aku, Wantra," ujarnya tanpa ekspresi. "Namun, kulakukan ini semua atas izin dari Sri Maharaja Balaputradewa."

Panglima Samudra Jara Sinya semakin mendekati Wantra Santra, "Kedokmu sebagai pengkhianat telah berakhir sampai di sini, Wantra," ujarnya lagi. "Sejak kelalaianmu mengetahui pemberontakan Minanga Tamwa, juga pemberontakan Muara Jambi, aku sudah mengawasimu."

"KauWantra Santra meringis menahan sakit. Kini kakinya tak lagi bisa menahan tubuhnya sehingga ia pun terjatuh. Wantra Santra benar-benar tak bisa menyangka racun apa yang digunakan kepadanya. Saat meminum air dalam cawan yang diberikan Panglima Samudra Jara Sinya, ia telah mencoba merasakan air itu dengan energinya. Namun, ia tak merasakan adanya sedikit pun racun di situ. Tak hanya sampai di situ, penciumannya yang terlatih dan bisa menandai aroma racun sehalus apa pun, tetap tak bisa merasakan adanya racun di cawan itu. Jadiracun apa yang digunakan Panglima Samudra Jara Sinya?

Panglima Samudra Jara Sinya berdiri satu tombak di depannya. "Dari situlah aku akhirnya tahu, siapa orangtua angkatmu," ujarnya lagi. "Ya, aku tahu siapa orang yang menyelamatkanmu dari bencana itu dan kemudian merawatmu seperti anaknya sendiri

Panglima Samudra Jara Sinya menarik napas panjang. "Ya, siapa dari kita yang tak mengenal Dapunta Mahak Ilir sebagai keturunan yang tersisa dari pemberontak terbesar sepanjang sejarah Kerajaan Sriwijaya, Kandra Kayet?"

"Kau Wantra Santra hanya bisa kembali menelan ucapannya. Ia sebenarnya ingin sekali berucap sesuatu, tetapi kini lidahnya telah terasa kelu.

Akan tetapi, bersamaan dengan itu, angannya melayang ke saat lalu, saat ia tengah beranjak dewasa dan saat di mana seorang tua tiba-tiba hadir di gerbang perdatuan ayah angkatnya ....

"Kau tak tampak seperti orang Malaya " ujarnya.

Saat itu, Wantra Santra muda hanya bisa mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa lelaki tua yang sama sekali tak dikenalnya ini bicara demikian kepadanya?Jelas ia orang Malaya. Orang tuanya merupakan keturunan langsung dari Kerajaan Malaya.

Akan tetapi, lelaki tuayang entah dalang dari mana dan hendak ke mana, sama sekali tak menggubris keheranannya. Ia kini bahkan menatap dirinya dengan wajah penuh pertanyaan, "Apakah... kau bocah yang ditemukan di antara retakan tanah itu? Hampir tuju/i belas tahun yang lalu?"

Wantra Santra muda hanya bisa mengerutkan keningnya.

Ia tak pernah mendengar cerita itu sebelumnya, tetapijantungnya seakan berdetak lebih kencang hanya dengan mendengar sepenggal kalimat itu.

Maka, tanpa bisa dihindari lagi, ketertarikannya muncul begitu saja. Didengarkannya cerita lelaki tua itu dengan saksama.

"Saat itu Dapunta Mahan Ilir tengah berusaha merebut salah satu datu Sriwijaya yang terdekat darinya. Ia tak menyadari ketika itu gunung tengah begitu marah, tetapi di saat-saat seperti itulah ia menemukan seorang bayi yang selamat dari bencana itu "

Wantra Santra muda terdiam.

Lelaki tua itu terus menatap Wantra Santra, "Dan, aku merasa, itu adalah dirimu "

Sungguh, kisah itu begitu mengganggu pikiran Wantra Santra muda. Sepertinya sebuah labirin di sisi hatinya mulai menguak melebar. Maka itulah, kemudian ia diam-diam mencoba mencari informasi tentang kejadian itu. Dan, itu mudah saja. Hanya dengan balanya kepada beberapa pendudukyang cukup tua, ia bisa mendengar kisah yang sama dengan kisah yang diceritakan lelaki tua itu.

Hingga ketika kisah itu akhirnya sudah merasuk begitu dalam di hatinya, ia pun akhirnya menanyakan perihal itu langsung kepada Dapunta Mahan Ilir.

Dan, kebenaran kemudian terungkap.

Wantra Santra muda seakan limbung pada langkahnya. Saat itu ayahnya tengah ditunjuk oleh Kerajaan Sriwijaya untuk memimpin di Minanga Tamwa. Penunjukan ini bagi Kerajaan Sriwijaya adalah penunjukan politis agar hubungannya dengan sisa-sisa Kerajaan Malaya yang selama ini terus mengobarkan perang dapat diperbaiki. Namun, penunjukan ini bagi Dapunta Mahak Ilir ternyata dijadikan sebagai ajang untuk mengumpulkan pasukan dan mempersiapkan pemberontakan yang lebih besar....

Sebagai salah satu putra Dapunta Mahak Ilir, ia tahu semua itu. Inilah yang membuat dirinya bimbang. Namun, pada akliirnyii

Wantra Santra muda memilih pergi dari kedatuan itu   Ujarnya kala itu, "Ayahandayang selama ini mengajarkan

kepa daku keharusan kita mencintai tanahyang melahirkan

kita. Ayahanda juga yang selama ini mengajarkan kepadaku untuk terus berbakti pada tanahyang melahirkan kita. Dan, sekarang telah jelas siapa diriku. Aku tetaplah orang yang laliir di tanah Sriwijaya. Walau kebaikan Ayahanda begitu tak terkira bagiku, tetapi tetap saja aku tak bisa melukai

tanahyang melahirkan diriku "

Wantra Santra kemudian membungkuk dalam-dalam. Ia tak pernah membungkuk sedalam ini untuk menghormat seseorang. Namun, kali ini ia melakukannya dengan sepenuh hati, "Maafkan aku, Ayah anda," ujarnya. "Tampaknya aku

harus pergi. "

Lalu, Wantra Santra bangkit dan mulai beranjak pergi. Ia sama sekali tak tahu, bahwa Dapunta Mahak Ilir mengekang kemaraluinnyn sejak tadi. Ia memang tampak hanya diam sepanjang ia berucap. Namun, ketika ia telah ada di ujung kedatuan, Dapunta Mahak Ilir tak lagi bisa menahan kemarahannya. Ia pun segera berteriak murka, "Drohakaaa!"

Teriakan itu telah melukai hati Wantra Santra begitu dalam.

Ia berjalan dengan air mata meleleh, pergi sejauh mungkin dari tanah itu. Dan, hanya berselang tiga tahun kemudian, pasukan Sriwijaya kemudian datang dan meluluhlantakkan tanah itu  

Wantra Santra terduduk. Dipegangnya dadanya yang

.semakin terasa sakit. Kesedihan seakan kembali melukai dirinya. Ini adalah kesalahan terbesar yang pernah dilakukannya sepanjang hidupnya ....

Ya, kesalahan terbesar....

Tanpa ada yang mengetahuinya, sepanjang hidupnya Wantra Santra memang hanya pernah melakukan dua kali kesalahan terbesar. Dan, itu adalah sisi tergelap dalam hidupnya, yang terus dicoba untuk dilupakannya. Namun kini, di saat-saat kematian begitu dekat dengannya, kesalahan terbesar kedua pun kembali terkuak dalam ingatannya ....

Kesalahan itu terjadi saat dirinya tengah berhasil menjadi ketua Kelompok Rahasia Wangseya. Itu merupakan tahun kedelapan sejak ia meninggalkan ayah angkatnya. Ketika itu, ia memimpin lak lebih dari seratus orang pasukan rahasia.

Hingga satu hari, seseorang berjubah hitam datang kepadanya, di tengah kemuraman malam....

Awalnya Wantra Santra sama sekali tak mengenalinya.

Namun, ketika ia melepas capingnya, Wantra Santra langsung dapat mengenalinya sebagai ayahandanya, Dapunta Mahak Ilir.

Ini adalah pertemuan pertamanya setelah lebih dari delapan tahun perpisahan di antara keduanya. Sejak pasukan Dapunta Abdibawasepa, penguasa Datu Muara Jambi, atas nama Kerajaan Sriwijaya menaklukkan Minanga Tamwa, datu yang dipimpin ayahandanya ketika itu, ia tak lagi mendengar berita tentang ayahandanya.

Maka, ia pun berlutut di depan sosok yang telah tampak begitu tua di hadapannya. "Aku datang kemari, hanya ingin meminta pertolongan kepadamu, Anakku," ujarnya dengan suara lemah.

"Aku yakin kau lelah tahu apa yang mereka lakukan kepadaku," sambungnya.

Wantra Santra tak menyahut.

"Umurku tak akan lama lagi dan aku sepertinya tak lagi memiliki kesempatan untuk membalas dendam," ujar Dapunta Mahak Ilir masih dengan nada lemah.

Wantra Santra masih terdiam. Ia sama sekali belum bisa meraba arah pembicaraan ini.

Dapunta Mahak Ilir pun melanjutkan ucapannya, "Namun, sebelum aku benar-benar mati, aku harus membalas seseorang yang telah melakukan kesalahan kepadaku!" Dapunta Mahak Ilir berjalan mendekat kepada Wantra Santra dan ikut berjongkok di dekatnya. "Bila ini sampai tak terbalas, mungkin arwahku ...tak akan pernah bisa tenang

Wantra Santra menelan ludah. Perlahan, ia mulai bisa meraba ke arah mana pembicaraan, "Siapa orangyang akan Ayahanda balas?" tanyanya ragu.

"Kau tentunya sudah tahu. Ialah yang memulai peperangan kali pertama denganku, tang kemudian mengobarkan perangyang diingat orang dengan nama Perang Merah jahanam, la, ialah ... Dapunta Abdi-bawasepa, penguasa Muara Jambi," ujarnya. "Pasukannyalahyang telah menghancurkan sehiruk pasukanku, keluargaku, juga... tiga saudaramu. Sungguh, aku tak akan pernah tenang sebelum melihatnya mati. "

Wantra Santra terdiam.

'Aku hanya mohon kepadamu, Anakku," ia menyentuh pundak Wantra Santra. "Kali ini saja, tolonglah aku ...

bantulah aku " Dan, Wantra Santra tak pernah lagi bisa berucap apa-apa.

Akan tetapi, pada kenyataannya tak pernah adayang bisa mengukur jasa seseorang, bukan? Terutama segala kebaikan? Ya, balas budi memang tak pernah bisa ditimbang ....

Maka, kesalahan terbesar kedua pun dilakukan Wantra Santra dengan pertimbangan itu. Diam-diam, dengan sangat teliti, ia mulai mengumpulkan bukti-bukti palsu untuk memfitnah Dapunta Abdiba-wasepa. Sekian lama ia mengerjakannya sendiri, satu demi satu, hingga akhirnya Dapunta Abdibawasepa dan keluarganya pun dapat dijatuhi hukuman mati oleh Kedatuan Sriwijaya!

Ya, ialah yang merancang peristiwa besar itu, peristiwa yang sampai sekarang selalu membuat hatinya hancur, peristiwayang sampai saat ini selalu membuatnya menangis....

Akan tetapi, sejak hari itu, Wantra Santra mencoba menguatkan hatinya untuk tak pernah lagi melakukan kesalahan seperti itu. Ia telah berjanji menyerahkan jiwanya pada Sriwijaya dan bersedia mati demi janjinya itu.

Selain itu, untuk menebus kesalahan itu, ia juga akan terus menjaga kebesaran nama Sriwijaya. Menghancurkan semua pembelot yang ada dan juga membunuh semua pengkhianat. Maka itulah, tanpa ada yang mengetahuinya, ia kemudian bergerak sendiri melakukan pembunuhan itu Ya,

pembunuhan terhadap salah satu orang yang selama ini paling dipercayanya....

Ya, bermula dari kelalaiannya mengetahui pemberontakan yang dilakukan Minanga Tamwa dan juga Muara Jambi, ia kemudian secara diam-diam mulai mengawasi dengan ketat ketiga kaki tangannyayang kerap ditugaskan mengawasi ke daerah utara.

Hingga suatu kali, saat ia mengikuti KungMuda, salah satu di antaranya, didapatinya lelaki itu mengirim seekor merpati yang terus terbang ke arah Minanga Tamwa. Kecurigaannya memuncak. Sejak itu ia semakin mengawasi lelaki itu. Namun, tak mudah menemukan bukti pengkhianatan. Namun, saat seseorang yang misterius, yang akhirnya nanti dikenalinya sebagai Agiriya atau Sangda Alin mulai membunuh dua kaki tangannyayang lain, ia merasa saat inilah waktunya untuk membuka topeng pengkhianat itu.

Maka, ia pun memancing Kung Muda di tempat biasa pembunuh misterius itu datang. Dan, saat KungMuda akhirnya dapat terpancing, ia pun mencoba memaksanya bicara.

Dan, ancaman kematian memanglah jurus paling ampuh untuk membuat orang bicara. Dari mulut Kung Muda terbukalah rahasia pengkliianatan yang lelah dilakukannya sejak lama. Ternyata ia dan kedua kaki tangannyayang lain selama ini telah memberi informasi yang salah kepadanya. Kemarahannya memuncak, tak bisa lagi dikendalikannya.

Selepas pengakuan ini, Wantra Santra segera saja menghancurkan kepala pengkhianat itu, beberapa saat sebelum putri Datu Muara Jambi tiba untuk melakukan pembunuhan ketiganya ....

Wantra Santra mencoba mengambil napasnya dalam- dalam. Dengan gerakan kaki yang gemetar, ia mencoba berdiri. Namun, tak ada lagi sepatah kata pun yang terucap dari mulutnya karena selepas seembusan napasnya kemudian, ia sudah kembali jatuh tersentak!

Panglima Samudra Jara Sinya hanya terus menung-, gunya dengan menatap tanpa ekspresi. Diam-diam dalam hatinya, ia tetap mengagumi sosok di depannya ini. Orang biasa pastilah akan mati sejak tadi. Sejak pertama kali sosok ini duduk di kursi yang telah disiapkannya, serbuk racun yang telah dipasang di langit-langit tepat di atas kepalanya, telah ditaburkan sedikit demi sedikit, bersamaan dengan jatuhnya serbuk-serbuk kayu lapuk....

Sungguh, ini adalah percobaan peracunan paling berisiko yang pernah dilakukan Panglima Samudra Jara Sinya. Ia dan Tunggasamudra bisa saja ikut menjadi korban, bila angin tiba- tiba berubah arah. Namun, memang inilah yang harus dilakukannya. Dengan cara-cara biasa, ia yakin Wantra Santra bisa segera mencium rencananya.

Maka, hanya berselang beberapa saat kemudian, Wantra Santra akhirnya terkulai lemah mengakhiri hidupnya sambil membawa kisah-kisah hidupnya yang tak pernah diketahui siapa pun ....

-ooo0dw0ooo-

Keanehan apa yang engkau rasakan bila tiba-tiba engkau tak lagi mendapati suara kicauan burung di sepanjang hutan yang engkau lalui? Keanehan apa yang engkau rasakan bila engkau tak lagi merasakan gesekan daun-daun itu bercerita menyelingi langkah-langkahmu? Dan, keanehan apa yang engkau rasakan bila engkau tak lagi merasakan angin berembus membelai-belai tubuhmu?

Dan, Sangda Alin sama sekali tak berpikir pada keanehan- keanehan itu semua. Walau ia tak merasakan suara kicauan burung, ia juga tak merasakan gesekan daun-daun, dan ia juga tak merasakan angin yang berembus. Ia hanya terus melangkah ke depan, mencoba menepis keraguannya.

Dalam hati ia tak henti mencoba menguatkan hatinya, terus menguatkan hatinya. Namun, yang terjadi adalah keraguan pada setiap langkahnya.

Sungguh, ia tak bisa menyembunyikan kebimbangan hatinya lagi. Samar-samar masih terlihat bekas air mata di pelupuk matanya, yang berulang kali dihapusnya dengan gerakan yakin.

Akan tetapi, entah mengapa sisi batinnya yang lain tetap saja menolak kekerasan hatinya. Bayangan sosok Magra Sekta, entah mengapa, masih saja terus menggantung di angannya, seakan mengikuti langkahnya ....

Ya, aku sama sekali tak bisa tak memedulikan dirimu, karena sejak hari aku melihatmusejak hari engkau membela akusejak hari aku memegang tanganmuaku aku sudah

begitu mencintaimu ....

Sangda Alin terus melangkah. Ia mencoba memikirkan sesuatu yang lain, tetapi gema suara Magra Sekta kembali yang menyeruak dalam pikirannya ....

Maafkan aku, Agiriya, maafkan aku JVamun, sungguh,

ucapanku tadi tak bermaksud apa-apa. Kau tak harus

mencintaiku, kau juga tak harus peduli kepadaku. Aku tahu sekali siapa diriku. Hanya saja yang ingin aku lakukan adalah

... bisa terus melindungimu....

Sungguh, Sangda Alin sama sekali tak lagi mampu mengelak. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

Aku tak harus memikirkan lelaki pengecut itu, sisi batinnya yang lain menukas. Mengapa aku masih memikirkan dirinya? Bukankah ada seseorang yang lain, yang jelas lebih baik darinya, mencintai aku dan menginginkan aku menjadi istrinya?

Sangda Alin terus berjalan ke kedatuan itu. Dari jauh, gerbang Kedatuan Muara Jambi sudah mulai terlihat di matanya. Ia ingin segera mempercepat langkahnya, tetapi ia tak bisa melakukannya. Bayang sosok Magra Sekta tiba-tiba kembali dan kembali lagi muncul ....

Kumohon, Agiriya, pergilah bersamaku. Aku akan terus melindungimu ... melindungimu sepanjang hidupku...

Kumohon, Agiriya... kumohon....

Kali ini langkahnya terhenti. Air matanya tak bisa lagi dihindari kembali jatuh, meluncur di pipinya. Namun, tak seperti yang sudah-sudah, ia tak lagi menyeka air mata itu. Ia membiarkannya seperti ia membiarkan bayang-bayang sosok Magra Sekta yang muncul di angannya. Ya, kali ini Sangda Alin membiarkan itu ....

Dan, itu kemudian membuatnya tanpa sadar, mengucap nama itu, di antara isaknya ....

"Magrasuaranya nyaris tak terdengar, bahkan oleh telinganya sendiri sekalipun. Dan, entah mengapa, selesai mengucapkan kata itu, hati Sangda Alin merasakan kelegaan yang samar. Ia seperti telah mengakui sesuatu yang telah sekian lama diingkarinya....

Dan, ini kemudian membuat Sangda Alin tiba-tiba saja sudah menolehkan kepalanya ke belakang, seakan-akan sosok yang dipanggilnya itu telah ada di belakangnya ....

Akan tetapi yang kemudian dirasakannya adalah angin yang menderu, seperti saat sebuah panah mengarah kepadanya!

Dan, Sangda Alin tersadar. Baru dilihatnya kini, dari balik pohon-pohon yang berderet panjang dan tampak tenang, tiba- tiba bermunculan sosok-sosok berpakaian hitam dengan busur panah di tangan.

Sangda Alin tertegun.

Akan tetapi, belum sempat ia berbuat apa-apa, deru angin semakin terasa di atas kepalanya hingga membuatnya menengadahkan kepalanya.

Dan, di sanalah ribuan panah terlihat memenuhi langit dan semuanya mengarah kepadanya ....

-ooo0dw0ooo-

Magra Sekta masih sangat mengingat kapan saat matanya untuk pertama kalinya dapat melihat kejadian-kejadian yang akan terjadi di mata orang lain. Itu semua terjadi ketika ia masih sebagai bocah kecil. Dan, bocah kecil itu terpaksa melihat sebuah pembunuhan untuk yang pertama kalinya!

Kala itu ia tengah bermain sembunyi-sembunyian bersama teman-temannya. Ia tengah bersembunyi di balik sebuah semak lebat ketika ia melihat seorang pengemis dibunuh oleh perampok-perampok kejam. Saat itu ia hanya bisa terdiam dengan tubuh menggigil. Ia melihat dengan jelas bagaimana perampok itu membunuh pengemis itu, untuk mendapatkan sedikit keping uang milik pengemis itu. Tak lagi bisa dihitungnya berapa kali tusukan pedang para perampok itu menembus tubuh tua pengemis itu. Dan, tak hanya sampai di situ, sebelum membuang tubuh pengemis itu ke jurang, para perampok itu juga mencongkel mata pengemis itu!

Ya, saat itulah untuk pertama kalinya ia merasa begitu ketakutan. Ia hampir terkencing di celananya. Sekian lama ia hanya diam tanpa bergerak.

Ketika pada akhirnya ia harus keluar dari semak-semak itu, karena hari yang makin gelap, kakinya melangkah gemetar. Ia sebenarnya ingin langsung berlari cepat-cepat meninggalkan tempat ini, tetapi sesuatu membuat langkahnya terpaku. Di bawah rerumputan yang masih terlihat penuh ceceran darah, dilihatnya dua buah mata yang tergeletak dalam keheningan yang menyayat!

Magra Sekta.kecil terpaku melihat itu. Satu sisi dirinya menyuruhnya untuk tak peduli dan segera berlari dari mi u tetapi sisi dirinya yang lain menyuruhnya untuk mendekati kedua mata yang tergeletak itu.

Lalu, entah dari mana keberanian itu, Magra Sekta ketika akhirnya memutuskan untuk membawa langkahnya ke situ Ia kemudian berjongkok dan mengambil kedua mata itu dengan kedua telapak tangannya yang masih begitu kecil Setelah itu barulah ia berlari kecil ke tepi desanya. Di sanalah ia berencana untuk menguburkan kedua mata itu. Akan tetapi, yang terjadi kemudian adalah keanehan Mata itu seperti terus mengeluarkan air di telapak tangannya, seakan-akan ... ia menangis. Magra Sekta kecil pun hanya bisa memandang heran tak mengerti. Ditatapnya lekat-lekat kedua mata yang berada di telapak tangannya itu, dan secara mengejutkan, atau mungkin hanya perasaannya saja, kedua mata itu membalas tatapannya ....

Dan, sejak dari itulah, ya sejak itulah, matanya terasa menjadi mata yang berbeda, mata yang dapat melihat di mata-mata lain tentang sebuah peristiwa yang akan segera terjadi....

Ya, kejadian yang akan terjadi kepada pemilik mata tersebut ....

Dan kini, mata itu jugalah yang membuat Magra Sekta masih saja menangis di sudut hutan. Air matanya tak lagi keluar karena kantong matanya telah benar-benar kering sejak kepergian Agiriya beberapa saat lalu.

Tubuhnya kini bahkan terus menggigil. Giginya bergemeretak. Ketakutan memang telah merasuk di seluruh hatinya.

Sungguh, masih dibayangkannya apa yang tadi dilihatnya di dua mata Agiriya ....

Hutan yang sepi itu... tanpa suara kicau burung tanpa

gemeresik gesekan daun dan tanpa angin yang berembus

.... Semuanya seakan terlihat begitu jelas. Terutama sosok Agiriya yang berdiri mematung tak jauh dari gerbang kedatuan itu ....

Sampai di situ, bayangan itu masih terlihat biasa di matanya. Namun, tidak ketika ribuan panah itu muncul. ya,

ribuan panah yang menutupi seluruh langit ribuan panah

yang meluncur semuanya ke satu titik .... Jantung Magra Sekta seakan terhenti. Ia selalu tercekat karena pemandangan itu. Yang kemudian hanya bisa dilakukannya adalah memejamkan mata kuat-kuat sambil menggelengkan kepalanya tanpa henti.

Sungguh, Magra Sekta ingin sekali bisa kembali menolong Agiriya. Namun, bagaimana mungkin ia menolongnya bila gadis itu sendiri tak mau memercayainya, bahkan menyuruhnya pergi? Apa ia harus tetap nekat menolongnya? Lalu apakah ia sendiri nantinya mampu menepis ribuan panah itu?

Magra Sekta menggigit bibirnya kuat-kuat. Saat itulah tiba- tiba ia melihat sebuah anakan sungai kecil, yang berkelok panjang. Sebuah pikiran tiba-tiba datang di otaknya. Segera saja dengan terburu ia merangkak ke tepi sungai itu.

Sungai ini, Magra Sekta menelan ludah, begitu jernih. Ia bisa bercermin di sini dengan jelasnya Maka dengan

jantung berdegup kencang, Magra Sekta kemudian mulai memajukan wajahnya ke tepian sungai. Di situlah dilihatnya bayangan dirinya yang memantul di air, terutama bayangan matanya!

Awalnya Magra Sekta tak dapat melihatnya dengan jelas.

Air di anak sungai ini terus mengalir, membuat riaknya mengaburkan bayangan yang tercipta. Namun, lama- kelamaan, setelah matanya terbiasa, ia bisa juga melihat bayangan-bayangan di mata yang memantul itu ....

Ia melihat dirinya bertari terburu ia melihat dirinya

berteriak kencang ia melihat juga dirinya hanya bisa

memandang ribuan panah yang memenuhi langit... dan ....

Detik itulah Magra Sekta berteriak histeris. Bayangan itu begitu jelas terlihat di matanya sangat jelas. Ketakutan

seketika memenjaranya. Ia terjerembap jatuh ke tepi sungai itu dengan napas tersengal. Magra Sekta hanya bisa terisak. Ia hanya bisa memejamkan matanya kuat-kuat, mencoba menepis, terus menepis. Namun, bayangan itu ... tetap saja tak mau pergi....

Ketakutannya benar-benar memuncak....

Mata ini... mata ini ....

Magra Sekta*mengeluh. Baru disadarinya bahwa penderitaan ini, ketakutan ini, kengerian ini, dan juga bayang- bayang ini, semuanya karena mata ini!

Ya, mata ini! Mata ini!

Magra Sekta menelan ludah di antara isaknya.

Sungguh, ia ingin melupakan semuanya. Ia ingin menepis semua ketakutan yang selama ini ada ia ingin hidup dengan

normal... ia ingin ... benar-benar ingin ....

Dan, pikiran ini kemudian dijawab dengan sesuatu yang berkelebat di benaknya, membuat wajah Magra Sekta sedemikian pias. Namun, ia tak berusaha mengelak dari pikiran itu. Kemudian seperti ada yang membimbingnya, ia tiba-tiba sudah mengangkat kedua tangannya dengan gemetar.

Sekilas ia kembali teringat bayang-bayang yang baru dilihatnya. Dirinya yang berlari terburu dirinya yang

berteriak kencang dirinya yang hanya bisa memandang

ribuan panah yang memenuhi langit ... dan sebuah

bayangan menakutkan kemudian mengakhirinya!

Tangan Magra Sekta bergetar. Semua bayangan itu pastinya tak akan ada lagi dan akan hilang tanpa mata ini?

Pertanyaan itu seakan dijawab oleh batinnya dengan meyakinkan. Maka, dengan gerakan sangat pelan, masih dengan napasnya yang tersengal, kembali dilanjutkan gerakan tangannya yang semakin gemetar, menuju wajahnya lalu

ke arah matanya.... Lalu ... sebuah teriakan panjang sesaat kemudian memecahkan langit. Teriakan yang begitu menyayat. Teriakan yang membuat burung-burung yang tengah bertengger di atas pohon, beterbangan, binatang-binatang hutan beriarian menjauh, dan daun bergoyang-goyang tak tenang....

Akan tetapi, itu hanya sesaat. Ya, hanya sesaat saja!

Karena, selang beberapa embusan napas kemudian, keadaan kembali hening....

Begitu hening, seperti sediakala ....

-ooo0dw0ooo-

Keduanya berjalan di atas kuda dalam keremangan setapak. Beberapa pasukan berkuda yang mengawal di belakangnya, tampak terpisah dari keduanya.

"Kejadian ini begitu tak terduga," Dapunta Cahyadawasuna seperti berbisik.

Tunggasamudra, sosok yang menaiki kuda di sebelahnya hanya menoleh sekilas. Sejak kejadian pembunuhan Wantra Santra di Kedatuan Muara Jambi, Dapunta Cahyadawasuna memang memintanya untuk menemaninya pergi sejenak dari wilayah Kedatuan.

. "Panglima Samudra Jara Sinya benar-benar terialu berani mengambil tindakan seperti ini," ujar Dapunta Cahyadawasuna lagi. "Aku yakin, ia pasti belum sempat meminta izin melakukan tindakan ini kepada Sri Maharaja Balaputradewa "

Dapunta Cahyadawasuna menghela napas panjang. Dalam hatinya ia terus merasa sangat tidak nyaman. Pembunuhan dengan serbuk racun itu telah benar-benar direncanakan dengan sempurna. Namun, terlepas apakah Panglima Samudra Jara Sinya telah memiliki bukti tentang pengkhianatan itu atau belum, seharusnya tetap ada proses pembuktian terlebih dahulu. Walau bagaimanapun, Wantra Santra adalah tokoh penting di Kerajaan Sriwijaya. Jasa- jasanya tak terhitung untuk Sriwijaya!

Mengingat itu semua Dapunta Cahyadawasuna hanya bisa terpekur dalam pikirannya. Hening kemudian menyela di antara langkah-langkah pelan kudanya. Tanpa terasa kuda itu telah memutari pinggiran Kedatuan dari tepi hutan hingga sampai di gerbang Kedatuan lagi....

Seiring matahari yang mulai melembut, gerbang Kedatuan Muara Jambi mulai terlihat di depan keduanya.

Dapunta Cahyadawasuna kembali menoleh, "Apakah menurutmu Sangda Alin tak akan muncul lagi di sini?"

suaranya terdengar ragu.

Tunggasamudra tertegun. Jelas sekali ada nada khawatir yang tak bisa disembunyikannya di dalam nada suara junjungannya ini. "Saat pertarunganku dengan Wantra Santra, seorang temannya telah membawanya pergi dalam kondisi terluka," ujarnya.

Dapunta Cahyadawasuna terdiam. Sejak tadi tak bisa diclakkannya bahwa pikirannya memang terus tertuju kepada sosok Sangda Alin. Maka, pertanyaan yang diungkapnya tadi kembali bergema di dalam hatinya: Apakah menurutmu ...

Sangda Alin tak akan muncul lagi di sini?

Dapunta Cahyadawasuna diam-diam mengeluh.

Sebenarnya keluhan ini telah berlangsung sejak Wantra Santra mengungkapkan jati diri Sangda Alin kala itu. Ya, kalau memang apa yang diungkapkan Wantra Santra benar adanya, tentunya posisi Sangda Alin kini menjadi sangadah rumit.

Membunuh anggota Kelompok Wangseya bukanlah tindakan yang dapat diampuni. Lalu, bila demikian, apakah ia bisa membantu perempuan itu? Apakah ia bisa meyakinkan Panglima Samudra Jara Sinya untuk mengampuni perempuan itu bila ternyata ia benar-benar bersalah?

Di tengah pikiran itulah, tiba-tiba dilihatnya Tunggasamudra bergerak mengejutkan. Ia melompat dari kudanya dan mendekat pada hamparan tanah yang tak tertutupi rumput liar.

"Ada apa, Tungga?" tanya Dapunta Cahyadawasuna tak mengerti.

Tunggasamudra yang kini berjongkok hanya menggeleng pelan. "Tidak, tidak ada apa-apa," ujarnya dengan suara tak yakin sambil membuang pandangan ke tanah di sekeliling hutan itu.

"Hanya saja... di tanah ini," tambahnya masih dengan nada tak yakin, "sepertinya penuh dengan bekas... tancapan panah?"

Dapunta Cahyadawasuna ikut memandang hamparan tanah di sekelilingnya. Ia masih bisa melihat dengan jelas keadaan tanah yang penuh dengan lubang-lubang bekas benda tajam hampir di semua sudutnya.

"Namun tentunya tak mungkin ini bekas tancapan anak- anak panah bukan?" tanyanya. 'Jumlahnya terlalu banyak

Tunggasamudra hanya mengangguk setuju. Walau tetap merasa tak yakin, ia tak punya pilihan jawaban lain.

Maka, keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan memasuki kedatuan itu, seiring sinar matahari yang telah lenyap tertutupi awan-awan tebal, seakan menghilang dari edarannya yang tinggal sesaat....

-ooo0dw0ooo-