Pandaya Sriwijaya Bab 22 : Pandaya Sriwijaya

Bab 22 : Pandaya Sriwijaya

Hari-hari belakangan ini di Kedatuan Sriwijaya yang ada Adi Telaga Batu tampak lebih sibuk dari biasanya. Di berbagai datu dimulai perekrutan pasukan baru bagi armada pasukan Sriwijaya. Hanya beberapa hari saja, Pu Chra Da-yana telah menerima lebih dari lima ribu orang yang mendaftarkan diri.

Walau begitu, sebenarnya bukan perekrutan .itu yang menarik perhatian para khalayak. Namun, pemilihan Panda-ya. Sri Maharaja Balaputradewa saat pertemuan di malam itu memang menyerahkan urusan pemilihan Pandaya Sriwijaya ini kepada Dapunta Cahyadawasuna.

Pandaya adalah gelar bagi orang yang terpilih untuk bergabung menjadi pengawal istimewa Kerajaan Sriwijaya. Ini merupakan gelar bagi para pendekar yang akan diberikan apabila pendekar tersebut berhasil mengalahkan semua pendekar lainnya dalam pertandingan.

Dulunya, pencarian pandaya biasa dilakukan di setiap ulang tahun Dapunta Hyang pemimpin Sriwijaya. Namun, sejak beberapa tahun ini pemilihan ini tidak lagi diadakan karena adanya sedikit kekisruhan pemimpin Sriwijaya di Bhumijawa.

Pandaya adalah sebuah impian. Ini merupakan sebuah kesempatan emas bagi orang-orang dari kalangan jelata yang bermimpi menjadi orang terhormat. Juga merupakan peluang bagi para pendekar untuk menunjukkan kehebatan ilmu mereka dan menjadi yang terbesar di antara semuanya.

Banyak panglima muda Sriwijaya merupakan seorang pandaya. Contoh paling dikenal dari keberhasilan seorang pandaya adalah Panglima Bhumi Cangga Tayu. Dulu, hampir empat puluh tahun yang lalu, ia merebut gelar pandaya dari ratusan pendekar yang juga mengikutinya. Maka dari itu, persiapan pemilihan ini tak berlangsung main-main. Hampir dua ratus prasasti batu disebar di seluruh datu di sepanjang pulau. Ratusan prajurit terus berputar memberi kabar pemilihan pandaya ini kepada seluruh masyarakat.

Ini tentu saja merupakan tugas besar bagi Dapunta Cah- yadawasuna. Maka itulah, untuk menjalani tugas besar pertamanya ini, ia dibimbing tak kurang dari sepuluh orang pu berpengalaman di Telaga Batu, terutama Pu Chra Dayana.

Tahukah engkau, mengapa engkau kunamakan Tunggasamudra? Karena kuingin engkau menjadi orang yang istimewa di hari esok. Karena Tunggasamudra adalah nama yang kerap digunakan oleh pendekar-pendekar pada masa lalu. Bahkan, raja-raja di Telaga Batu pun pernah memakai nama itu ....

Dan, kalimat dari kakeknya itulah yang kemudian membawa Tunggasamudra melakukan perjalanan panjang ke Telaga Batu. Ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di pusat Kerajaan Sriwijaya. Dari Danau Toba yang ada di utara, butuh perjalanan berhari-hari untuk sampai di sini.

Tubuhnya menjadi begitu kotor dan kain celananya telah tampak begitu lusuh. Beberapa orang yang melewatinya bahkan segera menutupi hidung mereka, menghindari bau yang menusuk.

Akan tetapi, Tunggasamudra tak menyadari itu. Setelah membakar jenazah Biksu Wang, ia memang telah memutuskan untuk pergi ke Telaga Batu. Entah apa yang membuat kepu-tusan itu. Ia hanya merasa memang harus pergi ke tanah itu. Ucapan kakeknya ketika itu benar-benar membuat kedatangan ke tanah itu adalah sebuah kerinduan untuk pulang....

Dan kini, ketika ia memasuki gerbang Telaga Batu, yang dirasakannya hanyalah keterpanaan. Sebelumnya, ia tidak pernah melihat sebuah datu yang seramai ini. Pasar berderet panjang dan orang-orang berseliweran ke segala arah. Lelaki- lelaki tak hanya bertelanjang dada, tetapi beberapa di antaranya telah memakai sejenis rompi yang terbuka dadanya. Para wanita tampak berdandan cantik dengan pakaian penuh warna dan ketika lewat di depannya segera menguarkan wewangian yang begitu harum.

Di beberapa sudut, tampak pasukan-pasukan dengan tombak dan pedang berjaga dalam beberapa regu. Seorang bahkan menggunakan kuda untuk mengamati sekitarnya.

Namun, yang membuatnya paling terpana adalah saat iring- iringan pasukan gajah melewati keramaian itu. Gajah-gajah itu dilapisi dengan semacam kain yang indah pada punggung dan kepalanya. Di atas punggung itu dipasang sebuah pelana kecil tempat dua orang prajurit duduk.

Ini benar-benar pemandangan yang belum pernah dilihatnya. Sungguh, sekian tahun hidup terpencil di tepi sebuah danau membuat Tunggasamudra tak menyadari adanya dunia luar yang seramai ini!

Di saat ia memperhatikan itu, bau harum ikan bakar langsung menusuk hidungnya. Baru dirasakan olehnya perutnya ternyata begitu lapar. Sambil menahan liurnya, Tunggasamudra segera menuju ke warung yang ada di dekatnya. Namun, sesuatu membuatnya menahan langkahnya.

Sebuah prasasti batu diletakkan di pusat datu. Beberapa orang terlihat tengah mengelilinginya. Karena penasaran,

Tunggasamudra kemudian segera membalikkan langkahnya ke arah itu ....

Ia menyeruak di antara kerumunan dan segera membaca tulisan di prasasti itu ....

Kepada semua rakyatku,

jadilah yang terpilih jadilah yang ditakdirkan jadilah pandaya untuk kejayaan Sriwijaya

Datanglah saat hari pertama bulan baru di tanah lapang Telaga Batu, tempat berkumpul kalian yang telah

kubuatkan sejak lama.

Jadilah saksi para pendekar baru yang akan menjadi penjaga Kerajaan Sriwijaya, membuat kejayaan Sriwijaya ....

Sri Maharaja Balaputradewa

"Anak muda," seorang kakek mendekat kepadanya. "Apa yang ditulis di situ?"

Tunggasamudra menoleh sambil menjawab, "Berita tentang pencarian pandaya?"

"Oooh, itu," kakek itu mengangguk-angguk. "Memangnya, apakah itu pandaya?" kali ini giliran

Tunggasamudra yang bertanya.

"Kau tak tahu pandaya?" kening kakek itu berkerut. 'Jelas sekali kau bukan orang dari sini. Itu sebutan untuk gelar bagi pendekar yang terpilih menjadi pasukan istimewa Sriwijaya

Tunggasamudra terdiam. Ucapan kakek tua itu seakan dilafalkannya lagi di dalam hatinya.

Kakek itu menggeleng-geleng, "Ah, andai aku masih muda, aku pasti akan mengikutinya," ia melirik kepada Tunggasamudra. Matanya sedikit terkejut ketika melihat tiga pedang bersanding di punggung Tunggasamudra.

"Tampaknya kau seorang pendekar?" ia bertanya ragu. "Tentunya kaudatangjauh-jauh akan mengikuti ini, bukan?"

Tunggasamudra tersenyum, "Aku malah baru

mengetahui ini, Kek." Kakek itu tertawa, "Tak ada salahnya kau mencoba.

Tampaknya kau pendekar yang tangguh. Lihat, pedangmu saja tiga buah "

-ooo0dw0ooo-

Ia datang di hari pertama bulan baru, saat pemilihan pandaya akan digelar. Ini, sepertinya begitu kebetulan. Namun, Tunggasamudra malah merasa ini seperti sebuah petunjuk. Inilah takdirnya. Maka, rasa laparnya pun seketika hilang. Ia langsung melangkah ke tanah lapang yang ada di depan Keda-tuan Sriwijaya.

Tunggasamudra melangkah dengan ragu. Ia mendekati seorang berpakaian prajurit Sriwijaya yang tampak sibuk di atas sebuah meja.

"Kau akan ikut?" tanyanya tanpa menoleh.

Tunggasamudra mengangguk, tetapi baru disadarinya prajurit itu tak melihat kepadanya. Ia pun segera berujar, "Ya, aku akan ikut."

Masih tanpa menoleh, prajurit itu kembali bertanya, "Nama?"

"Aku Tunggasamudra."

Barulah setelah ucapan itu, ia menengadahkan kepalanya.

Mungkin ia merasa nama itu sedikit berlebihan. Namun, setelah mengamati Tunggasamudra sekilas, ia tak berucap apa-apa, selain melemparkan sebuah tanda kayu kepada Tunggasamudra.

"Giliranmu setelah pendekar botak itu," ujarnya sambil menunjuk seorang pendekar yang berdiri jauh di pinggir tanah lapang. Tunggasamudra pun segera melangkah ke arah itu. Seiring langkahnya, beberapa mata langsung mengamatinya dari bawah hingga atas.

Akan tetapi, Tunggasamudra tak memperhatikan itu. Ia terus berjalan. Kini di tengah tanah lapang itu, ia melihat dua orang pendekar tengah bertarung dengan tangan kosong.

Walau pertarungan itu tampak seru, tetapi Tunggasamudra lebih memilih mengamati sekitarnya. Banyak hal baru yang belum dilihat sebelumnya. Terutama keadaan sekitar tanah lapang ini. Di sisi utara, Tunggasamudra dapat melihat sebuah panggung besar yang ditutupi oleh anyaman daun kelapa. Di situlah para petinggi Sriwijaya menyaksikan pertarungan ini.

Di sisi barat dan timur tampak undak-undakan bagi penduduk yang menonton dan bersorak-sorak dengan riuh. Sedang di sebelah selatan para pendekar tampak berkumpul menunggu giliran.

Di setiap beberapa tombak terlihat prajurit bersenjata lengkap berjaga-jaga. Tunggasamudra mendekati seseorang dan menunjukkan papan kayu miliknya kepada prajurit itu.

"Giliranmu masih lama," ujar prajurit itu. "Sebaiknya, kau beristirahat dulu!"

Setelah mengucapkan terima kasih, Tunggasamudra memilih mendekati sebuah pohon rambutan besar yang tengah berbuah. Perutnya mendadak berkerucuk. Baru ia sadari kalau ia tengah begitu lapar. Maka, sambil menyaksikan pendekar-pendekar yang bertarung di tengah tanah lapang, ia memakan rambutan-rambutan itu ....

-ooo0dw0ooo-

Pertarungan pertama Tunggasamudra adalah melawan seorang pendekar bernama Jaja Hayang. Walaupun ia telah mengamati pertarungan-pertarungan sebelumnya, tetapi jantung Tunggasamudra bergetar juga mendengar namanya disebut. Ia meninggalkan ketiga pedangnya kepada seorang prajurit sebelum melangkahkan kakinya ke tengah tanah lapang dengan diiringi gemuruh penonton.

Setelah saling memberi hormat, pertarungan pun dimulai.

Dan, ternyata hanya dengan beberapa gerakan saja, Tunggasamudra berhasil merobohkan lawannya.

Pemilihan pandaya ini berlangsung dari pagi datang hingga sore menjelang. Bila ternyata jumlah pertarungan masih tersisa, maka akan dilanjutkan di hari berikutnya. Para pendekar akan dipertemukan secara acak. Yang berhasil mengalahkan lawannya akan maju melawan pendekar yang lain, yang juga telah berhasil mengalahkan lawannya. Terus seperti itu hingga ditemukan dua pendekar terakhir.

Cara penilaian akan dilakukan oleh seorang pendekar yang ditunjuk oleh pihak Kerajaan Sriwijaya. Ia yang akan mengamati pertandingan dengan saksama. Bila salah satu sudah tampak unggul, ia akan menunjuk pemenangnya. Dua orang prajurit yang ada di kedua sisinya akan membantunya. Prajurit di sisi kiri memegang bendera merah dan di sisi kanan memegang bendera putih. Salah satu dari mereka akan segera mengangkat bendera di sisi pendekar yang dianggap telah memenangkan pertarungan.

Pada lawan berikutnya, Tunggasamudra berhadapan dengan Ki Busak Dandra. Ki Busak Dandra adalah seorang pendekar yang cukup terkenal di Telaga Batu. Ia memiliki usaha pengantaran barang yang sangat terkenal, usaha dengan anak buahnya mencapai lima puluh orang lebih.

Melawan Ki Busak Dandra cukup merepotkan bagi Tunggasamudra. Sebagai pewaris aliran Liang Qiang, ia terbiasa berlatih dengan menggunakan pedang. Walau Biksu Wangjuga mengajari bela diri dengan menggunakan tangan kosong, tetapi ia merasa kemampuan terbaiknya adalah saat menggunakan pedang. Akan tetapi, akhirnya ia bisa juga membuat roboh Ki Busak Dandra.

Seiring dengan itu matahari terus bergerak. Bergeser sedikit demi sedikit ke arah barat. Semakin siang, penonton tampak semakin banyak. Tak hanya para penduduk Telaga Batu yang hadir, tetapi juga penduduk datu-datu sekitarnya, bahkan juga orang-orang asing yang tengah mampir. Tak heran bila keadaan sisi barat dan timur tanah lapang semakin penuh sesak.

Seorang pendekar langsung menarik perhatian. Nama pendekar itu adalah Angkadhawatsu. Ia merupakan pendekar dari Bhumijawa. Ia sengaja datang ke Sriwijaya untuk mengadu peruntungan menjadi pendekar besar. Gerakan jurus-jurusnya terlihat bagai elang terbang Maka itulah, di belakang namanya ia diberi gelar Pendekar Elang Terbang.

Setiap ia tampil, penonton akan memberi sorakan paling meriah. Dan, ini tampaknya sangat disukai Angkadhawatsu. Maka, ia menjadi semakin bersemangat. Ia akan mempermainkan lawannya terlebih dahulu hingga membuat lawannya tampak bodoh. Baru setelah itu, ia melakukan serangan yang membuat lawannya langsung tersungkur.

Pada akhirnya, setelah cakrawala sedikit memerah dan Tunggasamudra telah melewati empat lawan lainnya, tinggal dirinya bersama Angkadhawatsu yang tersisa.

Keduanya merupakan dua pendekar yang sudah menarik perhatian penonton sejak awal. Angkadhawatsu terkenal sebagai pendekar yang pandai menghibur, sedang Tunggasamudra sebagai pendekar yang tampaknya tak mengenal basa-basi.

Keduanya berhadapan saat seluruh penonton telah merasa lelah dan para prajurit penjaga tak lagi tegak berdiri. Beberapa pu di atas panggung pun tampak sibuk dengan obrolan sendiri, bahkan beberapa di antaranya tertidur pulas. Namun, ketika keduanya melangkah ke tengah lapangan, semua mata seolah dipaksa tertuju kepada mereka. Para penonton mendadak kembali bersemangat, para penjaga kembali berdiri tegak, dan para pu kembali melemparkan pandangannya ke tengah arena.

Seorang anak kecil di tengah kerumunan menarik tangan kakeknya. "Kakek, siapa yang nanti akan menang?" tanyanya dengan nada tak sabar.

Kakeknya hanya bisa menggeleng, "Entahlah, Cu. Mereka tampaknya sama-sama kuat "

Dan, angin yang mengembuskan debu-debu yang akan bercerita kemudian ....

Tunggasamudra mulai memasang kuda-kudanya. Sejak tadi gerakan ini memang menarik perhatian karena gerakannya terasa asing. Kuda-kudanya terasa tidak kukuh, berbeda dengan kuda-kuda yang biasa dikeluarkan pendekar-pendekar lainnya. Tak heran bila lawannya akan selalu tersenyum meremehkan, juga Angkadhawatsu. la tersenyum begitu lebarnya dan sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya.

Lalu, pertarungan pun dimulai dengan diawali teriakan keduanya   

HIAAATH!

Angkadhawatsu langsung menyerang. Gerakannya ringan, tubuhnya seakan melayang. Walau ia tampak meremehkan, tetapi ia sama sekali tak gegabah menganggap lemah lawan. Sudah ia perhatikan Tunggasamudra sejak awal. Melihat Tunggasamudra mampu mengalahkan lawan-lawannya hanya dalam beberapa jurus saja, ia bisa mengukur kekuatan Tunggasamudra.

Sesaat Tunggasamudra memperhatikan gerakan itu. Ini sama seperti yang dilakukan sebelumnya. Dari arah energi serangan tersebut, ia bisa menebak arah serangan Angkadhawatsu. Biasanya yang terjadi, lawan akan segera mengelak dari serangan seperti itu. Namun, tidak bagi Tunggasamudra. Ia malah mengangkat tangannya ke atas. Lalu, dengan gerakan mengejutkan, dilangkahkan kakinya menyambut serangan itu.

BUUUK! BUUUUK!

Benturan kedua tangan pendekar ini begitu terasa. Tubuh Angkadhawatsu terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.

Sejenak ia terdiam. Senyumnya seketika lenyap. Tenaga dalam yang ada pada tangan Tunggasamudra membuat tangannya sedikit kesemutan.

Ia pun menarik napas panjang, lalu dengan gerakan mengejutkan kembali dilakukan serangan secara beruntun. Kali ini Tunggasamudra menahannya dengan terlebih dulu mundur beberapa langkah dan membentuk putaran pada tubuhnya.

Serangan Angkadhawatsu tak berhenti. Ia segera melentingkan tubuhnya ke arah tubuh Tunggasamudra, bagaikan seekor elang yang menyerang dari bawah.

BUUUUUKH!

Sebuah benturan keras kembali terjadi. Namun, ini sama sekali tak menyurutkan serangan Angkadhawatsu. Ia memutar tubuhnya sambil melakukan tendangan ke arah kepala Tunggasamudra, dengan begitu cepat Tunggasamudra segera saja melempar tubuhnya dengan melakukan salto ke atas beberapa kali....

Penonton dibuat berdecak kagum. Gerakan keduanya semakin lama terasa semakin cepat, seakan kaki keduanya tak menginjak pada tanah. Sungguh, tak bisa dimungkiri bila keduanya merupakan pendekar-pendekar pilihan. Dari arah panggung, Dapunta Cahyadawasuna dan beberapa pu lainnya bahkan sampai berdiri dari kursinya dan menuju ke tepi panggung agar dapat melihat lebih jelas pertarungan itu.

"Keduanya luar biasa," seorang pu mengomentarinya. "Ya," ujar Dapunta Cahyadawasuna tanpa menoleh.

"Terlebih lelaki dengan gerakan aneh itu "

Di tengah arena, untuk beberapa saat Tunggasamudra tampak terus melakukan serangan. Kaki-kakinya melangkah aneh, membuat gerakannya tak tertebak. Angkadhawatsu menunggu, tetapi ini adalah sebuah kesalahan. Secara mengejutkan, sebelum langkahnya selesai, sebuah serangan tiba-tiba meluncur ke arah Angkadhawatsu.

Begitu cepat serangan itu. Mau tak mau Angkadhawatsu segera melempar tubuhnya ke samping. Dengan gerakan luwes, ia mencoba bertumpu pada tanah dan kembali melayang, tetapi serangan Tunggasamudra tak berhenti sampai di situ. Sambil ikut melayang mengikuti gerakan Angkadhawatsu, ia sudah melancarkan beberapa pukulannya

....

BUK! BUK! BUK!

Pukulan itu sesaat masih bisa ditahan. Namun, di pukulan ketiga, Angkadhawatsu tak lagi bisa menahannya. Pukulan itu bersarang di pundaknya. Walau bukan pukulan yang keras, tetapi itu dapat langsung mendobrak pertahanan Angkadhawatsu. Tubuhnya seketika oleng dan kuda-kudanya menjadi gamang. Rasa panas terasa di sekujur dadanya.

Di saat ia tengah meringis kesakitan seperti itu, kembali Tunggasamudra bergerak. Dilancarkannya sebuah tendangan yang langsung mengarah ke kakinya, disusul sebuah pukulan beruntun. Angkadhawatsu mencoba menahan keduanya. Namun, pertahanannya yang terbagi, membuat kekukuhannya hilang.

BUK! BUK!

Dan, tanpa bisa dihindari lagi, sebuah pukulan akhirnya mendarat dengan telak ke dadanya.

Angkadhawatsu pun terjungkal jatuh.

Saat itulah, seorang prajurit di sisi Tunggasamudra, mengangkat bendera merah, tanda ia telah memenangkan pertandingan.

/yngin sesaal mereda ketika Tunggasamudra mulai mc-/ tiangkah ke arah panggung. Langkahnya pelan dengan tatapan terus memandang ke depan. Sorak-sorak masih terus bergema tanpa henti. Semua mata memandang ke arahnya dengan kagum.

Waktu itu, Tunggasamudra telah mengambil kembali ketiga pedangnya dan menggantungkan di punggungnya. Ini tentu saja semakin menarik perhatian orang-orang yang melihatnya.

"Pedangnya tiga," sebuah bisik-bisik terdengar di antara kerumunan.

"Dan, bentuknya juga aneh," sambung yang lain.

Dapunta Cahyadawasuna yang berdiri di atas panggung menunggunya, memandang dirinya tak habis-habisnya dengan tatapan kagum. Begitu Tunggasamudra telah cukup dekat dengannya, tangannya terangkat ke atas, membuat semua penonton di sekitar tanah lapang itu terdiam seketika.

Dapunta Cahyadawasuna kemudian melangkah ke depan. "Hari ini, sesuai titah Sri Maharaja Balaputradcwa, kita kembali memilih seorang pandaya," ia berucap sambil menyapu ke semua penduduk yang hadir. Diam-diam ia mengalirkan energi ke dalam suaranya agar suaranya dapat bergaung di seluruh tanah lapang. -ooo0dw0ooo-