Pandaya Sriwijaya Bab 10 : Tanah yang Ditelan Debu

Bab 10 : Tanah yang Ditelan Debu

Kehilangan Pu Mula Suma adalah kehilangan terbesar bagi Dapunta Cahyadawasuna.

Pu Mula Suma adalah orang terdekat baginya selama ini. Saat ia mendapati tubuh lelaki tua itu terduduk tanpa napas dengan senyum yang tersungging, ia menangis. Ini adalah tangisan pertamanya selama ini. Ia tak menangis saat ayah ibunya meninggal dulu. Waktu itu, ia masih terlalu kecil untuk memahami sepenuhnya arti kcmatian. Namun, tidak demikian kali ini, saat sosok ini pergi.

Selama ini, hampir seluruh waktunya telah dihabiskan bersamanya. Setiap hari, keduanya akan menyusuri setiap setapak di perdatuannya ini, bahkan hingga pada tanah-tanah yang belum diinjak sebelumnya. Dan, Pu Mula Suma akan selalu di sampingnya, menjawab semua pertanyaannya. Maka, sejak kematian itu, Dapunta Cahyadawasuna selalu berjalan sendiri di setapak itu. Tak ada lagi pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Ia hanya diam dan terus melangkah menekuri jalan yang masih saja hening. Kadang seperti sebuah kebiasaan, ia akan sesekali menengok ke belakang, seakan-akan Pu Mula Suma masih ada di belakangnya. Terus seperti itu hingga akhirnya ia akan tiba di setapak yang selalu sepi. Saat itulah ia baru merasakan kesepian yang ada dalam hatinya.

Dulu, ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri akan membangun datu ini menjadi lebih besar dan tak lagi diselimuti kesepian. Segala jalan dipikirkannya, mulai dari meminta bantuan pada kedatuan di Telaga Batu, bahkan mendatangkan penduduk dari datu-datu lainnya.

Akan tetapi, itu tak mudah. Kesunyian seakan telah begitu senyap. Orang-orang yang datang, tak ada yang bertahan lama. Bahkan, beberapa pengawalnya, diam-diam juga telah meninggalkan tanah ini. Hingga akhirnya ia hanya bertahan bersama tak lebih dari dua puluh orang pengawalnya yang paling setia, berikut keluarga mereka.

Dan, nasib tampaknya masih belum berpihak kepada Dapunta Cahyadawasuna. Sebelum ia menuntaskan impiannya, tiba-tiba bukit-bukit yang ada di sebelah barat tanahnya bergetar kuat.

Ini aneh. Sebelumnya tak ada tanda-tanda bahwa bukit- bukit itu adalah sebuah gunung berapi. Sejak puluhan tahun yang lalu, tak pernah ada kejadian seperti ini. Namun sekarang, terjadi getaran yang begitu kuatnya. Seakan hendak terjadi ledakan yang sangat dahsyat.

Penduduk yang tinggal tak seberapa itu segera berlarian ke segala arah. Teriakan-teriakan mereka menyelingi gemuruh di kejauhan. Pu Rapa Sungka', pengganti Pu Mula Suma, segera berlari mendekati Dapunta Cahyadawasuna, "Dapunta, kita harus melarikan diri!" serunya.

Dapunta Cahyadawasuna balas berteriak, "Kalian selamatkan penduduk yang lain dulu!"

Dan, waktu seakan berlari seiring detak jantung mereka Dapunta Cahyadawasuna segera keluar dari kedatuannya. Sempat dilemparkannya pandangan ke arah barat. Saat itulah sebuah bukit yang tertinggi tiba-tiba meledak. Dentumannya membuat tanah berguncang, seiring asap hitam tebal yang menyembur ke angkasa. Terus seperti itu tanpa henti.

Semakin lama asap itu semakin tinggi, seakan menyatu dengan gumpalan awan dan langit. Dan, tak lama berselang, debu kemudian berjatuhan dari langit, tanpa henti, seakan menjadi hujan ....

Suasana mendadak gelap. Teriakan-teriakan makin terdengar melengking. Mata Dapunta Cahyadawasuna tak lagi bisa melihat dengan jelas apa yang ada di depannya. Debu seakan tanpa henti menerpa matanya, membuat rasa perih yang tak berkesudahan.

Saat itu yang diingatnya adalah terus berlari ke arah timur. Maka itulah, diayunkan langkahnya ke sana. Ia berlari dengan pandangan kabur. Beberapa kali ia terjatuh, tersangkut akar atau tersandung batu. Namun, ia selalu bisa kembali berdiri dan melanjutkan langkahnya.

Cukup lama suasana seperti itu. Dan, ketika ia kembali mencoba menoleh ke belakang, ia hanya melihat kegelapan. Ya, debu telah memerangkap dirinya!

Baru disadarinya teriakan-teriakan itu tak lagi terdengar. Ia sama sekali tak menyadari bila dirinya adalah orang terakhir yang keluar dari kedatuannya.

Ia hanya kembali melanjutkan langkahnya dengan lebih berhati-hati. Kali ini ia tak lagi menoleh ke belakang. Ia terus beriari dan berlari. Sampai ketika matanya yang teramat perih, tanpa sengaja melihat sebuah gua besar di depannya.

Sejenak Dapunta Cahyadawasuna tampak ragu masuk ke dalam atau terus melanjutkan langkahnya? Ia menimbang- nimbang sesaat. Debu ini tentu tak akan bisa masuk hingga ke bagian dalam, tetapi bila gunungku ternyata benar-benar meledak, asapnya yang keluar tentu akan membuat dirinya ici perangkap di dalam gua?

Awalnya Dapunta Cahyadawasuna memutuskan untuk kembali berlari. Namun, saat itulah tanpa sengaja, matanya melihat kedua kakinya. Baru disadarinya bahwa kakinya ternyata terluka parah. Batu-batuan tampaknya telah menggores kakinya di beberapa bagian. Darah mengucur tanpa henti.

Saat itulah rasa perih baru terasa olehnya. Maka, setelah melihat ke belakang sekali lagi, Dapunta Cahyadawasuna akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam gua.

Gua itu cukup besar. Dapunta Cahyadawasuna tak tahu posisi gua ini berada. Seingat dirinya, ia tak pernah menjumpai sebuah gua pun di sekitar datunya.

Ia melangkah terus ke dalam. Batu-batu terasa di telapak kakinya. Sesaat debu masih mengganggu matanya, tetapi semakin ke dalam, debu semakin menipis dan menipis. Hingga akhirnya matanya tak lagi terganggu oleh butiran-butiran debu yang menyakitkan. Namun, suasana itu segera saja tergantikan oleh kegelapan ruangan yang begitu pekat.

Semakin ke dalam, Dapunta Cahyadawasuna semakin tak bisa melihat apa pun. Seiring dengan itu bau menyengat kotoran kelelawar langsung menusuk hidungnya.

Akan tetapi, ia terus berjalan. Kini langkahnya begitu perlahan. Satu langkah demi satu langkah. Setelah sekian jauh, kakinya kemudian merasakan batu-batu yang basah, lalu sebuah genangan air. Dapunta Cahyadawasuna tersenyum. Di antara suara-suara pekikan kelelawar yang terdengar samar, telinganya mendengar sayup-sayup bunyi air yang mengalir.

Ia melanjutkan langkahnya. Semakin lama ia merasakan genangan air semakin dalam hingga mencapai mata kakinya. Namun, beberapa tindak kemudian langkahnya terhenti karena ia tak lagi dapat menemukan jalan. Gua ini telah berakhir sampai di sini.

Dapunta Cahyadawasuna mencoba mencari tempat yang kering untuk beristirahat. Saat itulah, baru dirasakannya kelelahan yang luar biasa di sekujur tubuhnya.

Lalu, dengan matanya yang sudah mulai beradaptasi dengan kegelapan, ia mengamati sekelilingnya. Sebuah mata air yang mengalir pelan, terlihat tak jauh dari tempatnya duduk. Diam-diam Dapunta Cahyadawasuna bernapas lega. Setidaknya ia bisa meminum air dari situ.

Akan tetapi, kemudian telinganya menangkap suara-suara yang tak jelas dari atas kepalanya. Ia segera menengadah. Dan, baru disadarinya bahwa di atas kepalanya ratusan atau bahkan ribuan kelelawar bergelantungan.

Dapunta Cahyadawasuna menelan ludahnya. Mata merah mereka yang seakan beradu pandang dengannya membuat sensasi kengerian tersendiri. Namun, Dapunta Cahyadawasuna mencoba tak memedulikan hal itu.

Sedikit ia merasa heran, mengapa kelelawar-kelelawar ini tak pergi di tengah kondisi alam seperti ini? Apa karena di dalam gua ini ledakan itu sama sekali tak terasa? Dapunta Cahyadawasuna tak bisa menjawab itu. Ia kemudian memutuskan untuk melakukan meditasi. Ia duduk dengan posisi badan tegak dan mulai memejamkan matanya rapat- rapat. Setelah itu ia pun berdiam hingga napasnya semakin lama menjadi stabil.

Setelah itu, ia tak lagi berpikir apa-apa. ---ooo0dw0ooo---

la tak ingat berapa lama ia melakukan meditasi. Yang ia ingat, bila tenggorokannya terasa kering ia akan bangun dan meminum air dari mata air di dekatnya, kemudian segera kembali melanjutkan meditasinya. Terus seperti itu.

Ia seakan tak mengingat apa-apa lagi. Ia melupakan kejadian di luar sana. Ia hanya merasa tubuhnya telah begitu lemah dan tak lagi bisa berdiri tegak.

Dan, saat ia memaksakan diri untuk berdiri, ia terjerembap. Kesadarannya seakan melayang. Ia sama sekali tak menyadari adanya hiruk-pikuk orang-orang yang mencoba masuk ke gua. Ia tak menyadari ketika langkah-langkah kaki itu mendekat ke arahnya. Ia juga tak menyadari ketika sosok-sosok itu menyentuh tubuhnya ....

Sungguh, Dapunta Cahyadawasuna benar-benar tak bisa merasakan itu semua.

Seperti ia tak merasakan bahwa ini adalah hari ketiga belas sejak terjadinya ledakan gunung itu ....

---ooo0dw0ooo---

Ketika akhirnya Dapunta Cahyadawasuna membuka matanya, Pu Rapa Sungka' telah ada di sebelahnya.

"Dapunta?" nada suaranya terdengar lega. "Akhirnya, Dapunta sadar ”

Dapunta Cahyadawasuna mencoba bangkit dan duduk. Dikumpulkannya segala sesuatu yang terakhir diingatnya.

Ledakan gunung itu hujan debu gua yang begitu dalam bau menyengat kotoran kelelawar mata air dan dirinya yang terjerembap .... "Kami menemukan Dapunta di dalam gua," ujar Pu Rapa Sungka' lagi. "Kami sudah mencari Dapunta lebih dari sepuluh hari, sejak hujan debu itu berhenti. "

"Hujan debu ," desis Dapunta Cahyadawasuna. Terbayang

kembali di benaknya ledakan itu dengan jelasnya, juga semburan asap ke angkasa, dan tentu saja, hujan debu yang seolah tak berkesudahan ....

Dengan gerakan pelan, ia menoleh kepada Pu Rapa Sungka', "Katakan," ujarnya, "sudah berapa lama aku berada di gua itu?"

"Dapunta ada di gua itu selama tiga belas hari 'jawab Pu

Rapa Sungka' cepat.

Mata Dapunta Cahyadawasuna membulat, "Tiga belas hari?" suaranya terdengar tak percaya.

"Ya, tiga belas hari," jawab Pu Rapa Sungka' lagi. "Maafkan hamba yang terlambat menemukan Dapunta. Hujan debu berlangsung hingga sembilan hari tanpa henti, maka itulah kami..”

'Apa kau bilang?" Dapunta Cahyadawasuna memotong ucapan Pu Rapa Sungka'. "Hujan itu berlangsung sembilan hari?"

Pu Rapa Sungka' mengangguk pelan.

"Sembilan hari?" Dapunta Cahyadawasuna tertegun. "Lalu apa yang terjadi pada ” ia tak melanjutkan kata-katanya.

Pu Rapa Sungka' sudah membungkuk dalam-dalam, "Maafkan hamba, Dapunta. Hamba tak bisa ”

Dapunta Cahyadawasuna tak lagi menggubris ucapan Pu Rapa Sungka'. Ia sudah mencoba bangkit dengan tenaganya yang masih begitu lemah. Ia berjalan menuju pintu rumah. Pu Rapa Sungka' dan beberapa pengawal yang ada di situ segera membimbingnya. Dengan kaki gemetar, Dapunta Cahyadawasuna melangkah keluar dari rumah itu. Ia sama sekali tak berpikir letak rumah itu berada, tetapi yang pasti, di depannya kini terpampang sebuah hamparan luas tanah berwarna hitam ....

Mata Dapunta Cahyadawasuna terpaku. Dipandanginya hamparan itu dengan tatapan tak percaya. Perlahan kakinya maju selangkah ke depan. Tangan kanannya, dengan gerakan perlahan, mulai terangkat, seakan ingin menggapai apa yang terlihat di depannya.

Sungguh, walau hampir tak lagi menyisakan bentuk, ia dengan pasti masih bisa mengenali hamparan hitam yang ada di depannya kini. Empat patung besar Buddha yang kini terlihat bagian kepalanya saja di keempat sudut hamparan hitam itu telah menyisakan petunjuk baginya  

Matanya berkaca-kaca ....

Pu Rapa Sungka' dan seluruh pengawal yang ada di belakangnya segera berlutut dan menundukkan kepala dalam- dalam.

Akan tetapi, Dapunta Cahyadawasuna tak lagi memperhatikan itu semua. Air matanya mendadak telah jatuh. Dan, ia pun menangis ....

---ooo0dw0ooo---