Pandaya Sriwijaya Bab 04 : Gadis Jelita dengan Wangi Bunga di Tubuhnya

Bab 04 : Gadis Jelita dengan Wangi Bunga di Tubuhnya

Ia lahir dengan aroma wangi bunga di tubuhnya. Ketika pertama kali para tabib Kedatuan Muara Jambi memandikannya, membasuh darah dari tubuhnya, mereka segera mengerutkan kening.

"Tubuhnya harum bunga," seorang berdesis. Lalu, para pelayan yang lain mencoba menciumnya, dan mengangguk tak percaya.

Bayi dengan aroma wangi bunga itu kemudian dinamakan Agiriya. Ia merupakan putri bungsu Dapunta Ih Yatra, penguasa Datu Muara Jambi.

Melukiskan Agiriya adalah melukiskan keindahan. Wajahnya begitu jelita, bagai bidadari yang kerap diceritakan dalam dongeng-dongeng sebelum tidur. Kulitnya halus bagai pualam, dengan bibir begitu tipis bagai kuncup bunga yang merekah. Lehernya jenjang dan matanya begitu bening, seakan mata air yang tak pernah terjamah.

Kejelitaannya begitu terkenal di seluruh pelosok perdatuan, bahkan hingga di datu-datu lainnya. Tak heran, ketika usianya baru menginjak sepuluh tahun saja, beberapa lelaki, putra- putra dari datu-datu lain, telah mencoba meminangnya.

Datu Muara Jambi sendiri merupakan tanah yang subur. Letaknya yang dilewati Batanghari membuat tanah ini tak pernah mengalami kekeringan. Penduduk di sekitar batang (sungai) selalu dilimpahi keberuntungan yang tiada pernah habis. Para nelayan dilimpahi ikan-ikan berbagai macam dan para petani dilimpahi tanah yang subur untuk tanaman mereka. Datu Muara Jambi merupakan salah satu datu di bawah kekuasaan Sriwijaya yang ada di utara. Sejak dulu namanya sudah begitu dikenal. Dalam catatan penjelajah Cina, tanah Muara Jambi dikenal dengan nama Cham-Pei. Walau kemegahannya tak bisa mengalahkan Muaratebo, yang pernah menjadi pusat Kerajaan Malaya, tetapi posisi Muara Jambi sangatlah penting. Saat itu untuk bisa ke Muaratebo melalui jalur air di sebelah timur hanyalah dengan melewati Muara Jambi.

Di datu inilah Agiriya lahir dan tumbuh. Ia merupakan anak kesayangan dari Dapunta Ih Yatra. Walau memiliki delapan belas anak dari istri dan lima selirnya, Agiriya-lah yang paling disayangi oleh Dapunta Ih Yatra. Karena hanya ialah anak perempuan satu-satunya!

Sebagai anak gadis seorang dapunta, Agiriya sangat berbeda dari gadis-gadis lainnya. Mungkin karena ia besar di lingkungan tempat semua saudaranya adalah laki-laki, ia tumbuh dengan kebiasaan-kebiasaan laki-laki.

Ia pandai dalam semua permainan anak laki-laki. Ia pandai melompat, berlari cepat, memanjat pohon tinggi, dan bermain pedang-pedangan. Ia juga berani menunggang kuda dan memegang ular berbisa. Di kala berkumpul dengan saudara- saudaranya yang tak terpaut jauh umurnya, ia akan selalu berusaha menantang mereka. Terutama yang umurnya sepadan dengannya.

"Aku bisa berlari lebih cepat darimu!" ujarnya kepada Katra Wiren, saudaranya yang umurnya hanya setahun di atasnya.

Dan, Katra Wircn akan tertawa menanggapinya, "Beberapa hari yang lalu, bukankah aku sudah mengalahkanmu, Adik Agiriya."

"Itu karena jalanan becek. Kau tahu bukan, aku begitu jijik dengan cacing," ujar Agiriya mencoba mencari alasan. "Begini saja, kita berlomba memanjat tangga di gerbang sana Katra Wiren mengangguk setuju, "Tetapi, kalau kau kalah, kau harus memijati aku," ujarnya.

"Baik," Agiriya langsung setuju. Mereka segera berjabat tangan.

"Kakak Jungga Dayo sebagai saksinya," ujar Katra Wiren sambil melirik kakaknya yang berdiri tak jauh dari mereka.

Keduanya lalu segera menuju pintu gerbang Datu Muara Jambi.

Letak pintu gerbang ini memang agak jauh dari kedatuan, sedikit agak di tepi hutan. Untuk melewati gerbang itu, terdapat puluhan anak tangga dari bata merah. Di situlah kedua bocah itu kemudian memulai lomba lari mereka, dari atas ke bawah, kemudian kembali ke atas. Jungga Dayo dan beberapa saudara lainnya turut serta menjadi saksi perlombaan itu. Turut juga beberapa dayang.

Akan tetapi, hasil akhirnya, tetap saja Katra Wiren yang memenangkan perlombaan itu.

Ia mengacak rambut Agiriya yang hanya bisa cemberut. "Walau kau kalah," ujar Katra Wiren bermaksud menghibur, "tetapi kau cukup cepat, Adik Agiriya."

"Ini karena kakiku belum sepanjang kakimu, Kak!" ujar Agiriya lagi. "Nanti kalau aku lebih besar sedikit, aku akan menantangmu lagi!"

Katra Wiren hanya tertawa, "Aku akan selalu menunggu tantanganmu, Adik Agiriya," ujarnya. "Namun, yang pasti, sekarang ini engkau harus memijati aku dahulu."

Dan, Agiriya hanya bisa merengut dengan wajah sebal.

Begitulah Agiriya, sejak kecil ia memang selalu tak mau kalah dari saudara-saudara lelakinya. Ia selalu mengikuti ke mana saudara-saudaranya bermain, terutama Katra Wircn dan Jungga Dayo. Dulu ia bahkan kerap menggulung rambutnya, sama seperti semua saudaranya, la bahkan tak mau memakai kain bajunya dan tetap membiarkan dirinya bertelanjang dada seperti saudara-saudaranya. Sama sekali tak digubrisnya kata- kata ibunya dan para dayangnya yang mengingatkannya berkali-kali.

Sampai ketika dadanya mulai terasa membentuk, barulah Agiriya memakai kain bajunya. Pada saat itulah perlahan- lahan, kejelitaannya semakin tampak....

Akan tetapi, itu sama sekali tak menghilangkan kesukaannya mengikuti kebiasaan saudara-saudara laki- lakinya, terutama dalam mempelajari ilmu bela diri.

Ketertarikannya pada bidang ini, tak bisa dimungkiri, lama- kelamaan melebihi ketertarikan kedelapan belas saudaranya yang lain. Bahkan, ketika umurnya belum lebih dari 12 tahun, ia sudah bisa mengimbangi jurus-jurus saudaranya, Katra Wiren dan Jungga Dayo. Sungguh, bakatnya sama sekali tak bisa diragukan lagi.

Dapunta Ih Yatra yang awalnya mengajarinya sendiri,

diam-diam akan selalu memeluknya erat-erat, setiap keduanya selesai berlatih.

"Dengar," bisiknya selalu. "Ini rahasia kita saja. Kau adalah anak Abah yang paling berbakat

Dan, mata Agiriya akan berbinar senang mendengar itu. Ia pun semakin bersemangat mendalami bela diri. Maka,

ketika pendekar-pendekar yang menjadi pengawal di Kedatuan Muara Jambi ini telah mengajarkan semua ilmunya, Agiriya meminta ayahnya untuk mengirimkan dirinya kc Panggrang Muara Gunung.

Tentu saja ini membuat ayahnya terkejut. "Tetapi, Anakku," ia berusaha menolak, "Mengapa harus ke sana? Bukankah kau bisa terus berlatih di sini sama seperti saudara-saudaramu lainnya? Aku akan terus mencarikan guru- guru untukmu."

Akan tetapi, Agiriya menggeleng, "Aku ingin lebih dari sekadar ini, Abah. Aku juga ingin menempa diriku agar nanti aku bisa sekuat Abah dan kakak-kakak yang lain "

Dan, Dapunta Ih Yatra sama sekali tak bisa menolak lagi.

---ooo0dw0ooo---

Panggrang Muara Gunung adalah sebuah perkumpulan bela diri paling terkenal di sepanjang Batanghari. Pendirinya adalah Guru Kuya Jadran. Konon setelah melalang buana di Bhumijawa, ia jatuh cinta pada kebesaran Bhumi Sriwijaya dan memutuskan untuk menetap di sini.

Ia mendirikan Panggrang Muara Gunung di tempat yang cukup terpencil. Hanya ada satu jalan untuk memasukinya, yaitu melalui arah selatan, tempat dua tebing tinggi mengapit jalur yang begitu panjang hingga mencapai ratusan tombak. Namun, jalur itu begitu sempitnya hingga hanya cukup dilalui oleh sebuah kereta kuda. Saat seseorang berjalan di sini, ia akan kerap terganggu karena kerikil-kerikil akan berjatuhan dari atas bukit.

Sementara itu, di sebelah utara Panggrang Muara Gunung terdapat sebuah hutan yang cukup luas. Semakin masuk ke dalam, hutan itu tampak semakin lebat dan jelas tak pernah terjamah. Sinar matahari tampak jelas tak bisa menerobos di sana. Hewan buas seperti harimau hidup dalam kesunyian tempat itu. Beberapa sungai kecil tampak bercabang-cabang membelah hutan, membuat pohon-pohon dan semak tumbuh semakin lebat. Dan, di ujung paling utara hutan ini, sebuah jurang yang cukup dalam menganga lebar. Inilah yang membuat Panggrang Muara Gunung seakan tertutup dari dunia luar! Akan tetapi, sejak sepuluh tahun terakhir ini nama Panggrang Muara Gunung memanglah begitu harum. Perguruan bela diri ini dikenal sebagai tempat yang dapat melahirkan pendekar-pendekar muda. Ini yang kemudian membuat banyak datu di wilayah Sriwijaya mengirimkan anak- anak mereka untuk berlatih ilmu bela diri di sana.

Walau berada di bagian perdatuan Muara Jambi, Panggrang Muara Gunung terbuka untuk siapa pun. Guru Kuya Jadran yang masih menjadi penyembah berhala, membuka diri bagi murid-murid penganut ajaran Buddha, bahkan Hindu sekalipun. Lebih dari itu, Guru Kuya Jadrah juga menerima murid-murid dari kalangan kaum miskin yang tak sanggup membayar, juga para kaum cacat.

Guru Kuya Jadran memang berpendapat bahwa ilmu bela diri adalah sebuah anugerah bagi siapa pun. Ia akan menyodorkan satu cawan ilmu sama rata kepada semua muridnya. Namun, saat menerima dan menampung satu cawan ilmu itu, murid-murid akan berlainan satu dengan yang lain.

Di sinilah Agiriya datang. Ia bukanlah murid perempuan satu-satunya di sini. Beberapa kakak seperguruannya juga ada yang perempuan. Namun, jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Dan, di antara teman-teman satu tingkatnya, ialah perempuan satu-satunya!

Tentu saja kehadiran Agiriya menjadi begitu mencolok perhatian murid-murid lainnya. Saat itu jumlah seluruh murid di Panggrang Muara Gunung hampir mencapai sembilan orang dan hampir sepertiganya adalah murid-murid tingkat baru.

Mereka terbagi dalam tujuh tingkat; semakin tinggi tingkatnya, semakin sedikit jumlah muridnya. Bahkan, di lingkat paling atas hanya tinggal lima murid.

Agiriya masuk ke Panggrang Muara Gunung saat bulan ketujuh, lima tahun sebelum kedatangan Sri Maharaja Balaputradewa di Telaga Batu. Sehari setelah kedatangannya, Guru Kuya Jadran mengumpulkan semua muridnya dalam Panggungjantama. Panggung Jantama adalah sebutan bagi panggung utama di perguruan Panggrang Muara Gunung. Letaknya ada di tengah-tengah perguruan yang dikelilingi bilik-bilik panjang yang membentuk persegi empat. Panggung itu cukup luas hingga dapat menampung lebih dari seratus orang. Bentuknya berundak-undak hingga mencapai tujuh undakan. Selama ini Panggung Jantama selalu dijadikan tempat untuk pertemuan utama sekaligus tempat berlatih meditasi.

Di situ murid-murid Panggrang Muara Gunung duduk bersila mengelilingi Guru Kuya Jadran dalam tiga barisan. Biasanya dalam saat-saat seperti itu, keheningan akan meliputi suasana. Namun, tidak kali ini. Kehadiran Agiriya tampaknya cukup mengganggu para murid lainnya. Mereka diam-diam seolah tak mau lepas dari kejelitaan Agiriya. Yang di belakang berkali-kali menatap ke depan, yang di samping kiri menoleh ke kanan, yang di samping kanan menoleh ke kiri, dan yang duduk di depan sesekali menoleh ke belakang.

Untunglah suara Guru Kuya Jadran yang dalam dapat menyadarkan semuanya.

"Murid-muridku," ujarnya sambil mencoba mengalirkan energi pada suaranya untuk menarik perhatian murid- muridnya, "Hari ini, di purnama yang bulat sempurna, kukumpulkan kalian untuk mengenalkan wajah-wajah baru murid-murid di Panggrang Muara Gunung "

la berjalan membentuk lingkaran di depan murid-muridnya, "Aku berharap kalian semua dapat menjalin hubungan yang baik, seperti halnya sebuah keluarga besar," ujarnya lagi sambil menyapu pandangannya.

"Aku juga akan selalu kembali mengatakan kepada kalian tentang Panggrang Muara Gunung ini," ujarnya lagi. "Bahwa aku di sini hanya akan menjadikan kalian bagai bulan di atas sanaia kemudian menunjuk bulan yang bulat, yang begitu jelas bercahaya, diikuti semua mata murid-muridnya yang menengadah, memperhatikan bulan itu.

"Semuanya tergantung pada kalian sendiri," ujar Guru Kuya Jadran lagi. "Kalian dan ilmu yang kalian pelajari adalah cahaya bagi diri kalian sendiri. Namun Guru Kuya Jadran menghentikan ucapannya. Ia tiba-tiba ikut menengadahkan kepalanya ke atas. Sesaat awan hitam terlihat berarak, menuju bulan. Awalnya ia sedikit menutupi cahaya bulan, tetapi semakin lama semakin banyak cahaya bulan yang ditutupinya hingga semua tubuhnya kemudian tak terlihat. "Namun, semuanya seperti bulan di atas sana. Selalu akan ada awan hitam yang menghalangi kalian, menutupi cahaya kalian. Dan, itu bisa membuat cahaya kalian tertutup sebagian, separuhnya, atau bahkan seluruhnya

Guru Kuya Jadran kembali menyapu pandangannya, "Walau aku berharap kalian semua menjadi baik, tetapi sungguh semuanya tergantung pada kalian sendiri ujarnya dengan nada suara yang lebih pelan.

---ooo0dw0ooo---

Sejak itu, Agiriya tinggal di Panggrang Muara Gunung. Sebagai perempuan satu-satunya di tingkatnya, Guru Kuya Jadran memisahkannya di sebuah ruangan khusus perempuan.

Panggrang Muara Gunung sendiri meruanglah sebuah perguruan yang cukup luas. Bilik-bilik para murid berjejer membentuk sebuah persegi empat, dengan satu gerbang utama untuk keluar masuk. Walau terbuat dari bahan-bahan yang sederhana, bilik-bilik ini seakan menjadi pagar besar bagi kompleks perguruan secara keseluruhan. Tak heran bila siapa pun akan merasa aman berdiam di perguruan ini, terutama dari serangan perampok ataupun serangan binatang I >uas. Murid-murid tingkat tertinggi di Panggrang Muara Gunung kemudian diperintah Guru Kuya Jadran untuk membimbing murid-murid baru. Terutama soal peraturan-peraturan yang ada di Panggrang Muara Gunung.

"Kalian tak boleh bangun lebih lambat dari sinar matahari," seseorang dari mereka menyapu pandangan pada kelompok murid baru, terutama pada sosok Agiriya. "Dan, sebelum tidur, kalian harus melakukan meditasi hingga terdengar suara burung hantu bersahutan "

Ia berjalan perlahan di depan seluruh murid baru, "Kalian juga dilarang saling mengganggu dan harus menghormati murid-murid yang lebih tua," ujarnya lagi. "Nanti dari kalian semua akan segera dibcntuk kelompok kerja untuk membersihkan Panggrang Muara Gunung ini. Kuharap kalian dapat bekerja sama dan menjalankannya dengan baik." Ia kembali menyapukan pandangannya. Namun, tanpa bisa dihindari, matanya kembali terpaku kepada Agiriya.

Diam-diam ia menelan ludah, "Kukira, sudah cukup kusampaikan aturan-aturan yang ada di Panggrang Muara Gunung ini," ujarnya sambil membalikkan badan. Namun, baru dua langkah berlalu, ia sudah kembali membalikkan badannya. "Maaf, ada satu yang terlupa," ujarnya membuat murid-murid baru kembali menatapnya. "Ini adalah perintah langsung dari Guru Kuya Jadran pada setiap muridnya. Kalian dilarang keras untuk masuk ke dalam hutan di sebelah utara sana. Batasnya adalah sebuah sungai. Selama kalian masih ada di sebelah selatan sungai itu, kalian masih diperbolehkan ke sana, tetapi tidak setelah melalui sungai itu!"

"Memangnya mengapa, Kak?" seorang murid mencoba

bertanya.

Murid tingkat tertinggi itu menggelengkan kepalanya, "Aku sendiri tak tahu alasan pastinya. Namun, yang jelas, di sana adalah hutan paling lebat hingga sinar matahari pun tak bisa masuk. Tentunya di tempat-tempat seperti itu, harimau- harimau dan ular-ular berbisa akan banyak berkeliaran. Ini sangat berbahaya bagi kalian semua "

---ooo0dw0ooo---

Sejak hari itu Agiriya melakukan tugas-tugasnya sebagai murid Panggrang Muara Gunung. Hanya sehari berselang, ia sudah menjadi murid paling populer di Panggrang Muara Gunung. Apalagi berita tentang dirinya sebagai putri Datu Muara Jambi juga telah tersebar sehingga membuat semua teman setingkatnya berlomba-lomba berkenalan dengannya dan kakak-kakak seperguruannya mencoba menarik perhatian darinya.

Akan tetapi, tak ada satu pun yang ditanggapinya. Agiriya terlalu serius untuk menanggapi hal-hal seperti itu. Ia lebih memikirkan tugas-tugas yang diberikan Guru Kuya Jadran dan kakak-kakak seperguruannya.

Seperti tugas pertamanya ini. Ia bersama beberapa temannya diharuskan membersihkan taman bunga di samping bilik Panggrang Muara Gunung. Di situ, Guru Kuya Jadran memang menanami puluhan tanaman bunga beraneka ragam.

Agiriya melakukan pekerjaannya tanpa mengeluh. Walau sebelumnya ia tak pernah melakukan pekerjaan kasar seperti ini, sekarang ia melakukannya dengan bersemangat. Tanpa memperhatikan lainnya, ia mencabuti rumput-rumput liar di sekeliling bunga-bunga itu.

Ia sama sekali tak tahu bahwa teman-temannya yang lain memperhatikan dirinya. Saat itu entah mengapa puluhan kupu-kupu yang ada di sekitar taman itu mengelilinginya.

Terutama saat Agiriya berdiri, kumpulan kupu-kupu itu semakin banyak terlihat.

Agiriya benar-benar tak menyadarinya. Sampai akhirnya seorang temannya mencoba mendekat, "Agiriya," ujarnya dengan nada tak percaya, "mengapa ... kupu-kupu ini bisa mengelilingimu?"

Saat itulah Agiriya tersadar. Lalu, diperhatikannya kupu- kupu yang beterbangan di sekelilingnya.

"Mungkin," ia menjawab sambil tak lepas memandangi kupu-kupu itu, "karena aku berdiri di taman bunga yang wangi ini?"

Akan tetapi, temannya menggelengkan kepala.

”Tidak, tidak,” ujarnya sambil menjulurkan hidungnya pada tubuh Aginya. ”Kupikir karena tubuhmu memang lah begitu

wangi, Aginya ”

---ooo0dw0ooo---